Payudara, Rahim, dan ECCT

Bagi anda , Perempuan, dua hal ini sangatlah penting.
Kita tidak sedang membahas pornografi, namun melihat dari sisi kemanfaatan sebuah tubuh yang sehat berikut organ-organ pentingnya.

Payudara

Saat perempuan hamil, salah satu hal yang penting diperhatikan adalah merawat payudara. Bagaimana calon ibu membersihkan buah dada dan puting susu agar jabang bayi yang baru lahir, dapat optimal memperoleh colostrum saat pertama kali lahir dan ASI selama dua tahun penuh.

Bahagiakah menyusui?
Tentu. Betapa sempurnanya perempuan yang mampu mendekap bayi dan memberikan air susu selama dua tahun penuh. Selain bahagia, tentu ada masa-masa menegangkan bersama payudara. Setiap ibu, pasti pernah mengalami masa-masa air susu seperti mampet, bungsu, sehingga buah dada membengkak besar. Sakitnya bukan alang kepalang! Badan menggigil, demam tinggi, meriang hingga gemetar tak tertahankan. Namun menyusui, tetap harus jalan.
Atau saat payudara terluka karena si bayi menggigitnya. Rasa sakitnya…subhanallah. Setiap kali si bayi menyusui, harus berjuang untuk mengatasi rasa sakit sekaligus memenuhi kewajiban sebagai ibu.

Atau anda yang belum hamil dan melahirkan, tentu pernah merasakan menjelang haidh. Sakitnya payudara yang menegang.
Terbayangkah , bila payudara perempuan, tempat bayi menyesap air susu selama dua tahun, tiba-tiba dijangkiti sel-sel liar yang hidup dan menggerogoti kehidupan : kanker? Tentu kita tak berharap sama sekali mengidapnya, namun membayangkan seperti apa rasa sakitnya, pastilah bisa.

Survivor 1

Seorang sahabat, bu Sirikit Syah namanya. Ia salah satu perempuan tangguh yang selamat dari kanker payudara. Menurur dokter, penyebab kanker bu Sirikit akibat beliau terlalu sering terpapar polusi. Sebagai seorang dosen, kadang beliau naik mobil pribadi, kadang lebih suka angkutan umum. Saat menunggu angkutan umum di terminal Bratang, Surabaya, misalnya; polusi yang berhamburan tak terkatakan jumlahnya.
Beliau menjalani operasi, diangkat satu payudara berikut daging yang berada di sekitarnya sekitar lima senti hingga dada seperti berlubang.

Bu Sirikit Syah

Bu Sirikit Syah

Tak setiap perempuan seberuntung bu Sirikit. Masih ingat cerita yang beliau tuturkan, bahwa bu Sirikit bersiap dalam satu kunjungan ke luar negeri ketika didapati dadanya terasa sakit dan nyeri. Ketika memutuskan untuk periksa ke dokter, terkejutlah beliau bahwa kanker di payudaranya berada dalam stadium mengkhawatirkan. Dokter menyarankan penangguhan kepergian dan operasi bu Sirikit dilakukan di salah satu rumah sakit terpercaya di Surabaya.

Berhubung bu Sirikit salah satu tokoh masyarakat yang dikagumi, kalangan dokter pun sepakat memangkas biaya. Biaya rumah sakit hanya biaya operasional, sementara ongkos para dokter gratis. Itupun memakan jumlah puluhan juta rupiah! Alhamdulillah…operasi berjalan lancar.

Saat saya berkunjung ke rumah beliau, dari balik jilbab, mencuat slang seperti slang kateter yang terpasang dari bekas luka, terhubung ke botol. Botol tersebut di bawa dalam tas yang dikempit kemana-mana. Dari slang tersebut, mengalir cairan merah. Kata bu Sirikit, memang demikian perlakuan terhadap bekas luka operasi kankernya.

Bu Sirikit beruntung dikaruniai seorang lelaki, pak Khairul Anam, suami setia yang senantiasa merawatnya pra dan pasca operasi. Pak Khairul pula yang membuatkan sirup daun sirsak setiap hari, juga menyediakan lauk putih telur. Para tetangga, handai tolan, berganti-ganti mengirimkan lauk putih telur kepada bu Sirikit.

Sekarang, beliau telah sehat seperti sediakala, beraktivitas seperti biasa.

Apa yang menjadi catatan dari kisah beliau?
Jangan sepelekan sakit di daerah dada bagi perempuan, tetap optmis serta waspada terhadap pengaruh polusi yang didapat dimana-mana. Tentu, pasti dalam benak kita mencatat : hm, biaya operasi? Puluhan juta ya…belum termasuk kemoterapi.

bu Sirikit dan kanker payudara

Survivor 2

Saya mengenal kakak cantik ini dalam perjalanan ke Jepang, beberapa bulan lalu. Kami selalu sekamar, berbagi makanan dan bertukar cerita.

Kumamoto Castle. Indira Abidin, 2 dari kanan

Kumamoto Castle. Indira Abidin, 2 dari kanan

Kakak beradik Kobayashi, Sinta, Indira. Pak Kobayashi pemilik Inasayama Kankoh hotel. www.inasayama.co.jp

Kakak beradik Kobayashi, Sinta, Indira.

Kami selalu menyempatkan diri berfoto bersama, termasuk ketika berada di Inasayama Kankoh Hotel, yang memiliki lokasi unik taman heart lamp.

Melihat betapa energiknya ia, tak menyangka, Indira Abidin pernah mengidap kanker payudara. Saya tak mengetahui detil riwayat penyakitnya namun dapat memperkirakan, betapa berdampaknya penyakit itu bagi Indira. Sepanjang perjalanan baik di pesawat, di rumah makan, di hotel, Indira hanya memesan makanan vegetarian.
Alamak! Saya juga termasuk orang yang harus menjaga pola makan. Tapi menjadi vegan? Hiks…
Pastilah, ada satu kisah luarbiasa yang membuatnya memutuskan mengubah arah gaya hidupnya, terutama pola makan. Bila, sebagai backpacker saya cukup membawa tas ransel simple berikut kamera; maka Indira kemana-mana selalu membawa tas besar berisi baju dan tas tenteng yang luarbiasa beratnya : asupan makanan sehat yang harus terus dikonsumsi.

Madu, tak pernah lepas dari daftar menu paginya. Madu dengan parutan jahe, lebih disukainya. Serbuk bekatul, juga tersedia dalam bentuk kemasan botol. Pagi-pagi, ketika kami sibuk menyiapkan diri untuk melanjutkan traveling ke destinasi lain di wilayah Kyushu, Indira sibuk mengocok menu paginya sebotol besar.

Apa yang unik?
Kesabaran menata penyakit. Bahkan, ketika melewati petugas bandara dan harus mengosongkan air, Indira terpaksa mengambil tempat di pojok ruangan, menenggak sebotol besar ramuan yang terdiri dari madu dan jahe. Kadang, ia terpaksa tertinggal di belakang dari rombongan. Sesudah menenggak minuman, terpaksa bolak balik ke kamar mandi, baik di bandara atau di atas pesawat.

Indira melewati masa-masa kritis dan berhasil mengatasi kankernya tanpa harus dioperasi. Ia menggunakan alat ECVT ( Electrical Capacitane Volume Tomography) atau ECCT(Electro Capacitive Cancer Treatment ) dari DR. Warsito Purwo Taruno.
ECCT dan Warsito Purwo Taruno

Cerita selengkapnya Indira melawan kanker ada di http://tamanlavender.wordpress.com

Indira Abidin, adalah survivor kanker yang pantas diacungi jempol. Ia tak hanya sembuh, bangkit, tapi juga menularkan semangat kesembuhan kepada pasien-pasien lain. Melihat perjuangan di Lavender, orang pasti dapat memperkirakan seberapa besar kanker payudara membawa dampak dalam kehidupannya.

Pejuang Dahsyat 1

Kisah muslimah satu ini, sering menginspirasi banyak orang.
Sebut namanya Mutia. Fisiknya tak cantik.Dari wajah ataupun bentuk tubuh, Mutia bukan gadis yang dilirik banyak orang. Namun setiap yang berinteraksi dengannya pastilah merasakan keindahan pekertinya. Tak pernah ada seorang temanpun yang pernah mengeluh selama berinteraksi dengan Mutia.

Mutia bukan dari kalangan berada.
Meski demikian, dengan sepeda motor bututnya, Mutia terus melakukan kebaikan apa yang ia bisa. Menjadi guru TK dengan gaji alakadarnya, mengawal anak-anak yatim di sebuah yayasan dan menjadi ibu asuh mereka. Bahkan, anak-anak tersebut demikian spesialnya, mengingat beberapa mengalami sexual abuse. Mutia aktif di organsiasi dan kerap menjadi panitia acara-acara sosial tanpa imbalan apapun. Setiap yang membutuhkan pertolongan Mutia, ia siap membantu. Tak cukup disitu, Mutia demikian berbakti pada ibunda yang berada di desa. Kerap Mutia bolak balik menengok ibunya dari Surabaya, mengendarai motor bututnya.

Bila, karena kondisi fisik, status ekonominya, Mutia terlambat menikah hingga usia yang matang; dapat dikatakan wajar. Butuh seorang lelaki tulus untuk mau meminang Mutia yang memiliki kekurangan di wajahnya.
MasyaAllah, ternyata, Allah SWT menyediakan pasangan sempurna untuk hambaNya yang mulia. Mutia menikah dengan seorang lelaki yang mengasihinya dengan tulus. Kehidupan pernikahan mereka yang sederhana, tak mengurangi kemeriahan kebahagiaan sepasang insan.

Setahun setelah menikah, Mutia sering merasa sakit di dada. Awalnya dianggap seperti kencangnya payudara menjelang haidh. Tak digubris, sebab memang Mutia seorang muslimah yang padat kegiatan. Lagipula, beberapa tahun lalu, alternatif pengobatan kanker belum marak seperti sekarang. Beberapa tahun lalu, ECCT/ ECVT dan daun sirsak belumlah ramai dipercakapkan.
Mutia diam dalam sakitnya.
Hingga seorang sahabat kami yang berprofesi dokter, mengunjungi rumah Mutia dan mencoba melihat sejauh apa keluhan sakit di dada. Dokter tersebut terkejut, melihat betapa kerasnya kondisi payudara Mutia. Ia berkata diam-diam kepada saya, bahwa kemungkinan kesembuhan Mutia sangat kecil, mengingat kanker payudaranya telah memasuki stadium lanjut.

Mutia tak dapat berobat, sekali lagi karena kondisi biaya. Ia dan suaminya menyadari, detik-detik menunggu kematian demikian dekat, sebab memang seketika tubuh Mutia demikian cepat rapuh dan lunglai. Kekuatan fisik mendadak hilang dan ia sering menghabiskan waktu di rumah. Dana taawun yang terkumpul tak cukup untuk mengobati Mutia.

Suatu malam, sebuah SMS masuk ke HP.
“Teman-teman semua, mohon maafkan istri saya, Mutia. Sebagai seorang suami saya ridho kepadanya.”
SMS itu dikirim suami Mutia.
Betapa sering kita dapati kematian, betapa sering pula kita mengucapkan Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Tapi menghadapi kematian Mutia, airmata kami tak terbendung. Terbayang perjuangannya dengan sepeda motor butut untuk terus menyuarakan dakwah. Terbayang kesabarannya merawat ibu, anak-anak yatim, menunggu pasangan hidup ketika satu demi satu temannya dieprsunting lelaki sholih. Dan ketika baru setahun menikah, kanker payudara merenggut jiwanya.
Kematian yang elegan.
Satu kalimat yang membuat tangis kami meledak. SMS dari sang suami.
Sebagai suami, saya ridho kepadanya.
Oh, Mutia. Apa balasan dari Allah SWT atas kematian seorang istri yang membawa bekal keridhoan suaminya?
Satu sahabat terbaik kami, meninggal karena kanker payudara. Kejadian ini sudah berlangsung lebih dari lima tahun lalu, namun masih demikian membekas.

Pejuang Dahsyat 2

Sahabat saya, sebut namanya Mira. Seorang perempuan cantik yang riang gembira. Kehidupan cintanya penuh dinamika, cukup lama saya tidak bertemu dengannya ketika kemudian lewat SMS dan WA singkat kami bertukar cerita.
“Mama kena kanker rahim, Mbak,” tulisnya.
Innalillah, pikir saya.
Saya tahu, Mira harus kerja sambil kuliah. Pontang panting hidupnya. Ia kerja di sebuah swalayan terkemuka, waktu itu belum mengenakan jilbab dan harus mengenakan make up dengan standar tertentu. Pernah suatu ketika Mira datang ke kampus, lengkap dengan kosmetik standarnya, sebab usai kuliah harus langsung cabut bekerja.
“Kayak digebuki orang ya Mbak, mukaku,” ucapnya malu. “Aku pingin pakai jilbab.”
Saya mendorongnya pakai jilbab.
“Terus, bagaimana jilbabku? Apa aku masih boleh pakai make up tebal kayak gini?”

Bagiku, Mira sungguh luarbiasa dengan tekatnya sebab ia memutuskan mengenakan jilbab dengan kondisi harus mengenakan kosmetika dengan standar babak belur begitu.
Lama kemudian kami berpisah, ketika kemudian kudengar mamanya sakit. Dapat kubayangkan betapa repotnya Mira membagi waktu : kerja, kuliah, dan merawat Mama.
“Gimana caramu merawat Mama dek?”
“Aku yang menggantikan popoknya, Mbak.”
“Kalau bau, sabar ya…”
“Aku pakai masker, tiap kali interaksi dengan Mama, terutama ketika ganti popoknya.”
Terharu, membayangkan semakin banyak agenda yang harus dikerjakan Mira dan semakin sempit waktunya untuk menyelesaikan kuliah.
Suatu hari, kusarankan Mira menyediakan daun sirsak kering untuk mamanya. Dari cerita bu Sirikit yang sangat terbantu proses kesembuhan dengan konsumsi rebusan daun sirsak setiap hari, kupikir mama Mira akan membaik. Aku lupa, apakah sempat mengirimkan paket daun sirsak kering untuk membantu mama Mira. Seingatku, Mira sempat bertanya tentang bagaimana proses merebus, dengan apa merebus, dst.
Hari berikut, ketika kutanya tentang mamanya, jawaban Mira diluar perkiraan.
“Bagaimana bisa minum daun sirsak Mbak? Mama sudah nggak bisa nelan apa-apa lagi.”

Aku mendengar testimoni beberapa orang yang berhasil dengan rebusan daun sirsak, namun segera tersadar setelah mendengar kisah Mira. Rebusan daun sirsak hanya dimungkinkan bagi mereka yang masih dapat menelan sesuatu…
Mama Mira meninggal beberapa waktu kemudian, sebagaimana Mutia setelah berjuang mati-matian melawan kanker.

Pilihan Hidup

Dokter yang menangani Indira Abidin dan memvonis kankernya, memberikan pilihan apakah sang pasien akan menggunakan kemoterapi atau menggunakan jalur alternatif. Indira memilih cara kedua. Bukan dengan alasan estetika, bahwa perempuan tanpa payudara tak akan cantik lagi. Bukan. Toh, bu Sirikit tetap mesra dengan suaminya sekalipun tubuhnya tak sesempurna dulu.

Pendapat publik, akan berbeda dengan pendapat pakar dan saintis.
Ketakutan terhadap rumahsakit, operasi, obat-obatan, paramedis tak terelakkan. Apalagi, bicara masalah sakit, berarti bicara pula masalah finansial. Sakit bukan hanya bicara obat dan dokter. Sakit berarti bicara karier, pekerjaan, keluarga, anak dan pasangan hidup, segenap daya dukung yang diharuskan mengupayakan kesembuhan pasien.

Baik, silakan bayangkan.
Seorang suami yang menunggui istrinya melahirkan.
Biaya yang keluar sebetulnya bukan hanya ongkos melahirkan, biaya obat-obatan, biaya dokter, ongkos yang diperlukan bagi kesehatan bayi; tapi juga konsumsi suami, bensin kesana kemari. Belum lagi bila ada anak-anak yang juga harus ditanggulangi di rumah. Pendek kata, bila seorang anggota keluarga sakit, sungguh terkuras biaya untuk mengembalikannya sehat sepenuhnya.

Sakit flu, masih dapat dikalkulasi. Melahirkan, dapat diperkirakan. Kanker?
Berapa banyak masyarakat yang menginginkan anggota keluarga tercintanya kembali sembuh, rela menjual apapun harta yang ada demi membeli kata “sembuh” berapapun harganya? “Sembuh” itu mungkin obat-obatan,mungkin suplemen, mungkin berganti-ganti dokter, mungkin berganti-ganti rumah sakit, mungkin mencari second opinion, mungkin mencari kesembuhan alternatif dengan cara masuk akal atau tak masuk akal.
Sungguh, seorang yang sakit, membutuhkan kesabaran si penderita dan orang-orang sekelilingnya. Maka , Rasulullah Saw bersabda betapa kita harus mengunjungi si sakit dan mendapatkan pahala luarbiasa dari mengunjungi serta mendoakanya. Betapa kita harus meringankan beban si sakit, entah dengan membantu finansial atau memberikan hadiah yang akan membesarkan hatinya.

Bayangkan, si sakit yang tengah menghabiskan seluruh sumber daya hidup dan membebani keluarganya, semakin dihisap kemampuan bertahannya dengan harga obat, rumahsakit, ongkos dokter yang melangit. Kita tak menyalahkan dokter yang juga bersusah payah seumur hidup menimba ilmu, berdedikasi, mengorbankan waktu dan keluarga untuk menyelamatkan nyawa pasien atas izinNya sehingga profesinya pun selayaknya dihargai agar dokter juga dapat terus mengembangkan diri. Kita tak menyalahkan harga obat yang mahal bila bahan baku memang sulit didapat. Kita tak menyalahkan rumahsakit sebab rumahsakit pun harus membiayai ongkos operasional dan membayar gaji pegawai.

Yang salah, adalah bila tak ada kesempatan mengambil pilihan alternatif.
Orang pergi ke sangkal putung, karena tak mampu membayar ahli bedah tulang . Orang pergi ke tukang pijat, karena belum tahu fungsi fisioterapis. Orang minum jamu, karena belum percaya kemampun kuratif obat. Orang pergi ke ahli akupuntur, bidan, mantri; karena dokter jauh dari jangkauan. Kemungkinan jauh dari segi jarak, pemahaman, kepercayan, atau juga biaya.

Pemerintah seharusnya mengedukasi, juga tak membatasi. Di sisi lain membuka seluas-luasnya ladang penelitian. Apakah buruk menyandingkan tukan pijat dan fisioterapis? Apakah sangkal putung harus diberangus, atau perlu diteliti secara ilmiah? Apakah jamu perlu dipatenkan, seperti obat; dan terus digali kemampuan kuratif herba dengan serangkaian penelitian yang valid dan reliable?


ECCT (Electro Capacitive Cancer Treatment)

Penyakit kanker tumbuh dramatis sejumlah 12,7 juta penderita pertahun, dengan kematian sejumlah 21.000 jiwa perhari. Terapi kanker yang diterima masyarakat luas selama ini adalah operasi, kemoterapi dan radioterapi. Penderita kanker menghadapi beberapa kendala seperti efek samping serta biaya yang mahal. Dalam dinamika terapi kanker, muncullan alat ECCT yang mengundang pro dan kontra, sekalipun secara evidence-based jumlah yang tertolong dengan alat tersebut mencapai angka ribuan.

Dokter Sahudi, dalam rangka meraih gelar doktor, prgoram studi Ilmu Kedokteran Universitas Airlangga, menyusun disertasi berjudul Mekanisme Kematian Sel akibat Pajanan Medan Listrik Energi Lemah dengan Frekuensi Menengah. Penelitian ini dilakukan untuk menjembatani kontroversi ilmiah di bidang terapi kanker di Indonesia, dengan cara membuktikan adanya peningkatan prosentasi kematian sel yang diberi pajanan alat terapi kanker ECCT, serta mengungkap mekanisme patologimeolkulernya. Penelitian ini adalah peneltiian eksperimental laboratorik in vitro, menggunakan Rancangan Acak Kelompok ( completely randomaized block design), bertujuan mengetahui pajanan medan lsitrik voltase rendah, dengan frekuensi menengah dari alat terapi kanker ECCT, dengan pengukuran variabel yang dilakukan setelah pemberian perlakuan.

[caption id="attachment_2018" align="aligncenter" width="300"]dr. Sahudi dan keluarga dr. Sahudi dan keluarga

Tiga macam kultur sel kanker yang digunakan dalam peneltian adalah sel Hela, sel Kanker Rongga Mulut dan sel Mesenkim Sumsum Tulang. Ketiga kultur tersebut dibagi menjadi dua kelompok, dengan masing-masing 8 replikasi, yakni kelompok perlakuan yang akan dipajan dengan ECCT selama 24 jam dan kelompok kontrol. Setelah 24 jam akan dihitung jumlah sel hidup dan sel mati dengan menggunakan pewarnaan Tryphan Blue, serta diperiksa ekspresi protein Tubulin A, Cyclin B, p53, dan Ki-67.

Ringkasan Disertasi dr. Sahudi ttg ECCT

Ringkasan Disertasi dr. Sahudi ttg ECCT

Penelitian ini mendapatkan kelompok sel yang diberikan pajanan ECCT menunjukan jumlah kematian sel yang lebih banyak secara bermakna dibanding kelompok kontrol, terjadi baik pada sel kanker maupun sel non kanker.
Terhadap viabilitas sel, ECCT menurunkan jumlah sel kanker hidup secara bermakna. Sedangkan pada kultur sel nonkanker, yakni sel mesenkim sumsum tulang, ECCT memengaruhi jumlah sel hidupnya, namun tidak bermakna secara statistik. Dalam hal prosentase kematian, ECCT meningkatkan prosentase kematian pada ketiga jenis kultur sel.
Dari penelitian ini juga didapatkan bahwa sel kanker yang dipajan dengan ECCT selama 24 jam, akan meningkatkan ekspresi Tubulin A, Cyclin b1, p53 dan Ki-67 secara bermakna dibanding kelompok kontrol.
Dokter Sahudi menyimpulkan dari penelitannya bahwa medan listrik AC bertegangan rendah dengan frekuensi menengah yang dikeluarkan oleh alat ECCT dapat mematikan sel kanker melalui mekanisme mitotic catastrophe.
Terdapat beberapa kesimpulan penting dan temuan baru pada penelitian ini yang perlu dicatat oleh publik dan masyarakat saintis.
Tiga temuan baru dari penelitian ini adalah :
1. Pajanan medan listrik energi lemah dengan frekuensi 100 KHz dari alat ECCT dapat meningkatkan prosentase kematian sel kanker.
2. Mekanisme kematian sel pada pajanan medan listrik energi lemah dengan frekuensi 100 MHz dari alat ECCT adalah dengan hamabtan polimerisasi mikrotubulus pada saat sel sedang mitosis.
3. Kematian sel pada pajanan medan lsitrik alat ECCT adalah melalui fenomena mitotic catastrophe.

Penelitian dr. Sahudi, Sp. B (K)KL adalah salah satu bukti ilmiah bahwa penggunaan alat ECCT dapat membantu pasien menghadapi diagnosis kankernya. Dokter Sahudi berharap ada penelitian-penelitian lanjutan yang akan memperjelas dan mempertegas bahwa ECCT adalah salah satu sumbangsih putra bangsa dalam membantu pasien-pasien kanker stadium awal hingga stadium lanjut untuk lebih memiliki harapan hidup.
Sangat disayangkan bila terobosan ECCT yang juga termasuk murah secara pembiayaan dibandingkan pengobatan kanker sebelumnya; dihambat atau bahkan dihentikan. Masyarakat Indonesia perlu diberikan kesempatan lebih luas untuk memilih tindakan apa yang dibutuhkan untuk meningkatkan taraf kesehatan, termasuk bagaimana cara beradaptasi dengan penyakti mematikan seperti kanker.
Pemerintah seharusnya bangga dan berbahagia, di tengah segala kendala ekonomi dan politik yang muncul di tanah air, masih terdapat orang-orang kreatif yang berusaha memunculkan solusi. Bila, kreatifitas tersebut dianggap tidak sejalan dengan visi misi bangsa; seharusnya diberikan kesempatan untuk membuktikan, mengumpulkan testimoni, menjelaskan secara ilmiah, berdialog dengan publik dan insan pers agar tidak ada pihak-pihak yang merasa dirugikan.
Bila, ECCT benar-benar dibekukan operasionalnya di Indonesia, betapa banyaknya pasien kanker yang semakin tak memiliki harapan hidup.
Mari, bersama-sama kita peduli pada saudara saudari kita yang mengidap kanker. Tidak harus menjadi penderitanya terlebih dahulu, untuk mendukung orang-orang seperti Dr. Warsito Purwo Taruno dan alat ECCT & ECVT nya dapat diakses oleh sebanyak mungkin warga negara Indonesia yang kita cintai.

———————–

Agar surat ini sampai ke Bapak Jokowi, tolong bantu kami dengan menandatangi petisi ini di link berikut:

https://www.change.org/p/jokowi-bapak-jokowi-tolong-izinkan-penggunaan-ecct-untuk-penderita-kanker-di-indonesia .

Satu tandatangan, satu harapan bagi kami. Terima kasih 😊

#Hope4NoHope

Stroke dan Glaukoma : Hati Lelaki ini Tetap Hidup Bersama Jamaah

Bila terdapat audisi keluarga teladan, mungkin inilah salah satu keluarga yang mewakili bagaimana harapan, kasih sayang, dan khusnudzon kepada Allah SWT menjadikan kemiskinan bukan ujian yang dihadapi dengan ratapan. Hati kukuh, sikap tangguh dan semangat baja unutuk melakukan kebaikan; lebih dari orang lain yang memiliki kelebihan harta,waktu, juga kesehatan.

Mbak Nuning, Habibah, Hilma dan pak Imam

Mbak Nuning, Habibah, Hilma dan pak Imam

Pak Imam, namanya.
Saya mengenalnya sebagai lelaki sederhana yang tak banyak bicara namun murah senyum. Ia tidak ada di podium, di panggung, di mimbar. Tak mahir mengutip ayat atau memberikan dalil. Ia penjaga kantor DPD PKS Tegal, juga bagian bersih-bersih jika sebuah acara berlangsung. Ia datang paling awal dan pulang paling akhir. Tugasnya mengumpulkan sampah sisa agar selesai acara, tak ada lagi ceceran barang kotor tertinggal di tempat.

Istrinya, mbak Nuning adalah seorang perempuan sederhana yang selalu tertawa dan tersenyum lebar. Tak pernah mengeluh ini itu sekalipun tempat tinggalnya masuk gang sempit yang sebenarnya tak layak untuk dihuni. Saya mengenal keluarga ini belasan tahun, tak sekalipun mereka pernah meminjam uang atau mengeluh kelaparan, sekalipun pernah suatu saat mbak Nuning keceplosan mereka ternyata berhari-hari tak makan. Putri kecil mereka , Hilma (sekarang sudah menjadi gadis cantik), saat itu mengumpulkan uang limaratus rupiah. Rp500! Dengan uang itu Hilma membeli bubur, meski seorang anak biasanya egois, namun si kecil Hilma membagi bubur itu untuk seluruh anggota keluarga.

Pak Imam dan mbak Nuning memiliki 4 orang putra putri : Ihya, Safir, Hilma dan Habibah. Ihya telah meninggal beberapa tahun lalu karena sakit menahun.

Stroke dan glaukoma

Beberapa bulan lalu, saya mendengar kabar pak Imam stroke.
Betapa sedih hati ini karena tak dapat membantu banyak. Pasti , beban pak Imam, mbak Nuning dan anak-anaknya semakin besar. Teman-teman membantu, Safir juga saat ini telah lulus sekolah juga Hilma. Safir dan Hilma sudah bekerja, namun tentu beban ekonomi belum dapat teratasi. Apalagi, sakitnya pak Imam membutuhkan banyak biaya.
Stroke pak Imam menyebabkannya lumpuh total. Dokter mengatakan, ia dapat kembali normal meski tak seratus persen sembuh, setelah jangka waktu satu tahun. Tidak itu saja, stroke juga menyerang matanya hingga mengalami glaukoma.

Dapat anda bayangkan betapa sedih mbak Nuning dan anak-anaknya?
Bahkan, ketika suami saya menengoknya, ia sama sekali tak mengenal.
“Siapa ya?” pak Imam hanya mampu bertanya-tanya.
Jangankan suami saya. Pak Imam hanya mampu menggambarkan suami saya dengan kata-kata: tinggi, besar, berjenggot.
Berlinang air mata, mbak Nuning mengatakan :
“Jangankan orang lain. Ia tak mengenal anak-anaknya. Tak mengenal istrinya. Tak mengenali wajah saya, bahkan tak ingat nama saya.”

Jalan menuju DPD

Tak ada yang diingat pak Imam setelah stroke.
Kami bertanya, Safir ada dimana pun, ia butuh waktu lama untuk menjawab dan tak ingat tepatnya saat itu putranya ada dimana. Safir menikah beberapa bulan lalu, dan ketika kami bertanya bulan apa Safir menikah; pak Imam pun tak dapat menjawab.
“Bulan apa ya….,” ia mengulang pertanyaan kami.
Namun, apa yang membuat kami demikian terharu adalah, ia mengingat sesuatu dalam hidupnya. Satu-satunya yang ia ingat, satu-satunya yang mengendap dalam benak, satu-satunya yang terekam memori otak, juga memori hatinya.

Ketika ingatan akan anak-anak dan istrinya sama sekali tak meninggalkan bekas, pak Imam ternyata masih ingat jalan dari rumahnya menuju DPD. Lebih dari itu ia akan tersesat, sebab tak mengenali jalan pulang. Namun jarak tempuh, tanda-tanda, belokan antara rumah menuju kantor DPD, masih tetap utuh. Seolah-olah, tanggung jawabnya untuk menajdi bagian dari jamaah, meski kecil dan tampak tak berarti bagi sebagian besar manusia; telah menjadi bagian yang mendarah daging dan tak akan dilepaskannya amanah tersebut.

Kami menangis memandang lelaki sederhana itu yang tentu, tak mengenali siapa kami.

Matanya separuh buta, tubuhnya lumpuh akibat stroke (meski sekarang mulai membaik), ingatannya menghilang namun hatinya tetap utuh hidup bersama jamaah. Orang-orang seperti pak Imam dan keluarganya inilah; yang akan membuat kita banyak belajar.

Ketahanan, resiliensi, endurance; tak akan didapat jika bukan karena ketulusan hanya mengharap balasan Allah SWT, insyaAllah.

(3) Kyushu Halal Tour: Sinkansen berlapis emas!

Pernah naik kereta api?
Angkutan rakyat yang meriah ini selalu digemari karena menimbulkan sensai berbeda dengan mobil. Tak mabuk, tak bau bensin, bertemu banyak orang dan dapat menikmati pemandangan lebih leluasa.

Shin-tosu Station

Shin-tosu Station

Mural di sudut stasiun Shin-tosu

Mural di sudut stasiun Shin-tosu

Sinta dan Yoko Kawano

Sinta dan Yoko Kawano

Perjalanan kali ini bermula dari stasiun Shin- Tosu. Harga tiket dari satu stasiun ke stasiun lain sekitar ¥4000 . Dari stasiun Shin-tosu menuju Kumamoto terhitung 3 stasiun sehingga harga tiket kurang lebih ¥8000.

Terimakasih, Kakek :)

Terimakasih, Kakek :)

Mr. Yoshida, Sinta Yudisia dan Mr. Asano

Mr. Yoshida, Sinta Yudisia dan Mr. Asano

Sinkansen adalah kereta api super cepat dengan interior cantik. Jarak Shin-tosu – Kumamoto yang seharusnya ditempuh 2 jam menjadi 20 menit. Daaaan….kereta ini berlapis emas! Interior menawan, kursi berbunga-bunga dan berbahan baku kayu. Interior kamar mandinyapun cantik, perpaduan modern dan tradisional. Tempat sampah dari keranjang bambu dimanfaatkan dan tetap dipertahankan bersih dengan dilapisi plastik.

Pintu dan dinding berlapis emas asli

Pintu dan dinding berlapis emas asli

(2) Kyushu Halal Tour : Chowa~ Harmonisasi dalam Tea Ceremony

Tea ceremony kali ini bertempat di Shofuen.

Bangunan bukan hanya sekedar struktur fisik yang melibatkan kayu, semen dan batu. Apapun dapat memiliki makna dan filosofi. Pernahkah anda berpikir, seorang tamu yang hadir ke rumah kita, ia mengamati taman dan ruang tamu, lalu berpikir seperti apa orang yang mengelola rumah tersebut?

Penulis di depan momiji dan latar belakang rumah tradisional

Penulis di depan momiji dan latar belakang rumah tradisional

Tea ceremony di Jepang menggabungkan beberapa unsur seperti bangunan, taman dan ruang-ruang. Taman dihiasai batu yang menyerupai gunung Fuji dengan 5 danau di sekelilingnya, perdu menggambarkan hutan dan rerumputan melukiskan semenanjung atau daratan.

Basuh muka dan tanganmu sebelum masuk

Basuh muka dan tanganmu sebelum masuk

air hujan yg jatuh ke rumput ini, akan menghasilkan gaung rintik yg merdu

air hujan yg jatuh ke rumput ini, akan menghasilkan gaung rintik yg merdu

The Guide & Master Tea

The Guide & Master Tea

Taman luar, tamu masih diizinkan berbincang tertawa, semakin masuk ke dalam maka harus melepaskan semua masalah. Bersikap lebih tenang dan sopan, membersihkan hati dan pikiran dari masalah untuk mengikuti tea ceremony.

Cara masuk ruang tea ceremony

Cara masuk ruang tea ceremony

cankir utk upacara minum teh

cankir utk upacara minum teh

Pintu masuk, cara berjalan, cara menuang teh, cara memakan 3 butir kue wagashi serta memutar teh memiliki makna tersendiri. Tuan rumah sangat memuliakan tamu , dan tamu pun megnhargai tuan rumah dengan menghabiskan jamuan yang disajikan.

Menyiapkan teh dalam keheningan

Menyiapkan teh dalam keheningan

Kue wagashi manis legit sebelum menyantap ocha yg kental

Kue wagashi manis legit sebelum menyantap ocha yg kental

#kyushuhalaltour

(1) Kyushu Halal Tour : Mengapa Harus Halal?

Halal adalah standar kesehatan tertinggi untuk sebuah produk makanan. Bukan sekedar tanpa darah, alkohol atau zat terlarang lainnya. Setiap hari terjadi regenerasi sel, pertumbuhan sel yang memerlukan asupan protein, lemak, karbohidrat dan mineral-mineral penting. Bila, terjadi metabolisme yang terus menerus, tidakkah perlu memperhatikan dari sumber apakah bahan baku sel yang didapatkan?

Standar rendah yang diasup oleh tubuh kita akan menjadikan sel-sel berkembang tidak optimal, atau malah terjadi kerusakan. Tengok saja orang-orang yang sembarangan menkonsumsi makanan : tubuhnya tak seimbang atau malah rusak sama sekali. Peminum alkohol rusak lambung dan ususnya, juga susunan syarafnya.
Makanan tidak halal yang masuk ke tubuh akan menimbulkan dampak kerusakan kemana-mana yang pada akhirnya menimbulkan amsalah fisik dan psikis. Bila otak dan susunan syaraf bermasalah, dapat dipastikan terjadi gangguan perilaku bahkan gangguan emosi.

Di Indonesia, halal perlu mendapat perhatian khusus, begitupun di luar negeri , agar setiap individu muslim yang tinggal di belahan bumi manapun tetap menjaga diri.

Jepang, sebagai negara maju yang peduli terhadap pelayanan dan kerja keras mengupayakan agar setiap wisatawan muslim yang berkunjung ke negaranya, dapat tetap beraktivitas sehari-hari seperti mandi dan buang air, sholat; juga makan dan minum dengan tenang.

Yuk, simak apa saja yang sudah disiapkan Jepang, khususnya Fukuoka Prefecture dalam menyambut wisatawan muslim!

#kyushuhalaltour
#Fukuoka

Es krim dari susu terenak sedunia : Aso Mountain!

Es krim dari susu terenak sedunia : Aso Mountain!

Sapi wagyu hotel Nikko Kumamoto yang terjamin kehalalannya, insyaAllah :)

Sapi wagyu hotel Nikko Kumamoto yang terjamin kehalalannya, insyaAllah :)

(3) Cinta dan Ketulusan

 

Sebagian orang yang apatis dan kecewa terhadap cinta beranggapan, cinta hanya bahasan yang dilalap anak-anak muda kasmaran. Anak-anak yang masih seusia umur bawang, belum melihat dunia dari cakrawala tiga dimensi, empat dimensi, ribuan dimensi.

Masih ada cinta sejati yang tulus?
Yang menurut ukuran skala Zick Rubin, terdapat parameter untuk mengukur Cinta ataukah Suka,masing-masing parameter berjumlah 13 point . (Beli Kitab Cinta dan Patah Hati ; juga Cinta x Cinta hehe)

Apa beda CINTA dan SUKA?

Senang karena dapat diajak berbicara, ia orang yang mengagumkan dari segi intelektual maupun prestasi, bersamanya tak pernah badmood. Itu namanya SUKA.
Kesalahannya samar terlihat, memaafkan apapun perilakunya, kebahagiannya adalah tanggung jawab kita, ingin menatap berlama-lama dan hanya dengannya rahasia terdalam dapat dibagi. Itu namanya CINTA.

Demikian kata suhu Zick Rubin.
Silakan isi questionernya dan ujicoba pada pasangan.

Menilik parameter cinta bahwa kebahagiaannya adalah tanggung jawab kita; disitulah titik ketulusan berada.

true love

Sweet True Love

Titik ketulusan seorang gadis secantik Naila dalam usia 18 tahun menikah dengan Utsman bin Affan yang berusia 80 tahun; Naila rela menjadi perisai bagi suaminya kala para pemberontak merangsek masuk. Kisah cinta unik antara Zainab al Nafzawiyya dengan Abubakar bin Umar dan Yusuf ibn Tashfin; dimana Abubakar mengalah pada Yusuf sebab Zainab memiliki ambisi besar : menaklukan Andalusia, saat Abubakar tak sanggup memenuhinya.

Di antara kita masih ada cinta tulus itu.
Memikirkan kebahagiaan pasangan, dalam hal-hal kecil. Rela terjaga dengan tidur yang terganggu tiba-tiba, demi membukakan pintu bagi sang kekasih. Menatap wajahnya, merupakan hiburan pelepas penat.

ture love 1 - Copy

Inginkah kamu setua mereka dalam cinta?

Merelakan pasangan memiliki me-time, karena ia membutuhkannya dan biarlah kita kerepotan mengerjakan ini itu sendiri. Toh di lain waktu, saat kita menginginkan me time, ganti ia yang rela mengorbankan diri.
Ada orang-orang yang luarbiasa, memikirkan kebahagiaan pasangan seperti Abubakar bin Umar memikirkan kebahagiaan Zainab al Nafwaziyya : merelakan tambatan hatinya memilih cinta yang lain.

Seorang sahabat, dengan segenap cinta dan ketulusannya, mengizinkan suaminya untuk menikah dengan perempuan lain sebab perempuan kedua inilah yang mampu membangkitkan semi cinta sang suami kembali.

Sad-Sayings-and-Quotes-About-Love

For you who should leave him alone

Ah, dapatkah suami meninggalkan istri terdahulu dan mencurahkan cinta bagi istri yang kemudian?

Tampaknya harus dilanjutkan dengan pembahasan seri cinta yang berikutnya.

(2) Cinta dan Sadisme, Masokisme atau SM (sado-masokist)

Bagaimana caramu mengekspresikan cinta?
Mengirim bunga, puisi, coklat, pulsa?
Atau justru sebaliknya : semakin mencintai seseorang, semakin agresif posesif? Semakin ingin menyakitinya , sebagai bentuk penguasaan dan orang yang kau cintai berada dalam genggaman?
Cinta memang aneh, sebab ia gabungan unsur-unsur lahiriah yang mencakup fisiologis biologis dan unsur batiniah psikologis.
Sadism, awalnya dipopulerkan oleh Marquis de Sade, penulis dari Eprancis abad 18 yang menuliskan novellete berjudul Justine. Berkisah seorang gadis berusia 12 tahun hingga usia 26 tahun hidupnya; hidup dalam kemalangan dan penganiayaan seksual. Buku Sade sempat dilarang beredar dan diterjemahkan. Meski demikian, karya Justine berlanjut dengan karya berlikut , Juliette yang merupakan karya de Sade juga.
Terminologi sadis akhirnya digunakan untuk mengacu pada orang-orang yang senang menganiaya orang lain, dan mendapatkan kepuasan dengannya.
Masokist, diambil dari nama Leopold von Sacher- Masoch yang populer dengan karyanya Legacy of Cain dan Venus in Fur. Venus in Fur inilah yang menggambarkan fantasi seksualnya serta deviasi perilaku fetish. Masochist menjadi simbol bagi orang-orang yang rela disakiti, dianiaya, dipermalukan oleh orang yang dicintai.

50-shades-of-grey-movie-598x378

50 shades of grey, parafilia yang diangkat ke dalam film

Seringkali, pasangan cinta sado-masokist ini bertemu bagai tutup bertemu dandang.
Beberapa penelitian mengungkapkan domestic violence , bukan dalam rumah tangga tapi dalam masa berpacaran. Seorang cewek A tak tega meninggalkan cowoknya, padahal sang cowok menamparnya, memukulnya, menyundut dengan rokok. Ada lagi cewek B yang tahu , cowoknya selingkuh dan seringkali meminta uang darinya untuk membeli barang-barang mahal, tampilan keren yang dipakai untuk memikat cewek lain. Dengan dalih terlalu sayang pada cowok, cewek ini tak bisa lepas dari cowoknya.
Sepasang cowok cewek atau bahkan pasangan suami istri rela menyakiti dan disakiti untuk mendapatkan kepuasan fisik dan psikis.
Normalkah?
Tentu tidak.
Dalam batas tertentu, kesabaran masih wajar. Misal, seorang melampiaskan tekanan urusan kantor dengan bersikap kasar pada istri dan anak di rumah. Meski lambat laun, ini harus diterapi . Seorang istri boleh saja bersabar, karena berharap seiiring waktu, ada yagn luluh dan hilang. Biasanya; sifat kasar, kejam, agresif bila tidak menjadi gangguan psikologis hanya muncul sewaktu-waktu, itupun jarang. Namun bila mengendap menjadi psychological disorder yang telah menajdi karakter, masuk kategori tak wajar ; kesabaran dengan menerima dan bersikap diam bukan satu-satunya penyelesaian.
Saya pribadi, beberapa kali melihat kekejaman di depan mata dan obyeknya menerima dalam diam. Seorang cewek (cewek lho!) memaki-maki cowoknya dengan kasar di atas sepeda motor, di tempat umum, hingga cowoknya memarkir sepeda motor dan mendengarkan sumpah serapah gadisnya dengan sabar. Di lain waktu, seorang cewek mencacai maki cowoknya, meninggalkan cowoknya di mobil, hingga kami yang berada di jalan raya terbengong-bengong melihat seorang cowok diperlakukan demikian kasar .
Dalam kasus suami istri, pernah suatu ketika di toko, melihat suami memperlakukan istrinya demikian kasar. Membanting galon, istri belum sempurna naik ke sadel sudah dipacunya kendaraan sembari mencaci maki dan bermuka garang. Meski masih jauh dari label SM (sado-masokist) yang lebih ke arah parafilia, atau deviasi dalam ranah cinta yang mengarah ke hubungan seksual, tetap saja perilaku kejam, sadis dari orang terdekat pantas diwaspadai.

love hurt
Bila kekejaman itu sudah berada di luar batas, tak ada salahnya segera mengambil sikap. Bolehlah suami menampar satu, dua ,tiga kali. Selebihnya harus introspkesi, apakah memang istrinya demikian bermulut tajam hingga suami hilang kesabaran atau sebaliknya, suami yang demikian ringan tangan?
Kekejaman, agresi verbal pun harus segera dikenali.
Bila pasangan masih saling cinta, koreksi mungkin akan menimbulkan rasa sakit hati dan tersinggung namun insyaAllah, ada kemauan untuk memperbaiki diri.