Ibu-ibu yang Membangun Sekolah

 

 

Buku MATA : Mendidik Anak dengan Cinta, Alhamdulillah mendapat sambutan positif dari masyarakat. Setiap kali bedah buku ini, para ibu-ibu yang hadir berkenan membelinya. Mereka pun membeli tak hanya bagi diri sendiri, tapi menyimpan untuk dijual lagi atau diberikan pada teman.

Cover MATAAda hal-hal unik yang kutemukan ketika membedah buku ini.

Baik di Surabaya, atau di Tegal; aku bertemu para ibu yang merasa harus berbuat sesuatu bagi pendidikan anak-anaknya. Mereka bukan orang yang iseng, yang kekurangan uang sehingga cari-cari pemasukan dari SPP sekolah atau justru kelebihan uang hingga mau invest buat sekolah. Bukan!

Mereka justru para ibu yang resah dan tergelitik tentang kondisi sekolah saat ini.

Memang,t ak ada sekolah yang 100% sempurna.

Mau sekolah negeri, internasional, swasta, Islam terpadu, homeschooling, pesantren tradisional, pesantren modern, atau  sekolah di luar negeri sekalipun ; semua memiliki titik kelebihan dan kekurangan sendiri. Salutnya, para ibu-ibu ini berusaha untuk membangun sekolah dengan harapan serta target yang mereka idamkan.

Mereka lalu belajar, belajar, belajar. Tidak semua ibu-ibu yang merancang sekolah ini basic ilmunya adalah pendidikan atau psikologi lho! Malah ada yang pengusaha wedding organizer, pengusaha empek-empek, pengusaha butik , hingga apoteker. Dan ketika mereka semakin luwes membanguns atu sekolah; mereka membangun lagi sekolah yang lain.

Aku?

Hm, insyaallah membuat sekolah masuk dalam daftar impianku.

MATA di Al Musthafa Surabaya dan Yasyis, Tegal

Untuk saat ini, aku lebih ingin membangun sanggar seni. Thesisku tentang Writing Therapy, yang merupakan salah satu cabang dari Art Therapy. Cukup banyak ibu-ibu yang bertanya : ada kelas menulis? Ada kelas menggambar? Ada kelas memasak? Ada kelas music? Ada kelas menari? Dll. Yah, aku belum bisa menyediakan semua seni yang menjadi sarana terapi. Tapi untuk kelas menulis dan menggambar, bisa insyaallah. Aku bisa menulis; anak-anakku jago menggambar dan bisa kuberdayakan untuk membantu kelas tersebut.

Anak-anak istimewa yang kesulitan mengikuti pelajaran akademis normal di sekolah; umumnya butuh komunitas khusus  yang akan membantu mereka mengasah motorik halus, social skill, soft skill.

Para ibu-ibu, sungguh hebat!

Mereka bukan hanya memberikan kontribusi pada ekonomi keluarga dan masyarakat sekitar, membangun peradaban ; tapi selalu punya pemikiran-pemikiran unik untuk menembus kesulitan. Hehehe. Kalau anda seorang ibu seperti saya; pasti merasa demikian. Seroang ibu nyaris tidak mungkin berkata tidak bisa, tidak punya, tidak akan. Kebutuhan keluarga dan anak-anak baik kebutuhan ekonomi dan pendidikan; memacu para ibu untuk harus bisa, harus punya dan selalu akan.

Jempol besar dan banyak untuk para Ibu!

Bisakah Menciptakan Anak Genius?

 

 

Rasanya sebuah kebetulan yang menakjubkan, ketika Mei ini buku Mendidik Anak dengan Cinta dan National Geographic Indonesia mengangkat tema yang tak akan pernah habis dibahas : IQ dan Kegeniusan.

 

Sebagai seorang psikolog, salah satu hal paling merangsang minat bagi saya adalah tentang perihal genius. Yang bila seseorang berhasil menguasai hal tertentu dengan brilian, ia akan dikatakan gifted. Sampai-sampai saya benar-benar ingin membuat buku khusus tentang bab Genius dan Gifted. Atau istilah radikalnya, ekstrim kanan.

 

Saya penyuka sejarah.

Selalu terpukau oleh gambaran orang-orang hebat dunia : Shalahuddin al Ayyubi, Al Fatih, Steve Jobs, Einstein,  Habibie, Nelson Mandela, Mahathma Gandhi. Saking liarnya pikiran ini, tiap kali bertemu orang pintar saya tergelitik bertanya : berapa skor IQ nya? Bukan untuk memvonis, untuk mengkotakkan, apalagi menghakimi. Namun instink saya berkata, pasti ada apa-apanya dengan orang itu. Apalagi bila bertemu orang hebat yang IQnya biasa-biasa saja. Ini jauh lebih mengesankan.

 

Pasti anda tak percaya bahwa Darwin dan Einstein awalnya dianggap biasa-biasa saja.

Membaca Natgeo Indonesia terbitan kali ini, benar-benar semakin membuat saya penasaran dan semoga semakin membakar impian-impian. Saya harus punya sanggar. Harus punya klinik art therapy. Harus punya pusat penelitian sendiri, terutama tentang anak-anak berbakta dan genius. Yang, kata Natgeo, jumlahnya sangat banyak di dunia. Hanya , karena lingkungan tidak memahami si genius ini, mereka dibiarkan layu dan mati.

 

Einstein dan Sidis

 

Dua orang ini benar-benar saya coba pelajari. Yah, meski saya tak punya irisan otak Einstein seperti yang tersimpan di museum Mutter, Philadelphia. Tetapi quote, buah pemikiran, biogarafi dua tokoh ini mudah ditemui.

Dua-duanya punya potensi otak hebat. Tapi jalan hidup yang dilalui sangat berbeda. Kiranya, saya simpulkan yang ternyata juga sesuai dengan Natgeo temukan. Ada hal-hal yang dapat dicapai dengan potensi IQ kita semua. Kalau diabaikan, layu dan punahlah ia.

  1. Seorang genius tidaklah solitaire. Einstein punya banyak teman. Mileva Maric, Michael Angelo Besso, Marcel Grossman adalah beberapa teman baik Einstein. Sidis? Ia dikabarkan sangat susah membangun relasi interpersonal. Bagaimana bisa demikian? Hal ini tekait dengan poin-pon yang lain.
  2. Orangtua yang mendukung. Einstein, Marc Zuckerberg, Steve Jobs, Margareth Tatcher, Terence Tao punya orangtua yang sangat megnerti anak mereka. Anak-anak spesial yang awalnya didiagnosis tidak pintar, namun orangtua memberikan banyak fasiltias pembelajaran. Ingat , fasiltias tidak selalu mahal! Steve Jobs hanya diberikan meja kecil, palu kecil, paku-paku. Sebab ayahnya hanya tukang kayu. Hermann Einstein hanya memberikan kompas kecil. Sidis? Orangtua memasukkannya ke Harvard di usia muda, memaksanya megnuasai banyak bahasa, mengontak media-media untuk menuliskan tentang anaknya yang berbakat. Najmuddin Ayyub mendampingi Shalahuddin al Ayyubi dalam memaknai intrik politik dan kekuasaan. Sultan Murad II, memilihkan guru-guru terhebat bagi Al Fatih.
  3. Gairah besar. Seorang genius harus didorong punya motivasi dan kegigihan. Sebab biasanya, anak pintar memang cenderung mudah bosan, mudah beralih, mudah meninggalkan hal-hal yang tadinya dimulainya dan tidak ingin diselesaikannya. Einstein, didorong relasi interpersonal yang bagus, punya teman-teman yang mendorongnya untuk berkarya. Ketika dunia dilanda perang, dengan cepat Einstein menjadi pejuang zionis sejati. Sidis? Rasa sendiri membuatnya patah arang hingga di usia 40an tahun ia harus masuk asylum. Al Fatih punya orang-orang yang mendorong dan memotivasinya untuk terus berjuang,s alahs atunya Aq Syamsudin, sang ulama kharismatik. Shalahuddin al Ayyubi, selain mendapat dorongan dari sang ayah Najmuddin Ayyub, juga senantiasa mendapat pendampigan dari Asaduddin Shirkuh, pamannya yang brilian dan pemberani.

Ayo, kita siapkan diri kita dan anak-anak kita untuk mengembangkan diri hingga optimal. Siapa tahu kita genius yang berikutnya!

 

Surat Cinta untuk Rohingya dari Anak-anak  SDIT Al Uswah, Surabaya

 

 

 

Hanum, 5C

Assalamualaikum

Dear rakyat Rohingya,

Hai, aku Hanum. Aku berasal dari Indonesia. Aku sangat senang sekali jika surat ini bisa tersampaikan pada kalian. Ingin sekali aku bisa bertemu kalian. Aku hanya ingin menyemangati kalian, tetaplah menjadi seorang muslim. Tetaplah bersatu untuk Islam. Jangan mau kita ditindas!tunbnjukkan bahwa kami muslim tidak lemah. Percayalah bawha Allah akan membantu hambaNya yangs abar berjuang untuk Islam. Kalian harus tetap semangat memperjuangkan hak kalian. Berdoakan kepada Allah pada masa lapang dan sempit. Mari kita bersatu untuk Islam, buatlah nama Islam harum. Aku akan datang mendukungmu rakyat Rohingya. Insyaallah jika kalian ingin berusaha, maka apa yang kalian inginkan akan tercapai. Amin.

rohingya-4

Khadijah, 4C

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamualaikum

Apakabar saudaraku? Senang kalau bisa berkenalan bagaimana keadaan disana? Mohon maaf ya kami tidak bisa membantu kalian. Aku sangat terharu dengan perjuangan kalian meskipun kalian diperkosa dan dibantai. Kalian tidak meninggalkan agama Allah. Insyaallah jika kalian meninggal terbunuh akan mati syahid. Sungguh kejam orang Myanmar yang beragama Budha mengapa mereka berbuat begitu? Padahal orang Islam tidak mengganggu agama Budha! Aku disini menitip salam untuk saudarakau di Rohingya, orang Islam. Semoga kami bisa menyusul ke surga Allah. Amin. Selamat berjuang.

rohingya-2

Neina Nur Rahmania, 4B

Assalamualaikum, warga Rohngya, namaku Neina.

Aku tinggal di Indonesia. Kotanya Surabaya. Aku dari SDIT Al Uswah. Aku kasihan sekali karena kalian diusir oleh negara kalian sendiri. Karena kalian ingin hidup, karena kalian rela hidup di kapal. Andaikan aku bisa membantu kalian, aku akan memberi  kalian rumah, makan, dll. Tapi aku tidak bisa membantu. Tapi aku bangga kepada kalian, karena kalian tetap berjuang memeluk Islam. Sebelum saya mengakhiri surat  ini saya akan meminta maaf sebesar-besarnya karena  tidak bisa membantu kalian. Semoga Allah menghapus dosa kalian dan memudahkan kalian hidup. Kalau ada yang terbunuh, aku tidak terima. Karena agama Islam tidak bersalah. Tetap semangat ya!

Wassalamualaikum.

 

Nadia Sabila Azka, 4C

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Perkenalkan nama saya Nabila Nadia Azka. Saya dari Surabaya Jawa Timur. Setelah guru saya menceritakan tentang keadaan kalian semua, saya merasa kasihan, takut dan lainnya. Saat guru saya menceritakannya, saya berpikir bagaimana jika saya sedang berada di Rohingya.  Setiap hari seperti disiksa. Tapi saya berasa kagum dengan kalian semua. Kalian tidak pantang menyerah dan sebagainya. Tapi saya disini masih suka menyerah dan masih butuh bantuan orang lain. Saya sangat kagum dengan kalian semua. Saya akui kalian hebat, kuat, pintar dan hebat. Kalian sudah dibom, ditembak dan sebagainya. Jika saya yang digitukan saya merasa sangat kesal dengan para pembonm dan penembak. Saya akan mendoakan kalian semua yang di Rohingya agar kalian semua bisa masuk surga. Dan semoga kalian selalu kuat dan sehat selalu. Dan semoga tempat tinggal kalian bisa kembali. Rohingya hebat.

 

Nisrina Huwaida Qurrota Aini, 5A

 

Assalamualaiakum sadaraku di Rohingya.

Perkenalkan namaku Nisrina Huwaida Qurrota Aini.

Saat ini aku sekolah di SDIT Al Uswah Surabaya dan duduk di kelas 5. Aku sangat sedih  melihat kalian semua diusir oleh negara Myanmar. Aku akan selalu mendoakan saudara Rohingya bsia bertahan hidup. Aku yakin manusia yang membela agama Islam selalu dilindungi oleh Allah. Kalian pasti bisa!!! Allahuakbar!

Allah pasti menempatkan suadaraku di Rohingya di surga tertinggi Allah, amin. Salam dari Nisrina. Aku sayang saudaraku Rohingya.

 

Anisa Titi Larasati, 4B

Dear Rohingya,

Assalamualaikum s audaraku di Rohingya.

Perkenalkan nama saya Anisa Titi Larasati dari Indonesia.

Kami sedih mendengar derita kalian disana. Saya ingin membantu kalian semua. Semoga kalian dilindungi oleh Alalh SWT. Semoga kalian juga mendapatkan banyak bantuan. Kami sangat kasihan kepada kalian semua. Karena kalian hidup berhari-hari tetapi tidak mendapatkan makanan dan minunman. Maafkan saya karena saya belum bisa memberikan donasi kepada kalian. Saya hanya bisa berdoa untuk kalian. Love you Rohingya.

 

Fasya Syaffanah, 5A

Assalamualaikum…

Perkenalkan nama saya Fasya Syaffanah.

Saya bersekolah di SDIT Al Uswah. Saya biasanya dipanggil Fasya. Saya berumur 11 tahun. Oh ya maafkan kita ya kita sebagai warga Indonesia cuma bisa bantu doain aja. Kita tidak bisa pergi ke neeara kalian. Semoga Allah selalu melindungi kalian. Aku turut berduka cita atas bencana yang sekarang kalian timpa. Katanya kalian diusir dari negara Myanmar karena kalian muslim. Yang mengusir kalian adalah orang Budha. Aku sebagai salah satu warga Indonesia mengucapkan minta maaf. Negara Myanmar telah mengusir Rohingya itu adalah hal yang sangat kejam. Semoga Allah selalu menjaga kalian, selalu melindungi kalian, selalu menolong kalian.

save-rohingya-insta-2-copy

Children with Special Needs (ABK) : stem cell, pubertas, lapangan pekerjaan, hingga pasangan hidup ?

 

 

Mengisi acara bersama Prof. Bambang, spesialis anak ; mas dokter Hafid Psikater, mas Bayu psikolog adalah kesempatan berharga yang jarang-jarang saya dapatkan. Plus moderator ayah Aris yang tangguh, ayah dari ananda Raffi yang didiagnosis dengan Autism. Saya rangkum percik-percik ilmu luarbiasa hari itu untuk menambah khazanah pemahaman saya pribadi.

Apa aja sih yang didiskusikan?

Di bawah ini saya rangkum bahasan menarik yang insyaallah bermanfaat bagi pembaca : stem cell, pubertas, lapangan pekerjaan bagi ABK, pasangan hidup, relaksasi atau hipnoterapi, juga dukungan komunitas.

 

  1. Stem cell

Pertanyaan seorang peserta seminar menarik, tentang stem cell. Sang ibu bercerita, putranya yang mengalami autism disuntik stem cell di lengan. Ada perubahan perilaku sebab 2 hari sang putra lebih pendiam dari biasanya.

Benarkah stem cell dapat mengobati autism?

prof-bambang

Prof.dr. Bambang Permana, Spesialis anak

Penjelasan Prof. Bambang sangat menarik.

Beliau menjelaskan penelitian-penelitian terkait autism yang hingga kini terus digalakkan. Sebelum menjawab tentang tepatkah stem cell bagi autism, profesor Bambang menjelaskan penyebab autism :

  1. Kelainan fungsi otak karena inflamasi di jaringan interkoneksi otak kanan-kiri sehingga menimbulkan gangguan perilaku ASD (autis spectrum disorder) hal ini bisa disebabkans alah satunya oleh virus
  2. Logam berat. Dulu, orang menyangka imunisasi penyebab autis. Namun kecurigaan itu tidak mendasar sekarang. Logam berat banyak ditemukan di laut dalam, maka anak autis secara populasi sangat besar ditemukan di peseisir pantai. Sekarang warga AS jarang mau makan salmon sebab ikan salmon disebut-sebut banyak mengandung logam berat.
  3. Gangguang system imun pada pencernaan. Akibatnya protein-protein besar dari usus masuk ke darah, otak menimbulkan inflamasi. Maka perlu diperbaiki system pencernaan.

Apakah stem cell bermanfaat bagi autis?

Bila memperbaiki sitem imun pencernaan, kemungkinan suntikan stem cell akan bermanfaat bagi penyandang autis. Mengapa ananda pasca disuntik menjadi lebih diam? Kemungkinan sedang terjadi proses di dalam tubuhnya sehingga menimbulkan reaksi tersebut.

 

  1. Pubertas ABK

Hal yang mengkhawatirkan bagi orangtua dan pendidik adalah menghadapi pubertas ABK. Samakah pubertas mereka? Apakah mereka mengalami gangguan hormone? Apakah mereka dapat tertarik pada pasangan ?

Untuk pubertas, profesor Bambang mengambil contoh CP atau cerebral palsy dengan level 1, 2, 3, 4, 5. Bagai CP 1 tidak ada masalah dalam keseimbangan hormonal sehingga bagi remaja putra dan putri dengan CP 1 akan mengalami masalah pubertas yang sama saja dengan orang lain. Bagi CP 3-4-5 ada gangguan hormonal pada hipofis yang mengakibatkan ketidakwajaran proses.

Oleh sebab itu sekolah inklusi harus memasukkan unsur  pendidikan + kesehatan kedalam kurikulum agar semua pihak dapat mendampingi penyandang CP menuju kehidupan yang optimal.

 

 

  1. Lapangan pekerjaan

Bagaimana orang special need atau berkebutuhan khusus bekerja?

Beberapa perusahaan otomotif mempekerjaan penyandang thalessemia dan mereka memiliki kebijakan mengizinkan pekerja thalessemia untuk istirahat 3 hari tiap 6 minggu. Microsoft kono kabarnya mempekerjakan 1% pegawainya yang merupakan penyandang autism.

Lapangan pekerjaan sangat terbuka bagi orang berkebutuhan khusus.

Begitu banyak penyandang disleksia menjadi tokoh : David Boies, Steven Spielberg, Keira Knighley, Justin Timberlake, Keanu Reeves, Vince Vaughn. Daniel Radcliffe mengidap disfraksia. Autism salah satunya Claire Danes. Disabilitas seperti Stephen Hawking.

 

  1. Pasangan hidup

Apakah orang berkebutuhan khusus dapat menikah?

Profesor Bambang memberikan penjelasan khusus untuk CP. Untuk CP 1 dapat menikah dengan siapa saja, insyaallah. Namun mulai CP 3,4,5 sebisa mungkin orang dari pasangan normal sebab penyandang ini membutuhkan bantuan dalam kehidupan sehari-hari. Meski demikian, takdir Allah akan menentukan siapakah jodoh terbaik bagi orang berkebutuhan khusus.

 

  1. Ketidaksiapan orang tua

Banyak orangtua tidak siap menerima diagnose anak ABK. Ada yang meninggalkan pasangan dan anaknya. Ada yang bercerai. Namun tidak sedikit yang justru menjadi solid dan kuat luarbiasa, menjadikan kehadiran anak ABK sebagai anugerah tak terkira.

ortu-teladan

Incredible parents 🙂

Sedih, kecewa, merasa melakukan satu dosa, terpukul dan menolak takdir adalah sikap yang dialami orangtua ABK. Setelah menemukan kekuatan kembali, biasanya orangtua akan berjuang untuk memulai langkah panjang perjalanan.

ABK tentu membutuhkan kesabaran, dukungan financial dan dukungan sosial.

Bagi orangtua yang merasa terpukul, ikutlah komunitas agar mendapatkan pengalaman berharga dari orangtua-orangtua yang mengalami kejadian serupa.

 

  1. Komunitas

Family support group sangat penting. Di Surabaya ada komunitas yang digagas oleh dokter Sawitri. Kebetulan saya dan dokter Sawitri menerima penghargaan untuk perempuan berprestasi versi AILA 2016 kemarin di bulan April.

Mbak Sawitri ini punya komunitas Peduli Kasih ABK. Menjadi penjembatan antara orangtua-orangtua yang memiliki anak gangguan pendengaran, autis, cerebral palsy, down syndrome dan banyak lagi. Bertemu sesama orangtua akan berbagi informasi berharga seputar dukungan optimal terhadap ananda tercinta, juga, saling mendoakan dan menularkan aura positif.

Dukungan orangtua terhadap anak ABK sangat penting.

Dukungan pasangan terhadap orang berkebutuhan khusus sangat penting. Ini saya ungkap secara khusus di novel Bulan Nararya dan juga tema skizofrenia yang pernah saya tuliskan sebelumnya. Suami, istri, anak-anak yang dapat menerima kekurangan salah satu anggota keluarga; akan mengoptimalkan peran masing-masing. Kerjasama setiap anggota akan menghasilkan buah yang membanggakan!

 

  1. Beda cacat dan disabilitas

Menarik sekali hal singkat yang dipaparkan mas Bayu. Mas Bayu adalah seorang psikolog, relawan ABK Peduli Kasih dan penyandang disabilitas.

bayu

Mas Bayu, Psikolog yang luarbiasa !

Apakah beda cacat (impairment) dan disable?

Impairment atau cacat, dinisbatkan pada penderita dan seolah-olah itu menjadi aib serta kekurangan seumur hidunya. Missal cacat pendengaran, cacat penglihatan, atau impairment yang lain. Padahal, orang cacat bila diberi peluang dan pelatihan, akan sama aktivitasnya dengan orang normal. Ingat, 10% penduduk dunia adalah orang dengan kebutuhan khusus.

Bila, orang autis, disleksia, hearing impairment, cerebral pasly, maupun penyandang special needs lainnya mampu mandiri bahkan berkontribusi positif; apakah ia masih dianggap cacat?

Bahkan mungkin, ia tidak lagi dianggap disable sebab justru kiprahnya melampaui orang normal pada umumnya. Di Indonesia sendiri dikenal difabel atau differential ability , bahwa orang cacat sebetulnya bukan ‘cacat’ tapi mereka memiliki kemampuan lain. David Boies, pengacara terkenal dan kaya raya dari Amerika, memiliki cacat membaca. Sebagai penyandang disleksia ia mungkin membaca berkas klien hanya beberpa lembar berhari-hari saat orang normal hanya butuh 2 jam! Namun, David Boies mampu mendengar cermat dan menghafal cepat, serta merumuskan perkara dengan brilian sehingga mampu memenangkan kliennya. David Boies tentu tidak cacat, tapi justru punya different ability.

Apakah kita masih mengatakan Nick Vujicic cacat sementara ia adalah motivator tingkat dunia? Maka sebutan cacat, impairment, disable, handicapped harus sangat berhati-hati dilabelkan.

 

  1. Mirroring, hipnoterapi dan aura ketenangan

Sepanjang sesi seminar dan tanya jawab, biasalah, anak-anak heboh di belakang. Sebagian anak-anak yang hadir adalah children with special needs. Sesi seminar rebut. Sesi coffe break ribut. Sesi pemberian reward ribut.

Tetapi ada moment yang pantas dicatat ketika mas dokter Hafid (saya menyebut demikian karena dokter yang satu ini masih muda dan lucu banget!) memberikan panduan singkat tentang relaksasi.

Duduk di kursi. Telapak kaki menempel di lantai. Relaks. Posisi nyaman.

Setiap kali kita menarik nafas maka kedua tangan mengepal, telapak kaki menekuk ke atas sekua tmungkin ( kea rah tulang kering). Lalu hembuskan nafas pelahan sembari melepaskan kepalan tangan dan meletakkan kembali telapak kaki ke lantai.

Hal ini dilakukan semua peserta seminar berulang-ulang sembari memejamkan mata.

Apa yang terjadi?

Anak-anak yang semual heboh pun menjadi senyap!

Ternyata sikap tenang, sepi, senyap dari orangtua menular kepada anak-anak. Pantas saja emosi positif juga membawa dampak positif. Kalau orangtua heboh, ngomel, ngedumel panjang lebar; anak-anakpun makin gelisah. Betul kan?

 

Support Group ABK PEduli Kasih.JPG

Para relawan, guru, pendidik ABK yang luarbiasa 🙂

Super Child : Anak tak boleh Salah dan Kalah

 

 

Kita akan menciptakan super child, si anak super yang akan menghadapi dunia 50 tahun ke depan. Anak impian kita yang merupakan gabungan Jenderal perang Qutuz, Shalahuddin al Ayyubi, Muhammad al Fatih. Anak yang mampu menggabungkan teknologi dan wirausaha ala Bill Gates dan Steve Jobs. Anak yang memiliki pengalaman kenegaraan seperti Mahathma Gandhi dan Nelson Mandela. Anak yang memiliki kefahaman ilmu agama seperti Syaikh Yusuf Qardhawi dan Syaikh Aidh al Qarni. Anak yang mampu berkomunikasi dengan fasih, menjalin hubungan interpersonal yang baik, diterima di tengah khalayak dengan terbuka.

Kalau bisa, bukan hanya 1 atau 2 anak kita yang seperti itu. Tapi semuanya!

chidren-image

Dunia tanpa Dinding

Kita dibesarkan dalam dunia yang memilki kesenjangan bagai tanpa limit antara realitas dan idealita.

Dalam dunia yang serba mengabaikan norma, kita ingin anak-anak teguh memahami prinsip agama, maka orangtua mengirimkan anak-anak ke sekolah Islam terbaik. Pesantren, boarding school, sekolah Islam plus, sekolah Islam terpadu, sekolah internasional, homeschooling. Kita memilih mana sekolah (yang dianggap) terbaik, berapapun biayanya.

Biaya sekolah Islam mulai dengan kisaran 500 ribu perbulan, hingga 5 juta per bulan. Uang masuk mulai 5 juta hingga ada pula yang 50 juta. Sungguh kita berharap, dengan upaya banting tulang peras keringat mencari uang halal, anak-anak pun masuk sekolah dan keluar dari sekolah dengan produk unggul berkualitas.

Tidak cukup hanya itu.

Segala fasilitas kita coba kerahkan untuk membentuk anak-anak menjadi Super Child.

Ensiklopedi, VCD, kaset, TV kabel, supercamp, pelatihan,  kursus, seminar motivasi; apapun yang dapat mengasah kemampuan anak, kita lakukan.

Anak-anak kita, buah cinta dengan pasangan, perhiasan mata dan harapan kehidupan mulia di dunia akhirat tumbuh dari waktu ke waktu. TK, SD, SMP, SMA, kuliah. Lalu semua bagai noktah merah yang saling terhubung. Mungkin kita telah meramalkan sesuatu, atau kita justru terkaget-kaget menghadapi anak sendiri.

Kecewakah kita sebagai orangtua?

 

Rezeki : selalu ada yang bertolak belakang.

Di dunia ini selalu ada yang bertolak belakang.

Kaya miskin.

Maka kita sering mendengar pepatah : rezeki sudah dibagi. Memang ada orang yang diberikan Allah Swt kehidupan demikian mudah, sehingga usaha apapun jadi uang. Tapi ada juga orang yagn diberikan kesulitan ekonomi, usaha apapun selalu terhalang. Meski tak boleh berputus asa dan harus tetap berjuang demi perbaikan ekonomi, bahkan memperbesar factor X seperti tahajjud, tilawah, sedekah, silaturrahim dan lain-lain; nyatanya kita tetap percaya bahwa ada orang yang diberikan keberlimpahan rezeki lebih oleh Allah Swt.

Tak mungkin rakyat Indonesia 280 juta,semuanya terdiri atas orang-orang seperti Chairul Tanjung, Aburizal Bakrie, Jusul Kalla bukan? Tak mungkin pula semua rakyat Indonesia terdiri dari Yusuf Mansur, Arifin Ilham, Mario Teguh. Ada orang-orang seperti kita yang mungkin ‘biasa-biasa’ saja dan belum menemukan potensi sebenarnya.

Pintar bodoh. Cepat lambat. Cerdas kurang cerdas.

“Ya ampun, senengnya ya Bu! Anaknya berkali-kali lolos olimpiade sains, sampai dikirim ke luarnegeri!”

“Yah, memang dari kecil sudah senang matematika, kok!”

“Rahasinya apa? Punya anak pinter begitu? Makan ikan atau omega 3 banyak-banyak kali ya pas di kandungan…?”

“Oh, nggak juga kok. Kali aja karena bapak ibunya pinter ya?”

Hehehe …

Sementara anak-anak kita jangankan olimpiade sains. Mata pelajaran matematika saja harus bolak balik belajar!

“Ya Allah, senangnya ya…anaknya hafidz Quran semua. Apa rahasianya, Bunda?”

“Alhamdulillah sejak SD memang saya masukkan pesantren, Bu.”

“Wah, sedih dong pisah sama anak sejak kecil…”

“Memang sih, tapi saya bertekad anak-anak jadi penghafal Quran semua.”

Alhamdulillah.

Saya sendiri bahagia mendengar keluarga penghafal Quran. Meski tak semua keluarga muslim dapat mewujudkannya, karena berbagai alasan. Karena biaya, karena jarak, karena kesehatan, karena pertimbangan A, B, C yang seringkali hanya diketahui keluarga yang bersangkutan.

Pintar. Penghafal Quran. Unggul di pelajaran.

Demikianlah gambaran rezeki anak-anak yang sangat membanggakan.

Lalu adakah anak yang tidak pintar? Yang bukan penghafal Quran? Yang berada di urutan bawah ranking kelas?

Ya.childs-imagination

Mungkin itu anak-anak kita. Dan mereka rezeki dari Allah.

Mereka belum menghafalkan Quran bukan karena meninggalkan Quran, tapi karena proses yang ditempuh masih panjang. Anak-anak kita yang ‘terpaksa’ sekolah di sekolah negeri kemungkinan sulit mendapatkan tambahan hafalan Quran, kecuali orangtua punya trik-trik jitu. Anak-anak kita yang dianugerahi Allah Swt IQ standar mungkin tak akan mampu menguasai matematika, fisika, kimia dengan cepat. Mereka lebih trampil berjualan, menggambar, atau berkomunikasi dengan teman.

 

Anak yang tak punya arti bagi orangtua

Suatu saat saya marah besar pada si Abang.

Saya bawa ke kamar, ajak bicara berdua. Saya beberkan kelebihannya dan juga kesalahannya yang membuat saya marah. Saya marah sebab ia lebih terlambat ke masjid di banding adiknya. Saya marah sebab ia lebih jarang baca Quran dan lebih sedikit hafalannya. Saya marah sebab ia lebih longgar menjalankan sunnah Nabi dibandingkan adik-adiknya.

Saya jelaskan Muhamamd al Fatih. Saya jelaskan Steve Jobs. Saya paparkan Einstein.

Lalu si abang tertunduk, matanya berkaca-kaca.

“Jadi selama ini , apa yang aku lakukan buat Ummi nggak ada artinya ya?”

“Apa maksud kamu, Mas?” sebagai ibu saya semakin marah ditantang demikian.

“Yang lebih baik dimata Ummi adalah adek yang rajin ke masjid. Iya, adek memang hafalan Qurannya lebih banyak. Lebih nurut. Lebih shalih.”

Saya menahan nafas, menahan diri.

“Kalau aku rajin jemput adek ke sekolah, apa itu nggak ada artinya? Aku selama ini taat sama Ummi, gak mau jalan sama cewek, gak pernah ke bioskop dan mall ; gak mau pacaran; karena taat sama Ummi; apa itu gak ada artinya? Meski teman-temanku rajin ngajak aku hang out, aku berusaha patuh sama Ummi.”

brother-sister-1

 

Aku terdiam.

“Aku sering belikan Ummi oleh-oleh tiap kali aku ke kantin sekolah. Aku senang belikan Ummi lauk pauk biar Ummi gak usah masak.  Kalau di jalan aku mampir Indomaret atau Alfamart, aku telpon Ummi : Ummi butuh apa? Ummi mau minuman apa? Aku tahu susu kesukaan ummi. Aku tahu snack kesukaan Ummi.”

Aku tercekat.

“Aku selalu berusaha menyisihkan uang saku, biar nanti saat Abah Ummi nggak punya uang dan aku butuh beli buku-buku; aku nggak harus minta lagi.”

Tiba-tiba mataku basah.

Abang pun terlihat sedih.

“Aku minta maaf kalau kadang berkata kasar sama Ummi .”

Ahya.

Ia, si abang memang tidak hebat di akademik, seperti kakak sulung dan adiknya. Tapi ia punya banyak teman dan rata-rata teman sekolah menyukainya. Ia, si abang yang memang hafalan Qurannya masih sedikit. Sholatpun masih sering diingatkan untuk ke Masjid. Tetapi,

“Ummi, aku tahu ibadahku kurang. Maka sekarang aku rajin ikut pengajian. Dan aku ngisi pengajian adik-adik SD.”

Ia, si abang yang sering kuprotes karena ibadahnya kurang disana sini. Ternyata Minggu pagi saat waktunya bermalas-malas bagi anak seusia dia,  berusaha siap jam 7 pagi.

“Ngapain kamu, Mas?”

“Mau isi pengajian anak SD, Mi.”

“Nih uang bensin,” aku selipkan beberapa lembar uang.

Lalu si abang berangkat dan pulang tak lama kemudian.

“Lho nggak jadi?” tanyaku.

“Anak-anaknyanya ternyata pada gak bisa.”

“Oh,” aku mengangguk. Kulihat seplastik besar makanan dan minuman. “Apa itu?”

“Makanan dan minuman buat adik-adik pengajian. Biar mereka senang.”

Aku tersenyum. Mengelus kepalanya. Dan ia tidak mutung atau patah semangat meski pengajian kadang-kadang gagal berlangsung.

Tiba-tiba aku ingat semangatnya untuk menjemput kebaikan dan menebarkan kebaikan; meski ia masih banyak kekurangan disana-sini.

Sebagai orangtua aku memang sering menuntut lebih pada anakku.

Mereka harus shalih. Mereka harus pintar. Mereka harus jadi orang hebat. Dan seketika kata-kata si Abang membuatku sedih dan tersadar,

“Apa yang aku lakukan selama ini, nggak ada artinya buat Ummi?”

 

Biarkan proses itu berjalan

Sungguh, kita senang bila mendapatkan anugerah easy child. Bukan hard child. Anak yang dari sononya sudah gampang diapa-apakan. Gampang disuruh, gampang diatur, gampang dibentuk. Susah sekali jadi orangtua yang harus berhadapan dengan anak yang ngeyel, keras kepala, mau menang sendiri, tidak mudah diatur-atur.

Tapi mereka anak-anak kita.

Ada darah kita mengalir di dalamnya, baik ataupun buruk. Mereka shalih, sebab kitapun shalih. Mereka keras kepala, mungkin kita ayah ibunya ada yang keras kepala. Mereka sulit belajar sains, sebab kita pun tidak terlalu menyukai sains. Mereka sedang terbentuk, sebab mereka memang harus ditempa tahap demi tahap.

Bila anak kita belum menjadi pegnhafal Quran saat ini, jangan patah semangat. Mungkin ia bisa jadi penghafal Quran 5 atau 10 tahun ke depan. Bila anak kita belum rajin ke masjid, jangan berhenti mengajaknya. Mungkin suatu saat ia akan tersadar, justru ketika kuliah atau malah sudah berkeluarga.

Mungkin anak kita belum menjadi anak yang kita banggakan.

Tapi, biarkan proses indah itu berlangsung. Waktu demi waktu. Tahap demi tahap. Sebagaimana para Nabi dan orang shalih pun tidak serta merta punya keturunan yang diinginkan. Apalagi kita yang masih banyak tambal sulam dalam segala pengabdian kepadaNya.

Mengapa, tidak bersama anak-anak kita, bergandengan tangan menuju keridhoanNya? Mengapa tidak kita syukuri punya darah keturunan disaat orang-orang lain sangat sulit punya anak kandung? Mengapa ketika kita kesulitan menghadapi anak-anak kita; ayo azzamkan bahwa kita pun harus meningkatkan kualitas diri sebagai orangtua : kualitas belajar, komunikasi, ibadah dan yang lain-lainnya?

Anak-anak itu adalah anak impian kita.

Mereka hanya harus menemukan jati diri. Dan suatu saat, dengan segala kekuarangan yang mereka miliki; mereka akan saling bekerja sama bahu membahu bersama anak-anak lain untuk menciptakan peradaban baru yang lebih unggul dari masa skearang.

 

(Terimakasih, Kak Malik, atas sharingnya malam itu di Depok. Terimakasih anak-anakku, juga murid-murid kelasku yang luarbiasa)

 

 

(3) Ayah atau Bunda yang Lebih Berperan?

Wahai, Ibu!
Ibu, center person, sudah menjadi rahasia umum merupakan sumber mata air bagi anak-anaknya. Mata air kasih sayang, mata air keilmuan, mata air ketenangan. Keterlibatan ibu merupakan keharusan bagi perkembangan anak yang membutuhkan II(instrumetnal involvement) dan MAI (mentoring advising involvement). Pasangan ayah ibu yang mampu melibatkan diri dalam II- MAI, sungguh menyempurnakan tumbuh kembang anak.
Satu lagi tugas penting ibu adalah EI (expressive involvement) yang membuat anak memiliki karakter spiritual, emosional seimbang, sosial, fisik, juga kemampuan bersenang-senang. Ibu yang berhasil menghadirkan sosoknya secara utuh akan membuat anak memiliki karakter di atas, meski bukannya menafikkan kehadiran ayah.
Pernahkah kita melihat anak yang sangat serius, tak dapat ‘tersenggol’ sedikit, cepat marah, segala sesuatu harus perfek dan diukur bagai standar hitam-putih?

Kemungkinan, kehadiran ibu kurang optimal. Ibu yang terlalu sibuk, ibu yang terlalu menegakkan disiplin tanpa menyadari ada hal-hal yang dapat disepakati secara fleksibel , ibu yang hanya mampu menyuruh-nyuruh dan memberi hukuman.
Karakter spiritual utamanya dibangun oleh ibu, meski moralitas harus dibangun oleh ayah-ibu. Keseimbangan emosional memerlukan hadirnya ibu, maka, anak yang sangat tantrum dan emosional seringkali hanya dapat ditenangkan dengan dekapan ibu. Kemampuan anak berinteraksi sosial juga perlu mendapatkan asuhan sang ibu, begitupun perkembangan fisik dan hal yang sering terabaikan namun amat sangat penting di dunia milleinium dewasa ini : kemampuan enjoy, fun, pleasure, menikmati leisure time. Anak-anak sekarang cepat stres hanya karena perkara sepele, semisal tak memiliki gadget yang sama dengan teman, atau tak memiliki teman main. Anak-anak cepat stres karena tugas sekolah, macet lalu lintas, persaingan antar teman, atau tak masuk dalam satu peer grup dengan teman sebaya.
Betapa banyaknya yang masih dapat dinikmati dalam hidup!
Tak punya gadget? Masih ada buku, lompat tali, bola, menanam pohon, memelihara kucing dan ikan, atau cooking class! Ditolak peer group di sekolah? Bukannya masih ada teman-teman anak tetangga dan teman bermain di masjid kompleks?
Ternyata , kedekatan anak dengan ibu, memiliki satu karakter ajaib yang diperlukan anak-anak dewasa ini : mampu melihat dunia dari kacamata riang gembira! Ah, tak apalah tak terpilih olimpiade matematika, bukankah masih ada lomba melukis dan lomba macapat? Ah, tak apalah sang ayah sibuk sepanjang hari, bukankah ada ibu yang dapat diajak bermain dakon dan bekel?

sex-education-1-728
Dulu, masih ingatkah kita, bahwa seorang ibu adalah bagian dari teman bermain. Bermain masak-masakan, bermain jual-jualan, bermain gunting menggunting kertas. Wahai, Ibu, marilah libatkan diri dalam expressive involvement agar anak-anak tetap memiliki batin yang senantiasa ceria di tengah dunia yang serba cepat dan serba canggih.
Kita boleh tak setuju pada pendapat Sigmund Freud terkait basic instinct, tapi kita akan setuju dengan pendapatnya yang satu ini : sebagian besar penyimpangan pada manusia, bersumber dari ketidakhadiran sang Ibu.

 

Bagian 3 dari 3 tulisan

Sinta Yudisia
April 2016

(2) Ayah atau Bunda yang Lebih Berperan?

O, Ayah!
Penelitian di atas tentu masih melibatkan peran bunda, sesuatu yang tak disanggah lagi. Namun hadirnya ayah ke tengah anak-anak sungguh semakin menakjubkan! Tahukah kita, bahwa seorang ayah yang memiliki keterlibatan hangat dalam keluarga, maka anaknya akan lebih lancar membaca dan mengerjakan matematika sejak usia 8 tahun di sekolah dasar? Bila kehadiran ayah tampak nyata di rumah, tanda-tanda kemunculan conduct disorder alias gangguan perilaku yang seharusnya muncul sejak usia 10 tahun, dapat diminimalisasi?
Maka bila kehadiran ayah adalah nihil, atau sosoknya raib dari rumah; tidak saja anak-anak mengalami hambatan pelajaran namun juga mengalami hambatan dalam berperilaku.
Ayah dibutuhkan dalam 2 hal keterlibatan : instrumental involvement dan mentoring-advising involvement.
Wahai ayah, berusahalah untuk bertanggung jawab dan disiplin terhadap segala sesuatu sebab ternyata tanggung jawab ini berada di pundakmu. Jangan lempar handuk sembarangan, lepas kaos kaki sesuka hati, piring kotor dibiarkan, dan meninggalkan semua tinggalan pekerjaan tanpa dirapikan ulang. Hal-hal kecil melatih ketrampilan. Seorang ibu yang merapikan rumah masih belum cukup membangun karakter disiplin dan tanggung jawab dalam diri anak-anak; ayah harus melengkapinya. Memunculkan gairah anak untuk memilih karir tertentu dalam hidupnya, pun hasil peran sang ayah.

Paul Jobs, seorang tukang kayu. Setiap kali menukang, membuat pagar dan lemari, ia menyiapkan meja kecil dan palu kecil bagi putranya, Steve. Sembari menukang, ia berbicara pada putranya, “Steve, dalam membangun sesuatu yang terpenting bukan apa yang tampak. Lihat lemari ini, yang paling penting adalah sisi belakangnya. Kokoh!”

Jobs

Steve Jobs

Steve bukan menjadi tukang kayu. Tapi filosofi Paul Jobs melekat kuat ketika ia menciptakan computer dan perangkat lain : yang tidak tampak, ternyata bagian yang paling penting. Dunia mengenalnya sebagai Steve Jobs, information technology entrepreneur. Bahkan segala perihal tentang dirinya tak hanya berbau teknologi; buku, film, caranya presentasi, menginspirasi banyak orang.
Instrumental involvement, penting dalam perkembangan etik dan moral. Ingatlah, bahwa spiritual kadang-kadang tidak serta merta memunculkan sisi etis dan moralis. Ingat kasus Jim Baker dan Jimmy Swaggart? Seorang anak yang rajin sholat dan baca Quran terkadang masih suka bersikap kasar dan berkata menyakitkan, ayahnya yang dapat membantu sang anak menemukan sifat etis dan moralis dalam dirinya.

Gandhi

Mahathma Gandhi

Anda tahu Mahathma Gandhi?
Ketika mencanangkan gerakan Ahimsa dan Satyagraha di India, ia tidak memerintahkan anak buah atau seluruh pengikutnya melakukan aksi tertentu. Gandhi tahu, Kasturbai, istrinya dan anak-anak sekian lama hidup dalam gaya Eropa : roti , garpu dan pisau. Gandhi tahu, tak mudah mengubah keluarga, masyarakat, apatah lagi India. Maka yang dilakukan Gandhi sebagai suami dan ayah adalah meninggalkan cara makan Eropa, beralih makan menggunakan tangan. Gandhi mencuci kakus dan mengosek kamar mandi, sesuatu yang tak akan pernah dilakukan kalangan Brahmana dan Ksatria! Gandhi menggunakan sari, menanggalkan dasi dan jas.
Ajaib.
Gandhi berhasil seorang ayah yang konsisten menginspirasi anak, istri, keponakan, tetangga hingga seluruh negeri dan wilayah protektorat Inggris lainnya. Gandhi berhasil melawan hegemoni Inggris dengan segala derivatnya : politik, militer, ekonomi, hingga budaya. Inilah peran ayah dalam menginspirasi sisi etis dan moralis bagi anak-anak dan keluarga.

Wahai, Ayah!
Anda tak perlu rendah hati ketika hanya berprofesi sebagai pegawai rendah, atau pengusaha dengan gaji kecil.
“Ah, bagaimana mungkin ayah sepertiku dapat menjadikan anak-anaknya sebagai orang-orang sukses?”

Thatcher

Margareth Tatcher muda

Alfred Roberts, si tukang sepatu, bangga pada kecantikan Margareth dan Muriel. Khusus Margareth, sejak kecil si cantik nan cerdas ini memikat khalayak bukan hanya karena kecerdasan superiornya, tapi juga kemampuan orasinya. Menyaksikan putri perempuannya punya banyak bakat sementara dirinya hanya seorang tukang sepatu, Alfred Roberts rajin menulis surat untuk putrinya, mengatakan kebanggaan dan harapannya. Alfred tak pernah putus asa, mendorong putrinya untuk terus meraih yang terbaik dalam pendidikan. Sama seperti Paul Jobs, Alfred Roberts meletakkan dasar-dasar fundamental bagi karir putrinya yang terkenal sebagai Wanita Besi, Margareth Tathcher.
Para lelaki di atas membangun karakter anggota keluarga mereka dengan memenuhi kaidah instrumental involvement sehingga anak-anak menemukan keberhasilan karir, memahami jalan etis dan moral, disiplin dan bertanggung jawab dalam kehidupan.

Mentoring advising involvement, adalah keterlibatan (ayah) untuk membangun kompetensi, kemampuan untuk menjadi mentor bagi orang lain serta mendukung perkembangan intelektual. Keterlibatan ayah ternyata sangat penting bagi perkembangan akademis anak-anak di sekolah. Ayah yang terlibat dalam pendidikan bagi anak-anak, membentuk karakter keluarga yang dapat welas asih kepada sesama. Bila, kasih sayang dari ayah cukup, anak-anak tak akan haus dahaga mencari sumber perhatian di luar yang seringkali tampak dalam perilaku agresif, impulsif , hiper sensitif. Kehadiran ayah dalam edukasi anak-anak juga membantu kompetensinya , perkembangan intelektual dan akademisnya. Sosok ideal person ayah menjadikan anak-anak punya semangat untuk mencanangkan cita-cita tinggi : menjadi presiden, menjadi pengusaha sukses, menjadi menteri atau ahli agama serta cita-cita mulia lainnya.

Sinta Yudisia, Bagian ke-2 dari 3 tulisan