Mencurahkan Cinta

Anda mencintai Istri? Pasti.

Anda menyayangi suami? Tentu.

Tapi apakah kita sudah mencurahkan cinta dengan segenap  hati, rasa, jiwa, ketulusan?

#eaaaa

 

Ini bukan sedang membahas cinta monyet, puppy love, anak remaja ingusan. Justru membahas tentang cinta kita. Aku dan kamu. Kita berdua. Suami istri. Sepasang insan. Lovers.

Kamus Umum Bahasa Indonesia menjelaskan, curah bermakna 1) menumpahi (melimpahi) banyak-banyak 2) memberi (menganugerahi dsb) banyak-banyak.

Artinya, kalau hanya memberi sedikit, ala kadarnya, jarang-jarang pula; itu bukan mencurahkan. Demikian pula cinta. Pasangan jiwa adalah sosok yang pantas diberikan curahan cinta. Limpahan cinta yang banyak-banyak, bertubi-tubi, mengalir tiada henti.

Hebohnya acara 17an dan penobatan best couple

 

Best couple?

Waktu beberapa hari lalu saya dan suami dinobatkan sebagai best couple di acara 17an RW, saya justru merenung. Kok bisa ya? Apa yang dinilai dan dianggap lebih dari kami? Padahal rasanya semua serba biasa saja.

Tetapi, mungkin ada sesuatu yang kami lakukan yang oranglain jarang lakukan.

Kami belajar dari Abah Ummi, orangtua suami saya.

Abah Ummi adalah orang yang sangat mesra, bahkan sampai usia tua. Kemana-mana jalan bergandengan tangan. Saling mencium pipi kanan kiri , bahkan ketika Abah hanya akan pergi ke masjid. Cium tangan, tentulah.

Ummi adalah perempuan sederhana. Tapi nasehat-nasehat beliau sunggu dalam.

“Kalau suami pergi kemanapun, jangan lupa diantar ke depan. Sing ati-ati, itu adalah doa.”

Sing ati-ati.

Ummi selalu berkata demikian sesaat sebelum Abah beranjak pergi. Ke masjid, pengajian, ke kantor dulu sebelum pensiun. Kebiasaan itu akhirnya terbawa pada kami anak-anaknya. Saya sendiri akan megnantar suami dan anak-anak hingga gerbang pagar. Sembari berdoa dan berpesan banyak hal.

“Jangan lupa al Hasyr ya. Dzikir shalawat. Asmaul husna. Ingat ini hari Jumat, al Kahfi yaaa.”

Maka anak-anak pun berlaku lucu setiap kali saya mau keluar rumah.

“Ummi jangan lupa dzikir shalawat yaaa!”

Pernah, suatu ketika saya repot banget ngurusin dapur. Sampai-sampai suami berangkat kantor hanya lewat begitu saja. Ternyata suami marah besar. Katanya,

“Hal terakhir yang ingin dilihat suami sebelum ke kantor adalah wajah istri. Nggak ada jihad yang lebih besar selain itu.”

Saya sempat nangis sih…hehehe #baper

Lha, ngurus dapur, cucian, dll kan jihad perempuan juga? Tapi setelah dipikir-pikir benar juga. Seorang suami akan berangkat ke medan perang menuju tempat kerja. Kemacetan, umpatan orang-orang di jalan yang juga sama stressnya, tekanan kerja, tuntutan atasan, rekan dan bawahan yang mungkin sedang tak bisa diandalkan dll. Wajah dan senyum istri bisa jadi amunisi untuk siap menghadapi pertarungan #jiaaah

Begitulah. Ternyata, setiap pagi, ada rombongan bapak-bapak yang sering kami temui. Mereka menyaksikan betapa hebohnya saya mengantar suami dan anak-anak hingga gerbang depan.

Waktu yang sedikit antara suami-istri dapat saja tetap berkualtias dengan ikatan, humor dan hal-hal yang membahagiakan.

Si kecil suka menggoda.

“Ummi, Abah kemarin dengerin Raisa lho!”

“Hush, jangan bilang-bilang,” suamiku tertawa berlagak menegur si kecil.

Aku cemberut. Biasalah, sama artis juga bisa cemburu.

“Bagi Abah, Ummi lebih cantik dari Raisa,” kata suamiku.

Semua anakku melet kalau dengar rayuan ini sembari bilang : hueeeeks.

Yah. Perempuan itu, sekalipun tahu kalau rayuan gombal, tetap saja senang.

Ingat lagunya Rihanna feat Eminem : I Love the Way You Lie?

Tuh kan. Bukan cuma saya satu-satunya perempuan yang senang digombalin suami.

Kondangan, ngisi acara, menerima penghargaan sampai nyoblos pilkada

 

Kebersamaan

Abah Ummi itu kemana-mana berdua.

Ke pasar berdua. Pengajian berdua. Periksa ke dokter berdua.

Hal ini pun menular ke anak-anaknya. Kalau pas ada pengajian di masjid yang cuma beberapa langkah dari rumah kami, suami dan saya biaa berjejer berangkat dan pulang. Ada tukang sayur pas hari libur, saya dan suami belanja ke depan rumah. Mau ke toko dekat rumah, saya dan suami berdua. Pendek kata, kalau memungkinkan pergi berdua walau ke tempat yang dekat seperti pasar pojok di luar kompleks; tetap kami lakukan berdua.

 

Mesra

Abah Ummi itu sampai usia tua tetap mesra. Bergandengan tangan seperti anak remaja. Itu juga menular ke anak-anaknya. Seringkali ketika jalan berdua dengan suami, tangan kami otomatis bergandengan. Atau tangan saya otomatis menggandeng tangannya. Atau saya minta suami menggandeng tangan saya #maksa.

Abah, sekalipun sudah capek banget sepulang kerja, terbiasa memijit-mijit betis Ummi. Sentuhan fisik, bergandengan tangan, berciuman pipi; sangat sering dicontohkan Abah Ummi hingga para tetangga dan penjual nasi hafal dengan kebiasaan beliau berdua.

Abah ummine asih nemen yak!” demikian penjual nasi bungkus pernah berkomentar kepada saya ketika saya membeli nasi bungkusnya. Itu bahasa Tegal yang artinya : Abah Ummi saling mengasihi

 

Mencintai tapi tak Mencurahkan

Banyak pasangan yang saling mencintai, tapi tak saling mencurahkan kasi sayang.

Beberapa klien saya mengaku enggan memeluk pasangannya karena malu atau risih. Jarang mengungkapkan kata cinta, dan lebih sering membelikan sesuatu karena dianggap lebih real dalam mengungkapkan cinta. Padahal, yang namanya mencurahkan itu ya segala sesuatu diberikan banyak-banyak.

Memangnya kalau mencurahkan cinta dengan materi, sang suami sanggup membelikan apapun hadiah untuk istri? Mana kuatlah. Kalaupun kaya raya, tetap saja materi ada batasnya. Mencurahkan cinta dalam bentuk limpahan kasih sayang itu haruslah tampak hingga terasa di kulit, terasa di panca indera, membekas dalam ingatan dan lubuk hati #halaaah

Saya yakin, suami istri itu sudah ibarat nyawa dibagi dua. Maka biasanya, ketika salah satu pasangan pergi entah karena meninggal atau berselingkuh; yang satunya akan merana dan hilangnya sinar seri harapannya. Walaupun jangan sampai berputus asa ya…

Masalahnya, cinta itu ada di lubuk hati. Hati itu letaknya di balik kulit, di balik lemak daging, di balik pembuluh darah dan di balik bermacam-macam perspektif. Ada yang bilang rasa hati adalah jantung, hati itu sendiri (liver) bahkan otak. Ya, manapun letak hati; ia jelas bukan oragn yang gampang dilihat denyutnya seperti kedipan mata dan hembusan nafas. Makanya, kerja hati harus ditampilkan ke permukaan.

Senang dengan senyuman.

Tak setuju dengan menggeleng.

Bingung dengan berkerut dahi.

Dan cinta, sebagai rasa yang deskripsinya paling kompleks, harus lebih-lebih lagi cara pengungkapannya. Tak cukup sekali. Berkali-kali. Itulah yang namanya mencurahkan cinta.

 

Rangkuman :

Curahan cinta dibutuhkan pasangan dalam bentuk ucapan, kemesraan, berdekatan, kebersamaan.

 

Iklan

Tanda-tanda Keretakan Hubungan dengan Pasangan

 

 

Tak ada yang menginginkan cinta berakhir musnah. Berujung kegetiran, apalagi perpisahan. Naudzubillahi mindzalik. Namun, seiring waktu, cinta memudar bahkan hilang tak berbekas. Dia yang dulu begitu berapi-api, sehari dapat mengungkapkan sayang lebih dari 3x bahkan overdosis; sekarang jangankan mengucapkan sayang. Membalas pesan kita enggan, padahal online.  Selalu punya alasan sibuk. Saat bicara cinta rasanya aneh dan menyakitkan, bagai bertepuk sebelah tangan. Pernikahan, dapat diselamatkan dan memang harus diupayakan selamat hingga menuju laut keabadian. Mari kenali tanda-tanda keretakan hubungan agar dapat segera dicari solusinya.

Apa saja tandanya?break-up-spells

  1. Kaku dan jarang tertawa
  2. Tidak punya mimpi bersama
  3. Tidak mesra
  4. Sibuk urusan masing-masing
  5. Bercinta kurang dari seharusnya
  6. Keuangan tersembunyi

Bahas satu-satu ya…

  1. Kaku dan jarang tertawa

Joke, humor, anekdot, itu obat jitu suasana. Asal sesuai kondisi dan takaran. Ingat Nasruddin Hoja dalam memecahkan masalah pelik? Ada canda disitu untuk mencairkan ketegangan. Dalam menyampaikan fatwa pun demikian. Bahkan bila keluarga kita mengalami saat-saat sulit sekalipun, humor ini jangan sampai ditinggalkan. Humor meredakan ketegangan dan menciptakan situasi cair yang menyenangkan.

Pasangan seharusnya mulai waspada bila dalam 2-3 bulan tidak dapat lagi tertawa bersama-sama. Mungkin karena tekanan ekonomi, masalah keluarga besar, atau ada orang ketiga yang menyita perhatian. Orang ketiga ini tidak selalu WIL/PIL yang mengindikasikan perselingkuhan. Mungkin saja orang ketiga ini adalah saudara yang tengah menghadapi masalah keluarga juga sehingga menyita perhatian kita, atau atasan yang sangat menyulitkan, atau teman yang tidak dapat dipercaya.

Pendek kata, banyak masalah di masa kini dapat menimpulkan stress bahkan depresi.

Tertawa bersama itu mudah.

Bagilah kisah-kisah lucu lewat broadcast (BC), meme lucu, menonton film komedi, menikmati acara televisi yang mengibur. Lalu tertawalah bersama. Gelitikilah pasangan agar ia mau tertawa bersama-sama. Jadi, kapan anda dan pasangan tertawa bersama untuk terakhir kali? Kalau pagi ini masih dapat tertawa berdua karena saling mencolek pinggang masing-masing, artinya hubungan anda inysaallah selamat!

 

  1. Tidak punya mimpi dan keinginan bersama

Mimpi bersama akan mengikat satu sama lain. Ingin haji bersama sehingga saling menyisihkan penghasilan, ingin umroh bersama, ingin berlibur bersama, ingin menghabiskan akhir pekan berdua di hotel atau di restoran romantis.

Semakin panjang mimpi itu, insyaallah semakin baik.

“Nanti kalau Mas pensiun, mau ngapain?”

“Aku mau buat café kecil-kecilan, Dek.”

“Kalau gitu mulai sekarang aku coba kumpulkan resep masakan yang khas ya.”

Mimpi ini harus terus dibangun.

Dulu mimpi umroh bareng, terkabul. Tambah mimpi haji. Sudah terkabul, bermimpilah bersama untuk dapat wakaf. Terkabul? Bermimpilah bersama lagi untuk buat yayasan panti asuhan. Terkabul? Bermimpi lagi bersama. Buat perusahaan warisan yang dapat diwariskan pada anak cucu. Terkabul? Buat mimpi-mimpi bersama lagi hingga mimpi akhir bersama adalah menjadi pasangan suami istri di FirdausNya.

Suami istri yang sudah punya penghasilan masing-masing, kadang enggan merancang mimpi bersama. Merasa sudah dapat melaksanakan  sesuatu dengan uang pribadi. Misal, dapat menyantuni orangtua masing-masing dari uang pribadi. Apa salahnya membangun mimpi bersama dalam hal memberi hadiah pada orangtua?

“Dek, aku pingin meng umrohkan kedua belah pihak orangtua kita. Yuk, nabung bareng.”

Nilai kebersamaannya lebih terasa daripada masing-masing bertekad menabung sendiri-sendiri, mengumrohkan orangtua sendiri-sendiri.

 

  1. Tidak mesra

Kemesraan sangat penting untuk mengeratkan hubungan. Sama dengan humor, bila kemesraan mulai menghilang dalam 3 bulan terakhir, waspadalah. Apa sih mesra?

Dalam kamus bahasa Indonesia mesra berarti 1) menyerap 2) sangat dekat dengan hati. Menyerap dalam kamus  disini diartikan perilaku yang benar-benar ‘menyerap’ hingga ke hati. Bukan sekedar ciuman selintas. Bukan pelukan sambil lalu. Bukan sekedar salaman sekedar tempel. Karena sudah serumah bertahun-tahun, seringkali sentuhan fisik hanya formalitas belaka.

Yang penting sudah cium istri ketika berangkat.

Yang penting sudah salam suami ketika akan berpisah. Sentuhan, apalagi obrolan, tidak ada yang benar-benar terserap sampai ke hati.

  1. Sibuk urusan masing-masing

Pekerjaan kantor dan rumah tidak ada habisnya.whatsapp

Bahkan, di rumahpun kadang atasan atau bawahan masih mengontak untuk konsultasi.

“Ini atasanku telpon, Ma, gak enak!”

“Ada rapat via whatsapp buat acara coaching anak-anak pegawai baru.”

“Klienku lagi punya amsalah berat, nggak bisa ditinggalkan.”

Okelah, pekerjaan adalah sumber nafkah. Tapi juga bisa sumber keretakan. Kalau sesudah urusan selesai dan kita masih sibuk dengan gadget masing-masing, yah, rasa hambar akan timbul. Kalau sampai di rumah yang menjadi tujuan adalah remote televisi atau membuka laptop, pasangan akan malas berdekatan.

  1. Bercinta kurang dari seharusnya

Capek? Stres? Sedang marahan?

Hubungan intim yang sehat sekitar 2 x sepekan. Karena kelelahan dan hasrat sudah menguap ditelan permasalahan seharian ditambah macetnya jalan; lenyapkan keinginan bermesraan dengan pasangan. Apalagi bila masalah anak-anak turut menambah bumbu jamu dalam hubungan. Apalagi masalah orangtua, keluarga besar, turut melenyapkan gairah. Padahal kata Buya Hamka, memuaskan nafsu (dengan cara yang benar tentunya) adalah tujuan melestarikan banyak hal. Melestarikan keturunan, melestarikan cinta, melestarikan hubungan.  Banyak pasangan yang karena didera banyak hal, merasakan biasa-biasa saja melakukan hubungan intim dua pekan sekali. Atau malah sebulan sekali. Tidak ada keinginan untuk membangun hasrat, entah bagaimana caranya.

Lalu tiba-tiba, muncullah seseorang yang dapat membangkitkan gariah demikian cepat!

(Nantikan buku saya yang membahas khusus bab Seksologi ya)

  1. Keuangan tersembunyi

Apakah gaji masing-masing harus diketahui pasangan? Ya!

Suami harus tahu penghasilan istri, begitupun sebaliknya. Rem lelaki, konon kabarnya, kuat mencengkram kaum Adam dari perilaku kurang pantas apabila istri yang memegang kendali keuangan. Perempuan, pun tak akan boros-boros amat bila suami tahu berapa besar penghasilannya.

“Lho, kok uangnya sudah habis?”

Meski kita kerap kesal dengan ungkapan seperti itu, tetap saja kritikan suami/istri menjadi pagar. Aduh, habis cepat saja dikritik, apalagi habis tak karuan rimbanya! Bila istri merasa sah-sah saja menyembunyikan tabungannya, begitupun suami merasa harus menyembunyikan penghasilan real nya kpada istri; ini salah satu bencana besar yang mengintai.

Money is monster!

Coba bicara jujur, apa sih yang membuat kita menyembunyikan penghasilan? Karena akan digunakan untuk membelanjakan sesuatu diluar pengetahuan pasangan. Kalau untuk beli hadiah kejutan, okelah. Tapi apa hadiah kejutan dibeli tiap waktu? Biasanya, uang disembunyikan karena kita ingin membeli barang-barang keinginan yang mungkin tidak disetujui pasangan. Baju, jam tangan, sepatu, pemenuhan hobby mahal (pancing,shopping,barang antic, fotografi). Atau, menyembunyikan neraca keuangan rumah tangga karena ada hal pelik lain yang perlu ditutupi?

 

Sinta Yudisia

Psikolog

Kriteria Istri Kedua

 

 

Cantik.Muda. Berpendidikan.Berpenghasilan.

Demikian rata-rata kriteria perempuan yang akan dijadikan istri kedua, entah ia masih gadis ataupun janda. Berbeda dengan istri pertama yang sederhana, polos, lugu; biasanya istri kedua bertolak belakang dari istri pertama.

Benarkah?

silhouette_muslimah_by_maxzymus-d69der4-770x577.jpg

Polemik Poligami

Persoalan poligami akan selalu pro kontra, tak akan pernah ada kata sepakat, apalagi bila pendapat lelaki dan perempuan dibenturkan. Perempuan beranggapan lelaki mau enak sendiri, lelaki beranggapan  perempuan tidak memahami syariat. Persoalan semakin pelik jika poligami sudah melibatkan kontak emosi terlalu jauh : seorang suami yang tidak dapat curhat kepada istrinya lalu menemukan perempuan lain yang kebetulan cocok menjadi teman curhatnya. Atau, seorang suami menemukan istri yang selama ini diimpikannya, hal yang tidak didapatkannya dari istri pertama.

 

Secara alamiah, lelaki  memliki instink petualang, melebihi perempuan. Perempuan paling energik dan sangat bebas sekalipun, seiiring posisinya sebagai istri dan ibu pada akhirnya akan mengakhiri masa adventuringnya.  Mendekam di rumah menikmati fitrah sebagai  istri, ibu , pendidik, pengasuh, tukang masak dan seterusnya. Lelaki, walau bertanggung jawab terhadap kebutuhan nafkah keluarga; tetap memiliki semangat berpetualang.  Ada lelaki yang teap suka main bola, naik gunung, jalan-jalan, hang out dengan teman-temannya, nonton keluar. Walau ia seorang family man sekalipun, sisi adventuring itu tidaklah hilang.

 

Bila kebiasaan adventuring ini mendapatkan pelepasan semestinya, biasanya ia tidak membutuhkan lagi petualangan cinta. Misal, ia aktif di organisasi, yayasan, sibuk mengejar karir, terlibat aktif mengasuh anak-anak maka energinya akan tersalur. Namun  dalam kejenuhan dan keterdiaman, lelaki bisa memulai petualangan cinta.

 

Lha, apa hubungannya dengan poligami?

 

Poligami ala Rasulullah Saw dan orang-orang shalih.

Rasulullah saw menikah lagi setelah bunda Khadijah wafat. Pernikahan beliau rata-rata mengambil  janda yang sudah tua. Pernikahan dengan perempuan muda nan cantik antara lain terjadi terhadap  Aisyah dan Shofiyyah. Meski demikian, visi misi pernikahan beliau tidaklah bergeser dari kepentingan dakwah dan tentu sesuai syariah.

Sultan Murad menikahi Huma Khatun ( Ibunda Al Fatih) sebagai istri ketiga, juga karena alasan politik. Selain alasan politik, Sultan Murad mampu mengkondisikan istri-istrinya untuk taat kepada Allah.  Bacaan al Quran senantiasa menemani hari-hari mereka;begitupun pertempuran-pertempuran jihad mengisi hari-hari Sultan Murad.

 

Poligami sekarang

Sebetulnya, tidak ada keharusan lelaki harus menikah lagi dengan perempuan yang lebih tua. Harus janda. Beranak banyak. Jelek pula. Tidak ada satu ayatpun dalam Quran dan Hadits yang melarang lelaki menikahi perempuan disebabkan kelebihan-kelebihan yang ada padanya.Apakah haram menikahi perempuan pintar? Tidak. Apakah haram menikahi perempuan cantik? No. Apakah haram menikahi perempuan muda? Haram menikahi perempuan berpenghasilan dan kaya? Tidak dan tidak.

2 jalan

Silakan saja mencari istri pertama yang pintar, kaya, cantik, muda. Silakan mencari istri kedua yang seperti itu juga. Ketiga dan keempat juga dengan kriteria yang sama.

Lalu apa masalahnya?

Masalahnya adalah bila visi misi bergeser.

Dulu, menikah dengan istri pertama dalam kondisi serba kekurangan. Maklum, baru lulus kuliah. Penghasilan hanya berapa ratus ribu. Kontrakan rumah petak yang banjir  dan bau. Yang dicari adalah perempuan yang tahan banting : mau bagaimanapun rupa dan bentuknya. Mau bagaimanapun asal keluarga dan kondisi keuangannya.

Dua puluh tahun kemudian , atau lima belas tahun, atau malah baru sepuluh dan lima tahun;ketika kondisi keuangan membaik. Si pemuda culun yang sederhana dulu berubah menjadi lelaki yang gagah dan berkharisma.  Keuangan membaik dengan status mapan dan kedudukan terhormat : suami dengan istri dan sekian anak, rumah disini, kendaraan ini.

 

Ketika hasratnya untuk memiliki istri kedua muncul, biasanya ia tidak lagi memilih seperti istri pertama yang apa adanya. Setidaknya yang kedua hadir disaat posisinya mapan, maka ya, haruslah perempuan yang lumayan. Lumayan parasnya. Lumayan pendidikan dan keuangannya. Perkara istri pertama sakit hati dan anak-anak tak mengerti dengan pilihan sang kepala keluarga : itu urusan kesekian.

 

Membenci syariat?

Jika perempuan menolak poligami, jangan serta merta mengatakannya : nggak mau patuh ya sama perintah Allah? Nggak mau taat syariat ya? Mau menolak isi Quran?

Maka, meski hati patah dan sakit luarbiasa,  pilihan poligami terpaksa dijalankan. Apapun konsekuensinya. Kalau nanti istri pertama sakit-sakitan, dikira tidak ikhlas. Kalaupun menerima dengan hati lapang, sepanjang jalan pernikahan pastilah akan tumbuh beragam persoalan yang kadang-kadang, tertuding lagi perempuan. Ini gara-gara istri pertama gak mau mengalah. Ini gara-gara istri kedua ngelunjak.

 

Lelaki adalah Qowwam

Lelaki adalah peimpin bagi dirinya, istri, anak-anaknya. Keluarganya. Ummatnya. Pernikahan haruslah membangun mahligai yang sakinah mawaddah warrahmah. Seharusnya, lelaki yang memiliki logika lebih dari perempuan memprediksi apa yang akan terjadi ke depan.

 

Menikahi istri kedua berusia 25 tahun saat istri pertama 45 tahun, apa dampaknya? Bila istri pertama merelakan, apa yang harus disiapkan suami? Apa kesepakatan yang harus ditegakkan antara istri pertama dan kedua? Bagaimana tentang maisyah? Bila istri kedua memiliki pegnhasilan besar, seorang pengusaha atau wanita karir; bukan berarti kewajiban nafkah sang Qowwam teralihkan, bukan?

“Nanti pembagian nafkah bagaimana?” istri pertama bertanya cemas, mengingat kebutuhan anak-anak.

“Tenang, dia bepekreja dan berpenghasilan kok,” jawab suami, menjelaskan si kedua

Lantas, dimana sikap ke qowwamannya jika ia memilih istri yang mapan dan merasa tidak punya kewajiban menafkahi?

 

Tak Bisa Berbagi Hati

Rasulullah saw memang lebih mencintai Aisyah. Aisyah dan Shafiyyah pun pernah berselisih. Aisyah dan Hafsah pun pernah berselisih. Tak akan pernah persoalan hati dan emosi dapat ditimbang dengan rasio.

Meski, pengakuan beberapa lelaki menyatakan, cinta terhadap istri pertama dan kedua bukan seperti membagi hati ( seperti mencintai anak 1, 2, 3, 4 dst tetap sama besarnya) ; kecenderungan itu pastilah ada.

Cenderung terhadap istri pertama yang telah berkorban waktu, tenaga, hati, pikiran dan semua yang dimiliki. Atau cenderung terhadap istri kedua yang cenderung ‘baru’ : baru sebagai teman, baru sebagai kekasih, baru sebagai pasangan.

Percayalah, kecenderungan itu pasti muncul.

Siapkah laki-laki jujur dan menanggung konsekuensinya?

Beberapa berjanji, tak akan meninggalkan anak-anak ketika memiliki istri yang berikut; nyatanya tak selalu kondisi ekonomi stabil . Keharusan mencari nafkah bagi dua istri menyebabkan waktu semakin tersita. Dua dapur dan dua keluarga tentu membutuhkan lebih banyak supplai finansial. Belum lagi perselisihan yang menguras emosi. Antar kedua istri, antar kedua keluarga, antar anak-anak. Ujung-ujungnya, poligami yang disalahkan : tuh kan, anak-anaknya nakal. Keluarga morat marit. Bapaknya kawin lagi sih!

 

Lalu bagaimana?

Bila, memang poligami akan dilakukan, bisakah seorang suami menceritakan secara jujur apa yang nanti akan terjadi : keuangan, waktu, urusan ranjang, kecenderungan hati, anak-anak dan seterusnya?

Bila berkomitmen akan bertanggung jawab terhadap segala konsekuensi, bisakah ia menepati janji-janjinya?

Dan bila ingin seperti Rasulullah Saw, bisakah istri kedua adalah gadis-gadis yang sudah sangat matang dalam kesendirian. Janda-janda beranak banyak yang kurang mampu. Perempuan-perempuan tak cantik yang memang tidak dilirik laki-laki.

Bisakah sang istri pertama tetap perempuan yang jauh lebih cantik, lebih muda, lebih terhormat?

Atau mau jujur bahwa dalam petualangan kali ini,  pernikahan disimbolkan demikian : istri pertama untuk keprihatinan, istri kedua untuk bersenang-senang. Kalau demikian halnya, janganlah membawa nama sunnah rasulullah saw sebagai alasan poligami.

Sebab sunnah Rasulullah juga berbareng dengan kewajiban untuk menghargai ibu dari anak-anak; perempuan yang berbakti terhadap suami, istri yang sehari-hari menyisihkan seluruh kepentingan pribadinya untuk suami tercinta.

 

Mengapa Psikologi Pengantin?

 

Banyak hal baru di buku ini. Detail mengupas masalah keluarga dari pernik-perniknya, cocok buat yang mau menikah atau sudah menikah. Yang kita awam masalah seksologi dan trauma-trauma, mbak Sinta bisa mengupas dengan netral, yang kadang dikalangan kita tidak terpikir,” Agustina, Jakarta

daftar isi Psikologi Pengantin

Daftar isi Psikologi Pengantin

Mengapa menulis Psikologi Pengantin?

Masalah pernikahan yang dihadapi pasangan muda atau pun pasangan matang, berkembang dari waktu ke waktu. Perselingkuhan, relasi dengan anak dan orangtua (juga dengan pasangan), money management, pilihan karier dan masih banyak lagi. Hal yang tabu untuk dibicarakan –hubungan intim- ternyata sangat sensitive untuk segera dibahas sejak awal pernikahan agar masing-masing mendapatkan jalan keluar.

Terpanggil menulis panduan yang ringan namun memberikan informasi lebih, Psikologi Pengantin disusun.

Hal utama yang ingiin disampaikan adalah, agar setiap permasalahan pernikahan diselesaikan dengan cara bijak, ilmiah, dengan langkah-langkah bertahap yang terprogram. Bukan sekedar berlandaskan kata orang atau semata-mata keputusan emosional belaka.

Masalah seksual misalnya.

Kepada siapa kita bertanya bila ada hambatan dengan pasangan?

Ah, bukankah masalah ranjang memalukan untuk dibahas? Seolah yang mengadukan maniak dan tidak mau menerima apa adanya. Hal ini tentu saja sangat salah. Hubungan seksual adalah ibadah dalam Islam. Setiap ibadah seperti sholat,  zakat, puasa, haji , ada aturannya. Ada rambu-rambunya, selain hikmah yang didapatkan. Sholat perintah Allah Swt, hikmahnya berupa kesehatan fisik dan mental. Hubungan seksual adalah perintah dari Allah Swt yang sampai termaktub dalam Quran. Hikmahnya menimbulkan kestabilan emosi. Bila orang mengabaikan sholat , apakah jadinya? Sebagaimana orang menjadikan seksual sebagai permainan belaka, apakah dampaknya?

Ada beberapa hal yang bagi saya menarik untuk dituliskan.

Psikologi Pengantin membahas prewedding dan post wedding. Di antaranya pre dan post, terdapat sub bab khusus membahas seksologi. Dalam prewedding, bahasan karierku dan kariermu salah satu yang saya pribadi sukai.  Teman-teman yang saya temui sepanjang lawatan di dalam negeri dan luar negeri memberikan banyak pengalaman baru terkait karier masing-masing . Begitupun me-time, yang tercantum dalam post wedding. Mengapa me-time penting bagi  masing-masing pasangan? Mengapa suami tetap butuh waktu untuk berkumpul dengan teman-temannya , begitupun istri perlu waktu untuk mengembangkan diri dan menyalurkan hobby?

Lalu, apa pula isi seksologi? (bersambung)

crop cover Psikologi Pengantin

 

 

Psikologi Pengantin

 

Psikologi Pengantin

Cover Hijau Psikologi Pengantin

Yang punya istri pintar cari uang dan aktif di luar, eh, suaminya selingkuh juga.

Yang punya istri berkhidmat di rumah, mengabdi pada suami dan anak-anak, eh ditinggal juga.

Yang suaminya ganteng dan sholih, bukan jaminan juga istrinya tak berpaling.

Jadi pernikahan itu bagaimana sih? Bagaimana menjadikan pernikahan kita tetap seperti masa-masa pengantin?

Ada yang bilang,  melayani suami harus lihai dapur dan kasur. Tapi tahukah anda, penemuan-penemuan di ranah psikologi dan sosial  merumuskan hal-hal mengejutkan seputar pernikahan?

Saya terkejut dan merenung saat menelaah puluhan riset  tersebut , lalu membuat buku sederhana ini , berjudul  Psikologi Pengantin yang semoga menjawab pertanyaan.

  • 5 tahun pertama pernikahan bolehlah laki-laki dirayu dengan kasur. Tapi ternyata, ada lagi yang dibutuhkannya. Simak diskusinya di buku ini ,ya.
  • Ada permasalahan kunci dalam pernikahan suami istri yang seringkali tabu dibicarakan. Atau sekali dibicarakan, bisa berujung ledakan. Apakah sex? Atau yang lain?
  • Ada beberapa titik penting pernikahan yang kalau diperhatikan seksama, dapat menjadikan suami istri pengantin sepanjang masa.
  • Buku ini mungkin vulgar di beberapa bagian, terutama hubungan intim suami istri. Tapi percayalah, membahas hal tabu yang dalam Islam bernilai ibadah, lebih baik dibicarakan dalam konteks ilmiah daripada mencuri-curi pengetahun dari google serta youtube!

 

Untuk pemesanan Psikologi Pengantin (harga 40 K) ,

Kontak Penerbit Indiva atau

Vidi 0878 -5153 -2589

Ayyasy 0856- 0865-4369

 

Nantikan  kuis-kuis menarik seputar Psikologi Pengantin yang berhadiah macam-macam gantungan kunci mancanegara !

 

 

#13 Catatan Seoul : Perkosaan hingga Cinta Pasca Menikah

Diskusi dengan tuan PD atau Pankaj Dubey ini dapat melebar kemana-mana. Mungkin, pembicaraan kami tertolong oleh bahasa Inggris. Saya ingin sekali banyak berdiskusi dengan Profesor Batkhuyag, sayangnya beliau hanya bisa berbahasa Russia dan Mongolia.

Yah, saya hanya bisa berucap : Zdravstvuite, menya zovut Sinta. Priyatno poznakomit’sya.

 

Sinta, PD, Prof. Batkhuyag

Prof. Batkhuyag, Sinta dan PD

Diskusi dengan PD berkembang ketika ia menyampaikan tentang novelnya To Hell with Love, tentang bagaimana cinta berevolusi bahkan bagi pasangan yang telah menikah. Bagi PD, pasangan yang telah menikah dapat mengalami dua hal : growing up together or growing apart.

Tentang hal-hal cinta sesudah menikah, berpaling dari pasangan, perselingkuhan dan sejenisnya; adalah bahasan yang biasa. Sehingga ketika berdiskusi tentang fenomena tersebut di Indonesia dan India, kami menyimpulkan bahwa globalisasi yang membawa keterbukaan bagi setiap pihak, ada dampak positif dan negatifnya.

Ada yang menarik dari diskusi ini.

Sebab, studi kecil-kecilan untuk novel tersebut , PD menemukan banyak pasangan yang setelah lari, pisah, cerai (atau apalah namanya ) dari pernikahan terdahulunya; ternyata jatuh cinta lagi pada pasangan lamanya.

Ohya? Wah, ini menarik dan harus saya garis bawahi. Sebagai penulis dan psikolog, fakta pasangan-pasangan yang  tergoda orang lain memang tak dapat dipungkiri. Tapi pada akhirnya jatuh cinta pada pasangan lama dan sangat merindukan pernikahan yang terdahulu, itu sangat menarik.

Pada masyarakat yang tidak bersandar pada agama, temuan PD pantas digaungkan. Sebab, ternyata, pasangan lama atau  katakanlah, dengan siapa kita menikah pertama kali ternyata adalah pasangan yang demikian mengesankan. Mungkin ia lebih jelek, lebih miskin, lebih bodoh ; lebih inferior dari pasangan yang baru. Tapi bahwa cinta sejati dan tulus banyak terjadi pada saat pernikahan tengah merayap dalam kesulitan; tak terbantahkan. Kerinduan akan cinta tulus inilah yang memikat pasangan-pasangan yang kelelahan dengan kehidupan cintanya yang baru.

Bagi masyarakat muslim, temuan PD pantas untuk menguatkan sendi-sendi pernikahan kita.

Diskusi menarik kedua adalah tentang perkosaan.

Saya cetuskan terus terang bahwa, saya takut jika suatu saat datang ke India. Sebab berita perkosaan setahun lalu, tentang seorang gadis yang akhirnya koma dan tewas pasca diperkosa, sangat memiriskan hati. Sekarang, Indonesia tengah menghadapi hal yang sama. Bahkan, banyak pelajar dan pasangan hidup yang tinggal di luar negeri; takut kembali ke Indonesia.

Jawaban PD cukup bijaksana : kita tidak akan berhenti berkendara hanya karena ada kecelakaan di jalan raya. Tak ada negeri yang benar-benar bebas perkosaan.

Dari diskusi tersebut , setidaknya saya kembali memiliki harapan bagi Indonesia.

Rasanya demikian takut untuk keluar ke jalan, pergi malam untuk beli obat atau  ke dokter; ancaman jambret dan perkosaan mengintai. Tapi benar kata PD, kita tidak akan berhenti berkendara hanya karena ada kecelakaan. Yang paling penting adalah terus bersikap waspada, tidak memancing kejahatan, terus bekerjasama dengan beragam pihak dan tentunya tak lepas berdoa.

Meski di  Korea, Jepang, Hongkong yang dikenal aman; para mahasiswa dan pekerja perempuan kita terkadang  pulang malam; tetap saja kewaspadaan harus ditegakkan.

Dan, bukan berarti Indonesia yang tertimpa musibah berkali-kali;  menajdi negeri yang tak pantas ditinggali. Masih banyak orang, keluarga, anak-anak perempuan yang memiliki harapan dan impian untuk tinggal di negara Indonesia.

Assalamualaikum Beijing : Estetika Islam-China & Filosofi Kotak-Lingkaran

Film yang cantik.

Bagi penggemar film romansa remaja, film ini layak ditonton bersama keluarga dan sahabat. Alur ceritanya ringan namuun menyelipkan filosofi penuh makna yang disampaikan bukan dengan cara telling tapi dengan cara joking.
“Cari jodoh yang seiman. Repot nanti!” pesan Ridwan, suami Sekar tiap kali dalam perselisihan kecil dengan istrinya yang ceria dan ceriwis; ketika mereka tengah menghibur Asmara.

Asmara dan calon suaminya, Dewa, berpisah ketika Dewa menghamili Anita. Fakta ini baru diketahui Asmara di malam menjelang pesta pernikahannya. Dengan besar hati, Asmara meminta Dewa memilih Anita. Demi melupakan semua rasa perihnya, Asmara menjadi kolumnis sebuah surat kabar Indonesia yang membuka perwakilan di Beijing, China.
Pertemuan tak sengaja Asmara dengan Zhong Wen di sebuah bis, membuahkan keakraban di antara mereka. Sekar senantiasa mendorong Asmara untuk membuka hati dan menerima Chung-Chung (Zhong Wen).
Setting Islam di China menjadi latar yang menarik dan indah untuk dinikmati. Tentang masjid Niu Jie, berdirinya masjid yang menandakan masuknya Islam di sekitar tahun 900 masehi. Capture wajah-wajah muslim China yang sangat khas dengan lobe, kerudung serta mata sipit. Filosofi minum teh, maunpun filosofi kotak dan bundar. Keindahan tembok raksasa China, Yunnan, pahatan batu menjulang di area patung Ashima. Ashima dan Ahe, legenda cinta sejati dalam sejarah China.

Bangunan-bangunan ibadah di China , berbentuk kotak yang mewakili bumi, disisi lain berbentuk lingkaran bila mewakili langit. Kotak dan lingkaran ini saling melengkapi, sebagaimana bumi dan langit disatukan dalam kehidupan. Perbedaan langit dan bumi, bukan digunakan untuk mengungkapkan bahwa antara satu manusia dengan manusia yang lain memiliki perbedaan tajam hingga tak dapat disatukan. Sejatinya, manusia dengan manusia lain harus saling melengkapi, sebagaimana sudut-sudut segiempat menjadi pelindung bagi lajur bundar lingkaran yang sempurna.
Kisah cinta antara Asmara dan Zhong Wen sederhana, mengalir dan mudah ditebak.
Meski timbul pertanyaan, adalah seorang pemuda seperti Zhong Wen yang mau menikahi gadis penderita stroke dan mengalai kerusakan di area Brocca hingga mengalami Aphasia Motorik?
Nilai-nilai Islami muncul dengan mengalir di sela-sela kejadian.
Seperti ketika Zhong Wen bertanya apakah di Indonesia setiap gadis tidak mau disentuh seperti Asmara saat berjabat tangan.

Kelebihan Assalamualaikum Beijing

Bagi orangtua yang memiliki putra putri remaja, film ini layak ditonton meski tentu ada bagian-bagian yang tetap membutuhkan diskusi dan arahan orangtua, bila memang memunculkan pertanyaan.
Bahwa China menjadi bagian istimewa dalam sejarah Islam, semakin menguatkan kecintaan kita pada agama ini. Islam di China dikenal sebagai “agama murni dari langit”. Bangunan-bangunan cantik masjid di China, suku-suku tertentu yang dinisbatkan dengan Islam (dalam cerita kungfu disebut sebagai Hui-Hui), tabib sholih yang memiliki klinik , imam masjid, kultur Islam di China terlihat demikian manis. Selama ini masyarakat Indonesia mengenal China sebagai negeri komunis bertangan besi. Meski penganut muslim hanya 20 juta, namun Islam diakui sebagai salah satu dari 5 agama resmi China.

Melihat kultur Islam di China, para remaja muslim pasti ingin merajut jalinan ukhuwah dengan saudara-saudara muslimnya jauh di seberang negeri. Membangkitkan gelora untuk bersilaturrahim kesana, menimba ilmu dan berda’wah hingga manca negara.
Sebelum mengunjungi China, tontonlah dulu Assalamualaikum Beijing, film yang diangkat dari novel karya mbak Asma Nadia 

ass-beijing-640x246images AB