Kategori
Catatan Jumat Cinta & Love Oase Quran Kami Suami Istri WRITING. SHARING.

Sembuh Setelah Bercakap-cakap dengan Quran

Beberapa waktu lalu, saya mendapatkan pengalaman luarbiasa yang kisahnya langsung saya share kepada anak-anak, dan merekapun terkesima. Kisah ini saya dapatkan ketika akhir tahun 2019 berkunjung ke kampung halaman suami, Tegal.

Namanya bu Nuning.

Mbak Nuning & suaminya, pak Imam

Saya biasa memanggilnya dengan  nama mbak Nuning. Seorang ibu luarbiasa yang tak pernah lepas senyum terpahat di bibir meski kesulitan hidup bertubi-tubi, berton-ton menghimpit. Kalau saya buat rekap kepahitan hidup;  mungkin sepanjang beliau benafas, lebih besar bobot susah daripada senangnya. Ajaibnya, di setiap benturan kesulitan, selalu ada peristiwa luarbiasa yang membuat kita tergetar : Maha Besar Allah menitipkan sebagian ayat-Nya ke dalam kehidupan hamba-hamba pilihanNya.

Beberapa waktu lalu mbak Nuning bercerita, ia mengalami stroke. Separuh tubuhnya lumpuh, saraf mulutnya pun lumpuh total. 2 bulan ia mengalami stroke parah dan saya tak bisa bayangkan bagaimana ia jalani kehidupan sehari-hari. Bayangkan, suaminya sakit dan mbak Nuning yang selama ini merawatnya. Suaminya juga pernah stroke dan hingga saat ini masih membutuhkan pendampingan. Kalau istri juga ikut-ikutan sakit, bagaimana nasib roda kehidupan mereka? Meski ada asuransi kesehatan, tentu tak dapat menutupi semua keperluan hidup dan sakit. Apalagi beli obat yang di luar tanggungan BPJS. Untuk makan sehari-haripun mereka seringkali harus bersabar dengan kondisi yang ada. Lumpuh? stroke? Tak bisa bicara? Ya Allah…

Dokter saraf yang baik hati menangani, memberikan dorongan pada keluarga mbak Nuning.

“Meski saraf mulutnya sudah hampir 100% kena, Ummi tetap harus diajak bicara,” kata dokter saraf, berpesan pada anak-anak mbak Nuning. “Pokoknya diajak bicara aja, diajak aktivitas semampunya.”

Kita tentu tahu, stroke butuh penanganan cepat dan tepat. Obat yang bagus, terapis andal, kontrol rutin. Tetapi semua biaya itu tak ditanggung asuransi, kan? Transportasi PP ke rumah sakit tentu biaya tersendiri, belum lagi yang lain-lain.

Mbak Nuning & suami yang insyaallah selalu harmonis, dalam segala kesulitan yang menghimpit

Masyaallah, meski hidup dalam kesulitan, Allah Swt memberikan mbak Nuning anak-anak yang sholih sholihah. Anda mungkin pernah melihat orang bisu atau tuli berbicara. Bahasanya aneh, bukan? Suaranya lantang, berteriak-teriak memekakkan telinga, kadang buat lawan bicara deg-degan atau malah kesal karena komunikasi tak nyambung. Begitulah mbak Nuning ketika mengalami stroke dan lumpuh mulutnya.

Salah seorang putranya  memberikan semangat dan nasehat, “Ummi, Ummi memang harus terus belajar bicara. Ngajak orang bicara. Tapi lihat kan? Orang yang diajak bicara Ummi kadang kesal. Malah nggak suka karena Ummi ngomongnya gak jelas, sembarangan, orang juga nggak ngerti-ngerti apa yang Ummi bicarakan.”

Kurang lebih demikian kata si putra.

“Tapi Ummi harus terus ngomong, terus bicara, terus latihan bersuara. Daripada Ummi ngajak ngomong orang dan orang malah jengkel, kesal, marah; mending Ummi ngajak omong Al Quran saja,ya.”

Demikian bijak saran  putra mbak Nuning.

Dulu, penelitian S1 saya tentang tunarungu. Anak-anak yang tak bica mendengar dan biasanya kesulitan bicara ini, memang suaranya sangat keras menggaung kemana-mana. Kadang orang yang diajak bicara sering tak sabar dan meminta mereka lebih baik pakai bahasa isyarat. Itu juga yang terjadi pada mbak Nuning. Ia tak dapat bicara, seperti orang bisu gagu karena stroke yang menyerang saraf mulutnya. Tetapi ia harus bicara kalau ingin sembuh. Dan, tak semua orang mau diajak bicara…

Mbak Nuning menuruti saran si putra. Setiap hari ia mengajak bicara Quran, bahkan sehari bisa 8 juz dibacanya Quran dan diajaknya bicara layaknya orang bercakap-cakap.

Saya nggak akan promosi suatu barang.

Tetapi demikianlah ceritanya.

Seiring mbak Nuning terus mengajak Quran ‘bicara’ ada orang yang membawakannya british propolis dan obat ini memang membantunya untuk sembuh. Mbak Nuning bukannya menganggap british propolis woooww banget. Bukan demikian! Tetapi katanya, “ karena saya bicara dengan Quran, ada aja cara untuk sembuh. Salah satunya orang mengantarkan british propolis itu.”

British propolis, salah satu cara mbak Nuning untuk sembuh

Ketika saya bertemu mbak nuning akhir Desember lalu, saya sama sekali nggak nyangka ia sempat stroke selama 2 bulan. Terkapar lumpuh dan bisu. Inti kisah beliau yang saya simak betul-betul : “Kalau tak ada orang yang bisa diajak bicara, bicaralah dengan Quran. Nanti, Quran akan membantu mencarikan jalan kesembuhan –dengan izin Allah- lewat jalan yang dibukakan oleh seseorang atau sebuah peristiwa.”

Semoga, kita bisa rutin mengajak Quran berbicara ya?

“Kalau tak ada orang yang bisa diajak bicara, bicaralah dengan Quran. Nanti, Quran akan membantu mencarikan jalan kesembuhan –dengan izin Allah- lewat jalan yang dibukakan oleh seseorang atau sebuah peristiwa.”

#jumatbarakah

#jumathikmah

#energiquran

Kategori
Oase Pernikahan Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Remaja. Teenager Suami Istri WRITING. SHARING.

Pernikahan Seharga Kaos Kaki

 

Pernah beli baju lebaran?

Ada yang beli sebelum Ramadhan tiba, takut bila agenda memilih-milih baju menggangu aktivitas puasa dan tarawih kita. Ada yang membelinya menunggu THR, karena beli baju lebaran butuh budget tinggi. Ada yang sengaja beli baju lebaran di mall terkemuka atau butik ternama, sebab lebaran termasuk momen tahunan yang istimewa.

emak pakai daster di hut ri 73.jpg
Emak berdaster

Baju daster?

Daster dapur, cukuplah harga 30ribu. Motifnya jelek, jahitannya gampang lepas, gakpapa. Yang penting enak, nyaman dipakai pas ulek-ulek bumbu. Umumnya, daster ini kalau robek, dibiarkan  begitu saja. Nanti kalau mirip keset dengan robekan-robekan serupa jendela, tinggal beli yang baru.

Kaos kaki?

Harganya murah, 10 ribuan. Beli tanpa mikir, nyuci kalau sempat. Kadang pas lewat alun-alun hari Minggu, nggak sengaja lihat dan kasihan pembelinya, belilah sepasang. Hilang satu, tinggal beli lagi. Hilang sebelah, sudah ikhlaskan. Ujung jempolnya sobek sedikit, mending buang aja. Repot amat jahit-jahit kaos kaki. Kalau masih layak, naik tahta jadi pegangan panci panas.

 

Harga waktu dan uang

Ada kata kunci dari pakaian yang kita beli : waktu dan harga.

Semakin penting sebuah acara, semakin tinggi uang yang disisihkan. Semakin banyak pula waktu yang dialokasikan untuk memikir, mendesain, memutuskan, membatalkan, mengkaji ulang. Tidak akan sama mendesain baju wisuda yang spektakuler dengan baju arisan yang setiap bulan ada. Tidak akan sama harga dan waktu membeli rumah dengan membeli sapu. Butuh waktu belasan bahkan puluhan tahun untuk mengumpulkan uang, memikirkan, memutuskan membeli rumah. Tapi sekedar sapu, bisalah sewaktu-waktu.

 

Berapa Harga Pernikahan Kita?

Seorang klien saya memikirkan rencana pernikahannya sejak kecil. Ia tidak ingin pernikahannya seperti orangtuanya. Ia tidak ingin punya anak seperti kakak-kakaknya yang naudzubillah. Beranjak SMA, ia sudah menetapkan calon suami macam apa yang diharapkannya. Impiannya hadir dalam harapan dan langkah tahap demi tahap. Sejak kuliah S1 dan S2 rajin ikut kajian pernikahan dan parenting, yang pastilah mahal untuk kantung mahasiswa. Waktu sebagai mahasiswa yang tugasnya ampun-ampunan, ia sisihkan untuk mengikuti berbagai seminar. Uangnya yang pas-pasan, juga dialokasikan untuk menambah ilmu. Hasilnya, Alhamdulillah, ia mendapatkan suami yang sangat diharapkannya.

Ada seorang klien, yang justru ikut seminar-seminar menikah setelah ia menikah.

Di kepalanya ada rasa menghantui, kenapa ia pacaran sekian lama. Pada saat menikah terbukti , karakter pacarnya berbeda sekali dengan yang dulu. Tetapi ia menyadari satu hal, pacaran dan pernikahan ternyata bukan garis paralel. Malah seperti sumbu X dan Y yang beda banget arahnya. Ketika ia menyadari kurang ilmu dan merasakan dosa, ia banyak mengalokasikan waktu untuk belajar, belajar. Dengan statusnya sebagai istri dan ibu, ia masih mau menyeret-nyeret anaknya ikut seminar ini itu.

Tetapi ada pula orang-orang yang unik.

Anak-anaknya sudah bermasalah. Istrinya sudah kehabisan nafas. Ia masih saja tak pernah meluangkan waktu memikirkan pernikahan : ini enaknya ditangani bagaimana ya? Yang ada di pikirannya karir, karir, karir. Oke. Karir dan uang perlu. Kalau karir seharga baju lebaran, apa pernikahan harus seharga kaos kaki? Nggak juga. Kalau ingin karir dan pernikahan sama-sama seharga baju lebaran, luangkan waktu dan harga.

Kita akan sibuk mendeteksi raut muka atasan dan rekan kerja : wah, si bos kayaknya lagi nggak mood. Enaknya beliau diapain ya? Pasti seorang bawahan akan berjuang dua kali lipat performanya lebih baik hari itu agar mood bosnya segera baik. Tapi sering , kita gagal menangkap raut muka istri dan suami yang lagi keruh. Malah, kalau pasangan lagi keruh, rasanya pingin cepat-cepat cabut dari sisinya. Malas amat! Padahal, kalau bisa dijual, kira-kira berapa sih harga bos, rekan kerja, pasangan kita? Jawab sendiri.

Kaos_Kaki_Formal_Pria_Isi_3_Pasang___Kaos_Kaki_Kantoran___Ka.jpgAda yang memperlakukan bos seharga emas, memperlakukan teman-teman kerja seharga perak, tetapi harga pasangannya cuma seperti plastik disposable.

Pernahkah, kita berhari-hari mencemaskan pasangan kita?

Kok suami/istri sepertinya lagi banyak pikiran? Apa yang ada di benaknya? Apa yang sedang merisaukannya? Apa yang bisa kulakukan supaya dia baik kembali dan bagaimana caraku membuatnya senang?

 

Mengapa  Pernikahan Mahal?

Sebetulnya, nyaris semua orang menganggap pernikahan sesuatu yang ‘mahal’. Banyak orang bisa gonta ganti pacar tapi lamaaa sekali memikirkan dengan siapa ia akan menikah. Masih banyak orang beranggapan, kalau bisa menikah sekali saja seumur hidup. Kita ingin tua bersama, meninggal bersama, dan kelak di surgaNya pun bersama-sama.

Tetapi kita seringkali memperlakukan barang mahal dengan rasa sangat murah. Seperti kaos kaki. Nggak mikir, rusak tinggal buang, hilang ya sudahlah.

Seperti petunjuk di awal : waktu dan harga.

Tak pernah sama sekali mengalokasikan waktu untuk pasangan dan anak. Tapi berharap pasangan setia, pasangan mengerti, anak-anak shalih shalihah, anak-anak baik-baik saja. Berat amat mengalokasikan waktu, pikiran, uang untuk keluarga;  tetapi semua harus berjalan sesuai mestinya! Ibarat orang nggak mau invest apa-apa, tapi maunya dapat deviden dan  bunga.

Selayaknya kita berpikir : kapan ya bisa jalan berdua dengan suami/istri? Mana ya restoran yang nyaman untuk bicara? Bukannya istri nggak mau masak. Tapi situasi café atau resto yang dilayani, membuat istri fokus memandang wajah suami. Kalau memasak di rumah, ia akan sibuk memasak dan beberes. 1 jam duduk berhadap-hadapan di restoran; suami istri bisa menikmati ngobrol berdua. Abaikan harga makanan minuman yang mencapai seratus ribu. Abaikan pikiran ; aduh, mahalnya. Waktu berdua itu terlalu mahal untuk ditukar dengan uang seratus ribu.

Kapan ya jalan-jalan sama anak-anak?

Memang repot. Apalagi kalau punya anak mulai besar. Yang satu suka bioskop, yang satu suka ngemall, yang satu suka makan. Bagaimana orangtua harus mencari celah waktu supaya semua bisa berkumpul. Ribet, makan waktu, makan tenaga, bahkan mungkin makan biaya. Ketika anak-anak butuh perhatian di akhir pekan : aduh, capeknya nemani ke bioskop. Antri beli tiket, antri parkir mobil, macet di jalan raya. Lebih enak tidur di rumah (sembari pegang gadget tentunya!). Padahal saat ke bioskop kita bisa merengkuh pundaknya, menggandeng lengannya, mengacak rambut mereka. Nggak harus bioskop sih, bisa toko buku atau ke factory outlet.

Harga pasangan sangat mahal.

Harga anak-anak sangat sangat mahal.

Mereka investasi berharga di masa depan, ketika kita tua renta, ketika kita sudah meninggal di alam kubur. Coba tanyakan pada para pengusaha sukses : jenis usaha apa yang nggak butuh investasi uang dan waktu? Pasti kita ditertawakan. Kalaupun ada usaha yang modalnya 0, waktu adalah investasinya yang berharga.

Jangan pernah mengeluhkan pernikahan yang terasa gagal, sempit, menyesakkan kalau kita memperlakukannya seharga kaos kaki. Pikirkan keluarga. Pikirkan posisi kita ada di mana. Pikirkan pasangan suami/istri kita dengan sungguh-sungguh. Berjam-jam, berhari, berbulan; seperti kalau mau beli baju lebaran. Lalu alokasikan harga. Ya, mungkin memang harus menguras uang. Mungkin, harus mau keluar biaya untuk jalan berdua dengan si sulung yang mulai intens pacarannya. Mungkin, harus mau keluar biaya untuk ngobrol dengan si bungsu berdua yang nilanya mata pelajarannya semua jeblok.

married-couples-romantic-date-ideas.jpg
Romantic married couples

Oh, pernikahan belum masuk taraf membahayakan. Tapi ingin pembaruan kan?

Kok rasanya sudah agak hambar, ya. Ketemu di ranjang biasa aja. Lihat mukanya tidak ada desir di dada. Pesan pendek darinya di gadget juga bukan prioritas. Anak-anak kok mulai nggak ekspresif kalau ketemu orangtua. Lebih suka pakai headset kalau di rumah. Lebih milih hang out sama teman ketimbang orangtua. Ah, banyak tanda-tanda kecil yang mulai butuh reparasi.

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Catatan Perjalanan mother's corner Oase Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY WRITING. SHARING.

Bagaimana Jika Minat-Bakat Anak, Bertentangan dengan Keinginan Orangtua?

“Papa mamaku dokter. Mereka ingin aku jadi dokter juga. Tapi aku nggak mau!”

“Aku suka jadi EO, tapi orangtuaku pingin aku sekolah D3 teknik. Gimana?”

“Awalnya aku kulian di institute agama. Lama-lama orangtuaku tahu, aku berbakat di music.”

“Sepanjang hidup aku nurut orangtuaku, tapi aku sudah nggak tahan lagi. Aku sebetulnya suka gambar dan ingin masuk desain grafis!”

 

Tidak semua orangtua paham, bahwa Allah Swt menitipkan bakat yang luarbiasa ke dalam diri anak-anak. Kalau Leah dulu tidak bersabar mendampingi anaknya menonton televise, mungkin kita tak pernah tahu ada sutradara seperti Steven Spielberg –terlepas pro kontra tentang dirinya. Kalau Paul Jobs tidak rajin mengajari anaknya jadi tukang kecil, dunia mungkin tak menikmati perangkat teknologi seperti yang diciptakan Steve Jobs. Sebetulnya, bagaimana cara orangtua melihat minat bakat anak-anaknya?

Sinta & Siswi SMPIT Al Uswah Tuban
Siswi SMPIT Al USwah Tuban, kelas IX

3 Minat Bakat Utama

Bila seorang anak usia SMP atau SMA menjalani tes bakat minat, mungkin akan muncul 3 minat bakatnya yang tertinggi. Bisa jadi medical – science – social service ; bisa jadi aesthetic-literacy-music. Bisa jadi computational-clerical-practical dan sebagainya. Bahkan kadang-kadang tercipta kombinasi unik : medical – literacypersonal contact.

Kombinasi ini benar-benar anugerah Allah Swt. Dan sebagian bisa jadi karena stimulus lingkungan. Baca deh buku Outlier karya Malcolm Gladwell.

Bagaimana kalau bakat minat sudah ditemukan?

Nah, banyak orangtua nggak siap!

Ada yang kedua orangtuanya dokter (sudah pasti keduanya pintar dan ber IQ tinggi) , anaknya harus kuliah kedokteran. Padahal tak muncul sama sekali bakat minat sains, apalagi medisnya. Yang muncul justru social service – personal contact –literacy. Dapat dibayangkan kalau anak pintar ini jadi pengacara atau politikus ; ia akan sangat cemerlang di bidangnya. Kita juga ingin orang-orang jenius di bidang hukum dan sosial, bukan?

Di era medieval age; para alim ulama menguasa banyak ilmu pengetahuan. Umar Khayyam misalnya, bukan hanya ahli Quran dan Hadits, tetapi jusa ilmuwan, matematikawan, astronom, sastrawan. Seringkali alim ulama menguasai banyak bidang karena Allah Swt memang sudah menitipkan setidaknya 2 atau 3 bakat minat dalam diri setiap manusia. Kalau para orangtua juga masih mencari-cari apa potensinya, silakan dicari agar hidupnya bahagia.

Begitupun, jangan abaikan, jangan menolak apa yang menjadi bakat minat anak-anak. Peluang keberhasilan di atas muka bumi bukan hanya dimiliki orang-orang sains; tetapi orang sosial pun dapat hidup makmur dan sukses – kalau harapan orangtua adalah agar anaknya bisa hidup mapan.

Para orangtua yang luarbiasa mendampingi ananda di acara AMT SMPIT Al USwah Tuban

Orangtua Bijak

Ada seorang anak yang bercerita.

“Aku dulu kuliah di IAIN (UIN sekarang). Lalu ibuku tahu aku nggak terlalu suka bidang agama. Aku pindah kuliah ke universitas yang ada musiknya. Alhamdulillah, aku udah bisa cari uang sendiri sejak kuliah.”

Si anak sering diminta nge-lesin anak SD, bahkan membantu terapi anak ABK yang butuh stimulus music.

Ada lagi anak yang bercerita.

“Aku dulu kuliah di salah satu UN terus nggak nyaman. Untung orangtuaku paham. Aku terus ambil tata rias sekaligus tata busana.”

Ketika aku bertemu ayahnya, luarbiasa tanggapannya, “Alhamdulillah Bu, anak saya tetap berjilbab ketika mendandani artis sebelum tampil di layar kaca. Dan dia sekarang merancang hijab syari buat para artis.”

Nah, luarbiasa bukan? Si anak berdakwah kepada artis dengan caranya sendiri! Coba dia dipaksa kuliah di bidang yang bukan kesukaan dan keahliannya.

Tetapi bagaimana jika orangtua memang memiliki harapan tertentu?

“Aku berharap anakku segera kerja,” keluh sepasang ayah dan ibu. “Kami hanya pedagang. Kami memang paksa dia sekolah sejak SD dan kuliah seperti sekarang.”

Ada orangtua yang memang butuh agar anak-anaknya segera mandiri lantaran ekonomi keluarga butuh support segera dari si anak. Tentu saja, ‘memaksa’ anak seperti ini bukan perkara yang salah 100%. Kuncinya :

  1. Komunikasi terus menerus
  2. Bersabar ketika anak ngambek
  3. Dampingi ketika anak menghadapi masa-masa sulit (aku benci sains! Tapi aku harus kuliah di sini. Mana kakak kelasnya jahat, dosennya gak ada yang pengertian!)
  4. Ketika anak mengeluh terus menerus, dengarkan. Jangan emosi, menyalahkan.
  5. Doakan
  6. Ucapkan kata-kata positif dan terimakasih atas pengorbanannya :”makasih ya, Kakak mau kuliah kedinasan. Bosan ya? Semoga kalau Kakak udah punya uang sendiri, Kakak bisa beli apapun dan pergi kemanapun sesuai keinginan.”

 

Rap Monster BTS ( Kim Nam Joon) bersama ibunda tercinta. Klik sumber (Kiri & kanan.)

 

Anak Bijak

Eh, selain orangtua bijak adapula anak-anak bijak yang mampu mengalah demi keinginan orangtua. Mereka ini juga akhirnya sukses di bidangnya.

Penyuka KPop pastilah kenal dengan BTS yang diasuh Big Hit Entertaintment. Sudah diketahui secara luas, Korea termasuk salah satu negara dunia timur yang sangat menjunjung nilai filosofi Konfusianisme selama 2000 tahun, khususnya ajaran berbakti pada orangtua dan hormat pada yang lebih senior. RM atau Rap Monster (Kim Nam Joon) memiliki IQ yang hanya dimiliki 10% manusia di atas muka bumi. Pantaslah ayah ibunya yang seorang professor dan doktor berharap, si anak mengambil gelar akademis.

Rap Mon tidak membangkang pada ayah ibunya. Kepada sang mama, ia melakukan pendekatan manis.

“Ma, kalau aku ranking 5000 dengan ranking 1, Mama lebih suka mana?”

Orangtua pasti akan bilang : Mama suka kamu ranking 1.

“Kalau aku di bidang akademis, meski aku pinter, aku paling ada di ranking 5000. Tapi kalau aku menggeluti dunia yang aku sukai, aku bisa ranking 1.”

Sang mama pun luluh.

Akhirnya RM terbukti bisa membawa BTS mendunia, bahkan jadi spokeperson PBB. Wah, keren ya cara menaklukan hati sang ibu?

Ada lagi kisah seorang muslimah.

“Aku dulu kuliah S1 dan S2 di  bidang medis. Ibuku berharap aku segera kerja dan kembali ke kampung, maklum aku berasal dari desa. Padahal ternyata bakatku di literasi.”

Sekarang, muslimah itu terus mengembangkan bakat literasinya. Bahkan ada juga muslimah yang punya kisah serupa, ia S1 S2 medis karena ingin menuruti hati ibunda, lalu kuliah lagi bahasa Inggris sesuai bakat minatnya. Sekarang, ia mengelola blog kesehatan, in English pula! Wah, keren banget ya.

Bagi anak-anak muda, berbakti pada orangtua tidak pernah ada ruginya. Akan kita temukan kebahagiaan di sana. Berbakti apda orangtua juga bukan berarti mengubur cita-cita. Bagi yang memiliki kepribadian kuat dan kemampuan otak kuat, turuti dulu keinginan orangtua sembari kita mengejar cita-cita. Nggak perlu stress, segera tekuni hobby untuk mencari keseimbangan.

Tetapi, kalau di tengah jalan mulai tak kuat, mungkin karena kemampuan otak yang pas-pasan dan tipe kepribadian kita yang peragu, pencemas, mudah goyah; segera komunikasikan dengan orangtua. Hayooo, lihat lagi film 3 Idiots, bagaimana Farhan berkata lemah lembut pada ayahnya. Jangan sampai, kita sekolah dan kuliah di tengah-tengah, sudah hampir skripsi, orangtua sudah habis banyak biaya lalu tiba-tiba….”aku nggak kuat!”. Kasihan sekali orangtua kalau begini.

 

Datangi Konselor

Di setiap sekolah dan kampus sekarang biasanya dibuka unit layanan psikologi. Manfaatkan biro ini sebaik-baiknya, kalau memang orangtua dan anak masih bingung mau kemana merancang karir. Mau ke mana sekolah. Mau kemana arah tujuan akademis. Insyaallah bertanya pada ahlinya akan memberikan satu sudut pandang baru.

Yuk!

Bagi para orangtua yagn sudah senior, kalau belum menemukan bakat minatnya, boleh kok digali lagi dan dioptimalkan. Tak usah ragu! Saat saya residensi penulis di Seoul, banyak bertemu orangtua Korea yang berusia 50, 60 tahun bahkan sudah nenek-nenek menemukan bakat mereka yang terpendam karena kewajiban : menulis novel.

Bagi anak-anakku yang masih mencari dunia baru, teruslah berkembang. Kalau kalian memang harus berbakti pada orang tua dan menuruti keinginan orangtua, bersabarlah. Jangan khawatir, masih tersisa kesempatan untuk mencapai apa keinginan kalian. Tetapi, kalau kalian bisa menjalin komunikasi baik dengan orangtua, pahamkan mereka bahwa insyaallah kalian punya cita-cita hebat dan cara hebat tersendiri untuk menjadi sukses.

Kiri : siswa SMPIT Al Uswah Tuba. Kanan : para ustadz ustadzah, guru yang luarbiasa

(Catatan usai mengisi acara Achievement Motivation Training di SMPIT Tuban, 24 Maret 2019)

 

 

 

Kategori
Cinta & Love mother's corner My family Oase Pernikahan Remaja. Teenager Suami Istri

Pelukan Skin–to-Skin yang Menjadi Obat

 

 

“Ummi, keloni,” rengek si bungsu ketika beberapa waktu lalu sakit.

“Lho, Ummi udah tidur di sampingmu.”

“Tapi belum dikeloni.”

“Ummi sejak tadi tidur di samping kamu, Say.”

“Pokoknya keloni!”

Aku memeluknya dari belakang, merasakan tubuhnya yang panas karena demam tinggi.

Beberapa bulan lalu kami gantian sakit. Dua anakku gejala DB, yang dua lagi flu berat. Disusul suamiku sakit dan yang terakhir  ambruk adalah aku. Emak-emak biasanya terkapar terakhir; ketika semua sudah tumbang, si ibu masih tegar. Giliran yang lain sembuh, tubuhku mulai merasakan sakit.

 

Anehnya, semua anakku yang sudah besar-besar ( 3 sudah kuliah, yang bungsu di SMA) merengek hal yang sama.

“Ummi, keloni…”

Bukannya aku tak mau, tapi bisa dibayangkan repotnya bagaimana! Saat anak sakit; semua butuh dilayani. Makan minum nggak bisa sendiri, otomatis aku suapin. Mandi harus pakai air panas. Bahkan karena sangat lemas, si bungsu pun harus aku mandikan. Makan harus disediakan. Obat harus dituangkan, disuapin. Sedikit-sedikit merengek.

 

Mother and son lay in bed together

“Ummi, sini.”

“Ummi suapin.”

“Ummi temanin.”

Dan yang buat kepala pusing, kalau mereka ingin tidur entah pagi, siang, sore atau malam maka rengekannya adalah, “Ummi…keloni.”

Keloni adalah istilah Jawa. Bukan sekedar berada di samping anak, tetapi menjulurkan tangan memeluk tubuh si anak. Tangan ibu memeluk leher, atau dada, atau pinggang. Pokoknya, posisi anak seperti dipeluk

Awalnya, aku benar-benar jengkel ketika anakku rewel. Apa mereka nggak ngerti? Umminya capek setengah mati! Semua agenda aku tunda. Konsultasi via whatsapp pun harus dijadwal ulang. Cucian baju menumpuk, cucian piring apalagi. Karena khawatir ada gejala typhus, hampir gak ada alat makan yang digunakan bersamaan. Duh, benar-benar hari yang memeras tenaga sampai ke tulang-tulang.

 

 

“Nak, Kamu bisa keloni Ummi?”

Aku tumbang dengan demam lebih dari 39 derajat.

Benar-benar terkapar. Sholat duduk. Obat turun panas biasa tak mempan. Handuk kompresan tak banyak pengaruh. Seluruh persendian ngilu. Kepala sakit luarbiasa, telinga seperti ditusuk. Aku sangat gelisah. Tak ada tempat tidur yang nyaman. Dari kamarku, pindah ke kamar anak-anak. Pindah ke ruang tengah. Pindah ke ruang tamu. Kalau bisa tertidur sekejap, itu sudah sangat lumayan.

Anehnya, aku mulai merengek kepada anak-anak.

“Kalian bisa keloni Ummi?”

Suamiku sudah memelukku, tapi ia juga harus segera berangkat ke kantor. Tinggal anak-anakku. Sejak pagi sampai malam; anakku giliran memelukku. Mengeloni umminya. Tidak cukup hanya ada di sampingku, salah satu anakku harus merangkulkan tangannya ke leherku atau ke pinggangku. Aku harus menggenggam tangan mereka , baru bisa tertidur sesaat.

 

Aku sendiri heran : manjakah aku? Apa karena aku sakit dan selama ini melayani mereka, sekarang seolah aku ganti minta dilayani, diladeni, dimanjakan?

 

 

Obat Kecemasan

Ternyata aku tidak manja, hehehe.

Seorang neurolog pernah memberi nasehat pada seorang klienku yang selalu mengkonsumi obat-obat seperti Sanax dan Alprazolam. Klienku ini memang memiliki riwayat panjang kehidupan yang keras, sekarang sering tak bisa tidur. Apalagi kalau dengar masalah anak-anaknya.

Neurolog tersebut tentu tak ingin meresepkan obat selalu, karena bagaimanapun , ketergantungan itu tak baik. Ada sarannya kepada klienku yang membuatku terkesan.

“Ibu kalau bisa jangan tidur sendiri. Ibu tidurnya ditemani, ya. Sebab, kalau orang sangat pencemas, bahkan waktu tidurpun butuh ditemani.”

Orang pencemas tak bisa tidur tenang. Sebentar-sebentar bangun, oleh mimpi buruk atau oleh kecemasannya sendiri. Ketika ia melihat ada seseorang yang tidur di sampingnya, ia akan berangsur tenang.

 

Panas dan Cemas Bersamaan

Mungkin, itu analogi sakitku.

Saat demamku tinggi, sakitku tak bisa dikatakan rasanya, ada kecemasan luarbiasa yang melanda pikiranku : nanti bagaimana baju kerja suamiku? Bagaimana aku menyiapkan keperluan anak-anakku? Bagaimana klien-klienku? Bagaimana janji-janjiku? Dan kecemasan paling besar yang megnhantui adalah : bagaimana kalau sakitku ini membawaku mati?

Tanpa sadar, sakitku membawa cemas luarbiasa. Meski semua kegiatan sudah diundur, tak dapat dipungkiri, rasa bersalah dan tanggung jawab mengiringi.

Ketika sakitku rasanya sudah tak tertahankan, aku minta suamiku membacakan surat-surat Quran. Matsurot. Anakku menyetelkan rekaman doa matsurot juga saat menemaniku. Dan mereka bergantian memelukku, menciumiku, menggenggam tanganku, menyisiri rambutku. Pendek kata, tubuhku harus dipegang-pegang oleh suami dan anakku.

Maka kemudian perlahan aku bisa tertidur.

Dan seiring kecemasanku menghilang, aku bisa tidur, dan kesehatanku pulih.

Bukan hanya seorang bayi yang butuh pelukan.

Orang dewasa, siapapun dia, ketika sakit fisik dan psikis, ternyata membutuhkan pelukan skin to skin dari orang-orang yang dicintainya.

Aku mulai membiasakan kembali pelukan skin to skin. Ketika anak-anakku pulang dari kampus dan sekolah; entah apa yang mereka alami. Mungkin konflik dengan dosen, teman, atau orang di jalan. Mungkin mengalami bully-ing. Mungkin mengalami frustrasi karena target tak sesuai harapan. Mungkin mengalami kejadian tak mengenakkan sehingga muncul kemarahan dan kecemasan. Biasanya aku cukup cium pipi kanan kiri, sekarang lebih intens. Memeluk, mengusap tangan, menggenggam jemari. Kepada suamiku juga. Siapa tahu, di balik aktivitas sehari-hari yang melenakan, tersembunyi kecemasan yang kronis.

 

Mother and son lay in bed together

https://www.scarymommy.com/lying-down-with-your-kids-until-they-fall-asleep-is-not-bad-habit/

https://muslimdunyaa.com/best-islamic-love-quotes/

 

Kategori
Hikmah mother's corner Oase Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Politik yang Bergairah

 

“Mama kamu nyoblos apa?”

“Partai V. Kalau Mama kamu?”

“Aku X. Kok gak sama ya?”

Kami ibu-ibu senyum-senyum dengar percakapan anak-anak kecil di sekolah. Anak-anak itu boleh jadi diajak bunda mereka ke bilik suara, melihat tata cara mencoblos dan terjadi diskusi tersebut. Mereka masih kecil-kecil, kadang masih nangis ngosek kalau nggak dituruti jajan. Tapi pemikiran dan diskusi anak sekarang sangat variatif.

Politik, memang selalu menimbulkan polemik. Pro kontra. Serang sana sini. Hasut sana sini. Kalau membayangkan pertarungan politik 2019, lelah rasanya. Tapi politik juga membawa kehidupan yang lebih bergairah dari waktu-waktu sebelumnya.

Masak sih?

Iyalah.

Waktu saya SMP, SMA, apalagi SD; mana pernah ayah sama ibu saya ngomong bab politik. Saya juga nggak tau pilihan politik mereka berdua. Hanya pernah dengar selentingan kalau pegawai negeri harus ada pilihan wajib. Partai saat itu hanya 3 : Golkar, PPP dan PDI. Seingat saya, waktu kecil bahkan menjelang remaja sampai kuliah; gak ada ketertarikan blas buat ngomong politik.

Sekarang beda.

Bicara politik, bahas politik, bukan hanya sekedar di ruang public atau medsos belaka. Tetapi di ruang rumah kami. Di kamar tidur. Di ruang makan, ruang tamu. Kadang-kadang melihat anak-anak saya berdebat dengan argumentasi mereka, lucu aja. Bahasa-bahasa kelas ‘tinggi’ yang dulu saya nggak nyampe, sekarang biasa diperbincangkan anak-anak kita : pemilihan, hoaks, legislative, melanggar hukum, partai politik, pemilu, posisi strategis, dsb.

Bahkan bagi anak-anak yang belum paham betul pilihan politik yang bijak dan baik itu seperti apa, sudah melontarkan pernyataan politik.

“Ummi, aku ini sudah ikut nyoblos enggak?”

“Ih, aku nggak mau milih ketua kelas kayak dia lagi. Egois banget orangnya!”

“Wah, Ummi! Di koran ada Ilhan Omar. Keren ya, dia!”

Tuh, kan. Padahal usianya belum sampai 17 tahun dan belum dapat KTP.

Saya dulu boro-boro mikir nyoblos. Mikir mana partai yang merepresentasikan suara rakyat, ogah.

Bersyukur banget dengan segala kondisi sekarang, anak-anak dapat dewasa secara alamiah. Memang sih, pasti ada hal-hal buruk yang timbul. Mana ada sih di dunia ini, segala sesuatu disantap tanpa menimbulkan dua sisi mata uang? Politik membuat kehidupan bernegara kadang terpecah belah. Tapi, politik juga membuat hidup lebih bergairah. Anak-anak SD dan SMP mulai mikir : milih ketua kelas macam apa ya, biar kegiatan di kelas bisa berjalan? Bapak ibu juga semakin aktif mengkampanyekan nilai-nilai yang mereka yakini. Ada yang bergabung di komunitas pengajian, paguyuban orangtua, komunitas seni dan segala macam. Semakin banyak berinteraksi, semakin banyak kesempatan berdialog.

Bagi saya ini positif.

Kalau dulu saya taunya sekolah, les, belajar kelompok; anak-anak saya mulai ikut ini itu demi belajar politik yang sesungguhnya.

“Di kampus, aku jadi tim media, Mi. Gak bergengsi sih posisinya. Tapi itu yang aku bisa dan aku bekerja sebaik-baiknya. Eh, karena kerjaku baik, teman-teman selalu suka. Aku sampai diperebutkan sana sini jadi tim sukses, lho.”

“Ilhan Omar dari Somalia keren ya, Mi. Udah punya anak 3, lagi.”

Ilhan Omar memang spektakuler. Perempuan asal Somalia ini pernah tinggal di pengungsian Kenya selama 4 tahun dan hidup dalam kondisi serba sulit.

Ada 2 muslimah yang duduk di kursi Kongres saat ini, satu lagi perempuan keturunan Palestina. Ilhan sendiri terpilih menjadi anggota House of Representative, mewakili distrik 5 negara bagian Minnesota.

 

Perbincangan-perbincangan sepele itu sepertinya tak punya muatan apa-apa. Tapi idola, pusat perhatian anak-anak kita, sekarang dimeriahkan dengan panggung politik. Mereka tidak lagi hanya menjadikan fenomena orang keren dari kalangan artis atau selebritas saja. Tetapi orang-orang dari kancah politik pun bisa jadi orang yang keren banget.

Politik, membawa hidup lebih bergairah!

 

 

( Ilhan Omar, Jawa Pos 7/11/2018 dan 11/11/2018)

 

Kategori
Catatan Perjalanan Dunia Islam Jurnal Harian Oase Quran kami Renungan Hidup dan Kematian Tokoh WRITING. SHARING.

Rangkuman pertemuan dengan Murteza Fikri, Saddam Hussein dan Muammar Qadafi (3 putra Saifudin Ibrahim)

Pertemuan dengan Ustadz Menachem Ali dan 3 putra Saifudin Ibrahim hari itu, sungguh merupakan hadiah berharga bagi diriku yang berulang tahun pernikahan tepat 25 Desember 2017. Apalagi hari itu fisikku sedang drop sekali, sejak Jumat sakit sehingga butuh perjuangan untuk berangkat pagi ke masjid dan ke acara Saddam Hussein cs di SD Muhammadiyah 4, Pucang Anom, Surabaya. Sampai-sampai di masjid, aku harus merunduk-runduk memegangi perut yang bolak balik kolik hingga putriku berkata, “sabar ya Mi…”

Suamiku pun sempat berkata sebelum berangkat ke acara di Mudipat (Muhammadiyah 4).

“Nggak usah aja ya? Prioritas kesehatan dulu,” ujarnya khawatir melihat kondisiku yang masih agak kepayahan.

Anehnya, entah mengapa tekadku sangat kuat. Bahkan kami berangkat jam 08.00 pagi, masih sepi dan aku harus mampir ke masjid al Falah untuk beristirahat sebentar lantaran perutku yang kolik lagi. Alhamdulillah, kami tetap bisa hadir di acara ketika bangku masih kosong, sebab ternyata acara mulai jam 09.00 pagi. Sebab ternyata, peserta membludak hingga ruangan penuh dan peserta yang tidak kebagian tempat harus rela berdiri!

Membludak!

 

Apa yang kutuliskan adalah catatan sepanjang  3 putra Saifudin Ibrahim memandu acara yang luarbiasa hari itu. Istighfar, hamdalah dan airmata tak terbendung dari mataku. Dari mata para pengunjung. Sungguh; betapa luar biasa 3 pemuda di depan kami yang tetap kokoh dalam keimanan mereka sementara sang ayah saat ini tengah berdakwah dari seberang agama yang lain.

fikri, saddam, qadafi.JPG
Muamamr Qaddafi (3), Murteza Fikri (1), Saddam Hussein (2)

Profil singkat Saifudin Ibrahim

Saifudin Ibrahim berasal dari Bima. Beliau anak ke-2 dari 9 bersaudara. Anak ke-1 perempuan, maka Saifudin Ibrahim terbiasa menjadi pemimpin keluarga. Istrinya, Nurhayati merupakan anak dari 11 bersaudara yang berasal dari Jepara. Baik orangtua Saifudin Ibrahimd an Nurhayati adalah orang-orang terpandang, sebab ayah Saifudin Ibrahim (SI) adalah peolpor Muhamamdiyah di Bima sedang ayah Nurhayati adalah pelopor Muhammadiyyah di Jepara.

SI seorang yang tangguh, pejuang sejati dan orang yang brillian.

Sejak kecil hingga dewasa, ia selalu mencari beasiswa. Ia menempuh pendidikan di Universitas Muhammadiyah Surakarta atas beasiswa PP Muhammadiyah. Si angkatan 1983, mendapat beasiswa kader dan kuliah di Ushuluddin mengambil perbandingan agama. Selanjutnya, SI bekerja sebagai salah satu guru di Mahad Zaytun. Beliau mengajar bab aqidah, tarikh dan bahasa Arab. SI adalah seorang yang sangat fasih berbahasa sehingga ia juga menjadi humas dan bertugas untuk menerima tamu-tamu dari Timur Tengah. Dalam perjalanannya, SI pernah mengIslamkan 12 orang.

 

Murtadnya SI

Tahun 2006, SI keluar dari agama Islam. Setelah ia murtad, SI kuliah lagi di bidang teologi. Ia kemudian berkeliling, utamanya tanggal 25 Desember untuk berceramah di depan jemaat sembari mengutip ayat-ayat Quran yang memang sudah sangat lekat dengan dirinya.

Apa pasal kemurtadan SI?

Ada beberapa kejadian yang terjadi dalam hidup SI, yang diduga menyebabkannya kecewa dengan orang-orang muslim dan akhirnya menyebabkannya berpindah agama

  1. SI di skors dari Zaytun karena dianggap memiliki dualisme pekerjaan. Beliau diskors 3 minggu atas tuduhan tersebut tanpa klarifikasi. Tak tanggung-tanggung beliau diskors oleh pemimpinnya yang selama ini menganggap SI sebagai tangan kanan (menurut Saddam Hussein, yang berjualan herba saat itu adalah Ummi. Jadi bukan Abi)
  2. Bersamaan dengan itu, seorang Nashrani memberikan hibah 1400 New Statemen untuk dibagi-bagikan kepada pesantren
  3. Bermimpi bertemu nabi Isa dan nabi Muhammad Saw meninggalkannya

 

Saddam Hussein kecil menjadi saksi kemurtadan sang Abi

Saddam Huseein saat itu 10 tahun dan duduk di bangku kelas 6. Si kecil Saddamlah yang pertama kali mengetahui kemurtadan Abi, tapi karena kepolosannya belum tahu harus berbuat apa.

SI melakukan perjalanan ke Jakarta, lalu ke Surabaya sebelum ke Lombok dan Bima. Yang membuat Saddam bertanya-tanya saat itu :  mengapa Abi tidak sholat?  Mengapa Abi selalu bertamu dengan teman-teman Nashrani?

Saddam kecil rupanya ingin tahu mengapa abinya tak sholat.

“Abi nggak sholat?”

“Jama qoshor,” jawab SI.

“Kok gak Shubuh?”

SI hanya diam saja.

Menurut Saddam, Abi murtad saat berada di Surabaya. Saddam mendapat instruksi dari abinya ,”Abi mau ngajari toleransi. Kalau mereka doa, kamu ikut nunduk doa.”

Saat di Surabaya, SI bertemu dengan teman-teman Nashraninya, utamanya dari the Gideons. Ia diperlihatkan video-video sementara Saddam diminta main dengan anak seorang pendeta. Meski demikian, saat Saddam mencari ayahnya, ia mendengar sang abi berdoa ,”ya Tuhan Yesus, ini adalah hambaMu…”

Hancur hati Saddam mendengarnya. Ia gemetar namun tak tahu harus berbuat apa. Sebagai anak kecil hanya dapat merasakan kesedihan yang dalam sebab SI baginya adalah sosok seorang abi yang inspiratif dan penyayang keluarga. Berkali-kali SI menekankan pada Saddam, “pokoknya nggak boleh, nggak boleh kasih tahu!” Maksudnya nggak boleh kasih tahu tentang kemurtadan SI kepada anggota keluarga.

Menurut Saddam, ummi sudah mulai curiga namun belum menemukan jawaban pasti. Mengapa status kerja SI dicabut di Zaytun? Dari Indramayu, keluarga SI pindah ke Bekasi, dibelikan rumah oleh Pdt. Eri Sapto Wedha. Saat pindah ke Bekasi 7 hari, Saddam mendapati ummi menangis sejadi-jadinya jam 22.00. Menurut pengakukan Murteza Fikri, ummi menangis selama seminggu lamanya. Namun, di dpean anak-anaknya, ummi belum menceritakan kejadian sebenarnya. Ummi hanya berujar,

“Abi mau pergi jauh. Abi mau pergi ke luar kota lama.”

Ini dilakukan ummi supaya anak-anaknya tak sedih.

Ummi memiliki sakit diabetes yang berkisar antara 300-700. Karena kuatnya semangat ummi, sekalipun memiliki diabetes 700 yang harusnya membuat seseorang terkapar, beliau tetap bangkit berdiri demi anak-anaknya. Memang, ummi sempat agnostik. Namun, menjelang wafatnya ummi berwasiat kepada ketiga putranya agar tetap dalam keIslaman.

2006-2012 anak-anak SI masih serumah dengannya. Sebab kalau tidak ikut aturan main, maka anak-anak tidak makan dan tidak sekolah. SI dibaptis dengan nama Abraham bin Moses.

 

Pertanyaan peserta dan jawaban yang mencerahkan

Ada banyak pertanyaan yang menghujani tiga putra SI : Murteza Fikri, Saddam Hussein dan Muammar Qaddafi. Pertanyaan dari kaum ibu umumnya mirip : bagaimana setelah abi murtad? Apakah masih serumah? Apakah ummi abi masih campur? Apakah mereka bercerai?

Ada pertanyaan-pertanyaan yang sangat menohok dari peserta.

  1. “Abi adalah ayah biologis dari Saddam cs. Tapi menurut Saddam, apakah ayah kalian kafir dzimmi atau kafir harbi?” tanya seorang ibu muallaf yang dulunya memiliki nama baptis Maria Christina.
  2. “Saya telah berdiskusi via whatsapp dengan Abi,” ujar ustadz Menachem Ali. “Menurut saya beliau belum memahami ajaran Nashrani dengan mendalam, sebab beliau masih memiliki kebingungan. Tampaknya, beliau hanya sakit hati dengan beberapa person dalam Islam tetapi kemudian merasa nyaman dengan keluar Islam. Di titik apa Abi terseret hingga keluar dari Islam?”
  3. “Adakah upaya untuk menarik SI kembali kepada Islam?” tegur seorang lelaki, seorang pengurus takmir masjid. “Janganlah anda merasa enjoy dengan melakukan perjalanan kesana kemari, mengisi acara, lalu melupakan kewajiban utama mengembalikan ayah anda kepada Islam.”

 Maria Christina dan ustadz Menachem Ali

 

Kafir harbi dan kafir dzimmi

Kafir harbi adalah mereka yang terang-terangan memerangi Islam sementara kafir dzimmi adalah sebaliknya. Menurut Saddam, SI adalah ayah biologis tetapi SI pindah agama. Urusan murtad adalah urusan SI. Karena beliau ikut campur dalam urusan agama lain termasuk menghina Allah Swt, Rasulullah dan Islam maka SI harus mendapatkan tindakan tegas. SI punya akun youtube ribuan followers dan ribuan likers. SI juga punya yayasan Amanat Agung yang memiliki 300 ribu pengikut aktif-pasif.

Pak herman.JPG
Pak Suherman Rosyidi menjelaskan tentang harbi-dzimmi

Secara karakteristik, SI termasuk kafir harbi. Namun sebagai negara konstitusional tentu tidak dapat diterapkan harbi-dzimmi tetapi kasus SI dapat masuk ke ranah hukum pidana. Jadi kaum muslimin pun tidak dapat main hakim sendiri untuk menentukan harbi-dzimmi, kecuali negara Islam , sementara Indonesia adalah negara konstitusional.

Sesungguhnya, tindak tanduk SI telah banyak meresahkan masyarakat. Namun, pihak kepolisian belum merespon cepat sekalipun yang melaporkan sudah banyak. KNAP (Komisi Nasional Anti Pemurtadan) pada akhirnya tidak mengontak Polri tetapi mengontak MUI yang lansung melaporkan ke Ustadz Maruf Amin. Ustadz Maruf Amin langsung membuat komisi darurat dan ditindak lanjuti oleh pak Tito Karnavian.

SI masuk dalam kategori harbi adalah karena ceramah-ceramahnya yang antara lain mencuplik ayat secara tidak lengkap, beberapa di antaranya adalah

  • Satu-satunya agama yang membolehkan membunuh hanyalah agama Islam
  • Memlintir tentang poligami
  • Tidak ada orang yang dapat menjalankan Islam secara kaffah

 

Memahami ajaran Nashrani

Menurut Saddam, SI memahami betul tentang Islam dan cukup paham ajaran kristiani. Sekalipun memang titik baliknya karena kekecewaan terhadap orang-orang tertentu dalam Islam. Salah satu yang menjadi legitimasi kekecewaan SI adalah tindakan Amrozi dan Imam Samudra.

Walau, tetap saja ada kejadian di luar nalar yang menyebabkan seseorang murtad.

Menurut Saddam, orang murtad karena tiga hal :

  1. Murtad karena harta
  2. Murtad karena nikah
  3. Murtad karena mimpi

SI mengalami nomer 3.

 

Ada perkataan Saddam yang menurutku sangat menohok.

Sesungguhnya di dunia ini, kaum muslimin menyaksikan beberapa jenis korban kemanusiaan. Korban-korban kemanusiaan ini haruslah ditangisi dengan kesedihan mendalam dan segera mendapatkan bantuan.

  1. Korban bencana dan korban perang. Suriah, Palestina, Rohingya. Korban yang syahid telah mencapai 700 ribu dan terus berjalan. Namun pada hakekatnya, korban-korban ini husnul khatimah dan syahid , serta insyaallah masuk ke dalam JannahNya. Kaum muslimin menangisi kondisi saudara-saudaranya yang seperti ini, medoakan dan segera memberikan bantuan
  2. Korban pemurtadan yang sesungguhnya jauh lebih mengenaskan sebab kaum muslimin tidak ada yang menangisi walau akhir hidup korban-korban ini jauh berbeda dari korban yang pertama.

 

Pemurtadan terhadap kaum muslimin dilakukan atas beberapa alasan, antara lain :

  • Kaum muslimin yang miskin, lebih banyak dari yang mapan
  • Kaum muslimin yang awam, lebih banyak dari yang paham

 

Upaya menarik SI kembali pada Islam

Kali ini yang berbicara adalah Muammar Qaddafi.

Masyaallah, sungguh beruntung ummi Nurhayati memiliki 3 pendekar ksatria yang insyaalah sangat dibanggakan kaum muslimin. Mereka masih muda, berani dan juga cerdas.

 

Muammar.JPG
Muammar yang bijak dan berani

“Kami tidak merasa enjoy dengan melakukan hal seperti ini (berdiri di stage dan ceramah). Tetapi kami harus berkeliling, sebab kami bertanggung jawab terhadap jutaan ummat di luar sana yang terpengaruh oleh upaya abi.”

Tentang upaya mengembalikan SI kepada Islam sudah diupayakan anak-anaknya. Meski keahlian agama 3 putranya jauh berada di bawah SI, namun bukan berarti 3 putranya tidak berupaya berdiskusi. Hasilnya adalah kemarahan SI. Saat ini Saddam Hussein lulus dari teknik elektro UMS dan berniat mencari beasiswa yang berbeda dari jurusan sebelumnya, ia ingin mengambil studi perbandingan agama. Sementara Muamamr Qaddafi masih duduk di jurusan komunikasi.

Saddam Hussein menambahkan bahwa tidak ada upaya maksimal dalam mengajak SI kembali pada Islam kecuali mereka telah dipanggil Allah Swt. Bila berkata upaya telah maksimal, maka dapat dikatakan mereka telah menyerah. Pada akhirnya, seluruh hadirin di majelis itu mendoakan agar kiranya Allah Swt berkenan mengembalikan SI ke dalam pangkuan Islam kembali.

Sungguh, hidayah adalah harta yang sangat mahal.

Hidayah merupakan anugerah Allah Swt namun sebagai manusia harus terus berupaya mencari dan mempertahankannya.

 

Kita selayaknya saling mendoakan dan mendukung satu sama lain agar senantiasa berada dalam lindungan dan tuntunan Allah Swt, aamiin yaa Robbal ‘alamin.

Kategori
mother's corner My family Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY WRITING. SHARING.

Anak Kreatif = Anak Pintar? Tunggu Dulu

 

 

Pernah dengar anak cerdas?

Pastilah pernah.

Anak ini biasanya identik dengan sejumlah kemampuan, utamanya kemampuan akademis dan lebih spesifik lagi kemampuan logis matematis.  Biasanya, orangtua senang sekali punya anak seperti ini. Diajari apa-apa gampang. Diajari pelajaran sekolah langsung paham. Entah apa sejarah yang membentuk pola pemikiran orangtua, sehingga bahasa simbolik seperti matematika lebih dianggap berkelas daripada bahasa simbolik huruf lainnya.

Ingat, matematika itu sebetulnya seni berbahasa. Hanya saja pakai simbol angka.

Sementara bahasa yang menggunakan kata, frase, kalimat hingga menyusun sebuah pola itu juga bentuk bahasa dalam sisi lain. Makanya jangan remehkan ahli hukum yang mampu memutar balikkan fakta atau mampu menemukan celah bahasa secara jeli. Jangan pula remehkan para seniman yang mengolah tubuh membentuk tarian, mengolah warna menjadi lukisan, mengolah kata menjadi novel. Itu juga sebuah keahlian rumit terkait ‘bahasa’.

Anak pintar atau anak cerdas, seringkali membuat orangtua bangga.

Sebab anak jenis ini senang sekali dengan pengakuan dan prestasi. Apakah ini buruk? Tidak juga. Anak-anak harus belajar berkompetisi agar ia tahu apa yang dinamakan perjuangan dalam hidup. Tempo hari, ketika di rumah kedatangan tamu dari China bernama Wendy dan Fan, saya menanyakan apa konsep pendidikan dari orangtua kepada anak.

Wendy, Fan, Sinta
Fan, Wendy, bersama Sinta dan PELITA

Wendy berujar bahwa orangtua biasanya mengatakan hal demikian kepada anaknya : kalau kamu nggak mau kerja keras, ada orang-orang di luar sana akan bekerja lebih keras dan meraih apa yang tidka bisa kamu capai.

Tentang kompetisi dan prestasi ini, baiklah, kita bahas di waktu lain apa pentingnya.

Tetapi, samakah anak cerdas-pintar dengan anak kreatif?

 

Ciri Anak Kreatif

Seringkali, orangtua angkat tangan ketika memiliki anak kreatif.

Rasanya males banget dah punya anak kreatif! Capeee.

Sebab anak kreatif berbeda dengan anak pintar dan cerdas lainnya. Boleh jadi, anak kreatif ini termasuk cerdas. Tapi tidak semua anak cerdas itu kreatif. Walau, jangan samaratakan anak kreatif dengan anak cerdas ya. Anak kreatif dengan IQ biasa-biasa saja ada. Sebab kreatifitas itu bisa diasah, ditumbuhkan, dibina dari lingkungan. Utamanya orangtua.

Anak Cerdas

  1. Mengingat jawaban
  2. Tertarik dengan ilmu
  3. Penuh perhatian pada tugas
  4. Kerja keras untuk berprestasi
  5. Merespon sesuatu dengan perhatian dan pendapat
  6. Belajar dengan mudah
  7. Butuh hingga 6-8 kali untuk menguasai sesuatu
  8. Memahami secara komprehensif

Anak kreatif

  1. Melihat perkecualian
  2. Terpukau dengan ilmu
  3. Mengantuk, mengabaikan tugas
  4. Bermain-main dengan ide dan konsep
  5. Berbagi opini yang aneh ajaib, bahkan penuh konflik
  6. Bertanya : bagaimana jika
  7. Pertanyaan : mengapa harus menguasai materi
  8. Kebanjiran ide, seringkali tidak dikembangkan

Pizza inayah.JPG
Pizza buatan anakku

Ada perbedaan mencolok antara anak pintar dan anak kreatif.

Anak pintar ingin menguasai segala. Ingin berprestasi. Tapi cenderung melahap apa saja yang diajarkan orang. Kalau di film India 3 Idiots, sosok cerdas diwakili Chatur Ramalingam sementara sosok kreatif adalah Rancho. Ibaratnya, anak cerdas diajari matematika, nyantol. Diajari fisika kimia, hayuk. Diajari biologi, bisa. Diajari geografi, sejarah, ekonomi ; oke.

Anak kreatif?

“Kok harus belajar ini?”

“Kalau aku mbolos emang kenapa?”

“Misal nih…misal aku nyontek dan nggak ketahuan, sebenarnya kenapa sih?”

“Aku mau jadi ilmuwan. Pengusaha. Pemimpin. Pencetak uang. Penari dan olahragawan. Komikus. Penulis. Fotografer.”

“Aku pingin jadi da’i dan ustadz. Tapi yang pintar main band sembari main music rock. Boleh gak?”

Gambar Ayyasy
Salah satu gambar anakku

Anak kreatif itu ajiiiiib bener.

Guru dan orangtua harus punya waktu untuk meladeni pertanyaan alien nya yang kadang-kadang buat gondok. Ia akan merespon why dibanding yes. Akan merepon what if dibanding okay.

Ciri khas dari anak kreatif adalah : mereka overflows with ideas alias kebanjiran ide namun sering tidak cukup waktu, tenaga (plus perhatian) untuk merealisasikan. Ini kekurangan anak kreatif yang harus diantisipasi sejak awal.

 

‘Meredam’ Anak Kreatif

Sekedar sharing.

Saya punya anak kreatif.

Ide-idenya busyet banget dah. Kreasinya keren habis. Anak kreatif model ini digandrungi teman-teman, kakak kelas, adik kelas. Dia favorit teman-temannya. Adik-adik kelas yang suka sama hasil karyanya, banyak deh. Namun, dia musuh guru-gurunya dan orangtua yang cerewet seperti saya. Hehehe…

Sebab, anak ini akan berpikir sesuai gaya berpikir dia.

“Kok aku nggak boleh bolos dari pelajaran itu? Aku bosan banget sama gurunya.”

“Kenapa aku harus mendengarkan pelajaran dari seorang guru yang gak pintar menerangkan?”

“Kenapa aku harus repot-repot belajar, sementara aku mau berkreasi?”

Anak macam ini, ketika telah mampu berpikir logis maka harus dibantu untuk membangun peta kognitif yang sehat agar pemahamannya tentang kehidupan sejalan dengan realitas.

‘Meredam’ kreatifitasnya bukan berarti mematikan daya kreasinya. Namun agar ia dapat lebih fokus mewujudkan apa yang diimpikan.

Anak kreatifku, ingin sekali menjadi pengusaha kelas kakap yang berpenghasilan ratusan juta dan mempekerjakan ribuan orang. Ketika kutanya mau jadi pengusaha apa, dia masih berpikir.

“Pengusaha hewan,” cetusnya.

“Baik,” kataku.

Nyatanya burung hantu, kucing, kelinci, ikan-ikan yang akan jadi proyek jualannya mati.

Ganti haluan.

“Mau buat patung dan kerajinan kertas,” katanya lagi.

Ia rendam kertas-kertas koran, jadi patung unik dan tertumpuklah di ruang tengah hingga teras berember-ember serbuk koran yang akhirnya mengeras seperti batu.

Di akhir masa SMA, aku bertanya.

“Kamu mau masuk kuliah mana, Mas?”

Ia menyebutkan kampus favorit teknik.

“Itu harus kuat matematika,” kataku.

“Lho, jurusanku gambar? Kenapa harus matematika?”

“Itu prasyaratnya.”

“Kok gitu? Aku malas belajar matematika!”

Butuh berulan-bulan bagiku meluruskan kognitifnya : malas dan tidak bisa itu beda. Tidak bia berarti dari sononya tidak memiliki kekuatan berpikir di bidang matematika. Malas, adalah punya kemampuan tapi enggan.

Bulan-bulan terakhir menjelang SBMPTN, ia masih berkutat pada pendapatnya : tidak-mau-belajar- matematika.

Aku yakin ia bisa, sebab kemampuan IQnya telah terdeskripsi. Namun ciri kreatifnya yang overflows with ideas dan what if-what if-what if benar-benar membuatku pusing tujuh keliling. Pada akhirnya, aku mendorongnya untuk ikut try out sana sini sembari bertanya pada kakak pengajarnya di bimbingan belajar. Barulah ia sadar sesadar-sadarnya : dibutuhkan kemampuan dasar matematika tingkat tertentu untuk masuk ke fakultas teknik universitas favoritnya.

3 bulan.

3 bulan tersisa menjelang SBMPTN.

Ia nyaris putus asa tapi masih dengan gaya what if nya : ah, kan banyak anak yang mendapatkan keajaiban? Kakak kelasku ada kok yang diterima meski gak pintar-pintar amat.

 

Kreativitas VS Realitas

Tak ada cara lain selain membenturkannya dengan realitas.

Kubeberkan bahwa kampusnya adalah universitas favorit terkemuka di Indonesia, saingannya banyak. Waktu 3 bulan tidaklah cukup untuk mengejar matematika yang diremehkannya.

“Jadi Ummi mendoakan aku nggak lulus, begitu?!”

Ia mulai menebar conflicting opinions, ciri  lain anak kreatif.

Aku mengajaknya duduk dan diskusi .

Hampir setiap hari.

Nyaris  @1 jam kuhabiskan untuk diskusi dengannya, di dalam kamar berdua.

“3 bulan itu kamu bisa menguasai matematika Nak, kalau kamu belajar 5 jam sehari. Malam pun demikian. 3 bulan bukan waktu yang mustahil buat Allah. Maka malam hari selain kamu harus belajar matematika kamu harus sholat malam. Kalau bisa 11 rakaat. Bukan cuma 2 + 3 saja.”

Ia akhirnya menurut.

Tapi ada realitas lain yang harus aku sadarkan.

“Mas, kamu baru berusaha mati-matian 3 bulan terakhir ini. Andaikan kamu gak diterima, kamu mau masuk universitas mana saja dengan fakultas yang lain; atau kamu mau tetap disitu tapi ngulang?”

“Masa’ aku nggak diterima? Aku sudah rajin sholat malam lho…”

Conflicting opinionnya masih belum sembuh!

“Gak ada yang mustahil bagi Allah.  Tapi banyak orang pintar tertunda keberuntungannya. Kamu mungkin salah satunya. 1 tahun kamu bisa pakai buat les bahasa atau kursus yang lain yang kamu suka,” hiburku. Mulai menekankan bahwa ia mungkin saja gagal tahun ini.

Pffuhhhh.

Alhamdulillah, ketika pada akhirnya  tahun itu ia diterima di fakultas favorit universitas favorit yang diimpikannya, tanpa mengulang.

Tapi begitulah perjuangan orangtua menghadapi anak kreatif yang sering kali membayangkan dunia adalah hasil kreasinya sendiri. Prasyarat, syarat, ketentuan, peraturan…gak penting sama sekali!

Bagiku, sayang sekali bila kreativitas anak kita tidak difokuskan pada  hal-hal tertentu. Dan kadang, dibutuhkan energi ekstra untuk mamahamkan anak kreatif, di titik tertentu, bila mereka ingin mewujudkan kreasinya maka mereka harus belajar berhadapan dengan realitas. Sebab mewujudkan kreasi butuh perjuangan besar. Bukan hanya sekedar angan-angan dan ide-ide canggih namun tak bisa dikembangkan.

Rangkuman penting:

Bantu anak kreatif membangun peta kognitif yang realistis plus fasilitasi kreasinya sebelum membenturkannya dengan kondisi di lapangan.

 

Kategori
Catatan Jumat Hikmah Oase Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Rahasia Perempuan

Istri, Bicaralah!

 

Tersedu. Menangis. Gemetar.

Ada banyak perempuan yang mengeluhkan diri mereka mengalami depresi hebat, psikosomatis berkepanjangan hingga harus masuk rumah sakit berkali-kali. Psikis mereka demikian sakit hingga menjalar ke sendi-sendi, ke kerja otak, ke maag hingga kadang tremor tak wajar. Ada apakah dengan para istri shalihah yang seharusnya dapat mengarungi hidup ini dengan bahagia?

talking to husband.jpg
Omongan penting apa gak penting?

Omongan Nggak Penting

Perempuan itu banyak bicara.

Kadang hal gak penting pun diutarakan.

“Aku gemuk nggak, Mas?” tanyaku pada suami.

“Nggak,” jawabnya.

“Aku kuruskah?” tanyaku lagi.

“Nggak.”

“Lhooo…jadi aku kurus apa gemuk???”

Ia garuk-garuk kepala.

Kali lain, aku bertanya.

“Cantik Raisa apa Isyana?”

Suamiku mikir, kayaknya gak mau terjebak pada kesalahan bab kurus-gemuk.

“Mas suka Dian Sastro. Pintar sih.”

“Mas gituuuuu yaaa, ternyata selama ini nyimpan perasaan sama artis!”

Kadang, suamiku tertawa dan bilang : “ya ampun, Mi, gak penting banget ditanyain!”

Aku menjelaskan dengan gaya profesional.

“Perempuan itu ya Mas, butuh diyakinkan berkali-kali. Setiap hari. Kalau ia paling cantik sedunia, paling dicintai suaminya. Walau aku tahu gak secantik Raisa, Isyana, Dian Sastro; maunya dengar Mas ngegombal dan bilang aku paling cantik.”

“Bohong kalau gitu, dong?” seloroh suamiku.

Aku cemberut masam.

Itulah sekelumit omongan gak penting bagi laki-laki.

Laki-laki lebih suka membahas transfer Neymar seharga 3,5 T atau kuda hitam di Premiere League. Tata kelola batubara dan pertambangan. Angin politik serta pilkada. Sistem perpajakan dan kebijakan pemerintah. Hal-hal global, besar, fantastik, spektakuler.

Apa yang dibahas tentang Donal Trump?

Laki-laki : perselisihan dengan Vladimir Putin

Perempuan : gaya busana Melania Trump.

Apa yang dibahas tentang sepakbola?

Laki-laki : Real Madrid masih haus gelar juara, kata Zinedine Zidane

Perempuan : WAG mana yang cantik?  Cathy Hummels istri Mats Hummels, atau Andrea Duro –Javier “Chicarito” Hernandez?

Omongan tak penting perempuan ini, sebetulnya bukan menunjukkan kualitas dirinya tak setara laki-laki namun karena ia ingin lebih banyak didengar oleh kubu maskulin- dominan yang menjadi pemimpin puncak dalam hirarki kehidupan. Apabila seorang penguasa tertinggi tak mau mendangar keluh kesah rakyat terkecilnya, pasti rakyat itu akan gelisah , bukan?

Coba dengar apa saja yang dikeluhkan rakyat kecil pada penguasa tertinggi.

Penggembala dan petani mengeluhkan perkara tak penting antara sepetak kebun dan kambing-kambing yang masuk ke pagar, kepada Nabi-Raja Daud as. Raja Daud punya urusan lebih luas ketimbang sepetak tanah, tapi sebagai penguasa ia harus mendengarkan agar kebijakan tertegak.

Presiden Abraham Lincoln, dikenal reputasinya sebagai presiden kebanggaan Amerika – 1. Lincoln, 2. Washington, 3. Roosevelt- ; karena memperhatikan perkara-perkara kecil dari rakyatnya. Ia mendengarkan jeritan hati seorang serdadu yang tertidur malam karena kelelahan di pos jaga pada peperangan Utara-Selatan dan tengah menunggu hukuman mati. Ia mendengar 24 serdadu melakukan kesalahan militer, milisi yang mungkin tidak bersiap maju ke medan perang, dan akhirnya Lincoln memaafkan. Suara 1 orang, 24 orang; dapat saja diabaikan di antara belasan ribu tentara yang juga menyita banyak pikiran. Namun, Lincoln dikenal senang mendengar dan melayani harapan rakyatnya.

Hal sepele bagi Raja Daud dan presiden Lincoln, tapi tidak sepele bagi rakyat kecilnya.

talking to husband 2.jpg
Mencoba bicara & taklukan takut

Taklukan Takut

“Aku pingin mini cooper,” ujarku suatu saat.

“Iya deh, amiin,” kata suamiku.

“Kok Ummi suka mini cooper?” tanya anak-anak.

“Suka sama warnanya yang ngejreng sama bentuk lampunya.”

Ya ampun!

Kata mereka, kalau gitu cari mobil kecil aja lalu di cat oranye atau kuning cerah.

Aku tahu harga mobil mini cooper. Aku tau, suamiku juga tak akan repot-repot cari duit buat beli mobil ala Italian Job itu. Bagi kami, ada sepeda motor dan mobil kantor yang sederhana; cukuplah untuk kendaraan.Tak usah terlalu pusing-pusing memikirkan beli mobil baru walau andai diberikan rezeqi Allah Swt, itu takdir lain.

Suatu saat ada mobil melintas.

“Waaah, ada Tsubaru!” seru anak-anakku.

“Keren ya?” kataku.

Kali lain ada mobil melintas di depan mata, “Mas, ada Lamborghini tuh!”

“He-eh,” kata suamiku.

“Warnanya kuning cantik ya?” kataku.

“Iya.”

“Ummi nanti kalau punya mobil sendiri mau yang warnanya pink, orange atau ungu,” kataku pada anak-anak.

“Wah, gak usah jemput ke sekolah ya Mi, kalau mobilnya warna norak kayak gitu,” kata si kecil.

Kami tertawa.

Itu percakapan yang biasa.

Bagiku.

Tapi tidak bagi sebagian orang.

Seorang ibu cantik berkeluh kesah ia beberapa kali terpikir bunuh diri. Padahal kondisi ekonominya mapan dan ia memiliki suami penyayang, anak-anak tampan. Lama ketika kami berbicara, ia berujar.

“Aku ingin kerja lagi, seperti dulu ketika mahasiswa. Aku adalah aktivis. Ingin punya mobil. Capek angkut anak-anak kesana kemari naik motor.”

Tubuhnya memang kecil mungil.

“Sudah pernah cerita ke suami dek, tentang harapanmu?”

Ia berujar sendu , “nggak berani Mbak. Aku takut. Aku takut dikira minta ini itu dan masuk dalam kategori nggak  bersyukur.”

Ia tak pernah bercerita pada suami apa keinginannya. Apa harapannya. Apa cita-citanya. Yang ada hanya rasa takut. Takut dosa, takut dimarahi, takut dianggap perempuan tak shalihah. Padahal, menceritakan apa keinginan kita bukan berarti sebuah tuntutan. Hanya sebuah ekspresi. Sekedar bilang bahwa ia ingin punya mobil, itupun tak berani. Padahal belum tentu juga yang namanya ‘ingin’ berarti harus beli hari itu juga!

Kisah yang lain, juga dialami ibu muda yang mengalami depresi hingga berkali-kali mencoba bunuh diri.

“Suamiku nggak seperti yang aku bayangkan dulu. Dia nggak pernah mau mendengar aku. Dia memaksa aku begini begitu.”

“Kamu sudah ngomong ke suami apa yang menjadi pikiranmu, Dek?”

“Suamiku nggak bisa diajak ngomong, Mbak!”

Saya terdiam.

Nggak bisa diajak ngomong, apa nggak pernah diajak omong?

Mengajak bicara suami, harus diupayakan meski hasilnya belum tentu sesuai rencana. Tapi keberanian, mengalahkan takut, mencoba terbuka, memancing percakapan : must be!

Sebagaimana aku sering berkata pada suami.

“Jalan-jalan yuuuuk,” ajakku.

“Ayo!” kata suamiku. “Akhir pekan ini ya?”

“Oke.”

Meski aku dan suami tahu, akhir pekan ternyata banyak sekali agenda yang menyebabkan batalnya keinginan kami jalan-jalan berdua. Namun keinginan itu sudah terucap, dan kami mencoba saling memahami harapan satu sama lain.

Menaklukan rasa takut dari dalam diri sendiri adalah langkah penting.

Takut dimarahi.

Takut dicap tak shalihah.

Takut dianggap tak bersyukur.

Takut suami beranggapan kita terlalu banyak menuntut.

Padahal, takut berbicara adalah hambatan komunikasi terbesar. Belum tentu juga suami kita seburuk apa yang ada di pikiran. Siapa tahu, ia terlihat keras, tak peduli, kaku, tak mau tahu adalah akibat istri tak mengungkapkan dengan jelas maksud hati. Setelah istri memberanikan diri berbicara, tentu dengan komunikasi jelas dan pesan yang tertangkap sama frekuensinya  di kedua belah pihak; bukan mustahil suami justru berbalik 180 derajat.

Seorang perempuan merasa resah ketika suaminya dekat dengan perempuan, kawan lamanya.

“Sudah bilang ke suami, Mbak?”

“Aduh, kan aku nggak enak. Masa sudah dewasa harus dikasih tahu.”

“Lho, barangkali suami nggak tahu kalau Mbak cemburu.”

Diapun memberanikan diri, memupus rasa takutnya menegur suami.

Awalnya sang suami sempat tak menggubris dan bilang ,” ini cuma teman lama, Mi. Dan orang-orang biasa kok ngobrol beginian.”

Rasa takut sudah hilang, komunikasi sudah terjalin, tapi frekuensi belum sama.

Istri merasa itu bibit-bibit menuju perselingkuhan, suami merasa biasa saja. Maka istri tersebut lambat laun mencoba meyakinkan suami bahwa boleh jadi si suami tidak merasa apa-apa, namun rasa perempuan-teman-lama tersebut yang berkembang menjadi cinta. Alhamdulillah, keberanian si istri untuk berbicara secara terus terang, menyelamatkan pernikahan.

 

Humoris

Suamiku, kadang-kadang  membawa pekerjaan kantor ke rumah. Hal itu menyebabkannya harus menekuri gawai dan berinteraksi dengan teman-temannya di kantor untuk koordinasi. Padahal, menurutku waktu dengan anak-anak sudah sangat sedikit. Sementara di era sekarang, batas antara kantor dan rumah sedemikian tipisnya. Orang bisa membawa pekerjaan kantor ke rumah, dan membawa urusan rumah ke kantor. Bukankah para orangtua masih terus memantau perkembangan anak dan rumah sembari mereka bekerja di kantor?

Melihat suami membawa gawai, hatiku risau. Tapi ekspresi serius dan tegangnya, juga tak dapat diabaikan.

Aku lalu duduk di depannya, bertopang dagu. Mengamatinya sampai ia merasa risih.

“Kenapa, sih? Jadi nggak enak,” katanya.

“Enak ya jadi handphone. Dielus-elus. Diajak ngomong.”

“Ini lagi rapat, Miii.”

Kubiarkan ia menyeleaikan urusan dan mengamati ekspresinya hingga terlihat raut lega. Berarti, acara rapat-rapatnya sudah selesai, pikirku.

“Emmm….Mas kalau dibayar jadi pembicara berapa sih?”

“Kenapa emangnya?” dia balik bertanya.

“Aku pernah lihat Mas ceramah, asyik banget. Banyak ilmunya. Banyak referensinya. Pasti bayarannya mahal ya manggil Mas.”

Dia tertawa ,”emang apaan sih?”

“Kalau aku sama anak-anak mau minta taujih, kira-kira bayar berapa yaaaaa??”

Suamipun tertawa dan meletakkan gawainya.

Ada banyak kejadian mendongkolkan di rumah.

Termasuk dalam hubungan suami istri. Tapi kalau semua dibawa serius, tegang, konfrontasi; apa jadinya? Humor membuat situasi mencair. Rasa takut menghilang dan percakapan jadi lebih mengalir.

talking to husband 3.jpg
Suamiku, pahlawanku

Ayo, para istri shalihah!

Ajak suami bicara.

Mereka bukan monster yang menyeramkan.

Benar kan, Bapak-bapak?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kategori
Jurnal Harian mother's corner My family Oase WRITING. SHARING.

Hari –hari Pertama Berpisah dari Anak : masuk sekolah, mondok di pesantren, berpisah kota karena kuliah

 

Awal si sulung kuliah di kota lain, rasanyaaaa!

Anak cewek, belum terlalu mandiri, punya sakit maag. Melihat kos-kosannya yang minim fasilitas, mau nangis aja rasanya. Saya dulu pernah kos di Jakarta, pergi sendiri bareng teman-teman. Mengalami pahit getir jauh dari orangtua. Pernah nangis juga karena sakit, nggak punya uang, berentem sama teman…hehehe, romansa anak kos-lah. Tapi ketika yang mengalami anak sendiri, kok beda rasanya.

Kos anakku lumayan murah. Aksesnya juga mudah.

Tapi belum ada kasur (ya iyalah). Kulkas, kompor gas, mesin cuci, dispenser; gak tersedia. Aku bayangkan anakku sakit maag yang butuh minuman hangat; pasti sulit sekali buat dia untuk sekedar buat teh panas. Dia cewek tangguh, tapi sekalinya sakit karena datang bulan atau demam flu, bisa buat kelabakan ayah ibunya.

Yah, gimana lagi?

Dia pingin sekali kuliah di bidang sosial. Waktu mau masuk Geografi, ayahnya bilang : Jangan! Musliimah gak cocok disana. Kerja lapangannya di gua-gua berair. Gimana nanti pakai jilbab dan menelusuri daerah seperti itu? Bla-bla-bla. Okelah. Aku manut. Kukatakan pada putriku, jangan masuk kuliah yang kerja lapangannya dan kerja betulannya kelak; berbahaya bagi fisiknya. Maka ia memilih psikologi dan diterima di UGM. Alhamdulillah…kami bersyukur sebab ia diterima di fakultas yang diinginkannya.

Ayah yang belum bisa melepas anak lelakinya foto 1, foto 2

Maunya, Full Fasilitas!

Si bungsu Nis, saat kecil ruarrrr biasa lincah.

Hoby nyanyi, gambar, naik-naik pohon. Pindah ke Surabaya, mengalami gegar budaya dan gegar sekolah. Mau sih masuk sekolah, tapi sakarepe dhewe. Awal aku meninggalkan dia sekolah di TK, rasanya sedih dan gimanaaa gitu. Dia dibiarkan main sendiri di luar, main pasir sendiri dan naik-naik apapun yang dia suka. Sementara teman-temannya main di sentra keilmuan dan berbaris rapi. Sempat berpikir, mengapa bu guru nggak peduli sama Nis?

Tapi setelah kukonsultasikan, Nis memang sengaja dibiarkan pagi hari menghabiskan energi di luar agar ketika masuk kelas sudah dengan kapastias energi yang tidak overloaded lagi. Ah, si kecil yang masih kutimang-timang, kugendong, kuciumi; sekarang sudah harus masuk sekolah dan menghadapi guru-guru serta teman-teman yang mungkin sebagian menjadi sahabatnya. Sebagian menjadi rivalnya. Sebagian menjadi musuhnya.

Hari-hari pertama anakku sekolah di sekolah negeri….rasanyaaaa!

Aku khwatir ia terjebak narkoba, pornografi, pergaulan bebas, tawuran, bolos, keluyurankemana-mana. Maklum, bertahuan-tahun sekolah Islam yang lumayan ketat pengawasannya dengan kurikulum agama terpadu sejak pagi hingga pulang . Nanti gimana kalau tiba-tiba aku diberi laporan yang tidak-tidak terkait anakku? Bagaimana bila ia nggak bisa menolak ajakan buruk temannya? Bagaimana kalau ia difitnah, diperangkap , dikucilkan dan lain-lain?

Ahya.

Inilah realita dunia yang cepat atau lambat harus dihadapi anak-anak.

Dunia bukan hanya lapangan seluas rumah kita, dengan perlindungan dan kasih sayang di setiap ujungnya. Ada penghangat, ada pendingin, ada tempat bertelekan empuk dan segala fasilitas yang mudah diminta. Mereka harus tahu bahwa dunia sesekali keras, kejam, diluar batas, dan mengejutkan.

ibu dan putrinya.jpg
Sedih & bahagia!

Si sulung mulai terbiasa minim fasilitas, mengatur keuangan dan mengatur pola kehidupannya. Sekali ia pernah  masuk rumah sakit karena demam berdarah dan harus mondok di RS PKU di daerah Gamping Sleman. Ia juga bilang kadang-kadang kalau uang menipis, harus berhemat uang.

“Untung Yogya murah-murah, Mi. Nyari warung yang makannya 4000 rupiah masih ada. Nyari laundry yang baru sebulan kemudian diambil dan dibayar, ada. Nyari burjo, yang jual kacang ijo dan mie rebus dengan harga murah, ada. Sampai nyari fotokopi dan internet buat ngeprint murah meriah ada.”

Termasuk nyari wifi ngratis. Dimana mahasiswa cuma beli es teh tapi ngendon jam-jaman buat download jurnal serta you tube-an. Hahahah.

Anakku yang sekolah di negeri juga mulai terbiasa. Ada banyak kisah mengharukan, menggemaskan, dan membuat rasa campur aduk.

Ghasab salah satunya.

“Ummi kan tahu,” kenang si sulung. “Waktu di sekolah dulu, kita diajarkan untuk izin pada orang lain kalau mau pinjam barang. Kalau nggak ghasab namanya. Nah, aku pernah bilang ke guru kalau pensil sama penggarisku hilang, seringkali diambil teman tanpa izin. Ketika kau lapor malah ditegur – kamu kok pelit banget?”

Hah?

Ketika anak kita belajar di sekolah  Islam, iman dan akhlaq menjadi tolok ukur utama : sholat, meminta izin, hormat pada guru, tidak mengambil barang orang lain. Di sekolah negeri yang basis keIslamannya tak terlalu kuat; hal-hal tersebut seringkali diabaikan.

Pernah, anakku mengingatkan temannya untuk sholat Jumat karena di sekolah Islam, saling mengiangatkan adalah hal biasa. Juga teman-teman bersikap positif ketika diingatkan. Maklum, sudah menjadi kebiasaan sekolah Islam untuk watawa shoubil haq, watawa shoubis shabr.

“Cerewet kamu! Banyak bacot!”

Tapi itu yang diterima anakku, dari teman-temannya.

Melihat itu, anak-anakku mulai belajar. Bahwa berada di likungkungan Islami dan sekolah negeri, ada gaya pendekatan berbeda ketika menyampaikan pesan.

 

1001 strategi orangtua

Berpisah dari orangtua pasti banyak pengalaman baru.  Banyak masalah unik yang muncul, yang tadinya tidak terpikirkan. Orangtua pasti harus berpikir keras untuk menyelesaikan masalah yang ada, tanpa menimbulkan masalah baru.

 

sick girl
Rawat inap di RS

  1. Kesehatan. Masing-masing anak kita punya identitas kesehatan berbeda. Ketika si sulung yang punya maag berpisah dari kami, aku belikan termos kecil yang bisa dibawanya kemana-mana dan dapat diisi air panas. Sewaktu-waktu maagnya kumat, ia bisa meneguk air hangat. Awal –awal kuliah; aku mengirimkan makanan kering sebagai stok seperti susu, milo, coklat, energen dan sejenisnya termasuk kue-kue kecil. Ketika ia sudah mulai mengenal lingkungan sekitar; ia bisa menyiapkan makanan sendiri.

 

  1. Relasi dengan orang di sekeliling anak. Guru-guru, teman-teman sekolah, orangtua teman, teman satu kos; haruslah dikenali orangtua. Walaupun tidak dapat menjalin relasi akrab dengan semua pihak; setidaknya jalin hubungan dekat dengan beberapa orang. Aku punya nomer kontak guru sekolah dan teman kos anakku.

Kadang ketika tidak bisa dihubungi aku bertanya :

“Ustadzah, anak saya dimana ya?”

“Mbak Shalihah, si sulung kok nggak bisa dihubungi dari kemarin ya?”

Dengan punya kontak mereka, kita dapat segera mengevaluasi bila sewaktu-waktu terjadi hal-hal diluar kendali. Sakit misalnya.

 

  1. Selain telepon seluler, telepon rumah, media sosial dapat menjadi sarana komunikasi. Instagram, line, whatsapp, facebook dapat menjadi sarana orangtua melacak jejak anaknya.

Aku pernah curiga dengan anak cowokku : kemana dia? Benarkah dia kuliah?

Maka aku cek instagramnya dan alhamdulillah…ia tengah mengerjakan tugas bersama teman-temannya. Sedang cek lokasi lapangan.

teens-are-hiding-their-real-lives-from-nosey-parents-with-fake-instagram-accounts.jpg
Memantau anak  di IG, FB

Saling berteman dengan anak kita di facebook, line dan instagram bisa jadi sarana positif dan negatif. Hahaha

Anakkua pernah ngeshare sebuah meme :

“Akhir dunia! Ibuku punya instagram!”

Aku tertawa, “jadi kamu ngerasa Ummi mata-matai ya lewat instagram?”

Anakku cuma meringis. Mungkin ia merasa dimata-matai tapi bukan itu saja perilaku yang kutunjukkan sebagai ibu yang memang melakukan pengawasan pada anak. Anakku suka menggambar, memposting gambar, membuat grafis berdasar wajah teman-temannya.

“Wah, pas ultah temanmu kamu buat grafis gambarnya sebagia hadiah ultang tahun ya? Ummi dibuatkan yang kayak gitu, dong.”

Media sosial bisa menjadi sarana kedekatan kita dengan anak-anak.

 

  1. Teman satu kos. Kakak tingkat, teman satu angkatan, teman satu daerah adalah orang-orang penting di sekeliling anak kita. Sebagai orangtua , menyimpan nomer HP mereka sangat penting untuk sarana berdiskusi berbagai masalah yang mungkin timbul. Tidak mustahil, anak kita yang masih dalam proses adaptasi dengan lingkungan sekitar justru menjadi trouble maker atau pemicu masalah. Dengan mendekati pihak-pihak yang dekat dengan anak-anak dan menjelaskan duduk persoalan; orangtua dapat membantu . Tentu bukan mengambil alih tanggung jawab ya.

Misal, si sulung suka sekali berkunjung ke rumah neneknya yang juga ada di Yogya. Kalau lagi betah di rumah neneknya, ia bisa berhari-hari disana dan tidak kembali ke tempat kos. Tentu teman-temannya panik. Apalagi si sulung ini orang yang malas mengontak terlebih dahulu. Maka, aku jelaskan pada kakak pengampu kos bahwa ia ada di rumah neneknya dan pintu rumah kontrakan bisa dikunci ketika jam malam tiba.

Sembari tentu mengingatkan si sulung : “kamu itu mbok ya jangan malas mengontak orang. Ingat, keselamatan kita bisa tertolong karena dikenali orang. Pernah kan Ummi cerita, ada anak kecelakaan dan kebetulan tetangga kita lewat? Langung aja tetangga kita mengenali dan membawanya ke rumah sakit. Kalau bukan tetangga kita yang mengenalinya mungkin sudah fatal akibatnya karena orang sekarang biasanya gak berani ambil resiko; malah takut jadi tertuduh. Dengan kamu ngasih tahu orang-orang terdekat; kalau ada apa-apa (naudzubillah…bukan berharap hal buruk) misal kecopetan atau diserempet orang; teman-teman terdekat bisa tahu”.

Perhatikan latar belakang budaya dan keluarga dari teman satu kos anak kita.

Mungkin, anak kita akan berbenturan dengan satu dua orang; dengan penjelasan yang masuk akal insyaallah anak akan mencoba berbesar hati dan mengalah ketika terjadi friksi.

  1. Rumahsakit, BPJS, asuransi kesehatan. Ini pengalaman genting yang kubagikan agar orangtua segera tanggap ketika anak mereka sakit.

Aku dikabari oleh kakak kelas si sulung , teman satu kosnya : “Ummi, Arina demam tinggi”. Awalnya kupikir flu biasa tapi setelah diberi parasetamol dan nggak sembuh-sembuh, aku mulai curiga. Langsung kubeli tiket kereata dan berangkat ke Yogya. Disana, anakku sudah terkapar lemas sekali. Aku periksakan darahnya, aku periksakan ke dokter sepsialis; beberapa dokter sepsialis bilang gak ada yang membahayakan. Paling hanya infeksi. Tapi antibiotik dan obat penurun panas sudah gak mempan. Demam anakku tinggi sekali, ditambah ia sangat lemas dan tak doyan makan apapun. Sesaat sebelum kubawa ke Surabaya untuk penangan intensif, sekali lagi aku cek laborat. Hasilnya : positif DB dan haurs segera rawat inap

Saat itu bulan Ramadhan dan sekalipun aku orang Yogya, aku sudah lama tidak tinggal di Yogya. Aku tanya kesana kemari tentang rumah sakit Islam, gak dapat-dapat. Akhirnya aku dapat di RS PKU gamping. Karena trombosit anakku saat itu masih di atas 100, maka anakku gak boleh pakai BPJS. Akhirnya, ia rawat inap lewat jalur umum.

Aku salut ketika di rumah sakit di Yogya, banyak bertemu anak-anak muda yang tengah mengantarkan temannya untuk rawat jalan atau rawat inap, berbekal  BPJS. Anak-anak mahasiswa perantauan, ternyata saling bahu membahu ketika teman mereka sakit. Mereka antarkan ke rumah sakit, asalkan ada BPJS atau asuransi sehingga si teman pun tak kelabakan ketika ditanya pihak rumah sakit.

 

 

 

Kategori
da'wahku Hikmah Jurnal Harian Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Renungan Hidup dan Kematian WRITING. SHARING.

Arti Ulama bagiku dan keluargaku

 

 

Jauh sebelum gonjang ganjing jagad perpolitikan, keluargaku telah mengenal kiai dan ulama. Kami memanggil ulama itu dengan sebutan “pak Yayi, Gus, Kiai, Ustadz”. Tergantung kebiasaan santri masing-masing. Para kiai atau ulama yang kami sambangi, mungkin tidak setenar Habieb Rizieq, Hidayat Nur Wahid, Bachtiar Natsir, KH MA’ruf Amin. Tapi kehadiran mereka sungguh-sungguh kami rasakan demikian dekat, demikian mengayomi, demikian membantu. Ada beberapa peristiwa kritis dalam hidup kami yang ,tanpa bantuan alim ulama, entah hidup kami seperti apa jadinya.

  1. Ketika remaja, ayahku didagnosa penyakit diabetes namun rangkaian sakitnya benar-benar aneh. Kata orang-orang, ayah kami kena santet. Saat itu aku belum pakai jilbab dan agamaku masih jauh sekali dari cukup. Aku ikut saja mamah pergi dari satu kiai ke kiai yang lain. Umumnya mereka memiliki analisa sama : ayahku terkena santet. Satu yang mengesankan dan akan kukenang sampai kapanpun, para kiai tersebut mengatakan : “tidak usah dibalas santetnya. Biarkan saja. Yang penting Ibu rajin sholat.” Dalam bayangan anak kecil seprtiku saat itu : ngapain gak balas santetnya? Dikirim balik aja biar mereka juga mati dan merasakan sakit seperti ayah. Belasan tahun kemudian kusadari, para kiai itu mengajarkan hal sederhana kepada kami : bab aqidah. Serahkan saja pada Allah karena itu perkara ghaib. Lagipula, setan suka membuat makar : bilang kalau penyantetnya adalah si A, padahal bukan. Lalu kita kirim balik, maka kita akan mendapatkan dosa yang  sangat besar.

 

  1. Ketika harta kelaurga habis sehabis habisnya. Masih dalam rangkaian santet. Semua asset keluarga tak bersisa. Rumah, mobil, perusahaan, tanah-tanah. Mamah pintar berbisnis. Beliau sempat menabung dan membelikan setiap anaknya rumah untuk masa depan. Belum sampai rumah itu dibagikan, semuanya ludes-des-des. Tidak ada yang tersisa bahkan perabot pun harus binasa. Entah terjual, hilang, atau diambil orang. Mama menyambangi satu kiai ke kiai yang lain. Jawaban mereka sama : sedekah, sedekah, sedekah. Mama awalnya nggak menyadari, denial Wong lagi susah kok malah sedekah. Belakangan b eliau baru sadar….selama ini harta sedemikian banyak tidak pernah dibersihkan dengan zakat, infaq, sedekah. Mama masi minim sekali pemahaman agamanya. Perlahan, dengan didampingi para alim ulama, pemahaman agama mama berangsur membaik dan beliau sering menyarankan pada anak-anaknya untuk memperbanyak sedekah.

 

  1. Setiap keluarga memiliki masalah kritis. Keluarga kami diuji Allah Swt dengan beberapa ujian yang bukan saja bab harta. Abang, sejak muda terlibat narkoba. Entah berapa kali sudah mama harus berurusan dengan polisi, rumah sakit, orang-orang yang mengamuk karena barang mereka menghilang (penderita narkoba akan melakukan apapun untuk membeli barang). Rumah ssakit hanya mampu mengobati sesaat. Kepolisian lebih meneyrahkan perkara itu untuk ditangani dengan cara kekeluargaan. Lalu, kemana seorang janda seperti mama yang telah habis ludes barang-barangnya mengobati abangku yang telah menjadi pecandu? JAwabannya adala pesantren dan para kiai atau ulama. Mereka mempersilakan mamaku yang tak punya uang untuk datang ke pesantrennya. Mereka memeprsilakan abangku untuk tinggal di pesantren-pesantren beliau. Betapa kehidupan ulama,s antri dan pesantren demikian “hidup” dan sederhana.

muslim-scholars
Ulama Islam

“Sin, Mama belum pernah makan seperti di pesantren X. Hanya pakai sayur jipang bersantan tapi enaaak banget, Masyaallah. Kalau di pesantren Y Mama cuma makan nasi sama teri. Ya Allah…kenapa makan di pesantren2 itu terasa nikmat banget ya?”

“Di pesantren A, kita jarang banget tidur, Sin. Tapi kok badan Mama jadi fit ya. Kita tidur seringkali sampai jam 22.00 atau malah jam 24.00. Nanti jam 02.30 sudah bangun untuk mandi wuwung –mandi keramas. Ternyata nikmat banget ya…habis itu sola tmalam. Lanjut Shubuh.”

“Di pesantren B Mama diajak shaum Daud. Mama gak pernah berpikir kuat puasa Daud, ternyata luarbiasa. Kamu harus coba, Sin!”

Ketika ada kerabat yang mengalami problematika rumah tangga luarbiasa, kami membawanya kepada para kiai. Para kiai dan ulama tersebut bukan psikolog, bukan konselor, bukan konsultan. Tapi ucapan-ucapan beliau sangat menohok hingga membuat orang-orang yang bermasalah itu menunduk, kadang bercucuran airmata.

Ini beberapa nasehat ulama yang menohok para saudaraku yang tertimpa musibah dalam pernikahannya.

“Gimana mau tentrem rumah tangganya? Rumahnya gak pernah dipakai sholat berjamaah!”

“Pernikahan itu, kalau suami istri gak mau saling mensyukuri, ya akan terus menuntut. Akan panas! Akan membuat rezeqi mampet!”

“Kalau suami sudah tidak bisa menjadi qowwam, lelaki yang seharusnya menjadi pemimpin dalam  urusan agama, maka perempuan boleh menggugat cerai.”

“Nduk, berhati-hatilah ketika berbuat salah ya. Nanti membayarnya susah sekali…”

 

  1. Pengalaman nenekku, almarhum. Nenek ini orang yang luarbiasa, demikian cantik dan sabar serta sangat halus bertutur kata. Namun, bukan berarti beliau tidak pernah marah. Konon kabarnya, kalau beliau marah bisa takut orang-orang di sekitar. Ya, biasanya orang yang sabar sangat mengerikan ketika meledak! Putri nenek 4 orang , perempuan semua (mamaku putri beliau yang pertama). Nenek janda ketika mama masi sangat kecil, dapat dibayangkan pahitnya perjuangan beliau membesarkan 4 anak perempuan di era penjajahan Belanda, Jepang, maupun masa-masa sulit Indonesia di awal kemerdekaan. Menghadapi 4 orang putri yang luarbiasa tantangannya, sering membuat nenek menangis. Kemana nenek yang janda, dilanda kesulitan mulai anak-anaknya kecil hingga putrid-putrinya dewasa mencari bantuan?

Ke alim ulama.

Nenek bercerita padaku, “suatu saat, Nenek sangat sedih memikirkan mama kamu, Sin. Nenek lalu ke kiai A. Kata beliau : coba banyak-banyak baca Alam Nasyrah dan baca artinya.”

Waktu itu tafsir Quran belum seperti sekarang.

Nenek melanjutkan : “habis baca Alam Nasyrah, Nenek sadar. Allah telah melapangkan hidup Nenek. Selalu saja dilapangkan. Lalu dikasih ujian lagi. Dilapangkan lagi. Begitu seterusnya. Bacalah itu kalau kamu tiap kali merasa susah ya.”

old-quran
Old Quran

  1. Sebagai konselor dan psikolog, aku selalu lari ke alim ulama. Mengapa? Sebagai terapis, aku tau bagaimana menjalankan tahapan psikoterapis mulai awal, mengakhirinya hingga psychological report writing. Tetapi di titik mana aku harus meningatkan klien-klienku untuk terus bertahan dengan masalah mereka atau segera move on, utamanya dalam kasus pernikahan? Tentu, fatwa para ustadz, alim ulama, telah membantuku dan menyelamatkan –atas izin Allah Swt- banyak keluarga-keluarga : teruskah mereka hidup bersama pasangan atau bismillah, berpisah?

Seorang alim ulama pernah memberikan nasehat yang menjadi panduanku dalam proses piskoterapis dan konseling, utamanya kasus pernikahan :

Bila pasangan murtad, maka otomatis lepaslah tali ikatan pernikahan

Bila salah satu pasangan bermaksiat (berselingkuh, berbohong, melakukan tindak criminal, KDRT pada pasangan dan anak, suami tidak mau mencari nafkah, gangguan orientasi seksual,  dll) maka dikembalikan pada kekuatan pasangan apakah mau bertahan ataukah tetap terus. Tetap terus disini dengan niat semua tahapan untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan dengan upaya semaksimal mungkin memperbaiki kondisi yang ada. Misal, bila pasangan berselingkuh, apakah pasangan di satu sisi akan bertahan, memaafkan, memperbaiki kondisi dll? Sangat tergantung dalam proses konseling, psikoterapi dan perkembangan keluarga tersebut.

Sungguh, tanpa bantuan para ustadz, kiai dan alim ulama; apa jadinya profesi-profesi yang berkaitan hidup dengan orang banyak seperti dokter, psikolog, guru, PNS dan lainnya?

syaikh-yusuf-qardhawi-dan-dr-hidayat-nur-wahid
Syaikh Yusuf Qardawi & Dr. Hidayat Nur Wahid

Teman-temanku para dokter, mereka sungguh berpegang pada fatwa ulama dalam menjalani profesi mereka. Teman-temanku para ibu dan istri, mereka sunggu berpegang pada fatwa ulama dalam memilih menjadi ibu rumah tangga dan meninggalkan karir yang gilang gemilang. Teman-temanku para perempuan bekerja, mereka berpedoman pada fatwa ulama bagaimana berdandan, tetap patuh pada suami, tetap membagi perhatian dengan anak-anak. Teman-temanku para pedagang, mereka berpegang pada fatwa ulama bagaimana cara berbisnis mulai dari promosi hingga jual beli. Teman-temanku yang berada di instansi pemerintah, dalam segala jajaran institusi, berpegangan pada fatwa alim ulama perihal gaji, uang syubhat, maupun insentif. Teman-temanku di segala penjuru yang menjadi konsumen, berpegangan apda fatwa ulama tentang produk halal : dari obat hingga cara pengobatan, dari makanan hingga bahan baku. Teman-temanku berpegang pada fatwa ulama bagaimana cara mencari jodoh, bagaimana jujur dalam studi dan bekerja, bagaimana menjaga adab di media sosial.

Tak bisa kubayangkan, seperti apa kerusakan bagi diriku pribadi, bagi keluargaku, bagi keluarga teman-temanku dan setiap individu bila mereka tidak dipandu dengan ilmu ulama dalam menjalani hidup ini.

 

Kategori
My family Oase Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Remaja. Teenager Sejarah Islam

Melindungi keluarga dari issue-issue negatif : diskusi bersama anak seputar LGBT, komunisme, hoax dan radikalisme

 

 

“Ummi, bagaimana jika temanku ada yang berpaham kiri?”

“Siapakah yang melanggar HAM, Mi? Apakah ketika pemerintah represif pada PKI, itu tidak termasuk melanggar HAM?”

“Mi, kita tidak setuju LGBT. Tapi mereka juga manusia. Bagaimana seharusnya?”

“Aku baca di media online, tidak apa-apa memilih pemimpin yang non muslim selama ia cakap. MAlah aksi 411 dan 212 itu hanya merupakan kepentingan politik saja.”

Permasalahan yang terbentang di hadapan kita semakin   beragam.

Dulu, melepaskan anak-anak ke sekolah atau ke kampus, hati ini diliputi kekhawatiran akan hipnotis, digendam, diculik, mengalami bully-ng, atau dibegal.  Belum lagi masalah keamanan tuntas 100%, kita dihadapkan pada issue-issue yang bagi kita, bertentangan dengan norma agama seperti LGBT. Terlepas ada pro dan kontra terkait issue ini, para aktivis, peneliti, komunitas dan penyuara HAM semakin gencar mewacanakan bahwa LGBT bukanlah satu disorder.

Kita bahkan masih harus terus melakukan edukasi kepada anak-anak terkait LGBT, bukan dalam pengertian memojokkan atau menghakimi, namun justru menyadarkan;  datang lagi issue-issue lain yang tak kalah gencar menggempur dinding-dinding rumah kita.

Permasalahan freesex, LGBT, personality disorder seperti MPD (multiple personality disorder) atau DID (dissociative identity disorder) seperti yang digambarkan dalam film Split; seringkali dikaitkan dengan pola asuh. Kehadiran orangtua sebagai centre person dan ideal person menjadi faktor utama bahkan mungkin faktor penentu, akan seperti apa kepribadian, cara berpikir, bahkan perilaku anak-anak kita. Tetapi bagaimana kita dapat meyakini anak-anak sudah sangat memahami dan mengambil pilihan tepat terhadap issue-issue yang mungkin bertolak belakang dengan filosofi keluarga kita?

Janganlah merasa takut.

Sebab Allah Swt senantiasa menurunkan penyakit berserta obat, baik sakit fisik ataupun psikis. Segala sesuatu memiliki pasangan seperti sakit-sembuh, obat-penyakit, masalah-solusi. Apa yang mengancam di depan mata, sesunguhnya telah ada jalan keluar yang ditempuh para ulama-ulama terdahulu, para khalifah serta para negarawan kita. Saya coba sarikan  dari beragam sumber, semoga bermanfaat bagi kita sebagi orangtua dan pendidik untuk membentengi keluarga dari issue negative yang bertentangan dengan filosofi yang kita anut.

 

Sejarah, Sejarah, Sejarah

Al Quran berisi sejarah. Jasmerah, kata Soekarno, jangan lupakan sejarah.  Dalam Knowing Muslim Youth, salah satu ciri khas yang membentuk pemuda muslim adalah historical basic ( Herrera et). Sejarah Islam dalam semua aspeknya adalah ciri penting yang membangun jati diri anak-anak kita. Maka shiroh Nabawiyah, sejarah para pahlawan Islam seperti Shalahuddin al Ayyubi, Muhammad Al Fatih, HAMKA, Sudirman, Muhammad Natsir, dan tokoh-tokoh lainnya harus sering mengudara di di rumah kita.

history_main
Islamic History

Bukan hanya menyediakan buku-buku, tapi termasuk  menyediakan waktu untuk berdiskusi.

Historical basic ini akan membentuk alur pemikiran yang terpatri dan memberikan nuansa bagi kita termasuk anak-anak dalam menyikapi sesuatu.

Muhammad Natsir misalnya.

Sikap santun dan rendah hati beliau membuat kehadirannya dinanti banyak orang. Meski berseteru keras dengan Aidit dan Ali Sadikin; di luar arena perdebatan mereka tetap bersahabat.  Tidak ada kata kompromi untuk ideology yang bertentangan dengan agama namun bagaimana tetap harmonis menjalin hubungan dengan orang-orang yagn bersebarangan.

Dalam menceritakan kisah-kisah yang sensitive seperti bagaimana Indonesia menghadapi Komunis, bagaimana perang antar suku bahkan perang antar agama pernah pecah; perlu disampaikan dengan cara lemah lembut dan bukan emosional. Sisi-sisi kritis perlu dibangun, sekalipun tengah membangun fondasi kecintaan pada agama. Sesedikit mungkin hate speech disampaikan.

Bahwa Natsir dan Ali Sadikin pernah sangat bertolak belakang dalam hal halal haram, jangan disampaikan dengan nada penuh kebencian.

“Ali Sadikin pernah lho mengunjungi Natsir dan mengatakan kayaknya pak Natsir naik helicopter aja deh. Jalanan Jakarta saya bangun dari uang haram semua. Tuh, Ali Sadikin saja menghormati seorang ulama seperti Muhamamd Natsir. Seharusnya memang kita menghormati ulama ya…Para negarawan kita dulu termasuk Bung Karno sangat menghormati ulama. Meski pernah juga memenjarakan mereka.”

history
History of Islam

Sejarah adalah bagian dari dunia global. Sejarah adalah bagian penting dari agama. Sejarah adalah bagian penting bagi keluarga kita. Jadikanlah kisah-kisah sejarah yang spektakuler sebagai bagian dari pembentukan jatidiri anak-anak melalui historical basic.

 

Self Identity (minimize contradiction)

Bagian penting dari membangun jati diri anak-anak adalah melalui identitas dirinya atau self identity. Karena kita bicara anak-anak berarti rentang usia mereka antara kanak, anak, remaja; maka ketahuilah bahwa dalam proses pembentukan bukan hanya melalui proses ‘pembakaran’.

Seperti keramik, ada masanya diuleni karena adonan masih liat dan kenyal. Ada masanya mulai bisa dibentuk karena adonan mulai setengah keras. Ada masanya dijemur sebab adonan sudah dianggap jadi dan harus diawetkan. Pada akhirnya adonan dipanggang di oven bersuhu tinggi agar tahan lama dan tidak mudah pecah. Usai keramik jadi masih perlu dibubuhi cat warna warni termasuk pelapis kilat agar bukan hanya cantik ukirannya, kokoh bentuknya, multifungsi barangnya namun juga indah dan menarik mata dipandang.

Dalam membentuk definisi diri, minimalkan kontradiksi agar anak tidak terlalu bingung. Cara-cara ini ternyata dipakai untuk anak-anak  muslim yang bahkan tinggal di wilayah inhospitable environment seperti wilayah Brooklyn, USA. Dalam Being Young, Muslim and America in Brooklyn (Bayoumi) peneliti mengatakan bahwa salah satu cara anak-anak muslim mendefinisikan diri adalah melalui self identity with no contradiciton. Bila anak muda umumnya suka music rock maka anak muda muslim di Brooklyn mencoba menggemari rap.

Beberapa putra saya sekolah di sekolah negeri. Ras, suku, agama bercampur jadi satu. Anak-anak  muslim tidak semuanya berjilbab, tidak semuanya sholat. Meski demikian, abang dan adek berusaha beradaptasi dengan caranya sendiri.

“Temanku pernah bercerita tentang daging babi. Itu daging paling enak katanya,” ujar adek.

“Trus, kamu bilang apa?” tanyaku.

“Aku balik nanya, Mi. Daging babi itu kayak apa sih rasanya? Temanku balik nanya : kamu pernah makan bakso urat? Ya begitu itu rasanya. Enak kan? Aku cuma tertawa.”

Perbincangan daging babi, minuman keras, film porno, pacaran pada awalnya merupakan diskusi permukaan yang hadir di antara anak-anak yang tumbuh di lingkungan beragam. Anak-anak belajar membentuk identitasnya, dengan meminimkan kontradiksi antara teman sebaya. Namun perlahan-lahan, ‘di belakang anak-anak’ sebagai orangtua kita membantu proses identifikasinya.

Bila kita berkata : kok berteman sama teman yang seperti itu sih? Kan masih ada teman yang lain? Maka hal itu akan menimbulkan kontradiksi di awal : dia makan babi, tapi pintar matematika dan mau mengajari aku. Dia suka pornografi tapi sayang sama teman-temannya dan suka membelikan kue. Dalam hal ini pesan-pesan kontradiksi harus disamarkan dan sebaliknya, orangtua menjadi jembatan yang membantu anak-anak untuk memahami beragam variable dalam hubungan antar manusia.

“Temanku banyak yang nggak mendukung aksi 411 dan 212, Mi.”

“Memang banyak orang belum paham akar permasalahan. Kalau begitu, nggak usah bersikap frontal pada mereka. Kalau orang belum mengerti, belum paham, gak bisa dipaksakan.”

“Kok orang masih mendukung A*** ya, Mi? Temanku juga ada yang begitu.”

Diskusi tentang pemerintahan, tentang partai, tentang posisi kaum muslimin menjadi diskusi yang harus terus menerus diagendakan di tengah keluarga. Meminimalisasi kontradiksi bukan berarti menghilangkan identitas diri, namun saat terjadi benturan, ada baiknya mengajarkan anak-anak untuk tidak bersikap hitam-putih. Begitu banyak hal yang masih menjadi grey area,  menjadi areal kebingungan bagi anak-anak muda yang harus diimbangi dengan penjelasan bijak dan terus menerus.

 

Radicalization without an Ideology

Hal lain yang sangat berbahaya bagi anak-anak adalah radikalisasi tanpa dasar ideology yang jelas. Kata-kata radikal pada awalnya bermakna kembali ke akar (radix = akar) , kembali ke awal, kembali ke filosofi dasar. Kini, radikal mengalami penyempitan makna sebagai faham keras tanpa kompromi.radicalism

Apa saja yang membuat anak menjadi radikal?

Sikap otoriter orangtua tanpa diskusi, tanpa cela, tanpa celah. Kata-kata  pokoknya, yang penting, seharusnya dan yang sejenisnya akan membentuk watak keras yang tanpa alasan jelas.

“Apa pendapat ummi tentang LGBT? Bagaimana dengan pendapat ahli yang mengatakan bahwa gen tersebut diturunkan? Teman-temanku ada yang LGBT.”

Aku berpikir bahwa langsung mengatakan halal-haram akan mengunci diskusi ini. Aku khawatir, jika anak-anak mendapatkan informasi lain dan itu yang mereka pilih, maka akhirnya akan bertentangan dengan filosofi keluarga kami. Dalam Islam, LGBT telah menjadi hal yang disepakati alim ulama. Maka, menjadi kewajiban hamba beriman untuk menjalankannya

“Ummi percaya bahwa genetic ada yang diturunkan. Dalam konsep neurosains, beberapa genetik yang mempengaruhi temperamen manusia memang diturunkan. Bila orangtuanya agresif, anak punya potensi agresif. Bila orangtua skizofren, anak punya potensi skizofren. Bila orangtua introvert, anak cenderung introvert. Memang sifat-sifat genetis ada yang diturunkan. Tapi bukan selesai sampai disitu kan?

Kalau ada potensi skizofren, maka harus dikontrol. Ada potensi agresif maka dikondisikan bagaimana lingkungan, sikap, persepsi yang dapat mengurangi agresifitas. Demikian pula LGBT, kalaupun benar genetiknya diturunkan maka berarti dapat dikontrol dan dikendalikan. Artinya, tidak cukup bahasannya bahwa secara genetis diturunkan tapi apa yang akan kita lakukan selanjutnya?

Ayahmu keras dan pemarah, Nak. Itu diturunkan dari orangtua.

Tapi beliau menyadari usai marah dengan membaca istigfar dan mencoba melatih lebih dalam kesabaran. Sebab marah akan lebih mendekatkan pada neraka. Ayah nggak pernah bilang : ya pokoknya ayah pemarah! Kamu sebagai istri dan anak-anak jangan buat aku marah! Ayah gak begitu kan?”

“Terus kalau aku bertemu dengan teman yang LGBT bagaimana?”

“Tetap temani dia. Jadi teman curhatnya. Barangkali orangtuanya tidak punya waktu untuknya sehingga ia haus kasih sayang dari siapa saja.”

“Orangtuanya bercerai sih…”

Di kali lain anak-anak pernah bertanya tentang komunis.

“Mengapa di era Soeharto pemerintah bersikap represif terhadap PKI?”

Kujelaskan panjang lebar tentang komunis, sejak sejarahnya di Indonesia hingga sepak terjang mereka yang sering kali berbenturan dengan para ulama dan santri yang merupakan representasi Islam.

“Tetapi, apakah mereka harus ditekan seperti itu?”

“Pemerintah Indonesia memang sempat menghadapi beberapa tuduhan HAM. Ada Peturs di tahun 1980-an, ketika perampok berkeliaran dan polisi kewalahan. Akhirnya, penembak misterius menghabisi perampok walau terkadang ada yang salah sasaran. Begitupun komunis. Pemerintah akhirnya bertindak represif bahkan ke anak cucunya, sekalipun mungkin cucunya sudah tidak tau menahu. Ini sangat berkaitan dengan sejarah bangsa bahwa komunis beberapa kali melakukan pengkhianatan.”

Beberapa teman-teman anak kita mungkin memiliki ideology berbeda. Mungkin saja mereka penganut LGBT, mungkin saja mereka penganut komunisme. Memberi pemahaman yang keras tanpa penjelasan panjang lebar akan membuat anak pun menjadi radikal tanpa berlandas ideology yang benar.

“Pada akhirnya, Nak, Islamlah satu-satunya solusi. Sebab baik komunis atau kapitalis sama-sama memberikan pengaruh buruk pada msayarakat.  Cina sekarang pun lebih  berorientasi kapitalis sekalipun ideologinya komunis.”

Pembahasan menarik yang bergulir di tengah keluarga antara lain bab Cina.

Berita yang beredar di seputar whastsapp, line, media online seringkali membangun radikalisme tanpa ideology. Masih ingat beberapa hari lalu ada foto seorang pemuda yang mengatakan : aku mau beli Quran untuk ngelap tinja aku? Entah siapa yang memposting , yang pasti setelah ditelusuri alamatnya tak jelas. Bayangkan bila alamatnya diketemukan dan penghuninya ternyata sama sekali tak melakukan! Orang-orang radikal yang hanya dibesarkan dengan kebencian pastinya akan memberi hukuman tanpa ampun.

“Ummi punya teman-teman Cina sejak SMP. Mereka umumnya pekerja keras. Menghargai uang. Waktu di kampus, Ummi punya teman Cina yang kebagian tugas fotokopi. Fotokopi satu handout saat itu sekitar Rp1.800. Kalau kita orang Jawa, paling bayar 2000 perak dan 200 nya dii ikhlaskan aja. Tapi kalau teman ummi yang Cina nggak. Padahal dia laki-laki, dia menyiapkan recehan 100 perak yang dibawa dalam dompet besar. Setiap ada orang bayar 2000, dia kembalikan 200 perak. Kenapa dia berlaku demikian? Kalau Ummi yang jadi bendahara, malaslah. Tapi begitulah orang Cina, sangat menghargai uang.”

Anakku manggut-manggut.

“Teman-teman Cina Ummi kalau kuliah, serius, nggak main-main. Begitu mereka gak bisa serius kuliah, mereka mending  kerja. Beda dengan kita orang pribumi yang rata-rata kuliah buat gengsi kan?”

Aku mencoba menanamkan dalam diri anak-anak bahwa orang-orang Cina memiliki etos kerja yang luarbiasa. Di Surabaya bagian barat berdiri sekolah dan kampus non muslim yang notabene milik Chinese. Kurikulum, SDM, orientasi mereka luarbiasa. Mereka lebih takut anak didiknya tidak bisa berbisnis dapirapa sekedar mengejar nilai UNAS.

Namun demikian, politik dan ekonomi tidak boleh dikuasai satu elemen saja.

Maka kujelaskan bahwa tidak semua orang Cina buruk, sebagaimana tidak semua orang Jawa itu juga baik. Bukan etnis Cina, Jawa, Bali, Batak yang salah. Namun salah bangsa Indonesia sendiri, salah kaum muslimin yang tidak mau bekerja keras masuk ke ranah politik,  masuk ke ranah ekonomi, tidak mau bekerja keras membangun karier seingga terkalahkan di banyak sektor. Kalaupun di kasus 411 dan 212 salah satu yang menjadi pusat perhatian adalah gubernur dengan etnis Cina, tidak menjadikan seluruh warga berdarah Cina yang ada di negeri ini menjadi satu jenis stereotype.

 

Confusion vs Totalizing Structures

Meski kita masih membentuk anak-anak bagai menguleni lempung tanah liat, jangan biarkan juga mereka menjadi bingung. Struktur kepribadian dan mental anak-anak harus dibangun dengan totalitas.

Totalitas yang pertama adalah ketaatan pada Allah Swt dan RasulNya.

Tidak ada tawar menawar lagi bahwa Quran dan Sunnah adalah pedoman. Masalahnya, bagaimana cara kita menanamkan hal-hal penting berbau ideologis filosofis tetapi bukan sekedar radikal tanpa fondasi?

Suatu ketika, aku menyadari sesuatu.

Sebagai ibu aku kerap bersitegang dengan anak-anakku yang berpikir kritis. Mengapa kita gak boleh potong rambut model begini? Mengapa gak boleh boncengan cowok cewek? Mengapa harus ke masjid? Mengapa harus baca Quran? Aku beranggapan anakku benar-benar tidak Islami sehingga yang muncul saat itu hanyalah pertengkaran. Rasanya, percuma semua langkah psikoterapis yang kulakukan. Tidak ada hasilnya. Bahkan hatiku mulai menangis, mengapa doa-doa yang kupanjatkan seolah belum terjawab. Aku ingin punya anak sholih. Titik.

“Kalau kamu susah, cobalah buka Quran dan cari jawabannya disana,” saran ibuku

Aku coba lakukan itu, dengan niat memohon padaNya agar diberi petunjuk untuk memahamkan Islam pada anak-anakku.

Masyaallah, Allah memberiku ilham. Kubuka terjemahan. Yatafakkarun. Ya’qilun. Yadzdzakarun. Sering sekali kutemu ayat-ayat itu dan belum mneyadari bahwa itulah terapi yang cocok buat anak-anakku yang kritis dan ngeyel. Terapi kognitif. Ya, anakku mungkin salah salah memahami sesuatu, termasuk agama ini. Aku membangun radikalisme tanpa landasan ideology yang dipahami,  sehingga ketika anakku menghadapi sesautu iapun akan radikal pula. Begitupun, ketika ia kebingungan terhadap suatu fenomena, struktur total kepribadian mental yang semula sudah kusanga kuat, ternyata rapuh.

Suatu ketika dalam keadaan nyaman, kutanya si abang.

“Kenapa kamu gak mau baca Quran sesuai target, Mas?”

Ia menjawab jujur , “soalnya Quran nggak menarik , Mi.”

Aku mengangguk. Menghormati jawaban jujurnya. Quran tidak menarik. Maka menjadi tanggung jawabku untuk menjadikan Quran menarik. Suatu ketika, anakku membaca tentang berita-berita online  yang dipenuhi berita simpang siur. Ia sempat binilang : mana sih berita yang bsia dipercaya? Ia bingung. Disaat itu aku membaca surat al Maidah 41. Saat aku membaca terjemahannya, aku tertegun. Rasanya cocok dengan kondisi anakku.

hoax-category
berita hoax

“Mas, Ummi bacakan arti surat yang sedang Ummi baca ini ya. Intinya adalah, di zaman Rasulullah dulu pun, ada orang-orang yang senaaaaang banget berita hoax. Jadi, memang sudah watak manusia suka dengan berita-berita miring.”

Diskusi kami lumayan meriah saat itu mengaitkan hoax dnegan kisah dalam Quran.

Semenjak itu, setiap kali terkait satu kejadian dengan al Quran, aku jelaskan hubungannya dengan situasi-situasi terkini. Aku terharu sekali ketika beberapa hari yang lalu, si Abang memegang tanganku dan berkata, “Ummi, aku sudah membaca lebih dari target hari ini. Aku merasa lega dan merasa bersyukur sekali.”

Sebagai orangtua, aku tidak ingin membiarkannya  berlama dalam keadaan confuse terkait Quran. Ia harus memiliki struktur pemahaman yang utuh tentang apa itu agama, Quran, Hadits dan menjadi tanggung jawabku sebagai orangtua mencari 1000 cara untuk menghantarkannya kepada pamahaman yang total.

 

Solidarity, Community, Collective Future

Di Kompas hari ini (01/02/2017), dilaporkan tentang Alexander Bissonnete, pemuda 27 tahun yang melepaskan tembakan di masjid Quebec City, Canada dan menewaskan 6 orang serta melukai 8 orang. Motif Bissonnette belum diketahui namun dari akun mesosnya dilacak ia pendukung Donald Trump,  tokoh ekstrim kanan Perancis Marine le Pen, anti feminism, pendukung band Megadeath. Diberitakan bawa Bisonnette hanya memiliki teman adik kembarnya sendiri.

Aksi solidaritas bukan hanya sekedar turun ke jalan membela Suriah dan Rohingya.

Membangun komunitas, solidaritas bersama teman-teman sebaya, akan membangun jati diri siapa sebenarnya anak-anak kita. Begitupun membangun masa depan kolektif : apa yang kita inginkan? Indonesia seperti apa yang didambakan?

Kerapkali aku berdiskusi dengan ak-anak, mereka ingin jadi seperti apa di kemudian hari? Mereka inginkan Indonesia yang seperti apa?

“Aku ingin Indonesia jadi superpower. Karena Indonesia negeri kayaraya,” sahut anak-anakku bergantian.

“Aku ingin suatu saat Jepang, Cina, Korea yang malah bergantung sama Indonesia,” kata anakku yang lain.

Impian kolektif itu harus dibangun bersama dan tidak mungkin sendiri-sendiri. Si penyendiri akan lebih banyak berpikir dengan caranya sendiri, beranggapan langkahnya paling benar seperti Bissonnette. Dengan memiliki pemikiran kolektif bersama, anak-anak akan membangun diri dan lingkungannya. Akan tahu mana hal-hal yang mengancam diri dan bangsa.

Kudorong anak-anak yang sejak SD dan SMP untuk semakin giat ke masjid dan bergabung dengan remaja masjid. Collective future akan kita bangun bersama mulai dari rumah, RT, masjid kompleks dan akhirnya ke masyarakat luas. Collective future ini membutuhkan SDM andal yang bukan hanya kuat mentalnya dengan landasan aqidah dan akhlaq yang benar, tapi juga siap menanggung beban-beban amanah dengan cara bermoral dan bermartabat, juga professional.

Kudorong anak-anak bukan hanya aktif di sekolah tapi juga aktif di remaja masjid. Mereka harus membangun kesadaran kolektif bersama teman-teman sekolah, teman-teman media sosial, teman-teman remaja masjid, teman-teman karang taruna. Kesadaran kolektif ini akan membentengi anak-anak kita dan anak-anak tetangga, anak-anak di masyarakat kita  bagaimana cara memilih : memilih pasangan hidup, memilih ideology, memilih pemimpin, dan pilihan-pilihan penting lain dalam hidup ini.

 

Kategori
Cinta & Love Oase Suami Istri WRITING. SHARING.

Mencintai sosok Polaris (bukan Sirius)

 

 

Cinta itu sesuatu yang sangat special. Sangat personal. Sangat rahasia dan mungkin satu-satunya rahasia terdalam yang hanya diri sendiri dan Allah Swt yang tahu. Walaupun sangat pribadi sifatnya, ada banyak kisah cinta yang diabadikan dalam sejarah, entah kisah cinta itu positif atau negatif. Kisah cinta Nabi Muhammad Saw dan bunda Khadijah, Yusuf as dan Zulaikha adalah kisa yang memberikan inspirasi mendalam tentang kasi sepasang insane.

Kisah spektakuler?

Ernest Hemingway konon menyukai perempuan berambut panjang dan tiap kali menyusun novel, ganti istri. Khalil Gibran puya beberapa hubunga cinta yang menginspirasi puisi-puisinya.  Einstein pun demikian, ia seorang cassanova yang menyukai perempuan pintar dan punya talenta tertentu. Presiden kita, Ir. Soekarno pun dikenal sangat kharismatik. Good looking, pintar berorasi. Ibuku bilang, ketika bung Karno berbicara, pendengar radio akan terpaku. Dan ketampanannya, duh…Marilyn Monroe, Cindy Adam, Sari Dewi adalah sedikit nama yang terpesona oleh sosoknya.

Lalu aku?

Seperti apa orang yang kucintai?

Apakah aku menyukai lelaki yang mampu menyusun kalimat-kalimat romantic ala Hemingway dan Gibran? Atau suka dengan sosok mencolok ala Soekarno dan Einstein?

 

Polaris, bintang Kutub Langit Utara

Bertemu dengan penulis-penulis muda hari ini, membuatku banyak belajar. Banyak merenung. Banyak terinpsirasi. Kami membahas mulai dunia perbankan, dunia aliran-aliran pemikiran, dunia astronomi dan tentu…cinta. Tiap kali membahas astronomi, aku seperti terlempar ke tahun-tahun masa kecilku. Hiks…aku sejak lama menginginkan kuliah di ITB khususnya fakultas astronomi. Takdir membawaku menyebrangi dunia ekonomi lalu ke dunia psikologi dan sastra. Apa aku menyesal? Tidak. Hanya saja setiap kali orang berbicara tentang rasi bintang, galaxy, bintang lahir dan mati, nebula, mengembang dan mengempisnya alam semesta; hatiku jadi berdegup gembira. Inilah dunia yang sejak lama kuimpikan.

Waktu SD, zaman belum secanggih sekarang, aku rela jalan-jalan ke shopping untuk mencari dan membeli kliping tentang astronomi. Shopping adalah pasar loak buku-buku, kumpulan artikel, kumpulan kliping bahkan skripsi berjilid yang dijual karena sudah tidak terpakai.  Bisa dibayangkan, aku akan berdiri berjam-jam di pasar loak memilih tumpukan koran-koran kliping bekas dengan bau menawan untuk memilih bacaan yng kuinginkan hehehe…kalau sudah bertemu yang kucari, rasanya senaaaang sekali.

Bila ada majalah bekas atau koran bekas yang membahas tentang gerhana matahari dan bulan, misi NASA, atau penemuan tentang quasar atau blackhole, aku coba baca dan pahami dengan kemampuanku yang masih sangat terbatas.

Apa hubungan Polaris dan cinta?

Alam semesta mengajarkan banyak hal kepada kita.

Setiap makhluk diciptakaNya berpasangan, bahkan galaxy dan bintang-bintang. Hampir semua bintang memiliki pasangan. Galaxy Bima Sakti atau Milky Way berpasangan dengan Magellan.

polaris.jpg
bintang Polaris

Ada satu bintang yang unik, yaitu Polaris. Bintang ini tidak berpindah-pindah, terletak tepat berada di garis langit kutub utara.  Bintang ini tidak terlihat oleh tempat yang memliki lintang derajat 0 seperti Indonesia atau di bawahnya seperti Australia. Negara-negara yang terletak pada lintang 5 derajat sampai 10 derajat masih tidak dapat melihat binang ini dengan jelas. Tapi negara-negara 4 musim dapat melihat bintang Polaris dengan jelas seperti Jepang, China, Korea, Eropa.

Bintang ini tidak berpindah-pindah. Selalu tampak di satu titik. Itulah Polaris.

Bagaimana Sirius? Sirius adalah bintang yang sangat terang benderang. Bintang paling terang di langit kita. Sirius dikenal karena merupakan bintang ganda, ada yang mengatakan 2, ada yang mengatakan 3. Karena terangnya, bintang ini sangat terkenal.

Apakah aku memilih pasangan cinta yang berjenis Polaris ataukah Sirius?

Aku mencintai Polaris.

Ia selalu ada di sana. Teguh. Jujur. Apa adanya dan selalu dapat ditemui tiap kali membutuhkan petunjuk. Ia tak berpiinda-pindah mengikuti gerak bumi , karena posisinya yang demikian tepat di atas ujung garis langit kutub utara. Ia ada di atas kita, dan menjadi poros atau sumbu.

Seharusnya, demikianlah pasangan cinta.

Ia menjadi Polaris yang selalu ada setiap kali dibutuhkan. Ia menjadi cahaya ketika pasangannya tengah dirundung gkegelapan. Ia menjadi sumbu terang ketika pasangan sedang galau.

Ia tidak perlu menjadi Sirius, yang terang benderang dan selalu dikenali karena posisinya yang spektakuler, bercahaya, diliat banyak orang, menjadi menonjol namun selalu menggandeng orang lain.

Aku mencintai Polaris.

Seperti itulah pasangan jiwa, suamiku.

sirius-dog-star-canis-major-tom-Wildoner-2016-e1479389919852.jpg
Sirius

Mencintai Sirius

Sebetulnya, bukan hal yang salah mencintai sosok Sirius. Bagaimanapun, harus ada yang mendampingi sosok-sosok seperti Julius Caesar, Marc Anthony, Jenghiz Khan, Hitler, Napoleon Bonaparte dll. Mereka sosok-sosok yang mengisi sejarah dengan sepak terjang masing-masing. Mendampingi Sirius, bukan perkara mudah. Sebab mereka selalu menjadi sorotan dan pusat kekaguman. Bila sosok Sirius ini tak kuat iman, dapat dibayangkan betapa womanizer nya ia. Elizabeth Taylor menurutku adalah sosok Sirius. Ia berkali-kali gonta ganti suami.

Tidak selalu Sirius ini negative, lho.

Anda pasti mengenal Habibie. Menurutku, beliau seterang Sirius namun setenang Polaris. Kesetiaannya pada bunda Ainun, luarbiasa…

Bila diminta memilih Sirius atau Polaris? Maka masing-masing kita akan punya jawaban. Ada orang yang senang punya pasangan ternama, menduduki peran penting, enggan berpisah darinya meski sakit hati berkali-kali. Ada orang yang lebih memilih Polaris sebab sosok ini memberikan ketentraman.

Walau bagiku, suamiku adalah Polaris dengan cahaya benderang bak Sirius 🙂

 

Kategori
Cinta & Love Oase Suami Istri WRITING. SHARING.

5 Cara Mengetahui Pasangan Berbohong

 

 

Jangan sampai pasangan berselingkuh, naudzubillahi min dzalik.

Bagaimana mengetahui kalau pasangan yang dicintai telah berdusta, bahkan mungkin tengah bermain mata di belakang? Mengetahui telah terjadi hal negative atau menyimpang dalam hubungan cinta perlu dideteksi sejak awal. Sehingga, keputusan-keputusan tepat dapat diambil. Apakah hubungan ini pelu diteruskan? Apakah sudah waktunya mendatangi konselor? Apakah si dia punya kepribadian yang nyeleneh?

Yuk, simak!

 

  1. Minta ia mengulangi cerita.

“Mas , kamu hari ini kemana?’

“Oh, aku makan siang dengan dengan teman alumni di Sutoz.”

Kalau ingin mengecek apakah cerita itu valid, beberapa jam kemudian dalam kondisi ia lengah (mungkin sambil nyetir, atau dia lagi buka fesbuk, atau lagi nyuci motor) ;pancing lagi dengan pertanyaan beda.

“Ada film Golden Globe lagi diputar di Cito dan CGV. Tadi kemana?”

Kalau benar-benar ia ke Sutoz, ia dapat mengulangi lagi dengan jawaban sama “Sutoz”. Makan malam nanti boleh diulangi lagi dengan cara berbeda.

“Eh, aku ada teman kerja di café makanan Jepang dimana tuh…yang Mas tadi sebutkan..?”

Kalau dia berulang-ulang masih dapat  menyebutkan Sutoz, berarti insyaallah ceritanya valid.

Teknik ini digunakan dalam salah satu buku feature tentang spionase karya Victor Ostrovsky. Cara merekrut orang yang tekun dan teliti serta tepat, adalah ketika orang itu dapat ditanya pada saat-saat terdesak dengan jawaban konsisten. Misal, nama saya Sinta dan harus menyamar menjadi Mona. Maka kemana-mana harus memakai nama Mona. Suatu saat, ada tim penyeleksi yang tau-tahu menabrak saya di mall, lalu barang saya berjatuhan.  Dalam kondisi gugup mereka akan bertanya :aduh maaf ya Mbak…sorry barangnya jatuhh. Mbak siapa ya…?

Begitu saya jawab “Sinta”, maka saya nggak akan lolos sebagai agen spionase. Orang-orang yang terlatih untuk “berbohong” akan spontan menyebut Mona. Dan itu melalui pelatihan bertahun-tahun, serta harus orang-orang bertalenta tertentu yagn dapat lolos seleksi tersebut, menurut Victor. Cara deteksi kebohongan seperti itu bisa dilakukan pada seseorang ketika diminta mengulang-ulang sebuah cerita. Akuratkah? Konsistenkah?

httpwww-cheaters-com
url : http://www.cheater.com

  1. Balik sekuensial

Coba tanyakan urutan sebuah kejadian.

“Hari ini ke Sutoz ya? Jam berapa Mas? Soalnya aku juga rencana mau ketemuan alumni tapi bingung makan dimana.”

Dia akan cerita.

“Darimana Mas berangkat, biar gak macet?”

Dia akan cerita. Selang beberapa lama, coba tanya kembali.

“Eh, Mas berangkat awal darimana ya?”

Dia akan cerita dan kita dapat menambahkan pertanyaan, “dari bakso Solo itu belok  atau lurus ya?” atau ,”jam segitu macet gak ya di Wonokromo?”

Kalau titik ebrangkatnya dari kantor di Ahmad Yani dan betul-betul menuju Sutoz, maka ia akan benar-benar tahu jalan kesana meski pertanyaan dibolak balik. Anya saja jangan interogatif banget ya…pasangan bisa sebel kalau disangka yng enggak –enggak hehe…ini kalau ada kekhawatiran yang mulai sangat mencurigakan.

  1. Beri kejutan waktu

Atur pertemuan tiba-tiba tanpa kasih kabar terlebih dahulu. Tahu-tahu muncul di kantornya. Tahu-tahu kembali ke rumah (kalau dia di rumah). Pasangan yang masih saling mencintai dan saling setia akans angat senang dengan kejutan ini.

“Lho, kok kamu datang ke kantor sih?”

Kalau dia marah, bisa juga karena merasa terganggu. Lha wong lagi meeting sama atasannya dan tiba-tiba kita bawa pizza…kan serba bingung hehehe. Tapi kalau nggak ada apa-apa, biasanya pasangan hanya agak bête dan kaget, marahnya nggak akan sampai kelewat batas. Kalau ada apa-apa saat kasih kejutan waktu dan dia marraaah besar…perlu dipertanyakan. Memang pertemuan macam apa atau dengan siapa yang diinginkannya?

 

jerk-lier-trust-heartbreak-girl-favim-com-4039670
sumber : http://favim.com/lier/

  1. Kasih hadiah tiba-tiba

Beri hadiah kejuta. Kaos, hem, sepatu atau kaos kaki. Jilbab, bros, atau blus. Lihat reaksinya. Biasa-biasa aja? Atau senang bukan main?

Hadiah dari pasangangan yang sangat dicintai, pasti akan begitu membahagiakan. Ingat waktu Rasulullah Saw memberi hadiah bebatuan pada bunda Aisyah ra? Bunda Aisyah girang bukan kepalang. Ya, namanya cinta! Walau hanya oleh-oleh seplastik es jeruk, atau setangkai bunga dari kebun di depan rumah; hadia dari orang tersayang itu sanat membahagiakan.

Kalau suda tidak ada perasaan cinta, hadiah-hdiah apapun akan terasa remeh temeh dan hambar. Rekasi yang timbul biasa, bahkan acuh tak acuh. Malah timbul marah : kok kamu boros begini sih? Nggak usah deh kasih-kasih hadiah lagi. Yah…beli hadiah memang boros sih.,..tapi jangan segitunya memarahai pasangan yan gsudah berniat baik dan bersusah payah.

  1. Pinjam telepon selulernya

Ponsel atau HP yang diberi password adalah pertanda tidak ada saling keterbukaan antara pasangan. Cobalah sesekali pegang HP pasangan dan lihat reaksinya. Atau pinjam dengan alasan pulsa habis atau kuota internet limit. Kalau si dia biasa saja, maka tidak ada apa-apa. Kalau kalang kabut, nah!

Alhamdulillah, saya dan suami suka gaonta ganti HP berdua. Maksudnya tukar menukar. Suami terbiasa lihat chat saya (paling saya larang untuk melihat yang ada tanda khusus sebab itu chat klien saya). Da sayapun bebas mau lihat emailnya, chattingnya, atau foto-fotonya.

“Wah, kali aja si dia punya HP lain di kantor.”

Saya ingat Abraham Lincoln berkata : engkau bisa sesekali membohongi orang. Tapi engkau tidak bisa membohongi orang sepanjang waktu.

Sama seperti Victor Ostrovsky dalam tulisannya tentang spionaseyang intinya : mereka yang tidak terlatih untuk berbohong demi keamanan negara, akan terjatuh suatu saat nanti bagaimanapun lihainya.

 

Meskipun kita sudah membekali diri dengan ketrampilan mendeteksi kebohongan, ketrampilan menaklukan pasangan, ketrampilan memikat hati lawan jenis dan seribu ketrampilan lainnya; jangan lupa untuk berdoa kepadaNya. Dia-lah yang membolak balik hati manusia. Jadi, teruslah berdoa dalam sujud atau waktu-waktu istijabah, semoga cinta suci ini abadi hingga di Jannatul Firdaus. Aamiin yaa Robb…

Kategori
Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY WRITING. SHARING.

Kejahatan #2 : Paradigma Uang

(Lanjutan dari  https://sintayudisia.wordpress.com/2017/01/17/kejahatan-1-ayah-peng-implant-dasar-kejahatan/ )

 

Koruptor yang mencuri jutaan, puluhan hingga ratusan juta, milyaran bahkan trilyunan; jelas bukan orang miskin. Pencuri kelas teri biasanya ber IQ rendah, tapi pencuri kelas kakap jelas ber IQ tinggi, genius atau malah gifted.

Apakah pencuri dan koruptor dilandasi niat yang salah?

Tidak selalu.

Murni (samaran) mencuri berulang-ulang karena kemiskinan. Ia harus menghidupi 2 anak, sementara suaminya entah kemana. Murni mendekam di penjara bolak balik karena tertangkap basah mencuri barang-barang elektronik. Sasarannya memang kompleks yang sepi tanpa satpam.  Bukannya Murni senang mendekam di balik jeruji, ia menyatakan keinginan untuk bekerja normal seperti jualan keripik atau laundry. Namun, (maaf), wajahnya sangat jelek hingga tidak melicinkan jalan baginya untuk menjadi pekerja walau hanya buruh rendahan.

Ita (samaran) melakukan korupsi, menggelapkan uang perusahaan. Ketika tertangkap ia berkilah, di ranah insdutri apa yang ia lakukan sudah biasa. Banyak perusahaan melakukan apa yang ia lakukan. Ita menggunakan uang di luar anggaran, dalam jumlah besar, untuk memberikan insentif pada karyawan. Alasannya, toh uang itu tidak ia pakai. Uang sebesar itu digunakan memberikan imbalan kepada karyawan yang memang membutuhkan.

bad_money_by_ibetterthanyou-d5140yw.jpg

Ada banyak orang seperti Ita yang saat tertangkap OTT oleh KPK atau polisi, menggunakan alasan : semua kesalahan ada di sistem yang berjalan. Tanpa  negosiasi tidak akan memenangkan tender, tanpa korupsi tidak akan mendapatkan jatah dana yang  digunakan untuk tujuan kebaikan, pelaku korupsi umumnya korban yang diumpankan oleh pihak tertentu.

Boleh jadi sistem memang salah.

Mengurus surat-surat, memasukkan sekolah atau kuliah, mendapatkan sertifikat, tertangkap tengah melanggar hukum; semua butuh uang. Membesarkan anak-anak dengan baik, fasilitas rumah-kendaraan-kesehatan-hiburan , konsumsi sehari-hari atau kebutuhan tahunan; semua butuh uang. Mustahil kita beli cabe , ditukar dengan doa kan?

“Bang, saya beli cabe tapi nggak pake uang. Balasannya, Abang setiap hari saya doakan.”

“Pak Guru bu Guru, saya nggak bsia bayar sekolah. Tapi bukankah jadi pengajar harus ikhlas? Ilmu itu amal jariyah. Kalaupun tidak dibayar di dunia, bapak dan ibu guru akan dapat surge di akhirat.”

Mustahil juga transaksi seperti di atas, walaupun dalam beberapa kasus memungkinkan terjadi.

Uang. Uang. Uang. Uang. Uang.

uang x.jpg

Uang mengatasi masalah kebutuhan sehari-hari. Uang mengatasi kebutuhan industry. Uang mengatasi masalah perpolitikan. Uang mengatasi urusan keluarga, masyarakat dan negara. Tanpa uang, roda kehidupan mati.

Benarkah?

Uang memang alat vital tetapi itu bukan satu-satunya alat yang dapat menyelamatkan segala situasi. Memberikan insentif pada karyawan memang penting namun bila keuangan perusahaan tidak memungkinkan, reward bentuk lain dapat diupayakan. Awalnya niat Ita baik. Namun niat baik tanpa cara yang baik, akan menggeserkan niat dan membuatnya mudah melakukan tindakan serupa di kemudian hari, dengan alasan berbeda.

Apa yang dilakukan Murni, serupa dengan yang dilakukan para PSK di wilayah Dolly pada awalnya. Niat mereka baik, namun melakukan dengan cara yang tidak baik. Banyak orang miskin datang ke wilayah Bangunsari, Tambak Asri, Klakah, Sememi, Bangun Rejo, Jarak + Dolly dengan tujuan mengais rezeki.

Menemani pelanggan berbicara, minum, lalu hubungan short time, dengan imbalan yang jauh lebih besar dari bekerja sebagai buruh. Awal PSK bekerja umumnya uang rutin dikirimkan ke kampung halaman. Lama-lama, uang tersebut digunakan untuk konsumsi pribadi seperti membeli pakaian, membeli gawai canggih, ke salon dan Spa secara rutin. Uang kiriman ke kampung pun macet.

Murni pun demikian. Pada akhirnya, uang hasil curiannya tidak digunakan untuk biaya anak-anaknya namun untuk keperluannya berhura-hura.

Sebagai klinisian, orang-orang seperti Murni dan Ita, juga para koruptor yang pada awalnya berniat baik, pantas dikasihani. Mereka merasa terjebak sistem, merasa dikorbankan, merasa harus melindungi banyak orang dan merasa harus memberikan reward pada banyak orang. Selama uang dianggap sebagai satu satunya alat yang dapat menuntaskan segala, maka selama itu pula uang dianggap dewa. Berapa jumlah uang yang seharusnya dimiliki? Tidak terbatas, sebab yang harus dihargai dengan uang banyak sekali.

Hiburan, harus dengan uang. Persahabatan, harus dengan uang. Koneksi, harus dengan uang. Branding, harus dengan uang.

Mahathma Gandhi adalah contoh nyata yang dapat menjelaskan bahwa uang bukanlah segalanya. Ketika orang-orang terpesona dengan gaya hidup ala Inggris yang elegan, ia memintal sendiri bajunya dan meninggalkan pisau-garpu. Dasi, sepatu, ditinggalkan berganti sandal sederhana. Ia berjalan kaki kemana-mana atau naik kereta ekonomi. Prinsipnya, kalau bangsa India memang harus hidup apa adanya dengan kemandirian, kesederhanaan , bahkan terlihat kampungan; biarkan saja. Karena memang inilah identitas bangsa.

Kita pernah mengenal kata gotong royong, dimana hubungan kekerabatan tidak didasarkan uang. Membangun rumah, melaksanakan pesta, semuanya atas dasar sukarela. Memang, uang dibutuhkan, tapi rasa kebersamaan dan persaudaraan jauh lebih penting. Alhamdulillah, sekarang banyak perhelatan yang sengaja mencantumkan : dilarang membawa hadiah atau uang dalam bentuk apapun. Kehadiran dan doa anda jauh lebih penting. Undangan ini akan menepis kegelisahan : berapa ya saya harus nyumbang? 50? 100? Tapi saya kan seorang pejabat? Masa menyumbang hanya 50? Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin mahal nilai sosial yang harus dibayar. Padahal, semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin ia menjadi contoh bagi orang lain. Betapa kesederhanaa, gaya hidupnya, sikap dan pembawaannya akan mengayomi  anggota masyarakat lain yang kedudukannya berada di bawah statusnya.

Kita pernah mengenal, bahwa hadiah bahkan hasil karya tangan sendiri jauh lebih mengesankan daripada hadiah uang.

Waktu saya kecil, kalau ingin memberi hadiah ulang tahun, biaanya saya buat hiasan dinding dan semacamnya. Ketika menyelenggarakan ulang tahun, mama membuat sendiri wadah kue beserta kue-kuenya. Orangtua saat itu sangat lazim berbuat demikian. Betapa bangganya seorang ibu ketika mendapatkan pujian : waah, kue buatannya enak sekali ya… saat itu kehidupan konsumtif belum dikenal. Ulang tahun traktir di café mewah, di resto ala barat bergengsi, memberi hadiah mahal yang tinggal beli. Bahwa memberikan hadiah atau menyelengggarakan pesta, tidak perlu semewah mungkin, menjadi paradigm orang-orang saat itu. Akibatnya tak ada orangtua pusing : berapa biaya pesta anaknya? Berapa biaya pesta ulangtahun? Berapa biaya nikah?

Kita pernah mengalami, bahwa orang-orang yang diangkat menjadi pemimpin adalah orang-orang yang disegani di tengah masyarakat.

Ada seorang ‘ustadzah’ waktu saya kecil yang sangat dikenal dengan senyumnya, namanya bu Jali. Saya masih ingat senyumnya yang lebar dan tulus. Ia suka silaturrahmi kesana kemari, mengunjungi para pelacur, memberi mereka nasehat. Mengisi pengajian tanpa dibayar. Kalau ada pemilihan anggota legislative saat itu, bu Jali pasti akan menang di situ! Ia tidak butuh baliho, spanduk, selebaran, bingkisan, berkat,  untuk menarik massa datang. Ia lakukan dengan sukarela kebiasaan silarurrahmi dan itu berlangsung bertahun-tahun. Sekali lagi, bu Jali bukan ustadzah, namun reputasinya luarbiasa.

Paradigma tentang uang membuat kita gelap mata.

Okelah, belanja kebutuan harian, sekolah, beli bensin dan pulsa harus dengan uang. Namun ada yang tak perlu ditukar dengan uang. Kesenangan, gaya hidup, hubungan antar manusia, kekerabatan, hadiah-hadiah; tidak selalu harus berupa uang. Perhatian tulus sebagai sahabat antara seorang pemimpin dengan bawahan, antara seorang politikus dengan konstituen, antara atasan dan pegawai; akan memangkas kebutuhan akan uang yang digunakan untuk ‘memangkas’ banyak hal. Akibat tak pernah berkunjung ke rakyat dan tak pernah tahu apakah ia baik atau buruk, maka uang menjadi alat tukar yang cepat untuk membeli branding. Berapa banyak uang dibutuhkan?

Kita bukan pencuri seperti Murni, bukan koruptor seperti Ita.

Tetapi bukan tidak mungkin, kita punya paradigma sama tentang uang. Kita bukan penjahat, namun bukan mustahil kita tengah meng-implant ide-ide kejahatan ke tengah masyarakat.

 

 

Kategori
Jurnal Harian mother's corner Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Kejahatan #1 :Ayah, peng-implant dasar kejahatan

 

 

Dua hari mengikuti pelatihan Psikologi Forensik, membuka mata tentang banyak hal.

Bukan hanya teknik investigasi tindak pidana yang melibatkan terperiksa, terdakwa, saksi bermotif, saksi dan interviewer tentu saja; tapi  banyak hal-hal lain yang memperkaya wawasan. Terimakasih kepada ibu Reni Kusumowardhani atas ilmunya, Meta Power atas penyelenggaraan acara tersebut dan juga teman-teman yang hadir dari penjuru Indonesia atas ilmunya.

Sinta, Wenny,  Dwi (ki). Bu Reni dan seluruh peserta (ka)

Di luar materi, ada diskusi-diskusi filosofis yang dalam dan bermakna dengan teman-teman psikolog, HRD dan pakar hukum. Pengalaman teman-teman di lapangan tentu sangat penting untuk memperkaya siapapun kita, dalam segala perannya.

Tak seorangpun ingin jadi penjahat. Bahkan sebisa mungkin jangan duduk sebagai saksi kasus apapun. Namun, mengapa orang-orang dapat melakukan tindak kejahatan yang tidak terbayangkan? Apakah penyebabnya? Norma agama tentu jawaban mutlak. Di luar norma agama, ada hal-hal yang pantas kita cermati.

 

Kejahatan #1 : Ayah, peng-implant  dasar kejahatan

Siapa yang membuat anak jadi jahat?

Seorang pembunuh di kota X, menikam seorang lelaki dengan sadis. Ia mempersiapkan pisau dari rumah, menikam berkali-kali, dan melakukan hal lain terhadap korban dengan cara mengejutkan. Katakan namanya Jahal. Melihat tindakan Jahal yang diluar batas kewajaran, anda mungkin bertanya : jahatkah Jahal pada semua orang?

Tidak.

Jahal tidak dapat bersikap kasar pada perempuan. Jahal tidak mau memukul perempuan.   Bahkan istri Jahal berkali-kali selingkuh, Jahal tetap maafkan. Namun, Jahal  punya banyak masalah dengan rekan laki-laki. Ia sangat membenci laki-laki yang main perintah, merasa punya otoritas lebih tinggi, dan benci laki-laki yang dominan.

ayah-anak-2

Dapatkah anda meraba, apakah ayah atau ibu yang meng-implant kejahatan pada Jahal?

Ya. Ayah Jahal pemabuk. Sangat dominan di rumah, selalu menang sendiri, meremehkan si ibu dan menindas siapa saja. Tidak ada yang boleh punya suara di rumah, kecuali ayah. Ketika remaja, Jahal ingin berduel dengan sang ayah namun ibu melerai. Jauh di lubuk hati, Jahal punya skema tersendiri di benaknya : siapakah musuh paling utama hidupnya? Jawabannya, lelaki yang punya otoritas.

“Sudah kuduga, bapaknya tidak beragama. Kalau bapaknya ahli agama tentu lain kejadiannya!” itu yang sempat terbersit di benak.

Mari kita cermati seorang pemuda bernama Toyib.

ayah-anakAyahnya ahli agama, mengisi acara dimana-mana, penerjemah kita-kitab. Tetapi Toyib menjadi pencuri kambuhan yang entah berapa kali dipukuli warga hingga wajah dan kepalanya luka. Toyib menghabiskan uang hasil curiannya dengan bermain game dan hura-hura bersama temannya.  Sang ibu punya cerita tersendiri terkait sang ayah yang memang sangat cerdas dalam hal agama.

Di rumah mereka tidak boleh ada hiburan, termasuk music dan acara televisi. Apa alasannya, yang penting haram. Semua anak di rumah Toyib sebetulnya ingin membantah ayah, namun tidak berani. Toyib pernah terpergok menonton televisi. Hasilnya, ayahnya murka. Memukul Toyib dan merusak televisi (mereka punya TV sekedar untuk menonton berita). Seperti pemuda kebanyakan, Toyib mengecat rambut, memakai jeans belel yang robek di lutut dan menindik telinga. Ayahnya kembali berteriak haram dan mengusir Toyib dari rumah. Pada akhirnya Toyib mengembalikan warna rambut menjadi hitam, melepas anting dan mengganti dandanannya ala pemuda baik-baik .Toyib mengalihkan kesukaannya bermain game di warnet dan tiap kali uangnya habis, ia akan mencuri barang-barang tetangga.

Apakah syariat yang ditegakkan ayah Toyib salah? Tentu tidak.

Ulama sebagian memang benar-benar tegas terkait music, film, gaya berpakaian. Namun bagaimana cara menyampaikannya, itu yang penting. Ruang-ruang diskusi yang tidak dibiasakan di rumah, dialog terbuka antar ayah anak, mendengarkan apa keinginan anak dan mengarahkannya; membuat Jahal dan Toyib kehausan mencari posisi sebagai human being di tengah konstelasi kehidupan. Toyib bukan pemuda 100% brengsek. Kalau ia dapat rezeki halal dari kerja serabutan, ia akan membelikan sang ibu  nasi goreng kesukaannya.

ayahAnak pasti menolak aturan yang sangat mengikat dan membatasi.

Di luar sana orang antri nonton bioskop, kok aku nggak boleh? Di luar sana remaja nonton konser music, kok aku nggak bisa? Kenapa ayah hanya menyuruhku sholat, baca Quran, menghafal Quran, masuk surga, taat orang tua, pintar belajar, dan sejenisnya?

Ayah adalah pemilik otoritas.

Ibu, biasanya tunduk pada ayah. Apalagi di tengah kultur timur, istri dan ibu akan mendengar kata suami/ayah. Bila ayah berkata ya atau tidak, maka ibu akan cenderung mendukung, tak peduli hati anak penuh pemberontakan. Ibu mungkin dapat bijak menjelaskan perkara music, televisi, gaya berpakaian, dsb; namun tetap saja ada luka menganga yang tak mudah disembuhkan dalam hubungan ayah anak.

Apa salahnya menjadi ayah yang toleran dan pendengar aktif? Toh tidak mengurangi bobot kehormatan. Toleran bukan berarti permisif. Ketika anak berulah negative, membangkang, melanggar norma agama, coba dengarkan baik-baik luapan hatinya. Seringkali, anak melakukan tindakan di luar batas, bukan karena ia memang ingin melakukan kejahatan, tapi karena ingin didengarkan. Ketika jeritan hati anak-anak tak didengar orang, termasuk orangtuanya, ia akan membentuk alur berpikir sendiri. Menggurat skema dalam pikiran, membuat proyeksi terhadap orang-orang yang bermasalah dengan dirinya.

Sebagaimana Jahal yang membenci lelaki pemilik otoritas. Sebagaimana Toyib yang akhirnya membenci agama dan para ustadz.

Apakah ayah yang otoriter tidak baik?

Hamka adalah ayah yang otoriter dalam skala tertentu. Beliau akan menarik sabuknya dan menghukum putranya bila lalai membaca Quran. Namun Hamka tidak melakukan itu untuk semua anak. Ia hafal betul satu demi satu watak anaknya dan ada satu orang putranya bernama yang tampaknya membutuhkan perlakuan lain.   Sang putra suka menonton film India pula. Maka Hamka memutuskan, anak laki-laki dengan energy lebih seperti itu lebih baik diajarkan bela diri. Daripada terus menerus memarahi putranya yang tampaknya punya jalur berbeda dari sang ayah yang ahli agama serta sastrawan, Hamka mengajak sang putra untuk belajar bela diri. Di luar perkara membaca Quran, Hamka adalah pribadi yang hangat dan lucu bagi siapa saja, termasuk anak-anaknya. Ia suka mengajak anaknya berdiskusi, dan menyelipkan filosofi-filosofi hidup.

Ayah, adalah peng-implant moralitas. Ayah, adalah peng-implant kejahatan, disisi lain. Apakah ibu tidak punya peran? Tentu punya. Bila ayah berakhlaq buruk, dibutuhkan sosok ibu yang kuat luarbiasa untuk mereduksi kesan-kesan buruk . Tetapi bila sosok ibu tak cukup kuat untuk menghapus kesan tersebut, dapat kita bayangkan bagaimana kepribadian anak-anak terbentuk.

 

Kejahatan #2 : Paradigma Uang

(Bersambung)