sintayudisia

FLP dan 18

In FLP on Februari 22, 2015 at 8:05 am

Konon, orang-orang yang dilahirkan di bulan Februari, cocok menjadi seniman. Sifat sensitif, suka segala sesuatu yang berbau artistik, imajiner, pengkhayal tinggi. Profesi yang cocok adalah artis, penulis, pemusik, atau pekerja seni yang lain. Mungkin itu sebabnya, beberapa nama di FLP yang lahir di bulan Februari seperti mbak Afifah Afra atau Rihanu Alifa, senang berkiprah di dunia kepenulisan.

Boleh jadi, kita percaya prediksi zodiac.
Bahwa orang yang lahir di bulan tertentu, disebabkan pengaruh posisi bulan dan matahari, cairan-caiaran dalam tubuh bereaksi membentuk pola tertentu dan memengaruhi pembentukan karakter.

Pertanyaannya : apakah semua orang yang lahir di bulan Februari dapat menjadi seniman?

FLP : Forum Motivasi

Semakin lama, semakin menyadari, bahwa minat dan bakat tanpa motivasi dan stimulasi sama seperti kecantikan seorang gadis yang dipulas buram dalam rambut acak-acakan, wajah kusam, baju kumal. Potensi cemerlang tak berarti apa-apa, tak memunculkan produk yang mampu dilihat dunia.
Ditakdirkan lahir di bulan Februari bukan serta merta mahir merangkai kata.
Mengolah ide.
Membangun alur.
Merangkai kalimat, menyusun bab demi bab, menemukan judul menarik, mendapatkan penerbit berjodoh, berpasangan dengan editor andal, diterima pasar, laris manis, terkenal, meraup royalti dan roadshow kesana kemari.

Hidup mengajarkan, bahwa dalam setiap pencapaian, dibutuhkan tahap demi tahap latihan. Kadang, lelah rasanya ditolak sana sini. Jangankan penerbit nasional, media lokal bahkan media kampus saja menolak! Alasannya beragam. Padahal setengah mati kita menghasilkan sebuah tulisan sejumlah 10 halaman kuarto. Bolak balik baca referensi. Editing di sana sini. Ganti judul berkali-kali. Tetap saja, cerpen, artikel, opini atau apapun yang kita tulis dianggap sampah oleh oranglain.

Jikalau berjalan sendirian, mungkin sudah jauh-jauh hari patah di tengah jalan.
Urung jadi penulis.
Lebih baik banting stir ke pekerjaan lain yang lebih menjanjikan.
Tapi disinilah kita.

Bersama FLP, Forum Lingkar Pena.
Bersama teman-teman yang punya semangat sastra yang sama. Mengerjakan kebaikan itu tidak sama seperti orang yang menggali tanah untuk menanam pohon cangkok, lalu mendapatkan harta karun emas batang satu kilogram. Menjadi penulis ibarat prajurit Thalut. Perjalanan panjang, terseok, menemukan sungai-sungai yang memukau namun belum diizinkan untuk meneguk air sebanyak mungkin bila belum sampai tujuan.
Bersama FLP, kita menemukan teman-teman dengan semangat sastra yang sama.
Saling menguatkan ketika naskah tertolak.

“Wah, gakpapa! Semangat ya!”
“Aku dulu juga puluhan kali ditolak, tapi pekan kemarin Alhamdulillah tembus resensi.”
“Aku juga tembus…hehe, Surat Pembaca sih!”
“Kamu tulis aja di blog. Jangan dibuang cerita-ceritamu.”

Pendek kata, FLP membersamai kita menemukan kekokohan dalam detik-detik kegagalan. Begitu banyak teman di FLP yang (dianggap) gagal, tapi terus berkarya, berkarya, berkarya lalu di kemudian hari satu demi satu bukunya terbit.

Awalnya antologi.
Awalnya indie.
Awalnya koran lokal.
Awalnya resensi.
Lalu, semakin matang dan lapang dada itu terbangun, Allah SWT bukakan pintu-pintu rezeki. Bersama FLP, kita mendapatkan motivasi untuk terus berproduksi, bermental baja, jauh dari kata menyerah apalagi putus asa, dan insyaallah, semoga dijauhkanNya dari sikap sombong, ujub, riya’, sum’ah.

Siapa sih penulis terkenal, jika tidak dibantu editor, penerbit, pembaca, pasar dan resensor? Semua yang dicapai alah keringat, doa, sujud yang panjang, dan harapan yang tiada putus padaNya. Seorang penulis adalah pembelajar sepanjang hayat. Maka seniman haruslah orang-orang dengan mental beton namun hati selapang samudra, selembut gumpalan awan. Bersama FLP kita akan menemukan teman-teman yang memacu dirinya berprestasi, namun juga saling memberikan motivasi bahwa kita tidak hanya akan berhenti di sini.
Di titik ini.

FLP dan 18

FLP adalah organisasi. Organisasi adalah kumpulan orang-orang. Orang-orang tidak sama dengan 1 orang. Bila seorang anak manusia berusia 18 tahun, ia telah beranjak dewasa. Namun FLP, sebagai organisasi tak dapat disamakan dengan anak remaja yang telah mampu berjalan, berdiri tegak bahkan bertualang kesana kemari.

Sebagai sebuah organisasi yang menaungi puluhan cabang serta ribuan anggota, beragam latar belakang hadir bersama FLP. Orang-orang Februari atau non- Februari. Penulis dan bukan penulis. Pembaca dan bukan pembaca. Pelajar atau non pelajar. Mahasiswa atau non mahasiswa. Karyawan atau non karyawan. Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan yang lainnya. Indonesia dan yang bukan di Indonesia. Merawat rumah sebesar FLP bukan hal yang mudah, namun juga bukan mustahil untuk meraih keberhasilan bersama.

18 tahun FLP berdiri.
Jika tolok ukur keberhasilan adalah buku, FLP banyak melahirkan ratusan buku.
Jika tolok ukur keberhasilan adalah jumlah penulis, FLP banyak melahirkan penulis.
Namun bukan hanya produk materi yang ingin dihasilkan FLP. FLP ingin menjadi bagian dari perjalanan Indonesia, meraih predikat bangsa yang bermartabat, cerdas cendekia dan santun penuh etika.

Syukur Alhamdulillah, FLP tersebar di kalangan pemuda-pemdua yang paham agama sehingga cabang di Saudi Arabia, Yaman, Pakistan, Mesir berdiri serta menghasilkan karya tulis agama yang bukan hanya memberikan petunjuk, namun renyah dalam penyajian hingga masyarakat awam tertarik membaca dan memahaminya.

Syukur Alhamdulillah, FLP tersebar di kalangan warga Indonesia yang bermukim di Hongkong, Taiwan, Jepang, Amerika sehingga tulisan-tulisan yang dihasilkan adalah bagaimana tetap menjaga jati diri keIslaman di tengah masyarakat non muslim. Bagaimana tetap bekerja, berkarya, di tengah himpitan kesulitan yang pada dasarnya mengasah sebuah batu menjadi berlian.

Syukur Alhamdulillah, penulis FLP melanglang buana belajar di negeri orang hingga ke Inggris dan Turki sehingga informasi-informasi tentang dunia Islam terkini dapat hadir langsung dari orang pertama. Berikut informasi seputar dunia yang sangat dibutuhkan bagi segenap anggota FLP untuk lebih mempertajam kualitas kepenulisan.

18 tahun FLP berdiri.
Insyaallah kita akan tetap bersama hingga di angaka 20, 30, atau bahkan 100 tahun.
Membersamai bangsa Indonesia, ummat muslimin sedunia, bahwa aktivitas membaca dan menulis bukan hal asing bagi para ulama dan cendekia. Bahwa setiap muslim, akan menjadikan Nun dan Iqro, sebagai pembiasaan sehari-hari dalam memahami agama. Dalam menjalani kehidupan.

Nun dan Iqro.
Semoga, setiap anggota FLP semakin bijak dalam berucap lisan dan tulisan dalam segala ranah kehidupan.
Selamat Hari Jadi FLP yang ke 18.
Salam Pena.
Salam Sastra Santun.

Sinta Yudisia
Ketua Umum FLP 2013-2017

Sinta Yudisia Milad FLP 18

LEONIT : Lomba Menulis si Anak Singa

In Oase on Januari 28, 2015 at 1:55 am

Leonit3

Leonit 2

Leonit 1

Ibu Primary Object, Ayah Secondary Object : Ibu atau Ayah Pendidik Utama?

In mother's corner, Psikologi Islam, PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY, Tulisan Sinta Yudisia on Januari 20, 2015 at 7:28 am

Mommy First
Dengarlah apa yang dilakukan Nosekeni Fanny, istri ketiga Mphakanyiswa.
Setiap kali anak-anaknya selesai bermain, Nosekeni menyiapkan makanan dan cerita heroik bangsa Xhosa. Cerita-cerita ini merangsang imajinasi suku Qunu. Salah satu cerita kegemaran putra pertamanya, Rolihlala adalah kisah seorang perempuan katarak yang menjadi musafir. Ia berkelana mencari orang yang mau membersihkan matanya. Tentu saja tak ada orang yang mau. Jijik! Namun, suatu ketika terdapatlah seorang pemuda yang bersedia membersihkan matanya. Ajaib. Usai membersihkan katarak sang perempuan tua, menjelmalah ia menjadi gadis cantik rupawan nan kaya raya. Pemuda itupun menikah dengannya.
Apa yang ditekankan oleh Nosekeni adalah bahwa pemberian dan kemurahan hati, suatu saat akan dibalas dengan ganti kebaikan yang tak terkira. Kisah itu menancap terus dalam benak dan hati Rolihlala hingga kelak ia menjadi tokoh perlawanan Apartheid yang dikenal sebagai Nelson Mandela.

Perempuan-perempuan yang luarbiasa berperan sebagai seorang Ibunda, melahirkan tokoh-tokoh yang dikenang sepanjang masa sebagai para Penakluk Dunia, pencatat jejak sejarah.
Apa beda Jenghiz Khan dengan Sultan Muhammad II dari Khwarizmi? Keduanya lelaki utama, tokoh bagi kaumnya, namun menorehkan jejak sejarah berbeda.
Jenghiz Khan bukan hanya menaklukan Khwarizmi, memporak porandakan dunia Islam, meluluhlantakan Samarqand, Balkh Baghdad, menghabisi para ulama, membuat Ibn al- Atsir berkata : “siapa yang sanggup menyanyikan lagu kematian Islam dan menceritakan kisah ini? Lebih baik saya tidak pernah dilahirkan oleh Ibu!”

Demikianlah.
Sultan Muhammad II dan ibunya Thorgun menghabiskan waktu dalam limpahan kesenangan duniawi. Menyanyi, menarik pajak, dikelilingi biduanita. Khwarizmi dalam kondisi payah saat pasukan Mongolia merangsek masuk.
Temujin atau Jenghiz Khan senantiasa meminta restu Hoelun tiap kali ingin menaklukan satu wilayah, sang ibu memberkati putranya, mengantar hingga ke gerbang pandangan cita-cita ambisius pengelana gurun-gurun beku Mongolia. Hoelun mengajarkan Temujin cara bertahan hidup, mendampinginya bahkan sepanjang sang putra telah menikah, selalu memeluknya tiap kali Temujin resah.
Maka orang-orang akan berkata : The best achievers in this world, born by great mother.

Daddy First
Ah, bagaimana bila ternyata ayahnya yang luarbiasa?
Alfred Roberts harus putus sekolah di kelas 3 SD.
Ia hanya ingin belajar dan terus memiliki cita-cita, maka membaca menjadi salah satu kesukaannya selain menjaga toko kelontong kecil miliknya. Ketika ia menikah dan memiliki 2 gadis kecil yang cantik, Alfred suka menulis catatan dan meminta putrinya membaca catatan cintanya. Kadang-kadang tulisan ini demikian puitis dan penuh metafora.

“….si anak memiliki rupa teramat cantik, mampu membangkitkan rasa sayang dan keceriaan yang menular. Semua sudah sedari awal, tetapi baru mewujud ketika seseorang telah berkontribusi sepenuhnya kepada umat manusia.”

Anak kedua Alfred lah yang begitu terinspirasi kegigihan sang ayah, kebiasaannya membaca dan menulis. Ia mengutip tulisan-tulisan ayahnya dalam memoarnya. Alfred sama sekali tak menyangka, seorang dari dua gadis kecil cantiknya – Muriel dan Margareth- kelak dikenal sebagai perempuan Tangan Besi Inggris, Margareth Thatcher.

Mari simak kisah yang lain.
Paul Jobs dan Clara demikian menginginkan seorang anak . Maka, ketika sepasang orangtua muda ingin memberikan putra mereka lantaran belum siap, Paul mengiyakan. Paul seorang mekanik, senang membuat barang-barang sendiri.
Putra kecilnya, diberikan meja dan kursi sendiri saat Paul tengah bertukang.

“Ini meja untukmu,” ujar Paul.
Paul menyelipkan filosofi.
“Saat membuat lemari atau membangun pagar, bagian terpenting adalah yang tak terlihat. Seperti bagian belakang lemari.”
Jauh bertahun-tahun ke depan, filosofi Paul merembesi pemikiran putranya. Ia, si genius yang berada dalam persimpangan humanistik dan teknologi; suka menciptakan hal-hal baru yang tidak hanya menyentuh penampilan luar. Tapi juga memperhatikan sisi teknologi sebelah dalam.
Paul memberi nama anak buangan yang begitu disayanginya dengan nama Steve “Paul” Jobs. Genius eksentrik, womenizer, seorang seniman teknologi yang menggunakan metode Zen dalam menciptakan produk-produknya.
Demikianlah.
Anak-anak hebat, dilahirkan dari ayah yang luarbiasa.

Jadi, Ayah atau Ibu?
Ibu hebat, anak hebat.
Ayah jagoan, anak jagoan.
Bolehkah memilih salah satunya?
Cukup ibu saja yang hebat, insyaallah anak OK. Atau ayah saja yang hebat, toh Margareth Thatcher dan Steve Jobs sukses sebab ayahnya.
Dalam ranah psikologi, figur ayah dan ibu memiliki posisi masing-masing.

Ibu adalah Primary Object, objek utama yang dikenal sang anak sejak ia masih di dalam kandungan. Primary object berfungsi untuk membangung centered holding dan centered relating.
Centered holding adalah bentuk hubungan fisik yang juga memberi ruang pertumbuhan psikologis seseorang. Memeluk, mencium, mendekap anak adalah centered holding. Tampaknya sepele, tapi ini perlakuan ini memberikan kekuatan psikologis bagi anak seiring masa-masa perkembangannya. Hoelun kerap melakukan ini pada Temujin. Mengepang rambutnya, berada di dekatnya. Bahkan kelak ketika sang putra menjadi penakluk.
Demikian pula Nosekeni Fanny.
Ketika Mphakanyiswa wafat, Nosekefeni mendampingi Rolihlala berjalan kaki mengunjungi Jongintaba , kepala suku yang berjanji membesarkan Rolihlala, yang berada sangat jauh dari kampung Qunu.
Menurut Sigmund Freud, anak-anak yang kehilangan masa-masa sentuhan dengan sang ibu akan tumbuh menjadi anak-anak dengan gangguan kepribadin di masa depan. Bagi tokoh psikoanalis tersebut, perilaku menyimpang seseorang berasal dari kehilangan figur ibu di masa-masa awal.

Centered relating adalah hubungan psikologis antara ibu dan anak yang akan sama-sama membangun kepribadian mereka berdua. Ibu semakin belajar menjadi dewasa, bertanggung jawab, santun dan mengayomi sementara anak juga akan belajar bagaimana kedudukannya sebagai anak yang dilindungi, disayangi namun juga memiliki sejumlah hak dan kewajiban. Hubungan psikologis antara ibu dan anak akan membantu seseorang menemukan jati diri yang matang dalam perjalanan hidupnya.

Bagaimana dengan ayah?
Ayah adalah secondary object.
Tapi obyek sekunder yang dikenal anak ini bukan bagian tak bermakna.
Seorang lelaki harus memastikan istri, ibu anak-anaknya berada dalam primary object. Karena itu seorang ayah tidak membiarkan ibu kehilangan porsi centered holding dan centered relating. Semisal, lelaki yang bermalas-malasan mencari nafkah sementara istri yang berjuang keras menopang nafkah, sehingga kesempatan membangun hubungan psikologis dengan anak menjadi berkurang. Bila ibu karena kelelahan akibat mengurusi banyak hal menjadi terlalai membangun hubungan dengan si anak, maka ayah si obyek sekunder ini harus mengingatkan ibu agar menjalani perannya. Tentu saja, berbagi peran adalah keharusan.

Bila ibu sangat sibuk memasak, hingga tak sempat pagi-pagi menyimak bacaan Quran si anak dan mendekapnya sebagai kekuatan menghadapi era sekolah yang penuh dinamika; maka ayah harus mengambil peran agar ibu mampu berbagi kekuatan psikologis dengan putra putrinya.
Bukan itu saja. Ayah adalah ideal object bagi anak-anaknya.
Ibu memberikan cinta kasih, mendidik kebaikan dan aturan. Namun cita-cita besar, internalisasi kehebatan perilaku dan sosok seseorang berasal dari ayah.

Kisah Nabi Ibrahim as (2 :127-129) dan Luqmanul Hakim ( 31) adalah sedikit dari kisah-kisah ayah yang hebat. Nabi Ibrahim as dan Luqmanul Hakim menyempatkan berdialog panjang. Dialog-dialog penuh makna yang menumbuhkan kecintaan anak-anak kepada Tauhid dan tugas utama sebagai manusia.
Memang, peran ibu menjaga agar anak berada dalam dekapan hangat serta memastikannya tak menyimpang. Namun, agar ananda memiliki pandangan jauh ke depan, cita-cita yang melampaui zamannya, kekuatan untuk penjadi seorang Survival & Conqueror ; ayah harus membersamainya.

Bangganya bila anak-anak kita berkata,
“aku ingin jadi seperti Ayah!”

Alfred Roberts serta Paul Jobs memasukkan edukasi, filosofi, skill kepada anak-anak mereka sehingga menjadi pribadi cemerlang, inovatif dan mampu menjadi pemimpin.

Ayah dan Ibu Bersama
Ada pasangan orangtua yang mem”besar”kan anaknya bersama. Jangan heran, ada pula yang menghancurkannya bersama pula.
Albert Einstein beruntung memiliki orangtua bijak yang membesarkannya tanpa cepat putus asa. Ketika kecil, tak mudah menjadi seorang Yahudi di tengah 70 siswa katolik. Einstein terserang echolalia, semacam gagap yang membuatnya tampak gugup dan terbelakang. Guru mengeluhkannya. Hermann Einstein memberikan hadiah kompas dan Pauline Koch memberikan hadiah biola. Sepasang orangtua yang tak menyerah meski anaknya didiagnosis bodoh dan berada dalam kungkungan rasialisme. Di kemudian hari, bila Einsten tenggelam, gugup dalam lamunan imajinasi liar dan geniusnya, ia memainkan biola sebagai peredam emosi.

William James Sidis, seorang anak jenius yang mampu membaca koran diusia 18 bulan. Menguasai delapan bahasa di usia 8 tahun dan masuk Harvard di usia 11 tahun. Sebagai seseorang yang diklaim memiliki kecerdasan di atas skor 200, Sidis sangat istimewa. Ia begitu istimewa hingga orangtuanya, Boris Sidis, Ph.D,. M.D. dan ibunya Sarah Mandelbaum M.D melupakan bahwa ia masih anak-anak ketika harus mencapai semua prestasi. Saat dewasa, Sidis sangat menarik diri dan dianggap memiliki beberapa gangguan psikologis. Sidis, menyalahkan orangtuanya yang dianggapnya terlalu berambisi menjadikannya berprestasi.
Meski kecerdasan Sidis dianggap melampaui Einstein, ia tidak memiliki kehangatan dukungan orangtua hingga harus berakhir dalam hidup yang mengenaskan.

Sangat berbeda dengan Einstein yang selain mendapatkan dukungan Hermann, Pauline, adik semata wayangnya Maja pun sangat mendukung Einstein. Belum termasuk sahabat-sahabat Einstein semacam Mileva Maric, Michael Angelo Besso, Marcell Grossman dll yang senantiasa mendukung kiprah Einstein.

Margareth Thatcher, meski banyak diilhami sang ayah, ternyata memiliki beberapa watak baik ibunya. Tiap Kamis, Beatrice Roberts mengadakan acara “panggang akbar” di depan toko kelontong miliknya. Tujuannya adalah membagi 2 atau 3 loyang roti kepada yang membutuhkan. Banyak warga dan relasi Thatcher yang menyatakan ia mirip ibunya dalam hal bekerja : sekalipun seorang Perdana Menteri, Margareth lekat dengan anak-anak, mengurus perkara domestik dan hidup ala ibu rumah tangga lainnya. Bagi Albert, Margareth memberikan sumbangsih bagi kemanusiaan dan itu yang membuatnya bersinar, terlepas hal tersebut disangkal oleh lawan-lawan politiknya.

Dalam kehidupan ini, mungkin tak semua didapatkan sempurna.
Sungguh beruntung memilih ayah dan ibu bagai Einstein atau Thatcher.
Namun bila tidak memungkinkan, salah satu orangtua harus maju sebagai figur bagi sang anak. Bila sang ayah terpaksa jauh di luar pulau karena harus bekerja, maka peran Primary Object dan Secundary Object diupayakan terus berjalan. Boleh jadi ada tambal sulam peran, saat ibu terpaksa mencari nafkah untuk membantu ayah, namun tugas utamanya sebagai centered holding dan centered relating tidak boleh terabaikan.

Begitupun, bila salah satu sosok orangtua tak sempurna, maka peran ayah sebagai Secundary Object tetap diupayakan berjalan. Ayah yang kokoh, tangguh, berkuasa, nakhoda di rumah.
Tips seorang teman ini mungkin bisa dilakukan.
Suaminya bekerja jauh di luar kota.
Secara keuangan, fasilitas tersedia. Namun si ibu tetap menganjurkan anak-anaknya menghubungi ayahnya bila terkait keuangan.
“Bilang Papa kalau mau beli sesuatu,” ujar si ibu.
Sekalipun ibu bekerja sebagai dosen dengan gaji lebih dari cukup, ia tak membiasakan anak-anak menjadikan semua keputusan “cukup dari ibu yang punya uang sendiri, terlebih ayah jauh.”
Sekalipun sang ayah bekerja jauh, anak-anak membiasakan meminta izin pada sang ayah bila akan membelanjakan uang. Figur sentral ayah sebagai tokoh pencari nafkah, tidak harus hilang hanya karena ia tidak ada di dalam rumah.
Memang, tak mudah menjadi ayah dan ibu yang bersama-sama membesarkan anak-anak. Namun dengan banyak belajar, kita akan mencoba memperbaiki apa yang telah luput dari perhatian.

Sinta Yudisia
Calon Psikolog, insyaaallah

Referensi
Al Quranul Karim
Arif, Iman Setiadi. Skizofrenia : Memahami Dinamika Keluarga Pasien. Refika Aditama. 2006.
Arnold, Thomas W. The Preaching of Islam. Widjaya. 1979
Isaacson, Walter. Steve Jobs. Bentang . 2011
———————. Einstein : Kehidupan dan Pengaruhnya Pada Dunia. Bentang . 2013
Man, John. Jenghiz Khan : Legenda Penakluk dari Mongolia. Alvabet. 2004
Moore, Charles. Margaret Thatcher : The Authorized Biography. Bentang. 2014
Pram, Tofik. Jejak Perlawanan Mandela : Di Antara Suramnya Kolonialisme dan Politik Apartheid. Edelweiss. 2014

jobs thatcher mandela

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 409 pengikut lainnya.