Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Catatan Perjalanan FLP Oase Perjalanan Menulis Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Gabung dan tetaplah bersama Forum Lingkar (Pejuang) Pena : emak dahsyat, bapak hebat, cowok tangguh dan cewek keren

 

Sepekan yang lalu, Musyawarah Nasional ke-4 Forum Lingkar Pena usai diselenggarakan.

Acara empat tahunan yang merupakan  salah  satu hajat meriah FLP ini menyatukan teman-teman pengurus dan anggota FLP dari penjuru Indonesia hingga perwakilan manca negara. Haru tak terkira melihat adik-adik FLP bersusah payah menempuh perjalanan dari tempat tinggalnya hingga menapaki Wisma PU, Bandung.

Acara yang rasanya  teramat singkat itu         tak cukup merangkum betapa heroiknya perjalanan teman-teman semua. Hehehe, kadang terhadap anggota FLP, saya panggil teman. Kadang adik. Campur aduk. Seorang teman dari Sukamara harus menempuh perjalanan ke Pangkalan Bun 2 jam, lalu menuju Jakarta. Dari Jakarta naik kereta api atau travel supaya sampai Bandung. Kalau naik kereta api, berarti dari stasiun masih lanjut naik taksi online ke Wisma PU jalan Riau/RE. Martadinata, Bandung.

Seorang teman FLP, Daeng Gegge Mappangewa harus bersiap jam 15.00 dari Bandung sebelum bertolak menuju Soetta dan naik pesawat pukul 22.00. Terbayagn lelahnya, kan? 3 hari acara Munas FLP bukan berisi acara senang-senang tapi juga rapat sampai larut malam, bahkan pagi!

Seorang teman FLP, mas Ibnu HS, menyempatkan diri mampir ke rumah saya di Surabaya. Pesawatnya bertolak jam 13.00 menuju Pangkalan Bun dan sekitar jam 17.00 baru menuju Sukamara. Dari Bandung-Surabaya sendiri sudah perjalanan yang melelahkan.

 

Ada lagi?

 

Emak-emak rempong yang luarbiasa!

Yang ini, mengalahkan kegagahan Daeng Gegge dan mas Ibnu HS, juga seluruh peserta cowok yang gagah perkasa.

Kalau laki-laki melenggang hanya menenteng tas ransel dan jinijngan oleh-oleh; emak-emak ini luarbiasa! Ampun deh kekuataannya. Yang bisa saya sebutkan hanya sedikit : mbak Sri Widiyastuti dari Bogor, mbak Milda Ini dari Bengkulu, mbak Naqiyyah Syam dari Lampung, mbak Utin Winda dari Sukamara. Mereka bawa tas double, menggandeng anak, menggendong anak, menyusui anak. Dan jangan bayangkan anaknya tenang-tenang aja ikut rapat ya. Si anak ikutan rempong dengan main kesana kemari, rapat dengan sesama teman seumurannya, nangis kalau mamanya ngerumpi dan tahu aja kalau mamanya sedang konsentrasi ke hal lain maka ia akan minta perhatian.

Naqiyyah Syam, Milda ini, Sri Widiyastuti

 

Apakah para emak ini mengeluh?

Sama sekali tidak!

Mereka tetap tersenyum cerah melayani anaknya, berbincang dengan teman-teman yang lain, ikut rapat dan bertukar pikiran, bahu membahu mengerjakan banyak hal.

Apa yang menyebabkan para emak ini begitu perkasa namun juga tampak bahagia?

Analisa saya, FLP merupakan rumah kedua mereka sesudah rumah mereka sendiri yang sementara waktu ditinggalkan di kampung halaman. Di FLP, para emak dan bapak menemukan teman-teman sevisi semisi yang cinta dunia baca, dunia menulis dan sama-sama rela mengorbankan waktu-tenaga-pikiran untuk memikirkan bagaimana organisasi bernama FLP ini punya kontribusi makin luas di tengah khalayak.

Yang perkasa, bukan hanya emak-emak yang bawa anak saja lho.

Afra, bu Dinny, Sinta.jpg
Afifah Afra, bu Dinny, Sinta

Ketua umum terpilih, Yeni Mulati a.k.a Afifah Afra juga seorang emak tangguh. Di belakangnya ada 4 anak menunggu. Dan detik-detik sebelum ia terpilih sebagai ketua umum, putra beliau yang bernama Rama mengingatkan dengan nasehat luarbiasa : Ummi jangan berambisi menjadi ketua. Padahal kita tahu sendiri, Afifah Afra sama sekali tak punya ambisi apa-apa sebagai ketua umum FLP. Mengingat, menjadi ketua umum FLP bukan pekerjaan mudah tetapi masyarakat FLP mayoritas memilih perempuan berkacamata ini sebagai pemegang kemudi kapal FLP.

 

 

Bapak-bapak gagah dan keren

Bukan emak saja yang gagah perkasa, bapak-bapak di FLP pun luarbiasa.

Mereka bukan sekelompok orang iseng, gak punya kerjaan, luntang lantung kesana kemari cari kesibukan. Beberapa di antaranya berprofesi sebagai dosen seperti Irfan Hidayatullah, Ganjar Widhiyoga, Yanuardi Syukur,  Topik Mulyana, Fitrawan Umar dll. Yang lainnya berprofesi sebagai guru dan juga kepala sekolah seperti Gegge Mappangewa, Alimin Samawa, Khairani , Sudiyanto, Danang Kawantoro, Mashdar Zainal dll. Yang pegawai negeri seperti Ibnu HS, Anugerah Roby Syahputra dkk rela mengajukan cuti agar bisa turut memikirkan bagaimana FLP ke depannya. Yang masih mahaiswa dan karyawan; banyak sekali jumlahnya.

Para bapak ini bergabung bersama deretan para emak, para cowok dan cewek heroik yang punya segudang cerita bersama FLP di wilayah masing-masing.

 

Cowok keren di FLP

Di FLP bertebaran para pemuda dan pemudi penuh talenta yang sangat oke baik kiprah dan kecerdasannya. Bagi yang mendamba pasangan dan ingin punya menantu keren; cari saja di FLP. Cowok dan cewek di FLP nyaris tak ada yang cengeng. Hampir tak dijumpai tukang mengeluh dan complainer sana sini. Semuanya berkualitas, dengan kapasitas masing-masing dan keahlian masing-masing. Dengan prestasi, pencapaian dan kreativitas masing-masing.

 

Apa yang dicari di FLP?

Banyak motivasi bergabung di FLP.

Ada yang ingin pintar menulis, berkarya dan  buku-bukunya laris manis terpajang di etalase toko buku. Ada yang ingin cari pengalaman dan punya portofolio bergabung di sebuah organisasi tertentu. Ada yang ingin belajar keislaman tapi dengan cara yang ‘lain’. Bila umumnya mendalami keislaman lewat jalur rohis atau organisasi dakwah di kampus; maka di FLP kita belajar Islam bersama-sama lewat jalur seni sastra. Di FLP kita langsung mempraktikkan adab Islam dan bukan sekedar membahas teori.

Di FLP kita mencoba mengkritik karya orang lain dengan santun, dan kita pun terbuka terhadap kritik.

Di FLP kita mencoba bersikap itqon atau bekerja secara excellent; sebab sebuah buku tak dapat terbit bila penulisnya tidak disiplin dan bekerja keras. Bukan hanya pekerja keras; penulis juga harus menguasai beragam ilmu agar buku yang dihasilkannya berkualitas.

Di FLP kita bermedsos ria, tapi bukan sembarang media sosial yang memposting status-status alay lalu menghujat pihak sana sini. Kita terbiasa mengunggah status yang mencerahkan, memberikan like atau komentar terhadap postingan positif orang lain. Para penulis FLP rata-rata memiliki akun medsos dan blog yang digunakan untuk kepentingan promosi, resensi dan review produk. Dakwah bil qolam bukan hanya mewarnai buku-buku tapi juga mewarnai ‘tinta’ kita di media sosial.

Beberapa orang yang meninggalkan FLP, entah karena studi, pekerjaan atau memang kesibukan di organisasi lain; rata-rata merindukan kembali FLP. Merindukan situasi membahas buku dan dunia seni. Merindukan situasi saling mengkritik dengan santun namun berbasis ilmu. Merindukan kehangatan antar anggotanya yang tulus dalam menjalin persahabatan, bukan kepura-puraan karena menutupi maksud tersembunyi.

Pengurus BPP perempuan

Pengurus BPP FLP, perempuan. Yang laki-laki sedang Jumatan 🙂

Sesungguhnya, banyak sekali hal didapatkan dari FLP.

  1. Teman sesungguhnya. Teman dunia maya kita ribuan. Tapi teman nyata? Di FLP, ketika copy darat dan rapat organisasi, kita memiliki teman yang betul-betul berwujud teman. Bukan makhluk ghaib yang hanay berseliweran di dunia maya.
  2. Inilah kekayaan seorang penulis. Dengan jaringan ia banyak dapat info lomba, info review produk, info residensi penulis, info penerbit, info buku-buku yang harus dilahap dan masih banyak lagi keuntungan yang didapat dengan jaringan. Termasuk ketika punya buku, jaringan ini berfungsi untuk membeli buku kita dan juga memasarkan buku kita.
  3. Ketrampilan. Menulis itu butuh ketrampilan yang harus diasah dari waktu ke waktu. Bergabung bersama FLP membuat saya yang pemahamannya 0 tentang menulis menjadi semakin luwes dalam menghasilkan karya.
  4. Ilmu. Di FLP kita mendapat ilmu gratis yang mahal harganya dari para pakar. Ilmu majemen dan pemasaran saya dapat dari mbak Afifah Afra. Ilmu sastra saya dapat dari kang Irfan Hidayatullah dan kang Topik Mulyana. Ilmu promosi buku saya dapat banyak sekali dari adik-adik FLP yang masih muda-muda, gen millenium zaman now. Ilmu organisasi dari Ganjar Widhiyoga, Nur Baiti, Koko Nata dan Wiwiek Sulistyowati. Ilmu perbukuan saya dapat dari Rahmadiyanti Rusdi dan Ali Muakhir. Wah, itu belum ilmu-ilmu yang lain ya. Masih banyak sekali ilmu yang saya serap dari FLP yang semakin lama membuat saya menjadi penulis penuh semangat. Ilmu per blog-an saya dapat dari Sri Widiyastuti, Naqiyyah, Milda, Zaki Faturrahman, Hendra Veejay dan banyak teman-teman FLP yang sepertinya; tiap bertemu mereka ilmu saya makin nambah dan nambah dan nambah.

 

Dari 4 hal di atas ada lagi  yang bisa didapatkan dari FLP.

Kalau ide buntu dan stag di satu titik, bergabung bersama FLP membuat pikiran kita terbuka. Entah karena kreativitas atau karena guling-guling tertawa. Maklum, anggota FLP adalah pecinta buku yang suka baca sehingga ada saja bahan untuk dibicarakan. Untuk di anekdot-kan. Untuk dikritik. Untuk dijadikan bahan lelucon cerdas.

Aaboy, HD Gumilang, teman-teman FLP yang kocak!

Kreatifitas anak-anak FLP terlihat dari kemampuan mereka mengolah diksi, membuat buku indie, mempromosikan buku sampai menggelar acara-acara. Setiap kali pikiran saya buntu terkait masalah tulis menulis, bertemu anak FLP membuat simpul ruwet terbuka lagi. Mereka akan menyarankan buku ini itu, mendorong mengerjakan sesuatu, memancing kecemburuan saya ketika mereka memamerkan buku-buku terbaru yang terbit . Yang pasti, kritik anak FLP bukan sekedar bilang : karya kamu jelek.

Mereka tahu betul ketika bilang karya saya pantas dikoreksi, maka mereka memberi masukan tentang koreksi tersebut. Di bagian mana. Harus diapakan. Plus saran-saran perbaikan.

Selain hal-hal di atas, masih ada lagi lho yang bisa didapatkan dari FLP.

Mencari menantu idaman? Mencari pasangan idaman?

Mau cari orang kreatif, tangguh dan pantang menyerah?

Cobalah cari di FLP, salah satu gudang kreator masa depan Indonesia.

Kategori
Catatan Perjalanan Film FLP Jurnal Harian Oase

Duka Sedalam Cinta : setiap potongan puzzle, punya tempatnya sendiri

 

Apa yang anda cari ketika menonton sebuah film?

Hiburan, pasti.

Satu energi baru, quote-quote unik yang akan terkenang selalu seperti perkataan Cinta kepada Rangga : “kamu jahaaaat!” yang kerap menjadi meme lucu. Atau cuci mata karena melihat wajah-wajah bening berseliweran? Hm, boleh juga karena ingin menikmati OST keren yang cocok dengan sebuah adegan. Atau justru, ingin mendapatkan asupan jiwa berupa filosofi hidup yang dapat diteguk dari sebuah cerita visual. Ah.

Yang pasti, salah bila kita ingin meneguk semua dalam sekali kesempatan.

Bila ingin mendapatkan hiburan, sekedar tertawa lalu pulang dengan jiwa hampa, tontonlah film komedi. Ingin jantung berdegup loncat-loncat, tontonlah film thriller macam Split atau film horror seperti It. Ingin mendapatkan asupan jiwa dan nasehat-nasehat ruhani tapi bukan di ruang-ruang masjid dan rapat organisasi lembaga dakwah; tontonlah film religi seperti Duka Sedalam Cinta. Ingin tahu kisah keluarga versi layar perak dan bukan sekedar layar kaca, tontonlah Ketika Mas Gagah Pergi dan Duka Sedalam Cinta yang baru tayang Kamis, 19 Oktober 2017.

film DSC.jpg

Pemain Baru yang Segar

Tidak ada yang instan di dunia ini.

Hadirnya wajah-wajah baru di blantika perfilman, memberikan kesegaran. Tujuan dari bibit baru ini agar masyarakat (baca : anak muda) punya role model baik yang lebih beragam. Film-film yang diambil dari novel best seller Habiburrahman el Shirazy seperti Ayat-ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih; berhasil megnantarkan bintang film baru ke tengah khalayak. Anda tentu bisa tebak : Oddie “Azzam” dan Oki Setiana Dewi. Hingga kini, Oddie dan Oki menjadi ikon masyarakat untuk tokoh muda yang good looking dan dapat menjadi teladan baik di bidang akhlaq ataupun di bidang usaha.

Baik Oddie dan Oki tidak langsung mahir beradaptasi dengan kamera.

Hamas Syahid, Masaji dan Izzah Ajrina adalah nama baru di pentas perfilman.

Sebagaimana pendatang baru  yang masih perlu banyak belajar; akting mereka tentu tidak dapat langsung disamakan dengan pendahulunya, Wulan Guritno dan Mathias Muchus. Wulan dan Mathias telah demikian alamiah berperan di depan kamera hingga senyuman, airmata, lekukan wajah dan gestur tubuh tampak begitu wajah dan luwes. Bagi saya, peran yang mengejutkan adalah peran Salim A. Fillah sebagai kiai Ghufron. Ustadz yang satu ini ternyata lihai bermain hehehe…Eh, mbak Asma Nadia pun ternyata cocok memainkan drama ya?

Dari para pemain muda, Aquino Umar yang pantas diacungi jempol. Ia lucu, menggemaskan, membuat geregetan sekaligus memancing airmata tumpah ruah ketika mas Gagahnya meninggal. Izzah Ajrina meski masih kaku dan sedikit medok; terlihat juga cukup luwes. Sayang perannya sedikit. Padahal saya suka model-model busananya hehehe…

Akting Hamas dan Masaji masih perlu dipertajam. Tapi dua cowok ini benar-benar punya potensi menjadi tokoh di masa depan yang menjadi contoh akhlaq baik,anak muda berprestasi,  di samping wajah yang membuat para cewek kya-kyaaa!Seiring berjalannya waktu dan terasahnya pegnalaman, mereka berdua dapat menjadi bintang muda berkelas. Asal, jangan lelah belajar dan tahan terhadap kritik. Berani berakting di depan kamera itu sudah layak diacungi jempol. Kita juga bakalan keringatan, gugup, dan salah berulang-ulang ketika sutradara berteriak : take, action, cut!

Rasanya, hanya Emma Watson si Hermione yang dijuluki artis one-take. Yang lainnya perlu adaptasi berkali-kali dengan kemauan sutradara, produser, kamewaran dan tentu saja audiens yang keinginannya tak ada yang seragam!

DSC CGV.JPG
FLP Surabaya nonton Kamis, 19 Oktober 2017 di CGV Blitz, Ngagel

Perjuangan Bersama

Sebagai arek Suroboyo, saya salut dengan Hamas dan Izzah. Meski adegan Izzah hanya sedikit : saat seminar, di rumah sakit, ketika Gita belajar berjilbab dan di tepi pantai saat akhirnya menjadi istri Yudi dan ibu dari Gagah Kecil (putra almarhum Gita); Izzah berlelah-lelah mencoba berakting di banyak setting. Keindahan Halmahera yang terlihat penonton dan rasanya adem karena kita berada di ruang berAC; buklan demikian halnya dengan yang dirasakan pemain. Hamas dan Izzah harus rela berpanas-panas di tengah alam terbuka. Panas yang puaaaannnnnassss, jare arek Suroboyo. Hamas dan Izzah berada di bawah terik matahari dan harus berkali-kali terpapar panas karena pengambilan adegan tak cukup satu kali. Kebayang sulitnya jadi aktor ya?

Setiap potongan adegan di film itu merupakan hasil kerja keras luarbiasa dari para kru. Kebayang kan, sebuah film bukan hanya terdiri dari pemeran utama, pemeran pembantu saja? Tapi ada figuran, cameo dan lain-lain. Anak-anak kecil yang menyambut kehadiran Gagah dan Gita; para nelayan yang mengerubungi ustadz Muhammad di tepi pantai; para santri di pondok kiai Ghufron. Mereka para figuran yang membuyat film DSC terasa renyah dilihat. Bahkan, keindahan Halmahera menjadi demikian menonjol dan puitis ketika disandingkan dengan Pondok Cinta yang digagas Hamas di tepi Jakarta yang semwarawut.

Selain filmnya sendiri yang dibuat berlelah-lelah, proses pendanaan hingga ditonton bersama pun merupakan kerja bersama yang luarbiasa. Sejak awal, FLP mendukung film ini dengan semangat luarbiasa. FLP mengumpulkan dana crowdfunding hingga sekitar 37 juta, mempromosikan film KMGP dan DSC melalui segala media sosial baik miliki FLP ataupun milik masing-masing anggota FLP.

DSC FLP Sda.jpg
FLP Sidoarjo yang meriah menonton DSC

Teman-teman FLP di penjuru Indonesia berusaha menunjukkan semangatnya dengan menonton film ini bersama-sama. Terutama di hari pertama. Film akan cepat diturunkan dari layar bila hari pertama dan kedua penontonnya tidak memenuhi kursi bioskop. Setiap kita punya peran dalam berbuat kebaikan. Mbak Helvy dan tim punya peran dalam mewujudkan sebuah film keluarga yang layak tonton bagi segala umur. Kita, sebagai penonton, punya peran untuk mewujudkan film ini laku. Dan , sepanjang proses film ini dibuat hingga hadir di layar perak, tak terhitung lagi banyaknya orang yang berkeringat, bahu membahu, banting tulang bekerja sama agar proyek kebaikan dapat terwujud nyata. Setiap kita adalah puzzle yang membentuk pola besar hingga terbentuk bangunan indah yang sedap dipandang. Setiap kita adalah puzzle yang membuat sebuah karya, dapat dinikmati banyak orang.

 

Keindahan Duka Sedalam Cinta

Kalau sebuah film digambarkan dengan sebuah warna, saya mengambil nuansa biru sebagai warna DSC. Halmahera, digambarkan dari jauh dan dari atas sebagai wilayah yang dipenuhi lautan indah dengan tepi pantai yang memanjakan mata berikut pohon-pohon nyiur yang meliuk. Kotak-kotak rumah kayu, dengan halaman luas (tidak seperti di kota besar yang rumahnya kecil tanpa halaman!), berada di pinggir laut; benar-benar menggambarkan situasi tepi pantai yang melapangkan rongga dada.

Umumnya, kita melihat pesantren berada di tengah ladang hutan atau sawah, sebab para santri biasa dididik kiainya untuk mandiri. Pesantren miliki kiai Ghufron ini berada di tepi laut, jadi tiap hari dapat menikmati sunset dan sunrise dengan bebas. Benar-benar pesantren yang dapat mengobati luka jiwa. Jadi kepingin nyantri di tempat seperti itu hehehehe…

Hubungan Gita dan Gagah juga mengesankan.

Di zaman sekarang, saat sibling rivalry bisa begitu tajam karena diperuncing dengan kehadiran gawai dan beragam permasalahan; hubungan kakak adik yang mesra seperti itu sangat memberikan contoh bagaimana seharusnya seorang kakak bertanggung jawab pada adiknya. Biasanya, abang sangat sibuk dengan urusan pribadinya : kuliah, having fun, nongkrong sama teman-teman apalagi kalau punya pacar. Adiknya bisa terlupakan. Gagah memberikan contoh pada penonton, seorang kakak harus menjadi contoh kebaikan bagi adiknya. Seorang kakak harus memikirkan masa depan adiknya. Seorang kakak harus berjuang untuk adiknya. Itu filosofi ketimuran yang sangat indah dan penuh makna : yang tua, harus memikirkan yang muda.

Kiai Ghufron dan Gagah, juga contoh anak muda yang mampu menembus batas-batas kesulitan menjadi peluang. Mengagas pesantren di tepi pantai baik pantai Halmahera atau pantai Jakarta yang kumuh, pasti butuh kekuatan tekad dan harus memutar otak; termasuk keberanian menghadapi orang-orang yang tak sepaham.

Adegan yang saya sukaaa banget adalah ketika kiai Ghufron mengajak santri-santrinya untuk menyelam ke laut, mengambil sampah-sampah yang berserakan, hasil karya orang-orang sembarangan yang enggan mengeluarkan sedikit energi, meletakkan sampah pada tempatnya. Minimal, menyimpan sampah itu di tas masing-masing sebelum menemukan tempat pembuangan.

Melihat Duka Sedalam Cinta, membuat saya kembali bermimpi : saya juga haru punya tempat seperti Pondok Cinta milik Gagah. Saya harus bisa mewujudkan mimpi memiliki Islamic Crisis Center. Tempat seperti yang dimiliki Charles Xavier dan serial X-Men dan Gagah, menampung orang-orang istimewa dan menempa keistimewaan mereka menjadi orang-orang berprestasi. Dibutuhkan lebih banyak orang-orang seperti kiai Ghufron dan Gagah, yang berhasil menyulap sebuah lahan tak bermakna menjadi sebuah tempat tujuan yang menjadi sanctuary bagi banyak manusia.

DSC CGV 1.JPG

Sinta Yudisia

Penulis, Psikolog, Ketua Umum FLP 2013-2017

 

Kategori
FLP Kepenulisan Oase Sastra Islam Tulisan Sinta Yudisia

Menuju Munas 4 FLP, 3-5 November di Bandung : Mahabb Adib-Abdillah, Profil Ketua Panitia Musyawarah Nasional FLP

 

Lelaki muda yang kalem ini, punya banyak sekali nama. Kalau anda menemukan nama-nama beragam di dunia pelatihan, kepenulisan maupun spiritual; jangan-jangan ia adalah orang yang sama!

Usianya tak dapat ditebak.

Jangan bayangkan pula bahwa usia lajang membuatnya tak bijaksana. Ia pemuda dengan segudang pengalaman yang membuat orang ingin belajar banyak darinya.

 

Adib Munas 4 FLP.jpg
Kang Adib

Nama Asli dan Nama Lain

Kedewasaan dan pengalaman hidup membuat dirinya tampak jauh lebih matang dari usia sebenarnya. Bernama asli  Abid Ibnu Husen dengan gelar S.Sos. Nama Abid Ibnu Husen  digunakan untuk kehidupan sehari-hari dan berkarya di bidang akademik, dunia pendidikan, dan penelitian. Ia berkarier di bidang pelatihan, pengajaran, seminar, dan coaching ; dengan nama keren tercantum di berbagai media sebagai  Husain Suitaatmadja, CPS®, CPM®, atau disingkat Kang HuSu.

Kang HuSu merupakan member IPSA (Indonesia Professional Speakers Association), founder Roof Creative House (RiCH) Indonesia, dan Leadership &  Literacy Coach. Jadi, kalau kita diisi materi oleh kang HuSu; bawaannya heboh, tertawa berguling, dan seru banget pokoknya!

Eit, kang HuSu bukan hanya mahir bicara tapi juga mahir berdiam diri.

Lho, apa hubungannya?

Kebanyakan orang yang pandai bicara akan sulit menulis; sebab menulis membutuhkan energi kontemplasi, aura dingin serta ketenangan. Kang HuSu ini memiliki kedua-duanya : energi bicara dan energi berdiam.

Catat karya-karyanya!
1. 100 Kiat Praktis Sehat di Usia Senja (Elex Media Komputindo, 2013) – eh, kang HuSu ini masih muda dan single lhooo tapi sudah buat buku bijaksana seperti ini.
2. Hidup Bahagia dan Berkah Tanpa Penyakit Hati (Elex Media Komputindo, 2014)
3. How To Be A Great Man (Caesar Media Pustaka, 2015)
4. Saya adalah Pribadi Multidisipliner (Bitread Digital Books, 2017, coming soon)
5. Taman Cerita, sebagai editor dan mentor kumpulan puisi sahabat disabilitas Bandung yang tergabung dalam Workshop Menulis WOKE dan FLP Jawa Barat (Bitread Digital Books, 2017, coming soon)

 

Nama Sastra

Untuk bidang sastra, film, dan musik spiritual, petualangan, dan kemanusiaan namanya bermetamorfosa menjadi Mahabb Adib-Abdillah.

Ia adalah Ketua FLP Jawa Barat dengan sederet karya (yang di atas ternyata belum selesai bookografinya!):

  1. Ramadhan Terakhir Ludwig, novel spiritual dan keluarga (DIVA Press, 2013)
    2. Seribu Kebaikan Untukmu, antologi cerpen bersama FLP Jatinangor [sekarang Sumedang] (Salsabila, Pustaka Alkautsar, 2013)
    3. Tuhan, Aku, dan Alam, antologi kisah petualangan spiritual bersama Pantera Fisip Unpad (ANDI Publisher, 2014)
    4. Cinta dalam Tumpukan  Jerami, kumpulan prosa (Bitread Digital Books, 2016)
    5. Aneukada: Perempuan, Kopi, dan Syair, kumpulan puisi (Bitread Digital Books, 2017, coming soon)

Aduh, Berapa sih Nama Akang?

Sebagai standup comedian, penulis dan aktivis sosial untuk anak muda dan dunia anak-anak, filmmaker, dan social welfare writer, lelaki murah senyum ini memilih nama  Aaboy.

Karyanya :
1. Novel komedi inspiratif Universitas Jatinangor Oxpord a.k.a UJO (Mahaka Pubilishing, Republika Penerbit, 2013) dan kini sudah mau 4 tahun menjadi komunitas kreatif di Bandung, komunitas berbasis universitas, Kampus UJO.
2. I.B.U. (I Believe U), novel komedi keluarga dan dunia remaja (Indiva Media Kreasi, 2017, coming soon)

Ternyata, kang Husen atau kang HuSu, kang Adib, kang Aaboy atau kang Abid ini punya segudang prestasi, segudang ketrampilan dan segudang karya.

Ehm, kira-kira nanti di buku nikah mau dicantumkan nama yang mana, Akang?

Sinta, adib, milad-flp-ke-20.jpg
Dari kiri  : Adib , Roby, Gol A Gong. Paling kanan Sinta, sebelah kirinya Annisa bitread
Kategori
ACARA SINTA YUDISIA FLP Oase

Menuju Munas 4 FLP 2017, November 2017

 

 

 

Tanpa terasa, perjalanan FLP tahun ini telah memasuki masa 20 tahun.

20thFLP (PNG)Banyak catatan pencapaian FLP, sebagaimana banyak pula catatan yang harus dikerjakan oleh organisasi kepenulisan terbesar di Indonesia ini.  Lahirnya penulis-penulis baru mulai usia anak-anak, remaja hingga dewasa; terbitnya beragam buku mulai buku konvensional hingga buku digital; karya-karya yang semakin luas cakupannya mulai puisi, cerpen, novel, buku motivasi, buku referensi, opini, artikel, skenario dan masih banyak lagi.

Apa saja pencapaian FLP selama 4 tahun terakhir? Apa pula catatan yang harus diperhatikan?

 

Lokal, Nasional, Internasional

Penulis-penulis FLP biasanya mengawali dari hobby dan kebutuhan ekspresi diri. Keinginan untuk melihat karyanya dibukukan, membuat penulis-penulis memacu diri menghasilkan kuantitas karya. Lihatlah karya-karya yang tertuang di media sosial mulai facebook, wattpad, hingga blog. Mereka yang rajin mengirimkan karya juga banyak. Pada awalnya mengirimkan karya ke koran-koran lokal seperti media kampus, media sekolah hingga media massa setempat.

Selanjutnya, semakin terasah kuantitas dan kualitas, maka anggota FLP akan mulai menempati karya di level nasional. Media online, media massa, majalah hingga beragam kompetisi berhasil dilalui. Jumlah yang mencapai level nasional sangat banyak; bahkan semakin lama, semakin junior usianya.

Mereka yang merambah dunia internasional pun bermunculan satu demi satu. Bukan  hanya kualitas karya, kualitas tulisan ilmiah, namun juga kiprah yang mengiringi langkah-langkah mereka. Penulis FLP mengisi ruang-ruang literasi dari Sabang hingga Merauke.

Ganjar Widhiyoga dan Yanuardi Syukur , dua orang di antara sekian banyak penulis FLP yang go international

 

 

Registrasi Online

Salah satu hal penting yang ingin dirapikan oleh FLP adalah bab organisasi.

Organisai bertujuan mengatur sekian banyak orang agar seragam visi misinya, agar seragam langkahnya. Mengelola organisasi kepenulisan yang berisi para seniman, sastrawan dan penulis berjiwa kreatif; tentu banyak tantangannya. Pada umumnya, orang-orang imajinatif enggan dibatasi gerak langkahnya. Di FLP, gerak langkah itu bukan dibatasi atau diseragamkan; namun perlu diselaraskan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia perbukuan agar memiliki daya guna dan daya saing yang tinggi.

Banyak sekali remaja, mahasiswa, karyawan yang ingin menjadi anggota FLP. FLP bukan organisasi ekslusif; namun harus memiliki basis data yang kuat. Berapa wilayah yang tercata? Berapa cabang yang terlibat? Berapa anggota riil yang masih aktif? Berapa anggota pasif yang tidak dapat membantu roda organsiasi tapi potensial di sisi yang lain?

Untuk itulah, registrasi online diadakan.

Waktu 4 tahun bukan waktu yang singkat, namun juga bukan perkara mudah mendata penulis FLP dari ujung barat ke timur. Sedikit demi sedikit, dengan ketekunan dan semangat persuasif para pengurus Pusat FLP; satu demi satu para penulis FLP mulai terdata lokasinya. Sehingga jumlah penulis FLP bukan hanya perkiraan : 5000-an, 10.000an; namun jumlah digit hingga angka terakhir diketahui. Hal ini bukan saja dibutuhkan dalam perkara material belaka, misal agar tersedia dana memadai bagi perputaran roda organisasi; namun juga dapat memetakan potensi penulis FLP di berbagai level dan jenjang, juga wilayah. Seringkali, pihak pemerintah atau lembaga non profit menghubungi FLP bila berkunjung ke suatu wilayah dan akan menyelenggarakan acara literasi. Anggota FLP relatif mudah digerakkan untuk berkumpul dan menyelesaikan suatu agenda literasi.

logo pake tanggal.png

Munas 4 FLP di Bandung, Jawa Barat

Pilihan Bandung sebagai kota penyelenggara Munas 4 bukan tanpa pertimbangan. Kota ini dapat menjadi magnet bagi para anggota FLP di seluruh Indonesia dan mancanegara untuk turut hadir dan memeriahkan pentas literasi. Munas memiliki agenda utama memilih ketua umum untuk periode 4 tahun ke depan, namun bukan hanya itu. Munas 4 FLP menjadi ajang silaturrahim yang sangat dirindukan, menjadi ajang pembelajaran segala hal, menjadi ajang tukar pendapat dan tentu saja. Penulis sangat menyukai hobby traveling yang akan memunculkan citarasa imajinasinya.

Bandung dan Jawa Barat adalah tempat indah dan nyaman dengan segala keunikan pariwisatanya yang terkenal. Kuliner, fashion, tempat wisata, bahkan agenda politiknya pun dilahap masyarakat Indonesia dengan penuh rasa ingin tahu. Harapan panitia, Munas 4 FLP akan menarik sebanyak mungkin peminat untuk hadir dan turut memeriahkan acara.

Acara Munas 4 FLP ini insyaallah akan diselenggarakan dari tanggal 3 hingga 5 November 2017. Maka bersiaplah untuk ikut berguncang dalam acara dahsyat ledakan literasi!

 

Di bawah ini karya-karya FLP yang telah terbit nasional dan internasional

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Catatan Perjalanan FLP Kepenulisan Oase Sastra Islam WRITING. SHARING.

FLP & Penulis yang Sukses di Era Digital

Milad ke-20 FLP yang berlangsung di Bandung berjalan sukses, hangat dan meriah.

Parade penulis senior hingga junior di panggung, memberikan orasi 15 menit yang sangat memperkaya peserta yang hadir, termasuk  saya. Rasa-rasanya ilmu kepenulisan kita masih jauh dari cukup untuk menghadapi tantangan di era global.

Hadir di acara-acara FLP membuat saya semakin bersemangat untuk terus menulis, berorganisasi dan menambah wawasan keIslaman. Bagaimana tidak?

Di era digital, bukan hanya niat yang harus terus menerus diperbaharuai agar senantiasa ikhlas dan tawakal kepada Allah Swt. Kadang, niat baik kita tidak selalu bak  gayung bersambut dengan arus pasar. Akibatnya, tulisan (fiksi atau non fiksi) yang telah susah payah dituangkan tidak laku di pasaran. Bahkan, jeblok, begitu cepat write off. Padahal tulisan tersebut kita tulis susah payah dengan referensi yang  banyak sekali. Sementara mereka yang menulis asal-asalan, mengikuti selera pasar, terkesan menulis apa adanya justru laris manis. Menuai keuntungan material yang besar.

Lantas, apa yang harus dilakukan oleh seorang penulis?

Tanpa mengurangi niat awal dakwah bil qolam, senantiasa menebar kebaikan dan pencerahan dengan pena yang digoreskan, penulis-penulis FLP harus siap go international. Bukan hanya go local dan go national saja.

Simak apa saja yang disampaikan oleh para suhu dunia literasi ini. Jangan lupa untuk terus mengasah kemampuan dan tidak lupa, mental baja!

sinta, irfan,  pks.JPG
Sinta Yudisia, Irfan Hidayatullah dan buku Prejengane Kutho Suroboyo karya FLP Surabaya

Masyarakat Sastra (Irfan Hidayatullah)

FLP telah membentuk masyarakat sastra sendiri yang saling memengaruhi satu sama lain. Masyarakat sastra terdiri dari :

  1. Pembaca
  2. Penulis
  3. Penerbit
  4. Pasar
  5. Kritikus

FLP (Forum Lingkar Pena) awalnya adalah masyarakat pembaca. Setelah menjadi pembaca rutin dan kritis, timbullah keinginan untuk menciptakan karya sastra sendiri. Masyarakat pembaca ini lambat laun menjadi masyarakat penulis. Beberapa anggota FLP pun duduk di penerbitan seperti Ali Muakahir, Koko Nata, Benny Rhamdani. Rahmadiyanti Rusdi, Afifah Afra dan masih banyak lagi. Pasarnya sudah jelas, yaitu orang-orang yang suka membaca buku-buku dengan genre tertentu : genre yang mencerahkan, religius dan tidak meninggalkan gaya khas anak muda.  Dari lingkaran ini muncul pula kritikus sastra yang tumbuh dari kalangan aakdemisi dan sastrawan/ budayawan seperti Taufik Ismail, Joni Ariadinata, Irfan Hidayatullah, Topik Mulyana, dkk.

Masyarakat sastra ini sungguh luarbiasa sebab telah membentuk mata rantai ekosistem tersendiri yang akan saling memberdayakan satu sama lain. Penulis FLP insyaallah tidak akan mati, sebab telah memiliki pangsa pasar tersendiri. Meski demikian tetap saja, setiap penulis harus terus mengasah dirinya akan semakin berkualitas. Apa sumbangsih FLP selain dunia perbukuan? FLP juga memberikan kontribusi secara langsung maupunt idak alngsung kepada dunia sinema. Para penulis yang tergabung di FLP seperti Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, Habiburrahman el Shirazy dan banyak lagi rekan-rekan FLP yang giat mennulis scenario film; menjadikan dunia sinema tanah air semakin berwarna.

Industri film yang dikuasai Hollywood (Amerika), sesungguhnya cukup tersaingi oleh industry film dari negara-negara yang ingin maju ke pentas dunia. 5 negara yang menjadi kompetitor Hollywood adalah India, Perancis, Singapur, Korea Selatan dan Thailand. Pemerintah Perancis mensubsidi film-film Perancis agar dapat bersaing dengan film-film lain. Sementara India memasang strategi, para sineas disekolahkan di Amerika untuk kembali ke India membuat film sendiri yang tak kalah menarik dan mewah. Bollywood adalah salah satu industri film yang memiliki warna terendiri, tidak kalah dari Hollywood.

sinta,helvy,212
Helvy Tiana Rosa dan buku 212

Catatan untuk FLP (Helvy Tiana Rosa)

Bunda kandung FLP ini memberikan beberapa catatan penting terkait FLP setelahh memasuki usia 20 tahun. Point penting tersebut antara lain :

  1. Kaderisasi
  2. Kemampuan menguasai media
  3. Kemampuan “menjual diri”

Helvy TR mengutip ungkapan Jamal D. Rahman bahwa FLP telah mampu membuat lingkaran sendiri. Lingkaran itu adalah para pembaca, penerbit,  para penulis dan juga pasar. Lingkaran ini merupakan simbiosis mutualisme yang akan saling menguntungkan satu sama lain.

FLP harus mampu mengakder penulis-penulis baru dan tidak hanya memunculkan penulis senior. Penulis FLP harus terus mengasah diri untuk mampu menguasai media. Meski demikian, banyak penulis FLP yang bagus tidak mampu “menjual diri” karena rasa malu atau terlampau  tawadhu. Maka menjadi kewajiban organisasi untuk mampu memoles penulis-penulis berbakat ini agar mampu muncul ke permukaan.

sinta, maimon, pks, 212
Heboh menjelang foto bersama 🙂

Kiat Penulis Masa Kini (Benny Rhamdani)

Penerbit sesungguhnya terus membutuhkan penulis dan karya-karya mereka. Apa saja syaratnya agar mampu bersaing di era digital?

  1. Penulisnya terkenal
  2. Contentnya bagus

Yang dimaksud penulisnya terkenal bukan selalu penulis senior. Tetapi penulis yang rajin terus mempromosikan karya-karyanya di media sosial. Penulis yang rajin memposting bahwa ia sedang menulis buku berjudul dan bertema X. Penerbitan adalah industry content jadi contentnya tentu harus bagus.  Banayk contoh content yang menarik untuk dijual.

Puisi pendek yang dulu tidak laku, belakangan laku dijual. Buatlah quote-quote dari halaman tersebut untuk mempromosikan karya terbaru.

Ada juga penulis yang beralih profesi menjadi pekerja seni lettering yang karyanya terpampang di dinding –dinding rumah atau bangunan sebagai karya seni.

Penulis seharusnya menjadi trendsetter. Bukan follower.

Follower akan cepat laku namun juga cepat pudar. Sementara penulis trendsetter akan selalu establish, sayaratnya ia harus banyak membaca.

Bagi Benny Rhamdani, gadget tidak selalu bermakna negative bagi penulis bila ia tahu memanfaatkan. Ia bercerita, pernah menemui anak-anak muda yang seolah-olah tenggelam dalam gagdetnya namun sesunggunya tengah menulis di wattpad. Untuk media sosial jangan malu untuk memfollow seseorang agar dapat saling belajar dan saling mempromosikan.

MIlad FLP ke 20
Adib (ketua panitia), Roby (penulis junior FLP), Gol A Gong, 3 peserta yg beruntung, Annisa (bitread), Sinta Yudisia
Kategori
da'wahku FLP FLP Kids FLP Wilayah Jawa Timur Kepenulisan Mancanegara Oase Remaja. Teenager Sastra Islam

Berapa Besar Sumbangsih FLP (Forum Lingkar Pena) bagi Indonesia?

 

 

22 Februari 2017, Forum Lingkar Pena tepat berusia 20 tahun.

flp

Organisasi ini di sebut Taufik Ismail sebagai  ‘anugerah Tuhan bagi bangsa Indonesia’, sebuah ucapan yang layak direnungkan dan dibanggakan bagi segenap anggota serta pengurus FLP di Indonesia maupun perwakilannya di luar negeri.  Dalam angka yang diakhiri dengan imbuhan –an ; anggota FLP mencapai ribuan bahkan belasan ribu dengan buku-buku yang juga mencapai ribuan sejak organisasi ini berdiri di tahun 1997. Jumlah pastinya, haruslah disesuaikan dengan dinamika serta arsip organisasi. Mengingat, menggabungkan anggota yang penuh daya imajinasi dan kreativitas lalu merapikannya dalam struktur organisasi bukannya perkara mudah.

Milad FLP 19, Yogya.JPG
Yogyakarta-Ulang tahun FLP ke 19, 2016

Memandang  konstelasi perbukuan dan dunia sastra, dimanakah letak FLP? Apakah penulis-penulis FLP merupakan seniman serta sastrawan yang berkualitas yang karyanya pantas dibanggakan mulai level lokal, nasional hingga internasional? Apakah karya-karya FLP layak menembus pasar global internasional dan menjadi karya sastra yang mewakili wajah Indonesia?

 

Keberagaman anggota FLP

Salah satu asset luarbiasa dari FLP adalah demikian penuh keragaman corak dari anggota yang tersebar di penjuru Indonesia serta di beberapa titik mancanegara. Usia SD-SMP dikelompokkan sebagai FLP kids, diatas itu bergabung menjadi anggota FLP regular. Setiap cabang dan wilayah punya kekhasan masing-masing yang disesuaikan dengan kultur setempat serta ketersediaan sumber daya. BPP FLP memantau wilayah-wilayah, memberikan masukan serta mengatur seluk beluk keorganisasian.

rohingya-2

FLP kids menampung anak-anak SD –SMP yang sangat menyukai dunia tulis menulis. Mengingat buku-buku karya penulis cilik sangat digemari di seantero Indonesia, penerbit sangat membutuhkan karya-karya bermutu. Lini PECI (penulis cilik Indonesia) dari penerbit  Indiva, KKPK (kecil-kecil punya karya) dari Mizan; adalah beberapa yang sangat giat menerbitkan karya para penulis cilik. Tentu, penerbit memiliki cara tersendiri dalam menyaring tulisan berkualitas yang disukai pasar; namun, FLP pun turut membantu menyuburkan semangat berkarya di kalangan anak-anak Indonesia.

FLP Jombang, FLP Padang, FLP Lampung

 

Bagi remaja, untuk usia SMA dan mahasiswa, FLP menjadi organisasi kepenulisan yang diperhitungkan. Betapa banyak orangtua yang menginginkan anaknya mengembangkan bakat minat dibidang kepenulisan, mengontak FLP pusat atau wilayah dan meminta narahubung dari FLP yang terdekat. Remaja-remaja ini yang memang memiliki hobby membaca pada awalnya, lama-lama ingin mengembangkan diri dengan menulis. Apalagi, pekerjaan menulis sekarang bukan hanya terbatas membuat buku, menerbitkan cerpen, menulis puisi. Penulis sekarang lebih berkembang lagi profesinya mencakup penulis scenario, blogger, penulis lagu, hingga penyedia konten dari media-media online. Remaja-remaja berbakat menemukan FLP sebagai salah satu wadah yang memahami kebutuan mereka, menjadi organisasi yang asyik dan seru untuk membahas seputar dunia sastra terkini. Bukan itu saja, dari ranah kepenulisan, bahasan yang didiskusikan di media sosial dapat berkembang mulai film, music hingga politik. Anak-anak muda di FLP belajar untuk menuliskan opini mereka sendiri, bukan hanya sekedar copy paste, potong-salin. Bukan hanya sekedar broadcast. Anak-anak muda di FLP berusaha menilai sesuatu dari sudut pandang pribadi, dari perenungan dan penafsiran versi sendiri.

Terkadang, di WAG atau whatsapp grup FLP timbul ketegangan ketika membahas politik. Namun uniknya, anak-anak muda ini berusaha untuk terus menajamkan tulisan dengan bersumber pada fakta dan data; serta mencoba untuk berargumentasi dengan tagline sastra santun. Apa yang kita pikirkan, apa yang kita rasakan, apa yang kita lakukan dan katakan serta tulisan; haruslah dengan kesantunan. Ketika menyerang satu pihak atau mengkritik satu golongan; tidaklah perlu menggunakan kata-kata yang tidak pantas. Anak-anak muda di FLP tumbuh menjadi generasi yang suka membaca, suka menulis. Maka bila kita membaca tulisan mereka diblog atau facebook, terasa sekali bahwa penulis FLP membawa nuansa yang berbeda. Konyol lucu, menghibur, namun bukan tong kosong.

Kalangan dewasa FLP, terdiri dari lebih banyak ragam elemen. Dosen, guru, karyawan, peneliti, sastrawan, PNS, pengusaha, editor, mahasiswa,  maupun kalangan professional lain. Ada pula kalangan pekerja istimewa yang dikenal sebagai tenaga kerja  Indonesia, yang bekerja di Hong Kong dan Taiwan. Karya-karya mereka telah diakui secara lokal, nasional bahkan internasional. Bagi guru, nama Gegge Mappangewa dari Makassar, Umi Kulsum dari Jombang, dan Khairani dari Banjarmasin adalah beberapa nama FLP yang karyanya berulang-ulang meraih penghargaan. Bukan hanya karya, namun juga kiprahnya di dunia belajar mengajar menjadi teladan bagi sesame guru mupun menjadi motivator bagi siswa. Agaknya, kemampuan mereka menulis menjadi salah satu point tersendiri untuk menjadikan para guru dan anggota FLP ini sebagai sosok teladan.

Di kalangan dosen dan penulis, FLP memiliki nama-nama Helvy Tiana Rosa, Irfan Hidayatullah; keduanya mantan ketua FLP terdahulu. Topik Mulyana, juga salah satu dosen dan pengurus FLP yang tulisannya tersebar di media massa sebagai sastrawan atau kritikus. Dari kalangan peneliti, muncul nama Maimon Herawati dan Ganjar Widhiyoga. Dua orang ini bak suhu kungfu yang akan turun gunung ketika dunia gonjang ganjing dengan segala hiruk pikuk berita hoax. Setiap kali tulisannya diunggah ke media massa, Maimon Herawati dan Ganjar Widhiyoga akan menuai banyak likers (juga haters) dan dishare ke banyak mungkin pembaca. Dari kalangan professional, nama-nama Intan Savitri sebagai ilmuwan psikologi, Yeni Mulati (Afifah Afra) sebagai CEO  ; menjadi referensi berharga bagi pembaca tiap kali mereka menelurkan tulisan baik buku atau sebuah catatan di media sosial. Di kalangan selebritas sendiri, tentu tak asing nama Habiburrahman el Shirazy dan Asma Nadia sebagai penulis-penulis kondang yang memberikan warna luarbiasa bagi dunia perfilman Indonesia.

Adakah kalangan istimewa dari FLP?

Tentu saja, kalangan ibu-ibu. Para ibu disini adalah ibu-ibu yang luarbiasa. Ditengah kesibukan dan tingkah polah mereka yang sangat spesifik sebagai kaum ibu yang cerewet, suka belanja, suka mengomel; para ibu  menelurkan karya-karya yang  sangat membanggakan. Selain buku-buku, penulis perempuan FLP banyak aktif sebagai blogger dan meraih banyak keuntungan baik financial maupun immaterial. Sebut saja Pipiet Senja, Naqiyyah Syam, Gesang Sari, Risalah Husna, Sri Widiyastuti, Puspitasari, Fauziah Rachmawati, Lina Astuti dan masih banyak lagi.

Blogger laki-laki?

Wah kalau ini jangan ditanya, jumlahnya menjamur di FLP!

Ali Muakhir, Koko Nata, Bang Aswi, Rafif Amir, Sokat Rahman, Bang Syaiha, Billy Antoro, Ilham Anugrah yang bila ditotal jumlah blogger FLP, mencapai puluhan bahkan ratusan. Mengapa demikian? Sebab rata-rata penulis FLP memiliki blog yang rutin dipelihara dengan tulisan dan laporan pandangan mata. Para blogger ini bukan hanya sibuk mengejar prestasi di dunia blogging, namun juga aktif dalam profesi masing-masing di dunia nyata.

Selain kelompok di atas, masih ada beberapa golongan di FLP yang demikian unik. Dua di antaranyanya adalah para pekerja serta mahasiswa perantauan di luar negeri.

FLP Hongkong.jpg
FLP Hong Kong

BMI Hong Kong dan pekerja di Taiwan adalah wilayah FLP yang sering menuai kekaguman akibat sepak terjang mereka yang luarbiasa. Bukan hanya mereka hidup di negeri orang, bekerja sebagai karyawan pabrik atau rumah tangga; hidup di level marginal, terpinggirkan dan kadang tidak dihargai secara layak; pada kenyataannya para pekerja Hong Kong dan Taiwan ini merupakan penulis-penulis yang luarbiasa. Sebut saja di antaranyanya Rihanu Alifa, Anna Ilham, Enda Soedjono, Shanna Azzahra, Indira, Ssy Laili. Mereka bukan hanya aktif di media sosial namun juga menulis di koran-koran lokal yang beredar di Hong Kong dan sekitarnya.

Mahasiwa perantauan di luar negeri, pun memberikan contoh luarbiasa bagaimana para pelajar harus membagi dengan bijak antara keuangan untuk mengelola organisasi, membeli buku, dan hidup cukup di perantauan. Bagaimana harus membagi waktu antara belajar, membaca jurnal (tentu dalam bahasa asing!), membaca referensi dan menelurkan buku-buku. FLP Mesir, FLP Yaman , FLP Turki, Maroko, Arab Saudi, Malaysia yang namanya terlalu panjang untuk disebutkan satu persatu. Anggota FLP yang pulang ke tanah air pun terus bergiat menyelesaikan karya seperti Awy Qolawwun yang merupakan jebolan FLP Arab Saudi, Adly el Fadly yang merupakan jebolan FLP Yaman, Irja NAshrullah yang masih aktif di FLP Mesir.

Demikian beragamnya anggota FLP hingga satu sama lain saling memberikan informasi berharga terkait dunia literasi yang tengah berkembang, issue-issue kekinian, berbagi ilmu sesuai dengan kapasitasnya, berbagi informasi lomba dan saling mendorong untuk meraih prestasi. Keragaman anggota FLP ini memperkaya para anggota untuk terus memacu masing-masing individu terus dan terus belajar.

 

Karya-karya yang terus berkembang

Karya FLP pernah dianggap karya kacangan.

Mengingat karya-karya tersebut begitu sederhana, begitu seragam dengan karya-karya sebagian besar anggota FLP, tidak menimbulkan makna yang dalam serta tidak layak untuk disejajarkan dengan karya-karya besar HAMKA atau Pramoedya.

Mengapa dianggap kacangan?

Memang karya FLP banyak yang seragam. Mengingat salah satu pilar FLP adalah keIslaman; banyak anggota FLP yang masih memahami karya Islami haruslah memiliki alur pesantren, masjid, tokoh berjilbab dan berjenggot. Kisahnya seputar mendapat hidayah saat menjadi mahasiswa kampus yang aktif di rohis, menjadi suka al Quran ketika di pesantren, atau mendapat kesempatan studi ke Timur Tengah.

Karya FLP dianggap minim kekayaan diksi serta mudah ditebak alurnya. Awalnya susah, lalu happy ending. Akhir yang mudah sekali diprediksi : menikah dengan sesama orang sholih, berhasil mendapatkan akhwat cantik idaman, lulus beasiswa dengan gilang gemilang, menjadi dosen dan disukai banyak mahasiswa.

Sesungguhnya, karya FLP tidaklah bisa disebut karya ‘kacangan’.

Siapakah HAMKA dan Pramoedya?  Adalah orang-orang yang kenyang makan asam garam kehidupan. Hidup dalam situasi sosial dan politik yang panas, merasakan peperangan dan penjara yang pedih. Sebagaimana kata Nietzche : hanya peperangan yang dapat membuktikan siapa manusia sesungguhnya, siapa binatang sesungguhnya.

Anggota FLP yang masih SMA dan mahasiswa, ibarat anak yang belajar berjalan, masih tertatih-tatih meraba-raba. Mereka seringkali harus menyisihkan uang untuk membeli buku sendiri yang bagi kantong Indonesia relative mahal, mereka juga tidak duduk di bangku fakultas FIB atau jurusan sastra. Mereka adalah anak-anak yang senang membaca, menulis, membaca, menulis. Karya-karya mereka adalah latihan yang sesunggunya. Sejak awal, mereka harus kenyang dengan kritikan pedas dan Alhamdulillah, mereka pantang mundur, terus menulis dan terus belajar. Perubahan-perubahan itu terlihat pasti merayap. Satu demi satu adik-adik FLP meraih penghargaan di tingkat lokal. Baik lokal sekolah, lokal kampus, lokal regional di koran kota. Lalu mulai muncul di koran nasional, di media online nasional, memenangkan lomba yang ringan persaingannya hingga lomba-lomba yang berat persaingannya serta level jurinya.

Adalah tokoh-tokoh FLP seperti Habiburrahman el Shirazy, Asma Nadia, Benny Arnas yang level ketokohannya diakui dunia. Mereka tidak lagi hanya memberikan pelatihan di tingkat Indonesia, namun diminta mengisi acara-acara di berbagai event di mancanegara. Ada banyak potensi di FLP yang insyaallah siap mengekor keberhasilan para pendahulunya seperti Asma Nadia, kang Abik dan Benny Arnas. Mashdar Zainal, salah satu anggota FLP Jawa Timur yang karya-karyanya tembus secara fantastis di koran ‘sulit’ seperti Jawa Pos dan Kompas.

Karya-karya kacangan FLP, akan terasa kacangan bila dikunyah oleh orang-orang dewasa yang level bacaannya sekelas para peraih nobel, pullitzer, dan penghagaan dunia lain : Najib Mahfudz, Amin Malouf, Rudyard Kipling, Orhan Pamuk, Serdar Ozkan, Nicholas Carr. Namun karya-karya ‘kacangan’ FLP akan menjadi kue lezat bagi sesama remaja yang butuh asupan bacaan ringan. Dan, mereka membutuhkan bacaan sejenis yang banyak jumlahnya.

Seorang gadis yang ingin memakai jilbab; akan terinspriasi oleh novel-novel tentang jilbab sekalipun alurnya kacangan, bombastis, tidak masuk akal, tidak relevan bahkan terlalu mengada-ada. Bila ia membaca 5, 10, 20 novel serupa yang menceritakan pengalaman memakai jilbab; bukan tidak mungkin ia pun pada akhirnya mantap berkerudung.

Seorang pemuda yang maju mundur untuk studi di pesantren; ketika membaca buku-buku yang mirip dan terkesan ‘sastra abal-abal’ ; sesuai level usianya yang masih suka menelan hal yang renyah dan ringan; pada akhirnya terdorong masuk ke pesantren dan membuka pintu kesadarannya untuk berjuang mengenyam pendidikan serius serta memangsa kitab-kitab yang jauh lebih berat dari sekedar naskah kacangan.

Anak-anak SD, yang masih suka berimajinasi dan membaca perkara ringan tentang dunia peri, dunia fantasi, kehidupan ala istana dan putri-pangeran; terdorong banyak menbaca buku ‘kacangan’ yang mungkin tidak sekelas Little Women (Louisa May Alcott) ,  Secret Garden (Burnett), Kim (Rudyard Kipling) atau bahkan Toto Chan. Namun, ketersediaan buku-buku ringan ini akan mendorong mereka memangsa buku level lebih tinggi dan pada akhirnya mereka suka mengunyah buku berat dan suatu ketika, menghasilkan karya sastra yang lebih mumpuni di waktu-waktu yang berikut.

Belajar menulis membutuhkan perjuangan panjang.

Tidak hanya dibatasi oleh bangku kuliah 4 tahun untuk S1, 2 tahun untuk S2. Belum tentu mahasiswa FIB atau sastra mampu menuliskan buku berkualitas bila mereka tidak mau belajar dengan susah payah. Sebagaimana belum tentu mahasiswa S2, S3 dan peneliti dapat menulis karya ilmiah dengan luwes dan dapat diterima oleh masyarakat luas. Menulis karya ‘kacangan’ kadang merupakan stimulant awal bagi penulis untuk belajar bagaimana menyesuiakan ritme kesibukan dengan target menulis : berapa buku setahun, berapa bulan selesai 1 buku, berapa bab harus dikerjakan 1 minggu, berapa halaman dalam 1 hari dan berapa jam untuk menulis. Ketika ritme menulis ‘kacangan’ ini terbentuk; lambat laun dengan dorongan individu dan organsisasi akan tercapai karya-karya yang semakin berbobot dari waktu ke waktu.

FLP, memang dikenal sebagai pabrik penulis.

Terkesan sebagai organisasi yang mengeluarkan penulis-penulis karbitan, penulis kuantitas bukan penulis kualitas, penulis kualitas pabrik bukan kualitas butik. Meski demikian; segala kritik tentu berharga bagi tumbuh kembang sosok individu dan organisasi. Mereka yang telah bertahun-tahun menulis, tentu harus berupaya meningkatkan kapasitas diri agar karya tulis tidak selamanya kacangan. Bolehlah karya-karya ‘kacangan’ dihasilkan oleh anggota pemula; semakin tinggi level anggota FLP di tingkat madya dan andal; maka proses kreativitasnya harus terus bejalan. Karya yang dihasilkan pun harus semakin berat bobot kualitas, keilmuan, logika berpikir, maupun maknanya.

Proses, adalah bagian yang diakui di FLP.

Tidak ada proses sekali jadi.

Tidak ada proses yang singkat.

Tidak ada proses yang hanya seminggu.

Semua proses, bahkan penciptaan langit dan bumi melalui 7 tahapan di ‘tangan’ Allah Swt . Apalagi proses manusia,  mungkin melalui puluhan, ratusan, ribuan tahapan.

 

FLP dan pasar lokal-global

FLP cukup berhasil menyasar pasar lokal. Terbukti, walau dunia penerbitan pasang surut, penulis-penulis baru di FLP bermunculan mengeluarkan novel dan karya non fiksi.

Anggota FLP yang memiliki basic ilmu syariah seperti Irja Nashrullah, Awy Qolawun, Adly el Fadly suskes menggarap pasar nasional yang membutuhkan buku-buku kajian keIslaman dengan bahasa ringan; bukan bahasa referensial yang cendeung berat.  Afifah Afra, Naqiyyah Syam; sukses menggarap pasar remaja putri dan ibu-ibu. Ali Muakhir, Koko Nata, Sri Widiyastuti sukses menggarap pasar anak-anak. Habiburrahman, Asma Nadia sukses menggarap pembaca perempuan; sementara Benny Arnas dan Mashdar Zainal sukses memanfaatkan ceruk sastra yang jarang digeluti penulis karena effortnya yang cukup besar. Rafif Amir, Gesang Sari, Sokat Rahman, Billy, Aprillia, dkk  dan blogger FLP sukses menggarap pasar online yang celahnya sangat terbuka dan ramai.

Dalam era digital, FLP mencoba beradaptasi.

Kertas-kertas berimbas pada penebangan kayu yang mengancam paru-paru dunia. Disisi lain, orang-orang masih belum terbiasa menggunakan perangkat elektronik untuk membaca buku. E-book sebuah keniscayaan, namun juga cepat memunculkan kelelahan. Apalagi, orang cenderung membuka media sosial ketika berinteraksi dengan gawai dan cepat teralihkan dari niat semula yang ingin membaca buku elektronik. Buku-buku berhana baku kertas masih diminati, walaupun juga, manusia harus dibiasakan semakin efektif efisien dalam bertingkah laku.

Bekerja sama dengan beberapa media online seperti beetalk, bitread dan UC News; merupakan satu langkah FLP memasuki pasar lebih luas. Anggota FLP tidak hanya harus belajar menulis fiksi – non fiksi; tapi juga belajar menulis materi-materi up to date yang diminati masyarakat luas mulai bahasan Donald Trump-Melania, hingga bagaimana hidup awet muda.

 

Apa yang Diberikan FLP pada Indonesia?

Jawabannya adalah Sumber Daya Manusia.

SDM adalah asset sangat mahal yang menghabiskan modal luarbiasa besar. Dalam sebuah perpustakaan di Seoul, terpahat reader is leader. Pembaca adalah pemimpin. Begitupun pemimpin adalah seorang pembaca. Negarawan kita adalah pembaca, penulis dan orang yang tiada berhenti belajar. Bung Karno, bung Hatta, Mohammad Natsir, HAMKA, Ki Hajar Dewantara, adalah para pembaca yang luarbiasa. HAMKA bahkan mewajibkan dirinya membaca buku dalam beragam bahasa untuk menajamkan otak. Pantas saja, Indonesia berhasil melawan kekuatan asing yang luarbiasa tangguh. Mereka memiliki senajta, kita memiliki daya juang.

FLP memberikan pada Indonesia sekian ribu manusia yang suka membaca dan menulis. Mereka bukan hanya orang-orang yang duduk di bangku akedemis; namun juga para buruh dan tenaga kerja marginal. Mereka bukan hanya orang yang terbiasa duduk di belakang meja mengerjakan laporan keuangan, namun juga para ibu yang bergelut dengan harga cabai. Mereka bukan hanya para dosen dan guru, tapi juga para pelajar SD hingga mahasiswa.

FLP memberikan kesempatan berproses. FLP memberikan lingkungan yang nyaman bagi para pembaca dan (calon) penulis. FLP mengasah kemampuan di luar bakat minat yang paling dasar. FLP memberikan para penulis informasi dan jaringan berharga yang harus dimiliki penulis untuk go local, go national, go international. Dalam ranah global dewasa ini, tidak ada seseorang yang dapat berhasil hanya secara individual. Ia butuh dukungan, butuh kelompok, butuh orang-orang di belakang layar.

Di belakang layar FLP; tersebar ribuan anak muda yang namanya tidak tercantum sebagi penulis atau blogger. Mereka adalah para buzzer dan reviewer yang rela mem-boost buku, agenda literasi, kegiatan kepenulisan agar sukses. Mereka adalah pengurus-pengurus FLP Pusat, wilayah, cabang, hingga ranting yang bersedia berpayah-payah menjalankan roda organisasi agar tercipta harmonisasi antara penulis, dunia perbukuan, kalangan media dan penerbitan yang harus terus bersinergi untuk menghasilkan karya-karya spektakuler. Orang-orang di belakang layar inilah yang membantu munculnya penulis-penulis tenar dan popular.

FLP Wilayah Jawa Barat, FLP Wilayah Jawa Timur, FLP Wilayah Riau

Bersama FLP, hadir wajah-wajah muda, wajah-wajah baru penulis; maupun hadir wajah-wajah penulis yang terus bermetamorfosa menjadi HAMKA dan Pramoedya yang berikutnya.

Selamat ulangtahun ke 20, FLP.

Berarti, berkarya, berbagi.

Teruslah berjuang dengan pena!

Kategori
Catatan Perjalanan Hikmah Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY WRITING. SHARING.

1 Jam : Bantuan Berharga bagi Komunitas Marginal

 

 

Satu jam dapat anda lakukan untuk mengerjakan banyak hal : membaca  buku, menonton film, berjalan-jalan. Tahukah anda, ada orang yang 1 jam hidupnya digunakan susah payah belajar membaca akibat dyslexia, berlatih motorik halus karena cerebral palsy, mencoba memahami perintah sederhana bagi  penyandang  hearing impairment, bertahan melawan halusinasi bagi orang dengan skizofrenia yang terancam relapse?

World Health Organization menetapkan 15% penduduk dunia merupakan kaum disabilitas, belum termasuk mereka yang mengalami gangguan mental dan kepribadian seperti skizofrenia. Sekalipun orang-orang yang mengalami impairment terlihat cacat,  bila terasah dapat melampaui level disability bahkan tidak lagi handicapped. Tiga level yang ditetapkan WHO adalah impairment atau kecacatan, biasanya menimbulkan disabililty atau ketidak mampuan mengerjakan tugas-tugas kemandirian. Pada akhirnya memunculkan handicapped, ketidakmampuan melakukan aktivitas sosial.

Duapuluh satu juta adalah angka fantastis bagi penderita skizofrenia di dunia, dimana 50% keluarga ODS (orang dengan skizofrenia) sama sekali tidak memiliki kecakapan memadai untuk merawat mereka.

 

Kekhususan Kaum Marginal

Pemerintah tak akan sanggup menangani semua anak berkebutuhan khusus atau children with special needs yang membutuhkan bukan hanya dukungan keluarga, lingkungan, tetapi juga pendidikan yang sesuai. Anak berkebutuhan khusus mencapai 15,6% dari keseluruhan populasi.

Orang-orang disabilitas, orang-orang dengan gangguan mental dan kepribadian bukanlah sampah yang sama sekali tak bermanfaat bagi masyarakat. Kehadiran mereka merupakan anugerah bagi bangsa dan negara. Dalam konteks agama manapun, kehadiran orang yang “spesial” selalu dikaitkan dengan harapan dan kesabaran.

Aktivitas dan karya tunarungu

 

Tunarungu, diakui sebagai disabilitas yang memunculkan karakter tekun, pekerja keras juga jujur. UPT rehabilitasi di Bangil, Jawa Timur, mampu mendidik siswa-siswa yang menghasilkan keahlian menjahit beragam bentuk termasuk bordir yang halus. Bahkan, kegiatan seni budaya seperti bela diri, menyanyi, menari juga dapat dilakukan dengan trampil. Satu-satunya kekurangan mereka hanyalah pendengaran yang rusak alias hearing impairment . Namun mereka tidak lagi dianggap disability sebab mereka telah mampu menyelesaikan tugas-tugas kemandirian termasuk mandiri finansial. Bukan itu saja, tidak lagi ada gangguan handicapped yang menyebabkan mereka tidak dapat berinteraksi sosial sebab mereka dapat berkomunikasi meski menggunakan bahasa isyarat.

 

Komunitas Berbasis Keluarga dan Masyarakat

Di Indonesia, komunitas-komunitas berbasis hobi atau keluarga yang mengalami permasalahan serupa semakin banyak muncul. Kelompok ini berdiri lebih karena rasa empati, keinginan untuk berbagi dan  berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Sejak awal berdiri hingga operasionalnya, banyak yang dilakukan dengan swadaya.

Kenalkah anda dengan Safrina dan Hadi Wasito?

Safrina, FLP, Hadi Wasito

Keduanya penyandang cerebral palsy namun banyak menorehkan prestasi. Kedua-duanya aktif menulis dalam forum lingkar pena atau yang dikenal sebagai FLP. Sebagai organisasi kepenulisan, awalnya FLP hanya  bergerak untuk remaja yang peduli terhadap dunia literasi. Lambat laun semakin banyak yang bergabung termasuk kaum disabilitas. Konsep art therapy , juga writing therapy sangat sesuai untuk healing.

ryan-writing-is-healing
Menulis itu menyembuhkan

Terapi yang menyembuhkan klien dengan melepaskan emosi-emosi negatifnya, sehingga tercipta keseimbangan antara kesedihan dan harapan, kebuntuan dan semangat baru. Komunitas seperti FLP bergerak dengan dana swadaya yang dijalankan dengan patungan uang saku para pengurus serta anggota, juga hasil berjualan buku-buku.

Komunitas berbasis keluarga dan masyarakat menjadi salah satu solusi bagi masalah yang tidak tertangani pemerintah. Tangan dan kaki pemerintah dengan program APBN 2017 selayaknya merangkul elemen-elemen masyarakat yang berniat untuk melakukan perubahan ke arah lebih baik. Informasi, kerjasama, sosialisasi harus menjadi program berkesinambungan agar komunitas-komunitas mulia ini tidak hanya mekar di awal lalu mati karena kekurangan pasokan energi sumber dana.

 

Komunitas sebagai Mitra Pemerintah

Seringkali, komunitas tidak cukup tahu apakah tersedia dana bagi elemen-elemen yang membantu mewujudkan visi misi pemerintah. Alangkah baiknya bila pemerintah mempersilakan komunitas mengajukan diri kepada pemerintah daerah untuk dinilai kualifikasinya. Bila memenuhi syarat, mendapatkan bantuan layak bagi dana operasional.

Seringkali, komunitas yang ada berjalan dengan cara tradisional : yang penting jalan dengan dana seadanya, ada pertemuan rutin yang merupakan tempat berbagi semangat. Padahal, dengan sentuhan profesionalisme pemerintah, komunitas marginal  sederhana yang ada di tengah masyarakat akan berkembang lebih maju. Masyarakat seringkali tidak tahu harus kemana membawa laporan, maka pihak pemerintah selayaknya menjemput bola. Jangan sampai komunitas yang merupakan salah satu asset pemberdayaan masyarakat yang tumbuh dari keluarga atau hobi, lenyap begitu saja.

abk-peduli-kasih
Edukasi orangtua ABK komunitas Peduli Kasih, Surabaya

Komunitas ABK (anak berkebutuhan khusus) Peduli Kasih di Surabaya, dibawah asuhan dr. Sawitri mengelola anak-anak special needs dari kalangan kurang mampu. Biaya swadaya tak akan cukup untuk melayani begitu banyaknya permasalahan. Apalagi, urusan komunitas bukan hanya melatih ketrampilan anak berkebutuhan khusus. Menggelar edukasi bagi orangtua tak mampu agar lebih terbuka dan trampil dalam mengasuh anak-anak spesial, memberikan santunan berupa makanan berkualitas atau voucher hotel bagi pasangan. Bagi keluarga yang memiliki anak disablitas,gangguan mental atau gangguan kepribadian p, nyaris tak memiliki waktu pribadi untuk relaksasi. Voucher menginap semalam di hotel berbintang sungguh dapat melepaskan penat sejenak. Hanya bantuan kecil, namun bermakna.

Satu jam waktu kita dapat terbuang percuma.

Satu jam bagi special needs, skizofrenia, atau orang berkebutuhan khusus lainnya adalah waktu ajaib untuk membangun mimpi mereka.

            Sinta Yudisia

Psikolog & Penulis

 

 

 

 

Kategori
Catatan Perjalanan Oase Perjalanan Menulis WRITING. SHARING.

Liputan Sinta Yudisia di Chosun Ilbo (조선일보)

 

Alhamdulillah…senang sekali dapat diwawancarai oleh salah satu koran terkemuka di Korea, Chosun Ilbo (조선일보) atau Korean Daily.

Liputan acara Reading Concert di Baseurak Hall. 3 penulis yang diwawancarai adalah Sinta Yudisia (Indonesia), Batkhuyag Purekhvuu (Mongolia), Pankaj Dubey (India)

Sinta, PD, Batkhuyag at Seoul.jpg

입력 : 2016.07.04 03:00

‘아시아 문학 창작 워크숍’ 참석
5월부터 서울 머물며 수필 써… 내년 봄 잡지 ‘연희’에 실려

아시아 문학이 서울을 향했다. 서울문화재단과 문학 계간지 ‘아시아’·한국작가회의가 초청한 아시아 대표 문인들이 1~3일 ‘아시아 문학 창작 워크숍’에 참석해 문학의 국경을 텄다. 이 중 지난 5월부터 서울 연희문학창작촌에 머물며 서울을 배경으로 한 수필을 완성한 몽골·인도·인도네시아 문인 3인을 만났다. 이 작품들은 내년 봄 잡지 ‘연희’에 실린다.

초현대 도시 서울에서 작가들이 발견한 것은 오히려 영적(靈的) 기민함이었다. 몽골문화예술대 교수인 시인 겸 소설가 푸릅후 바트호약(41)은 “이곳 사람들은 본능적으로 비와 바람을 감지해내는 것 같다”고 했다. “늘 연희동 주택가에서 햇볕을 쬐던 할아버지가 있었는데, 정확히 날씨를 예측하곤 했어요. 마치 대기(大氣)와 대화를 하고 있는 것 같았습니다.” 지난해 인도네시아 ‘영감을 주는 작가’에 선정된 신따 위스단띠(42)는 “서울에선 다양한 영혼이 인정받는 느낌”이라고 했다. 무슬림인 그녀는 “동네마다 교회·성당이 있고, 도심 한복판(코엑스) 옆에 절(봉은사)이 있는가 하면, 이태원엔 이슬람사원이 있다. 여러 가치가 공존하고 있었다”고 말했다.

서울을 주제로 한 수필을 완성한 아시아 작가 3인이 1일 서울시청 시민청에 전시된 글귀 앞에 섰다. 왼쪽부터 신따 위수단띠, 판카즈 두베이, 푸릅후 바트호약. /장련성 객원기자

인도 뭄바이에서 온 소설가 판카즈 두베이(38)는 다양성 안에 도사린 폐쇄성을 짚었다. “서울은 분명 국제도시지만 아직도 외국인에 대한 경계가 느껴졌다”고 말했다. 이어 “한국 여성과 인도 남성의 결혼에 관한 글을 쓰고 있다”며 “혼인 과정의 갈등을 통해 진짜 다양성에 대해 질문하려 한다”고 덧붙였다.

초원과 대륙, 섬에서 온 작가들이 포착한 서울의 속도도 제각각이었다. 바트호약은 “서울의 발걸음은 울란바토르보다 훨씬 급했다. 사람들이 실시간으로 살아가고 있다는 생각을 했다”고 했다. 항구 도시 수라바야(Surabaya)에서 온 위스단띠는 서울의 교통망을 칭찬하면서 “지하철 2호선 당산~합정 구간의 창밖 풍경은 사랑하지 않을 수 없었다”고 말했다.

이들은 한국 문학에 높은 관심을 표했다. 특히 위스단띠는 윤동주 시인의 ‘하늘과 바람과 별과 시’를 한글로 발음하며 엄지를 치켜세웠다. 그녀는 “인도네시아에도 하이릴 안와르(Chairil anwar) 등 일제에 저항한 시인이 있지만 윤동주만큼 크게 조명되고 있진 않다”며 “한국의 문인 대접에 감명을 받았다”고 했다.

서울에서 보낸 1448시간의 여정. 이제 각자의 도시로 돌아가는 이 세 사람은 덕담을 잊지 않았다. “서울이 경제적 발전을 넘어 아시아 문학의 허브가 되길 바랍니다. 고향에 돌아가서도 서울이 선물한 문학적 영감을 이어갈 겁니다.”

 

  • Copyright ⓒ 조선일보 & Chosun.com

[출처] 본 기사는 조선닷컴에서 작성된 기사 입니다

Kategori
Catatan Perjalanan Hikmah Mancanegara mother's corner Oase Rahasia Perempuan

#23 Catatan Seoul ( & Hong Kong) : Ketika Perempuan menjadi Tulang Punggung

“Nak, ada uang?”

“Dek, sudah gajian?”

“Anak kita butuh sepeda motor.”

“Rumah kita mau disita.”

Beribu  masalah yang mungkin akan menjadi setebal buku telepon kuning zaman baheula untuk mendaftar permasalahan setiap keluarga, setiap pasangan suami istri, setiap anak manusia yang berjuang untuk tetap hidup.

Kali ke3 saya ke Hong Kong, tetap tak dapat menghapus kekaguman –dan keperihan- melihat sekian banyak anak manusia yang hampir seluruhnya perempuan (kalau tidak dapat dikatakan 99, 99 % perempuan) berjuang demi keluarganya.

DSC_1606
LMI (Lembaga Manajemen Infaq) bersama FLP Hong Kong dan BMI berbuka puasa bersama

Enak ya di luar negeri?

Ya.

Sekilas enak.

Dengan penghasilan sekitar HKD $ 4500 atau sekitar 6 juta sekian rupiah. Dikurangi cicilan 6 bulan tagihan ke PJTKI, seorang pekerja perempuan masih dapat mengirimkan sejumlah uang dalam jumlah lumayan ke tanah air.

 

Tidak percaya rezeki?

Rezeki milik Allah Swt. Kenapa harus jauh-jauh ke negeri orang? Berpisah dari anak dan suami? Lalu akhirnya bercerai dan anak-anak terbengkalai.

Oh, cobalah datang ke Hong Kong sendiri dan nikmati situasi pagi akhir pekan di Keswick Street, KJRI, daerah Causeway Bay. Ratusan perempuan mengular memperpanjang paspor. 163.000 pekerja perempuan yang legal (belum yang ilegal)  bertarung setiap menit , setiap jam, setiap hari untuk dapat tetap sehat dan bekerja demi menghidupi keluarga. Akhir pekan adalah waktu mendebarkan untuk mengurus surat-surat perpanjangan.

Apakah mereka tidak percaya rezeki Allah ada di Indonesia?

DSC_1587
Lomba cerdas cermat agama, diinisiasi oleh Anna Ilham

Mereka percaya. Mereka telah mencoba sejauh ini.

Tetapi ada kejadian-kejadian pahit serta kritis yang membuat manusia bersimpuh di hadapan RobbNya sembari berkata : bila ini jalanku, jalan untuk berjuang demi keluarga dan mengorbankan diri, maka akan kutempuh.

Tak ada satupun perempuan yang berangkat pergi keluar negeri sebagai BMI dengan tawa dan kebanggaan : ini lho aku kerja di luarnegeri.

Mereka menangis meninggalkan keluarga, tahu apa konsekuensinya berpisah dengan suami minimal 2 tahun (cerai atau berselingkuh adalah realita yang dihadapi). Tetapi apa yang dapat dilakukan ratusan ribu perempuan dengan tingkat pendidikan nol, SD, SMP dan paling tinggi SMA ini? Dengan kebutuhan hidup yang membelit semakin rumit dari hari kehari?

Ada yang rumahnya disita karena suaminya kecelakaan dan habis biaya operasi puluhan juta.

Ada yang ayahnya di PHK dan ia merupakan anak tertua dari 4 bersaudara. Lulusan SMP dapat gaji berapa? Mungkin hanya 1 juta. 1 juta untuk 6 mulut?

Ada yang ditinggalkan suami, disia-siakan, kelabakan mengurus anak-anak yang kecil lalu memutuskan harus keluar negeri ketika kerja-kerja serabutan di dalam negeri tidak menutupi bahkan untuk kebutuhan sehari-hari dan sekolah anak.

Ketika perempuan menjadi tulang punggung keluarga, besar taruhannya.

Suami mereka menuntut cerai.

Atau berselingkuh.

Atau mereka tetap berstatus menikah tapi entah apa hak dan kewajiabn , serba tak jelas.

Apapun itu, saya tetap salut para perempuan-perempuan ini : mereka segera mengambil tali kendali keluarga ketika ayah, suami, abang laki-laki, adik laki-laki; tak bisa menjadi sandaran. Bukan sedikit yang  mereka korbankan.

“Saya sadar saya salah, Mbak,” ungkap X. “Makanya, saya bercerai dari suami dan dia saya izinkan nikah lagi. Anak saya diasuh suami. Saya pergi ke Hong Kong karena penghasilan suami sebagai  tukang tidak mencukup. Kami keluarga besar, ada ibunya dan saudara-sadaura. Sampai sekarang, suami masih mengandalkan saya. Saya beli sepeda motor untuk anak, dipakai dia. Alhamdulillah hubungan kami baik.”

“Ibu saya terlibat hutang, bapak saya kena PHK. Saya masih kelas 2 SMA ketika itu. Saya setahun di pondokan PJKTKI. Sebagai anak tertua saya harus ambil alih tanggung jawab keluarga sampai sekarang.”

“Suami saya sering melakukan KDRT, saya hamil anak kedua dia selingkuh. Jangankan uang , penganiayaan sering terjadi. Akhirnya saya memutuskan berpisah, dan suami menantang apakah saya bisa mengasuh 2 anak saya? Saya pernah bekerja dalam keadaan tak punya uang sepeserpun dans aya berdoa pada Allah. Allah menjawab, sore hari ada seseorang mengirim sup ke kontrakan saya. Awalnya saya kerja di Jakarta tapi memang tidak cukup. Akhirnya saya kerja di Hong Kong.”

Hanya sedikit ksiah yang bisa saya tuliskan.

Airmata dan keringat tak cukup sebagai tinta pena untuk menuliskan perjuangan perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga.

Ya, mereka memang berdosa karena meninggalkan keluarga di tanah air.

Tapi apakah cukup kita mengancam dengan dosa, memaksa 163.000 BMI  itu kembali ke tanah air? Mengancam dengan tuduhan ini itu sementara hidup kita bersama keluarga demikian nyaman, memiliki suami yang pengertian serta mencukupi nafkah? Memang, menjadi BMI  bukan pekerjaan terbaik. Karenanya saya bangga, banga sekali. Sekian banyak BMI yang saya kenal setelah bekerja 4, 5, 7, atau 10 tahun berhasil mengumpulkan uang. Mereka menabung. Betul-betul menabung. Menyimpan bekal dan modal untuk membuka usaha bengkel, bakso atau apalah di tanah air.

 

Mereka tetap berhasrat pulang.

Meski Indonesia adalah negeri kaya yang menggoreksan luka perih dalam hidup dan perasaan, mereka tetap kembali. Tetap mengirimkan devisa ke tanah air. Sekalipun para suami tak sanggup mendampingi perpisahan itu, mereka menyadari ada titik dimana perasaan bukan satu-satunya yang pantas diperhatanakna. Mereka sadar, kebahagiaan berada di samping anak dan suami, adalah kekayaan yang demikian mewah. Namun ketika tiba harus memilih, apakah berbuat sesuatu yang tampaknya  demikian mustahil, mengerikan, di luar ambang batas kemampuan; para perempuan ini memilih mengorbankan dirinya demi orang-orang yang dicintainya.

Kalau kita megannggap kiprah BMI di luar negeri sebagai satu dosa sebab meninggalkan suami dan keluarga demikian lama, doakan mereka dapat segera kembali. Sebab saat ini, ribuan atau bahkan puluhan ribu BMI kita di Hong Kong terancam dipidanakan akibat pemerintah Hong Kong mengambil kebijakan tegas terkait identitas BMI. Salah nama, salah tanggal, salah huruf; dianggap sebagai tindak pidana kriminal. Puluhan ribu BMI yang memiliki kartu keluarga atau E KTP tak sesuai dengan passpor; terancam masuk penjara. Bayangkan saja, bila ada kesalahan nama seperti  Aisyah dan Aisah, maka pihak Hong Kong menganggapnya sebagai pemalsuan identitas. Apalagi, begitu banyak kasus pengaburan identitas. Begitu banyak perempuan usia 15 tahun, atau di bawah umur, diharapkan segera menjadi tulang punggung keluarga, dikirim ke luar negeri untuk bekerja demi keluarganya. Umur mereka dipalsukan beberapa tahun lebih tua. Dan sungguh, perjuangan perempuan Indonesia seperti tiada habisnya.

IMG-20160620-WA0029
Buka puasa bersama di KJRI

Saya bersyukur dapat membersamai teman-teman FLP Hong Kong dan BMI yang luarbiasa ini dalam acara buka puasa bersama yang digagas oleh LMI (Lembaga Manajemen Infaq) tanggal 19 Juni 2016. Puasa di Hong Kong sungguh berbeda dengan di Seoul. Cuaca 33 derajat, adik-adik BMI harus ksana kemari berjalan kaki di bawah terik matahari. Mereka hanya punya libur 1 hari dan tetap  menjalankan ibadah puasa. Terkadang, mereka menggabung buka dan sahur sebab tak mampu bangun sahur akibat kelelahan.

Bagi perempuan BMI yang masih berjuang di luar negeri, sabarlah dan tetap semangat! Teruslah belajar dan timbalah ilmu.

Bagi yang telah 4 tahun ke atas, ayo, berpikir untuk pulang dan menjadi mengusaha di negeri sendiri.

 

Kategori
Bulan Nararya Catatan Perjalanan Mancanegara Oase Sastra Islam

#17 Catatan Seoul : Profesor Koh Young Hun, Cinta Indonesia dan Hankuk University of Foreign Studies (HUFS)

 

 

Prof Koh Young Hun
Prof. Koh Young Hun & Sinta Yudisia

Saya bertemu Profesor Koh Young Hun, copy darat, baru tanggal 14 Juni 2016. Sebelumnya saya lebih banyak berinteraksi dengan beliau via telepon. Diskusi kami sangat menyenangkan, sebab beliau fasih berbahasa Indonesia.

 

Ada banyak hal yang membuat saya merenung akan pendapat-pendapat beliau. Semoga, hasil diskusi kami membuka mata khalayak, terutama penulis-penulis Indonesia serta para pembaca aktif yang selalu ingin belajar untuk meningkatkan wawasan serta memperluas kebijaksanaan.

Profesor Koh Young Hun adalah pengajar di HUFS atau Hankuk University of Foreign Studies   jurusan Malay Studies (www.hufs.ac.kr) . Beliau mengelola Koreana dan menjadi pemimpin redaksi majalah tersebut untuk edisi bahasa Indonesia ( www.koreana.or.kr)

Selain itu Profesor Koh mengelola situs Indonesia Culture Center atau Pusat Budaya Indonesia yang berisi segala informasi tentang budaya Indonesia, dalam bahasa Indonesia dan Korea (www.indonesian.co.kr)

 

 

Indonesia = potensial selamanya?

Profesor Koh sangat mengagumi Indonesia. Sebagai negara timur, Indonesia dan Korea memiliki sejarah mirip. Indonesia merdeka 1945, Korea 1950. Kita sama-sama pernah dijajah Jepang. Perbedaannya adalah, karena perih oleh penjajahan Jepang, Korea ingin selalu mengalahkan Jepang dalam segala aspeknya. Semangat itu yang kurang muncul dari bangsa Indonesia. Seolah-olah kita lupa pernah dijajah Jepang dan mengalami kolonialisasi demikian pahitnya.

Kemalasan dan kebodohan masih mewarnai sebagian besar masyarakat Indonesia, pola hidup konsumtif juga. Korupsi, tentu tak ketinggalan. Korupsi akan selalu ada di setiap negara. Tetapi propaganda melawan korupsi harus juga terus berjalan. Slogan-slogan anti korupsi harus digalakkan misal : harta yang berasal dari korupsi tidak akan berkah bagi keluarga.

Profesor Koh prihatin bila sekarang ia mengatakan Indonesia negara potensial dan mahasiswanya sebagian sudah lulus, bekerja, mengajar juga; maka dosen-dosen tersebut yang memiliki rentang waktu 20-30 tahun dengan dirinya masih tetap mengatakan ‘Indonesia potensial’. Seharusnya Indonesia sudah menjadi negara maju dalam kurun waktu 30 tahun.

 

Sastra dan Pengaruh

Tak ada sastra yang baik dan buruk, menurut beliau.

Yang ada hanyalah sastra yang memberikan pegnaruh. Sebuah karya sastra menjadi luarbiasa apabila memiliki pengaruh dahsyat ke masyarakat. Saran beliau untuk penulis-penulis Indonesia, teruslah berkarya.

Saya ingat dalam pertemuan dengan penulis-penulis Korea beberapa waktu lalu di media library, seorang penulis Korea memberikan masukan bagus bahwa betapapun seorang penulis sekarang diharapkan mampu menjual karyanya agar best seller, seorang penulis harus aktif di media sosial dan seterusnya; penulis harus tetap berjuang untuk menulis dan memperhatikan content tulisan. Isi tulisan. Itu yang sangat penting. Saya tidak merasa bahwa tulisan-tulisan saya sudah memberikan pengaruh. Tapi benar sekali, isi tulisan sangat penting. Sebab bila tulsian kita dibaca orang, dan orang tersebut merasa memiliki kesamaan karakter atau alur cerita, ia dapat mencontoh bagaimana endingnya. Semoga karya saya Sedekah Minus membawa pengaruh baik bagi masyarakat internasional bagaimana memahami Islam lebih utuh. Bila, penulis tidak menuliskan isi yang baik dengan cara yang baik, dikhawatirkan kiprahnya di dunia sastra tak dapat bertahan lama (Novel Bunuh Diri?).

Saya pribadi berusaha untuk memasukkan value ke dalam tulisan. Seperti novel Bulan Nararya (Beragam Resensi Novel BULAN NARARYA) adalah pergulatan psikoterapis dan ternyata, seorang psikolog atau terapis pun jangan dibayangkan lepas dari masalah. Orang harus berjuang sendiri untuk dapat bangkit dari masalahnya.

 

Terjemahan Karya Sastra

Saya mengusulkan ke Profesor Koh Young Hun agar kita sama-sama aktif menerjemahkan karya sastra kedua negara. Karya sastra Korea diterjemahkan ke Indonesia begitupun karya sastra Indonesia diterjemahkan ke Korea. Bukan hanya karya klasik semacam karya Pramudya Ananta Toer yang diterjemahkan, namun juga karya-karya populer yang ringan. Sekalipun ringan, bukan berarti tak memberikan pengaruh. Karya-karya FLP. Forum Lingkar Pena saya rasa sangat layak diterjemahkan ke bahasa Korea untuk memperkaya khazanah sastra di negeri ginseng ini.

* Saya dan Feby, mahasiswi Sastra Korea Modern SNU (Seoul National UNiversity)

 

 

 

Kategori
Artikel/Opini Fiksi Sinta Yudisia Oase Perjalanan Menulis Referensi Fiksi Sophia & Pink TAKHTA AWAN Takudar The Road to the Empire WRITING. SHARING.

Novel Bunuh Diri?

book-arrow-cover-death-old-media-19179999

 

Memiliki profesi penulis, tentu harus siap dengan segala konsekuensi. Segala profesi memiliki titik positif negatif, sisi senang dan sengsara, bahagia dan nestapa. Sebut saja guru. Sahabat-sahabat saya yang berprofesi sebagai guru swasta harus siap banting tulang dengan penghasilan yang pas standar UMR, jangan tanya ketika ada cicilan rumah dan sepeda motor. Apa sisi kebahagiaannya? Saat murid-murid mereka lebih pintar, lebih bisa menghafal Quran, menang di arena-arena Olimpiade. Bahkan, murid-murid tersebut telah masuk perguruan tinggi bergengsi saat guru mereka masih mengabdikan diri di institusi pendidikan dengan segala pengorbanan.

 

Menjadi penulis, memiliki dua sisi yang sama.

 

Sisi bahagia ketika :

  • Karya terbit
  • Bentuk fisik buku cantik dan menarik
  • Buku tampil di toko-toko buku terkemuka
  • Best seller
  • DP (downpaymen) dibayarkan juga royalty per 3 atau 6 bulan
  • Menang penghargaan
  • Difilmkan
  • Mendapat apresiasi positif dari khalayak pembaca, kritikus, dsb
  • Diundang bedah buku
  • Diresensi
  • Quote-quote buku muncul di media sosial

 

 

Sisi sedih ketika :

  • Karya ditolak, ditolak, ditolak lagi (apalagi ditolak di beberapa penerbit)
  • Terbit tapi bentuk fisik seadanya alias tidak menarik sama sekali
  • Buku terbit tapi tidak laku
  • Write off alias hak terbit dikembalikan ke penulis
  • Tidak ada laporan royalty
  • Mendapat apresiasi negative dari khalayak
  • Dikritik habis-habisan
  • Orang-orang minta hadiah buku tersebut, minimal discount (padahal menulisnya dalam kubangan airmata dan keringat)

 

Beberapa tahun belakangan ini, novel (terutama novel Islami) mengalami penurunan drastis hingga penulis banyak yang mengambil alih profesi lain. Mengapa novel Islami yang pernah berjaya, tidak laku? Apakah ini terjadi pada semua jenis novel? Apakah profesi penulis ini nanti ditinggalkan? Apakah profesi penulis harus seperti guru, disertifikasi dan mendapatkan penghasilan pasti agar profesi ini diminati kembali?

 

Ada beberapa hal yang ingin saya bahas dan silakan ditambahkan bila ada yang kruang atau perlu diluruskan.

Flying-Books-Vector-Graphics.jpg

  1. Novel Islami

Label Islami memiliki sisi keuntungan dan kekurangan.

Sisi keuntungan, pembelinya merasa pasti akan mendapatkan pencerahan walau kadang-kadang lelah dengan nasehat-nasehat. Bolak balik beli novel Islami baik tokoh, peran, prolog dan ending sama semua.

Sisi kekurangan, stigma masyarakat terhadap novel islami sebagai novel yang membosankan mulai berakar kuat. Novel Islami hanya dinikmati oleh pembeli yang ingin Islami, bukan yang non Islami atau yang masih alergi-Islami.

Maka, penulis yang ingin menggalakkan kembali novel Islami harus belajar banyak hal, termasuk memahami sisi-sisi syariah, dakwah dari novel Islami.

Bolehkah alur ceritanya agak menyeramkan : bunuh diri, sexual abuse,  prositusi, pacaran kelewat batas, homoseksual, pembunuhan, poligami,  nikah beda agama; namun mungkin ada pesan yang ingin diselipkan disana?

Bila memilih tema yang sensitif, bagaimana pula mengolahnya agar novel Islami tetap terjaga kesantunan dan yang tak boleh dilupakan, kelarisan penjualannya?

 

 

  1. Apa yang harus kita pelajari?

Menjadi penulis, harus belajar banyak hal. Saya termasuk yang amsih harus banyak, banyak, banyak belajar dari teman-teman penulis, pembaca, editor, resensor,  sutradara, penulis scenario dan lain sebagainya.

Kesabaran. Kesabaran tak pelak lagi salah satu kunci utama manusia dalam mencapai target hidupnya. Kesabaran dalam menuliskan kisah mulai 10, 20, 70, 100, hingga 400 halaman. Kesabaran dalam tahapan menulis novel. Kesabaran ketika harus bekerja sama dengan editor dan sang editor meminta revisi di beberapa bagian. Kesabaran untuk berdiskusi dengan penulis lain. Kesabaran untuk menerima kritikan. Kesabaran ketika naskah ditolak, atau diterbitkan namun tidak laku. Kesabaran terhadap segala jenis kemungkinan yang terjadi pada naskah kita.

Membaca novel dan buku lain. Membeli novel baru, meminjam dari teman, menyempatkan membaca. Menyempatkan membaca ulang. Membaca novel atau buku-buku lain akan memberikan gairah baru dalam tulisan kita. Meski, bukan berarti kita harus meniru 100% gaya menulis Helvy Tiana Rosa, Asma Naida, Kang Abik, Dan Brown, JRR Tolkien, JK Rowling; membaca karya mereka akan memperkaya khazanah.

Berani menampilkan novel yang beda. Jangan pernah berpikir bahwa dakwah, atau menyampaikan kebaikan harus dilakukan dengan satu cara. Apakah semua pendakwah harus seperti Ustadz Maulana, Ustadz Arifin Ilham, Ustadz Yusuf Mansur? Maher Zain dan Raef berdakwah dengan music. Bahkan Ustadz Arifin Ilhan dan Dr. Zakir Naik akan berbeda cara menyampaikan. Setiap penulis memiliki cirri kekhasan masing-masing. Cobalah untuk menampilkan novel yang berbeda. Tokoh protagonist tidak harus lelaki sholih berjenggot yang berdiam dari satu masjid ke masjid lain. Boleh jadi ia seorang residivis yang menemukan jalan pulang dan ingin mengentaskan kampung preman. Atau seorang cassanova flamboyant yang ratusan kali berpacaran dan akhirnya bingung menentukan standar perempuan cantik. Atau seorang perempuan korban KDRT yang menemukan titik keberanian untuk bangkit membela hak dirinya setelah menyadari bahwa ia punya adil dalam sadistis-masokis.

Detail. Pernah baca novel Dan Brown? Atau Tom Clancy? Kisah Dan Brown sebetulnya mirip-mirip, menceritakan tentang simbol rahasia, atau Tom Clancy dengan tokoh Ryan yang menampilkan heroism khas Uncle Sam. Hanya saja kita dibuat terhanyut karena detail. Detail bangunan, detail karya seni, detail makna simbol, detail sejarah, detail pangkalan militer. Kalau ingin mengisahkan kisah cinta tentang ikhwan-akhwat, mengapa tidak coba kita eksplor detailnya? Kisah ta’aruf, aktivis rohis, aktivis kampus masih menarik dieskplor asal dengan gaya berbeda.

Misal, seorang ikhwan yang ingin segera nikah.

Proses nikah dengan akhwatnya kan bisa dieksplor.

Ikhwannya berasal dari keluarga sederhana, punya kakak perempuan yang belum nikah, adik perempuan yang manja dan kolokan. Benturan ketika si ikhwan itu pingin nikah, pasti menarik. Perselisihan dengan kakak perempuannya yang bolak balik pacaran gagal, adik perempuan yang gak mau ditinggalkan si abang. Belum lagi proses taaruf dengan keluarga akhwat yang misal, dari high class. Si akhwat super duper cantik, good looking dan pintar, si ikhwan pintar tapi culun.  Si ikhwan gak pernah makan steak karena rajin puasa Daud demi menghemat  uang beasiswa. Khitbah di rumah akhwat bisa jadi disaster , ketika keluarga akhwat menyuguhkan makanan ala barat dengan pisau dan garpu sementara keluarga di ikhwan milih makan pakai tangan sambil selonjoran hahahah.

Perjuangan ikhwan tersebut mendapatkan istri shalihah yang gak gampang, pantas dieksplor. Betapa banyak novel Islami yang menggambarkan kehidupan jauh dari realita : ikhwan akhwat sama-sama cakep, dari kalangan berada, taaruf, nikah, malam pertama indah. Jadi deh…ditambah cerita ala Cinderella si ikhwan berhasil dapat beasiswa di luarnegeri dst dst.

 

Tema. Banyak sekali tema yang masih harus digali dari perjalanan hidup manusia. Tema politik belum banyak yang menyentuh. Tema pesantren juga baru sebagian, belum banyak dieksplor dengan dalam. Misal,  (inspired by true story) kehidupan seorang Kiai yang punya dua anak putra, dua-duanya mengembangkan pesantren. Salah satu pesantren sukses, salah satu gagal. Atau tema politik, ketika ayah dan anak memilih jalur politik yang berbeda dan kedua-duanya sama-sama jadi anggota legislatif. Atau bagaimana seorang anak menyadarkan kedua orangtuanya yang sama-sama berselingkuh (naudzubillahi mindzalik).

 

Kemahiran bercerita. Sorang sutradara film memberikan masukan kepada saya, belajarlah dari cara orang India berkisah. Lihatlah film-filmnya. Orang India termasuk salah satu penutur yang baik. Saya sendiri terkesan dengan film India antara lain Jodha Akbar dan Navya. Jodha Akbar sangat detil mengisahkan ornament pakaian yang berbeda antara bangsawan Mughal dan bangsawan Rajput. Bagaimana 3 istri Jalaluddin : Sakina, Ruqaya dan Jodha punya gaya berpakaian yang khas. Sakina lebih suka pakai gaun seperti kulot, Ruqaya lengan panjang dan Jodha sari berlengan pendek. Dalam salah satu episode, jalaluddin terkesan sekali ketika Jodha bersedia menukar pakaian bangsawan Rajput dan mengenakan busana tradisional Mughal.

Navya pun demikian. Dengan setting modern dan tema ala anak muda sekarang, pacaran, Navya kebingunan ketika harus menentukan pilihan antara menerima undangan sang pacar atau menghadiri acara yang diadakan di rumahnya sendiri. Pacaran bukan sekedar jalan bareng, bonceng berduaan, pegang tangan dan ciuman. Kalau kata orang-orang pacaran adalah proses penyesuaian, mengapa tidak ditampilkan proses penyesuaian yang sesungguhnya? Agar generasi muda tahu bahwa pacaran bukan sekedar senang-senang tapi banyak resikonya.

Flipped (Wendelin Van Draanen) diangkat dari novel berjudul sama adalah kisah pacaran anak SMP yang manis dan sama sekali tak ada adegan di luar batas. Julianna Baker yang suka naik pohon, jatuh cinta setengah mati dengan Bryce Loski, cowok ganteng bermata biru. Dalam novel ini Julianna yang setengah mati mengejar-ngejar Bryce namun kecewa ketika Bryce tak dapat menerima keluarga Julianne. Paman Julianne seorang MR (mental retarded) yang tinggal bersama keluarga mereka. Ayah Julianna, seorang pelukis yang demikian menyayangi adiknya dan mengajarkan Julianna bahwa pamannya adalah bagian dari keluarga mereka. Cara Juli menyatakan cinta pada Bryce pun tak lazim, Juli senang mengirimkan telur-telur ayamnya kepada Bryce J

 

Terinspirasi dari novel dan film ini pula, saya menuliskan Sophia and Pink, kisah dua remaja putri yang tumbuh di tengah keluarga tidak sempurna. Tokoh Sophia mencari cinta di tengah pergulatan dirinya mencari jati diri. Julianna, Sophia, Pink gadis remaja yang tengah dipenuhi ledakan hormon, energi, imajinasi, keinginan berpetualangan termasuk ingin mencicipi bagaimana cinta di masa remaja.

  1. Kritik mana yang harus diterima?

Terimalah kritik dengan lapang dada dan perbaikilah bila memang sesuai dengan gaya kepenulisan kita. Serial Takudar memunculkan fans yang bertahun-tahun menantikan serial akhirnya namun demikian, tetap ada yang mengkritiknya dan mengatakan mengapa tokoh lelaki karya Sinta Yudisia relative mirip? Sholih dan seolah tanpa cela. Mengapa sekali-sekali tidak menampilkan tokoh lelaki yang beda? Penjahat mungkin, atau penipu.

Atas kritik-kritik tersebut , sebagai penulis saya coba perbaiki dengan menampilkan tokoh yang berbeda. Dalam beberapa novel yang sedang saya garap, tokohnya justru antagonis dan selfish. Kalau dalam beberapa novel yang akan terbit tokohnya tetap seorang pemuda sholih berkarakter, karea itulah harapan saya sebagai penulis. Akan muncul pemuda-pemuda pemimpin yang merupakan pengganti Al Ayyubi, Al Fatih, Thalut., Baybar.

  1. Segmen mana yang harus diperhatikan?

Tidak mungkin menggarap semua segmen. Bahwa novel kita akan diterima anak-anak, remaja, orang dewasa, guru, mahasiswa, pelajar, perempuan dan laki-laki. Ada novel yang memang ditujukan bagi perempuan dewasa seperti novel chicklit. Ada novel yang ditujukan terutama bagi remaja putrid seperti teenlit. Ada buku-buku untuk kalangan muda seperti chicken soup. Ada buku-buku motivasi bisnis yang cocok untuk kalangan pebisnis pemula tapi tak akan diminati anak-anak. Bahkan anak-anak pun dibagi-bagi segmennya : yang suka ilustrasi baca komik, yang suka fantasi baca novel, yang suka keduanya baca novel-komik. Itupun masih dibagi lagi : pre school, SD, SMP.

 

 

Kalau dikatakan novel Islami bunuh diri dengan banyaknya novel sejenis bertabur, saya kurang setuju. Kalaupun mati, mungkin mati suri. Banyak penulis-penulis FLP yang semakin mahir menuliskan karya mereka dan diterima pasaran. Ada yang semakin makin menulis cerita anak, novel remaja maupun novel dewasa.

Apa yang harus ditingkatkan?

Komunikasi antara penulis-penerbit-pasar serta semua stakeholder turut terlibat untuk mensukseskan pasar perbukuan.

 

 

Kategori
Cinta & Love Film Jurnal Harian

Izzah “ Nadia” Ajrina KMGP : Si Cantik Saintist, Pengusaha, Pecinta Keluarga

Beruntung sekali KMGP (Ketika Mas Gagah Pergi) berjodoh dengan Izzah Ajrina, cewek cantik yang diam-diam punya kejutan tak terduga. Siapa sih cewek Surabaya yang satu ini?

Izzah Ajrina & Bunda Hajar
Izzah Ajrina & Bunda Hajar (foto koleksi Sinta Yudisia)

Saintist dan Pengusaha Muda!

Kebanyakan cewek cantik hobbi dandan. Izzah “Nadia” Ajrina pun begitu. Bagaimana ia merawat kecantikannya terbilang unik, sebab Izzah tak suka Spa namun lebih memilih sendiri perawatan dengan buah-buahan. Makan buah, skincare dengan buah. Nah, cewek cantik biasanya ogah mikir yang berat. Ogah pula berurusan dengan yang jorok-jorok.

Anehnya, Izzah suka berurusan dengan dua hal tersebut.

Pertama, Izzah tengah memburu beasiswa S2 ke Jepang, kursus bahasa Jepang,  sebab ia lulusan Fakultas Sains dan Teknologi jurusan S1 Biologi, Universitas Airlannga, Surabaya. Menjadi ilmuwan salah satu cita-citanya sejak dulu.

Kedua, usaha yang katanya masih “kecil-kecilan”. Ia memiliki bisnis susu kambing Etawa, plus tanah kebon dan kandangnya. Iih, apa gak eman-eman kulit yang bagus kecampur kotoran kambing? Hiks. Tapi ternyata enggak. Brain, beauty, behaviour. Izzah cocok dengan kategori 3B J

Papa dan Palestina

Ayah Izzah, dr. Sahudi adalah salah satu dokter yang beruntung berkesempatan mendapatkan tugas ke Gaza, Palestina. Awalnya, Izzah sangat sedih sebab hari-hari selalu habis bersama keluarga besar. Namun setelah ibunya yang juga seorang dokter menyampaikan, ”andaikan Ayah wafat, maka beliau akan terhitung syahid. Syahidnya Ayah akan memberikan syafaat kepada puluhan keluarganya.”

“Apa betul?” Izzah meminta keyakinan dari ibundanya.

“Betul.”

“Kalau begitu kita bisa mulai menghitung nama-nama yang akan mendapatkan syafaat, bila Ayah syahid.”

Alhamdulillah, dr. Sahudi pulang dengan selamat. Atas pengalamannya ke Palestina, beliau sering diundang ke berbagai tempat untu berbagi pengalaman dan Izzah berusaha selalu mendampingi sang Ayah. Menurut Izzah, sekalipun kisah yang dibagikan ayahnya tentang Gaza Palestina sudah berulang-ulang didengar, tetap saja tak bosan, tak bosan dan selalu menimbulkan rasa yang menggeletar.

Dekat dengan Kakak dan Adik

Izzah bersaudara lima orang termasuk dirinya. Kakak pertamanya Nurul Fitri Shabrina, biasa dipanggil kak Fitri. Izzah Niswah Ajrina putri kedua, Lathifah Nurul Fajri ketiga, Asma Arinal Haq keempat dan Muhammad Izzudin Syaifullah yang kelima.

Nama Izzah memiliki makna tersendiri bagi  sang ayah, dr. Sahudi, SpB(K)KL dan sang ibu, dr.Hajar Ariyani, SpRad (K). Ayah bunda berharap ia tumbuh menjadi gadis yang punya kemuliaan, harga diri dan kehormatan. Izzah sudah menunjukkan keberanian sejak kecil. Melihat pakdenya yang merokok, padahal saat itu Izzah masih kecil, Izzah berani berkata : “ Pakdhe tau gak kalau rokok itu haram? Gak disayang Allah, buat sakit lho…”

Teman-teman remaja Izzah heran ketika melihat gadis secantik dirinya belum tersentuh cowok. Belum pernah pegangan tangan, belum pernah dicium pipi. Malam minggu di rumah saja.

“Memang gak laku ya? Gak punya pacar?”

Izzah easy going saja. Ia menjawab ,”punya pacar jadi gak bisa jujur segala hal. Ada yang ditutup-tutupoi, segalanya serba terbatas.”

Prime time Izzah malam minggu adalah bersama keluarga. Kedekatan hubungan dengan ayah, bunda , kakak dan adiknya membuatnya tidak bete malam minggu tetap stay tune at home tanpa cowok keren yang mengajaknya hang out ke bioskop dan makan malam romantis berdua.

Asik ya, kalau punya Kakak atau Adik seperti Izzah! Kita minta Izzah buat tutorial skincare yuk, sekaligus bagaimana caranya membagi waktu hingga mampu menjadi pebisnis muda dan saintis pula!

Kita tunggu penampilannya yang mengesankan di film Ketika Mas Gagah Pergi karya Helvy Tiana Rosa.

Sinta Yudisia

Surabaya, 28 Juli 2015

Izzah Ajrina's Family
Izzah Ajrina & Keluarga ~ hayoo, Izzah yang mana? (foto koleksi Sinta Yudisia)
Kategori
FLP

FLP dan 18

Konon, orang-orang yang dilahirkan di bulan Februari, cocok menjadi seniman. Sifat sensitif, suka segala sesuatu yang berbau artistik, imajiner, pengkhayal tinggi. Profesi yang cocok adalah artis, penulis, pemusik, atau pekerja seni yang lain. Mungkin itu sebabnya, beberapa nama di FLP yang lahir di bulan Februari seperti mbak Afifah Afra atau Rihanu Alifa, senang berkiprah di dunia kepenulisan.

Boleh jadi, kita percaya prediksi zodiac.
Bahwa orang yang lahir di bulan tertentu, disebabkan pengaruh posisi bulan dan matahari, cairan-caiaran dalam tubuh bereaksi membentuk pola tertentu dan memengaruhi pembentukan karakter.

Pertanyaannya : apakah semua orang yang lahir di bulan Februari dapat menjadi seniman?

FLP : Forum Motivasi

Semakin lama, semakin menyadari, bahwa minat dan bakat tanpa motivasi dan stimulasi sama seperti kecantikan seorang gadis yang dipulas buram dalam rambut acak-acakan, wajah kusam, baju kumal. Potensi cemerlang tak berarti apa-apa, tak memunculkan produk yang mampu dilihat dunia.
Ditakdirkan lahir di bulan Februari bukan serta merta mahir merangkai kata.
Mengolah ide.
Membangun alur.
Merangkai kalimat, menyusun bab demi bab, menemukan judul menarik, mendapatkan penerbit berjodoh, berpasangan dengan editor andal, diterima pasar, laris manis, terkenal, meraup royalti dan roadshow kesana kemari.

Hidup mengajarkan, bahwa dalam setiap pencapaian, dibutuhkan tahap demi tahap latihan. Kadang, lelah rasanya ditolak sana sini. Jangankan penerbit nasional, media lokal bahkan media kampus saja menolak! Alasannya beragam. Padahal setengah mati kita menghasilkan sebuah tulisan sejumlah 10 halaman kuarto. Bolak balik baca referensi. Editing di sana sini. Ganti judul berkali-kali. Tetap saja, cerpen, artikel, opini atau apapun yang kita tulis dianggap sampah oleh oranglain.

Jikalau berjalan sendirian, mungkin sudah jauh-jauh hari patah di tengah jalan.
Urung jadi penulis.
Lebih baik banting stir ke pekerjaan lain yang lebih menjanjikan.
Tapi disinilah kita.

Bersama FLP, Forum Lingkar Pena.
Bersama teman-teman yang punya semangat sastra yang sama. Mengerjakan kebaikan itu tidak sama seperti orang yang menggali tanah untuk menanam pohon cangkok, lalu mendapatkan harta karun emas batang satu kilogram. Menjadi penulis ibarat prajurit Thalut. Perjalanan panjang, terseok, menemukan sungai-sungai yang memukau namun belum diizinkan untuk meneguk air sebanyak mungkin bila belum sampai tujuan.
Bersama FLP, kita menemukan teman-teman dengan semangat sastra yang sama.
Saling menguatkan ketika naskah tertolak.

“Wah, gakpapa! Semangat ya!”
“Aku dulu juga puluhan kali ditolak, tapi pekan kemarin Alhamdulillah tembus resensi.”
“Aku juga tembus…hehe, Surat Pembaca sih!”
“Kamu tulis aja di blog. Jangan dibuang cerita-ceritamu.”

Pendek kata, FLP membersamai kita menemukan kekokohan dalam detik-detik kegagalan. Begitu banyak teman di FLP yang (dianggap) gagal, tapi terus berkarya, berkarya, berkarya lalu di kemudian hari satu demi satu bukunya terbit.

Awalnya antologi.
Awalnya indie.
Awalnya koran lokal.
Awalnya resensi.
Lalu, semakin matang dan lapang dada itu terbangun, Allah SWT bukakan pintu-pintu rezeki. Bersama FLP, kita mendapatkan motivasi untuk terus berproduksi, bermental baja, jauh dari kata menyerah apalagi putus asa, dan insyaallah, semoga dijauhkanNya dari sikap sombong, ujub, riya’, sum’ah.

Siapa sih penulis terkenal, jika tidak dibantu editor, penerbit, pembaca, pasar dan resensor? Semua yang dicapai alah keringat, doa, sujud yang panjang, dan harapan yang tiada putus padaNya. Seorang penulis adalah pembelajar sepanjang hayat. Maka seniman haruslah orang-orang dengan mental beton namun hati selapang samudra, selembut gumpalan awan. Bersama FLP kita akan menemukan teman-teman yang memacu dirinya berprestasi, namun juga saling memberikan motivasi bahwa kita tidak hanya akan berhenti di sini.
Di titik ini.

FLP dan 18

FLP adalah organisasi. Organisasi adalah kumpulan orang-orang. Orang-orang tidak sama dengan 1 orang. Bila seorang anak manusia berusia 18 tahun, ia telah beranjak dewasa. Namun FLP, sebagai organisasi tak dapat disamakan dengan anak remaja yang telah mampu berjalan, berdiri tegak bahkan bertualang kesana kemari.

Sebagai sebuah organisasi yang menaungi puluhan cabang serta ribuan anggota, beragam latar belakang hadir bersama FLP. Orang-orang Februari atau non- Februari. Penulis dan bukan penulis. Pembaca dan bukan pembaca. Pelajar atau non pelajar. Mahasiswa atau non mahasiswa. Karyawan atau non karyawan. Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan yang lainnya. Indonesia dan yang bukan di Indonesia. Merawat rumah sebesar FLP bukan hal yang mudah, namun juga bukan mustahil untuk meraih keberhasilan bersama.

18 tahun FLP berdiri.
Jika tolok ukur keberhasilan adalah buku, FLP banyak melahirkan ratusan buku.
Jika tolok ukur keberhasilan adalah jumlah penulis, FLP banyak melahirkan penulis.
Namun bukan hanya produk materi yang ingin dihasilkan FLP. FLP ingin menjadi bagian dari perjalanan Indonesia, meraih predikat bangsa yang bermartabat, cerdas cendekia dan santun penuh etika.

Syukur Alhamdulillah, FLP tersebar di kalangan pemuda-pemdua yang paham agama sehingga cabang di Saudi Arabia, Yaman, Pakistan, Mesir berdiri serta menghasilkan karya tulis agama yang bukan hanya memberikan petunjuk, namun renyah dalam penyajian hingga masyarakat awam tertarik membaca dan memahaminya.

Syukur Alhamdulillah, FLP tersebar di kalangan warga Indonesia yang bermukim di Hongkong, Taiwan, Jepang, Amerika sehingga tulisan-tulisan yang dihasilkan adalah bagaimana tetap menjaga jati diri keIslaman di tengah masyarakat non muslim. Bagaimana tetap bekerja, berkarya, di tengah himpitan kesulitan yang pada dasarnya mengasah sebuah batu menjadi berlian.

Syukur Alhamdulillah, penulis FLP melanglang buana belajar di negeri orang hingga ke Inggris dan Turki sehingga informasi-informasi tentang dunia Islam terkini dapat hadir langsung dari orang pertama. Berikut informasi seputar dunia yang sangat dibutuhkan bagi segenap anggota FLP untuk lebih mempertajam kualitas kepenulisan.

18 tahun FLP berdiri.
Insyaallah kita akan tetap bersama hingga di angaka 20, 30, atau bahkan 100 tahun.
Membersamai bangsa Indonesia, ummat muslimin sedunia, bahwa aktivitas membaca dan menulis bukan hal asing bagi para ulama dan cendekia. Bahwa setiap muslim, akan menjadikan Nun dan Iqro, sebagai pembiasaan sehari-hari dalam memahami agama. Dalam menjalani kehidupan.

Nun dan Iqro.
Semoga, setiap anggota FLP semakin bijak dalam berucap lisan dan tulisan dalam segala ranah kehidupan.
Selamat Hari Jadi FLP yang ke 18.
Salam Pena.
Salam Sastra Santun.

Sinta Yudisia
Ketua Umum FLP 2013-2017

Sinta Yudisia Milad FLP 18

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA FLP Sastra Islam

Setelah 17 Tahun Menulis : 2 M, Angka 0, Popularitas

Milad FLP ke 17 yang dilaksanakan di Surabaya kali ini, dimeriahkan dengan seminar, launching Rumah Cahaya, Launching 17 karya FLP, Launching website FLP.
17 tahun menjadi bagian dari literasi Indonesia, FLP ingin terus belajar dan berbagi tentang seribu satu kisah ajaib seputar dunia literasi.

FOTO PROFIL
tumpeng Milad FLP 17

Menulis, bukan pekerjaan yang memiskinkan.
Tengoklah pak Dukut Imam Widodo, meski beliau tidak menyebutkan angka pasti di depan bilangan 0, tetapi beliau mengatakan bahwa untuk 1 buku beliau dibayar sejumlah uang yang angka nominalnya memiliki jumlah 0 delapan. Wah berapa kira-kira? Bahkan, suatu ketika beliau dibayar dengan jumlah angka 0 sembilan!

Terkesima.
Itu perasaan yang muncul kala sebagai penulis, karya kita tersendat di ide, teknik menulis, bahkan berkali-kali tertolak di media massa dan tangan penerbit. Memang, manusia tak boleh iri pada keberuntungan orang lain tetapi kita ingin belajar bagaimana para penulis-penulis andal ini berkarya.

Dukut Imam Widodo
imam widodo-ahmad khusaini 2
Penulis ini membuat audiens histeris. Bagaimana tidak? Beliau membagikan buku-buku eksklusif macam Soerabaia Tempo Doeloe, Soerabaia the Old Time, Malang Tempo Doeloe dan alhamdulillah, saya pribadi mendapatkan Sidoarjo Tempo Doeloe . Masing-masing buku tersebut kurang lebih harganya @500.000!
Pak Dukut memberikan beberapa nasehat :
1. Penulis harus bisa “menjual diri”
2. Penulis jangan menerbitkan buku pakai uang sendiri
3. Sebagai penulis, jangan malas mencari referensi. Pak Dukut bahkan suka menulis detail-detail yang sulit sebagai satu tantangan. Beliau suka menulis bertema sejarah
4. Jangan khawatir kehabisan ide, sebab beliau melazimkan sholat malam dan berdoa ,” Gusti Allah, beri saya inspirasi.” Subhanallah, kata beliau, inspirasi yang datang membanjir sampai-sampai beliau kewalahan; lalu beliau menuliskan ide dalam kertas-kertas kecil.
5. Carilah teman “yang benar” bukan asal teman. Artinya, bila ingin menjadi penulis yang kompeten, berteman lah dengan teman-teman yang akan mendukung cita-cita ke arah itu, misal berteman dengan sesama penulis, wartawan, sastrawan, seniman, dll.

* Ada lelucon teman FLP , yang mengatakan. Yah, penulis FLP bisa saja penghasilannya 0 delapan atau sembilan, tapi di depan belum ada digit angkanya alias masih 0 yang panjang sekali. Atau penulis dengan dengan penghasilan 2 M! Bukan 2 milyar tapi 2 huruf “m” dengan akronim makasih mbak/makasih mas 
* Jangan iri dengan keberhasilan pak Dukut sebab perjuangan beliau mengumpulkan referensi dari satu kota ke kota lain, mengumpulkan berkas, manuskrip berusia ratusan tahun…subhanallah. Pantas bila sponsor tak ragu memberikan nikai cek dengan 0 delapan atau 0 sembilan.

Sirikit Syah
sirikit syah
Ibu lembut dari dua orang putra putri ini telah melanglang buana ke Iran, Amerika, Australia, dll sebagai sastrawan dan pakar media. Tulisannya yang sesekali bernada tegas, tetap memiliki unsur estetika tinggi.
You can’t judge a blank paper.

Demikian nasehatnya.
Bagaimana mungkin kita merasa minder, takut salah, takut dikritik, takut gagal dan tidak menang sementara yang dinilai hanyalah sebuah kertas kosong. Maka mulailah menulis dan bacalah tulisan itu. Sebelum kita menulis, maka tak ada apapun yang dapat dinilai dari kita.
Fiksi adalah refleksi dari hal nyata. Orang kadang tak mampu meresapi sebuah berita aktual terkait peperangan, issue agama, atau persoalan humanistik lainnya tetapi lewat fiksi, jauh lebih meresap. Tulisan-tulisan bu Sirikit demikian menohok. Salah satu contohnya, cerpen berjudul Ibu Kandung , refleksi keresahannya di tahun 80-90an saat issue bayi tabung merebak. Tulisan itu mempertanyakan : siapa ibu si jabang bayi sebenarnya?
Buku beliau Rambu-rambu Jurnalistik , Watch the Dog : Catatan Jurnalisme , menjadi buku referensi wajib bagi saya pribadi saat menulis artikel dan opini untuk media massa.

Zawawi Imron
zawawi imron
Penulis yang akrab dipanggil Abah ini , berhasil membuat peserta menitikkan airmata dengan puisinya Ibu. Sastra, di masa depan , adalah tulisan-tulisan yang membawa pada perenungan. Sudah masanya, menurut beliau, seorang penulis bukan hanya menulis demi materi belaka.
Abah Zawawi Imron adalah yang paling senior dari semua, paling sepuh, berjalan dengan tongkat. Melihat fisiknya, orang akan menduga betapa rapuh ia dan terbata dalam berkata-kata.
Namun, tidak, justru sebaliknya. Peserta dibuat terperangan dengan leluconnya, dibuat terkesima dengan muatan-muatan filosofis dalam kalimat-kalimatnya, dan terakhir dibuat terisak tersedu mengingat ibunda masing-masing ketika beliau membacakan puisi Ibu. Saya, bu Sirikit, mengusap mata usai beliau membawakan demikian bergemuruh puisi itu.
…….
Ibu, bila kasihmu ibarat samudera
Sempit lautan teduh, tempatku mandi, mencuci lumut
…..
Ibu, kalau aku ikut ujian, lalu ditanya tentang pahlawan
Namamu Ibu, yang akan kusebut paling dahulu
……
(bahkan saat menuliskan, berkaca mata ini)

Sebagai anak muda, atau mengaku berjiwa muda, kalah rasanya dengan kekuatan beliau dalam berkata-kata. Namun, sama sekali bukan hanya sebab pengalaman beliau unggul. Beberapa filosofii berikut pantas terpatri dalam benak jiwa para penulis muslim.
* Kalau muda tidak mau berjuang, angkat takbir 4x. Innalillahi. Artinya, bila anak muda tidak mau bersungguh-sungguh, berjuang mencapai sesuatu, termasuk bersusah payah menulis dengan segala kepayahan, kesulitan, pengorbanan, ketabahan, daya juang; maka ibarat ia jenazah yang ditakbirkan 4x. Bagi yang merasa penulis muda, tak ada kata malas untuk mencoba dan terus berlatih mencapai apa yang terbaik
* Berpikirlah dengan jernih, agar kebaikan datang kepadamu. Hati yang bersih, sumber karya sastra.
* Tidak berpikir adalah haram!
* Quran bukan karya sastra tetapi energinya dalam dunia sastra bagai magma yang meledakkan. Quran membawa energi yang melebihi karya-karya sastra sepanjang masa.
* Uang, adalah konsekuensi logis ketika berbuat baik. Jangan takut dengan uang, ia pasti akan datang ketika kita telah berupaya dengan sebaik mungkin.

Helvy Tiana Rosa
Helvy-Tiana-Rosa-300x176
Bunda pendiri FLP ini memukau pula dengan ilmu dan puisinya.
Apa yang disampaikan bunda Helvy :
1. Tulisan dapat mengubah dunia, sebagaimana Uncle’s Tom Cabin
2. Toni Morrison berkata ; bila engkau berjalan-jalan ke toko buku dan tidak menemukan buku yang kau inginkan untuk dibaca, mengapa tak kau tulis sendiri
3. Penulis Toto Chan hanya menulis buku itu, tetapi menjadi duta PBB untuk anak-anak kemudian
Di luar seminar, bunda Helvy memberikan wejangan kepada teman-teman FLP

* Ada karya sastra serius, ada karya sastra populer. Apa bedanya? Sastra serius menyebabkan perenungan, sastra populer menimbulkan perubahan.
* Sudah saatnya FLP go international sehingga dibutuhkan kurator yang menangani khusus masalah penerjemahan karya-karya FLP.
* Sesungguhnya, istilah sastra serius atau sastra populer , hanya diperkenalkan bagi kalangan akademisi. Bagi insan umum, semua tulisan adalah karya sastra; Lupus _ Boim Lebon, Ayat-ayat Cinta – Kang Abik ; begitupun semua karya anak FLP adalah karya sastra

Sinta Yudisia
sinta n yeni n Rinai

Sebagai ketua umum FLP, kembali visi misi CAHAYA PELITA BERSAMA digaungkan kembali. Karena terbatasnya waktu, tidak dapat disampaikan 10 program unggulan FLP.
1. CA , rumah cahaya. Alhamdulillah dilaunching Rumcay Depok, Lampung, Aceh, Banjarbaru, Sumatera Utara. Tidak mungkin seorang penulis ingin karyanya dikenal tanpa peduli dunia literasi di sekelilingnya. Menulis, menulis, menulis terus; lalu siapa yang baca? FLP peduli dengan menumbuhkan minat baca di kalangan kanak-kanak, anak, remaja hingga dewasa sehingga program Rumah Cahaya menjadi program unggulan utama FLP periode ini.
2. HA, agen perubahan. Penulis FLP harus menyadari, dirinya adalah salah satu dari rangkaian besar dan terstruktur agent of change. Berbekal ajaran-ajaran ketulusan Zawawi Imron, profesionalitas Dukut Imam Widodo, refleksi isi Sirikit Syah, semangat kebersamaan Helvy Tiana Rosa ; maka penulis FLP senantiasa menjadi corong perubahan dimanapun ia berada.
3. YA , 100 karya pertahun. Gerakan perubahan, sesekali membutuhkan gebrakan yang massive. Penulsi-penulis FLP yang berjiwa muda akan selalu giat menulsikan gagasan-gagasannya baik dalam bentuk blog, twitter atau membuat buku antologi, buku fiksi-non fiksi yang terus menerus diterbitkan setelah melalui uji seleksi.
4. LI, portal literasi. Di era globalisasi, sekat-sekat wilayah bahwan negara menjadi demikian bias; FLP harus turut berkontribusi dalam gerakan kemajuan literasi. Bila produk karya selama ini mengandalkan hard copy, maka sudah waktunya buku-buku electronic book diperkenalkan, demikian pula karya-karya bagus dapat ditampilkan via media sosial dan mendapatkan tanggapan luas.
5. SA, soliditas organisasi. Adakah orang yang sukses sendirian? Presiden membutuhkan tim sukses, artis membutuhkan manager, seorang penulis pun tak dapat bergerak sendirian. Untuk mendukung karya-karyanya meluas, dikenal, dikonsumsi dan diapresiasi; dibutuhkan kerja bersama, berjamaah. Jaringan FLP yang meliputi penulis, pembaca, penerbit, distributor hingga penjual adalah matarantai yang terus menguat dari waktu ke waktu.

17 tahun FLP menulis dan berkarya bersama Indonesia.
Terus berbakti, berkarya , berarti.
Mengedepankan karya sastra yang santun , edukatif, memuat nilai-nilai Islami Universal. Karya santun adalah karya yang tidak mengunggulkan pribadi, dengan menjatuhkan oranglain, meninggikan diri dengan mencaci pihak lain. Sastra santun adalah sastra yang arif dengan kebaikan-kebaikan; tanpa mengurangi estetika dan kejenakaan, agar mudah menyentuh sisi manusiawi insani.
Go international?
Sudah waktunya.
Komunitas penulis muslim terbesar di Asia Tenggara, bahkan mungkin di dunia ini, insyaallah ke depan akan memimpin festival-festival literasi muslim tingkat dunia. Memimpin dunia perbukuan dengan karya prestatif dan kompetitif. Memimpin dunia dengan kerja-kerja profesional dan solid.
Tiba masanya, Indonesia menjadi mercusuar dunia.
Bangsa yang besar, tak akan mengabaikan refleksi filosofi dan pemikiran. Bangsa yang unggul, maju pula semua sektor kehidupan, termasuk seni sastra. Dalam sejarah panjang peradaban manusia, Dhuha al Islam, masa puncak kejayaan Islam ditandai pula dengan melesat dan terhormatnya kedudukan para sastrawan penghasil puisi, prosa, maupun kritik sastra.
Jika Indonesia menjadi mercusuar dunia, maka –sebagaimana Zawawi Imron mengatakan- para prajurit nurani akan menjadi salah satu ujung tombaknya. Prajurit nurani adalah para penulis, dan FLP dengan khidmah dan bangga, akan menjadi salah satu ujung tombak mercusuar dunia.

Kategori
FLP Tulisan Sinta Yudisia

Penulis Miskin & Hina

Apa definisi kesuksesan, kemenangan atas pertarungan hidup?
Rumah 500 m2 , mobil Alphard, umroh berkali-kali, keliling Eropa, berlibur ke mancanegara, memiliki perusahaan beromzet milyar atau triliyun?
Tanpa menafikan bahwa elemen di atas boleh saja jadi tolok ukur kesuksesan; rasanya terlalu sempit untuk memaknai capaian keberhasilan hanya dari persepsi materi.

Ada seorang supir taksi yang hidup di rumah sederhana, anak-anaknya tak mampu melanjutkan kuliah, tapi dengan sepenuh sadar supir taksi itu bekerja hanya demi upah kecil bagi hasil 20% yang halal. Ia tidak mau melaju di jalan-jalan tertentu tengah malam, sebab tempat tersebut biasa sebagai tempat transaksi seksual para pelanggan hotel bintang lima. Supir taksi tersebut berkeyakinan, ia harus memberikan asupan halal pada keluarga sekalipun konsekuenasinya mereka harus hidup prihatin.
Kisah lain, seorang supir taksi yang merasa harus melindungi keluarganya hari fitnah. Putrinya menjadi pramugari, selang tak beberapa lama ia meminta putrinya keluar sebab hati kecil sebagai ayah menolak, “aku tak ingin anak perempuanku pergi melanglang jauh-jauh, aku tak punya kemampuan mengawasi, pakaiannya pun aku tak suka.”
Apakah para supir taksi tersebut termasuk kategori orang-orang yang gagal? Insyaallah tidak. Kehidupan mereka mungkin tidak membaik secara ekonomi, tetapi secara ego strength , mereka mencapai resilience – daya tahan , daya lenting terhadap benturan.
rumi
Kesuksesan Penulis Muslim
Buku best seller, cetak ulang belasan atau puluhan kali, diterjemahkan ke beragam bahasa, diundang bedah buku kesana kemari…difilmkan, dimusikalisasikan. Ah, siapa penulis yang tak ingin seperti ini? Royalti mengalir lancar, tawaran menulis dan mengisi acara datang bertubi. Tiap kali melihat ATM…hmmmm.
Itukah satu-satunya tolok ukur penulis sukses?
Kalau demikian, maka deret penulis sukses terisi oleh nama-nama berikut : Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, Pipiet Senja, Afifah Afra, Azzura Dayana, Intan Savitri, Maimon Herawati, Habiburrahman el Shirazy, Gol A Gong, Boim Lebon, Benny Arnas, Mashdar Zainal, Ali Muakhir, Gegge Mapangewa.

Dimana tempat kita, para penulis pemula?
Atau para penulis yang bukan pemula (bukan pula senior sebab bukunya tak terbit-terbit)?
Sekian banyak menulis di blog, belum juga banyak pengunjungnya.
Sekian banyak kirim cerpen, belum satupun tembus (akhirnya hanya ditampilkan di blog pribadi atau website milik teman)
Sekian banyak ikut lomba, belum ada yang tembus.
Sekian banyak ikut antologi, hanya terjaring sesekali.

Makna Sukses dan Menang secara Hakikat
Dalam QS 48 : 1-2 , Allah SWT berfirman tentang kemenangan nyata yang diberikan kepada Nabi Muhammad Saw. Indikator kemenangan dan kesuksesan Nabi memang salah satunya berupa penaklukan-penaklukan Islam, baik yang terwujud saat beliau masih hidup atau sudah wafat. Tetapi kesuksesan yang dicapai oleh Nabi bukan sekedar penaklukan Arabia, benua Afrika, pasukan-pasukan yang merambah ke seantero dunia.
“Sungguh Kamu telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata. Agar Allah memberikan ampunan kepadamu (Muhammad) atas dosamu yang lalu dan yang akan datang, serta menyempurnakan nikmatNya atasmu dan menunjukimu ke jalan yang lurus.”
Ada tiga hal inti surat tersebut :
1. Ampunan
2. Kesempurnaan nikmat Allah  Islam
3. Petunjuk Allah

Lalu, apa korelasinya dengan seorang penulis?

Pencarian Sejati Para Penulis
Percaya atau tidak, orang-orang yang memiliki tingkat depresi tinggi konon kabarnya penulis, lalu artis. Hah? Bukannya menulis sebetulnya merupakan salah satu healing therapy?

Virginia Woolf, Charles Dickens, Leo Tolstoy, Amin Malouf, Rudyard Kipling, Nagouib Mahfoudz dan yang lainnya sejatinya orang-orang yang sibuk mencari hakikat kehidupan. Dalam perenungan yang dalam, para penulis bisa menemukan jati dirinya, atau malah sebaliknya. Semakin tenggelan dalam dunia imajinasi yang menyeret mereka menjadi manusia bipolar, unipolar, atau bahkan skizofren!
Dalam sejarah Islam, tak ditemukan penulis yang berakhir mengenaskan.
Setiap penulis muslim haus ilmu, rakus akan pencarian makna. Betapa akhirnya, para penulis muslim macam Ibnu Sina, Sayyid Quthb, Muhammad Iqbal memulai penanya dengan keresahan akan Islam yang ditinggalkan dan ingin menyempurnakan dunia dengan ilmu yang mereka punya.
Rahmat dan ampunan Allah SWT, adalah harapan paling tinggi kaum muslimin. Dan bersamaan dengan goresan pena kita, yang berlembar-lembar, berat, memusingkan macam novel ataukah goresan ringan status di FB dan twitter, tak ada yang lain harapan selain menerima ampunan dan rahmatNya. Tentu , harapan royalti atau honor tetap mengiringi, tetapi bagi seorang penulis muslim tetap harapan yang terbesar adalah barakahNya di tiap tulisan, tercurahnya rahmat dan ampunanNya.

Maka, sangat baik bila penulis muslim mengiringi tulisan dengan dzikrullah termasuk istighfar. Masih ingatkah kisah tukang roti yang mengimpikan pertemuan dengan Imam Ahmad bin Hanbal, dan tukang roti itu punya kebiasaan membaca istighfar? Tak ada keinginan yang luput, sebab ia yakin dengan istighar doa terampuni, dan kesucian hati menjadi penyebab terkabulnya doa.
Sungguh , bagi penulis muslim ada harapan akan rahmat, ampunan, barakah dari Nya yang akan melingkupi setiap naskah, setiap kalimat, setiap kata dan huruf.
Itulah kemenangan sejati.
Meski tulisan itu tak tembus Kompas atau Republika, meski hanya terpampang di blog dan FB, meski pengunjung tak sampai 10 orang ; namun dari para pengunjung yang membaca merasakan hawa ketaatan. Merasakan siraman. Dan mencapatkan pencerahan, lebih daripada ketika mereka membaca buku-buku best seller.
Katakan, siapa yang sukses sebetulnya?

Ampunan dan Nikmat Sempurna
Sesudah ampunan dalam kesuksesan dan kemenangan Nabi, ada nikmat yang sempurna, yaitu Islam.
Mungkin analogi ini agak kelewatan, tapi saya bersyukur atas nikmatNya. Ketika kepepet, sholat malam, tilawah, sedekah, dzikir menjadi berlipat. Ibaratnya, dalam kondisi stress kita butuh katarsis dan pelepasan emosi paling dahsyat hanya saat munajat.
Saat kepepet butuh dana, ingin ikut lomba menulis, maka semakin mepetlah kita dengan Ilahi Robbi. Banyak berdzikir, sebisa mungkin membantu orang, sholat sunnah. Saat-saat “peperangan” menghadapi kesulitan kehidupan, Islam adalah nikmat yang luarbiasa.
Demikian banyaknya orang mengalami kebuntuan tanpa jalan Islam.
Ketika sukses merasa yakin itu ansich usahanya, ketiga gagal ia melabelkan kegagalan pada diri sendiri atau malah orang lain. Baik sukses atau gagal, ia selalu cemas. Sementara seorang penulis muslim, dengan nikmat kemenangan dan kesempurnaan Islam, selalu terus melaju dalam amal kebajikan walau sukses atau gagal dalam pandangan manusia. Ketika menang lomba atau tembus media, tidak lantas berhenti. Ketika dipuja dan dinobatkan sebagai penulis terbaik, tidak hanya berbangga. Pun, ketika dikritik pedas atau bukunya jeblok di pasaran tidak lantas ingin mengundurkan diri dari ranah kepenulisan. Ia terus melaju bersama keyakinan, bahwa Islam senantiasa menggaungkan amar ma’ruf nahiy munkar dengan cara yang kita bisa.
Ketika berhasil atau menang lomba/tembus media; insyaallah bukan kesombongan yang muncul, tetapi rasa syukur akan putaran rizqiNya.
Ketika gagal meraih impian, tiada kata putus asa, hanya prasangka baik bahwa Allah SWT sedang menunda, menyiapkan, membalas dan melipatgandakan berita bahagia.

Jalan Keluar Masalah
Adakah di antara kita yang semakin “bodoh” usai menulis?
Petunjuk, ilmu pengetahuan, peristiwa insight adalah pengalaman yang sangat mahal harganya. Manusia rela melakukan hal-hal diluar nalar untuk mencapai peak experience : keliling dunia, menyelam ke danau terdalam di dunia, naik ke puncak tertinggi.
Petunjuk bagi hidup manusia , adalah pencapaian luarbiasa.
Dalam cerita-cerita silat zaman dahulu, para petarung rela berbulan-bulan bertapa demi wangsit.
Demikianlah, kehidupan penulis adalah menjaring kebajikan satu demi satu, penggal demi penggal.
Salahs atu tanda kesuksesan, kemenangan sesuai QS 48 : 2, adalah teraihnya perunjuk berharga bagi kehidupan.

Menjadi penulis , kita sadar, tak ada sesuatupun yang instant. Tak ada keberhasilan hanya dengan angan-angan, kata-kata jika atau andai, ketiadaan schedule, apalagi minimnya ambisi. Bukankah petunjukNya ini sangat bermanfaat untuk mengasah karakter kepribadian kita yang semula santai, tanpa target, menjadi seseorang yang tough, resilient , punya target tertentu dalam hidup sembari terus melangkah mendekatkand iri padaNya?
Setiap usai menulis, rasanya bukan semakin kosong pikiran dan perasaan, tapi semakin berisi bejana. Memang, ada rasa letih, jenuh dan mungkin jengkel atas deadline serta tuntutan penulis. Bersamaan dengan hal tersebut, kecerdasan kita semakin meningkat. Saat harus menulis novel sejarah, kita harus membuka banyak buku referensi sejarah dan otobiografi. Saat us harus menulis artikel, opini, kita harus membuka berita-berita aktual dari koran atau berita online. Saat harus menulis kisah hikmah atau tema-tema keagamaan, kita harus membuka kitab-kitab para ulama, minimal tafsir Quran terjemahan Departemen Agama.
Usai menulis, kepandaian dan pengetahuan akan bertambah.
Itulah kemenangan, kesuksesan sejati seorang penulis muslim : mendapat ampunanNya, mendapatkan nikmat Islam, dan memperoleh petunjukNya dalam mencari solusi-solusi dalam kehidupan dunia yang berujung pada kebahagiaan di akhirat.

Jadi,
Penulis muslim, di strata mana pun mereka, baik pemula, madya ataupun andal, bukanlah penulis miskin yang hina. Engkau sesungguhnya penulis kayaraya yang bermartabat!