Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Film Game KOREA Remaja. Teenager Renungan Hidup dan Kematian RESENSI

Ngezoom bahas SQUID GAME, yuk!

SQUID GAME
Antara Kerakusan dan tuntutan hidup
➖➖➖

Yap yang lagi booming saat ini nih. Cung siapa yang udah pada nonton film ini😁

Ada beberapa pesan dari film ini. Yang pertama, film bercerita tentang keserakahan, keputusasaan, dan ketakutan akan kurangnya harta di dunia.

Lalu apa cuma negatifnya aja? Tentu nggak dong, masih banyak pesan-pesan positif yang bisa kita ambil.

Trus apa hubungannya sama kehidupan kita sekarang? Terlebih hubungannya sama Islam?

Nah kita akan bedah tuntas dari sudut pandang pop culture dan Psikologi tentunya padangan kita sebagai seorang muslim

💣💣💣

Makanya yuk ikuti kajian spesial Main Ke Masjid

“SQUID GAME”
Antara Kerakusan dan Tuntutan Hidup

Bersama :
🧡Bunda Sinta Yudisia @sintayudisia
Psikolog dan pengamat Korean culture

Dan

🟠Ustaz Aditya Abdurrahman @adityaabdurrahman
Pengamat film dan pop culture

Rabu, 6 Oktober 2021
Pukul 19.30
Via online Zoom

Daftar langsung di bit.ly/JOINKAJIANMKM atau klik link di bio

Dan konfirmasi ke wa.me/6289681759219

*****

Squid Game adalah film 9 episode yang tayang di Netflix. Berkisah tentang 456 orang yang berburu uang dengan mengikuti permainan anak-anak yang diselenggarakan oleh sebuah club rahasia. Dari 456 orang akhirnya hanya tersisa 1 orang yang berhak untuk membawa pulang hadiah. 455 orang yang lainnya harus mati mengenaskan.

Apa sih value yang ingin diangkat film ini? Kita bahas bareng, kuy!

Poster film Squid Game
Kategori
Covid-19 Hikmah My family Renungan Hidup dan Kematian Survivor Covid-19 Topik Penting

Sakit Covid 19 : Berapa Jumlah Biayanya? Apa Saja yang Gratis?

“Apakah obat-obatan ditanggung? Biaya rumah sakit gimana? Makanan? Laundry?”
Kira-kira begitulah sebuah pesan masuk bertanya kepada saya, tentang prosedur mendapatkan rawat inap Covid. Saya katakan bahwa semuanya gratis dari pemerintah. Bahkan, kami yang sakit ber-7 pun mendapat pasokan makanan 3x sehari. Makanan yang disuplai puskesmas sangat lezat dan memenuhi gizi.


🌀🌀🌀
Prosedur untuk mendapatkan layanan gratis, berdasar pengalaman kami dan kira-kira kalau diuangkan secara kasar :


🟢1. Ada bukti kontak erat positif covid (suami saya positif. Saya minta bukti swab terakhir suami). Alhamdulillah saya, 4 orang anak, ibu saya bisa swab gratis di puskesmas. Katakanlah 1 x swab 1 jutaan, berarti 7 orang = Rp. 7.000.000
🟢2. Puskesmas menanyakan apakah kami butuh support logistic. Kami bilang : ya. Sejak dinyatakan positif, selang beberapa hari kami kemudian mendapatkan kiriman makanan kotak. 3 (sehari) x 6 (orang) X @ Rp. 20.000 = 360.000/ hari. Selama 3 pekan = Rp. 6.480.000.
🟢3. Rawat inap RS. Selama kurang lebih 14 hari kami rawat inap. Katakanlah biaya kamar sehari Rp. 300.000 , obat Rp. 500.000 (injeksi, infus, oral, tindakan dll), makan Rp. 100.000 ; kami bulatkan 1 juta. Berarti 1 orang = @Rp. 14.000. 000. Karena kami rawat inap ber-4 jadi Rp. 56.000.000
🟢4. Rontgen pra masuk RS kurang lebih @100.000 x7 = 700.000 ; selama di RS 3 (rontgen) x 4 (orang) x @100.000 = Rp. 1.200.000
🟢5. Swab di RS 3 (swab) x 4 (orang) x @Rp.1000.000 = Rp. 12.000.000
🟢6. Total Rp. 82. 680.000
🟢7. Pasca itu masih ada pendampingan swab di puskesmas, obat-obatan yang di bawa pulang, dsb. Ada tindakan-tindakan lain seperti injeksi dan oksigen (putri saya sempat sesak napas) , transfuse plasma, dokter kandungan (saya mengalami uterus bleeding), ambulan (saya dibantu LMI utk ke RS). Kurang lebih kalau di total katakanlah Rp. 100.000.000


〰️〰️〰️
Bagi yang dapat layanan RS, belum tentu juga gak keluar uang sama sekali. Saya sendiri tetap harus keluar uang dan ini yang kadang gak terprediksi jumlahnya. Bisa terkuras habis tabungan.

  1. Makanan. Makanan di RS terjamin. Sangat bergizi. Tapi karena perut mual luarbiasa dan indera pencecap gak berfungsi, saya bolak balik minta orang di rumah utk masak. Simple : oseng kacang, sambel, telor ceplok. Kayaknya murah. Tapi setelah dikalkulasi, lumayan membengkak biayanya
  2. Laundry
  3. Layanan online. Sakit covid bukan sakit biasa. Gak ada yg bisa jenguk. Jadi saya harus beli atau minta dikirimin baju dari rumah secara online. Apalagi karena satu rumah positif covid, gak ada yang bisa bantu-bantu kirim barang ke RS
    🟣🟣🟣
    Melihat seperti ini, kesehatan sangatlah mahal. Karenanya, jangan sampai kita kena covid. Kalaupun tersedia uang, belum tentu ada layanan RS. Masih jauh lebih murah kita beli masker dan sabun.
  4. 👉Usahakan sesuai prosedur. Fotokopi KTP- KK selalu tersedia, kemudian catatan kontak erat dengan siapa yang positif covid.
    👉Rajinlah update info dari RT-RW, juga puskesmas terdekat. Tak cukup puskesmas. Catatlah lembaga-lembaga kemanusiaan yang menyediakan ambulan gratis, oksigen gratis dst, logistic dan obat gratis. Saya sempat ngecek di google, 1 butir obat kami ada yang harganya @Rp27.000! Kebayang kalau harus mengkonsumsi 2x sehari selama 2 minggu kan?
    👉Saya sering menyarankan teman & saudara yang terindikasi covid, segeralah lapor puskesmas. Koordinasikan dengan puskesmas. Karena kalau ditanggung sendiri, ya Allah…gak sanggup biayanya.
    •••••

#bantuoksigen #bantusahabat #penyintascovid19 #coronavirus #covid19 bersama Ruang Pelita

(IG @ruang.pelita FB Ruang Pelita)

Pengadaan oxygen concentrate atau tabung oksigen , kode transfer 002
🔹Mandiri 142-00-1673-5556 (Sinta)
🔹BSI 7129-62-4943 (Ahmad)
🔹BRI 317-701-0263-16530 (Nazalia)
🔹BCA 788-0610-281 (Rizky)

Kategori
Covid-19 Hikmah Oase Parenting PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Renungan Hidup dan Kematian Survivor Covid-19 Topik Penting

Mendampingi Anak-anak yang Kehilangan Orangtua karena Covid-19

“Apa yang harus saya lakukan? Teman saya kehilangan orangtuanya yang wafat karena Covid. Kalau ortu sakit lama, tentu bisa menyiapkan diri. Tapi meninggal karena Covid, begitu cepat mendadak. Saya sendiri sering dilanda kecemasan, takut kehilangan orangtua saya.”

23 Juli 2021 mengisi acara kemuslimahan yang diselenggarakan PWK ITS. Mahasiswi penanya tsb, menangis. Ia yang sudah memasuki usia remaja akhir dan masuk ke dewasa awal saja merasa dag dig dug. Takut kehilangan orangtua. Takut kehilangan orang yang dicintainya.

Apalagi anak yang masih SMA. SMP. SD, bahkan TK.

Tak terbayangkan rasanya.

Di hari-hari biasa, kehilangan orangtua akan menghadirkan simpati. Orang-orang mengulurkan tangan, membantu materi, menawarkan menjadi orangtua asuh. Bantuan finansial mengalir, dukungan dari banyak pihak didapatkan : guru-guru, pihak sekolah/kampus, saudara besar, tetangga, handai tolan.

Wafat karena covid?

Bahkan kematian demikian senyap. Pemakaman terasa asing. Anak yang kehilangan orangtua tak melihat orang-orang merawat jenazah orangtua mereka, memandikan, menyolatkan. Tak ada kerabat datang menghibur.

“Duh, ortunya wafat karena covid. Jangan-jangan anaknya juga positif. Gimana mau merangkul mereka? Mau memeluk?”

Bantuan finansial, tentu tak sama seperti hari-hari biasa. Masing-masing orang sedang kepayahan mengurus diri sendiri dan keluarganya. Apalagi jika ada yang sakit, mencari tabung oksigen sudah merupakan perjuangan spektakuler bagi sebuah keluarga.

Kehilangan orangtua karena covid sudah sangat memukul. Sejak divonis sakit, serangkaian protocol kesehatan memang harus diterapkan. Diisolasi, diasingkan, dipisahkan dari orang lain untuk menghindari penularan. Kontak fisik ditiadakan, bahkan kadang komunikasi terputus 100%. Apalagi bisa si pasien harus masuk kamar ICU, tanpa ada kerabat yang menemani. Karena kerabat yang lain juga tengah diisolasi. Ya Allah. Terbayang betapa bingungnya seorang anak yang tetiba menghadapi kenyataan ini.

Dua pekan lalu ia masih memiliki orangtua, lalu tetiba orangtuanya lenyap dibawa ke RS. Tak ada kabar berita, lalu pemberitahuan terakhir orangtua telah tiada. Hanya tersisa makam dengan nisan bertuliskan nama yang tak ingin dipercaya.

Vino bukan satu-satunya.

Saya sendiri mendampingi beberapa anak yang orangtua mereka wafat karena covid. Pikiran saya sebagai psikolog dan konselor terbelah-belah, tenaga pun terbagi-bagi. Namun, segala kendala tak boleh menjadikan kita lalai dari merumuskan langkah-langkah penting. Keputusan besar.

Anak-anak ini adalah asset bangsa. Orangtua mereka syahid dalam wabah (tha’un) dan jelas mereka anak-anak istimewa. Sebagai orangtua, psikolog, penulis dan bagian dari anggota masyarakat, saya terpikir beberapa hal.

  1. Layanan konseling psikologi online untuk anak-anak.

Anak-anak ini pasti kebingungan. Walau orangtua mewariskan harta besar, mereka tetap akan merasa sangat kehilangan. Layanan konseling psikologi yang khusus menangani anak-anak ini perlu segera diluncurkan. Para psikolog dan relawan yang memiliki kepekaan terhadap anak-anak, bisa terlihat di sini.

Hotline , call center, layanan oleh lembaga zakat, layanan komunitas dll dapat menjadi bagian dari solusi ini.

2. Shelter psikologis.

Di barat dikenal foster family dan orphanage; bila tidak ada keluarga besar yang menampung.

Bila kita ingin mengadopsi konsep tersebut, memang perlu menimbang beberapa norma. Dalam Islam misalnya, dikenal konsep aurat sehingga tak bisa menitipkan anak pada foster family jika anak-anak mulai aqil baligh. Namun jika anak-anak belum aqil baligh, masih bisa dititipkan di foster family. Lalu, bagaimana jika kakak adik beda tahapan usia? Tentu ini perlu menjadi pertimbangan. Jangan sampai kakak dan adik dipisahkan, karena mereka telah kehilangan orangtua.

Shelter psikologis bisa berupa Yayasan anak yatim, Yayasan dhuafa atau sejenisnya. Bukan hanya memperhatikan pasokan fisik tetapi juga sangat memperhatikan kebutuhan psikis anak-anak.

Bagi yang ingin tahu seperti apa foster family, saya sarankan menonton film Shazam. Film superhero yang berbeda, karena salah penekanan film ini adalah bagaimana hubungan anak dan orangtua dalam foster family.

3. Dukungan materi

Ada banyak kehilangan dari seorang anak yatim/ piatu. Kebutuhan gizinya, kebutuhan akademiknya bisa terbengkalai. Belum lagi bila si anak ingin sesuatu seperti ingin beli mainan, ingin beli jajan dan kebutuhan sekunder/tersier yang seolah tak penting namun dibutuhkan.

Kebutuhan materi ini juga perlu diperhatikan kita bersama agar anak yatim/piatu tidak kehilangan hak-haknya. Tentu, dengan tetap memperhatikan keseimbangan antara donator dengan kondisi riil di lapangan.

4. Dukungan immateri

Dukungan ini sangat penting dan sering kali melelahkan.

Anak yang menangis dan meratapi orangtuanya terus menerus, bahkan yang histeria dant trauma, tentu membutuhkan pendampingan khusus yang menyita waktu dan energi. Bagi berbagai institusi (Yayasan, lembaga zakat, komunitas) perlu membuat SOP agar dapat mendampingi anak-anak ini secara berkesinambungan. Seringkali, perhatian tertumpah di awal-awal waktu saja karena rasa simpati yang begitu besar. Rasa iba akan kehilangan orangtua dan melihat anak-anak ini seperti anak ayam kehilangan induk.

Seiring berjalannya waktu, perhatian kita pupus oleh agenda lain padahal kebutuhan anak-anak ini terhadap pendampingan justru semakin besar. Apalagi jika anak-anak memasuki masa remaja, atau masuk usia sekolah; masa-masa krisis kepribadian yang dihadapkan pada berbagai pilihan sulit.

5. Pembentukan relawan

Kondisi saat ini tak mungkin hanya ditangai satu pihak. Pemerintah akan kewalahan menghadapi berbagai macam dampak pandemic. Ekonomi dan kesehatan yang membutuhkan fokus utama, sudah pasti harus ditangani pemerintah. Anak-anak terlantar seharusnya ditangani negara. Tapi bagaimana bila pemerintah tak cukup punya akses sampai warga paling pelosok, atau warga yang tidak terdata? Psikiater, psikolog, kementrian sosial boleh jadi kewalahan oleh gelombang kasus dan juga burn out.

Relawan-relawan yang merupakan “darah segar” dapat diberdayakan. Mereka bisa jadi pelajar, mahasiswa, fresh graduate, lansia yang masih sehat dan produktif. Orang-orang difabel yang fisiknya terbatas namun memiliki kemampuan untuk mendampingi dengan kesabaran, atau bahkan para veteran covid 19 yang pernah mengalami trauma parah lalu bangkit dan sekarang ingin berbagi kekuatan.

Saya membentuk komunitas Ruang Pelita sejak tahun 2011.

  Akronim dari Ruang Pendampingan Psikologi & Literasi. Selama ini fokus di berbagai acara untuk anak muda yang bertema kekoreaan dan jejepangan. Selama pandemic, Ruang Pelita turut membantu menggalang dana untuk masker, APD, mengumpulkan ponsel bekas. Kali ini menggalang dana untuk #bantuoksigen

Mungkin, tidak banyak yang bisa kami berikan.

Tapi komunitas-komunitas kecil seperti kami yang banyak tersebar di berbagi penjuru Indonesia insyaallah bisa membantu pemerintah untuk mengatasi gelombang pandemic dengan segala dampaknya. RuangPelita ke depannya juga ingin mendirikan shelter psikologis yang dapat mendampingi anak-anak yang trauma karena covid.

Pandemic covid 19 tidak hanya menyisakan tantangan besar di dunia kesehatan dan ekonomi secara global. Permasalahan psikologis merebak di mana-mana. Banyak sekali tenaga kesehatan yang depresi bahkan trauma menghadapi pasien seiring tingginya angka kematian.

Bagaimana dengan anak-anak?

Mereka kerap diabaikan, namun kelompok paling rentan ini sesungguhnya kelompok yang sangat membutuhkan uluran tangan. Dengan tulisan ini saya berharap banyak pihak akan saling bersinergi untuk membantu anak-anak yatim/piatu Covid 19 agar sembuh dari trauma dan bangkit menyongsong masa depan.

#covid19 #coronavirus #survivorcovid19 #penyintascovid19 #helpchildrenofcovid19 #helpchildren

Kategori
Artikel/Opini BERITA Covid-19 Hikmah PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Renungan Hidup dan Kematian Surabaya Survivor Covid-19 Topik Penting

Kesempatan Hidup 2 % : Belajar Memancing Keajaiban dari Seorang Dokter Penyintas Covid 19

Masih banyak kabar duka. Tapi biarkan aku bercerita tentang kabar bahagia terlebih dahulu. Kisah tentang seorang lelaki, psikiater, yang terpapar covid 19 untuk kedua  kalinya. Kali ke-2 harus menggunakan ventilator dan  menyabung nyawa.

Ia selamat. Hidup! Lolos dari lubang jarum dan angka kemungkinan 2% untuk  selamat.

Well, don’t talk to me about destiny or unexplained miracle.

Tapi kita pelajari bersama, mengapa semua ini terjadi. Allah memberikan mukjizat, setelah terpenuhinya aspek-aspek yang lain. Apakah yang tidak menerima mukjizat adalah orang yang jelek? Tidak. Mereka yang wafat adalah syahid. Mereka yang survive adalah petarung. Mereka yang petarung sejati, lalu syahid, adalah manusia pilihan. Mereka yang petarung dan tetap hidup, mendapat tugas untuk hidup lebih baik lagi.

Mengapa lelaki ini lolos dari maut? Dengan D-dimer 13.000, saturasi jauh di bawah normal, bergantung ventilator – alat yang terdengar sangat mengerikan seperti kita mendengar vonis hukuman mati atau vonis kanker stadium IV; setiap orang akan menebak. Izrail akan mengetuk pintu kamar ICUnya sebentar lagi.

Nyatanya ia, tadi pagi segar bugar. Memberikan materi yang membuat mata peserta berlinangan dan kembali menimbang-nimbang sebuah pertanyaan penting : apakah hidupku sudah berharga?

Berikut ini cuplikan kisah yang kurasa, menjadi penyebab beliau mendapatkan mukjizat Allah Swt saat hidupnya di ujung tanduk mendapatkan tindakan ECMO

  1. Semangat dari istri tercinta. Ketika setiap orang menebak-nebak bahwa umurnya tak akan lama, sebaliknya dengan sang istri. Ia mengatakan,”Mas jangan bingung. Jangan khawatir. Ini tak akan lama, sebentar lagi insyaallah selesai.”
  2. Sang istri “merampas” HP dari tangan suami. Walau ribuan orang memberikan doa dan semangat, HP di tangan orang sakit bisa melelahkan.
  • 3. Berusaha menjaga kesadaran  selama dalam extracorporeal membrane oxygenation (ECMO) therapy. Dengan ventilator dan kesadaran naik turun, sang istri mengingatkan perawat untuk membangunkan setiap sholat 5 waktu. Sang suami, mencoba sholat sebisanya dengan ingatan tersisa, mencoba merasakan makanan yang masuk, mencoba merasakan air hangat yang diusapkan ke kulitnya untuk mandi.

  • 4. Menghindari TOXIC POSITIVITY, dari teman-teman yang sebetulnya berniat baik. Menghindari perasaan tak enak , perasaan tak berharga karena, “Ah, aku tak sebaik yang disangka teman-temanku. Aku tak sekuat itu.” Semakin sedikit interaksi dengan HP, semakin baik
  • 5. Jeda. Jeda dengan manusia. Merapat  dengan Pencipta. Tanpa HP, terisolasi, hanya berteman alat-alat dan kunjungan nakes sesekali; waktu bermunajat melimpah ruah.
  • 6. Apakah tak boleh menerima perhatian? Boleh sekali. Bahkan perhatian dari teman, kerabat sangat membahagiakan. Seperti seorang teman yang mengiriminya koyo hangat untuk ditempelkan di tubuh! Tak harus makanan atau suplemen. (Kita sebaiknya juga jangan sering-sering japri si sakit menanyakan kondisinya. Kirimkan saja doa, jangan mengirimkan pesan yang membutuhkan jawaban. Kecuali bila sangat mendesak)
  • 7. Yakin , bahwa semua ini memiliki arti dan makna.

Segala penderitaan sejak terindikasi Covid hingga menyerahkan jiwa raga pada Sang Pencipta dan pada tenaga ahli . Meski sakit, pedih, nyeri, tak tertahankan – semua dilalui. Airmata bukan kekalahan. Airmata adalah tanda, bahwa kita mencoba sabar menanggung penderitaan.

  • 8. Ada kondisi delirium, halusinasi. Merasa tubuh disiksa dan dianiaya. Dalam kondisi kesakitan sangat, berdiskusi dengan Allah dan tawar menawar dengan kebaikan yang pernah dilakukan
  • 9. Begitu banyak orang di luar sana yang menangis dan mendoakan kesembuhan.

Karena apa? Karena kebaikan-kebaikan yang ditanamkan, nasehat-nasehat yang dilontarkan, kalimat-kalimat baik yang diucapkan. Bahkan, ketika sang dokter sudah lupa pernah berbuat baik pada seseorang yang tetap mengingat kebaikannya.

Terimakasih dokter Catur, atas kesabarannya menanggung beban dan hidup kembali untuk membagikan semangat.

Terimakasih dokter Izzah, istri yang luarbiasa. Dengan baby kecil, selalu yakin pada pertolongan Allah, bahkan ketika peluang itu hanya bernilai 2% saja.

Apa kesimpulan singkat dari keajaiban dokter Catur?

  • Menanamkan kebaikan (perilaku & perkataan) sehingga ketika musibah datang, banyak yang mendoakan
  • Tabungan amal sholih dapat digunakan untuk “bernegosiasi” dengan Tuhan saat mengharapkan sesuatu
  • Bila pasangan sakit, istri/suami adalah orang terdepan yang menyuntikkan semangat
  • Dalam kondisi parah, pertahankan kesadaran dari waktu ke waktu. Salah satunya dengan mengingat waktu sholat dan mencoba sholat sebisanya
  • Hindari HP. Semangat dari teman-teman bisa jadi toxic positivity

Catatan dari acara zoom hari ini. Pagi, 13 Juli 2021.

Kategori
Catatan Jumat Dunia Islam Fight for Palestina! Gaza Kami Oase Renungan Hidup dan Kematian Topik Penting

Palestina Negara Gagal & Kalah?

Blokade, pengusiran, hingga pemusnahan.

Benarkah pertanda kegagalan & kekalahan?

••••••

            Sebelum kita bahas lebih jauh tentang kalah menang, ada baiknya anda nonton film-film politik seperti Irishman dan Spy Gone North. Yang satu tentang negaranya Uncle Biden, yang satu tentang Korsel-Korut. Di situ akan dapat gambaran tentang “kalah-menang”. Bukan film yang endingnya klise dan hero-nya selalu menang ala-ala film Hollywood yang kita kenal dengan supremasi Amerika.

Palestina memang sering babak belur tiap kali konfrontasi dengan Israel. Korban jiwa luarbiasa, sarana publik hancur luluh, seenaknya Israel menetapkan jam malam di perbatasan dan serangan tanpa ampun sewaktu-waktu. Kita ‘hanya’ bisa mengirimkan donasi, bantuan pangan dan obat, juga kutukan-kutukan. Kirim tentara? Wah, bisa-bisa disangka memicu perang dunia ke-3. Tentara perdamaian seperti yang kita kirimkan ke Bosnia dan Libanon pun, nanti dululah.

Qunut nazilah di mana-mana.

Munasharah hampir tiap pekan ada.

Tapi kapan menangnya? Kapan Tuhan menurunkan bantuan? Apakah kaum muslimin begitu hina hingga semua doa hangus, bahkan sebelum melewati ubun-ubun?

Kategori menang, seringkali dianalogikan dengan sukses.

Orang sukses banyak duitnya, mentereng rumahnya, bejibun investasinya. Abaikan rumahtangganya berantakan, anaknya terlibat kenakalan dan ia depresi hingga selalu tergantung obat-obatan. Yang penting sukses, titik! Padahal bila dirunut lebih jauh, kesuksesannya semu.

Palestina kalah? Nanti dulu. Tontonlah Irishman.

Apakah negara uncle Biden menang, sejak JFK berkuasa? Di film Irishman justru kalah total. Negara itu dikuasai mafia yang mudah mempermainkan angka-angka hasil pemilu. Hingga kini, Amerika tak pernah benar-benar menang. Kasus George Floyd, coronavirus yang menggila, penembakan massal yang hampir selalu ada tiap bulan. Belum lagi kasus-kasus psikologis…subhanallah. Anda akan ngeri lihat negara ‘maju dan menang’ itu dengan segala kasus psikologisnya.

Palestina?

Well, orang-orang Palestina bukannya sakti mandraguna. Tak bisa menangis, kebal senjata, tak bisa trauma. Bukan! Ketika kami ke Gaza 2009, ada orang-orang yang bisu karena trauma dengan situasi perang. Ada anak-anak yang menangis karena kehilangan orangtua. Ada orang-orang yang resah dengan kondisi ekonomi. Anehnya, negara yang sering dianggap pecundang ini selalu punya solusi. Solusi konkrit yang membawa penyelesaian bagi banyak hal.

Miskin? Namanya juga negara yang diblokade.

“Ya Ummu Muhammad, kalau kamu lagi sempit, banyaklah baca al Waqiah,” pesan Abeer Barakah pada temannya. “Insyaallah datang pertolongan Allah. Beasiswa saya cair walaupun kita diblokade.”

Solusi, bukan? Memang duit gak datang dari langit. Tapi harapan dan upaya selalu dilakukan orang-orang Palestina : upaya bumi & harapan langit. Negara yang diblokade itu bisa menanam timun, jeruk, produksi ikan. Bahkan pertanian bunganya ekspor ke Belanda!

Banyak anak muda yang sekarang kehilangan jati diri. Kalau anda mengikuti channel Oli London yang mengaku mirip Jimin – BTS, anda akan bingung. Kok ada orang yang kehilangan jati diri seperti itu? Ajaklah anak Palestina pindah ke Indonesia, itu sudah pernah saya lakukan.

“Kalau jalan-jalan mau. Kalau pindah, nggak. Hadza darul ma’ad. Ini tempat kembali.”

Ya, ampun. Butuh berapa SKS dan kurikulum macam apa untuk menanamkan wawasan kebangsaan macam itu?

Tempo hari, ramai berita tentang demonstrasi di Myanmar. Ada bahasan bahwa ASEAN gak akan mampu menangani jika Myanmar jadi negara gagal akibat perseteruan sengit junta militer, oposisi dan rakyat. Bila jadi negara gagal; perdagangan senjata meningkat. Begitupun perdagangan obat bius dan human trafficking. Bila negara gagal akan menghasilkan perdagangan senjata, obat bius dan perdagangan manusia; silakan nilai sendiri Palestina. Senjata? Mungkin ada yang menyangka pihak militan jual beli senjata. Tapi obat bius dan human trafficking? Palestina, memelihara rakyatnya dari kerusakan, alih-alih menjalani bisnis haram. Padahal di negara miskin (negara kaya juga), human trafficking yang menistakan perempuan banyak terjadi. Pelacuran lazim dilakukan mereka yang sangat terhimpit ekonomi. Kok di Palestina tidak?

Karena ketika Palestina menerima bantuan dari negara manapun, yang dibangun pertama kali perpustakaan. Gak heran orang Palestina pintar-pintar. Dokter, professor, di mana-mana. Diblokade, loh! Yang dibangun rumah sakit. Yang diberdayakan perempuan. Perempuan-perempuan bisu tuli yang trauma pun, diberikan pelatihan. Jadi perempuan tidak harus merendahkan dirinya. Anak-anak? Ada supercamp yang salah satu kurikulumnya menghafal Quran. Tujuan camp ini menyiapkan anak-anak, kalau sewaktu-waktu orangtua mereka meninggal kena bom, mereka harus siap. Bukan itu aja. Di seantero Palestina, yang namanya Yayasan yatim piatu baik dibangun pemerintah, komunitas atau individu berceceran di mana-mana.

“Keluarga kami punya Yayasan yatim,” kata Abeer Barakah. “Kami yakin, bahwa mereka yang menyantuni anak yatim, di surga nanti bertetangga dengan Rasulullah.”

Abeer, yang tak luput dari kesulitan blockade, masih memikirkan buat Yayasan!

Pemerintah gak cukup bikin Yayasan. Di rumah-rumah yang hancur, dibuatkan monument. Pengingat bagi yang syahid. Agar anak-anak mereka atau siapapun mengenal nama-nama yang wafat lebih dahulu demi membela negara. Karena keterbatasan dana, tiak semua rumah dan tempat. Namun inisiatif pemerintah tersebut, benar-benar menghargai perjuangan. Dan anak-anak yatim piatu tersebut, merasa sangat dihargai dan dilindungi negara. Secara materi dan immateri. Secara fisik dan psikologis.

Kalau udah demikian, hakekatnya, yang negara gagal dan kalah siapakah?

Percayalah, siapapun yang menitipkan dana bantuan ke Palestina, insyaallah tidak akan sia-sia.

••••••

Masih ada dana 10K di e wallet atau rekening?

Yuk, bareng-bareng donasi.

Klik bit.ly/LMI_donasipalestina

••••••

Foto : kenangan bersama Abeer Barakah, yang menginspirasi dengan al Waqiahnya, nasehatnya tentang perempuan dan Yayasan amalnya

Kategori
Cinta & Love Hikmah Oase Renungan Hidup dan Kematian Topik Penting

Galang dana bencana

Dampak bencana tidak selesai dalam jangka waktu 1-2 hari.

●○•————•○●

■Beban ekonomi.
■Ketahanan pangan.
■Memburuknya kesehatan.
■Trauma psikologis.

🏘🏚🏠🏡🏘
Belum lagi masalah keluarga ditambah terhambatnya pendidikan anak karena banyak faktor. Kondisi pandemik sangat memukul banyak kalangan, apalagi situasi alam yang kurang bersahabat.

👩‍🦰👩‍🦱👩👵👵👩‍🦳👩‍🦱

Ibu-ibu adalah pelayan keluarga dan seringkali menjadi tulang punggung ekonomi. Kesehatan fisik dan psikis mereka dapat terancam di tengah situasi saat ini. Demikian pula anak-anak, yang masih membutuhkan dukungan banyak pihak untuk mengoptimalkan tumbuh kembang mereka.

👶🧒👦👨‍🦳🧑

“Small acts, when multipled by million people, can transform the world.”
✍ Howard Zinn ✍

Sumbangsih kecil kita, adalah aksi besar bagi dunia✊✊✊

Yuk, ikut galang dana bersama Lembaga Manajemen Infaq di aksi Ganala (siaga bencana alam).

Silakan klik kitabisa.com/yukgotongroyong

Ada banyak quote-quote istimewa terkait sedekah dan membantu orang lain. Apapun yang hilang dari diri kita, jika diniatkan untuk disedekahkan insyaallah akan kembali lagi .

Kategori
Hikmah My family Oase Parenting PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Remaja. Teenager Renungan Hidup dan Kematian WRITING. SHARING.

Mendengar Kritik & Nasehat Anak

Akhir tahun ini, kami sempatkan untuk banyak diskusi sembari menikmati hiburan yang ada. Kalau dulu biasanya silaturrahim ke keluarga di Tegal, sekarang kangen itu ditunda dulu. Maklum, corona belum menampakkan tanda-tanda melandai.

Film-film blockbuster yang biasanya didominasi Hollywood, tahun ini justru banyak menayangkan film Korea. Selain menonton Key to the Hearts, Along with The God 1, Along with the God 2, Exit, Fatal Intuition; kami juga nonton film-film yang ada di laptop. Sembari mendiskusikannya dengan anak-anak, apa hikmah di balik film tsb dan apa rancangan ke depannya.

Kalau sudah mendengar anak-anak cerita, orangtua seringkali terkesiap!

Oh, gitu ya?

Jadi selama ini itu yang ada di pikiran mereka?

Diskusi paling seru adalah ketika menonton film Captain Fantastic dan Along with The God 1 & 2. Sampai-sampai, karena diskusi ini kurasa menarik untuk diarsipkan, aku membuat mind mappingnya. Siapa tahu  di masa depan, arsip ini bermanfaat buat anak-anakku ketika mereka menikah dan punya keluarga sendiri.

Transformasi Keluarga Tradisional ke Modern

Aku dan suamiku dibesarkan oleh pola tradisional, sementara anak-anak memasuki era millennial. Mereka masih mengkritik bahwa sebagai orangtua kami berdua belum seperti Ben Cash, ayah dari 6 orang di Captain Fantastic. Sebagai orangtua, kami tentu harus banyak belajar. Hal yang sama di 4 kepala anak kami adalah : kami masih terlalu memanjakan mereka.

Hm.

  • 4 anakku baru pegang HP ketika mereka SMP, itupun masih bareng-bareng. Ketika SMA baru boleh sendiri, itupun karena ada tugas-tugas yang dibagikan lewat line/whatsapp.
  • Anak-anak yang cowok sampai SMA masih naik sepeda onthel ke sekolah. Baru naik motor ketika kuliah. Itupun motor bareng-bareng.
  • Pekerjaan rumah kami bagi-bagi. Kalau ada pembantu, sifatnya sementara aja. Dulu pas aku masih kuliah, atau pas aku harus ke luar negeri.
  • Gadget harus yang harganya masuk akal, sekedar bisa lancar untuk aplikasi dan keperluan akademik.

Tapi, mereka masih beranggapan kami memanjakan dan tidak memberi kebebasan. Itu yang mereka tangkap ketika menonton Captain Fantastic!

6 orang anak yang dibesarkan di alam, harus memasak dengan bumbu seadanya, setiap hari berlatih fisik! Kemanjaan itu (atau mungkin lebih tepatnya, belum memfasilitasi berbagai kebebasan) baru disadari usai nonton CF beberapa kali.

“Ayah harus bisa diajak berdiskusi tentang hal sensitif, termasuk hal agama dan seksual,” kata si sulung. “Ternyata anak kecil bisa diajak berpikir rumit dengan cara mereka sendiri.”

“Kalau selalu diarahkan; we don’t know what we need, what we want, what we can,” kata nomer 2. “Nonton CF membuatku jadi pingin banyak baca buku dan memahaminya.”

Forbidden words! Ben Cash mengajarkan anaknya untuk menjelaskan apa yang dipikirkan,” kata nomer 3.

“Aku manusia yang hedon banget. Tergantung pada gadget. Aku pingin bisa berpikir kritis dan open minded,” kata si bungsu.

Baiklah.

Kalau dibandingkan Ben Cash yang mendidik anaknya di alam liar; kuakui, anak-anakku masih belum tahu cara berburu, mengobati patah tulang, panjat tebing termasuk membaca buku-buku “merah”  seperti Lolita. Setelah menonton CF, setidaknya anak-anakku berpikir bahwa kehidupan yang sudah kuupayakan sederhana dan tidak terlalu addict pada gadget pun; ternyata masih terhitung hedonism kapitalis dalam ukuran Republic Plato-nya keluarga Ben Cash.

Apa-apa masih beli.

Apa-apa masih tergantung pada apa pendapat orang kebanyakan.

Ada pertempuran lumayan panas ketika kami diskusi, tapi juga ada pikiran-pikiran yang terbuka. Kami sepakat bahwa ke depannya, harus lebih sering berinteraksi dengan alam untuk dapat lebih merasakan kehidupan yang sesungguhnya. Diskusi-diskusi perkara sensitif juga harus dibangun.

Along With The God (AWG) : Trial & Punishment

Bagi kaum muslimin, film AWG mungkin tidak terlalu mirip dengan alam barzakh yang masih sangat misterius dan penuh perkara ghaib. Tetapi, sama seperti film animasi Coco yang juga kami tonton bolak balik , hampir semua ajaran agama memberitakan satu hal pasti : ada kehidupan lain sesudah kematian. Kehidupan yang penuh dengan pertanggung jawaban.

Pengadilan pembunuhan, kemalasan, pengkhianatan, kebohongan, kekerasan, ketidakadilan, kedurhakaan. Begitulah 7 pengadilan yang harus dilalui Ja Hong, seorang pegawai pemadam kebakaran, ketika ia mati saat bertugas. Arwahnya termasuk arwah mulia yang sudah jarang ditemui oleh para penjaga alam baka selama puluhan bahkan ratusan tahun. Namun, arwah mulia Ja Hong ternyata harus melalui 7 pengadilan untuk membuktikan : benarkah ia benar-benar mulia ataukan sebetulnya ia manusia yang licik?

 Ketika anak-anakku menontonnya mereka berkata

“Wah, apakah aku bisa selamat dari semua pengadilan itu?”

Meski berbeda dari konsep Islam, AWG memberikan visualisasi bagaimana manusia bisa jatuh dalam neraka tak berujung sesusai dengan kejahatan yang dilakukannya. Naudzubillahi mindzalik. Sama seperti ketika menonton CF, diskusi-diskusi yang mencuat di antara kami menjadi catatan yang menarik.

“Ada bekal, ada trial, ada punishment dalam kehidupan sesudah mati. Neraka tidak hanya panas membakar tapi juga dingin membeku. Berbakti pada orangtua adalah keharusan dan bisa menjadi bekal,” kata si sulung. “Semakin mulia kita, semakin mudah pengadilannya.”

“Aku berdosa sekali. Melihat pengadilan itu, aku sudah jatuh satu persatu,” kata nomer 2. “Masih ada orang baik di atas muka bumi ini.

“Ada kehidupan sesudah mati,” kata nomer 3. “Setiap perbuatan ditimbang kebenaran dan kesalahan.”

“Ada DO!” kata si bungsu, yang KPopers. DO menjadi salah satu pemain di AWG 1, ia adalah personil EXO. “Di dunia harus berbuat baik lebih banyak. Berbakti pada ortu, sayang kakak, sayang keluarga. Konsep bekerja keras ada dalam masyarakat Korea.”

AWG 1 mengisahkan hubungan ibu dan anak, sementara AWG 2 mengisahkan hubungan ayah dan anak. Si sulung berkata.

“Dari film itu kita juga tahu, bahwa hubungan ayah-anak itu jauh lebih rumit dan lebih kompleks.”

Aku merenung mendengar perkataannya.

Di AWG 1, lebih banyak dikupas hubungan Ja Hong dan Su Hong (sang adik)  dengan ibunya yang bisu. Kehidupan mereka sangat miskin sehingga kemiskinan ini menimbulkan berbagai macam permasalahan yang akan dikupas di  pengadilan alam baka.

Di AWG 2, banyak dikupas hubungan Gang Rim dan ayahnya, Raja Dinasti Goryeo. Sang Raja lebih mengasihi adik Gang Rim, Won Maek yang menjadi sebab mereka bertiga akhirnya saling membunuh.

Memang benar. Hubungan ibu-anak seringkali sangat simple dan bisa dicairkan hanya dengan saling meminta maaf. Tapi hubungan ayah anak? Sangat rumit, kompleks, berkelindan dan tumpang tindih. Seringkali ada kekecewaan di situ, ada pengharapan besar, ada figuritas, ada tekanan, ada keinginan untuk membandingkan, ada persaingan dan lain-lain. Wajar bila hubungan ayah anak bila rusak, lebih sulit untuk memperbaikinya.

*Catatan parenting awal tahun 2021

Kategori
BERITA Catatan Jumat Da'wah Islam Dunia Islam Hikmah Mancanegara Oase Renungan Hidup dan Kematian Topik Penting Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Kenya, Namibia, Somalia etc : Afrika & pendidikan ala Wakanda

Selama ini, pandangan mata teralihkan dari Afrika.

Covid 19, locus, kekeringan, kelaparan; membuat Afrika seolah ujung mati dari dunia.

Beberapa waktu lalu, ketika diminta mengisi acara di sebuah institusi tentang menjadi educator atau pendidik di era pandemic ini; saya menelusuri berbagai sumber baik tertulis maupun yang berbentuk video bagaimana menjadi pendidik baik guru atau dosen di era penuh tantangan ini.

Kita akan berpikir bahwa solusi ada di negara-negara maju seperti Eropa , Amerika atau benua Asia. Afrika, yang di hari-hari biasa saja menghadapi situasi kekeringan dan rawan pangan serta konflik berkepanjangan; apakah mungkin mampu bertahan di era “unprecedented times” ?

Jepang, Korea, Jerman, Perancis, Malaysia tentu tak diragukan lagi.

Tapi bagaimana dengan Afrika?

Hatiku tergelitik untuk mengetahui dan benar-benar ternganga, bahwa kita mungkin menganggap sebelah mata pada benua yang disebutkan National Geographic sebagai negeri para Firaun Hitam – para penguasa dunia yang kuat dan kayaraya pernah berasal dari wilayah ini.

Yang unik adalah, kita yang selama ini dimanjakan oleh modernisasi dan fasilitas teknologi lalu tergagap-gagap ketika era lockdown melanda : Afrika tampaknya justru terbiasa menghadapi bencana. Ya, tentu saja mereka kekurangan fasilitas kesehatan dan sarana prasarana lainnya. Namun beberapa negara ternyata tanggap cepat terhadap kebutuhan di dunia pendidikan.  Menelusuri laporan Unesco dan Unicef, ini beberapa di antara terobosan Afrika :

Paul dan Ndapewa adala guru-guru yang mencari terobosan di era Covid sumber Unesco : Learning Never Stops

  1. Orangtua kesulitan memindahkan pola pembelajaran. Stres, ketegangan, kebosanan, akhirnya menimbulkan kerawanan di rumah. Natgeo menyampaikan bahwa alih-alih membuat rumah menjadi homeschooling tanpa persiapan, orangtua lebih baik mengajarkan lifeskill pada anaknya. Kenya, lebih dahulu menerapkannya. Para guru yang terbatas sarana prasarananya, mengajarkan lifeskill bahasa daerah kepada anak didiknya – Swahili. Selain menumbuhkan ikatan pada budaya leluhur, beberapa keahlian pun ikut meningkat. Mengapa kita tidak ajarkan kembali bahasa Jawa secara intensif, huruf hanacaraka; atau bahasa daerah wilayah masing-masing kepada anak-anak kita?
  2. Ndapuwa, seorang guru di Namibia. Menceritakan bahwa ia seharusnya berkoordinasi dengan orangtua lewat grup whatsapp. Tapi, apa mungkin? Hanya ada 2 orangtua yang punya gadget. Ndapuwa kemudian berkata, bahwa ia punya target baru sekarang, selain hanya berkonsentrasi pada anak-anak : mengajarkan orangtua membaca dan matematika. Mengapa kita sebagai orangtua, tidak membuat kelompok-kelompok belajar? Materi belajar anak-anak, bisa kita adopsi.
  3. Sebagian Somalia dilanda konflik. Sebagian warga Somalia menjadi pengungsi ke Kenya. Sebagai negara yang bertetangga dekat, Kenya tidak mengabaikan kebutuhan para pengungsi. Mereka mempersiapkan guru-guru relawan pengajar bahasa Inggris, lewat radio-radio untuk pengungsi Somalia. Mengapa kita tidak terjun menjadi guru bagi para pengungsi di Indonesia seperti Rohingnya atau orang-orang yang terkatung-katung sebagai imigran gelap?

Teringat Wakanda, negeri imajinatif dalam film Black Panther.

Kemajuan bangsanya, kecanggihan teknologinya, keberanian rakyatnya.

Afrika, dulu pernah merajai dunia. Banyak nilai-nilai keluhuran yang dapat diambil dari negeri para Firaun Hitam.

Sejak era colonial dan perang dunia, Afrika menjadi tujuan aneksasi dan kolonialisme. Kekayaan mereka dirampas, terutama hasil tambang. Kemiskinan dan kelaparan menjadi pemandangan yang lazim di benua Afrika. Setiap kali mendengar kata Afrika, pikiran kita akan terhubung dengan virus Ebola, peperangan suku dan padang-padang kering.

Habis ngisi acara tersebut, pikiran saya terus tertuju ke Afrika.

Apalagi, salah satu tokoh yang saya kagumi, pasangan ayah anak Nurmagomedov punya proyek membuat sumur-sumur air di Nigeria. Ayah Khabib , Abdulmanap Nurmagomedov baru saja wafat karena Covid 19.

Berhari-hari mencari-cari, kalau ingin qurban ke daerah Afrika, ke mana ya?

Cari-cari, manakah lembaga yang menyalurkan hewan qurban ke daerah bencana kemanusiaan? Udah beberapa waktu ini menelusuri dan dapatlah LMI – Lembaga Manajemen Infaq di Jawa Timur yang salah satu target penyaluran kurban ke benua Afrika, antara lain Kenya dan Somalia. Selain program ke Palestina dan Myanmar juga ada.

Hayuk!

Wakanda memang imajinatif, tapi negeri Afrika adalah mutiara hitam bagi peradaban dunia. Sudah lama pikiran dan hati saya  tertuju ke sana. Semoga, rangkaian titik-titik peristiwa ini semakin mendekatkan kita satu sama lain sebagai bangsa yang mulia.

Kategori
Gaza Kami Hikmah Jurnal Harian Oase Renungan Hidup dan Kematian Surabaya Tokoh Topik Penting Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Protokol Kesunyian

Aku menganggap, dahulu ; kematian sama ramainya seperti kelahiran dan pernikahan. Sanak saudara, tetangga, teman-teman lama, sahabat jauh. Makanan silih berganti tersaji. Saling berpelukan, mengucap salam. Saat kelahiran, satu persatu datang menjenguk teriring doa. Saat pernikahan, satu persatu hadir membawa bingkisan dan doa. Saat kematian, ada kehangatan perhatian dan pelipur lara dari dekapan teman-teman.

Sekarang, aku melihat dunia dengan penduduk 6.000.000.000 manusia ini begitu sunyi.
Jarang lagi kudengar ibu-ibu ngobrol aneka masakan di arisan. Jarang kudengar ibu-ibu berebut tanya pada ustadz pembicara di pengajian. Jarang kudengar anak-anak berebut adzan atau iqomah di masjid.

😞Toko buku yang biasa kusambangi, tutup. Kedai soto tempatku dan keluarga menikmati akhir pekan, tak lagi buka. Penjual minuman coklat kesukaanku, tak lagi tampak. Tukang sol sepatu, penjaja bakso, penjual kue putu, penjual ember keliling; ke mana mereka sekarang? Ke mana orang-orang yang kehadiran mereka menggenapi hari-hariku dengan suara-suara yang unik, suara yang menandakan kehidupan?
Kelahiran yang bisu, pernikahan yang senyap, perdagangan yang sepi; tak seberapa menusuk dibandingkan kematian yang sunyi.

Orang-orang yang kukenal baik, menghilang perlahan dari pandangan mata : aku tak bisa menengok mereka, tak bisa menghibur keluarga mereka, tak bisa betakziyah, apalagi ikut memakamkan. Doa-doa virtual. Pelukan virtual. Airmata virtual. Kata-kata virtual. Berita-berita virtual. Hanya itu yang bisa menyadarkan bahwa aku masih nyata berada di dunia.
Aku, yang bertahun-tahun hidup di keramaian dunia nyata dan dunia media sosial; sekarang merasakan kengerian sunyi yang berdenting-denting di telinga.

🥀Maukah kau ikut merasakan kesunyian yang terkerat di benak?

Sunyi itu ketika ambulan datang, dan semua orang menyingkir menghindar, lantaran takut terkena percikan ludah.
Sunyi itu ketika jam demi jam, waktu demi waktu, sebuah ruang dingin berbau karbol-alkohol membatasi ruang gerak. Dan suara mesin ventilator, gelembung oksigen, menjadi satu-satunya suara di telinga.
Sunyi itu, ketika orang yang lalu lalang adalah perawat, dokter dan yang terakhir : malaikat yang paling dibenci kehadirannya.

Sunyi itu adalah ketika sesedikit mungkin orang yang memandikan mayat, mengakafani, mengantarkan ke peristirahatan terakhir.
Sunyi itu menyakitkan, membenamkan dalam kesenyapan paling pekat dan rasa sepi yang membuat ingin berteriak di manakah semua orang.

Tapi sunyi itu juga yang tetiba membuatmu mendengar suara Tuhanmu : “adakah lagi yang kau sembah selain Aku?”
Dan tetiba kesunyian ini membuatku mendegar suara-suara hatiku yang riuh rendah dalam percakapan monolog. Suara yang selama ini tergantikan dengan kebisingan Instagram, facebook, twitter, line, whatsapp, dan ratusan hingga ribuan email yang masuk setiap tahun.

🥀Kesunyian ini tetiba membuatku menemukan potongan diriku yang hilang : bahwa dulu aku tidak seperti ini. Bahwa dulu aku adalah orang yang tenang, waspada, senang dengan kebijaksanaan, mendahulukan kehati-hatian. Aku sejatinya bukan orang tebruru-buru, yang ceroboh dan sembarangan, yang suka memburu sesuatu tanpa perhitungan.
Sunyi itu tetiba membuatku suka becakap-cakap dengan Tuhan, bahkan aku berbincang denganNya sesaat sebelum tidur dan bertanya : Tuhan, apakah aku masih bisa bernafas esokhari? Sebelum sunyi ini aku akan melihat apa berita terakhir di whatasapp dan Instagram.

🥀Dalam protokol kesunyian yang terpampang : ketika orang demikian sendiri dalam kematian, aku seperti berkaca tentang diriku sendiri kelak. Aku mungkin akan selamat dari Covid, tapi aku pasti akan berakhir pula dalam kesunyian.
Dan ketika semua pelayat sudah pulang, ketika tangis orang-orang sudah terhapuskan, ketika malaikat Izrail sudah menuntaskan tugas : tinggalah aku sendiri di ujung pemakaman. Sunyi. Tanpa teman. Aku menggigil ketakutan, tak tahu siapakah yang bisa kumintai tolong untuk menghalau sunyi yang menikam. Dan saat itu, aku baru mendengar suara Tuhan : ”adakah lagi yang kau sembah selain Aku?”

Kita mati karena corona atau sakit lainnya
Kita akan selalu sendiri pada akhirnya
Protokol sunyi ini hanya sebuah jalan yang harus dilalui
Masanya nanti, kita hanya menemui Tuhan seorang diri

Untuk para guru kehidupanku, sahabat-sahabatku yang telah lebih dahulu berpulang .

💔Everything in this world is not everlasting

⌛️Catatan untuk kepergian :

🥀Bapak Heri Utomo
🥀Ustadz Hilmi Aminuddin
🥀Dr. Arief Basuki (kami pernah bersama tahun 2009 dalam lawatan ke Gaza)

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Cinta & Love Hikmah Jepang Pernikahan PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Renungan Hidup dan Kematian WRITING. SHARING.

🍒Zoom Wedding : Nikah Kala Pandemic💑

Kelas Pranikah di kala coronavirus melanda ini memang unik. Rizqi Allah Swt gak pernah bisa ditebak, kapan datangnya. Termasuk jodoh. Ketika mengisi kelas pranikah yang biasanya membahas tipe kepribadian calon pasangan, penyesuaian diri dan komunikasi positif dengan keluarga pasangan; bahasan-bahasan menarik muncul.

♥ Mungkinkah menyelenggarakan pernikahan kala pandemic?
♥ Konsepnya seperti apa?
♥ Apakah tidak lebih baik pernikahan tersebut diundur?

Nah, ternyata banyak yang sudah disiapkan rizqi jodoh oleh Allah Swt, maju mundur menikah lantaran pandemic. Ada yang ditentang orangtua karena berharap pesta pernikahan dihadiri lebih banyak orang, jadi nunggu pandemic berakhir. Ada yang menginginkan kalau pernikahan itu diundur saja, nunggu situasi reda.

Kalau kita lihat sisi positifnya nikah kala pandemic:
1. Efektif dan efisien : hemat waktu, tidak harus antri tempat yang kadang mengakibatkan pernikahan ditunda lebih lama gegara cari tempat sewa acara yang representative. Juga hemat-hemat lainnya🌳

2. Hemat biaya. Gak perlu sewa gedung, sewa hotel untuk kerabat, sewa berbagai macam barang, dll. Bisa diselenggarakan di rumah karena yang hadir tetangga dan ring-1 keluarga inti🌱

3. Tidak ada tabdzir atau hal yang terbuang , terutama hal makanan. Ingat tulisan saya ketika sepulang umroh dan bertemu mahasiswi Ummu Quro? Jamaah Haji Indonesia pernah menjadi jamaah terkaya dibanding jamaah haji dari manapun! Tapi karena terbiasa boros dalam hal apapun, kita sekarang seperti ini. Salah satu sesi paling membuang adalah ketika sesi makan prasmanan. Buanyaaaak bangettt buang makanan!🍄

4. Tidak ada “kewajiban balas jasa”. Mufti Menk pernah memberikan nasehat terkait pernikahan di wilayah timur (termasuk Indonesia) dimana biasanya pengunjung membawa bingkisan berupa hadiah atau amplop. Kelak ketika si pengunjung punya hajat serupa, ada semacam kewajiban tak tertulis bahwa orang-orang harus melakukan hal serupa. Padahal tidak benar demikian. Yang dinantikan dari tamu yang hadir adalah doa-doa mereka. Sementara pihak penjamu menyediakan makanan sesuai kadar kemampuan. Tidak perlu berlebihan. Tapi namanya orang ya, kadang ngerasa gak enak kalau cuma menjamu sedikit. Nanti apa kata orang. “Masak nikah cuma makan soto?” Akhirnya, membengkaklah biaya hajatan sementara tamu juga lebih focus ke makanan daripada mendoakan mempelai 🌿

5. Lebih sakral, syahdu, bermakna. Akan jadi kenangan indah sepanjang masa ketika seseorang menikah di tengah situasi pelik. Kadang pesta pernikahan begitu hebohnya dengan arus tamu keluar masuk, antrian makanan dan souvenir, music dan sesi foto non-panggung. Ajang reuni sekalian kan? Saat pernikahan digelar sederhana, mempelai bisa meresapi nasehat dari penghulu dan perwakilan tetua kedua mempelai. Terasa sekali kepasrahan kepada Allah. Terasa maut demikian dekat. Terasa bermakna penyatuan dua jiwa.🍂

6. Trus gimana dong memberitakan pernikahan, menyiarkan pernikahan? Keluarga besar dan sahabat-sahabat bisa ikut? Bisa dengan teknologi google meet, zoom atau sejenisnya. “Yah..gak seru sih!” Emang lebih seru ketika tatap muka. Tapi kan dalam pernikahan yang kita cari keberkahannya? Bukan sekedar keseruan pesta dan foto-foto yang bisa disebar. Lagian, gak akan terulang lagi di masa yang akan datang kala pandemic berakhir kita nikah via zoom-zooman lhooo🍁

Nah, tanpa mengabaikan protocol kesehatan, kalau memang waktunya sudah tiba; segerakan saja pernikahan. Gak perlu nunggu pandemic usai yang itu berarti akhir tahun 2020, atau malah 2021. Nanti si dia keburu disambar orang, lho!
Kalaupun terpaksa harus ada pesta pernikahan, tetap pakai masker, gunakan hand sanitizer, jangan berkelompok dan segera bubar begitu memberikan doa dan bingkisan. Biasanya WO di kala pandemic menyelenggarakan makanan dalam bentuk nasi kotak.

Selamat berbahagia, ya 😊

Catatan lainnya menyusuk yaaa

Catatan mengisi kajian Pranikah di Kmi Kagawa Kagawa, 27 Juni 2020 dan Salimah Banjarmasin, 28 Juni 2020

Kategori
Artikel/Opini Hikmah Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Renungan Hidup dan Kematian Topik Penting WRITING. SHARING.

Jangan Usir Keluarga Pasien Covid 19!

Sebuah pesan dari teman nun jauh di sana (bukan Surabaya) , menyampaikan di grup. Sebagai tenaga kesehatan, ia mencari orang dengan nama XXX beralamat YYY yang tengah hamil dan terindikasi reaktif saat rapid test. Pasien hamil tersebut diharapkan dapat melahirkan di RS rujukan covid. Entah bagaimana ceritanya, pasien itu menghilang begitu saja.

Kenapa orang tiba-tiba menghilang atau lari , ketika terindikasi Covid 19? Mari kita bayangkan. Sebelumnya ucapkan dulu, naudzubillahimindzalik. Semoga Allah Swt lindungi kita dan keluarga dari wabah ini.

Sebuah mobil ambulance, berisi 3 atau lebih petugas dengan APD lengkap. Seluruh tubuhnya tertutup baju hazmat warna putih, lengkap dengan sepatu boots dan sarung tangan handscoon. Tak ketinggalan masker N95 dan dan faceshield.

Mereka menjemput seseorang yang terindikasi positif Covid 19.

Instruksinya jelas, very clear : ambil 1 orang, isolasi, karantina, jangan sampai ada satu orangpun yang kena percikan dropletnya. Banyak penderita Covid 19 mendapat stigma dari masyarakat yang sepanjang awal tahun 2020 sudah dihantui berbagai macam ketakutan : kapan virus ini lenyap hingga kembali normal hidup kita sebagai manusia? Mengapa penyakit ini bagai banjir bah melanda setiap negara, tanpa kecuali? Karenanya, ada yang diam membisu, sekalipun dirinya sudah mengalami gejala Covid 19. Bahkan yang ekstrim, sampai melarikan diri.

Pasien Covid 19

Ketika salah seorang sakit dan dirawat di RS, berita di whatsapp beredar, bahkan di facebook. Meminta bantuan doa. Orang ramai-ramai mendoakan. Orang ramai-ramai bersimpati baik dengan uang atau buah tangan.

Pasien Covid? Beranikah ia memberitakan diri di facebook atau grup whatsapp?

“Halo, saya baru saja rapid test. Reaktif. Lalu swab. Hasilnya positif. Doakan saya baik-baik saja, ya.”

Begitukah?

Kecil kemungkinan.

Seringkali, justru pasien akan berkata pada keluarganya,  “jangan bilang siapa-siapa. Biar nanti sendirian saja ke RS , naik kendaraan sendiri.”

Duh, nelangsa banget jadi pasien macam ini. Ia tak ingin menulari keluaga tercinta, tetangga yang ia hormati, teman-teman yang ia sayangi. Sebagai seorang pasien yang tengah sakit lahir batin, pasien Covid justru seringkali berpikir : gimana ya, biar aku nggak menyusahkan orang lain. Siapa aja yang sudah terkontak denganku?

Saya punya teman-teman pahlawan covid 19.

Yang menolak bantuan dari siapapun.

“Cukup saya dan suami yang kena. Saya gak mau orang lain kena.”

Suaminya dirawat. Ia juga sudah mulai meriang. Dan ia mencoba prosedur untuk isolasi mandiri.

Luarbiasa.

Siapa yang mau kena Covid? Nggak ada.

Walau dapat santunan, dapat ganti rugi, ditanggung 100% oleh asuransi bonafid : tetap TIDAK usah kena Covid. Walau pasca kematian, dapat uang ganti rugi yang sangat besar dari perusahaan, tetap TIDAk mau kena covid.

Penyakitnya mematikan.

Saat sakitnya menyengsarakan.

Bahkan ketika baru rapid test pun, sudah sangat menegangkan.

Orang sehat, yang harus bekerja di RS dan pasar, atau tempat umum seperti perbankan dan layanan public, setiap hari harus bertarung dengan kecemasan, dengan ketakutan. Tetapi tugas memanggil dan demi kepentingan banyak pihak, terus berada di medan perang terbuka melawan virus yang tak dapat ditentukan kapan akhirnya. Sampai takdir Tuhan berbicara : bahwa virus Covid 19 menjadi teman bagi sepenggal sejarah hidupnya.

Lalu?

Kita merasa bahwa orang-orang yang terpapar ini adalah orang-orang yang pantas dikucilkan. Warga pendosa yang menulari. Orang seperti itu nggak pantas tinggal di lingkungan sekitar. Ungsikan saja. Pindahkan dia entah ke mana. Suruh ke hotel (peduli amat biayanya!) kalau nggak mau pindah, diusir saja.

Ya Allah.
Begitukah kita?

Padahal, sabda Rasulullah berkata kurang lebih : orang yang dalam kondisi sakit dan teraniaya, bisa naik doanya ke langit tanpa hijab. Teganya kita membiarkan orang-orang macam ini melangitkan doa dalam kepedihan.

Memang, ada orang-orang yang menyembunyikan sakit Covidnya sehingga menulari banyak orang. Tapi yakinlah, orang seperti ini bukan orang jahat yang sengaja berpikiran : aku mau mati, kalian juga harus mati! Tidak. Orang-orang tipe ini adalah ,

Pertama, mereka cemas dengan kelangsungan hidup mereka pribadi. Nanti pekerjaanku gimana? Kalau bosku memPHK gimana? Kalau tetanggaku justru marah gimana? Kalau anak istriku gak bisa makan, bagaimana?

Kedua, mereka tidak memiliki pemahaman utuh bahwa penyakit ini bisa ditanggulangi ketika masih dalam stadium awal. Ketika belum sesak nafas parah, demam tinggi dan tidak perlu ventilator; masih banyak kesempatan sembuh 100%

Ketiga, orang macam ini adalah orang yang mungkin resah dengan pemberitaan bermacam-macam warta yang berseliweran di media koran dan media sosial. Memang kita diminta untuk menyaring. Tapi bahkan kita sesekali bisa termakan hoax, bukan?

Kita juga bukan orang sakti yang bisa menepuk dada : AKU KEBAL TERHADAP COVID 19!!

Kita tidak berharap virus ini menerjang masuk dinding rumah kita.

Tetapi siapa tahu.

Siapa tahu.

Bayangkan ketika sakit itu tiba, entah covid atau apapun.

Lalu seluruh warga mengamuk, mengusir, enggan menyentuh tubuh kita dan ketika matipun enggan memandikan apalagi menyolati. Naudzubillahi mindzalik…

Karenanya, mari bantu dan peduli dengan saudara kita yang terpapar Covid 19!

Cara Mendukung Pasien Covid 19

Ketika salah satu tetangga atau saudara atau teman kita diberitakan terpapar Covid 19 :

  1. Hiburlah ia dan keluarganya. Katakan bahwa ia insyaallah akan sehat dan sembuh, apapun takdir akhirnya
  2. Sampaikan kepada RT dan RW agar berita itu segera dikoordinasikan dan dikonsolidasikan dengan warga
  3. Beri dukungan materi jika bisa. Galang dukungan bersama teman-teman
  4. Kirim makanan ke rumahnya, karena biasanya keluarganya juga terisolasi. Bisa juga mengirim nutrisi seperti madu, probiotik, vitamin C dsb. Bukan kemewahan makanan yang ia harapkan, tapi perhatian dan bantuan, akan sangat melegakan
  5. Kirimkan doa agar ia dan keluarga bisa selamat dari ujian ini dan berkumpul bersama
  6. Tunjukan empati dengan mengirim whatsapp atau menelponnya
  7. Percayalah dengan kata sakti : karma, semesta mendukung (mestakung) , law of attraction, payback, atau apapun itu. Siapa menanam, dia mengetam. Setiap kebaikan yang kita tanam, kita sendiri yang nanti akan memetiknya. Kita membantu orang lain, next time bila terjebak dalam kesulitan, ada aja yang bersedia membantu. Begitupun sebaliknya.

Hentikan perundungan terhadap pasien Covid 19 dan keluarganya!

Kategori
Artikel/Opini Hikmah My family Oase Pernikahan PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Renungan Hidup dan Kematian Suami Istri Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Melawan Anxiety ( Kecemasan) #1

Jam 01.00 dinihari  atau sekitar itu, aku sering terbangun mendadak.

Memandang sekeliling, dan baru tersadar kalau suami terpisah jauh di tanah seberang. Malam hari bukan saat yang menyenangkan dan menenangkan saat ini. Ada banyak kecemasan yang timbul. Ada banyak pertanyaan memenuhi benak dan perasaan. Sampai-sampai, berita-berita di grup tak berani kubuka satu demi satu karena khawatir berita demi berita akan memperburuk kondisi. Bukan hanya aku yang mengalami mimpi buruk. Dua putriku akhir-akhir ini juga sering mengalami mimpi buruk.

⌛️⏳⌛️⏳⌛️⏳

“Kok kalau malam aku mimpi kayak dicekik orang atau semacamnya ya?” keluh salah satu putri kami.

Dengan gadget di tangan, berita dari Surabaya, Jawa Timur, Indonesia hingga Britania Raya dan Amerika sana mudah diakses. Berita tentang covid 19 hingga George Floyd dengan hashtag #BlackLivesMatter bisa dicari tiap detik.

“Kamu mulai cemas, Nak,” kataku. “Jangan buka lagi ya berita-berita di internet.”

Informasi sangat penting diikuti, tapi kalau sudah mulai melukai diri sendiri, harus berhenti dikonsumsi. Setidaknya untuk beberapa saat.

Kupikir, aku kebal terhadap anxiety atau kecemasan. Nyatanya tidak. Malam demi malam mulai terasa menyiksa. Bahkan ketika tubuh dipaksa berbaring sekitar jam 22.00 pun tetap saja terbangun sekitar jam 01.00. Aku sendiri bertanya-tanya. Kenapa ya terbangun jam 01.00 malam dan kemudian hampir tiap setengah jam terjaga?

  1. Peristiwa jam 01.00 malam. Sebelum era lockdown dan masa kami berpisah tempat akibat covid19, suami sempat sakit batuk. Alhamdulillah hasil rapid test negative, foto thorax pun bagus. Ke beberapa spesialis mendapatkan satu diagnose : ada gejala bronchitis. Hari-hari ketika kami bersama, suami sering terbangun sekitar jam 00.00 – 01.00 dini hari. Terbatuk-batuk. Aku ikut terjaga juga. Rupa-rupanya, itulah alam bawah sadar. Bahwa jam 01.00 harus bangun. Bangun! Bangun! Meskipun tak ada suami di dekatku. Meski tak terdengar batuknya. Sekarang kondisi kecemasanku meningkat : suami di seberang sana, apa masih batuk-batuk jam 01.00? Harusnya aku ada di sana! Harusnya suami nggak pergi dari Surabaya! Dan segala macam harusnya, harusnya, harusnya yang membombardir benak.

Setiap orang punya jam kecemasannya sendiri. Ada seorang sahabat yang serangan kecemasan hingga depresinya hadir di bulan X, bulan tertentu saat ia kehilangan putranya. Ada orang yang jam cemasnya sekitar siang, jam ketika ia kecelakaan walau alhamdulillah selamat. Dengan mewaspadai jam kecemasan, kita bisa mewaspadai alarm tubuh. Alarm tubuhku menyuruhku bangun jam 01.00 karena cemas dengan kondisi suami yang biasanya batuk jam dinihari.

Coronavirus married relationship

2. Kebiasaan merusak : ada kebiasaan anxiety yang mulai terbentuk tiap jam 01.00 malam. Dan akhirnya, perilaku buruk mulai menular. Bayangkan, jam 01.00 malam atau sekitar itu me- whatsapp suami. Menanyakan apa dia baik-baik saja. Kalau gak ada jawaban segera, kecemasanku meningkat. Akhirnya suami ikut cemas juga di seberang ; karena aku terlihat tak bisa istirahat nyenyak ketika dini hari. Kecemasan-kecemasan ini menular dengan cepat. Aku jadi kepo pingin tahu kalau malam suami ngapaian aja? Makannya gimana? Kebiasaannya gimana? Ya ampun…perhatian sebagai tanda cinta mungkin menyenangkan. Kalau overdosis, akan sangat mengganggu.

LDR Couple due to corona virus

3. Titik puncak. Suatu malam, sepertinya anxietyku sudah lumayan parah. Gak bisa tidur dari jam 01.00-03.00. Pikiran, perasaan sudah gak keruan. Pada akhirnya kucoba berdiskusi dengan diri sendiri, sebuah percakapan monolog yang pada akhirnya alhamdulillah membabat habis semua anxiety.

+ “Kalau suami sakit di sana, kamu bisa apa, Sinta?”

-“Aku nggak bisa apa-apa.”

+“Terus gimana?”

-“Aku pasrahkan sama Allah saja.”

“Bagus. Lalu gimana dengan dirimu sendiri?”

-“Aku bahkan nggak bisa ngatur nafasku sendiri. Nggak bisa ngatur detak jantungku sendiri. Bahkan diriku sendiri harus dijaga sama Allah.”

+“Kalau kamu cemas seperti ini dan gak bisa tidur, apa yang kamu lakukan?”

-“Aku akan membaca hafalan Quran yang kupunya, sampai aku tertidur.”

Dalam kondisi kacau, yang terpikir di benak adalah 3 surah terakhir al Baqarah.

Meski hafal surat-surat yang lain, entah mengapa ayat itu yang terngiang.

Kubaca beberapa ayat, lalu jatuh tertidur.

Aku terbangun lagi, masih dengan kecemasan yang sama.

Kubaca lagi 3 ayat tersebut sampai tertidur.

Aku terbangun lagi, dengan kecemasan yang sama.

Kubaca lagi 3 ayat tersebut sampai tertidur.

Aku terbangun lagi dengan kecemasan, tapi dengan perasaan lain yang menyertai. Kebahagiaan. Kelapangan.

🤲🤲🤲

“Ya Allah…betapa sombongnya aku berpikir bisa mengawasi, menjaga, merawat suamiku. Bahkan nafasku saat inipun harus Kau bantu. Jagalah suamiku ya, Robb. Jagalah anak-anakku yang tidur di kamar sebelah. Jagalah orangtuaku.”

Menyadari bahwa kita berada di titik nol, tak punya kekuasaan apapun untuk melawan sesuatu yang di luar jangkauan, justru meredakan kecemasan. Aku pun mencoba menghargai diriku yang semula merasa tak berdaya karena tak bisa berada di samping suami.

🎍💐🎍💐

“Bukan hanya para suami yang sedang berjuang saat ini, jauh terpisah dari keluarga. Mencari nafkah halal. Para istri yang berada di basecamp, menjaga diri dan anak tetap sehat juga tengah berjuang. Dengan segala keterbatasan yang ada. Termasuk keterbatasan kepastian, kapankah bisa bertemu dengan suami. Berkumpul bersama seperti dulu.

Kesabaran adalah perjuangan.

Dan kita adalah para pejuang. Termasuk aku.”

Well, setidaknya, kata-kata hiburan itu membuatku tampil sebagai pemenang 😊

Ciri-ciri anxiety atau kecemasan
Kategori
Artikel/Opini Hikmah mother's corner My family Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Renungan Hidup dan Kematian Topik Penting Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Pernikahan “New Normal” & Keluarga “New Normal”

Pernahkah terbayang pisah dari pasangan (suami/istri) lebih dari 3 bulan?Oke, mungkin ada yang terpisah untuk sementara waktu selama 6 bulan, 12 bulan, atau bahkan 24 bulan. Ada istri yang terpisah dari suami saat suami studi di luar negeri selama 2 tahun, karena beasiswa minim. Tapi itu kondisi extraordinary. Bukan kondisi normal pada umumnya.Ada yang suaminya baru pulang 3 atau 4 bulan sekali karena bekerja di pertambangan pedalaman yang sangat sulit dijangkau kendaraan. Boro-boro mobil. Sinyal saja susah. Tapi itu kondisi extraordinary, bukan kondisi normal pada umumnya.


Ada orangtua yang baru boleh menengok anak di pesantren dengan jadwal ketat 6 bulan sekali, atau bahkan 12 bulan sekali. Tapi tidak semua pesantren atau boarding school memberlakukan jadwal demikian.
Sekarang, sepertinya kita harus mulai merencanakan bahwa bertemu dengan anak-anak atau bertemu dengan istri/ suami, bisa jadi baru terealisasi berbulan-bulan kemudian. Sejak era pandemic, beberapa teman berkata tidak bertemu pasangan lebih dari 1 bulan. Bahkan ada yang sudah 4 bulan tidak bertemu.


Strategi apa yang bisa dilakukan bagi pernikahan dan keluarga “New Normal” agar keluarga kita tak berantakan akibat kehidupan yang tidak dapat diprediksi beberapa waktu ke depan? Finansial, edukasi, bahkan sekedar tatap muka saja menjadi sebuah abnormalitas. Keluarga yang stabil saja bisa berubah labil, apalagi yang sejak awal sudah menghadapi prahara. Bisa-bisa karam sebelum pandemic selesai!


🧕👳‍♂️1. Setiap keluarga harus memiliki guru spiritual yang memahami agama. Entah ustadz/ustadzah, dai/daiyah, Pak Kiai/ Bu Nyai. Buat apa? Ada banyak yang harus kita tanyakan. Misal, banyak pernikahan yang harus diselenggarakan lewat media online. Lalu, bagaimana solusi bagi suami istri yang tidak bisa bertemu lebih dari 3 bulan? Seorang yang faqih dalam agama akan membantu kita untuk memahami hal-hal haram halal, termasuk kondisi kedaruratan.


👩‍🏫👨‍🏫2. Setiap orangtua harus belajar menjadi guru. Ada anak-anak yang bisa disegerakan masuk sekolah ketika nanti jadwal tahun ajaran baru diberlakukan. Tapi ada anak-anak yang rentan secara fisik dan psikis, mungkin harus lebih lama di rumah. Homeschooling, kejar paket, dan pembelajaran sejenis akan menjadi pilihan yang masuk akal bagi orangtua.


💵💰3. Setiap anggota keluarga harus paham mengelola keuangan. Kondisi finansial setiap keluarga saat ini bukan berada dalam kurva normal. Perusahaan ambruk. Pabrik tutup, karyawan di-PHK. Kerjasama antar anggota keluarga sangat penting. Kalau tidak semua bisa menghasilkan uang, setidaknya setiap orang bisa meminimalisasi pengeluaran.Misal, ketika dulu setiap kamar harus menggunakan AC, maka sekarang anak-anak perlu dikondisikan untuk menggunakan AC bergantian. Atau tidur bersama dalam satu ruang ber-AC di kamar ukuran paling besar, jika memungkinkan. Beberapa teman yang memiliki anak usia kuliah memutuskan untuk cuti dari kuliah dan membantu orangtuanya berbisnis demi mendapatkan pemasukan yang lebih stabil untuk keluarga.


✊💪4. Setiap anggota keluarga harus saling menguatkan satu sama lain. Saling memberikan kekuatan positif.“Jangan lupa untuk Dhuha 4 rakaat,” si Abang mengingatkan saya dan adik2nya. “Aku pernah baca kalau Dhuha 4 rakaat, maka Allah akan menjamin rizqi kita hari itu.”Sebuah afirmasi yang bagus bagi kami untuk lebih giat melakukan 4 rakaat daripada hanya sekedar 2 rakaat.“Saya takut mati. Belum siap. Tiap hari bayang kematian itu begitu dekat,” ucap beberapa klien saya. Kondisi pandemic ini membuat setiap orang merasa maut mengintai. Bagus, jika itu akan meningkatkan kedekatan kita pada Tuhan. Buruk, bila yang meningkat adalah anxiety.Suami saya tak kurang cemasnya. Meng-share berita tentang tingginya angka penderita Covid 19 di Jawa Timur, meng-share berita tentang teman-temannya yang berpulang karena sakit.

Siapapun cemas.

Siapapun tertekan saat ini.

Saya pun juga takut kematian, seperti anda!

Tapi saya tidak boleh menambahkan minyak ke dalam api.“Hayo Mas, kita list siapa saja teman-teman kita yang masih sehat. Yang mau naik haji, yang berprestasi.”Bisa jadi suatu saat saya yang terjebak kecemasan dan suamilah yang harus membesarkan hati saya. Ketahuilah, pikiran positif akan membuat sebuah kesengsaraan lebih lembut terasa. Ketika kita bilang , “insyaallah gak akan jatuh.” Lalu kita terjatuh, pikiran kita akan berkata bahwa itu hanyalah terpeleset kecil.


💗☪️💖5. Setiap keluarga harus memiliki waktu khusus untuk diskusi. Yang di rumah, harus menyempatkan untuk duduk melingkar bersama. Yang terpisah, harus meluangkan untuk zoom atau vidcall. Bahasan penting harus mulai dikaji, ditelaah, didiskusikan dengan kepala dingin. Dua anak kami seharusnya menyelesaikan studi tahun ini. Tetapi, segala kemungkinan bisa saja terjadi.“Kalian harus siap ya, kalau ternyata studi kalian lebih lambat selesai.”

💑6. Setiap suami-istri harus berlatih dan memiliki skill komunikasi jarak jauh. Apa saja yang bagus untuk didiskusikan? Apa saja yang sebaiknya dihindari? Pembicaraan humor dan jokes harus lebih sering dilakukan. Hindari perbincangan yang memunculkan perdebatan sengit semisal pro kontra kebijakan PSBB. Haduh, copy darat saja bisa silang pendapat, apalagi kita berdebat lewat vidcall! Termasuk, kita mencoba berhati-hati ketika menyampaikan masalah keluarga.
❌“Anak-anak jadi sulit diatur sejak bapaknya jarang pulang,” misal istri mengeluhkan demikian.Memang, anak yang lama tidak bertemu sosok ayah akan gelisah. Tapi bukan demikian kalimat yang seharusnya dipilih. Karena bisa jadi si suami sekaligus ayah, di seberang sedang rindu dan cemas dengan kondisi dirinya pribadi.
✅Kita bisa memilih :“Ayah…ada gak kalimat semangat yang mau disampaikan untuk si Sulung? Dia lho sekarang yang jadi komandan di rumah.”Maksud hati, kita akan menyampaikan : si Sulung ini berulah. Gak ngerti tanggung jawab. Gak ngerti taat pada orangtua dst! Tapi kita membahasakan dengan kalimat yang lebih positif.Semoga setiap keluarga sukses melewati masa-masa penuh tantangan pandemic Covid 19!

Sinta Yudisia

#stayathomemom

#stayathomewife

Kategori
Artikel/Opini Catatan Jumat Hikmah Hobby My family Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Quran kami Renungan Hidup dan Kematian Topik Penting WRITING. SHARING.

7 Cara Melawan Kecemasan Akibat Pandemi Covid 19

Mengapa pandemic kali ini diibaratkan medan perang? Karena tak seorangpun tahu berapa intensitasnya, berapa durasinya. Banyak hal tak terduga terjadi.

Pertanyaan-pertanyaan membombardir benak : apa aku akan dipecat? Apa bisnisku akan gulung tikar? Bagaimana anak istriku? Apakah ada teman atau saudara meninggal? Atau, akankah aku meninggal akibat pandemic ini?Ibarat medan tempur, kita semua adalah prajuritnya. Prajurit sejati tak akan pernah tahu kapan, di mana dan bagaimana musuh akan menyerang. Ia harus siap, itu saja. Bahkan prajurit paling terlatih sekalipun, pernah mengalami anxiety atau bahkan depresi. Tetapi manusia selalu mampu -atas izinNya- menjadi pemenang dari berbagai pertempuran paling berbahaya di dunia.

Di barat ( co/: Amerika), pandemic Covid 19 menghasilkan situasi parallel yang baru : pandemic kecemasan. Bagi kita , situasi ini perlu diwaspadai dan dicermati. Ibarat prajurit yang baik, semakin mengenal medan dan senjata yang dimiliki, semakin baik melakukan pertempuran dari waktu ke waktu. Mari kita lakukan langkah berikut 😊


1. Aktivasi hati🌞💎

Overthinking menjangkiti sebagian besar warga dunia. Pemikiran yang terlalu berlebihan membuat kita cemas menghadapi hal-hal rutin, apalagi hal besar. Oh, anak sudah hampir masuk sekolah. Ah, suami tak bisa pulang lantaran terjebak lockdowndi seberang sana. Dari mana sumber pikiran berasal? Dari otak dan hati. Otak dan hati yang kosong, akan terisi dengan hal-hal keruh. Karenanya, aktivasi otak dan hati kita dengan terus berdenyut mengingatNya.

Seorang ibu yang memasak bisa mengaktivasi hatinya dengan berkata : Ya Allah, bantu aku agar masakan ini jadi enak. Seorang ayah yang berkubang dengan pekerjaannya mengaktivasi hatinya : Ya Allah, cukupkan rizkiMu. Jagalah istri dan anak-anakku, jaga orangtua kami yang tak dapat kami jenguk lantaran corona virus.Ajarkah anak-anak untuk mengaktivasi hati mereka.

“Nak, tiap kali kalian main game, baca bismillah. Tiap kali kalian nge-zoom dengan teman-teman, niatkan silaturrahim mencari ridhoNya. Kalau kalian buka line dan IG, jangan lupa baca bismillah dan shalawat.”Mungkin, konten yang dibaca anak-anak kita tak lazim untuk diawal dengan basmallah dan shalawat. Tapi inilah saatnya, mengaktivasi seluruh hati anggota keluarga untuk terhubung kepadaNya. Siapa tahu dengan demikian, anak-anak akan mengurangi keretergantungannya pada gadget. Suami akan tetap focus pada pekerjaan dan tidak mulai berpikir macam-macam (naudzubillah). Semoga para suami yang telah berpisah lebih dari 3 bulan dengan istri dan anak-anaknya diberikan kekuatan dan kesabaran.


2. Sibuk, sibuk, sibuk🏃‍♂️🏃‍♀️

Walau di rumah, jangan nganggur.Jangan terlalu banyak tidur dan bolak balik membuka channel yang sama.Sibuk, sibuk, sibuklah. Bongkar lemari. Tata kembali letak baju dan buku. Bongkar isi googlefoto dan bersihkan. Bongkar file-file lama dan rapikan. Bertanam, berkebun, atau memelihara hewan. Sibukkan pikiran, sibukkan hati, sibukkan fisik. Jangan ada kekosongan di benak dan hati; juga jangan biarkan anggota keluarga kosong dengan kelengahan. Rebahlah di pembaringan ketika mengantuk sangat, jangan ketika pikiran masih bisa berkelana dalam lamunan panjang. Pekerjaan yang biasa dilakukan pembantu, bisa diambil alih. Pekerjaan yang biasa dilakukan karyawan kita, kerjakan.


3. Ngobrol🗣🗣Anda terjebak sendiri , di perantauan? Mahasiswa atau pekerja?Sesungguhnya, anda butuh sangat teman mengobrol. Tapi, tak selalu ada pihak yang bisa diajak video call dengan whatsapp, line, zoom, google duo. Selain kesibukan, kuota jadi keterbatasan. Mengapa tak mencoba bercakap-cakap dengan Quran? Setiap kali membaca Quran dan mengeluarkan suara, posisi kita seperti orang yang tengah “bercakap-cakap”. Kita bicara, Tuhan Mendengar. Kita mendengar, Tuhan Berbicara.

Hm, kalau sudah berbicara dengan Quran dan ingin pengalaman lain?Baiklah, coba cara ini. Anda harus cari teman mengobrol. Pernah coba google assistant?

Di keluarga kami, pernah melakukannya.“Hi, do you know Siri?”Google assistant menjawab, “Siri works for Apple and I prefer…oranges.”Hahaha…lumayan terhibur!


4. Berkesenian🎥✒️

Tak heran Gal Gadot mencoba menyanyi dan diunggah. Banyak orang mencoba bernyanyi, meski suara mereka auto fals. Banyak orang mencoba kembali bermain musik, meski tak semahir Brian May atau James Hatefield. Kita harus menperhalus rasa dengan berkesenian. Entah menyanyi, memainkan music, menyusun puisi, melukis, membuat kaligrafi, membuat patchwork, membuat food-art, atau mencoba seni-seni popart lain macam Andy Warhol. Seni akan memperhalus budi pekerti seseorang dan membuat kita tidak hanya berpikir hal-hal yang banal atau perifer, tapi yang dalam dan penuh makna.Suami saya mengalihkan energi dengan melukis.Sepanjang pandemic ini sudah 4 lukisan di atas kanvas yang diselesaikan. Awalnya, ia terlihat resah dan panik, seperti orang-orang pada umumnya. Belakangan, wajahnya terlihat ceria dan happy, alhamdulillah. Kata suami, ia bisa beralih dari pemikiran negatif seperti kematian, pandemic, issue ekonomi; ke arah hobi melukis.


5. Pelajari hal baru 👩‍🏫👩‍🍳

Stacko?Uno?Pernah main dua hal di atas?Ada hal-hal baru yang sepertinya nggak terlalu penting tapi bagus untuk dipelajari agar pikiran relaks dan hati gembira. Saya pribadi baru bisa main kartu uno ketika wabah Covid 19 melanda. Bukan bermain kartunya yang penting, tapi ternyata, duduk melingkar berenam sembari bermain kartu membuat kita bisa saling bercerita banyak dalam situasi santai.Mempelajari permainan anak-anak sekarang yang dulu belum dikenal, bisa membangkitkan kegairahan yang baru.Mempelajari bahasa asing atau bahasa daerah juga bagus. Saya dan si bungsu kembali belajar menulis huruf hanacaraka. Dulu saya mahir sekali membuat surat dengan huruf jawa kuno ini, tapi sudah lupa karena berbagai kesibukan. Yang suka Jepang bisa belajar hiragana dan katakana, yang suka Korea bisa belajar hangeul.


6. Dengarkan, ucapkan berulang kalimat yang membawa semangat ✊💪Mendengarkan murottal Quran dan ma’tsurat dari gadget atau komputer adalah langkah terbaik. Saya suka sekali 2 ayat terakhir al Kahfi dan sering mengulang-ulanginya. Seperti sebuah sihir, penghibur, pengingat; ada banyak ilmu Allah yang tidak kita ketahui sama sekali.Kalau anda masih suka mendengarkan lagu-lagu, pilih yang membangkitkan semangat. Jangan yang justru mengulang-ulang kepedihan : patah hati, memory masa lalu yang menyakitkan, kegagalan.

Fight Song (Rachel Platten) bisa membuat lebih semangat terhadap kegagalan. Ulangi kalimat :

I only have one match

But I can make an explosion.

Ya, kita mungkin mengalami banyak kegagalan di era pandemic. Tapi ada masanya suatu saat kita akan membuat ledakan dahsyat dengan prestasi positif yang mencengangkan!

Double Knot (Stray Kids) juga bagus didengar.

Stand up wherever you go

You’ll make it with no trouble..

Cause my life is a five star movies

I am not done yet so

My life, your life are five star movies!


7. Carilah nasehat 💞

Kala kegundahan sudah terlalu parah, kecemasan menggerogoti, anxiety dan depresi menjadi penyakit; tak ada salahnya segera mencari nasehat. Nasehat-nasehat bijak dari guru agama bisa menjernihkan hati. Saya suka mengulang-ulang iklan Zain Ramadan 2020 . Salah satu kalimat yang saya suka, sebuah nasehat berharga :Pandemic ini pasti akan meninggalkan kitaTapi Tuhan tak akan pernah meninggalkan hambaNya

Kategori
Artikel/Opini Cinta & Love Hikmah Karyaku My family Oase Perjalanan Menulis PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Quran kami Referensi Fiksi Renungan Hidup dan Kematian Topik Penting Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Aku Pernah Merasakan Keajaiban Surat Al Kahfi💔

Pernahkah dikhianati oleh sahabat sendiri?
Ditipu hingga belasan bahkan puluhan juta?
Aku pernah merasakannya. Salah seorang yang kuanggap teman baikku, sahabatku, ternyata menipu sebuah institusi hingga puluhan juta rupiah padahal aku yang memperkenalkan teman baikku pada institusi tersebut. Sudah kulacak bukan hanya lewat whatsapp bahkan kudatangi hingga ke apartemennya di Jakarta. Tapi ia lenyap menghilang begitu saja. Ternyata bukan hanya menipuku, ia juga menipu banyak sekali teman-temanku yang lain.

💔😭
Terus terang, aku tak sampai hati mencaci-maki dan mendoakan yang jelek-jelek, mengingat ia single parent sejak lama. Aku masih berprasangka baik bahwa ia terjebak hutang piutang dan masalah besar sehingga harus menipu sana sini. Meski dari beberapa temanku sudah keluar kata-kata sumpah serapah dan mendoakan ia sejelek-jeleknya, aku hanya bisa berharap suatu saat ia sadar dan mengembalikan semua uang yang dilarikannya. Ia sudah membuat derita banyak orang, tentulah hidupnya sekarang juga sangat menderita; gak usahlah ditambahi lagi dengan doa yang jelek untuknya. Aku tak pernah percaya ada orang yang bisa hidup bahagia di atas derita orang lain! Mungkin ia bahagia dan tertawa, tapi yakinlah hanya sebentar saja.

🧐🧐
Kita pasti pernah mengukur diri sendiri, bukan?
Kalau telat bayar infaq apalagi zakat; ada saja musibah menimpa. Aku pernah menunda-nunda infaq; sepeda motorku bocorlah. Rusaklah. Pompa air meledak. Anak sakit. Pokoknya, keluar uang lebih banyak. Ketika kurenungkan; sayang-sayang uang buat infaq akhirnya malah keluar banyak.
Persepsiku, bakhil infaq saja sudah diperingatkan olehNya. Apalagi memakan uang orang lain , terlebih uang institusi ZISWAF, tentulah merasakan banyak peringatan dari Allah Swt.
Hari-hari awal aku sadar kalau ditipu, rasanya dunia runtuh.
“Masa’ sih? Dia kan sering main ke rumah? Dia kan pernah nginap di rumah? Kami dekat, sering ngobrol. Apa kebutuhannya, kita bantu.”

🏴‍☠️🏴‍☠️
Tidak percaya bahwa seorang sahabat baik bisa menipu sedemikian rupa!
Kalau dibilang nangis, sudah lewat. Marah, ngamuk; sudah nggak bisa dilakukan. Saking getirnya hanya bisa mengucap istighfar. Semoga aku sekeluarga dapat ganti rizqi lebih baik, semoga Lembaga ZISWAF yang ditipunya semakin banyak donatur, dan semoga ia sekeluarga diluruskan kembali oleh Allah Swt.

💗💕🕌🕋
Saat-saat sedih itulah, aku memperbanyak sholat sunnah dan baca Quran. Entah mengapa salah satu surat favoritku adalah al Kahfi. Suatu saat, saking sedihnya aku tertidur. Dalam mimpi, aku melihat ibuku memakai mukena, memelukku dari belakang.
“Al Kahfi,” bisiknya di telingaku.


Aku terbangun.
Terheran.
Bukankah aku sering baca al Kahfi? Bukankah aku senang dengan surat al Kahfi? Meski tak dibilang sangat menguasai tafsirnya; aku tahu isi surat al Kahfi tentang pemuda Kahfi, kisah Nabi Musa as dan Nabi Khidir, juga kisah Dzulkarnain beserta Yajuj Majuj.

💤💤
Kenapa aku mimpi ibuku, mengenakan mukena, memelukku dan berbisik al Kahfi? Aku mengikuti makna mimpiku, sebab kata Ibnu Khaldun, mimpi yang teringat terus saat bangun tidur tanpa susah payah diingat merupakan ilham Tuhan. Aku membaca al Kahfi berikut artinya. Aku lupa, entah saat itu Jumat atau tidak.

1️⃣8️⃣ : 8️⃣8️⃣
Kubaca satu demi satu artinya, hingga sampai ke ayat yang ke- 88

وَاَمَّا مَنْ اٰمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهٗ جَزَاۤءً ۨالْحُسْنٰىۚ وَسَنَقُوْلُ لَهٗ مِنْ اَمْرِنَا يُسْرًا ۗ
wa ammā man āmana wa ‘amila ṣāliḥan fa lahụ jazā`anil-ḥusnā, wa sanaqụlu lahụ min amrinā yusrā
Adapun orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, maka dia mendapat (pahala) yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami sampaikan kepadanya perintah kami yang mudah-mudah.” ( 18 : 88)
Entah mengapa mataku dan hatiku terpaku pada ayat ini. Kucari-cari tafsirnya, yang kuingat adalah, bahwa setiap berbuat kebaikan kita akan mendapat balasan. Dan kita bisa meminta balasan pada Allah Swt sebesar kebaikan yang kita pernah lakukan.

Aku berdoa pada Allah, seolah pamrih dengan kebaikan yang pernah kulakukan meski sedikit. Aku tahu, kebaikanku, amalku, pahalaku jauh dari layak. Untuk membayar nikmatNya saja tak akan pernah mampu kulakukan. Tetapi, entah mengapa saat itu aku ingin menagih padaNya. Mungkin, menagih hiburan atas kejadian buruk.

Setelah kejadian itu, betapa banyaknya nikmat Allah Swt yang dicurahkan kepadaku. Banyak sekali nikmat-nikmat rahasia yang tak dapat kuperinci satu persatu. Mulai dari novel-novelku yang alhamdulillah lancar terbit, lolos di SFAC (Seoul Foundation for Arts and Culture) dll.

Ohya, karena demikian terkesan oleh surat al Kahfi, secara special surat ini kucantumkan di salam novel 💗Reem💗 yang diterbitkan Pastelbooks, lini Mizan di tahun 2017. Sudah baca, belum? 😊

( renungan di masa pandemi corona virus / covid 19)