Anak Kreatif = Anak Pintar? Tunggu Dulu

 

 

Pernah dengar anak cerdas?

Pastilah pernah.

Anak ini biasanya identik dengan sejumlah kemampuan, utamanya kemampuan akademis dan lebih spesifik lagi kemampuan logis matematis.  Biasanya, orangtua senang sekali punya anak seperti ini. Diajari apa-apa gampang. Diajari pelajaran sekolah langsung paham. Entah apa sejarah yang membentuk pola pemikiran orangtua, sehingga bahasa simbolik seperti matematika lebih dianggap berkelas daripada bahasa simbolik huruf lainnya.

Ingat, matematika itu sebetulnya seni berbahasa. Hanya saja pakai simbol angka.

Sementara bahasa yang menggunakan kata, frase, kalimat hingga menyusun sebuah pola itu juga bentuk bahasa dalam sisi lain. Makanya jangan remehkan ahli hukum yang mampu memutar balikkan fakta atau mampu menemukan celah bahasa secara jeli. Jangan pula remehkan para seniman yang mengolah tubuh membentuk tarian, mengolah warna menjadi lukisan, mengolah kata menjadi novel. Itu juga sebuah keahlian rumit terkait ‘bahasa’.

Anak pintar atau anak cerdas, seringkali membuat orangtua bangga.

Sebab anak jenis ini senang sekali dengan pengakuan dan prestasi. Apakah ini buruk? Tidak juga. Anak-anak harus belajar berkompetisi agar ia tahu apa yang dinamakan perjuangan dalam hidup. Tempo hari, ketika di rumah kedatangan tamu dari China bernama Wendy dan Fan, saya menanyakan apa konsep pendidikan dari orangtua kepada anak.

Wendy, Fan, Sinta

Fan, Wendy, bersama Sinta dan PELITA

Wendy berujar bahwa orangtua biasanya mengatakan hal demikian kepada anaknya : kalau kamu nggak mau kerja keras, ada orang-orang di luar sana akan bekerja lebih keras dan meraih apa yang tidka bisa kamu capai.

Tentang kompetisi dan prestasi ini, baiklah, kita bahas di waktu lain apa pentingnya.

Tetapi, samakah anak cerdas-pintar dengan anak kreatif?

 

Ciri Anak Kreatif

Seringkali, orangtua angkat tangan ketika memiliki anak kreatif.

Rasanya males banget dah punya anak kreatif! Capeee.

Sebab anak kreatif berbeda dengan anak pintar dan cerdas lainnya. Boleh jadi, anak kreatif ini termasuk cerdas. Tapi tidak semua anak cerdas itu kreatif. Walau, jangan samaratakan anak kreatif dengan anak cerdas ya. Anak kreatif dengan IQ biasa-biasa saja ada. Sebab kreatifitas itu bisa diasah, ditumbuhkan, dibina dari lingkungan. Utamanya orangtua.

Anak Cerdas

  1. Mengingat jawaban
  2. Tertarik dengan ilmu
  3. Penuh perhatian pada tugas
  4. Kerja keras untuk berprestasi
  5. Merespon sesuatu dengan perhatian dan pendapat
  6. Belajar dengan mudah
  7. Butuh hingga 6-8 kali untuk menguasai sesuatu
  8. Memahami secara komprehensif

Anak kreatif

  1. Melihat perkecualian
  2. Terpukau dengan ilmu
  3. Mengantuk, mengabaikan tugas
  4. Bermain-main dengan ide dan konsep
  5. Berbagi opini yang aneh ajaib, bahkan penuh konflik
  6. Bertanya : bagaimana jika
  7. Pertanyaan : mengapa harus menguasai materi
  8. Kebanjiran ide, seringkali tidak dikembangkan
Pizza inayah.JPG

Pizza buatan anakku

Ada perbedaan mencolok antara anak pintar dan anak kreatif.

Anak pintar ingin menguasai segala. Ingin berprestasi. Tapi cenderung melahap apa saja yang diajarkan orang. Kalau di film India 3 Idiots, sosok cerdas diwakili Chatur Ramalingam sementara sosok kreatif adalah Rancho. Ibaratnya, anak cerdas diajari matematika, nyantol. Diajari fisika kimia, hayuk. Diajari biologi, bisa. Diajari geografi, sejarah, ekonomi ; oke.

Anak kreatif?

“Kok harus belajar ini?”

“Kalau aku mbolos emang kenapa?”

“Misal nih…misal aku nyontek dan nggak ketahuan, sebenarnya kenapa sih?”

“Aku mau jadi ilmuwan. Pengusaha. Pemimpin. Pencetak uang. Penari dan olahragawan. Komikus. Penulis. Fotografer.”

“Aku pingin jadi da’i dan ustadz. Tapi yang pintar main band sembari main music rock. Boleh gak?”

Gambar Ayyasy

Salah satu gambar anakku

Anak kreatif itu ajiiiiib bener.

Guru dan orangtua harus punya waktu untuk meladeni pertanyaan alien nya yang kadang-kadang buat gondok. Ia akan merespon why dibanding yes. Akan merepon what if dibanding okay.

Ciri khas dari anak kreatif adalah : mereka overflows with ideas alias kebanjiran ide namun sering tidak cukup waktu, tenaga (plus perhatian) untuk merealisasikan. Ini kekurangan anak kreatif yang harus diantisipasi sejak awal.

 

‘Meredam’ Anak Kreatif

Sekedar sharing.

Saya punya anak kreatif.

Ide-idenya busyet banget dah. Kreasinya keren habis. Anak kreatif model ini digandrungi teman-teman, kakak kelas, adik kelas. Dia favorit teman-temannya. Adik-adik kelas yang suka sama hasil karyanya, banyak deh. Namun, dia musuh guru-gurunya dan orangtua yang cerewet seperti saya. Hehehe…

Sebab, anak ini akan berpikir sesuai gaya berpikir dia.

“Kok aku nggak boleh bolos dari pelajaran itu? Aku bosan banget sama gurunya.”

“Kenapa aku harus mendengarkan pelajaran dari seorang guru yang gak pintar menerangkan?”

“Kenapa aku harus repot-repot belajar, sementara aku mau berkreasi?”

Anak macam ini, ketika telah mampu berpikir logis maka harus dibantu untuk membangun peta kognitif yang sehat agar pemahamannya tentang kehidupan sejalan dengan realitas.

‘Meredam’ kreatifitasnya bukan berarti mematikan daya kreasinya. Namun agar ia dapat lebih fokus mewujudkan apa yang diimpikan.

Anak kreatifku, ingin sekali menjadi pengusaha kelas kakap yang berpenghasilan ratusan juta dan mempekerjakan ribuan orang. Ketika kutanya mau jadi pengusaha apa, dia masih berpikir.

“Pengusaha hewan,” cetusnya.

“Baik,” kataku.

Nyatanya burung hantu, kucing, kelinci, ikan-ikan yang akan jadi proyek jualannya mati.

Ganti haluan.

“Mau buat patung dan kerajinan kertas,” katanya lagi.

Ia rendam kertas-kertas koran, jadi patung unik dan tertumpuklah di ruang tengah hingga teras berember-ember serbuk koran yang akhirnya mengeras seperti batu.

Di akhir masa SMA, aku bertanya.

“Kamu mau masuk kuliah mana, Mas?”

Ia menyebutkan kampus favorit teknik.

“Itu harus kuat matematika,” kataku.

“Lho, jurusanku gambar? Kenapa harus matematika?”

“Itu prasyaratnya.”

“Kok gitu? Aku malas belajar matematika!”

Butuh berulan-bulan bagiku meluruskan kognitifnya : malas dan tidak bisa itu beda. Tidak bia berarti dari sononya tidak memiliki kekuatan berpikir di bidang matematika. Malas, adalah punya kemampuan tapi enggan.

Bulan-bulan terakhir menjelang SBMPTN, ia masih berkutat pada pendapatnya : tidak-mau-belajar- matematika.

Aku yakin ia bisa, sebab kemampuan IQnya telah terdeskripsi. Namun ciri kreatifnya yang overflows with ideas dan what if-what if-what if benar-benar membuatku pusing tujuh keliling. Pada akhirnya, aku mendorongnya untuk ikut try out sana sini sembari bertanya pada kakak pengajarnya di bimbingan belajar. Barulah ia sadar sesadar-sadarnya : dibutuhkan kemampuan dasar matematika tingkat tertentu untuk masuk ke fakultas teknik universitas favoritnya.

3 bulan.

3 bulan tersisa menjelang SBMPTN.

Ia nyaris putus asa tapi masih dengan gaya what if nya : ah, kan banyak anak yang mendapatkan keajaiban? Kakak kelasku ada kok yang diterima meski gak pintar-pintar amat.

 

Kreativitas VS Realitas

Tak ada cara lain selain membenturkannya dengan realitas.

Kubeberkan bahwa kampusnya adalah universitas favorit terkemuka di Indonesia, saingannya banyak. Waktu 3 bulan tidaklah cukup untuk mengejar matematika yang diremehkannya.

“Jadi Ummi mendoakan aku nggak lulus, begitu?!”

Ia mulai menebar conflicting opinions, ciri  lain anak kreatif.

Aku mengajaknya duduk dan diskusi .

Hampir setiap hari.

Nyaris  @1 jam kuhabiskan untuk diskusi dengannya, di dalam kamar berdua.

“3 bulan itu kamu bisa menguasai matematika Nak, kalau kamu belajar 5 jam sehari. Malam pun demikian. 3 bulan bukan waktu yang mustahil buat Allah. Maka malam hari selain kamu harus belajar matematika kamu harus sholat malam. Kalau bisa 11 rakaat. Bukan cuma 2 + 3 saja.”

Ia akhirnya menurut.

Tapi ada realitas lain yang harus aku sadarkan.

“Mas, kamu baru berusaha mati-matian 3 bulan terakhir ini. Andaikan kamu gak diterima, kamu mau masuk universitas mana saja dengan fakultas yang lain; atau kamu mau tetap disitu tapi ngulang?”

“Masa’ aku nggak diterima? Aku sudah rajin sholat malam lho…”

Conflicting opinionnya masih belum sembuh!

“Gak ada yang mustahil bagi Allah.  Tapi banyak orang pintar tertunda keberuntungannya. Kamu mungkin salah satunya. 1 tahun kamu bisa pakai buat les bahasa atau kursus yang lain yang kamu suka,” hiburku. Mulai menekankan bahwa ia mungkin saja gagal tahun ini.

Pffuhhhh.

Alhamdulillah, ketika pada akhirnya  tahun itu ia diterima di fakultas favorit universitas favorit yang diimpikannya, tanpa mengulang.

Tapi begitulah perjuangan orangtua menghadapi anak kreatif yang sering kali membayangkan dunia adalah hasil kreasinya sendiri. Prasyarat, syarat, ketentuan, peraturan…gak penting sama sekali!

Bagiku, sayang sekali bila kreativitas anak kita tidak difokuskan pada  hal-hal tertentu. Dan kadang, dibutuhkan energi ekstra untuk mamahamkan anak kreatif, di titik tertentu, bila mereka ingin mewujudkan kreasinya maka mereka harus belajar berhadapan dengan realitas. Sebab mewujudkan kreasi butuh perjuangan besar. Bukan hanya sekedar angan-angan dan ide-ide canggih namun tak bisa dikembangkan.

Rangkuman penting:

Bantu anak kreatif membangun peta kognitif yang realistis plus fasilitasi kreasinya sebelum membenturkannya dengan kondisi di lapangan.

 

Iklan

Istri, Bicaralah!

 

Tersedu. Menangis. Gemetar.

Ada banyak perempuan yang mengeluhkan diri mereka mengalami depresi hebat, psikosomatis berkepanjangan hingga harus masuk rumah sakit berkali-kali. Psikis mereka demikian sakit hingga menjalar ke sendi-sendi, ke kerja otak, ke maag hingga kadang tremor tak wajar. Ada apakah dengan para istri shalihah yang seharusnya dapat mengarungi hidup ini dengan bahagia?

Omongan Nggak Penting

Perempuan itu banyak bicara.

Kadang hal gak penting pun diutarakan.

“Aku gemuk nggak, Mas?” tanyaku pada suami.

“Nggak,” jawabnya.

“Aku kuruskah?” tanyaku lagi.

“Nggak.”

“Lhooo…jadi aku kurus apa gemuk???”

Ia garuk-garuk kepala.

Kali lain, aku bertanya.

“Cantik Raisa apa Isyana?”

Suamiku mikir, kayaknya gak mau terjebak pada kesalahan bab kurus-gemuk.

“Mas suka Dian Sastro. Pintar sih.”

“Mas gituuuuu yaaa, ternyata selama ini nyimpan perasaan sama artis!”

Kadang, suamiku tertawa dan bilang : “ya ampun, Mi, gak penting banget ditanyain!”

Aku menjelaskan dengan gaya profesional.

“Perempuan itu ya Mas, butuh diyakinkan berkali-kali. Setiap hari. Kalau ia paling cantik sedunia, paling dicintai suaminya. Walau aku tahu gak secantik Raisa, Isyana, Dian Sastro; maunya dengar Mas ngegombal dan bilang aku paling cantik.”

“Bohong kalau gitu, dong?” seloroh suamiku.

Aku cemberut masam.

Itulah sekelumit omongan gak penting bagi laki-laki.

Laki-laki lebih suka membahas transfer Neymar seharga 3,5 T atau kuda hitam di Premiere League. Tata kelola batubara dan pertambangan. Angin politik serta pilkada. Sistem perpajakan dan kebijakan pemerintah. Hal-hal global, besar, fantastik, spektakuler.

Apa yang dibahas tentang Donal Trump?

Laki-laki : perselisihan dengan Vladimir Putin

Perempuan : gaya busana Melania Trump.

Apa yang dibahas tentang sepakbola?

Laki-laki : Real Madrid masih haus gelar juara, kata Zinedine Zidane

Perempuan : WAG mana yang cantik?  Cathy Hummels istri Mats Hummels, atau Andrea Duro –Javier “Chicarito” Hernandez?

Omongan tak penting perempuan ini, sebetulnya bukan menunjukkan kualitas dirinya tak setara laki-laki namun karena ia ingin lebih banyak didengar oleh kubu maskulin- dominan yang menjadi pemimpin puncak dalam hirarki kehidupan. Apabila seorang penguasa tertinggi tak mau mendangar keluh kesah rakyat terkecilnya, pasti rakyat itu akan gelisah , bukan?

Coba dengar apa saja yang dikeluhkan rakyat kecil pada penguasa tertinggi.

Penggembala dan petani mengeluhkan perkara tak penting antara sepetak kebun dan kambing-kambing yang masuk ke pagar, kepada Nabi-Raja Daud as. Raja Daud punya urusan lebih luas ketimbang sepetak tanah, tapi sebagai penguasa ia harus mendengarkan agar kebijakan tertegak.

Presiden Abraham Lincoln, dikenal reputasinya sebagai presiden kebanggaan Amerika – 1. Lincoln, 2. Washington, 3. Roosevelt- ; karena memperhatikan perkara-perkara kecil dari rakyatnya. Ia mendengarkan jeritan hati seorang serdadu yang tertidur malam karena kelelahan di pos jaga pada peperangan Utara-Selatan dan tengah menunggu hukuman mati. Ia mendengar 24 serdadu melakukan kesalahan militer, milisi yang mungkin tidak bersiap maju ke medan perang, dan akhirnya Lincoln memaafkan. Suara 1 orang, 24 orang; dapat saja diabaikan di antara belasan ribu tentara yang juga menyita banyak pikiran. Namun, Lincoln dikenal senang mendengar dan melayani harapan rakyatnya.

Hal sepele bagi Raja Daud dan presiden Lincoln, tapi tidak sepele bagi rakyat kecilnya.

Taklukan Takut

“Aku pingin mini cooper,” ujarku suatu saat.

“Iya deh, amiin,” kata suamiku.

“Kok Ummi suka mini cooper?” tanya anak-anak.

“Suka sama warnanya yang ngejreng sama bentuk lampunya.”

Ya ampun!

Kata mereka, kalau gitu cari mobil kecil aja lalu di cat oranye atau kuning cerah.

Aku tahu harga mobil mini cooper. Aku tau, suamiku juga tak akan repot-repot cari duit buat beli mobil ala Italian Job itu. Bagi kami, ada sepeda motor dan mobil kantor yang sederhana; cukuplah untuk kendaraan.Tak usah terlalu pusing-pusing memikirkan beli mobil baru walau andai diberikan rezeqi Allah Swt, itu takdir lain.

Suatu saat ada mobil melintas.

“Waaah, ada Tsubaru!” seru anak-anakku.

“Keren ya?” kataku.

Kali lain ada mobil melintas di depan mata, “Mas, ada Lamborghini tuh!”

“He-eh,” kata suamiku.

“Warnanya kuning cantik ya?” kataku.

“Iya.”

“Ummi nanti kalau punya mobil sendiri mau yang warnanya pink, orange atau ungu,” kataku pada anak-anak.

“Wah, gak usah jemput ke sekolah ya Mi, kalau mobilnya warna norak kayak gitu,” kata si kecil.

Kami tertawa.

Itu percakapan yang biasa.

Bagiku.

Tapi tidak bagi sebagian orang.

Seorang ibu cantik berkeluh kesah ia beberapa kali terpikir bunuh diri. Padahal kondisi ekonominya mapan dan ia memiliki suami penyayang, anak-anak tampan. Lama ketika kami berbicara, ia berujar.

“Aku ingin kerja lagi, seperti dulu ketika mahasiswa. Aku adalah aktivis. Ingin punya mobil. Capek angkut anak-anak kesana kemari naik motor.”

Tubuhnya memang kecil mungil.

“Sudah pernah cerita ke suami dek, tentang harapanmu?”

Ia berujar sendu , “nggak berani Mbak. Aku takut. Aku takut dikira minta ini itu dan masuk dalam kategori nggak  bersyukur.”

Ia tak pernah bercerita pada suami apa keinginannya. Apa harapannya. Apa cita-citanya. Yang ada hanya rasa takut. Takut dosa, takut dimarahi, takut dianggap perempuan tak shalihah. Padahal, menceritakan apa keinginan kita bukan berarti sebuah tuntutan. Hanya sebuah ekspresi. Sekedar bilang bahwa ia ingin punya mobil, itupun tak berani. Padahal belum tentu juga yang namanya ‘ingin’ berarti harus beli hari itu juga!

Kisah yang lain, juga dialami ibu muda yang mengalami depresi hingga berkali-kali mencoba bunuh diri.

“Suamiku nggak seperti yang aku bayangkan dulu. Dia nggak pernah mau mendengar aku. Dia memaksa aku begini begitu.”

“Kamu sudah ngomong ke suami apa yang menjadi pikiranmu, Dek?”

“Suamiku nggak bisa diajak ngomong, Mbak!”

Saya terdiam.

Nggak bisa diajak ngomong, apa nggak pernah diajak omong?

Mengajak bicara suami, harus diupayakan meski hasilnya belum tentu sesuai rencana. Tapi keberanian, mengalahkan takut, mencoba terbuka, memancing percakapan : must be!

Sebagaimana aku sering berkata pada suami.

“Jalan-jalan yuuuuk,” ajakku.

“Ayo!” kata suamiku. “Akhir pekan ini ya?”

“Oke.”

Meski aku dan suami tahu, akhir pekan ternyata banyak sekali agenda yang menyebabkan batalnya keinginan kami jalan-jalan berdua. Namun keinginan itu sudah terucap, dan kami mencoba saling memahami harapan satu sama lain.

Menaklukan rasa takut dari dalam diri sendiri adalah langkah penting.

Takut dimarahi.

Takut dicap tak shalihah.

Takut dianggap tak bersyukur.

Takut suami beranggapan kita terlalu banyak menuntut.

Padahal, takut berbicara adalah hambatan komunikasi terbesar. Belum tentu juga suami kita seburuk apa yang ada di pikiran. Siapa tahu, ia terlihat keras, tak peduli, kaku, tak mau tahu adalah akibat istri tak mengungkapkan dengan jelas maksud hati. Setelah istri memberanikan diri berbicara, tentu dengan komunikasi jelas dan pesan yang tertangkap sama frekuensinya  di kedua belah pihak; bukan mustahil suami justru berbalik 180 derajat.

Seorang perempuan merasa resah ketika suaminya dekat dengan perempuan, kawan lamanya.

“Sudah bilang ke suami, Mbak?”

“Aduh, kan aku nggak enak. Masa sudah dewasa harus dikasih tahu.”

“Lho, barangkali suami nggak tahu kalau Mbak cemburu.”

Diapun memberanikan diri, memupus rasa takutnya menegur suami.

Awalnya sang suami sempat tak menggubris dan bilang ,” ini cuma teman lama, Mi. Dan orang-orang biasa kok ngobrol beginian.”

Rasa takut sudah hilang, komunikasi sudah terjalin, tapi frekuensi belum sama.

Istri merasa itu bibit-bibit menuju perselingkuhan, suami merasa biasa saja. Maka istri tersebut lambat laun mencoba meyakinkan suami bahwa boleh jadi si suami tidak merasa apa-apa, namun rasa perempuan-teman-lama tersebut yang berkembang menjadi cinta. Alhamdulillah, keberanian si istri untuk berbicara secara terus terang, menyelamatkan pernikahan.

 

Humoris

Suamiku, kadang-kadang  membawa pekerjaan kantor ke rumah. Hal itu menyebabkannya harus menekuri gawai dan berinteraksi dengan teman-temannya di kantor untuk koordinasi. Padahal, menurutku waktu dengan anak-anak sudah sangat sedikit. Sementara di era sekarang, batas antara kantor dan rumah sedemikian tipisnya. Orang bisa membawa pekerjaan kantor ke rumah, dan membawa urusan rumah ke kantor. Bukankah para orangtua masih terus memantau perkembangan anak dan rumah sembari mereka bekerja di kantor?

Melihat suami membawa gawai, hatiku risau. Tapi ekspresi serius dan tegangnya, juga tak dapat diabaikan.

Aku lalu duduk di depannya, bertopang dagu. Mengamatinya sampai ia merasa risih.

“Kenapa, sih? Jadi nggak enak,” katanya.

“Enak ya jadi handphone. Dielus-elus. Diajak ngomong.”

“Ini lagi rapat, Miii.”

Kubiarkan ia menyeleaikan urusan dan mengamati ekspresinya hingga terlihat raut lega. Berarti, acara rapat-rapatnya sudah selesai, pikirku.

“Emmm….Mas kalau dibayar jadi pembicara berapa sih?”

“Kenapa emangnya?” dia balik bertanya.

“Aku pernah lihat Mas ceramah, asyik banget. Banyak ilmunya. Banyak referensinya. Pasti bayarannya mahal ya manggil Mas.”

Dia tertawa ,”emang apaan sih?”

“Kalau aku sama anak-anak mau minta taujih, kira-kira bayar berapa yaaaaa??”

Suamipun tertawa dan meletakkan gawainya.

Ada banyak kejadian mendongkolkan di rumah.

Termasuk dalam hubungan suami istri. Tapi kalau semua dibawa serius, tegang, konfrontasi; apa jadinya? Humor membuat situasi mencair. Rasa takut menghilang dan percakapan jadi lebih mengalir.

Ayo, para istri shalihah!

Ajak suami bicara.

Mereka bukan monster yang menyeramkan.

Benar kan, Bapak-bapak?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hari –hari Pertama Berpisah dari Anak : masuk sekolah, mondok di pesantren, berpisah kota karena kuliah

 

Awal si sulung kuliah di kota lain, rasanyaaaa!

Anak cewek, belum terlalu mandiri, punya sakit maag. Melihat kos-kosannya yang minim fasilitas, mau nangis aja rasanya. Saya dulu pernah kos di Jakarta, pergi sendiri bareng teman-teman. Mengalami pahit getir jauh dari orangtua. Pernah nangis juga karena sakit, nggak punya uang, berentem sama teman…hehehe, romansa anak kos-lah. Tapi ketika yang mengalami anak sendiri, kok beda rasanya.

Kos anakku lumayan murah. Aksesnya juga mudah.

Tapi belum ada kasur (ya iyalah). Kulkas, kompor gas, mesin cuci, dispenser; gak tersedia. Aku bayangkan anakku sakit maag yang butuh minuman hangat; pasti sulit sekali buat dia untuk sekedar buat teh panas. Dia cewek tangguh, tapi sekalinya sakit karena datang bulan atau demam flu, bisa buat kelabakan ayah ibunya.

Yah, gimana lagi?

Dia pingin sekali kuliah di bidang sosial. Waktu mau masuk Geografi, ayahnya bilang : Jangan! Musliimah gak cocok disana. Kerja lapangannya di gua-gua berair. Gimana nanti pakai jilbab dan menelusuri daerah seperti itu? Bla-bla-bla. Okelah. Aku manut. Kukatakan pada putriku, jangan masuk kuliah yang kerja lapangannya dan kerja betulannya kelak; berbahaya bagi fisiknya. Maka ia memilih psikologi dan diterima di UGM. Alhamdulillah…kami bersyukur sebab ia diterima di fakultas yang diinginkannya.

Ayah yang belum bisa melepas anak lelakinya foto 1, foto 2

Maunya, Full Fasilitas!

Si bungsu Nis, saat kecil ruarrrr biasa lincah.

Hoby nyanyi, gambar, naik-naik pohon. Pindah ke Surabaya, mengalami gegar budaya dan gegar sekolah. Mau sih masuk sekolah, tapi sakarepe dhewe. Awal aku meninggalkan dia sekolah di TK, rasanya sedih dan gimanaaa gitu. Dia dibiarkan main sendiri di luar, main pasir sendiri dan naik-naik apapun yang dia suka. Sementara teman-temannya main di sentra keilmuan dan berbaris rapi. Sempat berpikir, mengapa bu guru nggak peduli sama Nis?

Tapi setelah kukonsultasikan, Nis memang sengaja dibiarkan pagi hari menghabiskan energi di luar agar ketika masuk kelas sudah dengan kapastias energi yang tidak overloaded lagi. Ah, si kecil yang masih kutimang-timang, kugendong, kuciumi; sekarang sudah harus masuk sekolah dan menghadapi guru-guru serta teman-teman yang mungkin sebagian menjadi sahabatnya. Sebagian menjadi rivalnya. Sebagian menjadi musuhnya.

Hari-hari pertama anakku sekolah di sekolah negeri….rasanyaaaa!

Aku khwatir ia terjebak narkoba, pornografi, pergaulan bebas, tawuran, bolos, keluyurankemana-mana. Maklum, bertahuan-tahun sekolah Islam yang lumayan ketat pengawasannya dengan kurikulum agama terpadu sejak pagi hingga pulang . Nanti gimana kalau tiba-tiba aku diberi laporan yang tidak-tidak terkait anakku? Bagaimana bila ia nggak bisa menolak ajakan buruk temannya? Bagaimana kalau ia difitnah, diperangkap , dikucilkan dan lain-lain?

Ahya.

Inilah realita dunia yang cepat atau lambat harus dihadapi anak-anak.

Dunia bukan hanya lapangan seluas rumah kita, dengan perlindungan dan kasih sayang di setiap ujungnya. Ada penghangat, ada pendingin, ada tempat bertelekan empuk dan segala fasilitas yang mudah diminta. Mereka harus tahu bahwa dunia sesekali keras, kejam, diluar batas, dan mengejutkan.

Si sulung mulai terbiasa minim fasilitas, mengatur keuangan dan mengatur pola kehidupannya. Sekali ia pernah  masuk rumah sakit karena demam berdarah dan harus mondok di RS PKU di daerah Gamping Sleman. Ia juga bilang kadang-kadang kalau uang menipis, harus berhemat uang.

“Untung Yogya murah-murah, Mi. Nyari warung yang makannya 4000 rupiah masih ada. Nyari laundry yang baru sebulan kemudian diambil dan dibayar, ada. Nyari burjo, yang jual kacang ijo dan mie rebus dengan harga murah, ada. Sampai nyari fotokopi dan internet buat ngeprint murah meriah ada.”

Termasuk nyari wifi ngratis. Dimana mahasiswa cuma beli es teh tapi ngendon jam-jaman buat download jurnal serta you tube-an. Hahahah.

Anakku yang sekolah di negeri juga mulai terbiasa. Ada banyak kisah mengharukan, menggemaskan, dan membuat rasa campur aduk.

Ghasab salah satunya.

“Ummi kan tahu,” kenang si sulung. “Waktu di sekolah dulu, kita diajarkan untuk izin pada orang lain kalau mau pinjam barang. Kalau nggak ghasab namanya. Nah, aku pernah bilang ke guru kalau pensil sama penggarisku hilang, seringkali diambil teman tanpa izin. Ketika kau lapor malah ditegur – kamu kok pelit banget?”

Hah?

Ketika anak kita belajar di sekolah  Islam, iman dan akhlaq menjadi tolok ukur utama : sholat, meminta izin, hormat pada guru, tidak mengambil barang orang lain. Di sekolah negeri yang basis keIslamannya tak terlalu kuat; hal-hal tersebut seringkali diabaikan.

Pernah, anakku mengingatkan temannya untuk sholat Jumat karena di sekolah Islam, saling mengiangatkan adalah hal biasa. Juga teman-teman bersikap positif ketika diingatkan. Maklum, sudah menjadi kebiasaan sekolah Islam untuk watawa shoubil haq, watawa shoubis shabr.

“Cerewet kamu! Banyak bacot!”

Tapi itu yang diterima anakku, dari teman-temannya.

Melihat itu, anak-anakku mulai belajar. Bahwa berada di likungkungan Islami dan sekolah negeri, ada gaya pendekatan berbeda ketika menyampaikan pesan.

 

1001 strategi orangtua

Berpisah dari orangtua pasti banyak pengalaman baru.  Banyak masalah unik yang muncul, yang tadinya tidak terpikirkan. Orangtua pasti harus berpikir keras untuk menyelesaikan masalah yang ada, tanpa menimbulkan masalah baru.

 

  1. Kesehatan. Masing-masing anak kita punya identitas kesehatan berbeda. Ketika si sulung yang punya maag berpisah dari kami, aku belikan termos kecil yang bisa dibawanya kemana-mana dan dapat diisi air panas. Sewaktu-waktu maagnya kumat, ia bisa meneguk air hangat. Awal –awal kuliah; aku mengirimkan makanan kering sebagai stok seperti susu, milo, coklat, energen dan sejenisnya termasuk kue-kue kecil. Ketika ia sudah mulai mengenal lingkungan sekitar; ia bisa menyiapkan makanan sendiri.

 

  1. Relasi dengan orang di sekeliling anak. Guru-guru, teman-teman sekolah, orangtua teman, teman satu kos; haruslah dikenali orangtua. Walaupun tidak dapat menjalin relasi akrab dengan semua pihak; setidaknya jalin hubungan dekat dengan beberapa orang. Aku punya nomer kontak guru sekolah dan teman kos anakku.

Kadang ketika tidak bisa dihubungi aku bertanya :

“Ustadzah, anak saya dimana ya?”

“Mbak Shalihah, si sulung kok nggak bisa dihubungi dari kemarin ya?”

Dengan punya kontak mereka, kita dapat segera mengevaluasi bila sewaktu-waktu terjadi hal-hal diluar kendali. Sakit misalnya.

 

  1. Selain telepon seluler, telepon rumah, media sosial dapat menjadi sarana komunikasi. Instagram, line, whatsapp, facebook dapat menjadi sarana orangtua melacak jejak anaknya.

Aku pernah curiga dengan anak cowokku : kemana dia? Benarkah dia kuliah?

Maka aku cek instagramnya dan alhamdulillah…ia tengah mengerjakan tugas bersama teman-temannya. Sedang cek lokasi lapangan.

Saling berteman dengan anak kita di facebook, line dan instagram bisa jadi sarana positif dan negatif. Hahaha

Anakkua pernah ngeshare sebuah meme :

“Akhir dunia! Ibuku punya instagram!”

Aku tertawa, “jadi kamu ngerasa Ummi mata-matai ya lewat instagram?”

Anakku cuma meringis. Mungkin ia merasa dimata-matai tapi bukan itu saja perilaku yang kutunjukkan sebagai ibu yang memang melakukan pengawasan pada anak. Anakku suka menggambar, memposting gambar, membuat grafis berdasar wajah teman-temannya.

“Wah, pas ultah temanmu kamu buat grafis gambarnya sebagia hadiah ultang tahun ya? Ummi dibuatkan yang kayak gitu, dong.”

Media sosial bisa menjadi sarana kedekatan kita dengan anak-anak.

 

  1. Teman satu kos. Kakak tingkat, teman satu angkatan, teman satu daerah adalah orang-orang penting di sekeliling anak kita. Sebagai orangtua , menyimpan nomer HP mereka sangat penting untuk sarana berdiskusi berbagai masalah yang mungkin timbul. Tidak mustahil, anak kita yang masih dalam proses adaptasi dengan lingkungan sekitar justru menjadi trouble maker atau pemicu masalah. Dengan mendekati pihak-pihak yang dekat dengan anak-anak dan menjelaskan duduk persoalan; orangtua dapat membantu . Tentu bukan mengambil alih tanggung jawab ya.

Misal, si sulung suka sekali berkunjung ke rumah neneknya yang juga ada di Yogya. Kalau lagi betah di rumah neneknya, ia bisa berhari-hari disana dan tidak kembali ke tempat kos. Tentu teman-temannya panik. Apalagi si sulung ini orang yang malas mengontak terlebih dahulu. Maka, aku jelaskan pada kakak pengampu kos bahwa ia ada di rumah neneknya dan pintu rumah kontrakan bisa dikunci ketika jam malam tiba.

Sembari tentu mengingatkan si sulung : “kamu itu mbok ya jangan malas mengontak orang. Ingat, keselamatan kita bisa tertolong karena dikenali orang. Pernah kan Ummi cerita, ada anak kecelakaan dan kebetulan tetangga kita lewat? Langung aja tetangga kita mengenali dan membawanya ke rumah sakit. Kalau bukan tetangga kita yang mengenalinya mungkin sudah fatal akibatnya karena orang sekarang biasanya gak berani ambil resiko; malah takut jadi tertuduh. Dengan kamu ngasih tahu orang-orang terdekat; kalau ada apa-apa (naudzubillah…bukan berharap hal buruk) misal kecopetan atau diserempet orang; teman-teman terdekat bisa tahu”.

Perhatikan latar belakang budaya dan keluarga dari teman satu kos anak kita.

Mungkin, anak kita akan berbenturan dengan satu dua orang; dengan penjelasan yang masuk akal insyaallah anak akan mencoba berbesar hati dan mengalah ketika terjadi friksi.

  1. Rumahsakit, BPJS, asuransi kesehatan. Ini pengalaman genting yang kubagikan agar orangtua segera tanggap ketika anak mereka sakit.

Aku dikabari oleh kakak kelas si sulung , teman satu kosnya : “Ummi, Arina demam tinggi”. Awalnya kupikir flu biasa tapi setelah diberi parasetamol dan nggak sembuh-sembuh, aku mulai curiga. Langsung kubeli tiket kereata dan berangkat ke Yogya. Disana, anakku sudah terkapar lemas sekali. Aku periksakan darahnya, aku periksakan ke dokter sepsialis; beberapa dokter sepsialis bilang gak ada yang membahayakan. Paling hanya infeksi. Tapi antibiotik dan obat penurun panas sudah gak mempan. Demam anakku tinggi sekali, ditambah ia sangat lemas dan tak doyan makan apapun. Sesaat sebelum kubawa ke Surabaya untuk penangan intensif, sekali lagi aku cek laborat. Hasilnya : positif DB dan haurs segera rawat inap

Saat itu bulan Ramadhan dan sekalipun aku orang Yogya, aku sudah lama tidak tinggal di Yogya. Aku tanya kesana kemari tentang rumah sakit Islam, gak dapat-dapat. Akhirnya aku dapat di RS PKU gamping. Karena trombosit anakku saat itu masih di atas 100, maka anakku gak boleh pakai BPJS. Akhirnya, ia rawat inap lewat jalur umum.

Aku salut ketika di rumah sakit di Yogya, banyak bertemu anak-anak muda yang tengah mengantarkan temannya untuk rawat jalan atau rawat inap, berbekal  BPJS. Anak-anak mahasiswa perantauan, ternyata saling bahu membahu ketika teman mereka sakit. Mereka antarkan ke rumah sakit, asalkan ada BPJS atau asuransi sehingga si teman pun tak kelabakan ketika ditanya pihak rumah sakit.

 

 

 

Arti Ulama bagiku dan keluargaku

 

 

Jauh sebelum gonjang ganjing jagad perpolitikan, keluargaku telah mengenal kiai dan ulama. Kami memanggil ulama itu dengan sebutan “pak Yayi, Gus, Kiai, Ustadz”. Tergantung kebiasaan santri masing-masing. Para kiai atau ulama yang kami sambangi, mungkin tidak setenar Habieb Rizieq, Hidayat Nur Wahid, Bachtiar Natsir, KH MA’ruf Amin. Tapi kehadiran mereka sungguh-sungguh kami rasakan demikian dekat, demikian mengayomi, demikian membantu. Ada beberapa peristiwa kritis dalam hidup kami yang ,tanpa bantuan alim ulama, entah hidup kami seperti apa jadinya.

  1. Ketika remaja, ayahku didagnosa penyakit diabetes namun rangkaian sakitnya benar-benar aneh. Kata orang-orang, ayah kami kena santet. Saat itu aku belum pakai jilbab dan agamaku masih jauh sekali dari cukup. Aku ikut saja mamah pergi dari satu kiai ke kiai yang lain. Umumnya mereka memiliki analisa sama : ayahku terkena santet. Satu yang mengesankan dan akan kukenang sampai kapanpun, para kiai tersebut mengatakan : “tidak usah dibalas santetnya. Biarkan saja. Yang penting Ibu rajin sholat.” Dalam bayangan anak kecil seprtiku saat itu : ngapain gak balas santetnya? Dikirim balik aja biar mereka juga mati dan merasakan sakit seperti ayah. Belasan tahun kemudian kusadari, para kiai itu mengajarkan hal sederhana kepada kami : bab aqidah. Serahkan saja pada Allah karena itu perkara ghaib. Lagipula, setan suka membuat makar : bilang kalau penyantetnya adalah si A, padahal bukan. Lalu kita kirim balik, maka kita akan mendapatkan dosa yang  sangat besar.

 

  1. Ketika harta kelaurga habis sehabis habisnya. Masih dalam rangkaian santet. Semua asset keluarga tak bersisa. Rumah, mobil, perusahaan, tanah-tanah. Mamah pintar berbisnis. Beliau sempat menabung dan membelikan setiap anaknya rumah untuk masa depan. Belum sampai rumah itu dibagikan, semuanya ludes-des-des. Tidak ada yang tersisa bahkan perabot pun harus binasa. Entah terjual, hilang, atau diambil orang. Mama menyambangi satu kiai ke kiai yang lain. Jawaban mereka sama : sedekah, sedekah, sedekah. Mama awalnya nggak menyadari, denial Wong lagi susah kok malah sedekah. Belakangan b eliau baru sadar….selama ini harta sedemikian banyak tidak pernah dibersihkan dengan zakat, infaq, sedekah. Mama masi minim sekali pemahaman agamanya. Perlahan, dengan didampingi para alim ulama, pemahaman agama mama berangsur membaik dan beliau sering menyarankan pada anak-anaknya untuk memperbanyak sedekah.

 

  1. Setiap keluarga memiliki masalah kritis. Keluarga kami diuji Allah Swt dengan beberapa ujian yang bukan saja bab harta. Abang, sejak muda terlibat narkoba. Entah berapa kali sudah mama harus berurusan dengan polisi, rumah sakit, orang-orang yang mengamuk karena barang mereka menghilang (penderita narkoba akan melakukan apapun untuk membeli barang). Rumah ssakit hanya mampu mengobati sesaat. Kepolisian lebih meneyrahkan perkara itu untuk ditangani dengan cara kekeluargaan. Lalu, kemana seorang janda seperti mama yang telah habis ludes barang-barangnya mengobati abangku yang telah menjadi pecandu? JAwabannya adala pesantren dan para kiai atau ulama. Mereka mempersilakan mamaku yang tak punya uang untuk datang ke pesantrennya. Mereka memeprsilakan abangku untuk tinggal di pesantren-pesantren beliau. Betapa kehidupan ulama,s antri dan pesantren demikian “hidup” dan sederhana.

“Sin, Mama belum pernah makan seperti di pesantren X. Hanya pakai sayur jipang bersantan tapi enaaak banget, Masyaallah. Kalau di pesantren Y Mama cuma makan nasi sama teri. Ya Allah…kenapa makan di pesantren2 itu terasa nikmat banget ya?”

“Di pesantren A, kita jarang banget tidur, Sin. Tapi kok badan Mama jadi fit ya. Kita tidur seringkali sampai jam 22.00 atau malah jam 24.00. Nanti jam 02.30 sudah bangun untuk mandi wuwung –mandi keramas. Ternyata nikmat banget ya…habis itu sola tmalam. Lanjut Shubuh.”

“Di pesantren B Mama diajak shaum Daud. Mama gak pernah berpikir kuat puasa Daud, ternyata luarbiasa. Kamu harus coba, Sin!”

Ketika ada kerabat yang mengalami problematika rumah tangga luarbiasa, kami membawanya kepada para kiai. Para kiai dan ulama tersebut bukan psikolog, bukan konselor, bukan konsultan. Tapi ucapan-ucapan beliau sangat menohok hingga membuat orang-orang yang bermasalah itu menunduk, kadang bercucuran airmata.

Ini beberapa nasehat ulama yang menohok para saudaraku yang tertimpa musibah dalam pernikahannya.

“Gimana mau tentrem rumah tangganya? Rumahnya gak pernah dipakai sholat berjamaah!”

“Pernikahan itu, kalau suami istri gak mau saling mensyukuri, ya akan terus menuntut. Akan panas! Akan membuat rezeqi mampet!”

“Kalau suami sudah tidak bisa menjadi qowwam, lelaki yang seharusnya menjadi pemimpin dalam  urusan agama, maka perempuan boleh menggugat cerai.”

“Nduk, berhati-hatilah ketika berbuat salah ya. Nanti membayarnya susah sekali…”

 

  1. Pengalaman nenekku, almarhum. Nenek ini orang yang luarbiasa, demikian cantik dan sabar serta sangat halus bertutur kata. Namun, bukan berarti beliau tidak pernah marah. Konon kabarnya, kalau beliau marah bisa takut orang-orang di sekitar. Ya, biasanya orang yang sabar sangat mengerikan ketika meledak! Putri nenek 4 orang , perempuan semua (mamaku putri beliau yang pertama). Nenek janda ketika mama masi sangat kecil, dapat dibayangkan pahitnya perjuangan beliau membesarkan 4 anak perempuan di era penjajahan Belanda, Jepang, maupun masa-masa sulit Indonesia di awal kemerdekaan. Menghadapi 4 orang putri yang luarbiasa tantangannya, sering membuat nenek menangis. Kemana nenek yang janda, dilanda kesulitan mulai anak-anaknya kecil hingga putrid-putrinya dewasa mencari bantuan?

Ke alim ulama.

Nenek bercerita padaku, “suatu saat, Nenek sangat sedih memikirkan mama kamu, Sin. Nenek lalu ke kiai A. Kata beliau : coba banyak-banyak baca Alam Nasyrah dan baca artinya.”

Waktu itu tafsir Quran belum seperti sekarang.

Nenek melanjutkan : “habis baca Alam Nasyrah, Nenek sadar. Allah telah melapangkan hidup Nenek. Selalu saja dilapangkan. Lalu dikasih ujian lagi. Dilapangkan lagi. Begitu seterusnya. Bacalah itu kalau kamu tiap kali merasa susah ya.”

  1. Sebagai konselor dan psikolog, aku selalu lari ke alim ulama. Mengapa? Sebagai terapis, aku tau bagaimana menjalankan tahapan psikoterapis mulai awal, mengakhirinya hingga psychological report writing. Tetapi di titik mana aku harus meningatkan klien-klienku untuk terus bertahan dengan masalah mereka atau segera move on, utamanya dalam kasus pernikahan? Tentu, fatwa para ustadz, alim ulama, telah membantuku dan menyelamatkan –atas izin Allah Swt- banyak keluarga-keluarga : teruskah mereka hidup bersama pasangan atau bismillah, berpisah?

Seorang alim ulama pernah memberikan nasehat yang menjadi panduanku dalam proses piskoterapis dan konseling, utamanya kasus pernikahan :

Bila pasangan murtad, maka otomatis lepaslah tali ikatan pernikahan

Bila salah satu pasangan bermaksiat (berselingkuh, berbohong, melakukan tindak criminal, KDRT pada pasangan dan anak, suami tidak mau mencari nafkah, gangguan orientasi seksual,  dll) maka dikembalikan pada kekuatan pasangan apakah mau bertahan ataukah tetap terus. Tetap terus disini dengan niat semua tahapan untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan dengan upaya semaksimal mungkin memperbaiki kondisi yang ada. Misal, bila pasangan berselingkuh, apakah pasangan di satu sisi akan bertahan, memaafkan, memperbaiki kondisi dll? Sangat tergantung dalam proses konseling, psikoterapi dan perkembangan keluarga tersebut.

Sungguh, tanpa bantuan para ustadz, kiai dan alim ulama; apa jadinya profesi-profesi yang berkaitan hidup dengan orang banyak seperti dokter, psikolog, guru, PNS dan lainnya?

syaikh-yusuf-qardhawi-dan-dr-hidayat-nur-wahid

Syaikh Yusuf Qardawi & Dr. Hidayat Nur Wahid

Teman-temanku para dokter, mereka sungguh berpegang pada fatwa ulama dalam menjalani profesi mereka. Teman-temanku para ibu dan istri, mereka sunggu berpegang pada fatwa ulama dalam memilih menjadi ibu rumah tangga dan meninggalkan karir yang gilang gemilang. Teman-temanku para perempuan bekerja, mereka berpedoman pada fatwa ulama bagaimana berdandan, tetap patuh pada suami, tetap membagi perhatian dengan anak-anak. Teman-temanku para pedagang, mereka berpegang pada fatwa ulama bagaimana cara berbisnis mulai dari promosi hingga jual beli. Teman-temanku yang berada di instansi pemerintah, dalam segala jajaran institusi, berpegangan pada fatwa alim ulama perihal gaji, uang syubhat, maupun insentif. Teman-temanku di segala penjuru yang menjadi konsumen, berpegangan apda fatwa ulama tentang produk halal : dari obat hingga cara pengobatan, dari makanan hingga bahan baku. Teman-temanku berpegang pada fatwa ulama bagaimana cara mencari jodoh, bagaimana jujur dalam studi dan bekerja, bagaimana menjaga adab di media sosial.

Tak bisa kubayangkan, seperti apa kerusakan bagi diriku pribadi, bagi keluargaku, bagi keluarga teman-temanku dan setiap individu bila mereka tidak dipandu dengan ilmu ulama dalam menjalani hidup ini.

 

Melindungi keluarga dari issue-issue negatif : diskusi bersama anak seputar LGBT, komunisme, hoax dan radikalisme

 

 

“Ummi, bagaimana jika temanku ada yang berpaham kiri?”

“Siapakah yang melanggar HAM, Mi? Apakah ketika pemerintah represif pada PKI, itu tidak termasuk melanggar HAM?”

“Mi, kita tidak setuju LGBT. Tapi mereka juga manusia. Bagaimana seharusnya?”

“Aku baca di media online, tidak apa-apa memilih pemimpin yang non muslim selama ia cakap. MAlah aksi 411 dan 212 itu hanya merupakan kepentingan politik saja.”

Permasalahan yang terbentang di hadapan kita semakin   beragam.

Dulu, melepaskan anak-anak ke sekolah atau ke kampus, hati ini diliputi kekhawatiran akan hipnotis, digendam, diculik, mengalami bully-ng, atau dibegal.  Belum lagi masalah keamanan tuntas 100%, kita dihadapkan pada issue-issue yang bagi kita, bertentangan dengan norma agama seperti LGBT. Terlepas ada pro dan kontra terkait issue ini, para aktivis, peneliti, komunitas dan penyuara HAM semakin gencar mewacanakan bahwa LGBT bukanlah satu disorder.

Kita bahkan masih harus terus melakukan edukasi kepada anak-anak terkait LGBT, bukan dalam pengertian memojokkan atau menghakimi, namun justru menyadarkan;  datang lagi issue-issue lain yang tak kalah gencar menggempur dinding-dinding rumah kita.

Permasalahan freesex, LGBT, personality disorder seperti MPD (multiple personality disorder) atau DID (dissociative identity disorder) seperti yang digambarkan dalam film Split; seringkali dikaitkan dengan pola asuh. Kehadiran orangtua sebagai centre person dan ideal person menjadi faktor utama bahkan mungkin faktor penentu, akan seperti apa kepribadian, cara berpikir, bahkan perilaku anak-anak kita. Tetapi bagaimana kita dapat meyakini anak-anak sudah sangat memahami dan mengambil pilihan tepat terhadap issue-issue yang mungkin bertolak belakang dengan filosofi keluarga kita?

Janganlah merasa takut.

Sebab Allah Swt senantiasa menurunkan penyakit berserta obat, baik sakit fisik ataupun psikis. Segala sesuatu memiliki pasangan seperti sakit-sembuh, obat-penyakit, masalah-solusi. Apa yang mengancam di depan mata, sesunguhnya telah ada jalan keluar yang ditempuh para ulama-ulama terdahulu, para khalifah serta para negarawan kita. Saya coba sarikan  dari beragam sumber, semoga bermanfaat bagi kita sebagi orangtua dan pendidik untuk membentengi keluarga dari issue negative yang bertentangan dengan filosofi yang kita anut.

 

Sejarah, Sejarah, Sejarah

Al Quran berisi sejarah. Jasmerah, kata Soekarno, jangan lupakan sejarah.  Dalam Knowing Muslim Youth, salah satu ciri khas yang membentuk pemuda muslim adalah historical basic ( Herrera et). Sejarah Islam dalam semua aspeknya adalah ciri penting yang membangun jati diri anak-anak kita. Maka shiroh Nabawiyah, sejarah para pahlawan Islam seperti Shalahuddin al Ayyubi, Muhammad Al Fatih, HAMKA, Sudirman, Muhammad Natsir, dan tokoh-tokoh lainnya harus sering mengudara di di rumah kita.

Bukan hanya menyediakan buku-buku, tapi termasuk  menyediakan waktu untuk berdiskusi.

Historical basic ini akan membentuk alur pemikiran yang terpatri dan memberikan nuansa bagi kita termasuk anak-anak dalam menyikapi sesuatu.

Muhammad Natsir misalnya.

Sikap santun dan rendah hati beliau membuat kehadirannya dinanti banyak orang. Meski berseteru keras dengan Aidit dan Ali Sadikin; di luar arena perdebatan mereka tetap bersahabat.  Tidak ada kata kompromi untuk ideology yang bertentangan dengan agama namun bagaimana tetap harmonis menjalin hubungan dengan orang-orang yagn bersebarangan.

Dalam menceritakan kisah-kisah yang sensitive seperti bagaimana Indonesia menghadapi Komunis, bagaimana perang antar suku bahkan perang antar agama pernah pecah; perlu disampaikan dengan cara lemah lembut dan bukan emosional. Sisi-sisi kritis perlu dibangun, sekalipun tengah membangun fondasi kecintaan pada agama. Sesedikit mungkin hate speech disampaikan.

Bahwa Natsir dan Ali Sadikin pernah sangat bertolak belakang dalam hal halal haram, jangan disampaikan dengan nada penuh kebencian.

“Ali Sadikin pernah lho mengunjungi Natsir dan mengatakan kayaknya pak Natsir naik helicopter aja deh. Jalanan Jakarta saya bangun dari uang haram semua. Tuh, Ali Sadikin saja menghormati seorang ulama seperti Muhamamd Natsir. Seharusnya memang kita menghormati ulama ya…Para negarawan kita dulu termasuk Bung Karno sangat menghormati ulama. Meski pernah juga memenjarakan mereka.”

Sejarah adalah bagian dari dunia global. Sejarah adalah bagian penting dari agama. Sejarah adalah bagian penting bagi keluarga kita. Jadikanlah kisah-kisah sejarah yang spektakuler sebagai bagian dari pembentukan jatidiri anak-anak melalui historical basic.

 

Self Identity (minimize contradiction)

Bagian penting dari membangun jati diri anak-anak adalah melalui identitas dirinya atau self identity. Karena kita bicara anak-anak berarti rentang usia mereka antara kanak, anak, remaja; maka ketahuilah bahwa dalam proses pembentukan bukan hanya melalui proses ‘pembakaran’.

Seperti keramik, ada masanya diuleni karena adonan masih liat dan kenyal. Ada masanya mulai bisa dibentuk karena adonan mulai setengah keras. Ada masanya dijemur sebab adonan sudah dianggap jadi dan harus diawetkan. Pada akhirnya adonan dipanggang di oven bersuhu tinggi agar tahan lama dan tidak mudah pecah. Usai keramik jadi masih perlu dibubuhi cat warna warni termasuk pelapis kilat agar bukan hanya cantik ukirannya, kokoh bentuknya, multifungsi barangnya namun juga indah dan menarik mata dipandang.

Dalam membentuk definisi diri, minimalkan kontradiksi agar anak tidak terlalu bingung. Cara-cara ini ternyata dipakai untuk anak-anak  muslim yang bahkan tinggal di wilayah inhospitable environment seperti wilayah Brooklyn, USA. Dalam Being Young, Muslim and America in Brooklyn (Bayoumi) peneliti mengatakan bahwa salah satu cara anak-anak muslim mendefinisikan diri adalah melalui self identity with no contradiciton. Bila anak muda umumnya suka music rock maka anak muda muslim di Brooklyn mencoba menggemari rap.

Beberapa putra saya sekolah di sekolah negeri. Ras, suku, agama bercampur jadi satu. Anak-anak  muslim tidak semuanya berjilbab, tidak semuanya sholat. Meski demikian, abang dan adek berusaha beradaptasi dengan caranya sendiri.

“Temanku pernah bercerita tentang daging babi. Itu daging paling enak katanya,” ujar adek.

“Trus, kamu bilang apa?” tanyaku.

“Aku balik nanya, Mi. Daging babi itu kayak apa sih rasanya? Temanku balik nanya : kamu pernah makan bakso urat? Ya begitu itu rasanya. Enak kan? Aku cuma tertawa.”

Perbincangan daging babi, minuman keras, film porno, pacaran pada awalnya merupakan diskusi permukaan yang hadir di antara anak-anak yang tumbuh di lingkungan beragam. Anak-anak belajar membentuk identitasnya, dengan meminimkan kontradiksi antara teman sebaya. Namun perlahan-lahan, ‘di belakang anak-anak’ sebagai orangtua kita membantu proses identifikasinya.

Bila kita berkata : kok berteman sama teman yang seperti itu sih? Kan masih ada teman yang lain? Maka hal itu akan menimbulkan kontradiksi di awal : dia makan babi, tapi pintar matematika dan mau mengajari aku. Dia suka pornografi tapi sayang sama teman-temannya dan suka membelikan kue. Dalam hal ini pesan-pesan kontradiksi harus disamarkan dan sebaliknya, orangtua menjadi jembatan yang membantu anak-anak untuk memahami beragam variable dalam hubungan antar manusia.

“Temanku banyak yang nggak mendukung aksi 411 dan 212, Mi.”

“Memang banyak orang belum paham akar permasalahan. Kalau begitu, nggak usah bersikap frontal pada mereka. Kalau orang belum mengerti, belum paham, gak bisa dipaksakan.”

“Kok orang masih mendukung A*** ya, Mi? Temanku juga ada yang begitu.”

Diskusi tentang pemerintahan, tentang partai, tentang posisi kaum muslimin menjadi diskusi yang harus terus menerus diagendakan di tengah keluarga. Meminimalisasi kontradiksi bukan berarti menghilangkan identitas diri, namun saat terjadi benturan, ada baiknya mengajarkan anak-anak untuk tidak bersikap hitam-putih. Begitu banyak hal yang masih menjadi grey area,  menjadi areal kebingungan bagi anak-anak muda yang harus diimbangi dengan penjelasan bijak dan terus menerus.

 

Radicalization without an Ideology

Hal lain yang sangat berbahaya bagi anak-anak adalah radikalisasi tanpa dasar ideology yang jelas. Kata-kata radikal pada awalnya bermakna kembali ke akar (radix = akar) , kembali ke awal, kembali ke filosofi dasar. Kini, radikal mengalami penyempitan makna sebagai faham keras tanpa kompromi.radicalism

Apa saja yang membuat anak menjadi radikal?

Sikap otoriter orangtua tanpa diskusi, tanpa cela, tanpa celah. Kata-kata  pokoknya, yang penting, seharusnya dan yang sejenisnya akan membentuk watak keras yang tanpa alasan jelas.

“Apa pendapat ummi tentang LGBT? Bagaimana dengan pendapat ahli yang mengatakan bahwa gen tersebut diturunkan? Teman-temanku ada yang LGBT.”

Aku berpikir bahwa langsung mengatakan halal-haram akan mengunci diskusi ini. Aku khawatir, jika anak-anak mendapatkan informasi lain dan itu yang mereka pilih, maka akhirnya akan bertentangan dengan filosofi keluarga kami. Dalam Islam, LGBT telah menjadi hal yang disepakati alim ulama. Maka, menjadi kewajiban hamba beriman untuk menjalankannya

“Ummi percaya bahwa genetic ada yang diturunkan. Dalam konsep neurosains, beberapa genetik yang mempengaruhi temperamen manusia memang diturunkan. Bila orangtuanya agresif, anak punya potensi agresif. Bila orangtua skizofren, anak punya potensi skizofren. Bila orangtua introvert, anak cenderung introvert. Memang sifat-sifat genetis ada yang diturunkan. Tapi bukan selesai sampai disitu kan?

Kalau ada potensi skizofren, maka harus dikontrol. Ada potensi agresif maka dikondisikan bagaimana lingkungan, sikap, persepsi yang dapat mengurangi agresifitas. Demikian pula LGBT, kalaupun benar genetiknya diturunkan maka berarti dapat dikontrol dan dikendalikan. Artinya, tidak cukup bahasannya bahwa secara genetis diturunkan tapi apa yang akan kita lakukan selanjutnya?

Ayahmu keras dan pemarah, Nak. Itu diturunkan dari orangtua.

Tapi beliau menyadari usai marah dengan membaca istigfar dan mencoba melatih lebih dalam kesabaran. Sebab marah akan lebih mendekatkan pada neraka. Ayah nggak pernah bilang : ya pokoknya ayah pemarah! Kamu sebagai istri dan anak-anak jangan buat aku marah! Ayah gak begitu kan?”

“Terus kalau aku bertemu dengan teman yang LGBT bagaimana?”

“Tetap temani dia. Jadi teman curhatnya. Barangkali orangtuanya tidak punya waktu untuknya sehingga ia haus kasih sayang dari siapa saja.”

“Orangtuanya bercerai sih…”

Di kali lain anak-anak pernah bertanya tentang komunis.

“Mengapa di era Soeharto pemerintah bersikap represif terhadap PKI?”

Kujelaskan panjang lebar tentang komunis, sejak sejarahnya di Indonesia hingga sepak terjang mereka yang sering kali berbenturan dengan para ulama dan santri yang merupakan representasi Islam.

“Tetapi, apakah mereka harus ditekan seperti itu?”

“Pemerintah Indonesia memang sempat menghadapi beberapa tuduhan HAM. Ada Peturs di tahun 1980-an, ketika perampok berkeliaran dan polisi kewalahan. Akhirnya, penembak misterius menghabisi perampok walau terkadang ada yang salah sasaran. Begitupun komunis. Pemerintah akhirnya bertindak represif bahkan ke anak cucunya, sekalipun mungkin cucunya sudah tidak tau menahu. Ini sangat berkaitan dengan sejarah bangsa bahwa komunis beberapa kali melakukan pengkhianatan.”

Beberapa teman-teman anak kita mungkin memiliki ideology berbeda. Mungkin saja mereka penganut LGBT, mungkin saja mereka penganut komunisme. Memberi pemahaman yang keras tanpa penjelasan panjang lebar akan membuat anak pun menjadi radikal tanpa berlandas ideology yang benar.

“Pada akhirnya, Nak, Islamlah satu-satunya solusi. Sebab baik komunis atau kapitalis sama-sama memberikan pengaruh buruk pada msayarakat.  Cina sekarang pun lebih  berorientasi kapitalis sekalipun ideologinya komunis.”

Pembahasan menarik yang bergulir di tengah keluarga antara lain bab Cina.

Berita yang beredar di seputar whastsapp, line, media online seringkali membangun radikalisme tanpa ideology. Masih ingat beberapa hari lalu ada foto seorang pemuda yang mengatakan : aku mau beli Quran untuk ngelap tinja aku? Entah siapa yang memposting , yang pasti setelah ditelusuri alamatnya tak jelas. Bayangkan bila alamatnya diketemukan dan penghuninya ternyata sama sekali tak melakukan! Orang-orang radikal yang hanya dibesarkan dengan kebencian pastinya akan memberi hukuman tanpa ampun.

“Ummi punya teman-teman Cina sejak SMP. Mereka umumnya pekerja keras. Menghargai uang. Waktu di kampus, Ummi punya teman Cina yang kebagian tugas fotokopi. Fotokopi satu handout saat itu sekitar Rp1.800. Kalau kita orang Jawa, paling bayar 2000 perak dan 200 nya dii ikhlaskan aja. Tapi kalau teman ummi yang Cina nggak. Padahal dia laki-laki, dia menyiapkan recehan 100 perak yang dibawa dalam dompet besar. Setiap ada orang bayar 2000, dia kembalikan 200 perak. Kenapa dia berlaku demikian? Kalau Ummi yang jadi bendahara, malaslah. Tapi begitulah orang Cina, sangat menghargai uang.”

Anakku manggut-manggut.

“Teman-teman Cina Ummi kalau kuliah, serius, nggak main-main. Begitu mereka gak bisa serius kuliah, mereka mending  kerja. Beda dengan kita orang pribumi yang rata-rata kuliah buat gengsi kan?”

Aku mencoba menanamkan dalam diri anak-anak bahwa orang-orang Cina memiliki etos kerja yang luarbiasa. Di Surabaya bagian barat berdiri sekolah dan kampus non muslim yang notabene milik Chinese. Kurikulum, SDM, orientasi mereka luarbiasa. Mereka lebih takut anak didiknya tidak bisa berbisnis dapirapa sekedar mengejar nilai UNAS.

Namun demikian, politik dan ekonomi tidak boleh dikuasai satu elemen saja.

Maka kujelaskan bahwa tidak semua orang Cina buruk, sebagaimana tidak semua orang Jawa itu juga baik. Bukan etnis Cina, Jawa, Bali, Batak yang salah. Namun salah bangsa Indonesia sendiri, salah kaum muslimin yang tidak mau bekerja keras masuk ke ranah politik,  masuk ke ranah ekonomi, tidak mau bekerja keras membangun karier seingga terkalahkan di banyak sektor. Kalaupun di kasus 411 dan 212 salah satu yang menjadi pusat perhatian adalah gubernur dengan etnis Cina, tidak menjadikan seluruh warga berdarah Cina yang ada di negeri ini menjadi satu jenis stereotype.

 

Confusion vs Totalizing Structures

Meski kita masih membentuk anak-anak bagai menguleni lempung tanah liat, jangan biarkan juga mereka menjadi bingung. Struktur kepribadian dan mental anak-anak harus dibangun dengan totalitas.

Totalitas yang pertama adalah ketaatan pada Allah Swt dan RasulNya.

Tidak ada tawar menawar lagi bahwa Quran dan Sunnah adalah pedoman. Masalahnya, bagaimana cara kita menanamkan hal-hal penting berbau ideologis filosofis tetapi bukan sekedar radikal tanpa fondasi?

Suatu ketika, aku menyadari sesuatu.

Sebagai ibu aku kerap bersitegang dengan anak-anakku yang berpikir kritis. Mengapa kita gak boleh potong rambut model begini? Mengapa gak boleh boncengan cowok cewek? Mengapa harus ke masjid? Mengapa harus baca Quran? Aku beranggapan anakku benar-benar tidak Islami sehingga yang muncul saat itu hanyalah pertengkaran. Rasanya, percuma semua langkah psikoterapis yang kulakukan. Tidak ada hasilnya. Bahkan hatiku mulai menangis, mengapa doa-doa yang kupanjatkan seolah belum terjawab. Aku ingin punya anak sholih. Titik.

“Kalau kamu susah, cobalah buka Quran dan cari jawabannya disana,” saran ibuku

Aku coba lakukan itu, dengan niat memohon padaNya agar diberi petunjuk untuk memahamkan Islam pada anak-anakku.

Masyaallah, Allah memberiku ilham. Kubuka terjemahan. Yatafakkarun. Ya’qilun. Yadzdzakarun. Sering sekali kutemu ayat-ayat itu dan belum mneyadari bahwa itulah terapi yang cocok buat anak-anakku yang kritis dan ngeyel. Terapi kognitif. Ya, anakku mungkin salah salah memahami sesuatu, termasuk agama ini. Aku membangun radikalisme tanpa landasan ideology yang dipahami,  sehingga ketika anakku menghadapi sesautu iapun akan radikal pula. Begitupun, ketika ia kebingungan terhadap suatu fenomena, struktur total kepribadian mental yang semula sudah kusanga kuat, ternyata rapuh.

Suatu ketika dalam keadaan nyaman, kutanya si abang.

“Kenapa kamu gak mau baca Quran sesuai target, Mas?”

Ia menjawab jujur , “soalnya Quran nggak menarik , Mi.”

Aku mengangguk. Menghormati jawaban jujurnya. Quran tidak menarik. Maka menjadi tanggung jawabku untuk menjadikan Quran menarik. Suatu ketika, anakku membaca tentang berita-berita online  yang dipenuhi berita simpang siur. Ia sempat binilang : mana sih berita yang bsia dipercaya? Ia bingung. Disaat itu aku membaca surat al Maidah 41. Saat aku membaca terjemahannya, aku tertegun. Rasanya cocok dengan kondisi anakku.

“Mas, Ummi bacakan arti surat yang sedang Ummi baca ini ya. Intinya adalah, di zaman Rasulullah dulu pun, ada orang-orang yang senaaaaang banget berita hoax. Jadi, memang sudah watak manusia suka dengan berita-berita miring.”

Diskusi kami lumayan meriah saat itu mengaitkan hoax dnegan kisah dalam Quran.

Semenjak itu, setiap kali terkait satu kejadian dengan al Quran, aku jelaskan hubungannya dengan situasi-situasi terkini. Aku terharu sekali ketika beberapa hari yang lalu, si Abang memegang tanganku dan berkata, “Ummi, aku sudah membaca lebih dari target hari ini. Aku merasa lega dan merasa bersyukur sekali.”

Sebagai orangtua, aku tidak ingin membiarkannya  berlama dalam keadaan confuse terkait Quran. Ia harus memiliki struktur pemahaman yang utuh tentang apa itu agama, Quran, Hadits dan menjadi tanggung jawabku sebagai orangtua mencari 1000 cara untuk menghantarkannya kepada pamahaman yang total.

 

Solidarity, Community, Collective Future

Di Kompas hari ini (01/02/2017), dilaporkan tentang Alexander Bissonnete, pemuda 27 tahun yang melepaskan tembakan di masjid Quebec City, Canada dan menewaskan 6 orang serta melukai 8 orang. Motif Bissonnette belum diketahui namun dari akun mesosnya dilacak ia pendukung Donald Trump,  tokoh ekstrim kanan Perancis Marine le Pen, anti feminism, pendukung band Megadeath. Diberitakan bawa Bisonnette hanya memiliki teman adik kembarnya sendiri.

Aksi solidaritas bukan hanya sekedar turun ke jalan membela Suriah dan Rohingya.

Membangun komunitas, solidaritas bersama teman-teman sebaya, akan membangun jati diri siapa sebenarnya anak-anak kita. Begitupun membangun masa depan kolektif : apa yang kita inginkan? Indonesia seperti apa yang didambakan?

Kerapkali aku berdiskusi dengan ak-anak, mereka ingin jadi seperti apa di kemudian hari? Mereka inginkan Indonesia yang seperti apa?

“Aku ingin Indonesia jadi superpower. Karena Indonesia negeri kayaraya,” sahut anak-anakku bergantian.

“Aku ingin suatu saat Jepang, Cina, Korea yang malah bergantung sama Indonesia,” kata anakku yang lain.

Impian kolektif itu harus dibangun bersama dan tidak mungkin sendiri-sendiri. Si penyendiri akan lebih banyak berpikir dengan caranya sendiri, beranggapan langkahnya paling benar seperti Bissonnette. Dengan memiliki pemikiran kolektif bersama, anak-anak akan membangun diri dan lingkungannya. Akan tahu mana hal-hal yang mengancam diri dan bangsa.

Kudorong anak-anak yang sejak SD dan SMP untuk semakin giat ke masjid dan bergabung dengan remaja masjid. Collective future akan kita bangun bersama mulai dari rumah, RT, masjid kompleks dan akhirnya ke masyarakat luas. Collective future ini membutuhkan SDM andal yang bukan hanya kuat mentalnya dengan landasan aqidah dan akhlaq yang benar, tapi juga siap menanggung beban-beban amanah dengan cara bermoral dan bermartabat, juga professional.

Kudorong anak-anak bukan hanya aktif di sekolah tapi juga aktif di remaja masjid. Mereka harus membangun kesadaran kolektif bersama teman-teman sekolah, teman-teman media sosial, teman-teman remaja masjid, teman-teman karang taruna. Kesadaran kolektif ini akan membentengi anak-anak kita dan anak-anak tetangga, anak-anak di masyarakat kita  bagaimana cara memilih : memilih pasangan hidup, memilih ideology, memilih pemimpin, dan pilihan-pilihan penting lain dalam hidup ini.

 

Mencintai sosok Polaris (bukan Sirius)

 

 

Cinta itu sesuatu yang sangat special. Sangat personal. Sangat rahasia dan mungkin satu-satunya rahasia terdalam yang hanya diri sendiri dan Allah Swt yang tahu. Walaupun sangat pribadi sifatnya, ada banyak kisah cinta yang diabadikan dalam sejarah, entah kisah cinta itu positif atau negatif. Kisah cinta Nabi Muhammad Saw dan bunda Khadijah, Yusuf as dan Zulaikha adalah kisa yang memberikan inspirasi mendalam tentang kasi sepasang insane.

Kisah spektakuler?

Ernest Hemingway konon menyukai perempuan berambut panjang dan tiap kali menyusun novel, ganti istri. Khalil Gibran puya beberapa hubunga cinta yang menginspirasi puisi-puisinya.  Einstein pun demikian, ia seorang cassanova yang menyukai perempuan pintar dan punya talenta tertentu. Presiden kita, Ir. Soekarno pun dikenal sangat kharismatik. Good looking, pintar berorasi. Ibuku bilang, ketika bung Karno berbicara, pendengar radio akan terpaku. Dan ketampanannya, duh…Marilyn Monroe, Cindy Adam, Sari Dewi adalah sedikit nama yang terpesona oleh sosoknya.

Lalu aku?

Seperti apa orang yang kucintai?

Apakah aku menyukai lelaki yang mampu menyusun kalimat-kalimat romantic ala Hemingway dan Gibran? Atau suka dengan sosok mencolok ala Soekarno dan Einstein?

 

Polaris, bintang Kutub Langit Utara

Bertemu dengan penulis-penulis muda hari ini, membuatku banyak belajar. Banyak merenung. Banyak terinpsirasi. Kami membahas mulai dunia perbankan, dunia aliran-aliran pemikiran, dunia astronomi dan tentu…cinta. Tiap kali membahas astronomi, aku seperti terlempar ke tahun-tahun masa kecilku. Hiks…aku sejak lama menginginkan kuliah di ITB khususnya fakultas astronomi. Takdir membawaku menyebrangi dunia ekonomi lalu ke dunia psikologi dan sastra. Apa aku menyesal? Tidak. Hanya saja setiap kali orang berbicara tentang rasi bintang, galaxy, bintang lahir dan mati, nebula, mengembang dan mengempisnya alam semesta; hatiku jadi berdegup gembira. Inilah dunia yang sejak lama kuimpikan.

Waktu SD, zaman belum secanggih sekarang, aku rela jalan-jalan ke shopping untuk mencari dan membeli kliping tentang astronomi. Shopping adalah pasar loak buku-buku, kumpulan artikel, kumpulan kliping bahkan skripsi berjilid yang dijual karena sudah tidak terpakai.  Bisa dibayangkan, aku akan berdiri berjam-jam di pasar loak memilih tumpukan koran-koran kliping bekas dengan bau menawan untuk memilih bacaan yng kuinginkan hehehe…kalau sudah bertemu yang kucari, rasanya senaaaang sekali.

Bila ada majalah bekas atau koran bekas yang membahas tentang gerhana matahari dan bulan, misi NASA, atau penemuan tentang quasar atau blackhole, aku coba baca dan pahami dengan kemampuanku yang masih sangat terbatas.

Apa hubungan Polaris dan cinta?

Alam semesta mengajarkan banyak hal kepada kita.

Setiap makhluk diciptakaNya berpasangan, bahkan galaxy dan bintang-bintang. Hampir semua bintang memiliki pasangan. Galaxy Bima Sakti atau Milky Way berpasangan dengan Magellan.

Ada satu bintang yang unik, yaitu Polaris. Bintang ini tidak berpindah-pindah, terletak tepat berada di garis langit kutub utara.  Bintang ini tidak terlihat oleh tempat yang memliki lintang derajat 0 seperti Indonesia atau di bawahnya seperti Australia. Negara-negara yang terletak pada lintang 5 derajat sampai 10 derajat masih tidak dapat melihat binang ini dengan jelas. Tapi negara-negara 4 musim dapat melihat bintang Polaris dengan jelas seperti Jepang, China, Korea, Eropa.

Bintang ini tidak berpindah-pindah. Selalu tampak di satu titik. Itulah Polaris.

Bagaimana Sirius? Sirius adalah bintang yang sangat terang benderang. Bintang paling terang di langit kita. Sirius dikenal karena merupakan bintang ganda, ada yang mengatakan 2, ada yang mengatakan 3. Karena terangnya, bintang ini sangat terkenal.

Apakah aku memilih pasangan cinta yang berjenis Polaris ataukah Sirius?

Aku mencintai Polaris.

Ia selalu ada di sana. Teguh. Jujur. Apa adanya dan selalu dapat ditemui tiap kali membutuhkan petunjuk. Ia tak berpiinda-pindah mengikuti gerak bumi , karena posisinya yang demikian tepat di atas ujung garis langit kutub utara. Ia ada di atas kita, dan menjadi poros atau sumbu.

Seharusnya, demikianlah pasangan cinta.

Ia menjadi Polaris yang selalu ada setiap kali dibutuhkan. Ia menjadi cahaya ketika pasangannya tengah dirundung gkegelapan. Ia menjadi sumbu terang ketika pasangan sedang galau.

Ia tidak perlu menjadi Sirius, yang terang benderang dan selalu dikenali karena posisinya yang spektakuler, bercahaya, diliat banyak orang, menjadi menonjol namun selalu menggandeng orang lain.

Aku mencintai Polaris.

Seperti itulah pasangan jiwa, suamiku.

Mencintai Sirius

Sebetulnya, bukan hal yang salah mencintai sosok Sirius. Bagaimanapun, harus ada yang mendampingi sosok-sosok seperti Julius Caesar, Marc Anthony, Jenghiz Khan, Hitler, Napoleon Bonaparte dll. Mereka sosok-sosok yang mengisi sejarah dengan sepak terjang masing-masing. Mendampingi Sirius, bukan perkara mudah. Sebab mereka selalu menjadi sorotan dan pusat kekaguman. Bila sosok Sirius ini tak kuat iman, dapat dibayangkan betapa womanizer nya ia. Elizabeth Taylor menurutku adalah sosok Sirius. Ia berkali-kali gonta ganti suami.

Tidak selalu Sirius ini negative, lho.

Anda pasti mengenal Habibie. Menurutku, beliau seterang Sirius namun setenang Polaris. Kesetiaannya pada bunda Ainun, luarbiasa…

Bila diminta memilih Sirius atau Polaris? Maka masing-masing kita akan punya jawaban. Ada orang yang senang punya pasangan ternama, menduduki peran penting, enggan berpisah darinya meski sakit hati berkali-kali. Ada orang yang lebih memilih Polaris sebab sosok ini memberikan ketentraman.

Walau bagiku, suamiku adalah Polaris dengan cahaya benderang bak Sirius 🙂

 

5 Cara Mengetahui Pasangan Berbohong

 

 

Jangan sampai pasangan berselingkuh, naudzubillahi min dzalik.

Bagaimana mengetahui kalau pasangan yang dicintai telah berdusta, bahkan mungkin tengah bermain mata di belakang? Mengetahui telah terjadi hal negative atau menyimpang dalam hubungan cinta perlu dideteksi sejak awal. Sehingga, keputusan-keputusan tepat dapat diambil. Apakah hubungan ini pelu diteruskan? Apakah sudah waktunya mendatangi konselor? Apakah si dia punya kepribadian yang nyeleneh?

Yuk, simak!

 

  1. Minta ia mengulangi cerita.

“Mas , kamu hari ini kemana?’

“Oh, aku makan siang dengan dengan teman alumni di Sutoz.”

Kalau ingin mengecek apakah cerita itu valid, beberapa jam kemudian dalam kondisi ia lengah (mungkin sambil nyetir, atau dia lagi buka fesbuk, atau lagi nyuci motor) ;pancing lagi dengan pertanyaan beda.

“Ada film Golden Globe lagi diputar di Cito dan CGV. Tadi kemana?”

Kalau benar-benar ia ke Sutoz, ia dapat mengulangi lagi dengan jawaban sama “Sutoz”. Makan malam nanti boleh diulangi lagi dengan cara berbeda.

“Eh, aku ada teman kerja di café makanan Jepang dimana tuh…yang Mas tadi sebutkan..?”

Kalau dia berulang-ulang masih dapat  menyebutkan Sutoz, berarti insyaallah ceritanya valid.

Teknik ini digunakan dalam salah satu buku feature tentang spionase karya Victor Ostrovsky. Cara merekrut orang yang tekun dan teliti serta tepat, adalah ketika orang itu dapat ditanya pada saat-saat terdesak dengan jawaban konsisten. Misal, nama saya Sinta dan harus menyamar menjadi Mona. Maka kemana-mana harus memakai nama Mona. Suatu saat, ada tim penyeleksi yang tau-tahu menabrak saya di mall, lalu barang saya berjatuhan.  Dalam kondisi gugup mereka akan bertanya :aduh maaf ya Mbak…sorry barangnya jatuhh. Mbak siapa ya…?

Begitu saya jawab “Sinta”, maka saya nggak akan lolos sebagai agen spionase. Orang-orang yang terlatih untuk “berbohong” akan spontan menyebut Mona. Dan itu melalui pelatihan bertahun-tahun, serta harus orang-orang bertalenta tertentu yagn dapat lolos seleksi tersebut, menurut Victor. Cara deteksi kebohongan seperti itu bisa dilakukan pada seseorang ketika diminta mengulang-ulang sebuah cerita. Akuratkah? Konsistenkah?

  1. Balik sekuensial

Coba tanyakan urutan sebuah kejadian.

“Hari ini ke Sutoz ya? Jam berapa Mas? Soalnya aku juga rencana mau ketemuan alumni tapi bingung makan dimana.”

Dia akan cerita.

“Darimana Mas berangkat, biar gak macet?”

Dia akan cerita. Selang beberapa lama, coba tanya kembali.

“Eh, Mas berangkat awal darimana ya?”

Dia akan cerita dan kita dapat menambahkan pertanyaan, “dari bakso Solo itu belok  atau lurus ya?” atau ,”jam segitu macet gak ya di Wonokromo?”

Kalau titik ebrangkatnya dari kantor di Ahmad Yani dan betul-betul menuju Sutoz, maka ia akan benar-benar tahu jalan kesana meski pertanyaan dibolak balik. Anya saja jangan interogatif banget ya…pasangan bisa sebel kalau disangka yng enggak –enggak hehe…ini kalau ada kekhawatiran yang mulai sangat mencurigakan.

  1. Beri kejutan waktu

Atur pertemuan tiba-tiba tanpa kasih kabar terlebih dahulu. Tahu-tahu muncul di kantornya. Tahu-tahu kembali ke rumah (kalau dia di rumah). Pasangan yang masih saling mencintai dan saling setia akans angat senang dengan kejutan ini.

“Lho, kok kamu datang ke kantor sih?”

Kalau dia marah, bisa juga karena merasa terganggu. Lha wong lagi meeting sama atasannya dan tiba-tiba kita bawa pizza…kan serba bingung hehehe. Tapi kalau nggak ada apa-apa, biasanya pasangan hanya agak bête dan kaget, marahnya nggak akan sampai kelewat batas. Kalau ada apa-apa saat kasih kejutan waktu dan dia marraaah besar…perlu dipertanyakan. Memang pertemuan macam apa atau dengan siapa yang diinginkannya?

 

  1. Kasih hadiah tiba-tiba

Beri hadiah kejuta. Kaos, hem, sepatu atau kaos kaki. Jilbab, bros, atau blus. Lihat reaksinya. Biasa-biasa aja? Atau senang bukan main?

Hadiah dari pasangangan yang sangat dicintai, pasti akan begitu membahagiakan. Ingat waktu Rasulullah Saw memberi hadiah bebatuan pada bunda Aisyah ra? Bunda Aisyah girang bukan kepalang. Ya, namanya cinta! Walau hanya oleh-oleh seplastik es jeruk, atau setangkai bunga dari kebun di depan rumah; hadia dari orang tersayang itu sanat membahagiakan.

Kalau suda tidak ada perasaan cinta, hadiah-hdiah apapun akan terasa remeh temeh dan hambar. Rekasi yang timbul biasa, bahkan acuh tak acuh. Malah timbul marah : kok kamu boros begini sih? Nggak usah deh kasih-kasih hadiah lagi. Yah…beli hadiah memang boros sih.,..tapi jangan segitunya memarahai pasangan yan gsudah berniat baik dan bersusah payah.

  1. Pinjam telepon selulernya

Ponsel atau HP yang diberi password adalah pertanda tidak ada saling keterbukaan antara pasangan. Cobalah sesekali pegang HP pasangan dan lihat reaksinya. Atau pinjam dengan alasan pulsa habis atau kuota internet limit. Kalau si dia biasa saja, maka tidak ada apa-apa. Kalau kalang kabut, nah!

Alhamdulillah, saya dan suami suka gaonta ganti HP berdua. Maksudnya tukar menukar. Suami terbiasa lihat chat saya (paling saya larang untuk melihat yang ada tanda khusus sebab itu chat klien saya). Da sayapun bebas mau lihat emailnya, chattingnya, atau foto-fotonya.

“Wah, kali aja si dia punya HP lain di kantor.”

Saya ingat Abraham Lincoln berkata : engkau bisa sesekali membohongi orang. Tapi engkau tidak bisa membohongi orang sepanjang waktu.

Sama seperti Victor Ostrovsky dalam tulisannya tentang spionaseyang intinya : mereka yang tidak terlatih untuk berbohong demi keamanan negara, akan terjatuh suatu saat nanti bagaimanapun lihainya.

 

Meskipun kita sudah membekali diri dengan ketrampilan mendeteksi kebohongan, ketrampilan menaklukan pasangan, ketrampilan memikat hati lawan jenis dan seribu ketrampilan lainnya; jangan lupa untuk berdoa kepadaNya. Dia-lah yang membolak balik hati manusia. Jadi, teruslah berdoa dalam sujud atau waktu-waktu istijabah, semoga cinta suci ini abadi hingga di Jannatul Firdaus. Aamiin yaa Robb…