Peta Psikologis dalam Kasus Bunuh Diri   Chester Bennington (Linkin Park) & Kurt Cobain (Nirvana)

 

 

 

Aku bukan penyuka musik rock tapi nama band itu terlalu famous untuk diabaikan. Anak-anak muda menggandrunginya. Terutama setelah albun mereka Hybrid Theory dan Meteora terjual fantastis. Pagi hari tadi, seorang teman mengabarkan kematian Chester Bennington. Aku hanya bertanya dalam hati, apa gerangan yang menyebabkan para artis papan atas memilih  mengakhiri hidup ketika pilihan-pilihan kesuksesan masih terbentang di hadapan. Membaca berbagai media, salahs atu hal paling menyedihkan dalam hidup Bennington adalah ketika sahabatnya Chris Cornell melakukan upaya bunuh diri beberapa waktu sebelumnya. Surat Bennington untuk Cornell  mengungkapkan rasa dukanya.

Ada orang-orang yang begitu dekat dengan kematian, menderita setengah mati seperti Victor Frankl di kamp penyiksaan. Hari demi hari yang demikian berat di kamp, semakin membuatnya menyadari betapa pentingnya hidup, bukan keharusan mati. Frankl menemukan psikoterapi yang terkenal : Logoterapi. Ini logoterapi adalah, ketika manusia depresi berat dan ingin mati; ia diajak untuk kembali menghayati perannya di dunia. Ya, memang. Mudah diucapkan tetapi sangat berat. Orang-orang seperti Victor Frankl ini banyak sekali. Saudara-saudara kita di Palestina dan Suriah sudah menjalaninya. Mereka hidup dalam kesulitan yang luarbiasa, tapi tetap menjalaninya dengan tabah.

Sebaliknya, ada orang-orang yang hidupnya nyaman namun tak punya keinginan hidup. Tanpa dinafikkan, dibalik hari ini mereka punya sejarah kelam kehidupan : bullying, sexual abuse, perceraian orangtua seperti yang dialami Kurt Cobain dan Chester Bennington.

Otak dan Bunuh Diri

Bunuh diri sesungguhnya pilihan yang dilakukan antara sadar dan tak sadar. Sadar, karena perilaku manusia untuk sampai menggerakkan ekstrimitas atas dan bawah butuh pengendalian otak sadar. Kecuali bila refleks, itu baru gerakan tak sadar.

Bicara masalah otak, para pakar mengatakan bongkahan kelabu ini masih merupakan hantu hingga kini. Emosi, persepsi, motivasi, kesadaran yang membuat manusia tiba-tiba secara ajaib memutuskan sesuatu; benar-benar tak dapat diduga. Hanya dapat diprediksi. Meski demikian, ada beberapa hal yang harus kita cermati bersama.

Maka penyebab bunuh diri ada beragam : patah hati, dililit hutang, sakit berkepanjangan, ditolak kerja, tak diterima sekolah, tak punya gawai dan seterusnya.

Pertanyaannya : bagaimana bisa bunuh diri? Tidakkah orang sudah ngeri melihat senjata tajam, sianida, tali gantungan atau tempat ketinggian?

Dalam bukunya Born to Believe : Gen Iman dalam Otak; Andrew Newberg dan Mark Waldman menjelaskan sistem kerja otak yang menyerupai skema peta. Secara singkat Sigmund Freud menyebutnya alam sadar dan tidak sadar. Manusia lebih sering dipengaruhi alam tak sadar. Newberg dan Waldman mengatakan; peta yang dibentuk otak inilah yang nanti akan membuat manusia melakukan sesuatu. Saat-saat kritis, genting, atau butuh tanggapan cepat; sistem limbik bekerja. Sistem limbik ini terdiri dari amygdala, hippocampus dan thalamus.

Bingung?

Begini. Kita pernah berangkat dari rumah ke tempat kerja, bolak balik tiap hari. Pertama kali berangkat, pasti menghafal Jalan. Tiap pagi saya antar anak sekolah. Ruter dari rumah-sekolah awalnya harus diwaspadai dicermati : oleh lewat jalan ini, belok kiri ada jalan kembar, habis ini pom bensin, disitu ada sekolah SD, ada tiga kali lampu merah, disini putar balik dan seterusnya. Sekali, dua kali, tiga kali; kita betul-betul bekerja di alam kesadaran. Hari ke-20, ke-30, ke- 70 saya antar anak sekolah : lho…tahu-tahu kok sudah sampai sini? Kadang-kadang otomatis gitu aja menjalankan motor. Anda juga begitu kan kalau berangkat ke kantor, ke skolah, atau ngajar di kampus? Asal jangan sampai ke shopping mall sampai jadi alam bawah sadar hehehe.

Otak yang awalnya bekerja dalam kesadaran; dalam banyak situasi akhirnya bekerja tak sadar.

Para motivator bilang : ayo buat 200 cita-cita, tempelkan, nanti alam akan bekerja membentuk jalan ke arah impian anda!

Setiap hari kita bilang : aku benci diriku, benci hidupku, aku gagal, aku nggak punya siapa-siapa, aku stress, lebih baik mati aja kalau begini. Ini adalah peta otak yang memandu hidup kita! Maka suatu saat terjadi situasi impulsive : kematian seseorang, kehilangan sesuatu, gagal pencapaian maka alam bawah sadar langsung bekerja. Naudzubillahi mindzalik.

 

Positive Thinking and Positive Activation

Positive thinking iya.

Tapi aktvitasnya gak positive.

Merokok, terus mengatakan ke tubuh kita : aku pasti sehat, aku pasti kuat, aku pasti hidup 1000 tahun lagi. Itu juga tak dibenarkan. Otak bisa dimanipulasi tapi tak selamanya. Di alam bawah sadar bisa dimanipulasi, tapi kalaus udah sadar; realita akan berjalan.

Aku ingin sukses. Aku harus berhasil. Aku akan jadi milyarder muda. Ini pemikiran positif tetapi yang dilalui hari demi hari adalah menghabiskan waktu di depan internet dan gawai. Tak pernah baca buku-buku tokoh sukses dunia yang harus mengalami pahit getir kehidupan. Hayati kisah para Nabi yang selalu memulai segala sesuatau dengan perjuangan. Bacalah buku-buku tentang Erdogan dan Buya Hamka. Pelajari kehidupan Gandhi dan Steve Jobs.

Aktivitas positif salah satunya dengan beragama.

Agama ini memang obat yang luarbiasa bagi segala nestapa dan keruwetan dunia. Agama adalah pilar keyakinan yang tiada duanya. Agama telah membuat sekelompok orang mampu menaklukan golongan yang lain. Eisenhowe ketika memimpin Sekutu untuk menaklukan Hitler di medan perang Eropa; mengawali dengan berdoa dan sembahyan sesuai keyakinannya. Doanya dicetak dan disebarluaskan ke kalangan prajurit dan terbukti menaikkan semangat juang.

Ketika medan perang dunia II begitu genting dan beebrapa negarawan besar berkumpul; Stalin bertanya pada Churcill : “ seberapa besar kekuatan tentara Paus di Roma hingga ia dimasukkan dalam pertemuan? “

Pertanyaan Stalin sampai di telinga Paus dan beliau menjawab , “sampaikan kepada anakku Stalin bahwa tentaraku di langit terlalu banyak. Mereka yang akan menentukan peperangan ini.”

Masalah-masalah besar dunia pada akhirnya membuat orang tersadar bahwa agama, merupakan kekuatan yang menyebabkan manusia mampu melesat menjadi individu yang luarbiasa. Demikian pula sebaliknya; bila menjauhi agama, maka kekuatan hidup melemah.

Aktivitas positif disini dapat disimpulkan :

  1. Memliki keyakinan dan keimanan
  2. Memulai hari dengan doa dan ibadah
  3. Punya tujuan hidup
  4. Menetapkan target ideal dan real. Misal ingin kaya dengan penghasilan seperti Lionel Messi, namun juga belajar keras bagaimana mewujudkannya. Lihat cara Messi berlatih dan seterusnya. Bila memang tidak punya kemampuan sepakbola berarti beralih pada kemampuan yang dimiliki
  5. Mencoba membangun relasi nyata, bukan hanya dengan dunia maya
  6. Jujur bila timbul masalah dan segera mencari pertolongan dari pihak ahli. Bila terlilit hutang segera hubungi financial planner, bila tak paham agama segera cari Ustadz/ Ustadzah; bila stress depresi segera cari psikolog atau psikiater.

 

Kasus yang melegenda adalah Kurt Cobain.

Ia memiliki masa lalu seperti Chester Bennington, kedua orangtuanya bercerai ketika mereka masih kecil. Baik Bennington dan Cobain mengaku kehidupan mereka berantakan pasca perceraian orangtua. Kurt Cobain menikah dengan Courtney Love, mereka penggemar heroin dan mariyuana bahkan ketika Love hamil. Pihak kesehatan dan sosial sempat menjerat keduanya dengan pasal hukum ketika mengetahui sebagai orangtua malah menggunakan obat terlarang.

Celakanya, setiap kali Cobain teler dan hilang kesadaran, Love justru menyuntikkan sesuatu untuk membuatnya tersadar kemudian.

Cobain yang pernah memiliki orangtua gagal, menjadi demikian takut menghadapi pernikahan yang awalnya membahagiakan, apalagi ketika memiliki anak Frances. Teman, relasi, pihak manajemen telah menghadirkan terapis namun seringkali baik Cobain dan Love melarikan diri serta menolak.

Saya pribadi seorang psikolog.

Tapi bukan orang yang sakti dari permasalahan. Bila anak-anak bermasalah di sekolah; maka saya berdiskusi dengan guru-guru kelas. Saya berguru pada para Ustadz dan Ustadzah yang telah berhasil mendidik anak-anak mereka. Saya belajar dari para penghafal Quran dan pakar fiqih bila menemukan kebingungan dalam perkara-perkara pendidikan anak yang mungkin berbeda dari sudut pandang agama.

Kita harus belajar dan jujur akan kemampuan diri. Tetaplah optimis dan terus membuat peta positif dari otak kita agar tubuh dan semesta mendorong kita untuk secara otomatis melakukan hal-hal yang baik.

4 Cara Move On : ditinggal pacar, dikhianati teman,  gagal akademis & gagal usaha

 

 

Pernah patah hati?

Teman yang kita percaya tahu-tahu menusuk dari belakang, menipu diam-diam?

Atau berkali-kali ujian, mencoba beasiswa, memulai bisnis dan hasilnya bolak balik nihil; malah minus? Kita semua pernah mengalami hari-hari pahit sehingga ingin rasanya dunia berakhir.  Mirip lagu lama yang dipopulerkan Sonia sekitar tahun 90an :

Why does the sun goes on shining

Why does the sea rush to shore

Don’t they know, it’s the end of the world

Kayaknya, hidup gak punya arti lagi saat orang yang kita sayangi tiba-tiba berbalik menjauh, memutuskan, memusuhi.

Kayaknya nggak ingin ketemu teman-teman lagi ketika nilai akademis jeblok, atau gak lulus SBMPTN. Lihat, orang pada rame-rame unggah foto diterima di PTN atau PTS favorit. Rame-rame unggah satus habis ujian sidang skripsi, sementara kita boro-boro masuk bab IV bab V. Judul aja bolak balik ditolak, hiks!

 

Sukses 100%

Yuk, kita coba cari orang jenis ini.

Juara 1 sejak SD, SMP, SMA. Malah rangking 1 sejak TK dan playgroup. Ampyuuun, sejak kelas toddler sampai kelas infant ranking 1 paralel? Ajaiiib. Mahasiswa dapat beasiswa, lulus cepat kerja, dapat jodoh dan punya perusahaan gede sekelas Suzuki, Chrysler, Ford. Dianugerahi otak dengan kapasitas IQ 200 poin, keluarga yang harmonis serta tak pernah sakit seumur hidup.

Well, guys.

Kayaknya orang jenis ini malah jarang-jarang bisa hidup di planet bumi.

Tuhan menciptakan rasa sakit supaya orang bisa punya imunitas. Bayangkan kalau orang nggak pernah sakit dan sengsara seumur hidup, suatu saat kena jarum atau flu batuk pilek; sudah masuk IGD langsung koma.

Genius dan IQSteve Jobs pernah susah banget hidupnya, sampai-sampai harus jual tutup botol supaya bisa beli makan. Jean Paul Sartre sakit-sakitan di masa kecil, sebelum dunia mengakuinya sebagai salah satu filsuf dengan kata-kata yang menyihir. Albert Einstein, di masa kecil mengalami echolalia yang menyebabkannya gagap berbicara dan tampak seperti anak bodoh. Apalagi Einstein rangking buncit dari 70 siswa. Masih mending kamu yang nomer 5 dari belakang, kan? Mahathma Gandhi dicibir orang ketika menggaungkan satyagraha, swadesi, ahimsa. Ya ampun, hari gini, ketika orang rame-rame pada pakai produk luarnegeri yang bergengsi; ngapain juga pakai selembar kain yang dipintal sendiri?

Orang yang ingin selalu sukses 100% di masa hidupnya, akan mudah patah di tengah jalan.

Banyak kok contohnya.

Ada orang bernama William James Sidis. Anak pintar jenius, ganteng pulak! Orangtuanya berharap dia sukses terus, namun akhirnya di usia masih sangat muda, sekitar 40an tahun; ia mengalami depresi berat dan harus berakhir hidup mengenaskan.

Ketika kita sakit.

Dikhianati.

Ditipu.

Gagal.

Jatuh.

Imunitas tubuh menebal berlapis-lapis hingga satu semester kemudian, setahun ke depan, lima tahun berikutnya dan 10 tahun di masa yang akan datang; muncul individu baru yang jauh lebih cemerlang. Bukan aku yang cengeng, gampang diperdaya, mudah ditipu cinta picisan, mau main belakang dan potong kompas.

Aku adalah sosok baru yang tangguh, optimis, ceria yang suatu saat akan….roaarrrr!

Kunci : baca biografi orang hebat.

 

Love Yourself

Benci banget sama diriku ini. Orang mudah belajar matematika, aku boro-boro. Kalkulus, trigonometri, aljabar sampai nyontek pun tetap nggak ngerti! Orang mudah banget belajar fisika dan kimia; kita gak paham-paham hukum katrol meski tiap hari nimba di sumur pakai ember dibantu roda bertali. Tiap hari beli bensin tapi nggak ngerti apa sih benzena dan teori molekulnya.

Katanya gampang masuk kelas sosial, eh nyatanya tetap aja nggak paham apa itu teori ekonomi? Bagaimana konsep geografi? Sejarah suka sedikit sedikit tapi juga gak paham terlalu dalam. Gak pernah ngerti sejarah Indonesia apalagi ngerti apa bedanya perang Dunia I dan perang Dunia II. Tapi kalau World War Z tahu, hehehe. Atau War of the World. Atau Game of Throne. Atau Final Fantasy. Atau BTS. Seventeen. Goblin. Nah…

Kalau di kelas, paling mahir gambar-gambar buat manga. Kata teman-teman, kita bisa masuk jurusan desain sebab gambar kita bagus. Tapi kata guru seni, gambar kita sama sekali gak ada nilanya! Wong bahas perspektif aja bingung antara 2 dimensi dan 3 dimensi.

Seolah-olah, Tuhan menciptakan kita biasa-biasa aja.

Atau malah di bawah standar.

emma watson 1.jpg

Emma Watson : cantik, pintar, sukses karir. Lulus Brown University lagi!

Betapa tak adilnya dunia, ada orang cantik, kaya, pintar, kuliah kedokteran dengan mudahnya. Ada orang ganteng, pandai, berkecukupan, kuliah teknik dengan mudahnya.

Sampai kapanpun, kalau kita nggak mencintai diri kita apa adanya, maka selamanya tak ada nilai positif yang muncul bersinar dari dalam diri. Contoh di bawah ini, pasti akan buat kalian menghargai apa yang sudah ada dalam hidup.

Sebut namanya Sofia.

Yatim sejak kecil, ibunya meninggal pula ketika ia SD. Waktu kecil sering digebuki budenya karena sama sekali gak paham matematika. Ketika anak-anak lain bahagia punya sepasang orangtua, Sofia ini malah sering bertanya-tanya tentang jati dirinya. Hidup tanpa ayah dan ibu, ikut saudara, bisa kita bayangkan seperti apa perihnya?

Eh, lulus SMA, makin lengkap penderitaannya. 2x nyoba SBMPTN gagal. Akhirnya ia diterima di universitas serta fakultas yang sama sekali jauuuh dari bayangannya : fakultas tata boga. Sofia sama sekali nggak pernah berpikir mau apa ia di fakultas ini, nggak ada bayangan masuk kesana sejak kecil dan mau jadi apa ia disana.

Keperihan hidup membuat Sofia lari pada sastra: ia suka menulis buku dan tentu suka baca buku. Alhasil di usia muda, ketika orang masih tertatih belajar menulis fiksi non fiksi, Sofia sudah menghiasai koran-koran dengan tulisannya. Dan, dia mahir membuat kue-kue. Keahliannya spesial, sebab ia membuat kue khusus untuk orang diabetes, untuk anak autis dan sejenisnya. Di usia muda, Sofia sudah punya penghasilan lumayan sebagai penulis, chef, berjilbab dan alhamduillah telah dipersunting oleh seorang lelaki sholih.

Kalau sekarang, mungkin ada banyak gadis yang iri pada posisi Sofia. Gimana enggak? Cantik, telah menemukan belahan jiwa, punya penghasilan mandiri yang mumpuni pula! Sofia tidak akan jadi orang segigih itu kalau nggak punya masa lalu yang super duper pahit.

Kunci : love yourself. Find your talent.

 

Btw, Sofia itu salah  atu tokoh di novelku yang insyaallah segera terbit berjudul Polaris Fukuoka 🙂

 

Nikmati Rasa Sakit

Gagal? Huhu. Pingin nagis sampai kasur bisa diperas.

Tapi nanti apa kata orang : cengeng, Lu! Udah gede  masih nangis! Don’t cry , be tough!

Guys, nangis itu boleh dilakukan cewek or cowok. Nangis itu salah satu cara katarsis, pengosongan agar isi dada yang penuh berkurang bebannya. Setidaknya, terasa lebih ringan. Akui secara jujur bahwa hari ini, menit ini, detik ini, kita sedang sakit hatiiii banget. Merasa minder. Merasa malu. Merasa nggak berharga. Menerima itu lebih baik dari denial. Tak perlu pura-pura sok kuat, sok tangguh : aku nggak papa kok!

Menangislah.

Biarlah rasa kesal, sakit, marah itu menenggelamkanmu sesaat. Orang butuh pelepasan. Tetapi, sedih ini sama sekali nggak boleh terlalu lama. Bahkan jangan sampai lebih dari 2 pekan. Sedih berkepanjangan apalagi lewat dari 2 pekan, masuk 1 bulan, terus ke 6 bulan; wah-wah-wah. Bisa-bisa masuk fase depresi. Segera setelah 3 hari hapus air mata. Bangkit dari tempat tidur. Minum susu, olah raga, makan buah, minum jus. Beri asupan otak dengan vitamin dan makanan bergizi.

Come on guys! Satu arena sudah gagal. Kita harus siapkan fisik dan psikis untuk arena yang lain!

Kunci : sedih, tapi tak boleh lebih dari 2 pekan

 

Cari Teman Sejenis

Oho, pecundang gabung sama pecundang yaaa?

Orang gagal berteman sama orang nyungsep , gitu?

Ya maklum, setali tiga uang.

Eits, bukan gitu juga. Kita tetap butuh teman yang sukses, yang pintar. Tapi disaat jatuh, seringkali kebersamaan bersama teman-teman senasib akan menguatkan. Kalau patah hati, cari teman-teman yang juga pernah putus cinta sama pacarnya. Ah, mereka aja ternyata bisa ketawa ketiwi sesudah 2 bulan patah cinta dan hidup hepi sama keluarga dan teman-temannya. Gak perlu segera nyari pacar baru.

Eh, ternyata teman SMA yang gagal masuk SBMPTN bukan cuma gue doang?

Malah ada kakak kelas yang 2-3 kali gagal, masih terus nyoba dan sekarang ia malah nyambi jadi supir taksi online. Nah, berteman dengan orang-orang yang sejenis, serupa, sewarna; setidaknya akan membuat diri merasa tak minder-minder amat. Ternyata, bukan cuma aku aja ya yang mengalami kegagalan di dunia. Kelak, kalau kita sukses dan masih ada teman yang gagal; kita bisa berbagi kisah suskes.

Namun, memilih teman yang serupa atau sejenis ini bukan sekedar asal pilih ya. Jangan teman-teman yang melemahkan iman.

“Yah, emang di dunia ini harus ada kelompok uji coba yang gagal. Kali aja itu jenis spesies kita, Bro.”

“Kemarin aku gagal. Kali aja tahun depan harus pake joki, ya?”

“Hm, dengar-dengar sih orang seperti kita gagal karena nggak nyogok. Apa kita coba sekali lagi pakai jalan belakang?”

Tunggu dulu. Teman-teman semacam ini jangan diterima asumsi mereka. Jujur = gagal, curang = sukses adalah fallacy of comparison. Perbandingan yang keliru. Ada juga kok jujur = sukses, curang = gagal. Oalah, jatuh ketimpa tangga. Sudah joki, nyogok, curang nyontek; masih gagal pulak! Mending-mending jujur, apa adanya, lurus. Meski gagal tetap ada kebanggaan.

Sama seperti orang patah hati.

Jangan sekali-kali  mikir commit suicide apalagi membenturkan diri dalam masalah. Disakiti pacar lalu bersumpah akan memacari sebanyak mungkin orang untuk kemudian dihempaskan.

“Biar orang tahu seperti apa rasanya patah hati. Dia bisa dapat cewek baru, emang aku gak bisa dapat cowok baru yang lebih kaya dan lebih keren?”

Tidak ada satupun sikap yang dapat menjunjung tinggi martabat seseorang kecuali  :prestasi jujur. Diputuskan pacar, lawan rasa sakit dan hancurnya self esteem itu dengan membangun self esteem lewat prestasi. Bukan main sikat sana sini. Suatu saat, kita bisa dengan tegak kepala lewat di depannya : helooo, aku yang kamu campakkan malah bersyukur terlepas dari laki-laki buaya. Aku bisa fokus pada prestasi dan karir, serta menjalin relasi dengan laki-laki lebih baik dan bertanggung jawab.

Kunci : cari teman yang serupa, yang menguatkan iman

 

 

 

 

Novel ke-19, buku ke-61 : Polaris Fukuoka 福岡の北極星

Novel ini dalam proses terbit di salah satu lini Mizan insyaallah. Editing alhamdulillah telah selesai; tinggal menunggu lay outer dan ilustrator. Saya ingin cerita sedikit perihal novel ini yan boleh dibaca untuk anak-anak dan remaja bahkan dewasa. Simak ya 🙂

sofia pink polkadot
Ada 3 hal penting tentang Fukuoka no Hokkyokusei atau Polaris Fukuoka :
1. Novel semua kalangan
2. Mengapa Polaris atau 北極星 hokkyokusei?
3. Tokoh gadis bernama Sofia

 

Novel Semua Kalangan
Meski settingnya Indonesia dan Jepang, anak-anak tidak akan kesulitan. Novel ini menggunakan bahasa yang mudah dicerna, sekalipun setting berupa kereta api, kastil, apartemen, jisei (puisi kematian) serta beberapa filosofi Jepang seperti bitoku mungkin belum dikenal.
Konflik keluarga dan budaya lebih dimunculkan, antara tokoh Sofia dan pamannya. Antara Sofia dengan asisten dosennya, nona Kobayashi. Romansa konyol antara Sofia dan Tatsuo muncul sedikit, layaknya insan remaja yang sedang mencari jatidiri. Tapi bumbu cinta berupa pacaran tak muncul dengan sering. Persahabatan antara Sofia, Umeko, Rei serta Nozomi yang misterius lebih mendominasi. Di sela-sela itulah kehadiran lawan jenis memberikan ‘cling-cling’ tertentu. Cinta tidak harus menjadi dominasi cerita, sebab dunia remaja lebih diwarnai dengan petualangan heroik, senang-senang bersama sahabat dan hang out alias jalan-jalan mengunjungi wilayah baru.

Setting unik disini adalah mengambil kota Fukuoka dan Kitakyushu yang masih ada dalam wilayah perfektur Fukuoka, pulau Kyushu

 
Polaris atau 北極星 hokkyokusei

Amati langit, lindungi bumi.
Motto itu saya dapatkan ketika belajar tentang situs-situs astronomi , utamanya bintang Utara Polaris. Manusia sering mengamati langit yang begitu indah, cantik, misterius dan terasa transendental. Seringkali, dalam kegalauan manusia memandang bulan purnama, atau mencari bintang terang di langit.

big dipper polaris.jpg

Mengamati Polaris dalam big dipper

 

Terkadang, kita merasa kehidupan langit mengawasi langkah-langkah ini. Menatap kesepian dan kepedihan kita sembari berbisik bahwa harapan itu masih tersemat.
Polaris adalah bintang terang di kutub utara, menjadi penunjuk arah para pengelana. Apa hubungannya dengan kisah ini? Simak aja nanti di novelnya ya hehehe

Sofia
Nama ini manis banget yaaa?
Baik diucapkan, ditulis, atau didengar. Sofia sendiri merupakan istri Rasulullah Saw yang cantik jelita. Hanya bunda Aisyah ra yang dapat menandingin kecantikannya.
Kalau tokoh Sofia dalam Fukuoka no Hokkyokusei ini adalah tokoh sentral, gadis cerewet, pemberontak, sembrono tapi sebetulnya ia suka belajar. Kebiasaan ala Indonesia yang malas, tak suka menyiapkan plan A plan B, bekerja asal-asalan; menjadi karakter Sofia yang berbenturan dengan pamannya di Fukuoka.
Paman, seorang laki-laki mandiri yang menceplok telurpun harus sangat rapi dengan wajan tertentu; berhadapan dengan Sofia yang suka menggoreng telur dalam wajan asal-asalan dan campur baur dengan masakan lain!

 

 Sofia

Meski Paman dan Sofia sering berantem sampai Sofia pun sempat nggak tahan hidup seatap dengan paman; akhirnya mereka saling memahami. Sesama perantau harus menjalin persaudaraan dan saling menghargai yang merupakan perkara penting. Plus kemandirian dan kerja keras yang selama ini diremehkan Sofia.

Adakah hal unik lain dalam novel ini?
Ada. Tentang jisei. Butuh waktu lama bagi saya untuk belajar pusisi kematian sebab susunan puisi ini tak lazim dikenal di Indonesia. Jisei menghubungkan Sofia dan Isao, membuat malam-malam Sofia menjadi sangat horor dengan nuansa roh jahat. Ups 😦

 

Yang penasaran bisa simak sebagian kisahnya di wattpad. Okeee?

link tulisan ‘Sofia’

http://thesecondlifefashionwhore.blogspot.co.id/
http://freedesignresources.net/sofia-free-font/

https://www.etsy.com/listing/85193918/wall-letters-name-art-prints-sofia-fresh , http://www.allthingspolkadot.com/wooden-polka-dot-wall-letters/

Jakarta dan Surabaya era 2050 : Ketika Gletser Antartika Barat Mengancam Kota-kota Pesisir

“Anak cucu kalian, mungkin tidak akan lagi bisa tinggal di rumah ini,” saya jelaskan pada anak-anak .
“Kenapa, Mi?” anak-anak heran. “Bukannya rumah ini investasi kita untuk masa depan?”
“Ya. Tapi kita tinggal di kota pesisir. Kalau air laut naik lagi, kota-kota pesisir terendam air.”

 
Lingkungan hidup, seringkali menjadi bahasan kesekian dari keluarga kami.
Politik, sosial, kriminalitas, media sosial; adalah hal-hal yang ramai dibicarakan orang-orang diluar sana. Tetapi masalah emisi bahan bakar fosil dan mencairnya es di semenanjung Antartika; membuat ummat manusia harus segera waspada. Tetap ingin tinggal di bumi atau migrasi ke planet lain, seperti Decepticon dan anak buahnya di film Transformer?

 

Benua Antartika, Salah Satu Penanda Kestabilan
Tak terbayangkan wilayah Antartika ini seperti apa, sebab seumur hidup sebagai orang Indonesia; saya dan anak-anak serta keluarga besar tinggal di wilayah hangat khatulistiwa. Hanya ada musim hujan dan musim kemarau; dengan musim buah-buahan yang ranum bergantian sepanjang tahun. Sayur mayur dan segala lauk pauk, pendek kata 4 sehat 5 sempurna tak pernah kesulitan. Sebab Tuhan menganugerahi kita sumber daya alam yang kayaraya. Ibaratnya, diblokade pun, Indonesia akan tetap selamat. Tak seperti negara-negara lain yang minim sumberdaya.

 
majalah-national-geographic-indonesia-juli-2017Indonesia insyaAllah tidak akan mengalami dingin esktrim seperti Ontario, Kanada yang pernah mengalami cuaca hingga -41℃ atau di Yakutsk, Siberia Rusia yang mencapai suhu ekstrim -51℃. Namun apakah Indonesia benar-benar aman dari kepungan permasalahan dunia hanya karena keberuntungan letaknya?

 
National Geographic Indonesia edisi Juli 2017, melaporkan kondisi Antartika saat ini yang bukan hanya mengancam kutub tapi juga berimbas pada seluruh benua di dunia termasuk Indonesia.

Pine Island, Larsen C

Pantauan dari tahun 2015-2016 tercatat , Paparan Es Apung Pine yang menopang gletser besar; runtuh. Es yang terlepas seluas 580 km2 mengalir ke laut Amundsen. Air laut yang hangat melemahkan kolong-kolong paparan es. Runtuhnya Paparan Es Apung Pine ini bukan yang terakhir, sebab garis retakan yang lain mulai muncul.
Paparan Es Apung Pine adalah bagian dari gletser yang bersumber dari Antartika Barat. Gletser Pine ini bersumber dari kubah es besar bernama Lapisan Es Antartika Barat yang memiliki tebal 3 km dan luas 3x pulau Sumatera.

 

 

Bila dibayangkan, Antartika Barat serupa gunung Semeru yang tinggi dengan kaki-kaki gunung yang menyerupai jari jemari manusia. Lapisan Es Antartika Barat memiliki banyak ‘jari-jari’ berupa gletser. Gletser ini sangat banyak jumlahnya : gletser Pulau Pine, gletser Thwaites, gletser Smith, gletser Frost, gletser Frost, gletser Bond dll. Masing-masing gletser bisa memiliki luas sekitar 3x pulau Sumatera. Bila Antartika timur meleleh, permukaan laut naik 53,3 meter. Bila ditambah Antartika Barat leleh maka kenaikan bertambah 4,3 meter dan total 57,6 meter permukaan air laut meninggi.

 

Bila es ini terlepas, terpecah, hanyut ke laut maka permukaan laut akan naik dan menenggelamkan pantai di seluruh dunia. Pegunungan es, sesungguhnya hanya mencuat sedikit di permukaan, lebih besar massa dan volumenye di bawah permukaan. Apa yang di bawah permukaan, lebih rentan terhadap air laut yang memanas.

 

Paparan Es Apung Pine memang yang paling dramatis sebab menipis 45 meter dari 1994-2015 (sekitar 20 tahun saja). Bentuknya yang menyerupai semenanjung sehingga ketika lepas, seakan hukuf ‘k’ dari pulau Maluku terpotong sumbu vertikalnya separuh. Namun, yang sangat mengkhawatirkan adalah Gletser Thwaites, yang bila mencair dapat mengganggu kestabilan sebagian besar Lapisan Es Antartika.

 

Jika Semua Meleleh
Laut akan naik setinggi 57,6 meter dan mungkin kita akan mengalami banjir seperti kisah Nabi Nuh a.s. Walau butuh waktu berabad-abad untuk mencairkan gletser Antartika, diperkirakan permukaan air laut naik 1 meter sebelum 2100. Artinya apa? Itu adalah kurun masa anak dan cucu kita hidup!
Gletser-gletser penting yang menjorok ke laut telah runtuh, Pine adalah salah satu yang dramatis. Gletser Totten yang juga seluas 3x Sumatera mengalami kerusakan yang mirip, sebab gletser ini sudah mulai kehilangan es.

Banjir pesisir : London, New York, ilustrasi Liberty tenggelam

Gletser Thwaites dalam kondisi mengkhawatirkan dan mencemaskan para ilmuwan.
Mengapa?
Sebab gletser Pulau Pine dan Thwaites bersebelahan. Ibarat jari, Pulau Pine dan Thwaites seperti kelingking dan jempol. Bila kelingking dan jempol hilang; daratan Antartika Barat yang mirip tiga jari di tengah-tengah bisa lekas terlepas.

Ayo, Peduli
Industri tumbuh pesat di negara maju. Sementara hutan-hutan yang menjadi paru-paru dunia ada di negara berkembang seperti Indonesia. Mencari siapa yang salah hanya akan melingkar-lingkar seperti pertanyaan apakah telur atau ayam yang ada lebih dulu.

Salah negara industri atau negara berkembang?

Pabrik dan pengguna motor

Negara industri menyiapkan kendaraan bermotor, kendaraan bermotor dilempar ke Indonesia, rakyat Indonesia bergantung pada kendaraan dan bahan bakar fosil. Begitu seterusnya. Apakah Jepang, Korea, Cina yang memproduksi mesin-mesin itu yang salah? Tidak juga, sebab industri muncul ketika ada kebutuhan. Mustahil kemana-mana tanpa kendaraan bermotor sekarang, termasuk kereta api dan pesawat. Apakah Indonesia yang salah, karena terlalu banyak penduduknya? Belum tentu, sebab penduduk adalah asset bangsa dan negara juga. Kebutuhan rakyat harus dipenuhi sebab rakyat yang sehat dan kuat dalam segala sektor (kesehatan, pendidikan, ilmu, ekonomi, dsb) berarti menjayakan negara.

 
Bila demikian, kunci dari semua adalah membatasi konsumerisme hingga batas cukup, tidak berlebih apalagi berfoya-foya. Sebagaimana Nabi Muhammad Saw mengingatkan agar kaum muslimin selalu hidup di tengah-tengah. Tidak kekurangan, tidak berlebihan.
Dan ingatlah nasehat Mahathma Gandhi.
“Selama masih ada orang tamak, berapapun kekayaan alam tak akan pernah cukup.”

Lakukan apa yang kita bisa! 10 tanaman penjernih ala NASA dan hemat energi per individu

Sebagai rakyat, kita membatasi penggunaan kendaraan bermotor, plastik,sampah dan lebih memperbanyak penghijauan di sekeliling areal rumah. Membatasi AC, listrik serta makanan olahan. Pemerintah pun lebih memperhatikan sarana transportasi agar masyrakat tidak harus punya kendaraan pribadi. Bila tersedia bis dan kereta yang nyaman, rakyat tidak harus beli mobil dan sepeda motor pribadi, bukan?

Bila kita tidak saling peduli satu sama lain, maka bumi akan berubah menjadi planet yang lebih buruk dari asal Decepticon. Tidak perlu menunggu 2100, 2050 atau lebih awal lagi kota-kota besar di pesisir pantai termasuk Jakarta dan Surabaya akan menjadi wilayah tak layak huni. tentu, kita tak ingin mewariskan dunia yang kacau balau kepada anak cucu tercinta.

 

 

 

 

 

“Memaksa” Anak untuk Bersama

“Nanti bungkusin aja, Mi. Aku nggak ikut.”

Anakku menolak untuk bergabung akhir pekan, ketika kami ajak makan diluar. Alasannya masuk akal.

“Aku capek! Mau tidur aja. Lagian aku sudah sering keliling-keliling ke arah sana. ”

Wajar sih. Waktu kecil, anak akan menguntit kemana saja ayah ibunya pergi. Tapi setelah remaja, mereka punya kelompok sendiri. Punya agenda sendiri. Meski, mereka juga mengaku senang dan bahagia bila bisa berkumpul bersama.

Tapi, aku merasa waktu berkumpul harus tetap diselenggarakan. Entah mereka pada awalnya tidak setuju, menggerutu, mengomel, atau menolak dengan 1001 alasan. Berkumpul di rumah oke-oke saja; namun berjalan bersama-sama menikmati suasana di luar rumah; akan memiliki rasa berbeda. Lagipula, banyak yang harus dipelajari bersama anak-anak sepanjang menikmati kepadatan lalulintas, mengamati ragam tingkah polah manusia termasuk mengambil beragam hikmah yang harus disaksikan dengan mata kepala sendiri.

Maka si suatu akhir pekan, kami memutuskan makan di luar, walau ada yang wajahnya menggerutu karena tak ingin ikut.

 

Ayo, jauhi gadgetmu!

Kami makan bersama di sate Pak Seger pagi itu. Berhubung butuh waktu untuk membakar sate, yang tersaji lebih dahulu adalah minuman. Dan, tentu, fitur-fitur telepon pintar. Meski telah diingatkan kesepakatan untuk tidak membuka smartphone saat bersama seperti ini, tetap saja ada yang membandel. Aku memberi isyarat pada suami untuk tidak membuka HP nya, sebagaimana akupun menyimpan dan mengabaikan sekian banyak pesan untuk berkonsentrasi pada keluargaku.

2 anak cowokku tenggelam dalam ponselnya.

Anak-anak cewekku lebih fleksibel, mengikuti obrolan kami. Melihat 2 anak cowokku tenggelam di gadgetnya, aku mulai ambil tindakan. Tidak mungkin bilang : ayo, Ummi tadi bilang apa! Masukkan teleponmu ke saku! Dengarkan kalau orangtua bicara. Percuma saja kita pergi jauh-jauh dari rumah kalau semua tenggelam di chat line atau whatsapp!

Kucolek si Mas besar, Ayyasy namanya.

“Eh, kamu ingat nggak pernah ngeshare ke Ummi line today?”

maxresdefault

Pranks yang kadang lucu, kadang kebangetan

Si abang ini suka banget nge share life hacks, video prank, video motivasi sampai berita-berita aktual yang fenomenal atauapun hoax sekalipun.

Ayyas beralih dari ponsel, ganti menatapku.

“Kamu ngeshare ke Ummi berita line today, trus di bawahnya suka ada berita-berita menarik yang lain. Nah ada berita menarik tentang 5 dinosaurus yang masih hidup sampai sekarang. Mokele Mbembe, Mahamba, Megalodon…sebagian ditemukan di Kongo.”

Si Mas mulai tertarik dengan pembicaraanku. Dia masih berkutat dengan HPnya tapi mulai mencari apa yang kubicarakan.

“Kayak apa sih Mokele Mbembe itu sebenarnya?” aku ingin tahu.

“Nanti, ya, sebentar,” si Mas masih berkutat dengan info-infonya di HP.

Mas yang lebih kecil, mas kedua, Ahmad namanya. Juga tenggelam di HP.

“Kamu lihat apa?” tanyaku.

“Sebentar Mi, aku lagi lihat robot-robot.”

Aku tahu, Ahmad begitu suka dengan dunia elektronik, otomotif, robot dan sejenisnya. Ia suka browsing tentang dunia tersebut. Namun bagaimanapun, ini acara keluarga. Ia harus terlibat dalam pembicaraan kami. Aku beralih dari pembicaraan mengenai Mokele Mbembe, berdiskusi dengan suamiku dan anak-anak perempuanku tentang kucing. Ahmad dan anak-anakku yang lain suka kucing. Kebetulan beberapa hari lalu kami habis melihat youtube tentang hewan cantik yang hampir punah.

“Eh, kita kan habis lihat clouded leopard, ya Mas? Asyiknya kalau kita bisa melihara hewan kayak gitu yaaa!”

Segera saja pembicaraan di tengah keluarga kami beralih pada kucing. Kucing merah Kalimantan, kucing bakau, blacan, clouded leopard, kucing kampung, dan sembarang jenis kucing. Anak-anak masih melihat satu dua kali pada ponsel mereka tapi mencari tahu tentang apa yang kami bicarakan.

Blacan, clouded leopard, kucing bakau

Aku bersyukur, nahkoda pembicaraan di meja makan hari itu akhirnya ada di tanganku!

Semua terlibat aktif dalam pembicaraan, bercanda, mengemukaan pendapat.

Alhamdulillah, kami dapat menikmati kebersamaan.

Padahal pagi tadi sempat kupikir : biarlah sebagian anak-anak di rumah. Wong mereka memang nggak mau pergi. Nyatanya, mereka kadang-kadang harus dipaksa supaya tetap bersama keluarga. Televisi, gadget, internet, medsos; menjadi hobi anak-anak. Maka sebagai orangtua, kewajiban kita mengajarkan  batasan dan peluang.

 

 

Muslimah : Celana Panjang, Rok atau Jubah?

Putriku membagi link sebuah diskusi hangat di media sosial tentang muslimah yang memakai celana panjang. Muslimah tersebut dikritik oleh senior dan teman-temannya karena  menggunakan pakaian yang dianggap tidak Islami. Aku sendiri bukan orang yang sangat faqih dalam hal agama, tapi berupaya menimba ilmu sedikit-sedikit dan menyempurnakannya.

Sebetulnya, bagaimana sih muslimah seharusnya berpakaian?

Apakah ia harus berupa jubah panjang, longgar, bewarna hitam, dengan jilbab menjuntai hingga melewati panggul? Ataukah boleh menggunakan atas bawah seperti rok SMA, seragam instansi resmi PNS, atau menggunakan celana panjang?

Aku tidak akan membahas detail tentang kajian Quran dan Hadits sebab memang kafaah ilmu pengetahuanku bukan disitu. Aku lebih ingin mengupasnya dari sudut pandang psikologi dan parenting, juga tentang human-development yang menyisir usia wajib berhijab : usia aqil baligh.

 

  1. Konsep Belajar

Busana muslimah, berhijab, berjilbab ; adalah sebuah langkah dalam sekian banyak rangkaian dalam agama Islam. Sebagai muslim dan muslimah kita wajib belajar tentang agama. Mulai belajar bagaimana membaca Quran dengan tartil, membaca tafsir, membaca hadits sampai memahami fiqih, shirah dan segala hal terkait agama ini.

Belajar mencakup pemahaman tentang proses, tujuan, membentuk pengetahuan, berpikir strategis hingga metakognisi tentang materi ajar yang dimaksud.

Belajar agama berarti meliputi proses, tujuan belajar agama, membentuk pengetahuan, berpikir strategis hingga metakognisi.

Aku ingat, bagaimana pertama kali dulu semasa SMA masuk kelas rohis dan mendapat pelajaran tentang busana muslimah. Terus terang aku tahu wajibnya busana muslimah dari teman-teman lain, belum membaca langsung ayat tersebut dari Quran. Maka aku mengalami tahapan belajar.

Celana kulot.jpg

Proses, tidak serta merta langung berjilbab saat itu. Sebab aku masih mengumpulkan informasi, masih tengok kanan kiri, masih lihat apakah sohib karibku pakai jilbab  atau enggak. Setelah sampai di satu titik : ya. Kayaknya aku harus pakai jilbab. Karena apa?

Karena pengalaman pribadi.

Seseorang terkadang sampai di titik agama, karena berbagai jalan yang berbeda. 1001 cerita orang pakai jilbab tak akan sama. Akupun demikian. Waktu itu, ayahku meninggal, meninggalkan kepedihan yang dalam. Maka aku hanya berpikir simple : masa’ aku nggak akan membahagiakan ayaku dengan menjadi gadis shalihah? Maka aku menggunakan jilbab agar ayahku tenang di alam baka. Barulah kemudian sedikit demi sedikit aku memahami wajibnya busana muslimah.

Langsung pakai rok?

No way.

Lha, enggak punya.

Aku anak pecinta alam, pegiat kempo dan suka nonton bioskop. Kebanyakan punya celana panjang. Kalau nunggu punya rok baru pakai jilbab, bisa jadi berthaun-tahun kemudian baru pakai jilbab! Saat itu kupikir, yang penting ada pakaian panjang, aku anggap itu jilbab.

Ada celana jins panjang, pakai aja.

Ada baju lengan panjang, entah itu sweater atau kemeja, pakai aja.

Ada sembarang kain yang bisa dipakai kerudung, pakai aja. Entah bahannya katun, linen, atau bahan plitat plitut yang butuh puluhan peniti hahahah. Pernah aku pakai jilbab yang entah apa nama bahannya. Pas di tempat les, bolak balik melorot ke belakang hingga rambutku menyembul semua!

Yang penting, pakai baju panjang, plus kerudung. Titik.

Itulah proses.

Barulah kemudian , ketika kuliah dan bisa menabung sedikit demi sedikit, aku beli jilbab yang pantas. Rok-rok dan blus, diberi tanteku dan mamaku yang modelnya…..alamak, encik-encik buuuuangetttt. Tuwek! Tapi yah, terima aja. Hitung-hitung nambah koleksi busana muslimah.

Maka aku faham, ketika sekarang melihat ada anak remaja putrid menggunakan beragam jilbab.

Jipon, jilbab poni yang masih memperlihatkan poni.

Jilbab lempar, yang ujung-ujungnya dilempar ke belakang.

Jilbab satu peniti, yang disemat di bewah leher, dan masih memperlihatkan kulit leher dan dada.

Dan jenis jilbab yang lain.

Apakah jilbab yang belum syari itu berdosa?

Wallahu’alam. Hanya Allah Swt yang tahu.

Hanya Allah yang tahu apakah itu pahala ataukah dosa, ketika aku masih pakai celana panjang ketat dengan kemeja dan jilbab ala kadarnya ketika tak ada seorangpun saat itu yang bisa mendampingku pakai jilbab.

Hanya Allah yang tahu apakah itu pahala dan dosa, ketika aku masih bongkar pasang jilbab, karena tersudut teman-temanku semua belum pakai jilbab.

Hanya Allah yang tahu apakah pahala dan dosa, ketika aku jatuh bangun bongkar pasang jilbab, belajar terus tentang Quran dan Hadits lalu mencari tahu apa dosanya orang tidak berkerudung?

Tetapi sekarang aku menyadari, tak ada manusia yang bisa baik sekali jadi. Langsung muslimah taat, keren, shalihah, ghadul basar, hafal quran, membasahi lisan dengan dzikrullah, menjadi pemateri dan motivator agama.

Akulah itu, yang pertama kali pakai jilbab cekikikan bersama teman-teman, hadir ke majlis taklim karena pemateri rohisnya mahasiswa yang keren.

Akulah itu , yang masih suka koleksi music dan kelayapan di bioksop, dengan jilbab tersemat di kepala.

Akulah itu, yang masih suka gossip sana gossip sini, meski sudah mulai ikut pengajian.

Tetapi berminggu, berbulan, bertahun kemudian; apa yang berubah.

Jilbab awut-awutan gak karuan, yang penting asal pakai entah syari entah tidak, mulai berubah lebih santun dan indah. Lebih menutup aurat. Dengan rok, blus panjang dan jilbab yang juga menutup dada. Kalau pakai lengan ¾, memakai deker. Awal kuliah, ketika pakai kulot atau celana, kuusahakan mengenakan kaos yang panjang bajunya hingga hampir lutut.

Bersamaan dengan busana muslimah itu, ahklakku membaik. Ilmu agamaku meningkat. Dan kebiasaan buruk seperti gak peduli pada orang, bicara sembarangan, bicara menyakitkan, boros, suka menghabiskan waktu untuk music dan nonton; berganti dengan aktivitas lain yang lebih produktif. Bukan berari aku sekarang jadi orang suci yang gak pernah bicara pedas atau gak pernah marah, sama sekali gak dengar music dan nonton film, ya!

Dulu kalau seminggu gak nonton film 2 atau 3 kali, rasanya suntuk. Sekarang santai aja. Sebab hiburan juga beragam, terutama baca buku. Baca biografi sangat mengasyikkan. Nonton film kalau dulu apa aja diembat, sekarang lihat reviewnya dulu. Rotten tomatoes bagus? Oke. Ada waktu? Oke. Udah download? Oke. Karena nonton di bioskop sudah gak sempat. Males hehehe.

Film-film seperti Spotlight dan Split yang sangat dekat dengan dunia menulis dan psikologi, menjadi film wajib tonton. Dan kutonton itu di rumah. Tak gak harus di bioskop, aku nunggu sampai bisa download gratis .

Proses itu sungguh panjang. Kalau dihitung-hitung hingga sekarang, kurang lebih 25 tahun lebih sudah aku berjilbab. Dan rasanya masih saja ada yang kurang dari proses beragama-ku.

Proses, tujuan belajar agama, membentuk pengetahuan, berpikir strategis hingga metakognisi. Proses, tujuan dan membentuk pengetahuan tentang agama , khususnya jilbab sudah kulalui.

Muslimah Fashion 2.jpgBerpikir strategis tentang jilbab?

Nanti gimana ya aku dapat jodoh.

Nanti gimana ya aku kerja kalau ditolak karena memakai kerudung.

Saat SMA aku bertanya pada teman-teman, boleh gak kalau pakai kerudung tapi kupingnya kelihatan? Mengingat foto saat itu harus memperlihatkan telinga. Untungnya, peraturan segera membolehkan ijazah pakai jilbab.

Aku sempat takut pakai jilbab karena takut mama marah.

Bagaimana cara mengatasi ‘berpikir strategis’? Aku minta saran teman. Sahabatku bilang,

“Sin, kalau aku, yang buat mamaku marah adalah sejak aku pakai jilbab aku tuh lamaaa banget kalau disuruh keluar. Maka kita harus pakai jilbab yang simple. Jangan ribet.”

Saat itu belum banyak jilbab kaos seperti sekarang. Maka kalau aku punya uang, aku segera beli jilbab bahan kaos bentuk segitiga, yang ada tali dua , bisa dililitkan cepat di belakang leher. Sisa kain yang menjuntai di kanan kiri tinggal diikat dan diberi peniti satu. Cepat. Itulah berpikir strategis, gimana biar aku bisa pakai jilbab dan tetap aman.

Metakognisi?

Jodoh, uang , karier, pekerjaan.

Itu juga yang dikhawatirkan sebagian besar muslimah. Itu juga yang menimpaku. Maka aku terus menerus bertanya pada diri sendiri : untuk apa pakai jilbab. Kalau karena Allah, masa’ Allah tidak akan memberikan jodoh untukku? Kalau karena Allah, masa’ Allah tak akan memberi rizki dan uang padaku? Selalu ada pertempuran dalam diri dan ini sungguh berat. Alhamdulillah, metakognisi dari belajar tentang jilbab berhasil kuraih. Aku harus terus belajar hingga akhir hayat, terkait sisi hidup yang lain.

 

  1. Bertahap

Pakaian muslimah seharusnya seperti yang telah diatur dalam agama.

Menutupi dada, tidak membentuk tubuh, tidak menyerupai laki-laki dalam segala aspeknya.

Konteks menyerupai laki-laki ini bisa banyak makna dan bersinggungan dengan banyak kultur.

Jubah, dikenal di kalangan Arab dikenakan laki-laki dan perempuan. Laki-laki pun berjubah. Bahkan, laki-laki menggunakan kerudung di atas kepala untuk melindungi dari hawa panas. Maka di daerah Arab, perempuan diminta lebih panjang menggunakan kerudung di kepala, agar tidak menyerupai laki-laki.

Bagaimana dengan belahan bumi lain?

Ada kultur skandinavia yang memperlihatkan lelaki biasa pakai rok. Ada kultur Jawa dimana laki-laki juga biasa pakai kain panjang, jarik, seperti perempuan. Motif kain laki-laki dan perempuan pun bisa sama : parang rusak, wahyu tumurun, nogo kembar, sidho mukti. Dua-duanya dapat dipakai laki-laki dan perempuan. Hanya saja, lelaki menggunakan beskap dan blangkon, perempuan kebaya. Bila perempuan muslimah ingin menggunakan batik dan kebaya, tinggal menutupkan kerudung ke kepala dan menyempurnakan dengan kaos kaki. Kebaya pun dibuat yang tidak terlalu membentuk tubuh.

Lalu bagaimana dengan celana panjang?

Ini dia yang hingga kini masih menimbulkan perdebatan.

Celana jins, awalnya dipakai para penambang Amerika untuk melindungi kulit dari cacing tambang yang ganas. Para penambang umumnya laki-laki, meski ada yang perempuan juga. Celana ini umumnya berbentuk celana monyet, dengan kantung di dada dan celana yang diberi tambahan hingga perut dan dada serta diberi semacam bretel di bahu kanan kiri.

Kalau dilihat dari sejarah, yang mengenakan celana panjang memang kebanyakan laki-laki.

Pangeran Antasari, Pattimura, Pangeran Diponegoro; foto-foto mereka menggunakan celana panjang. Tetapi wilayah Aceh seperti Cut Meutia dan Cut Nya Dien, menggunakan celana panjang juga dengan perbedaan di bagian busana atas.

Sekali lagi, aku bukan ahli terkait fiqih. Jadi, hanya mengupas dari sudut pandang ilmu yang aku tahu.

Maka, celana panjang, sepanjang ia tidak memperlihatkan aurat seperti paha dan panggul yang ketat; maka boleh-boleh saja. Asalkan menggunakan pakaian yang  lebar seperti tunik hingga lutut atau minimal paha. Kulot juga panjang dan lebar, lebih nyaman dipakai.

Kalau diminta memilih apakah celana panjang, rok dan jubah yang lebih baik?

Aku pribadi merasa salut dengan mereka yang menggunakan jubah. Terlihat lebih anggun dan lebih mawas diri; juga lebih tidak menampakkan aurat. Aku juga pakai jubah; meski tidak di segala kondisi. Bila mengisi acara di insitusi resmi, aku lebih memilih mengenakan rok dan blus. Utamanya batik, agar lebih memperlihatkan cirri khas Indonesia.

Tetapi aku juga tidak akan mengkritik para muslimah yang harus berkontribusi sebagai polisi, tentara, perawat, pekerja pabrik, petani, peternak, tukang sampah. Aku menjumpai seorang muslimah yang harus bekerja sebagai pemulung dan tukang sampah; maka ia mungkin merasa celana panjang cocok untuknya agar tidak mengganggu saat bekerja.

Ya, itu kan tuntutan pekerjaan!

Bagaimana kalau mahasiswa? Bukan tuntutan pekerjaan, atuh!

Alangkah baiknya mahasiswa kalau ia berjubah dan berjilbab panjang. Atau menggunakan rok dan blus panjang. Tetapi kalau ia memilih bercelana panjang karena sedang bertahap memantaskan diri; maka itu akan menjadi proses pembelajaran luarbiasa bagi dirinya. Ia mungkin akan mencibir teman-temannya yang memakai busana kurung mirip emak-emak; tapi ia pasti akan belajar menilai. Malah mungkin, ia masih pakai celana ngatung 7/8 yang memperlihatkan betis, pakai baju ¾  yang tipis melambai, pakai jilbab ala kadarnya yang masih memperlihatkan rambut mencuat keluar dari pori-pori jilbab.

Tak mengapa.

Ia sedang menjalani proses, berjalan menuju tujuan tertentu dan mengumpulkan pengetahuan. 3 atau 5 tahun dari sekarang ia mungkin akan berubah. Yang penting, para muslimah berhijab rapi tidak mudah untuk menjustifikasi seseorang hanya berdasarkan penampilan.

Don’t judge the book by it’s cover. Okay?

Eh, tempo hari aku jadi juri Kartini lho!

Aku ketemu dengan para muslimah muda yang keren abis. Bikin diri ini yang sudah senior jadi malu. Ada yang pakai jubah dan jilbab panjang ala sosialita. Ada yang pakai rok, jaket almamater dan jilbab ala aktivis rohis. Ada yang pakai celana panjang dan kaos. Tapi mereka perempuan muda yang rrruaaarrbiasa!

Be yourself and never stop learning.

Fashionable  dan cantik ya?

Yang masih pakai celana panjang, terus belajar. Yang masih pakai rok, terus belajar. Yang masih pakai jubah, terus belajar.

Sampai kapan?

Sampai malaikat Raqib Atid menutup kitab dan menyerahkan urusannya pada Izrail.

 

  1. Sederhana

Naaaaah, yang ini nih lebih cucok buat bahasan muslimah.

Sebab, mau pakai celana panjang, rok, atau juba; ada kebiasaan buruk mengintai. Hiks, kebiasaan apa itu? Sikap arogan, jealousy, egosentris. Lihat teman keren pakai baju a, kit aingin pakai A. Lihat sohib keren pakai jilbab B, kita nyari di online jilbab B. Lihat ustadzah di televise pakai jubah panjang dan jilbab panjang dengan motif menarik; kita juga harus punya.

Salah satu cirri khas muslimah yang harus menempel pada dirinya; entah apapun jenis busananya adalah sifat sederhana.

Pakai celana panjang dan blus syari; kalau tasnya harus hermes Kelly, hmh.

Pakai rok dan blus syari tapi lemarinya penuh baju dan gak pernah dikosongkan buat bakti sosial, hmh.

Pakai jubah dan jilbab panjang tapi harganya selangit, hmh.

Baju kurung Malaysia.jpg

Baju kurung ala Malaysia

Apa gak boleh bermewah-mewah? Apa standar orang kaya harus selalu sama dengan standar menengah ke bawah? Sudah terbiasa beli busana di Hong Kong dan distrik Gangnam; rasanya gatel kalau pakai kaos beli di minimarket. Wah, kalau sudah dari kakek neneknya kaya; orang memang tidak akan mudah mengubah gaya hidup. Tapi bukan hal itu yang menjadi titik tekan.

Gaya hidup Utsman bin Affan dan Umar bin Khatab, juga Ali bin abi Thalib beda. Mereka berbeda cara makan, tempat tinggal, gaya berbusana. Tapi mereka dijamin masuk surga lho.

Sederhana itu, berusaha untuk terlihat 2 atau 3 level di bawah standar kekayaan yang sebetulnya. Itu filosofis yang kudapat ketika bertemu seorang pengusaha muslim nan sukses di Indonesia dan Jepang. Kisah hidup beliau menginspirasi dua tokoh konyol di Polaris Fukuoka, seorang gadis bernama Sofia dan pamannya Hanif (promosi hahaha). Konon, orang Jepagn suka dengan gaya hidup 2-3 level di bawah standar kekayaan. Itu namanya orang kaya beneran. Bukan OKB atau kaya boongan.

Punya duit 1 juta, yah, beli baju yang harga 100-200 ribu. Jangan punya duit 1 juta tapi pinginnya baju sekelas 3 juta.

Sederhana itu dicontohkan Carlos Slim, Mark Zuckerberg. Makin kaya, makin gak kelihatan. Bukan makin kaya makin belagu. Kalau jadi muslimah kaya, kelihatan dari jejak sedekahnya seperti Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf, bukan dari jejak upload statusnya ya.

Gakpapa tasnya Hermes Kelly, tapi infaqnya sebesar kapal perang.

Gakpapa busananya beli di Paris dan Korea, tapi infaqnya sebesar mobil Jaguar, Mustang dan Ferrari. Jangan dibalik. Tasnya Hermes Kelly, infaqnya senilai tas Tanggulangin. Busananya puluhan ribu Yen atau jutaan won; infaqnya sebesar odong-odong.

Sederhanalah dalam berbusana. Sebab itu akan membuat kita cantik. Hehehe, ini bukan menghibur diri sendiri ya?

  1. Tidak Berlebihan

Islam itu pertengahan.

Tidak belebihan, tidak kekurangan. Yang sedang dan biasa.

Gaya kasual pakai celana gunung yang longgar, dengan kaos loreng ala sate Madura, okelah. Tapi gak perlu segala gelang etnik dipakai mulai gelang kaki, gelang tangan, kalung tumpuk-tumpuk. Gelang kayu dan kelang karet okelah dijadikan satu. Dengan cincin tempurung penyu juga cantik, kalau kita jenis cewek yang enggan pakai perak dan emas. Jilbab dan topi baret, bisa jadi padanan, dengan vest ringan. Kadang, saking inginnya memadu madankan apa yang dipunyai di lemari; semua asesoris dikenakan. Padahal, pilih saja satu dua. Simple is beautiful.

Jubah cantik.jpg

Gaya sederhana yg chic

Bergaun pun harus sederhana.

Tidak selalu harus punya jilbab yang sewarna dengan motif bunga di baju. Bunga biru, jilbab harus biru. Bunga marun, jilbab harus marun. Bunga pink, jilbab harus pink. Padahal dengan punya jilbab hitam, coklat, krem dan merah tua; dapat mewakili semua busana yang ada. Rok pun usahakan punya yang dapat mewakili untuk banyak acara.

Kecuali kalau artis, presenter ya! Itu memang dunia yang butuh penampilan. Padahal banyak lho artis yang tetap sederhana.

Tahu Julia Stiles kan? Yang main di trilogy Bourne. Ohya, sekarang sudah sampai seri ke-5 hehe. Kata paparazzi, dia gak terlalu suka pesta sebab gak punya banyak koleksi gaun. Artis pun tidak harus punya baju sekontainer. Ratu Rania dari Yordania pun tidak terlalu suka mengkoleksi permata seperti para perempuan bangsawan lainnya. Konon, bila punya permata baru, yang lainnya akan diserahkan padap ihak keluarga atau negara. Yang sering dipakainya adalah mahkota kenegaraan.

 

  1. Jangan sampai bosan

Dalam beragama, hendaklah berada pada sisi tengah-tengah.

Sebab, Rasulullah Saw sendiri mengkhawatirkan apabila kita sangat keras pada diri sendiri; suatu saat sikap ekstrim itu akan menjadi sebaliknya. Permisif. Saking sederhananya dan ingin memelihara diri; sama sekali tidak pernah memakai perhiasan. Padahal Allah Swt pun suka bila hambaNya memperlihatkan sebagian dari kenikmatan yang diberikan olehNya.

Sikap tengah dalam agama membuat kita tidak bosan.

Kita ingin sederhana dalam berbusana, maka agar berhemat, memilih jubah dan jilbab sebagai pakaian sehari-hari. Tak mengapa menyisihkan uang, memberikan reward diri dengan membeli bros cantik atau kaos kaki yang nyaman dipakai.

Segala pilihan busana mulai celana panjang, rok, jubah; dipilih atas dasar ketaatan kepada Allah Swt. Hanya kita yang tahu, apa yang ada di lubuk hati terdalam. Kalau memilih memakai celana panjang; janganlah mengucap sumpah dengan mengatakan tak akan pernah memakai jubah yang seperti emak-emak. Sebab, siapa tahu suaminya kelak ingin istrinya mengenakan busana anggun. Yang mengenakan gaun pun, tak usah menyumpah-nyumpah mereka yang mengenakan celana panjang. Siapa tahu kelak berada dalam situasi yang menyebabkan ia harus menanggalkan gaun panjang dan menggantinya dengan pakaian yang lain.

Di tahun 2009, saya berkesempatan ke Palestina, Gaza.

Maka perempuan disana terbiasa mengenakan celana panjang, dan dilapisan luar mengenakan abaya. Tentu kita paham, kenapa ini dilakukan. Mereka siap lari dan menyelamatkan diri bila sewaktu-waktu bom jatuh di wilayah pemukiman.

Jadi, apa pilihan busana muslimahmu?

 

 

 

 

 

Ibu-ibu yang Membangun Sekolah

 

 

Buku MATA : Mendidik Anak dengan Cinta, Alhamdulillah mendapat sambutan positif dari masyarakat. Setiap kali bedah buku ini, para ibu-ibu yang hadir berkenan membelinya. Mereka pun membeli tak hanya bagi diri sendiri, tapi menyimpan untuk dijual lagi atau diberikan pada teman.

Cover MATAAda hal-hal unik yang kutemukan ketika membedah buku ini.

Baik di Surabaya, atau di Tegal; aku bertemu para ibu yang merasa harus berbuat sesuatu bagi pendidikan anak-anaknya. Mereka bukan orang yang iseng, yang kekurangan uang sehingga cari-cari pemasukan dari SPP sekolah atau justru kelebihan uang hingga mau invest buat sekolah. Bukan!

Mereka justru para ibu yang resah dan tergelitik tentang kondisi sekolah saat ini.

Memang,t ak ada sekolah yang 100% sempurna.

Mau sekolah negeri, internasional, swasta, Islam terpadu, homeschooling, pesantren tradisional, pesantren modern, atau  sekolah di luar negeri sekalipun ; semua memiliki titik kelebihan dan kekurangan sendiri. Salutnya, para ibu-ibu ini berusaha untuk membangun sekolah dengan harapan serta target yang mereka idamkan.

Mereka lalu belajar, belajar, belajar. Tidak semua ibu-ibu yang merancang sekolah ini basic ilmunya adalah pendidikan atau psikologi lho! Malah ada yang pengusaha wedding organizer, pengusaha empek-empek, pengusaha butik , hingga apoteker. Dan ketika mereka semakin luwes membanguns atu sekolah; mereka membangun lagi sekolah yang lain.

Aku?

Hm, insyaallah membuat sekolah masuk dalam daftar impianku.

MATA di Al Musthafa Surabaya dan Yasyis, Tegal

Untuk saat ini, aku lebih ingin membangun sanggar seni. Thesisku tentang Writing Therapy, yang merupakan salah satu cabang dari Art Therapy. Cukup banyak ibu-ibu yang bertanya : ada kelas menulis? Ada kelas menggambar? Ada kelas memasak? Ada kelas music? Ada kelas menari? Dll. Yah, aku belum bisa menyediakan semua seni yang menjadi sarana terapi. Tapi untuk kelas menulis dan menggambar, bisa insyaallah. Aku bisa menulis; anak-anakku jago menggambar dan bisa kuberdayakan untuk membantu kelas tersebut.

Anak-anak istimewa yang kesulitan mengikuti pelajaran akademis normal di sekolah; umumnya butuh komunitas khusus  yang akan membantu mereka mengasah motorik halus, social skill, soft skill.

Para ibu-ibu, sungguh hebat!

Mereka bukan hanya memberikan kontribusi pada ekonomi keluarga dan masyarakat sekitar, membangun peradaban ; tapi selalu punya pemikiran-pemikiran unik untuk menembus kesulitan. Hehehe. Kalau anda seorang ibu seperti saya; pasti merasa demikian. Seroang ibu nyaris tidak mungkin berkata tidak bisa, tidak punya, tidak akan. Kebutuhan keluarga dan anak-anak baik kebutuhan ekonomi dan pendidikan; memacu para ibu untuk harus bisa, harus punya dan selalu akan.

Jempol besar dan banyak untuk para Ibu!