Kejahatan #1 :Ayah, peng-implant dasar kejahatan

 

 

Dua hari mengikuti pelatihan Psikologi Forensik, membuka mata tentang banyak hal.

Bukan hanya teknik investigasi tindak pidana yang melibatkan terperiksa, terdakwa, saksi bermotif, saksi dan interviewer tentu saja; tapi  banyak hal-hal lain yang memperkaya wawasan. Terimakasih kepada ibu Reni Kusumowardhani atas ilmunya, Meta Power atas penyelenggaraan acara tersebut dan juga teman-teman yang hadir dari penjuru Indonesia atas ilmunya.

Sinta, Wenny,  Dwi (ki). Bu Reni dan seluruh peserta (ka)

Di luar materi, ada diskusi-diskusi filosofis yang dalam dan bermakna dengan teman-teman psikolog, HRD dan pakar hukum. Pengalaman teman-teman di lapangan tentu sangat penting untuk memperkaya siapapun kita, dalam segala perannya.

Tak seorangpun ingin jadi penjahat. Bahkan sebisa mungkin jangan duduk sebagai saksi kasus apapun. Namun, mengapa orang-orang dapat melakukan tindak kejahatan yang tidak terbayangkan? Apakah penyebabnya? Norma agama tentu jawaban mutlak. Di luar norma agama, ada hal-hal yang pantas kita cermati.

 

Kejahatan #1 : Ayah, peng-implant  dasar kejahatan

Siapa yang membuat anak jadi jahat?

Seorang pembunuh di kota X, menikam seorang lelaki dengan sadis. Ia mempersiapkan pisau dari rumah, menikam berkali-kali, dan melakukan hal lain terhadap korban dengan cara mengejutkan. Katakan namanya Jahal. Melihat tindakan Jahal yang diluar batas kewajaran, anda mungkin bertanya : jahatkah Jahal pada semua orang?

Tidak.

Jahal tidak dapat bersikap kasar pada perempuan. Jahal tidak mau memukul perempuan.   Bahkan istri Jahal berkali-kali selingkuh, Jahal tetap maafkan. Namun, Jahal  punya banyak masalah dengan rekan laki-laki. Ia sangat membenci laki-laki yang main perintah, merasa punya otoritas lebih tinggi, dan benci laki-laki yang dominan.

ayah-anak-2

Dapatkah anda meraba, apakah ayah atau ibu yang meng-implant kejahatan pada Jahal?

Ya. Ayah Jahal pemabuk. Sangat dominan di rumah, selalu menang sendiri, meremehkan si ibu dan menindas siapa saja. Tidak ada yang boleh punya suara di rumah, kecuali ayah. Ketika remaja, Jahal ingin berduel dengan sang ayah namun ibu melerai. Jauh di lubuk hati, Jahal punya skema tersendiri di benaknya : siapakah musuh paling utama hidupnya? Jawabannya, lelaki yang punya otoritas.

“Sudah kuduga, bapaknya tidak beragama. Kalau bapaknya ahli agama tentu lain kejadiannya!” itu yang sempat terbersit di benak.

Mari kita cermati seorang pemuda bernama Toyib.

ayah-anakAyahnya ahli agama, mengisi acara dimana-mana, penerjemah kita-kitab. Tetapi Toyib menjadi pencuri kambuhan yang entah berapa kali dipukuli warga hingga wajah dan kepalanya luka. Toyib menghabiskan uang hasil curiannya dengan bermain game dan hura-hura bersama temannya.  Sang ibu punya cerita tersendiri terkait sang ayah yang memang sangat cerdas dalam hal agama.

Di rumah mereka tidak boleh ada hiburan, termasuk music dan acara televisi. Apa alasannya, yang penting haram. Semua anak di rumah Toyib sebetulnya ingin membantah ayah, namun tidak berani. Toyib pernah terpergok menonton televisi. Hasilnya, ayahnya murka. Memukul Toyib dan merusak televisi (mereka punya TV sekedar untuk menonton berita). Seperti pemuda kebanyakan, Toyib mengecat rambut, memakai jeans belel yang robek di lutut dan menindik telinga. Ayahnya kembali berteriak haram dan mengusir Toyib dari rumah. Pada akhirnya Toyib mengembalikan warna rambut menjadi hitam, melepas anting dan mengganti dandanannya ala pemuda baik-baik .Toyib mengalihkan kesukaannya bermain game di warnet dan tiap kali uangnya habis, ia akan mencuri barang-barang tetangga.

Apakah syariat yang ditegakkan ayah Toyib salah? Tentu tidak.

Ulama sebagian memang benar-benar tegas terkait music, film, gaya berpakaian. Namun bagaimana cara menyampaikannya, itu yang penting. Ruang-ruang diskusi yang tidak dibiasakan di rumah, dialog terbuka antar ayah anak, mendengarkan apa keinginan anak dan mengarahkannya; membuat Jahal dan Toyib kehausan mencari posisi sebagai human being di tengah konstelasi kehidupan. Toyib bukan pemuda 100% brengsek. Kalau ia dapat rezeki halal dari kerja serabutan, ia akan membelikan sang ibu  nasi goreng kesukaannya.

ayahAnak pasti menolak aturan yang sangat mengikat dan membatasi.

Di luar sana orang antri nonton bioskop, kok aku nggak boleh? Di luar sana remaja nonton konser music, kok aku nggak bisa? Kenapa ayah hanya menyuruhku sholat, baca Quran, menghafal Quran, masuk surga, taat orang tua, pintar belajar, dan sejenisnya?

Ayah adalah pemilik otoritas.

Ibu, biasanya tunduk pada ayah. Apalagi di tengah kultur timur, istri dan ibu akan mendengar kata suami/ayah. Bila ayah berkata ya atau tidak, maka ibu akan cenderung mendukung, tak peduli hati anak penuh pemberontakan. Ibu mungkin dapat bijak menjelaskan perkara music, televisi, gaya berpakaian, dsb; namun tetap saja ada luka menganga yang tak mudah disembuhkan dalam hubungan ayah anak.

Apa salahnya menjadi ayah yang toleran dan pendengar aktif? Toh tidak mengurangi bobot kehormatan. Toleran bukan berarti permisif. Ketika anak berulah negative, membangkang, melanggar norma agama, coba dengarkan baik-baik luapan hatinya. Seringkali, anak melakukan tindakan di luar batas, bukan karena ia memang ingin melakukan kejahatan, tapi karena ingin didengarkan. Ketika jeritan hati anak-anak tak didengar orang, termasuk orangtuanya, ia akan membentuk alur berpikir sendiri. Menggurat skema dalam pikiran, membuat proyeksi terhadap orang-orang yang bermasalah dengan dirinya.

Sebagaimana Jahal yang membenci lelaki pemilik otoritas. Sebagaimana Toyib yang akhirnya membenci agama dan para ustadz.

Apakah ayah yang otoriter tidak baik?

Hamka adalah ayah yang otoriter dalam skala tertentu. Beliau akan menarik sabuknya dan menghukum putranya bila lalai membaca Quran. Namun Hamka tidak melakukan itu untuk semua anak. Ia hafal betul satu demi satu watak anaknya dan ada satu orang putranya bernama yang tampaknya membutuhkan perlakuan lain.   Sang putra suka menonton film India pula. Maka Hamka memutuskan, anak laki-laki dengan energy lebih seperti itu lebih baik diajarkan bela diri. Daripada terus menerus memarahi putranya yang tampaknya punya jalur berbeda dari sang ayah yang ahli agama serta sastrawan, Hamka mengajak sang putra untuk belajar bela diri. Di luar perkara membaca Quran, Hamka adalah pribadi yang hangat dan lucu bagi siapa saja, termasuk anak-anaknya. Ia suka mengajak anaknya berdiskusi, dan menyelipkan filosofi-filosofi hidup.

Ayah, adalah peng-implant moralitas. Ayah, adalah peng-implant kejahatan, disisi lain. Apakah ibu tidak punya peran? Tentu punya. Bila ayah berakhlaq buruk, dibutuhkan sosok ibu yang kuat luarbiasa untuk mereduksi kesan-kesan buruk . Tetapi bila sosok ibu tak cukup kuat untuk menghapus kesan tersebut, dapat kita bayangkan bagaimana kepribadian anak-anak terbentuk.

 

Kejahatan #2 : Paradigma Uang

(Bersambung)

 

Iklan

Spirit 212 : Cinta ini Menyatukan Kita

 

 

Anda pasti pernah dengar istilah reward dan punishment. Istilah ini sangat psikologis sekali. Umumnya orang akan bertahan pada perilakunya bila diberi reward dan akan mengurangi perilakunya bila diberi punishment. Konsep ini berlaku bukan hanya di dunia pendidikan tapi juga di dunia industri organisasi maupun klinis.

Apa saja reward yang kita kenal? Sistem gaji, sistem bonus, hari libur adalah reward. Penjara, sanksi, teguran adalah punishment. Meski tidak selalu demikian. Hukuman suatu saat bisa berubah menjadi reward hingga orang malah senang meningkatkan perilaku yang maladaptif.

Bagi sebuah negara, memiliki kekayaan dan rakyat yang mendukungnya adalah reward atau hadiah luarbiasa. Kekayaan negara berupa hasil pertanian, tambang, kekayaan laut dsb merupakan modal untuk menyelenggarakan kerja-kerja negara sehingga bangsa lain menaruh hormat. Memiliki rakyat yang cerdas, supportif, berakhlaq mulia juga merupakan hadiah Tuhan yang luarbiasa. Bayangkan, bila sebuah negara memiliki rakyat yang brengsek. Tidak taat norma hukum atau negara. Tak dapat kita bayangkan bila rakyat berubah menjadi segerombolan penjarah, perampok, pembunuh, pelaku asusila, pemalas dan pembangkang.

Memiliki rakyat yang baik atau sholih, adalah asset luarbiasa. Anda tentu tak dapat bayangkan bila sebuah negara, memiliki lebih banyak penjara dibanding gedung pendidikan dan perkantoran, bukan?

Aksi 1410, 411, 212 adalah bukti rahmat Tuhan bagi bangsa Indonesia.

Betapa, dalam situasi sangat kritis dan sensitive ketika rakyat berkumpul berdesakan, kedamaian tetap terselenggara. Antrian penjualan handphone model tebaru saja sampai menimbulkan kericuhan dan korban luka-luka, padahal jumlah antriannya tidak sampai puluhan ribu. Konser music dan sepakbola? Aparat dibuat kebat kebit, begitupun rakyat yang ikut menyaksikan. Bagi saya pribadi, bertemu serombongan supporter sepakbola membuat jantung deg-degan. Jangan-jangan mereka berbuat anarkis. Jangan-jangan, kendaraan kita yang tidak bermaksud menyenggol, terkena sasaran amuk. Jangan-jangan, mereka membawa senjata tajam dan melukai siapapun yang dianggap berpihak pada kesebelasan lawan.

Para pemirsa televisi, memandang dengan hati kebat kebit peristiwa 411 dan 212.

Dan, betapa banyak kesalahan pada cara berpikir logis kita, cara pandang rasionalis kita. Tidak semua kejadian di dunia ini digerakkan dengan uang, tidak semua peristiwa hanya mengandalkan neraca laba rugi. Ada, orang-orang yang masih meletakkan keluhuran dan kemuliaan, di atas segala-galanya.

Maka pertimbangan uang, profit benefit, dominasi tidak berlaku disini.

Yang ada adalah orang-orang yang berkumpul karena yakin Tuhan masih bersama Indonesia. Kita pernah melewati masa-masa kritis 1945, 1965, 1998 dan Alhamdulillah…Indonesia tetap melaju sebagai negara dengan segala pahit getirnya.

Akhir 2016 menggoreskan kenangan mendalam bagi seluruh elemen bangsa Indonesia. Berkumpulnya orang-orang, ribuan, ratusan ribu, jutaan; tidak menimbulkan huru hara. Tidak menimbulkan kerusakan. Tidak menimbulkan pencurian, perampokan, penjarahan. Padahal bila mau, hal itu bisa saja dilakukan. Toh, peserta aksi saat itu adalah kelompok dominan dan mayoritas.

Demikianlah, Tuhan mengingatkan negara ini, Dia telah memberikan reward luarbiasa. Harta kekayaan berupa rakyat santun yang ketika berseberangan pendapat dengan pemimpin, memilih berkumpul bersama untuk mendoakan dan mendesak pemerintah melakukan perubahan serta menegakkan keadilan.

Tidakkan reward dari Tuhan ini pantas kita pelihara sebagai salah satu jejak berharga bagi sejarah Indonesia?

JPG 212 kover depan - Copy.jpgForum Lingkar Pena, Suara Muslim, LMI dan Lazis PJB dengan bangga mempersembahkan salah satu buku catatan sejarah yang monumental di akhir 2016. Ditulis oleh para pelaku sejarahnya sendiri, dengan narasi unik ala pelakunya meski inti cerita mereka sama : ketakjuban akan kekuasan Tuhan yang mampu menyatukan hati manusia untuk berkumpul, berbuat kebajikan dan bergandengan tangan satu sama lain.

Buku luarbiasa ini terdiri 40 naskah versi bahasa Indonesia dan 10 naskah versi bahasa Inggris, Jerman dan Korea. Dilengkapi ilustrasi menggugah full colour 12 halaman.

Pesanan pre order (PO) dibuka mulai hari ini 12 Januari – 22 Januari 2016. Mekanismenya :

Transfer ke rekening Bank Syariah Mandiri (BSM) cabang Dewi Sartika, Jakarta Selatan nomer rekening 703-310-1858 a.n Forum Lingkar Pena. Kontak Wiwiek Sulistyowati di 0812-8747-415 SMS/whatsapp. Harga normal Rp. 100.000 , harga pre order Rp. 85.000

 

 

Bila Pengejek dan Pengolok berbalik menjadi Pendukung

 

Jika anda memakai  jilbab seperti saya di era 90an, pasti pernah  mengalami masa-masa yang spesial ini.

“Kamu mau kayak orang Iran ya?” kata salah  seorang saudara.

“Kamu ikut aliran apa sih?”

Apalagi ketika saya membatasi pergaulan, mengurangi film dan musik, tuduhan semakin berdatangan : “kamu sekarang nggak asyik lagi diajak ngobrol.”

Ketika saya tidak mau diajak bersalaman dengan pakde paklik mereka sontak murka : “memangnya aku ini apamu, Sin? Pakde paklik merasa tersinggung sekali saya tidak mau menyentuh tangan mereka.”

Waktu nikah muda di usia 20-an tahun, lengkaplah sudah stigma cewek berjilbab : “kamu itu dipengaruhi banget ya sama suru ngaji kamu? Kamu nggak mau kerja? Maunya di rumah aja? Hah, mau anak banyak? Ampun deh! Anak dua aja susah setengah mati!”

Berlinang air mata ini. Sakit rasanya. Kalau yang menyudutkan adalah guru-guru sekolah, nggak papa. Kalau yang menyindir dan mengolok-olok teman satu geng, okelah. Kalau yang menjauh adalah klub bahasa Inggris dan klub  pecinta alam, ya sudahlah. Tapi ketika saudara sendiri yang ikut-ikutan menyindir, mengejek, menyudutkan, menuduh macam-macam; jauh di lubuk hati sakitnya tak terkira melebihi goresan yang ditorehkan orang lain.

Saya ingin pakai jilbab karena ingin menjaga kemuliaan diri dan akhirnya menjaga kemuliaan keluarga, tapi mengapa keluarga sendiri juga yang menentang? Dulu, waktu saya pakai celana pendek dan kaos rock n roll, tidak ada yang menegur. Orang pacaran dibiarkan, orang menikah dikomentari. Padahal pacaran dan menikah sama-sama menghabiskan uang. Bedanya yang satu tidak terarah, yang satu terarah.

Tetapi ternyata, apa yang dilakukan atas landasan kebenaran, semakin kokoh dari hari ke hari. Satu demi satu sepupu, paman, bibi, pakde, bude yang menentang akhirnya ikut memakai jilbab. Yang dulu memarahi karena menikah  muda, malah memuji kami. Yang menuduh aliran sesat ketika tengah mendalami agama, ramai-ramai ikut pengajian dalam segala bentuknya. Ada yang ikut tasawuf, ada yang ikut Muhammadiyah, ada yang ikut NU, ada yang lebih suka tabligh. Pendek kata, semua yang menentang saya melakukan kebaikan dulu, pada akhirnya berbalik memuji dan mendukung. Bahkan mengikuti.

 

Kebaikan akan Berkembang

Alam semesta memuai. Kita semua tumbuh dan berkembang. Kejahatan tumbuh berkembang, sebaliknya, kebaikan juga tumbuh dan mekar. Dulu pacaran diam-diam, sekarang bahkan bugil dan berhubungan intim difoto, dishare, di like dan di comment!

Demikian pula kebaikan secara hukum alam, mengikuti aksi reaksi.

Ibaratnya, dimana ada Firaun, disitu ada Musa.

Semakin dahsyat keburukan, semakin dahsyat pula kebaikan mencari celah untuk tumbuh subur. Dulu saya harus menjahit baju sendiri, memakai taplak untuk jilbab. Satu-satuunya model jilbab saat itu hanya model ala qasidah, jilbab dengan topi. Kain jilbabnya tipis dan berbentuk segitiga tipis. Sekarang? Mau cari model busana dan kerudung ala apapun, ada! Harganya tersedia di segala level. Butiknya tersedia di setiap sudut jalan.  Mau pakai celana panjang, rok, gamis, cadar, abaya, baju kurung, baju pesta. Bahkan busana renang berhijabpun, ada. Disaat orang rame-rame memamerkan foto bugil, para muslimah pun tak ketinggalan memamerkan bahwa busana syari demikian modern dan stylish.

 

Panggung pendidikan, panggung sosial dan panggung politik

Apa sih yang laris dijual?

Ih, acara-acara yang menghibur ala dunia entertaintment dong. Pentas musik, film, novel teenlit chicklit, televisi yang menayangkan sinetron. Di zaman saya dulu, jangan coba-coba pakai label Islam. Nggak bakal laku! Yang namanya sekolah Islam dan pesantren, hiiii. Kumuh, pojok, kudisan, terbelakang. Apalagi pesantren. Alamak! Ketombean, kutuan, korengan. Yang mentereng adalah sekolah-skolah internasional dan sekolah non-muslim. Ekonomi dan perbank-an? Wuah, mana ada ekonomi syariah. Mana ada bank syariah. Yang ada adalah pinjaman bunga berbunga. Masih ingat ketika mama saya dulu punya usaha apotik, setengah mati cari pinjaman ke bank. Harus bayar setoran per hari (atau perpekan ya?). Telat sedikit, atau kurang meski seribu perak, di black list.

Sekarang?

Kalau mau daftar sekolah Islam, haus antri daftar November. Padahal tahun ajarannya masih Juli Agustus! Sekolah-sekolah Islam menjamur dan luarbiasa bagusnya. Pesantren? Mau cari yang tradisional atau modern, semua ada. Yang mahal atau murah, silakan, sama bagusnya. Daycare, taman kanak-kanak, SD, SMP SMA Islam wuaahhh, kualitasnya luarbiasa.

EO wedding sampai seminar, pelatihan yang muslim; ada. Sinetron muslim, ada. Novel Islami, ada. Warung, cafe, resto, makanan, minuman, hotel, wisata Islami, ada. Motivator, ada. Yang ceramah agama laris manis sekarang. Ustadz ustadzah adalah pekerjaan bergengsi yang menghasilkan pendapatan layak. Tidak seperti di zaman saya kecil dulu, ustadz itu miskin banget!

Bank-bank syariah menjamur. Senang banget lihat pegawai bank yang cantik-cantik berjilbab; tangkas, cerdas. Hampir di tiap kantor pemerintah atau swasta gemar mengadakan kajian Islam mulai dari belajar tahsin Quran sampai belajar tentang pernikahan dan parenting.

Panggung pendidikan dan sosial kita telah  mulai merasakan indahnya nafas Islam. Islam maju, indah, mampu bersaing dan solutif. Lalu; dunia yang memuai inipun menunjukkan sunnatullah. Hukum alam.

Boleh  kan Islam mulai merambah ke dunia politik?

natsir

Mohammad Natsir

Mulailah kaum muslimin yang semakin cerdas dan sadar akan posisinya; merasakan tanggung jawab sebagai khalifah. Wah, kalau sosial dan ekonomi saja mulai merasakan keteraturan dan keberkahan ketika dikelola oleh kaum muslimin; boleh dong urusan-urusan politik serta kenegaraan diatur juga oleh kaum muslimin. Tidak dengan cara anarkis, membabai buta, main seruduk. Tapi dengan cara yang baik kok. Sebagaimaan di pentas sosial dan pendidikan, kaum muslimin juga belajar banyak menjadi tokoh di bidangnya. Kaum muslimin semakin mahir, semakin cakap mengelola permasalahan dan mencari jalan keluarnya.

Ketika lembaga zakat dan ekonomi Islam berkembang, terasa sekali masyarakat miskin dan yang amat sangat  miskin mendapatkan bantuna. Banyak anak yatim, yatim piatu, keluarga dhuafa yang terbantu ketika sakit, membuka usaha, meneruskan pendidikan.

Ketika kaum muslimah semakin mampu menjaga diri dengan busana syari dan semakin memahami agama; kehidupan di kantor dan dunia kerja semakin lebih kondusif. Masing-masing kita lebih lapang melepas anak perempuan atau istri bekerja (jika harus bekerja).

Pendidikan, ekonomi, sosial; sudah.

Tapi masih ada yang kurang.

Sebab memang pentas politik dikelola oleh orang-orang yang sangat mahir dalam menaklukan segala sesuatu. Politikus haruslah negarawan. Saya masih ingat ucapan seorang tokoh muslim, Dr. Eko Fajar Nurpasetyo, Phd, yang memilih kembali ke Indonesia meskipun ia dan keluarganya dapat hidup makmur di negeri para Shogun. Bisnis potong ayam, potong daging, dan microchipnya telah mendunia Inti ucapan beliau, “seorang negarawan, pemimpin, melihat 20 tahun ke depan. Mempersiapkan situasi dan kondisi bagi generasi sesudahnya.”

Dampak ekonomi Islam dapat dirasakan sekarang. Pendidikan yang baik membuat orangtua tenang dan membantu mempersiapkan masa depan. Kehidupan sosial yang baik membuat masyarakat lebih stabil. Tapi siapa yang dapat menajmin berlangsungnya semua itu? Bisa saja arah kebijakan berbalik arus sehingga ekonomi Islam, pendidikan Islami, dan kehidupan sosial lalu ambruk. Negarala yang menjamin berlangsungnya hal yang baik, atau yang buruk.

Jadi, tak salah kemudian kalau orang-orang sholih mengarahkan pandangan mereka ke pentas politik. Lagipula, kan memang bersaing di negeri sendiri?

 

Semua Perkara Islami Awalnya Mendapat Tantangan

Pernah menyekolahkan anak di SDIT?

Saya menyekolahkan anak-anak di SDIT mulai gedung itu masih bangunan jelek, di tanah sewaan, guru segelintir. SMPIT juga begitu. SMAIT juga begitu. Putri saya sekolah SMAIT dengan jumlah siswa segelintir. Bangunan berhantu, di gang sempit yang ujiannya masih menumpang ke sekolah lain!

Sekarang? SDIT, SMPIT, SMAIT tempat anak saya sekolah hampir selalu menolak murid setiap tahun karena tak cukup lokal. Sekolah Islam menjadi incaran pertama kali!

“Kamu itu ngapain nyekolahin anak di sekolah yang akreditasinya gak jelas? Jangankan diakui atau disamakan, mungkin terdaftar aja belum!”

Kalau sekarang saya diminta mengisi acara parenting, hal yang saya ucapkan adalah : saya bangga menyekolahkan anak-anak saya di sekolah Islam ini. Biar bangunannya jelek, tapi guru-gurunya punya komitmen tinggi dan tahu kemana kualitas pendidikan akan dibawa. Maka anak-anak kami yang bersekolah di SIT insyaallah menjadi anak-anak berkarakter.

Pertentangan, resah gelisah, maju mundur; dialami pada awal berdirinya sebuah institusi. Termasuk lembaga sosial dan perekonomian. Siapa juga yang dulu mau buka tabungan di bank Islam macam Muamalat? Mending di bank lain yang bunga depositonya jelas! Kini bank-bank Islam digemari. Bukan hanya karena semakin maju pelayanannya, rasa tentram dan barakah membuat kaum msulimin senang berinteraksi dengan layanan perbankan Islami.

Politik Islam?

“Kotor! Semua politikus busuk. Semua partai Islam korup, sama aja. Semua anggota dewan menghalalkan segala cara. Ngapain kiai dan ustadz duduk disana? Nggak kompeten. Politik itu tempatnya barang haram, maksiat, terlaknat beredar.”

Ya iyalah. Yang jadi panduan Il Prince nya Machiavelli. Jelas politikusnya kotor seperti klan Medici.

Coba yang dibaca Muqaddimah Ibnu Khaldun, pasti beda. Yang dibaca Siyasah Syariyah  Ibnu Taimiyah, pasti melek. Yang dibaca karya Buya Hamka dan Mohammad Natsir, pasti lebih semangat.

Memang bisa ya politik Islam memimpin negeri? Nggak akan menindas, main anarkis, memaksakan kehendak? Wah, yang bilang Islam selalu menindas berarti gak baca sejarah Indonesia, nih. Suku Batak itu dikepung Aceh dan Melayu sejak lama, aman-aman saja. Bali dihimpit Jawa Timur, Madura, Sasak, Bugis yang kuat sekali sisi religusitasnya; tetap damai sampai sekarang.

Mainlah kapan-kapan ke Surabaya. Kalau lewat daerah Nginden hari-hari tertentu saat misa Kristiani, mobil-mobil memacetkan jalanan sampai kita nyaris kehabisan nafas. Tapi tidak ada kok keluhan atau ancaman supaya gereja menghentikan peribadatan. Kaum muslimin menerima perbedaan keyakinan.

Ini bulan Desember. Pasti anda lihat dong dimana-mana penuh pohon Natal dan para penjaja minimarket pakai topi Sinterklas. Kita kaum muslimin sebetulnya tidak terima lho. Kan muslim mayoritas. Kok dipaksa mengadakan perayaan Natal di seantero negeri sih? Tapi sekali lagi, kaum muslimin tepaselira. Di Bali, sekolah-sekolah Islam mengikuti libur Galungan, Nyepi, Kuningan. Di kalender nasional juga. Tidak ada protes meski sebagian sekolah Islam tetap masuk.

Nah, kalau sekarang kaum muslimin masuk ke ranah politik dalam segala aspeknya, anggap saja itu hukum alam yang memuai. Boleh dong kita duduk sebagai bupati, gubernur, Panglima ABRI, menteri, presiden asalkan itu fair. Lewat pemilihan yang adil. Kalau ada hal-hal yang berjalan tidak adil, selayaknya kaum muslimin protes. Protes bisa lewat media sosial, media massa, jalur resmi, lembaga hukum, lewat anggota legislatif, dan seterusnya. Kalau semua sudah dilakukan dan masih tetap buntu, ya, aksi bersama atau demonstrasi. Eh, demonstrasi itu hal lumrah di negara manapun. Waktu rakyat Amerika tidak menerima Trump menjadi presiden, mereka demo juga. Aksi damai pernah dilakukan Mahathma Gandhi yang mengumandangkan Ahimsa-Satyagraha. Martin Luther King Jr. Juga pernah melakukan  saat menuntut kesetaraan hal sipil.

Aksi demonstrasi Islam dianggap aneh? Ya, sama seperti panggung sosial, pendidikan, ekonomi yang dianggap sebelah mata oleh pemeluknya sendiri (apalagi yang non muslim). Meski, lama-lama kaum muslimin yang menentang, justru merasakan keberkahan panggung-panggung Islami itu dan berbalik mendukung.

Awalnya, saya ragu dengan aksi 411 dan 212 : benar nggak sih ini Islami? Sampai saya datang di acara al Falah 27 November tempo hari dan mendapatkan penjelasan dari Bachtiar Nasir.

Punk muslim, laki-laki, perempuan, anak-anak di acara aksi 

 

Tapi pasti ada kan di kalangan kaum muslimin yang masih ragu, bahkan tidak setuju dan menentang agenda ini? Wajar kok.

Dalam sejarah juga terjadi.Yang menentang kaum muslimin dengan keras salah satunya bangsa Mongolia hingga mereka menghancurkan Baghdad. Tetapi sejak Chagatay, Tuqluq Timur Khan, Anada Khan, Baraka Khan, begitu banyak bangsa Mongolia menjadi muslim. Apa alasannya? Mereka punya pepatah kuno Mongolia. Pepatah yang membuat mereka berbalik memeluk Islam.

Pepatah ini cocok untuk 411 ddan 212.

“Kalau ada suatu hal yang begitu mudah tersebar sebagaimana angin bertiup, perkara itu pastilah perkara kebaikan.”

Bangsa Mongolia yang menaklukan Eropa hingga Asia ternganga : kok ada ya keyakinan yang tersebar demikian luas sebagaimana arah angin bertiup dengan mudah? Logika itu membuat mereka memahami bahwa Islam adalah kebaikan semata.

Masih tidak percaya 411 dan 212 bagaimana angin bertiup membawa kebaikan?

Kalau begitu anda harus nonton film Pay It Forward. Satu anak punya niat baik, akan menyebar ke 3 anak. 3 anak punya niat baik, akan menyebar ke 9 anak. Begitu seterusnya.

Masih belum percaya juga?

Hm, gimana ya. Gini aja.

Pasang iklan termahal untuk radio di Surabaya itu ranking pertama dipegang Suara Surabaya. Wajarlah. Itu radio FM yang kondang banget. Tahu ranking kedua siapa? Ternyata Suara Muslim Surabaya. Lho, kok bisa? Ya. Karena pendengar Suara Muslim Surabaya sangat besar meskipun pasif. Mendengar data ini saya diam-diam merenung. Padahal, Suara Muslim Surabaya itu radio keagamaan lho. Tidak menayangkan K-Pop seperti Seventeen, BTS atau EXID, Black Pink. Tidak menayangkan BMTH, SoAD atau Linking Park. Tapi diam-diam banyak pengagumnya.

Jangan-jangan kita seperti pendengar radio Suara Muslim Surabaya. Pasif, tapi diam-diam mengagumi. Meski kita menghujat, meremehkan, mencaci maki aksi para ulama dan aksi bela Islam; diam-diam ada rasa kagum juga kan? Atau diam-diam mendukung dengan dana dan doa? Kalau nggak bisa mendukung dana dan doa, jangan caci maki para ulama dan aksi bela Islam. Segitu banyak orang lagi berdoa di hari Jumat, lho. Hari keramat. Sayyidul ayyam. Kebayang gak sih kalau kita minta didoakan sama ummat Islam yang segitu banyaknya, di hari Jumat, di tengah aksi memperjuangkan kebenaran? Kalau kita nggak mau mendukung, jangan mencaci maki. Takutnya nih, ribuan doa kaum muslimin yang tangannya menegadah ke langit, mengirimkan doa-doa rahasia bagi pendukung dan pencela.

Kalau malaikat-malaikatNya turun tangan, memangnya masih ada kolong langit yang aman?

 

Sinta Yudisia, Ordinary People

 

Najmuddin Ayyub ibnu Shadzi : bila pemimpin dan militer berupaya menegakkan kebenaran

 

 

Siapa tidak ingin tinggal di Indonesia?

Kolam susu, hutan bakau, laut penuh ikan dan mutiara, udara jernih, daratan dipenuhi bahan tambang dan subur makmur. Sudah sejak lama ekspatriat senang tinggal di Bali yang hangat sementara negara-negara mereka berselimut salju tebal. 13.000 pulau tersebar dari Sabang sampai Merauke, masih memungkinkan menampung manusia-manusia tinggal dan hidup beranak pinak.

 

Buat usaha sampai mendirikan sekolah

Adalah John Hardy, pria Kanada yang memulai bisnis perhiasan di Bali sejak 1975. Belakangan ia tertarik membangun sekolah dengan konsep alam. Jadilah John Hardy  dan Cynthia Hardy membeli lahan 4,55 hektar di daerah Badung lalu membangun Green School Bali. Kepala sekolah GSB adalah Leslie Medema, berasal dari South Dakota dan telah tinggal 6 tahun di Bali. GSB saat ini terdiri dari 384 siswa dari 33 negara. Anak-anak Nadya Hutagalung , presenter Asia’s Next Top Model bersekolah disini. Daryl Hananh, Tyra Banks, David Copperfield bahkan Ban Ki Moon berkunjung ke GSB dan mengagumi konsep sekolah yang dikelola oleh sepasang suami istri Hardy. Sekolah lokal, sekolah nasional dan internasional bebas tumbuh berkembang di tanah air.

Masyarakat tionghoa pun telah lama tinggal, berinteraksi dan membangun bisnis di Indonesia.

Sejarawan berbeda pendapat tentang asal usul masuknya Islam di Indonesia. Ada yang percaya Islam disebarkan oleh pedagang dari Gujarat, ada yang mengatakan langsung dari Mekkah, ada yang mengatakan dibawa oleh orang-orang Cina Yunnan yang bermadzhab Hanafi. Raden Fatah yang merupakan raja Demak pertama bernama asli Jin Bun. Sunan Ampel, salah satu tokoh Walisongo bernama asli Bong Swi Hoo, cucu dari Haji Bong Tak Keng, seorang tionghoa suku Hui bermadzab Hanafi.

Di era kuno hingga zaman modern, interaksi antara beragam suku bangsa, budaya, agama, telah biasa dilakukan masyarakat Indonesia. Bahkan, dalam hal kedekatan aqidah, Islam di Indonesia memiliki pertalian sejarah dengan India, Arab dan Cina. Tak diragukan lagi sumbangsih Walisongo dan kerajaan Demak bagi perjalanan kaum muslim di Indonesia. Bersamaan dengan itu, tak diragukan lagi ikatan iman dan ukhuwah antara kaum muslimin nusantara dengan saudara-saudara muslim dari Cina.

 

Siapa yang meresahkan?

Kasus pedofilia yang pernah marak di Bali, terselubung layanan pariwisata membuat masyarakat resah. Namun, tidak serta merta pemerintah mem black list semua daftar turis asing untuk berkunjung, membuka usaha, menikah dengan warga setempat, atau membeli properti di Indonesia. Tidak kemudian mengusir John Hardy dan Leslie Medema yang membangun GSB sebab menyadari, pedofilia dilakukan oleh oknum. Tidak semua ekspatriat yang tinggal di Bali atau wilayah Indonesia lainnya berniat jahat.

Issue tentang etnis tertentu yang menguasai ekonomi dan politik, juga tidak membuat masyarakat Indonesia atau pemerintah, serta merta memblokade wilayah-wilayah muamalah. Selama dilakukan oknum, maka bukan ras tertentu atau agama tertentu yang menjadi musuh.

Masjid Cheng Ho yang dikelola PITI di Jawa Timur berujud bangunan klenteng, menjadi saksi bagaimana kaum Tionghoa dan masyarakat setempat berinteraksi dengan baik. Halaman masjid tersebut diperuntukkan pemuda-pemuda yang ingin berolah raga, tak terkecuali dari agama berbeda. SMA negeri, universitas Airlangga, Universitas Kristen Petra; menyelenggarakan aktivitas olahraga di halaman masjid. Saat peletakan batu pertama masjid tersebut di tahun 2001; tokoh-tokoh Tionghoa hadir , dari agama dan latar belakang berbeda. Di antara mereka hadir ketua paguyuban masyarakat Tionghoa Liem Ou Yen, presiden komisaris PT Gudang Garam Tbk Bintoro Tanjung, direktur PT Surya Inti Permata Tbk Henry J. Gunawan, ketua majelis tinggi agama Konghucu Indonesia Bingky Irawan.

masjid_cheng_ho

Masjid Cheng Ho, Surabaya

Masyarakat Indonesia telah terbiasa menerima warga lain yang bukan sesuku, bukan satu ras, bukan satu agama untuk menjadi bagian dari perjalanan hidup bangsa. Sikap welas asih kaum muslimin pada sesama menyebabkan kita juga terbiasa tepaselira alias tenggang rasa. Dalam bahasa lain, mencoba bersabar dan mengalah terlebih dahulu bila terjadi benturan. Tidak ingin memancing pertikaian.

Anda tahu Bali, bukan?

Secara geografis wilayah itu disebut minoritas dan terhimpit.

Sebelah timur, NTB dengan suku sasak Lombok yang sangat kental nuansa keagamaannya. Sebelah barat, Jawa Timur dan Madura yang juga sangat kental kehidupan religiusnya, terlebih warga Madura yang demikian taat pada kiai. Beberapa pulau kecil Madura merupakan keturunan pelaut dari Sulawesi yang memiliki temperamen keras.  Di sebelah utara Bali terletak Kalimantan dan Sulawesi, dimana Sulawesi dikenal dengan suku Bugis yang juga kental terikat dengan syariat Islam.

Kalau kaum muslimin yang mayoritas terbiasa mendzalimi kaum lain; sudah sejak dulu Bali tak aman. Kadang-kadang di Bali timbul beberapa kejahatan seperti pencurian dan perampokan, dilakukan suku yang notabene muslim; namun lebih kepada sebab ekonomi atau motivasi kejahatan dibanding cleansing ethnic seperti yang terjadi di negara sebelah, Myanmar.

Suku Batak di Sumatera Utara pun dikepung oleh orang-orang Aceh yang militan dan suku Melayu di bagian timur/selatan yang menjadikan Islam sebagai darah daging. Hampir tak pernah didengar, Batak menghadapi serbuan orang-orang muslim kecuali satu masa dahulu di era kolonial Belanda dimana kaum Paderi pernah memkasakan kehendak pada orang Batak.

Dalam sejarah Islam, memang pernah kerajaan-kerajaan Islam melakukan penaklukan seperti yang dilakukan Salahuddin Al Ayyubi dan Muhammad Al Fatih. Peperangan dan pembunuhan tentu ada, satu dua prajurit yang melakukan tindakan kelewat batas mestinya juga terjadi. Namun tidak ada pembantaian yan dikomandokan atas nama agama. Perang Ain Jalut antara Mamluk yang notabene muslim dibawah komando Baybar dan Qutuz, menang atas Kitbuqa dan pasukan Mongolia, terjadi demikian heroik. Berbeda ketika Mongolia menaklukan Baghdad, darah kaum muslimin memerahkan aliran sungai; maka peperangan Ain Jalut murni antar kekuatan bersenjata.

Kembali pada Islam dan Indonesia.

Islam tidak mengenal cleansing ethnic. Justru ketika berhadapan dengan kaum yang tidak mengenal Islam, kewajiban yang utama adalah berdakwah atas kaum tersebut. Jelas sekali dalam the Preaching of Islam karya Thomas W. Arnold; dakwah Islam lebih mengedepankan upaya persuasif.  Pedang atau senjata baru diangkat ketika telah terjadi peperangan di satu wilayah.

Seorang muslim Cina yang menyertai perutusan kaisar Cina ke Jawa sebagai juru bahasa 6 tahun sebelum wafatnya Maulana Ibrahin (1413) menyebut adanya orang-orang Islam di Jawa dalam bukunya Keterangan Umum tentang Pantai dan Lautan :the-preaching-od-islam

“Di negeri ini terdapat 3 golongan penduduk. Penduduk Islam yang datang dari Barat dan telah menjadi penetap, pakaian dan makanan mereka bersih dan pantas. Kedua, orang-orang Cina yang lari dari negerinya dan menetap disini, pakaian dan makanan mereka juga baik-baik, banyak di antaranya yang masuk Islam serta taat melaksanakan amal ibadah agamanya. Ketiga, ialah penduduk asli yang sangat jorok dan hampir tak berpakaian, rambut tak disisir, kaki telanjang dan mereka sangat memuja roh. Negeri inilah yang dikatakan sebagai negeri serba roh didalam buku-buku Buddha.”

Berkembangnya Islam di Indonesia tak lepas dari pengaruh bangsa Arab, India, Cina dan wilayah Indocina. Persatuan telah terjalin berabad-abad lamanya di nusantara.

Indonesia, memaknai Bhinneka Tunggal Ika sebagai berbeda-beda tetapi satu. Walau Islam mayoritas dan agama yang lain minoritas, bukan berarti sah menindas agama yang berbeda. Walau keterikatan suku dan agama di Indonesia lebih dekat kepada Malaysia sebagai rumpun Melayu; Arab dan sebagian wilayah Afrika dengan ikatan aqidah; bukan berarti Indonesia menolak  warga benua Amerika, Eropa, Australia yang notabene bukan muslim.

Setiap yang ingin tinggal di Indonesia baik WNI atau WNA, muslim atau non muslim, memiliki hak dan kewajiban yang sama. Satu sama lain harus menghormati, satu sama lain harus menghargai batas-batas.

Memang, adakalanya terjadi benturan interpretasi atau benturan kepentingan antar agama. Ucapan Natal misalnya, sebagian kaum muslimin mengharamkan dan sebagian yang lain masih melakukan. Namun teguran atas ucapan Natal lebih kepada kaum muslimin sendiri; tanpa perlu mencaci maki penganut Kristiani atau mencacai maki gereja serta pendeta/pastor.

Perbedaan pendapat terkait Isa as dan Yesus Kristus, atau bagaimana kaum muslimin memandang Maryam binti Imron dan bunda Maria; dibahas di kalangan kaum muslimin sendiri, di masjid atau majelis pengajian. Ataupun ketika ada dialog terbuka  membahas satu hal sensitif  (misal terkait masalah pemurtadan dan pindah agama) dilakukan oleh  pemuka agama masing-masing dalam dialog antar agama.

Akan sangat membingungkan ketika permasalahan lintas agama dibahas di ruang publik, bukan oleh pemuka agama, tidak ada orang kompeten yang mewakili dari agama yang bersangkutan. Indonesia, sebagai negara hukum pun akan berada dalam posisi sulit. Para ahli hukum berikut jajaran kepolisian akan berada dalam situasi serba tak nyaman, sebab ada benturan kepentingan.

Ingin menegakkan keadilan, lalu orang bersuara : apakah ini bukan masalah antar muslim non muslim? Ingin menegakkan kebenaran, lalu orang berpendapat : apakah ini bukan issue SARA, suku non Tinghoa versus Tionghoa?

Kita dapat merasakan beratnya beban polisi, beratnya beban negara, beratnya beban pemerintah. Jika memenangkan salah satu, pasti ada pihak lain yang merasa dirugikan. Dan kerugian mungkin tidak cukup terbilang dalam rupiah.

Masyarakat Indonesia mungkin mudah berteriak : polisi harus membela yang  benar, melayani masyarakat. TNI AD harus mengayomi rakyat Indonesia dan menjaga NKRI. Namun kenyataannya tidak semudah itu. Hubungan interpersonal saja dapat berkembang demikian rumit ketika ada kepentingan-kepentingan terlibat didalamnya (hubungan mahasiswa-dosen, murid-guru, warga-ketua RT dapat sederhana dapat pula ruwet tanpa ujung). Hubungan bawahan-kepala kantor yang seharusnya hanya terbatas di lingkup kerja, harus berkembang menjadi hubungan harmonis antar teman, hubungan tepaselira bila berbeda agama, hubungan supportif bila ingin target kerja tercapai (hubungan supportif termasuk memberi perhatian, memberi bantuan finansial atau non material).

Apalagi, hubungan yang melibatkan institusi besar semacam negara, perusahaan raksasa, pemodal asing, militer bersenjata. Pasti akan jauh lebih banyak yang dipertimbangkan. Pasti akan jauh lebih rumit. Pasti akan menguras energi, emosi, perhatian, tenaga, biaya dan segala macam sumber daya.

 

Nurani bagi Pejabat dan Petinggi Militer

Sejarah, dapat menjadi panduan cemerlang bagi para pemimpin yang sedang dilanda gelisah resah dalam mengambil keputusan.

Kisah dibawah ini semoga dapat menjadi pembelajaran berharga bagi kita semua.

Adalah seorang bernama Najmuddin Ayyub.

Ia seorang dizdar (pemimpin kastil) di Tikrit, menggantikan ayahnya Shadzi ibnu Marwan yang wafat. Shadzi ibnu Marwan memiliki dua putra : Najmuddin Ayyub dan Assaduddin Shirkuh. Perjalanan Shadzi dan dua putranya hingga tiba di Tikrit, Iraq, demikian berliku. Berhubung Shadzi adalah seorang pejabat dan politikus; ia memiliki hubungan rumit dengan banyak orang, banyak kepentingan. Shadzi memiliki hutang budi salah satunya kepada sahabatnya sendiri, Jamal ad Daula Mujahiduddin Bihruz. Bihruz banyak membantu Shadzi bukan hanya urusan material namun juga non material. Bihruz bukan hanya berjasa pada Shadzi, namun juga pada dua putranya, Ayyub dan Shirkuh.

Najmuddin Ayyub-lah yang dapat tampil menjadi seorang negarawan yang cakap, bijak, berani mengambil keputusan.

Terjadi beberapa peristiwa penting yang membuat Najmuddin Ayyub harus mengambil keputusan sulit.

Pertama, ia seharusnya mengabdi utuh pada khalifah Abbasiyyah saat itu, Mustarshid Billah. Konflik tajam saat itu memunculkan peperangan antara Khalifah melawan Ghiyatsuddin Masud dan Imaduddin Zanki. Dalam pertempuran, pasukan Imaduddin Zanki terdesak hebat. Najmuddin Ayyub dapat saja menebas leher Zanki dan membawanya ke hadapan khalifah, dengan demikian kedudukannya akan semakin cemerlang, berwibawa dan melesat. Namun Ayyub justru memilih melindungi Zanki yang tertatih-tatih, melarikan diri lewat sungai Tigris menuju Mosul. Tindakan Najmuddin Ayyub menuai kecaman keras dari para petinggi dan pejabat kekhalifahan. Mujahidduddin Bihruz sangat murka dengan pembangkangan Najmuddin Ayyub. “Kamu mendapatkan musuh dalam gengggamanmu; mengapa kamu perlakukan dia dengan baik dan melepaskannya?!”

Kedua, bekas bendahara pemerintahan Saljuq, Azizuddin al Mastaufi, ditahan di Tikrit karena satu tuduhan. Al Mastaufi harus menjalani hukuman mati dan harus dibawa ke Baghdad. Najmuddin Ayyub menolak perintah tersebut sebab ia yakin, al Mastaufi sesungguhnya tak bersalah. Mujahiduddin Bihruz yang akhirnya menjemput al Mastaufi di Tikrit dan menghukum mati dirinya di Baghdad.

Ketiga, suatu ketika seorang perempuan melewati  benteng Tikrit sembari menangis. Ayyub dan Shirkuh melihatnya dan menanyakan sebab ia bersedih. Perempuan itu menjawab ia telah dilecehkan oleh isfahsalar (pimpinan tentara) beragama Nashrani. Shirkuh marah sekali hingga ia mengambil tombak dan menusuk sang isfahsalar. Atas perbuatannya, Najmuddin Ayyub terpaksa memenjarakan Shirkuh. Sesungguhnya, Ayyub sangat mencintai Shirkuh. Adik lelaki satu-satunya itu telah menemani hidupnya sejak mereka hijrah dari Dvin menuju Tikrit. Keduanya bahu membahu untuk masalah keluarga hingga pertempuran. Agar keadilan tidak timpang sebelah, Ayyub melaporkan kejadian tersebut kepada Mujahiduddin Bihruz.

Dapat diduga, Bihruz murka besar. Meski desas desus beredar, Shirkuh membunuh isfahsalar bukan hanya karena ia melecehkan si perempuan muslimah namun juga ia melecehkan agama Islam. Bihruz, yang telah menolong keluarag Shadzi sejak bertama kali mereka hijrah dari Dvin menuju Tikrit, merasa Najmuddin Ayyub tak tahu membalas terima kasih. Berkali-kali Ayyub membangkang perintah khalifah dan menyulitkan posisi Bihruz. Kali ini, Bihruz mengambil keputusan tak main-main : Najmuddin Ayyub dan Asaduddin Shirkuh beriktu seluruh keluarga mereka, malam itu juga harus meninggalkan Tikrit. Bila tidak, mereka tak akan bernyawa lagi.

Malam kelam saat itu, Najmuddin Ayyub dan Asaduddin Shirkuh beserta keluarga mereka mengendap keluar dari benteng Tikrit. Pedih hati Ayyub. Bukan karena ia berkecil hati atas kerugian, kesusahan, kesulitan yang menghimpit keluarganya lantaran ia bersikukuh memilih kebenaran atas kebathilan. Tapi karena malam itu, istri Najmuddin Ayyub baru saja  melahirkan. Tubuhnya masih lemah, bayi lelaki di pelukannya merah dan mungil

Di bawah langit kota Tikrit yang dipenuhi gemintang.

Dihadang benteng-benteng sunyi yang menyaksikan sejarah jatuh bangun berulang. Disisi hati yang menangis antara ketakutan, kekhwatiran, namun juga keinginan untuk menegakkan keadilan dan kebenaran. Di gang-gang sunyi gelap yang diintai oleh orang-orang khianat dan kemungkinan tertangkap. Najmuddin Ayyub menangisi takdirnya, menangisi bayi lelaki dalam dekapannya yang sekecil itu berada dalam pelarian. Seorang lelaki, pengikutnya, menghiburnya.

Ucapan lelaki itu ternyata dicatat oleh para sejarawan.

Jamal ad Daula Mujahiduddin Bihruz yang berkuasa, pintar mencari posisi, kesayangan khailfah dan pejabat-pejabatnya; anak cucunya tak dikenal sebagaimana anak cucu sahabat yang ditolongnya, Shadzi ibnu  Marwan. Shadzi ibnu Marwan mewariskan keberanian, kejujuran, dan ketundukan pada Allah Swt kepada dua anaknya, Najmuddin Ayyub dan Asaduddin Shirkuh. Kelak, bayi lelaki merah yang baru saja dilahirkan, yang dilarikan diantara bintang gemintang Tikrit. Di antara bayang-bayang benteng yang tak mampu menahan langkah kaki pelarian menuju Mosul. Bayi lelaki itu mengharumkan nama kakeknya, Shadzi ibnu Marwan dan ayahnya, Najmuddin Ayyub.

Bayi pelarian Tikrit itu bernama, Shalahuddin al Ayyubi.

Bisakah pemimpin dan militer kita seperti Najmuddin Ayyub ibnu Shadzi, ketika hatinya menyerukan kebenaran maka ia berani menyuarakan pendapat dan bertindak berdasarkan hati nurani?

 

Sinta Yudisia, Ordinary People

 

Referensi :

Arnold, Thomas W. The Preaching of Islam. 1979. Penerbit Widjaya, Jakarta

De Graff, H.J. Cina Muslim di Jawa Abad XV dan XVI : Antara Historisitas dan Mitos. 2004. Tiara Wacana, Yogya

Alatas, Syed Alwi. Biografi Agung Salahuddin al Ayyubi. 2014. Karya Bestari, Malaysia

Jawa Pos, Sabtu 15 Oktober 2016. Green School Bali, Sekolah Alam yang Unik dan Ramah Lingkungan : Bikin Penasaran Ban Ki Moon dan David Copperfield.

Jawa Pos, —-. Jejak 14 tahun Masjid Muhamamd Cheng Hoo, Simbol Peratuan dan Toleransi Bangsa : Siang untuk Jumatan, Sore Lapangan Basket

 

Jakarta : Pemimpin gabungan Berber, Visigoth, Corleone dan isyarat Ibnu Khaldun

 

Jakarta  dibangun dari Judi dan Prostitusi?

“Pak Natsir naik helikopter aja kemana-mana. Sebab jalanan Jakarta saya bangun dari duit judi,” sindir Ali Sadikin.

Mohammad Natsir, tokoh petisi 50 dan Mosi Integral, seorang ulama sederhana yang disegani kawan dan lawan. Kesederhanaan beliau, kehati-hatian beliau dalam berinteraksi dengan hal-hal haram bahkan syubhat, membuat sebagian orang risih. Ali Sadikin salah satu diantaranya.

Bagaimana Ali Sadikin membangun Jakarta, memang menuai pro dan kontra. Di tangan Ali Sadikin, pembangunan Jakarta di era 70an melaju pesat. Jalan-jalan, TIM (Taman Ismail Marzuki) dan TMII (Taman Mini Indonesia Indah). Tahun 1966 Jakarta belum seperti sekarang. Butuh dana besar untuk membangun sarana prasarana. Ali Sadikin mengambil langkah kontroversial dengan melegalkan judi,  kawasan merah Kramat Tuggak; demi menarik pajak daerah. Secara fisik, pembangunan Jakarta melaju cepat di tangan Ali Sadikin. Konon, hanya ada dua gubernur yang dilantik di istana negara : Ali Sadikin dan Ahok. Di kemudian hari, Ali Sadikin beranggapan bahwa membangun Jakarta dari judi dan prostitusi dapat dilakukan di awal kemerdekaan. Ketika orang-orang tulus dan para pejuang yang komitmen dengan cita-cita besar bangsa masih banyak bertebaran. Ia mengatakan hal itu tak dapat terus menerus dilakukan, apalagi bila institusi korup semakin merajalela.

 

Jakarta :  antara Silkroad- Megacities dan  Cordoba

batavia

Batavia lama

Para international writers yang diundang ke Seoul 2016 sebagian mengatakan, salah satu capital city yang indah dan menarik untuk dipandang adalah Jakarta. Bagi kita warga Indonesia yang mendambakan kedamaian serta situasi yang tidak menimbulkan depresi, Jakarta adalah kota yang harus dihindari. Dibandingkan Seoul, ibukota Korea Selatan dan Rabat, ibukota Maroko ; Jakarta memang lebih istimewa. Warna warni hijau masih tersebar dimana-mana, mengingat kata Koes Plus, kayu dilemparpun jadi pohon. Kolam susu menggenang di segala penjuru. Kalau sekarang orang tak menemukan kayu bertransformasi menjadi pohon serta kolam susu sekeruh mangkok kobokan; salahkan saja Jan Pieterszoon Coen yang membangun Batavia. (Hm, sedemikian mudahkah menyalahkan sejarah?)

Apa yang anda bayangkan ketika menyebut ibukota?

han-river-2

Sungai Han, Seoul

Mungkin, saya jenis orang yang terlalu khusyuk berimajinasi. Berkhayal.  Jakarta suatu saat akan memiliki sungai seromantis Han Kang atau sungai Han yang membelah Seoul. Sungai jernih yang menimbulkan sejuta loncatan imajiner setiap kali warga naik subway melintasi Dangsan dan Hapjeong. Sungai yang terpelihara dari anak iseng yang melempar kulit permen. Sungai yang membiarkan remaja berlarian, naik sepeda, melaju dengan otopet, atau menentang riaknya dengan naik kapal pesiar.

 

Bukan sungai yang diberitakan meluap, memecah tanggul, menyerap teriakan orang-orang yang tergusur rumah kardusnya.

Yah, lebih jauh saya membayangkan Jakarta akan seperti salah satu dari 5 of megacities yang dicatat sebagai silkroad– jalur sutra : Xi’an (Changan), Samarkand, Aleppo, Mosul dan Merv. Meski Aleppo dan Mosul saat ini menorehkan luka dalam di hati kaum muslimin, kemegahan kota-kota tersebut tak akan hilang dari jejak sejarah. Apa yang menyebabkan kota mega tersebut menjadi mutiara-mutiara yang berkilau hingga kini menjadi negara modern? Pembangunan fisik yang meliputi masjid, benteng, pasar, observatorium menjadi salah satu keunggulan. Hal lain adalah, para ulama menjadi motor-motor penggerak yang diberikan kebebasan untuk memberikan motivasi kepada khalayak. Ulama, adalah para pewaris Nabi yang bersama mereka, ilmu dan amal menjadi satu kesatuan.  Tentu, tak akan lepas dari catatan sejarah para ulama yang menghasilkan gagasan-gagasan besar : Ibnu Sina dengan the Canon Medicine, Ibnu Khaldun dengan Muqaddimah, Ibnu Batutah dengan Rihlah, Umar Khayyam sang astronomer dan penyusun Rubaiyyat serta ribuan lagi ulama yang tak akan cukup waktu manusia memelajari kehebatan mereka. Sepanjang ulama memiliki tempat terhormat, sepanjang itu pula sejarah memiliki peradaban tertinggi.

Bisakah Jakarta seperti Cordoba?

Ah, mengapa pula tidak.

Abdurrahman III, sang pemuda sebatang kara yang selamat dari pembantaian di Rusafa, melarikan diri dari Damaskus. Seluruh dinasti Umayyah dihabisi dinasti Abbasiyyah, hanya Abdurrahman seorang yang tersisa. Keberanian, kecerdasan, ketabahan sang pemuda menjadikan satu wilayah di semenanjung Iberia menjadi sebuah ikon yang disebut sebagai Ornament of the World – hiasan dunia: Cordoba atau Qurtubah. Sebuah kota megah dengan ciri khas air mengalir dan perpustakaan. Konon, khalifah memiliki perpustakaan pribadi dengan 44 jilid katalog ( katalognya saja!) dan 600.000 judul buku disaat raja Eropa hanya memiliki 400 manuskrip. Perpustakaan Abdurrahman III hanya 1 diantara 70 perpustakaan di Cordoba, dan di pasar tersedia 70 penyalin naskah al Quran yang siap mendistribusikan kitab mulia tersebur ke segenap penjuru.

Pembangunan fisik, yang menjadikan Cordoba tak kalah megah dari Damaskus dan Baghdad, menjadikan orang-orang berbondong ingin menikmati Ornament of the World. Sekali lagi, pembangunan fisik. Dan tidak lupa, pendidikan serta peran serta para ulama menjadi kata kunci yang membuat kota tersebut dikenang sepanjang masa. Para pemikir besar lahir dari wilayah Damaskus, Baghdad, Cordoba selain dari Mekkah, Madinah, Palestina tentu. Para ulama menjadi sosok yang dihormati, menempati mimbar elite pemerintah; bukan sekedar di koridor, selasar atau malah emperan sebagai pemanis.

 

Jakarta : siapakah yang berkuasa?

Sebuah kota selalu memiliki 2 pemerintahan.

Luarbiasa cara Mario Puzo menggambarkan dalam bukunya Omerta, “kota, memiliki pemerintahan siang dan malam. Siang hari kalian dikuasai pemerintah formal, malam hari penguasa yang lain menggantikan.”

Mungkin, darah Italia Mario Puzo menjadikannya berpikir demikian. Mafia menguasai segala penjuru kota dan stigma mafia semakin terbentuk sebagaimana film legendaris the Godfather  melambungkan nama Francis Ford Coppola sebagai sutradara serta Marlon Brando sebagai Vito Corleone dan Al Pacino memerankan Michael Corleone. Para keluarga mafia saling bunuh, saling melindungi, dan saling membayar hutang piutang. Terutama hutang jasa. Sekali keluara Corleone mengucap janji, mereka pantang menarik. Mereka melindungi setiap yang bersandar pada keluarga ini dan sebaliknya, mereka menuntut upeti dalam jumlah yang pantas.

Memang, di balik penguasa hebat, berdiri orang-orang kuat.

Abdurrahman III tak akan sukses membangun Cordoba tanpa keikutsertaan suku Berber yang mendiami gunung Atlas, Maroko. Ibu Abdurrahman berdarah Berber, dan nama suku Berber menjadi sanjungan (atau olokan) ketika orang berperilaku sangar : kalian seperti kaum Barbar! Suku Berber dikenal kuat, tegas, berani, tak kenal ampun dan anda akan terbiasa dengan pertengkaran ketika menginjakkan kaki di Maroko.

Semenanjung Iberia tampaknya hanya pantas dikuasai orang-orang kuat seperti kerajaan Visigoth dengan penakluknya Alaric dan  dinasti Umayyah yang memiliki komandan Tariq bin Ziyad.

Bila, sebuah penguasa membutuhkan kekuatan lain di belakangnya, siapakah yang dikatakan sebagai orang kuat? Abdurrahman III memiliki suku Berber, Alaric memiliki Visigoth dan Corleone memiliki mafia.

Apakah pemimpin Jakarta pun harus memiliki orang kuat di belakangnya?

Demikianlah seharusnya. Meski, paradigma ‘orang kuat ‘ ini akan berbeda bagi setiap orang. Bila kita mengambil prinsip Machiavelli dalam Il Principe maka kita akan mengambil pemimpin tipologi ini.

“Jangan memilih pemimpin karena rasa cinta. Pilihlah karena rasa takut. Rasa cinta akan hilang seiring lunturnya kewajiban. Tapi rasa takut, tak pernah gagal.”

Banyak pemimpin seperti yang digambarkan Machiavelli. Hitler, Stalin, Lenin. Membangun kekuasaan dengan kekuatan dan ketakutan. Memang di salah satu titik, tampaknya tak pernah gagal.

Tapi bagaimana pendapat Ibnu Khaldun tentang pemimpin dan  kekuasaan?

Dalam kitab megafenomenal Al Muqaddimah, beliau menuliskan banyak bab penting terkait rakyat, kesukuan, pemerintahan, kekuasaan, tabiat-tabiat bangsa serta suatu tabiat kurun waktu.

muqaddimah-ibnu-khaldunPasal Keempat, Bab 3, Kitab Pertama

Kerajaan Memiliki Kekuasaan Kuat Berlandaskan Agama, Baik Melalui Kenabian Maupun Seruan Kebenaran

Sebab kekuasaan hanya dapat diraih dengan penguasaan. Penguasaan ini hanya dapat dilakukan dengan fanatisme. Yakni kesamaan harapan untuk menyuksesan suatu tuntutan. Kesatuan jiwa dan persatuannya hanya dapat terjadi atas pertolongan Allah Swt dengan mendirikan agamaNya.

Hal ini sebagaimana yang disebutkan firman Allah

“Walaupun engkau membelanjakan semua kekayaan yang berada di bumi, niscaya engkau tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Alalh telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana ( Al Anfaal : 62).

Rahasianya , apabila jiwa terdorong untuk melakukan kejahatan dan condong pada kehidupan dunia, maka akan terjadi persaingan dan menimbulkan konflik. Apabila jiwa-jiwa tersebut tunduk pada kebenaran, menolak tipu daya kenikmatan dunia dan berbagai kejahatan yang ada di dalamnya dan menghadap kepada Allah Swt dengan lapang dada maka kondisi itu akan mempersatukan visi dan misi mereka. Dengan kesamaan tujuan ini , rivalitas yang tidak sehat akan lenyap dan konflik akan minimal, yang pada akhirnya akan mempererat kerjasama dan saling membantu.

Dengan persatuan dan kesatuan tersebut maka kerajaan akan semain kuat dan kaya (Muqaddimah, Ibnu Khaldun)        

 

Pemimpin untuk Jakarta

Saya bukan warga Jakarta. Enggan pula tinggal di Jakarta mengingat lingkungan fisik dan sosial ibukota sangat berat untuk tumbuh kembang anak-anak, apalagi bagi remaja. Jakarta bagi orang seperti saya adalah sebuah kota untuk transit ketika harus keluar daerah. Jakarta terasa berdenyut mendebarkan ketika walikota kami, bu Risma, diberitakan akan diboyong kesana. Jakarta terasa menakutkan ketika berita kejahatan lalu lalang di media.

Jauh di lubuk hati, rasanya lelah memikirkan Jakarta.

Betapa ingin ibukota ini setenang Seoul dimana warga bebas hilir mudik hingga larut malam. Anak sekolah dasar dan menengah, masih mengenakan seragam, bebas naik subway atau bis tanpa takut kejahatan. Memang, kejahatan pasti ada seperti kasus pembunuhan di daerah Gangnam beberapa waktu yang lalu.

Betapa ingin Jakarta menjadi Ornament of the World dimana ciri khas air mengalir (betul-betul mengalir) bukan menderas laksana airbah menjadi hiasan sudut-sudut kota. Perpustakaan menjamur, yang berarti industri kertas berkembang pesat berikut kesejahteraan, sebab buku-buku yang tersebar identik dengan kemakmuran masyarakat.

Betapa ingin Jakarta menggantikan kota-kota mega jalur sutra, dimana bukan hanya bangunan fisiknya yang megah menjulang namun juga para ulama menjadi tonggak pemikir masyarakat.

Betapa ingin Jakarta memiliki pemimpin yang memiliki gabungan kekuatan Berber, Visigoth, Corleone namun mampu menjalin hubungan mesra dengan para ilmuwan, pemikir dan pemuka agama.

il-principeDan pada akhirnya saya tidak ingin menjadikan Il Principe sebagai bantal tidur, sebagaimana yang dilakukan para pemimpin diktator lain, sebab ketakutan itu bukan ruh sebuah masyarakat.

The care of human life and happiness and not their destruction, is the first and only object of good goverment (Thomas Jefferson)

Saya membayangkan seorang pemimpin yang diinginkan Machiavelli, akan membuat rakyat berkeringat dingin tiap kali bangun pagi. Ketakutan. Kecemasan. Kekhawatiran. Akan keputusan-keputusan, sikap, juga bahasa yang terasa menggedor-gedor denyut jantung.

Sungguh saya menginginkan hari-hari bahagia dimana seorang pemimpin membuat hati ini nyaman dengan senyuman, kata-kata, sikap dan kebiasaan yang seperti diisyaratkan Thomas Jefferson.

Selamat memilih,warga Jakarta! Semoga anda temukan pemimpin yang dapat menjadikan Jakarta sebagai Ornament of the World.

 

 

Payudara, Rahim, dan ECCT

Bagi anda , Perempuan, dua hal ini sangatlah penting.
Kita tidak sedang membahas pornografi, namun melihat dari sisi kemanfaatan sebuah tubuh yang sehat berikut organ-organ pentingnya.

Payudara

Saat perempuan hamil, salah satu hal yang penting diperhatikan adalah merawat payudara. Bagaimana calon ibu membersihkan buah dada dan puting susu agar jabang bayi yang baru lahir, dapat optimal memperoleh colostrum saat pertama kali lahir dan ASI selama dua tahun penuh.

Bahagiakah menyusui?
Tentu. Betapa sempurnanya perempuan yang mampu mendekap bayi dan memberikan air susu selama dua tahun penuh. Selain bahagia, tentu ada masa-masa menegangkan bersama payudara. Setiap ibu, pasti pernah mengalami masa-masa air susu seperti mampet, bungsu, sehingga buah dada membengkak besar. Sakitnya bukan alang kepalang! Badan menggigil, demam tinggi, meriang hingga gemetar tak tertahankan. Namun menyusui, tetap harus jalan.
Atau saat payudara terluka karena si bayi menggigitnya. Rasa sakitnya…subhanallah. Setiap kali si bayi menyusui, harus berjuang untuk mengatasi rasa sakit sekaligus memenuhi kewajiban sebagai ibu.

Atau anda yang belum hamil dan melahirkan, tentu pernah merasakan menjelang haidh. Sakitnya payudara yang menegang.
Terbayangkah , bila payudara perempuan, tempat bayi menyesap air susu selama dua tahun, tiba-tiba dijangkiti sel-sel liar yang hidup dan menggerogoti kehidupan : kanker? Tentu kita tak berharap sama sekali mengidapnya, namun membayangkan seperti apa rasa sakitnya, pastilah bisa.

Survivor 1

Seorang sahabat, bu Sirikit Syah namanya. Ia salah satu perempuan tangguh yang selamat dari kanker payudara. Menurur dokter, penyebab kanker bu Sirikit akibat beliau terlalu sering terpapar polusi. Sebagai seorang dosen, kadang beliau naik mobil pribadi, kadang lebih suka angkutan umum. Saat menunggu angkutan umum di terminal Bratang, Surabaya, misalnya; polusi yang berhamburan tak terkatakan jumlahnya.
Beliau menjalani operasi, diangkat satu payudara berikut daging yang berada di sekitarnya sekitar lima senti hingga dada seperti berlubang.

Bu Sirikit Syah

Bu Sirikit Syah

Tak setiap perempuan seberuntung bu Sirikit. Masih ingat cerita yang beliau tuturkan, bahwa bu Sirikit bersiap dalam satu kunjungan ke luar negeri ketika didapati dadanya terasa sakit dan nyeri. Ketika memutuskan untuk periksa ke dokter, terkejutlah beliau bahwa kanker di payudaranya berada dalam stadium mengkhawatirkan. Dokter menyarankan penangguhan kepergian dan operasi bu Sirikit dilakukan di salah satu rumah sakit terpercaya di Surabaya.

Berhubung bu Sirikit salah satu tokoh masyarakat yang dikagumi, kalangan dokter pun sepakat memangkas biaya. Biaya rumah sakit hanya biaya operasional, sementara ongkos para dokter gratis. Itupun memakan jumlah puluhan juta rupiah! Alhamdulillah…operasi berjalan lancar.

Saat saya berkunjung ke rumah beliau, dari balik jilbab, mencuat slang seperti slang kateter yang terpasang dari bekas luka, terhubung ke botol. Botol tersebut di bawa dalam tas yang dikempit kemana-mana. Dari slang tersebut, mengalir cairan merah. Kata bu Sirikit, memang demikian perlakuan terhadap bekas luka operasi kankernya.

Bu Sirikit beruntung dikaruniai seorang lelaki, pak Khairul Anam, suami setia yang senantiasa merawatnya pra dan pasca operasi. Pak Khairul pula yang membuatkan sirup daun sirsak setiap hari, juga menyediakan lauk putih telur. Para tetangga, handai tolan, berganti-ganti mengirimkan lauk putih telur kepada bu Sirikit.

Sekarang, beliau telah sehat seperti sediakala, beraktivitas seperti biasa.

Apa yang menjadi catatan dari kisah beliau?
Jangan sepelekan sakit di daerah dada bagi perempuan, tetap optmis serta waspada terhadap pengaruh polusi yang didapat dimana-mana. Tentu, pasti dalam benak kita mencatat : hm, biaya operasi? Puluhan juta ya…belum termasuk kemoterapi.

bu Sirikit dan kanker payudara

Survivor 2

Saya mengenal kakak cantik ini dalam perjalanan ke Jepang, beberapa bulan lalu. Kami selalu sekamar, berbagi makanan dan bertukar cerita.

Kumamoto Castle. Indira Abidin, 2 dari kanan

Kumamoto Castle. Indira Abidin, 2 dari kanan

Kakak beradik Kobayashi, Sinta, Indira. Pak Kobayashi pemilik Inasayama Kankoh hotel. www.inasayama.co.jp

Kakak beradik Kobayashi, Sinta, Indira.

Kami selalu menyempatkan diri berfoto bersama, termasuk ketika berada di Inasayama Kankoh Hotel, yang memiliki lokasi unik taman heart lamp.

Melihat betapa energiknya ia, tak menyangka, Indira Abidin pernah mengidap kanker payudara. Saya tak mengetahui detil riwayat penyakitnya namun dapat memperkirakan, betapa berdampaknya penyakit itu bagi Indira. Sepanjang perjalanan baik di pesawat, di rumah makan, di hotel, Indira hanya memesan makanan vegetarian.
Alamak! Saya juga termasuk orang yang harus menjaga pola makan. Tapi menjadi vegan? Hiks…
Pastilah, ada satu kisah luarbiasa yang membuatnya memutuskan mengubah arah gaya hidupnya, terutama pola makan. Bila, sebagai backpacker saya cukup membawa tas ransel simple berikut kamera; maka Indira kemana-mana selalu membawa tas besar berisi baju dan tas tenteng yang luarbiasa beratnya : asupan makanan sehat yang harus terus dikonsumsi.

Madu, tak pernah lepas dari daftar menu paginya. Madu dengan parutan jahe, lebih disukainya. Serbuk bekatul, juga tersedia dalam bentuk kemasan botol. Pagi-pagi, ketika kami sibuk menyiapkan diri untuk melanjutkan traveling ke destinasi lain di wilayah Kyushu, Indira sibuk mengocok menu paginya sebotol besar.

Apa yang unik?
Kesabaran menata penyakit. Bahkan, ketika melewati petugas bandara dan harus mengosongkan air, Indira terpaksa mengambil tempat di pojok ruangan, menenggak sebotol besar ramuan yang terdiri dari madu dan jahe. Kadang, ia terpaksa tertinggal di belakang dari rombongan. Sesudah menenggak minuman, terpaksa bolak balik ke kamar mandi, baik di bandara atau di atas pesawat.

Indira melewati masa-masa kritis dan berhasil mengatasi kankernya tanpa harus dioperasi. Ia menggunakan alat ECVT ( Electrical Capacitane Volume Tomography) atau ECCT(Electro Capacitive Cancer Treatment ) dari DR. Warsito Purwo Taruno.
ECCT dan Warsito Purwo Taruno

Cerita selengkapnya Indira melawan kanker ada di http://tamanlavender.wordpress.com

Indira Abidin, adalah survivor kanker yang pantas diacungi jempol. Ia tak hanya sembuh, bangkit, tapi juga menularkan semangat kesembuhan kepada pasien-pasien lain. Melihat perjuangan di Lavender, orang pasti dapat memperkirakan seberapa besar kanker payudara membawa dampak dalam kehidupannya.

Pejuang Dahsyat 1

Kisah muslimah satu ini, sering menginspirasi banyak orang.
Sebut namanya Mutia. Fisiknya tak cantik.Dari wajah ataupun bentuk tubuh, Mutia bukan gadis yang dilirik banyak orang. Namun setiap yang berinteraksi dengannya pastilah merasakan keindahan pekertinya. Tak pernah ada seorang temanpun yang pernah mengeluh selama berinteraksi dengan Mutia.

Mutia bukan dari kalangan berada.
Meski demikian, dengan sepeda motor bututnya, Mutia terus melakukan kebaikan apa yang ia bisa. Menjadi guru TK dengan gaji alakadarnya, mengawal anak-anak yatim di sebuah yayasan dan menjadi ibu asuh mereka. Bahkan, anak-anak tersebut demikian spesialnya, mengingat beberapa mengalami sexual abuse. Mutia aktif di organsiasi dan kerap menjadi panitia acara-acara sosial tanpa imbalan apapun. Setiap yang membutuhkan pertolongan Mutia, ia siap membantu. Tak cukup disitu, Mutia demikian berbakti pada ibunda yang berada di desa. Kerap Mutia bolak balik menengok ibunya dari Surabaya, mengendarai motor bututnya.

Bila, karena kondisi fisik, status ekonominya, Mutia terlambat menikah hingga usia yang matang; dapat dikatakan wajar. Butuh seorang lelaki tulus untuk mau meminang Mutia yang memiliki kekurangan di wajahnya.
MasyaAllah, ternyata, Allah SWT menyediakan pasangan sempurna untuk hambaNya yang mulia. Mutia menikah dengan seorang lelaki yang mengasihinya dengan tulus. Kehidupan pernikahan mereka yang sederhana, tak mengurangi kemeriahan kebahagiaan sepasang insan.

Setahun setelah menikah, Mutia sering merasa sakit di dada. Awalnya dianggap seperti kencangnya payudara menjelang haidh. Tak digubris, sebab memang Mutia seorang muslimah yang padat kegiatan. Lagipula, beberapa tahun lalu, alternatif pengobatan kanker belum marak seperti sekarang. Beberapa tahun lalu, ECCT/ ECVT dan daun sirsak belumlah ramai dipercakapkan.
Mutia diam dalam sakitnya.
Hingga seorang sahabat kami yang berprofesi dokter, mengunjungi rumah Mutia dan mencoba melihat sejauh apa keluhan sakit di dada. Dokter tersebut terkejut, melihat betapa kerasnya kondisi payudara Mutia. Ia berkata diam-diam kepada saya, bahwa kemungkinan kesembuhan Mutia sangat kecil, mengingat kanker payudaranya telah memasuki stadium lanjut.

Mutia tak dapat berobat, sekali lagi karena kondisi biaya. Ia dan suaminya menyadari, detik-detik menunggu kematian demikian dekat, sebab memang seketika tubuh Mutia demikian cepat rapuh dan lunglai. Kekuatan fisik mendadak hilang dan ia sering menghabiskan waktu di rumah. Dana taawun yang terkumpul tak cukup untuk mengobati Mutia.

Suatu malam, sebuah SMS masuk ke HP.
“Teman-teman semua, mohon maafkan istri saya, Mutia. Sebagai seorang suami saya ridho kepadanya.”
SMS itu dikirim suami Mutia.
Betapa sering kita dapati kematian, betapa sering pula kita mengucapkan Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Tapi menghadapi kematian Mutia, airmata kami tak terbendung. Terbayang perjuangannya dengan sepeda motor butut untuk terus menyuarakan dakwah. Terbayang kesabarannya merawat ibu, anak-anak yatim, menunggu pasangan hidup ketika satu demi satu temannya dieprsunting lelaki sholih. Dan ketika baru setahun menikah, kanker payudara merenggut jiwanya.
Kematian yang elegan.
Satu kalimat yang membuat tangis kami meledak. SMS dari sang suami.
Sebagai suami, saya ridho kepadanya.
Oh, Mutia. Apa balasan dari Allah SWT atas kematian seorang istri yang membawa bekal keridhoan suaminya?
Satu sahabat terbaik kami, meninggal karena kanker payudara. Kejadian ini sudah berlangsung lebih dari lima tahun lalu, namun masih demikian membekas.

Pejuang Dahsyat 2

Sahabat saya, sebut namanya Mira. Seorang perempuan cantik yang riang gembira. Kehidupan cintanya penuh dinamika, cukup lama saya tidak bertemu dengannya ketika kemudian lewat SMS dan WA singkat kami bertukar cerita.
“Mama kena kanker rahim, Mbak,” tulisnya.
Innalillah, pikir saya.
Saya tahu, Mira harus kerja sambil kuliah. Pontang panting hidupnya. Ia kerja di sebuah swalayan terkemuka, waktu itu belum mengenakan jilbab dan harus mengenakan make up dengan standar tertentu. Pernah suatu ketika Mira datang ke kampus, lengkap dengan kosmetik standarnya, sebab usai kuliah harus langsung cabut bekerja.
“Kayak digebuki orang ya Mbak, mukaku,” ucapnya malu. “Aku pingin pakai jilbab.”
Saya mendorongnya pakai jilbab.
“Terus, bagaimana jilbabku? Apa aku masih boleh pakai make up tebal kayak gini?”

Bagiku, Mira sungguh luarbiasa dengan tekatnya sebab ia memutuskan mengenakan jilbab dengan kondisi harus mengenakan kosmetika dengan standar babak belur begitu.
Lama kemudian kami berpisah, ketika kemudian kudengar mamanya sakit. Dapat kubayangkan betapa repotnya Mira membagi waktu : kerja, kuliah, dan merawat Mama.
“Gimana caramu merawat Mama dek?”
“Aku yang menggantikan popoknya, Mbak.”
“Kalau bau, sabar ya…”
“Aku pakai masker, tiap kali interaksi dengan Mama, terutama ketika ganti popoknya.”
Terharu, membayangkan semakin banyak agenda yang harus dikerjakan Mira dan semakin sempit waktunya untuk menyelesaikan kuliah.
Suatu hari, kusarankan Mira menyediakan daun sirsak kering untuk mamanya. Dari cerita bu Sirikit yang sangat terbantu proses kesembuhan dengan konsumsi rebusan daun sirsak setiap hari, kupikir mama Mira akan membaik. Aku lupa, apakah sempat mengirimkan paket daun sirsak kering untuk membantu mama Mira. Seingatku, Mira sempat bertanya tentang bagaimana proses merebus, dengan apa merebus, dst.
Hari berikut, ketika kutanya tentang mamanya, jawaban Mira diluar perkiraan.
“Bagaimana bisa minum daun sirsak Mbak? Mama sudah nggak bisa nelan apa-apa lagi.”

Aku mendengar testimoni beberapa orang yang berhasil dengan rebusan daun sirsak, namun segera tersadar setelah mendengar kisah Mira. Rebusan daun sirsak hanya dimungkinkan bagi mereka yang masih dapat menelan sesuatu…
Mama Mira meninggal beberapa waktu kemudian, sebagaimana Mutia setelah berjuang mati-matian melawan kanker.

Pilihan Hidup

Dokter yang menangani Indira Abidin dan memvonis kankernya, memberikan pilihan apakah sang pasien akan menggunakan kemoterapi atau menggunakan jalur alternatif. Indira memilih cara kedua. Bukan dengan alasan estetika, bahwa perempuan tanpa payudara tak akan cantik lagi. Bukan. Toh, bu Sirikit tetap mesra dengan suaminya sekalipun tubuhnya tak sesempurna dulu.

Pendapat publik, akan berbeda dengan pendapat pakar dan saintis.
Ketakutan terhadap rumahsakit, operasi, obat-obatan, paramedis tak terelakkan. Apalagi, bicara masalah sakit, berarti bicara pula masalah finansial. Sakit bukan hanya bicara obat dan dokter. Sakit berarti bicara karier, pekerjaan, keluarga, anak dan pasangan hidup, segenap daya dukung yang diharuskan mengupayakan kesembuhan pasien.

Baik, silakan bayangkan.
Seorang suami yang menunggui istrinya melahirkan.
Biaya yang keluar sebetulnya bukan hanya ongkos melahirkan, biaya obat-obatan, biaya dokter, ongkos yang diperlukan bagi kesehatan bayi; tapi juga konsumsi suami, bensin kesana kemari. Belum lagi bila ada anak-anak yang juga harus ditanggulangi di rumah. Pendek kata, bila seorang anggota keluarga sakit, sungguh terkuras biaya untuk mengembalikannya sehat sepenuhnya.

Sakit flu, masih dapat dikalkulasi. Melahirkan, dapat diperkirakan. Kanker?
Berapa banyak masyarakat yang menginginkan anggota keluarga tercintanya kembali sembuh, rela menjual apapun harta yang ada demi membeli kata “sembuh” berapapun harganya? “Sembuh” itu mungkin obat-obatan,mungkin suplemen, mungkin berganti-ganti dokter, mungkin berganti-ganti rumah sakit, mungkin mencari second opinion, mungkin mencari kesembuhan alternatif dengan cara masuk akal atau tak masuk akal.
Sungguh, seorang yang sakit, membutuhkan kesabaran si penderita dan orang-orang sekelilingnya. Maka , Rasulullah Saw bersabda betapa kita harus mengunjungi si sakit dan mendapatkan pahala luarbiasa dari mengunjungi serta mendoakanya. Betapa kita harus meringankan beban si sakit, entah dengan membantu finansial atau memberikan hadiah yang akan membesarkan hatinya.

Bayangkan, si sakit yang tengah menghabiskan seluruh sumber daya hidup dan membebani keluarganya, semakin dihisap kemampuan bertahannya dengan harga obat, rumahsakit, ongkos dokter yang melangit. Kita tak menyalahkan dokter yang juga bersusah payah seumur hidup menimba ilmu, berdedikasi, mengorbankan waktu dan keluarga untuk menyelamatkan nyawa pasien atas izinNya sehingga profesinya pun selayaknya dihargai agar dokter juga dapat terus mengembangkan diri. Kita tak menyalahkan harga obat yang mahal bila bahan baku memang sulit didapat. Kita tak menyalahkan rumahsakit sebab rumahsakit pun harus membiayai ongkos operasional dan membayar gaji pegawai.

Yang salah, adalah bila tak ada kesempatan mengambil pilihan alternatif.
Orang pergi ke sangkal putung, karena tak mampu membayar ahli bedah tulang . Orang pergi ke tukang pijat, karena belum tahu fungsi fisioterapis. Orang minum jamu, karena belum percaya kemampun kuratif obat. Orang pergi ke ahli akupuntur, bidan, mantri; karena dokter jauh dari jangkauan. Kemungkinan jauh dari segi jarak, pemahaman, kepercayan, atau juga biaya.

Pemerintah seharusnya mengedukasi, juga tak membatasi. Di sisi lain membuka seluas-luasnya ladang penelitian. Apakah buruk menyandingkan tukan pijat dan fisioterapis? Apakah sangkal putung harus diberangus, atau perlu diteliti secara ilmiah? Apakah jamu perlu dipatenkan, seperti obat; dan terus digali kemampuan kuratif herba dengan serangkaian penelitian yang valid dan reliable?


ECCT (Electro Capacitive Cancer Treatment)

Penyakit kanker tumbuh dramatis sejumlah 12,7 juta penderita pertahun, dengan kematian sejumlah 21.000 jiwa perhari. Terapi kanker yang diterima masyarakat luas selama ini adalah operasi, kemoterapi dan radioterapi. Penderita kanker menghadapi beberapa kendala seperti efek samping serta biaya yang mahal. Dalam dinamika terapi kanker, muncullan alat ECCT yang mengundang pro dan kontra, sekalipun secara evidence-based jumlah yang tertolong dengan alat tersebut mencapai angka ribuan.

Dokter Sahudi, dalam rangka meraih gelar doktor, prgoram studi Ilmu Kedokteran Universitas Airlangga, menyusun disertasi berjudul Mekanisme Kematian Sel akibat Pajanan Medan Listrik Energi Lemah dengan Frekuensi Menengah. Penelitian ini dilakukan untuk menjembatani kontroversi ilmiah di bidang terapi kanker di Indonesia, dengan cara membuktikan adanya peningkatan prosentasi kematian sel yang diberi pajanan alat terapi kanker ECCT, serta mengungkap mekanisme patologimeolkulernya. Penelitian ini adalah peneltiian eksperimental laboratorik in vitro, menggunakan Rancangan Acak Kelompok ( completely randomaized block design), bertujuan mengetahui pajanan medan lsitrik voltase rendah, dengan frekuensi menengah dari alat terapi kanker ECCT, dengan pengukuran variabel yang dilakukan setelah pemberian perlakuan.

[caption id="attachment_2018" align="aligncenter" width="300"]dr. Sahudi dan keluarga dr. Sahudi dan keluarga

Tiga macam kultur sel kanker yang digunakan dalam peneltian adalah sel Hela, sel Kanker Rongga Mulut dan sel Mesenkim Sumsum Tulang. Ketiga kultur tersebut dibagi menjadi dua kelompok, dengan masing-masing 8 replikasi, yakni kelompok perlakuan yang akan dipajan dengan ECCT selama 24 jam dan kelompok kontrol. Setelah 24 jam akan dihitung jumlah sel hidup dan sel mati dengan menggunakan pewarnaan Tryphan Blue, serta diperiksa ekspresi protein Tubulin A, Cyclin B, p53, dan Ki-67.

Ringkasan Disertasi dr. Sahudi ttg ECCT

Ringkasan Disertasi dr. Sahudi ttg ECCT

Penelitian ini mendapatkan kelompok sel yang diberikan pajanan ECCT menunjukan jumlah kematian sel yang lebih banyak secara bermakna dibanding kelompok kontrol, terjadi baik pada sel kanker maupun sel non kanker.
Terhadap viabilitas sel, ECCT menurunkan jumlah sel kanker hidup secara bermakna. Sedangkan pada kultur sel nonkanker, yakni sel mesenkim sumsum tulang, ECCT memengaruhi jumlah sel hidupnya, namun tidak bermakna secara statistik. Dalam hal prosentase kematian, ECCT meningkatkan prosentase kematian pada ketiga jenis kultur sel.
Dari penelitian ini juga didapatkan bahwa sel kanker yang dipajan dengan ECCT selama 24 jam, akan meningkatkan ekspresi Tubulin A, Cyclin b1, p53 dan Ki-67 secara bermakna dibanding kelompok kontrol.
Dokter Sahudi menyimpulkan dari penelitannya bahwa medan listrik AC bertegangan rendah dengan frekuensi menengah yang dikeluarkan oleh alat ECCT dapat mematikan sel kanker melalui mekanisme mitotic catastrophe.
Terdapat beberapa kesimpulan penting dan temuan baru pada penelitian ini yang perlu dicatat oleh publik dan masyarakat saintis.
Tiga temuan baru dari penelitian ini adalah :
1. Pajanan medan listrik energi lemah dengan frekuensi 100 KHz dari alat ECCT dapat meningkatkan prosentase kematian sel kanker.
2. Mekanisme kematian sel pada pajanan medan listrik energi lemah dengan frekuensi 100 MHz dari alat ECCT adalah dengan hamabtan polimerisasi mikrotubulus pada saat sel sedang mitosis.
3. Kematian sel pada pajanan medan lsitrik alat ECCT adalah melalui fenomena mitotic catastrophe.

Penelitian dr. Sahudi, Sp. B (K)KL adalah salah satu bukti ilmiah bahwa penggunaan alat ECCT dapat membantu pasien menghadapi diagnosis kankernya. Dokter Sahudi berharap ada penelitian-penelitian lanjutan yang akan memperjelas dan mempertegas bahwa ECCT adalah salah satu sumbangsih putra bangsa dalam membantu pasien-pasien kanker stadium awal hingga stadium lanjut untuk lebih memiliki harapan hidup.
Sangat disayangkan bila terobosan ECCT yang juga termasuk murah secara pembiayaan dibandingkan pengobatan kanker sebelumnya; dihambat atau bahkan dihentikan. Masyarakat Indonesia perlu diberikan kesempatan lebih luas untuk memilih tindakan apa yang dibutuhkan untuk meningkatkan taraf kesehatan, termasuk bagaimana cara beradaptasi dengan penyakti mematikan seperti kanker.
Pemerintah seharusnya bangga dan berbahagia, di tengah segala kendala ekonomi dan politik yang muncul di tanah air, masih terdapat orang-orang kreatif yang berusaha memunculkan solusi. Bila, kreatifitas tersebut dianggap tidak sejalan dengan visi misi bangsa; seharusnya diberikan kesempatan untuk membuktikan, mengumpulkan testimoni, menjelaskan secara ilmiah, berdialog dengan publik dan insan pers agar tidak ada pihak-pihak yang merasa dirugikan.
Bila, ECCT benar-benar dibekukan operasionalnya di Indonesia, betapa banyaknya pasien kanker yang semakin tak memiliki harapan hidup.
Mari, bersama-sama kita peduli pada saudara saudari kita yang mengidap kanker. Tidak harus menjadi penderitanya terlebih dahulu, untuk mendukung orang-orang seperti Dr. Warsito Purwo Taruno dan alat ECCT & ECVT nya dapat diakses oleh sebanyak mungkin warga negara Indonesia yang kita cintai.

———————–

Agar surat ini sampai ke Bapak Jokowi, tolong bantu kami dengan menandatangi petisi ini di link berikut:

https://www.change.org/p/jokowi-bapak-jokowi-tolong-izinkan-penggunaan-ecct-untuk-penderita-kanker-di-indonesia .

Satu tandatangan, satu harapan bagi kami. Terima kasih 😊

#Hope4NoHope

Surat Umar bin Abdul Aziz, Khalifah Bani Umayyah, kepada pejabatnya

Tercatatlah Khalifah Umayyad, Umar II, yang tak jauh berbeda dengan khalifah kakek buyutnya, Umar I. Hati Umar II atau Umar bin Abdul Aziz demikian lemah lembut, bahkan ia memerintahkan para pejabatnya untuk bersikap lemah lembut pada non Muslim. Surat edarannya kepada para pejabatnya berbunyi :

“Berikan perhatian kepada kondisi (orang-orang yang bukan Islam), yang dilindungi dan perlakukanlah mereka dengan lembut. Bila ada di antara mereka mencapai usia tua dan tidak mempunyai sumber penghidupan, andalah yang harus mengurus keperluan hidupnya. Bila orang itu mempunyai saudara mintalah agar orang ini mengurusnya…”

Surat yang lain Khalifah Umar II berbunyi :

“Murnikan daftar-daftar yang ada dari pengadaan kewajiban yang tidak perlu (yakni pajak yang dikenakan secara tidak adil) ; dan pelajari arsip yang lama juga. Bila telah dilakukan tindakan yang tidak adil, baik terhadap orang yang beragama Islam maupun yang tidak beragama Islam, pulihkanlah haknya. Bila ada di antara orang yang menerima perlakuan tidak adil itu yang meninggal dunia, berikanlah haknya kepada ahli warisnya.”