Kategori
Artikel/Opini BERITA Hikmah Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Renungan Hidup dan Kematian Surabaya Topik Penting Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Susahnya Cari Masker!

Awalnya, kami berniat hanya menyalurkan uang donasi ke lembaga kesehatan dan lembaga ziswaf. Dana yang ada di kami lebih dikhususkan untuk membantu dhuafa saja. Tetapi, ada donatur yang berharap komunitas kami membantu alat kesehatan. Dan, mereka meminta bukti dari barang-barang yang kami beli.

Terus terang, membeli sembako tidak semudah yang dikira, di hari-hari belakangan ini. Harus beli maksimal 10 kg beras, sehingga perlu beli ke beberapa toko. Tapi itu masih dapat diatasi. Masker? Nah, ini lain perkara.

Harga masker, meroket akhir-akhir ini. Satu box yang biasanya hanya 30-50 ribu; sekarang menjadi sepuluh kali lipat. Baru saja datang sepuluh box masker pesanan seharga 300 ribu, penyedia sudah memberitahukan untuk pesanan berikut harga naik menjadi 320 ribu.  Itupun kalau barangnya ada!

Ternyata, masker harus indent dan kita perlu hunting. Macam-macam cara mendapatkannya, macam-macam pula tantangannya. Selain harus bergegas pesan kalau ada info, hati ini deg-degan apakah barangnya akan sampai tepat waktu. Ada beberapa kejadian yang perlu kita pelajari bersama :

♣☻Beberapa orang japri karena saya dan teman-teman  galang doansi. Mereka menawarkan masker. Siapa gak ngiler dengar kata “N95” belakangan ini? Harga 1 boxnya buat geleng-geleng kepala. Ketika saya diskusi dengan teman dokter , justru mereka bilang ,”itu murah bu Sinta! N95 jaman sekarang yah emang gila-gilaan.” Murah ya? Pikir saya. Saya tentu berniat memborong. Untungnya, si dokter bilang, “Mbak Sinta, tolong pastikan ya, kalau maskernya bukan reuse.”

Untungnya saya belum transfer, dan memang gak jadi beli. Entah barang habis atau ada kendala lain, kontak kami terputus ketika saya bertanya kepada penjapri tentang kepastian barangnya masih baru atau sudah reuse.

♣☺Gerak cepat. Ketika ada orang posting di grup  bahwa ia punya persediaan masker, terlambat beberapa menit barangnya sudah habis. Beruntung, saya punya teman yang bekerja di lab dan ia japri menawarkan masker mirip N95. Saya percaya karena selama ini track recordnya memang amanah. Tapi, saya hanya bisa pesan 1 box karena harus berbagai dengan yang lain. Gakpapa lah, pikir saya. Daripada gak ada sama sekali. Itupun masih menunggu berita. Dan kita harus stand by memegang hape karena bila tak jadi membeli, atau slow response, banyak sekali para pembeli di luar yang bersedia.

♣►Menyesal karena gak beli banyak. Inginnya beli langsung banyak. Tapi khawatir juga : apa barangnya ada? Apa barangnya bisa sampai? Apa kita tidak dibohongi? Meskipun pesan ke teman baik sendiri. Bukan teman kita bohong, tapi bisa jadi rekanannya. Maka ketika seorang teman menawarkan masker , saya percaya padanya dan membeli 10 box. Menyesal, karena ketika barang datang tepat waktu; mau pesan lagi sudah gak bisa.

Masker sudah di tangan. Tinggal didistribusikan ke RS. Sekarang, bingung cara menghantarkannya karena kondisi lockdown dan kita diwanti-wanti untuk gak banyak keluar rumah. Akhirnya barang dibawa kurir. Ada pesan teman dokter yang membuat kita waspada, “Mbak Sinta, jangan sampai kurir tahu itu isinya masker ya. Tolong ditutup raat-rapat.” Saya baru sadar, harga 1 box masker  hampir sama dengan 0.5 gram emas! Tentu, kita tidak perlu suudzon pada setiap orang tapi waspda dan hati-hati.

Alhamdulillah…masker sudah tiba di tangan yang tepat. Sedikit memang yang baru bisa kita perbuat bagi ummat, tapi rasanya bahagia sekali membayangkan para dokter dan perawat menggunakan masker donasi kita. Ada japrian seorang teman dokter yang membuat saya teriris-iris :

“Kami di sini sudah maju nyaris tanpa pelindung sama sekali, Mbak.…”

Membayangkan dokter dan perwat menangani pasien di era ini tanpa APD, tanpa masker; rasanya seperti menghantarkan pejuang kesehatan ke areal pemakaman.

Selamat berjuang , para dokter, perawat, apoteker, petugas kesehatan  dan semua pahlawan Covid19!

#GoodwillMovement

#Lawancoronabersama

#Lawancovid19

#ayobersama

#ayolebihbaik

Supported by :
👷‍♂️👷‍♀️Ruang Pelita Surabaya
Kiky 0856- 0612- 5200
Putri 0822- 2183-8498

Kategori
Artikel/Opini BERITA Hikmah My family Oase Renungan Hidup dan Kematian Suami Istri Surabaya Topik Penting Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Tuhan, Terimakasih Telah Beri Kami #Lockdown

Pernah di rumah lebih dari 2 minggu? Belum pernah, kan? Apalagi emak-emak. Seriing banget kita bilang

“Kapan libur, ya, kapaaan??”

Gegara capek anter anak sekolah pulang balik.

Gegara harus antar si kakak les dan si adek TPA.

Gegara harus ke pasar, urus ini itu, kondangan dan seterusnya. Bahkan, Sabtu Minggu itu sering banget jadi hari paling sibuk sedunia. Yang anaknya minta diantar beli bahan-bahan prakarya. Yang suaminya minta dimasakin special. Yang ada saudara hajatan. Tetangga kondangan. Acara RT RW dan lain-lain. Itu belum agenda kita pribadi ya? Namanya enak-emak adaaaa aja repotnya.

Sabtu Minggu kadang malah terpikir buat bikin seprei baru, atau baru keingat kalau barang-barang kecil di rumah udah nyaris lenyap : benang jarum, peniti, kaos kaki bulukan, pisau pada rusak. Akhirnya kalau akhir pekan disempatkan buat beli keperluan dapur dll yang kayaknya kecil tapi besar urusannya ketika pagi hari si anak teriak :

“Kancing baju seragamku lepas , Maaaa!”

Mau cuti?

Emak kagak pernah ada cutinya. Kalau suami sakit, masih ada istri yang pontang panting buatkan bubur. Buatkan agar-agar. Begitupun kalau anak-anak sakit. Kalau emak sakit; boro-boro tidur. Baru terpejam sebentar udah diganggu

“Ummi, ada tukang sayur. Mau belanja apa?”

Kata anak-anak, “udah Ummi istirahat. Biar kita yang ngerjakan.”

Nyatanya sampah numpuk, cucian numpuk. Mau nyalahin anak? Gak bisa juga.

“PRku banyak, Miii!”

Mau istirahat gegara badan meriang flu berat, eh suami tugas keluar kota. Jadilah kita ojek yang antar jemput anak. Pokoknya, jadi emak emang jihad fi sabilillah. Baru benar-benar bisa tertidur  ketika malam tiba. Atau di atas 00. Itupun kalau gak punya baby, lho ya. Kalau punya baby…jangan harap.

Lockdown

Datanglah hari anugerah sedunia. Semua harus di rumah. Gak ada urusan kantor. Gak ada urusan sekolah. Emang sih, harus mikir berkali-kali lipat untuk masalah ketahanan pangan dan keuangan yang menipis. Tapi Mak, ini juga bagian sangat penting dari diri kita.

Lockdown tubuh.

Lockdown pikiran.

Kapan terakhir kali seorang Emak bisa tidur lebih dari 30 menit?

Kapan terakhir kali seorang ibu bisa mengistirahatkan pikiran dari antar jemput, belanja ini itu, persiapan ini itu? Lelah juga lho, lahir batin.

Sekarang, semua di rumah. Suami. Anak-anak. Bukan kondisi ideal 100%.

Tapi 14 hari atau 2 pekan di rumah itu masa berlian banget buat kita jalin komunikasi, buat kita jalin kedekatan, buat jalin apa yang koyak dari hubungan kita gegara hidup ini kadang udah gak normal kecepatannya.

Percayalah.

Anak-anakku akhirnya capek kok main gadget, dan kita duduk melingkar ngobrolin ini itu. Becanda . saling menggoda. Anak-anakku nyerbu dapur, masak seadanya dan si Emak ini bisa duduk-duduk buat ngetik dan baca buku. Anak-anakku bikin agenda macam -macam di rumah dan aku bisa ngobrol dengan suamiku : berjam-jam.

Catat ya, Mak : berjam-jam!!

Baru kita ingat bahwa masa honeymoon dengan pasangan kita dulupun tak sempurna, dan sekaranglah honeymoon kedua. Jadi para Ibu, Bapak, anak-anak; nikmati masa lockdown fisik dan psikismu. Pasti ada yang pulih sesudah ini. Sesuatu yang sangat jauh di luar bayangan kita.

Kamu rinduh sekolahmu, yang selam ini kamu umpat karena membebanimu dengan PR.

Kamu rindu teman-teman sekolah yang selama ini kamu anggap duri karena sering ngebully.

Para bapak merindukan tempat kerja, yang selama ini dikeluhkan karena beban dan gaji yang sedikit.

Para emak merindukan tukang sayur yang selama ini disindir karena gak mau ditawar-tawar.

Dan…berapa banyak kaum muslimin yang rindu datang ke masjid, setelah sekian lama meraka merasa masjid terlalu bising menyuarakan adzan dan selalu berisik dengan nasehat-nasehat?

Tuhan..terimakasih, Kau beri kami #lockdown.

Kupikir awalnya ini hukmanMu

Ternyata ini adalah cara luarbiasa Engkau menyayangi kami. Agar kami berdiam di rumah sesaat sembari mensyukuri setiap hal kecil yang Kau berikan : masih ada keluarga di dalam rumah, masih ada beras untuk ditanak, bisa jamaah lengkap sekeluarga.

Sebelum #lockdown, keluarga kami tak pernah selengkap ini, Ya Allah.

Jadi Bapak Ibu, anak-anak sekalian. Nikmati masa #lockdown bahagia ini. Belum tentu 10 tahun ke depan, kita punya waktu libur  -sebenar-benar libur- selama beberapa pekan dengan komposisi anggota keluarga lengkap tanpa diributkan tetek bengek agenda di luar.

#GoodwillMovement

#lawancoronavirus

#lawancovid19

#ayobersama

#ayolebihbaik

Supported by :
👷‍♂️👷‍♀️Ruang Pelita Surabaya
Kiky 0856- 0612- 5200
Putri 0822- 2183-8498

Header artikel ini diambil dari Republika tentang Corona

Kategori
Artikel/Opini BERITA Cinta & Love Oase Renungan Hidup dan Kematian Surabaya Topik Penting Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Meski Bukan Rachel Vennya

“Influencer bisa langsung mengumpulkan 3 M,” kata anakku memuji Rachel Vennya, sangsi dengan semangatku dan adik-adik Ruang Pelita yang menggagas #GoodwillMovement

“Yah, kita memang bukan Yoona, IU, Song Jong Ki, Irene yang bisa langsung nyumbang masing-masing 1 M,” kataku, menyebut artis KPop yang donasi 100 juta won. Belum lagi Suga BTS, Irene Red Velvet, juga Bong Jong Hoo sutradara Parasite.

Para artis, selebritis, influencer memang bisa mengumpulkan uang dengan mudah. Tapi bukan berarti ciut nyali, bukan? Sebab keinginan orang berdonasi macam-macam. Ada yang menyumbang karena merasa percaya, merasa dekat, dan merasa hanya punya sedikit uang untuk bisa disumbangkan.

Meski sudah banyak lembaga yang melakukan gerakan, sebetulnya tidak akan cukup untuk sebuah kasus besar.  Rachel Vennya mungkin berhasil mengumpulkan donasi dengan jumlah fantastis. Sekali menyumpang belasan, puluhan hingga ratusan juta. Saya dan adik-adik di Ruang Pelita mengumpulkan sekitar puluhan hingga ratusan ribu. Tapi siapa yang akan mengumpulkan donasi orang yang ingin (mampu) menyumbang Rp 500, Rp 1.000, Rp. 5000? Pasti tetap dibutuhkan oleh masyarakat luas pihak-pihak yang mau mengumpulkan donasi sedikit demi sedikit.

Kamis (19/03/2020), kami mencoba memulai #GoodwillMovement. Tujuannya menggalang donasi dari teman-teman, sahabat lama, tetangga. Sedikit demi sedikit mulai terkumpul; yang nantinya akan disalurkan ke lembaga kesehatan dan lembaga ziswaf terpercaya. Bukan sekedar donasi, #GoodwillMovement berusaha membangun kembali silaturrahim dengan orang-orang yang  sejak lama terlupakan dari memori karena kesibukan masing-masing. Mencoba membangun kepedulian kepada orang yang masih harus berkeliling di masa lockdown : tukang sayur, tukang kebersihan, satpam, dsb

Menyusuri nama-nama di phonebook, betapa banyaknya teman lama yang tidak tersapa.

Selalu saja, ada hikmah di balik sebuah bencana. Adik-adik Ruang Pelita menyiapkan default laporan :

Nama :  (nama penyumbang)

Donasi : jumlah

Ditujukan : IMANI care/ LMI/ Ruang Pelita atau Lembaga yang ditunjuk

Permintaan khusus : mohon didoakan atas hajat atau doa atas orang-orang tertentu.

Mengharukan sekali permintaan para donatur. Ada yang memohon agar sekeluarga diselamatkan dari wabah, ada yang meminta didoakan agar kedua orangtuanya yang lansia segera pulih , ada pula yang berharap agar wabah ini segera lenyap dari bumi Indonesia.Covid-19 ini memang mengerikan. Tetapi ada  kebahagiaan tak terperi ketika di malam hari, masih ada yang menjapri, memberitahukan bahwa ia baru saja mentransfer donasi.

“Kalau ada gerakan lagi, saya diberitahu ya, Mbak.”

Masyaallah. Selalu ada orang-orang yang rela berbagi pada sesama.

#GoodwillMovement

#lawancoronavirus

#lawancovid19

#ayobersama

#ayolebihbaik

Kategori
Artikel/Opini Oase Renungan Hidup dan Kematian Surabaya Topik Penting WRITING. SHARING.

🌱🌿🍁🌸 Goodwill Movement : 1 menyelamatkan 5 orang dan Berkelipatan! 🍁🌸🌿🌱

Hayooo, bergerak melakukan goodwill movement seperti yang digagas Trevor Mc Kinney, bocah 12 tahun dalam film Pay It Forward (2000). Kalau 1 orang mengajak 5 orang melakukan kebaikan, lalu masing-masing orang mengajak 5 orang lagi melakukan hal yang sama dan begitu seterusnya; maka kebaikan akan cepat menggelinding bagai bola salju.

Apa yang harus digulirkan?

  1. Infaq/ sedekah untuk para pejuang garis depan pahlawan Covid-19. Berapa harga barang yang dibutuhkan untuk penanggulangan Covid 19? Baju pelindung disposable ( Hazmat Suit ) : Rp. 350.000-500.000 . Sarung tangan handscoon : Rp. 55.000-100.000
    Belum lagi masker, kacamata, dll. Padahal harus sekali pakai dan paramedis di lapangan bisa mencapai seribu orang. Terbayang beratnya beban pemerintah pusat dan daerah, bukan? Tentunya beban kita bersama juga.

Lee Min Ho, BTS, EXO, TWICE, Red Velvet bahkan sutradara Parasite Bong Joon Ho rame-rame berdonasi untuk mengatasi Covid 19. Banyak sudah institusi yang menggagas ini seperti lembaga zakat, lembaga profesi, masjid, gereja, dll. Kita tinggal men’colek’ teman dan mengarahkan . Setiap hari, ingatkan 5 orang saja minimal. Meski cuma Rp. 1000 rupiah, bayangkan yang terkumpul kalau seluruh kelurahan dan kecamatan ikut bergerak.

Berikut beberapa lembaga dan komunitas yang menyalurkan donasi untuk pahlawan garis depan Covid 19 , silakan dipilih 😊

👉🏻 IMANI Care , Bank Syariah Mandiri : 74141-741-77 (kode donasi 019, misal Rp. 100.019) ➡ Lembaga kesehatan
👉🏻 LMI (Lembaga Manajemen Infaq), Bank Syariah Mandiri : 708-2604-191 (kode donasi 83, misal Rp. 100.083) ➡ Lembaga ziswaf
👉🏻 Ruang Pelita (Ruang Pendampingan Psikologi & Literasi) :
Sinta Yudisia Wisudanti, Mandiri 142-00-1673-5556 (kode donasi 019, misal Rp. 100.019) ➡ komunitas

2⃣Alternative gerakan selama masa isolasi, karantina, restricted movement , lockdown :

👴🏽Tidak semua orang paham makna isolasi & karantina. Semisal, para orangtua yang tak familiar dengan gadget atau tak rajin nonton televisi; masih sering ke masjid. Siapkan kotak besar, tempat sajadah sekali pakai. Sajadah, mukena ; bisa langsung diletakkan ke situ untuk dicuci

🏎Tukang sayur, tukang bakso, tukang sampah dll. Selain mencari nafkah; mereka ternyata juga masih dibutuhkan para emak-emak yang terpaksa terisolasi di rumah. Berikan mereka vitamin C, masker kain. Ingatkan untuk sering cuci tangan. Ingatkan untuk jangan menggosok atau menggaruk areal muka. Memang ini tidak maksimal, tapi lebih baik daripada kita tidak membantu sama sekali, bukan?

👻Setiap warga sedang stress saat ini. Dari pejabat negara hingga pejabat rumah tangga. Setiap hari, sempatkan mengirim 1 meme lucu/ kisah lucu untuk menghibur. Tertawa itu sehat lho.

🤲🏻Dan, jangan lupa setiap hari, kirimkan doa khusus bagi 5 saudara kita minimal (sebut namanya secara lengkap, syukur-syukur dengan pasangan + anggota keluarganya). Minta 5 teman untuk mengirim doa ke 5 teman lagi, begitu seterusnya.

📞Selama wabah ini, tanyakan kepada 5 orang teman/tetangga. Apa yang menjadi hajat mereka? Siapa tahu mereka butuh sesuatu. Dan kita juga butuh sesuatu. Sebutir telur, atau 5 sendok gula pasir akan sangat membantu ketika toko-toko tutup. Japri, ya. Siapa tahu ada yang sungkan di grup. “Ih, masa minta bawang merah sih? Masa minta paracetamol? Gula? Garam?”

#lawancoronavirus

#lawancovid19

#sebarkebaikan

#tanamkebaikan

#gerakankebaikan

Supported by :
🕵🏻‍♀🕵🏻 Ruang Pelita – Surabaya
Kiky: 0856-0612-5200
Putri: 0822-2183-849

Kategori
Artikel/Opini BERITA Hikmah Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Renungan Hidup dan Kematian Tokoh Topik Penting

Hikmah Coronavirus ( Covid – 19)

Lockdown. Death toll. Banned. Precaution. Pandemic.

Melihat berita-berita luar negeri dan dalam negeri ngeri rasanya. Kondisi di hampir semua negeri sama. Saya tak akan menambahi kepanikan dan stress. Justru ingin melihat hikmah di balik terjadinya pandemic yang tak pernah diperkirakan akan terjadi di awal 2020  yang penuh harapan ini. Memang, bila diperhitungkan secara ekonomis banyak sekali kerugian yang diderita. Sektor pariwisata, perhubungan baik darat-laut-udara, perdagangan, pendidikan, dsb. But, there’s always blessing in disguise, right? Selalu ada hikmah di balik musibah.

  1. Waktu lebih banyak di rumah.  Masih teringat jelas kasus NF, remaja yang membunuh anak perempuan 5 tahun. Kekeringan psikologis dalam keluarga dapat menyebabkan penyakit yang tak kalah dengan Covid-19. Anak-anak yang libur sekolah, mahasiswa yang dihimbau pulang ke kampung halaman, larangan untuk banyak berada di luar ruangan; menyebabkan mau tak mau orang berada di dalam rumah. Ini saatnya untuk konsolidasi keluarga. Ngobrol, curhat, bercanda. Hal ini bisa menyirami kembali kekeringan psikologis. Saling bertatapan, mendengarkan cerita, akan dapat menyebabkan cinta dan kasih sayang bersemi kembali.
  2. Kesadaran kesehatan. Sebelum ini, begitu banyak orang meremehkan hal-hal baik terkait kesehatan. Orang rela begadang nonton dan nongkrong. Rela capek-capek jalan-jalan. Lebih suka makan junk food daripada makan sayur buah. Sekarang; orang memburu sayur dan buah. Lebih memperhatikan waktu istirahat. Ini adalah kecenderungan hidup yang lebih baik
  3. Kesadaran diri. Apakah kita menyadari bahwa tubuh sudah lelah, agak demam, sedikit nyeri di sana sini? Tuntutan hidup di kota metropolis dan kebutuhan finansial, kadang membuat kita mengabaikan alarm kecil tubuh. Nanti kalau betul-betul ambruk, baru sadar. Banyak teman saya dan teman suami yang tahu-tahu….meninggal karena jantung, stroke, bahkan kanker! Begitu tidak berharganya tubuh kita sehingga terus diforsir untuk memenuhi kebutuhan eknomi. Sekarang, kita akan mencoba amanah terhadap titipan Tuhan ini. Tenggorokan kering, kepala pening, nyeri sendi; pertanda sudah waktunya istirahat. Dan, seiiring tubuh diistirahatkan, pikiran insyaallah istirahat. Kontemplasi dan perenungan bisa berjalan. Berapa banyak orang yang kondisinya sakit, punya waktu untuk berpikir bisa menemukan rumusan bijak dan menyarankan pada orang lain ,”Kalau sudah sakit seperti ini, uang nggak ada harganya. Yang saya pikirkan istri dan anak-anak.”

4. Kembali ke alam. Anda nggak suka jamu? Biasanya lelaki dan bapak-bapak jarang suka. Dengan kasus coronavirus, orang mulai memperhatikan kekayaan alam negeri sendiri : empon-empon. Sebagai orang Yogya (Jawa Tengah), minum jamu kunir asem, beras kencur, temulawak sudah biasa. Sebagai warga Surabaya (Jawa Timur) , sering banget menemukan anak minum sinom. Minuman ini biasa dijual di mana-mana : di kantin, rumah makan, pasar, pinggir jalan, kemasan dll. Segala tingkatan usia minum. Tapi ternyata nggak semua orang suka rasanya. Sekarang, nyaris setiap warga Indonesia mencoba mencicipi berbagai minuman yang berasal dari empon-empon. Dicampur madu juga oke. Bukankah minuman ini lebih baik daripada konsumsi minuman kemasan yang banyak mengandung zat aditif dan gula?

  1. Berhemat sumber daya. Kita tidak tahu sampai kapan pandemic Covid-19 akan berjalan. Selama ini, kita merasa alam akan terus melayani tanpa habis. Membuang air, makanan, minuman, bahan bakar; sudah biasa kita lakukan. Sekarang, kita akan belajar untuk hidup hemat dengan apa yang ada. Makan apa yang ada, tidak perlu ikut heboh menumpuk sembako yang akan menimbulkan keriuhan. Makan masak sendiri dengan bahan-bahan yang mampu di dapat dari sekitar.
  2. Kesadaran kematian. Kesadaran tentang kematian tidaklah selalu buruk. Ketika orang menyangka waktunya lebih banyak, ia akan berfoya-foya dengan harta dan waktu. Saat menyadari hidupnya dekat kematian, ia akan lebih banyak disibukkan oleh sesuatu yang berguna. “Ketakutan pada kematian disebabkan ketakutan pada hidup. Mereka yang hidup penuh manfaat siap mati kapan saja, “ demikian kata Mark Twain.

Sekarang , kita benar-benar berhitung terkait waktu rahasia yang kita miliki. Oke, konon kabarnya Covid-19 fatal untuk orangtua, anak-anak, orang yang sudah punya riwayat penyakit. Who knows? Siapapun kita, mulai mencoba hidup baik dan tidak main-main dengan kematian. Kematian bukan untuk menimbulkan kepanikan, tapi kewaspadaan.

  • Kerendah hatian. Sebelum ini, mungkin kita merasa menguasai segala sesuatu. Toh, zaman sudah canggih. Teknologi, komunikasi, kesehatan, transportasi, dsb membuat kita lupa bahwa sepanjang sejarah manusia; manusia sebetulnya bukan makhluk superior sama sekali. Kita bisa dikalahkan oleh belalang, tikus, air, api, dan salah satunya oleh virus. Kerendah hatian membuat kita lebih memilih sikap dan perilaku mulia; utamanya terhadap sesama manusia. Sikap rendah hati membuat kita sekarang mau mendengar nasehat orang lain, mau bekerja sama dengan pihak lain, mau menahan diri, mau melihat dunia dari perspektif berbeda.

Tuhan tidak sedang bermain dadu. God does not play dice. Albert Einstein merumuskan demikian. Tuhan bukan Dzat iseng yang menggulirkan sesuatu tanpa perhitungan. Ia Maha Menghitung hingga sekecil-kecilnya. Pasti, sudah disiapkan scenario berharga bagi ummat manusia hingga hal ini terjadi. Kemiskinan membuat orang berjuang keras untuk menjadi sukses. Peperangan membuat orang menyadari betapa sakitnya menjadi korban dan berupaya mencari jalan bagi perdamaian. Derita sakit membuat kita mencoba untuk hidup melawan ketakutan : bagaimana bertahan dan melalui semua dengan upaya sebaik-baiknya.

Saya? Alhamdulillah. Anak-anak akhirnya harus berkumpul bersama dan kami punya  waktu lebih banyak untuk mengobrol, merancang masa depan, saling menasehati.

Kalau anda?

(Gambar fitur header diambil dari

https://news.detik.com/berita/d-4929528/tentang-empon-empon-yang-disebut-bisa-tangkal-virus-corona-di-indonesia)

Kategori
Cinta & Love Hikmah mother's corner My family PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Topik Penting WRITING. SHARING.

Quaden Bayles : Bagaimana Jika Anak Kita adalah Si Pembully?

Kasus Quaden Bayles benar-benar mengiris hati. Seorang anak usia 9 tahun,  penyandang dwarfisme, tinggal di Brisbane Australia menangis pilu menghadapi bullying tiap hari.

“Stab me!!”

“Kill me!!”

Ia menangis histeris.

Si ibu, yang telah berjuang lama menghadapi bullying terhadap anaknya terpaksa mengunggah video itu dan menuntut keadilan. Ia merasa sudah cukup wacana-wacana tentang bullying tetapi mana bukti pembelaan terhadap korban bullying? Apalagi si kecil Bayles mengidap kelainan sehingga fisiknya sangat berbeda dengan anak seusia. Video Bayles mendapat banyak perhatian dunia, termasuk Hugh Jackman pun memberikan dukungan keprihatinan terhadap kasus Bayles.

Anak saya pernah menjadi korban bullying dan juga pelaku bullying. Bila melihatnya sekarang yang berprestasi, kooperatif, cukup punya banyak teman dan mampu berkolaborasi dengan orang seusia,  lebih tua atau lebih muda; tak ada yang menyangka ia dahulu adalah korban bullying dan kemudian menjadi pelaku bullying yang kasar.

Dukungan terhadap korban bullying mungkin sudah banyak dibahas. Tetapi bagaimana menghadapi anak yang melakukan bullying? Ibu Quaden Bayles menjerit meminta pertolongan dari siapa saja yang bisa memberikan nasihat. Ia bahkan berkata, nyaris putus asa : “Stop memberiku advis yang bagus. Aku butuh lebih dari sekedar nasihat! Aku butuh tindakan nyata!!”

Di bawah ini adalah apa yang pernah kami lalui sebagai orangtua dengan anak yang pernah dibully dan pernah membully anak lain. Kasus setiap anak mungkin berbeda tapi semoga apa yang kami hadapi dapat menjadi pelajaran.

  1. Korban dan pelaku. X pernah menjadi korban bullying dalam waktu lama di sekolahnya. Ia disudutkan karena cara bicaranya yang ‘berbeda’ dan beberapa hal terkait fisik. Awalnya ia hanya terdiam, menangis, memendam perasaan hingga matanya berkaca-kaca dan dadanya terlihat berguncang. Lambat laun setelah ia menemukan keberanian, ia melawan anak-anak.  Sedihnya, ganti ia yang membully teman-temannya. X memukul teman-temannya.
  2. Sikap guru. Pihak sekolah memanggil kami orangtuanya. Langkah pertama ini sungguh bijak, sebab yang harus datang adalah ayah ibunya. Bukan ibunya saja atau ayahnya saja. Suami saya minta izin dari kantor dan kami menghadap pihak berwenang di sekolah. Saya ingat, saat itu kami ditemui oleh pihak otorita sekolah dan guru yang sering menangani X. Sebut saja bu guru Aisyah. Ada perkataan bu Aisyah yang membuat saya demikian sedih dan terpukul, tetapi saya rasa itu adalah keputusan paling bijak yang bisa diambil saat itu.

“Bu Sinta, kami sudah mencoba mendekati X dengan berbagai cara. Tapi sepertinya masih kurang mempan. Ia masih sering memukul teman-temannya. Saya minta izin -dengan sangat terpaksa- saya akan memukul X. Di kaki atau tangannya, tidak di areal berbahaya. Supaya X memahami bahwa kena pukul itu menyakitkan.”

Kami tidak menerapkan pukulan di rumah. Kemungkinan, X tidak tahu seperti apa sakitnya dipukul! Saya bersyukur, bu Aisyah memanggil kami dan meminta persetujuan kami. Awalnya suami saya marah dan tidak setuju. Tetapi saya menenangkannya.

“Sebelum memukul anak kita, sekolah meminta izin pada orangtuanya dulu. Saya pikir itu bijaksana,” kata saya. “Kalau sekolah mau ambil sikap otoriter dan tak peduli, sudah pasti X dipukul langsung tanpa perlu minta izin pada kita.”

Akhirnya kesepakatan tersebut diambil.

Tentu, si X pun diberi peringatan terlebih dahulu oleh bu Aisyah. Lain kali dia memukul temannya di tangan atau kaki (kebetulan X tidak memukul di area berbahaya) , bu Aisyah akan membalasnya dengan pelan. Ini karena teman-teman X sama sekali tak ada yang berani menghadapi kegarangan X.

Alhamdulillah, bu Aisyah tidak perlu mengambil sikap memukul itu sering-sering. Sebab ternyata, para guru dan pihak sekolah terus mencari cara menghadapi bullying termasuk yang dilakukan anak saya, X. Seorang guru yang memukul tanpa sebab, memang tak dibenarkan. Tapi saya pikir, bu Aisyah sudah mencoba segala cara dan saya menghormati keputusannya. Yang sangat penting, keputusan beliau didiskusikan pada kami dan kami diajak mempertimbangkan baik buruknya. Saya tidak meminta sekolah atau guru memukul anak-anak, tetapi saya hanya menceritakan pengalaman pribadi yang ternyata sangat membantu X yang garang untuk lebih memahami bahwa memukul itu menyakitkan! Mungkin, karena kami orangtua nya tidak tega untuk memukul anak sendiri, kehadiran seorang guru dapat membantu.

Kami dapat saja berpikir, “X masih anak-anak. Wajar kan berkelahi? Wajar kan kalau memukul, menjambak, menyakiti? Mana ada anak-anak yang gak pernah berkelahi?”

Tetapi, itu yang ada dalam benak saya. Apa yang ada di benak orangtua lain, ketika anaknya disakiti? Kalau anak saya dipukul anak lain, pasti saya pun ingin ada keadilan. Kalaupun keadilan tidak sepenuhnya bisa ditegakkan, pasti kita ingin ada tindakan.

3. Mencari teman sebaya. X membaik perilaku garangnya yang suka memukul anak lain, karena bu Aisyah dan guru lain mencari cara untuk ‘menaklukan’ X. Salah satunya mencari sahabat yang bisa menasehati. Saya tahu, X tidak banyak punya teman saat itu. Atau bisa dikatakan ia common enemy karena kegarangannya, meski X sangat pintar  sains dan matematika. Guru pada akhirnya berhasil membujuk AL (samaran) untuk menjadi sahabat X. AL awalnya enggan berkawan dengan X. Ya, siapa yang mau berteman dengan anak pemarah dan pembuat onar? Tapi AL memang punya sifat bijak dan terkenal lemah lembut. AL kemana-mana membuntuti X dan mencoba memberikan nasehat ala anak-anak.

Ada satu kejadian yang saya ingat diceritakan X dan guru.

Momen penting ketika X mencapai titik balik.

X, sebagai pembully, bukanlah sosok yang dicintai. Ia ditakuti, tapi sesungguhnya tak punya teman. Suatu saat, X menyendiri.  AL mendekati, lalu mengajak bicara. Kalau saya ingat ini, betapa berterimakasihnya kami pada AL yang rela bersikap bijak dan dewasa di masa anak-anaknya demi mendampingi X.

“Sebetulnya semua guru dan teman itu sayang kamu, X. Hanya saja kamu suka memukul. Padahal bu Aisyah itu sayang sekali sama kamu. Bu Aisyah sampai nangis memikirkan kamu.”

X tiba-tiba berlinangan airmata, ketika tahu gurunya bisa menangisi dirinya. Tanpa sadar mata X meleleh. Dua sahabat itu berjanji mereka akan menjadi pribadi yang lebih baik. Esok harinya, X benar-benar berhenti memukul!

4. Komite orangtua. Saya panik. Saya sedih.  Saya tertekan. Sekaligus merasa bersalah. Tiap kali datang ke sekolah menjemput, selalu ada anak yang melapor ke saya, “Bundaaa! X mukul si A.” Besoknya, “Bundaaa, X mukul si B. “ Selalu ada laporan begitu nyaris tiap hari. Rasanya wajah ini panas tertampar tiap kali mendengar laporan itu. Tetapi, saya beruntung dan bersyukur sekali pada saat angkatan X, komite orangtua dipenuhi para orangtua yang baik hati dan hangat. Tidak ada orangtua yang menuding, menyindir, memboikot, atau marah-marah ke saya.

Saya minta maaf pada para ibu karena anak-anaknya kena pukul X. Mereka berkata, “nggakpapa, Bu. Namanya anak-anak.”

Saya nggak tahu  lip service atau tidak. Nyatanya, saya tidak lantas malu untuk ikut acara parenting dan komite  sekolah. Hal itu membuat saya lebih semangat dan terbuka untuk menerima masukan. Ketika X bersalaman kepada orangtua bila bertemu saat pulang sekolah, seringkali para orangtua justru mendoakan X ,”X yang sayang sama teman, ya. X anak pintar.”

Saya yakin, doa dari guru dan para orangtua yang mendoakan X kebaikan turut memberikan perubahan dalam diri anak saya.

5. Pihak berwenang dan ahli. Kali ini bukan X, tetapi salah satu anak kami yang lain yang menjadi korban bullying. Sebut namanya Y.  Singkat cerita, Y dan teman-temannya menjadi korban bully sekelompok anak. Tak boleh ke kamar mandi, tak boleh jajan, tak boleh lewat kalau kelompok tertentu sedang ada di sana. Komita orang tua berembug dan berunding. Didatangkanlah pihak kepolisian ke sekolah. Tujuannya bukan mengancam atau menakuti-nakuti. Ternyata masih banyak anak yang tidak paham bahwa bullying dapat masuk ranah kriminalitas. Begitu pihak kepolisian datang, memberikan ceramah dan arahan ke anak-anak, banyak anak tercerahkan bahwa perilaku mereka yang seperti nya bercanda, mengganggu, mengejek anak lain hingga kelewatan itu bila ditarik garis disiplin bisa menyebabkan mereka kena delik kriminalitas. Ternyata, anak-anak perlu diberi penjelasan lebih mendetil tentang apa saja bullying dan ancaman bagi pelaku.

Dari kisah di atas saya mengambil kesimpulan bahwa :

  1. Orangtua
  2. Anak-anak
  3. Guru
  4. Sekolah/institusi
  5. Pihak berwenang/ahli

Harus bekerja sama bahu membahu untuk menangani kasus bullying. Jangan lagi ada kasus Nadila almarhumah, atau Quaden Bayles. Anak- anak pelaku bullying juga perlu diberi arahan tegas. Sebuah video dari Korea yang mengambil social experiment tentang anak perempuan yang mengaku dibully dan mendatangi orang-orang di taman; memberikan gambaran tentang bagaimana sebuah hubungan antar manusia dapat dibangun.

Ada banyak potongan menarik dari adegan tersebut. Bagi saya, yang menarik adalah salah satunya, ketika si gadis SMA tersebut mendapatkan ‘korban’ social experiment anak-anak mahasiswa.

“Dik…kami dulu juga pernah membully teman dan adik kelas kami,” aku mereka.”Aku rasa saat itu aku sangat tidak dewasa. Aku menyesal sekali. Sayang sekali, nggak ada yang ngasih tahu aku. Kalau aku kembali ke masa itu, aku ingin bersikap baik.”

Bukan hanya korban bullying yang perlu didampingi hingga mereka memiliki resiliensi. Pelaku bullying juga harus didampingi dengan kasih sayang dan ketegasan, penjelasan dan informasi, pemberikan kesempatan dan juga ancaman serta sangsi bila mereka masih terus bertindak di luar batas. Saya bersyukur X pernah diberikan batasan dan ketegasan (meski belum tentu orangtua sepakat anaknya boleh dipukul). Pukulan dan nasehat dari bu Aisyah, dampingan dari sahabat AL, dukungan komite orangtua menjadikan X yang korban bullying dan pelaku bullying dapat menstabilkan kepribadiannya yang semula agresif menjadi lebih matang dan berkembang optimal.

Kategori
Film Kepenulisan KOREA RESENSI Topik Penting Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

‘Parasite’ Pemenang Oscar : Seni Tutur Natural ala Korea

Sudah pernah nonton drama Korea atau film Korea? Atau membaca novel/ cerpennya? Kaum penggemar film seperti saya biasanya suka melalap film apapun yang dirasa menghibur serta mencerahkan ; apapun negara asalnya. Korea beberapa tahun belakangan ini merajai industri perfilman dengan filmnya yang variatif. Dan, kadang kita menikmati filmnya tanpa tahu….sutradaranya!

Saya suka beragam film. Film pendidikan dan humanis dari India seperti 3 Idiots, Taree Zaman Paar, Bajrangi Bhaijan, Dangal bagus ditonton sekeluarga. Film India lucu habis dan menguras airmata. Seringkali, bumbu feminism dan perang saudara dengan negara tetangga menjadi ide-idenya.

 Film-film horror Guillermo del Torro yang menggunakan bahas Spanyol (plus subtitle yaaa) bukan hanya jump scared saja, tapi indah ditonton. Del Torro senang mengawinkan horror dengan fairy tales; hingga muncullan Cronos, Devil’s Bakcbone, Pan’s Labyrinth, Crimson Peak, Scary Stories to Tell in the Dark dan favorit saya : Mama. Menonton horror del Torro membuat kita berpikir bahwa cerita horror tak selalu berkisar sekedar hantu dan darah; tetapi sebuah cerita utuh yang memiliki kesimpulan mendalam. Devil’s Backbone memberikan sebuah kesimpulan bijak tentang apakah hantu itu. Di akhir cerita, epilog berkata, “Hantu adalah emosi yang masih digantung oleh waktu.” Kurang lebih demikian. Orang-orang yang mati karena pembunuhan, peperangan, wabah dan bencana; mungkin akan menjadi hantu karena masih banyak emosi-emosi yang belum diselesaikan dengan orang-orang yang terhubung dengannya. Ini menurut Del Torro, ya.

Well, back to Korea.

Negara ini buat film komplit bangettt.

Film epic heronya benar-benar membuat semangat nasionalisme bangkit : Admiral, Spy Gone Nort, Tae Gu Ki, My Way dll. Drama serialnya juga membuat termehek-mehek seperti  Great Queen Seondeok, Jewel in the Palace, Dong Yi.

Film horrornya termasuk daftar film horror yang sangat diperhitungkan di pentas dunia : The Mimic, Tale of Two Sisters, Whispering Corridors dan yang mendapat banyak pujian : The Wailing. Asli, nonton the Wailing membuat saya benar-benar merinding. Film horror yang membuat takut adalah yang tidak ketahuan, mana setan dan mana malaikatnya. Bukankah kita jadi merinding ketika orang yang disangka penolong ternyata justru iblisnya? Film komedi romancenya banyak banget. Film actionnya juga gak kalah seru dibanding aksi Hollywood : The Veteran, Extreme Job, Berlin’s File, Cold Eye. Cold Eye adalah film action yang menurut saya belum banyak padanannya . (Hm, entah juga kalau saya kudet hehe).

Parasite?

Saya menuliskan reviewnya segera usai nonton film ini bareng keluarga. Tentu, gak semua sepakat dengan penilaian Oscar, apalagi penilaian saya. Tapi lagi-lagi saya ambil hikmah kenapa Parasite memenangkan 4 oscar kali ini dan Bong Joon Ho dinobatkkan sebagai sutradara terbaik dengan Parasitenya.

Sinema Korea itu….. :

  1. Natural. Alamiah banget. Kalau cerita tentang romance terasa alamiahnya. Kalau cerita kejahatan terasa alamiahnya. Hampir tidak ada yang benar-benar hitam putih di film Korea. Film Spy Gone North tentang Korut VS Korsel, sama sekali nggak membahas bahwa Korsel adalah pahlawan. Tapi masing-masing punya kepentingan. Parasite juga begitu. Apakah keluarga miskin Kim atau keluarga kaya Park yang jahat? Sama sekali nggak ada penggambaran demikian.
  2. Tak bertele-tele. Drakor umumnya berkisar 20 episode seperti Pasta in Love, 49 Days. DoT 16 episode. Barulah kisah epic seperti The Great Queen Seondeok 62 episode. Itupun gak bosen nontonnya heheh. Tidak perlu diperpanjang konflik jika memang sudah bisa diselesaikan dengan cepat. Perkelahian, permusuhan, pertikaian juga gak perlu berlarut-larut. Yang digali seringkali adalah masa lalu masing-masing pelaku sehingga memunculkan konflik emosi di dalam jiwa.
  3. Gado-gado. Komedi selalu muncul meski di tema sedih, romansa, action, horror. Kita bisa dibuat ketawa dengan adegan atau dialognya, lalu segera ditarik lagi ke sebuah situasi yang lain yang memang menjadi genre utama film tersebut. Parasite banyak memunculkan kisah komedi gelap, tentang konyolnya orang miskin dan lebih konyol lagi orang kaya yang gak pernah pegang pekerjaan rumah sama sekali seperti Mrs Park. Ketika Jessica dan Kevin –kakak adik- punya segudang tipu muslihat licik karena mereka terhimpit kemiskinan, kita harus menangis atau tertawa karenanya? Aduh, benar-benar teraduk memang.
  4. Kesabaran dalam membangun alur. Terus terang, sebagai penulis saya banyak belajar dari film, novel, cerpen Korea. Mereka sabar banget membangun detil, menceritakan sesuatu. Kesabaran dalam menjalani sebuah sikap hidup kayaknya jadi nafas dari bangsa Korea, ya. Terlihat dari hallyu yang dimotori oleh KPop, produk literasi dan sineasnya. The Vegetarian karya Han Kang menceritakan segara detil tentang seorang perempuan bernama Yeonhui. Hari demi hari konflik dirinya dikisahkan dengan cermat. Seolah penulis sangat sabat untuk berkisah. Beda dengan saya yang kadang ingin segera cepat selesai. “Udah, jatuh cinta aja./ Udah, mati aja/Udah nikah aja.”
  5. Tema sederhana. Banyak film atau buku Korea temanya sederhana. Seperti Parasite. Tema miskin vs kaya selalu ada. Tema sederhana yang digarap dengan sangat rapi sehingga kita benar-benar merasakan “ ya Tuhan, sengsaranya jadi orang miskin di Korea!” karena itu juga yang diharapkan Bong Joon Ho, banyak orang terbuai oleh ironisnya kemajuan Korea.

Coba kita baca cerpen Sejarah Obat karya Oh Hyun Jong (diterjemahkan oleh Prof. Koh Yung Hun, dosen bahasa Indonesia di HUFS- Korea)  misalnya, menggambarkan tema sederhana tentang seorang perempuan muda yang  terbiasa mengkonsumsi berbagai jenis obat sejak kecil : propolis, omega 3, ginseng merah, dll. Ia melihat neneknya terbiasa minum obat, ia melihat orang-orang di lingkungannya minum obat. Dan si perempuan merasa aman bepergian jika membawa sekantung obat. Ia bahkan berpacaran dengan seorang calon dokter tradisional yang suka meresepkan obat kepada teman-temannya. Dan kecandunnya pada obat semakin betambah. Membaca kembali Sejarah Obat, mengingatkan saya pada kondisi terkini tentang Coronavirus di mana saya seperti ribuan atau jutaan orang yang sangat terobsesi pada masker.

Tulis Hyun Jong “…bahwa segera setelah kita mulai terkena penyakit yang berkaitan dengan penuaan, kita tidak akan pernah berhenti makan obat. Kita akan tetap meminumnya sampai sehari menjelang kematian.”

Betapa kisah sederhana, tentang zaman sekarang ketika orang membenci menjadi tua dan menjadikan obat sebagai jalan keselamatan.

Parasite, saya rasa memiliki 5 kelebihan tersebut.

Natural alamiah, tak bertele-tele, gado-gado, kesabaran penulis scenario dan sutradara membangun alur serta tema sederhana yang dipahami hampir setiap keplaa manusia yang menontonnya. Yah, walau pecinta Korea belum tentu paham bahasa Hangeul 100% sebagaimana para kritikus film dunia, ungkapan Bong Joon Ho patut dipertimbangkan saat menerima piala Golden Globe, “Sekali saja tidak bermasalah dengan subtitle, kalian akan banyak menemukan film menakjubkan!”

Saya setuju dengan Joon Ho.

Sebab banyak film Indonesia yang juga layak maju ke pentas dunia.

Insyaallah, berikutnya Indonesia yang meraih penghargaan!

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Bedah Buku Sinta Yudisia Buku Sinta Yudisia KOREA PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY WRITING. SHARING.

31 Januari – 2 Februari 2020, Jakarta & Tangerang

Sinta Yudisia <psikologsinta@gmail.com>12:18 PM (5 minutes ago)
to me

💫 SELF HEALING WITH WRITING 💫•– Womens Mental Health Workshop; Mom’s Journey to Happiness –••💗

 Stress dengan penghakiman netizen di media sosial saat kita “curhat” ??••🌷 Dinamika kehidupan seringkali membuat para ibu berjuang keras hadapi ragam kesulitan.•Tak jarang, meninggalkan ‘luka’ tak terjamah yang tidak dipahami orang lain. Hingga lupa dengan cara sederhana dalam berbahagia.••–Dalam kasus paling ekstrim, dapat mengancam keselamatan diri dan orang lain.–••Tahukah Moms, bahwa menulis bisa jadi sarana penyembuhan, bahkan memperkuat rasa bahagia ??••Komunitas Ibu Bahagia Indonesia @komunitasibubahagia bekerjasama dengan  @actforhumanity dan @ihsanmediapenerbit mempersembahkan workshop terbatas :

💫 SELF HEALING WITH WRITING 💫

— Womens Mental Health Workshop; Mom’s Journey to Happiness –••Narasumber :•🧕🏻 Sinta Yudisia W S.Psi, M.Psi, Psikolog — Psikolog – Penulis @sintayudisia•🧕🏻 Irena Puspawardani S.Si (Teh Rena Puspa) — Pembina KIB Indonesia – Penulis @rena.puspa.khadeeja••Bersama, kita belajar tentang seni terapi menulis tangan sebagai salah satu metode penyembuhan diri ☘️🌷🍀🌺💚••📆 Sabtu, 01 Februari 2020⏰ 09:00 – 13:00 WIB🏢 Menara 165 – ACT Lt. 9 Jalan TB. Simatupang, Jakarta Selatan••💎 Ticket Prices :•🌷 EARLY BIRD (10 – 14 Januari) : 200K🌻 NORMAL (15 – 27 Januari) : 235K🌹 HOT SEATS (28 Januari – 1 Februari) : 250K🐨 Kids Corner (4 – 7 tahun) : 30K/Anak•💳 Transfer :BNI a.n Fina Febiyanti(009) 0349618487https://bit.ly/PendaftaranWorkshopKIBhttps://bit.ly/PendaftaranWorkshopKIBhttps://bit.ly/PendaftaranWorkshopKIB••📲https://bit.ly/AdminKIB📲https://bit.ly/AdminKIB📲https://bit.ly/AdminKIB•••💚❄ Bahagia Hatinya, Sehat Jiwanya ❄💚••#HappyMomHappyFamily#DiaryIbuBahagia#komunitasibubahagia#workshop #menulistangan#handwriting #freewriting#womensmentalhealth#kesehatanmental #ibubahagia #act #aksicepattanggap #ihsanmedia

Acara di atas untuk Ayah dan Bunda.

Untuk remaja, ada acara di bawah ini :

Membahas seluk beluk Korea, hallyu termasuk K-Pop beserta boyband girlband nya.

Yang di Jakarta dan Tangerang, silakan hadir yaaa

Kategori
15 Rahasia Melejitkan Bakat Anak ACARA SINTA YUDISIA Catatan Perjalanan Quran kami Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Pesantren Fahim Quran : Hafal 30 Juz sekaligus ahli IT (Programming & DKV) !

Ini salah satu institusi, pesantren, lembaga atau apalah namanya yang menjadi impian saya sejak lama. Gimana caranya anak-anak bisa menghafal Quran sekaligus mempelajari bidang yang memang merupakan bakat minat mereka.

Menghafalkan Quran butuh stamina lahir batin. Konsentrasi tingkat tinggi, motivasi kuat, juga disiplin yang terus menerus. Pantauan dari para guru juga penting, mengingat anak-anak pra remaja dan remaja ini tentu jatuh bangun semangatnya. Biasanya, pesantren mengajarkan ilmu-ilmu agama terkait Quran, hadits, fiqih, bahasa Arab dan Inggris. Di Fahim Quran, bukan hanya cukup hafal 30 juz. Bahkan, salah satu nasehat ustadz Purwanto dalam acara setor hafalan Quran di senja itu, benar-benar menampar kita.

“Bagaimana kalian harus hafal, hidup, beraktivitas, hingga mati dengan seluruh nilai-nilai Quran.”

Beliau mendorong bahwa setiap santri yang menjadi penghafal Quran, harusnya punya semangat dan ambisi lebih. Jangan setelah hafal 30 juz, justru tidak mau berprestasi apa-apa. Tidak mau melakukan aktivitas apa-apa. Padahal alim ulama dan ilmuwan Islam di masa lampau, mereka penghafal Quran dan terus bekerja di bidangnya masing-masing. Kadang, seorang penghafal Quran merasa cukup sudah hafal 30 juz. Merasa sudah sampai di puncak ibadah dan dapat memberikan hadiah mahkota permata kepada orangtua kelak di hari akhir. Harusnya, penghafal Quran menjadi panglima ilmu pengetahuan dan motor dari penggerak peradaban!

Kenapa IT?

IT- information technology  atau teknologi informasi ( TI) adalah teknologi dalam membuat, mengubah, menyimpan, mengirimkan, mencetak atau mengolah apapun terkait informasi. Saat ini, Indonesia sangat membutuhkan ahli-ahli IT sehingga tidak tertinggal dari bangsa lain. Ahli ini selain memiliki kemampuan tinggi, tentu harus memiliki ketahanan mental yang tangguh. Istilah Habibie, berotak Jerman berhati Makkah.

IT di Fahim Quran meliputi dua hal : Programming dan DKV (desain komunikasi visual).

Apa sih DKV itu?

Program studi Desain Komunikasi Visual (DKV) mempelajari ilmu tentang penyampaian pesan (komunikasi) dengan menggunakan elemen-elemen visual atau rupa. Disini siswa akan belajar untuk mengolah pesan secara informatif, komunikatif, dan efektif, serta se-kreatif mungkin agar pesan dapat mencapai sasaran dengan memperhatikan unsur bentuk, warna, tekstur, ruang, huruf, dan segala hal yang berkaitan dengan visual (penglihatan). Misalnya membuat poster, logo, ilustrasi, desain web, foto, video, animasi, dan sebagainya.

Terus terang, anak-anak muda sekarang banyak banget memiliki kecenderungan di aesthetic. Ini hasil tes minta yang pernah saya lakukan pada  mereka, lho! Dulu, seni seringkali hanya dikaitkan dengan seni musik, seni tari, seni patung, seni lukis. Sekarang, aesthetic memiliki makna luas termasuk DKV. Sebuah pesan dari A (sender) akan diterima B (receiver) bila pesannya diterima dengan baik. Baik itu mencakup berbagai macam : baik caranya, bernas kontennya, menarik tampilannya, bisa dipahami maknanya. Pesan-pesan sekarang sangat butuh orang-orang DKV. Lihat aja iklan keselamatan di jalan raya yang digagas kepolisian. Tidak lagi sekedar “Hati-hati di Jalan” tetapi…. “Jatuh cinta itu enak. Kalau jatuh di jalan? Benjol!”

Pesan ini akan jauh lebih sampai ke anak muda (tahu sendiri kan, yang naik motor seenak udel kebanyakan anak muda!).

Fahim Quran juga mempersiapkan anak-anak untuk menjadi programmer. Kalau yang masih bingung, programming itu belajar apaan sih? Programming adalah menganalisis, menyusun, mengedit, menguji kumpulan bahasa pemrograman untuk kemudian menghasilkan sebuah program yang bisa menjalankan suatu tugas tertentu secara otomatis. Untuk lebih mudahnya programmer adalah orang yang membuat program itu sendiri dengan menggunakan kombinasi berbagai programming language. Umumnya, programmer sendiri terbagi menjadi 4 jenis yaitu funcional, operational, graphical dan web-based.

Kalau mau kuliah yang ada bahasa-bahasa programming nya, salah satunya kuliah di teknik informatika ITS. Hehehe, ini bukan promosi ya. Gegara penulis tinggal di Surabaya, tetanggaan sama ITS.

Nah, kalau yang masih bingung (khususnya orangtua) tentang apa itu programmer atau programming, mungkin bisa nonton beberapa film berikut. Film-film ini ada yang tentang kehidupan programmer, ada yang tetnang programming itu sendiri. Kalau nggak ada programmer, rasanya film-film gak akan sebagus ini.

Di Fahim Quran, para santri diajarkan untuk membuat bahasa programming. Sekarang, mereka sudah punya beberapa produk yang bisa diunduh di playstore, lho! Menurut ustadz Purwanto dan ustadzah Yaumi, keduanya pendiri & pengasuh Yayasan Fahim Quran, memadukan tahfidzul Quran dan ilmu IT merupakan tantangan tersendiri. Di satu sisi, menghafal Quran butuh ketekunan dan konsentrasi tinggi, tak bisa diganggu oleh aktivitas lain. Sementara, IT dengan jurusan programming dan DKV butuh konsentrasi yang berbeda. Tetapi, akan sangat disayangkan bila bibit penghafal Quran yang memiliki raw materials sangat bagus tidak dikembangkan sisi intelektual dan talentanya. Sebab, banyak anak muda sekarang yang mahir berkecimpung di dunia IT. Pegnhafal Quran rata-rata memiliki kemampuan memory yang kuat, cocok sekali dengan bahasa pemrograman yang butuh logika tingkat tinggi.

“Apalagi, sebagian besar programmer biasanya gamer juga,” jelas ustadz Purwanto.

Gaming disorder sangat dicemaskan para guru dan orangtua saat ini.

Insyaallah, di Fahim Quran para santri diselaraskan agar tetap dapat megnhafal Quran sekaligus memiliki tanggung jawab megnembangkan bakat minat serta talenta terpendamnya di bidang IT.

2 Jenis Santri di Fahim Quran

Yayasan Fahim Quran memiliki kelas putri, dinamakan santri Fahim Quran. Kelas putra dinamakan QBS, Quadran Boarding School. Keduanya terletak di Bogor, Jawa Barat.

Fahim Quran sebetulnya merupakan singkatan dari Fast-Active-Happy-Integrating in Memorizing Quran. Tahun ini adalah tahun ke-4 Fahim Quran berdiri. Meski baru 4 tahun berdiri, jumlah santri putri mencapai 98 siswi sementara santri putra mencapai 117 siswa. Karena banyaknya permintaan, Fahim Quran terpaksa harus menolak pendaftar, hiks…hiks.

Untuk menghafal Quran, Fahim Quran tak main-main. Mereka punya program sendiri yang pantas dicontoh. Ustadz Purwanto, sang pendiri, menyusun 9 cara metode menghafal Quran. Artinya, metode menghafal Quran ada banyak cara dan pendekatan sehingga orang-orang dengan tipe kepribadian/tipe pembelajar tertentu dapat menghafal Quran sesuai kondisi dirinya. Kebayang kan, ada anak-anak yang putus asa menghafal Quran gegara gak bisa-bisa nambah ayat L. Ternyata, dengan metode pendekatan yang berbeda-beda ini, anak-anak akan dapat menghafal Quran lebih mudah.

Jadi ingat ayat ini,

“Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah ( QS 21 : 2)”

Kalau sudah hafal 30 juz, siswa akan diberangkatkan ke Mesir untuk tasmi kepada syaikh al Azhar. Di sana kurang lebih 3 bulan dan mendapatkan sertifikasi langsung dari pakarnya. Masyaallah…

Berikut ini beberapa hasil karya siswa siswi Fahim Quran (ingat ya, yayasan Fahim Quran menaungi santri putri yang namanya persis seperti nama yayasannya Fahim Quran – FQ. Dan santri putra Quadran Boarding School – QBS).

Yang suka programming, menghasilkan buah karya aplikasi-aplikasi bermanfaat untuk menunjang berbagai kegiatan baik yang bisa diterapkan oleh seiswa, orangtua, juga guru. Yang DKV suka sekali menyalurkan ide-ide mereka ke bentuk tulisan, gambar, desain grafis atau apapun yang berbentuk komunikasi visual. Termasuk membuat tulisan-tulisan. Biasanya memang, seorang komikus senang membuat storyboard sendiri. Begitupun sebaliknya, seorang penulis suka merancang ilustrasinya sendiri meski ia tak mahir melukis. Jadi ingat seorang komikus webtoon – Lookism– yang nama dan hasil karyanya saya tuliskan dalam buku 15 Rahasia Melejitkan Bakat Anak.

Ohya, ada kejadian mengesankan yang ditemui penulis di acara Mukhoyyam Quran, 20 Januari 2020 ini. Ternyata ada seorang ustadzah di sana yang telah lama saya kenal via medsos. Kami berkontak dan berteman via twitter, instagram dan wordpress. Masyaallah, terharu dan bahagiaaa banget akhirnya bisa dipertemukan Allah Swt. Namanya Alfi Najma Zahra. Ia suka sekali membaca serial Takudar. Jadi merasa sangat  berhutang pada para pembaca untuk menuntaskan serial pemimpin muslim dari Mongolia ini.

Bagi para orangtua dan calon siswa yang tertarik untuk menempuh pendidikan di Yayasan Fahim Quran, bisa klik www.sekolahimpian.com .

Semoga kamu temukan dunia impianmu, ya!

Kategori
Oase

Sempurna dan Menyempurnakan

Jadi tambah paham agama. Kocak lagi nulisnya!

ezayyak?!

Ada ‘kamāl’ ada ‘tamām,’ secara bahasa makna keduanya sama; sempurna. Seorang yang bernama Kamaluddin artinya kesempurnaan agama, secara harfiah sah-sah saja kita ganti namanya jadi Tamamuddin, toh maknanya sama. Eh tapi nanti dia terbebani buat bikin bubur merah, kesian. Dah gak usah ganti nama orang seenak udel nak!

Di Al-quran ada kata ‘akmala’ ada kata ‘atamma.’ Sekilas, keduanya bermakna sama; memyempurnakan. Tapi lebih lanjut ternyata petunjuk maknanya berbeda.

Allah katakan, “al-yauma akmaltu lakum dīnakum (4/3),” hari ini aku sempurnakan bagi kalian agama kalian. Akmaltu = sempurna. Di ayat lain Allah bilang, “tsumma atimmū ash-shiyāma ila al-lail (2/187),” kemudian sempurnakanlah puasa kalian sampai waktu malam (maghrib). Atimmū = sempurna.

“Akmala al-amra” artinya seseorang menuntaskan pekerjaannya secara bertahap dalam rentang waktu tertentu, di selingi berbagai hal lainnya. Seorang yang punya hutang puasa di bulan Ramadhan dia punya kesempatan mengqadanya di 11 bulan yang lain, maka Allah bilang, “walitukmilū…

Lihat pos aslinya 348 kata lagi

Kategori
Artikel/Opini Catatan Jumat Pernikahan PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Suami Istri WRITING. SHARING.

Bagaimana Jika Suami Memiliki 99% Otak Kiri ?

Ini sebetulnya sebuah metafora aja, ya. Karena nggak  mungkin secara fisik otak manusia kiri semua. Pastilah separuh-separuh; kanan dan kiri. Tetapi secara psikis, bisa saja otak lelaki didominasi left brain. Sangat taktikal, mekanik, teknikal. Dan ini saya temui dalam cukup banyak kasus. Jujur, saya justru banyak belajar dari para klien. Kenapa? Sebab merekalah yang langsung berjuang dan mencoba teori-teori yang saya pelajari di bangku kuliah dan pelatihan.

Ilustrasi otak kanan & otak kiri

Contoh kasus 1

Suami istri yang puluhan tahun menikah, sebagian besar anaknya kuliah. Selama menikah, si istri nyaris sama sekali nggak pernah mencuci baju dan memasak! Suaminyalah yang memandikan anak-anak, belanja ke pasar, memasak, mencuci, menjemur bahkan menyeterika! Padahal suaminya seorang pekerja. Ck-ck-ck. Denger ini saya heran sendiri. Ada ya jenis lelaki dan suami yang seperti ini? Trus apa tugas istrinya?

“Kata suami, saya disuruh mendidik anak sebaik-baiknya. Kata suami, mendidik anak itu nggak gampang. Pasti capek.”

Hm, baiklah. Ada quote suami istri paruh baya ini yang luarbiasa bagi saya. Si suami bilang, “lelaki itu harus banyak mengalah, tetapi jangan sampai istri menginjak-injaknya.” Masyaallah.

Contoh kasus 2

Suami istri yang terlihat garing hubungannya. Suami nyaris nggak pernah bersikap romantis pada istri. Boro-boro mengelus. Bilang sayang aja nyaris kagak pernah. Tapi si suami ini menjamin semua kebutuhan istri dan anak-anaknya. Bahkan semenjak anak mereka masih bayi-bayi, suamilah yang mengganti popok. Menggendong tengah malam hingga si bayi tertidur lagi. Kecuali jika si bayi mau menyusu.

Suami yang garing ini, membuat istri sangat tertekan. Sepanjang mereka menikah hampir tak ada sentuhan romansa. Singkat cerita, mereka ingin berpisah.

Clue

Melihat para suami seperti ini, awalnya kesal banget. Apa sih susahnya bilang cinta? Bilang sayang? Tinggal bilang, “Dek, aku cinta kamu.”

Atau whatsapp gitu. Kirim-kirim pesan love. Atau telpon sesekali dan bilang, “Say, aku kangen kamu lho.” Gak butuh waktu lebih dari 30 detik, kan? Cuma tinggal pembiasaan aja. Lalu, terjadi hal-hal yang membuat saya perlu merenungkan hal yang sepertinya gampang itu. Salah satunya, lewat tes kepribadian yang biasanya saya tawarkan kepada klien supaya kami sama-sama tahu profil kepribadian dan hal tersebut menjadi rekam jejak untuk langkah selanjutnya.

Para lelaki ini, yang sulit dan garing menyatakan cinta, memiliki gambar-gambar khas dalam tes proyektif. Ketika saya menyaksikan gambar-gambar tersebut, pelan-pelan menskoringnya, merumuskan grafik psikologisnya, mengklasifikasikan dan menginterpretasikannya ; masyaallah. Ada sesuatu yang menjadi pembelajaran luarbiasa.

Lelaki-lelaki ini begitu mekanik. Taktis. Teknikal praktis.

Ibaratnya, semua belahan otaknya berisi pertimbangan logis dan matematis. Atau, kalau kita pernah menonton film I Robot dan Elysium, lelaki ini seperti robot yang diprogram dengan desain tertentu. Diinsert dengan data tertentu. Softwarenya berisi file-file yang sudah baku dari pabriknya. Dengan kata lain, yang mereka pikirkan adalah : bagaimana anak istriku bisa nyaman. Bagaimana anak-anak bisa sekolah di tempat terbaik. Bagaimana bisa membelikan rumah dan kendaraan layak untuk istri. Bagaimana keuangan keluarga tak morat marit. Bagaimana harus menambah sumber pemasukan bila memang masih kurang. Matematis. Logis. Tipe manusia seperti ini benar-benar kalkulatif. Kalau merasa tak penting tak akan dilakukan. Kalau merasa tak salah tak akan minta maaf. Padahal istri ingin sekali sesekali suaminya mengaku salah (meski gak jelas apa kesalahannya).

Tetapi para lelaki dengan 99% otak kiri dan program robot ini bukannya tak punya perasaan. Mereka bisa menangis. Mereka bisa hancur. Mereka bisa tampak tak berdaya di depan konselor, tampak luluh  lantak dan bertanya-tanya : “apa yang harus saya perbuat lagi buat istri saya?”

Melihat gambar-gambar proyektif mereka, pemikiran dan perasaan saya seperti di-reset ulang. Ya, mungkin ini para lelaki yang demikian garing dan keras, lantaran sepanjang hidupnya di masa lalu dibesarkan oleh keluarga yang prihatin. Orangtua menyuruhnya untuk mandiri sejak belia, kalau bisa ikut menanggung beban adik-adiknya. Ya, setelah dilacak, nyaris tak sejenakpun para lelaki ini sejak masa tumbuh kembangnya merasakan dunia yang berbunga-bunga. Mereka kerja keras di masa sekolah, kerja keras di rumah membantu orangtua, kerja keras di tempat kerja.

Softwarenya sudah berisi file yang maskulin dan serba lelaki.

Lingkungan dan pengalaman bertambah-tambah membentuknya jadi semakin otak kiri.

Tetiba, saya mulai berpikir bahwa para lelaki dengan 99% otak kiri ini justru memiliki sisi hidup yang juga merana nan garing. Dan mereka juga menantikan sentuhan tangan para bidadari di sisinya.

Seseorang Harus Memulai

Jadi, suami yang harus berubah?

Atau istri?

Selalu ada cara untuk mencari pembenaran.

“Kalau suami sudah mencoba romantic, istri akan luluh,” kata perempuan.

“Kalau istri minta maaf, suami akan mencair,” kata lelaki.

Well, saya gak ingin memperpanjang alasan-alasan. Nanti akan seperti pertanyaan : lebih dulu ayam atau telur? Lebih baik, kita berangkat dari data yang ada. Dan mencoba menganalisa fakta.

Saya hanya bilang, kurang lebih.

“Mbak, pasti tertekan ya punya suami keras seperti itu.”

Sang istri menangis berlinang air mata.

“Kalau opsi berpisah memang jadi jalan keluar, okelah. Tapi kita perlu kumpulkan informasi sebanyak-banyaknya agar tak ada sesal.”

Si istri terdiam.

“Saya cuma mau nanya, kalau nanti berpisah, kira-kira Mbak akan dapatkan lagi nggak jenis suami yang seperti dia? Yang kalau malam ngurusi anak-anak, mengantar jemput anak istri kemanapun, menemani Mbak pergi kemanapun Mbak mau diantar? “

Si istri tertegun. Meremas tissue. Merenung lama. Dan airmatanya tumpah ruah. Wajahnya tampak galau.

“Sebetulnya…harus saya akui. Suami saya baiiiik sekali. Sangat baik. Hanya saja ia begitu keras dan kasar.”

Saya lega mendengarnya. Lega bahwa ia bisa menemukan kebaikan suaminya.

“Saya juga nggak tau apakah kalau pisah bisa ketemu lagi laki-laki seperti dia.”

Demikianlah.

Ketika menyadari bahwa suami mirip robot atau manusia 99% otak kiri; setidaknya seorang istri memahami bahwa suaminya memang tipologi orang yang tidak suka mengumbar romansa. Tidak suka mengumbar kata-kata dan janji. Bahkan tak akan mengucapkan sesuatu yang dia tak akan bisa tepati. Sangat matematis dan logis. Gak ada manis-manisnya (beda dengan iklan air mineral : kayak ada manis-manisnya hehe).

Tetapi, siapa tahu ternyata Allah memang menciptakan lelaki ala ‘robot’ macam itu. Kenapa? Supaya ada tangan-tangan bidadari yang akan memeluk suami, menyentuhnya lebih dulu, membisikkan kata mesra. Pra istri yang akan meng-insert file kehangatan dan keceriaan dalam kehidupan suami yang garing karena tempaan hidup. Siapa tahu, dominasi left brain itu akan menurun tak lagi 99%. Memang tak akan langsung drastis berubah.

File kehangatan itu bisa dimulai dari kata-kata lembut dan kalimat mesra. Para istri yang didominasi perasaan dapat memulainya lebih dulu. Yakinlah, bahwa ciptaan Allah tak ada yang salah. Manusia –dalam hal ini istri- yang mendapat tugas untuk membentuk lelaki robot itu menjadi lebih humanis dan manusiawi.

Kategori
Artikel/Opini BERITA Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Topik Penting Tulisan Sinta Yudisia

Sisi Psikologis Reynhard Sinaga : Seberapa Jauh Kita Paham tentang Perkosaan?

Ngeri dan ngilu tiap kali membaca, mendengar atau melihat laporan berita perkosaan. Kita berharap jangan sampai diri kita dan setiap anggota keluarga mengalami perkosaan atau naudzubillahi mindzalik, menjadi pelakunya. Begitu kasus Reynhard Sinaga (RS) mencuat, hati ini bertanya-tanya, mengapa kejahatan semacam itu bisa terjadi berulangkali? Seharian ini pikiran dan perasaan resah. Berjam-jam membaca berbagai macam referensi dan hasilnya, sungguh membuat saya pribadi merenung. RS diduga melakukan perkosaan sebanyak 195 kali atau lebih. Kasusnya terbongkar 2017 dan sepanjang 2018-2019 menjalani 4 kali sidang. Hasilnya ia dinyatakan bersalah dan mendapatkan hukuman penjara seumur hidup.

Berita tentang RS berturut-turut dilaporkan di koran terkemuka seperti Jawa Pos 07/01/2020 dan 08/01/2020

Definisi dan jenis perkosaan

Rape atau perkosaan didefinisikan sebagai penetrasi V atau anal tanpa persetujuan pemiliknya. Penetrasi bisa menggunakan alat kelamin, jari atau objek lainnya sementara obyek penetrasi bisa bervariasi antara V, anal, oral. Terdapat berbagai jenis perkosaan seperti penetrative rape, statutory rape, date rape, male rape, dsb. Ada pula perkosaan dengan ditambahkan penganiayaan.

Ada sebuah penelitian unik tentang perkosaan.

Para peneliti  mengumpulkan lebih dari 1.800 responden laki-laki dan mereka diminta untuk mengisi kuesioner. Bentuk pertanyaannya tidak langsung seperti , “Apakah kamu pernah memperkosa orang?” . Pertanyaan seperti ini pastilah akan mendapat jawaban “no”. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan antara lain :

  • Apakah kamu pernah melakukan hubungan intim dengan orang di mana orang tersebut dalam kondisi mabuk?
  • Apakah kamu pernah menampar pasanganmu saat ingin melakukan hubungan intim?
  • Apakah kamu pernah menggunakan kekuatan fisik seperti mencekik, memuntir, saat meminta hubungan intim?

Dsb

Ketika pertanyaan-pertanyaan yang dengan hati-hati disusun tersebut dilontarkan, mengejutkan sekali betapa banyaknya orang yang merasa tidak melakukan perkosaan. Terlebih lagi, banyak korban yang tidak sadar mereka sedang dianiaya atau diperkosa. Para peneliti kemudian membagi menjadi “rape, attempted rape dan sexual assault.” Percobaan perkosaan yang dilakukan berulang dan tak ada korban atau lingkungan yang sadar, membuat pelaku suatu saat benar-benar melakukan tindak pemerkosaan.

Pernah terjadi, sepasang kekasih yang sudah kelewat batas berpacaran; setiap kali si cowok meminta layanan intim  ia akan menyundut ceweknya dengan rokok. Juga mengancam bunuh diri jika cewek itu meninggalkannya. Emosi cewek yang serba kasihan dan tak ingin ditinggal, membuat si cewek mengabulkan apapun permintaan cowok. Mungkin hubungan itu tampaknya berjalan suka sama suka, tetapi peristiwa menyundut rokok itu sebetulnya sudah masuk attempted rape.

Mitos Perkosaan

Terdapat banyak mitos di tengah masyarakat sehingga perkosaan termasuk jenis kejahatan yang sulit dideskripsikan, didefinisikan, juga dikontrol.

  • Perkosaan dilakukan oleh orang asing
  • Pemerkosa adalah orang gila atau psikotik
  • Kebanyakan pemerkosa terlihat ‘berbeda’ dan tidak seperti kita

Ketika melihat dua orang lelaki misalnya, yang satu bertatoo dan satunya lagi mengenakan pakaian rapi; kita sudah punya asumsi bahwa orang bertatoo pasti lebih jahat. Padahal belum tentu demikian! Kasus Harvey Weinstein mencengangkan dunia. Ia seorang produser film kenamaan yang memproduksi Pulp Fiction, Heavenly Creature, Shakespeare in Love yang terjungkal oleh gerakan #MeToo , sebuah gerakan untuk berani angkat suara menghadapi kasus pelecehan seksual dan pemerkosaan.

Mitos yang kita yakini ini membuat kita lebih waspada terhadap orang asing, psikotik, atau yang tampilannya beda dengan orang pada umumnya. Padahal pelaku pemerkosaan bisa jadi orang terdekat, orang waras dan orang yang kesehariannya mirip dengan kita! Karenanya kasus pemerkosaan bisa terjadi di sekolah, kampus, atau tempat kerja. RS sama sekali bukan seorang psikotik. Ia tidak tampak berbeda secara fisik, malah terlihat sama seperti seorang karyawan dan mahasiswa yang stylish.

Sehatkah Mental Pemerkosa?

Sejauh ini diduga ada 4 hal yang menyebabkan seseorang menjadi pemerkosa :

  1. Kerusakan otak. 3,9% pemerkosa di Swedia mengalami kerusakan otak. Penyebabnya tentu beragam mulai benturan, obat-obatan, trauma, dst.
  2. Parafilia, adanya gangguan kepribadian yang mengarah pada perilaku seksual menyimpang seperti voyeurism, fetis, ekshibisionisme, sadistic, masokis, dsb
  3. Attachment problems. Adanya disfungsi dalam relasi keluarga dengan sesama anggota keluarga. Tidak memiliki kelekatan dengan orang-orang terpenting dalam hidup seperti ayah, ibu, saudara, dsb
  4. CD atau cognitive distortion. Punya pola pikir yang salah terkait beberapa sudut pandang. Misal perempuan adalah obyek seks. Atau, orang dalam kondisi lemah lebih tepat dijadikan obyek pemuas ( orang pingsan dirampok atau diperkosa).

Riwayat Klinis Manusia

Selain 4 hal di atas, kita harus mewaspadai diri kita sendiri dan orang-orang di sektiar kita yang mengalami berbagai hal psikologis sebagai berikut. Hal ini bukan untuk melabeli seseorang, tetapi untuk bersegera mencari solusi atas permasalahan yang terjadi.

  1. Pengalaman awal di masa hidup. Masa kanak-kanak adalah masa sangat penting. Manusia yang kehilangan momen bahagia dan kasih sayang di masa ini, cenderung mencari pemuasan dalam hal seks atau dalam bentuk agresifitas. Marilyn Monroe, Jack the Ripper, Adolf Hitler adalah beberapa contoh orang yang mengalami masa kecil demikian buruk sehingga mencari pelampiasan dalam bentuk seks atau agresi.
  2. Riwayat sekolah : menjadi korban atau pelaku bullying, konflik dengan otoritas (guru, orangtua, kepala sekolah dst) harus menjadi perhatian. Ketidakmampuan untuk menjalin relasi sehat dengan orang seusia dan orang yang lebih tua akan membawa dampak.
  3. Riwayat pekerjaan : gonta ganti pekerjaan? Keluar masuk? Bagaimana seseorang mggnatasi konflik dengan rekan kerja dan atasan , harus menjadi catatan.
  4. Catatan psikoseksual : riwayat psikoseksual harus menjadi catatan khusus dan mendapatkan perhatian tentang bagaimana penanganan berlangsung. Apakah lebih senang masturbasi dan nonton pornografi ketika stress? Apakah senang menggosokkan alat kelamin ketika masih anak-anak ketika ketakutan? Dst
  5. Riwayat penyerangan/ agresifitas : jika pernah melakukan tindakan sangat agresif, berhati-hatilah
  6. Minat, hobi, skill, teman : mereka yang memiliki hobi, menguasai skill,  dan memiliki teman berarti memiliki kehidupan mental yang lebih sehat.
  7. Personality/ kepribadian : bagaimana cara seseorang menghadapi masalah? Apakah self imagenya bagus? Bagaimana perilakunya? Dst
  8. Riwayat forensic & psikiatrik sebelumnya : apakah pernah memiliki sejarah kekerasan, menyerang orang, termasuk gangguan psikiatrik lainnya seperti skizofrenia dst.

Analisa Reynhard Sinaga

Melihat paparan di atas, ada beberapa hal yang sepertinya paradox tentang ciri pemerkosa dan sebab-sebab seseorang menjadi pemerkosa. Reynhard cerdas, menarik, banyak teman. Terlihat hangat dan yang juga perlu digarisbawahi, ia cerdas dan berprestasi.

Tetapi berbicara tentang brain injury atau brain damage, ada kemungkinan ia terbiasa mengkonsumsi alcohol dan meng-oplosnya sehingga menyebabnya beberapa fungsi otak terganggu. Ia tak dapat melakukan high thinking order untuk memilah, memilih, menimbang, mengorganisasikan.

Jawa Pos 07/01/2020

Di samping itu, ia telah melakukan beberapa upaya ofensiv seperti percobaan permerkosaan atau perkosaan itu sendiri. Sedihnya, diperkirakan 39% pemerkosa sekalipun telah menjalani perawatan akan mengulangi lagi perilaku ofensifnya. Apalagi pelaku yang sama sekali tidak menjalani perawatan psikiatrik dan psikologis! Tentu, akan mengulangi kesalahan fatalnya lebih sering lagi.

Hukuman terhadap RS telah ditetapkan.

Mari kita tarik hikmah di baliknya, semoga tidak ada lagi korban atau yang lebih parah lagi, menciptakan pelaku. Seseorang dapat menjadi pemerkosa bila :

  1. Mengalami brain damage, boleh jadi karena trauma ( trauma keluarga, bully, penganiayaan seksual); oleh obat-obatan atau pornografi
  2. Tidak memiliki kelekatan yang baik & kuat dengan orangtua
  3. Mengalami masa kecil yang tidak membahagiakan
  4. Masa sekolah yang banyak masalah
  5. Terbiasa attempted rape tapi tak ada orang yang menyadari
  6. Pernah melakukan kekerasan seksual dan tidak segera menjalani perawatan kesehatan mental

Semoga RS adalah orang terakhir yang melakukan kejahatan mengerikan tersebut. Kita harus mewaspadai diri sendiri dan orang-orang terkasih di sekeliling kita agar mereka tidak menjadi korban, pun tidak menjadi pelaku.

Referensi :

Gantman, Ana P.  dan Elizabeth Levy Paluck. —. What is the Psychological Appeal of the Serial Rapist Model? Worldviews Predicting Endorsement. Artikel dari Women in Public Policy Seminar series at theHarvard Kennedy School

Lisak, David dan Paul M. Miller. 2002. Repeat Rape and Multiple Offending Among Undetected Rapists. Violence and Victims, Vol.17, No.1

Orth, Ruby L. Orth, dan Suzanne L. Osman. 2015. Perpetration Experience and Gender Predicting Empathy with a Stranger or Acquaintance Rapist. Modern Psychological Studies Vol 21 : no. 1

Sarkar, Jaydin. 2013. Mental Health Assessment of Rape Offenders. Indian Journal Psychiatry, Jul-Sep; 55(3) : 235 -243

Duell, Mark dan Danyal Hussain. 2020. The rugby player who trapped the world’s most prolific rapist: Male victim, 18, reveals how he beat up Reynhard Sinaga after waking up naked during attack and led police to lair where 195 were assaulted diunduh dari https://www.dailymail.co.uk/news/article-7856057/Britains-prolific-rapist-jailed-30-years.html 07/01/2020

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Bedah Buku Sinta Yudisia Karyaku Kyushu Mancanegara Remaja. Teenager

Mental Health Issues (1) dalam Polaris Fukuoka

Depresi. Suicidal thoughts atau pemikiran bunuh diri.

Aku berharap, novel Polaris Fukuoka dapat menjadi jembatan budaya remaja Indonesia- Jepang sekaligus membuat pembaca memahami seluk beluk depresi.

Dulu, sangat jarang menemui orang depresi atau orang yang ingin bunuh diri.  Sekarang, banyak sekali orang tua, bahkan remaja dan anak-anak yang merasa tertekan hidupnya karena tuntutan akademis atau tuntutan tak realistis dari lingkungan sekitar. Anehnya lagi, depresi yang berujung pada pemikiran bunuh diri tidak lagi didominasi oleh orang-orang dengan pendidikan rendah atau ekonomi kelas bawah. Mereka yang pintar, dari kalangan berada juga terancam gangguan mental yang mengerikan ini!

Selain paparan media sosial dan kehidupan kompetitif yang tak sehat, memang ada kultur-kultur tertentu yang turut memicu tekanan dalam diri seseorang.  Di novel Polaris Fukuoka yang bersetting budaya Jepang, beberapa point itu kuangkat.

  1. Budaya timur, termasuk Indonesia dan Jepang, sangat menghormati orangtua terutama ayah ibu. Hal ini tentu baik, mengingat dalam agama Islam pun, kewajiban berbakti pada orangtua menempati urutan teratas sesudah taat kepada Tuhan. Namun, bila komunikasi nggak berjalan lancar, anak bisa tertekan. Sebagaimana Yamagata Isao dan adiknya Yamagata Nozomi. Isao berakhir bunuh diri setelah berkali-kali membuat puisi jisei, puisi bertema kematian. Orangtua yang sukses tidak selalu mewariskan ketenangan hidup bagi anak-anaknya. Kadang, orangtua justru ingin anak-anaknya melanjutkan kesuksesan finansial yang telah dibangun puluhan tahun. Pilihan bakat minat, pilihan sekolah, pilihan akademis pada akhirnya ditentukan orangtua demi keberlangsungan kemapanan finansial. Keluarga Yamagata memaksa Isao dan Nozomi menekuni bidang ilmu tertentu – sesuatu yang sangat jauh dari minat bakat Isao dan Nozomi. Jadi, meskipun kewajiban patuh pada orangtua harus tetap berlaku, orangtua harus mencoba memahami keinginan anak-anaknya. Begitupun, anak-anak harus mencoba untuk menyampaikan apa harapan mereka, meskipun pada akhirnya entah orangtua atau anak harus mengalah salah satu.

2. Diam itu anggun dan kuat. Budaya timur meyakini ini, bahwa masalah harus dipendam rapat-rapat. Jangan sampai orang tahu! Padahal , ada orang-orang yang memang memiliki tipe kepribadian pencemas, disagreeableness, introver yang lebih senang memendam masalah sendiri. Memendam masalah lo ya – bukan memendam solusi. Sehingga, suatu saat ketika nggak kuat akan meledak. Entah itu bentuknya melukai orang lain atau melukai diri sendiri. Mencoba berteman dan bercerita pada orang lain merupakan salah satu solusi seperti persahabatan Sofia dan Nozomi, juga Sofia dan Tatsuo.

3. Komunikasi itu nggak gampang. Kadang harus ada ledakan dan api. Tapi nggak papa, sebab nanti ledakan itu perlahan akan mereda menjadi abu dan debu. Jangan takut ledakan, sebab sedang membangun jembatan pemahaman. Sofia yang tinggal bersama om Hanif, pamannya; seringsekali berantem demi mencoba mencocokkan apa yang ada di isi kepala mereka berdua.

Kebetulan, akhir tahun 2019, tepatnya 31 Desember 2019, aku diminta UI- IBF untuk membedah novel Polaris Fukuoka dalam kaitannya dengan mental health issue. Beberapa novelku memang mengangkat tema kesehatan mental dan bagaimana cara menghadapinya.

Nah, di bawah ini adalah beberapa link review Polaris Fukuoka yang bisa disimak, ya.

http://ellcheese.blogspot.com/2019/03/review-novel-polaris-fukuoka-by-sinta.html

http://nurin-light.blogspot.com/2018/10/polaris-fukuoka.html

https://rayescapingmadness.wordpress.com/2018/04/13/kind-of-book-review-polaris-fukuoka/

Mencoba berteman dan bercerita pada orang lain merupakan salah satu solusi seperti persahabatan Sofia dan Nozomi, juga Sofia dan Tatsuo (Polaris Fukuoka)

Kategori
Catatan Jumat Cinta & Love Oase Quran Kami Suami Istri WRITING. SHARING.

Sembuh Setelah Bercakap-cakap dengan Quran

Beberapa waktu lalu, saya mendapatkan pengalaman luarbiasa yang kisahnya langsung saya share kepada anak-anak, dan merekapun terkesima. Kisah ini saya dapatkan ketika akhir tahun 2019 berkunjung ke kampung halaman suami, Tegal.

Namanya bu Nuning.

Mbak Nuning & suaminya, pak Imam

Saya biasa memanggilnya dengan  nama mbak Nuning. Seorang ibu luarbiasa yang tak pernah lepas senyum terpahat di bibir meski kesulitan hidup bertubi-tubi, berton-ton menghimpit. Kalau saya buat rekap kepahitan hidup;  mungkin sepanjang beliau benafas, lebih besar bobot susah daripada senangnya. Ajaibnya, di setiap benturan kesulitan, selalu ada peristiwa luarbiasa yang membuat kita tergetar : Maha Besar Allah menitipkan sebagian ayat-Nya ke dalam kehidupan hamba-hamba pilihanNya.

Beberapa waktu lalu mbak Nuning bercerita, ia mengalami stroke. Separuh tubuhnya lumpuh, saraf mulutnya pun lumpuh total. 2 bulan ia mengalami stroke parah dan saya tak bisa bayangkan bagaimana ia jalani kehidupan sehari-hari. Bayangkan, suaminya sakit dan mbak Nuning yang selama ini merawatnya. Suaminya juga pernah stroke dan hingga saat ini masih membutuhkan pendampingan. Kalau istri juga ikut-ikutan sakit, bagaimana nasib roda kehidupan mereka? Meski ada asuransi kesehatan, tentu tak dapat menutupi semua keperluan hidup dan sakit. Apalagi beli obat yang di luar tanggungan BPJS. Untuk makan sehari-haripun mereka seringkali harus bersabar dengan kondisi yang ada. Lumpuh? stroke? Tak bisa bicara? Ya Allah…

Dokter saraf yang baik hati menangani, memberikan dorongan pada keluarga mbak Nuning.

“Meski saraf mulutnya sudah hampir 100% kena, Ummi tetap harus diajak bicara,” kata dokter saraf, berpesan pada anak-anak mbak Nuning. “Pokoknya diajak bicara aja, diajak aktivitas semampunya.”

Kita tentu tahu, stroke butuh penanganan cepat dan tepat. Obat yang bagus, terapis andal, kontrol rutin. Tetapi semua biaya itu tak ditanggung asuransi, kan? Transportasi PP ke rumah sakit tentu biaya tersendiri, belum lagi yang lain-lain.

Mbak Nuning & suami yang insyaallah selalu harmonis, dalam segala kesulitan yang menghimpit

Masyaallah, meski hidup dalam kesulitan, Allah Swt memberikan mbak Nuning anak-anak yang sholih sholihah. Anda mungkin pernah melihat orang bisu atau tuli berbicara. Bahasanya aneh, bukan? Suaranya lantang, berteriak-teriak memekakkan telinga, kadang buat lawan bicara deg-degan atau malah kesal karena komunikasi tak nyambung. Begitulah mbak Nuning ketika mengalami stroke dan lumpuh mulutnya.

Salah seorang putranya  memberikan semangat dan nasehat, “Ummi, Ummi memang harus terus belajar bicara. Ngajak orang bicara. Tapi lihat kan? Orang yang diajak bicara Ummi kadang kesal. Malah nggak suka karena Ummi ngomongnya gak jelas, sembarangan, orang juga nggak ngerti-ngerti apa yang Ummi bicarakan.”

Kurang lebih demikian kata si putra.

“Tapi Ummi harus terus ngomong, terus bicara, terus latihan bersuara. Daripada Ummi ngajak ngomong orang dan orang malah jengkel, kesal, marah; mending Ummi ngajak omong Al Quran saja,ya.”

Demikian bijak saran  putra mbak Nuning.

Dulu, penelitian S1 saya tentang tunarungu. Anak-anak yang tak bica mendengar dan biasanya kesulitan bicara ini, memang suaranya sangat keras menggaung kemana-mana. Kadang orang yang diajak bicara sering tak sabar dan meminta mereka lebih baik pakai bahasa isyarat. Itu juga yang terjadi pada mbak Nuning. Ia tak dapat bicara, seperti orang bisu gagu karena stroke yang menyerang saraf mulutnya. Tetapi ia harus bicara kalau ingin sembuh. Dan, tak semua orang mau diajak bicara…

Mbak Nuning menuruti saran si putra. Setiap hari ia mengajak bicara Quran, bahkan sehari bisa 8 juz dibacanya Quran dan diajaknya bicara layaknya orang bercakap-cakap.

Saya nggak akan promosi suatu barang.

Tetapi demikianlah ceritanya.

Seiring mbak Nuning terus mengajak Quran ‘bicara’ ada orang yang membawakannya british propolis dan obat ini memang membantunya untuk sembuh. Mbak Nuning bukannya menganggap british propolis woooww banget. Bukan demikian! Tetapi katanya, “ karena saya bicara dengan Quran, ada aja cara untuk sembuh. Salah satunya orang mengantarkan british propolis itu.”

British propolis, salah satu cara mbak Nuning untuk sembuh

Ketika saya bertemu mbak nuning akhir Desember lalu, saya sama sekali nggak nyangka ia sempat stroke selama 2 bulan. Terkapar lumpuh dan bisu. Inti kisah beliau yang saya simak betul-betul : “Kalau tak ada orang yang bisa diajak bicara, bicaralah dengan Quran. Nanti, Quran akan membantu mencarikan jalan kesembuhan –dengan izin Allah- lewat jalan yang dibukakan oleh seseorang atau sebuah peristiwa.”

Semoga, kita bisa rutin mengajak Quran berbicara ya?

“Kalau tak ada orang yang bisa diajak bicara, bicaralah dengan Quran. Nanti, Quran akan membantu mencarikan jalan kesembuhan –dengan izin Allah- lewat jalan yang dibukakan oleh seseorang atau sebuah peristiwa.”

#jumatbarakah

#jumathikmah

#energiquran

Kategori
Oase

[(kind of) BOOK REVIEW] POLARIS FUKUOKA

Wah, seneng banget baca review ini. Saya suka baca HAruki Murakami meski harus diulang-ulang karena barangkali skor IQ saya dengan Murakami beda kwkwkwk

Ray

Saya itu tipe orang yang bingungan kalo suruh milih buku yang bagus untuk dibaca. Karena selera saya tergantung mood, dan seringnya nggak sama sama selera orang. Kadang saya pengen baca yang pake mikir kayak buku-buku mistery yang kalo dibawa baca di cafe-cafe itu keliatan keren. Ya kaya’ kuat ngafe aja. Kadang juga pengen baca yang ringan-ringan, yang lucu-lucu, yang isinya bercandaan doang. WKWKWKWK. Tapi kadang juga bingung pengen baca apa. Pengen baca sesuatu tapi nggak ngerti yang lagi jadi selera apa. Biasanya sih saya minta rekomendasi. Tapi sering juga nggak berguna karena yang tak mintain rekomendasi malah bilang ‘Ini sih bagus menurutku, tapi ya kan selera orang beda-beda’. Ya nggak ada salahnya, tapi agak nggak ngebantu juga sih.

Dan saat itu saya lagi seneng baca buku yang settingnya Jepang. Negara yang pengen saya liat secara langsung sejak SD tapi nggak kejadian sampe sekarang T_T itu yang lagi bikin saya tertarik…

Lihat pos aslinya 638 kata lagi