Kontroversial Video Logan Paul tentang Aokigahara dan Upaya Mengatasi Commit-Suicide

 

Kita selalu merinding mendengar kata bunuh diri atau commit suicide.

Kematian adalah salah satu hal yang pasti akan dialami makhluk hidup. Namun bagaimana akhir hidup manusia, sungguh merupakan perenungan bagi kita semua. Sebagian manusia meninggal karena wabah kelaparan, peperangan, bencana alam, endemi penyakit atau human error seperti kebakaran dan kecelakaan. Walau bila bicara takdir, maka semua telah tertulis di lauhil mahfuz.

Tetapi, menjadi kewajiban manusia beriman dan berakal untuk mencermati segala fenomena yang terjadi dan berupaya sebaik mungkin menanggulanginya. Wabah penyakit misalnya, manusia berupaya sebaik mungkin untuk mengenali demam berdarah; mulai mencegah, mengenali tanda, memberikan pertolongan pertama hingga memberi perawatan sampai mencapai taraf kesembuhan. Belum lama ini di wilayah Jawa Timur utamanya Surabaya, dikejutkan dengan wabah difteri. Maka pemerintah dan masyarakat ramai-ramai menggalakkan vaksin.

Bencana yang disebabkan human error misalnya, pun dicoba diatasi sebaik mungkin.

Kebakaran? Banjir?

Kalau disebabkan karena buang puntung rokok sembarangan, sampah menumpuk; maka semua harus diantisipasi. Kecuali apabila kemarau panjang yang menimbulkan kebakaran dahsyat seperti di Australia tempo hari. Bagaimana dengan commit suicide? Apakah ia human error ataukah takdir yang tidak dapat diubah?

Kembali, kita tidak akan membahas takdir namun kita akan berupaya sebaik mungkin untuk mengatasi, atau mencegahnya.

Chester Bennington, Jonghyun dan Marilyn Monroe

Sederet artis papan atas dikabarkan bunuh diri.

Yang terus dikenang sepanjang zaman adalah Marilyn Monroe. Artis cantik nan sensual ini, seharusnya mendapatkan apa saja yang dapat diraih dunia; bila kebahagiaan itu senilai materi. Tetapi, Monroe tidak mendapatkannya. Ia mengalami abuse sejak kecil, suami pertamanya memperlakukan tidak baik dan pada akhirnya ia menjadi bintang bom seks. Monroe mendambakan kehidupan sebagai istri dan ibu, maka ia pernah berkata : “kalau perempuan disuruh memilih antara karier atau keluarga, pilihlah keluarga. Aku sangat ingin punya anak dari rahimku sendiri.”

Ya.

Monroe yagn sensual dikabarkan berkali-kali mengalami keguguran.

Menjelang akhir hayat ia menjalin kasih dengan JF Kennedy, dan sungguh ia berharap itu merupakan kisah cinta sejati. Meski kerabat dekat sudah mengingatkan, mustahil Monroe menjadi first lady karena meski ia sangat menawan sebagai bom seks, publik Amerika tetap akan memilih Jacquline Onassis sebagai ibu negara!

Chester Bennington pun memiliki masa lalu yang sangat tak stabil. Vokalis idola anak muda yang sangat legendaris dengan Meteora nya ini, mengakhiri hidup sehingga publik merasa sangat terkejut sebab sangat sedikit grup musik semacam Linkin Park. Nyaris tak percaya di puncak keberhasilan, dipuja jutaan penggemar, memotivasi anak-anakmuda, menghentak dengan genre rock berbeda; tetap saja tak membuat Bennington nyaman dengan semuanya.

Jong Hyun?

Books about Korea

Kita akan memahami mengapa ia memilih mengakhiri hidup bila telah membaca Korean Cool –Euny Hong.

“Setiap negara maju, pasti memiliki ironi,” tulisnya. Bila belum memiliki ironi, maka ia bukan negara maju. Dengan kata lain, menurut Hong, kemajuan negara pasti akan menimbulkan paradoks. Negara yang makmur, maju, tenang, damai, sukses; belum tentu terlihat seperti apa di permukaan. Kerja keras pejabat dan rakyat, kadang harus dibayar mahal. Untuk menciptakan kemakmuran setiap orang harus bekerja lebih dari waktu rata-rata. Setiap orang harus berpikir untuk maju, sukses, berhasil; dan mereka yang menghambat kemajuan akan terpinggirkan.

Euny Hong menyebutnya ‘masa perbudakan’. Setiap warga Korea paham, bila belum mencapai target, mereka akan rela dalam masa perbudakan. Itulah sebabnya, boyband dan girlband rela berada dalam masa karantina dari 5 hingga 13 tahun. Mereka berlatih vokal, berlatih menari, berlatih tampil, berlatih manggung dan seterusnya hingga ketika debut muncul : sempurna. Sehari latihan bisa memakan waktu belasan jam, kalori makanan terkontrol dan aktivitas harian pun terjadwal.

Inilah ironi.

Dunia berdecak dengan hallyu yang menganeksasi dunia. Berbeda dengan Amerika yang daya serangnya hard melalui milter dan ekonomi, Korea Selatan sangat soft : melewati budaya. Dan betul kata Hong , “Korea memiliki apa yang tak dimiliki Amerika. Kami pernah menjadi negara dunia ketiga. Jadi kami pernah tahu bagaimana rasanya menjadi terbelakang.”

Kita mengelu-elukan boy band dan girl band. Tapi pernahkah kita tahu apa penderitaan mereka, ratapan hati, tangis dan kelelahan di balik panggung? Sekali mereka melakukan kesalahan, hujatan mengalir.  Lebih gemuk, berjerawat, bermuka masam dan sejenisnya; publik menghujat. Padahal para idol adalah manusia juga yang ingin sesekali menjadi diri mereka apa adanya. Ingin bersantai, bermalas, membangkang; yah, mirip anak muda pada umumnya.

 

Aokigahara dan Bunuh Diri

Hutan Aokihagara dan film the Forest

Pernah lihat film the Forest yang mengambil tempat di Aokigahara? Aokigahara terletak kurang dari 100 mil arah barat Tokyo, terkenal karena keindahan hutan dan gua-guanya yagn eksotik. Serta, pepohonan rimbun yang menjadi tempat persembunyian sempurna bagi orang-orang yang ingin mengakhiri hidup.

Budaya bunuh diri Jepang sangat dikenal masyarakat dunia, sebagian berdecak kagum, sebagian sangat menentang. Seppuku, kamikaze, harakiri dan sejenisnya merupakan  tindakan lelaki Jepang dalam mempertahankan kehormatan. Mereka lakukan bila kalah perang atau justru melakukan serangan bunuh diri untuk menyentak lawan. Tradisi yang awalnya dipakai sebagai upacara kehormatan ini bergeser menjadi sebuah perilaku yang bukan hanya dilakukan kaum militer tapi masyarakat biasa. Bila dulu orang mengenal tradisi bunuh diri dilakukan oleh para samurai yang kalah tanding dan para serdadu Jepang ketika kalah perang dunia ke-2; maka orang-orang zaman kini lebih mudah melakukan tanpa melewati perang tanding atau perang medan laga. Yang penting merasa ‘kalah’ maka bunuh diri dilakukan. Kalah dalan cinta, kalah dalam akademis, kalah dalam bisnis, kalah dalam pekerjaan, kalah tidak mencapai apa-apa. Kalah, bahkan sebelum kita mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri.

 

Hutan Aokigahara dan Logan Paul dengan video kontroversialnya

 

Cara memandang bunuh diri bagi masyarakat Jepang dan masyarakat dunia lain, pasti berbeda. Vlogger yang mungkin memandang konsep bunuh diri secara berbeda, adalah Logan Paul yang videonya tengah viral.

Paul Logan bisa mengolok-olok Aokigahara dan tradisi bunuh diri masyarakat Jepang sementara videonya menempati ranking 10 teratas dunia. Kontan, publik mengecam youtube karenea video itu bebas ditonton. Saya tidak akan membahas dunia maya sebab tidak memiliki kehalian di sana, tetapi lebih memilih menyikapi bagaimana kita memandang bunuh diri sebagai sebuah tradisi, dan sebagai sebuah perilaku yang tampaknya mulai lazim dilakukan.

 

Mengapa Bunuh Diri?

Sungguh, keprihatinan ini menyeruak mencermati kondisi sekeliling. Apalagi, tradisi bunuh diri lekat dengan masyarakat Jepang dan sekarang Korea Selatan, yang gelombangnya tengah diminati anak-anak muda Indoensia. J-pop dan K-pop sangat memikat; maka tak ada salahnya kita mencoba memelajari kultur kedua bangsa tersebut dan mengambil apa yang baik bagi Indoensia dan menyaring apa yang kurang tepat bagi bangsa ini.

Di novel Polaris Fukuoka, dikisahkan Yamagata Isao bunuh diri. Adiknya, Nozomi sempat berniat melakukan hal yang sama tetapi persahabatannya dengan Sofia mencegahnya melakukan hal ini. Mengapa Isao bunuh diri? Tekanan akademik dan tuntutan orangtua, yang berseberangan dengan bakat minatnya, membuat dirinya melakukan hal itu.

Mengapa saya mengangkat tema ini?

Saya pernah melakukan tes bakat minat untuk anak SMP. Dan ketika hasil tes keluar, saya konsultasikan dengan guru-guru sekolah; tampaklah bahwa orangtua tidak dapat menerima begitu saja bakat minat anak mereka. Ada seorang anak yang memiliki dua orangtua sukes sebagai ahli medis. Orangtuanya berharap anaknya pun seperti itu. Padahal ketika tes bakat minatnya keluar, yang muncul adalah kecenderungan literasi, aesthethic dan social service! Sungguh tidak nampak kecenderungan ke sains dan medikal. Sangat disayangkan bila orangtua masih memaksa anak-anaknya menjadi sesuatu, karena pertimbangan status dan ekonomi.

 

Kutipan percakapan Sofia dan Nozomi membahas bab bunuh diri

Demikian pula Isao.

Ia yang sesungguhnya ingin jadi pemusik, dengan kecerdasan otaknya dipaksa harus menjadi mahasiwa di universitas terkemuka. Begitu pula Nozomi. Tentu saja, diharuskan demikian karena bisnis keluarga mengharuskan para pewaris harus menekuni ilmu tertentu dan menguasai keahlian tertentu; walau bakat minat tidak mendukung.

Demikianlah, sebuah ironi.

Kemajuan dan kemapanan, bila tanpa pemahaman emosional yang baik dan pendekatan nurani akan menimbulkan kekacauan hati dan kegalauan pikiran. Dan, begitu mudahnya orang memutuskan bunuh diri ketika kalah.

“Di titik apa seseorang memutuskan bunuh diri?” tanya Sofia pada Nozomi.

“Di titik ketika mereka merasa diabaikan,” jawab Nozomi.

 

Perbedaan Budaya dan Tradisi

Eropa dan Amerika berbeda.

Di wilayah ini, kultur individualis telah terasah sejak dini. Kemandirian, memutuskan sesuatu secara individual dan bukan kolektif; biasa dilakukan. Anak tidur terpisah sejak kecil, anak usia 18 tahun bebas hidup serumah dengan pacarnya, anak remaja naik mobil dan mengkonsumsi alkhol ; sudah diputuskan sejak usia 18 tahun. Diabakan, hidup sendiri, sudah menjadi kebiasaan; walau akhir-akhir ini fatherless family pun memunculkan masalah baru. Terbiasa mandiri dan individualis itu bukannya tanpa masalah.

Bagaimana dengan dunia timur : Indonesia, Jepang, India, Korea?

Kita masyarakat kolektif.

Menikah butuh pertimbangan paman bibi, kakak adek, kakek nenek, tetangga sepupu dll.

Kuliah pun demikian. Cari jodoh pun demikian. Bekerja pun demikian. Maka pertimbangan banyak orang seringkali jadi perhatian yang memusingkan. Walau diri sendiri sudah tak mampu menanggulangi, tetap harus memikirkan oranglain. Inilah ironisnya.

Perasaan tertekan dan tidak mampu mengungkapkan apa yang ada di dalam benak dan hati; bagi masyarakat timur lambat laun menjadi batu yang menghimpit. Maka bila tidak dikomunikasikan, disalurkan dengan baik; di titik tertenu menajdi perasaan kalah yang membabi buta : mati lebih enak (seperti sebuah novel karya Alistair Maclean). Walau ternyata, di novel tersebut dikisahkan, perjuangan seseorang untuk mati sama sulitnya seperti perjuangan seseorang yang mencoba hidup!

 

Mengatasi Bunuh Diri

Peduli, itu kuncinya.

Mindfulness of others, cobalah mempertimbangkan pikiran dan perasaan orang lain. Cobalah peduli dan berbicara pada orang yang tengah membutuhkan sandaran dan telinga; sebagaimana yang dilakukan Sofia dan Tatsuo pada Nozomi. Memang, orang yang tengah punya masalah bisa jadi sangat membebani. Mereka mengungkapkan keluhan dan permasalahan sementara orang yang tengah mendengarkanpun jugamemiliki segudang masalah yang tak kurang beratnya; tetapi itu dilakukan karena hati dan batin mereka, mental mereka sedang rapuh dan sakit. Kalau kita sedang banyak pikiran, inginnya mengomel, kan? Lagi marah, pinginnya mengumpat. Lagi sedih, inginnya meratap dan menangis.

Demikian pula dengan orang yang punya banyak beban menghimpit, sampai tak tahu harus bagaimana lagi. Mereka ingin mengosongkan pikiran dan hati yang pepat, ingin mencurahkan keluar, ingin mencari tempat pelarian. Masih untung bila mereka menemukan teman, sahabat, saudara yang jadi tempat berbagi. Kadang, ingin curhat di medsos bukannya dapat simpati dan empati; malah dimaki-maki.

Maka, di pusat-pusat rehabilitiasi mental kita akan menemui orang yang afeksinya tumpul. Sedih banget, mendapat penderitaan bertubi, menerima kemalangan beruntun; malah tertawa (ini sebetulnya salah satu tanda ketumpulan afeksi yang harus diwaspadai) Orang skizofren tidak lagi tahu beda bahwa sedih itu menangis dan senang itu tertawa. Mereka marah, senang, sedih, biasa, akan  selalu tertawa. Depresi dan skizofrenia yang akut; bisa menimbulkan pemikiran shortcut . Entah itu melukai oranglain, atau bila tak memiliki kekuatan melukai oranglain, akan berbalik melakukan self-harm. Awalnya hanya menjambak diri sendiri atau membenturkan kepala, tetapi lambat laun bila tak tertahankan, akan melakukan hal pintas yang dianggap mengakhiri penderitaan.

Bunuh diri adalah perilaku yang harus diwaspadai.

Berbeda dengan pelaku free sex, drug abuse, pornografi dsb yang masih dapat diperbaiki, bunuh diri sungguh fatal sebab pelakunya langsung meninggal dan tak ada lagi yang dapat diperbaiki. Maka pemerintah dan masyarakat harus waspada terhadap kasus ini. Paul Logan mungkin harus mendapatkan peringatan tetapi videonya membuat orang terhenyak : apakah sekarang perilaku bunuh diri sudah tidak membuat orang menjerit, menangis, dan ngeri; tetapi malah membuat orang excited dan tertawa? Apakah sesungguhnya Logan Paul itu kita : semakin lucu (meski prank dan menyusahkan orang), semakin menakutkan, semakin sadis, semakin membuat bulu kuduk merinding maka itu akan membuat klik meninggi dan viewers membanjir?

Semoga video Logan Paul tidak mencerminkan kita. Ia telah membuat klarifikasi videonya tentang Aokigahara yang terkenal sebagai  suicide forest. Di video tersebut, Logan Paul mengambil video dengan latar belakang tubuh orang yang mati bunuh diri sembari tertawa-tawa dan mengunggah ungkapan yang kurang pantas.

Ke depannya, kita harus mewaspadai dengan perilaku dan kecederungan teman-teman kita, keluarga kita untuk beunuh diri.

Atau bahkan, kita harus mewaspadai diri sendiri, apakah telah tampak keinginan untuk bunuh diri?

 

 

Iklan

#Jodoh (1) : Perlukah Tes Kepribadian untuk Memilih Suami / Istri?

Kasus 1

Seorang gadis, sebut namanya Ina, menangis ketika tahu keadaan calon suaminya. Ia dan Anton (samaran) berniat menikah selepas Ina kuliah. Mereka satu almamater dan berkenalan di kampus, disibukkan dengan agenda masing-masing dan menyepakati akan segera ijab qabul setelah selesai kuliah. Beberapa kali Anton masuk rumah sakit dan Ina tidak terlalu menanggapi. Ina berpikir, orang masuk rumah sakit karena DB atau tipus adalah hal biasa. Tetapi suatu ketika saat Anton masuk rumah sakit, Ina mengutarakan kepada orangtua Anton keinginan untuk menjenguk. Orangtua Anton menolak dengan alasan putra mereka butuh istirahat. Ina curiga. Sebab tidak ada teman-teman Anton yang menjenguk dan ia pun tertolak. Ina mengupayakan berbagai cara untuk mencari tahu dan alangkah terkejutnya Ina ketika pada akhirnya menemukan fakta, calon suaminya dirawat beberapa kali di …rumah sakit jiwa. Berlinang air mata Ina. Ingin ia meninggalkan Anton tetapi di sisi lain, Ina merasa Anton adalah lelaki yang sangat baik. Tulus. Jujur. Apa adanya.

 

Kasus 2

Sebut namanya Ayu. Seorang pebisnis sukses dan memiliki keluarga yang bahagia. Anak-anaknya cerdas dan pintar, dikaruniai suami lelaki yang baik dan penyayang, Adi (samaran). Dari luar, tentu banyak yang iri pada Ayu. Tetapi Ayu menyimpan masalahnya sendiri. Bertahun-tahun dalam kehidupan mereka, ialah yang menjadi tulang punggung. Mencari nafkah, berjualan apapun hingga laris manis dikenal pelanggan, mampu membeli properti dan mobil yang diinginkan. Termasuk, ia membayar hutang-hutang keluarga, utamanya hutang sang suami. Adi lelaki sholih tetapi ia tidak cukup tangguh sebagai pencari nafkah. Dahulu, Ayu menerima pinangan Adi karena melihat keluarga Adi kakak-beradik. Mereka orang-orang tough dan pejuang keras. Adi sendiri sebetulnya lulusan Universitas bergengsi. Tetapi ternyata, dari keluarga besar Adi, dialah yang berbeda. Jauh di luar dugaan Ayu, Adi ternyata tak memiliki daya tahan sebesar saudara-saudaranya.

 

*********

Ina, pada akhirnya berketetapan hati untuk menerima suaminya yang skizofrenia. Penanganan ODS- orang dengan skizofrenia ( untuk menghormati mereka, maka tidak disebut ‘pengidap, penyandang, penderita’) telah mencapai kemajuan pesat. Farmakologi alias bantuan obat-obatan dibutuhkan sepanjang hayat. Karena Anton menunjukkan gejala yang mirip sepanjang tahun, maka akan dapat diprediksi kapan datangnya gangguan. Yang penting, situasi dan lingkungan harus terkontrol. Anton kemungkinan harus tinggal di kota yang tenang, jauh dari tekanan dan kebisingan.

Begitupun Ayu.

Setelah ia menyadari bahwa kepribadian suaminya berbeda dari saudara-saudaranya terdahulu, bahwa suaminya memiliki potensi sendiri yang mungkin dalam pandangan orang terstigma sebagai pemalas dan orang yang enggan bekerja keras; Ayu  dapat menerima dan perlahan mencoba memahami. Konflik dan perang dengan suaminya masih berlangsung sesekali, namun kognisi Ayu mulai dipenuhi pemahaman sedikit demi sedikit.

Ada pernyataan menggelitik dari seorang psikolog.

Ia berharap, ada tes psikologi ketika sepasang calon suami istri akan menikah. Sebab menurutnya, tes psikologi sama pentingnya dengan imunisasi tetanus dan cek HIV Aids. Tes psikologi  akan memberi bekal bagi pasangan seperti apa kondisi belahan jiwa mereka.

 

Menilai Pasangan dalam Konsep Dunia Kuno

Sesungguhnya, menilai seseorang untuk masuk bursa kerja atau masuk bursa menantu/pasangan hidup telah dilakukan sejak zaman kuno. Kalau anda orang Jawa, pasti pernah dengan namanya weton. Weton ini mencakup hari lahir dan hari pasaran. Misal Senin Pon, Selasa Pahing, Rabu Legi dan macam-macam lagi. Orang Jawa yang memegang teguh aturan ini akan punya prinsip :  menikah harus hari ini, tidak boleh makan ini itu, dst. Secara pribadi saya kurang setuju dengan yang berbau khurafat atau takhayul. Namun tentang weton, saya melihatnya mirip zodiac.

Weton dan zodiac memprediksi tipe kepribadian seseorang. Namanya prediksi, tentu tidak mutlak 100% salah.

“Lho, katanya Aquarius tenang, kalem, menghanyutkan. Nyatanya dia keras dan gak bsia kompromi.”

“Ngakunya Leo! Pemimpin dan pendobrak, inisiator. Ternyata lahirnya doang yang Agustus, tapi nyalinya kayak anak kecil!”

Saya pernah bertanya tentang orang-orang yang saya kenal,  diprediksi wetonnya.

Sebut Tia dan Andi. Dua orang ini ternyata setelah ditelusuri memiliki weton yang keras. Harusnya mereka tidak menikah, tapi karena takdir  maka menikahlah. Orang-orang Jawa yang memegang filosofi Jawa dengan kuat mengatakan, orang seperti Tia dan Andi ini kalau tidak tirakat alias menahan diri dari segala godaan (godaan makan, godaan harta, godaan bicara, godaan marah dst) akan remuk redam rumah tangganya. Saya pikir ada benarnya. Sebab Tia dan Andi ini sama-sama keras kepala. Ampun dah kalau mereka sudah bertikai. Tidak ada yang bisa melerai selain diri mereka sendiri. Meminta Tia mengalah? Haduh, dia akan berkomentar bahwa dirinya sudah berkorban ini itu. Andi mengalah? Dia bilang sudah banyak mengalah sebagai laki-laki. Jadi? Syahwat Tia dan Andi dalam banyak hal belum dapat dikendalikan seperti syahwat bicara, dst. Istilah orang sekarang nyolot. Baik Tia atau Andi bisa berkata-kata yang membuat ubun-ubun berasap. Lha saya yang tidak seatap aja bisa panas kuping, apalagi mereka yang seatap seranjang saling melempar kata-kata tajam mendengar pilihan kata-kata mereka yang kelewat tajam.

Kejadian yang lain, sebut namanya Donna dan Rangga.

Sama seperti Tia dan Andi yang wetonnya tak selaras, Donna dan Rangga ini mendapat peringatan dari banyak kalangan bahwa pernikahan mereka akan penuh tantangan. Saya sependapat dengan para penasehat Jawa. Secara psikologis, Donna dan Rangga sama-sama anak mami yang sepanjang hidup mereka, sang Bunda mengambil alih peran kemandirian dan tanggung jawab. Alamak! Dua orang yang belum mandiri, manja, egois disatukan dalam satu mahligai. Yah, dapat ditebak Donna dan Rangga menjalani hari-harinya. Sampai-sampai seorang penasehat Jawa berkata : kalau keduanya tidak puasa Daud, pernikahan tersebut akan buyar.

Menilai (Calon) Pasangan dari Sudut Pandang Psikologis

Menurut saya, tes kepribadian masih relevan untuk dilakukan bagi mereka yang ingin menikah; asal jangan tes inteligensi (kecuali bila sangat diperlukan). Sebab pernah terjadi kasus, sepasang calon pengantin akan menikah dan iseng-iseng mereka tes inteligensi. IQ si lelaki ternyata jauh di bawah perempuan dan calon mempelai itu lalu membatalkan rencana pernikahan mereka!

Tes kepribadian ada banyak sekali.

Yang sederhana, untuk dapat memahami OCEAN – openness to experience, conscientiousness, extraversion, agreebleness & neuroticm. Manakah yang lebih dominan, manakah yang lebih rendah? Tes kepribadian inipun sebaiknya berupa anjuran, bukan seperti cek HIV Aids atau imunisasi yang lain. Sebab, di Indonesia pemahaman tentang dunia psikologis masih belum sepenuhnya diterima.

Dari sini, calon suami atau istri bisa mendapatkan data yang mungkin suatu saat dibutuhkan. Bila ternyata dengan data tersebut dia bersedia menerima dengan segala konsekuensinya, Alhamdulillah. Kasus Ina dan Anton adalah salah satu kasus sangat ekstrim. Sungguh indah kata-kata Ina.

“Mengapa saya sok suci dan sok baik, sok pintar dengan menilai Anton? Memang dia ODS, tetapi sepanjang saya berhubungan dengan lelaki, Anton lah yang paling baik. Saya belum pernah menemukan lelaki sebaik dia. Dia jujur, tulus, apa adanya. Saya khawatir ketika meninggalkannya, justru tidak mendapat lelaki sebaik dia.”

bulan nararya

Bulan Nararya : novel psikologis dengan kisah seorang perempuan yang memiliki suami ODS

Memang, orang-orang seperti Anton ini memiliki kekurangan di bidang stabilitas mental. Namun seringkali, orang-orang seperti ini yang sangat baik hatinya. Hati mereka suci dan murni, tidak memiliki prasangka dan kebencian sama sekali. Ah, memang Allah memberikan satu kelebihan dibanding yang lain. Lagipula, sebagai orang terpelajar, Ina lalu banyak belajar tentang ODS dan cara penanggulangannya; termasuk rutinitas mengkonsumsi obat dan mempersiapkan rencana masa depan. Masyaallah…cinta yang indah ya? Mengingatkan saya pada novel Bulan Nararya.

Ketika telah memiliki data tentang gambaran kepribadian calon pasangan, atau mungkin ketika kita telah  menikah dan baru tahu tentang tes kepribadian ini; gunakan data ini secara bijak. Jangan sampai ketika tahu kekurangan (calon) pasangan maka kita serta merta mundur atau meninggalkan. Boleh jadi watak pasangan keras dan tidak mau kompromi; tetapi dia tipologi orang yang mudah didinginkan dengan sentuhan dan kelembutan. Boleh jadi pasangan seorang pencemas dan selalu punya pandangan negatif terhadap segala sesuatu; tetapi di sisi diri kita yang punya sifat optimis dan terbuka, si dia akan melejit potensinya.

Ingat, Kepribadian BUKAN Inteligensi!

Ayu dan Adi, Tia dan Andi, Donna dan Rangga mungkin terkecoh . Lelaki pilihan hidup mereka adalah lelaki brillian di dunia kampus dan dunia kerja. Adi, Andi, Rangga adalah orang-orang dengan inteligensi jauh di atas rata-rata; terbukti dari kemampuan akademis mereka dan keahlian bisnis mereka.

Perempuan seperti Ayu, Tia, Donna ‘terkecoh’ bahwa orang dengan inteligensi tinggi pastilah orang yang dapat diandalkan. Ternyata belum tentu demikian. Orang dengan inteligensi atau IQ tinggi belum tentu memiliki kematangan pribadi, mampu bersikap dewasa, dapat mengambil keputusan tepat di situasi sulit, menjadi solution-maker di saat kritis dan sederet harapan kita yang melambung tinggi.

Kadang, orang dengan IQ tinggi justru memiliki relasi kurang baik dengan manusia lain. Kadang orang dengan IQ sedang atau bahkan di bawah rata-rata dapat memiliki hubungan hangat dan harmonis dengan sekitar. Pendek kata, ketika memilih pasangan, janglanlah silau oleh sesuatu yang terlihat sebagai pencapaian, prestasi, kehebatan dan seterusnya.

“Wah, pasanganku aktivis kampus. Pasti dia keren!”

“Dia jadi pembicara dimana-mana, tentu senang kalau jadi pasangan hidupnya.”

“Pengusaha muda, pintar, kaya. Siapa yang nggak mau jadi istrinya?”

Inteligensi atau IQ sering dapat tampil ke permukaan tetapi karakter seseorang dapat tersembunyi jauh di dasar perilaku keseharian dan baru terlihat gambaran sesungguhnya ketika seseorang telah seatap, serumah, semeja makan, seranjang. Ada kan, orang yang demikian hebat di kantor, disenangi atasan, rekan kerja dan anak buah; namun di rumah perilaku dan kata-katanya sangat kejam kepada istri/suami dan anak-anak? Yang tampil di luar rumah adalah persona dirinya yang terpoles rupawan, yang ada di rumah adalah citra dirinya yang sesungguhnya.

Tes kepribadian untuk melihat profil psikologis pasangan, tentu harus hati-hati diputuskan.

Tes kepribadian untuk merekrut karyawan atau manajer telah lazim dilakukan, sebab ketika tertolak, calon pekerja dapat mencari pekerjaan lain. Tetapi profil kepribadian seseorang dalam rangka memilih atau dipilih sebagai pasangan hidup, dapat menjadi stigma yang melekat sepanjang waktu. Apalagi bila kemudian orang dengan hasil profil negatif, ditolak untuk menjadi calon menantu atau calon istri/suami.

Saya pernah melakukan tes kepribadian kepada seorang gadis, sebut namanya Lusi. Hasil tes kepribadiannya sungguh ‘ajaib’ sebab jalan kehidupan di belakang Lusi demikian traumatik. Rasanya ngeri membayangkan gadis seenergik Lusi memiliki kisah hidup sedemikian rupa. Saya sampaikan kepada lelaki yang baru menikahinya.

“Tahukah anda seperti apa masa lalu Lusi?”

“Saya tahu dengan persis Mbak, karena itu saya siap menikahinya dengan segala konsekuensinya.”

Lelaki sholih ini, sebut namanya Sholih, memang mencoba menepati janjinya. Ia selalu bersiap ketika Lusi tiba-tiba mengalami tremor hebat dan pingsan di jalan terkena situasi traumatik. Salah satu yang disiapkan Sholih adalah ia telah mengatur jadwal pekerjaannya dan berkomunikasi dengan rekan-rekan sekerja bahwa sewaktu-waktu ia harus keluar mendadak dari kantor sebab Lusi membutuhkan bantuan dirinya. Sholih juga memiliki beberapa nomer telepon darurat yang akan selalu dikontak untuk memastikan Lusi baik-baik saja.

Tentu ssaja, tes kepribadian untuk memahami pasangan ini tak diperlukan bila kita betul-betul telah memahami dia dengan sebenar-benarnya. Kadangkala, ada sisi keraguan dalam diri, apakah dia persis sama seperti kesehariannya di luar rumah? Benarkah ia penyayang? Benarkah ia orang yang lembut dan seterusnya.

 

Insyaallah bersambung:)

 

 

 

1 Jam : Bantuan Berharga bagi Komunitas Marginal

 

 

Satu jam dapat anda lakukan untuk mengerjakan banyak hal : membaca  buku, menonton film, berjalan-jalan. Tahukah anda, ada orang yang 1 jam hidupnya digunakan susah payah belajar membaca akibat dyslexia, berlatih motorik halus karena cerebral palsy, mencoba memahami perintah sederhana bagi  penyandang  hearing impairment, bertahan melawan halusinasi bagi orang dengan skizofrenia yang terancam relapse?

World Health Organization menetapkan 15% penduduk dunia merupakan kaum disabilitas, belum termasuk mereka yang mengalami gangguan mental dan kepribadian seperti skizofrenia. Sekalipun orang-orang yang mengalami impairment terlihat cacat,  bila terasah dapat melampaui level disability bahkan tidak lagi handicapped. Tiga level yang ditetapkan WHO adalah impairment atau kecacatan, biasanya menimbulkan disabililty atau ketidak mampuan mengerjakan tugas-tugas kemandirian. Pada akhirnya memunculkan handicapped, ketidakmampuan melakukan aktivitas sosial.

Duapuluh satu juta adalah angka fantastis bagi penderita skizofrenia di dunia, dimana 50% keluarga ODS (orang dengan skizofrenia) sama sekali tidak memiliki kecakapan memadai untuk merawat mereka.

 

Kekhususan Kaum Marginal

Pemerintah tak akan sanggup menangani semua anak berkebutuhan khusus atau children with special needs yang membutuhkan bukan hanya dukungan keluarga, lingkungan, tetapi juga pendidikan yang sesuai. Anak berkebutuhan khusus mencapai 15,6% dari keseluruhan populasi.

Orang-orang disabilitas, orang-orang dengan gangguan mental dan kepribadian bukanlah sampah yang sama sekali tak bermanfaat bagi masyarakat. Kehadiran mereka merupakan anugerah bagi bangsa dan negara. Dalam konteks agama manapun, kehadiran orang yang “spesial” selalu dikaitkan dengan harapan dan kesabaran.

Aktivitas dan karya tunarungu

 

Tunarungu, diakui sebagai disabilitas yang memunculkan karakter tekun, pekerja keras juga jujur. UPT rehabilitasi di Bangil, Jawa Timur, mampu mendidik siswa-siswa yang menghasilkan keahlian menjahit beragam bentuk termasuk bordir yang halus. Bahkan, kegiatan seni budaya seperti bela diri, menyanyi, menari juga dapat dilakukan dengan trampil. Satu-satunya kekurangan mereka hanyalah pendengaran yang rusak alias hearing impairment . Namun mereka tidak lagi dianggap disability sebab mereka telah mampu menyelesaikan tugas-tugas kemandirian termasuk mandiri finansial. Bukan itu saja, tidak lagi ada gangguan handicapped yang menyebabkan mereka tidak dapat berinteraksi sosial sebab mereka dapat berkomunikasi meski menggunakan bahasa isyarat.

 

Komunitas Berbasis Keluarga dan Masyarakat

Di Indonesia, komunitas-komunitas berbasis hobi atau keluarga yang mengalami permasalahan serupa semakin banyak muncul. Kelompok ini berdiri lebih karena rasa empati, keinginan untuk berbagi dan  berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Sejak awal berdiri hingga operasionalnya, banyak yang dilakukan dengan swadaya.

Kenalkah anda dengan Safrina dan Hadi Wasito?

Safrina, FLP, Hadi Wasito

Keduanya penyandang cerebral palsy namun banyak menorehkan prestasi. Kedua-duanya aktif menulis dalam forum lingkar pena atau yang dikenal sebagai FLP. Sebagai organisasi kepenulisan, awalnya FLP hanya  bergerak untuk remaja yang peduli terhadap dunia literasi. Lambat laun semakin banyak yang bergabung termasuk kaum disabilitas. Konsep art therapy , juga writing therapy sangat sesuai untuk healing.

ryan-writing-is-healing

Menulis itu menyembuhkan

Terapi yang menyembuhkan klien dengan melepaskan emosi-emosi negatifnya, sehingga tercipta keseimbangan antara kesedihan dan harapan, kebuntuan dan semangat baru. Komunitas seperti FLP bergerak dengan dana swadaya yang dijalankan dengan patungan uang saku para pengurus serta anggota, juga hasil berjualan buku-buku.

Komunitas berbasis keluarga dan masyarakat menjadi salah satu solusi bagi masalah yang tidak tertangani pemerintah. Tangan dan kaki pemerintah dengan program APBN 2017 selayaknya merangkul elemen-elemen masyarakat yang berniat untuk melakukan perubahan ke arah lebih baik. Informasi, kerjasama, sosialisasi harus menjadi program berkesinambungan agar komunitas-komunitas mulia ini tidak hanya mekar di awal lalu mati karena kekurangan pasokan energi sumber dana.

 

Komunitas sebagai Mitra Pemerintah

Seringkali, komunitas tidak cukup tahu apakah tersedia dana bagi elemen-elemen yang membantu mewujudkan visi misi pemerintah. Alangkah baiknya bila pemerintah mempersilakan komunitas mengajukan diri kepada pemerintah daerah untuk dinilai kualifikasinya. Bila memenuhi syarat, mendapatkan bantuan layak bagi dana operasional.

Seringkali, komunitas yang ada berjalan dengan cara tradisional : yang penting jalan dengan dana seadanya, ada pertemuan rutin yang merupakan tempat berbagi semangat. Padahal, dengan sentuhan profesionalisme pemerintah, komunitas marginal  sederhana yang ada di tengah masyarakat akan berkembang lebih maju. Masyarakat seringkali tidak tahu harus kemana membawa laporan, maka pihak pemerintah selayaknya menjemput bola. Jangan sampai komunitas yang merupakan salah satu asset pemberdayaan masyarakat yang tumbuh dari keluarga atau hobi, lenyap begitu saja.

abk-peduli-kasih

Edukasi orangtua ABK komunitas Peduli Kasih, Surabaya

Komunitas ABK (anak berkebutuhan khusus) Peduli Kasih di Surabaya, dibawah asuhan dr. Sawitri mengelola anak-anak special needs dari kalangan kurang mampu. Biaya swadaya tak akan cukup untuk melayani begitu banyaknya permasalahan. Apalagi, urusan komunitas bukan hanya melatih ketrampilan anak berkebutuhan khusus. Menggelar edukasi bagi orangtua tak mampu agar lebih terbuka dan trampil dalam mengasuh anak-anak spesial, memberikan santunan berupa makanan berkualitas atau voucher hotel bagi pasangan. Bagi keluarga yang memiliki anak disablitas,gangguan mental atau gangguan kepribadian p, nyaris tak memiliki waktu pribadi untuk relaksasi. Voucher menginap semalam di hotel berbintang sungguh dapat melepaskan penat sejenak. Hanya bantuan kecil, namun bermakna.

Satu jam waktu kita dapat terbuang percuma.

Satu jam bagi special needs, skizofrenia, atau orang berkebutuhan khusus lainnya adalah waktu ajaib untuk membangun mimpi mereka.

            Sinta Yudisia

Psikolog & Penulis

 

 

 

 

Beragam Resensi Novel BULAN NARARYA

Terimakasih kepada teman-teman pembaca yang telah menyediakan waktu untuk mencermati Bulan Nararya dan menyempatkan diri menulis resensinya.

Kritik , masukan dari pembaca insyaAllah akan semakin membuat penulis belajar!

1. https://yuriezhafiera.wordpress.com/2015/03/08/review-bulannararya-128-lembar-mengulik-kesehatan-jiwa/

2. https://blogbukufaraziyya.wordpress.com/2015/03/09/167-bulan-nararya/

3. https://katjamatahati.wordpress.com/2015/03/09/bulan-nararya-novel-dengan-benang-beragam-warna/

4. https://sekarsekarsekar.wordpress.com/2014/11/07/belajar-psikologi-dalam-balutan-karya-seni/

5. http://cerpendikysaputra.blogspot.com/2015/02/resensi-novel-bulan-nararya-dilema.html

6. https://ridhodanbukunya.wordpress.com/2015/02/27/bulan-nararya/

7. http://atriadanbuku.blogspot.com/2014/12/bulan-nararya.html
8. http://diannafi.blogspot.com/2015/03/ngemilbaca-bulan-nararya.html

9. http://bintangitukamucinta.blogspot.com/…/belajar-psikologi-lewat-bulan-nararya.html

10. http://anfield-fullofideas.blogspot.com/…/bulan-nararya-open-up-your-soul.html

11. http://www.riawanielyta.com/2014/11/resensi-novel-bulan-nararya.html

12. http://www.lensabuku.com/1657/bulan-nararya-oleh-sinta-yudisia/

13. http://www.media.kompasiana.com/…/resensi-novel-bulan-nararya-karya-sinta-yudisia-
14. http://dhia-citrahayi.blogspot.com/2014/11/bulan-tidak-biasa.html

15. http://smartmomways.com/resensi-cinta-dan-penderita-skizofrenia/

16. http://pecandudongeng.blogspot.com/…/dunia-skizofrenik-semangat-positif.html

copy-bulan-nararya1.jpg

Fakta Unik Bulan Nararya

bulan-nararya1.jpg

1. Nararya artinya “yang mendapat kemuliaan.” Dalam bahasa Sansekerta, Nararya adalah nama lelaki. Tapi dalam bahasa Jawa, Nararya adalah nama perempuan.

2. Beberapa klinik rehabilitasi mental memang mirip klinik bu Sausan : beraroma misterius!

3. Bulan Nararya seringkali ditulis di malam hari, agar penulis mendapat feel menulis cerita menyeramkan.

4. Saat mengantuk menulis novel, ada lagu-lagu yang membuat terjaga. Salah satunya…Maher Zain!

5. Apa nama si residivis yang gila? Statistik menunjukkan, banyak anggota LP yang lambat laun menderita skizofrenia akibat beragam tekanan hidup. Bulan, adalah benda di alam semesta yang misterius. Maka, dipilihlah nama pak Bulan.

6. Yudhistira, tokoh utama, orang dengan skizofrenia memiliki hobi melukis. Melukis termasuk salah satu Art Therapy yang sangat baik bagi penderita depresi dan skizofrenia.

7. Kisah cinta Yudhistira dan Diana adalah rekaan, namun terinspirasi dari kisah nyata. Orang-orang yang tetap setia pada pasangan sekalipun mereka divonis….gila!

8. Klinik Mental ( rasanya lebih baik dari menyebutnya Rumah Sakit Jiwa) memang menyajikan beragam kelucuan yang membuat perut kita terkocok. Bukan oleh kebodohan atau pembodohan, tapi justru memperlihatkan betapa orang-orang skizofrenia ini jujur dan polos hatinya.

Skizofrenia (Gila) : from What to How (3)

Why- mengapa seseorang dapat menjadi gila?
Setelah sebelumnya membahas what-apa dan who-siapa saja yang dapat menderita skizofren, timbul pertanyaan mengapa seseorang dapat mengalami skizofren dan yang lainnya tidak? Toh ada orang yang kehilangan pekerjaan, ongkang-ongkang kaki, merokok, jalan-jalan dan tetap no problem meski menjadi beban keluarga. Ada orang yang kehilangan pacar, malah bangkit dan bolak balik pacaran serta memutuskan hubungan dengan enteng; sementara di sisi lain seorang gadis putus cinta sekali sudah berakhir di RSJ? Ada orang yang menderita diabetes mellitus , tetap optimis serta melakukan diet, kehidupan karier –cintanya berjalan begitu dinamisnya.
Mengapa terjadi skizofren?

1. Genogram : rantai faktor genetik.
Beberapa sifat kepribadian dibentuk oleh genetik, lalu dibentuk oleh pola asuh, lingkungan, gizi dst. Bila orangtua pendiam, anak-anaknya beberapa akan pendiam juga. Bila orangtua mudah cemas, anakpun demikian. Kakek nenek, ayah ibu, yang memiliki bakat skizofren akan menurunkan pula bakat tersebut pada anaknya (tentang bagaimana mengatasi, akan dibahas lebih lanjut, dilengkapi kisah-kisah sejati)

2. Batas kemampuan
Setiap orang memiliki nilai ambang.a_busy_street_by_kaipu-d4co80o
Ada orang yang sanggup makan cabai 10 dengan tahu goreng 1, tanpa kepedasan. Ada orang yang hanya makan cabai 1, sudah setengah mati pedasnya. Ada anak yang di-bully-ing tetap cuek, sekolah, asyik beraktivitas sendiri. Ada anak yang dua hari saja bermusuhan dengan sahabatnya (padahal masih banyak teman yang lain) rasanya sempit dunia. Ada orang yang tidak punya uang tetap bisa menikmati suasana, ada orang yang begitu uang di dompet tinggal 100 ribu, cemas bukan main.

Masing-masing orang memiliki nilai ambang.
Rumitnya, fisik dapat terlihat. Semisal tensi tiba-tiba naik, orang mudah menyesuaikan diri dengan diet garam, misalnya. Lalu kapan kita tahu, bahwa rutinitas sehari-hari yang tampaknya sepele ternyata menggerogoti kemampuan jiwa untuk bertahan?
Kemarahan yang mudah meledak akibat hal sepele, insomnia berhari-hari, cemas berlebihan, gemetar bila menahan emosi adalah sedikit ciri-ciri bahwa psikis mulai harus diberikan kelonggaran.

3. Tidak ada dukungan
Menanggung segala beban sendiri, tampaknya menjadi keharusan yang dipikul masyarakat millenium dewasa ini. Saat ayah ibu sibuk dengan urusan pekerjaan, remaja yang tengah berkembang dalam ledakan hormonal dan emosi tak mendapatkan bahu sebagai tempat bersandar. Seorang ibu yang kelelahan dengan setumpuk kerjaan kantor dan rumah tangga, mendapati suaminya pun memiliki beban kerja yang tak kalah beratnya.
Situasi kota yang panas, padat, membuat orang bersegera ingin menyudahi urusan dan tak ingin terlibat masalah dengan banyak orang. Semakin sedikit menjalin pertemanan, semakin sedikit masalah. Tampaknya demikian. Padahal semakin sedikit berinteraksi dengan manusia lain, semakin rentan seseorang dengan pikiran-pikiran negatifnya sendiri.
lonely

4. Tipe kepribadian
Tipe kepribadian A, B, C yang cenderung mengalami gangguan kepribadian menjadi salah satu penyebab munculnya skizofren. Sebagai contoh, tipe kepribadian A yang aneh dan eksentrik pada orang-orang yang paranoid terhadap sesuatu, membuat distorsi kognitif. Takut berbagi dengan orang lain, khawatir akan bocor, tersebar luas, alih-alih mendapat jalan keluar; akhirnya masalah hanya dipendam sendiri. Takut akan masa depan akibat pekerjaan yang belum tetap. Takut belum mendapatkan jodoh di usia yang sudah matang.

Begitupun tipe B, salah satunya narsistik. Merasa bahwa dirinya yang paling unggul, paling cantik, paling pandai dan paling pantas terhadap posisi tertentu. Sehingga dalam ajang audisi kecantikan misalnya, bila peserta lain yang mendapatkan juara akan merasa juri tak adil. Atau merasa bila pekerjaan bukan dikerjaan oleh dirinya sendiri, akan berakhir berantakan.

Atau tipe C, salah satunya obsesif kompulsif. Tak pernah yakin, selalu ketakutan bila ada hal detail yang belum ditunaikan. Takut bahwa seantero warga kota pembawa kuman berbahaya sehingga jemari tangan dan seluruh badan mudah terkontaminasi, akibatnya menjaga kebersihan dengan sangat ekstrim.crying_face_by_angeli7-d68uvtn

5. Terlalu berlebihan
Terlalu berlebihan dalam menghadapi sesuatu, menjadi salah satu faktor pemicu. Baik terlalu mempermudah, atau melebih-lebihkan. Manusia memeiliki psikodinamika yang meliputi aspek emosi, kognisi, motivasi, sosial yang harus seimbang. Terlalu berlebihan menekankan pada salah satu akan menimbulkan kerapuhan disisi yang lain sehingga ketika menghadapi situasi yang tak dapat dikendalikan oleh salah satu faktor, runtuhlah ketangguhan kepribadian.
Sebagai contoh, orang yang hanya mengedepankan aspek kognisi atau inteligensi, beranggapan semakin pandai, tinggi kedudukan seseorang; semakin kaya dan mudah hidupnya. Padahal dalam hidup banyak terjadi peristiwa tak terduga yang tak dapat diselesaikan dengan inteligensi. Orang sakit, tak akan banyak berfungsi inteligensinya, tetapi kehidupan sosial akan memberikan pengaruh. Bila kontak sosialnya baik, ia dijenguk, diringankan bebannya, insyaAllah akan segera sembuh.
Dalam usaha perekonomian misalnya, bukan hanya faktor relasi sosial dan inteligensi yang berpengaruh. Pasar banyak diatur oleh invisible hand, bila tiba-tiba collaps, maka aspek emosi yang berperan.

6. Nutrisi
Sebagian penyandang skizofren memang mengalami nutrisi yang kurang. Nutrisi ini bila dimulai sejak masa awal kehidupan, dapat mempengaruhi inteligensi dan kondisi syaraf-syaraf otaknya. Pasien-pasien di bangsal seringkali berasal dari wilayah-wilayah yang tandus, mengalami malnutrisi sejak masa pertumbuhan dan dilanjutkan dengan kesehatan yang serampangan di masa dewasa.

7. Inteligensi
Inteligensi bukan satu-satunya faktor penentu, namun turut menyumbang dalam kasus skizofren. Pengidap skizofren umumnya memiliki inteligensi di bawah rata-rata meski akhir-akhir ini ditemui pula para sarjana, orang-orang dengan kecerdasan tinggi yang mengidap skizofren.
Mereka yang berinteligensi rendah, tak mampu mencari jalan keluar bila masalah menghadang. Saat dikeluarkan dari pekerjaan, berpikir bahwa pekerjaan tersebut adalah satu-satunya lahan pendapatan. Padahal, dengan mengandalkan kecerdasan yang dikaruniakan Allah berapapun skornya, skill dan aspek-aspek yang lain, insyaAllah selalu tersedia rizki.

Skizofrenia (Gila) : from What to How (1)

Seribu satu rasa saat menghadapi pasien-pasien dengan derajat kegilaan beragam : tertawa geli, sedih, prihatin dan berujung pada perenungan. Betapa bersyukurnya kita hingga detik ini dikaruniai Allah SWT kesehatan fisik dan mental yang utuh hingga tetap menjalani aktivitas sehari-hari dengan bahagia.Pro kontra tentang penyakit mental yang satu ini akan selalu ada. Tulisan ini hanya sekedar informasi, pengamatan, dan perenungan bagi kita semua.

Schizophrenia_by_cikolatali_waffle

Hingga kini, para ahli masih terus meneliti sebab dan terapi bagi penyandang skizofren. Masyarakat yang memiliki kerabat skizofren pun menangani dengan beragam cara : ruqyah, medis, ditelantarkan atau bahkan, dipasung. Untuk yang terakhir ini, masih ditemui orang-orang yang dipasung keluarganya dari 7, 12 hingga…20 tahun! Bila ditemukan pihak-pihak yang bertanggung jawab, pasien pasung ini segera dirujuk ke Puskesmas terdekat lalu dibawa ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ). Menghadapi pasien ex pasung sungguh memilukan hati. Mereka bisa buas, bagitu paranoia hingga disapa pun segera melompat melarikan diri, diam seribu basa seribu tindakan tanpa mau bereaksi, atau bahkan harus menjalani terapi jalan sebab mereka lupa rasanya bagaimana menjadi makhluk tertinggi ciptaan Tuhan yang dapat bergerak dengan dua ekstrimitas bawah.
Skizofren disebut sebagai severe mental illnes, penyakit mental paling parah.
Ditandai dengan pecahnya kepribadian dan hilangnya reality testing ability, kemampuan untuk berpijak pada realitas. Penderita menjadi demikian impulsif, agresif, mudah mengamuk, dapat melukai orang-orang disekitar atau bahkan melukai diri sendiri. Bila kita salah menangkap maksud mereka, tak jarang mereka tiba-tiba menjadi demikian bertegangan tinggi. Mereka tidak mampu membedakan realitas kehidupan, apakah harus tertawa atau menangis. Apakah benar istrinya berselingkuh atau sebetulnya tengah pergi ke pasar. Apakah orang-orang tengah bercakap atau tengah membicarakan diri mereka, apakah anak-anak mereka sedang bermain atau tengah menggenggam pisau. Dan umumnya penderita mengatakan, “saya sehat! Kenapa harus dibawa kesini??!”

Satu ciri khas penderita skizofren : waham dan halusinasi.
Penderita skizofren umumnya mengalami waham, seperti merasa menjadi utusan Tuhan, menjadi Nabi, diberikan bisikan ghaib untuk melakukan tugas tertentu. Hal ini terkait pula dengan halusinasi, baik halusinasi auditori atau halusinasi visual. Halusinasi auditori, berarti penderita mendengar bisikan-bisikan ghaib untuk melakukan sesuatu. Bahayanya, bila bisikan ini memerintahkan mereka untuk bunuh diri atau membunuh anggota keluarga. Halusinasi visual, bila penderita merasa melihat bayangan-bayangan melintas, yang hanya ia sendiri yang dapat melihatnya.
Pengalaman di bawah, mungkin dapat memberikan gambaran.
Seorang lelaki usia matang, mendatangi saya. Wajahnya santun, tubuhnya bersih, wajahnya tersenyum. Ia menyapa saya, dan kami bertukar nama.

“Saya tuh nggak papa mbak, sehat begini. Mbak bisa bayangkan, saya dibawa kemari hari Jumat. Pas saya mau adzan sholat Jumat. Saya sudah pakai sarung, pakai baju koko. Tahu-tahu di tengah adzan saya ditangkap begitu saja…masyaAllah! Benar-benar gak tau aturan, saya mau sholat…”
Bila hanya percakapan di penggal di sini, kita akan menyatakan penjemput adalah orang-orang tak beradab. Namun, ketika percakapan mengalir, barulah kita sadar bahwa ucapan penderita boleh jadi bias.
“Kita ini dikelilingi setan, Mbak.”
Hm, benar kan yang dikatakan bapak tersebut?
“Kita dikelilingi makhluk ghaib. Saya sering melihat makhluk ghaib dimana-mana. Di jalan, di kantor, di ruangan.”
Kita bahkan dapat menyangka bahwa si bapak terkena gangguan jin!
“Apa yang Bapak lakukan bila melihat makhluk ghaib?”
“Saya hancurkan, Mbak! Saya bisa menghancurkan makhluk ghaib.”
“Wah, hebat Pak! Bagaimana caranya?” saya tanya lagi.
“Dengan tangan kosong saja. Dipukul begitu saja. Baru-baru ini saya menghancurkan makhluk ghaib, berupa batu hitam bundar yang ada di dalam beton. Betonnya hancur Mbak!”
Barulah bila diamati, sekujur tangan dan kaki bapak tersebut bengkak, dihiasi luka-luka menganga yang mulai mengering.
“Banyak setam dimana-dimana. Di ruangan ini pun ada.”
“Ohya, dimana Pak?”
“Lihat! Saya paling ndak suka lantai warna hitam. Kenapa rumah sakit ini lantainya putih dan hitam. Yang hitam itu ada setannya.”
Saya mencoba mendengarkan kisahnya yang terus berputar sektiar makhluk ghaib.
“Mbak, saya begini ini karena dibuat orang. Ibu saya yang nyantet saya!”

Begitulah.
Waham, halusinasi, delusi, campur aduk menjadi satu.
Melalui observasi dan wawancara, sesungguhnya kita dapat membedakan mana orang yang masih mampu membedakan realitas dan sesuatu yang abstrak atau orang yang sudah tak mampu membedakan keduanya.

What : apa Skizofren itu?
Skizofren adalah penyakit jiwa yang parah, ditandai dengan pecahnya kepribadian, ketidak mampuan menangkap realitas dan ditandai dengan gejala waham, delusi, halusinasi.
Berhati-hatilah menyebut seseorang sebagai penderita ketidakwarasan atau gila, sebab stigma ini acapkali menempel seumur hidup.
Hanya karena seseorang mengamuk, membanting handphone, memecahkan piring, mencaci maki dengan umpatan –misuh, kata orang Jawa- , ngomel panjang pendek, ngomong-ngomong sendiri; atau bahkan ketika seseorang merasa melihat dan mendengar makhluk ghaib; kita lantas mencapkan penderita skizofren.
Siapa di antara kita yang belum pernah marah teramat sangat?
Mungkin, di puncak amarah akibat bertengkar dengan saudara, suami, atau rekan/atasan kerja; saking tidak mampunya mengatasi keruwetan pikiran, kita memecahkan apapun untuk melampiaskan kemarahan. Tentu, ini bukan solusi terbaik namun perilaku marah kelewat batas bukan satu-satunya tanda kegilaan.
Acapkali skizofren dan depresi tercampur aduk, sebab simptomnya mirip satu sama lain.
Yang perlu dipahami, waspadai gejala halusinasi yang berkepanjangan.
1504519shutterstock-96229181780x390
Tentang bagaimana menangani waham, halusinasi atau delusi, akan dibahas lebih lanjut dalam how atau bagaimana.
Skizofren terdiri dari beberapa jenis :
1. Skizofren katatonik – mematung
2. Skizofren hebefrenik – selalu bergerak, bericara, bertindak aktif
3. Skizofren paranoid – selalu ketakutan
4. Undifferentiated skizofren