Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Pernikahan PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Suami Istri Topik Penting WRITING. SHARING.

Layangan Putus : Antara Writing Therapy & Story-telling

Ada suami yang mengeluhkan istrinya sekarang sangat khawatir kalau suaminya selingkuh. Sampai-sampai ke manapun suami pergi, dikuntit. Termasuk ke kios terdekat.

Ada jomblo yang curhat, ia dan kawan-kawannya semakin takut menikah.

Ada perempuan-perempuan yang bercerita, mereka semakin geram dengan pelakor.

Ada orang-orang yang mengutuk : writing therapy? Sesudah sakit hati makan royalty? Yang nulis sembuh, yang baca jadi sakit? Gak usah writing therapy! Kalau sakit, sakit aja sendiri!

Novel Layangan Putus dan web series di We TV menuai pro dan kontra. Ada yang terinspirasi dengan ketegaran Kinan, tapi ada pula yang gusar dengan issue perselingkuhannya. Apalagi, sosok Aris menurut Benni Setiawan sang sutradara, dikisahkan manipulative. “Manipulatif” adalah keahlian yang jauh melampaui keahlian berbohong atau berdusta. Dalam hidup, saya pernah bertemu pembohong. Pernah bertemu orang-orang yang manipulative. Percayalah, ngeri kalau bertemu dengan orang manipulative. Teman manipulative bisa memakan kita sampai habis. Pasangan hidup manipulatif? Sengsara sampai ke tulang sum-sum.

Sekalipun aktivitasnya sama-sama menulis (writing);  konsep writing therapy dan teknik menceritakan kembali (story telling) – terutama untuk publikasi sangat berbeda.

WRITING THERAPY (WT)

Terapi menulis merupakan salah satu cabang dari art therapy (AT) , digagas oleh James Pennebaker. Apa perlunya? Ternyata tidak semua orang bisa datang ke konselor atau psikiater lalu cerita, “…saya punya masalah berat. Saya cek cok dengan suami, kami bertengkar terus. Capek rasanya. Pingin ada jalan keluar. Apa jalan keluar terbaik? Saya siap dengan segala konsekuensinya.”

Kalau masalah psikologis bisa diceritakan segampang itu, banyak perkara beres.

Kenyataannya, orang yang punya masalah psikologis seringkali punya multiproblems dalam hidupnya. Sejak kecil dianiaya, gak punya rasa percaya diri, keluarga berantakan, gak pernah punya sahabat, gak pernah punya prestasi yang bisa dibanggakan. Hidupnya terombang ambing, lalu dia menikah. Punya masalah? Dia bahkan bingung harus cerita atau tidak! Padahal sudah babak belur.

Babak belur kayak apa?

Sudah menyakiti diri, menyakiti anak. Gak tau pernikahan harus bertahan atau harus terus. Hari demi hari diisi kecemasan sangat yang bahkan, membayangkan kematian jauh lebih manis dari hidup.

Cerita gak gampang. Masih mending kalau dipercaya. Kalau nggak? Kalau malah dikasih nasihat? “Yang sabar ya…yang lebih parah dari kamu banyak. Emang pernikahan pasti ada aja cobaannya.”

Wah, semakin ngerasa kalau diri harus diam seribu bahasa. Kenapa? Karena kalau curhat ujung-ujungnya kita pun akan menyalahkan diri sendiri , “ngapain sih cerita-cerita? Lebay, tau! Kamu aja yang terlalu lemah. Mau diledek cengeng, baperan, kayak anak kecil?”

Di sinilah fungsi writing therapy.

  1. Mengosongkan emosi buruk yang udah numpuk-numpuk kayak tempat pembuangan sampah akhir. Mana plastik, mana kertas, mana makanan basi; udah kecampur-campur gak keruan
  2. Mencoba berdiskusi dengan diri sendiri : “Sebetulnya apa mau diriku?”
  3. Menganalisa perasaan, pikiran dan apa perilaku-perilaku diri sendiri. Baik yang negatif maupun positif
  4. Menjadi tahap awal proses penyelesaian dengan orang yang bersangkutan. Ingat ya, tahap awal.

Ibaratnya begini.

Saya punya masalah sama Aris. Pingin banget ngomong tapi gak bisa. Gak bisa karena takut dibilang istri gak baik, gampang curiga, selalu nuntut ke suami. Apalagi kalau suami temperamental dan main baku hantam. Tambah gak berani ngomong. TAPI AKU PINGIN NGOMONG! UDAH PENUH DADA & KEPALA, MAU MELEDAK RASANYA. Kepala sakit. Dada sakit. Tubuh sakit. Makan susah, tidur apalagi.

 WT mengawali itu semua. Kayak diary. Saya nulis apa aja kecurigaan, perasaan, kekhawatiran, pikiran terkait Aris. Kadang, saking geramnya dengan Aris, saya gak bisa ngomong. Nama Aris gak muncul di WT, yang ada hanya inisial : XXX dengan tinta merah! Bahkan kadang, nama XXX sampai kita urek-urek-urek dengan tinta merah atua hitam sampai kertas bolong!

Begitu emosi tertumpah, lega. Pikiran jernih, mata terbuka. Maka persoalan setahap demi setahap mulai dirancang penyelesaiannya. Buat plan A, plan B, plan C, dsb.

Tapi, WT pun ada aturannya.

  • Tidak boleh dipublish
  • Dijaga kerahasiaannya, bahkan Aris pun jangan sampai tahu
  • WT harus ditingkatkan ke tahap skill yang berikut : asertif, negosiasi, dst. Sebab pada akhirnya, konflik dengan manusia lain harus diselesaikan
  • WT tak berhasil? Mungkin perlu dibantu psikiater terkait farmakologi

Banyak testimoni terkait WT ataupun AT. Bahkan, bisa menyelesaikan kasus traumatic. Namun sebagian besar yang saya ketahui, mereka rata-rata mempublish kisah sejatinya terkait perjalanan hidup dengan WT atau AT ketika persoalannya sudah selesai. Sebab, saat proses terapi, psikis sedang rentan. Mempublish, berarti siap dengan konsekuensi. Bisa jadi bukan menuai simpati, malah dimaki-maki.

STORY TELLING

Ada kisah-kisah WT yang diangkat menjadi novel atau film. Based on true story. Inspired by true event. Dalam story telling yang nanti bisa dikategorikan fiksi (novel, cerpen, film, sinetron), feature (kisah nyata yang dikemas dengan bahasa populer), autobiografi (kisah nyata diri sendiri), buku motivasi/ how-to, artikel , penelitian dan lain-lain; pasti ada perbedaan. Pasti ada penekanan. Karena targetnya berbeda. sasarannya berbeda, dan tujuan story telling atau penceritaannya berbeda.

  • Penelitian : angka perceraian di Indonesia …%. Perselingkuhan…%. Masalah ekonomi…%
  • Artikel : di era pandemic, angkar perceraian meningkat. Diduga penyebabnya adalah himpitan ekonomi dan kebosanan
  • Autobiografi : kisah sejati Aris dan Kinan melewati prahara, dituliskan oleh Kinan
  • Biografi : kisah sejati Aris dan Kinan melewati prahara, ditulis oleh Sinta (dengan perspektif psikologis, feminism, agama,  dsb)
  • Novel : kisah awal sampai akhir. Banyak bumbu-bumbunya, jumlah halaman bisa 200, 500, 1000. Banyak tokoh, banyak pengembangan karakter, banyak setting, banyak konflik.
  • Film : apa kisah paling menarik Aris Kinan yang bisa diangkat dalam jangka waktu 2 jam?
  • Sinetron / web series : apa kisah paling menggedor emosi, sehingga pemirsa bisa teringat terus serial itu, dan menanti-nantinya untuk pekan depan? Yang pasti bukan kisah kesulitan ekonomi, konseling, mendidik anak, kehamilan. Kisah paling menggedor emosi adalah konflik antar manusia, salah satunya : perselingkuhan

WRITING THERAPY & STORY TELLING

Adakah mereka yang menjalani writing therapy karena kasus traumatic, sekaligus membuat story telling mengesankan? Bagaimana jika keinginan penyintas untuk berbagi cerita dengna harapan orang di luar dirinya menjadi mengambil pelajaran, justru yang terjadi sebaliknya?

Film Joker misalnya, film itu bagus bagi kita untuk sadar betapa pentingnya kesehatan mental. Tapi film itu juga yang menginspirasi Kyota Hattori melakukan tindakan kejam di kereta api Tokyo, Oktober 2021 silam. Bukan hanya Joker yang menimbulkan inspirasi kelam. Film Birth on Nation, menjadi inspirasi terbentuknya Ku Klux Klan yang bahkan hingga kini masih terasa gerakannya. Termasuk dalam beberapa insiden Black Lives Matter, gerakan atas tewasnya George Floyd.

Beberapa WT menjadi sumber inspirasi kebaikan . My Journey Through Postpartum Depression dikisahkan dengan cantik oleh Brooke Shield. God’s Call Girl adalah kisah ekstrim Carla van Raay, seorang biarawati yang menjadi PSK. Sejak kecil ia diniaya secara seksual oleh ayahnya, yang kalau kita baca kisahnya, merinding panas dingin –adakah orang seiblis itu, dengan predikat seorang ayah?

Ada juga story telling yang menimbulkan pro kontra.

The Unspeakable Crime of Andrea Yates : Are YouThere Alone (Suzanne O’Malley) , kisah Andrea Yates yang membunuh 5 anaknya. Membuat kita tersadar pentingnya menjaga kesehatan mental ibu, terutama ibu yang memiliki anak kecil. Namun buku itu juga menjadi sumber kritik bagi mereka yang ingin punya anak banyak, yang tidak punya akses kesehatan, yang loyal pada agama tertentu, termasuk mahalnya obat-obat psikiatrik.

Battle Hymne og Tiger Mother karya Amy Chua pun demikian. Ibu macam apa Amy Chua, yang memaksa anaknya minum parasetamol ketika demam, hanya supaya anaknya tak melewatkan waktu les musik? Ibu macam apa yang memaksa anaknya untuk dapat nilai A semua dan hanya mengizinkan satu nilai B untuk mapel pilihan?

Ada 6 milyar manusia di atas muka bumi, dengan 6 milyar kisah hidup. Dengan 6 milyar persepsi. Jangan harap menyamakan persepsi karena latar belakang hidup masing-masing sangat berbeda. Apakah WT mungkin dijadikan ST yang menarik? Mungkin saja. Apakah yang perlu dipilih bagi ST : kisah bombastisnya, kekuatan karakternya, atau solusinya? Tergantung ST yang mana.

Yang pasti, ada sebuah premis dalam dunia kepenulisan.

“Sekali karyamu dilepas ke umum, ia menjadi milik dunia.”

Artinya, WT yang semula disimpan rahasia dan hanya menjadi milik pribadi, tak akan menimbulkan pro kontra. Tentu, tak ada efek luas kecuali bagi si penyintas. Tapi ketika menjadi ST yang dilepas ke umum, ia punya efek luas. Positif dan negatif sekaligus.

Bagaimana mengontrol negatifnya?

Disitulah para kritikus sastra dan orang-orang yang kompeten di bidangnya berperan.

Jadi, apa pendapat anda?

Kategori
Artikel/Opini Cinta & Love Oase WRITING. SHARING.

DEAR (ANOTHER ) NOVIA : PLEASE, HIDUPMU SANGAT BERHARGA


➖➖➖
Untuk adik-adikku yang mengalami kisah seperti Novia,
Semoga kamu sempat baca surat ini. Kehidupanmu mungkin lebih pedih dari Novia dan saat ini kamu sedang terombang-ambing dalam kegalauan luarbiasa. Sebelumnya, mari kita kirimkan doa untuk Novia dan keluarganya. Semoga adinda Novia diampuniNya; mama Novia serta keluarganya dalam lindunganNya.
➖➖
🌹Adikku, another Novia…
Kau cantik dan ranum. Muda dan mempesona. Memikat luarbiasa. Dari luar terlihat merona, namun siapa tahu dalam dirimu penuh bara dan duka? Bisa saja kau bunga yang tumbuh di belukar berduri bertanah lumpur. Hidupmu penuh kekerasan, penistaan dan caci maki. Hatimu gersang oleh cinta. Betapa inginnya mendapatkan kasih sayang dari orang yang seharusnya. Mendapatkan pujian. Genggaman. Pelukan dan kehangatan. Tapi semua tak kau dapatkan dari orangtua dan sanak saudara. Tetiba, hadirlah seorang pangeran yang mengobati luka hatimu.


➖➖
🌷Kau bahagia.
Bersukacita. Cinta itu seperti hujan menyirami gurun tandus yang gersang oleh terkaman musim tiada henti. Seharusnya kau tersenyum. Seharusnya.
Apakah hatimu tenang? Apakah ada rasa damai di sana?
Kalau itu cinta sejati, seharusnya dirimu nyaman dalam dekapannya.


➖➖
⛈️Adikku, another Novia…
Dalam hatimu yang halus dan perasa, tetiba muncul kegelisahan. Saat dia sering mempermainkamu dengan kata-kata ,”Kamu cinta aku? Buktikan, dong!” Padahal kamu tulus mencintai dia.
Dalam hatimu yang dipenuhi harap, tetiba muncul kegusaran. Saat dia sering mengancam akan meninggalkanmu demi gadis lain. “Masih banyak yang mau sama aku. Cewek bukan cuma kamu doang!”
Dalam hatimu yang sering merindukannya, tetiba muncul kecurigaan. Mengapa dia sering berbohong? Mengapa dia ketahuan berdusta berkali-kali? Mengapa kesetianmu seperti tak berbalas?
Dalam hatimu yang terluka, mengapa tergores luka berkali-kali? Apakah mulai pudar rasa tenang, daman, nyamanmu bersamanya?
➖➖💔💔
Adikku, another Novia…
Lihatlah dirimu. Kau yang cantik, periang, banyak teman. Sekarang terkurung dalam penjara obsesi dan tak boleh menemui siapa-siapa. Hidupmu 100% tercurah harus dan harus hanya untuk dia. Lihatlah kepalamu yang sebelumnya dipenuhi ide-ide kreatif bersama teman satu geng-mu. Sekarang mendadak terlalu sibuk memikirkan dia dengan segala tuntutannya, hingga kamu gak sempat mikir dirimu sendiri, Dek.
Dan, lihatlah hatimu.
Semula kamu happy, easy going, you’re always kind to people and you have golden heart. Sekarang kemana hati itu? Kamu pencemas, pemarah. Level anxiety mu naik ke tahap tak terduga. Kamu bahkan insecure dengan dirimu sendiri! Dirimu yang sejauh ini selalu giat menggapai asa. Ikut acara ini itu, ikut lomba ini itu. Waktumu, dirimu, pikiranmu, hatimu, habis untuk dia dan dia.
➖➖
🌟Adikku, another Novia…
Cowok yang kamu cintai setulus hati itu, pangeran yang mendatangimu di kala hari-harimu sunyi; apakah benar tulus cintanya? Jika memang ia tulus mencintamu, pasti berani menghadapi apapun demi dirimu. Celaan, hinaan, bahkan sekedar larangan dari orangtua tak akan menghalangi. Akan ia katakan pada dunia, “Cewek ini adalah tanggung jawabku! Aku adalah imamnya. Aku adalah pemimpinnya. Aku adalah pelindungnya. Keselamatan dia, kesehatan dia, kehormatan dia adalah tanggung jawabku!”
✨Larangan orangtua?
Ia akan datangi orangtuamu, Dek.
Walau ia dicaci belum pantas jadi menantu, walau dihina tak pantas untukmu, ia akan datangi orangtuamu. Bahkan akan ia hadapi kakak-kakakmu sembari berkata.
“Saya mencintainya dengan tulus. Akan saya jaga ia dunia akhirat.”
Apakah ia seperti itu?
Coba tanyakan pada kekasihmu, jika ia masih bersamamu. Jika ia belum berani menghadapi itu semua, baiklah. Mungkin ia belum punya cukup tabungan untuk membangun mahligai rumahtangga bersamamu. Tetapi bisakah kamu meminta sumpahnya, Dek?
🌟“Mas, selama kita pacaran, bisakah kamu jaga diriku sebaik mungkin? Jangan hina aku, jangan sakiti aku, jangan injak harga diriku. Bisakah bersamamu aku merasakan ketenangan, meningkat rasa percaya diriku dan melaju juga prestasiku?”
➖➖
💔Adindaku, another Novia…
Bila ia tak bisa memberimu itu semua, kupikir sudah waktunya kamu mempertimbangkan ini : dirimu tak level dengan dirinya. Kamu terlalu berharga untuknya. Kamu terlalu indah untuk bersanding dengannya. Jangan khawatir kehilangan cowok sepertinya karena kamu lebih pantas mendapatkan seorang raja pemberani perkasa, dibanding pangeran yang tak jelas sumpahnya.
➖➖
💔Adindaku, another Novia…
Oh…kenapa kamu menangis? Jadi, kamu sudah terlalu jauh dengannya? Kamu sudah tidur dengan kekasihmu? Ya Tuhan, adikku. Apakah kamu tahu, betapa berbahayanya menyerahkan hidup kita kepada lelaki tanpa janji? Cowok bisa meniduri 1000x tanpa berkurang ketampanannya. Tetapi cewek, bahkan hanya tidur 1x dengan cowok, bisa retak berkeping-kepig masa depannya.


💔💔💔💔
Oh Adindaku…kamu pasti saat ini menangis meraung. Meratapi diri. Sementara dia tetap mengumbar ancaman dan kepongahan. Kamu mengutuk diri, sementara orang-orang tak mengerti kondisi sebenarnya. Hidupmu pasti hancur di titik ini. Kamu merasa tak berharga. You’re not a virgin anymore. You’re a garbage. Nobody wants you anymore. Apalagi bila dirimu berbadan dua. Kamu mau ngomong ke siapa? Ke orangtua? Seperti apa hancurnya mereka. Ke teman? Gak bisa. Ke dia? Lebih-lebih lagi.
➖➖
💔Adindaku sayang…
😭Hidupmu hancur. Hidupmu gelap pekat. Semua mata menuduhmu dan jari jemari menudingmu, “Dasar cewek bego! Udah tau cowoknya kayak gitu, masih aja mau ditiduri? Dasar cewek gak bermoral. Makanya kalau dikasih tau, dengerin. Sekarang h***l. Rasain lu! Biar malu kamu!”
Ya Tuhan…kamu memang berdosa, Dek. Kamu lakukan itu sebelum masanya. Semua menganggapmu barang tak berharga yang najis dan pantas diludahi. Apalagi kekasihmu tak lagi memandangmu dengan berharga. Kalaupun kamu masih jadi pacarnya, ia akan meminta lagi dan lagi dari dirimu.
➖➖
💦Adindaku, another Novia…
Saat bumi menolakmu, apakah kamu percaya bahwa langit masih menerimamu? Di hati manusia yang angkuh, pongah dan merasa suci; masih ada malaikat yang mendengar doamu dan mengantar permohonan maafmu ke langit ke tujuh.
💚💦 Dan di atas segalanya, ada Tuhan kita, yang menatapmu penuh kasih. Yang akan merangkulmu dengan selendang cinta dan memayungimu dengan kubah maafNya. Akan ia hamparkan permadani hijau menuju firdausNya ketika bulir-bulir airmatamu mengiringi taubatmu.💦 💚
😭Janganlah kau berpikir, dunia ini sudah tak ada artinya, Adikku.


➖➖
🌹Adinda-adindaku, another Novia, wherever you are…
Surat ini kutulis untukmu dengan tetesan airmata. Akupun perempuan yang pernah hamil . Dalam pernikahan, hamilpun terasa demikian berat menyusahkan. Apalagi bila tak ada lelaki di sampingmu dan kamu merasa sendiri.
Jangan berpikir kamu sendiri.
Tuhan bersamamu.
🤲Kamu memang salah selama ini, tapi ampunan Tuhanmu pun seluas langit dan bumi. Ayo, perbaiki langkahmu. Hargai dirimu yang demikian mahal bak permata. Cowok itu, biarkan saja dia. Kalau kau bisa menuntut tanggung jawabnya, silakan. Kalau dia mengelak dan dirimu terlalu lelah untuk mengejarnya, hiduplah dengan dirimu yang baru.
➖➖
🌷 Jaga dirimu baik-baik, Adindaku Sayang.
Jangan pernah berpikir untuk mati terlebih dahulu karena dirimu dan hidupmu begitu berharga.
Cukuplah satu Novia yang putus asa dan kita doakan ia tenang di alam kuburnya. Untukmu, masih terhampar dunia, kebanggaan, harapan dan seribu cita-cita untuk diraih. Selagi engkau segera berbenah dan menyayaingi dirimu sendiri.
➖➖
🌼Dari aku, kakakmu yang menyayangimu.🌼

  • Mengenang Novia Widyasari, mahasiswi yang commit suicide di depan makam ayahnya. Ia sangat tertekan ketika mendapati kekasihnya tak bersedia bertanggung jawab atas kehamilannya.

Kategori
KOREA Tokoh Topik Penting

Kasus Kim Seon Ho : Standar Ganda Korea?

Good looking dan berbakat, berada dalam tahun keemasan. Karir Kim Seon Ho sedang meroket naik bersamaan beberapa drama, teater dan reality show yang dibintanginya. Pemain Start Up dan Hometown Cha-cha-cha ini sedang dirundung masalah yang tak mengenakkan. Dunia memang tempat yang fana. Segala kekayaan dan ketenaran dapat muncul sekejap, atau hilang sekejap. Apalagi di era millennial saat ini di mana semua tampak begitu nisbi dan tak ada yang mutlak.

Kemarin tak dikenal, hari ini tiba-tiba tenar.

Atau begitupun sebaliknya.

Kemarin dipuja, hari ini dinista.

Bahkan seringkali kita bingung : benarkah berita yang dimunculkan media? Itu bohongan atau nggak sih?

Kim Seon Ho : Mengulang Kisah Tragis

Kisah tragis selebriti Korea yang tersandung masalah bukan hanya KSH. Tablo (Epik High) , Seungri (Bigbang) , Lucas (NCT) dan masih banyak lagi. Bagi masyarakat Indonesia, yang terjadi pada KSH sepertinya tak masuk akal.

Seseorang memposting perlakuan buruk KSH pada dirinya (ex girlfriend) yang abusive bahkan menyuruh aborsi. Publik Korea heboh dan menghujat habis-habisan KSH, hingga ia harus angkat kaki dari berbagai program. Bagi mereka, sungguh tidak pantas KSH bersikap innocent ketika di dunia nyata ia ternyata sebaliknya. Korea memang sadis terhadap public figurenya. Mereka sangat mengontrol kuat terhadap norma yang harus dijalani sang selebriti.

Dunia pun terbelah antara mencaci KSH dan membelanya.

Di Korea, sama seperti negara liberal dan sekuler lainnya :

  • Tinggal bersama sebelum menikah adalah wajar
  • Having sex adalah hal biasa, bahkan tanpa ikatan pernikahan
  • MBA bukan hal yang aneh
  • Lagu-lagu yang ditayangkan Idol yang membawa makna one stand night, ML dan sejenisnya sudah sering diperdengarkan
  • Para artis, idol, yang terlibat dalam dunia entertainment pasti sudah mengenal dunia gemerlap yang melibatkan alkohol dan seks tanpa ikatan
  • ….tiba-tiba, KSH yang berada di lingkaran itu diterjang badai. Ada perempuan yang mengaku sebagai mantan pacar, (menurut berita ia bernama Choi Young Ah) yang menyebarkan berita bahwa KSH memaksanya melakukan aborsi

Standar Ganda di Dunia Entertainment Korea

            Para Idol membawakan lagu-lagu yang dengan lirik hot. Para artis juga sekarang mengikuti trend pasar Amerika. Kissing, ML, sepertinya makin sering dilakukan di drama dan film. Dengan dunia bergetah macam itu, masyarakat masih menuntut profil public figure yang innocent. Tak pernah freesex, jangan MBA, jangan aborsi, jangan ingkar janji.

Mungkinkah?

Tanpa bermaksud membela KSH, kehidupan dunia entertainment di belahan dunia manapun sama. Gambaran ini mungkin mirip ya

  • Harus tampil perfect
  • Harus selalu terlihat gembira
  • Harus terus tersenyum
  • Harus bisa menghibur

Bisa dibayangkan ketika di belakang panggung, para artis dan idol itu sedang nangis-nangis karena punya masalah pribadi, masalah keluarga, masalah psikisnya sendiri? Obat, seks, mejadi pelarian. Hanya orang-orang kuat iman yang bisa bertahan tetap lurus di dunia entertaintment.

Publik Korea seharusnya paham bahwa pemuda innocent KSH yang tampil di drama bukanlah sosok nyata. Di real life ia mungkin punya segudang permasalahan dan hubungan tak sehat dengan  banyak orang. Salah satunya dengan mantan pacarnya CYA. Kehidupan glamour, melimpahnya kekayaan, ketenaran yang harus dijaga; tak diimbangi dengan pendewasaan pribadi dan skill kehidupan yang harus terus diasah.

CYA cari sensasi?

Mungkin iya.

Kok dia gak lapor dari dulu?

Kok dia lapor ketika KSH lagi di puncak? Jangan-jangan pingin ikutan tenar!

Kita bisa menyimpulkan begitu. Tapi CYA selain pelaku juga korban. Ia harus speak up, sebab akan menjadi contoh buat para perempuan di luar sana bagaimana harus bersikap ketika dikhianati lelaki yang menjanjikan sesuatu.

It Takes Two to Tango

Ada asap, ada api. Butuh dua orang untuk menimbulkan masalah.

Publik yang kejam dan penuh tuntutan, terlanjur menghujat. Menghujat kedua belah pihak. Aku pribadi gak bisa menyalahkan keduanya, gak bisa membela keduanya. Bisa jadi KSH adalah korban rekayasa. Ya, ia memang salah. Tapi sengaja beritanya ‘diledakkan’ karena sesungguhnya pasti bukan hanya dia yang punya cerita seperti itu.

CYA juga tidak bisa dihujat. Ia tentu ingin mencari jawaban bagi kegelisahannya sebagai perempuan. Jika KSH memang benar melakukan hal-hal tak baik, sementara KSH terus melaju dengan karirnya, menebar pesona di kalangan perempuan; hati CYA bisa dibayangkan, kan? Apalagi jika kasus seperti CYA akan bertubi berulang, dilakukan oleh lelaki yang punya posisi.

Sebagai seorang pengamat, psikolog dan penulis aku melihat kasus ini akan berjalan baik, dengan penuh hikmah jika :

  1. Baik KSH dan CYA dalam usia dewasa. Waktunya bagi mereka untuk menata ulang hidupnya.
  2. Bila hubungan KSH dan CYA selama ini bermasalah, ini titik penting memperbaiki hubungan interpersonal kedua belah pihak.
  3. Hujatan akan mengalir dan meremukkan harga diri. Be patient eventhough is very very hard. Waktunya mendekatkan diri dengan kehidupan religius
  4. Ada banyak kesempatan tersedia bila sudah memperbaiki diri.
  5. Bagi netizen, tahan diri. Kita tak lebih baik. Beri kesempatan kedua bagi KSH dan CYA

Teman-teman bisa melihat versi berita KSH dan CYA di

  1. https://www.koreatimes.co.kr/www/art/2021/10/398_317368.html
  2. https://www.harpersbazaar.com.sg/life/south-korean-actor-kim-seon-ho-scandal/
  3. https://www.straitstimes.com/life/entertainment/abortion-scandal-kim-seon-hos-ex-girlfriend-feels-bad-watching-his-fall

Tulisan ini versi panjang dari postingan di Instagram kemarin, Kamis 21 Oktober 2021

Nah, silakan tinggalkan komentar ya…

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Film Game KOREA Remaja. Teenager Renungan Hidup dan Kematian RESENSI

Ngezoom bahas SQUID GAME, yuk!

SQUID GAME
Antara Kerakusan dan tuntutan hidup
➖➖➖

Yap yang lagi booming saat ini nih. Cung siapa yang udah pada nonton film ini😁

Ada beberapa pesan dari film ini. Yang pertama, film bercerita tentang keserakahan, keputusasaan, dan ketakutan akan kurangnya harta di dunia.

Lalu apa cuma negatifnya aja? Tentu nggak dong, masih banyak pesan-pesan positif yang bisa kita ambil.

Trus apa hubungannya sama kehidupan kita sekarang? Terlebih hubungannya sama Islam?

Nah kita akan bedah tuntas dari sudut pandang pop culture dan Psikologi tentunya padangan kita sebagai seorang muslim

💣💣💣

Makanya yuk ikuti kajian spesial Main Ke Masjid

“SQUID GAME”
Antara Kerakusan dan Tuntutan Hidup

Bersama :
🧡Bunda Sinta Yudisia @sintayudisia
Psikolog dan pengamat Korean culture

Dan

🟠Ustaz Aditya Abdurrahman @adityaabdurrahman
Pengamat film dan pop culture

Rabu, 6 Oktober 2021
Pukul 19.30
Via online Zoom

Daftar langsung di bit.ly/JOINKAJIANMKM atau klik link di bio

Dan konfirmasi ke wa.me/6289681759219

*****

Squid Game adalah film 9 episode yang tayang di Netflix. Berkisah tentang 456 orang yang berburu uang dengan mengikuti permainan anak-anak yang diselenggarakan oleh sebuah club rahasia. Dari 456 orang akhirnya hanya tersisa 1 orang yang berhak untuk membawa pulang hadiah. 455 orang yang lainnya harus mati mengenaskan.

Apa sih value yang ingin diangkat film ini? Kita bahas bareng, kuy!

Poster film Squid Game
Kategori
Dunia Islam Film My family Remaja. Teenager

Kurulus Osman : Film Sejarah yang Indah

Anda penikmat serial Kurulus Osman?

Wah, sama dong kalau gitu.

Gegara disebutkan sebagai lanjutan dari Ertugrul, saya dan keluarga nunggu-nunggu banget. Gak sempat nonton Ertugrul, tapi kali ini berusaha menyempatkan diri tiap malam nonton Kurulus Osman. Serius, film ini ngobatin hati saya yang sempat berkeping-keping (jiaaah) kecewa dengan Abad Kejayaan atau King Suleiman atau Muhtesem Yuzyil. Film King Suleiman lebih banyak adegan romansa yang gak bagus ditonton sbg film keluarga. Apalagi dilihat anak dan remaja.

Ini beberapa kelebihan Kurulus Osman  yang tayang hampir tiap hari di Net TV. Film ini bercerita tentang cikal bakal dinasti Ottoman. Mengambil tema besar suku Kayi, yang tengah berjuang melawan Mongolia dan Byzantium sekaligus

  1. Bertabur kata filosofis nan indah
  2. Kisah cinta romansa yang apik
  3. Nasihat yang tak dogmatis
  4. Alur asyik buat anak & remaja
  5. Perseteruan para perempuannya keren!
  1. Kata filosofis nan indah

Baru kali ini saya nonton film bawa catatan! Lha, gimana nggak? Setiap serinya selalu ada kalimat-kalimat yang menohok. Puitis. Indah. Filosofis. Kata-kata itu bahkan muncul dalam beragam adegan berikut :

  • Ketika akan bertarung dengan musuh
  • Ketika sedang diplomasi
  • Ketika sedang musyawarah
  • Ketika menyusun taktik dan tipu muslihat
  • Ketika sedang jatuh cinta
  • Ketika sedang cemburu

2. Kisah romansa Osman – Bala Hatun

Bala dan Hurrem sama-sama love interest dari tokoh besar. Tapi di film KO penggambarannya sangat bertolak belakang ( saya bicara filmnya ya, bukan sejarah aslinya). Sulayman dan Hurrem sangat hot kisah cintanya, sampai merinding nonton gegara adegan2nya …aduh. Di film KO, percakapan antara Osman dan Bala dipenuhi kiasan. Nasihat. Semangat.

Suatu ketika Bala menjelaskan, ia akan pergi dari Osman karena rahimnya rusak setelah bertempur melawan Mongolia. Perutnya luka parah. Ia tak akan bisa punya anak. Apa jawaban Osman? Singkat. Tanpa banyak bumbu cinta.

“Bala, engkau adalah doa-doaku.”

Jiaaaah.

Saya dan anak-anak berseru nyaring sembari berkaca-kaca. Nih cowok keren abizz.

Emang Osman mempertahankan Bala kenapa sih? Gegara dia cantik doang? Wuah, enggak dong.

Bala Hatun itu :

  • Putri syaikh Edebali yang terkemuka (aku mencantumkan nama Edebali dalam serial Takudar)
  • Ahli bermain pedang dan  menelusuri jejak
  • Setia pada suku Kayi
Pernikahan Osman dan Bala Hatun. Tanpa kissing or flirting!

3. Nasihat tak dogmatis

Setiap serialnya, pasti ada nasihat-nasihat yang …mak jleb! Hadeeeeh. Bikin nangis. Bikin mewek. Bikin hati teriris-iris.

Misalnya di salah satu sesi ini.

Suatu saat murid Syaikh Edebali nanya, kok mereka menelusuri hutan capek-capek buat apa? Kan sudah enak tinggal di pemukiman Suku Kayi. Terhormat, dihormati, tinggal nunggu murid dan kekayaan juga datang sendiri.

Syaikh Edebali menceritakan sebuah kisah.

“Ada seorang lelaki yang sudah hidup nyaman, terhormat di kaumnya, tapi dia mencari masalah. Dia naik ke bukit dan merenung.”

Tidak ada yang salah dengan kehidupan kaumnya. Semua baik-baik saja. Kehidupan berjalan demikian murni dan berjaya. Tetapi lelaki itu, ‘menciptakan masalah’. Dan pada akhirnya, ia harus menyelesaikan masalah.

“Begitulah kaum muslimin. Dia harus mencari masalah, dan harus menyelesaikannya.”

Hiks…kami berkaca-kaca.

Makna ‘mencari masalah’ ini bukan trouble maker. Tapi benar-benar mencari ‘masalah’ yang ada di tengah masyarakat.

Duh, saya susah jelasinnya. Pokoknya, mata kami kayak tersihir kalau udah nonton film ini. Lihat Syaikh Edebali ngomong…bukan kayak ceramah agama. Padahal isinya nasihat. Lelaki ‘pencari masalah’ yang dimaksudkan beliau adalah baginda Nabi Saw.

Syaikh Edebali & putrinya, Bala Hatun

Sama seperti Suku Kayi yang sudah hidup tenang dan merdeka di perbatasan. Tapi Ertugrul dan Osman ‘cari masalah’ karena di luar sana ada masalah besar yang diciptakan Mongolia & Byzantium.

Hidup kita bukan menghindari masalah.

Tapi mencari masalah.

Dan menyelesaikannya.

Untuk poin 4 dan 5, nggak usah dijelasin ya? Mending nonton sendiri. Insyaallah film ini aman buat anak-anak dan remaja. Meski kalau anak SD perlu didampingi karena ada adegan perkelahian dan pertempuran.

Saya penikmat film. Barat, Jepang, Korea, Thailand, Indo, India, Perancis, Rusia, dll. Pokoknya kalau filmnya asyik, akan diupayakan untuk nonton. Tapi gak ada film yang kata-kata, kalimat-kalimatnya, menancap begitu dalam. Atau, tak ingin kami lupakan sampai-sampai harus bawa catatan.

Kalau anda ingin nonton film serial yang cocok ditonton sekeluarga, ada muatan nasihat agama tapi gak membosankan; sekaligus cuci mata lihat wardrobe keren; tontonlah KURULUS OSMAN!

Gonca, Aygul, Bala
Dua perempuan yang berseteru memperebutkan cinta Osman. Tapi perselisihan keduanya nggak norak, bahkan ketika berantem pun penuh kata filosofis.

Serial Kurulus Osman tayang di Net TV setiap Senin – Jumat dan 21.00 – 22.00 (Dulu jam 20.00 – 21.00)

Kategori
Covid-19 Hikmah My family Renungan Hidup dan Kematian Survivor Covid-19 Topik Penting

Sakit Covid 19 : Berapa Jumlah Biayanya? Apa Saja yang Gratis?

“Apakah obat-obatan ditanggung? Biaya rumah sakit gimana? Makanan? Laundry?”
Kira-kira begitulah sebuah pesan masuk bertanya kepada saya, tentang prosedur mendapatkan rawat inap Covid. Saya katakan bahwa semuanya gratis dari pemerintah. Bahkan, kami yang sakit ber-7 pun mendapat pasokan makanan 3x sehari. Makanan yang disuplai puskesmas sangat lezat dan memenuhi gizi.


🌀🌀🌀
Prosedur untuk mendapatkan layanan gratis, berdasar pengalaman kami dan kira-kira kalau diuangkan secara kasar :


🟢1. Ada bukti kontak erat positif covid (suami saya positif. Saya minta bukti swab terakhir suami). Alhamdulillah saya, 4 orang anak, ibu saya bisa swab gratis di puskesmas. Katakanlah 1 x swab 1 jutaan, berarti 7 orang = Rp. 7.000.000
🟢2. Puskesmas menanyakan apakah kami butuh support logistic. Kami bilang : ya. Sejak dinyatakan positif, selang beberapa hari kami kemudian mendapatkan kiriman makanan kotak. 3 (sehari) x 6 (orang) X @ Rp. 20.000 = 360.000/ hari. Selama 3 pekan = Rp. 6.480.000.
🟢3. Rawat inap RS. Selama kurang lebih 14 hari kami rawat inap. Katakanlah biaya kamar sehari Rp. 300.000 , obat Rp. 500.000 (injeksi, infus, oral, tindakan dll), makan Rp. 100.000 ; kami bulatkan 1 juta. Berarti 1 orang = @Rp. 14.000. 000. Karena kami rawat inap ber-4 jadi Rp. 56.000.000
🟢4. Rontgen pra masuk RS kurang lebih @100.000 x7 = 700.000 ; selama di RS 3 (rontgen) x 4 (orang) x @100.000 = Rp. 1.200.000
🟢5. Swab di RS 3 (swab) x 4 (orang) x @Rp.1000.000 = Rp. 12.000.000
🟢6. Total Rp. 82. 680.000
🟢7. Pasca itu masih ada pendampingan swab di puskesmas, obat-obatan yang di bawa pulang, dsb. Ada tindakan-tindakan lain seperti injeksi dan oksigen (putri saya sempat sesak napas) , transfuse plasma, dokter kandungan (saya mengalami uterus bleeding), ambulan (saya dibantu LMI utk ke RS). Kurang lebih kalau di total katakanlah Rp. 100.000.000


〰️〰️〰️
Bagi yang dapat layanan RS, belum tentu juga gak keluar uang sama sekali. Saya sendiri tetap harus keluar uang dan ini yang kadang gak terprediksi jumlahnya. Bisa terkuras habis tabungan.

  1. Makanan. Makanan di RS terjamin. Sangat bergizi. Tapi karena perut mual luarbiasa dan indera pencecap gak berfungsi, saya bolak balik minta orang di rumah utk masak. Simple : oseng kacang, sambel, telor ceplok. Kayaknya murah. Tapi setelah dikalkulasi, lumayan membengkak biayanya
  2. Laundry
  3. Layanan online. Sakit covid bukan sakit biasa. Gak ada yg bisa jenguk. Jadi saya harus beli atau minta dikirimin baju dari rumah secara online. Apalagi karena satu rumah positif covid, gak ada yang bisa bantu-bantu kirim barang ke RS
    🟣🟣🟣
    Melihat seperti ini, kesehatan sangatlah mahal. Karenanya, jangan sampai kita kena covid. Kalaupun tersedia uang, belum tentu ada layanan RS. Masih jauh lebih murah kita beli masker dan sabun.
  4. 👉Usahakan sesuai prosedur. Fotokopi KTP- KK selalu tersedia, kemudian catatan kontak erat dengan siapa yang positif covid.
    👉Rajinlah update info dari RT-RW, juga puskesmas terdekat. Tak cukup puskesmas. Catatlah lembaga-lembaga kemanusiaan yang menyediakan ambulan gratis, oksigen gratis dst, logistic dan obat gratis. Saya sempat ngecek di google, 1 butir obat kami ada yang harganya @Rp27.000! Kebayang kalau harus mengkonsumsi 2x sehari selama 2 minggu kan?
    👉Saya sering menyarankan teman & saudara yang terindikasi covid, segeralah lapor puskesmas. Koordinasikan dengan puskesmas. Karena kalau ditanggung sendiri, ya Allah…gak sanggup biayanya.
    •••••

#bantuoksigen #bantusahabat #penyintascovid19 #coronavirus #covid19 bersama Ruang Pelita

(IG @ruang.pelita FB Ruang Pelita)

Pengadaan oxygen concentrate atau tabung oksigen , kode transfer 002
🔹Mandiri 142-00-1673-5556 (Sinta)
🔹BSI 7129-62-4943 (Ahmad)
🔹BRI 317-701-0263-16530 (Nazalia)
🔹BCA 788-0610-281 (Rizky)

Kategori
Covid-19 Hikmah Oase Parenting PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Renungan Hidup dan Kematian Survivor Covid-19 Topik Penting

Mendampingi Anak-anak yang Kehilangan Orangtua karena Covid-19

“Apa yang harus saya lakukan? Teman saya kehilangan orangtuanya yang wafat karena Covid. Kalau ortu sakit lama, tentu bisa menyiapkan diri. Tapi meninggal karena Covid, begitu cepat mendadak. Saya sendiri sering dilanda kecemasan, takut kehilangan orangtua saya.”

23 Juli 2021 mengisi acara kemuslimahan yang diselenggarakan PWK ITS. Mahasiswi penanya tsb, menangis. Ia yang sudah memasuki usia remaja akhir dan masuk ke dewasa awal saja merasa dag dig dug. Takut kehilangan orangtua. Takut kehilangan orang yang dicintainya.

Apalagi anak yang masih SMA. SMP. SD, bahkan TK.

Tak terbayangkan rasanya.

Di hari-hari biasa, kehilangan orangtua akan menghadirkan simpati. Orang-orang mengulurkan tangan, membantu materi, menawarkan menjadi orangtua asuh. Bantuan finansial mengalir, dukungan dari banyak pihak didapatkan : guru-guru, pihak sekolah/kampus, saudara besar, tetangga, handai tolan.

Wafat karena covid?

Bahkan kematian demikian senyap. Pemakaman terasa asing. Anak yang kehilangan orangtua tak melihat orang-orang merawat jenazah orangtua mereka, memandikan, menyolatkan. Tak ada kerabat datang menghibur.

“Duh, ortunya wafat karena covid. Jangan-jangan anaknya juga positif. Gimana mau merangkul mereka? Mau memeluk?”

Bantuan finansial, tentu tak sama seperti hari-hari biasa. Masing-masing orang sedang kepayahan mengurus diri sendiri dan keluarganya. Apalagi jika ada yang sakit, mencari tabung oksigen sudah merupakan perjuangan spektakuler bagi sebuah keluarga.

Kehilangan orangtua karena covid sudah sangat memukul. Sejak divonis sakit, serangkaian protocol kesehatan memang harus diterapkan. Diisolasi, diasingkan, dipisahkan dari orang lain untuk menghindari penularan. Kontak fisik ditiadakan, bahkan kadang komunikasi terputus 100%. Apalagi bisa si pasien harus masuk kamar ICU, tanpa ada kerabat yang menemani. Karena kerabat yang lain juga tengah diisolasi. Ya Allah. Terbayang betapa bingungnya seorang anak yang tetiba menghadapi kenyataan ini.

Dua pekan lalu ia masih memiliki orangtua, lalu tetiba orangtuanya lenyap dibawa ke RS. Tak ada kabar berita, lalu pemberitahuan terakhir orangtua telah tiada. Hanya tersisa makam dengan nisan bertuliskan nama yang tak ingin dipercaya.

Vino bukan satu-satunya.

Saya sendiri mendampingi beberapa anak yang orangtua mereka wafat karena covid. Pikiran saya sebagai psikolog dan konselor terbelah-belah, tenaga pun terbagi-bagi. Namun, segala kendala tak boleh menjadikan kita lalai dari merumuskan langkah-langkah penting. Keputusan besar.

Anak-anak ini adalah asset bangsa. Orangtua mereka syahid dalam wabah (tha’un) dan jelas mereka anak-anak istimewa. Sebagai orangtua, psikolog, penulis dan bagian dari anggota masyarakat, saya terpikir beberapa hal.

  1. Layanan konseling psikologi online untuk anak-anak.

Anak-anak ini pasti kebingungan. Walau orangtua mewariskan harta besar, mereka tetap akan merasa sangat kehilangan. Layanan konseling psikologi yang khusus menangani anak-anak ini perlu segera diluncurkan. Para psikolog dan relawan yang memiliki kepekaan terhadap anak-anak, bisa terlihat di sini.

Hotline , call center, layanan oleh lembaga zakat, layanan komunitas dll dapat menjadi bagian dari solusi ini.

2. Shelter psikologis.

Di barat dikenal foster family dan orphanage; bila tidak ada keluarga besar yang menampung.

Bila kita ingin mengadopsi konsep tersebut, memang perlu menimbang beberapa norma. Dalam Islam misalnya, dikenal konsep aurat sehingga tak bisa menitipkan anak pada foster family jika anak-anak mulai aqil baligh. Namun jika anak-anak belum aqil baligh, masih bisa dititipkan di foster family. Lalu, bagaimana jika kakak adik beda tahapan usia? Tentu ini perlu menjadi pertimbangan. Jangan sampai kakak dan adik dipisahkan, karena mereka telah kehilangan orangtua.

Shelter psikologis bisa berupa Yayasan anak yatim, Yayasan dhuafa atau sejenisnya. Bukan hanya memperhatikan pasokan fisik tetapi juga sangat memperhatikan kebutuhan psikis anak-anak.

Bagi yang ingin tahu seperti apa foster family, saya sarankan menonton film Shazam. Film superhero yang berbeda, karena salah penekanan film ini adalah bagaimana hubungan anak dan orangtua dalam foster family.

3. Dukungan materi

Ada banyak kehilangan dari seorang anak yatim/ piatu. Kebutuhan gizinya, kebutuhan akademiknya bisa terbengkalai. Belum lagi bila si anak ingin sesuatu seperti ingin beli mainan, ingin beli jajan dan kebutuhan sekunder/tersier yang seolah tak penting namun dibutuhkan.

Kebutuhan materi ini juga perlu diperhatikan kita bersama agar anak yatim/piatu tidak kehilangan hak-haknya. Tentu, dengan tetap memperhatikan keseimbangan antara donator dengan kondisi riil di lapangan.

4. Dukungan immateri

Dukungan ini sangat penting dan sering kali melelahkan.

Anak yang menangis dan meratapi orangtuanya terus menerus, bahkan yang histeria dant trauma, tentu membutuhkan pendampingan khusus yang menyita waktu dan energi. Bagi berbagai institusi (Yayasan, lembaga zakat, komunitas) perlu membuat SOP agar dapat mendampingi anak-anak ini secara berkesinambungan. Seringkali, perhatian tertumpah di awal-awal waktu saja karena rasa simpati yang begitu besar. Rasa iba akan kehilangan orangtua dan melihat anak-anak ini seperti anak ayam kehilangan induk.

Seiring berjalannya waktu, perhatian kita pupus oleh agenda lain padahal kebutuhan anak-anak ini terhadap pendampingan justru semakin besar. Apalagi jika anak-anak memasuki masa remaja, atau masuk usia sekolah; masa-masa krisis kepribadian yang dihadapkan pada berbagai pilihan sulit.

5. Pembentukan relawan

Kondisi saat ini tak mungkin hanya ditangai satu pihak. Pemerintah akan kewalahan menghadapi berbagai macam dampak pandemic. Ekonomi dan kesehatan yang membutuhkan fokus utama, sudah pasti harus ditangani pemerintah. Anak-anak terlantar seharusnya ditangani negara. Tapi bagaimana bila pemerintah tak cukup punya akses sampai warga paling pelosok, atau warga yang tidak terdata? Psikiater, psikolog, kementrian sosial boleh jadi kewalahan oleh gelombang kasus dan juga burn out.

Relawan-relawan yang merupakan “darah segar” dapat diberdayakan. Mereka bisa jadi pelajar, mahasiswa, fresh graduate, lansia yang masih sehat dan produktif. Orang-orang difabel yang fisiknya terbatas namun memiliki kemampuan untuk mendampingi dengan kesabaran, atau bahkan para veteran covid 19 yang pernah mengalami trauma parah lalu bangkit dan sekarang ingin berbagi kekuatan.

Saya membentuk komunitas Ruang Pelita sejak tahun 2011.

  Akronim dari Ruang Pendampingan Psikologi & Literasi. Selama ini fokus di berbagai acara untuk anak muda yang bertema kekoreaan dan jejepangan. Selama pandemic, Ruang Pelita turut membantu menggalang dana untuk masker, APD, mengumpulkan ponsel bekas. Kali ini menggalang dana untuk #bantuoksigen

Mungkin, tidak banyak yang bisa kami berikan.

Tapi komunitas-komunitas kecil seperti kami yang banyak tersebar di berbagi penjuru Indonesia insyaallah bisa membantu pemerintah untuk mengatasi gelombang pandemic dengan segala dampaknya. RuangPelita ke depannya juga ingin mendirikan shelter psikologis yang dapat mendampingi anak-anak yang trauma karena covid.

Pandemic covid 19 tidak hanya menyisakan tantangan besar di dunia kesehatan dan ekonomi secara global. Permasalahan psikologis merebak di mana-mana. Banyak sekali tenaga kesehatan yang depresi bahkan trauma menghadapi pasien seiring tingginya angka kematian.

Bagaimana dengan anak-anak?

Mereka kerap diabaikan, namun kelompok paling rentan ini sesungguhnya kelompok yang sangat membutuhkan uluran tangan. Dengan tulisan ini saya berharap banyak pihak akan saling bersinergi untuk membantu anak-anak yatim/piatu Covid 19 agar sembuh dari trauma dan bangkit menyongsong masa depan.

#covid19 #coronavirus #survivorcovid19 #penyintascovid19 #helpchildrenofcovid19 #helpchildren

Kategori
Artikel/Opini BERITA Covid-19 Hikmah PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Renungan Hidup dan Kematian Surabaya Survivor Covid-19 Topik Penting

Kesempatan Hidup 2 % : Belajar Memancing Keajaiban dari Seorang Dokter Penyintas Covid 19

Masih banyak kabar duka. Tapi biarkan aku bercerita tentang kabar bahagia terlebih dahulu. Kisah tentang seorang lelaki, psikiater, yang terpapar covid 19 untuk kedua  kalinya. Kali ke-2 harus menggunakan ventilator dan  menyabung nyawa.

Ia selamat. Hidup! Lolos dari lubang jarum dan angka kemungkinan 2% untuk  selamat.

Well, don’t talk to me about destiny or unexplained miracle.

Tapi kita pelajari bersama, mengapa semua ini terjadi. Allah memberikan mukjizat, setelah terpenuhinya aspek-aspek yang lain. Apakah yang tidak menerima mukjizat adalah orang yang jelek? Tidak. Mereka yang wafat adalah syahid. Mereka yang survive adalah petarung. Mereka yang petarung sejati, lalu syahid, adalah manusia pilihan. Mereka yang petarung dan tetap hidup, mendapat tugas untuk hidup lebih baik lagi.

Mengapa lelaki ini lolos dari maut? Dengan D-dimer 13.000, saturasi jauh di bawah normal, bergantung ventilator – alat yang terdengar sangat mengerikan seperti kita mendengar vonis hukuman mati atau vonis kanker stadium IV; setiap orang akan menebak. Izrail akan mengetuk pintu kamar ICUnya sebentar lagi.

Nyatanya ia, tadi pagi segar bugar. Memberikan materi yang membuat mata peserta berlinangan dan kembali menimbang-nimbang sebuah pertanyaan penting : apakah hidupku sudah berharga?

Berikut ini cuplikan kisah yang kurasa, menjadi penyebab beliau mendapatkan mukjizat Allah Swt saat hidupnya di ujung tanduk mendapatkan tindakan ECMO

  1. Semangat dari istri tercinta. Ketika setiap orang menebak-nebak bahwa umurnya tak akan lama, sebaliknya dengan sang istri. Ia mengatakan,”Mas jangan bingung. Jangan khawatir. Ini tak akan lama, sebentar lagi insyaallah selesai.”
  2. Sang istri “merampas” HP dari tangan suami. Walau ribuan orang memberikan doa dan semangat, HP di tangan orang sakit bisa melelahkan.
  • 3. Berusaha menjaga kesadaran  selama dalam extracorporeal membrane oxygenation (ECMO) therapy. Dengan ventilator dan kesadaran naik turun, sang istri mengingatkan perawat untuk membangunkan setiap sholat 5 waktu. Sang suami, mencoba sholat sebisanya dengan ingatan tersisa, mencoba merasakan makanan yang masuk, mencoba merasakan air hangat yang diusapkan ke kulitnya untuk mandi.

  • 4. Menghindari TOXIC POSITIVITY, dari teman-teman yang sebetulnya berniat baik. Menghindari perasaan tak enak , perasaan tak berharga karena, “Ah, aku tak sebaik yang disangka teman-temanku. Aku tak sekuat itu.” Semakin sedikit interaksi dengan HP, semakin baik
  • 5. Jeda. Jeda dengan manusia. Merapat  dengan Pencipta. Tanpa HP, terisolasi, hanya berteman alat-alat dan kunjungan nakes sesekali; waktu bermunajat melimpah ruah.
  • 6. Apakah tak boleh menerima perhatian? Boleh sekali. Bahkan perhatian dari teman, kerabat sangat membahagiakan. Seperti seorang teman yang mengiriminya koyo hangat untuk ditempelkan di tubuh! Tak harus makanan atau suplemen. (Kita sebaiknya juga jangan sering-sering japri si sakit menanyakan kondisinya. Kirimkan saja doa, jangan mengirimkan pesan yang membutuhkan jawaban. Kecuali bila sangat mendesak)
  • 7. Yakin , bahwa semua ini memiliki arti dan makna.

Segala penderitaan sejak terindikasi Covid hingga menyerahkan jiwa raga pada Sang Pencipta dan pada tenaga ahli . Meski sakit, pedih, nyeri, tak tertahankan – semua dilalui. Airmata bukan kekalahan. Airmata adalah tanda, bahwa kita mencoba sabar menanggung penderitaan.

  • 8. Ada kondisi delirium, halusinasi. Merasa tubuh disiksa dan dianiaya. Dalam kondisi kesakitan sangat, berdiskusi dengan Allah dan tawar menawar dengan kebaikan yang pernah dilakukan
  • 9. Begitu banyak orang di luar sana yang menangis dan mendoakan kesembuhan.

Karena apa? Karena kebaikan-kebaikan yang ditanamkan, nasehat-nasehat yang dilontarkan, kalimat-kalimat baik yang diucapkan. Bahkan, ketika sang dokter sudah lupa pernah berbuat baik pada seseorang yang tetap mengingat kebaikannya.

Terimakasih dokter Catur, atas kesabarannya menanggung beban dan hidup kembali untuk membagikan semangat.

Terimakasih dokter Izzah, istri yang luarbiasa. Dengan baby kecil, selalu yakin pada pertolongan Allah, bahkan ketika peluang itu hanya bernilai 2% saja.

Apa kesimpulan singkat dari keajaiban dokter Catur?

  • Menanamkan kebaikan (perilaku & perkataan) sehingga ketika musibah datang, banyak yang mendoakan
  • Tabungan amal sholih dapat digunakan untuk “bernegosiasi” dengan Tuhan saat mengharapkan sesuatu
  • Bila pasangan sakit, istri/suami adalah orang terdepan yang menyuntikkan semangat
  • Dalam kondisi parah, pertahankan kesadaran dari waktu ke waktu. Salah satunya dengan mengingat waktu sholat dan mencoba sholat sebisanya
  • Hindari HP. Semangat dari teman-teman bisa jadi toxic positivity

Catatan dari acara zoom hari ini. Pagi, 13 Juli 2021.

Kategori
Artikel/Opini BUKU & NOVEL Covid-19 Hikmah Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Survivor Covid-19

Pengobatan Non-Medis bagi Penderita Covid 19


Jangan lupa, selain 6 M, antibiotic – antivirus, oksigen dan langkah medis; ada upaya-upaya yang harus dilakukan bagi kita semua agar menjadi pemenang dalam pertempuran wabah ini. Terinspirasi dari tulisan Prof. Mukhtasor tempo hari yang mengingatkan pentingnya kekuatan spiritual di saat seperti ini, berikut pengalaman kami sekeluarga sebagai penyintas covid.
Kita tidak bicara ajal & takdir, karena bila telah tiba waktunya; sekuat dan seshalih apapun tetap akan wafat. Mengutip kata Najib Mahfudz dalam Harafisy : “Takdir muncul di kaki langit, terus mendekat setiap waktu. Tak ada yang menunda gerak majunya. Dunia bukan pasangan yang setia.”


••●••


🌷1. Asmaul husna dan dzikrullah. Kalau belum hapal 99 namaNya, tiga ayat terakhir QS Al Hasyr bisa dilakukan. Beriring shalawat, asmaul husna, dzikrullah; akan meringankan saat-saat menyakitkan seperti ketika infus antibiotic atau vitamin masuk ke pembuluh darah.



🍃2. Shalawat. Ada yang pernah mendengar shalawat Nariyah? Shalawat apapun insyaallah bagus. Saya mendapat hadiah buku “Shalawat Nariyah” karya Dr. Alvian Iqbal Zahasfan. Saya pernah bertemu dengannya tahun 2016. Buku ini bagus sekali, mengupas seluk beluk shalawat Nariyah. Mulai sejarah shalawat Nariyah yang digubah oleh Syaikh Ibrahim At Tazi, hingga fadhilah shalawat Nariyah. Termasuk foto-foto indah At Tazi dan berbagai tempat di Maroko. Jadi ingin ke Maroko lagi, aamiin yaa Robb


Sekilas Maroko


🍁3. Sedekah. Sedekah dapat menolak bala, insyaallah. Jangan ragu untuk meminta doa. Bila kita bersedekah lewat lembaga tertentu spt kitabisa.com, atau bit.ly/LMI_donasipalestina , ada slot kosong berisi keterangan. Saya memilih mengisi keterangan itu dengan bait-bait doa, sampai karakter hurufnya full. Tak peduli hanya infaq 10K, isilah dengan doa. Terutama doa meminta perlindungan dari wabah dan doa kesembuhan dari wabah


🌱4. Rendah hati. Kita cenderung menghormati orang dengan posisi terpandang. Di saat seperti ini, jangan ragu untuk rendah hati. Di RS, kami mencoba menghafalkan nama perawat-perawat dan CS. Orang akan bahagia bila namanya diingat, itu adalah bentuk penghargaan bagi mereka. Dokter spesialis sudah sering mendapatkan penghormatan, tetapi tukang sampah? Tukang bersih-bersih? Ucapkan terima kasih kepada mereka yang menyapu lantai dan mengumpulkan barang menjijikkan dari kamar mandi.


🌹5. Baca surat-surat favorit. Al Kahfi, Al Waqiah, Al Mulk, Yaasin, tiga surat terakhir Quran atau apapun surat favorit anda.


💫6. Memperpanjang telomer. Stres memperpendek telomer. Relaksasi dan bahagia memperpanjang telomer. Sesaat sebelum berangkat ke RS, saya memutuskan membawa buku-buku yang akan saya baca. Salah satunya puisi karya Sir Muh. Iqbal. Tak lupa laptop, untuk melepaskan gundah dan rasa tertekan dengan menulis. Menonton film atau anime, bisa mengobati stress saat sakit.


🌜7. Impian jangka panjang. Tak peduli sependek apapun umur kita, impian jangka panjang akan memperpanjang umur. Dalam pengertian denotatif atau konotatif. Meski kami ber-6 positif covid dan kami tak tahu apakah akan selamat; saya tekankan ke anak-anak untuk terus bermimpi.
“Habis ini kita umroh bareng, lanjut ke Uzbekistan ya? Atau Maroko.”
Peduli amat gak punya uang, impian adalah doa.
“Habis ini yuk kita daftar residensi artis. Sebagai penulis, atau artis visual art. Kalian mau Korea, Jepang, Finland, Norway, atau Islandia sekalian?”
Peduli amat nanti akan tertolak saat seleksi dan gak bisa berangkat karena gak dapat dapat grants/ stipends.
“Ummi sama Abah mau daftar S3 insyaallah. Kalian juga, ya. Siapa tau kita bisa apply ke negara yang sama.”
Peduli amat gak lulus LPDP, Mext, KGSP. Impian adalah doa dan seolah kita akan hidup 1000 tahun lagi.


🌟8. Tawakal. Sesaat sebelum tidur, lepaskan semuanya. Jangan pikirkan : suamiku gimana? Anakku siapa yang ngurus? Kalau aku mati, gimana dengan masalah yang belum terselesaikan? Ingatlah. Allah mengatur dan memelihara tata surya, yang ukurannya setitik kecil di tengah galaksi Bimasakti. Allah mengatur Bima Sakti yang ukurannya setitik di antara bermilyar galaksi. Jadi, mengurus diri kita dan keluarga kita, bukan hal extraordinary bagi Allah Yang Maha Besar.
•••••
Share juga ya pengalaman berharga anda semua sebagi penyintas Covid, utamanya pengalaman non medis.

#penyintascovid19 #survivalcovid19 #pahlawancovid19 #ceritacovid19

Kategori
Artikel/Opini BERITA Covid-19 Hikmah PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Survivor Covid-19

COVID 19 & PSIKOLOGI KOGNITIF : GAK TAU, MENYANGKAL, ATAU UDAH PAHAM?

Mengejutkan sekali bahwa saya sudah lupa (atau mengabaikan) beberapa protocol kesehatan!

Padahal baru sekitar 3-4 bulan lalu melawan ganasnya covid dan terpapar bak di ujung maut akibat virus ini. Belum lagi, saya suka mengumpulkan koran-koran yang memiliki informasi penting seperti covid, ilmu pengetahun atau hal menarik lainnya. Koran sejak awal covid menyerang di awal 2020  masih saya simpan. Tapi kenapa saya bisa lupa, abai, atau bahkan meremehkan informasi terkait covid?

🟠1. Kemampuan memory manusia terbatas. Manusia hanya bisa mengingat sekali waktu dengan cepat informasi yang dibagi atas 7-chunks (7 potong). Seperti kita mengingat nomer HP orang. Kalau setiap hari yang dikonsumsi berita macam-macam : covid, selebriti, gossip,  masakan, politik, ekonomi, parenting, travelling dan masih banyak lagi; yah, akhirnya covid terlupakan

🟡2. Memory bisa menurun. Sebuah studi menyebutkan, bahwa ketika mengingat sesuatu, setiap 18 detik ingatan kita akan perkara itu menurun 10%. Gak heran kalau hari ini saya takut setengah mati sama covid, besoknya udah enjoy aja

🔵3. Flashbulb memory. Kita akan ingat banget kenangan yang seperti lampu blitz, walaupun itu gak harus diingat! Kapan Sully dan Go Hara meninggal bunuh diri, kapan Lady Di meninggal, kapan Chester Bennington mengakhiri hidup — masih teringat. Harusnya emang, saya lebih banyak jalan-jalan ke RS. Ke ruang ICU, ke ruang isolasi covid. Sehingga ingatan ttg covid ini jadi “flashbulb”. Masalahnya, saya gak pernah bisa menengok teman2 atau saudara yg sakit covid. Seperti dulu, bisa nengok teman yang hemodialisa, atau kena kanker. Sehingga “flashbulb” tentang minuman bersoda demikian teringat kalau gak mau ginjal rusak dan harus hemodialisa

🟢4. Short term & long term memory. Ingatan jangka panjang akan mengendap lebih lama dibanding ingatan jangka pendek. Kenapa ingatan jangka pendek? Mungkin hanya sekilas, mungkin terasa gak penting, mungkin jarang diulang. Akan jadi long-term memory kalau terasa penting dan terus diulang. Seperti ingatan kaum muslimin pada Al Fatihah dan 3 surat terakhir al Quran. Hampir setiap kita yang muslim ingat, kan? Karena Al Fatihah wajib dibaca dan diulang terus. Karena 3 surat terakhir sering jadi pilihan kalau sholat kilat khusus, sekaligus surat yang diyakini ampuh menangkal setan dan sihir.

••🔴••

Sikap kita terhadap covid juga macam-macam

☑️GAK TAU : masih banyak lho, orang di pelosok yang gak tau tentang covid. Jadi boro-boro tahu tentang vaksin dan masker. Ini karena memory tentang covid gak pernah masuk long term memory, bahkan short term memory. Mungkin juga telinga dan mata mereka jarang mendapat info ini. Bayangkan saudara kita yang disabilitas, yang berada jauh di bawah garis kemiskinan (gak punya HP, gak pernah baca koran, gak ada TV), yang gak punya waktu untuk menyimak berita.

✔️MENYANGKAL : kalau bukan ingatan long term memory, atau “flashbulb” emang susah, ya. Saya patuh banget sama protocol pas awal pandemic, pas kena covid beneran, sama pas gelombang kedua menyerang. Gak heran banyak yang masih menyangkal. Apa saya masuk golongan ini?

UDAH PAHAM : ini biasanya teman-teman saya yang di garda depan. Teman2 dokter, perawat, nakes (radiolog, bagian lab, petugas ambulan, dsb) yang sangat paham. Lalu golongan masyarakat yang percaya , mendapatkan info dari sumber terpercaya.

••🔴••

TERUS GIMANA?

Saya kayaknya masih termasuk golongan yang “menyangkal “ : kadang khawatir. Kadang abai. Seperti kemarin, dapat share di grup tentang gimana cara pakai masker double. Selama ini pahamnya : ya udah di double aja. Ternyata di luar harus MASKER KAIN! Jadi ternyata, saya udah jarang nge-klik berita apapun terkait covid.

Lho kok bisa saya abai?

Karena udah ngerasa kalau covid ini “biasa banget”. Gak flashbulb lagi. Padahal…ntar dulu!

Buat teman-teman dan pemerintah :

❤️Tetap semangat dan sabar untuk memberikan edukasi covid. Long term memory itu lama lho

❤️Bagi informasi dalam 7-chunks. Jangan banyak-banyak. Ntar mabok. Kalau udah ada yang ngasih info covid, kita gak usah share lagi. Tahan sampai agak nantian

❤️Flashbulb : sekali-sekali perlu kali ya. Edukasi ke ruang ICU. Ngajak masyarakat yg gak percaya utk dipersilakan main ke ruang ICU covid (dengan prokes ketat tentunya). Atau kalau gak, sering liat youtube tentang tsunami Covid di India dan liputan ruang ICU utk bangsal Covid

❤️Buat lomba-lomba edukatif tentang covid agar masyarakat makin tertarik untuk belajar. Akhirnya jadi memory yang terpelihara, deh.

—————–

Sinta Yudisia LC – Lulusan Covid

Informasi waktu perjalanan aman sepanjang Covid 2021

Kategori
Covid-19 Hikmah PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Survivor Covid-19

Ledakan Covid ke-2 : Kesamaan Psikologis India & Indonesia

Sewaktu India mengalami gelombang ke-2 wabah Covid 19 sekitar April; saya sebetulnya harap-harap cemas mendengarnya. Berharap kejadian itu tak akan terjadi di Indonesia, namun cemas karena secara kultural, banyak sekali kemiripan psikologis India dan Indonesia.

Ledakan Covid di India sekitar April 2021

💥💥 💥💥

  • Kebersamaan.

Dunia timur lekat dengan kebersamaan. Jepang, Korea, India, Indonesia dan sejenisnya menjadikan tradisi keluarga sebagai bagian kehidupan sejak lahir hingga mati. Ada momen-momen ketika keluarga harus berkumpul. Kalau tidak, nggak lengkap rasanya. Contohnya momen Ramadan dan Idul Fitri .

Karenanya, sepanjang Ramadan dan Syawal, luarbiasa gelombang mudik dan kumpul-kumpul akibat keinginan untuk bersama dengan sanak saudara. Wajar di momen kebersamaan ini pemerintah memprediksi ledakan Covid dan memang terbukti demikian. Berikutnya muncul momen ‘kebersamaan’ yg lain seperti kluster hajatan, kluster resepsi, dsb

  • Ewuh pakewuh

Ewuh pakewuh ini  perasaan seperti merasa serba salah, dan takut kalau dianggap tak menghargai. Apakah anda termasuk yang mendapat undangan pernikahan, hajatan, reunion, atau acara undangan kantor? Di dunia timur, kalau diundang dan tidak hadir, apalagi kerabat dekat rasanya tabu sekali. Begitu pula, kalau misal dulu dia membantu kita saat hajatan, terlalu sekali kalau kita nggak membalasnya kali ini.

  • Tak enak hati

Dalam film Whiskey Tango Foxtrot yang bersetting di Afghanistan, ada percakapan menarik antara Kim Baker (jurnalis perempuan AS) dan Fahim (penerjemah muslim). Fahim menegur Kim dengan nasehat, kata-kata kiasan, sampai analogi kisah. Kim yang tidak mengerti maksud teguran Fahim berkata, “Kalau di Amerika, percakapan macam ini sudah sampai tempat 5 menit yang lalu.”

Waktu beberapa pekan lalu saya mudik ke Tegal, kami menemui banyak orang-orang nggak pakai masker di sepanjang perjalanan. Di rest area, di masjid, di pom bensin, di warung makan. Apakah kami menegur mereka? Yah…anda bisa tebak jawabannya. Kami tak enak hati, lebih memilih menyingkir dan terus memakai masker sebagai bentuk teladan dan tanggung jawab.

  • Menunggu

Masyarakat timur terbiasa menahan diri. Tidak terlalu blak-blakan, tidak cukup agresif. Akibatnya memang terbiasa menunggu. Tidak enak kalau mendahului, tidak enak kalau melaju lebih cepat, tidak enak kalau menegur lebih dahulu. Tidak enak kalau berinisiatif, nanti apa kata orang.

Kebiasaan ‘menunggu’ ini bisa menjadi titik gawat. Saya pernah naik sepeda motor di tengah jalan ramai, lalu macet mendadak. Semua orang memperhatikan. Dengan perjuangan berpeluh, saya menuntun motor itu ke tepi jalan (untung gak dimaki-maki ya, hehe). Orang-orang melihat saya kasihan tapi serba salah.

Berbeda dengan ketika saya di Hong Kong, bertemu orang bule. Waktu itu saya pakai jubah berbahan kaos panjang, tanpa sadar ujungnya masuk escalator. Saya yang panik hanya terpana, nggak tahu mau ngapain. Si bule itu langsung ke arah saya dan merobek bagian bawah jubah! Untung saya pakai celana panjang!

Kita terbiasa menunggu orang lain melakukan apa terlebih dahulu, baru berani bertindak. Akibatnya seringkali sesuatu berjalan lebih parah :  menunggu korban jatuh, menunggu jumlah pasien membludak, menunggu ada tetangga yang ikut vaksin, menunggu ada barengan yang mau lapor kalau kena covid, dsb.

  • Sangat mendengar orang lain

Kalau anda pernah nonton sinetron India, pasti akan paham bagaimana pendapat seseorang bisa diintimidasi oleh banyak orang. Masyarakat timur sangat memperhatikan ‘apa kata orang’.  Kalau ada orang bilang ,”gak usah percaya Covid. Itu rekayasa.” Biasanya, walau sudah punya pendapat sendiri, akan bisa terpengaruh. Apalagi bila kata-kata itu berasal dari teman dekat atau kerabat dekat. “Jangan lapor ke RT RW. Isoman aja. Nanti sembuh sendiri. Malu kalau dilihat tetangga dijemput pakai ambulan.”

Berita Jawa Pos hari ini Senin, 21 Juni 2021

Orang-orang yang sibuk memberikan pendapat masing-masing itu, bisa mempengaruhi keyakinan kita terkait Covid.

Apa yang harus dilakukan?

Sultan Hamengkubuwono X di Yogya, mewacanakan lockdown total untuk wilayahnya kalau tidak bisa disilpin. Saya suka quote beliau, “Pemerintah juga sulit kalau masyarakat tidak mengapresiasi diri sendiri untuk disiplin.”

Covid di Indonesia dengan segala konsekuensinya sudah mulai dijalankan sejak Februari 2020. Belum ada tanda-tanda kehidupan kita ‘back to normal like it used to be’. Sama seperti konsep psikologi bahwa ada kondisi yang tak bisa sembuh total tapi sangat bisa dikendalikan bila seseorang patuh protokol dan memahami kebutuhan dirinya sendiri. Salah seorang klien saya yang didiagnosa schizoaffective bisa sangat produktif dalam hidupnya sekalipun ia seringkali dalam kondisi mengkhawatirkan. Kenapa? Ia sadar ia punya disorder, ia rajin minum obat, ia mendengarkan saran ahli dan ia memutuskan memiliki gaya hidup sehat.

🧡🤍💞

Hayuk!

  1. Love ourselves. Cintai diri kita. Kita ini berharga. Otak, fisik, organ dalam kita sangat sangat berharga. Jadikan kelak ketika sudah lansia, tubuh ini masih fit untuk beribadah dan beraktivitas.
  2. Kendali. Di film Whiskey Tango Foxtrot, ada ucapan menarik Coughlin, seorang prajurit yang kehilangan sepasang kaki dalam perang. Ia ditanya bgm bisa tabah? “Dalam hidup ini, manusia hanya memegang kendali sedikit saja.” Pahamilah, bahwa Covid ini memang amat sangat luar biasa sehingga jangan menggampangkan bahwa kita mudah mengendalikannya
  3. Pengalaman. Percayalah, ada puluhan bahkan ribuan pengalaman yang didapat dalam kawah Candradimuka bernama pandemic corona ini. Kontemplasi, menahan diri, bekerja sama adalah beberapa pelajaran berharga di era ini.
  4. Challenge Yourself. Carilah bakat minat terpendam dan kuasailah hingga mahir. Kita selama ini terlalu lama sibuk dengan dunia luar sampai lupa suara-suara batin sendiri.

Sinta LC alias Lulusan Covid

Berita Kompas hari ini Senin, 21 Juni 2021
Kategori
Covid-19 Hikmah Hobby My family PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Suami Istri WRITING. SHARING.

Suami-suami yang Kreatif di Era WFH

Bagi para istri, apakah sudah mengamati hobi apa saja yang semakin ditekuni suami di era covid ini? Begitupun para suami, apakah sudah mengamati apa saja potensi istri yang dapat dikembangkan di era covid?

—–

Suamiku memang punya darah seni. Waktu kecil, pandai menari dan membuat berbagai kerajinan seperti patung. Menggambar dan melukis adalah salah satu keahliannya. Di SMA, bakat suamiku tersalurkan ketika sering diminta jadi pengurus MADING atau majalah dinding. Tapi keahlian itu lama terkubur, belasan bahkan puluhan tahun tak pernah terasah lagi.

Saat covid, keahlian itu muncul lagi.

Saat Ramadan, aku kembali bersilaturrahim dengan teman-teman lama. Terutama teman semasa SD, SMP dan SMA. Ternyata, ada teman SMA yang punya hobi seperti suamiku! Wah, kaget juga. Sebab semasa SMA sepertinya darah seninya gak terlalu menonjol. Apalagi, temanku ini sampai buat akun di IG dan memposting semua kegiatan melukisnya di sana.

Bisa di follow di @poeps7374 , untuk temanku, Pupon Artiono. Sementara suamiku belum punya IG dan twitter, lebih banyak aktif di facebook Agus Sofyan. Baik suamiku dan Pupon, temanku, menekuni kembali bakat seninya di era covid. Saat WFH. Dan terutama kalau suamiku, saat jauh dari keluarga.

Ternyata, ada hikmah di balik pandemic. Salah satunya memunculkan kembali potensi-potensi terpendam manusia yang selama ini terkubur karena kesibukan dan rutinitas yang padat dan berulang. Tak ada kesempatan untuk merenungi sisi lain diri sendiri. Nyatanya, manusia seringkali punya lebih dari satu bakat! Alhamdulillah, sepanjang pandemic, suamiku sudah menghasilkan sekitar 12 lukisan. Pupon  sudah menghasilkan lebih dari 20 lukisan.

Melihat suamiku dan Pupon, ada kesamaan dalam mengolah karya seni :

  1. Menggunakan cat akrilik  dan minyak (suamiku), atau hanya cat akrilik ( Pupon)
  2. Otodidak
  3. Belajar dari youtube. Kalau suamiku sering buka channel youtube Michael James Smith
  4. Beli bahan online atau offline
  5. Dikerjakan di sela waktu. Satu lukisan sesungguhnya bisa selesai 2-3  jam. Tapi karena berselang-seling kerja, bisa berhari-hari
  6. Suka pemandangan alam
  7. Kesamaan yang lain : sama-sama gak PD untuk menjualnya!

Mungkin, karya seni ini terlihat biasa bagi orang kebanyakan. Tapi bagiku, istimewa. Bukan hanya karena Agus Sofyan suamiku dan Pupon Artiono kawanku di SMA, lho. Tapi ada hal-hal yang menakjubkan dari orang-orang yang menjadi kreatif di sela-sela pandemic :

  1. Seni lukis merupakan salah satu produk kesenian yang berfungsi untuk melembutkan hati manusia, baik bagi pelukisnya maupun penikmatnya
  2. Dengan melukis, bisa menumpahkan  banyak gejolak emosional.
  3. Portofolio, kalau suatu saat ingin  mengajukan Artis in Residence

Kesempatan untuk mengikuti residensi artis terbuka di banyak negara. Sekitar 82 negara menyelenggarakan residensi bagi para artis (seniman); ada yang berbayar. Ada juga yang free, bahkan kita mendapatkan beasiswa. Dan rata-rat yang banyak tersedia adalah beasiswa untuk visual art. Kukatakan pada suami, kumpulkan aja portofolio lukisan-lukisan. Siapa tahu suatu saat setelah pandemic, kami sama-sama bisa mengajukan beasiswa residensi artis di negara yang sama. Aku mengajukan beasiswa kepenulisan dan suamiku sebagai seniman visual art. Amiiin.

Kalau ada yang berminat untuk membeli lukisan Pupon, bisa kontak ke IG nya ya. Ia juga punya channel youtube https://www.youtube.com/channel/UCYcmR1rXBYJ3HIIBiHICgfw

Kategori
My family Parenting PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY

Rusyda (kematangan) yang Tertunda

Lama saya bertanya-tanya kepada diri sendiri : kenapa banyak ortu sekarang yang mengeluhkan anaknya nggak mandiri? Nggak dewasa? Padahal sudah umurnya. Sampai kemudian saya menemukan buku karya Dr. Khalil Ahmad Asyantut ini, Rumahku Sekolahku.

Bukunya tipis, tapi masyaallah.

Menjawab sebagian besar perang di benak saya yang mempertanyakan psikologi VS parenting Islami.

Makna rusyda

Rusyda berarti kematangan. Dr. Khalid menekankan bahwa orangtua harus membantu anaknya dalam segala aspek , hingga mencapai usia rusyda. Usia rusyda ini bisa jadi saat dia sekolah, dia bekerja, bahkan menikah. Setelah menikah, jangan pula dilepaskan sebab ada anak-anak yang belum rusyda setelah menikah!

Pernah dengan suami istri bertengkar gegara yang suami suka jejepangan dan istrinya penggemar berat KPop? Yah, begitulah anak muda zaman sekarang. Di masa saya dulu, hal-hal semacam itu nggak ada. Suami saya penggemar film action ala Rambo, saya suka film drama macam Ghost atau Dying Young (haha…ketahuan banget umur berapa!). Suami suka sepak bola, saya suka baca buku. Tapi ya udahlah, hepi-hepi sendiri aja dan gak usah berantem. Berantem sesekali, tapi gak jadi konflik tajam. Padahal saya nikah sama suami di kisaran usia 20-21.

Kenapa rusyda tertunda?

“Rusyda” berarti kematangan

Banyak aspeknya

Pertama, jauhnya anak dari pengalaman real. Kondisi lingkungan, tantangan zaman, pekerjaan ortu, dll menyebabkan pengaruh dalam kehidupan anak. Zaman saya dulu, namanya bepergian jauh ke rumah nenek , sendirian, udah biasa. Naik bis, naik kereta api. Ortu saya kerja di Denpasar Bali, nenek saya tinggal di Lempuyangan Yogya. Sejak SMP udah biasa tuh PP Bali- Yogya sendiri. Naik travel pernah, dst. Bgm sejak SMP udah tahu berinteraksi dengan supir yang galak, teman sebangku di bis yang penipu dan nyolong uang, tetiba bis diganti karena rusak; itu sudah biasa. Menderita dan berjuang secara real, sudah biasa.

Anak sekarang? Termasuk anak saya.

Takut diculik, takut digendam, takut dianiaya. Ke sekolah aja diantar. Betapa banyak teman anak saya yang bawa sepeda ke sekolah, digendam. Yah, akhirnya ortu trauma dan memutuskan antar jemput anaknya.

Bersosialisasi?

Well, anak sekarang (termasuk anak saya) banyak menghubungi temannya via gadget. Untung rumah saya depannya masjid, jadi anak-anak masih sering ketemu orang.

Kita dulu?

Mau main ke rumah teman untuk belajar bersama perlu berinteraksi dengan banyak orang : izin nenek, izin om tante , izin ortu. Belum lagi izin sama ortunya teman. Saya kenal lho sama ortu teman-teman SMA saya gegara sering main ke rumah teman.

Menyangkut point pertama, gak bisa disalahkan kalau sikap ortu protektif banget di zaman sekarang. Temannya siapa, main ke mana, gadgetnya isinya apa. Semua seperti bom waktu. Wajar ortu takut. Kadang, teman anak di dumay tidak sesuai foto profilnya. PPnya cowok ternyata cewek. Eh, begitu sebaliknya. Ngakunya mau ikut turnamen game, tapi siapa tau?  Bilangnya mau belajar tapi di rumah teman…who knows? Wajar ada ortu yg kelewat protektif banget banget.

Kedua, sikap protektif ortu.

Ketiga, sedikitnya kesempatan komunikasi dan interaksi.

Dulu, sekolah gak butuh modal. Kemana-mana jalan kaki, bersedepada, nyalin catatan teman atau paling banter fotokopi. Gak butuh pulsa, gak perlu beli flashdisk dan harddisk, gak butuh gadget dengan RAM besar. Sekarang, beda lagi. Hampir setiap anak butuh HP canggih, butuh laptop, butuh kuota. Dampaknya? Ortu memeras keringat banting tulang memenuhi kebutuhan dasar anak untuk sekolah. Akibatnya, waktu ortu untuk bersama anak lebih sedikit.

Ini fakta yang gak bisa diabaikan.

Apalagi bila tinggal di kota besar. Akibatnya, kesempatan diskusi, bertukar pikiran, bertukar cerita udah jarang banget. Dulu, bapak saya PNS pulang jam 2. Masih sempat jemput saya, ngajarin saya ngaji. Kalau ada kebutuhan sekolah yang mendadak harus dibeli kayak buku tulis dan sejenisnya, bapak mengantar. Saya inget banget, ketika SD, lagi musim dompet warna warni. Bapak yang nganter saya ke toko, dan membelikan itu.

Sekarang, meski suami dulu pernah tinggal satu kota, sampai rumah habis maghrib. Belum kalau macet, Isya baru sampai. Anak-anak juga demikian. Minggu baru sempat kumpul, itupun kalau gak ada kondangan dan acara lain.

Terus gimana?

Ya, kembali ke QS Iqro : baca. Belajar. Jadi ortu harus belajar, belajar, belajar terus. Bukan hanya anaknya aja yg sekolah kuliah dari jam 7 pagi sampai jam 5 sore. Kita juga harus belajar. Ketika perkembangan anak sejak kecil tidak mendapatkan pendampingan semestinya, wajar mereka lambat tumbuh dewasa. Rusdyanya terhambat. Kalau sudah begini, ortu jangan buru-buru bilang :

“Kamu kan udah SMA? Milih jurusan kuliah aja nggak ngerti? Bapak dulu kuliah di luar kota, daftar aja berangkat sendiri.”

“Kamu kan udah kuliah, harusnya ngerti dong, capeknya ortu!”

“Lho, kamu udah niat nikah. Masak nggak ngerti kalau nikah itu butuh persiapan banyak?”

“Kamu udah nikah. Udah jadi suami/istri. Masak gak tau apa kewajibanmu?”

Ada anak SMP yang udah dewasa dan mandiri. Tapi ada juga yang kuliah masih serba dilayani dan dikasih tahu. Ada yang sejak SMA udah bisa dilepas, tapi ada juga yang udah kerja dan nikah, masih aja bergantung pada ortu. Bergantung finansial, nasihat, bahkan eksekusi keputusan dalam perkara remeh.

Satu quote dr. Khalid yang indah tentang ortu yang telah memiliki anak yang menikah : tidak ikut campur tangan dalam urusan pribadi rumah tangga mereka. Tetapi ortu harus, membimbing anak-anak kepada kebaikan setelah menikah dan hubungan ortu tidak melemah setelah menikah.

Agaknya belia uingin menekankan bahwa sepanjang anak belum benar-benar rusyda, ortu adalah figure yang sangat dibtuhkan anak sepanjang hayat mereka.           Kitapun sampai seusia ini selalu menjadikan orangtua sebagai figure utama , bukan?

Hayo, antarkan anak-anak pada rusyda yang sesungguhnya. Dan jangan berkecil hati, karena kata dr. Khalid dan para pakar pendidikan Islam, banyak banget anak sekarang yang kematangannya mundur. Next saya bahas buku Dr. Jasim al Muthawwa’ ya, tentang Smart Islamic Parenting. Buku ini juga bagus, indah, menyentuh banget dan menjawab banyak pertanyaan saya pribadi seputar parenting Islami & psikologi Islami.

Pemesanan buku-buku Sinta ke Ibrahim 085608654369

Kategori
Catatan Jumat Dunia Islam Fight for Palestina! Gaza Kami Oase Renungan Hidup dan Kematian Topik Penting

Palestina Negara Gagal & Kalah?

Blokade, pengusiran, hingga pemusnahan.

Benarkah pertanda kegagalan & kekalahan?

••••••

            Sebelum kita bahas lebih jauh tentang kalah menang, ada baiknya anda nonton film-film politik seperti Irishman dan Spy Gone North. Yang satu tentang negaranya Uncle Biden, yang satu tentang Korsel-Korut. Di situ akan dapat gambaran tentang “kalah-menang”. Bukan film yang endingnya klise dan hero-nya selalu menang ala-ala film Hollywood yang kita kenal dengan supremasi Amerika.

Palestina memang sering babak belur tiap kali konfrontasi dengan Israel. Korban jiwa luarbiasa, sarana publik hancur luluh, seenaknya Israel menetapkan jam malam di perbatasan dan serangan tanpa ampun sewaktu-waktu. Kita ‘hanya’ bisa mengirimkan donasi, bantuan pangan dan obat, juga kutukan-kutukan. Kirim tentara? Wah, bisa-bisa disangka memicu perang dunia ke-3. Tentara perdamaian seperti yang kita kirimkan ke Bosnia dan Libanon pun, nanti dululah.

Qunut nazilah di mana-mana.

Munasharah hampir tiap pekan ada.

Tapi kapan menangnya? Kapan Tuhan menurunkan bantuan? Apakah kaum muslimin begitu hina hingga semua doa hangus, bahkan sebelum melewati ubun-ubun?

Kategori menang, seringkali dianalogikan dengan sukses.

Orang sukses banyak duitnya, mentereng rumahnya, bejibun investasinya. Abaikan rumahtangganya berantakan, anaknya terlibat kenakalan dan ia depresi hingga selalu tergantung obat-obatan. Yang penting sukses, titik! Padahal bila dirunut lebih jauh, kesuksesannya semu.

Palestina kalah? Nanti dulu. Tontonlah Irishman.

Apakah negara uncle Biden menang, sejak JFK berkuasa? Di film Irishman justru kalah total. Negara itu dikuasai mafia yang mudah mempermainkan angka-angka hasil pemilu. Hingga kini, Amerika tak pernah benar-benar menang. Kasus George Floyd, coronavirus yang menggila, penembakan massal yang hampir selalu ada tiap bulan. Belum lagi kasus-kasus psikologis…subhanallah. Anda akan ngeri lihat negara ‘maju dan menang’ itu dengan segala kasus psikologisnya.

Palestina?

Well, orang-orang Palestina bukannya sakti mandraguna. Tak bisa menangis, kebal senjata, tak bisa trauma. Bukan! Ketika kami ke Gaza 2009, ada orang-orang yang bisu karena trauma dengan situasi perang. Ada anak-anak yang menangis karena kehilangan orangtua. Ada orang-orang yang resah dengan kondisi ekonomi. Anehnya, negara yang sering dianggap pecundang ini selalu punya solusi. Solusi konkrit yang membawa penyelesaian bagi banyak hal.

Miskin? Namanya juga negara yang diblokade.

“Ya Ummu Muhammad, kalau kamu lagi sempit, banyaklah baca al Waqiah,” pesan Abeer Barakah pada temannya. “Insyaallah datang pertolongan Allah. Beasiswa saya cair walaupun kita diblokade.”

Solusi, bukan? Memang duit gak datang dari langit. Tapi harapan dan upaya selalu dilakukan orang-orang Palestina : upaya bumi & harapan langit. Negara yang diblokade itu bisa menanam timun, jeruk, produksi ikan. Bahkan pertanian bunganya ekspor ke Belanda!

Banyak anak muda yang sekarang kehilangan jati diri. Kalau anda mengikuti channel Oli London yang mengaku mirip Jimin – BTS, anda akan bingung. Kok ada orang yang kehilangan jati diri seperti itu? Ajaklah anak Palestina pindah ke Indonesia, itu sudah pernah saya lakukan.

“Kalau jalan-jalan mau. Kalau pindah, nggak. Hadza darul ma’ad. Ini tempat kembali.”

Ya, ampun. Butuh berapa SKS dan kurikulum macam apa untuk menanamkan wawasan kebangsaan macam itu?

Tempo hari, ramai berita tentang demonstrasi di Myanmar. Ada bahasan bahwa ASEAN gak akan mampu menangani jika Myanmar jadi negara gagal akibat perseteruan sengit junta militer, oposisi dan rakyat. Bila jadi negara gagal; perdagangan senjata meningkat. Begitupun perdagangan obat bius dan human trafficking. Bila negara gagal akan menghasilkan perdagangan senjata, obat bius dan perdagangan manusia; silakan nilai sendiri Palestina. Senjata? Mungkin ada yang menyangka pihak militan jual beli senjata. Tapi obat bius dan human trafficking? Palestina, memelihara rakyatnya dari kerusakan, alih-alih menjalani bisnis haram. Padahal di negara miskin (negara kaya juga), human trafficking yang menistakan perempuan banyak terjadi. Pelacuran lazim dilakukan mereka yang sangat terhimpit ekonomi. Kok di Palestina tidak?

Karena ketika Palestina menerima bantuan dari negara manapun, yang dibangun pertama kali perpustakaan. Gak heran orang Palestina pintar-pintar. Dokter, professor, di mana-mana. Diblokade, loh! Yang dibangun rumah sakit. Yang diberdayakan perempuan. Perempuan-perempuan bisu tuli yang trauma pun, diberikan pelatihan. Jadi perempuan tidak harus merendahkan dirinya. Anak-anak? Ada supercamp yang salah satu kurikulumnya menghafal Quran. Tujuan camp ini menyiapkan anak-anak, kalau sewaktu-waktu orangtua mereka meninggal kena bom, mereka harus siap. Bukan itu aja. Di seantero Palestina, yang namanya Yayasan yatim piatu baik dibangun pemerintah, komunitas atau individu berceceran di mana-mana.

“Keluarga kami punya Yayasan yatim,” kata Abeer Barakah. “Kami yakin, bahwa mereka yang menyantuni anak yatim, di surga nanti bertetangga dengan Rasulullah.”

Abeer, yang tak luput dari kesulitan blockade, masih memikirkan buat Yayasan!

Pemerintah gak cukup bikin Yayasan. Di rumah-rumah yang hancur, dibuatkan monument. Pengingat bagi yang syahid. Agar anak-anak mereka atau siapapun mengenal nama-nama yang wafat lebih dahulu demi membela negara. Karena keterbatasan dana, tiak semua rumah dan tempat. Namun inisiatif pemerintah tersebut, benar-benar menghargai perjuangan. Dan anak-anak yatim piatu tersebut, merasa sangat dihargai dan dilindungi negara. Secara materi dan immateri. Secara fisik dan psikologis.

Kalau udah demikian, hakekatnya, yang negara gagal dan kalah siapakah?

Percayalah, siapapun yang menitipkan dana bantuan ke Palestina, insyaallah tidak akan sia-sia.

••••••

Masih ada dana 10K di e wallet atau rekening?

Yuk, bareng-bareng donasi.

Klik bit.ly/LMI_donasipalestina

••••••

Foto : kenangan bersama Abeer Barakah, yang menginspirasi dengan al Waqiahnya, nasehatnya tentang perempuan dan Yayasan amalnya

Kategori
Hikmah Mancanegara Perjalanan Menulis Travelling WRITING. SHARING.

MUNGKINKAH IMPIAN TERCAPAI KETIKA DUIT GAK ADA?

Ada yang mention ketika aku ngeshare impianku kemarin : “Mbak, aku juga pingin ke sana. Tapi mungkinkah?”
Umroh, al Aqsho, Uzbekistan, Maroko. Ada yangg juga menambahkan impiannya ingin ke Spanyol dan Afrika. Mungkinkah? Bisakah?
Aku nggak tahu.
Sebab keajaiban itu hak prerogatif Allah Swt. Secara manusiawi kita harus nabung. Aku sudah menghitung kalau umroh plus, maka kalau mau berangkat formasi lengkap ber-6 butuh 150 juta umroh plus Uzbekistan. 216 juta plus Turki. 408 juta plus Maroko. Itu seharga mobil dan/atau rumah, kan?😱😨


Kalau nabung, sampai kapan ya?
Pernah nabung, eh, akhirnya kepakai juga.
Aku tentu gak bisa jawab tentang kapan aku bisa berangkat.


Tapi aku pernah ke Maroko 2016 : keajaiban yang gak pernah kubayangkan.
Kupikir-pikir, keajaiban yang Allah berikan bukanlah kebetulan sama sekali.
Aku suka kliping koran, salah satunya masjid-masjid di berbagai belahan dunia. Salah satu masjid yang kukagumi adalah Masjid Kutubiyah. Nggak tau kenapa, kagum aja dengan bentuknya yang tanpa kubah dan warnanya kemerahan. Di sisi lain, aku mengagumi sosok Ibnu Tasfin, penakluk Andalusia. Aku sebelumnya nggak tahu kalau ia dimakamkan di Marrakech, Maroko. Di situlah benang merahnya .


•••••••••••••••••••
🕌Aku berkunjung ke masjid Kutubiyah, masjid yang kusimpan kliping korannya karena mengagumi keindahan dan bentuknya.


✨Aku berkunjung ke makam Ibnu Tasfin karena mengagumi perjuangannya menaklukkan Andalusia.
•••••••••••••••••••

Sejak saat itu aku memiliki keyakinan.
Butuh rizqi untuk mewujudkan impian. Tapi rizqi itu tidak selalu berupa uang. Ada banyak jalan lain : residensi penulis, beasiswa, permintaan menulis biografi tokoh, dan pastinya rizqi-rizqi lain yang aku tak tahu karena keajaibannya tersembunyi di Lauhil Mahfudz.
Tugasku sekarang : buat benang merahnya.

✨✨✨
Salah satu yang aku yakini bisa mengabulkan mimpi fantastis adalah sedekah. Ada peristiwa- peristiwa spektakuler dalam hidupku yang ternyata berkaitan dengan sedekah dalam jumlah tidak biasa.
Sebuah nasehat pernah mampir ke arahku. Menohok!


“Lha, kalau pingin dapat rizqi sekitar 10 juta, infaq 100-200 ribu wajar. Kalau pingin dapat rizqi 500 juta, masak infaqnya cuma segitu?”

Iya ya…kalau pingin dapat rizki ke Maroko, aku harusnya bisa infaq 20 juta, 50 juta. Tapi duit dari mana ya?

Itulah, mengapa aku menjadi relawan ZISWAF saat ini. Aku senang menjalaninya. Membuat flyer, membagikan di medsos. Ngetag orang-orang yang kukenal maupun nggak kukenal, hahaha. Aku mencoba mengajak pelajar mahasiswa untuk infaq – wakaf 10K. Bisa, kok! Ngetag orang, japri orang, tidak selalu membuahkan hasil. Tapi rizqi itu Allah yang me-resume-kan, aku yang mengupayakan.


Aku memang gak bisa infaq 50 juta sendiri. Duitku belum ada segitu.
Tapi dari pada donatur yang menitipkan uang 10K, 20K, 50K; aku yakin nilainya ada yang melebihi 50 juta. Atau bahkan milyaran atau triliyunan! Ketika sedekah itu ternyata bertepatan dengan waktu istijabah. Ketika sedekah itu, disisihkan dari kebutuhan primer tapi mereka mendahulukan kepentingan orang lain. Orangtua yang memotong uang laukpauk anaknya. Pelajar yang memotong kebutuhan kuotanya. Para gadis yang menahan diri dari kebutuhan kosmetiknya. Orang-orang itu berniat dan bertujuan mulia, dan aku ikut menumpang kendaraan barakah itu.
Ketika sedekah itu, insyaallah terselenggara lewat promosi ZISWAFku, maka aku menitipkan pahala dan doa di sana.


Aku menitipkan pahala dan doa pada teman-teman dan orang-orang yang tidak kukenal, yang menitipkan dana mereka ke LMI. Dana yang pasti berasal dari keringat dan jerih payah.
Siapa tahu benang merah itu terjalin di sini. Bersama sedekah bernilai trilyunan itu, doa-doa sepektakulerku yang nggak bisa diukur dengan nalar dan duit orang biasa, dapat terwujudkan atas izin Allah Swt.


➖➖➖➖➖
🌱🌿Infaq atau wakaf 10K?
Silakan klik bit.ly/LMI_sinta