Berapa Besar Sumbangsih FLP (Forum Lingkar Pena) bagi Indonesia?

 

 

22 Februari 2017, Forum Lingkar Pena tepat berusia 20 tahun.

flp

Organisasi ini di sebut Taufik Ismail sebagai  ‘anugerah Tuhan bagi bangsa Indonesia’, sebuah ucapan yang layak direnungkan dan dibanggakan bagi segenap anggota serta pengurus FLP di Indonesia maupun perwakilannya di luar negeri.  Dalam angka yang diakhiri dengan imbuhan –an ; anggota FLP mencapai ribuan bahkan belasan ribu dengan buku-buku yang juga mencapai ribuan sejak organisasi ini berdiri di tahun 1997. Jumlah pastinya, haruslah disesuaikan dengan dinamika serta arsip organisasi. Mengingat, menggabungkan anggota yang penuh daya imajinasi dan kreativitas lalu merapikannya dalam struktur organisasi bukannya perkara mudah.

Milad FLP 19, Yogya.JPG

Yogyakarta-Ulang tahun FLP ke 19, 2016

Memandang  konstelasi perbukuan dan dunia sastra, dimanakah letak FLP? Apakah penulis-penulis FLP merupakan seniman serta sastrawan yang berkualitas yang karyanya pantas dibanggakan mulai level lokal, nasional hingga internasional? Apakah karya-karya FLP layak menembus pasar global internasional dan menjadi karya sastra yang mewakili wajah Indonesia?

 

Keberagaman anggota FLP

Salah satu asset luarbiasa dari FLP adalah demikian penuh keragaman corak dari anggota yang tersebar di penjuru Indonesia serta di beberapa titik mancanegara. Usia SD-SMP dikelompokkan sebagai FLP kids, diatas itu bergabung menjadi anggota FLP regular. Setiap cabang dan wilayah punya kekhasan masing-masing yang disesuaikan dengan kultur setempat serta ketersediaan sumber daya. BPP FLP memantau wilayah-wilayah, memberikan masukan serta mengatur seluk beluk keorganisasian.

rohingya-2

FLP kids menampung anak-anak SD –SMP yang sangat menyukai dunia tulis menulis. Mengingat buku-buku karya penulis cilik sangat digemari di seantero Indonesia, penerbit sangat membutuhkan karya-karya bermutu. Lini PECI (penulis cilik Indonesia) dari penerbit  Indiva, KKPK (kecil-kecil punya karya) dari Mizan; adalah beberapa yang sangat giat menerbitkan karya para penulis cilik. Tentu, penerbit memiliki cara tersendiri dalam menyaring tulisan berkualitas yang disukai pasar; namun, FLP pun turut membantu menyuburkan semangat berkarya di kalangan anak-anak Indonesia.

FLP Jombang, FLP Padang, FLP Lampung

 

Bagi remaja, untuk usia SMA dan mahasiswa, FLP menjadi organisasi kepenulisan yang diperhitungkan. Betapa banyak orangtua yang menginginkan anaknya mengembangkan bakat minat dibidang kepenulisan, mengontak FLP pusat atau wilayah dan meminta narahubung dari FLP yang terdekat. Remaja-remaja ini yang memang memiliki hobby membaca pada awalnya, lama-lama ingin mengembangkan diri dengan menulis. Apalagi, pekerjaan menulis sekarang bukan hanya terbatas membuat buku, menerbitkan cerpen, menulis puisi. Penulis sekarang lebih berkembang lagi profesinya mencakup penulis scenario, blogger, penulis lagu, hingga penyedia konten dari media-media online. Remaja-remaja berbakat menemukan FLP sebagai salah satu wadah yang memahami kebutuan mereka, menjadi organisasi yang asyik dan seru untuk membahas seputar dunia sastra terkini. Bukan itu saja, dari ranah kepenulisan, bahasan yang didiskusikan di media sosial dapat berkembang mulai film, music hingga politik. Anak-anak muda di FLP belajar untuk menuliskan opini mereka sendiri, bukan hanya sekedar copy paste, potong-salin. Bukan hanya sekedar broadcast. Anak-anak muda di FLP berusaha menilai sesuatu dari sudut pandang pribadi, dari perenungan dan penafsiran versi sendiri.

Terkadang, di WAG atau whatsapp grup FLP timbul ketegangan ketika membahas politik. Namun uniknya, anak-anak muda ini berusaha untuk terus menajamkan tulisan dengan bersumber pada fakta dan data; serta mencoba untuk berargumentasi dengan tagline sastra santun. Apa yang kita pikirkan, apa yang kita rasakan, apa yang kita lakukan dan katakan serta tulisan; haruslah dengan kesantunan. Ketika menyerang satu pihak atau mengkritik satu golongan; tidaklah perlu menggunakan kata-kata yang tidak pantas. Anak-anak muda di FLP tumbuh menjadi generasi yang suka membaca, suka menulis. Maka bila kita membaca tulisan mereka diblog atau facebook, terasa sekali bahwa penulis FLP membawa nuansa yang berbeda. Konyol lucu, menghibur, namun bukan tong kosong.

Kalangan dewasa FLP, terdiri dari lebih banyak ragam elemen. Dosen, guru, karyawan, peneliti, sastrawan, PNS, pengusaha, editor, mahasiswa,  maupun kalangan professional lain. Ada pula kalangan pekerja istimewa yang dikenal sebagai tenaga kerja  Indonesia, yang bekerja di Hong Kong dan Taiwan. Karya-karya mereka telah diakui secara lokal, nasional bahkan internasional. Bagi guru, nama Gegge Mappangewa dari Makassar, Umi Kulsum dari Jombang, dan Khairani dari Banjarmasin adalah beberapa nama FLP yang karyanya berulang-ulang meraih penghargaan. Bukan hanya karya, namun juga kiprahnya di dunia belajar mengajar menjadi teladan bagi sesame guru mupun menjadi motivator bagi siswa. Agaknya, kemampuan mereka menulis menjadi salah satu point tersendiri untuk menjadikan para guru dan anggota FLP ini sebagai sosok teladan.

Di kalangan dosen dan penulis, FLP memiliki nama-nama Helvy Tiana Rosa, Irfan Hidayatullah; keduanya mantan ketua FLP terdahulu. Topik Mulyana, juga salah satu dosen dan pengurus FLP yang tulisannya tersebar di media massa sebagai sastrawan atau kritikus. Dari kalangan peneliti, muncul nama Maimon Herawati dan Ganjar Widhiyoga. Dua orang ini bak suhu kungfu yang akan turun gunung ketika dunia gonjang ganjing dengan segala hiruk pikuk berita hoax. Setiap kali tulisannya diunggah ke media massa, Maimon Herawati dan Ganjar Widhiyoga akan menuai banyak likers (juga haters) dan dishare ke banyak mungkin pembaca. Dari kalangan professional, nama-nama Intan Savitri sebagai ilmuwan psikologi, Yeni Mulati (Afifah Afra) sebagai CEO  ; menjadi referensi berharga bagi pembaca tiap kali mereka menelurkan tulisan baik buku atau sebuah catatan di media sosial. Di kalangan selebritas sendiri, tentu tak asing nama Habiburrahman el Shirazy dan Asma Nadia sebagai penulis-penulis kondang yang memberikan warna luarbiasa bagi dunia perfilman Indonesia.

Adakah kalangan istimewa dari FLP?

Tentu saja, kalangan ibu-ibu. Para ibu disini adalah ibu-ibu yang luarbiasa. Ditengah kesibukan dan tingkah polah mereka yang sangat spesifik sebagai kaum ibu yang cerewet, suka belanja, suka mengomel; para ibu  menelurkan karya-karya yang  sangat membanggakan. Selain buku-buku, penulis perempuan FLP banyak aktif sebagai blogger dan meraih banyak keuntungan baik financial maupun immaterial. Sebut saja Pipiet Senja, Naqiyyah Syam, Gesang Sari, Risalah Husna, Sri Widiyastuti, Puspitasari, Fauziah Rachmawati, Lina Astuti dan masih banyak lagi.

Blogger laki-laki?

Wah kalau ini jangan ditanya, jumlahnya menjamur di FLP!

Ali Muakhir, Koko Nata, Bang Aswi, Rafif Amir, Sokat Rahman, Bang Syaiha, Billy Antoro, Ilham Anugrah yang bila ditotal jumlah blogger FLP, mencapai puluhan bahkan ratusan. Mengapa demikian? Sebab rata-rata penulis FLP memiliki blog yang rutin dipelihara dengan tulisan dan laporan pandangan mata. Para blogger ini bukan hanya sibuk mengejar prestasi di dunia blogging, namun juga aktif dalam profesi masing-masing di dunia nyata.

Selain kelompok di atas, masih ada beberapa golongan di FLP yang demikian unik. Dua di antaranyanya adalah para pekerja serta mahasiswa perantauan di luar negeri.

FLP Hongkong.jpg

FLP Hong Kong

BMI Hong Kong dan pekerja di Taiwan adalah wilayah FLP yang sering menuai kekaguman akibat sepak terjang mereka yang luarbiasa. Bukan hanya mereka hidup di negeri orang, bekerja sebagai karyawan pabrik atau rumah tangga; hidup di level marginal, terpinggirkan dan kadang tidak dihargai secara layak; pada kenyataannya para pekerja Hong Kong dan Taiwan ini merupakan penulis-penulis yang luarbiasa. Sebut saja di antaranyanya Rihanu Alifa, Anna Ilham, Enda Soedjono, Shanna Azzahra, Indira, Ssy Laili. Mereka bukan hanya aktif di media sosial namun juga menulis di koran-koran lokal yang beredar di Hong Kong dan sekitarnya.

Mahasiwa perantauan di luar negeri, pun memberikan contoh luarbiasa bagaimana para pelajar harus membagi dengan bijak antara keuangan untuk mengelola organisasi, membeli buku, dan hidup cukup di perantauan. Bagaimana harus membagi waktu antara belajar, membaca jurnal (tentu dalam bahasa asing!), membaca referensi dan menelurkan buku-buku. FLP Mesir, FLP Yaman , FLP Turki, Maroko, Arab Saudi, Malaysia yang namanya terlalu panjang untuk disebutkan satu persatu. Anggota FLP yang pulang ke tanah air pun terus bergiat menyelesaikan karya seperti Awy Qolawwun yang merupakan jebolan FLP Arab Saudi, Adly el Fadly yang merupakan jebolan FLP Yaman, Irja NAshrullah yang masih aktif di FLP Mesir.

Demikian beragamnya anggota FLP hingga satu sama lain saling memberikan informasi berharga terkait dunia literasi yang tengah berkembang, issue-issue kekinian, berbagi ilmu sesuai dengan kapasitasnya, berbagi informasi lomba dan saling mendorong untuk meraih prestasi. Keragaman anggota FLP ini memperkaya para anggota untuk terus memacu masing-masing individu terus dan terus belajar.

 

Karya-karya yang terus berkembang

Karya FLP pernah dianggap karya kacangan.

Mengingat karya-karya tersebut begitu sederhana, begitu seragam dengan karya-karya sebagian besar anggota FLP, tidak menimbulkan makna yang dalam serta tidak layak untuk disejajarkan dengan karya-karya besar HAMKA atau Pramoedya.

Mengapa dianggap kacangan?

Memang karya FLP banyak yang seragam. Mengingat salah satu pilar FLP adalah keIslaman; banyak anggota FLP yang masih memahami karya Islami haruslah memiliki alur pesantren, masjid, tokoh berjilbab dan berjenggot. Kisahnya seputar mendapat hidayah saat menjadi mahasiswa kampus yang aktif di rohis, menjadi suka al Quran ketika di pesantren, atau mendapat kesempatan studi ke Timur Tengah.

Karya FLP dianggap minim kekayaan diksi serta mudah ditebak alurnya. Awalnya susah, lalu happy ending. Akhir yang mudah sekali diprediksi : menikah dengan sesama orang sholih, berhasil mendapatkan akhwat cantik idaman, lulus beasiswa dengan gilang gemilang, menjadi dosen dan disukai banyak mahasiswa.

Sesungguhnya, karya FLP tidaklah bisa disebut karya ‘kacangan’.

Siapakah HAMKA dan Pramoedya?  Adalah orang-orang yang kenyang makan asam garam kehidupan. Hidup dalam situasi sosial dan politik yang panas, merasakan peperangan dan penjara yang pedih. Sebagaimana kata Nietzche : hanya peperangan yang dapat membuktikan siapa manusia sesungguhnya, siapa binatang sesungguhnya.

Anggota FLP yang masih SMA dan mahasiswa, ibarat anak yang belajar berjalan, masih tertatih-tatih meraba-raba. Mereka seringkali harus menyisihkan uang untuk membeli buku sendiri yang bagi kantong Indonesia relative mahal, mereka juga tidak duduk di bangku fakultas FIB atau jurusan sastra. Mereka adalah anak-anak yang senang membaca, menulis, membaca, menulis. Karya-karya mereka adalah latihan yang sesunggunya. Sejak awal, mereka harus kenyang dengan kritikan pedas dan Alhamdulillah, mereka pantang mundur, terus menulis dan terus belajar. Perubahan-perubahan itu terlihat pasti merayap. Satu demi satu adik-adik FLP meraih penghargaan di tingkat lokal. Baik lokal sekolah, lokal kampus, lokal regional di koran kota. Lalu mulai muncul di koran nasional, di media online nasional, memenangkan lomba yang ringan persaingannya hingga lomba-lomba yang berat persaingannya serta level jurinya.

Adalah tokoh-tokoh FLP seperti Habiburrahman el Shirazy, Asma Nadia, Benny Arnas yang level ketokohannya diakui dunia. Mereka tidak lagi hanya memberikan pelatihan di tingkat Indonesia, namun diminta mengisi acara-acara di berbagai event di mancanegara. Ada banyak potensi di FLP yang insyaallah siap mengekor keberhasilan para pendahulunya seperti Asma Nadia, kang Abik dan Benny Arnas. Mashdar Zainal, salah satu anggota FLP Jawa Timur yang karya-karyanya tembus secara fantastis di koran ‘sulit’ seperti Jawa Pos dan Kompas.

Karya-karya kacangan FLP, akan terasa kacangan bila dikunyah oleh orang-orang dewasa yang level bacaannya sekelas para peraih nobel, pullitzer, dan penghagaan dunia lain : Najib Mahfudz, Amin Malouf, Rudyard Kipling, Orhan Pamuk, Serdar Ozkan, Nicholas Carr. Namun karya-karya ‘kacangan’ FLP akan menjadi kue lezat bagi sesama remaja yang butuh asupan bacaan ringan. Dan, mereka membutuhkan bacaan sejenis yang banyak jumlahnya.

Seorang gadis yang ingin memakai jilbab; akan terinspriasi oleh novel-novel tentang jilbab sekalipun alurnya kacangan, bombastis, tidak masuk akal, tidak relevan bahkan terlalu mengada-ada. Bila ia membaca 5, 10, 20 novel serupa yang menceritakan pengalaman memakai jilbab; bukan tidak mungkin ia pun pada akhirnya mantap berkerudung.

Seorang pemuda yang maju mundur untuk studi di pesantren; ketika membaca buku-buku yang mirip dan terkesan ‘sastra abal-abal’ ; sesuai level usianya yang masih suka menelan hal yang renyah dan ringan; pada akhirnya terdorong masuk ke pesantren dan membuka pintu kesadarannya untuk berjuang mengenyam pendidikan serius serta memangsa kitab-kitab yang jauh lebih berat dari sekedar naskah kacangan.

Anak-anak SD, yang masih suka berimajinasi dan membaca perkara ringan tentang dunia peri, dunia fantasi, kehidupan ala istana dan putri-pangeran; terdorong banyak menbaca buku ‘kacangan’ yang mungkin tidak sekelas Little Women (Louisa May Alcott) ,  Secret Garden (Burnett), Kim (Rudyard Kipling) atau bahkan Toto Chan. Namun, ketersediaan buku-buku ringan ini akan mendorong mereka memangsa buku level lebih tinggi dan pada akhirnya mereka suka mengunyah buku berat dan suatu ketika, menghasilkan karya sastra yang lebih mumpuni di waktu-waktu yang berikut.

Belajar menulis membutuhkan perjuangan panjang.

Tidak hanya dibatasi oleh bangku kuliah 4 tahun untuk S1, 2 tahun untuk S2. Belum tentu mahasiswa FIB atau sastra mampu menuliskan buku berkualitas bila mereka tidak mau belajar dengan susah payah. Sebagaimana belum tentu mahasiswa S2, S3 dan peneliti dapat menulis karya ilmiah dengan luwes dan dapat diterima oleh masyarakat luas. Menulis karya ‘kacangan’ kadang merupakan stimulant awal bagi penulis untuk belajar bagaimana menyesuiakan ritme kesibukan dengan target menulis : berapa buku setahun, berapa bulan selesai 1 buku, berapa bab harus dikerjakan 1 minggu, berapa halaman dalam 1 hari dan berapa jam untuk menulis. Ketika ritme menulis ‘kacangan’ ini terbentuk; lambat laun dengan dorongan individu dan organsisasi akan tercapai karya-karya yang semakin berbobot dari waktu ke waktu.

FLP, memang dikenal sebagai pabrik penulis.

Terkesan sebagai organisasi yang mengeluarkan penulis-penulis karbitan, penulis kuantitas bukan penulis kualitas, penulis kualitas pabrik bukan kualitas butik. Meski demikian; segala kritik tentu berharga bagi tumbuh kembang sosok individu dan organisasi. Mereka yang telah bertahun-tahun menulis, tentu harus berupaya meningkatkan kapasitas diri agar karya tulis tidak selamanya kacangan. Bolehlah karya-karya ‘kacangan’ dihasilkan oleh anggota pemula; semakin tinggi level anggota FLP di tingkat madya dan andal; maka proses kreativitasnya harus terus bejalan. Karya yang dihasilkan pun harus semakin berat bobot kualitas, keilmuan, logika berpikir, maupun maknanya.

Proses, adalah bagian yang diakui di FLP.

Tidak ada proses sekali jadi.

Tidak ada proses yang singkat.

Tidak ada proses yang hanya seminggu.

Semua proses, bahkan penciptaan langit dan bumi melalui 7 tahapan di ‘tangan’ Allah Swt . Apalagi proses manusia,  mungkin melalui puluhan, ratusan, ribuan tahapan.

 

FLP dan pasar lokal-global

FLP cukup berhasil menyasar pasar lokal. Terbukti, walau dunia penerbitan pasang surut, penulis-penulis baru di FLP bermunculan mengeluarkan novel dan karya non fiksi.

Anggota FLP yang memiliki basic ilmu syariah seperti Irja Nashrullah, Awy Qolawun, Adly el Fadly suskes menggarap pasar nasional yang membutuhkan buku-buku kajian keIslaman dengan bahasa ringan; bukan bahasa referensial yang cendeung berat.  Afifah Afra, Naqiyyah Syam; sukses menggarap pasar remaja putri dan ibu-ibu. Ali Muakhir, Koko Nata, Sri Widiyastuti sukses menggarap pasar anak-anak. Habiburrahman, Asma Nadia sukses menggarap pembaca perempuan; sementara Benny Arnas dan Mashdar Zainal sukses memanfaatkan ceruk sastra yang jarang digeluti penulis karena effortnya yang cukup besar. Rafif Amir, Gesang Sari, Sokat Rahman, Billy, Aprillia, dkk  dan blogger FLP sukses menggarap pasar online yang celahnya sangat terbuka dan ramai.

Dalam era digital, FLP mencoba beradaptasi.

Kertas-kertas berimbas pada penebangan kayu yang mengancam paru-paru dunia. Disisi lain, orang-orang masih belum terbiasa menggunakan perangkat elektronik untuk membaca buku. E-book sebuah keniscayaan, namun juga cepat memunculkan kelelahan. Apalagi, orang cenderung membuka media sosial ketika berinteraksi dengan gawai dan cepat teralihkan dari niat semula yang ingin membaca buku elektronik. Buku-buku berhana baku kertas masih diminati, walaupun juga, manusia harus dibiasakan semakin efektif efisien dalam bertingkah laku.

Bekerja sama dengan beberapa media online seperti beetalk, bitread dan UC News; merupakan satu langkah FLP memasuki pasar lebih luas. Anggota FLP tidak hanya harus belajar menulis fiksi – non fiksi; tapi juga belajar menulis materi-materi up to date yang diminati masyarakat luas mulai bahasan Donald Trump-Melania, hingga bagaimana hidup awet muda.

 

Apa yang Diberikan FLP pada Indonesia?

Jawabannya adalah Sumber Daya Manusia.

SDM adalah asset sangat mahal yang menghabiskan modal luarbiasa besar. Dalam sebuah perpustakaan di Seoul, terpahat reader is leader. Pembaca adalah pemimpin. Begitupun pemimpin adalah seorang pembaca. Negarawan kita adalah pembaca, penulis dan orang yang tiada berhenti belajar. Bung Karno, bung Hatta, Mohammad Natsir, HAMKA, Ki Hajar Dewantara, adalah para pembaca yang luarbiasa. HAMKA bahkan mewajibkan dirinya membaca buku dalam beragam bahasa untuk menajamkan otak. Pantas saja, Indonesia berhasil melawan kekuatan asing yang luarbiasa tangguh. Mereka memiliki senajta, kita memiliki daya juang.

FLP memberikan pada Indonesia sekian ribu manusia yang suka membaca dan menulis. Mereka bukan hanya orang-orang yang duduk di bangku akedemis; namun juga para buruh dan tenaga kerja marginal. Mereka bukan hanya orang yang terbiasa duduk di belakang meja mengerjakan laporan keuangan, namun juga para ibu yang bergelut dengan harga cabai. Mereka bukan hanya para dosen dan guru, tapi juga para pelajar SD hingga mahasiswa.

FLP memberikan kesempatan berproses. FLP memberikan lingkungan yang nyaman bagi para pembaca dan (calon) penulis. FLP mengasah kemampuan di luar bakat minat yang paling dasar. FLP memberikan para penulis informasi dan jaringan berharga yang harus dimiliki penulis untuk go local, go national, go international. Dalam ranah global dewasa ini, tidak ada seseorang yang dapat berhasil hanya secara individual. Ia butuh dukungan, butuh kelompok, butuh orang-orang di belakang layar.

Di belakang layar FLP; tersebar ribuan anak muda yang namanya tidak tercantum sebagi penulis atau blogger. Mereka adalah para buzzer dan reviewer yang rela mem-boost buku, agenda literasi, kegiatan kepenulisan agar sukses. Mereka adalah pengurus-pengurus FLP Pusat, wilayah, cabang, hingga ranting yang bersedia berpayah-payah menjalankan roda organisasi agar tercipta harmonisasi antara penulis, dunia perbukuan, kalangan media dan penerbitan yang harus terus bersinergi untuk menghasilkan karya-karya spektakuler. Orang-orang di belakang layar inilah yang membantu munculnya penulis-penulis tenar dan popular.

FLP Wilayah Jawa Barat, FLP Wilayah Jawa Timur, FLP Wilayah Riau

Bersama FLP, hadir wajah-wajah muda, wajah-wajah baru penulis; maupun hadir wajah-wajah penulis yang terus bermetamorfosa menjadi HAMKA dan Pramoedya yang berikutnya.

Selamat ulangtahun ke 20, FLP.

Berarti, berkarya, berbagi.

Teruslah berjuang dengan pena!

Novel Bunuh Diri?

book-arrow-cover-death-old-media-19179999

 

Memiliki profesi penulis, tentu harus siap dengan segala konsekuensi. Segala profesi memiliki titik positif negatif, sisi senang dan sengsara, bahagia dan nestapa. Sebut saja guru. Sahabat-sahabat saya yang berprofesi sebagai guru swasta harus siap banting tulang dengan penghasilan yang pas standar UMR, jangan tanya ketika ada cicilan rumah dan sepeda motor. Apa sisi kebahagiaannya? Saat murid-murid mereka lebih pintar, lebih bisa menghafal Quran, menang di arena-arena Olimpiade. Bahkan, murid-murid tersebut telah masuk perguruan tinggi bergengsi saat guru mereka masih mengabdikan diri di institusi pendidikan dengan segala pengorbanan.

 

Menjadi penulis, memiliki dua sisi yang sama.

 

Sisi bahagia ketika :

  • Karya terbit
  • Bentuk fisik buku cantik dan menarik
  • Buku tampil di toko-toko buku terkemuka
  • Best seller
  • DP (downpaymen) dibayarkan juga royalty per 3 atau 6 bulan
  • Menang penghargaan
  • Difilmkan
  • Mendapat apresiasi positif dari khalayak pembaca, kritikus, dsb
  • Diundang bedah buku
  • Diresensi
  • Quote-quote buku muncul di media sosial

 

 

Sisi sedih ketika :

  • Karya ditolak, ditolak, ditolak lagi (apalagi ditolak di beberapa penerbit)
  • Terbit tapi bentuk fisik seadanya alias tidak menarik sama sekali
  • Buku terbit tapi tidak laku
  • Write off alias hak terbit dikembalikan ke penulis
  • Tidak ada laporan royalty
  • Mendapat apresiasi negative dari khalayak
  • Dikritik habis-habisan
  • Orang-orang minta hadiah buku tersebut, minimal discount (padahal menulisnya dalam kubangan airmata dan keringat)

 

Beberapa tahun belakangan ini, novel (terutama novel Islami) mengalami penurunan drastis hingga penulis banyak yang mengambil alih profesi lain. Mengapa novel Islami yang pernah berjaya, tidak laku? Apakah ini terjadi pada semua jenis novel? Apakah profesi penulis ini nanti ditinggalkan? Apakah profesi penulis harus seperti guru, disertifikasi dan mendapatkan penghasilan pasti agar profesi ini diminati kembali?

 

Ada beberapa hal yang ingin saya bahas dan silakan ditambahkan bila ada yang kruang atau perlu diluruskan.

Flying-Books-Vector-Graphics.jpg

  1. Novel Islami

Label Islami memiliki sisi keuntungan dan kekurangan.

Sisi keuntungan, pembelinya merasa pasti akan mendapatkan pencerahan walau kadang-kadang lelah dengan nasehat-nasehat. Bolak balik beli novel Islami baik tokoh, peran, prolog dan ending sama semua.

Sisi kekurangan, stigma masyarakat terhadap novel islami sebagai novel yang membosankan mulai berakar kuat. Novel Islami hanya dinikmati oleh pembeli yang ingin Islami, bukan yang non Islami atau yang masih alergi-Islami.

Maka, penulis yang ingin menggalakkan kembali novel Islami harus belajar banyak hal, termasuk memahami sisi-sisi syariah, dakwah dari novel Islami.

Bolehkah alur ceritanya agak menyeramkan : bunuh diri, sexual abuse,  prositusi, pacaran kelewat batas, homoseksual, pembunuhan, poligami,  nikah beda agama; namun mungkin ada pesan yang ingin diselipkan disana?

Bila memilih tema yang sensitif, bagaimana pula mengolahnya agar novel Islami tetap terjaga kesantunan dan yang tak boleh dilupakan, kelarisan penjualannya?

 

 

  1. Apa yang harus kita pelajari?

Menjadi penulis, harus belajar banyak hal. Saya termasuk yang amsih harus banyak, banyak, banyak belajar dari teman-teman penulis, pembaca, editor, resensor,  sutradara, penulis scenario dan lain sebagainya.

Kesabaran. Kesabaran tak pelak lagi salah satu kunci utama manusia dalam mencapai target hidupnya. Kesabaran dalam menuliskan kisah mulai 10, 20, 70, 100, hingga 400 halaman. Kesabaran dalam tahapan menulis novel. Kesabaran ketika harus bekerja sama dengan editor dan sang editor meminta revisi di beberapa bagian. Kesabaran untuk berdiskusi dengan penulis lain. Kesabaran untuk menerima kritikan. Kesabaran ketika naskah ditolak, atau diterbitkan namun tidak laku. Kesabaran terhadap segala jenis kemungkinan yang terjadi pada naskah kita.

Membaca novel dan buku lain. Membeli novel baru, meminjam dari teman, menyempatkan membaca. Menyempatkan membaca ulang. Membaca novel atau buku-buku lain akan memberikan gairah baru dalam tulisan kita. Meski, bukan berarti kita harus meniru 100% gaya menulis Helvy Tiana Rosa, Asma Naida, Kang Abik, Dan Brown, JRR Tolkien, JK Rowling; membaca karya mereka akan memperkaya khazanah.

Berani menampilkan novel yang beda. Jangan pernah berpikir bahwa dakwah, atau menyampaikan kebaikan harus dilakukan dengan satu cara. Apakah semua pendakwah harus seperti Ustadz Maulana, Ustadz Arifin Ilham, Ustadz Yusuf Mansur? Maher Zain dan Raef berdakwah dengan music. Bahkan Ustadz Arifin Ilhan dan Dr. Zakir Naik akan berbeda cara menyampaikan. Setiap penulis memiliki cirri kekhasan masing-masing. Cobalah untuk menampilkan novel yang berbeda. Tokoh protagonist tidak harus lelaki sholih berjenggot yang berdiam dari satu masjid ke masjid lain. Boleh jadi ia seorang residivis yang menemukan jalan pulang dan ingin mengentaskan kampung preman. Atau seorang cassanova flamboyant yang ratusan kali berpacaran dan akhirnya bingung menentukan standar perempuan cantik. Atau seorang perempuan korban KDRT yang menemukan titik keberanian untuk bangkit membela hak dirinya setelah menyadari bahwa ia punya adil dalam sadistis-masokis.

Detail. Pernah baca novel Dan Brown? Atau Tom Clancy? Kisah Dan Brown sebetulnya mirip-mirip, menceritakan tentang simbol rahasia, atau Tom Clancy dengan tokoh Ryan yang menampilkan heroism khas Uncle Sam. Hanya saja kita dibuat terhanyut karena detail. Detail bangunan, detail karya seni, detail makna simbol, detail sejarah, detail pangkalan militer. Kalau ingin mengisahkan kisah cinta tentang ikhwan-akhwat, mengapa tidak coba kita eksplor detailnya? Kisah ta’aruf, aktivis rohis, aktivis kampus masih menarik dieskplor asal dengan gaya berbeda.

Misal, seorang ikhwan yang ingin segera nikah.

Proses nikah dengan akhwatnya kan bisa dieksplor.

Ikhwannya berasal dari keluarga sederhana, punya kakak perempuan yang belum nikah, adik perempuan yang manja dan kolokan. Benturan ketika si ikhwan itu pingin nikah, pasti menarik. Perselisihan dengan kakak perempuannya yang bolak balik pacaran gagal, adik perempuan yang gak mau ditinggalkan si abang. Belum lagi proses taaruf dengan keluarga akhwat yang misal, dari high class. Si akhwat super duper cantik, good looking dan pintar, si ikhwan pintar tapi culun.  Si ikhwan gak pernah makan steak karena rajin puasa Daud demi menghemat  uang beasiswa. Khitbah di rumah akhwat bisa jadi disaster , ketika keluarga akhwat menyuguhkan makanan ala barat dengan pisau dan garpu sementara keluarga di ikhwan milih makan pakai tangan sambil selonjoran hahahah.

Perjuangan ikhwan tersebut mendapatkan istri shalihah yang gak gampang, pantas dieksplor. Betapa banyak novel Islami yang menggambarkan kehidupan jauh dari realita : ikhwan akhwat sama-sama cakep, dari kalangan berada, taaruf, nikah, malam pertama indah. Jadi deh…ditambah cerita ala Cinderella si ikhwan berhasil dapat beasiswa di luarnegeri dst dst.

 

Tema. Banyak sekali tema yang masih harus digali dari perjalanan hidup manusia. Tema politik belum banyak yang menyentuh. Tema pesantren juga baru sebagian, belum banyak dieksplor dengan dalam. Misal,  (inspired by true story) kehidupan seorang Kiai yang punya dua anak putra, dua-duanya mengembangkan pesantren. Salah satu pesantren sukses, salah satu gagal. Atau tema politik, ketika ayah dan anak memilih jalur politik yang berbeda dan kedua-duanya sama-sama jadi anggota legislatif. Atau bagaimana seorang anak menyadarkan kedua orangtuanya yang sama-sama berselingkuh (naudzubillahi mindzalik).

 

Kemahiran bercerita. Sorang sutradara film memberikan masukan kepada saya, belajarlah dari cara orang India berkisah. Lihatlah film-filmnya. Orang India termasuk salah satu penutur yang baik. Saya sendiri terkesan dengan film India antara lain Jodha Akbar dan Navya. Jodha Akbar sangat detil mengisahkan ornament pakaian yang berbeda antara bangsawan Mughal dan bangsawan Rajput. Bagaimana 3 istri Jalaluddin : Sakina, Ruqaya dan Jodha punya gaya berpakaian yang khas. Sakina lebih suka pakai gaun seperti kulot, Ruqaya lengan panjang dan Jodha sari berlengan pendek. Dalam salah satu episode, jalaluddin terkesan sekali ketika Jodha bersedia menukar pakaian bangsawan Rajput dan mengenakan busana tradisional Mughal.

Navya pun demikian. Dengan setting modern dan tema ala anak muda sekarang, pacaran, Navya kebingunan ketika harus menentukan pilihan antara menerima undangan sang pacar atau menghadiri acara yang diadakan di rumahnya sendiri. Pacaran bukan sekedar jalan bareng, bonceng berduaan, pegang tangan dan ciuman. Kalau kata orang-orang pacaran adalah proses penyesuaian, mengapa tidak ditampilkan proses penyesuaian yang sesungguhnya? Agar generasi muda tahu bahwa pacaran bukan sekedar senang-senang tapi banyak resikonya.

Flipped (Wendelin Van Draanen) diangkat dari novel berjudul sama adalah kisah pacaran anak SMP yang manis dan sama sekali tak ada adegan di luar batas. Julianna Baker yang suka naik pohon, jatuh cinta setengah mati dengan Bryce Loski, cowok ganteng bermata biru. Dalam novel ini Julianna yang setengah mati mengejar-ngejar Bryce namun kecewa ketika Bryce tak dapat menerima keluarga Julianne. Paman Julianne seorang MR (mental retarded) yang tinggal bersama keluarga mereka. Ayah Julianna, seorang pelukis yang demikian menyayangi adiknya dan mengajarkan Julianna bahwa pamannya adalah bagian dari keluarga mereka. Cara Juli menyatakan cinta pada Bryce pun tak lazim, Juli senang mengirimkan telur-telur ayamnya kepada Bryce J

 

Terinspirasi dari novel dan film ini pula, saya menuliskan Sophia and Pink, kisah dua remaja putri yang tumbuh di tengah keluarga tidak sempurna. Tokoh Sophia mencari cinta di tengah pergulatan dirinya mencari jati diri. Julianna, Sophia, Pink gadis remaja yang tengah dipenuhi ledakan hormon, energi, imajinasi, keinginan berpetualangan termasuk ingin mencicipi bagaimana cinta di masa remaja.

  1. Kritik mana yang harus diterima?

Terimalah kritik dengan lapang dada dan perbaikilah bila memang sesuai dengan gaya kepenulisan kita. Serial Takudar memunculkan fans yang bertahun-tahun menantikan serial akhirnya namun demikian, tetap ada yang mengkritiknya dan mengatakan mengapa tokoh lelaki karya Sinta Yudisia relative mirip? Sholih dan seolah tanpa cela. Mengapa sekali-sekali tidak menampilkan tokoh lelaki yang beda? Penjahat mungkin, atau penipu.

Atas kritik-kritik tersebut , sebagai penulis saya coba perbaiki dengan menampilkan tokoh yang berbeda. Dalam beberapa novel yang sedang saya garap, tokohnya justru antagonis dan selfish. Kalau dalam beberapa novel yang akan terbit tokohnya tetap seorang pemuda sholih berkarakter, karea itulah harapan saya sebagai penulis. Akan muncul pemuda-pemuda pemimpin yang merupakan pengganti Al Ayyubi, Al Fatih, Thalut., Baybar.

  1. Segmen mana yang harus diperhatikan?

Tidak mungkin menggarap semua segmen. Bahwa novel kita akan diterima anak-anak, remaja, orang dewasa, guru, mahasiswa, pelajar, perempuan dan laki-laki. Ada novel yang memang ditujukan bagi perempuan dewasa seperti novel chicklit. Ada novel yang ditujukan terutama bagi remaja putrid seperti teenlit. Ada buku-buku untuk kalangan muda seperti chicken soup. Ada buku-buku motivasi bisnis yang cocok untuk kalangan pebisnis pemula tapi tak akan diminati anak-anak. Bahkan anak-anak pun dibagi-bagi segmennya : yang suka ilustrasi baca komik, yang suka fantasi baca novel, yang suka keduanya baca novel-komik. Itupun masih dibagi lagi : pre school, SD, SMP.

 

 

Kalau dikatakan novel Islami bunuh diri dengan banyaknya novel sejenis bertabur, saya kurang setuju. Kalaupun mati, mungkin mati suri. Banyak penulis-penulis FLP yang semakin mahir menuliskan karya mereka dan diterima pasaran. Ada yang semakin makin menulis cerita anak, novel remaja maupun novel dewasa.

Apa yang harus ditingkatkan?

Komunikasi antara penulis-penerbit-pasar serta semua stakeholder turut terlibat untuk mensukseskan pasar perbukuan.

 

 

Setelah 17 Tahun Menulis : 2 M, Angka 0, Popularitas

Milad FLP ke 17 yang dilaksanakan di Surabaya kali ini, dimeriahkan dengan seminar, launching Rumah Cahaya, Launching 17 karya FLP, Launching website FLP.
17 tahun menjadi bagian dari literasi Indonesia, FLP ingin terus belajar dan berbagi tentang seribu satu kisah ajaib seputar dunia literasi.

FOTO PROFIL
tumpeng Milad FLP 17

Menulis, bukan pekerjaan yang memiskinkan.
Tengoklah pak Dukut Imam Widodo, meski beliau tidak menyebutkan angka pasti di depan bilangan 0, tetapi beliau mengatakan bahwa untuk 1 buku beliau dibayar sejumlah uang yang angka nominalnya memiliki jumlah 0 delapan. Wah berapa kira-kira? Bahkan, suatu ketika beliau dibayar dengan jumlah angka 0 sembilan!

Terkesima.
Itu perasaan yang muncul kala sebagai penulis, karya kita tersendat di ide, teknik menulis, bahkan berkali-kali tertolak di media massa dan tangan penerbit. Memang, manusia tak boleh iri pada keberuntungan orang lain tetapi kita ingin belajar bagaimana para penulis-penulis andal ini berkarya.

Dukut Imam Widodo
imam widodo-ahmad khusaini 2
Penulis ini membuat audiens histeris. Bagaimana tidak? Beliau membagikan buku-buku eksklusif macam Soerabaia Tempo Doeloe, Soerabaia the Old Time, Malang Tempo Doeloe dan alhamdulillah, saya pribadi mendapatkan Sidoarjo Tempo Doeloe . Masing-masing buku tersebut kurang lebih harganya @500.000!
Pak Dukut memberikan beberapa nasehat :
1. Penulis harus bisa “menjual diri”
2. Penulis jangan menerbitkan buku pakai uang sendiri
3. Sebagai penulis, jangan malas mencari referensi. Pak Dukut bahkan suka menulis detail-detail yang sulit sebagai satu tantangan. Beliau suka menulis bertema sejarah
4. Jangan khawatir kehabisan ide, sebab beliau melazimkan sholat malam dan berdoa ,” Gusti Allah, beri saya inspirasi.” Subhanallah, kata beliau, inspirasi yang datang membanjir sampai-sampai beliau kewalahan; lalu beliau menuliskan ide dalam kertas-kertas kecil.
5. Carilah teman “yang benar” bukan asal teman. Artinya, bila ingin menjadi penulis yang kompeten, berteman lah dengan teman-teman yang akan mendukung cita-cita ke arah itu, misal berteman dengan sesama penulis, wartawan, sastrawan, seniman, dll.

* Ada lelucon teman FLP , yang mengatakan. Yah, penulis FLP bisa saja penghasilannya 0 delapan atau sembilan, tapi di depan belum ada digit angkanya alias masih 0 yang panjang sekali. Atau penulis dengan dengan penghasilan 2 M! Bukan 2 milyar tapi 2 huruf “m” dengan akronim makasih mbak/makasih mas 
* Jangan iri dengan keberhasilan pak Dukut sebab perjuangan beliau mengumpulkan referensi dari satu kota ke kota lain, mengumpulkan berkas, manuskrip berusia ratusan tahun…subhanallah. Pantas bila sponsor tak ragu memberikan nikai cek dengan 0 delapan atau 0 sembilan.

Sirikit Syah
sirikit syah
Ibu lembut dari dua orang putra putri ini telah melanglang buana ke Iran, Amerika, Australia, dll sebagai sastrawan dan pakar media. Tulisannya yang sesekali bernada tegas, tetap memiliki unsur estetika tinggi.
You can’t judge a blank paper.

Demikian nasehatnya.
Bagaimana mungkin kita merasa minder, takut salah, takut dikritik, takut gagal dan tidak menang sementara yang dinilai hanyalah sebuah kertas kosong. Maka mulailah menulis dan bacalah tulisan itu. Sebelum kita menulis, maka tak ada apapun yang dapat dinilai dari kita.
Fiksi adalah refleksi dari hal nyata. Orang kadang tak mampu meresapi sebuah berita aktual terkait peperangan, issue agama, atau persoalan humanistik lainnya tetapi lewat fiksi, jauh lebih meresap. Tulisan-tulisan bu Sirikit demikian menohok. Salah satu contohnya, cerpen berjudul Ibu Kandung , refleksi keresahannya di tahun 80-90an saat issue bayi tabung merebak. Tulisan itu mempertanyakan : siapa ibu si jabang bayi sebenarnya?
Buku beliau Rambu-rambu Jurnalistik , Watch the Dog : Catatan Jurnalisme , menjadi buku referensi wajib bagi saya pribadi saat menulis artikel dan opini untuk media massa.

Zawawi Imron
zawawi imron
Penulis yang akrab dipanggil Abah ini , berhasil membuat peserta menitikkan airmata dengan puisinya Ibu. Sastra, di masa depan , adalah tulisan-tulisan yang membawa pada perenungan. Sudah masanya, menurut beliau, seorang penulis bukan hanya menulis demi materi belaka.
Abah Zawawi Imron adalah yang paling senior dari semua, paling sepuh, berjalan dengan tongkat. Melihat fisiknya, orang akan menduga betapa rapuh ia dan terbata dalam berkata-kata.
Namun, tidak, justru sebaliknya. Peserta dibuat terperangan dengan leluconnya, dibuat terkesima dengan muatan-muatan filosofis dalam kalimat-kalimatnya, dan terakhir dibuat terisak tersedu mengingat ibunda masing-masing ketika beliau membacakan puisi Ibu. Saya, bu Sirikit, mengusap mata usai beliau membawakan demikian bergemuruh puisi itu.
…….
Ibu, bila kasihmu ibarat samudera
Sempit lautan teduh, tempatku mandi, mencuci lumut
…..
Ibu, kalau aku ikut ujian, lalu ditanya tentang pahlawan
Namamu Ibu, yang akan kusebut paling dahulu
……
(bahkan saat menuliskan, berkaca mata ini)

Sebagai anak muda, atau mengaku berjiwa muda, kalah rasanya dengan kekuatan beliau dalam berkata-kata. Namun, sama sekali bukan hanya sebab pengalaman beliau unggul. Beberapa filosofii berikut pantas terpatri dalam benak jiwa para penulis muslim.
* Kalau muda tidak mau berjuang, angkat takbir 4x. Innalillahi. Artinya, bila anak muda tidak mau bersungguh-sungguh, berjuang mencapai sesuatu, termasuk bersusah payah menulis dengan segala kepayahan, kesulitan, pengorbanan, ketabahan, daya juang; maka ibarat ia jenazah yang ditakbirkan 4x. Bagi yang merasa penulis muda, tak ada kata malas untuk mencoba dan terus berlatih mencapai apa yang terbaik
* Berpikirlah dengan jernih, agar kebaikan datang kepadamu. Hati yang bersih, sumber karya sastra.
* Tidak berpikir adalah haram!
* Quran bukan karya sastra tetapi energinya dalam dunia sastra bagai magma yang meledakkan. Quran membawa energi yang melebihi karya-karya sastra sepanjang masa.
* Uang, adalah konsekuensi logis ketika berbuat baik. Jangan takut dengan uang, ia pasti akan datang ketika kita telah berupaya dengan sebaik mungkin.

Helvy Tiana Rosa
Helvy-Tiana-Rosa-300x176
Bunda pendiri FLP ini memukau pula dengan ilmu dan puisinya.
Apa yang disampaikan bunda Helvy :
1. Tulisan dapat mengubah dunia, sebagaimana Uncle’s Tom Cabin
2. Toni Morrison berkata ; bila engkau berjalan-jalan ke toko buku dan tidak menemukan buku yang kau inginkan untuk dibaca, mengapa tak kau tulis sendiri
3. Penulis Toto Chan hanya menulis buku itu, tetapi menjadi duta PBB untuk anak-anak kemudian
Di luar seminar, bunda Helvy memberikan wejangan kepada teman-teman FLP

* Ada karya sastra serius, ada karya sastra populer. Apa bedanya? Sastra serius menyebabkan perenungan, sastra populer menimbulkan perubahan.
* Sudah saatnya FLP go international sehingga dibutuhkan kurator yang menangani khusus masalah penerjemahan karya-karya FLP.
* Sesungguhnya, istilah sastra serius atau sastra populer , hanya diperkenalkan bagi kalangan akademisi. Bagi insan umum, semua tulisan adalah karya sastra; Lupus _ Boim Lebon, Ayat-ayat Cinta – Kang Abik ; begitupun semua karya anak FLP adalah karya sastra

Sinta Yudisia
sinta n yeni n Rinai

Sebagai ketua umum FLP, kembali visi misi CAHAYA PELITA BERSAMA digaungkan kembali. Karena terbatasnya waktu, tidak dapat disampaikan 10 program unggulan FLP.
1. CA , rumah cahaya. Alhamdulillah dilaunching Rumcay Depok, Lampung, Aceh, Banjarbaru, Sumatera Utara. Tidak mungkin seorang penulis ingin karyanya dikenal tanpa peduli dunia literasi di sekelilingnya. Menulis, menulis, menulis terus; lalu siapa yang baca? FLP peduli dengan menumbuhkan minat baca di kalangan kanak-kanak, anak, remaja hingga dewasa sehingga program Rumah Cahaya menjadi program unggulan utama FLP periode ini.
2. HA, agen perubahan. Penulis FLP harus menyadari, dirinya adalah salah satu dari rangkaian besar dan terstruktur agent of change. Berbekal ajaran-ajaran ketulusan Zawawi Imron, profesionalitas Dukut Imam Widodo, refleksi isi Sirikit Syah, semangat kebersamaan Helvy Tiana Rosa ; maka penulis FLP senantiasa menjadi corong perubahan dimanapun ia berada.
3. YA , 100 karya pertahun. Gerakan perubahan, sesekali membutuhkan gebrakan yang massive. Penulsi-penulis FLP yang berjiwa muda akan selalu giat menulsikan gagasan-gagasannya baik dalam bentuk blog, twitter atau membuat buku antologi, buku fiksi-non fiksi yang terus menerus diterbitkan setelah melalui uji seleksi.
4. LI, portal literasi. Di era globalisasi, sekat-sekat wilayah bahwan negara menjadi demikian bias; FLP harus turut berkontribusi dalam gerakan kemajuan literasi. Bila produk karya selama ini mengandalkan hard copy, maka sudah waktunya buku-buku electronic book diperkenalkan, demikian pula karya-karya bagus dapat ditampilkan via media sosial dan mendapatkan tanggapan luas.
5. SA, soliditas organisasi. Adakah orang yang sukses sendirian? Presiden membutuhkan tim sukses, artis membutuhkan manager, seorang penulis pun tak dapat bergerak sendirian. Untuk mendukung karya-karyanya meluas, dikenal, dikonsumsi dan diapresiasi; dibutuhkan kerja bersama, berjamaah. Jaringan FLP yang meliputi penulis, pembaca, penerbit, distributor hingga penjual adalah matarantai yang terus menguat dari waktu ke waktu.

17 tahun FLP menulis dan berkarya bersama Indonesia.
Terus berbakti, berkarya , berarti.
Mengedepankan karya sastra yang santun , edukatif, memuat nilai-nilai Islami Universal. Karya santun adalah karya yang tidak mengunggulkan pribadi, dengan menjatuhkan oranglain, meninggikan diri dengan mencaci pihak lain. Sastra santun adalah sastra yang arif dengan kebaikan-kebaikan; tanpa mengurangi estetika dan kejenakaan, agar mudah menyentuh sisi manusiawi insani.
Go international?
Sudah waktunya.
Komunitas penulis muslim terbesar di Asia Tenggara, bahkan mungkin di dunia ini, insyaallah ke depan akan memimpin festival-festival literasi muslim tingkat dunia. Memimpin dunia perbukuan dengan karya prestatif dan kompetitif. Memimpin dunia dengan kerja-kerja profesional dan solid.
Tiba masanya, Indonesia menjadi mercusuar dunia.
Bangsa yang besar, tak akan mengabaikan refleksi filosofi dan pemikiran. Bangsa yang unggul, maju pula semua sektor kehidupan, termasuk seni sastra. Dalam sejarah panjang peradaban manusia, Dhuha al Islam, masa puncak kejayaan Islam ditandai pula dengan melesat dan terhormatnya kedudukan para sastrawan penghasil puisi, prosa, maupun kritik sastra.
Jika Indonesia menjadi mercusuar dunia, maka –sebagaimana Zawawi Imron mengatakan- para prajurit nurani akan menjadi salah satu ujung tombaknya. Prajurit nurani adalah para penulis, dan FLP dengan khidmah dan bangga, akan menjadi salah satu ujung tombak mercusuar dunia.

Sastra Islam (Jogja Muslim Festival)

Quran bukan karya sastra tapi membawa pengaruh besar pada dunia sastra.
Dalam sejarah, sejak Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw, maka setiap orang membicarakannya. Membantah tentangnya. Mendiskusikannya. Menjelaskannya. Membelanya. Di kemudian hari, Quran disalin, diperbanyak. Sebagian berusaha meniru dan memalsukannya. Sebagian besar menghafalkan dan memelajari isinya, bersyair dengannya, membuat prosa dan sajak yang dipelajari dari cara Quran membuat rima.
childrens3
Maka , tak ayal lagi Quran membawa pengaruh amat sangat besar bagi sastra di dunia Islam dan merambah hingga seantero dunia. Bersama Quran pula, bagai diaspora menyebar talenta, intelektual, semangat belajar, menimba ilmu, menuliskan dan menyebarkan ideologi serta karya sastra. Bahasa Quran terserap menjadi bahasa-bahasa bangsa seperti Turki Utsmani, Farisi Firdawsi, Sanskerta menjadi Urdu, Bantu menjadi Hausa di Barat dan Sawahili di Timur (Afrika).
Warisan besar sastra Arab, sastra Islam ini menghubungkan dengan arus intelektual dunia, menumbuhkan kreativitas dan ratusan ribu atau bahkan jutaan karya tulis!
Beberapa jenis karya Islam yang dikenal adalah khutbah, risalah (esai atau surat) , maqamah ( kisah pendek tentang hero), qishshah (kisah pendek moralitas), qashidah (syair), maqalah ( esai berisi satu gagasan).

lossy-page1-220px-Scheherazade.tif
Ada beberapa periodisasi sastra Islam :
1. Shadr al Islam, Zaman Kesederhanaan (622 – 720 M)
2. Dhuha al Islam, Periode Pertengahan atau Zaman Tawazun (720 – 972 M)
3. Klimaks, Zaman Abbasiyah akhir, zaman Saj’ dan Badi’ (972 -1203 M)

Penjelasan :

1. Shadr al Islam, Zaman Kesederhanaan ( 622-720 M)
• Hadits, risalah, khutbah, surah Nabi
• Pepatah, perumpamaan, al Amtsal
• Khuthab : risalah, pidato, pesan, wasiat para khulafa urasyidin dan pemimpin awal

2. Dhuha al Islam, Periode Pertengahan atau Zaman Tawazun (720 -972 M)
• Abdul Hamid bin Yahya, ahli essay ( 766 – 750 M), memperkenanlkan simetri sastra. Abdul Hamid juga memperkenalkan para penulis untuk menuliskan setiap karya dengan komposisi awal basmalah, hamdalah, shalawat Nabi Saw
• Abu Amr Utsman al Jahizh (767 – 868 M) , tajam kritiknya, menulis 160- buku. Al Jahizh memperkenalkan : keselarasan ungkapan dengan makna, al bayan/penjelas, ringkas dan apa adanya , al iftinan / karya artistik
• Abu Hayyan at Tawhidi (987 M) ; memperkenalkan tulisan dari buku harian, pertemuan demi pertemuan, juga penggabungan filosofi dan gagasan sufi.

Untuk zaman Dhuha Al Islam , syair seperti puisi mendapat tempat yang berlum pernah terjadi sebelumnya. Penyair-penyair berkelimpahan harta dan kedudukan.
 Basysyar bin Burd (w.784M) , seorang anak haram budak, yang dibebaskan karena ke fasihannya.
 Al Hasan bin Hani Abu Nuwas (w.811 m) ; membebeaskan syair dari isi, artikulasi, gaya bahasa
 Ismail Abu al Al Atahiyah (w.827 M) , penjual pot bunga keliling yang menantang sekelompok anak muda yang sedang membaca syair, untuk menggubah 2 atau 3 bait
 Habib Abu tamam ( w.847 M) , penyedia air di masjid Fustath (Kairo Lama), berekalana ke Baghdad dan memperoleh kemasyhuran di sana.
 Da’bal al Khuzai (w.861 M), penyair yang ditakuti pangeran dan pejabat karena satirenya. Syairnya dapat menghancurkan reputasi
 Syair Sadif menyebabkan pemimpin Abbasiyah yang tengah berjaya memusnahkan istana Umayyah
 Syair Malik bin Thawq dan Rabiah menyebabkan pembatalan hukuman mati atas diri mereka

3. Klimaks, Zaman Abbasiyah akhir, zaman Saj’ dan Badi’ (972 – 1203 M)
• Muhammad bin Yahya as Shuli (w.947 M) , menulis disiplin sastra
• Ali bin abdul Aziz al Jurjani (w.1001 M) , menulis Al Wasathah sebagai perantara media pemerintah dan masyarakat
• Abu Hilal Al Askari ( w.1004 M) , menuliskan al Shina’atayn ( Dua Keahlian – keahlian Sastra dan keahlian Memerintah)
Pada zaman inilah Saj dan Badi mencapai puncak perkembangannya. Jenis karya di zaman ini :
– Korespondensi kekhilafahan
– Esai sastra
– Maqomat

*******
rumi
Pertengahan periode Abbasi ( dari kekhalifahan al Mutawakkil) hingga berdirinya Al Buwayhi (946 M), penyair tidak lagi mendapat perlindungan dari khalifah.
Baru ketika Turki Saljuq 1056 M, prestasi di semua bidang intelektual dan spiritual bangkit kembali.
o Hakim Abul Hakim Firdausi at Tusi , Ferdowsi ( 940 M – 1020 M) , Shahnameh
o Umar Khayyam – Ghiyāth ad-Dīn Abu’l-Fatḥ ʿUmar ibn Ibrāhīm al-Khayyām Nīshāpūrī (18 Mai 1048 – 4 Desember 1131) , Rubaiyat
o Jalaluddin Muhammad Rumi (1203-1274 M), Matsnawi
o Ibnu Batutah ( 25 Februari 1306 – 1369 M), Rihlah
o Ibnu Khaldun ( 27 Mei 1332 M – 19 Maret 1406 M) , Al Muqaddimah
o Kisah One Thousand and One Night Stories, Scheherazade / Shahrzad : Alibaba, Aladdin, Abu Nuwas, dll

**************

Pak Ahmad Thohari menyampaikan beberapa intisari penting substansi Sastra Islami :
1. Lillahi ma fissama wati wama fil ardh
Ayat ini banyak termaktub dalam al Quran ( seperti 2 : 284) ; segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi adalah makhlukNya. Adalah milikNya. Pak Ahmad Tohari pernah diprotes dari kalangan pesantren terkait karyanya Ronggeng Dukuh Paruh. Kata mereka , “ngapain nulis kisah tentang Ronggeng? Kenapa nggak nulis kisah tentang santri aja?”
AT beranggapan, Ronggeng juga bagian dari lillahi maa fissama wati wa ma fil ardh , yang kehadirannya menjadi ayat bagi segenap manusia yang lain.
Penjelasan AT sedikit banyak mewakili perasaan saya pribadi, ketika menulis Existere dan saya beberapa kali diundang mengisi pengajian di lokalisasi. Beberapa orang mencibir sinis , “ngapain dakwah di lokalisasi? Kaya’ gak ada tempat lain buat didakwahi!”

2. Titik dzulumat dan titik Nuur.
Sungguh, penjelasan ini benar-benar memukau hati saya, sampai saya tulis dengan spidol hijau, saya ingat-ingat, saya sampaikan lagi ketika giliran saya mengisi. Dan tetap membekas hingga kini saya menuliskannya kembali.
Si Ronggeng ingin menjadi ibu rumah tangga. Ronggeng adalah perbuatan nista, ibu rumah tangga adalah perbuatan mulia.
Kehidupan sebagai ronggeng adalah kehidupan seseorang saat berada adalan titik dzulumah , sementara kehidupan sebagai ibu rumah tangga adalah kehidupan mulia yang berada pada titik nuur.
Proses seseorang untuk sadar, merangkak, tertatih, merambat, berjalan hingga berlari dari titik dzulumah hingga titik nuur ini adalah proses luarbiasa dari seorang manusia. Menjadi ekwajiban bagi penulis muslim untuk dapat menghadirkan kisah-kisah yang menginspirasi masyarakat agar tergerak untuk bangkit dari titik dzulumah menuju titik nur.
Bukankah itu salah satu kalimat terindah dalam Islam : minadzulumati ilaa nur?

FLP Yogya : Jogja Muslim Festival

Ini salah satu FLP paling kreatif di Indonesia dan Dunia.
21 Desember menyelenggarakan Jogja Muslim Festival bersama dengan beragam komunitas seni yang lain seperti ANN – asosiasi nasyid nusantara. Salah satu pengurus FLP Yogya menjelaskan, bahwa Jogja Muslim Festival, diharapkan menjadi festival tahunan yang akan merangkum semua seni Islam. Di hari saya menyampaikan Sastra Islam bersama pak Ahmad Thohari, Jomfest menyelenggarakan pertunjukan teater hingga malam hari.
Sebagai kota yang dikenal sebagai Kota Pelajar, Kota Pariwisata, atau Kota Budaya; wajar bila Jogja harus aktif menyelenggarakan kegiatan-kegiatan berbasis seni. FLP sebagai organisasi kepenulisan yang merupakan bagian dari seni sastra, menjadi penggagas dan penyelenggara acara.
Jogja Muslim Festival
Dalam talkshow Sastra Islam, pak Ahmad Thohari menyampaikan hal-hal yang sangat substansial terkait Sastra Islami. Perlu digaris bawahi, Sastra Islam dan Sastra Islami memungkinkan memiliki penafsiran yang berbeda. Sastra Islam boleh jadi lahir dari dunia Islam, tapi belum tentu Islami. Sastra Islami boleh jadi lahir dari penulis-penulis Islam atau tidak, tetapi memiliki nilai-nilai moral yang sangat sesuai dengan ajaran Islam yang Madaniyyah Universal.
Pak Ahmad Thohari menyampaikan beberapa intisari penting substansi Sastra Islami :

1. Lillahi ma fissama wati wama fil ardh
Ayat ini banyak termaktub dalam al Quran ( seperti 2 : 284) ; segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi adalah makhlukNya. Adalah milikNya. Pak Ahmad Tohari pernah diprotes dari kalangan pesantren terkait karyanya Ronggeng Dukuh Paruh. Kata mereka , “ngapain nulis kisah tentang Ronggeng? Kenapa nggak nulis kisah tentang santri aja?”
AT beranggapan, Ronggeng juga bagian dari lillahi maa fissama wati wa ma fil ardh , yang kehadirannya menjadi ayat bagi segenap manusia yang lain.
Penjelasan AT sedikit banyak mewakili perasaan saya pribadi, ketika menulis Existere dan saya beberapa kali diundang mengisi pengajian di lokalisasi. Beberapa orang mencibir sinis , “ngapain dakwah di lokalisasi? Kaya’ gak ada tempat lain buat didakwahi!”

2. Titik dzulumat dan titik Nuur.
Sungguh, penjelasan ini benar-benar memukau hati saya, sampai saya tulis dengan spidol hijau, saya ingat-ingat, saya sampaikan lagi ketika giliran saya mengisi. Dan tetap membekas hingga kini saya menuliskannya kembali.
Si Ronggeng ingin menjadi ibu rumah tangga. Ronggeng adalah perbuatan nista, ibu rumah tangga adalah perbuatan mulia.
Kehidupan sebagai ronggeng adalah kehidupan seseorang saat berada adalan titik dzulumah , sementara kehidupan sebagai ibu rumah tangga adalah kehidupan mulia yang berada pada titik nuur.
Proses seseorang untuk sadar, merangkak, tertatih, merambat, berjalan hingga berlari dari titik dzulumah hingga titik nuur ini adalah proses luarbiasa dari seorang manusia. Menjadi ekwajiban bagi penulis muslim untuk dapat menghadirkan kisah-kisah yang menginspirasi masyarakat agar tergerak untuk bangkit dari titik dzulumah menuju titik nur.
Bukankah itu salah satu kalimat terindah dalam Islam : minadzulumati ilaa nur?

FLP Yogya
TEKNIS MENULIS dan KEBERHASILAN
AT menyampaikan, novelnya berjudul Kubah yang terbit 1980, mendapat penghargaan 1981 sebagai novel terbaik. Sebelumnya, AT senang menulis cerpen hingga berpuluh-puluh karya, disimpan saja. Beliau menyampaikan, saat menulis Kubah, berarti beliau telah mengasah diri dengan menulis puluhan cerpen meski itu tak diterbitkan.
Jadi, para penulis memang harus berlatih. Itu kuncinya!
FLP Yogya kali ini memiliki panglima Solli Murtyas. Anak-anak buahnya seperti Asti Ramdani, Santi, Lina, Rima, Taufik, Dwi, Rifki ( atau Rizki?) dll. FLP Yogya lah yang membuat modul Kaderisasi dan membuat buku raport anggota FLP. Modul Kaderisasi FLP Yogya telah dapat dinikmati oleh FLP cabang dan wilayah lain, direkomendasikan oleh BPP FLP Pusat sebagai salah satu buku panduan FLP yang memuat kekaryaan, organisasi dan keislaman.
Kembali ke Jogja Muslim Festival, semoga menjadi kegiatan tahunan yang semakin berkibar. FLP Yogyakarta menjadi lokomotif kebaikan yang produk-produknya akan senantiasa diikuti oleh teman-teman lain, memberikan manfaat luas bagi dunia seni, pendidikan, maupun disiplin ilmu yang lain.
Makalah saya tentang Sastra Islam dapat dilihat di https://sintayudisia.wordpress.com