Kategori
ANIME Film Game Jepang Manga Remaja. Teenager Sejarah Islam Tokoh WRITING. SHARING.

Bukan Hanya Eren Jaeger yang Lahir 30 Maret. These are Famous People Who were also Born in 30th March

  1. Anna Sewell, penulis Black Beauty

Black Beauty berkisah tentang kuda hitam dengan segala pertualangannya. Novel ini telah banyak diadaptasi ke dalam berbagai jenis film. Anna Sewell sendiri hanya membuat satu novel yang sukses sepanjang masa. Ia hanya sempat menikmati kesuksesan bukunya selama 5 bulan karena selanjutnya harus menjalani kehidupan di atas pembaringan akibat sakit hepatitis dan tuberculosis yang saat itu belum ada obatnya. Ia meninggal tak lama setelah bukunya diterbitkan dan mendulang sukses.

  • 2. Vincent Van Gogh, pelukis

Vincent adalah seorang guru dan seorang Kristian yang taat. Saat ia mengalami kekecewaan hidup; ia memilih menjadi soliter, berkelana mengamati alam dan mendonasikan hartanya bagi yang membutuhkan. Ia juga sangat rajin mempelajari seni dan mengembangkan seni lukis versi dirinya sendiri. Van Gogh sangat produktif menghasilkan karya seni yang luarbiasa.

  • 3. Eric Clapton, gitaris

Gitaris legendaris dan penyanyi ini ngetop banget dengan lagu-lagu yang memorable sepanjang masa seperti Tears in Heaven. Kalau mau tau gimana indahnya lagu ini bisa klik aja ya link youtube dari Tears in Heaven, Wonderful Tonight

  • 4. Ingvar Kampard, pebisnis

Nama ini mungkin gak terlalu kita kenal. Tapi kalau produknya, pasti kenal, dong! IKEA. Yup. Dulu, hanya tukang atau orang-orang tertentu yang bisa membuat satu barang seperti lemari, rak, meja. IKEA membuat setiap orang mudah merakit barang yang dibutuhkan di rumah, bahkan perempuan sekalipun. Produknya cantik-cantik, mudah membuatnya dan cepat pula memasangnya.

  • 5. Muhammad al Fatih, Mehmet II The Conqueror

Bagi pecinta sinetron Turki, pasti kenal dengan salah satu tokoh legendaris penakluk Konstantinopel di abad pertengahan. Dikenal sebagai Mehmet II The Conqueror atau Mehmet si penakluk. Menaklukkan Konstantinopel di usia yang sangat muda, 21 tahun, dengan menggunakan berbagai teknik perang yang sangat brilian. Salah satunya memindahkan kapal-kapal laut melintasi bukit Galata menuju wilayah Golden Horn (Tanduk Emas)

——————

MY ENGLISH’S STORY :

Non only Eren Jaeger who was born in 30th March.

These are several famous people that you might know.

  1. Anna Sewell, known for her popular book The Black Beauty. Unfortunately, Sewell died just about 5 moths after her book was published. She died because of hepatitis and tuberculosis
  2. Vincent van Gogh, is Netherland painter. His beautiful arts began to well-known in 20th century

  • 3. Eric Clapton. You like love songs? Then you can enjoy the songs from Clapton. You can click here
  • 4. Ingvar Kamprad. You’re probably not recognize him but I’m sure you’re familiar with IKEA. Yup, Kamprad was the founder of IKEA. Famous home furnishing!
  • 5. Mehmet II, the Conqueror. His incredible works when he moved his warships through Galata Hills. He made hills just like a sea!

30th March, today is special day for you the fans of Eren Jaeger (or Eren Yeager). When’s your birthday? Mine is close to Mikasa’s hahaha.

Kategori
Covid-19 My family Survivor Covid-19 WRITING. SHARING.

#2 : Cepatlah memutuskan! Decide immediately!

Di rumah atau asrama haji? Hotel  atau rumah sakit? Obat tradisional atau farmakologi modern?

Aku sempat kebingungan pada awalnya apakah harus rawat inap ataukah cukup di rumah saja. Mengingat saturasi bagus, tak ada pilek, dan juga tak ada sesak nafas. Tapi kenapa tetiba harus segera dirawat?

FIT dan SEHAT BUKAN JAMINAN

Ketika suamiku dan putraku alhamdulillah berhasil menurunkan berat badan dengan pola hidup sehat, seluruh anggota keluarga ikut melakukannya. Menghitung kalori, memperbanyak sayur buah, workout. Kalau lagi malas, setidaknya pemanasan dan plank menjadi agenda rutin.

Suami terdeteksi positif di Banjarmasin 7 Maret 2021. Ia rajin bersepeda dan cardio tetapi memutuskan segera ke RS walau ada ruang isolasi di bapelkes atau hotel. Begitu dirawat, suami terus mendesak : “beneran nih gak ada yang butuh dirawat di Surabaya?” 10 Maret 2021 bertambah yang positif di rumah karena suami sempat pulang ke Surabaya.

Aku menolak. Kami sehat-sehat semua kok. Di rumah hepi-hepi, masak-masak, beberes rumah, menonton bahkan aku masih bisa mengisi beberapa acara. Bahkan, kami sempat periksa ke RS utk tes darah, rontgen sendirian dan alhamdulillah hasilnya baik-baik saja. Tak ada pneumonia, tak ada yang perlu dikhawatirkan.

Lalu, buat apa dirawat di RS?

Pihak Puskesmas kooperatif mempersilakan kalau kami mau diisolasi ke hotel asrama haji. Semua gratis : penjemputan, swab, logistic, pengobatan.

“Ah, enakan di rumah.”

“Kalau bosen; bisa ngapa-ngapain kalau di rumah. Kalau gak di rumah, bingung mau ngapain.”

Begitu pendapat beberapa orang terkait pilihan isolasi mandiri (isoman). Alhasil, aku dan anak-anak yang akhirnya semua positif; bertahan di rumah. Perhatian dari teman-teman mengalir. Makanan, buah, obat, suplemen, hadiah-hadiah. Waaah!

MEDIS versus NON-MEDIS

Begitu banyak pihak yang perhatian dan memberikan saran. Deretan obat-obatan dikirimkan ke rumah mulai berbagai jenis madu, propolis, sari kurma, probiotik, qusthul hindi dan rangkaian pengobatan herba yang kurasa harganya mahal-mahal. Masyaallah…aku terharu sekali dengan perjuangan teman-temanku memperhatikan kami sekeluarga.

Begitupun, pihak puskesmas dan dokter memberikan rangkaian resep seperti azytromicin dan oseltavimir; juga berbagai jenis vitamin. Obat-obatan juga dikirimkan ke rumah. Namun, aku tidak punya latar belakang ilmu medis yang memadai. Paling dapat ilmu dari media sosial, situs kesehatan online, atau dari teman-teman dokter yang menerima keluhan via WA. Berbagai saran pun beragam jenisnya.

“Minum segera XXX. Caranya begini- begini.”

“Jangan minum XXX!”

“Minum probiotik jenis ini ya, tiap 2 jam sekali.”

“Wah, jangan minum probiotik. Kan lagi minum obat!”

Aku bingung , siapakah yang harus kuturuti?

Lalu tubuh kami mulai bereaksi terhadap covid. Hari ke-1,2,3 semua baik-baik saja. Tetiba di hari ke-4 dan seterusnya ; mulai ada yang tak beres.

  1. Suhu tubuh naik turun. Berbekal thermometer di rumah, suhu tubuh bisa turun naik tak menentu. Kadang 36,3. Lalu 36,7 . merembat ke 37,6 lalu turun lagi ke 36, naik lagi ke 38. Kalau minum paracetamol dan kompres, suhu turun
  2. Tidur gelisah. Tidur tak lagi nyenyak. Pindah-pindah tempat, bolak balik bangun
  3. Kehilangan selera makan. Kalau masih di rumah, banyak alternatif pengganti makanan. Selama gak doyan makan, setidaknya telur rebus dan minum susu menjadi alternatif asupan. Tapi makin lama, apapun jadi tak selera
  4. Lemas. Bagi yang pernah merasalan typhus dan demam berdarah (DB) pasti akan merasakan lemas yang spesifik.

Untuk emak-emak yang terbiasa otot kawat, tulang besi; sakit sering tak dirasa. Aku sering kena flu tapi cukup tidur full sehari dan makan apapun yang diinginkan; besoknya sudah membaik. Lemas sih, tapi gak banget. Sekarang? Lemasnya kelewatan. Sekedar angkat kertas aja nggak bisa!

Lho, kan wajar sakit covid begitu?

Semua orang juga kok, merasakan hal yang sama. Lemes, agak-agak demam, hilang nafsu makan, susah tidur. Yang penting saturasi bagus dan gak ada batuk yang buat sesak nafas, bukannya oke-oke aja tuh isoman di rumah?

PERHATIKAN CERMAT dari WAKTU ke WAKTU  

Cuma kita yang betul-betul tahu riwayat hidup, riwayat kesehatan, riwayat keanehan-keanehan yang dialami diri sendiri dan anggota keluarga. Sepertinya terlihat sama, tapi belum tentu demikian.

  1. Buatlah pilihan logis rasional, saat masih BISA memilih. Kalau udah sesak nafas, hilang kesadaran, demam kelewat tinggi; pilihan-pilihan bisa jadi sangat terbatas. Pilihan apa? Pilihan RS, misalnya. Mungkin kita mau milih RS yg lebih dekat rumah, yg ada kenalan, yg sudah ada jejak rekam medisnya krn sering periksa di sana. Kalau masih bisa milih, tentu akan enak. Tapi kalau udah kritis, tentu sulit milih-milih
  2. Ah, nanti juga demamnya turun. Ah, nanti juga nafsu makannya pulih. Nanti itu kapan? Dan apa benar bisa pulih dengan sendirinya atau sudah waktunya ditangani dengan serius oleh para ahli? Nanti-nanti bisa jadi kebablasan
  3. Kalau tinggal sendirian, atau tidak ada anggota keluarga terdekat yang dokter/perawat; mending segera ke RS. Suami saya sendiri di Banjarmasin. Saya sendiri, meski punya sahabat2 dokter tentu gak bisa terus menerus konsultasi di WA. Punya oximeter atau thermometer di rumah, gak cukup. Hanya perawat dan dokter di RS (atau petugas kesehatan lainnya) yang punya ilmu dan pengalaman terhadap situasi mendesak
  4. Saya dan dua putri saya masuk period time. Saya pribadi mengalami uterus bleeding krn haidh berkepanjangan dan jumlah di luar kewajaran. Karena perempuan haidh seringkali gak enak badan, who knows dg virus Covid ini makin menjadi-jadi situasi buruknya?
  5. Rumah sakit bikin tambah sakit. Well, ini bukan hotel dan sekarang bukan waktunya pesiar. Kalau di RS gak seenak di rumah, masuk akal sih. Tapi di RS sudah tersedia SDM dan segala macam perangkat yang disiapkan utk kondisi darurat. Di RS berkumpul para ahli di bidangnya yang keilmuan mereka didapatkan lewat jalur ilmiah. Kalau ilmu medis yang kupunya hanya sekedar baca-baca, kan?

Pernah nonton lagu-lagu kocaknya nya dokter Henrik Widegren yang juga musisi? Never Google Your Symptoms adalah salah satu lagu favoritku yang mengajarkan jangan sembarangan cari ilmu via dunia maya. Boleh sebagai langkah awal, tapi segera serahkan pada ahlinya.

——-

QS An Nahl (16) : 43 :

وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ اِلَّا رِجَالًا نُّوْحِيْٓ اِلَيْهِمْ فَاسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَۙ

Dan Kami tidak mengutus sebelum engkau (Muhammad), melainkan orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui

—–

Bagi yang tidak memilih RS dan obat-obat kimiawi; tentu juga tak salah, bila lebih memilih pengobatan tradisional atau herba. Di China dan Korea, pengobatan tradisional menjadi pilihan terpercaya masyarakat karena didukung oleh pemerintah serta keilmuan yang dikembangkan secara terus menerus. Sekarang, Tibbun Nabawi pun menjadi pilihan terpercaya masyarakat.

Untuk kondisiku, bisa jadi karena cukup kompleks maka pilihan RS menjadi pilihan yang harus disegerakan.

6. Berapa jumlah penderita covid di rumah? Kalau cuma 1-2 orang, sarana di rumah memadai, tentu masih bisa isoman. Orang-orang yg sehat bisa melayani yg sakit. Tapi utk kondisi kami sekeluarga, semuanya kena covid! Hanya ibuku yg berusia 80 th yg alhamdulillah negatif. Kalau aku memaksakan di rumah, bisa-bisa yang masih sehat overload pekerjaan dan over exhausted karena melayani yg udah pada lemah. Kalau ambruk semua? Wah!

Jangan takut untuk memutuskan segera dirawat di RS rujukan Covid 19, bila memang kita mencermati diri sendiri sudah mulai semakin menurun performanya.

——–

Hari ke-13 di RS

Hari ke-18 positif Covid 19

Alhamdulillah, kondisi kami semakin stabil dan sehat . Terimakasih atas semua doa-doa

➖➖➖➖➖

MY ENGLISH’S STORY :

Hurry Up!

You have to decide immediately : is it okay to stay at home, isolation at hotel or right away to hospital?

  1. Make a logical choice. We don’t have several choices in critical condition. So, if there’s still time to make a choice, do it
  2. Sometimes we say to ourselves : the fever will be over. Just take a rest, drink much water. But is it true? Don’t we need more help from doctors and nurses?
  3. If you’re live by yourself – there’s no body else and you don’t have any relative such as doctor or nurse that you can depend on ; please contact hospital and tell your latest condition
  4. I hate hospital. Hospital make me sick much more! Well, of course, hospital is not hotel and we’re not on vacation! But in hospital is available medical resources that could help patient in critical condition
  5. If in you’re family there’s just 1 or 2 people with covid, it’s okay to stay at home. The rest which is still healthy can assist you. But, if the whole family is suffering for Covid 19, hospitalization is the right choice
Kategori
Covid-19 My family Survivor Covid-19 WRITING. SHARING.

#1 Covid 19 – Virus Cerdas yang Memanipulasi Otak Manusia

Aku penyuka sayur. Pecinta buah. Gemar cemilan. Tak menolak madu dan sari kurma. Suka wangi-wangian. Yang terpenting, aku suka minum air putih.

Sampai kemudian Covid 19 menyeruak ke tengah keluarga kami, menginfeksi 6 orang, 4 di antara kami harus dirawat di RS. Terus terang, babak belur fisik dan psikisku menghadapi penyakit yang satu ini. Virus ini pintar memanipulasi otakku!

APAKAH OTAKKU BERKATA BENAR?

Aku dan 2 putriku dirawat di satu ruangan. Meski kondisi 2 putriku juga lumayan payah, mereka masih bisa tertatih membantuku. Kejadian demi kejadian aneh membuatku heran.

  1. Aku benci sekali putri bungsuku membantuku. Ia lucu, jenaka, cepat tanggap, ringan tangan. Tiap kali mendekati, rasanya aku ingin berteriak marah-marah. Kenapa aku ini? Lambat laun kusadari, ia memakali baju yang berbau wangi. Wangi khas pelembut dan pewangi pakaian. Aku benci semua pakaian yang kubawa dari rumah, jilbab, semua yang berbau wangi!
  2. Aku sangat suka sayur. Apalagi sayur yang disajikan warna warni merah, kuning, hijau. Hanya sebentar, karena berikutnya aku membenci semua jenis sayuran. Terutama aroma segarnya yang selama ini membuatku berselera menghabiskan nasi
  3. Kelengkeng is one of my favorite. Segar, manis. Dulu kuhabiskan 1 kg sendirian. Sekarang? Tebak saja.

Oke, baiklah. Kata orang-orang itu hanya masalah selera. Namanya orang sakit, mungkin gak suka masakan tertentu. Kupikir demikian. Lalu hal-hal lain yang aneh pun  terjadi.

4.Dari semua obat, ada 1 jenis obat (lebih tepatnya suplemen makanan) berbentuk permen yang sejak awal kusukai karena rasanya manis segar seperti permen mint. Selalu, suplemen bernama Rillus ini kuletakkan paling akhir di antara obat-obat yg lain. Dengan kasus wewangian dan sayur, aku mulai curiga : jangan-jangan Rillus ini nanti juga akan menerima kebencianku. Tepat! Baru tiga kali minum, aku benar-benar membenci benda bernama Rillus

Okelah.

It’s enough for food and medicine. Mungkin aku muak dengan semua obat, injeksi, infus, suplemen, antibiotic, antivirus dan sejenisnya. Mungkin aku butuh makanan selingan. Lalu suatu hari, aku benar-benar menyadari : ada yang salah dengan otak dan diriku.

5. Air putih. Aku memandang gelas berisi airputih. Minuman yang paling kusukai, lebih dari teh dan susu. Cairan ini sama sekali tak punya rasa, warna, bau. Netral! Lalu aku tetiba membenci gelas, botol, apapun tentang air putih! Aku gak mau minum air putih lagi. Heh, apa yang salah dengan diriku, otakku?

BAGAIMANA AKU MENGENDALIKAN OTAKKU?

Aku bersyukur, dokter dan perawat di RSHU ini sangat informatif dan kooperatif. Apapun keluhan kami, mereka memberikan penjelasan dan diskusi panjang lebar. Awalnya aku enggan menceritakan masalahku pada dokter spesialis paru yang mendampingi kami.

“Manja amat!”pikirku. “Aneh dan apa kata orang nanti?”

Tapi akhirnya kuutarakan dan sungguh mengejutkan apa yang beliau sampaikan.

“Memang ini fase terberat dari pasien-pasien saya,” jelas dokter. “Bagaimana virus ini mempengaruhi reseptor, terutama indera. Apapun yang dikatakan oleh virus ini ini : LAWAN!”

Di psikologi, kami  mempelajari bahwa indera, persepsi dan otak sangat berkaitan erat. Lisan kita mengucapkan sesuatu berulang, itu bisa menjadi skema otak, dan otak akan berjalan sesuai skema. Mata dan telinga pun demikian. Aku mulai mencermati, setiap kali aku bilang dan berpikir tentang sesuatu yang kuinginkan, maka sehari berikutnya otakku langsung berkata : itu hal yang kubenci!

Aku bawa buku-buku ke RS, sehari membaca, esoknya aku membenci semua bukuku.

Aku suka Maher Zain, sehari kudengarkan, esok sudah kubenci suaranya.

Aku sayur semacam acar, hanya sehari, berikutnya aku membenci rasa dan baunya.

Awal dirawat kami membawa beberapa bungkus pop mi, siapa tau butuh panas-panas. Malam hari, kumarahi putriku karena membuatnya, “jangan dekat-dekat Ummi! Benci baunya!”

Aku memesan makanan, esok hari bahkan hingga hari ini, makanan jenis itu sangat kubenci!

VIRUS YANG BERBEDA

Kupikir, aku akan tinggal di RS 3-4 hari seperti dulu ketika aku dan anak-anakku pernah dirawat karena tipus dan/atau demam berdarah. Masih kuingat, infus yang hanya sebentar lalu 3 hari setelahnya membaik lalu menyantap makanan apapun dengan lahap. Seperti raja ratu di RS karena apapun dilayani tinggal makan tidur.

Ini hari ke -11 kami dirawat di RS.

Tubuh kami membaik. Namun setelah beberapa hari belakangan aku menyadari kami harus bertempur habis-habisan dengan cara virus mengendalikan otakku. Tapi bagaimana aku bisa makan, minum, kalau otakku menolak memasukkan apapun ke tubuhku?

  • Kucemati diriku, otakku (mungkin dikendalikan virus) memproses informasi 24 jam. Ini hanya dugaanku ya. Maka, ketika aku memesan makanan pada orang rumah, “tolong Ummi dibuatkan oseng kacang,” maka masakan itu harus sudah selesai kumakan segera. Lebih dari itu, aku akan kadung membenci makanan tersebut dan sulit memakannya
  • Nasi. Aku benci betul jenis makanan ini. Maka nasi harus kupindah-pindah cara memakannya. Kadang di mangkuk plastik, di tutup, bahkan makan dg menutup mata!
  • Obat. Kupotong-potong jadi beberapa bagian agar tidak tampak bentuk aslinya
  • Air putih. Kupindah-pindah tempat minumku. Botol kecil , botol besar, gelas disposable, gelas bekas pudding.
  • Karena kucermati proses informasi mulai menengar, membahas, memakan, dll sekitar 24 jam; aku dan anakku membahas sekilas. “Besok mau makan apa?” Kami mengucapkan 1-2 kalimat masakan yang kami inginkan. Lalu diam. TIDAK MEMBAHASNYA LAGI. Misal ingin oseng terong, bahas sekali. Sampaikan ke orang di rumah. Lalu segera memakannya ketika masakan itu tiba di RS. Atau jika kami pesan gofood, tidak membahas masakan itu terlalu banyak. Sehingga otak ini tidak memproses informasi terlalu sering yang kemungkinan, virus itu membaca apa maksud kami.

Baik, virus Covid 19. You’re great!

Kamu makhluk Allah Swt. Kamu  membuat kami membenci apa yang baik, tapi disitulah letak perjuangan kami menaklukanmu.

——————–

Atas : hari Rabu, 17 Maret 2021, saat pertama aku dilarikan ke RS Husada Utama , Surabaya

Bawah : saat menerima transfusi plasma utk mempercepat kesembuhan

————————-

Sejak awal positif aku ingin menuliskan pengalaman penting ini, tapi mungkin, baru di hari ke-17 aku mulai mampu menggerakkan jari jemariku.

Hari ke-11 dirawat di RS

Hari ke -17 positif Covid 19

(Catatan Covid 19 ke-1)

Kategori
BUKU & NOVEL Buku Sinta Yudisia Fiksi Sinta Yudisia Jepang Karyaku Kepenulisan KOREA Manga Menerbitkan buku Perjalanan Menulis Remaja. Teenager Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Boleh gak minta mahar kitchen set atau art supply?

“Emang kamu pingin minta apa? Seperangkat alat sholat?”

“Itu udah mainstream banget,” Annona angkat bahu. Mengulum lagi coklat potongan kedua. “Aku nggak mau mahar mainstream.”

“Trus, apa? Seperangkat perhiasan emas?” Lemon bertanya lagi.

“Aku pingin seperangkat kitchen set,” sahut Annona kalem.

Lemon menatapnya heran. Lalu tertawa guling-guling.

“Kamutuuuuuuuh. Masak gak hobi, maharnya kitchen set. Lagian, gimana saat ijab qabulnya nanti!”

—–

Zaman saya dulu nikah, mahar kayaknya relatif sama di mana-mana ya. Biasanya seperangkat alat solat, atau cincin. Yang agak mahal biasanya seperangkat perhiasan atau uang tunai. Tapi anak-anak sekarang ada aja pikiran kreatifnya.

Kalau diskusi sama anak-anak muda perihal pernikahan, rata-rata punya ketakutan beragam. Ketakutan itu dulu nggak ada di pikiran kita. Paling cuma khawatir kalau beda suku ntar karakternya beda trus benturan, trus gimana. Kalau sekarang relatif beragam. Udah gitu, impian dan khayalannya juga aneh-aneh kwkwkw.

Diskusi nikah dengan anak-anak muda emang seru. Kalau ngisi acara seminar pra nikah, bahasan tentang gimana milih jodoh kayak gak ada habisnya. Di bawah ini bbrp yg sering jadi pertanyaan:

  • Ortu gak setuju
  • Pendidikan beda strata
  • Beda suku
  • Calon suami gak bolehin istri aktivitas keluar, apalagi ambil beasiswa
  • Proses taaruf
  • Calon suami pemahaman agamanya minim
  • Ada trauma keluarga

Selain hal-hal yg agak ngeri-ngeri gitu, bahasan dg anak muda seringkali lucu-lucu juga

  • Apa gaun pengantin harus putih? Boleh dong ganti warna
  • Lagu pengiring pengantin harus nasyid? Kalau lagu2 motivasinya Stray Kids atau Lucas Graham, apa boleh?
  • Mahar, bolehkah minta selain alat sholat dan perhiasan?
  • Kalau beda fandom boleh gak? Atau malah otaku wibu VS hallyu

——-

Kejadian sehari-hari, sering menginspirasi tulisan. Termasuk bab nikah dan mahar yang kumasukkan di novel online Half of Lemon. Udah Chapter 34 sejauh ini, masih ingin menulis beberapa bab lagi sampai benar-benar usai.

Nah, cuplikan bab mahar itu ada juga di diskusi Lemon dan Annona, kakak beradik gokil beda karakter kepribadiaan. Beda inteligensi. Beda bakat minat.

Silakan simak di sini yaaa, kalau pingin tahu gokilnya percakapan Lemon dan Annona tentang mahar 😃😃

https://www.kwikku.com/novel/read/half-of-lemon/141665

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Bunda Cantik. Beautiful Mother Hikmah Hobby My family Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Referensi Fiksi WRITING. SHARING.

Kamu Lagi Jualan?

Sebagian orang, nyangka saya lagi jualan produk tertentu ketika mau buat seminar Healthy & Confident Minggu nanti 21-02-2021 bareng komunitas Ruang Pelita. Padahal enggak sama sekali!

Pertama, saya ingin share gimana Ayyasy bisa menurunkan BB hingga 20 kg lebih. Dia tadinya nduut banget, mudah sakit, mudah demam. Macem-macemlah. Dia ngerasa makin lama tambah melar dan tiap lebaran gak ada baju cukup. Insecure juga.

Diet? Aduuuh, kami hanya kuat sebentar. Karena terus terang kalau saya harus melek malam, capek ke sana ke mari, perut lapar bikin lemes.

Nutrisi tertentu? Bolehlah. Tapi lama-lama juga gak kuat di kantong.

Akhirnya, kita semua paham bahwa jalan orang masing-masing untuk mencapai keinginan. Ada yang sukses dengan diet karbo, diet keto, jadi vegan. Ada yang sukses dengan mengganti makanan melalui herba nutrisi tertentu.

Kami ingin share bila ternyata, kita harus mengubah mindset dan lifestyle. Gak drastic emang, gak instan. Sebab baik Ayyasy ataupun suami , baru 2 tahun kelihatan lebih ideal. Tetapi hasilnya perlahan, pasti, tubuh fit dan ketika mau cheating day, hasilnya gak nambah banyak.

Lanjut ke Ayyasy.

  1. Orang malas banget olah raga. Ayyasy mengawalinya dengan ngedance. Prinsipnya, dia pingin hepi saat workout. Dia ngikuti dance para idol Korea  dari berbagi youtube. Ketika tubuhnya udah luwes, dia masuk ke babak berikut
  2. Orang gemuk emang lamban, jadi malas2an. Makanya sesudah luwes bergerak, Ayyasy WO sungguhan.
  3. Mulai menghitung kalori. Kalau dulu apapun disikat, sekarang mulai mencermati. Oh, krupuk berapa kalori? Coklat berapa kalori? Es krim? Ayam goreng? Gak diet ketat banget, tapi biar ngitung kebutuhan kalori. Kalau sudah makan brownies 2 potong, ya jangan minum es teh lagi

Kedua, suami saya.

Lingkar perut suami sampai 100 lebih dan BB nya juga lebih dari 100. Rutin ke tukang pijit hampir tiap bulan karena adaaaa aja yg masalah. Punggungnya, lehernya, kakinya. Udah kayak kakek-kakek dah. Alhamdulillah setelah bisa memodifikasi hidupnya, suami turun 17 kg.

Saya?

Hahaha.

Saya ini kalau di rumah benar-benar kerja keras. Kalau gak makan karbo, rasanya gak kuat nyuci piring, nyuci baju, nyeterika. Ibaratnya, orang Jawa kalau nggak makan nasi, kayak kurang kenyang! Mau makan roti seberapapaun banyaknya, tetap kayak gak makan!

Tersindir dengan BB suami dan Ayyasy, sayapun bertekad memperbaiki diri.

Oke, semua berawal dari pikiran.

Mau langsing? Ya jangan liat mukbang melulu. Lihat para boyband bikin chocotang alamaaak…endezzzz! Liat idol makan corn dog, yummy. Pingin bikin juga. Maka kalau habis liat acara makan2, saya ganti nyari channel Suzanna Yabar atau Yulia Baltschun. Atau channel apapun yg menceritakan WO di rumah, cardio ringan dll. Lumayan, akhirnya tertancap di benak : ohya, cardio cuma 15 menit lho! Padahal saya bisa ngetik 3 jam di latptop! Masa 15 menit gak bisa?

Mindset kedua, ketiga, nanti aja ya.

Ayyasy itu dulu, sampai mahasiswa selalu ngeri kalau udah flu. Padahal cuma batuk pilek, kami harus sedia panadol ibuprofen dan segala jenis obat penghilang rasa nyeri lantaran dia gampang banget demam tinggi. Padahal cuma masuk angin. Setelah langsing, masyaallah, tubuhnya tahan banting. Sampai2 pernah ada acara naik gunung sama komunitasnya, tentornya udah bilang : Ini gak bakal ada yg kuat sit up 20. Ternyata dia kuat leg raises, push up , sit up lebih dari yang ditentukan

Selain bicara fisik, tentu, gimana tetap percaya diri walau body goals belum tercapai. Dan bagaimana mengasah potensi dari dalam diri, agar kita menjadi seseorang yang bersinar.

Silakan ya!

FYI, Ruang Pelita mengadakan rangkaian beberapa acara yang oke punya. Stay tune!

—————————————————-

🔸️🟠 Healthy & Confident :
Sehat & Membangun Self Image 🟠🔸️

➿➿➿
Ngerasa gak cakep? Kurang good-looking ? Insecure karena penampilan gak oke? Ngerasa selalu kurang dari orang lain?
➿➿➿

Waaah, kita berjodoh, donk. Acara ini cocok buat kamu, insyaallah!
Gimana merancang healthy lifestyle agar tubuhmu lebih fit.
Kecantikan & ketampanan adalah bonus dari sehat!
Sekaligus memupuk rasa percaya diri agar pesonamu lebih terpancar.
Bersama 3 pembicara keren yang akan membuatmu termotivasi!

1️⃣ Dokter Sania ~
🌺Dokter, Motivator
🌼 Healthy Lifestyle for Your Goodlooking
🔸Gimana hidup sehat agar fisikmu oke, sehingga penampilanmu juga keren

2️⃣ Bunda Sinta ~
🌸Penulis, Psikolog, Traveller
🍁 Confident in Every Season
🔸Membangun Rasa Percaya Dirimu agar Siap Menaklukan Dunia

3️⃣ Kak Ayyasy ~
🦅 Illustrator, Healthy Enthusiast🥇Cara Oke Menurunkan Berat Badan dan Membangun Self Image
🔹Berpengalaman dalam menurunkan BB 25 kg dengan cara sehat


⏳Ahad, 21 Februari 2021
⏰08.00-11.00
💡Link Zoom menyusul
👉HTM : 10K saja

Fasilitas :
🐥Ilmu aplikatif
👣Relasi pengembangan diri
🍪Doorprize : buku, pulsa, cookies sehat

✍️Pendaftaran :
bit.ly/healthyandconfident
▶️transfer ke BSI (bank syariah indonesia) 7129-62-4943 a.n Ahmad Syahid Robbani
CP 0878-5521-6487


Selamat bergabung!
Enjoy your amazing life ❤️🧡👍👍

Didukung oleh :
Ruang Pelita, Polaris Store, Goodcookies

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Game Parenting PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Remaja. Teenager

CURHAT GAMING : Bagaimana agar Game Bermanfaat bagi Anak? (1)

Anime. Manga. KPop. Game.
Ini baru sebagian kecil dari dunia anak-anak kita saat ini, di mana orangtua diharapkan dapat mendampingi anak-anak agar mereka tumbuh menjadi sosok yang tangguh, kreatif, berakhlaq mulia. Bersyukur banget semalam ketemu dengan mas Ingge dan teman-teman dari Rumah Pelita Yogyakarta. Dihadiri oleh sekitar 70 orangtua yang kepingin banget tahu ttg bgm menghadapi anak yg suka game.
Saya rangkum dan bagi jadi beberapa tulisan, ya. Semoga bermanfaat.


📱🖥️📟🕹️
KENALILAH GAME
Untuk bisa mengendalikan dan mengarahkan anak, tak ada cara lain : mengenali game. Ini agar orangtua mudah berkomunikasi, berdiskusi, berargumentasi dan memberikan alternatif buat anak.
Di bawah ini beberapa game yang saya kenal, silakan ditambahkan.

  1. MMORPG : massively multiplayer online role playing game (Genshin Impact, World of Warcraft, Lord of the Ring online, dsb)

2. MOBA : multiplayer online battle arena (AOV, dll)

3. RPG : role playing game (Skyrim, Pokemon, Final Fantasy VI-VII-XII, dll)

4. FPS : first person shooter (Counter Strike, PUBG, dll)

5. Multiplayer game (Among Us, dll)

6. Rhythm game (Bang Dream, Superstar SMTown, dll)

7. Game-game jenis lain. Fashion game ( misal : Covet), word game (WOW)

Berbagai jenis game MMORPG


MANAKAH GAME YANG AMAN BUAT ANAK-ANAK?
Game yang masuk kategori online, sangat tidak aman untuk anak-anak TK, SD. Anak SMP dan SMA perlu pengawasan dan pendampingan. Perhatikan juga masing-masing game punya rating umur seperti film. Utk 13 tahun, remaja, dewasa, semua umur, dst.
Online bisa mengakibatkan pemain nggak mau dihentikan segera. Apalagi bila mabar dengan teman-temannya. Bisa dibayangkan, kan? Kita lagi main ber-5. Tau-tau ibu memanggil dan salah satu harus keluar dari arena game. Wah, 4 teman kita bisa mati di arena. Karena nggak mau mengorbankan permainan, mengorbankan tim dan teman-teman; biasanya anak nggak mau berhenti ketika berada di tengah game online.


👦🏻👩🏻👦🏻👩🏻
Ada banyak situs-situs yang memajang game buat anak-anak. Silakan dipilih . Ada yang tentang world building, farming, berkebun, salon, scavenger hunt dll. Apapun jenis permainannya, jika online, orangtua harus bijaksana.
📛📛📛
Apalagi jika game itu online, dimainkan bersama-sama (multiplayer), mengandung unsur kekerasan dengan storyline tertentu untuk mengalahkan musuh sebanyak-banyaknya dengan adegan berdarah-darah. Dilakukan setiap hari oleh seorang anak SD yang masih butuh berkomunikasi intens degnan orangtua; kita dapat bayangkan bagaimana perkembangan psikologisnya.



GAME OFFLINE, APA AMAN?
Perlu dipilih juga. FPS yang modelnya baku tembak dengan adegan berdarah-darah, tentu nggak cocok buat anak. Remaja pun butuh pendampingan. Sekalipun Pokemon, kalau mainnya kebablasan tentu juga perlu diperhatikan. Bahkan game yang ringan seperti Superstar SMTown atau Covet saja, anak-anak dan remaja perlu diberikan kedisiplinan waktu untuk memainkannya.

GAME BISA MEMBUAT ANAK AGRESIF?
Gaming 100%, bukan satu-satunya penyebab agresifitas anak.
Banyak sekali komponennya. Anak yang akan bermasalah dengan game adalah :
▶️Anak sudah bermasalah punya ADD, ADHD, LD + bermain game
▶️Orangtua bermasalah + bermain game

▶️Akademik bermasalah + bermain game
▶️Komunikasi buruk + bermain game
▶️Mengalami bullying + bermain game
▶️Pola asuh salah + bermain game

👇👇👇
Bukan hanya gamingnya yang harus diperhatikan. Tapi lihat lagi secara detil apa saja kondisi komorbid yang menyertai perilaku bermasalah seorang anak. Ada siswa SMA dan mahasiswa yang gak sesuai dengan jurusannya, tetapi terpaksa masuk MIA atau masuk teknik gegara dipaksa ortu. Ia melampiaskan ke gaming dan jadilah game membuatnya semakin agresif. Ini contoh dari akademik bermasalah + bermain game.

👇👇👇
Orangtua yang enggan berkomunikasi dan malas mendengar anak rewel lalu membelikan android plus games-nya, jadilah si anak kecanduan dan ngamuk kalau nggak diperhatikan. Ini contoh dari pola asuh salah + bermain game.


BAGAIMANA AGAR GAME BISA AMAN?

1.Untuk anak, belikan gawai dengan RAM dan memory terbatas. Harga 1-1,5 juta cukuplah. Jangan biarkan ia bermain dengan gawai mahal yang performanya sangat bagus. Anak belum bisa mengontrol keinginannya untuk unduh macam-macam

2.Kalau memang harus online, pakailah pra bayar. Pasca bayar bisa buat jantungan! Pernah dengan kan tagihan ortu sampai 60 juta gegara game online?

3.Sesekali, ortu duduk di samping anak. Lihat apa yang dia mainkan. Bagus sekali kalau ortu bisa ikut main dan tau. Anak main PUBG, ortu juga belajar PUBG. Anak main Among Us, ortu juga harus bisa

4.Game PC VS android. Lebih baik pakai PC. Taruh PC di ruang tengah. Kalau ditaruh di kamar, anak jadi penyendiri. Kalau pakai android, apalagi. Android mahal dg performa unggul, haduuuhh. Lebih-lebih, deh!

5.Game online? Lihat apakah pakai gacha. Gacha adalah racun di dunia gaming, sebagaimana cyber-bullying adalah racun di dunia per-KPop-an. Gacha bisa diartikan sebagai undian. Kadang bisa didapat sesudah menyelesaikan tahap tertentu, kadang harus beli. Maka dikenal anak-anak sultan atau orang kaya yang bisa menang game online karena punya duit untuk beli karakter tertentu, untuk membeli senjata tertentu.

6. Udah kecanduan? Hayuk, duduk bareng. Ortu silakan mengurangi kesibukan dan mulai berkonsultasi dengan sebanyak mungkin pakar : psikiater, BK sekolah, psikolog, ustadz, ortu lain yang punya permasalahan serupa. Kalau sudah agresif, cemas berlebihan, tidak bisa beralih perhatian dari gaming; kadang memang harus dibantu obat.

📱🖥️📟🕹️

Bersambung : bagaimana tahun anak berbakat gaming atau kecanduan gaming?

Atas : Sinta Yudisia . Bawah : Ingge Cahyadi
Kategori
ACARA SINTA YUDISIA My family Parenting Remaja. Teenager WRITING. SHARING.

Seminar rasa curhat : GAMING

📵 WEBINAR PENGASUHAN DAN GAME 📵

Gadget saat ini sudah menjadi barang yang lumrah. Pun dengan aktivitas game yang sering dimainkan didalamnya. Ayah Bunda khawatir? Apa saja aktivitas game? Mengapa mereka begitu betah? Bagaimana perasaan ananda ketika bermain game?

Apakah harus benar-benar mensterilkan anak dari gadget atau hanya butuh membangun ‘imunitas’?

Yuk kupas tuntas bareng ahlinya! Catat ya 🤩

⏰ Ahad, 7 Februari 2020
⏰ 19.00-21.30 WIB
🖥️ via Zoom Meeting

dibersamai orang-orang keren nih:
✨ Sinta Yudisia M. Psi, Psikolog (Psikolog, Penulis, Pemerhati Anak dan Remaja)
✨ Ingge S. Cahyadi (Boardgame Developer, Esport Enthusiast)

Mau kan ikut webinar rasa curhat? Bisa dengar dari sisi gamer dan tentu mengupas ilmu parenting : mengasuh dan mendampingi anak ditengah kemajuan zaman dan teknologi. Dan disinii tentunya akan banyak Ayah Bunda yang merasa satu nasib, sebeban sepenanggungan

💎HTM:
30K/orang
50K/2 orang

Pendaftaran:
WMDG_Nama_Alamat_NoWA
Kirim ke: wa.me/6281220008829 (Kak Una)
Seat terbatas. Grab it fast!

“Children who are treated as if they are uneducable almost invariably become uneducable.” — Kenneth Clark

Kategori
Cinta & Love Hikmah Oase Renungan Hidup dan Kematian Topik Penting

Galang dana bencana

Dampak bencana tidak selesai dalam jangka waktu 1-2 hari.

●○•————•○●

■Beban ekonomi.
■Ketahanan pangan.
■Memburuknya kesehatan.
■Trauma psikologis.

🏘🏚🏠🏡🏘
Belum lagi masalah keluarga ditambah terhambatnya pendidikan anak karena banyak faktor. Kondisi pandemik sangat memukul banyak kalangan, apalagi situasi alam yang kurang bersahabat.

👩‍🦰👩‍🦱👩👵👵👩‍🦳👩‍🦱

Ibu-ibu adalah pelayan keluarga dan seringkali menjadi tulang punggung ekonomi. Kesehatan fisik dan psikis mereka dapat terancam di tengah situasi saat ini. Demikian pula anak-anak, yang masih membutuhkan dukungan banyak pihak untuk mengoptimalkan tumbuh kembang mereka.

👶🧒👦👨‍🦳🧑

“Small acts, when multipled by million people, can transform the world.”
✍ Howard Zinn ✍

Sumbangsih kecil kita, adalah aksi besar bagi dunia✊✊✊

Yuk, ikut galang dana bersama Lembaga Manajemen Infaq di aksi Ganala (siaga bencana alam).

Silakan klik kitabisa.com/yukgotongroyong

Ada banyak quote-quote istimewa terkait sedekah dan membantu orang lain. Apapun yang hilang dari diri kita, jika diniatkan untuk disedekahkan insyaallah akan kembali lagi .

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Cinta & Love PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Remaja. Teenager

— NGOBROL & CURHAT —

✨ “It’s Okay Not to Be Your Valentine ” ✨

Fenomena muda-mudi di kota-kota besar, khususnya di hari Valentine, seringkali dijadikan momen untuk menunjukkan rasa cinta kepada orang terkasih.

Beragam cara ekspresi perhatian yang diberikan dengan saling berkirim ucapan, memberi hadiah, nge’date’, bahkan kencan yang mengarah pada pergaulan bebas.

Psstt… ini kah yang namanya Life Style?

Sesuai nggak sih dengan budaya & norma kita?

“Tapi.. kan sekali-kali boleh dong gaul sesama anak muda di momen itu?”

Boleh kan mengekspresikan rasa cinta kita?

Yuk.. dikepoin:
Apa sih Cinta?
Apa bedanya dengan dengan kasih sayang?
Siapa aja yang bisa kamu berikan cintamu?
Gimana sih cara menyatakannya dengan tepat?

Kuy kuy kita ngobrol dan curhat dengan Bu Sinta dan Bu Santya di acara yang asyik ini!

Ada doorprize menarik juga loh 💖❤️

✨ MARK THE DATE ✨
📅 Hari : Sabtu, 06 Februari 2020
⏰Jam : 08.00 – 12.00 WIB
▶️Via Zoom Meeting

👨 Narasumber 1
Sinta Yudisia, S.Psi., M.Psi., Psikolog

  • Penulis, Psikolog
  • Marriage Counselor, Trainer

👩 Narasumber 2
Santya Anggraini, S.Psi., Psikolog, M.E.I

  • Psikolog Klinis, Alumni Psikologi UNPAD
  • Direktur Biro Psikologi Santya Gresik dan Malang
  • Psikolog Klinis di Klinik Psikologi RS Semen Gresik Gresik.

REGISTER HERE ‼️
📎 https://bit.ly/SeminarValentine
— peserta terbatas!

🎟️ HTM :
Rp 50.000/org
Dapatkan Diskon 50% dari harga normal menjadi :
Rp 25.000
Dengan Persyaratan Berikut :

  1. Follow IG @psikolog.sa
  2. Like dan repost postingan ini di story, lalu mention ke @psikolog.sa
  3. Bagikan postingan ini ke 2 grup whatsapp

🎟️ Pembayaran :
[No. Rek BCA 7900299553 a.n Santya Anggraini]

☎️ Info & Konfirmasi kegiatan :
Yusril Izza
0813-3477-5841 (WA)

Kategori
Film Hikmah mother's corner My family Parenting PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Remaja. Teenager WRITING. SHARING.

Film Mother Gamer : Cara Keren Ibu Mendekati Anak yang Hobi Gaming

Ben Pajamas seperti ibu-ibu zaman sekarang. Seperti saya juga : takut banget ketika anaknya pegang HP! Pasti nge-game, pasti nggak ngerjakan tugas sekolah. Pasti game itu yang bikin anak agresif. Itu yang dituduhkan bu Ben, ketika bolak balik memergoki anaknya , Ohm, pegang HP. Apalagi ketika tahu Ohm akan ikut turnamen esport.

Jelas, bu Ben tak akan pernah mengizinkan anaknya ikut turnamen game. Ohm anak brilian, selalu juara. Mau jadi apa dia kalau menghabiskan waktu dengan main game?

Thailand mencuri perhatian saya dengan film-film edukasinya seperti Bad Genius, The Billionaire. Kali ini Mother Gamer.

Awalnya saya khawatir nonton film ini. Khawatir gak paham sama dunia gaming. Tapi ternyata sinematografi film ini keren banget! Saya yang nggak ngerti apa-apa tentang dunia game, jadi tahu sedikit-sedikit istilah Jungler, Mid Lane, Solo Lane, Archer dan sejenisnya. Jadi tau juga turnamen game AOV – Arena of Valor.

Sedikit synopsis

Karena bu Ben benci gaming, ia membuat gerakan anti ponsel ke sekolah. Di satu sisi Ohm sangat mencintai dunia gaming dan terjadilan konflik ibu-anak yang heboh banget. Si ibu berusaha menggunakan segala otoritasnya agar Ohm gagal, dan di sini kita diperlihatkan sebuah fenomena.

Bukan game kadang yang membuat anak agresif. Tapi orang tua yang otoriter, diktator, power abusive membuat anak berontak dan di permukaan,  agresifitas itu disimpulkan dengan sebuah analisa tunggal : gegara game kamu agresif!

Film ini drama komedi.

Karenanya kelucuan mulai muncul ketika bu Ben dengan segala cara mencoba menghambat laju keberhasilan Ohm. Demi menggalalkan Ohm main game, bu Ben menyewa 5 anak untuk menjadi tim gamer. Ohm yang memiliki akun tenar Sonic Fighter bergabung di tim Higher sementara bu Ben membentuk tim game sendiri bernama Ohmgaga beranggotakan Kobsat (Jungler) , Maprang (Support), Guide (Carry), Max(Solo Lane), Bank(Mid Lane). Jangan kaget melihat nama akun-akun mereka ya! Maprang si Darkblood, Guide si Paladin406, Bank si True Hero.

Tetiba Guide dibajak Higher dan tim Ohmgaga kekurangan 1 pemain. Mau tak mau, bu Ben harus ikut main game.

Di situlah bu Ben mulai belajar.

Sebagaimana Ohm, si pandai yang egois di tim Higher. (Bukankah Ohm belajar egois dari ibunya?) Ibu anak ini belajar bahwa di dunia game, menjadi terbaik bukan satu-satunya cara memang. Bekerja sama dalam tim, rela berkorban, menyusun renacan, berhitung hingga detik per detik sangat penting untuk bisa memenangkan turnamen.

Singkat cerita, Ohm justru menang turnamen.

Bu Ben belajar banyak dari keiktusertaannya ikut turnamen AOV.

Yang mengharukan adalah ending cerita, ketika Ohm diwawnancarai : apa kamu senang dinobatkan sebagai MVP ? (most valuable player).

Ohm bilang, semua teamnya adalah MVP, bukan dia seorang (ia udah belajar gak jadi egois!) Dan ketika diwawancarai di televisi : siapakah MVP mu?

Ohm menjawab : MVP ku adakah ibuku.

So sweeeet!

Ya Allah!

Benar-benar hubungan ibu anak yang penuh prahara, egois, manipulasi, saling nipu satu sama lain. Lalu di titik tertentu ketika mereka mencoba untuk memahami dunia gaming itu seperti apa, si ibu mulai mencoba mengerti tentang dunia anaknya. Dan ternyata, Ohm ingin menang turnamen game itu bukan karena ia addiksi. Ia ingin ke Korea, menang uang dalam jumlah banyak dan mengajak ibunya main ski. Ohm dan bu Ben memang bukan orang kaya sehingga mereka selalu memimpikan punya uang cukup untuk biaya kuliah Ohm.

Hayo, para ibu. Para ayah!

Nonton film ini.

Saya gak minta anda untuk ikut turnamen game.

Tapi  asyik banget lihat sinematografi film ini.

Gimana bu Ben pertama kali memainkan k arakter Carry di AOV, bawaannya kalah melulu dan selalu diselamatkan oleh karakter Kobsat sebagai Jungler.

Dan ending dari cerita ini adalah : komunikasi dan mencoba memahami dunia anak kita sangat penting. Hanya dengan melarang dan mematikan rasa ingin tahu mereka, akan  memunculkan sikap pembangkangan. Bangunlah komunikasi dengan anak melalui kacamata mereka, sebab, dari kacamata anak seperti Ohm sebetulnya mereka ingin membuat orangtua bangga!

Kategori
ANIME Hikmah Hobby Jepang KOREA mother's corner My family Parenting Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Remaja. Teenager WRITING. SHARING.

Strategi Berkomunikasi dengan Remaja

Remaja : diperlakukan seperti anak kecil, diharapkan bisa bersikap dewasa.

Begitu bunyi salah satu quote tentang remaja, manusia  yang berada di rentang usia antara 12-18 tahun. Virginia Satir, pakar family therapy berkata, berbicara dan mencoba memahami remaja tak akan pernah cepat dan mudah. Mereka memiliki ciri khas menentang, lebih suka percaya teman, suka menyembunyikan sesuatu dari orangtua, mood swing dan sulit berkomunikasi dengan orang dewasa.

Aku suka menyelami dunia remaja.

Bagiku, remaja adalah makhluk rentan yang rapuh dengan potensi luarbiasa. Anak-anak pintar yang pemberontakannya sering dianggap sebagai kedurhakaan dan pembangkangan, padahal mereka sedang belajar menapaki jalan hidup kedewasaan. Mendekati dunia mereka, salah satu cara yang kutempuh. Musik, film, drama, komik, animasi, novel dan sejenisnya. Termasuk mencoba menulis di platform menulis online.

Kadang capeeee.

Ya, iyalah.

Dunia remaja sangat dinamis.

Rasanya jantung ini ikut berdegup-degup mengikuti alur dunia remaja. Misal, menelusuri jejak KPop. Ikut “ngenes” lihat para boyband atau girlband yang diperlakukan mistreatment oleh manager mereka. Duh, kasihan banget GOT7, Pristine, Stellar, 2PM dan sejenisnya. Duh, kasihan banget mereka yang masih muda-muda sudah harus diet superketat sebagai idol; belum lagi menjadi sasaran haters  lantaran kiprah di dunia entertainment.

Terhenyak jika menyaksikan akhir-akhir ini mendengar beberapa anggota boyband girlband mengalami gangguan psikologis cukup parah karena kejamnya industri hiburan. Pingin rasanya bisa memberi layanan konseling ke mereka, para idol yang rata-rata usianya belasan tahun! Anggota boyband girlband yang masih remaja, termasuk remaja kita, rawan mengalami gangguan psikologis karena berbagai factor : perseteruan dengan orangtua (keluarga), tekanan akademis, lingkungan, sosial media dan factor internal diri remaja yang memang sedang gelisah dengan lifecrisis.

Dunia remaja sangat dinamis.

Memfollow akun-akun IG dan twitter mereka, kadang geli dan tegang juga dengan berbagai macam kalimat-kalimat berseliweran. Abaikan EYD/PUEBI! Sudah tidak ada panduan huruf kapital, titik koma, batasan akronim. Kadang-kadang berseliweran kata-kata tak pantas dan menyaksikan para akun itu saling perang sendiri.

Dunia remaja sangat dinamis.

Yang lucu-lucu nyeleneh macam Istaka, atau lucu informatif macam Bintang Emon dan Hirotada Radifan. Kalau aku sedang mengamati anime, maka kubuka akun youtube Senior Anime atau Abdi Kos. Di IG sendiri, banyak akun informatif yang bagus-bagus kalau kita ingin mendalami jejepangan atau hallyu.

Apa bagusnya mengikuti dunia remaja yang dinamis?

Pertama, suasana riang dan lucu.

Terus terang, dunia orang dewasa kadang begitu berat, jenuh dan penuh pertikaian. Mengamati berita politik, ekonomi, pandemic; belum lagi saat mengurusi klien-klien sangat menguras tenaga. Mengikuti dunia remaja yang riang dan ringan, bisa membawa suasana hati ikutan happy. Akhirnya, jiwa kita kembali gembira dan bisa menghadapi persoalan-persoalan berat lagi.

Kedua, kreatifitas.

“Ngasih nasehat jangan overdosis dong, Mi,” celetuk anakku.

Rasanya  mangkel dengarnya. Tapi apa benar orangtua overdosis?

Setelah mengamati akun-akun anak muda, mereka sering buat postingan infografis yang ringan tapi bermakna. Tentang makna kebebasan dikaitkan dengan anime, tentang kehidupan sekolah dikaitkan dengan anime. Aku jadi belajar : oh, kenapa gak begitu cara kita menyampaikan kebaikan? Simple, singkat, santai. Tapi maknanya dalam.

Berarti, gayaku memberi nasehat kadang-kadang overdosis ya?

Maka, kalau anak-anakku bersitegang sering kusampaikan.

“Inget nasehat Levi buat Eren Jeager!” kataku.

Simple, singkat, santai. Selesai. Nggak perlu nasehat panjang-panjang yang overdosis.

“Diih, Ummi! Apa-apa dikaitkan AoT! Emang kenapa segitunya?”

“Kalau berkesempatan ke Jepang dan bisa ketemu; Ummi pingin tahu deh berapa IQ nya Hajime Isayama, Hiroyuki Sawano sama Linked Horizon. Pingin tau proses kreatif mereka juga.”

Karena lumayan intens mengamati Korea Jepang, beberapa orang menganggapku pengamat budaya pop culture. Kadang aku diundang untuk mengisi kajian parenting, atau kepenulisan, atau psikologi, atau motivasi; dalam kaitannya dengan budaya pop culture. Cukup banyak orangtua yang pada akhirnya tersadar, kami sama-sama overdosis ketika melakukan pendekatan ke anak-anak. Nasehat ini, perintah itu, ancaman  begitu, petunjuk begini.

Syukurlah, beberapa orangtua mulai mencoba gaya pendekatan berbeda untuk anak mereka. Anakku cerita.

“Ummi, temanku cerita. Mamanya keranjingan anime kayak Ummi!”

Hahahaha.

Aku mencontohkan pada anakku bagaimana mengatur waktu untuk menonton anime dan baca manga. Semua harus diatur. Kalau gak, habis waktu kita buat hiburan.

“Nak, Ummi jatah dari jam sekian sampai jam sekian buat baca komik online. Kalau gak dibatasi, maunya berjam-jam buka situs manga!”

Setelah pendekatan demi pendekatan, komunikasi yang terbangun, kedisiplinan masyarakat Jepang dan Korea yang bisa dijadikan contoh; anak-anakku mencoba untuk menjadwal pola sekeharian hidup  mereka. Buat apa gandrung Jepang Korea kalau gak mengambil manfaatnya? Kutekankan : “Lihat tuh anggota KPop, berapa jam sehari latihan? Bangchan (leader – Stray Kids) hanya 3 jam sehari tidur.”

Kedispilinan dan kerja keras Jepang dan Korea ini harus menjadi salah satu nilai yang perlu dicontoh oleh remaja kita. Semoga, dengan semakin harmonisnya hubungan orangtua-remaja; anak-anak merasakan kehangatan rumah dan mereka berkenan untuk curhat apapun kepada orangtua.

“Kita butuh 4 pelukan sehari untuk bertahan hidup. Kita butuh 8 pelukan sehari untuk menjalani hidup. Kita butuh 12 pelukan sehari untuk tumbuh berkembang.” ~ Virginia Satir

Strategi berkomunikasi dengan remaja :

  1. Banyak menghabiskan waktu bersama mereka
  2. Ubah gaya pendekatan
  3. Humor
  4. Beri nasehat, tapi jangan overdosis

*Catatan singkat berbagai perjumpaan mengisi acara parenting terkait komunikasi remaja & pop culture

Kategori
Hikmah My family Oase Parenting PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Remaja. Teenager Renungan Hidup dan Kematian WRITING. SHARING.

Mendengar Kritik & Nasehat Anak

Akhir tahun ini, kami sempatkan untuk banyak diskusi sembari menikmati hiburan yang ada. Kalau dulu biasanya silaturrahim ke keluarga di Tegal, sekarang kangen itu ditunda dulu. Maklum, corona belum menampakkan tanda-tanda melandai.

Film-film blockbuster yang biasanya didominasi Hollywood, tahun ini justru banyak menayangkan film Korea. Selain menonton Key to the Hearts, Along with The God 1, Along with the God 2, Exit, Fatal Intuition; kami juga nonton film-film yang ada di laptop. Sembari mendiskusikannya dengan anak-anak, apa hikmah di balik film tsb dan apa rancangan ke depannya.

Kalau sudah mendengar anak-anak cerita, orangtua seringkali terkesiap!

Oh, gitu ya?

Jadi selama ini itu yang ada di pikiran mereka?

Diskusi paling seru adalah ketika menonton film Captain Fantastic dan Along with The God 1 & 2. Sampai-sampai, karena diskusi ini kurasa menarik untuk diarsipkan, aku membuat mind mappingnya. Siapa tahu  di masa depan, arsip ini bermanfaat buat anak-anakku ketika mereka menikah dan punya keluarga sendiri.

Transformasi Keluarga Tradisional ke Modern

Aku dan suamiku dibesarkan oleh pola tradisional, sementara anak-anak memasuki era millennial. Mereka masih mengkritik bahwa sebagai orangtua kami berdua belum seperti Ben Cash, ayah dari 6 orang di Captain Fantastic. Sebagai orangtua, kami tentu harus banyak belajar. Hal yang sama di 4 kepala anak kami adalah : kami masih terlalu memanjakan mereka.

Hm.

  • 4 anakku baru pegang HP ketika mereka SMP, itupun masih bareng-bareng. Ketika SMA baru boleh sendiri, itupun karena ada tugas-tugas yang dibagikan lewat line/whatsapp.
  • Anak-anak yang cowok sampai SMA masih naik sepeda onthel ke sekolah. Baru naik motor ketika kuliah. Itupun motor bareng-bareng.
  • Pekerjaan rumah kami bagi-bagi. Kalau ada pembantu, sifatnya sementara aja. Dulu pas aku masih kuliah, atau pas aku harus ke luar negeri.
  • Gadget harus yang harganya masuk akal, sekedar bisa lancar untuk aplikasi dan keperluan akademik.

Tapi, mereka masih beranggapan kami memanjakan dan tidak memberi kebebasan. Itu yang mereka tangkap ketika menonton Captain Fantastic!

6 orang anak yang dibesarkan di alam, harus memasak dengan bumbu seadanya, setiap hari berlatih fisik! Kemanjaan itu (atau mungkin lebih tepatnya, belum memfasilitasi berbagai kebebasan) baru disadari usai nonton CF beberapa kali.

“Ayah harus bisa diajak berdiskusi tentang hal sensitif, termasuk hal agama dan seksual,” kata si sulung. “Ternyata anak kecil bisa diajak berpikir rumit dengan cara mereka sendiri.”

“Kalau selalu diarahkan; we don’t know what we need, what we want, what we can,” kata nomer 2. “Nonton CF membuatku jadi pingin banyak baca buku dan memahaminya.”

Forbidden words! Ben Cash mengajarkan anaknya untuk menjelaskan apa yang dipikirkan,” kata nomer 3.

“Aku manusia yang hedon banget. Tergantung pada gadget. Aku pingin bisa berpikir kritis dan open minded,” kata si bungsu.

Baiklah.

Kalau dibandingkan Ben Cash yang mendidik anaknya di alam liar; kuakui, anak-anakku masih belum tahu cara berburu, mengobati patah tulang, panjat tebing termasuk membaca buku-buku “merah”  seperti Lolita. Setelah menonton CF, setidaknya anak-anakku berpikir bahwa kehidupan yang sudah kuupayakan sederhana dan tidak terlalu addict pada gadget pun; ternyata masih terhitung hedonism kapitalis dalam ukuran Republic Plato-nya keluarga Ben Cash.

Apa-apa masih beli.

Apa-apa masih tergantung pada apa pendapat orang kebanyakan.

Ada pertempuran lumayan panas ketika kami diskusi, tapi juga ada pikiran-pikiran yang terbuka. Kami sepakat bahwa ke depannya, harus lebih sering berinteraksi dengan alam untuk dapat lebih merasakan kehidupan yang sesungguhnya. Diskusi-diskusi perkara sensitif juga harus dibangun.

Along With The God (AWG) : Trial & Punishment

Bagi kaum muslimin, film AWG mungkin tidak terlalu mirip dengan alam barzakh yang masih sangat misterius dan penuh perkara ghaib. Tetapi, sama seperti film animasi Coco yang juga kami tonton bolak balik , hampir semua ajaran agama memberitakan satu hal pasti : ada kehidupan lain sesudah kematian. Kehidupan yang penuh dengan pertanggung jawaban.

Pengadilan pembunuhan, kemalasan, pengkhianatan, kebohongan, kekerasan, ketidakadilan, kedurhakaan. Begitulah 7 pengadilan yang harus dilalui Ja Hong, seorang pegawai pemadam kebakaran, ketika ia mati saat bertugas. Arwahnya termasuk arwah mulia yang sudah jarang ditemui oleh para penjaga alam baka selama puluhan bahkan ratusan tahun. Namun, arwah mulia Ja Hong ternyata harus melalui 7 pengadilan untuk membuktikan : benarkah ia benar-benar mulia ataukan sebetulnya ia manusia yang licik?

 Ketika anak-anakku menontonnya mereka berkata

“Wah, apakah aku bisa selamat dari semua pengadilan itu?”

Meski berbeda dari konsep Islam, AWG memberikan visualisasi bagaimana manusia bisa jatuh dalam neraka tak berujung sesusai dengan kejahatan yang dilakukannya. Naudzubillahi mindzalik. Sama seperti ketika menonton CF, diskusi-diskusi yang mencuat di antara kami menjadi catatan yang menarik.

“Ada bekal, ada trial, ada punishment dalam kehidupan sesudah mati. Neraka tidak hanya panas membakar tapi juga dingin membeku. Berbakti pada orangtua adalah keharusan dan bisa menjadi bekal,” kata si sulung. “Semakin mulia kita, semakin mudah pengadilannya.”

“Aku berdosa sekali. Melihat pengadilan itu, aku sudah jatuh satu persatu,” kata nomer 2. “Masih ada orang baik di atas muka bumi ini.

“Ada kehidupan sesudah mati,” kata nomer 3. “Setiap perbuatan ditimbang kebenaran dan kesalahan.”

“Ada DO!” kata si bungsu, yang KPopers. DO menjadi salah satu pemain di AWG 1, ia adalah personil EXO. “Di dunia harus berbuat baik lebih banyak. Berbakti pada ortu, sayang kakak, sayang keluarga. Konsep bekerja keras ada dalam masyarakat Korea.”

AWG 1 mengisahkan hubungan ibu dan anak, sementara AWG 2 mengisahkan hubungan ayah dan anak. Si sulung berkata.

“Dari film itu kita juga tahu, bahwa hubungan ayah-anak itu jauh lebih rumit dan lebih kompleks.”

Aku merenung mendengar perkataannya.

Di AWG 1, lebih banyak dikupas hubungan Ja Hong dan Su Hong (sang adik)  dengan ibunya yang bisu. Kehidupan mereka sangat miskin sehingga kemiskinan ini menimbulkan berbagai macam permasalahan yang akan dikupas di  pengadilan alam baka.

Di AWG 2, banyak dikupas hubungan Gang Rim dan ayahnya, Raja Dinasti Goryeo. Sang Raja lebih mengasihi adik Gang Rim, Won Maek yang menjadi sebab mereka bertiga akhirnya saling membunuh.

Memang benar. Hubungan ibu-anak seringkali sangat simple dan bisa dicairkan hanya dengan saling meminta maaf. Tapi hubungan ayah anak? Sangat rumit, kompleks, berkelindan dan tumpang tindih. Seringkali ada kekecewaan di situ, ada pengharapan besar, ada figuritas, ada tekanan, ada keinginan untuk membandingkan, ada persaingan dan lain-lain. Wajar bila hubungan ayah anak bila rusak, lebih sulit untuk memperbaikinya.

*Catatan parenting awal tahun 2021

Kategori
Film Hikmah mother's corner My family Parenting Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Film Parenting yang Bagus untuk Ditonton Akhir Tahun

Film-film ini sebetulnya bukan produksi 2019-2020. Beberapa udah beberapa tahun lalu tapi layak ditonton. Ingat ya, ini film parenting. BUKAN film keluarga. Kebanyakan kita berpikir kalau film parenting bisa ditonton sama anak-anak. Beda! Meski pemainnya anak-anak tetapi konflik dan dialognya banyak dewasa. Oke, bisa ditonton anak-anak yang sudah remaja asal dengan pendampingan karena ada beberapa diskusi tentang seksualitas di sana.

  1. Captain Fantastic
  2. Tully
  3. Please Stand By
  4. Dangal
  5. Searching
  6. Gifted
  1. Captain Fantastic

Tokohnya yang main jadi Aragorn di Lord of the Ring. Film ini bahkan buat suami saya sampai terharuuuu banget. Jarang-jarang bapak-bapak bisa terharu kwkwkwk. Kisahnya tentang seorang ayah yang membesarkan 6 orang anaknya sendiri, karena istrinya bunuh diri akibat post partum depressi hebat.

Diskusi tentang bunuh diri sang ibu saja sudah menjadi “highlight”  yang harus diperhatikan, kalau film ini mau ditonton anak-anak.

Kelebihannya?

Wah, film ini keren banget.

Ben Cash (Viggo Mortensen) membesarkan anak-anaknya di alam. Mirip homeschooling ya. Anak-anak kalau makan harus berburu, memasak sendiri. Sehari-hari mereka berlatih bela diri, membaca buku, bermusik. Jauh dari hingar bingar internet dan makanan junkfood. Anak-anak Ben menguasai 6 bahasa, mereka mengkonsumsi buku-buku berat dan mampu mendiskusikannya.

Salah satu diskusi menarik adalah ketika Ben dan salah satu putrinya membahas novel Lolita. Ada banyak diskusi antara ayah -anak yang sangat menarik di film ini. Termasuk kenapa nama anak-anak mereka tak ada kembarannya : Bodevan, Kielyr, Rellian, Vespyr, Zaja, Nai. Diskusi tentang kapitalisme, agama, bagaimana menjelaskan tentang seksualitas bisa menjadi masukan (meski gak mesti ditiru ya!).

No kissing, no one stand night.

Kenapa gak boleh ditonton anak-anak?

Karena diskusinya dan ada salah satu adegan ketika Ben yang naturalis-anti kapitalis, keluar dari bus caravannya tanpa baju sama sekali.Film ini bagus banget ditonton suami istri. Utamanya para bapak-bapak agar lebih menjiwai konsep pendidikan berkarakter.

2. Tully

Bagi ibu yang lagi hamil dan punya anak-anak kecil, film ini layak tonton.

Dibintangi si cantik Charlize Theron yang berperan sebagai ibu hamil tua. Marlo Moreau menjalani kehidupan yang penuh tantangan dengan anak kecil-kecil : Sarah dan Jonah (berkebutuhan khusus). Ketika Mia si bayi lahir, Marlo benar-benar kerepotan dan sangat lelah.

Saudara Marlo, Craig, yang hidup berkecukupan dan sangat mencintai kakaknya; menawarkan nanny untuk membantu Marlo. Tapi Marlo menolak. Ia tidak tahu bagaimana harus membayar shadow teacher dan nanny. Selama ini, Jonah sekolah di sekolah terbaik karena Craig menjadi donatur besar di sana.

Marlo sebetulnya memiliki suami yang penyayang, Drew. Tapi layaknya laki-laki ya, gak ngerti gimana capeknya punya baby. Malam hari, kalau Marlo naik ke tempat tidur karena sangat capek, Drew justru aktif membunuh zombie-zombie di video gamenya. Ala laki-laki bangettt hahahah.

Lalu muncullah Tully, si nanny. Kita sempat mikir : ”wah, ada adegan selingkuh nih antara Tully dan Drew. Sebab Tully sering mancing-mancing tentang Drew.”

Tapi enggak sama sekali. Endingnya yang twist bikin nyeseeeeek.

Ada satu quote di film ini yang akhirnya kami pakai di keluarga. Adegan ketika Marlo mengalami kecelakaan dan Drew nyaris kehilangan istrinya. Drew memeluk Marlo. Alih-alih mengucapkan “I Love You” , Drew justru berkata “I Love Us.” Marlo pun menjawab dengan perkataan sama : I Love Us.

Hayo Bapak Ibu, yang punya anak kecil atau baby-baby. Supaya ngerti perjuangan para ibu di malam hari, wajib tonton film ini. Gambaran gimana stresnya Marlo mulai ngurusi pampers sampai nyedot ASI, detail bangettt. Kita bisa merasakan capeee jadi ibu, ya?

3. Please Stand By

Film ini dibintangi si cantik Dakota Fanning yang berperan sebagai Wendy, penyandang autism. Dulu ketika kecil, Wendy dan kakaknya Audrey, dibesarkan oleh ibu single parent. Sebagai seorang kakak, Audrey sangat menyayangi dan mengerti adiknya yang berkebutuhan khusus. Namun setelah Audrey dewasa dan menikah, ia tak lagi dapat mendampingi adiknya. Apalagi si ibu telah meninggal.

Wendy sangat terobsesi dengan Star Trek. Ia bercita-cita menjadi penulis scenario. Perjuangan Wendy yang tinggal di rumah khusus bagi penyandang kebutuhan khusus untuk dapat mandiri dan mencapai cita-citanya, menjadi titik utama film ini.

Tidak ada adegan ranjang atau diskusi dewasa di dalamnya. Cocok juga untuk ditonton remaja. Sebagai orangtua yang memiliki anak-anak, terutama anak special needs, perlu sekali melatih pola hubungan komunikasi yang hangat dan indah seperti yang dilakukan Audrey pada Wendy.

Anak-anak seperti Wendy pada akhirnya mampu mandiri dan menemukan jati diri ketika dikelilingi orang-orang yang peduli seperti Audrey serta pengasuh homecare bernama Scottie.

4. Dangal

Dangal adalah film India yang bolak balik kami tonton.

Mengisahkan Poghat Singh, seorang mantan pegulat yang bercita-cita ingin memberikan medali emas bagi negaranya. Ia ingin sekali mewariskan kemampuan gulat dengan melatih anak-anaknya. Apa daya, 4 anaknya perempuan semua!

Tapi ternyata, Gita dan Babita punya bakat gulat seperti sang ayah. Poghat mengetahuinya ketika Gita dan Babita berhasil mengalahkan cowok-cowok yang mengganggu mereka. Sejak saat itu rambut panjang keduanya dipangkas, hari-hari dipenuhi latihan berat, demi agar kedua gadis itu memiliki tubuh dan stamina yang pantas bagi pegulat.

Seorang ayah yang memiliki impian besar dan mampu mewariskan impian itu kepada anak-anaknya; sungguh sebuah motivasi spesial bagi orangtua yang mungkin masih bingung gimana cara mengarahkan anak-anak sekarang yang mungkin agak-agak manja.

Banyak dialog yang masih terpatri di ingatan. Salah satunya kekhawatiran istri Poghat. Siapa nanti yang akan memilih Gita dan Babita yang menjadikan gulat sebagai jalan hidup?

“Nanti, bukan laki-laki yang memilih-milih putri kita. Tapi Gita dan Babita yang memilih-milih sendiri para lelaki itu.”

Ibaratnya, Poghat ingin menepis anggapan sang istri yang mengkhawatirkan : ada nggak sih lelaki yang mau beristri pegulat? Jangan-jangan nanti Gita dan Babita selalu tersingkir dari pilihan. Poghat menegaskan : putri-putri mereka akan tumbuh menjadi orang berkualitas sehingga banyak lelaki akan melamar dan putri merekalah yang akan menyeleksinya!

Kisah Poghat Singh ini juga saya masukkan dalam buku saya 15 Rahasia Melejitkan Bakat Anak ya.

5. Searching

Saya udah pernah posting ini secara khusus di FB dan blog saya. Jadi gak akan mengulas lagi. Cuma ingin menekankan bahwa film ini bagus banget buat para ayah yang gaptek ketika berhadapan dengan putrinya yang tetiba menghilang, dan si ayah mencoba mencari keberadaan putrinya lewat teman-teman dunia mayanya di facebook dan tumblr.

6. Gifted

Kalau punya anak Gifted, perlu tonton film yang satu ini.

Dibintangi oleh si Kapten Amerika, Chris Evans. Kakak perempuannya meninggal bunuh diri, meninggalkan seorang anak perempuan bernama Mary Adler. Saat Mary berusia 7 tahun dan sangat cerdas matematika serta mampu menyelesaikan soal-soal sulit setingkat mahasiswa, sang nenek berambisi menjadikannya anak yang bersinar dengan kecerdasannya yang luarbiasa.

Frank, merasa bahwa keinginan itu terlalu berlebihan.

Perjuangan Frank untuk ‘memanusiakan’ Mary Adler si jenius yang masih anak-anak ini bisa menjadi contoh bagaimana kita seharusnya memperlakukan anak sangat pintar tanpa mengabaikan sisi humanis mereka.

#filmparenting #parenting #orangtua #goodmovie

Belajar dari Attack on Titan (2) : Apa Penyebab Kreativitas Hajime Isayama?

Hajime Isayama atau Isayama-sensei mungkin belum termasuk most prolific manga artists sepanjang sejarah manga sejak Astro Boy karya Osamu Tezuka diluncurkan. Tetapi, para penggemarnya di seantero dunia sampai bertanya-tanya ,”Apakah mungkin ada lagi manga series se-epic ini di kemudian hari? Apakah ada anime yang ditunggu-tunggu kehadirannya, sampai para fans berlomba membuat berbagai macam prediksi di akun-akun mereka terkait bagaimana akhir hidup Eren Jeager si tokoh utama?”

Seperti biasa, kalau saya kagum pada seseorang, jadi pingin cari tahu seperti apa sih latar belakangnya? Orangtuanya? Sekolahnya? Kepribadiannya dll? Sama seperti ketika ngefans berat pada Khabib Nurmagomedov yang mengantarkan pada pemahaman bahwa dengan tangan dingin sang ayah, Abdulmanap Nurmagomedov, sosok Khabib bisa muncul.

Berikut adalah beberapa fakta terkait bagaimana kreativitas & imajinasi Isayama-sensei muncul.

  1. Ayahnya melarang ia menjadi mangaka.
  2. Mengalami bullying
  3. Inferior-complex
  4. Desanya mirip Wall of Maria
  5. Kesukaan pada Jurrasic Park
  6. Tetaplah jadi anak-anak!

Poin 1. Well, ternyata ayah Isayama melarang anaknya jadi komikus. Hahaha. Di dunia di mana anima manga menjadi salah satu pemasukan besar bagi negara Jepang, masih ada lho orangtua yang melarang anaknya jadi komikus. Apalagi Indonesia! Tapi ternyata, larangan orangtua bisa jadi sebuah api dalam sekam yang akan meledakkan potensi anak suatu ketika. Jadi, apakah orangtua sebaiknya menyalurkan atau memendam bakat anaknya? Itu ada bahasannya tersendiri nanti.

Poin 2. Isayama mengalami bullying di waktu sekolah. Maka, tokoh antagonis musuh Eren Jeager digambarkan sebagai Titan dengan ukuran 2 m, 10 m, sampai 50 m. Ia mengatakan bahwa seseorang yang di-bully selalu menghadapi tekanan dari pihak  luar yang memiliki fisik besar atau memiliki pengaruh besar. Pengalaman masa kecil sangat berpengaruh pada kreativitas dan imajinasi seseorang.

Poin 3. Inferior complex. Introvert, tak mudah bergaul, asosial, buruk di akademis dan olahraga. Ya, apa yang bisa dibanggakan Isayama di masa sekolah? Cewek tak mendekat, temanpun jarang. Tapi, banyak orang dengan tipe kepribadian ini yang cocok jadi artis. Kesendirian mereka menciptakan satu ruang luas untuk berkreativitas dan berimajinasi. Ruang sunyi yang diramaikan oleh pikiran-pikiran dan gagasan sendiri tentang bagaimana membangun dunia baru – building new world. Banyak mangaka Jepang yang sukses membangun dunia baru dalam kisah-kisahnya. Hikikomori memang salah satu ancaman bagi Jepang. Paradoksnya, bila orang kreatif + introvert bisa menemukan jati dirinya dalam dunia ini, mereka justru bisa berkarya. Tentu, tak semua hikikomori baik, ya! Karena kalau bertahun-tahun mengurung diri juga tak sehat.

Poin 4. Desa kecil Isayama di Oita, dipagari oleh gunung-gunung. Ia sering berpikir, kapan ya bisa keluar dari kampung halaman?  Ia sering merasa terkekang di sana dan ingin sekali melihat dunia luar. Hayo, mirip pemikiran siapakah itu? Yup. Pemikiran Armin Alert dan Eren Jeager untuk keluar dari 3 lapis tembok : Wall of Sina, Wall of Rose, Wall of Maria. Ketika saya menuliskan kisah Hantu Kubah Hijau, setting itu banyak saya ambil dari kota Tegal, tempat asal suami saya. Novel Rose, setting Yogyakarta kota kecil saya. Bulan Nararya, setting Surabaya tempat tinggal saya.

Poin 5. Kenapa tokohnya Titan makan orang? Karena ia terinspirasi dari film Jurrasic Park, tentang bagaimana hewan besar memakan manusia. Banyak seniman terinspriasi dari film-film atau buku masa kecil. Steven Spielberg misalnya.

Poin 6. Tetaplah jadi anak-anak! Waaah, saya terpukau sekali sama quote ini sampai-sampai masuk ke novel online saya di kwikku.com Half of Lemon (https://www.kwikku.com/novel/read/half-of-lemon)

Ketika Isayama diwawancarai, kenapa bisa punya imajinasi begitu dengan cerita yang begitu menakjubkan berikut tokoh-tokoh yang membuat pembaca & penonton sampai termehek-mehek?

“Banyak temanku ketika kecil ingin jadi mangaka. Ketika mereka besar, mereka berhadapan dengan dunia realita. Benturan harapan dan realita membuat mereka harus memilih, seketika itu juga impian mereka pudar. Aku? Sepertinya aku tak pernah tumbuh dewasa dan tetap menjadi anak-anak.”

Kata-kata itu betul-betul inspiring, terutama saya yang seringkali merenung mengapa banyak lelaki/perempuan tidak dewasa ketika usianya sudah mataang. Saya jadi teringat film Big– debut Tom Hanks pertama kali. Film itu berkisah dan mengkritik, mengapa perusahaan mainan justru menyewa tenaga professional orang-orang dewasa yang tidak mengerti untuk apa sebuah mainan diciptakan? Permainan membosankan! Mahal, pula.

Ketika Tom Hanks kecil -dengan bantuan sebuah mesin impian- berubah menjadi dewasa, kelucuan muncul. Tom Hanks dewasa, dengan “children inside” di dalam dirinya, bisa membawa perusahaan mainan tersebut lebih dinamis. Dengan mainan-mainan edukatif yang menyenangkan, bukan hanya mainan mahal yang hanya bertujuan gengsi semata.

Ya.

Bagi sebagian profesi, tetap menjadi anak-anak adalah kunci.

Anak-anak adalah sumber kreativitas dan imajinasi tak terbatas. Mereka tidak takut dicela, tidak takut gagal, tidak takut berbeda. Orang dewasalah yang mengharuskan mereka mengambil patron tertentu.

Tetaplah menjadi anak-anak. Quote itu saya masukkan ke dalam Half of Lemon. Ada banyak anak muda yang resah dengan dirinya :  mengapa aku berbeda dengan yang lain? Mengapa aku masih suka nonton Upin Ipin, suka boneka, suka mainan robot, suka gambar-gambar? Mengapa aku tidak bisa menyukai apa yang disukai orang dewasa? Tidak ingin jadi ASN, tidak ingin masuk fakultas mainstream, tidak sesuai dengan keinginan orangtua?

Sesungguhnya, kedewasaan bukan ditetapkan oleh sekedar kesukaan. Tanggung jawab dan kemandirian, itu lebih menjadi karakter utama. Jadi, kalau ada anak kita yang menekuni dunia anak-anak : guru PAUD, buku cerita anak, komik, animasi, penulis dan dunia kreatif lain; kemungkinan dalam keseharian mereka masih tampak kekanakan dengan ide dan perilaku. Tapi bukan berarti mereka tidak menjadi dewasa dalam pengertian yang sesungguhnya!

Ada kemiripan antara saya dan Isayama-sensei. Mungkin juga kesamaan dengan para penulis dan pekerja kreatif lainnya. Kami, masih punya sisi anak-anak sampai sekarang 😊

Kategori
15 Rahasia Melejitkan Bakat Anak ACARA SINTA YUDISIA ANIME Jepang KOREA Manga mother's corner Oase Parenting PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Remaja. Teenager

Passion Anak-anak Kita

Zaman dahulu, impian anak-anak dibentuk orang tua.

Dokter, insinyur, guru, dosen, polisi, tentara, PNS dan sejenisnya.

Zaman sekarang, impian anak-anak dibentuk informasi.

Enterpreneur, gamers, youtuber, influencer, vlogger, seiyuu (voice actor), idol, komikus dan sejenisnya.

Orangtua selalu berharap yang terbaik bagi anak. Jangan sampai anak-anak hidup lebih menderita dari orangtua, jangan sampai impian mereka tidak tercapai. Kalau dulu kita jalan kaki ke sekolah, sebisa mungkin anak-anak sampai ke sekolah tidak terengah-engah dan siap menerima pelajaran.

Wajar ketika orangtua bertanya-tanya : apakah pilihan anak-anak bisa menjamin masa depan mereka? Anak yang suka menggambar, ingin sekali masuk DKV, bisakah mereka jadi komikus yang survive? Penulis di negeri ini masih jauh dari makmur, termasuk komikus.

Tempo hari saya ikut seminar anime & manga.

Acara itu menjawab pertanyaan saya : kenapa banyak mangaka di Jepang bertahan. Di Indonesia, rantai produksi meletakkan penulis paling bawah. Toko buku, distributor, penerbit, baru penulis. Royalti hanya berkisar 8%-10%. Di Jepang berbeda; penulis menduduki posisi teratas dalam rantai perbukuan. Pantas saja royaltinya antara 40%-60%. Pemerintah juga turut andil dalam rantai tersebut. Tengoklah Hajime Isayama, Yana Toboso, Masashi Kishimoto, Gosho Aoyama dll meraup untung sebagai mangaka atau komikus.

Andaikan minat di estetik plus literasi lalu menjadi komikus di Jepang atau Korea tentu tak masalah. Di Indonesia?

Kembali pada passion anak-anak kita.

Orangtua tentu cemas, “Kalau kamu jadi komikus, emang kamu bisa hidup? Kalau kamu pingin jadi seniman dan hidup dari melukis, kamu bisa membiayai anak-anakmu sekolah?”

Sebetulnya, anak bisa menjadi seseorang yang sesuai impiannya dan tetap sukses dalam hidupnya. Sukses di sini dalam pengertian bermanfaat bagi dirinya, oranglain dan secara finansial. Kunci dari hal tersebut adalah memahami “bakat dan minat” anak-anak. Dari situlah kita bergerak.

Ketika dewasa, aktivitas finansial manusia bisa berlandas 2 hal :

  1. Profesi
  2. Minat (kalau plus bakat bisa bagus banget)

Kadang, profesi sangat jauh dari potensi bakat minat. Di zaman sekarang, bisa jadi profesinya sesuai bakat minat.Katakanlah dia menjadi ASN/PNS sesuai harapan orangtua agar finansialnya stabil. Dengan penghasilan tersebut, ia bisa mengembangkan bakatnya sesuai keinginan. Ada seseorang bekerja sebagai ASN,  lalu menyisihkan uangnya untuk membangun bisnis kuliner, cita-citanya sejak kecil.

Minat, bila menggunakan salah satu jenis tes, dikategorikan ke dalam 12 bagian. Seringkali saat ngetes minat anak-anak SMP dan SMA, muncul 3 kategori paling diminati. Saya ambil contoh salah satu anak saya sendiri. 3 minatnya yang tertinggi : sains, medis, estetik.

Peneliti? Dokter? Seniman?

“Kamu mau masuk kedokteran, Mas?”

“Ah, nggak, Mi!” tolak anakku.

“Lho, ini hasil tesmu ke kedokteran.”

“Iya, tapi aku lebih senang ke alat-alatnya.”

Akhirnya ia masuk teknik biomedik. Ilmu yang menyerempet antara sains, medis dan dunia seni.

“Ummi tau kenapa tes darah mahal? Karena pemeliharaan alatnya. Cairan untuk membersihkan alatnya aja mahal banget, Mi,” begitu penjelasannya tiap kali cerita tentang alat-alat seputar dunia medis. Membuat darah buatan, membuat robot pengganti ekstrimitas tubuh yang rusak, membuat alat yang memproduksi vaksin nan rumit; adalah bahasan-bahasannya di rumah.

Salah satu cita-citanya membuat tangan robot bagi manusia yang cacat ekstrimitas bagian atas. Tangan yang bisa memiliki kepekaan untuk merasa. Selain itu, minatnya ke bidang seni terutama seni yang saling berkaitan dengan dua minat sebelumnya (sains dan medis). Ia menabung untuk membeli Gundam dan teliti sekali memasang bagian-bagian tubuhnya. Terlihat korelasinya, bukan? Anak saya yang lain juga memiliki minat di bidang estetik (seni) tapi lebih cenderung ke seni literasi dan seni visual.

Biasanya, anak-anak memiliki kemiripan minat antara level 1,2,3. Misal, estetik, literasi, musik. Ia akan cocok menekuni minat di sekitar itu. Sebagai penulis atau ahli bahasa atau penyair atau pencipta lagu.

Yang agak sulit bila minatnya seperti bertentangan satu sama lain. Misal outdoor, medis, social service. Ini anak cocoknya jadi traveller, dokter atau pekerja sosial? Tapi di lapangan banyak yang saya temui demikian. Jenis anak seperti ini kalau kelak menekuni dunia medis, ia gak terlalu suka di belakang meja. Kemungkinan jadi dokter dan suka terjun ke daerah bencana. Masalahnya, kalau kecenderungannya seperti saling bertolak belakang, ortu cenderung mengarahkan yang favorit ya? Sampai sekarang dunia sains dianggap masih sangat menjanjikan daripada dunia sosial! Bagaimana jika anak memiliki minat literasi, medis, sains? Apakah ia akan dibiarkan menjadi sastrawan? Seringkali akan dipaksa masuk jurusan favorit.

Itulah, banyak ortu yang resah curhat.

“Anak saya suka gambar. Besok sekolah di mana? Lapangan kerjanya apa?”

Bisa saya bayangkan kalau kelak anaknya jadi komikus dengan kehidupan serba sederhana dan masih harus menelusuri jalan sangat panjang. Hajime Isayama, si creator Attack on Titan aja pernah nyaris putus asa dan mau mundur dari dunia manga, lalu beralih jadi barista. Untunglah ia bertemu Kodansha!

Saya teringat ucapan seorang komikus muda. Sebut namanya XX. Saya sempat diskusi dengan dia tentang masa depan komikus Indonesia. Sebagai anak muda yang usianya jauuuh di bawah saya, nasehatnya membuat terpana.

“Mbak Sinta, percayalah. Rizki itu benar-benar Allah yang tentukan!”

Ia tekankan,  jangan paksakan anak-anak untuk hanya mengikuti hasrat orangtua karena sangat berat di lapangan. Konflik batin anak antara tak ingin durhaka dan ingin memilih dunia yang dicintanya akan membuat beban mental psikologis berkepanjangan.

Mas XX cerita, bahwa ia sedikit demi sedikit membangun karir komikusnya lewat lomba yang hadiahnya paling antara 50-100 ribu. Ikut pameran di mana-mana dengan biaya sendiri. Karyanya awalnya diremehkan, tidak dilirik orang. Saat ibu dan ayahnya mendukung, ia terus melaju dan sekarang menjadi salah satu komikus kebanggaan Indonesia. Istrinya menggeluti dunia yang sama dengannya dan saya seneeeng banget melihat pasangan mas XX dan mbak YY itu. Seniman sholih shalihah yang keren banget expert di bidangnya.

Ya, mungkin menjadi komikus tidak seberapa.

Saya datang ke pamerannya, melihat mereka mengelar lapak dan masih berjuang bersama banyak komikus lain.

Tapi saya melihat sebuah passion yang didasari oleh semangat membara.

Saya punya teman komikus, mas MM. Selain membuat perusahaan animasi, ia justru mampu menarik anak-anak yang “nakal” bahkan beberapa di antaranya sudah sangat jauh dari agama, lalu di tarik masuk lagi dalam lingkaran kebaikan. Keren kan?

Entah mengapa, sekarang cita-cita saya nambah lagi.

Saya ingin sekali membangun studio animasi sekelas Ghibli, Wit Studio, MAPPA, Pony Canyon dan sejenisnya. Studio ini nanti akan menampung anak-anak yang mahir di visual, seni, estetik, literasi, sekaligus punya sentuhan sains dan outdoor. Menggarap animasi dari kisah-ksiah sejarah Indonesia mulai perang Diponorgoro, Imam Bonjol, Sunpah Pemuda, Serangan Umum 1 Maret, dsb. Studio ini nanti yang akan menggarap kisah kepahlawanan Muhammad al Fatih, Shalahuddin al Ayyubi, Tariq bin Ziyad, dsb.

Saya bayangkan, bahwa persenjataan pasukan al Fatih jauh lebih dahsyat dari 3D Manuver Gear para anggota Recon Corp di bawah komando Erwin Smith dan Levi Ackerman dalam anime Shingeki no Kyojin. Saya bayangkan bahwa di animasi tersebut, bukan hanya teriakan “shinzou wo sasageyo” yang menyatukan semangat seluruh prajurit. Tetapi teriakan para panglima al Fatih yang membangunkan pasukan sholat malam, subuh berjamaah, hingga merapikan barisan.

Dan ada soundtrack anggun nan megah, jauh lebih mengesankan dari aransemen Linked Horizon. Lagu yang akan mengingatkan setiap audiens ketika sedang demotivasi megnhadapi dunia yang kejan untuk bangkit kembali. Sosok Erwin Smith, Levi Ackerman, Eren Jeager hanyalah sosok 2D khayalan. Tapi pangeran Afdal, putra sulung Shalahuddin al Ayyubi yang mendampingi ayahnya berperang; adalah sosok yang benar-benar ada.

Jauh ke depan, anak-anak kita yang memiliki passion luarbiasa ini, akan mewujudkan mimpi besar para orangtua seperti saya yang sudah mulai senior. Usia yang kata syaikh Muhammad  Ar Rasyid dikatakan sebagai : orang yang mulai dilelahkan dengan hamparan dunia fana.

Ayah bunda, dukung terus passion positif dan Ananda-ananda kita tercinta!