Kategori
ANIME Jepang Manga Parenting WRITING. SHARING.

Attack on Titan : Belajar Rantai Komando & Makna Pahlawan (1)

Shinzou wo sasageyo!

Dedicate your heart!

Berjuang sepenuh hatimu!

Itu yang diserukan komandan Erwin Smith saat merekrut Recon Corp yang hanya tersisa beberapa orang. Ya, siapa juga yang mau bergabung dengan kesatuan yang tiap kali survey ke luar benteng, hanya beberapa gelintir pulang selamat.

Jujur, inilah serial anime yang usai menonton season 1-3 benar-benar menancap ke benak dan menunggu-nunggu final season 4.

Perkenalan dengan Attack on Titan atau dalam bahasa Jepangnya Shingeki no Kyojin sebetulnya nggak sengaja. Sebagai psikolog, awalnya yang membuat curiuos mind adalah kematian Haruma Miura, tokoh utama live action AOT. Banyak pemberitaan dan youtube tentang Haruma Miura kusimak. Menelusuri perjalanan hidupnya, sampailah pada film AOT yang menuai kritik pedas dari berbagai kalangan. Masalahnya live action AOT jauuuuh banget dari animenya.

Sampai sini tertarik? Belum.

Bahkan kucoba berkali-kali lihat trailer live action AOT, sama sekali gak ada keinginan buat nonton. Ketertarikan itu muncul setelah lihat video live perhelatan Shingeki no Kiseki. Salah satu opening AOT Shinzou wo Sasageyo benar-benar kolosal luarbiasa. Sampai kutelusuri berbagai reaction terhadap pentas ini. Lambang keberanian dan dedikasi prajurit : genggaman tangan kanan mengepal diletakkan di dada kiri, sembari berseru shinzou wo sasageyo!

Sebagus apa film anime Attack on Titan sampai-sampai OST nya dibuat dalam berbagai macam bahasa : Jepang, Inggris, Jerman?

3 tembok raksasa : Wall of Sina, Wall of  Maria, Wall of Rose

Akhirnya, mau tak mau karena penasaran banget aku coba nonton AOT season satu.

“Paling-paling ceritanya pahlawan yang terpinggir. Lalu mengalami penderitaan hebat, lalu bertekad bangkit,” begitu pikirku. “Atau ada adegan cinta antara para pahlawan. Atau antara pahlawan dan musuhnya , jadi muncul konflik batin,” begitu pikirku lagi.

Tapi ternyata lebih dari itu!

Benar-benar di luar ekspektasi.

Di situlah, kukatakan pada anak-anak, “Tahukah, Nak? Masih ada orang-orang seperti klan Eldia terkurung  dalam tembok. Memimpikan melihat luasnya dunia…Palestina.”

Inti dari cerita itu adalah 3 sekawan inti : Eren Jeager, Mikasa Ackerman, Armin Alert yang melihat kekejaman Titan pemakan manusia. Ibu Eren bahkan tewas di depan mata putranya ketika masih kecil. Penderitaan itu mengantarkan mereka ke pengungsian dan akhirnya keinginan bergabung sebagai pasukan.

Lika liku latihan, terjun pertama kali keluar tembok Wall of Sina untuk bertemu langsung dengan Titan , pulang dengan perjuangan, ejekan rakyat yang mengatakan mereka pasukan tak berguna hingga intrik politik benar-benar mencengangkan.

Tokoh-tokoh AOT memiliki perkembangan karakter yang benar-benar menawan.

Eren Jeager, tokoh utama cerita, dikisahkan emosional. Temperamental. Ingin maju sendirian. Di bawah asuhan Kapten Levi Ackerman dan Komandan Erwin Smith perlahan ia menjadi dewasa dan bijak.

Ada beberapa potongan kisah yang terus terngiang di telinga.

  1. Pertama kali Eren bergabung dengan kesatuan Levi dan harus keluar tembok. Ia berkelompok dikejar oleh Human Titan. Saat itu, dengan kekuatannya, Eren bisa mengalahkan musuh. Tapi ia ragu, apakah itu akan membuat teman-temannya mati? Levi berkata, “Aku tak akan pernah bisa membantumu memutuskan. Maju sendiri atau bergabung bersama kesatuan, tak ada jawaban pasti. Satu yang kusarankan : ambillah keputusan yang tak akan kau sesali.”

Sepanjang film memang kita akan belajar tentang konflik jiwa manusia. Bergabung dengan Recon Corp dan siap mati sewaktu-waktu di luar benteng, atau di Police Military yang berlimpah uang, atau berkedudukan terhormat sebagai pelindung raja?

Apakah kita lebih baik memutuskan sendiri dan maju seorang diri dengan kemampuan diri yang dahsyat, atau kita memutuskan bersama teman-teman di bawah kesatuan komando?

Sepanjang season 1-3, terjadi diskusi antara kami.

“Lihatlah, Nak. Begitulah dalam Islam. Dulu ketika terjadi perang Badar, Uhud, Khandaq;  sangat penting kesatuan komando.”

Film ini bagus sekali megnajarkan anak-anak tentang rantai komando.

Dalam kondisi terdesak sekalipun saat bertarung dengan titan, para petinggi Recon Corp selalu mengingatkan tentang rantai komando.

Ketika Erwim terluka, ia serahkan komando pada Levi. Ketika Levi harus maju perang, ia serahkan kelompok kecil pada Armin. Ketika kelompok Armin terdesak terjadi perdebatan bagus.

“Armin! Kita tunggu komandomu! Apakah maju atau mundur!” seru pasukan tersisa.

Armin, yang cerdas tapi tidak jago perang, ragu-ragu. Melihat contoh dari Erwin dan Levi, ia kemudian berkata, “Levi sudah menjadikanku pemimpin. Tapi aku tak bisa memutuskan. Maka aku meminta Jean saat ini menggantikanku di posisi perang. Jean, apa pendapatmu?”

Masyaallah.

Rantai komando dan ketaatan pada pemimpin, membuat kesatuan Recon Corp yang semula tampaknya bakal jadi santapan empuk titan-titan ganas termasuk Armored Titan dan Colossal Titan, berbalik menjadi pasukan kecil yang menakutkan.

2. Historia Reiss adalah gadis cantik paling malang sedunia yang bergabung di Recon Corps. Ia anak haram dari bangsawan Rod Reiss, ibunya sama sekali tak pernah mempedulikannya, dan ayahnya hanya memanfaatkan keberadaan dirinya untuk kepentingan pribadi. Ketika pada akhirnya jati dirinya terkuak dan ialah yang seharusnya menjadi Ratu Eldia, para sahabat menyuruhnya mundur.

“Kedudukanmu sebagai ratu lebih penting, Historia! Kamu harus selamat! Jangan maju berperang melawan Titan!”

Dengan gagah berani Historia berkata, “apakah menurutmu, rakyat akan taat pada seorang ratu hanya dengan mendengar namanya disebut?”

Ia membuktikan memiliki kemampuan menghancurkan Titan bersama teman-teman pasukannya di depan rakyatnya, sehingga rakyat memiliki kepercayaan penuh pada ratu dan Recon Corp.

3. Eren Jeager tidak pernah merasa istimewa. Berkali-kali ia gagal mengubah dirinya menjadi Human Titan. Ia putus asa karena seringkali kehadiran Eren membuat banyak temannya tewas. Di saat nyaris kehilangan harapan, ia teringat masa kecil dulu saat digendong ibunya melihat iring-iringan Recon Corps pulang. Seorang prajurit yang mengenal Carla (ibu Eren) menyapanya. Dan Carla berkata ,” anakku Eren adalah anak istimewa. Kehadiran dan kelahirannya saja, sudah menjadikannya istimewa.”

Itulah yang diteriakkan Eren pada teman-temannya ketika mereka dalam kondisi terdesak.

“Kalian lahir ke dunia! Kalian adalah orang-orang yang istimewa!!”

Teriakan Eren mampu membangkitkan semangat pasukan yang terpojok dan goyah.

NB : sekalipun film animasi, tidak cocok untuk anak kecil ya 😊

(Bersambung)

header :

https://www.moviemania.io/wallpaper/dt13p61b2-attack-on-titan

Kategori
Artikel/Opini Hikmah mother's corner My family Oase Parenting Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY RESENSI Topik Penting WRITING. SHARING.

Film Cuties (Mignonnes) : Seperti Itukah Keluarga (Muslim) Modern?

Tanyakan pada diri sendiri setelah menonton cuplikan trailer Cuties : seperti itukah gambaran keluarga muslim? Lebih luas lagi, apakah semua keluarga modern pun menyetujui apa yang Amy (tokoh utama, 11 tahun)  lakukan? Cuties tayang di Sundance Film Festival dan rencananya akan edar di Netflix mulai September tahun ini, ditulis dan disutradarai oleh Maimouna Deocoure. Debut Maimouna, langsung menuai kecaman dunia! Bahkan posternya saja langsung dihujat!

Cuties bercerita tentang seorang gadis kecil bernama Amy yang terlahir di tengah keluarga muslim Senegal, imigran di Perancis. Lahir di tengah keluarga muslim yang taat (well…orang akan mengatakan konservatif, orthodox, fundamentalis) membuat Amy tertekan. Amy dipaksa untuk berpakaian, bertingkah laku dengan cara orang muslim yang seharusnya. Padahal ternyata Amy ingin ikut kontes tari modern. Di sinilah konflik dan kritik pedas terhadap film produksi Netflix bermunculan .

Cuties diharapkan akan menjadi film coming of age yang mengesankan. Film coming of age adalah film-film yang menggambarkan masa peralihan dari anak-anak ke remaja yang sering digambarkan sebagai masa penuh konflik, namun juga masa sangat dinamis dan kreatif. Tak lepas pula petualangan-petualangan mendebarkan dalam proses pencarian jati diri. Banyak film coming of age yang laris di pasar : Little Women dan Flip berawal dari buku legendaris. Shazam yang bertema superhero, Princess’s Diary yang melambungkan nama Anna Hathaway dan Parents’s Trap yang melambungkan Lindsay Lohan. Alih-alih menjadi film manis yang mencuri perhatian pemirsa, Cuties justru melukai wajah keluarga muslim dan wajah orangtua keluarga modern pada umumnya.

  1. Gambaran keluarga muslim. Banyak keluarga muslim konservatif. Tapi banyak keluarga muslim yang moderat. Kenapa yang konservatif (plus si ibu memukul/menampar anak ketika anak membangkang bab pakaian) yang diangkat? Apalagi keluarga imigran, Senegal, black moslem , sangat kaku ; benar-benar stereotype keluarga muslim. Memang banyak keluarga yang masih konservatif dan memegang teguh prinsip, tapi untuk dipertentangkan dengan sudut pandang Amy kecil, rasanya kurang bijak. Apalagi penggambaran ibu menampar wajah Amy. Saya banyak mengenal keluarga muslim konservatif, tapi untuk memukul anak di wajah; rasanya digambarkan terlalu berlebihan. Alangkah lebih baik bila dimunculkan perdebatan-perdebantan sengi tantara ibu-anak khas keluarga pada umumnya.
  2. Pilihan tarian. Amy dan teman-teman perempuannya Angelica, Coumba,  Jess, Yasmine, membentuk grup The Cuties untuk kontes menari. Dunia musik dan menari memang dekat dengan anak muda, terutama anak-anak seperti Amy dkk yang beralih dari kanak ke remaja. Tapi tarian twerking? Dengan kostum mini sangat ketat – hotpants dan croptop? Baiklah, kita ingin menampilkan anak gadis di tengah keluarga muslim yang memberontak terhadap nilai yang belum dipahaminya sebagai jalan hidup. Sutradara bisa memilihkan tarian yang lebih “sopan” , dinamis, atraktif untuk anak-anak usia 11 tahun seperti Amy dkk.

Melihat Amy dan teman-teman gadis kecilnya melakukan tarian ala orang dewasa, rasanya risih sekali. Jika dalam kontes menari, Amy dkk ditampilkan mementaskan tarian yang lebih anak-anak dengan kostum yang lebih sesuai untuk usia mereka; maka film ini lebih layak untuk ditonton.

3. Benturan budaya. Islam dan modern dibenturkan sedemikian jeleknya. Tentu, banyak reviewers film yang membela dan sebaliknya, banyak youtubers yang menghujat Cuties. Adegan Amy harus mengenakan busana panjang untuk pesta pernikahan ayahnya yang akan menikah untuk kedua kali ; benar-benar tampak tak manusiawi! Seolah dunia menari twerking dengan kostum pendek itu jauh lebih manusiawi bagi kondisi psikologis Amy dibandingkan dia harus jadi pengiring pengantin untuk pernikahan ayahnya yang kedua! Tidak adakah setting lain yang bisa dipilih? Misal, ayah dan ibu Amy yang hidup sangat sederhana sebagai imigran Senegal di Perancis; sulit untuk membiayai les menari, mendaftar kontes dan menyewa kostum. Uang itu kalaupun ada lebih baik untuk tabungan kuliah Amy kelak.

4. Gambaran keluarga. Kenapa harus keluarga muslim yang menjadi deskripsi keluarga Amy? Tampilkan saja keluarga pada umumnya, tak peduli Jewish or Christian.  Kita akan melihat respon keluarga-keluarga di dunia. Apakah setiap keluarga modern akan mengizinkan anak seusia Amy, 11 tahun , menari dengan gerakan twerking di depan orang dewasa dengan kostum seperti itu? Sangat disayangkan bahwa penulis dan sutradaranya sendiri adalah Maimouna Deocoure yang seharusnya membawa pesan positif yang universal terkait kehidupan kaum muslimin.

5. Rating. Film Cuties kategori TV- MA (mature accompanied/ mature audiences). Berarti untuk orang dewasa, tapi pemainnya anak-anak 11 tahun dengan konstum dan tarian dewasa! Beberapa kritikus dengan pedas menyatakan bahwa film itu mengajak pada sebuah orientasi seksual yang menjadikan anak-anak sebagai pemuas nafsu.

Saya pikir, wajar bila dunia marah terhadap film ini. Sebetulnya, wajar saja banyak gadis kecil yang berpikir & bermimpi , “hei, seperti apa sih rasanya jadi perempuan dewasa?” Mereka membayangkan dalam gaun, kosmetik, sepatu ala orang dewasa. Tapi seorang sineas harus mampu memilah mana yang pikiran, perasaan, perilaku yang harus dimunculkan ke layar lebar. Film akan membawa banyak pengaruh bagi penontonnya.

Bahkan negeri-negara penganut liberalism sekulerisme sendiri merasa jengah terhadap film yang menampilkan gadis cilik dengan kostum ‘sangat terbuka’ dengan tarian yang lebih pantas diperagakan oleh dan untuk orang dewasa. Apalagi keluarga muslim, rasanya perlu ambil suara.

Kalau film ini ditujukan untuk anak-anak, aneh saja adegan dan dialog yang dimunculkan.

Kalau film ini ditujukan untuk dewasa, aneh saja dengan pemainnya yang masih anak-anak dan beradegan demikian.

Beberapa petisi sudah diunggah untuk meminta film ini turun dari layar Netflix. Anda berminat ikut?

https://www.change.org/p/parents-of-young-children-petition-to-remove-cuties-from-netflix/psf/promote_or_share

Kategori
BUKU & NOVEL Hikmah Kepenulisan PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY TEKNIK MENULIS WRITING. SHARING.

#HikmahCorona 4️⃣ : Burial Rites ~ Ritus-ritus Pemakaman [jangan pernah meminta mati pada Tuhan!]📚📖📒

Agnes Magnusdottir tak pernah punya teman, ia bahkan tak pernah tahu siapa ayah dan ibunya. Ibu angkat yang dicintainya, Inga, meninggal ketika melahirkan di musim dingin saat badai salju mengamuk dahsyat. Mayat Inga tak bisa langsung dikuburkan, karena pekarangan terlalu beku bahkan ketika musim semi menjelang. Mayat itu harus disimpan di antara jerami, garam dan ikan-ikan asin agar tetap awet hingga tanah agak gembur ketika musim panas tiba.

Berpindah dari satu keluarga angkat ke keluarga angkat yang lain.
Bekerja sebagai pelayan penyabit rumput dan pemerah susu, di lembah-lembah.

💔Satu-satunya teman serta kekasihnya pun mengkhianatinya, dan Agnes dituduh membunuh Natan Ketilsson! 3 orang terdakwa menanti hukuman mati atas pembunuhan terhadap Natan : Fridrik, Sigga dan Agnes. Tetapi, dakwaan atas ketiganya harus menunggu pengesahan dari kerajaan Denmark. Penjara tak mampu menampung penjahat lagi. Maka Agnes Magnusdottir menunggu waktu hukuman tiba dan Komisaris Wilayah Bjorn Blondal memberlakukan sebuah keputusan penting : Agnes Magnusdottir harus ditempatkan di dekat tempat eksekusinya.

Ia diasingkan ke Kornsa, ditempatkan ke sebuah keluarga yang terang-terangan membenci dan menolaknya.
Diperlakukan seperti budak, dicaci sebagai pembunuh, selalu dicemooh sebagai perempuan murahan; lambat laun keluarga Jonsson yang menampungnya mulai berubah.

Jon dan Margret mulai melihat betapa Agnes cerdas dan cekatan bekerja. Dua anak gadis mereka -Steina dan Lauga- yang semula sangat membenci dan ketakutan akan dibunuh Agnes; pun merasakan sosok Agnes berbeda dari yang didakwakan. Terlebih Asisten Pendeta Thorvardur Jonsson yang akrab dipanggil Toti, menemui betapa Agnes hafal kisah-kisah Kristiani dan ia bukanlah gadis bejat.

Steina merasakan kehadiran seorang kakak perempuan, dan Margret merasakan kebahagian melihat 3 gadis di rumah mereka bagai keluarga yag sempurna. Tetapi, sebuah surat pengadilan memporakporandakan kisah cinta mereka yang begitu hangat terjalin. Ketika Agnes merasakan cinta tulus Steina sebagai seorang saudari yang tak pernah dimilikinya, keputusan pengadilan tak dapat diganggu gugat lagi : Agnes harus dihukum penggal.

Burial Rites mengambil setting wilayah Islandia Utara, di akhir abad 19.
Kita akan dibawa oleh diksi menakjubkan Hannah Kent dan seketika membayangkan seperti apa mengerikannya badai salju dan bagaimana kejamnya musim dingin yang hanya bisa diterangi oleh cahaya lilin, lemak ikan paus, serta kotoran sapi sebagai bahan bakar. Tetapi kita juga akan dibawa kepada pengalaman menakjubkan saat Agnes kecil dulu, pertama kali melihat cahaya aurora.

💞✍️
~~~~~~~~~~~
“….Keseluruhan langit berselimutkan warna. Belum pernah aku melihat yang seperti itu. Tirai-tirai raksasa berupa cahaya, bergerak seolah ditiup angin, menggelembung di atas kami. Bjorn benar – tampaknya seolah-olah langit malam sedang terbakar pelan-pelan. Ada sapuan-sapuan warna ungu yang mengembang, berlatar belakang gelap malam serta bintang-bintang yang bertebaran di keseluruhannya. Cahaya-cahaya itu surut, seperti ombak, lalu tiba-tiba disela oleh torehan-torehan baru berwarna hijau ungu yang menukik melintasi langit, seperti jatuh dari ketinggian yang amat sangat.

“Lihat, Agnes!” ayah angkatku berkata, dan dia memutar pundakku supaya aku bisa melihat supaya kecemerlangan cahaya-cahaya utara itu menyoroti gigir gunung menjadi sebuah relief yang tajam. Meski waktu itu sudah malam, aku bisa melihat kaki langit yang bungkuk dan sudah sangat kukenali.
~~~~~~~~~~~~
💞✍️

Di atas adalah salah satu deskripsi memukau ketika Agnes kecil pertama kali melihat aurora. Dan yang sangat menghantam adalah, ketika Agnes diberitahukan oleh Bjorn ayah angkatnya bahwa cahaya utara yang sangat indah itu sebetulnya adalah pertanda cuaca dingin sangat buruk yang sebentar lagi melanda wilayah mereka. Cuaca dingin penyebab kematian Inga, ibu angkatnya.

💞Keindahan dan kepedihan.
Seperti bersisian.
Lucu dan duka, seperti sepasang kekasih.
Tersenyum-senyum sendiri dengan penggambaran penulis tentang peseteruan Steina dan Lauga, dua gadis cantik dan pintar dari keluarga Jonsson yang membuat pusing ibu mereka, Margret. Perempuan zaman dahulu seperti Roslin, kenalan Margret, yang selalu hamil dan beranak banyak. Gosip para ibu ternyata ada di mana-mana, bahkan mereka yang tinggal di lembah-lembah sembari panen atau menanam.

😭😭😭
Dan hati ini, terasa demikian teriris membaca perjalanan hidup Agnes demikian menyayat tanpa pernah menemukan kebahagiaan. Satu-satunya rasa hangat yang pernah mengaliri dirinya adalah ketika tinggal di Kornsa, sesaat menjelang eksekusinya. Kita ikut terbakar oleh kemarahan Agnes pada dunia yang kejam, ikut marah pada para lelaki di masa itu seperti Natan Ketilsson yang begitu merendahkan perempuan. Dan kita akan diajak masuk ke dalam pertarungan pemikiran Agnes yang terus bertempur antara baik dan buruk.
Bagian yang terus menancap di ingatan adalah ketika pendeta Toti menerima kabar bahwa eksekusi Agnes jatuh di tanggal 14 April, dan itu berarti tinggal 6 hari lagi dari masa itu. Jon, Margret, Steina dan Lauga tak bisa menerimanya. Tetapi Toti tak dapat berbuat apa-apa, lantaran Komisaris Wilayah Bjorn Blondal sudah mengancamnya.

Malam hari sebelum eksekusi, Margret membuka peti tempat ia menyimpan barang-barang terbaik. Ia mengeluarkan syal indah rajutannya sendiri, blus putih dan rok hitam panjang. Dulu, awal pertama Agnes tiba, tinggal dan bekerja di rumah mereka; Agnes pernah dihukum lantaran dituduh mencuri bros Lauga. Padahal tidak demikian, karena Agnes sedang membereskan rumah keluarga Jonsson. Dan malam itu, ketika Margret dengan hati hancur lebur menyiapkan baju paling baik bagi Agnes, ia memandang Lauga.
“Brosmu, Lauga.”

Penggalam percakapan antara Margret dan Lauga itu benar-benar mencabikku, karena sejak awal digambarkan betapa Lauga demikian membenci Agnes. Tetapi di akhir hidup Agnes, Lauga memberikan benda kesayangannya, justru ketika ia mulai merasakan mencintai Agnes sebagai kakak.

💞💞💞

Tidak semua diksi indah dalam Burial Rites kuingat.
Tetapi ada penggalan-penggalan quote baik kalimat atau kisah yang masih menancap.
Intinya demikian kira-kira :

✍️😭“Aku ingin sekali menanyakan pada Pendeta Toti, tapi belum sempat kuutarakan. Mengapa hidupku selalu sial, dan Tuhan mencekikku dengan nasib buruk dari hulu hingga ke hilir. Aku ingin tahu apakah Tuhan menghukumku? Lantaran dulu aku sering sekali berteriak-teriak ketika menghadapi sesuatu :
Aku ingin mati! Aku ingin mati! Aku ingin mati!
Apakah permohonanku itu Tuhan lantas menyiksaku?
Ketika kematian itu sudah dekat aku justru berharap ada kesalahan di pengadilan, semua menunggu, dan aku tetap hidup.”

👉Bait ini membuatku sungguh merenung.
Percayalah, kalimatku dengan kalimat Agnes berbeda. Tapi aku lupa melipat diksi itu ada di halaman berapa ☹
Kadang, kita suka melepas omongan di mulut kita semau-mau hati supaya membuat orang jengkel, supaya kita melepaskan nafsu dan supaya lepas jeratan ego. Tetapi, andai kata-kata itu dikabulkan Tuhan , kita mungkin akan menjerit-jerit minta putar haluan.

📚📖📚Buku Burial Rites sudah lama kubeli, tapi tak sempat-sempat kubaca. Selama masa lockdown ini, kami sekeluarga menyempatkan diri hampir tiap hari membaca setidaknya 30 menit di rumah. Novel ini kembali menggoda mataku untuk disentuh dan dibelai, untuk dinikmati. Burial Rites cocok sekali di baca pada ruang masa kini, di mana kita mulai mengkhawatirkan kematian datang memenggal kedamaian dan kebahagiaan. Dulu, suatu masa, mungkin kita pernah begitu kesal pada kehidupan sehingga berteriak pada takdir : lebih baik mati saja! Tetapi, seperti tangisan Agnes menjelang eksekusi, apakah kematian demikian lezat disesap bagai beruang mendamba madu?

🥇Burial Rites adalah novel karya Hannah Kent yang memenangkan berbagai lomba seperti Pemenang The ABIA Literacy Fiction Book of the Year 2014, Pemenang The ABA NIELSEN Bookdata Bookseller’s Choice Award 2014, Pemenang The Booktopia People’s Choice Award 201

Kategori
Catatan Perjalanan Film FLP Jurnal Harian Oase

Duka Sedalam Cinta : setiap potongan puzzle, punya tempatnya sendiri

 

Apa yang anda cari ketika menonton sebuah film?

Hiburan, pasti.

Satu energi baru, quote-quote unik yang akan terkenang selalu seperti perkataan Cinta kepada Rangga : “kamu jahaaaat!” yang kerap menjadi meme lucu. Atau cuci mata karena melihat wajah-wajah bening berseliweran? Hm, boleh juga karena ingin menikmati OST keren yang cocok dengan sebuah adegan. Atau justru, ingin mendapatkan asupan jiwa berupa filosofi hidup yang dapat diteguk dari sebuah cerita visual. Ah.

Yang pasti, salah bila kita ingin meneguk semua dalam sekali kesempatan.

Bila ingin mendapatkan hiburan, sekedar tertawa lalu pulang dengan jiwa hampa, tontonlah film komedi. Ingin jantung berdegup loncat-loncat, tontonlah film thriller macam Split atau film horror seperti It. Ingin mendapatkan asupan jiwa dan nasehat-nasehat ruhani tapi bukan di ruang-ruang masjid dan rapat organisasi lembaga dakwah; tontonlah film religi seperti Duka Sedalam Cinta. Ingin tahu kisah keluarga versi layar perak dan bukan sekedar layar kaca, tontonlah Ketika Mas Gagah Pergi dan Duka Sedalam Cinta yang baru tayang Kamis, 19 Oktober 2017.

film DSC.jpg

Pemain Baru yang Segar

Tidak ada yang instan di dunia ini.

Hadirnya wajah-wajah baru di blantika perfilman, memberikan kesegaran. Tujuan dari bibit baru ini agar masyarakat (baca : anak muda) punya role model baik yang lebih beragam. Film-film yang diambil dari novel best seller Habiburrahman el Shirazy seperti Ayat-ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih; berhasil megnantarkan bintang film baru ke tengah khalayak. Anda tentu bisa tebak : Oddie “Azzam” dan Oki Setiana Dewi. Hingga kini, Oddie dan Oki menjadi ikon masyarakat untuk tokoh muda yang good looking dan dapat menjadi teladan baik di bidang akhlaq ataupun di bidang usaha.

Baik Oddie dan Oki tidak langsung mahir beradaptasi dengan kamera.

Hamas Syahid, Masaji dan Izzah Ajrina adalah nama baru di pentas perfilman.

Sebagaimana pendatang baru  yang masih perlu banyak belajar; akting mereka tentu tidak dapat langsung disamakan dengan pendahulunya, Wulan Guritno dan Mathias Muchus. Wulan dan Mathias telah demikian alamiah berperan di depan kamera hingga senyuman, airmata, lekukan wajah dan gestur tubuh tampak begitu wajah dan luwes. Bagi saya, peran yang mengejutkan adalah peran Salim A. Fillah sebagai kiai Ghufron. Ustadz yang satu ini ternyata lihai bermain hehehe…Eh, mbak Asma Nadia pun ternyata cocok memainkan drama ya?

Dari para pemain muda, Aquino Umar yang pantas diacungi jempol. Ia lucu, menggemaskan, membuat geregetan sekaligus memancing airmata tumpah ruah ketika mas Gagahnya meninggal. Izzah Ajrina meski masih kaku dan sedikit medok; terlihat juga cukup luwes. Sayang perannya sedikit. Padahal saya suka model-model busananya hehehe…

Akting Hamas dan Masaji masih perlu dipertajam. Tapi dua cowok ini benar-benar punya potensi menjadi tokoh di masa depan yang menjadi contoh akhlaq baik,anak muda berprestasi,  di samping wajah yang membuat para cewek kya-kyaaa!Seiring berjalannya waktu dan terasahnya pegnalaman, mereka berdua dapat menjadi bintang muda berkelas. Asal, jangan lelah belajar dan tahan terhadap kritik. Berani berakting di depan kamera itu sudah layak diacungi jempol. Kita juga bakalan keringatan, gugup, dan salah berulang-ulang ketika sutradara berteriak : take, action, cut!

Rasanya, hanya Emma Watson si Hermione yang dijuluki artis one-take. Yang lainnya perlu adaptasi berkali-kali dengan kemauan sutradara, produser, kamewaran dan tentu saja audiens yang keinginannya tak ada yang seragam!

DSC CGV.JPG
FLP Surabaya nonton Kamis, 19 Oktober 2017 di CGV Blitz, Ngagel

Perjuangan Bersama

Sebagai arek Suroboyo, saya salut dengan Hamas dan Izzah. Meski adegan Izzah hanya sedikit : saat seminar, di rumah sakit, ketika Gita belajar berjilbab dan di tepi pantai saat akhirnya menjadi istri Yudi dan ibu dari Gagah Kecil (putra almarhum Gita); Izzah berlelah-lelah mencoba berakting di banyak setting. Keindahan Halmahera yang terlihat penonton dan rasanya adem karena kita berada di ruang berAC; buklan demikian halnya dengan yang dirasakan pemain. Hamas dan Izzah harus rela berpanas-panas di tengah alam terbuka. Panas yang puaaaannnnnassss, jare arek Suroboyo. Hamas dan Izzah berada di bawah terik matahari dan harus berkali-kali terpapar panas karena pengambilan adegan tak cukup satu kali. Kebayang sulitnya jadi aktor ya?

Setiap potongan adegan di film itu merupakan hasil kerja keras luarbiasa dari para kru. Kebayang kan, sebuah film bukan hanya terdiri dari pemeran utama, pemeran pembantu saja? Tapi ada figuran, cameo dan lain-lain. Anak-anak kecil yang menyambut kehadiran Gagah dan Gita; para nelayan yang mengerubungi ustadz Muhammad di tepi pantai; para santri di pondok kiai Ghufron. Mereka para figuran yang membuyat film DSC terasa renyah dilihat. Bahkan, keindahan Halmahera menjadi demikian menonjol dan puitis ketika disandingkan dengan Pondok Cinta yang digagas Hamas di tepi Jakarta yang semwarawut.

Selain filmnya sendiri yang dibuat berlelah-lelah, proses pendanaan hingga ditonton bersama pun merupakan kerja bersama yang luarbiasa. Sejak awal, FLP mendukung film ini dengan semangat luarbiasa. FLP mengumpulkan dana crowdfunding hingga sekitar 37 juta, mempromosikan film KMGP dan DSC melalui segala media sosial baik miliki FLP ataupun milik masing-masing anggota FLP.

DSC FLP Sda.jpg
FLP Sidoarjo yang meriah menonton DSC

Teman-teman FLP di penjuru Indonesia berusaha menunjukkan semangatnya dengan menonton film ini bersama-sama. Terutama di hari pertama. Film akan cepat diturunkan dari layar bila hari pertama dan kedua penontonnya tidak memenuhi kursi bioskop. Setiap kita punya peran dalam berbuat kebaikan. Mbak Helvy dan tim punya peran dalam mewujudkan sebuah film keluarga yang layak tonton bagi segala umur. Kita, sebagai penonton, punya peran untuk mewujudkan film ini laku. Dan , sepanjang proses film ini dibuat hingga hadir di layar perak, tak terhitung lagi banyaknya orang yang berkeringat, bahu membahu, banting tulang bekerja sama agar proyek kebaikan dapat terwujud nyata. Setiap kita adalah puzzle yang membentuk pola besar hingga terbentuk bangunan indah yang sedap dipandang. Setiap kita adalah puzzle yang membuat sebuah karya, dapat dinikmati banyak orang.

 

Keindahan Duka Sedalam Cinta

Kalau sebuah film digambarkan dengan sebuah warna, saya mengambil nuansa biru sebagai warna DSC. Halmahera, digambarkan dari jauh dan dari atas sebagai wilayah yang dipenuhi lautan indah dengan tepi pantai yang memanjakan mata berikut pohon-pohon nyiur yang meliuk. Kotak-kotak rumah kayu, dengan halaman luas (tidak seperti di kota besar yang rumahnya kecil tanpa halaman!), berada di pinggir laut; benar-benar menggambarkan situasi tepi pantai yang melapangkan rongga dada.

Umumnya, kita melihat pesantren berada di tengah ladang hutan atau sawah, sebab para santri biasa dididik kiainya untuk mandiri. Pesantren miliki kiai Ghufron ini berada di tepi laut, jadi tiap hari dapat menikmati sunset dan sunrise dengan bebas. Benar-benar pesantren yang dapat mengobati luka jiwa. Jadi kepingin nyantri di tempat seperti itu hehehehe…

Hubungan Gita dan Gagah juga mengesankan.

Di zaman sekarang, saat sibling rivalry bisa begitu tajam karena diperuncing dengan kehadiran gawai dan beragam permasalahan; hubungan kakak adik yang mesra seperti itu sangat memberikan contoh bagaimana seharusnya seorang kakak bertanggung jawab pada adiknya. Biasanya, abang sangat sibuk dengan urusan pribadinya : kuliah, having fun, nongkrong sama teman-teman apalagi kalau punya pacar. Adiknya bisa terlupakan. Gagah memberikan contoh pada penonton, seorang kakak harus menjadi contoh kebaikan bagi adiknya. Seorang kakak harus memikirkan masa depan adiknya. Seorang kakak harus berjuang untuk adiknya. Itu filosofi ketimuran yang sangat indah dan penuh makna : yang tua, harus memikirkan yang muda.

Kiai Ghufron dan Gagah, juga contoh anak muda yang mampu menembus batas-batas kesulitan menjadi peluang. Mengagas pesantren di tepi pantai baik pantai Halmahera atau pantai Jakarta yang kumuh, pasti butuh kekuatan tekad dan harus memutar otak; termasuk keberanian menghadapi orang-orang yang tak sepaham.

Adegan yang saya sukaaa banget adalah ketika kiai Ghufron mengajak santri-santrinya untuk menyelam ke laut, mengambil sampah-sampah yang berserakan, hasil karya orang-orang sembarangan yang enggan mengeluarkan sedikit energi, meletakkan sampah pada tempatnya. Minimal, menyimpan sampah itu di tas masing-masing sebelum menemukan tempat pembuangan.

Melihat Duka Sedalam Cinta, membuat saya kembali bermimpi : saya juga haru punya tempat seperti Pondok Cinta milik Gagah. Saya harus bisa mewujudkan mimpi memiliki Islamic Crisis Center. Tempat seperti yang dimiliki Charles Xavier dan serial X-Men dan Gagah, menampung orang-orang istimewa dan menempa keistimewaan mereka menjadi orang-orang berprestasi. Dibutuhkan lebih banyak orang-orang seperti kiai Ghufron dan Gagah, yang berhasil menyulap sebuah lahan tak bermakna menjadi sebuah tempat tujuan yang menjadi sanctuary bagi banyak manusia.

DSC CGV 1.JPG

Sinta Yudisia

Penulis, Psikolog, Ketua Umum FLP 2013-2017

 

Kategori
RESENSI WRITING. SHARING.

Being Young and Muslim ~ Linda Herrera & Asef Bayat

Buku ini merupakan kumpulan 22 jurnal ilmiah , berisi penelitian tentang pemuda-pemuda muslim dengan range usia antara 19-29 tahun. Menariknya, penelitian ini dilakukan di negara-negara seperti Palestina, Mesir, Indonesia, Mali, Gambia, Perancis, Belanda, Amerika, Iran, Saudi Arabia, Maroko dan Jerman.
2 Jurnal merupakan penelitian di Indonesia :
1. The Drama of Jihad : The Emergence of Salafi Youth in Indonesia
2. Music VCDs and the New Generation : Negotiating Youth, Femininity and Islam in Indonesia

IMG_20141116_142404

Jurnal pertama meneliti perkembangan ke Islaman di Indonesia pasca 1997.
Beberapa perangkat di tengah masyarakat khususnya pemuda yang perlahan menjadi motor perubah adalah halqas ( religious study circles), dauras ( a type of workshop) , mentoring Islam (Islamic Courses), Studi Islam Terpadu (Integrated Study of Islam).
Peneliti ini beranggapan para ideolog yang meletakkan dasar pemikiran di Indonesia adalah Hasan Al Banna, Abul A’la al Mawdudi, Sayyid Quthb, Mustafa As Shibai, Ayatollah Khomeini , Murtada Mutahhari dan Ali Shariati. Situasi yang menyebabkan menjadi pre-kondisi tumbuhnya pengaruh transnational Islamic movement : the Ikhwan al Muslimin (Islamic Brotherhood), the Hizb al Tahrir (the Party of Liberation) dam the Tablighi Jama’at (Da’wa Society).
Bila jurnal pertama meneliti bagaiana kristalisasi jihad, hijrah menjadi semangat bagi para pemuda untuk lebih memperjuangkan Islam, jurnal lainnya berbicara pada sisi berbeda.

Jurnal kedua, menarik untuk dicermati bagaimana peneliti , Suzanne Naafs, langsung melakukan riset di salah satu kota Islam di Indonesia : Padang. Padang dianggap sebagai kota dengan latar belakang kultural sangat tercelup kebiasaan-kebiasaan Islami.
Bagaimana pemuda Padang dapat lebur ke Islamannya menjadi lebih cair dari para pendahulunya?
Pemuda, sangat terhubung dengan fashion, musik dan entertainment.
Naafs meneliti bahwa VCD sangat berpengaruh pada perombakan budaya secara besar-besaran. Pertama, pop Indonesia, pop Minang dan pop dangdut menginvasi areal-areal luas dari masyarakat seperti bis kota, angkot, toko dan pusat perbelanjaan. Kedua, icon remaja. Saat Naafs meneliti, Agnes Monica menjadi representasi gadis muda yang berkiprah di dunia entertainment dan melaju go international. Lagu-lagu pop dan icon seperti Agnes Monica, menembus sasaran para pemuda yang sangat gandrung pada dunia fashion, musik dan hiburan; sehingga ciri-ciri tradisional lebur ke arah ciri yang disebut modern.

MENGAPA PEMUDA MUSLIM?
Penelitian di belahan negara lain tak kalah menarik.
Internet di Palestina, politik di Maroko, dunia Sufi bagi pemuda di Mali, hingga para pemuda muslim menjalani hidup di Brooklyn, Amerika.
Kebijakan, akademis, politik sangat memperhatikan perkembangan pemuda. Pemuda-pemuda muslim dianggap sebagai object , victims and agent of change. Sekalipun para pemuda muslim seringkali menjadi objek perusakan, korban, namun dunia juga berharap banyak pada para pemuda muslim. Para tumpuan ini diharapkan dapat mengatasi unemployment, inequality, konflik sipil dan regional, HIV dan AIDS, drugs, ektrimis maupun perang antar geng.
Terkadang, bahkan pemerintah tak memiliki cukup kesanggupan untuk meregulasi, mendukung, memengaruhi para pemuda.
Herrera dan Bayat menuliskan di akhir buku, betapa dunia sangat berharap banyak pada pemuda muslim. Suatu kelompok khas yang memiliki historical basic dan envision the future.
Ya.
Para pemuda muslim kita, yang diharapkan mampu mengubah dunia ke arah dunia yang lebih baik, sebab para pemuda muslim memiliki spesifikasi khas : pergerakan yang cepat, involvement in networks, experience micro events that allow ideas to translate into actions.
Selamat datang , Pemuda-pemuda Muslim.
Di pundakmu harapan dunia baru!

Kategori
Tulisan Sinta Yudisia

Setan Paling Menakutkan : Sadako Yamamura

Kuntilanak. Jelangkung. Tengkorak.Genderuwo. Dalbo. Vampire. Makhluk jadi-jadian macam apa yang akan membuat kita ketakutan setengah mati? Atau, apakah kejadian yang membuat anda percaya bahwa membaca 3 surat terakhir Quran : al Ikhlash, al Falaq, an Naas dapat menghentikan atau minimal – menghambat gangguan setan?
Sadako Yamamura.220px-Theringpostere

Sejak mengenalnya, entah mengapa saya semakin meyakini bahwa 3 surat terakhir al Quran adalah senjata ampuh penangkal gangguan setan.

Apakah yang menyebabkan ia begitu menakutkan, lebih mengerikan dari setan apapun yang pernah saya kenal sebelumnya? Apakah setan perempuan yang telah di filmkan dengan judul The Ring versi Amerika atau Ringu versi Jepang, demikian menyeramkan? Wajah busuk, rambut masai terurai, darah berceceran dimana-mana?

Bagi anda penikmat film horror, film-film Insidious, the Conjuring, The Reaping, The Ring, Skeleton Key, Silk, Coming Soon adalah film yang memanjakan mata, teriakan dan bulu roma. Tapi apakah film itu membuat anda tak bisa tidur, ketakutan, atau justru merasa santai karena sepanjang menonton film tersebut di bioskop anda telah melepaskan semua ketegangan dan tekanan hidup dengan bersama-sama berteriak tanpa malu : AAAAAAA!!!
Tapi percayalah, menonton film di bioskop, tidak meninggalkan jejak semengerikan ketika membaca novelnya.

Koji Suzuki (Ring) : Sadako Yamamura

Koji Suzuki meramu novel Ring dengan diksi sederhana, kocak dan tentu saja sebagaimana karakter orang Jepang pada umumnya : ilmiah. Apa yang menyebabkan novel horror ini istimewa justru karena setan yang dibawakan Suzuki bukan berasal dari dunia lain. Bukan berasal dari makhluk dari alam kubur, bukan berasal dari rumah angker atau pohon beringin yang berada di rumah tua.
Setan versi Koji Suzuki demikian ilmiah, masuk akal.

Dan bertransformasi.
Dari setan tradisional, kuno, konvensional, ortodhoks kepada setan yang lebih canggih, maju, modern dan berilmu pengetahuan.

Siapa Sadako?

Berawal dari kematian Tomoko Oishi, gadis berambut indah yang mati mengenaskan dengan tangan menjambak rambut. Diagnosis : serangan jantung. Di tempat lain seorang supir taksi, Kimura, tak sengaja tertubruk seorang pemuda bersepeda motor yang tiba-tiba mati dengan helm tak dapat dilepas darii kepala. Diagnosis : serangan jantung.
Benang merah cerita ini adalah Kimura.

Sopir taksi ini, sebulan kemudian menaikkan seorang penumpang ,jurnalis Daily News, Asakawa. Kimura bersemangat menceritakan kejadian sebulan yang lalu yang membuatnya terkejut, dan naluri investigative Asakawa mencatat detil cerita Kimura. Terlebih, Tomoko Oisi adalah keponakan Shizu, istri Asakawa. Penyelidikan Asakawa membawanya pada sebuah video tahun 50-60an. Sebuah video yang tampak asal-asalan, dengan potongan kejadian tak runut.
Gunung Mihara. Dadu. Bayi yang baru lahir. Seorang nenek dengan logat aneh. Ratusan gambar manusia. Dan seorang lelaki asing di akhir cerita. Asakawa tak mengerti makna pesan video, dan mengajak Ryuji –sahabatnya- menonton bersama. Ryuji seorang profersor brilian yang eksentrik. Saat keduanya menonton, ada rasa yang sama muncul. Letusan gunung Mihara terasa mengguncang sungguh. Dan bayi yang baru lahir…Asakawa dan Ryuji merasa tangan mereka berlumuran lendir licin.

Pesan terakhir video hanya pendek : kalian akan mati 7 hari dari sekarang, di jam yang sama, kecuali kalian melakukan hal yang diperintahkan.
Apa yang diperintahkan? Apa makna video itu? Mengapa saat menonton video itu…terasa seperti mengalami hal yang sesungguhnya?

ESP – extra sensory perception

Lewat penelitian yang menegangkan dalam ancaman topan badai, cuaca yang tak bersahabat dan pondok yang menyeramkan – pondok B-4-, Asakawa dan Ryuji menemukan mata rantai kejadian.
Tahun 50-60, Jepang diguncang oleh penemuan-penemuan okultisme, supranatural. Ini mengingatkan kita bahwa di era yang sama, semua sisi dunia sibuk berlomba menciptakan manusia mesin yang mampu menjadi serdadu tangguh, sebagaimana kabar burung bahwa Hitler menguji cobakan manusia super agar menjadi prajurit setia. Era ini menjadi latar belakang film-film fiksi ilmiah semacam Push, X-Men, dsb.
Berawal dari professor Ikuma yang meneliti orang-orang dengan kekuatan extra sensory perception, ia mengumpulkan ratusan orang dengan ESP istimewa dan menemukan seorang gadis 20 an tahun bernama Shizuko. Shizuko bukan hanya istimewa karena mampu meramal, tetapi juga membuat Ikuma jatuh cinta. Sayangnya, cinta mereka terlarang , Shizuko lalu dan hamil dan pasca melahirkan ia meninggalkan bayinya sementara kepada neneknya jauh di desa.

Hubungan Ikuma-Shizuko dipuja media, sebab mereka dianggap sebagai pasangan istimewa dengan kemampuan istimewa. Tetapi, public Jepang menginginkan sesuatu yang ilmiah. Mereka tidak begitu saja percaya kekuatan supranatural, sekalipun Shizuko berhasil meramalkan letusan gunung Mihara. Di depan 100 ilmuwan dan media, Ikuma dan Shizuko diminta mendemonstrasikan kekuatannya untuk menebak angka mata dadu yang tersembunyi. Shizuko menyerah, menangis dan berkata, “ aku tak sanggup lagi…”
Bagi Shizuko, kekuatan supranatural adalah sesuatu yang tidak dapat dikendalikan, hanya sesekali muncul. Tapi public dan media Jepang saat itu menganggap mereka berdua telah berbohong. Reputasi Ikuma hancur, Shizuko depresi berat. Ikuma pun meninggalkan Shizuko. Dalam kedukaan, Shizuko kembali ke kampung halaman, mengambil anaknya yang masih kecil, dan pergi menghilang begitu saja.
Siapakah anak Shizuko dan Ikuma?

Ialah Sadako Yamamura. Seorang gadis yang memiliki kemampuan ESP lebih tinggi dari sang ibu. Tetapi Shizuko melarang betul Sadako menggunakan kemampuannya, sebab tak ingin Sadako mengalami nasib serupa dirinya.
Cerita berkata lain. Akibat tekanan hidup, Shizuko bunuh diri dengan melemparkan diri mencebur di kawah gunung Mihara. Sadako yang kesepian tak memiliki siapapun, selepas SMA bergabung pada kelompok sandiwara Soaring.
Malapetaka mulai timbul.

Sadako, adalah gadis penyendiri yang punya bakat acting lumayan. Dan, Sadako Yamamura memiliki kecantikan sangat istimewa. Bertubuh ramping, dengan pergelangan ramping dan rambut hitam yang panjang, leher jenjang dan bentuk tubuh ideal. Setiap lelaki yang bertemu dengannya merasa tersirap. Bahkan, Asakawa merasa aliran yang merayap cepat ketika melihat foto Sadako.
Terkucil, sendiri, tak memiliki siapapun sebagai tempat berbagi, dengan kecantikan yang menyihir dan memenjara, membuat Sadako berada dalam jurang bahaya. Kepala sandiwara Soaring berusaha memperkosa, tetapi keesokan hari ditemukan dalam keadaan tak bernyawa : gagal jantung.
Sejak saat itu Sadako tak lagi diketahui kabar beritanya.

Kemana Sadako?

Penelitian Asakawa membawanya pada seorang lelaki lumayan tampan bernama dokter Nagao yang sudah berusia 50an tahun. Anehnya, Asakawa diliputi kebencian saat pertama melihat wajahnya, sebab wajah itu muncul di gambar tayangan terakhir dalam video!
Dengan desakan dan bukti dari Asakawa dan Ryuji, Nagao mengaku, kurang lebih demikian.
,”…suatu saat di Sanatorium, pertama kali aku bertemu Sadako. Ia mengunjungi Ikuma, ayahnya yang hampir mati. Aku sedang terkena virus cacar yang membuatku demam tinggi, lalu aku keluar dan melihat seroang gadis sedang menyandar di pohon. Cantiknya! Darahku tersirap. Aku mengajaknya menyepi, ke pondok, ke dekat sumur. Kalian boleh percaya atau tidak…tapi gadis itu membuatku…mempengaruhiku untuk..melakukan sesuatu. aku mencoba menodainya, dan lalu membunuhnya..Aku tak ingin melakukannya, tapi ia merasuki pikiranku hingga membuatku melakukan hal buruk tersebut. “

Nagao melanjutkan,”
“…Sadako sangat cantik…tapi aku tidak jadi menodainya sebab…”
Asakawa dan Ryuji terpana!
Virus asing yang tengah dipelajari para ilmuwan Jepang berada dalam tubuh Sadako! Testicular feminization syndrome.
“….dalam legenda kita disebutkan, bahwa kecantikan yang demikian rupawan adalah bila seorang makhluk memiliki dua jenis kelamin!”
Itulah mengapa Sadako demikian cantik rupawan. Itulah sebabnya gadis malang itu begitu ingin mati. Ia, yang memiliki kekuatan ESP menjelang ajalnya memindahkan semua gambar yang telah ia lalui atau ia perkirakan ke dalam tabung televisi, ke dalam gambar video, sebab itu kemampuan supranaturalnya : mencetak gambar di atas film meski tanpa alat apapun. Hanya menggunakan indera.

Asakawa dan Ryuji menuju pondok B-4, menuju sumur di sana, meluncur ke dalam dan mengambil tulang belulang Sadako. Jawaban atas gunung Mihara, dadu, lelaki yang ternyata adalah Nagao telah terjawab. Lalu bayi, Nenek, dan ratusan gambar manusia? Ah, mungkin saja sebagai perempuan Sadako sangat menginginkan anak meski kelaminnya adalah lelaki dan perempuan. Nenek itu adalah neneknya dan mungkin saja ratusan gambar orang itu adalah ratusan gambar orang yang telah ditemuinya.
Asakawa dan Ryuji kembali ke Tokyo. Merasa aman, mungkin itu yang diinginkan Sadako. Agar mereka menguburkan secara layak tulang belulangnya. Video itu adalah ekspresi kedukaannya pada dunia yang tidak adil.
Asakawa lega. Sepekan telah berlalu dari jam yang ditetapkan. Ia tetap hidup.

Ryuji?

Tiba di Tokyo Asakawa berpisah dari Ryuji. Asakawa tidur dengan tenang dan merasa semua telah berlalu. Hingga Mai, asisten Ryuji menelepon dan mengabarkannya bahwa Ryuji baru saja meninggal. Diagnosis : serangan jantung.
Kepanikan luarbiasa menyerang Asakawa.
Apa yang diinginkan Sadako? Bukankah ia telah melakukan penangkal yang diisyaratkan dan ditunjukkan oleh video? Mengapa Asakawa hidup dan Ryuji mati?
Apa yang telah dilakukan Asakawa sehingga ia selamat dari kutukan Sadako sementara Ryuji tidak? Apakah…Sadako membenci dan mengutuk umat manusia atas kehidupan yang sama sekali tak berpihak padanya, pada ayah ibunya, pada keseluruhan denyut nafasnya?

Asakawa menggigil, ketika tiba-tiba menyadari sesuatu. Ia tanpa sengaja telah melakukan penangkalnya! Serta merta, Asakawa menyambar telepon dan menelepon Shizu istrinya.
“Kau tanpa sengaja menonton video itu bersama Yoko! Lakukan apa yang kukatakan, cepat!”
Beberapa hari lalu, Shizu dan Yoko putri mereka menonton video itu tanpa sengaja.
Asakawa menangis.
Ia mengerti kini. Apa makna bayi yang baru lahir, apa makna ratusan orang-orang yang dicitrakan Sadako lewat kemampuan telekinesisnya ke dalam video.

Asakawa telah melakukan penangkalnya : mengcopy, menduplikasi video itu dan meminta Ryuji menontonnya. Itulah makna bayi dan ratusan orang-orang, seperti virus yang menimpa kelamin Sadako! Jika Shizu dan Yoko ingin selamat, mereka harus melakukan hal yang sama dan harus meminta ayah ibu Shizu menontonnya!
Asakawa berada dalam keputus asaan yang dalam. Apakah ia harus menyelamatkan Shizu dan Yoko atau menyelamatkan nyawa sekian banyak manusia? Apakah ia sanggup kehilangan Shizu dan Yoko? Dan kebencian, kutukan Sadako telah menemukan wadah berkembang biak seperti virus lewat media yang kemudian demikian dicintai manusia – era video, era digital, era visual.
Sebagai manusia Asakawa merasakan kepedihan, kekalahan dan kemarahan yang dalam atas kekalahannya pada setan Sadako. Sadako adalah representasi setan yang demikian canggih, pasukan gelap era millennium.

Bukan mencuri, menipu, berbohong, berkhianat yang merupakan bisikan dan godaan setan. Era itu sudah lewat. Setan bertransformasi lebih pintar dari yang diduga kebanyakan manusia. Sadako dan setan membujuk manusia untuk berbuat lebih.
Copy. Duplikasi. Biarkan dosa tak tertangkal dan menyebar seperti virus.
Akhir novel the Ring membuat saya ketakutan.
(Menonton filmya yang dibintangi Naomi Watts atau versi Jepang Ringu, yang menonjol justru tampilan setan perempuan berambut panjang. Padahal bukan itu esensi setan!)
Selama ini, pemahaman dangkal saya tentang setan adalah bahwa makhluk ghaib itu menjelang pergantian malam dan pagi berkeliaran, mengganggu. Anak-anak akan menjadi malas sholat, sensitive, mudah marah dan bertengkar. Bayi-bayi menangis. Maka, saran sang ibu seperti biasanya adalah demikian,
“…tidak ada aktivitas lain seperti nonton, membaca, bergurau atau apapun menjelang dan ba’da maghrib selain sholat dan mengaji.”
Selain berusaha menghidupkan pergantian hari dengan ibadah kepadaNya, pengalaman pribadi saya yang lalai berdzikir padaNya di saat pergantian hari menjadi catatan yang cukup buruk untuk dialami. Saat lalai ibadah di kala maghrib ( entah kelelahan, terjebak kemacetan hingga terlambat sholat, dlsb) maka setiap anggota keluarga menjadi sensitive, mudah tersinggung dan marah. Anak-anak bisa saling serang ucapan dan bertengkar. Saya mengingatkan, “…ayo istighfar, sholat, tilawah. Biar setannya nggak tambah gede!”

Itulah setan dalam bayangan saya.
Menggoda untuk marah. Membuat malas sholat dan membaca Quran. Dan, saya seringkali lalai menunaikan sunnah-sunnah “kecil dan mudah” seperti membaca 3 surat terakhir. Dan, kadangkala saya merasa sudah “selamat” ketika keluarga berjalan baik, rizqi berjalan lancar, merasa setan tak punya celah mengganggu manusia. Ah, saya kan sudah sholat 5 waktu. Sudah baca quran. Sudah berdakwah. Sudah bersedekah. Sudah berbuat baik begini begitu. Insyaallah saya tidak diganggu setan.

Tulisan Koji Suzuki membuat kita merenung.
Benarkah setan sudah berhenti, kalah, ketika kita terlihat “sholih” dan baik-baik saja? Atau sesungguhnya setan punya segudang cara cerdik untuk menaklukan manusia, bahkan lebih canggih lagi?
Copy. Duplikasi. Biarkan manusia semakin menggila mengorbankan orang lain, agar diri kita sendiri selamat.
Bagi saya, Sadako Yamamura menakutkan bukan karena gambaran versi filmnya : perempuan cantik yang berubah menyeramkan dengan rambut panjang. Sadako menyeramkan karena ia hidup dalam diri manusia – dalam tubuh Asakawa- dan mengelabui manusia untuk terus, terus, terus meng copy dan menduplikasi kejahatan meski harus mengorbankan pihak lain.

Itulah setan yang menakutkan.
Bukan yang sekedar membuat kita menjerit. Tapi mengajari untuk melakukan.
Maka, jangan abaikan penangkal setan sekecil apapun : 3 surat terakhir, dzikir, istighfar, puasa dan apapunn yang diajarkan oleh Nabi yang suci untuk memerangi musuh utama manusia hingga menjelang kiamat nanti