Kategori
My family Oase Perjalanan Menulis Pernikahan Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY UNTAG, My Campus WRITING. SHARING.

Saat Suami Dapat Mendidik Istri

 

“Kamu tuh hasil bentukan dan didikan suami kamu,” celetuk sahabatku. Begitu kira-kira konteks kalimatnya.

Aku terkejut. Selama 24 tahun menikah, hampir nggak pernah dengar kalimat seperti itu. Mungkin yang mirip-mirip ada, tapi kalimat yang diucapkan temanku belum lama ini menyentak betul. Bagiku, suami adalah kekasih, sahabat, mitra. Kadang teman adu urat leher juga hahaha. Kalau nggak ada suami, nggak ada yang diajak diskusi seru mulai anak sampai urusan sosial politik ekonomi.

Guru?

Apakah suamiku adalah guruku?

Hmmm.

 

Nasehat CJ Lewis

Penulis Narnia ini memberi nasehat kepada pendidik ,”alirilah gurun, bukan menebang pohon.” Konsep mendidik itu mungkin dilakukan suamiku ketika pada awal nikah, aku belum tahu mau jadi apa. Impian untuk jadi istri dan ibu yang baik, ada. Tapi adakah cita-cita selain itu?

Aku suka masak dan jahit. Aku pernah berjualan kue tradisional dan menjahit baju sebagai pemasukan tambahan dan penyaluran hobby. Aku juga suka nulis. Masalahnya, mana impianku yang benar-benar mau difokuskan? Nah, disitu masalahnya.

Aku suka jahit. Baju anak-anakku ketika kecil, nyaris semuanya aku jahit. Korden, aku buat sendiri. Seprei sarung bantal-guling, juga. Teman-temanku bilang : “buat butik aja!”

Oke. Bolehlah.

Aku juga suka buat patchwork. Patchwork ku, cantik-cantik lho. Dompet, tas dan berbagai kreasi kerajinan tangan. Suamiku, mendukung sepenuh hati. Tapi kayaknya ia pun jengkel setengah mati. Tiap kali aku ajak belanja, niatnya beli benang dan kain.

“Kenapa pulangnya bawa ember, sandal, keset dll??”

Rupanya suamiku nggak paham, kalau perempuan bilang 5 menit; itu maksudnya 1 jam. Kalau bilang cuma mau beli benang, itu maksudnya beli benang, gunting, pensil, kertas karbon, kain dan mungkin mesin jahitnya sekalian! Ternyata, aku punya kelebihan dan kekurangan yang baru kuketahui kelak ketika aku lulus sebagai psikolog.

“Ummi tuh nggak fokus, yah,” tegur suamiku. “Yang dikerjain apa aja sih?”

Kalau aku berangkat mau isi acara, suamiku udah rapi lebih dahulu. Aku masih sibuk belanja, cuci piring cuci baju, beberes kamar.

“Perempuan mana bisa pergi begitu aja! Kalau keluar rumah, ya yang di dalam harus beres dulu, ” kilahku.

“Ya, tapi skala prioritas dan fokus, Mi,” tegasnya.

Baru kuketahui, bahwa suamiku tengah “mengaliri gurun” dan bukannya “menebang pohon”. Ia nggak pernah bilang ,”ya udah, berangkat sendiri aja. Capek aku nganter kalau harus ngebut.” Meski ngomel panjang pendek, ia tetap setia mengantarku ke tempat acara.

Nggak pernah ia berkata, “kalau gini caranya, males aku antar kamu belanja!” atau ”kalau gini caranya, nggak usah nulis aja!”

Yang ia lakukan ketika  awal kumenulis adalah, terbangun di tengah malam, terkantuk-kantuk, membuatkanku secangkir kopi susu. Menemaniku yang masih terbata mengetik tak-tik-tuk; dan ia akan tertidur di kursi. Melihat potensiku yang masih sekecil kecambah alias taoge, suamiku nggak langsung menebangnya. Tapi mengairinya, entah kapan bisa jadi pohon kacang hijau.

Percaya itu Lebih dari Cinta

Kemarin, waktu naik ojek online, aku mendengar lagu manis Judika. Endingnya adalah :

Karena percaya itu lebih dari cinta

Duh, aku terharu banget dengar lagu itu. Sampai-sampai, putriku Arina menoleh ke arahku dan kami berpandangan sembari kompak berkata ,” manis bangeeett!”

Bertahun lalu, teman-teman perempuanku pernah berkata:

“Wah Sin, suamiku pencemburu banget. Mana boleh aku pergi nginap-nginap.”

“Suamiku nggak bolehkan aku jadi penulis. Katanya : buat apa?”

Anak-anakkupun nanya, “Abah nggak cemburu sama Ummi? Padahal ummi udah sampai kemana-mana, ke luar negeri juga.”

Yah.

Aku akhirnya nanya ke suamiku ,”Mas cemburu nggak kalau aku ke luar negeri? Kalau aku foto berdua dengan adik-adik FLP yang sebagian cowok? Kalau aku ketemu professor Koh Yung Hun? Kalau aku ketemu A, B, C?”

Jawaban suamiku simple, “aku percaya Ummi. Insyaallah karena kita diikat keimanan.”

Itu jawaban normatif yaaa.

Jawaban konyolnya adalah ,”gak ada yang lebih ganteng dari aku!”

Dan bener juga sih. Kalau dilihat-lihat, diamati, suamiku paling ganteng. Terserah cewek lain mau bilang apa yah. Bagiku, pria ganteng itu yang bisa sholat jamaah di masjid. Sederhana dalam berpenampilan, tapi tetap tampil stylish. Yang bisa jadi qowwam dan imam buat keluarga. Yang perkataan dan perbuatannya senada. Yang penyayang orangtua, istri, anak-anak, saudara-saudaranya. Yang punya banyak teman. Sebab, bagiku orang ini kharismatik. Dan itu suamiku kwkwkwk. Kalau ada kriteria yang lain dan itu cocok buat para istri, berarti lelaki itu paling ganteng buat istrinya.

Kembali pada asas percaya.

Suamiku mempercayaiku tanpa pernah bongkar-bongkar apa isi inbox FB, atau private message di whatsapp. Kalau sesekali ia melihat, wajarlah. Kadang, kami melihat HP satu sama lain untuk lihat foto lucu, meme lucu, video konyol atau bahkan pesan-pesan hikmah yang mungkin gak ada di HP sendiri. Tapi itu jarang sekali. Kadang 2 atau 3 bulan sekali.

Ketika melepasku ke luar negeri, yang dikatakannya adalah, ”aku bakal kangen. Tapi aku percaya Ummi.”

Akhirnya, aku tak pernah panik, khawatir, cemas, ketakutan kalau ketemu siapa saja yang ilmunya bisa kudapat. Aku ceritakan semua pada suami ilmu yang kuperoleh hari itu, pekan itu, tanpa beban.

“Mas, aku ketemu professor ini. Luar biasa pandangannya. Aku ketemu pengusaha ini, luarbiasa capaiannya.” Bahkan, “Mas, aku naik taksi, supir taksinya masyaallah banget…”

Cemburu?

Pernahlah. Tapi hanya di permukaan, nggak sampai yang benar-benar masuk ke hati. Aku sering sekali cerita tukang sayur, supir, tukang bangunan, satpam yang kukagumi lantaran kehebatan mereka mendidik keluarga. Suamiku akan berkata, “dulu Abah juga begitu. Kalau bukan karena Abah Ummi, Mas nggak akan sekolah setinggi ini.”

Penghormatan suamiku pada orangtua kami, sungguh luarbiasa.

 

Aku Harus Membekalimu

Murid harus lebih baik dari gurunya.

Aku pernah nanya : kok boleh aku kuliah S1, S2? Padahal saat itu ekonomi mepet dan situasi serba kejar tayang. Kata suamiku : kalau suatu saat nanti aku harus sendiri, aku punya bekal cukup untuk mendidik anak-anak dan membantu mereka sampai mereka bisa mandiri. Ini bukan berarti kami berpisah atau salah satu meninggal ya, huhuhu. Suamiku kerja di institusi pemerintah yang rotasi mutasinya tinggi. Sudah pasti, aku harus sendiri menangani anak-anak. Itu butuh ilmu, bahkan butuh support ekonomi juga.

Sinta Wisuda S2.JPG
Arina putriku, aku dan Agus Sofyan

Aku kuliah S2 magister psikologi profesi di Universitas 17 Agustus Surabaya lebih dahulu. Suamiku saat itu masih S1. Tapi ia biasa aja, bahkan sering mengantarku penelitian ke sana kemari, magang di RSJ Menur. Barulah kemudian suamiku lulus S2. Bahkan, ia sudah bilang beberapa kali : nanti kita bareng kuliah S3 ya. Aamiin yaa Robb…

Selama ini itu kuanggap mitra.

Tapi ternyata, itu juga sikap seorang guru.

Guru adalah pendidik yang mengairi gurun, menumbuhkan kepercayaan, memberikan teladan, mengembangkan potensi.

Pantas temanku bilang, “kamu tuh hasil didikan dan bentukan suami kamu!”

Tentu, jejak didikan orangtuaku masih tersisa di diriku. Tapi sesudah menikah, sungguh, suami adalah guru yang utama.

Ah, terimakasih suamiku, guruku.

Yang sudah rela berpayah-payah mendidik istrimu yang kadang manja, ngeyel, ngambek, sering ngomong ala perempuan banget (ya iyalah) yang buat suami elus dada. Potensiku berkembang dan melejit, karena guruku selalu mendorong di belakang. Mendampingi di samping. Dan kadang, ketika aku nggak tahu jalan, berada di depan untuk membukakan wawasan.

 

Kategori
Buku Sinta Yudisia Fiksi Sinta Yudisia Karyaku Kepenulisan KOREA Kyushu Mancanegara Oase Sirius Seoul Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Sirius Seoul : Nol & Zero, bag. 1

Ikuti kisahnya dan nantikan hadiahnya!

 

Rasanya sepertiぐでたま. Gudetama, si telur yang eng­gan melakukan hal dengan sepenuh hati. Si telur yang bosan diperintah-perintah dan lebih senang tengkurap, menungging sebagai bentuk pemberontakan dan peno­lakan. Si melankolis berbentuk kuning, yang malas dan kerap menggumam: meh, aaahhh.

Bila malam tiba, ingin bersorak melihat shoji ka­marnya. Bau sarung bantal dan selimut adalah aroma ternikmat yang pernah dihirup. Sering kali bila terlam­pau lelah, Sofia tertidur masih mengenakan kaus kaki dan jilbab yang membalut kepala. Barulah dini hari saat ingin ke belakang karena hawa demikian dingin, dia membersihkan diri berikut sikat gigi dan menyelesaikan agenda yang seharusnya ditunaikan sebelum tidur.

cover Sirius Seoul
Sirius Seoul yang insyaallah terbit September 2018

Dering alarm pagi merupakan hukuman bagi kesenangan!

Andai waktu dapat ditunda dan dia dapat menelusup ke bawah lantai tatami. Menimbun diri di balik tumpukan baju yang belum disetrika, menimbun diri di balik gulungan selimut, bermimpi bahwa natsuyasumi sedang terjadi hari ini.

Sebetulnya, Paman tidak lagi seperti matsu yang kaku. Jarang mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan. Namun, perintahnya makin sering, makin kerap, makin beruntun.

Ambilkan barang. Ada yang mau antar dan nitip di An Nour.

Jemput tamu di Bandara Fukuoka.

Belikan bibit bunga.

Jangan lama-lama di kampus. Kerjakan tugas sambil jaga toko.

“Main ke Aso jangan keseringan. Mentang-mentang tiket pelajar dapat diskon. Ngapain jauh-jauh cari krim susu di kaki Gunung Aso?”

 

*******

 

Kantin Joshi Daigaku, dihiasi meja putih dan kursi kuning cerah, tidak mampu memberikan energi positif. Dinding merah bata yang menjadi ciri khas kampus perempuan, bagai batas-batas penuh bisikan membawa pesan rahasia bak cerita di film horor.

“Aku merasa semester ini sebagian besar diriku hancur,” keluh Rei.

“Sama,” Umeko mengiakan.

Sofia yang menyusul tampak sama kusutnya.

“Aku tidak mengerti apa yang salah,” Rei masih ke­hilangan semangat. “Kuliah nursing, pelatihan keguruan, dan children care harusnya berjalan mudah.”

“Apakah kita sudah kehilangan sifat keperempuanan sehingga pelajaran perempuan terlihat sangat sulit?” Sofia melempar pertanyaan retorik.

“Kamu betul,” ujar Rei dan Umeko nyaris serem­pak.

“Dulu, ibu-ibu kita sangat rajin dan tahan banting,” Umeko menambahkan. “Mereka langsung belajar dari alam. Sekarang, kita kehilangan keahlian. Ah, ternyata jadi perempuan terampil sangat sulit.”

“Kita butuh liburan,” usul Rei.

“Setuju!” Sofia yang pertama kali mengiakan, sebe­lum yang lain sempat menghela napas.

Mereka memandang makan siang masing-masing tanpa selera. Bahkan, olahan telur Sofia yang biasanya paling mengundang selera, tidak dilirik oleh Rei dan Umeko.

“Aku sepertinya akan mengambil semester pendek,” Umeko terlihat ragu. “Tapi, aku tidak menolak kalau kalian memaksa.”

Sofia dan Rei tertawa.

“Tak seorang pun menolak liburan, Umeko!” Rei menggoda. “Ada usulan kita akan ke mana?”

“Aso?” Umeko menawarkan.

Sofia sontak lunglai.

Bukan dia tidak suka pemandangan gunung eksotis, kabut, dan pemandian air panas. Apalagi, hamparan pe­ternakan sapi yang menyediakan susu terenak di dunia. Berikut es krim yang jelas-jelas lezat. Oishi! Meccha umai! Tapi, ucapan Paman membuat semangatnya segera ken­dur. Entah mengapa, Paman melarangnya sering-sering ke Aso. Mungkin, usai perjalanan wisata ke sana, Sofia persis seperti si Kuning Telur Gudetama. Menungging tidur, malas seharian.

Menolak ajakan Umeko, tidak sopan rasanya. Untung, Jie Eun segera bergabung menyesuaikan percakapan.

“Ke mana kalian natsuyasumi kali ini?” tanyanya.

Rei menggeleng.

Umeko mengangkat alis.

 

#siriusseoul #polarisfukuoka #novel #romance #adventure #friendship #itaewon

#linestore #smtown #seoul #korea #kpop #idol #boyband #girlband

Aso 27.jpg
Pegunungan Aso di Fukuoka. Cantik ya?
Kategori
Beasiswa / Scholarship Buku Sinta Yudisia Catatan Perjalanan Kepenulisan KOREA Mancanegara Oase Perjalanan Menulis Travelling Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Residensi Penulis, Ngapain Aja?

 

Mungkin masih ada yang bertanya-tanya : Writer’s Residency atau residensi penulis itu ngapain aja sih? Apa sama dengan jalan-jalan biasa? Ke luar negeri, dibiayai, makan-makan, selfie-selfie; begitu?

Hehehe, nggak juga kali. Yah, sedikit banyak ada miripnya, tetapi ada tanggung jawab besar ketika kita mengikuti residensi penulis. Kita punya tangung jawab membawa nama negara Indonesia tercinta.

Residensi penulis, mirip karantina sebetulnya. Penulis diisolasi sejenak dari dunia luar, supaya bisa berkonsentrasi menulis. Tahu sendiri kan,penulis itu adaaa aja kerjaannya. Kayak saya yang ibu rumah tangga dan psikolog ini. Sehari-hari mencuci, memasak, berantem sama anak-anak (alamaaak!) , menemui klien dst. Belum lagi ngobrol sama tukang sayur, wah…tulisan nggak kelar-kelar.

Residensi penulis membuat kita fokus. Ya. F-O-K-U-S. Itu ternyata kunci utama menjadi penulis. Di residensi inilah kita kemudian nggak ngurusi apa-apa, kecuali masak ala kadarnya dan mencuci baju sendiri. Berhasilkah? Alhamdulillah, berhasil bagi saya.

 

Lingkungan yang asri, memunculkan inspirasi

Di residensi Art Space Yeonhui, milik dari SFAC atau Seoul Foundation for Arts and Culture ini, saya bisa menyelesaikan banyak tulisa. Bagi saya banyak karena dalam waktu 3 minggu, kalau di Indonesia rasanya sulit banget.

  1. Seksologi Islami, buku non fiksi yang insyaallah akan diterbitkan oleh Indiva Publishing 2018.
  2. Tiga buah buku anak serial Children Stories yang insyaallah akan diterbitkan oleh Ziyad Publishing. Masing-masing berjudul : Hii, Aku Takut; Yuk, Senyum dan Bertemu Orang Asing. Insyaallah terbit 2018.
  3. Cerpen Sepetak Nasi di Ujung Sumpit, yang saya kirimkan ke Kompas. Masih nunggu kabar.
  4. 3 Menit yang Bahagia, saya kirimkan ke Jawa Pos, masih nunggu kabar.
  5. Esai Mengapa Unsur Korea Menarik untuk Dituliskan dalam Novel dan Cerpen? Yang insyaallah akan diterbitkan oleh majalah Koreana, musim gugur 2018.
  6. Revisi untuk novel Sirius Seoul yang insyaallah diterbitkan Pastelbooks, 2018.
  7. Tulisan-tulisan lepas untuk blog
  8. Video-video pendek tentang Seoul seperti tentang SFAC, Itaewon, Line Store, HUFS (Hankuk University of Foreign Studies).

 

Perpustakaan di Yeonhui, Seodaemun-gu, asyik banget!

Kebayang kan, kalau di Indonesia, tugas utama sebagai emak-emak akan membuat waktu menulis tersingkirkan terlebih dahulu. Bukan saya mengeluh atau menyesal ya. Tetapi alhamdulillah, Allah kasih kesempatan saya ke Seoul untuk residensi selama 3 pekan; maka saya manfaatkan sebaik-baiknya.

Sehari-hari kalau nggak jalan keluar, saya akan duduk di depan netbook untuk menulis.

3 Novel di Yeonhui Siktak.JPG
Reem & Polaris Fukuoka adalah novel yang saya tulis sebagiannya di SFAC 2016

Nah, kalau anda mau ikut residensi penulis; rencana mau menulis apa aja?

 

Selain itu, kalau kita ikut residensi penulis maka harus ada hal-hal yang disiapkan.

Yeonhui Siktak.JPG
Bahasa yang wajib dihafal : saya tidak makan babi dan saya tidak minum alkohol 
  1. Belajar bahasa, meski sedikit. Kalau di Korea,setidaknya belajar untuk tahu huruf hangeul. Insyaallah gak sulit, kok. Dari hanya annyeong haseyo; sedikit-sedikit saya udah bisa merangkai kalimat. Meski dibantu sama google hehehe. Misal : joneun dwaejigogi meokji ahneunda yang artinya saya nggak makan babi. Atau joneun Indonesia-saramimnida yang artinya saya orang Indonesia

 

  1. Masak sendiri. Bisa kan? Wong sudah biasa masak mie J.

 

  1. Nyuci sendiri

 

  1. Berani jalan-jalan sendiri, belajar dari yang terdekat. Untuk melatih keberanian, cari convenience store Lalu cari halte bus terdekat. Lalu cari stasiun kereta terdekat. Daaaan….berani kesasar, ya! Saya udah bolak balik kesasar.
Kategori
Fiksi Sinta Yudisia Jepang Kyushu Mancanegara Menerbitkan buku Oase Perjalanan Menulis WRITING. SHARING.

Novel ke-19, buku ke-61 : Polaris Fukuoka 福岡の北極星

Novel ini dalam proses terbit di salah satu lini Mizan insyaallah. Editing alhamdulillah telah selesai; tinggal menunggu lay outer dan ilustrator. Saya ingin cerita sedikit perihal novel ini yan boleh dibaca untuk anak-anak dan remaja bahkan dewasa. Simak ya 🙂

sofia pink polkadot
Ada 3 hal penting tentang Fukuoka no Hokkyokusei atau Polaris Fukuoka :
1. Novel semua kalangan
2. Mengapa Polaris atau 北極星 hokkyokusei?
3. Tokoh gadis bernama Sofia

 

Novel Semua Kalangan
Meski settingnya Indonesia dan Jepang, anak-anak tidak akan kesulitan. Novel ini menggunakan bahasa yang mudah dicerna, sekalipun setting berupa kereta api, kastil, apartemen, jisei (puisi kematian) serta beberapa filosofi Jepang seperti bitoku mungkin belum dikenal.
Konflik keluarga dan budaya lebih dimunculkan, antara tokoh Sofia dan pamannya. Antara Sofia dengan asisten dosennya, nona Kobayashi. Romansa konyol antara Sofia dan Tatsuo muncul sedikit, layaknya insan remaja yang sedang mencari jatidiri. Tapi bumbu cinta berupa pacaran tak muncul dengan sering. Persahabatan antara Sofia, Umeko, Rei serta Nozomi yang misterius lebih mendominasi. Di sela-sela itulah kehadiran lawan jenis memberikan ‘cling-cling’ tertentu. Cinta tidak harus menjadi dominasi cerita, sebab dunia remaja lebih diwarnai dengan petualangan heroik, senang-senang bersama sahabat dan hang out alias jalan-jalan mengunjungi wilayah baru.

Setting unik disini adalah mengambil kota Fukuoka dan Kitakyushu yang masih ada dalam wilayah perfektur Fukuoka, pulau Kyushu

 
Polaris atau 北極星 hokkyokusei

polaris star.jpg
Polaris Star

Amati langit, lindungi bumi.
Motto itu saya dapatkan ketika belajar tentang situs-situs astronomi , utamanya bintang Utara Polaris. Manusia sering mengamati langit yang begitu indah, cantik, misterius dan terasa transendental. Seringkali, dalam kegalauan manusia memandang bulan purnama, atau mencari bintang terang di langit.

big dipper polaris.jpg
Mengamati Polaris dalam big dipper

 

Terkadang, kita merasa kehidupan langit mengawasi langkah-langkah ini. Menatap kesepian dan kepedihan kita sembari berbisik bahwa harapan itu masih tersemat.
Polaris adalah bintang terang di kutub utara, menjadi penunjuk arah para pengelana. Apa hubungannya dengan kisah ini? Simak aja nanti di novelnya ya hehehe

Sofia
Nama ini manis banget yaaa?
Baik diucapkan, ditulis, atau didengar. Sofia sendiri merupakan istri Rasulullah Saw yang cantik jelita. Hanya bunda Aisyah ra yang dapat menandingin kecantikannya.
Kalau tokoh Sofia dalam Fukuoka no Hokkyokusei ini adalah tokoh sentral, gadis cerewet, pemberontak, sembrono tapi sebetulnya ia suka belajar. Kebiasaan ala Indonesia yang malas, tak suka menyiapkan plan A plan B, bekerja asal-asalan; menjadi karakter Sofia yang berbenturan dengan pamannya di Fukuoka.
Paman, seorang laki-laki mandiri yang menceplok telurpun harus sangat rapi dengan wajan tertentu; berhadapan dengan Sofia yang suka menggoreng telur dalam wajan asal-asalan dan campur baur dengan masakan lain!

 

 Sofia

Meski Paman dan Sofia sering berantem sampai Sofia pun sempat nggak tahan hidup seatap dengan paman; akhirnya mereka saling memahami. Sesama perantau harus menjalin persaudaraan dan saling menghargai yang merupakan perkara penting. Plus kemandirian dan kerja keras yang selama ini diremehkan Sofia.

Adakah hal unik lain dalam novel ini?
Ada. Tentang jisei. Butuh waktu lama bagi saya untuk belajar pusisi kematian sebab susunan puisi ini tak lazim dikenal di Indonesia. Jisei menghubungkan Sofia dan Isao, membuat malam-malam Sofia menjadi sangat horor dengan nuansa roh jahat. Ups 😦

 

Yang penasaran bisa simak sebagian kisahnya di wattpad. Okeee?

link tulisan ‘Sofia’

http://thesecondlifefashionwhore.blogspot.co.id/
http://freedesignresources.net/sofia-free-font/

https://www.etsy.com/listing/85193918/wall-letters-name-art-prints-sofia-fresh , http://www.allthingspolkadot.com/wooden-polka-dot-wall-letters/

Kategori
Oase Perjalanan Menulis Remaja. Teenager Sastra Islam WRITING. SHARING.

Mengapa  Menulis Novel (lagi)

Novel terakhirku terbit 2013, berjudul Bulan Nararya, diterbitkan oleh penerbit Indiva Solo.

bulan-nararya.jpg
Bulan Nararya, Indiva Publishing

Setelah itu, cukup lama hiatus dari menulis novel. Alasannya? Ada beberapa penyebab.  Yang pragmatis banget, fiksi Islami sedang lesu. Jadi, honor dari menulis novel, apalagi menunggu royalty nya, tak terlalu sepadan. Pernah mencoba menulis cerpen untuk media massa, namun hingga saat ini masih harus terus belajar dan mencoba, sembari berdoa agar keberuntungan berpihak. Alasan klise yang lain, kesibukan dan waktu yang sedemikian sempit. Menulis fiksi tidak mudah. Walau identik dengan mengkhayal, berimajinasi, berpikir kreatif; nyatanya menulis fiksi juga membutuhkan banyak referensi sebagaimana menuliskan non fiksi.

Energy menulis fiksi, beralih kepada buku motivasi.

 

Alhamdulillah, berikutnya muncul Kitab Cinta Patah Hati, Sketsa Cinta Bunda, Cinta x Cinta dan Psikologi Pengantin. Semuanya terbit di Indiva (Solo). Lalu Mendidik Anak dengan Cinta, diterbitkan oleh GIP (Jakarta). Penjualan buku non fiksi terhitung lumayan. Pesanan online membanjir, royalty yang didapat Alhamdulillah lebih baik dari buku fiksi.

Kalau hanya  bicara royalty, rasanya enggan kembali menekuni fiksi.

Namun, suatu hari, seorang teman datang ke rumah. Ia membawa bertumpuk-tumpuk buku novel. Rasa rindu untuk menulis fiksi pun terbit. Rasa-rasanya, alasan royalty terlalu sederhana untuk meninggalkan dunia ini. Seorang penulis, seorang sastrawan, tidak selalu berorientasi materi. Kalau materi satu-satunya alasan manusia bahagia; maka Firaun dan orang-orang tajir dunia  adalah salah satu orang paling bahagia di dunia. Sayangnya, mereka tidak mengisi kuesioner psychological well-being nya Carol Ryff hehehe sehingga kita tidak tahu berapa kadar kebahagiaan mereka. Kalau alasan waktu, ah, sibuk mana aku dengan Dan Brown dan JK Rowling? Mereka bisa produktif menulis.

Maka, aku kembali menulis fiksi, dengan segala tantangannya.

Harus belajar ulang menemukan diksi-diksi baru, sebab fiksi harus mampu menyajikan diksi indah, walau bukan berarti mewah. Diksi tepat, halus, memukau; kadang ditemui di buku kamus KBBI atau dari puisi teman-teman sendiri. Aku kembali memelajari apa diksi yang tepat untuk menggambarkan kematian, cinta, rasa bahagia dan seterusnya.

Dan ups, bertahun lalu pernah kutuliskan bahwa ‘musuh’ sekaligus mitra para penulis adalah editor (aku pernah menulsikan secara khusus bahwa editor ini bisa jadi sangat kejam!). Mereka yang menilai karya kita pertama kali, membantainya, memberikan persepsi unik sebagai pembaca awal. Sebab para penulis selalu beranggapan karyanya telah sempurna! Hingga lupa, bahwa banyak celah terdapat dalam karya tulisnya.

Aku kembali belajar membuat novel anak dan novel remaja-dewasa.

Bukan hanya memelajari alur, penokohan, setting, dialog, footnote, anotasi dan seterusnya.

Tapi belajar mencari judul yang cocok untuk novelku. Termasuk  belajar, cover seperti apa yang cocok bagi pembaca Indonesia.

Berhasil?

Nanti dulu.

Insyaallah, 2017 ini ada beberapa novelku yang terbit baik novel anak dan novel remaja-dewasa. Bila novel itu sampai di tengah khalayak, maka percayalah : itu bukan pekerjaan sekali jadi. Itu adalah pekerjaan berhari-hari, berminggu, berbulan, bahkan bertahun- tahun.

Kadang, capek ketika editor mengkritik.

“Mbak, halamannya kurang.”

“Sudah baca novel ini? Yang ini dan ini? ”

“Kenapa memilih judul dan sub judul demikian?”

“Belum ada anotasinya.”

Dan banyaaaakkk lagi kritik yang lain J

Namun, seiring dengan kritik-kritik tajam tersebut, kita meningkatkan kualitas diri.

Tokoh-tokoh besar dunia seperti Imam Syafii dan HAMKA mengingatkan, akan pentingnya belajar terus menerus, dalam segala aspek. Imam Syafii bahkan mengingatkan, mereka yang tidak mau belajar, bacakan saja takbir untuknya sebab  ia telah wafat sebelum ajal tiba.

Jadi, kalau aku tidakmau belajar bagaimana membuat novel yang baik dari waktu ke waktu, maka nasehat Imam Syafii itu bisa jatuh pada diriku sendiri.

Sebuah, buku adalah rangkaian proses.

Aku menikmati menjadi penulis, baik fiksi maupun non fiksi.

Sejak buku pertama terbit hingga buku ke sekian, itulah proses menulisku. Itulah proses hidupku.

Tak ada proses dan hasil sempurna, kecuali kita tutup usia.

Doakan buku-buku ku bermanfaat bagi ummat sedunia, bagi keluargaku dan bagi diriku sendiri ya. Insyaallah novel anak yang akan terbit di Indiva berjudul Hantu Kubah Hijau dan Juru Kunci Makam. Keduanya bertema petualangan.

Cover Hantu Kubah Hijau. Kalau Polaris Fukuoka, masih cover belum fix, tayang di wattpad

Novel remaja-dewasa yang insyaallah akan terbit di salah satu lini Mizan berjudul Reem : apakah maut dan desing peluru ini akan mematahkan cintamu? Novel ini bersetting Maroko dan Spanyol. Khusus novel Reem, based on true story, meski ada alur cerita yang berkembang. Novel kedua adalah Polaris Fukuoka, bersetting Jepang.

Entah berapa kali aku membaca ulang naskahku sendiri baik Hantu Kubah Hijau, Juru Kunci Makam, Reem, dan Polaris Fukuoka. Memperbaiki yang typo, memperbaiki dialog atau setting yang kurang tajam, menghapus bagian tertentu serta menambahkan . Banyak hal-hal lucu saat menuliskan dan membaca ulang novel-novel tersebut. Sebelum pembaca memutuskan membeli novel-novel ini, simak terus cuplikan kisah dan behind the scene novel ya 🙂

 

 

 

 

Kategori
Oase Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Fanpage Sinta Yudisia

https://m.facebook.com/SintaYudisiaWisudanti/

Akhirnya,  setelah punya 2 Facebook bernama Sinta Yudisia dan Sinta Yudisia II, keduanya full. Maka daripada buat Sinta Yudisia 3, lebih baik buat akun fanpage.

 

Semoga bermanfaat untuk silaturrahim 😊😊💕💞💖