Remaja Tahun 60-an, 90-an dan remaja sekarang

 

 

Membahas remaja selalu asyik!

Masa muda adalah masa yang penuh gairah, penuh kenangan dans elalu ada seribu sudut untuk diceritakan. Menurut buku Being Young and Muslim; ada 3 hal yang memengaruhi anak muda yaitu fashion, music, entertaintment. Apa saja sih perbedaan dari dekade satu ke dekade yang lain?

Bahasan ini meski ringan, bolehlah dipercaya. Narasumbernya adalah ibu saya yang pernah remaja, saya sendiri yang pernah menginjak masa muda dan anak-anak saya yang sudah beranjak remaja dan harus saya kuntit serta pelajari apa saja kesukaan mereka hehehe.

 

Fashion

60-an. Melihat foto-foto ibu diwaktu  muda, menggelikan banget. Baju-baju berlengan pendek, atau malah sepangkal lengan, dengan bentuk rok menggelembung selutut. Rambut pendek, berhias anting-anting besar.  Jangan bayangkan bodi ibu langsing bak gitar ya…di era itu, gadis-gadis biasa pakai baju dengan lengan atas sepangkal ketiak, tak peduli bentuk bisep trisepnya segede batang pisang hehehe…

1960s_fashion_1.png

Gaya 60-an ala generasi nenek

90-an. Era saya belum berjilbab, masih ingatkah model seragam SMA? Lengan pendek digulung, wuahhh, rasanya kereeen bingitz! Kalau baju casual, ada rok maxi dengan padanan kaos berkerah. Bagi yang PD, biasanya mengenakan rok mini di atas lutut. Mau lebih gaya? Sweater lengan panjang, tapi nggak dipake lho…melainkan lengannya ditalikan di depan leher. Gaya rambut cewek umumnya panjang lepas ala Farah Fawcett atau kalau yang mau pendek, model Demi Moore yang ngetop lewat film Ghost.

Bagaimana model fashion muslimah zaman itu?

Wah, belum banyak pilihan. Biasanya berjubah dan berjilbab kaos, atau jilbab kain. Model-modelnya sederhana, apalagi jilbabnya.  Belum ada ide-ide kreatif busana muslim.

2K dan millennial. Era ini ditandai kebebasan bergaya. Mau girly atau sportif, atau freak, sesuaikan dengan personality. Ada yang kalau keluar mengenakan tanktop dan celana pendek, yang rasanya hanya pantas dikenakan di kamar pribadi. Ada yang senang hot pants dengan blus panjang di luar, sehingga terkesan nggak pakai celana, hiks. Tapi ada juga yang suka model rok panjang dengan belahan tinggi, atau rok panjang etnik dengan bahan katun yang nyaman.

Busana muslimah?

Wuaaahh, banyak banget pilihannya. Bersyukur sekali hidup di era ini. Mau jubah, rok, overall, model rok/celana monyet, jins, baju kurung, kulot, celana, batik; semua ada. Jilbab aneka warna aneka ragam tersedia, yang jadul seperti era 90an masih tersedia. Yang pashmina, kerudung kaos, model scarf, ciput ninja…banyak banget pilihannya. Pendek kata, cewek muslimah  mau pakai baju di kolam renang hingga ke pesta tetap bisa syar’i.

 

Music

60-an. The Beatles dan Elvis Presley adalah favorit ibu.

elvis-presley

Elvis dengan gaya khas

Saya masih mengenal lagu-lagu Elvis seperti It’s Now or Never, Can’t Help Falling in Love With You. Lagu Beatles seperti Imagine dan Yesterday . Meski lagu-lagu itu sudah jadul banget, old song, tetap saja enak didengar. Koleksi ibu umumnya berupa kaset. Sebab gak mampu beli piringan hitam saat itu…hihihi. Saya masih ingat koleksi beliau juga untuk music tahun 70-an seperti ABBA yang terkenal dengan lagu Mama Mia. Music juga membawa fashion. Rambut ala Elvis dan baju model dirinya menjadi tren pemuda saat itu; begitupun rambut ala Beatles.

Eh, koleksi Indonesia juga ada lho. Ebbiet G Ade , Franky & Jane. Bagi saya, belum ada penyanyi Indonesia yang dapat menggantikan sosok Ebbiet G Ade. Ibu suka sekali menyetel lagu berjudul Camelia.

90-an. Wah, anda bertanya pada ahlinya kalau membahas musik tahun ini hahaha…

Maklum, remaja zaman ini akrab dengan radio dan walkman. Kita mengumpulkan uang jajan untuk beli kaset. Lagu Indonesia zaman itu yang sangat merajai adalah Chrisye, Vina Panduwinata, Ita Purnamasari, Titi DJ & Faris RM, Iwan Fals, Tri Utami. Grup musik di era itu KLA Project. Lagu favoritnya berjudul Yogyakarta yang manisss banget 🙂

Kalau musik luar?

Backstreet Boys, New Kids on The Block, Boyz to Men adalah beberapa di antar grup musik yang digemari. Untuk solo; Richard Marx, Jason Donovan  dan Tommy Page digandrungi para gadis dengan lagu-lagu romantisnya. Marx dikenal lewat Right Here Waiting, Jason Donovan  (Ft Kylie Minouge dengan Especially for You), Sealed with a Kiss, dan Tommy Page….tradaaaa….a Shoulder to Cry On. Si Tuan Page ini sukses besarrrr membawa gadis-gadis di seantero dunia baperrrr.

Setiap hari, di depan meja belajar rasanya tidak afdol kalau tidak diiringi musik-musik tersebut sembari baca buku dan mengerjakan PR. Lagu-lagu biasa diputar di radio kesayangan. Saya pribadi, sering menyiapkan kaset kosong. Kalau ada lagu bagus, siap-siap merekam!

Saking senangnya dengan lagu-lagu saat itu, teman-teman satu geng punya kebiasaan unik. Kalau pas ada yang ulangtahun, diberi hadiah satu kaset kosong yang telah berisi lagu-lagu rekaman yang disukai. Lagu rekaman ini bisa didapat dari radio dengan cara merekamnya via tape recorder atau minta ke studio radio. Saya pernah dapat hadiah itu dari teman-teman…rasanya sueeennneeeng banget!

2K dan millennial.

Bengong aja lihat K-Pop dan Japanese Wave.

“Eh, zaman Ummi dulu, grup boyband itu manly banget lho. Kalau sekarang mereka dandan ya?”  tanyaku takjub melihat vowok-cowok cantik yang wajahnya licin dengan bibir merah. NKTB atu Backstreet Boys dulu sangat macho.

seventeen_poster_official-copy

Seventeen Korea Boyband

Sekarang, menyanyi harus diesertai aksi panggung yang yahud. Saya pribadi suka lagu Suju –Bonamana, Shine (lupa judulnya), Wonder Girl Nobody but You atau SNSD Into the New World. BoA salah atu artis yang saya gemari juga dengan lagu-lagu manisnya macam Every Heart, Eats You Up, Key of Heart. OST Inuyasha banyakkk yang saya suka : Fukae Mori, Change the World, I am, dll. Hm, tapi ini juga lagu yang sudah agak lama ya…yang baru-baru seperti EXID, Seventeen saya nggak seberapa kenal.

 

Entertainment

Hiburan disini bisa berarti film, atau pusat hiburan, atau hal-hal yang digandrungi.

Kim Novak, Lauren Bacall, Vivien Leigh

60-an. Artis kesukaan ibu adalah Clark Gable dan Kim Novak. Bukan berarti beliau gak suka Liz Taylor, Lauren Bacall, Debby Reynolds tapi kata beliau Kim Novak adalah favoritnya. Artis bertubuh  berisi ini terkenal dengan gaya rambut blonde pendeknya. Apa judul film paling favorit di zaman itu? Yup, betul : Gone with The Wind. Kataku, Vivien Leigh itu salah satu artis tercantik yang pernah ada!

demi-moore-ghost

Ingat gaya rambut Demi Moore? 🙂

90-an. Chalie’s Angels adalah serial televise paling dinanti. Jacklyn Smith dan Cheryl Ladd ngetop lewat film ini. Aktor artis yang muncul di era itu dan masih bertahan di era sekarang antara lain Demi Moore, Julia Robert, Bruce Willis, Tom Cruise. Demi Moore ngetop lewat film Ghost, Julia Roberts dengan Pretty Woman, Tom Cruise dengan Top Gun dan Bruce Willis lewat berseri-seri Die Hard.

Oh iya…serial Indiana Jones juga. Dan tak lupaaa…eng ing eng…agen 007 yang gak mati-mati kwkwkwk. Saya ngalami tuh nonton aksi si agen mulai Sean Conery, Roger Moore, Timothy Dalton, Pierce Brosnan hingga Daniel Craig. Umumnya cewek, kita juga perhatian sama cewek-cewek Bond…hahaha. Meskipun rumour beredar, cewek-cewek Bond hanya laku di film 007 dan bakal gak bisa sukses ketika main di film yang lain.

2K dan millennial.

Wuah, kali ini  bukan hanya artis aktor televisi, layar lebar tapi juga artis youtube dan selebgram yang awalnya sama sekali tidak kita kenal. Dulu, butuh waktu lama banget untuk jadi artis. Sekarang apa-apa bisa instan ya…

Untuk film, science fiction merajai seperti serial mutant X Men. Star Wars dan Star Trek yang menggambarkan impian manusia tentang kehidpuan ruang angkasa hiingga film-film thriller aneka rasa mulai  penyanderaan, penculikan, pembunuhan hiingga kisah-kisah orang psikopat. Membahas film, kayaknya saya butuh halaman tersendiri deh…kwkwkwk.

 

Hiburan yang lain.

60-an. Era ini para remaja hanya cari hiburan dari jalan-jalan dan nonton bioskop. Televisi belum jadi sarana hiburan yang memadai.

90-an. Dimasa remaja saya, hiburan umumnya jalan-jalan, makan-makan, nonton bioskop dan naik gunung. Hiburan lain adalah ke toko kaset. Kita bisa betah berjam-jam mulai sore hingga tiba waktunya diusir XD.

2K dan milenneial. Entertainment di era ini banyak banget modelnya. Yang mau duduk dirumah bisa nonton via youtube, televisi dengna beragam saluran, main game baik yang gratis maupun berbayar. Yang mau hang out berarti nonton ke bioskop, jalan-jalan ke mall, nongkrong di café yang menu dan style cafenya sangat kreatif dibanding era 90an. Yah, di zaman saya kalau kami jalan-jalan paling-paling beli bakso atau mie ayam. Gak ada food truck atau kedai kopi bergengsi. Gak kebayang kalau harga segelas kopi bisa 50 ribu sampai 100 ribu. Wong kopi biasanya diminum kakek nenek saya hehehe…pakai cangkir seng blirik. 50 ribu bisa buat minum kopi setengah tahun.

Kalau disuruh milih, enakan remaja di era 60-an, 90-an atau di era sekarang?

Kejahatan #1 :Ayah, peng-implant dasar kejahatan

 

 

Dua hari mengikuti pelatihan Psikologi Forensik, membuka mata tentang banyak hal.

Bukan hanya teknik investigasi tindak pidana yang melibatkan terperiksa, terdakwa, saksi bermotif, saksi dan interviewer tentu saja; tapi  banyak hal-hal lain yang memperkaya wawasan. Terimakasih kepada ibu Reni Kusumowardhani atas ilmunya, Meta Power atas penyelenggaraan acara tersebut dan juga teman-teman yang hadir dari penjuru Indonesia atas ilmunya.

Sinta, Wenny,  Dwi (ki). Bu Reni dan seluruh peserta (ka)

Di luar materi, ada diskusi-diskusi filosofis yang dalam dan bermakna dengan teman-teman psikolog, HRD dan pakar hukum. Pengalaman teman-teman di lapangan tentu sangat penting untuk memperkaya siapapun kita, dalam segala perannya.

Tak seorangpun ingin jadi penjahat. Bahkan sebisa mungkin jangan duduk sebagai saksi kasus apapun. Namun, mengapa orang-orang dapat melakukan tindak kejahatan yang tidak terbayangkan? Apakah penyebabnya? Norma agama tentu jawaban mutlak. Di luar norma agama, ada hal-hal yang pantas kita cermati.

 

Kejahatan #1 : Ayah, peng-implant  dasar kejahatan

Siapa yang membuat anak jadi jahat?

Seorang pembunuh di kota X, menikam seorang lelaki dengan sadis. Ia mempersiapkan pisau dari rumah, menikam berkali-kali, dan melakukan hal lain terhadap korban dengan cara mengejutkan. Katakan namanya Jahal. Melihat tindakan Jahal yang diluar batas kewajaran, anda mungkin bertanya : jahatkah Jahal pada semua orang?

Tidak.

Jahal tidak dapat bersikap kasar pada perempuan. Jahal tidak mau memukul perempuan.   Bahkan istri Jahal berkali-kali selingkuh, Jahal tetap maafkan. Namun, Jahal  punya banyak masalah dengan rekan laki-laki. Ia sangat membenci laki-laki yang main perintah, merasa punya otoritas lebih tinggi, dan benci laki-laki yang dominan.

ayah-anak-2

Dapatkah anda meraba, apakah ayah atau ibu yang meng-implant kejahatan pada Jahal?

Ya. Ayah Jahal pemabuk. Sangat dominan di rumah, selalu menang sendiri, meremehkan si ibu dan menindas siapa saja. Tidak ada yang boleh punya suara di rumah, kecuali ayah. Ketika remaja, Jahal ingin berduel dengan sang ayah namun ibu melerai. Jauh di lubuk hati, Jahal punya skema tersendiri di benaknya : siapakah musuh paling utama hidupnya? Jawabannya, lelaki yang punya otoritas.

“Sudah kuduga, bapaknya tidak beragama. Kalau bapaknya ahli agama tentu lain kejadiannya!” itu yang sempat terbersit di benak.

Mari kita cermati seorang pemuda bernama Toyib.

ayah-anakAyahnya ahli agama, mengisi acara dimana-mana, penerjemah kita-kitab. Tetapi Toyib menjadi pencuri kambuhan yang entah berapa kali dipukuli warga hingga wajah dan kepalanya luka. Toyib menghabiskan uang hasil curiannya dengan bermain game dan hura-hura bersama temannya.  Sang ibu punya cerita tersendiri terkait sang ayah yang memang sangat cerdas dalam hal agama.

Di rumah mereka tidak boleh ada hiburan, termasuk music dan acara televisi. Apa alasannya, yang penting haram. Semua anak di rumah Toyib sebetulnya ingin membantah ayah, namun tidak berani. Toyib pernah terpergok menonton televisi. Hasilnya, ayahnya murka. Memukul Toyib dan merusak televisi (mereka punya TV sekedar untuk menonton berita). Seperti pemuda kebanyakan, Toyib mengecat rambut, memakai jeans belel yang robek di lutut dan menindik telinga. Ayahnya kembali berteriak haram dan mengusir Toyib dari rumah. Pada akhirnya Toyib mengembalikan warna rambut menjadi hitam, melepas anting dan mengganti dandanannya ala pemuda baik-baik .Toyib mengalihkan kesukaannya bermain game di warnet dan tiap kali uangnya habis, ia akan mencuri barang-barang tetangga.

Apakah syariat yang ditegakkan ayah Toyib salah? Tentu tidak.

Ulama sebagian memang benar-benar tegas terkait music, film, gaya berpakaian. Namun bagaimana cara menyampaikannya, itu yang penting. Ruang-ruang diskusi yang tidak dibiasakan di rumah, dialog terbuka antar ayah anak, mendengarkan apa keinginan anak dan mengarahkannya; membuat Jahal dan Toyib kehausan mencari posisi sebagai human being di tengah konstelasi kehidupan. Toyib bukan pemuda 100% brengsek. Kalau ia dapat rezeki halal dari kerja serabutan, ia akan membelikan sang ibu  nasi goreng kesukaannya.

ayahAnak pasti menolak aturan yang sangat mengikat dan membatasi.

Di luar sana orang antri nonton bioskop, kok aku nggak boleh? Di luar sana remaja nonton konser music, kok aku nggak bisa? Kenapa ayah hanya menyuruhku sholat, baca Quran, menghafal Quran, masuk surga, taat orang tua, pintar belajar, dan sejenisnya?

Ayah adalah pemilik otoritas.

Ibu, biasanya tunduk pada ayah. Apalagi di tengah kultur timur, istri dan ibu akan mendengar kata suami/ayah. Bila ayah berkata ya atau tidak, maka ibu akan cenderung mendukung, tak peduli hati anak penuh pemberontakan. Ibu mungkin dapat bijak menjelaskan perkara music, televisi, gaya berpakaian, dsb; namun tetap saja ada luka menganga yang tak mudah disembuhkan dalam hubungan ayah anak.

Apa salahnya menjadi ayah yang toleran dan pendengar aktif? Toh tidak mengurangi bobot kehormatan. Toleran bukan berarti permisif. Ketika anak berulah negative, membangkang, melanggar norma agama, coba dengarkan baik-baik luapan hatinya. Seringkali, anak melakukan tindakan di luar batas, bukan karena ia memang ingin melakukan kejahatan, tapi karena ingin didengarkan. Ketika jeritan hati anak-anak tak didengar orang, termasuk orangtuanya, ia akan membentuk alur berpikir sendiri. Menggurat skema dalam pikiran, membuat proyeksi terhadap orang-orang yang bermasalah dengan dirinya.

Sebagaimana Jahal yang membenci lelaki pemilik otoritas. Sebagaimana Toyib yang akhirnya membenci agama dan para ustadz.

Apakah ayah yang otoriter tidak baik?

Hamka adalah ayah yang otoriter dalam skala tertentu. Beliau akan menarik sabuknya dan menghukum putranya bila lalai membaca Quran. Namun Hamka tidak melakukan itu untuk semua anak. Ia hafal betul satu demi satu watak anaknya dan ada satu orang putranya bernama yang tampaknya membutuhkan perlakuan lain.   Sang putra suka menonton film India pula. Maka Hamka memutuskan, anak laki-laki dengan energy lebih seperti itu lebih baik diajarkan bela diri. Daripada terus menerus memarahi putranya yang tampaknya punya jalur berbeda dari sang ayah yang ahli agama serta sastrawan, Hamka mengajak sang putra untuk belajar bela diri. Di luar perkara membaca Quran, Hamka adalah pribadi yang hangat dan lucu bagi siapa saja, termasuk anak-anaknya. Ia suka mengajak anaknya berdiskusi, dan menyelipkan filosofi-filosofi hidup.

Ayah, adalah peng-implant moralitas. Ayah, adalah peng-implant kejahatan, disisi lain. Apakah ibu tidak punya peran? Tentu punya. Bila ayah berakhlaq buruk, dibutuhkan sosok ibu yang kuat luarbiasa untuk mereduksi kesan-kesan buruk . Tetapi bila sosok ibu tak cukup kuat untuk menghapus kesan tersebut, dapat kita bayangkan bagaimana kepribadian anak-anak terbentuk.

 

Kejahatan #2 : Paradigma Uang

(Bersambung)

 

Spirit 212 : Cinta ini Menyatukan Kita

 

 

Anda pasti pernah dengar istilah reward dan punishment. Istilah ini sangat psikologis sekali. Umumnya orang akan bertahan pada perilakunya bila diberi reward dan akan mengurangi perilakunya bila diberi punishment. Konsep ini berlaku bukan hanya di dunia pendidikan tapi juga di dunia industri organisasi maupun klinis.

Apa saja reward yang kita kenal? Sistem gaji, sistem bonus, hari libur adalah reward. Penjara, sanksi, teguran adalah punishment. Meski tidak selalu demikian. Hukuman suatu saat bisa berubah menjadi reward hingga orang malah senang meningkatkan perilaku yang maladaptif.

Bagi sebuah negara, memiliki kekayaan dan rakyat yang mendukungnya adalah reward atau hadiah luarbiasa. Kekayaan negara berupa hasil pertanian, tambang, kekayaan laut dsb merupakan modal untuk menyelenggarakan kerja-kerja negara sehingga bangsa lain menaruh hormat. Memiliki rakyat yang cerdas, supportif, berakhlaq mulia juga merupakan hadiah Tuhan yang luarbiasa. Bayangkan, bila sebuah negara memiliki rakyat yang brengsek. Tidak taat norma hukum atau negara. Tak dapat kita bayangkan bila rakyat berubah menjadi segerombolan penjarah, perampok, pembunuh, pelaku asusila, pemalas dan pembangkang.

Memiliki rakyat yang baik atau sholih, adalah asset luarbiasa. Anda tentu tak dapat bayangkan bila sebuah negara, memiliki lebih banyak penjara dibanding gedung pendidikan dan perkantoran, bukan?

Aksi 1410, 411, 212 adalah bukti rahmat Tuhan bagi bangsa Indonesia.

Betapa, dalam situasi sangat kritis dan sensitive ketika rakyat berkumpul berdesakan, kedamaian tetap terselenggara. Antrian penjualan handphone model tebaru saja sampai menimbulkan kericuhan dan korban luka-luka, padahal jumlah antriannya tidak sampai puluhan ribu. Konser music dan sepakbola? Aparat dibuat kebat kebit, begitupun rakyat yang ikut menyaksikan. Bagi saya pribadi, bertemu serombongan supporter sepakbola membuat jantung deg-degan. Jangan-jangan mereka berbuat anarkis. Jangan-jangan, kendaraan kita yang tidak bermaksud menyenggol, terkena sasaran amuk. Jangan-jangan, mereka membawa senjata tajam dan melukai siapapun yang dianggap berpihak pada kesebelasan lawan.

Para pemirsa televisi, memandang dengan hati kebat kebit peristiwa 411 dan 212.

Dan, betapa banyak kesalahan pada cara berpikir logis kita, cara pandang rasionalis kita. Tidak semua kejadian di dunia ini digerakkan dengan uang, tidak semua peristiwa hanya mengandalkan neraca laba rugi. Ada, orang-orang yang masih meletakkan keluhuran dan kemuliaan, di atas segala-galanya.

Maka pertimbangan uang, profit benefit, dominasi tidak berlaku disini.

Yang ada adalah orang-orang yang berkumpul karena yakin Tuhan masih bersama Indonesia. Kita pernah melewati masa-masa kritis 1945, 1965, 1998 dan Alhamdulillah…Indonesia tetap melaju sebagai negara dengan segala pahit getirnya.

Akhir 2016 menggoreskan kenangan mendalam bagi seluruh elemen bangsa Indonesia. Berkumpulnya orang-orang, ribuan, ratusan ribu, jutaan; tidak menimbulkan huru hara. Tidak menimbulkan kerusakan. Tidak menimbulkan pencurian, perampokan, penjarahan. Padahal bila mau, hal itu bisa saja dilakukan. Toh, peserta aksi saat itu adalah kelompok dominan dan mayoritas.

Demikianlah, Tuhan mengingatkan negara ini, Dia telah memberikan reward luarbiasa. Harta kekayaan berupa rakyat santun yang ketika berseberangan pendapat dengan pemimpin, memilih berkumpul bersama untuk mendoakan dan mendesak pemerintah melakukan perubahan serta menegakkan keadilan.

Tidakkan reward dari Tuhan ini pantas kita pelihara sebagai salah satu jejak berharga bagi sejarah Indonesia?

JPG 212 kover depan - Copy.jpgForum Lingkar Pena, Suara Muslim, LMI dan Lazis PJB dengan bangga mempersembahkan salah satu buku catatan sejarah yang monumental di akhir 2016. Ditulis oleh para pelaku sejarahnya sendiri, dengan narasi unik ala pelakunya meski inti cerita mereka sama : ketakjuban akan kekuasan Tuhan yang mampu menyatukan hati manusia untuk berkumpul, berbuat kebajikan dan bergandengan tangan satu sama lain.

Buku luarbiasa ini terdiri 40 naskah versi bahasa Indonesia dan 10 naskah versi bahasa Inggris, Jerman dan Korea. Dilengkapi ilustrasi menggugah full colour 12 halaman.

Pesanan pre order (PO) dibuka mulai hari ini 12 Januari – 22 Januari 2016. Mekanismenya :

Transfer ke rekening Bank Syariah Mandiri (BSM) cabang Dewi Sartika, Jakarta Selatan nomer rekening 703-310-1858 a.n Forum Lingkar Pena. Kontak Wiwiek Sulistyowati di 0812-8747-415 SMS/whatsapp. Harga normal Rp. 100.000 , harga pre order Rp. 85.000

 

 

Tanda-tanda Keretakan Hubungan dengan Pasangan

 

 

Tak ada yang menginginkan cinta berakhir musnah. Berujung kegetiran, apalagi perpisahan. Naudzubillahi mindzalik. Namun, seiring waktu, cinta memudar bahkan hilang tak berbekas. Dia yang dulu begitu berapi-api, sehari dapat mengungkapkan sayang lebih dari 3x bahkan overdosis; sekarang jangankan mengucapkan sayang. Membalas pesan kita enggan, padahal online.  Selalu punya alasan sibuk. Saat bicara cinta rasanya aneh dan menyakitkan, bagai bertepuk sebelah tangan. Pernikahan, dapat diselamatkan dan memang harus diupayakan selamat hingga menuju laut keabadian. Mari kenali tanda-tanda keretakan hubungan agar dapat segera dicari solusinya.

Apa saja tandanya?break-up-spells

  1. Kaku dan jarang tertawa
  2. Tidak punya mimpi bersama
  3. Tidak mesra
  4. Sibuk urusan masing-masing
  5. Bercinta kurang dari seharusnya
  6. Keuangan tersembunyi

Bahas satu-satu ya…

  1. Kaku dan jarang tertawa

Joke, humor, anekdot, itu obat jitu suasana. Asal sesuai kondisi dan takaran. Ingat Nasruddin Hoja dalam memecahkan masalah pelik? Ada canda disitu untuk mencairkan ketegangan. Dalam menyampaikan fatwa pun demikian. Bahkan bila keluarga kita mengalami saat-saat sulit sekalipun, humor ini jangan sampai ditinggalkan. Humor meredakan ketegangan dan menciptakan situasi cair yang menyenangkan.

Pasangan seharusnya mulai waspada bila dalam 2-3 bulan tidak dapat lagi tertawa bersama-sama. Mungkin karena tekanan ekonomi, masalah keluarga besar, atau ada orang ketiga yang menyita perhatian. Orang ketiga ini tidak selalu WIL/PIL yang mengindikasikan perselingkuhan. Mungkin saja orang ketiga ini adalah saudara yang tengah menghadapi masalah keluarga juga sehingga menyita perhatian kita, atau atasan yang sangat menyulitkan, atau teman yang tidak dapat dipercaya.

Pendek kata, banyak masalah di masa kini dapat menimpulkan stress bahkan depresi.

Tertawa bersama itu mudah.

Bagilah kisah-kisah lucu lewat broadcast (BC), meme lucu, menonton film komedi, menikmati acara televisi yang mengibur. Lalu tertawalah bersama. Gelitikilah pasangan agar ia mau tertawa bersama-sama. Jadi, kapan anda dan pasangan tertawa bersama untuk terakhir kali? Kalau pagi ini masih dapat tertawa berdua karena saling mencolek pinggang masing-masing, artinya hubungan anda inysaallah selamat!

 

  1. Tidak punya mimpi dan keinginan bersama

Mimpi bersama akan mengikat satu sama lain. Ingin haji bersama sehingga saling menyisihkan penghasilan, ingin umroh bersama, ingin berlibur bersama, ingin menghabiskan akhir pekan berdua di hotel atau di restoran romantis.

Semakin panjang mimpi itu, insyaallah semakin baik.

“Nanti kalau Mas pensiun, mau ngapain?”

“Aku mau buat café kecil-kecilan, Dek.”

“Kalau gitu mulai sekarang aku coba kumpulkan resep masakan yang khas ya.”

Mimpi ini harus terus dibangun.

Dulu mimpi umroh bareng, terkabul. Tambah mimpi haji. Sudah terkabul, bermimpilah bersama untuk dapat wakaf. Terkabul? Bermimpilah bersama lagi untuk buat yayasan panti asuhan. Terkabul? Bermimpi lagi bersama. Buat perusahaan warisan yang dapat diwariskan pada anak cucu. Terkabul? Buat mimpi-mimpi bersama lagi hingga mimpi akhir bersama adalah menjadi pasangan suami istri di FirdausNya.

Suami istri yang sudah punya penghasilan masing-masing, kadang enggan merancang mimpi bersama. Merasa sudah dapat melaksanakan  sesuatu dengan uang pribadi. Misal, dapat menyantuni orangtua masing-masing dari uang pribadi. Apa salahnya membangun mimpi bersama dalam hal memberi hadiah pada orangtua?

“Dek, aku pingin meng umrohkan kedua belah pihak orangtua kita. Yuk, nabung bareng.”

Nilai kebersamaannya lebih terasa daripada masing-masing bertekad menabung sendiri-sendiri, mengumrohkan orangtua sendiri-sendiri.

 

  1. Tidak mesra

Kemesraan sangat penting untuk mengeratkan hubungan. Sama dengan humor, bila kemesraan mulai menghilang dalam 3 bulan terakhir, waspadalah. Apa sih mesra?

Dalam kamus bahasa Indonesia mesra berarti 1) menyerap 2) sangat dekat dengan hati. Menyerap dalam kamus  disini diartikan perilaku yang benar-benar ‘menyerap’ hingga ke hati. Bukan sekedar ciuman selintas. Bukan pelukan sambil lalu. Bukan sekedar salaman sekedar tempel. Karena sudah serumah bertahun-tahun, seringkali sentuhan fisik hanya formalitas belaka.

Yang penting sudah cium istri ketika berangkat.

Yang penting sudah salam suami ketika akan berpisah. Sentuhan, apalagi obrolan, tidak ada yang benar-benar terserap sampai ke hati.

  1. Sibuk urusan masing-masing

Pekerjaan kantor dan rumah tidak ada habisnya.whatsapp

Bahkan, di rumahpun kadang atasan atau bawahan masih mengontak untuk konsultasi.

“Ini atasanku telpon, Ma, gak enak!”

“Ada rapat via whatsapp buat acara coaching anak-anak pegawai baru.”

“Klienku lagi punya amsalah berat, nggak bisa ditinggalkan.”

Okelah, pekerjaan adalah sumber nafkah. Tapi juga bisa sumber keretakan. Kalau sesudah urusan selesai dan kita masih sibuk dengan gadget masing-masing, yah, rasa hambar akan timbul. Kalau sampai di rumah yang menjadi tujuan adalah remote televisi atau membuka laptop, pasangan akan malas berdekatan.

  1. Bercinta kurang dari seharusnya

Capek? Stres? Sedang marahan?

Hubungan intim yang sehat sekitar 2 x sepekan. Karena kelelahan dan hasrat sudah menguap ditelan permasalahan seharian ditambah macetnya jalan; lenyapkan keinginan bermesraan dengan pasangan. Apalagi bila masalah anak-anak turut menambah bumbu jamu dalam hubungan. Apalagi masalah orangtua, keluarga besar, turut melenyapkan gairah. Padahal kata Buya Hamka, memuaskan nafsu (dengan cara yang benar tentunya) adalah tujuan melestarikan banyak hal. Melestarikan keturunan, melestarikan cinta, melestarikan hubungan.  Banyak pasangan yang karena didera banyak hal, merasakan biasa-biasa saja melakukan hubungan intim dua pekan sekali. Atau malah sebulan sekali. Tidak ada keinginan untuk membangun hasrat, entah bagaimana caranya.

Lalu tiba-tiba, muncullah seseorang yang dapat membangkitkan gariah demikian cepat!

(Nantikan buku saya yang membahas khusus bab Seksologi ya)

  1. Keuangan tersembunyi

Apakah gaji masing-masing harus diketahui pasangan? Ya!

Suami harus tahu penghasilan istri, begitupun sebaliknya. Rem lelaki, konon kabarnya, kuat mencengkram kaum Adam dari perilaku kurang pantas apabila istri yang memegang kendali keuangan. Perempuan, pun tak akan boros-boros amat bila suami tahu berapa besar penghasilannya.

“Lho, kok uangnya sudah habis?”

Meski kita kerap kesal dengan ungkapan seperti itu, tetap saja kritikan suami/istri menjadi pagar. Aduh, habis cepat saja dikritik, apalagi habis tak karuan rimbanya! Bila istri merasa sah-sah saja menyembunyikan tabungannya, begitupun suami merasa harus menyembunyikan penghasilan real nya kpada istri; ini salah satu bencana besar yang mengintai.

Money is monster!

Coba bicara jujur, apa sih yang membuat kita menyembunyikan penghasilan? Karena akan digunakan untuk membelanjakan sesuatu diluar pengetahuan pasangan. Kalau untuk beli hadiah kejutan, okelah. Tapi apa hadiah kejutan dibeli tiap waktu? Biasanya, uang disembunyikan karena kita ingin membeli barang-barang keinginan yang mungkin tidak disetujui pasangan. Baju, jam tangan, sepatu, pemenuhan hobby mahal (pancing,shopping,barang antic, fotografi). Atau, menyembunyikan neraca keuangan rumah tangga karena ada hal pelik lain yang perlu ditutupi?

 

Sinta Yudisia

Psikolog

1 Jam : Bantuan Berharga bagi Komunitas Marginal

 

 

Satu jam dapat anda lakukan untuk mengerjakan banyak hal : membaca  buku, menonton film, berjalan-jalan. Tahukah anda, ada orang yang 1 jam hidupnya digunakan susah payah belajar membaca akibat dyslexia, berlatih motorik halus karena cerebral palsy, mencoba memahami perintah sederhana bagi  penyandang  hearing impairment, bertahan melawan halusinasi bagi orang dengan skizofrenia yang terancam relapse?

World Health Organization menetapkan 15% penduduk dunia merupakan kaum disabilitas, belum termasuk mereka yang mengalami gangguan mental dan kepribadian seperti skizofrenia. Sekalipun orang-orang yang mengalami impairment terlihat cacat,  bila terasah dapat melampaui level disability bahkan tidak lagi handicapped. Tiga level yang ditetapkan WHO adalah impairment atau kecacatan, biasanya menimbulkan disabililty atau ketidak mampuan mengerjakan tugas-tugas kemandirian. Pada akhirnya memunculkan handicapped, ketidakmampuan melakukan aktivitas sosial.

Duapuluh satu juta adalah angka fantastis bagi penderita skizofrenia di dunia, dimana 50% keluarga ODS (orang dengan skizofrenia) sama sekali tidak memiliki kecakapan memadai untuk merawat mereka.

 

Kekhususan Kaum Marginal

Pemerintah tak akan sanggup menangani semua anak berkebutuhan khusus atau children with special needs yang membutuhkan bukan hanya dukungan keluarga, lingkungan, tetapi juga pendidikan yang sesuai. Anak berkebutuhan khusus mencapai 15,6% dari keseluruhan populasi.

Orang-orang disabilitas, orang-orang dengan gangguan mental dan kepribadian bukanlah sampah yang sama sekali tak bermanfaat bagi masyarakat. Kehadiran mereka merupakan anugerah bagi bangsa dan negara. Dalam konteks agama manapun, kehadiran orang yang “spesial” selalu dikaitkan dengan harapan dan kesabaran.

Aktivitas dan karya tunarungu

 

Tunarungu, diakui sebagai disabilitas yang memunculkan karakter tekun, pekerja keras juga jujur. UPT rehabilitasi di Bangil, Jawa Timur, mampu mendidik siswa-siswa yang menghasilkan keahlian menjahit beragam bentuk termasuk bordir yang halus. Bahkan, kegiatan seni budaya seperti bela diri, menyanyi, menari juga dapat dilakukan dengan trampil. Satu-satunya kekurangan mereka hanyalah pendengaran yang rusak alias hearing impairment . Namun mereka tidak lagi dianggap disability sebab mereka telah mampu menyelesaikan tugas-tugas kemandirian termasuk mandiri finansial. Bukan itu saja, tidak lagi ada gangguan handicapped yang menyebabkan mereka tidak dapat berinteraksi sosial sebab mereka dapat berkomunikasi meski menggunakan bahasa isyarat.

 

Komunitas Berbasis Keluarga dan Masyarakat

Di Indonesia, komunitas-komunitas berbasis hobi atau keluarga yang mengalami permasalahan serupa semakin banyak muncul. Kelompok ini berdiri lebih karena rasa empati, keinginan untuk berbagi dan  berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Sejak awal berdiri hingga operasionalnya, banyak yang dilakukan dengan swadaya.

Kenalkah anda dengan Safrina dan Hadi Wasito?

Safrina, FLP, Hadi Wasito

Keduanya penyandang cerebral palsy namun banyak menorehkan prestasi. Kedua-duanya aktif menulis dalam forum lingkar pena atau yang dikenal sebagai FLP. Sebagai organisasi kepenulisan, awalnya FLP hanya  bergerak untuk remaja yang peduli terhadap dunia literasi. Lambat laun semakin banyak yang bergabung termasuk kaum disabilitas. Konsep art therapy , juga writing therapy sangat sesuai untuk healing.

ryan-writing-is-healing

Menulis itu menyembuhkan

Terapi yang menyembuhkan klien dengan melepaskan emosi-emosi negatifnya, sehingga tercipta keseimbangan antara kesedihan dan harapan, kebuntuan dan semangat baru. Komunitas seperti FLP bergerak dengan dana swadaya yang dijalankan dengan patungan uang saku para pengurus serta anggota, juga hasil berjualan buku-buku.

Komunitas berbasis keluarga dan masyarakat menjadi salah satu solusi bagi masalah yang tidak tertangani pemerintah. Tangan dan kaki pemerintah dengan program APBN 2017 selayaknya merangkul elemen-elemen masyarakat yang berniat untuk melakukan perubahan ke arah lebih baik. Informasi, kerjasama, sosialisasi harus menjadi program berkesinambungan agar komunitas-komunitas mulia ini tidak hanya mekar di awal lalu mati karena kekurangan pasokan energi sumber dana.

 

Komunitas sebagai Mitra Pemerintah

Seringkali, komunitas tidak cukup tahu apakah tersedia dana bagi elemen-elemen yang membantu mewujudkan visi misi pemerintah. Alangkah baiknya bila pemerintah mempersilakan komunitas mengajukan diri kepada pemerintah daerah untuk dinilai kualifikasinya. Bila memenuhi syarat, mendapatkan bantuan layak bagi dana operasional.

Seringkali, komunitas yang ada berjalan dengan cara tradisional : yang penting jalan dengan dana seadanya, ada pertemuan rutin yang merupakan tempat berbagi semangat. Padahal, dengan sentuhan profesionalisme pemerintah, komunitas marginal  sederhana yang ada di tengah masyarakat akan berkembang lebih maju. Masyarakat seringkali tidak tahu harus kemana membawa laporan, maka pihak pemerintah selayaknya menjemput bola. Jangan sampai komunitas yang merupakan salah satu asset pemberdayaan masyarakat yang tumbuh dari keluarga atau hobi, lenyap begitu saja.

abk-peduli-kasih

Edukasi orangtua ABK komunitas Peduli Kasih, Surabaya

Komunitas ABK (anak berkebutuhan khusus) Peduli Kasih di Surabaya, dibawah asuhan dr. Sawitri mengelola anak-anak special needs dari kalangan kurang mampu. Biaya swadaya tak akan cukup untuk melayani begitu banyaknya permasalahan. Apalagi, urusan komunitas bukan hanya melatih ketrampilan anak berkebutuhan khusus. Menggelar edukasi bagi orangtua tak mampu agar lebih terbuka dan trampil dalam mengasuh anak-anak spesial, memberikan santunan berupa makanan berkualitas atau voucher hotel bagi pasangan. Bagi keluarga yang memiliki anak disablitas,gangguan mental atau gangguan kepribadian p, nyaris tak memiliki waktu pribadi untuk relaksasi. Voucher menginap semalam di hotel berbintang sungguh dapat melepaskan penat sejenak. Hanya bantuan kecil, namun bermakna.

Satu jam waktu kita dapat terbuang percuma.

Satu jam bagi special needs, skizofrenia, atau orang berkebutuhan khusus lainnya adalah waktu ajaib untuk membangun mimpi mereka.

            Sinta Yudisia

Psikolog & Penulis

 

 

 

 

Bila Pengejek dan Pengolok berbalik menjadi Pendukung

 

Jika anda memakai  jilbab seperti saya di era 90an, pasti pernah  mengalami masa-masa yang spesial ini.

“Kamu mau kayak orang Iran ya?” kata salah  seorang saudara.

“Kamu ikut aliran apa sih?”

Apalagi ketika saya membatasi pergaulan, mengurangi film dan musik, tuduhan semakin berdatangan : “kamu sekarang nggak asyik lagi diajak ngobrol.”

Ketika saya tidak mau diajak bersalaman dengan pakde paklik mereka sontak murka : “memangnya aku ini apamu, Sin? Pakde paklik merasa tersinggung sekali saya tidak mau menyentuh tangan mereka.”

Waktu nikah muda di usia 20-an tahun, lengkaplah sudah stigma cewek berjilbab : “kamu itu dipengaruhi banget ya sama suru ngaji kamu? Kamu nggak mau kerja? Maunya di rumah aja? Hah, mau anak banyak? Ampun deh! Anak dua aja susah setengah mati!”

Berlinang air mata ini. Sakit rasanya. Kalau yang menyudutkan adalah guru-guru sekolah, nggak papa. Kalau yang menyindir dan mengolok-olok teman satu geng, okelah. Kalau yang menjauh adalah klub bahasa Inggris dan klub  pecinta alam, ya sudahlah. Tapi ketika saudara sendiri yang ikut-ikutan menyindir, mengejek, menyudutkan, menuduh macam-macam; jauh di lubuk hati sakitnya tak terkira melebihi goresan yang ditorehkan orang lain.

Saya ingin pakai jilbab karena ingin menjaga kemuliaan diri dan akhirnya menjaga kemuliaan keluarga, tapi mengapa keluarga sendiri juga yang menentang? Dulu, waktu saya pakai celana pendek dan kaos rock n roll, tidak ada yang menegur. Orang pacaran dibiarkan, orang menikah dikomentari. Padahal pacaran dan menikah sama-sama menghabiskan uang. Bedanya yang satu tidak terarah, yang satu terarah.

Tetapi ternyata, apa yang dilakukan atas landasan kebenaran, semakin kokoh dari hari ke hari. Satu demi satu sepupu, paman, bibi, pakde, bude yang menentang akhirnya ikut memakai jilbab. Yang dulu memarahi karena menikah  muda, malah memuji kami. Yang menuduh aliran sesat ketika tengah mendalami agama, ramai-ramai ikut pengajian dalam segala bentuknya. Ada yang ikut tasawuf, ada yang ikut Muhammadiyah, ada yang ikut NU, ada yang lebih suka tabligh. Pendek kata, semua yang menentang saya melakukan kebaikan dulu, pada akhirnya berbalik memuji dan mendukung. Bahkan mengikuti.

 

Kebaikan akan Berkembang

Alam semesta memuai. Kita semua tumbuh dan berkembang. Kejahatan tumbuh berkembang, sebaliknya, kebaikan juga tumbuh dan mekar. Dulu pacaran diam-diam, sekarang bahkan bugil dan berhubungan intim difoto, dishare, di like dan di comment!

Demikian pula kebaikan secara hukum alam, mengikuti aksi reaksi.

Ibaratnya, dimana ada Firaun, disitu ada Musa.

Semakin dahsyat keburukan, semakin dahsyat pula kebaikan mencari celah untuk tumbuh subur. Dulu saya harus menjahit baju sendiri, memakai taplak untuk jilbab. Satu-satuunya model jilbab saat itu hanya model ala qasidah, jilbab dengan topi. Kain jilbabnya tipis dan berbentuk segitiga tipis. Sekarang? Mau cari model busana dan kerudung ala apapun, ada! Harganya tersedia di segala level. Butiknya tersedia di setiap sudut jalan.  Mau pakai celana panjang, rok, gamis, cadar, abaya, baju kurung, baju pesta. Bahkan busana renang berhijabpun, ada. Disaat orang rame-rame memamerkan foto bugil, para muslimah pun tak ketinggalan memamerkan bahwa busana syari demikian modern dan stylish.

 

Panggung pendidikan, panggung sosial dan panggung politik

Apa sih yang laris dijual?

Ih, acara-acara yang menghibur ala dunia entertaintment dong. Pentas musik, film, novel teenlit chicklit, televisi yang menayangkan sinetron. Di zaman saya dulu, jangan coba-coba pakai label Islam. Nggak bakal laku! Yang namanya sekolah Islam dan pesantren, hiiii. Kumuh, pojok, kudisan, terbelakang. Apalagi pesantren. Alamak! Ketombean, kutuan, korengan. Yang mentereng adalah sekolah-skolah internasional dan sekolah non-muslim. Ekonomi dan perbank-an? Wuah, mana ada ekonomi syariah. Mana ada bank syariah. Yang ada adalah pinjaman bunga berbunga. Masih ingat ketika mama saya dulu punya usaha apotik, setengah mati cari pinjaman ke bank. Harus bayar setoran per hari (atau perpekan ya?). Telat sedikit, atau kurang meski seribu perak, di black list.

Sekarang?

Kalau mau daftar sekolah Islam, haus antri daftar November. Padahal tahun ajarannya masih Juli Agustus! Sekolah-sekolah Islam menjamur dan luarbiasa bagusnya. Pesantren? Mau cari yang tradisional atau modern, semua ada. Yang mahal atau murah, silakan, sama bagusnya. Daycare, taman kanak-kanak, SD, SMP SMA Islam wuaahhh, kualitasnya luarbiasa.

EO wedding sampai seminar, pelatihan yang muslim; ada. Sinetron muslim, ada. Novel Islami, ada. Warung, cafe, resto, makanan, minuman, hotel, wisata Islami, ada. Motivator, ada. Yang ceramah agama laris manis sekarang. Ustadz ustadzah adalah pekerjaan bergengsi yang menghasilkan pendapatan layak. Tidak seperti di zaman saya kecil dulu, ustadz itu miskin banget!

Bank-bank syariah menjamur. Senang banget lihat pegawai bank yang cantik-cantik berjilbab; tangkas, cerdas. Hampir di tiap kantor pemerintah atau swasta gemar mengadakan kajian Islam mulai dari belajar tahsin Quran sampai belajar tentang pernikahan dan parenting.

Panggung pendidikan dan sosial kita telah  mulai merasakan indahnya nafas Islam. Islam maju, indah, mampu bersaing dan solutif. Lalu; dunia yang memuai inipun menunjukkan sunnatullah. Hukum alam.

Boleh  kan Islam mulai merambah ke dunia politik?

natsir

Mohammad Natsir

Mulailah kaum muslimin yang semakin cerdas dan sadar akan posisinya; merasakan tanggung jawab sebagai khalifah. Wah, kalau sosial dan ekonomi saja mulai merasakan keteraturan dan keberkahan ketika dikelola oleh kaum muslimin; boleh dong urusan-urusan politik serta kenegaraan diatur juga oleh kaum muslimin. Tidak dengan cara anarkis, membabai buta, main seruduk. Tapi dengan cara yang baik kok. Sebagaimaan di pentas sosial dan pendidikan, kaum muslimin juga belajar banyak menjadi tokoh di bidangnya. Kaum muslimin semakin mahir, semakin cakap mengelola permasalahan dan mencari jalan keluarnya.

Ketika lembaga zakat dan ekonomi Islam berkembang, terasa sekali masyarakat miskin dan yang amat sangat  miskin mendapatkan bantuna. Banyak anak yatim, yatim piatu, keluarga dhuafa yang terbantu ketika sakit, membuka usaha, meneruskan pendidikan.

Ketika kaum muslimah semakin mampu menjaga diri dengan busana syari dan semakin memahami agama; kehidupan di kantor dan dunia kerja semakin lebih kondusif. Masing-masing kita lebih lapang melepas anak perempuan atau istri bekerja (jika harus bekerja).

Pendidikan, ekonomi, sosial; sudah.

Tapi masih ada yang kurang.

Sebab memang pentas politik dikelola oleh orang-orang yang sangat mahir dalam menaklukan segala sesuatu. Politikus haruslah negarawan. Saya masih ingat ucapan seorang tokoh muslim, Dr. Eko Fajar Nurpasetyo, Phd, yang memilih kembali ke Indonesia meskipun ia dan keluarganya dapat hidup makmur di negeri para Shogun. Bisnis potong ayam, potong daging, dan microchipnya telah mendunia Inti ucapan beliau, “seorang negarawan, pemimpin, melihat 20 tahun ke depan. Mempersiapkan situasi dan kondisi bagi generasi sesudahnya.”

Dampak ekonomi Islam dapat dirasakan sekarang. Pendidikan yang baik membuat orangtua tenang dan membantu mempersiapkan masa depan. Kehidupan sosial yang baik membuat masyarakat lebih stabil. Tapi siapa yang dapat menajmin berlangsungnya semua itu? Bisa saja arah kebijakan berbalik arus sehingga ekonomi Islam, pendidikan Islami, dan kehidupan sosial lalu ambruk. Negarala yang menjamin berlangsungnya hal yang baik, atau yang buruk.

Jadi, tak salah kemudian kalau orang-orang sholih mengarahkan pandangan mereka ke pentas politik. Lagipula, kan memang bersaing di negeri sendiri?

 

Semua Perkara Islami Awalnya Mendapat Tantangan

Pernah menyekolahkan anak di SDIT?

Saya menyekolahkan anak-anak di SDIT mulai gedung itu masih bangunan jelek, di tanah sewaan, guru segelintir. SMPIT juga begitu. SMAIT juga begitu. Putri saya sekolah SMAIT dengan jumlah siswa segelintir. Bangunan berhantu, di gang sempit yang ujiannya masih menumpang ke sekolah lain!

Sekarang? SDIT, SMPIT, SMAIT tempat anak saya sekolah hampir selalu menolak murid setiap tahun karena tak cukup lokal. Sekolah Islam menjadi incaran pertama kali!

“Kamu itu ngapain nyekolahin anak di sekolah yang akreditasinya gak jelas? Jangankan diakui atau disamakan, mungkin terdaftar aja belum!”

Kalau sekarang saya diminta mengisi acara parenting, hal yang saya ucapkan adalah : saya bangga menyekolahkan anak-anak saya di sekolah Islam ini. Biar bangunannya jelek, tapi guru-gurunya punya komitmen tinggi dan tahu kemana kualitas pendidikan akan dibawa. Maka anak-anak kami yang bersekolah di SIT insyaallah menjadi anak-anak berkarakter.

Pertentangan, resah gelisah, maju mundur; dialami pada awal berdirinya sebuah institusi. Termasuk lembaga sosial dan perekonomian. Siapa juga yang dulu mau buka tabungan di bank Islam macam Muamalat? Mending di bank lain yang bunga depositonya jelas! Kini bank-bank Islam digemari. Bukan hanya karena semakin maju pelayanannya, rasa tentram dan barakah membuat kaum msulimin senang berinteraksi dengan layanan perbankan Islami.

Politik Islam?

“Kotor! Semua politikus busuk. Semua partai Islam korup, sama aja. Semua anggota dewan menghalalkan segala cara. Ngapain kiai dan ustadz duduk disana? Nggak kompeten. Politik itu tempatnya barang haram, maksiat, terlaknat beredar.”

Ya iyalah. Yang jadi panduan Il Prince nya Machiavelli. Jelas politikusnya kotor seperti klan Medici.

Coba yang dibaca Muqaddimah Ibnu Khaldun, pasti beda. Yang dibaca Siyasah Syariyah  Ibnu Taimiyah, pasti melek. Yang dibaca karya Buya Hamka dan Mohammad Natsir, pasti lebih semangat.

Memang bisa ya politik Islam memimpin negeri? Nggak akan menindas, main anarkis, memaksakan kehendak? Wah, yang bilang Islam selalu menindas berarti gak baca sejarah Indonesia, nih. Suku Batak itu dikepung Aceh dan Melayu sejak lama, aman-aman saja. Bali dihimpit Jawa Timur, Madura, Sasak, Bugis yang kuat sekali sisi religusitasnya; tetap damai sampai sekarang.

Mainlah kapan-kapan ke Surabaya. Kalau lewat daerah Nginden hari-hari tertentu saat misa Kristiani, mobil-mobil memacetkan jalanan sampai kita nyaris kehabisan nafas. Tapi tidak ada kok keluhan atau ancaman supaya gereja menghentikan peribadatan. Kaum muslimin menerima perbedaan keyakinan.

Ini bulan Desember. Pasti anda lihat dong dimana-mana penuh pohon Natal dan para penjaja minimarket pakai topi Sinterklas. Kita kaum muslimin sebetulnya tidak terima lho. Kan muslim mayoritas. Kok dipaksa mengadakan perayaan Natal di seantero negeri sih? Tapi sekali lagi, kaum muslimin tepaselira. Di Bali, sekolah-sekolah Islam mengikuti libur Galungan, Nyepi, Kuningan. Di kalender nasional juga. Tidak ada protes meski sebagian sekolah Islam tetap masuk.

Nah, kalau sekarang kaum muslimin masuk ke ranah politik dalam segala aspeknya, anggap saja itu hukum alam yang memuai. Boleh dong kita duduk sebagai bupati, gubernur, Panglima ABRI, menteri, presiden asalkan itu fair. Lewat pemilihan yang adil. Kalau ada hal-hal yang berjalan tidak adil, selayaknya kaum muslimin protes. Protes bisa lewat media sosial, media massa, jalur resmi, lembaga hukum, lewat anggota legislatif, dan seterusnya. Kalau semua sudah dilakukan dan masih tetap buntu, ya, aksi bersama atau demonstrasi. Eh, demonstrasi itu hal lumrah di negara manapun. Waktu rakyat Amerika tidak menerima Trump menjadi presiden, mereka demo juga. Aksi damai pernah dilakukan Mahathma Gandhi yang mengumandangkan Ahimsa-Satyagraha. Martin Luther King Jr. Juga pernah melakukan  saat menuntut kesetaraan hal sipil.

Aksi demonstrasi Islam dianggap aneh? Ya, sama seperti panggung sosial, pendidikan, ekonomi yang dianggap sebelah mata oleh pemeluknya sendiri (apalagi yang non muslim). Meski, lama-lama kaum muslimin yang menentang, justru merasakan keberkahan panggung-panggung Islami itu dan berbalik mendukung.

Awalnya, saya ragu dengan aksi 411 dan 212 : benar nggak sih ini Islami? Sampai saya datang di acara al Falah 27 November tempo hari dan mendapatkan penjelasan dari Bachtiar Nasir.

Punk muslim, laki-laki, perempuan, anak-anak di acara aksi 

 

Tapi pasti ada kan di kalangan kaum muslimin yang masih ragu, bahkan tidak setuju dan menentang agenda ini? Wajar kok.

Dalam sejarah juga terjadi.Yang menentang kaum muslimin dengan keras salah satunya bangsa Mongolia hingga mereka menghancurkan Baghdad. Tetapi sejak Chagatay, Tuqluq Timur Khan, Anada Khan, Baraka Khan, begitu banyak bangsa Mongolia menjadi muslim. Apa alasannya? Mereka punya pepatah kuno Mongolia. Pepatah yang membuat mereka berbalik memeluk Islam.

Pepatah ini cocok untuk 411 ddan 212.

“Kalau ada suatu hal yang begitu mudah tersebar sebagaimana angin bertiup, perkara itu pastilah perkara kebaikan.”

Bangsa Mongolia yang menaklukan Eropa hingga Asia ternganga : kok ada ya keyakinan yang tersebar demikian luas sebagaimana arah angin bertiup dengan mudah? Logika itu membuat mereka memahami bahwa Islam adalah kebaikan semata.

Masih tidak percaya 411 dan 212 bagaimana angin bertiup membawa kebaikan?

Kalau begitu anda harus nonton film Pay It Forward. Satu anak punya niat baik, akan menyebar ke 3 anak. 3 anak punya niat baik, akan menyebar ke 9 anak. Begitu seterusnya.

Masih belum percaya juga?

Hm, gimana ya. Gini aja.

Pasang iklan termahal untuk radio di Surabaya itu ranking pertama dipegang Suara Surabaya. Wajarlah. Itu radio FM yang kondang banget. Tahu ranking kedua siapa? Ternyata Suara Muslim Surabaya. Lho, kok bisa? Ya. Karena pendengar Suara Muslim Surabaya sangat besar meskipun pasif. Mendengar data ini saya diam-diam merenung. Padahal, Suara Muslim Surabaya itu radio keagamaan lho. Tidak menayangkan K-Pop seperti Seventeen, BTS atau EXID, Black Pink. Tidak menayangkan BMTH, SoAD atau Linking Park. Tapi diam-diam banyak pengagumnya.

Jangan-jangan kita seperti pendengar radio Suara Muslim Surabaya. Pasif, tapi diam-diam mengagumi. Meski kita menghujat, meremehkan, mencaci maki aksi para ulama dan aksi bela Islam; diam-diam ada rasa kagum juga kan? Atau diam-diam mendukung dengan dana dan doa? Kalau nggak bisa mendukung dana dan doa, jangan caci maki para ulama dan aksi bela Islam. Segitu banyak orang lagi berdoa di hari Jumat, lho. Hari keramat. Sayyidul ayyam. Kebayang gak sih kalau kita minta didoakan sama ummat Islam yang segitu banyaknya, di hari Jumat, di tengah aksi memperjuangkan kebenaran? Kalau kita nggak mau mendukung, jangan mencaci maki. Takutnya nih, ribuan doa kaum muslimin yang tangannya menegadah ke langit, mengirimkan doa-doa rahasia bagi pendukung dan pencela.

Kalau malaikat-malaikatNya turun tangan, memangnya masih ada kolong langit yang aman?

 

Sinta Yudisia, Ordinary People

 

Tanpa Surabaya, Indonesia telah menjadi Inggris : Energi Ilahiyah dalam  tabligh akbar Al Falah

 

 

Mata meleleh mendengar lantunan Quran surat al Maidah : 51-58 . Betapa sesungguhnya Allah Swt telah memberi peringatan sejak berabad lampau, tapi kita juga yang tidak memperhatikannya. Penutup acara hari itu diserahkan kepada ustadz Bachtiar Nasir , ketua GNPF MUI.  Apa yang disampaikan beliau benar-benar membuat tersentak.

Berikut adalah rangkuman dari apa yang disampaikan ustadz Bachtiar Nasir . Semoga menjadi perenungan untuk kita.

“Inggris negara sekutu terhebat di Perang Dunia II.  Tetapi oleh Surabaya Inggris,  benar benar dianggap sekutu (seukuran kutu).  Kapolri sesuungguhnya tidak pernah melarang aksi 212. Sore nanti tekanan terhadap kaum muslimin lewat kapolda dan kapolres dicabut. Perusahan organda,  bis-bis boleh menyewakan kendaraan ke Jakarta. Ummat Islam apalagi Surabaya,  semakin ditekan semakin nekat berbahaya. 10.000 orang Ciamis dilarang naik kendaraan maka sejak Senin akan jalan kaki.

Bachtiar Nasir bertanya : kalau gak boleh naik bis ke Jakarta mau naik apa?

Audiens menjawab : motor,  truk, kapal laut, booking pesawat.

Kata beliau, terlalu murah bagi orang Surabaya utk beli tiket
Saya jelaskan mulai yang kasat mata sampai yang menurut pandangan ulama. Demo empat November 3-5 x lipat dari 1998. 212 bisa lebih besar lagi.

Ada sebuah konspirasi jangka panjang. Kenapa ada yang  begitu perkasa di hadapan hukum. Ada pelumpuhan hukum sehingga hukum  tunduk pada pemodal yang menguasai pejabat. Uangnya sebetulnya sedikit. 6 ribuan trilyun uang ummat Islam  ada di Indonesia.

A*** akan dilindungi karena tidak punya niat jahat.
Kalau orang ngomong di muka umum, tidak ngelindur maka ia melakukan dengan sengaja. Kita sedang diadu domba.

Arswendo ditangkap pakai fatwa MUI. Dalam kasus A*** gak bisa pakai  fatwa MUI. Sebetulnya apa yang terjadi sehingga hukum lumpuh?
Gara gara investor politik menempatkan aktor politik untuk memaksakan kehendak. Yang menjadi pemimpin di negara ini adalah orang yang imannya setipis uang kertas.

Ini yang kasat mata.

Indonesia tidk jadi tuan rumah di negeri sendiri. Kedua, penyimpangan tafsir Pancasila dan bhinneka tunggal ika. Bhinneka Tunggal Ika kalau minoritas boleh memimpin yang mayoritas muslim. Saya memberi tahu kepada pemimpin partai. Pemimpin ormas. Anda akan menajdi fossil pemimpin jika tidak bergabung  dengan kekuatan rakyat sekarang. Ada yang memaksakan Al Maidah berjalan sehingga  apa yang terjadi sekarang.

Ingin hukum jahiliyah berlaku. Tidak  ingin Ketuhanan yang Maha Esa.

Mau tuhannya kodok. Tembok. Terserah. Maka pejabat saat ini bertuhan pada pantat dan perut. Pemimpin yang hanya menjaga pantatnya saja alias kursinya saja. Ada yang ingin hukum jahiliyah di Indonesia. Bukan Islam. Mau lesbi, gay, LGBT, transgender gakpapa.

Ketiga, Sila 4 5 sudah tidak ada. Sila Persatuan Indonesia sudah tidak ada. Dibelah menjadi ultra tiongkok dan kapitalis. Tanda-tanda komunisme sudah ada. Indikator sudah kuat. Petinggi negeri banyak yang berpikir: daripada dijajah Amerika mending dijajah Cina. Sebab Amerika 80 : Indonesia 20. Kalau Cina 20 : Indonesia 80. Bohong! Teknologi. SDM,  semua dari  Cina!

Apa yang membuat ini meledak?

Semua bersumber dari siapa yang lebih bagus hukumnya selain hukum Allah? Ada hukum jahiliyah yang ingin ditegakkan, melawan para ulama yang ingin hukum benar- benar ditegakkan.

Presiden datang ke Prabowo. Datang ke SBY. Kira-kira apa hubungannya? Orang mengira ini masalah politik.

Bukan! Ini masalah Al Maidah 51!

Kita ke Jakarta mati belum tentu membela undang- undang masuk surga. Tapi membela Quran insyaallah masuk surga.

Yang terjadi adalah energi Ilahi Al Maidah. Hari ini insyaallah panas menjadi adem. Sebagaimana api diperintahkan menjadi dingin (dalam kasus Nabi Ibrahim as). Semoga panas hari ini menjadi energi jihad. Usai deadlock, saya tidak bisa bertemu presiden. Saya ingin bertemu presiden. Tapi gak tau presiden ada dimana.

Ketika deadlock, tiba-tiba ada mentri marah pada bawahannya. Bertanya,  mengapa tidak terjadi hujan petir (buatan). Jawabnya : Pak mentri, saya sudah 4 kali bolak balik menerbangkan pesawat untuk menaburkan garam, tapi tidak terjadi hujan.

Hari itu harusnya yang mati ribuan. Berdesak desak. Suasana itu lebih lelah dan lebih padat. Kanan pagar gedung. Kiri pagar gedung gedung.
Kemarin 411 ditembaki gas air mata. Harusnya gas air mata di tembak keatas. Israel begitu. Tapi kemarin tidak begitu. Harusnya ditembak ke atas.  Sekali saja. Ini kemarin berkali-kali. Orang-orang  sedang kekurangan oksigen.

Padahal, kalau ada orang nginjak rumput diteriakkan: hati- hati provokasi. Pasukan kebersihan ada 2000 orang. Tidak pernah ada demonstrasi seperti itu. Demonstrasi ini putih. Para pemimpin itu hanya eksis di medsos. Memiliki massa itulah politik sesungguhnya. Anda yang menagakan cacing dan mencacingkan naga, tunggu tanggal mainnya. Mereka mengatakan itu cuma gerakan politik.
Mereka mempersepsikan kita seperti cacing tapi menekan kita seperti naga.

Kalau anda gagal paham anda akan tergilas. Ini aksi damai sebab ini kita cinta damai. Saat itu gas air mata dosis tinggi ditembakkan bertubi-tubi.
Supaya mike tetap di tangan ulama yang berteriak : Bertahan. Duduk. Jangan melawan. Jangan lari.

Dengan izin Allah…

Bagaimana kita menang?

  1. Aksi damai
  2. Melawan dengan bertahan
  3. Pasti menang dengan bersabar

Kalau bukam karena Surabaya, Indonesia sudah jadi negara Inggris.

Jadi tadi pagi saya minta izin pada Habib Riziq untuk  ke Surabaya.
Jangan jadikan Yahudi Nasrani teman dekat  apalagi pemimpin.

Wahai orang-orang kafir, jangan bermimpi memimpin NKRI yang muslim. Natal orang muslim disuruh pakai topi Sinterklas, awas! Kami tidak mau aqidah kami dijajah di negeri sendiri.

Selama ini Islam terpecah belah. Saat ini semuanya bersatu karena energi Al Maidah. Selama ini seminar dll tidak bisa menyatukan.

Bagaimana kaum muslimin dapat menang :

  1. Ummat terikat pada fatwa ulama. Ummat Islam faham Quran sunnah karena ilmu ulama. Setelah Quran, Sunnah, kebawah seterusnya adalah domain para ulama.
  2. Pemimpin kita adalah para ulama. “ulil amri” tafsir pertama adalah ulama, bukan presiden! Siapa yang wajib diataati, didengar, dijaga, didekati, diajak hidup bersama adalah ulama. Kitaharus tunduk pada kepempimpinan habaib, kiai, ulama. Maka jaga juga lembaga ke-ulama-an.”

 

Sinta Yudisia – Ordinary People

Ini adalah catatan sepanjang mengikuti acara. Mungkin saja ada yang terlewat atau ada yang salah. Laporan 27 November 2016 , tabligh akbar bersama GUIB JATIM.

 

Pak polisi yang cantik dan santun

Yang unik : pasukan sampah dan Punk Muslim