Kategori
Hikmah My family Oase Parenting PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Remaja. Teenager Renungan Hidup dan Kematian WRITING. SHARING.

Mendengar Kritik & Nasehat Anak

Akhir tahun ini, kami sempatkan untuk banyak diskusi sembari menikmati hiburan yang ada. Kalau dulu biasanya silaturrahim ke keluarga di Tegal, sekarang kangen itu ditunda dulu. Maklum, corona belum menampakkan tanda-tanda melandai.

Film-film blockbuster yang biasanya didominasi Hollywood, tahun ini justru banyak menayangkan film Korea. Selain menonton Key to the Hearts, Along with The God 1, Along with the God 2, Exit, Fatal Intuition; kami juga nonton film-film yang ada di laptop. Sembari mendiskusikannya dengan anak-anak, apa hikmah di balik film tsb dan apa rancangan ke depannya.

Kalau sudah mendengar anak-anak cerita, orangtua seringkali terkesiap!

Oh, gitu ya?

Jadi selama ini itu yang ada di pikiran mereka?

Diskusi paling seru adalah ketika menonton film Captain Fantastic dan Along with The God 1 & 2. Sampai-sampai, karena diskusi ini kurasa menarik untuk diarsipkan, aku membuat mind mappingnya. Siapa tahu  di masa depan, arsip ini bermanfaat buat anak-anakku ketika mereka menikah dan punya keluarga sendiri.

Transformasi Keluarga Tradisional ke Modern

Aku dan suamiku dibesarkan oleh pola tradisional, sementara anak-anak memasuki era millennial. Mereka masih mengkritik bahwa sebagai orangtua kami berdua belum seperti Ben Cash, ayah dari 6 orang di Captain Fantastic. Sebagai orangtua, kami tentu harus banyak belajar. Hal yang sama di 4 kepala anak kami adalah : kami masih terlalu memanjakan mereka.

Hm.

  • 4 anakku baru pegang HP ketika mereka SMP, itupun masih bareng-bareng. Ketika SMA baru boleh sendiri, itupun karena ada tugas-tugas yang dibagikan lewat line/whatsapp.
  • Anak-anak yang cowok sampai SMA masih naik sepeda onthel ke sekolah. Baru naik motor ketika kuliah. Itupun motor bareng-bareng.
  • Pekerjaan rumah kami bagi-bagi. Kalau ada pembantu, sifatnya sementara aja. Dulu pas aku masih kuliah, atau pas aku harus ke luar negeri.
  • Gadget harus yang harganya masuk akal, sekedar bisa lancar untuk aplikasi dan keperluan akademik.

Tapi, mereka masih beranggapan kami memanjakan dan tidak memberi kebebasan. Itu yang mereka tangkap ketika menonton Captain Fantastic!

6 orang anak yang dibesarkan di alam, harus memasak dengan bumbu seadanya, setiap hari berlatih fisik! Kemanjaan itu (atau mungkin lebih tepatnya, belum memfasilitasi berbagai kebebasan) baru disadari usai nonton CF beberapa kali.

“Ayah harus bisa diajak berdiskusi tentang hal sensitif, termasuk hal agama dan seksual,” kata si sulung. “Ternyata anak kecil bisa diajak berpikir rumit dengan cara mereka sendiri.”

“Kalau selalu diarahkan; we don’t know what we need, what we want, what we can,” kata nomer 2. “Nonton CF membuatku jadi pingin banyak baca buku dan memahaminya.”

Forbidden words! Ben Cash mengajarkan anaknya untuk menjelaskan apa yang dipikirkan,” kata nomer 3.

“Aku manusia yang hedon banget. Tergantung pada gadget. Aku pingin bisa berpikir kritis dan open minded,” kata si bungsu.

Baiklah.

Kalau dibandingkan Ben Cash yang mendidik anaknya di alam liar; kuakui, anak-anakku masih belum tahu cara berburu, mengobati patah tulang, panjat tebing termasuk membaca buku-buku “merah”  seperti Lolita. Setelah menonton CF, setidaknya anak-anakku berpikir bahwa kehidupan yang sudah kuupayakan sederhana dan tidak terlalu addict pada gadget pun; ternyata masih terhitung hedonism kapitalis dalam ukuran Republic Plato-nya keluarga Ben Cash.

Apa-apa masih beli.

Apa-apa masih tergantung pada apa pendapat orang kebanyakan.

Ada pertempuran lumayan panas ketika kami diskusi, tapi juga ada pikiran-pikiran yang terbuka. Kami sepakat bahwa ke depannya, harus lebih sering berinteraksi dengan alam untuk dapat lebih merasakan kehidupan yang sesungguhnya. Diskusi-diskusi perkara sensitif juga harus dibangun.

Along With The God (AWG) : Trial & Punishment

Bagi kaum muslimin, film AWG mungkin tidak terlalu mirip dengan alam barzakh yang masih sangat misterius dan penuh perkara ghaib. Tetapi, sama seperti film animasi Coco yang juga kami tonton bolak balik , hampir semua ajaran agama memberitakan satu hal pasti : ada kehidupan lain sesudah kematian. Kehidupan yang penuh dengan pertanggung jawaban.

Pengadilan pembunuhan, kemalasan, pengkhianatan, kebohongan, kekerasan, ketidakadilan, kedurhakaan. Begitulah 7 pengadilan yang harus dilalui Ja Hong, seorang pegawai pemadam kebakaran, ketika ia mati saat bertugas. Arwahnya termasuk arwah mulia yang sudah jarang ditemui oleh para penjaga alam baka selama puluhan bahkan ratusan tahun. Namun, arwah mulia Ja Hong ternyata harus melalui 7 pengadilan untuk membuktikan : benarkah ia benar-benar mulia ataukan sebetulnya ia manusia yang licik?

 Ketika anak-anakku menontonnya mereka berkata

“Wah, apakah aku bisa selamat dari semua pengadilan itu?”

Meski berbeda dari konsep Islam, AWG memberikan visualisasi bagaimana manusia bisa jatuh dalam neraka tak berujung sesusai dengan kejahatan yang dilakukannya. Naudzubillahi mindzalik. Sama seperti ketika menonton CF, diskusi-diskusi yang mencuat di antara kami menjadi catatan yang menarik.

“Ada bekal, ada trial, ada punishment dalam kehidupan sesudah mati. Neraka tidak hanya panas membakar tapi juga dingin membeku. Berbakti pada orangtua adalah keharusan dan bisa menjadi bekal,” kata si sulung. “Semakin mulia kita, semakin mudah pengadilannya.”

“Aku berdosa sekali. Melihat pengadilan itu, aku sudah jatuh satu persatu,” kata nomer 2. “Masih ada orang baik di atas muka bumi ini.

“Ada kehidupan sesudah mati,” kata nomer 3. “Setiap perbuatan ditimbang kebenaran dan kesalahan.”

“Ada DO!” kata si bungsu, yang KPopers. DO menjadi salah satu pemain di AWG 1, ia adalah personil EXO. “Di dunia harus berbuat baik lebih banyak. Berbakti pada ortu, sayang kakak, sayang keluarga. Konsep bekerja keras ada dalam masyarakat Korea.”

AWG 1 mengisahkan hubungan ibu dan anak, sementara AWG 2 mengisahkan hubungan ayah dan anak. Si sulung berkata.

“Dari film itu kita juga tahu, bahwa hubungan ayah-anak itu jauh lebih rumit dan lebih kompleks.”

Aku merenung mendengar perkataannya.

Di AWG 1, lebih banyak dikupas hubungan Ja Hong dan Su Hong (sang adik)  dengan ibunya yang bisu. Kehidupan mereka sangat miskin sehingga kemiskinan ini menimbulkan berbagai macam permasalahan yang akan dikupas di  pengadilan alam baka.

Di AWG 2, banyak dikupas hubungan Gang Rim dan ayahnya, Raja Dinasti Goryeo. Sang Raja lebih mengasihi adik Gang Rim, Won Maek yang menjadi sebab mereka bertiga akhirnya saling membunuh.

Memang benar. Hubungan ibu-anak seringkali sangat simple dan bisa dicairkan hanya dengan saling meminta maaf. Tapi hubungan ayah anak? Sangat rumit, kompleks, berkelindan dan tumpang tindih. Seringkali ada kekecewaan di situ, ada pengharapan besar, ada figuritas, ada tekanan, ada keinginan untuk membandingkan, ada persaingan dan lain-lain. Wajar bila hubungan ayah anak bila rusak, lebih sulit untuk memperbaikinya.

*Catatan parenting awal tahun 2021

Kategori
Film Hikmah mother's corner My family Parenting Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Film Parenting yang Bagus untuk Ditonton Akhir Tahun

Film-film ini sebetulnya bukan produksi 2019-2020. Beberapa udah beberapa tahun lalu tapi layak ditonton. Ingat ya, ini film parenting. BUKAN film keluarga. Kebanyakan kita berpikir kalau film parenting bisa ditonton sama anak-anak. Beda! Meski pemainnya anak-anak tetapi konflik dan dialognya banyak dewasa. Oke, bisa ditonton anak-anak yang sudah remaja asal dengan pendampingan karena ada beberapa diskusi tentang seksualitas di sana.

  1. Captain Fantastic
  2. Tully
  3. Please Stand By
  4. Dangal
  5. Searching
  6. Gifted
  1. Captain Fantastic

Tokohnya yang main jadi Aragorn di Lord of the Ring. Film ini bahkan buat suami saya sampai terharuuuu banget. Jarang-jarang bapak-bapak bisa terharu kwkwkwk. Kisahnya tentang seorang ayah yang membesarkan 6 orang anaknya sendiri, karena istrinya bunuh diri akibat post partum depressi hebat.

Diskusi tentang bunuh diri sang ibu saja sudah menjadi “highlight”  yang harus diperhatikan, kalau film ini mau ditonton anak-anak.

Kelebihannya?

Wah, film ini keren banget.

Ben Cash (Viggo Mortensen) membesarkan anak-anaknya di alam. Mirip homeschooling ya. Anak-anak kalau makan harus berburu, memasak sendiri. Sehari-hari mereka berlatih bela diri, membaca buku, bermusik. Jauh dari hingar bingar internet dan makanan junkfood. Anak-anak Ben menguasai 6 bahasa, mereka mengkonsumsi buku-buku berat dan mampu mendiskusikannya.

Salah satu diskusi menarik adalah ketika Ben dan salah satu putrinya membahas novel Lolita. Ada banyak diskusi antara ayah -anak yang sangat menarik di film ini. Termasuk kenapa nama anak-anak mereka tak ada kembarannya : Bodevan, Kielyr, Rellian, Vespyr, Zaja, Nai. Diskusi tentang kapitalisme, agama, bagaimana menjelaskan tentang seksualitas bisa menjadi masukan (meski gak mesti ditiru ya!).

No kissing, no one stand night.

Kenapa gak boleh ditonton anak-anak?

Karena diskusinya dan ada salah satu adegan ketika Ben yang naturalis-anti kapitalis, keluar dari bus caravannya tanpa baju sama sekali.Film ini bagus banget ditonton suami istri. Utamanya para bapak-bapak agar lebih menjiwai konsep pendidikan berkarakter.

2. Tully

Bagi ibu yang lagi hamil dan punya anak-anak kecil, film ini layak tonton.

Dibintangi si cantik Charlize Theron yang berperan sebagai ibu hamil tua. Marlo Moreau menjalani kehidupan yang penuh tantangan dengan anak kecil-kecil : Sarah dan Jonah (berkebutuhan khusus). Ketika Mia si bayi lahir, Marlo benar-benar kerepotan dan sangat lelah.

Saudara Marlo, Craig, yang hidup berkecukupan dan sangat mencintai kakaknya; menawarkan nanny untuk membantu Marlo. Tapi Marlo menolak. Ia tidak tahu bagaimana harus membayar shadow teacher dan nanny. Selama ini, Jonah sekolah di sekolah terbaik karena Craig menjadi donatur besar di sana.

Marlo sebetulnya memiliki suami yang penyayang, Drew. Tapi layaknya laki-laki ya, gak ngerti gimana capeknya punya baby. Malam hari, kalau Marlo naik ke tempat tidur karena sangat capek, Drew justru aktif membunuh zombie-zombie di video gamenya. Ala laki-laki bangettt hahahah.

Lalu muncullah Tully, si nanny. Kita sempat mikir : ”wah, ada adegan selingkuh nih antara Tully dan Drew. Sebab Tully sering mancing-mancing tentang Drew.”

Tapi enggak sama sekali. Endingnya yang twist bikin nyeseeeeek.

Ada satu quote di film ini yang akhirnya kami pakai di keluarga. Adegan ketika Marlo mengalami kecelakaan dan Drew nyaris kehilangan istrinya. Drew memeluk Marlo. Alih-alih mengucapkan “I Love You” , Drew justru berkata “I Love Us.” Marlo pun menjawab dengan perkataan sama : I Love Us.

Hayo Bapak Ibu, yang punya anak kecil atau baby-baby. Supaya ngerti perjuangan para ibu di malam hari, wajib tonton film ini. Gambaran gimana stresnya Marlo mulai ngurusi pampers sampai nyedot ASI, detail bangettt. Kita bisa merasakan capeee jadi ibu, ya?

3. Please Stand By

Film ini dibintangi si cantik Dakota Fanning yang berperan sebagai Wendy, penyandang autism. Dulu ketika kecil, Wendy dan kakaknya Audrey, dibesarkan oleh ibu single parent. Sebagai seorang kakak, Audrey sangat menyayangi dan mengerti adiknya yang berkebutuhan khusus. Namun setelah Audrey dewasa dan menikah, ia tak lagi dapat mendampingi adiknya. Apalagi si ibu telah meninggal.

Wendy sangat terobsesi dengan Star Trek. Ia bercita-cita menjadi penulis scenario. Perjuangan Wendy yang tinggal di rumah khusus bagi penyandang kebutuhan khusus untuk dapat mandiri dan mencapai cita-citanya, menjadi titik utama film ini.

Tidak ada adegan ranjang atau diskusi dewasa di dalamnya. Cocok juga untuk ditonton remaja. Sebagai orangtua yang memiliki anak-anak, terutama anak special needs, perlu sekali melatih pola hubungan komunikasi yang hangat dan indah seperti yang dilakukan Audrey pada Wendy.

Anak-anak seperti Wendy pada akhirnya mampu mandiri dan menemukan jati diri ketika dikelilingi orang-orang yang peduli seperti Audrey serta pengasuh homecare bernama Scottie.

4. Dangal

Dangal adalah film India yang bolak balik kami tonton.

Mengisahkan Poghat Singh, seorang mantan pegulat yang bercita-cita ingin memberikan medali emas bagi negaranya. Ia ingin sekali mewariskan kemampuan gulat dengan melatih anak-anaknya. Apa daya, 4 anaknya perempuan semua!

Tapi ternyata, Gita dan Babita punya bakat gulat seperti sang ayah. Poghat mengetahuinya ketika Gita dan Babita berhasil mengalahkan cowok-cowok yang mengganggu mereka. Sejak saat itu rambut panjang keduanya dipangkas, hari-hari dipenuhi latihan berat, demi agar kedua gadis itu memiliki tubuh dan stamina yang pantas bagi pegulat.

Seorang ayah yang memiliki impian besar dan mampu mewariskan impian itu kepada anak-anaknya; sungguh sebuah motivasi spesial bagi orangtua yang mungkin masih bingung gimana cara mengarahkan anak-anak sekarang yang mungkin agak-agak manja.

Banyak dialog yang masih terpatri di ingatan. Salah satunya kekhawatiran istri Poghat. Siapa nanti yang akan memilih Gita dan Babita yang menjadikan gulat sebagai jalan hidup?

“Nanti, bukan laki-laki yang memilih-milih putri kita. Tapi Gita dan Babita yang memilih-milih sendiri para lelaki itu.”

Ibaratnya, Poghat ingin menepis anggapan sang istri yang mengkhawatirkan : ada nggak sih lelaki yang mau beristri pegulat? Jangan-jangan nanti Gita dan Babita selalu tersingkir dari pilihan. Poghat menegaskan : putri-putri mereka akan tumbuh menjadi orang berkualitas sehingga banyak lelaki akan melamar dan putri merekalah yang akan menyeleksinya!

Kisah Poghat Singh ini juga saya masukkan dalam buku saya 15 Rahasia Melejitkan Bakat Anak ya.

5. Searching

Saya udah pernah posting ini secara khusus di FB dan blog saya. Jadi gak akan mengulas lagi. Cuma ingin menekankan bahwa film ini bagus banget buat para ayah yang gaptek ketika berhadapan dengan putrinya yang tetiba menghilang, dan si ayah mencoba mencari keberadaan putrinya lewat teman-teman dunia mayanya di facebook dan tumblr.

6. Gifted

Kalau punya anak Gifted, perlu tonton film yang satu ini.

Dibintangi oleh si Kapten Amerika, Chris Evans. Kakak perempuannya meninggal bunuh diri, meninggalkan seorang anak perempuan bernama Mary Adler. Saat Mary berusia 7 tahun dan sangat cerdas matematika serta mampu menyelesaikan soal-soal sulit setingkat mahasiswa, sang nenek berambisi menjadikannya anak yang bersinar dengan kecerdasannya yang luarbiasa.

Frank, merasa bahwa keinginan itu terlalu berlebihan.

Perjuangan Frank untuk ‘memanusiakan’ Mary Adler si jenius yang masih anak-anak ini bisa menjadi contoh bagaimana kita seharusnya memperlakukan anak sangat pintar tanpa mengabaikan sisi humanis mereka.

#filmparenting #parenting #orangtua #goodmovie

Kategori
ANIME Hikmah Jepang KOREA Manga Musik My family Parenting PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Remaja. Teenager Topik Penting WRITING. SHARING.

Beda budaya Jepang dan Korea apa sih?

Ketika saya bolak balik ngisi acara tentang Korean Wave, beberapa remaja yang nyenggol, “Bun, sekali-sekali bahas Jepang, dong!”

Dua negara ini bertetangga, seperti Indonesia dan Malaysia. Dua negara ini pernah berseteru dan sekarang berkompetisi dengan keunggulan masing-masing. Bagi para orangtua, budaya Korea dan Jepang sekilas terlihat sama. Ada musiknya, ada dramanya, filmya, juga boyband girlband. Tapi bila ditelusuri lebih jauh, banyak sekali perbedaan yang mengacu pada keunikan masing-masing.

Karena bahasannya pasti panjang, saya coba persingkat aja ya.

  1. Musik

Musik Korea dan Jepang sangat berbeda walau ada yang sama.

Korea :

Kita mengenal KPop yang mendunia. Yang tenar tentu boyband dan girlband. Selain berbentuk grup, ada juga yang solo dan grup band. Boyband sebut saja BTS, Exo, Stray Kids, NCT, Seventeen dsb. Girlband Blackpink, Red Velvet, Twice, dll. Ciri khasnya mereka bisa menyanyi, menari dan ada visual yang menarik.

BTS, EXO

Penyanyi solo yang bagus dari Korea juga banyak : BoA, IU, Taeyon, Gaho, Shawn.

Grup band yang mulai dikenal adalah Lucy dll. Grup band ini lebih mengandalkan kemampuan main musik seperti gitar, bass, biola, dsb

Jepang :

Musik Jepang sangat beragam mulai yang berbentuk girlband – boyband, solo sampai yang grup band. Penyuka musik Jepang mungkin akan sulit berpindah ke musik Korea karena musik Jepang sangat unik : vocaloid, moe-moe, ballad, rock metal, pop, dsb. Rock nya sendiri ada yang  modelnya theatrical seperti Linked Horizon. Mengupas satu aja, misal, vocaloid bisa panjang banget. Orangtua yang belum kenal apa itu vocaloid, coba cari Hatsune Miku. Lagunya amat sangat dikenal, terutama anak-anak TK dengan senam Pinguin. Tahu kan?

Linked Horizon

Menariknya, musik Jepang sangat dikenal dunia bersamaan dengan anime. Penyanyi dan grup band yang mengisi soundtrack anime bukanlah artis sembarangan. Inuyasha, Bleach, Naruto, Sailormoon , Attack on Titan…adalah sedikit film yang bisa saya sebut di mana musik-musiknya menjadi karya seni yang luarbiasa.

Cobalah simak Jiyuu no Tsubasa, Guren no Yumiya dan Shinzou wo Sasageyo.

Sangat cocok didengar agar kita punya nasionalisme terhadap negeri kita tercinta, utamanya kalau kita sudah merasa negeri ini kayak distrik Shiganshina yang diserang Titan kwkwkwk.

2. Film

Korea :

Film-film Korea justru lebih menyentuh realita. Kalaupun ada yang fantasi kayak Along with The God, tidak terlalu absurd. Begitu bagusnya Korea buat film berdasar realita sampai-sampai banyak banget film bertema patriotism yang laris manis di pasaran. Coba, mana ada film tentang perang kemerdekaan yang bisa box office kayak punya Korea? Mau yang setting tradisional seperti The Admiral, War of the Arrow dll. Atau mau agak modern seperti Age of Shadow, The Spy Gone North, My Way, Tae Gu Ki, dll. Sudah nonton Parasite kan? Nah begitulah bagusnya Korea buat film berdasarkan dunia realita.

Tae Guk Ki, Parasite

Jepang :

Jepang suka buat film absurd walaupun film tentang realitas seperti Shoplifter menang Cannes 2013.

Horror Jepang alamaaak, ngeri. Ring, Juon, dsb. Jangan nonton kalau emang nggak kuat jantungnya. Film Jepang banyak yang aneh-aneh, baik bertema humor kayak Ninja Kids atau Gintama. Ataupun yang thriller macam Coldfish atau Noriko’s Dinner Table. Kalau mau lihat film Jepang, simak benar-benar reviewnya.

Film-film Jepang yang dikenal di Indonesia dan cukup aman disimak seperti Kenshin, 13 Assasin, The Grave of Fireflies.

3. Anime

Korea :

Animasi Korea belum dikenal luas seperti punya Jepang. Beberapa animasi Korea mulai dikenal dunia seperti Larva, Tower of God, God of High School, dsb. Walaupun sebagian pengerjaannya masih digarap Jepang.

Animasi Korea, mirip seperti film-filmya dan dramanya, sangat menyentuh dunia realita. Korea ketika menggarap produk seni berdasar kisah realitas sehari-hari patut diacungi jempol.

Larva, Tower of God

Jepang :

Bicara anime Jepang, tak bisa cukup satu dua halaman. Jepang menjadikan animasi sebagai salah satu produk unggulan negrinya dan pemasukan devisa yang besar. Pantas saja anime Jepang benar-benar digarap serius. Studio animasi Jepang tak terhitung banyaknya : Wit Studio, MAPPA, Pony Canyon, Ghibli, dll.

Anime Jepang digarap sangat apik dan seringkali merupakan adaptasi dari manga atau komiknya. Attack on Titan, Death Note, Bloody Monday, Fullmetal Alchemist dan masih banyak lagi. Seringkali terjadi produk seni parallel : manga – anime – movie/ live action – teater. Black Butler misalnya. Konsep teatrikalnya juga sangat mengesankan, sebagaimana manga – anime – movienya.

AOT arah jarum jam ( 1, 2, 3 )

Untuk anime, bisa dikatakan belum ada yang mengalahkan Jepang. Walau negara-negara lain seperti Korea dan China sudah mulai menembus pasar dunia dengan animasi dan komiknya.

4. Manga (Jepang) atau Manhwa  (Korea)

Korea :

Komik Korea baik yang versi cetak atau online (webtoon) tak diragukan lagi dikenal luas di kalangan masyarakat dunia. Yang laris manis di pasar, biasanya dibuatkan drama serial atau movienya. Cheese in the Trap, Lookism, Itaewon Class, Stranger from Hell adalah beberapa webtoon terkenal Korea yang sudah diadaptasi ke dalam bentuk film serial.

Penggambaran komik Korea dan Jepang terasa sekali penggambaran tokoh-tokohnya. Sama seperti film, drama dan sejenisnya; Korea Jepang seperti dunia realita vs dunia imajinasi. Produk visualnya pun begitu.

Jepang :

Komik Jepang sangat terkenal di negerinya. Umumnya, para mangaka  atau komikus, berjuang untuk menembus majalah komik seperti Shonen Jump Weekly. Di Indonesia, anak-anak sangat mengenal komik Jepang seperti Conan, Naruto, Black Butler, Attack on Titan, Death Note dst.

Black Butler, Death Note

Perlu diketahui orangtua, komik tidak selalu diperuntukkan bagi anak-anak. Banyak komik-komik Korea dan Jepang yang peruntukkannya bagi orang dewasa sehingga adegan cintanya pun boleh jadi tidak lazim ditemui di Indonesia.

Produk visual Jepang sangat detil bahkan untuk unsur ornament, renda, dsb. Lihatlah Black Butler, bagaimana Yana Toboso menggambar detil pakaian bangsawan Eropa padahal itu cuma komik lho…

Anima & manga Jepang juga sangat dikenal karena building a new world : dunia yang sama sekali belum pernah ada! Dunia Naruto, dunia Attack on Titan, adalah dunia baru yang membuat kita terinpirasi oleh sistem persenjataannya, sistem militer, politik, teknik berterung dll.

5. Idol dan artis

Korea :

Artis Korea terutama idolnya, justru dibuat sedekat mungkin dengan fans. Sampai-sampai ada istilah fanservice. Kita bisa tahu sedetil mungkin kehidupan anggota EXO atau Red Velvet. Kebiasaan di dorm, trainingnya, bapak ibunya siapa, makanan kesukaannya apa, sampai hari ini dia lagi ngapain. Hal sedetil-detilnya bisa diketahui lengkap dengan googling dan buka youtube.

Begitu dekatnya fans dengan idol, sampai-sampai fans seringkali turut campur terlalu dalam ke kehidupan si artis. Masih ingat Chen Exo yang dihujat habis-habisan gegara ia menikah, kan? Nah, kalau Korea , idol sudah menjadi milik masyarakat sehingga sampai kehidupan kamar dan masa lalunya jadi konsumsi publik.

Jepang :

Artis Jepang sangat menjaga privasi. Boro-boro tahu kehidupan pribadinya. Kadang, seumur-umur yang muncul adalah nama samaran. Bahkan, gak mudah mendapatkan info pribadi di internet. Saya pingin tahu siapa Yana Toboso, mangaka Black Butler aja, susah setengah mati. Googling gak dapat-dapat. Saya suka lagu-lagunya KOKIA, karena dia sering menyanyi dengan tema binatang : beruang, paus, singa, zebra dsb (sweet songs!) tapi gak begitu banyak yang didapat.

Artis Jepang sangat tertutup.

Maka ketika Haruma Miura, pemeran utama Attack on Titan meninggal, kita bertanya-tanya : kok bisa? Tak seorang pun tahu informasi kehidupannya. Beda dengan kematian Sully anggota f(x) yang mati bunuh diri, kita bisa tahu penyebabnya yang berasal dari komentar-komentar jahat.

Haruma Miura , Sully

Nah, itulah sekilas beda budaya Korea Jepang yang akan saya simak insyaallah Sabtu, 10 Oktober 2020 bersama Sinar Cendekia Boarding School, Telaga Sindur

Kategori
Artikel/Opini Hikmah mother's corner My family Oase Parenting Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY RESENSI Topik Penting WRITING. SHARING.

Film Cuties (Mignonnes) : Seperti Itukah Keluarga (Muslim) Modern?

Tanyakan pada diri sendiri setelah menonton cuplikan trailer Cuties : seperti itukah gambaran keluarga muslim? Lebih luas lagi, apakah semua keluarga modern pun menyetujui apa yang Amy (tokoh utama, 11 tahun)  lakukan? Cuties tayang di Sundance Film Festival dan rencananya akan edar di Netflix mulai September tahun ini, ditulis dan disutradarai oleh Maimouna Deocoure. Debut Maimouna, langsung menuai kecaman dunia! Bahkan posternya saja langsung dihujat!

Cuties bercerita tentang seorang gadis kecil bernama Amy yang terlahir di tengah keluarga muslim Senegal, imigran di Perancis. Lahir di tengah keluarga muslim yang taat (well…orang akan mengatakan konservatif, orthodox, fundamentalis) membuat Amy tertekan. Amy dipaksa untuk berpakaian, bertingkah laku dengan cara orang muslim yang seharusnya. Padahal ternyata Amy ingin ikut kontes tari modern. Di sinilah konflik dan kritik pedas terhadap film produksi Netflix bermunculan .

Cuties diharapkan akan menjadi film coming of age yang mengesankan. Film coming of age adalah film-film yang menggambarkan masa peralihan dari anak-anak ke remaja yang sering digambarkan sebagai masa penuh konflik, namun juga masa sangat dinamis dan kreatif. Tak lepas pula petualangan-petualangan mendebarkan dalam proses pencarian jati diri. Banyak film coming of age yang laris di pasar : Little Women dan Flip berawal dari buku legendaris. Shazam yang bertema superhero, Princess’s Diary yang melambungkan nama Anna Hathaway dan Parents’s Trap yang melambungkan Lindsay Lohan. Alih-alih menjadi film manis yang mencuri perhatian pemirsa, Cuties justru melukai wajah keluarga muslim dan wajah orangtua keluarga modern pada umumnya.

  1. Gambaran keluarga muslim. Banyak keluarga muslim konservatif. Tapi banyak keluarga muslim yang moderat. Kenapa yang konservatif (plus si ibu memukul/menampar anak ketika anak membangkang bab pakaian) yang diangkat? Apalagi keluarga imigran, Senegal, black moslem , sangat kaku ; benar-benar stereotype keluarga muslim. Memang banyak keluarga yang masih konservatif dan memegang teguh prinsip, tapi untuk dipertentangkan dengan sudut pandang Amy kecil, rasanya kurang bijak. Apalagi penggambaran ibu menampar wajah Amy. Saya banyak mengenal keluarga muslim konservatif, tapi untuk memukul anak di wajah; rasanya digambarkan terlalu berlebihan. Alangkah lebih baik bila dimunculkan perdebatan-perdebantan sengi tantara ibu-anak khas keluarga pada umumnya.
  2. Pilihan tarian. Amy dan teman-teman perempuannya Angelica, Coumba,  Jess, Yasmine, membentuk grup The Cuties untuk kontes menari. Dunia musik dan menari memang dekat dengan anak muda, terutama anak-anak seperti Amy dkk yang beralih dari kanak ke remaja. Tapi tarian twerking? Dengan kostum mini sangat ketat – hotpants dan croptop? Baiklah, kita ingin menampilkan anak gadis di tengah keluarga muslim yang memberontak terhadap nilai yang belum dipahaminya sebagai jalan hidup. Sutradara bisa memilihkan tarian yang lebih “sopan” , dinamis, atraktif untuk anak-anak usia 11 tahun seperti Amy dkk.

Melihat Amy dan teman-teman gadis kecilnya melakukan tarian ala orang dewasa, rasanya risih sekali. Jika dalam kontes menari, Amy dkk ditampilkan mementaskan tarian yang lebih anak-anak dengan kostum yang lebih sesuai untuk usia mereka; maka film ini lebih layak untuk ditonton.

3. Benturan budaya. Islam dan modern dibenturkan sedemikian jeleknya. Tentu, banyak reviewers film yang membela dan sebaliknya, banyak youtubers yang menghujat Cuties. Adegan Amy harus mengenakan busana panjang untuk pesta pernikahan ayahnya yang akan menikah untuk kedua kali ; benar-benar tampak tak manusiawi! Seolah dunia menari twerking dengan kostum pendek itu jauh lebih manusiawi bagi kondisi psikologis Amy dibandingkan dia harus jadi pengiring pengantin untuk pernikahan ayahnya yang kedua! Tidak adakah setting lain yang bisa dipilih? Misal, ayah dan ibu Amy yang hidup sangat sederhana sebagai imigran Senegal di Perancis; sulit untuk membiayai les menari, mendaftar kontes dan menyewa kostum. Uang itu kalaupun ada lebih baik untuk tabungan kuliah Amy kelak.

4. Gambaran keluarga. Kenapa harus keluarga muslim yang menjadi deskripsi keluarga Amy? Tampilkan saja keluarga pada umumnya, tak peduli Jewish or Christian.  Kita akan melihat respon keluarga-keluarga di dunia. Apakah setiap keluarga modern akan mengizinkan anak seusia Amy, 11 tahun , menari dengan gerakan twerking di depan orang dewasa dengan kostum seperti itu? Sangat disayangkan bahwa penulis dan sutradaranya sendiri adalah Maimouna Deocoure yang seharusnya membawa pesan positif yang universal terkait kehidupan kaum muslimin.

5. Rating. Film Cuties kategori TV- MA (mature accompanied/ mature audiences). Berarti untuk orang dewasa, tapi pemainnya anak-anak 11 tahun dengan konstum dan tarian dewasa! Beberapa kritikus dengan pedas menyatakan bahwa film itu mengajak pada sebuah orientasi seksual yang menjadikan anak-anak sebagai pemuas nafsu.

Saya pikir, wajar bila dunia marah terhadap film ini. Sebetulnya, wajar saja banyak gadis kecil yang berpikir & bermimpi , “hei, seperti apa sih rasanya jadi perempuan dewasa?” Mereka membayangkan dalam gaun, kosmetik, sepatu ala orang dewasa. Tapi seorang sineas harus mampu memilah mana yang pikiran, perasaan, perilaku yang harus dimunculkan ke layar lebar. Film akan membawa banyak pengaruh bagi penontonnya.

Bahkan negeri-negara penganut liberalism sekulerisme sendiri merasa jengah terhadap film yang menampilkan gadis cilik dengan kostum ‘sangat terbuka’ dengan tarian yang lebih pantas diperagakan oleh dan untuk orang dewasa. Apalagi keluarga muslim, rasanya perlu ambil suara.

Kalau film ini ditujukan untuk anak-anak, aneh saja adegan dan dialog yang dimunculkan.

Kalau film ini ditujukan untuk dewasa, aneh saja dengan pemainnya yang masih anak-anak dan beradegan demikian.

Beberapa petisi sudah diunggah untuk meminta film ini turun dari layar Netflix. Anda berminat ikut?

https://www.change.org/p/parents-of-young-children-petition-to-remove-cuties-from-netflix/psf/promote_or_share

Kategori
Artikel/Opini Cerita Lucu Hikmah Jepang mother's corner My family PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY RESENSI Sirius Seoul WRITING. SHARING.

Orang Tua Tumbuh Lebih Baik : Anime Mirai no Mirai

Ngakak. Ketawa seru. Tapi juga ada haru.
Satu lagi film anime yang mencuri hatiku. Sudah lama pingin nonton film ini tapi gak sempat-sempat, barulah sekitar sepekan lalu sempat nonton dan baru sekarang sempat pula buat reviewnya.

👶👧👩‍🦳👨‍🦳

Film ini buat anak-anak atau orangtua, sih?
Jawabku : segala umur.
Kenapa?
Bisa ditonton anak TK karena animasinya imajinatif dan ala-ala anak-anak banget. Adegan Kun bertemu si “pangeran” , Mirai dari masa depan dan naik kereta menuju Pulau Penyendiri; ini tema yang imajinatif banget karena cuma anak-anak yang punya imajinasi tak terbendung macam itu.
Bisa ditonton orangtua, sebab diskusi yang terbangun antara suami istri benar-benar menarik. Bagaimana sepasang suami istri , orangtua Kun, belajar menjadi ayah dan ibu dari 2 orang anak. Belajar bagaimana berkomunikasi sebagai suami istri.

🎥📹Review singkatnya :
Kun, seorang bocah 2-3 tahun sangat suka mengkoleksi kereta-keretaan. Di suatu hari yang indah, ia dan neneknya sedang beberes mainan. Nenek berkata bahwa hari itu mereka akan punya tamu/ teman baru. Kun sangat menanti-nantinya.
Papa mama pergi sekitar seminggu.
Dan pulang dengan membawa hadiah baru : seorang bayi cantik, imut , berpipi ranum.
Kun senang banget dengan kehadiran si imut.
“Kamu mau kasih nama siapa?” tanya si papa.
“Nozomi,” kata Kun, mengingatkanku pada salah satu tokoh penting dalam novel Polaris Fukuoka & Sirius Seoul hahahah.
“Nama lain?”
“Tsubame,” Kun menyebutkan nama kereta.

😤🤣😡😂

Di sinilah.
Adegan-adegan lucu yang buat perut ngakak. Kita sebagai pemirsa dibawa kelucuan, kegemparan, kehebohan dan ledakan-ledakan perasaan Kun terhadap Mirai. Di sisi lain kita mengerti perasaan yang dialami si papa, terutama si mama (gue banget!) ketika mendapati Kun berulah terhadap Mirai.
“Kuuuun! Bisa nggak kamu bersikap baik sama adikmuuu???!” teriak mama kesal, jengkel setengah mati karena Mirai menangis meraung-raung.
“Dekinaaaai!” teriak Kun. “Nggak bisaaaa!”
“Bisa nggak kamu baik sama adik kamu???”
“De-ki-naiiiii!!!” teriak Kun sambal menangis dan meraung.
Tapi kita tahu, Kun bukan anak nakal.
Mama yang nggak ngerti jalan pikiran Kun!
Kun suka kereta api. Ia mengkoleksi bermacam jenis kereta api.
Karena sayang dan ingin menghibur Mirai baby imut (yang baru berusia beberapa hari), Kun bercerita tentang kereta api-kereta apinya. Mama sedang beraktivitas membereskan rumah. Hhhh, tahu sendiri kan, gimana kalau lagi punya baby? Saat baby tidur, seorang ibu harus marathon : masak, nyuci, jemur, nyeterika. Kadang belum selesai masak, si baby udah nangis. Bahkan seringkali buat sesuap makanan, ibu harus curi-curi waktu.
Lha ini. Mirai lagi bobo cantik.
Kun mendekati Mirai, menyayanginya, berada di sampingnya dan bercerita tentang kereta. Begitu ekspresifnya si Kun, dia mengelilingi Mirai yang tidur di box dengan…semua mainan keretanya! Alhasil Mirai kesempitan dan terganggu dengan tumpukan kereta yang ada di sekeliling tubuhnya yang mungil.
Nangislah Mirai.
Dan adegan itu,

😤😡😠

“Bisa nggak kamu baik sama adikmuuu???”
Kita akan ngerti kenapa Kun bilang, “nggak bisaaaaa! Dekinaaaai!!”
Mama menyangka Kun nakal.
Kun ingin bilang sebetulnya : “aku nggak bisa baik kepada Mirai seperti yang Mama harapkan karena Mirai itu lucu, nggemasin bangettt!”
Tapi mana bisa anak 2-3 tahun bilang itu? Ia belum bisa berkomunikasi menggunakan bahasa lengkap seperti orang dewasa.
Dan , kita akan diajak pada sebuah dunia lain.
Dunia lewat kacamata Kun : bahwa seorang kakak yang dipaksa dewasa, besar dan harus mengerti semua ; bisa menjadi sangat kesepian dan marah karena orang-orang tidak ada yang mengerti dirinya. Kakek, nenek, papa, mama, teman-teman papa mama; semua memuji Mirai. Kun pun sayang sekali dengan Mirai, tapi tiap kali ia ingin menyayangi Mirai, hasilnya adalah teriakan Mama.
“Bisa nggak kamu baik sama adik kamuuu???!”

😂🤣

Huhuhu.
Aku ikut sedih dengan gelombang perasaan Kun.
Rasa cintanya diabaikan. Rasa cemburunya diabaikan. Kehadirannya diabaikan. Keinginannya untuk bertanggung jawab diabaikan. Akhirnya, ia jadi marah dan benci pada Mirai. Kun nggak suka Mirai .
Inikan yang namanya “sibling rivalry”?
Kakak adik memiliki perseteruan hebat, kecemburuan dahsyat satu sama lain lantaran orangtuanya yang nggak bisa mendamaikan dan justru memperuncing masalah! Tapi film ini mengajarkan anak-anak (khususnya anak pertama) untuk mencintai adik-adik mereka. Sekaligus mengajari orangtua gimana cara menjadi orangtua yang lebih bijak ketika satu demi satu anak lahir dari rahim si ibu.

▶️Si mama harus kembali bekerja di bulan Maret. Papa kebetulan seorang arsitek yang bekerja di rumah, jadi papa bisa menjaga Kun dan Mirai.
Mama mengeluh kepada nenek ,”aku ingin tetap bekerja. Tapi aku ingin bisa mengasuh anak-anakku dengan baik, menjadi ibu yang baik bagi mereka. Apakah mungkin?”
Diskusi antara mama dan nenek benar-benar mencerahkan.
Hal lucu lainnya, saat si papa mencoba mengurusi Kun dan Mirai, ketika mama sudah kembali bekerja.
Hahahaha. Konyol bangetttt. Dan emang bapak-bapak seperti itu!
Hiks, adegan penutupnya membuatnya terharu. Ketika pada akhirnya Kun kecil dan Mirai baby yang mulai merangkak, akhirnya bisa bersahabat. Keluarga itu akan berangkat piknik. Luarbiasa heboh saat packaging. Dan adegan papa mama yang bercakap-cakap saat packaging itu sangat menyentuh. Kurang lebih demikian percakapan mereka.

👱‍♂️👱‍♀️“Kamu dulu pencemas, suka khawatir, penakut!” kata si papa.
“Kamu juga gak bisa ngurusin rumah. Tapi kalau di hadapan emak-emak suka tampil seolah kamu papa yang hebat,” kata mama.
“Apa aku sudah lebih baik sekarang?” tanya papa.
“Apa aku sudah jadi ibu yang lebih baik?” tanya mama.
“Ya lumayan,” kata papa.
Mereka tertawa.
“Ternyata,” kata mama, “kita sekarang jadi orang yang lebih baik karena anak-anak kita.”
Aku terharu.
Betul-betul terharu dengan kalimat si mama.
Sampai kupeluk anak sulungku yang saat itu menemaniku nonton. Dialah yang ngejar-ngejar aku buat nonton film ini: ayo, Mi! Kapan, Mi! Ummi harus nonton! Film ini keren banget , Mi!

💓Dan aku meresapi betul kata-kata di mama di akhir cerita.
Kita menjadi lebih baik saat ini karena hadirnya anak-anak kita.
Terimakasih Kun-chan. Terimakasih pada para anak pertama atau anak sulung yang seringkali ekspresi cinta dan tanggung jawabnya disalah artikan oleh orangtua.
Terimakasih Mirai-chan. Terimakasih kepada para adik-adik yang berusaha untuk menjembatani konflik yang terjadi antara anak sulung dengan orangtua.

✍️✍️Mirai no Mirai adalah film yang recommended banget. Banget. Bangeeed.
Cocok buat yang lagi cemas karena film ini bikin ketawa, ngakak, heboh , mengocok perut. Tapi tetap menyentuh dengan adegan-adegan romansa keluarga yang akan membuat kita lebih menghargai perjuangan anak-anak dan pasangan.
Maaf kalau spoiler yaaa.
Tapi gak rugi nonton ini.
Aku malah mau nonton lagi nih!

🌿🌱💞🐣

#filmanak #filmkeluarga #filmlucu #reviewfilm #filmbagus #anime #filmjepang #review #film #goodmovie #lucu #funnymovie

Kategori
Film Kepenulisan KOREA RESENSI Topik Penting Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

‘Parasite’ Pemenang Oscar : Seni Tutur Natural ala Korea

Sudah pernah nonton drama Korea atau film Korea? Atau membaca novel/ cerpennya? Kaum penggemar film seperti saya biasanya suka melalap film apapun yang dirasa menghibur serta mencerahkan ; apapun negara asalnya. Korea beberapa tahun belakangan ini merajai industri perfilman dengan filmnya yang variatif. Dan, kadang kita menikmati filmnya tanpa tahu….sutradaranya!

Saya suka beragam film. Film pendidikan dan humanis dari India seperti 3 Idiots, Taree Zaman Paar, Bajrangi Bhaijan, Dangal bagus ditonton sekeluarga. Film India lucu habis dan menguras airmata. Seringkali, bumbu feminism dan perang saudara dengan negara tetangga menjadi ide-idenya.

 Film-film horror Guillermo del Torro yang menggunakan bahas Spanyol (plus subtitle yaaa) bukan hanya jump scared saja, tapi indah ditonton. Del Torro senang mengawinkan horror dengan fairy tales; hingga muncullan Cronos, Devil’s Bakcbone, Pan’s Labyrinth, Crimson Peak, Scary Stories to Tell in the Dark dan favorit saya : Mama. Menonton horror del Torro membuat kita berpikir bahwa cerita horror tak selalu berkisar sekedar hantu dan darah; tetapi sebuah cerita utuh yang memiliki kesimpulan mendalam. Devil’s Backbone memberikan sebuah kesimpulan bijak tentang apakah hantu itu. Di akhir cerita, epilog berkata, “Hantu adalah emosi yang masih digantung oleh waktu.” Kurang lebih demikian. Orang-orang yang mati karena pembunuhan, peperangan, wabah dan bencana; mungkin akan menjadi hantu karena masih banyak emosi-emosi yang belum diselesaikan dengan orang-orang yang terhubung dengannya. Ini menurut Del Torro, ya.

Well, back to Korea.

Negara ini buat film komplit bangettt.

Film epic heronya benar-benar membuat semangat nasionalisme bangkit : Admiral, Spy Gone Nort, Tae Gu Ki, My Way dll. Drama serialnya juga membuat termehek-mehek seperti  Great Queen Seondeok, Jewel in the Palace, Dong Yi.

Film horrornya termasuk daftar film horror yang sangat diperhitungkan di pentas dunia : The Mimic, Tale of Two Sisters, Whispering Corridors dan yang mendapat banyak pujian : The Wailing. Asli, nonton the Wailing membuat saya benar-benar merinding. Film horror yang membuat takut adalah yang tidak ketahuan, mana setan dan mana malaikatnya. Bukankah kita jadi merinding ketika orang yang disangka penolong ternyata justru iblisnya? Film komedi romancenya banyak banget. Film actionnya juga gak kalah seru dibanding aksi Hollywood : The Veteran, Extreme Job, Berlin’s File, Cold Eye. Cold Eye adalah film action yang menurut saya belum banyak padanannya . (Hm, entah juga kalau saya kudet hehe).

Parasite?

Saya menuliskan reviewnya segera usai nonton film ini bareng keluarga. Tentu, gak semua sepakat dengan penilaian Oscar, apalagi penilaian saya. Tapi lagi-lagi saya ambil hikmah kenapa Parasite memenangkan 4 oscar kali ini dan Bong Joon Ho dinobatkkan sebagai sutradara terbaik dengan Parasitenya.

Sinema Korea itu….. :

  1. Natural. Alamiah banget. Kalau cerita tentang romance terasa alamiahnya. Kalau cerita kejahatan terasa alamiahnya. Hampir tidak ada yang benar-benar hitam putih di film Korea. Film Spy Gone North tentang Korut VS Korsel, sama sekali nggak membahas bahwa Korsel adalah pahlawan. Tapi masing-masing punya kepentingan. Parasite juga begitu. Apakah keluarga miskin Kim atau keluarga kaya Park yang jahat? Sama sekali nggak ada penggambaran demikian.
  2. Tak bertele-tele. Drakor umumnya berkisar 20 episode seperti Pasta in Love, 49 Days. DoT 16 episode. Barulah kisah epic seperti The Great Queen Seondeok 62 episode. Itupun gak bosen nontonnya heheh. Tidak perlu diperpanjang konflik jika memang sudah bisa diselesaikan dengan cepat. Perkelahian, permusuhan, pertikaian juga gak perlu berlarut-larut. Yang digali seringkali adalah masa lalu masing-masing pelaku sehingga memunculkan konflik emosi di dalam jiwa.
  3. Gado-gado. Komedi selalu muncul meski di tema sedih, romansa, action, horror. Kita bisa dibuat ketawa dengan adegan atau dialognya, lalu segera ditarik lagi ke sebuah situasi yang lain yang memang menjadi genre utama film tersebut. Parasite banyak memunculkan kisah komedi gelap, tentang konyolnya orang miskin dan lebih konyol lagi orang kaya yang gak pernah pegang pekerjaan rumah sama sekali seperti Mrs Park. Ketika Jessica dan Kevin –kakak adik- punya segudang tipu muslihat licik karena mereka terhimpit kemiskinan, kita harus menangis atau tertawa karenanya? Aduh, benar-benar teraduk memang.
  4. Kesabaran dalam membangun alur. Terus terang, sebagai penulis saya banyak belajar dari film, novel, cerpen Korea. Mereka sabar banget membangun detil, menceritakan sesuatu. Kesabaran dalam menjalani sebuah sikap hidup kayaknya jadi nafas dari bangsa Korea, ya. Terlihat dari hallyu yang dimotori oleh KPop, produk literasi dan sineasnya. The Vegetarian karya Han Kang menceritakan segara detil tentang seorang perempuan bernama Yeonhui. Hari demi hari konflik dirinya dikisahkan dengan cermat. Seolah penulis sangat sabat untuk berkisah. Beda dengan saya yang kadang ingin segera cepat selesai. “Udah, jatuh cinta aja./ Udah, mati aja/Udah nikah aja.”
  5. Tema sederhana. Banyak film atau buku Korea temanya sederhana. Seperti Parasite. Tema miskin vs kaya selalu ada. Tema sederhana yang digarap dengan sangat rapi sehingga kita benar-benar merasakan “ ya Tuhan, sengsaranya jadi orang miskin di Korea!” karena itu juga yang diharapkan Bong Joon Ho, banyak orang terbuai oleh ironisnya kemajuan Korea.

Coba kita baca cerpen Sejarah Obat karya Oh Hyun Jong (diterjemahkan oleh Prof. Koh Yung Hun, dosen bahasa Indonesia di HUFS- Korea)  misalnya, menggambarkan tema sederhana tentang seorang perempuan muda yang  terbiasa mengkonsumsi berbagai jenis obat sejak kecil : propolis, omega 3, ginseng merah, dll. Ia melihat neneknya terbiasa minum obat, ia melihat orang-orang di lingkungannya minum obat. Dan si perempuan merasa aman bepergian jika membawa sekantung obat. Ia bahkan berpacaran dengan seorang calon dokter tradisional yang suka meresepkan obat kepada teman-temannya. Dan kecandunnya pada obat semakin betambah. Membaca kembali Sejarah Obat, mengingatkan saya pada kondisi terkini tentang Coronavirus di mana saya seperti ribuan atau jutaan orang yang sangat terobsesi pada masker.

Tulis Hyun Jong “…bahwa segera setelah kita mulai terkena penyakit yang berkaitan dengan penuaan, kita tidak akan pernah berhenti makan obat. Kita akan tetap meminumnya sampai sehari menjelang kematian.”

Betapa kisah sederhana, tentang zaman sekarang ketika orang membenci menjadi tua dan menjadikan obat sebagai jalan keselamatan.

Parasite, saya rasa memiliki 5 kelebihan tersebut.

Natural alamiah, tak bertele-tele, gado-gado, kesabaran penulis scenario dan sutradara membangun alur serta tema sederhana yang dipahami hampir setiap keplaa manusia yang menontonnya. Yah, walau pecinta Korea belum tentu paham bahasa Hangeul 100% sebagaimana para kritikus film dunia, ungkapan Bong Joon Ho patut dipertimbangkan saat menerima piala Golden Globe, “Sekali saja tidak bermasalah dengan subtitle, kalian akan banyak menemukan film menakjubkan!”

Saya setuju dengan Joon Ho.

Sebab banyak film Indonesia yang juga layak maju ke pentas dunia.

Insyaallah, berikutnya Indonesia yang meraih penghargaan!

Kategori
Film Hobby KOREA Mancanegara Oase RESENSI

Parasite (기생충) pemenang festival Cannes 2019 : Berhati-hatilah Ketika Bicara

 

“Syukurlah, semalam hujan turun.”

Anda pernah mengucapkan ini?

Bukankah itu ucapan yang wajar?

Itulah yang dikatakan Mrs. Park yang cantik dan kayaraya lewat telepon ketika tengah ngobrol bersama temannya. Tetapi, ucapan itulah yang mengubah raut wajah tuan Kim, sopirnya yang baru saja selesai membantu Mrs. Park berbelanja dalam jumlah besar untuk pesta ultah si bungsu, Dasong.

Hujan bagi tuan dan nyonya Park adalah tidur di sofa empuk sembari berpelukan, sembari mengamati si kecil Dasong tidur di tenda yang berada di pekarangan luas nan indah, dari ruang tengah keluarga mereka yang cantik dan nyaman lewat sebuah jendela kaca besar pembatas dinding.

“Tendanya beli di Amerika,” begitu kata nyonya Kim.

Hujan semalam, bagi keluarga sopir Kim, adalah sebuah bencana besar. Hujan dan banjir ini digambarkan demikian  mencengangkan, memilukan, dan tentu saja –merepotkan.

“Hujan membuat air limbah menguap!!” jerit tetangga.

Hujan  membuat rumah petak tuan Kim, yang lebih rendah dari jalan raya, cepat menyapu barang-barang. Di Korea, flat paling bawah yang biasanya hanya mendapatkan sedikit sinar matahari dan seolah berada di bawah tanah, adalah flat berharga paling murah. Hujan membuat tuan Kim meneriaki putranya Ki Woo agar segera menutup jendela kecil rumah mereka agar rumah tidak tenggelam. Hujan membuat Ki Jung, putri tuan Kim harus menekan kuat-kuat tutup kloset, agar kotoran dalam kloset  tidak muncrat kemana-mana. Maklum, banjir akan membuat kloset meluap. Percayalah, melihat Ki Jung/ Jessica berjuang menutup kloset yang terus memuncratkan kotoran hitam keluar tiap kali riak gelombang banjir datang, perasaan kita campur baur antara jijik dan iba.

Situasi banjir di lingkungan kumuh ini demikian mencekam.

Hujan malam itu, membuat seluruh penghuni perkampungan kumuh terpaksa mengungsi.

Mereka tinggal di stadion. Berebut baju bekas dari sumbangan warga sekitar. Di saat yang sama, nyonya Kim tengah memilih-milih baju apa yang akan dikenakan di pestanya, dari ruang khusus miliknya yang menyimpang ratusan baju di almari-almari.

Bagi orang kaya, hujan adalah situasi yang demikian romantic. Bagi orang yang tak punya rumah, itu adalah bencana.

parasite - cannes.jpeg
Parasite, pemenang festival Cannes 2019

Kelebihan Parasite (기생충 : Gisaengchung)

Film ini disutradarai Bong Joon Ho dan ditulis juga olehnya. Sebagaimana film Korea pada umumnya yang gado-gado; film ini begitu kocak, konyol, horror, menyentuh dan juga, lumayan sadis di adegan pembunuhan. Adegan demi adegan kita diajak untuk semakin larut dalam kekonyolan, yang semakin lama semakin mencekam akan rahasia tersembunyi di tengah rumah megah tuan Park.

Korea mendapatkan Palme d’Or untuk tahun ini dan memang, Parasite pantas mendapatkannya. Ada beberapa pesan penting yang disampaikan secara mendalam oleh Bong Joo Ho.

 

  1. Kebohongan akan terus ditutupi oleh kebohongan lain.

Berbohong itu sangat addictive. Buat kecanduan. Awalnya bohong, menipu, memfitnah lalu bertambah serakah. Itulah yang dilakukan keluarga Kim. Kita akan bersimpati pada kehidupan mereka yang sangat miskin, tapi juga miris.

Awalnya Ki Woo/ Kevin berbohong. Lalu ia ingin semakin menipu keluarga Park. Maka ia berbohong demi saudarinya Ki Jung/ Jessica agar bisa diterima sebagai guru privat seni di tengah keluarga Park. Jessica lalu memfitnah supir keluarga itu agar bisa memasukkan ayahnya, tuan Kim sebagai supir. Tuan Kim, Kevin, Jessica akhirnya memfitnah housekeeper keluarga Park yang baik hati, Moon Gwang agar bisa memasukkan ibunya. 4 sekawan ini lalu bahu membahu dalam berbohong dan menipu demi mengeksploitasi keluarga Park.

 

  1. Berhati-hatilah dalam berucap

Kadang, manusia khilaf berkata-kata.

Sebagai orang kaya, tuan dan nyonya Park sebetulnya cukup baik hati. Hanya saja, mereka terbiasa memerintah dan menjadikan kepentingan pribadi mereka jauh lebih penting daripada kepentingan orang lain yang lebih rendah, termasuk pembantu dan sopir mereka.

“Syukurlah, semalam hujan.”

“Baunya tuan Kim, tukang masak dan Jessica sama,” kata Dasong.

“Orang-orang bawah tanah punya bau yang khas.”

“Tuan Kim punya bau, yang bisa menembus kursi sampai tercium dari bangku belakang,” kata tuan Kim kepada istrinya.

Banjir, bau busuk, baju jelek, kurang makan, bertahan hidup dari hari ke hari adalah keseharian manusia miskin yang tinggal di kampung kumuh. Mungkin, awalnya keluarga Kim senang menipu keluarga Park dan mereka berlagak seolah menjadi pemilik rumah megah tersebut. Lama-lama, komentar tuan dan nyonya Park yang sebetulnya biasa saja, menjadi tikaman yang luarbiasa menyakitkan.

parasite - keluarga miskin
Kemiskinan keluarga Kim yang digambarkan sangat apik, sumber Tribunnews

  1. Jangan mudah percaya pada orang lain

Kehidupan orang kelas bawah yang harus bertaham demi sesuap nasi, digambarkan sangat apik. Masyarakat marginal seringkali harus mempergunakan banyak cara agar bisa mendapatkan uang, termasuk berbohong dan menipu. Keluarga Kim digambarkan sebagai keluarga yang kompak dan tough, sebaliknya keluarga Park meski kayaraya sangat rapuh. Mengapa mereka mudah percaya pada  Kevin, Jessica, tuan Kim dan nyonya Kim? Nyonya Kim tidak bisa mengurus rumah dan memasak, sehingga ia harus punya housekeeper. Siapa yang bisa mengerjakan tugas rumah tangganya, akan ia percaya. Dahye dan Dasong punya kesulitan belajar. Nyonya Park tidak bisa mengajari putra putrinya, maka ia sangat membutuhkan guru les yang akan membantunya; itu sebabnya nyonya Park sangat tergantung pada Kevin dan Jessica. Tuan dan Nyonya Park sudah terbiasa dilayani. Hidup tanpa supir sangat tak nyaman. Maka ia sangat percaya pada tuan Kim. Melihat orang miskin mengeksploitasi orangkaya, sungguh sebuah parodi sarkasm. Biasanya orang kaya yang mengeskploitasi orang miskin, kali ini sebaliknya.

Seharusnya, kita tidak mudah percaya omongan, hasutan, fitnah yang ditujukan untuk menjatuhkan seseorang. Sepertinya bagus buat kepentingan diri kita sendiri, tetapi kenyataannya sebaliknya.

parasite - nyonya Park.jpg
Parasite – Nyonya Park yang cantik dan naif

  1. Hidup tak perlu membuat rencana.

Ini perkataan yang mak jleeeeb bangettt.

Meski saya kurang setuju dengan pendapat tuan Kim.

Saat terkena bencana bajir limbah, tuan Kim, Kevin dan Jessica harus mengungsi dengan ratusan penghuni kumuh lainnya di stadiun.

“Ayah, apa kau punya rencana?” tanya Ki Woo.

“Tidak,” kata tuan Kim.

“Kenapa? Kau bilang, kau selalu punya rencana.”

“Percayalah Nak, hidup itu tidak seharusnya direncanakan. Sebab semua akan meleset dari rencana.”

Ooowwwwh.

Kita boleh tak percaya perkataan ini.

Tapi tuan Kim mengatakan kalimat itu dalam kondisi yang demikian pedih, membuat hati permirsa tercabik. Seolah, bagi orang miskin seperti mereka; tak perlu membuat rencana apapun dalam hidup.

Sebab, seringkali hidup tak terjadwal sesuai rencana.

parasite - kompaknya keluarga kim.jpg
Kompaknya kakak beradik Kim – Parasite

 

 

 

Kategori
Artikel/Opini Catatan Jumat Film Hikmah Oase WRITING. SHARING.

Film Hanum & Rangga : Lelaki atau Perempuan yang Harus Mengalah Lebih Dulu?

Ada dua quote yang terngiang (saya nggak bilang  100% setuju ya…terngiang aja) :

Pertama,  ucapan Rangga yang intinya , “apa kamu mau meneruskan karier kamu dan mengesampingkan perasaan suami kamu?”

Kedua, ucapan Hanum yang intinya, “aku ingin mengejar salah satu bintangku. 4 tahun aku mendampingimu, mengorbankan cita-citaku demi kamu. Apa nggak bisa sekali saja  ganti aku yang menggejar impianku?”

Kalau anda perempuan, jadi Hanum, dan sebagai lelaki anda adalah Rangga; mana yang harus didahulukan : karier suami atau karier istri?

Hanum & Rangga 

 

Hidup itu Pilihan

Life is choice.

Menikah dengan siapa, itu termasuk pilihan. Ketika menikah, sepasang lelaki dan perempuan harus siap menanggung pilihan. Mau cepat punya anak, itu pilihan. Mau nggak punya anak dulu, atau sama sekali nggak mau punya anak karena repot; itu pilihan. Selain rizqi dan takdir Tuhan Yang Maha Kuasa, tentu.

 

hanum2-kisah-hanum-dan-rangga-diadaptasi-ke-layar-lebar-700x700
Pujian Hanum kepada Rangga

Kalau simpulnya takdir, selesai semua perkara.

Sekali lagi, di ranah ikhtiar kita diwajibkan berpikir, menimbang, menelaah dan berusaha. Ada suami istri yang melaju kariernya karena komitmen bersama dan sama-sama tak ada kendala. Ada yang salah satu harus mengalah karena memang kondisi mengharuskan demikian. Rangga (Rio Dewanto) , yang tengah mengambil studi disertasi ke Vienna, tentu harus fokus pada studinya. Dari perspektif perempuan; Hanumlah yang harus bersabar dan mengalah demi karier suami.

Saya bisa merasakan kegusaran Hanum (Acha Septriasa)  dan bagaimana semangatnya mendampingi suami meniti karier. Insting perempuan , mau nggak mau memang berada dalam pengayoman dan perlindungan lelaki. Jadi secara naluriah, perempuan bahagia melihat lelaki yang kuat, bertanggung jawab, mampu melindungi dan berada di garda depan. Itulah sebabnya anak  perempuan relatif bahagia punya ayah yang dapat mengayomi, adik perempuan senang punya abang lelaki yang dapat melindungi, istri bangga punya suami yang dapat memimpin. Maka perasaan perempuan terbetik bangga bila suami berada di garda terdepan dalam hidup : bagus kariernya, bagus studinya, bagus kedudukannya, bagus posisinya. Kebanggaan seorang perempuan ini terefleksi dalam pilihannya menjalani hidup : “Majulah Mas, meski aku harus mendorong dari belakang dengan segenap kemampuan. Meski aku harus mengorbankan studiku, karierku dan otakku yang cemerlang. Tapi meski berkorban, entah mengapa aku bangga dan bahagia.” Eh, ini bukan kata Hanum ya 🙂

 

Hanum & Andy Cooper.jpg
Andy Cooper dan Hanum dalam acara meeting.

Ada perempuan yang rela menahan dirinya untuk nggak meneruskan studinya, lantaran suaminya memilih tidak melanjutkan studi, meski otak si perempuan sangat cemerlang. Ada perempuan yang bekerja keras untuk membiayai studi suami. Pokoknya, kasus seperti Hanum yang memilih mengorbankan diri demi suami; nggak kurang-kurang terlihat di sekeliling kita.

 

Lelaki atau Perempuan yang Mengalah?

Sekilas di film Hanum dan Rangga; terlihat Rangga yang sangat mengalah dan memahami Hanum sementara Hanum sangat ambisius menjadi reporter GNTV.

Kisah dibuka ketika Rangga dan Hanum bersiap ke bandara; datanglah Samanta (Sam) yang menawarkan posisi internship 3 pekan bagi Hanum. Awalnya, Hanum ragu antara New York atau Vienna. Apalagi posisinya saat itu sudah bersiap masuk taksi dan sebentar lagi terbang ke Eropa. Kebesaran hati Rangga yang melihat gundah perasaan Hanum, membuat lelaki itu mengambil keputusan membatalkan perjalanan ke Vienna dan memilih tinggal sementara menunggui Hanum menyelesaikan internshipnya.

Di sinilah, keputusan suami dan istri diuji ketahanannya.

Hanum sangat sibuk mencari berita untuk GNTV. Apalagi, atasannya, Andy Cooper (Arifin Putra)  sangat ambisius dan tahu cara mempersuasi serta menekan anak buahnya seperti Sam dan Hanum. Selisih paham dan curiga satu sama lain, menambah intrik. Hanum curiga pada Rangga dan Azima Hussein (Titi Kamal), seorang janda berputri 1 bernama Sarah. Apalagi Sarah sangat menyukai Rangga. Demikian pula, Rangga mencurigai Andy Cooper yang pintar, good looking dan mampu meraih perhatian penuh Hanum.

Konflik muncul ketika Andy menitik beratkan channelnya pada rating dan tayangan kontroversial Hanum menuai 10 juta viewers dalam jangka waktu 2 jam. Meski awalnya Hanum terpaksa mengikuti gaya Andy dalam membuat tayangan, ia pada akhirnya membuat pilihan berbeda. Rating bisa dibangun tanpa harus membuat tayangan termehek-mehek.

Ohya, ada satu lagi perkataan yang saya suka dari Hanum,

“Good news is still good news.”

Awalnya, bad news is good news, right?

Tapi di tangan Hanum yang membuat ide candid camera, terlihat bagaimana masyarakat Amerika tidak semuanya beranggapan Islam itu teroris. Anda pasti pernah lihat tayangan macam begini kan? Setting dibuat asli, ada kamera tersembunyi, ada stimulus kejadian yang memunculkan kejadian yang diharapkan. Ini namanya eksperimen sosial.

Seorang perempuan bercadar antri di kasir. Kasir memaki-makinya dan menyuruhnya balik kebelakang antrian, mempersilakan pengantri lain untuk maju lebih dahulu. Uniknya, justru pengunjung toko yang lain membela perempuan bercadar tersebut. Tayangan reality show yang keren kan?

Insight of Moslem menuai pujian. Ratingnya meningkat dan sebagai hadiah selain bonus yang besar; Hanum diminta live show menggelar wawancara eksklusif dengan berbagai narasumber termasuk istri seorang lelaki yang syahid di Suriah pada saat Memorial Day 9/11.

Karier Hanum yang semakin menanjak mulai menimbulkan kekesalan, kegusaran dan kemarahan Rangga. Beberapa ucapannya yang khas lelaki muncul seperti,

“Apa kamu mau mengesampingkan perasaan suami kamu?”

“Sebagai suami aku nggak memberi kamu izin!”

“Apa kamu meninggalkan tanggung jawab sebagai istri?”

Yah, wajar sih Rangga beranggapan demikian.

Dalam kondisi super sibuk, Hanum selalu menyempatkan diri membuat sarapan meski hanya mie goreng dan telur ceplok (saya nggak mau nyebutin merk yaaa. Tapi ngaku aja, para istri yang lagi super sibuk biasa masakin suaminya mie jenis ini kan?)

 

Istri Melawan Suami

Awalnya sih, sempat rada gimana gitu melihat Hanum gak ngefek blas diancam : “sebagai suami saya nggak ngasih izin kamu!”

Tapi ternyata, istri gelisah lho kalau diancam demikian.

Hanum kalut, pening, pusing dan sama sekali nggak bisa konsentrasi. Dan ternyata, meski kayaknya ia berjalan ngeloyor pergi sembari masang tampang menantang  (Acha Septriasa emang jago mimic, yah!); Hanum ternyata berusaha menyelesaikan pekerjaannya dan mulai menimbang-nimbang.

Jadi para suami, kalau istri terlihat  nyebelin, gak taat, gak nurut, nantang; janganlah langsung dicap durhaka karena pada hakekatnya mereka sedang bertarung dengan diri sendiri untuk mengalahkan egoism. Berhubung  Rangga memberikan contoh bagaimana sebagai lelaki ia mengalahkan egoism dan mempercayai keputusan Hanum; pada akhirnya egoism Hanum pun luntur dan ia memilih mengikuti suami ke Vienna. Posisi puncak diberikan ke Sam, cowok gokil yang sebetulnya sangat bertanggung jawab dan pekerja keras.

 

Film ini sukses membuatku menangis.

Membuat dua putriku menangis.

Yah, kami menonton bersepuluh saat itu dan rata-rata kami mellow banget nonton film ini. Nis, anakku SMA yang duduk di sampingku sepanjang film, berkali-kali tersedu melihat romansa Hanum dan Rangga. Apalagi adegan-adegan ketika Hanum membuka voice recorder dari Rangga. Adegan ketika Rangga yang galau bertemu beberapa pasangan suami istri yang mesra di taman, di jalan, di manapun ia berada.

Puncaknya, ketika Rangga bertemu pasangan kakek nenek yang mesra.

Duileee…ini bikin kantung air mataku kempes!

Pesan film ini : salah satu pihak harus rela mengalah terlebih dahulu agar pernikahan berjalan stabil. Dan yakin deh, pihak suami atau istri akan mengimbali sikap mengalah itu dengan bersikap mengalah pula dilain waktu.

Pesan lain : jangan ragu mempertontonkan kemesraan suami istri di muka umum. Siapa tahu, itu menjadi obat dan penguat bagi pasangan yang sedang galau kwkwkwkw.

 

Kategori
Film mother's corner My family Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Remaja. Teenager RESENSI WRITING. SHARING.

Film Searching : Ketika Sebagian Temanmu di Media Sosial Jahat & Opportunist!

 

“Ummi harus nonton!” anakku mengirim teks. “Aku udah nonton sama temanku di Yogya.”

“Yah…kalau film begitu, Ummi gak ada temannya buat ke bioskop.”

“Ummi harus ajak Abah dan adik-adik buat nonton. Bagus banget! Gimana tentang dunia maya saat ini. Gimana orangtua harus belajar.”

Aku penasaran banget. Film-film psikologis memang sengaja kutonton untuk memberikan pelajaran visual, minimal untukku pribadi seperti film Split yang dibintangi James Mac Avoy. Split hanya kuunduh dari youtube. Tapi begitu lihat trailernya, kurasa Searching adalah film yang harus kutonton sekeluarga dan aku harus mendorong orang menonton film ini juga.

 

 

Searching

Membagi Kebahagiaan di Media Sosial

Apa kita sering membagi pengalaman manis di medsos? FB, IG, twitter, dst? Ya. Makan, jalan-jalan, apalagi kalau mencapai prestasi. Pasti akan diunggah. Begitupun keluarga David Kim yang senantiasa mengunggah kisah bahagianya. Cerita dimulai ketika David Kim mengunggah foto-foto bahagianya bersama Pam, istri tercintanya yang cantik dan baik. Apalagi ketika hadir anak perempuan mereka, Margot, maka nyaris semua kehidupan Margo dibagi ke medsos. Lahirnya, ultahnya, sekolahnya sampai les-lesnya. Sejak Margot bayi lho, kisahnya sudah menghuni media social! Sah-sah saja kan?

Termasuk, ketika David Kim harus menghadapi kenyataan pahit : Pam menderita kanker lymphoma dan akhirnya meninggal.

Pembukaan kisah ini begitu sedih. Rasanya berterima kasih sekali kepada media social, seperti facebook karena menjadi alat yang dapat menyimpan semua informasi dan memori terindah ktia.

 

Apakah followers itu teman sejati?

Konflik mulai muncul ketika Margot tiba-tiba menghilang. David kehilangan jejak ketika tiba-tiba Margot yang mengaku kerja kelompok Biologi, tidak pulang ke rumah. Awalnya, orang-orang menyangka hanya sekedar kenakalan biasa. Yah, namanya remaja. Pingin bolos, pingin hang out ke mana, gitu. Atau diam-diam punya pacar yang nggak direstui orangtua.

Perbincanga-perbincangan David dengan Peter, adiknya, membuat kita sebagai orangtua merenung.

“Kamu sudah kontak semua teman-temannya?” tanya Peter.

“Aku sudah kontak semua temannya di facebook!”

“Coba cari teman off-linenya,” saran Peter. Maksudnya, teman yang bukan dari teman dunia maya.

“Aku nggak tahu,” jawab David jujur.

“Yah, kalau kamu saja sebagai ayahnya nggak tahu, who would?” sahut Peter.

Menampar banget.

Who would?

Kalau ayah ibunya aja nggak punya kontak teman-teman off line sang anak, lalu mau mengharap siapa?

searching filmsearching film

Teman Medsos Kadang Jahatnya Minta Ampun!

Ketika David menelepon satu-satu , -bayangkan : teman facebook yang ratusan !- untuk mencari keberadaan anaknya; mulai terkuat sedikti demi sedikit misteri. Nggak ada satupun yang mengaku sebagai teman Margot. Termasuk Isaac, yang ibunya merupakan sahabat baik David dan Kim. Semua mengaku begini.

“Kami nggak terlalu dekat,” jawab teman Margot (lupa namanya) cewek negro yang cantik.

“Soalnya papa mama kami kan teman dekat kamu, Mr Kim.”

“Margot selalu makan siang sendiri.”

David yang nge-blank bertanya dengan pertanyaan ala ortu : tapi kan kalian ngajak Margot belajar kerkel? Ngajak dia jalan-jalan?

“Errrg, tapi kami bukan teman dekatnya.”

Whattt???

Kepanikan David mulai memuncak. Film ini juga mengetengahkan adegan-adegan lucu ketika David nggak tahu apa itu tumblr (dia mengetik searching : tumbler), apa itu YouCast.

Yang buat nyesek banget dan ini bukan yang terjadi di tengah-tengah kita :

Ketika Margot dikabarkan menghilang dan diperkirakan meninggal, teman-temannya mengunggah berita-berita yang jauh dari ekspetasi :

  • Youtuber negro cantik ngaku bukan temannya  mengatakan : “aku ini sahabat dekatnya.” Langsung menuai ribuan views.
  • Aku ini menjadi relawan, kata temannya yang lain.
  • Pray for margot, ayo galang dana!
  • dll

Teman-teman Margo yang nggak mengaku satupun sebagai teman baiknya, tetiba ngaku-ngaku jadi teman baik dan mengunggah status mereka di medsos agar mendapat like dan view banyak berikut dapat duit!

Belum lagi, berita David mencari Margot banyak diunggah ke medsos oleh para relawan yang mencari Margot, baik berupa video atau foto. Dan captionnya, ampun. Bukannya simpati, yang nggak tahu permasalahan malah mengatakan : yah, pasti keluarganya berantakan. Semua berawal dari rumah. Bahkan muncul hashtag  #dadfail. Foto David beredar sebagai foto yang cute tapi jahat. Malah ada orang yang mulai sinis, ngapain juga capek-capek jadi relawan?

Bisakah kita bayangkan perasaan orangtua seperti David?

Pantas saja kemudian David jadi hilang kendali dan memukul seorang pemuda yang diduga menghabisi Margot.

 

Kemana Margo?

Margo diduga jadi prostitutee. Margo diduga jualan narkoba. Margo diduga melarikan diri. Margo diduga terlibat perdagangan illegal. Semua prasangka buruk muncul.

Manisnya, ketika semua orang sudah menyerah bahkan ungkapan belasungkawa muncul, insting David sebagai seorang ayah muncul saat mengenal dari Youcast teman ngobrol Margo bernama fish_n_chip.

Lalu?

Anda sepertinya harus nonton bersama keluarga.

Apa yang menyebabkan Margo dalam bahaya , adalah karena fish_n_chip tahu semua (catat : semua) informasi tentang Margo termasuk  ibunya yang sakit lymphoma. Fish_n_chip mampu menjebak Margo beradasar semua informasi sambung menyambung yang didapatnya dari medsos.

 

 

 

Kategori
Catatan Perjalanan Film FLP Jurnal Harian Oase

Duka Sedalam Cinta : setiap potongan puzzle, punya tempatnya sendiri

 

Apa yang anda cari ketika menonton sebuah film?

Hiburan, pasti.

Satu energi baru, quote-quote unik yang akan terkenang selalu seperti perkataan Cinta kepada Rangga : “kamu jahaaaat!” yang kerap menjadi meme lucu. Atau cuci mata karena melihat wajah-wajah bening berseliweran? Hm, boleh juga karena ingin menikmati OST keren yang cocok dengan sebuah adegan. Atau justru, ingin mendapatkan asupan jiwa berupa filosofi hidup yang dapat diteguk dari sebuah cerita visual. Ah.

Yang pasti, salah bila kita ingin meneguk semua dalam sekali kesempatan.

Bila ingin mendapatkan hiburan, sekedar tertawa lalu pulang dengan jiwa hampa, tontonlah film komedi. Ingin jantung berdegup loncat-loncat, tontonlah film thriller macam Split atau film horror seperti It. Ingin mendapatkan asupan jiwa dan nasehat-nasehat ruhani tapi bukan di ruang-ruang masjid dan rapat organisasi lembaga dakwah; tontonlah film religi seperti Duka Sedalam Cinta. Ingin tahu kisah keluarga versi layar perak dan bukan sekedar layar kaca, tontonlah Ketika Mas Gagah Pergi dan Duka Sedalam Cinta yang baru tayang Kamis, 19 Oktober 2017.

film DSC.jpg

Pemain Baru yang Segar

Tidak ada yang instan di dunia ini.

Hadirnya wajah-wajah baru di blantika perfilman, memberikan kesegaran. Tujuan dari bibit baru ini agar masyarakat (baca : anak muda) punya role model baik yang lebih beragam. Film-film yang diambil dari novel best seller Habiburrahman el Shirazy seperti Ayat-ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih; berhasil megnantarkan bintang film baru ke tengah khalayak. Anda tentu bisa tebak : Oddie “Azzam” dan Oki Setiana Dewi. Hingga kini, Oddie dan Oki menjadi ikon masyarakat untuk tokoh muda yang good looking dan dapat menjadi teladan baik di bidang akhlaq ataupun di bidang usaha.

Baik Oddie dan Oki tidak langsung mahir beradaptasi dengan kamera.

Hamas Syahid, Masaji dan Izzah Ajrina adalah nama baru di pentas perfilman.

Sebagaimana pendatang baru  yang masih perlu banyak belajar; akting mereka tentu tidak dapat langsung disamakan dengan pendahulunya, Wulan Guritno dan Mathias Muchus. Wulan dan Mathias telah demikian alamiah berperan di depan kamera hingga senyuman, airmata, lekukan wajah dan gestur tubuh tampak begitu wajah dan luwes. Bagi saya, peran yang mengejutkan adalah peran Salim A. Fillah sebagai kiai Ghufron. Ustadz yang satu ini ternyata lihai bermain hehehe…Eh, mbak Asma Nadia pun ternyata cocok memainkan drama ya?

Dari para pemain muda, Aquino Umar yang pantas diacungi jempol. Ia lucu, menggemaskan, membuat geregetan sekaligus memancing airmata tumpah ruah ketika mas Gagahnya meninggal. Izzah Ajrina meski masih kaku dan sedikit medok; terlihat juga cukup luwes. Sayang perannya sedikit. Padahal saya suka model-model busananya hehehe…

Akting Hamas dan Masaji masih perlu dipertajam. Tapi dua cowok ini benar-benar punya potensi menjadi tokoh di masa depan yang menjadi contoh akhlaq baik,anak muda berprestasi,  di samping wajah yang membuat para cewek kya-kyaaa!Seiring berjalannya waktu dan terasahnya pegnalaman, mereka berdua dapat menjadi bintang muda berkelas. Asal, jangan lelah belajar dan tahan terhadap kritik. Berani berakting di depan kamera itu sudah layak diacungi jempol. Kita juga bakalan keringatan, gugup, dan salah berulang-ulang ketika sutradara berteriak : take, action, cut!

Rasanya, hanya Emma Watson si Hermione yang dijuluki artis one-take. Yang lainnya perlu adaptasi berkali-kali dengan kemauan sutradara, produser, kamewaran dan tentu saja audiens yang keinginannya tak ada yang seragam!

DSC CGV.JPG
FLP Surabaya nonton Kamis, 19 Oktober 2017 di CGV Blitz, Ngagel

Perjuangan Bersama

Sebagai arek Suroboyo, saya salut dengan Hamas dan Izzah. Meski adegan Izzah hanya sedikit : saat seminar, di rumah sakit, ketika Gita belajar berjilbab dan di tepi pantai saat akhirnya menjadi istri Yudi dan ibu dari Gagah Kecil (putra almarhum Gita); Izzah berlelah-lelah mencoba berakting di banyak setting. Keindahan Halmahera yang terlihat penonton dan rasanya adem karena kita berada di ruang berAC; buklan demikian halnya dengan yang dirasakan pemain. Hamas dan Izzah harus rela berpanas-panas di tengah alam terbuka. Panas yang puaaaannnnnassss, jare arek Suroboyo. Hamas dan Izzah berada di bawah terik matahari dan harus berkali-kali terpapar panas karena pengambilan adegan tak cukup satu kali. Kebayang sulitnya jadi aktor ya?

Setiap potongan adegan di film itu merupakan hasil kerja keras luarbiasa dari para kru. Kebayang kan, sebuah film bukan hanya terdiri dari pemeran utama, pemeran pembantu saja? Tapi ada figuran, cameo dan lain-lain. Anak-anak kecil yang menyambut kehadiran Gagah dan Gita; para nelayan yang mengerubungi ustadz Muhammad di tepi pantai; para santri di pondok kiai Ghufron. Mereka para figuran yang membuyat film DSC terasa renyah dilihat. Bahkan, keindahan Halmahera menjadi demikian menonjol dan puitis ketika disandingkan dengan Pondok Cinta yang digagas Hamas di tepi Jakarta yang semwarawut.

Selain filmnya sendiri yang dibuat berlelah-lelah, proses pendanaan hingga ditonton bersama pun merupakan kerja bersama yang luarbiasa. Sejak awal, FLP mendukung film ini dengan semangat luarbiasa. FLP mengumpulkan dana crowdfunding hingga sekitar 37 juta, mempromosikan film KMGP dan DSC melalui segala media sosial baik miliki FLP ataupun milik masing-masing anggota FLP.

DSC FLP Sda.jpg
FLP Sidoarjo yang meriah menonton DSC

Teman-teman FLP di penjuru Indonesia berusaha menunjukkan semangatnya dengan menonton film ini bersama-sama. Terutama di hari pertama. Film akan cepat diturunkan dari layar bila hari pertama dan kedua penontonnya tidak memenuhi kursi bioskop. Setiap kita punya peran dalam berbuat kebaikan. Mbak Helvy dan tim punya peran dalam mewujudkan sebuah film keluarga yang layak tonton bagi segala umur. Kita, sebagai penonton, punya peran untuk mewujudkan film ini laku. Dan , sepanjang proses film ini dibuat hingga hadir di layar perak, tak terhitung lagi banyaknya orang yang berkeringat, bahu membahu, banting tulang bekerja sama agar proyek kebaikan dapat terwujud nyata. Setiap kita adalah puzzle yang membentuk pola besar hingga terbentuk bangunan indah yang sedap dipandang. Setiap kita adalah puzzle yang membuat sebuah karya, dapat dinikmati banyak orang.

 

Keindahan Duka Sedalam Cinta

Kalau sebuah film digambarkan dengan sebuah warna, saya mengambil nuansa biru sebagai warna DSC. Halmahera, digambarkan dari jauh dan dari atas sebagai wilayah yang dipenuhi lautan indah dengan tepi pantai yang memanjakan mata berikut pohon-pohon nyiur yang meliuk. Kotak-kotak rumah kayu, dengan halaman luas (tidak seperti di kota besar yang rumahnya kecil tanpa halaman!), berada di pinggir laut; benar-benar menggambarkan situasi tepi pantai yang melapangkan rongga dada.

Umumnya, kita melihat pesantren berada di tengah ladang hutan atau sawah, sebab para santri biasa dididik kiainya untuk mandiri. Pesantren miliki kiai Ghufron ini berada di tepi laut, jadi tiap hari dapat menikmati sunset dan sunrise dengan bebas. Benar-benar pesantren yang dapat mengobati luka jiwa. Jadi kepingin nyantri di tempat seperti itu hehehehe…

Hubungan Gita dan Gagah juga mengesankan.

Di zaman sekarang, saat sibling rivalry bisa begitu tajam karena diperuncing dengan kehadiran gawai dan beragam permasalahan; hubungan kakak adik yang mesra seperti itu sangat memberikan contoh bagaimana seharusnya seorang kakak bertanggung jawab pada adiknya. Biasanya, abang sangat sibuk dengan urusan pribadinya : kuliah, having fun, nongkrong sama teman-teman apalagi kalau punya pacar. Adiknya bisa terlupakan. Gagah memberikan contoh pada penonton, seorang kakak harus menjadi contoh kebaikan bagi adiknya. Seorang kakak harus memikirkan masa depan adiknya. Seorang kakak harus berjuang untuk adiknya. Itu filosofi ketimuran yang sangat indah dan penuh makna : yang tua, harus memikirkan yang muda.

Kiai Ghufron dan Gagah, juga contoh anak muda yang mampu menembus batas-batas kesulitan menjadi peluang. Mengagas pesantren di tepi pantai baik pantai Halmahera atau pantai Jakarta yang kumuh, pasti butuh kekuatan tekad dan harus memutar otak; termasuk keberanian menghadapi orang-orang yang tak sepaham.

Adegan yang saya sukaaa banget adalah ketika kiai Ghufron mengajak santri-santrinya untuk menyelam ke laut, mengambil sampah-sampah yang berserakan, hasil karya orang-orang sembarangan yang enggan mengeluarkan sedikit energi, meletakkan sampah pada tempatnya. Minimal, menyimpan sampah itu di tas masing-masing sebelum menemukan tempat pembuangan.

Melihat Duka Sedalam Cinta, membuat saya kembali bermimpi : saya juga haru punya tempat seperti Pondok Cinta milik Gagah. Saya harus bisa mewujudkan mimpi memiliki Islamic Crisis Center. Tempat seperti yang dimiliki Charles Xavier dan serial X-Men dan Gagah, menampung orang-orang istimewa dan menempa keistimewaan mereka menjadi orang-orang berprestasi. Dibutuhkan lebih banyak orang-orang seperti kiai Ghufron dan Gagah, yang berhasil menyulap sebuah lahan tak bermakna menjadi sebuah tempat tujuan yang menjadi sanctuary bagi banyak manusia.

DSC CGV 1.JPG

Sinta Yudisia

Penulis, Psikolog, Ketua Umum FLP 2013-2017

 

Kategori
Hobby Jurnal Harian mother's corner Oase Remaja. Teenager Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Remaja Tahun 60-an, 90-an dan remaja sekarang

 

 

Membahas remaja selalu asyik!

Masa muda adalah masa yang penuh gairah, penuh kenangan dans elalu ada seribu sudut untuk diceritakan. Menurut buku Being Young and Muslim; ada 3 hal yang memengaruhi anak muda yaitu fashion, music, entertaintment. Apa saja sih perbedaan dari dekade satu ke dekade yang lain?

Bahasan ini meski ringan, bolehlah dipercaya. Narasumbernya adalah ibu saya yang pernah remaja, saya sendiri yang pernah menginjak masa muda dan anak-anak saya yang sudah beranjak remaja dan harus saya kuntit serta pelajari apa saja kesukaan mereka hehehe.

 

Fashion

60-an. Melihat foto-foto ibu diwaktu  muda, menggelikan banget. Baju-baju berlengan pendek, atau malah sepangkal lengan, dengan bentuk rok menggelembung selutut. Rambut pendek, berhias anting-anting besar.  Jangan bayangkan bodi ibu langsing bak gitar ya…di era itu, gadis-gadis biasa pakai baju dengan lengan atas sepangkal ketiak, tak peduli bentuk bisep trisepnya segede batang pisang hehehe…

1960s_fashion_1.png
Gaya 60-an ala generasi nenek

90-an. Era saya belum berjilbab, masih ingatkah model seragam SMA? Lengan pendek digulung, wuahhh, rasanya kereeen bingitz! Kalau baju casual, ada rok maxi dengan padanan kaos berkerah. Bagi yang PD, biasanya mengenakan rok mini di atas lutut. Mau lebih gaya? Sweater lengan panjang, tapi nggak dipake lho…melainkan lengannya ditalikan di depan leher. Gaya rambut cewek umumnya panjang lepas ala Farah Fawcett atau kalau yang mau pendek, model Demi Moore yang ngetop lewat film Ghost.

Bagaimana model fashion muslimah zaman itu?

Wah, belum banyak pilihan. Biasanya berjubah dan berjilbab kaos, atau jilbab kain. Model-modelnya sederhana, apalagi jilbabnya.  Belum ada ide-ide kreatif busana muslim.

2K dan millennial. Era ini ditandai kebebasan bergaya. Mau girly atau sportif, atau freak, sesuaikan dengan personality. Ada yang kalau keluar mengenakan tanktop dan celana pendek, yang rasanya hanya pantas dikenakan di kamar pribadi. Ada yang senang hot pants dengan blus panjang di luar, sehingga terkesan nggak pakai celana, hiks. Tapi ada juga yang suka model rok panjang dengan belahan tinggi, atau rok panjang etnik dengan bahan katun yang nyaman.

Busana muslimah?

Wuaaahh, banyak banget pilihannya. Bersyukur sekali hidup di era ini. Mau jubah, rok, overall, model rok/celana monyet, jins, baju kurung, kulot, celana, batik; semua ada. Jilbab aneka warna aneka ragam tersedia, yang jadul seperti era 90an masih tersedia. Yang pashmina, kerudung kaos, model scarf, ciput ninja…banyak banget pilihannya. Pendek kata, cewek muslimah  mau pakai baju di kolam renang hingga ke pesta tetap bisa syar’i.

 

Music

60-an. The Beatles dan Elvis Presley adalah favorit ibu.

elvis-presley
Elvis dengan gaya khas

Saya masih mengenal lagu-lagu Elvis seperti It’s Now or Never, Can’t Help Falling in Love With You. Lagu Beatles seperti Imagine dan Yesterday . Meski lagu-lagu itu sudah jadul banget, old song, tetap saja enak didengar. Koleksi ibu umumnya berupa kaset. Sebab gak mampu beli piringan hitam saat itu…hihihi. Saya masih ingat koleksi beliau juga untuk music tahun 70-an seperti ABBA yang terkenal dengan lagu Mama Mia. Music juga membawa fashion. Rambut ala Elvis dan baju model dirinya menjadi tren pemuda saat itu; begitupun rambut ala Beatles.

Eh, koleksi Indonesia juga ada lho. Ebbiet G Ade , Franky & Jane. Bagi saya, belum ada penyanyi Indonesia yang dapat menggantikan sosok Ebbiet G Ade. Ibu suka sekali menyetel lagu berjudul Camelia.

90-an. Wah, anda bertanya pada ahlinya kalau membahas musik tahun ini hahaha…

Maklum, remaja zaman ini akrab dengan radio dan walkman. Kita mengumpulkan uang jajan untuk beli kaset. Lagu Indonesia zaman itu yang sangat merajai adalah Chrisye, Vina Panduwinata, Ita Purnamasari, Titi DJ & Faris RM, Iwan Fals, Tri Utami. Grup musik di era itu KLA Project. Lagu favoritnya berjudul Yogyakarta yang manisss banget 🙂

Kalau musik luar?

Backstreet Boys, New Kids on The Block, Boyz to Men adalah beberapa di antar grup musik yang digemari. Untuk solo; Richard Marx, Jason Donovan  dan Tommy Page digandrungi para gadis dengan lagu-lagu romantisnya. Marx dikenal lewat Right Here Waiting, Jason Donovan  (Ft Kylie Minouge dengan Especially for You), Sealed with a Kiss, dan Tommy Page….tradaaaa….a Shoulder to Cry On. Si Tuan Page ini sukses besarrrr membawa gadis-gadis di seantero dunia baperrrr.

Setiap hari, di depan meja belajar rasanya tidak afdol kalau tidak diiringi musik-musik tersebut sembari baca buku dan mengerjakan PR. Lagu-lagu biasa diputar di radio kesayangan. Saya pribadi, sering menyiapkan kaset kosong. Kalau ada lagu bagus, siap-siap merekam!

Saking senangnya dengan lagu-lagu saat itu, teman-teman satu geng punya kebiasaan unik. Kalau pas ada yang ulangtahun, diberi hadiah satu kaset kosong yang telah berisi lagu-lagu rekaman yang disukai. Lagu rekaman ini bisa didapat dari radio dengan cara merekamnya via tape recorder atau minta ke studio radio. Saya pernah dapat hadiah itu dari teman-teman…rasanya sueeennneeeng banget!

2K dan millennial.

Bengong aja lihat K-Pop dan Japanese Wave.

“Eh, zaman Ummi dulu, grup boyband itu manly banget lho. Kalau sekarang mereka dandan ya?”  tanyaku takjub melihat vowok-cowok cantik yang wajahnya licin dengan bibir merah. NKTB atu Backstreet Boys dulu sangat macho.

seventeen_poster_official-copy
Seventeen Korea Boyband

Sekarang, menyanyi harus diesertai aksi panggung yang yahud. Saya pribadi suka lagu Suju –Bonamana, Shine (lupa judulnya), Wonder Girl Nobody but You atau SNSD Into the New World. BoA salah atu artis yang saya gemari juga dengan lagu-lagu manisnya macam Every Heart, Eats You Up, Key of Heart. OST Inuyasha banyakkk yang saya suka : Fukae Mori, Change the World, I am, dll. Hm, tapi ini juga lagu yang sudah agak lama ya…yang baru-baru seperti EXID, Seventeen saya nggak seberapa kenal.

 

Entertainment

Hiburan disini bisa berarti film, atau pusat hiburan, atau hal-hal yang digandrungi.

Kim Novak, Lauren Bacall, Vivien Leigh

60-an. Artis kesukaan ibu adalah Clark Gable dan Kim Novak. Bukan berarti beliau gak suka Liz Taylor, Lauren Bacall, Debby Reynolds tapi kata beliau Kim Novak adalah favoritnya. Artis bertubuh  berisi ini terkenal dengan gaya rambut blonde pendeknya. Apa judul film paling favorit di zaman itu? Yup, betul : Gone with The Wind. Kataku, Vivien Leigh itu salah satu artis tercantik yang pernah ada!

demi-moore-ghost
Ingat gaya rambut Demi Moore? 🙂

90-an. Chalie’s Angels adalah serial televise paling dinanti. Jacklyn Smith dan Cheryl Ladd ngetop lewat film ini. Aktor artis yang muncul di era itu dan masih bertahan di era sekarang antara lain Demi Moore, Julia Robert, Bruce Willis, Tom Cruise. Demi Moore ngetop lewat film Ghost, Julia Roberts dengan Pretty Woman, Tom Cruise dengan Top Gun dan Bruce Willis lewat berseri-seri Die Hard.

Oh iya…serial Indiana Jones juga. Dan tak lupaaa…eng ing eng…agen 007 yang gak mati-mati kwkwkwk. Saya ngalami tuh nonton aksi si agen mulai Sean Conery, Roger Moore, Timothy Dalton, Pierce Brosnan hingga Daniel Craig. Umumnya cewek, kita juga perhatian sama cewek-cewek Bond…hahaha. Meskipun rumour beredar, cewek-cewek Bond hanya laku di film 007 dan bakal gak bisa sukses ketika main di film yang lain.

2K dan millennial.

Wuah, kali ini  bukan hanya artis aktor televisi, layar lebar tapi juga artis youtube dan selebgram yang awalnya sama sekali tidak kita kenal. Dulu, butuh waktu lama banget untuk jadi artis. Sekarang apa-apa bisa instan ya…

Untuk film, science fiction merajai seperti serial mutant X Men. Star Wars dan Star Trek yang menggambarkan impian manusia tentang kehidpuan ruang angkasa hiingga film-film thriller aneka rasa mulai  penyanderaan, penculikan, pembunuhan hiingga kisah-kisah orang psikopat. Membahas film, kayaknya saya butuh halaman tersendiri deh…kwkwkwk.

 

Hiburan yang lain.

60-an. Era ini para remaja hanya cari hiburan dari jalan-jalan dan nonton bioskop. Televisi belum jadi sarana hiburan yang memadai.

90-an. Dimasa remaja saya, hiburan umumnya jalan-jalan, makan-makan, nonton bioskop dan naik gunung. Hiburan lain adalah ke toko kaset. Kita bisa betah berjam-jam mulai sore hingga tiba waktunya diusir XD.

2K dan milenneial. Entertainment di era ini banyak banget modelnya. Yang mau duduk dirumah bisa nonton via youtube, televisi dengna beragam saluran, main game baik yang gratis maupun berbayar. Yang mau hang out berarti nonton ke bioskop, jalan-jalan ke mall, nongkrong di café yang menu dan style cafenya sangat kreatif dibanding era 90an. Yah, di zaman saya kalau kami jalan-jalan paling-paling beli bakso atau mie ayam. Gak ada food truck atau kedai kopi bergengsi. Gak kebayang kalau harga segelas kopi bisa 50 ribu sampai 100 ribu. Wong kopi biasanya diminum kakek nenek saya hehehe…pakai cangkir seng blirik. 50 ribu bisa buat minum kopi setengah tahun.

Kalau disuruh milih, enakan remaja di era 60-an, 90-an atau di era sekarang?

Kategori
Artikel/Opini Oase

Saya tidak SARA & cinta Cina

 

 

Teman SMP saya banyak yang Cina. Teman SMA, juga. Teman kuliah di fakultas Psikologi tak terkecuali. Sekarangpun teman dan tetangga saya ada yang Cina. Kompleks perumahan kami bersebelahan persis dengan kompleks perumahan lumayan mewah, yang 95% penghuninya Cina.

Kalau beli kain di Pucang, penjualnya rata-rata Cina.  Beli barang elektronik di Hartono atau Hi Tech Mall, atau Marina, rata-rata penjualnya Cina. Beli alat-alat listrik di dekat rumah, seperti kipas angin, setrika, atau colokan listrik; juga Cina.

Di Surabaya banyak warga Cina muslim, yang aktif di masjid Cheng Ho. Sepupu saya menikah dengan orang Cina, yang menjadi muallaf dan menjadi pendakwah Islam. Pendek kata, bertemu warga Cina dalam lalu lalang kehidupan sehari-hari, adalah hal biasa. Di jalan raya, di perdagangan, di kampus, di dunia kerja. Etnis Cina, Jawa, Madura, Arab, India, Batak; campur aduk tak terpisahkan sebagai satu koloni masyarakat Indonesia.

 

Pengagum Cina

Saya sungguh mengagumi budaya Cina. Lewat film-filmnya, terutama.

Ketika remaja, saya dan suami akrab dengan cerita silat berlatar budaya Cina, karya Asmaraman Kho Ping Ho. Film Pemanah Rajawali, Yoko, dan sederet film Cina saya suka. Once Upon a Time in China adalah film favorit saya dan suami, hingga berseri-seri. Laksamana Cheng Ho dan Wong Fei Hung adalah dua tokoh yang sangat saya kagumi, bahkan terbersit impian untuk membuat cerita Fei Hung versi saya.

Tahu Kungfu Hustle kan?

Kami sekeluarga bolak balik nonton film ini. Seru dan keren, kocak lagi!

Red Cliff 1 dan 2, jangan ditanya! Cursed of Golden Flower, Hero, Warrior Heaven and Earth, Painted Skin, The Guillotine, Call for Heroes; film-film Cina ini saya rekomendasikan buat teman-teman yang suka film sejarah. Vicky Zhao, Zhang Ziyi, Chow Yun Fat, Steven Chow, Donnie Yen termasuk bintang film favorit. Belakangan, nama Eddie Peng saya cari-cari di google lantaran aksinya dalam Call for Heroes demikian mengesankan.

Coba tengok rak buku kami.

sam-kok
Dongeng Naga, Sam Kok, dll

Dragon Tales : Sejarah Tiongkok dari Dinasti Tang hingga Dinasti Qing, Kisah Tiga Kerajaan (Sam Kok), Cina Muslim di Jawa Abad XV & XVI, Wild Swan (Jung Chang),  Rahasia Sukses Muslim China ( Wan Seng), Muslim di Amerika dan Cina, Battle Hymne of Tiger Mother (Amy Chua) adalah sedikit dari buku referensi tentang Cina yang kami punya.

Apa yang saya sampaikan ke anak-anak?

“Lihat tuh etos kerja orang Cina! Kalian harus tiru. Mereka hemat dan irit, nggak seperti kita orang Jawa yang suka menghamburkan uang.”

Bahkan saya banggakan teman-teman Cina muslim saya di hadapan anak-anak.

“Kalian tahu kan mas Syauqi dan mbak Levina? Mereka sebentar lagi pindah dekat rumah kita. Tahu nggak apa yang ditanyakan mbak Levina : bunda Sinta, mana sih pasar malam terdekat? Coba lihat, itulah gaya berpikir orang Cina. Bagaimana cara berdagang. Nanti kalau mbak Levina sudah buka toko, kalian belajar kerja sama mbak Levina ya!”

Saya ceritakan kepada anak-anak tentang jalur sutra. 5 kota mega yang pernah menjadi milik kaum muslimin : Xian, Aleppo, Merv, Mosul, Samarkand. Xian berada di Cina. Makam Saad bin Abi Waqqash pun berada di Ghuangzhou , Cina.

Bagi kami sekeluarga, dan saya yakin kaum muslimin pada umumnya, Cina dekat dengan kehidupan kaum muslimin. Tuntutlah ilmu hingga ke negeri Cina adalah pepatah masyhur, sebagian berpendapat ini hadits Nabi Saw, sebagian berpendapat ini pepatah para ulama.

Jadi sungguh, Cina, adalah sahabat kaum muslimin. Saudara kaum muslimin. Teman kaum muslimin. Hui, Uyghur, Tajik, Kazakh dan masih banyak lagi adalah suku Cina muslim yang kami cintai.

 

Benci Cina?

Apa kami benci Cina?

Naudzubillahi, tentu tidak! Perasaan saya demikian dekat dengan orang-orang Cina ketika berkesempatan datang ke Hong Kong beberapa kali, meski kata orang Mandarin dan Canton berbeda. Toh tetap Cina juga. Saya sholat di masjid Wanchai, Ammar Saddick, bertukar salam dengan warga Cina muslim. Saya mengagumi pasangan-pasangan tua Cina yang makan di kedai masjid Wancai. Pasangan-pasangan tua Cina demikian setia satu sama lain…ah.

Di rapat RT, beberapa tetangga kami Cina dan kami ngobrol dengan santai terkait masalah syukuran, 17 Agustusan, sampah, paving block dll.

Apakah kami benci orang selain muslim?

Naudzubillahi, sungguh Allah Swt membenci orang yang dzalim dan tidak adil. Bila kaum muslimin bersikap tidak adil terhadap non muslim; sudah jelas, Allah dan RasulNya menjadi  wali bagi orang non muslim yang teraniaya. Maka, ketika terjadi proses pemurtadan terhadap satu wilayah misalnya, bukan kebencian terhadap non-muslim yang muncul. Sebaliknya, kaum muslimin merasa prihatin.

“Yah, gimana lagi. Orang-orang non muslim lebih peduli. Mereka memberi santunan beras, sembako, bantuan pendidikan dan lain-lain. Pantas saja saudara muslim yang miskin menjadi pindah keyakinan.”

Hampir tidak pernah dalam bahasan-bahsan kami muncul kebencian dengan niat mengenyahkan satu agama lain keluar Indonesia, hanya karena mayoritas warga Indonesia muslim. Ketika meletus anti Islam di negara lain, penindasan dan pembunuhan seperti warga Rohingya, tidak serta merta kaum muslimin di Indoensia membenci agama Buddha. Tidak serta merta mengusir warga Cina yang mayoritas berlainan keyakinan dengan kaum muslimin, walau warga Cina sebagian beragama Buddha, dimana para biksu dan warga Buddha di Myanmar menindas kaum muslimin.

Sungguh, kebencian, pengusiran, ejekan, hasutan; bukan menjadi ciri masyarakat muslim. Bila terjadi pemurtadan, pada dai berbondong-bondong turun ke desa menyadarkan dan membantu menyediakan sarana prasarana. Bila terjadi kegaduhan di luar negeri yang menyudutkan masyarakat muslim; kaum muslimin lebih memilih berdemonstrasi dan menggalang dana bantuan.

 

Bila Ahok Muslim

Bahkan, kaum muslimin masih menyelipkan doa-doa terbaik yang dapat disampaikan. Ketika pak presiden Jokowi terkesan tebang pilih, masih ada yang berdoa : semoga pak Jokowi semakin bagus pemahaman keIslamannya. Ketika Ahok menggodam masyarakat Indonesia dengan al Maidah 51 ; masih ada kaum muslimin yang berdoa : ya Allah, semoga Ahok menyadari kesalahannya dan menjadi muslim!

Kaum muslimin mengkritik, menegur Ahok bukan lantaran ia Cina dan non muslim.

Bukan!

Begitu banyak gubernur dan pejabat muslim yang salah pun diseret ke pengadilan. Begitu banyak pula pejabat dan petinggi yang non muslim di meja hijaukan. Siapa berbuat salah, muslim atau non muslim, tetap harus diadili.

Bila Ahok muslim dan menghina al Quran, tetap saja tuntutannya sama.

Kali ini kaum muslimin bersuara sepakat sebab beliau adalah seorang pemimpin ibukota yang menjadi cermin Indonesia. Jakarta, cermin Indonesia, sedang menghadapi pilkada. Dan kita tercengang betul ketika sang pemimpin menggunakan ayat al Quran dengan cara tak terduga.

Bagi warga muslim, yang jarang sholat dan paling bermaksiat sekalipun, yang masih terbata baca Quran dan tidak mampu mengeja al Fatihah; kitab suci al Quran selalu diletakkan di bagian terhormat dalam bilik rumah : di ruang tamu, di rak buku, di posisi tinggi. Menjadi mahar, sebagai penanda suci sahnya hubungan lelaki perempuan. Menjadi alat sumpah, yang dipegang saksi dan hakim serta penegak hukum di sidang. Menjadi simbol penguat, bagi para pejabat yang akan diambil sumpah jabatan.

 

Provokator & Penunggang Massa

“Awas kaum muslimin ditunggangi!”

“Awas ada provokator!”

“Nanti diobok-obok biar timbul kerusuhan!”

“Kalau sudah gempar, negara lain akan turun tangan ikut campur!”

Ya.

Kaum muslimin selalu serba salah.

Mau bersuara, dibilang SARA.

Mau mengkritik agama lain atau etnis lain, dibilang perkara sensitif.

Mau berdemo, diancam provokator dan kerusuhan massa.

Akibatnya, kaum muslimin benar-benar takut dan galau ketika ingin mengkritik sesuatu yang bersinggungan dengan agama. Takut fundamentalis. Takut radikal. Takut fanatik. Kaum muslimin Indonesia menyerah dan mengalah begitu saja ketika kerat demi kerat kemerdekaan beragama diserahkan pada pihak lain. Pariwisata diisi dengan hal yang bertentangan dengan agama, yah, biarkanlah, toh ini bukan negara Islam. Panti pijat, bar, karaoke, minuman keras, narkoba, pornografi merayap dengan pasti; yah, gak bisa dong tegas-tegas. Ini kan bukan negara Islam. Pemimpin dan kebijakan tak berpihak pada Islam; yah, demikianlah, kan ini bukan negara Islam.

Sekali saja, kaum muslimin benar-benar ingin bersatu padu membela agama. Membela kalimatullah yang telah ditafsirkan beda. Bukan karena pelakunya etnis tertentu. Bukan karena pelakunya non muslim. Tapi karena benar-benar ingin bersuara; agar warga muslim Indonesia yang mayoritas ini menjadi tuan di tanah sendiri. Membela agama dan kitab suci, dengan cara terhormat dan ksatria. Semoga setiap pihak menyadari bahwa kaum muslimin selalu ingin menyelesaikan perselisihan dengan cara hikmah.

 

Sinta Yudisia

Ibu dan Penulis

Surabaya

 

 

Kategori
Oase Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Fanpage Sinta Yudisia

https://m.facebook.com/SintaYudisiaWisudanti/

Akhirnya,  setelah punya 2 Facebook bernama Sinta Yudisia dan Sinta Yudisia II, keduanya full. Maka daripada buat Sinta Yudisia 3, lebih baik buat akun fanpage.

 

Semoga bermanfaat untuk silaturrahim 😊😊💕💞💖

 

 

 

 

 

Kategori
Hikmah Jurnal Harian Oase Renungan Hidup dan Kematian

Pejabat, Pengusaha, Artis : benarkah memakai  dukun, klenik,susuk dan bala tentara jin?

 

 

Santet, vodoo, cenayang, paranormal, dukun, orang pintar, susuk dan yang sejenisnya sangat akrab di semua kalangan. Tidak terbatas hanya kalangan masyarakat bawah dan kurang terpelajar, bahkan orang-orang terpelajar pun mempercayai hal-hal ghaib yang terkadang di luar nalar. Sebagai orang beragama, kadang batas antara iman dan syirik demikian tipisnya. Percaya pada hal ghaib, termasuk keberadaan malaikat dan setan; dan pecaya pula bahwa para dukun , kiai (kata ‘kiai’ mengalami pergeseran makna di beberapa kalangan sebagai orang ‘pintar’) mampu membawa – setidaknya membantu- orang-orang yang datang kepada mereka mencapai tujuan tertentu.

susuk
Beragam susuk

 

Produk perdagangan ghaib

Saya bukan pakar dalam hal ini tapi beberapa teman memiliki kisah unik.

Susuk salah satunya.

Sahabat saya, paras wajahnya sangat manis. Ia bercerita demikian.

“Aku pernah diajak nenekku di kampung untuk datang ke orang pintar. Aku mau dipasangi susuk. Maklum kalau di kampung, biar cepat kawin, Mbak. Aku lihat sendiri temanku dipasangi susuk. Dua mutiara diletakkan di alisnya dan menghilang tiba-tiba. Waktu itu saking takutnya, aku malah lari dan nggak mau. Untung sekarang aku tahu kalau itu syirik.”

Barang pusaka, adalah produk yang lain.

Legenda tanah Jawa banyak sekali melibatkan keberadaan barang pusaka. Keris Nogososro Sabukinten, Bende Mataram, Keris Mpu Gandring adalah sedikit contoh. Konon kabarnya, tidak ada raja-raja di tanah Jawa yang tidak menikahi Nyai Roro Kidul serta tidak memiliki benda pusaka. Untuk jadi penguasa di tanah Jawa, seseoran gharus memiliki benda pusaka.

keris-pusaka
Keris dengan beragam lekuk

Seorang sahabat, beliau penulis senior yang suka sekali menuliskan cerita sejarah bercerita.

“Aku senang menulis cerita sejarah, khususnya Jawa. Sampai-sampai aku ke beberapa tempat di luar negeri untuk mengumpulkan data. Di rumahku, banyak hibah benda pusaka dari kolega. Benda-benda pusaka itu macam-macam, ada yang kosong, ada yang ‘isi’.

Aku sendiri tidak pernah tahu yang mana benda pusaka yang memiliki tuah. Hanya saja anak-anakku pernah protes. Aku menyimpang benda-benda pusaka di suatu ruangan khusus. Kata anak-anak, mereka sering mendengar suara aneh, percakapan, makhluk-makhluk yang melintas. Akhirnya, satu demi satu barang pusaka itu aku lepaskan pada orang yang mau.”

Bunga.

Seorang teman yang memiliki Spa muslimah memiliki cerita unik. Sebagai seorang muslimah yang mencoba taat dalam agama, sahabat saya ini insyaallah tidak memakai perantara apapun selain doa dan niat ikhlas. Ia membuka Spa muslimah melihat animo masyarakat yang begitu gandrung pada salon serta produk kecantikan. Spa-nya alhamdulillah laris, buka dari jam 9 pagi hingga jam 7 malam.

Suatu ketika ada tetangga yang bertanya.

“Bu, laris banget yan salon dan spa-nya?”

“Alhamdulillah.”

“Saking larisnya sampai buka hampir dini hari.”

“Kami buka sampai jam 7 malam.”

“Ah, tetangga-tetangga disini sering dengar gunting rambut, hair dryer sampai jam 11 malam, Bu.”

Teman saya curiga dan menanyakan anak buahnya. Mungkin saja ada yang melayani sahabat atau saudara di jam-jam sekian. Para anak buah menggeleng dan mereka pulang jam 7 malam. Lagipula, tidak ada acara lembur kalau tidak ada pesanan kondangan atau musim wisuda.

Dari cerita para tetangga yang bersaksi bahwa kegiatan salon tetap berjalan setiap malam hingga nyaris dini hari, teman saya mulai merasa ada yang salah. Ia bertanya pada sesama kolega pengusaha salon.

“Wah, hati-hati, Bu,” kata pengusaha yang lain. “Dulu salon saya disantet orang. Setiap orang yang duduk untuk potong rambut atau perawatan muka, mencium bau busuk tidak karuan sehingga mereka langsung bangkit dan pulang. Solusinya ya datang ke orang pintar.”

Teman saya tidak ingin terjebak dalam syirik, maka beliau lantas meminta saran dari pakar syariah. Jawaban yang didapat lebih masuk akal : Spa muslimah menggunakan bahan-bahan alami termasuk bunga-bunga asli, bukan sekedar sabun dan lulur yang sudah jadi. Bunga-bunga adalah salah satu makanan kesukaan bangsa jin. Jadi, Spa tersebut kemungkinan menjadi tempat jin berpesta pora. Akhirnya, sahabat muslimah saya tersebut menjelaskan pada anak buahnya bahwa sebelum masuk kerja mereka harus baca ma’tsurat demikian pula saat petang . Salon mereka sepekan sekali mengadakan pengajian. Sholat berjamaah sebisa mungkin dilakukan di antara karyawati yang perempuan semua, kejujuran ditegakkan, dan segala sunnah Rasul dijalankan. Alhamdulillah perlahan, agenda ‘klothekan’ makhluk halus yang memakai salon di malam hari hilang.

Dalam berinteraksi dengan makhluk ghaib yang dianggap menjadi ‘Tuhan’ yang dapat mengambulkan permintaan, ada barang-barang bertuah yang menjadi perantara antara manusia dengan jin. Barang-barang ini bermacam-macam bentuknya mulai senjata yang diletakkan di bawah tempat tidur, susuk yang dipasang di bagian tubuh tertentu, atau sesajen yang diletakkan di sudut rumah.

Kita akan sangat berhati-hati untuk meletakkan barang-barang tertentu di rumah kita. Patung, lukisan, barang pusaka, hiasan, akan menjadi sebab perantara hubungan ghaib antara manusia dan jin. Kejadian-kejadian di atas menjadi bukti bahwa siapapun, bila ingin, dapat mengambil jalan pintas menuju cita-cita yang diingiinkan.

Ingin cantik, ingin kaya, ingin terkenal, ingin berkuasa; bila tidak mau mengambil jalur yang biasa maka barang-barang perantara tersebut mudah didapat.

Sebagai pedagang, pasti mengalami surut pasang, laba rugi, naik turun. Bahkan mengalami masa pailit yang sangat-sangat pahit. Bila tidak bersabar dan meyakini rizqi dari Allah Swt, maka ingin rasanya dagangan cepat laris. Uang bertambah-tambah. Kecantikan menuai pujian, apalagi pekerjaan yang memerlukan tampilan fisik seperti penyanyi, penari, artis, peragawati dsb.

 

Orang-orang yang mampu melihat hal ghaib

Beberapa teman memiliki kemampuan ajaib melihat sesuatu diluar mata manusia. sahabat perempuan saya di SMA pernah berbisik.

clairvoyance

“Sin, hari ini kamu mau ikut lomba ya?”

“Iya. Kenapa?”

“Aneh. Biasanya aku senang banget kamu ikut lomba, hari ini kok perasaanku gak enak ya.”

Benar saja, saya kalah hari itu.

Sahabat saya yang lain, sebut namanya Indah,  malah lebih dari sekedar melihat.

“Aku dan adikku, bu Sinta, kami berdua bisa lihat yang aneh-aneh. Setiap malam kami tidur berdua, yang namanya ranjang itu bisa bolak balik gak karuan. Kalau bantal guling kena tendang, mungkin kami lasak banget pas tidur. Tapi kalau ranjang sudah ubah posisi, nah! Aku selalu tahu apa yang akan terjadi apda teman-temanku. Sampai-sampai, aku menderita sekali. Sebab sahabatku, cowok cewek mereka pacaran lama, aku tahu mereka nggak akan nikah meski saling mencintai. Aku mau bilang apa, tapi aku sedih banget. Ternyata benar! Mereka nggak jadi nikah. Setelah aku sadar mampu melihat hal-hal jauh ke depan bukan malah mengasyikkan, aku minta diruqyah. Sepertinya ini keturunan. Alhamdulillah hidupku sekarang normal.”

Tidak semua orang seperti Indah.

Ada seseorang yang ia memiliki kemampuan ‘lebih’. Pernah nonton Kungfu Hustle kan? Ada orang yang juga hanya membaca sekali cerita silat, ia langsung mampu memukul kayu hingga terbelah. Sayangnya, ia beranggapan apa yang dimilikinya gift dari Allah dan tidak mau mencari pemahaman lebih jauh apakah itu berkaitan dengan sisi aqidah atau tidak.

Ada orang-orang yang mampu melihat hal ghaib.

Bagi yang ingin menjadi dukun atau orang pintar, kemampuan itu dimanfaatkan untuk membantu orang (atau sebenarnya malah mencelakakannya). Meski tidak semua orang pintar, atau dukun ini jahat, ya!

Dulu, keluarga kami sering mengalami hal aneh. Ibuku punya perusahaan, dan seringkali uangnya hilang. Setelah datang ke orang pintar, ibu mendapat masukan.

“Ibu sedang disantet.”

“Terus bagaimana, Kiai?”

Ada yang bilang santet dapat dikembalikan pada pengirimnya.

“Kita cukup tahu Ibu disantet. Kalau dikembalikan , itu tipudaya syaithon. Iya kalau si X yang benar-benar nyantet, kalau Ibu mengembalikan santet pada si X dan bukan si X pelakunya? Sempurna sudah syaithon memperdaya sana sini.”

“Terus bagaimana?” ibu gelisah.

“Ibu perbanyak sholat malam dan shodaqoh saja.”

Alhamdulillah, meski perusahaan Ibu bangkrut dan aset-aset terjual, kami sekeluarga sehat-sehat semua dan mendapatkan banyak pembelajaran agama terkait sabar, rezeqi, sedekah dan lain-lain. Lambat laun keluarga kami yang pernah amat sangat terpuruk ekonomi bangkit satu demi satu.

Andai kata dulu kami main perdukunan, tentu kami tetap kaya raya tapi naudzubillahi mindzalik…entah apa jadinya.

Ada banyak orang sakti di sekeliling kita yang mendapatkan kesaktian karena memang ngelmu atau sengaja menimba ilmu kebatinan, ada yang karena keturunan. Yang menjadi sakti inipun ada yang pada akhirnya menyadari bahwa tidak ada kekuasaan yang pantas diagungkan kecuali Allah Swt. Meminta bantuan pada orang pintar, jin dan bala tentaranya sekilas terlihat memberikan solusi namun sesungguhnya makin membuat orang terpuruk dalam masalah.

Banyak orang pintar, dukun, kiai yang bersedia membantu sekalipun dengan bantuan jin. Tapi umumnya mereka memberikan syarat dan pemahaman, bahwa klien bersedia memikul akibatnya. Mereka tidak serta merta memberikan banga pusaka, barang mahar (istilahnya) tanpa memberikan keterangan apa saja yang diminta jin sebagai imbalan. Bukan rahasia lagi bahwa bangsa jin yang menyesatkan manusia, mereka kejam luarbiasa. Mereka meminta tumbal anak-anak, pasangan, karyawan-karyawan dan bila semua tumbal telah habis makan bangkrutlah sudah kekayaan.

Barulah setelah tercapai kesepakatan, dilaluilah perjanjian.

Sungguh benar. Tidak ada perdagangan yang lebih menguntungkan selain perdagangan dengan Allah Swt.

Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memebrikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah sehingga mereka membunuh atau  terbunuh(sebagai) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jualbeli yang telah kamu lakukan dan demikianlah itu kemenangan yang agung.” (QS 9 : 111)

Siapa yang tidak ingin cepat kaya?

Siapa yang tidak ingin terlihat cantik dan dipuji banyak orang?

Siapa yang tidak ingin punya kekuasaan, kejayaan, bermartabat tinggi?

Semua ada jalannya. Apapun jalan instant, pasti akan cepat melambung dan akan cepat pula jatuhnya. Berdagang dengan iblis, jin yang sesat, setan; tidak akan menguntungkan. Mereka suka ingkar janji, mereka pun lebihs uka merugikan manusia. tidak ada perjanjian dengan dunia hitam yang menguntungkan manusia. tetapi, mengambil perjanjian dengan Allah akan selalu menguntungkan. Allah malu bila hambaNya mengangkat tangan berdoa tidak mengabulkan. Dia juga selalu mengganti bila tidak berkehendak mengabulkan dan, Allah tidak pernah melupakan impian kita sekalipun suatu saat kita merasa lelah berdoa dan nyaris kehilangan harapan.

 

Para pengguna jasa jin

Indonesia, senang sekali dengan barang instant.

Mie instant, fast food, karir instant. Perkembangan di dunia seni budaya dan politik jelas-jelas menggambarkan dinasti instant ini. Belajar dari K-Pop, para boyband dan girlband negeri ginseng rela berlatih menyanyi dan menari lebih dari 10 jam sehari, hingga 5 bahkan 7 tahun ditempa dan barulah mengeluarkan debutnya. Berbeda dengan boyband girlband Indonesia yang baru kumpul 6 bulan, tetapi memiliki jaringan tertentu, sudah berani tampil. Akibatnya one hit wonder. Merajai sekali tayang, lalu menghilang.

Artis, pedagang, politisi bila tidak tahan banting dalam meng up grade diri, menciptakan branding, membangun image, sungguh akan kelelahan menjalani persaingan yang kadang sangat tidak manusiawi. Jalan pintas digunakan. Mulai nepotisme, menciptakan followers semu di media sosial, membuat berita kontroversial agar menuai perhatian dan seterusnya. Termasuk menggunakan jasa balatentara ghaib untuk mempermudah mencapai tujuan.

Dulu, santet dan perdukunan pernah akan masuk dalam ranah pidana perdata. Tetapi karena sulit dibuktikan akhirnya ditiadakan. Kisah tentang artis, pedagang- pengusaha, pejabat yang menggunakan jasa balatentara ghaib mulai batu akik, barang pusaka, susuk; ramai dibicarakan namun sangat sulit untuk diungkapkan dengan mengusung data fakta. Sebab, perkara ghaib memang tak dapat ditelusuri dengan sidik jari, bukti forensik, bukti TKP, atau rekaman suara ( tidak semudah film Conjuring 1 dan 2). Perkara ghaib hanya dapat diyakini dan dirasakan dengan mata hati.

Yang menjadi sangat menakutkan, apabila perkara ghaib menuntut ritual tertentu.

Bacalah novel trilogi Ring, Loop, Spiral karya Koji Suzuki yang film-filmnya jauh dari novelnya. Tontonlah Devil’s Advocate Al Pacino, Keanu Reeve, Charlize Theron.  Setan tidaklah seprimitif yang kita kira. Simaklah Skeleton Key yang dibintangi Kate Hudson. Setan tidaklah menghuni kuburan dan kamar mandi saja. Setan tidak hanya berujud pocong, kuntilanak, genderuwo, kalongwewe.

Trilogi Koji Suzuki, setan mengintai masa depan manusia. Membuat masa depan manusia menjadi sangat busuk dan buruk. Setan melipat gandakan dirinya di zaman sekarang, setiap kali kita meng –klik apapun dengan mudah. Devil’s Advocate, setan berubah bentuk menjadi pengacara top yang merekrut para pengacara muda untuk membalikkan fakta dan membayar mereka sangat mahal. Mereka dapat menyelamatkan seorang guru yang melecehkan seksual murid-muridnya. Para pengacara muda yang demikian haus mobil dan apartemen mewah, demikian mudah direkrut oleh kantor-kantor pengacara kenamaan dan bergengsi dan merasa bangga ketika memenangkan kasus bombastis. Skeleton Key, seorang perawat yang berniat baik menolong sepasang suami istri tua akhirnya menjadi korban sebab ia perlahan-lahan dibuat percaya bahwa vodoo mampu merenggut jiwa manusia.

Bila, pejabat, artis, pengusaha datang meminta bala bantuan tentara jin. Maka setan akan meminta tumbal ganti yang tidak akan sama dari waktu ke waktu. Tidak akan sama seperti tumbal yang ada di zaman kakek nenek kita dulu : mencuri tali pocong mayat perawan, mencuri mayat bayi, dsb.

Setan tahu apa kekurangan, kelemahan, ketakutan manusia.

Tumbal seorang pejabat, tak akan sama dengan tumbal pedagang bakso. Tumbal pedagang bakso yang meminta penglaris, mungkin ‘hanya’ kematian anak-anak dan karyawannya. Tapi apakah setan akan meminta tumbal yang sama dari seorang pejabat? Tentu tidak. Sungguh, bagi seorang pejabat setan akan meminta hal yang jauh lebih menakutkan. Apakah seorang pengusaha kelas kakap sama dengan pengusaha kelas teri? Setan akan meminta hal yang jauh berbeda.

Betapa, hanya Allah Swt sandaran kita semata.

Hanya balatentara Allah Swt, para malaikatnya yang terbuat dari cahaya yang mulia, yang mampu membantu kaum mu’minin mengatasi kesulitan hidup dan serta membantu menghantarkan doa-doa kaum mu’minin mencapai langit. Para malaikatNya yang mulia, membantu meng amin kan doa kita saat meminta rezqi, perlindungan, keselamatan.

Tidakkah kita berharap, di zaman dimana batas kedzaliman dan kebatilan makin tidak terlihat, dimana kebenaran dan kejujuran justru tampak tidak menghasilkan; maka para tentara Allah Swt yang sesungguhnya akan membantu tercapainya doa-doa dan keinginan?

Bila memang sebagian artis memakai balatentara ghaib, selebritis yang yakin bahwa talenta dan kerja keras akan menuai keberhasilan dengan izin Allah, lebih baik mendekatkan diri kepadaNya. Bila memang sebagian pedagang dan pengusaha memakai penglaris untuk produknya, maka pedagang dan pengusaha jujur akan meningkatkan rezqi ghaib lewat Dhuha, sedekah, infaq, wakaf. Bila memang pejabat dan politikus menggunakan balatentara ghaib untuk memenangkan satu posisi;  maka mereka yang percaya bahwa kedudukan adalah amanah Allah akan senantiasa semakin tersungkur sujud pada Allah untuk memohon perlindunganNya dari segala kejahatan dan malapetaka.

Kategori
Film Jepang WRITING. SHARING.

Bagaimana Menjadikan Novelmu sebagai Film?

Sebagian penulis menginginkan novel , cerpen, atau tulisannya diangkat ke layar lebar. Sebagian berkata, tidak ingin demikian. Sebab, bagaimanapun, novel yang bagus tidak identik dengan naik ke layar lebar. Best seller tidak selalu best quality. Apapun itu, mari kita belajar bersama-sama bagaimana sebuah novel dapat diterjemahkan ke dalam bahasa visual.

• Novel dan film sama-sama produk kreatif, karenanya tidak ada parameter baku tentang nilai bagus atau tidak. Sebagaimana matematika yang merupakan ilmu pasti, sastra dan film termasuk ranah non sains sehingga sangat subyektif sifatnya.

Bulan Nararya
Bulan Nararya

• Novel merupakan produk yang pendek proses produksinya. Seorang penulis, seorang editor, seorang ilustrator, percetakan, dan penerbit plus tim distribusi sudah dapat menghasilkan sebuah novel yang terpajang di Gramedia. Film , tidak. Satu adegan dapat membutuhkan 30 orang crew. Maka bayangkan bila film itu selesai dibuat, berapa jumlah tenaga yang terlibat.

Pembuatan film yg rumit
Pembuatan film yg rumit

Dulu, orang yang punya uang banyak dapat membuat film. Sekarang, ada beberapa pertimbangan mengapa novel yang satu dapat difilmkan, sementara novel yang satunya lagi dengan sekian banyak penghargaan dan pujian, malah tidak daapt difilmkan.

Di bawah ini beberapa pertimbangan apakah novelmu layak difilmkan? Tulisan ini merupakan hasil diskusi dengan beberapa rekan perfilman.

1. Penonton.

Sebagus apapun novel, ketika akan diangkat ke layar lebar maka pertanyaan pertama dan terpenting yang muncul adalah : SIAPA yang mau nonton? Film sejarah, film agama, film edukasi tentu sangat bagus untuk ditonton. Memberi wawasan kognitif baru, memberikan model positif. Tapi apakah ada yang mau nonton?

Maka target penonton menjadi target awal pembuatan film.
Misal, film James Bond atau Fast & Furious, juga film hantu. Awalnya mudah ditebak, tengahnya teriak-teriak, akhirnya gampang disimpulkan. Tapi yang suka nonton banyak. Mulai pasangan yang kasmaran, karena film action dan horror buat si cewek cari pelukan; sampai anak-anak remaja yang memang hobbi petualangan. Ditambah Hollywood minded banget, jadi deh. Kalau suka nonton film James Bond (saya nonton beberapa kali mulai yang aktornya Timothy Dalton, Roger Moore, Sean Connery, Pierce Brosnan, Daniel Craig) adegannya selalu sama! Kejar-kejaran di awal, cewek sexi yang gak nyambung sama jalan cerita, yang kalau cewek itu di delete pun nggak memengaruhi jalan cerita.

Bandingkan dengan Trilogi Bourne yang keren, keren banget karena Julie Stiles memerankan Nikki, cewek pengurus logistik untuk setiap prajurit yang ditugaskan sebagai mata-mata. Akting keren, setting keren, alur kuat.

Bourne Supremacy : salah satu film favorit
Bourne Supremacy : salah satu film favorit

Selain remaja yang jadi sasaran produk, anak-anak juga. Maka film anak-anak laris di pasaran karena anak biasanya nonton sama ibu bapak, teman-teman atau guru. Film anak-anak seperti Petualangan Sherina, Harry Potter dll tentu ditonton bersama-sama termasuk ditonton bersama guru atau rekan sekolah. Masih ingat film Janur Kuning? Penontonnya anak-anak sekolah dan guru-guru sehingga meski film edukasi ini lumayan membosankan, tetap saja untung.

Jadi, kalau novelmu ingin difilmkan, coba tanya pada diri sendiri dan teman-teman : kira-kira target penonton siapa ya? Mereka ini yang akan beli tiket, nonton, meramaikan bioskop dan stakeholder menarik keuntungan.

3 hari film sepi penonton, maka poster akan diturunkan.
Butuh biaya besar agar poster tetap di tempat hingga pekan pertama dan kedua. Orang biasanya “ngeh” ketika poster itu nangkring hingga lebih dari 1 minggu.
Membuat film bagus dengan budget tinggi yang menang penghargaan sudah cenderung ditinggalkan, kecuali oleh insan kreatif yang idealis. Rata-rata executif produser ingin untung, minimal balik modal.

2. Budget

Budget aman 2,5 M rupiah, sudah termasuk promosi 500 juta dan sewa artis. Film nya juga akan tayang di bioskop 21 atau XXI. Punya uang lebih banyak, lebih save lagi, 5 M misalnya.
Budget ini adalah urusan produser. Produser yang mengatur uang akan lari kemana dan kemana. Bila keuangan telah dibagi pos-posnya, maka produser harus ketat dan konsisten. Ayat-ayat Cinta kang Abik misalnya, memindahkan setting Mesir ke Semarang dengan trik-trik tertentu agar kesan Timur Tengahnya dapat namun budget tidak membengkak.

Film juga dapat dibuat dengan dana minim di bawah 500 juta, 100 juta, 50 juta. Tapi tentu dengan artis yang belum terkenal, tak dapat tayang di bioskop, kualitas yang tak dapat dijamin.

3. Triangle System : Produser, Sutradara, Penulis Skenario

Produser : produser dan Executif Produser berbeda. Executif produser hanya punya uang dan tahu untung. Invest, selesai. Produser film mencari dana, mengelola budget. Segala urusan budgeting di produser, maka produser adalah think thank film. Kalau dana mepet apa yang harus dipangkas? Setting atau alur? Maka , ketika festival film, anugerah sebagai best film akan didapat oleh produser. Produser satu-satunya orang yang berhak berkata : ini film saya!

Sutradara : sutradara adalah orang yang mengubah cerita menjadi bentuk visual. Butuh ketrampilan, sense, artistik yang tinggi untuk menerjemahkan novel atau cerita ke dalam bentuk film.
Film Lord of Ther Ring 1-3 mulai The Fellowship of The Ring, Two Towers, Return of The King adalah film indah yang masih saja dikritik penggemar karena dainggap kurang mengadaptasi novel ke film. Padahal…ckckck, Peter Jackson dan crewnya menyabet belasan piala Oscar!

Lord of The Ring : film indah yang belum bosan ditonton
Lord of The Ring : film indah yang belum bosan ditonton

Penulis Skenario : penulis skenario dan penulis novel berbeda. Penulis skenario adalah orang yang membuat dialog, setting, membuat panduan bagi semua crew termasuk aktor aktris agar berada dalam alur untuk membuat satu film dengan rasa tertentu.

Bila telah mendapatkan 3 unsur ini, maka produksi film dapat mulai dijalankan. Namun bila belum mendapatkan produser, sutradara dan penulis skenario; termasuk pertimbangan potensi penonton yang disebutkan di awal; sebuah novel belum dapat diadaptasi ke layar lebar.