Menuju Munas 4 FLP, 3-5 November di Bandung : Mahabb Adib-Abdillah, Profil Ketua Panitia Musyawarah Nasional FLP

 

Lelaki muda yang kalem ini, punya banyak sekali nama. Kalau anda menemukan nama-nama beragam di dunia pelatihan, kepenulisan maupun spiritual; jangan-jangan ia adalah orang yang sama!

Usianya tak dapat ditebak.

Jangan bayangkan pula bahwa usia lajang membuatnya tak bijaksana. Ia pemuda dengan segudang pengalaman yang membuat orang ingin belajar banyak darinya.

 

Adib Munas 4 FLP.jpg

Kang Adib

Nama Asli dan Nama Lain

Kedewasaan dan pengalaman hidup membuat dirinya tampak jauh lebih matang dari usia sebenarnya. Bernama asli  Abid Ibnu Husen dengan gelar S.Sos. Nama Abid Ibnu Husen  digunakan untuk kehidupan sehari-hari dan berkarya di bidang akademik, dunia pendidikan, dan penelitian. Ia berkarier di bidang pelatihan, pengajaran, seminar, dan coaching ; dengan nama keren tercantum di berbagai media sebagai  Husain Suitaatmadja, CPS®, CPM®, atau disingkat Kang HuSu.

Kang HuSu merupakan member IPSA (Indonesia Professional Speakers Association), founder Roof Creative House (RiCH) Indonesia, dan Leadership &  Literacy Coach. Jadi, kalau kita diisi materi oleh kang HuSu; bawaannya heboh, tertawa berguling, dan seru banget pokoknya!

Eit, kang HuSu bukan hanya mahir bicara tapi juga mahir berdiam diri.

Lho, apa hubungannya?

Kebanyakan orang yang pandai bicara akan sulit menulis; sebab menulis membutuhkan energi kontemplasi, aura dingin serta ketenangan. Kang HuSu ini memiliki kedua-duanya : energi bicara dan energi berdiam.

Catat karya-karyanya!
1. 100 Kiat Praktis Sehat di Usia Senja (Elex Media Komputindo, 2013) – eh, kang HuSu ini masih muda dan single lhooo tapi sudah buat buku bijaksana seperti ini.
2. Hidup Bahagia dan Berkah Tanpa Penyakit Hati (Elex Media Komputindo, 2014)
3. How To Be A Great Man (Caesar Media Pustaka, 2015)
4. Saya adalah Pribadi Multidisipliner (Bitread Digital Books, 2017, coming soon)
5. Taman Cerita, sebagai editor dan mentor kumpulan puisi sahabat disabilitas Bandung yang tergabung dalam Workshop Menulis WOKE dan FLP Jawa Barat (Bitread Digital Books, 2017, coming soon)

 

Nama Sastra

Untuk bidang sastra, film, dan musik spiritual, petualangan, dan kemanusiaan namanya bermetamorfosa menjadi Mahabb Adib-Abdillah.

Ia adalah Ketua FLP Jawa Barat dengan sederet karya (yang di atas ternyata belum selesai bookografinya!):

  1. Ramadhan Terakhir Ludwig, novel spiritual dan keluarga (DIVA Press, 2013)
    2. Seribu Kebaikan Untukmu, antologi cerpen bersama FLP Jatinangor [sekarang Sumedang] (Salsabila, Pustaka Alkautsar, 2013)
    3. Tuhan, Aku, dan Alam, antologi kisah petualangan spiritual bersama Pantera Fisip Unpad (ANDI Publisher, 2014)
    4. Cinta dalam Tumpukan  Jerami, kumpulan prosa (Bitread Digital Books, 2016)
    5. Aneukada: Perempuan, Kopi, dan Syair, kumpulan puisi (Bitread Digital Books, 2017, coming soon)

Aduh, Berapa sih Nama Akang?

Sebagai standup comedian, penulis dan aktivis sosial untuk anak muda dan dunia anak-anak, filmmaker, dan social welfare writer, lelaki murah senyum ini memilih nama  Aaboy.

Karyanya :
1. Novel komedi inspiratif Universitas Jatinangor Oxpord a.k.a UJO (Mahaka Pubilishing, Republika Penerbit, 2013) dan kini sudah mau 4 tahun menjadi komunitas kreatif di Bandung, komunitas berbasis universitas, Kampus UJO.
2. I.B.U. (I Believe U), novel komedi keluarga dan dunia remaja (Indiva Media Kreasi, 2017, coming soon)

Ternyata, kang Husen atau kang HuSu, kang Adib, kang Aaboy atau kang Abid ini punya segudang prestasi, segudang ketrampilan dan segudang karya.

Ehm, kira-kira nanti di buku nikah mau dicantumkan nama yang mana, Akang?

Sinta, adib, milad-flp-ke-20.jpg

Dari kiri  : Adib , Roby, Gol A Gong. Paling kanan Sinta, sebelah kirinya Annisa bitread

Iklan

Menuju Munas 4 FLP 2017, November 2017

 

 

 

Tanpa terasa, perjalanan FLP tahun ini telah memasuki masa 20 tahun.

20thFLP (PNG)Banyak catatan pencapaian FLP, sebagaimana banyak pula catatan yang harus dikerjakan oleh organisasi kepenulisan terbesar di Indonesia ini.  Lahirnya penulis-penulis baru mulai usia anak-anak, remaja hingga dewasa; terbitnya beragam buku mulai buku konvensional hingga buku digital; karya-karya yang semakin luas cakupannya mulai puisi, cerpen, novel, buku motivasi, buku referensi, opini, artikel, skenario dan masih banyak lagi.

Apa saja pencapaian FLP selama 4 tahun terakhir? Apa pula catatan yang harus diperhatikan?

 

Lokal, Nasional, Internasional

Penulis-penulis FLP biasanya mengawali dari hobby dan kebutuhan ekspresi diri. Keinginan untuk melihat karyanya dibukukan, membuat penulis-penulis memacu diri menghasilkan kuantitas karya. Lihatlah karya-karya yang tertuang di media sosial mulai facebook, wattpad, hingga blog. Mereka yang rajin mengirimkan karya juga banyak. Pada awalnya mengirimkan karya ke koran-koran lokal seperti media kampus, media sekolah hingga media massa setempat.

Selanjutnya, semakin terasah kuantitas dan kualitas, maka anggota FLP akan mulai menempati karya di level nasional. Media online, media massa, majalah hingga beragam kompetisi berhasil dilalui. Jumlah yang mencapai level nasional sangat banyak; bahkan semakin lama, semakin junior usianya.

Mereka yang merambah dunia internasional pun bermunculan satu demi satu. Bukan  hanya kualitas karya, kualitas tulisan ilmiah, namun juga kiprah yang mengiringi langkah-langkah mereka. Penulis FLP mengisi ruang-ruang literasi dari Sabang hingga Merauke.

Ganjar Widhiyoga dan Yanuardi Syukur , dua orang di antara sekian banyak penulis FLP yang go international

 

 

Registrasi Online

Salah satu hal penting yang ingin dirapikan oleh FLP adalah bab organisasi.

Organisai bertujuan mengatur sekian banyak orang agar seragam visi misinya, agar seragam langkahnya. Mengelola organisasi kepenulisan yang berisi para seniman, sastrawan dan penulis berjiwa kreatif; tentu banyak tantangannya. Pada umumnya, orang-orang imajinatif enggan dibatasi gerak langkahnya. Di FLP, gerak langkah itu bukan dibatasi atau diseragamkan; namun perlu diselaraskan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia perbukuan agar memiliki daya guna dan daya saing yang tinggi.

Banyak sekali remaja, mahasiswa, karyawan yang ingin menjadi anggota FLP. FLP bukan organisasi ekslusif; namun harus memiliki basis data yang kuat. Berapa wilayah yang tercata? Berapa cabang yang terlibat? Berapa anggota riil yang masih aktif? Berapa anggota pasif yang tidak dapat membantu roda organsiasi tapi potensial di sisi yang lain?

Untuk itulah, registrasi online diadakan.

Waktu 4 tahun bukan waktu yang singkat, namun juga bukan perkara mudah mendata penulis FLP dari ujung barat ke timur. Sedikit demi sedikit, dengan ketekunan dan semangat persuasif para pengurus Pusat FLP; satu demi satu para penulis FLP mulai terdata lokasinya. Sehingga jumlah penulis FLP bukan hanya perkiraan : 5000-an, 10.000an; namun jumlah digit hingga angka terakhir diketahui. Hal ini bukan saja dibutuhkan dalam perkara material belaka, misal agar tersedia dana memadai bagi perputaran roda organisasi; namun juga dapat memetakan potensi penulis FLP di berbagai level dan jenjang, juga wilayah. Seringkali, pihak pemerintah atau lembaga non profit menghubungi FLP bila berkunjung ke suatu wilayah dan akan menyelenggarakan acara literasi. Anggota FLP relatif mudah digerakkan untuk berkumpul dan menyelesaikan suatu agenda literasi.

logo pake tanggal.png

Munas 4 FLP di Bandung, Jawa Barat

Pilihan Bandung sebagai kota penyelenggara Munas 4 bukan tanpa pertimbangan. Kota ini dapat menjadi magnet bagi para anggota FLP di seluruh Indonesia dan mancanegara untuk turut hadir dan memeriahkan pentas literasi. Munas memiliki agenda utama memilih ketua umum untuk periode 4 tahun ke depan, namun bukan hanya itu. Munas 4 FLP menjadi ajang silaturrahim yang sangat dirindukan, menjadi ajang pembelajaran segala hal, menjadi ajang tukar pendapat dan tentu saja. Penulis sangat menyukai hobby traveling yang akan memunculkan citarasa imajinasinya.

Bandung dan Jawa Barat adalah tempat indah dan nyaman dengan segala keunikan pariwisatanya yang terkenal. Kuliner, fashion, tempat wisata, bahkan agenda politiknya pun dilahap masyarakat Indonesia dengan penuh rasa ingin tahu. Harapan panitia, Munas 4 FLP akan menarik sebanyak mungkin peminat untuk hadir dan turut memeriahkan acara.

Acara Munas 4 FLP ini insyaallah akan diselenggarakan dari tanggal 3 hingga 5 November 2017. Maka bersiaplah untuk ikut berguncang dalam acara dahsyat ledakan literasi!

 

Di bawah ini karya-karya FLP yang telah terbit nasional dan internasional

FLP & Penulis yang Sukses di Era Digital

Milad ke-20 FLP yang berlangsung di Bandung berjalan sukses, hangat dan meriah.

Parade penulis senior hingga junior di panggung, memberikan orasi 15 menit yang sangat memperkaya peserta yang hadir, termasuk  saya. Rasa-rasanya ilmu kepenulisan kita masih jauh dari cukup untuk menghadapi tantangan di era global.

Hadir di acara-acara FLP membuat saya semakin bersemangat untuk terus menulis, berorganisasi dan menambah wawasan keIslaman. Bagaimana tidak?

Di era digital, bukan hanya niat yang harus terus menerus diperbaharuai agar senantiasa ikhlas dan tawakal kepada Allah Swt. Kadang, niat baik kita tidak selalu bak  gayung bersambut dengan arus pasar. Akibatnya, tulisan (fiksi atau non fiksi) yang telah susah payah dituangkan tidak laku di pasaran. Bahkan, jeblok, begitu cepat write off. Padahal tulisan tersebut kita tulis susah payah dengan referensi yang  banyak sekali. Sementara mereka yang menulis asal-asalan, mengikuti selera pasar, terkesan menulis apa adanya justru laris manis. Menuai keuntungan material yang besar.

Lantas, apa yang harus dilakukan oleh seorang penulis?

Tanpa mengurangi niat awal dakwah bil qolam, senantiasa menebar kebaikan dan pencerahan dengan pena yang digoreskan, penulis-penulis FLP harus siap go international. Bukan hanya go local dan go national saja.

Simak apa saja yang disampaikan oleh para suhu dunia literasi ini. Jangan lupa untuk terus mengasah kemampuan dan tidak lupa, mental baja!

sinta, irfan,  pks.JPG

Sinta Yudisia, Irfan Hidayatullah dan buku Prejengane Kutho Suroboyo karya FLP Surabaya

Masyarakat Sastra (Irfan Hidayatullah)

FLP telah membentuk masyarakat sastra sendiri yang saling memengaruhi satu sama lain. Masyarakat sastra terdiri dari :

  1. Pembaca
  2. Penulis
  3. Penerbit
  4. Pasar
  5. Kritikus

FLP (Forum Lingkar Pena) awalnya adalah masyarakat pembaca. Setelah menjadi pembaca rutin dan kritis, timbullah keinginan untuk menciptakan karya sastra sendiri. Masyarakat pembaca ini lambat laun menjadi masyarakat penulis. Beberapa anggota FLP pun duduk di penerbitan seperti Ali Muakahir, Koko Nata, Benny Rhamdani. Rahmadiyanti Rusdi, Afifah Afra dan masih banyak lagi. Pasarnya sudah jelas, yaitu orang-orang yang suka membaca buku-buku dengan genre tertentu : genre yang mencerahkan, religius dan tidak meninggalkan gaya khas anak muda.  Dari lingkaran ini muncul pula kritikus sastra yang tumbuh dari kalangan aakdemisi dan sastrawan/ budayawan seperti Taufik Ismail, Joni Ariadinata, Irfan Hidayatullah, Topik Mulyana, dkk.

Masyarakat sastra ini sungguh luarbiasa sebab telah membentuk mata rantai ekosistem tersendiri yang akan saling memberdayakan satu sama lain. Penulis FLP insyaallah tidak akan mati, sebab telah memiliki pangsa pasar tersendiri. Meski demikian tetap saja, setiap penulis harus terus mengasah dirinya akan semakin berkualitas. Apa sumbangsih FLP selain dunia perbukuan? FLP juga memberikan kontribusi secara langsung maupunt idak alngsung kepada dunia sinema. Para penulis yang tergabung di FLP seperti Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, Habiburrahman el Shirazy dan banyak lagi rekan-rekan FLP yang giat mennulis scenario film; menjadikan dunia sinema tanah air semakin berwarna.

Industri film yang dikuasai Hollywood (Amerika), sesungguhnya cukup tersaingi oleh industry film dari negara-negara yang ingin maju ke pentas dunia. 5 negara yang menjadi kompetitor Hollywood adalah India, Perancis, Singapur, Korea Selatan dan Thailand. Pemerintah Perancis mensubsidi film-film Perancis agar dapat bersaing dengan film-film lain. Sementara India memasang strategi, para sineas disekolahkan di Amerika untuk kembali ke India membuat film sendiri yang tak kalah menarik dan mewah. Bollywood adalah salah satu industri film yang memiliki warna terendiri, tidak kalah dari Hollywood.

sinta,helvy,212

Helvy Tiana Rosa dan buku 212

Catatan untuk FLP (Helvy Tiana Rosa)

Bunda kandung FLP ini memberikan beberapa catatan penting terkait FLP setelahh memasuki usia 20 tahun. Point penting tersebut antara lain :

  1. Kaderisasi
  2. Kemampuan menguasai media
  3. Kemampuan “menjual diri”

Helvy TR mengutip ungkapan Jamal D. Rahman bahwa FLP telah mampu membuat lingkaran sendiri. Lingkaran itu adalah para pembaca, penerbit,  para penulis dan juga pasar. Lingkaran ini merupakan simbiosis mutualisme yang akan saling menguntungkan satu sama lain.

FLP harus mampu mengakder penulis-penulis baru dan tidak hanya memunculkan penulis senior. Penulis FLP harus terus mengasah diri untuk mampu menguasai media. Meski demikian, banyak penulis FLP yang bagus tidak mampu “menjual diri” karena rasa malu atau terlampau  tawadhu. Maka menjadi kewajiban organisasi untuk mampu memoles penulis-penulis berbakat ini agar mampu muncul ke permukaan.

sinta, maimon, pks, 212

Heboh menjelang foto bersama 🙂

Kiat Penulis Masa Kini (Benny Rhamdani)

Penerbit sesungguhnya terus membutuhkan penulis dan karya-karya mereka. Apa saja syaratnya agar mampu bersaing di era digital?

  1. Penulisnya terkenal
  2. Contentnya bagus

Yang dimaksud penulisnya terkenal bukan selalu penulis senior. Tetapi penulis yang rajin terus mempromosikan karya-karyanya di media sosial. Penulis yang rajin memposting bahwa ia sedang menulis buku berjudul dan bertema X. Penerbitan adalah industry content jadi contentnya tentu harus bagus.  Banayk contoh content yang menarik untuk dijual.

Puisi pendek yang dulu tidak laku, belakangan laku dijual. Buatlah quote-quote dari halaman tersebut untuk mempromosikan karya terbaru.

Ada juga penulis yang beralih profesi menjadi pekerja seni lettering yang karyanya terpampang di dinding –dinding rumah atau bangunan sebagai karya seni.

Penulis seharusnya menjadi trendsetter. Bukan follower.

Follower akan cepat laku namun juga cepat pudar. Sementara penulis trendsetter akan selalu establish, sayaratnya ia harus banyak membaca.

Bagi Benny Rhamdani, gadget tidak selalu bermakna negative bagi penulis bila ia tahu memanfaatkan. Ia bercerita, pernah menemui anak-anak muda yang seolah-olah tenggelam dalam gagdetnya namun sesunggunya tengah menulis di wattpad. Untuk media sosial jangan malu untuk memfollow seseorang agar dapat saling belajar dan saling mempromosikan.

MIlad FLP ke 20

Adib (ketua panitia), Roby (penulis junior FLP), Gol A Gong, 3 peserta yg beruntung, Annisa (bitread), Sinta Yudisia

Berapa Besar Sumbangsih FLP (Forum Lingkar Pena) bagi Indonesia?

 

 

22 Februari 2017, Forum Lingkar Pena tepat berusia 20 tahun.

flp

Organisasi ini di sebut Taufik Ismail sebagai  ‘anugerah Tuhan bagi bangsa Indonesia’, sebuah ucapan yang layak direnungkan dan dibanggakan bagi segenap anggota serta pengurus FLP di Indonesia maupun perwakilannya di luar negeri.  Dalam angka yang diakhiri dengan imbuhan –an ; anggota FLP mencapai ribuan bahkan belasan ribu dengan buku-buku yang juga mencapai ribuan sejak organisasi ini berdiri di tahun 1997. Jumlah pastinya, haruslah disesuaikan dengan dinamika serta arsip organisasi. Mengingat, menggabungkan anggota yang penuh daya imajinasi dan kreativitas lalu merapikannya dalam struktur organisasi bukannya perkara mudah.

Milad FLP 19, Yogya.JPG

Yogyakarta-Ulang tahun FLP ke 19, 2016

Memandang  konstelasi perbukuan dan dunia sastra, dimanakah letak FLP? Apakah penulis-penulis FLP merupakan seniman serta sastrawan yang berkualitas yang karyanya pantas dibanggakan mulai level lokal, nasional hingga internasional? Apakah karya-karya FLP layak menembus pasar global internasional dan menjadi karya sastra yang mewakili wajah Indonesia?

 

Keberagaman anggota FLP

Salah satu asset luarbiasa dari FLP adalah demikian penuh keragaman corak dari anggota yang tersebar di penjuru Indonesia serta di beberapa titik mancanegara. Usia SD-SMP dikelompokkan sebagai FLP kids, diatas itu bergabung menjadi anggota FLP regular. Setiap cabang dan wilayah punya kekhasan masing-masing yang disesuaikan dengan kultur setempat serta ketersediaan sumber daya. BPP FLP memantau wilayah-wilayah, memberikan masukan serta mengatur seluk beluk keorganisasian.

rohingya-2

FLP kids menampung anak-anak SD –SMP yang sangat menyukai dunia tulis menulis. Mengingat buku-buku karya penulis cilik sangat digemari di seantero Indonesia, penerbit sangat membutuhkan karya-karya bermutu. Lini PECI (penulis cilik Indonesia) dari penerbit  Indiva, KKPK (kecil-kecil punya karya) dari Mizan; adalah beberapa yang sangat giat menerbitkan karya para penulis cilik. Tentu, penerbit memiliki cara tersendiri dalam menyaring tulisan berkualitas yang disukai pasar; namun, FLP pun turut membantu menyuburkan semangat berkarya di kalangan anak-anak Indonesia.

FLP Jombang, FLP Padang, FLP Lampung

 

Bagi remaja, untuk usia SMA dan mahasiswa, FLP menjadi organisasi kepenulisan yang diperhitungkan. Betapa banyak orangtua yang menginginkan anaknya mengembangkan bakat minat dibidang kepenulisan, mengontak FLP pusat atau wilayah dan meminta narahubung dari FLP yang terdekat. Remaja-remaja ini yang memang memiliki hobby membaca pada awalnya, lama-lama ingin mengembangkan diri dengan menulis. Apalagi, pekerjaan menulis sekarang bukan hanya terbatas membuat buku, menerbitkan cerpen, menulis puisi. Penulis sekarang lebih berkembang lagi profesinya mencakup penulis scenario, blogger, penulis lagu, hingga penyedia konten dari media-media online. Remaja-remaja berbakat menemukan FLP sebagai salah satu wadah yang memahami kebutuan mereka, menjadi organisasi yang asyik dan seru untuk membahas seputar dunia sastra terkini. Bukan itu saja, dari ranah kepenulisan, bahasan yang didiskusikan di media sosial dapat berkembang mulai film, music hingga politik. Anak-anak muda di FLP belajar untuk menuliskan opini mereka sendiri, bukan hanya sekedar copy paste, potong-salin. Bukan hanya sekedar broadcast. Anak-anak muda di FLP berusaha menilai sesuatu dari sudut pandang pribadi, dari perenungan dan penafsiran versi sendiri.

Terkadang, di WAG atau whatsapp grup FLP timbul ketegangan ketika membahas politik. Namun uniknya, anak-anak muda ini berusaha untuk terus menajamkan tulisan dengan bersumber pada fakta dan data; serta mencoba untuk berargumentasi dengan tagline sastra santun. Apa yang kita pikirkan, apa yang kita rasakan, apa yang kita lakukan dan katakan serta tulisan; haruslah dengan kesantunan. Ketika menyerang satu pihak atau mengkritik satu golongan; tidaklah perlu menggunakan kata-kata yang tidak pantas. Anak-anak muda di FLP tumbuh menjadi generasi yang suka membaca, suka menulis. Maka bila kita membaca tulisan mereka diblog atau facebook, terasa sekali bahwa penulis FLP membawa nuansa yang berbeda. Konyol lucu, menghibur, namun bukan tong kosong.

Kalangan dewasa FLP, terdiri dari lebih banyak ragam elemen. Dosen, guru, karyawan, peneliti, sastrawan, PNS, pengusaha, editor, mahasiswa,  maupun kalangan professional lain. Ada pula kalangan pekerja istimewa yang dikenal sebagai tenaga kerja  Indonesia, yang bekerja di Hong Kong dan Taiwan. Karya-karya mereka telah diakui secara lokal, nasional bahkan internasional. Bagi guru, nama Gegge Mappangewa dari Makassar, Umi Kulsum dari Jombang, dan Khairani dari Banjarmasin adalah beberapa nama FLP yang karyanya berulang-ulang meraih penghargaan. Bukan hanya karya, namun juga kiprahnya di dunia belajar mengajar menjadi teladan bagi sesame guru mupun menjadi motivator bagi siswa. Agaknya, kemampuan mereka menulis menjadi salah satu point tersendiri untuk menjadikan para guru dan anggota FLP ini sebagai sosok teladan.

Di kalangan dosen dan penulis, FLP memiliki nama-nama Helvy Tiana Rosa, Irfan Hidayatullah; keduanya mantan ketua FLP terdahulu. Topik Mulyana, juga salah satu dosen dan pengurus FLP yang tulisannya tersebar di media massa sebagai sastrawan atau kritikus. Dari kalangan peneliti, muncul nama Maimon Herawati dan Ganjar Widhiyoga. Dua orang ini bak suhu kungfu yang akan turun gunung ketika dunia gonjang ganjing dengan segala hiruk pikuk berita hoax. Setiap kali tulisannya diunggah ke media massa, Maimon Herawati dan Ganjar Widhiyoga akan menuai banyak likers (juga haters) dan dishare ke banyak mungkin pembaca. Dari kalangan professional, nama-nama Intan Savitri sebagai ilmuwan psikologi, Yeni Mulati (Afifah Afra) sebagai CEO  ; menjadi referensi berharga bagi pembaca tiap kali mereka menelurkan tulisan baik buku atau sebuah catatan di media sosial. Di kalangan selebritas sendiri, tentu tak asing nama Habiburrahman el Shirazy dan Asma Nadia sebagai penulis-penulis kondang yang memberikan warna luarbiasa bagi dunia perfilman Indonesia.

Adakah kalangan istimewa dari FLP?

Tentu saja, kalangan ibu-ibu. Para ibu disini adalah ibu-ibu yang luarbiasa. Ditengah kesibukan dan tingkah polah mereka yang sangat spesifik sebagai kaum ibu yang cerewet, suka belanja, suka mengomel; para ibu  menelurkan karya-karya yang  sangat membanggakan. Selain buku-buku, penulis perempuan FLP banyak aktif sebagai blogger dan meraih banyak keuntungan baik financial maupun immaterial. Sebut saja Pipiet Senja, Naqiyyah Syam, Gesang Sari, Risalah Husna, Sri Widiyastuti, Puspitasari, Fauziah Rachmawati, Lina Astuti dan masih banyak lagi.

Blogger laki-laki?

Wah kalau ini jangan ditanya, jumlahnya menjamur di FLP!

Ali Muakhir, Koko Nata, Bang Aswi, Rafif Amir, Sokat Rahman, Bang Syaiha, Billy Antoro, Ilham Anugrah yang bila ditotal jumlah blogger FLP, mencapai puluhan bahkan ratusan. Mengapa demikian? Sebab rata-rata penulis FLP memiliki blog yang rutin dipelihara dengan tulisan dan laporan pandangan mata. Para blogger ini bukan hanya sibuk mengejar prestasi di dunia blogging, namun juga aktif dalam profesi masing-masing di dunia nyata.

Selain kelompok di atas, masih ada beberapa golongan di FLP yang demikian unik. Dua di antaranyanya adalah para pekerja serta mahasiswa perantauan di luar negeri.

FLP Hongkong.jpg

FLP Hong Kong

BMI Hong Kong dan pekerja di Taiwan adalah wilayah FLP yang sering menuai kekaguman akibat sepak terjang mereka yang luarbiasa. Bukan hanya mereka hidup di negeri orang, bekerja sebagai karyawan pabrik atau rumah tangga; hidup di level marginal, terpinggirkan dan kadang tidak dihargai secara layak; pada kenyataannya para pekerja Hong Kong dan Taiwan ini merupakan penulis-penulis yang luarbiasa. Sebut saja di antaranyanya Rihanu Alifa, Anna Ilham, Enda Soedjono, Shanna Azzahra, Indira, Ssy Laili. Mereka bukan hanya aktif di media sosial namun juga menulis di koran-koran lokal yang beredar di Hong Kong dan sekitarnya.

Mahasiwa perantauan di luar negeri, pun memberikan contoh luarbiasa bagaimana para pelajar harus membagi dengan bijak antara keuangan untuk mengelola organisasi, membeli buku, dan hidup cukup di perantauan. Bagaimana harus membagi waktu antara belajar, membaca jurnal (tentu dalam bahasa asing!), membaca referensi dan menelurkan buku-buku. FLP Mesir, FLP Yaman , FLP Turki, Maroko, Arab Saudi, Malaysia yang namanya terlalu panjang untuk disebutkan satu persatu. Anggota FLP yang pulang ke tanah air pun terus bergiat menyelesaikan karya seperti Awy Qolawwun yang merupakan jebolan FLP Arab Saudi, Adly el Fadly yang merupakan jebolan FLP Yaman, Irja NAshrullah yang masih aktif di FLP Mesir.

Demikian beragamnya anggota FLP hingga satu sama lain saling memberikan informasi berharga terkait dunia literasi yang tengah berkembang, issue-issue kekinian, berbagi ilmu sesuai dengan kapasitasnya, berbagi informasi lomba dan saling mendorong untuk meraih prestasi. Keragaman anggota FLP ini memperkaya para anggota untuk terus memacu masing-masing individu terus dan terus belajar.

 

Karya-karya yang terus berkembang

Karya FLP pernah dianggap karya kacangan.

Mengingat karya-karya tersebut begitu sederhana, begitu seragam dengan karya-karya sebagian besar anggota FLP, tidak menimbulkan makna yang dalam serta tidak layak untuk disejajarkan dengan karya-karya besar HAMKA atau Pramoedya.

Mengapa dianggap kacangan?

Memang karya FLP banyak yang seragam. Mengingat salah satu pilar FLP adalah keIslaman; banyak anggota FLP yang masih memahami karya Islami haruslah memiliki alur pesantren, masjid, tokoh berjilbab dan berjenggot. Kisahnya seputar mendapat hidayah saat menjadi mahasiswa kampus yang aktif di rohis, menjadi suka al Quran ketika di pesantren, atau mendapat kesempatan studi ke Timur Tengah.

Karya FLP dianggap minim kekayaan diksi serta mudah ditebak alurnya. Awalnya susah, lalu happy ending. Akhir yang mudah sekali diprediksi : menikah dengan sesama orang sholih, berhasil mendapatkan akhwat cantik idaman, lulus beasiswa dengan gilang gemilang, menjadi dosen dan disukai banyak mahasiswa.

Sesungguhnya, karya FLP tidaklah bisa disebut karya ‘kacangan’.

Siapakah HAMKA dan Pramoedya?  Adalah orang-orang yang kenyang makan asam garam kehidupan. Hidup dalam situasi sosial dan politik yang panas, merasakan peperangan dan penjara yang pedih. Sebagaimana kata Nietzche : hanya peperangan yang dapat membuktikan siapa manusia sesungguhnya, siapa binatang sesungguhnya.

Anggota FLP yang masih SMA dan mahasiswa, ibarat anak yang belajar berjalan, masih tertatih-tatih meraba-raba. Mereka seringkali harus menyisihkan uang untuk membeli buku sendiri yang bagi kantong Indonesia relative mahal, mereka juga tidak duduk di bangku fakultas FIB atau jurusan sastra. Mereka adalah anak-anak yang senang membaca, menulis, membaca, menulis. Karya-karya mereka adalah latihan yang sesunggunya. Sejak awal, mereka harus kenyang dengan kritikan pedas dan Alhamdulillah, mereka pantang mundur, terus menulis dan terus belajar. Perubahan-perubahan itu terlihat pasti merayap. Satu demi satu adik-adik FLP meraih penghargaan di tingkat lokal. Baik lokal sekolah, lokal kampus, lokal regional di koran kota. Lalu mulai muncul di koran nasional, di media online nasional, memenangkan lomba yang ringan persaingannya hingga lomba-lomba yang berat persaingannya serta level jurinya.

Adalah tokoh-tokoh FLP seperti Habiburrahman el Shirazy, Asma Nadia, Benny Arnas yang level ketokohannya diakui dunia. Mereka tidak lagi hanya memberikan pelatihan di tingkat Indonesia, namun diminta mengisi acara-acara di berbagai event di mancanegara. Ada banyak potensi di FLP yang insyaallah siap mengekor keberhasilan para pendahulunya seperti Asma Nadia, kang Abik dan Benny Arnas. Mashdar Zainal, salah satu anggota FLP Jawa Timur yang karya-karyanya tembus secara fantastis di koran ‘sulit’ seperti Jawa Pos dan Kompas.

Karya-karya kacangan FLP, akan terasa kacangan bila dikunyah oleh orang-orang dewasa yang level bacaannya sekelas para peraih nobel, pullitzer, dan penghagaan dunia lain : Najib Mahfudz, Amin Malouf, Rudyard Kipling, Orhan Pamuk, Serdar Ozkan, Nicholas Carr. Namun karya-karya ‘kacangan’ FLP akan menjadi kue lezat bagi sesama remaja yang butuh asupan bacaan ringan. Dan, mereka membutuhkan bacaan sejenis yang banyak jumlahnya.

Seorang gadis yang ingin memakai jilbab; akan terinspriasi oleh novel-novel tentang jilbab sekalipun alurnya kacangan, bombastis, tidak masuk akal, tidak relevan bahkan terlalu mengada-ada. Bila ia membaca 5, 10, 20 novel serupa yang menceritakan pengalaman memakai jilbab; bukan tidak mungkin ia pun pada akhirnya mantap berkerudung.

Seorang pemuda yang maju mundur untuk studi di pesantren; ketika membaca buku-buku yang mirip dan terkesan ‘sastra abal-abal’ ; sesuai level usianya yang masih suka menelan hal yang renyah dan ringan; pada akhirnya terdorong masuk ke pesantren dan membuka pintu kesadarannya untuk berjuang mengenyam pendidikan serius serta memangsa kitab-kitab yang jauh lebih berat dari sekedar naskah kacangan.

Anak-anak SD, yang masih suka berimajinasi dan membaca perkara ringan tentang dunia peri, dunia fantasi, kehidupan ala istana dan putri-pangeran; terdorong banyak menbaca buku ‘kacangan’ yang mungkin tidak sekelas Little Women (Louisa May Alcott) ,  Secret Garden (Burnett), Kim (Rudyard Kipling) atau bahkan Toto Chan. Namun, ketersediaan buku-buku ringan ini akan mendorong mereka memangsa buku level lebih tinggi dan pada akhirnya mereka suka mengunyah buku berat dan suatu ketika, menghasilkan karya sastra yang lebih mumpuni di waktu-waktu yang berikut.

Belajar menulis membutuhkan perjuangan panjang.

Tidak hanya dibatasi oleh bangku kuliah 4 tahun untuk S1, 2 tahun untuk S2. Belum tentu mahasiswa FIB atau sastra mampu menuliskan buku berkualitas bila mereka tidak mau belajar dengan susah payah. Sebagaimana belum tentu mahasiswa S2, S3 dan peneliti dapat menulis karya ilmiah dengan luwes dan dapat diterima oleh masyarakat luas. Menulis karya ‘kacangan’ kadang merupakan stimulant awal bagi penulis untuk belajar bagaimana menyesuiakan ritme kesibukan dengan target menulis : berapa buku setahun, berapa bulan selesai 1 buku, berapa bab harus dikerjakan 1 minggu, berapa halaman dalam 1 hari dan berapa jam untuk menulis. Ketika ritme menulis ‘kacangan’ ini terbentuk; lambat laun dengan dorongan individu dan organsisasi akan tercapai karya-karya yang semakin berbobot dari waktu ke waktu.

FLP, memang dikenal sebagai pabrik penulis.

Terkesan sebagai organisasi yang mengeluarkan penulis-penulis karbitan, penulis kuantitas bukan penulis kualitas, penulis kualitas pabrik bukan kualitas butik. Meski demikian; segala kritik tentu berharga bagi tumbuh kembang sosok individu dan organisasi. Mereka yang telah bertahun-tahun menulis, tentu harus berupaya meningkatkan kapasitas diri agar karya tulis tidak selamanya kacangan. Bolehlah karya-karya ‘kacangan’ dihasilkan oleh anggota pemula; semakin tinggi level anggota FLP di tingkat madya dan andal; maka proses kreativitasnya harus terus bejalan. Karya yang dihasilkan pun harus semakin berat bobot kualitas, keilmuan, logika berpikir, maupun maknanya.

Proses, adalah bagian yang diakui di FLP.

Tidak ada proses sekali jadi.

Tidak ada proses yang singkat.

Tidak ada proses yang hanya seminggu.

Semua proses, bahkan penciptaan langit dan bumi melalui 7 tahapan di ‘tangan’ Allah Swt . Apalagi proses manusia,  mungkin melalui puluhan, ratusan, ribuan tahapan.

 

FLP dan pasar lokal-global

FLP cukup berhasil menyasar pasar lokal. Terbukti, walau dunia penerbitan pasang surut, penulis-penulis baru di FLP bermunculan mengeluarkan novel dan karya non fiksi.

Anggota FLP yang memiliki basic ilmu syariah seperti Irja Nashrullah, Awy Qolawun, Adly el Fadly suskes menggarap pasar nasional yang membutuhkan buku-buku kajian keIslaman dengan bahasa ringan; bukan bahasa referensial yang cendeung berat.  Afifah Afra, Naqiyyah Syam; sukses menggarap pasar remaja putri dan ibu-ibu. Ali Muakhir, Koko Nata, Sri Widiyastuti sukses menggarap pasar anak-anak. Habiburrahman, Asma Nadia sukses menggarap pembaca perempuan; sementara Benny Arnas dan Mashdar Zainal sukses memanfaatkan ceruk sastra yang jarang digeluti penulis karena effortnya yang cukup besar. Rafif Amir, Gesang Sari, Sokat Rahman, Billy, Aprillia, dkk  dan blogger FLP sukses menggarap pasar online yang celahnya sangat terbuka dan ramai.

Dalam era digital, FLP mencoba beradaptasi.

Kertas-kertas berimbas pada penebangan kayu yang mengancam paru-paru dunia. Disisi lain, orang-orang masih belum terbiasa menggunakan perangkat elektronik untuk membaca buku. E-book sebuah keniscayaan, namun juga cepat memunculkan kelelahan. Apalagi, orang cenderung membuka media sosial ketika berinteraksi dengan gawai dan cepat teralihkan dari niat semula yang ingin membaca buku elektronik. Buku-buku berhana baku kertas masih diminati, walaupun juga, manusia harus dibiasakan semakin efektif efisien dalam bertingkah laku.

Bekerja sama dengan beberapa media online seperti beetalk, bitread dan UC News; merupakan satu langkah FLP memasuki pasar lebih luas. Anggota FLP tidak hanya harus belajar menulis fiksi – non fiksi; tapi juga belajar menulis materi-materi up to date yang diminati masyarakat luas mulai bahasan Donald Trump-Melania, hingga bagaimana hidup awet muda.

 

Apa yang Diberikan FLP pada Indonesia?

Jawabannya adalah Sumber Daya Manusia.

SDM adalah asset sangat mahal yang menghabiskan modal luarbiasa besar. Dalam sebuah perpustakaan di Seoul, terpahat reader is leader. Pembaca adalah pemimpin. Begitupun pemimpin adalah seorang pembaca. Negarawan kita adalah pembaca, penulis dan orang yang tiada berhenti belajar. Bung Karno, bung Hatta, Mohammad Natsir, HAMKA, Ki Hajar Dewantara, adalah para pembaca yang luarbiasa. HAMKA bahkan mewajibkan dirinya membaca buku dalam beragam bahasa untuk menajamkan otak. Pantas saja, Indonesia berhasil melawan kekuatan asing yang luarbiasa tangguh. Mereka memiliki senajta, kita memiliki daya juang.

FLP memberikan pada Indonesia sekian ribu manusia yang suka membaca dan menulis. Mereka bukan hanya orang-orang yang duduk di bangku akedemis; namun juga para buruh dan tenaga kerja marginal. Mereka bukan hanya orang yang terbiasa duduk di belakang meja mengerjakan laporan keuangan, namun juga para ibu yang bergelut dengan harga cabai. Mereka bukan hanya para dosen dan guru, tapi juga para pelajar SD hingga mahasiswa.

FLP memberikan kesempatan berproses. FLP memberikan lingkungan yang nyaman bagi para pembaca dan (calon) penulis. FLP mengasah kemampuan di luar bakat minat yang paling dasar. FLP memberikan para penulis informasi dan jaringan berharga yang harus dimiliki penulis untuk go local, go national, go international. Dalam ranah global dewasa ini, tidak ada seseorang yang dapat berhasil hanya secara individual. Ia butuh dukungan, butuh kelompok, butuh orang-orang di belakang layar.

Di belakang layar FLP; tersebar ribuan anak muda yang namanya tidak tercantum sebagi penulis atau blogger. Mereka adalah para buzzer dan reviewer yang rela mem-boost buku, agenda literasi, kegiatan kepenulisan agar sukses. Mereka adalah pengurus-pengurus FLP Pusat, wilayah, cabang, hingga ranting yang bersedia berpayah-payah menjalankan roda organisasi agar tercipta harmonisasi antara penulis, dunia perbukuan, kalangan media dan penerbitan yang harus terus bersinergi untuk menghasilkan karya-karya spektakuler. Orang-orang di belakang layar inilah yang membantu munculnya penulis-penulis tenar dan popular.

FLP Wilayah Jawa Barat, FLP Wilayah Jawa Timur, FLP Wilayah Riau

Bersama FLP, hadir wajah-wajah muda, wajah-wajah baru penulis; maupun hadir wajah-wajah penulis yang terus bermetamorfosa menjadi HAMKA dan Pramoedya yang berikutnya.

Selamat ulangtahun ke 20, FLP.

Berarti, berkarya, berbagi.

Teruslah berjuang dengan pena!

1 Jam : Bantuan Berharga bagi Komunitas Marginal

 

 

Satu jam dapat anda lakukan untuk mengerjakan banyak hal : membaca  buku, menonton film, berjalan-jalan. Tahukah anda, ada orang yang 1 jam hidupnya digunakan susah payah belajar membaca akibat dyslexia, berlatih motorik halus karena cerebral palsy, mencoba memahami perintah sederhana bagi  penyandang  hearing impairment, bertahan melawan halusinasi bagi orang dengan skizofrenia yang terancam relapse?

World Health Organization menetapkan 15% penduduk dunia merupakan kaum disabilitas, belum termasuk mereka yang mengalami gangguan mental dan kepribadian seperti skizofrenia. Sekalipun orang-orang yang mengalami impairment terlihat cacat,  bila terasah dapat melampaui level disability bahkan tidak lagi handicapped. Tiga level yang ditetapkan WHO adalah impairment atau kecacatan, biasanya menimbulkan disabililty atau ketidak mampuan mengerjakan tugas-tugas kemandirian. Pada akhirnya memunculkan handicapped, ketidakmampuan melakukan aktivitas sosial.

Duapuluh satu juta adalah angka fantastis bagi penderita skizofrenia di dunia, dimana 50% keluarga ODS (orang dengan skizofrenia) sama sekali tidak memiliki kecakapan memadai untuk merawat mereka.

 

Kekhususan Kaum Marginal

Pemerintah tak akan sanggup menangani semua anak berkebutuhan khusus atau children with special needs yang membutuhkan bukan hanya dukungan keluarga, lingkungan, tetapi juga pendidikan yang sesuai. Anak berkebutuhan khusus mencapai 15,6% dari keseluruhan populasi.

Orang-orang disabilitas, orang-orang dengan gangguan mental dan kepribadian bukanlah sampah yang sama sekali tak bermanfaat bagi masyarakat. Kehadiran mereka merupakan anugerah bagi bangsa dan negara. Dalam konteks agama manapun, kehadiran orang yang “spesial” selalu dikaitkan dengan harapan dan kesabaran.

Aktivitas dan karya tunarungu

 

Tunarungu, diakui sebagai disabilitas yang memunculkan karakter tekun, pekerja keras juga jujur. UPT rehabilitasi di Bangil, Jawa Timur, mampu mendidik siswa-siswa yang menghasilkan keahlian menjahit beragam bentuk termasuk bordir yang halus. Bahkan, kegiatan seni budaya seperti bela diri, menyanyi, menari juga dapat dilakukan dengan trampil. Satu-satunya kekurangan mereka hanyalah pendengaran yang rusak alias hearing impairment . Namun mereka tidak lagi dianggap disability sebab mereka telah mampu menyelesaikan tugas-tugas kemandirian termasuk mandiri finansial. Bukan itu saja, tidak lagi ada gangguan handicapped yang menyebabkan mereka tidak dapat berinteraksi sosial sebab mereka dapat berkomunikasi meski menggunakan bahasa isyarat.

 

Komunitas Berbasis Keluarga dan Masyarakat

Di Indonesia, komunitas-komunitas berbasis hobi atau keluarga yang mengalami permasalahan serupa semakin banyak muncul. Kelompok ini berdiri lebih karena rasa empati, keinginan untuk berbagi dan  berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Sejak awal berdiri hingga operasionalnya, banyak yang dilakukan dengan swadaya.

Kenalkah anda dengan Safrina dan Hadi Wasito?

Safrina, FLP, Hadi Wasito

Keduanya penyandang cerebral palsy namun banyak menorehkan prestasi. Kedua-duanya aktif menulis dalam forum lingkar pena atau yang dikenal sebagai FLP. Sebagai organisasi kepenulisan, awalnya FLP hanya  bergerak untuk remaja yang peduli terhadap dunia literasi. Lambat laun semakin banyak yang bergabung termasuk kaum disabilitas. Konsep art therapy , juga writing therapy sangat sesuai untuk healing.

ryan-writing-is-healing

Menulis itu menyembuhkan

Terapi yang menyembuhkan klien dengan melepaskan emosi-emosi negatifnya, sehingga tercipta keseimbangan antara kesedihan dan harapan, kebuntuan dan semangat baru. Komunitas seperti FLP bergerak dengan dana swadaya yang dijalankan dengan patungan uang saku para pengurus serta anggota, juga hasil berjualan buku-buku.

Komunitas berbasis keluarga dan masyarakat menjadi salah satu solusi bagi masalah yang tidak tertangani pemerintah. Tangan dan kaki pemerintah dengan program APBN 2017 selayaknya merangkul elemen-elemen masyarakat yang berniat untuk melakukan perubahan ke arah lebih baik. Informasi, kerjasama, sosialisasi harus menjadi program berkesinambungan agar komunitas-komunitas mulia ini tidak hanya mekar di awal lalu mati karena kekurangan pasokan energi sumber dana.

 

Komunitas sebagai Mitra Pemerintah

Seringkali, komunitas tidak cukup tahu apakah tersedia dana bagi elemen-elemen yang membantu mewujudkan visi misi pemerintah. Alangkah baiknya bila pemerintah mempersilakan komunitas mengajukan diri kepada pemerintah daerah untuk dinilai kualifikasinya. Bila memenuhi syarat, mendapatkan bantuan layak bagi dana operasional.

Seringkali, komunitas yang ada berjalan dengan cara tradisional : yang penting jalan dengan dana seadanya, ada pertemuan rutin yang merupakan tempat berbagi semangat. Padahal, dengan sentuhan profesionalisme pemerintah, komunitas marginal  sederhana yang ada di tengah masyarakat akan berkembang lebih maju. Masyarakat seringkali tidak tahu harus kemana membawa laporan, maka pihak pemerintah selayaknya menjemput bola. Jangan sampai komunitas yang merupakan salah satu asset pemberdayaan masyarakat yang tumbuh dari keluarga atau hobi, lenyap begitu saja.

abk-peduli-kasih

Edukasi orangtua ABK komunitas Peduli Kasih, Surabaya

Komunitas ABK (anak berkebutuhan khusus) Peduli Kasih di Surabaya, dibawah asuhan dr. Sawitri mengelola anak-anak special needs dari kalangan kurang mampu. Biaya swadaya tak akan cukup untuk melayani begitu banyaknya permasalahan. Apalagi, urusan komunitas bukan hanya melatih ketrampilan anak berkebutuhan khusus. Menggelar edukasi bagi orangtua tak mampu agar lebih terbuka dan trampil dalam mengasuh anak-anak spesial, memberikan santunan berupa makanan berkualitas atau voucher hotel bagi pasangan. Bagi keluarga yang memiliki anak disablitas,gangguan mental atau gangguan kepribadian p, nyaris tak memiliki waktu pribadi untuk relaksasi. Voucher menginap semalam di hotel berbintang sungguh dapat melepaskan penat sejenak. Hanya bantuan kecil, namun bermakna.

Satu jam waktu kita dapat terbuang percuma.

Satu jam bagi special needs, skizofrenia, atau orang berkebutuhan khusus lainnya adalah waktu ajaib untuk membangun mimpi mereka.

            Sinta Yudisia

Psikolog & Penulis

 

 

 

 

Liputan Sinta Yudisia di Chosun Ilbo (조선일보)

 

Alhamdulillah…senang sekali dapat diwawancarai oleh salah satu koran terkemuka di Korea, Chosun Ilbo (조선일보) atau Korean Daily.

Liputan acara Reading Concert di Baseurak Hall. 3 penulis yang diwawancarai adalah Sinta Yudisia (Indonesia), Batkhuyag Purekhvuu (Mongolia), Pankaj Dubey (India)

Sinta, PD, Batkhuyag at Seoul.jpg

입력 : 2016.07.04 03:00

‘아시아 문학 창작 워크숍’ 참석
5월부터 서울 머물며 수필 써… 내년 봄 잡지 ‘연희’에 실려

아시아 문학이 서울을 향했다. 서울문화재단과 문학 계간지 ‘아시아’·한국작가회의가 초청한 아시아 대표 문인들이 1~3일 ‘아시아 문학 창작 워크숍’에 참석해 문학의 국경을 텄다. 이 중 지난 5월부터 서울 연희문학창작촌에 머물며 서울을 배경으로 한 수필을 완성한 몽골·인도·인도네시아 문인 3인을 만났다. 이 작품들은 내년 봄 잡지 ‘연희’에 실린다.

초현대 도시 서울에서 작가들이 발견한 것은 오히려 영적(靈的) 기민함이었다. 몽골문화예술대 교수인 시인 겸 소설가 푸릅후 바트호약(41)은 “이곳 사람들은 본능적으로 비와 바람을 감지해내는 것 같다”고 했다. “늘 연희동 주택가에서 햇볕을 쬐던 할아버지가 있었는데, 정확히 날씨를 예측하곤 했어요. 마치 대기(大氣)와 대화를 하고 있는 것 같았습니다.” 지난해 인도네시아 ‘영감을 주는 작가’에 선정된 신따 위스단띠(42)는 “서울에선 다양한 영혼이 인정받는 느낌”이라고 했다. 무슬림인 그녀는 “동네마다 교회·성당이 있고, 도심 한복판(코엑스) 옆에 절(봉은사)이 있는가 하면, 이태원엔 이슬람사원이 있다. 여러 가치가 공존하고 있었다”고 말했다.

서울을 주제로 한 수필을 완성한 아시아 작가 3인이 1일 서울시청 시민청에 전시된 글귀 앞에 섰다. 왼쪽부터 신따 위수단띠, 판카즈 두베이, 푸릅후 바트호약. /장련성 객원기자

인도 뭄바이에서 온 소설가 판카즈 두베이(38)는 다양성 안에 도사린 폐쇄성을 짚었다. “서울은 분명 국제도시지만 아직도 외국인에 대한 경계가 느껴졌다”고 말했다. 이어 “한국 여성과 인도 남성의 결혼에 관한 글을 쓰고 있다”며 “혼인 과정의 갈등을 통해 진짜 다양성에 대해 질문하려 한다”고 덧붙였다.

초원과 대륙, 섬에서 온 작가들이 포착한 서울의 속도도 제각각이었다. 바트호약은 “서울의 발걸음은 울란바토르보다 훨씬 급했다. 사람들이 실시간으로 살아가고 있다는 생각을 했다”고 했다. 항구 도시 수라바야(Surabaya)에서 온 위스단띠는 서울의 교통망을 칭찬하면서 “지하철 2호선 당산~합정 구간의 창밖 풍경은 사랑하지 않을 수 없었다”고 말했다.

이들은 한국 문학에 높은 관심을 표했다. 특히 위스단띠는 윤동주 시인의 ‘하늘과 바람과 별과 시’를 한글로 발음하며 엄지를 치켜세웠다. 그녀는 “인도네시아에도 하이릴 안와르(Chairil anwar) 등 일제에 저항한 시인이 있지만 윤동주만큼 크게 조명되고 있진 않다”며 “한국의 문인 대접에 감명을 받았다”고 했다.

서울에서 보낸 1448시간의 여정. 이제 각자의 도시로 돌아가는 이 세 사람은 덕담을 잊지 않았다. “서울이 경제적 발전을 넘어 아시아 문학의 허브가 되길 바랍니다. 고향에 돌아가서도 서울이 선물한 문학적 영감을 이어갈 겁니다.”

 

  • Copyright ⓒ 조선일보 & Chosun.com

[출처] 본 기사는 조선닷컴에서 작성된 기사 입니다

#23 Catatan Seoul ( & Hong Kong) : Ketika Perempuan menjadi Tulang Punggung

“Nak, ada uang?”

“Dek, sudah gajian?”

“Anak kita butuh sepeda motor.”

“Rumah kita mau disita.”

Beribu  masalah yang mungkin akan menjadi setebal buku telepon kuning zaman baheula untuk mendaftar permasalahan setiap keluarga, setiap pasangan suami istri, setiap anak manusia yang berjuang untuk tetap hidup.

Kali ke3 saya ke Hong Kong, tetap tak dapat menghapus kekaguman –dan keperihan- melihat sekian banyak anak manusia yang hampir seluruhnya perempuan (kalau tidak dapat dikatakan 99, 99 % perempuan) berjuang demi keluarganya.

DSC_1606

LMI (Lembaga Manajemen Infaq) bersama FLP Hong Kong dan BMI berbuka puasa bersama

Enak ya di luar negeri?

Ya.

Sekilas enak.

Dengan penghasilan sekitar HKD $ 4500 atau sekitar 6 juta sekian rupiah. Dikurangi cicilan 6 bulan tagihan ke PJTKI, seorang pekerja perempuan masih dapat mengirimkan sejumlah uang dalam jumlah lumayan ke tanah air.

 

Tidak percaya rezeki?

Rezeki milik Allah Swt. Kenapa harus jauh-jauh ke negeri orang? Berpisah dari anak dan suami? Lalu akhirnya bercerai dan anak-anak terbengkalai.

Oh, cobalah datang ke Hong Kong sendiri dan nikmati situasi pagi akhir pekan di Keswick Street, KJRI, daerah Causeway Bay. Ratusan perempuan mengular memperpanjang paspor. 163.000 pekerja perempuan yang legal (belum yang ilegal)  bertarung setiap menit , setiap jam, setiap hari untuk dapat tetap sehat dan bekerja demi menghidupi keluarga. Akhir pekan adalah waktu mendebarkan untuk mengurus surat-surat perpanjangan.

Apakah mereka tidak percaya rezeki Allah ada di Indonesia?

DSC_1587

Lomba cerdas cermat agama, diinisiasi oleh Anna Ilham

Mereka percaya. Mereka telah mencoba sejauh ini.

Tetapi ada kejadian-kejadian pahit serta kritis yang membuat manusia bersimpuh di hadapan RobbNya sembari berkata : bila ini jalanku, jalan untuk berjuang demi keluarga dan mengorbankan diri, maka akan kutempuh.

Tak ada satupun perempuan yang berangkat pergi keluar negeri sebagai BMI dengan tawa dan kebanggaan : ini lho aku kerja di luarnegeri.

Mereka menangis meninggalkan keluarga, tahu apa konsekuensinya berpisah dengan suami minimal 2 tahun (cerai atau berselingkuh adalah realita yang dihadapi). Tetapi apa yang dapat dilakukan ratusan ribu perempuan dengan tingkat pendidikan nol, SD, SMP dan paling tinggi SMA ini? Dengan kebutuhan hidup yang membelit semakin rumit dari hari kehari?

Ada yang rumahnya disita karena suaminya kecelakaan dan habis biaya operasi puluhan juta.

Ada yang ayahnya di PHK dan ia merupakan anak tertua dari 4 bersaudara. Lulusan SMP dapat gaji berapa? Mungkin hanya 1 juta. 1 juta untuk 6 mulut?

Ada yang ditinggalkan suami, disia-siakan, kelabakan mengurus anak-anak yang kecil lalu memutuskan harus keluar negeri ketika kerja-kerja serabutan di dalam negeri tidak menutupi bahkan untuk kebutuhan sehari-hari dan sekolah anak.

Ketika perempuan menjadi tulang punggung keluarga, besar taruhannya.

Suami mereka menuntut cerai.

Atau berselingkuh.

Atau mereka tetap berstatus menikah tapi entah apa hak dan kewajiabn , serba tak jelas.

Apapun itu, saya tetap salut para perempuan-perempuan ini : mereka segera mengambil tali kendali keluarga ketika ayah, suami, abang laki-laki, adik laki-laki; tak bisa menjadi sandaran. Bukan sedikit yang  mereka korbankan.

“Saya sadar saya salah, Mbak,” ungkap X. “Makanya, saya bercerai dari suami dan dia saya izinkan nikah lagi. Anak saya diasuh suami. Saya pergi ke Hong Kong karena penghasilan suami sebagai  tukang tidak mencukup. Kami keluarga besar, ada ibunya dan saudara-sadaura. Sampai sekarang, suami masih mengandalkan saya. Saya beli sepeda motor untuk anak, dipakai dia. Alhamdulillah hubungan kami baik.”

“Ibu saya terlibat hutang, bapak saya kena PHK. Saya masih kelas 2 SMA ketika itu. Saya setahun di pondokan PJKTKI. Sebagai anak tertua saya harus ambil alih tanggung jawab keluarga sampai sekarang.”

“Suami saya sering melakukan KDRT, saya hamil anak kedua dia selingkuh. Jangankan uang , penganiayaan sering terjadi. Akhirnya saya memutuskan berpisah, dan suami menantang apakah saya bisa mengasuh 2 anak saya? Saya pernah bekerja dalam keadaan tak punya uang sepeserpun dans aya berdoa pada Allah. Allah menjawab, sore hari ada seseorang mengirim sup ke kontrakan saya. Awalnya saya kerja di Jakarta tapi memang tidak cukup. Akhirnya saya kerja di Hong Kong.”

Hanya sedikit ksiah yang bisa saya tuliskan.

Airmata dan keringat tak cukup sebagai tinta pena untuk menuliskan perjuangan perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga.

Ya, mereka memang berdosa karena meninggalkan keluarga di tanah air.

Tapi apakah cukup kita mengancam dengan dosa, memaksa 163.000 BMI  itu kembali ke tanah air? Mengancam dengan tuduhan ini itu sementara hidup kita bersama keluarga demikian nyaman, memiliki suami yang pengertian serta mencukupi nafkah? Memang, menjadi BMI  bukan pekerjaan terbaik. Karenanya saya bangga, banga sekali. Sekian banyak BMI yang saya kenal setelah bekerja 4, 5, 7, atau 10 tahun berhasil mengumpulkan uang. Mereka menabung. Betul-betul menabung. Menyimpan bekal dan modal untuk membuka usaha bengkel, bakso atau apalah di tanah air.

 

Mereka tetap berhasrat pulang.

Meski Indonesia adalah negeri kaya yang menggoreksan luka perih dalam hidup dan perasaan, mereka tetap kembali. Tetap mengirimkan devisa ke tanah air. Sekalipun para suami tak sanggup mendampingi perpisahan itu, mereka menyadari ada titik dimana perasaan bukan satu-satunya yang pantas diperhatanakna. Mereka sadar, kebahagiaan berada di samping anak dan suami, adalah kekayaan yang demikian mewah. Namun ketika tiba harus memilih, apakah berbuat sesuatu yang tampaknya  demikian mustahil, mengerikan, di luar ambang batas kemampuan; para perempuan ini memilih mengorbankan dirinya demi orang-orang yang dicintainya.

Kalau kita megannggap kiprah BMI di luar negeri sebagai satu dosa sebab meninggalkan suami dan keluarga demikian lama, doakan mereka dapat segera kembali. Sebab saat ini, ribuan atau bahkan puluhan ribu BMI kita di Hong Kong terancam dipidanakan akibat pemerintah Hong Kong mengambil kebijakan tegas terkait identitas BMI. Salah nama, salah tanggal, salah huruf; dianggap sebagai tindak pidana kriminal. Puluhan ribu BMI yang memiliki kartu keluarga atau E KTP tak sesuai dengan passpor; terancam masuk penjara. Bayangkan saja, bila ada kesalahan nama seperti  Aisyah dan Aisah, maka pihak Hong Kong menganggapnya sebagai pemalsuan identitas. Apalagi, begitu banyak kasus pengaburan identitas. Begitu banyak perempuan usia 15 tahun, atau di bawah umur, diharapkan segera menjadi tulang punggung keluarga, dikirim ke luar negeri untuk bekerja demi keluarganya. Umur mereka dipalsukan beberapa tahun lebih tua. Dan sungguh, perjuangan perempuan Indonesia seperti tiada habisnya.

IMG-20160620-WA0029

Buka puasa bersama di KJRI

Saya bersyukur dapat membersamai teman-teman FLP Hong Kong dan BMI yang luarbiasa ini dalam acara buka puasa bersama yang digagas oleh LMI (Lembaga Manajemen Infaq) tanggal 19 Juni 2016. Puasa di Hong Kong sungguh berbeda dengan di Seoul. Cuaca 33 derajat, adik-adik BMI harus ksana kemari berjalan kaki di bawah terik matahari. Mereka hanya punya libur 1 hari dan tetap  menjalankan ibadah puasa. Terkadang, mereka menggabung buka dan sahur sebab tak mampu bangun sahur akibat kelelahan.

Bagi perempuan BMI yang masih berjuang di luar negeri, sabarlah dan tetap semangat! Teruslah belajar dan timbalah ilmu.

Bagi yang telah 4 tahun ke atas, ayo, berpikir untuk pulang dan menjadi mengusaha di negeri sendiri.