Kategori
ANIME Hikmah Hobby Jepang KOREA mother's corner My family Parenting Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Remaja. Teenager WRITING. SHARING.

Strategi Berkomunikasi dengan Remaja

Remaja : diperlakukan seperti anak kecil, diharapkan bisa bersikap dewasa.

Begitu bunyi salah satu quote tentang remaja, manusia  yang berada di rentang usia antara 12-18 tahun. Virginia Satir, pakar family therapy berkata, berbicara dan mencoba memahami remaja tak akan pernah cepat dan mudah. Mereka memiliki ciri khas menentang, lebih suka percaya teman, suka menyembunyikan sesuatu dari orangtua, mood swing dan sulit berkomunikasi dengan orang dewasa.

Aku suka menyelami dunia remaja.

Bagiku, remaja adalah makhluk rentan yang rapuh dengan potensi luarbiasa. Anak-anak pintar yang pemberontakannya sering dianggap sebagai kedurhakaan dan pembangkangan, padahal mereka sedang belajar menapaki jalan hidup kedewasaan. Mendekati dunia mereka, salah satu cara yang kutempuh. Musik, film, drama, komik, animasi, novel dan sejenisnya. Termasuk mencoba menulis di platform menulis online.

Kadang capeeee.

Ya, iyalah.

Dunia remaja sangat dinamis.

Rasanya jantung ini ikut berdegup-degup mengikuti alur dunia remaja. Misal, menelusuri jejak KPop. Ikut “ngenes” lihat para boyband atau girlband yang diperlakukan mistreatment oleh manager mereka. Duh, kasihan banget GOT7, Pristine, Stellar, 2PM dan sejenisnya. Duh, kasihan banget mereka yang masih muda-muda sudah harus diet superketat sebagai idol; belum lagi menjadi sasaran haters  lantaran kiprah di dunia entertainment.

Terhenyak jika menyaksikan akhir-akhir ini mendengar beberapa anggota boyband girlband mengalami gangguan psikologis cukup parah karena kejamnya industri hiburan. Pingin rasanya bisa memberi layanan konseling ke mereka, para idol yang rata-rata usianya belasan tahun! Anggota boyband girlband yang masih remaja, termasuk remaja kita, rawan mengalami gangguan psikologis karena berbagai factor : perseteruan dengan orangtua (keluarga), tekanan akademis, lingkungan, sosial media dan factor internal diri remaja yang memang sedang gelisah dengan lifecrisis.

Dunia remaja sangat dinamis.

Memfollow akun-akun IG dan twitter mereka, kadang geli dan tegang juga dengan berbagai macam kalimat-kalimat berseliweran. Abaikan EYD/PUEBI! Sudah tidak ada panduan huruf kapital, titik koma, batasan akronim. Kadang-kadang berseliweran kata-kata tak pantas dan menyaksikan para akun itu saling perang sendiri.

Dunia remaja sangat dinamis.

Yang lucu-lucu nyeleneh macam Istaka, atau lucu informatif macam Bintang Emon dan Hirotada Radifan. Kalau aku sedang mengamati anime, maka kubuka akun youtube Senior Anime atau Abdi Kos. Di IG sendiri, banyak akun informatif yang bagus-bagus kalau kita ingin mendalami jejepangan atau hallyu.

Apa bagusnya mengikuti dunia remaja yang dinamis?

Pertama, suasana riang dan lucu.

Terus terang, dunia orang dewasa kadang begitu berat, jenuh dan penuh pertikaian. Mengamati berita politik, ekonomi, pandemic; belum lagi saat mengurusi klien-klien sangat menguras tenaga. Mengikuti dunia remaja yang riang dan ringan, bisa membawa suasana hati ikutan happy. Akhirnya, jiwa kita kembali gembira dan bisa menghadapi persoalan-persoalan berat lagi.

Kedua, kreatifitas.

“Ngasih nasehat jangan overdosis dong, Mi,” celetuk anakku.

Rasanya  mangkel dengarnya. Tapi apa benar orangtua overdosis?

Setelah mengamati akun-akun anak muda, mereka sering buat postingan infografis yang ringan tapi bermakna. Tentang makna kebebasan dikaitkan dengan anime, tentang kehidupan sekolah dikaitkan dengan anime. Aku jadi belajar : oh, kenapa gak begitu cara kita menyampaikan kebaikan? Simple, singkat, santai. Tapi maknanya dalam.

Berarti, gayaku memberi nasehat kadang-kadang overdosis ya?

Maka, kalau anak-anakku bersitegang sering kusampaikan.

“Inget nasehat Levi buat Eren Jeager!” kataku.

Simple, singkat, santai. Selesai. Nggak perlu nasehat panjang-panjang yang overdosis.

“Diih, Ummi! Apa-apa dikaitkan AoT! Emang kenapa segitunya?”

“Kalau berkesempatan ke Jepang dan bisa ketemu; Ummi pingin tahu deh berapa IQ nya Hajime Isayama, Hiroyuki Sawano sama Linked Horizon. Pingin tau proses kreatif mereka juga.”

Karena lumayan intens mengamati Korea Jepang, beberapa orang menganggapku pengamat budaya pop culture. Kadang aku diundang untuk mengisi kajian parenting, atau kepenulisan, atau psikologi, atau motivasi; dalam kaitannya dengan budaya pop culture. Cukup banyak orangtua yang pada akhirnya tersadar, kami sama-sama overdosis ketika melakukan pendekatan ke anak-anak. Nasehat ini, perintah itu, ancaman  begitu, petunjuk begini.

Syukurlah, beberapa orangtua mulai mencoba gaya pendekatan berbeda untuk anak mereka. Anakku cerita.

“Ummi, temanku cerita. Mamanya keranjingan anime kayak Ummi!”

Hahahaha.

Aku mencontohkan pada anakku bagaimana mengatur waktu untuk menonton anime dan baca manga. Semua harus diatur. Kalau gak, habis waktu kita buat hiburan.

“Nak, Ummi jatah dari jam sekian sampai jam sekian buat baca komik online. Kalau gak dibatasi, maunya berjam-jam buka situs manga!”

Setelah pendekatan demi pendekatan, komunikasi yang terbangun, kedisiplinan masyarakat Jepang dan Korea yang bisa dijadikan contoh; anak-anakku mencoba untuk menjadwal pola sekeharian hidup  mereka. Buat apa gandrung Jepang Korea kalau gak mengambil manfaatnya? Kutekankan : “Lihat tuh anggota KPop, berapa jam sehari latihan? Bangchan (leader – Stray Kids) hanya 3 jam sehari tidur.”

Kedispilinan dan kerja keras Jepang dan Korea ini harus menjadi salah satu nilai yang perlu dicontoh oleh remaja kita. Semoga, dengan semakin harmonisnya hubungan orangtua-remaja; anak-anak merasakan kehangatan rumah dan mereka berkenan untuk curhat apapun kepada orangtua.

“Kita butuh 4 pelukan sehari untuk bertahan hidup. Kita butuh 8 pelukan sehari untuk menjalani hidup. Kita butuh 12 pelukan sehari untuk tumbuh berkembang.” ~ Virginia Satir

Strategi berkomunikasi dengan remaja :

  1. Banyak menghabiskan waktu bersama mereka
  2. Ubah gaya pendekatan
  3. Humor
  4. Beri nasehat, tapi jangan overdosis

*Catatan singkat berbagai perjumpaan mengisi acara parenting terkait komunikasi remaja & pop culture

Kategori
Hikmah My family Oase Parenting PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Remaja. Teenager Renungan Hidup dan Kematian WRITING. SHARING.

Mendengar Kritik & Nasehat Anak

Akhir tahun ini, kami sempatkan untuk banyak diskusi sembari menikmati hiburan yang ada. Kalau dulu biasanya silaturrahim ke keluarga di Tegal, sekarang kangen itu ditunda dulu. Maklum, corona belum menampakkan tanda-tanda melandai.

Film-film blockbuster yang biasanya didominasi Hollywood, tahun ini justru banyak menayangkan film Korea. Selain menonton Key to the Hearts, Along with The God 1, Along with the God 2, Exit, Fatal Intuition; kami juga nonton film-film yang ada di laptop. Sembari mendiskusikannya dengan anak-anak, apa hikmah di balik film tsb dan apa rancangan ke depannya.

Kalau sudah mendengar anak-anak cerita, orangtua seringkali terkesiap!

Oh, gitu ya?

Jadi selama ini itu yang ada di pikiran mereka?

Diskusi paling seru adalah ketika menonton film Captain Fantastic dan Along with The God 1 & 2. Sampai-sampai, karena diskusi ini kurasa menarik untuk diarsipkan, aku membuat mind mappingnya. Siapa tahu  di masa depan, arsip ini bermanfaat buat anak-anakku ketika mereka menikah dan punya keluarga sendiri.

Transformasi Keluarga Tradisional ke Modern

Aku dan suamiku dibesarkan oleh pola tradisional, sementara anak-anak memasuki era millennial. Mereka masih mengkritik bahwa sebagai orangtua kami berdua belum seperti Ben Cash, ayah dari 6 orang di Captain Fantastic. Sebagai orangtua, kami tentu harus banyak belajar. Hal yang sama di 4 kepala anak kami adalah : kami masih terlalu memanjakan mereka.

Hm.

  • 4 anakku baru pegang HP ketika mereka SMP, itupun masih bareng-bareng. Ketika SMA baru boleh sendiri, itupun karena ada tugas-tugas yang dibagikan lewat line/whatsapp.
  • Anak-anak yang cowok sampai SMA masih naik sepeda onthel ke sekolah. Baru naik motor ketika kuliah. Itupun motor bareng-bareng.
  • Pekerjaan rumah kami bagi-bagi. Kalau ada pembantu, sifatnya sementara aja. Dulu pas aku masih kuliah, atau pas aku harus ke luar negeri.
  • Gadget harus yang harganya masuk akal, sekedar bisa lancar untuk aplikasi dan keperluan akademik.

Tapi, mereka masih beranggapan kami memanjakan dan tidak memberi kebebasan. Itu yang mereka tangkap ketika menonton Captain Fantastic!

6 orang anak yang dibesarkan di alam, harus memasak dengan bumbu seadanya, setiap hari berlatih fisik! Kemanjaan itu (atau mungkin lebih tepatnya, belum memfasilitasi berbagai kebebasan) baru disadari usai nonton CF beberapa kali.

“Ayah harus bisa diajak berdiskusi tentang hal sensitif, termasuk hal agama dan seksual,” kata si sulung. “Ternyata anak kecil bisa diajak berpikir rumit dengan cara mereka sendiri.”

“Kalau selalu diarahkan; we don’t know what we need, what we want, what we can,” kata nomer 2. “Nonton CF membuatku jadi pingin banyak baca buku dan memahaminya.”

Forbidden words! Ben Cash mengajarkan anaknya untuk menjelaskan apa yang dipikirkan,” kata nomer 3.

“Aku manusia yang hedon banget. Tergantung pada gadget. Aku pingin bisa berpikir kritis dan open minded,” kata si bungsu.

Baiklah.

Kalau dibandingkan Ben Cash yang mendidik anaknya di alam liar; kuakui, anak-anakku masih belum tahu cara berburu, mengobati patah tulang, panjat tebing termasuk membaca buku-buku “merah”  seperti Lolita. Setelah menonton CF, setidaknya anak-anakku berpikir bahwa kehidupan yang sudah kuupayakan sederhana dan tidak terlalu addict pada gadget pun; ternyata masih terhitung hedonism kapitalis dalam ukuran Republic Plato-nya keluarga Ben Cash.

Apa-apa masih beli.

Apa-apa masih tergantung pada apa pendapat orang kebanyakan.

Ada pertempuran lumayan panas ketika kami diskusi, tapi juga ada pikiran-pikiran yang terbuka. Kami sepakat bahwa ke depannya, harus lebih sering berinteraksi dengan alam untuk dapat lebih merasakan kehidupan yang sesungguhnya. Diskusi-diskusi perkara sensitif juga harus dibangun.

Along With The God (AWG) : Trial & Punishment

Bagi kaum muslimin, film AWG mungkin tidak terlalu mirip dengan alam barzakh yang masih sangat misterius dan penuh perkara ghaib. Tetapi, sama seperti film animasi Coco yang juga kami tonton bolak balik , hampir semua ajaran agama memberitakan satu hal pasti : ada kehidupan lain sesudah kematian. Kehidupan yang penuh dengan pertanggung jawaban.

Pengadilan pembunuhan, kemalasan, pengkhianatan, kebohongan, kekerasan, ketidakadilan, kedurhakaan. Begitulah 7 pengadilan yang harus dilalui Ja Hong, seorang pegawai pemadam kebakaran, ketika ia mati saat bertugas. Arwahnya termasuk arwah mulia yang sudah jarang ditemui oleh para penjaga alam baka selama puluhan bahkan ratusan tahun. Namun, arwah mulia Ja Hong ternyata harus melalui 7 pengadilan untuk membuktikan : benarkah ia benar-benar mulia ataukan sebetulnya ia manusia yang licik?

 Ketika anak-anakku menontonnya mereka berkata

“Wah, apakah aku bisa selamat dari semua pengadilan itu?”

Meski berbeda dari konsep Islam, AWG memberikan visualisasi bagaimana manusia bisa jatuh dalam neraka tak berujung sesusai dengan kejahatan yang dilakukannya. Naudzubillahi mindzalik. Sama seperti ketika menonton CF, diskusi-diskusi yang mencuat di antara kami menjadi catatan yang menarik.

“Ada bekal, ada trial, ada punishment dalam kehidupan sesudah mati. Neraka tidak hanya panas membakar tapi juga dingin membeku. Berbakti pada orangtua adalah keharusan dan bisa menjadi bekal,” kata si sulung. “Semakin mulia kita, semakin mudah pengadilannya.”

“Aku berdosa sekali. Melihat pengadilan itu, aku sudah jatuh satu persatu,” kata nomer 2. “Masih ada orang baik di atas muka bumi ini.

“Ada kehidupan sesudah mati,” kata nomer 3. “Setiap perbuatan ditimbang kebenaran dan kesalahan.”

“Ada DO!” kata si bungsu, yang KPopers. DO menjadi salah satu pemain di AWG 1, ia adalah personil EXO. “Di dunia harus berbuat baik lebih banyak. Berbakti pada ortu, sayang kakak, sayang keluarga. Konsep bekerja keras ada dalam masyarakat Korea.”

AWG 1 mengisahkan hubungan ibu dan anak, sementara AWG 2 mengisahkan hubungan ayah dan anak. Si sulung berkata.

“Dari film itu kita juga tahu, bahwa hubungan ayah-anak itu jauh lebih rumit dan lebih kompleks.”

Aku merenung mendengar perkataannya.

Di AWG 1, lebih banyak dikupas hubungan Ja Hong dan Su Hong (sang adik)  dengan ibunya yang bisu. Kehidupan mereka sangat miskin sehingga kemiskinan ini menimbulkan berbagai macam permasalahan yang akan dikupas di  pengadilan alam baka.

Di AWG 2, banyak dikupas hubungan Gang Rim dan ayahnya, Raja Dinasti Goryeo. Sang Raja lebih mengasihi adik Gang Rim, Won Maek yang menjadi sebab mereka bertiga akhirnya saling membunuh.

Memang benar. Hubungan ibu-anak seringkali sangat simple dan bisa dicairkan hanya dengan saling meminta maaf. Tapi hubungan ayah anak? Sangat rumit, kompleks, berkelindan dan tumpang tindih. Seringkali ada kekecewaan di situ, ada pengharapan besar, ada figuritas, ada tekanan, ada keinginan untuk membandingkan, ada persaingan dan lain-lain. Wajar bila hubungan ayah anak bila rusak, lebih sulit untuk memperbaikinya.

*Catatan parenting awal tahun 2021

Kategori
Film Hikmah mother's corner My family Parenting Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Film Parenting yang Bagus untuk Ditonton Akhir Tahun

Film-film ini sebetulnya bukan produksi 2019-2020. Beberapa udah beberapa tahun lalu tapi layak ditonton. Ingat ya, ini film parenting. BUKAN film keluarga. Kebanyakan kita berpikir kalau film parenting bisa ditonton sama anak-anak. Beda! Meski pemainnya anak-anak tetapi konflik dan dialognya banyak dewasa. Oke, bisa ditonton anak-anak yang sudah remaja asal dengan pendampingan karena ada beberapa diskusi tentang seksualitas di sana.

  1. Captain Fantastic
  2. Tully
  3. Please Stand By
  4. Dangal
  5. Searching
  6. Gifted
  1. Captain Fantastic

Tokohnya yang main jadi Aragorn di Lord of the Ring. Film ini bahkan buat suami saya sampai terharuuuu banget. Jarang-jarang bapak-bapak bisa terharu kwkwkwk. Kisahnya tentang seorang ayah yang membesarkan 6 orang anaknya sendiri, karena istrinya bunuh diri akibat post partum depressi hebat.

Diskusi tentang bunuh diri sang ibu saja sudah menjadi “highlight”  yang harus diperhatikan, kalau film ini mau ditonton anak-anak.

Kelebihannya?

Wah, film ini keren banget.

Ben Cash (Viggo Mortensen) membesarkan anak-anaknya di alam. Mirip homeschooling ya. Anak-anak kalau makan harus berburu, memasak sendiri. Sehari-hari mereka berlatih bela diri, membaca buku, bermusik. Jauh dari hingar bingar internet dan makanan junkfood. Anak-anak Ben menguasai 6 bahasa, mereka mengkonsumsi buku-buku berat dan mampu mendiskusikannya.

Salah satu diskusi menarik adalah ketika Ben dan salah satu putrinya membahas novel Lolita. Ada banyak diskusi antara ayah -anak yang sangat menarik di film ini. Termasuk kenapa nama anak-anak mereka tak ada kembarannya : Bodevan, Kielyr, Rellian, Vespyr, Zaja, Nai. Diskusi tentang kapitalisme, agama, bagaimana menjelaskan tentang seksualitas bisa menjadi masukan (meski gak mesti ditiru ya!).

No kissing, no one stand night.

Kenapa gak boleh ditonton anak-anak?

Karena diskusinya dan ada salah satu adegan ketika Ben yang naturalis-anti kapitalis, keluar dari bus caravannya tanpa baju sama sekali.Film ini bagus banget ditonton suami istri. Utamanya para bapak-bapak agar lebih menjiwai konsep pendidikan berkarakter.

2. Tully

Bagi ibu yang lagi hamil dan punya anak-anak kecil, film ini layak tonton.

Dibintangi si cantik Charlize Theron yang berperan sebagai ibu hamil tua. Marlo Moreau menjalani kehidupan yang penuh tantangan dengan anak kecil-kecil : Sarah dan Jonah (berkebutuhan khusus). Ketika Mia si bayi lahir, Marlo benar-benar kerepotan dan sangat lelah.

Saudara Marlo, Craig, yang hidup berkecukupan dan sangat mencintai kakaknya; menawarkan nanny untuk membantu Marlo. Tapi Marlo menolak. Ia tidak tahu bagaimana harus membayar shadow teacher dan nanny. Selama ini, Jonah sekolah di sekolah terbaik karena Craig menjadi donatur besar di sana.

Marlo sebetulnya memiliki suami yang penyayang, Drew. Tapi layaknya laki-laki ya, gak ngerti gimana capeknya punya baby. Malam hari, kalau Marlo naik ke tempat tidur karena sangat capek, Drew justru aktif membunuh zombie-zombie di video gamenya. Ala laki-laki bangettt hahahah.

Lalu muncullah Tully, si nanny. Kita sempat mikir : ”wah, ada adegan selingkuh nih antara Tully dan Drew. Sebab Tully sering mancing-mancing tentang Drew.”

Tapi enggak sama sekali. Endingnya yang twist bikin nyeseeeeek.

Ada satu quote di film ini yang akhirnya kami pakai di keluarga. Adegan ketika Marlo mengalami kecelakaan dan Drew nyaris kehilangan istrinya. Drew memeluk Marlo. Alih-alih mengucapkan “I Love You” , Drew justru berkata “I Love Us.” Marlo pun menjawab dengan perkataan sama : I Love Us.

Hayo Bapak Ibu, yang punya anak kecil atau baby-baby. Supaya ngerti perjuangan para ibu di malam hari, wajib tonton film ini. Gambaran gimana stresnya Marlo mulai ngurusi pampers sampai nyedot ASI, detail bangettt. Kita bisa merasakan capeee jadi ibu, ya?

3. Please Stand By

Film ini dibintangi si cantik Dakota Fanning yang berperan sebagai Wendy, penyandang autism. Dulu ketika kecil, Wendy dan kakaknya Audrey, dibesarkan oleh ibu single parent. Sebagai seorang kakak, Audrey sangat menyayangi dan mengerti adiknya yang berkebutuhan khusus. Namun setelah Audrey dewasa dan menikah, ia tak lagi dapat mendampingi adiknya. Apalagi si ibu telah meninggal.

Wendy sangat terobsesi dengan Star Trek. Ia bercita-cita menjadi penulis scenario. Perjuangan Wendy yang tinggal di rumah khusus bagi penyandang kebutuhan khusus untuk dapat mandiri dan mencapai cita-citanya, menjadi titik utama film ini.

Tidak ada adegan ranjang atau diskusi dewasa di dalamnya. Cocok juga untuk ditonton remaja. Sebagai orangtua yang memiliki anak-anak, terutama anak special needs, perlu sekali melatih pola hubungan komunikasi yang hangat dan indah seperti yang dilakukan Audrey pada Wendy.

Anak-anak seperti Wendy pada akhirnya mampu mandiri dan menemukan jati diri ketika dikelilingi orang-orang yang peduli seperti Audrey serta pengasuh homecare bernama Scottie.

4. Dangal

Dangal adalah film India yang bolak balik kami tonton.

Mengisahkan Poghat Singh, seorang mantan pegulat yang bercita-cita ingin memberikan medali emas bagi negaranya. Ia ingin sekali mewariskan kemampuan gulat dengan melatih anak-anaknya. Apa daya, 4 anaknya perempuan semua!

Tapi ternyata, Gita dan Babita punya bakat gulat seperti sang ayah. Poghat mengetahuinya ketika Gita dan Babita berhasil mengalahkan cowok-cowok yang mengganggu mereka. Sejak saat itu rambut panjang keduanya dipangkas, hari-hari dipenuhi latihan berat, demi agar kedua gadis itu memiliki tubuh dan stamina yang pantas bagi pegulat.

Seorang ayah yang memiliki impian besar dan mampu mewariskan impian itu kepada anak-anaknya; sungguh sebuah motivasi spesial bagi orangtua yang mungkin masih bingung gimana cara mengarahkan anak-anak sekarang yang mungkin agak-agak manja.

Banyak dialog yang masih terpatri di ingatan. Salah satunya kekhawatiran istri Poghat. Siapa nanti yang akan memilih Gita dan Babita yang menjadikan gulat sebagai jalan hidup?

“Nanti, bukan laki-laki yang memilih-milih putri kita. Tapi Gita dan Babita yang memilih-milih sendiri para lelaki itu.”

Ibaratnya, Poghat ingin menepis anggapan sang istri yang mengkhawatirkan : ada nggak sih lelaki yang mau beristri pegulat? Jangan-jangan nanti Gita dan Babita selalu tersingkir dari pilihan. Poghat menegaskan : putri-putri mereka akan tumbuh menjadi orang berkualitas sehingga banyak lelaki akan melamar dan putri merekalah yang akan menyeleksinya!

Kisah Poghat Singh ini juga saya masukkan dalam buku saya 15 Rahasia Melejitkan Bakat Anak ya.

5. Searching

Saya udah pernah posting ini secara khusus di FB dan blog saya. Jadi gak akan mengulas lagi. Cuma ingin menekankan bahwa film ini bagus banget buat para ayah yang gaptek ketika berhadapan dengan putrinya yang tetiba menghilang, dan si ayah mencoba mencari keberadaan putrinya lewat teman-teman dunia mayanya di facebook dan tumblr.

6. Gifted

Kalau punya anak Gifted, perlu tonton film yang satu ini.

Dibintangi oleh si Kapten Amerika, Chris Evans. Kakak perempuannya meninggal bunuh diri, meninggalkan seorang anak perempuan bernama Mary Adler. Saat Mary berusia 7 tahun dan sangat cerdas matematika serta mampu menyelesaikan soal-soal sulit setingkat mahasiswa, sang nenek berambisi menjadikannya anak yang bersinar dengan kecerdasannya yang luarbiasa.

Frank, merasa bahwa keinginan itu terlalu berlebihan.

Perjuangan Frank untuk ‘memanusiakan’ Mary Adler si jenius yang masih anak-anak ini bisa menjadi contoh bagaimana kita seharusnya memperlakukan anak sangat pintar tanpa mengabaikan sisi humanis mereka.

#filmparenting #parenting #orangtua #goodmovie

Belajar dari Attack on Titan (2) : Apa Penyebab Kreativitas Hajime Isayama?

Hajime Isayama atau Isayama-sensei mungkin belum termasuk most prolific manga artists sepanjang sejarah manga sejak Astro Boy karya Osamu Tezuka diluncurkan. Tetapi, para penggemarnya di seantero dunia sampai bertanya-tanya ,”Apakah mungkin ada lagi manga series se-epic ini di kemudian hari? Apakah ada anime yang ditunggu-tunggu kehadirannya, sampai para fans berlomba membuat berbagai macam prediksi di akun-akun mereka terkait bagaimana akhir hidup Eren Jeager si tokoh utama?”

Seperti biasa, kalau saya kagum pada seseorang, jadi pingin cari tahu seperti apa sih latar belakangnya? Orangtuanya? Sekolahnya? Kepribadiannya dll? Sama seperti ketika ngefans berat pada Khabib Nurmagomedov yang mengantarkan pada pemahaman bahwa dengan tangan dingin sang ayah, Abdulmanap Nurmagomedov, sosok Khabib bisa muncul.

Berikut adalah beberapa fakta terkait bagaimana kreativitas & imajinasi Isayama-sensei muncul.

  1. Ayahnya melarang ia menjadi mangaka.
  2. Mengalami bullying
  3. Inferior-complex
  4. Desanya mirip Wall of Maria
  5. Kesukaan pada Jurrasic Park
  6. Tetaplah jadi anak-anak!

Poin 1. Well, ternyata ayah Isayama melarang anaknya jadi komikus. Hahaha. Di dunia di mana anima manga menjadi salah satu pemasukan besar bagi negara Jepang, masih ada lho orangtua yang melarang anaknya jadi komikus. Apalagi Indonesia! Tapi ternyata, larangan orangtua bisa jadi sebuah api dalam sekam yang akan meledakkan potensi anak suatu ketika. Jadi, apakah orangtua sebaiknya menyalurkan atau memendam bakat anaknya? Itu ada bahasannya tersendiri nanti.

Poin 2. Isayama mengalami bullying di waktu sekolah. Maka, tokoh antagonis musuh Eren Jeager digambarkan sebagai Titan dengan ukuran 2 m, 10 m, sampai 50 m. Ia mengatakan bahwa seseorang yang di-bully selalu menghadapi tekanan dari pihak  luar yang memiliki fisik besar atau memiliki pengaruh besar. Pengalaman masa kecil sangat berpengaruh pada kreativitas dan imajinasi seseorang.

Poin 3. Inferior complex. Introvert, tak mudah bergaul, asosial, buruk di akademis dan olahraga. Ya, apa yang bisa dibanggakan Isayama di masa sekolah? Cewek tak mendekat, temanpun jarang. Tapi, banyak orang dengan tipe kepribadian ini yang cocok jadi artis. Kesendirian mereka menciptakan satu ruang luas untuk berkreativitas dan berimajinasi. Ruang sunyi yang diramaikan oleh pikiran-pikiran dan gagasan sendiri tentang bagaimana membangun dunia baru – building new world. Banyak mangaka Jepang yang sukses membangun dunia baru dalam kisah-kisahnya. Hikikomori memang salah satu ancaman bagi Jepang. Paradoksnya, bila orang kreatif + introvert bisa menemukan jati dirinya dalam dunia ini, mereka justru bisa berkarya. Tentu, tak semua hikikomori baik, ya! Karena kalau bertahun-tahun mengurung diri juga tak sehat.

Poin 4. Desa kecil Isayama di Oita, dipagari oleh gunung-gunung. Ia sering berpikir, kapan ya bisa keluar dari kampung halaman?  Ia sering merasa terkekang di sana dan ingin sekali melihat dunia luar. Hayo, mirip pemikiran siapakah itu? Yup. Pemikiran Armin Alert dan Eren Jeager untuk keluar dari 3 lapis tembok : Wall of Sina, Wall of Rose, Wall of Maria. Ketika saya menuliskan kisah Hantu Kubah Hijau, setting itu banyak saya ambil dari kota Tegal, tempat asal suami saya. Novel Rose, setting Yogyakarta kota kecil saya. Bulan Nararya, setting Surabaya tempat tinggal saya.

Poin 5. Kenapa tokohnya Titan makan orang? Karena ia terinspirasi dari film Jurrasic Park, tentang bagaimana hewan besar memakan manusia. Banyak seniman terinspriasi dari film-film atau buku masa kecil. Steven Spielberg misalnya.

Poin 6. Tetaplah jadi anak-anak! Waaah, saya terpukau sekali sama quote ini sampai-sampai masuk ke novel online saya di kwikku.com Half of Lemon (https://www.kwikku.com/novel/read/half-of-lemon)

Ketika Isayama diwawancarai, kenapa bisa punya imajinasi begitu dengan cerita yang begitu menakjubkan berikut tokoh-tokoh yang membuat pembaca & penonton sampai termehek-mehek?

“Banyak temanku ketika kecil ingin jadi mangaka. Ketika mereka besar, mereka berhadapan dengan dunia realita. Benturan harapan dan realita membuat mereka harus memilih, seketika itu juga impian mereka pudar. Aku? Sepertinya aku tak pernah tumbuh dewasa dan tetap menjadi anak-anak.”

Kata-kata itu betul-betul inspiring, terutama saya yang seringkali merenung mengapa banyak lelaki/perempuan tidak dewasa ketika usianya sudah mataang. Saya jadi teringat film Big– debut Tom Hanks pertama kali. Film itu berkisah dan mengkritik, mengapa perusahaan mainan justru menyewa tenaga professional orang-orang dewasa yang tidak mengerti untuk apa sebuah mainan diciptakan? Permainan membosankan! Mahal, pula.

Ketika Tom Hanks kecil -dengan bantuan sebuah mesin impian- berubah menjadi dewasa, kelucuan muncul. Tom Hanks dewasa, dengan “children inside” di dalam dirinya, bisa membawa perusahaan mainan tersebut lebih dinamis. Dengan mainan-mainan edukatif yang menyenangkan, bukan hanya mainan mahal yang hanya bertujuan gengsi semata.

Ya.

Bagi sebagian profesi, tetap menjadi anak-anak adalah kunci.

Anak-anak adalah sumber kreativitas dan imajinasi tak terbatas. Mereka tidak takut dicela, tidak takut gagal, tidak takut berbeda. Orang dewasalah yang mengharuskan mereka mengambil patron tertentu.

Tetaplah menjadi anak-anak. Quote itu saya masukkan ke dalam Half of Lemon. Ada banyak anak muda yang resah dengan dirinya :  mengapa aku berbeda dengan yang lain? Mengapa aku masih suka nonton Upin Ipin, suka boneka, suka mainan robot, suka gambar-gambar? Mengapa aku tidak bisa menyukai apa yang disukai orang dewasa? Tidak ingin jadi ASN, tidak ingin masuk fakultas mainstream, tidak sesuai dengan keinginan orangtua?

Sesungguhnya, kedewasaan bukan ditetapkan oleh sekedar kesukaan. Tanggung jawab dan kemandirian, itu lebih menjadi karakter utama. Jadi, kalau ada anak kita yang menekuni dunia anak-anak : guru PAUD, buku cerita anak, komik, animasi, penulis dan dunia kreatif lain; kemungkinan dalam keseharian mereka masih tampak kekanakan dengan ide dan perilaku. Tapi bukan berarti mereka tidak menjadi dewasa dalam pengertian yang sesungguhnya!

Ada kemiripan antara saya dan Isayama-sensei. Mungkin juga kesamaan dengan para penulis dan pekerja kreatif lainnya. Kami, masih punya sisi anak-anak sampai sekarang 😊

Kategori
15 Rahasia Melejitkan Bakat Anak ACARA SINTA YUDISIA ANIME Jepang KOREA Manga mother's corner Oase Parenting PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Remaja. Teenager

Passion Anak-anak Kita

Zaman dahulu, impian anak-anak dibentuk orang tua.

Dokter, insinyur, guru, dosen, polisi, tentara, PNS dan sejenisnya.

Zaman sekarang, impian anak-anak dibentuk informasi.

Enterpreneur, gamers, youtuber, influencer, vlogger, seiyuu (voice actor), idol, komikus dan sejenisnya.

Orangtua selalu berharap yang terbaik bagi anak. Jangan sampai anak-anak hidup lebih menderita dari orangtua, jangan sampai impian mereka tidak tercapai. Kalau dulu kita jalan kaki ke sekolah, sebisa mungkin anak-anak sampai ke sekolah tidak terengah-engah dan siap menerima pelajaran.

Wajar ketika orangtua bertanya-tanya : apakah pilihan anak-anak bisa menjamin masa depan mereka? Anak yang suka menggambar, ingin sekali masuk DKV, bisakah mereka jadi komikus yang survive? Penulis di negeri ini masih jauh dari makmur, termasuk komikus.

Tempo hari saya ikut seminar anime & manga.

Acara itu menjawab pertanyaan saya : kenapa banyak mangaka di Jepang bertahan. Di Indonesia, rantai produksi meletakkan penulis paling bawah. Toko buku, distributor, penerbit, baru penulis. Royalti hanya berkisar 8%-10%. Di Jepang berbeda; penulis menduduki posisi teratas dalam rantai perbukuan. Pantas saja royaltinya antara 40%-60%. Pemerintah juga turut andil dalam rantai tersebut. Tengoklah Hajime Isayama, Yana Toboso, Masashi Kishimoto, Gosho Aoyama dll meraup untung sebagai mangaka atau komikus.

Andaikan minat di estetik plus literasi lalu menjadi komikus di Jepang atau Korea tentu tak masalah. Di Indonesia?

Kembali pada passion anak-anak kita.

Orangtua tentu cemas, “Kalau kamu jadi komikus, emang kamu bisa hidup? Kalau kamu pingin jadi seniman dan hidup dari melukis, kamu bisa membiayai anak-anakmu sekolah?”

Sebetulnya, anak bisa menjadi seseorang yang sesuai impiannya dan tetap sukses dalam hidupnya. Sukses di sini dalam pengertian bermanfaat bagi dirinya, oranglain dan secara finansial. Kunci dari hal tersebut adalah memahami “bakat dan minat” anak-anak. Dari situlah kita bergerak.

Ketika dewasa, aktivitas finansial manusia bisa berlandas 2 hal :

  1. Profesi
  2. Minat (kalau plus bakat bisa bagus banget)

Kadang, profesi sangat jauh dari potensi bakat minat. Di zaman sekarang, bisa jadi profesinya sesuai bakat minat.Katakanlah dia menjadi ASN/PNS sesuai harapan orangtua agar finansialnya stabil. Dengan penghasilan tersebut, ia bisa mengembangkan bakatnya sesuai keinginan. Ada seseorang bekerja sebagai ASN,  lalu menyisihkan uangnya untuk membangun bisnis kuliner, cita-citanya sejak kecil.

Minat, bila menggunakan salah satu jenis tes, dikategorikan ke dalam 12 bagian. Seringkali saat ngetes minat anak-anak SMP dan SMA, muncul 3 kategori paling diminati. Saya ambil contoh salah satu anak saya sendiri. 3 minatnya yang tertinggi : sains, medis, estetik.

Peneliti? Dokter? Seniman?

“Kamu mau masuk kedokteran, Mas?”

“Ah, nggak, Mi!” tolak anakku.

“Lho, ini hasil tesmu ke kedokteran.”

“Iya, tapi aku lebih senang ke alat-alatnya.”

Akhirnya ia masuk teknik biomedik. Ilmu yang menyerempet antara sains, medis dan dunia seni.

“Ummi tau kenapa tes darah mahal? Karena pemeliharaan alatnya. Cairan untuk membersihkan alatnya aja mahal banget, Mi,” begitu penjelasannya tiap kali cerita tentang alat-alat seputar dunia medis. Membuat darah buatan, membuat robot pengganti ekstrimitas tubuh yang rusak, membuat alat yang memproduksi vaksin nan rumit; adalah bahasan-bahasannya di rumah.

Salah satu cita-citanya membuat tangan robot bagi manusia yang cacat ekstrimitas bagian atas. Tangan yang bisa memiliki kepekaan untuk merasa. Selain itu, minatnya ke bidang seni terutama seni yang saling berkaitan dengan dua minat sebelumnya (sains dan medis). Ia menabung untuk membeli Gundam dan teliti sekali memasang bagian-bagian tubuhnya. Terlihat korelasinya, bukan? Anak saya yang lain juga memiliki minat di bidang estetik (seni) tapi lebih cenderung ke seni literasi dan seni visual.

Biasanya, anak-anak memiliki kemiripan minat antara level 1,2,3. Misal, estetik, literasi, musik. Ia akan cocok menekuni minat di sekitar itu. Sebagai penulis atau ahli bahasa atau penyair atau pencipta lagu.

Yang agak sulit bila minatnya seperti bertentangan satu sama lain. Misal outdoor, medis, social service. Ini anak cocoknya jadi traveller, dokter atau pekerja sosial? Tapi di lapangan banyak yang saya temui demikian. Jenis anak seperti ini kalau kelak menekuni dunia medis, ia gak terlalu suka di belakang meja. Kemungkinan jadi dokter dan suka terjun ke daerah bencana. Masalahnya, kalau kecenderungannya seperti saling bertolak belakang, ortu cenderung mengarahkan yang favorit ya? Sampai sekarang dunia sains dianggap masih sangat menjanjikan daripada dunia sosial! Bagaimana jika anak memiliki minat literasi, medis, sains? Apakah ia akan dibiarkan menjadi sastrawan? Seringkali akan dipaksa masuk jurusan favorit.

Itulah, banyak ortu yang resah curhat.

“Anak saya suka gambar. Besok sekolah di mana? Lapangan kerjanya apa?”

Bisa saya bayangkan kalau kelak anaknya jadi komikus dengan kehidupan serba sederhana dan masih harus menelusuri jalan sangat panjang. Hajime Isayama, si creator Attack on Titan aja pernah nyaris putus asa dan mau mundur dari dunia manga, lalu beralih jadi barista. Untunglah ia bertemu Kodansha!

Saya teringat ucapan seorang komikus muda. Sebut namanya XX. Saya sempat diskusi dengan dia tentang masa depan komikus Indonesia. Sebagai anak muda yang usianya jauuuh di bawah saya, nasehatnya membuat terpana.

“Mbak Sinta, percayalah. Rizki itu benar-benar Allah yang tentukan!”

Ia tekankan,  jangan paksakan anak-anak untuk hanya mengikuti hasrat orangtua karena sangat berat di lapangan. Konflik batin anak antara tak ingin durhaka dan ingin memilih dunia yang dicintanya akan membuat beban mental psikologis berkepanjangan.

Mas XX cerita, bahwa ia sedikit demi sedikit membangun karir komikusnya lewat lomba yang hadiahnya paling antara 50-100 ribu. Ikut pameran di mana-mana dengan biaya sendiri. Karyanya awalnya diremehkan, tidak dilirik orang. Saat ibu dan ayahnya mendukung, ia terus melaju dan sekarang menjadi salah satu komikus kebanggaan Indonesia. Istrinya menggeluti dunia yang sama dengannya dan saya seneeeng banget melihat pasangan mas XX dan mbak YY itu. Seniman sholih shalihah yang keren banget expert di bidangnya.

Ya, mungkin menjadi komikus tidak seberapa.

Saya datang ke pamerannya, melihat mereka mengelar lapak dan masih berjuang bersama banyak komikus lain.

Tapi saya melihat sebuah passion yang didasari oleh semangat membara.

Saya punya teman komikus, mas MM. Selain membuat perusahaan animasi, ia justru mampu menarik anak-anak yang “nakal” bahkan beberapa di antaranya sudah sangat jauh dari agama, lalu di tarik masuk lagi dalam lingkaran kebaikan. Keren kan?

Entah mengapa, sekarang cita-cita saya nambah lagi.

Saya ingin sekali membangun studio animasi sekelas Ghibli, Wit Studio, MAPPA, Pony Canyon dan sejenisnya. Studio ini nanti akan menampung anak-anak yang mahir di visual, seni, estetik, literasi, sekaligus punya sentuhan sains dan outdoor. Menggarap animasi dari kisah-ksiah sejarah Indonesia mulai perang Diponorgoro, Imam Bonjol, Sunpah Pemuda, Serangan Umum 1 Maret, dsb. Studio ini nanti yang akan menggarap kisah kepahlawanan Muhammad al Fatih, Shalahuddin al Ayyubi, Tariq bin Ziyad, dsb.

Saya bayangkan, bahwa persenjataan pasukan al Fatih jauh lebih dahsyat dari 3D Manuver Gear para anggota Recon Corp di bawah komando Erwin Smith dan Levi Ackerman dalam anime Shingeki no Kyojin. Saya bayangkan bahwa di animasi tersebut, bukan hanya teriakan “shinzou wo sasageyo” yang menyatukan semangat seluruh prajurit. Tetapi teriakan para panglima al Fatih yang membangunkan pasukan sholat malam, subuh berjamaah, hingga merapikan barisan.

Dan ada soundtrack anggun nan megah, jauh lebih mengesankan dari aransemen Linked Horizon. Lagu yang akan mengingatkan setiap audiens ketika sedang demotivasi megnhadapi dunia yang kejan untuk bangkit kembali. Sosok Erwin Smith, Levi Ackerman, Eren Jeager hanyalah sosok 2D khayalan. Tapi pangeran Afdal, putra sulung Shalahuddin al Ayyubi yang mendampingi ayahnya berperang; adalah sosok yang benar-benar ada.

Jauh ke depan, anak-anak kita yang memiliki passion luarbiasa ini, akan mewujudkan mimpi besar para orangtua seperti saya yang sudah mulai senior. Usia yang kata syaikh Muhammad  Ar Rasyid dikatakan sebagai : orang yang mulai dilelahkan dengan hamparan dunia fana.

Ayah bunda, dukung terus passion positif dan Ananda-ananda kita tercinta!

Kategori
ANIME BUKU & NOVEL Fiksi Sinta Yudisia Game Jepang KOREA Manga Novel Remaja. Teenager

Half of Lemon : sibling rivalry dan pertarungan Otaku-Hallyu

Lebih variatif budaya Jepang, kata si Otaku.

Lebih menghibur budaya Korea, kata KPopers.

Tapi inti perseteruan dua kakak adik ini bukan pada kesukaan mereka. Sejak awal, Lemon si Sulung selalu kalah start dari adiknya, Annona.  Adik yang selalu menang lomba, adik yang juara kelas, adik yang unggul olimpiade. Di bangku SD SMP, hal itu tak jadi soal. Beranjak remaja, Lemon tentu merasa penuh konflik dengan adik semata wayangnya.

Kesukaan Lemon pada menggambar, anime (khususnya Attack on Titan!) , manga dan jejepangan semakin menyulut pertengkaran di tengah keluarga. Apalagi, Lemon bukan gadis pintar-pintar amat,  gagal pula masuk DKV – fakultas impiannya sejak SMP. Fakultas tujuan Lemon mensyaratkan kecerdasan sains di level yang tak Lemon miliki.

 Lemon dan Annona sekarang sama-sama kuliah.

Ibu yang tak memahami keduanya lebih banyak membanggakan Annona. Apalagi Annona merupakan gambaran dambaan orangtua ; cantik, shalihah, berjilbab, pintar, berprestasi. Lemon adalah apapun yang serba kebalikan dari Annona.

Tidak cantik, tidak pintar, tidak pula anak orang kaya; membuat Lemon merasa tak mampu bersaing di bidang apapun. Self esteemnya semakin terpuruk ketika ia bertemu orang-orang yang luar biasa : Divia si cantik pengelola lembaga pendidikan, Jayawardhana si tampan yang mengelola berbagai bisnis start up, juga teman-teman yang selalu melaju dengan impiannya.

*****

Kenapa lagi-lagi menggarap novel remaja?

Begitu banyak fantasi dan imajinasi di benak yang ingin ditumpahkan.

Apalagi, interaksi saya dengan remaja lumayan intens. Mereka-mereka yang mengeluh tentang orangtua yang tidak mengerti kesukaan anak. Mereka yang takut masa depan seperti apa.  Mereka yang merasa tidak nyaman dengan kondisi serba konflik yang terjadi dalam diri, keluarga dan sekolah.

Kebetulan, kwikku menggelar kompetisi lomba novel.

Langsung lah, ide-ide itu tertuang menjadi berchapter-chapter halaman. Ternyata, ketika satu paket ide sudah tertuang, muncul lagi ide-ide lain dalam bentuk drama, romansa, thriller, horror.

Lho, kok horror sih?

Haha, tunggu dulu. Baca sampai chapter selesai ya karena ada beberapa value yang saya titipkan di situ.

Yang sudah terbit di kwikku ada 2 :

  1. Half of Lemon (drama – remaja) – https://www.kwikku.com/novel/read/half-of-lemon
  2. Mata Astral (thriller horror – remaja) https://www.kwikku.com/novel/read/mata-astral
  3. Istana Laut & Bambu (belum posting, naskahnya sudah ada. Cerita petualangan dengan tokoh anak-anak yang risetnya lumayan panjang dari Nat Geo dan ke hutan bakau)
  4. My 2D Prince (sedang digarap covernya. Cerita remaja)

Novel-novel di atas insyaallah diikut sertakan dalam dalam lomba novel Kwikku dan Falcon Publishing

Kategori
ANIME Hikmah Jepang KOREA Manga Musik My family Parenting PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Remaja. Teenager Topik Penting WRITING. SHARING.

Beda budaya Jepang dan Korea apa sih?

Ketika saya bolak balik ngisi acara tentang Korean Wave, beberapa remaja yang nyenggol, “Bun, sekali-sekali bahas Jepang, dong!”

Dua negara ini bertetangga, seperti Indonesia dan Malaysia. Dua negara ini pernah berseteru dan sekarang berkompetisi dengan keunggulan masing-masing. Bagi para orangtua, budaya Korea dan Jepang sekilas terlihat sama. Ada musiknya, ada dramanya, filmya, juga boyband girlband. Tapi bila ditelusuri lebih jauh, banyak sekali perbedaan yang mengacu pada keunikan masing-masing.

Karena bahasannya pasti panjang, saya coba persingkat aja ya.

  1. Musik

Musik Korea dan Jepang sangat berbeda walau ada yang sama.

Korea :

Kita mengenal KPop yang mendunia. Yang tenar tentu boyband dan girlband. Selain berbentuk grup, ada juga yang solo dan grup band. Boyband sebut saja BTS, Exo, Stray Kids, NCT, Seventeen dsb. Girlband Blackpink, Red Velvet, Twice, dll. Ciri khasnya mereka bisa menyanyi, menari dan ada visual yang menarik.

BTS, EXO

Penyanyi solo yang bagus dari Korea juga banyak : BoA, IU, Taeyon, Gaho, Shawn.

Grup band yang mulai dikenal adalah Lucy dll. Grup band ini lebih mengandalkan kemampuan main musik seperti gitar, bass, biola, dsb

Jepang :

Musik Jepang sangat beragam mulai yang berbentuk girlband – boyband, solo sampai yang grup band. Penyuka musik Jepang mungkin akan sulit berpindah ke musik Korea karena musik Jepang sangat unik : vocaloid, moe-moe, ballad, rock metal, pop, dsb. Rock nya sendiri ada yang  modelnya theatrical seperti Linked Horizon. Mengupas satu aja, misal, vocaloid bisa panjang banget. Orangtua yang belum kenal apa itu vocaloid, coba cari Hatsune Miku. Lagunya amat sangat dikenal, terutama anak-anak TK dengan senam Pinguin. Tahu kan?

Linked Horizon

Menariknya, musik Jepang sangat dikenal dunia bersamaan dengan anime. Penyanyi dan grup band yang mengisi soundtrack anime bukanlah artis sembarangan. Inuyasha, Bleach, Naruto, Sailormoon , Attack on Titan…adalah sedikit film yang bisa saya sebut di mana musik-musiknya menjadi karya seni yang luarbiasa.

Cobalah simak Jiyuu no Tsubasa, Guren no Yumiya dan Shinzou wo Sasageyo.

Sangat cocok didengar agar kita punya nasionalisme terhadap negeri kita tercinta, utamanya kalau kita sudah merasa negeri ini kayak distrik Shiganshina yang diserang Titan kwkwkwk.

2. Film

Korea :

Film-film Korea justru lebih menyentuh realita. Kalaupun ada yang fantasi kayak Along with The God, tidak terlalu absurd. Begitu bagusnya Korea buat film berdasar realita sampai-sampai banyak banget film bertema patriotism yang laris manis di pasaran. Coba, mana ada film tentang perang kemerdekaan yang bisa box office kayak punya Korea? Mau yang setting tradisional seperti The Admiral, War of the Arrow dll. Atau mau agak modern seperti Age of Shadow, The Spy Gone North, My Way, Tae Gu Ki, dll. Sudah nonton Parasite kan? Nah begitulah bagusnya Korea buat film berdasarkan dunia realita.

Tae Guk Ki, Parasite

Jepang :

Jepang suka buat film absurd walaupun film tentang realitas seperti Shoplifter menang Cannes 2013.

Horror Jepang alamaaak, ngeri. Ring, Juon, dsb. Jangan nonton kalau emang nggak kuat jantungnya. Film Jepang banyak yang aneh-aneh, baik bertema humor kayak Ninja Kids atau Gintama. Ataupun yang thriller macam Coldfish atau Noriko’s Dinner Table. Kalau mau lihat film Jepang, simak benar-benar reviewnya.

Film-film Jepang yang dikenal di Indonesia dan cukup aman disimak seperti Kenshin, 13 Assasin, The Grave of Fireflies.

3. Anime

Korea :

Animasi Korea belum dikenal luas seperti punya Jepang. Beberapa animasi Korea mulai dikenal dunia seperti Larva, Tower of God, God of High School, dsb. Walaupun sebagian pengerjaannya masih digarap Jepang.

Animasi Korea, mirip seperti film-filmya dan dramanya, sangat menyentuh dunia realita. Korea ketika menggarap produk seni berdasar kisah realitas sehari-hari patut diacungi jempol.

Larva, Tower of God

Jepang :

Bicara anime Jepang, tak bisa cukup satu dua halaman. Jepang menjadikan animasi sebagai salah satu produk unggulan negrinya dan pemasukan devisa yang besar. Pantas saja anime Jepang benar-benar digarap serius. Studio animasi Jepang tak terhitung banyaknya : Wit Studio, MAPPA, Pony Canyon, Ghibli, dll.

Anime Jepang digarap sangat apik dan seringkali merupakan adaptasi dari manga atau komiknya. Attack on Titan, Death Note, Bloody Monday, Fullmetal Alchemist dan masih banyak lagi. Seringkali terjadi produk seni parallel : manga – anime – movie/ live action – teater. Black Butler misalnya. Konsep teatrikalnya juga sangat mengesankan, sebagaimana manga – anime – movienya.

AOT arah jarum jam ( 1, 2, 3 )

Untuk anime, bisa dikatakan belum ada yang mengalahkan Jepang. Walau negara-negara lain seperti Korea dan China sudah mulai menembus pasar dunia dengan animasi dan komiknya.

4. Manga (Jepang) atau Manhwa  (Korea)

Korea :

Komik Korea baik yang versi cetak atau online (webtoon) tak diragukan lagi dikenal luas di kalangan masyarakat dunia. Yang laris manis di pasar, biasanya dibuatkan drama serial atau movienya. Cheese in the Trap, Lookism, Itaewon Class, Stranger from Hell adalah beberapa webtoon terkenal Korea yang sudah diadaptasi ke dalam bentuk film serial.

Penggambaran komik Korea dan Jepang terasa sekali penggambaran tokoh-tokohnya. Sama seperti film, drama dan sejenisnya; Korea Jepang seperti dunia realita vs dunia imajinasi. Produk visualnya pun begitu.

Jepang :

Komik Jepang sangat terkenal di negerinya. Umumnya, para mangaka  atau komikus, berjuang untuk menembus majalah komik seperti Shonen Jump Weekly. Di Indonesia, anak-anak sangat mengenal komik Jepang seperti Conan, Naruto, Black Butler, Attack on Titan, Death Note dst.

Black Butler, Death Note

Perlu diketahui orangtua, komik tidak selalu diperuntukkan bagi anak-anak. Banyak komik-komik Korea dan Jepang yang peruntukkannya bagi orang dewasa sehingga adegan cintanya pun boleh jadi tidak lazim ditemui di Indonesia.

Produk visual Jepang sangat detil bahkan untuk unsur ornament, renda, dsb. Lihatlah Black Butler, bagaimana Yana Toboso menggambar detil pakaian bangsawan Eropa padahal itu cuma komik lho…

Anima & manga Jepang juga sangat dikenal karena building a new world : dunia yang sama sekali belum pernah ada! Dunia Naruto, dunia Attack on Titan, adalah dunia baru yang membuat kita terinpirasi oleh sistem persenjataannya, sistem militer, politik, teknik berterung dll.

5. Idol dan artis

Korea :

Artis Korea terutama idolnya, justru dibuat sedekat mungkin dengan fans. Sampai-sampai ada istilah fanservice. Kita bisa tahu sedetil mungkin kehidupan anggota EXO atau Red Velvet. Kebiasaan di dorm, trainingnya, bapak ibunya siapa, makanan kesukaannya apa, sampai hari ini dia lagi ngapain. Hal sedetil-detilnya bisa diketahui lengkap dengan googling dan buka youtube.

Begitu dekatnya fans dengan idol, sampai-sampai fans seringkali turut campur terlalu dalam ke kehidupan si artis. Masih ingat Chen Exo yang dihujat habis-habisan gegara ia menikah, kan? Nah, kalau Korea , idol sudah menjadi milik masyarakat sehingga sampai kehidupan kamar dan masa lalunya jadi konsumsi publik.

Jepang :

Artis Jepang sangat menjaga privasi. Boro-boro tahu kehidupan pribadinya. Kadang, seumur-umur yang muncul adalah nama samaran. Bahkan, gak mudah mendapatkan info pribadi di internet. Saya pingin tahu siapa Yana Toboso, mangaka Black Butler aja, susah setengah mati. Googling gak dapat-dapat. Saya suka lagu-lagunya KOKIA, karena dia sering menyanyi dengan tema binatang : beruang, paus, singa, zebra dsb (sweet songs!) tapi gak begitu banyak yang didapat.

Artis Jepang sangat tertutup.

Maka ketika Haruma Miura, pemeran utama Attack on Titan meninggal, kita bertanya-tanya : kok bisa? Tak seorang pun tahu informasi kehidupannya. Beda dengan kematian Sully anggota f(x) yang mati bunuh diri, kita bisa tahu penyebabnya yang berasal dari komentar-komentar jahat.

Haruma Miura , Sully

Nah, itulah sekilas beda budaya Korea Jepang yang akan saya simak insyaallah Sabtu, 10 Oktober 2020 bersama Sinar Cendekia Boarding School, Telaga Sindur

Kategori
ANIME Jepang Manga Parenting WRITING. SHARING.

Attack on Titan : Belajar Rantai Komando & Makna Pahlawan (1)

Shinzou wo sasageyo!

Dedicate your heart!

Berjuang sepenuh hatimu!

Itu yang diserukan komandan Erwin Smith saat merekrut Recon Corp yang hanya tersisa beberapa orang. Ya, siapa juga yang mau bergabung dengan kesatuan yang tiap kali survey ke luar benteng, hanya beberapa gelintir pulang selamat.

Jujur, inilah serial anime yang usai menonton season 1-3 benar-benar menancap ke benak dan menunggu-nunggu final season 4.

Perkenalan dengan Attack on Titan atau dalam bahasa Jepangnya Shingeki no Kyojin sebetulnya nggak sengaja. Sebagai psikolog, awalnya yang membuat curiuos mind adalah kematian Haruma Miura, tokoh utama live action AOT. Banyak pemberitaan dan youtube tentang Haruma Miura kusimak. Menelusuri perjalanan hidupnya, sampailah pada film AOT yang menuai kritik pedas dari berbagai kalangan. Masalahnya live action AOT jauuuuh banget dari animenya.

Sampai sini tertarik? Belum.

Bahkan kucoba berkali-kali lihat trailer live action AOT, sama sekali gak ada keinginan buat nonton. Ketertarikan itu muncul setelah lihat video live perhelatan Shingeki no Kiseki. Salah satu opening AOT Shinzou wo Sasageyo benar-benar kolosal luarbiasa. Sampai kutelusuri berbagai reaction terhadap pentas ini. Lambang keberanian dan dedikasi prajurit : genggaman tangan kanan mengepal diletakkan di dada kiri, sembari berseru shinzou wo sasageyo!

Sebagus apa film anime Attack on Titan sampai-sampai OST nya dibuat dalam berbagai macam bahasa : Jepang, Inggris, Jerman?

3 tembok raksasa : Wall of Sina, Wall of  Maria, Wall of Rose

Akhirnya, mau tak mau karena penasaran banget aku coba nonton AOT season satu.

“Paling-paling ceritanya pahlawan yang terpinggir. Lalu mengalami penderitaan hebat, lalu bertekad bangkit,” begitu pikirku. “Atau ada adegan cinta antara para pahlawan. Atau antara pahlawan dan musuhnya , jadi muncul konflik batin,” begitu pikirku lagi.

Tapi ternyata lebih dari itu!

Benar-benar di luar ekspektasi.

Di situlah, kukatakan pada anak-anak, “Tahukah, Nak? Masih ada orang-orang seperti klan Eldia terkurung  dalam tembok. Memimpikan melihat luasnya dunia…Palestina.”

Inti dari cerita itu adalah 3 sekawan inti : Eren Jeager, Mikasa Ackerman, Armin Alert yang melihat kekejaman Titan pemakan manusia. Ibu Eren bahkan tewas di depan mata putranya ketika masih kecil. Penderitaan itu mengantarkan mereka ke pengungsian dan akhirnya keinginan bergabung sebagai pasukan.

Lika liku latihan, terjun pertama kali keluar tembok Wall of Sina untuk bertemu langsung dengan Titan , pulang dengan perjuangan, ejekan rakyat yang mengatakan mereka pasukan tak berguna hingga intrik politik benar-benar mencengangkan.

Tokoh-tokoh AOT memiliki perkembangan karakter yang benar-benar menawan.

Eren Jeager, tokoh utama cerita, dikisahkan emosional. Temperamental. Ingin maju sendirian. Di bawah asuhan Kapten Levi Ackerman dan Komandan Erwin Smith perlahan ia menjadi dewasa dan bijak.

Ada beberapa potongan kisah yang terus terngiang di telinga.

  1. Pertama kali Eren bergabung dengan kesatuan Levi dan harus keluar tembok. Ia berkelompok dikejar oleh Human Titan. Saat itu, dengan kekuatannya, Eren bisa mengalahkan musuh. Tapi ia ragu, apakah itu akan membuat teman-temannya mati? Levi berkata, “Aku tak akan pernah bisa membantumu memutuskan. Maju sendiri atau bergabung bersama kesatuan, tak ada jawaban pasti. Satu yang kusarankan : ambillah keputusan yang tak akan kau sesali.”

Sepanjang film memang kita akan belajar tentang konflik jiwa manusia. Bergabung dengan Recon Corp dan siap mati sewaktu-waktu di luar benteng, atau di Police Military yang berlimpah uang, atau berkedudukan terhormat sebagai pelindung raja?

Apakah kita lebih baik memutuskan sendiri dan maju seorang diri dengan kemampuan diri yang dahsyat, atau kita memutuskan bersama teman-teman di bawah kesatuan komando?

Sepanjang season 1-3, terjadi diskusi antara kami.

“Lihatlah, Nak. Begitulah dalam Islam. Dulu ketika terjadi perang Badar, Uhud, Khandaq;  sangat penting kesatuan komando.”

Film ini bagus sekali megnajarkan anak-anak tentang rantai komando.

Dalam kondisi terdesak sekalipun saat bertarung dengan titan, para petinggi Recon Corp selalu mengingatkan tentang rantai komando.

Ketika Erwim terluka, ia serahkan komando pada Levi. Ketika Levi harus maju perang, ia serahkan kelompok kecil pada Armin. Ketika kelompok Armin terdesak terjadi perdebatan bagus.

“Armin! Kita tunggu komandomu! Apakah maju atau mundur!” seru pasukan tersisa.

Armin, yang cerdas tapi tidak jago perang, ragu-ragu. Melihat contoh dari Erwin dan Levi, ia kemudian berkata, “Levi sudah menjadikanku pemimpin. Tapi aku tak bisa memutuskan. Maka aku meminta Jean saat ini menggantikanku di posisi perang. Jean, apa pendapatmu?”

Masyaallah.

Rantai komando dan ketaatan pada pemimpin, membuat kesatuan Recon Corp yang semula tampaknya bakal jadi santapan empuk titan-titan ganas termasuk Armored Titan dan Colossal Titan, berbalik menjadi pasukan kecil yang menakutkan.

2. Historia Reiss adalah gadis cantik paling malang sedunia yang bergabung di Recon Corps. Ia anak haram dari bangsawan Rod Reiss, ibunya sama sekali tak pernah mempedulikannya, dan ayahnya hanya memanfaatkan keberadaan dirinya untuk kepentingan pribadi. Ketika pada akhirnya jati dirinya terkuak dan ialah yang seharusnya menjadi Ratu Eldia, para sahabat menyuruhnya mundur.

“Kedudukanmu sebagai ratu lebih penting, Historia! Kamu harus selamat! Jangan maju berperang melawan Titan!”

Dengan gagah berani Historia berkata, “apakah menurutmu, rakyat akan taat pada seorang ratu hanya dengan mendengar namanya disebut?”

Ia membuktikan memiliki kemampuan menghancurkan Titan bersama teman-teman pasukannya di depan rakyatnya, sehingga rakyat memiliki kepercayaan penuh pada ratu dan Recon Corp.

3. Eren Jeager tidak pernah merasa istimewa. Berkali-kali ia gagal mengubah dirinya menjadi Human Titan. Ia putus asa karena seringkali kehadiran Eren membuat banyak temannya tewas. Di saat nyaris kehilangan harapan, ia teringat masa kecil dulu saat digendong ibunya melihat iring-iringan Recon Corps pulang. Seorang prajurit yang mengenal Carla (ibu Eren) menyapanya. Dan Carla berkata ,” anakku Eren adalah anak istimewa. Kehadiran dan kelahirannya saja, sudah menjadikannya istimewa.”

Itulah yang diteriakkan Eren pada teman-temannya ketika mereka dalam kondisi terdesak.

“Kalian lahir ke dunia! Kalian adalah orang-orang yang istimewa!!”

Teriakan Eren mampu membangkitkan semangat pasukan yang terpojok dan goyah.

NB : sekalipun film animasi, tidak cocok untuk anak kecil ya 😊

(Bersambung)

header :

https://www.moviemania.io/wallpaper/dt13p61b2-attack-on-titan

Kategori
Artikel/Opini Hikmah mother's corner My family Oase Parenting Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY RESENSI Topik Penting WRITING. SHARING.

Film Cuties (Mignonnes) : Seperti Itukah Keluarga (Muslim) Modern?

Tanyakan pada diri sendiri setelah menonton cuplikan trailer Cuties : seperti itukah gambaran keluarga muslim? Lebih luas lagi, apakah semua keluarga modern pun menyetujui apa yang Amy (tokoh utama, 11 tahun)  lakukan? Cuties tayang di Sundance Film Festival dan rencananya akan edar di Netflix mulai September tahun ini, ditulis dan disutradarai oleh Maimouna Deocoure. Debut Maimouna, langsung menuai kecaman dunia! Bahkan posternya saja langsung dihujat!

Cuties bercerita tentang seorang gadis kecil bernama Amy yang terlahir di tengah keluarga muslim Senegal, imigran di Perancis. Lahir di tengah keluarga muslim yang taat (well…orang akan mengatakan konservatif, orthodox, fundamentalis) membuat Amy tertekan. Amy dipaksa untuk berpakaian, bertingkah laku dengan cara orang muslim yang seharusnya. Padahal ternyata Amy ingin ikut kontes tari modern. Di sinilah konflik dan kritik pedas terhadap film produksi Netflix bermunculan .

Cuties diharapkan akan menjadi film coming of age yang mengesankan. Film coming of age adalah film-film yang menggambarkan masa peralihan dari anak-anak ke remaja yang sering digambarkan sebagai masa penuh konflik, namun juga masa sangat dinamis dan kreatif. Tak lepas pula petualangan-petualangan mendebarkan dalam proses pencarian jati diri. Banyak film coming of age yang laris di pasar : Little Women dan Flip berawal dari buku legendaris. Shazam yang bertema superhero, Princess’s Diary yang melambungkan nama Anna Hathaway dan Parents’s Trap yang melambungkan Lindsay Lohan. Alih-alih menjadi film manis yang mencuri perhatian pemirsa, Cuties justru melukai wajah keluarga muslim dan wajah orangtua keluarga modern pada umumnya.

  1. Gambaran keluarga muslim. Banyak keluarga muslim konservatif. Tapi banyak keluarga muslim yang moderat. Kenapa yang konservatif (plus si ibu memukul/menampar anak ketika anak membangkang bab pakaian) yang diangkat? Apalagi keluarga imigran, Senegal, black moslem , sangat kaku ; benar-benar stereotype keluarga muslim. Memang banyak keluarga yang masih konservatif dan memegang teguh prinsip, tapi untuk dipertentangkan dengan sudut pandang Amy kecil, rasanya kurang bijak. Apalagi penggambaran ibu menampar wajah Amy. Saya banyak mengenal keluarga muslim konservatif, tapi untuk memukul anak di wajah; rasanya digambarkan terlalu berlebihan. Alangkah lebih baik bila dimunculkan perdebatan-perdebantan sengi tantara ibu-anak khas keluarga pada umumnya.
  2. Pilihan tarian. Amy dan teman-teman perempuannya Angelica, Coumba,  Jess, Yasmine, membentuk grup The Cuties untuk kontes menari. Dunia musik dan menari memang dekat dengan anak muda, terutama anak-anak seperti Amy dkk yang beralih dari kanak ke remaja. Tapi tarian twerking? Dengan kostum mini sangat ketat – hotpants dan croptop? Baiklah, kita ingin menampilkan anak gadis di tengah keluarga muslim yang memberontak terhadap nilai yang belum dipahaminya sebagai jalan hidup. Sutradara bisa memilihkan tarian yang lebih “sopan” , dinamis, atraktif untuk anak-anak usia 11 tahun seperti Amy dkk.

Melihat Amy dan teman-teman gadis kecilnya melakukan tarian ala orang dewasa, rasanya risih sekali. Jika dalam kontes menari, Amy dkk ditampilkan mementaskan tarian yang lebih anak-anak dengan kostum yang lebih sesuai untuk usia mereka; maka film ini lebih layak untuk ditonton.

3. Benturan budaya. Islam dan modern dibenturkan sedemikian jeleknya. Tentu, banyak reviewers film yang membela dan sebaliknya, banyak youtubers yang menghujat Cuties. Adegan Amy harus mengenakan busana panjang untuk pesta pernikahan ayahnya yang akan menikah untuk kedua kali ; benar-benar tampak tak manusiawi! Seolah dunia menari twerking dengan kostum pendek itu jauh lebih manusiawi bagi kondisi psikologis Amy dibandingkan dia harus jadi pengiring pengantin untuk pernikahan ayahnya yang kedua! Tidak adakah setting lain yang bisa dipilih? Misal, ayah dan ibu Amy yang hidup sangat sederhana sebagai imigran Senegal di Perancis; sulit untuk membiayai les menari, mendaftar kontes dan menyewa kostum. Uang itu kalaupun ada lebih baik untuk tabungan kuliah Amy kelak.

4. Gambaran keluarga. Kenapa harus keluarga muslim yang menjadi deskripsi keluarga Amy? Tampilkan saja keluarga pada umumnya, tak peduli Jewish or Christian.  Kita akan melihat respon keluarga-keluarga di dunia. Apakah setiap keluarga modern akan mengizinkan anak seusia Amy, 11 tahun , menari dengan gerakan twerking di depan orang dewasa dengan kostum seperti itu? Sangat disayangkan bahwa penulis dan sutradaranya sendiri adalah Maimouna Deocoure yang seharusnya membawa pesan positif yang universal terkait kehidupan kaum muslimin.

5. Rating. Film Cuties kategori TV- MA (mature accompanied/ mature audiences). Berarti untuk orang dewasa, tapi pemainnya anak-anak 11 tahun dengan konstum dan tarian dewasa! Beberapa kritikus dengan pedas menyatakan bahwa film itu mengajak pada sebuah orientasi seksual yang menjadikan anak-anak sebagai pemuas nafsu.

Saya pikir, wajar bila dunia marah terhadap film ini. Sebetulnya, wajar saja banyak gadis kecil yang berpikir & bermimpi , “hei, seperti apa sih rasanya jadi perempuan dewasa?” Mereka membayangkan dalam gaun, kosmetik, sepatu ala orang dewasa. Tapi seorang sineas harus mampu memilah mana yang pikiran, perasaan, perilaku yang harus dimunculkan ke layar lebar. Film akan membawa banyak pengaruh bagi penontonnya.

Bahkan negeri-negara penganut liberalism sekulerisme sendiri merasa jengah terhadap film yang menampilkan gadis cilik dengan kostum ‘sangat terbuka’ dengan tarian yang lebih pantas diperagakan oleh dan untuk orang dewasa. Apalagi keluarga muslim, rasanya perlu ambil suara.

Kalau film ini ditujukan untuk anak-anak, aneh saja adegan dan dialog yang dimunculkan.

Kalau film ini ditujukan untuk dewasa, aneh saja dengan pemainnya yang masih anak-anak dan beradegan demikian.

Beberapa petisi sudah diunggah untuk meminta film ini turun dari layar Netflix. Anda berminat ikut?

https://www.change.org/p/parents-of-young-children-petition-to-remove-cuties-from-netflix/psf/promote_or_share

Kategori
Cinta & Love Hikmah mother's corner My family Oase Parenting WRITING. SHARING.

Bagaimana Mengelola Emosi Negatif ?

Ada aja yang buat orangtua naik pitam saat pandemic dan anak2 belajar di rumah :

  • Yang lagi belajar daring, trus ada anak-anak tetanggan manggil : “Main yuuuuk!” lalu si anak serta merta melempar tugas daringnya dan lari ke luar.
  • Ada anak yang kayaknya pegang gadget, belajar daring….eeeeh, ternyata nyambi-nyambi. Nyambi stalking idol, nyambi gaming, nyambi lihat postingan IG. Alhasil , tugas daring gak selesai-selesai. Guru pusing, ortu apalagi.

Emosi manusia ada yang positif dan negatif. Gak semua emosi negatif itu buruk, justru kadang merupakan alarm, ada yang gak beres dengan diri kita dan lingkungan kita. Wajar orangtua marah ketika lihat anak-anaknya gak beres dengan urusan kemandirian, tanggung jawab dan pelajaran daring. Tapi, bagaimana dengan hadits Rasulullah yang terkenal ?

لاَ تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّةُ

“Janganlah engkau marah, maka bagimu surga.”

Bukankah itu berarti orangtua gak boleh marah?

Kalau kita lihat hadits tersebut bila dikaitkan dengan hadits2 yang lain bagaimana cara Rasulullah Saw mengajarkan mengelola marah dengan cara : diam (stay calm) , berganti posisi (relaksasi) , mengambil air wudhu (aktivitas distraksi)  maka Rasulullah Saw tidak hanya melarang marah dan membuat orang hanya memendam perasaannya saja. Tapi justru beliau mengajarkan cara mengelola dan menyalurkannya agar marah itu terkendali, dan kalau pun keluar dalam skala yang proporsional.

Dan kalau marah suatu saat meledak (namanya manusia, kadang ada kondisi yang tidak tertahan dan tidak dapat dikontrol) Rasulullah Saw pun menganjurkan untuk banyak istighfar dalam segala kondisi. Disamping hadits-hadits lain tentang bagaimana mengikuti perbuatan yang buruk dengan kebaikan-kebaikan yang banyak.

Ada kisah menarik seorang ibu yang selalu marah, naik pitam setiap kali pulang kerja. Salah satu yang biasa dilakukan untuk melampiaskan marah adalah dengan mengumpat kasar kepada anak-anaknya. Pada akhirnya, alhamdulillah, dia berhasil mengatasi kondisi tersebut. Bagaimana caranya?

  1. Mencermati kapan marah – biasanya jam 5 sore, menjelang pulang kerja
  2. Kenapa marah – campur aduk pikiran antara tugas kantor yang belum selesai dan pekerjaan rumah yang menghadang
  3. Bagaimana marah – mengumpat kata-kata kasar walau  tidak main tangan
  4. Keinginan berubah – sangat ingin berubah tapi bingung gimana caranya

Biasanya, setelah seseorang dapat mendeskripsikan masalahnya dengan detil, dia mulai bisa melihat bagaimana cara mengatasinya. Ibu tsb gimana?

  1. Jam 4 sore mulai membereskan pekerjaan. Memberikan motivasi diri bahwa pekerjaan yang belum selesai disimpan saja utk besok. Jam 16.30 mulai emgnhadirkan wajah anak-anak, foto-foto mereka, dan kelucuan. Aura rumah mulai terasa jam 16.30
  2. Kenapa marah – mulai tereduksi ketika menjelang pulang kantor tidak lagi memikrikan pekerjaan kantor. Bayangan rumah pun diganti . bukan lagi anak yang belum mandi, gak mau mau sendiri, rumah berantakan. Berganti kelucuan, spontanitas anak-anak, riuh rendahnya mereka
  3. Mulai memilih kata-kata marah yang lebih positif (ibu tsb termasuk yg temperamental jadi harus berubah bertahap). Misal, tidak lagi bilang “kalian susah banget diatur! Jam segini belum mandi!” tapi diganti dengan à “Iiih, siapa yang jam segini masih bau kecut? Coba udah mandi, pasti tambah ganteng!”

Buat para Ibu yang jadi Guru, semangaaattt!

Yang penting, sebagai orangtua kita harus terusss sama-sama belajar. Yang murid belajar daring efektif, yang guru belajar daring efektif, yang orangtua belajar segala hal agar semua berjalan efektif 😊

Diselenggarakan oleh KOPI (Komunitas Orangtua Pintar Indonesia ) yang diselenggarakan oleh ibu-ibu di Surabaya

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Belajar Bahasa Korea KOREA Oase POLYGLOT

Belajar Bahasa Korea dari cuplikan lagu BTS

Orang bilang jangan belajar bahasa dari lagu. Sebab bahasa lagu nggak sama dengan bahasa baku, termasuk percakapan sehari-hari.

Tapi bagiku, apapun harus jadi sumber pembelajaran. Bungkus mie dengan tulisan Arirang, poster film, percakapan di film, termasuk potongan lagu.

Kalau dengar iklan atau lagu diputar, telingaku biasanya mengamati kata-kata yang biasanya tertangkap mudah. Salah satu lagu BTS yang potongan lagunya tertangkap mudah bahkan oleh telinga awam sepertiku adalah lagu Spring Day.

Kata yang terngiang adalah “bogoshipda”

Apa artinya ya?

Gimana tulisannya?

Iseng-iseng belajar hangeul, dapatlah ini 보고십다 = bogoshipda.

Arti sebenarnya adalah ingin bertemu denganmu. Tapi arti luwesnya, miss you.

Ketika memasukkan ke google translate beberapa kata-kata Korea, tiba-tiba dapatlah satu pemahaman bahwa kata kerja (verb) Korea, menurutku lebih mudah dipahami dengan pendekatan bahasa Inggris.

To see = 보다 (boda)

To write = 쓰다 (sseuda)

To eat = 먹다 (meogda)

Seperti bahasa Inggris yang ada konsep sekarang (+ing) sehingga jadi seeing, writing, eating; konsep akan datang (+going to / will/want) sehingga jadi I want to see, I want to write, I want to eat…begitulah bahasa Korea. Di akhir kata kerja, 다 (da) dihilangkan dan digantikan kata imbuhan untuk menunjuk waktu.

보고십다 = bogoshipda artinya ingin melihat

Berasal dari akar kata 보다 (boda – to see)

Sedang melihat : 보고있습니다/ 보고있서요/보고있서 (bo-goisseumnida/bo-goisseoyo/bo-goisseo)

Ingin melihat : 보고십습니다/보고십어요/보고십어 (bo-gosipseumnida/bo-gisipeoyo/bo-gosipeo)

Gimana 보고십어요 ( bo-gosipeoyo) jadi 보고십다 (bo-gosipda)?

Nah, itu juga aku nggak tahu. Hanya mengira-ngira saja. Tapi setidaknya begitulah caraku belajar sedikit-sedikit bahasa Korea.

———————–

Kelas Bahasa Korea bersama kak Feby. Ia lulusan SNU (Seoul National University). Pasti tau kan, apa itu SNU? Sering dikutip di film-film tenar seperti the Violent Prosecutor. Hanya ada di bulan Agustus ini, tiap pekan (9-16-23-30 Agustus)

Waktu : 09.00-11.30

Link : zoom, akan diberitahukan kemudian

Daftar di : bit.ly/YukDaftarKBK

CP :

Kak Nis : 0857-8594-9511/ Kak Salwa : 0813-3486-9542

Biaya?

Murah banget! 10K/pertemuan.

Diutamakan adik-adik SMU Surabaya. Tapi kalau dari luar dan selain SMU boleh kok!

Supported by :

Ruang Pelita

Kategori
BERITA Catatan Jumat Da'wah Islam Dunia Islam Hikmah Mancanegara Oase Renungan Hidup dan Kematian Topik Penting Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Kenya, Namibia, Somalia etc : Afrika & pendidikan ala Wakanda

Selama ini, pandangan mata teralihkan dari Afrika.

Covid 19, locus, kekeringan, kelaparan; membuat Afrika seolah ujung mati dari dunia.

Beberapa waktu lalu, ketika diminta mengisi acara di sebuah institusi tentang menjadi educator atau pendidik di era pandemic ini; saya menelusuri berbagai sumber baik tertulis maupun yang berbentuk video bagaimana menjadi pendidik baik guru atau dosen di era penuh tantangan ini.

Kita akan berpikir bahwa solusi ada di negara-negara maju seperti Eropa , Amerika atau benua Asia. Afrika, yang di hari-hari biasa saja menghadapi situasi kekeringan dan rawan pangan serta konflik berkepanjangan; apakah mungkin mampu bertahan di era “unprecedented times” ?

Jepang, Korea, Jerman, Perancis, Malaysia tentu tak diragukan lagi.

Tapi bagaimana dengan Afrika?

Hatiku tergelitik untuk mengetahui dan benar-benar ternganga, bahwa kita mungkin menganggap sebelah mata pada benua yang disebutkan National Geographic sebagai negeri para Firaun Hitam – para penguasa dunia yang kuat dan kayaraya pernah berasal dari wilayah ini.

Yang unik adalah, kita yang selama ini dimanjakan oleh modernisasi dan fasilitas teknologi lalu tergagap-gagap ketika era lockdown melanda : Afrika tampaknya justru terbiasa menghadapi bencana. Ya, tentu saja mereka kekurangan fasilitas kesehatan dan sarana prasarana lainnya. Namun beberapa negara ternyata tanggap cepat terhadap kebutuhan di dunia pendidikan.  Menelusuri laporan Unesco dan Unicef, ini beberapa di antara terobosan Afrika :

Paul dan Ndapewa adala guru-guru yang mencari terobosan di era Covid sumber Unesco : Learning Never Stops

  1. Orangtua kesulitan memindahkan pola pembelajaran. Stres, ketegangan, kebosanan, akhirnya menimbulkan kerawanan di rumah. Natgeo menyampaikan bahwa alih-alih membuat rumah menjadi homeschooling tanpa persiapan, orangtua lebih baik mengajarkan lifeskill pada anaknya. Kenya, lebih dahulu menerapkannya. Para guru yang terbatas sarana prasarananya, mengajarkan lifeskill bahasa daerah kepada anak didiknya – Swahili. Selain menumbuhkan ikatan pada budaya leluhur, beberapa keahlian pun ikut meningkat. Mengapa kita tidak ajarkan kembali bahasa Jawa secara intensif, huruf hanacaraka; atau bahasa daerah wilayah masing-masing kepada anak-anak kita?
  2. Ndapuwa, seorang guru di Namibia. Menceritakan bahwa ia seharusnya berkoordinasi dengan orangtua lewat grup whatsapp. Tapi, apa mungkin? Hanya ada 2 orangtua yang punya gadget. Ndapuwa kemudian berkata, bahwa ia punya target baru sekarang, selain hanya berkonsentrasi pada anak-anak : mengajarkan orangtua membaca dan matematika. Mengapa kita sebagai orangtua, tidak membuat kelompok-kelompok belajar? Materi belajar anak-anak, bisa kita adopsi.
  3. Sebagian Somalia dilanda konflik. Sebagian warga Somalia menjadi pengungsi ke Kenya. Sebagai negara yang bertetangga dekat, Kenya tidak mengabaikan kebutuhan para pengungsi. Mereka mempersiapkan guru-guru relawan pengajar bahasa Inggris, lewat radio-radio untuk pengungsi Somalia. Mengapa kita tidak terjun menjadi guru bagi para pengungsi di Indonesia seperti Rohingnya atau orang-orang yang terkatung-katung sebagai imigran gelap?

Teringat Wakanda, negeri imajinatif dalam film Black Panther.

Kemajuan bangsanya, kecanggihan teknologinya, keberanian rakyatnya.

Afrika, dulu pernah merajai dunia. Banyak nilai-nilai keluhuran yang dapat diambil dari negeri para Firaun Hitam.

Sejak era colonial dan perang dunia, Afrika menjadi tujuan aneksasi dan kolonialisme. Kekayaan mereka dirampas, terutama hasil tambang. Kemiskinan dan kelaparan menjadi pemandangan yang lazim di benua Afrika. Setiap kali mendengar kata Afrika, pikiran kita akan terhubung dengan virus Ebola, peperangan suku dan padang-padang kering.

Habis ngisi acara tersebut, pikiran saya terus tertuju ke Afrika.

Apalagi, salah satu tokoh yang saya kagumi, pasangan ayah anak Nurmagomedov punya proyek membuat sumur-sumur air di Nigeria. Ayah Khabib , Abdulmanap Nurmagomedov baru saja wafat karena Covid 19.

Berhari-hari mencari-cari, kalau ingin qurban ke daerah Afrika, ke mana ya?

Cari-cari, manakah lembaga yang menyalurkan hewan qurban ke daerah bencana kemanusiaan? Udah beberapa waktu ini menelusuri dan dapatlah LMI – Lembaga Manajemen Infaq di Jawa Timur yang salah satu target penyaluran kurban ke benua Afrika, antara lain Kenya dan Somalia. Selain program ke Palestina dan Myanmar juga ada.

Hayuk!

Wakanda memang imajinatif, tapi negeri Afrika adalah mutiara hitam bagi peradaban dunia. Sudah lama pikiran dan hati saya  tertuju ke sana. Semoga, rangkaian titik-titik peristiwa ini semakin mendekatkan kita satu sama lain sebagai bangsa yang mulia.

Kategori
15 Rahasia Melejitkan Bakat Anak BUKU & NOVEL Buku Sinta Yudisia Karyaku Nonfiksi Sinta Yudisia PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Remaja. Teenager

Mengapa Menulis 15 Rahasia Melejitkan Bakat Anak?

Sebuah kasus :

Seorang anak yang memiliki orangtua hebat, baik ayah ibunya. Kedua ayah ibunya berkedudukan tinggi di bidang kesehatan, sehingga memiliki gambaran anak-anaknya memiliki bakat minat yang sama. Ternyata setelah di tes minat, anaknya memiliki kecenderungan besar ke sosial. Padahal anaknya sangat cerdas. Orangtuanya menyangka, bahwa kecerdasan itu akan sia-sia kalau berkiprah di dunia sosial.

Benarkah?

Apakah seorang penyanyi dan artis, tidak boleh pintar?

Apakah seorang motivator, poltiikus, pengacara, MC tidak boleh pintar?

Apakah seorang pelukis, penari, pemusik tidak boleh pintar?

Apakah seorang penerjemah bahasa, penulis buku, editor, tidak boleh pintar?

Apakah pekerja sosial yang berkerja di panti atau lembaga nirlaba, tidak boleh pintar?

Selama ini kita hanya beranggapan, mereka yang berkiprah di dunia sains sajalah yang boleh memiliki IQ di atas rata-rata. Padahal tidak demikian. Seseorang yang berkiprah di dunia yang sesuai dengan mina tbakatnya, akan  all out di sana.

Saat jatuh, ia akan bangun lagi ia karena menyukai bidang yang digeluti.

Anak yang suka membuat gambar, komik, melukis; akan senang dengan dunia visual.

Anak yang suka sains akan senang biologi, kimia, fisika.

Mengamati perseteruan orangtua VS anak, maka saya ingin sekali membuat sebuah buku yang semoga menjadi panduan bagi banyak orangtua :

  1. Bila antara orangtua dan anak terdapat perbedaan pendapat tentang jurusan, minat, bakat, kesukaan dan akhirnya; pilihan sekolah
  2. Semoga orangtua memahami pola kepribadian anak agar tak salah dalam meentapkan harapan kepada Ananda
  3. Ananda bisa didorong untuk merain prestasi setinggi-tingginya di bidang tertentu, bila sudah ditemukan bakat minatnya.

Dari pengamatan saya  baik ketika menghadapi klien, membaca buku atau menelaah kasus; saya merumuskan ada 15 cara mengetahui dan memupuk bakat seseorang. Ini juga bisa digunakan untuk mencari bakat diri sendiri, bila belum ketemu 😊

Saya bedah sedikit.

  1. Motivasi
  2. Guru atau otodidak?

Motivasi

Anak-anak, walau sudah ketemu bakat minatnya, tetap saja butuh motivasi. Meski mereka senang menggeluti dunianya, kadang naik turun semangatnya. Apalagi bila bakat dan minatnya tak sejalan.

Orangtua harus selalu memompa motivasi anak-anak dengan segala cara :

  • Membacakan cerita
  • Mengulang kisah masa lalu orangtua yang penuh perjuangan
  • Membahas tokoh terkenal yang berhasil
  • Menggali impian dan harapan anak-anak
  • Mengingatkan anak-anak akan target hidup mereka

Dsb

Guru atau Otodidak?

Ada orangtua yang bisa menjadi guru yang baik bagi anaknya. Khabib Nurmagomedov misalnya, petarung UFC yang hingga saat ini belum terkalahkan, dilatih langsung oleh ayahnya, Abdulmanap Nurmagomedov.

Ada orangtua yang tidak mampu menjadi guru yang baik, maka ia mencari orang yang tepat untuk anaknya. Ibu Helen Keller tahu kalau anaknya punya potensi sekalipun tulis, buta, bisu. Tapi sang ibu tak mampu mengajarinya maka ia mencari guru hingga dapatlah Anna Sullivan.

Antonio Paganini tahu kualitas anaknya, Niccolo Paganini yang sejak kecil sudah memperlihatkan kepiawaian  bermain biola. Sebagia pedagang miskin, Antonio tak lelak emncari guru yang sesuai untuk anaknya. Selama di Genoa, Antonio mencari guru lokal seperti Giovanni Servetto dan Giacomo Costa.

Ketika Niccolo semakin butuh guru, Antonio menjual semua barangnya dan berlayar ke Parma, mencari guru demi anaknya. Perjalanannya mengantarkan Niccolo pada Alessandro Rolla. Lalu belajar pada guru Rolla, Fernando Paer.  Lalu meningkat lagi belajar dari guru Paer : Gasparo Ghirreti.

Luarbiasa bukan, perjuangan sang Ayah?

Tapi guru dan murid tak selalu cocok.

Einstein sering cekcok dengan gurunya, termasuk ketika kuliah di Politeknik Zurich. Einstein akhirnya lebih banyak belajar mandiri dan dibantu teman-temannya.

Tidak selamanya murid bisa menemukan guru yang cocok. Ketika guru tak cocok dengan murid, saatnya orangtua mengambil alih. Atau saatnya anak mencoba metodenya sendiri.

Demikianlah sedikit pengantar dari buku  15 Rahasia Melejitkan Bakat Anak

Semoga bermanfaat!

Semoga para orangtua juga tetap semangat belajar untuk menemukan bakat minatnya sendiri, dan bakat minat seluruh anggota keluarganya.

Alhamdulillah, buku 15 Rahasia Melejitkan Bakat Anak ini termasuk buku yang laris dan diminati pembaca, khususnya orangtua.

Bagi yang ingin membeli buku ini, bisa mengontak 0878-5521-6487 😊

Kategori
Artikel/Opini Cerita Lucu Hikmah Jepang mother's corner My family PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY RESENSI Sirius Seoul WRITING. SHARING.

Orang Tua Tumbuh Lebih Baik : Anime Mirai no Mirai

Ngakak. Ketawa seru. Tapi juga ada haru.
Satu lagi film anime yang mencuri hatiku. Sudah lama pingin nonton film ini tapi gak sempat-sempat, barulah sekitar sepekan lalu sempat nonton dan baru sekarang sempat pula buat reviewnya.

👶👧👩‍🦳👨‍🦳

Film ini buat anak-anak atau orangtua, sih?
Jawabku : segala umur.
Kenapa?
Bisa ditonton anak TK karena animasinya imajinatif dan ala-ala anak-anak banget. Adegan Kun bertemu si “pangeran” , Mirai dari masa depan dan naik kereta menuju Pulau Penyendiri; ini tema yang imajinatif banget karena cuma anak-anak yang punya imajinasi tak terbendung macam itu.
Bisa ditonton orangtua, sebab diskusi yang terbangun antara suami istri benar-benar menarik. Bagaimana sepasang suami istri , orangtua Kun, belajar menjadi ayah dan ibu dari 2 orang anak. Belajar bagaimana berkomunikasi sebagai suami istri.

🎥📹Review singkatnya :
Kun, seorang bocah 2-3 tahun sangat suka mengkoleksi kereta-keretaan. Di suatu hari yang indah, ia dan neneknya sedang beberes mainan. Nenek berkata bahwa hari itu mereka akan punya tamu/ teman baru. Kun sangat menanti-nantinya.
Papa mama pergi sekitar seminggu.
Dan pulang dengan membawa hadiah baru : seorang bayi cantik, imut , berpipi ranum.
Kun senang banget dengan kehadiran si imut.
“Kamu mau kasih nama siapa?” tanya si papa.
“Nozomi,” kata Kun, mengingatkanku pada salah satu tokoh penting dalam novel Polaris Fukuoka & Sirius Seoul hahahah.
“Nama lain?”
“Tsubame,” Kun menyebutkan nama kereta.

😤🤣😡😂

Di sinilah.
Adegan-adegan lucu yang buat perut ngakak. Kita sebagai pemirsa dibawa kelucuan, kegemparan, kehebohan dan ledakan-ledakan perasaan Kun terhadap Mirai. Di sisi lain kita mengerti perasaan yang dialami si papa, terutama si mama (gue banget!) ketika mendapati Kun berulah terhadap Mirai.
“Kuuuun! Bisa nggak kamu bersikap baik sama adikmuuu???!” teriak mama kesal, jengkel setengah mati karena Mirai menangis meraung-raung.
“Dekinaaaai!” teriak Kun. “Nggak bisaaaa!”
“Bisa nggak kamu baik sama adik kamu???”
“De-ki-naiiiii!!!” teriak Kun sambal menangis dan meraung.
Tapi kita tahu, Kun bukan anak nakal.
Mama yang nggak ngerti jalan pikiran Kun!
Kun suka kereta api. Ia mengkoleksi bermacam jenis kereta api.
Karena sayang dan ingin menghibur Mirai baby imut (yang baru berusia beberapa hari), Kun bercerita tentang kereta api-kereta apinya. Mama sedang beraktivitas membereskan rumah. Hhhh, tahu sendiri kan, gimana kalau lagi punya baby? Saat baby tidur, seorang ibu harus marathon : masak, nyuci, jemur, nyeterika. Kadang belum selesai masak, si baby udah nangis. Bahkan seringkali buat sesuap makanan, ibu harus curi-curi waktu.
Lha ini. Mirai lagi bobo cantik.
Kun mendekati Mirai, menyayanginya, berada di sampingnya dan bercerita tentang kereta. Begitu ekspresifnya si Kun, dia mengelilingi Mirai yang tidur di box dengan…semua mainan keretanya! Alhasil Mirai kesempitan dan terganggu dengan tumpukan kereta yang ada di sekeliling tubuhnya yang mungil.
Nangislah Mirai.
Dan adegan itu,

😤😡😠

“Bisa nggak kamu baik sama adikmuuu???”
Kita akan ngerti kenapa Kun bilang, “nggak bisaaaaa! Dekinaaaai!!”
Mama menyangka Kun nakal.
Kun ingin bilang sebetulnya : “aku nggak bisa baik kepada Mirai seperti yang Mama harapkan karena Mirai itu lucu, nggemasin bangettt!”
Tapi mana bisa anak 2-3 tahun bilang itu? Ia belum bisa berkomunikasi menggunakan bahasa lengkap seperti orang dewasa.
Dan , kita akan diajak pada sebuah dunia lain.
Dunia lewat kacamata Kun : bahwa seorang kakak yang dipaksa dewasa, besar dan harus mengerti semua ; bisa menjadi sangat kesepian dan marah karena orang-orang tidak ada yang mengerti dirinya. Kakek, nenek, papa, mama, teman-teman papa mama; semua memuji Mirai. Kun pun sayang sekali dengan Mirai, tapi tiap kali ia ingin menyayangi Mirai, hasilnya adalah teriakan Mama.
“Bisa nggak kamu baik sama adik kamuuu???!”

😂🤣

Huhuhu.
Aku ikut sedih dengan gelombang perasaan Kun.
Rasa cintanya diabaikan. Rasa cemburunya diabaikan. Kehadirannya diabaikan. Keinginannya untuk bertanggung jawab diabaikan. Akhirnya, ia jadi marah dan benci pada Mirai. Kun nggak suka Mirai .
Inikan yang namanya “sibling rivalry”?
Kakak adik memiliki perseteruan hebat, kecemburuan dahsyat satu sama lain lantaran orangtuanya yang nggak bisa mendamaikan dan justru memperuncing masalah! Tapi film ini mengajarkan anak-anak (khususnya anak pertama) untuk mencintai adik-adik mereka. Sekaligus mengajari orangtua gimana cara menjadi orangtua yang lebih bijak ketika satu demi satu anak lahir dari rahim si ibu.

▶️Si mama harus kembali bekerja di bulan Maret. Papa kebetulan seorang arsitek yang bekerja di rumah, jadi papa bisa menjaga Kun dan Mirai.
Mama mengeluh kepada nenek ,”aku ingin tetap bekerja. Tapi aku ingin bisa mengasuh anak-anakku dengan baik, menjadi ibu yang baik bagi mereka. Apakah mungkin?”
Diskusi antara mama dan nenek benar-benar mencerahkan.
Hal lucu lainnya, saat si papa mencoba mengurusi Kun dan Mirai, ketika mama sudah kembali bekerja.
Hahahaha. Konyol bangetttt. Dan emang bapak-bapak seperti itu!
Hiks, adegan penutupnya membuatnya terharu. Ketika pada akhirnya Kun kecil dan Mirai baby yang mulai merangkak, akhirnya bisa bersahabat. Keluarga itu akan berangkat piknik. Luarbiasa heboh saat packaging. Dan adegan papa mama yang bercakap-cakap saat packaging itu sangat menyentuh. Kurang lebih demikian percakapan mereka.

👱‍♂️👱‍♀️“Kamu dulu pencemas, suka khawatir, penakut!” kata si papa.
“Kamu juga gak bisa ngurusin rumah. Tapi kalau di hadapan emak-emak suka tampil seolah kamu papa yang hebat,” kata mama.
“Apa aku sudah lebih baik sekarang?” tanya papa.
“Apa aku sudah jadi ibu yang lebih baik?” tanya mama.
“Ya lumayan,” kata papa.
Mereka tertawa.
“Ternyata,” kata mama, “kita sekarang jadi orang yang lebih baik karena anak-anak kita.”
Aku terharu.
Betul-betul terharu dengan kalimat si mama.
Sampai kupeluk anak sulungku yang saat itu menemaniku nonton. Dialah yang ngejar-ngejar aku buat nonton film ini: ayo, Mi! Kapan, Mi! Ummi harus nonton! Film ini keren banget , Mi!

💓Dan aku meresapi betul kata-kata di mama di akhir cerita.
Kita menjadi lebih baik saat ini karena hadirnya anak-anak kita.
Terimakasih Kun-chan. Terimakasih pada para anak pertama atau anak sulung yang seringkali ekspresi cinta dan tanggung jawabnya disalah artikan oleh orangtua.
Terimakasih Mirai-chan. Terimakasih kepada para adik-adik yang berusaha untuk menjembatani konflik yang terjadi antara anak sulung dengan orangtua.

✍️✍️Mirai no Mirai adalah film yang recommended banget. Banget. Bangeeed.
Cocok buat yang lagi cemas karena film ini bikin ketawa, ngakak, heboh , mengocok perut. Tapi tetap menyentuh dengan adegan-adegan romansa keluarga yang akan membuat kita lebih menghargai perjuangan anak-anak dan pasangan.
Maaf kalau spoiler yaaa.
Tapi gak rugi nonton ini.
Aku malah mau nonton lagi nih!

🌿🌱💞🐣

#filmanak #filmkeluarga #filmlucu #reviewfilm #filmbagus #anime #filmjepang #review #film #goodmovie #lucu #funnymovie

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Karyaku Kepenulisan Menerbitkan buku Perjalanan Menulis TEKNIK MENULIS WRITING. SHARING.

Workshop Menulis Singkat untuk Bunda

Assalamu’alaykumwrwb.

Apa kabar, Bunda-bunda Cantik semua? Semoga sehat walafiat ya.

Era pandemic yang menyebabkan kita #dirumahsaja, seharusnya menjadikan diri lebih produktif. Jadi, jangan biarkan kesempatan lebih banyak di rumah untuk terbuang begitu saja. Tingkatkan skill, bangun network dan carilah kebahagiaan dengan kegiatan baru.

Ruang Pelita akan menyelenggarakan Workshop Menulis Singkat Tahap-1

♥Hari : Sabtu

♥Tanggal : 11 Juli 2020

♥Link : Zoom

♥Waktu : 08.30 – 11.30 WIB

Alokasi waktu :

  • 45’ materi
  • 15’ menit latihan
  • 45’ menit diskusi
  • 15’ menit untuk pembukaan, penutupan, perkenalan

♥Pemateri : Sinta Yudisia (Penulis 60 buku , Psikolog, DP FLP)

♥Biaya : 50K (50% insyaallah untuk warga terdampak Covid 19. Dipersilakan untuk melebihkan donasi bila berkenan).

Transfer ke :

►Mandiri 142-00-1673-5556 atau

►BSM 7070968597

a.n Sinta Yudisia Wisudanti

beri kode unik 19 di belakangnya (50.019, 100.019, 500.019)

Diksusi nanti akan lebih dalam, sebab peserta diminta sudah mengirimkan karya di grup whatsapp maksimal H-2 agar dapat dikritisi Bunda Sinta Yudisia

Selamat bergabung!

Pandemic, Produktif!

—————————————

Silakan isi bit.ly/bundamenulis

CP 0878-5521-6487/  0878-5153-2589                        

Diselenggarakan oleh Ruang Pelita, Surabaya

♥♥♥