Persiapan buat ke Korea

“Aduh, mahalnya!”

“Aduh gak punya uang…”

Itu kalimat yang haram dikatakan kalau kita punya cita-cita. Nenekku, bulik-bulikku, dan mamaku selalu bilang kalau kita punya keinginan, nggak usah bilang hal-hal negatif. Duh mahal. Duh nggak cukup duitku. Saat punya keinginan  langsung aja bilang, “ya Allah , mudahkan rezekiku untuk terwujudnya keinginanku.”

 

Aku aja nggak nyangka bisa ke Seoul ini. Nanti aku bahas keajaiban menjelang berangkat ke Seoul ya…

 

Kita bicara persiapan dulu. Kalau kamu mau ke Korea (baca luar negeri). Bisa jadi peraturan di Korea dan negara lain itu beda-beda.

  1. Paspor. Buat paspor jauh-jauh hari. Perkara kita mau berangkat ke LN atau nggak, urusan nanti. Sama seperti kamu punya KTP. Emang karena mau nikah baru ngurus KTP? Enggak kan? Paspor juga gitu. Kalau buat jauh-jauh hari, kita nggak gelisah karena harus nembak. Buat paspor murah, 355 ribu, asal syaratnya lengkap. Tapi kalau nembak bisa 1,2 juta, 1,5 juta, 1,9 juta sampai 4 juta!

 

  1. Visa itu kayak apa sih?  Tiap kali mau masuk negara asing selain Indonesia kita butuh visa. Pas  mau ke Korea, aku gak bisa ngurus visa sendiri. Maka  kukirim pasporku ke Jakarta. Salah satu sahabat yang mengurus visa-visaku adalah Aquila Travel, Jalan Cendrawasih 2 no 11, Cilandak, Jakarta Selaran 12420. Bisa di cek di www.aquilatravel.co.id. Pengalamanku nih…mereka cukup amanah. Buat visa ke Korea itu antara 1-2 juta,tergantung mau sekali masuk atau multiple entry. Nah, 2018 ini aku lolos ke Seoul, pihak Aquila ngecek visaku. Ternyata masih berlaku sampai 2021. Mereka hanya minta biaya admin 200 (padahal untuk orang gaptek seperti aku, mereka bisa aja kasih tarif tinggi kan?)

 

  1. Travel insurance. Untuk Seoul, mereka minta travel insurance. Buat jaga-jaga kalau kita sakit, hilang koper dll. Harganya $75. Jadi kalau nanti mendadak ada apa-apa (moga-moga aja nggak, naudzubillah) kita gak usah keluar uang. Semua udah diurus sama pihak asuransi.
  2. Tiket PP. Sekarang udah banyak banget penerbangan Surabaya-Seoul. 2016 aku ke Korea, nggak ada yang dari Surabaya. Rata-rata dari Jakarta. Semakin banyak aja yang pingin ketemu Oppa Eonni cakep yaaa. Mahal gak tiket PP? Kalau yang mau mahal juga ada, PP 50 juta kwkwkw. Mending buat haji umroh laaah. Tapi kamu bisa terus belajar cari tiket murah. Kamu bisa cari di traveloka,tiket.com, nusatrip dll. Dengan rajin cari info  kita bisa dapat tiket murah.

 

  1. Living cost. Sepanjang di Korea butuh biaya. Tukar uang rupiah kita ke won atau dollar. Berapa sih biaya yang dibutuhkan sepanjang di Korea? Ntar ada tulisan lanjutan ya.

Selamat menikmati perjalanan yang penuh hikmah ya 🙂

 

ㄷ도봐요

Ddo bwayo.

See you later.

 

 

 

Iklan

Bagaimana keluar dari bandara Incheon, Seoul?

How to get your place from Incheon International Airport.

Alhamdulillah…akhirnya tiba lagi di negerinya K-Pop dan drakor yang kondang  itu.

Perjalanan dari Surabaya ke Jakarta memakan waktu 1 jam aja. Tiba di Soetta transit sekitar 2-3 jam. Cukup buat menyusuri bandara yang hadeeeh buat kaki bengkak. Bandara Soetta sekarang udah gedelho (eh, emang dulu kecil?). Gak tahu kenapa kok kayaknya bandara ini tambah gede.  Padahal baru beberapa bulan yang lalu tiba di Soetta.

Perjalanan Jakarta- Seoul berjalan dari jam 23.30dan tiba di Seoul jam 06.30 WIBT (waktu Indonesia barat tercinta) atau jam 08.30 waktu Korea. Berarti sekitar 7 jam perjalanan udara.

Alhamdulillah nggak mengalami kendala di imigrasi. Semua lancar,dan teman yang mau menjemputku sudah stand by sejak jam 09.00 . Meski mendarat jam 08.30 kita masih antri di imigrasi dan pengambilan bagasi kan?

Dari bandara Incheon kami naik kereta api ke Seoul Station. Berhenti di  stasiun Hongik University lalu naik taxi sekitar 5000 won ke Yeonhui.

Nah, meski ini kali kedua aku ke Korea, agak celingukan juga mencari jalan keluar untuk ketemu temanku. Dan juga keluar menuju transportasi subway. Jadi alurnya begini :

Kiri : subway dari arah pesawat untuk masuk ke gedung bandara. Kanan : imigrasi

  1. Keluar pesawar ikuti aja panah yang ada arrival atau baggage claim
  2. Ada banyak toilet. Kita bisa pipis dulu. Soalnya di atas pesawat kadang kruang nyaman
  3. Kalau mau ke bagian bagasi dan imigrasi, kita naik kereta api 1 kali. Sudah tersedia dari arah turun pesawat, untuk naik kereta ini.ikut arus aja
  4. Keluar kereta nanti naik tangga eskalator sekali
  5. Sampailah di imigrasi. Antri di sini
  6. Lalu keluar imigrasi, cek bagasi kita ada di pesawat apa, di jalur bagasi berapa
  7. Ada panduan exit. Biasanya pintu C
  8. Kalau sudah di lobby luar bandara,biasanya naik lift sekali ke lantai 2 untuk bisa naik kereta api
  9. Beli T-money dulu atau kalau udah punya, isi di vendor machine
  10. Silakan naik kereta api. Yang ini perhentian terakhir di Seoul Station.

Kiri : papan informasi bagasi kita dari penerbangan apa, misal GA 878 ada di belt 9. Kanan : pintu C tempat keluar

 

 

Kiri : gate untuk gesek kartu. Pastikan kartu T-money ada isinya. Kanan : antrian naik subway.

Trataaaa.

Akhirnya aku bisa sampai di residensi penulis yang keren ini. Tempatnya dingin, nyaman, teduh, rindang. Kesunyian yang ada di sekeliling menyebabkan penulis mudah menghasilkan karya, mencari inspirasi dan berkontemplasi terhadap banyak hal.

#seoul

#novel

#fiksi

#penulisindonesia

Hari ke #1 di #seoul

Hari ke #2 di #seoul

Bagaimana sih rasa makanan Korea?

Negeri ginseng ini makin kondang dengan K-Pop dan kulinernya. Kalau  di film-film sepertinya masakan yng disajikan enaaakkkk bangeeettt, apalagi dihidangkan dengan mangkuk-mangkuk kecil yang artistik; kalau kamu berkesempatan ke Korea Selatan dan mencoba mencicipi masakannya, jangan kaget ya.

 

Kalau kamu muskim, tenty harus berhati-hati memilih restoran. Sebab, warga Korea terbiasa menggunakan babi untuk semua masakan, plus wine. Tata cara penyembelihan pun tidak sesuai syariat Islam. Kalau kepepet banget, kamu bisa memilih cafe atau resto yang menyajikan menu vegetarian atau ikan.

Sinta & asma Azizah

Sinta dan Asma Azizah, mahasiswa di Kyunghee University

Mau tahu rasa masakan ini?

  1. Kimchi. pedas manis. Kalau bahannya timun sih masih enak di lidahku. Ketika tiba menggigit sawi atau bawang bombay (mentah!), sekalipun dicampur sambal tetap aja …isssh. Gak kolu aku. (Jawa). Rasanya seperti menggigit adonan jahe dan sambal. entah kenapa, kalau timun kok cucok.
  2. Ikan. Ikan di sini dibakar tanpa bumbu. Rasanya sih gurih karena ikan segar. Tapi makannya pakai sumpit lhoooo. Aku biasanya kalau makan ikan obok-obok, sirip sampai kepala bersih kwkwkwkwk. Di sini gak boleh gitu.
  3. Sup tahu. Nah yan ini pasti kalian doyan. Sebab rasanya gurih, pedas, asem. Cocok banget buat lidah kita apalagi yang baru dari perjalanan jauh. Segeerrr.
  4. Sambel? Itu tauco! Asyeeem.
  5. Kalau mau bergaya kayak di drakor, bolehlah makan ikan atau tahu digulung pake selada. Sip!
  6. Tehnya segar dan dingin. Bening. Tapiii…gak manis.

 

 

Kiri : Ikan bakar, sup tahu, kimchi, teh. Kanan : apapun bisa digulung  dengan selada.

 

Untuk di Sinchon, makan berdua habis 15.000 won. Ups…jangan dikit-dikit di kurskan rupiah ya. Ntar mabok. Sebagai penulis dan traveller aku juga gak sering njajan di luar. Bisa bolong saku hahahah. Ini karena baru tiba dan masih capek bangettt. 15.000 won di Korea termasuk lumayan murah, apalagi makan berdua. Sebab menu lain bisa 1 orang 30.000 won!

Selamat menikmati negeri Ginseng ya!

#seoul

#kulinerkorea

#won

#halalfood

Seoul, I am coming back!

Alhamdulillah, meski baru rencana, insyaallah saya akan berangkat kembali ke Seoul, Korea Selatan. Ceritanya, pengajuan aplikasi untuk tinggal selama sebulan di residensi bergengsi Yeonhui, Seodamun-gu, disetujui pihak SFAC (Seoul Foundation for Arts and Culture).

Kapankah itu? Rentang waktu yang diizinkan adalah 1-31 Juli 2018.

Berarti pas musim panas ya? Cuaca nggak beda jauh dengan Indonesia.

Nah, saya bagi cerita di sini apa saja yang perlu disiapkan ya.

  1. Kalau mau ikut seleksi SFAC minimal kita harus punya karya tulis fiksi seperti cerpen/ antologi/ novel yang telah dipublikasikan. Kalau kamu ingin tahu seperti apa SFAC, gampang! Tinggal googling atau bisa ke mari ya SFAC
  2. Minta surat rekomendasi dari penerbit dan komunitas agar aplikasi anda lebih berkualitas
  3. Sering-sering kontak mereka via email untuk tahu apakah aplikasi kita disetujui. umumnya kita diizinkan tinggal selama sebulan di Seoul. Sebulan, lho! Bisa jalan-jalan ke Itaewon, line store, Coex building tempat SM entertainment ngantor atau ke kuil-kuil.
  4. Harus mencantumkan residency planning. Jadi mau ngapain aja selama di Korea. Kalau saya memang ingin nulis di residensi mereka yang nyaman banget.
  5. Doakan ya teman-teman agar semua dimudahkan Allah Swt. Sebab masih banyak pernak pernik yang harus diselesaikan nih 🙂

 

 

Mari, silakan mencicip 🙂

Searah jarum jam : Coex building, sungai Han, HUFS (Hankuk University of Foreign Studies bersama Feby), bersama mbal Aqiela di taman mawar buatan.

OK Sinta di Deoksugung, Seoul

Kenangan di Deoksugung, 2016

Rohis Bukan Teroris

 

Bom di Surabaya yang meledak kemarin, Ahad 13 Mei 2018, pasti akan memunculkan berbagai dinamika. Diskusi, polemik, asumsi, lempar melempar opini, bahkan pendapat negatif berhamburan. Apapun itu, saya tetap ingin menuliskan apa yang ada di benak dan hati, dan mencoba menuangkannya secara santun bermartabat.

 

Doktrin teroris jelas tidak ditanamkan sehari dua hari. Butuh waktu pekanan, bulanan, bahkan bertahun-tahun untuk membentuk seseorang menjadi ekstrimis. Berapa tahun Belanda menjajah Indonesia hingga muncul doktrin “merdeka ataoe mati” ? Setelah penjajahan, penistaan, penjarahan, penganiayaan, pembunuhan terus menerus terhadap anak-anak bangsa; bangsa Indonesia pada akhirnya bergerak untuk berjuang hingga tetes darah penghabisan. Berapa lama pula para pahlawan seperti Cut Nyak Din, Diponegoro, Imam Bonjol, Hasanuddin dkk hingga organisasi macam Sarekat Dagang Islam, Budi Utomo dll untuk membangkitkan semangat perlawanan terhadap penjajah?

 

Berbulan.

Bertahun.

Belasan dan puluhan tahun.

 

 

Doktrin radikal, fundamentalis, teroris tidak bisa ditanam dalam jangka waktu sebentar. Tetapi juga jangan sembarangan mengatakan bahwa doktrin ini muncul “hanya” karena penanaman nilai-nilai Islam semata. Karena rutin ngaji, jadi radikal. Karena ikut rohis, jadi ekstrimis. Karena rajin ke masjid, ikut kajian Abdul Somad dan Habib Riziq, jadi teroris.

Bukan hanya karena satu masalah Indonesia pernah menggaungkan semangat lawan kolonialisme Belanda dengan slogan beragam : Sekali Merdeka, Tetap Merdeka. Rawe-rawe rantas, malang-malang putung. Mati satu, tumbuh seribu.

Bukan hanya karena satu alasan. Tidak.

 

Belanda datang ke Indonesia, mengadu domba dan memecah belah. Sudah bukan rahasia lagi bahwa politik devide et impera Belanda bertujuan memecah belah Indonesia. Terpecahnya kesultanan Ngayogyakarta dan kasunanan Surakarta dalam perjanjian Giyanti, akibat VOC juga. Belanda selalu mencampuri urusan Amangkurat I, dan memecah belahnya dengan pangeran Adipati Anom dalam kerajaan Mataram. Belanda tidak henti-henti mencampuri , memecah belah setiap kekuasaan yang bercokol di nusantara.

 

Belanda juga memaksa bangsa Indonesia melakukan hal tak menusiawi. Ketika Herman Willen Daendels diutus ke Indonesia untuk mempertahankan tanah Jawa dari Inggris, ia melakukan banyak cara tak manusiawi. Memaksa kerja rodi untuk membangun pabrik senjata di Semarang dan Surabaya, membangun jalan Anyer Panarukan. Memaksa rakyat menjual hasil bumi dengan harga murah kepada Belanda (verplichte leverantie); memaksa Preanger Stelsel, yaitu rakyat dipaksa bertanam kopi, menjual tanah Negara kepada swasta asing seperti Han Ti Ko pengusaha China. Rakyat Indonesia menjadi kasta terbawah di negeri sendiri.

 

Belanda menarik pajak yang berat, utamanya pada warga Tionghoa yang merupakan warga mayoritas saat itu dan mereka banyak berdagang.  Belanda sering menyiksa rakyat dan melakukan penyiksaan, seperti yang terjadi di penjara Kalisosok, Surabaya.

Banyak sekali alasan untuk menjadikan orang ekstrimis, fundamentalis, teroris. Bukan hanya karena satu alasan saja.

Sebagaimana peristiwa pengeboman di Surabaya, apakah doktrin agama satu-satunya alasan menjadikan orang teroris? Apakah rohis adalah lembaga cikal bakal teroris? Nanti dulu. Saya tidak sepakat rohis dianggap sebagai satu-satunya lembaga penghasil teroris karena sebagaimana Belanda dulu menyiksa bangsa Indonesia, ada sekian banyak hal yang ‘menyiksa’ bangsa ini hingga menjadi sakit. Sakit fisik, sakit psikis, sakit ekonomi. Dan sakit yang tiada ujung itu bisa menyebabkan –misalnya-  seorang penghuni penjara Kalisosok seperti Li Hong Li, kuli kontrak, berani bangkit dan berontak.

 

Apakah rohis membentuk ekstrimis juga, sebagaimana Belanda pada akhirnya secara tidak langsung membentuk ekstrimis pejuang kemerdekaan?

Hm, nanti dulu.

Rohis BUKAN Teroris

 

  1. Rohis BUKAN teroris, sebab saya dulu mengenyam rohis sejak SMA dan kuliah. Rohis membuat saya memakai kerudung, sholat wajib dan sunnah lebih giat, faham bahwa keridhoaan Allah sejalan keridhoan orangtua. Sejak ikut rohis saya merasa harus lebih baik kepada ayah dan ibu. Lho, bukannya itu didapat di pelajaran agama? Alamak, pelajaran agama yang di sekolah hanya 2 jam lebih sering membahas hukum waris, memandikan jenazah. Sesuatu yang jauuuuh dari pikiran anak muda! Rohis membahas hal kekinian yang menyentuh jiwa muda saya saat itu.

 

  1. Rohis BUKAN teroris. Rohis adalah organisasi, dimana saya minta anak-anak untuk bergabung. Ya. Orangtua mana di zaman ini yang bisa merasa yakin, sekilo sejak anak keluar dari rumah, ia masih anak baik-baik saja? HP, internet, mall, teman-teman dapat menjadi ancaman. Kalau ia ke mall, jangan-jangan…Kalau ia belajar bersama ke rumah teman, jangan-jangan…Kalau ia buka internet, jangan-jangan… Menyuruh mereka aktif di rohis membuat saya selaku ibu merasa ‘aman’ : ada yang mengingatkan anakku untuk takut kepada Tuhan. Religiusitas menjadi salah satu cara mengatasi juvenile delinquency, sebab anak-anak merasa punya kendali diri

 

 

  1. Rohis BUKAN teroris. Di jalan rohis saya lebih tahu bahwa Quran itu untuk dibaca, bukan buat mahar saja. Di jalan rohis saya tahu, bahwa semakin paham Islam, semakin optimis dan positif kita memandang hidup (gak peduli gagal SBMPTN, gagal masuk kerja, gagal usaha, gagal punya pacar, gagal berjodoh dengan seseorang. Judulnya move on sepanjang masa, karena itu tadi, sandarannya Allah. Tuhan semata. Jadi segala sesuatu dianggap ada hikmahnya). Waduh, kalau saya gak masuk rohis, mungkin saya cepat patah arang. Sumbu pendek. Pikiran cupet. Gak lulus kuliah, hopeless. Gak dapat-dapat jodoh, dengki. Gak dapat kerja layak, umpat sana sini.

 

  1. Rohis BUKAN teroris. Bertahun setelah saya ikut rohis di SMA dan kuliah; tiap kali saya ngisi acara kepenulisan, psikologi, parenting atau apalah namanya selalu saya sisipkan ke tengah audiens : ikutlah kajian Islami alias rohis dimanapun anda berada.

 

Lha, yang saya hadapi wanita karir. Cantik, pinter, berduit. Gak ikut rohis? Gimana kalau dia kena virus perselingkuhan? Yang saya hadapi mahasiswa jauh dari ortu, dengan energi vitalitas tinggi dan libido meledak; gimana kalau dia kenapa-kenapa sama lawan jenisnya? Perlu anda ingat, orang yang belum pernah sama sekali ikut kajian Islam alias rohis dalam hidupnya, juga berpotensi serupa teroris. Contoh, menangani urusan SDM kantor : 1 karyawan atau 1 kepala seksi terindikasi perselingkuhan; hadehhh. Ruwet. Rumit! Bukan hanya membengkak jadi kasus suami istri, pengabaian anak-anak. Kantor pun amburadul, anak buah terbengkalai, target kantor gak tercapai. Apa ini bukan masalah besar?

 

Baru 1 orang. Gimana kalau satu instansi, satu departemen ada virus korupsi, virus selingkuh, virus malas kerja dll? Ingat. Rohis dan kajian Islam yang mengggerakkan orang-orang di kampus, kantor, sekolah untuk bisa bertindak profesional alias itqon. Kerja adalah ibadah! Kelak mereka harus bertanggung jawab di hadapan Tuhan atas hasil kerja keras mereka.

 

  1. Rohis BUKAN teroris. Di hadapan anda sekarang tersaji anak-anak muda yang keren luarbiasa. Dakwah di instagram, dakwah youtubers, dakwah bloggers, pengusaha makanan dan pengusaha outfit yang outstanding! Anak-anak muda yang rela nikah muda dengan segala konsekuensinya, daripada pacaran. Mereka jaga nama baik orangtua dan keluarga, lho! Anak-anak muda yang memacu diri mencari beasiswa dan giat organisasi, sebab tujuan belajar bukan hanya keahlian individualistis. Tapi keahlian teamwork. Anak-anak muda yang segera galang dana jika ada bencana alam dan bencana kemanusiaan. Anak-anak muda kreatif, inovatif; tapi seperti kata Habibi : otaknya Jerman, hatinya Ka’bah. Ini bukan cuma didikan ortu dan sekolah. Rohis juga ikut ambil bagian di dalamnya.

 

Jadi kalau rohis dibilang penghasil teroris, wah gimana ya?

Saya tidak setuju.

Kalau rohis kantong teroris, hitung aja sendiri berapa teroris yang ada dari Aceh sampai Papua. Dan, dengan jumlah teroris sebanyak itu, Indonesia jadi apa, coba?

Sinta Yudisia

Penulis & Psikolog

 

 

 

 

 

Surabaya : Tetep Cangkrukan, Cak!

 

10 tahun yang lalu, kami memutuskan tinggal di Surabaya. Setelah melanglang tinggal di beberapa kota mulai ujung utara Sumatera hingga ujung timur pulau Jawa, kami menjadikan Surabaya sebagai base camp. Banyak alasan yang menjadikan kami memilih kota ini.

 

  1. Masyarakat Surabaya yang didominasi orang Jawa Timur, terkenal blak-blakan. Bicara apa adanya. Saya yang sebetulnya orang Yogyakarta asli, awalnya kaget.
  2. Jalan di Surabaya relatif lebar, dengan penghijauan di tengah jalan. Kalaupun macet di ruas MERR atau Ahmad Yani, ada taman-taman hijau yang memanjakan mata yang lelah. Hampir tiap sudut kota, lahan kosong disulap menjadi taman artistik. Terimakasih, bu Risma.
  3. Kemacetan di Surabaya belum terlalu parah dan semoga tidak parah!
  4. Budaya cangkrukan (nongkrong) yang membuat warga lebih dekat satu sama lain
  5. Budaya mancing, bahkan saat hujan deras, yang disukai masyarakat

 

 

Balai Kota Surabaya malam hari

Balai Kota Surabaya di malam hari

 

Telingaku yang awalnya terbiasa mendengar kata-kata sopan dan lemah lembut khas Yogyakarta, sungguh terganggu ketika awalnya mendengar kata yang seperti makian.

“Janc**k! Ndiasmu ning endi!” (Janc*k, kepalamu di mana?)

“Cuk, gak pathek-en aku  di PHK. Sing penting enthuk duwit halal.” (Gak rugi diPHK. Yang penting dapat uang halal)

Kon ki gak lapo-lapo, gak gelem kerjo, mangan njaluk dibayari. Mbok pikir aku bank mlaku, ngono ta? Nek urip kudu urup!” (Kamu tuh nggak ngapa-ngapain, gak mau kerja, makan minta dibayari. Kamu pikir aku bank berjalan, begitu? Hidup harus menyala/bangkit!)

“Sapurane, Cak! Ngono yo ngono ning ojo ngono!” (Maaf, Mas. Gitu ya gitu, tapi jangan begitu)

 

Konon, janc**k sebetulnya bukan misuh. Ada yang mengatakan itu adalah sapaan akrab yang mengalami pergeseran makna  (ingat, kata bangs*t yang sebetulnya kutu-kutu kecil , menjadi makian palign kasar di Indonesia). Janc*k konon nama kendaraan Belanda yang bernama Jan Cox. Para tentara Indonesia mengingatkan rakyat untuk berhati-hati terhadap kendaraan yang satu ini.

“Awas, awas! Ono Jan Cox! Ojo nganti ketemu karo tank kuwi!”

Jan Cox.jpg

Jan Cox menjadi Janc*k

 

 

Itulah Surabaya.

Janc*k, cangkrukan, ngomong kasar, bicara apa adanya; lama-lama terasa memiliki makna tersendiri. Orang Surabaya berbeda dengan orang Yogyakarta. Orang Surabaya sekilas kasar, ‘panas’, gampang misuhan. Tapi, jarang sekali orang Surabaya yang punya dendam di hati. Saya punya banyak teman, yang kalau mereka tersinggung atau tak suka, langsung ngomong di depan.

“Ojo ngono lah, Mbak. Gak ilok.”

“Rego sak mono njaluk luwih. Yo sapurane.”

Nyaris, tidak kutemukan orang yang di depan mata bilang ya, gak papa, silakan tapi di belakang punggung bilang berbeda. Maka aku merasakan kehidupan antara satu orang dengan orang lain, antara satu rumah dengan rumah lain, antara satu kampung dengan kampung lain, antara satu RT dengan RT lain, satu RW dengan RW lain terasa tak memiliki api dalam sekam.

Sebab semua telah selesai di permukaan.

 

Blak-blakan.

Senggol bacok istilahnya.

Ojo nyenggol nek ora gelem dibacok, demikian kira-kira. Jangan ganggu kalau gak mau balas disakiti.

Maka saya heran, ketika peristiwa bom terjadi : benarkah ini dilakukan warga Surabaya? Benarkah ini dilakukan orang-orang yang dalam keseharian kita, memiliki keberanian untuk bicara terbuka dan apa adanya? Rasanya tidak.

 

Siapapun mereka yang melakukan, saya yakin bukan bagian dari Surabaya, apalagi bagian dari Indonesia. Sebab kami warga Surabaya terbiasa berbicara terus terang, jujur dan apa adanya. Cangkrukan ngopi-ngopi menunjukkan di hati masyarakat luas, kebersamaan itu sangat penting. Bahkan dilakukan oleh para bapak-bapak yang sangat lelah sepulang kerja. Kami terbiasa cangkrukan di warung kopi, di pos satpam, saat rehat di kantor, bahkan di masjid usai sholat berjamaah.

Janc*k, adalah sapaan akrab satu pemuda dengan pemuda lain, satu bapak dengan bapak lain, satu warga dengan warga lain. Bahwa di antara kami , jalinan teman dan persahabatan lebih kuat dari pada ikatan pribadi yang mengedepankan egoisme.

 

Jadi?

Apakah ledakan  bom ini akan melunturkan tali kekerabatan warga Surabaya?

Ojo nganti ngono, Cak!

Yo,  cangkrukan bareng maneh! Ngopi-ngopi. Iki kuthone awake dhewe.

Surabaya punya kita.

Ayo, jaga dengan persaudaraan dan jiwa ksatria .

Orang Surabaya dikenal berjiwa patriotik. Tidak lemah oleh hasutan dan ancaman. Jan Cox saja menyingkir. Apalagi mereka yang berjiwa kerdil. Tetap kuat dan bersatu, warga Surabaya!

Angkot, warkop, bakso. Harmoni di Surabaya

Foto-foto dokumen pribadi dan

https://deskgram.org/explore/tags/indonesianhistory

Arab, belajarlah bangkrut dari Indonesia : catatan kecil dari Ummul Quro University

 

(Tulisan ini telah dishare di facebook, lebih 1000x)

 

Umroh, 2018 – Sungguh kejutan tak terduga, ketika sahabat saya, putri Kyai Syamsul Arifin dari pesantren Banyuanyar- Pamekasan mengajak hadir ke salah satu acara munaqosyah di Ummul Qura University, Makkah. Munaqosyah di Ummul Qura adalah ujian mempertahankan penyusunan thesis dari seorang mahasiswa.

Bergetar hati ini ketika menginjakkan kaki di universitas, tempat Imam Saud al Shuraim dan imam Abrurrahman As Sudais menyelesaikan studi. Inilah universitas yang melahirkan para pemikir tingkat dunia, yang ternyata bukan hanya menghasilkan ahli agama tetapi juga pakar sains dan ilmu sosial.

Taqi, Sinta, Amani.JPG

Taqi, Sinta dan Amani

Sebuah kisah indah meluncur dari Taqiyyah Arifin, putri Kyai Samsul Arifin yang tengah menyelesaikan studi magister syariah di Ummul Qura. Nasihat ini ia rangkum dari seorang dosennya, duktur Faizah yang merupakan salah satu ahli edukasi, pengajar dan pemikir kebanggaan dari Ummul Qura. Beliau suatu hari memberikan ceramah di hadapan para mahasiswa Arab, Indonesia, dan mahasiswa berbagai belahan dunia yang lain.

“Dahulu, kafilah haji Indonesia adalah kafilah terkaya. Tidak ada peziarah yang lebih kaya dari kafilah Indonesia. Mereka memakai alat tukar emas! Setiap kali bertransaksi, orang-orang Indonesia menggunakan emas,” jelas duktur Faizah. “Tetapi sekarang lihatlah, orang Indonesia menjadi pembantu di negeri kita. Wahai kalian mahasiswa Arab, belajarlah dari Indonesia!

Kalau kalian tidak belajar, bisa jadi anak cucu kalian akan berbalik, menjadi pembantu di Indonesia. Apakah kalian tahu, apa yang menyebabkan Indonesia bangkrut seperti sekarang?”

Para mahasiswa menanti dengan tegang, tenang, hening, hanyut dalam irama nasihat duktur Faizah.

Duktur Faizah melanjutkan, “Israf.  Bersikap berlebih-lebihan. Itulah yang membuat Indonesia bangkrut. Lihat orang Arab sekarang, beli baju satu, lalu dibuang tak dipakai lagi.”

Tergetar hatiku mendengarnya.

 

Israf.

Betapa banyak di kondangan pernikahan, orang ambil makanan lalu menyisakan sayur, daging, nasi? Padahal ia bisa mengambil secukupnya.

Israf. Betapa banyak baju menumpuk di lemari, padahal Marie Kondo dari Jepang yang terkenal dengan metode Konmari menjelaskan : jangan simpan dan tumpuk barangmu yang hanya akan membuatmu menderita!

Israf. Betapa berlebihan kita membuang waktu untuk bersenang-senang, sementara saudara-saudar kita yang berasal dari Nigeria, Uganda, Mali berupaya menghafal Quran meski derita kelaparan dan perang saudara mengintai.

Israf. Betapa berlebihan kita membuang uang, sementara saudara-saudara kita dari pelosok jauh Srilanka, Bangladesh, Myanmar bahkan bertelanjang kaki dan tidur di pelataran masjid; semata-mata ingin berumroh menapak tilasi semangat juang Ibrahim as dan Muhammad Saw.

Israf. Betapa senangnya kita berlebihan dalam perkara sunnah, lalu mengabaikan yang wajib, dan merasa sudah unggul dengan segala yang kita punya, yang sudah kita lakukan.

Israf.

Dan nasihat akhir duktur Faizah sungguh meremas, mengiris, mencincang hatiku.

“Jangan pernah mengeluh atas hidup kalian yang penuh derita, sebab memang tidak ada keberkahan di sana!”

Kenangan di Az Zahir, apartemen mahasiswi Ummul Qura, Makkah ~ Sinta Yudisia

 

 

 Taqi dan Sinta di areal Ummul Qura

 

Asrama putri Ummul Qura, bagian muka Ummul Qura dan beberapa peraturan di Ummul Qura

 

 

Catatan umroh bersama @hasanahtoursurabaya