Istri, Bicaralah!

 

Tersedu. Menangis. Gemetar.

Ada banyak perempuan yang mengeluhkan diri mereka mengalami depresi hebat, psikosomatis berkepanjangan hingga harus masuk rumah sakit berkali-kali. Psikis mereka demikian sakit hingga menjalar ke sendi-sendi, ke kerja otak, ke maag hingga kadang tremor tak wajar. Ada apakah dengan para istri shalihah yang seharusnya dapat mengarungi hidup ini dengan bahagia?

Omongan Nggak Penting

Perempuan itu banyak bicara.

Kadang hal gak penting pun diutarakan.

“Aku gemuk nggak, Mas?” tanyaku pada suami.

“Nggak,” jawabnya.

“Aku kuruskah?” tanyaku lagi.

“Nggak.”

“Lhooo…jadi aku kurus apa gemuk???”

Ia garuk-garuk kepala.

Kali lain, aku bertanya.

“Cantik Raisa apa Isyana?”

Suamiku mikir, kayaknya gak mau terjebak pada kesalahan bab kurus-gemuk.

“Mas suka Dian Sastro. Pintar sih.”

“Mas gituuuuu yaaa, ternyata selama ini nyimpan perasaan sama artis!”

Kadang, suamiku tertawa dan bilang : “ya ampun, Mi, gak penting banget ditanyain!”

Aku menjelaskan dengan gaya profesional.

“Perempuan itu ya Mas, butuh diyakinkan berkali-kali. Setiap hari. Kalau ia paling cantik sedunia, paling dicintai suaminya. Walau aku tahu gak secantik Raisa, Isyana, Dian Sastro; maunya dengar Mas ngegombal dan bilang aku paling cantik.”

“Bohong kalau gitu, dong?” seloroh suamiku.

Aku cemberut masam.

Itulah sekelumit omongan gak penting bagi laki-laki.

Laki-laki lebih suka membahas transfer Neymar seharga 3,5 T atau kuda hitam di Premiere League. Tata kelola batubara dan pertambangan. Angin politik serta pilkada. Sistem perpajakan dan kebijakan pemerintah. Hal-hal global, besar, fantastik, spektakuler.

Apa yang dibahas tentang Donal Trump?

Laki-laki : perselisihan dengan Vladimir Putin

Perempuan : gaya busana Melania Trump.

Apa yang dibahas tentang sepakbola?

Laki-laki : Real Madrid masih haus gelar juara, kata Zinedine Zidane

Perempuan : WAG mana yang cantik?  Cathy Hummels istri Mats Hummels, atau Andrea Duro –Javier “Chicarito” Hernandez?

Omongan tak penting perempuan ini, sebetulnya bukan menunjukkan kualitas dirinya tak setara laki-laki namun karena ia ingin lebih banyak didengar oleh kubu maskulin- dominan yang menjadi pemimpin puncak dalam hirarki kehidupan. Apabila seorang penguasa tertinggi tak mau mendangar keluh kesah rakyat terkecilnya, pasti rakyat itu akan gelisah , bukan?

Coba dengar apa saja yang dikeluhkan rakyat kecil pada penguasa tertinggi.

Penggembala dan petani mengeluhkan perkara tak penting antara sepetak kebun dan kambing-kambing yang masuk ke pagar, kepada Nabi-Raja Daud as. Raja Daud punya urusan lebih luas ketimbang sepetak tanah, tapi sebagai penguasa ia harus mendengarkan agar kebijakan tertegak.

Presiden Abraham Lincoln, dikenal reputasinya sebagai presiden kebanggaan Amerika – 1. Lincoln, 2. Washington, 3. Roosevelt- ; karena memperhatikan perkara-perkara kecil dari rakyatnya. Ia mendengarkan jeritan hati seorang serdadu yang tertidur malam karena kelelahan di pos jaga pada peperangan Utara-Selatan dan tengah menunggu hukuman mati. Ia mendengar 24 serdadu melakukan kesalahan militer, milisi yang mungkin tidak bersiap maju ke medan perang, dan akhirnya Lincoln memaafkan. Suara 1 orang, 24 orang; dapat saja diabaikan di antara belasan ribu tentara yang juga menyita banyak pikiran. Namun, Lincoln dikenal senang mendengar dan melayani harapan rakyatnya.

Hal sepele bagi Raja Daud dan presiden Lincoln, tapi tidak sepele bagi rakyat kecilnya.

Taklukan Takut

“Aku pingin mini cooper,” ujarku suatu saat.

“Iya deh, amiin,” kata suamiku.

“Kok Ummi suka mini cooper?” tanya anak-anak.

“Suka sama warnanya yang ngejreng sama bentuk lampunya.”

Ya ampun!

Kata mereka, kalau gitu cari mobil kecil aja lalu di cat oranye atau kuning cerah.

Aku tahu harga mobil mini cooper. Aku tau, suamiku juga tak akan repot-repot cari duit buat beli mobil ala Italian Job itu. Bagi kami, ada sepeda motor dan mobil kantor yang sederhana; cukuplah untuk kendaraan.Tak usah terlalu pusing-pusing memikirkan beli mobil baru walau andai diberikan rezeqi Allah Swt, itu takdir lain.

Suatu saat ada mobil melintas.

“Waaah, ada Tsubaru!” seru anak-anakku.

“Keren ya?” kataku.

Kali lain ada mobil melintas di depan mata, “Mas, ada Lamborghini tuh!”

“He-eh,” kata suamiku.

“Warnanya kuning cantik ya?” kataku.

“Iya.”

“Ummi nanti kalau punya mobil sendiri mau yang warnanya pink, orange atau ungu,” kataku pada anak-anak.

“Wah, gak usah jemput ke sekolah ya Mi, kalau mobilnya warna norak kayak gitu,” kata si kecil.

Kami tertawa.

Itu percakapan yang biasa.

Bagiku.

Tapi tidak bagi sebagian orang.

Seorang ibu cantik berkeluh kesah ia beberapa kali terpikir bunuh diri. Padahal kondisi ekonominya mapan dan ia memiliki suami penyayang, anak-anak tampan. Lama ketika kami berbicara, ia berujar.

“Aku ingin kerja lagi, seperti dulu ketika mahasiswa. Aku adalah aktivis. Ingin punya mobil. Capek angkut anak-anak kesana kemari naik motor.”

Tubuhnya memang kecil mungil.

“Sudah pernah cerita ke suami dek, tentang harapanmu?”

Ia berujar sendu , “nggak berani Mbak. Aku takut. Aku takut dikira minta ini itu dan masuk dalam kategori nggak  bersyukur.”

Ia tak pernah bercerita pada suami apa keinginannya. Apa harapannya. Apa cita-citanya. Yang ada hanya rasa takut. Takut dosa, takut dimarahi, takut dianggap perempuan tak shalihah. Padahal, menceritakan apa keinginan kita bukan berarti sebuah tuntutan. Hanya sebuah ekspresi. Sekedar bilang bahwa ia ingin punya mobil, itupun tak berani. Padahal belum tentu juga yang namanya ‘ingin’ berarti harus beli hari itu juga!

Kisah yang lain, juga dialami ibu muda yang mengalami depresi hingga berkali-kali mencoba bunuh diri.

“Suamiku nggak seperti yang aku bayangkan dulu. Dia nggak pernah mau mendengar aku. Dia memaksa aku begini begitu.”

“Kamu sudah ngomong ke suami apa yang menjadi pikiranmu, Dek?”

“Suamiku nggak bisa diajak ngomong, Mbak!”

Saya terdiam.

Nggak bisa diajak ngomong, apa nggak pernah diajak omong?

Mengajak bicara suami, harus diupayakan meski hasilnya belum tentu sesuai rencana. Tapi keberanian, mengalahkan takut, mencoba terbuka, memancing percakapan : must be!

Sebagaimana aku sering berkata pada suami.

“Jalan-jalan yuuuuk,” ajakku.

“Ayo!” kata suamiku. “Akhir pekan ini ya?”

“Oke.”

Meski aku dan suami tahu, akhir pekan ternyata banyak sekali agenda yang menyebabkan batalnya keinginan kami jalan-jalan berdua. Namun keinginan itu sudah terucap, dan kami mencoba saling memahami harapan satu sama lain.

Menaklukan rasa takut dari dalam diri sendiri adalah langkah penting.

Takut dimarahi.

Takut dicap tak shalihah.

Takut dianggap tak bersyukur.

Takut suami beranggapan kita terlalu banyak menuntut.

Padahal, takut berbicara adalah hambatan komunikasi terbesar. Belum tentu juga suami kita seburuk apa yang ada di pikiran. Siapa tahu, ia terlihat keras, tak peduli, kaku, tak mau tahu adalah akibat istri tak mengungkapkan dengan jelas maksud hati. Setelah istri memberanikan diri berbicara, tentu dengan komunikasi jelas dan pesan yang tertangkap sama frekuensinya  di kedua belah pihak; bukan mustahil suami justru berbalik 180 derajat.

Seorang perempuan merasa resah ketika suaminya dekat dengan perempuan, kawan lamanya.

“Sudah bilang ke suami, Mbak?”

“Aduh, kan aku nggak enak. Masa sudah dewasa harus dikasih tahu.”

“Lho, barangkali suami nggak tahu kalau Mbak cemburu.”

Diapun memberanikan diri, memupus rasa takutnya menegur suami.

Awalnya sang suami sempat tak menggubris dan bilang ,” ini cuma teman lama, Mi. Dan orang-orang biasa kok ngobrol beginian.”

Rasa takut sudah hilang, komunikasi sudah terjalin, tapi frekuensi belum sama.

Istri merasa itu bibit-bibit menuju perselingkuhan, suami merasa biasa saja. Maka istri tersebut lambat laun mencoba meyakinkan suami bahwa boleh jadi si suami tidak merasa apa-apa, namun rasa perempuan-teman-lama tersebut yang berkembang menjadi cinta. Alhamdulillah, keberanian si istri untuk berbicara secara terus terang, menyelamatkan pernikahan.

 

Humoris

Suamiku, kadang-kadang  membawa pekerjaan kantor ke rumah. Hal itu menyebabkannya harus menekuri gawai dan berinteraksi dengan teman-temannya di kantor untuk koordinasi. Padahal, menurutku waktu dengan anak-anak sudah sangat sedikit. Sementara di era sekarang, batas antara kantor dan rumah sedemikian tipisnya. Orang bisa membawa pekerjaan kantor ke rumah, dan membawa urusan rumah ke kantor. Bukankah para orangtua masih terus memantau perkembangan anak dan rumah sembari mereka bekerja di kantor?

Melihat suami membawa gawai, hatiku risau. Tapi ekspresi serius dan tegangnya, juga tak dapat diabaikan.

Aku lalu duduk di depannya, bertopang dagu. Mengamatinya sampai ia merasa risih.

“Kenapa, sih? Jadi nggak enak,” katanya.

“Enak ya jadi handphone. Dielus-elus. Diajak ngomong.”

“Ini lagi rapat, Miii.”

Kubiarkan ia menyeleaikan urusan dan mengamati ekspresinya hingga terlihat raut lega. Berarti, acara rapat-rapatnya sudah selesai, pikirku.

“Emmm….Mas kalau dibayar jadi pembicara berapa sih?”

“Kenapa emangnya?” dia balik bertanya.

“Aku pernah lihat Mas ceramah, asyik banget. Banyak ilmunya. Banyak referensinya. Pasti bayarannya mahal ya manggil Mas.”

Dia tertawa ,”emang apaan sih?”

“Kalau aku sama anak-anak mau minta taujih, kira-kira bayar berapa yaaaaa??”

Suamipun tertawa dan meletakkan gawainya.

Ada banyak kejadian mendongkolkan di rumah.

Termasuk dalam hubungan suami istri. Tapi kalau semua dibawa serius, tegang, konfrontasi; apa jadinya? Humor membuat situasi mencair. Rasa takut menghilang dan percakapan jadi lebih mengalir.

Ayo, para istri shalihah!

Ajak suami bicara.

Mereka bukan monster yang menyeramkan.

Benar kan, Bapak-bapak?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Belajar tentang Jerusalem dan Palestina (1)  : Sumbangsih Dunia Islam yang Tak Tertandingi

Setiap kali bumi Palestina bergolak, mau tak mau kita kembali menoleh ke belakang untuk belajar sejarah dari buku-buku terserak yang tersedia di sekitar. Kadang-kadang, buku-buku tersebut menyajikan informsi sepatah-sepatah sehingga kita harus merangkai sendiri bagaimana sejarah manusia membentuk persepsi, menciptakan konflik, menghancurkan tatanan, atau  memunculkan harapan. Jerusalem dan Palestina akan selalu memancing pertikaian. Akan selalu menimbulkan  ribuan sudut pandang berbeda. Bahkan, orang-orang yang terlibat didalamnya di satu sisi dielukan sebagai pahlawan, di sisi lain disebut sebagai penjahat. Bagaimanapun hebatnya sosok Shalahuddin al Ayyubi, sebagian sejarawan -termasuk non  muslim-  sangat mengagumi beliau.  Namun bagi sebagian yang lain, dianggap sebagai perusak.

 

Jerusalem Awal di masa Nabi Daud as dan Nabi Sulaiman as

Jerusalem awalnya adalah sebuah wilayah tak lebih dari 15 ha yang hanya mampu menampung 1200 penduduk. Namanya mulai disbut-sebut bersamaan dengan kisah Nabi Dauh Saw. Bagi kaum muslimin, Nabi Daud adalah salah satu dari 25 nabi yang dimuliakan Allah Swt. Di masa jauh sebelum  Rasulullah Saw diutus menjadi nabi, tidak ada pembatasan berapa jumlah perempuan yang boleh diperistri seorang laki-laki. Sejarah mencatat secara simpang siur berapa jumlah istri Nabi Daud as dan Nabi Sulaiman as. Konon, Nabi Sulaiman as  memiliki 700 istri dan 300 selir.

Salah satu kisah yang masyhur adalah kisah ketika Nabi Daud as jatuh cinta pada seorang perempuan sangat cantik yang telah bersuami. Sumber Nashrani menyebutkan perempuan tersebut bernama Batsheba dan suaminya  seorang prajurit bernama Urian. Nabi Daud as mengirimkan Urian ke medan perang  hingga tewas dalam sebuah pertempuran.  Ketika nabi Daud as memperistri Batsheba, apa yang terjadi sesungguhnya hanya diketahui oelh segelintir orang, salah satunya seorang ulama shalih bernama Nathan. Dalam sebuah pertemuan, Nathan menyampaikan satu kisah.

“Adalah seorang Raja kayaraya yang telah memiliki segala. Namun ia masih menginginkan seekor domba yang dimiliki petani miskin. Raja itupun merebutnya!”

Hati Nabi Daud as trenyuh dan tersentak mendengarnya. Hingga sontak berteriak ,” Raja seperti itu harusnya mati!”

Nathan berujar hormat, “Andalah Raja itu.”

Nabi Daud as memohon ampun atas semua kesalahannya kepada Allah Swt. Bayi yang dikandung Batsheba meninggal, meninggalkan duka yang dalam di hati Nabi Daud as. Ungkapan ulama shalih Nathan terngiang.

Namun, dikemudian hari ia mengandung lagi dan lahirlah seorang bayi laki-laki sangat tampan dan masyhur dengan kekuasannya. Bayi itu diberi nama : Sulaiman. Sulaiman, kelak menggantikan Nabi Daud as menjadi nabi dan raja. Bukan hanya cerdas, kuat, tampan dan tangguh; Nabi Sulaiman as adalah seorang arsitek andal. Salah satu sumbangsihnya yang menjadi jejak tak terkira dalam sejarah manusia di bumi adalah Kuil Sulaiman. Tujuan membangun kuil ini bukan semata-mata tonggak pencanangan kemegahan kekuasaannya, namun juga menjadi tempat bagi rakyatnya untuk bermunajat.

Nabi Sulaiman as tidaklah tertakdir abadi.

Di bawah kepemimpinannya, negara termasuk wilayah Jerusalem hidup  makmur. Namun usai wafatnya, para kerabatnya bertikai dan berperang. Sejarah panjang menghiasai Jerusalem dengan heroisme dan kekejian. Nama-nama masyhur dikenal, baik masyhur dalam sisi kecemerlangan maupun kegelapan. Nebukadnezar, Darius, Alexander the Great adalah segelintir nama yang beririsan dengan Jerusalem. Alexander Agung memiliki jenderal terpercaya, Ptolemy. Dinasti Ptolemy inilah yang kelak akan mengurus wilayah Mediterrania. Kepengurusan yang akhirnya salah kaprah ditangani oleh Cleopatra. Sosok legendaris yang sebetulnya sangat cerdas, namun kecantikannya yang bak dewi kahyanagan  membuat orang-orang di sekelilingnya mabuk kepayang, rela bertempur, bersedia mati termasuk Julius Caesar dan Marc Anthony. Jerusalem terkatung-katung dalam situasi terlantar. Sebelum Masehi, ada lagi satu sosok sangat cantik yang turut berperan terhadap Jerusalem, yaitu ratu Salome dan dinastinya. Sesudah Masehi, berturut-turut nama kejan seperti Caligula dan Nero, menjadi penguasa Jerusalem.

           Cleopatra dan Salome, dua Ratu sebelum Masehi yang tershor karena kecantikannya

 

Jerusalem Islam

Nabi  Muhammad Saw menjadikan titik ini sebagai salah satu tapak mirajnya sebelum ke Sidratul Muntaha. Bagi kaum muslimin, Jerusalem sama berharganya dengan Haramain. Jejak Islam yang mulia tertoreh di sejarah Jerusalem. Sejarawan yang sangat sarkasm seperti Simon Sebag Montofiore pun mengatakan ketika Umar bin Khattab menguasai Jerusalem, tak ada sikap bermusuhan terhadap penganut monotheis : Kristen maupun Yahudi. Kontribusi para khalifah pun tak dapat dipandang sebelah mata, termasuk zaman dinasti Umayyah dan dinasti Abbasiyah. Meski dua dinasti ini berselisih paham, keduanya tetap berupaya menjaga Jerusalem sebagaimana contoh yang pernah dilakukan leluhurnya, Umar bin Khattab ra.

 

Muawiyah dan Haram al Syarif

Usai diangkat menjadi khalifah dan memerintah dari Damaskus, Muawiyah menggunakan koin dengan gambar Ilya Filistin atau Aelia Palestina yang menggambarkan pengagungannya terhadap Jerusalem. Muawiyah disukai masyarakat di luar Islam sebab melengkapi armada perangnya dengan orang-orang Nashrani dan seringkali meminjam riwayat Yahudi tentang kuil untuk menghormati mereka.

Muawiyah dianggap sebagai pencipta yang sesungguhnya dari Haram al Syarif atau dikenal sebagai Temple Mount ( Bukit Kuil). Haram al Syarif adalah suatu wilayah suci dimana di dalamnya terdapat bangunan masjid al Aqsa, Kubah Sakhrah (Dome of the Rock) dan Kubah Rantai (Dome of Chain ). Beliau meratakan batu Benteng Antonia lama, memperluas taman dan menambah satu ruang heksagonal dengan sisi terbuka Kubah Rantai, juga membangun masjid.

Abdul Malik bin Marwan

Abdul Malik bin Marwan jenis orang yang  tak suka pujian. Ketika seseorang memujinya ia akan menghardik dan mengatakan , “Jangan menyanjungku! Aku lebih tahu diriku dari dirimu!”

Abdul Malim menyatukan Syria dan Palestina, bercita-cita  menyatukan Islam tanpa perang saudara. Ia merancang pembangunan jalan utama antara Jerusalem dan Damaskus . Ia mengalokasikan harta setara dengan pegnhasilannya sebagai khalifah selama tujuh  tahun untuk menciptakan Dome of the Rock.

Dome of ther Rock . Sinta di depan wallpaper Dome of ther Rock, kementrian kesehatan Palestina 2009

 

Abdul Malik membangun tempat itu bagi semua kalanga.

Bukan sebuah masjid, namun tempat suci. Bentuk oktagonalnya menyerupai wisma Nashrani, kubahnya mengingatkan pada Makam Suci dan Hagia Sofia di Konstantinopel namun jalan melingkarnya dicancang berkeliling seperti thawaf di Kabah, Mekkah.

Batu itu adalah situs surga Adam, altar Ibrahim, tempat dimana Nabi Daud dan Nabi Sulaiman merancang Kuil, tempat Rasulullah Saw memijakkan kakinya saat Isra Miraj. Abdul Malik membangun kembali Kuil Yahudi untuk permurnian wahyu sejati, Islam.

Bangunan itu tak punya poros pusat namun memiliki  3 lapis.

Lapis pertama adalah tembok luar. Berikutnya arkade (gang beratap)  segi delapan dan kemudian tepat di bawah kubah : arkade yang mengelilingi kubah itu sendiri.

Kubah itu diibaratkan seperti surga , hubungan dengan Tuhan dalam arsitektur Islam yang kaya dan deskriptif. Kubah emas, pualam putih, dekoarsai mewah merupakan simbol sura Adn. Kekayaan gambarnya yang berupa pohon, buah, bunga, perhiasan, mahkota; bukan hanya gambaran yang menyenangkan bagi kalangan muslimin tapi juga nonmuslim. Tamsilnya menyatukan keindahan surgawi dan nun dahulu kala, kemegahan kerajaan Daud dan Sulaiman. Kubah emas dianggap sebagai lambang kejayaan Islam dimasa Abdul Malik, melampaui era Justinian dan Konstantin yang Agung. Kubah itu dirawat oleh 300 budak kulit hitam, 20 orang Yahudi dan 10 orang Nashrani.  Sekalipun Abdul Malik merombak Kuil ini, kaum Yahudi dan Nashrani tetap merasa kuil ini diperuntukkan bagi mereka. Dinasti Umayyh mengizinkan kuil suci itu menjadi tempat berdoa bagi dua agama langit lainnya :  Yahudi dan Nashrani.

Harun al Rasyid

Harun Al Rasyid adalah permata cemerlang dari dinasti Abbasiyah.

Dimasanya, ia menjalin kerjasama baik dengan Charlemagne, raja Frank yang menguasai Prancis, Italia dan Jerman saat ini. Sekalipun sangat      ingin menguasai Jerusalem, Charlemagne lebih memilih bekerja sama dengan Harun al Rasyid. Mereka bertukar duta selama bertahun-tahun. Charlemagne tentu saja belum mampu mengalahkan Harun al Rasyid karena kemajuan Islam dalam segala sektor saat itu tak tertandingi. Sebagai contoh, Harun al Rasyid memberikan hadiah seekor gajah dan jam air astrolabe kepada Raja Frank. Namun masyarakat Nashrani beranggapan astrolabe merupakan alat sihir iblis.

Tidak ada perjanjian antar keduanya secara formal namun properti kaum Nashrani didata dan dilindungi. Sebagai ganti, raja Frank membayar jizyah 850 dinar. Harun al Rasyid mengizinkan sang Raja menciptakan lingkungan Nashrani di sekitar makam Suci dengan sebuah tinggal untuk biarawati, perpustakaan dan penginapan untuk peziarah yang dapat menampung 150 pendeta dan 17 biarawati.

Pasca kematian Harun al Rasyid, putranya al Ma’mun meneruskan kebijaksaannya. Ma’mun mendirikan akademi sastra sains yang sangat terkenal : Baitul Hikmah. Dan ketika mengunjungi Jerusalem, ia membangun gerbang-gerbang baru di kuil untuk memperkuat seluruh areal Haram al Syarif.

 

Sumber :

Jerusalem the Biography, Simon Sebag Montefiore dan buku-buku lainnya

Mengapa Artis, Girlband & Boyband Korea Punya Banyak Penggemar?

 

Masa remaja dulu, boyband yang marak di blantika musik adalah New Kids on The Block, Westlife, Boyz to Men dan sejenisnya. Wah ketahuan deh angkatan umur berapa! Ketika punya anak-anak remaja, saya belajar menyukai dunia disekitar mereka. Manga, anime, boyband girlband, film Korea, film Jepang dan segala seluk beluk industri seni negara Ginseng dan negara Matahari Terbit.

Alhasil, saya cukup mengenal boyband seperti Super Junior, Shinee, Wonder Girl, SNSD atau Girls Generation. Yang terbaru pun cukup tahu seperti BTS, Seventeen, G Friend, Red Velvet. Penggemar mereka punya sebutan sendiri : ELF untuk Suju, Carat untuk Seventeen, A.R.M.Y untuk BTS.

Rap monster BTS.jpg

Rap Monster BTS dg IQ 148!

 

Apa yang saya suka dari pekerja seni Korea : mereka all out. Rap monster dari BTS, Hani dari EXID, lalu Song Jong Ki dan Kim Tae Hee adalah beberapa anggota band dan movie star yang bukan hanya menekuni dunia hiburan namun juga sangat cerdas di bidang akademik. Belum lagi, berita tentang kerasnya masa karantina mereka di bawah manajemen terkenal, membuat orang-orang geleng kepala. Aturan makan ketat, tak boleh pacaran, sekian jam berlatih vokal dan olah tubuh. Yoona, salah satu anggota girlband SNSD bukan hanya bertubuh langsing tapi ia juga penyuka olahraga esktrim panjat tebing.

kim tae hee.jpg

Kim Tae Hee : Cantik dan Pintar!

Girl Band yang Keren

Anak-anak SMP dan SMA bahkan mahasiswa sangat menggemari artis dan girband Korea. Mengapa tidak? Apa saja penyebabnya?

  1. Goodlooking. Gadis Korea disebut sebagai salah satu perempuan tercantik dunia karena kulitnya yang putih dan rambutnya yang hitam serta halus.
  2. Stylish. Cewek Korea , apalagi yang tampil di dunia hiburan sangat pandai memadu madankan beragam jenis pakaian. Boleh jadi karena tubuh tinggi, langsing dan kulit putih membuat mereka tidak kesulitan memilih busana.
  3. Childish. Imut, kekanakan, unyu-unyu, menggemaskan. Ih, pokoknya kalau melihat gaya mereka rasanya geregetan. Pingin nyubit pipinya!
  4. Energic dance. Melihat 4, 5, 9 cewek cantik berkumpul sudah membuat mata terpesona. Apalagi olah geraknya yang kompak, energik, dengan tarian-tarian yang ditata oleh koreografer andal. Jadilah tampilan hiburan yang benar-benar menarik dan so entertain!

 

Girlband sebagai Role Model

Begitu kuatnya industri seni dari Korea sehingga masyarakat, utamanya remaja berbondong-bondong ke negeri Ginseng baik ingin berlibur atau sekolah disana. Kata-kata kamsamhamnida, saranghe, oppa, eonni, ajuhsi, menjadi kata yang biasa  diucapkan. Bila generasi 90-an serba kebarat-baratan; generasi 2000an serba ketimur-timuran. Tokoh idola umumnya akan menjadi role model  bagi pengikutnya. Di tiap dekade, di tiap musim, di rentang waktu tertentu selalu ada idola yang jadi trendsetter dunia. Musim baju leher sabrina yang dikenakan Audrey Hepburn, perempuan mengikutinya. Musim rambut pendek ala Demi Moore yang ngehits di film Ghost, perempuan ramai-ramai memangkas rambutnya. Musim poni panjang ala Jennifer Aniston di film Friends , perempuan melakukan hal yang sama. Demam Korea membawa followersnya kepada beberapa tata aturan yang biasa ditemui di masyrakat Korea.

Apa itu?

Gaya makan, gaya bicara, cara bergerak dan berperilaku, hingga gaya hidup.

Di era 50-an ketika body berisi ala Marilyn Monroe mendunia, perempuan tidak terlalu pusing dengan ukuran tubuh. Yang dianggap sexy justru yang tubuhnya cenderung gemuk. Bibir tebal sedikit memble dianggap sensual. 70-an dunia model dikejutkan dengan supermodel Twiggy yang tubuhnya setipis papan. Maka orang kurus berbangga saat bersosialisasi dengan teman-temannya. Hal ini terjadi hingga era 80-an, sampai-sampai, orang dianggap cantik bila berbibir tipis. Ketika itu belum dikenal operasi plastik; maka orang lebih suka merekayasa wajahnya dengan gaya rambut dan tampilan make-up. Di era demam Korea; trendsetter yang diikuti adalah tubuh (amat sangat) ramping, kulut putih dan wajah imut kekanakan. Raut innocent berupa hidung runcing, mata berkelopak, bentuk wajah oval. Mereka yang pesek, berahang persegi, dahi lebar, gigi maju dan bibir memble; silakan minggir.

 

Hyoyeon SNSD dan Yoona SNSD

Maka, dikenal kemudian di jagad gonjang ganjing ini tubuh super ramping yang dapat diperoleh dengan mengikuti diet super ketat : makan timun dan ubi merah. Tak ada ayam goreng Upin Ipin, tak ada mak nyusss nya Bondan, tak ada es krim, tak ada coklat. Kalau diet masih oke-lah. Yang sangat jauh darikultur Indonesia adalah …budaya oplas alias operasi plastik. Ini sudah menjadi rahasia umum, bahwa sebagian besar artis Korea harus melewati bedah plastik untuk mendapatkan wajah yang diidamkan dan mendapatkan penggemar. Jelek sedikit, hujatan akan dituai.  Sangat sedikit artis yang tetap alami seperti Kim Tae He atau Song Hye Kyo. Lee Min Ho yang sudah tampan saja, harus memperbaiki hidungnya agar lebih mancung.

Budaya kerja keras dan kecintaan pada seni bangsanya sendiri adalah hal yang pantas diacungi jempol dari artis Korea. Namun gaya hidup mereka, tampaknya tak cocok dengan budaya bangsa kita. Indonesia mengenal kesantunan, tata krama, tepa selira yang semuanya dilandaskan pada keluhuran budi. Bukan fisik semata. Maka menilai seseorang hanya dari fisiknya saja, sungguh tidak imbang. Sedihnya, banyak generasi muda sekarang meniru girlband dan boyband Korea hanya dari tampilan fisiknya saja. Oplas, ikut oplas. Diet, ikut diet. Berpakaian minim, ikut demikian.

Padahal, remaja Indonesia akan menjadi remaja unggul bila menjunjung nilai budaya sendiri. Mereka makan kimchi, kita makan pecel. Mereka berpakaian mini, kita lebih suka baju batik. Mereka oplas, kita tak malu dengan kulit coklat, hidung tak mancung, pipi chubby dan body berisi. Sebab inilah anugerah Tuhan bagi bangsa Indonesia. Bangsa yang dikenal sebagai bangsa berperilaku luhur, yang megnhargai manusia karena ketinggian ilmu dan budi pekerti. Bukan sekedar tampilan fisik.

 

Menuju Munas 4 FLP, 3-5 November di Bandung : Mahabb Adib-Abdillah, Profil Ketua Panitia Musyawarah Nasional FLP

 

Lelaki muda yang kalem ini, punya banyak sekali nama. Kalau anda menemukan nama-nama beragam di dunia pelatihan, kepenulisan maupun spiritual; jangan-jangan ia adalah orang yang sama!

Usianya tak dapat ditebak.

Jangan bayangkan pula bahwa usia lajang membuatnya tak bijaksana. Ia pemuda dengan segudang pengalaman yang membuat orang ingin belajar banyak darinya.

 

Adib Munas 4 FLP.jpg

Kang Adib

Nama Asli dan Nama Lain

Kedewasaan dan pengalaman hidup membuat dirinya tampak jauh lebih matang dari usia sebenarnya. Bernama asli  Abid Ibnu Husen dengan gelar S.Sos. Nama Abid Ibnu Husen  digunakan untuk kehidupan sehari-hari dan berkarya di bidang akademik, dunia pendidikan, dan penelitian. Ia berkarier di bidang pelatihan, pengajaran, seminar, dan coaching ; dengan nama keren tercantum di berbagai media sebagai  Husain Suitaatmadja, CPS®, CPM®, atau disingkat Kang HuSu.

Kang HuSu merupakan member IPSA (Indonesia Professional Speakers Association), founder Roof Creative House (RiCH) Indonesia, dan Leadership &  Literacy Coach. Jadi, kalau kita diisi materi oleh kang HuSu; bawaannya heboh, tertawa berguling, dan seru banget pokoknya!

Eit, kang HuSu bukan hanya mahir bicara tapi juga mahir berdiam diri.

Lho, apa hubungannya?

Kebanyakan orang yang pandai bicara akan sulit menulis; sebab menulis membutuhkan energi kontemplasi, aura dingin serta ketenangan. Kang HuSu ini memiliki kedua-duanya : energi bicara dan energi berdiam.

Catat karya-karyanya!
1. 100 Kiat Praktis Sehat di Usia Senja (Elex Media Komputindo, 2013) – eh, kang HuSu ini masih muda dan single lhooo tapi sudah buat buku bijaksana seperti ini.
2. Hidup Bahagia dan Berkah Tanpa Penyakit Hati (Elex Media Komputindo, 2014)
3. How To Be A Great Man (Caesar Media Pustaka, 2015)
4. Saya adalah Pribadi Multidisipliner (Bitread Digital Books, 2017, coming soon)
5. Taman Cerita, sebagai editor dan mentor kumpulan puisi sahabat disabilitas Bandung yang tergabung dalam Workshop Menulis WOKE dan FLP Jawa Barat (Bitread Digital Books, 2017, coming soon)

 

Nama Sastra

Untuk bidang sastra, film, dan musik spiritual, petualangan, dan kemanusiaan namanya bermetamorfosa menjadi Mahabb Adib-Abdillah.

Ia adalah Ketua FLP Jawa Barat dengan sederet karya (yang di atas ternyata belum selesai bookografinya!):

  1. Ramadhan Terakhir Ludwig, novel spiritual dan keluarga (DIVA Press, 2013)
    2. Seribu Kebaikan Untukmu, antologi cerpen bersama FLP Jatinangor [sekarang Sumedang] (Salsabila, Pustaka Alkautsar, 2013)
    3. Tuhan, Aku, dan Alam, antologi kisah petualangan spiritual bersama Pantera Fisip Unpad (ANDI Publisher, 2014)
    4. Cinta dalam Tumpukan  Jerami, kumpulan prosa (Bitread Digital Books, 2016)
    5. Aneukada: Perempuan, Kopi, dan Syair, kumpulan puisi (Bitread Digital Books, 2017, coming soon)

Aduh, Berapa sih Nama Akang?

Sebagai standup comedian, penulis dan aktivis sosial untuk anak muda dan dunia anak-anak, filmmaker, dan social welfare writer, lelaki murah senyum ini memilih nama  Aaboy.

Karyanya :
1. Novel komedi inspiratif Universitas Jatinangor Oxpord a.k.a UJO (Mahaka Pubilishing, Republika Penerbit, 2013) dan kini sudah mau 4 tahun menjadi komunitas kreatif di Bandung, komunitas berbasis universitas, Kampus UJO.
2. I.B.U. (I Believe U), novel komedi keluarga dan dunia remaja (Indiva Media Kreasi, 2017, coming soon)

Ternyata, kang Husen atau kang HuSu, kang Adib, kang Aaboy atau kang Abid ini punya segudang prestasi, segudang ketrampilan dan segudang karya.

Ehm, kira-kira nanti di buku nikah mau dicantumkan nama yang mana, Akang?

Sinta, adib, milad-flp-ke-20.jpg

Dari kiri  : Adib , Roby, Gol A Gong. Paling kanan Sinta, sebelah kirinya Annisa bitread

Menuju Munas 4 FLP 2017, November 2017

 

 

 

Tanpa terasa, perjalanan FLP tahun ini telah memasuki masa 20 tahun.

20thFLP (PNG)Banyak catatan pencapaian FLP, sebagaimana banyak pula catatan yang harus dikerjakan oleh organisasi kepenulisan terbesar di Indonesia ini.  Lahirnya penulis-penulis baru mulai usia anak-anak, remaja hingga dewasa; terbitnya beragam buku mulai buku konvensional hingga buku digital; karya-karya yang semakin luas cakupannya mulai puisi, cerpen, novel, buku motivasi, buku referensi, opini, artikel, skenario dan masih banyak lagi.

Apa saja pencapaian FLP selama 4 tahun terakhir? Apa pula catatan yang harus diperhatikan?

 

Lokal, Nasional, Internasional

Penulis-penulis FLP biasanya mengawali dari hobby dan kebutuhan ekspresi diri. Keinginan untuk melihat karyanya dibukukan, membuat penulis-penulis memacu diri menghasilkan kuantitas karya. Lihatlah karya-karya yang tertuang di media sosial mulai facebook, wattpad, hingga blog. Mereka yang rajin mengirimkan karya juga banyak. Pada awalnya mengirimkan karya ke koran-koran lokal seperti media kampus, media sekolah hingga media massa setempat.

Selanjutnya, semakin terasah kuantitas dan kualitas, maka anggota FLP akan mulai menempati karya di level nasional. Media online, media massa, majalah hingga beragam kompetisi berhasil dilalui. Jumlah yang mencapai level nasional sangat banyak; bahkan semakin lama, semakin junior usianya.

Mereka yang merambah dunia internasional pun bermunculan satu demi satu. Bukan  hanya kualitas karya, kualitas tulisan ilmiah, namun juga kiprah yang mengiringi langkah-langkah mereka. Penulis FLP mengisi ruang-ruang literasi dari Sabang hingga Merauke.

Ganjar Widhiyoga dan Yanuardi Syukur , dua orang di antara sekian banyak penulis FLP yang go international

 

 

Registrasi Online

Salah satu hal penting yang ingin dirapikan oleh FLP adalah bab organisasi.

Organisai bertujuan mengatur sekian banyak orang agar seragam visi misinya, agar seragam langkahnya. Mengelola organisasi kepenulisan yang berisi para seniman, sastrawan dan penulis berjiwa kreatif; tentu banyak tantangannya. Pada umumnya, orang-orang imajinatif enggan dibatasi gerak langkahnya. Di FLP, gerak langkah itu bukan dibatasi atau diseragamkan; namun perlu diselaraskan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia perbukuan agar memiliki daya guna dan daya saing yang tinggi.

Banyak sekali remaja, mahasiswa, karyawan yang ingin menjadi anggota FLP. FLP bukan organisasi ekslusif; namun harus memiliki basis data yang kuat. Berapa wilayah yang tercata? Berapa cabang yang terlibat? Berapa anggota riil yang masih aktif? Berapa anggota pasif yang tidak dapat membantu roda organsiasi tapi potensial di sisi yang lain?

Untuk itulah, registrasi online diadakan.

Waktu 4 tahun bukan waktu yang singkat, namun juga bukan perkara mudah mendata penulis FLP dari ujung barat ke timur. Sedikit demi sedikit, dengan ketekunan dan semangat persuasif para pengurus Pusat FLP; satu demi satu para penulis FLP mulai terdata lokasinya. Sehingga jumlah penulis FLP bukan hanya perkiraan : 5000-an, 10.000an; namun jumlah digit hingga angka terakhir diketahui. Hal ini bukan saja dibutuhkan dalam perkara material belaka, misal agar tersedia dana memadai bagi perputaran roda organisasi; namun juga dapat memetakan potensi penulis FLP di berbagai level dan jenjang, juga wilayah. Seringkali, pihak pemerintah atau lembaga non profit menghubungi FLP bila berkunjung ke suatu wilayah dan akan menyelenggarakan acara literasi. Anggota FLP relatif mudah digerakkan untuk berkumpul dan menyelesaikan suatu agenda literasi.

logo pake tanggal.png

Munas 4 FLP di Bandung, Jawa Barat

Pilihan Bandung sebagai kota penyelenggara Munas 4 bukan tanpa pertimbangan. Kota ini dapat menjadi magnet bagi para anggota FLP di seluruh Indonesia dan mancanegara untuk turut hadir dan memeriahkan pentas literasi. Munas memiliki agenda utama memilih ketua umum untuk periode 4 tahun ke depan, namun bukan hanya itu. Munas 4 FLP menjadi ajang silaturrahim yang sangat dirindukan, menjadi ajang pembelajaran segala hal, menjadi ajang tukar pendapat dan tentu saja. Penulis sangat menyukai hobby traveling yang akan memunculkan citarasa imajinasinya.

Bandung dan Jawa Barat adalah tempat indah dan nyaman dengan segala keunikan pariwisatanya yang terkenal. Kuliner, fashion, tempat wisata, bahkan agenda politiknya pun dilahap masyarakat Indonesia dengan penuh rasa ingin tahu. Harapan panitia, Munas 4 FLP akan menarik sebanyak mungkin peminat untuk hadir dan turut memeriahkan acara.

Acara Munas 4 FLP ini insyaallah akan diselenggarakan dari tanggal 3 hingga 5 November 2017. Maka bersiaplah untuk ikut berguncang dalam acara dahsyat ledakan literasi!

 

Di bawah ini karya-karya FLP yang telah terbit nasional dan internasional

Mengutip Sastra Cinta bagi Palestina

 

 

Aku tidak lagi bisa berbual-bual menulis tentang Palestina. Sudah cukup berita mewartakannya. Terlalu sakit jejak yang ditorehkan dalam hati, sementara kita tak bisa berbuat apa-apa selain berduka dan mengutuk.

Hari ini aku ingin berbagi kepada kalian semua dan mereka , kepada anda dan kamu, kepada kita dan kami. Kepada pembaca blog, facebook dan siapapun yang masih dapat mengeja simbol. Palestina akan selalu ada. Dalam debu, dalam batu, dalam angin, di riak ombak dan laut, dalam perundingan-perundingan dan sastra-sastra dunia.

Aku cuplikan, ketikkan ulang, secuil bagian heroik dari buku tentang Palestina yang kumiliki. Secuil ini semoga menggelitik hati, untuk ikut memikirkan sesuatu tentang Palestina.

 

Moonlight on Holy Palestine.JPG

Kisah indah dan heroik

Moolight on The Holy Land Palestine ~ Yahya Yakhlif

 

…….

Di sebuah jalan kecil menuju Jerusalem, kami berhenti di sebuah gerumbulan phon zaitun di pinggir jalan untuk makan dan istirahat. Kapten Ma’moun duduk bersama-sama kami, makan seperti yang kami makan, dan mengobrol bersama. Dia menebarkan optimisme, menginpsirasi kami dengan keberanian dan keteguhan hati, memenuhi jiwa kami dengan kegembiraan karena turut ambil bagian dalam mempertahankan kota suci Jerusalem.

Dia berbicara dengan aksen Damaskus yang elok, dan tak pernah melepaskan kacamata yang membuatnya terlihat lebih menarik dan menjadikan warna kulit Damaskusnya terlihat lebih terang.

“Aku mulai mempercayainya,” kata Najib saat kami kembali ke truk dan iring-iringan melanjutkan perjalanan. Najib minum dari botolnya, lalu bergumam : “Kapan kita akan sampai ke Jerusalem?”

 

………..

Kami menuju ke markas regional untuk istirahat sebentar. Kemudian kapten Ma’moun menerima telegram dari komandan tertinggi dan memanggil kami agar bekumpul.

“Saudaraku,” katanya ,” pertempuran di Mishmar Haemek semakin berat. Musuh telah berhasil menambah kekuatannya, dan kita harus membantu membantu membendung serangan mereka.”

Dan itulah yang kami lakukan, membendung gempuran pasukan Hagannah yang menyerang kami pada sebuah front luas. Sebagian besar pasukan kami dipaksa mundur menghadapi serangan gencar dari pasukan yang lebih superior dalam jumlah dan kelengkapan. Kami berhasil menerobos kepungan atas korp artileri yang terjebak, melakukan tindakan penyelamatan, dan setelah melalui pertempuran yang sengit, kami berhasil mengeluarkan korp tersebut. Kapten Ma’moun, yang memimpin tugas penyelamatan itu tertembak dan terkapar. Akhirnya, pertempuran mereda dan pasukan kami kembali ke posisi semula. Spirit kapten Ma’moun yang syahid terus menyemangati kami layaknya seekor burung hijau. Meskipun dia telah meninggal, kami merasakan kehadirannya hidup bersama kami, dan kami mengulang-ulang kisah tentang keberanian, karakter, dan kesederhanaannya. Komandan tertinggi telah memilih beberapa orang, termasuk Asad Al Shohba, untuk mengawal jenazah kapten Ma’moun ke Damaskus.

Sebuah pertempuran yang sungguh aneh, penuh pelanggaran, berakhir dengan penarikan mundur pasukan dan kamipun tak mendapatkan apa-apa. Aku dipromosikan menjadi komandan peleton. Meskipun demikian, akudikepung oleh perasaan pahit, benci dan malu.

Kami kembali ke posisi semula, di pinggiran al Mansi. Seragam kolonel Nour Al Din masiih tergantung di dinding kamar, namun rompi peluru tak terlihat lagi disitu. Aku lalu teringat Najib, yang mengucapkan salam perpisahannya dan pergi.

Aku pikir berkah Tuhan akan menyertai lelaki pemberani itu,  kemanapun ia pergi. Semoga mimpi-mimpinya dipenuhi dengan rusa, kupu-kupu, dan bunga; dipenuhi dengan pemandangan pohon muknissat al janna ; dan dipenuhi dengan bau orang yang dicintainya, yang telah menginspirasikan hatinya dengan gairah tak pernah padam.

 

A Little Piece of Ground (Bola-bola Mimpi) – Elizabeth Laird

 

Bola bola mimpi.JPG

Anak-anak Palestina yang pembernai tapi konyol, kocak dan lucu setengah mati!

Ledakan itu, meskipun lebih mirip suara “gedebug”, sempat membuat ketiga anak itu terlompat kaget. Debu beterbangan dari jemabtan di bawah sana. Selama beberapa saat, mereka tidak bisa apa-apa. Setelah debu-debu itu mulai menipis, mereka melihat ketiga tentara itu keluar dari pesembeunyian . Kantong plastik itu sudah lenyap, tapi serpihan plastik dan kertasnya masih melayang-layang di udara, dan akhirnya jatuh ke tanah. Salah seorang tentara menendangi serpihan-serpihan itu dengan kesal. Seorang lainnya menarik tentanra stres itu ke pinggir, lalu membungkuk dan mengambil sesuatu. Dia menunjukkan sesuatu itu pada yang lainnya, meneriakkan kata-kata mirip sumpah serapah, lalu membuangnya. Dia kemudian kembali ke jalan raya.

“Apa itu tadi? Apa yang kamu taruh di dalamnya?” tanya Karim.

Hopper menyeringai senang.

“Batu. Aku tulisi Palestina Merdeka di satu sisi , Matilah Israel di baliknya, dan Pecundang di sepanjang pinggirannya.”

“Oh, Wow! Kereeen..!” mulut Joni sampai menganga saking kagumnya.

“Tapi, mereka kan nggak bisa baca tulisan Arab,” sergah Karim.

“Aku tulis dalam bahasa Inggris, kok.”

Hopper baru saja mengucapkan hal lain ketika suara yang menusuk telinga mulai terdengar. Suara itu mendengung semakin keras.

“Helikopter!” desis Karim. “Mereka menyisir daerah ini. Mereka pasti melihat kita! Kita bakal tertangkap!”

Hopper tidak membuang-buang waktu lagi. Dia langsung mencari tempat berlindung, di atap terbuka itu.

“Di bawah tangki air! Disana!” katanya, “kita harus sembunyi!”

“Nggak ada gunanya,” pikiran Karim berpacu dengan waktu. “Mereka pasti punya alat pendeteksi panas. Mereka pasti menemukan kita. Kita harus masuk ke gedung!”

 

 

 

Jalan jalan di Palestina.JPG

Salah satu buku yang aku suka sekali

Palestinian Walks : Notes on a Vanishing Landscape – Raja Shehadeh

………

Betapa aku iri pada Abu Ameen yang hidup dengan percaya diri dan aman di bukit tempat ia lahir dan mati, yang ia yakin takkan berubah selamanya. Pernahkah Abu Ameen memimpikan suatu hari bukit-bukit bebas tempat ia biasa melarikan diri dari kekangan kehidupan di desa takkan lagi bisa dikunjungi oleh keturunannya? Betapa para pendaki gunung dari mancanegara tak tahu betapa beruntungnya bisa berjalan di negeri yang mereka cinta tanpa amarah, rasa takut, atau tak aman. Betapa berharganya bisa berjalan-jalan tanpa wacana politik berseliweran di kepala, tanpa takut kehilangan apa yang telah mereka cintai, tanpa resah hak mereka untuk menikmatinya akan dirampas. Hanya untuk berjalan-jalan dan menikmati dan menikmati apa yang ditawarkan alam, seperti yang dulu bisa kulakukan.

………

 

Kadang-kadang , ketika bangun pagi dan menatap keluar keperbukitan, aku membayangkan Abu Ameen berdiri di pagi hari di atas qasr-nya jauh di atas bukit. Ia dikelilingi kabut yang memenuhi lembah dan menyamarkan lipatan bukit-bukit, membuat segalanya tampak  licin. Di sekitarnya aku bisa melihat kabut telah sampai ke tiap lipatan dan lekukan lembah, menciptakan danau-danau yang beruap di antara bukit-bukit yang kering dan terpanggang. Ia terus berdiri di ranah yang kini telah terubah itu, mengikuti naiknya matahari di langit, mengamatinya mengisap kabut, mengosongkan danau-danau malam tadi, dan mengembalikan bukit-bukit itu ke keadaan mereka yang lumrah, kering dan bergelombang.

Jika seseorang mencari Abu Ameen, awalnya dia takkan bisa langsung melihatnya, namun begitu kabut mulai memudar dan matahari makin mencerah, muncullah sesosok yang cerlang. Sulur-sulur kabut yang mengelilinginya akan bercahaya terkena sinar matahari. Kerlap kerlip yang berwarna warni akan menerangi tubuhnya, memberinya sayap-sayap seakan ia dapat terbang di atas lembah, sosok yang fana laksana unggas liar atau dewa bukit yang pucat.

Aku sering penasaran kepada Abu Ameen sementara aku berdiri di pagi hari menatap ke pedesaan. Apa yang akan ia katakan jika melihat negerinya sekarang? Akankah jiwanya mendidih dengan amarah pada kami yang membiarkan tanahnya dihancurkan dan diambil alih, ataukah ia hanya akan menikmati satu sarha panjang lagi, membiarkan jiwanya mengembara bebas di atas negeri ini, tanpa kekangan batas-batas, seperti keadaannya suatu waktu dulu?

 

 

Reem ~ Sinta Yudisia

Insyaallah terbit Juli atau Agustus 2017

Reem Cantik Palestina.jpgReem

Asyik Punya Anak Banyak, atau Anak Sedikit?

 

“Hah? Anakmu 4?”

Dosen saya terbelalak. Beliau tak percaya saya bisa punya anak banyak. Maklum, badan saya kecil mungil.  Waktu melihat ekspresi beliau yang seperti itu, sebetulnya saya ingin terus bilang : “aslinya saya ingin punya anak 6 atau 12 lho, Pak.”

 

Waktu putri sulung saya sekolah di SMP Negeri, dia juga sering menerima ungkapan terkejut dari teman-temannya.

“Hah, Adikmu 3? Banyak bangettt?”

“Padahal temanku ada yang bersaudara 9 ya, Mi, hahaha,” si Sulung tertawa.

“Coba dosen Ummi tau ada orang seperti Ustadzah Yoyoh Yusroh yang putranya 13,” sahutku pula.

Anak Sedikit : Pengeluaran Tak Banyak

Orang memilih punya anak 1 atau 2, dengan beberapa alasan. Ada yang alasannya kesehatan. Ada yang alasannya keuangan. Yang alasannya kesehatan; biasanya karena si ibu tak mampu melahirkan banyak. Bolak balik caesar. Yang pertimbangan keuangan, biasanya mengatakan ,

“Yah…tau sendirilah. Berapa harga susu. Berapa biaya sekolah. Berapa biaya anak sakit. Bukannya tak percaya rizqi Allah, tapi sebagai manusia kita juga harus usaha. Kalau puunya anak banyak tapi orang tua nggak mampu memberikan pendidikan dan kesehatan yang layak, akhirnya mereka tidak akan menjadi asset yang  baik juga.”

Begitulah kira-kira.

Saya tak menyalahkan pendapat ini.

Sebab, memang dalam kenyatannya, ada teman-teman yang beranak banyak sudah berjuang sekuat kemampuan untuk memberikan pendidikan dan kesehatan yang layak pada anak-anak. Namun, karena situasi ekonomi dan kebijakan pemerintah  tidak berpihak pada keluarga beranak banyak, akhirnya beban ekonomi dipikul hanya oleh keluarga yang bersangkutan.

 

Anak Banyak : Asset Keluarga dan Negara

Bagaimana dengan orang yang memilih beranak banyak?

Saya salah satunya. Alasannya klise : saya suka keluarga yang ramai, mengingatk keluarga saya dulu hanya 3 bersaudara. Saya punya abang 1, adik 1. Rasanya kok sepiiii kalau semua sudah sekolah dan pulang sekolah. Saya sering keluar mencari teman bermain, tetangga-tetangga sekitar. Saya iri waktu kecil, ada tetangga depan rumah yang punya anak 5. Sebel banget, kalau saya berantem dengan anak tetangga yang seusia; maka kakak-kakaknya akan membela dia sementara saya hanya seorang diri menghadapai konspirasi!  #Jiaaah

Saya bertekad : awas ya, bseok saya mau punya anak banyak! Hehehe.

Menikah, awalnya saya ingin punya anak banyak.

Apalah daya, anak pertama keguguran. Alhamdulillah, anak-anak yang berikut muncul. Hanya saja, kesehatan saya sepertinya kurang menunjang hingga ketika kehamilan ke-5, dokter memutuskan agar saya tidak lagi mengandung.

Lalu apa rasanya punya anak 4?

Heroik bangettt laaah.

Inayah, ayyasy, ahmad, nis.jpg

4 anak kecil yang lucu dan heboh!

Sepeda Motor 1

Waktu itu satu-satunya kendaraan hanya sepeda motor. Maklum, suami menempuh studi D4 di Jakarta saat saya hamil anak ke-4. Jadi kalau keluar rumah, suami yang nyetir motor. Saya di belakang. Si sulung dan nomer dua di depan, saya memangku anak ketiga sembari hamil. Untung waktu itu badan suami dan saya masih kurus-kurus, jadi cukup aja motor kecil begitu heheheh.

Punya anak-anak kecil 4 itu antara nangis dan tertawa, bahagia dan jengkel.

Si sulung masih kecil saya titipi sebentar adiknya untuk belanja ke warung sayur. Kalau bawa anak 3 kebayang deh repotnya. Jadi saya titipi dia dengan adiknya. Pulang-pulang heboh.

“Ummiiiii…akuu digigit Mbaaak!” si adek nangis kekejer.

Yah, perebutan barang mainan atau makanan kecil. Si sulung gemes karena adiknya tak mau berbagi, lalu ia menggigit tangannya!

 

Banyak Insiden Menakjubkan

Punya anak 4 itu rempong. Anak 3 masih belum terasa capeknya, tapi 4? Itu benar-benar menguras tenaga. Maka kita harus bisa berbagi tugas dengan suami dan anak-anak. Dan berbagi tugas itu tidak selamanya mulus, sebab terkadang, malah justru semakin menambah ruwet!

“Mbak, tolong adik dimandikan ya,” aku minta si sulung memandikan si bungsu. Sama-sama cewek.

3 menit. 5 menit. 7 menit. 15 menit.

Kupikir main air, main sabun, atau main apalah.

Tahu-tahu!

Si bungsu yang saat itu masih sekitar usia 5 tahun, keluar cengar cengir. Pakai handuk. Si Sulung juga terlihat antara gugup dan tertawa.

“Kenapa?” tanyaku melihat mereka berdua.

“Ini gimana cara melepasnya, Mi?” si Sulung bertanya.

Aku menatap takjub pada rambut si bungsu yang terurai panjang. Ia memang anak cewek yang feminin, memelihara rambut panjang ketika itu. Si sulung mengeramasinya, lalu si bungsu menyisir rambut panjangya di kamar mandi. Rupanya, ia menyisir tak sampai ujung rambut bawah, sudah dikembalikan lagi ke ubun-ubun. 3x diulangi, sisir itu nyangkut,ruwet, uwel-uwelan di pangkal rambut! Kalau di ujung rambut, bisa dipotong saja. Tapi ini di pangkal? Mau dibotakin?

Hari yang sudah full akhirnya bertambah padat dengan upacara melepaskan sisir dari rambut. Kupotong dengan pisau yang dibakar api, kupatahkan kecil-kecil, tetap saja bundel semrawut gak karuan. Akhirnya, rambut si adek terpotong juga…

Si sulung memang suka bereksperimen dengan rambut. Sebelumnya, rambut adik laki-lakinya dipotong seperti di salon; hingga seperti keset . Panjang, pendek, botak tak beraturan.

Alhamdulillah… insiden-insiden yang terjadi tak sampai menimbulkan kecelakaan. Tapi aku sebagai ibu harus ngelus dada, sport jantung, siap waspada ketika salah seorang anak berteriak.

“Miiii!!”

Rasanya jantung ini melorot ke kandung kemih.

Alhamdulillah, bila anak mulai besar

 

Berbagi, Berdiskusi, Cari Uang Sendiri

Kata orang-orang tua, punya anak banyak itu repot pas kecil. Senang pas besar.

Saat anak-anak sudah mulai masuk sekolah usia SD, aku mulai merasakan senangnya punya anak banyak. Mereka dapat disuruh ke warung, buang sampah, membantu mencuci, menyapu dan saling menjaga satu sama lain. Semakin dewasa, saat usia SMP dan SMA; mereka mulai dapat diajak berdiskusi tentang segala sesuatu. Bahkan, mereka seringkali membagi cerita lucu yang membuatku dan suamiku tertawa terbahak. Kadang mereka mengkritik kami.

“Ummi harus dengan lagu Lukas Graham 7 years Old,” kata si Sulung, “Itu bagus banget, cara orangtua mendidik anaknya. Ummi juga harus lihat serial Ted di youtube, ada serial-serial tentang orangtua muslim mendidik anaknya di Eropa. Atau bagaimana cewek mempertahankan hijabnya.”

Si kecil pun sudah mulai berdakwah kepada orangtuanya, “Ummi kurang dengung tuh, baca Qurannya.”

Keempat anak kami, kadang kami minta untuk mengoreksi hafalan orangtuanya.

Apalagi ketika anak-anak mulai berprestasi dan menang lomba; mereka bisa punya uang sendiri.

Rasanya terharu sekali ketika mereka memberikan uang itu ke kami.

“Uang ini dipakai Ummi aja.”

“Ummi pinjam ya?” tanyaku.

“Nggak ussah pinjam, Mi. Buat Ummi aja. Aku juga sudah hutang hidup sama Ummi.”

Duh, kalau sudah begini terharu rasanyaaa.

Kalau ayah dan bunda dan adik-adik yang sudah (siap) menikah; pilih anak banyak atau anak sedikit?

 

 

Moslem family http://www.manchestereveningnews.co.uk/business/business-news/muslim-cleric-tortured-in-libya-for-months-874486

Lukas graham https://www.livenation.com/artists/98423/lukas-graham