Kategori
Oase

Sempurna dan Menyempurnakan

Jadi tambah paham agama. Kocak lagi nulisnya!

ezayyak?!

Ada ‘kamāl’ ada ‘tamām,’ secara bahasa makna keduanya sama; sempurna. Seorang yang bernama Kamaluddin artinya kesempurnaan agama, secara harfiah sah-sah saja kita ganti namanya jadi Tamamuddin, toh maknanya sama. Eh tapi nanti dia terbebani buat bikin bubur merah, kesian. Dah gak usah ganti nama orang seenak udel nak!

Di Al-quran ada kata ‘akmala’ ada kata ‘atamma.’ Sekilas, keduanya bermakna sama; memyempurnakan. Tapi lebih lanjut ternyata petunjuk maknanya berbeda.

Allah katakan, “al-yauma akmaltu lakum dīnakum (4/3),” hari ini aku sempurnakan bagi kalian agama kalian. Akmaltu = sempurna. Di ayat lain Allah bilang, “tsumma atimmū ash-shiyāma ila al-lail (2/187),” kemudian sempurnakanlah puasa kalian sampai waktu malam (maghrib). Atimmū = sempurna.

“Akmala al-amra” artinya seseorang menuntaskan pekerjaannya secara bertahap dalam rentang waktu tertentu, di selingi berbagai hal lainnya. Seorang yang punya hutang puasa di bulan Ramadhan dia punya kesempatan mengqadanya di 11 bulan yang lain, maka Allah bilang, “walitukmilū…

Lihat pos aslinya 348 kata lagi

Kategori
Artikel/Opini BERITA Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Topik Penting Tulisan Sinta Yudisia

Sisi Psikologis Reynhard Sinaga : Seberapa Jauh Kita Paham tentang Perkosaan?

Ngeri dan ngilu tiap kali membaca, mendengar atau melihat laporan berita perkosaan. Kita berharap jangan sampai diri kita dan setiap anggota keluarga mengalami perkosaan atau naudzubillahi mindzalik, menjadi pelakunya. Begitu kasus Reynhard Sinaga (RS) mencuat, hati ini bertanya-tanya, mengapa kejahatan semacam itu bisa terjadi berulangkali? Seharian ini pikiran dan perasaan resah. Berjam-jam membaca berbagai macam referensi dan hasilnya, sungguh membuat saya pribadi merenung. RS diduga melakukan perkosaan sebanyak 195 kali atau lebih. Kasusnya terbongkar 2017 dan sepanjang 2018-2019 menjalani 4 kali sidang. Hasilnya ia dinyatakan bersalah dan mendapatkan hukuman penjara seumur hidup.

Berita tentang RS berturut-turut dilaporkan di koran terkemuka seperti Jawa Pos 07/01/2020 dan 08/01/2020

Definisi dan jenis perkosaan

Rape atau perkosaan didefinisikan sebagai penetrasi V atau anal tanpa persetujuan pemiliknya. Penetrasi bisa menggunakan alat kelamin, jari atau objek lainnya sementara obyek penetrasi bisa bervariasi antara V, anal, oral. Terdapat berbagai jenis perkosaan seperti penetrative rape, statutory rape, date rape, male rape, dsb. Ada pula perkosaan dengan ditambahkan penganiayaan.

Ada sebuah penelitian unik tentang perkosaan.

Para peneliti  mengumpulkan lebih dari 1.800 responden laki-laki dan mereka diminta untuk mengisi kuesioner. Bentuk pertanyaannya tidak langsung seperti , “Apakah kamu pernah memperkosa orang?” . Pertanyaan seperti ini pastilah akan mendapat jawaban “no”. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan antara lain :

  • Apakah kamu pernah melakukan hubungan intim dengan orang di mana orang tersebut dalam kondisi mabuk?
  • Apakah kamu pernah menampar pasanganmu saat ingin melakukan hubungan intim?
  • Apakah kamu pernah menggunakan kekuatan fisik seperti mencekik, memuntir, saat meminta hubungan intim?

Dsb

Ketika pertanyaan-pertanyaan yang dengan hati-hati disusun tersebut dilontarkan, mengejutkan sekali betapa banyaknya orang yang merasa tidak melakukan perkosaan. Terlebih lagi, banyak korban yang tidak sadar mereka sedang dianiaya atau diperkosa. Para peneliti kemudian membagi menjadi “rape, attempted rape dan sexual assault.” Percobaan perkosaan yang dilakukan berulang dan tak ada korban atau lingkungan yang sadar, membuat pelaku suatu saat benar-benar melakukan tindak pemerkosaan.

Pernah terjadi, sepasang kekasih yang sudah kelewat batas berpacaran; setiap kali si cowok meminta layanan intim  ia akan menyundut ceweknya dengan rokok. Juga mengancam bunuh diri jika cewek itu meninggalkannya. Emosi cewek yang serba kasihan dan tak ingin ditinggal, membuat si cewek mengabulkan apapun permintaan cowok. Mungkin hubungan itu tampaknya berjalan suka sama suka, tetapi peristiwa menyundut rokok itu sebetulnya sudah masuk attempted rape.

Mitos Perkosaan

Terdapat banyak mitos di tengah masyarakat sehingga perkosaan termasuk jenis kejahatan yang sulit dideskripsikan, didefinisikan, juga dikontrol.

  • Perkosaan dilakukan oleh orang asing
  • Pemerkosa adalah orang gila atau psikotik
  • Kebanyakan pemerkosa terlihat ‘berbeda’ dan tidak seperti kita

Ketika melihat dua orang lelaki misalnya, yang satu bertatoo dan satunya lagi mengenakan pakaian rapi; kita sudah punya asumsi bahwa orang bertatoo pasti lebih jahat. Padahal belum tentu demikian! Kasus Harvey Weinstein mencengangkan dunia. Ia seorang produser film kenamaan yang memproduksi Pulp Fiction, Heavenly Creature, Shakespeare in Love yang terjungkal oleh gerakan #MeToo , sebuah gerakan untuk berani angkat suara menghadapi kasus pelecehan seksual dan pemerkosaan.

Mitos yang kita yakini ini membuat kita lebih waspada terhadap orang asing, psikotik, atau yang tampilannya beda dengan orang pada umumnya. Padahal pelaku pemerkosaan bisa jadi orang terdekat, orang waras dan orang yang kesehariannya mirip dengan kita! Karenanya kasus pemerkosaan bisa terjadi di sekolah, kampus, atau tempat kerja. RS sama sekali bukan seorang psikotik. Ia tidak tampak berbeda secara fisik, malah terlihat sama seperti seorang karyawan dan mahasiswa yang stylish.

Sehatkah Mental Pemerkosa?

Sejauh ini diduga ada 4 hal yang menyebabkan seseorang menjadi pemerkosa :

  1. Kerusakan otak. 3,9% pemerkosa di Swedia mengalami kerusakan otak. Penyebabnya tentu beragam mulai benturan, obat-obatan, trauma, dst.
  2. Parafilia, adanya gangguan kepribadian yang mengarah pada perilaku seksual menyimpang seperti voyeurism, fetis, ekshibisionisme, sadistic, masokis, dsb
  3. Attachment problems. Adanya disfungsi dalam relasi keluarga dengan sesama anggota keluarga. Tidak memiliki kelekatan dengan orang-orang terpenting dalam hidup seperti ayah, ibu, saudara, dsb
  4. CD atau cognitive distortion. Punya pola pikir yang salah terkait beberapa sudut pandang. Misal perempuan adalah obyek seks. Atau, orang dalam kondisi lemah lebih tepat dijadikan obyek pemuas ( orang pingsan dirampok atau diperkosa).

Riwayat Klinis Manusia

Selain 4 hal di atas, kita harus mewaspadai diri kita sendiri dan orang-orang di sektiar kita yang mengalami berbagai hal psikologis sebagai berikut. Hal ini bukan untuk melabeli seseorang, tetapi untuk bersegera mencari solusi atas permasalahan yang terjadi.

  1. Pengalaman awal di masa hidup. Masa kanak-kanak adalah masa sangat penting. Manusia yang kehilangan momen bahagia dan kasih sayang di masa ini, cenderung mencari pemuasan dalam hal seks atau dalam bentuk agresifitas. Marilyn Monroe, Jack the Ripper, Adolf Hitler adalah beberapa contoh orang yang mengalami masa kecil demikian buruk sehingga mencari pelampiasan dalam bentuk seks atau agresi.
  2. Riwayat sekolah : menjadi korban atau pelaku bullying, konflik dengan otoritas (guru, orangtua, kepala sekolah dst) harus menjadi perhatian. Ketidakmampuan untuk menjalin relasi sehat dengan orang seusia dan orang yang lebih tua akan membawa dampak.
  3. Riwayat pekerjaan : gonta ganti pekerjaan? Keluar masuk? Bagaimana seseorang mggnatasi konflik dengan rekan kerja dan atasan , harus menjadi catatan.
  4. Catatan psikoseksual : riwayat psikoseksual harus menjadi catatan khusus dan mendapatkan perhatian tentang bagaimana penanganan berlangsung. Apakah lebih senang masturbasi dan nonton pornografi ketika stress? Apakah senang menggosokkan alat kelamin ketika masih anak-anak ketika ketakutan? Dst
  5. Riwayat penyerangan/ agresifitas : jika pernah melakukan tindakan sangat agresif, berhati-hatilah
  6. Minat, hobi, skill, teman : mereka yang memiliki hobi, menguasai skill,  dan memiliki teman berarti memiliki kehidupan mental yang lebih sehat.
  7. Personality/ kepribadian : bagaimana cara seseorang menghadapi masalah? Apakah self imagenya bagus? Bagaimana perilakunya? Dst
  8. Riwayat forensic & psikiatrik sebelumnya : apakah pernah memiliki sejarah kekerasan, menyerang orang, termasuk gangguan psikiatrik lainnya seperti skizofrenia dst.

Analisa Reynhard Sinaga

Melihat paparan di atas, ada beberapa hal yang sepertinya paradox tentang ciri pemerkosa dan sebab-sebab seseorang menjadi pemerkosa. Reynhard cerdas, menarik, banyak teman. Terlihat hangat dan yang juga perlu digarisbawahi, ia cerdas dan berprestasi.

Tetapi berbicara tentang brain injury atau brain damage, ada kemungkinan ia terbiasa mengkonsumsi alcohol dan meng-oplosnya sehingga menyebabnya beberapa fungsi otak terganggu. Ia tak dapat melakukan high thinking order untuk memilah, memilih, menimbang, mengorganisasikan.

Jawa Pos 07/01/2020

Di samping itu, ia telah melakukan beberapa upaya ofensiv seperti percobaan permerkosaan atau perkosaan itu sendiri. Sedihnya, diperkirakan 39% pemerkosa sekalipun telah menjalani perawatan akan mengulangi lagi perilaku ofensifnya. Apalagi pelaku yang sama sekali tidak menjalani perawatan psikiatrik dan psikologis! Tentu, akan mengulangi kesalahan fatalnya lebih sering lagi.

Hukuman terhadap RS telah ditetapkan.

Mari kita tarik hikmah di baliknya, semoga tidak ada lagi korban atau yang lebih parah lagi, menciptakan pelaku. Seseorang dapat menjadi pemerkosa bila :

  1. Mengalami brain damage, boleh jadi karena trauma ( trauma keluarga, bully, penganiayaan seksual); oleh obat-obatan atau pornografi
  2. Tidak memiliki kelekatan yang baik & kuat dengan orangtua
  3. Mengalami masa kecil yang tidak membahagiakan
  4. Masa sekolah yang banyak masalah
  5. Terbiasa attempted rape tapi tak ada orang yang menyadari
  6. Pernah melakukan kekerasan seksual dan tidak segera menjalani perawatan kesehatan mental

Semoga RS adalah orang terakhir yang melakukan kejahatan mengerikan tersebut. Kita harus mewaspadai diri sendiri dan orang-orang terkasih di sekeliling kita agar mereka tidak menjadi korban, pun tidak menjadi pelaku.

Referensi :

Gantman, Ana P.  dan Elizabeth Levy Paluck. —. What is the Psychological Appeal of the Serial Rapist Model? Worldviews Predicting Endorsement. Artikel dari Women in Public Policy Seminar series at theHarvard Kennedy School

Lisak, David dan Paul M. Miller. 2002. Repeat Rape and Multiple Offending Among Undetected Rapists. Violence and Victims, Vol.17, No.1

Orth, Ruby L. Orth, dan Suzanne L. Osman. 2015. Perpetration Experience and Gender Predicting Empathy with a Stranger or Acquaintance Rapist. Modern Psychological Studies Vol 21 : no. 1

Sarkar, Jaydin. 2013. Mental Health Assessment of Rape Offenders. Indian Journal Psychiatry, Jul-Sep; 55(3) : 235 -243

Duell, Mark dan Danyal Hussain. 2020. The rugby player who trapped the world’s most prolific rapist: Male victim, 18, reveals how he beat up Reynhard Sinaga after waking up naked during attack and led police to lair where 195 were assaulted diunduh dari https://www.dailymail.co.uk/news/article-7856057/Britains-prolific-rapist-jailed-30-years.html 07/01/2020

Kategori
Catatan Jumat Cinta & Love Oase Quran Kami Suami Istri WRITING. SHARING.

Sembuh Setelah Bercakap-cakap dengan Quran

Beberapa waktu lalu, saya mendapatkan pengalaman luarbiasa yang kisahnya langsung saya share kepada anak-anak, dan merekapun terkesima. Kisah ini saya dapatkan ketika akhir tahun 2019 berkunjung ke kampung halaman suami, Tegal.

Namanya bu Nuning.

Mbak Nuning & suaminya, pak Imam

Saya biasa memanggilnya dengan  nama mbak Nuning. Seorang ibu luarbiasa yang tak pernah lepas senyum terpahat di bibir meski kesulitan hidup bertubi-tubi, berton-ton menghimpit. Kalau saya buat rekap kepahitan hidup;  mungkin sepanjang beliau benafas, lebih besar bobot susah daripada senangnya. Ajaibnya, di setiap benturan kesulitan, selalu ada peristiwa luarbiasa yang membuat kita tergetar : Maha Besar Allah menitipkan sebagian ayat-Nya ke dalam kehidupan hamba-hamba pilihanNya.

Beberapa waktu lalu mbak Nuning bercerita, ia mengalami stroke. Separuh tubuhnya lumpuh, saraf mulutnya pun lumpuh total. 2 bulan ia mengalami stroke parah dan saya tak bisa bayangkan bagaimana ia jalani kehidupan sehari-hari. Bayangkan, suaminya sakit dan mbak Nuning yang selama ini merawatnya. Suaminya juga pernah stroke dan hingga saat ini masih membutuhkan pendampingan. Kalau istri juga ikut-ikutan sakit, bagaimana nasib roda kehidupan mereka? Meski ada asuransi kesehatan, tentu tak dapat menutupi semua keperluan hidup dan sakit. Apalagi beli obat yang di luar tanggungan BPJS. Untuk makan sehari-haripun mereka seringkali harus bersabar dengan kondisi yang ada. Lumpuh? stroke? Tak bisa bicara? Ya Allah…

Dokter saraf yang baik hati menangani, memberikan dorongan pada keluarga mbak Nuning.

“Meski saraf mulutnya sudah hampir 100% kena, Ummi tetap harus diajak bicara,” kata dokter saraf, berpesan pada anak-anak mbak Nuning. “Pokoknya diajak bicara aja, diajak aktivitas semampunya.”

Kita tentu tahu, stroke butuh penanganan cepat dan tepat. Obat yang bagus, terapis andal, kontrol rutin. Tetapi semua biaya itu tak ditanggung asuransi, kan? Transportasi PP ke rumah sakit tentu biaya tersendiri, belum lagi yang lain-lain.

Mbak Nuning & suami yang insyaallah selalu harmonis, dalam segala kesulitan yang menghimpit

Masyaallah, meski hidup dalam kesulitan, Allah Swt memberikan mbak Nuning anak-anak yang sholih sholihah. Anda mungkin pernah melihat orang bisu atau tuli berbicara. Bahasanya aneh, bukan? Suaranya lantang, berteriak-teriak memekakkan telinga, kadang buat lawan bicara deg-degan atau malah kesal karena komunikasi tak nyambung. Begitulah mbak Nuning ketika mengalami stroke dan lumpuh mulutnya.

Salah seorang putranya  memberikan semangat dan nasehat, “Ummi, Ummi memang harus terus belajar bicara. Ngajak orang bicara. Tapi lihat kan? Orang yang diajak bicara Ummi kadang kesal. Malah nggak suka karena Ummi ngomongnya gak jelas, sembarangan, orang juga nggak ngerti-ngerti apa yang Ummi bicarakan.”

Kurang lebih demikian kata si putra.

“Tapi Ummi harus terus ngomong, terus bicara, terus latihan bersuara. Daripada Ummi ngajak ngomong orang dan orang malah jengkel, kesal, marah; mending Ummi ngajak omong Al Quran saja,ya.”

Demikian bijak saran  putra mbak Nuning.

Dulu, penelitian S1 saya tentang tunarungu. Anak-anak yang tak bica mendengar dan biasanya kesulitan bicara ini, memang suaranya sangat keras menggaung kemana-mana. Kadang orang yang diajak bicara sering tak sabar dan meminta mereka lebih baik pakai bahasa isyarat. Itu juga yang terjadi pada mbak Nuning. Ia tak dapat bicara, seperti orang bisu gagu karena stroke yang menyerang saraf mulutnya. Tetapi ia harus bicara kalau ingin sembuh. Dan, tak semua orang mau diajak bicara…

Mbak Nuning menuruti saran si putra. Setiap hari ia mengajak bicara Quran, bahkan sehari bisa 8 juz dibacanya Quran dan diajaknya bicara layaknya orang bercakap-cakap.

Saya nggak akan promosi suatu barang.

Tetapi demikianlah ceritanya.

Seiring mbak Nuning terus mengajak Quran ‘bicara’ ada orang yang membawakannya british propolis dan obat ini memang membantunya untuk sembuh. Mbak Nuning bukannya menganggap british propolis woooww banget. Bukan demikian! Tetapi katanya, “ karena saya bicara dengan Quran, ada aja cara untuk sembuh. Salah satunya orang mengantarkan british propolis itu.”

British propolis, salah satu cara mbak Nuning untuk sembuh

Ketika saya bertemu mbak nuning akhir Desember lalu, saya sama sekali nggak nyangka ia sempat stroke selama 2 bulan. Terkapar lumpuh dan bisu. Inti kisah beliau yang saya simak betul-betul : “Kalau tak ada orang yang bisa diajak bicara, bicaralah dengan Quran. Nanti, Quran akan membantu mencarikan jalan kesembuhan –dengan izin Allah- lewat jalan yang dibukakan oleh seseorang atau sebuah peristiwa.”

Semoga, kita bisa rutin mengajak Quran berbicara ya?

“Kalau tak ada orang yang bisa diajak bicara, bicaralah dengan Quran. Nanti, Quran akan membantu mencarikan jalan kesembuhan –dengan izin Allah- lewat jalan yang dibukakan oleh seseorang atau sebuah peristiwa.”

#jumatbarakah

#jumathikmah

#energiquran

Kategori
Oase

[(kind of) BOOK REVIEW] POLARIS FUKUOKA

Wah, seneng banget baca review ini. Saya suka baca HAruki Murakami meski harus diulang-ulang karena barangkali skor IQ saya dengan Murakami beda kwkwkwk

Ray

Saya itu tipe orang yang bingungan kalo suruh milih buku yang bagus untuk dibaca. Karena selera saya tergantung mood, dan seringnya nggak sama sama selera orang. Kadang saya pengen baca yang pake mikir kayak buku-buku mistery yang kalo dibawa baca di cafe-cafe itu keliatan keren. Ya kaya’ kuat ngafe aja. Kadang juga pengen baca yang ringan-ringan, yang lucu-lucu, yang isinya bercandaan doang. WKWKWKWK. Tapi kadang juga bingung pengen baca apa. Pengen baca sesuatu tapi nggak ngerti yang lagi jadi selera apa. Biasanya sih saya minta rekomendasi. Tapi sering juga nggak berguna karena yang tak mintain rekomendasi malah bilang ‘Ini sih bagus menurutku, tapi ya kan selera orang beda-beda’. Ya nggak ada salahnya, tapi agak nggak ngebantu juga sih.

Dan saat itu saya lagi seneng baca buku yang settingnya Jepang. Negara yang pengen saya liat secara langsung sejak SD tapi nggak kejadian sampe sekarang T_T itu yang lagi bikin saya tertarik…

Lihat pos aslinya 638 kata lagi

Kategori
15 Rahasia Melejitkan Bakat Anak Buku Sinta Yudisia Hikmah Karyaku Kepenulisan Menerbitkan buku Nonfiksi Sinta Yudisia Oase WRITING. SHARING.

Apa Bakatmu?

Lama sekali, aku ingin menuliskan buku terkait bakat dan minat anak. Semua bersumber ketika aku sendiri terlambat memahami tentang potensi diriku.

Sejak kecil aku suka berkhayal : menjadi ratu, pasukan paskibraka, penyanyi, wonder woman dan banyak lagi. Sama sekali tak terpikir bahwa kemampuan mengkhayal itu perwujudan dari kreatifitas membuat cerita baru berdasarkan informasi yang sudah ada. Meski sudah suka menulis diary sejak SD, nyatanya aku malah masuk kelas Fisika ketika SMA. Saat itu, kelas di SMA dibagi A1 (Fisika), A2 (Biologi) dan A3 (Sosial). Dulu masih ada kelas A4 (bahasa) tapi jarang juga tersedia. Karena saat itu multiple intelligence belum dikenal, orangtua dan lingkungan mendorongku masuk kelas Fisika. Kata mereka, aku pintar.

Anehnya, aku masuk kelas Fisika tetapi kuliah di Ekonomi Akuntansi. Bayangkan! Sangat jauh panggang dari api hehehe.

Semakin hari aku malah nggak mengerti dengan keinginan dan cita-citaku. Kenapa makin lama nggak suka dengan sains? Gak suka ekonomi? Ketika usiaku menjelang 30 tahun aku coba-coba buat cerpen dan berhasil! Aku ikut beberapa lomba tingkat nasional dan Alhamdulillah, menang. Ketika itulah aku baru mulai sadar : “Oh, aku punya bakat nulis, ya?”

Tidak pernah terpikir menulis menjadi sumber pemasukan.

Setelah 10 tahun menulis aku semakin yakin bahwa menulis adalah duniaku. Apalagi ketika tes minat RMIB, kecenderunganku ke arah aesthetic dan literasi. Klop dah.Terus terang aku terlambat mengetahui minat dan bakatku. Andai sejak kecil aku sudah tahu bahwa bakat minatmu menjadi seorang seniman, aku mungkin akan kuliah di ISI atau masuk fakultas sastra.

Anak-anak : Mereka harus berkembang lebih baik

Sekarang, aku tak ingin kejadian yang sama terulang.

Jujur, awalnya aku masih terperangkap dalam paradigma lama : anak-anakku harus masuk sekolah yang jurusannya sains. Nanti mereka bisa enak memilih. Toh nggak papa kuliah ekonomi bila berasal dari kelas MIA, bukan?

Tetapi, anak-anak ternyata menderita ketika mereka dipaksa masuk kelas sains padahal dalam diri mereka mengalir jiwa altruist, jiwa seniman, jiwa kebebasan. Perlahan, aku mulai belajar dari sana sini. Kebetulan aku kuliah psikologi saat sudah menjadi ibu, jadi aku mulai dapat membaca walau masih kabur, tentang potensi anak-anakku.

Aku melalap berbagai jurnal.

Artikel.

Majalah.

Buku Indonesia dan Inggris.

Karya antologi putri-putri kami. Kiri : ada karya Arina. Kanan : ada karya Nisrina

Pada akhirnya, aku menyelesaikan membuat buku 15 Rahasia Melejitkan Bakat Anak ini, sebuah buku yang sudah kuimpikan lama sebagai bentuk curahan perasaan dan pikiranku tentang bagaimana menemukan bakat terpendam anak-anak. Alhamdulillah, putri-putriku suka menulis. Tetapi bakat saja tanpa motivasi besar seperti mobil mewah tanpa bensin!

gundam and my family.JPG
Salah satu putra kami memiliki kesukaan merakit gundam

Kupikir semua anakku berdarah seni. Tetapi ada satu orang anakku yang baru kuketahui usia onsetnya, mahir merakit sesuatu saat SMP. Ia suka menabung dan membeli Gundam/ Gunpla.

Semoga buku ini bermanfaat bagi para orangtua di luar sana yang cemas, ingin tahu, kesal, marah; karena tak kunjung menemukan potensi anak-anak mereka yang sebetulnya memiliki innate talent atau hidden talent rrruaaarrrbiasa!

PO 15 Rahasia.jpg
Kategori
Cinta & Love mother's corner Oase Renungan Hidup dan Kematian WRITING. SHARING.

Surga yang Disegerakan : Belajar dari Kepergian Ananda Rozien

Terbayangkah kehilangan orang yang sangat dicintai : anak, pasangan, orangtua?

Rasanya tak sanggup membayangkan.

Apalagi, bila kehilangan itu begitu tiba-tiba.

Saya ingat, ketika bapak meninggal tahu 1992. Mama begitu tegar mengurusi beliau saat sakitnya, wira wiri ke rumah sakit. Saat itu belum ada ojek online seperti sekarang, jadi mama mengantar bapak ke rumah sakit naik dokar dulu, baru naik bemo. Belum lagi wira wiri RS-rumah. Meski lelah lahir batin ketika bapak wafat, mama tetap merasa kehilangan. Meski sudah menduga bapak akan wafat karena beliau menderita sakit komplikasi, mama tetap terpukul.

Ya, meski bapak sakit lama, ketika beliau wafat, rasa kehilangan tetap sangat menyiksa. Bapak yang sudah sakit lama, yang sudah memberitakan kabar kematiannya jauh-jauh hari, tetap meninggalkan jejak menyakitkan ketika beliau pergi. Apatah lagi kepergian orang –orang tercinta yang mendadak.

 

Pertemuan Tak Dikira

 

Saya mengenal bu Indira tak terduga. Ketika mengisi acara parenting di Ukhuwah Banjarmasin  Sabtu 16 November 2019, esoknya saya dijadwalkan mengisi di Banjarbaru 17 November. Saya dijemput sepasang suami istri yang luar biasa. Kami mengobrol sepanjang jalan dengan hangat dan penuh gurauan.

Lalu tiba-tiba muncul percakapan yang membuat jantung seperti tercerabut dari rongganya.

“Mbak Sinta tahu siswa Husnul Khatimah yang wafat tempo hari?”

Ya, saya ingat.

Beberapa waktu lalu, tersebar kabar demikian ramai di grup whatsapp & telegram (6/7 September 2019), tentang wafatnya seorang santri Husnul Khatimah dengan cara di luar kebiasaan : ia meninggal tertikam seorang preman.

“Itu putra saya,” kata bu Indira.

Rozien, almarhum.png
Almarhum ananda Rozien

Saya nyaris tak bisa berkata-kata. Lutut lemas.

Saya berhadapan dengan seorang ayah dan ibu yang kehilangan anaknya dengan cara tiba-tiba!

Saya harus bilang apa? “Sabar ya.” Alangkah klise kata-kata itu. Bahkan ketika saya berucap “sabar”, belum tentu mampu sabar seperti mereka.

Saya hanya bisa berulang-ulang mengucapkan dzikrullah, terkaget-kaget atas pertemuan serba tak terduga. Dan cerita dari sang ibunda, mengalir demikian indahnya.

 

Ananda yang Luarbiasa

Ia adalah seroang pemuda yang luarbiasa. Menempuh studi di HK karena ingin jadi penghafal Quran. Menjelang kelulusan, ia ingin masuk fakultas kedokteran di luarnegeri. Tak ada firasat apapun ketika umminya di Banjarbaru hari itu ingin menjenguk putranya, Rozien.

Anehnya, Rozien mengatakan hal-hal yang ketika itu terasa biasa saja, namun ketika tiada tampak seperti sebuah isyarat.

“Ummi, hari ini entah mengapa aku bahagia sekali.”

Umminya tentu tak merasa apapun. Hanya saja, wajah Rozien tampak demikian bercahaya dan berseri-seri ketika mereka berkomunikasi via video call.

“Ummi, hari ini aku mau pulang sama Ummi, ya.”

Padahal saat itu belum jadwal libur santri, sang ummi tentu menganggap itu sebagai kelakar.

Rozien syahid insyaallah setelah mengalami luka-luka akibat ditikam senjata tajam oleh seorang preman. Sang ummi yang tegar luar biasa, di hari kematiannya tentu ingin sekali memberikan kabar kepada suaminya, abi Rozien. Qadarullah, abi sedang sibuk sehingga tak terkontak. Pada akhirnya, abi terkontak lewat video call.

“Abi, anak kita…,” kata bu Indira antara sedih dan bingung. “Anak kita sudah tiada.”

Si Abi, yang tak kalah sabarnya berkata : “Ummi , matikan video callnya. Abi akan sholat dulu.”

Abi dan ummi dari Rozien, mendapatkan ujian kesabaran yang langsung ke jantung hati : cepat, tak terduga, tak dapat menawar lagi.

Sang ummi, dengan sangat bijak kemudian berkata pada abi, “Abi nggak perlu ke Jakarta. Rozien akan pulang dengan Ummi. Sebagaimana permintaan Rozien menjelang akhir hayatnya – ‘Rozien ingin pulang bersama ummi –hari ini.’”

Rozien dibawa ke pesantren HK, dan qadarullah, semua santri menyolatkannya tepat jam 3 malam. Hari baik, waktu terbaik. Bahkan yang memandikannya adalah para ustadz-ustadz yang hafidz Quran.

Bunda Indira dan almarhum ananda Rozien.jpg
Beribu pelajaran dari kematian anak sholih : Muhammad Rozien

Surga yang Disegerakan

Quote ini saya ambil dari percakapan dengan  mbak Indira. Sebuah quote yang indah; surga yang dipercepat oleh Allah datangnya. Ia bisa datang lewat tangan orangtua kita yang membutuhkan perawatan, bisa datang lewat orang yang meminta sedekah, bsia datang lewat anak-anak yang membutuhkan uluran tangan dan didikan dari orang tua. Juga bisa datang atas musibah yang tak terduga datangnya.

Bagi orang luar seperti kita, yang tak mengalami pahitnya kehilangan orang yang dicintai, mungkin hanya dapat mengucapkan Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Memeluk saudara kita saat takziyah, mendekapnya erat, membantunya baik materi- non materi. Hati kita ikut merasakan goncangan, hampa, kesedihan dan entahlah lukisan apa yang tergambar di benak dan perasaan.

Namun tetap saja, seberat-berat kesedihan kita; tak ada yang paling berat kecuali yang mengalaminya sendiri.

Saya dikejutkan lagi oleh seorang sahabat, Cahya Naurizza yang kehilangan putranya, Ghaza. Ghaza yang lucu, baru berusia 7 tahun, pergi dengan cara demikian tiba-tiba.

Rasa hati saya sebagai seorang ibu remuk redam, tak bisa membayangkan betapa pedih hati sang bunda. Apapun yang ada di rumah pasti akan mengingatkan pada keberadaan ananda : baju, makanan kesukaan, tempat tidur, sudut-sudut kebersamaan. Meski ikhlas, air mata pastilah tumpah ketika mengenang si buah hati.

Surga yang disegerakan.

Saya tak hendak mengatakan  ‘sabarlah’. Karena kesabaran dalam diri para bunda-bunda luarbiasa ini sudah mencapai implementasi, bukan sekedar teori. Tetapi, segala kepedihan itu selalu selaras dengan hadiah yang disiapkan dengan penuh rahasia. Entah apa rahasia itu. Tapi pasti, sebuah hadiah yang luarbiasa nilainya. Apakah lagi ia  disiapkan oleh Allah  Rabbul Izzati.

Indira & Sinta
Pertemuan tak terduga dengan bu Indira di Banjarmasin & Banjarbaru (dok.pribadi)

Sebetulnya, banyak sekali yang ingin saya tuliskan, utamanya tentang ananda Rozien. Ia adalah permata hati orangtuanya, dan akan selalu demikian. Hanya saja…ah, sulit sekali menuliskannya. Saya butuh upaya dan keberanian untuk menuangkan kalimat demi kalimat; sebab jujur, rasa perih dan kehilangan turut menghantui. Tak terbayangkan bukan, bagaimana sang bunda dan ayahanda menghadapi hari demi hari?

Insyaallah, suatu hari nanti, kita akan bisa membaca kisah Rozien secara lengkap. Ketika hati-hati ini sudah lebih siap untuk menerima kehilangan. Cinta itu memang selalu punya dua sayap; sayap harap dan ragu. Sayap cinta dan luka. Sayap bahagia dan duka.

 

Para bunda sahabat-sahabatku, surga itu telah disegerakan bagimu.

Semoga, hati-hatimu tetap dalam kebahagiaan dan ketenangan dalam bimbingan Ilahi Robbi.

 

#jumatbarakah

#kisahikmah

#anakshalih

#ayahbunda

 

 

 

Kategori
Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Rahasia Perempuan Tokoh Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Kepribadian para Finalis American’s Next Top Model

Beberapa waktu yang lalu saya nonton American’s Next Top Model season 24.

Televisi di rumah jarang banget nyala, jadi pas di hotel karena satu acara, mencoba menikmati berbagai informasi berita sembari duduk tenang. Acara yang dipandu Tyra Banks itu cukup mengasyikkan. Bagaimana menjaring calon-calon foto model dari berbagai kalangan. Di ujung audisi terjaring 4 orang :  Shanice Carroll, Khrystyana Kazakova, Jeana Turner dan Kyla Coleman.

Kyla, Jeane, Khrystyana.jpg
ANTM season 24 : Kyla, Jeane, Khrystyana

4 cewek ini cantik-cantik. Shanice berkulit hitam manis. Khrystyana dapat anda tebak : kecantikan khas Rusia yang menawan. Kyla berdarah campuran, dan Jeana punya magnet tertentu. Sepanjang nonton ANTM saya baru tahu, “Ya, ampun. Susah banget jadi model. Dia harus pintar menerjemahkan perintah fotografer.”

Dan, hujan kritik berhamburan dari para panelis.

  • Shanice, kamu terlalu tinggi mengangkat dagu.
  • Khrystyana, kamu penggugup.
  • Jeana, kamu terlalu seksi. Ini iklan shampoo! Bukan pakaian dalam! (ANTM season 24 disponsori Pantene).
  • Kyla, ekspresimu harus lebih bicara.

tyra-banks.jpg
Tyra Banks

Dan foto itu diambil ratusan take. Cuma untuk mengambil 1 gambar terbaik! Panelis benar-benar pedas ketika mengkritik. Itulah sebabnya saya baru tahu, bahwa top model dunia harus ber IQ tinggi agar komunikasi nyambung.  Tyra Banks, host ANTM sendiri memiliki IQ 120. Dan ketika dikritik, reaksi dari peserta akan diamati.

Tahukah anda apa yang menjadi titik tekan dari 4 finalis yang akan terpilih melaju lebih lanjut ke final? Attitude. Perilaku yang muncul dari personality alias kepribadian. Sepanjang karantina, para model direkam dalam tajuk “Beauty in Raw”atau “Beauty in Personality.”

Saya ngefans Khrystyana, tapi ia memang penggugup berat dan sering kehilangan rasa percaya diri. PaAdahal cantiknya luarbiasa, dengan tubuh tinggi dan rambut lebat yang pirang! Ternya orang cantik gak selalu punya self esteem baik. Ketika di ujung audisi  tinggal tersisa 2 : Jeane dan Kyla, saya piker Jeane yang akan lolos. Kenapa?

Kyla masih mentah banget. Ia cantik tapi nggak sekuat Jeane berkarakter di depan kamera. Jeane bertubuh mungil , bermata tajam, dengan dengan wajah sempurna dan selalu membuat orang terpaku ketika bertemu.

Tapi…Kyla yang menang. Wajah Kyla biasa, personalitynya yang hangat dan jebakan-jebakan karantina membuatnya menang. Apa saja kritik juri buat Jeane ketika perdebatan sengit harus memenangkan Jeane atau Kyla?

“Jeane sudah nggak bisa berubah. Dia kaku. Dia nggak mau mendengar masukan. Dia nggak akan bisa berkembang.”

“Kyla mau belajar. Dia  mau berproses.”

ANTM 24 - Kyla, Khrystyana, Shanice.jpg
Persahabatan Kyla, Khrystyana, Shanice para finalis ANTM season 24

Sepanjang masa akhir karantina, Shanice – Kyla – Khrystyana menjadi sahabat akrab. Mereka saling diskusi, bercanda, saling memberikan semangat. Jeane berbeda. Ia angkuh, lebih suka menyendiri, enggan bergabung dan cenderung meremehkan oranglain. Wajar saja demikian. Jeane sudah menjadi model professional dan ANTM kali ini adalah kali kedua ia masuk babak final! Berbeda dengan Shanice – Khrystyana apalagi Kyla yang masih mentah tentang dunia modelling.

Personality memegang peranan penting. Attitude sangat mempengaruhi karir seseorang, bahkan ketika ia bersaing di dunia Top Model yang bagi orang hanya sekedar pamer badan. Konon kabarnya, iklan Pantene akan memilih seorang Angel yang menjadi duta shampoo mereka dengan syarat sangat ketat. Salah satunya harus memiliki kepribadian yang baik .

Pada akhirnya saya mengerti kenapa panelis memilih Kyla Coleman.

Ia bicara gagap. Ia hanya pelayan Starbuck. Tapi ia peduli rasisme. Ia juga pernah menjadi guru volunteer anak-anak berkebutuhan khusus. Ia mampu bersikap bijak ketika kontestan lain menjulukinya “stupid!” . Ia rendah hati, mau mendengarkan orang lain.

Ketika ia mewakili ANTM season 24, netizen serempak memberi selamat kepada Kyla :  gadis muda yang sama sekali tak pernah berpikir jadi model karena keluarganya hanya kalangan menengah ke bawah.

Saya nggak terlalu mengikuti tayangan pemilihan miss universe dan sejenisnya.

Tapi saya suka cara panelis meloloskan pemenang  ANTM : personality dan attitude itu penting banget buat  public figure. Meski hanya kecantikan dan tubuh mereka yang menjadi modal utama dalam bekerja, orang tetap akan menyorot kehidupan sehari-hari. Kata-katanya. Perilakunya. Jadi kalau ada artis yang terekam bangun tidur ngamuk-ngamuk ke ART, selebritas yang memamerkan isi saldo ATMnya yang 40 juta “sekedar buat jajan aja”, harga tas seorang artis 2 M …hmmm. Gimana ya. Di satu sisi mungkin itu untuk menunjukkan buah jerih payahnya dan bagus untuk mendorong anak muda : tuh, jadi youtuber juga bisa loh punya penghasilan besar.

Di sisi lain, saya jadi miris juga. Ketika berita berseliweran memperlihatkan betapa kesenjangan social masih menjadi PR besar untuk bangsa kita. Kriminalitas karena kemiskinan, bencana social dan lain sebagainya; menyoroti kehidupan selebritis harus benar-benar dipilah dan dipilih untuk ditayangkan. Rasanya perih juga, mendengar orang-orang dengan gangguan psikis dan fisik tak mampu berobat karena kekurangan biaya sementara para selebritis mengumbar jumlah tabungannya. (Jangan bicara BPJS ya, karena kalau orang sakit bukan hanya sekedar bicara asuransi. Ongkos PP penunggu, logistic orang-orang di sekitar si sakit, dlsb. Apalagi jika yang sakit kepala keluarga)

Kehidupan seorang selebritis pasti akan menjadi pro kontra. Mereka tentu tak bisa kita paksa untuk hidup sederhana karena pekerjaan menuntut seperti itu. Saya maklum ketika baju artis harus 20 juta, karena ia harus tampil di depan public. Gak mungkin dia pakai baju saya yang murah meriah kan? Tetapi, peng eksposan berita itu yang bisa multitafsir.

Saya ingat seorang artis Michelle Adams, yang nggak punya media social karena memang nggak merasa butuh. Atau Tom Hanks yang tetap setia dengan istrinya yang telah dinikahi 30 tahun. Atau Keanu Reeves yang sederhana. Kehidupan positif artis macam itu rasanya perlu dipublish agar masyarakat yang sudah banyak problema menjadi terpompa semangatnya.

Stasiun televise perlu meramu kode etik tentang hal-hal yang perlu ditayangkan ke public dan mana yang tidak perlu. Kehidupan Maudy Ayunda yang sedang studi ke luar negeri, atau gimana beratnya latihan menyanyi para penyanyi, atau gimana repotnya artis membagi waktu antara sekolah-shooting/ kuliah-shooting, gimana kehidupan seorang dokter dan artis macam Nyctagina dan Lula Kamal; rasanya perlu ditayangkan. Prestasi para artis, tantangan profesi mereka, apa cita-cita mereka kalau sudah nggak laku lagi, kepribadian mereka, bagaimana kehidupan ketika mereka masih susah dulu. Bukan bercerita tentang kekayaan dan tabungan finansial yang itu sebetulnya menjadi arsip paling pribadi.

 

 

Semoga para public figure kita senantiasa dalam perlindungan dan keberkahan Allah Swt, aamiin.

 

Kategori
Cerita Lucu Hikmah mother's corner My family Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY WRITING. SHARING.

Mengatasi Fobia Kucing

Siapa yang sepakat kalau kucing adalah salah satu makhluk terlucu sedunia? Hayo ngacung!

Sejak kecil aku suka sekali kucing. Meski repot sekolah saat itu, aku tetap memelihara kucing. Seingatku, sejak SD aku suka memelihara kucing. Mengelusnya, menggendongnya, memeluknya; rasanya seneng banget! Apalagi kalau dia menempel-nempelkan badannya ke tubuh kita. Sembari mengeluarkan dengkur nafas yang khas. Kucing-kucingku suka dielus kepala sama dagunya, biasanya kalau dielus dua bagian ini, mereka akan terkantuk-kantuk.

Icung, kucing kami yang kiyuuuut banget !

 

Tapi, ada juga orang yang takut setengah mati sama kucing. Ketakutannya sampai terlihat nggak logis. Aku punya teman SMA (waktu itu kita nggak tau dia takut kucing), lalu kucing itu kita bawa ke dia, dia menjerit dan mengamuk! Teman kuliahku, pernah sampai pingsan pas makan di kantin. Gegara makhluk berbulu itu dengan tenangnya berjalan mendekati setiap pengunjung dan mengelus kaki-kaki yang bergelantungan di sana.

Aku tak percaya ada orang yang takut kucing.

Sampai aku menikah, dan mendapati suami dan anak pertamaku sangat benci kucing! Duh, sedihnya. Suamiku gak  bisa lihat kucing : jijik, nggak suka, sebel, bawaannya marah. Putriku? Lebih dashyat lagi. Sekedar lihat kucing tak bertuan tahu-tahu masuk rumah, lewat begitu aja, ia akan menjerit-jerit ketakutan sembari menutup muka, naik ke kursi dan menangis tersedu-sedu. Hadeeeh.

Awalnya, aku sih fine-fine aja dengan kondisi ini.

Ya sudah. Mau gimana lagi? Toh suami sama anakku gak suka kucing, ya gak usah melihara. Beres kan? Lalu ada kejadian yang mengharuskan kami melihara kucing. Awalnya, nggak niat melihara sih. Rumah kami sedang diserang banyak tikus. Mungkin karena rumah kami bekas areal persawahan. Para tetangga juga mengeluhkan rumah mereka yang banyak tikus. Meski makanan dan perkakas sudah kami tutup rapat, tikus masih suka kencing dan pup di mana-mana. Kotoran tikus sangat berbahaya, kan? Sudah coba pasang perangkap, lem, sampai racun. Tetap aja masih pada berdatangan. Lalu ada yang menyarankan : pelihara kucing saja. Meski kucingnya nggak doyan tikus, bau kucing sudah secara alamiah membuat tikus jera.

Nah, gimana dong dengan suami dan putriku? Kalau suamiku, beliau nggak fobia. Cuma gak suka. Cukup diskusi, selesai. Putriku fobia berat. Benar-benar nggak bisa berada di dekat, atau melihat kucing. Apalagi bersentuhan. Pernah dipaksa, ia benar-benar kaku keringatan menangis sejadi-jadinya. Padahal udah gede lho hahahaha.

Akhirnya, aku mencoba menterapinya dengan perlahan. Namanya CBT – cognitive behaviour therapy.

  1. Sisi kognitif. Definisikan ketakutan.

“Apa sih yang membuatmu takut dengan kucing?”

Awalnya, dia menjawab “pokoknya takut aja!”

Kutanya lagi, “Takut sama bentuknya? Tapi kamu nggak takut kelinci.”

Selidik punya selidik, dia emang geli banget sampai bergidik dengan tubuh berbulu kucing.

Lha kalau nggak berbulu seperti kucing Spinx, apa nggak takut? Katanya malah lebih “gilo” lagi! Lah, gimana sih? Oke deh. Aku juga nggak mungkin melihara Spinx. Harganya bo, kwkwkwk. Jadi kusimpulkan ia takut dengan benda berbulu. Kelinci berbulu tapi beda dengan kucing. Bedanya apa? ”Pokoknya beda,“ kata putriku jengkel.

Berarti ia memang memendam ketakutan karena bulu-nya, bukan bentuk, taring, apalagi sikap mengendap-endap kucing yang kayak hantu aja.

  1. Sisi kognitif. Bangun pemahaman baru bahwa kucing nggak sejelek yang dikira.

Karena nggak takut sama bentuk, tapi sama bulu, berarti putriku masih bisa lihat bentuk kucing. Hanya saja nggak bisa megang atau berdekatan. Adik-adiknya senang sekali nge-share meme lucu terkait kucing, juga membagi video lucu kucing yang tersebar di youtube, IG dan line.

Icung di besek.JPG
Icung suka tidur di tempat-tempat tak lazim 🙂

Awalnya putriku nyinyir, ”ïh ngapain sih? Sebel aku, kalian ngirim video kucing. NGGAK BAKAL aku seneng sama kucing.”

Tapi lama-lama suamiku dan putriku ngakak habis kalau liat video kucing yang lucu. Ini sesudah mereka menonton puluhan video kucing. Jadi bukan hanya sekedar belasan, apalagi satu dua video, ya.

Selain itu ada diskusi-diskusi yang kami bangun :

  • Rasulullah dan para sahabat juga suka kucing, artinya kucing itu hewan yang diberkahi.
  • Kucing adalah penghalau alami tikus. Kalau pakai racun, terus tikusnya mati di rumah tetangga, gimana?
  • Sebagai perempuan, harus bisa mengatasi fobia. Siapa tahu suami, atau keluarga suaminya kelak suka kucing. Nggak lucu kan, kalau misalnya mertua suka kucing lalu menantu saking takutnya mengunci diri di kamar.
  • Di Istanbul, Turki, ada masjid yang imam masjidnya suka banget melihara kucing. Indah kan? Harmoni antara manusia dan hewan, kucing-kucing dibiarkan ikut sholat dan ceramah.

Cat at Istambul Mosque

Kucing di salah satu masjid Aziz Mahmud Hudayi di Istanbul, Turki

 

  1. Sisi perilaku. Ajak melihat dulu. Ajak dekat. Ajak sentuh bulu.

Kalau ada kucing lewat ( di komplek perumahanku banyak kucing seliweran. Apalagi kalau emak-emak belanja di tukang belanja, kucing ikutan mejeng minta kepala ikan) , aku bilang ke putriku : tuh, kucing sama kamu, ukuran badannya lebih gede mana?

Putriku cemberut, tapi ia mikir juga.

”Apa semua kucing menyerang kamu? Nggak kan?”

Lama-lama, putriku nggak histeris kalau lihat kucing lewat.

Lambat laun, putriku hanya waspada kalau lihat kucing , ”Asal dia gak dekat-dekat aku!”

Lama-lama dia mau ngasih makan kucing, tapi nggak mau kalau sampai bersentuhan.

Dan akhirnya, sekarang ia sudah bisa memegang kucing, meski belum bisa menggendongnya.

Putriku & Icung, kucing kami
Putriku sudah bersahabat dengan Icung

Alhamdulillah, di rumah kami memelihara seekor kucing. Kucing ini hadiah dari seorang teman. Sepasang suami istri tua akan membuangnya, dan kami menampungnya. Waktu itu usianya baru 3 bulan, kasihan sekali. Sekarang sudah jadi kucing yang gemuk dan cantik. Dihitung-hitung, nyaris setahun kami melakukan CBT pada putri kami agar ia mulai terbiasa dengan hadirnya kucing. Ia nggak harus melihara kucing kalau sudah menikah. Tapi kalau kelak orang-orang terdekatnya suka kucing, minimal ia bisa ikut bersahabat dan tidak bermusuhan dengan kucing.

Kamu gimana?

Sudah bisa ngatasi fobia kucingmu? J

Kategori
Literasi Wakaf Zakat Oase WRITING. SHARING.

Generasi Muda  & Wakaf 4.0

Apa yang ada di benak anda ketika mendengar 4.0?

Bila bertanya pada mahasiswa, maka jawabannya adalah : IPK atau indeks prestasi kumulatif. Tentu, bukan itu yang dimaksud. Istilah 4.0 sering digaungkan di berbagai aspek dunia akademis, birokrasi, perdagangan, industri hingga politik dan kehidupan bernegara. Secara singkat, 4.0 dianggap sebagai sebuah revolusi keempat yang mengubah cara manusia beraktivitas sehari-hari mulai kehidupan pribadi hingga kehidupan sosial. Revolusi 4.0 dipandang sebagai perpanjangan era 3.0, padahal jauh berbeda. Di era 3.0 cara kita melakukan transaksi keuangan hanya menggunakan teller bank dan mesin ATM.  Saat ini, transaksi keuangan dapat dilakukan dengan berbagai cara. Kartu kredit dan kartu debit dikeluarkan semua institusi perbankan. E-wallet sangat banyak jumlahnya. Aplikasi all in one tumbuh subur, dari yang  berbasis layanan kendaraan online hingga aplikasi syariah.

4.0 adalah era dimana Internet of Things (IoT), rekayasa genetika, robot, kendaraan tanpa pengemudi, Artificial Intelligent, Big Data, mesin pintar dan berbagai temuan lain saling terkontak dalam satu waktu. Pengguna dapat memutuskan berbagai hal penting bersamaan, terjadi pemangkasan waktu dan jalur distribusi untuk menyelesaikan berbagai  kebutuhan. Sebagai contoh : orangtua dapat menggunakan layanan online perbankan untuk membayar biaya pendidikan semua anak-anaknya, membayar asuransi, listrik, air, gas, mengisi uang elektronik dan memesan makanan serta membeli lemari hanya dengan duduk! Dulu, untuk menyelesaikan semua itu, orangtua harus datang ke sekolah atau universitas, ke kantor PLN, perusahaan air minum, penjual gas, datang ke restoran dan harus ke toko meubel.

Era 4.0 memang memudahkan banyak hal, tetapi juga harus dicermati sebagai kondisi yang mencerminkan VUCA – volatile, uncertain, complex, ambiguous. Volatile berarti sesuatu dapat berubah cepat dalam skala besar. Uncertain menggambarkan kondisi sekarang yang tidak dapat diramalkan dengan  jelas. Complex bermakna banyak sekali yang harus dipertimbangkan dan diputuskan, sementara ambiguous diterjemahkan sebagai simbol-simbol yang memiliki banyak makna.

Apapun itu, selamat datang masa 4.0. Selamat tinggal era 3.0, apalagi 2.0 bahkan 1.0. Mereka yang tidak mau belajar, akan tergilas. Mereka yang tidak mau berubah akan terhempas.

 

Siapa yang paling dekat dengan 4.0?

Bicara tentang revolusi industri 4.0, berarti membahas sebuah zaman yang diwakili oleh generasinya. Tak ayal lagi, mereka yang dekat dengan era 4.0 adalah generasi muda; baik dari masa generasi Y, Z atau alpha. Senior yang sudah mapan tak boleh mengabaikan fakta ini, sebab 4.0 dekat dengan makna sesuatu dapat berubah dengan sangat cepat dan dalam skala besar – volatile.

Dulu, selebritis dan pengusaha harus meniti tangga dari bawah. Sekarang, mereka dapat potong kompas, tak perlu lagi berurusan dengan pihak-pihak yang memperpanjang jalur pencapaian. Selebritis dapat mempopulerkan diri lebih cepat lewat media sosial seperti youtube dan instagram; pengusaha dapat segera memasarkan produknya lewat  marketplace dan blog. Sebuah kejadian dapat beredar informasinya lewat media sosial dengan cepat; begitupun bala bantuan yang diharapkan. Bencana alam misalnya, dalam sehari bahkan satu jam, orang-orang yang bersimpati akan menggalang dana untuk membantu saudaranya di belahan bumi lain.

Remaja adalah agen perubahan.

Beberapa wilayah yang dulu tak mungkin disentuh anak muda, sekarang justru menjadi dunia anak muda dengan segala dinamikanya. Sebut saja politik dan dunia usaha. Di waktu lampau, dunia ini dipenuhi orang-orang dewasa, bahkan orang berusia paruh baya. Sekarang, politik dunia diwarnai kaum muda seperti Alexandria Ocasio- Cortez, anggota dewan termuda  di Amerika, Mark Zuckerberg pendiri facebook, Sergei Brin dan Larry Page pendiri google. Entitas yang membutuhkan figur untuk dikenal masyarakat luas menggunakan influencer muda sebagai pemantik. Tak ada lagi yang meremehkan kaum muda. Mereka agent of change, sekaligus gelombang kuat untuk menyuarakan perubahan.

Dalam bidang religi pun, generasi muda membuat gebrakan-gebrakan kreatif yang mencengangkan. Mereka membuat komunitas, film, laman berita termasuk konten-konten lucu, kreatif dan menarik di berbagai media sosial. Informasi penting dan berbobot kini dikemas dengan gaya anak muda hingga pesan itu sampai ke masyarakat luas.

Wakaf, adalah salah satu amal terbaik dalam Islam.

Selayaknya setiap jiwa menanamkan sedekah dalam bentuk wakaf, sekecil apapun kontribusi yang dilakukannya. Pahala mengalir hingga yaumil akhir, terciptanya kantong-kantong produktifitas, mereka yang miskin dan terpinggirkan dapat tetap sejahtera menikmati layanan pendidikan dan kesehatan, serta layanan publik yang lain. Melihat pentingnya wakaf bagi pembangunan ummat, selayaknya wakaf digencarkan di berbagai kalangan, bukan hanya di kalangan dewasa dan berpunya, tapi juga dikalangan generasi muda sebagai agent of change. Nature dari generasi ini adalah : mereka suka berbagai informasi baik verbal, visual atau audia kepada khalayak. Ketika mereka sudah menyuarakannya, masyarakat luas akan senang menjadi bagian dari gerakannya. Tetapi, untuk menggandeng kalangan muda, diperlukan trik khusus agar mereka tertarik.

 

Wakaf : dari Anak Muda untuk Anak Muda

Anak muda suka hiburan, itu sudah pasti.

Perlu dipahami, hiburan tidaklah selalu bernilai negatif. Bila hiburan dikemas dengan nilai-nilai religius, ilmu pengetahuan dan ketrampilan; akan sangat bagus bagi perkembangan fisik dan psikis generasi muda. Remaja perlu diberikan wadah untuk berkreasi. Bakat dan minat mereka demikian beragam, mulai kecenderungan untuk beraktivitas kinestetik yang biasanya dilakukan outdoor atau di luar ruangan, hingga aktivitas kontemplasi semacam sains atau seni.

Saat ini, sangat jarang sarana anak muda berupa gedung luas dan gelanggang yang dapat menampung berbagai aktivitas. Menurut Rothwell Miller Interest Blank, minat anak muda terbagi sediktinya ke dalam dua belas kategori , meliputi : outdoor, mekanik, komputasi, klerikal, sains, medis, teknik, personal contact, social service, seni, literatur, practical. Bayangkan bila anak-anak muda ini diberikan wadah untuk berkreasi sesuai bakat minat, kita akan mendapatkan ribuan bahwan jutaan mereka yang ahli di bidang lapangan, olahraga, komputasi, sains, seni, literasi dan seterusnya. Bakat dan minat tidak didapatkan begitu saja, tetapi harus dilatih hingga mencapai level 10.000 jam terbang.

Anak muda membutuhkan wadah dan fasilitas yang dapat menunjang potensinya.

Savant Whiltshire.jpg
Stephen Whiltshire, seniman savant

Kita tidak tahu apakah di antara mereka ada seseorang seperti Magnus Carlsen, grandmaster catur, Daniel Tammet si autistic savant, atau Stephen Whiltshire si pelukis genius. Yang harus diupayakan oleh pemerintah, pendidik, penyandang dana, filantropis adalah bagaimana semua pihak dapat bersinergi untuk menciptakan peradaban yang lebih maju dan bermartabat bagi generasi penerus.

Ketika dunia dikepung hutan beton dan besi-besi, sungguh anak muda memerlukan gelanggang luas tempat mereka dapat berkreasi, berkontemplasi sekaligus mengasah ketrampilan sosial. Gelanggang remaja, yang merupakan gabungan dari berbagai value pendidikan, religiusitas dan kebangsaan; dapat terwujud salah satunya melalui program wakaf.

Bila dirasa pemerintah dan lembaga wakaf konvensional kesulitan mewujudkannya, mengapa tidak gunakan kelompok anak-anak muda untuk membangun sendiri gelanggang yang mereka butuhkan?

gelora utk disabilitas.png
Gelanggang remaja untuk disabilitas

Layanan Wakaf Digital dengan Nominal Terjangkau

Wakaf, selama ini dianggap sebagai sedekah dengan nominal besar. Padahal tidak selalu harus demikian, bukan? Sebuah lembaga zakat lokal di salah satu kabupaten di Jawa Timur melaporkan, lembaga zakat kabupaten mereka memperoleh penghargaan sebagai lembaga dengan performa terbaik. Padahal mereka tidak menghimpun dari muzakki berpenghasilan besar. Ternyata, para pemungut infaq rajin mendatangi masyarakat pinggiran yang terdiri dari nelayan dan petani, memberikan edukasi tentang pentingnya infaq dan mereka mengumpulkan recehan seribuan serta duaribuan. Hasilnya? Luarbiasa. Perolehannya lebih besar dari muzakki kaya yang memberikan infaq dengan nominal-nominal besar.

Generasi muda dapat didekati dengan cara demikian. Edukasi wakaf harus digaungkan.

Program wakaf tidak lagi dalam bentuk nominal ratusan ribu rupiah, tapi dapat diberikan pilihan puluhan ribu, hingga ribuan rupiah saja. Anak-anak muda yang enggan berinfaq tetapi memiliki saldo lumayan di e-wallet mereka, akan tergugah untuk berwakaf duaribu rupiah, setidaknya seminggu sekali di hari Jumat. Sekarang, anak muda gemar berbagi informasi dan semangat di hari-hari tertentu, terutama hari Jumat.

Mengapa tak memanfaatkan semangat ini?

wakaf aplikasi.jpg
Anak muda & aplikasi wakaf

Layanan wakaf digital ini tinggal disatukan dalam berbagai macam aplikasi yang bertebaran, seperti aplikasi kendaraan online atau uang elektronik lainnya. Jangan remehkan sekedar limaratus atau seribu rupiah. Bila dikalikan dengan ribuan jiwa muda, hasilnya luarbiasa!

 

Portofolio Penerima Wakaf

Anak muda selalu punya rasa ingin tahu besar!

Ke mana disalurkan? Seperti apa proyek wakaf yang didanai? Apakah dana tersalurkan menjadi masjid, rumahsakit, sekolah, klinik, ataukan gelanggang remaja? Portofolio wakaf ini sangat penting untuk menggungah curiousity, kebanggaan dan kepercayaan.

Umumnya, pewakaf akan semakin bersemangat memberikan dana ketika mengetahui, seberapa jauh bentuk fisik alokasi dana wakaf. Sejauh mana telah menjadi pondasi, telah berdiri dinding, telah diberikan furnitur, dan seterusnya.

Dalam layanan digital, baik aplikasi yang diunduh atau memanfaatkan instagram misalnya, perkembangan bentuk fisik alokasi dana wakaf dapat ditampilkan. Pewakaf akan senang sekali melihat tahap demi tahap, apalagi bila informasi disajikan secara detil. Bahkan diberikan link youtubenya!

Wakaf yang telah dikelola pemerintah, secara data telah mencukupi. Tetapi tentu, harus lebih gencar lagi penyebaran informasi wakaf dan edukasi wakaf nya. Situs dapat dikembangkan, ditambahkan link-link menarik seperti liputan para blogger, youtuber dan influencer. Agar, yang berbicara ke tengah masyarakat luas bukan hanya sekedar simbol angka dan huruf tetapi gambar-gambar visual cerita cerita yang lebih dinamis.

Misal, data wakaf di Jawa Timur untuk wilayah Surabaya. Tercatat di daerah Wonokromo saja mencapai angka tujuh belas. Wonokromo adalah sebuah wilayah kecil, mendapatkan wakaf sejumlah tujuh belas tentu luarbiasa. Tetapi seperti apakah perkembangan wakaf yang terakhir? Kapankah diupdate? Seperti apakah sekolah yang berjalan dan klinik yang dioperasikan? Apakah cukup hanya berdiri bangunan fisik berbentuk masjidnya saja, tetapi bangunan itu sepi dari jamaah, bahkan tak ada takmir dan nihil kegiatan? Tentu sangat disayangkan.

Harapan kita semua, wakaf bukanlah benda mati, tetapi sebuah sinergi antara bangunan fisik yang membisu dengan aktivtias manusia-manusianya yang lincah dan selalu kreatif menembus kendala.

tanah-wakaf-berwujud-masjid-_131230140629-500.jpg
Wakaf masjid

Kita berharap, anak-anak mudalah yang akan menyalurkan energi dahsyat mereka, untuk mengelola berbagai wakaf yang tesedia. Bila, wakaf itu tidak hanya bagi aktivitas yang mainstream tetapi justru diperuntukkan bagi aktivitas–aktivitas extraordinary : gelanggang olahraga panahan, gulat, berkuda; gelanggang seni tari saman, remo atau tari piring; gelanggang skateboard dan longboard, gelanggang musik, gelanggan seni visual modern macam manga dan anime; dapatkah anda bayangkan?

Anak-anak muda Indonesia akan memiliki sebuah gelanggan remaja bernafaskan religius.

Mereka yang terpinggirkan karena masalah ekonomi, masalah kelaurga, masalah disabilitas, atau masalah lingkungan; akan memiliki tempat untuk dituju.

Wakaf, sejatinya diperuntukan bagi generansi penerus, sehingga harus dipikirkan fasilitas apa saja yang dibutuhkan generasi muda. Wakaf  bukan sekedar prasasti orang terdahulu yang sukses secara finansial sehingga peruntukannya tak mau bergeser dari bangunan masjid dan sekolah.

Sudah waktunya kita mengajak generasi muda, menciptakan arena untuk mereka, dan membantu menumbuhkan  potensi bakat minat yang  luarbiasa!

 

 

Referensi :

Hooper, Rowan. 2018. Superhuman : Life at the Extremes of Our Capacity. New York : Simon and Schuster

Baenanda, Listhari. 2019. Mengenal Lebih Jauh Revolusi Industri 4.0. Diunduh dari  https://binus.ac.id/knowledge/2019/05/mengenal-lebih-jauh-revolusi-industri-4-0/ pada 20/10/2019

Gladwell, Malcolm. 2018. Outlier. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama

Kategori
KOREA Oase Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Remaja. Teenager WRITING. SHARING.

Antara Sulli f(x) dan Hatsune Miku

 

 

Baru beberapa pekan yang lalu saya merenungi sebuah channel video Youtube tentang Hatsune Miku. Saya bolak balik menonton Is Hatsune Miku a Better Pop Star than Justin Bieber? Dalam video tersebut, Chris Plante menceritakan bahkan interaksi seorang bintang dengan para fansnya bisa sangat positif, bisa sangat negatif. Plante mengisahkan tentang Bieber, seorang bintang muda yang manis dan memiliki jutaan penggemar. Tetapi dunia entertainment melibas masa mudanya, melihatnya sebagai tambang uang dan para pemuja Bieber tidak memberikan celah bagi Bieber untuk berbuat ‘salah’. Akibatnya, Bieber yang kita kenal sekarang berbeda dengan Bieber yang mempopulerkan lagu Baby.

Hatsune_Miku.png
Hatsune Miku

Kita tentu menunggu-nunggu berbagai moment para selebritis dunia menampikan sisi terbaiknya, misal di karpet merah Oscar. Mereka yang berpenampilan bagus mendapatkan pujian, yang berpenampilan tak menarik mendapat banyak hujatan. Padahal belum tentu yang berpenampilan tak menarik itu sengaja tak memilih style, hanya saja ia berseberangan dengan orang kebanyakan. Hujat menghujat sudah lazim dilakukan netizen. Dengan bahasa sopan, hingga bahasa sangat menyakitkan.

Konsumen sekarang bukan hanya melahap lagu dan film para artis. Semua kehidupan pribadinya, juga dikonsumsi habis-habisan. Kemana dia belanja, kemana dia menyekolahkan anak, menghabiskan liburan di mana, sampai ke area paling pribadi : kenapa dia pacaran dengan si X, kenapa dia menikah dengan si A, kenapa dia memutus kontrak, kenapa dia keluar dari agensi?

Padahal bisa jadi masalahnya sangat pribadi.

Misal, seorang bintang merasa kelelahan –lahir batin- ketika harus menggelar konser. Tak heran banyak mereka yang terkena substantial abuse , mengingat dalam kondisi lelah dan sedih pun mereka harus tampil ceria di publik. Kita, orang biasa, enak aja. Kapan mau marah, kapan mau nangis, kapan mau cemberut. Emang ada yang peduli? Paling yang protes cuma pasangan dan anak-anak. Para bintang itu boleh jadi punya alasan sangat pribadi tentang dunia yang dipilih atau ditinggalkannya, alasan yang tidak bisa diungkap ke publik. Siapa yang tahu apa yang sebenarnya terjadi pada pernikahan Song Jong Ki dan Song Hye Kyo?

Saya masih ingat, bintang favorit saya di film X-File , Gillian Anderson, pernah tertangkap paparazzi tidak mencukur bulu ketiaknya. Ya, namanya dia lagi belanja dan  liburan. Bukan main sadis para jurnalis dan pengkritiknya. Sebagaimana Aishwarya Rai ketika menjadi gendut sehabis melahirkan. Perempuan yang pernah meraih  predikat tubuh terindah ini langsung dihabisi netizen. Untungnya, banyak warga India yang membelanya dan mengatakan : di kultur kami, sangat biasa seorang ibu menjadi gemuk. Maka saya nggak heran, melihat betapa stressnya para bintang pasca melahirkan, bahkan ia baru sehari dua hari melahirkan sudah harus menggenjot sepeda statis agar perutnya cepat langsing. Bukankah itu yang membuat Brooke Shield juga mengalami post partum depression? Sepanjang ia hamil yang melelahkan hingga punya anak, tak henti-hentinya dunia luar ingin tahu seperti apa beritanya.

Desember 2017, saya menuliskan tentang kematian Jong Hyun , salah seorang personel Shinee. Setiap kali menulis di blog tentang Korea, kisah tentang dirinya kerap ter-link begitu saja. Sedih itu masih terasa. Apalagi saat itu tak beda jauh dengan kematian Chester Bennington.  Secara pribadi saya tak mengikuti instagram atau twitter dari Bennington, Jong Hyun atau Sulli. Tapi sebagai seorang psikolog yang sering mendengar keluhan anak muda tentang kerasnya dunia media sosia, dapat kita bayangkan apa yang dihadapi para artis dunia. Terutama, artis muda macam Sulli. Fisiknya, perilakunya, pilihan bajunya, pilihan pasangan cintanya, karirnya, semuanya ada di bawah pengawasan netizen. Label manajemen sendiri sudah merupakan tekanan luarbiasa, apalagi ditambah tekanan dari berbagai pihak.

Sulli Young.jpg
Sulli Young : demikian cantik dan lucunya :”(

Kejadian Sulli, semoga yang terakhir kali terjadi. Seorang gadis muda yang masih mempunyai jalan panjang kehidupan, hancur berkeping tanpa ia tahu ke mana harus mengadu. Ia baru 25 tahun, kehidupan yang panjang terhampar di hadapannya. Apalagi Sulli memiliki banyak fans (dan juga haters, tentunya), tentu pilihan Sulli tentang apapun termasuk pilihan mengakhiri hidup akan menjadi sebuah berita yang sangat rentan untuk dikonsumsi.

Apa yang bisa dilakukan sebagai netizen dan warga dunia seperti kita?

  1. Kalau kita fans seseorang, gunakan selalu kata-kata bijak untuk mendukungnya. Katakan semangat, pantang menyerah, kamu luarbiasa, kamu inspiratif dan seterusnya.
  2. Kalau kita bukan fansnya, tak usah kepo dengan IG atau twitternya. Saya nggak ngefans si X dan Y, gak perlu follow atau stalking. Jadi gak perlu terlalu sering melihat postingan mereka. Kenapa? Karena nanti saya akan terbakar untuk ikut julid, menghakimi. Mending saya follow akun Sacha yang sering mengkoreksi englishnya para Seleb.
  3. Kalau kita tergabung dalam sebuah komunitas seperti ARMY fans BTS, Carat fans Seventeen, EXO-L fans EXO, Blink fans Blackpink, Reveluv fans Red Velvet atau apapun itu; mari lakukan gerakan-gerakan yang menghimbau pada kepedulian terhadap sesama. Misal, 10 Oktober tempo hari diperingati sebagai World Mental Health Day atau Hari Kesehatan Mental Sedunia. Tema tahun ini sangat spesifik : Suicide Prevention. Sedih sekali, bahwa Sulli justru harus menjadi salah satu korban suicide yang sedang kita perangi.
  4. Interaksi kita dengan dunia maya memiliki dinding setipis udara. Tak terlihat, tapi besar pengaruhnya. Rasanya ringan saja membully orang, lalu meninggalkannya dalam keresahan, gegara kita toh tak akan pernah bertemu fisik dengannya. Padahal, di semesta ini terjadi hukum law of attraction : setiap yang kita lakukan, ibarat pendulum, akan balik mengenai kita lagi. Jejak yang kita tinggalkan di IG, twitter, youtube channel siapapun semoga menjadi jejak baik yang suatu saat akan kembali ke kita lagi.

 

Yah, kembali ke pemaparan Chris Plante.

Kelak, mungkin saja kita harus mengganti semua artis dunia dengan sosok Hatsune Miku. Hatsune Miku popular dengan lagu Ievan Pollka, lagu yang sering diputar di sekolah dan acara pelatihan sembari melakukan senam Pinguin. Tahu kan siapa dia? Bukan manusia, bukan makhluk hidup, bukan boneka, juga bukan robot. Ia ‘hanya’ aplikasi sehingga tak merasakan sedih, susah, tersinggung, apalagi depresi. Miku punya jutaan fans. Lagunya digemari. Sosoknya dinanti. Konsernya buat orang antri. Para gadis membuat duplikasi. Walau ada yang pro kontra dengan Hatsune Miku, no problem. Ia tak punyarasa, tak punya raga, tak punya nyawa. Pendek kata, tak punya kehidupan. Maka Miku juga tak punya  masalah.

Kita prihatin dengan kehidupan para pesohor yang dipuja tapi juga rentan oleh berbagai masalah. Mereka juga manusia seperti kita. Mereka juga punya orangtua dan saudara seperti kita. Terlebih lagi, sebagai manusia kita saling terhubung satu sama lain. Boleh jadi Sulli sama sekali tidak masuk dalam lingkaran perhatian kita, tetapi bagaimana dengan anak-anak dan murid-murid di luar sana?

 

Sulli f(x).jpg
Sulli f(x) yang cantik dan begitu muda

 

 

Tidak dipungkiri, salah satu yang membuat Sulli merasa demikian berat adalah serangan para haters di media sosial. Setiap label manajemen, manajemen artis di manapun, baik di Korea dan Indonesia harus punya konselor atau psikolog khusus yang rutin mendampingi dari waktu demi waktu demi membangun mental sehat. Terlebih dalam situasi krisis seperti pemasaran yang anjlok, pembubaran grup, kesulitan karir, tak kunjung debut atau ada konflik internal, termasuk timbulnya permasalahan keuangan, keluarga dan permasalahan cinta. Persoalan di atas lazim terjadi pada banyak kasus, terlebih bagi artis. Perlu ada manajemen psikologis bagaimana mengelola interaksi dengan media sosial termasuk interaksi dengan para fans dan haters agar dapat dibangun lebih produktif.

Pada akhirnya, kita sendiri harus dapat membangun dunia yang sehat dengan media sosial. Fans dan haters kita boleh jadi tak sebanyak Sulli. Tapi bisa jadi kehidupan keseharian kita sudah sama satu dengan yang lainnya : tidak ada lagi dinding tebal di rumah, semua dapat menembus masuk dan keluar lewat media sosial. Apa yang realistic dan un-realistic sudah kabur, tak ada batasnya sama sekali. Bahkan, konon kabarnya, otak saat ini sudah tak dapat membedakan mana yang fiksi dan mana yang nonfiksi, saking banyaknya terperangkap dalam dunia maya yang merebut sebagian besar dunia nyata kita. Ketika dunia maya terasa lebih dominan, maka apa yang nyata terasa tak ada artinya. Hujatan fans di medsos sejumlah ribuan bisa membebani pikiran (padahal belum tentu orangnya sebanyak itu, karena bisa jadi memakai akun palsu), sementara dunia nyata yang menghadirkan seorang teman, sepasang orangtua yang senantiasa mencintai, seorang kakak atau adik yang menemani,  serasa tak ada arti.

Dunia maya, seperti namanya, maya. Ia tak nyata. Ghaib. Tak dapat diraba.

Yang nyata, tampak, teraba dan terasa jauh lebih berharga. Seperti kehidupan kita. Seperti keluarga dan teman-teman nyata. Jumlahnya tak banyak. Teman nyata kita mungkin cuma 5, sementara teman FB atau IG ada 5000. Tetapi yang 5 itu lebih nyata dibanding 5000. Penting bagi manusia untuk membangun relasi dengan teman nyata lebih sering, daripada dengan teman maya.

Sulli yang cantik, semoga kisahmu menjadi pelajaran bagi banyak orang.

 

 

 

Kategori
Cinta & Love Oase Pernikahan Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Suami Istri WRITING. SHARING.

Salah Paham dengan Pasangan ( bag. 1)

Pernah nggak sih menangkap pesan yang berbeda dari apa yang dilontarkan suami/istri?

“Adek di rumah ngapain?”

Itu pertanyaan singkat suami ketika sore pulang ke rumah.

Pertanyaan yang membuat airmata meloncat dan menjawab panjang lebar :

marriage-relationships-couple-marriages-married_couple-miscommunication-spelling_error-bwhn1956_low.jpg
Marriage error-relationship

“Aku tuh belum sempat seharian istirahat sama sekali! Cucian baju masih numpuk-numpuk karena beberapa hari banyak acara. Setrikaan gak ada yang urus. Mau ke laundry gak sempat. Belum lagi cucian piring! Kenapa nggak masak? Itu rice cooker bahkan masih direndam! Coba deh, Mas kalau akhir pekan sekali-kali di rumah. Ngerasain apa yang aku rasakan. Jangan main bola, keluar sama teman-teman. Nanti akan merasakan beratnya ngerjakan semua pekerjaan rumah. Enak kalau ke kantor, masih sempat duduk , buka facebook, minum kopi!”

Suami melongo, mencoba sabar. Meski jengkel keluar juga pertanyaan, “kan aku tadi cuma nanya : adek di rumah ngapain? Lha kok…?!”

Setelah mengusap airmata, menarik nafas panjang, menenangkan diri.

Barulah pikiran perempuan bekerja.

Lha iya, sih. Tadi suami kan cuma nanya : di rumah ngapain?

 

Indera dan Persepsi

Panca indera itu pintu masuknya persepsi alias pemikiran, pertimbangan, kesimpulan, sudut pandang, cara pandang. Informasi yang masuk lewat indera akan diolah otak dulu. Kalau otak perempuan lagi capek, ya gitu deh.

Pertanyaan suami : “Adek di rumah lagi ngapain?”

Kedengarannya  : ”adek di rumah ngapain aja sih? Kok seharian urusan ruang tamu sampai dapur gak beres-beres. Di kantorku ada banyak perempuan bekerja yang sambil ngasuh anak, urus suami juga. Mereka bisa tuh bagi waktu. Adek seharian di rumah tapi nggak ada makanan, cucian piring dan baju numpuk nggak karuan.”

Padahal belum tentu ini yang ada di pikiran suami!

Begitupun, suami bisa melakukan kesalahan yang sama.

Ketika istri nanya, “Mas, pegang HPnya masih lama?”

Karena pikiran suami lagi jutek, eneg, empet dengan banyak agenda; jawaban yang keluar adalah : “Aku tuh lagi rapat online, Dek. Aku nggak pernah ganggu lho kalau kamu pegang HP. Aku ngertiin kamu lho kalau kamu lagi buka medsos! Lagian aku nggak sering-sering kayak gini. Lebih seringan kamu!”

conversation false.png
False communication

Nah!

Istri pun senewen.

Nanya 1 kalimat. Jawabannya 5 kalimat! Kalimat negatif lagi.

Kalau soal matematika kayak penjumlahan, perkalian, pangkat , eksponen!

Padahal kalau situasi adem, atau orang luar yang kayak lihat sinetron ini paling-paling bilang : harusnya dijawab gini yaaa, Bapak Ibu Terhormat .

+ Suami : “Adek, di rumah ngapain?”

~ Istri : “Seharian tidur. Aku capek banget beberapa hari ini. Beli makan di luar aja ya. Rasanya badanku udah mulai meriang, panas dingin , mau sakit.”

+Suami (jatuh iba) : “Ya ampun…kamu kasihan banget. Udah kubelikan, mau makan apa?”

Itu bayangan penonton!

Atau seharusnya demikian…

~ Istri : “Mas, pegang HPnya masih lama?”

+Suami : “Bentar lagi. 2 menit lagi. Habis itu kutaruh. Aku juga kangen kamu.”

Jiaaah.

#gombal

 

Tapi begitulah hidup.

Mau tahu gimana mengatasi kendala komunikasi.

couple misunderstanding.jpg
Misunderstanding

Pertama

Penonton selalu lebih pintar dari pemain.

Menilai suami istri yang lagi bertikai lebih mudah, daripada kita menjalani pertengkaran itu sendiri. Ih, harusnya si istri sabar sedikit, kek. Atau : dasar lelaki! Maunya menang sendiri.

Demikianlah yang namanya komunikasi. Pasti ada salah-salahnya. Pasti ada buntu-buntunya. Pasti ada sumbatan-sumbatannya. Dan yang paling bisa melihat korelasi itu semua biasanya penonton. Penonton bisa jadi orangtua, kakak adik, teman, konselor dan seterusnya.

Kenapa penonton lebih  pintar?

Karena melihat gambaran utuh.

Kalau dengar suami istri bertengkar, kita seperti melihat televisi. Tayangan slide maju mundur. Dan kita bisa menilai : Naah, ini ini bagian kalimat yang buat suami tersinggung. Ini bagian gesture suami yang buat istri marah.

Tapi pemain, pelakon? Belum tentu.

Karena dia tidak mendapatkan gambaran utuh informasi.

Makanya jawabannya pun tidak tepat. Nilainya separo/ gak komplit/ malah negatif, alias jawaban yang cacat.

 

Suami : “Adek di rumah ngapain?”

Si istri hanya melihat sekilas bayangan suami yang keningnya berkernyit, dahinya berkerut, wajahnya penuh tanya. Seolah suami mempertanyakan keseluruhan aktivitasnya. Padahal suaminya barangkali sedang menumpahkan perhatian : ngapain aja Say seharian di rumah? Aku ingin tahu aktivitasmu lho selama kutinggal dari pagi sampai sore.

Begitu juga istri ketika bertanya HP.

“Mas, masih lama pegang HP?”

Wajah istri yang bertanya-tanya ingin tahu seolah interview, interpretasi, lebih parah interogasi! Padahal bisa aja sebetulnya –andai dijabarkan- si istri akan menambahkan : “Kalau masih lama ku tinggal dulu aja. Aku ngurusi setrikaan bentar. Nanti kalau udah gak pegang HP, barulah kutemani makan sembari ngobrol-ngobrol.”

 

#senikomunikasi

#pasangan

#suamiistri

Kategori
Oase Renungan Hidup dan Kematian Tokoh WRITING. SHARING.

Beberapa Nasehat Terbaik B.J. Habibie

 

 

 

انا لله وانا اليه راجعون

Telah pergi salah satu putra terbaik bangsa Indonesia, bapak Bacharuddin Jusuf  Habibie.

Mantan Presiden  Ri , Habibie wafat.png

Airmata rasanya mengalir begitu saja, terisak tanpa dapat ditahan. Meski  aku dan sebagian besar kita belum pernah bertemu langsung, tapi banyak hal yang bisa kita pelajari. Malam ini, kuambil dari rak buku salah satu buku favoritku : Total Habibie, karya A. Makmur Makka dari penerbit Edelweiss. Ada banyak hal yang dapat diambil dari buku ini. Romantisme suami istri, perjuangan sebuah keluarga, hingga visi misi sebagai bapak bangsa.

BJ Habibie, cover buku
Total Habibie : penerbit Edelweiss

Tidak mudah menjadi kepala negara bagi 200 juta orang dengan suku bangsa sejumlah 800an. Kebiasaan, adat istiadat, cara berpikir, cara berbahasa dan banyak lagi; sangat berbeda. Tetapi BJ Habibie memiliki terobosan-terobosan spektakuler. Beliau selalu mendorong anak bangsa untuk bermimpi dan bercita-cita besar. Fokus bangsa pada pencapaian, prestasi, keberhasilan sehingga kepala  kita dipenuhi keinginan untuk bagaimana meraih prestasi setinggi-tingginya.

Otaknya Jerman, hatinya Mekkah. Itu nasehat singkat beliau yang sangat mengena bagi anak muda dan generasi penerus. Pintar saja tak cukup kalau moralnya busuk. Sebaliknya, moral luhur tanpa bekal kecerdasan juga tak akan mampu bersaing di era global

Ada beberapa gagasan dan pendapat beliau yang patut dicontoh dan semoga terwujud segera :

  1. Gandakan diri jadi 1000, jika engkau merasa sukses.

BJ Habibie & 1000.jpg

Sebagaimana Habibie bertekad menggandakan dirinya minimal menjadi 1000 orang. Ia selalu mendorong anak bangsa untuk berprestasi tinggi. Dalam buku Total Habibie, beliau mengambil contoh orang Jepang yang suka berteriak banzaaaiii untuk menyemangati rekan kerjanya yang sukses. Indonesia, memiliki ciri iri hati dan dengki yang harus dihilangkan. Ketika melihat orang lain sukses, harusnya memberi semangat agar ia naik lebih tinggi lagi. Ketika kita sendiri sukses, harus mampu menggandakan menjadi 1000 orang dan jangan bangga menjadi pintar & kaya sendirian.

 

 

  1. Jadilah anak bangsa yang memiliki produk andalan dan unggulan.

Andalan & unggulan.jpg

Apa beda andalan dan unggulan? Banyak orang memiliki produk andalan, tapi bukan unggulan. Produk andalan itu bagus dijual, tetapi bukan satu-satunya produk di pasaran. Alangkah baiknya bila sebuah produk itu andalan dan unggulan. Misal, Indonesia memproduksi N250 Gatotkaca IPTN. Itu adalah produk andalan sekaligus unggulan. Dari 180 negara hanya 15 negara yang bisa membuat pesawat, salah satunya Indonesia.

 

 

 

 

 

  1. Ilmuwan harus mengubah teori.

Saya memahaminya begini :

Sebuah teori, terutama konsep sosial, terbangun oleh situasi. Misal “orang miskin tidak dapat mencapai tingkatan tinggi karena tak punya uang untuk sekolah.” Seorang ilmuwan harus mampu mengubah teori itu. Orang miskin tidak dapat mencapai tingkatan tinggi jika tidak punya kemauan belajar. Orang  kaya tidak dapat mencapai tingkatan tinggi jika tidak punya kemauan belajar.

Jadi seorang ilmuwan jangan hanya taat pada teori tetapi harus mampu menciptakan teori baru atau bahkan mengubah paradigm teori yang implementasinya merugikan.

  1. Jangan memiliki mental kasir.

Kasir adalah orang yang senang menerima uang.

Membangun sebuah bangsa yang besar, tolok ukurnya memang tidak memiliki kekayaan material dalam jangka waktu dekat. Tetapi SDM harus dibangun dengan biaya sangat mahal. Negara kita sangat paradox : kaya tapi miskin, indah tapi jelek.

  1. Setiap kita , baik individu dan bangsa, harus berupaya mandiri.

Sebuah bangsa, jangan hanya mau tunduk pada kepentingan asing. Begitupun setiap individu, harus be;ajar mandiri dalam segala aspek agar memiliki kedaulatan pribadi dan kemampuan untuk berkembang optimal.

  1. Masih banyak lagi pidato dan nasehat-nasehat beliau yang sangat berharga untuk disimak.

Kemesraan ibu Ainun dan pak Habibie yang sangat lekat di benak dan hati bangsa Indonesia. Love both of you. May Allah grant with jannah.

 

Ah, kenapa hatiku sedih sekali?

Rasanya seperti merasa kosong dan hampa.

Aku ingat caranya berbicara yang meledak-ledak, sangat antusias dengan mata yang berbinar. Ingat keshalihan dirinya sebagai kepala negara. Ingat betapa setia dan mesranya pada bu Ainun Habibie.

Semoga Allah mengabulkan cita-cita pak Habibie : gandakan bagi bangsa ini 1000 orang, 100.000 orang, sebanyak mungkin yang Engkau Ridhoi seperti Habibie, ya Allah.

 

(Cuplikan-cuplikan  halaman berasal dari buku Total Habibie, karya A. Makmur Makka, penerbit Edelweiss, Depok – 2013)

 

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Kepenulisan Oase Perjalanan Menulis

Workshop Menulis di Surabaya

Assalamualaikumwrwb.
Halo semua, salam kreatif!

  • Ingin menulis kisah hidup anda sendiri atau cerita imajinasi yang sudah lama terpendam di benak?
  • Sudah bisa menulis, tetapi bingung harus bagaimana?
  • Bisa menulis tetapi berhenti di tengah jalan?

Ikutilah Workshop Kepenulisan untuk kelas dasar dan lanjutan agar anda memahami teknik dasar menulis dan apakah tulisan tersebut layak dipublikasikan.

Materi mencakup :
1. Mengerti PUEBI
2. Membuat outline
3. Menyusun setting dan karakter (untuk fiksi)
4. Mencari penerbit yang layak
5. Menerbitkan indie
@Acara akan diadakan hari Minggu, 15 September 2019
@Waktu 08.00 -15.00
@Tempat : Masjid Baitul Haq, Ketintang.
Jalan Ketintang Permai Blok BF no.11, Karah, Jambangan, Surabaya.
@Peserta : Khusus Guru dan Mahasiswa *(terbatas 30 peserta saja)*
@Biaya: 100K (daftar 2 orang 175K)

Pemateri :
+Sinta Yudisia (Penulis, Psikolog, DP FLP Pusat)
+Rafif Amir (Penulis, Editor, Publisher)

Fasilitas workshop :
~Snack
~Makan siang
~Materi kepenulisan dalam bentuk e-book
~E-certificate

Narahubung :
Frisma 0857-3265-0554
Eni 0859-2157-9467

Salam kreatif!

Peserta dipersilakan membawa naskah yang telah dimiliki (bila punya) dalam bentuk print out/hardcopy agar mudah didiskusikan.

Pendaftaran masuk ke link https://bit.ly/2k0Nvsc

Penyelenggara :
Ruang Pelita
Paguyuban Bunda Shalihah
PT. Aksi Consulting
Toko Buku Sahabatku

Workshop Menulis Sinta Yudisia & Rafif.jpg

Kategori
Hikmah Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Suami Istri WRITING. SHARING.

Cocokkah Orang Pintar Mendapat  Pasangan yang (Kurang) Pintar?

Anna (samaran),  terdorong rasa ingin tahu,  menjelang  menikah iseng mengajak calon suaminya mengikuti tes inteligensi. Hasilnya mengejutkan : calon suaminya memiliki skor IQ jauh di bawahnya. Mungkin penyebab yang terlalu mengada-ada, tetapi Anna benar-benar membatalkan pernikahan dencan calon suaminya.

Ia seketika gelisah dan terintimidasi, saat tahu kalau calon suaminya kurang pintar. Yah, begitulah kira-kira. Bagaimana nanti di tengah perjalanan? Bagaimana kalau suaminya lemot, dan Anna yang harus mengambil posisi memimpin untuk memutuskan perkara-perkara penting? Benar nggak sih, kalau orang pintar seharusnya nikah dengan orang yang sama pintarnya?

Dengan kata lain, kalau si cowok nilai raportnya rata-rata 9, berarti si cewek setidaknya punya nilai rata-rata yagn sama. Yah, 8 lah nilai reratanya. Kalau 6-7 masih kurang. Apalagi kalau di bawah 5! Begitupun sebaliknya. Kalau cewek selalu dapat nilai A atau A/B, dapat beasiswa ini itu, brillian di kampus dan organisasi; setidaknya dapat cowok yang sepadan juga, kan?

einstein and maric.jpg
Einstein & Maric

Albert Einstein & Mileva Maric

Hampir semua orang tahu Einstein dengan E = mc2 yang sering diplesetkan energy = makan cemal cemil, hehe. Di balik kesuksesan seorang pria, ada perempuan yang mendukungnya dari belakang : ibu dan istri. Ibu Einstein luarbiasa hebatnya, tentu tak terbantahkan. Masalahnya : apakah istri Einstein secerdas dirinya?

Jawabannya, ya.

Mileva Maric memiliki kegeniusan yang sama dengan Einstein. Bahkan surat cinta mereka ditulis dengan bahasa-bahasa kimia-fisika yang orang awam tak akan mengerti.

Awalnya, Einstein menjalin cinta dengan Marie Winteler yang cantik dan manja. Tetapi, lambat laun ia menjadi bosan karena surat menyurat mereka hanya berisi hal-hal melankolis dramatis. Einstein jatuh cinta pada seorang gadis pintar, dengan tubuh pincang, wajah tak terlalu cantik namun memiliki pesona. Mau tahu isi surat Mileva Maric kepada Einstein yang membius?

 

“Kuliah Profesor Lenard kemarin betul-betul bagus. Ia membahas teori kinetic panas dan gas. Ternyata, molekul oksigen bergerak dengan kecepatan lebih dari 400 meter per detik lalu professor yang baik itu menghitung dan menghitung… dan akhirnya keluar hasil walaupun molekul memang bergerak dengan kecepatan tersebut, tetapi ia hanya bergerak sejauh 1/100 lebar rambut.”

Surat menyurat keduanya bukan hanya membahas permasalahan pribadi tetapi juga penemuan ilmiah. Ya, mereka akhirnya menikah dan dikaruniai 2 orang anak : Hans Albert dan Eduard.Bahagia selamanya? Ternyata, cerita  tidaklah berakhir bahagia.

 

 

Permasalahan Si Orang Pintar

Einstein sangat cerdas dan, memiliki karisma alpha male yang luarbiasa. Wajahnya juga amat tampan dengan pesona yang mampu menaklukan hati para gadis. Mileva Maric sebaliknya. Tetapi bukan masalah penampilan yang menjadi sebab keretakan keduanya. Ketika karir Einstein melesat sementara Maric disibukkan dengan dua bocah lelaki; Maric mulai berontak. Bukankah mereka sama-sama bintang di Politeknik Zurich? Bukankah mereka sama-sama peneliti sains yang ambisius pada pencapaian?

Seenaknya, tak cukup memiliki sopan santun, punya konflik dengan rekan peneliti, menggila ketika kerja, tak mudah diatur; adalah jejak yang sama-sama dimiliki Einstein dan Maric. Pasangan seperti ini tampak sangat mencintai dan kompak pada awalnya, di satu titik, ternyata mereka tak dapat saling melengkapi.

Einstein berpisah pada akhirnya dengan Maric. Ia mencintai Mileva tetapi juga sangat kejam padanya. Kadang, kecerdasan seseorang sering berbanding terbalik dengan sifat empati. Maka tak heran, orang cerdas seringkali digambarkan tak punya hati, karena ia lebih sibuk berbicara dengan apa yang lalu lalang di benak.

Einstein punya catatan perjanjian dengan sang istri :

  1. Kamu akan memastikan pakaianku dicuci dan dibereskan.
  2. Kamu akan memastikan bahwa aku makan 3x teratur di kamar tidurku
  3. Kamu akan memastikan bahwa kamar tidur & kamar kerjaku selalu dirapikan, meja kerja hanya boleh digunakan olehku,

Setidaknya ada 9 poin yang diajukan Einstein kepada istrinya! Bahkan, si ilmuwan menekankan si istri tak boleh meminta keintiman atau hal-hal mesra lainnya.

 

 

kasturba & gandhi.jpg
Kasturba & Gandhi

Mahathma Gandhi & Kasturba

Kasturba adalah seorang perempuan sederhana. Perempuan rumahan yang tak pernah memiliki karir di luar rumah. Ia pandai memasak dan menenun. Sekilas, sosok sepertinya tak cukup pantas bagi lelaki yang sukses berprofesi sebagai pengacara di afrika Selatan : Gandhi. Sama seperti Einstein, Gandhi sangat cerdas dan memiliki karisma alpha male : ia tampan dan memikat.

Berbeda dengan Mileva Maric yang tak mampu mengimbangi langkah Einstein, Kasturba justru sebaliknya.Ialah pendukung Satyagraha & Ahimsa yang dicanangkan Gandhi.

Ketika Gandhi mewacanakan menenun kain sendiri, Kasturba yang pertama kali mengikutinya. Ketika Gandhi meminta Kasturba meninggalkan sendok garpu dan mengosek kamar mandi sendiri –sesuatu yang bertentangan dengan kasta mereka- Kasturba menurut patuh.

Kasturba memang tak memiliki kapasitas seperti Mileva Maric yang sangat cerdas dan mampu mengimbangi segala pemikiran intelektual suaminya. Kasturba mungkin tak mengerti mengapa sang suami meninggalkan kehidupan mapan dan memilih berjuang di India.

Satu yang dilakukan Kasturba : patuh.

Ledakan pemikiran, kekuatan semangat, kekeraskepalaan, sikap tak mau tunduk yang umumnya ada di perilaku orang-orang pintar; ternyata dapat diimbangi oleh Kasturba yang sederhana. Boleh jadi ia bukan perempuan brillian, tetapi jelas ia perempuan yang tepat.

 

IQ = Kematangan Kepribadian?

Siapa sih yang tidak ingin punya suami pintar? Siapa yang tidak bangga punya istri cerdas?

Setiap individu rasanya ingin punya pasangan yang dapat dibanggakan kepada orangtua, khalayak, teman-teman. Terkadang, keinginan itu menjadi sesuatu yang sifatnya lahiriah belaka tanpa melihat makna. Yang penting punya suami lulusan S2, dari universitas ternama. Yang penting punya istri dokter atau dosen. Keinginan itu tidaklah salah tetapi harus siap pula konsekuensinya.

Punya suami/istri super pintar akan menghadapi kendala seperti Maric/ Einstein. Orang pintar cenderung tak dapat dibantah dan suka seenaknya sendiri. Mereka kadang juga asosial, tak banyak punya teman, lebih suka bergulat dengan kecamuk pikiran sendiri. Pasangan hidup harus pandai-pandai menjelaskan ke keluarga. Einstein, selalu beperang dengan ayah ibunya ketika menjelaskan sikap Maric yang seringkali tidak manis kepada keluarga besarnya.

Bukan berarti bahwa orang pintar dilarang menikah dengan orang yang juga pintar, lho!

Ada kok dokter spesialis yang berjodoh dengan dokter spesialis, professor dengan professor, politikus dengan politikus, pengusaha dengan pengusaha. Tapi tidak semuanya demikian.

High IQ.png
High IQ

Sikap Anna di awal cerita tidaklah tepat. Memangnya orang IQ 130 harus menikah dengan yang IQ nya 130? Bisa-bisa nggak ada yang mau jadi makmum dan rakyat dalam rumah tangga kalau begitu!

Seorang yang super aktif di kampus dan peraih banyak beasiswa, tak harus mencari orang yang memiliki riwayat hidup sama. Boleh jadi, seorang lelaki yang sangat brilian di akademis, justru cocok dengan gadis yang biasa-biasa pencapaiannya tetapi memiliki sifat rendah hati, mengalah, sederhana dan tidak terlalu menonjol dalam akademis.

Begitupun sebaliknya.

Seorang gadis yang sangat berprestasi tidak harus menikah dengan lelaki yang memiliki segudang penghargaan dan medali. Mungkin, ia justru harus menikah dengan seorang lelaki sederhana yang akan menge-rem segala ambisinya.

IQ tidak segaris lurus dengan kematangan kepribadian. Terkadang, orang berIQ tinggi justru memiliki kemanjaan luarbiasa sehingga pasangannya harus ngemong sepanjang masa! Boleh jadi, yang memiliki IQ hanya rata-rata saja ternyata memiliki pribadi dewasa dan matang. Ia memang agak lambat memutuskan karena harus berpikir dua tiga kali sebelum memutuskan, karirnya pun tak bagus-bagus amat; tetapi ia adalah pendamping setia yang penuh cinta.

Nah, pasangan mana pilihan anda?

Tokoh tenar dengan IQ tinggi (kiri-kanan) :

 Habibie 200, Matt Damon 160, Rap Mon BTS 148, Natalie Portman 140

 

 

 

Kategori
Oase Pernikahan Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Remaja. Teenager Suami Istri WRITING. SHARING.

Pernikahan Seharga Kaos Kaki

 

Pernah beli baju lebaran?

Ada yang beli sebelum Ramadhan tiba, takut bila agenda memilih-milih baju menggangu aktivitas puasa dan tarawih kita. Ada yang membelinya menunggu THR, karena beli baju lebaran butuh budget tinggi. Ada yang sengaja beli baju lebaran di mall terkemuka atau butik ternama, sebab lebaran termasuk momen tahunan yang istimewa.

emak pakai daster di hut ri 73.jpg
Emak berdaster

Baju daster?

Daster dapur, cukuplah harga 30ribu. Motifnya jelek, jahitannya gampang lepas, gakpapa. Yang penting enak, nyaman dipakai pas ulek-ulek bumbu. Umumnya, daster ini kalau robek, dibiarkan  begitu saja. Nanti kalau mirip keset dengan robekan-robekan serupa jendela, tinggal beli yang baru.

Kaos kaki?

Harganya murah, 10 ribuan. Beli tanpa mikir, nyuci kalau sempat. Kadang pas lewat alun-alun hari Minggu, nggak sengaja lihat dan kasihan pembelinya, belilah sepasang. Hilang satu, tinggal beli lagi. Hilang sebelah, sudah ikhlaskan. Ujung jempolnya sobek sedikit, mending buang aja. Repot amat jahit-jahit kaos kaki. Kalau masih layak, naik tahta jadi pegangan panci panas.

 

Harga waktu dan uang

Ada kata kunci dari pakaian yang kita beli : waktu dan harga.

Semakin penting sebuah acara, semakin tinggi uang yang disisihkan. Semakin banyak pula waktu yang dialokasikan untuk memikir, mendesain, memutuskan, membatalkan, mengkaji ulang. Tidak akan sama mendesain baju wisuda yang spektakuler dengan baju arisan yang setiap bulan ada. Tidak akan sama harga dan waktu membeli rumah dengan membeli sapu. Butuh waktu belasan bahkan puluhan tahun untuk mengumpulkan uang, memikirkan, memutuskan membeli rumah. Tapi sekedar sapu, bisalah sewaktu-waktu.

 

Berapa Harga Pernikahan Kita?

Seorang klien saya memikirkan rencana pernikahannya sejak kecil. Ia tidak ingin pernikahannya seperti orangtuanya. Ia tidak ingin punya anak seperti kakak-kakaknya yang naudzubillah. Beranjak SMA, ia sudah menetapkan calon suami macam apa yang diharapkannya. Impiannya hadir dalam harapan dan langkah tahap demi tahap. Sejak kuliah S1 dan S2 rajin ikut kajian pernikahan dan parenting, yang pastilah mahal untuk kantung mahasiswa. Waktu sebagai mahasiswa yang tugasnya ampun-ampunan, ia sisihkan untuk mengikuti berbagai seminar. Uangnya yang pas-pasan, juga dialokasikan untuk menambah ilmu. Hasilnya, Alhamdulillah, ia mendapatkan suami yang sangat diharapkannya.

Ada seorang klien, yang justru ikut seminar-seminar menikah setelah ia menikah.

Di kepalanya ada rasa menghantui, kenapa ia pacaran sekian lama. Pada saat menikah terbukti , karakter pacarnya berbeda sekali dengan yang dulu. Tetapi ia menyadari satu hal, pacaran dan pernikahan ternyata bukan garis paralel. Malah seperti sumbu X dan Y yang beda banget arahnya. Ketika ia menyadari kurang ilmu dan merasakan dosa, ia banyak mengalokasikan waktu untuk belajar, belajar. Dengan statusnya sebagai istri dan ibu, ia masih mau menyeret-nyeret anaknya ikut seminar ini itu.

Tetapi ada pula orang-orang yang unik.

Anak-anaknya sudah bermasalah. Istrinya sudah kehabisan nafas. Ia masih saja tak pernah meluangkan waktu memikirkan pernikahan : ini enaknya ditangani bagaimana ya? Yang ada di pikirannya karir, karir, karir. Oke. Karir dan uang perlu. Kalau karir seharga baju lebaran, apa pernikahan harus seharga kaos kaki? Nggak juga. Kalau ingin karir dan pernikahan sama-sama seharga baju lebaran, luangkan waktu dan harga.

Kita akan sibuk mendeteksi raut muka atasan dan rekan kerja : wah, si bos kayaknya lagi nggak mood. Enaknya beliau diapain ya? Pasti seorang bawahan akan berjuang dua kali lipat performanya lebih baik hari itu agar mood bosnya segera baik. Tapi sering , kita gagal menangkap raut muka istri dan suami yang lagi keruh. Malah, kalau pasangan lagi keruh, rasanya pingin cepat-cepat cabut dari sisinya. Malas amat! Padahal, kalau bisa dijual, kira-kira berapa sih harga bos, rekan kerja, pasangan kita? Jawab sendiri.

Kaos_Kaki_Formal_Pria_Isi_3_Pasang___Kaos_Kaki_Kantoran___Ka.jpgAda yang memperlakukan bos seharga emas, memperlakukan teman-teman kerja seharga perak, tetapi harga pasangannya cuma seperti plastik disposable.

Pernahkah, kita berhari-hari mencemaskan pasangan kita?

Kok suami/istri sepertinya lagi banyak pikiran? Apa yang ada di benaknya? Apa yang sedang merisaukannya? Apa yang bisa kulakukan supaya dia baik kembali dan bagaimana caraku membuatnya senang?

 

Mengapa  Pernikahan Mahal?

Sebetulnya, nyaris semua orang menganggap pernikahan sesuatu yang ‘mahal’. Banyak orang bisa gonta ganti pacar tapi lamaaa sekali memikirkan dengan siapa ia akan menikah. Masih banyak orang beranggapan, kalau bisa menikah sekali saja seumur hidup. Kita ingin tua bersama, meninggal bersama, dan kelak di surgaNya pun bersama-sama.

Tetapi kita seringkali memperlakukan barang mahal dengan rasa sangat murah. Seperti kaos kaki. Nggak mikir, rusak tinggal buang, hilang ya sudahlah.

Seperti petunjuk di awal : waktu dan harga.

Tak pernah sama sekali mengalokasikan waktu untuk pasangan dan anak. Tapi berharap pasangan setia, pasangan mengerti, anak-anak shalih shalihah, anak-anak baik-baik saja. Berat amat mengalokasikan waktu, pikiran, uang untuk keluarga;  tetapi semua harus berjalan sesuai mestinya! Ibarat orang nggak mau invest apa-apa, tapi maunya dapat deviden dan  bunga.

Selayaknya kita berpikir : kapan ya bisa jalan berdua dengan suami/istri? Mana ya restoran yang nyaman untuk bicara? Bukannya istri nggak mau masak. Tapi situasi café atau resto yang dilayani, membuat istri fokus memandang wajah suami. Kalau memasak di rumah, ia akan sibuk memasak dan beberes. 1 jam duduk berhadap-hadapan di restoran; suami istri bisa menikmati ngobrol berdua. Abaikan harga makanan minuman yang mencapai seratus ribu. Abaikan pikiran ; aduh, mahalnya. Waktu berdua itu terlalu mahal untuk ditukar dengan uang seratus ribu.

Kapan ya jalan-jalan sama anak-anak?

Memang repot. Apalagi kalau punya anak mulai besar. Yang satu suka bioskop, yang satu suka ngemall, yang satu suka makan. Bagaimana orangtua harus mencari celah waktu supaya semua bisa berkumpul. Ribet, makan waktu, makan tenaga, bahkan mungkin makan biaya. Ketika anak-anak butuh perhatian di akhir pekan : aduh, capeknya nemani ke bioskop. Antri beli tiket, antri parkir mobil, macet di jalan raya. Lebih enak tidur di rumah (sembari pegang gadget tentunya!). Padahal saat ke bioskop kita bisa merengkuh pundaknya, menggandeng lengannya, mengacak rambut mereka. Nggak harus bioskop sih, bisa toko buku atau ke factory outlet.

Harga pasangan sangat mahal.

Harga anak-anak sangat sangat mahal.

Mereka investasi berharga di masa depan, ketika kita tua renta, ketika kita sudah meninggal di alam kubur. Coba tanyakan pada para pengusaha sukses : jenis usaha apa yang nggak butuh investasi uang dan waktu? Pasti kita ditertawakan. Kalaupun ada usaha yang modalnya 0, waktu adalah investasinya yang berharga.

Jangan pernah mengeluhkan pernikahan yang terasa gagal, sempit, menyesakkan kalau kita memperlakukannya seharga kaos kaki. Pikirkan keluarga. Pikirkan posisi kita ada di mana. Pikirkan pasangan suami/istri kita dengan sungguh-sungguh. Berjam-jam, berhari, berbulan; seperti kalau mau beli baju lebaran. Lalu alokasikan harga. Ya, mungkin memang harus menguras uang. Mungkin, harus mau keluar biaya untuk jalan berdua dengan si sulung yang mulai intens pacarannya. Mungkin, harus mau keluar biaya untuk ngobrol dengan si bungsu berdua yang nilanya mata pelajarannya semua jeblok.

married-couples-romantic-date-ideas.jpg
Romantic married couples

Oh, pernikahan belum masuk taraf membahayakan. Tapi ingin pembaruan kan?

Kok rasanya sudah agak hambar, ya. Ketemu di ranjang biasa aja. Lihat mukanya tidak ada desir di dada. Pesan pendek darinya di gadget juga bukan prioritas. Anak-anak kok mulai nggak ekspresif kalau ketemu orangtua. Lebih suka pakai headset kalau di rumah. Lebih milih hang out sama teman ketimbang orangtua. Ah, banyak tanda-tanda kecil yang mulai butuh reparasi.