1 Jam : Bantuan Berharga bagi Komunitas Marginal

 

 

Satu jam dapat anda lakukan untuk mengerjakan banyak hal : membaca  buku, menonton film, berjalan-jalan. Tahukah anda, ada orang yang 1 jam hidupnya digunakan susah payah belajar membaca akibat dyslexia, berlatih motorik halus karena cerebral palsy, mencoba memahami perintah sederhana bagi  penyandang  hearing impairment, bertahan melawan halusinasi bagi orang dengan skizofrenia yang terancam relapse?

World Health Organization menetapkan 15% penduduk dunia merupakan kaum disabilitas, belum termasuk mereka yang mengalami gangguan mental dan kepribadian seperti skizofrenia. Sekalipun orang-orang yang mengalami impairment terlihat cacat,  bila terasah dapat melampaui level disability bahkan tidak lagi handicapped. Tiga level yang ditetapkan WHO adalah impairment atau kecacatan, biasanya menimbulkan disabililty atau ketidak mampuan mengerjakan tugas-tugas kemandirian. Pada akhirnya memunculkan handicapped, ketidakmampuan melakukan aktivitas sosial.

Duapuluh satu juta adalah angka fantastis bagi penderita skizofrenia di dunia, dimana 50% keluarga ODS (orang dengan skizofrenia) sama sekali tidak memiliki kecakapan memadai untuk merawat mereka.

 

Kekhususan Kaum Marginal

Pemerintah tak akan sanggup menangani semua anak berkebutuhan khusus atau children with special needs yang membutuhkan bukan hanya dukungan keluarga, lingkungan, tetapi juga pendidikan yang sesuai. Anak berkebutuhan khusus mencapai 15,6% dari keseluruhan populasi.

Orang-orang disabilitas, orang-orang dengan gangguan mental dan kepribadian bukanlah sampah yang sama sekali tak bermanfaat bagi masyarakat. Kehadiran mereka merupakan anugerah bagi bangsa dan negara. Dalam konteks agama manapun, kehadiran orang yang “spesial” selalu dikaitkan dengan harapan dan kesabaran.

Aktivitas dan karya tunarungu

 

Tunarungu, diakui sebagai disabilitas yang memunculkan karakter tekun, pekerja keras juga jujur. UPT rehabilitasi di Bangil, Jawa Timur, mampu mendidik siswa-siswa yang menghasilkan keahlian menjahit beragam bentuk termasuk bordir yang halus. Bahkan, kegiatan seni budaya seperti bela diri, menyanyi, menari juga dapat dilakukan dengan trampil. Satu-satunya kekurangan mereka hanyalah pendengaran yang rusak alias hearing impairment . Namun mereka tidak lagi dianggap disability sebab mereka telah mampu menyelesaikan tugas-tugas kemandirian termasuk mandiri finansial. Bukan itu saja, tidak lagi ada gangguan handicapped yang menyebabkan mereka tidak dapat berinteraksi sosial sebab mereka dapat berkomunikasi meski menggunakan bahasa isyarat.

 

Komunitas Berbasis Keluarga dan Masyarakat

Di Indonesia, komunitas-komunitas berbasis hobi atau keluarga yang mengalami permasalahan serupa semakin banyak muncul. Kelompok ini berdiri lebih karena rasa empati, keinginan untuk berbagi dan  berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Sejak awal berdiri hingga operasionalnya, banyak yang dilakukan dengan swadaya.

Kenalkah anda dengan Safrina dan Hadi Wasito?

Safrina, FLP, Hadi Wasito

Keduanya penyandang cerebral palsy namun banyak menorehkan prestasi. Kedua-duanya aktif menulis dalam forum lingkar pena atau yang dikenal sebagai FLP. Sebagai organisasi kepenulisan, awalnya FLP hanya  bergerak untuk remaja yang peduli terhadap dunia literasi. Lambat laun semakin banyak yang bergabung termasuk kaum disabilitas. Konsep art therapy , juga writing therapy sangat sesuai untuk healing.

ryan-writing-is-healing

Menulis itu menyembuhkan

Terapi yang menyembuhkan klien dengan melepaskan emosi-emosi negatifnya, sehingga tercipta keseimbangan antara kesedihan dan harapan, kebuntuan dan semangat baru. Komunitas seperti FLP bergerak dengan dana swadaya yang dijalankan dengan patungan uang saku para pengurus serta anggota, juga hasil berjualan buku-buku.

Komunitas berbasis keluarga dan masyarakat menjadi salah satu solusi bagi masalah yang tidak tertangani pemerintah. Tangan dan kaki pemerintah dengan program APBN 2017 selayaknya merangkul elemen-elemen masyarakat yang berniat untuk melakukan perubahan ke arah lebih baik. Informasi, kerjasama, sosialisasi harus menjadi program berkesinambungan agar komunitas-komunitas mulia ini tidak hanya mekar di awal lalu mati karena kekurangan pasokan energi sumber dana.

 

Komunitas sebagai Mitra Pemerintah

Seringkali, komunitas tidak cukup tahu apakah tersedia dana bagi elemen-elemen yang membantu mewujudkan visi misi pemerintah. Alangkah baiknya bila pemerintah mempersilakan komunitas mengajukan diri kepada pemerintah daerah untuk dinilai kualifikasinya. Bila memenuhi syarat, mendapatkan bantuan layak bagi dana operasional.

Seringkali, komunitas yang ada berjalan dengan cara tradisional : yang penting jalan dengan dana seadanya, ada pertemuan rutin yang merupakan tempat berbagi semangat. Padahal, dengan sentuhan profesionalisme pemerintah, komunitas marginal  sederhana yang ada di tengah masyarakat akan berkembang lebih maju. Masyarakat seringkali tidak tahu harus kemana membawa laporan, maka pihak pemerintah selayaknya menjemput bola. Jangan sampai komunitas yang merupakan salah satu asset pemberdayaan masyarakat yang tumbuh dari keluarga atau hobi, lenyap begitu saja.

abk-peduli-kasih

Edukasi orangtua ABK komunitas Peduli Kasih, Surabaya

Komunitas ABK (anak berkebutuhan khusus) Peduli Kasih di Surabaya, dibawah asuhan dr. Sawitri mengelola anak-anak special needs dari kalangan kurang mampu. Biaya swadaya tak akan cukup untuk melayani begitu banyaknya permasalahan. Apalagi, urusan komunitas bukan hanya melatih ketrampilan anak berkebutuhan khusus. Menggelar edukasi bagi orangtua tak mampu agar lebih terbuka dan trampil dalam mengasuh anak-anak spesial, memberikan santunan berupa makanan berkualitas atau voucher hotel bagi pasangan. Bagi keluarga yang memiliki anak disablitas,gangguan mental atau gangguan kepribadian p, nyaris tak memiliki waktu pribadi untuk relaksasi. Voucher menginap semalam di hotel berbintang sungguh dapat melepaskan penat sejenak. Hanya bantuan kecil, namun bermakna.

Satu jam waktu kita dapat terbuang percuma.

Satu jam bagi special needs, skizofrenia, atau orang berkebutuhan khusus lainnya adalah waktu ajaib untuk membangun mimpi mereka.

            Sinta Yudisia

Psikolog & Penulis

 

 

 

 

Iklan

Beragam Resensi Novel BULAN NARARYA

Terimakasih kepada teman-teman pembaca yang telah menyediakan waktu untuk mencermati Bulan Nararya dan menyempatkan diri menulis resensinya.

Kritik , masukan dari pembaca insyaAllah akan semakin membuat penulis belajar!

1. https://yuriezhafiera.wordpress.com/2015/03/08/review-bulannararya-128-lembar-mengulik-kesehatan-jiwa/

2. https://blogbukufaraziyya.wordpress.com/2015/03/09/167-bulan-nararya/

3. https://katjamatahati.wordpress.com/2015/03/09/bulan-nararya-novel-dengan-benang-beragam-warna/

4. https://sekarsekarsekar.wordpress.com/2014/11/07/belajar-psikologi-dalam-balutan-karya-seni/

5. http://cerpendikysaputra.blogspot.com/2015/02/resensi-novel-bulan-nararya-dilema.html

6. https://ridhodanbukunya.wordpress.com/2015/02/27/bulan-nararya/

7. http://atriadanbuku.blogspot.com/2014/12/bulan-nararya.html
8. http://diannafi.blogspot.com/2015/03/ngemilbaca-bulan-nararya.html

9. http://bintangitukamucinta.blogspot.com/…/belajar-psikologi-lewat-bulan-nararya.html

10. http://anfield-fullofideas.blogspot.com/…/bulan-nararya-open-up-your-soul.html

11. http://www.riawanielyta.com/2014/11/resensi-novel-bulan-nararya.html

12. http://www.lensabuku.com/1657/bulan-nararya-oleh-sinta-yudisia/

13. http://www.media.kompasiana.com/…/resensi-novel-bulan-nararya-karya-sinta-yudisia-
14. http://dhia-citrahayi.blogspot.com/2014/11/bulan-tidak-biasa.html

15. http://smartmomways.com/resensi-cinta-dan-penderita-skizofrenia/

16. http://pecandudongeng.blogspot.com/…/dunia-skizofrenik-semangat-positif.html

copy-bulan-nararya1.jpg

Fakta Unik Bulan Nararya

bulan-nararya1.jpg

1. Nararya artinya “yang mendapat kemuliaan.” Dalam bahasa Sansekerta, Nararya adalah nama lelaki. Tapi dalam bahasa Jawa, Nararya adalah nama perempuan.

2. Beberapa klinik rehabilitasi mental memang mirip klinik bu Sausan : beraroma misterius!

3. Bulan Nararya seringkali ditulis di malam hari, agar penulis mendapat feel menulis cerita menyeramkan.

4. Saat mengantuk menulis novel, ada lagu-lagu yang membuat terjaga. Salah satunya…Maher Zain!

5. Apa nama si residivis yang gila? Statistik menunjukkan, banyak anggota LP yang lambat laun menderita skizofrenia akibat beragam tekanan hidup. Bulan, adalah benda di alam semesta yang misterius. Maka, dipilihlah nama pak Bulan.

6. Yudhistira, tokoh utama, orang dengan skizofrenia memiliki hobi melukis. Melukis termasuk salah satu Art Therapy yang sangat baik bagi penderita depresi dan skizofrenia.

7. Kisah cinta Yudhistira dan Diana adalah rekaan, namun terinspirasi dari kisah nyata. Orang-orang yang tetap setia pada pasangan sekalipun mereka divonis….gila!

8. Klinik Mental ( rasanya lebih baik dari menyebutnya Rumah Sakit Jiwa) memang menyajikan beragam kelucuan yang membuat perut kita terkocok. Bukan oleh kebodohan atau pembodohan, tapi justru memperlihatkan betapa orang-orang skizofrenia ini jujur dan polos hatinya.

Skizofrenia (Gila) : from What to How (3)

Why- mengapa seseorang dapat menjadi gila?
Setelah sebelumnya membahas what-apa dan who-siapa saja yang dapat menderita skizofren, timbul pertanyaan mengapa seseorang dapat mengalami skizofren dan yang lainnya tidak? Toh ada orang yang kehilangan pekerjaan, ongkang-ongkang kaki, merokok, jalan-jalan dan tetap no problem meski menjadi beban keluarga. Ada orang yang kehilangan pacar, malah bangkit dan bolak balik pacaran serta memutuskan hubungan dengan enteng; sementara di sisi lain seorang gadis putus cinta sekali sudah berakhir di RSJ? Ada orang yang menderita diabetes mellitus , tetap optimis serta melakukan diet, kehidupan karier –cintanya berjalan begitu dinamisnya.
Mengapa terjadi skizofren?

1. Genogram : rantai faktor genetik.
Beberapa sifat kepribadian dibentuk oleh genetik, lalu dibentuk oleh pola asuh, lingkungan, gizi dst. Bila orangtua pendiam, anak-anaknya beberapa akan pendiam juga. Bila orangtua mudah cemas, anakpun demikian. Kakek nenek, ayah ibu, yang memiliki bakat skizofren akan menurunkan pula bakat tersebut pada anaknya (tentang bagaimana mengatasi, akan dibahas lebih lanjut, dilengkapi kisah-kisah sejati)

2. Batas kemampuan
Setiap orang memiliki nilai ambang.a_busy_street_by_kaipu-d4co80o
Ada orang yang sanggup makan cabai 10 dengan tahu goreng 1, tanpa kepedasan. Ada orang yang hanya makan cabai 1, sudah setengah mati pedasnya. Ada anak yang di-bully-ing tetap cuek, sekolah, asyik beraktivitas sendiri. Ada anak yang dua hari saja bermusuhan dengan sahabatnya (padahal masih banyak teman yang lain) rasanya sempit dunia. Ada orang yang tidak punya uang tetap bisa menikmati suasana, ada orang yang begitu uang di dompet tinggal 100 ribu, cemas bukan main.

Masing-masing orang memiliki nilai ambang.
Rumitnya, fisik dapat terlihat. Semisal tensi tiba-tiba naik, orang mudah menyesuaikan diri dengan diet garam, misalnya. Lalu kapan kita tahu, bahwa rutinitas sehari-hari yang tampaknya sepele ternyata menggerogoti kemampuan jiwa untuk bertahan?
Kemarahan yang mudah meledak akibat hal sepele, insomnia berhari-hari, cemas berlebihan, gemetar bila menahan emosi adalah sedikit ciri-ciri bahwa psikis mulai harus diberikan kelonggaran.

3. Tidak ada dukungan
Menanggung segala beban sendiri, tampaknya menjadi keharusan yang dipikul masyarakat millenium dewasa ini. Saat ayah ibu sibuk dengan urusan pekerjaan, remaja yang tengah berkembang dalam ledakan hormonal dan emosi tak mendapatkan bahu sebagai tempat bersandar. Seorang ibu yang kelelahan dengan setumpuk kerjaan kantor dan rumah tangga, mendapati suaminya pun memiliki beban kerja yang tak kalah beratnya.
Situasi kota yang panas, padat, membuat orang bersegera ingin menyudahi urusan dan tak ingin terlibat masalah dengan banyak orang. Semakin sedikit menjalin pertemanan, semakin sedikit masalah. Tampaknya demikian. Padahal semakin sedikit berinteraksi dengan manusia lain, semakin rentan seseorang dengan pikiran-pikiran negatifnya sendiri.
lonely

4. Tipe kepribadian
Tipe kepribadian A, B, C yang cenderung mengalami gangguan kepribadian menjadi salah satu penyebab munculnya skizofren. Sebagai contoh, tipe kepribadian A yang aneh dan eksentrik pada orang-orang yang paranoid terhadap sesuatu, membuat distorsi kognitif. Takut berbagi dengan orang lain, khawatir akan bocor, tersebar luas, alih-alih mendapat jalan keluar; akhirnya masalah hanya dipendam sendiri. Takut akan masa depan akibat pekerjaan yang belum tetap. Takut belum mendapatkan jodoh di usia yang sudah matang.

Begitupun tipe B, salah satunya narsistik. Merasa bahwa dirinya yang paling unggul, paling cantik, paling pandai dan paling pantas terhadap posisi tertentu. Sehingga dalam ajang audisi kecantikan misalnya, bila peserta lain yang mendapatkan juara akan merasa juri tak adil. Atau merasa bila pekerjaan bukan dikerjaan oleh dirinya sendiri, akan berakhir berantakan.

Atau tipe C, salah satunya obsesif kompulsif. Tak pernah yakin, selalu ketakutan bila ada hal detail yang belum ditunaikan. Takut bahwa seantero warga kota pembawa kuman berbahaya sehingga jemari tangan dan seluruh badan mudah terkontaminasi, akibatnya menjaga kebersihan dengan sangat ekstrim.crying_face_by_angeli7-d68uvtn

5. Terlalu berlebihan
Terlalu berlebihan dalam menghadapi sesuatu, menjadi salah satu faktor pemicu. Baik terlalu mempermudah, atau melebih-lebihkan. Manusia memeiliki psikodinamika yang meliputi aspek emosi, kognisi, motivasi, sosial yang harus seimbang. Terlalu berlebihan menekankan pada salah satu akan menimbulkan kerapuhan disisi yang lain sehingga ketika menghadapi situasi yang tak dapat dikendalikan oleh salah satu faktor, runtuhlah ketangguhan kepribadian.
Sebagai contoh, orang yang hanya mengedepankan aspek kognisi atau inteligensi, beranggapan semakin pandai, tinggi kedudukan seseorang; semakin kaya dan mudah hidupnya. Padahal dalam hidup banyak terjadi peristiwa tak terduga yang tak dapat diselesaikan dengan inteligensi. Orang sakit, tak akan banyak berfungsi inteligensinya, tetapi kehidupan sosial akan memberikan pengaruh. Bila kontak sosialnya baik, ia dijenguk, diringankan bebannya, insyaAllah akan segera sembuh.
Dalam usaha perekonomian misalnya, bukan hanya faktor relasi sosial dan inteligensi yang berpengaruh. Pasar banyak diatur oleh invisible hand, bila tiba-tiba collaps, maka aspek emosi yang berperan.

6. Nutrisi
Sebagian penyandang skizofren memang mengalami nutrisi yang kurang. Nutrisi ini bila dimulai sejak masa awal kehidupan, dapat mempengaruhi inteligensi dan kondisi syaraf-syaraf otaknya. Pasien-pasien di bangsal seringkali berasal dari wilayah-wilayah yang tandus, mengalami malnutrisi sejak masa pertumbuhan dan dilanjutkan dengan kesehatan yang serampangan di masa dewasa.

7. Inteligensi
Inteligensi bukan satu-satunya faktor penentu, namun turut menyumbang dalam kasus skizofren. Pengidap skizofren umumnya memiliki inteligensi di bawah rata-rata meski akhir-akhir ini ditemui pula para sarjana, orang-orang dengan kecerdasan tinggi yang mengidap skizofren.
Mereka yang berinteligensi rendah, tak mampu mencari jalan keluar bila masalah menghadang. Saat dikeluarkan dari pekerjaan, berpikir bahwa pekerjaan tersebut adalah satu-satunya lahan pendapatan. Padahal, dengan mengandalkan kecerdasan yang dikaruniakan Allah berapapun skornya, skill dan aspek-aspek yang lain, insyaAllah selalu tersedia rizki.

Skizofrenia (Gila) : from What to How (1)

Seribu satu rasa saat menghadapi pasien-pasien dengan derajat kegilaan beragam : tertawa geli, sedih, prihatin dan berujung pada perenungan. Betapa bersyukurnya kita hingga detik ini dikaruniai Allah SWT kesehatan fisik dan mental yang utuh hingga tetap menjalani aktivitas sehari-hari dengan bahagia.Pro kontra tentang penyakit mental yang satu ini akan selalu ada. Tulisan ini hanya sekedar informasi, pengamatan, dan perenungan bagi kita semua.

Schizophrenia_by_cikolatali_waffle

Hingga kini, para ahli masih terus meneliti sebab dan terapi bagi penyandang skizofren. Masyarakat yang memiliki kerabat skizofren pun menangani dengan beragam cara : ruqyah, medis, ditelantarkan atau bahkan, dipasung. Untuk yang terakhir ini, masih ditemui orang-orang yang dipasung keluarganya dari 7, 12 hingga…20 tahun! Bila ditemukan pihak-pihak yang bertanggung jawab, pasien pasung ini segera dirujuk ke Puskesmas terdekat lalu dibawa ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ). Menghadapi pasien ex pasung sungguh memilukan hati. Mereka bisa buas, bagitu paranoia hingga disapa pun segera melompat melarikan diri, diam seribu basa seribu tindakan tanpa mau bereaksi, atau bahkan harus menjalani terapi jalan sebab mereka lupa rasanya bagaimana menjadi makhluk tertinggi ciptaan Tuhan yang dapat bergerak dengan dua ekstrimitas bawah.
Skizofren disebut sebagai severe mental illnes, penyakit mental paling parah.
Ditandai dengan pecahnya kepribadian dan hilangnya reality testing ability, kemampuan untuk berpijak pada realitas. Penderita menjadi demikian impulsif, agresif, mudah mengamuk, dapat melukai orang-orang disekitar atau bahkan melukai diri sendiri. Bila kita salah menangkap maksud mereka, tak jarang mereka tiba-tiba menjadi demikian bertegangan tinggi. Mereka tidak mampu membedakan realitas kehidupan, apakah harus tertawa atau menangis. Apakah benar istrinya berselingkuh atau sebetulnya tengah pergi ke pasar. Apakah orang-orang tengah bercakap atau tengah membicarakan diri mereka, apakah anak-anak mereka sedang bermain atau tengah menggenggam pisau. Dan umumnya penderita mengatakan, “saya sehat! Kenapa harus dibawa kesini??!”

Satu ciri khas penderita skizofren : waham dan halusinasi.
Penderita skizofren umumnya mengalami waham, seperti merasa menjadi utusan Tuhan, menjadi Nabi, diberikan bisikan ghaib untuk melakukan tugas tertentu. Hal ini terkait pula dengan halusinasi, baik halusinasi auditori atau halusinasi visual. Halusinasi auditori, berarti penderita mendengar bisikan-bisikan ghaib untuk melakukan sesuatu. Bahayanya, bila bisikan ini memerintahkan mereka untuk bunuh diri atau membunuh anggota keluarga. Halusinasi visual, bila penderita merasa melihat bayangan-bayangan melintas, yang hanya ia sendiri yang dapat melihatnya.
Pengalaman di bawah, mungkin dapat memberikan gambaran.
Seorang lelaki usia matang, mendatangi saya. Wajahnya santun, tubuhnya bersih, wajahnya tersenyum. Ia menyapa saya, dan kami bertukar nama.

“Saya tuh nggak papa mbak, sehat begini. Mbak bisa bayangkan, saya dibawa kemari hari Jumat. Pas saya mau adzan sholat Jumat. Saya sudah pakai sarung, pakai baju koko. Tahu-tahu di tengah adzan saya ditangkap begitu saja…masyaAllah! Benar-benar gak tau aturan, saya mau sholat…”
Bila hanya percakapan di penggal di sini, kita akan menyatakan penjemput adalah orang-orang tak beradab. Namun, ketika percakapan mengalir, barulah kita sadar bahwa ucapan penderita boleh jadi bias.
“Kita ini dikelilingi setan, Mbak.”
Hm, benar kan yang dikatakan bapak tersebut?
“Kita dikelilingi makhluk ghaib. Saya sering melihat makhluk ghaib dimana-mana. Di jalan, di kantor, di ruangan.”
Kita bahkan dapat menyangka bahwa si bapak terkena gangguan jin!
“Apa yang Bapak lakukan bila melihat makhluk ghaib?”
“Saya hancurkan, Mbak! Saya bisa menghancurkan makhluk ghaib.”
“Wah, hebat Pak! Bagaimana caranya?” saya tanya lagi.
“Dengan tangan kosong saja. Dipukul begitu saja. Baru-baru ini saya menghancurkan makhluk ghaib, berupa batu hitam bundar yang ada di dalam beton. Betonnya hancur Mbak!”
Barulah bila diamati, sekujur tangan dan kaki bapak tersebut bengkak, dihiasi luka-luka menganga yang mulai mengering.
“Banyak setam dimana-dimana. Di ruangan ini pun ada.”
“Ohya, dimana Pak?”
“Lihat! Saya paling ndak suka lantai warna hitam. Kenapa rumah sakit ini lantainya putih dan hitam. Yang hitam itu ada setannya.”
Saya mencoba mendengarkan kisahnya yang terus berputar sektiar makhluk ghaib.
“Mbak, saya begini ini karena dibuat orang. Ibu saya yang nyantet saya!”

Begitulah.
Waham, halusinasi, delusi, campur aduk menjadi satu.
Melalui observasi dan wawancara, sesungguhnya kita dapat membedakan mana orang yang masih mampu membedakan realitas dan sesuatu yang abstrak atau orang yang sudah tak mampu membedakan keduanya.

What : apa Skizofren itu?
Skizofren adalah penyakit jiwa yang parah, ditandai dengan pecahnya kepribadian, ketidak mampuan menangkap realitas dan ditandai dengan gejala waham, delusi, halusinasi.
Berhati-hatilah menyebut seseorang sebagai penderita ketidakwarasan atau gila, sebab stigma ini acapkali menempel seumur hidup.
Hanya karena seseorang mengamuk, membanting handphone, memecahkan piring, mencaci maki dengan umpatan –misuh, kata orang Jawa- , ngomel panjang pendek, ngomong-ngomong sendiri; atau bahkan ketika seseorang merasa melihat dan mendengar makhluk ghaib; kita lantas mencapkan penderita skizofren.
Siapa di antara kita yang belum pernah marah teramat sangat?
Mungkin, di puncak amarah akibat bertengkar dengan saudara, suami, atau rekan/atasan kerja; saking tidak mampunya mengatasi keruwetan pikiran, kita memecahkan apapun untuk melampiaskan kemarahan. Tentu, ini bukan solusi terbaik namun perilaku marah kelewat batas bukan satu-satunya tanda kegilaan.
Acapkali skizofren dan depresi tercampur aduk, sebab simptomnya mirip satu sama lain.
Yang perlu dipahami, waspadai gejala halusinasi yang berkepanjangan.
1504519shutterstock-96229181780x390
Tentang bagaimana menangani waham, halusinasi atau delusi, akan dibahas lebih lanjut dalam how atau bagaimana.
Skizofren terdiri dari beberapa jenis :
1. Skizofren katatonik – mematung
2. Skizofren hebefrenik – selalu bergerak, bericara, bertindak aktif
3. Skizofren paranoid – selalu ketakutan
4. Undifferentiated skizofren

Skizofrenia (Gila) : from What to How (2)

Who – siapa saja yang dapat menderita Skizofrenia?
Umumnya, pertanyaan yang kerapkali diajukan terhadap penderita adalah :
• Adakah keluarga yang mengidap penyakit skizofren sebelumnya?
• Apa yang dialami penderita selama ini, setidaknya 6 bulan terakhir?

Genogram
Biasanya, akan dirunut silsilah genetika. Adakah saudara sekandung yang mengalami hal sama? Beberapa kasus terjadi, bahkan kakak-adik di rawat secara bersamaan di RSJ. Genogram akan merunut hingga 3 tingkat.
Pertama, penderita dan saudara-saudara kandungnya.
Kedua, ayah ibu penderita, beserta saudara-saudara kandung ayah ibu.
Ketiga, kakek nenek penderita. Bila memungkinkan silsilah genetika saudara kandung kakek nenek.
Secara sederhana, mungkin jawabannya seperti ini, “ iya, memang kakeknya dulu juga pernah sakit seperti ini.”
Tapi jawaban yang terjadi mungkin demikian,” si X ini amat sangat keras wataknya, nggak pernah bisa mentolerir kesalahan orang. Makanya musuhnya banyak. X ini keras sekali wataknya, persis seperti kakeknya.”

potret-diri-Skizofrenia-2752014

Orang dengan tipe Kepribadian A, B, C?
Sebagian orang memiliki gangguan kepribadian yang dibagi dalam kelompok A, B, C. Belum tentu berujung pada skizofren , apabila seseorang mendapatkan daya dukung yang dibutuhkan.
Tipe A : paranoid, skizoid (isolasi sosial), skizotipal (perilaku, persepsi, keyakinan ganjil)
Tipe B : orang-orang yang terlalu dramatis, emosional, eratik . Masuk didalamnya antisosial, ambang, histrionik, narsistik
Tipe C : orang-orang yang celalu cemas dan ketakutan. Termasuk pula kepribadian menghindar, dependen, obsesif kompulsif.

Bukan berarti orang dengan kepribadian skizotipal berujung pada skizofrenia, sekali lagi, bila seseorang memiliki daya dukung yang dibutuhkan.
Sepasang kakak adik memiliki kemampuan melihat hal yang ganjil (skizotipal). Mereka mengaku senantiasa dikuntit makhluk ghaib, bahkan ketika tidur tak jarang kakak adik ini bangun dengan posisi berpindah tempat. Bukan sekedar tidurnya, tapi ranjang dan segala isi kamar ikut berubah. Namun, karena berasal dari keluarga yang hangat, ibu yang menjadi tempat curhat, kakak adik ini survive dan akhirnya hilang sama sekali tipe skizotipalnya (lihat pada tulisan how-bagaimana nanti)
Contoh lain skizoid.
Umumnya, ini dialami kelompok minoritas, migran, tahanan politik. Maka, tak jarang yang terpaksa menginap di bangsal RSJ adalah kaum urban yang mengalami tekanan sosio kultural.
Seorang gadis mengalami skizoid, merasa terisolasi sosial dan memang ia suka mengisolasi diri akibat ayahnya tahanan politik. Namun, karena ia cerdas, ia tumpahkan semua rasa sepi dan pedih itu dengan berprestasi akademis setinggi-tingginya. Lambat laun, dengan prestasi akademisnya, ia semakin percaya diri dan orangpun tak terlalu ambil pusing dengan kiprah buruk ayahnya. Sekalipun ia skizoid dan suka mengisolasi diri, ia tetap merasa nyaman.
Namun, disisi lain, orang-orang A, B, C dapat mudah menjadi skizofren bila ia tak memiliki daya dukung yang dibutuhkan.
Sebagai contoh, seorang lelaki X selalu berusaha menghindari apapun yang menjadi tanggung jawabnya (tipe C). Ia tak pernah mencoba menanggung beban sebagai suami dan ayah, selalu mengeluh dengan kondisi, tak mau bekerja dengan gaji ala kadarnya, ingin kerja enak dengan penghasilan tinggi. Ketika kondisi keluarga semakin terhimpit, istri X akhirnya bangkit untuk bekerja. Kondisi ini mematahkan X dan ia makin lama makin terpuruk sebelum akhirnya terdampar di bangsal RSJ.

13031171-the-word-deadline-circled-on-a-calendar-to-remind-you-of-an-important-due-date-or-countdown-for-yourHigh Tension Culture
Siapapun, bila tidak berhati-hati dapat mengalami depresi.
Depresi tidak selalu berujung skizofren. Namun bila semakin terpuruk, tak memiliki teman seorangpun, selalu menyendiri dan menjalani situasi ekstrim –berdiam di kamar gelap, merenung tanpa tujuan di malam-malam hari- halusinasi, delusi, waham dapat muncul.
Bisikan ghaib. Ajakan untuk melakukan hal buruk. Membunuh diri, atau membunuh yang lain. Dalam tubuh terdapat dua atau tiga orang yang tarik menarik melakukan sesuatu.
Tekanan luarbiasa pada masyarakat high tension culture membuat orang-orang dikejar kebutuhan untuk memiliki uang, gadget, kendaraan, pakaian, gaya hidup, penampilan, bersosialita yang tiada putusnya untuk dikejar. Bagi anak-anak remaja, melihat temannya memiliki motor atau pacar, rasa dada sesak. Bagi seorang ayah, melihat ayah yang lain memiliki mobil, rasanya sesak. Bagi seorang ibu yang setiap hari terbelit urusan dapur, melihat tetangga melenggang shopping dan ke Spa, rasanya sesak. Belum lagi masing-masing individu semakin sibuk dengan diri, semakin sibuk dengan urusan dan semakin sibuk dengan gadgetnya. Ayah ibu semakin mengejar kebutuhan ekonomi yang memang mendesak, hubungan keluarga renggang, masing-masing kelelahan dalam urusan sendiri dan lambat laun pribadi-pribadi rapuh ini akan retak sebelum pecah berkeping.
Mereka yang berpembawaan melankolis, antisosial, skizoid semakin tak punya teman bila berada dalam lingkungan yang individualis. Tentu saja, kita tak dapat menyalahkan laju zaman. Diperlukan skill yang lebih terasah untuk mengatasi budaya tegangan tinggi.
Akibatnya, orang-orang yang memilih tinggal di kota-kota besar lebih rawan ditimpa beragam gangguan kepribadian. Begitupun orang-orang yang tinggal di rural area, yang memutuskan untuk menjalani kehidupan kaum urban. Bila tak siap dengan tekanan dan kehidupan serba cepat, dapat berujung pada depresi berkepanjangan, dan bila dibiarkan tanpa perawatan dapat pecah kepribadian.

Minus
Kehidupan serba minus dapat membawa seseorang terpaksa menjalani rawat inap di bangsal RSJ. Minus skill, minus kesehatan, minus agama, minus pendidikan, minus dukungan. Dalam kasus minus kesehatan, tidak melulu orang-orang dari golongan ekonomi lemah. Banyak yang dari kalangan mapan, kesehatannya terganggu akibat pola hidup tak sehat.
Seseorang yang kehilangan pekerjaan, memilih menghabiskan waktu dengan empat bungkus rokok sehari dan sebagai teman sempurna, bergelas-gelas kopi. Akibatnya, ia tak dapat tidur berhari-hari, kesehatannya memburuk, ketika serangan halusinasi datang.
Ada lagi seorang perempuan yang mengalami diabetes. Apa hubungannya dengan skizofren? Seiring dengan penyakit yang diderita, tubuhnya menyusut. Ia merasa tak cantik lagi, depresi berat, tak mampu melayani suami dan pada akhirnya muncul delusi bahwa suaminya berselingkuh.