Kontroversial Video Logan Paul tentang Aokigahara dan Upaya Mengatasi Commit-Suicide

 

Kita selalu merinding mendengar kata bunuh diri atau commit suicide.

Kematian adalah salah satu hal yang pasti akan dialami makhluk hidup. Namun bagaimana akhir hidup manusia, sungguh merupakan perenungan bagi kita semua. Sebagian manusia meninggal karena wabah kelaparan, peperangan, bencana alam, endemi penyakit atau human error seperti kebakaran dan kecelakaan. Walau bila bicara takdir, maka semua telah tertulis di lauhil mahfuz.

Tetapi, menjadi kewajiban manusia beriman dan berakal untuk mencermati segala fenomena yang terjadi dan berupaya sebaik mungkin menanggulanginya. Wabah penyakit misalnya, manusia berupaya sebaik mungkin untuk mengenali demam berdarah; mulai mencegah, mengenali tanda, memberikan pertolongan pertama hingga memberi perawatan sampai mencapai taraf kesembuhan. Belum lama ini di wilayah Jawa Timur utamanya Surabaya, dikejutkan dengan wabah difteri. Maka pemerintah dan masyarakat ramai-ramai menggalakkan vaksin.

Bencana yang disebabkan human error misalnya, pun dicoba diatasi sebaik mungkin.

Kebakaran? Banjir?

Kalau disebabkan karena buang puntung rokok sembarangan, sampah menumpuk; maka semua harus diantisipasi. Kecuali apabila kemarau panjang yang menimbulkan kebakaran dahsyat seperti di Australia tempo hari. Bagaimana dengan commit suicide? Apakah ia human error ataukah takdir yang tidak dapat diubah?

Kembali, kita tidak akan membahas takdir namun kita akan berupaya sebaik mungkin untuk mengatasi, atau mencegahnya.

Chester Bennington, Jonghyun dan Marilyn Monroe

Sederet artis papan atas dikabarkan bunuh diri.

Yang terus dikenang sepanjang zaman adalah Marilyn Monroe. Artis cantik nan sensual ini, seharusnya mendapatkan apa saja yang dapat diraih dunia; bila kebahagiaan itu senilai materi. Tetapi, Monroe tidak mendapatkannya. Ia mengalami abuse sejak kecil, suami pertamanya memperlakukan tidak baik dan pada akhirnya ia menjadi bintang bom seks. Monroe mendambakan kehidupan sebagai istri dan ibu, maka ia pernah berkata : “kalau perempuan disuruh memilih antara karier atau keluarga, pilihlah keluarga. Aku sangat ingin punya anak dari rahimku sendiri.”

Ya.

Monroe yagn sensual dikabarkan berkali-kali mengalami keguguran.

Menjelang akhir hayat ia menjalin kasih dengan JF Kennedy, dan sungguh ia berharap itu merupakan kisah cinta sejati. Meski kerabat dekat sudah mengingatkan, mustahil Monroe menjadi first lady karena meski ia sangat menawan sebagai bom seks, publik Amerika tetap akan memilih Jacquline Onassis sebagai ibu negara!

Chester Bennington pun memiliki masa lalu yang sangat tak stabil. Vokalis idola anak muda yang sangat legendaris dengan Meteora nya ini, mengakhiri hidup sehingga publik merasa sangat terkejut sebab sangat sedikit grup musik semacam Linkin Park. Nyaris tak percaya di puncak keberhasilan, dipuja jutaan penggemar, memotivasi anak-anakmuda, menghentak dengan genre rock berbeda; tetap saja tak membuat Bennington nyaman dengan semuanya.

Jong Hyun?

Books about Korea

Kita akan memahami mengapa ia memilih mengakhiri hidup bila telah membaca Korean Cool –Euny Hong.

“Setiap negara maju, pasti memiliki ironi,” tulisnya. Bila belum memiliki ironi, maka ia bukan negara maju. Dengan kata lain, menurut Hong, kemajuan negara pasti akan menimbulkan paradoks. Negara yang makmur, maju, tenang, damai, sukses; belum tentu terlihat seperti apa di permukaan. Kerja keras pejabat dan rakyat, kadang harus dibayar mahal. Untuk menciptakan kemakmuran setiap orang harus bekerja lebih dari waktu rata-rata. Setiap orang harus berpikir untuk maju, sukses, berhasil; dan mereka yang menghambat kemajuan akan terpinggirkan.

Euny Hong menyebutnya ‘masa perbudakan’. Setiap warga Korea paham, bila belum mencapai target, mereka akan rela dalam masa perbudakan. Itulah sebabnya, boyband dan girlband rela berada dalam masa karantina dari 5 hingga 13 tahun. Mereka berlatih vokal, berlatih menari, berlatih tampil, berlatih manggung dan seterusnya hingga ketika debut muncul : sempurna. Sehari latihan bisa memakan waktu belasan jam, kalori makanan terkontrol dan aktivitas harian pun terjadwal.

Inilah ironi.

Dunia berdecak dengan hallyu yang menganeksasi dunia. Berbeda dengan Amerika yang daya serangnya hard melalui milter dan ekonomi, Korea Selatan sangat soft : melewati budaya. Dan betul kata Hong , “Korea memiliki apa yang tak dimiliki Amerika. Kami pernah menjadi negara dunia ketiga. Jadi kami pernah tahu bagaimana rasanya menjadi terbelakang.”

Kita mengelu-elukan boy band dan girl band. Tapi pernahkah kita tahu apa penderitaan mereka, ratapan hati, tangis dan kelelahan di balik panggung? Sekali mereka melakukan kesalahan, hujatan mengalir.  Lebih gemuk, berjerawat, bermuka masam dan sejenisnya; publik menghujat. Padahal para idol adalah manusia juga yang ingin sesekali menjadi diri mereka apa adanya. Ingin bersantai, bermalas, membangkang; yah, mirip anak muda pada umumnya.

 

Aokigahara dan Bunuh Diri

Hutan Aokihagara dan film the Forest

Pernah lihat film the Forest yang mengambil tempat di Aokigahara? Aokigahara terletak kurang dari 100 mil arah barat Tokyo, terkenal karena keindahan hutan dan gua-guanya yagn eksotik. Serta, pepohonan rimbun yang menjadi tempat persembunyian sempurna bagi orang-orang yang ingin mengakhiri hidup.

Budaya bunuh diri Jepang sangat dikenal masyarakat dunia, sebagian berdecak kagum, sebagian sangat menentang. Seppuku, kamikaze, harakiri dan sejenisnya merupakan  tindakan lelaki Jepang dalam mempertahankan kehormatan. Mereka lakukan bila kalah perang atau justru melakukan serangan bunuh diri untuk menyentak lawan. Tradisi yang awalnya dipakai sebagai upacara kehormatan ini bergeser menjadi sebuah perilaku yang bukan hanya dilakukan kaum militer tapi masyarakat biasa. Bila dulu orang mengenal tradisi bunuh diri dilakukan oleh para samurai yang kalah tanding dan para serdadu Jepang ketika kalah perang dunia ke-2; maka orang-orang zaman kini lebih mudah melakukan tanpa melewati perang tanding atau perang medan laga. Yang penting merasa ‘kalah’ maka bunuh diri dilakukan. Kalah dalan cinta, kalah dalam akademis, kalah dalam bisnis, kalah dalam pekerjaan, kalah tidak mencapai apa-apa. Kalah, bahkan sebelum kita mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri.

 

Hutan Aokigahara dan Logan Paul dengan video kontroversialnya

 

Cara memandang bunuh diri bagi masyarakat Jepang dan masyarakat dunia lain, pasti berbeda. Vlogger yang mungkin memandang konsep bunuh diri secara berbeda, adalah Logan Paul yang videonya tengah viral.

Paul Logan bisa mengolok-olok Aokigahara dan tradisi bunuh diri masyarakat Jepang sementara videonya menempati ranking 10 teratas dunia. Kontan, publik mengecam youtube karenea video itu bebas ditonton. Saya tidak akan membahas dunia maya sebab tidak memiliki kehalian di sana, tetapi lebih memilih menyikapi bagaimana kita memandang bunuh diri sebagai sebuah tradisi, dan sebagai sebuah perilaku yang tampaknya mulai lazim dilakukan.

 

Mengapa Bunuh Diri?

Sungguh, keprihatinan ini menyeruak mencermati kondisi sekeliling. Apalagi, tradisi bunuh diri lekat dengan masyarakat Jepang dan sekarang Korea Selatan, yang gelombangnya tengah diminati anak-anak muda Indoensia. J-pop dan K-pop sangat memikat; maka tak ada salahnya kita mencoba memelajari kultur kedua bangsa tersebut dan mengambil apa yang baik bagi Indoensia dan menyaring apa yang kurang tepat bagi bangsa ini.

Di novel Polaris Fukuoka, dikisahkan Yamagata Isao bunuh diri. Adiknya, Nozomi sempat berniat melakukan hal yang sama tetapi persahabatannya dengan Sofia mencegahnya melakukan hal ini. Mengapa Isao bunuh diri? Tekanan akademik dan tuntutan orangtua, yang berseberangan dengan bakat minatnya, membuat dirinya melakukan hal itu.

Mengapa saya mengangkat tema ini?

Saya pernah melakukan tes bakat minat untuk anak SMP. Dan ketika hasil tes keluar, saya konsultasikan dengan guru-guru sekolah; tampaklah bahwa orangtua tidak dapat menerima begitu saja bakat minat anak mereka. Ada seorang anak yang memiliki dua orangtua sukes sebagai ahli medis. Orangtuanya berharap anaknya pun seperti itu. Padahal ketika tes bakat minatnya keluar, yang muncul adalah kecenderungan literasi, aesthethic dan social service! Sungguh tidak nampak kecenderungan ke sains dan medikal. Sangat disayangkan bila orangtua masih memaksa anak-anaknya menjadi sesuatu, karena pertimbangan status dan ekonomi.

 

Kutipan percakapan Sofia dan Nozomi membahas bab bunuh diri

Demikian pula Isao.

Ia yang sesungguhnya ingin jadi pemusik, dengan kecerdasan otaknya dipaksa harus menjadi mahasiwa di universitas terkemuka. Begitu pula Nozomi. Tentu saja, diharuskan demikian karena bisnis keluarga mengharuskan para pewaris harus menekuni ilmu tertentu dan menguasai keahlian tertentu; walau bakat minat tidak mendukung.

Demikianlah, sebuah ironi.

Kemajuan dan kemapanan, bila tanpa pemahaman emosional yang baik dan pendekatan nurani akan menimbulkan kekacauan hati dan kegalauan pikiran. Dan, begitu mudahnya orang memutuskan bunuh diri ketika kalah.

“Di titik apa seseorang memutuskan bunuh diri?” tanya Sofia pada Nozomi.

“Di titik ketika mereka merasa diabaikan,” jawab Nozomi.

 

Perbedaan Budaya dan Tradisi

Eropa dan Amerika berbeda.

Di wilayah ini, kultur individualis telah terasah sejak dini. Kemandirian, memutuskan sesuatu secara individual dan bukan kolektif; biasa dilakukan. Anak tidur terpisah sejak kecil, anak usia 18 tahun bebas hidup serumah dengan pacarnya, anak remaja naik mobil dan mengkonsumsi alkhol ; sudah diputuskan sejak usia 18 tahun. Diabakan, hidup sendiri, sudah menjadi kebiasaan; walau akhir-akhir ini fatherless family pun memunculkan masalah baru. Terbiasa mandiri dan individualis itu bukannya tanpa masalah.

Bagaimana dengan dunia timur : Indonesia, Jepang, India, Korea?

Kita masyarakat kolektif.

Menikah butuh pertimbangan paman bibi, kakak adek, kakek nenek, tetangga sepupu dll.

Kuliah pun demikian. Cari jodoh pun demikian. Bekerja pun demikian. Maka pertimbangan banyak orang seringkali jadi perhatian yang memusingkan. Walau diri sendiri sudah tak mampu menanggulangi, tetap harus memikirkan oranglain. Inilah ironisnya.

Perasaan tertekan dan tidak mampu mengungkapkan apa yang ada di dalam benak dan hati; bagi masyarakat timur lambat laun menjadi batu yang menghimpit. Maka bila tidak dikomunikasikan, disalurkan dengan baik; di titik tertenu menajdi perasaan kalah yang membabi buta : mati lebih enak (seperti sebuah novel karya Alistair Maclean). Walau ternyata, di novel tersebut dikisahkan, perjuangan seseorang untuk mati sama sulitnya seperti perjuangan seseorang yang mencoba hidup!

 

Mengatasi Bunuh Diri

Peduli, itu kuncinya.

Mindfulness of others, cobalah mempertimbangkan pikiran dan perasaan orang lain. Cobalah peduli dan berbicara pada orang yang tengah membutuhkan sandaran dan telinga; sebagaimana yang dilakukan Sofia dan Tatsuo pada Nozomi. Memang, orang yang tengah punya masalah bisa jadi sangat membebani. Mereka mengungkapkan keluhan dan permasalahan sementara orang yang tengah mendengarkanpun jugamemiliki segudang masalah yang tak kurang beratnya; tetapi itu dilakukan karena hati dan batin mereka, mental mereka sedang rapuh dan sakit. Kalau kita sedang banyak pikiran, inginnya mengomel, kan? Lagi marah, pinginnya mengumpat. Lagi sedih, inginnya meratap dan menangis.

Demikian pula dengan orang yang punya banyak beban menghimpit, sampai tak tahu harus bagaimana lagi. Mereka ingin mengosongkan pikiran dan hati yang pepat, ingin mencurahkan keluar, ingin mencari tempat pelarian. Masih untung bila mereka menemukan teman, sahabat, saudara yang jadi tempat berbagi. Kadang, ingin curhat di medsos bukannya dapat simpati dan empati; malah dimaki-maki.

Maka, di pusat-pusat rehabilitiasi mental kita akan menemui orang yang afeksinya tumpul. Sedih banget, mendapat penderitaan bertubi, menerima kemalangan beruntun; malah tertawa (ini sebetulnya salah satu tanda ketumpulan afeksi yang harus diwaspadai) Orang skizofren tidak lagi tahu beda bahwa sedih itu menangis dan senang itu tertawa. Mereka marah, senang, sedih, biasa, akan  selalu tertawa. Depresi dan skizofrenia yang akut; bisa menimbulkan pemikiran shortcut . Entah itu melukai oranglain, atau bila tak memiliki kekuatan melukai oranglain, akan berbalik melakukan self-harm. Awalnya hanya menjambak diri sendiri atau membenturkan kepala, tetapi lambat laun bila tak tertahankan, akan melakukan hal pintas yang dianggap mengakhiri penderitaan.

Bunuh diri adalah perilaku yang harus diwaspadai.

Berbeda dengan pelaku free sex, drug abuse, pornografi dsb yang masih dapat diperbaiki, bunuh diri sungguh fatal sebab pelakunya langsung meninggal dan tak ada lagi yang dapat diperbaiki. Maka pemerintah dan masyarakat harus waspada terhadap kasus ini. Paul Logan mungkin harus mendapatkan peringatan tetapi videonya membuat orang terhenyak : apakah sekarang perilaku bunuh diri sudah tidak membuat orang menjerit, menangis, dan ngeri; tetapi malah membuat orang excited dan tertawa? Apakah sesungguhnya Logan Paul itu kita : semakin lucu (meski prank dan menyusahkan orang), semakin menakutkan, semakin sadis, semakin membuat bulu kuduk merinding maka itu akan membuat klik meninggi dan viewers membanjir?

Semoga video Logan Paul tidak mencerminkan kita. Ia telah membuat klarifikasi videonya tentang Aokigahara yang terkenal sebagai  suicide forest. Di video tersebut, Logan Paul mengambil video dengan latar belakang tubuh orang yang mati bunuh diri sembari tertawa-tawa dan mengunggah ungkapan yang kurang pantas.

Ke depannya, kita harus mewaspadai dengan perilaku dan kecederungan teman-teman kita, keluarga kita untuk beunuh diri.

Atau bahkan, kita harus mewaspadai diri sendiri, apakah telah tampak keinginan untuk bunuh diri?

 

 

Iklan

Baju Sial, Laba yang Bawa Rezeqi & Larangan Makan di Cobek

Percaya ada baju yang bawa sial? Saya punya 1. Moga gak nambah, sebab punya 1 aja udah buat senewen. Setiap pakai baju itu ada aja hal menjengkelkan terjadi. Bahkan, teman, sedang memikirkan untuk menulis cerita ini aja…eh mendadak saya lagi di kamar mandi lampu mati sampai teriak-teriak, “helloooo! Adakah yang gangguin Ummi dengan matikan lampu kamar mandi?”

Hehehe, sebab saya suka iseng gangguin anak-anak. Kalau mereka di kamar mandi, saya matikan lampu.

Baju ini sering banget buat saya kesal. Padahal baju ini salah satu baju resmi yang pantas dikenakan buat acara formal. Dulu berupa kain hadiah seseorang, dan saya jahitkan menjadi sebuah baju. Sampai-sampai saya berpikir : jangan-jangan ketika baju ini dibuat, ada ritual tertentu hingga selalu aja ada hal jelek mendatangi.

Mau tau apa aja hal menjengkelkan yang terjadi?

Mulai disemprot orang, kesasar, kejadian-kejadian yang tak diharapkan terjadi (tebak sendiri!), hingga delay pesawat berjam-jam. Malu gak sih, pas saya mau ngisi acara pakai baju ini tetiba izin ke panitia,” maaf dek, ada kamar mandi? Saya mau ke belakang.”

Tetiba perut mules tiada tara! Padahal biasanya kalau saya mau ngisi acara, saya akan atur jadwal makan : gak boleh pedes, gak boleh MSG, gak boleh instan dll. Perut saya tergolong sensitif (pake bangettt).

Saya anggap baju ini bawa sial. Atau pertanda sial. Atau penyebab sial.

Yah, akhirnya, baju ini saya simpan aja di lemari. Mau dikasih orang juga gak mungkin. Selain baju itu kenang-kenangan, andaikata benar bawa sial, masa saya delivery ke orang kesialannya?

Sampai suatu ketika, saya merenung.

Habis baca buku Marie Kondo, bahwa barang-barang yang tidak menimbulkan kebahagiaan lebih baik disingkirkan; saya mulai berpikir tentang baju itu. Dibuang, enggak. Dikasih ke orang, enggak. Dirombeng, enggak. Kalau disimpan, ditumpuk-tumpuk di lemari, gak digunakan sama sekali; hanya akan mengundang ketidak berkahan. Maka tak ada cara lain kecuali mencoba memakai baju ini lagi, dan melawan kesialannya.

Hari itu, hati deg-degan.

Wah, kesialan apa yang akan aku alami hari ini?        Dag dig dug. Menduga-duga. Berpikir-pikir. Menerka-nerka.

Sejak belum pakai baju itu, hati ini berdoa, berbisik pada Allah Swt ,” Ya Allah, andai baju ini bawa sial, lindungi aku dari kesialannya. Andai baju ini buruk, lindungi aku dari keburukannya.”

                       Baju ‘sial’ yang jadi untung

Sejak belum pakai pakai baju itu aku banyak baca istighfar, shalawat nabi dan segala macam dzikir yang dapat terucap. Luarbiasa, hari aku memutuskan pakai baju ‘sial’ itu, ternyata ada banyak keberuntungan terjadi. Aku mengisi 2 acara , mendapat banyak bingkisan dan mendapat banyak teman baru serta pengalaman baru. Nyaris hari itu tidak ada kejadian mengesalkan, kecuali 1x saja yang kuanggap, yah, kebetulan belaka. Kira-kira, apa yang mengubah baju ‘sial’ itu jadi baju ‘untung’?

  1. Berdoa kepada Allah Swt sebelum memakainya.
  2. Sepanjang memakai baju itu banyak istighfar, baca shalawat dan dzikrullah
  3. Selalu positif thinking
  4. Banyak senyum agar happy
  5. Mempersiapkan agenda hari itu dengan matang agar tidak tertimpa eksialan yang sesungguhnya merupakan kecerobohan kita

 

                        Laba-laba pembawa rezeqi

“Kalau ada onggo-onggo, jangan diusir!”

Itu kata ibuku, berpesan kepadaku agar behati-hati bila melihat onggo-onggo.

 

laba laba gonggo

Laba Gonggo (Onggo-onggo)

Tahu onggo-onggo? Sejenis laba-laba yang biasanya nangkring di sudut pojok dinding rumah, dan binatang ini tidak selalu terlihat. Sesungguhnya, ada beberapa hewan yang dianggap pembawa keberuntungan atau malah kesialan. Tokek, yang disunnahkan untuk dibunuh, ternyata oleh orang Jawa dianggap pembawa berita baik. Kejatuhan cicak, dianggap sebagai pertanda sial.

Bagiku, tokek hewan yang menakutkan. Dan gigitannya kata orang cukup berbahaya. Maka aku merasa lebih baik hewan ini diusir dari rumah, bila kita tak mampu membunuhnya. Perihal laba-laba, aku ingat bahwa ini salah satu hewan yang melindungi persembunyian Rasulullah Saw di gua bersama sahabat beliau Abubakar ra. Maka, terlepas dari ia membawa berita baik atau tidak, aku memang enggan mengusirnya. Kecuali bila sarang laba-laba di sudut rumah sudah  menumpuk-numpuk.

Bagaimana dengan kupu-kupu?

Kata orang-orang Jawa kuno, adanya kupu-kupu pertanda akan mendapat tamu tak diundang. Umumnya tamu yang membawa kabar bahagia. Entah benar atau tidak, tapi semasa kecil rumahku pernah kemasukan kupu-kupu. Lalu trataaaa….nenekku datang tiba-tiba. Wah senang sekali! Mungkin saja itu kebetulan belaka.

Berbagai kepercayaan yang berkembang di masyarakat, sesungguhnya merupakan pengetahuan empiris yang tidak dapat diambil kesimpulan mutlak berdasarkan teori yang sudah baku.

Kepercayaan bahwa anak perempuan yang menyapu tak bersih akan punya suami brewokan, menjadi salah satu nasehat yang sering diungkapkan orangtua pada anak-anak perempuan. Yah, kalau orang barat dan orang Turki yang dari sononya sudah bawaan brewokan, apa berarti semua istri mereka gak pintar menyapu rumah? Kadang, ancaman-ancaman untuk menakuti anak atau cucu, bermanfaat supaya mereka segera menghindari perilaku yang kurang baik.

Sambal di cobek.JPG

Jangan makan nasi di cobek!

“Jangan makan nasi dari cobek, nanti jauh jodohnya!”

Sambal di cobek yang tinggal sedikti, enak banget kalau dicolek dengan nasi. Tapi emang sih, melihat orang makan dari cobek, rasanya gimanaaa gitu. Maka orangtua biasanya bilang : nanti jauh jodoh.

“Jangan duduk di depan pintu. Nanti jauh jodoh!”

Yah, kalau orang duduk di pintu, biasanya bikin sebel kan? Menghalangi yang mau lewat dan terpaksa bilang : permisi, nyusun sewu, ngapunten blablabla. Serba nggak enak kan? Maka dibilanglah : jauh jodoh.

Ada nasehat-nasehat trasidional yang masih dapat digunakan dan bahkan menjadi pedoman, namun sebagian yang lain, perlu diperhatikan karena kebaikan isi nya dan tidak perlu diyakini sebagai hal yang sungguh akan terjadi. Misal, terpaksa duduk di pintu karena saat pengajian, ruang tamu shahibul bait dipenuhi jamaah pengajian dan kita terpaksa duduk di pintu, maka bukan berarti jodohnya jauh.

 

 

 

 

Rangkuman pertemuan dengan Murteza Fikri, Saddam Hussein dan Muammar Qadafi (3 putra Saifudin Ibrahim)

Pertemuan dengan Ustadz Menachem Ali dan 3 putra Saifudin Ibrahim hari itu, sungguh merupakan hadiah berharga bagi diriku yang berulang tahun pernikahan tepat 25 Desember 2017. Apalagi hari itu fisikku sedang drop sekali, sejak Jumat sakit sehingga butuh perjuangan untuk berangkat pagi ke masjid dan ke acara Saddam Hussein cs di SD Muhammadiyah 4, Pucang Anom, Surabaya. Sampai-sampai di masjid, aku harus merunduk-runduk memegangi perut yang bolak balik kolik hingga putriku berkata, “sabar ya Mi…”

Suamiku pun sempat berkata sebelum berangkat ke acara di Mudipat (Muhammadiyah 4).

“Nggak usah aja ya? Prioritas kesehatan dulu,” ujarnya khawatir melihat kondisiku yang masih agak kepayahan.

Anehnya, entah mengapa tekadku sangat kuat. Bahkan kami berangkat jam 08.00 pagi, masih sepi dan aku harus mampir ke masjid al Falah untuk beristirahat sebentar lantaran perutku yang kolik lagi. Alhamdulillah, kami tetap bisa hadir di acara ketika bangku masih kosong, sebab ternyata acara mulai jam 09.00 pagi. Sebab ternyata, peserta membludak hingga ruangan penuh dan peserta yang tidak kebagian tempat harus rela berdiri!

Membludak!

 

Apa yang kutuliskan adalah catatan sepanjang  3 putra Saifudin Ibrahim memandu acara yang luarbiasa hari itu. Istighfar, hamdalah dan airmata tak terbendung dari mataku. Dari mata para pengunjung. Sungguh; betapa luar biasa 3 pemuda di depan kami yang tetap kokoh dalam keimanan mereka sementara sang ayah saat ini tengah berdakwah dari seberang agama yang lain.

fikri, saddam, qadafi.JPG

Muamamr Qaddafi (3), Murteza Fikri (1), Saddam Hussein (2)

Profil singkat Saifudin Ibrahim

Saifudin Ibrahim berasal dari Bima. Beliau anak ke-2 dari 9 bersaudara. Anak ke-1 perempuan, maka Saifudin Ibrahim terbiasa menjadi pemimpin keluarga. Istrinya, Nurhayati merupakan anak dari 11 bersaudara yang berasal dari Jepara. Baik orangtua Saifudin Ibrahimd an Nurhayati adalah orang-orang terpandang, sebab ayah Saifudin Ibrahim (SI) adalah peolpor Muhamamdiyah di Bima sedang ayah Nurhayati adalah pelopor Muhammadiyyah di Jepara.

SI seorang yang tangguh, pejuang sejati dan orang yang brillian.

Sejak kecil hingga dewasa, ia selalu mencari beasiswa. Ia menempuh pendidikan di Universitas Muhammadiyah Surakarta atas beasiswa PP Muhammadiyah. Si angkatan 1983, mendapat beasiswa kader dan kuliah di Ushuluddin mengambil perbandingan agama. Selanjutnya, SI bekerja sebagai salah satu guru di Mahad Zaytun. Beliau mengajar bab aqidah, tarikh dan bahasa Arab. SI adalah seorang yang sangat fasih berbahasa sehingga ia juga menjadi humas dan bertugas untuk menerima tamu-tamu dari Timur Tengah. Dalam perjalanannya, SI pernah mengIslamkan 12 orang.

 

Murtadnya SI

Tahun 2006, SI keluar dari agama Islam. Setelah ia murtad, SI kuliah lagi di bidang teologi. Ia kemudian berkeliling, utamanya tanggal 25 Desember untuk berceramah di depan jemaat sembari mengutip ayat-ayat Quran yang memang sudah sangat lekat dengan dirinya.

Apa pasal kemurtadan SI?

Ada beberapa kejadian yang terjadi dalam hidup SI, yang diduga menyebabkannya kecewa dengan orang-orang muslim dan akhirnya menyebabkannya berpindah agama

  1. SI di skors dari Zaytun karena dianggap memiliki dualisme pekerjaan. Beliau diskors 3 minggu atas tuduhan tersebut tanpa klarifikasi. Tak tanggung-tanggung beliau diskors oleh pemimpinnya yang selama ini menganggap SI sebagai tangan kanan (menurut Saddam Hussein, yang berjualan herba saat itu adalah Ummi. Jadi bukan Abi)
  2. Bersamaan dengan itu, seorang Nashrani memberikan hibah 1400 New Statemen untuk dibagi-bagikan kepada pesantren
  3. Bermimpi bertemu nabi Isa dan nabi Muhammad Saw meninggalkannya

 

Saddam Hussein kecil menjadi saksi kemurtadan sang Abi

Saddam Huseein saat itu 10 tahun dan duduk di bangku kelas 6. Si kecil Saddamlah yang pertama kali mengetahui kemurtadan Abi, tapi karena kepolosannya belum tahu harus berbuat apa.

SI melakukan perjalanan ke Jakarta, lalu ke Surabaya sebelum ke Lombok dan Bima. Yang membuat Saddam bertanya-tanya saat itu :  mengapa Abi tidak sholat?  Mengapa Abi selalu bertamu dengan teman-teman Nashrani?

Saddam kecil rupanya ingin tahu mengapa abinya tak sholat.

“Abi nggak sholat?”

“Jama qoshor,” jawab SI.

“Kok gak Shubuh?”

SI hanya diam saja.

Menurut Saddam, Abi murtad saat berada di Surabaya. Saddam mendapat instruksi dari abinya ,”Abi mau ngajari toleransi. Kalau mereka doa, kamu ikut nunduk doa.”

Saat di Surabaya, SI bertemu dengan teman-teman Nashraninya, utamanya dari the Gideons. Ia diperlihatkan video-video sementara Saddam diminta main dengan anak seorang pendeta. Meski demikian, saat Saddam mencari ayahnya, ia mendengar sang abi berdoa ,”ya Tuhan Yesus, ini adalah hambaMu…”

Hancur hati Saddam mendengarnya. Ia gemetar namun tak tahu harus berbuat apa. Sebagai anak kecil hanya dapat merasakan kesedihan yang dalam sebab SI baginya adalah sosok seorang abi yang inspiratif dan penyayang keluarga. Berkali-kali SI menekankan pada Saddam, “pokoknya nggak boleh, nggak boleh kasih tahu!” Maksudnya nggak boleh kasih tahu tentang kemurtadan SI kepada anggota keluarga.

Menurut Saddam, ummi sudah mulai curiga namun belum menemukan jawaban pasti. Mengapa status kerja SI dicabut di Zaytun? Dari Indramayu, keluarga SI pindah ke Bekasi, dibelikan rumah oleh Pdt. Eri Sapto Wedha. Saat pindah ke Bekasi 7 hari, Saddam mendapati ummi menangis sejadi-jadinya jam 22.00. Menurut pengakukan Murteza Fikri, ummi menangis selama seminggu lamanya. Namun, di dpean anak-anaknya, ummi belum menceritakan kejadian sebenarnya. Ummi hanya berujar,

“Abi mau pergi jauh. Abi mau pergi ke luar kota lama.”

Ini dilakukan ummi supaya anak-anaknya tak sedih.

Ummi memiliki sakit diabetes yang berkisar antara 300-700. Karena kuatnya semangat ummi, sekalipun memiliki diabetes 700 yang harusnya membuat seseorang terkapar, beliau tetap bangkit berdiri demi anak-anaknya. Memang, ummi sempat agnostik. Namun, menjelang wafatnya ummi berwasiat kepada ketiga putranya agar tetap dalam keIslaman.

2006-2012 anak-anak SI masih serumah dengannya. Sebab kalau tidak ikut aturan main, maka anak-anak tidak makan dan tidak sekolah. SI dibaptis dengan nama Abraham bin Moses.

 

Pertanyaan peserta dan jawaban yang mencerahkan

Ada banyak pertanyaan yang menghujani tiga putra SI : Murteza Fikri, Saddam Hussein dan Muammar Qaddafi. Pertanyaan dari kaum ibu umumnya mirip : bagaimana setelah abi murtad? Apakah masih serumah? Apakah ummi abi masih campur? Apakah mereka bercerai?

Ada pertanyaan-pertanyaan yang sangat menohok dari peserta.

  1. “Abi adalah ayah biologis dari Saddam cs. Tapi menurut Saddam, apakah ayah kalian kafir dzimmi atau kafir harbi?” tanya seorang ibu muallaf yang dulunya memiliki nama baptis Maria Christina.
  2. “Saya telah berdiskusi via whatsapp dengan Abi,” ujar ustadz Menachem Ali. “Menurut saya beliau belum memahami ajaran Nashrani dengan mendalam, sebab beliau masih memiliki kebingungan. Tampaknya, beliau hanya sakit hati dengan beberapa person dalam Islam tetapi kemudian merasa nyaman dengan keluar Islam. Di titik apa Abi terseret hingga keluar dari Islam?”
  3. “Adakah upaya untuk menarik SI kembali kepada Islam?” tegur seorang lelaki, seorang pengurus takmir masjid. “Janganlah anda merasa enjoy dengan melakukan perjalanan kesana kemari, mengisi acara, lalu melupakan kewajiban utama mengembalikan ayah anda kepada Islam.”

 Maria Christina dan ustadz Menachem Ali

 

Kafir harbi dan kafir dzimmi

Kafir harbi adalah mereka yang terang-terangan memerangi Islam sementara kafir dzimmi adalah sebaliknya. Menurut Saddam, SI adalah ayah biologis tetapi SI pindah agama. Urusan murtad adalah urusan SI. Karena beliau ikut campur dalam urusan agama lain termasuk menghina Allah Swt, Rasulullah dan Islam maka SI harus mendapatkan tindakan tegas. SI punya akun youtube ribuan followers dan ribuan likers. SI juga punya yayasan Amanat Agung yang memiliki 300 ribu pengikut aktif-pasif.

Pak herman.JPG

Pak Suherman Rosyidi menjelaskan tentang harbi-dzimmi

Secara karakteristik, SI termasuk kafir harbi. Namun sebagai negara konstitusional tentu tidak dapat diterapkan harbi-dzimmi tetapi kasus SI dapat masuk ke ranah hukum pidana. Jadi kaum muslimin pun tidak dapat main hakim sendiri untuk menentukan harbi-dzimmi, kecuali negara Islam , sementara Indonesia adalah negara konstitusional.

Sesungguhnya, tindak tanduk SI telah banyak meresahkan masyarakat. Namun, pihak kepolisian belum merespon cepat sekalipun yang melaporkan sudah banyak. KNAP (Komisi Nasional Anti Pemurtadan) pada akhirnya tidak mengontak Polri tetapi mengontak MUI yang lansung melaporkan ke Ustadz Maruf Amin. Ustadz Maruf Amin langsung membuat komisi darurat dan ditindak lanjuti oleh pak Tito Karnavian.

SI masuk dalam kategori harbi adalah karena ceramah-ceramahnya yang antara lain mencuplik ayat secara tidak lengkap, beberapa di antaranya adalah

  • Satu-satunya agama yang membolehkan membunuh hanyalah agama Islam
  • Memlintir tentang poligami
  • Tidak ada orang yang dapat menjalankan Islam secara kaffah

 

Memahami ajaran Nashrani

Menurut Saddam, SI memahami betul tentang Islam dan cukup paham ajaran kristiani. Sekalipun memang titik baliknya karena kekecewaan terhadap orang-orang tertentu dalam Islam. Salah satu yang menjadi legitimasi kekecewaan SI adalah tindakan Amrozi dan Imam Samudra.

Walau, tetap saja ada kejadian di luar nalar yang menyebabkan seseorang murtad.

Menurut Saddam, orang murtad karena tiga hal :

  1. Murtad karena harta
  2. Murtad karena nikah
  3. Murtad karena mimpi

SI mengalami nomer 3.

 

Ada perkataan Saddam yang menurutku sangat menohok.

Sesungguhnya di dunia ini, kaum muslimin menyaksikan beberapa jenis korban kemanusiaan. Korban-korban kemanusiaan ini haruslah ditangisi dengan kesedihan mendalam dan segera mendapatkan bantuan.

  1. Korban bencana dan korban perang. Suriah, Palestina, Rohingya. Korban yang syahid telah mencapai 700 ribu dan terus berjalan. Namun pada hakekatnya, korban-korban ini husnul khatimah dan syahid , serta insyaallah masuk ke dalam JannahNya. Kaum muslimin menangisi kondisi saudara-saudaranya yang seperti ini, medoakan dan segera memberikan bantuan
  2. Korban pemurtadan yang sesungguhnya jauh lebih mengenaskan sebab kaum muslimin tidak ada yang menangisi walau akhir hidup korban-korban ini jauh berbeda dari korban yang pertama.

 

Pemurtadan terhadap kaum muslimin dilakukan atas beberapa alasan, antara lain :

  • Kaum muslimin yang miskin, lebih banyak dari yang mapan
  • Kaum muslimin yang awam, lebih banyak dari yang paham

 

Upaya menarik SI kembali pada Islam

Kali ini yang berbicara adalah Muammar Qaddafi.

Masyaallah, sungguh beruntung ummi Nurhayati memiliki 3 pendekar ksatria yang insyaalah sangat dibanggakan kaum muslimin. Mereka masih muda, berani dan juga cerdas.

 

Muammar.JPG

Muammar yang bijak dan berani

“Kami tidak merasa enjoy dengan melakukan hal seperti ini (berdiri di stage dan ceramah). Tetapi kami harus berkeliling, sebab kami bertanggung jawab terhadap jutaan ummat di luar sana yang terpengaruh oleh upaya abi.”

Tentang upaya mengembalikan SI kepada Islam sudah diupayakan anak-anaknya. Meski keahlian agama 3 putranya jauh berada di bawah SI, namun bukan berarti 3 putranya tidak berupaya berdiskusi. Hasilnya adalah kemarahan SI. Saat ini Saddam Hussein lulus dari teknik elektro UMS dan berniat mencari beasiswa yang berbeda dari jurusan sebelumnya, ia ingin mengambil studi perbandingan agama. Sementara Muamamr Qaddafi masih duduk di jurusan komunikasi.

Saddam Hussein menambahkan bahwa tidak ada upaya maksimal dalam mengajak SI kembali pada Islam kecuali mereka telah dipanggil Allah Swt. Bila berkata upaya telah maksimal, maka dapat dikatakan mereka telah menyerah. Pada akhirnya, seluruh hadirin di majelis itu mendoakan agar kiranya Allah Swt berkenan mengembalikan SI ke dalam pangkuan Islam kembali.

Sungguh, hidayah adalah harta yang sangat mahal.

Hidayah merupakan anugerah Allah Swt namun sebagai manusia harus terus berupaya mencari dan mempertahankannya.

 

Kita selayaknya saling mendoakan dan mendukung satu sama lain agar senantiasa berada dalam lindungan dan tuntunan Allah Swt, aamiin yaa Robbal ‘alamin.

#Jodoh (1) : Perlukah Tes Kepribadian untuk Memilih Suami / Istri?

Kasus 1

Seorang gadis, sebut namanya Ina, menangis ketika tahu keadaan calon suaminya. Ia dan Anton (samaran) berniat menikah selepas Ina kuliah. Mereka satu almamater dan berkenalan di kampus, disibukkan dengan agenda masing-masing dan menyepakati akan segera ijab qabul setelah selesai kuliah. Beberapa kali Anton masuk rumah sakit dan Ina tidak terlalu menanggapi. Ina berpikir, orang masuk rumah sakit karena DB atau tipus adalah hal biasa. Tetapi suatu ketika saat Anton masuk rumah sakit, Ina mengutarakan kepada orangtua Anton keinginan untuk menjenguk. Orangtua Anton menolak dengan alasan putra mereka butuh istirahat. Ina curiga. Sebab tidak ada teman-teman Anton yang menjenguk dan ia pun tertolak. Ina mengupayakan berbagai cara untuk mencari tahu dan alangkah terkejutnya Ina ketika pada akhirnya menemukan fakta, calon suaminya dirawat beberapa kali di …rumah sakit jiwa. Berlinang air mata Ina. Ingin ia meninggalkan Anton tetapi di sisi lain, Ina merasa Anton adalah lelaki yang sangat baik. Tulus. Jujur. Apa adanya.

 

Kasus 2

Sebut namanya Ayu. Seorang pebisnis sukses dan memiliki keluarga yang bahagia. Anak-anaknya cerdas dan pintar, dikaruniai suami lelaki yang baik dan penyayang, Adi (samaran). Dari luar, tentu banyak yang iri pada Ayu. Tetapi Ayu menyimpan masalahnya sendiri. Bertahun-tahun dalam kehidupan mereka, ialah yang menjadi tulang punggung. Mencari nafkah, berjualan apapun hingga laris manis dikenal pelanggan, mampu membeli properti dan mobil yang diinginkan. Termasuk, ia membayar hutang-hutang keluarga, utamanya hutang sang suami. Adi lelaki sholih tetapi ia tidak cukup tangguh sebagai pencari nafkah. Dahulu, Ayu menerima pinangan Adi karena melihat keluarga Adi kakak-beradik. Mereka orang-orang tough dan pejuang keras. Adi sendiri sebetulnya lulusan Universitas bergengsi. Tetapi ternyata, dari keluarga besar Adi, dialah yang berbeda. Jauh di luar dugaan Ayu, Adi ternyata tak memiliki daya tahan sebesar saudara-saudaranya.

 

*********

Ina, pada akhirnya berketetapan hati untuk menerima suaminya yang skizofrenia. Penanganan ODS- orang dengan skizofrenia ( untuk menghormati mereka, maka tidak disebut ‘pengidap, penyandang, penderita’) telah mencapai kemajuan pesat. Farmakologi alias bantuan obat-obatan dibutuhkan sepanjang hayat. Karena Anton menunjukkan gejala yang mirip sepanjang tahun, maka akan dapat diprediksi kapan datangnya gangguan. Yang penting, situasi dan lingkungan harus terkontrol. Anton kemungkinan harus tinggal di kota yang tenang, jauh dari tekanan dan kebisingan.

Begitupun Ayu.

Setelah ia menyadari bahwa kepribadian suaminya berbeda dari saudara-saudaranya terdahulu, bahwa suaminya memiliki potensi sendiri yang mungkin dalam pandangan orang terstigma sebagai pemalas dan orang yang enggan bekerja keras; Ayu  dapat menerima dan perlahan mencoba memahami. Konflik dan perang dengan suaminya masih berlangsung sesekali, namun kognisi Ayu mulai dipenuhi pemahaman sedikit demi sedikit.

Ada pernyataan menggelitik dari seorang psikolog.

Ia berharap, ada tes psikologi ketika sepasang calon suami istri akan menikah. Sebab menurutnya, tes psikologi sama pentingnya dengan imunisasi tetanus dan cek HIV Aids. Tes psikologi  akan memberi bekal bagi pasangan seperti apa kondisi belahan jiwa mereka.

 

Menilai Pasangan dalam Konsep Dunia Kuno

Sesungguhnya, menilai seseorang untuk masuk bursa kerja atau masuk bursa menantu/pasangan hidup telah dilakukan sejak zaman kuno. Kalau anda orang Jawa, pasti pernah dengan namanya weton. Weton ini mencakup hari lahir dan hari pasaran. Misal Senin Pon, Selasa Pahing, Rabu Legi dan macam-macam lagi. Orang Jawa yang memegang teguh aturan ini akan punya prinsip :  menikah harus hari ini, tidak boleh makan ini itu, dst. Secara pribadi saya kurang setuju dengan yang berbau khurafat atau takhayul. Namun tentang weton, saya melihatnya mirip zodiac.

Weton dan zodiac memprediksi tipe kepribadian seseorang. Namanya prediksi, tentu tidak mutlak 100% salah.

“Lho, katanya Aquarius tenang, kalem, menghanyutkan. Nyatanya dia keras dan gak bsia kompromi.”

“Ngakunya Leo! Pemimpin dan pendobrak, inisiator. Ternyata lahirnya doang yang Agustus, tapi nyalinya kayak anak kecil!”

Saya pernah bertanya tentang orang-orang yang saya kenal,  diprediksi wetonnya.

Sebut Tia dan Andi. Dua orang ini ternyata setelah ditelusuri memiliki weton yang keras. Harusnya mereka tidak menikah, tapi karena takdir  maka menikahlah. Orang-orang Jawa yang memegang filosofi Jawa dengan kuat mengatakan, orang seperti Tia dan Andi ini kalau tidak tirakat alias menahan diri dari segala godaan (godaan makan, godaan harta, godaan bicara, godaan marah dst) akan remuk redam rumah tangganya. Saya pikir ada benarnya. Sebab Tia dan Andi ini sama-sama keras kepala. Ampun dah kalau mereka sudah bertikai. Tidak ada yang bisa melerai selain diri mereka sendiri. Meminta Tia mengalah? Haduh, dia akan berkomentar bahwa dirinya sudah berkorban ini itu. Andi mengalah? Dia bilang sudah banyak mengalah sebagai laki-laki. Jadi? Syahwat Tia dan Andi dalam banyak hal belum dapat dikendalikan seperti syahwat bicara, dst. Istilah orang sekarang nyolot. Baik Tia atau Andi bisa berkata-kata yang membuat ubun-ubun berasap. Lha saya yang tidak seatap aja bisa panas kuping, apalagi mereka yang seatap seranjang saling melempar kata-kata tajam mendengar pilihan kata-kata mereka yang kelewat tajam.

Kejadian yang lain, sebut namanya Donna dan Rangga.

Sama seperti Tia dan Andi yang wetonnya tak selaras, Donna dan Rangga ini mendapat peringatan dari banyak kalangan bahwa pernikahan mereka akan penuh tantangan. Saya sependapat dengan para penasehat Jawa. Secara psikologis, Donna dan Rangga sama-sama anak mami yang sepanjang hidup mereka, sang Bunda mengambil alih peran kemandirian dan tanggung jawab. Alamak! Dua orang yang belum mandiri, manja, egois disatukan dalam satu mahligai. Yah, dapat ditebak Donna dan Rangga menjalani hari-harinya. Sampai-sampai seorang penasehat Jawa berkata : kalau keduanya tidak puasa Daud, pernikahan tersebut akan buyar.

Menilai (Calon) Pasangan dari Sudut Pandang Psikologis

Menurut saya, tes kepribadian masih relevan untuk dilakukan bagi mereka yang ingin menikah; asal jangan tes inteligensi (kecuali bila sangat diperlukan). Sebab pernah terjadi kasus, sepasang calon pengantin akan menikah dan iseng-iseng mereka tes inteligensi. IQ si lelaki ternyata jauh di bawah perempuan dan calon mempelai itu lalu membatalkan rencana pernikahan mereka!

Tes kepribadian ada banyak sekali.

Yang sederhana, untuk dapat memahami OCEAN – openness to experience, conscientiousness, extraversion, agreebleness & neuroticm. Manakah yang lebih dominan, manakah yang lebih rendah? Tes kepribadian inipun sebaiknya berupa anjuran, bukan seperti cek HIV Aids atau imunisasi yang lain. Sebab, di Indonesia pemahaman tentang dunia psikologis masih belum sepenuhnya diterima.

Dari sini, calon suami atau istri bisa mendapatkan data yang mungkin suatu saat dibutuhkan. Bila ternyata dengan data tersebut dia bersedia menerima dengan segala konsekuensinya, Alhamdulillah. Kasus Ina dan Anton adalah salah satu kasus sangat ekstrim. Sungguh indah kata-kata Ina.

“Mengapa saya sok suci dan sok baik, sok pintar dengan menilai Anton? Memang dia ODS, tetapi sepanjang saya berhubungan dengan lelaki, Anton lah yang paling baik. Saya belum pernah menemukan lelaki sebaik dia. Dia jujur, tulus, apa adanya. Saya khawatir ketika meninggalkannya, justru tidak mendapat lelaki sebaik dia.”

bulan nararya

Bulan Nararya : novel psikologis dengan kisah seorang perempuan yang memiliki suami ODS

Memang, orang-orang seperti Anton ini memiliki kekurangan di bidang stabilitas mental. Namun seringkali, orang-orang seperti ini yang sangat baik hatinya. Hati mereka suci dan murni, tidak memiliki prasangka dan kebencian sama sekali. Ah, memang Allah memberikan satu kelebihan dibanding yang lain. Lagipula, sebagai orang terpelajar, Ina lalu banyak belajar tentang ODS dan cara penanggulangannya; termasuk rutinitas mengkonsumsi obat dan mempersiapkan rencana masa depan. Masyaallah…cinta yang indah ya? Mengingatkan saya pada novel Bulan Nararya.

Ketika telah memiliki data tentang gambaran kepribadian calon pasangan, atau mungkin ketika kita telah  menikah dan baru tahu tentang tes kepribadian ini; gunakan data ini secara bijak. Jangan sampai ketika tahu kekurangan (calon) pasangan maka kita serta merta mundur atau meninggalkan. Boleh jadi watak pasangan keras dan tidak mau kompromi; tetapi dia tipologi orang yang mudah didinginkan dengan sentuhan dan kelembutan. Boleh jadi pasangan seorang pencemas dan selalu punya pandangan negatif terhadap segala sesuatu; tetapi di sisi diri kita yang punya sifat optimis dan terbuka, si dia akan melejit potensinya.

Ingat, Kepribadian BUKAN Inteligensi!

Ayu dan Adi, Tia dan Andi, Donna dan Rangga mungkin terkecoh . Lelaki pilihan hidup mereka adalah lelaki brillian di dunia kampus dan dunia kerja. Adi, Andi, Rangga adalah orang-orang dengan inteligensi jauh di atas rata-rata; terbukti dari kemampuan akademis mereka dan keahlian bisnis mereka.

Perempuan seperti Ayu, Tia, Donna ‘terkecoh’ bahwa orang dengan inteligensi tinggi pastilah orang yang dapat diandalkan. Ternyata belum tentu demikian. Orang dengan inteligensi atau IQ tinggi belum tentu memiliki kematangan pribadi, mampu bersikap dewasa, dapat mengambil keputusan tepat di situasi sulit, menjadi solution-maker di saat kritis dan sederet harapan kita yang melambung tinggi.

Kadang, orang dengan IQ tinggi justru memiliki relasi kurang baik dengan manusia lain. Kadang orang dengan IQ sedang atau bahkan di bawah rata-rata dapat memiliki hubungan hangat dan harmonis dengan sekitar. Pendek kata, ketika memilih pasangan, janglanlah silau oleh sesuatu yang terlihat sebagai pencapaian, prestasi, kehebatan dan seterusnya.

“Wah, pasanganku aktivis kampus. Pasti dia keren!”

“Dia jadi pembicara dimana-mana, tentu senang kalau jadi pasangan hidupnya.”

“Pengusaha muda, pintar, kaya. Siapa yang nggak mau jadi istrinya?”

Inteligensi atau IQ sering dapat tampil ke permukaan tetapi karakter seseorang dapat tersembunyi jauh di dasar perilaku keseharian dan baru terlihat gambaran sesungguhnya ketika seseorang telah seatap, serumah, semeja makan, seranjang. Ada kan, orang yang demikian hebat di kantor, disenangi atasan, rekan kerja dan anak buah; namun di rumah perilaku dan kata-katanya sangat kejam kepada istri/suami dan anak-anak? Yang tampil di luar rumah adalah persona dirinya yang terpoles rupawan, yang ada di rumah adalah citra dirinya yang sesungguhnya.

Tes kepribadian untuk melihat profil psikologis pasangan, tentu harus hati-hati diputuskan.

Tes kepribadian untuk merekrut karyawan atau manajer telah lazim dilakukan, sebab ketika tertolak, calon pekerja dapat mencari pekerjaan lain. Tetapi profil kepribadian seseorang dalam rangka memilih atau dipilih sebagai pasangan hidup, dapat menjadi stigma yang melekat sepanjang waktu. Apalagi bila kemudian orang dengan hasil profil negatif, ditolak untuk menjadi calon menantu atau calon istri/suami.

Saya pernah melakukan tes kepribadian kepada seorang gadis, sebut namanya Lusi. Hasil tes kepribadiannya sungguh ‘ajaib’ sebab jalan kehidupan di belakang Lusi demikian traumatik. Rasanya ngeri membayangkan gadis seenergik Lusi memiliki kisah hidup sedemikian rupa. Saya sampaikan kepada lelaki yang baru menikahinya.

“Tahukah anda seperti apa masa lalu Lusi?”

“Saya tahu dengan persis Mbak, karena itu saya siap menikahinya dengan segala konsekuensinya.”

Lelaki sholih ini, sebut namanya Sholih, memang mencoba menepati janjinya. Ia selalu bersiap ketika Lusi tiba-tiba mengalami tremor hebat dan pingsan di jalan terkena situasi traumatik. Salah satu yang disiapkan Sholih adalah ia telah mengatur jadwal pekerjaannya dan berkomunikasi dengan rekan-rekan sekerja bahwa sewaktu-waktu ia harus keluar mendadak dari kantor sebab Lusi membutuhkan bantuan dirinya. Sholih juga memiliki beberapa nomer telepon darurat yang akan selalu dikontak untuk memastikan Lusi baik-baik saja.

Tentu ssaja, tes kepribadian untuk memahami pasangan ini tak diperlukan bila kita betul-betul telah memahami dia dengan sebenar-benarnya. Kadangkala, ada sisi keraguan dalam diri, apakah dia persis sama seperti kesehariannya di luar rumah? Benarkah ia penyayang? Benarkah ia orang yang lembut dan seterusnya.

 

Insyaallah bersambung:)

 

 

 

Writing for Healing : Menulis itu Menyembuhkan, atau Malah Membuka Trauma?

Kasus 1

Seorang perempuan, sebut namanya Ina, senantiasa berlinang dan berdebar setiap kali mengetikkan sebuah nama. Ya, nama lelaki itu Yuda (samaran). Dialah lelaki yang paling mengerti dirinya. Tetapi jalan  hidup tak dapat ditebak, Yuda dan Ina tidaklah berjodoh. Meski Yuda dan Ina berpisah kota, masing-masing telah memiliki kesibukan, kenangan akan Yuda tidaklah menguap begitu saja. Ina memiliki karir bagus dan keluarga yang bahagia, begitupun Yuda. Walau demikian, tiap kali mengingat, menyebut, menulis nama Yuda; rasa sakit itu masih terasa. Tetapi Ina tentu saja tak bisa menghapus Yuda dari dunia ini. Mereka masih bertemu dalam rapat, kerja, aktivitas sehari-hari.

 

Kasus 2

Sebut namanya Angie.

Gadis cantik dan pintar yang membuat banyak orang iri. Angie Memiliki banyak penggemar, terutama pemuda, yang mengungkapkan cinta dengan cara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi. Banyak orang iri pada Angie, utamanya kaum hawa. Betapa tidak? Angie yang supel, murah senyum, humoris, pintar, pintar cari uang sejak kuliah, aktivis pula, berteman banyak; pendek kata tak ada nilai negatif dalam dirinya! Bahkan Angie bukan tipologi cewek sombong yang merasa sok cantik. Itulah sebabnya teman cewek dan cowoknya bejibun.

Tetapi tak banyak yang tahu masa lalu Angie. Keluarganya yang berantakan, hingga tiap kali ia menceritakan kisah masa lalunya pada segelintir orang yang bisa dipercaya, tangannya tremor. Asam lambung naik. Mata berkunang-kunang. Orang-orang bisa bercerita tentang ayah ibunya dengan santai.

“Liburan kemana?’

“Lebaran mudik nggak?”

“Kamu ditelpon siapa? Wisuda nanti siapa aja yang datang?”

Pertanyaan lumrah seperti itu biasa bagi sebagian orang. Tapi Angie pasti berkeringat dingin ketika terpaksa harus menjawab. Keluarga yang berantakan, ayah dan ibu yang terpisah, keluarga besar yang turut campur tangan dan ketidak utuhan persaudaraan merupakan masa lalu yang sangat membekas bagi Angie. Ia bahkan sempat tak ingin menikah, sebab mengingat perpisahan ayah bundanya yang sangat menyakitkan, sampai-sampai keluarga besar turut campur hingga ketika ia dewasa.

Angie mencoba mengatasinya dengan menulis. Di beberapa bagian tiap kali tiba di edisi perpisahan orangtua, atau edisi ketika ia harus mandiri sebagai individu sejak SMP, SMA dan kuliah; dadanya tiba-tiba terhimpit . Bahkan, pernah suatu ketika, Angie tengah berada di jalan raya dan ingatan akan perpisahan orangtuanya merangsek pikiran tiba-tiba. Ia gemetar dan kehilangan keseimbangan. Angie mengaku, saat itu tengah menuliskan pengalaman pribadi dan trauma perpisahan orangtuanya terlalu sulit untuk diungkapkan.

Peserta Writing for Healing mencoba mengungkapkan kisah

Menulis : Mencoba Merunut Sebuah Kisah

Banyak orang tidak dapat mengenal ujung pangkal kehidupannya sendiri.

“Aku nggak tahu harus cerita dari mana.”

“Aku marah! Sedih! Tapi aku nggak tahu sama siapa!”

“Mmmm…aku cerita begini ya,” lalu ia bercerita panjang dan terbata. “Eh, bukan, ceritanya sebetulnya begini.”

Ruwet. Bingung. Kusut. Tak terlihat celah penyelesaian. Bahkan, tidak tahu darimana semua bermula. Demikianlah manusia ketika sedang menghadapi masalah. Ia merasa bahwa semua orang menjadi pokok masalah. Atau juga ada yang merasa, dirinyalah yang tidak mampu dan tak sanggup menghadapi masalah sehingga setiap kejadian selalu berujung lebih buruk dari titik awal.

Menulis kisah, awalnya akan berantakan.

Susunan kalimat yang seharusnya Subyek- Predikat- Obyek plus keterangan; bisa tertukar-tukar tak karuan. Selain SPK yang tidak karuan, urutan kisah kejadian bisa jadi tumpang tindih. Kisah yang seharusnya merupakan cerita masa lalu- masa sekarang- harapan masa depan; berubah menjadi harapan masa lalu (yang tentu tak bisa diubah) , kesalahan menafsirkan masa sekarang dan memastikan bahwa masa depan sudah terjadi saat ini.

“Pasti hidupku berantakan. Dulu aku gagal, coba kalau orang-orang di sekelilingku gak begini. Besok bakal begini lagi. Gak ada yang ngerti aku dan suatu saat pasti keluargaku juga gagal lagi seperti orangtuaku gulu.”

Kalimat-kalimat yang muncul bukanlah rentetan suatu kisah.

Lebih banyak ungkapan emosional yang belum tentu obyektif.

Menulis dapat membantu seseorang merunut kisah hidupnya agar tertata dan dapat dibaca lebih baik. Biasanya, seseorang ketika bolak balik membaca tulisannya akan termenung.

“Kok, aku banyak menyalahkan ibuku ya? Memangnya saat itu ibuku ngapain, sampai-sampai ia bisa berbuat salah?’

WFH 2

Berbaim kata dalam Writing for Healing

Merunut kisah adalah merupakan alur penting dalam pemahaman kita terhadap apa yang telah terjadi dan bagaimana segala sesuatu akan dirancang. Saat seseorang dapat merunut kisahnya dengan baik, ia mungkin akan terluka tetapi dapat mengenali sesuatu lebih utuh.

Kisah siswa yang  menuliskan kekecewaan kepada orangtuanya ini mungkin dapat menjadi gambaran bahwa menuliskan kisah, dapat membuat seseorang melihat masalah lebih utuh. Tulisan siswa tersebut kurang lebih demikian.

“Aku benci boarding school. Aku benci sekolah asrama. Lagipula kenapa Cuma aku yang sekolah asrama? Karena aku bandel? Biar aku bisa dibuang gitu? Gak ngerepoti orangtua? Aku benci sekolah asrama, soalnya anaknya bandel-bandel. Guru-gurunya gak asik. Apa-apa nggak boleh. Awal sekolah asrama aku nangis. Aku benci! Aku ingat sekolahku yang dulu. Ingat teman-teman lamaku. Aku pingin pulang. Pingin balik ke rumah. Apalagi kalau aku ngadu tentang temanku yang memang nakal, malah aku yang dinasehati. Suruh sabarlah. Suruh ngerti. Lah, dianya yang salah?”

Setelah melewati proses menulis beberapa kali, siswa tersebut rupanya mendapatkan sedikit demi sedikit insight tentang kondisi yang sedang dihadapinya. Dan proses ini memang tidak sebentar ya.

“Ya, aku memang keluarga besar. Adikku banyak. Mungkin, aku memang perlu sekolah asrama supaya ada yang bisa ngawasi aku. Kalau di rumah, mamaku sibuk antar jemput adik. Aku mungkin gak keurus. Walau mama nggak bisa ngontak aku tiap hari, lama-lama asik juga sekolah di asrama. Mama masih sayang aku kok. Buktinya, papa dan mama memilih sekolah asrama yang mahal harganya, padahal adik-adikku cuma sekolah yang murah. Kata mama biar aku bisa jadi orang berguna.”

Menulis, dapat membantu seseorang merunut ksiah yang sesungguhnya. Bahwa kejadian yang tengah berlangsung bukanlah sebuah malapetaka, tapi sebuah pilihan terbaik dari sekian banyak pilihan yang ada; yang tak bisa dihindarkan selaku manusia. Seorang anak masih bergantung pada orangtua dan memiliki kewajiban menurut meski juga tetap harus bersuara; seorang anak menjadi bagian dari sebuah keluarga. Bila keluarga tersebut memiliki masalah maka anak tersebut juga harus menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari penambah masalah. Alhamdulillah, menulis membantu orang untuk dapat merunut kisah dengan lebih baik. Meski belum tentu mereka menyetujuinya.

Anak yang menuliskan kisah tersebut pada akhirnya memiliki trauma tertentu pada boarding school namun ia tidak menolak ketika masuk ke sekolah yang sejenis dengan catatan, boarding schoolnya tidak terlalu jauh dari domisili orangtua sehingga ketika terjadi kondisi bullying; ia bisa segera mencari pertolongan.

 

Menulis membuka Trauma Lama

Ya.

Menulis memang membuka luka.

Luka yang sudah tertutup, dikorek lagi, berdarah, dan menimbulkan luka baru yang tak kalah perih. Memang demikianlah bila kita berniat membongkar luka lama. Lalu mengapa harus dibongkar padahal sudah selesai? Case closed?  Kalau  masalah sudah selesai, tidak perlu diutak-atik lagi.

Memang selayaknya, permasalahan lama yang sudah tertutup tak perlu dibongkar lagi.

Namun, seringkali, permasalahan yang sudah ditutup, dipendam, disimpan; ternyata tidak selesai begitu saja. Kebencian pada orangtua yang dulu tak mampu mendidik dengan baik, kebencian pada saudara yang berbuat aniaya, kebencian pada teman yang pernah mengaganggu; seiring waktu akan berlalu. Kita hidup terpisah dari orangtua ketika kuliah dan bekerja, begitupun saudara dan teman pun akan berjauhan seiring waktu yang memisahkan. Masalahnya, suatu saat, seorang anak yang membenci orangtuanya; bisa jadi kelak ia menjadi orangtua. Seorang manusia yang memiliki hubungan kurang baik dengan saudara atau teman, ternyata harus bertemu lagi dengan saudara dan temannya dalam suatu perkara.

Atau, kalaupun tidak lagi bertemu dengan orangtua atau pihak-pihak yang pernah memiliki masalah; kita akan berada dalam posisi yang mirip dengan kejadian dahulu.

Dulu menjadi anak.

Sekarang menjadi orangtua.

Kebencian yang mengendap kepada orangtua dalam berganti menjadi amarah pada situasi, atau pada anak, atau pada pasangan; atau pada apa saja yang mirip dengan situasi di masa lampau. Maka hal inilah yang seharunya diselesaikan.

Menuliskan nama atau kejadian atau tempat, mungkin awalnya akan mengorek luka.

Nama mantan.

Nama orangtua, entah nama ayah atau ibu.

Nama guru, atau nama dosen.

Nama teman, atau sahabat.

Nama kota.

Nama kejadian.

Tahukah anda, bahwa ada seseorang yang enggan dipanggil “sesuatu” karena trauma?

Saya selalu memanggil teman dan sahabat perempuan dengan sebutan : manis atau cantik. Hai, mbak Cantik! Hai adik Manis!

 

“Jangan panggil aku dengan sebutan cantik, Mbak! Aku benci. Awas kalau Mbak sampai panggil aku cantik lagi. Aku benci panggilan itu. Awas ya, Mbak, jangan lagi-lagi bilang aku cantik atau sejenisnya!!”

Tentu saja, aku terperangah, Dan terseinggung pada awalnya. Sebab, temanku telah berlaku demikian over, menurutku. Apa salahnya memanggil cantik? Apa salahnya memanggil manis? Dan ketika kemudian dia menuliskah kisahnya secara rahasia, aku tahu, bahwa panggilan cantik baginya adalah sebuah luka menganga. Panggilan cantik, adalah ketika di masa kecil, saat ia  harus tinggal dengan seorang kerabat yang jauh lebih tua; telah menyebabkannya mengalami sexual abuse. Lelaki tua itu merayunya dengan sebutan : anak cantik.

Ya Tuhan. Na’udzubillahi mindzalik.

Sungguh.

Ada di antara kita yang memiliki luka-luka menganga dan luka itu disebebakn oleh suatu kejadian, seseorang atau mungkin sebuah situasi keterpaksaan. Memang tidak mudah melaluinya, tetapi memungkirinya juga hanya akan menjauhkan dari kesembuhan.

Menulis, memang akan membongkar luka lama. Tetapi luka ini ingin kita sembuhkan bersama. Setidaknya, ingin disembuhkan oleh korban yang mengalaminya dan merasa tersiksa. Tuliskan perlahan-lahan nama orang yang pernah melukai dengan teramat dalam.

Awalnya gemetar. Tak mampu. Bahkan timbul kebencian pada semua yang terkait dengan nama itu. Tak mengapa, bila kita sudah merasa siap bertarung dengan diri sendiri. Kebencian, kesedihan, rasa malu, putus asa dan beribu rasa negatif lainnya akan menyeruak bersama-sama. Akan muncul airmata. Amarah. Bila tidak kuat melakukannya sendiri, mintalah seorang sahabat untuk mendampingi sepanajng menuliskan nama atau peristiwa tertentu yang menyakitkan. Bila melakukannya sendiri dianggap baik-baik saja, silahkan.

Beberapa tips untuk menuliskan suatu yang bermakna kebencian atau penderitaan :

  1. Tulislah di atas sebuah buku putih. Boleh bergambar. Nuansa putih akan menciptakan rasa bersih dan tenang.
  2. Usahakan kertas cukup tebal. Kertas tipis akan mudah sobek bila mengalami tekanan.
  3. Gunakan bolpoin. Pensil akan lekas patah bila diiringi kemarahan
  4. Bila tak bisa menyebut sebuah nama, katakan dia
  5. Bila tak mampu menuliskan peristiwa atau sesuatu yang menyakitkan, buatlah simbol. Entah E, X atau Æ
  6. Pelihara kesadaran diri sebaik-baiknya. Cermati bila tangan berkeringat, dahi berkeringat, dada berdegup kencang, jemari gemetar.
  7. Biasanya, menuliskan nama atau peristiwa, terasa sangat berat. Lebih baik bercerita seputar kisah yang menimbulkan trauma.

WFH All

Ayo, menulis untuk bahagia 🙂

 

 

 

3 Pertanyaan Unik tentang Jodoh & Nikah

 

 

 

Belum pernah nih, saya dapat pertanyaan unik macam begini!

Acara macam ini biasanya diminati oleh para muda-mudi usia 20 tahun ke atas yang sudah mulai memasuki usia nikah. Persiapan pra nikah menjadi pembahasan yang sangat dinamis serta menimbulkan banyak pertanyaan misterius. Biasanya, seminar pra nikah memunculkan pertanyaan-pertanyaan seperti apa dan bagaimana memilih jodoh, bagaimana meyakinkan orangtua, bagaimana belajar mencintai, apakah karier atau rumah tangga dulu dst.

Kali ini, di Rumah Keluarga Indonesia, Bangkalan, saya dapat pertanyaan menarik yang membuat makjleb dari peserta.

 

Masyaallah, Subhanallah…peserta yang masih berusia muda ini ternyata memiliki pemikiran matang dan sangat bijaksana. Saya sampai terkaget-kaget mendapat pertanyaan demikian.

3 pertanyaan unik yang diajukan mereka adalah :

  1. Perempuan kan posisinya menunggu. Bagaimana cara kita bersabar menerima takdir ketika mungkin, hingga meninggal kita tidak menikah?
  2. Biasanya seorang muslimah memilih lelaki sholih. Kalau saya tidak. Saya justru ingin mendapatkan lelaki yang biasa-biasa saja, dan ingin membimbingnya. Salahkah keinginan itu?
  3. Apakah pernikahan yang sudah berjalan 23 tahun, dapat dikatakan pernikahan yang barakah?

 

Beberapa buku saya yang berisi tentang jodoh, cinta dan perempuan

Gadis Menunggu atau Mengajukan Diri?

Paradigma bahwa perempuan atau gadis menunggu dan menanti untuk dipilih, dipahami oleh masyarakat kita sebagai tindakan pasif. Padahal, dalam sejarah Islam, perempuan tidak selalu wajib menunggu. Contoh paling dikenal adalam masyarakat Islam adalah ketika bunda Khadijah mencari suami dan memilih nabi Muhammad Saw. Bunda Khadijah mengutus pembantunya untuk mencari tahu tentang pemuda Muhammad.

Apakah tindakah bunda Khadijah tercela? Tidak.

Bahkan tindakan beliau sangat mulia. Beliau mencari lelaki sholih, tidak peduli usia dan status sosial. Pemuda Muhammad saat itu belum menjadi Nabi dan beliau masih berstatus pedagang. Meski dikabarkan sebagai pedagang sukses, tentu secara kekayaan pemuda Muhammad belumlah sama seperti bunda Khadijah. Dalam hal ini, perempuan tidaklah diharamkan mengajukan diri kepada lelaki tetapi tetap melalui kaidah-kaidah syari. Ada beberapa kisah nyata dalam dunia sehari-hari.

 

Kisah 1

Sebut saja namanya Ayu. Ayu, berasal dari sebuah desa kecil di Jawa. Ia mengajukan diri untuk dinikahi oleh Umar, teman satu kampusnya. Tentu saja Umar terkejut dan dapat dipastikan, pemuda itu menolak. Muslimah berjilbab, aktivis rohis, kok mengajukan diri minta dinikahi? Kayak kebablasan, gitu! Tetapi Ayu rupanya bukan akhwat iseng yang main tembak ikhwan. Meski ditolak, Ayu mengajukan diri lagi untuk dinikahi Umar. Beberapa kali terjadi tolak menolak, Umar akhirnya penasaran mengapa Ayu berani mengajukan diri. Jawaban Ayu membuat Umar takluk.

“Umar, saya berasal dari sebuah desa kecil. Besar harapan saya saya kembali ke desa, dan membangun desa saya. Di kampung, hanya saya satu-satunya yang sekolah sampai tinggi. Kalau saya menikah dengan pemuda lain daerah, saya akan dibawa pergi. Sebagai istri yang taat tentu saya akan mengikutinya kemanapun. Tetapi saya sangat berharap bisa kembali ke kampung halaman, maka saya mencari tahu siapa pemuda kampung terdekat yang juga sekolah tinggi. Ternyata saya menemukan nama kamu, Umar. Maka saya mengajukan diri untuk dinikahi. Kalau kamu kembali ke kampungku, berarti saya juga bisa membangun desa saya yang masih tertinggal.”

Masyaallah.

Sungguh, cita-cita Ayu bukanlah cita-cita rendahan.

Ia menembak Umar bukan lantaran ia aktivis, cakep, terkenal di kampus, dambaan para gadis dan seterusnya. Kejujuran Ayu membuat Umar mantap untuk memilihnya. Alhamdulillah mereka kemudian menikah.

 

Kisah 2

Sebut namanya Ina.

Iapun mengajukan diri untuk dinikahi. Tetapi berbeda dengan Ayu, ia tidak punya calon untuk dituju. Kemiripan dengan Ayu adalah mereka sama-sama orang kampung yang kental dengan segala ragam tradisi, termasuk dijodohkan. Ina, selepas kuliah, tahu-tahu harus pulang kampung karena orangtuanya menjodohkannya dengan seorang pria. Tentu saja, Ina yang tengah belajar menjadi muslimah sejati, kalang kabut. Bagaimana ia dapat menerima pilihan orangtuanya? Jangankan memahami Islam secara kaffah, kebiasaan merokok dan melalaikan sholat masih dilakukan pemuda itu. Akhirnya Ina mengontak teman lelaki di kampusnya.

“Adakah ikhwan yang bersedia menikahi saya? Secepatnya melamar pada orangtua saya. Sebab saya dalam kondisi terdesak.”

Masyaallah…kesungguhan Ina untuk menjaga dirinya ternyata didengar Allah. Dia menggerakkan hati seorang pemuda sholih untuk segera melamarnya, hanya selang sehari ketika permintaan Ina terdengar di telinga para ikhwan. Alhamdulillah…Ina dan pemuda sholih itupun menunju pelamainan dan langgeng hingga kini.

 

Pembaca,

Tentu tidak semua gadis seberuntung Ayu dan Ina yang ketika meminta mengajukan diri, pemuda yang dituju berkenan meluluskan. Stigma masyarakat bahwa ketika perempuan minta dinikahi pasti ada “apa-apanya”. Naksir berat, tidak laku, atau bahkan sudah MBA. Wajar bila masyarakat melihat demikian, sebab di belahan dunia Timur, lelaki masih memegang tampuk kepemimpinan dengan gaya maskulin. Ngapain ngejar-ngejar nikah kalau bukan kepepet, kalau bukan karena punya maksud tersembunyi?

Namun kita bukan sedang membahasa bab feminisme di sini. Kita membahas kemaslahatan. Kadang, seorang pemuda memiliki banyak pertimbangan dan tidak melihat dari sisi yang lain. Sementara seorang gadis melihat dari sisi yang lain pula. Tidak megnapa seorang gadis membantu seorang pemuda untuk melihat dari sudut pandang lain bahwa kebutuhan menikah harus disegerakan karena berbagai hal : menjaga agama, tuntutan keluarga, kebutuhan diri sendiri dan seterusnya. Selama hati mencoba tulus dan jujur serta bersungguh-sungguh, Allah akan bukakan jalan. Dan, berhati-hatilah ketika seorang gadis mengajukan diri. Kaidah syari tetap dijaga, jangan melampaui batas dan menggunakan jalur tertutup atau rahasia. Tidak menembak di depan umum apalagi di media sosial!

Lalu bagaimana ketika lelaki yang diinginkan belum kunjung tiba?

Selalulah bersandar pada Allah.

Saya teringat seorang ustadz penghafal Quran yang memebrikan nasehat di kelas, ketika saya mengikuti kelas pembukaan menghafal Quran :

“Allah akan menepati janji sampai seorang hamba benar-benar mencari ilmu dan mengamalkannya.”

Saya baru akan jadi penghafal Quran kalau bersungguh-sungguh mencari ilmu tentang menghafal Quran sekaligus mengamalkannya. Insyaallah Dia akan bukakan jalan dalam penemuan jodoh impian ketika seorang manusia bersungguh-sungguh mencari ilmu dalam menyempurnakan ½ diin sekaligus mengamalkannya : mengamalkan cara berkomunikasi, mengamalkan cara besabar dan mengalah, mengamalkan cara mandiri finansial dst. Sebab ketika ilmu itu tidak dipelajari dengan sungguh-sungguh dan diamalkan, lalu terjadi pernikahan; akan terjadi pernikahan dan pembangkangan. Terjadi pernikahan dan ketidak pedulian. Terjadi pernikahan dan keegoisan. Terjadi pernikahan dengan segala unsur kerusakan. Dalam proses penantian itu, hari demi hari adalah tabungan pahala, tabungan keindahan balasan, tabungan berita gembira bagi seoarng hamba yang taat menjauhi maksiat demi meraih ridhoaNya dalam menjadi pangeran dan putri impian.

Muzammil dan Sonia.jpg

 

 

Memilih Lelaki Biasa-biasa saja

Di awal acara, ditayangkan liputan patah hati netizen ketika Muzammil Hasballah menikah dengan Sonia. Duuuuh, sedihhhh. Cowok seperti itu jarang banget stoknya di atas muka bumi. Maka ketika sold out, hiks-hiks, hati patah deh…

Namun, ada seorang muslimah yang berani berpendapat : kalau saya ingin menikah dengan lelaki yang biasa-biasa karena ingin membantunya memahami agama, apakah salah?

Hm, Pembaca, segala sesuatu pasti ada konsekuensinya.

Punya suami atau istri penghafal Quran sangat membanggakan. Tetapi bukan berarti tidak ada tantangan. Seorang penghafal Quran, sebut saja namanya ustadz Sholih, sangat berhati-hati memilih makanan. Istrinya nggak bisa memasak sembarangan, membeli makanan pabrik di toko, sebab istri harus menjaga ustadz Sholih dari makanan tidak halal, bahkan makanan syubhat. Ustadz Sholih ini hanya mau makan masakan istrinya yang sudah terjamin kehalalannya. Repot kan? Nah, ternyata punya suami hafidz tetap aja ada ujiannya. Jangan dipikir enak, melejit followers, dipuja sana sini ketika punya suami hafidz!

Punya istri hafidzah juga begitu.

Ada seorang suami yang punya istri hafidzah. Ia menyadari betul keutamaan istrinya, maka ia rela mengerjakan seluruh pekerjaan rumah sembari menjadi pengusaha. Pekerjaan utama istrinya adalah menghafal Quran. Sebab, memang butuh waktu spesial untuk memelihara 30 juz. Dan , sang istri yang hafidzah itu lebih sering menerima undangan untuk mengisi pengajian. Eit, bukan berarti sang istri yang hafidzah ini menindas suami. Bukan, ya!. Ia juga rajin membantu usaha suami, rajin berbenah juga. Tetapi ketika pagi hari, saat dhuha para istri atau ibu biasanya sibuk memasak dan mencuci; sang hafidzahjustru sibuk murojaan Quran. Ia mengerjakan pekerjaan rumah di waktu yang lain. Tentu, memiliki istri hafidzah membanggakan, tetapi seorang suami juga harus siap dengan konsekuensinya.

 

Bagaimana dengan punya suami biasa-biasa saja?

Ini juga  bukan pilihan jelek, apalagi diniatkan untuk membimbing lelaki yang belum tahu agama menjadi tahu agama. Bayangkan pahala yang didapat seorang istri, semisal mampu mengajak suaminya yang bertatto untuk rajin ke masjid. Atau bagaimana punya suami perokok untuk jadi penyuka shaum sunnah. Atau yang tadinya suka nge mall, dugem, lalu suka main ke masjid dan mendengar kajian kitab. Besar banget pahal istri seperti ini kan? Tetapi seorang gadis harus siap. Bahwa memiliki suami yang biasa-biasa saja, ia harus berkorban banyak hal, terutama kondisi emosional. Lelaki yang biasa mungkin belum tahu hijab, sehingga kedekatannya dengan beberapa perempuan membuat istri cemburu. Lelaki biasa belum tahu syubhat dan halal, sehingga main terobos sana sini ketika cari uang.  Lelaki biasa-biasa saja mungkin masih harus dibangunkan untuk sholat, di saat istri ingin sekali diimami sholatnya dan mendengarkan bacaan Quran yang tartil.

Memiliki suami hafidz  atau suami biasa-biasa saja, tetap ada konsekuensinya!

Yang pasti, luruskan niat dan patuhi syariat.

 

 

sofyan sinta RKI.JPG

Apakah Pernikahan yang Tahan Lama itu Berarti Barakah?

Ini benar-benar pertanyaan menohok!

Disaat acara seminar pra nikah, saya dan suami diminta testimoni tentang perjalanan taaruf hingga menikah dan bertahan hingga sekarang (doakan ya Pembaca, kami langgeng hingga berkumpul di jannahNya ya…aamiin yaa Robbal ‘alamin).

Maka suami bercerita tentang proses taaruf yang singkat, disusul khitbah dan menikah. Saya pun bercerita tentang kondisi suami yang sesungguhnya masih sangat minim penghasilan ketika menikah dan hingga sekarang kami mencoba untuk tetap sabar dalam kejujuran sebagai pegawai negeri.  Alhamdulillah, kami bisa bertahan hingga 23 tahun pernikahan dengan segala badai, gelombang, suka duka, tangis dan tawa.

Lalu bertanyalah seorang pemuda : “apakah 23 tahun itu bermakna barakah?”

Sungguh, saya dan suami bertatapan mata ketika ditanya seperti itu. Salut dengan pertanyaan kritis dan menohok hingga ke ulu hati.

Kalau dibilang pernikahan sukses, kami tak berani mengakuinya. Sebab kesuksesan hanya dapat dilihat di akhir, di ujung, di titik semua berhenti : kematian dan yaumil akhir. Kami baru akan disebut pasangan suksses bila telah bersama-sama menapaki JannahNya sembari membawa anak cucu kami masuk ke istana syurga. Dan itu sungguh masih rahasia ribuan tahun ke depan yang hanya diketahui Allah Swt. Namun bila bicara keberkahan, saya menysukuri betapa Allah Swt rasanya melimpahkan keberkahan.

Barakah atau berkah, adalah kondisi ketika sesuatu baik yang berifat materi (uang, barang) atau immateri (waktu) memiliki nilai tambah atau nilai lebih dibanding nilai yang sesungguhnya. Misalnya, ketika anak kami masih kecil-kecil, saya berhitung secara jujur berapa seharusnya jumlah penghasilan suami dan saya bila ingin hidup “normal“ : nyicil rumah, nyicil sepeda motor, menyekolahkan anak-anak di sekolah Islam, makan makanan bergizi, dan seterusnya. Maka dicapai angka fantastis : puluhan juta! Dengan 4 anak dan tinggal di kota Surabaya, kami harus punya pengahsilan puluhan juta untuk hidup layak. Apalagi ketika suami ditempatkan di luar kota, seharusnya penghasilan berlipat-lipat lagi. Nyatanya penghasilan suami tidak sampai sekian.

Namun, alhamdulillah, kami senantiasa cukup.

Ada saja rezeqi yang Dia berikan.

Salah satunya adalah rezeqi anak-anak yamng insyaAllah, sholih-shalihah. Anak-anak yang bisa diajak prihatin. Anak yang tahu kalau ayahnya adalah pegawai negeri yang mencoba jujur.

Dulu, waktu anak saya yang pertama usia SMP, ia  hanya bawa sangu 5000. Itu sudah teramsuk transport, makan siang, dan jajan. Tetapi di akhir bulan ketika kami sedang 0 uang, si kakak masih ada  tabungan yang bisa digunakan untuk menyambung hidup. Sampai sekarang, kakak dan adik-adiknya terbiasa menabung dari uang jajan mereka yang jumlahnya jauh di bawah jumlah teman-temannya. Mereka kalau butuh beli alat gambar, sketch book, komik, buku, sepatu atau kebutuhan lain; tahu-tahu punya uang. Bahkan alhamdulillah, si kecil bisa punya HP dari hasilnya menang lomba menulis. Anak-anak bertekad untuk punya laptop, HP dan barang-barang bukan dari hasil mereka memitna orangtua.

“Lho, kok kamu bisa beli sepatu, Mas?” saya nanya ke abang nomer tiga.

“Aku dua minggu ini gak jajan sama sekali, “ katanya.

Bahkan, dua anak lelaki kami ketika SMA masih naik sepeda onthel sementara teman-temannya telah naik sepeda motor mengkilat bahkan sepeda motor ninja yang mahal harganya. Mereka tidak kehilangan harga diri, tidak kehilangan teman, tidak kehilagnan kebahagiaan meski harus bersabar. 4 anak kami terbiasa saling menasehati satu sama lain, saling memberi motivasi. Ketika yang satu punya masalah, maka yang lain akan mendengarkan dan memberi masukan. Bagi kami, situasi ini adalah keberkahan yang merupakan karunia Allah Swt.

Keberkahan yang lain adalah ketika kami bisa membeli rumah ditahun 2011, dengan sepenuh perjuangan. Rumah yang cukup luasnya, dengan cicilan yang terjangkau gaji suami. Saya memang berdoa kepada Allah : “ya Allah berikan kami rumah yang kami mampu mencicilnya, dekat masjid, dikelilingi tetangga yang sholih shalihah, fasilitas memadai seperti air-sampah dll.” Saya berdoa sedetil itu dan alhamdulillah, kami dapat rumah yang sekarang kami tempati. Setiap kali bertemu teman atau supir taksi online, mereka bertanya tentang rumah saya dan terbelalak : “Ibu beruntung sekali! Rumah gede segitu harganya murah banget.”

Itulah keberkahan Allah Swt.

Masih banyak lagi keberkahan-keberkahan yang lain.

Ketika anak-anak di bangku  SMA, teman-teman mereka sudah ikut les ini itu sejak awal kelas 3. Kami belum mampu meleskan mereka. Alasannya dapat ditebak. Rata-rata anak kami baru les menjelang ujian kelulusan. Alhamdulillah, si sulung dapat masuk UGM dan nomer dua di ITS. Itulah keberkahan. Bahwa ketika tidak tersedia uang untuk les ini itu, Allah Swt berikah rizqi berlipat dari sisi lain : anak-anak yang mau belajar meski harus pontang panting cari pinjaman soal.

Dalam hubungan suami istri, saya pun merasakan keberkahan.

Jangan dikira saya dan suami tidak pernah berselisih paham. Namanya suami istri, tentu ada hal-hal yang membuat kami berselisih dan marah satu sama lain. Namun alhamdulillah, kami biasanya marah sehari dua hari. Jarang sekali sampai tiga hari. Rasanya tidak betah, tidak nyaman kalau tidak bertegur sapa. Maka nanti salah satu akan memulai berbaikan sembari saling menyindir hehehehe.

Yah, inilah keberkahan.

Saya bukan perempuan paling cantik dan paling hebat.

Suami tentu juga bukan lelaki super seperti Thor, Captain America, Hulk atau Iron Man. Tetapi kami saling mencintai, insyaallah. Kalau hanya fisik, yah, saya sudah terdepak jauh-jauh hari. Jujur sajalah, lelaki ketika di kantor bertemu banyak perempuan yang jauh lebih mempesona. Bukannya saya tidak merawat diri, ya. Kata suami saya perempuan cantik (gomballlll…biar deh! Saya juga selalu memaksa suami supaya bilang saya yang paling cantik, kwkwkwkwk!) tetapi godaan di luar sana besar. Termasuk saya juga yang sering menjalani aktivitas di luar rumah.

Tetapi itulah keberkahan yang Allah Swt titipkan di keluarga kami hingga masih bertahan hingga sekarang dan semoga bertahan hingga maut menjelang : sedahsyat apapun orang yang kita temui di luar sana, semempesona apapun, bagaimanapun ia membuat hati kita jadi deg-degan dan berbunga-bunga; tetap saja, pasangan cinta yang telah menjalani hidup sekian lama adalah belahan hati terbaik yang pernah ada bagi diri kita.

Mungkin dia tidak lagi membuat deg-degan.

Tidak membuat berdesir-desir.

Tidak membuat mabuk kepayang seperti saat awal nikah dulu.

Tapi rasa bahagia, hangat, tenang, itu tetap ada dan itulah keberkahan. Betapa banyak  pernikahan yang terasa dingin, hambar, tak ada cahaya sama sekali dan tak ada lagi yang pantas dipertahankan dalam hubungan itu kecuali memang tinggal kunci perceraian yang menyelesaikan.

Rasanya, inilah keberkahan yang Allah titipkan.

Semoga, banyak pasangan di luar sana yang usai pernikahannya mencapai 20, 30, 50 tahun dan lebih; bukanlah pernikahan dalam keterpaksaan namun pernikahan dalam keberkahan. Aamiin yaa Robbal ‘alamiin…

 

Panitia Seminar Pra NIkah.JPG

Membumikan Ilmu Psikologi

 

 

Literasi sains, saya tertarik dengan bahasan Kompas hari ini, Kamis, 16 November 2017. Bahwa masyarakat umum perlu sekali mengetahui apa saja perjalanan dan pencapaian dunia ilmiah. Betapa banyaknya berita hoaks yang terebar. Berdasarkan tulisan hari ini, tulisan hoaks tertinggi di bidang kesehatan, politik dan dunia entertainment.

Di bidang kesehatan, kita mengambil kata-kata WHO bahwa sehat berarti memiliki ketiadaan cacat baik fisik maupun mental. A state of complete physical, mental and social well-being and not merely the absence of disease or infirmity; kata-kata ini saya cantumkan dalam penelitian saya saat skripsi dulu yang membahas tentang PWB atau psychological well being.

Hoak di bidang kesehatan memang menempati urutan pertama. Termasuk kesehatan mental.  Hoaxs sendiri bermakna “ a plan to deceive someone, such as telling the police there is a bomb somewhere when there is not one, or a trick: The bomb threat turned out to be a hoax.

He’d made a hoax call claiming to be the president.

Hoak adalah rencanan untuk menipu seseorang. Dengan kata lain, hoak bukanlah sebuah berita yang 100% bisa dipercaya kebenarannya. Bahkan, boleh jadi muatan kebenarannya hanya 25% atau malah 0%. Dalam ranah psikologi, saya sendiri merasakan itu betapa klien telah dipenuhi pikiran dan pemahamannya oleh berita hoak.

“Anda perlu segera datang ke rumah sakit X.”

“Bu Sinta mau bilang kalau saya gila?!”

Di kali lain,

“Anda sepertinya harus dibantu obat.”

“Apa saya kelihatan nggak waras??!”

Skizofrenia, insane, depresi, mood, stress dan seterusnya telah dipahami secara salah ke tengah masyarakat.

Koran hari ini, Jawa Pos, 16 November 2017 juga memberitakan hal yang sangat mengerikan terkait perlakuan orang-orang normal terhadap seorang penderita gangguan jiwa di tengah jalan. Stigma terhadap penyakit jiwa begitu buruknya hingga akhirnya masyarakat enggan berobat, enggan menyadari dan mengakui bahwa di sekelilingnya (atau bahkan dirinya sendiri) memiliki gangguan emosi atau gangguan kepribadian. Seringkali, orang datang kepada psikiater atau psikolog ketika gangguan sudah dirasa tak tertahankan, ibaratnya stadium 4 dari penyakit kanker. Bila tidak segera ditangani maka akan menjadi penyakit yang menggerogoti diri dan lingkungan, bahkan akan menimbulkan dampak tak diinginkan.

 

Tugas Psikolog dan Ilmuwan Psikologi

Menjadi tugas orang-orang yang pahamd unia kesehatan untuk membumikan ilmunya. Sebagai psikolog, saya rutin memposting hal-hal terkait psikologi. Beberapa hari lalu saya memposting tentang lelaki dengan pribadian alpha-male. Tulisan ini mendapat respon lumayan ramai dari pembaca medsos. Harapan saya agar lelaki lebih waspada bila dirinya memiliki kharisma itu dan perempuan pun tidak lantas terperdaya.

Sebagai penulis novel, saya juga menghadirkan ke tangah masyarakat tentang kehidupan psikolog atau setidaknya novel yang merangkum ilmu psikologi. Rinai dan Bulan Nararya sendiri mengetengahkan kehidupan Rinai dan Nararya yang merupakan orang-orang psikologi dengan segala suka dukanya.

Saya juga membuat buku-buku yang ringan terkait dunia psikologi seperti Sketsa Cinta Bunda, Mendidik Anak dengan Cinta. Bahkan, di buku Sarah : Seri Perempuan Istimewa yang merupakan buku sejarah; secara tak langsung saya selipkan ilmu psikologi. Misalnya, saya kemukakan bahwa Sarah adalah seorang perempuan yang berani bicara. Itulah sebabnya, kenapa perempuan harus berani bicara di saat penting dalam hidupnya. Sarah berani bicara kepada ayahnya. Sejarah Sarah memang masih diteliti hingga kini. Namun disinyalir, ia seorang putri bangsawan terkemuka dari dinasti Isin atau Larsa di daerah Mesopotamia. Betapa Sarah berani mengemukakan pendapat untuk bicara tegas, ketika ia memilih Ibrahim sebagai suami.

 

Begitupun, Sarah adalah perempuan yang berani bicara dan bertindak, ketika ia yakin berada di atas garis kebenaran. Ketika 3 malaikat yang mulia : Jibril, Mikail, Isrofil hadir ke rumahnya; Nabi Ibrahim as merasa sedih akan berita buruk yang akan menimpa kaum Saduum. Namun tidak dengan Sarah, mendengar berita dari malaikat iapun ikut murka terhadap kedzaliman kaum Saduum yang berani menentenag Allah Swt dan Rasulnya, Luth as.

 

Mengapa buku bisa menjadi ajang komunikasi dari seorang ilmuwan kepada khalayak? Sebab buku menjadi bahasa yang tidak mungkin diucapkan semua oleh penyampainya. Buku juga bsia menyelipkan nilai-nilai secara halus tanpa terasa.

Carl Sagan menulis tentang Contact; sebagai astronom ia ingin menyampaikan kepada khalayak tetnang dunia astronomi ketika membahasa makhluk luar angkasa. Frank Tallis seorang psikolog klinis  yang menbuat serangkaian novel seperti Death in Vienna dan Vienna Blood  untuk menjelaskan pada khalayak bahwa psikoanalis tidak hanya bicara masalah basic instinct terkait sexual saja. Tetapi bagaimana tokoh utamanya , Max Lieberman berusaha mengungkap kejahatan dengan pendekatan psikoanalis kepada tersangka.

 

Selain novel dewasa dan buku sejarah dan motivasi yang saya selipi ilmu psikologi; saya juga membuat novel-novel remaja dengan rangkaian ilmu psikologi di dalamnya.

Reem dan Polaris Fukuoka, dua tokoh di dalamnya yaitu Reem dan Sofia memiliki satu kebiasaan psikologis yang sangat baik : menulis. Reem suka menulis puisi, Sofia suka menulis buku harian. Itu sebabnya, ketika saya memposting di fesbuk tentang apakah menulis dan kebiasan mencurahkan perasaan di buku diary membuat seseorang dapat melampiaskan marah dan benci? Hampir semua yang memberikan komen menjawab : ya.

 

Menggaungkan Ke Orang Sekeliling

Saya selalu menorong orang-orang di sekeliling untuk menjadi konselor kecil-kecilan. Baik kepada suami ataupun anak-anak saya.

1

“Ummi, temanku ada yang korban KDRT. Dia sama ibunya.”

“Sudah lapor ke polisi, Nak?”

“Kayaknya enggak deh…”

“Kalau begitu, kamu harus jadi teman curhatnya ya…”

 

2

“Ummi, temanku ada yang kelakuannya menyebalkan banget. Udah gitu dia gak ngerasa lagi kalau nyebelin.”

“Yah, itu namanya orang yang dalam berkomunikasi memiliki non-verbal disorder. Dia gak bisa memahami bahwa tingkah laku, sikapnya itu menyebalkan orang lain.’

“Trus gimana?”

“Kasih dia hadiah. Nanti kan bisa kamu dekati.”

 

3.

“Ummi, temanku ternyata ada yang orangtuanya single parent.”

“Trus, anaknya gimana?”

“Kebetulan sih anaknya baik. Ibunya perhatian. Bekas ayahnya juga perhatian.”

“Oh bagus itu. Kamu dekat sama dia kan?”

“Iya.”

“Kamu harus jadi teman baiknya. Ajak dia ngobrol ya.”

 

4

“Kenapa sekarang perempuan suka menggugat cerai?” tanya suamiku yang kebetulan ruang lingkup kerjanya di wilayah HRD.

“Oh, selingkuh ya?” sahutku.

“Ya.”

“Itu karena perempuan dominasi perasaan. Jadi pas sudah nikah lalu ketemu lelaki yang mempesona, terhanyut. Padahal belum tentu lelaki itu sebaik suaminya yang sekarang.”

“Trus gimana?”

“Ya memang hubungan suami istri harus didekatkan. Jadi kalau suami pindah kerja, usahakan istri mengikuti. Kantor dan pemerintah harus melihat aspek itu. Jangan sembarangan mutasi karyawan.”

 

Edukasi kepada Orang Sekeliling

Saya sampaikan kepada klien-klien bahwa skizofren dan depresi bukanlah hantu menakutkan yang membuat orang punya cacat seumur hidup dan menebarkan bau busuk hingga harus diasingkan. Sebagai psikolog, kitapun harus memperkenalkan diri kepada orang-orang sekitar : saya psikolog. Kalau orang bertanya apa bisa minta obat , maka kita jawab : itu ranah psikiater. Orang-orang akan semakin paham apa perbedaan psikolog dan psikiater bila kita terus menggaungkan. Dan juga, orang akan memahami level sakit ketika harus mengunjungi kedua ahli tersebut.

Seorang ibu pernah melaporkan kerabatnya yang sering mengamuk tak karuan hingga mengancam lingkungan. Orang-orang menyebutnya gila. Apalagi agresifitas dan gangguannya sudah kelewat parah. Apalagi keluarganya orang tak mampu.

“Saya harus gimana bu Sinta?”

“Ibu punya BPJS?”

“Ada sih.”

“Masukkan ia ke rumah sakit X.”

“Memangnya bisa? Terus berapa hari?”

Saya jelaskan bahwa obat-oabt antidepresan dan antipsikotik sebagian masuk dalam daftar BPJS. Dan pasien rumah sakit jiwa yang tidak mampu , gratis. Mereka akan rawat inap antara 30-60 hari tergantung daya tampung rumah sakit. Ketika sudah waktunya keluar, mereka akan kelur dan ketika kambuhpun bisa masuk lagi. Pendek kata, orang dengan gangguan seperti ini memiliki banyak cara untuk sembuh. Jadi jangan hanya didiamkan. Bahkan, kalau kita sendiri sudah mengalami tekanan hidup berkali kali dan beragam  jenisnya, jangan malu untuk mendatangi psikolog.

Uuntuk edukasi kepada masyarakat, alhamdulillah saya sendiri mencoba berbagai cara. Antara lain lewat tulisan, siaran radio, seminar dan wrokshop. Untuk kali ini, saya ingin memperkenalkan suatu program yang sudah lama sekali saya impikan. Saya bercita-cita memiliki Pusat Penelitian dan Pusat Penyembuhan dengan konsep art therapy. Mungkin karena saya sendiri berjiwa seniman ya. Salahs atunya adalah metode writing therapy. Semoga metode ini dapat diterima khalayak di berbagai level usia dan menjadi salah satu sarana menuju kesehatan mental yang paripurna.

reem workshop