Arti Ulama bagiku dan keluargaku

 

 

Jauh sebelum gonjang ganjing jagad perpolitikan, keluargaku telah mengenal kiai dan ulama. Kami memanggil ulama itu dengan sebutan “pak Yayi, Gus, Kiai, Ustadz”. Tergantung kebiasaan santri masing-masing. Para kiai atau ulama yang kami sambangi, mungkin tidak setenar Habieb Rizieq, Hidayat Nur Wahid, Bachtiar Natsir, KH MA’ruf Amin. Tapi kehadiran mereka sungguh-sungguh kami rasakan demikian dekat, demikian mengayomi, demikian membantu. Ada beberapa peristiwa kritis dalam hidup kami yang ,tanpa bantuan alim ulama, entah hidup kami seperti apa jadinya.

  1. Ketika remaja, ayahku didagnosa penyakit diabetes namun rangkaian sakitnya benar-benar aneh. Kata orang-orang, ayah kami kena santet. Saat itu aku belum pakai jilbab dan agamaku masih jauh sekali dari cukup. Aku ikut saja mamah pergi dari satu kiai ke kiai yang lain. Umumnya mereka memiliki analisa sama : ayahku terkena santet. Satu yang mengesankan dan akan kukenang sampai kapanpun, para kiai tersebut mengatakan : “tidak usah dibalas santetnya. Biarkan saja. Yang penting Ibu rajin sholat.” Dalam bayangan anak kecil seprtiku saat itu : ngapain gak balas santetnya? Dikirim balik aja biar mereka juga mati dan merasakan sakit seperti ayah. Belasan tahun kemudian kusadari, para kiai itu mengajarkan hal sederhana kepada kami : bab aqidah. Serahkan saja pada Allah karena itu perkara ghaib. Lagipula, setan suka membuat makar : bilang kalau penyantetnya adalah si A, padahal bukan. Lalu kita kirim balik, maka kita akan mendapatkan dosa yang  sangat besar.

 

  1. Ketika harta kelaurga habis sehabis habisnya. Masih dalam rangkaian santet. Semua asset keluarga tak bersisa. Rumah, mobil, perusahaan, tanah-tanah. Mamah pintar berbisnis. Beliau sempat menabung dan membelikan setiap anaknya rumah untuk masa depan. Belum sampai rumah itu dibagikan, semuanya ludes-des-des. Tidak ada yang tersisa bahkan perabot pun harus binasa. Entah terjual, hilang, atau diambil orang. Mama menyambangi satu kiai ke kiai yang lain. Jawaban mereka sama : sedekah, sedekah, sedekah. Mama awalnya nggak menyadari, denial Wong lagi susah kok malah sedekah. Belakangan b eliau baru sadar….selama ini harta sedemikian banyak tidak pernah dibersihkan dengan zakat, infaq, sedekah. Mama masi minim sekali pemahaman agamanya. Perlahan, dengan didampingi para alim ulama, pemahaman agama mama berangsur membaik dan beliau sering menyarankan pada anak-anaknya untuk memperbanyak sedekah.

 

  1. Setiap keluarga memiliki masalah kritis. Keluarga kami diuji Allah Swt dengan beberapa ujian yang bukan saja bab harta. Abang, sejak muda terlibat narkoba. Entah berapa kali sudah mama harus berurusan dengan polisi, rumah sakit, orang-orang yang mengamuk karena barang mereka menghilang (penderita narkoba akan melakukan apapun untuk membeli barang). Rumah ssakit hanya mampu mengobati sesaat. Kepolisian lebih meneyrahkan perkara itu untuk ditangani dengan cara kekeluargaan. Lalu, kemana seorang janda seperti mama yang telah habis ludes barang-barangnya mengobati abangku yang telah menjadi pecandu? JAwabannya adala pesantren dan para kiai atau ulama. Mereka mempersilakan mamaku yang tak punya uang untuk datang ke pesantrennya. Mereka memeprsilakan abangku untuk tinggal di pesantren-pesantren beliau. Betapa kehidupan ulama,s antri dan pesantren demikian “hidup” dan sederhana.

“Sin, Mama belum pernah makan seperti di pesantren X. Hanya pakai sayur jipang bersantan tapi enaaak banget, Masyaallah. Kalau di pesantren Y Mama cuma makan nasi sama teri. Ya Allah…kenapa makan di pesantren2 itu terasa nikmat banget ya?”

“Di pesantren A, kita jarang banget tidur, Sin. Tapi kok badan Mama jadi fit ya. Kita tidur seringkali sampai jam 22.00 atau malah jam 24.00. Nanti jam 02.30 sudah bangun untuk mandi wuwung –mandi keramas. Ternyata nikmat banget ya…habis itu sola tmalam. Lanjut Shubuh.”

“Di pesantren B Mama diajak shaum Daud. Mama gak pernah berpikir kuat puasa Daud, ternyata luarbiasa. Kamu harus coba, Sin!”

Ketika ada kerabat yang mengalami problematika rumah tangga luarbiasa, kami membawanya kepada para kiai. Para kiai dan ulama tersebut bukan psikolog, bukan konselor, bukan konsultan. Tapi ucapan-ucapan beliau sangat menohok hingga membuat orang-orang yang bermasalah itu menunduk, kadang bercucuran airmata.

Ini beberapa nasehat ulama yang menohok para saudaraku yang tertimpa musibah dalam pernikahannya.

“Gimana mau tentrem rumah tangganya? Rumahnya gak pernah dipakai sholat berjamaah!”

“Pernikahan itu, kalau suami istri gak mau saling mensyukuri, ya akan terus menuntut. Akan panas! Akan membuat rezeqi mampet!”

“Kalau suami sudah tidak bisa menjadi qowwam, lelaki yang seharusnya menjadi pemimpin dalam  urusan agama, maka perempuan boleh menggugat cerai.”

“Nduk, berhati-hatilah ketika berbuat salah ya. Nanti membayarnya susah sekali…”

 

  1. Pengalaman nenekku, almarhum. Nenek ini orang yang luarbiasa, demikian cantik dan sabar serta sangat halus bertutur kata. Namun, bukan berarti beliau tidak pernah marah. Konon kabarnya, kalau beliau marah bisa takut orang-orang di sekitar. Ya, biasanya orang yang sabar sangat mengerikan ketika meledak! Putri nenek 4 orang , perempuan semua (mamaku putri beliau yang pertama). Nenek janda ketika mama masi sangat kecil, dapat dibayangkan pahitnya perjuangan beliau membesarkan 4 anak perempuan di era penjajahan Belanda, Jepang, maupun masa-masa sulit Indonesia di awal kemerdekaan. Menghadapi 4 orang putri yang luarbiasa tantangannya, sering membuat nenek menangis. Kemana nenek yang janda, dilanda kesulitan mulai anak-anaknya kecil hingga putrid-putrinya dewasa mencari bantuan?

Ke alim ulama.

Nenek bercerita padaku, “suatu saat, Nenek sangat sedih memikirkan mama kamu, Sin. Nenek lalu ke kiai A. Kata beliau : coba banyak-banyak baca Alam Nasyrah dan baca artinya.”

Waktu itu tafsir Quran belum seperti sekarang.

Nenek melanjutkan : “habis baca Alam Nasyrah, Nenek sadar. Allah telah melapangkan hidup Nenek. Selalu saja dilapangkan. Lalu dikasih ujian lagi. Dilapangkan lagi. Begitu seterusnya. Bacalah itu kalau kamu tiap kali merasa susah ya.”

  1. Sebagai konselor dan psikolog, aku selalu lari ke alim ulama. Mengapa? Sebagai terapis, aku tau bagaimana menjalankan tahapan psikoterapis mulai awal, mengakhirinya hingga psychological report writing. Tetapi di titik mana aku harus meningatkan klien-klienku untuk terus bertahan dengan masalah mereka atau segera move on, utamanya dalam kasus pernikahan? Tentu, fatwa para ustadz, alim ulama, telah membantuku dan menyelamatkan –atas izin Allah Swt- banyak keluarga-keluarga : teruskah mereka hidup bersama pasangan atau bismillah, berpisah?

Seorang alim ulama pernah memberikan nasehat yang menjadi panduanku dalam proses piskoterapis dan konseling, utamanya kasus pernikahan :

Bila pasangan murtad, maka otomatis lepaslah tali ikatan pernikahan

Bila salah satu pasangan bermaksiat (berselingkuh, berbohong, melakukan tindak criminal, KDRT pada pasangan dan anak, suami tidak mau mencari nafkah, gangguan orientasi seksual,  dll) maka dikembalikan pada kekuatan pasangan apakah mau bertahan ataukah tetap terus. Tetap terus disini dengan niat semua tahapan untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan dengan upaya semaksimal mungkin memperbaiki kondisi yang ada. Misal, bila pasangan berselingkuh, apakah pasangan di satu sisi akan bertahan, memaafkan, memperbaiki kondisi dll? Sangat tergantung dalam proses konseling, psikoterapi dan perkembangan keluarga tersebut.

Sungguh, tanpa bantuan para ustadz, kiai dan alim ulama; apa jadinya profesi-profesi yang berkaitan hidup dengan orang banyak seperti dokter, psikolog, guru, PNS dan lainnya?

syaikh-yusuf-qardhawi-dan-dr-hidayat-nur-wahid

Syaikh Yusuf Qardawi & Dr. Hidayat Nur Wahid

Teman-temanku para dokter, mereka sungguh berpegang pada fatwa ulama dalam menjalani profesi mereka. Teman-temanku para ibu dan istri, mereka sunggu berpegang pada fatwa ulama dalam memilih menjadi ibu rumah tangga dan meninggalkan karir yang gilang gemilang. Teman-temanku para perempuan bekerja, mereka berpedoman pada fatwa ulama bagaimana berdandan, tetap patuh pada suami, tetap membagi perhatian dengan anak-anak. Teman-temanku para pedagang, mereka berpegang pada fatwa ulama bagaimana cara berbisnis mulai dari promosi hingga jual beli. Teman-temanku yang berada di instansi pemerintah, dalam segala jajaran institusi, berpegangan pada fatwa alim ulama perihal gaji, uang syubhat, maupun insentif. Teman-temanku di segala penjuru yang menjadi konsumen, berpegangan apda fatwa ulama tentang produk halal : dari obat hingga cara pengobatan, dari makanan hingga bahan baku. Teman-temanku berpegang pada fatwa ulama bagaimana cara mencari jodoh, bagaimana jujur dalam studi dan bekerja, bagaimana menjaga adab di media sosial.

Tak bisa kubayangkan, seperti apa kerusakan bagi diriku pribadi, bagi keluargaku, bagi keluarga teman-temanku dan setiap individu bila mereka tidak dipandu dengan ilmu ulama dalam menjalani hidup ini.

 

Melindungi keluarga dari issue-issue negatif : diskusi bersama anak seputar LGBT, komunisme, hoax dan radikalisme

 

 

“Ummi, bagaimana jika temanku ada yang berpaham kiri?”

“Siapakah yang melanggar HAM, Mi? Apakah ketika pemerintah represif pada PKI, itu tidak termasuk melanggar HAM?”

“Mi, kita tidak setuju LGBT. Tapi mereka juga manusia. Bagaimana seharusnya?”

“Aku baca di media online, tidak apa-apa memilih pemimpin yang non muslim selama ia cakap. MAlah aksi 411 dan 212 itu hanya merupakan kepentingan politik saja.”

Permasalahan yang terbentang di hadapan kita semakin   beragam.

Dulu, melepaskan anak-anak ke sekolah atau ke kampus, hati ini diliputi kekhawatiran akan hipnotis, digendam, diculik, mengalami bully-ng, atau dibegal.  Belum lagi masalah keamanan tuntas 100%, kita dihadapkan pada issue-issue yang bagi kita, bertentangan dengan norma agama seperti LGBT. Terlepas ada pro dan kontra terkait issue ini, para aktivis, peneliti, komunitas dan penyuara HAM semakin gencar mewacanakan bahwa LGBT bukanlah satu disorder.

Kita bahkan masih harus terus melakukan edukasi kepada anak-anak terkait LGBT, bukan dalam pengertian memojokkan atau menghakimi, namun justru menyadarkan;  datang lagi issue-issue lain yang tak kalah gencar menggempur dinding-dinding rumah kita.

Permasalahan freesex, LGBT, personality disorder seperti MPD (multiple personality disorder) atau DID (dissociative identity disorder) seperti yang digambarkan dalam film Split; seringkali dikaitkan dengan pola asuh. Kehadiran orangtua sebagai centre person dan ideal person menjadi faktor utama bahkan mungkin faktor penentu, akan seperti apa kepribadian, cara berpikir, bahkan perilaku anak-anak kita. Tetapi bagaimana kita dapat meyakini anak-anak sudah sangat memahami dan mengambil pilihan tepat terhadap issue-issue yang mungkin bertolak belakang dengan filosofi keluarga kita?

Janganlah merasa takut.

Sebab Allah Swt senantiasa menurunkan penyakit berserta obat, baik sakit fisik ataupun psikis. Segala sesuatu memiliki pasangan seperti sakit-sembuh, obat-penyakit, masalah-solusi. Apa yang mengancam di depan mata, sesunguhnya telah ada jalan keluar yang ditempuh para ulama-ulama terdahulu, para khalifah serta para negarawan kita. Saya coba sarikan  dari beragam sumber, semoga bermanfaat bagi kita sebagi orangtua dan pendidik untuk membentengi keluarga dari issue negative yang bertentangan dengan filosofi yang kita anut.

 

Sejarah, Sejarah, Sejarah

Al Quran berisi sejarah. Jasmerah, kata Soekarno, jangan lupakan sejarah.  Dalam Knowing Muslim Youth, salah satu ciri khas yang membentuk pemuda muslim adalah historical basic ( Herrera et). Sejarah Islam dalam semua aspeknya adalah ciri penting yang membangun jati diri anak-anak kita. Maka shiroh Nabawiyah, sejarah para pahlawan Islam seperti Shalahuddin al Ayyubi, Muhammad Al Fatih, HAMKA, Sudirman, Muhammad Natsir, dan tokoh-tokoh lainnya harus sering mengudara di di rumah kita.

Bukan hanya menyediakan buku-buku, tapi termasuk  menyediakan waktu untuk berdiskusi.

Historical basic ini akan membentuk alur pemikiran yang terpatri dan memberikan nuansa bagi kita termasuk anak-anak dalam menyikapi sesuatu.

Muhammad Natsir misalnya.

Sikap santun dan rendah hati beliau membuat kehadirannya dinanti banyak orang. Meski berseteru keras dengan Aidit dan Ali Sadikin; di luar arena perdebatan mereka tetap bersahabat.  Tidak ada kata kompromi untuk ideology yang bertentangan dengan agama namun bagaimana tetap harmonis menjalin hubungan dengan orang-orang yagn bersebarangan.

Dalam menceritakan kisah-kisah yang sensitive seperti bagaimana Indonesia menghadapi Komunis, bagaimana perang antar suku bahkan perang antar agama pernah pecah; perlu disampaikan dengan cara lemah lembut dan bukan emosional. Sisi-sisi kritis perlu dibangun, sekalipun tengah membangun fondasi kecintaan pada agama. Sesedikit mungkin hate speech disampaikan.

Bahwa Natsir dan Ali Sadikin pernah sangat bertolak belakang dalam hal halal haram, jangan disampaikan dengan nada penuh kebencian.

“Ali Sadikin pernah lho mengunjungi Natsir dan mengatakan kayaknya pak Natsir naik helicopter aja deh. Jalanan Jakarta saya bangun dari uang haram semua. Tuh, Ali Sadikin saja menghormati seorang ulama seperti Muhamamd Natsir. Seharusnya memang kita menghormati ulama ya…Para negarawan kita dulu termasuk Bung Karno sangat menghormati ulama. Meski pernah juga memenjarakan mereka.”

Sejarah adalah bagian dari dunia global. Sejarah adalah bagian penting dari agama. Sejarah adalah bagian penting bagi keluarga kita. Jadikanlah kisah-kisah sejarah yang spektakuler sebagai bagian dari pembentukan jatidiri anak-anak melalui historical basic.

 

Self Identity (minimize contradiction)

Bagian penting dari membangun jati diri anak-anak adalah melalui identitas dirinya atau self identity. Karena kita bicara anak-anak berarti rentang usia mereka antara kanak, anak, remaja; maka ketahuilah bahwa dalam proses pembentukan bukan hanya melalui proses ‘pembakaran’.

Seperti keramik, ada masanya diuleni karena adonan masih liat dan kenyal. Ada masanya mulai bisa dibentuk karena adonan mulai setengah keras. Ada masanya dijemur sebab adonan sudah dianggap jadi dan harus diawetkan. Pada akhirnya adonan dipanggang di oven bersuhu tinggi agar tahan lama dan tidak mudah pecah. Usai keramik jadi masih perlu dibubuhi cat warna warni termasuk pelapis kilat agar bukan hanya cantik ukirannya, kokoh bentuknya, multifungsi barangnya namun juga indah dan menarik mata dipandang.

Dalam membentuk definisi diri, minimalkan kontradiksi agar anak tidak terlalu bingung. Cara-cara ini ternyata dipakai untuk anak-anak  muslim yang bahkan tinggal di wilayah inhospitable environment seperti wilayah Brooklyn, USA. Dalam Being Young, Muslim and America in Brooklyn (Bayoumi) peneliti mengatakan bahwa salah satu cara anak-anak muslim mendefinisikan diri adalah melalui self identity with no contradiciton. Bila anak muda umumnya suka music rock maka anak muda muslim di Brooklyn mencoba menggemari rap.

Beberapa putra saya sekolah di sekolah negeri. Ras, suku, agama bercampur jadi satu. Anak-anak  muslim tidak semuanya berjilbab, tidak semuanya sholat. Meski demikian, abang dan adek berusaha beradaptasi dengan caranya sendiri.

“Temanku pernah bercerita tentang daging babi. Itu daging paling enak katanya,” ujar adek.

“Trus, kamu bilang apa?” tanyaku.

“Aku balik nanya, Mi. Daging babi itu kayak apa sih rasanya? Temanku balik nanya : kamu pernah makan bakso urat? Ya begitu itu rasanya. Enak kan? Aku cuma tertawa.”

Perbincangan daging babi, minuman keras, film porno, pacaran pada awalnya merupakan diskusi permukaan yang hadir di antara anak-anak yang tumbuh di lingkungan beragam. Anak-anak belajar membentuk identitasnya, dengan meminimkan kontradiksi antara teman sebaya. Namun perlahan-lahan, ‘di belakang anak-anak’ sebagai orangtua kita membantu proses identifikasinya.

Bila kita berkata : kok berteman sama teman yang seperti itu sih? Kan masih ada teman yang lain? Maka hal itu akan menimbulkan kontradiksi di awal : dia makan babi, tapi pintar matematika dan mau mengajari aku. Dia suka pornografi tapi sayang sama teman-temannya dan suka membelikan kue. Dalam hal ini pesan-pesan kontradiksi harus disamarkan dan sebaliknya, orangtua menjadi jembatan yang membantu anak-anak untuk memahami beragam variable dalam hubungan antar manusia.

“Temanku banyak yang nggak mendukung aksi 411 dan 212, Mi.”

“Memang banyak orang belum paham akar permasalahan. Kalau begitu, nggak usah bersikap frontal pada mereka. Kalau orang belum mengerti, belum paham, gak bisa dipaksakan.”

“Kok orang masih mendukung A*** ya, Mi? Temanku juga ada yang begitu.”

Diskusi tentang pemerintahan, tentang partai, tentang posisi kaum muslimin menjadi diskusi yang harus terus menerus diagendakan di tengah keluarga. Meminimalisasi kontradiksi bukan berarti menghilangkan identitas diri, namun saat terjadi benturan, ada baiknya mengajarkan anak-anak untuk tidak bersikap hitam-putih. Begitu banyak hal yang masih menjadi grey area,  menjadi areal kebingungan bagi anak-anak muda yang harus diimbangi dengan penjelasan bijak dan terus menerus.

 

Radicalization without an Ideology

Hal lain yang sangat berbahaya bagi anak-anak adalah radikalisasi tanpa dasar ideology yang jelas. Kata-kata radikal pada awalnya bermakna kembali ke akar (radix = akar) , kembali ke awal, kembali ke filosofi dasar. Kini, radikal mengalami penyempitan makna sebagai faham keras tanpa kompromi.radicalism

Apa saja yang membuat anak menjadi radikal?

Sikap otoriter orangtua tanpa diskusi, tanpa cela, tanpa celah. Kata-kata  pokoknya, yang penting, seharusnya dan yang sejenisnya akan membentuk watak keras yang tanpa alasan jelas.

“Apa pendapat ummi tentang LGBT? Bagaimana dengan pendapat ahli yang mengatakan bahwa gen tersebut diturunkan? Teman-temanku ada yang LGBT.”

Aku berpikir bahwa langsung mengatakan halal-haram akan mengunci diskusi ini. Aku khawatir, jika anak-anak mendapatkan informasi lain dan itu yang mereka pilih, maka akhirnya akan bertentangan dengan filosofi keluarga kami. Dalam Islam, LGBT telah menjadi hal yang disepakati alim ulama. Maka, menjadi kewajiban hamba beriman untuk menjalankannya

“Ummi percaya bahwa genetic ada yang diturunkan. Dalam konsep neurosains, beberapa genetik yang mempengaruhi temperamen manusia memang diturunkan. Bila orangtuanya agresif, anak punya potensi agresif. Bila orangtua skizofren, anak punya potensi skizofren. Bila orangtua introvert, anak cenderung introvert. Memang sifat-sifat genetis ada yang diturunkan. Tapi bukan selesai sampai disitu kan?

Kalau ada potensi skizofren, maka harus dikontrol. Ada potensi agresif maka dikondisikan bagaimana lingkungan, sikap, persepsi yang dapat mengurangi agresifitas. Demikian pula LGBT, kalaupun benar genetiknya diturunkan maka berarti dapat dikontrol dan dikendalikan. Artinya, tidak cukup bahasannya bahwa secara genetis diturunkan tapi apa yang akan kita lakukan selanjutnya?

Ayahmu keras dan pemarah, Nak. Itu diturunkan dari orangtua.

Tapi beliau menyadari usai marah dengan membaca istigfar dan mencoba melatih lebih dalam kesabaran. Sebab marah akan lebih mendekatkan pada neraka. Ayah nggak pernah bilang : ya pokoknya ayah pemarah! Kamu sebagai istri dan anak-anak jangan buat aku marah! Ayah gak begitu kan?”

“Terus kalau aku bertemu dengan teman yang LGBT bagaimana?”

“Tetap temani dia. Jadi teman curhatnya. Barangkali orangtuanya tidak punya waktu untuknya sehingga ia haus kasih sayang dari siapa saja.”

“Orangtuanya bercerai sih…”

Di kali lain anak-anak pernah bertanya tentang komunis.

“Mengapa di era Soeharto pemerintah bersikap represif terhadap PKI?”

Kujelaskan panjang lebar tentang komunis, sejak sejarahnya di Indonesia hingga sepak terjang mereka yang sering kali berbenturan dengan para ulama dan santri yang merupakan representasi Islam.

“Tetapi, apakah mereka harus ditekan seperti itu?”

“Pemerintah Indonesia memang sempat menghadapi beberapa tuduhan HAM. Ada Peturs di tahun 1980-an, ketika perampok berkeliaran dan polisi kewalahan. Akhirnya, penembak misterius menghabisi perampok walau terkadang ada yang salah sasaran. Begitupun komunis. Pemerintah akhirnya bertindak represif bahkan ke anak cucunya, sekalipun mungkin cucunya sudah tidak tau menahu. Ini sangat berkaitan dengan sejarah bangsa bahwa komunis beberapa kali melakukan pengkhianatan.”

Beberapa teman-teman anak kita mungkin memiliki ideology berbeda. Mungkin saja mereka penganut LGBT, mungkin saja mereka penganut komunisme. Memberi pemahaman yang keras tanpa penjelasan panjang lebar akan membuat anak pun menjadi radikal tanpa berlandas ideology yang benar.

“Pada akhirnya, Nak, Islamlah satu-satunya solusi. Sebab baik komunis atau kapitalis sama-sama memberikan pengaruh buruk pada msayarakat.  Cina sekarang pun lebih  berorientasi kapitalis sekalipun ideologinya komunis.”

Pembahasan menarik yang bergulir di tengah keluarga antara lain bab Cina.

Berita yang beredar di seputar whastsapp, line, media online seringkali membangun radikalisme tanpa ideology. Masih ingat beberapa hari lalu ada foto seorang pemuda yang mengatakan : aku mau beli Quran untuk ngelap tinja aku? Entah siapa yang memposting , yang pasti setelah ditelusuri alamatnya tak jelas. Bayangkan bila alamatnya diketemukan dan penghuninya ternyata sama sekali tak melakukan! Orang-orang radikal yang hanya dibesarkan dengan kebencian pastinya akan memberi hukuman tanpa ampun.

“Ummi punya teman-teman Cina sejak SMP. Mereka umumnya pekerja keras. Menghargai uang. Waktu di kampus, Ummi punya teman Cina yang kebagian tugas fotokopi. Fotokopi satu handout saat itu sekitar Rp1.800. Kalau kita orang Jawa, paling bayar 2000 perak dan 200 nya dii ikhlaskan aja. Tapi kalau teman ummi yang Cina nggak. Padahal dia laki-laki, dia menyiapkan recehan 100 perak yang dibawa dalam dompet besar. Setiap ada orang bayar 2000, dia kembalikan 200 perak. Kenapa dia berlaku demikian? Kalau Ummi yang jadi bendahara, malaslah. Tapi begitulah orang Cina, sangat menghargai uang.”

Anakku manggut-manggut.

“Teman-teman Cina Ummi kalau kuliah, serius, nggak main-main. Begitu mereka gak bisa serius kuliah, mereka mending  kerja. Beda dengan kita orang pribumi yang rata-rata kuliah buat gengsi kan?”

Aku mencoba menanamkan dalam diri anak-anak bahwa orang-orang Cina memiliki etos kerja yang luarbiasa. Di Surabaya bagian barat berdiri sekolah dan kampus non muslim yang notabene milik Chinese. Kurikulum, SDM, orientasi mereka luarbiasa. Mereka lebih takut anak didiknya tidak bisa berbisnis dapirapa sekedar mengejar nilai UNAS.

Namun demikian, politik dan ekonomi tidak boleh dikuasai satu elemen saja.

Maka kujelaskan bahwa tidak semua orang Cina buruk, sebagaimana tidak semua orang Jawa itu juga baik. Bukan etnis Cina, Jawa, Bali, Batak yang salah. Namun salah bangsa Indonesia sendiri, salah kaum muslimin yang tidak mau bekerja keras masuk ke ranah politik,  masuk ke ranah ekonomi, tidak mau bekerja keras membangun karier seingga terkalahkan di banyak sektor. Kalaupun di kasus 411 dan 212 salah satu yang menjadi pusat perhatian adalah gubernur dengan etnis Cina, tidak menjadikan seluruh warga berdarah Cina yang ada di negeri ini menjadi satu jenis stereotype.

 

Confusion vs Totalizing Structures

Meski kita masih membentuk anak-anak bagai menguleni lempung tanah liat, jangan biarkan juga mereka menjadi bingung. Struktur kepribadian dan mental anak-anak harus dibangun dengan totalitas.

Totalitas yang pertama adalah ketaatan pada Allah Swt dan RasulNya.

Tidak ada tawar menawar lagi bahwa Quran dan Sunnah adalah pedoman. Masalahnya, bagaimana cara kita menanamkan hal-hal penting berbau ideologis filosofis tetapi bukan sekedar radikal tanpa fondasi?

Suatu ketika, aku menyadari sesuatu.

Sebagai ibu aku kerap bersitegang dengan anak-anakku yang berpikir kritis. Mengapa kita gak boleh potong rambut model begini? Mengapa gak boleh boncengan cowok cewek? Mengapa harus ke masjid? Mengapa harus baca Quran? Aku beranggapan anakku benar-benar tidak Islami sehingga yang muncul saat itu hanyalah pertengkaran. Rasanya, percuma semua langkah psikoterapis yang kulakukan. Tidak ada hasilnya. Bahkan hatiku mulai menangis, mengapa doa-doa yang kupanjatkan seolah belum terjawab. Aku ingin punya anak sholih. Titik.

“Kalau kamu susah, cobalah buka Quran dan cari jawabannya disana,” saran ibuku

Aku coba lakukan itu, dengan niat memohon padaNya agar diberi petunjuk untuk memahamkan Islam pada anak-anakku.

Masyaallah, Allah memberiku ilham. Kubuka terjemahan. Yatafakkarun. Ya’qilun. Yadzdzakarun. Sering sekali kutemu ayat-ayat itu dan belum mneyadari bahwa itulah terapi yang cocok buat anak-anakku yang kritis dan ngeyel. Terapi kognitif. Ya, anakku mungkin salah salah memahami sesuatu, termasuk agama ini. Aku membangun radikalisme tanpa landasan ideology yang dipahami,  sehingga ketika anakku menghadapi sesautu iapun akan radikal pula. Begitupun, ketika ia kebingungan terhadap suatu fenomena, struktur total kepribadian mental yang semula sudah kusanga kuat, ternyata rapuh.

Suatu ketika dalam keadaan nyaman, kutanya si abang.

“Kenapa kamu gak mau baca Quran sesuai target, Mas?”

Ia menjawab jujur , “soalnya Quran nggak menarik , Mi.”

Aku mengangguk. Menghormati jawaban jujurnya. Quran tidak menarik. Maka menjadi tanggung jawabku untuk menjadikan Quran menarik. Suatu ketika, anakku membaca tentang berita-berita online  yang dipenuhi berita simpang siur. Ia sempat binilang : mana sih berita yang bsia dipercaya? Ia bingung. Disaat itu aku membaca surat al Maidah 41. Saat aku membaca terjemahannya, aku tertegun. Rasanya cocok dengan kondisi anakku.

“Mas, Ummi bacakan arti surat yang sedang Ummi baca ini ya. Intinya adalah, di zaman Rasulullah dulu pun, ada orang-orang yang senaaaaang banget berita hoax. Jadi, memang sudah watak manusia suka dengan berita-berita miring.”

Diskusi kami lumayan meriah saat itu mengaitkan hoax dnegan kisah dalam Quran.

Semenjak itu, setiap kali terkait satu kejadian dengan al Quran, aku jelaskan hubungannya dengan situasi-situasi terkini. Aku terharu sekali ketika beberapa hari yang lalu, si Abang memegang tanganku dan berkata, “Ummi, aku sudah membaca lebih dari target hari ini. Aku merasa lega dan merasa bersyukur sekali.”

Sebagai orangtua, aku tidak ingin membiarkannya  berlama dalam keadaan confuse terkait Quran. Ia harus memiliki struktur pemahaman yang utuh tentang apa itu agama, Quran, Hadits dan menjadi tanggung jawabku sebagai orangtua mencari 1000 cara untuk menghantarkannya kepada pamahaman yang total.

 

Solidarity, Community, Collective Future

Di Kompas hari ini (01/02/2017), dilaporkan tentang Alexander Bissonnete, pemuda 27 tahun yang melepaskan tembakan di masjid Quebec City, Canada dan menewaskan 6 orang serta melukai 8 orang. Motif Bissonnette belum diketahui namun dari akun mesosnya dilacak ia pendukung Donald Trump,  tokoh ekstrim kanan Perancis Marine le Pen, anti feminism, pendukung band Megadeath. Diberitakan bawa Bisonnette hanya memiliki teman adik kembarnya sendiri.

Aksi solidaritas bukan hanya sekedar turun ke jalan membela Suriah dan Rohingya.

Membangun komunitas, solidaritas bersama teman-teman sebaya, akan membangun jati diri siapa sebenarnya anak-anak kita. Begitupun membangun masa depan kolektif : apa yang kita inginkan? Indonesia seperti apa yang didambakan?

Kerapkali aku berdiskusi dengan ak-anak, mereka ingin jadi seperti apa di kemudian hari? Mereka inginkan Indonesia yang seperti apa?

“Aku ingin Indonesia jadi superpower. Karena Indonesia negeri kayaraya,” sahut anak-anakku bergantian.

“Aku ingin suatu saat Jepang, Cina, Korea yang malah bergantung sama Indonesia,” kata anakku yang lain.

Impian kolektif itu harus dibangun bersama dan tidak mungkin sendiri-sendiri. Si penyendiri akan lebih banyak berpikir dengan caranya sendiri, beranggapan langkahnya paling benar seperti Bissonnette. Dengan memiliki pemikiran kolektif bersama, anak-anak akan membangun diri dan lingkungannya. Akan tahu mana hal-hal yang mengancam diri dan bangsa.

Kudorong anak-anak yang sejak SD dan SMP untuk semakin giat ke masjid dan bergabung dengan remaja masjid. Collective future akan kita bangun bersama mulai dari rumah, RT, masjid kompleks dan akhirnya ke masyarakat luas. Collective future ini membutuhkan SDM andal yang bukan hanya kuat mentalnya dengan landasan aqidah dan akhlaq yang benar, tapi juga siap menanggung beban-beban amanah dengan cara bermoral dan bermartabat, juga professional.

Kudorong anak-anak bukan hanya aktif di sekolah tapi juga aktif di remaja masjid. Mereka harus membangun kesadaran kolektif bersama teman-teman sekolah, teman-teman media sosial, teman-teman remaja masjid, teman-teman karang taruna. Kesadaran kolektif ini akan membentengi anak-anak kita dan anak-anak tetangga, anak-anak di masyarakat kita  bagaimana cara memilih : memilih pasangan hidup, memilih ideology, memilih pemimpin, dan pilihan-pilihan penting lain dalam hidup ini.

 

Mencintai sosok Polaris (bukan Sirius)

 

 

Cinta itu sesuatu yang sangat special. Sangat personal. Sangat rahasia dan mungkin satu-satunya rahasia terdalam yang hanya diri sendiri dan Allah Swt yang tahu. Walaupun sangat pribadi sifatnya, ada banyak kisah cinta yang diabadikan dalam sejarah, entah kisah cinta itu positif atau negatif. Kisah cinta Nabi Muhammad Saw dan bunda Khadijah, Yusuf as dan Zulaikha adalah kisa yang memberikan inspirasi mendalam tentang kasi sepasang insane.

Kisah spektakuler?

Ernest Hemingway konon menyukai perempuan berambut panjang dan tiap kali menyusun novel, ganti istri. Khalil Gibran puya beberapa hubunga cinta yang menginspirasi puisi-puisinya.  Einstein pun demikian, ia seorang cassanova yang menyukai perempuan pintar dan punya talenta tertentu. Presiden kita, Ir. Soekarno pun dikenal sangat kharismatik. Good looking, pintar berorasi. Ibuku bilang, ketika bung Karno berbicara, pendengar radio akan terpaku. Dan ketampanannya, duh…Marilyn Monroe, Cindy Adam, Sari Dewi adalah sedikit nama yang terpesona oleh sosoknya.

Lalu aku?

Seperti apa orang yang kucintai?

Apakah aku menyukai lelaki yang mampu menyusun kalimat-kalimat romantic ala Hemingway dan Gibran? Atau suka dengan sosok mencolok ala Soekarno dan Einstein?

 

Polaris, bintang Kutub Langit Utara

Bertemu dengan penulis-penulis muda hari ini, membuatku banyak belajar. Banyak merenung. Banyak terinpsirasi. Kami membahas mulai dunia perbankan, dunia aliran-aliran pemikiran, dunia astronomi dan tentu…cinta. Tiap kali membahas astronomi, aku seperti terlempar ke tahun-tahun masa kecilku. Hiks…aku sejak lama menginginkan kuliah di ITB khususnya fakultas astronomi. Takdir membawaku menyebrangi dunia ekonomi lalu ke dunia psikologi dan sastra. Apa aku menyesal? Tidak. Hanya saja setiap kali orang berbicara tentang rasi bintang, galaxy, bintang lahir dan mati, nebula, mengembang dan mengempisnya alam semesta; hatiku jadi berdegup gembira. Inilah dunia yang sejak lama kuimpikan.

Waktu SD, zaman belum secanggih sekarang, aku rela jalan-jalan ke shopping untuk mencari dan membeli kliping tentang astronomi. Shopping adalah pasar loak buku-buku, kumpulan artikel, kumpulan kliping bahkan skripsi berjilid yang dijual karena sudah tidak terpakai.  Bisa dibayangkan, aku akan berdiri berjam-jam di pasar loak memilih tumpukan koran-koran kliping bekas dengan bau menawan untuk memilih bacaan yng kuinginkan hehehe…kalau sudah bertemu yang kucari, rasanya senaaaang sekali.

Bila ada majalah bekas atau koran bekas yang membahas tentang gerhana matahari dan bulan, misi NASA, atau penemuan tentang quasar atau blackhole, aku coba baca dan pahami dengan kemampuanku yang masih sangat terbatas.

Apa hubungan Polaris dan cinta?

Alam semesta mengajarkan banyak hal kepada kita.

Setiap makhluk diciptakaNya berpasangan, bahkan galaxy dan bintang-bintang. Hampir semua bintang memiliki pasangan. Galaxy Bima Sakti atau Milky Way berpasangan dengan Magellan.

Ada satu bintang yang unik, yaitu Polaris. Bintang ini tidak berpindah-pindah, terletak tepat berada di garis langit kutub utara.  Bintang ini tidak terlihat oleh tempat yang memliki lintang derajat 0 seperti Indonesia atau di bawahnya seperti Australia. Negara-negara yang terletak pada lintang 5 derajat sampai 10 derajat masih tidak dapat melihat binang ini dengan jelas. Tapi negara-negara 4 musim dapat melihat bintang Polaris dengan jelas seperti Jepang, China, Korea, Eropa.

Bintang ini tidak berpindah-pindah. Selalu tampak di satu titik. Itulah Polaris.

Bagaimana Sirius? Sirius adalah bintang yang sangat terang benderang. Bintang paling terang di langit kita. Sirius dikenal karena merupakan bintang ganda, ada yang mengatakan 2, ada yang mengatakan 3. Karena terangnya, bintang ini sangat terkenal.

Apakah aku memilih pasangan cinta yang berjenis Polaris ataukah Sirius?

Aku mencintai Polaris.

Ia selalu ada di sana. Teguh. Jujur. Apa adanya dan selalu dapat ditemui tiap kali membutuhkan petunjuk. Ia tak berpiinda-pindah mengikuti gerak bumi , karena posisinya yang demikian tepat di atas ujung garis langit kutub utara. Ia ada di atas kita, dan menjadi poros atau sumbu.

Seharusnya, demikianlah pasangan cinta.

Ia menjadi Polaris yang selalu ada setiap kali dibutuhkan. Ia menjadi cahaya ketika pasangannya tengah dirundung gkegelapan. Ia menjadi sumbu terang ketika pasangan sedang galau.

Ia tidak perlu menjadi Sirius, yang terang benderang dan selalu dikenali karena posisinya yang spektakuler, bercahaya, diliat banyak orang, menjadi menonjol namun selalu menggandeng orang lain.

Aku mencintai Polaris.

Seperti itulah pasangan jiwa, suamiku.

Mencintai Sirius

Sebetulnya, bukan hal yang salah mencintai sosok Sirius. Bagaimanapun, harus ada yang mendampingi sosok-sosok seperti Julius Caesar, Marc Anthony, Jenghiz Khan, Hitler, Napoleon Bonaparte dll. Mereka sosok-sosok yang mengisi sejarah dengan sepak terjang masing-masing. Mendampingi Sirius, bukan perkara mudah. Sebab mereka selalu menjadi sorotan dan pusat kekaguman. Bila sosok Sirius ini tak kuat iman, dapat dibayangkan betapa womanizer nya ia. Elizabeth Taylor menurutku adalah sosok Sirius. Ia berkali-kali gonta ganti suami.

Tidak selalu Sirius ini negative, lho.

Anda pasti mengenal Habibie. Menurutku, beliau seterang Sirius namun setenang Polaris. Kesetiaannya pada bunda Ainun, luarbiasa…

Bila diminta memilih Sirius atau Polaris? Maka masing-masing kita akan punya jawaban. Ada orang yang senang punya pasangan ternama, menduduki peran penting, enggan berpisah darinya meski sakit hati berkali-kali. Ada orang yang lebih memilih Polaris sebab sosok ini memberikan ketentraman.

Walau bagiku, suamiku adalah Polaris dengan cahaya benderang bak Sirius 🙂

 

5 Cara Mengetahui Pasangan Berbohong

 

 

Jangan sampai pasangan berselingkuh, naudzubillahi min dzalik.

Bagaimana mengetahui kalau pasangan yang dicintai telah berdusta, bahkan mungkin tengah bermain mata di belakang? Mengetahui telah terjadi hal negative atau menyimpang dalam hubungan cinta perlu dideteksi sejak awal. Sehingga, keputusan-keputusan tepat dapat diambil. Apakah hubungan ini pelu diteruskan? Apakah sudah waktunya mendatangi konselor? Apakah si dia punya kepribadian yang nyeleneh?

Yuk, simak!

 

  1. Minta ia mengulangi cerita.

“Mas , kamu hari ini kemana?’

“Oh, aku makan siang dengan dengan teman alumni di Sutoz.”

Kalau ingin mengecek apakah cerita itu valid, beberapa jam kemudian dalam kondisi ia lengah (mungkin sambil nyetir, atau dia lagi buka fesbuk, atau lagi nyuci motor) ;pancing lagi dengan pertanyaan beda.

“Ada film Golden Globe lagi diputar di Cito dan CGV. Tadi kemana?”

Kalau benar-benar ia ke Sutoz, ia dapat mengulangi lagi dengan jawaban sama “Sutoz”. Makan malam nanti boleh diulangi lagi dengan cara berbeda.

“Eh, aku ada teman kerja di café makanan Jepang dimana tuh…yang Mas tadi sebutkan..?”

Kalau dia berulang-ulang masih dapat  menyebutkan Sutoz, berarti insyaallah ceritanya valid.

Teknik ini digunakan dalam salah satu buku feature tentang spionase karya Victor Ostrovsky. Cara merekrut orang yang tekun dan teliti serta tepat, adalah ketika orang itu dapat ditanya pada saat-saat terdesak dengan jawaban konsisten. Misal, nama saya Sinta dan harus menyamar menjadi Mona. Maka kemana-mana harus memakai nama Mona. Suatu saat, ada tim penyeleksi yang tau-tahu menabrak saya di mall, lalu barang saya berjatuhan.  Dalam kondisi gugup mereka akan bertanya :aduh maaf ya Mbak…sorry barangnya jatuhh. Mbak siapa ya…?

Begitu saya jawab “Sinta”, maka saya nggak akan lolos sebagai agen spionase. Orang-orang yang terlatih untuk “berbohong” akan spontan menyebut Mona. Dan itu melalui pelatihan bertahun-tahun, serta harus orang-orang bertalenta tertentu yagn dapat lolos seleksi tersebut, menurut Victor. Cara deteksi kebohongan seperti itu bisa dilakukan pada seseorang ketika diminta mengulang-ulang sebuah cerita. Akuratkah? Konsistenkah?

  1. Balik sekuensial

Coba tanyakan urutan sebuah kejadian.

“Hari ini ke Sutoz ya? Jam berapa Mas? Soalnya aku juga rencana mau ketemuan alumni tapi bingung makan dimana.”

Dia akan cerita.

“Darimana Mas berangkat, biar gak macet?”

Dia akan cerita. Selang beberapa lama, coba tanya kembali.

“Eh, Mas berangkat awal darimana ya?”

Dia akan cerita dan kita dapat menambahkan pertanyaan, “dari bakso Solo itu belok  atau lurus ya?” atau ,”jam segitu macet gak ya di Wonokromo?”

Kalau titik ebrangkatnya dari kantor di Ahmad Yani dan betul-betul menuju Sutoz, maka ia akan benar-benar tahu jalan kesana meski pertanyaan dibolak balik. Anya saja jangan interogatif banget ya…pasangan bisa sebel kalau disangka yng enggak –enggak hehe…ini kalau ada kekhawatiran yang mulai sangat mencurigakan.

  1. Beri kejutan waktu

Atur pertemuan tiba-tiba tanpa kasih kabar terlebih dahulu. Tahu-tahu muncul di kantornya. Tahu-tahu kembali ke rumah (kalau dia di rumah). Pasangan yang masih saling mencintai dan saling setia akans angat senang dengan kejutan ini.

“Lho, kok kamu datang ke kantor sih?”

Kalau dia marah, bisa juga karena merasa terganggu. Lha wong lagi meeting sama atasannya dan tiba-tiba kita bawa pizza…kan serba bingung hehehe. Tapi kalau nggak ada apa-apa, biasanya pasangan hanya agak bête dan kaget, marahnya nggak akan sampai kelewat batas. Kalau ada apa-apa saat kasih kejutan waktu dan dia marraaah besar…perlu dipertanyakan. Memang pertemuan macam apa atau dengan siapa yang diinginkannya?

 

  1. Kasih hadiah tiba-tiba

Beri hadiah kejuta. Kaos, hem, sepatu atau kaos kaki. Jilbab, bros, atau blus. Lihat reaksinya. Biasa-biasa aja? Atau senang bukan main?

Hadiah dari pasangangan yang sangat dicintai, pasti akan begitu membahagiakan. Ingat waktu Rasulullah Saw memberi hadiah bebatuan pada bunda Aisyah ra? Bunda Aisyah girang bukan kepalang. Ya, namanya cinta! Walau hanya oleh-oleh seplastik es jeruk, atau setangkai bunga dari kebun di depan rumah; hadia dari orang tersayang itu sanat membahagiakan.

Kalau suda tidak ada perasaan cinta, hadiah-hdiah apapun akan terasa remeh temeh dan hambar. Rekasi yang timbul biasa, bahkan acuh tak acuh. Malah timbul marah : kok kamu boros begini sih? Nggak usah deh kasih-kasih hadiah lagi. Yah…beli hadiah memang boros sih.,..tapi jangan segitunya memarahai pasangan yan gsudah berniat baik dan bersusah payah.

  1. Pinjam telepon selulernya

Ponsel atau HP yang diberi password adalah pertanda tidak ada saling keterbukaan antara pasangan. Cobalah sesekali pegang HP pasangan dan lihat reaksinya. Atau pinjam dengan alasan pulsa habis atau kuota internet limit. Kalau si dia biasa saja, maka tidak ada apa-apa. Kalau kalang kabut, nah!

Alhamdulillah, saya dan suami suka gaonta ganti HP berdua. Maksudnya tukar menukar. Suami terbiasa lihat chat saya (paling saya larang untuk melihat yang ada tanda khusus sebab itu chat klien saya). Da sayapun bebas mau lihat emailnya, chattingnya, atau foto-fotonya.

“Wah, kali aja si dia punya HP lain di kantor.”

Saya ingat Abraham Lincoln berkata : engkau bisa sesekali membohongi orang. Tapi engkau tidak bisa membohongi orang sepanjang waktu.

Sama seperti Victor Ostrovsky dalam tulisannya tentang spionaseyang intinya : mereka yang tidak terlatih untuk berbohong demi keamanan negara, akan terjatuh suatu saat nanti bagaimanapun lihainya.

 

Meskipun kita sudah membekali diri dengan ketrampilan mendeteksi kebohongan, ketrampilan menaklukan pasangan, ketrampilan memikat hati lawan jenis dan seribu ketrampilan lainnya; jangan lupa untuk berdoa kepadaNya. Dia-lah yang membolak balik hati manusia. Jadi, teruslah berdoa dalam sujud atau waktu-waktu istijabah, semoga cinta suci ini abadi hingga di Jannatul Firdaus. Aamiin yaa Robb…

Kejahatan #2 : Paradigma Uang

(Lanjutan dari  https://sintayudisia.wordpress.com/2017/01/17/kejahatan-1-ayah-peng-implant-dasar-kejahatan/ )

 

Koruptor yang mencuri jutaan, puluhan hingga ratusan juta, milyaran bahkan trilyunan; jelas bukan orang miskin. Pencuri kelas teri biasanya ber IQ rendah, tapi pencuri kelas kakap jelas ber IQ tinggi, genius atau malah gifted.

Apakah pencuri dan koruptor dilandasi niat yang salah?

Tidak selalu.

Murni (samaran) mencuri berulang-ulang karena kemiskinan. Ia harus menghidupi 2 anak, sementara suaminya entah kemana. Murni mendekam di penjara bolak balik karena tertangkap basah mencuri barang-barang elektronik. Sasarannya memang kompleks yang sepi tanpa satpam.  Bukannya Murni senang mendekam di balik jeruji, ia menyatakan keinginan untuk bekerja normal seperti jualan keripik atau laundry. Namun, (maaf), wajahnya sangat jelek hingga tidak melicinkan jalan baginya untuk menjadi pekerja walau hanya buruh rendahan.

Ita (samaran) melakukan korupsi, menggelapkan uang perusahaan. Ketika tertangkap ia berkilah, di ranah insdutri apa yang ia lakukan sudah biasa. Banyak perusahaan melakukan apa yang ia lakukan. Ita menggunakan uang di luar anggaran, dalam jumlah besar, untuk memberikan insentif pada karyawan. Alasannya, toh uang itu tidak ia pakai. Uang sebesar itu digunakan memberikan imbalan kepada karyawan yang memang membutuhkan.

bad_money_by_ibetterthanyou-d5140yw.jpg

Ada banyak orang seperti Ita yang saat tertangkap OTT oleh KPK atau polisi, menggunakan alasan : semua kesalahan ada di sistem yang berjalan. Tanpa  negosiasi tidak akan memenangkan tender, tanpa korupsi tidak akan mendapatkan jatah dana yang  digunakan untuk tujuan kebaikan, pelaku korupsi umumnya korban yang diumpankan oleh pihak tertentu.

Boleh jadi sistem memang salah.

Mengurus surat-surat, memasukkan sekolah atau kuliah, mendapatkan sertifikat, tertangkap tengah melanggar hukum; semua butuh uang. Membesarkan anak-anak dengan baik, fasilitas rumah-kendaraan-kesehatan-hiburan , konsumsi sehari-hari atau kebutuhan tahunan; semua butuh uang. Mustahil kita beli cabe , ditukar dengan doa kan?

“Bang, saya beli cabe tapi nggak pake uang. Balasannya, Abang setiap hari saya doakan.”

“Pak Guru bu Guru, saya nggak bsia bayar sekolah. Tapi bukankah jadi pengajar harus ikhlas? Ilmu itu amal jariyah. Kalaupun tidak dibayar di dunia, bapak dan ibu guru akan dapat surge di akhirat.”

Mustahil juga transaksi seperti di atas, walaupun dalam beberapa kasus memungkinkan terjadi.

Uang. Uang. Uang. Uang. Uang.

uang x.jpg

Uang mengatasi masalah kebutuhan sehari-hari. Uang mengatasi kebutuhan industry. Uang mengatasi masalah perpolitikan. Uang mengatasi urusan keluarga, masyarakat dan negara. Tanpa uang, roda kehidupan mati.

Benarkah?

Uang memang alat vital tetapi itu bukan satu-satunya alat yang dapat menyelamatkan segala situasi. Memberikan insentif pada karyawan memang penting namun bila keuangan perusahaan tidak memungkinkan, reward bentuk lain dapat diupayakan. Awalnya niat Ita baik. Namun niat baik tanpa cara yang baik, akan menggeserkan niat dan membuatnya mudah melakukan tindakan serupa di kemudian hari, dengan alasan berbeda.

Apa yang dilakukan Murni, serupa dengan yang dilakukan para PSK di wilayah Dolly pada awalnya. Niat mereka baik, namun melakukan dengan cara yang tidak baik. Banyak orang miskin datang ke wilayah Bangunsari, Tambak Asri, Klakah, Sememi, Bangun Rejo, Jarak + Dolly dengan tujuan mengais rezeki.

Menemani pelanggan berbicara, minum, lalu hubungan short time, dengan imbalan yang jauh lebih besar dari bekerja sebagai buruh. Awal PSK bekerja umumnya uang rutin dikirimkan ke kampung halaman. Lama-lama, uang tersebut digunakan untuk konsumsi pribadi seperti membeli pakaian, membeli gawai canggih, ke salon dan Spa secara rutin. Uang kiriman ke kampung pun macet.

Murni pun demikian. Pada akhirnya, uang hasil curiannya tidak digunakan untuk biaya anak-anaknya namun untuk keperluannya berhura-hura.

Sebagai klinisian, orang-orang seperti Murni dan Ita, juga para koruptor yang pada awalnya berniat baik, pantas dikasihani. Mereka merasa terjebak sistem, merasa dikorbankan, merasa harus melindungi banyak orang dan merasa harus memberikan reward pada banyak orang. Selama uang dianggap sebagai satu satunya alat yang dapat menuntaskan segala, maka selama itu pula uang dianggap dewa. Berapa jumlah uang yang seharusnya dimiliki? Tidak terbatas, sebab yang harus dihargai dengan uang banyak sekali.

Hiburan, harus dengan uang. Persahabatan, harus dengan uang. Koneksi, harus dengan uang. Branding, harus dengan uang.

Mahathma Gandhi adalah contoh nyata yang dapat menjelaskan bahwa uang bukanlah segalanya. Ketika orang-orang terpesona dengan gaya hidup ala Inggris yang elegan, ia memintal sendiri bajunya dan meninggalkan pisau-garpu. Dasi, sepatu, ditinggalkan berganti sandal sederhana. Ia berjalan kaki kemana-mana atau naik kereta ekonomi. Prinsipnya, kalau bangsa India memang harus hidup apa adanya dengan kemandirian, kesederhanaan , bahkan terlihat kampungan; biarkan saja. Karena memang inilah identitas bangsa.

Kita pernah mengenal kata gotong royong, dimana hubungan kekerabatan tidak didasarkan uang. Membangun rumah, melaksanakan pesta, semuanya atas dasar sukarela. Memang, uang dibutuhkan, tapi rasa kebersamaan dan persaudaraan jauh lebih penting. Alhamdulillah, sekarang banyak perhelatan yang sengaja mencantumkan : dilarang membawa hadiah atau uang dalam bentuk apapun. Kehadiran dan doa anda jauh lebih penting. Undangan ini akan menepis kegelisahan : berapa ya saya harus nyumbang? 50? 100? Tapi saya kan seorang pejabat? Masa menyumbang hanya 50? Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin mahal nilai sosial yang harus dibayar. Padahal, semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin ia menjadi contoh bagi orang lain. Betapa kesederhanaa, gaya hidupnya, sikap dan pembawaannya akan mengayomi  anggota masyarakat lain yang kedudukannya berada di bawah statusnya.

Kita pernah mengenal, bahwa hadiah bahkan hasil karya tangan sendiri jauh lebih mengesankan daripada hadiah uang.

Waktu saya kecil, kalau ingin memberi hadiah ulang tahun, biaanya saya buat hiasan dinding dan semacamnya. Ketika menyelenggarakan ulang tahun, mama membuat sendiri wadah kue beserta kue-kuenya. Orangtua saat itu sangat lazim berbuat demikian. Betapa bangganya seorang ibu ketika mendapatkan pujian : waah, kue buatannya enak sekali ya… saat itu kehidupan konsumtif belum dikenal. Ulang tahun traktir di café mewah, di resto ala barat bergengsi, memberi hadiah mahal yang tinggal beli. Bahwa memberikan hadiah atau menyelengggarakan pesta, tidak perlu semewah mungkin, menjadi paradigm orang-orang saat itu. Akibatnya tak ada orangtua pusing : berapa biaya pesta anaknya? Berapa biaya pesta ulangtahun? Berapa biaya nikah?

Kita pernah mengalami, bahwa orang-orang yang diangkat menjadi pemimpin adalah orang-orang yang disegani di tengah masyarakat.

Ada seorang ‘ustadzah’ waktu saya kecil yang sangat dikenal dengan senyumnya, namanya bu Jali. Saya masih ingat senyumnya yang lebar dan tulus. Ia suka silaturrahmi kesana kemari, mengunjungi para pelacur, memberi mereka nasehat. Mengisi pengajian tanpa dibayar. Kalau ada pemilihan anggota legislative saat itu, bu Jali pasti akan menang di situ! Ia tidak butuh baliho, spanduk, selebaran, bingkisan, berkat,  untuk menarik massa datang. Ia lakukan dengan sukarela kebiasaan silarurrahmi dan itu berlangsung bertahun-tahun. Sekali lagi, bu Jali bukan ustadzah, namun reputasinya luarbiasa.

Paradigma tentang uang membuat kita gelap mata.

Okelah, belanja kebutuan harian, sekolah, beli bensin dan pulsa harus dengan uang. Namun ada yang tak perlu ditukar dengan uang. Kesenangan, gaya hidup, hubungan antar manusia, kekerabatan, hadiah-hadiah; tidak selalu harus berupa uang. Perhatian tulus sebagai sahabat antara seorang pemimpin dengan bawahan, antara seorang politikus dengan konstituen, antara atasan dan pegawai; akan memangkas kebutuhan akan uang yang digunakan untuk ‘memangkas’ banyak hal. Akibat tak pernah berkunjung ke rakyat dan tak pernah tahu apakah ia baik atau buruk, maka uang menjadi alat tukar yang cepat untuk membeli branding. Berapa banyak uang dibutuhkan?

Kita bukan pencuri seperti Murni, bukan koruptor seperti Ita.

Tetapi bukan tidak mungkin, kita punya paradigma sama tentang uang. Kita bukan penjahat, namun bukan mustahil kita tengah meng-implant ide-ide kejahatan ke tengah masyarakat.

 

 

Kejahatan #1 :Ayah, peng-implant dasar kejahatan

 

 

Dua hari mengikuti pelatihan Psikologi Forensik, membuka mata tentang banyak hal.

Bukan hanya teknik investigasi tindak pidana yang melibatkan terperiksa, terdakwa, saksi bermotif, saksi dan interviewer tentu saja; tapi  banyak hal-hal lain yang memperkaya wawasan. Terimakasih kepada ibu Reni Kusumowardhani atas ilmunya, Meta Power atas penyelenggaraan acara tersebut dan juga teman-teman yang hadir dari penjuru Indonesia atas ilmunya.

Sinta, Wenny,  Dwi (ki). Bu Reni dan seluruh peserta (ka)

Di luar materi, ada diskusi-diskusi filosofis yang dalam dan bermakna dengan teman-teman psikolog, HRD dan pakar hukum. Pengalaman teman-teman di lapangan tentu sangat penting untuk memperkaya siapapun kita, dalam segala perannya.

Tak seorangpun ingin jadi penjahat. Bahkan sebisa mungkin jangan duduk sebagai saksi kasus apapun. Namun, mengapa orang-orang dapat melakukan tindak kejahatan yang tidak terbayangkan? Apakah penyebabnya? Norma agama tentu jawaban mutlak. Di luar norma agama, ada hal-hal yang pantas kita cermati.

 

Kejahatan #1 : Ayah, peng-implant  dasar kejahatan

Siapa yang membuat anak jadi jahat?

Seorang pembunuh di kota X, menikam seorang lelaki dengan sadis. Ia mempersiapkan pisau dari rumah, menikam berkali-kali, dan melakukan hal lain terhadap korban dengan cara mengejutkan. Katakan namanya Jahal. Melihat tindakan Jahal yang diluar batas kewajaran, anda mungkin bertanya : jahatkah Jahal pada semua orang?

Tidak.

Jahal tidak dapat bersikap kasar pada perempuan. Jahal tidak mau memukul perempuan.   Bahkan istri Jahal berkali-kali selingkuh, Jahal tetap maafkan. Namun, Jahal  punya banyak masalah dengan rekan laki-laki. Ia sangat membenci laki-laki yang main perintah, merasa punya otoritas lebih tinggi, dan benci laki-laki yang dominan.

ayah-anak-2

Dapatkah anda meraba, apakah ayah atau ibu yang meng-implant kejahatan pada Jahal?

Ya. Ayah Jahal pemabuk. Sangat dominan di rumah, selalu menang sendiri, meremehkan si ibu dan menindas siapa saja. Tidak ada yang boleh punya suara di rumah, kecuali ayah. Ketika remaja, Jahal ingin berduel dengan sang ayah namun ibu melerai. Jauh di lubuk hati, Jahal punya skema tersendiri di benaknya : siapakah musuh paling utama hidupnya? Jawabannya, lelaki yang punya otoritas.

“Sudah kuduga, bapaknya tidak beragama. Kalau bapaknya ahli agama tentu lain kejadiannya!” itu yang sempat terbersit di benak.

Mari kita cermati seorang pemuda bernama Toyib.

ayah-anakAyahnya ahli agama, mengisi acara dimana-mana, penerjemah kita-kitab. Tetapi Toyib menjadi pencuri kambuhan yang entah berapa kali dipukuli warga hingga wajah dan kepalanya luka. Toyib menghabiskan uang hasil curiannya dengan bermain game dan hura-hura bersama temannya.  Sang ibu punya cerita tersendiri terkait sang ayah yang memang sangat cerdas dalam hal agama.

Di rumah mereka tidak boleh ada hiburan, termasuk music dan acara televisi. Apa alasannya, yang penting haram. Semua anak di rumah Toyib sebetulnya ingin membantah ayah, namun tidak berani. Toyib pernah terpergok menonton televisi. Hasilnya, ayahnya murka. Memukul Toyib dan merusak televisi (mereka punya TV sekedar untuk menonton berita). Seperti pemuda kebanyakan, Toyib mengecat rambut, memakai jeans belel yang robek di lutut dan menindik telinga. Ayahnya kembali berteriak haram dan mengusir Toyib dari rumah. Pada akhirnya Toyib mengembalikan warna rambut menjadi hitam, melepas anting dan mengganti dandanannya ala pemuda baik-baik .Toyib mengalihkan kesukaannya bermain game di warnet dan tiap kali uangnya habis, ia akan mencuri barang-barang tetangga.

Apakah syariat yang ditegakkan ayah Toyib salah? Tentu tidak.

Ulama sebagian memang benar-benar tegas terkait music, film, gaya berpakaian. Namun bagaimana cara menyampaikannya, itu yang penting. Ruang-ruang diskusi yang tidak dibiasakan di rumah, dialog terbuka antar ayah anak, mendengarkan apa keinginan anak dan mengarahkannya; membuat Jahal dan Toyib kehausan mencari posisi sebagai human being di tengah konstelasi kehidupan. Toyib bukan pemuda 100% brengsek. Kalau ia dapat rezeki halal dari kerja serabutan, ia akan membelikan sang ibu  nasi goreng kesukaannya.

ayahAnak pasti menolak aturan yang sangat mengikat dan membatasi.

Di luar sana orang antri nonton bioskop, kok aku nggak boleh? Di luar sana remaja nonton konser music, kok aku nggak bisa? Kenapa ayah hanya menyuruhku sholat, baca Quran, menghafal Quran, masuk surga, taat orang tua, pintar belajar, dan sejenisnya?

Ayah adalah pemilik otoritas.

Ibu, biasanya tunduk pada ayah. Apalagi di tengah kultur timur, istri dan ibu akan mendengar kata suami/ayah. Bila ayah berkata ya atau tidak, maka ibu akan cenderung mendukung, tak peduli hati anak penuh pemberontakan. Ibu mungkin dapat bijak menjelaskan perkara music, televisi, gaya berpakaian, dsb; namun tetap saja ada luka menganga yang tak mudah disembuhkan dalam hubungan ayah anak.

Apa salahnya menjadi ayah yang toleran dan pendengar aktif? Toh tidak mengurangi bobot kehormatan. Toleran bukan berarti permisif. Ketika anak berulah negative, membangkang, melanggar norma agama, coba dengarkan baik-baik luapan hatinya. Seringkali, anak melakukan tindakan di luar batas, bukan karena ia memang ingin melakukan kejahatan, tapi karena ingin didengarkan. Ketika jeritan hati anak-anak tak didengar orang, termasuk orangtuanya, ia akan membentuk alur berpikir sendiri. Menggurat skema dalam pikiran, membuat proyeksi terhadap orang-orang yang bermasalah dengan dirinya.

Sebagaimana Jahal yang membenci lelaki pemilik otoritas. Sebagaimana Toyib yang akhirnya membenci agama dan para ustadz.

Apakah ayah yang otoriter tidak baik?

Hamka adalah ayah yang otoriter dalam skala tertentu. Beliau akan menarik sabuknya dan menghukum putranya bila lalai membaca Quran. Namun Hamka tidak melakukan itu untuk semua anak. Ia hafal betul satu demi satu watak anaknya dan ada satu orang putranya bernama yang tampaknya membutuhkan perlakuan lain.   Sang putra suka menonton film India pula. Maka Hamka memutuskan, anak laki-laki dengan energy lebih seperti itu lebih baik diajarkan bela diri. Daripada terus menerus memarahi putranya yang tampaknya punya jalur berbeda dari sang ayah yang ahli agama serta sastrawan, Hamka mengajak sang putra untuk belajar bela diri. Di luar perkara membaca Quran, Hamka adalah pribadi yang hangat dan lucu bagi siapa saja, termasuk anak-anaknya. Ia suka mengajak anaknya berdiskusi, dan menyelipkan filosofi-filosofi hidup.

Ayah, adalah peng-implant moralitas. Ayah, adalah peng-implant kejahatan, disisi lain. Apakah ibu tidak punya peran? Tentu punya. Bila ayah berakhlaq buruk, dibutuhkan sosok ibu yang kuat luarbiasa untuk mereduksi kesan-kesan buruk . Tetapi bila sosok ibu tak cukup kuat untuk menghapus kesan tersebut, dapat kita bayangkan bagaimana kepribadian anak-anak terbentuk.

 

Kejahatan #2 : Paradigma Uang

(Bersambung)

 

Bila istri berpenghasilan : milik siapakah uang istri?

 

 

Tuntutan ekonomi,  dorongan untuk membantu pihak lain, keinginan meningkatkan taraf hidup; membuat  ibu atau istri memutuskan bekerja. Bekerja tidak selalu harus keluar rumah. Dewasa ini banyak sekali peluang penghasilan yang dapat dilakukan tanpa harus meninggalkan keluarga selama 8 jam sehari. Bisnis online, blogger, reviewer produk, buka usaha katering atau busana, konsultan keluarga, konsultan fashion, konsultan bisnis; adalah sedikit di antara peluang bisnis yang dapat dilakukan di rumah sembari mendampingi buah hati. Disisi lain, ada perempuan-perempuan yang harus bekerja sebagai pegawai, pengajar, dosen, pengusaha, anggota dewan, dsb.

downloadPembahasan kali ini bukan memperdebatkan tentang ibu bekerja tetapi justru pasca perempuan berpenghasilan : milik siapakah uang istri?

 

Lelaki adalah Qowwam

Al Quran menegaskan  dalam 4 : 34 yang artinya ,” Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-lai) telah memberikan nafkah dari hartanya….”

Dalam tafsir Quran dijelaskan beberapa hal antara lain :

  1. Kaum laki-laki adalah pemimpin, pemelihara, pembela dan pemberi nafkah dan bertanggung jawab penuh terhadap kaum perempuan yang telah menjadi istri dan keluarganya
  2. Setiap istri wajib mentaati suaminya dalam mengurus rumah tangga,memelihara kehormatannya, memelihara hartanya dan harta suaminya
  3. Setiap istri berhak mengadukan suaminya yang tidak menunaikan kewajibannya kepada pihak yang berwajib dan berwenang untuk menyelesaikannya

 

Menjadi qowwam atau pemimpin berarti memiliki hak-hak istimewa seperti dipatuhi, ditaati, dihormati, disegani, disanjung, ditakuti, didengarkan perintahnya.

Masih ingatkah kita dulu ketika seorang anak minta sesuatu kepada ibu? Ibu biasanya berkata,

“Coba tanya bapakmu dulu.”

Meski kadang-kadang sang ayah pun melontarkan hal yang sama : “terserah kata ibumu.”

Hal ini dilakukan seorang istri atau ibu sebab memandang tinggi kedudukan suami/ayah. Keputusan-keputusan mulai yang remeh hingga penting di rumah harus disetujui suami/ayah seperti  beli sepatu anak-anak, beli handphone, mau jalan-jalan kemana.

Sebagian suami menyerahkan sepenuhnya pada istri untuk mengatur segala urusan rumah tangga.

Suami saya menyerahnya urusan keuangan pada saya. Jadi saya punya buku catatan pengeluaran yang menjelaskan pengeluaran untuk air, listrik, bayar pembantu, mengirim orangtua, SPP anak-anak hingga cicilan-cicilan lainnya. Suami pun terbuka ketika ia ikut acara kantor yang membutuhkan urunan transportasi atau makan bersama, atau ikut paguyuban dan arisan.

Disisi lain, saya pun memberitahu suami bila memiliki pemasukan dari mengisi acara seminar atau royalti buku. Pendek kata, kami berdua mencoba berbicara terbuka tentang pendapatan dan pengeluaran.

Apakah pernah ada rahasia masalah keuangan?

Sesekali ada. Tapi kami sepakat, yah, sekali-sekali nggak papa kan?

Suami pernah membeli barang-barang seperti kaos beraneka ragam. Ia suka sekali kaos-kaos Jersey. Ia beli beberapa seri, termasuk beberapa buah untuk anak-anak laki-laki kami. Ia juga pernah beli kaos-kaos dengan sablon 3 dimensi untuk dirinya dan anak-anak. Barang-barang ini dibeli tanpa memberitahu saya. Sekali-sekali, menuruti keinginan pribadi bukanlah dosa. Asal frekuensi dan pagu-nya dibatas kewajaran.

Apakah saya marah? Awalnya memang bertanya-tanya. Tapi setelah tahu berapa harga barang-barang tersebut, apalagi suami membelinya dari teman-teman dekatnya yang tengah merintis bisnis kaos, saya pun membiarkannya. Suami tidak setiap bulan beli baju, bahkan kadang setahun sekali beli baju. Jumlah barang yang dibelinya masih relatif wajar.

Bagaimana dengan saya?

Saya sesekali membeli jilbab dan baju tanpa pertimbangan suami. Terus terang, saya memang memiliki penghasilan meski kecil. Jumlah barang yang saya beli baik rupa dan harganya tidak boleh melebihi uang pribadi yang saya punya.

Ketika saya akan beli barang relatif mahal seperti handphone, maka saya mengajak suami untuk memilih.

Apakah saya nggak bisa beli handphone sendiri?

Bisa!

Lagipula royalti saya cukup kok buat beli barang elektronik mahal yang saya inginkan. Tetapi, saya pribadi merasa tidak enak hati bila harus beli barang mahal tanpa seizin suami. (Handphone bagi saya mahal. Padahal kata anak-anak : ummi tuh harusnya beli iphone! Tapi smartphone yang cukup kapasitasnya untuk mengunduh jurnal-jurnal ilmiah, bagi saya sudah oke).

Kenapa saya nggak beli barang mahal, dengan uang saya sendiri, tanpa sepengetahuan suami?

Pertama, saya menghargai suami. Ia adalah qowwam dan pemimpin kami. Sepanjang 21 tahun kami menikah, tentu ia pernah melakukan kesalahan dan punya kekurangan. Tapi sebagian besar perilakunya menunjukkan rasa bertanggung jawab. Terutama dalam masalah nafkah. Ketika kami kekurangan, suami tak segan-segan mengajar meski ia sudah sangat lelah seharian kerja di kantor.

Kedua, suami sebagai qowwam pun menunjukkan contoh baik. Ia beli HP bagus seharga 2 jutaan, ketika anak buahnya bahkan sudah rame-rame beli HP harga 10 juta! Dulu ia beli HP murah, dan dibelikan oleh temannya blackberry. Kata suami ,”kalau yang murah sudah bisa digunakan, ngapain beli yang mahal.”

Ketiga, suami tidak segan-segan membantu saya jika kesulitan. Saat sakit dan nggak bisa masak, suami rela belanja dan memasak. Bila saya harus keluar kota, suami rela mengantar. Atau malah membantu menjaga anak-anak. Pendek kata, ia sigap membantu ketika saya butuh bantuan.

 

Qowwam adalah contoh

love-wifePemimpin adalah contoh bagi rakyatnya. Rasulullah Saw memberikan contoh bagaimana menjadi orangtua, suami, panglima perang, negarawan, politikus dan penyayang binatang. Kebiasaan Rasul ini menjadi role model bagi rakyat.

Begitupun suami saya, ayah anak-anak kami.

Anak-anak terbiasa tidak punya HP. Mereka baru beli HP harga 1 jutaan ketika mahasiswa. Kalau ditanya apa nggak kepingin punya HP bagus?

“Kepingin sih, Mi,” jawab anak-anak. “Tapi nanti beli HP pakai uang sendiri aja.”

Putri sulung dan bungsu kami sudah dapat menghasilkan uang dari menulis. Tetapi HP bukan barang primer yang mereka buru pertama kali.

Putra kedua kami, Ibrahim, menyarankan kepada adiknya-adiknya,”kalian kalau butuh HP beli aja yang murah-murah. Tuh, abah sama ummi aja HP nya murahan. Padahal ummi harusnya pakai iphone.”

Sekalipun Ibrahim tidak punya karya tulis seperti kakak perempuan dan adik perempuannya, ia punya prinsip yang ditularkan dari sang ayah.

Sebagai pemimpin, suami juga memberikan contoh dalam hal berpakaian dan makanan. Dalam hal membeli baju ia tidak terbiasa yang mahal-mahal, juga makanan. Maka contoh pemimpin ini mengimbas pada anak-anak. Mereka biasa berpakaian rapi sederhana, disaat anak muda di lingkungan mereka menggunakan pakaian gaul yang bermerek mulai topi hingga sepatu!

Bila suami/ayah suka ke masjid, anak-anak akan meniru. Meski tetap butuh upaya orangtua untuk memotivasi lebih (hehehe…anak-anak itu kadang-kadang diberi contoh baik saja masih suka ngeles!)

Bila suami/ayah suka makan di rumah, anak akan ikut.

Bila suami/ayah berkata kasar, anak akan meniru.

Bila suami/ayah malas, rajin, pemberani, suka sedekah, suka ngomong kotor, maka anak pun akan meniru ayahnya.

 

Hebatnya seorang Suami

Begitu hebatnya posisi ayah dan suami. Namun demikian besar juga tanggung jawabnya. Ia harus dapat mendidik anak istrinya. Bila istri salah, ia harus dapat membenarnya. Bila anak salah, ia harus dapat mendidiknya, tentu dibantu istri.

Begitu hebatnya posisi ayah dan suami, menunjukkan betapa besar pula tanggung jawab dan kewajibannya. Kewajiban presiden, gubernur, guru, tukang batu tentu berbeda kan? Istri wajib taat pada suami, sebagaimana suami wajib menyayangi keluarganya. Istri wajib memenuhi permintaan suami, sebagaimana suami harus mampu memenuhi kewajiban dan tanggung jawabnya.

Pertanyaan berikut muncul.

Wedding rings and large bills of moneyBila, suami tidak mampu memenuhi kewajiban dan tanggung jawabnya, bagaimana istri harus bersikap? Bila suami tidak mampu mencari nafkah dan istrilah yang harus mencari nafkah, bagaimana pula peran domestik di rumah?

Bila, satu-satunya sumber pendapatan di rumah itu adalah istri, apakah penghasilan istri boleh disimpan sendiri?

 

Perkawinan Kultur Timur dan Pembiasaan Islami

Di barat, adalah biasa suami istri bertukar peran.

Suami kerja, istri nggak mau masak, ya makan di luar. Nggak ada kewajiban istri harus mengurus rumah tangga kalau ia nggak mau. Istri kerja, ada kesepakatan pembagian peran domestik, ya suami yang menyuapi anak-anak. Mencuci dan seterusnya.

Dalam dunia timur, pembagian peran domestik dan publik masih sangat kentara.

Lelaki memiliki martabat lebih sehingga akan membuatnya kehilangan self esteem dan self respect bila ketahuan tetangga atau keluarga besar tengah mencuci, memasak, mengurus anak,belanja, antar jemput anak. Bila posisi lelaki saat itu berpenghasilan, tak masalah.

Banyak juga suami sambil berangkat pulang kerja sambil antar jemput anak sekolah, banyak suami sepulang kantor mampir supermarket untuk beli susu atau tetek bengek keperluan rumah tangga.

Yang akan terasa mengesalkan, membuat malu, menjatuhkan harga diri adalah ketika semua dilakukan suami disaat penghasilannya jauh di bawah istri atau malah dirinya (sedang) tidak berpenghasilan!

Bisa dibayangkan posisi suami.

Istri bekerja. Berangkat pagi, pulang sore. Pekerjaan kantor tidak mentolerir gender. Absen jam 7 ya jam 7 : mau laki, perempuan, sakit, sehat, hamil, haid, badmood, dll; aturan organisasi jelas. Jam 7 ya jam 7. Akibatnya istri/ibu setengah mati mengatur jadwal di waktu pagi. Ia ngos-ngosan berangkat kantor.

Alhasil, pekerjaan rumah tentu terbengkalai. Belanja, masak, mencuci.

Bukan istri/ibu tidak mau melakukan tugasnya. Tapi jadwal pekerjaan dan kepadatan kesibukan rumah tangga tidak sesuai lagi dengan jumlah waktu.

Apa yang harus dilakukan bila saat-saat genting seperti ini memang dibutuhkan bantuan suami untuk tugas domestik?

  1. Buatlah kesepakatan suami istri mana saja yang harus dikerjakan. Suami mencuci,menyetrika; istri belanja memasak. Atau sebaliknya.
  2. Saling jujur dengan kondisi hati. Ingat! Setiap orang, setiap keluarga berbeda. Ibu mertua saya berpesan : jangan sampai melihat suami saya mencuci baju. Saya menghargai beliau. Maka saya upayakan suami membantu pekerjaan rumah yang lain : belanja, memasak. Rupanya di keluarga suami, pekerjaan mencuci bisa melukai harga diri laki-laki. Sebaliknya; saya pernah mendengar sebuah keluarga dimana hal yang melukai harga diri laki-laki adalah bila memandikan anak-anak. Maka sang istri menghormati kebiasaan itu, ia meminta suaminya membantu hal-hal lain selain memandikan anak-anak dan memakaikan baju anak-anak
  3. Beri tenggat waktu berubah. Kita semua berasal dari keluarga yang mungkin tidak trampil 100%. Suami yang diharapkan dapat membantu mencuci dan menyetrika, mungkin belum pernah melakukannya. Beri ia waktu 3-6 bulan untuk dapat menyesuaikan diri.
  4. Bila harus memilih uang atau hubungan baik, pilihlah hubungan baik. Kemungkinan, istri sudah sangat lelah memasak. Harus belanja dan cuci-cuci segala. Sementara suami pun keberatan bila harus memasak. Memasak butuh energi besar! Tidak ada salahnya mencoba catering meski harganya mungkin cukup mahal. Selain waktu yang tersisa lebih banyak, hubungan baik dengan pasangan harus menajdi prioritas. Daripada bersikukuh harus masak sendiri sementara suami atau istri kesulitan melakukannya. Ini juga bisa dilakukan terhadap mencuci pakaian yang dapat dialihkan ke laundry.

 

Wahai Suami, Qowwam, Qowwam dan Qowwamlah dirimu!

Para suami, jadikanlah dirimu pantas dihargai. Pantas dikagumi. Pantas dihormati.

Jangan berpikir bahwa dengan menghasilkan uang banyak, itulah satu-satunya kesempatan dihargai. Banyak juga suami berpenghasilan sangat besar namun tingkah polahnya tidak dapat menjadi panutan, akiabtnya istri dan anak-anakpun membandel.

Bila seorang suami posisi nafkahnya berada di bawah istri, atau malah tidak berpenghasilan maka :

  1. Didiklah istri untuk tetap hormat pada suami. Bukan menunjukkan jati diri kelelakian dengan memaki, memukul, bersikap kasar. Perilaku negatif sama sekali tidak meninggalkan jejak hormat, malah menimbulkan jejak kebencian dan perasaan remeh di hati pasangan dan anak-anak. Pastilah ada perasaan terluka ketika istri bekerja, berpenghasilan besar.namun sabarlah dan berpikir positif.
  2. Berusahalan tetap bekerja sekalipun penghasilan kecil. Berikan pada istri dan nasehatilah untuk bersabar.
  3. Bila memakai uang istri katakan maaf, doakan istri atas sedekah yang dilakukannya. Katakan , “semoga ini menjadi sedekah bagimu ya Dek.”
  4. Sama seperti istri yang menjaga harta suami, suami juga perlu menjaga harta istri. Bukan karena istrinya bekerja dan punya uang lebih, suami merasa berhak berfoya-foya. Bersenang-senang. Merasa keenakan bahwa istri juga memiliki penghasilan lumayan. Ingatlah bahwa keberkahan sebuah keluarga ketika suami menjadi qowwam yang sesungguhnya.
  5. Suami harus waspada bila istri bekerja sebab ia tak boleh membiarkan ini belangsung lama. Pendidikan anak mutlak berada di bawah pengasuhan ibu. Bagaimana ibu akan optimal bila suami/ayah tidak giat bekerja?
  6. Jangan malu mengerjakan pekerjaan halal. Betapa banyak pengusaha besar memulai pekerjaan dari titik nol, menjadi orang palign bawah : tukang rumput, tukang batu. Mungkin bisnis suami bangkrut sehingga istri harus bekerja sebagai guru. Tak ada salahnya menjadi supir Gojek, Grab, Uber dan tak perlu malu dengan perbedaan posisi suami istri. Kalau orang mengejek, memangnya mereka mau kasih jabatan dan gaji besar? Berjualan herba dan mengantarnya sendiri ke pemesan, sementara istri duduk manis di kantor; tak perlu berkecil hati. Siapa tahu bukan gaji istri yang membuat keluarga tersebut bisa beli mobil rumah; namun justru ketekunan suami berjualan obat-obatan herbal.

 

 

Penghasilan istri : sedekah dan me time

Dewasa ini, beban haruslah sama-sama dibagi. Beban domestik, beban publik. Beban ekonomi. Kasihan jika suami hanya menjadi satu-satunya sumber pencari nafkah. Istri pun tidak bebas sedekah dan membeli barang yang diingankan, kan? Kasihan pula bila istri menjadi satu-satunya yang menangani urusan domestik. Kalau ia lelah jiwa raga, maka suami juga yang repot.

Jujurlah pada suami bila istri memiliki penghasilan. Utarakan hati-hati perasaan dan tingkatkan ketrampilan komunikasi. Komunikasi itu ada skillnya lho…

Bila seluruh uang istri diberikan untuk menyelenggarakan rumah tangga, bolehkah sekali waktu punya me-time baik dalam bentuk uang atau waktu? Misal, ingin di akhir pekan bebas tugas dan beli makan di luar meski hanya bakso. Bolehkah seharian tidur aja untuk membayar kelelahan di hari-hari yang lain? Bolehkah membeli barang dengan plafon 100-200 ribu uuntuk jilbab, sepatu, dompet, baju? Dengan keterbukaan pikiran dan perasaan, semoga suami menghargai pengorbanan istri dan mengizinkannya untuk bersenang-senang sesekali waktu.

Demikian pula para istri, jagalah perasaan suami bila saat ini penghasilanmu lebih besar dari suami. Saya ingat banget nasehat sederhana ibu mertua saya :

“Penghasilan itu sejatinya rezeki keluarga. Rezeki suami istri. Jangan merasa sombong. Suami punya uang, ia merasa hebat karena sudah bekerja. Istri punya uang, ia merasa hebat karena sudah berpenghasilan. Coba saja, jika mereka berpisah atau bercerai, biasanya rezeki keduanya akan berbeda lagi. Yang merasa punya penghasilan besar, ketika pongah dan merasa lebih baik berpisah, boleh jadi malah pintu rezekinya ditutup olehNya. Sebabnya, karena sumber rezeki berasal dari pasangan jiwanya.”

Naehat ibu mertua itu saya catat banget dalam benak.