Kejahatan #1 :Ayah, peng-implant dasar kejahatan

 

 

Dua hari mengikuti pelatihan Psikologi Forensik, membuka mata tentang banyak hal.

Bukan hanya teknik investigasi tindak pidana yang melibatkan terperiksa, terdakwa, saksi bermotif, saksi dan interviewer tentu saja; tapi  banyak hal-hal lain yang memperkaya wawasan. Terimakasih kepada ibu Reni Kusumowardhani atas ilmunya, Meta Power atas penyelenggaraan acara tersebut dan juga teman-teman yang hadir dari penjuru Indonesia atas ilmunya.

Sinta, Wenny,  Dwi (ki). Bu Reni dan seluruh peserta (ka)

Di luar materi, ada diskusi-diskusi filosofis yang dalam dan bermakna dengan teman-teman psikolog, HRD dan pakar hukum. Pengalaman teman-teman di lapangan tentu sangat penting untuk memperkaya siapapun kita, dalam segala perannya.

Tak seorangpun ingin jadi penjahat. Bahkan sebisa mungkin jangan duduk sebagai saksi kasus apapun. Namun, mengapa orang-orang dapat melakukan tindak kejahatan yang tidak terbayangkan? Apakah penyebabnya? Norma agama tentu jawaban mutlak. Di luar norma agama, ada hal-hal yang pantas kita cermati.

 

Kejahatan #1 : Ayah, peng-implant  dasar kejahatan

Siapa yang membuat anak jadi jahat?

Seorang pembunuh di kota X, menikam seorang lelaki dengan sadis. Ia mempersiapkan pisau dari rumah, menikam berkali-kali, dan melakukan hal lain terhadap korban dengan cara mengejutkan. Katakan namanya Jahal. Melihat tindakan Jahal yang diluar batas kewajaran, anda mungkin bertanya : jahatkah Jahal pada semua orang?

Tidak.

Jahal tidak dapat bersikap kasar pada perempuan. Jahal tidak mau memukul perempuan.   Bahkan istri Jahal berkali-kali selingkuh, Jahal tetap maafkan. Namun, Jahal  punya banyak masalah dengan rekan laki-laki. Ia sangat membenci laki-laki yang main perintah, merasa punya otoritas lebih tinggi, dan benci laki-laki yang dominan.

ayah-anak-2

Dapatkah anda meraba, apakah ayah atau ibu yang meng-implant kejahatan pada Jahal?

Ya. Ayah Jahal pemabuk. Sangat dominan di rumah, selalu menang sendiri, meremehkan si ibu dan menindas siapa saja. Tidak ada yang boleh punya suara di rumah, kecuali ayah. Ketika remaja, Jahal ingin berduel dengan sang ayah namun ibu melerai. Jauh di lubuk hati, Jahal punya skema tersendiri di benaknya : siapakah musuh paling utama hidupnya? Jawabannya, lelaki yang punya otoritas.

“Sudah kuduga, bapaknya tidak beragama. Kalau bapaknya ahli agama tentu lain kejadiannya!” itu yang sempat terbersit di benak.

Mari kita cermati seorang pemuda bernama Toyib.

ayah-anakAyahnya ahli agama, mengisi acara dimana-mana, penerjemah kita-kitab. Tetapi Toyib menjadi pencuri kambuhan yang entah berapa kali dipukuli warga hingga wajah dan kepalanya luka. Toyib menghabiskan uang hasil curiannya dengan bermain game dan hura-hura bersama temannya.  Sang ibu punya cerita tersendiri terkait sang ayah yang memang sangat cerdas dalam hal agama.

Di rumah mereka tidak boleh ada hiburan, termasuk music dan acara televisi. Apa alasannya, yang penting haram. Semua anak di rumah Toyib sebetulnya ingin membantah ayah, namun tidak berani. Toyib pernah terpergok menonton televisi. Hasilnya, ayahnya murka. Memukul Toyib dan merusak televisi (mereka punya TV sekedar untuk menonton berita). Seperti pemuda kebanyakan, Toyib mengecat rambut, memakai jeans belel yang robek di lutut dan menindik telinga. Ayahnya kembali berteriak haram dan mengusir Toyib dari rumah. Pada akhirnya Toyib mengembalikan warna rambut menjadi hitam, melepas anting dan mengganti dandanannya ala pemuda baik-baik .Toyib mengalihkan kesukaannya bermain game di warnet dan tiap kali uangnya habis, ia akan mencuri barang-barang tetangga.

Apakah syariat yang ditegakkan ayah Toyib salah? Tentu tidak.

Ulama sebagian memang benar-benar tegas terkait music, film, gaya berpakaian. Namun bagaimana cara menyampaikannya, itu yang penting. Ruang-ruang diskusi yang tidak dibiasakan di rumah, dialog terbuka antar ayah anak, mendengarkan apa keinginan anak dan mengarahkannya; membuat Jahal dan Toyib kehausan mencari posisi sebagai human being di tengah konstelasi kehidupan. Toyib bukan pemuda 100% brengsek. Kalau ia dapat rezeki halal dari kerja serabutan, ia akan membelikan sang ibu  nasi goreng kesukaannya.

ayahAnak pasti menolak aturan yang sangat mengikat dan membatasi.

Di luar sana orang antri nonton bioskop, kok aku nggak boleh? Di luar sana remaja nonton konser music, kok aku nggak bisa? Kenapa ayah hanya menyuruhku sholat, baca Quran, menghafal Quran, masuk surga, taat orang tua, pintar belajar, dan sejenisnya?

Ayah adalah pemilik otoritas.

Ibu, biasanya tunduk pada ayah. Apalagi di tengah kultur timur, istri dan ibu akan mendengar kata suami/ayah. Bila ayah berkata ya atau tidak, maka ibu akan cenderung mendukung, tak peduli hati anak penuh pemberontakan. Ibu mungkin dapat bijak menjelaskan perkara music, televisi, gaya berpakaian, dsb; namun tetap saja ada luka menganga yang tak mudah disembuhkan dalam hubungan ayah anak.

Apa salahnya menjadi ayah yang toleran dan pendengar aktif? Toh tidak mengurangi bobot kehormatan. Toleran bukan berarti permisif. Ketika anak berulah negative, membangkang, melanggar norma agama, coba dengarkan baik-baik luapan hatinya. Seringkali, anak melakukan tindakan di luar batas, bukan karena ia memang ingin melakukan kejahatan, tapi karena ingin didengarkan. Ketika jeritan hati anak-anak tak didengar orang, termasuk orangtuanya, ia akan membentuk alur berpikir sendiri. Menggurat skema dalam pikiran, membuat proyeksi terhadap orang-orang yang bermasalah dengan dirinya.

Sebagaimana Jahal yang membenci lelaki pemilik otoritas. Sebagaimana Toyib yang akhirnya membenci agama dan para ustadz.

Apakah ayah yang otoriter tidak baik?

Hamka adalah ayah yang otoriter dalam skala tertentu. Beliau akan menarik sabuknya dan menghukum putranya bila lalai membaca Quran. Namun Hamka tidak melakukan itu untuk semua anak. Ia hafal betul satu demi satu watak anaknya dan ada satu orang putranya bernama yang tampaknya membutuhkan perlakuan lain.   Sang putra suka menonton film India pula. Maka Hamka memutuskan, anak laki-laki dengan energy lebih seperti itu lebih baik diajarkan bela diri. Daripada terus menerus memarahi putranya yang tampaknya punya jalur berbeda dari sang ayah yang ahli agama serta sastrawan, Hamka mengajak sang putra untuk belajar bela diri. Di luar perkara membaca Quran, Hamka adalah pribadi yang hangat dan lucu bagi siapa saja, termasuk anak-anaknya. Ia suka mengajak anaknya berdiskusi, dan menyelipkan filosofi-filosofi hidup.

Ayah, adalah peng-implant moralitas. Ayah, adalah peng-implant kejahatan, disisi lain. Apakah ibu tidak punya peran? Tentu punya. Bila ayah berakhlaq buruk, dibutuhkan sosok ibu yang kuat luarbiasa untuk mereduksi kesan-kesan buruk . Tetapi bila sosok ibu tak cukup kuat untuk menghapus kesan tersebut, dapat kita bayangkan bagaimana kepribadian anak-anak terbentuk.

 

Kejahatan #2 : Paradigma Uang

(Bersambung)

 

Iklan

Bila Pengejek dan Pengolok berbalik menjadi Pendukung

 

Jika anda memakai  jilbab seperti saya di era 90an, pasti pernah  mengalami masa-masa yang spesial ini.

“Kamu mau kayak orang Iran ya?” kata salah  seorang saudara.

“Kamu ikut aliran apa sih?”

Apalagi ketika saya membatasi pergaulan, mengurangi film dan musik, tuduhan semakin berdatangan : “kamu sekarang nggak asyik lagi diajak ngobrol.”

Ketika saya tidak mau diajak bersalaman dengan pakde paklik mereka sontak murka : “memangnya aku ini apamu, Sin? Pakde paklik merasa tersinggung sekali saya tidak mau menyentuh tangan mereka.”

Waktu nikah muda di usia 20-an tahun, lengkaplah sudah stigma cewek berjilbab : “kamu itu dipengaruhi banget ya sama suru ngaji kamu? Kamu nggak mau kerja? Maunya di rumah aja? Hah, mau anak banyak? Ampun deh! Anak dua aja susah setengah mati!”

Berlinang air mata ini. Sakit rasanya. Kalau yang menyudutkan adalah guru-guru sekolah, nggak papa. Kalau yang menyindir dan mengolok-olok teman satu geng, okelah. Kalau yang menjauh adalah klub bahasa Inggris dan klub  pecinta alam, ya sudahlah. Tapi ketika saudara sendiri yang ikut-ikutan menyindir, mengejek, menyudutkan, menuduh macam-macam; jauh di lubuk hati sakitnya tak terkira melebihi goresan yang ditorehkan orang lain.

Saya ingin pakai jilbab karena ingin menjaga kemuliaan diri dan akhirnya menjaga kemuliaan keluarga, tapi mengapa keluarga sendiri juga yang menentang? Dulu, waktu saya pakai celana pendek dan kaos rock n roll, tidak ada yang menegur. Orang pacaran dibiarkan, orang menikah dikomentari. Padahal pacaran dan menikah sama-sama menghabiskan uang. Bedanya yang satu tidak terarah, yang satu terarah.

Tetapi ternyata, apa yang dilakukan atas landasan kebenaran, semakin kokoh dari hari ke hari. Satu demi satu sepupu, paman, bibi, pakde, bude yang menentang akhirnya ikut memakai jilbab. Yang dulu memarahi karena menikah  muda, malah memuji kami. Yang menuduh aliran sesat ketika tengah mendalami agama, ramai-ramai ikut pengajian dalam segala bentuknya. Ada yang ikut tasawuf, ada yang ikut Muhammadiyah, ada yang ikut NU, ada yang lebih suka tabligh. Pendek kata, semua yang menentang saya melakukan kebaikan dulu, pada akhirnya berbalik memuji dan mendukung. Bahkan mengikuti.

 

Kebaikan akan Berkembang

Alam semesta memuai. Kita semua tumbuh dan berkembang. Kejahatan tumbuh berkembang, sebaliknya, kebaikan juga tumbuh dan mekar. Dulu pacaran diam-diam, sekarang bahkan bugil dan berhubungan intim difoto, dishare, di like dan di comment!

Demikian pula kebaikan secara hukum alam, mengikuti aksi reaksi.

Ibaratnya, dimana ada Firaun, disitu ada Musa.

Semakin dahsyat keburukan, semakin dahsyat pula kebaikan mencari celah untuk tumbuh subur. Dulu saya harus menjahit baju sendiri, memakai taplak untuk jilbab. Satu-satuunya model jilbab saat itu hanya model ala qasidah, jilbab dengan topi. Kain jilbabnya tipis dan berbentuk segitiga tipis. Sekarang? Mau cari model busana dan kerudung ala apapun, ada! Harganya tersedia di segala level. Butiknya tersedia di setiap sudut jalan.  Mau pakai celana panjang, rok, gamis, cadar, abaya, baju kurung, baju pesta. Bahkan busana renang berhijabpun, ada. Disaat orang rame-rame memamerkan foto bugil, para muslimah pun tak ketinggalan memamerkan bahwa busana syari demikian modern dan stylish.

 

Panggung pendidikan, panggung sosial dan panggung politik

Apa sih yang laris dijual?

Ih, acara-acara yang menghibur ala dunia entertaintment dong. Pentas musik, film, novel teenlit chicklit, televisi yang menayangkan sinetron. Di zaman saya dulu, jangan coba-coba pakai label Islam. Nggak bakal laku! Yang namanya sekolah Islam dan pesantren, hiiii. Kumuh, pojok, kudisan, terbelakang. Apalagi pesantren. Alamak! Ketombean, kutuan, korengan. Yang mentereng adalah sekolah-skolah internasional dan sekolah non-muslim. Ekonomi dan perbank-an? Wuah, mana ada ekonomi syariah. Mana ada bank syariah. Yang ada adalah pinjaman bunga berbunga. Masih ingat ketika mama saya dulu punya usaha apotik, setengah mati cari pinjaman ke bank. Harus bayar setoran per hari (atau perpekan ya?). Telat sedikit, atau kurang meski seribu perak, di black list.

Sekarang?

Kalau mau daftar sekolah Islam, haus antri daftar November. Padahal tahun ajarannya masih Juli Agustus! Sekolah-sekolah Islam menjamur dan luarbiasa bagusnya. Pesantren? Mau cari yang tradisional atau modern, semua ada. Yang mahal atau murah, silakan, sama bagusnya. Daycare, taman kanak-kanak, SD, SMP SMA Islam wuaahhh, kualitasnya luarbiasa.

EO wedding sampai seminar, pelatihan yang muslim; ada. Sinetron muslim, ada. Novel Islami, ada. Warung, cafe, resto, makanan, minuman, hotel, wisata Islami, ada. Motivator, ada. Yang ceramah agama laris manis sekarang. Ustadz ustadzah adalah pekerjaan bergengsi yang menghasilkan pendapatan layak. Tidak seperti di zaman saya kecil dulu, ustadz itu miskin banget!

Bank-bank syariah menjamur. Senang banget lihat pegawai bank yang cantik-cantik berjilbab; tangkas, cerdas. Hampir di tiap kantor pemerintah atau swasta gemar mengadakan kajian Islam mulai dari belajar tahsin Quran sampai belajar tentang pernikahan dan parenting.

Panggung pendidikan dan sosial kita telah  mulai merasakan indahnya nafas Islam. Islam maju, indah, mampu bersaing dan solutif. Lalu; dunia yang memuai inipun menunjukkan sunnatullah. Hukum alam.

Boleh  kan Islam mulai merambah ke dunia politik?

natsir

Mohammad Natsir

Mulailah kaum muslimin yang semakin cerdas dan sadar akan posisinya; merasakan tanggung jawab sebagai khalifah. Wah, kalau sosial dan ekonomi saja mulai merasakan keteraturan dan keberkahan ketika dikelola oleh kaum muslimin; boleh dong urusan-urusan politik serta kenegaraan diatur juga oleh kaum muslimin. Tidak dengan cara anarkis, membabai buta, main seruduk. Tapi dengan cara yang baik kok. Sebagaimaan di pentas sosial dan pendidikan, kaum muslimin juga belajar banyak menjadi tokoh di bidangnya. Kaum muslimin semakin mahir, semakin cakap mengelola permasalahan dan mencari jalan keluarnya.

Ketika lembaga zakat dan ekonomi Islam berkembang, terasa sekali masyarakat miskin dan yang amat sangat  miskin mendapatkan bantuna. Banyak anak yatim, yatim piatu, keluarga dhuafa yang terbantu ketika sakit, membuka usaha, meneruskan pendidikan.

Ketika kaum muslimah semakin mampu menjaga diri dengan busana syari dan semakin memahami agama; kehidupan di kantor dan dunia kerja semakin lebih kondusif. Masing-masing kita lebih lapang melepas anak perempuan atau istri bekerja (jika harus bekerja).

Pendidikan, ekonomi, sosial; sudah.

Tapi masih ada yang kurang.

Sebab memang pentas politik dikelola oleh orang-orang yang sangat mahir dalam menaklukan segala sesuatu. Politikus haruslah negarawan. Saya masih ingat ucapan seorang tokoh muslim, Dr. Eko Fajar Nurpasetyo, Phd, yang memilih kembali ke Indonesia meskipun ia dan keluarganya dapat hidup makmur di negeri para Shogun. Bisnis potong ayam, potong daging, dan microchipnya telah mendunia Inti ucapan beliau, “seorang negarawan, pemimpin, melihat 20 tahun ke depan. Mempersiapkan situasi dan kondisi bagi generasi sesudahnya.”

Dampak ekonomi Islam dapat dirasakan sekarang. Pendidikan yang baik membuat orangtua tenang dan membantu mempersiapkan masa depan. Kehidupan sosial yang baik membuat masyarakat lebih stabil. Tapi siapa yang dapat menajmin berlangsungnya semua itu? Bisa saja arah kebijakan berbalik arus sehingga ekonomi Islam, pendidikan Islami, dan kehidupan sosial lalu ambruk. Negarala yang menjamin berlangsungnya hal yang baik, atau yang buruk.

Jadi, tak salah kemudian kalau orang-orang sholih mengarahkan pandangan mereka ke pentas politik. Lagipula, kan memang bersaing di negeri sendiri?

 

Semua Perkara Islami Awalnya Mendapat Tantangan

Pernah menyekolahkan anak di SDIT?

Saya menyekolahkan anak-anak di SDIT mulai gedung itu masih bangunan jelek, di tanah sewaan, guru segelintir. SMPIT juga begitu. SMAIT juga begitu. Putri saya sekolah SMAIT dengan jumlah siswa segelintir. Bangunan berhantu, di gang sempit yang ujiannya masih menumpang ke sekolah lain!

Sekarang? SDIT, SMPIT, SMAIT tempat anak saya sekolah hampir selalu menolak murid setiap tahun karena tak cukup lokal. Sekolah Islam menjadi incaran pertama kali!

“Kamu itu ngapain nyekolahin anak di sekolah yang akreditasinya gak jelas? Jangankan diakui atau disamakan, mungkin terdaftar aja belum!”

Kalau sekarang saya diminta mengisi acara parenting, hal yang saya ucapkan adalah : saya bangga menyekolahkan anak-anak saya di sekolah Islam ini. Biar bangunannya jelek, tapi guru-gurunya punya komitmen tinggi dan tahu kemana kualitas pendidikan akan dibawa. Maka anak-anak kami yang bersekolah di SIT insyaallah menjadi anak-anak berkarakter.

Pertentangan, resah gelisah, maju mundur; dialami pada awal berdirinya sebuah institusi. Termasuk lembaga sosial dan perekonomian. Siapa juga yang dulu mau buka tabungan di bank Islam macam Muamalat? Mending di bank lain yang bunga depositonya jelas! Kini bank-bank Islam digemari. Bukan hanya karena semakin maju pelayanannya, rasa tentram dan barakah membuat kaum msulimin senang berinteraksi dengan layanan perbankan Islami.

Politik Islam?

“Kotor! Semua politikus busuk. Semua partai Islam korup, sama aja. Semua anggota dewan menghalalkan segala cara. Ngapain kiai dan ustadz duduk disana? Nggak kompeten. Politik itu tempatnya barang haram, maksiat, terlaknat beredar.”

Ya iyalah. Yang jadi panduan Il Prince nya Machiavelli. Jelas politikusnya kotor seperti klan Medici.

Coba yang dibaca Muqaddimah Ibnu Khaldun, pasti beda. Yang dibaca Siyasah Syariyah  Ibnu Taimiyah, pasti melek. Yang dibaca karya Buya Hamka dan Mohammad Natsir, pasti lebih semangat.

Memang bisa ya politik Islam memimpin negeri? Nggak akan menindas, main anarkis, memaksakan kehendak? Wah, yang bilang Islam selalu menindas berarti gak baca sejarah Indonesia, nih. Suku Batak itu dikepung Aceh dan Melayu sejak lama, aman-aman saja. Bali dihimpit Jawa Timur, Madura, Sasak, Bugis yang kuat sekali sisi religusitasnya; tetap damai sampai sekarang.

Mainlah kapan-kapan ke Surabaya. Kalau lewat daerah Nginden hari-hari tertentu saat misa Kristiani, mobil-mobil memacetkan jalanan sampai kita nyaris kehabisan nafas. Tapi tidak ada kok keluhan atau ancaman supaya gereja menghentikan peribadatan. Kaum muslimin menerima perbedaan keyakinan.

Ini bulan Desember. Pasti anda lihat dong dimana-mana penuh pohon Natal dan para penjaja minimarket pakai topi Sinterklas. Kita kaum muslimin sebetulnya tidak terima lho. Kan muslim mayoritas. Kok dipaksa mengadakan perayaan Natal di seantero negeri sih? Tapi sekali lagi, kaum muslimin tepaselira. Di Bali, sekolah-sekolah Islam mengikuti libur Galungan, Nyepi, Kuningan. Di kalender nasional juga. Tidak ada protes meski sebagian sekolah Islam tetap masuk.

Nah, kalau sekarang kaum muslimin masuk ke ranah politik dalam segala aspeknya, anggap saja itu hukum alam yang memuai. Boleh dong kita duduk sebagai bupati, gubernur, Panglima ABRI, menteri, presiden asalkan itu fair. Lewat pemilihan yang adil. Kalau ada hal-hal yang berjalan tidak adil, selayaknya kaum muslimin protes. Protes bisa lewat media sosial, media massa, jalur resmi, lembaga hukum, lewat anggota legislatif, dan seterusnya. Kalau semua sudah dilakukan dan masih tetap buntu, ya, aksi bersama atau demonstrasi. Eh, demonstrasi itu hal lumrah di negara manapun. Waktu rakyat Amerika tidak menerima Trump menjadi presiden, mereka demo juga. Aksi damai pernah dilakukan Mahathma Gandhi yang mengumandangkan Ahimsa-Satyagraha. Martin Luther King Jr. Juga pernah melakukan  saat menuntut kesetaraan hal sipil.

Aksi demonstrasi Islam dianggap aneh? Ya, sama seperti panggung sosial, pendidikan, ekonomi yang dianggap sebelah mata oleh pemeluknya sendiri (apalagi yang non muslim). Meski, lama-lama kaum muslimin yang menentang, justru merasakan keberkahan panggung-panggung Islami itu dan berbalik mendukung.

Awalnya, saya ragu dengan aksi 411 dan 212 : benar nggak sih ini Islami? Sampai saya datang di acara al Falah 27 November tempo hari dan mendapatkan penjelasan dari Bachtiar Nasir.

Punk muslim, laki-laki, perempuan, anak-anak di acara aksi 

 

Tapi pasti ada kan di kalangan kaum muslimin yang masih ragu, bahkan tidak setuju dan menentang agenda ini? Wajar kok.

Dalam sejarah juga terjadi.Yang menentang kaum muslimin dengan keras salah satunya bangsa Mongolia hingga mereka menghancurkan Baghdad. Tetapi sejak Chagatay, Tuqluq Timur Khan, Anada Khan, Baraka Khan, begitu banyak bangsa Mongolia menjadi muslim. Apa alasannya? Mereka punya pepatah kuno Mongolia. Pepatah yang membuat mereka berbalik memeluk Islam.

Pepatah ini cocok untuk 411 ddan 212.

“Kalau ada suatu hal yang begitu mudah tersebar sebagaimana angin bertiup, perkara itu pastilah perkara kebaikan.”

Bangsa Mongolia yang menaklukan Eropa hingga Asia ternganga : kok ada ya keyakinan yang tersebar demikian luas sebagaimana arah angin bertiup dengan mudah? Logika itu membuat mereka memahami bahwa Islam adalah kebaikan semata.

Masih tidak percaya 411 dan 212 bagaimana angin bertiup membawa kebaikan?

Kalau begitu anda harus nonton film Pay It Forward. Satu anak punya niat baik, akan menyebar ke 3 anak. 3 anak punya niat baik, akan menyebar ke 9 anak. Begitu seterusnya.

Masih belum percaya juga?

Hm, gimana ya. Gini aja.

Pasang iklan termahal untuk radio di Surabaya itu ranking pertama dipegang Suara Surabaya. Wajarlah. Itu radio FM yang kondang banget. Tahu ranking kedua siapa? Ternyata Suara Muslim Surabaya. Lho, kok bisa? Ya. Karena pendengar Suara Muslim Surabaya sangat besar meskipun pasif. Mendengar data ini saya diam-diam merenung. Padahal, Suara Muslim Surabaya itu radio keagamaan lho. Tidak menayangkan K-Pop seperti Seventeen, BTS atau EXID, Black Pink. Tidak menayangkan BMTH, SoAD atau Linking Park. Tapi diam-diam banyak pengagumnya.

Jangan-jangan kita seperti pendengar radio Suara Muslim Surabaya. Pasif, tapi diam-diam mengagumi. Meski kita menghujat, meremehkan, mencaci maki aksi para ulama dan aksi bela Islam; diam-diam ada rasa kagum juga kan? Atau diam-diam mendukung dengan dana dan doa? Kalau nggak bisa mendukung dana dan doa, jangan caci maki para ulama dan aksi bela Islam. Segitu banyak orang lagi berdoa di hari Jumat, lho. Hari keramat. Sayyidul ayyam. Kebayang gak sih kalau kita minta didoakan sama ummat Islam yang segitu banyaknya, di hari Jumat, di tengah aksi memperjuangkan kebenaran? Kalau kita nggak mau mendukung, jangan mencaci maki. Takutnya nih, ribuan doa kaum muslimin yang tangannya menegadah ke langit, mengirimkan doa-doa rahasia bagi pendukung dan pencela.

Kalau malaikat-malaikatNya turun tangan, memangnya masih ada kolong langit yang aman?

 

Sinta Yudisia, Ordinary People

 

Jakarta : Pemimpin gabungan Berber, Visigoth, Corleone dan isyarat Ibnu Khaldun

 

Jakarta  dibangun dari Judi dan Prostitusi?

“Pak Natsir naik helikopter aja kemana-mana. Sebab jalanan Jakarta saya bangun dari duit judi,” sindir Ali Sadikin.

Mohammad Natsir, tokoh petisi 50 dan Mosi Integral, seorang ulama sederhana yang disegani kawan dan lawan. Kesederhanaan beliau, kehati-hatian beliau dalam berinteraksi dengan hal-hal haram bahkan syubhat, membuat sebagian orang risih. Ali Sadikin salah satu diantaranya.

Bagaimana Ali Sadikin membangun Jakarta, memang menuai pro dan kontra. Di tangan Ali Sadikin, pembangunan Jakarta di era 70an melaju pesat. Jalan-jalan, TIM (Taman Ismail Marzuki) dan TMII (Taman Mini Indonesia Indah). Tahun 1966 Jakarta belum seperti sekarang. Butuh dana besar untuk membangun sarana prasarana. Ali Sadikin mengambil langkah kontroversial dengan melegalkan judi,  kawasan merah Kramat Tuggak; demi menarik pajak daerah. Secara fisik, pembangunan Jakarta melaju cepat di tangan Ali Sadikin. Konon, hanya ada dua gubernur yang dilantik di istana negara : Ali Sadikin dan Ahok. Di kemudian hari, Ali Sadikin beranggapan bahwa membangun Jakarta dari judi dan prostitusi dapat dilakukan di awal kemerdekaan. Ketika orang-orang tulus dan para pejuang yang komitmen dengan cita-cita besar bangsa masih banyak bertebaran. Ia mengatakan hal itu tak dapat terus menerus dilakukan, apalagi bila institusi korup semakin merajalela.

 

Jakarta :  antara Silkroad- Megacities dan  Cordoba

batavia

Batavia lama

Para international writers yang diundang ke Seoul 2016 sebagian mengatakan, salah satu capital city yang indah dan menarik untuk dipandang adalah Jakarta. Bagi kita warga Indonesia yang mendambakan kedamaian serta situasi yang tidak menimbulkan depresi, Jakarta adalah kota yang harus dihindari. Dibandingkan Seoul, ibukota Korea Selatan dan Rabat, ibukota Maroko ; Jakarta memang lebih istimewa. Warna warni hijau masih tersebar dimana-mana, mengingat kata Koes Plus, kayu dilemparpun jadi pohon. Kolam susu menggenang di segala penjuru. Kalau sekarang orang tak menemukan kayu bertransformasi menjadi pohon serta kolam susu sekeruh mangkok kobokan; salahkan saja Jan Pieterszoon Coen yang membangun Batavia. (Hm, sedemikian mudahkah menyalahkan sejarah?)

Apa yang anda bayangkan ketika menyebut ibukota?

han-river-2

Sungai Han, Seoul

Mungkin, saya jenis orang yang terlalu khusyuk berimajinasi. Berkhayal.  Jakarta suatu saat akan memiliki sungai seromantis Han Kang atau sungai Han yang membelah Seoul. Sungai jernih yang menimbulkan sejuta loncatan imajiner setiap kali warga naik subway melintasi Dangsan dan Hapjeong. Sungai yang terpelihara dari anak iseng yang melempar kulit permen. Sungai yang membiarkan remaja berlarian, naik sepeda, melaju dengan otopet, atau menentang riaknya dengan naik kapal pesiar.

 

Bukan sungai yang diberitakan meluap, memecah tanggul, menyerap teriakan orang-orang yang tergusur rumah kardusnya.

Yah, lebih jauh saya membayangkan Jakarta akan seperti salah satu dari 5 of megacities yang dicatat sebagai silkroad– jalur sutra : Xi’an (Changan), Samarkand, Aleppo, Mosul dan Merv. Meski Aleppo dan Mosul saat ini menorehkan luka dalam di hati kaum muslimin, kemegahan kota-kota tersebut tak akan hilang dari jejak sejarah. Apa yang menyebabkan kota mega tersebut menjadi mutiara-mutiara yang berkilau hingga kini menjadi negara modern? Pembangunan fisik yang meliputi masjid, benteng, pasar, observatorium menjadi salah satu keunggulan. Hal lain adalah, para ulama menjadi motor-motor penggerak yang diberikan kebebasan untuk memberikan motivasi kepada khalayak. Ulama, adalah para pewaris Nabi yang bersama mereka, ilmu dan amal menjadi satu kesatuan.  Tentu, tak akan lepas dari catatan sejarah para ulama yang menghasilkan gagasan-gagasan besar : Ibnu Sina dengan the Canon Medicine, Ibnu Khaldun dengan Muqaddimah, Ibnu Batutah dengan Rihlah, Umar Khayyam sang astronomer dan penyusun Rubaiyyat serta ribuan lagi ulama yang tak akan cukup waktu manusia memelajari kehebatan mereka. Sepanjang ulama memiliki tempat terhormat, sepanjang itu pula sejarah memiliki peradaban tertinggi.

Bisakah Jakarta seperti Cordoba?

Ah, mengapa pula tidak.

Abdurrahman III, sang pemuda sebatang kara yang selamat dari pembantaian di Rusafa, melarikan diri dari Damaskus. Seluruh dinasti Umayyah dihabisi dinasti Abbasiyyah, hanya Abdurrahman seorang yang tersisa. Keberanian, kecerdasan, ketabahan sang pemuda menjadikan satu wilayah di semenanjung Iberia menjadi sebuah ikon yang disebut sebagai Ornament of the World – hiasan dunia: Cordoba atau Qurtubah. Sebuah kota megah dengan ciri khas air mengalir dan perpustakaan. Konon, khalifah memiliki perpustakaan pribadi dengan 44 jilid katalog ( katalognya saja!) dan 600.000 judul buku disaat raja Eropa hanya memiliki 400 manuskrip. Perpustakaan Abdurrahman III hanya 1 diantara 70 perpustakaan di Cordoba, dan di pasar tersedia 70 penyalin naskah al Quran yang siap mendistribusikan kitab mulia tersebur ke segenap penjuru.

Pembangunan fisik, yang menjadikan Cordoba tak kalah megah dari Damaskus dan Baghdad, menjadikan orang-orang berbondong ingin menikmati Ornament of the World. Sekali lagi, pembangunan fisik. Dan tidak lupa, pendidikan serta peran serta para ulama menjadi kata kunci yang membuat kota tersebut dikenang sepanjang masa. Para pemikir besar lahir dari wilayah Damaskus, Baghdad, Cordoba selain dari Mekkah, Madinah, Palestina tentu. Para ulama menjadi sosok yang dihormati, menempati mimbar elite pemerintah; bukan sekedar di koridor, selasar atau malah emperan sebagai pemanis.

 

Jakarta : siapakah yang berkuasa?

Sebuah kota selalu memiliki 2 pemerintahan.

Luarbiasa cara Mario Puzo menggambarkan dalam bukunya Omerta, “kota, memiliki pemerintahan siang dan malam. Siang hari kalian dikuasai pemerintah formal, malam hari penguasa yang lain menggantikan.”

Mungkin, darah Italia Mario Puzo menjadikannya berpikir demikian. Mafia menguasai segala penjuru kota dan stigma mafia semakin terbentuk sebagaimana film legendaris the Godfather  melambungkan nama Francis Ford Coppola sebagai sutradara serta Marlon Brando sebagai Vito Corleone dan Al Pacino memerankan Michael Corleone. Para keluarga mafia saling bunuh, saling melindungi, dan saling membayar hutang piutang. Terutama hutang jasa. Sekali keluara Corleone mengucap janji, mereka pantang menarik. Mereka melindungi setiap yang bersandar pada keluarga ini dan sebaliknya, mereka menuntut upeti dalam jumlah yang pantas.

Memang, di balik penguasa hebat, berdiri orang-orang kuat.

Abdurrahman III tak akan sukses membangun Cordoba tanpa keikutsertaan suku Berber yang mendiami gunung Atlas, Maroko. Ibu Abdurrahman berdarah Berber, dan nama suku Berber menjadi sanjungan (atau olokan) ketika orang berperilaku sangar : kalian seperti kaum Barbar! Suku Berber dikenal kuat, tegas, berani, tak kenal ampun dan anda akan terbiasa dengan pertengkaran ketika menginjakkan kaki di Maroko.

Semenanjung Iberia tampaknya hanya pantas dikuasai orang-orang kuat seperti kerajaan Visigoth dengan penakluknya Alaric dan  dinasti Umayyah yang memiliki komandan Tariq bin Ziyad.

Bila, sebuah penguasa membutuhkan kekuatan lain di belakangnya, siapakah yang dikatakan sebagai orang kuat? Abdurrahman III memiliki suku Berber, Alaric memiliki Visigoth dan Corleone memiliki mafia.

Apakah pemimpin Jakarta pun harus memiliki orang kuat di belakangnya?

Demikianlah seharusnya. Meski, paradigma ‘orang kuat ‘ ini akan berbeda bagi setiap orang. Bila kita mengambil prinsip Machiavelli dalam Il Principe maka kita akan mengambil pemimpin tipologi ini.

“Jangan memilih pemimpin karena rasa cinta. Pilihlah karena rasa takut. Rasa cinta akan hilang seiring lunturnya kewajiban. Tapi rasa takut, tak pernah gagal.”

Banyak pemimpin seperti yang digambarkan Machiavelli. Hitler, Stalin, Lenin. Membangun kekuasaan dengan kekuatan dan ketakutan. Memang di salah satu titik, tampaknya tak pernah gagal.

Tapi bagaimana pendapat Ibnu Khaldun tentang pemimpin dan  kekuasaan?

Dalam kitab megafenomenal Al Muqaddimah, beliau menuliskan banyak bab penting terkait rakyat, kesukuan, pemerintahan, kekuasaan, tabiat-tabiat bangsa serta suatu tabiat kurun waktu.

muqaddimah-ibnu-khaldunPasal Keempat, Bab 3, Kitab Pertama

Kerajaan Memiliki Kekuasaan Kuat Berlandaskan Agama, Baik Melalui Kenabian Maupun Seruan Kebenaran

Sebab kekuasaan hanya dapat diraih dengan penguasaan. Penguasaan ini hanya dapat dilakukan dengan fanatisme. Yakni kesamaan harapan untuk menyuksesan suatu tuntutan. Kesatuan jiwa dan persatuannya hanya dapat terjadi atas pertolongan Allah Swt dengan mendirikan agamaNya.

Hal ini sebagaimana yang disebutkan firman Allah

“Walaupun engkau membelanjakan semua kekayaan yang berada di bumi, niscaya engkau tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Alalh telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana ( Al Anfaal : 62).

Rahasianya , apabila jiwa terdorong untuk melakukan kejahatan dan condong pada kehidupan dunia, maka akan terjadi persaingan dan menimbulkan konflik. Apabila jiwa-jiwa tersebut tunduk pada kebenaran, menolak tipu daya kenikmatan dunia dan berbagai kejahatan yang ada di dalamnya dan menghadap kepada Allah Swt dengan lapang dada maka kondisi itu akan mempersatukan visi dan misi mereka. Dengan kesamaan tujuan ini , rivalitas yang tidak sehat akan lenyap dan konflik akan minimal, yang pada akhirnya akan mempererat kerjasama dan saling membantu.

Dengan persatuan dan kesatuan tersebut maka kerajaan akan semain kuat dan kaya (Muqaddimah, Ibnu Khaldun)        

 

Pemimpin untuk Jakarta

Saya bukan warga Jakarta. Enggan pula tinggal di Jakarta mengingat lingkungan fisik dan sosial ibukota sangat berat untuk tumbuh kembang anak-anak, apalagi bagi remaja. Jakarta bagi orang seperti saya adalah sebuah kota untuk transit ketika harus keluar daerah. Jakarta terasa berdenyut mendebarkan ketika walikota kami, bu Risma, diberitakan akan diboyong kesana. Jakarta terasa menakutkan ketika berita kejahatan lalu lalang di media.

Jauh di lubuk hati, rasanya lelah memikirkan Jakarta.

Betapa ingin ibukota ini setenang Seoul dimana warga bebas hilir mudik hingga larut malam. Anak sekolah dasar dan menengah, masih mengenakan seragam, bebas naik subway atau bis tanpa takut kejahatan. Memang, kejahatan pasti ada seperti kasus pembunuhan di daerah Gangnam beberapa waktu yang lalu.

Betapa ingin Jakarta menjadi Ornament of the World dimana ciri khas air mengalir (betul-betul mengalir) bukan menderas laksana airbah menjadi hiasan sudut-sudut kota. Perpustakaan menjamur, yang berarti industri kertas berkembang pesat berikut kesejahteraan, sebab buku-buku yang tersebar identik dengan kemakmuran masyarakat.

Betapa ingin Jakarta menggantikan kota-kota mega jalur sutra, dimana bukan hanya bangunan fisiknya yang megah menjulang namun juga para ulama menjadi tonggak pemikir masyarakat.

Betapa ingin Jakarta memiliki pemimpin yang memiliki gabungan kekuatan Berber, Visigoth, Corleone namun mampu menjalin hubungan mesra dengan para ilmuwan, pemikir dan pemuka agama.

il-principeDan pada akhirnya saya tidak ingin menjadikan Il Principe sebagai bantal tidur, sebagaimana yang dilakukan para pemimpin diktator lain, sebab ketakutan itu bukan ruh sebuah masyarakat.

The care of human life and happiness and not their destruction, is the first and only object of good goverment (Thomas Jefferson)

Saya membayangkan seorang pemimpin yang diinginkan Machiavelli, akan membuat rakyat berkeringat dingin tiap kali bangun pagi. Ketakutan. Kecemasan. Kekhawatiran. Akan keputusan-keputusan, sikap, juga bahasa yang terasa menggedor-gedor denyut jantung.

Sungguh saya menginginkan hari-hari bahagia dimana seorang pemimpin membuat hati ini nyaman dengan senyuman, kata-kata, sikap dan kebiasaan yang seperti diisyaratkan Thomas Jefferson.

Selamat memilih,warga Jakarta! Semoga anda temukan pemimpin yang dapat menjadikan Jakarta sebagai Ornament of the World.

 

 

Proporsional Menilai Orang Besar : Gatot Brajamusti, Mario Teguh dan Mahfudz Siddiq

 

 

Kalau laki-laki kebal terhadap uang dan wanita, dia tidak tergoyahkan.” (Mossad, Victor Ostrovsky)

 

Kita selalu terkejut oleh berita yang dilakukan orang-orang besar, hebat, terkenal di sekeliling. Meski yang dilakukan mereka, banyak juga dilakukan orang lain. Betapa banyak orang merokok dan mengkonsumsi narkoba, mulai anak hingga lansia. Namun mata kita dibuat tercengang ketika yang tersandung kasus narkoba adalah tokoh masyarakat, terlebih ia dijadikan panutan  banyak orang termasuk artis. Masih terkenang Elma Theana dan Reza Artamevia yang menjadikan Gatot Brajamusti sebagai guru spiritual mereka.

Beberapa waktu lalu, Gatot tertangkap di sebuah hotal di Mataram karena pemakaian psikotropika.

gatot

Aa Gatot

Berapa banyak orang menggunakan narkoba dan sabu-sabu? Banyak sekali. Tapi ketika Gatot Brajamusti yang menggunakannya, geger media sosial dan media massa.

Berapa banyak orang punya WIL, PIL atau pernah menikah lebih dari sekali? Pernah bercerai? Bertumpuk kasus perceraian di pengadilan Agama. Sebagian rujuk, sebagian berpisah. Jawa Timur pemegang rekor untuk kasus perceraian di Indonesia, mengingat banyaknya tenaga kerja perempuan pergi mengadu nasib di negeri orang. TKI, TKW, buruh, tukang becak, pembantu rumah tangga; nikah berkali-kali, kawin cerai. Atas kejadian itu paling-paling kita hanya menaikkan alis.

Pembantu saya dulu, seorang gadis cantik. Menikah di usia belasan, lalu kemudian bercerai. Dan sudah menikah lagi kini. Banyak sekali gadis dan pemuda di desa seperti wilayah Madura atau Brebes yang menikah dan berpisah. Berkali-kali, sebab mereka sangat miskin pengalaman dan pendidikan,termasuk miskin pemahaman agama. Kepada pembantu-pembantu saya yang pernah beberapa kali menikah, saya hanya bilang : sabar ya! Kalau bisa, pertahankan pernikahanmu yang sekarang. Kamu harus pintar.

Selesai.

Case closed. Paling-paling diskusi itu merembet hanya ke tengah keluarga inti ,” eh, mbak X yang dulu di rumah kita, sudah nikah lho. Tapi kemudian cerai.”

“Wah, kasihan ya, Mi!”

Tapi bila yang menikah atau bercerai adalah orang-orang top; bukan main. Masih teringat kasus Maia, Ahmad Dhani dan Mulan Jameela. Mulai dari aksi panggung Maia yang enggan berdekatan dengan Mulan sampai video permintaan maaf Mulan digeber habis di media. Masing-masing khalayak punya kubu : Dhani, Maia , Mulan. Ditambah lagi anak-anak mereka beranjak remaja; kisah Al El dan Dul semakin renyah dikunyah.

Sekarang, kisah Mario Teguh dan Mahfudz Siddiq merajai berita.

Mario Teguh, dikecam adik-adiknya karena menjadi pribadi yang berbeda usai terkenal sebagai motivator. Konon, sang adik harus melalui protokoler tertentu untuk bisa menemui abang sulungnya, Sis Mariyono Teguh. Tidak itu saja, kata-kata Mario Teguh yang menolak Ario sebagai anak dari istri pertamanya Ariyani menjadi bulan-bulanan berita. Sebagai motivator kondang; kehidupan pribadi Mario Teguh dianggap bertolak belakang dari apa yang diucapkannya.

Belum selesai keterkejutan khalayak dengan kisah Aa Gatot dan Mario Teguh, media kembali mengupas desas desus renyah pernikahan Mahfudz Siddiq. Ustadz-ustadz kondang yang menikah lebih dari 1 x, sering mendapat porsi pemberitaan lebih. Tentu kita masih ingat peristiwa Aa Gym beberapa tahun lalu atau ustadz Arifin Ilham. Popularitas Aa Gym sempat merosot hingga pada akhirnya masyarakat mulai terbiasa mendengar berita tentang poligami, dan Aa Gym kembali mendapat tempat di hati amsyarakat. Bahasan tentang istri kedua yang cantik dan lebih muda, bagai memuaskan rasa ingin tahu banyak pihak terutama perempuan.

“Tuh, kan, bener kata orang. Ternyata istri mudanya lebih muda dan cantik. Pantas istri pertama ditinggalkan!”

Apalagi, bila timbul percekcokan antar istri, menjadi berita yang dinanti-nanti khalayak.

“Makanya, punya istri satu saja. 1 udah repot, 2 apalagi!”

 

Alasan yang tak dapat dikemukakan

Menyoroti kasus orang-orang besar dan hebat yang tengah mendapatkan ujian, masalah, cobaan, sandungan, atau apapun itu namanya; kita selayaknya menyadari ada banyak hal yang tak dapat diungkap ke publik.

Coba, sebutkan masalah pribadi.

Pernahkah kita malas sekolah atau kuliah lalu bilang sedang sakit (memang sedang sakit! Entah flu, sakit hati, sakit kantong)? Kepada semua orang kita bilang nggak bisa hadir ke suatu tempat karena sakit. Apa perkara ‘sakit’nya, hanya kita dan Allah Swt yang tahu. Saat itu mungkin kita sedang tak enak hati pada seorang teman atau bahkan dosen, sedang tak punya uang untuk beli bensin, sedang pusing sakit kepala yang tak tertahankan ( bagi sebagian orang flu adalah siksaan berat, meski bagi yang lain hanya sakit sepele).

Kita pernah tak dapat ikut arisan RT atau kerja bakti kampung dengan alasan ‘sakit’. Padahal saat libur adalah satu-satunya hari tempat berkumpul bersama keluarga dan memang, tubuh ingin istirahat. Betul-betul ingin tidur dari pagi hingga sore setelah selama berhari, berpekan, atau malah berbulan tugas keluar kota menumpuk berkejaran. Saat itu tak mungkin bilang alasan sebenarnay kepada ibu-ibu atau bapak-bapak sekitar, kecuali dengan alasan singkat : sakit.

Perceraian, pernikahan (lagi) dapat terjadi karena banyak hal.

Apakah masalah seksual? Masalah selingkuh? Masalah penghasilan? Komunikasi? Anak-anak? Karier dan pekerjaan? Wallahu’alam. Seringkali alasan yang betul-betul riil hanya diketahui diri pribadi dan Allah Swt. Mustahil, alasan sejujur-jujurnya ini diungkap ke publik. Bila diungkap ke publik, dimana pula letak privasi seseorang? Maka , biasanya selebritis yang tersandung masalah pernikahan berkata : kami tidak ada kecocokan.

Mungkin saja ada KDRT di dalamnya. Atau perbedaan prinsip terkait pengelolaan keluarga. Atau ada harapan-harapan yang tidak dapat selaras lagi antara kedua belah pihak suami istri.

Mengingat setiap individu berhak untuk menyimpan masalah pribadinya sendiri, maka kita pun seharusnya memberikan porsi itu pada setiap orang. Termasuk pada selebritis, ustadz, atau orang hebat manapun.

Mario Teguh pernah menikah dengan Ariyani, lalu bercerai, lalu menikah lagi dengan Linna. Kenapa bercerai? Anaknya milik siapa? Mentang-mentang motivator yang banyak followers dan penyanjungnya, lantas ia bisa seenaknya memuntir pendapat orang?

Kurang apa istri pertama dan kedua Mahfudz Siddiq? Keduanya shalihah, mendampingi disaat susah. Lalu datang seorang perempuan muda cantik, pintar, berkelas dan jauh sekali dari siluette dua istrinya terdahulu.

Meski Gatot Brajamusti, Mario Teguh, Mahfudz Siddiq adalah tokoh masyarakat; mereka punya sisi pribadi yang tak ada seorangpun tahu. Kecuali hanya Allah Swt dan malaikat Raqib Atid. Maka, membaca berita tentang mereka boleh-boleh saja. Membicarakan ihwal mereka sah-sah saja. Lalu, doakanlah semoga mereka dapat memilih jalan kehidupan yang lebih positif ke depannya. Kita tidak pernah tahu, alasan apa di belakang perilaku mereka.

Mengapa Aa Gatot mengkonsumsi ‘makanan jin’ dan benarkah ia memperkosa gadis-gadis? Mengapa Mario Teguh menuduh istri pertamanya selingkuh? Mengapa Mahfudz Siddiq  menikahi muallaf cantik yang belum berhijab dan jauh sekali dari istri kedua pilihan Aa Gym dan Arifin Ilham?

mahfudz-siddiq

Mahfudz Siddiq

Hanya mereka pribadi yang tahu jawabannya. Dan kita sama sekali tak tahu. Maka, proporsi kebencian, ketidak sukaan itu hanya dapat sampai pada apa yang terlihat saja. Jangan mencaci maki dan membenci para tokoh ini lantaran mereka selebritis. Gampang dipuja, gampang disanjung, lalu kita berharap mereka baik-baik selamanya. Kita jadikan mereka figur tanpa tandingan dan ketika mereka melalukan kesalahan, hancur pula harapan kita.

 

Alasan yang Dapat Diterima

Walau kehidupan masing-masing selebritis adalah hak prerogatif individu, tak ada salahnya setiap kita mulai belajar. Belajar menjadi diri pribadi yang lebih mulia serta belajar menapaki hari-hari yang kemungkinan, suatu saat kita berada di sorot mata dunia.

Siapa tahu, kelak sebagian kita menjadi pengusaha terkenal, pengacara kondang, motivator berkharisma atau malah anggota dewan dan tokoh perubahan nasional bahkan internasional.

Jejak kita akan dilihat orang banyak.

Maka sejak belum menjadi ‘apa-apa’ kita belajar mawas diri dan menempatkan diri.

Misal, berusaha berkata yang baik atau diam, sebagaimana hadits Rasulullah Saw. Baik dalam kegiatan offline atau online. Kebiasaan baik ini akan terpupuk, sehingga ketika menjadi tokoh kita tidak akan suka mengumbar kata-kata yang memancing anarkisme. Dalam kegiatan online di facebook, blog, twitter, instagram dan dimanapun; perkataan yang baik ini juga harus dibiasakan. Tidak terbiasa mengumbar kata-kata negatif yang memancing perselisihan.

Mawas diri dan pandai menempatkan diri, adalah hal yang harus dilakukan oleh setiap individu terutama orang-orang yang berada di ranah publik.

Ketika mahasiswa dulu, orang akan berbeda menanggapi mahasiswa biasa dengan mahasiswa berprestasi. Mahasiswa biasa; lulus 2,75 maka orang memberi selamat.

“Ah, yang penting kamu lulus!”

Tapi mahasiswa berprestasi, yang melanglang buana karena pertukaran pelajar, yang aktif di BEM lalu lulus nilai pas-pasan; orang akan kecewa.

Begitupula, bila mahasiswa biasa dan mahasiswa berprestasi ini berpacaran. Pasti akan lebih banyak dipuji (atau dikecam) yang berprestasi. Mahasiswa biasa berpacaran tak apa, tapi bila mahasiswa aktivis rohis berpacaran; itu baru berita! Dalam kasus berpacaran seperti ini seharusnya para mahasiswa pun belajar mawas diri dan tahu menempatkan diri.

Seorang mahasiswa aktivis rohis, selain karena kedalaman ilmunya tentang agama; juga harus menjaga diri dalam adab pergaulan sebab masyarakat menyorotnya lebih.

“Ih, jilbabnya lebar kok hahahihi sama cowok, pakai cubit-cubitan lagi! Ih, gayanya berjenggot tebal. Tapi menyapa akhwat pakai dear, beib, darling!”

Bermesraan dengan lawan jenis dianggap biasa, tapi jangan sampai orang yang paham agama yang melakukannya.

Contoh lain, apakah harta kekayaan boleh dipamerkan?

Boleh saja. Bahkan, Allah suka melihat hambaNya memperlihatkan karunia yang telah Ia berikan. Namun, tentu kita juga harus mempertimbangkan perasaan orang lain.

Naik mobil Alphard, Lexus, Porche; di jalan raya yang membelah arus Jakarta atau Surabaya tak masalah. Tapi di jalan kampung yang sempit, rumah-rumah berdesakan yang dibangun di lahan pemerintah dengan dinding triplek dan atap seng; rasanya kekayaan itu tak pantas dipamerkan. Lebih baik berganti mobil yang lebih murah atau naik sepeda motor saja. Mengenakan baju mewah dengan perhiasan emas bertahtakan permata, boleh-boleh saja. Apalagi dalam arisan ibu-ibu pejabat yang semua mengeluarkan gaya dandanan khasnya. Namun, gaya itu tak perlu dipertontonkan ketika menghadiri arisan RT yang hanya dihadiri ibu tetangga kanan kiri, banyak yang pensiunan pula.

Begitulah mawas diri dan menempatkan diri.

Sosok individualis harus menyatu bersama sosok sosialis kita. Apalagi bila telah menjadi tokoh tersohor. Kata-kata akan menjadi panutan, gaya ditiru, tulisan disebarluaskan.

“Yah, biarin aja aku mau kawin, cerai sama siapa. Itu alasan pribadiku. Nggak semua orang tahu yang terjadi di tengah keluargaku!”

Betul.

Tetapi jejak kita tetap akan meninggalkan bekas. Bila kita hanya orang biasa, jejak itu akan lekas menguap. Bila kita orang yang ‘luar biasa’ jejak itu akan tertinggal lebih lama. Lebih dalam melukai. Lebih lekat mengendap.

“Oh, jadi pemimpin spiritual boleh juga lah sesekali tersandung. Namanya juga manusia. Jadi motivator itu yang penting kemampuan orasinya, bagaimana cara menggugah. Tentang bagaimana kehidupan dia, hitam putih, mah cuek aja. Perkataan dan perbuatan berbeda gakpapa, yang penting laku di pasaran. Oh, jadi ustadz  itu boleh poligami. Dengan siapapun. Lebih muda, muallaf, tidak berkerudung ternyata gakpapa.”

Tentu, kita berharap di ujung sana adalah hasil kebaikan terbentang. Semoga Agatha Lily semakin kokoh sebagai muslimah sejati dan suatu saat sadar mengenakan hijab. Semoga Mario Teguh mendapatkan kembali nama baiknya demikian pula Gatot Brajamusthi.

Yang tidak dapat diperkirakan adalah bagaimana asumsi dan persepsi dari banyak kepala yang menyaksikan bait demi bait kehidupan para tokoh tersohor tersebut. Mereka yang terkesan dengan kata-kata motivasi Mario Teguh akan terhenyak : tokoh idamannya ternyata tak mampu  mengurai masalahnya sendiri. Para artis yang memuja Aa Gatot, terkesima dengan tuduhan narkoba dan pemerkosaan yang diarahkan kepada guru spiritual mereka. Begitupun Mahfudz Siddiq, akan membuat orang bertanya-tanya akan pilihannya dan sangat kecewa sebab beliau tokoh yang kharismatik di kalangan pemuda.

Bagaimana anak-anak muda kita memandang sosok agamawan, motivator, ustadz dalam menjalani kehidupannya. Kita berharap, bahwa anak-anak muda kita akan mengambil teladan dari tokoh-tokoh yang telah mangkat dan benar-benar meninggalkan jejak keemasan : Rasulullah Saw dan para sahabatnya, juga para ulama pewaris Nabi. Para pejuang seperti Thariq bin Ziyad, Shalahuddin al Ayyubi, al Fatih, Buya Hamka, Muhamamd Natsir, Agus Salim , KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asyari dan orang-orang sejenis mereka.

Sebab, bila mengambil panutan tokoh yang masih hidup, percayalah : dunia ini membentangkan banyak keserba-mungkinan. Mereka yang baik bisa jadi tak baik, mereka yang tak baik bisa jadi baik.

Proporsional, mawas diri dan pandai menempatkan diri.

Semoga kunci-kunci ini menyelamatkan kita baik sebagai pelaku atau pengamat. Jadi, wajarlah dalam menghujat seseorang. Sebagaimana wajarlah dalam mengagumi seseorang.