Kategori
Artikel/Opini Hikmah mother's corner My family Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Renungan Hidup dan Kematian Topik Penting Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Pernikahan “New Normal” & Keluarga “New Normal”

Pernahkah terbayang pisah dari pasangan (suami/istri) lebih dari 3 bulan?Oke, mungkin ada yang terpisah untuk sementara waktu selama 6 bulan, 12 bulan, atau bahkan 24 bulan. Ada istri yang terpisah dari suami saat suami studi di luar negeri selama 2 tahun, karena beasiswa minim. Tapi itu kondisi extraordinary. Bukan kondisi normal pada umumnya.Ada yang suaminya baru pulang 3 atau 4 bulan sekali karena bekerja di pertambangan pedalaman yang sangat sulit dijangkau kendaraan. Boro-boro mobil. Sinyal saja susah. Tapi itu kondisi extraordinary, bukan kondisi normal pada umumnya.


Ada orangtua yang baru boleh menengok anak di pesantren dengan jadwal ketat 6 bulan sekali, atau bahkan 12 bulan sekali. Tapi tidak semua pesantren atau boarding school memberlakukan jadwal demikian.
Sekarang, sepertinya kita harus mulai merencanakan bahwa bertemu dengan anak-anak atau bertemu dengan istri/ suami, bisa jadi baru terealisasi berbulan-bulan kemudian. Sejak era pandemic, beberapa teman berkata tidak bertemu pasangan lebih dari 1 bulan. Bahkan ada yang sudah 4 bulan tidak bertemu.


Strategi apa yang bisa dilakukan bagi pernikahan dan keluarga “New Normal” agar keluarga kita tak berantakan akibat kehidupan yang tidak dapat diprediksi beberapa waktu ke depan? Finansial, edukasi, bahkan sekedar tatap muka saja menjadi sebuah abnormalitas. Keluarga yang stabil saja bisa berubah labil, apalagi yang sejak awal sudah menghadapi prahara. Bisa-bisa karam sebelum pandemic selesai!


🧕👳‍♂️1. Setiap keluarga harus memiliki guru spiritual yang memahami agama. Entah ustadz/ustadzah, dai/daiyah, Pak Kiai/ Bu Nyai. Buat apa? Ada banyak yang harus kita tanyakan. Misal, banyak pernikahan yang harus diselenggarakan lewat media online. Lalu, bagaimana solusi bagi suami istri yang tidak bisa bertemu lebih dari 3 bulan? Seorang yang faqih dalam agama akan membantu kita untuk memahami hal-hal haram halal, termasuk kondisi kedaruratan.


👩‍🏫👨‍🏫2. Setiap orangtua harus belajar menjadi guru. Ada anak-anak yang bisa disegerakan masuk sekolah ketika nanti jadwal tahun ajaran baru diberlakukan. Tapi ada anak-anak yang rentan secara fisik dan psikis, mungkin harus lebih lama di rumah. Homeschooling, kejar paket, dan pembelajaran sejenis akan menjadi pilihan yang masuk akal bagi orangtua.


💵💰3. Setiap anggota keluarga harus paham mengelola keuangan. Kondisi finansial setiap keluarga saat ini bukan berada dalam kurva normal. Perusahaan ambruk. Pabrik tutup, karyawan di-PHK. Kerjasama antar anggota keluarga sangat penting. Kalau tidak semua bisa menghasilkan uang, setidaknya setiap orang bisa meminimalisasi pengeluaran.Misal, ketika dulu setiap kamar harus menggunakan AC, maka sekarang anak-anak perlu dikondisikan untuk menggunakan AC bergantian. Atau tidur bersama dalam satu ruang ber-AC di kamar ukuran paling besar, jika memungkinkan. Beberapa teman yang memiliki anak usia kuliah memutuskan untuk cuti dari kuliah dan membantu orangtuanya berbisnis demi mendapatkan pemasukan yang lebih stabil untuk keluarga.


✊💪4. Setiap anggota keluarga harus saling menguatkan satu sama lain. Saling memberikan kekuatan positif.“Jangan lupa untuk Dhuha 4 rakaat,” si Abang mengingatkan saya dan adik2nya. “Aku pernah baca kalau Dhuha 4 rakaat, maka Allah akan menjamin rizqi kita hari itu.”Sebuah afirmasi yang bagus bagi kami untuk lebih giat melakukan 4 rakaat daripada hanya sekedar 2 rakaat.“Saya takut mati. Belum siap. Tiap hari bayang kematian itu begitu dekat,” ucap beberapa klien saya. Kondisi pandemic ini membuat setiap orang merasa maut mengintai. Bagus, jika itu akan meningkatkan kedekatan kita pada Tuhan. Buruk, bila yang meningkat adalah anxiety.Suami saya tak kurang cemasnya. Meng-share berita tentang tingginya angka penderita Covid 19 di Jawa Timur, meng-share berita tentang teman-temannya yang berpulang karena sakit.

Siapapun cemas.

Siapapun tertekan saat ini.

Saya pun juga takut kematian, seperti anda!

Tapi saya tidak boleh menambahkan minyak ke dalam api.“Hayo Mas, kita list siapa saja teman-teman kita yang masih sehat. Yang mau naik haji, yang berprestasi.”Bisa jadi suatu saat saya yang terjebak kecemasan dan suamilah yang harus membesarkan hati saya. Ketahuilah, pikiran positif akan membuat sebuah kesengsaraan lebih lembut terasa. Ketika kita bilang , “insyaallah gak akan jatuh.” Lalu kita terjatuh, pikiran kita akan berkata bahwa itu hanyalah terpeleset kecil.


💗☪️💖5. Setiap keluarga harus memiliki waktu khusus untuk diskusi. Yang di rumah, harus menyempatkan untuk duduk melingkar bersama. Yang terpisah, harus meluangkan untuk zoom atau vidcall. Bahasan penting harus mulai dikaji, ditelaah, didiskusikan dengan kepala dingin. Dua anak kami seharusnya menyelesaikan studi tahun ini. Tetapi, segala kemungkinan bisa saja terjadi.“Kalian harus siap ya, kalau ternyata studi kalian lebih lambat selesai.”

💑6. Setiap suami-istri harus berlatih dan memiliki skill komunikasi jarak jauh. Apa saja yang bagus untuk didiskusikan? Apa saja yang sebaiknya dihindari? Pembicaraan humor dan jokes harus lebih sering dilakukan. Hindari perbincangan yang memunculkan perdebatan sengit semisal pro kontra kebijakan PSBB. Haduh, copy darat saja bisa silang pendapat, apalagi kita berdebat lewat vidcall! Termasuk, kita mencoba berhati-hati ketika menyampaikan masalah keluarga.
❌“Anak-anak jadi sulit diatur sejak bapaknya jarang pulang,” misal istri mengeluhkan demikian.Memang, anak yang lama tidak bertemu sosok ayah akan gelisah. Tapi bukan demikian kalimat yang seharusnya dipilih. Karena bisa jadi si suami sekaligus ayah, di seberang sedang rindu dan cemas dengan kondisi dirinya pribadi.
✅Kita bisa memilih :“Ayah…ada gak kalimat semangat yang mau disampaikan untuk si Sulung? Dia lho sekarang yang jadi komandan di rumah.”Maksud hati, kita akan menyampaikan : si Sulung ini berulah. Gak ngerti tanggung jawab. Gak ngerti taat pada orangtua dst! Tapi kita membahasakan dengan kalimat yang lebih positif.Semoga setiap keluarga sukses melewati masa-masa penuh tantangan pandemic Covid 19!

Sinta Yudisia

#stayathomemom

#stayathomewife

Kategori
Artikel/Opini Catatan Jumat Hikmah Hobby My family Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Quran kami Renungan Hidup dan Kematian Topik Penting WRITING. SHARING.

7 Cara Melawan Kecemasan Akibat Pandemi Covid 19

Mengapa pandemic kali ini diibaratkan medan perang? Karena tak seorangpun tahu berapa intensitasnya, berapa durasinya. Banyak hal tak terduga terjadi.

Pertanyaan-pertanyaan membombardir benak : apa aku akan dipecat? Apa bisnisku akan gulung tikar? Bagaimana anak istriku? Apakah ada teman atau saudara meninggal? Atau, akankah aku meninggal akibat pandemic ini?Ibarat medan tempur, kita semua adalah prajuritnya. Prajurit sejati tak akan pernah tahu kapan, di mana dan bagaimana musuh akan menyerang. Ia harus siap, itu saja. Bahkan prajurit paling terlatih sekalipun, pernah mengalami anxiety atau bahkan depresi. Tetapi manusia selalu mampu -atas izinNya- menjadi pemenang dari berbagai pertempuran paling berbahaya di dunia.

Di barat ( co/: Amerika), pandemic Covid 19 menghasilkan situasi parallel yang baru : pandemic kecemasan. Bagi kita , situasi ini perlu diwaspadai dan dicermati. Ibarat prajurit yang baik, semakin mengenal medan dan senjata yang dimiliki, semakin baik melakukan pertempuran dari waktu ke waktu. Mari kita lakukan langkah berikut 😊


1. Aktivasi hati🌞💎

Overthinking menjangkiti sebagian besar warga dunia. Pemikiran yang terlalu berlebihan membuat kita cemas menghadapi hal-hal rutin, apalagi hal besar. Oh, anak sudah hampir masuk sekolah. Ah, suami tak bisa pulang lantaran terjebak lockdowndi seberang sana. Dari mana sumber pikiran berasal? Dari otak dan hati. Otak dan hati yang kosong, akan terisi dengan hal-hal keruh. Karenanya, aktivasi otak dan hati kita dengan terus berdenyut mengingatNya.

Seorang ibu yang memasak bisa mengaktivasi hatinya dengan berkata : Ya Allah, bantu aku agar masakan ini jadi enak. Seorang ayah yang berkubang dengan pekerjaannya mengaktivasi hatinya : Ya Allah, cukupkan rizkiMu. Jagalah istri dan anak-anakku, jaga orangtua kami yang tak dapat kami jenguk lantaran corona virus.Ajarkah anak-anak untuk mengaktivasi hati mereka.

“Nak, tiap kali kalian main game, baca bismillah. Tiap kali kalian nge-zoom dengan teman-teman, niatkan silaturrahim mencari ridhoNya. Kalau kalian buka line dan IG, jangan lupa baca bismillah dan shalawat.”Mungkin, konten yang dibaca anak-anak kita tak lazim untuk diawal dengan basmallah dan shalawat. Tapi inilah saatnya, mengaktivasi seluruh hati anggota keluarga untuk terhubung kepadaNya. Siapa tahu dengan demikian, anak-anak akan mengurangi keretergantungannya pada gadget. Suami akan tetap focus pada pekerjaan dan tidak mulai berpikir macam-macam (naudzubillah). Semoga para suami yang telah berpisah lebih dari 3 bulan dengan istri dan anak-anaknya diberikan kekuatan dan kesabaran.


2. Sibuk, sibuk, sibuk🏃‍♂️🏃‍♀️

Walau di rumah, jangan nganggur.Jangan terlalu banyak tidur dan bolak balik membuka channel yang sama.Sibuk, sibuk, sibuklah. Bongkar lemari. Tata kembali letak baju dan buku. Bongkar isi googlefoto dan bersihkan. Bongkar file-file lama dan rapikan. Bertanam, berkebun, atau memelihara hewan. Sibukkan pikiran, sibukkan hati, sibukkan fisik. Jangan ada kekosongan di benak dan hati; juga jangan biarkan anggota keluarga kosong dengan kelengahan. Rebahlah di pembaringan ketika mengantuk sangat, jangan ketika pikiran masih bisa berkelana dalam lamunan panjang. Pekerjaan yang biasa dilakukan pembantu, bisa diambil alih. Pekerjaan yang biasa dilakukan karyawan kita, kerjakan.


3. Ngobrol🗣🗣Anda terjebak sendiri , di perantauan? Mahasiswa atau pekerja?Sesungguhnya, anda butuh sangat teman mengobrol. Tapi, tak selalu ada pihak yang bisa diajak video call dengan whatsapp, line, zoom, google duo. Selain kesibukan, kuota jadi keterbatasan. Mengapa tak mencoba bercakap-cakap dengan Quran? Setiap kali membaca Quran dan mengeluarkan suara, posisi kita seperti orang yang tengah “bercakap-cakap”. Kita bicara, Tuhan Mendengar. Kita mendengar, Tuhan Berbicara.

Hm, kalau sudah berbicara dengan Quran dan ingin pengalaman lain?Baiklah, coba cara ini. Anda harus cari teman mengobrol. Pernah coba google assistant?

Di keluarga kami, pernah melakukannya.“Hi, do you know Siri?”Google assistant menjawab, “Siri works for Apple and I prefer…oranges.”Hahaha…lumayan terhibur!


4. Berkesenian🎥✒️

Tak heran Gal Gadot mencoba menyanyi dan diunggah. Banyak orang mencoba bernyanyi, meski suara mereka auto fals. Banyak orang mencoba kembali bermain musik, meski tak semahir Brian May atau James Hatefield. Kita harus menperhalus rasa dengan berkesenian. Entah menyanyi, memainkan music, menyusun puisi, melukis, membuat kaligrafi, membuat patchwork, membuat food-art, atau mencoba seni-seni popart lain macam Andy Warhol. Seni akan memperhalus budi pekerti seseorang dan membuat kita tidak hanya berpikir hal-hal yang banal atau perifer, tapi yang dalam dan penuh makna.Suami saya mengalihkan energi dengan melukis.Sepanjang pandemic ini sudah 4 lukisan di atas kanvas yang diselesaikan. Awalnya, ia terlihat resah dan panik, seperti orang-orang pada umumnya. Belakangan, wajahnya terlihat ceria dan happy, alhamdulillah. Kata suami, ia bisa beralih dari pemikiran negatif seperti kematian, pandemic, issue ekonomi; ke arah hobi melukis.


5. Pelajari hal baru 👩‍🏫👩‍🍳

Stacko?Uno?Pernah main dua hal di atas?Ada hal-hal baru yang sepertinya nggak terlalu penting tapi bagus untuk dipelajari agar pikiran relaks dan hati gembira. Saya pribadi baru bisa main kartu uno ketika wabah Covid 19 melanda. Bukan bermain kartunya yang penting, tapi ternyata, duduk melingkar berenam sembari bermain kartu membuat kita bisa saling bercerita banyak dalam situasi santai.Mempelajari permainan anak-anak sekarang yang dulu belum dikenal, bisa membangkitkan kegairahan yang baru.Mempelajari bahasa asing atau bahasa daerah juga bagus. Saya dan si bungsu kembali belajar menulis huruf hanacaraka. Dulu saya mahir sekali membuat surat dengan huruf jawa kuno ini, tapi sudah lupa karena berbagai kesibukan. Yang suka Jepang bisa belajar hiragana dan katakana, yang suka Korea bisa belajar hangeul.


6. Dengarkan, ucapkan berulang kalimat yang membawa semangat ✊💪Mendengarkan murottal Quran dan ma’tsurat dari gadget atau komputer adalah langkah terbaik. Saya suka sekali 2 ayat terakhir al Kahfi dan sering mengulang-ulanginya. Seperti sebuah sihir, penghibur, pengingat; ada banyak ilmu Allah yang tidak kita ketahui sama sekali.Kalau anda masih suka mendengarkan lagu-lagu, pilih yang membangkitkan semangat. Jangan yang justru mengulang-ulang kepedihan : patah hati, memory masa lalu yang menyakitkan, kegagalan.

Fight Song (Rachel Platten) bisa membuat lebih semangat terhadap kegagalan. Ulangi kalimat :

I only have one match

But I can make an explosion.

Ya, kita mungkin mengalami banyak kegagalan di era pandemic. Tapi ada masanya suatu saat kita akan membuat ledakan dahsyat dengan prestasi positif yang mencengangkan!

Double Knot (Stray Kids) juga bagus didengar.

Stand up wherever you go

You’ll make it with no trouble..

Cause my life is a five star movies

I am not done yet so

My life, your life are five star movies!


7. Carilah nasehat 💞

Kala kegundahan sudah terlalu parah, kecemasan menggerogoti, anxiety dan depresi menjadi penyakit; tak ada salahnya segera mencari nasehat. Nasehat-nasehat bijak dari guru agama bisa menjernihkan hati. Saya suka mengulang-ulang iklan Zain Ramadan 2020 . Salah satu kalimat yang saya suka, sebuah nasehat berharga :Pandemic ini pasti akan meninggalkan kitaTapi Tuhan tak akan pernah meninggalkan hambaNya

Kategori
Artikel/Opini Cinta & Love Hikmah Karyaku My family Oase Perjalanan Menulis PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Quran kami Referensi Fiksi Renungan Hidup dan Kematian Topik Penting Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Aku Pernah Merasakan Keajaiban Surat Al Kahfi💔

Pernahkah dikhianati oleh sahabat sendiri?
Ditipu hingga belasan bahkan puluhan juta?
Aku pernah merasakannya. Salah seorang yang kuanggap teman baikku, sahabatku, ternyata menipu sebuah institusi hingga puluhan juta rupiah padahal aku yang memperkenalkan teman baikku pada institusi tersebut. Sudah kulacak bukan hanya lewat whatsapp bahkan kudatangi hingga ke apartemennya di Jakarta. Tapi ia lenyap menghilang begitu saja. Ternyata bukan hanya menipuku, ia juga menipu banyak sekali teman-temanku yang lain.

💔😭
Terus terang, aku tak sampai hati mencaci-maki dan mendoakan yang jelek-jelek, mengingat ia single parent sejak lama. Aku masih berprasangka baik bahwa ia terjebak hutang piutang dan masalah besar sehingga harus menipu sana sini. Meski dari beberapa temanku sudah keluar kata-kata sumpah serapah dan mendoakan ia sejelek-jeleknya, aku hanya bisa berharap suatu saat ia sadar dan mengembalikan semua uang yang dilarikannya. Ia sudah membuat derita banyak orang, tentulah hidupnya sekarang juga sangat menderita; gak usahlah ditambahi lagi dengan doa yang jelek untuknya. Aku tak pernah percaya ada orang yang bisa hidup bahagia di atas derita orang lain! Mungkin ia bahagia dan tertawa, tapi yakinlah hanya sebentar saja.

🧐🧐
Kita pasti pernah mengukur diri sendiri, bukan?
Kalau telat bayar infaq apalagi zakat; ada saja musibah menimpa. Aku pernah menunda-nunda infaq; sepeda motorku bocorlah. Rusaklah. Pompa air meledak. Anak sakit. Pokoknya, keluar uang lebih banyak. Ketika kurenungkan; sayang-sayang uang buat infaq akhirnya malah keluar banyak.
Persepsiku, bakhil infaq saja sudah diperingatkan olehNya. Apalagi memakan uang orang lain , terlebih uang institusi ZISWAF, tentulah merasakan banyak peringatan dari Allah Swt.
Hari-hari awal aku sadar kalau ditipu, rasanya dunia runtuh.
“Masa’ sih? Dia kan sering main ke rumah? Dia kan pernah nginap di rumah? Kami dekat, sering ngobrol. Apa kebutuhannya, kita bantu.”

🏴‍☠️🏴‍☠️
Tidak percaya bahwa seorang sahabat baik bisa menipu sedemikian rupa!
Kalau dibilang nangis, sudah lewat. Marah, ngamuk; sudah nggak bisa dilakukan. Saking getirnya hanya bisa mengucap istighfar. Semoga aku sekeluarga dapat ganti rizqi lebih baik, semoga Lembaga ZISWAF yang ditipunya semakin banyak donatur, dan semoga ia sekeluarga diluruskan kembali oleh Allah Swt.

💗💕🕌🕋
Saat-saat sedih itulah, aku memperbanyak sholat sunnah dan baca Quran. Entah mengapa salah satu surat favoritku adalah al Kahfi. Suatu saat, saking sedihnya aku tertidur. Dalam mimpi, aku melihat ibuku memakai mukena, memelukku dari belakang.
“Al Kahfi,” bisiknya di telingaku.


Aku terbangun.
Terheran.
Bukankah aku sering baca al Kahfi? Bukankah aku senang dengan surat al Kahfi? Meski tak dibilang sangat menguasai tafsirnya; aku tahu isi surat al Kahfi tentang pemuda Kahfi, kisah Nabi Musa as dan Nabi Khidir, juga kisah Dzulkarnain beserta Yajuj Majuj.

💤💤
Kenapa aku mimpi ibuku, mengenakan mukena, memelukku dan berbisik al Kahfi? Aku mengikuti makna mimpiku, sebab kata Ibnu Khaldun, mimpi yang teringat terus saat bangun tidur tanpa susah payah diingat merupakan ilham Tuhan. Aku membaca al Kahfi berikut artinya. Aku lupa, entah saat itu Jumat atau tidak.

1️⃣8️⃣ : 8️⃣8️⃣
Kubaca satu demi satu artinya, hingga sampai ke ayat yang ke- 88

وَاَمَّا مَنْ اٰمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهٗ جَزَاۤءً ۨالْحُسْنٰىۚ وَسَنَقُوْلُ لَهٗ مِنْ اَمْرِنَا يُسْرًا ۗ
wa ammā man āmana wa ‘amila ṣāliḥan fa lahụ jazā`anil-ḥusnā, wa sanaqụlu lahụ min amrinā yusrā
Adapun orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, maka dia mendapat (pahala) yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami sampaikan kepadanya perintah kami yang mudah-mudah.” ( 18 : 88)
Entah mengapa mataku dan hatiku terpaku pada ayat ini. Kucari-cari tafsirnya, yang kuingat adalah, bahwa setiap berbuat kebaikan kita akan mendapat balasan. Dan kita bisa meminta balasan pada Allah Swt sebesar kebaikan yang kita pernah lakukan.

Aku berdoa pada Allah, seolah pamrih dengan kebaikan yang pernah kulakukan meski sedikit. Aku tahu, kebaikanku, amalku, pahalaku jauh dari layak. Untuk membayar nikmatNya saja tak akan pernah mampu kulakukan. Tetapi, entah mengapa saat itu aku ingin menagih padaNya. Mungkin, menagih hiburan atas kejadian buruk.

Setelah kejadian itu, betapa banyaknya nikmat Allah Swt yang dicurahkan kepadaku. Banyak sekali nikmat-nikmat rahasia yang tak dapat kuperinci satu persatu. Mulai dari novel-novelku yang alhamdulillah lancar terbit, lolos di SFAC (Seoul Foundation for Arts and Culture) dll.

Ohya, karena demikian terkesan oleh surat al Kahfi, secara special surat ini kucantumkan di salam novel 💗Reem💗 yang diterbitkan Pastelbooks, lini Mizan di tahun 2017. Sudah baca, belum? 😊

( renungan di masa pandemi corona virus / covid 19)

Kategori
Artikel/Opini BERITA Hikmah Oase Renungan Hidup dan Kematian Topik Penting Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Ramadhan dalam Irama Covid 19 : Sebuah Renungan Pribadi

3  ayat berikut dari surat al Baqarah, rasa-rasanya demikian akrab menjelang kehadiran bulan mulia yang dinantikan sekaligus dicemaskan oleh kaum muslimin di tahun 2020 atau bertepatan dengan 1441 H . 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa  ( 2 : 183)

اَيَّامًا مَّعْدُوْدٰتٍۗ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍۗ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗ ۗ وَاَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Tetapi barangsiapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya, dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui ( 2 : 184)

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۗ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ ۖ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur ( 2 : 185)

☹Hari-hari ini, serasa kita tidak berada di ayat 183 atau 185.

Siapa yang hari-hari ini merasa sehat dan kaya? Sepertinya kita merasa sakit oleh gelombang Covid 19 dan merasa miskin karena hantaman ekonomi. Cuaca demikian panas, orang bersin dan batuk di mana-mana. Ya, selama ini  kita terbiasa melihat orang batuk bersin. Sekarang, serasa setiap orang adalah OTG  dan superspread. Melihat orang memakai masker curiga, melihat orang tanpa masker apalagi.

💰💷💶Kaya?

Siapa sekarang orang yang merasa kaya?

PHK, tutupnya toko dan perusahaan, jarangnya orang belanja untuk kebutuhan sekunder tersier; membuat ekonomi lesu dan setiap orang memperketat uang belanja. Ekonomi dunia merosot tajam, pertumbuhan nyaris minus. Ekonomi rumahtangga apalagi.

Tetapi, rasa sakit & miskin ini semoga tidak menghambat kita untuk  menjadi orang beriman dan bertaqwa. Tetap puasa, meski tanpa kolak dan nata de coco. Tetap bergairah puasa, meski tenggorokan rasa tercekat akibat cuaca panas dan virus seperti mengendap-endap menyisir jalan pernafasan.

Panggilan bagi orang beriman ini bertujuan untuk meningkatkan taqwa.

Arti taqwa dalam hadits Arbain ke-18 adalah :

….

عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : «اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْـحَسَنَةَ تَمْحُهَا ، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ». رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ

…..dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Betakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Dan ikutilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapusnya. Dan pergaulilah sesama manusia dengan akhlak mulia.” HR. At-Tirmidzi

Iringi keburukan dengan kebaikan.

Nabi insani yang begitu manusiawi, memahami psikologis manusia. Seorang konselor, terapis, manusia paling humanis, manusia paling altruist. Motivator yang bukan hanya membangkitkan semangat, tapi tahu cara bertahap. Beliau paham bahwa taqwa adalah ketakutan kepada Allah Swt tetapi bukan berarti menegasikan kesalahan dan kekurangan manusia. Manusia akan selalu salah, lupa, khilaf bahkan khianat. Tapi sifat manusiawi yang kadang lekat dengan ciri syaithani itu harus diiringi dengan sifat mulia para malaikat.

Suka hoax? Ayolah, kenapa tak sesekali menyebar berita positif.  Suka mendebat? Come on, sesekali meredam ego. Konsumtif? Sesekali cobalah gabung di sedekah Jumat. Korupsi, manipulasi, monopoli? Hei, kenapa tidak sekali saja di Ramadan ini berbagi dengan seluruh lapisan rakyat memerangi Covid 19?

Rasulullah Saw tahu; manusia yang sudah bertahun-tahun lekat dengan sifat hedonis dan permisif tidak akan mampu berubah agamis kecuali sedikit-sedikit. Kecuali setahap-setahap. Dan Allah Swt Yang Maha Pemurah menerima kebaikan meski sebelumnya mungkin pelakunya berbuat maksiat.

Ah, pernahkah kau dengar sebuah cerita haru ini?

♥ ♥ ♥ “Aku seorang penjaja seksual. Lebih dari seorang PSK, aku adalah seorang gigolo. Tapi perlu kalian ketahui, semua penjaja seks tahu bahwa pekerjaan ini  haram dilakukan dan jauh di lubuk hati kami didera rasa bersalah. Setiap malam aku bermimpi, mimpi yang membuatku bangun basah berkeringat. Mimpi yang mencekikku. Dalam mimpi itu aku diperlihatkan siksa kubur. Siksa kubur ! Belum siksa Jahannam.

Lalu aku bertanya pada orang-orang : apakah aku masih boleh sholat?

Seorang Ustadz berkata : “Ya, kamu harus tetap sholat.”

Aku bertanya, “Meski aku masih jual diri?”

“Meski masih jual diri!”

Kata Ustadz tersebut, kalau aku sudahi sholat dan baca Quran, maka aku semakin jauh dari Tuhan.

Sejak saat itu aku menggelar sajadah dan sholat Isya , malam hari sebelum menjaja diri. Teman-temanku mentertawakan aku, “ Gila lo! Mau jual diri, masih sholat? Emang diterima??!”

Aku tak peduli. Sholat urusanku dengan Tuhanku. Dan entah mengapa, meski pikiran dan tubuhku tarik menarik antara baik-buruk, baik-buruk; aku sampai pada sebuah kesimpulan : taubat harus segera dilakukan.”♥ ♥♥

Wahai pembaca, tahukah anda? Si gigolo itu lalu bertaubat, dan tak lama sesudahnya ia meninggal, insyaallah husnul khatimah. Ia pergi dengan membawa taubat dan penyesalam dalam.

Iringilah keburukan dengan kebaikan, sekecil apapun. Baiklah, kita tidak bisa berinfaq 100% seperti Abubakar ra. Belum bisa sedekah 50% harta seperti Umar ra. Bahkan, belum bisa memberikan infaq terbaik seperti Utsman ra. Yang kita keluarkan masih sedikit. 100 ribu sedekah seperti banyak sekali, 100 ribu kuota seperti sedikit sekali. Enggan sedekah uang; kita masih bisa sedekah dengan cara lain. Memberikan ucapan selamat kepada orang yang tak kita kenal di media social atas keberhasilannya atau kelahiran anak pertamanya. Walau bahkan tak pernah datang ke pernikahannya , atau tak pernah bertatap muka sama sekali!

Dan pada akhirnya, seperti ayat 185 .

Kita diminta untuk bersyukur.

💗🤲Bersyukur bahwa kita tidak mengalami cerebral palsy seperti salah seorang sahabat, sehingga ia tic tremor perlu bersusah payah membuka HP dan mengetiknya.

💗🤲Bersyukur bahwa kita tidak low vision seperti salah seorang sahabatku, sehingga perlu mendekatkan HP sejarak 1 cm ke depan mata. 💗🤲Bersyukur masih tidak kehilangan pendengaran, sehingga dapat menikmati spotify baik yang gratis atau premium.

💗🤲Bersyukur tinggal di Indonesia, dimana adzan terdengar di mana-mana. Suatu saat jika ke Jepang atau Korea, hatimu akan tersayat perih merindukan kumandang adzan mengingatkanmu untuk berbuka.

💗🤲Bersyukur meski bosan WFH, bukan kita yang berada di garda depan mengenakan baju APD yang luarbiasa panasnya.  Bersyukur meski bosan dengan makanan yang itu-itu juga; kita bukan driver ojol yang menanti antrian makanan dan mengantarkan ke depan rumah orang yang menyambut dengan senyuman masam.

💗🤲Bersyukur dalam segala kesempitan era Covid 19; bukan tubuh kita yang terbujur kaku, dibalut plastik erat, dimakamkan dalam kesunyian pelayat. Bersyukur bahwa, sekali lagi di Ramadan tahun ini, Tuhan masih mengizinkan kita melakukan kebaikan (sedikit) yang mengiringi keburukan di 11 bulan nyaris tanpa henti!

💗🤲Bersyukur bahwa, di curahan Ramadan ini, kita bisa memanjatkan doa apa saja dan tanpa sadar, doa-doa itu telah dikabulkanNya secara diam-diam.

Akhir Sya’ban 1441 H

Kategori
Cinta & Love Hikmah mother's corner My family Oase Pernikahan PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Remaja. Teenager Renungan Hidup dan Kematian Suami Istri WRITING. SHARING.

#HikmahCorona 3️⃣: Menelusuri Memori Anak-anak👶👧👧👶

Waktu di rumah saja, membuatku sempat untuk menata barang-barang yang selama ini hanya ditumpuk begitu saja di dalam kardus. Aku menemukan baju anak-anak ketika mereka masih begitu kecil : rok ukuran sekitar 30 cm, saat putriku baru bisa merangkak. Kaos bergambar Power Ranger, Ben Ten, Naruto, dll. Ada baju TK, baju SD, baju SMP. Kaos dan celana mungil yang membuatku terpana dan tertawa, betapa cepatnya waktu berlalu. Anak-anakku yang sekarang sudah jauh lebih besar tubuhnya dariku dulu pernah begitu kecil dan rapuh. Terbayang saat mereka menggelendot di kaki dan menangis saat butuh dukungan.

Kuperlihatkan sebuah baju seragam, dengan tulisan nama anakku di dada.
“Nak, ini kamu waktu SD dulu. Memori apa yang masih membekas?”

Aku bahagia membongkar kenangan masa lalu anak-anakku. Aku gembira, bercampur aduk rasa haru dan sukacita. Tapi tidak demikian dengan anakku. Wajahnya sendu.
“Terus terang, aku nggak punya kenangan manis,” ungkapnya.
Terkejut. Itu reaksiku. Sebab kupilihkan sekolah terbaik bagi anak-anakku.

“Tapi…guru-gurumu begitu baik. Apa kamu nggak bisa menyebutkan salah satu guru yang membuatmu terkesan?”
“Kalau itu ada,” ia mengaku. Ia sebutkan nama beberapa guru yang kutahu, memang demikian telaten menghadapi murid-murid, terutama anakku.

“Teman-temanmu?” aku memancing.
Ia menggeleng dan kembali mengulang ucapannya bahwa tak ada teman yang mengesankan. Ya, mungkin sudah pernah kubahas bahwa beberapa anakku pernah mengalami kasus bullying sementara aku sebagai orangtua terlambat mengetahui. Namun, setelah tahun-tahun berlalu, apakah luka itu masih menganga? Ternyata memang masih meninggalkan bekas. Utamanya saat ada barang atau kejadian yang mengingatkan pada kasus masa lampau. Misal saat aku beberes seperti ini.

Aku meletakkan pekerjaanku.
Berusaha untuk menyelami jiwa anakku yang sekarang tenggelam dalam ingatan masa kecilnya , yang menurutnya pahit untuk dikenang.
“Nak, kamu masih dendam pada temanmu?”
“Aku sudah pernah membalas dendam pada temanku,” ia mengaku.
Aku menahan nafas. Membayangkan ia mengamuk dan memukul temannya.

“Tapi ternyata membalas dendam tidak menyelesaikan masalah,” ia menyimpulkan.
“Jadi kamu masih dendam?”
“Kan aku sudah bilang, balas dendam gak membuatku puas,” ia terlihat jengkel.
“Terus gimana kamu memaafkan temanmu?”
“Aku berusaha melupakannya. Aku nggak mau mengingat-ingat lagi.”

💔💔Aku dan anakku berusaha untuk menjembatani masa lalu itu meski ada luka, perih, kemarahan, kekecewaan, kebencian. Ada perkataannya yang mengejutkan ketika aku melemparkan pertanyaan.
“Bagian mana dari masa kecilmu yang paling menyedihkan?”
Aku berpikir dia akan mengungkapkan kasus pembully-an, atau mungkin ketika guru-gurunya tidak menyadari telah terjadi kasus perundungan. Maklum, anakku ini termasuk berinteligensi tinggi dan memiliki nilai jauh di atas rata-rata terutama untuk mata pelajaran sulit.

“Dulu, aku sekolah sampai sore. Aku nggak punya waktu banyak dengan Abah Ummi.”
Kadang, kita merasa ketika anak sekolah sampai sore, sebagian besar kewajiban orangtua telah terpenuhi. Apalagi di rumah, orangtua akan kembali mengingatkan apa saja tugas di rumah seperti mata pelajaran yang harus diulang serta pelajaran untuk esok hari. Orangtua lupa, semakin sedikit waktu untuk bermain bersama anak-anak.
“Nak, kamu kan pinter. Kamu sering dibanggakan guru. Kamu sering ikut olimpiade. Apakah ini nggak meninggalkan kenangan manis bagimu?”

Dia terdiam.
💯🅰️“Ummi, nilai akademis itu tidak bisa dibandingkan dengan interaksi antar manusia,” sahutnya bijak.
Meski juara, meski dapat nilai 100, meski paling menonjol; namun jika tidak ada interaksi manis dengan orangtua, guru, antar teman – semua itu tidak akan menjadi jejak mengesankan dalam ingatan. Demikianlah kira-kira.

✍️Aku belajar banyak dari anakku hari itu.
Selalu saja, aku belajar banyak dari mereka.
Kadang, sebagai orangtua merasa kalau anak cerdas dan pintar pasti mampu mengatasi setiap permasalahan. Bahkan ketika dibully pun akan bisa mengatasi masalah, karena dengan kecerdasan ada self esteem yang tetap kuat dimiliki. Ada self respect lantaran berprestasi. Meski dikucilkan masih bisa bilang: “ah, aku kan punya kelebihan kepintaran dibanding teman-temanku.”

Nyatanya tidak demikian.
Beberapa hal yang kusimpulkan :
♥ Saat anak jarang di rumah karena sekolah sepanjang hari, kita berarti kehilangan masa-masa manis bersama mereka. Dan entah bagiamana caranya, waktu emas itu harus ditebus. Lockdown seperti ini salah satunya
♥ Jangan anggap anak pintar mampu mengatasi semua. Seringkali, anak pintar mengalami kesulitan bersosialisasi dan kita harus mendampingi mereka agar mendapatkan teman yang sesuai

Semoga kamu semakin dewasa dan bijak dengan segala bekal perjalanan kehidupan yang serba pahit manis ya, Nak ♥

#GoodwillMovement
#lawancoronavirus
#lawancovid19
#family #keluarga
#parenting #orangtua
#dirumahsaja

Kategori
Artikel/Opini My family PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Renungan Hidup dan Kematian Suami Istri Topik Penting WRITING. SHARING.

Manusia Maunya Minum Obat

Pernah dengan efek placebo?

Placebo effect adalah fenomena ketika orang merasakan manfaat setelah mengkonsumsi sesuatu yang sebetulnya hanya merupakan zat inactive saja. Misal ada 90 orang yang sedang diteliti menggunakan obat A sebagai obat flu. 30 orang diberi obat A, 30 orang tidak diberi obat apapun, dan 30 orang lagi diberikan kapsul kosong hanya berisi air tetapi diberitahukan bahwan kapsul tersebut berisi obat A.

Hasilnya?

Orang yang mengkonsumsi obat A sembuh dari flu, orang yang tidak mium obat A tetap sakit. Dan orang yang pura-pura diberi obat A ternyata juga sembuh dari flu! Orang yang pura-pura diberi obat A dan menyatakan diri sembuh, inilah yang disebut efek placebo.

Kita sebetulnya bisa memanfaatkan kasus placebo ini untuk diri sendiri dan keluarga.

Obat Flu Berat

Saya sering flu berat. Mungkin karena begadang malam saat harus menyelesaikan tulisan. Biasanya, yang bisa menyamankan tubuh adalah segelas teh hangat manis dengan irisan lemon.

“Lho, yang manjur ya air jeruk lemon hangat ,” tegur ibu. Beliau seringkali mengkonsumsi kunyit dan lemon sehari-hari.

“Nggak kok,” saya bersikeras. “Teh lemon menyembuhkan juga.”

Dan, teh lemon itu masih ada syaratnya : dibuatkan oleh suami atau anak-anak.

Apakah teh lemon itu yang menyembuhkan? Atau saat sakit saya pingin lebih egois dan manja dan cari-cari perhatian? Ataukah sebetulnya teh lemon itu diganti segelas kopi pans atau susu panas, tetap menyembuhkan; asal yang membuatkan suami dan anak-anak?

Entahlah.

Yang pasti rumus kesembuhan saya adalah minuman panas + dibuatkan orang kesayangan.

Apakah rumus ini berlaku buat anda? Belum tentu. Anda harus cari efek placebo sendiri.

Obat Sakit Perut

Penyakit saya yang lain adalah sakit perut. Kembung karena masuk angin hingga sering diare.

“Lha kamu itu sakit perut kok malah makan rujak, sih?” tegur ibu saya keras.

“Ini bukan bakteri kok, Ma,” jawab saya sok tahu. “Ini masuk angin.”

“Wis karepmu!” kata ibu saya , menyerah. Terserah elo deh!

Kalau masuk angin parah gegara begadang, penyakit yang timbul adalah diare. Kembung parah. Sampai agak muntir-muntir. Kalau sudah begini bisa dipastikan sulit tidur dan nggak doyan makan apapun. Padahal bisa tidur dan bisa makan adalah salah satu kunci kesembuhan. Akhirnya, saya berpikir keras, makanan apa yang merangsang nafsu makan supaya saya doyan makan dan segera sembuh.

Mie instan + telur + cabe, rujak pedas, sambel terasi; kadang malah jadi pintu kesembuhan. Syaratnya yaitu tadi, harus yakin bukan karena penyakit akibat bakteri hehehe.

Secara teori orang sakit perut harus menjaga makanan. Tapi kadang, kalau sudah mulut pahit dan gak doyan makan, saya yakin bahwa makanan ‘unik’ yang saya pilih justru membantu sembuh.

Placebo & Covid 19

Tanpa perlu memandang remeh pada Covid 19; sebagian kita terbagi dalam beberapa kubu. Sangat ketakutan, atau sangat meremehkan. Seharusnya kita berada di tengah-tengah. Tetap waspada, menjaga diri seperti yang disarankan pakar kesehatan, tidak cemas berlebih sehingga menjadi anxiety.

Katakanlah, kita memang sudah membawa virus Covid 19 dalam tubuh kita. Apa yang terjadi ketika kemudian panik setengah mati, merasa sebentar lagi mati, rasa kering di tenggorokan akibat cuaca panas sudah seperti sesak nafas hebat sehingga merasa perlu segera ke RS?

Pandangan “sebentar lagi mati” itu sangat bagus dalam konsep agama. Tapi bukan dihadapi dengan meratap, heboh dan panik. Justru sebaliknya : memperbanyak ibadah, membuat wasiat, memberikan nasehat penting kepada keluarga sekitar, jika masih ada harta disimpan utk ahli waris dan sebagian dibagikan. Bayangkan andai “sebentar lagi mati” justru dihadapi dengan panic buying lantaran takut mati kelaparan.

Bayangkan placebo effect  ini ketika ternyata kita memang terjangkit Covid 19.

  • Meminum kunyit dan meyakininya bahwa kunyit anti inflamasi dan mampu menaikkan daya tahan tubuh. Tak peduli ada jurnal yang (memang benar) menyatakan kunyit tak ampuh.
  • Meminum lemon dan meyakininya memiliki banyak vitamin C, meski ada yang meyatakan vitamin C tak banyak memberikan pengaruh.
  • Banyak minum air putih, yakin bisa sembuh,  meski ada yang menyakininya tak ada hubungan air putih dengan kekebalan tubuh.
  • Banyak berdiam di rumah dan meyakininya bahwa ini ampuh untuk memutus mata rantai Covid 19, meski berita berkata semua orang di kota besar adalah OTG.
  • Banyak minum air kacang hijau yang banyak mengandung vitamin E dan meyakininya bagus untuk melawan Covid 19 meski jurnal yang menyatakan itu masih sedikit.

Manusia selau butuh obat dan merasa nyaman ketika mengkonsumsi obat yang diyakininya mujarab. Ada orang yang merasa harus beli obat paten, meski isinya mirip dengan generic. Ada orang yang merasa harus minum obat tertentu, meski kunci sebenarnya harus istirahat dan makan bernutrisi.Ada orang-orang yang merasa sakit ketika belum bertemu dokter, dan harus ketemu dokter, dan langsung sembuh ketika dokter bilang, “Anda gakpapa, kok, !”

Meski sekian banyak membaca sumber berita dan tidak ada satupun tanda-tanda sakit yang diderita; rasa-rasanya tubuh tetap sakit dan penyakit “jangan-jangan” timbul tenggelam di benak. Jangan-jangan sudah terjangkit. Jangan-jangan sudah parah. Jangan-jangan sudah positif. Bahkan ketika tubuh tidak tumbang karena Covid 19, orang bisa mati karena rasa cemas dan takutnya yang berlebih.

Manusia butuh obat ketika ia (merasa) sakit.

Kalau kita merasa terus-terusan sakit, obat semahal apapun tidak menyembuhkan. Sebaliknya, bila yakin bahwa obat murah pun  bisa menyembuhkan, tubuh segera pulih.Tentu, ini tanpa mengabaikan saran dan kepakaran ahli medis, ya!

Kategori
Artikel/Opini BERITA Hikmah Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Renungan Hidup dan Kematian Surabaya Topik Penting Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Susahnya Cari Masker!

Awalnya, kami berniat hanya menyalurkan uang donasi ke lembaga kesehatan dan lembaga ziswaf. Dana yang ada di kami lebih dikhususkan untuk membantu dhuafa saja. Tetapi, ada donatur yang berharap komunitas kami membantu alat kesehatan. Dan, mereka meminta bukti dari barang-barang yang kami beli.

Terus terang, membeli sembako tidak semudah yang dikira, di hari-hari belakangan ini. Harus beli maksimal 10 kg beras, sehingga perlu beli ke beberapa toko. Tapi itu masih dapat diatasi. Masker? Nah, ini lain perkara.

Harga masker, meroket akhir-akhir ini. Satu box yang biasanya hanya 30-50 ribu; sekarang menjadi sepuluh kali lipat. Baru saja datang sepuluh box masker pesanan seharga 300 ribu, penyedia sudah memberitahukan untuk pesanan berikut harga naik menjadi 320 ribu.  Itupun kalau barangnya ada!

Ternyata, masker harus indent dan kita perlu hunting. Macam-macam cara mendapatkannya, macam-macam pula tantangannya. Selain harus bergegas pesan kalau ada info, hati ini deg-degan apakah barangnya akan sampai tepat waktu. Ada beberapa kejadian yang perlu kita pelajari bersama :

♣☻Beberapa orang japri karena saya dan teman-teman  galang doansi. Mereka menawarkan masker. Siapa gak ngiler dengar kata “N95” belakangan ini? Harga 1 boxnya buat geleng-geleng kepala. Ketika saya diskusi dengan teman dokter , justru mereka bilang ,”itu murah bu Sinta! N95 jaman sekarang yah emang gila-gilaan.” Murah ya? Pikir saya. Saya tentu berniat memborong. Untungnya, si dokter bilang, “Mbak Sinta, tolong pastikan ya, kalau maskernya bukan reuse.”

Untungnya saya belum transfer, dan memang gak jadi beli. Entah barang habis atau ada kendala lain, kontak kami terputus ketika saya bertanya kepada penjapri tentang kepastian barangnya masih baru atau sudah reuse.

♣☺Gerak cepat. Ketika ada orang posting di grup  bahwa ia punya persediaan masker, terlambat beberapa menit barangnya sudah habis. Beruntung, saya punya teman yang bekerja di lab dan ia japri menawarkan masker mirip N95. Saya percaya karena selama ini track recordnya memang amanah. Tapi, saya hanya bisa pesan 1 box karena harus berbagai dengan yang lain. Gakpapa lah, pikir saya. Daripada gak ada sama sekali. Itupun masih menunggu berita. Dan kita harus stand by memegang hape karena bila tak jadi membeli, atau slow response, banyak sekali para pembeli di luar yang bersedia.

♣►Menyesal karena gak beli banyak. Inginnya beli langsung banyak. Tapi khawatir juga : apa barangnya ada? Apa barangnya bisa sampai? Apa kita tidak dibohongi? Meskipun pesan ke teman baik sendiri. Bukan teman kita bohong, tapi bisa jadi rekanannya. Maka ketika seorang teman menawarkan masker , saya percaya padanya dan membeli 10 box. Menyesal, karena ketika barang datang tepat waktu; mau pesan lagi sudah gak bisa.

Masker sudah di tangan. Tinggal didistribusikan ke RS. Sekarang, bingung cara menghantarkannya karena kondisi lockdown dan kita diwanti-wanti untuk gak banyak keluar rumah. Akhirnya barang dibawa kurir. Ada pesan teman dokter yang membuat kita waspada, “Mbak Sinta, jangan sampai kurir tahu itu isinya masker ya. Tolong ditutup raat-rapat.” Saya baru sadar, harga 1 box masker  hampir sama dengan 0.5 gram emas! Tentu, kita tidak perlu suudzon pada setiap orang tapi waspda dan hati-hati.

Alhamdulillah…masker sudah tiba di tangan yang tepat. Sedikit memang yang baru bisa kita perbuat bagi ummat, tapi rasanya bahagia sekali membayangkan para dokter dan perawat menggunakan masker donasi kita. Ada japrian seorang teman dokter yang membuat saya teriris-iris :

“Kami di sini sudah maju nyaris tanpa pelindung sama sekali, Mbak.…”

Membayangkan dokter dan perwat menangani pasien di era ini tanpa APD, tanpa masker; rasanya seperti menghantarkan pejuang kesehatan ke areal pemakaman.

Selamat berjuang , para dokter, perawat, apoteker, petugas kesehatan  dan semua pahlawan Covid19!

#GoodwillMovement

#Lawancoronabersama

#Lawancovid19

#ayobersama

#ayolebihbaik

Supported by :
👷‍♂️👷‍♀️Ruang Pelita Surabaya
Kiky 0856- 0612- 5200
Putri 0822- 2183-8498

Kategori
Artikel/Opini BERITA Hikmah My family Oase Renungan Hidup dan Kematian Suami Istri Surabaya Topik Penting Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Tuhan, Terimakasih Telah Beri Kami #Lockdown

Pernah di rumah lebih dari 2 minggu? Belum pernah, kan? Apalagi emak-emak. Seriing banget kita bilang

“Kapan libur, ya, kapaaan??”

Gegara capek anter anak sekolah pulang balik.

Gegara harus antar si kakak les dan si adek TPA.

Gegara harus ke pasar, urus ini itu, kondangan dan seterusnya. Bahkan, Sabtu Minggu itu sering banget jadi hari paling sibuk sedunia. Yang anaknya minta diantar beli bahan-bahan prakarya. Yang suaminya minta dimasakin special. Yang ada saudara hajatan. Tetangga kondangan. Acara RT RW dan lain-lain. Itu belum agenda kita pribadi ya? Namanya enak-emak adaaaa aja repotnya.

Sabtu Minggu kadang malah terpikir buat bikin seprei baru, atau baru keingat kalau barang-barang kecil di rumah udah nyaris lenyap : benang jarum, peniti, kaos kaki bulukan, pisau pada rusak. Akhirnya kalau akhir pekan disempatkan buat beli keperluan dapur dll yang kayaknya kecil tapi besar urusannya ketika pagi hari si anak teriak :

“Kancing baju seragamku lepas , Maaaa!”

Mau cuti?

Emak kagak pernah ada cutinya. Kalau suami sakit, masih ada istri yang pontang panting buatkan bubur. Buatkan agar-agar. Begitupun kalau anak-anak sakit. Kalau emak sakit; boro-boro tidur. Baru terpejam sebentar udah diganggu

“Ummi, ada tukang sayur. Mau belanja apa?”

Kata anak-anak, “udah Ummi istirahat. Biar kita yang ngerjakan.”

Nyatanya sampah numpuk, cucian numpuk. Mau nyalahin anak? Gak bisa juga.

“PRku banyak, Miii!”

Mau istirahat gegara badan meriang flu berat, eh suami tugas keluar kota. Jadilah kita ojek yang antar jemput anak. Pokoknya, jadi emak emang jihad fi sabilillah. Baru benar-benar bisa tertidur  ketika malam tiba. Atau di atas 00. Itupun kalau gak punya baby, lho ya. Kalau punya baby…jangan harap.

Lockdown

Datanglah hari anugerah sedunia. Semua harus di rumah. Gak ada urusan kantor. Gak ada urusan sekolah. Emang sih, harus mikir berkali-kali lipat untuk masalah ketahanan pangan dan keuangan yang menipis. Tapi Mak, ini juga bagian sangat penting dari diri kita.

Lockdown tubuh.

Lockdown pikiran.

Kapan terakhir kali seorang Emak bisa tidur lebih dari 30 menit?

Kapan terakhir kali seorang ibu bisa mengistirahatkan pikiran dari antar jemput, belanja ini itu, persiapan ini itu? Lelah juga lho, lahir batin.

Sekarang, semua di rumah. Suami. Anak-anak. Bukan kondisi ideal 100%.

Tapi 14 hari atau 2 pekan di rumah itu masa berlian banget buat kita jalin komunikasi, buat kita jalin kedekatan, buat jalin apa yang koyak dari hubungan kita gegara hidup ini kadang udah gak normal kecepatannya.

Percayalah.

Anak-anakku akhirnya capek kok main gadget, dan kita duduk melingkar ngobrolin ini itu. Becanda . saling menggoda. Anak-anakku nyerbu dapur, masak seadanya dan si Emak ini bisa duduk-duduk buat ngetik dan baca buku. Anak-anakku bikin agenda macam -macam di rumah dan aku bisa ngobrol dengan suamiku : berjam-jam.

Catat ya, Mak : berjam-jam!!

Baru kita ingat bahwa masa honeymoon dengan pasangan kita dulupun tak sempurna, dan sekaranglah honeymoon kedua. Jadi para Ibu, Bapak, anak-anak; nikmati masa lockdown fisik dan psikismu. Pasti ada yang pulih sesudah ini. Sesuatu yang sangat jauh di luar bayangan kita.

Kamu rinduh sekolahmu, yang selam ini kamu umpat karena membebanimu dengan PR.

Kamu rindu teman-teman sekolah yang selama ini kamu anggap duri karena sering ngebully.

Para bapak merindukan tempat kerja, yang selama ini dikeluhkan karena beban dan gaji yang sedikit.

Para emak merindukan tukang sayur yang selama ini disindir karena gak mau ditawar-tawar.

Dan…berapa banyak kaum muslimin yang rindu datang ke masjid, setelah sekian lama meraka merasa masjid terlalu bising menyuarakan adzan dan selalu berisik dengan nasehat-nasehat?

Tuhan..terimakasih, Kau beri kami #lockdown.

Kupikir awalnya ini hukmanMu

Ternyata ini adalah cara luarbiasa Engkau menyayangi kami. Agar kami berdiam di rumah sesaat sembari mensyukuri setiap hal kecil yang Kau berikan : masih ada keluarga di dalam rumah, masih ada beras untuk ditanak, bisa jamaah lengkap sekeluarga.

Sebelum #lockdown, keluarga kami tak pernah selengkap ini, Ya Allah.

Jadi Bapak Ibu, anak-anak sekalian. Nikmati masa #lockdown bahagia ini. Belum tentu 10 tahun ke depan, kita punya waktu libur  -sebenar-benar libur- selama beberapa pekan dengan komposisi anggota keluarga lengkap tanpa diributkan tetek bengek agenda di luar.

#GoodwillMovement

#lawancoronavirus

#lawancovid19

#ayobersama

#ayolebihbaik

Supported by :
👷‍♂️👷‍♀️Ruang Pelita Surabaya
Kiky 0856- 0612- 5200
Putri 0822- 2183-8498

Header artikel ini diambil dari Republika tentang Corona

Kategori
Artikel/Opini BERITA Cinta & Love Oase Renungan Hidup dan Kematian Surabaya Topik Penting Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Meski Bukan Rachel Vennya

“Influencer bisa langsung mengumpulkan 3 M,” kata anakku memuji Rachel Vennya, sangsi dengan semangatku dan adik-adik Ruang Pelita yang menggagas #GoodwillMovement

“Yah, kita memang bukan Yoona, IU, Song Jong Ki, Irene yang bisa langsung nyumbang masing-masing 1 M,” kataku, menyebut artis KPop yang donasi 100 juta won. Belum lagi Suga BTS, Irene Red Velvet, juga Bong Jong Hoo sutradara Parasite.

Para artis, selebritis, influencer memang bisa mengumpulkan uang dengan mudah. Tapi bukan berarti ciut nyali, bukan? Sebab keinginan orang berdonasi macam-macam. Ada yang menyumbang karena merasa percaya, merasa dekat, dan merasa hanya punya sedikit uang untuk bisa disumbangkan.

Meski sudah banyak lembaga yang melakukan gerakan, sebetulnya tidak akan cukup untuk sebuah kasus besar.  Rachel Vennya mungkin berhasil mengumpulkan donasi dengan jumlah fantastis. Sekali menyumpang belasan, puluhan hingga ratusan juta. Saya dan adik-adik di Ruang Pelita mengumpulkan sekitar puluhan hingga ratusan ribu. Tapi siapa yang akan mengumpulkan donasi orang yang ingin (mampu) menyumbang Rp 500, Rp 1.000, Rp. 5000? Pasti tetap dibutuhkan oleh masyarakat luas pihak-pihak yang mau mengumpulkan donasi sedikit demi sedikit.

Kamis (19/03/2020), kami mencoba memulai #GoodwillMovement. Tujuannya menggalang donasi dari teman-teman, sahabat lama, tetangga. Sedikit demi sedikit mulai terkumpul; yang nantinya akan disalurkan ke lembaga kesehatan dan lembaga ziswaf terpercaya. Bukan sekedar donasi, #GoodwillMovement berusaha membangun kembali silaturrahim dengan orang-orang yang  sejak lama terlupakan dari memori karena kesibukan masing-masing. Mencoba membangun kepedulian kepada orang yang masih harus berkeliling di masa lockdown : tukang sayur, tukang kebersihan, satpam, dsb

Menyusuri nama-nama di phonebook, betapa banyaknya teman lama yang tidak tersapa.

Selalu saja, ada hikmah di balik sebuah bencana. Adik-adik Ruang Pelita menyiapkan default laporan :

Nama :  (nama penyumbang)

Donasi : jumlah

Ditujukan : IMANI care/ LMI/ Ruang Pelita atau Lembaga yang ditunjuk

Permintaan khusus : mohon didoakan atas hajat atau doa atas orang-orang tertentu.

Mengharukan sekali permintaan para donatur. Ada yang memohon agar sekeluarga diselamatkan dari wabah, ada yang meminta didoakan agar kedua orangtuanya yang lansia segera pulih , ada pula yang berharap agar wabah ini segera lenyap dari bumi Indonesia.Covid-19 ini memang mengerikan. Tetapi ada  kebahagiaan tak terperi ketika di malam hari, masih ada yang menjapri, memberitahukan bahwa ia baru saja mentransfer donasi.

“Kalau ada gerakan lagi, saya diberitahu ya, Mbak.”

Masyaallah. Selalu ada orang-orang yang rela berbagi pada sesama.

#GoodwillMovement

#lawancoronavirus

#lawancovid19

#ayobersama

#ayolebihbaik

Kategori
Artikel/Opini Oase Renungan Hidup dan Kematian Surabaya Topik Penting WRITING. SHARING.

🌱🌿🍁🌸 Goodwill Movement : 1 menyelamatkan 5 orang dan Berkelipatan! 🍁🌸🌿🌱

Hayooo, bergerak melakukan goodwill movement seperti yang digagas Trevor Mc Kinney, bocah 12 tahun dalam film Pay It Forward (2000). Kalau 1 orang mengajak 5 orang melakukan kebaikan, lalu masing-masing orang mengajak 5 orang lagi melakukan hal yang sama dan begitu seterusnya; maka kebaikan akan cepat menggelinding bagai bola salju.

Apa yang harus digulirkan?

  1. Infaq/ sedekah untuk para pejuang garis depan pahlawan Covid-19. Berapa harga barang yang dibutuhkan untuk penanggulangan Covid 19? Baju pelindung disposable ( Hazmat Suit ) : Rp. 350.000-500.000 . Sarung tangan handscoon : Rp. 55.000-100.000
    Belum lagi masker, kacamata, dll. Padahal harus sekali pakai dan paramedis di lapangan bisa mencapai seribu orang. Terbayang beratnya beban pemerintah pusat dan daerah, bukan? Tentunya beban kita bersama juga.

Lee Min Ho, BTS, EXO, TWICE, Red Velvet bahkan sutradara Parasite Bong Joon Ho rame-rame berdonasi untuk mengatasi Covid 19. Banyak sudah institusi yang menggagas ini seperti lembaga zakat, lembaga profesi, masjid, gereja, dll. Kita tinggal men’colek’ teman dan mengarahkan . Setiap hari, ingatkan 5 orang saja minimal. Meski cuma Rp. 1000 rupiah, bayangkan yang terkumpul kalau seluruh kelurahan dan kecamatan ikut bergerak.

Berikut beberapa lembaga dan komunitas yang menyalurkan donasi untuk pahlawan garis depan Covid 19 , silakan dipilih 😊

👉🏻 IMANI Care , Bank Syariah Mandiri : 74141-741-77 (kode donasi 019, misal Rp. 100.019) ➡ Lembaga kesehatan
👉🏻 LMI (Lembaga Manajemen Infaq), Bank Syariah Mandiri : 708-2604-191 (kode donasi 83, misal Rp. 100.083) ➡ Lembaga ziswaf
👉🏻 Ruang Pelita (Ruang Pendampingan Psikologi & Literasi) :
Sinta Yudisia Wisudanti, Mandiri 142-00-1673-5556 (kode donasi 019, misal Rp. 100.019) ➡ komunitas

2⃣Alternative gerakan selama masa isolasi, karantina, restricted movement , lockdown :

👴🏽Tidak semua orang paham makna isolasi & karantina. Semisal, para orangtua yang tak familiar dengan gadget atau tak rajin nonton televisi; masih sering ke masjid. Siapkan kotak besar, tempat sajadah sekali pakai. Sajadah, mukena ; bisa langsung diletakkan ke situ untuk dicuci

🏎Tukang sayur, tukang bakso, tukang sampah dll. Selain mencari nafkah; mereka ternyata juga masih dibutuhkan para emak-emak yang terpaksa terisolasi di rumah. Berikan mereka vitamin C, masker kain. Ingatkan untuk sering cuci tangan. Ingatkan untuk jangan menggosok atau menggaruk areal muka. Memang ini tidak maksimal, tapi lebih baik daripada kita tidak membantu sama sekali, bukan?

👻Setiap warga sedang stress saat ini. Dari pejabat negara hingga pejabat rumah tangga. Setiap hari, sempatkan mengirim 1 meme lucu/ kisah lucu untuk menghibur. Tertawa itu sehat lho.

🤲🏻Dan, jangan lupa setiap hari, kirimkan doa khusus bagi 5 saudara kita minimal (sebut namanya secara lengkap, syukur-syukur dengan pasangan + anggota keluarganya). Minta 5 teman untuk mengirim doa ke 5 teman lagi, begitu seterusnya.

📞Selama wabah ini, tanyakan kepada 5 orang teman/tetangga. Apa yang menjadi hajat mereka? Siapa tahu mereka butuh sesuatu. Dan kita juga butuh sesuatu. Sebutir telur, atau 5 sendok gula pasir akan sangat membantu ketika toko-toko tutup. Japri, ya. Siapa tahu ada yang sungkan di grup. “Ih, masa minta bawang merah sih? Masa minta paracetamol? Gula? Garam?”

#lawancoronavirus

#lawancovid19

#sebarkebaikan

#tanamkebaikan

#gerakankebaikan

Supported by :
🕵🏻‍♀🕵🏻 Ruang Pelita – Surabaya
Kiky: 0856-0612-5200
Putri: 0822-2183-849

Kategori
Artikel/Opini BERITA Hikmah Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Renungan Hidup dan Kematian Tokoh Topik Penting

Hikmah Coronavirus ( Covid – 19)

Lockdown. Death toll. Banned. Precaution. Pandemic.

Melihat berita-berita luar negeri dan dalam negeri ngeri rasanya. Kondisi di hampir semua negeri sama. Saya tak akan menambahi kepanikan dan stress. Justru ingin melihat hikmah di balik terjadinya pandemic yang tak pernah diperkirakan akan terjadi di awal 2020  yang penuh harapan ini. Memang, bila diperhitungkan secara ekonomis banyak sekali kerugian yang diderita. Sektor pariwisata, perhubungan baik darat-laut-udara, perdagangan, pendidikan, dsb. But, there’s always blessing in disguise, right? Selalu ada hikmah di balik musibah.

  1. Waktu lebih banyak di rumah.  Masih teringat jelas kasus NF, remaja yang membunuh anak perempuan 5 tahun. Kekeringan psikologis dalam keluarga dapat menyebabkan penyakit yang tak kalah dengan Covid-19. Anak-anak yang libur sekolah, mahasiswa yang dihimbau pulang ke kampung halaman, larangan untuk banyak berada di luar ruangan; menyebabkan mau tak mau orang berada di dalam rumah. Ini saatnya untuk konsolidasi keluarga. Ngobrol, curhat, bercanda. Hal ini bisa menyirami kembali kekeringan psikologis. Saling bertatapan, mendengarkan cerita, akan dapat menyebabkan cinta dan kasih sayang bersemi kembali.
  2. Kesadaran kesehatan. Sebelum ini, begitu banyak orang meremehkan hal-hal baik terkait kesehatan. Orang rela begadang nonton dan nongkrong. Rela capek-capek jalan-jalan. Lebih suka makan junk food daripada makan sayur buah. Sekarang; orang memburu sayur dan buah. Lebih memperhatikan waktu istirahat. Ini adalah kecenderungan hidup yang lebih baik
  3. Kesadaran diri. Apakah kita menyadari bahwa tubuh sudah lelah, agak demam, sedikit nyeri di sana sini? Tuntutan hidup di kota metropolis dan kebutuhan finansial, kadang membuat kita mengabaikan alarm kecil tubuh. Nanti kalau betul-betul ambruk, baru sadar. Banyak teman saya dan teman suami yang tahu-tahu….meninggal karena jantung, stroke, bahkan kanker! Begitu tidak berharganya tubuh kita sehingga terus diforsir untuk memenuhi kebutuhan eknomi. Sekarang, kita akan mencoba amanah terhadap titipan Tuhan ini. Tenggorokan kering, kepala pening, nyeri sendi; pertanda sudah waktunya istirahat. Dan, seiiring tubuh diistirahatkan, pikiran insyaallah istirahat. Kontemplasi dan perenungan bisa berjalan. Berapa banyak orang yang kondisinya sakit, punya waktu untuk berpikir bisa menemukan rumusan bijak dan menyarankan pada orang lain ,”Kalau sudah sakit seperti ini, uang nggak ada harganya. Yang saya pikirkan istri dan anak-anak.”

4. Kembali ke alam. Anda nggak suka jamu? Biasanya lelaki dan bapak-bapak jarang suka. Dengan kasus coronavirus, orang mulai memperhatikan kekayaan alam negeri sendiri : empon-empon. Sebagai orang Yogya (Jawa Tengah), minum jamu kunir asem, beras kencur, temulawak sudah biasa. Sebagai warga Surabaya (Jawa Timur) , sering banget menemukan anak minum sinom. Minuman ini biasa dijual di mana-mana : di kantin, rumah makan, pasar, pinggir jalan, kemasan dll. Segala tingkatan usia minum. Tapi ternyata nggak semua orang suka rasanya. Sekarang, nyaris setiap warga Indonesia mencoba mencicipi berbagai minuman yang berasal dari empon-empon. Dicampur madu juga oke. Bukankah minuman ini lebih baik daripada konsumsi minuman kemasan yang banyak mengandung zat aditif dan gula?

  1. Berhemat sumber daya. Kita tidak tahu sampai kapan pandemic Covid-19 akan berjalan. Selama ini, kita merasa alam akan terus melayani tanpa habis. Membuang air, makanan, minuman, bahan bakar; sudah biasa kita lakukan. Sekarang, kita akan belajar untuk hidup hemat dengan apa yang ada. Makan apa yang ada, tidak perlu ikut heboh menumpuk sembako yang akan menimbulkan keriuhan. Makan masak sendiri dengan bahan-bahan yang mampu di dapat dari sekitar.
  2. Kesadaran kematian. Kesadaran tentang kematian tidaklah selalu buruk. Ketika orang menyangka waktunya lebih banyak, ia akan berfoya-foya dengan harta dan waktu. Saat menyadari hidupnya dekat kematian, ia akan lebih banyak disibukkan oleh sesuatu yang berguna. “Ketakutan pada kematian disebabkan ketakutan pada hidup. Mereka yang hidup penuh manfaat siap mati kapan saja, “ demikian kata Mark Twain.

Sekarang , kita benar-benar berhitung terkait waktu rahasia yang kita miliki. Oke, konon kabarnya Covid-19 fatal untuk orangtua, anak-anak, orang yang sudah punya riwayat penyakit. Who knows? Siapapun kita, mulai mencoba hidup baik dan tidak main-main dengan kematian. Kematian bukan untuk menimbulkan kepanikan, tapi kewaspadaan.

  • Kerendah hatian. Sebelum ini, mungkin kita merasa menguasai segala sesuatu. Toh, zaman sudah canggih. Teknologi, komunikasi, kesehatan, transportasi, dsb membuat kita lupa bahwa sepanjang sejarah manusia; manusia sebetulnya bukan makhluk superior sama sekali. Kita bisa dikalahkan oleh belalang, tikus, air, api, dan salah satunya oleh virus. Kerendah hatian membuat kita lebih memilih sikap dan perilaku mulia; utamanya terhadap sesama manusia. Sikap rendah hati membuat kita sekarang mau mendengar nasehat orang lain, mau bekerja sama dengan pihak lain, mau menahan diri, mau melihat dunia dari perspektif berbeda.

Tuhan tidak sedang bermain dadu. God does not play dice. Albert Einstein merumuskan demikian. Tuhan bukan Dzat iseng yang menggulirkan sesuatu tanpa perhitungan. Ia Maha Menghitung hingga sekecil-kecilnya. Pasti, sudah disiapkan scenario berharga bagi ummat manusia hingga hal ini terjadi. Kemiskinan membuat orang berjuang keras untuk menjadi sukses. Peperangan membuat orang menyadari betapa sakitnya menjadi korban dan berupaya mencari jalan bagi perdamaian. Derita sakit membuat kita mencoba untuk hidup melawan ketakutan : bagaimana bertahan dan melalui semua dengan upaya sebaik-baiknya.

Saya? Alhamdulillah. Anak-anak akhirnya harus berkumpul bersama dan kami punya  waktu lebih banyak untuk mengobrol, merancang masa depan, saling menasehati.

Kalau anda?

(Gambar fitur header diambil dari

https://news.detik.com/berita/d-4929528/tentang-empon-empon-yang-disebut-bisa-tangkal-virus-corona-di-indonesia)

Kategori
Cinta & Love mother's corner Oase Renungan Hidup dan Kematian WRITING. SHARING.

Surga yang Disegerakan : Belajar dari Kepergian Ananda Rozien

Terbayangkah kehilangan orang yang sangat dicintai : anak, pasangan, orangtua?

Rasanya tak sanggup membayangkan.

Apalagi, bila kehilangan itu begitu tiba-tiba.

Saya ingat, ketika bapak meninggal tahu 1992. Mama begitu tegar mengurusi beliau saat sakitnya, wira wiri ke rumah sakit. Saat itu belum ada ojek online seperti sekarang, jadi mama mengantar bapak ke rumah sakit naik dokar dulu, baru naik bemo. Belum lagi wira wiri RS-rumah. Meski lelah lahir batin ketika bapak wafat, mama tetap merasa kehilangan. Meski sudah menduga bapak akan wafat karena beliau menderita sakit komplikasi, mama tetap terpukul.

Ya, meski bapak sakit lama, ketika beliau wafat, rasa kehilangan tetap sangat menyiksa. Bapak yang sudah sakit lama, yang sudah memberitakan kabar kematiannya jauh-jauh hari, tetap meninggalkan jejak menyakitkan ketika beliau pergi. Apatah lagi kepergian orang –orang tercinta yang mendadak.

 

Pertemuan Tak Dikira

 

Saya mengenal bu Indira tak terduga. Ketika mengisi acara parenting di Ukhuwah Banjarmasin  Sabtu 16 November 2019, esoknya saya dijadwalkan mengisi di Banjarbaru 17 November. Saya dijemput sepasang suami istri yang luar biasa. Kami mengobrol sepanjang jalan dengan hangat dan penuh gurauan.

Lalu tiba-tiba muncul percakapan yang membuat jantung seperti tercerabut dari rongganya.

“Mbak Sinta tahu siswa Husnul Khatimah yang wafat tempo hari?”

Ya, saya ingat.

Beberapa waktu lalu, tersebar kabar demikian ramai di grup whatsapp & telegram (6/7 September 2019), tentang wafatnya seorang santri Husnul Khatimah dengan cara di luar kebiasaan : ia meninggal tertikam seorang preman.

“Itu putra saya,” kata bu Indira.

Rozien, almarhum.png
Almarhum ananda Rozien

Saya nyaris tak bisa berkata-kata. Lutut lemas.

Saya berhadapan dengan seorang ayah dan ibu yang kehilangan anaknya dengan cara tiba-tiba!

Saya harus bilang apa? “Sabar ya.” Alangkah klise kata-kata itu. Bahkan ketika saya berucap “sabar”, belum tentu mampu sabar seperti mereka.

Saya hanya bisa berulang-ulang mengucapkan dzikrullah, terkaget-kaget atas pertemuan serba tak terduga. Dan cerita dari sang ibunda, mengalir demikian indahnya.

 

Ananda yang Luarbiasa

Ia adalah seroang pemuda yang luarbiasa. Menempuh studi di HK karena ingin jadi penghafal Quran. Menjelang kelulusan, ia ingin masuk fakultas kedokteran di luarnegeri. Tak ada firasat apapun ketika umminya di Banjarbaru hari itu ingin menjenguk putranya, Rozien.

Anehnya, Rozien mengatakan hal-hal yang ketika itu terasa biasa saja, namun ketika tiada tampak seperti sebuah isyarat.

“Ummi, hari ini entah mengapa aku bahagia sekali.”

Umminya tentu tak merasa apapun. Hanya saja, wajah Rozien tampak demikian bercahaya dan berseri-seri ketika mereka berkomunikasi via video call.

“Ummi, hari ini aku mau pulang sama Ummi, ya.”

Padahal saat itu belum jadwal libur santri, sang ummi tentu menganggap itu sebagai kelakar.

Rozien syahid insyaallah setelah mengalami luka-luka akibat ditikam senjata tajam oleh seorang preman. Sang ummi yang tegar luar biasa, di hari kematiannya tentu ingin sekali memberikan kabar kepada suaminya, abi Rozien. Qadarullah, abi sedang sibuk sehingga tak terkontak. Pada akhirnya, abi terkontak lewat video call.

“Abi, anak kita…,” kata bu Indira antara sedih dan bingung. “Anak kita sudah tiada.”

Si Abi, yang tak kalah sabarnya berkata : “Ummi , matikan video callnya. Abi akan sholat dulu.”

Abi dan ummi dari Rozien, mendapatkan ujian kesabaran yang langsung ke jantung hati : cepat, tak terduga, tak dapat menawar lagi.

Sang ummi, dengan sangat bijak kemudian berkata pada abi, “Abi nggak perlu ke Jakarta. Rozien akan pulang dengan Ummi. Sebagaimana permintaan Rozien menjelang akhir hayatnya – ‘Rozien ingin pulang bersama ummi –hari ini.’”

Rozien dibawa ke pesantren HK, dan qadarullah, semua santri menyolatkannya tepat jam 3 malam. Hari baik, waktu terbaik. Bahkan yang memandikannya adalah para ustadz-ustadz yang hafidz Quran.

Bunda Indira dan almarhum ananda Rozien.jpg
Beribu pelajaran dari kematian anak sholih : Muhammad Rozien

Surga yang Disegerakan

Quote ini saya ambil dari percakapan dengan  mbak Indira. Sebuah quote yang indah; surga yang dipercepat oleh Allah datangnya. Ia bisa datang lewat tangan orangtua kita yang membutuhkan perawatan, bisa datang lewat orang yang meminta sedekah, bsia datang lewat anak-anak yang membutuhkan uluran tangan dan didikan dari orang tua. Juga bisa datang atas musibah yang tak terduga datangnya.

Bagi orang luar seperti kita, yang tak mengalami pahitnya kehilangan orang yang dicintai, mungkin hanya dapat mengucapkan Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Memeluk saudara kita saat takziyah, mendekapnya erat, membantunya baik materi- non materi. Hati kita ikut merasakan goncangan, hampa, kesedihan dan entahlah lukisan apa yang tergambar di benak dan perasaan.

Namun tetap saja, seberat-berat kesedihan kita; tak ada yang paling berat kecuali yang mengalaminya sendiri.

Saya dikejutkan lagi oleh seorang sahabat, Cahya Naurizza yang kehilangan putranya, Ghaza. Ghaza yang lucu, baru berusia 7 tahun, pergi dengan cara demikian tiba-tiba.

Rasa hati saya sebagai seorang ibu remuk redam, tak bisa membayangkan betapa pedih hati sang bunda. Apapun yang ada di rumah pasti akan mengingatkan pada keberadaan ananda : baju, makanan kesukaan, tempat tidur, sudut-sudut kebersamaan. Meski ikhlas, air mata pastilah tumpah ketika mengenang si buah hati.

Surga yang disegerakan.

Saya tak hendak mengatakan  ‘sabarlah’. Karena kesabaran dalam diri para bunda-bunda luarbiasa ini sudah mencapai implementasi, bukan sekedar teori. Tetapi, segala kepedihan itu selalu selaras dengan hadiah yang disiapkan dengan penuh rahasia. Entah apa rahasia itu. Tapi pasti, sebuah hadiah yang luarbiasa nilainya. Apakah lagi ia  disiapkan oleh Allah  Rabbul Izzati.

Indira & Sinta
Pertemuan tak terduga dengan bu Indira di Banjarmasin & Banjarbaru (dok.pribadi)

Sebetulnya, banyak sekali yang ingin saya tuliskan, utamanya tentang ananda Rozien. Ia adalah permata hati orangtuanya, dan akan selalu demikian. Hanya saja…ah, sulit sekali menuliskannya. Saya butuh upaya dan keberanian untuk menuangkan kalimat demi kalimat; sebab jujur, rasa perih dan kehilangan turut menghantui. Tak terbayangkan bukan, bagaimana sang bunda dan ayahanda menghadapi hari demi hari?

Insyaallah, suatu hari nanti, kita akan bisa membaca kisah Rozien secara lengkap. Ketika hati-hati ini sudah lebih siap untuk menerima kehilangan. Cinta itu memang selalu punya dua sayap; sayap harap dan ragu. Sayap cinta dan luka. Sayap bahagia dan duka.

 

Para bunda sahabat-sahabatku, surga itu telah disegerakan bagimu.

Semoga, hati-hatimu tetap dalam kebahagiaan dan ketenangan dalam bimbingan Ilahi Robbi.

 

#jumatbarakah

#kisahikmah

#anakshalih

#ayahbunda

 

 

 

Kategori
Oase Renungan Hidup dan Kematian Tokoh WRITING. SHARING.

Beberapa Nasehat Terbaik B.J. Habibie

 

 

 

انا لله وانا اليه راجعون

Telah pergi salah satu putra terbaik bangsa Indonesia, bapak Bacharuddin Jusuf  Habibie.

Mantan Presiden  Ri , Habibie wafat.png

Airmata rasanya mengalir begitu saja, terisak tanpa dapat ditahan. Meski  aku dan sebagian besar kita belum pernah bertemu langsung, tapi banyak hal yang bisa kita pelajari. Malam ini, kuambil dari rak buku salah satu buku favoritku : Total Habibie, karya A. Makmur Makka dari penerbit Edelweiss. Ada banyak hal yang dapat diambil dari buku ini. Romantisme suami istri, perjuangan sebuah keluarga, hingga visi misi sebagai bapak bangsa.

BJ Habibie, cover buku
Total Habibie : penerbit Edelweiss

Tidak mudah menjadi kepala negara bagi 200 juta orang dengan suku bangsa sejumlah 800an. Kebiasaan, adat istiadat, cara berpikir, cara berbahasa dan banyak lagi; sangat berbeda. Tetapi BJ Habibie memiliki terobosan-terobosan spektakuler. Beliau selalu mendorong anak bangsa untuk bermimpi dan bercita-cita besar. Fokus bangsa pada pencapaian, prestasi, keberhasilan sehingga kepala  kita dipenuhi keinginan untuk bagaimana meraih prestasi setinggi-tingginya.

Otaknya Jerman, hatinya Mekkah. Itu nasehat singkat beliau yang sangat mengena bagi anak muda dan generasi penerus. Pintar saja tak cukup kalau moralnya busuk. Sebaliknya, moral luhur tanpa bekal kecerdasan juga tak akan mampu bersaing di era global

Ada beberapa gagasan dan pendapat beliau yang patut dicontoh dan semoga terwujud segera :

  1. Gandakan diri jadi 1000, jika engkau merasa sukses.

BJ Habibie & 1000.jpg

Sebagaimana Habibie bertekad menggandakan dirinya minimal menjadi 1000 orang. Ia selalu mendorong anak bangsa untuk berprestasi tinggi. Dalam buku Total Habibie, beliau mengambil contoh orang Jepang yang suka berteriak banzaaaiii untuk menyemangati rekan kerjanya yang sukses. Indonesia, memiliki ciri iri hati dan dengki yang harus dihilangkan. Ketika melihat orang lain sukses, harusnya memberi semangat agar ia naik lebih tinggi lagi. Ketika kita sendiri sukses, harus mampu menggandakan menjadi 1000 orang dan jangan bangga menjadi pintar & kaya sendirian.

 

 

  1. Jadilah anak bangsa yang memiliki produk andalan dan unggulan.

Andalan & unggulan.jpg

Apa beda andalan dan unggulan? Banyak orang memiliki produk andalan, tapi bukan unggulan. Produk andalan itu bagus dijual, tetapi bukan satu-satunya produk di pasaran. Alangkah baiknya bila sebuah produk itu andalan dan unggulan. Misal, Indonesia memproduksi N250 Gatotkaca IPTN. Itu adalah produk andalan sekaligus unggulan. Dari 180 negara hanya 15 negara yang bisa membuat pesawat, salah satunya Indonesia.

 

 

 

 

 

  1. Ilmuwan harus mengubah teori.

Saya memahaminya begini :

Sebuah teori, terutama konsep sosial, terbangun oleh situasi. Misal “orang miskin tidak dapat mencapai tingkatan tinggi karena tak punya uang untuk sekolah.” Seorang ilmuwan harus mampu mengubah teori itu. Orang miskin tidak dapat mencapai tingkatan tinggi jika tidak punya kemauan belajar. Orang  kaya tidak dapat mencapai tingkatan tinggi jika tidak punya kemauan belajar.

Jadi seorang ilmuwan jangan hanya taat pada teori tetapi harus mampu menciptakan teori baru atau bahkan mengubah paradigm teori yang implementasinya merugikan.

  1. Jangan memiliki mental kasir.

Kasir adalah orang yang senang menerima uang.

Membangun sebuah bangsa yang besar, tolok ukurnya memang tidak memiliki kekayaan material dalam jangka waktu dekat. Tetapi SDM harus dibangun dengan biaya sangat mahal. Negara kita sangat paradox : kaya tapi miskin, indah tapi jelek.

  1. Setiap kita , baik individu dan bangsa, harus berupaya mandiri.

Sebuah bangsa, jangan hanya mau tunduk pada kepentingan asing. Begitupun setiap individu, harus be;ajar mandiri dalam segala aspek agar memiliki kedaulatan pribadi dan kemampuan untuk berkembang optimal.

  1. Masih banyak lagi pidato dan nasehat-nasehat beliau yang sangat berharga untuk disimak.

Kemesraan ibu Ainun dan pak Habibie yang sangat lekat di benak dan hati bangsa Indonesia. Love both of you. May Allah grant with jannah.

 

Ah, kenapa hatiku sedih sekali?

Rasanya seperti merasa kosong dan hampa.

Aku ingat caranya berbicara yang meledak-ledak, sangat antusias dengan mata yang berbinar. Ingat keshalihan dirinya sebagai kepala negara. Ingat betapa setia dan mesranya pada bu Ainun Habibie.

Semoga Allah mengabulkan cita-cita pak Habibie : gandakan bagi bangsa ini 1000 orang, 100.000 orang, sebanyak mungkin yang Engkau Ridhoi seperti Habibie, ya Allah.

 

(Cuplikan-cuplikan  halaman berasal dari buku Total Habibie, karya A. Makmur Makka, penerbit Edelweiss, Depok – 2013)

 

Kategori
Catatan Jumat Cinta & Love Oase Pernikahan Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Renungan Hidup dan Kematian Suami Istri WRITING. SHARING.

Sempurna Hingga Ke Surga

Kisah suami istri ini demikian romantis, kebayang menovelkannya.emoji flower.gif

 

Sebut namanya Ali. Tinggi, atletis, ganteng. Ditambah pinter, baik hati, posisi bergengsi di instansi terpandang. Berkali-kali short course ke luar negeri. Australia, Swedia dll. Bule2 naksir Ali. Kebayang kan good lookingnya?

 

Sebut namanya Aisyah. Cantik, pinter, posisi bergengsi, mandiri finansial. Saking cantiknya, pernah 11 orang antri melamar!

 

Aisyah & Ali berjodoh. Sempurna. Fisik, finansial, karier, kesempatan. Selain beruntung, karib mereka sangat banyak karena Ali si good looking– berhati emas. Julukannya Ali si Baik Hati.

 

Orang tak tahu apa di belakang.

Orang tak tahu badai di depan.

gif shooting stars.gif

Beberapa tahun menikah, Ali jatuh sakit. Sakit yang amat jarang diderita orang kebanyakan hingga tubuh atletisnya memudar (dengar jenis sakitnya saja rasanya nyeri). Berat badan menyusut, kesegarannya hilang, ketampanannya lenyap. Ia hidup di kursi roda, tinggal kulit berbalut tulang. Cuci darah, jantungnya juga bermasalah, selalu berbekal oksigen kemana-mana. Ke kantor tertatih, di kantor tersedia oksigen besar. Di taksi selalu bawa oksigen kecil.

 

Aisyah si Cantik?

Setiap hari, sebelum kerja (dan sepulang kerja) memasak sendiri semua. Termasuk makanan kecil seperti pastel, bakpao. Ali doyan makan tapi makanannya harus amat dijaga.

“Honey, aku pingin ngemil,” begitu pinta Ali.

Aisyah bangun jam tiga pagi, nyaris setiap hari , untuk memasak menu utama dan makanan cemilan.

Terbayang betapa lelahnya Aisyah. Belum lagi ia harus berdedikasi di kantor. Mengingat, pengobatan Ali hanya sebentar ditanggung BPJS. Belum lagi, di belakagn punggung mereka berdua ada keluarga yang harus jgua ditanggung kebutuhan finansialnya. Saking capeknya Aisyah, kadang ia tak sadar tertidur di bawah ranjang masih membawa baskom berisi muntahan suami.

 

Bukan sekali dua kali Ali meminta Aisyah meninggalkannya,  “Honey, kamu boleh kok nikah sama orang lain. Kamu masih muda,  cantik.”

 

gif two people moon and star.gif

Tapi Aisyah menolak. Mereka sering tertidur sambil bergenggaman tangan. Saling memeluk dan menguatkan. Menangis bersamaan. Merasakan bahwa derita ini adalah milik mereka berdua, bukan cuma milik Ali seorang yang tengah diintai Izrail.

“Kita sempurnakan sampai akhirat ya, Mas,” Aisyah tersedu sembari memeluk suaminya.

 

Aku menangis melihat foto mereka saat Ali masih bugar. Lebih menangis saat melihat Ali sholat di atas kursi roda, bekerja mengetik di laptop di ranjang RS dg berbagai slang menancap di tubuh. Kecerdasannya masih dibutuhkan instansi tempatnya bekerja.

 

“Kenapa saya sangat mencintai mas Ali ya, Bu?” tangis Aisyah.

gif love.gif

Itulah mawaddah. Kau mencintainya karena ia tampan, cantik, pintar, berpangkat, nermartabat. Itulah wa rahmah. Kau iba kepadanya sebab ia lemah,  sakit, butuh bantuan, butuh penopang. Rahmah ini seringkali dianggap tak masuk akal. Suami lemah, sakit-sakitan, tak berdaya, tak mampu memberi nafkah lahir batin; mengapa tak ditinggal saja? Toh syariat memperbolehkan. Tapi demikian keajaiban sakinah mawaddah warrahmah. Sekali kita mengikat janji dengan seseorang karena Ilahi Rabbi; tiga elemen itu akan senantiasa mengiringi, insyaallah.

 

 

 

Teori cinta ala Zick Rubin dan Robert Sternberg pupus sudah. Cinta yang seperti bangunan segitiga, dengan sudut commitment, passion, intimacy. Cinta yang kokoh kuat konon kabarnya harus berdasar komitmen, kedekatan hati dan juga hubungan fisik yang intens.

Apa yang didapat Aisyah dari Ali dari segi passion? Nyaris tak ada. 7 tahun Ali terbenam di kursi roda, kepayahan bahkan hanya untuk berdiri sholat. Ali masih bekerja di kantor bukan hanya lantaran ia sangat pintar, tapi bekerja juga menjadi bagian dari semangat hidupnya.

Apa yang didapat Aisyah dari segi intimacy? Sangat minim. Sebab fisik Ali yang telah sedemikian lemah; tak dapat lagi menjadi teman berbagi untuk mendengar keluh kesah seputar kantor, rekan kerja, tuntutan atasan.

Tapi mereka berdua sungguh kuat mengikat diri dalam tali komitmen . Impian “kita sempurnakan hingga ke surga” benar-benar merasuk hingga Ali mencoba menghibur Aisyah untuk ikhlas dan sabar (ketika Aisyah pada akhirnya menolak meninggalkan Ali). Pun Aisyah mencoba ikhlas, bahwa Ali dengan segenap derita yang tertambat di dirinya adalah bagian dari perjalanan panjang mereka berdua.

Rubin dan Sterberg pun mengakui.

Jika ikatan passion mudah lepas, ikatan intimacy lebih kuat untuk terurai, maka ikatan komitmen itu betul-betul bagai rantai baja yang tak mudah teriris derita. Semoga, kisah Aisyah dan Ali yang sekelumit ini, memberi inspirasi cahaya bagi kita –bagiku juga- bahwa komitmen “sempurna hingga ke surga” itu sebuah teori yang mungkin tidak tercantum dalam jurnal ilmiah manapun, tetapi terpatri dalam jiwa sebagai ikatan janji kepada pasangan dan kepada Ilahi Rabbi.

 

Kategori
Hikmah Jurnal Harian Oase Renungan Hidup dan Kematian WRITING. SHARING.

Kembalilah pada Tuhan-mu, 20 Pahlawan Kementrian Keuangan

 

Berjabat tangan dengan suami/istri menjelang keberangkatan ke tempat tugas, mencium dahi atau pipi mereka, memandang name-tag dengan penuh kebanggaan : pasangan jiwa tengah menunaikan tugas mulia. Instansi kami adalah salah satu instansi dengan amanah berat – menjaga harta negara.

Logo-Kementerian-Keuangan-356.png

Dalam setiap institusi, selalu ada pihak yang memegang entitas kekayaan agar roda organisasi terus berjalan. Di setiap rumah tangga, suami mencari nafkah dan istri yang mengelola serta menjaga harta keluarga. Di setiap negara, pegawai Departemen Keuangan antara lain bertugas menjaga kas negara dari pajak yang disetorkan wajib pajak. Tak jarang, para pegawai Depkeu harus bertugas keluar daerah untuk berbagai macam kewajiban.

Sebagai contoh, WP (wajib pajak) yang berdomisili di Surabaya, terkadang memiliki perusahaan di tempat lain, Makassar atau Bali misalnya. Petugas pajak harus melakukan verifikasi lapangan untuk memastikan segala hal ihwal terkait perusahaan tersebut, agar pajak yang dilaporkan sesuai dengan pajak yang disetorkan. Tak jarang, petugas pajak disambut dengan senyum masam, diusir satpam atau hanya disambut gonggongan anjing. Akhir tahun anggaran, sekitar April atau Mei menjadi bulan yang penuh ketegangan. Laporan pajak menumpuk, para WP banyak yang menyetorkan laporan mepet waktu.

Korban depkeu.jpg
Salah satu korban dari instansi Keuangan

3 atau 4 tahun sekali, keluarga pegawai Depkeu dibuat deg-deg-der dengan surat berita mutasi. Demi efisiensi, efektifitas dan integritas pegawai Depkeu dimutasi secara berkala. Tujuan pemerintah agar tidak terjadi penyimpangan di masing-masing instansi keuangan. Seringkali, pegawai Depkeu memilih mengontrak di sepanjang usia hidup mereka dan baru beli rumah jauh setelah mereka menikah, dengan pertimbangan keluarga akan terus diboyong kemanapun pergi. Ada pula yang memilih LDR – long distance relationship, dengan pertimbangan sekolah anak-anak. Keluarga ditinggalkan di homebase , pegawai Depkeu yang melanglang bertugas. Betapa banyak pasangan yang hanya bertemu di akhir pekan; atau bertemu sebulan 2x. Bila ingin data yang lebih heroik, terdapat pula keluarga Depkeu yang baru bertemu ayah atau ibu mereka lebih dari 1 bulan.

 

Hesti Nuraini, di mata saya

Sekitar tahun 2000an, ketika anak saya masih berjumlah 3 dan kecil-kecil,  kami mengontrak di daerah Jurangmangu, tak jauh dari gedung kuliah STAN. Suami tengah menempuh studi DIV. Mbak Hesti Nuraini dan suaminya, pak Sholahuddin berada di samping rumah kami.

Kontrakan kami kecil mungil, dikenal sebagai rumah petak. Saat itu mbak Hesti yang lebih senior dari saya, belum memiliki keturunan. Tak jarang, anak-anak nyelonong main ke budhe Hesti, dan saya yang kerepotan saat itu menitipkan anak-anak kepada pasangan mbak Hesti- pak Sholahuddin.

Mbak Hesti dari perpajakan.

 

 

Mbak Hesti Nuraini di foto kanan, depan sendiri

 

Ia sosok yang ramah senyum, selalu sumringah kalau bertemu teman. Ia aktivis kampus, dan selalu menyisihkan waktu untuk melakukan kebaikan. Ada beberapa kaliamt percakapan kami yang, bertahun bahkan belasan tahun kemudian, masih bercokol di benak saya. Kata-kata itu sering saya kutip ketika mengisi acara, atau ketika saya harus memberikan nasehat kepada siapa yang bertanya.

Suatu ketika, karena sedang masa studi dan anak-anak yang masih kecil, saya dan suami ingin menjual sepeda motor kami. Padahal itulah satu-satunya kendaraan yang kami punya. Saya masih ingat sekali, mbak Hesti mendatangi saya dan memberikan semangat untuk bersabar, “jangan dijual sepeda motornya ya, Dek. Sabar, semoga diberi kemudahan Allah. Sepeda motor itu ibarat kaki-kaki kita.”

Akhirnya, sepeda motor tidak kami jual dan Allah memberikan rezeqi dari arah yang tak diduga-duga.

Suatu masa, saya menangis. Sebab setiap tahun, ada saja sahabat suami dan keluarganya yang lulus lalu kami berpisah. Ada saja sahabat kami yang dimutasikan ke berbagai daerah. Rasanya, hati ini sedih, kosong, kehilangan. Mbak Hesti, memberikan nasehat luarbiasa.

“Memang begitu ya, dek Sinta. Setiap orang baik, akan meninggalkan jejak di hati kita. Memberikan jejak di hati teman-teman dan tetangganya. Semoga kita pun demikian, ya.”

Saat itu hati saya betul-betul tertohok dengan ucapannya. Saya sering menangisi kepergian sahabat saya, tetapi apakah pernah mengukur diri ini, apa saya cukup baik untuk ditangisi oleh para sahabat yang lain?

Ada kejadian menegangkan saat kami baru pindah ke rumah kontrakan nomer “7” itu, tempat saya dan mbak Hesti bersisian.

Putra kami, Ibrahim Ayyasy lari-lari, terpeleset…dan innnalillahi, bocor kepalanya. Kami baru saja pindah rumah, betapa berantakannya setiap sudut. Ahmad masih baby, Inayah masih kecil. Maka, ketika kami mengurusi Ayyasy, Inayah dan Ahmad kami titipkan ke mbak Hesti dan pak Sholahuddin untuk sementara waktu.

Nyaris, saya tidak punya kenangan buruk tentang mbak Hesti.

Dan, mbak Hesti adalah orang yang sangat- sangat lucu. Cara berbicaranya yang khas, membuat pendengar bisa terpingkal-pingkal. Suatu ketika, mbak Hesti dan suaminya makan di warung. Penjaga warung dengan kenes menyapa pak Sholahuddin yang memang berwajah imut, “Mas, mau makan aja diantar ibunya.”

Saat mendengarnya, saya terpingkal-pingkal. Membayangkan wajah pak Sholahuddin pasti masam sementara mbak Hesti easy-going saja.

Mbak Hesti, di mata saya adalah sosok muslimah yang luarbiasa tangguh, sabar dan memiliki karakter keteladanan yang jarang dimiliki orang lain. Perjalanannya menemukan jodoh sholih, patut dijadikan teladan bagi setiap gadis yang masih menanti pangerannya. Sesudah menikah, iapun lama dikarunai anak, sementara tetangga kanan kirinya yang merupakan adik-adik kelasnya diramaikan oleh celoteh anak-anak. Rumahnya senantiasa rapi, meski ia sangat sibuk dengan berbagai urusan.

Ah, saya sangat kangen pada mbak Hesti

Jurangmangu.JPG
Saya dan mbak Hesti pernah mengontrak rumah petak ini bersama

Entah mengapa, beberapa bulan lalu tepatnya awal Oktober 2018 saya mengisi acara di Universitas Terbuka Pondok Cabe, dan reunian dengan teman-teman STAN di Jurangmangu.

Tahu apa yang saya lakukan?

Saya melintasi rumah petak berderet di Jurangmangu, memotretnya diam-diam dan entah mengapa, teringat sosok mbak Hesti yang menghuni pojok paling kanan. Tiba-tiba saya teringat beberapa tetangga saat itu, dan sosok mbak Hesti yang paling memenuhi ruang memori.

Kecelakaan Lion Air JT 610 benar-benar mengejutkan, menghentak, membuat tak percaya. 20 pegawai Depkeu ada di dalamnya, termasuk mbak Hesti. Tak bisa saya bayangkan bagaimana perasaan pak Sholahuddin dan putri mereka. Bila sebagai teman dan tetangga saja mbak Hesti demikian membekas jejaknya, apalagi sebagai ibu dan istri.

Ah, mbak Hesti.

Kata-katamu masih melekat di benak, sering menjadi quote yang kuulang, dan semoga itu menjadi penimbang amal baikmu.

“Setiap orang baik ketika pergi, pasti akan meninggalkan jejak dalam dan rasa kehilangan di hati banyak orang.”

Selamat jalan tetangga kami, sahabat kami, penasehat kami.

Dalam sebuah hadits Bukhari yang pernah kubaca, Rasulullah Saw pernah bersabda yang intinya, “jika seorang manusia meninggal dan ada 1 saja yang bersaksi akan kebaikannya, maka ia akan masuk surga.”

Wahai Robbku, aku bersaksi, bahwa mbak Hesti Nuraini adalah salah satu orang  baik, teman terbaik  dan tetangga terbaik yang yang pernah kukenal.

 

يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ

ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً

فَادْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِيْۙ

وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْ

Ya ayyatuhannafsul muthmainnah

Irji’i ilaa Robbiki rodhiyatam mardliyyah

Fad-khuli ‘ibadi

Wad-khuli jannati.

Wahai jiwa-jiwa yang tenang, kembalilah pada Robb-mu.

Masuklah kamu menjadi hambaKu, masuklah kamu ke dalam surgaKu

(QS Al Fajr (89)  : 27-30)

 

Boleh jadi, di mata kami kecelakaan itu begitu mengerikan. Tetapi siapa tahu, akhir hidup itu tercatat sebagai kemuliaan lantaran sumbangsih kalian semua pada keluarga, negara dan pada Tuhan Yang Maha Tinggi. Insyaallah, Allah akan menjaga keluarga-keluarga yang ditinggalkan.

Selamat jalan, Para Pahlawan Departemen Keuangan.

Selamat jalan, para korban Lion JT 610.

Doa seluruh bangsa Indonesia untuk yang pergi dan yang ditinggalkan.

(Mbak Hesti Nuraini adalah salah satu dari 20 pegawai Depkeu yang berada dalam pesawat Lion Air JT 610, Senin 29 Oktober 2018. Ia bersama 189 penumpang lain yang dikabarkan hilang )

Bogor, 30/10/2018

lion-air-jt-610-hilang-kontak_20181029_113804
Lion Air JT 610