Novel Bunuh Diri?

book-arrow-cover-death-old-media-19179999

 

Memiliki profesi penulis, tentu harus siap dengan segala konsekuensi. Segala profesi memiliki titik positif negatif, sisi senang dan sengsara, bahagia dan nestapa. Sebut saja guru. Sahabat-sahabat saya yang berprofesi sebagai guru swasta harus siap banting tulang dengan penghasilan yang pas standar UMR, jangan tanya ketika ada cicilan rumah dan sepeda motor. Apa sisi kebahagiaannya? Saat murid-murid mereka lebih pintar, lebih bisa menghafal Quran, menang di arena-arena Olimpiade. Bahkan, murid-murid tersebut telah masuk perguruan tinggi bergengsi saat guru mereka masih mengabdikan diri di institusi pendidikan dengan segala pengorbanan.

 

Menjadi penulis, memiliki dua sisi yang sama.

 

Sisi bahagia ketika :

  • Karya terbit
  • Bentuk fisik buku cantik dan menarik
  • Buku tampil di toko-toko buku terkemuka
  • Best seller
  • DP (downpaymen) dibayarkan juga royalty per 3 atau 6 bulan
  • Menang penghargaan
  • Difilmkan
  • Mendapat apresiasi positif dari khalayak pembaca, kritikus, dsb
  • Diundang bedah buku
  • Diresensi
  • Quote-quote buku muncul di media sosial

 

 

Sisi sedih ketika :

  • Karya ditolak, ditolak, ditolak lagi (apalagi ditolak di beberapa penerbit)
  • Terbit tapi bentuk fisik seadanya alias tidak menarik sama sekali
  • Buku terbit tapi tidak laku
  • Write off alias hak terbit dikembalikan ke penulis
  • Tidak ada laporan royalty
  • Mendapat apresiasi negative dari khalayak
  • Dikritik habis-habisan
  • Orang-orang minta hadiah buku tersebut, minimal discount (padahal menulisnya dalam kubangan airmata dan keringat)

 

Beberapa tahun belakangan ini, novel (terutama novel Islami) mengalami penurunan drastis hingga penulis banyak yang mengambil alih profesi lain. Mengapa novel Islami yang pernah berjaya, tidak laku? Apakah ini terjadi pada semua jenis novel? Apakah profesi penulis ini nanti ditinggalkan? Apakah profesi penulis harus seperti guru, disertifikasi dan mendapatkan penghasilan pasti agar profesi ini diminati kembali?

 

Ada beberapa hal yang ingin saya bahas dan silakan ditambahkan bila ada yang kruang atau perlu diluruskan.

Flying-Books-Vector-Graphics.jpg

  1. Novel Islami

Label Islami memiliki sisi keuntungan dan kekurangan.

Sisi keuntungan, pembelinya merasa pasti akan mendapatkan pencerahan walau kadang-kadang lelah dengan nasehat-nasehat. Bolak balik beli novel Islami baik tokoh, peran, prolog dan ending sama semua.

Sisi kekurangan, stigma masyarakat terhadap novel islami sebagai novel yang membosankan mulai berakar kuat. Novel Islami hanya dinikmati oleh pembeli yang ingin Islami, bukan yang non Islami atau yang masih alergi-Islami.

Maka, penulis yang ingin menggalakkan kembali novel Islami harus belajar banyak hal, termasuk memahami sisi-sisi syariah, dakwah dari novel Islami.

Bolehkah alur ceritanya agak menyeramkan : bunuh diri, sexual abuse,  prositusi, pacaran kelewat batas, homoseksual, pembunuhan, poligami,  nikah beda agama; namun mungkin ada pesan yang ingin diselipkan disana?

Bila memilih tema yang sensitif, bagaimana pula mengolahnya agar novel Islami tetap terjaga kesantunan dan yang tak boleh dilupakan, kelarisan penjualannya?

 

 

  1. Apa yang harus kita pelajari?

Menjadi penulis, harus belajar banyak hal. Saya termasuk yang amsih harus banyak, banyak, banyak belajar dari teman-teman penulis, pembaca, editor, resensor,  sutradara, penulis scenario dan lain sebagainya.

Kesabaran. Kesabaran tak pelak lagi salah satu kunci utama manusia dalam mencapai target hidupnya. Kesabaran dalam menuliskan kisah mulai 10, 20, 70, 100, hingga 400 halaman. Kesabaran dalam tahapan menulis novel. Kesabaran ketika harus bekerja sama dengan editor dan sang editor meminta revisi di beberapa bagian. Kesabaran untuk berdiskusi dengan penulis lain. Kesabaran untuk menerima kritikan. Kesabaran ketika naskah ditolak, atau diterbitkan namun tidak laku. Kesabaran terhadap segala jenis kemungkinan yang terjadi pada naskah kita.

Membaca novel dan buku lain. Membeli novel baru, meminjam dari teman, menyempatkan membaca. Menyempatkan membaca ulang. Membaca novel atau buku-buku lain akan memberikan gairah baru dalam tulisan kita. Meski, bukan berarti kita harus meniru 100% gaya menulis Helvy Tiana Rosa, Asma Naida, Kang Abik, Dan Brown, JRR Tolkien, JK Rowling; membaca karya mereka akan memperkaya khazanah.

Berani menampilkan novel yang beda. Jangan pernah berpikir bahwa dakwah, atau menyampaikan kebaikan harus dilakukan dengan satu cara. Apakah semua pendakwah harus seperti Ustadz Maulana, Ustadz Arifin Ilham, Ustadz Yusuf Mansur? Maher Zain dan Raef berdakwah dengan music. Bahkan Ustadz Arifin Ilhan dan Dr. Zakir Naik akan berbeda cara menyampaikan. Setiap penulis memiliki cirri kekhasan masing-masing. Cobalah untuk menampilkan novel yang berbeda. Tokoh protagonist tidak harus lelaki sholih berjenggot yang berdiam dari satu masjid ke masjid lain. Boleh jadi ia seorang residivis yang menemukan jalan pulang dan ingin mengentaskan kampung preman. Atau seorang cassanova flamboyant yang ratusan kali berpacaran dan akhirnya bingung menentukan standar perempuan cantik. Atau seorang perempuan korban KDRT yang menemukan titik keberanian untuk bangkit membela hak dirinya setelah menyadari bahwa ia punya adil dalam sadistis-masokis.

Detail. Pernah baca novel Dan Brown? Atau Tom Clancy? Kisah Dan Brown sebetulnya mirip-mirip, menceritakan tentang simbol rahasia, atau Tom Clancy dengan tokoh Ryan yang menampilkan heroism khas Uncle Sam. Hanya saja kita dibuat terhanyut karena detail. Detail bangunan, detail karya seni, detail makna simbol, detail sejarah, detail pangkalan militer. Kalau ingin mengisahkan kisah cinta tentang ikhwan-akhwat, mengapa tidak coba kita eksplor detailnya? Kisah ta’aruf, aktivis rohis, aktivis kampus masih menarik dieskplor asal dengan gaya berbeda.

Misal, seorang ikhwan yang ingin segera nikah.

Proses nikah dengan akhwatnya kan bisa dieksplor.

Ikhwannya berasal dari keluarga sederhana, punya kakak perempuan yang belum nikah, adik perempuan yang manja dan kolokan. Benturan ketika si ikhwan itu pingin nikah, pasti menarik. Perselisihan dengan kakak perempuannya yang bolak balik pacaran gagal, adik perempuan yang gak mau ditinggalkan si abang. Belum lagi proses taaruf dengan keluarga akhwat yang misal, dari high class. Si akhwat super duper cantik, good looking dan pintar, si ikhwan pintar tapi culun.  Si ikhwan gak pernah makan steak karena rajin puasa Daud demi menghemat  uang beasiswa. Khitbah di rumah akhwat bisa jadi disaster , ketika keluarga akhwat menyuguhkan makanan ala barat dengan pisau dan garpu sementara keluarga di ikhwan milih makan pakai tangan sambil selonjoran hahahah.

Perjuangan ikhwan tersebut mendapatkan istri shalihah yang gak gampang, pantas dieksplor. Betapa banyak novel Islami yang menggambarkan kehidupan jauh dari realita : ikhwan akhwat sama-sama cakep, dari kalangan berada, taaruf, nikah, malam pertama indah. Jadi deh…ditambah cerita ala Cinderella si ikhwan berhasil dapat beasiswa di luarnegeri dst dst.

 

Tema. Banyak sekali tema yang masih harus digali dari perjalanan hidup manusia. Tema politik belum banyak yang menyentuh. Tema pesantren juga baru sebagian, belum banyak dieksplor dengan dalam. Misal,  (inspired by true story) kehidupan seorang Kiai yang punya dua anak putra, dua-duanya mengembangkan pesantren. Salah satu pesantren sukses, salah satu gagal. Atau tema politik, ketika ayah dan anak memilih jalur politik yang berbeda dan kedua-duanya sama-sama jadi anggota legislatif. Atau bagaimana seorang anak menyadarkan kedua orangtuanya yang sama-sama berselingkuh (naudzubillahi mindzalik).

 

Kemahiran bercerita. Sorang sutradara film memberikan masukan kepada saya, belajarlah dari cara orang India berkisah. Lihatlah film-filmnya. Orang India termasuk salah satu penutur yang baik. Saya sendiri terkesan dengan film India antara lain Jodha Akbar dan Navya. Jodha Akbar sangat detil mengisahkan ornament pakaian yang berbeda antara bangsawan Mughal dan bangsawan Rajput. Bagaimana 3 istri Jalaluddin : Sakina, Ruqaya dan Jodha punya gaya berpakaian yang khas. Sakina lebih suka pakai gaun seperti kulot, Ruqaya lengan panjang dan Jodha sari berlengan pendek. Dalam salah satu episode, jalaluddin terkesan sekali ketika Jodha bersedia menukar pakaian bangsawan Rajput dan mengenakan busana tradisional Mughal.

Navya pun demikian. Dengan setting modern dan tema ala anak muda sekarang, pacaran, Navya kebingunan ketika harus menentukan pilihan antara menerima undangan sang pacar atau menghadiri acara yang diadakan di rumahnya sendiri. Pacaran bukan sekedar jalan bareng, bonceng berduaan, pegang tangan dan ciuman. Kalau kata orang-orang pacaran adalah proses penyesuaian, mengapa tidak ditampilkan proses penyesuaian yang sesungguhnya? Agar generasi muda tahu bahwa pacaran bukan sekedar senang-senang tapi banyak resikonya.

Flipped (Wendelin Van Draanen) diangkat dari novel berjudul sama adalah kisah pacaran anak SMP yang manis dan sama sekali tak ada adegan di luar batas. Julianna Baker yang suka naik pohon, jatuh cinta setengah mati dengan Bryce Loski, cowok ganteng bermata biru. Dalam novel ini Julianna yang setengah mati mengejar-ngejar Bryce namun kecewa ketika Bryce tak dapat menerima keluarga Julianne. Paman Julianne seorang MR (mental retarded) yang tinggal bersama keluarga mereka. Ayah Julianna, seorang pelukis yang demikian menyayangi adiknya dan mengajarkan Julianna bahwa pamannya adalah bagian dari keluarga mereka. Cara Juli menyatakan cinta pada Bryce pun tak lazim, Juli senang mengirimkan telur-telur ayamnya kepada Bryce J

 

Terinspirasi dari novel dan film ini pula, saya menuliskan Sophia and Pink, kisah dua remaja putri yang tumbuh di tengah keluarga tidak sempurna. Tokoh Sophia mencari cinta di tengah pergulatan dirinya mencari jati diri. Julianna, Sophia, Pink gadis remaja yang tengah dipenuhi ledakan hormon, energi, imajinasi, keinginan berpetualangan termasuk ingin mencicipi bagaimana cinta di masa remaja.

  1. Kritik mana yang harus diterima?

Terimalah kritik dengan lapang dada dan perbaikilah bila memang sesuai dengan gaya kepenulisan kita. Serial Takudar memunculkan fans yang bertahun-tahun menantikan serial akhirnya namun demikian, tetap ada yang mengkritiknya dan mengatakan mengapa tokoh lelaki karya Sinta Yudisia relative mirip? Sholih dan seolah tanpa cela. Mengapa sekali-sekali tidak menampilkan tokoh lelaki yang beda? Penjahat mungkin, atau penipu.

Atas kritik-kritik tersebut , sebagai penulis saya coba perbaiki dengan menampilkan tokoh yang berbeda. Dalam beberapa novel yang sedang saya garap, tokohnya justru antagonis dan selfish. Kalau dalam beberapa novel yang akan terbit tokohnya tetap seorang pemuda sholih berkarakter, karea itulah harapan saya sebagai penulis. Akan muncul pemuda-pemuda pemimpin yang merupakan pengganti Al Ayyubi, Al Fatih, Thalut., Baybar.

  1. Segmen mana yang harus diperhatikan?

Tidak mungkin menggarap semua segmen. Bahwa novel kita akan diterima anak-anak, remaja, orang dewasa, guru, mahasiswa, pelajar, perempuan dan laki-laki. Ada novel yang memang ditujukan bagi perempuan dewasa seperti novel chicklit. Ada novel yang ditujukan terutama bagi remaja putrid seperti teenlit. Ada buku-buku untuk kalangan muda seperti chicken soup. Ada buku-buku motivasi bisnis yang cocok untuk kalangan pebisnis pemula tapi tak akan diminati anak-anak. Bahkan anak-anak pun dibagi-bagi segmennya : yang suka ilustrasi baca komik, yang suka fantasi baca novel, yang suka keduanya baca novel-komik. Itupun masih dibagi lagi : pre school, SD, SMP.

 

 

Kalau dikatakan novel Islami bunuh diri dengan banyaknya novel sejenis bertabur, saya kurang setuju. Kalaupun mati, mungkin mati suri. Banyak penulis-penulis FLP yang semakin mahir menuliskan karya mereka dan diterima pasaran. Ada yang semakin makin menulis cerita anak, novel remaja maupun novel dewasa.

Apa yang harus ditingkatkan?

Komunikasi antara penulis-penerbit-pasar serta semua stakeholder turut terlibat untuk mensukseskan pasar perbukuan.

 

 

Tikam, bunuh, perkosa, hajar, tembak, sayat

 

Puluhan tahun yang lalu, ketika masih anak-anak, saya sering bermain di luar rumah hanya mengenakan celana dalam dan singlet. Saya berlari-lari, main petak umpet keliling rumah, menyeberangi kali atau kuburan. Bermain di dekat stasiun, melihat gerbong kereta api tua. Berangkat dan pulang sekolah jalan kaki, naik bemo atau berepeda. Seringkali ketika Ayah tak bisa menjemput dengan vespa tuanya, saya menjadi murid satu-satunya yang dijemput sore.

 
Tak ada takut.
Padahal, ketika SMP saya melewati gudang kereta api yang sangat sepi. Kantor-kantor tua bekas zaman Belanda tanpa penghuni. Ketika orangtua tinggal di Denpasar Bali dan mengirimkan saya untuk sekolah di Yogya, tak ada kekhawatiran sama sekali. Selain nasehat ,”baik-baik ya kamu tinggal sama Nenek. Jadi anak perempuan yang bisa ngeladeni Simbah!”
Mama dan bapak khawatir kalau sebagai cucu perempuan, saya malas-malasan di rumah nenek. Tidak tanggap nyuci piring, nyuci baju, beres-beres. Takut kalau saya hanya baca Kho Ping Ho seharian atau mendengarkan sandiwara radio Saur Sepuh.
Kalau libur, saya akan segera pulang ke Bali, naik bis. Bis turun di beberapa perhentian. Mamah dan bapak terkejut tiba-tiba ketika melihat saya di depan pintu : lho kok kamu pulang….

 
Sebagai pelajar saat itu , tak ada yang membebani pikiran selain : uang jajan, beli buku, belajar kelompok, naik gunung, malam Minggu main ke rumah teman yang sama-sama merantau.Akhir SMA, saya bahkan masih sering pulang malam karena harus hunting soal UMPTN kesana kemari, sampai malam fotokopi, belajar kelompok.

 
Satu-satunya peristiwa berdarah yang pernah saya lalui (ohya, dua persitiwa) adalah ketika SMP naik sepeda dan tidak sengaja terserempet bis. Saya ditolong orang-orang. Kali kedua, ketika belajar naik sepeda motor dan belum bisa mengerem ketika naik tanjakan.

 
Bertemu orang asing, menyenangkan. Saya senang naik bis kota, berbincang dengan tukang jamu, tukang sayur, tukang becak, tukang batu. Bertemu orang baru, menyenangkan, ketika sama-sama bertemu pendaki gunung atau orang baru di bengkel sepeda atau tukang tambal ban motor. Bertemu teman baru menyenangkan, saya senang kenalan dengan anak-anak dari SMP SMA lain. Apalagi ketika menjelang UMPTN, saling berbagi info dan ilmu dengan anak-anak sekolah lain.
Bertemu dengan sebanyak-banyaknya orang, sungguh memperkaya wawasan.

Itu pula nasehat seorang Doktor berkebangsaan Korea yang memberi wejangan di Wisuda S1 saya, bagaimana menajdi orang yang unggul : getting out, meet more and more people.
Bergaulah dengan sebanyak mungkin orang.
Bertemu dengan sebanyak mungkin manusia.
Bercakap, berdiskusi, berguru, berbagi dengan sebanyak mungkin individu yang mungkin memiliki kepandaian dan pengalaman jauh lebih banyak, lebih hebat dari kita.
Namun, beranikah sekarang saya, anda dan para guru sekalian untuk memberikan wacana ini pada anak-anak dan murid-murid : meet more and more people?

 

Bengis & Kejam

knife stab vector
Itukah watak orang di masa sekarang?

 
Yang miskin, membenci orang kaya karena memamerkan kekayaannya. Mengendarai mobil, main klakson seenaknya padahal cuaca sangat panas dan kita pengendara motor sedang bersabar di bawah terik matahari. Yang kaya, benci pada yang miskin karena mereka sangat tidak kompeten dalam beragam pekerjaan : malas, penipu, hanya jadi polisi cepek, selalu meminta dan seterusnya. Yang bodoh, membenci orang pintar apalagi berkedudukan. Mereka yang di atas hanya akan memangsa yang lemah dan hanya akan memanfaatkan. Yang pintar, membenci yang bodoh sebab karena angka kebodohanlah bangsa ini makin terpuruk dan terpuruk.

 
Itukah kita?
Yang akhir-akhir ini selalu curiga, penuh prasangka, membenci orang dan ingin sekejam mungkin menghakimi siapapun yang berseberangan?
Betapa mudah kita membenci.
Mencaci maki orang lain di media social maupun di dunia nyata.
Ketika ucapan tak cukup mewakili kebencian hati, maka apapun jadi senjata : facebook, blog, twitter, instagram. Ketika itu masih belum cukup melampiaskan kebencian, adakah cara lain untuk melampiaskan dendam?

 
Ya.
Lakukan saja yang demikian cepat terlintas pikiran.
Kalau bisa babat, babat saja. Kalau bisa pukul, pukul saja. Kalau bisa tikam, kenapa tidak? Kalau bisa ditembak, kenapa tidak didor?
Seolah, di masa ini, kita kembali ke zaman pra sejarah.
Kembali ke zaman dinosauraus , hutan-hutan, bejana perunggu, tombak besi dan kapak batu.
Hutan-hutan pepohonan sekarang berganti hutan beton apartemen dan mall. Tombak besi dapat diperkecil menjadi pisau atau silet. Kapak batu diubah menjadi senapan atau pistol. Tak da Dinosaurus seperti Velociraptor atau T-Rex, tapi manusia sekarang dapat lebih kejam memangsa orang lain. Velociraptor tak pernah berpikir memperkosa orang. T Rex tak pernah berpikir menyiksa psikis manusia dengan terror.

 

Mari, hidup kembali di zaman Primitif

hand gun
Dulu, orang melengkapi diri dengan senjata agar sewaktu-waktu hewan buas menyerang, kita dapat balik menikam.
Apakah itu yang harus kita lakukan sekarang? Melengkapi anak-anak kita dengan pisau dan senjata tajam?

 
“Nak, selain pena dan pulpen di tasmu, apa kamu sudah bawa clurit? Apa kamu bawa cutter dan silet? Atau, apa kamu bawa pistol? Jangan lupa isi peluru!”

 
Dapatkah sebagai orangtua kita membayangkan anak-anak sekolah membawa persenjataan, mencurigai teman-teman mereka sebagai pemerkosa dan menganggap guru atau dosen yang bersikap keras kepala (dari dulu selalu ada istilah guru dan dosen killer) sebagai pihak yang harus dihabisi?

 
Kemana institusi pendidikan yang melahirkan para pemikir, orang-orang cendeikia, manusia unggul berwawasan luas yang memiliki hati nurani?

 
Kemana insituti hukum yang melindungi masyarakat sebagaimana dulu Al Ayyubi melindungi perempuan dari orang yang melecehkannya?

 

 
Kemana insitusi pemerintah yang mencoba mengayomi segala entitas : di tengah masyarakat akan selalu ada kaya miskin, pandai bodoh, tinggi rendah, pejabat rakyat, petinggi pesuruh, orang dari beragam etnis, orang dari beragam golongan. Apakah perbedaan ini akan menjadi dasar pertentangan sehingga kita memandang setiap orang yang berbeda dengan mata curiga dan akan menghakiminya setiap ada kesempatan? Menghajarnya, memukulnya, menikam dan menyiletnya?

 
Apakah ketika melihat perempuan tak berdaya, lantas ia boleh diperkosa ? Mungkin sebagai lelaki nafsu birahi telah membumbung tinggi, arousal telah demikian memanaskan ubun-ubun, pornografi telah demikian intens hingga menyalakan instink paling dasar : lalu semua dilampiaskan pada seorang perempuan dan harus pula mengkahiri hidupnya?
Apakah ketika kemiskinan menghimpit, maka seseorang yang terlihat dalam posisi lebih berada karena dia mahasiswa, guru atau dosen, maka ia berhak untuk dihabisi?
Apakah karena seseorang bersalah karena mulutnya, maka senjata lebih tepat untuk membalasnya?
Demikian pula, wahai aku, kamu, kita dan kalian yang sedang berada dengan segala kelebihan baik pandai, kaya, berkelapangan : apakah menjadi jalan kita untuk tidak peduli dan memamerkan semua hal disaat yang lain nestapa memerangi segala kekurangan?

 

Zaman Primitif telah Lewat
Zaman Primitif telah lewat. Zaman pra sejarah telah usai. Zaman batu telah lalu. Zaman jahiliyah telah punah. Bersyukurlah hidup di abad modern yang memudahkan sekian ragam aktivitas.
Tidakkah kita ingin hidup di masa dimana peradaban memimpin dunia, setiap individu merasa bebas dan terhormat?

 
Para orangtua ingin mengirimkan anak laki dan perempuan untuk sekolah setinggi tingginya. Para guru dan dosen ingin mengajar. Para pejalan kaki ingin beraktivitas. Para pengguna angkutan ingin tetap berkendaraan , dalam keterbatasan ekonomi menggunakan bis, kereta, angkot , sebab tak mungkin setiap manusia di negeri ini memiliki mobil.
Maka, ayolah kita mulai dari diri sendiri.
Bagi anda yang pemarah, ingatlah untuk beristighfar. Sehingga tak timbul penyesalan dengan mengayunkan pisau, silet, parang ke sembarang leher orang. Yakinlah, bahwa usai membunuh satu orang, hanya tersisa penyesalan akan hari depan yang suram. Kemarahan yang merusak hanya dapat dilawan dengan banyak-banyak mengingatNya.Sebagain masyarakat mungkin akan memaafkan, namun bagaimana dengan keluarga korban?

 
Bagi anda penikmat pornografi, ingatlah bahwa melihat hubungan sexual yang terkspos membuat frontal lobe rusak, hingga anda akan menjadi orang yang mudah memangsa segala : anak sendiri, cucu sendiri, keponkana sendiri, tetangga, murid, ataupun perempuan di jalan. Menyukai pornografi bukan hanya meningkatkan rangsang seksual tapi juga perilaku agresif. Hasrat seksual yang tak terlampiaskan bukan hanya mendesak keinginan untuk memperkosa seseorang, tapi juga membunuh dan menyiksa. Ingatlah, bahwa keperkasaan anda sebagai laki-laki suatu saat akan mendapatkan hukuman yang tak terbayangkan , bila anda melampiaskan nafsu dengan cara yang tak manusiawi.

xxx
Bagi anda pengumbar materi, sadarlah. Begitu banyak orang yang mudah terbakar emosi karena situasi ekonomi, social yang memang belum stabil dewasa ini. Melihat sebagian orang dalam kondisi mapan, dalam hati terbersit cemburu dan kecurigaan. Perbanyak infaq sedekah, perbanyak senyum dan berbagi, perbanyak membantu orang agar jembatan kesenjangan terbangun.

 
Para orangtua, berhati-hatilah memiliki anak. Camkan pada anak-anak kita untuk waspada dan senantiasa Dzikrullah. Usahakan telepon selular dalam kondisi terkontak agar selalu dapat terhubungi dalam situasi kritis. Selalulah berdoa dalam segala kesempatan, agar terlindungi anak-anak kita, anak-anak bangsa, anak-anak ummat ini.

 
Para guru, dosen dan pengajar, berlapang dadalah. Anak-anak pelajar dan mahasiswa berada dalam kondisi serba terhimpit : mata pelajaran, mata kuliah, biaya transportasi, biaya kuliah, biaya praktikum, biaya skripsi, SPP dan segala macam biaya yang bila dibayangkan tak tertanggungkan bagi para pelajar. Belum lagi perilaku menyimpang, pornografi, kecemburuan social, tindak kekerasan mengungkung. Sedikit perilaku impulsive dapat membuat orang lupa diri.

 
Para pemimpin, pejabat, penegak hukum. Ingatlah dalam setiap kebijakan bahwa anda terlibat di dalamnya, terlibat dalam penegakkan keadilan dan kesejahteraan rakyat. Institusi hukum yang bersih dan berdedikasi sangat diharapkan, segala benda yang membahayakan seperti senjata, minuman keras, minuman beralkhohol, pornografi harus ditindak tegas. Bila membutuhkan waktu untuk membereskannya maka bersegeralah untuk membatasinya.

 
Perkosa, tikan, bunuh, hajar, silet, sayat; rasanya kata itu sudah tak kuasa lagi masuk dalam kamus kehidupan kita.

 
Tentu sebagai anak bangsa kita tak ingin menambah daftar kata kerja negative, bukan?
Kita tak ingin ada kata massa, bakar, jarah, rampas, rampok atau kata negatif apapun yang akan muncul dalam berita-berita.
Para pejabat, penegak hukum, pemimpin; anda harus mempertanggung jawabkan sekian banyak korban yang berjatuhan. Siapapun anda, haruslah waspada. Bukan hanya waspada akan kejahatan oranglain. Namun juga waspada, jangan sampai diri kita menyumbangkan kejahatan baik langsung atau tak langsung.

Yuyun, Feby, bu Dosen Nur Ain Lubis ; beristirahatlah dengan tenang. Cinta dan doa kami untukmu. Semoga kematian ini tidak sia-sia. Membuat kami ingat Allah, ingat masih banyak tugas bagi masyarakat untuk menjadi manusia yang lebih beradab.

 

Mei 2016

(3) Ayah atau Bunda yang Lebih Berperan?

Wahai, Ibu!
Ibu, center person, sudah menjadi rahasia umum merupakan sumber mata air bagi anak-anaknya. Mata air kasih sayang, mata air keilmuan, mata air ketenangan. Keterlibatan ibu merupakan keharusan bagi perkembangan anak yang membutuhkan II(instrumetnal involvement) dan MAI (mentoring advising involvement). Pasangan ayah ibu yang mampu melibatkan diri dalam II- MAI, sungguh menyempurnakan tumbuh kembang anak.
Satu lagi tugas penting ibu adalah EI (expressive involvement) yang membuat anak memiliki karakter spiritual, emosional seimbang, sosial, fisik, juga kemampuan bersenang-senang. Ibu yang berhasil menghadirkan sosoknya secara utuh akan membuat anak memiliki karakter di atas, meski bukannya menafikkan kehadiran ayah.
Pernahkah kita melihat anak yang sangat serius, tak dapat ‘tersenggol’ sedikit, cepat marah, segala sesuatu harus perfek dan diukur bagai standar hitam-putih?

Kemungkinan, kehadiran ibu kurang optimal. Ibu yang terlalu sibuk, ibu yang terlalu menegakkan disiplin tanpa menyadari ada hal-hal yang dapat disepakati secara fleksibel , ibu yang hanya mampu menyuruh-nyuruh dan memberi hukuman.
Karakter spiritual utamanya dibangun oleh ibu, meski moralitas harus dibangun oleh ayah-ibu. Keseimbangan emosional memerlukan hadirnya ibu, maka, anak yang sangat tantrum dan emosional seringkali hanya dapat ditenangkan dengan dekapan ibu. Kemampuan anak berinteraksi sosial juga perlu mendapatkan asuhan sang ibu, begitupun perkembangan fisik dan hal yang sering terabaikan namun amat sangat penting di dunia milleinium dewasa ini : kemampuan enjoy, fun, pleasure, menikmati leisure time. Anak-anak sekarang cepat stres hanya karena perkara sepele, semisal tak memiliki gadget yang sama dengan teman, atau tak memiliki teman main. Anak-anak cepat stres karena tugas sekolah, macet lalu lintas, persaingan antar teman, atau tak masuk dalam satu peer grup dengan teman sebaya.
Betapa banyaknya yang masih dapat dinikmati dalam hidup!
Tak punya gadget? Masih ada buku, lompat tali, bola, menanam pohon, memelihara kucing dan ikan, atau cooking class! Ditolak peer group di sekolah? Bukannya masih ada teman-teman anak tetangga dan teman bermain di masjid kompleks?
Ternyata , kedekatan anak dengan ibu, memiliki satu karakter ajaib yang diperlukan anak-anak dewasa ini : mampu melihat dunia dari kacamata riang gembira! Ah, tak apalah tak terpilih olimpiade matematika, bukankah masih ada lomba melukis dan lomba macapat? Ah, tak apalah sang ayah sibuk sepanjang hari, bukankah ada ibu yang dapat diajak bermain dakon dan bekel?

sex-education-1-728
Dulu, masih ingatkah kita, bahwa seorang ibu adalah bagian dari teman bermain. Bermain masak-masakan, bermain jual-jualan, bermain gunting menggunting kertas. Wahai, Ibu, marilah libatkan diri dalam expressive involvement agar anak-anak tetap memiliki batin yang senantiasa ceria di tengah dunia yang serba cepat dan serba canggih.
Kita boleh tak setuju pada pendapat Sigmund Freud terkait basic instinct, tapi kita akan setuju dengan pendapatnya yang satu ini : sebagian besar penyimpangan pada manusia, bersumber dari ketidakhadiran sang Ibu.

 

Bagian 3 dari 3 tulisan

Sinta Yudisia
April 2016

(2) Ayah atau Bunda yang Lebih Berperan?

O, Ayah!
Penelitian di atas tentu masih melibatkan peran bunda, sesuatu yang tak disanggah lagi. Namun hadirnya ayah ke tengah anak-anak sungguh semakin menakjubkan! Tahukah kita, bahwa seorang ayah yang memiliki keterlibatan hangat dalam keluarga, maka anaknya akan lebih lancar membaca dan mengerjakan matematika sejak usia 8 tahun di sekolah dasar? Bila kehadiran ayah tampak nyata di rumah, tanda-tanda kemunculan conduct disorder alias gangguan perilaku yang seharusnya muncul sejak usia 10 tahun, dapat diminimalisasi?
Maka bila kehadiran ayah adalah nihil, atau sosoknya raib dari rumah; tidak saja anak-anak mengalami hambatan pelajaran namun juga mengalami hambatan dalam berperilaku.
Ayah dibutuhkan dalam 2 hal keterlibatan : instrumental involvement dan mentoring-advising involvement.
Wahai ayah, berusahalah untuk bertanggung jawab dan disiplin terhadap segala sesuatu sebab ternyata tanggung jawab ini berada di pundakmu. Jangan lempar handuk sembarangan, lepas kaos kaki sesuka hati, piring kotor dibiarkan, dan meninggalkan semua tinggalan pekerjaan tanpa dirapikan ulang. Hal-hal kecil melatih ketrampilan. Seorang ibu yang merapikan rumah masih belum cukup membangun karakter disiplin dan tanggung jawab dalam diri anak-anak; ayah harus melengkapinya. Memunculkan gairah anak untuk memilih karir tertentu dalam hidupnya, pun hasil peran sang ayah.

Paul Jobs, seorang tukang kayu. Setiap kali menukang, membuat pagar dan lemari, ia menyiapkan meja kecil dan palu kecil bagi putranya, Steve. Sembari menukang, ia berbicara pada putranya, “Steve, dalam membangun sesuatu yang terpenting bukan apa yang tampak. Lihat lemari ini, yang paling penting adalah sisi belakangnya. Kokoh!”

Jobs

Steve Jobs

Steve bukan menjadi tukang kayu. Tapi filosofi Paul Jobs melekat kuat ketika ia menciptakan computer dan perangkat lain : yang tidak tampak, ternyata bagian yang paling penting. Dunia mengenalnya sebagai Steve Jobs, information technology entrepreneur. Bahkan segala perihal tentang dirinya tak hanya berbau teknologi; buku, film, caranya presentasi, menginspirasi banyak orang.
Instrumental involvement, penting dalam perkembangan etik dan moral. Ingatlah, bahwa spiritual kadang-kadang tidak serta merta memunculkan sisi etis dan moralis. Ingat kasus Jim Baker dan Jimmy Swaggart? Seorang anak yang rajin sholat dan baca Quran terkadang masih suka bersikap kasar dan berkata menyakitkan, ayahnya yang dapat membantu sang anak menemukan sifat etis dan moralis dalam dirinya.

Gandhi

Mahathma Gandhi

Anda tahu Mahathma Gandhi?
Ketika mencanangkan gerakan Ahimsa dan Satyagraha di India, ia tidak memerintahkan anak buah atau seluruh pengikutnya melakukan aksi tertentu. Gandhi tahu, Kasturbai, istrinya dan anak-anak sekian lama hidup dalam gaya Eropa : roti , garpu dan pisau. Gandhi tahu, tak mudah mengubah keluarga, masyarakat, apatah lagi India. Maka yang dilakukan Gandhi sebagai suami dan ayah adalah meninggalkan cara makan Eropa, beralih makan menggunakan tangan. Gandhi mencuci kakus dan mengosek kamar mandi, sesuatu yang tak akan pernah dilakukan kalangan Brahmana dan Ksatria! Gandhi menggunakan sari, menanggalkan dasi dan jas.
Ajaib.
Gandhi berhasil seorang ayah yang konsisten menginspirasi anak, istri, keponakan, tetangga hingga seluruh negeri dan wilayah protektorat Inggris lainnya. Gandhi berhasil melawan hegemoni Inggris dengan segala derivatnya : politik, militer, ekonomi, hingga budaya. Inilah peran ayah dalam menginspirasi sisi etis dan moralis bagi anak-anak dan keluarga.

Wahai, Ayah!
Anda tak perlu rendah hati ketika hanya berprofesi sebagai pegawai rendah, atau pengusaha dengan gaji kecil.
“Ah, bagaimana mungkin ayah sepertiku dapat menjadikan anak-anaknya sebagai orang-orang sukses?”

Thatcher

Margareth Tatcher muda

Alfred Roberts, si tukang sepatu, bangga pada kecantikan Margareth dan Muriel. Khusus Margareth, sejak kecil si cantik nan cerdas ini memikat khalayak bukan hanya karena kecerdasan superiornya, tapi juga kemampuan orasinya. Menyaksikan putri perempuannya punya banyak bakat sementara dirinya hanya seorang tukang sepatu, Alfred Roberts rajin menulis surat untuk putrinya, mengatakan kebanggaan dan harapannya. Alfred tak pernah putus asa, mendorong putrinya untuk terus meraih yang terbaik dalam pendidikan. Sama seperti Paul Jobs, Alfred Roberts meletakkan dasar-dasar fundamental bagi karir putrinya yang terkenal sebagai Wanita Besi, Margareth Tathcher.
Para lelaki di atas membangun karakter anggota keluarga mereka dengan memenuhi kaidah instrumental involvement sehingga anak-anak menemukan keberhasilan karir, memahami jalan etis dan moral, disiplin dan bertanggung jawab dalam kehidupan.

Mentoring advising involvement, adalah keterlibatan (ayah) untuk membangun kompetensi, kemampuan untuk menjadi mentor bagi orang lain serta mendukung perkembangan intelektual. Keterlibatan ayah ternyata sangat penting bagi perkembangan akademis anak-anak di sekolah. Ayah yang terlibat dalam pendidikan bagi anak-anak, membentuk karakter keluarga yang dapat welas asih kepada sesama. Bila, kasih sayang dari ayah cukup, anak-anak tak akan haus dahaga mencari sumber perhatian di luar yang seringkali tampak dalam perilaku agresif, impulsif , hiper sensitif. Kehadiran ayah dalam edukasi anak-anak juga membantu kompetensinya , perkembangan intelektual dan akademisnya. Sosok ideal person ayah menjadikan anak-anak punya semangat untuk mencanangkan cita-cita tinggi : menjadi presiden, menjadi pengusaha sukses, menjadi menteri atau ahli agama serta cita-cita mulia lainnya.

Sinta Yudisia, Bagian ke-2 dari 3 tulisan

Ayah atau Bunda yang Lebih Berperan? (1)

images (51)

Amerika, pernah menjadi Negara dan masyarakat religious hingga sekitar tahun 70-80an. Beberapa skandal menggoyang sendi Negara sehingga khalayak bertanya-tanya : apakah benar agama tepat dijadikan sebagai patokan?
Televangelist Jim Baker dan Jimmy Swaggart adalah salah contoh sedikit dari kasus yang menggemparkan. Keduanya, yang dikenal sebagai pengkhutbah dan rajin muncul di acara televisi, terbukti melakukan affair dengan rekan kerja dan juga PSK. Gary Hart, salah satu tokoh kharismatik dari kubu Demokrat tertangkap basah bersama aktris sexy berambut pirang : Donna Rice. Amerika gempar, tak hanya kalangan agamawan, negarawan pun jatuh karena perempuan.
Tak cukup sampai disitu.
Serial keluarga yang laris manis seperti Family Ties dan The Cosby Show, hanya indah di layar kaca. Film-film tersebut dianggap tidak mencerminkan dinamika keluarga yang sesungguhnya. Meredith Baxter, yang berperan sebagai Elyse Keaton, ibu dinamis dalam keluarga harmonis; dalam kehidupan nyata mengalami perceraian berkali-kali dan pada akhirnya memproklamirkan diri sebagai lesbi. The Cosby Show mengalami hal yang sama. Lisa Bonet, salah satu pemerannya memainkan Angel Heart yang sensual bersama Mickey Rourke, menimbulkan gelombang protes besar di Amerika. Mengapa PH tak selektif memilih artis?
Sejak decade 80an, Amerika berkembang ke arah kehidupan individualis yang materialistis. Agama dan harmonisasi kehidupan yang tampil indah dalam media-media; perlahan ditinggalkan.
Bagaimana dengan Indonesia?

Keluarga Indonesia
Berbeda dengan Amerika yang tidak lagi mempercayai institusi agama dan keluarga, Indonesia masih beranggapan dua entitas ini sebagai sumber kekuatan. Sekalipun para pengkhutbah di televisi mendapatkan pujian dan hujatan, agama tetap suci dari tuduhan. Yang salah hanya para pelaku.
Begitupun keluarga. Betapapun para pelaku sinetron yang memerankan pasangan harmonis amburadul kehidupannya di luar sana, masing-masing kita masih tetap percaya dan berusaha membangun keluarga yang kokoh kuat.
Sesungguhnya, pada peran siapakah yang sangat penting dalam keluarga? Ayah ataukah Bunda? Kalaupun kita beranggapan peran Ayah dan Bunda sama pentingnya,sama kuatnya, di sisi mana mereka harus menyadari peran utamanya?
Sekali lagi, keluarga adalah benteng dari setiap anggotanya. Seorang ayah merasa tentram berada di tengah keluarga. Seorang bunda merasa nyaman di tengah keluarga. Anak-anak merasa senang, bahagia, bangga di tengah keluarga. Bila ada di antara kita yang gelisah di tengah keluarga sendiri,perlu dicatat. Apakah keluarganya yang salah, atau diri pribadi yang bermasalah.
Mari kita lihat penelitian yang ingin mengetahui sejauh mana pengaruhnya terhadap anak-anak akan keterlibatan orangtua dalam kehidupan mereka. Penelitian ini untuk mengungkap tiga dimensi keterlibatan orangtua : EI , II. MAI. EI adalah expressive involvement, keterlibatan dalam perkembangan spiritual, emosional, social, fisik. Juga kemampuan untuk membangun relasi, kemampuan untuk dapat bersenang-senang . II instrumental involvement adalah keterlibatan yang diperlukan dalam perkembangan untuk membangun tanggung jawab dan kemandirian, etik dan moral, perkembangan karir, disiplin, bertanggung jawab pada pekerjaan rumah dan sekolah. MAI atau mentoring advising involvement adalah membangun kompetensi, kemampuan untuk menjadi mentor bagi orang lain serta perkembangan intelektual.

Sinta Yudisia

Bagian 1 dari 3 tulisan

 

Suami, Kestabilan dan  Refleksi Piala Penghargaan

 

 

Sinta & Sofyan di Anugerah Kartini 2016_2

Aku (Sinta Yudisia) dan suamiku, Agus Sofyan. 21 April 2106, Grand City Mall Surabaya : Penghargaan dari Aliansi Perempuan Indonesia

21 April 2016 beberapa hari lalu, saya mendapatkan penghargaan dari API (Aliansi Perempuan Indonesia) Membangun Bangsa sebagai salah satu orang berprestasi,  yang mewakili kiprah para perempuan di dunia jurnalistik dan kepenulisan. Bertempat di Grand City Mall, acara yang berlangsung Kamis dari jam 15.00-17.00 berlangsung khidmat.

Alhamdulillah wasyukurillah.

Di balik itu semua, peran suami,  anak-anak dan doa orang tua kami tentu berada di belakang semua ini.

Orang yang pertama kali mendapatkan pemberitahuan terkait perihal-perihal penting dalam hidup seperti : undangan mengisi acara, terbitnya buku, peluang beasiswa, penghargaan dan kemenangan atas sesuatu tertuju pada satu orang. Suami. Ia orang yang sepertinya akan turut berbahagia, dan tentu saja menanggung konsekuensi.

Ya. Siapa lagi yang akan menderita dengan perginya istri mengisi acara kesana kemari, bila bukan suami? Siapa lagi yang akan turut menanggung beban ketika istri mendapatkan peluang beasiswa atau panggilan ke mancanegara, bila bukan suami? Siapa lagi yang akan bersabar menghadapi anak-anak, melihat rumah berantakan, cucian menumpuk ketika istri berkiprah di luar; bila bukan suami?

Kamis kemarin, tepatnya 21 April 2016, saya mendapatkan penghargaan atas kiprah di bidang jurnalistik atau kepenulisan dari Aliansi Perempuan Indonesia Membangun Bangsa. Betapa bahagia ketika suami dapat mendampingi, tentu seizin atasannya untuk keluar kantor siang hari. Berada di sisi suami, duduk berdampingan, ketika ia mengambil gambar saat tangan menggenggam piala  rasanya inilah kemenangan bersama.

Sebagai ibu dan istri, tanpa sumbangsih peran suami, rasanya mustahil perempuan mencapai taraf memuaskan dalam kiprahnya.

 

Suami adalah Qawwam (Pemimpin)

Suamiku tidak sehebat Superman, Batman, Ironman, Captain America atau Thor. Ia juga belum menyerupai para sahabat Nabi Saw dalam beramal ibadah. Ia masih harus banyak belajar untuk menjadi seperti Buya Hamka atau Muhammad Natsir atau Sir Muhammad Iqbal. Orasi? Ia tak hebat-hebat amat, namun cukup membuatku dan anak-anak termanggut-manggut ketika menjelaskan perihal Quran dan Hadits.

Satu yang special dari suamiku dan kurasa, salah satu karakter yang sebaiknya melekat pada diri laki-laki : sikapnya mengambil peran sebagai pemimpin atau qawwam dalam keluarga. Bila bicara perihal sunnah, mungkin sebagai istri, aku lebih unggul dari suami : sholat malam, sholat dhuha, hafalan quran. Kuamati suami, ia selalu berusaha tegak dalam hal-hal prinsip, tanpa bisa ditawar. Sholat wajib tepat waktu dan ke masjid, selelah apapun, bahkan ketika malam hanya sempat terlelap sesaat. Sekali waktu ada yang luput, namun tidak menjadi kebiasaan.

Apa yang menjadi unggul dari sholat ke masjid?

Suamiku menjadi teladan langsung dan utama, untukku dan  anak-anak.

Tak ada excuse, tak ada kata no, tak ada tawar menawar untuk hal yang prinsip : sholat wajib. Bagi suamiku, yang wajib akan selalu berada di hierarki tertinggi, teratas, utama dan harus dinomersatukan.

Sholat wajib.

Usahakan tepat waktu.

Apapun, tak perlu pakai alasan.

Sepertinya hal sepele, namun membuatku dan anak-anak belajar mengatur hierarki dalam keluarga. Sebagus-bagusnya amalan sunnah, tak ada yang mengalahkan amalan wajib. Sehebat-hebatnya sebuah perkara, tak akan lebih mulia dari peran yang utama.

 

Sinta & Sofyan Wisuda MAgister_2

Inayah, Sinta Yudisia, Agus Sofyan : Wisuda Magister Psikologi Profesi, 20 Februari 2016

Hierarki kepentingan dan peran

Menempatkan perkara prinsip dalam hierarki yang semestinya, membuatku sempat maju mundur dalam menjalani berbagai peran. Peran ibu dan istri sudah luarbiasa padat, belum ditambah peran public. Sebagai penulis, psikolog dan guru; Sabtu dan Minggu dalam sebulan seringkali terjadwal padat.

Ibarat sholat wajib, suami memberikan batasan-batasan prinsip. Apa yang harus dikerjakan ibu dan istri, tak boleh ditinggalkan. Kalaupun ada keringanan karena pergi keluar kota atau keluar negeri, bukan melenggang kangkung.

Atas kebesaran hati suami yang mendukung setiap kiprah, aku juga tak ingin seenak udel mempermaikan peran. Sebelum pergi keluar kota atau keluar negeri, kuusahakan urusan makanan dan cucian beres. Bila harus catering, maka kususun menu selama sepekan. Cucian? Kuajak anak-anak berbagi peran. Bila mereka terlalu lelah, kuajarkan bagaimana mencuci dan memilah pakaian, sebelum dilempar ke laundry. Beres-beres rumah? Beragam ukuran tas plastic untuk beragam sampah kusiapkan. Pengumuman-pengumuman cantik terpasang di beberapa areal dinding; untuk mengingatkan masin-masing akan tugasnya.

Peran ibu dan istri masih kupegang dari jarak yang jauh. Mengontrol belajar, mengontrol makanan, mengontrol sholat dan ibadah anak-anak.

Suami memberikan izin bagiku untuk sesekali berkiprah membaktikan ilmu namun ia tegaskan; jangan sampai peran ibu dan istri terabaikan. Prinsip sholat wajib sebagai hierarki utama terpelihara di rumah kami : yang wajib, penting, fundamental, tetap harus didahulukan. Perkara-perkara sampingan dapat ditunda.

 

Qawwam adalah stabilisator

Suami dan istri saling menyeimbangkan. Bila suami gusar, istri menenangkan. Bila istri marah, suami bersabar. Bila suami kecewa, istri menghibur. Bila istri mengomel tak karuan, suami rela mendengarkan.

Sekali lagi, suami dan keluargaku bukan gambaran hebat-hebat amat yang ideal seratus persen. Namun, adanya poros dalam keluarga kami, membuat perputaran tetap dalam sumbunya. Kalaupun melenting jauh, tak akan terlepas lepas tanpa tarikan gravitasi. Seorang suami, ayah, adalah pemimpin keluarga. Ia menyeimbangkan ketika mulai terjadi pergeseran bahkan penyelewengan.

Segala izin, bersumber pada suami. Ialah yang akan menentukan, dengan segala hormat dan ketinggian martabat, bahwa keputusan penting ada di tangannya.

“Aku ingin kuliah sastra,” kata si sulung.

“Aku mau aplikasi beasiswa ke luarnegeri,” kata adiknya.

“Aku mau studi engineer tentang mesin-mesin besar,” kata nomer tiga.

“Aku masih bingung,” kata si bungsu. “Jadi dokter, penulis atau sejarawan?”

Maka qawwam akan mengambil keputusan penting dengan segala pertimbangan.

Begitupun ketika aku melaporkan ,” Mas, aku akan mengisi keluar kota tanggal sekian.”

Ia menjawab,” gak capek? Gak keseringan keluar kota?”

Sebagai poros, suami akan menjaga agar semua anggota keluarga tetap dalam orbitnya.

Sekali lagi, perkataan suami tak akan memiliki makna sama sekali bila ia bukan merupakan qawwam bagi keluarga kami. Perkataannya, pemikirannya, pandangannya, keputusannya adalah arah penting bagi kebijakan keluarga.

 

Suami dan kesempatan istri berprestasi

Rasanya malu sekali, bila terlontar ucapan bahwa apa yang kita capai semata-mata hanya karena kepintaran dan kehebatan diri pribadi. Mungkin aku punya sejuta diksi indah untuk dituliskan dalam sebuah novel, namun tanpa izin suami untuk meninggalkan sejenak beberapa pos pekerjaan, aku tak akan punya waktu khusus sehari dua hari untuk berkonsentrasi pada tulisan. Biasanya, bila deadline tulisan tiba, aku akan meminta izin pada suami untuk benar-benar full di depan laptop.

Ketika tulisan itu mendapatkan penghargaan, bukankan ada peran suami di dalamnya?

Terlebih, ketika sedang konsentrasi pada ujian akhir profesi psikologi…nyaris tak terkatakan bagaimana tekanan akademis. Ujian praktek dan thesis kejar mengejar; klien tak semua kooperatif, laporan termasuk verbatim yang luarbiasa membuat mata berair karena panas dan tangisan. Ups….betapa tak mungkin semua itu dilalui tanpa ada toleransi seorang suami.

Qawwam kita.

Sang pemimpin.

Yang rela menanggung beban dan derita ketika istri maju ke depan, mengasah potensi.

Maka, bila kemudian aku terpilih mewakili sekian banyak perempuan luarbiasa di negeri ini untuk menerima penghargaan di Hari Kartini 2016; sungguh, ini bukan hanya bicara tentang kiprah perempuan. Ini adalah prestasi para suami yang tersenyum lapang dada ketika istrinya tergopoh keluar rumah , mengisi pelatihan. Ini adalah kerja keras suami untuk dapat juga sedikit-sedikit membantu kerja domestic istri : memasak, membereskan rumah, mencuci.

Penghargaan untuk perempuan berprestasi, adalah penghargaan untuk sebuah keluarga yang mencoba untuk bahu membahu mengatasi tantangan zaman.

Penghargaan untuk perempuan, adalah penghargaan pula untukmu para suami, yang rela menjadi lokomotif peradaban dengan selalu melaju di depan. Menjadi imam. Menjadi teladan. Menjadi pemimpin. Menjadi pendamping istri dengan segala suka duka.

 

 

Untuk suamiku tercinta, terimakasih atas segala dukunganmu

Sinta Yudisia

 

 

 

 

3 #Maroko – Masjid Al Kutubiah & Yusuf bin Tashfin

📝🖋📖Apa yang kita tulis dan rasakan (mungkin) akan dialami.🗒🖍🖊

 

DSC_0534

Dalam perjalanan menunggang delman dimulai dari pasar Jamaa el Fna, satu bangunan kokoh megah menjulang berwarna merah, indah berukir dengan menara menantang langit dan terbenamnya matahari, memikat pencari dahaga sholat yang menemukan tempat sempurna untuk bersujud: masjid al Kutubiah.

Pemandu kami Alvian bercerita ttg bangunan2 yang kami lalui hingga sampai pada satu artefak sunyi yang menawan, katanya: “itu makam ulama atau pahlawan.”
“Siapa?” tanyaku.
“Yusuf bin Tashfin.”

Jantung, paru-paru, aliran darah sesaat kehilangan denyut.
Masyaallah…laa haula wa laa quwwata illa billah 😭.

Aku menuliskan kisah Yusuf bin Tashfin, 2 kali. Di Kitab Cinta Patah Hati, dan Psikologi Pengantin yang dalam proses terbit. Dua-duanya di Indiva.

Mengapa Yusuf bin Tashfin?
Aku terpesona dg kisah pernikahan Al Nawziyya, yang hanya mau menikah dg seorang pemuda yg bersedia memberikan mahar: penaklukan Andalusia. Tak ada yang bersedia melamarnya kecuali seorang pemuda bernama Abdullah (atau Abubakar)yang kelak menyerahkan Zaynab pada Yusuf bin Tashfin.

Kisah cinta mereka demikian memukau, hingga aku seringkali berkata: suatu saat aku akan menulis Novel tentang Andalusia, insyaallah, dengan tokoh Yusuf bin Tashfin dan Zaynab Al Nawziyya ada di dalamnya.

Maha Mendengar Allah.
Tak kusangka. Bahkan tak kusadari sama sekali. Sepanjang berada di Marrakesh nama Yusuf bin Tashfin tak ada dalam benak. Hingga senja kemarin, kereta kuda kami melintasi makamnya.

Dan betapa Allah Swt memang lebih dekat dari urat leher…

Rabat, 5 April 2016