sintayudisia

Beragam Resensi Novel BULAN NARARYA

In Bedah Buku Sinta Yudisia, Bulan Nararya on April 3, 2015 at 12:42 am

Terimakasih kepada teman-teman pembaca yang telah menyediakan waktu untuk mencermati Bulan Nararya dan menyempatkan diri menulis resensinya.

Kritik , masukan dari pembaca insyaAllah akan semakin membuat penulis belajar!

1. https://yuriezhafiera.wordpress.com/2015/03/08/review-bulannararya-128-lembar-mengulik-kesehatan-jiwa/

2. https://blogbukufaraziyya.wordpress.com/2015/03/09/167-bulan-nararya/

3. https://katjamatahati.wordpress.com/2015/03/09/bulan-nararya-novel-dengan-benang-beragam-warna/

4. https://sekarsekarsekar.wordpress.com/2014/11/07/belajar-psikologi-dalam-balutan-karya-seni/

5. http://cerpendikysaputra.blogspot.com/2015/02/resensi-novel-bulan-nararya-dilema.html

6. https://ridhodanbukunya.wordpress.com/2015/02/27/bulan-nararya/

7. http://atriadanbuku.blogspot.com/2014/12/bulan-nararya.html
8. http://diannafi.blogspot.com/2015/03/ngemilbaca-bulan-nararya.html

9. http://bintangitukamucinta.blogspot.com/…/belajar-psikologi-lewat-bulan-nararya.html

10. http://anfield-fullofideas.blogspot.com/…/bulan-nararya-open-up-your-soul.html

11. http://www.riawanielyta.com/2014/11/resensi-novel-bulan-nararya.html

12. http://www.lensabuku.com/1657/bulan-nararya-oleh-sinta-yudisia/

13. http://www.media.kompasiana.com/…/resensi-novel-bulan-nararya-karya-sinta-yudisia-
14. http://dhia-citrahayi.blogspot.com/2014/11/bulan-tidak-biasa.html

15. http://smartmomways.com/resensi-cinta-dan-penderita-skizofrenia/

16. http://pecandudongeng.blogspot.com/…/dunia-skizofrenik-semangat-positif.html

copy-bulan-nararya1.jpg

Radikalisme, Terorisme, Fundamentalisme dalam Media

In Tulisan Sinta Yudisia, WRITING. SHARING. on April 2, 2015 at 2:21 pm

Ibnu Khaldun, mengemukakan hal menggelitik seputar kekuasaan.

Menurutnya,

“….kekuasaan merupakan kedudukan yang menyenangkan, meliputi berbagai kesenangan materi maupun maknawi, material maupun spiritual, visible maupun invisible sehingga untuk mendapatkannya seringkali melalui kompetisi-kompetisi menggemparkan dan sedikit orang yang mau menyerahkannya. Karena partai merupakan proses awal bagi justifikasi kekuasaan, maka partai acapkali menjadi proteksi, pembela, bahkan klaim untul segala persoalan itu.

Kompetisi kekuatan antarkelompok biasanya tidak dapat dilepaskan dari sikap-sikap arogan untuk memperoleh kekuasaan tersebut, dimana pemegang kebijaksaan dari partai atau kelompok yang berkuasa senantiasa mencari legitimasi kemenangan dari massa dengan berbagai macam manuver siasat atas nama kelompok, profesi bahkan agama….”

Sejarah suatu bangsa, tak luput dari dinamika.
Perputaran masa tak dapat dielakkan ketika sebuah bangsa berkembang dari masa tumbuh, merdeka, membangun, memelihara. Sebagian orang-orang merasa bahwa perjalanan bangsa terbaik adalah ketika tengah tumbuh dan mencari kemerdekaan, sebab ikatan fanatisme baik kesukuan, agama atau ideologi demikian kuat terjalin. Sebagian merasa nyaman saat bangsa mulai membangun, disisi ini kenyaman dan kemewahan hidup mulai dinikmati namun romantisme perjuangan yang penuh kesulitan masih terngiang.

Pernahkah kita mentafakuri perjalanan sejarah bangsa Indonesia?
Alangkah kaya bangsa ini secara jiwa!
Sejak masa raja-raja berkuasa hingga sekarang memasuki abad millenium, demikian beragam kejadian yang dilalui bangsa Indonesia mulai melawan penjajah hingga harus bertikai dengan bangsa sendiri. Masa demi masa perguliran kekuasaan memberikan kekayaan sejarah.

Stigma dan Schema
Stigma adalah label negatif yang melekat pada suatu obyek. Schema/ skema adalah pola otomatis yang muncul di pikiran mendengar atau melihat sesuatu.
Apa yang muncul saat melihat sehelai kain merah?
Skema bahwa pakaian merah akan merangsang banteng atau kerbau mengamuk, sudah lekat di pikiran kita. Skema ini sangat sulit ditepis atau dihilangkan seperti mengenakan pakaian hijau di Laut Selatan, meyakini bahwa polisi menilang betul-betul karena tugas, meyakini bahwa anggota DPR bekerja amanah, meyakini bahwa pegawai negeri tak akan korupsi uang .

Stigma dan skema mirip.
Hanya saja, skema lebih panjang, mirip pola maze yang berputar-putar di kepala sebelum sampai pada sebuah sikap dan perilaku. Skema membuat kita menghindari baju hijau saat bermain ke pantai. Skema membuat kita pakai helm hanya karena polisi. Skema membuat kita menggeneralisir bahwa semua anggota dewan adalah brengsek. Skema membuat kita percaya bahwa semua PNS juga tak ada yang bersih.
Stigma lebih singkat, namun juga punya dampak kejut yang membekas lama.

Kata “pengkhianat” di zaman pendudukan Belanda sangat berbahaya bila melekat pada pribumi.
Salah seorang kerabat di era perang kemerdekaan lampau, sukses menjadi penjahit celana dan berjualan telur asin yang digemari para bangsawan di Yogya yang saat itu memiliki hubungan dekat dengan Belanda. Kerabat tersebut dapat membangun rumah dengan jendela kaca yang saat itu masih sangat jarang. Bisik-bisik tetangga yang tak suka, melabelkan kata “pengkhianat” sehingga kerabat tersebut bentrok dengan beberapa pejuang kemerdekaan.

Stigma apa yang masih lekat dengan PKI?
Kata komunis demikian negatif tak peduli itu berupa kajian ekonomi atau ideologi yang harus ditelaah untuk diambil hikmah, dipelajari agar tak terulang lagi. Di tahun 60-70an, orang lebih takut dianggap PKI daripada diteriaki maling.
Tahun 80-90an, stigma pesantren adalah sekolah buangan, anak nakal yang sudah tak punya harapan masa depan, sakit kulit, kumuh.
“Sekolah dimana?”
“Pesantren X.”
Maka stigma pesantren yang bersarung, bau dan koreng; belasan bahkan puluhan tahun melekat di benak.
Stigma itu berubah di tahun 2000an menjadi menakutkan, lambang kekejaman dan kebengisan. Bagaimana mungkin tempat orang-orang belajar kitab, menghafal Quran, menelaah hadits seketika menjadi tempat brainwashing sehingga orang mudah menyerang sesuatu atas nama agama? Islam dan segala simbolnya menjadi demikian menakutkan. Pesantren merupakan produsen perakit bom dan pemuda aliran radikal. Jenggot, jilbab lebar dan cadar adalah lambang keterbelakangan, fundamentalisme dan sikap intolerant.

Dan, di era media massa, media sosial serta media eletronik mengirim pesan secepat laju cahaya; stigma itu mudah dipindahkan ke kepala-kepala orang lain. Ditanamkan ke dalam hati orang yang menyimpan keraguan serta tak ingin mengambil peran mencari tahu kebenaran alias tabayyun.
Stigma, sekali melekat dapat menyulut kebencian. Meski orang tak punya informasi yang utuh tentangnya.

Film Mystic River, adalah gambaran bagus tentang bagaimana kata “pedofilia” menimbulkan kesalahan fatal. “Pedofilia” menimbulkan rasa jijik, benci, gambaran anak kecil yang menjadi korban perkosaan. Pelaku pedofilia pantas dihukum berat, namun bagaimana bila ternyata masyarakat salah menyematkan stigma pedofilia pada seorang lelaki tak berdosa?
Film The Most Wanted Man pun menggambarkan betapa stigma teroris melekat pada pria muslim, taat ibadah dan kaya raya. Seolah setiap muslim yang memiliki harta berlimpah menggunakan uangnya untuk membeli senjata serta membiayai organisasi terlarang.
Fundamentalis, radikal, teroris bertahun-tahun belakangan melekat pada kaum muslimin. Sikap tersebut bukan hanya milik kaum muslimin. Radikal milik kaum militan manapun yang fanatik terhadap ideologi yang diyakini. Fundamentalis, radikal, teroris pun dimiliki agama selain Islam seperti yang kita tonton dalam film-film karya novelis Dan Brown dalam Da Vinci Code, Angels & Demons.

Arti Kata
Kamus bahasa Indonesia mengartikan radikal sebagai (1) hilang sampai ke akar-akarnya sekali; (dng)sempurna (2) (haluan politik yg) amat keras menuntut perubahan undang-undang, ketatanegaraan, dsb
Kamus bahasa Belanda mengartikan radicaal (radicale) : mendalam hingga akarnya, ekstrim.
Teroris , dalam bahasa Indonesia bermakna orang yang menggunakan kekerasan untuk menimbunkan ketakutan, biasanya untuk tujuan politik. Terorisme bermakna : praktek-praktek tindakan teror; penggunaan keekrasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha untuk mencapai tujuan (terutama tujuan politik). Bahasa Belanda, terroris’me berarti cara menakut-nakuti dengan perbuatan kejam.

Kata-kata sensitif seharusnya dihindari oleh media saat tengah melemparkan satu wacana ke tengah masyarakat, apalagi bila menyangkut penduduk mayoritas. Kaum muslimin sebagai penduduk mayoritas Indonesia akan dihadapkan pada posisi sulit : membela diri dikatakan radikal atau fundamentalis, berdiam diri dan memendam rasa hanya akan menimbulkan pusaran yang meledak sewaktu-waktu.
Banyak hal yang patut dicermati kaum muslimin sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang bermartabat : korupsi, pemerintahan, pakaian, film , pornografi, makanan, hukum dst. Ketika media massa dengan segala kebijakannya tak mampu menyalurkan seluruh aspirasi masyarakat, media sosial dan media online menjadi penyalur aspirasi.

Sebagai contoh, pornografi.
Sebagian pihak beranggapan produk sensual tidak masuk area pornografi, sebab seni menyiratkan banyak hal, ekspresi dan eksplorasi. Pihak lain beranggapan bahwa produk sensual menyuarakan immorality. Ketika media membela satu pihak, sisi yang lain membutuhkan ruang menyuarakan pendapat.

Siapakah yang diizinkan berpendapat?
John Stuart Mill yang dinggap bapak demokrasi mengatakan, jika seluruh ummat manusia berpendapat sama dan hanya satu orang yang berbeda, maka seluruh ummat manusia tidak boleh membungkam satu orang yang berbeda pendapat. Begitupun, satu orang yang memiliki pendapat berbeda –hanya karena ia berkuasa- tak boleh membungkam suara banyak yang dikuasainya (Syah, 2012).

Pendapat Mill telah diterjemahkan ke dalam beberapa kebijakan Pers. Beberapa tata aturan masalah penyebaran informasi terdapat dalam UU Pers no 40/1999. Beberapa contoh pasal sebagai berikut :

PASAL 1
(1)Pers adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran yang tersedia.
(2)Perusahaan pers adalah badan hukum Indonesia yang menyelenggarakan usaha pers meliputi perusahaan media cetak, media elektronik, dan kantor berita, serta perusahaan media lainnya yang secara khusus menyelenggarakan, menyiarkan, atau menyalurkan informasi.

PASAL 3
(1)Pers nasional mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan, dan hiburan, dan kontrol sosial.
(2)Di samping fungsi-fungsi tersebut ayat (1), pers nasional dapat berfungsi sebagai lembaga ekonomi.

PASAL 4
(1) Kemerdekaan pers dijamin sebagai hak asasi warga negara
(2) Terhadap pers nasional tidak dikenakan penyensoran, pembreidelan, atau pelarangan penyiaran
(3) Untuk menjamin kemerdekaan pers, pers nasional mempunyai hak mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan gagasan dan informasi
(4) Dalam mempertanggungjawabkan pemberitaan di depan hukum , wartawan mempunyai hak tolak

PASAL 9
(1)Setiap warga negara Indonesia dan negara berhak mendirikan perusahaan pers.
(2)Setiap perusahaan pers harus berbentuk badan hukum Indonesia.

Pro Kontra Jurnalis dan Media Islam : bolehkah berpihak?

Tidak semua media Islam memenuhi azas jurnalistik yang baik seperti ABC ( accuracy, balance dan clarity) serta cover both side. Akibatnya, berita-berita yang disiarkan pun tidak credible dan sulit dipercaya. Utamanya berita online yang demikian mudah copy paste, tanpa menelisik kebenaran berita apalagi konfirmasi dari pihak pertama. Namun, bukan hanya media Islam saja yang demikian. Media-media yang beredar di tengah masyarakat umumnya memanjakan publik dengan pemberitaan yang digemari.

Jacob Oetama memperkenalkan Insight Journalism ( Jurnalisme Makna) , Martin Bell wartawan perang BBC memperkenalkan Journalism of Attachment dimana jurnalis berhak melibatkan perasaan melaporkan pengalaman subyektif.
Dulu, ketika meliput perang Palestina maka seorang wartawan harus meliput cover both side – harus melaporkan dari dua sudut pandang pihak bertikai yaitu Palestina dan Israel. Sekarang, wartawan boleh melaporkan dari sudut pandang sepihak : Israel saja atau Palestina saja. Tak heran, banyak jurnalis yang melaporkan keberpihakan pada Palestina lantaran hati mereka tersentuh oleh penyiaran informasi yang tidak sebanding. Jurnalis, wartawan, penulis, boleh melakukan pengamatan subyektif dan melibatkan perasaannya, di sisi manapun ia berdiri. Silakan ia empati terhadap perjuangan bangsa Israel, dan silakan pula ia peduli pada perjuangan bangsa Palestina. Dunia tak boleh membungkam Palestina, hanya disebabkan penguasa saat ini adalah bangsa tertentu.

Begitupun media Islam.
Jurnalisme masa depan sesungguhnya bukan hanya sekedar cover one side, cover both sides namun juga cover many sides or multi-angles. Beragam sudut harus ditampilkan saat menampilkan berita dengan tetap mempertimbangkan ABC. Immerse journalism menjadi salah satu genre jurnalis yang digemari , jurnalis yang “berbaur” dengan obyek liputan.

Seorang penulis media online, penyebar informasi, merasakan betul “immerse” menjadi seorang muslim di negara mayoritas muslim ini. Berbeda sedikit dengan arus kebanyakan, semisal pakaian : bergamis, berjubah, berjenggot, bercadar, maka stigma muncul dan melekat sebagai kaum fundamentalis dan radikal. Akibatnya kaum muslimin resah bertindak. Padahal, negara menjamin kebebasan seluas-luasnya bagi mereka yang berpakaian menampilkan dada dan paha.

Pers memberikan kebebasan pada munculnya film, berita yang menonjolkan sensualitas; namun tulisan-tulisan yang mengajak warga muslim Indonesia untuk lebih memperhatikan busana yang dituntunkan oleh agama, mendapatkan sorotan sebagai fundamentalisme.
Apalah lagi tulisan yang berusaha membahas hukum, ketatanegaraan, politik, hubungan bilateral dan multilateral; akan mendapatkan stigma lebih berat dan buruk lagi bagi jurnalis Islami. Bahkan, bila menyoroti hal-hal yang lebih sensitif semacam keberpihakan ekonomi, peperangan, persenjataan, maka stigma terorrisme akan melekat pada penyebar informasi. Padahal sekali lagi, label teroris harusnya melekat secara politik pada pihak berkuasa yang melakukan kekejaman demi memaksakan kehendak, bukan pada penyiar informasi.

Memang, sekian banyak media massa, media online, media sosial, memberitakan hal-hal subyektif yang sangat jauh dari ABC, baik media Islam ataupun bukan.
Bila media Islam yang melakukan one both side, immerse journalisme, dan muatannya dianggap meresahkan; masih ada jalan-jalan bijak yang ditempuh oleh negara.

UU Pers no 40 199 cukup jelas menjabarkan hak tolak, hak jawab, dan sekian pasal yang menyangkut hak serta kewajiban insan pers. Situs-situs Islam termasuk pers yang menjadi kekayaan demokratis negara. Bila dibungkam dan menjadi arus bawah, tentu negara sulit lagi mengendalikannya.

Ibnu Khaldun menuliskan dalam Muqadimah , Pasal ke-3 dari Kitab Pertama : Pasal 24

“Tindakan Ofensif Membahayakan Kerajaan dan Menyebabkan Kehancuran “

“….Sebab apabila penguasa bertindak bengis dan sewenang-wenang, dengan menerapkan berbagai sanksi berat, dan mencari-cari kesalahan rakyat dan dosa-dosa mereka; maka mereka akan diselimuti ketakutan, kehinaan dan cenderung berinteraksi dengannya dengan kedustaan, kemunafikan dan tipu daya, hingga sifat-sifat buruk tersebut menjadi kebiasaan dan etika mereka. Pandangan mereka pun menyimpang, dan bahkan terkadang mereka mengkhianatinya dalam emdan perang dan pembelaan kerajaan. Dengan begitu, tak ada lagi kekuatan yang melindungi karena rusaknya niat mereka….”

Naudzubillahi mindzalik.
Apabila sifat-sifat buruk menjalari warga Indonesia, tak ada lagi yang berniat melindungi negara ini. Bila rakyat dicengkram ketakutan bersuara; maka rakyat akan mudah berdusta untuk menyenangkan pihak penguasa sebagaimana rumus Ibnu Khaldun. Bila hubungan penguasa dan rakyat tidak fair, maka mudah bagi rakyat untuk membelot serta berkhianat. Apabila terjadi, bukankah kehancuran negara dapat diprediksi?
Mari berdoa dan berharap, Pemerintah melakukan tindakan bijak terkait situs-situs Islam yang merupakan anggota pers Indonesia.

Referensi :
Khaldun, Ibnu. Mukaddimah. Pustaka al Kautsar, 2001
Kamus Umum Bahasa Indonesia
Kamus Belanda-Indonesia
Syah, Sirikit. Rambu-rambu Jurnalistik. Pustaka Pelajar, 2011
—————. Watch the Dog. RM Books. 2012

Dewanpers.or.id

jurnalis iconjurnalis

FLP dan 18

In FLP on Februari 22, 2015 at 8:05 am

Konon, orang-orang yang dilahirkan di bulan Februari, cocok menjadi seniman. Sifat sensitif, suka segala sesuatu yang berbau artistik, imajiner, pengkhayal tinggi. Profesi yang cocok adalah artis, penulis, pemusik, atau pekerja seni yang lain. Mungkin itu sebabnya, beberapa nama di FLP yang lahir di bulan Februari seperti mbak Afifah Afra atau Rihanu Alifa, senang berkiprah di dunia kepenulisan.

Boleh jadi, kita percaya prediksi zodiac.
Bahwa orang yang lahir di bulan tertentu, disebabkan pengaruh posisi bulan dan matahari, cairan-caiaran dalam tubuh bereaksi membentuk pola tertentu dan memengaruhi pembentukan karakter.

Pertanyaannya : apakah semua orang yang lahir di bulan Februari dapat menjadi seniman?

FLP : Forum Motivasi

Semakin lama, semakin menyadari, bahwa minat dan bakat tanpa motivasi dan stimulasi sama seperti kecantikan seorang gadis yang dipulas buram dalam rambut acak-acakan, wajah kusam, baju kumal. Potensi cemerlang tak berarti apa-apa, tak memunculkan produk yang mampu dilihat dunia.
Ditakdirkan lahir di bulan Februari bukan serta merta mahir merangkai kata.
Mengolah ide.
Membangun alur.
Merangkai kalimat, menyusun bab demi bab, menemukan judul menarik, mendapatkan penerbit berjodoh, berpasangan dengan editor andal, diterima pasar, laris manis, terkenal, meraup royalti dan roadshow kesana kemari.

Hidup mengajarkan, bahwa dalam setiap pencapaian, dibutuhkan tahap demi tahap latihan. Kadang, lelah rasanya ditolak sana sini. Jangankan penerbit nasional, media lokal bahkan media kampus saja menolak! Alasannya beragam. Padahal setengah mati kita menghasilkan sebuah tulisan sejumlah 10 halaman kuarto. Bolak balik baca referensi. Editing di sana sini. Ganti judul berkali-kali. Tetap saja, cerpen, artikel, opini atau apapun yang kita tulis dianggap sampah oleh oranglain.

Jikalau berjalan sendirian, mungkin sudah jauh-jauh hari patah di tengah jalan.
Urung jadi penulis.
Lebih baik banting stir ke pekerjaan lain yang lebih menjanjikan.
Tapi disinilah kita.

Bersama FLP, Forum Lingkar Pena.
Bersama teman-teman yang punya semangat sastra yang sama. Mengerjakan kebaikan itu tidak sama seperti orang yang menggali tanah untuk menanam pohon cangkok, lalu mendapatkan harta karun emas batang satu kilogram. Menjadi penulis ibarat prajurit Thalut. Perjalanan panjang, terseok, menemukan sungai-sungai yang memukau namun belum diizinkan untuk meneguk air sebanyak mungkin bila belum sampai tujuan.
Bersama FLP, kita menemukan teman-teman dengan semangat sastra yang sama.
Saling menguatkan ketika naskah tertolak.

“Wah, gakpapa! Semangat ya!”
“Aku dulu juga puluhan kali ditolak, tapi pekan kemarin Alhamdulillah tembus resensi.”
“Aku juga tembus…hehe, Surat Pembaca sih!”
“Kamu tulis aja di blog. Jangan dibuang cerita-ceritamu.”

Pendek kata, FLP membersamai kita menemukan kekokohan dalam detik-detik kegagalan. Begitu banyak teman di FLP yang (dianggap) gagal, tapi terus berkarya, berkarya, berkarya lalu di kemudian hari satu demi satu bukunya terbit.

Awalnya antologi.
Awalnya indie.
Awalnya koran lokal.
Awalnya resensi.
Lalu, semakin matang dan lapang dada itu terbangun, Allah SWT bukakan pintu-pintu rezeki. Bersama FLP, kita mendapatkan motivasi untuk terus berproduksi, bermental baja, jauh dari kata menyerah apalagi putus asa, dan insyaallah, semoga dijauhkanNya dari sikap sombong, ujub, riya’, sum’ah.

Siapa sih penulis terkenal, jika tidak dibantu editor, penerbit, pembaca, pasar dan resensor? Semua yang dicapai alah keringat, doa, sujud yang panjang, dan harapan yang tiada putus padaNya. Seorang penulis adalah pembelajar sepanjang hayat. Maka seniman haruslah orang-orang dengan mental beton namun hati selapang samudra, selembut gumpalan awan. Bersama FLP kita akan menemukan teman-teman yang memacu dirinya berprestasi, namun juga saling memberikan motivasi bahwa kita tidak hanya akan berhenti di sini.
Di titik ini.

FLP dan 18

FLP adalah organisasi. Organisasi adalah kumpulan orang-orang. Orang-orang tidak sama dengan 1 orang. Bila seorang anak manusia berusia 18 tahun, ia telah beranjak dewasa. Namun FLP, sebagai organisasi tak dapat disamakan dengan anak remaja yang telah mampu berjalan, berdiri tegak bahkan bertualang kesana kemari.

Sebagai sebuah organisasi yang menaungi puluhan cabang serta ribuan anggota, beragam latar belakang hadir bersama FLP. Orang-orang Februari atau non- Februari. Penulis dan bukan penulis. Pembaca dan bukan pembaca. Pelajar atau non pelajar. Mahasiswa atau non mahasiswa. Karyawan atau non karyawan. Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan yang lainnya. Indonesia dan yang bukan di Indonesia. Merawat rumah sebesar FLP bukan hal yang mudah, namun juga bukan mustahil untuk meraih keberhasilan bersama.

18 tahun FLP berdiri.
Jika tolok ukur keberhasilan adalah buku, FLP banyak melahirkan ratusan buku.
Jika tolok ukur keberhasilan adalah jumlah penulis, FLP banyak melahirkan penulis.
Namun bukan hanya produk materi yang ingin dihasilkan FLP. FLP ingin menjadi bagian dari perjalanan Indonesia, meraih predikat bangsa yang bermartabat, cerdas cendekia dan santun penuh etika.

Syukur Alhamdulillah, FLP tersebar di kalangan pemuda-pemdua yang paham agama sehingga cabang di Saudi Arabia, Yaman, Pakistan, Mesir berdiri serta menghasilkan karya tulis agama yang bukan hanya memberikan petunjuk, namun renyah dalam penyajian hingga masyarakat awam tertarik membaca dan memahaminya.

Syukur Alhamdulillah, FLP tersebar di kalangan warga Indonesia yang bermukim di Hongkong, Taiwan, Jepang, Amerika sehingga tulisan-tulisan yang dihasilkan adalah bagaimana tetap menjaga jati diri keIslaman di tengah masyarakat non muslim. Bagaimana tetap bekerja, berkarya, di tengah himpitan kesulitan yang pada dasarnya mengasah sebuah batu menjadi berlian.

Syukur Alhamdulillah, penulis FLP melanglang buana belajar di negeri orang hingga ke Inggris dan Turki sehingga informasi-informasi tentang dunia Islam terkini dapat hadir langsung dari orang pertama. Berikut informasi seputar dunia yang sangat dibutuhkan bagi segenap anggota FLP untuk lebih mempertajam kualitas kepenulisan.

18 tahun FLP berdiri.
Insyaallah kita akan tetap bersama hingga di angaka 20, 30, atau bahkan 100 tahun.
Membersamai bangsa Indonesia, ummat muslimin sedunia, bahwa aktivitas membaca dan menulis bukan hal asing bagi para ulama dan cendekia. Bahwa setiap muslim, akan menjadikan Nun dan Iqro, sebagai pembiasaan sehari-hari dalam memahami agama. Dalam menjalani kehidupan.

Nun dan Iqro.
Semoga, setiap anggota FLP semakin bijak dalam berucap lisan dan tulisan dalam segala ranah kehidupan.
Selamat Hari Jadi FLP yang ke 18.
Salam Pena.
Salam Sastra Santun.

Sinta Yudisia
Ketua Umum FLP 2013-2017

Sinta Yudisia Milad FLP 18

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 435 pengikut lainnya.