Mengapa Psikologi Pengantin?

ย 

โ€œBanyak hal baru di buku ini. Detail mengupas masalah keluarga dari pernik-perniknya, cocok buat yang mau menikah atau sudah menikah. Yang kita awam masalah seksologi dan trauma-trauma, mbak Sinta bisa mengupas dengan netral, yang kadang dikalangan kita tidak terpikir,โ€ Agustina, Jakarta

daftar isi Psikologi Pengantin

Daftar isi Psikologi Pengantin

Mengapa menulis Psikologi Pengantin?

Masalah pernikahan yang dihadapi pasangan muda atau pun pasangan matang, berkembang dari waktu ke waktu. Perselingkuhan, relasi dengan anak dan orangtua (juga dengan pasangan), money management, pilihan karier dan masih banyak lagi. Hal yang tabu untuk dibicarakan โ€“hubungan intim- ternyata sangat sensitive untuk segera dibahas sejak awal pernikahan agar masing-masing mendapatkan jalan keluar.

Terpanggil menulis panduan yang ringan namun memberikan informasi lebih, Psikologi Pengantin disusun.

Hal utama yang ingiin disampaikan adalah, agar setiap permasalahan pernikahan diselesaikan dengan cara bijak, ilmiah, dengan langkah-langkah bertahap yang terprogram. Bukan sekedar berlandaskan kata orang atau semata-mata keputusan emosional belaka.

Masalah seksual misalnya.

Kepada siapa kita bertanya bila ada hambatan dengan pasangan?

Ah, bukankah masalah ranjang memalukan untuk dibahas? Seolah yang mengadukan maniak dan tidak mau menerima apa adanya. Hal ini tentu saja sangat salah. Hubungan seksual adalah ibadah dalam Islam. Setiap ibadah seperti sholat,ย  zakat, puasa, haji , ada aturannya. Ada rambu-rambunya, selain hikmah yang didapatkan. Sholat perintah Allah Swt, hikmahnya berupa kesehatan fisik dan mental. Hubungan seksual adalah perintah dari Allah Swt yang sampai termaktub dalam Quran. Hikmahnya menimbulkan kestabilan emosi. Bila orang mengabaikan sholat , apakah jadinya? Sebagaimana orang menjadikan seksual sebagai permainan belaka, apakah dampaknya?

Ada beberapa hal yang bagi saya menarik untuk dituliskan.

Psikologi Pengantin membahas prewedding dan post wedding. Di antaranya pre dan post, terdapat sub bab khusus membahas seksologi. Dalam prewedding, bahasan karierku dan kariermu salah satu yang saya pribadi sukai. ย Teman-teman yang saya temui sepanjang lawatan di dalam negeri dan luar negeri memberikan banyak pengalaman baru terkait karier masing-masing . Begitupun me-time, yang tercantum dalam post wedding. Mengapa me-time penting bagiย  masing-masing pasangan? Mengapa suami tetap butuh waktu untuk berkumpul dengan teman-temannya , begitupun istri perlu waktu untuk mengembangkan diri dan menyalurkan hobby?

Lalu, apa pula isi seksologi? (bersambung)

crop cover Psikologi Pengantin

 

 

Liputan Sinta Yudisia di Chosun Ilbo (์กฐ์„ ์ผ๋ณด)

 

Alhamdulillah…senang sekali dapat diwawancarai oleh salah satu koran terkemuka di Korea, Chosun Ilbo (์กฐ์„ ์ผ๋ณด) atau Korean Daily.

Liputan acara Reading Concert di Baseurak Hall. 3 penulis yang diwawancarai adalah Sinta Yudisia (Indonesia), Batkhuyag Purekhvuu (Mongolia), Pankaj Dubey (India)

Sinta, PD, Batkhuyag at Seoul.jpg

์ž…๋ ฅ : 2016.07.04 03:00

‘์•„์‹œ์•„ ๋ฌธํ•™ ์ฐฝ์ž‘ ์›Œํฌ์ˆ’ ์ฐธ์„
5์›”๋ถ€ํ„ฐ ์„œ์šธ ๋จธ๋ฌผ๋ฉฐ ์ˆ˜ํ•„ ์จโ€ฆ ๋‚ด๋…„ ๋ด„ ์žก์ง€ ‘์—ฐํฌ’์— ์‹ค๋ ค

์•„์‹œ์•„ ๋ฌธํ•™์ด ์„œ์šธ์„ ํ–ฅํ–ˆ๋‹ค. ์„œ์šธ๋ฌธํ™”์žฌ๋‹จ๊ณผ ๋ฌธํ•™ ๊ณ„๊ฐ„์ง€ ‘์•„์‹œ์•„’ยทํ•œ๊ตญ์ž‘๊ฐ€ํšŒ์˜๊ฐ€ ์ดˆ์ฒญํ•œ ์•„์‹œ์•„ ๋Œ€ํ‘œ ๋ฌธ์ธ๋“ค์ด 1~3์ผ ‘์•„์‹œ์•„ ๋ฌธํ•™ ์ฐฝ์ž‘ ์›Œํฌ์ˆ’์— ์ฐธ์„ํ•ด ๋ฌธํ•™์˜ ๊ตญ๊ฒฝ์„ ํ…„๋‹ค. ์ด ์ค‘ ์ง€๋‚œ 5์›”๋ถ€ํ„ฐ ์„œ์šธ ์—ฐํฌ๋ฌธํ•™์ฐฝ์ž‘์ดŒ์— ๋จธ๋ฌผ๋ฉฐ ์„œ์šธ์„ ๋ฐฐ๊ฒฝ์œผ๋กœ ํ•œ ์ˆ˜ํ•„์„ ์™„์„ฑํ•œ ๋ชฝ๊ณจยท์ธ๋„ยท์ธ๋„๋„ค์‹œ์•„ ๋ฌธ์ธ 3์ธ์„ ๋งŒ๋‚ฌ๋‹ค. ์ด ์ž‘ํ’ˆ๋“ค์€ ๋‚ด๋…„ ๋ด„ ์žก์ง€ ‘์—ฐํฌ’์— ์‹ค๋ฆฐ๋‹ค.

์ดˆํ˜„๋Œ€ ๋„์‹œ ์„œ์šธ์—์„œ ์ž‘๊ฐ€๋“ค์ด ๋ฐœ๊ฒฌํ•œ ๊ฒƒ์€ ์˜คํžˆ๋ ค ์˜์ (๏ฆณ็š„) ๊ธฐ๋ฏผํ•จ์ด์—ˆ๋‹ค. ๋ชฝ๊ณจ๋ฌธํ™”์˜ˆ์ˆ ๋Œ€ ๊ต์ˆ˜์ธ ์‹œ์ธ ๊ฒธ ์†Œ์„ค๊ฐ€ ํ‘ธ๋ฆ…ํ›„ ๋ฐ”ํŠธํ˜ธ์•ฝ(41)์€ “์ด๊ณณ ์‚ฌ๋žŒ๋“ค์€ ๋ณธ๋Šฅ์ ์œผ๋กœ ๋น„์™€ ๋ฐ”๋žŒ์„ ๊ฐ์ง€ํ•ด๋‚ด๋Š” ๊ฒƒ ๊ฐ™๋‹ค”๊ณ  ํ–ˆ๋‹ค. “๋Š˜ ์—ฐํฌ๋™ ์ฃผํƒ๊ฐ€์—์„œ ํ–‡๋ณ•์„ ์ฌ๋˜ ํ• ์•„๋ฒ„์ง€๊ฐ€ ์žˆ์—ˆ๋Š”๋ฐ, ์ •ํ™•ํžˆ ๋‚ ์”จ๋ฅผ ์˜ˆ์ธกํ•˜๊ณค ํ–ˆ์–ด์š”. ๋งˆ์น˜ ๋Œ€๊ธฐ(ๅคงๆฐฃ)์™€ ๋Œ€ํ™”๋ฅผ ํ•˜๊ณ  ์žˆ๋Š” ๊ฒƒ ๊ฐ™์•˜์Šต๋‹ˆ๋‹ค.” ์ง€๋‚œํ•ด ์ธ๋„๋„ค์‹œ์•„ ‘์˜๊ฐ์„ ์ฃผ๋Š” ์ž‘๊ฐ€’์— ์„ ์ •๋œ ์‹ ๋”ฐ ์œ„์Šค๋‹จ๋ (42)๋Š” “์„œ์šธ์—์„  ๋‹ค์–‘ํ•œ ์˜ํ˜ผ์ด ์ธ์ •๋ฐ›๋Š” ๋Š๋‚Œ”์ด๋ผ๊ณ  ํ–ˆ๋‹ค. ๋ฌด์Šฌ๋ฆผ์ธ ๊ทธ๋…€๋Š” “๋™๋„ค๋งˆ๋‹ค ๊ตํšŒยท์„ฑ๋‹น์ด ์žˆ๊ณ , ๋„์‹ฌ ํ•œ๋ณตํŒ(์ฝ”์—‘์Šค) ์˜†์— ์ ˆ(๋ด‰์€์‚ฌ)์ด ์žˆ๋Š”๊ฐ€ ํ•˜๋ฉด, ์ดํƒœ์›์—” ์ด์Šฌ๋žŒ์‚ฌ์›์ด ์žˆ๋‹ค. ์—ฌ๋Ÿฌ ๊ฐ€์น˜๊ฐ€ ๊ณต์กดํ•˜๊ณ  ์žˆ์—ˆ๋‹ค”๊ณ  ๋งํ–ˆ๋‹ค.

์„œ์šธ์„ ์ฃผ์ œ๋กœ ํ•œ ์ˆ˜ํ•„์„ ์™„์„ฑํ•œ ์•„์‹œ์•„ ์ž‘๊ฐ€ 3์ธ์ด 1์ผ ์„œ์šธ์‹œ์ฒญ ์‹œ๋ฏผ์ฒญ์— ์ „์‹œ๋œ ๊ธ€๊ท€ ์•ž์— ์„ฐ๋‹ค. ์™ผ์ชฝ๋ถ€ํ„ฐ ์‹ ๋”ฐ ์œ„์ˆ˜๋‹จ๋ , ํŒ์นด์ฆˆ ๋‘๋ฒ ์ด, ํ‘ธ๋ฆ…ํ›„ ๋ฐ”ํŠธํ˜ธ์•ฝ. /์žฅ๋ จ์„ฑ ๊ฐ์›๊ธฐ์ž

์ธ๋„ ๋ญ„๋ฐ”์ด์—์„œ ์˜จ ์†Œ์„ค๊ฐ€ ํŒ์นด์ฆˆ ๋‘๋ฒ ์ด(38)๋Š” ๋‹ค์–‘์„ฑ ์•ˆ์— ๋„์‚ฌ๋ฆฐ ํ์‡„์„ฑ์„ ์งš์—ˆ๋‹ค. “์„œ์šธ์€ ๋ถ„๋ช… ๊ตญ์ œ๋„์‹œ์ง€๋งŒ ์•„์ง๋„ ์™ธ๊ตญ์ธ์— ๋Œ€ํ•œ ๊ฒฝ๊ณ„๊ฐ€ ๋Š๊ปด์กŒ๋‹ค”๊ณ  ๋งํ–ˆ๋‹ค. ์ด์–ด “ํ•œ๊ตญ ์—ฌ์„ฑ๊ณผ ์ธ๋„ ๋‚จ์„ฑ์˜ ๊ฒฐํ˜ผ์— ๊ด€ํ•œ ๊ธ€์„ ์“ฐ๊ณ  ์žˆ๋‹ค”๋ฉฐ “ํ˜ผ์ธ ๊ณผ์ •์˜ ๊ฐˆ๋“ฑ์„ ํ†ตํ•ด ์ง„์งœ ๋‹ค์–‘์„ฑ์— ๋Œ€ํ•ด ์งˆ๋ฌธํ•˜๋ ค ํ•œ๋‹ค”๊ณ  ๋ง๋ถ™์˜€๋‹ค.

์ดˆ์›๊ณผ ๋Œ€๋ฅ™, ์„ฌ์—์„œ ์˜จ ์ž‘๊ฐ€๋“ค์ด ํฌ์ฐฉํ•œ ์„œ์šธ์˜ ์†๋„๋„ ์ œ๊ฐ๊ฐ์ด์—ˆ๋‹ค. ๋ฐ”ํŠธํ˜ธ์•ฝ์€ “์„œ์šธ์˜ ๋ฐœ๊ฑธ์Œ์€ ์šธ๋ž€๋ฐ”ํ† ๋ฅด๋ณด๋‹ค ํ›จ์”ฌ ๊ธ‰ํ–ˆ๋‹ค. ์‚ฌ๋žŒ๋“ค์ด ์‹ค์‹œ๊ฐ„์œผ๋กœ ์‚ด์•„๊ฐ€๊ณ  ์žˆ๋‹ค๋Š” ์ƒ๊ฐ์„ ํ–ˆ๋‹ค”๊ณ  ํ–ˆ๋‹ค. ํ•ญ๊ตฌ ๋„์‹œ ์ˆ˜๋ผ๋ฐ”์•ผ(Surabaya)์—์„œ ์˜จ ์œ„์Šค๋‹จ๋ ๋Š” ์„œ์šธ์˜ ๊ตํ†ต๋ง์„ ์นญ์ฐฌํ•˜๋ฉด์„œ “์ง€ํ•˜์ฒ  2ํ˜ธ์„  ๋‹น์‚ฐ~ํ•ฉ์ • ๊ตฌ๊ฐ„์˜ ์ฐฝ๋ฐ– ํ’๊ฒฝ์€ ์‚ฌ๋ž‘ํ•˜์ง€ ์•Š์„ ์ˆ˜ ์—†์—ˆ๋‹ค”๊ณ  ๋งํ–ˆ๋‹ค.

์ด๋“ค์€ ํ•œ๊ตญ ๋ฌธํ•™์— ๋†’์€ ๊ด€์‹ฌ์„ ํ‘œํ–ˆ๋‹ค. ํŠนํžˆ ์œ„์Šค๋‹จ๋ ๋Š” ์œค๋™์ฃผ ์‹œ์ธ์˜ ‘ํ•˜๋Š˜๊ณผ ๋ฐ”๋žŒ๊ณผ ๋ณ„๊ณผ ์‹œ’๋ฅผ ํ•œ๊ธ€๋กœ ๋ฐœ์Œํ•˜๋ฉฐ ์—„์ง€๋ฅผ ์น˜์ผœ์„ธ์› ๋‹ค. ๊ทธ๋…€๋Š” “์ธ๋„๋„ค์‹œ์•„์—๋„ ํ•˜์ด๋ฆด ์•ˆ์™€๋ฅด(Chairil anwar) ๋“ฑ ์ผ์ œ์— ์ €ํ•ญํ•œ ์‹œ์ธ์ด ์žˆ์ง€๋งŒ ์œค๋™์ฃผ๋งŒํผ ํฌ๊ฒŒ ์กฐ๋ช…๋˜๊ณ  ์žˆ์ง„ ์•Š๋‹ค”๋ฉฐ “ํ•œ๊ตญ์˜ ๋ฌธ์ธ ๋Œ€์ ‘์— ๊ฐ๋ช…์„ ๋ฐ›์•˜๋‹ค”๊ณ  ํ–ˆ๋‹ค.

์„œ์šธ์—์„œ ๋ณด๋‚ธ 1448์‹œ๊ฐ„์˜ ์—ฌ์ •. ์ด์ œ ๊ฐ์ž์˜ ๋„์‹œ๋กœ ๋Œ์•„๊ฐ€๋Š” ์ด ์„ธ ์‚ฌ๋žŒ์€ ๋•๋‹ด์„ ์žŠ์ง€ ์•Š์•˜๋‹ค. “์„œ์šธ์ด ๊ฒฝ์ œ์  ๋ฐœ์ „์„ ๋„˜์–ด ์•„์‹œ์•„ ๋ฌธํ•™์˜ ํ—ˆ๋ธŒ๊ฐ€ ๋˜๊ธธ ๋ฐ”๋ž๋‹ˆ๋‹ค. ๊ณ ํ–ฅ์— ๋Œ์•„๊ฐ€์„œ๋„ ์„œ์šธ์ด ์„ ๋ฌผํ•œ ๋ฌธํ•™์  ์˜๊ฐ์„ ์ด์–ด๊ฐˆ ๊ฒ๋‹ˆ๋‹ค.”

ย 

  • Copyright โ“’ ์กฐ์„ ์ผ๋ณด & Chosun.com

[์ถœ์ฒ˜] ๋ณธ ๊ธฐ์‚ฌ๋Š” ์กฐ์„ ๋‹ท์ปด์—์„œ ์ž‘์„ฑ๋œ ๊ธฐ์‚ฌ ์ž…๋‹ˆ๋‹ค

Cantik Dempul , Cantik Artifisial

Putri Koneng, Kendedes, Roro Jonggrang, Dyah Pitaloka, Gayatri, ย Manohara; adalah putri-putri dalam sejarah Indonesia baik yang nyata atau legenda, terkenal karena kecantikannya yang memukau. Kendedes membuat Tunggul Ametung dan Ken Arok saling membunuh. Dyah Pitaloka konon menjadi penyebab perang Bubat yang masih misteri hingga sekarang. Manohara putra raksasa Bindireja yang mampu menaklukan hati putra Angling Dharma, Danurwenda.

kendedes

Patung Kendedes

Aku suka sekali menceritakan kisah putri-putri cantik kepada anak-anakku. Mungkin, karena rak-rak buku kami dipenuhi beragam jenis kisah. Dalam kisah putri-putri cantik tersebut, kuselipkan idealisme dan sedikit propaganda, mungkin. Bahwa definisi cantik sebagai tinggi, putih, mancung, pirang; adalah propaganda barat. Sementara perempuan-perempuan hitam, berhidung pesek, dengan tubuh gempal dianggap jelek. Whitney Houston, Florence Griffith Joyner, Halle Berry, Iman; adalah sosok cantik yang tetap mempertahankan kulit hitam mereka. Di dalam negeri, istri Presiden Soekarno Fatmawati dan Hartini adalah sosok yang cantik dengan kekhasan masing-masing.

 

Cantik Alami

Kepada putri-putriku, kuceritakan bahwa aku pernah punya teman-teman yang sangat cantik. Ini kuceritakan agar mereka tidak termakan propaganda bahwa cantik haruslah mengikuti standar tertentu. Aku punya teman di masa remaja yang bagiku sangat cantik. Kulitnya coklat, rambutnya panjang. Ia rajin sekali minum jamu dan merawat diri dengan tradisi Jawa : luluran, keramas dengan merang dan menguapi rambut dengan uap ratus wangi. Meski kulitnya coklat tua, aku masih ingat, aku senang sekali melihat rambutnya yang bagus dan wangi. Waktu itu, zaman kami , belum banyak yang pakai jilbab.

Aku punya teman-teman yang menurutku juga sangat cantik. Berhidung pesek, tapi rajin merawat muka. Meski hidung dan mulutnya kurang sedap dipandang, kulit wajahnya bersih mulus. Sehingga ia terlihat sangat menarik ketika berkerudung. Akupun punya teman-teman dengan bodi extra large yang sangat menarik. Mereka memang sangat gemuk, tapi selalu mengenakan busana serasi saat berkerudung. Mereka cerdas dan banyak pengetahuan, sehingga menjadi teman bicara yang menyenangkan. Adalagi seorang temanku yang bau badannya sangat wangi, meski wajahnyaย  biasa saja. Ia selalu tampak mengesankan di mataku. Ketika kutanya apa rahasia badannya yang tidak mengeluarkan bau badan?

โ€œAku rajin luluran sepekan sekali, Sin. Luluran sendiri aja, sambil mandi gitu. Terutama di daerah lipatan. Maklum, aku berkerudung. Banyak keringat.โ€

Ada seorang temanku dulu, yang wajahnya sangat bersih. Aku kemudian meniru caranya. Waktu itu, di Yogya, banyak sekali penjual jamu segar buatan sendiri. Sebagai gadis kami rajin minum jamu kunir asem dan jamu brotowali yang luarbiasa pahit. Jamu-jamu ini berfungsi untuk membersihkan aliran darah hingga kulit pun jadi bersih. Sayangnya, sekarang jarang penjual jamu seperti itu. Mau buat jamu brotowali sendiri, malas rasanya.

 

Cantik Dempul

Cantik buatan?

Sepanjang tinggal di Seoul dan juga perjalanan pulang kampung ketika lebaran, kudapati banyak baliho dan spanduk dari artis atau politisi perempuan. ย Wajah mereka demikian cantik. Cantik yang berkilau-kilau. Kencang tanpa kerutan. Yang membuatku terheran-heran, kenapa pipinya demikian mengkilap warna putih? Halus bak pualam. Hidung-hidung runcing seperti itu ya? Alis tebal sulaman?

Aku berdiskusi dengan ย anak-anakku masalah cantik.

โ€œLha, teman-temanku juga pada ke Spa, Mi.โ€

โ€œHa? Temanmu? Masih SMP dan SMA?โ€

โ€œBiar cantik kan, Mi.โ€

โ€œBayar berapa memangnya?โ€ tanyaku kepo.

โ€œYa, ratusan ribu, lah.โ€

Ups. Bukan iri atau cemburu, sebab aku belum pernah ke Spa. Lagipula, sebagai seorang istri dan ibu, harus dapat membahagiakan keluarga. Utamanya suami, sebab perempuan cantik di jalan banyak. Masak yang di rumah kalah cantik? Namun kebiasaan ke Spa sejak SMP dan SMA, bagiku masih mengherankan. Aku lebih suka luluran di rumah atau maskeran sendiri. Selain berhemat, sembari maskeran masih bisa masak atau mengetik. Hehe. Namun aku maklum, beberapa temanku yang super sibuk, ke Spa untuk mempercantik diri sekaligus relaksasi. Tak apalah. Juga, aku senang melihat usaha beberapa temanku di bidang kecantikan, apalagi mengangkat produk-produk tradisional.

Top cosmetic surgery procedures 2013

Namun, ngeri membayangkan demi kecantikan sampai harus operasi plastik.

Kuceritakan pada anak-anakku tentang perempuan cantik zaman dahulu.

โ€œCewek cantik itu, sudah ada sejak zaman dahulu,โ€ jelasku. โ€œDulu, belum banyak kosmetik dan oplas seperti sekarang. Jadi, yang dipercantik dalamnya dulu. Nanti luarnya cantik juga.โ€

โ€œDalamnya gimana, Mi?โ€ anak-anakku ingin tahu.

โ€œKalau orang jerawatan atau mukanya kusam, minum jamu kunir asem biar darahnya bersih. Nanti kulit wajahnya gak berjerawat. Mau lebih putih? Maskeran pakai parutan bengkoang atau rendaman beras. Badannya bau? Makan kemangi, beluntas.โ€

Kutunjukkan pada anak-anak foto-foto zaman dahulu, milik kakek neneknya. Banyak perempuan cantik di zaman itu, dengan rambut panjang dan hitam.

โ€œSupaya punya rambut hitam panjang kayak gini, harus dibasuh dengan minyak klentik sebelum keramas. Lalu keramas pakai merang. Atau pakai santan.โ€

Sekarang? Mana sempaaaaat! Tugas kuliah banyak, tugas sekolah menumpuk, bla bla bla.

Bukan itu yang menjadi soal, sanggahku. Perempuan zaman dahulu belum mengenal oplas. Belum mengenal suntikan dan injeksi, belum mengenal implant. Mereka optimalkan tubuh mereka dan merawat sebaik-baiknya pemberian Tuhan. Pesek nggak harus dimancungkan. Bibir ndower nggak harus ditipiskan. Sebagaimana bibir tipis nggak harus diimplan silicon agar lebih berisi sensual.

Dalam penutup diskusi kukatakan begini.

โ€œNggak papa kulit kalian coklat, hidung kalian nggak mancung. Tapi wajah kalian bersih, tubuh bau wangi, tampilan sederhana namun sedap dipandang. Bukan cantik artifisial atau dempul. Banyak makan sayur dan buah, masker pakai buah-buahan alami. Biar kulit kalian sehat dan cantik.โ€

Anak-anakku terkekeh.

โ€œEh, Mi, ada artis luar negeri lho! Mereka nikah, setelah punya anak cerai. Soalnya anaknya jelek bangettt. Lha si aktor sama si aktris ternyata sama-sama oplas. Pas punya keturunan baru tahu, bentuk asli pasangannya. Kwkwkwk!โ€

Nah!

Aku mengagumi beberapa artis dalam dan luar negeri, karena kemampuan aktingnya. Karena film-film mereka membawa pesan tersendiri. Tapi begitu tahu wajah mereka operasi plastic, padahal wajah aslinya sudah demikian menarik : rasanya … Sedih, karena mereka adalah role model masyarakat, utamanya kaum remaja. Bila yang cantik dan ganteng seperti itu saja operasi plastic, apalagi para remaja yang punya pipi tembem dan hidung bundar L

 

 

 

 

#23 Catatan Seoul ( & Hong Kong) : Ketika Perempuan menjadi Tulang Punggung

โ€œNak, ada uang?โ€

โ€œDek, sudah gajian?โ€

โ€œAnak kita butuh sepeda motor.โ€

โ€œRumah kita mau disita.โ€

Beribuย  masalah yang mungkin akan menjadi setebal buku telepon kuning zaman baheula untuk mendaftar permasalahan setiap keluarga, setiap pasangan suami istri, setiap anak manusia yang berjuang untuk tetap hidup.

Kali ke3 saya ke Hong Kong, tetap tak dapat menghapus kekaguman โ€“dan keperihan- melihat sekian banyak anak manusia yang hampir seluruhnya perempuan (kalau tidak dapat dikatakan 99, 99 % perempuan) berjuang demi keluarganya.

DSC_1606

LMI (Lembaga Manajemen Infaq) bersama FLP Hong Kong dan BMI berbuka puasa bersama

Enak ya di luar negeri?

Ya.

Sekilas enak.

Dengan penghasilan sekitar HKD $ 4500 atau sekitar 6 juta sekian rupiah. Dikurangi cicilan 6 bulan tagihan ke PJTKI, seorang pekerja perempuan masih dapat mengirimkan sejumlah uang dalam jumlah lumayan ke tanah air.

 

Tidak percaya rezeki?

Rezeki milik Allah Swt. Kenapa harus jauh-jauh ke negeri orang? Berpisah dari anak dan suami? Lalu akhirnya bercerai dan anak-anak terbengkalai.

Oh, cobalah datang ke Hong Kong sendiri dan nikmati situasi pagi akhir pekan di Keswick Street, KJRI, daerah Causeway Bay. Ratusan perempuan mengular memperpanjang paspor. 163.000 pekerja perempuan yang legal (belum yang ilegal)ย  bertarung setiap menit , setiap jam, setiap hari untuk dapat tetap sehat dan bekerja demi menghidupi keluarga. Akhir pekan adalah waktu mendebarkan untuk mengurus surat-surat perpanjangan.

Apakah mereka tidak percaya rezeki Allah ada di Indonesia?

DSC_1587

Lomba cerdas cermat agama, diinisiasi oleh Anna Ilham

Mereka percaya. Mereka telah mencoba sejauh ini.

Tetapi ada kejadian-kejadian pahit serta kritis yang membuat manusia bersimpuh di hadapan RobbNya sembari berkata : bila ini jalanku, jalan untuk berjuang demi keluarga dan mengorbankan diri, maka akan kutempuh.

Tak ada satupun perempuan yang berangkat pergi keluar negeri sebagai BMI dengan tawa dan kebanggaan : ini lho aku kerja di luarnegeri.

Mereka menangis meninggalkan keluarga, tahu apa konsekuensinya berpisah dengan suami minimal 2 tahun (cerai atau berselingkuh adalah realita yang dihadapi). Tetapi apa yang dapat dilakukan ratusan ribu perempuan dengan tingkat pendidikan nol, SD, SMP dan paling tinggi SMA ini? Dengan kebutuhan hidup yang membelit semakin rumit dari hari kehari?

Ada yang rumahnya disita karena suaminya kecelakaan dan habis biaya operasi puluhan juta.

Ada yang ayahnya di PHK dan ia merupakan anak tertua dari 4 bersaudara. Lulusan SMP dapat gaji berapa? Mungkin hanya 1 juta. 1 juta untuk 6 mulut?

Ada yang ditinggalkan suami, disia-siakan, kelabakan mengurus anak-anak yang kecil lalu memutuskan harus keluar negeri ketika kerja-kerja serabutan di dalam negeri tidak menutupi bahkan untuk kebutuhan sehari-hari dan sekolah anak.

Ketika perempuan menjadi tulang punggung keluarga, besar taruhannya.

Suami mereka menuntut cerai.

Atau berselingkuh.

Atau mereka tetap berstatus menikah tapi entah apa hak dan kewajiabn , serba tak jelas.

Apapun itu, saya tetap salut para perempuan-perempuan ini : mereka segera mengambil tali kendali keluarga ketika ayah, suami, abang laki-laki, adik laki-laki; tak bisa menjadi sandaran. Bukan sedikit yangย  mereka korbankan.

โ€œSaya sadar saya salah, Mbak,โ€ ungkap X. โ€œMakanya, saya bercerai dari suami dan dia saya izinkan nikah lagi. Anak saya diasuh suami. Saya pergi ke Hong Kong karena penghasilan suami sebagaiย  tukang tidak mencukup. Kami keluarga besar, ada ibunya dan saudara-sadaura. Sampai sekarang, suami masih mengandalkan saya. Saya beli sepeda motor untuk anak, dipakai dia. Alhamdulillah hubungan kami baik.โ€

โ€œIbu saya terlibat hutang, bapak saya kena PHK. Saya masih kelas 2 SMA ketika itu. Saya setahun di pondokan PJKTKI. Sebagai anak tertua saya harus ambil alih tanggung jawab keluarga sampai sekarang.โ€

โ€œSuami saya sering melakukan KDRT, saya hamil anak kedua dia selingkuh. Jangankan uang , penganiayaan sering terjadi. Akhirnya saya memutuskan berpisah, dan suami menantang apakah saya bisa mengasuh 2 anak saya? Saya pernah bekerja dalam keadaan tak punya uang sepeserpun dans aya berdoa pada Allah. Allah menjawab, sore hari ada seseorang mengirim sup ke kontrakan saya. Awalnya saya kerja di Jakarta tapi memang tidak cukup. Akhirnya saya kerja di Hong Kong.โ€

Hanya sedikit ksiah yang bisa saya tuliskan.

Airmata dan keringat tak cukup sebagai tinta pena untuk menuliskan perjuangan perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga.

Ya, mereka memang berdosa karena meninggalkan keluarga di tanah air.

Tapi apakah cukup kita mengancam dengan dosa, memaksa 163.000 BMI ย itu kembali ke tanah air? Mengancam dengan tuduhan ini itu sementara hidup kita bersama keluarga demikian nyaman, memiliki suami yang pengertian serta mencukupi nafkah? Memang, menjadi BMI ย bukan pekerjaan terbaik. Karenanya saya bangga, banga sekali. Sekian banyak BMI yang saya kenal setelah bekerja 4, 5, 7, atau 10 tahun berhasil mengumpulkan uang. Mereka menabung. Betul-betul menabung. Menyimpan bekal dan modal untuk membuka usaha bengkel, bakso atau apalah di tanah air.

 

Mereka tetap berhasrat pulang.

Meski Indonesia adalah negeri kaya yang menggoreksan luka perih dalam hidup dan perasaan, mereka tetap kembali. Tetap mengirimkan devisa ke tanah air. Sekalipun para suami tak sanggup mendampingi perpisahan itu, mereka menyadari ada titik dimana perasaan bukan satu-satunya yang pantas diperhatanakna. Mereka sadar, kebahagiaan berada di samping anak dan suami, adalah kekayaan yang demikian mewah. Namun ketika tiba harus memilih, apakah berbuat sesuatu yang tampaknya ย demikian mustahil, mengerikan, di luar ambang batas kemampuan; para perempuan ini memilih mengorbankan dirinya demi orang-orang yang dicintainya.

Kalau kita megannggap kiprah BMI di luar negeri sebagai satu dosa sebab meninggalkan suami dan keluarga demikian lama, doakan mereka dapat segera kembali. Sebab saat ini, ribuan atau bahkan puluhan ribu BMI kita di Hong Kong terancam dipidanakan akibat pemerintah Hong Kong mengambil kebijakan tegas terkait identitas BMI. Salah nama, salah tanggal, salah huruf; dianggap sebagai tindak pidana kriminal. Puluhan ribu BMI yang memiliki kartu keluarga atau E KTP tak sesuai dengan passpor; terancam masuk penjara. Bayangkan saja, bila ada kesalahan nama sepertiย  Aisyah dan Aisah, maka pihak Hong Kong menganggapnya sebagai pemalsuan identitas. Apalagi, begitu banyak kasus pengaburan identitas. Begitu banyak perempuan usia 15 tahun, atau di bawah umur, diharapkan segera menjadi tulang punggung keluarga, dikirim ke luar negeri untuk bekerja demi keluarganya. Umur mereka dipalsukan beberapa tahun lebih tua. Dan sungguh, perjuangan perempuan Indonesia seperti tiada habisnya.

IMG-20160620-WA0029

Buka puasa bersama di KJRI

Saya bersyukur dapat membersamai teman-teman FLP Hong Kong dan BMI yang luarbiasa ini dalam acara buka puasa bersama yang digagas oleh LMI (Lembaga Manajemen Infaq) tanggal 19 Juni 2016. Puasa di Hong Kong sungguh berbeda dengan di Seoul. Cuaca 33 derajat, adik-adik BMI harus ksana kemari berjalan kaki di bawah terik matahari. Mereka hanya punya libur 1 hari dan tetapย  menjalankan ibadah puasa. Terkadang, mereka menggabung buka dan sahur sebab tak mampu bangun sahur akibat kelelahan.

Bagi perempuan BMI yang masih berjuang di luar negeri, sabarlah dan tetap semangat! Teruslah belajar dan timbalah ilmu.

Bagi yang telah 4 tahun ke atas, ayo, berpikir untuk pulang dan menjadi mengusaha di negeri sendiri.

 

Psikologi Pengantin

 

Psikologi Pengantin

Cover Hijau Psikologi Pengantin

Yang punya istri pintar cari uang dan aktif di luar, eh, suaminya selingkuh juga.

Yang punya istri berkhidmat di rumah, mengabdi pada suami dan anak-anak, eh ditinggal juga.

Yang suaminya ganteng dan sholih, bukan jaminan juga istrinya tak berpaling.

Jadi pernikahan itu bagaimana sih? Bagaimana menjadikan pernikahan kita tetap seperti masa-masa pengantin?

Ada yang bilang, ย melayani suami harus lihai dapur dan kasur. Tapi tahukah anda, penemuan-penemuan di ranah psikologi dan sosialย  merumuskan hal-hal mengejutkan seputar pernikahan?

Saya terkejut dan merenung saat menelaah puluhan risetย  tersebut , lalu membuat buku sederhana ini , berjudul ย Psikologi Pengantinย yang semoga menjawab pertanyaan.

  • 5 tahun pertama pernikahan bolehlah laki-laki dirayu dengan kasur. Tapi ternyata, ada lagi yang dibutuhkannya. Simak diskusinya di buku ini ,ya.
  • Ada permasalahan kunci dalam pernikahan suami istri yang seringkali tabu dibicarakan. Atau sekali dibicarakan, bisa berujung ledakan. Apakah sex? Atau yang lain?
  • Ada beberapa titik penting pernikahan yang kalau diperhatikan seksama, dapat menjadikan suami istri pengantin sepanjang masa.
  • Buku ini mungkin vulgar di beberapa bagian, terutama hubungan intim suami istri. Tapi percayalah, membahas hal tabu yang dalam Islam bernilai ibadah, lebih baik dibicarakan dalam konteks ilmiah daripada mencuri-curi pengetahun dari google serta youtube!

 

Untuk pemesanan Psikologi Pengantin (harga 40 K) ,

Kontak Penerbit Indiva atau

Vidi 0878 -5153 -2589

Ayyasy 0856- 0865-4369

 

Nantikanย  kuis-kuis menarik seputar Psikologi Pengantin yang berhadiah macam-macam gantungan kunci mancanegara !

 

 

#22 Catatan Seoul : Tertarik Islam karena Mayat

Ibu Farida atau Moon Hyun Joo, cukup lancar berbahasa Indonesia. Beliau pernah bekerja di kedutaan Indonesia dan menjadi istri orang Indonesia.

Feby, bu Farida, Sinta

Feby , bu Farida (Moon Hyun Joo), Sinta

Bagi orang Korea, agama tidaklah penting.

Berbeda dengan Jepang , kuil dan candi ditemukan hampir di setiap kota. Maka di Korea Selatan, nyaris tak ada tempat peribadatan warga setempat yang menunjukkan ciri religiusitas. Ajaran khas Konfusianisme masih dipegang teguh terkait kesederhanaan dan kedisplinan namun ajaran agama yang merasuk di relung hati, tak banyak diyakini masyarakat Korea Selatan.

Setelah suaminya meninggal, ibu Farida atau Moon Hyun Joo merasa kehilangan pegangan. Ia mencari pegangan dari satu demi satu agama yang dipelajarinya. Ucapan bismillah dan alhamdulillah dilakukannya ketika mengendarai mobil.

Asean 8

Prof Koh Young Hun, Feby, Sinta

Lalu kami bertemu dengannya, ketika saya dan Feby menghadiri acara Profesor Koh Young Hun di gedung Asean Korea Centre, Press Centre, Junggu โ€“ Seoul City Hall. Kami lalu mencari tempat nyaman untuk diskusi.

 

 

 

 

ASean6

Menjelaskan tentang sastra Indonesia terkini di ASEAN KOREA CENTRE

 

Ada hal-hal yang membuat Moon Hyun Joo tertarik pada Islam :

Adzan

Setiap kali mendengar adzan, hatinya merasa sangat senang, bahkan beliau berkespresi sambil mengatakan, โ€œhati saya senaaaaang….sekali setiap dengar adzan!โ€ sembari tangannya melekat di dada. Seolah-olah menggambarkan ekspresi kebahagiaan luarbiasa tiap mengingat ucapan adzan yang magis. Ingat tulisan saya tentang muallaf ย Maryam Itaewon ?

 

Prosesi penguburan.

Ketika suaminya meninggal, hanya selembar kafan yang menyelimuti. Moon Hyun Joo masih ingat, ia sempat marah dengan prosesi penguburan itu. Mengapa tidak ada barang yang boleh dibawa? Bahkan putrinya, Diana, ingin menyelipkan sebuah surat berisi ungkapan cinta kepada ayahnyapun tak diizinkan?

โ€œMasa sih bawa sebuah surat aja nggak boleh?โ€ kata Moon Hyun Joo.

Ada ungkatan unik darinya, โ€œtapi entah mengapa ya, setelah kematian suami, kita seperti dilahirkan kembali. Kita seperti berada di kehidupan yang kedua. Setiap ajaran suami, setiap kata-katanya terngiang.โ€

Prosesi penguburan yang sederhana membekas di benak Moon Hyun Joo dan ia menyadari memang tidak ada yang perlu dibawa manusia ketika mati nanti. Bagi Moon Hyun Joo, hanya Islamlah satu-satunya ajaran yang ia kenal, memperlakukan mayat dengan cara sangat berbeda. Hampir semua agama yang dikenalnya dan saat ini ia coba untuk pelajari; memperlakukan mayat seperti manusia hidup. Didandani, diberikan bekal pakaian dan harta. Seolah-olah kehidupan di alam kubur menyerupai alam dunia yang serba berdimensi materi.

Islam berbeda. Islam mudah.

Begitu seorang manusia berstatus sebagai mayat, tak ada lagi bahan kecil berdimensi materi yang dapat menyertai, apalagi menyelamatkannya. Hanya entitas-entitas ruhani, ukhrawi dan keghaiban yang menyertai perjalanan rahasia manusia menemui TuhanNya.

 

 

 

#21 Catatan Seoul : Identitas yang Paling Mudah

Bu Widya namanya. Posisi dan pengalaman beliauย  tak dapat dijabarkan dengan curriculum vitae seperti biasa. Takdir sebagai pendamping suami membuatnya tinggal di Seoul untuk sementara waktu. Ketika ditanya, beliau pernah tinggal di negara mana saja, beliau lupa. Sejak kakek nenek, orangtua, hingga beliau suami istri dan kakak adik serta putra putri beliau; melanglang ke berbagai negara. Amerika, Swiss, atau negara-negara Asia Afrika pernah beliau jajagi. Ketika pertemuan keluarga besar, tak lagi dapat dibedakan anak-anak atau cucu-cucu sekarang menggunakan tradisi yang mana. Apakah barat yang egaliter? Apakah timur yang santun dan pemalu? Apakah timur tengah yang sangat strict?

Bu Widya, diusianya yang paruh baya sangat cantik dan sederhana (sayangnya beliau tak bersedia difoto hehe). Gaun lengan panjang dan jilbab kain yang melilit kepala, tanpa beragam perhiasan mencolok bergemerincingan. Diskusi dengannya mengalir mudah di sela-sela buka puasa di Saetgang, KBRI senja itu.

makan di bu yanti

Islam adalah identitas yang paling simple

Satu ungkapan beliau yang simple namun menohok, ketika saya bertanya apakah anak-anak, cucu-cucu, keluarga besar yang tinggal di beragam negara tidak mengalami culture shock atau kejutan budaya?

โ€œKetika kami tinggal di beragam wilayah negara, atau kembali berkumpul, kami hanya mengenakan identitas Islam. Titik. Itulah identitas yang paling mudah untuk dikenakan.โ€

Wow.

Identitas Islam.

Betapa indah dan mudah. Ketika kita tinggal di barat yang serba terbuka, egaliter, permisif; Islam menjadi rambu-rambu yang membatasi namun mempersilakan manusia mengambil ilmu seluas-luasnya. Gaya barat yang berbicara terus terang, apa adanya, tak memperhitungkan kasta; tak masalah selama mereka menghormati kebebasan kita beribadah dalam segala aspeknya.

Ketika tinggal di Korea dan Jepang yang dikenal pekerja keras, berbahasa penuh filosofi dan kesantunan layaknya orang timur; tak masalah juga. Selama kita dapat mengikuti karakter bekerja dan belajar tanpa menanggalkan identitas utama.

DSC_1115

Maryam yg istiqomah berhijab

Mau makan roti tawar atau roti ish, mau ditawarkan soyu atau sake, mau sakura Jepang atau kaktus gurun Sahara; ketika waktunya Ramadan ya berpuasa. Ketika waktunya sholat, ya tegakkan. Ketika belanja, belajar, bekerja ya kenakan busana menutup aurat sesuai musim. Ketika menemukan halal haram ya pisahkan.

Tinggal di 4 musim?

Tak perlu bingung dengan baju bulu di musim salju, atau tank top dan hotpants di musim panas, baju musim semi atau musim gugur. Kenakan pakaian seperti biasa, yang menyerap keringat, yang lembut di kulit. Tinggal tambahkan jaket tebal bila musim dingin tiba dan jangan lupa kerudung yang menutup kepala bagi perempuan untuk segala musim. Model, bahan, corak, motif, keluaran butik Indonesia atau italia; terserah saja.

Tak ada benturan Amerika atau Jepang, Indonesia atau Maroko, Malaysia atau Korea; sepanjang indentitas Islam dikenakan. Ketika harus lentur mengikuti karakter budaya tertentu, wajarlah, apalagi bila minoritas berada di tengah mayoritas.

Terkesan pula dengan cerita teman-teman FLP Hong Kong yang semuanya bekerja sebagai BMI. Bagaimana mereka menjelaskan Ramadan kepada majikan.

โ€œOh, aku sarapan kok, Bos! Cuma lebih pagi. Makan malam seperti biasa. Hanya makan siang aja yang gak dilaksanakan.โ€

Penjelasan seperti itu membuat si bos mengangguk, dan tidak khawatir pekerjanya mati kelaparan. Identitas Islam tetap dapat dikenakan oleh buruh seperti BMI atau ibu-ibu pejabat seperti bu Widya.

Kalau suatu saat, kita mendapatkan kesempatan melanglang buana dan tinggal di berbagai negara; jangan lupa, identitas Islam adalah identitas yang paling mudah dikenakan.