Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Bedah Buku Sinta Yudisia Buku Sinta Yudisia KOREA PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY WRITING. SHARING.

31 Januari – 2 Februari 2020, Jakarta & Tangerang

Sinta Yudisia <psikologsinta@gmail.com>12:18 PM (5 minutes ago)
to me

💫 SELF HEALING WITH WRITING 💫•– Womens Mental Health Workshop; Mom’s Journey to Happiness –••💗

 Stress dengan penghakiman netizen di media sosial saat kita “curhat” ??••🌷 Dinamika kehidupan seringkali membuat para ibu berjuang keras hadapi ragam kesulitan.•Tak jarang, meninggalkan ‘luka’ tak terjamah yang tidak dipahami orang lain. Hingga lupa dengan cara sederhana dalam berbahagia.••–Dalam kasus paling ekstrim, dapat mengancam keselamatan diri dan orang lain.–••Tahukah Moms, bahwa menulis bisa jadi sarana penyembuhan, bahkan memperkuat rasa bahagia ??••Komunitas Ibu Bahagia Indonesia @komunitasibubahagia bekerjasama dengan  @actforhumanity dan @ihsanmediapenerbit mempersembahkan workshop terbatas :

💫 SELF HEALING WITH WRITING 💫

— Womens Mental Health Workshop; Mom’s Journey to Happiness –••Narasumber :•🧕🏻 Sinta Yudisia W S.Psi, M.Psi, Psikolog — Psikolog – Penulis @sintayudisia•🧕🏻 Irena Puspawardani S.Si (Teh Rena Puspa) — Pembina KIB Indonesia – Penulis @rena.puspa.khadeeja••Bersama, kita belajar tentang seni terapi menulis tangan sebagai salah satu metode penyembuhan diri ☘️🌷🍀🌺💚••📆 Sabtu, 01 Februari 2020⏰ 09:00 – 13:00 WIB🏢 Menara 165 – ACT Lt. 9 Jalan TB. Simatupang, Jakarta Selatan••💎 Ticket Prices :•🌷 EARLY BIRD (10 – 14 Januari) : 200K🌻 NORMAL (15 – 27 Januari) : 235K🌹 HOT SEATS (28 Januari – 1 Februari) : 250K🐨 Kids Corner (4 – 7 tahun) : 30K/Anak•💳 Transfer :BNI a.n Fina Febiyanti(009) 0349618487https://bit.ly/PendaftaranWorkshopKIBhttps://bit.ly/PendaftaranWorkshopKIBhttps://bit.ly/PendaftaranWorkshopKIB••📲https://bit.ly/AdminKIB📲https://bit.ly/AdminKIB📲https://bit.ly/AdminKIB•••💚❄ Bahagia Hatinya, Sehat Jiwanya ❄💚••#HappyMomHappyFamily#DiaryIbuBahagia#komunitasibubahagia#workshop #menulistangan#handwriting #freewriting#womensmentalhealth#kesehatanmental #ibubahagia #act #aksicepattanggap #ihsanmedia

Acara di atas untuk Ayah dan Bunda.

Untuk remaja, ada acara di bawah ini :

Membahas seluk beluk Korea, hallyu termasuk K-Pop beserta boyband girlband nya.

Yang di Jakarta dan Tangerang, silakan hadir yaaa

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Bedah Buku Sinta Yudisia Buku Sinta Yudisia Fiksi Sinta Yudisia KOREA Perjalanan Menulis Sirius Seoul

Bedah buku Sirius Seoul di Surabaya

Assalamualaikum…
Anyeonghaseyo

Kamu suka hallyu? Kamu kpopers? Atau pecinta drama?

Nah kebetulan ikut kuy ke acara terkece tahun ini!

Kalian bisa dapet doorprize menarik asli korea!

BB Sirius Seoul.png

Kapan lagi bisa dapet doorprize dari negri para oppa, bias, dan idola kalian

*Lokasinya di *Majelis Mie* Jalan Citarum No. 2 Darmo Surabaya

@ 08.00 pagi – 11.30 siang

# Minggu, 23 Desember 2018

~Agenda :
– Bedah buku Sirius Seoul
– Bincang akrab dengan bunda Sinta yang sudah 2x ikut SFAC – _Seoul Foundation for Arts and Culture_

HTM 30k ( food+beverage)
70k ( food+beverage+book)

Cp :
Arina 081545137523
Icha 082336541985

Hwaiting!
Yuuuk, ikutan dan ajak teman2 daebak-kiyowo kamu !

Kategori
Hobby Jepang KOREA Oase WRITING. SHARING.

Kalau Kamu Penggemar Hallyu           

                                                  

Sejak lama, aku mengamati hallyu dengan segala produknya, utamanya drakor dan KPop. Untuk drakor kita bahas next time ya, sebab aku ingin ngebahas KPop.

Aku termasuk cukup lama mengamati KPop, menjadi penggemarnya juga meski mungkin gak fanatic pada satu idol dan bergabung sebagai fans. Sejak  masa TVXQ/ DBSK lanjut ke generasi Wonder Girl, Suju, SNSD hingga kini masa Red Velvet, Twice, G(i)-dle, Momoland dan tentunya, Black Pink. Di rumah, kami membahas seru seputar KPop. Ada yang ngefans MonstaX, EXO, BTS, Seventeen. Wah, kalau di rumah ada yang pro ini, ada yang pro itu. Ada KPop yang jadi kesukaan kami bersama, seperti Akmu atau Akdong Musician. Selain lagunya keren, mereka juga kakak adik. Waktu audisi Akmu; tiga juri dari JYP, YG dan SM yang diwakili Boa sampai terpesona banget.

Kadang si bungsu bilang ketika debat sengit dengan kakak-kakaknya,

“Mbak jangan jadi haters, dong!”

“Aku bukan haters! Aku cuma gak suka!”

Lalu aku tengahi mereka dan mengajak dialog.

“Eh, masing-masing punya bias, gakpapa kan? Ngapain juga kalian ribut.”

Aku suka baca biografi, maka kalau ada buku biografi apapun, insyaallah kubeli. Mulai dari Mahathma Gandi sampai Elon Musk. Mulai Suju sampai BTS.

Buku2 Korea (1).JPG
Koleksi beberapa bukuku tentang Korea

Kalau anak muda lebih gandrung ke idol, mungkin aku lebih ingin lihat kenapa sih mereka bisa setenar itu? Tentu gak lepas dari peran pemerintah dan orang-orang di belakang SM, JYP, YG. Sekarang muncul pula manajemen yang tidak setenar “Big Three” tapi mampu membawa idolnya maju menggebrak. Sebut Big Hit yang menaungi BTS, Dublekick yang menaungi Momoland, Starship menaungi MonstaX dan Cube menaungi G(i)-dle.

 

 

~Suka duka KPop

Membaca berita tentang KPop dan membuka channel youtube-nya, aku dapat rasakan perjuangan para idol. Dapat merasakan suka duka dunia ini, termasuk ketika mereka mendapatkan tekanan dari pelatih, dunia luar, bahkan dari fansnya sendiri atau fans bias yang lain.

Ingatkan waktu Momoland ngehits dengan Boom-Boom? Selain Nancy yang dipuji-puji, ada YooE yang dijelek-jelekkan karena wajahnya yang dianggap gak cantik blas. Padahal bagiku YooE murah senyum dan ceria banget.

Baca BTS, aku ikut merasakan kepedihan Jungkook sebagai maknae yang usia 13 tahun harus pergi dari rumahnya dan menjalani pelatihan. 13 tahun itu kalau anak-anakku masih manja-manjaan sama Abah Umminya. Jungkook sering nangis, untungnya ada RM dan Suga-grandpa yang selalu mendampinginya.

 

Black Pink?

Aku sempat kaget karena formasi ini diisi Lisa dari Thailand.

Baik Jennie, Jisoo, Rose dan Lisa punya kelebihan masing-masing. Tapi tetap saja yang paling berat bebannya adalah Lisa. Dia harus belajar bahasa Korea dari 0, belajar kultur Korea dan bersabar menerima segala kritikan pedas.

Ada yang bilang Lisa bukan cewek asli, ia hanya tersenyum.

Ada yang bilang, Lisa selalu kebagian kostum  paling jelek diantara 3 rekannya, ia hanya tertawa.

Bahkan ada fans non-Lisa yang bagiku sangat keterlaluan : mengatakannya terlalu kurus, gak bakal menjadikannya pacar seumur-umur, dll; tapi Lisa tetap santai.

 

 

~Kelebihan KPop

Tak dapat dipungkiri KPop memang benar-benar mencengangkan. Hallyu jadi mewabah, dan orang berlomba ingin tahu tentang Korea. Orang-orang yang dikategorikan Ahjussi dan Ahjumma macam aku mungkin gak terlalu ngeh dengan KPop. Tapi demam Korea tetap saja terjadi. Itu memang keberhasilan pemerintah Korea membaca misi budaya mereka.

SM.JPG
Kiyowo ya? 🙂

Euny Hong dalam Korean Cool mengatakan bahwa inti dari keberhasilan Korea termasuk hallyu adalah ajaran Konfusianisme . Setiap idol tetap harus mengutamakan keluarga, berbakti pada orangtua, hoobae menghormati sunbae dan yang senior melindungi maknae.

Irene, leader di Red Velvet contoh yang manis terkait leadership.

Ia mengurus paspor teman-temannya, membagikan snack kepada teman-temannya, membetulkan rambut dan pita temannya, bahkan mencari kain untuk menutupi kaki temannya yang “terbuka” saat duduk pada acara show.

Ayah Suga-BTS bilang, “aku nggak tau kenapa banyak yang ngefans anakku. Apanya sih yang bikin dia kelihatan cakep?”

Suga hanya tersenyum malu menanggapi komentar ayahnya dan memberikan hormat kepadanya. Coba kalau kita dibilang gitu sama ayah sendiri, pasti akan ngambek dan bilang, “Ayah malu-maluin sih!”

 

 

~Apakah semua kultur KPop bisa ditiru?

Setiap bangsa punya karakter masing-masing yang harus dipelihara.

Ini kutekankan sekali pada anak-anakku, pada saat aku ngisi acara remaja dan parenting, juga pada tulisan-tulisanku termasuk novelku.

Cover Sirius Seoul dll
Sirius Seoul, Polaris Fukuoka, Lafaz Cinta, Reem dengan setting beragam

Korea memelihara han, Jepang memelihara bitoku dan fugen jikkou; maka Indonesia pun harus memelihara karakter bangsanya sendiri.

Prinsip han sesuai dengan bangsa Indonesia, mirip-miriplah dengan berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Kita harus kuat menanggung derita, kesulitan, kesusahan, adversity demi mencapai sebuah tujuan besar.

Bitoku dan fugen jikkou pun demikian. Bersenyap-senyap, lalu kumandangkan kemenangan yang spektakuler dan dramatis. Istilah kita, tong kosong nyaring bunyinya. Jangan jadi tong kosong, tapi jadinya orang seperti padi yang punya isi.

Beberapa kultur KPop mulai menuai kritik, bahkan dari fansnya sendiri dan dari masyarakat Korea. Misal, ketika suatu ketika Momoland tampil dengan rok sangat pendek sehingga beberapa personilnya terlihat canggung dan harus berkali-kali membetulkan rok.

Fans nya marah.

“Kami menyukai Momoland karena lagunya yang energik! Bukan karena tampilan sexynya.”

Budaya industri pun mulai menuai kritik keras.

Salah satunya Black Pink.

Apa yang kita sukai dari KPop?

Kesatuan, kekompakan, kerjasama.

Miss A, bubar karena salah satu personilnya, Suzy mendapatkan porsi lebih dalam karirnya dan itu difasilitasi oleh JYP. Suzy main dalan “Dream High” , lalu karienya makin bersinar sendirian. Akibatnya, 3 member yang lain tenggelam lalu menghilang. 4 Minutes pun demikian ketika HyunA bersinar sendirian, lalu member yang lain perlahan lenyap dari peredaran.

Jennie mengeluarkan lagu Solo.

Para netizen bersuara keras dan mulai mengkritik bahwa Black Pink bukan “Jennie and Friends”. Black Pink adalah kekompakan, kerjasama dan harmoni.

Banyak yang menyukai Black Pink, banyak pula yang mengkritiknya. Bukan hanya di Indonesia tapi di seantero dunia termasuk di Korea sendiri. Bagiku itu hal biasa, sebab memang demikian seharusnya selebritas. Ia pasti dipuja dan harus siap menerima kritik.

Sinta di SMTown
Aku di SM Town. Ada foto Suju, Exo dan Shinee

~Mencontoh Idol

Kalau aku menyukai seseorang, aku akan mencoba melihat sisi positif dan mencontohnya. Kalau suka Lisa, cobalah bersikap seperti dirinya yang cool dan tenang.

Ingatkan waktu netizen kompak mencela Jennie karena sikapnya yang kurang sopan kepada Lisa? Waktu ditanya, hadiah ultah apa yang akan diberikan pada Lisa, Jennie bilang, “aku akan menghadiahi tamparan di wajahnya.”

Guyon sih. Tapi tetap saja bagi sebagian orang keterlaluan, apalagi fans Lisa. Tapi Lisa begitu santai dan tidak terpancing.

Contohlah Lisa ketika menerima kritik dan dan serangan ; tetap tenang, tersenyum. Wajarlah bila ada yang tidak menyetujui penampilan Black Pink, sebab itu pun terjadi pada fans Momoland. Jangan mudah marah, berkata kasar, apalagi membabi buta.

Fans justru harus bersikap bijak.

Aku bukan fans fanatic BTS. Tapi ada salah satu idolnya, Namjoon/Rapmon yang sangat fenomenal di dunia psikologi. IQnya 148! Kemampuannya hanya dimiliki 1% orang di seantero dunia. Apa dia sombong? Nggak. Malah dia mencontohkan banyak hal baik : suka baca buku (Haruki Murakami, bo!), ngemong sama anak buahnya, dan selalu dapat diandalkan. Kapan-kapan kutuliskan tentang RM ya.

Pasti idolmu, idol kita, idol siapapun pernah menerima kritik.

Ayo, kita jadi fans yang bijak.

Jangan sampai idol kita justru dianggap sebagai sumber masalah. Kritik mengkritik itu biasa. Tanggapi dengan kepala dingin, bijak dan dewasa. Kalau para idol KPop itu begituserius  menjalankan ajaran Konfusianisme dengan baik, apakah kita nggak ingin menjalankan peri kehidupan bangsa Indonesia yang ramah, santun dan sopan?

 

 

Kategori
My family Oase Perjalanan Menulis Pernikahan Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY UNTAG, My Campus WRITING. SHARING.

Saat Suami Dapat Mendidik Istri

 

“Kamu tuh hasil bentukan dan didikan suami kamu,” celetuk sahabatku. Begitu kira-kira konteks kalimatnya.

Aku terkejut. Selama 24 tahun menikah, hampir nggak pernah dengar kalimat seperti itu. Mungkin yang mirip-mirip ada, tapi kalimat yang diucapkan temanku belum lama ini menyentak betul. Bagiku, suami adalah kekasih, sahabat, mitra. Kadang teman adu urat leher juga hahaha. Kalau nggak ada suami, nggak ada yang diajak diskusi seru mulai anak sampai urusan sosial politik ekonomi.

Guru?

Apakah suamiku adalah guruku?

Hmmm.

 

Nasehat CJ Lewis

Penulis Narnia ini memberi nasehat kepada pendidik ,”alirilah gurun, bukan menebang pohon.” Konsep mendidik itu mungkin dilakukan suamiku ketika pada awal nikah, aku belum tahu mau jadi apa. Impian untuk jadi istri dan ibu yang baik, ada. Tapi adakah cita-cita selain itu?

Aku suka masak dan jahit. Aku pernah berjualan kue tradisional dan menjahit baju sebagai pemasukan tambahan dan penyaluran hobby. Aku juga suka nulis. Masalahnya, mana impianku yang benar-benar mau difokuskan? Nah, disitu masalahnya.

Aku suka jahit. Baju anak-anakku ketika kecil, nyaris semuanya aku jahit. Korden, aku buat sendiri. Seprei sarung bantal-guling, juga. Teman-temanku bilang : “buat butik aja!”

Oke. Bolehlah.

Aku juga suka buat patchwork. Patchwork ku, cantik-cantik lho. Dompet, tas dan berbagai kreasi kerajinan tangan. Suamiku, mendukung sepenuh hati. Tapi kayaknya ia pun jengkel setengah mati. Tiap kali aku ajak belanja, niatnya beli benang dan kain.

“Kenapa pulangnya bawa ember, sandal, keset dll??”

Rupanya suamiku nggak paham, kalau perempuan bilang 5 menit; itu maksudnya 1 jam. Kalau bilang cuma mau beli benang, itu maksudnya beli benang, gunting, pensil, kertas karbon, kain dan mungkin mesin jahitnya sekalian! Ternyata, aku punya kelebihan dan kekurangan yang baru kuketahui kelak ketika aku lulus sebagai psikolog.

“Ummi tuh nggak fokus, yah,” tegur suamiku. “Yang dikerjain apa aja sih?”

Kalau aku berangkat mau isi acara, suamiku udah rapi lebih dahulu. Aku masih sibuk belanja, cuci piring cuci baju, beberes kamar.

“Perempuan mana bisa pergi begitu aja! Kalau keluar rumah, ya yang di dalam harus beres dulu, ” kilahku.

“Ya, tapi skala prioritas dan fokus, Mi,” tegasnya.

Baru kuketahui, bahwa suamiku tengah “mengaliri gurun” dan bukannya “menebang pohon”. Ia nggak pernah bilang ,”ya udah, berangkat sendiri aja. Capek aku nganter kalau harus ngebut.” Meski ngomel panjang pendek, ia tetap setia mengantarku ke tempat acara.

Nggak pernah ia berkata, “kalau gini caranya, males aku antar kamu belanja!” atau ”kalau gini caranya, nggak usah nulis aja!”

Yang ia lakukan ketika  awal kumenulis adalah, terbangun di tengah malam, terkantuk-kantuk, membuatkanku secangkir kopi susu. Menemaniku yang masih terbata mengetik tak-tik-tuk; dan ia akan tertidur di kursi. Melihat potensiku yang masih sekecil kecambah alias taoge, suamiku nggak langsung menebangnya. Tapi mengairinya, entah kapan bisa jadi pohon kacang hijau.

Percaya itu Lebih dari Cinta

Kemarin, waktu naik ojek online, aku mendengar lagu manis Judika. Endingnya adalah :

Karena percaya itu lebih dari cinta

Duh, aku terharu banget dengar lagu itu. Sampai-sampai, putriku Arina menoleh ke arahku dan kami berpandangan sembari kompak berkata ,” manis bangeeett!”

Bertahun lalu, teman-teman perempuanku pernah berkata:

“Wah Sin, suamiku pencemburu banget. Mana boleh aku pergi nginap-nginap.”

“Suamiku nggak bolehkan aku jadi penulis. Katanya : buat apa?”

Anak-anakkupun nanya, “Abah nggak cemburu sama Ummi? Padahal ummi udah sampai kemana-mana, ke luar negeri juga.”

Yah.

Aku akhirnya nanya ke suamiku ,”Mas cemburu nggak kalau aku ke luar negeri? Kalau aku foto berdua dengan adik-adik FLP yang sebagian cowok? Kalau aku ketemu professor Koh Yung Hun? Kalau aku ketemu A, B, C?”

Jawaban suamiku simple, “aku percaya Ummi. Insyaallah karena kita diikat keimanan.”

Itu jawaban normatif yaaa.

Jawaban konyolnya adalah ,”gak ada yang lebih ganteng dari aku!”

Dan bener juga sih. Kalau dilihat-lihat, diamati, suamiku paling ganteng. Terserah cewek lain mau bilang apa yah. Bagiku, pria ganteng itu yang bisa sholat jamaah di masjid. Sederhana dalam berpenampilan, tapi tetap tampil stylish. Yang bisa jadi qowwam dan imam buat keluarga. Yang perkataan dan perbuatannya senada. Yang penyayang orangtua, istri, anak-anak, saudara-saudaranya. Yang punya banyak teman. Sebab, bagiku orang ini kharismatik. Dan itu suamiku kwkwkwk. Kalau ada kriteria yang lain dan itu cocok buat para istri, berarti lelaki itu paling ganteng buat istrinya.

Kembali pada asas percaya.

Suamiku mempercayaiku tanpa pernah bongkar-bongkar apa isi inbox FB, atau private message di whatsapp. Kalau sesekali ia melihat, wajarlah. Kadang, kami melihat HP satu sama lain untuk lihat foto lucu, meme lucu, video konyol atau bahkan pesan-pesan hikmah yang mungkin gak ada di HP sendiri. Tapi itu jarang sekali. Kadang 2 atau 3 bulan sekali.

Ketika melepasku ke luar negeri, yang dikatakannya adalah, ”aku bakal kangen. Tapi aku percaya Ummi.”

Akhirnya, aku tak pernah panik, khawatir, cemas, ketakutan kalau ketemu siapa saja yang ilmunya bisa kudapat. Aku ceritakan semua pada suami ilmu yang kuperoleh hari itu, pekan itu, tanpa beban.

“Mas, aku ketemu professor ini. Luar biasa pandangannya. Aku ketemu pengusaha ini, luarbiasa capaiannya.” Bahkan, “Mas, aku naik taksi, supir taksinya masyaallah banget…”

Cemburu?

Pernahlah. Tapi hanya di permukaan, nggak sampai yang benar-benar masuk ke hati. Aku sering sekali cerita tukang sayur, supir, tukang bangunan, satpam yang kukagumi lantaran kehebatan mereka mendidik keluarga. Suamiku akan berkata, “dulu Abah juga begitu. Kalau bukan karena Abah Ummi, Mas nggak akan sekolah setinggi ini.”

Penghormatan suamiku pada orangtua kami, sungguh luarbiasa.

 

Aku Harus Membekalimu

Murid harus lebih baik dari gurunya.

Aku pernah nanya : kok boleh aku kuliah S1, S2? Padahal saat itu ekonomi mepet dan situasi serba kejar tayang. Kata suamiku : kalau suatu saat nanti aku harus sendiri, aku punya bekal cukup untuk mendidik anak-anak dan membantu mereka sampai mereka bisa mandiri. Ini bukan berarti kami berpisah atau salah satu meninggal ya, huhuhu. Suamiku kerja di institusi pemerintah yang rotasi mutasinya tinggi. Sudah pasti, aku harus sendiri menangani anak-anak. Itu butuh ilmu, bahkan butuh support ekonomi juga.

Sinta Wisuda S2.JPG
Arina putriku, aku dan Agus Sofyan

Aku kuliah S2 magister psikologi profesi di Universitas 17 Agustus Surabaya lebih dahulu. Suamiku saat itu masih S1. Tapi ia biasa aja, bahkan sering mengantarku penelitian ke sana kemari, magang di RSJ Menur. Barulah kemudian suamiku lulus S2. Bahkan, ia sudah bilang beberapa kali : nanti kita bareng kuliah S3 ya. Aamiin yaa Robb…

Selama ini itu kuanggap mitra.

Tapi ternyata, itu juga sikap seorang guru.

Guru adalah pendidik yang mengairi gurun, menumbuhkan kepercayaan, memberikan teladan, mengembangkan potensi.

Pantas temanku bilang, “kamu tuh hasil didikan dan bentukan suami kamu!”

Tentu, jejak didikan orangtuaku masih tersisa di diriku. Tapi sesudah menikah, sungguh, suami adalah guru yang utama.

Ah, terimakasih suamiku, guruku.

Yang sudah rela berpayah-payah mendidik istrimu yang kadang manja, ngeyel, ngambek, sering ngomong ala perempuan banget (ya iyalah) yang buat suami elus dada. Potensiku berkembang dan melejit, karena guruku selalu mendorong di belakang. Mendampingi di samping. Dan kadang, ketika aku nggak tahu jalan, berada di depan untuk membukakan wawasan.

 

Kategori
Catatan Jumat Oase Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Remaja. Teenager Sirius Seoul

Psikologi Gaul (1) : Memahami Remaja

 

“Boleh pakai kutex?”

“Kalau tattoo?”

“Pacaran kan nggak papa kalau cuma jalan-jalan.”

“Mau warnai rambut. Asal gak hitam gakpapa, kan?”

“Aku main game kalau lagi bosen. Semua orang ngomel melulu. Yah, namanya bosen gimana!”

“Males sekolah/ngampus. Dikejar-kejar melulu.”

Itu sebagian dari keluhan remaja yang mampir ke agendaku.

Ya, mereka yang dilahirkan tahun  2000an dan lebih muda lagi pasti mengalami clash dengan generasi yang lebih senior. Anggapan para guru dan orangtua bahwa generasi ini lebih nggak bisa diatur, lebih seenaknya aja, nggak mandiri; mungkin sekilas benar. Remaja di usia ini memang ampun banget, bikin cenat cenut kepala dan jantung nyaris meledak saking nahan emosi.

 

          Pahami Tipe Kepribadian

Meski urusan tes kepribadian dan gangguan kepribadian itu adalah wilayah psikolog/psikiater; orangtua dan pendidik perlu tahu garis besarnya. Umumnya kepribadian dibagi 5 wilayah besar : OCEAN – openness to experience, conscientiousness, extraversion, agreeableness dan neuroticm. Dari artinya sudah dapat dikira-kira : O tipe yang suka petualangan dan pengalaman baru, C tipe yang rigid dan disiplin, E – ekstrover, A- tipe sosial yang senang kalau orang lain senang dan N- tipe penggugup.

Susan Cain, membagi kepribadian hanya 2 wilayah besar. Ekstrover dan Introver. Kalau ada perincian, hanya dibagi ekstrover tenang dan esktrover gelisah, introver tenang dan introver gelisah.

Apapun itu, kepribadian anak tidak sama persis dengan orangtua. Kalau mirip, iya.

Anaknya tipe O? Apalagi usia remaja, ya udah deh. Jarang betah di rumah. Senangnya naik gunung, panjat tebing, ikut ini ikut itu. Beda dengan tipe N yang penggugup ketemu orang : ia akan diam tenang di rumah entah baca buku atau ngerjain PR.

Tipe kepribadian ini gak mutlak-mutlak amat.

Bisa jadi suatu saat berubah, dengan asupan informasi, pendekatan kognitif dan disiplin perilaku.

Misal anak introver yang emang sama sekali gak bisa gaul. Maunya sendiri aja. Apalagi kalau IQnya di atas 130 yang sudah masuk ranah gifted, si dia yang senang intrapersonal ini makin menyendiri dengan ide-ide kreatifnya yang gak mudah dipahami orang. Dengan bantuan pendekatan yang komunikatif, introvernya akan lebih stabil dan ia dapat mulai bersosialisasi dengan lingkungan sekitar meski nggak akan berubah jadi ekstrover sejati.

 

          Perbanyak Komunikasi

Setenang-tenangnya seorang anak , sesantun-santunnya; ketika memasuki usia remaja ada yang berubah dalam dirinya baik kematangan kognitif, kematangan emosi termasuk kematangan hormonal. Yang biasanya gak gampang nyolot, kena PMS, sensi deh.

Yang biasanya nurut kalau disuruh-suruh mulai nanya :”Mama kok nyuruh aku terus? Adik gak disuruh!”

Kondisi menjelang dewasa ini kadang berbenturan dengan orangtua dan guru; maka label pembangkang ini cucok disematkan ke remaja.

Seorang remaja mengaku membaca komik sembunyi-sembunyi, sebab orangtuanya akan membuang semua komiknya ke  halaman bila ketahuan.

Seorang remaja, mengeluh sering bolos karena hampir semua guru BK nya menakutkan.

Seorang remaja, mengaku sudah lama tidak kuliah karena ia memiliki ketakutan bertemu orang-orang (anehnya, dampak dari bullying dan parenting orangtua baru tampak jelas di usia remaja).

Tidak ada cara lain kecuali mencoba bersimpati pada mereka : mendengar, mendengar, mendengar. Menyimak, menyimak dan mencoba memahami emosi yang berkecamuk.

BTS- unofficial biography dan Sirius Seoul (kiri). Penghargaan terhadap BTS, Twice, Stray Kids, G(i)-dle (kanan)

 

Aku pernah mengisi sebuah pengajian remaja.

Usai acara, malu-malu 2 orang remaja mendekatiku dan bertanya :

“Kok Bunda tahu BTS?”

“Ya, tahulah,” aku tersenyum simpul.

“Eh, memangnya, bias Bunda siapa?”

“Bunda suka Rap Monster (RM). Dia salah satu idol dengan IQ tinggi, lho.”

Perbincangan pun mengalir.

Suatu ketika, klienku adalah seorang remaja yang mengaku ia sudah nggak sanggup kuliah.

Berjam-jam aku menyimak ceritanya, membuat catatan dan membuat janji untuk bertemu. Ketika aku ke Korea, ia kupersilakan terapi kepada psikolog dan terapis lain tetapi kemudian kembali lagi padaku.

“Bun,” keluhnya, “waktu aku ke terapis lain, ia banyak menasehatiku. Ia malah nggak sabar dengar ceritaku.”

Memberi nasehat, memang selalu ingin dilakukan orangtua seperti kita.

Padahal sebetulnya, dengan membuka sumbatan komunikasi, membiarkan para remaja ini bercerita banyak tentang hidup mereka yang juga jumpalitan ke sana kemari; juga salah satu pintu kestabilan kepribadian mereka dan insyaallah para remaja ini akan dapat diarahkan pada akhirnya.

Suatu ketika, aku mendapatkan beberapa klien yang kecanduan game.

Dibanding demam Japanese wave dan K-Pop yang bagiku lebih menarik, aku relative nggak begitu paham mengapa remaja bahwa orang dewasa addict video game! (Klien-klienku yang adiksi kepada video game sebagian sudah menikah dan bekerja sehingga terganggu urusan rumahtangga dan kariernya!)

Aku bertanya pada anak-anakku tentang video game.

Yang membuatku terperangah, anakku mengajakku menonton you tube, opening ceremony turnamen game.

“Lihat nih, Mi. Supaya Ummi tahu, kemegahan dunia gamers.”

Opening ceremony itu membawakan lagu K/DA-Popstar dengan 4 idol. 2 idolnya adalah G(I)-DLE yang baru saja mendapatkan award sebagai pendatang terbaik di dunia music. Selain lagunya yang easy listening, penonton arena disuguhkan tayangan 3 dimensi (atau 4 dimensi ya?) sehingga mana yang artis, mana yang tokoh LOL (League of Legend) versi animasi campur baur dengan tokoh manusia. Mata kita nggak bisa membedakan mana sosok manusia, mana sosok animasi!

Orangtua yang anaknya terpapar video game, usai menonton opening ceremony LoL ini harus berpikir bijak : apakah anaknya akan menjadikan video game sebagai salah satu cara hidup  seperti Elon Musk si pembuat Tesla, menjadi gamer sejati seperti cewek Surabaya Indri Sherlyana (kata anakku pemenang kompetisi e-sport hadiahnya M bahkan T!) atau mulai berkomunikasi kepada anak untuk mengurai adiksinya kepada video game.

Indri Sherlyana, gamer cewek asal Surabaya; KDA Popstar, Rockman

 

 

 

Sinta Yudisia

Penulis, Psikolog, Emak yang baru belajar apa itu Skyrim, Dota, LoL, Mobile Legend

 

Referensi :

Jawa Pos, 14/10/2018 (Indri Sherlyana)

Jawa Pos, 18/10/2018 (Rockman)

KDA Popstar https://www.youtube.com/watch?v=hif2E1QaDDs

 

Kategori
Fiksi Sinta Yudisia Karyaku Kepenulisan KOREA Oase

Sirius Seoul dan pembaca

Senangnya, ketika buku kita terdistribusi ke berbagai segmen pembaca. Semoga Sirius Seoul membawa manfaat luas bagi pembaca di tanah air hingga ke pelosok penjuru dunia 🙂

Kategori
Hikmah Jepang Karyaku Kepenulisan KOREA Oase Perjalanan Menulis WRITING. SHARING.

Buku, Empek-Empek, Bros ~ Kunci Menulis (1) : Konsisten

 

 

Apa persamaan buku, empek-empek dan bros?

Seorang sahabatku, mbak Yulyani namanya, bertahun-tahun membuat empek-empek. Memilih ikan sendiri, menguliti ikan, memisahkan daging ikan dari durinya, menggiling daging lalu dicampur dengan tepung sagu dan bla-bla-bla sampai jadi empek-empek yang menurutku terenak di lidah. Kuah cukonya? Wuah, jangan tanya. Aku kalau beli empek-empek Yenna, mesti beli tambahan kuah cuko. Anak-anakku akan makan kuah itu dengan teman krupuk, pilus, mie, atau apa aja yang bisa dicampur.

Kalau dengar mbak Yulyani cerita tentang empek-empeknya, aku bengong. Kok bisa orang secantik itu betah di dapur?

“Saya memang suka masak, Dek,” itu ungkapnya.

Memangnya orang cantik nggak boleh identik dengan dapur?

Empek-empek.JPG
Keripik ikan endesss punya mbak Yulyani

Pendek kata, bisnis empek-empeknya luarbiasa. Dari bisnis itu sekarang melebar menjadi keripik ikan yang rasanyaaaa…aduh, gak berhenti cheating-day. Bikin gagal diet hahaha. Pokoknya, endesss. Dari bisnis empek-empek ini, beliau merambah usaha yang lain seperti garmen. Apa hubungannya? Konon kabarnya, pengusaha pandai melirik pasar. Jadi, ketika bisnis empek-empek sukses, mbak Yulyani melihat pangsa pasar pakaian yang sangat besar. Branding Carmey-nya melesat. Dan bukan itu aja. Beliau juga motivator andal yang mampu menggerakkan orang. Kalau habis ketemu mbak Yulyani, bawaannya gak betah duduk. Pingin bikin ini, pingin buat itu, pingin jualan ini. Anakku yang pernah ikut pelatihannya bilang,

“Ummi, kata bunda Yulyani, kita boleh jadi apa aja. Mau jadi guru, dosen, pegawai negeri, anggota dewan dan lain-lain, boleh. Tapi semua profesi itu harus diiringi dengan jadi pengusaha. Aku pingin kayak bunda Yulyani.”

Begitu.

Nah, kalau bros?

2007 saat pindah pertama kali ke  Surabaya, aku tahu ada toko pakaian kecil dekat rumah. Namanya daerah Pandugo. Tokonya bernama Ashanty ( ini bukan punya Anang dan istrinya, lho). Pemiliknya, suka membuat handmade bros dan dijual ke teman-temannya. Brosnya cantik, unik dan beda dengan yang lain. Pokoknya gak ada kembarannya, deh! Lambat laun, dari bros ia buat dompet, tutup toples, tempat tissue dan seterusnya. Lalu buka stand kalau ada bazaar.

Terus?

Bros Ashanty.JPG
Cantik-cantik ya?

Nah, karena pesanan makin banyak, akhirnya kulihat toko Ashanty ini buka pengiriman barang : JNE (aku nggak promosi yaaa). Awalnya kecil, dan gak banyak dikenal. Di sekelilin Rungkut ada Pos, Tiki, JNE, Wahana. JNE punya Ashanty semula hanya punya 1 karyawan yang mendobel  sebagai karyawan jaga toko Ashanty butik yang jual pernak perik bros. Lama-lama, nambah 2, 3 karyawan.

Kenapa? Karena JNE Ashanty buka Senin- Minggu. Jam 08.00- 20.00. Jadi fleksibel banget buat emak-emak kayak aku yang kadang ngos-ngosan bagi waktu. Kalau kirim paket buku termasuk novelku yang baru , Sirius Seoul, aku pakai JNE Ashanty selain pos dan wahana, sesuai permintaan pelanggan.

Terus?

Berhubung orang lalu lalang ke JNE dan toko handmade, maka Ashanty gelar lapak di depan toko…lapak kue. Kue-kue titipan orang-orang. Risoles, sus, lumpia, cucur, gethuk,  aneka minuman dan segala macam. Ashanty membidik para orangtua yang pasti, paginya gak sempat masak dan kepingin beli jajan sehat untuk anak-anak yang sekolah.

Sekarang, Ashanty semakin banyak menambah bisnisnya seperti tour and travel dan buka toko kue. Asyik banget ya kalau dengar success story nya? Aku aja ngiler. Padahal siapa yang tahu perjuangan sukses di belakang Ashanty butik.  2007 Ashanty hanya toko kecil. Sekarang, masyaallah…

 

Kunci Menulis (1) : Konsisten

Aku lihat, mbak Yulyani dan toko butik Ashanty punya ciri mirip dengan penulis :

konsistensi.

Orang mungkin akan nanya-nanya kalau buat empek-mepek atau bros : emang laku?

Nanti kalau jual ada yang mau? Kalau nggak laku, malu banget kali ya? Trus modalnya gak balik? Trus kalau ketahuan tetangga sama teman…alamak, mau ditaruh di mana mukaku? Apalagi kalau orang cuma nanya, gak jadi beli. Mending nanya, ini mah cuma melengos. Bla bla bla. Banyaklah alasan kita.

 

Mbak Yulyani dengan empek-empek Yenna dan toko Ashanty mengajarkan pada kita bahwa konsisten melakukan sesuatu, insyaallah akan berbuah positif di tahun ke-3, 5 dan seterusnya. Di tahun ke-10 dan seterusnya, semakin membuahkan hasil.

Begitupun menulis.

Ketika konsisten menulis 1 halaman, 2 halaman, 3 halaman maka akan selesai 100 halaman. Dari 1 buku antologi menjadi 2, 3, 4 buku antologi. Pada akhirnya akan menjadi buku solo dan seterusnya. Kapan menikmati hasil royalty dan honor dimuat di media? Mungkin di tahun ke-3, 5 atau 10.

Konsisten berjalin kuat dengan kesabaran.

“Jadikan sholat dan sabar sebagai penolongmu, “ Al Baqarah  (2) : 45

Ayat ini benar banget!

Kalau nggak sabar dalam menjalani sesuatu,maka nggak akan ada hasilnya. Nggak akan ada buahnya. Nggak akan ada nikmatnya.

Cover Sirius Seoul dll.jpg
Sirius Seoul, Polaris Fukuoka, Lafaz Cinta, Reem

Koreografer Korea yang menyiapkan penari untuk penari latar boyband atau girlband, melatih trainee secara konsisten bisa sampai 20 jam sehari. Mbak Yulyani, konsisten mencoba membuat keripik ikan sampai habis 200 kg tepung! Dan akhirnya beliau menemukan resep yang ciamik banget.

Kamu mau jadi pengusaha dan pebisnis seperti mbak Yulyani atau toko Ashanty, atau jadi penulis dunia seperti Najib Mahfudz dan JK Rowling?

Konsisten adalah salah satu kuncinya.

Mbak Yulyani pernah memberiku nasehat, “kalau usaha baru sedikit, baru sebentar, sudah menyerah dan mau pindah ke bidang lain; kapan menuai hasil?”

Iya, juga. Jualan kue, 2 minggu udah capek dan malu. Ganti jualan minuman. 1 minggu gak ada hasil, pindah percetakan. Sebulan gak ada hasil, pindah ke tour travel. Kapan bisnis itu diberikan kesempatan merangkak, berdiri, berlari kalau kita sendiri gak mau menyirami?

Penulis pun demikian. Buat 1, 2, 3 cerpen dan dikirim ke media, ditolak; sudah bilang ,” kayaknya aku nggak bakat.”

Buat 1 novel, terbit, pasar nggak merespon bagus, udah mundur, “kayaknya menulis bukan duniaku.”

Lalu kapan tulisan-tulisan kita bisa terasah semakin bagus, memikat, mempesona dan mencerahkan kalau penulisnya tak ingin konsisten dalam kesabaran?

Keabaran itu bukan hanya ketika mengumpulkan niat, menyelesaikan tahap satu sampai tahap tuntas pekerjaan tersebut, tetapi juga sabar ketika orang tak satupun menoleh ke arah karya yang sudah kita torehkan susah payah. Mbak Yulyani dan butik Ashanty sudah menjalani itu semua. Kamu dan aku mau nggak jadi orang konsisten yang akan menuai hasil memadai di satu waktu?

 

#siriusseoul  #polarisfukuoka #kitakyushu #jepang #korea #novel #remaja #friendship #lovestory

#adventure

 

Kategori
Buku Sinta Yudisia Cinta & Love Hikmah Karyaku KOREA Oase Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Sirius Seoul Suami Istri

Cinta : sejati, selingkuh, sejenis.

Lagu cinta apa yang paling kamu suka?

Waktu masih zaman SMP SMA dulu, aku paling suka lagu Nikka Costa.

nikka costa
Nikka Costa

It’s my first love

Seems that I am too young

He doesn’t even know

Wish that I could show him what I’m feeling

 

Mengingat cinta, seperti membuat rasa penuh bunga bermekaran. Udara semerbak, bulan bersinar terang, semua orang tersenyum. Manusia bergerak dalam slow motion. Persis seperti ketika Pia jatuh cinta pada Rancho di 3 Idiots! Geli-geli sendiri bila ingat kita pernah jatuh cinta dengan teman sekelas, kakak kelas, teman lain fakultas atau bahkan yang usianya jauh lebih tua : asisten dosen atau guru/dosen!

Para filsuf punya sejuta kata-kata sihir untuk menggambarkan cinta.

“Yang jatuh cinta, tidak akan merasakan gravitasi,” kata Einstein.

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,” kata Sapardi Djoko Damono.

Ribuan kata mutiara menjadi penghias buku harian, catatan sekolah, diktat kuliah, quote manis yang diunggah ke media social sembari membuat versi pic-art nya. Setiap kali membayangkan wajah orang yang membuat hati berdesir, rasanya dunia dipenuhi mimpi indah. Duh, kapan ketemu dia, ya? Duh, andaikan bisa ketemu sebentar, berduaan sebentaaar aja. Kalau boleh waktu berhenti sesaat ketika ada kesempatan berdua dengannya.

70808107-with-love-black-silhouette-vector-hand-drawn-illustration
With love

Cinta, dianalogikan seperti coklat. Legit, manis, lezat, memikat. Kata cinta, memunculkan satu persepsi yang sama di benak hampir setiap orang : gambar jantung hati.

Begitu banyak kisah di dunia ini yang menggambarkan kekuatan cinta. Nabi Ibrahim as sukses karena cinta Sarah dan Hajar. Nabi Muhammad Saw sukses karena cinta Khadijah ra. Buya Hamka sukses karena dukungan Siti Raham.  Einstein sukses karena didampingi Mileva Maric. Mahathma Gandhi sukses karena dukungan Kasturbai. BJ Habibie sukses karena dukungan luarbiasa dari bunda Ainun.

Pertanyaannya : apakah cinta yang demikian indah itu, merupakan anugerah atau ujian?

 

Cinta : awalnya anugerah

Bayangkan dunia tanpa cinta!

Tidak ada anak-anak, tidak ada keindahan, tidak ada produk-produk ekonomi, tidak ada kegairahan hidup.

Konon, ekonomi digerakkan karena cinta. Lho, ini bukan sok filosofis. Segala produk yang bersumber dari ‘cinta’ menuai untung : film, musik, makanan, kosmetik, otomotif, elektronik, pariwisata dll. Film romance disukai. Music yang mengandung unsur cinta, digandrungi. Makanan seperti coklat, meraup profit luarbiasa. Café-café yang menawarkan sudut romantisme, laku keras. Kosmetik yang menjanjikan perempuan/ lelaki akan lebih dicintai karena fisik yang makin menarik; laku keras. Otomotif yang menggambarkan mobil bisa dikendarai berdua, atau bisa dikendarai sekeluarga; laris manis. Elektronik yang bisa memudahkan seseorang menghubungi kekasihnya di seberang sana, terjual habis.

 

Konon kabarnya, cinta itu dari Tuhan.

Sementara, kebencian dari setan.

Jadi, segala sesuatu yang menimbulkan rasa cinta, berawal dari Tuhan. Cinta pada orangtua, cinta pada pasangan jiwa, cinta pada anak-anak, cinta pada sesama manusia dan seterusnya. Kebencian adalah perwujudan dari nafsu syaithoni, sehingga kebencian pada manusia adalah wujud terkutuk.

Kalau cinta dari Tuhan, apakah semua bentuk cinta merupakan pesan Ilahiyah?

Bagaimana jika manusia merasakan cinta –yang konon dititipkan olehNya- dan cinta itu tertuju pada subyek-subyek yang bertentangan dengan garis hukumNya? Apakah itu anugerah, ujian; ataukah kita salah memaknai salah satunya?

7070 love cats-800x800.jpg
Love

Misal, jatuh cinta pada suami/ istri orang.

Bukankah manusia tak bisa merekayasa hati, sehingga bisa punya kecenderungan sesuai pilihan benaknya? Lalu salah siapa ketika tiba-tiba seorang manusia jatuh cinta pada orang lain sementara dirinya sudah terikat janji, dan orang yang membuatnya jatuh hati juga telah terikat sumpah setia?

Bagaimana pula, bila manusia jatuh cinta pada sosok seperti : saudara kandung ( insest), anak kecil (pedofil) , cinta kepada rekan sesama jenis (homo/lesbi), tokoh anime, idol, dll ?

 

Nasihat Victor Frankl

Si penemu logoterapi yang menerbitkan karya legendaris Man’s Search for Meaning mengatakan: patung Liberty di pesisir Timur Amerika harusnya dilengkapi dengan patung Responsibility di pesisir Barat.

Ya, seringkali manusia yang dianugerahkan fisik, ruh dan akal sempurna tidak siap untuk membangun patung Responsibility.

Siapkah kalau berselingkuh dan merebut pasangan orang lain? Siapkah dengan pasangan yang kecewa dan anak-anak yang berantakan; serta kelak, teman selingkuhan itu berpotensi akan berselingkuh pula dengan orang lain? Belum lagi cibiran social dan banyak hukuman social yang harus dipikul. Yang dibayangkan adalah indahnya cinta bersama orang yang tengah menjadi tambatan hati.

Siapkah menikah dengan Idol yang super ganteng atau super cantik?

Hal-hal yang dilakukan sasaeng terhadap idol K-pop mereka terkadang sungguh di luar batas. Cinta seorang fan kepada Taecyeon (2 PM), Baekhyun (EXO), Jonghyun (CNBlue), Taeyang & G-Dragon (Bigbang); perlu direnungkan. Sasaeng rela melukai diri dan menuliskan surat menggunakan darah haidh kepada sosok yang sangat digandrungi dan dicintai.  Apakah ketika pada akhirnya bisa berpacaran dan menikah dengan Taeyang atau G-Dragon; maka kebahagiaan akan menaungi? Bagaimana pula jika jatuh cinta pada salah satu tokoh anime seperti Kamen Rider, atau pemerannya, Satou Takeru? Tokoh-tokoh rekaan penulis cerita yang tidak ada di dunia nyata dan diharapkan benar-benar ada di dunia nyata.

Demikian pula, cinta yang dianggap sebagai preferensi seksual seperti cinta pada anak kecil, cinta pada saudara kandung dan cinta pada sesama jenis. Benarkah patung Responsibility sudah kita bangun, berdampingan dengan patung Liberty?

 

Cinta : Anugerah sekaligus Ujian

Cinta pada uang wajar, namanya manusia. Itu anugerah. Dengan cinta pada uang, maka manusia giat bekerja dan hal itu menimbulkan perputaran roda ekonomi dan gairahnya kehidupan seantero dunia mulai kehidupan rumah tangga hingga kehidupan bernegara.

Cinta yang di luar batas, itu yang harus dikendalikan dengan patung Responsibility. Kalau cinta terlalu hebat pada uang hingga menabrak batas haram  apakah sudah siap dengan Responsibility? Yang penting cinta uang, dapat uang, pakai uang. Padahal, Resposibility yang harus ditanggung adalah : kehidupan tidak berkah, pasangan yang tidak setia, anak-anak yang pembangkang, rumah yang tidak nyaman ditinggali, mobil yang selalu sial, teman-teman yang oportunis dst. Saat manusia mencintai uang berlebihan; ia inginnya tetap bebas merdeka memilih semuanya termasuk : dapat pasangan baik, anak-anak  penurut dan berprestasi, hidup tanpa kendala.

Tidak ada manusia yang berkata.

“Aku milih cinta uang saja. Nggak papa pasangan nggak setia, anakku jadi amburadul, temanku pengkhianat semua. Yang penting duitku banyak.”

Nggak, kan?

Manusia ingin semua.

Liberty ya iya, Responsibility-nya tidak dikalkulasi.

Cinta pun demikian.

Cinta yang sah, antara suami istri pun adalah anugerah, pada awalnya.

Tapi kalau suami atau istri tidak bisa membangun patung Responsibility, bagaimana jadinya? Hanya cinta saja, tidak diikuti komitmen. Seperti salah satu skala dari 8 skala Zick Rubin tentang macam-macam pola cinta. Cinta yang hanya cinta melulu tanpa komitmen, tanpa punya visi misi, hanya akan nabrak sana sini. Istri yang cinta setengah mati sama suaminya, bisa jadi obsessive luarbiasa. Suaminya nggak boleh kemana-mana, nggak boleh reuni, nggak boleh meeting di luar kota. Pun nggak boleh mengunjungi orangtua, nggak boleh lagi dekat sama kakak adiknya, nggak boleh puunya hobi, nggak boleh senang-senang sendiri.

Cinta pada uang, pada jabatan, pada kedudukan, pada suami atau istri, pada anak-anak awalnya merupakan anugerah. Tapi bila manusia tidak bisa mengelolanya dengan baik; akan menjadi fitnah.

Bila Liberty tidak dibarengi Responsibility, manusia hanya mau memilih hal yang mudah, enak, memikat, tanpa mau menimbang bahwa semua punya tanggung jawab. Konsekuensi. Perhitungan.

 

Cinta yang Perlu Dipertimbangkan

Cinta pada suami atau istri orang.

Cinta pada teman sejenis.

Cinta pada anak di bawah umur.

Awalnya, mungkin anugerah.

Ah, cinta dan sayang pada suami/istri orang, awalnya karena rekan bisnis. Bukankah mencintai saudara itu ajaran agama yang mulia? Bukankah memberi perhatian & hadiah, adalah bagian dari persahabatan?  Bukankah kata Rasulullas Saw : tahaddu tahabbu, memberi hadiahlah agar kalian saling mencintai?

Lalu suami atau istri orang yang tadinya hanya sahabat, tempat berkonsultasi, rekan bisnis, rekan organisasi, rekan sejawat lama-lama menjadi rekan sehati. Pertimbangkanlah, bahwa Tuhan Maha Melihat.

Maha Menghitung.

“Aku jatuh cinta pada teman sekelasku di kelas Magister. Ia begitu pintar dan mempesona. Aku telah punya istri dan anak-anak. Tetapi bayangan temanku yang memikat, begitu mendominasi. Aku sering menangis di masjid, sembari membaca Quran. Ya Allah…aku nggak mau ini. Kenapa hatiku tergoda untuk berselingkuh?

Aku tahu hatiku sakit. Karena kutahu istriku demikian baik. Maka aku rajin ke masjid, baca Quran dan kuminta teman-teman menasehatiku. Lambat laun hatiku menjadi netral. Tiap kali melihat temanku di kelas Magister, aku merasa bersalah. Aku menyayanginya dan menghormatinya sebagai teman sekarang. Betapa, beruntungnya aku punya istri yang setia melayaniku di rumah.”

Demikianlah pengakuan seorang lelaki.

Cinta pada teman sejenis.

Ah, bukankah ini boleh?

Ia yang merupakan teman, sahabat, sosok yang selalu ada ketika kita sekolah dan kuliah. Ketika kerja. Ia yang sigap mendengarkan keluh kesah. Ia yang tidak pernah mematikan koneksi internet dan mau jam berapapun dianggu. Ia bahkan rela menyisihkan uangnya demi kepentingan kita. Tidakkah sahabat semacam ini adalah belahan jiwa yang sesungguhnya?

Mencintai teman sejenis, sungguh tidak terlarang, ketika masih dalam batas persahabatan. Tetapi ketika melampaui batas persahabatan, tidakkah perlu mengobati hati kita yang tengah terluka itu seperti sosok lelaki si pembaca Quran di masjid dalam kisah di atas?

“Aku selalu jatuh cinta pada perempuan, meski aku juga perempuan. Tetapi ketika aku berjilbab, aku belajar agama, aku tahu Tuhan melarangku dmeikian. Aku menangis. Hatiku sakit. Aku jatuh cinta pada sahabatku. Dan apapun bisa kulakukan, kalau mau. Ya siapa yang mencurigai dua anak gadis yang tinggal satu kamar? Orang lebih curiga cowok cewek tinggal seatap.

Tetapi, aku rasa Tuhan tidak mengizinkan ini.

Maka aku berjuang setengah mati mencoba mencintai lelaki.

Aku maskulin, maka aku mencoba lebih feminine. Dan aku mencoba untuk memikirkan lelaki, jatuh cinta pada lelaki dan membayangkan kelak suamiku lelaki. Ternyata kau bisa jatuh cinta pada seorang lelaki temanku! Horeee! Alhamdulillah. Aku nggak mau pacaran, tetapi hatiku bahagia. Ternyata aku pun bisa jatuh cinta pada lawan jenis.

Semua tergantung bagaimana cara kita mengelola hati.”

 

Cinta, ah…

Aku yakin, kita semua pernah mengalami cinta rahasia.

Cinta yang tidak seorangpun boleh tahu. Hanya antara diri kita dan Tuhan saja.

Entah itu jatuh cinta pada teman sekelas, pada kakak kelas, pada pacar orang lain, pada tunangan orang lain, pada pasangan hidup orang lain. Pada anime, idol, atau sahabat sejenis. Perempuan dan perempuan, lelaki dan lelaki.

Cinta itu indah, apapun bentuknya.

Cinta itu pada akhirnya akan membuat ketagihan, ingin memiliki (dalam kadar tertentu menjadi obsessive), ingin mencicipi, ingin bersama berdekatan dan seterusnya dan seterusnya. Sebagai manusia dewasa kita dapat mengkhayalkan, bahwa bagian dari cinta adalah eros. Nafsu. Itulah bagian dari cinta. Bila nafsu ini tidak dikendalikan, ia bagaikan naga dengan mulut api yang akan menghanguskan segala.

Jatuh  cinta pada pasangan orang, perlu dikendalikan agar kita tidak hanya mencecap Liberty dan tunggang langgang dari Responsibility.

Jatuh cinta pada Idol, K-Pop, tokokh anime; harus segera dikendalikan agar diri  bisa segera berpihak pada realita. Sejelek-jeleknya pasangan hidup, masih lebih mending yang real daripada yang imajinatif.

Jatuh cinta pada rekan sejenis, perlu dipertimbangkan. Ditelaah, direnungkan. Diluruskan. Meski DSM V sudah tidak mencantumkan cinta sejenis sebagai bagian dari disorder.

Siapkah kita membangun patung Responsibility menghadapi segala kendala kehidupan, ketika memilih cinta yang tidak biasa? Celaan manusia, hinaan orang, hukuman social, tidak berarti apa-apa. Tetapi manusia tak akan sanggup menghadapi keputusanNya.

Seorang kiai berkata kepada santrinya.

“Hati-hati ya, Nduk, Le, ketika berbuat dosa. Segera mohon ampun. Nanti kamu nggak kuat bayarnya.”

Medengar nasehat itu, hatiku tercabik.

Kita bukan orang suci.

Hanya Nabi yang ma’shum.

Kita juga tidak berhak menghakimi dan melabeli orang, kecuali memang ia memiliki keahlian sebagai halim peradilan,hakim agama atau professional di bidang keilmuan yang terkait. Tetapi perkataan pak Kiai itu patut direnungkan. Perkataan yang sama dengan nasehat Victor Frankl.

Ketika kita melakukan satu tindakan Liberty, kuatkan membayar Responsibility nya?

———————

Tentang cinta sejenis, kutuliskan dalam novel Lafaz Cinta dan Seksologi Pernikahan Islami. Cinta romansa dengan setting Korea dan K-Pop kutuliskan dalam Sirius Seoul.

 

 

 

 

Kategori
Buku Sinta Yudisia Fiksi Sinta Yudisia Karyaku Kepenulisan KOREA Kyushu Mancanegara Oase Sirius Seoul Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Sirius Seoul : Nol & Zero, bag. 1

Ikuti kisahnya dan nantikan hadiahnya!

 

Rasanya sepertiぐでたま. Gudetama, si telur yang eng­gan melakukan hal dengan sepenuh hati. Si telur yang bosan diperintah-perintah dan lebih senang tengkurap, menungging sebagai bentuk pemberontakan dan peno­lakan. Si melankolis berbentuk kuning, yang malas dan kerap menggumam: meh, aaahhh.

Bila malam tiba, ingin bersorak melihat shoji ka­marnya. Bau sarung bantal dan selimut adalah aroma ternikmat yang pernah dihirup. Sering kali bila terlam­pau lelah, Sofia tertidur masih mengenakan kaus kaki dan jilbab yang membalut kepala. Barulah dini hari saat ingin ke belakang karena hawa demikian dingin, dia membersihkan diri berikut sikat gigi dan menyelesaikan agenda yang seharusnya ditunaikan sebelum tidur.

cover Sirius Seoul
Sirius Seoul yang insyaallah terbit September 2018

Dering alarm pagi merupakan hukuman bagi kesenangan!

Andai waktu dapat ditunda dan dia dapat menelusup ke bawah lantai tatami. Menimbun diri di balik tumpukan baju yang belum disetrika, menimbun diri di balik gulungan selimut, bermimpi bahwa natsuyasumi sedang terjadi hari ini.

Sebetulnya, Paman tidak lagi seperti matsu yang kaku. Jarang mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan. Namun, perintahnya makin sering, makin kerap, makin beruntun.

Ambilkan barang. Ada yang mau antar dan nitip di An Nour.

Jemput tamu di Bandara Fukuoka.

Belikan bibit bunga.

Jangan lama-lama di kampus. Kerjakan tugas sambil jaga toko.

“Main ke Aso jangan keseringan. Mentang-mentang tiket pelajar dapat diskon. Ngapain jauh-jauh cari krim susu di kaki Gunung Aso?”

 

*******

 

Kantin Joshi Daigaku, dihiasi meja putih dan kursi kuning cerah, tidak mampu memberikan energi positif. Dinding merah bata yang menjadi ciri khas kampus perempuan, bagai batas-batas penuh bisikan membawa pesan rahasia bak cerita di film horor.

“Aku merasa semester ini sebagian besar diriku hancur,” keluh Rei.

“Sama,” Umeko mengiakan.

Sofia yang menyusul tampak sama kusutnya.

“Aku tidak mengerti apa yang salah,” Rei masih ke­hilangan semangat. “Kuliah nursing, pelatihan keguruan, dan children care harusnya berjalan mudah.”

“Apakah kita sudah kehilangan sifat keperempuanan sehingga pelajaran perempuan terlihat sangat sulit?” Sofia melempar pertanyaan retorik.

“Kamu betul,” ujar Rei dan Umeko nyaris serem­pak.

“Dulu, ibu-ibu kita sangat rajin dan tahan banting,” Umeko menambahkan. “Mereka langsung belajar dari alam. Sekarang, kita kehilangan keahlian. Ah, ternyata jadi perempuan terampil sangat sulit.”

“Kita butuh liburan,” usul Rei.

“Setuju!” Sofia yang pertama kali mengiakan, sebe­lum yang lain sempat menghela napas.

Mereka memandang makan siang masing-masing tanpa selera. Bahkan, olahan telur Sofia yang biasanya paling mengundang selera, tidak dilirik oleh Rei dan Umeko.

“Aku sepertinya akan mengambil semester pendek,” Umeko terlihat ragu. “Tapi, aku tidak menolak kalau kalian memaksa.”

Sofia dan Rei tertawa.

“Tak seorang pun menolak liburan, Umeko!” Rei menggoda. “Ada usulan kita akan ke mana?”

“Aso?” Umeko menawarkan.

Sofia sontak lunglai.

Bukan dia tidak suka pemandangan gunung eksotis, kabut, dan pemandian air panas. Apalagi, hamparan pe­ternakan sapi yang menyediakan susu terenak di dunia. Berikut es krim yang jelas-jelas lezat. Oishi! Meccha umai! Tapi, ucapan Paman membuat semangatnya segera ken­dur. Entah mengapa, Paman melarangnya sering-sering ke Aso. Mungkin, usai perjalanan wisata ke sana, Sofia persis seperti si Kuning Telur Gudetama. Menungging tidur, malas seharian.

Menolak ajakan Umeko, tidak sopan rasanya. Untung, Jie Eun segera bergabung menyesuaikan percakapan.

“Ke mana kalian natsuyasumi kali ini?” tanyanya.

Rei menggeleng.

Umeko mengangkat alis.

 

#siriusseoul #polarisfukuoka #novel #romance #adventure #friendship #itaewon

#linestore #smtown #seoul #korea #kpop #idol #boyband #girlband

Aso 27.jpg
Pegunungan Aso di Fukuoka. Cantik ya?