Bila Pengejek dan Pengolok berbalik menjadi Pendukung

 

Jika anda memakai  jilbab seperti saya di era 90an, pasti pernah  mengalami masa-masa yang spesial ini.

“Kamu mau kayak orang Iran ya?” kata salah  seorang saudara.

“Kamu ikut aliran apa sih?”

Apalagi ketika saya membatasi pergaulan, mengurangi film dan musik, tuduhan semakin berdatangan : “kamu sekarang nggak asyik lagi diajak ngobrol.”

Ketika saya tidak mau diajak bersalaman dengan pakde paklik mereka sontak murka : “memangnya aku ini apamu, Sin? Pakde paklik merasa tersinggung sekali saya tidak mau menyentuh tangan mereka.”

Waktu nikah muda di usia 20-an tahun, lengkaplah sudah stigma cewek berjilbab : “kamu itu dipengaruhi banget ya sama suru ngaji kamu? Kamu nggak mau kerja? Maunya di rumah aja? Hah, mau anak banyak? Ampun deh! Anak dua aja susah setengah mati!”

Berlinang air mata ini. Sakit rasanya. Kalau yang menyudutkan adalah guru-guru sekolah, nggak papa. Kalau yang menyindir dan mengolok-olok teman satu geng, okelah. Kalau yang menjauh adalah klub bahasa Inggris dan klub  pecinta alam, ya sudahlah. Tapi ketika saudara sendiri yang ikut-ikutan menyindir, mengejek, menyudutkan, menuduh macam-macam; jauh di lubuk hati sakitnya tak terkira melebihi goresan yang ditorehkan orang lain.

Saya ingin pakai jilbab karena ingin menjaga kemuliaan diri dan akhirnya menjaga kemuliaan keluarga, tapi mengapa keluarga sendiri juga yang menentang? Dulu, waktu saya pakai celana pendek dan kaos rock n roll, tidak ada yang menegur. Orang pacaran dibiarkan, orang menikah dikomentari. Padahal pacaran dan menikah sama-sama menghabiskan uang. Bedanya yang satu tidak terarah, yang satu terarah.

Tetapi ternyata, apa yang dilakukan atas landasan kebenaran, semakin kokoh dari hari ke hari. Satu demi satu sepupu, paman, bibi, pakde, bude yang menentang akhirnya ikut memakai jilbab. Yang dulu memarahi karena menikah  muda, malah memuji kami. Yang menuduh aliran sesat ketika tengah mendalami agama, ramai-ramai ikut pengajian dalam segala bentuknya. Ada yang ikut tasawuf, ada yang ikut Muhammadiyah, ada yang ikut NU, ada yang lebih suka tabligh. Pendek kata, semua yang menentang saya melakukan kebaikan dulu, pada akhirnya berbalik memuji dan mendukung. Bahkan mengikuti.

 

Kebaikan akan Berkembang

Alam semesta memuai. Kita semua tumbuh dan berkembang. Kejahatan tumbuh berkembang, sebaliknya, kebaikan juga tumbuh dan mekar. Dulu pacaran diam-diam, sekarang bahkan bugil dan berhubungan intim difoto, dishare, di like dan di comment!

Demikian pula kebaikan secara hukum alam, mengikuti aksi reaksi.

Ibaratnya, dimana ada Firaun, disitu ada Musa.

Semakin dahsyat keburukan, semakin dahsyat pula kebaikan mencari celah untuk tumbuh subur. Dulu saya harus menjahit baju sendiri, memakai taplak untuk jilbab. Satu-satuunya model jilbab saat itu hanya model ala qasidah, jilbab dengan topi. Kain jilbabnya tipis dan berbentuk segitiga tipis. Sekarang? Mau cari model busana dan kerudung ala apapun, ada! Harganya tersedia di segala level. Butiknya tersedia di setiap sudut jalan.  Mau pakai celana panjang, rok, gamis, cadar, abaya, baju kurung, baju pesta. Bahkan busana renang berhijabpun, ada. Disaat orang rame-rame memamerkan foto bugil, para muslimah pun tak ketinggalan memamerkan bahwa busana syari demikian modern dan stylish.

 

Panggung pendidikan, panggung sosial dan panggung politik

Apa sih yang laris dijual?

Ih, acara-acara yang menghibur ala dunia entertaintment dong. Pentas musik, film, novel teenlit chicklit, televisi yang menayangkan sinetron. Di zaman saya dulu, jangan coba-coba pakai label Islam. Nggak bakal laku! Yang namanya sekolah Islam dan pesantren, hiiii. Kumuh, pojok, kudisan, terbelakang. Apalagi pesantren. Alamak! Ketombean, kutuan, korengan. Yang mentereng adalah sekolah-skolah internasional dan sekolah non-muslim. Ekonomi dan perbank-an? Wuah, mana ada ekonomi syariah. Mana ada bank syariah. Yang ada adalah pinjaman bunga berbunga. Masih ingat ketika mama saya dulu punya usaha apotik, setengah mati cari pinjaman ke bank. Harus bayar setoran per hari (atau perpekan ya?). Telat sedikit, atau kurang meski seribu perak, di black list.

Sekarang?

Kalau mau daftar sekolah Islam, haus antri daftar November. Padahal tahun ajarannya masih Juli Agustus! Sekolah-sekolah Islam menjamur dan luarbiasa bagusnya. Pesantren? Mau cari yang tradisional atau modern, semua ada. Yang mahal atau murah, silakan, sama bagusnya. Daycare, taman kanak-kanak, SD, SMP SMA Islam wuaahhh, kualitasnya luarbiasa.

EO wedding sampai seminar, pelatihan yang muslim; ada. Sinetron muslim, ada. Novel Islami, ada. Warung, cafe, resto, makanan, minuman, hotel, wisata Islami, ada. Motivator, ada. Yang ceramah agama laris manis sekarang. Ustadz ustadzah adalah pekerjaan bergengsi yang menghasilkan pendapatan layak. Tidak seperti di zaman saya kecil dulu, ustadz itu miskin banget!

Bank-bank syariah menjamur. Senang banget lihat pegawai bank yang cantik-cantik berjilbab; tangkas, cerdas. Hampir di tiap kantor pemerintah atau swasta gemar mengadakan kajian Islam mulai dari belajar tahsin Quran sampai belajar tentang pernikahan dan parenting.

Panggung pendidikan dan sosial kita telah  mulai merasakan indahnya nafas Islam. Islam maju, indah, mampu bersaing dan solutif. Lalu; dunia yang memuai inipun menunjukkan sunnatullah. Hukum alam.

Boleh  kan Islam mulai merambah ke dunia politik?

natsir

Mohammad Natsir

Mulailah kaum muslimin yang semakin cerdas dan sadar akan posisinya; merasakan tanggung jawab sebagai khalifah. Wah, kalau sosial dan ekonomi saja mulai merasakan keteraturan dan keberkahan ketika dikelola oleh kaum muslimin; boleh dong urusan-urusan politik serta kenegaraan diatur juga oleh kaum muslimin. Tidak dengan cara anarkis, membabai buta, main seruduk. Tapi dengan cara yang baik kok. Sebagaimaan di pentas sosial dan pendidikan, kaum muslimin juga belajar banyak menjadi tokoh di bidangnya. Kaum muslimin semakin mahir, semakin cakap mengelola permasalahan dan mencari jalan keluarnya.

Ketika lembaga zakat dan ekonomi Islam berkembang, terasa sekali masyarakat miskin dan yang amat sangat  miskin mendapatkan bantuna. Banyak anak yatim, yatim piatu, keluarga dhuafa yang terbantu ketika sakit, membuka usaha, meneruskan pendidikan.

Ketika kaum muslimah semakin mampu menjaga diri dengan busana syari dan semakin memahami agama; kehidupan di kantor dan dunia kerja semakin lebih kondusif. Masing-masing kita lebih lapang melepas anak perempuan atau istri bekerja (jika harus bekerja).

Pendidikan, ekonomi, sosial; sudah.

Tapi masih ada yang kurang.

Sebab memang pentas politik dikelola oleh orang-orang yang sangat mahir dalam menaklukan segala sesuatu. Politikus haruslah negarawan. Saya masih ingat ucapan seorang tokoh muslim, Dr. Eko Fajar Nurpasetyo, Phd, yang memilih kembali ke Indonesia meskipun ia dan keluarganya dapat hidup makmur di negeri para Shogun. Bisnis potong ayam, potong daging, dan microchipnya telah mendunia Inti ucapan beliau, “seorang negarawan, pemimpin, melihat 20 tahun ke depan. Mempersiapkan situasi dan kondisi bagi generasi sesudahnya.”

Dampak ekonomi Islam dapat dirasakan sekarang. Pendidikan yang baik membuat orangtua tenang dan membantu mempersiapkan masa depan. Kehidupan sosial yang baik membuat masyarakat lebih stabil. Tapi siapa yang dapat menajmin berlangsungnya semua itu? Bisa saja arah kebijakan berbalik arus sehingga ekonomi Islam, pendidikan Islami, dan kehidupan sosial lalu ambruk. Negarala yang menjamin berlangsungnya hal yang baik, atau yang buruk.

Jadi, tak salah kemudian kalau orang-orang sholih mengarahkan pandangan mereka ke pentas politik. Lagipula, kan memang bersaing di negeri sendiri?

 

Semua Perkara Islami Awalnya Mendapat Tantangan

Pernah menyekolahkan anak di SDIT?

Saya menyekolahkan anak-anak di SDIT mulai gedung itu masih bangunan jelek, di tanah sewaan, guru segelintir. SMPIT juga begitu. SMAIT juga begitu. Putri saya sekolah SMAIT dengan jumlah siswa segelintir. Bangunan berhantu, di gang sempit yang ujiannya masih menumpang ke sekolah lain!

Sekarang? SDIT, SMPIT, SMAIT tempat anak saya sekolah hampir selalu menolak murid setiap tahun karena tak cukup lokal. Sekolah Islam menjadi incaran pertama kali!

“Kamu itu ngapain nyekolahin anak di sekolah yang akreditasinya gak jelas? Jangankan diakui atau disamakan, mungkin terdaftar aja belum!”

Kalau sekarang saya diminta mengisi acara parenting, hal yang saya ucapkan adalah : saya bangga menyekolahkan anak-anak saya di sekolah Islam ini. Biar bangunannya jelek, tapi guru-gurunya punya komitmen tinggi dan tahu kemana kualitas pendidikan akan dibawa. Maka anak-anak kami yang bersekolah di SIT insyaallah menjadi anak-anak berkarakter.

Pertentangan, resah gelisah, maju mundur; dialami pada awal berdirinya sebuah institusi. Termasuk lembaga sosial dan perekonomian. Siapa juga yang dulu mau buka tabungan di bank Islam macam Muamalat? Mending di bank lain yang bunga depositonya jelas! Kini bank-bank Islam digemari. Bukan hanya karena semakin maju pelayanannya, rasa tentram dan barakah membuat kaum msulimin senang berinteraksi dengan layanan perbankan Islami.

Politik Islam?

“Kotor! Semua politikus busuk. Semua partai Islam korup, sama aja. Semua anggota dewan menghalalkan segala cara. Ngapain kiai dan ustadz duduk disana? Nggak kompeten. Politik itu tempatnya barang haram, maksiat, terlaknat beredar.”

Ya iyalah. Yang jadi panduan Il Prince nya Machiavelli. Jelas politikusnya kotor seperti klan Medici.

Coba yang dibaca Muqaddimah Ibnu Khaldun, pasti beda. Yang dibaca Siyasah Syariyah  Ibnu Taimiyah, pasti melek. Yang dibaca karya Buya Hamka dan Mohammad Natsir, pasti lebih semangat.

Memang bisa ya politik Islam memimpin negeri? Nggak akan menindas, main anarkis, memaksakan kehendak? Wah, yang bilang Islam selalu menindas berarti gak baca sejarah Indonesia, nih. Suku Batak itu dikepung Aceh dan Melayu sejak lama, aman-aman saja. Bali dihimpit Jawa Timur, Madura, Sasak, Bugis yang kuat sekali sisi religusitasnya; tetap damai sampai sekarang.

Mainlah kapan-kapan ke Surabaya. Kalau lewat daerah Nginden hari-hari tertentu saat misa Kristiani, mobil-mobil memacetkan jalanan sampai kita nyaris kehabisan nafas. Tapi tidak ada kok keluhan atau ancaman supaya gereja menghentikan peribadatan. Kaum muslimin menerima perbedaan keyakinan.

Ini bulan Desember. Pasti anda lihat dong dimana-mana penuh pohon Natal dan para penjaja minimarket pakai topi Sinterklas. Kita kaum muslimin sebetulnya tidak terima lho. Kan muslim mayoritas. Kok dipaksa mengadakan perayaan Natal di seantero negeri sih? Tapi sekali lagi, kaum muslimin tepaselira. Di Bali, sekolah-sekolah Islam mengikuti libur Galungan, Nyepi, Kuningan. Di kalender nasional juga. Tidak ada protes meski sebagian sekolah Islam tetap masuk.

Nah, kalau sekarang kaum muslimin masuk ke ranah politik dalam segala aspeknya, anggap saja itu hukum alam yang memuai. Boleh dong kita duduk sebagai bupati, gubernur, Panglima ABRI, menteri, presiden asalkan itu fair. Lewat pemilihan yang adil. Kalau ada hal-hal yang berjalan tidak adil, selayaknya kaum muslimin protes. Protes bisa lewat media sosial, media massa, jalur resmi, lembaga hukum, lewat anggota legislatif, dan seterusnya. Kalau semua sudah dilakukan dan masih tetap buntu, ya, aksi bersama atau demonstrasi. Eh, demonstrasi itu hal lumrah di negara manapun. Waktu rakyat Amerika tidak menerima Trump menjadi presiden, mereka demo juga. Aksi damai pernah dilakukan Mahathma Gandhi yang mengumandangkan Ahimsa-Satyagraha. Martin Luther King Jr. Juga pernah melakukan  saat menuntut kesetaraan hal sipil.

Aksi demonstrasi Islam dianggap aneh? Ya, sama seperti panggung sosial, pendidikan, ekonomi yang dianggap sebelah mata oleh pemeluknya sendiri (apalagi yang non muslim). Meski, lama-lama kaum muslimin yang menentang, justru merasakan keberkahan panggung-panggung Islami itu dan berbalik mendukung.

Awalnya, saya ragu dengan aksi 411 dan 212 : benar nggak sih ini Islami? Sampai saya datang di acara al Falah 27 November tempo hari dan mendapatkan penjelasan dari Bachtiar Nasir.

Punk muslim, laki-laki, perempuan, anak-anak di acara aksi 

 

Tapi pasti ada kan di kalangan kaum muslimin yang masih ragu, bahkan tidak setuju dan menentang agenda ini? Wajar kok.

Dalam sejarah juga terjadi.Yang menentang kaum muslimin dengan keras salah satunya bangsa Mongolia hingga mereka menghancurkan Baghdad. Tetapi sejak Chagatay, Tuqluq Timur Khan, Anada Khan, Baraka Khan, begitu banyak bangsa Mongolia menjadi muslim. Apa alasannya? Mereka punya pepatah kuno Mongolia. Pepatah yang membuat mereka berbalik memeluk Islam.

Pepatah ini cocok untuk 411 ddan 212.

“Kalau ada suatu hal yang begitu mudah tersebar sebagaimana angin bertiup, perkara itu pastilah perkara kebaikan.”

Bangsa Mongolia yang menaklukan Eropa hingga Asia ternganga : kok ada ya keyakinan yang tersebar demikian luas sebagaimana arah angin bertiup dengan mudah? Logika itu membuat mereka memahami bahwa Islam adalah kebaikan semata.

Masih tidak percaya 411 dan 212 bagaimana angin bertiup membawa kebaikan?

Kalau begitu anda harus nonton film Pay It Forward. Satu anak punya niat baik, akan menyebar ke 3 anak. 3 anak punya niat baik, akan menyebar ke 9 anak. Begitu seterusnya.

Masih belum percaya juga?

Hm, gimana ya. Gini aja.

Pasang iklan termahal untuk radio di Surabaya itu ranking pertama dipegang Suara Surabaya. Wajarlah. Itu radio FM yang kondang banget. Tahu ranking kedua siapa? Ternyata Suara Muslim Surabaya. Lho, kok bisa? Ya. Karena pendengar Suara Muslim Surabaya sangat besar meskipun pasif. Mendengar data ini saya diam-diam merenung. Padahal, Suara Muslim Surabaya itu radio keagamaan lho. Tidak menayangkan K-Pop seperti Seventeen, BTS atau EXID, Black Pink. Tidak menayangkan BMTH, SoAD atau Linking Park. Tapi diam-diam banyak pengagumnya.

Jangan-jangan kita seperti pendengar radio Suara Muslim Surabaya. Pasif, tapi diam-diam mengagumi. Meski kita menghujat, meremehkan, mencaci maki aksi para ulama dan aksi bela Islam; diam-diam ada rasa kagum juga kan? Atau diam-diam mendukung dengan dana dan doa? Kalau nggak bisa mendukung dana dan doa, jangan caci maki para ulama dan aksi bela Islam. Segitu banyak orang lagi berdoa di hari Jumat, lho. Hari keramat. Sayyidul ayyam. Kebayang gak sih kalau kita minta didoakan sama ummat Islam yang segitu banyaknya, di hari Jumat, di tengah aksi memperjuangkan kebenaran? Kalau kita nggak mau mendukung, jangan mencaci maki. Takutnya nih, ribuan doa kaum muslimin yang tangannya menegadah ke langit, mengirimkan doa-doa rahasia bagi pendukung dan pencela.

Kalau malaikat-malaikatNya turun tangan, memangnya masih ada kolong langit yang aman?

 

Sinta Yudisia, Ordinary People

 

Tanpa Surabaya, Indonesia telah menjadi Inggris : Energi Ilahiyah dalam  tabligh akbar Al Falah

 

 

Mata meleleh mendengar lantunan Quran surat al Maidah : 51-58 . Betapa sesungguhnya Allah Swt telah memberi peringatan sejak berabad lampau, tapi kita juga yang tidak memperhatikannya. Penutup acara hari itu diserahkan kepada ustadz Bachtiar Nasir , ketua GNPF MUI.  Apa yang disampaikan beliau benar-benar membuat tersentak.

Berikut adalah rangkuman dari apa yang disampaikan ustadz Bachtiar Nasir . Semoga menjadi perenungan untuk kita.

“Inggris negara sekutu terhebat di Perang Dunia II.  Tetapi oleh Surabaya Inggris,  benar benar dianggap sekutu (seukuran kutu).  Kapolri sesuungguhnya tidak pernah melarang aksi 212. Sore nanti tekanan terhadap kaum muslimin lewat kapolda dan kapolres dicabut. Perusahan organda,  bis-bis boleh menyewakan kendaraan ke Jakarta. Ummat Islam apalagi Surabaya,  semakin ditekan semakin nekat berbahaya. 10.000 orang Ciamis dilarang naik kendaraan maka sejak Senin akan jalan kaki.

Bachtiar Nasir bertanya : kalau gak boleh naik bis ke Jakarta mau naik apa?

Audiens menjawab : motor,  truk, kapal laut, booking pesawat.

Kata beliau, terlalu murah bagi orang Surabaya utk beli tiket
Saya jelaskan mulai yang kasat mata sampai yang menurut pandangan ulama. Demo empat November 3-5 x lipat dari 1998. 212 bisa lebih besar lagi.

Ada sebuah konspirasi jangka panjang. Kenapa ada yang  begitu perkasa di hadapan hukum. Ada pelumpuhan hukum sehingga hukum  tunduk pada pemodal yang menguasai pejabat. Uangnya sebetulnya sedikit. 6 ribuan trilyun uang ummat Islam  ada di Indonesia.

A*** akan dilindungi karena tidak punya niat jahat.
Kalau orang ngomong di muka umum, tidak ngelindur maka ia melakukan dengan sengaja. Kita sedang diadu domba.

Arswendo ditangkap pakai fatwa MUI. Dalam kasus A*** gak bisa pakai  fatwa MUI. Sebetulnya apa yang terjadi sehingga hukum lumpuh?
Gara gara investor politik menempatkan aktor politik untuk memaksakan kehendak. Yang menjadi pemimpin di negara ini adalah orang yang imannya setipis uang kertas.

Ini yang kasat mata.

Indonesia tidk jadi tuan rumah di negeri sendiri. Kedua, penyimpangan tafsir Pancasila dan bhinneka tunggal ika. Bhinneka Tunggal Ika kalau minoritas boleh memimpin yang mayoritas muslim. Saya memberi tahu kepada pemimpin partai. Pemimpin ormas. Anda akan menajdi fossil pemimpin jika tidak bergabung  dengan kekuatan rakyat sekarang. Ada yang memaksakan Al Maidah berjalan sehingga  apa yang terjadi sekarang.

Ingin hukum jahiliyah berlaku. Tidak  ingin Ketuhanan yang Maha Esa.

Mau tuhannya kodok. Tembok. Terserah. Maka pejabat saat ini bertuhan pada pantat dan perut. Pemimpin yang hanya menjaga pantatnya saja alias kursinya saja. Ada yang ingin hukum jahiliyah di Indonesia. Bukan Islam. Mau lesbi, gay, LGBT, transgender gakpapa.

Ketiga, Sila 4 5 sudah tidak ada. Sila Persatuan Indonesia sudah tidak ada. Dibelah menjadi ultra tiongkok dan kapitalis. Tanda-tanda komunisme sudah ada. Indikator sudah kuat. Petinggi negeri banyak yang berpikir: daripada dijajah Amerika mending dijajah Cina. Sebab Amerika 80 : Indonesia 20. Kalau Cina 20 : Indonesia 80. Bohong! Teknologi. SDM,  semua dari  Cina!

Apa yang membuat ini meledak?

Semua bersumber dari siapa yang lebih bagus hukumnya selain hukum Allah? Ada hukum jahiliyah yang ingin ditegakkan, melawan para ulama yang ingin hukum benar- benar ditegakkan.

Presiden datang ke Prabowo. Datang ke SBY. Kira-kira apa hubungannya? Orang mengira ini masalah politik.

Bukan! Ini masalah Al Maidah 51!

Kita ke Jakarta mati belum tentu membela undang- undang masuk surga. Tapi membela Quran insyaallah masuk surga.

Yang terjadi adalah energi Ilahi Al Maidah. Hari ini insyaallah panas menjadi adem. Sebagaimana api diperintahkan menjadi dingin (dalam kasus Nabi Ibrahim as). Semoga panas hari ini menjadi energi jihad. Usai deadlock, saya tidak bisa bertemu presiden. Saya ingin bertemu presiden. Tapi gak tau presiden ada dimana.

Ketika deadlock, tiba-tiba ada mentri marah pada bawahannya. Bertanya,  mengapa tidak terjadi hujan petir (buatan). Jawabnya : Pak mentri, saya sudah 4 kali bolak balik menerbangkan pesawat untuk menaburkan garam, tapi tidak terjadi hujan.

Hari itu harusnya yang mati ribuan. Berdesak desak. Suasana itu lebih lelah dan lebih padat. Kanan pagar gedung. Kiri pagar gedung gedung.
Kemarin 411 ditembaki gas air mata. Harusnya gas air mata di tembak keatas. Israel begitu. Tapi kemarin tidak begitu. Harusnya ditembak ke atas.  Sekali saja. Ini kemarin berkali-kali. Orang-orang  sedang kekurangan oksigen.

Padahal, kalau ada orang nginjak rumput diteriakkan: hati- hati provokasi. Pasukan kebersihan ada 2000 orang. Tidak pernah ada demonstrasi seperti itu. Demonstrasi ini putih. Para pemimpin itu hanya eksis di medsos. Memiliki massa itulah politik sesungguhnya. Anda yang menagakan cacing dan mencacingkan naga, tunggu tanggal mainnya. Mereka mengatakan itu cuma gerakan politik.
Mereka mempersepsikan kita seperti cacing tapi menekan kita seperti naga.

Kalau anda gagal paham anda akan tergilas. Ini aksi damai sebab ini kita cinta damai. Saat itu gas air mata dosis tinggi ditembakkan bertubi-tubi.
Supaya mike tetap di tangan ulama yang berteriak : Bertahan. Duduk. Jangan melawan. Jangan lari.

Dengan izin Allah…

Bagaimana kita menang?

  1. Aksi damai
  2. Melawan dengan bertahan
  3. Pasti menang dengan bersabar

Kalau bukam karena Surabaya, Indonesia sudah jadi negara Inggris.

Jadi tadi pagi saya minta izin pada Habib Riziq untuk  ke Surabaya.
Jangan jadikan Yahudi Nasrani teman dekat  apalagi pemimpin.

Wahai orang-orang kafir, jangan bermimpi memimpin NKRI yang muslim. Natal orang muslim disuruh pakai topi Sinterklas, awas! Kami tidak mau aqidah kami dijajah di negeri sendiri.

Selama ini Islam terpecah belah. Saat ini semuanya bersatu karena energi Al Maidah. Selama ini seminar dll tidak bisa menyatukan.

Bagaimana kaum muslimin dapat menang :

  1. Ummat terikat pada fatwa ulama. Ummat Islam faham Quran sunnah karena ilmu ulama. Setelah Quran, Sunnah, kebawah seterusnya adalah domain para ulama.
  2. Pemimpin kita adalah para ulama. “ulil amri” tafsir pertama adalah ulama, bukan presiden! Siapa yang wajib diataati, didengar, dijaga, didekati, diajak hidup bersama adalah ulama. Kitaharus tunduk pada kepempimpinan habaib, kiai, ulama. Maka jaga juga lembaga ke-ulama-an.”

 

Sinta Yudisia – Ordinary People

Ini adalah catatan sepanjang mengikuti acara. Mungkin saja ada yang terlewat atau ada yang salah. Laporan 27 November 2016 , tabligh akbar bersama GUIB JATIM.

 

Pak polisi yang cantik dan santun

Yang unik : pasukan sampah dan Punk Muslim

 

Najmuddin Ayyub ibnu Shadzi : bila pemimpin dan militer berupaya menegakkan kebenaran

 

 

Siapa tidak ingin tinggal di Indonesia?

Kolam susu, hutan bakau, laut penuh ikan dan mutiara, udara jernih, daratan dipenuhi bahan tambang dan subur makmur. Sudah sejak lama ekspatriat senang tinggal di Bali yang hangat sementara negara-negara mereka berselimut salju tebal. 13.000 pulau tersebar dari Sabang sampai Merauke, masih memungkinkan menampung manusia-manusia tinggal dan hidup beranak pinak.

 

Buat usaha sampai mendirikan sekolah

Adalah John Hardy, pria Kanada yang memulai bisnis perhiasan di Bali sejak 1975. Belakangan ia tertarik membangun sekolah dengan konsep alam. Jadilah John Hardy  dan Cynthia Hardy membeli lahan 4,55 hektar di daerah Badung lalu membangun Green School Bali. Kepala sekolah GSB adalah Leslie Medema, berasal dari South Dakota dan telah tinggal 6 tahun di Bali. GSB saat ini terdiri dari 384 siswa dari 33 negara. Anak-anak Nadya Hutagalung , presenter Asia’s Next Top Model bersekolah disini. Daryl Hananh, Tyra Banks, David Copperfield bahkan Ban Ki Moon berkunjung ke GSB dan mengagumi konsep sekolah yang dikelola oleh sepasang suami istri Hardy. Sekolah lokal, sekolah nasional dan internasional bebas tumbuh berkembang di tanah air.

Masyarakat tionghoa pun telah lama tinggal, berinteraksi dan membangun bisnis di Indonesia.

Sejarawan berbeda pendapat tentang asal usul masuknya Islam di Indonesia. Ada yang percaya Islam disebarkan oleh pedagang dari Gujarat, ada yang mengatakan langsung dari Mekkah, ada yang mengatakan dibawa oleh orang-orang Cina Yunnan yang bermadzhab Hanafi. Raden Fatah yang merupakan raja Demak pertama bernama asli Jin Bun. Sunan Ampel, salah satu tokoh Walisongo bernama asli Bong Swi Hoo, cucu dari Haji Bong Tak Keng, seorang tionghoa suku Hui bermadzab Hanafi.

Di era kuno hingga zaman modern, interaksi antara beragam suku bangsa, budaya, agama, telah biasa dilakukan masyarakat Indonesia. Bahkan, dalam hal kedekatan aqidah, Islam di Indonesia memiliki pertalian sejarah dengan India, Arab dan Cina. Tak diragukan lagi sumbangsih Walisongo dan kerajaan Demak bagi perjalanan kaum muslim di Indonesia. Bersamaan dengan itu, tak diragukan lagi ikatan iman dan ukhuwah antara kaum muslimin nusantara dengan saudara-saudara muslim dari Cina.

 

Siapa yang meresahkan?

Kasus pedofilia yang pernah marak di Bali, terselubung layanan pariwisata membuat masyarakat resah. Namun, tidak serta merta pemerintah mem black list semua daftar turis asing untuk berkunjung, membuka usaha, menikah dengan warga setempat, atau membeli properti di Indonesia. Tidak kemudian mengusir John Hardy dan Leslie Medema yang membangun GSB sebab menyadari, pedofilia dilakukan oleh oknum. Tidak semua ekspatriat yang tinggal di Bali atau wilayah Indonesia lainnya berniat jahat.

Issue tentang etnis tertentu yang menguasai ekonomi dan politik, juga tidak membuat masyarakat Indonesia atau pemerintah, serta merta memblokade wilayah-wilayah muamalah. Selama dilakukan oknum, maka bukan ras tertentu atau agama tertentu yang menjadi musuh.

Masjid Cheng Ho yang dikelola PITI di Jawa Timur berujud bangunan klenteng, menjadi saksi bagaimana kaum Tionghoa dan masyarakat setempat berinteraksi dengan baik. Halaman masjid tersebut diperuntukkan pemuda-pemuda yang ingin berolah raga, tak terkecuali dari agama berbeda. SMA negeri, universitas Airlangga, Universitas Kristen Petra; menyelenggarakan aktivitas olahraga di halaman masjid. Saat peletakan batu pertama masjid tersebut di tahun 2001; tokoh-tokoh Tionghoa hadir , dari agama dan latar belakang berbeda. Di antara mereka hadir ketua paguyuban masyarakat Tionghoa Liem Ou Yen, presiden komisaris PT Gudang Garam Tbk Bintoro Tanjung, direktur PT Surya Inti Permata Tbk Henry J. Gunawan, ketua majelis tinggi agama Konghucu Indonesia Bingky Irawan.

masjid_cheng_ho

Masjid Cheng Ho, Surabaya

Masyarakat Indonesia telah terbiasa menerima warga lain yang bukan sesuku, bukan satu ras, bukan satu agama untuk menjadi bagian dari perjalanan hidup bangsa. Sikap welas asih kaum muslimin pada sesama menyebabkan kita juga terbiasa tepaselira alias tenggang rasa. Dalam bahasa lain, mencoba bersabar dan mengalah terlebih dahulu bila terjadi benturan. Tidak ingin memancing pertikaian.

Anda tahu Bali, bukan?

Secara geografis wilayah itu disebut minoritas dan terhimpit.

Sebelah timur, NTB dengan suku sasak Lombok yang sangat kental nuansa keagamaannya. Sebelah barat, Jawa Timur dan Madura yang juga sangat kental kehidupan religiusnya, terlebih warga Madura yang demikian taat pada kiai. Beberapa pulau kecil Madura merupakan keturunan pelaut dari Sulawesi yang memiliki temperamen keras.  Di sebelah utara Bali terletak Kalimantan dan Sulawesi, dimana Sulawesi dikenal dengan suku Bugis yang juga kental terikat dengan syariat Islam.

Kalau kaum muslimin yang mayoritas terbiasa mendzalimi kaum lain; sudah sejak dulu Bali tak aman. Kadang-kadang di Bali timbul beberapa kejahatan seperti pencurian dan perampokan, dilakukan suku yang notabene muslim; namun lebih kepada sebab ekonomi atau motivasi kejahatan dibanding cleansing ethnic seperti yang terjadi di negara sebelah, Myanmar.

Suku Batak di Sumatera Utara pun dikepung oleh orang-orang Aceh yang militan dan suku Melayu di bagian timur/selatan yang menjadikan Islam sebagai darah daging. Hampir tak pernah didengar, Batak menghadapi serbuan orang-orang muslim kecuali satu masa dahulu di era kolonial Belanda dimana kaum Paderi pernah memkasakan kehendak pada orang Batak.

Dalam sejarah Islam, memang pernah kerajaan-kerajaan Islam melakukan penaklukan seperti yang dilakukan Salahuddin Al Ayyubi dan Muhammad Al Fatih. Peperangan dan pembunuhan tentu ada, satu dua prajurit yang melakukan tindakan kelewat batas mestinya juga terjadi. Namun tidak ada pembantaian yan dikomandokan atas nama agama. Perang Ain Jalut antara Mamluk yang notabene muslim dibawah komando Baybar dan Qutuz, menang atas Kitbuqa dan pasukan Mongolia, terjadi demikian heroik. Berbeda ketika Mongolia menaklukan Baghdad, darah kaum muslimin memerahkan aliran sungai; maka peperangan Ain Jalut murni antar kekuatan bersenjata.

Kembali pada Islam dan Indonesia.

Islam tidak mengenal cleansing ethnic. Justru ketika berhadapan dengan kaum yang tidak mengenal Islam, kewajiban yang utama adalah berdakwah atas kaum tersebut. Jelas sekali dalam the Preaching of Islam karya Thomas W. Arnold; dakwah Islam lebih mengedepankan upaya persuasif.  Pedang atau senjata baru diangkat ketika telah terjadi peperangan di satu wilayah.

Seorang muslim Cina yang menyertai perutusan kaisar Cina ke Jawa sebagai juru bahasa 6 tahun sebelum wafatnya Maulana Ibrahin (1413) menyebut adanya orang-orang Islam di Jawa dalam bukunya Keterangan Umum tentang Pantai dan Lautan :the-preaching-od-islam

“Di negeri ini terdapat 3 golongan penduduk. Penduduk Islam yang datang dari Barat dan telah menjadi penetap, pakaian dan makanan mereka bersih dan pantas. Kedua, orang-orang Cina yang lari dari negerinya dan menetap disini, pakaian dan makanan mereka juga baik-baik, banyak di antaranya yang masuk Islam serta taat melaksanakan amal ibadah agamanya. Ketiga, ialah penduduk asli yang sangat jorok dan hampir tak berpakaian, rambut tak disisir, kaki telanjang dan mereka sangat memuja roh. Negeri inilah yang dikatakan sebagai negeri serba roh didalam buku-buku Buddha.”

Berkembangnya Islam di Indonesia tak lepas dari pengaruh bangsa Arab, India, Cina dan wilayah Indocina. Persatuan telah terjalin berabad-abad lamanya di nusantara.

Indonesia, memaknai Bhinneka Tunggal Ika sebagai berbeda-beda tetapi satu. Walau Islam mayoritas dan agama yang lain minoritas, bukan berarti sah menindas agama yang berbeda. Walau keterikatan suku dan agama di Indonesia lebih dekat kepada Malaysia sebagai rumpun Melayu; Arab dan sebagian wilayah Afrika dengan ikatan aqidah; bukan berarti Indonesia menolak  warga benua Amerika, Eropa, Australia yang notabene bukan muslim.

Setiap yang ingin tinggal di Indonesia baik WNI atau WNA, muslim atau non muslim, memiliki hak dan kewajiban yang sama. Satu sama lain harus menghormati, satu sama lain harus menghargai batas-batas.

Memang, adakalanya terjadi benturan interpretasi atau benturan kepentingan antar agama. Ucapan Natal misalnya, sebagian kaum muslimin mengharamkan dan sebagian yang lain masih melakukan. Namun teguran atas ucapan Natal lebih kepada kaum muslimin sendiri; tanpa perlu mencaci maki penganut Kristiani atau mencacai maki gereja serta pendeta/pastor.

Perbedaan pendapat terkait Isa as dan Yesus Kristus, atau bagaimana kaum muslimin memandang Maryam binti Imron dan bunda Maria; dibahas di kalangan kaum muslimin sendiri, di masjid atau majelis pengajian. Ataupun ketika ada dialog terbuka  membahas satu hal sensitif  (misal terkait masalah pemurtadan dan pindah agama) dilakukan oleh  pemuka agama masing-masing dalam dialog antar agama.

Akan sangat membingungkan ketika permasalahan lintas agama dibahas di ruang publik, bukan oleh pemuka agama, tidak ada orang kompeten yang mewakili dari agama yang bersangkutan. Indonesia, sebagai negara hukum pun akan berada dalam posisi sulit. Para ahli hukum berikut jajaran kepolisian akan berada dalam situasi serba tak nyaman, sebab ada benturan kepentingan.

Ingin menegakkan keadilan, lalu orang bersuara : apakah ini bukan masalah antar muslim non muslim? Ingin menegakkan kebenaran, lalu orang berpendapat : apakah ini bukan issue SARA, suku non Tinghoa versus Tionghoa?

Kita dapat merasakan beratnya beban polisi, beratnya beban negara, beratnya beban pemerintah. Jika memenangkan salah satu, pasti ada pihak lain yang merasa dirugikan. Dan kerugian mungkin tidak cukup terbilang dalam rupiah.

Masyarakat Indonesia mungkin mudah berteriak : polisi harus membela yang  benar, melayani masyarakat. TNI AD harus mengayomi rakyat Indonesia dan menjaga NKRI. Namun kenyataannya tidak semudah itu. Hubungan interpersonal saja dapat berkembang demikian rumit ketika ada kepentingan-kepentingan terlibat didalamnya (hubungan mahasiswa-dosen, murid-guru, warga-ketua RT dapat sederhana dapat pula ruwet tanpa ujung). Hubungan bawahan-kepala kantor yang seharusnya hanya terbatas di lingkup kerja, harus berkembang menjadi hubungan harmonis antar teman, hubungan tepaselira bila berbeda agama, hubungan supportif bila ingin target kerja tercapai (hubungan supportif termasuk memberi perhatian, memberi bantuan finansial atau non material).

Apalagi, hubungan yang melibatkan institusi besar semacam negara, perusahaan raksasa, pemodal asing, militer bersenjata. Pasti akan jauh lebih banyak yang dipertimbangkan. Pasti akan jauh lebih rumit. Pasti akan menguras energi, emosi, perhatian, tenaga, biaya dan segala macam sumber daya.

 

Nurani bagi Pejabat dan Petinggi Militer

Sejarah, dapat menjadi panduan cemerlang bagi para pemimpin yang sedang dilanda gelisah resah dalam mengambil keputusan.

Kisah dibawah ini semoga dapat menjadi pembelajaran berharga bagi kita semua.

Adalah seorang bernama Najmuddin Ayyub.

Ia seorang dizdar (pemimpin kastil) di Tikrit, menggantikan ayahnya Shadzi ibnu Marwan yang wafat. Shadzi ibnu Marwan memiliki dua putra : Najmuddin Ayyub dan Assaduddin Shirkuh. Perjalanan Shadzi dan dua putranya hingga tiba di Tikrit, Iraq, demikian berliku. Berhubung Shadzi adalah seorang pejabat dan politikus; ia memiliki hubungan rumit dengan banyak orang, banyak kepentingan. Shadzi memiliki hutang budi salah satunya kepada sahabatnya sendiri, Jamal ad Daula Mujahiduddin Bihruz. Bihruz banyak membantu Shadzi bukan hanya urusan material namun juga non material. Bihruz bukan hanya berjasa pada Shadzi, namun juga pada dua putranya, Ayyub dan Shirkuh.

Najmuddin Ayyub-lah yang dapat tampil menjadi seorang negarawan yang cakap, bijak, berani mengambil keputusan.

Terjadi beberapa peristiwa penting yang membuat Najmuddin Ayyub harus mengambil keputusan sulit.

Pertama, ia seharusnya mengabdi utuh pada khalifah Abbasiyyah saat itu, Mustarshid Billah. Konflik tajam saat itu memunculkan peperangan antara Khalifah melawan Ghiyatsuddin Masud dan Imaduddin Zanki. Dalam pertempuran, pasukan Imaduddin Zanki terdesak hebat. Najmuddin Ayyub dapat saja menebas leher Zanki dan membawanya ke hadapan khalifah, dengan demikian kedudukannya akan semakin cemerlang, berwibawa dan melesat. Namun Ayyub justru memilih melindungi Zanki yang tertatih-tatih, melarikan diri lewat sungai Tigris menuju Mosul. Tindakan Najmuddin Ayyub menuai kecaman keras dari para petinggi dan pejabat kekhalifahan. Mujahidduddin Bihruz sangat murka dengan pembangkangan Najmuddin Ayyub. “Kamu mendapatkan musuh dalam gengggamanmu; mengapa kamu perlakukan dia dengan baik dan melepaskannya?!”

Kedua, bekas bendahara pemerintahan Saljuq, Azizuddin al Mastaufi, ditahan di Tikrit karena satu tuduhan. Al Mastaufi harus menjalani hukuman mati dan harus dibawa ke Baghdad. Najmuddin Ayyub menolak perintah tersebut sebab ia yakin, al Mastaufi sesungguhnya tak bersalah. Mujahiduddin Bihruz yang akhirnya menjemput al Mastaufi di Tikrit dan menghukum mati dirinya di Baghdad.

Ketiga, suatu ketika seorang perempuan melewati  benteng Tikrit sembari menangis. Ayyub dan Shirkuh melihatnya dan menanyakan sebab ia bersedih. Perempuan itu menjawab ia telah dilecehkan oleh isfahsalar (pimpinan tentara) beragama Nashrani. Shirkuh marah sekali hingga ia mengambil tombak dan menusuk sang isfahsalar. Atas perbuatannya, Najmuddin Ayyub terpaksa memenjarakan Shirkuh. Sesungguhnya, Ayyub sangat mencintai Shirkuh. Adik lelaki satu-satunya itu telah menemani hidupnya sejak mereka hijrah dari Dvin menuju Tikrit. Keduanya bahu membahu untuk masalah keluarga hingga pertempuran. Agar keadilan tidak timpang sebelah, Ayyub melaporkan kejadian tersebut kepada Mujahiduddin Bihruz.

Dapat diduga, Bihruz murka besar. Meski desas desus beredar, Shirkuh membunuh isfahsalar bukan hanya karena ia melecehkan si perempuan muslimah namun juga ia melecehkan agama Islam. Bihruz, yang telah menolong keluarag Shadzi sejak bertama kali mereka hijrah dari Dvin menuju Tikrit, merasa Najmuddin Ayyub tak tahu membalas terima kasih. Berkali-kali Ayyub membangkang perintah khalifah dan menyulitkan posisi Bihruz. Kali ini, Bihruz mengambil keputusan tak main-main : Najmuddin Ayyub dan Asaduddin Shirkuh beriktu seluruh keluarga mereka, malam itu juga harus meninggalkan Tikrit. Bila tidak, mereka tak akan bernyawa lagi.

Malam kelam saat itu, Najmuddin Ayyub dan Asaduddin Shirkuh beserta keluarga mereka mengendap keluar dari benteng Tikrit. Pedih hati Ayyub. Bukan karena ia berkecil hati atas kerugian, kesusahan, kesulitan yang menghimpit keluarganya lantaran ia bersikukuh memilih kebenaran atas kebathilan. Tapi karena malam itu, istri Najmuddin Ayyub baru saja  melahirkan. Tubuhnya masih lemah, bayi lelaki di pelukannya merah dan mungil

Di bawah langit kota Tikrit yang dipenuhi gemintang.

Dihadang benteng-benteng sunyi yang menyaksikan sejarah jatuh bangun berulang. Disisi hati yang menangis antara ketakutan, kekhwatiran, namun juga keinginan untuk menegakkan keadilan dan kebenaran. Di gang-gang sunyi gelap yang diintai oleh orang-orang khianat dan kemungkinan tertangkap. Najmuddin Ayyub menangisi takdirnya, menangisi bayi lelaki dalam dekapannya yang sekecil itu berada dalam pelarian. Seorang lelaki, pengikutnya, menghiburnya.

Ucapan lelaki itu ternyata dicatat oleh para sejarawan.

Jamal ad Daula Mujahiduddin Bihruz yang berkuasa, pintar mencari posisi, kesayangan khailfah dan pejabat-pejabatnya; anak cucunya tak dikenal sebagaimana anak cucu sahabat yang ditolongnya, Shadzi ibnu  Marwan. Shadzi ibnu Marwan mewariskan keberanian, kejujuran, dan ketundukan pada Allah Swt kepada dua anaknya, Najmuddin Ayyub dan Asaduddin Shirkuh. Kelak, bayi lelaki merah yang baru saja dilahirkan, yang dilarikan diantara bintang gemintang Tikrit. Di antara bayang-bayang benteng yang tak mampu menahan langkah kaki pelarian menuju Mosul. Bayi lelaki itu mengharumkan nama kakeknya, Shadzi ibnu Marwan dan ayahnya, Najmuddin Ayyub.

Bayi pelarian Tikrit itu bernama, Shalahuddin al Ayyubi.

Bisakah pemimpin dan militer kita seperti Najmuddin Ayyub ibnu Shadzi, ketika hatinya menyerukan kebenaran maka ia berani menyuarakan pendapat dan bertindak berdasarkan hati nurani?

 

Sinta Yudisia, Ordinary People

 

Referensi :

Arnold, Thomas W. The Preaching of Islam. 1979. Penerbit Widjaya, Jakarta

De Graff, H.J. Cina Muslim di Jawa Abad XV dan XVI : Antara Historisitas dan Mitos. 2004. Tiara Wacana, Yogya

Alatas, Syed Alwi. Biografi Agung Salahuddin al Ayyubi. 2014. Karya Bestari, Malaysia

Jawa Pos, Sabtu 15 Oktober 2016. Green School Bali, Sekolah Alam yang Unik dan Ramah Lingkungan : Bikin Penasaran Ban Ki Moon dan David Copperfield.

Jawa Pos, —-. Jejak 14 tahun Masjid Muhamamd Cheng Hoo, Simbol Peratuan dan Toleransi Bangsa : Siang untuk Jumatan, Sore Lapangan Basket

 

Surat Cinta untuk Rohingya dari Anak-anak  SDIT Al Uswah, Surabaya

 

 

 

Hanum, 5C

Assalamualaikum

Dear rakyat Rohingya,

Hai, aku Hanum. Aku berasal dari Indonesia. Aku sangat senang sekali jika surat ini bisa tersampaikan pada kalian. Ingin sekali aku bisa bertemu kalian. Aku hanya ingin menyemangati kalian, tetaplah menjadi seorang muslim. Tetaplah bersatu untuk Islam. Jangan mau kita ditindas!tunbnjukkan bahwa kami muslim tidak lemah. Percayalah bawha Allah akan membantu hambaNya yangs abar berjuang untuk Islam. Kalian harus tetap semangat memperjuangkan hak kalian. Berdoakan kepada Allah pada masa lapang dan sempit. Mari kita bersatu untuk Islam, buatlah nama Islam harum. Aku akan datang mendukungmu rakyat Rohingya. Insyaallah jika kalian ingin berusaha, maka apa yang kalian inginkan akan tercapai. Amin.

rohingya-4

Khadijah, 4C

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamualaikum

Apakabar saudaraku? Senang kalau bisa berkenalan bagaimana keadaan disana? Mohon maaf ya kami tidak bisa membantu kalian. Aku sangat terharu dengan perjuangan kalian meskipun kalian diperkosa dan dibantai. Kalian tidak meninggalkan agama Allah. Insyaallah jika kalian meninggal terbunuh akan mati syahid. Sungguh kejam orang Myanmar yang beragama Budha mengapa mereka berbuat begitu? Padahal orang Islam tidak mengganggu agama Budha! Aku disini menitip salam untuk saudarakau di Rohingya, orang Islam. Semoga kami bisa menyusul ke surga Allah. Amin. Selamat berjuang.

rohingya-2

Neina Nur Rahmania, 4B

Assalamualaikum, warga Rohngya, namaku Neina.

Aku tinggal di Indonesia. Kotanya Surabaya. Aku dari SDIT Al Uswah. Aku kasihan sekali karena kalian diusir oleh negara kalian sendiri. Karena kalian ingin hidup, karena kalian rela hidup di kapal. Andaikan aku bisa membantu kalian, aku akan memberi  kalian rumah, makan, dll. Tapi aku tidak bisa membantu. Tapi aku bangga kepada kalian, karena kalian tetap berjuang memeluk Islam. Sebelum saya mengakhiri surat  ini saya akan meminta maaf sebesar-besarnya karena  tidak bisa membantu kalian. Semoga Allah menghapus dosa kalian dan memudahkan kalian hidup. Kalau ada yang terbunuh, aku tidak terima. Karena agama Islam tidak bersalah. Tetap semangat ya!

Wassalamualaikum.

 

Nadia Sabila Azka, 4C

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Perkenalkan nama saya Nabila Nadia Azka. Saya dari Surabaya Jawa Timur. Setelah guru saya menceritakan tentang keadaan kalian semua, saya merasa kasihan, takut dan lainnya. Saat guru saya menceritakannya, saya berpikir bagaimana jika saya sedang berada di Rohingya.  Setiap hari seperti disiksa. Tapi saya berasa kagum dengan kalian semua. Kalian tidak pantang menyerah dan sebagainya. Tapi saya disini masih suka menyerah dan masih butuh bantuan orang lain. Saya sangat kagum dengan kalian semua. Saya akui kalian hebat, kuat, pintar dan hebat. Kalian sudah dibom, ditembak dan sebagainya. Jika saya yang digitukan saya merasa sangat kesal dengan para pembonm dan penembak. Saya akan mendoakan kalian semua yang di Rohingya agar kalian semua bisa masuk surga. Dan semoga kalian selalu kuat dan sehat selalu. Dan semoga tempat tinggal kalian bisa kembali. Rohingya hebat.

 

Nisrina Huwaida Qurrota Aini, 5A

 

Assalamualaiakum sadaraku di Rohingya.

Perkenalkan namaku Nisrina Huwaida Qurrota Aini.

Saat ini aku sekolah di SDIT Al Uswah Surabaya dan duduk di kelas 5. Aku sangat sedih  melihat kalian semua diusir oleh negara Myanmar. Aku akan selalu mendoakan saudara Rohingya bsia bertahan hidup. Aku yakin manusia yang membela agama Islam selalu dilindungi oleh Allah. Kalian pasti bisa!!! Allahuakbar!

Allah pasti menempatkan suadaraku di Rohingya di surga tertinggi Allah, amin. Salam dari Nisrina. Aku sayang saudaraku Rohingya.

 

Anisa Titi Larasati, 4B

Dear Rohingya,

Assalamualaikum s audaraku di Rohingya.

Perkenalkan nama saya Anisa Titi Larasati dari Indonesia.

Kami sedih mendengar derita kalian disana. Saya ingin membantu kalian semua. Semoga kalian dilindungi oleh Alalh SWT. Semoga kalian juga mendapatkan banyak bantuan. Kami sangat kasihan kepada kalian semua. Karena kalian hidup berhari-hari tetapi tidak mendapatkan makanan dan minunman. Maafkan saya karena saya belum bisa memberikan donasi kepada kalian. Saya hanya bisa berdoa untuk kalian. Love you Rohingya.

 

Fasya Syaffanah, 5A

Assalamualaikum…

Perkenalkan nama saya Fasya Syaffanah.

Saya bersekolah di SDIT Al Uswah. Saya biasanya dipanggil Fasya. Saya berumur 11 tahun. Oh ya maafkan kita ya kita sebagai warga Indonesia cuma bisa bantu doain aja. Kita tidak bisa pergi ke neeara kalian. Semoga Allah selalu melindungi kalian. Aku turut berduka cita atas bencana yang sekarang kalian timpa. Katanya kalian diusir dari negara Myanmar karena kalian muslim. Yang mengusir kalian adalah orang Budha. Aku sebagai salah satu warga Indonesia mengucapkan minta maaf. Negara Myanmar telah mengusir Rohingya itu adalah hal yang sangat kejam. Semoga Allah selalu menjaga kalian, selalu melindungi kalian, selalu menolong kalian.

save-rohingya-insta-2-copy

Bila istri berpenghasilan : milik siapakah uang istri?

 

 

Tuntutan ekonomi,  dorongan untuk membantu pihak lain, keinginan meningkatkan taraf hidup; membuat  ibu atau istri memutuskan bekerja. Bekerja tidak selalu harus keluar rumah. Dewasa ini banyak sekali peluang penghasilan yang dapat dilakukan tanpa harus meninggalkan keluarga selama 8 jam sehari. Bisnis online, blogger, reviewer produk, buka usaha katering atau busana, konsultan keluarga, konsultan fashion, konsultan bisnis; adalah sedikit di antara peluang bisnis yang dapat dilakukan di rumah sembari mendampingi buah hati. Disisi lain, ada perempuan-perempuan yang harus bekerja sebagai pegawai, pengajar, dosen, pengusaha, anggota dewan, dsb.

downloadPembahasan kali ini bukan memperdebatkan tentang ibu bekerja tetapi justru pasca perempuan berpenghasilan : milik siapakah uang istri?

 

Lelaki adalah Qowwam

Al Quran menegaskan  dalam 4 : 34 yang artinya ,” Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-lai) telah memberikan nafkah dari hartanya….”

Dalam tafsir Quran dijelaskan beberapa hal antara lain :

  1. Kaum laki-laki adalah pemimpin, pemelihara, pembela dan pemberi nafkah dan bertanggung jawab penuh terhadap kaum perempuan yang telah menjadi istri dan keluarganya
  2. Setiap istri wajib mentaati suaminya dalam mengurus rumah tangga,memelihara kehormatannya, memelihara hartanya dan harta suaminya
  3. Setiap istri berhak mengadukan suaminya yang tidak menunaikan kewajibannya kepada pihak yang berwajib dan berwenang untuk menyelesaikannya

 

Menjadi qowwam atau pemimpin berarti memiliki hak-hak istimewa seperti dipatuhi, ditaati, dihormati, disegani, disanjung, ditakuti, didengarkan perintahnya.

Masih ingatkah kita dulu ketika seorang anak minta sesuatu kepada ibu? Ibu biasanya berkata,

“Coba tanya bapakmu dulu.”

Meski kadang-kadang sang ayah pun melontarkan hal yang sama : “terserah kata ibumu.”

Hal ini dilakukan seorang istri atau ibu sebab memandang tinggi kedudukan suami/ayah. Keputusan-keputusan mulai yang remeh hingga penting di rumah harus disetujui suami/ayah seperti  beli sepatu anak-anak, beli handphone, mau jalan-jalan kemana.

Sebagian suami menyerahkan sepenuhnya pada istri untuk mengatur segala urusan rumah tangga.

Suami saya menyerahnya urusan keuangan pada saya. Jadi saya punya buku catatan pengeluaran yang menjelaskan pengeluaran untuk air, listrik, bayar pembantu, mengirim orangtua, SPP anak-anak hingga cicilan-cicilan lainnya. Suami pun terbuka ketika ia ikut acara kantor yang membutuhkan urunan transportasi atau makan bersama, atau ikut paguyuban dan arisan.

Disisi lain, saya pun memberitahu suami bila memiliki pemasukan dari mengisi acara seminar atau royalti buku. Pendek kata, kami berdua mencoba berbicara terbuka tentang pendapatan dan pengeluaran.

Apakah pernah ada rahasia masalah keuangan?

Sesekali ada. Tapi kami sepakat, yah, sekali-sekali nggak papa kan?

Suami pernah membeli barang-barang seperti kaos beraneka ragam. Ia suka sekali kaos-kaos Jersey. Ia beli beberapa seri, termasuk beberapa buah untuk anak-anak laki-laki kami. Ia juga pernah beli kaos-kaos dengan sablon 3 dimensi untuk dirinya dan anak-anak. Barang-barang ini dibeli tanpa memberitahu saya. Sekali-sekali, menuruti keinginan pribadi bukanlah dosa. Asal frekuensi dan pagu-nya dibatas kewajaran.

Apakah saya marah? Awalnya memang bertanya-tanya. Tapi setelah tahu berapa harga barang-barang tersebut, apalagi suami membelinya dari teman-teman dekatnya yang tengah merintis bisnis kaos, saya pun membiarkannya. Suami tidak setiap bulan beli baju, bahkan kadang setahun sekali beli baju. Jumlah barang yang dibelinya masih relatif wajar.

Bagaimana dengan saya?

Saya sesekali membeli jilbab dan baju tanpa pertimbangan suami. Terus terang, saya memang memiliki penghasilan meski kecil. Jumlah barang yang saya beli baik rupa dan harganya tidak boleh melebihi uang pribadi yang saya punya.

Ketika saya akan beli barang relatif mahal seperti handphone, maka saya mengajak suami untuk memilih.

Apakah saya nggak bisa beli handphone sendiri?

Bisa!

Lagipula royalti saya cukup kok buat beli barang elektronik mahal yang saya inginkan. Tetapi, saya pribadi merasa tidak enak hati bila harus beli barang mahal tanpa seizin suami. (Handphone bagi saya mahal. Padahal kata anak-anak : ummi tuh harusnya beli iphone! Tapi smartphone yang cukup kapasitasnya untuk mengunduh jurnal-jurnal ilmiah, bagi saya sudah oke).

Kenapa saya nggak beli barang mahal, dengan uang saya sendiri, tanpa sepengetahuan suami?

Pertama, saya menghargai suami. Ia adalah qowwam dan pemimpin kami. Sepanjang 21 tahun kami menikah, tentu ia pernah melakukan kesalahan dan punya kekurangan. Tapi sebagian besar perilakunya menunjukkan rasa bertanggung jawab. Terutama dalam masalah nafkah. Ketika kami kekurangan, suami tak segan-segan mengajar meski ia sudah sangat lelah seharian kerja di kantor.

Kedua, suami sebagai qowwam pun menunjukkan contoh baik. Ia beli HP bagus seharga 2 jutaan, ketika anak buahnya bahkan sudah rame-rame beli HP harga 10 juta! Dulu ia beli HP murah, dan dibelikan oleh temannya blackberry. Kata suami ,”kalau yang murah sudah bisa digunakan, ngapain beli yang mahal.”

Ketiga, suami tidak segan-segan membantu saya jika kesulitan. Saat sakit dan nggak bisa masak, suami rela belanja dan memasak. Bila saya harus keluar kota, suami rela mengantar. Atau malah membantu menjaga anak-anak. Pendek kata, ia sigap membantu ketika saya butuh bantuan.

 

Qowwam adalah contoh

love-wifePemimpin adalah contoh bagi rakyatnya. Rasulullah Saw memberikan contoh bagaimana menjadi orangtua, suami, panglima perang, negarawan, politikus dan penyayang binatang. Kebiasaan Rasul ini menjadi role model bagi rakyat.

Begitupun suami saya, ayah anak-anak kami.

Anak-anak terbiasa tidak punya HP. Mereka baru beli HP harga 1 jutaan ketika mahasiswa. Kalau ditanya apa nggak kepingin punya HP bagus?

“Kepingin sih, Mi,” jawab anak-anak. “Tapi nanti beli HP pakai uang sendiri aja.”

Putri sulung dan bungsu kami sudah dapat menghasilkan uang dari menulis. Tetapi HP bukan barang primer yang mereka buru pertama kali.

Putra kedua kami, Ibrahim, menyarankan kepada adiknya-adiknya,”kalian kalau butuh HP beli aja yang murah-murah. Tuh, abah sama ummi aja HP nya murahan. Padahal ummi harusnya pakai iphone.”

Sekalipun Ibrahim tidak punya karya tulis seperti kakak perempuan dan adik perempuannya, ia punya prinsip yang ditularkan dari sang ayah.

Sebagai pemimpin, suami juga memberikan contoh dalam hal berpakaian dan makanan. Dalam hal membeli baju ia tidak terbiasa yang mahal-mahal, juga makanan. Maka contoh pemimpin ini mengimbas pada anak-anak. Mereka biasa berpakaian rapi sederhana, disaat anak muda di lingkungan mereka menggunakan pakaian gaul yang bermerek mulai topi hingga sepatu!

Bila suami/ayah suka ke masjid, anak-anak akan meniru. Meski tetap butuh upaya orangtua untuk memotivasi lebih (hehehe…anak-anak itu kadang-kadang diberi contoh baik saja masih suka ngeles!)

Bila suami/ayah suka makan di rumah, anak akan ikut.

Bila suami/ayah berkata kasar, anak akan meniru.

Bila suami/ayah malas, rajin, pemberani, suka sedekah, suka ngomong kotor, maka anak pun akan meniru ayahnya.

 

Hebatnya seorang Suami

Begitu hebatnya posisi ayah dan suami. Namun demikian besar juga tanggung jawabnya. Ia harus dapat mendidik anak istrinya. Bila istri salah, ia harus dapat membenarnya. Bila anak salah, ia harus dapat mendidiknya, tentu dibantu istri.

Begitu hebatnya posisi ayah dan suami, menunjukkan betapa besar pula tanggung jawab dan kewajibannya. Kewajiban presiden, gubernur, guru, tukang batu tentu berbeda kan? Istri wajib taat pada suami, sebagaimana suami wajib menyayangi keluarganya. Istri wajib memenuhi permintaan suami, sebagaimana suami harus mampu memenuhi kewajiban dan tanggung jawabnya.

Pertanyaan berikut muncul.

Wedding rings and large bills of moneyBila, suami tidak mampu memenuhi kewajiban dan tanggung jawabnya, bagaimana istri harus bersikap? Bila suami tidak mampu mencari nafkah dan istrilah yang harus mencari nafkah, bagaimana pula peran domestik di rumah?

Bila, satu-satunya sumber pendapatan di rumah itu adalah istri, apakah penghasilan istri boleh disimpan sendiri?

 

Perkawinan Kultur Timur dan Pembiasaan Islami

Di barat, adalah biasa suami istri bertukar peran.

Suami kerja, istri nggak mau masak, ya makan di luar. Nggak ada kewajiban istri harus mengurus rumah tangga kalau ia nggak mau. Istri kerja, ada kesepakatan pembagian peran domestik, ya suami yang menyuapi anak-anak. Mencuci dan seterusnya.

Dalam dunia timur, pembagian peran domestik dan publik masih sangat kentara.

Lelaki memiliki martabat lebih sehingga akan membuatnya kehilangan self esteem dan self respect bila ketahuan tetangga atau keluarga besar tengah mencuci, memasak, mengurus anak,belanja, antar jemput anak. Bila posisi lelaki saat itu berpenghasilan, tak masalah.

Banyak juga suami sambil berangkat pulang kerja sambil antar jemput anak sekolah, banyak suami sepulang kantor mampir supermarket untuk beli susu atau tetek bengek keperluan rumah tangga.

Yang akan terasa mengesalkan, membuat malu, menjatuhkan harga diri adalah ketika semua dilakukan suami disaat penghasilannya jauh di bawah istri atau malah dirinya (sedang) tidak berpenghasilan!

Bisa dibayangkan posisi suami.

Istri bekerja. Berangkat pagi, pulang sore. Pekerjaan kantor tidak mentolerir gender. Absen jam 7 ya jam 7 : mau laki, perempuan, sakit, sehat, hamil, haid, badmood, dll; aturan organisasi jelas. Jam 7 ya jam 7. Akibatnya istri/ibu setengah mati mengatur jadwal di waktu pagi. Ia ngos-ngosan berangkat kantor.

Alhasil, pekerjaan rumah tentu terbengkalai. Belanja, masak, mencuci.

Bukan istri/ibu tidak mau melakukan tugasnya. Tapi jadwal pekerjaan dan kepadatan kesibukan rumah tangga tidak sesuai lagi dengan jumlah waktu.

Apa yang harus dilakukan bila saat-saat genting seperti ini memang dibutuhkan bantuan suami untuk tugas domestik?

  1. Buatlah kesepakatan suami istri mana saja yang harus dikerjakan. Suami mencuci,menyetrika; istri belanja memasak. Atau sebaliknya.
  2. Saling jujur dengan kondisi hati. Ingat! Setiap orang, setiap keluarga berbeda. Ibu mertua saya berpesan : jangan sampai melihat suami saya mencuci baju. Saya menghargai beliau. Maka saya upayakan suami membantu pekerjaan rumah yang lain : belanja, memasak. Rupanya di keluarga suami, pekerjaan mencuci bisa melukai harga diri laki-laki. Sebaliknya; saya pernah mendengar sebuah keluarga dimana hal yang melukai harga diri laki-laki adalah bila memandikan anak-anak. Maka sang istri menghormati kebiasaan itu, ia meminta suaminya membantu hal-hal lain selain memandikan anak-anak dan memakaikan baju anak-anak
  3. Beri tenggat waktu berubah. Kita semua berasal dari keluarga yang mungkin tidak trampil 100%. Suami yang diharapkan dapat membantu mencuci dan menyetrika, mungkin belum pernah melakukannya. Beri ia waktu 3-6 bulan untuk dapat menyesuaikan diri.
  4. Bila harus memilih uang atau hubungan baik, pilihlah hubungan baik. Kemungkinan, istri sudah sangat lelah memasak. Harus belanja dan cuci-cuci segala. Sementara suami pun keberatan bila harus memasak. Memasak butuh energi besar! Tidak ada salahnya mencoba catering meski harganya mungkin cukup mahal. Selain waktu yang tersisa lebih banyak, hubungan baik dengan pasangan harus menajdi prioritas. Daripada bersikukuh harus masak sendiri sementara suami atau istri kesulitan melakukannya. Ini juga bisa dilakukan terhadap mencuci pakaian yang dapat dialihkan ke laundry.

 

Wahai Suami, Qowwam, Qowwam dan Qowwamlah dirimu!

Para suami, jadikanlah dirimu pantas dihargai. Pantas dikagumi. Pantas dihormati.

Jangan berpikir bahwa dengan menghasilkan uang banyak, itulah satu-satunya kesempatan dihargai. Banyak juga suami berpenghasilan sangat besar namun tingkah polahnya tidak dapat menjadi panutan, akiabtnya istri dan anak-anakpun membandel.

Bila seorang suami posisi nafkahnya berada di bawah istri, atau malah tidak berpenghasilan maka :

  1. Didiklah istri untuk tetap hormat pada suami. Bukan menunjukkan jati diri kelelakian dengan memaki, memukul, bersikap kasar. Perilaku negatif sama sekali tidak meninggalkan jejak hormat, malah menimbulkan jejak kebencian dan perasaan remeh di hati pasangan dan anak-anak. Pastilah ada perasaan terluka ketika istri bekerja, berpenghasilan besar.namun sabarlah dan berpikir positif.
  2. Berusahalan tetap bekerja sekalipun penghasilan kecil. Berikan pada istri dan nasehatilah untuk bersabar.
  3. Bila memakai uang istri katakan maaf, doakan istri atas sedekah yang dilakukannya. Katakan , “semoga ini menjadi sedekah bagimu ya Dek.”
  4. Sama seperti istri yang menjaga harta suami, suami juga perlu menjaga harta istri. Bukan karena istrinya bekerja dan punya uang lebih, suami merasa berhak berfoya-foya. Bersenang-senang. Merasa keenakan bahwa istri juga memiliki penghasilan lumayan. Ingatlah bahwa keberkahan sebuah keluarga ketika suami menjadi qowwam yang sesungguhnya.
  5. Suami harus waspada bila istri bekerja sebab ia tak boleh membiarkan ini belangsung lama. Pendidikan anak mutlak berada di bawah pengasuhan ibu. Bagaimana ibu akan optimal bila suami/ayah tidak giat bekerja?
  6. Jangan malu mengerjakan pekerjaan halal. Betapa banyak pengusaha besar memulai pekerjaan dari titik nol, menjadi orang palign bawah : tukang rumput, tukang batu. Mungkin bisnis suami bangkrut sehingga istri harus bekerja sebagai guru. Tak ada salahnya menjadi supir Gojek, Grab, Uber dan tak perlu malu dengan perbedaan posisi suami istri. Kalau orang mengejek, memangnya mereka mau kasih jabatan dan gaji besar? Berjualan herba dan mengantarnya sendiri ke pemesan, sementara istri duduk manis di kantor; tak perlu berkecil hati. Siapa tahu bukan gaji istri yang membuat keluarga tersebut bisa beli mobil rumah; namun justru ketekunan suami berjualan obat-obatan herbal.

 

 

Penghasilan istri : sedekah dan me time

Dewasa ini, beban haruslah sama-sama dibagi. Beban domestik, beban publik. Beban ekonomi. Kasihan jika suami hanya menjadi satu-satunya sumber pencari nafkah. Istri pun tidak bebas sedekah dan membeli barang yang diingankan, kan? Kasihan pula bila istri menjadi satu-satunya yang menangani urusan domestik. Kalau ia lelah jiwa raga, maka suami juga yang repot.

Jujurlah pada suami bila istri memiliki penghasilan. Utarakan hati-hati perasaan dan tingkatkan ketrampilan komunikasi. Komunikasi itu ada skillnya lho…

Bila seluruh uang istri diberikan untuk menyelenggarakan rumah tangga, bolehkah sekali waktu punya me-time baik dalam bentuk uang atau waktu? Misal, ingin di akhir pekan bebas tugas dan beli makan di luar meski hanya bakso. Bolehkah seharian tidur aja untuk membayar kelelahan di hari-hari yang lain? Bolehkah membeli barang dengan plafon 100-200 ribu uuntuk jilbab, sepatu, dompet, baju? Dengan keterbukaan pikiran dan perasaan, semoga suami menghargai pengorbanan istri dan mengizinkannya untuk bersenang-senang sesekali waktu.

Demikian pula para istri, jagalah perasaan suami bila saat ini penghasilanmu lebih besar dari suami. Saya ingat banget nasehat sederhana ibu mertua saya :

“Penghasilan itu sejatinya rezeki keluarga. Rezeki suami istri. Jangan merasa sombong. Suami punya uang, ia merasa hebat karena sudah bekerja. Istri punya uang, ia merasa hebat karena sudah berpenghasilan. Coba saja, jika mereka berpisah atau bercerai, biasanya rezeki keduanya akan berbeda lagi. Yang merasa punya penghasilan besar, ketika pongah dan merasa lebih baik berpisah, boleh jadi malah pintu rezekinya ditutup olehNya. Sebabnya, karena sumber rezeki berasal dari pasangan jiwanya.”

Naehat ibu mertua itu saya catat banget dalam benak.

Children with Special Needs (ABK) : stem cell, pubertas, lapangan pekerjaan, hingga pasangan hidup ?

 

 

Mengisi acara bersama Prof. Bambang, spesialis anak ; mas dokter Hafid Psikater, mas Bayu psikolog adalah kesempatan berharga yang jarang-jarang saya dapatkan. Plus moderator ayah Aris yang tangguh, ayah dari ananda Raffi yang didiagnosis dengan Autism. Saya rangkum percik-percik ilmu luarbiasa hari itu untuk menambah khazanah pemahaman saya pribadi.

Apa aja sih yang didiskusikan?

Di bawah ini saya rangkum bahasan menarik yang insyaallah bermanfaat bagi pembaca : stem cell, pubertas, lapangan pekerjaan bagi ABK, pasangan hidup, relaksasi atau hipnoterapi, juga dukungan komunitas.

 

  1. Stem cell

Pertanyaan seorang peserta seminar menarik, tentang stem cell. Sang ibu bercerita, putranya yang mengalami autism disuntik stem cell di lengan. Ada perubahan perilaku sebab 2 hari sang putra lebih pendiam dari biasanya.

Benarkah stem cell dapat mengobati autism?

prof-bambang

Prof.dr. Bambang Permana, Spesialis anak

Penjelasan Prof. Bambang sangat menarik.

Beliau menjelaskan penelitian-penelitian terkait autism yang hingga kini terus digalakkan. Sebelum menjawab tentang tepatkah stem cell bagi autism, profesor Bambang menjelaskan penyebab autism :

  1. Kelainan fungsi otak karena inflamasi di jaringan interkoneksi otak kanan-kiri sehingga menimbulkan gangguan perilaku ASD (autis spectrum disorder) hal ini bisa disebabkans alah satunya oleh virus
  2. Logam berat. Dulu, orang menyangka imunisasi penyebab autis. Namun kecurigaan itu tidak mendasar sekarang. Logam berat banyak ditemukan di laut dalam, maka anak autis secara populasi sangat besar ditemukan di peseisir pantai. Sekarang warga AS jarang mau makan salmon sebab ikan salmon disebut-sebut banyak mengandung logam berat.
  3. Gangguang system imun pada pencernaan. Akibatnya protein-protein besar dari usus masuk ke darah, otak menimbulkan inflamasi. Maka perlu diperbaiki system pencernaan.

Apakah stem cell bermanfaat bagi autis?

Bila memperbaiki sitem imun pencernaan, kemungkinan suntikan stem cell akan bermanfaat bagi penyandang autis. Mengapa ananda pasca disuntik menjadi lebih diam? Kemungkinan sedang terjadi proses di dalam tubuhnya sehingga menimbulkan reaksi tersebut.

 

  1. Pubertas ABK

Hal yang mengkhawatirkan bagi orangtua dan pendidik adalah menghadapi pubertas ABK. Samakah pubertas mereka? Apakah mereka mengalami gangguan hormone? Apakah mereka dapat tertarik pada pasangan ?

Untuk pubertas, profesor Bambang mengambil contoh CP atau cerebral palsy dengan level 1, 2, 3, 4, 5. Bagai CP 1 tidak ada masalah dalam keseimbangan hormonal sehingga bagi remaja putra dan putri dengan CP 1 akan mengalami masalah pubertas yang sama saja dengan orang lain. Bagi CP 3-4-5 ada gangguan hormonal pada hipofis yang mengakibatkan ketidakwajaran proses.

Oleh sebab itu sekolah inklusi harus memasukkan unsur  pendidikan + kesehatan kedalam kurikulum agar semua pihak dapat mendampingi penyandang CP menuju kehidupan yang optimal.

 

 

  1. Lapangan pekerjaan

Bagaimana orang special need atau berkebutuhan khusus bekerja?

Beberapa perusahaan otomotif mempekerjaan penyandang thalessemia dan mereka memiliki kebijakan mengizinkan pekerja thalessemia untuk istirahat 3 hari tiap 6 minggu. Microsoft kono kabarnya mempekerjakan 1% pegawainya yang merupakan penyandang autism.

Lapangan pekerjaan sangat terbuka bagi orang berkebutuhan khusus.

Begitu banyak penyandang disleksia menjadi tokoh : David Boies, Steven Spielberg, Keira Knighley, Justin Timberlake, Keanu Reeves, Vince Vaughn. Daniel Radcliffe mengidap disfraksia. Autism salah satunya Claire Danes. Disabilitas seperti Stephen Hawking.

 

  1. Pasangan hidup

Apakah orang berkebutuhan khusus dapat menikah?

Profesor Bambang memberikan penjelasan khusus untuk CP. Untuk CP 1 dapat menikah dengan siapa saja, insyaallah. Namun mulai CP 3,4,5 sebisa mungkin orang dari pasangan normal sebab penyandang ini membutuhkan bantuan dalam kehidupan sehari-hari. Meski demikian, takdir Allah akan menentukan siapakah jodoh terbaik bagi orang berkebutuhan khusus.

 

  1. Ketidaksiapan orang tua

Banyak orangtua tidak siap menerima diagnose anak ABK. Ada yang meninggalkan pasangan dan anaknya. Ada yang bercerai. Namun tidak sedikit yang justru menjadi solid dan kuat luarbiasa, menjadikan kehadiran anak ABK sebagai anugerah tak terkira.

ortu-teladan

Incredible parents🙂

Sedih, kecewa, merasa melakukan satu dosa, terpukul dan menolak takdir adalah sikap yang dialami orangtua ABK. Setelah menemukan kekuatan kembali, biasanya orangtua akan berjuang untuk memulai langkah panjang perjalanan.

ABK tentu membutuhkan kesabaran, dukungan financial dan dukungan sosial.

Bagi orangtua yang merasa terpukul, ikutlah komunitas agar mendapatkan pengalaman berharga dari orangtua-orangtua yang mengalami kejadian serupa.

 

  1. Komunitas

Family support group sangat penting. Di Surabaya ada komunitas yang digagas oleh dokter Sawitri. Kebetulan saya dan dokter Sawitri menerima penghargaan untuk perempuan berprestasi versi AILA 2016 kemarin di bulan April.

Mbak Sawitri ini punya komunitas Peduli Kasih ABK. Menjadi penjembatan antara orangtua-orangtua yang memiliki anak gangguan pendengaran, autis, cerebral palsy, down syndrome dan banyak lagi. Bertemu sesama orangtua akan berbagi informasi berharga seputar dukungan optimal terhadap ananda tercinta, juga, saling mendoakan dan menularkan aura positif.

Dukungan orangtua terhadap anak ABK sangat penting.

Dukungan pasangan terhadap orang berkebutuhan khusus sangat penting. Ini saya ungkap secara khusus di novel Bulan Nararya dan juga tema skizofrenia yang pernah saya tuliskan sebelumnya. Suami, istri, anak-anak yang dapat menerima kekurangan salah satu anggota keluarga; akan mengoptimalkan peran masing-masing. Kerjasama setiap anggota akan menghasilkan buah yang membanggakan!

 

  1. Beda cacat dan disabilitas

Menarik sekali hal singkat yang dipaparkan mas Bayu. Mas Bayu adalah seorang psikolog, relawan ABK Peduli Kasih dan penyandang disabilitas.

bayu

Mas Bayu, Psikolog yang luarbiasa !

Apakah beda cacat (impairment) dan disable?

Impairment atau cacat, dinisbatkan pada penderita dan seolah-olah itu menjadi aib serta kekurangan seumur hidunya. Missal cacat pendengaran, cacat penglihatan, atau impairment yang lain. Padahal, orang cacat bila diberi peluang dan pelatihan, akan sama aktivitasnya dengan orang normal. Ingat, 10% penduduk dunia adalah orang dengan kebutuhan khusus.

Bila, orang autis, disleksia, hearing impairment, cerebral pasly, maupun penyandang special needs lainnya mampu mandiri bahkan berkontribusi positif; apakah ia masih dianggap cacat?

Bahkan mungkin, ia tidak lagi dianggap disable sebab justru kiprahnya melampaui orang normal pada umumnya. Di Indonesia sendiri dikenal difabel atau differential ability , bahwa orang cacat sebetulnya bukan ‘cacat’ tapi mereka memiliki kemampuan lain. David Boies, pengacara terkenal dan kaya raya dari Amerika, memiliki cacat membaca. Sebagai penyandang disleksia ia mungkin membaca berkas klien hanya beberpa lembar berhari-hari saat orang normal hanya butuh 2 jam! Namun, David Boies mampu mendengar cermat dan menghafal cepat, serta merumuskan perkara dengan brilian sehingga mampu memenangkan kliennya. David Boies tentu tidak cacat, tapi justru punya different ability.

Apakah kita masih mengatakan Nick Vujicic cacat sementara ia adalah motivator tingkat dunia? Maka sebutan cacat, impairment, disable, handicapped harus sangat berhati-hati dilabelkan.

 

  1. Mirroring, hipnoterapi dan aura ketenangan

Sepanjang sesi seminar dan tanya jawab, biasalah, anak-anak heboh di belakang. Sebagian anak-anak yang hadir adalah children with special needs. Sesi seminar rebut. Sesi coffe break ribut. Sesi pemberian reward ribut.

Tetapi ada moment yang pantas dicatat ketika mas dokter Hafid (saya menyebut demikian karena dokter yang satu ini masih muda dan lucu banget!) memberikan panduan singkat tentang relaksasi.

Duduk di kursi. Telapak kaki menempel di lantai. Relaks. Posisi nyaman.

Setiap kali kita menarik nafas maka kedua tangan mengepal, telapak kaki menekuk ke atas sekua tmungkin ( kea rah tulang kering). Lalu hembuskan nafas pelahan sembari melepaskan kepalan tangan dan meletakkan kembali telapak kaki ke lantai.

Hal ini dilakukan semua peserta seminar berulang-ulang sembari memejamkan mata.

Apa yang terjadi?

Anak-anak yang semual heboh pun menjadi senyap!

Ternyata sikap tenang, sepi, senyap dari orangtua menular kepada anak-anak. Pantas saja emosi positif juga membawa dampak positif. Kalau orangtua heboh, ngomel, ngedumel panjang lebar; anak-anakpun makin gelisah. Betul kan?

 

Support Group ABK PEduli Kasih.JPG

Para relawan, guru, pendidik ABK yang luarbiasa🙂

Saya tidak SARA & cinta Cina

 

 

Teman SMP saya banyak yang Cina. Teman SMA, juga. Teman kuliah di fakultas Psikologi tak terkecuali. Sekarangpun teman dan tetangga saya ada yang Cina. Kompleks perumahan kami bersebelahan persis dengan kompleks perumahan lumayan mewah, yang 95% penghuninya Cina.

Kalau beli kain di Pucang, penjualnya rata-rata Cina.  Beli barang elektronik di Hartono atau Hi Tech Mall, atau Marina, rata-rata penjualnya Cina. Beli alat-alat listrik di dekat rumah, seperti kipas angin, setrika, atau colokan listrik; juga Cina.

Di Surabaya banyak warga Cina muslim, yang aktif di masjid Cheng Ho. Sepupu saya menikah dengan orang Cina, yang menjadi muallaf dan menjadi pendakwah Islam. Pendek kata, bertemu warga Cina dalam lalu lalang kehidupan sehari-hari, adalah hal biasa. Di jalan raya, di perdagangan, di kampus, di dunia kerja. Etnis Cina, Jawa, Madura, Arab, India, Batak; campur aduk tak terpisahkan sebagai satu koloni masyarakat Indonesia.

 

Pengagum Cina

Saya sungguh mengagumi budaya Cina. Lewat film-filmnya, terutama.

Ketika remaja, saya dan suami akrab dengan cerita silat berlatar budaya Cina, karya Asmaraman Kho Ping Ho. Film Pemanah Rajawali, Yoko, dan sederet film Cina saya suka. Once Upon a Time in China adalah film favorit saya dan suami, hingga berseri-seri. Laksamana Cheng Ho dan Wong Fei Hung adalah dua tokoh yang sangat saya kagumi, bahkan terbersit impian untuk membuat cerita Fei Hung versi saya.

Tahu Kungfu Hustle kan?

Kami sekeluarga bolak balik nonton film ini. Seru dan keren, kocak lagi!

Red Cliff 1 dan 2, jangan ditanya! Cursed of Golden Flower, Hero, Warrior Heaven and Earth, Painted Skin, The Guillotine, Call for Heroes; film-film Cina ini saya rekomendasikan buat teman-teman yang suka film sejarah. Vicky Zhao, Zhang Ziyi, Chow Yun Fat, Steven Chow, Donnie Yen termasuk bintang film favorit. Belakangan, nama Eddie Peng saya cari-cari di google lantaran aksinya dalam Call for Heroes demikian mengesankan.

Coba tengok rak buku kami.

sam-kok

Dongeng Naga, Sam Kok, dll

Dragon Tales : Sejarah Tiongkok dari Dinasti Tang hingga Dinasti Qing, Kisah Tiga Kerajaan (Sam Kok), Cina Muslim di Jawa Abad XV & XVI, Wild Swan (Jung Chang),  Rahasia Sukses Muslim China ( Wan Seng), Muslim di Amerika dan Cina, Battle Hymne of Tiger Mother (Amy Chua) adalah sedikit dari buku referensi tentang Cina yang kami punya.

Apa yang saya sampaikan ke anak-anak?

“Lihat tuh etos kerja orang Cina! Kalian harus tiru. Mereka hemat dan irit, nggak seperti kita orang Jawa yang suka menghamburkan uang.”

Bahkan saya banggakan teman-teman Cina muslim saya di hadapan anak-anak.

“Kalian tahu kan mas Syauqi dan mbak Levina? Mereka sebentar lagi pindah dekat rumah kita. Tahu nggak apa yang ditanyakan mbak Levina : bunda Sinta, mana sih pasar malam terdekat? Coba lihat, itulah gaya berpikir orang Cina. Bagaimana cara berdagang. Nanti kalau mbak Levina sudah buka toko, kalian belajar kerja sama mbak Levina ya!”

Saya ceritakan kepada anak-anak tentang jalur sutra. 5 kota mega yang pernah menjadi milik kaum muslimin : Xian, Aleppo, Merv, Mosul, Samarkand. Xian berada di Cina. Makam Saad bin Abi Waqqash pun berada di Ghuangzhou , Cina.

Bagi kami sekeluarga, dan saya yakin kaum muslimin pada umumnya, Cina dekat dengan kehidupan kaum muslimin. Tuntutlah ilmu hingga ke negeri Cina adalah pepatah masyhur, sebagian berpendapat ini hadits Nabi Saw, sebagian berpendapat ini pepatah para ulama.

Jadi sungguh, Cina, adalah sahabat kaum muslimin. Saudara kaum muslimin. Teman kaum muslimin. Hui, Uyghur, Tajik, Kazakh dan masih banyak lagi adalah suku Cina muslim yang kami cintai.

 

Benci Cina?

Apa kami benci Cina?

Naudzubillahi, tentu tidak! Perasaan saya demikian dekat dengan orang-orang Cina ketika berkesempatan datang ke Hong Kong beberapa kali, meski kata orang Mandarin dan Canton berbeda. Toh tetap Cina juga. Saya sholat di masjid Wanchai, Ammar Saddick, bertukar salam dengan warga Cina muslim. Saya mengagumi pasangan-pasangan tua Cina yang makan di kedai masjid Wancai. Pasangan-pasangan tua Cina demikian setia satu sama lain…ah.

Di rapat RT, beberapa tetangga kami Cina dan kami ngobrol dengan santai terkait masalah syukuran, 17 Agustusan, sampah, paving block dll.

Apakah kami benci orang selain muslim?

Naudzubillahi, sungguh Allah Swt membenci orang yang dzalim dan tidak adil. Bila kaum muslimin bersikap tidak adil terhadap non muslim; sudah jelas, Allah dan RasulNya menjadi  wali bagi orang non muslim yang teraniaya. Maka, ketika terjadi proses pemurtadan terhadap satu wilayah misalnya, bukan kebencian terhadap non-muslim yang muncul. Sebaliknya, kaum muslimin merasa prihatin.

“Yah, gimana lagi. Orang-orang non muslim lebih peduli. Mereka memberi santunan beras, sembako, bantuan pendidikan dan lain-lain. Pantas saja saudara muslim yang miskin menjadi pindah keyakinan.”

Hampir tidak pernah dalam bahasan-bahsan kami muncul kebencian dengan niat mengenyahkan satu agama lain keluar Indonesia, hanya karena mayoritas warga Indonesia muslim. Ketika meletus anti Islam di negara lain, penindasan dan pembunuhan seperti warga Rohingya, tidak serta merta kaum muslimin di Indoensia membenci agama Buddha. Tidak serta merta mengusir warga Cina yang mayoritas berlainan keyakinan dengan kaum muslimin, walau warga Cina sebagian beragama Buddha, dimana para biksu dan warga Buddha di Myanmar menindas kaum muslimin.

Sungguh, kebencian, pengusiran, ejekan, hasutan; bukan menjadi ciri masyarakat muslim. Bila terjadi pemurtadan, pada dai berbondong-bondong turun ke desa menyadarkan dan membantu menyediakan sarana prasarana. Bila terjadi kegaduhan di luar negeri yang menyudutkan masyarakat muslim; kaum muslimin lebih memilih berdemonstrasi dan menggalang dana bantuan.

 

Bila Ahok Muslim

Bahkan, kaum muslimin masih menyelipkan doa-doa terbaik yang dapat disampaikan. Ketika pak presiden Jokowi terkesan tebang pilih, masih ada yang berdoa : semoga pak Jokowi semakin bagus pemahaman keIslamannya. Ketika Ahok menggodam masyarakat Indonesia dengan al Maidah 51 ; masih ada kaum muslimin yang berdoa : ya Allah, semoga Ahok menyadari kesalahannya dan menjadi muslim!

Kaum muslimin mengkritik, menegur Ahok bukan lantaran ia Cina dan non muslim.

Bukan!

Begitu banyak gubernur dan pejabat muslim yang salah pun diseret ke pengadilan. Begitu banyak pula pejabat dan petinggi yang non muslim di meja hijaukan. Siapa berbuat salah, muslim atau non muslim, tetap harus diadili.

Bila Ahok muslim dan menghina al Quran, tetap saja tuntutannya sama.

Kali ini kaum muslimin bersuara sepakat sebab beliau adalah seorang pemimpin ibukota yang menjadi cermin Indonesia. Jakarta, cermin Indonesia, sedang menghadapi pilkada. Dan kita tercengang betul ketika sang pemimpin menggunakan ayat al Quran dengan cara tak terduga.

Bagi warga muslim, yang jarang sholat dan paling bermaksiat sekalipun, yang masih terbata baca Quran dan tidak mampu mengeja al Fatihah; kitab suci al Quran selalu diletakkan di bagian terhormat dalam bilik rumah : di ruang tamu, di rak buku, di posisi tinggi. Menjadi mahar, sebagai penanda suci sahnya hubungan lelaki perempuan. Menjadi alat sumpah, yang dipegang saksi dan hakim serta penegak hukum di sidang. Menjadi simbol penguat, bagi para pejabat yang akan diambil sumpah jabatan.

 

Provokator & Penunggang Massa

“Awas kaum muslimin ditunggangi!”

“Awas ada provokator!”

“Nanti diobok-obok biar timbul kerusuhan!”

“Kalau sudah gempar, negara lain akan turun tangan ikut campur!”

Ya.

Kaum muslimin selalu serba salah.

Mau bersuara, dibilang SARA.

Mau mengkritik agama lain atau etnis lain, dibilang perkara sensitif.

Mau berdemo, diancam provokator dan kerusuhan massa.

Akibatnya, kaum muslimin benar-benar takut dan galau ketika ingin mengkritik sesuatu yang bersinggungan dengan agama. Takut fundamentalis. Takut radikal. Takut fanatik. Kaum muslimin Indonesia menyerah dan mengalah begitu saja ketika kerat demi kerat kemerdekaan beragama diserahkan pada pihak lain. Pariwisata diisi dengan hal yang bertentangan dengan agama, yah, biarkanlah, toh ini bukan negara Islam. Panti pijat, bar, karaoke, minuman keras, narkoba, pornografi merayap dengan pasti; yah, gak bisa dong tegas-tegas. Ini kan bukan negara Islam. Pemimpin dan kebijakan tak berpihak pada Islam; yah, demikianlah, kan ini bukan negara Islam.

Sekali saja, kaum muslimin benar-benar ingin bersatu padu membela agama. Membela kalimatullah yang telah ditafsirkan beda. Bukan karena pelakunya etnis tertentu. Bukan karena pelakunya non muslim. Tapi karena benar-benar ingin bersuara; agar warga muslim Indonesia yang mayoritas ini menjadi tuan di tanah sendiri. Membela agama dan kitab suci, dengan cara terhormat dan ksatria. Semoga setiap pihak menyadari bahwa kaum muslimin selalu ingin menyelesaikan perselisihan dengan cara hikmah.

 

Sinta Yudisia

Ibu dan Penulis

Surabaya