Kategori
15 Rahasia Melejitkan Bakat Anak ACARA SINTA YUDISIA Catatan Perjalanan Quran kami Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Pesantren Fahim Quran : Hafal 30 Juz sekaligus ahli IT (Programming & DKV) !

Ini salah satu institusi, pesantren, lembaga atau apalah namanya yang menjadi impian saya sejak lama. Gimana caranya anak-anak bisa menghafal Quran sekaligus mempelajari bidang yang memang merupakan bakat minat mereka.

Menghafalkan Quran butuh stamina lahir batin. Konsentrasi tingkat tinggi, motivasi kuat, juga disiplin yang terus menerus. Pantauan dari para guru juga penting, mengingat anak-anak pra remaja dan remaja ini tentu jatuh bangun semangatnya. Biasanya, pesantren mengajarkan ilmu-ilmu agama terkait Quran, hadits, fiqih, bahasa Arab dan Inggris. Di Fahim Quran, bukan hanya cukup hafal 30 juz. Bahkan, salah satu nasehat ustadz Purwanto dalam acara setor hafalan Quran di senja itu, benar-benar menampar kita.

“Bagaimana kalian harus hafal, hidup, beraktivitas, hingga mati dengan seluruh nilai-nilai Quran.”

Beliau mendorong bahwa setiap santri yang menjadi penghafal Quran, harusnya punya semangat dan ambisi lebih. Jangan setelah hafal 30 juz, justru tidak mau berprestasi apa-apa. Tidak mau melakukan aktivitas apa-apa. Padahal alim ulama dan ilmuwan Islam di masa lampau, mereka penghafal Quran dan terus bekerja di bidangnya masing-masing. Kadang, seorang penghafal Quran merasa cukup sudah hafal 30 juz. Merasa sudah sampai di puncak ibadah dan dapat memberikan hadiah mahkota permata kepada orangtua kelak di hari akhir. Harusnya, penghafal Quran menjadi panglima ilmu pengetahuan dan motor dari penggerak peradaban!

Kenapa IT?

IT- information technology  atau teknologi informasi ( TI) adalah teknologi dalam membuat, mengubah, menyimpan, mengirimkan, mencetak atau mengolah apapun terkait informasi. Saat ini, Indonesia sangat membutuhkan ahli-ahli IT sehingga tidak tertinggal dari bangsa lain. Ahli ini selain memiliki kemampuan tinggi, tentu harus memiliki ketahanan mental yang tangguh. Istilah Habibie, berotak Jerman berhati Makkah.

IT di Fahim Quran meliputi dua hal : Programming dan DKV (desain komunikasi visual).

Apa sih DKV itu?

Program studi Desain Komunikasi Visual (DKV) mempelajari ilmu tentang penyampaian pesan (komunikasi) dengan menggunakan elemen-elemen visual atau rupa. Disini siswa akan belajar untuk mengolah pesan secara informatif, komunikatif, dan efektif, serta se-kreatif mungkin agar pesan dapat mencapai sasaran dengan memperhatikan unsur bentuk, warna, tekstur, ruang, huruf, dan segala hal yang berkaitan dengan visual (penglihatan). Misalnya membuat poster, logo, ilustrasi, desain web, foto, video, animasi, dan sebagainya.

Terus terang, anak-anak muda sekarang banyak banget memiliki kecenderungan di aesthetic. Ini hasil tes minta yang pernah saya lakukan pada  mereka, lho! Dulu, seni seringkali hanya dikaitkan dengan seni musik, seni tari, seni patung, seni lukis. Sekarang, aesthetic memiliki makna luas termasuk DKV. Sebuah pesan dari A (sender) akan diterima B (receiver) bila pesannya diterima dengan baik. Baik itu mencakup berbagai macam : baik caranya, bernas kontennya, menarik tampilannya, bisa dipahami maknanya. Pesan-pesan sekarang sangat butuh orang-orang DKV. Lihat aja iklan keselamatan di jalan raya yang digagas kepolisian. Tidak lagi sekedar “Hati-hati di Jalan” tetapi…. “Jatuh cinta itu enak. Kalau jatuh di jalan? Benjol!”

Pesan ini akan jauh lebih sampai ke anak muda (tahu sendiri kan, yang naik motor seenak udel kebanyakan anak muda!).

Fahim Quran juga mempersiapkan anak-anak untuk menjadi programmer. Kalau yang masih bingung, programming itu belajar apaan sih? Programming adalah menganalisis, menyusun, mengedit, menguji kumpulan bahasa pemrograman untuk kemudian menghasilkan sebuah program yang bisa menjalankan suatu tugas tertentu secara otomatis. Untuk lebih mudahnya programmer adalah orang yang membuat program itu sendiri dengan menggunakan kombinasi berbagai programming language. Umumnya, programmer sendiri terbagi menjadi 4 jenis yaitu funcional, operational, graphical dan web-based.

Kalau mau kuliah yang ada bahasa-bahasa programming nya, salah satunya kuliah di teknik informatika ITS. Hehehe, ini bukan promosi ya. Gegara penulis tinggal di Surabaya, tetanggaan sama ITS.

Nah, kalau yang masih bingung (khususnya orangtua) tentang apa itu programmer atau programming, mungkin bisa nonton beberapa film berikut. Film-film ini ada yang tentang kehidupan programmer, ada yang tetnang programming itu sendiri. Kalau nggak ada programmer, rasanya film-film gak akan sebagus ini.

Di Fahim Quran, para santri diajarkan untuk membuat bahasa programming. Sekarang, mereka sudah punya beberapa produk yang bisa diunduh di playstore, lho! Menurut ustadz Purwanto dan ustadzah Yaumi, keduanya pendiri & pengasuh Yayasan Fahim Quran, memadukan tahfidzul Quran dan ilmu IT merupakan tantangan tersendiri. Di satu sisi, menghafal Quran butuh ketekunan dan konsentrasi tinggi, tak bisa diganggu oleh aktivitas lain. Sementara, IT dengan jurusan programming dan DKV butuh konsentrasi yang berbeda. Tetapi, akan sangat disayangkan bila bibit penghafal Quran yang memiliki raw materials sangat bagus tidak dikembangkan sisi intelektual dan talentanya. Sebab, banyak anak muda sekarang yang mahir berkecimpung di dunia IT. Pegnhafal Quran rata-rata memiliki kemampuan memory yang kuat, cocok sekali dengan bahasa pemrograman yang butuh logika tingkat tinggi.

“Apalagi, sebagian besar programmer biasanya gamer juga,” jelas ustadz Purwanto.

Gaming disorder sangat dicemaskan para guru dan orangtua saat ini.

Insyaallah, di Fahim Quran para santri diselaraskan agar tetap dapat megnhafal Quran sekaligus memiliki tanggung jawab megnembangkan bakat minat serta talenta terpendamnya di bidang IT.

2 Jenis Santri di Fahim Quran

Yayasan Fahim Quran memiliki kelas putri, dinamakan santri Fahim Quran. Kelas putra dinamakan QBS, Quadran Boarding School. Keduanya terletak di Bogor, Jawa Barat.

Fahim Quran sebetulnya merupakan singkatan dari Fast-Active-Happy-Integrating in Memorizing Quran. Tahun ini adalah tahun ke-4 Fahim Quran berdiri. Meski baru 4 tahun berdiri, jumlah santri putri mencapai 98 siswi sementara santri putra mencapai 117 siswa. Karena banyaknya permintaan, Fahim Quran terpaksa harus menolak pendaftar, hiks…hiks.

Untuk menghafal Quran, Fahim Quran tak main-main. Mereka punya program sendiri yang pantas dicontoh. Ustadz Purwanto, sang pendiri, menyusun 9 cara metode menghafal Quran. Artinya, metode menghafal Quran ada banyak cara dan pendekatan sehingga orang-orang dengan tipe kepribadian/tipe pembelajar tertentu dapat menghafal Quran sesuai kondisi dirinya. Kebayang kan, ada anak-anak yang putus asa menghafal Quran gegara gak bisa-bisa nambah ayat L. Ternyata, dengan metode pendekatan yang berbeda-beda ini, anak-anak akan dapat menghafal Quran lebih mudah.

Jadi ingat ayat ini,

“Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah ( QS 21 : 2)”

Kalau sudah hafal 30 juz, siswa akan diberangkatkan ke Mesir untuk tasmi kepada syaikh al Azhar. Di sana kurang lebih 3 bulan dan mendapatkan sertifikasi langsung dari pakarnya. Masyaallah…

Berikut ini beberapa hasil karya siswa siswi Fahim Quran (ingat ya, yayasan Fahim Quran menaungi santri putri yang namanya persis seperti nama yayasannya Fahim Quran – FQ. Dan santri putra Quadran Boarding School – QBS).

Yang suka programming, menghasilkan buah karya aplikasi-aplikasi bermanfaat untuk menunjang berbagai kegiatan baik yang bisa diterapkan oleh seiswa, orangtua, juga guru. Yang DKV suka sekali menyalurkan ide-ide mereka ke bentuk tulisan, gambar, desain grafis atau apapun yang berbentuk komunikasi visual. Termasuk membuat tulisan-tulisan. Biasanya memang, seorang komikus senang membuat storyboard sendiri. Begitupun sebaliknya, seorang penulis suka merancang ilustrasinya sendiri meski ia tak mahir melukis. Jadi ingat seorang komikus webtoon – Lookism– yang nama dan hasil karyanya saya tuliskan dalam buku 15 Rahasia Melejitkan Bakat Anak.

Ohya, ada kejadian mengesankan yang ditemui penulis di acara Mukhoyyam Quran, 20 Januari 2020 ini. Ternyata ada seorang ustadzah di sana yang telah lama saya kenal via medsos. Kami berkontak dan berteman via twitter, instagram dan wordpress. Masyaallah, terharu dan bahagiaaa banget akhirnya bisa dipertemukan Allah Swt. Namanya Alfi Najma Zahra. Ia suka sekali membaca serial Takudar. Jadi merasa sangat  berhutang pada para pembaca untuk menuntaskan serial pemimpin muslim dari Mongolia ini.

Bagi para orangtua dan calon siswa yang tertarik untuk menempuh pendidikan di Yayasan Fahim Quran, bisa klik www.sekolahimpian.com .

Semoga kamu temukan dunia impianmu, ya!

Kategori
15 Rahasia Melejitkan Bakat Anak Buku Sinta Yudisia Hikmah Karyaku Kepenulisan Menerbitkan buku Nonfiksi Sinta Yudisia Oase WRITING. SHARING.

Apa Bakatmu?

Lama sekali, aku ingin menuliskan buku terkait bakat dan minat anak. Semua bersumber ketika aku sendiri terlambat memahami tentang potensi diriku.

Sejak kecil aku suka berkhayal : menjadi ratu, pasukan paskibraka, penyanyi, wonder woman dan banyak lagi. Sama sekali tak terpikir bahwa kemampuan mengkhayal itu perwujudan dari kreatifitas membuat cerita baru berdasarkan informasi yang sudah ada. Meski sudah suka menulis diary sejak SD, nyatanya aku malah masuk kelas Fisika ketika SMA. Saat itu, kelas di SMA dibagi A1 (Fisika), A2 (Biologi) dan A3 (Sosial). Dulu masih ada kelas A4 (bahasa) tapi jarang juga tersedia. Karena saat itu multiple intelligence belum dikenal, orangtua dan lingkungan mendorongku masuk kelas Fisika. Kata mereka, aku pintar.

Anehnya, aku masuk kelas Fisika tetapi kuliah di Ekonomi Akuntansi. Bayangkan! Sangat jauh panggang dari api hehehe.

Semakin hari aku malah nggak mengerti dengan keinginan dan cita-citaku. Kenapa makin lama nggak suka dengan sains? Gak suka ekonomi? Ketika usiaku menjelang 30 tahun aku coba-coba buat cerpen dan berhasil! Aku ikut beberapa lomba tingkat nasional dan Alhamdulillah, menang. Ketika itulah aku baru mulai sadar : “Oh, aku punya bakat nulis, ya?”

Tidak pernah terpikir menulis menjadi sumber pemasukan.

Setelah 10 tahun menulis aku semakin yakin bahwa menulis adalah duniaku. Apalagi ketika tes minat RMIB, kecenderunganku ke arah aesthetic dan literasi. Klop dah.Terus terang aku terlambat mengetahui minat dan bakatku. Andai sejak kecil aku sudah tahu bahwa bakat minatmu menjadi seorang seniman, aku mungkin akan kuliah di ISI atau masuk fakultas sastra.

Anak-anak : Mereka harus berkembang lebih baik

Sekarang, aku tak ingin kejadian yang sama terulang.

Jujur, awalnya aku masih terperangkap dalam paradigma lama : anak-anakku harus masuk sekolah yang jurusannya sains. Nanti mereka bisa enak memilih. Toh nggak papa kuliah ekonomi bila berasal dari kelas MIA, bukan?

Tetapi, anak-anak ternyata menderita ketika mereka dipaksa masuk kelas sains padahal dalam diri mereka mengalir jiwa altruist, jiwa seniman, jiwa kebebasan. Perlahan, aku mulai belajar dari sana sini. Kebetulan aku kuliah psikologi saat sudah menjadi ibu, jadi aku mulai dapat membaca walau masih kabur, tentang potensi anak-anakku.

Aku melalap berbagai jurnal.

Artikel.

Majalah.

Buku Indonesia dan Inggris.

Karya antologi putri-putri kami. Kiri : ada karya Arina. Kanan : ada karya Nisrina

Pada akhirnya, aku menyelesaikan membuat buku 15 Rahasia Melejitkan Bakat Anak ini, sebuah buku yang sudah kuimpikan lama sebagai bentuk curahan perasaan dan pikiranku tentang bagaimana menemukan bakat terpendam anak-anak. Alhamdulillah, putri-putriku suka menulis. Tetapi bakat saja tanpa motivasi besar seperti mobil mewah tanpa bensin!

gundam and my family.JPG
Salah satu putra kami memiliki kesukaan merakit gundam

Kupikir semua anakku berdarah seni. Tetapi ada satu orang anakku yang baru kuketahui usia onsetnya, mahir merakit sesuatu saat SMP. Ia suka menabung dan membeli Gundam/ Gunpla.

Semoga buku ini bermanfaat bagi para orangtua di luar sana yang cemas, ingin tahu, kesal, marah; karena tak kunjung menemukan potensi anak-anak mereka yang sebetulnya memiliki innate talent atau hidden talent rrruaaarrrbiasa!

PO 15 Rahasia.jpg
Kategori
Oase Pernikahan Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Remaja. Teenager Suami Istri WRITING. SHARING.

Pernikahan Seharga Kaos Kaki

 

Pernah beli baju lebaran?

Ada yang beli sebelum Ramadhan tiba, takut bila agenda memilih-milih baju menggangu aktivitas puasa dan tarawih kita. Ada yang membelinya menunggu THR, karena beli baju lebaran butuh budget tinggi. Ada yang sengaja beli baju lebaran di mall terkemuka atau butik ternama, sebab lebaran termasuk momen tahunan yang istimewa.

emak pakai daster di hut ri 73.jpg
Emak berdaster

Baju daster?

Daster dapur, cukuplah harga 30ribu. Motifnya jelek, jahitannya gampang lepas, gakpapa. Yang penting enak, nyaman dipakai pas ulek-ulek bumbu. Umumnya, daster ini kalau robek, dibiarkan  begitu saja. Nanti kalau mirip keset dengan robekan-robekan serupa jendela, tinggal beli yang baru.

Kaos kaki?

Harganya murah, 10 ribuan. Beli tanpa mikir, nyuci kalau sempat. Kadang pas lewat alun-alun hari Minggu, nggak sengaja lihat dan kasihan pembelinya, belilah sepasang. Hilang satu, tinggal beli lagi. Hilang sebelah, sudah ikhlaskan. Ujung jempolnya sobek sedikit, mending buang aja. Repot amat jahit-jahit kaos kaki. Kalau masih layak, naik tahta jadi pegangan panci panas.

 

Harga waktu dan uang

Ada kata kunci dari pakaian yang kita beli : waktu dan harga.

Semakin penting sebuah acara, semakin tinggi uang yang disisihkan. Semakin banyak pula waktu yang dialokasikan untuk memikir, mendesain, memutuskan, membatalkan, mengkaji ulang. Tidak akan sama mendesain baju wisuda yang spektakuler dengan baju arisan yang setiap bulan ada. Tidak akan sama harga dan waktu membeli rumah dengan membeli sapu. Butuh waktu belasan bahkan puluhan tahun untuk mengumpulkan uang, memikirkan, memutuskan membeli rumah. Tapi sekedar sapu, bisalah sewaktu-waktu.

 

Berapa Harga Pernikahan Kita?

Seorang klien saya memikirkan rencana pernikahannya sejak kecil. Ia tidak ingin pernikahannya seperti orangtuanya. Ia tidak ingin punya anak seperti kakak-kakaknya yang naudzubillah. Beranjak SMA, ia sudah menetapkan calon suami macam apa yang diharapkannya. Impiannya hadir dalam harapan dan langkah tahap demi tahap. Sejak kuliah S1 dan S2 rajin ikut kajian pernikahan dan parenting, yang pastilah mahal untuk kantung mahasiswa. Waktu sebagai mahasiswa yang tugasnya ampun-ampunan, ia sisihkan untuk mengikuti berbagai seminar. Uangnya yang pas-pasan, juga dialokasikan untuk menambah ilmu. Hasilnya, Alhamdulillah, ia mendapatkan suami yang sangat diharapkannya.

Ada seorang klien, yang justru ikut seminar-seminar menikah setelah ia menikah.

Di kepalanya ada rasa menghantui, kenapa ia pacaran sekian lama. Pada saat menikah terbukti , karakter pacarnya berbeda sekali dengan yang dulu. Tetapi ia menyadari satu hal, pacaran dan pernikahan ternyata bukan garis paralel. Malah seperti sumbu X dan Y yang beda banget arahnya. Ketika ia menyadari kurang ilmu dan merasakan dosa, ia banyak mengalokasikan waktu untuk belajar, belajar. Dengan statusnya sebagai istri dan ibu, ia masih mau menyeret-nyeret anaknya ikut seminar ini itu.

Tetapi ada pula orang-orang yang unik.

Anak-anaknya sudah bermasalah. Istrinya sudah kehabisan nafas. Ia masih saja tak pernah meluangkan waktu memikirkan pernikahan : ini enaknya ditangani bagaimana ya? Yang ada di pikirannya karir, karir, karir. Oke. Karir dan uang perlu. Kalau karir seharga baju lebaran, apa pernikahan harus seharga kaos kaki? Nggak juga. Kalau ingin karir dan pernikahan sama-sama seharga baju lebaran, luangkan waktu dan harga.

Kita akan sibuk mendeteksi raut muka atasan dan rekan kerja : wah, si bos kayaknya lagi nggak mood. Enaknya beliau diapain ya? Pasti seorang bawahan akan berjuang dua kali lipat performanya lebih baik hari itu agar mood bosnya segera baik. Tapi sering , kita gagal menangkap raut muka istri dan suami yang lagi keruh. Malah, kalau pasangan lagi keruh, rasanya pingin cepat-cepat cabut dari sisinya. Malas amat! Padahal, kalau bisa dijual, kira-kira berapa sih harga bos, rekan kerja, pasangan kita? Jawab sendiri.

Kaos_Kaki_Formal_Pria_Isi_3_Pasang___Kaos_Kaki_Kantoran___Ka.jpgAda yang memperlakukan bos seharga emas, memperlakukan teman-teman kerja seharga perak, tetapi harga pasangannya cuma seperti plastik disposable.

Pernahkah, kita berhari-hari mencemaskan pasangan kita?

Kok suami/istri sepertinya lagi banyak pikiran? Apa yang ada di benaknya? Apa yang sedang merisaukannya? Apa yang bisa kulakukan supaya dia baik kembali dan bagaimana caraku membuatnya senang?

 

Mengapa  Pernikahan Mahal?

Sebetulnya, nyaris semua orang menganggap pernikahan sesuatu yang ‘mahal’. Banyak orang bisa gonta ganti pacar tapi lamaaa sekali memikirkan dengan siapa ia akan menikah. Masih banyak orang beranggapan, kalau bisa menikah sekali saja seumur hidup. Kita ingin tua bersama, meninggal bersama, dan kelak di surgaNya pun bersama-sama.

Tetapi kita seringkali memperlakukan barang mahal dengan rasa sangat murah. Seperti kaos kaki. Nggak mikir, rusak tinggal buang, hilang ya sudahlah.

Seperti petunjuk di awal : waktu dan harga.

Tak pernah sama sekali mengalokasikan waktu untuk pasangan dan anak. Tapi berharap pasangan setia, pasangan mengerti, anak-anak shalih shalihah, anak-anak baik-baik saja. Berat amat mengalokasikan waktu, pikiran, uang untuk keluarga;  tetapi semua harus berjalan sesuai mestinya! Ibarat orang nggak mau invest apa-apa, tapi maunya dapat deviden dan  bunga.

Selayaknya kita berpikir : kapan ya bisa jalan berdua dengan suami/istri? Mana ya restoran yang nyaman untuk bicara? Bukannya istri nggak mau masak. Tapi situasi café atau resto yang dilayani, membuat istri fokus memandang wajah suami. Kalau memasak di rumah, ia akan sibuk memasak dan beberes. 1 jam duduk berhadap-hadapan di restoran; suami istri bisa menikmati ngobrol berdua. Abaikan harga makanan minuman yang mencapai seratus ribu. Abaikan pikiran ; aduh, mahalnya. Waktu berdua itu terlalu mahal untuk ditukar dengan uang seratus ribu.

Kapan ya jalan-jalan sama anak-anak?

Memang repot. Apalagi kalau punya anak mulai besar. Yang satu suka bioskop, yang satu suka ngemall, yang satu suka makan. Bagaimana orangtua harus mencari celah waktu supaya semua bisa berkumpul. Ribet, makan waktu, makan tenaga, bahkan mungkin makan biaya. Ketika anak-anak butuh perhatian di akhir pekan : aduh, capeknya nemani ke bioskop. Antri beli tiket, antri parkir mobil, macet di jalan raya. Lebih enak tidur di rumah (sembari pegang gadget tentunya!). Padahal saat ke bioskop kita bisa merengkuh pundaknya, menggandeng lengannya, mengacak rambut mereka. Nggak harus bioskop sih, bisa toko buku atau ke factory outlet.

Harga pasangan sangat mahal.

Harga anak-anak sangat sangat mahal.

Mereka investasi berharga di masa depan, ketika kita tua renta, ketika kita sudah meninggal di alam kubur. Coba tanyakan pada para pengusaha sukses : jenis usaha apa yang nggak butuh investasi uang dan waktu? Pasti kita ditertawakan. Kalaupun ada usaha yang modalnya 0, waktu adalah investasinya yang berharga.

Jangan pernah mengeluhkan pernikahan yang terasa gagal, sempit, menyesakkan kalau kita memperlakukannya seharga kaos kaki. Pikirkan keluarga. Pikirkan posisi kita ada di mana. Pikirkan pasangan suami/istri kita dengan sungguh-sungguh. Berjam-jam, berhari, berbulan; seperti kalau mau beli baju lebaran. Lalu alokasikan harga. Ya, mungkin memang harus menguras uang. Mungkin, harus mau keluar biaya untuk jalan berdua dengan si sulung yang mulai intens pacarannya. Mungkin, harus mau keluar biaya untuk ngobrol dengan si bungsu berdua yang nilanya mata pelajarannya semua jeblok.

married-couples-romantic-date-ideas.jpg
Romantic married couples

Oh, pernikahan belum masuk taraf membahayakan. Tapi ingin pembaruan kan?

Kok rasanya sudah agak hambar, ya. Ketemu di ranjang biasa aja. Lihat mukanya tidak ada desir di dada. Pesan pendek darinya di gadget juga bukan prioritas. Anak-anak kok mulai nggak ekspresif kalau ketemu orangtua. Lebih suka pakai headset kalau di rumah. Lebih milih hang out sama teman ketimbang orangtua. Ah, banyak tanda-tanda kecil yang mulai butuh reparasi.

Kategori
mother's corner My family Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY WRITING. SHARING.

Anak Kreatif = Anak Pintar? Tunggu Dulu

 

 

Pernah dengar anak cerdas?

Pastilah pernah.

Anak ini biasanya identik dengan sejumlah kemampuan, utamanya kemampuan akademis dan lebih spesifik lagi kemampuan logis matematis.  Biasanya, orangtua senang sekali punya anak seperti ini. Diajari apa-apa gampang. Diajari pelajaran sekolah langsung paham. Entah apa sejarah yang membentuk pola pemikiran orangtua, sehingga bahasa simbolik seperti matematika lebih dianggap berkelas daripada bahasa simbolik huruf lainnya.

Ingat, matematika itu sebetulnya seni berbahasa. Hanya saja pakai simbol angka.

Sementara bahasa yang menggunakan kata, frase, kalimat hingga menyusun sebuah pola itu juga bentuk bahasa dalam sisi lain. Makanya jangan remehkan ahli hukum yang mampu memutar balikkan fakta atau mampu menemukan celah bahasa secara jeli. Jangan pula remehkan para seniman yang mengolah tubuh membentuk tarian, mengolah warna menjadi lukisan, mengolah kata menjadi novel. Itu juga sebuah keahlian rumit terkait ‘bahasa’.

Anak pintar atau anak cerdas, seringkali membuat orangtua bangga.

Sebab anak jenis ini senang sekali dengan pengakuan dan prestasi. Apakah ini buruk? Tidak juga. Anak-anak harus belajar berkompetisi agar ia tahu apa yang dinamakan perjuangan dalam hidup. Tempo hari, ketika di rumah kedatangan tamu dari China bernama Wendy dan Fan, saya menanyakan apa konsep pendidikan dari orangtua kepada anak.

Wendy, Fan, Sinta
Fan, Wendy, bersama Sinta dan PELITA

Wendy berujar bahwa orangtua biasanya mengatakan hal demikian kepada anaknya : kalau kamu nggak mau kerja keras, ada orang-orang di luar sana akan bekerja lebih keras dan meraih apa yang tidka bisa kamu capai.

Tentang kompetisi dan prestasi ini, baiklah, kita bahas di waktu lain apa pentingnya.

Tetapi, samakah anak cerdas-pintar dengan anak kreatif?

 

Ciri Anak Kreatif

Seringkali, orangtua angkat tangan ketika memiliki anak kreatif.

Rasanya males banget dah punya anak kreatif! Capeee.

Sebab anak kreatif berbeda dengan anak pintar dan cerdas lainnya. Boleh jadi, anak kreatif ini termasuk cerdas. Tapi tidak semua anak cerdas itu kreatif. Walau, jangan samaratakan anak kreatif dengan anak cerdas ya. Anak kreatif dengan IQ biasa-biasa saja ada. Sebab kreatifitas itu bisa diasah, ditumbuhkan, dibina dari lingkungan. Utamanya orangtua.

Anak Cerdas

  1. Mengingat jawaban
  2. Tertarik dengan ilmu
  3. Penuh perhatian pada tugas
  4. Kerja keras untuk berprestasi
  5. Merespon sesuatu dengan perhatian dan pendapat
  6. Belajar dengan mudah
  7. Butuh hingga 6-8 kali untuk menguasai sesuatu
  8. Memahami secara komprehensif

Anak kreatif

  1. Melihat perkecualian
  2. Terpukau dengan ilmu
  3. Mengantuk, mengabaikan tugas
  4. Bermain-main dengan ide dan konsep
  5. Berbagi opini yang aneh ajaib, bahkan penuh konflik
  6. Bertanya : bagaimana jika
  7. Pertanyaan : mengapa harus menguasai materi
  8. Kebanjiran ide, seringkali tidak dikembangkan

Pizza inayah.JPG
Pizza buatan anakku

Ada perbedaan mencolok antara anak pintar dan anak kreatif.

Anak pintar ingin menguasai segala. Ingin berprestasi. Tapi cenderung melahap apa saja yang diajarkan orang. Kalau di film India 3 Idiots, sosok cerdas diwakili Chatur Ramalingam sementara sosok kreatif adalah Rancho. Ibaratnya, anak cerdas diajari matematika, nyantol. Diajari fisika kimia, hayuk. Diajari biologi, bisa. Diajari geografi, sejarah, ekonomi ; oke.

Anak kreatif?

“Kok harus belajar ini?”

“Kalau aku mbolos emang kenapa?”

“Misal nih…misal aku nyontek dan nggak ketahuan, sebenarnya kenapa sih?”

“Aku mau jadi ilmuwan. Pengusaha. Pemimpin. Pencetak uang. Penari dan olahragawan. Komikus. Penulis. Fotografer.”

“Aku pingin jadi da’i dan ustadz. Tapi yang pintar main band sembari main music rock. Boleh gak?”

Gambar Ayyasy
Salah satu gambar anakku

Anak kreatif itu ajiiiiib bener.

Guru dan orangtua harus punya waktu untuk meladeni pertanyaan alien nya yang kadang-kadang buat gondok. Ia akan merespon why dibanding yes. Akan merepon what if dibanding okay.

Ciri khas dari anak kreatif adalah : mereka overflows with ideas alias kebanjiran ide namun sering tidak cukup waktu, tenaga (plus perhatian) untuk merealisasikan. Ini kekurangan anak kreatif yang harus diantisipasi sejak awal.

 

‘Meredam’ Anak Kreatif

Sekedar sharing.

Saya punya anak kreatif.

Ide-idenya busyet banget dah. Kreasinya keren habis. Anak kreatif model ini digandrungi teman-teman, kakak kelas, adik kelas. Dia favorit teman-temannya. Adik-adik kelas yang suka sama hasil karyanya, banyak deh. Namun, dia musuh guru-gurunya dan orangtua yang cerewet seperti saya. Hehehe…

Sebab, anak ini akan berpikir sesuai gaya berpikir dia.

“Kok aku nggak boleh bolos dari pelajaran itu? Aku bosan banget sama gurunya.”

“Kenapa aku harus mendengarkan pelajaran dari seorang guru yang gak pintar menerangkan?”

“Kenapa aku harus repot-repot belajar, sementara aku mau berkreasi?”

Anak macam ini, ketika telah mampu berpikir logis maka harus dibantu untuk membangun peta kognitif yang sehat agar pemahamannya tentang kehidupan sejalan dengan realitas.

‘Meredam’ kreatifitasnya bukan berarti mematikan daya kreasinya. Namun agar ia dapat lebih fokus mewujudkan apa yang diimpikan.

Anak kreatifku, ingin sekali menjadi pengusaha kelas kakap yang berpenghasilan ratusan juta dan mempekerjakan ribuan orang. Ketika kutanya mau jadi pengusaha apa, dia masih berpikir.

“Pengusaha hewan,” cetusnya.

“Baik,” kataku.

Nyatanya burung hantu, kucing, kelinci, ikan-ikan yang akan jadi proyek jualannya mati.

Ganti haluan.

“Mau buat patung dan kerajinan kertas,” katanya lagi.

Ia rendam kertas-kertas koran, jadi patung unik dan tertumpuklah di ruang tengah hingga teras berember-ember serbuk koran yang akhirnya mengeras seperti batu.

Di akhir masa SMA, aku bertanya.

“Kamu mau masuk kuliah mana, Mas?”

Ia menyebutkan kampus favorit teknik.

“Itu harus kuat matematika,” kataku.

“Lho, jurusanku gambar? Kenapa harus matematika?”

“Itu prasyaratnya.”

“Kok gitu? Aku malas belajar matematika!”

Butuh berulan-bulan bagiku meluruskan kognitifnya : malas dan tidak bisa itu beda. Tidak bia berarti dari sononya tidak memiliki kekuatan berpikir di bidang matematika. Malas, adalah punya kemampuan tapi enggan.

Bulan-bulan terakhir menjelang SBMPTN, ia masih berkutat pada pendapatnya : tidak-mau-belajar- matematika.

Aku yakin ia bisa, sebab kemampuan IQnya telah terdeskripsi. Namun ciri kreatifnya yang overflows with ideas dan what if-what if-what if benar-benar membuatku pusing tujuh keliling. Pada akhirnya, aku mendorongnya untuk ikut try out sana sini sembari bertanya pada kakak pengajarnya di bimbingan belajar. Barulah ia sadar sesadar-sadarnya : dibutuhkan kemampuan dasar matematika tingkat tertentu untuk masuk ke fakultas teknik universitas favoritnya.

3 bulan.

3 bulan tersisa menjelang SBMPTN.

Ia nyaris putus asa tapi masih dengan gaya what if nya : ah, kan banyak anak yang mendapatkan keajaiban? Kakak kelasku ada kok yang diterima meski gak pintar-pintar amat.

 

Kreativitas VS Realitas

Tak ada cara lain selain membenturkannya dengan realitas.

Kubeberkan bahwa kampusnya adalah universitas favorit terkemuka di Indonesia, saingannya banyak. Waktu 3 bulan tidaklah cukup untuk mengejar matematika yang diremehkannya.

“Jadi Ummi mendoakan aku nggak lulus, begitu?!”

Ia mulai menebar conflicting opinions, ciri  lain anak kreatif.

Aku mengajaknya duduk dan diskusi .

Hampir setiap hari.

Nyaris  @1 jam kuhabiskan untuk diskusi dengannya, di dalam kamar berdua.

“3 bulan itu kamu bisa menguasai matematika Nak, kalau kamu belajar 5 jam sehari. Malam pun demikian. 3 bulan bukan waktu yang mustahil buat Allah. Maka malam hari selain kamu harus belajar matematika kamu harus sholat malam. Kalau bisa 11 rakaat. Bukan cuma 2 + 3 saja.”

Ia akhirnya menurut.

Tapi ada realitas lain yang harus aku sadarkan.

“Mas, kamu baru berusaha mati-matian 3 bulan terakhir ini. Andaikan kamu gak diterima, kamu mau masuk universitas mana saja dengan fakultas yang lain; atau kamu mau tetap disitu tapi ngulang?”

“Masa’ aku nggak diterima? Aku sudah rajin sholat malam lho…”

Conflicting opinionnya masih belum sembuh!

“Gak ada yang mustahil bagi Allah.  Tapi banyak orang pintar tertunda keberuntungannya. Kamu mungkin salah satunya. 1 tahun kamu bisa pakai buat les bahasa atau kursus yang lain yang kamu suka,” hiburku. Mulai menekankan bahwa ia mungkin saja gagal tahun ini.

Pffuhhhh.

Alhamdulillah, ketika pada akhirnya  tahun itu ia diterima di fakultas favorit universitas favorit yang diimpikannya, tanpa mengulang.

Tapi begitulah perjuangan orangtua menghadapi anak kreatif yang sering kali membayangkan dunia adalah hasil kreasinya sendiri. Prasyarat, syarat, ketentuan, peraturan…gak penting sama sekali!

Bagiku, sayang sekali bila kreativitas anak kita tidak difokuskan pada  hal-hal tertentu. Dan kadang, dibutuhkan energi ekstra untuk mamahamkan anak kreatif, di titik tertentu, bila mereka ingin mewujudkan kreasinya maka mereka harus belajar berhadapan dengan realitas. Sebab mewujudkan kreasi butuh perjuangan besar. Bukan hanya sekedar angan-angan dan ide-ide canggih namun tak bisa dikembangkan.

Rangkuman penting:

Bantu anak kreatif membangun peta kognitif yang realistis plus fasilitasi kreasinya sebelum membenturkannya dengan kondisi di lapangan.

 

Kategori
Jurnal Harian My family Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY WRITING. SHARING.

Asyik Punya Anak Banyak, atau Anak Sedikit?

 

“Hah? Anakmu 4?”

Dosen saya terbelalak. Beliau tak percaya saya bisa punya anak banyak. Maklum, badan saya kecil mungil.  Waktu melihat ekspresi beliau yang seperti itu, sebetulnya saya ingin terus bilang : “aslinya saya ingin punya anak 6 atau 12 lho, Pak.”

 

Waktu putri sulung saya sekolah di SMP Negeri, dia juga sering menerima ungkapan terkejut dari teman-temannya.

“Hah, Adikmu 3? Banyak bangettt?”

“Padahal temanku ada yang bersaudara 9 ya, Mi, hahaha,” si Sulung tertawa.

“Coba dosen Ummi tau ada orang seperti Ustadzah Yoyoh Yusroh yang putranya 13,” sahutku pula.

moslem family
Happy moslem family!

Anak Sedikit : Pengeluaran Tak Banyak

Orang memilih punya anak 1 atau 2, dengan beberapa alasan. Ada yang alasannya kesehatan. Ada yang alasannya keuangan. Yang alasannya kesehatan; biasanya karena si ibu tak mampu melahirkan banyak. Bolak balik caesar. Yang pertimbangan keuangan, biasanya mengatakan ,

“Yah…tau sendirilah. Berapa harga susu. Berapa biaya sekolah. Berapa biaya anak sakit. Bukannya tak percaya rizqi Allah, tapi sebagai manusia kita juga harus usaha. Kalau puunya anak banyak tapi orang tua nggak mampu memberikan pendidikan dan kesehatan yang layak, akhirnya mereka tidak akan menjadi asset yang  baik juga.”

Begitulah kira-kira.

Saya tak menyalahkan pendapat ini.

Sebab, memang dalam kenyatannya, ada teman-teman yang beranak banyak sudah berjuang sekuat kemampuan untuk memberikan pendidikan dan kesehatan yang layak pada anak-anak. Namun, karena situasi ekonomi dan kebijakan pemerintah  tidak berpihak pada keluarga beranak banyak, akhirnya beban ekonomi dipikul hanya oleh keluarga yang bersangkutan.

 

Anak Banyak : Asset Keluarga dan Negara

Bagaimana dengan orang yang memilih beranak banyak?

Saya salah satunya. Alasannya klise : saya suka keluarga yang ramai, mengingatk keluarga saya dulu hanya 3 bersaudara. Saya punya abang 1, adik 1. Rasanya kok sepiiii kalau semua sudah sekolah dan pulang sekolah. Saya sering keluar mencari teman bermain, tetangga-tetangga sekitar. Saya iri waktu kecil, ada tetangga depan rumah yang punya anak 5. Sebel banget, kalau saya berantem dengan anak tetangga yang seusia; maka kakak-kakaknya akan membela dia sementara saya hanya seorang diri menghadapai konspirasi!  #Jiaaah

Saya bertekad : awas ya, bseok saya mau punya anak banyak! Hehehe.

Menikah, awalnya saya ingin punya anak banyak.

Apalah daya, anak pertama keguguran. Alhamdulillah, anak-anak yang berikut muncul. Hanya saja, kesehatan saya sepertinya kurang menunjang hingga ketika kehamilan ke-5, dokter memutuskan agar saya tidak lagi mengandung.

Lalu apa rasanya punya anak 4?

Heroik bangettt laaah.

Inayah, ayyasy, ahmad, nis.jpg
4 anak kecil yang lucu dan heboh!

Sepeda Motor 1

Waktu itu satu-satunya kendaraan hanya sepeda motor. Maklum, suami menempuh studi D4 di Jakarta saat saya hamil anak ke-4. Jadi kalau keluar rumah, suami yang nyetir motor. Saya di belakang. Si sulung dan nomer dua di depan, saya memangku anak ketiga sembari hamil. Untung waktu itu badan suami dan saya masih kurus-kurus, jadi cukup aja motor kecil begitu heheheh.

Punya anak-anak kecil 4 itu antara nangis dan tertawa, bahagia dan jengkel.

Si sulung masih kecil saya titipi sebentar adiknya untuk belanja ke warung sayur. Kalau bawa anak 3 kebayang deh repotnya. Jadi saya titipi dia dengan adiknya. Pulang-pulang heboh.

“Ummiiiii…akuu digigit Mbaaak!” si adek nangis kekejer.

Yah, perebutan barang mainan atau makanan kecil. Si sulung gemes karena adiknya tak mau berbagi, lalu ia menggigit tangannya!

 

Banyak Insiden Menakjubkan

Punya anak 4 itu rempong. Anak 3 masih belum terasa capeknya, tapi 4? Itu benar-benar menguras tenaga. Maka kita harus bisa berbagi tugas dengan suami dan anak-anak. Dan berbagi tugas itu tidak selamanya mulus, sebab terkadang, malah justru semakin menambah ruwet!

“Mbak, tolong adik dimandikan ya,” aku minta si sulung memandikan si bungsu. Sama-sama cewek.

3 menit. 5 menit. 7 menit. 15 menit.

Kupikir main air, main sabun, atau main apalah.

Tahu-tahu!

Si bungsu yang saat itu masih sekitar usia 5 tahun, keluar cengar cengir. Pakai handuk. Si Sulung juga terlihat antara gugup dan tertawa.

“Kenapa?” tanyaku melihat mereka berdua.

“Ini gimana cara melepasnya, Mi?” si Sulung bertanya.

Aku menatap takjub pada rambut si bungsu yang terurai panjang. Ia memang anak cewek yang feminin, memelihara rambut panjang ketika itu. Si sulung mengeramasinya, lalu si bungsu menyisir rambut panjangya di kamar mandi. Rupanya, ia menyisir tak sampai ujung rambut bawah, sudah dikembalikan lagi ke ubun-ubun. 3x diulangi, sisir itu nyangkut,ruwet, uwel-uwelan di pangkal rambut! Kalau di ujung rambut, bisa dipotong saja. Tapi ini di pangkal? Mau dibotakin?

Hari yang sudah full akhirnya bertambah padat dengan upacara melepaskan sisir dari rambut. Kupotong dengan pisau yang dibakar api, kupatahkan kecil-kecil, tetap saja bundel semrawut gak karuan. Akhirnya, rambut si adek terpotong juga…

Si sulung memang suka bereksperimen dengan rambut. Sebelumnya, rambut adik laki-lakinya dipotong seperti di salon; hingga seperti keset . Panjang, pendek, botak tak beraturan.

Alhamdulillah… insiden-insiden yang terjadi tak sampai menimbulkan kecelakaan. Tapi aku sebagai ibu harus ngelus dada, sport jantung, siap waspada ketika salah seorang anak berteriak.

“Miiii!!”

Rasanya jantung ini melorot ke kandung kemih.

Alhamdulillah, bila anak mulai besar

 

Berbagi, Berdiskusi, Cari Uang Sendiri

Kata orang-orang tua, punya anak banyak itu repot pas kecil. Senang pas besar.

Saat anak-anak sudah mulai masuk sekolah usia SD, aku mulai merasakan senangnya punya anak banyak. Mereka dapat disuruh ke warung, buang sampah, membantu mencuci, menyapu dan saling menjaga satu sama lain. Semakin dewasa, saat usia SMP dan SMA; mereka mulai dapat diajak berdiskusi tentang segala sesuatu. Bahkan, mereka seringkali membagi cerita lucu yang membuatku dan suamiku tertawa terbahak. Kadang mereka mengkritik kami.

lukas graham.jpg
Lukas Graham

“Ummi harus dengan lagu Lukas Graham 7 years Old,” kata si Sulung, “Itu bagus banget, cara orangtua mendidik anaknya. Ummi juga harus lihat serial Ted di youtube, ada serial-serial tentang orangtua muslim mendidik anaknya di Eropa. Atau bagaimana cewek mempertahankan hijabnya.”

Si kecil pun sudah mulai berdakwah kepada orangtuanya, “Ummi kurang dengung tuh, baca Qurannya.”

Keempat anak kami, kadang kami minta untuk mengoreksi hafalan orangtuanya.

Apalagi ketika anak-anak mulai berprestasi dan menang lomba; mereka bisa punya uang sendiri.

Rasanya terharu sekali ketika mereka memberikan uang itu ke kami.

“Uang ini dipakai Ummi aja.”

“Ummi pinjam ya?” tanyaku.

“Nggak ussah pinjam, Mi. Buat Ummi aja. Aku juga sudah hutang hidup sama Ummi.”

Duh, kalau sudah begini terharu rasanyaaa.

Kalau ayah dan bunda dan adik-adik yang sudah (siap) menikah; pilih anak banyak atau anak sedikit?

 

 

Moslem family http://www.manchestereveningnews.co.uk/business/business-news/muslim-cleric-tortured-in-libya-for-months-874486

Lukas graham https://www.livenation.com/artists/98423/lukas-graham

Kategori
Bedah Buku Sinta Yudisia Buku Sinta Yudisia Hikmah Karyaku Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY WRITING. SHARING.

Ibu-ibu yang Membangun Sekolah

 

 

Buku MATA : Mendidik Anak dengan Cinta, Alhamdulillah mendapat sambutan positif dari masyarakat. Setiap kali bedah buku ini, para ibu-ibu yang hadir berkenan membelinya. Mereka pun membeli tak hanya bagi diri sendiri, tapi menyimpan untuk dijual lagi atau diberikan pada teman.

Cover MATAAda hal-hal unik yang kutemukan ketika membedah buku ini.

Baik di Surabaya, atau di Tegal; aku bertemu para ibu yang merasa harus berbuat sesuatu bagi pendidikan anak-anaknya. Mereka bukan orang yang iseng, yang kekurangan uang sehingga cari-cari pemasukan dari SPP sekolah atau justru kelebihan uang hingga mau invest buat sekolah. Bukan!

Mereka justru para ibu yang resah dan tergelitik tentang kondisi sekolah saat ini.

Memang,t ak ada sekolah yang 100% sempurna.

Mau sekolah negeri, internasional, swasta, Islam terpadu, homeschooling, pesantren tradisional, pesantren modern, atau  sekolah di luar negeri sekalipun ; semua memiliki titik kelebihan dan kekurangan sendiri. Salutnya, para ibu-ibu ini berusaha untuk membangun sekolah dengan harapan serta target yang mereka idamkan.

Mereka lalu belajar, belajar, belajar. Tidak semua ibu-ibu yang merancang sekolah ini basic ilmunya adalah pendidikan atau psikologi lho! Malah ada yang pengusaha wedding organizer, pengusaha empek-empek, pengusaha butik , hingga apoteker. Dan ketika mereka semakin luwes membanguns atu sekolah; mereka membangun lagi sekolah yang lain.

Aku?

Hm, insyaallah membuat sekolah masuk dalam daftar impianku.

MATA di Al Musthafa Surabaya dan Yasyis, Tegal

Untuk saat ini, aku lebih ingin membangun sanggar seni. Thesisku tentang Writing Therapy, yang merupakan salah satu cabang dari Art Therapy. Cukup banyak ibu-ibu yang bertanya : ada kelas menulis? Ada kelas menggambar? Ada kelas memasak? Ada kelas music? Ada kelas menari? Dll. Yah, aku belum bisa menyediakan semua seni yang menjadi sarana terapi. Tapi untuk kelas menulis dan menggambar, bisa insyaallah. Aku bisa menulis; anak-anakku jago menggambar dan bisa kuberdayakan untuk membantu kelas tersebut.

Anak-anak istimewa yang kesulitan mengikuti pelajaran akademis normal di sekolah; umumnya butuh komunitas khusus  yang akan membantu mereka mengasah motorik halus, social skill, soft skill.

Para ibu-ibu, sungguh hebat!

Mereka bukan hanya memberikan kontribusi pada ekonomi keluarga dan masyarakat sekitar, membangun peradaban ; tapi selalu punya pemikiran-pemikiran unik untuk menembus kesulitan. Hehehe. Kalau anda seorang ibu seperti saya; pasti merasa demikian. Seroang ibu nyaris tidak mungkin berkata tidak bisa, tidak punya, tidak akan. Kebutuhan keluarga dan anak-anak baik kebutuhan ekonomi dan pendidikan; memacu para ibu untuk harus bisa, harus punya dan selalu akan.

Jempol besar dan banyak untuk para Ibu!

Kategori
My family Nonfiksi Sinta Yudisia Oase Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Bisakah Menciptakan Anak Genius?

 

 

Rasanya sebuah kebetulan yang menakjubkan, ketika Mei ini buku Mendidik Anak dengan Cinta dan National Geographic Indonesia mengangkat tema yang tak akan pernah habis dibahas : IQ dan Kegeniusan.

 

Sebagai seorang psikolog, salah satu hal paling merangsang minat bagi saya adalah tentang perihal genius. Yang bila seseorang berhasil menguasai hal tertentu dengan brilian, ia akan dikatakan gifted. Sampai-sampai saya benar-benar ingin membuat buku khusus tentang bab Genius dan Gifted. Atau istilah radikalnya, ekstrim kanan.

 

Saya penyuka sejarah.

Selalu terpukau oleh gambaran orang-orang hebat dunia : Shalahuddin al Ayyubi, Al Fatih, Steve Jobs, Einstein,  Habibie, Nelson Mandela, Mahathma Gandhi. Saking liarnya pikiran ini, tiap kali bertemu orang pintar saya tergelitik bertanya : berapa skor IQ nya? Bukan untuk memvonis, untuk mengkotakkan, apalagi menghakimi. Namun instink saya berkata, pasti ada apa-apanya dengan orang itu. Apalagi bila bertemu orang hebat yang IQnya biasa-biasa saja. Ini jauh lebih mengesankan.

 

Pasti anda tak percaya bahwa Darwin dan Einstein awalnya dianggap biasa-biasa saja.

Membaca Natgeo Indonesia terbitan kali ini, benar-benar semakin membuat saya penasaran dan semoga semakin membakar impian-impian. Saya harus punya sanggar. Harus punya klinik art therapy. Harus punya pusat penelitian sendiri, terutama tentang anak-anak berbakta dan genius. Yang, kata Natgeo, jumlahnya sangat banyak di dunia. Hanya , karena lingkungan tidak memahami si genius ini, mereka dibiarkan layu dan mati.

 

Einstein dan Sidis

 

Dua orang ini benar-benar saya coba pelajari. Yah, meski saya tak punya irisan otak Einstein seperti yang tersimpan di museum Mutter, Philadelphia. Tetapi quote, buah pemikiran, biogarafi dua tokoh ini mudah ditemui.

Dua-duanya punya potensi otak hebat. Tapi jalan hidup yang dilalui sangat berbeda. Kiranya, saya simpulkan yang ternyata juga sesuai dengan Natgeo temukan. Ada hal-hal yang dapat dicapai dengan potensi IQ kita semua. Kalau diabaikan, layu dan punahlah ia.

  1. Seorang genius tidaklah solitaire. Einstein punya banyak teman. Mileva Maric, Michael Angelo Besso, Marcel Grossman adalah beberapa teman baik Einstein. Sidis? Ia dikabarkan sangat susah membangun relasi interpersonal. Bagaimana bisa demikian? Hal ini tekait dengan poin-pon yang lain.
  2. Orangtua yang mendukung. Einstein, Marc Zuckerberg, Steve Jobs, Margareth Tatcher, Terence Tao punya orangtua yang sangat megnerti anak mereka. Anak-anak spesial yang awalnya didiagnosis tidak pintar, namun orangtua memberikan banyak fasiltias pembelajaran. Ingat , fasiltias tidak selalu mahal! Steve Jobs hanya diberikan meja kecil, palu kecil, paku-paku. Sebab ayahnya hanya tukang kayu. Hermann Einstein hanya memberikan kompas kecil. Sidis? Orangtua memasukkannya ke Harvard di usia muda, memaksanya megnuasai banyak bahasa, mengontak media-media untuk menuliskan tentang anaknya yang berbakat. Najmuddin Ayyub mendampingi Shalahuddin al Ayyubi dalam memaknai intrik politik dan kekuasaan. Sultan Murad II, memilihkan guru-guru terhebat bagi Al Fatih.
  3. Gairah besar. Seorang genius harus didorong punya motivasi dan kegigihan. Sebab biasanya, anak pintar memang cenderung mudah bosan, mudah beralih, mudah meninggalkan hal-hal yang tadinya dimulainya dan tidak ingin diselesaikannya. Einstein, didorong relasi interpersonal yang bagus, punya teman-teman yang mendorongnya untuk berkarya. Ketika dunia dilanda perang, dengan cepat Einstein menjadi pejuang zionis sejati. Sidis? Rasa sendiri membuatnya patah arang hingga di usia 40an tahun ia harus masuk asylum. Al Fatih punya orang-orang yang mendorong dan memotivasinya untuk terus berjuang,s alahs atunya Aq Syamsudin, sang ulama kharismatik. Shalahuddin al Ayyubi, selain mendapat dorongan dari sang ayah Najmuddin Ayyub, juga senantiasa mendapat pendampigan dari Asaduddin Shirkuh, pamannya yang brilian dan pemberani.

Ayo, kita siapkan diri kita dan anak-anak kita untuk mengembangkan diri hingga optimal. Siapa tahu kita genius yang berikutnya!

 

Kategori
Cinta & Love da'wahku Dunia Islam Oase

Surat Cinta untuk Rohingya dari Anak-anak  SDIT Al Uswah, Surabaya

 

 

 

Hanum, 5C

Assalamualaikum

Dear rakyat Rohingya,

Hai, aku Hanum. Aku berasal dari Indonesia. Aku sangat senang sekali jika surat ini bisa tersampaikan pada kalian. Ingin sekali aku bisa bertemu kalian. Aku hanya ingin menyemangati kalian, tetaplah menjadi seorang muslim. Tetaplah bersatu untuk Islam. Jangan mau kita ditindas!tunbnjukkan bahwa kami muslim tidak lemah. Percayalah bawha Allah akan membantu hambaNya yangs abar berjuang untuk Islam. Kalian harus tetap semangat memperjuangkan hak kalian. Berdoakan kepada Allah pada masa lapang dan sempit. Mari kita bersatu untuk Islam, buatlah nama Islam harum. Aku akan datang mendukungmu rakyat Rohingya. Insyaallah jika kalian ingin berusaha, maka apa yang kalian inginkan akan tercapai. Amin.

rohingya-4

Khadijah, 4C

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamualaikum

Apakabar saudaraku? Senang kalau bisa berkenalan bagaimana keadaan disana? Mohon maaf ya kami tidak bisa membantu kalian. Aku sangat terharu dengan perjuangan kalian meskipun kalian diperkosa dan dibantai. Kalian tidak meninggalkan agama Allah. Insyaallah jika kalian meninggal terbunuh akan mati syahid. Sungguh kejam orang Myanmar yang beragama Budha mengapa mereka berbuat begitu? Padahal orang Islam tidak mengganggu agama Budha! Aku disini menitip salam untuk saudarakau di Rohingya, orang Islam. Semoga kami bisa menyusul ke surga Allah. Amin. Selamat berjuang.

rohingya-2

Neina Nur Rahmania, 4B

Assalamualaikum, warga Rohngya, namaku Neina.

Aku tinggal di Indonesia. Kotanya Surabaya. Aku dari SDIT Al Uswah. Aku kasihan sekali karena kalian diusir oleh negara kalian sendiri. Karena kalian ingin hidup, karena kalian rela hidup di kapal. Andaikan aku bisa membantu kalian, aku akan memberi  kalian rumah, makan, dll. Tapi aku tidak bisa membantu. Tapi aku bangga kepada kalian, karena kalian tetap berjuang memeluk Islam. Sebelum saya mengakhiri surat  ini saya akan meminta maaf sebesar-besarnya karena  tidak bisa membantu kalian. Semoga Allah menghapus dosa kalian dan memudahkan kalian hidup. Kalau ada yang terbunuh, aku tidak terima. Karena agama Islam tidak bersalah. Tetap semangat ya!

Wassalamualaikum.

 

Nadia Sabila Azka, 4C

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Perkenalkan nama saya Nabila Nadia Azka. Saya dari Surabaya Jawa Timur. Setelah guru saya menceritakan tentang keadaan kalian semua, saya merasa kasihan, takut dan lainnya. Saat guru saya menceritakannya, saya berpikir bagaimana jika saya sedang berada di Rohingya.  Setiap hari seperti disiksa. Tapi saya berasa kagum dengan kalian semua. Kalian tidak pantang menyerah dan sebagainya. Tapi saya disini masih suka menyerah dan masih butuh bantuan orang lain. Saya sangat kagum dengan kalian semua. Saya akui kalian hebat, kuat, pintar dan hebat. Kalian sudah dibom, ditembak dan sebagainya. Jika saya yang digitukan saya merasa sangat kesal dengan para pembonm dan penembak. Saya akan mendoakan kalian semua yang di Rohingya agar kalian semua bisa masuk surga. Dan semoga kalian selalu kuat dan sehat selalu. Dan semoga tempat tinggal kalian bisa kembali. Rohingya hebat.

 

Nisrina Huwaida Qurrota Aini, 5A

 

Assalamualaiakum sadaraku di Rohingya.

Perkenalkan namaku Nisrina Huwaida Qurrota Aini.

Saat ini aku sekolah di SDIT Al Uswah Surabaya dan duduk di kelas 5. Aku sangat sedih  melihat kalian semua diusir oleh negara Myanmar. Aku akan selalu mendoakan saudara Rohingya bsia bertahan hidup. Aku yakin manusia yang membela agama Islam selalu dilindungi oleh Allah. Kalian pasti bisa!!! Allahuakbar!

Allah pasti menempatkan suadaraku di Rohingya di surga tertinggi Allah, amin. Salam dari Nisrina. Aku sayang saudaraku Rohingya.

 

Anisa Titi Larasati, 4B

Dear Rohingya,

Assalamualaikum s audaraku di Rohingya.

Perkenalkan nama saya Anisa Titi Larasati dari Indonesia.

Kami sedih mendengar derita kalian disana. Saya ingin membantu kalian semua. Semoga kalian dilindungi oleh Alalh SWT. Semoga kalian juga mendapatkan banyak bantuan. Kami sangat kasihan kepada kalian semua. Karena kalian hidup berhari-hari tetapi tidak mendapatkan makanan dan minunman. Maafkan saya karena saya belum bisa memberikan donasi kepada kalian. Saya hanya bisa berdoa untuk kalian. Love you Rohingya.

 

Fasya Syaffanah, 5A

Assalamualaikum…

Perkenalkan nama saya Fasya Syaffanah.

Saya bersekolah di SDIT Al Uswah. Saya biasanya dipanggil Fasya. Saya berumur 11 tahun. Oh ya maafkan kita ya kita sebagai warga Indonesia cuma bisa bantu doain aja. Kita tidak bisa pergi ke neeara kalian. Semoga Allah selalu melindungi kalian. Aku turut berduka cita atas bencana yang sekarang kalian timpa. Katanya kalian diusir dari negara Myanmar karena kalian muslim. Yang mengusir kalian adalah orang Budha. Aku sebagai salah satu warga Indonesia mengucapkan minta maaf. Negara Myanmar telah mengusir Rohingya itu adalah hal yang sangat kejam. Semoga Allah selalu menjaga kalian, selalu melindungi kalian, selalu menolong kalian.

save-rohingya-insta-2-copy

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Cinta & Love mother's corner Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY

Children with Special Needs (ABK) : stem cell, pubertas, lapangan pekerjaan, hingga pasangan hidup ?

 

 

Mengisi acara bersama Prof. Bambang, spesialis anak ; mas dokter Hafid Psikater, mas Bayu psikolog adalah kesempatan berharga yang jarang-jarang saya dapatkan. Plus moderator ayah Aris yang tangguh, ayah dari ananda Raffi yang didiagnosis dengan Autism. Saya rangkum percik-percik ilmu luarbiasa hari itu untuk menambah khazanah pemahaman saya pribadi.

Apa aja sih yang didiskusikan?

Di bawah ini saya rangkum bahasan menarik yang insyaallah bermanfaat bagi pembaca : stem cell, pubertas, lapangan pekerjaan bagi ABK, pasangan hidup, relaksasi atau hipnoterapi, juga dukungan komunitas.

 

  1. Stem cell

Pertanyaan seorang peserta seminar menarik, tentang stem cell. Sang ibu bercerita, putranya yang mengalami autism disuntik stem cell di lengan. Ada perubahan perilaku sebab 2 hari sang putra lebih pendiam dari biasanya.

Benarkah stem cell dapat mengobati autism?

prof-bambang
Prof.dr. Bambang Permana, Spesialis anak

Penjelasan Prof. Bambang sangat menarik.

Beliau menjelaskan penelitian-penelitian terkait autism yang hingga kini terus digalakkan. Sebelum menjawab tentang tepatkah stem cell bagi autism, profesor Bambang menjelaskan penyebab autism :

  1. Kelainan fungsi otak karena inflamasi di jaringan interkoneksi otak kanan-kiri sehingga menimbulkan gangguan perilaku ASD (autis spectrum disorder) hal ini bisa disebabkans alah satunya oleh virus
  2. Logam berat. Dulu, orang menyangka imunisasi penyebab autis. Namun kecurigaan itu tidak mendasar sekarang. Logam berat banyak ditemukan di laut dalam, maka anak autis secara populasi sangat besar ditemukan di peseisir pantai. Sekarang warga AS jarang mau makan salmon sebab ikan salmon disebut-sebut banyak mengandung logam berat.
  3. Gangguang system imun pada pencernaan. Akibatnya protein-protein besar dari usus masuk ke darah, otak menimbulkan inflamasi. Maka perlu diperbaiki system pencernaan.

Apakah stem cell bermanfaat bagi autis?

Bila memperbaiki sitem imun pencernaan, kemungkinan suntikan stem cell akan bermanfaat bagi penyandang autis. Mengapa ananda pasca disuntik menjadi lebih diam? Kemungkinan sedang terjadi proses di dalam tubuhnya sehingga menimbulkan reaksi tersebut.

 

  1. Pubertas ABK

Hal yang mengkhawatirkan bagi orangtua dan pendidik adalah menghadapi pubertas ABK. Samakah pubertas mereka? Apakah mereka mengalami gangguan hormone? Apakah mereka dapat tertarik pada pasangan ?

Untuk pubertas, profesor Bambang mengambil contoh CP atau cerebral palsy dengan level 1, 2, 3, 4, 5. Bagai CP 1 tidak ada masalah dalam keseimbangan hormonal sehingga bagi remaja putra dan putri dengan CP 1 akan mengalami masalah pubertas yang sama saja dengan orang lain. Bagi CP 3-4-5 ada gangguan hormonal pada hipofis yang mengakibatkan ketidakwajaran proses.

Oleh sebab itu sekolah inklusi harus memasukkan unsur  pendidikan + kesehatan kedalam kurikulum agar semua pihak dapat mendampingi penyandang CP menuju kehidupan yang optimal.

 

 

  1. Lapangan pekerjaan

Bagaimana orang special need atau berkebutuhan khusus bekerja?

Beberapa perusahaan otomotif mempekerjaan penyandang thalessemia dan mereka memiliki kebijakan mengizinkan pekerja thalessemia untuk istirahat 3 hari tiap 6 minggu. Microsoft kono kabarnya mempekerjakan 1% pegawainya yang merupakan penyandang autism.

Lapangan pekerjaan sangat terbuka bagi orang berkebutuhan khusus.

Begitu banyak penyandang disleksia menjadi tokoh : David Boies, Steven Spielberg, Keira Knighley, Justin Timberlake, Keanu Reeves, Vince Vaughn. Daniel Radcliffe mengidap disfraksia. Autism salah satunya Claire Danes. Disabilitas seperti Stephen Hawking.

 

  1. Pasangan hidup

Apakah orang berkebutuhan khusus dapat menikah?

Profesor Bambang memberikan penjelasan khusus untuk CP. Untuk CP 1 dapat menikah dengan siapa saja, insyaallah. Namun mulai CP 3,4,5 sebisa mungkin orang dari pasangan normal sebab penyandang ini membutuhkan bantuan dalam kehidupan sehari-hari. Meski demikian, takdir Allah akan menentukan siapakah jodoh terbaik bagi orang berkebutuhan khusus.

 

  1. Ketidaksiapan orang tua

Banyak orangtua tidak siap menerima diagnose anak ABK. Ada yang meninggalkan pasangan dan anaknya. Ada yang bercerai. Namun tidak sedikit yang justru menjadi solid dan kuat luarbiasa, menjadikan kehadiran anak ABK sebagai anugerah tak terkira.

ortu-teladan
Incredible parents 🙂

Sedih, kecewa, merasa melakukan satu dosa, terpukul dan menolak takdir adalah sikap yang dialami orangtua ABK. Setelah menemukan kekuatan kembali, biasanya orangtua akan berjuang untuk memulai langkah panjang perjalanan.

ABK tentu membutuhkan kesabaran, dukungan financial dan dukungan sosial.

Bagi orangtua yang merasa terpukul, ikutlah komunitas agar mendapatkan pengalaman berharga dari orangtua-orangtua yang mengalami kejadian serupa.

 

  1. Komunitas

Family support group sangat penting. Di Surabaya ada komunitas yang digagas oleh dokter Sawitri. Kebetulan saya dan dokter Sawitri menerima penghargaan untuk perempuan berprestasi versi AILA 2016 kemarin di bulan April.

Mbak Sawitri ini punya komunitas Peduli Kasih ABK. Menjadi penjembatan antara orangtua-orangtua yang memiliki anak gangguan pendengaran, autis, cerebral palsy, down syndrome dan banyak lagi. Bertemu sesama orangtua akan berbagi informasi berharga seputar dukungan optimal terhadap ananda tercinta, juga, saling mendoakan dan menularkan aura positif.

Dukungan orangtua terhadap anak ABK sangat penting.

Dukungan pasangan terhadap orang berkebutuhan khusus sangat penting. Ini saya ungkap secara khusus di novel Bulan Nararya dan juga tema skizofrenia yang pernah saya tuliskan sebelumnya. Suami, istri, anak-anak yang dapat menerima kekurangan salah satu anggota keluarga; akan mengoptimalkan peran masing-masing. Kerjasama setiap anggota akan menghasilkan buah yang membanggakan!

 

  1. Beda cacat dan disabilitas

Menarik sekali hal singkat yang dipaparkan mas Bayu. Mas Bayu adalah seorang psikolog, relawan ABK Peduli Kasih dan penyandang disabilitas.

bayu
Mas Bayu, Psikolog yang luarbiasa !

Apakah beda cacat (impairment) dan disable?

Impairment atau cacat, dinisbatkan pada penderita dan seolah-olah itu menjadi aib serta kekurangan seumur hidunya. Missal cacat pendengaran, cacat penglihatan, atau impairment yang lain. Padahal, orang cacat bila diberi peluang dan pelatihan, akan sama aktivitasnya dengan orang normal. Ingat, 10% penduduk dunia adalah orang dengan kebutuhan khusus.

Bila, orang autis, disleksia, hearing impairment, cerebral pasly, maupun penyandang special needs lainnya mampu mandiri bahkan berkontribusi positif; apakah ia masih dianggap cacat?

Bahkan mungkin, ia tidak lagi dianggap disable sebab justru kiprahnya melampaui orang normal pada umumnya. Di Indonesia sendiri dikenal difabel atau differential ability , bahwa orang cacat sebetulnya bukan ‘cacat’ tapi mereka memiliki kemampuan lain. David Boies, pengacara terkenal dan kaya raya dari Amerika, memiliki cacat membaca. Sebagai penyandang disleksia ia mungkin membaca berkas klien hanya beberpa lembar berhari-hari saat orang normal hanya butuh 2 jam! Namun, David Boies mampu mendengar cermat dan menghafal cepat, serta merumuskan perkara dengan brilian sehingga mampu memenangkan kliennya. David Boies tentu tidak cacat, tapi justru punya different ability.

Apakah kita masih mengatakan Nick Vujicic cacat sementara ia adalah motivator tingkat dunia? Maka sebutan cacat, impairment, disable, handicapped harus sangat berhati-hati dilabelkan.

 

  1. Mirroring, hipnoterapi dan aura ketenangan

Sepanjang sesi seminar dan tanya jawab, biasalah, anak-anak heboh di belakang. Sebagian anak-anak yang hadir adalah children with special needs. Sesi seminar rebut. Sesi coffe break ribut. Sesi pemberian reward ribut.

Tetapi ada moment yang pantas dicatat ketika mas dokter Hafid (saya menyebut demikian karena dokter yang satu ini masih muda dan lucu banget!) memberikan panduan singkat tentang relaksasi.

Duduk di kursi. Telapak kaki menempel di lantai. Relaks. Posisi nyaman.

Setiap kali kita menarik nafas maka kedua tangan mengepal, telapak kaki menekuk ke atas sekua tmungkin ( kea rah tulang kering). Lalu hembuskan nafas pelahan sembari melepaskan kepalan tangan dan meletakkan kembali telapak kaki ke lantai.

Hal ini dilakukan semua peserta seminar berulang-ulang sembari memejamkan mata.

Apa yang terjadi?

Anak-anak yang semual heboh pun menjadi senyap!

Ternyata sikap tenang, sepi, senyap dari orangtua menular kepada anak-anak. Pantas saja emosi positif juga membawa dampak positif. Kalau orangtua heboh, ngomel, ngedumel panjang lebar; anak-anakpun makin gelisah. Betul kan?

 

Support Group ABK PEduli Kasih.JPG
Para relawan, guru, pendidik ABK yang luarbiasa 🙂

Kategori
Catatan Jumat Hikmah mother's corner Oase

Super Child : Anak tak boleh Salah dan Kalah

 

 

Kita akan menciptakan super child, si anak super yang akan menghadapi dunia 50 tahun ke depan. Anak impian kita yang merupakan gabungan Jenderal perang Qutuz, Shalahuddin al Ayyubi, Muhammad al Fatih. Anak yang mampu menggabungkan teknologi dan wirausaha ala Bill Gates dan Steve Jobs. Anak yang memiliki pengalaman kenegaraan seperti Mahathma Gandhi dan Nelson Mandela. Anak yang memiliki kefahaman ilmu agama seperti Syaikh Yusuf Qardhawi dan Syaikh Aidh al Qarni. Anak yang mampu berkomunikasi dengan fasih, menjalin hubungan interpersonal yang baik, diterima di tengah khalayak dengan terbuka.

Kalau bisa, bukan hanya 1 atau 2 anak kita yang seperti itu. Tapi semuanya!

chidren-image

Dunia tanpa Dinding

Kita dibesarkan dalam dunia yang memilki kesenjangan bagai tanpa limit antara realitas dan idealita.

Dalam dunia yang serba mengabaikan norma, kita ingin anak-anak teguh memahami prinsip agama, maka orangtua mengirimkan anak-anak ke sekolah Islam terbaik. Pesantren, boarding school, sekolah Islam plus, sekolah Islam terpadu, sekolah internasional, homeschooling. Kita memilih mana sekolah (yang dianggap) terbaik, berapapun biayanya.

Biaya sekolah Islam mulai dengan kisaran 500 ribu perbulan, hingga 5 juta per bulan. Uang masuk mulai 5 juta hingga ada pula yang 50 juta. Sungguh kita berharap, dengan upaya banting tulang peras keringat mencari uang halal, anak-anak pun masuk sekolah dan keluar dari sekolah dengan produk unggul berkualitas.

Tidak cukup hanya itu.

Segala fasilitas kita coba kerahkan untuk membentuk anak-anak menjadi Super Child.

Ensiklopedi, VCD, kaset, TV kabel, supercamp, pelatihan,  kursus, seminar motivasi; apapun yang dapat mengasah kemampuan anak, kita lakukan.

Anak-anak kita, buah cinta dengan pasangan, perhiasan mata dan harapan kehidupan mulia di dunia akhirat tumbuh dari waktu ke waktu. TK, SD, SMP, SMA, kuliah. Lalu semua bagai noktah merah yang saling terhubung. Mungkin kita telah meramalkan sesuatu, atau kita justru terkaget-kaget menghadapi anak sendiri.

Kecewakah kita sebagai orangtua?

 

Rezeki : selalu ada yang bertolak belakang.

Di dunia ini selalu ada yang bertolak belakang.

Kaya miskin.

Maka kita sering mendengar pepatah : rezeki sudah dibagi. Memang ada orang yang diberikan Allah Swt kehidupan demikian mudah, sehingga usaha apapun jadi uang. Tapi ada juga orang yagn diberikan kesulitan ekonomi, usaha apapun selalu terhalang. Meski tak boleh berputus asa dan harus tetap berjuang demi perbaikan ekonomi, bahkan memperbesar factor X seperti tahajjud, tilawah, sedekah, silaturrahim dan lain-lain; nyatanya kita tetap percaya bahwa ada orang yang diberikan keberlimpahan rezeki lebih oleh Allah Swt.

Tak mungkin rakyat Indonesia 280 juta,semuanya terdiri atas orang-orang seperti Chairul Tanjung, Aburizal Bakrie, Jusul Kalla bukan? Tak mungkin pula semua rakyat Indonesia terdiri dari Yusuf Mansur, Arifin Ilham, Mario Teguh. Ada orang-orang seperti kita yang mungkin ‘biasa-biasa’ saja dan belum menemukan potensi sebenarnya.

Pintar bodoh. Cepat lambat. Cerdas kurang cerdas.

“Ya ampun, senengnya ya Bu! Anaknya berkali-kali lolos olimpiade sains, sampai dikirim ke luarnegeri!”

“Yah, memang dari kecil sudah senang matematika, kok!”

“Rahasinya apa? Punya anak pinter begitu? Makan ikan atau omega 3 banyak-banyak kali ya pas di kandungan…?”

“Oh, nggak juga kok. Kali aja karena bapak ibunya pinter ya?”

Hehehe …

Sementara anak-anak kita jangankan olimpiade sains. Mata pelajaran matematika saja harus bolak balik belajar!

“Ya Allah, senangnya ya…anaknya hafidz Quran semua. Apa rahasianya, Bunda?”

“Alhamdulillah sejak SD memang saya masukkan pesantren, Bu.”

“Wah, sedih dong pisah sama anak sejak kecil…”

“Memang sih, tapi saya bertekad anak-anak jadi penghafal Quran semua.”

Alhamdulillah.

Saya sendiri bahagia mendengar keluarga penghafal Quran. Meski tak semua keluarga muslim dapat mewujudkannya, karena berbagai alasan. Karena biaya, karena jarak, karena kesehatan, karena pertimbangan A, B, C yang seringkali hanya diketahui keluarga yang bersangkutan.

Pintar. Penghafal Quran. Unggul di pelajaran.

Demikianlah gambaran rezeki anak-anak yang sangat membanggakan.

Lalu adakah anak yang tidak pintar? Yang bukan penghafal Quran? Yang berada di urutan bawah ranking kelas?

Ya.childs-imagination

Mungkin itu anak-anak kita. Dan mereka rezeki dari Allah.

Mereka belum menghafalkan Quran bukan karena meninggalkan Quran, tapi karena proses yang ditempuh masih panjang. Anak-anak kita yang ‘terpaksa’ sekolah di sekolah negeri kemungkinan sulit mendapatkan tambahan hafalan Quran, kecuali orangtua punya trik-trik jitu. Anak-anak kita yang dianugerahi Allah Swt IQ standar mungkin tak akan mampu menguasai matematika, fisika, kimia dengan cepat. Mereka lebih trampil berjualan, menggambar, atau berkomunikasi dengan teman.

 

Anak yang tak punya arti bagi orangtua

Suatu saat saya marah besar pada si Abang.

Saya bawa ke kamar, ajak bicara berdua. Saya beberkan kelebihannya dan juga kesalahannya yang membuat saya marah. Saya marah sebab ia lebih terlambat ke masjid di banding adiknya. Saya marah sebab ia lebih jarang baca Quran dan lebih sedikit hafalannya. Saya marah sebab ia lebih longgar menjalankan sunnah Nabi dibandingkan adik-adiknya.

Saya jelaskan Muhamamd al Fatih. Saya jelaskan Steve Jobs. Saya paparkan Einstein.

Lalu si abang tertunduk, matanya berkaca-kaca.

“Jadi selama ini , apa yang aku lakukan buat Ummi nggak ada artinya ya?”

“Apa maksud kamu, Mas?” sebagai ibu saya semakin marah ditantang demikian.

“Yang lebih baik dimata Ummi adalah adek yang rajin ke masjid. Iya, adek memang hafalan Qurannya lebih banyak. Lebih nurut. Lebih shalih.”

Saya menahan nafas, menahan diri.

“Kalau aku rajin jemput adek ke sekolah, apa itu nggak ada artinya? Aku selama ini taat sama Ummi, gak mau jalan sama cewek, gak pernah ke bioskop dan mall ; gak mau pacaran; karena taat sama Ummi; apa itu gak ada artinya? Meski teman-temanku rajin ngajak aku hang out, aku berusaha patuh sama Ummi.”

brother-sister-1

 

Aku terdiam.

“Aku sering belikan Ummi oleh-oleh tiap kali aku ke kantin sekolah. Aku senang belikan Ummi lauk pauk biar Ummi gak usah masak.  Kalau di jalan aku mampir Indomaret atau Alfamart, aku telpon Ummi : Ummi butuh apa? Ummi mau minuman apa? Aku tahu susu kesukaan ummi. Aku tahu snack kesukaan Ummi.”

Aku tercekat.

“Aku selalu berusaha menyisihkan uang saku, biar nanti saat Abah Ummi nggak punya uang dan aku butuh beli buku-buku; aku nggak harus minta lagi.”

Tiba-tiba mataku basah.

Abang pun terlihat sedih.

“Aku minta maaf kalau kadang berkata kasar sama Ummi .”

Ahya.

Ia, si abang memang tidak hebat di akademik, seperti kakak sulung dan adiknya. Tapi ia punya banyak teman dan rata-rata teman sekolah menyukainya. Ia, si abang yang memang hafalan Qurannya masih sedikit. Sholatpun masih sering diingatkan untuk ke Masjid. Tetapi,

“Ummi, aku tahu ibadahku kurang. Maka sekarang aku rajin ikut pengajian. Dan aku ngisi pengajian adik-adik SD.”

Ia, si abang yang sering kuprotes karena ibadahnya kurang disana sini. Ternyata Minggu pagi saat waktunya bermalas-malas bagi anak seusia dia,  berusaha siap jam 7 pagi.

“Ngapain kamu, Mas?”

“Mau isi pengajian anak SD, Mi.”

“Nih uang bensin,” aku selipkan beberapa lembar uang.

Lalu si abang berangkat dan pulang tak lama kemudian.

“Lho nggak jadi?” tanyaku.

“Anak-anaknyanya ternyata pada gak bisa.”

“Oh,” aku mengangguk. Kulihat seplastik besar makanan dan minuman. “Apa itu?”

“Makanan dan minuman buat adik-adik pengajian. Biar mereka senang.”

Aku tersenyum. Mengelus kepalanya. Dan ia tidak mutung atau patah semangat meski pengajian kadang-kadang gagal berlangsung.

Tiba-tiba aku ingat semangatnya untuk menjemput kebaikan dan menebarkan kebaikan; meski ia masih banyak kekurangan disana-sini.

Sebagai orangtua aku memang sering menuntut lebih pada anakku.

Mereka harus shalih. Mereka harus pintar. Mereka harus jadi orang hebat. Dan seketika kata-kata si Abang membuatku sedih dan tersadar,

“Apa yang aku lakukan selama ini, nggak ada artinya buat Ummi?”

 

Biarkan proses itu berjalan

Sungguh, kita senang bila mendapatkan anugerah easy child. Bukan hard child. Anak yang dari sononya sudah gampang diapa-apakan. Gampang disuruh, gampang diatur, gampang dibentuk. Susah sekali jadi orangtua yang harus berhadapan dengan anak yang ngeyel, keras kepala, mau menang sendiri, tidak mudah diatur-atur.

Tapi mereka anak-anak kita.

Ada darah kita mengalir di dalamnya, baik ataupun buruk. Mereka shalih, sebab kitapun shalih. Mereka keras kepala, mungkin kita ayah ibunya ada yang keras kepala. Mereka sulit belajar sains, sebab kita pun tidak terlalu menyukai sains. Mereka sedang terbentuk, sebab mereka memang harus ditempa tahap demi tahap.

Bila anak kita belum menjadi pegnhafal Quran saat ini, jangan patah semangat. Mungkin ia bisa jadi penghafal Quran 5 atau 10 tahun ke depan. Bila anak kita belum rajin ke masjid, jangan berhenti mengajaknya. Mungkin suatu saat ia akan tersadar, justru ketika kuliah atau malah sudah berkeluarga.

Mungkin anak kita belum menjadi anak yang kita banggakan.

Tapi, biarkan proses indah itu berlangsung. Waktu demi waktu. Tahap demi tahap. Sebagaimana para Nabi dan orang shalih pun tidak serta merta punya keturunan yang diinginkan. Apalagi kita yang masih banyak tambal sulam dalam segala pengabdian kepadaNya.

Mengapa, tidak bersama anak-anak kita, bergandengan tangan menuju keridhoanNya? Mengapa tidak kita syukuri punya darah keturunan disaat orang-orang lain sangat sulit punya anak kandung? Mengapa ketika kita kesulitan menghadapi anak-anak kita; ayo azzamkan bahwa kita pun harus meningkatkan kualitas diri sebagai orangtua : kualitas belajar, komunikasi, ibadah dan yang lain-lainnya?

Anak-anak itu adalah anak impian kita.

Mereka hanya harus menemukan jati diri. Dan suatu saat, dengan segala kekuarangan yang mereka miliki; mereka akan saling bekerja sama bahu membahu bersama anak-anak lain untuk menciptakan peradaban baru yang lebih unggul dari masa skearang.

 

(Terimakasih, Kak Malik, atas sharingnya malam itu di Depok. Terimakasih anak-anakku, juga murid-murid kelasku yang luarbiasa)

 

 

Kategori
Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Tulisan Sinta Yudisia

(3) Ayah atau Bunda yang Lebih Berperan?

Wahai, Ibu!
Ibu, center person, sudah menjadi rahasia umum merupakan sumber mata air bagi anak-anaknya. Mata air kasih sayang, mata air keilmuan, mata air ketenangan. Keterlibatan ibu merupakan keharusan bagi perkembangan anak yang membutuhkan II(instrumetnal involvement) dan MAI (mentoring advising involvement). Pasangan ayah ibu yang mampu melibatkan diri dalam II- MAI, sungguh menyempurnakan tumbuh kembang anak.
Satu lagi tugas penting ibu adalah EI (expressive involvement) yang membuat anak memiliki karakter spiritual, emosional seimbang, sosial, fisik, juga kemampuan bersenang-senang. Ibu yang berhasil menghadirkan sosoknya secara utuh akan membuat anak memiliki karakter di atas, meski bukannya menafikkan kehadiran ayah.
Pernahkah kita melihat anak yang sangat serius, tak dapat ‘tersenggol’ sedikit, cepat marah, segala sesuatu harus perfek dan diukur bagai standar hitam-putih?

Kemungkinan, kehadiran ibu kurang optimal. Ibu yang terlalu sibuk, ibu yang terlalu menegakkan disiplin tanpa menyadari ada hal-hal yang dapat disepakati secara fleksibel , ibu yang hanya mampu menyuruh-nyuruh dan memberi hukuman.
Karakter spiritual utamanya dibangun oleh ibu, meski moralitas harus dibangun oleh ayah-ibu. Keseimbangan emosional memerlukan hadirnya ibu, maka, anak yang sangat tantrum dan emosional seringkali hanya dapat ditenangkan dengan dekapan ibu. Kemampuan anak berinteraksi sosial juga perlu mendapatkan asuhan sang ibu, begitupun perkembangan fisik dan hal yang sering terabaikan namun amat sangat penting di dunia milleinium dewasa ini : kemampuan enjoy, fun, pleasure, menikmati leisure time. Anak-anak sekarang cepat stres hanya karena perkara sepele, semisal tak memiliki gadget yang sama dengan teman, atau tak memiliki teman main. Anak-anak cepat stres karena tugas sekolah, macet lalu lintas, persaingan antar teman, atau tak masuk dalam satu peer grup dengan teman sebaya.
Betapa banyaknya yang masih dapat dinikmati dalam hidup!
Tak punya gadget? Masih ada buku, lompat tali, bola, menanam pohon, memelihara kucing dan ikan, atau cooking class! Ditolak peer group di sekolah? Bukannya masih ada teman-teman anak tetangga dan teman bermain di masjid kompleks?
Ternyata , kedekatan anak dengan ibu, memiliki satu karakter ajaib yang diperlukan anak-anak dewasa ini : mampu melihat dunia dari kacamata riang gembira! Ah, tak apalah tak terpilih olimpiade matematika, bukankah masih ada lomba melukis dan lomba macapat? Ah, tak apalah sang ayah sibuk sepanjang hari, bukankah ada ibu yang dapat diajak bermain dakon dan bekel?

sex-education-1-728
Dulu, masih ingatkah kita, bahwa seorang ibu adalah bagian dari teman bermain. Bermain masak-masakan, bermain jual-jualan, bermain gunting menggunting kertas. Wahai, Ibu, marilah libatkan diri dalam expressive involvement agar anak-anak tetap memiliki batin yang senantiasa ceria di tengah dunia yang serba cepat dan serba canggih.
Kita boleh tak setuju pada pendapat Sigmund Freud terkait basic instinct, tapi kita akan setuju dengan pendapatnya yang satu ini : sebagian besar penyimpangan pada manusia, bersumber dari ketidakhadiran sang Ibu.

 

Bagian 3 dari 3 tulisan

Sinta Yudisia
April 2016

Kategori
Jurnal Harian mother's corner Oase Pernikahan PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY

(2) Ayah atau Bunda yang Lebih Berperan?

O, Ayah!
Penelitian di atas tentu masih melibatkan peran bunda, sesuatu yang tak disanggah lagi. Namun hadirnya ayah ke tengah anak-anak sungguh semakin menakjubkan! Tahukah kita, bahwa seorang ayah yang memiliki keterlibatan hangat dalam keluarga, maka anaknya akan lebih lancar membaca dan mengerjakan matematika sejak usia 8 tahun di sekolah dasar? Bila kehadiran ayah tampak nyata di rumah, tanda-tanda kemunculan conduct disorder alias gangguan perilaku yang seharusnya muncul sejak usia 10 tahun, dapat diminimalisasi?
Maka bila kehadiran ayah adalah nihil, atau sosoknya raib dari rumah; tidak saja anak-anak mengalami hambatan pelajaran namun juga mengalami hambatan dalam berperilaku.
Ayah dibutuhkan dalam 2 hal keterlibatan : instrumental involvement dan mentoring-advising involvement.
Wahai ayah, berusahalah untuk bertanggung jawab dan disiplin terhadap segala sesuatu sebab ternyata tanggung jawab ini berada di pundakmu. Jangan lempar handuk sembarangan, lepas kaos kaki sesuka hati, piring kotor dibiarkan, dan meninggalkan semua tinggalan pekerjaan tanpa dirapikan ulang. Hal-hal kecil melatih ketrampilan. Seorang ibu yang merapikan rumah masih belum cukup membangun karakter disiplin dan tanggung jawab dalam diri anak-anak; ayah harus melengkapinya. Memunculkan gairah anak untuk memilih karir tertentu dalam hidupnya, pun hasil peran sang ayah.

Paul Jobs, seorang tukang kayu. Setiap kali menukang, membuat pagar dan lemari, ia menyiapkan meja kecil dan palu kecil bagi putranya, Steve. Sembari menukang, ia berbicara pada putranya, “Steve, dalam membangun sesuatu yang terpenting bukan apa yang tampak. Lihat lemari ini, yang paling penting adalah sisi belakangnya. Kokoh!”

Jobs
Steve Jobs

Steve bukan menjadi tukang kayu. Tapi filosofi Paul Jobs melekat kuat ketika ia menciptakan computer dan perangkat lain : yang tidak tampak, ternyata bagian yang paling penting. Dunia mengenalnya sebagai Steve Jobs, information technology entrepreneur. Bahkan segala perihal tentang dirinya tak hanya berbau teknologi; buku, film, caranya presentasi, menginspirasi banyak orang.
Instrumental involvement, penting dalam perkembangan etik dan moral. Ingatlah, bahwa spiritual kadang-kadang tidak serta merta memunculkan sisi etis dan moralis. Ingat kasus Jim Baker dan Jimmy Swaggart? Seorang anak yang rajin sholat dan baca Quran terkadang masih suka bersikap kasar dan berkata menyakitkan, ayahnya yang dapat membantu sang anak menemukan sifat etis dan moralis dalam dirinya.

Gandhi
Mahathma Gandhi

Anda tahu Mahathma Gandhi?
Ketika mencanangkan gerakan Ahimsa dan Satyagraha di India, ia tidak memerintahkan anak buah atau seluruh pengikutnya melakukan aksi tertentu. Gandhi tahu, Kasturbai, istrinya dan anak-anak sekian lama hidup dalam gaya Eropa : roti , garpu dan pisau. Gandhi tahu, tak mudah mengubah keluarga, masyarakat, apatah lagi India. Maka yang dilakukan Gandhi sebagai suami dan ayah adalah meninggalkan cara makan Eropa, beralih makan menggunakan tangan. Gandhi mencuci kakus dan mengosek kamar mandi, sesuatu yang tak akan pernah dilakukan kalangan Brahmana dan Ksatria! Gandhi menggunakan sari, menanggalkan dasi dan jas.
Ajaib.
Gandhi berhasil seorang ayah yang konsisten menginspirasi anak, istri, keponakan, tetangga hingga seluruh negeri dan wilayah protektorat Inggris lainnya. Gandhi berhasil melawan hegemoni Inggris dengan segala derivatnya : politik, militer, ekonomi, hingga budaya. Inilah peran ayah dalam menginspirasi sisi etis dan moralis bagi anak-anak dan keluarga.

Wahai, Ayah!
Anda tak perlu rendah hati ketika hanya berprofesi sebagai pegawai rendah, atau pengusaha dengan gaji kecil.
“Ah, bagaimana mungkin ayah sepertiku dapat menjadikan anak-anaknya sebagai orang-orang sukses?”

Thatcher
Margareth Tatcher muda

Alfred Roberts, si tukang sepatu, bangga pada kecantikan Margareth dan Muriel. Khusus Margareth, sejak kecil si cantik nan cerdas ini memikat khalayak bukan hanya karena kecerdasan superiornya, tapi juga kemampuan orasinya. Menyaksikan putri perempuannya punya banyak bakat sementara dirinya hanya seorang tukang sepatu, Alfred Roberts rajin menulis surat untuk putrinya, mengatakan kebanggaan dan harapannya. Alfred tak pernah putus asa, mendorong putrinya untuk terus meraih yang terbaik dalam pendidikan. Sama seperti Paul Jobs, Alfred Roberts meletakkan dasar-dasar fundamental bagi karir putrinya yang terkenal sebagai Wanita Besi, Margareth Tathcher.
Para lelaki di atas membangun karakter anggota keluarga mereka dengan memenuhi kaidah instrumental involvement sehingga anak-anak menemukan keberhasilan karir, memahami jalan etis dan moral, disiplin dan bertanggung jawab dalam kehidupan.

Mentoring advising involvement, adalah keterlibatan (ayah) untuk membangun kompetensi, kemampuan untuk menjadi mentor bagi orang lain serta mendukung perkembangan intelektual. Keterlibatan ayah ternyata sangat penting bagi perkembangan akademis anak-anak di sekolah. Ayah yang terlibat dalam pendidikan bagi anak-anak, membentuk karakter keluarga yang dapat welas asih kepada sesama. Bila, kasih sayang dari ayah cukup, anak-anak tak akan haus dahaga mencari sumber perhatian di luar yang seringkali tampak dalam perilaku agresif, impulsif , hiper sensitif. Kehadiran ayah dalam edukasi anak-anak juga membantu kompetensinya , perkembangan intelektual dan akademisnya. Sosok ideal person ayah menjadikan anak-anak punya semangat untuk mencanangkan cita-cita tinggi : menjadi presiden, menjadi pengusaha sukses, menjadi menteri atau ahli agama serta cita-cita mulia lainnya.

Sinta Yudisia, Bagian ke-2 dari 3 tulisan

Kategori
Jurnal Harian mother's corner Oase Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY

Ayah atau Bunda yang Lebih Berperan? (1)

images (51)

Amerika, pernah menjadi Negara dan masyarakat religious hingga sekitar tahun 70-80an. Beberapa skandal menggoyang sendi Negara sehingga khalayak bertanya-tanya : apakah benar agama tepat dijadikan sebagai patokan?
Televangelist Jim Baker dan Jimmy Swaggart adalah salah contoh sedikit dari kasus yang menggemparkan. Keduanya, yang dikenal sebagai pengkhutbah dan rajin muncul di acara televisi, terbukti melakukan affair dengan rekan kerja dan juga PSK. Gary Hart, salah satu tokoh kharismatik dari kubu Demokrat tertangkap basah bersama aktris sexy berambut pirang : Donna Rice. Amerika gempar, tak hanya kalangan agamawan, negarawan pun jatuh karena perempuan.
Tak cukup sampai disitu.
Serial keluarga yang laris manis seperti Family Ties dan The Cosby Show, hanya indah di layar kaca. Film-film tersebut dianggap tidak mencerminkan dinamika keluarga yang sesungguhnya. Meredith Baxter, yang berperan sebagai Elyse Keaton, ibu dinamis dalam keluarga harmonis; dalam kehidupan nyata mengalami perceraian berkali-kali dan pada akhirnya memproklamirkan diri sebagai lesbi. The Cosby Show mengalami hal yang sama. Lisa Bonet, salah satu pemerannya memainkan Angel Heart yang sensual bersama Mickey Rourke, menimbulkan gelombang protes besar di Amerika. Mengapa PH tak selektif memilih artis?
Sejak decade 80an, Amerika berkembang ke arah kehidupan individualis yang materialistis. Agama dan harmonisasi kehidupan yang tampil indah dalam media-media; perlahan ditinggalkan.
Bagaimana dengan Indonesia?

Keluarga Indonesia
Berbeda dengan Amerika yang tidak lagi mempercayai institusi agama dan keluarga, Indonesia masih beranggapan dua entitas ini sebagai sumber kekuatan. Sekalipun para pengkhutbah di televisi mendapatkan pujian dan hujatan, agama tetap suci dari tuduhan. Yang salah hanya para pelaku.
Begitupun keluarga. Betapapun para pelaku sinetron yang memerankan pasangan harmonis amburadul kehidupannya di luar sana, masing-masing kita masih tetap percaya dan berusaha membangun keluarga yang kokoh kuat.
Sesungguhnya, pada peran siapakah yang sangat penting dalam keluarga? Ayah ataukah Bunda? Kalaupun kita beranggapan peran Ayah dan Bunda sama pentingnya,sama kuatnya, di sisi mana mereka harus menyadari peran utamanya?
Sekali lagi, keluarga adalah benteng dari setiap anggotanya. Seorang ayah merasa tentram berada di tengah keluarga. Seorang bunda merasa nyaman di tengah keluarga. Anak-anak merasa senang, bahagia, bangga di tengah keluarga. Bila ada di antara kita yang gelisah di tengah keluarga sendiri,perlu dicatat. Apakah keluarganya yang salah, atau diri pribadi yang bermasalah.
Mari kita lihat penelitian yang ingin mengetahui sejauh mana pengaruhnya terhadap anak-anak akan keterlibatan orangtua dalam kehidupan mereka. Penelitian ini untuk mengungkap tiga dimensi keterlibatan orangtua : EI , II. MAI. EI adalah expressive involvement, keterlibatan dalam perkembangan spiritual, emosional, social, fisik. Juga kemampuan untuk membangun relasi, kemampuan untuk dapat bersenang-senang . II instrumental involvement adalah keterlibatan yang diperlukan dalam perkembangan untuk membangun tanggung jawab dan kemandirian, etik dan moral, perkembangan karir, disiplin, bertanggung jawab pada pekerjaan rumah dan sekolah. MAI atau mentoring advising involvement adalah membangun kompetensi, kemampuan untuk menjadi mentor bagi orang lain serta perkembangan intelektual.

Sinta Yudisia

Bagian 1 dari 3 tulisan

 

Kategori
Artikel/Opini mother's corner PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY

Neuroliterasi : Kecerdasan Berbahasa yang merupakan dasar kecerdasan selanjutnya

Pernah menonton film Contact yang dibintangi Jodie Foster dan Matthew McConaughey?

Contact : film tentang bagaimana berbicara dengan outer space
Contact : film tentang bagaimana berbicara dengan outer space

Yup. Jodie Foster berhasil berkomunikasi dengan penghuni outerspace selain manusia dengan bahasa semesta : matematika. Orang sering beranggapan bahwa bahasa hanya terdiri dari kata dan kalimat,, padahal bahasa adalah alat komunikasi agar pihak-pihak yang berinteraksi memahami pesan. Matematika, adalah salah satu bahasa logic yang akan digunakan dalam ilmu sains, sosial bahkan ilmu-ilmu humanistik termasuk literasi.

Orangtua ingin sekali anaknya cerdas.
Bila si anak mendapat nilai A atau 100 bulat untuk matematika, fisika atau kimia; luarbiasa bangga! Berbeda ketika mendapat nilai A atau 100 untuk pelajaran Agama, menggambar, atau Sejarah; masih kurang prestisius. Mengapa seorang anak sangat mahir matematika sementara yang lain lelet ?

Intelegensi

Tes IQ akan terus mengundang diskusi. Manusia memang selalu ingin mendisuksikan banyak hal. Trial error, membuat hipotesa, menentukan rumus, eksperimen, begitu terus menerus berulang. Sekalipun test IQ mengundang pro dan kontra; nyaris semua orang sepakat bahwa ada anak-anak yang memang berbakat cerdas dari “sono”nya. Diterangkan sekali, langsung mengerti. Ada yang butuh 2-3 x pengulangan. Ada yang butuh 10x pengulangan. Ada yang hingga ratusan kali diterangkan, tetap tidak mengerti.

Baiklah.
Anggap saja semua anak di Indonesia memiliki IQ 100 yang berarti dalam taraf normal atau rata-rata.
IQ 100 tersebut bukan berarti SEMUA menjadi mahir menguasai bidang-bidang yang SAMA. Si A lebih unggul kecerdasan verbalnya, si B lebih unggul kecerdasan arithmeticnya, si C lebih unggul reasoningnya, si D lebih unggul di bidang visual spasial dan seterusnya.

Bila, setiap anak , katakanlah punya potensi yang sama besar, lalu bagaimana cara orangtua melesatkan kecerdasannya hingga optimal?
Tahapan perkembangan
Sedihnya, begitu cepat waktu berlalu.
Tahu-tahu anak kita masuk playgroup.
Tahu-tahu masuk TK.
Tahu-tahu SD, SMP dan seterusnya. Aah, belum cukup rasanya menimang, anak-anak sudah berlari cepat. Yah, bukan sekedar timang menimang, namun cukupkah sudah stimulus yang diberikan orangtua pada anak?

Bahasa, adalah salah satu alat komunikasi.
Dengan bahasa, anak belajar mengucapkan bunyi, berekspresi, mengidentifikasi obyek.

Ini kucing :)
Ini kucing 🙂

“Ini pisang.Ini kucing. Ada berapa buah pisangnya? Satu-dua-tiga,” dan pembimbing bertepuk tangan tiga kali untuk merangsang semua kecerdasan baik auditori, visual maupun memori anak agar mengingat apa 3 (tiga) itu.
Kelak, pemahaman dasar dari makna “3” sebagai salah satu angka; akan terus berkembang tentang penjumlahan, perkalian, pembagian dan pengurangan. Berikutnya pangkat, KPK (kelipatan persekutuan kecil), FPB (faktor persekutuan besar). Si angka ini akan terus menguntit hingga masuk ke rumus-rumus stokiometri kimia, rumus kecepatan fisika, rumus neraca laba rugi akuntansi, rumus statistik di ilmu sosial dan seterusnya.
Betapa, kecerdasan di waktu dewasa, bila dihitung waktu mundur, diperoleh saat remaja. Kecerdasan remaja diperolah saat pra remaja. Kecerdasan pra remaja saat anak-anak. Kecerdasan anak-anak saat kanak-kanak dan kecerdasan masa kanak-kanak dibentuk sejak balita, batita, toddler, infant, bahkan sejak janin dalam kandungan!

Piramida Bahasa

Tata Bahasa
Bahasa Ekspresif : Berbicara dan Menulis
Bahasa Reseptif : Menyimak dan Mendengar
I d e n t i f i k a s i O b y e k
Bunyi meniru , bunyi berulang
Bunyi asal

Kecerdasan tidak diperoleh langsung oleh manusia namun didapatkan tahap demi tahap. Anak tak dapat meniru bila tak tahu bunyi asal. Selanjutnya ia akan mengidentifikasi objek : burung, tikus, kursi, mobil, boleh, jangan, marah, sayang dan seterusnya.
Naik ke tangga piramida berikut : MENYIMAK dan MEMBACA.
Maka orangtua harus selalu senantiasa mengajak anak-anak untuk menyimak serta membaca cerita. Terutama cerita-cerita keteladanan seperti kisah Sirah Nabawiyah Nabi Muhammad Saw beserta seluruh kisah para Nabi dan keluarga mereka serta para sahabat yang mengikutinya. Kisah-kisah heroisme seperti perjuangan bangsa Indonesia merebut kemerdekaan juga dapat dikisahkan kembali. Ada baiknya anak-anak disediakan buku-buku yang menarik.
Sebelum mampu bertata bahasa dengan baik, anak akan belajar cara BICARA dan MENULIS.

Masak dan makan adalah kesempatan banyak cerita kepada anak
Masak dan makan adalah kesempatan banyak cerita kepada anak

Ajaklah anak-anak untuk berbicara tentang apa saja, terutama hal-hal keseharian.
“Bunda mau masak lho. Kamu mau makan apa hari ini?”
“Nggak tahu.”
“Kalau telur sama tempe, kamu milih apa Sayang?”
“Telur.”
“Direbus atau digoreng?”
“Nggak tahu.”
“Bunda rebuskan, nanti kamu yang kupas ya?”
“Iya.”
“Kalau mau digoreng, ayo kita pecahkan telur di mangkok, baru kita tuang ke wajan isi minyak.”
Anak akan mendengar, melihat gerakan bibir dan mencoba memahami apa yang disampaikan oleh lingkungannya.

Ketrampilan menyimak, membaca, bicara dan menulis ini kelak akan sangat bermanfaat ketika anak masuk ke bangku akademis yang membutuhkan 4 ketrampilan berbahasa tersebut.
Matematika, misalnya.
Bukanlah membutuhkan daya konsentrasi tinggi dan anak diharuskan bersabar dalam mengenali angka atau bahkan huruf, kata dalam soal cerita?

Referensi :
Materi pelatihan Neurosains Terapan Smart Brain Energy, oleh Sumartini M Thahir
Beaty, Janice J. Observasi Perkembangan Anak Usia Dini. Prenada Media 2013

Kategori
mother's corner Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Tulisan Sinta Yudisia

Ibu Primary Object, Ayah Secondary Object : Ibu atau Ayah Pendidik Utama?

Mommy First
Dengarlah apa yang dilakukan Nosekeni Fanny, istri ketiga Mphakanyiswa.
Setiap kali anak-anaknya selesai bermain, Nosekeni menyiapkan makanan dan cerita heroik bangsa Xhosa. Cerita-cerita ini merangsang imajinasi suku Qunu. Salah satu cerita kegemaran putra pertamanya, Rolihlala adalah kisah seorang perempuan katarak yang menjadi musafir. Ia berkelana mencari orang yang mau membersihkan matanya. Tentu saja tak ada orang yang mau. Jijik! Namun, suatu ketika terdapatlah seorang pemuda yang bersedia membersihkan matanya. Ajaib. Usai membersihkan katarak sang perempuan tua, menjelmalah ia menjadi gadis cantik rupawan nan kaya raya. Pemuda itupun menikah dengannya.
Apa yang ditekankan oleh Nosekeni adalah bahwa pemberian dan kemurahan hati, suatu saat akan dibalas dengan ganti kebaikan yang tak terkira. Kisah itu menancap terus dalam benak dan hati Rolihlala hingga kelak ia menjadi tokoh perlawanan Apartheid yang dikenal sebagai Nelson Mandela.

Perempuan-perempuan yang luarbiasa berperan sebagai seorang Ibunda, melahirkan tokoh-tokoh yang dikenang sepanjang masa sebagai para Penakluk Dunia, pencatat jejak sejarah.
Apa beda Jenghiz Khan dengan Sultan Muhammad II dari Khwarizmi? Keduanya lelaki utama, tokoh bagi kaumnya, namun menorehkan jejak sejarah berbeda.
Jenghiz Khan bukan hanya menaklukan Khwarizmi, memporak porandakan dunia Islam, meluluhlantakan Samarqand, Balkh Baghdad, menghabisi para ulama, membuat Ibn al- Atsir berkata : “siapa yang sanggup menyanyikan lagu kematian Islam dan menceritakan kisah ini? Lebih baik saya tidak pernah dilahirkan oleh Ibu!”

Demikianlah.
Sultan Muhammad II dan ibunya Thorgun menghabiskan waktu dalam limpahan kesenangan duniawi. Menyanyi, menarik pajak, dikelilingi biduanita. Khwarizmi dalam kondisi payah saat pasukan Mongolia merangsek masuk.
Temujin atau Jenghiz Khan senantiasa meminta restu Hoelun tiap kali ingin menaklukan satu wilayah, sang ibu memberkati putranya, mengantar hingga ke gerbang pandangan cita-cita ambisius pengelana gurun-gurun beku Mongolia. Hoelun mengajarkan Temujin cara bertahan hidup, mendampinginya bahkan sepanjang sang putra telah menikah, selalu memeluknya tiap kali Temujin resah.
Maka orang-orang akan berkata : The best achievers in this world, born by great mother.

Daddy First
Ah, bagaimana bila ternyata ayahnya yang luarbiasa?
Alfred Roberts harus putus sekolah di kelas 3 SD.
Ia hanya ingin belajar dan terus memiliki cita-cita, maka membaca menjadi salah satu kesukaannya selain menjaga toko kelontong kecil miliknya. Ketika ia menikah dan memiliki 2 gadis kecil yang cantik, Alfred suka menulis catatan dan meminta putrinya membaca catatan cintanya. Kadang-kadang tulisan ini demikian puitis dan penuh metafora.

“….si anak memiliki rupa teramat cantik, mampu membangkitkan rasa sayang dan keceriaan yang menular. Semua sudah sedari awal, tetapi baru mewujud ketika seseorang telah berkontribusi sepenuhnya kepada umat manusia.”

Anak kedua Alfred lah yang begitu terinspirasi kegigihan sang ayah, kebiasaannya membaca dan menulis. Ia mengutip tulisan-tulisan ayahnya dalam memoarnya. Alfred sama sekali tak menyangka, seorang dari dua gadis kecil cantiknya – Muriel dan Margareth- kelak dikenal sebagai perempuan Tangan Besi Inggris, Margareth Thatcher.

Mari simak kisah yang lain.
Paul Jobs dan Clara demikian menginginkan seorang anak . Maka, ketika sepasang orangtua muda ingin memberikan putra mereka lantaran belum siap, Paul mengiyakan. Paul seorang mekanik, senang membuat barang-barang sendiri.
Putra kecilnya, diberikan meja dan kursi sendiri saat Paul tengah bertukang.

“Ini meja untukmu,” ujar Paul.
Paul menyelipkan filosofi.
“Saat membuat lemari atau membangun pagar, bagian terpenting adalah yang tak terlihat. Seperti bagian belakang lemari.”
Jauh bertahun-tahun ke depan, filosofi Paul merembesi pemikiran putranya. Ia, si genius yang berada dalam persimpangan humanistik dan teknologi; suka menciptakan hal-hal baru yang tidak hanya menyentuh penampilan luar. Tapi juga memperhatikan sisi teknologi sebelah dalam.
Paul memberi nama anak buangan yang begitu disayanginya dengan nama Steve “Paul” Jobs. Genius eksentrik, womenizer, seorang seniman teknologi yang menggunakan metode Zen dalam menciptakan produk-produknya.
Demikianlah.
Anak-anak hebat, dilahirkan dari ayah yang luarbiasa.

Jadi, Ayah atau Ibu?
Ibu hebat, anak hebat.
Ayah jagoan, anak jagoan.
Bolehkah memilih salah satunya?
Cukup ibu saja yang hebat, insyaallah anak OK. Atau ayah saja yang hebat, toh Margareth Thatcher dan Steve Jobs sukses sebab ayahnya.
Dalam ranah psikologi, figur ayah dan ibu memiliki posisi masing-masing.

Ibu adalah Primary Object, objek utama yang dikenal sang anak sejak ia masih di dalam kandungan. Primary object berfungsi untuk membangung centered holding dan centered relating.
Centered holding adalah bentuk hubungan fisik yang juga memberi ruang pertumbuhan psikologis seseorang. Memeluk, mencium, mendekap anak adalah centered holding. Tampaknya sepele, tapi ini perlakuan ini memberikan kekuatan psikologis bagi anak seiring masa-masa perkembangannya. Hoelun kerap melakukan ini pada Temujin. Mengepang rambutnya, berada di dekatnya. Bahkan kelak ketika sang putra menjadi penakluk.
Demikian pula Nosekeni Fanny.
Ketika Mphakanyiswa wafat, Nosekefeni mendampingi Rolihlala berjalan kaki mengunjungi Jongintaba , kepala suku yang berjanji membesarkan Rolihlala, yang berada sangat jauh dari kampung Qunu.
Menurut Sigmund Freud, anak-anak yang kehilangan masa-masa sentuhan dengan sang ibu akan tumbuh menjadi anak-anak dengan gangguan kepribadin di masa depan. Bagi tokoh psikoanalis tersebut, perilaku menyimpang seseorang berasal dari kehilangan figur ibu di masa-masa awal.

Centered relating adalah hubungan psikologis antara ibu dan anak yang akan sama-sama membangun kepribadian mereka berdua. Ibu semakin belajar menjadi dewasa, bertanggung jawab, santun dan mengayomi sementara anak juga akan belajar bagaimana kedudukannya sebagai anak yang dilindungi, disayangi namun juga memiliki sejumlah hak dan kewajiban. Hubungan psikologis antara ibu dan anak akan membantu seseorang menemukan jati diri yang matang dalam perjalanan hidupnya.

Bagaimana dengan ayah?
Ayah adalah secondary object.
Tapi obyek sekunder yang dikenal anak ini bukan bagian tak bermakna.
Seorang lelaki harus memastikan istri, ibu anak-anaknya berada dalam primary object. Karena itu seorang ayah tidak membiarkan ibu kehilangan porsi centered holding dan centered relating. Semisal, lelaki yang bermalas-malasan mencari nafkah sementara istri yang berjuang keras menopang nafkah, sehingga kesempatan membangun hubungan psikologis dengan anak menjadi berkurang. Bila ibu karena kelelahan akibat mengurusi banyak hal menjadi terlalai membangun hubungan dengan si anak, maka ayah si obyek sekunder ini harus mengingatkan ibu agar menjalani perannya. Tentu saja, berbagi peran adalah keharusan.

Bila ibu sangat sibuk memasak, hingga tak sempat pagi-pagi menyimak bacaan Quran si anak dan mendekapnya sebagai kekuatan menghadapi era sekolah yang penuh dinamika; maka ayah harus mengambil peran agar ibu mampu berbagi kekuatan psikologis dengan putra putrinya.
Bukan itu saja. Ayah adalah ideal object bagi anak-anaknya.
Ibu memberikan cinta kasih, mendidik kebaikan dan aturan. Namun cita-cita besar, internalisasi kehebatan perilaku dan sosok seseorang berasal dari ayah.

Kisah Nabi Ibrahim as (2 :127-129) dan Luqmanul Hakim ( 31) adalah sedikit dari kisah-kisah ayah yang hebat. Nabi Ibrahim as dan Luqmanul Hakim menyempatkan berdialog panjang. Dialog-dialog penuh makna yang menumbuhkan kecintaan anak-anak kepada Tauhid dan tugas utama sebagai manusia.
Memang, peran ibu menjaga agar anak berada dalam dekapan hangat serta memastikannya tak menyimpang. Namun, agar ananda memiliki pandangan jauh ke depan, cita-cita yang melampaui zamannya, kekuatan untuk penjadi seorang Survival & Conqueror ; ayah harus membersamainya.

Bangganya bila anak-anak kita berkata,
“aku ingin jadi seperti Ayah!”

Alfred Roberts serta Paul Jobs memasukkan edukasi, filosofi, skill kepada anak-anak mereka sehingga menjadi pribadi cemerlang, inovatif dan mampu menjadi pemimpin.

Ayah dan Ibu Bersama
Ada pasangan orangtua yang mem”besar”kan anaknya bersama. Jangan heran, ada pula yang menghancurkannya bersama pula.
Albert Einstein beruntung memiliki orangtua bijak yang membesarkannya tanpa cepat putus asa. Ketika kecil, tak mudah menjadi seorang Yahudi di tengah 70 siswa katolik. Einstein terserang echolalia, semacam gagap yang membuatnya tampak gugup dan terbelakang. Guru mengeluhkannya. Hermann Einstein memberikan hadiah kompas dan Pauline Koch memberikan hadiah biola. Sepasang orangtua yang tak menyerah meski anaknya didiagnosis bodoh dan berada dalam kungkungan rasialisme. Di kemudian hari, bila Einsten tenggelam, gugup dalam lamunan imajinasi liar dan geniusnya, ia memainkan biola sebagai peredam emosi.

William James Sidis, seorang anak jenius yang mampu membaca koran diusia 18 bulan. Menguasai delapan bahasa di usia 8 tahun dan masuk Harvard di usia 11 tahun. Sebagai seseorang yang diklaim memiliki kecerdasan di atas skor 200, Sidis sangat istimewa. Ia begitu istimewa hingga orangtuanya, Boris Sidis, Ph.D,. M.D. dan ibunya Sarah Mandelbaum M.D melupakan bahwa ia masih anak-anak ketika harus mencapai semua prestasi. Saat dewasa, Sidis sangat menarik diri dan dianggap memiliki beberapa gangguan psikologis. Sidis, menyalahkan orangtuanya yang dianggapnya terlalu berambisi menjadikannya berprestasi.
Meski kecerdasan Sidis dianggap melampaui Einstein, ia tidak memiliki kehangatan dukungan orangtua hingga harus berakhir dalam hidup yang mengenaskan.

Sangat berbeda dengan Einstein yang selain mendapatkan dukungan Hermann, Pauline, adik semata wayangnya Maja pun sangat mendukung Einstein. Belum termasuk sahabat-sahabat Einstein semacam Mileva Maric, Michael Angelo Besso, Marcell Grossman dll yang senantiasa mendukung kiprah Einstein.

Margareth Thatcher, meski banyak diilhami sang ayah, ternyata memiliki beberapa watak baik ibunya. Tiap Kamis, Beatrice Roberts mengadakan acara “panggang akbar” di depan toko kelontong miliknya. Tujuannya adalah membagi 2 atau 3 loyang roti kepada yang membutuhkan. Banyak warga dan relasi Thatcher yang menyatakan ia mirip ibunya dalam hal bekerja : sekalipun seorang Perdana Menteri, Margareth lekat dengan anak-anak, mengurus perkara domestik dan hidup ala ibu rumah tangga lainnya. Bagi Albert, Margareth memberikan sumbangsih bagi kemanusiaan dan itu yang membuatnya bersinar, terlepas hal tersebut disangkal oleh lawan-lawan politiknya.

Dalam kehidupan ini, mungkin tak semua didapatkan sempurna.
Sungguh beruntung memilih ayah dan ibu bagai Einstein atau Thatcher.
Namun bila tidak memungkinkan, salah satu orangtua harus maju sebagai figur bagi sang anak. Bila sang ayah terpaksa jauh di luar pulau karena harus bekerja, maka peran Primary Object dan Secundary Object diupayakan terus berjalan. Boleh jadi ada tambal sulam peran, saat ibu terpaksa mencari nafkah untuk membantu ayah, namun tugas utamanya sebagai centered holding dan centered relating tidak boleh terabaikan.

Begitupun, bila salah satu sosok orangtua tak sempurna, maka peran ayah sebagai Secundary Object tetap diupayakan berjalan. Ayah yang kokoh, tangguh, berkuasa, nakhoda di rumah.
Tips seorang teman ini mungkin bisa dilakukan.
Suaminya bekerja jauh di luar kota.
Secara keuangan, fasilitas tersedia. Namun si ibu tetap menganjurkan anak-anaknya menghubungi ayahnya bila terkait keuangan.
“Bilang Papa kalau mau beli sesuatu,” ujar si ibu.
Sekalipun ibu bekerja sebagai dosen dengan gaji lebih dari cukup, ia tak membiasakan anak-anak menjadikan semua keputusan “cukup dari ibu yang punya uang sendiri, terlebih ayah jauh.”
Sekalipun sang ayah bekerja jauh, anak-anak membiasakan meminta izin pada sang ayah bila akan membelanjakan uang. Figur sentral ayah sebagai tokoh pencari nafkah, tidak harus hilang hanya karena ia tidak ada di dalam rumah.
Memang, tak mudah menjadi ayah dan ibu yang bersama-sama membesarkan anak-anak. Namun dengan banyak belajar, kita akan mencoba memperbaiki apa yang telah luput dari perhatian.

Sinta Yudisia
Calon Psikolog, insyaaallah

Referensi
Al Quranul Karim
Arif, Iman Setiadi. Skizofrenia : Memahami Dinamika Keluarga Pasien. Refika Aditama. 2006.
Arnold, Thomas W. The Preaching of Islam. Widjaya. 1979
Isaacson, Walter. Steve Jobs. Bentang . 2011
———————. Einstein : Kehidupan dan Pengaruhnya Pada Dunia. Bentang . 2013
Man, John. Jenghiz Khan : Legenda Penakluk dari Mongolia. Alvabet. 2004
Moore, Charles. Margaret Thatcher : The Authorized Biography. Bentang. 2014
Pram, Tofik. Jejak Perlawanan Mandela : Di Antara Suramnya Kolonialisme dan Politik Apartheid. Edelweiss. 2014

jobs thatcher mandela