Seoul, I am coming back!

Alhamdulillah, meski baru rencana, insyaallah saya akan berangkat kembali ke Seoul, Korea Selatan. Ceritanya, pengajuan aplikasi untuk tinggal selama sebulan di residensi bergengsi Yeonhui, Seodamun-gu, disetujui pihak SFAC (Seoul Foundation for Arts and Culture).

Kapankah itu? Rentang waktu yang diizinkan adalah 1-31 Juli 2018.

Berarti pas musim panas ya? Cuaca nggak beda jauh dengan Indonesia.

Nah, saya bagi cerita di sini apa saja yang perlu disiapkan ya.

  1. Kalau mau ikut seleksi SFAC minimal kita harus punya karya tulis fiksi seperti cerpen/ antologi/ novel yang telah dipublikasikan. Kalau kamu ingin tahu seperti apa SFAC, gampang! Tinggal googling atau bisa ke mari ya SFAC
  2. Minta surat rekomendasi dari penerbit dan komunitas agar aplikasi anda lebih berkualitas
  3. Sering-sering kontak mereka via email untuk tahu apakah aplikasi kita disetujui. umumnya kita diizinkan tinggal selama sebulan di Seoul. Sebulan, lho! Bisa jalan-jalan ke Itaewon, line store, Coex building tempat SM entertainment ngantor atau ke kuil-kuil.
  4. Harus mencantumkan residency planning. Jadi mau ngapain aja selama di Korea. Kalau saya memang ingin nulis di residensi mereka yang nyaman banget.
  5. Doakan ya teman-teman agar semua dimudahkan Allah Swt. Sebab masih banyak pernak pernik yang harus diselesaikan nih 🙂

 

 

Mari, silakan mencicip 🙂

Searah jarum jam : Coex building, sungai Han, HUFS (Hankuk University of Foreign Studies bersama Feby), bersama mbal Aqiela di taman mawar buatan.

OK Sinta di Deoksugung, Seoul

Kenangan di Deoksugung, 2016

Iklan

Rohis Bukan Teroris

 

Bom di Surabaya yang meledak kemarin, Ahad 13 Mei 2018, pasti akan memunculkan berbagai dinamika. Diskusi, polemik, asumsi, lempar melempar opini, bahkan pendapat negatif berhamburan. Apapun itu, saya tetap ingin menuliskan apa yang ada di benak dan hati, dan mencoba menuangkannya secara santun bermartabat.

 

Doktrin teroris jelas tidak ditanamkan sehari dua hari. Butuh waktu pekanan, bulanan, bahkan bertahun-tahun untuk membentuk seseorang menjadi ekstrimis. Berapa tahun Belanda menjajah Indonesia hingga muncul doktrin “merdeka ataoe mati” ? Setelah penjajahan, penistaan, penjarahan, penganiayaan, pembunuhan terus menerus terhadap anak-anak bangsa; bangsa Indonesia pada akhirnya bergerak untuk berjuang hingga tetes darah penghabisan. Berapa lama pula para pahlawan seperti Cut Nyak Din, Diponegoro, Imam Bonjol, Hasanuddin dkk hingga organisasi macam Sarekat Dagang Islam, Budi Utomo dll untuk membangkitkan semangat perlawanan terhadap penjajah?

 

Berbulan.

Bertahun.

Belasan dan puluhan tahun.

 

 

Doktrin radikal, fundamentalis, teroris tidak bisa ditanam dalam jangka waktu sebentar. Tetapi juga jangan sembarangan mengatakan bahwa doktrin ini muncul “hanya” karena penanaman nilai-nilai Islam semata. Karena rutin ngaji, jadi radikal. Karena ikut rohis, jadi ekstrimis. Karena rajin ke masjid, ikut kajian Abdul Somad dan Habib Riziq, jadi teroris.

Bukan hanya karena satu masalah Indonesia pernah menggaungkan semangat lawan kolonialisme Belanda dengan slogan beragam : Sekali Merdeka, Tetap Merdeka. Rawe-rawe rantas, malang-malang putung. Mati satu, tumbuh seribu.

Bukan hanya karena satu alasan. Tidak.

 

Belanda datang ke Indonesia, mengadu domba dan memecah belah. Sudah bukan rahasia lagi bahwa politik devide et impera Belanda bertujuan memecah belah Indonesia. Terpecahnya kesultanan Ngayogyakarta dan kasunanan Surakarta dalam perjanjian Giyanti, akibat VOC juga. Belanda selalu mencampuri urusan Amangkurat I, dan memecah belahnya dengan pangeran Adipati Anom dalam kerajaan Mataram. Belanda tidak henti-henti mencampuri , memecah belah setiap kekuasaan yang bercokol di nusantara.

 

Belanda juga memaksa bangsa Indonesia melakukan hal tak menusiawi. Ketika Herman Willen Daendels diutus ke Indonesia untuk mempertahankan tanah Jawa dari Inggris, ia melakukan banyak cara tak manusiawi. Memaksa kerja rodi untuk membangun pabrik senjata di Semarang dan Surabaya, membangun jalan Anyer Panarukan. Memaksa rakyat menjual hasil bumi dengan harga murah kepada Belanda (verplichte leverantie); memaksa Preanger Stelsel, yaitu rakyat dipaksa bertanam kopi, menjual tanah Negara kepada swasta asing seperti Han Ti Ko pengusaha China. Rakyat Indonesia menjadi kasta terbawah di negeri sendiri.

 

Belanda menarik pajak yang berat, utamanya pada warga Tionghoa yang merupakan warga mayoritas saat itu dan mereka banyak berdagang.  Belanda sering menyiksa rakyat dan melakukan penyiksaan, seperti yang terjadi di penjara Kalisosok, Surabaya.

Banyak sekali alasan untuk menjadikan orang ekstrimis, fundamentalis, teroris. Bukan hanya karena satu alasan saja.

Sebagaimana peristiwa pengeboman di Surabaya, apakah doktrin agama satu-satunya alasan menjadikan orang teroris? Apakah rohis adalah lembaga cikal bakal teroris? Nanti dulu. Saya tidak sepakat rohis dianggap sebagai satu-satunya lembaga penghasil teroris karena sebagaimana Belanda dulu menyiksa bangsa Indonesia, ada sekian banyak hal yang ‘menyiksa’ bangsa ini hingga menjadi sakit. Sakit fisik, sakit psikis, sakit ekonomi. Dan sakit yang tiada ujung itu bisa menyebabkan –misalnya-  seorang penghuni penjara Kalisosok seperti Li Hong Li, kuli kontrak, berani bangkit dan berontak.

 

Apakah rohis membentuk ekstrimis juga, sebagaimana Belanda pada akhirnya secara tidak langsung membentuk ekstrimis pejuang kemerdekaan?

Hm, nanti dulu.

Rohis BUKAN Teroris

 

  1. Rohis BUKAN teroris, sebab saya dulu mengenyam rohis sejak SMA dan kuliah. Rohis membuat saya memakai kerudung, sholat wajib dan sunnah lebih giat, faham bahwa keridhoaan Allah sejalan keridhoan orangtua. Sejak ikut rohis saya merasa harus lebih baik kepada ayah dan ibu. Lho, bukannya itu didapat di pelajaran agama? Alamak, pelajaran agama yang di sekolah hanya 2 jam lebih sering membahas hukum waris, memandikan jenazah. Sesuatu yang jauuuuh dari pikiran anak muda! Rohis membahas hal kekinian yang menyentuh jiwa muda saya saat itu.

 

  1. Rohis BUKAN teroris. Rohis adalah organisasi, dimana saya minta anak-anak untuk bergabung. Ya. Orangtua mana di zaman ini yang bisa merasa yakin, sekilo sejak anak keluar dari rumah, ia masih anak baik-baik saja? HP, internet, mall, teman-teman dapat menjadi ancaman. Kalau ia ke mall, jangan-jangan…Kalau ia belajar bersama ke rumah teman, jangan-jangan…Kalau ia buka internet, jangan-jangan… Menyuruh mereka aktif di rohis membuat saya selaku ibu merasa ‘aman’ : ada yang mengingatkan anakku untuk takut kepada Tuhan. Religiusitas menjadi salah satu cara mengatasi juvenile delinquency, sebab anak-anak merasa punya kendali diri

 

 

  1. Rohis BUKAN teroris. Di jalan rohis saya lebih tahu bahwa Quran itu untuk dibaca, bukan buat mahar saja. Di jalan rohis saya tahu, bahwa semakin paham Islam, semakin optimis dan positif kita memandang hidup (gak peduli gagal SBMPTN, gagal masuk kerja, gagal usaha, gagal punya pacar, gagal berjodoh dengan seseorang. Judulnya move on sepanjang masa, karena itu tadi, sandarannya Allah. Tuhan semata. Jadi segala sesuatu dianggap ada hikmahnya). Waduh, kalau saya gak masuk rohis, mungkin saya cepat patah arang. Sumbu pendek. Pikiran cupet. Gak lulus kuliah, hopeless. Gak dapat-dapat jodoh, dengki. Gak dapat kerja layak, umpat sana sini.

 

  1. Rohis BUKAN teroris. Bertahun setelah saya ikut rohis di SMA dan kuliah; tiap kali saya ngisi acara kepenulisan, psikologi, parenting atau apalah namanya selalu saya sisipkan ke tengah audiens : ikutlah kajian Islami alias rohis dimanapun anda berada.

 

Lha, yang saya hadapi wanita karir. Cantik, pinter, berduit. Gak ikut rohis? Gimana kalau dia kena virus perselingkuhan? Yang saya hadapi mahasiswa jauh dari ortu, dengan energi vitalitas tinggi dan libido meledak; gimana kalau dia kenapa-kenapa sama lawan jenisnya? Perlu anda ingat, orang yang belum pernah sama sekali ikut kajian Islam alias rohis dalam hidupnya, juga berpotensi serupa teroris. Contoh, menangani urusan SDM kantor : 1 karyawan atau 1 kepala seksi terindikasi perselingkuhan; hadehhh. Ruwet. Rumit! Bukan hanya membengkak jadi kasus suami istri, pengabaian anak-anak. Kantor pun amburadul, anak buah terbengkalai, target kantor gak tercapai. Apa ini bukan masalah besar?

 

Baru 1 orang. Gimana kalau satu instansi, satu departemen ada virus korupsi, virus selingkuh, virus malas kerja dll? Ingat. Rohis dan kajian Islam yang mengggerakkan orang-orang di kampus, kantor, sekolah untuk bisa bertindak profesional alias itqon. Kerja adalah ibadah! Kelak mereka harus bertanggung jawab di hadapan Tuhan atas hasil kerja keras mereka.

 

  1. Rohis BUKAN teroris. Di hadapan anda sekarang tersaji anak-anak muda yang keren luarbiasa. Dakwah di instagram, dakwah youtubers, dakwah bloggers, pengusaha makanan dan pengusaha outfit yang outstanding! Anak-anak muda yang rela nikah muda dengan segala konsekuensinya, daripada pacaran. Mereka jaga nama baik orangtua dan keluarga, lho! Anak-anak muda yang memacu diri mencari beasiswa dan giat organisasi, sebab tujuan belajar bukan hanya keahlian individualistis. Tapi keahlian teamwork. Anak-anak muda yang segera galang dana jika ada bencana alam dan bencana kemanusiaan. Anak-anak muda kreatif, inovatif; tapi seperti kata Habibi : otaknya Jerman, hatinya Ka’bah. Ini bukan cuma didikan ortu dan sekolah. Rohis juga ikut ambil bagian di dalamnya.

 

Jadi kalau rohis dibilang penghasil teroris, wah gimana ya?

Saya tidak setuju.

Kalau rohis kantong teroris, hitung aja sendiri berapa teroris yang ada dari Aceh sampai Papua. Dan, dengan jumlah teroris sebanyak itu, Indonesia jadi apa, coba?

Sinta Yudisia

Penulis & Psikolog

 

 

 

 

 

Surabaya : Tetep Cangkrukan, Cak!

 

10 tahun yang lalu, kami memutuskan tinggal di Surabaya. Setelah melanglang tinggal di beberapa kota mulai ujung utara Sumatera hingga ujung timur pulau Jawa, kami menjadikan Surabaya sebagai base camp. Banyak alasan yang menjadikan kami memilih kota ini.

 

  1. Masyarakat Surabaya yang didominasi orang Jawa Timur, terkenal blak-blakan. Bicara apa adanya. Saya yang sebetulnya orang Yogyakarta asli, awalnya kaget.
  2. Jalan di Surabaya relatif lebar, dengan penghijauan di tengah jalan. Kalaupun macet di ruas MERR atau Ahmad Yani, ada taman-taman hijau yang memanjakan mata yang lelah. Hampir tiap sudut kota, lahan kosong disulap menjadi taman artistik. Terimakasih, bu Risma.
  3. Kemacetan di Surabaya belum terlalu parah dan semoga tidak parah!
  4. Budaya cangkrukan (nongkrong) yang membuat warga lebih dekat satu sama lain
  5. Budaya mancing, bahkan saat hujan deras, yang disukai masyarakat

 

 

Balai Kota Surabaya malam hari

Balai Kota Surabaya di malam hari

 

Telingaku yang awalnya terbiasa mendengar kata-kata sopan dan lemah lembut khas Yogyakarta, sungguh terganggu ketika awalnya mendengar kata yang seperti makian.

“Janc**k! Ndiasmu ning endi!” (Janc*k, kepalamu di mana?)

“Cuk, gak pathek-en aku  di PHK. Sing penting enthuk duwit halal.” (Gak rugi diPHK. Yang penting dapat uang halal)

Kon ki gak lapo-lapo, gak gelem kerjo, mangan njaluk dibayari. Mbok pikir aku bank mlaku, ngono ta? Nek urip kudu urup!” (Kamu tuh nggak ngapa-ngapain, gak mau kerja, makan minta dibayari. Kamu pikir aku bank berjalan, begitu? Hidup harus menyala/bangkit!)

“Sapurane, Cak! Ngono yo ngono ning ojo ngono!” (Maaf, Mas. Gitu ya gitu, tapi jangan begitu)

 

Konon, janc**k sebetulnya bukan misuh. Ada yang mengatakan itu adalah sapaan akrab yang mengalami pergeseran makna  (ingat, kata bangs*t yang sebetulnya kutu-kutu kecil , menjadi makian palign kasar di Indonesia). Janc*k konon nama kendaraan Belanda yang bernama Jan Cox. Para tentara Indonesia mengingatkan rakyat untuk berhati-hati terhadap kendaraan yang satu ini.

“Awas, awas! Ono Jan Cox! Ojo nganti ketemu karo tank kuwi!”

Jan Cox.jpg

Jan Cox menjadi Janc*k

 

 

Itulah Surabaya.

Janc*k, cangkrukan, ngomong kasar, bicara apa adanya; lama-lama terasa memiliki makna tersendiri. Orang Surabaya berbeda dengan orang Yogyakarta. Orang Surabaya sekilas kasar, ‘panas’, gampang misuhan. Tapi, jarang sekali orang Surabaya yang punya dendam di hati. Saya punya banyak teman, yang kalau mereka tersinggung atau tak suka, langsung ngomong di depan.

“Ojo ngono lah, Mbak. Gak ilok.”

“Rego sak mono njaluk luwih. Yo sapurane.”

Nyaris, tidak kutemukan orang yang di depan mata bilang ya, gak papa, silakan tapi di belakang punggung bilang berbeda. Maka aku merasakan kehidupan antara satu orang dengan orang lain, antara satu rumah dengan rumah lain, antara satu kampung dengan kampung lain, antara satu RT dengan RT lain, satu RW dengan RW lain terasa tak memiliki api dalam sekam.

Sebab semua telah selesai di permukaan.

 

Blak-blakan.

Senggol bacok istilahnya.

Ojo nyenggol nek ora gelem dibacok, demikian kira-kira. Jangan ganggu kalau gak mau balas disakiti.

Maka saya heran, ketika peristiwa bom terjadi : benarkah ini dilakukan warga Surabaya? Benarkah ini dilakukan orang-orang yang dalam keseharian kita, memiliki keberanian untuk bicara terbuka dan apa adanya? Rasanya tidak.

 

Siapapun mereka yang melakukan, saya yakin bukan bagian dari Surabaya, apalagi bagian dari Indonesia. Sebab kami warga Surabaya terbiasa berbicara terus terang, jujur dan apa adanya. Cangkrukan ngopi-ngopi menunjukkan di hati masyarakat luas, kebersamaan itu sangat penting. Bahkan dilakukan oleh para bapak-bapak yang sangat lelah sepulang kerja. Kami terbiasa cangkrukan di warung kopi, di pos satpam, saat rehat di kantor, bahkan di masjid usai sholat berjamaah.

Janc*k, adalah sapaan akrab satu pemuda dengan pemuda lain, satu bapak dengan bapak lain, satu warga dengan warga lain. Bahwa di antara kami , jalinan teman dan persahabatan lebih kuat dari pada ikatan pribadi yang mengedepankan egoisme.

 

Jadi?

Apakah ledakan  bom ini akan melunturkan tali kekerabatan warga Surabaya?

Ojo nganti ngono, Cak!

Yo,  cangkrukan bareng maneh! Ngopi-ngopi. Iki kuthone awake dhewe.

Surabaya punya kita.

Ayo, jaga dengan persaudaraan dan jiwa ksatria .

Orang Surabaya dikenal berjiwa patriotik. Tidak lemah oleh hasutan dan ancaman. Jan Cox saja menyingkir. Apalagi mereka yang berjiwa kerdil. Tetap kuat dan bersatu, warga Surabaya!

Angkot, warkop, bakso. Harmoni di Surabaya

Foto-foto dokumen pribadi dan

https://deskgram.org/explore/tags/indonesianhistory

Arab, belajarlah bangkrut dari Indonesia : catatan kecil dari Ummul Quro University

 

(Tulisan ini telah dishare di facebook, lebih 1000x)

 

Umroh, 2018 – Sungguh kejutan tak terduga, ketika sahabat saya, putri Kyai Syamsul Arifin dari pesantren Banyuanyar- Pamekasan mengajak hadir ke salah satu acara munaqosyah di Ummul Qura University, Makkah. Munaqosyah di Ummul Qura adalah ujian mempertahankan penyusunan thesis dari seorang mahasiswa.

Bergetar hati ini ketika menginjakkan kaki di universitas, tempat Imam Saud al Shuraim dan imam Abrurrahman As Sudais menyelesaikan studi. Inilah universitas yang melahirkan para pemikir tingkat dunia, yang ternyata bukan hanya menghasilkan ahli agama tetapi juga pakar sains dan ilmu sosial.

Taqi, Sinta, Amani.JPG

Taqi, Sinta dan Amani

Sebuah kisah indah meluncur dari Taqiyyah Arifin, putri Kyai Samsul Arifin yang tengah menyelesaikan studi magister syariah di Ummul Qura. Nasihat ini ia rangkum dari seorang dosennya, duktur Faizah yang merupakan salah satu ahli edukasi, pengajar dan pemikir kebanggaan dari Ummul Qura. Beliau suatu hari memberikan ceramah di hadapan para mahasiswa Arab, Indonesia, dan mahasiswa berbagai belahan dunia yang lain.

“Dahulu, kafilah haji Indonesia adalah kafilah terkaya. Tidak ada peziarah yang lebih kaya dari kafilah Indonesia. Mereka memakai alat tukar emas! Setiap kali bertransaksi, orang-orang Indonesia menggunakan emas,” jelas duktur Faizah. “Tetapi sekarang lihatlah, orang Indonesia menjadi pembantu di negeri kita. Wahai kalian mahasiswa Arab, belajarlah dari Indonesia!

Kalau kalian tidak belajar, bisa jadi anak cucu kalian akan berbalik, menjadi pembantu di Indonesia. Apakah kalian tahu, apa yang menyebabkan Indonesia bangkrut seperti sekarang?”

Para mahasiswa menanti dengan tegang, tenang, hening, hanyut dalam irama nasihat duktur Faizah.

Duktur Faizah melanjutkan, “Israf.  Bersikap berlebih-lebihan. Itulah yang membuat Indonesia bangkrut. Lihat orang Arab sekarang, beli baju satu, lalu dibuang tak dipakai lagi.”

Tergetar hatiku mendengarnya.

 

Israf.

Betapa banyak di kondangan pernikahan, orang ambil makanan lalu menyisakan sayur, daging, nasi? Padahal ia bisa mengambil secukupnya.

Israf. Betapa banyak baju menumpuk di lemari, padahal Marie Kondo dari Jepang yang terkenal dengan metode Konmari menjelaskan : jangan simpan dan tumpuk barangmu yang hanya akan membuatmu menderita!

Israf. Betapa berlebihan kita membuang waktu untuk bersenang-senang, sementara saudara-saudar kita yang berasal dari Nigeria, Uganda, Mali berupaya menghafal Quran meski derita kelaparan dan perang saudara mengintai.

Israf. Betapa berlebihan kita membuang uang, sementara saudara-saudara kita dari pelosok jauh Srilanka, Bangladesh, Myanmar bahkan bertelanjang kaki dan tidur di pelataran masjid; semata-mata ingin berumroh menapak tilasi semangat juang Ibrahim as dan Muhammad Saw.

Israf. Betapa senangnya kita berlebihan dalam perkara sunnah, lalu mengabaikan yang wajib, dan merasa sudah unggul dengan segala yang kita punya, yang sudah kita lakukan.

Israf.

Dan nasihat akhir duktur Faizah sungguh meremas, mengiris, mencincang hatiku.

“Jangan pernah mengeluh atas hidup kalian yang penuh derita, sebab memang tidak ada keberkahan di sana!”

Kenangan di Az Zahir, apartemen mahasiswi Ummul Qura, Makkah ~ Sinta Yudisia

 

 

 Taqi dan Sinta di areal Ummul Qura

 

Asrama putri Ummul Qura, bagian muka Ummul Qura dan beberapa peraturan di Ummul Qura

 

 

Catatan umroh bersama @hasanahtoursurabaya

Reem & IBF Award 2018

Di balik Reem, Polaris Fukuoka dan The Road to The Empire

Reem's Award.JPG

Alhamdulillah #reem mendapat penghargaan untuk kategori fiksi dewasa terbaik 2018

 

 

Perjalanan the Road to The Empire, tidaklah mudah. Didahului dengan buku Sebuah Janji, The Lost Prince, lalu muncullah the Road to The Empire. Kisah Takudar berawal dari sebuah buku warisan ayah yang telah meninggal sejak SMA, the Preaching of Islam karya Thomas W. Arnold. Saat menyusun ksiah Takudar, internet belum seperti sekarang. Perlu waktu berhari, berminggu, bertahun untuk mengkumpulkan kliping koran tentang Mongolia dan negara-negara sekitarnya; serta tentang sejarah yang berkaitan dengannya.

Muluskah jalan TRTE?

Tidak. Pertama, ditolak penerbit dengan alasan pasar tidak suka tema berat, apalagi sejarah. Memang, dunia perbukuan ibarat ranah dagang yang tidak bisa diperhitungkan keuntungannya 100%. Ada buku yang bagus ternyata malah jeblok di pasaran, ada buku biasa-biasa saja dan penulisnya tidak butuh energi besar untuk menulis, malah laris manis. Itu masalah rezeqi dari Allah Swt. Kedua, TRTE lama sekali tidak menemukan penerbit yagn sesuai hingga bertemu dengan Lingkar Pena Publishing House dan mendapatkan editor andal, pak Maman S. Mahayana.

Tetapi masyaallah subhanallah, hingga sekarang kisah tentang Takudar lah yang paling banyak dicari orang. Orang masih menunggu buku ke-5 yang aku sendiri belum sempat selesaikan. The Road to The Empire meraih penghargaan sebagai fiksi dewasa terbaik di ajang IBF Award 2009.

IBF Award 09 dan 18.JPG

Polaris Fukuoka yang masuk nominasi sebagai fiksi terbaik 2018, Reem fiksi terbaik 2018 , The Road to The Empire fiksi terbaik 2009

 

Bagaimana dengan Polaris Fukuoka dan Reem?

Jujur, aku tidak menyangka dua novel ini masuk nominasi fiksi terbaik. Mengingat penilainya adalah Dr. Adian Husaini, Ibu Nina Armando, bapak Ahmadun Yosi Herfanda dan masih ada dua juri keren yang aku lupa nama beliau.

Polaris Fukuoka bersetting Jepang. Butuh energi besar untuk mempelajari budaya, filosofi, nilai-nilai dan rasanya ketika buku tersebut terbit; masih ada rasa tak puas karena aku belum cukup dalam memahami segala hal terkait Jepang.

Reem?

Mempelajari Palestina dan Maroko bukanlah pekerjaan mudah. Novel ini sebetulnya berdasar skenario bapak Beni Setiawan dan dari skenario itulah kususun novel Reem. Banyak rintangan, hambatan, halangan dalam menyusun buku Reem.  Polaris Fukuoka sudah disusun outlinenya sejak 2015 dan baru terbit 2017. Reem disusun sejak 2016 dan baru terbit 2017.

 

Di awal 2017, di buku harianku, tertulis catatan sekian banyak cerita pendek, naskah lomba, novel yang masih menemukan jalan buntu hingga aku sempat merasakan kesedihan yang dalam. Akankah aku berhenti di sini sebagai penulis? Apakah lebih baik aku bisnis online saja, yang banyak menjanjikan keuntungan?

 

Tetapi, ketika berada dalam ajang IBF seperti Rabu kemarin 18 April 2018 kemarin, di tengah insan perbukuan yang sama-sama merasakan rumit, keras, getir dan jatuh bangunnya industri perbukuan; kata-kata dari pak Hikmat Kurnia ketua panita, pak M. Anis Baswedan ketua IBF, sambutan dari pak Fadli Zon dan sambutan dari TGB sangat menyejukkan. Menyalakan api. Membuat hati-hati kita membara lagi calam celupan rasa cinta pada ilmu pengetahun, pengorbanan, dan keutamaan dari membaca, menulis, mempelajari, memahami hingga akhirnya menjadi bijak dalam menjalani hidup.

All winners.JPG

Kata TGB “people with beautiful minds”

Sebuah quote dari TGB dan istri beliau yang cantik dan cerdas membuatku terkesima.

“Para penulis yang berdiri di depan, menerima penghargaan adalah people with beautiful minds.

 

2009 bersama suamiku Agus Sofyan, 2018 bersama putraku Ibrahim Ayyyasy Kholilullah

Masyaallah.

Subhanallah.

Pada titik di mana kita merasa rendah, lelah, buntu dan putus asa; ada Allah Swt dan para tentara langitnya  siap memanggul harapan dan cita-cita ajaib kita menuju kemungkinan yang layak untuk diwujudkan.

 

Terimakasih kepada semua pihak yang telah menjadikan Polaris Fukuoka dan Reem sebagai novel terbaik 2018.

 

#novel

#novelislami

#reem

#polarisfukuoka

Seksologi Islami (1)

Antara Fatal Attraction dan Unfaithful

(1)

Setiap kali dengar kata seks, apa yang terlintas di benak?

Seronok, erotisme, film X-rated? Rasanya merinding, bulu kuduk berdiri, sebab terlintas adegan-adegan ‘panas’ yang mungkin secara tak sengaja pernah dikonsumsi. Atau tiap kali mendengar kata seks,  justru merasa hal tersebut merupakan  sebuah kata yang punya makna suci dan luhur.

Seksologi Islami! (1) - kecil.png

Utak atik cover pakai Canva 🙂

Seks memiliki makna istimewa dalam Islam, sebab dalam al Baqarah perempuan di analogikan sebagai ladang dan lelaki sebagai petaninya. Dalam psikologi, seks punya makna sangat penting. Hubungan seks bukan hanya merupakan pleasure principle saja, tetapi bermanfaat bagi sistem limbik-dalam yang menjadi salahs atu kekuatan relasi emosional antar manusia.

 

Tetapi, seks menjadi berbahaya bila dikonsumsi di luar nikah. Anda pernah menonton film Fatal Attraction yang dibintangi Michael Douglas dan Glenn Close, atau Unfaithful yang dibintai Richard Gere dan Diane Lane? Mengapa yang paling menjadi obsesif dalam seks di luar nikah adalah perempuan? Sebab sistem limbik dalam perempuan lebih besar dari lelaki. Dan begitu teraktivasi dengan seks, perempuan sulit melepaskan lelaki. Meski dianiaya sekalipun. Itulah sebabnya, sering dijumpai cowok cewek yang pacaran kelewat batas, sang cewek sulit melepaskan pacarnya, meski dianiya dan disakiti secara tak manusiawi sekalipun.

Seksologi Islami  kecil.png

Canva juga. Lebih cerah ya?

Buku ini sedang dalam tahap editing di penerbit. Jadi covernya bisa jadi bukan seperti yang saya posting di sini hehehe.

Mohon doa agar barakah bagi semua ya

Kontroversial Video Logan Paul tentang Aokigahara dan Upaya Mengatasi Commit-Suicide

 

Kita selalu merinding mendengar kata bunuh diri atau commit suicide.

Kematian adalah salah satu hal yang pasti akan dialami makhluk hidup. Namun bagaimana akhir hidup manusia, sungguh merupakan perenungan bagi kita semua. Sebagian manusia meninggal karena wabah kelaparan, peperangan, bencana alam, endemi penyakit atau human error seperti kebakaran dan kecelakaan. Walau bila bicara takdir, maka semua telah tertulis di lauhil mahfuz.

Tetapi, menjadi kewajiban manusia beriman dan berakal untuk mencermati segala fenomena yang terjadi dan berupaya sebaik mungkin menanggulanginya. Wabah penyakit misalnya, manusia berupaya sebaik mungkin untuk mengenali demam berdarah; mulai mencegah, mengenali tanda, memberikan pertolongan pertama hingga memberi perawatan sampai mencapai taraf kesembuhan. Belum lama ini di wilayah Jawa Timur utamanya Surabaya, dikejutkan dengan wabah difteri. Maka pemerintah dan masyarakat ramai-ramai menggalakkan vaksin.

Bencana yang disebabkan human error misalnya, pun dicoba diatasi sebaik mungkin.

Kebakaran? Banjir?

Kalau disebabkan karena buang puntung rokok sembarangan, sampah menumpuk; maka semua harus diantisipasi. Kecuali apabila kemarau panjang yang menimbulkan kebakaran dahsyat seperti di Australia tempo hari. Bagaimana dengan commit suicide? Apakah ia human error ataukah takdir yang tidak dapat diubah?

Kembali, kita tidak akan membahas takdir namun kita akan berupaya sebaik mungkin untuk mengatasi, atau mencegahnya.

Chester Bennington, Jonghyun dan Marilyn Monroe

Sederet artis papan atas dikabarkan bunuh diri.

Yang terus dikenang sepanjang zaman adalah Marilyn Monroe. Artis cantik nan sensual ini, seharusnya mendapatkan apa saja yang dapat diraih dunia; bila kebahagiaan itu senilai materi. Tetapi, Monroe tidak mendapatkannya. Ia mengalami abuse sejak kecil, suami pertamanya memperlakukan tidak baik dan pada akhirnya ia menjadi bintang bom seks. Monroe mendambakan kehidupan sebagai istri dan ibu, maka ia pernah berkata : “kalau perempuan disuruh memilih antara karier atau keluarga, pilihlah keluarga. Aku sangat ingin punya anak dari rahimku sendiri.”

Ya.

Monroe yagn sensual dikabarkan berkali-kali mengalami keguguran.

Menjelang akhir hayat ia menjalin kasih dengan JF Kennedy, dan sungguh ia berharap itu merupakan kisah cinta sejati. Meski kerabat dekat sudah mengingatkan, mustahil Monroe menjadi first lady karena meski ia sangat menawan sebagai bom seks, publik Amerika tetap akan memilih Jacquline Onassis sebagai ibu negara!

Chester Bennington pun memiliki masa lalu yang sangat tak stabil. Vokalis idola anak muda yang sangat legendaris dengan Meteora nya ini, mengakhiri hidup sehingga publik merasa sangat terkejut sebab sangat sedikit grup musik semacam Linkin Park. Nyaris tak percaya di puncak keberhasilan, dipuja jutaan penggemar, memotivasi anak-anakmuda, menghentak dengan genre rock berbeda; tetap saja tak membuat Bennington nyaman dengan semuanya.

Jong Hyun?

Books about Korea

Kita akan memahami mengapa ia memilih mengakhiri hidup bila telah membaca Korean Cool –Euny Hong.

“Setiap negara maju, pasti memiliki ironi,” tulisnya. Bila belum memiliki ironi, maka ia bukan negara maju. Dengan kata lain, menurut Hong, kemajuan negara pasti akan menimbulkan paradoks. Negara yang makmur, maju, tenang, damai, sukses; belum tentu terlihat seperti apa di permukaan. Kerja keras pejabat dan rakyat, kadang harus dibayar mahal. Untuk menciptakan kemakmuran setiap orang harus bekerja lebih dari waktu rata-rata. Setiap orang harus berpikir untuk maju, sukses, berhasil; dan mereka yang menghambat kemajuan akan terpinggirkan.

Euny Hong menyebutnya ‘masa perbudakan’. Setiap warga Korea paham, bila belum mencapai target, mereka akan rela dalam masa perbudakan. Itulah sebabnya, boyband dan girlband rela berada dalam masa karantina dari 5 hingga 13 tahun. Mereka berlatih vokal, berlatih menari, berlatih tampil, berlatih manggung dan seterusnya hingga ketika debut muncul : sempurna. Sehari latihan bisa memakan waktu belasan jam, kalori makanan terkontrol dan aktivitas harian pun terjadwal.

Inilah ironi.

Dunia berdecak dengan hallyu yang menganeksasi dunia. Berbeda dengan Amerika yang daya serangnya hard melalui milter dan ekonomi, Korea Selatan sangat soft : melewati budaya. Dan betul kata Hong , “Korea memiliki apa yang tak dimiliki Amerika. Kami pernah menjadi negara dunia ketiga. Jadi kami pernah tahu bagaimana rasanya menjadi terbelakang.”

Kita mengelu-elukan boy band dan girl band. Tapi pernahkah kita tahu apa penderitaan mereka, ratapan hati, tangis dan kelelahan di balik panggung? Sekali mereka melakukan kesalahan, hujatan mengalir.  Lebih gemuk, berjerawat, bermuka masam dan sejenisnya; publik menghujat. Padahal para idol adalah manusia juga yang ingin sesekali menjadi diri mereka apa adanya. Ingin bersantai, bermalas, membangkang; yah, mirip anak muda pada umumnya.

 

Aokigahara dan Bunuh Diri

Hutan Aokihagara dan film the Forest

Pernah lihat film the Forest yang mengambil tempat di Aokigahara? Aokigahara terletak kurang dari 100 mil arah barat Tokyo, terkenal karena keindahan hutan dan gua-guanya yagn eksotik. Serta, pepohonan rimbun yang menjadi tempat persembunyian sempurna bagi orang-orang yang ingin mengakhiri hidup.

Budaya bunuh diri Jepang sangat dikenal masyarakat dunia, sebagian berdecak kagum, sebagian sangat menentang. Seppuku, kamikaze, harakiri dan sejenisnya merupakan  tindakan lelaki Jepang dalam mempertahankan kehormatan. Mereka lakukan bila kalah perang atau justru melakukan serangan bunuh diri untuk menyentak lawan. Tradisi yang awalnya dipakai sebagai upacara kehormatan ini bergeser menjadi sebuah perilaku yang bukan hanya dilakukan kaum militer tapi masyarakat biasa. Bila dulu orang mengenal tradisi bunuh diri dilakukan oleh para samurai yang kalah tanding dan para serdadu Jepang ketika kalah perang dunia ke-2; maka orang-orang zaman kini lebih mudah melakukan tanpa melewati perang tanding atau perang medan laga. Yang penting merasa ‘kalah’ maka bunuh diri dilakukan. Kalah dalan cinta, kalah dalam akademis, kalah dalam bisnis, kalah dalam pekerjaan, kalah tidak mencapai apa-apa. Kalah, bahkan sebelum kita mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri.

 

Hutan Aokigahara dan Logan Paul dengan video kontroversialnya

 

Cara memandang bunuh diri bagi masyarakat Jepang dan masyarakat dunia lain, pasti berbeda. Vlogger yang mungkin memandang konsep bunuh diri secara berbeda, adalah Logan Paul yang videonya tengah viral.

Paul Logan bisa mengolok-olok Aokigahara dan tradisi bunuh diri masyarakat Jepang sementara videonya menempati ranking 10 teratas dunia. Kontan, publik mengecam youtube karenea video itu bebas ditonton. Saya tidak akan membahas dunia maya sebab tidak memiliki kehalian di sana, tetapi lebih memilih menyikapi bagaimana kita memandang bunuh diri sebagai sebuah tradisi, dan sebagai sebuah perilaku yang tampaknya mulai lazim dilakukan.

 

Mengapa Bunuh Diri?

Sungguh, keprihatinan ini menyeruak mencermati kondisi sekeliling. Apalagi, tradisi bunuh diri lekat dengan masyarakat Jepang dan sekarang Korea Selatan, yang gelombangnya tengah diminati anak-anak muda Indoensia. J-pop dan K-pop sangat memikat; maka tak ada salahnya kita mencoba memelajari kultur kedua bangsa tersebut dan mengambil apa yang baik bagi Indoensia dan menyaring apa yang kurang tepat bagi bangsa ini.

Di novel Polaris Fukuoka, dikisahkan Yamagata Isao bunuh diri. Adiknya, Nozomi sempat berniat melakukan hal yang sama tetapi persahabatannya dengan Sofia mencegahnya melakukan hal ini. Mengapa Isao bunuh diri? Tekanan akademik dan tuntutan orangtua, yang berseberangan dengan bakat minatnya, membuat dirinya melakukan hal itu.

Mengapa saya mengangkat tema ini?

Saya pernah melakukan tes bakat minat untuk anak SMP. Dan ketika hasil tes keluar, saya konsultasikan dengan guru-guru sekolah; tampaklah bahwa orangtua tidak dapat menerima begitu saja bakat minat anak mereka. Ada seorang anak yang memiliki dua orangtua sukes sebagai ahli medis. Orangtuanya berharap anaknya pun seperti itu. Padahal ketika tes bakat minatnya keluar, yang muncul adalah kecenderungan literasi, aesthethic dan social service! Sungguh tidak nampak kecenderungan ke sains dan medikal. Sangat disayangkan bila orangtua masih memaksa anak-anaknya menjadi sesuatu, karena pertimbangan status dan ekonomi.

 

Kutipan percakapan Sofia dan Nozomi membahas bab bunuh diri

Demikian pula Isao.

Ia yang sesungguhnya ingin jadi pemusik, dengan kecerdasan otaknya dipaksa harus menjadi mahasiwa di universitas terkemuka. Begitu pula Nozomi. Tentu saja, diharuskan demikian karena bisnis keluarga mengharuskan para pewaris harus menekuni ilmu tertentu dan menguasai keahlian tertentu; walau bakat minat tidak mendukung.

Demikianlah, sebuah ironi.

Kemajuan dan kemapanan, bila tanpa pemahaman emosional yang baik dan pendekatan nurani akan menimbulkan kekacauan hati dan kegalauan pikiran. Dan, begitu mudahnya orang memutuskan bunuh diri ketika kalah.

“Di titik apa seseorang memutuskan bunuh diri?” tanya Sofia pada Nozomi.

“Di titik ketika mereka merasa diabaikan,” jawab Nozomi.

 

Perbedaan Budaya dan Tradisi

Eropa dan Amerika berbeda.

Di wilayah ini, kultur individualis telah terasah sejak dini. Kemandirian, memutuskan sesuatu secara individual dan bukan kolektif; biasa dilakukan. Anak tidur terpisah sejak kecil, anak usia 18 tahun bebas hidup serumah dengan pacarnya, anak remaja naik mobil dan mengkonsumsi alkhol ; sudah diputuskan sejak usia 18 tahun. Diabakan, hidup sendiri, sudah menjadi kebiasaan; walau akhir-akhir ini fatherless family pun memunculkan masalah baru. Terbiasa mandiri dan individualis itu bukannya tanpa masalah.

Bagaimana dengan dunia timur : Indonesia, Jepang, India, Korea?

Kita masyarakat kolektif.

Menikah butuh pertimbangan paman bibi, kakak adek, kakek nenek, tetangga sepupu dll.

Kuliah pun demikian. Cari jodoh pun demikian. Bekerja pun demikian. Maka pertimbangan banyak orang seringkali jadi perhatian yang memusingkan. Walau diri sendiri sudah tak mampu menanggulangi, tetap harus memikirkan oranglain. Inilah ironisnya.

Perasaan tertekan dan tidak mampu mengungkapkan apa yang ada di dalam benak dan hati; bagi masyarakat timur lambat laun menjadi batu yang menghimpit. Maka bila tidak dikomunikasikan, disalurkan dengan baik; di titik tertenu menajdi perasaan kalah yang membabi buta : mati lebih enak (seperti sebuah novel karya Alistair Maclean). Walau ternyata, di novel tersebut dikisahkan, perjuangan seseorang untuk mati sama sulitnya seperti perjuangan seseorang yang mencoba hidup!

 

Mengatasi Bunuh Diri

Peduli, itu kuncinya.

Mindfulness of others, cobalah mempertimbangkan pikiran dan perasaan orang lain. Cobalah peduli dan berbicara pada orang yang tengah membutuhkan sandaran dan telinga; sebagaimana yang dilakukan Sofia dan Tatsuo pada Nozomi. Memang, orang yang tengah punya masalah bisa jadi sangat membebani. Mereka mengungkapkan keluhan dan permasalahan sementara orang yang tengah mendengarkanpun jugamemiliki segudang masalah yang tak kurang beratnya; tetapi itu dilakukan karena hati dan batin mereka, mental mereka sedang rapuh dan sakit. Kalau kita sedang banyak pikiran, inginnya mengomel, kan? Lagi marah, pinginnya mengumpat. Lagi sedih, inginnya meratap dan menangis.

Demikian pula dengan orang yang punya banyak beban menghimpit, sampai tak tahu harus bagaimana lagi. Mereka ingin mengosongkan pikiran dan hati yang pepat, ingin mencurahkan keluar, ingin mencari tempat pelarian. Masih untung bila mereka menemukan teman, sahabat, saudara yang jadi tempat berbagi. Kadang, ingin curhat di medsos bukannya dapat simpati dan empati; malah dimaki-maki.

Maka, di pusat-pusat rehabilitiasi mental kita akan menemui orang yang afeksinya tumpul. Sedih banget, mendapat penderitaan bertubi, menerima kemalangan beruntun; malah tertawa (ini sebetulnya salah satu tanda ketumpulan afeksi yang harus diwaspadai) Orang skizofren tidak lagi tahu beda bahwa sedih itu menangis dan senang itu tertawa. Mereka marah, senang, sedih, biasa, akan  selalu tertawa. Depresi dan skizofrenia yang akut; bisa menimbulkan pemikiran shortcut . Entah itu melukai oranglain, atau bila tak memiliki kekuatan melukai oranglain, akan berbalik melakukan self-harm. Awalnya hanya menjambak diri sendiri atau membenturkan kepala, tetapi lambat laun bila tak tertahankan, akan melakukan hal pintas yang dianggap mengakhiri penderitaan.

Bunuh diri adalah perilaku yang harus diwaspadai.

Berbeda dengan pelaku free sex, drug abuse, pornografi dsb yang masih dapat diperbaiki, bunuh diri sungguh fatal sebab pelakunya langsung meninggal dan tak ada lagi yang dapat diperbaiki. Maka pemerintah dan masyarakat harus waspada terhadap kasus ini. Paul Logan mungkin harus mendapatkan peringatan tetapi videonya membuat orang terhenyak : apakah sekarang perilaku bunuh diri sudah tidak membuat orang menjerit, menangis, dan ngeri; tetapi malah membuat orang excited dan tertawa? Apakah sesungguhnya Logan Paul itu kita : semakin lucu (meski prank dan menyusahkan orang), semakin menakutkan, semakin sadis, semakin membuat bulu kuduk merinding maka itu akan membuat klik meninggi dan viewers membanjir?

Semoga video Logan Paul tidak mencerminkan kita. Ia telah membuat klarifikasi videonya tentang Aokigahara yang terkenal sebagai  suicide forest. Di video tersebut, Logan Paul mengambil video dengan latar belakang tubuh orang yang mati bunuh diri sembari tertawa-tawa dan mengunggah ungkapan yang kurang pantas.

Ke depannya, kita harus mewaspadai dengan perilaku dan kecederungan teman-teman kita, keluarga kita untuk beunuh diri.

Atau bahkan, kita harus mewaspadai diri sendiri, apakah telah tampak keinginan untuk bunuh diri?