Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Film Game KOREA Remaja. Teenager Renungan Hidup dan Kematian RESENSI

Ngezoom bahas SQUID GAME, yuk!

SQUID GAME
Antara Kerakusan dan tuntutan hidup
➖➖➖

Yap yang lagi booming saat ini nih. Cung siapa yang udah pada nonton film ini😁

Ada beberapa pesan dari film ini. Yang pertama, film bercerita tentang keserakahan, keputusasaan, dan ketakutan akan kurangnya harta di dunia.

Lalu apa cuma negatifnya aja? Tentu nggak dong, masih banyak pesan-pesan positif yang bisa kita ambil.

Trus apa hubungannya sama kehidupan kita sekarang? Terlebih hubungannya sama Islam?

Nah kita akan bedah tuntas dari sudut pandang pop culture dan Psikologi tentunya padangan kita sebagai seorang muslim

💣💣💣

Makanya yuk ikuti kajian spesial Main Ke Masjid

“SQUID GAME”
Antara Kerakusan dan Tuntutan Hidup

Bersama :
🧡Bunda Sinta Yudisia @sintayudisia
Psikolog dan pengamat Korean culture

Dan

🟠Ustaz Aditya Abdurrahman @adityaabdurrahman
Pengamat film dan pop culture

Rabu, 6 Oktober 2021
Pukul 19.30
Via online Zoom

Daftar langsung di bit.ly/JOINKAJIANMKM atau klik link di bio

Dan konfirmasi ke wa.me/6289681759219

*****

Squid Game adalah film 9 episode yang tayang di Netflix. Berkisah tentang 456 orang yang berburu uang dengan mengikuti permainan anak-anak yang diselenggarakan oleh sebuah club rahasia. Dari 456 orang akhirnya hanya tersisa 1 orang yang berhak untuk membawa pulang hadiah. 455 orang yang lainnya harus mati mengenaskan.

Apa sih value yang ingin diangkat film ini? Kita bahas bareng, kuy!

Poster film Squid Game
Kategori
Dunia Islam Film My family Remaja. Teenager

Kurulus Osman : Film Sejarah yang Indah

Anda penikmat serial Kurulus Osman?

Wah, sama dong kalau gitu.

Gegara disebutkan sebagai lanjutan dari Ertugrul, saya dan keluarga nunggu-nunggu banget. Gak sempat nonton Ertugrul, tapi kali ini berusaha menyempatkan diri tiap malam nonton Kurulus Osman. Serius, film ini ngobatin hati saya yang sempat berkeping-keping (jiaaah) kecewa dengan Abad Kejayaan atau King Suleiman atau Muhtesem Yuzyil. Film King Suleiman lebih banyak adegan romansa yang gak bagus ditonton sbg film keluarga. Apalagi dilihat anak dan remaja.

Ini beberapa kelebihan Kurulus Osman  yang tayang hampir tiap hari di Net TV. Film ini bercerita tentang cikal bakal dinasti Ottoman. Mengambil tema besar suku Kayi, yang tengah berjuang melawan Mongolia dan Byzantium sekaligus

  1. Bertabur kata filosofis nan indah
  2. Kisah cinta romansa yang apik
  3. Nasihat yang tak dogmatis
  4. Alur asyik buat anak & remaja
  5. Perseteruan para perempuannya keren!
  1. Kata filosofis nan indah

Baru kali ini saya nonton film bawa catatan! Lha, gimana nggak? Setiap serinya selalu ada kalimat-kalimat yang menohok. Puitis. Indah. Filosofis. Kata-kata itu bahkan muncul dalam beragam adegan berikut :

  • Ketika akan bertarung dengan musuh
  • Ketika sedang diplomasi
  • Ketika sedang musyawarah
  • Ketika menyusun taktik dan tipu muslihat
  • Ketika sedang jatuh cinta
  • Ketika sedang cemburu

2. Kisah romansa Osman – Bala Hatun

Bala dan Hurrem sama-sama love interest dari tokoh besar. Tapi di film KO penggambarannya sangat bertolak belakang ( saya bicara filmnya ya, bukan sejarah aslinya). Sulayman dan Hurrem sangat hot kisah cintanya, sampai merinding nonton gegara adegan2nya …aduh. Di film KO, percakapan antara Osman dan Bala dipenuhi kiasan. Nasihat. Semangat.

Suatu ketika Bala menjelaskan, ia akan pergi dari Osman karena rahimnya rusak setelah bertempur melawan Mongolia. Perutnya luka parah. Ia tak akan bisa punya anak. Apa jawaban Osman? Singkat. Tanpa banyak bumbu cinta.

“Bala, engkau adalah doa-doaku.”

Jiaaaah.

Saya dan anak-anak berseru nyaring sembari berkaca-kaca. Nih cowok keren abizz.

Emang Osman mempertahankan Bala kenapa sih? Gegara dia cantik doang? Wuah, enggak dong.

Bala Hatun itu :

  • Putri syaikh Edebali yang terkemuka (aku mencantumkan nama Edebali dalam serial Takudar)
  • Ahli bermain pedang dan  menelusuri jejak
  • Setia pada suku Kayi
Pernikahan Osman dan Bala Hatun. Tanpa kissing or flirting!

3. Nasihat tak dogmatis

Setiap serialnya, pasti ada nasihat-nasihat yang …mak jleb! Hadeeeeh. Bikin nangis. Bikin mewek. Bikin hati teriris-iris.

Misalnya di salah satu sesi ini.

Suatu saat murid Syaikh Edebali nanya, kok mereka menelusuri hutan capek-capek buat apa? Kan sudah enak tinggal di pemukiman Suku Kayi. Terhormat, dihormati, tinggal nunggu murid dan kekayaan juga datang sendiri.

Syaikh Edebali menceritakan sebuah kisah.

“Ada seorang lelaki yang sudah hidup nyaman, terhormat di kaumnya, tapi dia mencari masalah. Dia naik ke bukit dan merenung.”

Tidak ada yang salah dengan kehidupan kaumnya. Semua baik-baik saja. Kehidupan berjalan demikian murni dan berjaya. Tetapi lelaki itu, ‘menciptakan masalah’. Dan pada akhirnya, ia harus menyelesaikan masalah.

“Begitulah kaum muslimin. Dia harus mencari masalah, dan harus menyelesaikannya.”

Hiks…kami berkaca-kaca.

Makna ‘mencari masalah’ ini bukan trouble maker. Tapi benar-benar mencari ‘masalah’ yang ada di tengah masyarakat.

Duh, saya susah jelasinnya. Pokoknya, mata kami kayak tersihir kalau udah nonton film ini. Lihat Syaikh Edebali ngomong…bukan kayak ceramah agama. Padahal isinya nasihat. Lelaki ‘pencari masalah’ yang dimaksudkan beliau adalah baginda Nabi Saw.

Syaikh Edebali & putrinya, Bala Hatun

Sama seperti Suku Kayi yang sudah hidup tenang dan merdeka di perbatasan. Tapi Ertugrul dan Osman ‘cari masalah’ karena di luar sana ada masalah besar yang diciptakan Mongolia & Byzantium.

Hidup kita bukan menghindari masalah.

Tapi mencari masalah.

Dan menyelesaikannya.

Untuk poin 4 dan 5, nggak usah dijelasin ya? Mending nonton sendiri. Insyaallah film ini aman buat anak-anak dan remaja. Meski kalau anak SD perlu didampingi karena ada adegan perkelahian dan pertempuran.

Saya penikmat film. Barat, Jepang, Korea, Thailand, Indo, India, Perancis, Rusia, dll. Pokoknya kalau filmnya asyik, akan diupayakan untuk nonton. Tapi gak ada film yang kata-kata, kalimat-kalimatnya, menancap begitu dalam. Atau, tak ingin kami lupakan sampai-sampai harus bawa catatan.

Kalau anda ingin nonton film serial yang cocok ditonton sekeluarga, ada muatan nasihat agama tapi gak membosankan; sekaligus cuci mata lihat wardrobe keren; tontonlah KURULUS OSMAN!

Gonca, Aygul, Bala
Dua perempuan yang berseteru memperebutkan cinta Osman. Tapi perselisihan keduanya nggak norak, bahkan ketika berantem pun penuh kata filosofis.

Serial Kurulus Osman tayang di Net TV setiap Senin – Jumat dan 21.00 – 22.00 (Dulu jam 20.00 – 21.00)

Kategori
Covid-19 Hikmah My family Renungan Hidup dan Kematian Survivor Covid-19 Topik Penting

Sakit Covid 19 : Berapa Jumlah Biayanya? Apa Saja yang Gratis?

“Apakah obat-obatan ditanggung? Biaya rumah sakit gimana? Makanan? Laundry?”
Kira-kira begitulah sebuah pesan masuk bertanya kepada saya, tentang prosedur mendapatkan rawat inap Covid. Saya katakan bahwa semuanya gratis dari pemerintah. Bahkan, kami yang sakit ber-7 pun mendapat pasokan makanan 3x sehari. Makanan yang disuplai puskesmas sangat lezat dan memenuhi gizi.


🌀🌀🌀
Prosedur untuk mendapatkan layanan gratis, berdasar pengalaman kami dan kira-kira kalau diuangkan secara kasar :


🟢1. Ada bukti kontak erat positif covid (suami saya positif. Saya minta bukti swab terakhir suami). Alhamdulillah saya, 4 orang anak, ibu saya bisa swab gratis di puskesmas. Katakanlah 1 x swab 1 jutaan, berarti 7 orang = Rp. 7.000.000
🟢2. Puskesmas menanyakan apakah kami butuh support logistic. Kami bilang : ya. Sejak dinyatakan positif, selang beberapa hari kami kemudian mendapatkan kiriman makanan kotak. 3 (sehari) x 6 (orang) X @ Rp. 20.000 = 360.000/ hari. Selama 3 pekan = Rp. 6.480.000.
🟢3. Rawat inap RS. Selama kurang lebih 14 hari kami rawat inap. Katakanlah biaya kamar sehari Rp. 300.000 , obat Rp. 500.000 (injeksi, infus, oral, tindakan dll), makan Rp. 100.000 ; kami bulatkan 1 juta. Berarti 1 orang = @Rp. 14.000. 000. Karena kami rawat inap ber-4 jadi Rp. 56.000.000
🟢4. Rontgen pra masuk RS kurang lebih @100.000 x7 = 700.000 ; selama di RS 3 (rontgen) x 4 (orang) x @100.000 = Rp. 1.200.000
🟢5. Swab di RS 3 (swab) x 4 (orang) x @Rp.1000.000 = Rp. 12.000.000
🟢6. Total Rp. 82. 680.000
🟢7. Pasca itu masih ada pendampingan swab di puskesmas, obat-obatan yang di bawa pulang, dsb. Ada tindakan-tindakan lain seperti injeksi dan oksigen (putri saya sempat sesak napas) , transfuse plasma, dokter kandungan (saya mengalami uterus bleeding), ambulan (saya dibantu LMI utk ke RS). Kurang lebih kalau di total katakanlah Rp. 100.000.000


〰️〰️〰️
Bagi yang dapat layanan RS, belum tentu juga gak keluar uang sama sekali. Saya sendiri tetap harus keluar uang dan ini yang kadang gak terprediksi jumlahnya. Bisa terkuras habis tabungan.

  1. Makanan. Makanan di RS terjamin. Sangat bergizi. Tapi karena perut mual luarbiasa dan indera pencecap gak berfungsi, saya bolak balik minta orang di rumah utk masak. Simple : oseng kacang, sambel, telor ceplok. Kayaknya murah. Tapi setelah dikalkulasi, lumayan membengkak biayanya
  2. Laundry
  3. Layanan online. Sakit covid bukan sakit biasa. Gak ada yg bisa jenguk. Jadi saya harus beli atau minta dikirimin baju dari rumah secara online. Apalagi karena satu rumah positif covid, gak ada yang bisa bantu-bantu kirim barang ke RS
    🟣🟣🟣
    Melihat seperti ini, kesehatan sangatlah mahal. Karenanya, jangan sampai kita kena covid. Kalaupun tersedia uang, belum tentu ada layanan RS. Masih jauh lebih murah kita beli masker dan sabun.
  4. 👉Usahakan sesuai prosedur. Fotokopi KTP- KK selalu tersedia, kemudian catatan kontak erat dengan siapa yang positif covid.
    👉Rajinlah update info dari RT-RW, juga puskesmas terdekat. Tak cukup puskesmas. Catatlah lembaga-lembaga kemanusiaan yang menyediakan ambulan gratis, oksigen gratis dst, logistic dan obat gratis. Saya sempat ngecek di google, 1 butir obat kami ada yang harganya @Rp27.000! Kebayang kalau harus mengkonsumsi 2x sehari selama 2 minggu kan?
    👉Saya sering menyarankan teman & saudara yang terindikasi covid, segeralah lapor puskesmas. Koordinasikan dengan puskesmas. Karena kalau ditanggung sendiri, ya Allah…gak sanggup biayanya.
    •••••

#bantuoksigen #bantusahabat #penyintascovid19 #coronavirus #covid19 bersama Ruang Pelita

(IG @ruang.pelita FB Ruang Pelita)

Pengadaan oxygen concentrate atau tabung oksigen , kode transfer 002
🔹Mandiri 142-00-1673-5556 (Sinta)
🔹BSI 7129-62-4943 (Ahmad)
🔹BRI 317-701-0263-16530 (Nazalia)
🔹BCA 788-0610-281 (Rizky)

Kategori
Covid-19 Hikmah Oase Parenting PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Renungan Hidup dan Kematian Survivor Covid-19 Topik Penting

Mendampingi Anak-anak yang Kehilangan Orangtua karena Covid-19

“Apa yang harus saya lakukan? Teman saya kehilangan orangtuanya yang wafat karena Covid. Kalau ortu sakit lama, tentu bisa menyiapkan diri. Tapi meninggal karena Covid, begitu cepat mendadak. Saya sendiri sering dilanda kecemasan, takut kehilangan orangtua saya.”

23 Juli 2021 mengisi acara kemuslimahan yang diselenggarakan PWK ITS. Mahasiswi penanya tsb, menangis. Ia yang sudah memasuki usia remaja akhir dan masuk ke dewasa awal saja merasa dag dig dug. Takut kehilangan orangtua. Takut kehilangan orang yang dicintainya.

Apalagi anak yang masih SMA. SMP. SD, bahkan TK.

Tak terbayangkan rasanya.

Di hari-hari biasa, kehilangan orangtua akan menghadirkan simpati. Orang-orang mengulurkan tangan, membantu materi, menawarkan menjadi orangtua asuh. Bantuan finansial mengalir, dukungan dari banyak pihak didapatkan : guru-guru, pihak sekolah/kampus, saudara besar, tetangga, handai tolan.

Wafat karena covid?

Bahkan kematian demikian senyap. Pemakaman terasa asing. Anak yang kehilangan orangtua tak melihat orang-orang merawat jenazah orangtua mereka, memandikan, menyolatkan. Tak ada kerabat datang menghibur.

“Duh, ortunya wafat karena covid. Jangan-jangan anaknya juga positif. Gimana mau merangkul mereka? Mau memeluk?”

Bantuan finansial, tentu tak sama seperti hari-hari biasa. Masing-masing orang sedang kepayahan mengurus diri sendiri dan keluarganya. Apalagi jika ada yang sakit, mencari tabung oksigen sudah merupakan perjuangan spektakuler bagi sebuah keluarga.

Kehilangan orangtua karena covid sudah sangat memukul. Sejak divonis sakit, serangkaian protocol kesehatan memang harus diterapkan. Diisolasi, diasingkan, dipisahkan dari orang lain untuk menghindari penularan. Kontak fisik ditiadakan, bahkan kadang komunikasi terputus 100%. Apalagi bisa si pasien harus masuk kamar ICU, tanpa ada kerabat yang menemani. Karena kerabat yang lain juga tengah diisolasi. Ya Allah. Terbayang betapa bingungnya seorang anak yang tetiba menghadapi kenyataan ini.

Dua pekan lalu ia masih memiliki orangtua, lalu tetiba orangtuanya lenyap dibawa ke RS. Tak ada kabar berita, lalu pemberitahuan terakhir orangtua telah tiada. Hanya tersisa makam dengan nisan bertuliskan nama yang tak ingin dipercaya.

Vino bukan satu-satunya.

Saya sendiri mendampingi beberapa anak yang orangtua mereka wafat karena covid. Pikiran saya sebagai psikolog dan konselor terbelah-belah, tenaga pun terbagi-bagi. Namun, segala kendala tak boleh menjadikan kita lalai dari merumuskan langkah-langkah penting. Keputusan besar.

Anak-anak ini adalah asset bangsa. Orangtua mereka syahid dalam wabah (tha’un) dan jelas mereka anak-anak istimewa. Sebagai orangtua, psikolog, penulis dan bagian dari anggota masyarakat, saya terpikir beberapa hal.

  1. Layanan konseling psikologi online untuk anak-anak.

Anak-anak ini pasti kebingungan. Walau orangtua mewariskan harta besar, mereka tetap akan merasa sangat kehilangan. Layanan konseling psikologi yang khusus menangani anak-anak ini perlu segera diluncurkan. Para psikolog dan relawan yang memiliki kepekaan terhadap anak-anak, bisa terlihat di sini.

Hotline , call center, layanan oleh lembaga zakat, layanan komunitas dll dapat menjadi bagian dari solusi ini.

2. Shelter psikologis.

Di barat dikenal foster family dan orphanage; bila tidak ada keluarga besar yang menampung.

Bila kita ingin mengadopsi konsep tersebut, memang perlu menimbang beberapa norma. Dalam Islam misalnya, dikenal konsep aurat sehingga tak bisa menitipkan anak pada foster family jika anak-anak mulai aqil baligh. Namun jika anak-anak belum aqil baligh, masih bisa dititipkan di foster family. Lalu, bagaimana jika kakak adik beda tahapan usia? Tentu ini perlu menjadi pertimbangan. Jangan sampai kakak dan adik dipisahkan, karena mereka telah kehilangan orangtua.

Shelter psikologis bisa berupa Yayasan anak yatim, Yayasan dhuafa atau sejenisnya. Bukan hanya memperhatikan pasokan fisik tetapi juga sangat memperhatikan kebutuhan psikis anak-anak.

Bagi yang ingin tahu seperti apa foster family, saya sarankan menonton film Shazam. Film superhero yang berbeda, karena salah penekanan film ini adalah bagaimana hubungan anak dan orangtua dalam foster family.

3. Dukungan materi

Ada banyak kehilangan dari seorang anak yatim/ piatu. Kebutuhan gizinya, kebutuhan akademiknya bisa terbengkalai. Belum lagi bila si anak ingin sesuatu seperti ingin beli mainan, ingin beli jajan dan kebutuhan sekunder/tersier yang seolah tak penting namun dibutuhkan.

Kebutuhan materi ini juga perlu diperhatikan kita bersama agar anak yatim/piatu tidak kehilangan hak-haknya. Tentu, dengan tetap memperhatikan keseimbangan antara donator dengan kondisi riil di lapangan.

4. Dukungan immateri

Dukungan ini sangat penting dan sering kali melelahkan.

Anak yang menangis dan meratapi orangtuanya terus menerus, bahkan yang histeria dant trauma, tentu membutuhkan pendampingan khusus yang menyita waktu dan energi. Bagi berbagai institusi (Yayasan, lembaga zakat, komunitas) perlu membuat SOP agar dapat mendampingi anak-anak ini secara berkesinambungan. Seringkali, perhatian tertumpah di awal-awal waktu saja karena rasa simpati yang begitu besar. Rasa iba akan kehilangan orangtua dan melihat anak-anak ini seperti anak ayam kehilangan induk.

Seiring berjalannya waktu, perhatian kita pupus oleh agenda lain padahal kebutuhan anak-anak ini terhadap pendampingan justru semakin besar. Apalagi jika anak-anak memasuki masa remaja, atau masuk usia sekolah; masa-masa krisis kepribadian yang dihadapkan pada berbagai pilihan sulit.

5. Pembentukan relawan

Kondisi saat ini tak mungkin hanya ditangai satu pihak. Pemerintah akan kewalahan menghadapi berbagai macam dampak pandemic. Ekonomi dan kesehatan yang membutuhkan fokus utama, sudah pasti harus ditangani pemerintah. Anak-anak terlantar seharusnya ditangani negara. Tapi bagaimana bila pemerintah tak cukup punya akses sampai warga paling pelosok, atau warga yang tidak terdata? Psikiater, psikolog, kementrian sosial boleh jadi kewalahan oleh gelombang kasus dan juga burn out.

Relawan-relawan yang merupakan “darah segar” dapat diberdayakan. Mereka bisa jadi pelajar, mahasiswa, fresh graduate, lansia yang masih sehat dan produktif. Orang-orang difabel yang fisiknya terbatas namun memiliki kemampuan untuk mendampingi dengan kesabaran, atau bahkan para veteran covid 19 yang pernah mengalami trauma parah lalu bangkit dan sekarang ingin berbagi kekuatan.

Saya membentuk komunitas Ruang Pelita sejak tahun 2011.

  Akronim dari Ruang Pendampingan Psikologi & Literasi. Selama ini fokus di berbagai acara untuk anak muda yang bertema kekoreaan dan jejepangan. Selama pandemic, Ruang Pelita turut membantu menggalang dana untuk masker, APD, mengumpulkan ponsel bekas. Kali ini menggalang dana untuk #bantuoksigen

Mungkin, tidak banyak yang bisa kami berikan.

Tapi komunitas-komunitas kecil seperti kami yang banyak tersebar di berbagi penjuru Indonesia insyaallah bisa membantu pemerintah untuk mengatasi gelombang pandemic dengan segala dampaknya. RuangPelita ke depannya juga ingin mendirikan shelter psikologis yang dapat mendampingi anak-anak yang trauma karena covid.

Pandemic covid 19 tidak hanya menyisakan tantangan besar di dunia kesehatan dan ekonomi secara global. Permasalahan psikologis merebak di mana-mana. Banyak sekali tenaga kesehatan yang depresi bahkan trauma menghadapi pasien seiring tingginya angka kematian.

Bagaimana dengan anak-anak?

Mereka kerap diabaikan, namun kelompok paling rentan ini sesungguhnya kelompok yang sangat membutuhkan uluran tangan. Dengan tulisan ini saya berharap banyak pihak akan saling bersinergi untuk membantu anak-anak yatim/piatu Covid 19 agar sembuh dari trauma dan bangkit menyongsong masa depan.

#covid19 #coronavirus #survivorcovid19 #penyintascovid19 #helpchildrenofcovid19 #helpchildren

Kategori
Artikel/Opini BERITA Covid-19 Hikmah PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Renungan Hidup dan Kematian Surabaya Survivor Covid-19 Topik Penting

Kesempatan Hidup 2 % : Belajar Memancing Keajaiban dari Seorang Dokter Penyintas Covid 19

Masih banyak kabar duka. Tapi biarkan aku bercerita tentang kabar bahagia terlebih dahulu. Kisah tentang seorang lelaki, psikiater, yang terpapar covid 19 untuk kedua  kalinya. Kali ke-2 harus menggunakan ventilator dan  menyabung nyawa.

Ia selamat. Hidup! Lolos dari lubang jarum dan angka kemungkinan 2% untuk  selamat.

Well, don’t talk to me about destiny or unexplained miracle.

Tapi kita pelajari bersama, mengapa semua ini terjadi. Allah memberikan mukjizat, setelah terpenuhinya aspek-aspek yang lain. Apakah yang tidak menerima mukjizat adalah orang yang jelek? Tidak. Mereka yang wafat adalah syahid. Mereka yang survive adalah petarung. Mereka yang petarung sejati, lalu syahid, adalah manusia pilihan. Mereka yang petarung dan tetap hidup, mendapat tugas untuk hidup lebih baik lagi.

Mengapa lelaki ini lolos dari maut? Dengan D-dimer 13.000, saturasi jauh di bawah normal, bergantung ventilator – alat yang terdengar sangat mengerikan seperti kita mendengar vonis hukuman mati atau vonis kanker stadium IV; setiap orang akan menebak. Izrail akan mengetuk pintu kamar ICUnya sebentar lagi.

Nyatanya ia, tadi pagi segar bugar. Memberikan materi yang membuat mata peserta berlinangan dan kembali menimbang-nimbang sebuah pertanyaan penting : apakah hidupku sudah berharga?

Berikut ini cuplikan kisah yang kurasa, menjadi penyebab beliau mendapatkan mukjizat Allah Swt saat hidupnya di ujung tanduk mendapatkan tindakan ECMO

  1. Semangat dari istri tercinta. Ketika setiap orang menebak-nebak bahwa umurnya tak akan lama, sebaliknya dengan sang istri. Ia mengatakan,”Mas jangan bingung. Jangan khawatir. Ini tak akan lama, sebentar lagi insyaallah selesai.”
  2. Sang istri “merampas” HP dari tangan suami. Walau ribuan orang memberikan doa dan semangat, HP di tangan orang sakit bisa melelahkan.
  • 3. Berusaha menjaga kesadaran  selama dalam extracorporeal membrane oxygenation (ECMO) therapy. Dengan ventilator dan kesadaran naik turun, sang istri mengingatkan perawat untuk membangunkan setiap sholat 5 waktu. Sang suami, mencoba sholat sebisanya dengan ingatan tersisa, mencoba merasakan makanan yang masuk, mencoba merasakan air hangat yang diusapkan ke kulitnya untuk mandi.

  • 4. Menghindari TOXIC POSITIVITY, dari teman-teman yang sebetulnya berniat baik. Menghindari perasaan tak enak , perasaan tak berharga karena, “Ah, aku tak sebaik yang disangka teman-temanku. Aku tak sekuat itu.” Semakin sedikit interaksi dengan HP, semakin baik
  • 5. Jeda. Jeda dengan manusia. Merapat  dengan Pencipta. Tanpa HP, terisolasi, hanya berteman alat-alat dan kunjungan nakes sesekali; waktu bermunajat melimpah ruah.
  • 6. Apakah tak boleh menerima perhatian? Boleh sekali. Bahkan perhatian dari teman, kerabat sangat membahagiakan. Seperti seorang teman yang mengiriminya koyo hangat untuk ditempelkan di tubuh! Tak harus makanan atau suplemen. (Kita sebaiknya juga jangan sering-sering japri si sakit menanyakan kondisinya. Kirimkan saja doa, jangan mengirimkan pesan yang membutuhkan jawaban. Kecuali bila sangat mendesak)
  • 7. Yakin , bahwa semua ini memiliki arti dan makna.

Segala penderitaan sejak terindikasi Covid hingga menyerahkan jiwa raga pada Sang Pencipta dan pada tenaga ahli . Meski sakit, pedih, nyeri, tak tertahankan – semua dilalui. Airmata bukan kekalahan. Airmata adalah tanda, bahwa kita mencoba sabar menanggung penderitaan.

  • 8. Ada kondisi delirium, halusinasi. Merasa tubuh disiksa dan dianiaya. Dalam kondisi kesakitan sangat, berdiskusi dengan Allah dan tawar menawar dengan kebaikan yang pernah dilakukan
  • 9. Begitu banyak orang di luar sana yang menangis dan mendoakan kesembuhan.

Karena apa? Karena kebaikan-kebaikan yang ditanamkan, nasehat-nasehat yang dilontarkan, kalimat-kalimat baik yang diucapkan. Bahkan, ketika sang dokter sudah lupa pernah berbuat baik pada seseorang yang tetap mengingat kebaikannya.

Terimakasih dokter Catur, atas kesabarannya menanggung beban dan hidup kembali untuk membagikan semangat.

Terimakasih dokter Izzah, istri yang luarbiasa. Dengan baby kecil, selalu yakin pada pertolongan Allah, bahkan ketika peluang itu hanya bernilai 2% saja.

Apa kesimpulan singkat dari keajaiban dokter Catur?

  • Menanamkan kebaikan (perilaku & perkataan) sehingga ketika musibah datang, banyak yang mendoakan
  • Tabungan amal sholih dapat digunakan untuk “bernegosiasi” dengan Tuhan saat mengharapkan sesuatu
  • Bila pasangan sakit, istri/suami adalah orang terdepan yang menyuntikkan semangat
  • Dalam kondisi parah, pertahankan kesadaran dari waktu ke waktu. Salah satunya dengan mengingat waktu sholat dan mencoba sholat sebisanya
  • Hindari HP. Semangat dari teman-teman bisa jadi toxic positivity

Catatan dari acara zoom hari ini. Pagi, 13 Juli 2021.

Kategori
Artikel/Opini BUKU & NOVEL Covid-19 Hikmah Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Survivor Covid-19

Pengobatan Non-Medis bagi Penderita Covid 19


Jangan lupa, selain 6 M, antibiotic – antivirus, oksigen dan langkah medis; ada upaya-upaya yang harus dilakukan bagi kita semua agar menjadi pemenang dalam pertempuran wabah ini. Terinspirasi dari tulisan Prof. Mukhtasor tempo hari yang mengingatkan pentingnya kekuatan spiritual di saat seperti ini, berikut pengalaman kami sekeluarga sebagai penyintas covid.
Kita tidak bicara ajal & takdir, karena bila telah tiba waktunya; sekuat dan seshalih apapun tetap akan wafat. Mengutip kata Najib Mahfudz dalam Harafisy : “Takdir muncul di kaki langit, terus mendekat setiap waktu. Tak ada yang menunda gerak majunya. Dunia bukan pasangan yang setia.”


••●••


🌷1. Asmaul husna dan dzikrullah. Kalau belum hapal 99 namaNya, tiga ayat terakhir QS Al Hasyr bisa dilakukan. Beriring shalawat, asmaul husna, dzikrullah; akan meringankan saat-saat menyakitkan seperti ketika infus antibiotic atau vitamin masuk ke pembuluh darah.



🍃2. Shalawat. Ada yang pernah mendengar shalawat Nariyah? Shalawat apapun insyaallah bagus. Saya mendapat hadiah buku “Shalawat Nariyah” karya Dr. Alvian Iqbal Zahasfan. Saya pernah bertemu dengannya tahun 2016. Buku ini bagus sekali, mengupas seluk beluk shalawat Nariyah. Mulai sejarah shalawat Nariyah yang digubah oleh Syaikh Ibrahim At Tazi, hingga fadhilah shalawat Nariyah. Termasuk foto-foto indah At Tazi dan berbagai tempat di Maroko. Jadi ingin ke Maroko lagi, aamiin yaa Robb


Sekilas Maroko


🍁3. Sedekah. Sedekah dapat menolak bala, insyaallah. Jangan ragu untuk meminta doa. Bila kita bersedekah lewat lembaga tertentu spt kitabisa.com, atau bit.ly/LMI_donasipalestina , ada slot kosong berisi keterangan. Saya memilih mengisi keterangan itu dengan bait-bait doa, sampai karakter hurufnya full. Tak peduli hanya infaq 10K, isilah dengan doa. Terutama doa meminta perlindungan dari wabah dan doa kesembuhan dari wabah


🌱4. Rendah hati. Kita cenderung menghormati orang dengan posisi terpandang. Di saat seperti ini, jangan ragu untuk rendah hati. Di RS, kami mencoba menghafalkan nama perawat-perawat dan CS. Orang akan bahagia bila namanya diingat, itu adalah bentuk penghargaan bagi mereka. Dokter spesialis sudah sering mendapatkan penghormatan, tetapi tukang sampah? Tukang bersih-bersih? Ucapkan terima kasih kepada mereka yang menyapu lantai dan mengumpulkan barang menjijikkan dari kamar mandi.


🌹5. Baca surat-surat favorit. Al Kahfi, Al Waqiah, Al Mulk, Yaasin, tiga surat terakhir Quran atau apapun surat favorit anda.


💫6. Memperpanjang telomer. Stres memperpendek telomer. Relaksasi dan bahagia memperpanjang telomer. Sesaat sebelum berangkat ke RS, saya memutuskan membawa buku-buku yang akan saya baca. Salah satunya puisi karya Sir Muh. Iqbal. Tak lupa laptop, untuk melepaskan gundah dan rasa tertekan dengan menulis. Menonton film atau anime, bisa mengobati stress saat sakit.


🌜7. Impian jangka panjang. Tak peduli sependek apapun umur kita, impian jangka panjang akan memperpanjang umur. Dalam pengertian denotatif atau konotatif. Meski kami ber-6 positif covid dan kami tak tahu apakah akan selamat; saya tekankan ke anak-anak untuk terus bermimpi.
“Habis ini kita umroh bareng, lanjut ke Uzbekistan ya? Atau Maroko.”
Peduli amat gak punya uang, impian adalah doa.
“Habis ini yuk kita daftar residensi artis. Sebagai penulis, atau artis visual art. Kalian mau Korea, Jepang, Finland, Norway, atau Islandia sekalian?”
Peduli amat nanti akan tertolak saat seleksi dan gak bisa berangkat karena gak dapat dapat grants/ stipends.
“Ummi sama Abah mau daftar S3 insyaallah. Kalian juga, ya. Siapa tau kita bisa apply ke negara yang sama.”
Peduli amat gak lulus LPDP, Mext, KGSP. Impian adalah doa dan seolah kita akan hidup 1000 tahun lagi.


🌟8. Tawakal. Sesaat sebelum tidur, lepaskan semuanya. Jangan pikirkan : suamiku gimana? Anakku siapa yang ngurus? Kalau aku mati, gimana dengan masalah yang belum terselesaikan? Ingatlah. Allah mengatur dan memelihara tata surya, yang ukurannya setitik kecil di tengah galaksi Bimasakti. Allah mengatur Bima Sakti yang ukurannya setitik di antara bermilyar galaksi. Jadi, mengurus diri kita dan keluarga kita, bukan hal extraordinary bagi Allah Yang Maha Besar.
•••••
Share juga ya pengalaman berharga anda semua sebagi penyintas Covid, utamanya pengalaman non medis.

#penyintascovid19 #survivalcovid19 #pahlawancovid19 #ceritacovid19

Kategori
Artikel/Opini BERITA Covid-19 Hikmah PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Survivor Covid-19

COVID 19 & PSIKOLOGI KOGNITIF : GAK TAU, MENYANGKAL, ATAU UDAH PAHAM?

Mengejutkan sekali bahwa saya sudah lupa (atau mengabaikan) beberapa protocol kesehatan!

Padahal baru sekitar 3-4 bulan lalu melawan ganasnya covid dan terpapar bak di ujung maut akibat virus ini. Belum lagi, saya suka mengumpulkan koran-koran yang memiliki informasi penting seperti covid, ilmu pengetahun atau hal menarik lainnya. Koran sejak awal covid menyerang di awal 2020  masih saya simpan. Tapi kenapa saya bisa lupa, abai, atau bahkan meremehkan informasi terkait covid?

🟠1. Kemampuan memory manusia terbatas. Manusia hanya bisa mengingat sekali waktu dengan cepat informasi yang dibagi atas 7-chunks (7 potong). Seperti kita mengingat nomer HP orang. Kalau setiap hari yang dikonsumsi berita macam-macam : covid, selebriti, gossip,  masakan, politik, ekonomi, parenting, travelling dan masih banyak lagi; yah, akhirnya covid terlupakan

🟡2. Memory bisa menurun. Sebuah studi menyebutkan, bahwa ketika mengingat sesuatu, setiap 18 detik ingatan kita akan perkara itu menurun 10%. Gak heran kalau hari ini saya takut setengah mati sama covid, besoknya udah enjoy aja

🔵3. Flashbulb memory. Kita akan ingat banget kenangan yang seperti lampu blitz, walaupun itu gak harus diingat! Kapan Sully dan Go Hara meninggal bunuh diri, kapan Lady Di meninggal, kapan Chester Bennington mengakhiri hidup — masih teringat. Harusnya emang, saya lebih banyak jalan-jalan ke RS. Ke ruang ICU, ke ruang isolasi covid. Sehingga ingatan ttg covid ini jadi “flashbulb”. Masalahnya, saya gak pernah bisa menengok teman2 atau saudara yg sakit covid. Seperti dulu, bisa nengok teman yang hemodialisa, atau kena kanker. Sehingga “flashbulb” tentang minuman bersoda demikian teringat kalau gak mau ginjal rusak dan harus hemodialisa

🟢4. Short term & long term memory. Ingatan jangka panjang akan mengendap lebih lama dibanding ingatan jangka pendek. Kenapa ingatan jangka pendek? Mungkin hanya sekilas, mungkin terasa gak penting, mungkin jarang diulang. Akan jadi long-term memory kalau terasa penting dan terus diulang. Seperti ingatan kaum muslimin pada Al Fatihah dan 3 surat terakhir al Quran. Hampir setiap kita yang muslim ingat, kan? Karena Al Fatihah wajib dibaca dan diulang terus. Karena 3 surat terakhir sering jadi pilihan kalau sholat kilat khusus, sekaligus surat yang diyakini ampuh menangkal setan dan sihir.

••🔴••

Sikap kita terhadap covid juga macam-macam

☑️GAK TAU : masih banyak lho, orang di pelosok yang gak tau tentang covid. Jadi boro-boro tahu tentang vaksin dan masker. Ini karena memory tentang covid gak pernah masuk long term memory, bahkan short term memory. Mungkin juga telinga dan mata mereka jarang mendapat info ini. Bayangkan saudara kita yang disabilitas, yang berada jauh di bawah garis kemiskinan (gak punya HP, gak pernah baca koran, gak ada TV), yang gak punya waktu untuk menyimak berita.

✔️MENYANGKAL : kalau bukan ingatan long term memory, atau “flashbulb” emang susah, ya. Saya patuh banget sama protocol pas awal pandemic, pas kena covid beneran, sama pas gelombang kedua menyerang. Gak heran banyak yang masih menyangkal. Apa saya masuk golongan ini?

UDAH PAHAM : ini biasanya teman-teman saya yang di garda depan. Teman2 dokter, perawat, nakes (radiolog, bagian lab, petugas ambulan, dsb) yang sangat paham. Lalu golongan masyarakat yang percaya , mendapatkan info dari sumber terpercaya.

••🔴••

TERUS GIMANA?

Saya kayaknya masih termasuk golongan yang “menyangkal “ : kadang khawatir. Kadang abai. Seperti kemarin, dapat share di grup tentang gimana cara pakai masker double. Selama ini pahamnya : ya udah di double aja. Ternyata di luar harus MASKER KAIN! Jadi ternyata, saya udah jarang nge-klik berita apapun terkait covid.

Lho kok bisa saya abai?

Karena udah ngerasa kalau covid ini “biasa banget”. Gak flashbulb lagi. Padahal…ntar dulu!

Buat teman-teman dan pemerintah :

❤️Tetap semangat dan sabar untuk memberikan edukasi covid. Long term memory itu lama lho

❤️Bagi informasi dalam 7-chunks. Jangan banyak-banyak. Ntar mabok. Kalau udah ada yang ngasih info covid, kita gak usah share lagi. Tahan sampai agak nantian

❤️Flashbulb : sekali-sekali perlu kali ya. Edukasi ke ruang ICU. Ngajak masyarakat yg gak percaya utk dipersilakan main ke ruang ICU covid (dengan prokes ketat tentunya). Atau kalau gak, sering liat youtube tentang tsunami Covid di India dan liputan ruang ICU utk bangsal Covid

❤️Buat lomba-lomba edukatif tentang covid agar masyarakat makin tertarik untuk belajar. Akhirnya jadi memory yang terpelihara, deh.

—————–

Sinta Yudisia LC – Lulusan Covid

Informasi waktu perjalanan aman sepanjang Covid 2021

Kategori
Covid-19 Hikmah PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Survivor Covid-19

Ledakan Covid ke-2 : Kesamaan Psikologis India & Indonesia

Sewaktu India mengalami gelombang ke-2 wabah Covid 19 sekitar April; saya sebetulnya harap-harap cemas mendengarnya. Berharap kejadian itu tak akan terjadi di Indonesia, namun cemas karena secara kultural, banyak sekali kemiripan psikologis India dan Indonesia.

Ledakan Covid di India sekitar April 2021

💥💥 💥💥

  • Kebersamaan.

Dunia timur lekat dengan kebersamaan. Jepang, Korea, India, Indonesia dan sejenisnya menjadikan tradisi keluarga sebagai bagian kehidupan sejak lahir hingga mati. Ada momen-momen ketika keluarga harus berkumpul. Kalau tidak, nggak lengkap rasanya. Contohnya momen Ramadan dan Idul Fitri .

Karenanya, sepanjang Ramadan dan Syawal, luarbiasa gelombang mudik dan kumpul-kumpul akibat keinginan untuk bersama dengan sanak saudara. Wajar di momen kebersamaan ini pemerintah memprediksi ledakan Covid dan memang terbukti demikian. Berikutnya muncul momen ‘kebersamaan’ yg lain seperti kluster hajatan, kluster resepsi, dsb

  • Ewuh pakewuh

Ewuh pakewuh ini  perasaan seperti merasa serba salah, dan takut kalau dianggap tak menghargai. Apakah anda termasuk yang mendapat undangan pernikahan, hajatan, reunion, atau acara undangan kantor? Di dunia timur, kalau diundang dan tidak hadir, apalagi kerabat dekat rasanya tabu sekali. Begitu pula, kalau misal dulu dia membantu kita saat hajatan, terlalu sekali kalau kita nggak membalasnya kali ini.

  • Tak enak hati

Dalam film Whiskey Tango Foxtrot yang bersetting di Afghanistan, ada percakapan menarik antara Kim Baker (jurnalis perempuan AS) dan Fahim (penerjemah muslim). Fahim menegur Kim dengan nasehat, kata-kata kiasan, sampai analogi kisah. Kim yang tidak mengerti maksud teguran Fahim berkata, “Kalau di Amerika, percakapan macam ini sudah sampai tempat 5 menit yang lalu.”

Waktu beberapa pekan lalu saya mudik ke Tegal, kami menemui banyak orang-orang nggak pakai masker di sepanjang perjalanan. Di rest area, di masjid, di pom bensin, di warung makan. Apakah kami menegur mereka? Yah…anda bisa tebak jawabannya. Kami tak enak hati, lebih memilih menyingkir dan terus memakai masker sebagai bentuk teladan dan tanggung jawab.

  • Menunggu

Masyarakat timur terbiasa menahan diri. Tidak terlalu blak-blakan, tidak cukup agresif. Akibatnya memang terbiasa menunggu. Tidak enak kalau mendahului, tidak enak kalau melaju lebih cepat, tidak enak kalau menegur lebih dahulu. Tidak enak kalau berinisiatif, nanti apa kata orang.

Kebiasaan ‘menunggu’ ini bisa menjadi titik gawat. Saya pernah naik sepeda motor di tengah jalan ramai, lalu macet mendadak. Semua orang memperhatikan. Dengan perjuangan berpeluh, saya menuntun motor itu ke tepi jalan (untung gak dimaki-maki ya, hehe). Orang-orang melihat saya kasihan tapi serba salah.

Berbeda dengan ketika saya di Hong Kong, bertemu orang bule. Waktu itu saya pakai jubah berbahan kaos panjang, tanpa sadar ujungnya masuk escalator. Saya yang panik hanya terpana, nggak tahu mau ngapain. Si bule itu langsung ke arah saya dan merobek bagian bawah jubah! Untung saya pakai celana panjang!

Kita terbiasa menunggu orang lain melakukan apa terlebih dahulu, baru berani bertindak. Akibatnya seringkali sesuatu berjalan lebih parah :  menunggu korban jatuh, menunggu jumlah pasien membludak, menunggu ada tetangga yang ikut vaksin, menunggu ada barengan yang mau lapor kalau kena covid, dsb.

  • Sangat mendengar orang lain

Kalau anda pernah nonton sinetron India, pasti akan paham bagaimana pendapat seseorang bisa diintimidasi oleh banyak orang. Masyarakat timur sangat memperhatikan ‘apa kata orang’.  Kalau ada orang bilang ,”gak usah percaya Covid. Itu rekayasa.” Biasanya, walau sudah punya pendapat sendiri, akan bisa terpengaruh. Apalagi bila kata-kata itu berasal dari teman dekat atau kerabat dekat. “Jangan lapor ke RT RW. Isoman aja. Nanti sembuh sendiri. Malu kalau dilihat tetangga dijemput pakai ambulan.”

Berita Jawa Pos hari ini Senin, 21 Juni 2021

Orang-orang yang sibuk memberikan pendapat masing-masing itu, bisa mempengaruhi keyakinan kita terkait Covid.

Apa yang harus dilakukan?

Sultan Hamengkubuwono X di Yogya, mewacanakan lockdown total untuk wilayahnya kalau tidak bisa disilpin. Saya suka quote beliau, “Pemerintah juga sulit kalau masyarakat tidak mengapresiasi diri sendiri untuk disiplin.”

Covid di Indonesia dengan segala konsekuensinya sudah mulai dijalankan sejak Februari 2020. Belum ada tanda-tanda kehidupan kita ‘back to normal like it used to be’. Sama seperti konsep psikologi bahwa ada kondisi yang tak bisa sembuh total tapi sangat bisa dikendalikan bila seseorang patuh protokol dan memahami kebutuhan dirinya sendiri. Salah seorang klien saya yang didiagnosa schizoaffective bisa sangat produktif dalam hidupnya sekalipun ia seringkali dalam kondisi mengkhawatirkan. Kenapa? Ia sadar ia punya disorder, ia rajin minum obat, ia mendengarkan saran ahli dan ia memutuskan memiliki gaya hidup sehat.

🧡🤍💞

Hayuk!

  1. Love ourselves. Cintai diri kita. Kita ini berharga. Otak, fisik, organ dalam kita sangat sangat berharga. Jadikan kelak ketika sudah lansia, tubuh ini masih fit untuk beribadah dan beraktivitas.
  2. Kendali. Di film Whiskey Tango Foxtrot, ada ucapan menarik Coughlin, seorang prajurit yang kehilangan sepasang kaki dalam perang. Ia ditanya bgm bisa tabah? “Dalam hidup ini, manusia hanya memegang kendali sedikit saja.” Pahamilah, bahwa Covid ini memang amat sangat luar biasa sehingga jangan menggampangkan bahwa kita mudah mengendalikannya
  3. Pengalaman. Percayalah, ada puluhan bahkan ribuan pengalaman yang didapat dalam kawah Candradimuka bernama pandemic corona ini. Kontemplasi, menahan diri, bekerja sama adalah beberapa pelajaran berharga di era ini.
  4. Challenge Yourself. Carilah bakat minat terpendam dan kuasailah hingga mahir. Kita selama ini terlalu lama sibuk dengan dunia luar sampai lupa suara-suara batin sendiri.

Sinta LC alias Lulusan Covid

Berita Kompas hari ini Senin, 21 Juni 2021
Kategori
Covid-19 Hikmah Hobby My family PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Suami Istri WRITING. SHARING.

Suami-suami yang Kreatif di Era WFH

Bagi para istri, apakah sudah mengamati hobi apa saja yang semakin ditekuni suami di era covid ini? Begitupun para suami, apakah sudah mengamati apa saja potensi istri yang dapat dikembangkan di era covid?

—–

Suamiku memang punya darah seni. Waktu kecil, pandai menari dan membuat berbagai kerajinan seperti patung. Menggambar dan melukis adalah salah satu keahliannya. Di SMA, bakat suamiku tersalurkan ketika sering diminta jadi pengurus MADING atau majalah dinding. Tapi keahlian itu lama terkubur, belasan bahkan puluhan tahun tak pernah terasah lagi.

Saat covid, keahlian itu muncul lagi.

Saat Ramadan, aku kembali bersilaturrahim dengan teman-teman lama. Terutama teman semasa SD, SMP dan SMA. Ternyata, ada teman SMA yang punya hobi seperti suamiku! Wah, kaget juga. Sebab semasa SMA sepertinya darah seninya gak terlalu menonjol. Apalagi, temanku ini sampai buat akun di IG dan memposting semua kegiatan melukisnya di sana.

Bisa di follow di @poeps7374 , untuk temanku, Pupon Artiono. Sementara suamiku belum punya IG dan twitter, lebih banyak aktif di facebook Agus Sofyan. Baik suamiku dan Pupon, temanku, menekuni kembali bakat seninya di era covid. Saat WFH. Dan terutama kalau suamiku, saat jauh dari keluarga.

Ternyata, ada hikmah di balik pandemic. Salah satunya memunculkan kembali potensi-potensi terpendam manusia yang selama ini terkubur karena kesibukan dan rutinitas yang padat dan berulang. Tak ada kesempatan untuk merenungi sisi lain diri sendiri. Nyatanya, manusia seringkali punya lebih dari satu bakat! Alhamdulillah, sepanjang pandemic, suamiku sudah menghasilkan sekitar 12 lukisan. Pupon  sudah menghasilkan lebih dari 20 lukisan.

Melihat suamiku dan Pupon, ada kesamaan dalam mengolah karya seni :

  1. Menggunakan cat akrilik  dan minyak (suamiku), atau hanya cat akrilik ( Pupon)
  2. Otodidak
  3. Belajar dari youtube. Kalau suamiku sering buka channel youtube Michael James Smith
  4. Beli bahan online atau offline
  5. Dikerjakan di sela waktu. Satu lukisan sesungguhnya bisa selesai 2-3  jam. Tapi karena berselang-seling kerja, bisa berhari-hari
  6. Suka pemandangan alam
  7. Kesamaan yang lain : sama-sama gak PD untuk menjualnya!

Mungkin, karya seni ini terlihat biasa bagi orang kebanyakan. Tapi bagiku, istimewa. Bukan hanya karena Agus Sofyan suamiku dan Pupon Artiono kawanku di SMA, lho. Tapi ada hal-hal yang menakjubkan dari orang-orang yang menjadi kreatif di sela-sela pandemic :

  1. Seni lukis merupakan salah satu produk kesenian yang berfungsi untuk melembutkan hati manusia, baik bagi pelukisnya maupun penikmatnya
  2. Dengan melukis, bisa menumpahkan  banyak gejolak emosional.
  3. Portofolio, kalau suatu saat ingin  mengajukan Artis in Residence

Kesempatan untuk mengikuti residensi artis terbuka di banyak negara. Sekitar 82 negara menyelenggarakan residensi bagi para artis (seniman); ada yang berbayar. Ada juga yang free, bahkan kita mendapatkan beasiswa. Dan rata-rat yang banyak tersedia adalah beasiswa untuk visual art. Kukatakan pada suami, kumpulkan aja portofolio lukisan-lukisan. Siapa tahu suatu saat setelah pandemic, kami sama-sama bisa mengajukan beasiswa residensi artis di negara yang sama. Aku mengajukan beasiswa kepenulisan dan suamiku sebagai seniman visual art. Amiiin.

Kalau ada yang berminat untuk membeli lukisan Pupon, bisa kontak ke IG nya ya. Ia juga punya channel youtube https://www.youtube.com/channel/UCYcmR1rXBYJ3HIIBiHICgfw

Kategori
My family Parenting PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY

Rusyda (kematangan) yang Tertunda

Lama saya bertanya-tanya kepada diri sendiri : kenapa banyak ortu sekarang yang mengeluhkan anaknya nggak mandiri? Nggak dewasa? Padahal sudah umurnya. Sampai kemudian saya menemukan buku karya Dr. Khalil Ahmad Asyantut ini, Rumahku Sekolahku.

Bukunya tipis, tapi masyaallah.

Menjawab sebagian besar perang di benak saya yang mempertanyakan psikologi VS parenting Islami.

Makna rusyda

Rusyda berarti kematangan. Dr. Khalid menekankan bahwa orangtua harus membantu anaknya dalam segala aspek , hingga mencapai usia rusyda. Usia rusyda ini bisa jadi saat dia sekolah, dia bekerja, bahkan menikah. Setelah menikah, jangan pula dilepaskan sebab ada anak-anak yang belum rusyda setelah menikah!

Pernah dengan suami istri bertengkar gegara yang suami suka jejepangan dan istrinya penggemar berat KPop? Yah, begitulah anak muda zaman sekarang. Di masa saya dulu, hal-hal semacam itu nggak ada. Suami saya penggemar film action ala Rambo, saya suka film drama macam Ghost atau Dying Young (haha…ketahuan banget umur berapa!). Suami suka sepak bola, saya suka baca buku. Tapi ya udahlah, hepi-hepi sendiri aja dan gak usah berantem. Berantem sesekali, tapi gak jadi konflik tajam. Padahal saya nikah sama suami di kisaran usia 20-21.

Kenapa rusyda tertunda?

“Rusyda” berarti kematangan

Banyak aspeknya

Pertama, jauhnya anak dari pengalaman real. Kondisi lingkungan, tantangan zaman, pekerjaan ortu, dll menyebabkan pengaruh dalam kehidupan anak. Zaman saya dulu, namanya bepergian jauh ke rumah nenek , sendirian, udah biasa. Naik bis, naik kereta api. Ortu saya kerja di Denpasar Bali, nenek saya tinggal di Lempuyangan Yogya. Sejak SMP udah biasa tuh PP Bali- Yogya sendiri. Naik travel pernah, dst. Bgm sejak SMP udah tahu berinteraksi dengan supir yang galak, teman sebangku di bis yang penipu dan nyolong uang, tetiba bis diganti karena rusak; itu sudah biasa. Menderita dan berjuang secara real, sudah biasa.

Anak sekarang? Termasuk anak saya.

Takut diculik, takut digendam, takut dianiaya. Ke sekolah aja diantar. Betapa banyak teman anak saya yang bawa sepeda ke sekolah, digendam. Yah, akhirnya ortu trauma dan memutuskan antar jemput anaknya.

Bersosialisasi?

Well, anak sekarang (termasuk anak saya) banyak menghubungi temannya via gadget. Untung rumah saya depannya masjid, jadi anak-anak masih sering ketemu orang.

Kita dulu?

Mau main ke rumah teman untuk belajar bersama perlu berinteraksi dengan banyak orang : izin nenek, izin om tante , izin ortu. Belum lagi izin sama ortunya teman. Saya kenal lho sama ortu teman-teman SMA saya gegara sering main ke rumah teman.

Menyangkut point pertama, gak bisa disalahkan kalau sikap ortu protektif banget di zaman sekarang. Temannya siapa, main ke mana, gadgetnya isinya apa. Semua seperti bom waktu. Wajar ortu takut. Kadang, teman anak di dumay tidak sesuai foto profilnya. PPnya cowok ternyata cewek. Eh, begitu sebaliknya. Ngakunya mau ikut turnamen game, tapi siapa tau?  Bilangnya mau belajar tapi di rumah teman…who knows? Wajar ada ortu yg kelewat protektif banget banget.

Kedua, sikap protektif ortu.

Ketiga, sedikitnya kesempatan komunikasi dan interaksi.

Dulu, sekolah gak butuh modal. Kemana-mana jalan kaki, bersedepada, nyalin catatan teman atau paling banter fotokopi. Gak butuh pulsa, gak perlu beli flashdisk dan harddisk, gak butuh gadget dengan RAM besar. Sekarang, beda lagi. Hampir setiap anak butuh HP canggih, butuh laptop, butuh kuota. Dampaknya? Ortu memeras keringat banting tulang memenuhi kebutuhan dasar anak untuk sekolah. Akibatnya, waktu ortu untuk bersama anak lebih sedikit.

Ini fakta yang gak bisa diabaikan.

Apalagi bila tinggal di kota besar. Akibatnya, kesempatan diskusi, bertukar pikiran, bertukar cerita udah jarang banget. Dulu, bapak saya PNS pulang jam 2. Masih sempat jemput saya, ngajarin saya ngaji. Kalau ada kebutuhan sekolah yang mendadak harus dibeli kayak buku tulis dan sejenisnya, bapak mengantar. Saya inget banget, ketika SD, lagi musim dompet warna warni. Bapak yang nganter saya ke toko, dan membelikan itu.

Sekarang, meski suami dulu pernah tinggal satu kota, sampai rumah habis maghrib. Belum kalau macet, Isya baru sampai. Anak-anak juga demikian. Minggu baru sempat kumpul, itupun kalau gak ada kondangan dan acara lain.

Terus gimana?

Ya, kembali ke QS Iqro : baca. Belajar. Jadi ortu harus belajar, belajar, belajar terus. Bukan hanya anaknya aja yg sekolah kuliah dari jam 7 pagi sampai jam 5 sore. Kita juga harus belajar. Ketika perkembangan anak sejak kecil tidak mendapatkan pendampingan semestinya, wajar mereka lambat tumbuh dewasa. Rusdyanya terhambat. Kalau sudah begini, ortu jangan buru-buru bilang :

“Kamu kan udah SMA? Milih jurusan kuliah aja nggak ngerti? Bapak dulu kuliah di luar kota, daftar aja berangkat sendiri.”

“Kamu kan udah kuliah, harusnya ngerti dong, capeknya ortu!”

“Lho, kamu udah niat nikah. Masak nggak ngerti kalau nikah itu butuh persiapan banyak?”

“Kamu udah nikah. Udah jadi suami/istri. Masak gak tau apa kewajibanmu?”

Ada anak SMP yang udah dewasa dan mandiri. Tapi ada juga yang kuliah masih serba dilayani dan dikasih tahu. Ada yang sejak SMA udah bisa dilepas, tapi ada juga yang udah kerja dan nikah, masih aja bergantung pada ortu. Bergantung finansial, nasihat, bahkan eksekusi keputusan dalam perkara remeh.

Satu quote dr. Khalid yang indah tentang ortu yang telah memiliki anak yang menikah : tidak ikut campur tangan dalam urusan pribadi rumah tangga mereka. Tetapi ortu harus, membimbing anak-anak kepada kebaikan setelah menikah dan hubungan ortu tidak melemah setelah menikah.

Agaknya belia uingin menekankan bahwa sepanjang anak belum benar-benar rusyda, ortu adalah figure yang sangat dibtuhkan anak sepanjang hayat mereka.           Kitapun sampai seusia ini selalu menjadikan orangtua sebagai figure utama , bukan?

Hayo, antarkan anak-anak pada rusyda yang sesungguhnya. Dan jangan berkecil hati, karena kata dr. Khalid dan para pakar pendidikan Islam, banyak banget anak sekarang yang kematangannya mundur. Next saya bahas buku Dr. Jasim al Muthawwa’ ya, tentang Smart Islamic Parenting. Buku ini juga bagus, indah, menyentuh banget dan menjawab banyak pertanyaan saya pribadi seputar parenting Islami & psikologi Islami.

Pemesanan buku-buku Sinta ke Ibrahim 085608654369

Kategori
Catatan Jumat Dunia Islam Fight for Palestina! Gaza Kami Oase Renungan Hidup dan Kematian Topik Penting

Palestina Negara Gagal & Kalah?

Blokade, pengusiran, hingga pemusnahan.

Benarkah pertanda kegagalan & kekalahan?

••••••

            Sebelum kita bahas lebih jauh tentang kalah menang, ada baiknya anda nonton film-film politik seperti Irishman dan Spy Gone North. Yang satu tentang negaranya Uncle Biden, yang satu tentang Korsel-Korut. Di situ akan dapat gambaran tentang “kalah-menang”. Bukan film yang endingnya klise dan hero-nya selalu menang ala-ala film Hollywood yang kita kenal dengan supremasi Amerika.

Palestina memang sering babak belur tiap kali konfrontasi dengan Israel. Korban jiwa luarbiasa, sarana publik hancur luluh, seenaknya Israel menetapkan jam malam di perbatasan dan serangan tanpa ampun sewaktu-waktu. Kita ‘hanya’ bisa mengirimkan donasi, bantuan pangan dan obat, juga kutukan-kutukan. Kirim tentara? Wah, bisa-bisa disangka memicu perang dunia ke-3. Tentara perdamaian seperti yang kita kirimkan ke Bosnia dan Libanon pun, nanti dululah.

Qunut nazilah di mana-mana.

Munasharah hampir tiap pekan ada.

Tapi kapan menangnya? Kapan Tuhan menurunkan bantuan? Apakah kaum muslimin begitu hina hingga semua doa hangus, bahkan sebelum melewati ubun-ubun?

Kategori menang, seringkali dianalogikan dengan sukses.

Orang sukses banyak duitnya, mentereng rumahnya, bejibun investasinya. Abaikan rumahtangganya berantakan, anaknya terlibat kenakalan dan ia depresi hingga selalu tergantung obat-obatan. Yang penting sukses, titik! Padahal bila dirunut lebih jauh, kesuksesannya semu.

Palestina kalah? Nanti dulu. Tontonlah Irishman.

Apakah negara uncle Biden menang, sejak JFK berkuasa? Di film Irishman justru kalah total. Negara itu dikuasai mafia yang mudah mempermainkan angka-angka hasil pemilu. Hingga kini, Amerika tak pernah benar-benar menang. Kasus George Floyd, coronavirus yang menggila, penembakan massal yang hampir selalu ada tiap bulan. Belum lagi kasus-kasus psikologis…subhanallah. Anda akan ngeri lihat negara ‘maju dan menang’ itu dengan segala kasus psikologisnya.

Palestina?

Well, orang-orang Palestina bukannya sakti mandraguna. Tak bisa menangis, kebal senjata, tak bisa trauma. Bukan! Ketika kami ke Gaza 2009, ada orang-orang yang bisu karena trauma dengan situasi perang. Ada anak-anak yang menangis karena kehilangan orangtua. Ada orang-orang yang resah dengan kondisi ekonomi. Anehnya, negara yang sering dianggap pecundang ini selalu punya solusi. Solusi konkrit yang membawa penyelesaian bagi banyak hal.

Miskin? Namanya juga negara yang diblokade.

“Ya Ummu Muhammad, kalau kamu lagi sempit, banyaklah baca al Waqiah,” pesan Abeer Barakah pada temannya. “Insyaallah datang pertolongan Allah. Beasiswa saya cair walaupun kita diblokade.”

Solusi, bukan? Memang duit gak datang dari langit. Tapi harapan dan upaya selalu dilakukan orang-orang Palestina : upaya bumi & harapan langit. Negara yang diblokade itu bisa menanam timun, jeruk, produksi ikan. Bahkan pertanian bunganya ekspor ke Belanda!

Banyak anak muda yang sekarang kehilangan jati diri. Kalau anda mengikuti channel Oli London yang mengaku mirip Jimin – BTS, anda akan bingung. Kok ada orang yang kehilangan jati diri seperti itu? Ajaklah anak Palestina pindah ke Indonesia, itu sudah pernah saya lakukan.

“Kalau jalan-jalan mau. Kalau pindah, nggak. Hadza darul ma’ad. Ini tempat kembali.”

Ya, ampun. Butuh berapa SKS dan kurikulum macam apa untuk menanamkan wawasan kebangsaan macam itu?

Tempo hari, ramai berita tentang demonstrasi di Myanmar. Ada bahasan bahwa ASEAN gak akan mampu menangani jika Myanmar jadi negara gagal akibat perseteruan sengit junta militer, oposisi dan rakyat. Bila jadi negara gagal; perdagangan senjata meningkat. Begitupun perdagangan obat bius dan human trafficking. Bila negara gagal akan menghasilkan perdagangan senjata, obat bius dan perdagangan manusia; silakan nilai sendiri Palestina. Senjata? Mungkin ada yang menyangka pihak militan jual beli senjata. Tapi obat bius dan human trafficking? Palestina, memelihara rakyatnya dari kerusakan, alih-alih menjalani bisnis haram. Padahal di negara miskin (negara kaya juga), human trafficking yang menistakan perempuan banyak terjadi. Pelacuran lazim dilakukan mereka yang sangat terhimpit ekonomi. Kok di Palestina tidak?

Karena ketika Palestina menerima bantuan dari negara manapun, yang dibangun pertama kali perpustakaan. Gak heran orang Palestina pintar-pintar. Dokter, professor, di mana-mana. Diblokade, loh! Yang dibangun rumah sakit. Yang diberdayakan perempuan. Perempuan-perempuan bisu tuli yang trauma pun, diberikan pelatihan. Jadi perempuan tidak harus merendahkan dirinya. Anak-anak? Ada supercamp yang salah satu kurikulumnya menghafal Quran. Tujuan camp ini menyiapkan anak-anak, kalau sewaktu-waktu orangtua mereka meninggal kena bom, mereka harus siap. Bukan itu aja. Di seantero Palestina, yang namanya Yayasan yatim piatu baik dibangun pemerintah, komunitas atau individu berceceran di mana-mana.

“Keluarga kami punya Yayasan yatim,” kata Abeer Barakah. “Kami yakin, bahwa mereka yang menyantuni anak yatim, di surga nanti bertetangga dengan Rasulullah.”

Abeer, yang tak luput dari kesulitan blockade, masih memikirkan buat Yayasan!

Pemerintah gak cukup bikin Yayasan. Di rumah-rumah yang hancur, dibuatkan monument. Pengingat bagi yang syahid. Agar anak-anak mereka atau siapapun mengenal nama-nama yang wafat lebih dahulu demi membela negara. Karena keterbatasan dana, tiak semua rumah dan tempat. Namun inisiatif pemerintah tersebut, benar-benar menghargai perjuangan. Dan anak-anak yatim piatu tersebut, merasa sangat dihargai dan dilindungi negara. Secara materi dan immateri. Secara fisik dan psikologis.

Kalau udah demikian, hakekatnya, yang negara gagal dan kalah siapakah?

Percayalah, siapapun yang menitipkan dana bantuan ke Palestina, insyaallah tidak akan sia-sia.

••••••

Masih ada dana 10K di e wallet atau rekening?

Yuk, bareng-bareng donasi.

Klik bit.ly/LMI_donasipalestina

••••••

Foto : kenangan bersama Abeer Barakah, yang menginspirasi dengan al Waqiahnya, nasehatnya tentang perempuan dan Yayasan amalnya

Kategori
Hikmah Mancanegara Perjalanan Menulis Travelling WRITING. SHARING.

MUNGKINKAH IMPIAN TERCAPAI KETIKA DUIT GAK ADA?

Ada yang mention ketika aku ngeshare impianku kemarin : “Mbak, aku juga pingin ke sana. Tapi mungkinkah?”
Umroh, al Aqsho, Uzbekistan, Maroko. Ada yangg juga menambahkan impiannya ingin ke Spanyol dan Afrika. Mungkinkah? Bisakah?
Aku nggak tahu.
Sebab keajaiban itu hak prerogatif Allah Swt. Secara manusiawi kita harus nabung. Aku sudah menghitung kalau umroh plus, maka kalau mau berangkat formasi lengkap ber-6 butuh 150 juta umroh plus Uzbekistan. 216 juta plus Turki. 408 juta plus Maroko. Itu seharga mobil dan/atau rumah, kan?😱😨


Kalau nabung, sampai kapan ya?
Pernah nabung, eh, akhirnya kepakai juga.
Aku tentu gak bisa jawab tentang kapan aku bisa berangkat.


Tapi aku pernah ke Maroko 2016 : keajaiban yang gak pernah kubayangkan.
Kupikir-pikir, keajaiban yang Allah berikan bukanlah kebetulan sama sekali.
Aku suka kliping koran, salah satunya masjid-masjid di berbagai belahan dunia. Salah satu masjid yang kukagumi adalah Masjid Kutubiyah. Nggak tau kenapa, kagum aja dengan bentuknya yang tanpa kubah dan warnanya kemerahan. Di sisi lain, aku mengagumi sosok Ibnu Tasfin, penakluk Andalusia. Aku sebelumnya nggak tahu kalau ia dimakamkan di Marrakech, Maroko. Di situlah benang merahnya .


•••••••••••••••••••
🕌Aku berkunjung ke masjid Kutubiyah, masjid yang kusimpan kliping korannya karena mengagumi keindahan dan bentuknya.


✨Aku berkunjung ke makam Ibnu Tasfin karena mengagumi perjuangannya menaklukkan Andalusia.
•••••••••••••••••••

Sejak saat itu aku memiliki keyakinan.
Butuh rizqi untuk mewujudkan impian. Tapi rizqi itu tidak selalu berupa uang. Ada banyak jalan lain : residensi penulis, beasiswa, permintaan menulis biografi tokoh, dan pastinya rizqi-rizqi lain yang aku tak tahu karena keajaibannya tersembunyi di Lauhil Mahfudz.
Tugasku sekarang : buat benang merahnya.

✨✨✨
Salah satu yang aku yakini bisa mengabulkan mimpi fantastis adalah sedekah. Ada peristiwa- peristiwa spektakuler dalam hidupku yang ternyata berkaitan dengan sedekah dalam jumlah tidak biasa.
Sebuah nasehat pernah mampir ke arahku. Menohok!


“Lha, kalau pingin dapat rizqi sekitar 10 juta, infaq 100-200 ribu wajar. Kalau pingin dapat rizqi 500 juta, masak infaqnya cuma segitu?”

Iya ya…kalau pingin dapat rizki ke Maroko, aku harusnya bisa infaq 20 juta, 50 juta. Tapi duit dari mana ya?

Itulah, mengapa aku menjadi relawan ZISWAF saat ini. Aku senang menjalaninya. Membuat flyer, membagikan di medsos. Ngetag orang-orang yang kukenal maupun nggak kukenal, hahaha. Aku mencoba mengajak pelajar mahasiswa untuk infaq – wakaf 10K. Bisa, kok! Ngetag orang, japri orang, tidak selalu membuahkan hasil. Tapi rizqi itu Allah yang me-resume-kan, aku yang mengupayakan.


Aku memang gak bisa infaq 50 juta sendiri. Duitku belum ada segitu.
Tapi dari pada donatur yang menitipkan uang 10K, 20K, 50K; aku yakin nilainya ada yang melebihi 50 juta. Atau bahkan milyaran atau triliyunan! Ketika sedekah itu ternyata bertepatan dengan waktu istijabah. Ketika sedekah itu, disisihkan dari kebutuhan primer tapi mereka mendahulukan kepentingan orang lain. Orangtua yang memotong uang laukpauk anaknya. Pelajar yang memotong kebutuhan kuotanya. Para gadis yang menahan diri dari kebutuhan kosmetiknya. Orang-orang itu berniat dan bertujuan mulia, dan aku ikut menumpang kendaraan barakah itu.
Ketika sedekah itu, insyaallah terselenggara lewat promosi ZISWAFku, maka aku menitipkan pahala dan doa di sana.


Aku menitipkan pahala dan doa pada teman-teman dan orang-orang yang tidak kukenal, yang menitipkan dana mereka ke LMI. Dana yang pasti berasal dari keringat dan jerih payah.
Siapa tahu benang merah itu terjalin di sini. Bersama sedekah bernilai trilyunan itu, doa-doa sepektakulerku yang nggak bisa diukur dengan nalar dan duit orang biasa, dapat terwujudkan atas izin Allah Swt.


➖➖➖➖➖
🌱🌿Infaq atau wakaf 10K?
Silakan klik bit.ly/LMI_sinta

Kategori
Hikmah Hobby Mancanegara My family Travelling WRITING. SHARING.

5 Tempat yang Ingin Kukunjungi Selama-Setelah Pandemic

Pasti kita merindukan banyak hal selama pandemic kan?

Aku sendiri merindukan perjalanan ke luar negeri, rindu pada interaksi dengan orang dari berbagai bangsa, rindu belajar bahasa baru dan mencicipi kuliner serta kultur budaya setempat.

Ini 5 tempat/ wilayah yang ingin kukunjungi

  1. Kabah – Mekkah
  2. Masjid Nabawi – Medinah
  3. Al Aqsho – Palestina
  4. Kalyan Mosque Bukhara , Bibi Khanym Samarkand (Uzbekistan)
  5. Qarawiyyin Mosque, Fez – Maroko

Kalau memungkinkan, ingin sekali umroh dan haji selama pandemic.

Kenapa? Karena lebih nyaman dan sepi, bisa konsen ibadah di Raudhah misalnya. Nggak berdesak-desakan. Tapi pemerintah Arab Saudi hingga sekarang belum mengizinkan jamaah datang dari luar negeri.

Uzbekistan

Banyak aspek kenapa aku ingin kemari. Kalau ngelihat biaya-biaya umroh plus, tujuan yang paling murah adalah Uzbekistan. Pingin sih umroh plus Spanyol tapi tentu butuh biaya lebih.

Bukan hanya masalah murah ya. Tapi Uzbekistan dikenal dunia dengan jalur Silk Road. Imam Bukhari juga berasal dari Bukhara, salah satu wilayah di Uzbekistan.

Maroko

Negara tetangga Spanyol dipenuhi situs sejarah yang memukau.

Sekali kemari, engkau pasti ingin lagi!

Bukan hanya Fez yang ingin kukunjungi. Tapi wilayah lain seperti Casablanca, Rabat, Tangier, Marrakesh.

Semoga Allah Swt mengijabahi, ya…

Apa yang bisa kulakukan saat ini adalah :

  1. Banyak berdoa, sampai aku punya daftar doa di buku khusus
  2. Menabung, walau uangnya sering kepakai juga kwkwkw
  3. Mencoba berinfaq, semoga dengan ini Allah Swt berikan jalan-jalan keajaiban.
  4. Mohon doa dari banyak orang
  5. Memanfaatkan momentum di bulan Ramadan

Sedekah mudah, sedekah berkah, semoga harta berlimpah.

Infaq dan wakaf bisa dimulai dari 10K saja, lho!

👉 E-wallet atau transfer bank, klik ini aja bit.ly/LMI_sinta

Kategori
Cinta & Love KOREA Pernikahan Suami Istri WRITING. SHARING.

Menikahi Oppa Korea (1) : Romantisme, Wajib Militer dan Cowok 4 Musim

Jungkook atau Jin? Baekyun atau DO?

Bunga, coklat, makan malam dengan candle light.

Pilih cowok Korea dengan tipe idol, aktor atau musisi?

Hm, romantis!

——-

Kisah unik sebagai relawan LMI membuatku bertemu kembali via dumay dengan kak Anna Kusumah yang yeppeoyo & daebak! Kami pernah bertemu  di Seoul dulu dan Ramadan ini jadi kesempatan kami untuk telpon-telponan, mengobrol seru tema yang hype di kalangan cewek : enak nggak sih nikah sama Oppa Korea? Mengingat kak Anna sudah bertahun-tahun menikah dengan pria Korea bermarga Jang.

Sebagai orang Indonesia yang Pancasilais, kak Anna merasa ia harus mempertahankan prinsip-prinsip sebagai warga negara Indonesia. Salah satunya prinsip beragama. Maka ia tekankan betul buat para cewek agar jangan meninggalkan jati diri bangsa Indonesia ketika menikahi oppa Korea : tetaplah memegang 5 sila tersebut. Untuk mempersingkat, nama kak Anna dan Oppa Jang jadi kak A dan Oppa J ya.

Kenapa menikah dengan Oppa Jang?

Kak Anna dulu bekerja di Korea. Awalnya, bahasa hanguko-nya gak terlalu bagus. 2 bulan masa kerja habis, Oppa Jang masuk ke perusahaan tempat kak Anna bekerja. Oppa J sudah sekitar 6-7 bulan banyak belajar perbandingan agama. Ia jenis cowok yang suka baca. Penjelasan agama apapun ia baca termasuk Islam. Oppa J bertanya-tanya Islam kepada kak A.

“Bahasa Korea saya gak terlalu bagus saat itu. Jadi menjelaskan Islam juga agak kesulitan,” jelas kak A. Akhirnya kak A mengajak oppa J ke Itaewon untuk banyak bertanya pada imam masjid di sana.

Masa kontrak habis, kak A balik ke Indonesia. Persahabatannya dengan oppa J semula dipikir berakhir di situ. Oppa J ternyata rajin belajar seminggu sekali ke Itaewon, termasuk Jumat datang ke masjid. Eh, oppa J ternyata sering menelepon kak A. Ujung-ujungnya, oppa J meminta kak A menjadi istrinya.

“Saya ingin mempertahankan keislaman saya,” kata oppa J. “Hanya dengan menikahi kamu, saya bisa mempertahankan keyakinan saya.”

So sweet, yaaa.

Di Indonesia, kak A tentu bingung, dong. Ia merasa agamanya juga masih tipis, gimana caranya?

Kak A terus sholat istikharah dan memohon pada Allah. Bila memang berjodoh, maka berikan kemampuan untuk membimbing suaminya kepada Islam dan diri pribadi juga diberikan kekokohan menjalankan syariat. Qodarullah mereka berjodoh dan menikah.

Kak Anna dan suami, Abdullah Jang Hyong Ki

Seperti Apakah Oppa Korea?

Kak A mewanti-wanti bahwa cowok Korea tidak sama persis dengan yang digambarkan di drama dan movie. Hati-hati lho sama film! Namanya juga fiksi. Yang romantis, lembut, baik, perhatian, ramah, pengertian  tentu ada sebagaimana cowok-cowok Indonesia. Tapi jangan bayangkan semua kayak gitu lho yaaaa.

Apa gambaran umum oppa Korea menurut kak A?

  1. Wajib militer. Menurut kak A, sistem ini gak ada di Indonesia. Jadi, bakalan beda banget membentuk karakter. Cowok yang masuk wajib militer pasti berbulan-bulan mengikuti disiplin ketat dan perilaku itu akan terbawa sekian % dalam kehidupan sehari-hari. Wajar kalau mereka tegas dan keras
  2. Empat musim. Menurut kak A, mereka yang tinggal di 4 musim akan beda dengan 2 musim. Di negara manapun, orang yang tinggal di 4 musim harus berpacu dengan waktu karena kondisi geografis. Disiplin ketat, keras kemauan, menjadi ciri khas para oppa.
  3. Tertutup. Korea cukup lama mengalami trauma peperangan. Apalagi negara yang menjajah mereka merupakan tetangga sebelah. Akibatnya, cukup lama Korea menarik diri dari pergaulan internasional dan menutup diri baik secara sistem negara maupun karakter warga negaranya.
  4. Pendidikan & rumahtangga adalah tugas perempuan. Beban dan tanggung jawab sebagai perempuan baik istri ataupun ibu sangat besar di Korea. Apalagi jenis masakan yang disajikan juga beragam. Jadi, jangan terlalu berharap lelaki akan banyak membantu tugas istri.
  5. Lelaki nomer satu. Menurut kak A, dulu lelaki dan perempuan jalan tidak biasa berdampingan. Lelaki harus berada lebih di depan dan mereka harus selalu dinomersatukan. Mereka beranggapan bahwa istri harus taat pada suami with no excuse. Ini tentu selaras dengan prinsip Islam. Namun menurut kak A, bila mendapatkan oppa yang sangat keras, ini akan sangat sulit.
  6. Pekerja keras. Well, ini membanggakan sih. Tapi kita harus tahu kerja keras model Jepang dan Korea. Bagi yang suka nonton tentu paham, kalau lelaki pekerja di Korea nggak bisa pulang jam 5 sore. Mereka harus banyak bertemu rekan kerja usai ngantor.

Kalau oppa J termasuk kategori yang ramah dan pengertian, apalagi setelah banyak mempelajari Islam. Jadi kak A ini termasuk gadis yang beruntung!

Ada lho misalnya, oppa Korea yang melarang istrinya keluar rumah. Gak boleh ke mana-mana dan harus taat, bahkan untuk kursus bahasa Korea aja gak boleh ( untuk pernikahan mix marriage). Perbedaan karakter dan budaya antara Indonesia -Korea seringkali memunculkan perselisihan rumit dalam rumah tangga mix marriage yang ujung-ujungnya terjadi KDRT. Siapa yang salah? Rumit juga mengurainya.

Pernikahan yang awalnya berdasar rasa suka dan cinta tapi tanpa niat kuat – tanpa keinginan untuk mempelajari latar belakang budaya masing-masing –  akan membuat friksi yang awalnya bersifat emosional berkembang menjadi pertikaian fisik. Kak A sekarang banyak banget mendampingi perempuan-perempuan mix marriage yang mengalami kendala ketika menikah dengan para oppa. Kiprah kak A ini luarbiasa lho. Banyaaak bangettt. Sampai-sampai, kak A ini di tahun 2019 mendapatkan gelar sebagai warga negara kehormatan Korea Selatan.

Wah, oppa J pasti bangga banget dong mempersunting kak A!

Udah, dulu ya. Lanjut besok insyaallah tentang tema menikahi oppa Korea. Akan kita ulas apa aja prestasi kak A yang sangat membanggakan hingga bisa dapat penghargaan sebagai warga negara kehormatan.

다음에 봐요.

Da-eume bwayo. See you next time!

————-

#kisahunik #kisahajaib #relawanLMI #silaturrahim #4

Sedekah mudah, sedekah berkah, semoga harta berlimpah.

Infaq dan wakaf bisa dimulai dari 10K saja, lho!

👉 E-wallet atau transfer bank, klik ini aja bit.ly/LMI_sinta

Kategori
Bunda Cantik. Beautiful Mother Hikmah Jepang mother's corner Parenting Pernikahan PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Suami Istri WRITING. SHARING.

Lulusan Jepang, Dapat Beasiswa, Pintar, Tapi kok…

Sejak gadis berprestasi, punya cita-cita tinggi.

Berkali-kali pula mendapatkan beasiswa ke luar negeri.

Lulusan Fukuoka dari universitas bergengsi.

Apakah ia sekarang kehilangan motivasi?

—–

Kak H , sebut aja demikian. Cantik dan lemah lembut, pintar dan penuh sopan santun. Perjalanan menjadi relawan LMI kali ini mempertemukanku dengan seorang perempuan yang unik. Mahir berbahasa Jepang karena bertahun tinggal di sana (ya iyalah! 2010-2017). Ikut AFS tahun 2003-2004 di Tokyo dan diterima di Universitas Kyushu yang bergengsi di Fukuoka. We-o-we!

Mengambil S2 jurusan Bisnis dan Teknologi dengan penelitian tentang Karakteristik Halal Market di Jepang. Sempat menjadi dosen di sebuah universitas di Bandung tapi kemudian memutuskan : tinggalkan semua dan jadilah ibu rumah tangga.

Whaaat?

Trus, mengandalkan pemasukan 100% dari suami?

Membuang sia-sia bertahun ilmu di Jepang dan berkubang dengan permasalahan rumah?

Apakah kak H ini sebetulnya sedang kelelahan dengan tuntutan beasiswa, kuliah, penelitian, akademis, pekerjaan, plus urusan RT sehingga ujung-ujungnya ingin istirahat dari semua tuntutan itu dan beristirahat dengan dogma “menjadi ibu rumah tangga itu mulia?”

Baiklah.

Jepang dan Ibu

Apa yang anda kenal tentang Jepang? Bunga Sakura, mata uang yen, anime, manga, cosplay? Sebutan otaku atau wibu yang tenar di Indonesia; bagi anak muda. Rata-rata, yang ingin ke Jepang memang membayangkan keserbateraturan kota megapolitan, dan membayangkan mencicipi makanan khas yang restorannya  bertebaran di Indonesia.

Menghormati budaya leluhur adalah ciri khas bangsa ini.

Membayangkan perempuan Jepang akan terbayang AKB 48 , penyanyai YUI atau Utada Hikaru. Tetapi, bukan itu sosok yang ditemui kak H dalam kehidupan sehari-harinya di Jepang. Ia melihat, bahwa di Jepang perempuan sangat bangga menyebutkan dirinya sebagai seorang ibu rumah tangga. Salah satu yang dikenal banyak orang adalah, bagaimana IRT di Jepang menyiapkan bento yang cantik bagi anak-anaknya. Rata-rata tidak ada yang memiliki ART sehingga pekerjaan rumah dikerjakan sendiri. Gak ngebayangin deh; belanja masak nyuci sendiri. Belum ngurus anak-anak dan lain-lain. Walau orang bilang, “ah, di Jepang mah enak! Segalanya serba teratur, serba mudah.”

Emang bener juga sih. Tapi tetap aja, jadi IRT itu di belahan dunia manapun selalu melelahkan. Bagi Kak H, ia terkesan sekali selama tinggal di Jepang. Menjadi istri dan ibu itu dengan label di KTP – Ibu Rumah Tangga bukanlah sesuatu yang pantas membuat hati kecil tak bangga.

Transisi Wanita Karier ke Stay at Home Mom

Satu yang kutanyakan ke kak H saat ia memutuskan tinggal di rumah : bagaimana dengan cashflow keluarga? Apakah finansial cukup? Di satu sisi kita percaya rizki urusan Allah Swt, tapi di sisi lain tentu ada kecemasan terutama bagi seorang istri dan ibu : apakah gaji suamiku cukup? Setelah diposkan ke berbagai tempat ternyata secara nominal emang gak bakal cukup!

Apakah masih bisa pasrah : ah, itu urusan Allah?

Bukankah kita harus berupaya maksimal dengan bekal taqwa dan bertawakal di akhir usaha?

Ternyata, ilmu yang didapat kak H sepanjang ia berkelana ke negeri Jepun tak sia-sia. Apalagi bisnis dan teknologi menjadi keahliannya. Ia tahu, meninggalkan dunia kerja pasti punya resiko keuangan. Ia tahu, walau berupaya pasrah, pasti ada resah. Apalagi, ada anak-anak yang butuh dukungan materi immateri.

Jurus kak H ini bisa banget dipelajari adik-adik Muslimah yang kelak ingin berprestasi di dalam dan di luar rumah. Apakah akan menjalani karir di luar atau di dalam rumah, semua kembali pada pribadi masing-masing. Tapi jika seorang perempuan memutuskan full time Mom, kak H ini bisa dicontoh

  1. Sejak kuliah sudah merintis bisnis. Kak H ini emang kayaknya suka bahasa. Ia merintis lembaga bahasa asing bernama Hikari Language Center. Tampaknya ini menjadi tonggak yang bagus bagi siapapun (khususnya perempuan) bahwa merintis usaha apapun sejak dini, terutama masa sekolah/kuliah akan membuat masa depan lebih cerah. Kelak mau punya pilihan ngantor, part time job, full time mom gak masalah. Karena sejak single udah punya tabungan skill, syukur-syukur tabungan finansial.
  2. Ketika sudah menikah, punya anak, lulus S2; kak H ini melanjutkan secara online kursusnya dengan nama baru Hikari Bridge. Bahasa yang ditawarkan adalah Inggris dan Jepang. Siswanya 400 orang dari berbagai belahan Indonesia (mau ikutan daftar juga ah!)
  3. Ketika ada hambatan finansial, berusaha sedekah meski kondisi sempit. Alhamdulillah…ada aja bantuan dari Allah Swt (setuju, kak H!)
  4. Memantapkan hati bahwa kembali ke rumah bukanlah sebuah bentuk dendam, sekedar ingin istirahat, melemparkan tanggung jawab bahwa : “ah, yg wajib nyari duit kan suami!” Bukan seperti itu. Pendidikan al Quran, golden age yang berharga, ingin menjaga tumbuh kembang anak-anak dengan baik adalah cita-cita kak H untuk kembali ke rumah
  5. Ada salah satu quote menarik dari kak H : skill dan ilmu yang bertahun-tahun dipelajari selama ini hanya untuk mempersiapkan diri bekerja dan menjadi karyawan. (Hm, bener juga. Padahal setelah menikah kita bukan karyawan siapapun tapi justru majikan bagi diri sendiri. Gimana punya mindset jadi pemimpin perusahaan yang memajukan semua stakeholder dan mengatur semua sumber daya baik human resources dan financial resources. Kita kan gak selamanya bisa jadi buruh atau karyawan buat pihak lain, kan? )

Makasih banget atas ilmunya ya, Kak H yang Cantik!

Jadi belajar banyak nih, apalagi kita punya kesukaan yang sama : bahasa 😊

————–

#kisahunik #kisahajaib #relawanLMI #silaturrahim #3

Sedekah mudah, sedekah berkah, semoga harta berlimpah.

Infaq dan wakaf bisa dimulai dari 10K saja, lho!

👉 E-wallet atau transfer bank, klik ini aja https://pay.imoneyq.com/laz/lmi/XW1VX