Kategori
Dunia Islam Mancanegara Oase

Catatan Uyghur (1)  : 10 Suku Muslim di Cina

 

Setidaknya terdapat sekitar 10 suku muslim di Cina dengan kekhasan adat istiadat dan karakter unik. Mereka adalah :

  1. Suku Hui-hui
  2. Suku Uyghur
  3. Suku Kazakh
  4. Suku DongXiang
  5. Suku Kirghiz
  6. Suku Salar
  7. Suku Tajik
  8. Suku Uzbek
  9. Suku Tartar
  10. Suku-suku lain

 

~ Hui-Hui

Komunitas atau suku ini memiliki jumlah terbesar dan tersebar di seluruh penjuru Cina. Suku ini memiliki banyak kemiripan dengan suku Han baik dalam tata cara hidup, tulisan, bentuk muka maupu budaya. Bahasa utamanya adalah Arab dan Parsi. Suku Hui mengutamakan kesederhanaan dalam cara berpakaian. Umumnya kaum lelaki memakai kopiah hitam atau putih; pakaian wanitanya pun sederhana dengan kerudung atau selendang menutup kepala. Suku Hui tersebar di kota besar seperti Beijing; wilayah Ningxia dan Xinjing; serta daerah seperti Gansu, Ginghai, Henan, Hevei, Shandong, Yunnan.

kids in uighur.jpg
Anak suku Uyghur

~Uyghur

Suku muslim terbesar kedua di Cina adalah Uyghur, menempati wilayah Xinjiang. Wajah mereka sangat berbeda dengan suku Hui karena orang Uyghur memiliki darah keturunan Turki dan berbicara dengan bahasa Turko-Altaic. Uyghur telah menempati Cina sejak abad ke-6 Masehi . Sumber sejarah yang lain menyebutkan Uyghur telah ada di Cina sejak abad ke-3 sebelum Masehi. Sumbangsih suku Uyghur pada Cina tak terhitung banyaknya, antara lain di zaman dinasti Tang, suku Uyghur membantu menumpas pemberontakan An Xi. Sebagai bentuk penghargaan dari dinasti Tang kepada suku Uyghur, mereka diizinkan mendirikan wilayah sendiri dan menjaga perdagangan jalur sutra.

Pakaian lelaki Uyghur umumnya celana panjang, jubah dan sepatu boot. Perempuan Uyghur memakai gaun, rok, jaket tanpa lengan dengan warna warni mencolok. Gaunnya disulam menggunakan motif alam. Mereka menggunakan topi segiempat bernama duopa.

MUSLIM UIGHURS
Lelaki suku Uyghur

~Kazakh

Menempati wilayah Xinjiang dan Gansu. Ciri khas mereka adalah rambut kemerahan dan mata biru,  menjadikan suku Kazakh memiliki wajah cantik nan aristocrat. Bila Uyghur dari Turki, suku Kazakh berasal dari Kazakhstan. Suku Kazakh merupakan penunggang kuda dan penggemaba yang andal. Mereka tinggal di tenda-tenda bernama yurt. Baju suku Kazakh umumnya terbuat dari kulit atau bulu binatang. Topi mereka dari kulit kambing. Bagi kaum perempuan, stokingnya bersulam. Suku Kazakh suka menyelenggarakan kegiatan lomba berkuda.

 

~DongXiang

DongXiang berarti ‘kampung timur’. Tinggal di wialayah Gansu dan Xinjiang. Sangat mirip dengan suku Hui namun memiliki perbedaan bahasa. DongXiang mengguanakan bahasa Altaic-Mongolia. Asal usul DongXiang memiliki dua versi : pertama, merupakan keturuan prajurit Mongol pimpinan Jenghiz Khan yang ada di Hezhou. Kedua, keturunan kaum Sardars yang dibawa oleh orang Mongol ke Cina.

Kaum lelakinya berjubah dengan ikat pinggang dan sepatu berujung runcing; kaum perempuan menggunakan celana, baju dan gaun dengan ujung lengan bersulam halus. Mereka yang sudah menikah menggunakan topi dengan ciri khas unik, berhias lambing warna hijau dan putih.

 

~Kirghiz

Mendiami wilayah Xinjiang dan Heilonjiang ; masih berhubungan erat dengan suku Kirghiztan. Merupakan suku yang nomaden pada awalnya serta gemar beternak biri-biri, kambing dan unta. Kerajinan tangan perempuan Kirghiz dikenal sangat indah dan halus. Perempuan Kirghiz gemar menggunakan gaun berwarna merah dengan lapisan hitam dan ungu.

 

~Salar

Menempati wilayah Qinghai dan Gansu. Suku Salar berasal dari Samarkand. Mereka telah menempati Cina sejak masa dinasti Ming dan diberikan kebebasan pajak karena sumbangsihnya  pada kerajaan. Suku Salar memiliki kerajinan istimewa yang disebut sebagai ‘baijiayi’. Baijiayi adalah perca-perca yang digunakan untuk membuat berbagai macam pakaian, berhias sulaman nan indah. Perca ini dikumpulkan dari 100 keluarga untuk menandakan kuatnya tali hubungan antar mereka.

Suku Salar dikenal tangguh menempati daerah tandus dan bergunuung, umumnya mereka berkebun buah-buahan dan bertani.

 

~Tajik

Menempati wilayah Xinjiang. Mereka umumnya membuat rumah dari batu dan kayu. Pakaiannya memiliki ciri khas gaun dengan ikat pinggang; topi berbulu bentuk silinder dengan bentuk telinga yang dapat ditarik ke bawah untuk melindungi pipi dan telinga dari cuaca sangat dingin. Kaum perempuan mengenakan gaun dan rok mengembang. Ciri khas baju mereka bersulam di kerah dan lengan. Mereka penunggang kuda yang andal; tinggal di batu-batu dan gunung-gunung.

 

~Uzbek

Berasal dari Uzbekistan. Mereka tinggal di wilayah Xinjiang. Suku Uzbek memiliki banyak kemiripan dengan suku Uyghur. Selendang penutup kepala perempuan Uzbek umumnya bersulam. Suku Uzbek dikenal telah menempati Cina sejak zaman dinasti Yuan. Selain dipengaruhi Uzbekistan yang menjadi asal usul mereka, suku Uzbek juga dipengaruhi suku Hui dan suku Tibet.

 

~Tartar

Tartar merupakan suku terkecil dan menempati wilayah Xinjiang. Mereka berasal dari Hungaria. Istilah Tartar digunakan oleh orang Cina untuk menyebutkan bangsa Mongol yang melewati negara Cina tanpa izin di masa dahulu. Walaupun dikaitkan dengan Mongol, pada kenyataannya suku Tartar lebih memiliki kemiripan budaya dengan masyarakat Eropa Timur.

 

 

Referensi :

 

Arnold, Thomas,W. 1979. Sejarah Dakwah Islam. Penerbit Widjaya : Jakarta

Seng, Ann Wang. 2008. Rahasia Sukses Muslim Cina. Hikmah : Bandung.

Kategori
Catatan Jumat Catatan Perjalanan Cinta & Love Dunia Islam Mancanegara Oase Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Esai Robin Kirk tentang Palestina yang Membawa Keajaiban!

 

Kami berdiskusi tentang berbagai hal terkait dunia kepenulisan. Lalu tiba-tiba sang profesor bercerita, kuterjemahkan dalam bahasa Indonesia secara bebas ya.

“Sinta, bukumu tentang Palestina mengingatkanku pada sebuah esai yang kutulis.”

Aku menjadi tertarik. Segala bahasan tentang Palestina, menurutku pantas disimak.

“Aku membuat esai tentang Palestina, ketika Gaza sedang dihujani bom. Kucari-cari foto di internet, lalu muncullah sebuah foto yang bagiku sangat menggetarkan.

Kamu sudah baca ‘Book of Thief’?”

Book of thief.JPG
Book of Thief kubeli di pasar loak buku Hong Kong

 

Aku jawab sudah membaca buku dan menonton filmnya

“Esaiku dimuat di beberapa tempat. Kisah tentang seorang gadis kecil yang mengorek-ngorek reruntuhan bangunan untuk mengumpulkan buku-buku yang tersisa…bagiku sangat luarbiasa.”

Aku mendengarkan penuh minat.

“Lalu, berbulan setelah esaiku dimuat, seorang jurnalis bernama Marcello di Cinto mengirim email padaku. Katanya, ‘Aku akan ke Palestina! Akan kucari anak itu!”

Robin berkata, ”aku bahkan tidak tahu apa anak itu masih hidup atau sudah mati1”

Kata jurnalis tersebut, ia akan memberi kabar pada Robin Kirk ketika sudah sampai di Palestina. Ya. Berbulan-bulan tanpa kabar,sang  jurnalis suatu hari menginbox Robin Kirk dan memberikan kabar bahagia.

Robin Kirk menuliskan esai tentang Palestina berdasar foto yang didapat dari internet (kiri). Tulisan Kirk membuat di Cinto bertekad mencari gadis itu! (kanan)

“Aku telah menemukan anak itu. Namanya Maram al Assar. Dia di kamp pengungsian Nuseirat. Kutelusuri dari fotografer yang mengambil fotonya –fotografer ini telah kehilangan dua kaki karena perang yang terdahulu-  lalu, kami menemukan Maram.”

Aku yakin, bukan pekerjaan ringan bagi Marcello di Cinto untuk menemukan Maram di tengah gelombang peperangan di Palestina. Tetapi tulisan Robin Kirk, profesor yang juga penulis buku anak itu demikian menggugah, hingga ia bertekad untuk mempertaruhkan  nyawa demi sosok gadis kecil yang menjadi buah bibir karena aktivitas hebatnya.

Aku dan Robin berkaca-kaca.

Robin Kirk and Sinta
Profesor Robin Kirk & aku, Sinta 

Kata Robin, inilah sosok nyata Liesl dalam buku ‘Book of Thief’ , gadis yang di dalam hirup pikuk carut marut peperangan, tetap mencintai buku dan menjadikan membaca sebagai bagian penting aktivitas kehidupan.

Kalau anak Palestina saja mencintai buku dan menyisihkan waktu untuk membaca di sela peperangan, kita juga harus menyisihkan waktu lebih banyak untuk membaca, dan menulis tentunya.

 

Kategori
Catatan Perjalanan Dunia Islam Jurnal Harian Oase Quran kami Renungan Hidup dan Kematian Tokoh WRITING. SHARING.

Rangkuman pertemuan dengan Murteza Fikri, Saddam Hussein dan Muammar Qadafi (3 putra Saifudin Ibrahim)

Pertemuan dengan Ustadz Menachem Ali dan 3 putra Saifudin Ibrahim hari itu, sungguh merupakan hadiah berharga bagi diriku yang berulang tahun pernikahan tepat 25 Desember 2017. Apalagi hari itu fisikku sedang drop sekali, sejak Jumat sakit sehingga butuh perjuangan untuk berangkat pagi ke masjid dan ke acara Saddam Hussein cs di SD Muhammadiyah 4, Pucang Anom, Surabaya. Sampai-sampai di masjid, aku harus merunduk-runduk memegangi perut yang bolak balik kolik hingga putriku berkata, “sabar ya Mi…”

Suamiku pun sempat berkata sebelum berangkat ke acara di Mudipat (Muhammadiyah 4).

“Nggak usah aja ya? Prioritas kesehatan dulu,” ujarnya khawatir melihat kondisiku yang masih agak kepayahan.

Anehnya, entah mengapa tekadku sangat kuat. Bahkan kami berangkat jam 08.00 pagi, masih sepi dan aku harus mampir ke masjid al Falah untuk beristirahat sebentar lantaran perutku yang kolik lagi. Alhamdulillah, kami tetap bisa hadir di acara ketika bangku masih kosong, sebab ternyata acara mulai jam 09.00 pagi. Sebab ternyata, peserta membludak hingga ruangan penuh dan peserta yang tidak kebagian tempat harus rela berdiri!

Membludak!

 

Apa yang kutuliskan adalah catatan sepanjang  3 putra Saifudin Ibrahim memandu acara yang luarbiasa hari itu. Istighfar, hamdalah dan airmata tak terbendung dari mataku. Dari mata para pengunjung. Sungguh; betapa luar biasa 3 pemuda di depan kami yang tetap kokoh dalam keimanan mereka sementara sang ayah saat ini tengah berdakwah dari seberang agama yang lain.

fikri, saddam, qadafi.JPG
Muamamr Qaddafi (3), Murteza Fikri (1), Saddam Hussein (2)

Profil singkat Saifudin Ibrahim

Saifudin Ibrahim berasal dari Bima. Beliau anak ke-2 dari 9 bersaudara. Anak ke-1 perempuan, maka Saifudin Ibrahim terbiasa menjadi pemimpin keluarga. Istrinya, Nurhayati merupakan anak dari 11 bersaudara yang berasal dari Jepara. Baik orangtua Saifudin Ibrahimd an Nurhayati adalah orang-orang terpandang, sebab ayah Saifudin Ibrahim (SI) adalah peolpor Muhamamdiyah di Bima sedang ayah Nurhayati adalah pelopor Muhammadiyyah di Jepara.

SI seorang yang tangguh, pejuang sejati dan orang yang brillian.

Sejak kecil hingga dewasa, ia selalu mencari beasiswa. Ia menempuh pendidikan di Universitas Muhammadiyah Surakarta atas beasiswa PP Muhammadiyah. Si angkatan 1983, mendapat beasiswa kader dan kuliah di Ushuluddin mengambil perbandingan agama. Selanjutnya, SI bekerja sebagai salah satu guru di Mahad Zaytun. Beliau mengajar bab aqidah, tarikh dan bahasa Arab. SI adalah seorang yang sangat fasih berbahasa sehingga ia juga menjadi humas dan bertugas untuk menerima tamu-tamu dari Timur Tengah. Dalam perjalanannya, SI pernah mengIslamkan 12 orang.

 

Murtadnya SI

Tahun 2006, SI keluar dari agama Islam. Setelah ia murtad, SI kuliah lagi di bidang teologi. Ia kemudian berkeliling, utamanya tanggal 25 Desember untuk berceramah di depan jemaat sembari mengutip ayat-ayat Quran yang memang sudah sangat lekat dengan dirinya.

Apa pasal kemurtadan SI?

Ada beberapa kejadian yang terjadi dalam hidup SI, yang diduga menyebabkannya kecewa dengan orang-orang muslim dan akhirnya menyebabkannya berpindah agama

  1. SI di skors dari Zaytun karena dianggap memiliki dualisme pekerjaan. Beliau diskors 3 minggu atas tuduhan tersebut tanpa klarifikasi. Tak tanggung-tanggung beliau diskors oleh pemimpinnya yang selama ini menganggap SI sebagai tangan kanan (menurut Saddam Hussein, yang berjualan herba saat itu adalah Ummi. Jadi bukan Abi)
  2. Bersamaan dengan itu, seorang Nashrani memberikan hibah 1400 New Statemen untuk dibagi-bagikan kepada pesantren
  3. Bermimpi bertemu nabi Isa dan nabi Muhammad Saw meninggalkannya

 

Saddam Hussein kecil menjadi saksi kemurtadan sang Abi

Saddam Huseein saat itu 10 tahun dan duduk di bangku kelas 6. Si kecil Saddamlah yang pertama kali mengetahui kemurtadan Abi, tapi karena kepolosannya belum tahu harus berbuat apa.

SI melakukan perjalanan ke Jakarta, lalu ke Surabaya sebelum ke Lombok dan Bima. Yang membuat Saddam bertanya-tanya saat itu :  mengapa Abi tidak sholat?  Mengapa Abi selalu bertamu dengan teman-teman Nashrani?

Saddam kecil rupanya ingin tahu mengapa abinya tak sholat.

“Abi nggak sholat?”

“Jama qoshor,” jawab SI.

“Kok gak Shubuh?”

SI hanya diam saja.

Menurut Saddam, Abi murtad saat berada di Surabaya. Saddam mendapat instruksi dari abinya ,”Abi mau ngajari toleransi. Kalau mereka doa, kamu ikut nunduk doa.”

Saat di Surabaya, SI bertemu dengan teman-teman Nashraninya, utamanya dari the Gideons. Ia diperlihatkan video-video sementara Saddam diminta main dengan anak seorang pendeta. Meski demikian, saat Saddam mencari ayahnya, ia mendengar sang abi berdoa ,”ya Tuhan Yesus, ini adalah hambaMu…”

Hancur hati Saddam mendengarnya. Ia gemetar namun tak tahu harus berbuat apa. Sebagai anak kecil hanya dapat merasakan kesedihan yang dalam sebab SI baginya adalah sosok seorang abi yang inspiratif dan penyayang keluarga. Berkali-kali SI menekankan pada Saddam, “pokoknya nggak boleh, nggak boleh kasih tahu!” Maksudnya nggak boleh kasih tahu tentang kemurtadan SI kepada anggota keluarga.

Menurut Saddam, ummi sudah mulai curiga namun belum menemukan jawaban pasti. Mengapa status kerja SI dicabut di Zaytun? Dari Indramayu, keluarga SI pindah ke Bekasi, dibelikan rumah oleh Pdt. Eri Sapto Wedha. Saat pindah ke Bekasi 7 hari, Saddam mendapati ummi menangis sejadi-jadinya jam 22.00. Menurut pengakukan Murteza Fikri, ummi menangis selama seminggu lamanya. Namun, di dpean anak-anaknya, ummi belum menceritakan kejadian sebenarnya. Ummi hanya berujar,

“Abi mau pergi jauh. Abi mau pergi ke luar kota lama.”

Ini dilakukan ummi supaya anak-anaknya tak sedih.

Ummi memiliki sakit diabetes yang berkisar antara 300-700. Karena kuatnya semangat ummi, sekalipun memiliki diabetes 700 yang harusnya membuat seseorang terkapar, beliau tetap bangkit berdiri demi anak-anaknya. Memang, ummi sempat agnostik. Namun, menjelang wafatnya ummi berwasiat kepada ketiga putranya agar tetap dalam keIslaman.

2006-2012 anak-anak SI masih serumah dengannya. Sebab kalau tidak ikut aturan main, maka anak-anak tidak makan dan tidak sekolah. SI dibaptis dengan nama Abraham bin Moses.

 

Pertanyaan peserta dan jawaban yang mencerahkan

Ada banyak pertanyaan yang menghujani tiga putra SI : Murteza Fikri, Saddam Hussein dan Muammar Qaddafi. Pertanyaan dari kaum ibu umumnya mirip : bagaimana setelah abi murtad? Apakah masih serumah? Apakah ummi abi masih campur? Apakah mereka bercerai?

Ada pertanyaan-pertanyaan yang sangat menohok dari peserta.

  1. “Abi adalah ayah biologis dari Saddam cs. Tapi menurut Saddam, apakah ayah kalian kafir dzimmi atau kafir harbi?” tanya seorang ibu muallaf yang dulunya memiliki nama baptis Maria Christina.
  2. “Saya telah berdiskusi via whatsapp dengan Abi,” ujar ustadz Menachem Ali. “Menurut saya beliau belum memahami ajaran Nashrani dengan mendalam, sebab beliau masih memiliki kebingungan. Tampaknya, beliau hanya sakit hati dengan beberapa person dalam Islam tetapi kemudian merasa nyaman dengan keluar Islam. Di titik apa Abi terseret hingga keluar dari Islam?”
  3. “Adakah upaya untuk menarik SI kembali kepada Islam?” tegur seorang lelaki, seorang pengurus takmir masjid. “Janganlah anda merasa enjoy dengan melakukan perjalanan kesana kemari, mengisi acara, lalu melupakan kewajiban utama mengembalikan ayah anda kepada Islam.”

 Maria Christina dan ustadz Menachem Ali

 

Kafir harbi dan kafir dzimmi

Kafir harbi adalah mereka yang terang-terangan memerangi Islam sementara kafir dzimmi adalah sebaliknya. Menurut Saddam, SI adalah ayah biologis tetapi SI pindah agama. Urusan murtad adalah urusan SI. Karena beliau ikut campur dalam urusan agama lain termasuk menghina Allah Swt, Rasulullah dan Islam maka SI harus mendapatkan tindakan tegas. SI punya akun youtube ribuan followers dan ribuan likers. SI juga punya yayasan Amanat Agung yang memiliki 300 ribu pengikut aktif-pasif.

Pak herman.JPG
Pak Suherman Rosyidi menjelaskan tentang harbi-dzimmi

Secara karakteristik, SI termasuk kafir harbi. Namun sebagai negara konstitusional tentu tidak dapat diterapkan harbi-dzimmi tetapi kasus SI dapat masuk ke ranah hukum pidana. Jadi kaum muslimin pun tidak dapat main hakim sendiri untuk menentukan harbi-dzimmi, kecuali negara Islam , sementara Indonesia adalah negara konstitusional.

Sesungguhnya, tindak tanduk SI telah banyak meresahkan masyarakat. Namun, pihak kepolisian belum merespon cepat sekalipun yang melaporkan sudah banyak. KNAP (Komisi Nasional Anti Pemurtadan) pada akhirnya tidak mengontak Polri tetapi mengontak MUI yang lansung melaporkan ke Ustadz Maruf Amin. Ustadz Maruf Amin langsung membuat komisi darurat dan ditindak lanjuti oleh pak Tito Karnavian.

SI masuk dalam kategori harbi adalah karena ceramah-ceramahnya yang antara lain mencuplik ayat secara tidak lengkap, beberapa di antaranya adalah

  • Satu-satunya agama yang membolehkan membunuh hanyalah agama Islam
  • Memlintir tentang poligami
  • Tidak ada orang yang dapat menjalankan Islam secara kaffah

 

Memahami ajaran Nashrani

Menurut Saddam, SI memahami betul tentang Islam dan cukup paham ajaran kristiani. Sekalipun memang titik baliknya karena kekecewaan terhadap orang-orang tertentu dalam Islam. Salah satu yang menjadi legitimasi kekecewaan SI adalah tindakan Amrozi dan Imam Samudra.

Walau, tetap saja ada kejadian di luar nalar yang menyebabkan seseorang murtad.

Menurut Saddam, orang murtad karena tiga hal :

  1. Murtad karena harta
  2. Murtad karena nikah
  3. Murtad karena mimpi

SI mengalami nomer 3.

 

Ada perkataan Saddam yang menurutku sangat menohok.

Sesungguhnya di dunia ini, kaum muslimin menyaksikan beberapa jenis korban kemanusiaan. Korban-korban kemanusiaan ini haruslah ditangisi dengan kesedihan mendalam dan segera mendapatkan bantuan.

  1. Korban bencana dan korban perang. Suriah, Palestina, Rohingya. Korban yang syahid telah mencapai 700 ribu dan terus berjalan. Namun pada hakekatnya, korban-korban ini husnul khatimah dan syahid , serta insyaallah masuk ke dalam JannahNya. Kaum muslimin menangisi kondisi saudara-saudaranya yang seperti ini, medoakan dan segera memberikan bantuan
  2. Korban pemurtadan yang sesungguhnya jauh lebih mengenaskan sebab kaum muslimin tidak ada yang menangisi walau akhir hidup korban-korban ini jauh berbeda dari korban yang pertama.

 

Pemurtadan terhadap kaum muslimin dilakukan atas beberapa alasan, antara lain :

  • Kaum muslimin yang miskin, lebih banyak dari yang mapan
  • Kaum muslimin yang awam, lebih banyak dari yang paham

 

Upaya menarik SI kembali pada Islam

Kali ini yang berbicara adalah Muammar Qaddafi.

Masyaallah, sungguh beruntung ummi Nurhayati memiliki 3 pendekar ksatria yang insyaalah sangat dibanggakan kaum muslimin. Mereka masih muda, berani dan juga cerdas.

 

Muammar.JPG
Muammar yang bijak dan berani

“Kami tidak merasa enjoy dengan melakukan hal seperti ini (berdiri di stage dan ceramah). Tetapi kami harus berkeliling, sebab kami bertanggung jawab terhadap jutaan ummat di luar sana yang terpengaruh oleh upaya abi.”

Tentang upaya mengembalikan SI kepada Islam sudah diupayakan anak-anaknya. Meski keahlian agama 3 putranya jauh berada di bawah SI, namun bukan berarti 3 putranya tidak berupaya berdiskusi. Hasilnya adalah kemarahan SI. Saat ini Saddam Hussein lulus dari teknik elektro UMS dan berniat mencari beasiswa yang berbeda dari jurusan sebelumnya, ia ingin mengambil studi perbandingan agama. Sementara Muamamr Qaddafi masih duduk di jurusan komunikasi.

Saddam Hussein menambahkan bahwa tidak ada upaya maksimal dalam mengajak SI kembali pada Islam kecuali mereka telah dipanggil Allah Swt. Bila berkata upaya telah maksimal, maka dapat dikatakan mereka telah menyerah. Pada akhirnya, seluruh hadirin di majelis itu mendoakan agar kiranya Allah Swt berkenan mengembalikan SI ke dalam pangkuan Islam kembali.

Sungguh, hidayah adalah harta yang sangat mahal.

Hidayah merupakan anugerah Allah Swt namun sebagai manusia harus terus berupaya mencari dan mempertahankannya.

 

Kita selayaknya saling mendoakan dan mendukung satu sama lain agar senantiasa berada dalam lindungan dan tuntunan Allah Swt, aamiin yaa Robbal ‘alamin.

Kategori
Buku Sinta Yudisia Dunia Islam Fight for Palestina! Fiksi Sinta Yudisia Karyaku Kepenulisan Mancanegara Oase Sastra Islam

Reem : buku ke 61, Novel  ke 19 dan Sekilas Kisah di Dalamnya

Inspired by true story.

Akhirnya novel ini terbit juga. Setelah melalui perjuangan panjang seorang penulis. Apa sih perjuangan panjang penulis?

  1. Menyelesaikan novel : mulai menggali ide, membuat outline, mengembangkan cerita, menentukan prolog-ending-konflik-tokoh dsb
  2. Menentukan penerbit (akhirnya diterbitkan Mizan, lini Pastelbooks)
  3. Berkolaborasi dengan editor dan tim
  4. Menentukan cover
  5. Merancang promosi seperti bedah buku dll

Nah…panjang kan?

Begitulah sebuah buku. Melalui proses panjang dan bahkan setelah terbitnya, tetap harus dirawat keberadaannya. Ibarat anak, tidak hanya dilahirkan tapi harus dirawat dan dibesarkan. Sebab jangan sampai sebuah produk yang mati-matian dihasilkan setelah melewati serangkaian pajang; harus terbit segera dan menghilang seketika.

Reem kecil.jpg

Reem

Reem adalah nama seorang gadis yang luarbiasa.

Ia gadis cantik, berdarah asli Palestina. Sungguh, ternyata dalam dirinya mengalir darah Indonesia. Ayahnya asli Palestina, Gaza sementara ibunya berasal dari Kalimantan. Takdir Allah Swt mempertemukan kedua orangtua Reem dan mereka menikah; lalu memiliki putri tunggal bernama Reem. Baik ayah dan ibu Reem, keduanya berprofesi sebagai dokter.

Kisah dalam novel Reem tidak 100% nyata, sebab sebagiannya adalah fiktif.

Namun sosok Reem benarlah ada.

Ia seorang gadis yang sangat cantik, pernah masuk majalah Perancis untuk memperagakan beberapa busana muslim. Reem menolak tour ke Eropa sebab ingin konsentrasi di studinya. Ia hafal Quran sejak usia 11 tahun. Menekuni sasrta, sejarah dan berharap bisa menjadi seorang mufassir.

Reem, sosok gadis tangguh lapang dada.

Ia ingin terus mengabdi di kamp pengungsian namun Allah Swt menentukan lain. Tanpa diduga Reem berada dalam kanker stadium lanjut. Dengan hafalan Quran, sakit yang diderita, kemampuan sastra dan keahliannya melukis; Reem terus berkiprah hingga Allah Swt menentukan garis akhirnya.

Adaptasi Novel

Cinta menjadi bagian penting dari sebuah cerita. Sebab cinta erat kaitannya dengan emosi manusia. Munculnya tokoh-tokoh fiktif dalam cerita ini untuk memberikan gambaran kepada pembaca, tentang lika liku kehidupan Reem. Kasim yang jatuh cinta padanya saat berorasi di depan gedung parlemen Rabat. Alya dan Ilham yang konyol, kocak, senang bertikai dan ramai kalau bertengkar; berada di sekeliling Kasim. Dokter Salim Aziz yang menangani sakitnya Reem, juga turut jatuh hati pada gadis penghafal Quran yang berbudi mulia ini.

Fez, Rabat : Rue Sukarno, Lorong rahasia

Setting Maroko mendominasi.

Kota-kota indah seperti Rabat, Fez, Marrakesh menjadi bagian di dalamnya.

Meski ada jalinan kisah rahasia antara Kasim dan Reem, keduanya tetap menjaga batas-batas.

Saya suka menyisipkan filosofi dalam setiap novel yang saya tulis.

Salah satu jimat terkenal Maroko, yang sebagian besar dihuni suku Bar bar dan Amazigh, dikenal sebagai hamsa hand. Hamsa hand berbentuk telapak tangan dengan lima jari. Apa makna hamsa hand? Baca sendiri di novel Reem ya…

Mana pula tempat di Maroko yang mengesankan?

Banyak.

Tetapi yang suka petualangan dan misteri akan menyukai lorong-lorong rahasia kota Fez. Yang suka festival akan menyukai Chez Ali dengan pertunjukan heroik para pangeran berkuda yang berlomba menyelamatkan seorang putri.

Tempat favorit saya yang harus muncul di novel Reem?

Sebuah jalan bernama Rue Sukarno. Betapa negarawan bangsa ini begitu dihormati di mata dunia.

Bagian Mengesankan dari Novel Reem

Sinta, Zaitun dan Maroko - kecil.JPG
Maroko & Palestina : kebun zaitun terbentang

Puisi.

Reem sangat menyukai puisi.

Maka dalam novel ini bertebaran puisi-puisi baik karya Reem sendiri, karya saya, maupun karya penyair Palestina Iqbal Tamimi dan Mahmud Darwish. Puisi tentang cinta, penghambaan pada Robb, hingga keberanian setiap warga Palestina dalam mempertahankan tanah airnya. Bila tak mampu mempertahankan negara;  maka kecintaan tiada henti pada tanah air, menggalang donasi, memperkenalkan budaya Palestina, berkiprah di kamp pengungsian dan mengajar anak-anak yatim piatu korban perang adalah sedikit hal yang dapat dilakukan. Dan Reem, melakukan itu.

Silakan menikmati 🙂

Novel ini diadaptasi dari skenario film karya Beni Setiawan.

Kategori
Dunia Islam Gaza Kami Oase Sejarah Islam Tokoh

Belajar tentang Jerusalem dan Palestina (1)  : Sumbangsih Dunia Islam yang Tak Tertandingi

Setiap kali bumi Palestina bergolak, mau tak mau kita kembali menoleh ke belakang untuk belajar sejarah dari buku-buku terserak yang tersedia di sekitar. Kadang-kadang, buku-buku tersebut menyajikan informsi sepatah-sepatah sehingga kita harus merangkai sendiri bagaimana sejarah manusia membentuk persepsi, menciptakan konflik, menghancurkan tatanan, atau  memunculkan harapan. Jerusalem dan Palestina akan selalu memancing pertikaian. Akan selalu menimbulkan  ribuan sudut pandang berbeda. Bahkan, orang-orang yang terlibat didalamnya di satu sisi dielukan sebagai pahlawan, di sisi lain disebut sebagai penjahat. Bagaimanapun hebatnya sosok Shalahuddin al Ayyubi, sebagian sejarawan -termasuk non  muslim-  sangat mengagumi beliau.  Namun bagi sebagian yang lain, dianggap sebagai perusak.

 

Jerusalem Awal di masa Nabi Daud as dan Nabi Sulaiman as

Jerusalem awalnya adalah sebuah wilayah tak lebih dari 15 ha yang hanya mampu menampung 1200 penduduk. Namanya mulai disbut-sebut bersamaan dengan kisah Nabi Dauh Saw. Bagi kaum muslimin, Nabi Daud adalah salah satu dari 25 nabi yang dimuliakan Allah Swt. Di masa jauh sebelum  Rasulullah Saw diutus menjadi nabi, tidak ada pembatasan berapa jumlah perempuan yang boleh diperistri seorang laki-laki. Sejarah mencatat secara simpang siur berapa jumlah istri Nabi Daud as dan Nabi Sulaiman as. Konon, Nabi Sulaiman as  memiliki 700 istri dan 300 selir.

Salah satu kisah yang masyhur adalah kisah ketika Nabi Daud as jatuh cinta pada seorang perempuan sangat cantik yang telah bersuami. Sumber Nashrani menyebutkan perempuan tersebut bernama Batsheba dan suaminya  seorang prajurit bernama Urian. Nabi Daud as mengirimkan Urian ke medan perang  hingga tewas dalam sebuah pertempuran.  Ketika nabi Daud as memperistri Batsheba, apa yang terjadi sesungguhnya hanya diketahui oelh segelintir orang, salah satunya seorang ulama shalih bernama Nathan. Dalam sebuah pertemuan, Nathan menyampaikan satu kisah.

“Adalah seorang Raja kayaraya yang telah memiliki segala. Namun ia masih menginginkan seekor domba yang dimiliki petani miskin. Raja itupun merebutnya!”

Hati Nabi Daud as trenyuh dan tersentak mendengarnya. Hingga sontak berteriak ,” Raja seperti itu harusnya mati!”

Nathan berujar hormat, “Andalah Raja itu.”

Nabi Daud as memohon ampun atas semua kesalahannya kepada Allah Swt. Bayi yang dikandung Batsheba meninggal, meninggalkan duka yang dalam di hati Nabi Daud as. Ungkapan ulama shalih Nathan terngiang.

Namun, dikemudian hari ia mengandung lagi dan lahirlah seorang bayi laki-laki sangat tampan dan masyhur dengan kekuasannya. Bayi itu diberi nama : Sulaiman. Sulaiman, kelak menggantikan Nabi Daud as menjadi nabi dan raja. Bukan hanya cerdas, kuat, tampan dan tangguh; Nabi Sulaiman as adalah seorang arsitek andal. Salah satu sumbangsihnya yang menjadi jejak tak terkira dalam sejarah manusia di bumi adalah Kuil Sulaiman. Tujuan membangun kuil ini bukan semata-mata tonggak pencanangan kemegahan kekuasaannya, namun juga menjadi tempat bagi rakyatnya untuk bermunajat.

Nabi Sulaiman as tidaklah tertakdir abadi.

Di bawah kepemimpinannya, negara termasuk wilayah Jerusalem hidup  makmur. Namun usai wafatnya, para kerabatnya bertikai dan berperang. Sejarah panjang menghiasai Jerusalem dengan heroisme dan kekejian. Nama-nama masyhur dikenal, baik masyhur dalam sisi kecemerlangan maupun kegelapan. Nebukadnezar, Darius, Alexander the Great adalah segelintir nama yang beririsan dengan Jerusalem. Alexander Agung memiliki jenderal terpercaya, Ptolemy. Dinasti Ptolemy inilah yang kelak akan mengurus wilayah Mediterrania. Kepengurusan yang akhirnya salah kaprah ditangani oleh Cleopatra. Sosok legendaris yang sebetulnya sangat cerdas, namun kecantikannya yang bak dewi kahyanagan  membuat orang-orang di sekelilingnya mabuk kepayang, rela bertempur, bersedia mati termasuk Julius Caesar dan Marc Anthony. Jerusalem terkatung-katung dalam situasi terlantar. Sebelum Masehi, ada lagi satu sosok sangat cantik yang turut berperan terhadap Jerusalem, yaitu ratu Salome dan dinastinya. Sesudah Masehi, berturut-turut nama kejan seperti Caligula dan Nero, menjadi penguasa Jerusalem.

           Cleopatra dan Salome, dua Ratu sebelum Masehi yang tershor karena kecantikannya

 

Jerusalem Islam

Nabi  Muhammad Saw menjadikan titik ini sebagai salah satu tapak mirajnya sebelum ke Sidratul Muntaha. Bagi kaum muslimin, Jerusalem sama berharganya dengan Haramain. Jejak Islam yang mulia tertoreh di sejarah Jerusalem. Sejarawan yang sangat sarkasm seperti Simon Sebag Montofiore pun mengatakan ketika Umar bin Khattab menguasai Jerusalem, tak ada sikap bermusuhan terhadap penganut monotheis : Kristen maupun Yahudi. Kontribusi para khalifah pun tak dapat dipandang sebelah mata, termasuk zaman dinasti Umayyah dan dinasti Abbasiyah. Meski dua dinasti ini berselisih paham, keduanya tetap berupaya menjaga Jerusalem sebagaimana contoh yang pernah dilakukan leluhurnya, Umar bin Khattab ra.

Haram-al-Sharif
Haram al Syarif

 

Muawiyah dan Haram al Syarif

Usai diangkat menjadi khalifah dan memerintah dari Damaskus, Muawiyah menggunakan koin dengan gambar Ilya Filistin atau Aelia Palestina yang menggambarkan pengagungannya terhadap Jerusalem. Muawiyah disukai masyarakat di luar Islam sebab melengkapi armada perangnya dengan orang-orang Nashrani dan seringkali meminjam riwayat Yahudi tentang kuil untuk menghormati mereka.

Muawiyah dianggap sebagai pencipta yang sesungguhnya dari Haram al Syarif atau dikenal sebagai Temple Mount ( Bukit Kuil). Haram al Syarif adalah suatu wilayah suci dimana di dalamnya terdapat bangunan masjid al Aqsa, Kubah Sakhrah (Dome of the Rock) dan Kubah Rantai (Dome of Chain ). Beliau meratakan batu Benteng Antonia lama, memperluas taman dan menambah satu ruang heksagonal dengan sisi terbuka Kubah Rantai, juga membangun masjid.

jerualem pict.jpg
Old Jerusalem

Abdul Malik bin Marwan

Abdul Malik bin Marwan jenis orang yang  tak suka pujian. Ketika seseorang memujinya ia akan menghardik dan mengatakan , “Jangan menyanjungku! Aku lebih tahu diriku dari dirimu!”

Abdul Malim menyatukan Syria dan Palestina, bercita-cita  menyatukan Islam tanpa perang saudara. Ia merancang pembangunan jalan utama antara Jerusalem dan Damaskus . Ia mengalokasikan harta setara dengan pegnhasilannya sebagai khalifah selama tujuh  tahun untuk menciptakan Dome of the Rock.

Dome of ther Rock . Sinta di depan wallpaper Dome of ther Rock, kementrian kesehatan Palestina 2009

 

Abdul Malik membangun tempat itu bagi semua kalanga.

Bukan sebuah masjid, namun tempat suci. Bentuk oktagonalnya menyerupai wisma Nashrani, kubahnya mengingatkan pada Makam Suci dan Hagia Sofia di Konstantinopel namun jalan melingkarnya dicancang berkeliling seperti thawaf di Kabah, Mekkah.

Batu itu adalah situs surga Adam, altar Ibrahim, tempat dimana Nabi Daud dan Nabi Sulaiman merancang Kuil, tempat Rasulullah Saw memijakkan kakinya saat Isra Miraj. Abdul Malik membangun kembali Kuil Yahudi untuk permurnian wahyu sejati, Islam.

Bangunan itu tak punya poros pusat namun memiliki  3 lapis.

Lapis pertama adalah tembok luar. Berikutnya arkade (gang beratap)  segi delapan dan kemudian tepat di bawah kubah : arkade yang mengelilingi kubah itu sendiri.

Kubah itu diibaratkan seperti surga , hubungan dengan Tuhan dalam arsitektur Islam yang kaya dan deskriptif. Kubah emas, pualam putih, dekoarsai mewah merupakan simbol sura Adn. Kekayaan gambarnya yang berupa pohon, buah, bunga, perhiasan, mahkota; bukan hanya gambaran yang menyenangkan bagi kalangan muslimin tapi juga nonmuslim. Tamsilnya menyatukan keindahan surgawi dan nun dahulu kala, kemegahan kerajaan Daud dan Sulaiman. Kubah emas dianggap sebagai lambang kejayaan Islam dimasa Abdul Malik, melampaui era Justinian dan Konstantin yang Agung. Kubah itu dirawat oleh 300 budak kulit hitam, 20 orang Yahudi dan 10 orang Nashrani.  Sekalipun Abdul Malik merombak Kuil ini, kaum Yahudi dan Nashrani tetap merasa kuil ini diperuntukkan bagi mereka. Dinasti Umayyh mengizinkan kuil suci itu menjadi tempat berdoa bagi dua agama langit lainnya :  Yahudi dan Nashrani.

Harun Al Rashid
Harun al Rasyid

Harun al Rasyid

Harun Al Rasyid adalah permata cemerlang dari dinasti Abbasiyah.

Dimasanya, ia menjalin kerjasama baik dengan Charlemagne, raja Frank yang menguasai Prancis, Italia dan Jerman saat ini. Sekalipun sangat      ingin menguasai Jerusalem, Charlemagne lebih memilih bekerja sama dengan Harun al Rasyid. Mereka bertukar duta selama bertahun-tahun. Charlemagne tentu saja belum mampu mengalahkan Harun al Rasyid karena kemajuan Islam dalam segala sektor saat itu tak tertandingi. Sebagai contoh, Harun al Rasyid memberikan hadiah seekor gajah dan jam air astrolabe kepada Raja Frank. Namun masyarakat Nashrani beranggapan astrolabe merupakan alat sihir iblis.

Tidak ada perjanjian antar keduanya secara formal namun properti kaum Nashrani didata dan dilindungi. Sebagai ganti, raja Frank membayar jizyah 850 dinar. Harun al Rasyid mengizinkan sang Raja menciptakan lingkungan Nashrani di sekitar makam Suci dengan sebuah tinggal untuk biarawati, perpustakaan dan penginapan untuk peziarah yang dapat menampung 150 pendeta dan 17 biarawati.

Pasca kematian Harun al Rasyid, putranya al Ma’mun meneruskan kebijaksaannya. Ma’mun mendirikan akademi sastra sains yang sangat terkenal : Baitul Hikmah. Dan ketika mengunjungi Jerusalem, ia membangun gerbang-gerbang baru di kuil untuk memperkuat seluruh areal Haram al Syarif.

 

Sumber :

Jerusalem the Biography, Simon Sebag Montefiore dan buku-buku lainnya

Kategori
Artikel/Opini da'wahku Dunia Islam Oase Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Ketika Issue Negatif terhadap Ulama Tidak Berpengaruh

 

 

Kampanye hitam dan issue negatif terhadap satu pihak sudah digunakan sejak lama untuk menjatuhkan martabat lawan, dan diharapkan dapat mendongkrak posisi penyerang. Sejarah mencatat bagaimana Rasulullah Saw dianggap sebagai penyihir dan pendusta tetapi semua terbantahkan sebab jejak hidup beliau memang tidak tercerminkan dalam berita bohong yang tersebar. Fitnah terhadap Aisyah ra dalam kisah terkenal haditsul ifki, dihembus demikian kuat, tetap tak dapat menghitamkan jejak ummahatul mukminin shalihat yang terkenal sangat cerdas serta sangat menjaga shaumnya. Muhammad Al Fatih pernah dianggap berambisi pada kekuasaan dan melakukan konspirasi ketika dua saudara laki-laki tiri Al Fatih, Ahmad bin Murad dan Alauddin Ali, meninggal terbunuh. Namun kampanye hitam itu terhapus. Sebab bagaimana mungkin orang dengan watak licik mampu mengorganisasikan pasukan bernyali sekaligus luhur budi? Ketaatan dan kedekatan Al Fatih pada ulama besar di masanya seperti Mollah Ghorani dan Aq Syamsuddin, semakin menghapus berita dusta. Mereka yang dekat dengan ulama, adalah mereka yang tahu batas antara kebenaran dan kebathilan.

syaikh-yusuf-qardhawi-dan-dr-hidayat-nur-wahid
Syaikh Yusuf Qardhawi & Dr. Hidayat Nur Wahid

Dalam surat al Maidah ayat 41 dikabarkan bahwa orang-orang Yahudi gemar sekali percaya pada berita bohong – hoax istilah zaman sekarang. Hoax dengan komponen yang membangkitkan bias negatif memang sangat digemari masyarakat, utamanya karena informasi ini benar-benar memainkan perasaan, keputusan, serta bagaimana proses informasi di jalur mental seseorang berjalan (Lang, Park, et al, 2007)

Apakah kampanye hitam terhadap pihak lawan bermanfaat untuk menjatuhkannya, memperkuat posisi penyerang dan memenangkan pertarungan? Apakah hoax dan bias berita negatif akan mengunci seluruh informasi dan benar-benar membuat orang hanya cenderung ke satu sisi?  Penelitian di lapangan akan memberikan jawaban.

 

Membangun Emosi Negatif

Emosi negatif terhadap kampanye hitam membuat kualitas dan kuantitas seseorang menurun dalam pertimbangan politik, pencarian informasi maupun penambahan pengetahuan politik.

yusuf-qaradhawi-biografi-web-2
Syaikh Yusuf Qardhawi, Dr. Hidayat Nur Wahid, ulama-ulama

Secara garis besar emosi manusia terdiri atas lima hal : marah, takut, jijik, bahagia dan sedih. Tiga emosi negatif yang pertama menjadi bahan penelitian ahli sosial yang mengaitkan dengan issue-issue di media, terutama media sosial. Emosi jijik tersisih, yang tersisa adalah emosi marah serta takut yang memberikan informasi penting. Ternyata respon fisiologis dan kognitif manusia amat sangat berbeda saat merespon takut dan marah.

Rasa takut terhadap issue negatif politik membuat orang terpacu mencari informasi dan belajar politik (Valentino et al, 2008) Tetapi tidak dengan rasa marah. Rasa marah akibat kampanye negatif membuat dampak yang berbeda dari rasa takut. Mereka yang terpicu amarahnya justru akan berbalik dari rasa takut; pada akhirnya enggan belajar politik sebab beranggapan politik adalah hal paling busuk dalam sejarah tatanan manusia. Pertimbangan-pertimbangan terhadap politik menajdi sarkastik, atau malah pragmatis.

Pendek kata, kampanye negatif yang membangkitkan rasa takut akan menjadikan orang lebih berperilaku positif,  dalam hal ini terkait information seeking dan recall. Namun kampanye negatif yang membangkitkan amarah akan menjadikan orang berperilaku negatif baik dalam information seeking maupun recall.

Informasi negatif lebih dapat membangun respon emosional, kognitif dan perilaku dari target sasaran dibanding informasi netral dan positif. Apakah para penyerang bermaksud demikian? Boleh jadi. Berita-berita yang menebarkan kemarahan akan cepat sekali mendapatkan respon masyarakat, dibanding berita yang menebar ketakutan. Masarakat diharap membuat respon cepat yang bedasarkan pertimbangan cognitive heuristic , tanpa sempat mencari informasi yang akurat dalam membangun kerangka berpikir yang menuju ke arah penyelesaian solutif. Ingatkah beberapa hari lalu beredar di media sosial tentang unggahan status seseorang yang ingin membeli al Quran dan kertas di dalamnya dipakai untuk membersihkan tinja? Atau unggahan pihak-pihak yang mengatakan sosok ini bukan ulama, sosok itu adalah penebar makar, dengan bahasa-bahasa yang menmbangkitkan kegusaran. Untungnya, masyarakat Indonesia semakin waspada sehingga melakukan information seeking terlebih dahulu sebelum bertindak.

Kali ini,  masyarakat pun dibuat marah dengan pemberitaan terkait ulama yang mendapatkan perlikau tak pantas di ruang persidangan. Padahal, dalam struktur kaum muslimin, ulama dihormati sedemikian dalam dan luas sebagaimana agama lain menghormati para pemimpin spiritualnya. Masyarakat seperti  artis, pejabat, penguasa terbiasa mendatangi ulama untuk beragam kepentingan. Rakyat kecil dan selebritis umumnya membutuhkan kehadiran ulama sebagai penyejuk hati dalam menghadapi seribu satu persoalan hidup. Pejabat dan penguasa mendatangi ulama untuk fatwanya, untuk dukungan kekuatannya,  untuk penggalangan suara dari ratusan ribu bahkan jutaan santri yang dimiliki para alim ulama.

Kita berhutang budi pada ulama

 

Dampak Kampanye Hitam Terhadap Ulama

Apakah tujuan kampanye hitam dengan menebar issue negatif?

Salah satunya adalah agar masyarakat memiliki ingatan lebih memorable ketika me-recall satu informasi yang pernah masuk dalam ingatan. Ingatan ini betul-betul tajam dan diharapkan dapat membantu di ruang-ruang pemilihan. Menjatuhkan seseorang akan membuat pihak penyerang mendapatkan posisi angin. Ingatan ini membuat masyarakat cenderung ke satu pihak, dengan kecenderungan yang sangat besar. Harapan ini tampaknya berbeda dengan penemuan di lapangan, bila memang kondisi yang terjadi benar-benar jujur tanpa rekayasa.

Kampanye hitam dengan issue negatif justru menurunkan rasa political efficacy, kepercayaan terhadap pemerintah dan secara keseluruhan merusak public mood  (R. Lau et all, 2007). Rakyat semakin resah dan tidak memiliki mood baik terhadap politik, enggan pula mencari informasi yang akurat, pada akhirnya lebih mempercayai berita hoax dibanding percaya pada kebenaran. Bila rakyat lebih percaya pada issue-issue negative –terlebih hoax-, dapat kita bayangkan. Negara adidaya seperti Amerika pun dibuat limbung sebab presidennya, pemerintahannya, rakyatnya saat ini lebih mempercayai issue negatif. Tidak selamanya berita hoax dan issue negatif  menguntungkan pihak penyerang sebab pada akhirnya baik informasi negatif yang menimbulkan rasa takut dan marah akan menghasilkan satu sikap : information seeking dan recall.

 

Ingatan terhadap Ulama

Recall adalah proses memanggil ulang yang sangat penting dalam proses kognitif. Dalam bersikap dan bertindak, manusia seringkali melakukan berlandaskan azas kognitif dengan memanggil ulang informasi yang pernah didapat. Bagaimana orangtua menghadapi anak-anak, dengan memanggil ulang ingatan masa lalu terhadap apa yang pernah dialami sendiri di masa kanak-kanak. Bagaimana menghadapi situasi, dengan memanggil ulang informasi yang membantu mengatasi situasi tersebut.

Recall atau memanggil ulang ingatan terhadap ulama, telah kita miliki bertahun-tahun bahkan puluhan tahun.

Apa skema dalam otak kita terkait ulama?

Mereka yang memiliki pesantren, mengurus anak-anak yatim hingga anak-anak yang paling dibuang masyarakat. Mereka yang memiliki ilmu agama mendalam dan luas, menempuh pendidikan di pusat-pusat studi Islam di seantero tanah Arab, Afrika dan keseluruhan Maghribi. Mereka yang menghabiskan hari-hari dengan mengorbankan seluruh hidup bagi agama. Mereka yang babat alas, mendirikan pesantren mulai dari nol hingga menjadi madrasah besar. Mereka yang bergerak dalam diam, ketika para politisi berorasi di atas mimbar dan pengusaha mempertontonkan kesuksesan. Mereka yang  saat hidupnya dicari untuk dimintai nasehat, mereka yang saat wafatnya ditangisi para pelayat.

Membuat issue negatif terhadap ulama di Indonesia, tidak akan membuat masyarakat me-recall informasi negatif terhadap sosok tersebut. Sebab selama puluhan tahun, informasi yang tertanam di benak adalah keluhuran dan kemuliaan mereka. Memang, ada ulama yang lebih mencintai dunia dan tidak berpihak pada masyarakat yang menderita, namun prosentasenya sangat sedikit. Ribuan alim ulama di negeri ini, mendampingi masyarakat di saat-saat sulit. Memberikan nasehat agar rakyat selalu bersabar dan bukankah nasehat ulama ini sangat bermanfaat bagi posisi penguasa?

Maka, kampanye hitam terhadap ulama, issue-issue negatif yang menyudutkan ulama, berita-berita bohong dan berita yang memicu kemarahan terkait ulama tidak akan mengubah proses recall masyarakat terhadap profesi mulia ini. Sungguh, ulama adalah asset bangsa yang luarbiasa, yang posisinya didapat bukan karena harta atau pangkat, tapi karena ilmu dan kemuliaan.

Bila Ali Sadikin yang spektakuler membangun Jakarta saja begitu menghormati Mohammad Natsir sang ulama, lalu apalah kita yang belum berbuat apa-apa; berani mencaci maki ulama?

 

Sinta Yudisia

Penulis dan Psikolog Klinis

Kategori
Cinta & Love da'wahku Dunia Islam Oase

Surat Cinta untuk Rohingya dari Anak-anak  SDIT Al Uswah, Surabaya

 

 

 

Hanum, 5C

Assalamualaikum

Dear rakyat Rohingya,

Hai, aku Hanum. Aku berasal dari Indonesia. Aku sangat senang sekali jika surat ini bisa tersampaikan pada kalian. Ingin sekali aku bisa bertemu kalian. Aku hanya ingin menyemangati kalian, tetaplah menjadi seorang muslim. Tetaplah bersatu untuk Islam. Jangan mau kita ditindas!tunbnjukkan bahwa kami muslim tidak lemah. Percayalah bawha Allah akan membantu hambaNya yangs abar berjuang untuk Islam. Kalian harus tetap semangat memperjuangkan hak kalian. Berdoakan kepada Allah pada masa lapang dan sempit. Mari kita bersatu untuk Islam, buatlah nama Islam harum. Aku akan datang mendukungmu rakyat Rohingya. Insyaallah jika kalian ingin berusaha, maka apa yang kalian inginkan akan tercapai. Amin.

rohingya-4

Khadijah, 4C

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamualaikum

Apakabar saudaraku? Senang kalau bisa berkenalan bagaimana keadaan disana? Mohon maaf ya kami tidak bisa membantu kalian. Aku sangat terharu dengan perjuangan kalian meskipun kalian diperkosa dan dibantai. Kalian tidak meninggalkan agama Allah. Insyaallah jika kalian meninggal terbunuh akan mati syahid. Sungguh kejam orang Myanmar yang beragama Budha mengapa mereka berbuat begitu? Padahal orang Islam tidak mengganggu agama Budha! Aku disini menitip salam untuk saudarakau di Rohingya, orang Islam. Semoga kami bisa menyusul ke surga Allah. Amin. Selamat berjuang.

rohingya-2

Neina Nur Rahmania, 4B

Assalamualaikum, warga Rohngya, namaku Neina.

Aku tinggal di Indonesia. Kotanya Surabaya. Aku dari SDIT Al Uswah. Aku kasihan sekali karena kalian diusir oleh negara kalian sendiri. Karena kalian ingin hidup, karena kalian rela hidup di kapal. Andaikan aku bisa membantu kalian, aku akan memberi  kalian rumah, makan, dll. Tapi aku tidak bisa membantu. Tapi aku bangga kepada kalian, karena kalian tetap berjuang memeluk Islam. Sebelum saya mengakhiri surat  ini saya akan meminta maaf sebesar-besarnya karena  tidak bisa membantu kalian. Semoga Allah menghapus dosa kalian dan memudahkan kalian hidup. Kalau ada yang terbunuh, aku tidak terima. Karena agama Islam tidak bersalah. Tetap semangat ya!

Wassalamualaikum.

 

Nadia Sabila Azka, 4C

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Perkenalkan nama saya Nabila Nadia Azka. Saya dari Surabaya Jawa Timur. Setelah guru saya menceritakan tentang keadaan kalian semua, saya merasa kasihan, takut dan lainnya. Saat guru saya menceritakannya, saya berpikir bagaimana jika saya sedang berada di Rohingya.  Setiap hari seperti disiksa. Tapi saya berasa kagum dengan kalian semua. Kalian tidak pantang menyerah dan sebagainya. Tapi saya disini masih suka menyerah dan masih butuh bantuan orang lain. Saya sangat kagum dengan kalian semua. Saya akui kalian hebat, kuat, pintar dan hebat. Kalian sudah dibom, ditembak dan sebagainya. Jika saya yang digitukan saya merasa sangat kesal dengan para pembonm dan penembak. Saya akan mendoakan kalian semua yang di Rohingya agar kalian semua bisa masuk surga. Dan semoga kalian selalu kuat dan sehat selalu. Dan semoga tempat tinggal kalian bisa kembali. Rohingya hebat.

 

Nisrina Huwaida Qurrota Aini, 5A

 

Assalamualaiakum sadaraku di Rohingya.

Perkenalkan namaku Nisrina Huwaida Qurrota Aini.

Saat ini aku sekolah di SDIT Al Uswah Surabaya dan duduk di kelas 5. Aku sangat sedih  melihat kalian semua diusir oleh negara Myanmar. Aku akan selalu mendoakan saudara Rohingya bsia bertahan hidup. Aku yakin manusia yang membela agama Islam selalu dilindungi oleh Allah. Kalian pasti bisa!!! Allahuakbar!

Allah pasti menempatkan suadaraku di Rohingya di surga tertinggi Allah, amin. Salam dari Nisrina. Aku sayang saudaraku Rohingya.

 

Anisa Titi Larasati, 4B

Dear Rohingya,

Assalamualaikum s audaraku di Rohingya.

Perkenalkan nama saya Anisa Titi Larasati dari Indonesia.

Kami sedih mendengar derita kalian disana. Saya ingin membantu kalian semua. Semoga kalian dilindungi oleh Alalh SWT. Semoga kalian juga mendapatkan banyak bantuan. Kami sangat kasihan kepada kalian semua. Karena kalian hidup berhari-hari tetapi tidak mendapatkan makanan dan minunman. Maafkan saya karena saya belum bisa memberikan donasi kepada kalian. Saya hanya bisa berdoa untuk kalian. Love you Rohingya.

 

Fasya Syaffanah, 5A

Assalamualaikum…

Perkenalkan nama saya Fasya Syaffanah.

Saya bersekolah di SDIT Al Uswah. Saya biasanya dipanggil Fasya. Saya berumur 11 tahun. Oh ya maafkan kita ya kita sebagai warga Indonesia cuma bisa bantu doain aja. Kita tidak bisa pergi ke neeara kalian. Semoga Allah selalu melindungi kalian. Aku turut berduka cita atas bencana yang sekarang kalian timpa. Katanya kalian diusir dari negara Myanmar karena kalian muslim. Yang mengusir kalian adalah orang Budha. Aku sebagai salah satu warga Indonesia mengucapkan minta maaf. Negara Myanmar telah mengusir Rohingya itu adalah hal yang sangat kejam. Semoga Allah selalu menjaga kalian, selalu melindungi kalian, selalu menolong kalian.

save-rohingya-insta-2-copy

Kategori
Fight for Palestina! Gaza Kami

Sognando Palestina

*Randa Ghazy

(Randa Ghazy adalah seorang penulis belia 13 tahun asal Mesir. Orangtuanya senantiasa berkata bahwa anak-anak Palestina adalah saudara-saudaranya)

Pesan anak Palestina pada sahabatnya :

Aku berpikir bahwa mungkin aku bisa menetap disini
Membaca sampai dunia berakhir
Tetapi dalam kenyataannya
Satu-satunya yang penting buatku adalah kalian
Dan, dirimu

anak palestina

Aku berpikir bahwa kau telah memberikan sebuah keluarga untukku
Kau, adalah keluargaku
Dan bahwa barangkali
Aku tak cukup lengkap mengutarakan padamu
Aku benar-benar menyayangimu

Suatu hari nanti
Bila kita tak akan bersama lagi
Aku tidak akan bisa berkata :
Terimakasih
Terimakasih atas segala yang kau lakukan padaku

Jika perang ditakdirkan usai
Jika kita ditakdirkan merebut kembali tanah ini
Jika kita sanggup melepaskan diri dari kekerasan
Aku senang sekali bisa berada di dekatmu dan berkata :
Kita telah berhasil!

Ketika kelak kau menjadi lelaki dewasa
Akan sangat sulit bagimu
Sangat sulit
Untuk membebaskan dirimu dan mengakui
Bahwa hatimu terbakar oleh perasaan yang begitu halus
Rasa yang melampaui kepedihan
Itulah Cinta

children of Gaza
Dibacakan dalam aksi solidaritas Palestina , Grahadi Surabaya, 11 Juli 2014

Kategori
Fight for Palestina! Gaza Kami

ORANG PALESTINA

*Harun Hashim Rasyid

(Harun Hashim Rasyid adalah penyair Palestina, lahir 1930 dan hidup di bawah penindasan Zionis Israel. Puisi-puisinya yang terkenal antara lain Kapal Kemarahan (Safinat al Gadhab), Orang-orang Asing (Al Ghuraba) dan masih banyak lagi. Salah satu yang terkenal adalah puisi berjudul Orang Palestina)

father n son in gaza

Orang Palestina aku
Orang Palestina namaku
Dengan tulisan terang
Di segala medan pertempuran
Telah kupahatkan namaku
Mengaburkan segala sebutan
Huruf-huruf namaku melekat padaku
Hidup bersamaku, menghidupi aku
Mengisi jiwaku dengan api
Dan berdenyut di urat-urat nadi

Orang Palestina aku
Itu namaku kutahu
Itu menyiksa dan menyusahkan aku
Mengejar dan melukai aku
Karena namaku Orang Palestina
Dan sesuka mereka,
Mereka telah membuat aku mengembara

Aku telah hidup sekian lama
Tanpa sifat tanpa rupa
Dan sesuka mereka
Mereka lontarkan padaku segala nama dan sebutan nista
Penjara-penjara dengan pintu-pintu lebar terbuka
Mengundang aku
Dan di segala pelabuhan udara di dunia
Diketahui nama dan sebutanku
Angin khianat membawa aku
Menghamburkan aku

Orang Palestina
Nama itu mengikuti aku, hidup bersamaku
Orang Palestina, itu tertakdir padaku
Melekat padaku, menggairahkan aku

Orang Palestina aku
Meskipun berkhianat mereka padaku dan pada tujuanku
Orang Palestina aku
Meskipun di pasaran mereka jual aku
Seberapa mereka suka, seharga ratusan juta
Orang Palestina aku
Meskipun di tiang gantungan mereka giring aku
Orang Palestina aku
Meskipun ke dinding mereka ikat aku

Orang Palestina aku
Orang Palestina aku
Meskipun ke api mereka lemparkan aku
Aku : apalah arti diriku?

Tanpa namaku, Orang Palestina
Tanpa tanah air dimana aku mengabdikan hidup
Dimana aku dilindungi dan melindunginya
Aku
Apalah arti diriku

Jawab, jawablah aku!

Perempuan Gaza di tepi Pantai
Perempuan Gaza bersama keledai di tepi pantai

Dibacakan pada Aksi Solidaritas Palestina, Grahadi Surabaya, 11 Juli 2014

Kategori
Catatan Perjalanan Fight for Palestina! Gaza Kami Jurnal Harian Quran Kami ~RINAI~ Sinta Yudisia

Jika Kau Pergi Ke Gaza, Palestina

Sekali saja, andai kesempatan itu datang, meminta kita datang ke Palestina, apa yang harus disiapkan?
Paspor visa, agar dapat berangkat dan pulang dengan selamat. Sejumlah uang yang dapat dikonversikan ke mata uang asing, tak mungkin di negeri orang tak bawa uang saku. Logistik, agar tak kelaparan sepanjang perjalanan maupun di tempat tujuan. Pakaian sesuai musim, mengingat Palestina dapat mengalami cuaca ekstrim sangat panas atau sangat dingin. Baterai, sebab listrik hanya dijatah 3-5 jam oleh Israel. Alat komunikasi, siapa tahu keadaan terjepit dan kritis, harus mengontak pihak otoritas. Ohya, kamera. Mengabadikan perjalanan tak lengkap tanpa kesan visual. Sediakan kantong-kantong sisa di ransel dan koper, agar dapat membeli souvenir di toko-toko handicraft yang tersebar di sepanjang jalan di Gaza City. Harganya relatif murah. Kecuali jika ingin membeli abaya, perlu menyiapkan sekitar 200 shekel per gaun.
Cukupkah?
Rasanya cukup.
Tambahkan tim penerjemah yang mampu berbahasa Arab, bila hanya paham ana dan antum.
Jika perjalanan itu bertujuan menikmati eksotika Khan Khalili, Kairo atau biru safir Mediterrania el Arish, daftar di atas cukup. Namun bila anda berkehendak memasuki Palestina, ada hal-hal lain yang harus disiapkan.

Bon-bon, Gaza

1. Believe in Allah
Ini saran dari Rehab Shubair, Ministry of Women Affairs. Keadaan di Palestina betul-betul tak dapat diprediksi. Tak ada siklus rutin pasti sebagaimana kita bangun Shubuh, sholat, menyiapkan sarapan, berangkat ke kantor dan mengantar anak sekolah, pulang sore dan bercengkrama kembali, melepas penat dan begitu seterusnya. Merencanakan akhir pekan, merencanakan beli sesuatu di awal bulan. Berniat melakukan sesuatu di tahun depan.
Terjebak jam malam. Terjebak sirene peringatan sehingga rumah dan sekolah harus bergegas mengawasi jendela agar anak-anak menjauhi kaca –sniper mengincar bahkan hanya sekedar gerakan melongok .
Mereka yang kau cintai, belum tentu dapat kau cium dan peluk kembali, malam nanti.
Seorang anak mungkin tewas dalam perjalanan pulang sekolah. Seorang ibu mungkin tertembak ketika sedang ke pasar atau bekerja mencari nafkah tambahan. Seorang ayah mungkin terkena rudal ketika tengah menunaikan kewajiban.

Kematian adalah hal biasa.
Syahid adalah cita-cita.
Tapi Palestina, juga Gaza, berisi manusia-manusia yang punya hati; menjerit bila sakit, menangis saat terluka, terisak jika kehilangan. Siapa diantara kita yang sanggup kehilangan sesuatu yang dicintai dengan cara mendadak dan cara paling menyedihkan? Tak ada.
Maka Ministry of Women, bekerja sama dengan semua lembaga pemerintah menggaungkan pesan-pesan propaganda, bahwa bila rakyat Palestina ingin bertahan, mereka harus percaya Allah. Believe in Allah bukan lips service, sekedar slogan dan teriakan.
Believe in Allah menggaung dari dinding-dinding rumah, dari program harian rumah tangga, dari kurikulum sekolah, dari target pemerintah. Pemerintah menetapkan bahwa summer camp adalah waktu wajib bagi para pelajar untuk libur sekolah, mengikuti supercamp untuk mengasah leadership dan life skill, dan program sepanjang kurang lebih tiga bulan ini terutama menempa para pelajar menghafal Quran.
Quran adalah salah satu bentuk believe in Allah, tak ada tawar menawar lagi.

kantor, gaza
2. Al Waqiah
Ini adalah saran dari Abeer Barakah, seorang ibu muda cantik berputra putri 4 orang, dosen UCAS. Kehidupan di Gaza boleh jadi sangat rumit, di blokade bertahun-tahun. Pasokan barang terpaksa melalui smuggling tunnel, mulai genset, mobil sampai hewan Qurban. Mulai shampoo sampai jepit rambut. Mulai tabung gas hingga obat-obatan. Masih belum cukup rupanya, smuggling tunnel seringkali terpantau satelit dan dibombardir hingga menewaskan para pekerja dan merugikan ribuan rakyat yang tergantung hidupnya dari pasar gelap.
2012, Gaza masih dapat bernafas lega ketika Rafah dibuka atas kebijakan presiden Mursi. Sekarang, Rafah kembali ditutup dan rakyat Gaza terengah-engah memenuhi kebutuhan hidup.

Bagi Abeer, Allah Maha Kaya dan tidak terpasung hanya oleh blokade, hantaman rudal, smuggling tunnel atau sirene jam malam.
Ia melazimkan bacaan al Waqiah setiap hari demi jaminan rizqi dariNya. Karena itu, sekalipun kondisi sulit dan kelaparan menimpa hampir setiap kepala penduduk Gaza, mereka selalu bahagia akan datangnya rizqi Allah yang tak disangka-sangka. Cairnya beasiswa, bantuan dari negara tetangga macam Yordania atau Qatar. Dan tentu, bantuan dari Indonesia adalah salah satu jawaban atas al Waqiah yang istiqomah dilakukan.
Abeer Barakah, bahkan masih merasa belum cukup membeli tiket ke surga dengan sekedar tinggal di tanah para Anbiya. Ia dan suaminya mendirikan yayasan, memelihara anak-anak yatim, berpegang pada salah satu hadits Rasulullah Saw yang artinya kurang lebih : Rasul dan penyantun para yatim bagaikan dua jari tak terpisahkan di surga.
Rindu padamu, Abeer. Miss you much, your family and all of Gaza people.
Dalam kehidupan yang sangat singkat ini mereka tak pernah lupa tempat kembali, tak pernah lupa bahwa tiket ke sana bukan semurah tiket masuk konser musik atau bioskop XXI.

gaza's people
3. An Anfaal dan At Taubah
Anda lelaki, seorang ayah atau pemuda?
Akan sangat malu bila belum menghafalkan 2 surat ini. Surat kebanggaan yang menjadi pelipur lara, penegak tulang belakang, pembusung dada bahwa kaum muslimin tak akan pernah terhina meski terpaksa mengais belah kasih, bergantung hidup sebesar 70% dari bantuan internasional.
Inilah surat yang menjadikan para pemuda boleh mendaftar sebagai prajurit Hamas.
Sekedar jago beladiri, tubuh tegap dan wajah sangar tak cukup. Sebab prajurit Palestina bukan berperang menggunakan drone atau melaju di atas pesawat-pesawat tempur, berlindung di balik tank-tank baja. Para pemuda harus siap menjadi prajurit kapanpun tugas negara memanggil. Mereka harus bergilir menjaga perbatasan, sewaktu-waktu terjebak perang yang pecah tiba-tiba, terkena peluru nyasar atau pecahan bom. Kekuatan mental dan ruhiyah menjadi syarat utama agar sanggup mengatasi rasa sakit fisik dan psikis.
Maka, jangan hanya terbakar emosi sesaat dan berniat mendaftar sebagai relawan perang di Palestina. Gaza tak pernah meminta bantuan pasukan perdamaian. Gaza tak pernah menghiba memohon gencatan senjata dengan Israel. Mereka merasa cukup dengan sumber daya manusia yang mereka miliki, yang tidak dimiliki negara manapun di dunia ini termasuk Indonesia. Prajurit penghafal Quran.
Yang Gaza harapkan adalah kepedulian warga muslim dunia, agar senantiasa mendoakan dan menyisihkan dana bagi operasional negara mungil yang bahkan tak boleh mencari ikan di perairan lautnya sendiri.

ministry of women affairs
4. Sabar
Sabar adalah syarat mutlak bagi seseorang yang berniat memasuki Gaza, Palestina.
Apalagi yang dibutuhkan bagi seseorang yang menunggu tanpa kepastian?
Pemeriksaan check point, tertolak di gerbang Rafah, perjalanan melelahkan via jalur darat, belum lagi diusir oleh tentara Mesir dari perbatasan. Tak ada bekal yang lebih baik kecuali sabar : baik dapat menerobos masuk ataupun tertolak. Beberapa relawan mengisahkan bahkan terpaksa gigit jari setelah tinggal berminggu-minggu di El Arish tak dapat menembus Rafah.
Bila berhasil memasuki Gaza, Palestina, bersabarlah. Belum tentu dapat pulang sesuai waktu yang dijanjikan sebab gerbang Rafah bukan terbuka-tertutup sesuai jam kerja. Inilah satu-satunya gerbang antar negara paling ajaib di dunia : tak ada jadwal tetap, tak ada hukum pasti, tak ada prosedur yang dapat dipelajari, tak ada orang dalam yang dapat ditembus. Hanya dapat dibuka sesuai kesepakatan dengan Israel dan Mesir yang saat ini tak berpihak pada tetangga muslimnya sendiri.
Tinggal di Gaza berarti harus bersiap-siap kekurangan air dan listrik, juga harus waspada terhadap kemungkinan tembakan-tembakan Israel yang lepas tanpa perjanjian.

5. Waspada
Tak perlu khawatir akan keamanan yang berasal dari warga Gaza. Insyaallah aman tidur malam meski tanpa mengunci pintu. Insyaallah tak ada pencopet sebab warga Gaza memiliki izzah. Jangankan mencopet, mengemis saja mereka enggan.
Yang harus diwaspadai adalah, demikian tipisnya jarak antara hidup dan mati.
Siapa sangka, sesaat ketika mengajar, terdengar dentuman dan di waktu yang sama kita telah terlempar ke dimensi yang lain : alam barzakh?
Bukan berarti warga Gaza membabi buta menuju kematian dan tak lagi peduli pada perjuangan hidup. Mereka tetap bekerja, menuntut ilmu, bahkan hingga strata tiga. Mereka giat mencari beasiswa ke negeri jauh untuk diaplikasikan kembali ke Palestina. Mereka berlatih survival, bagaimana menyelamatkan diri dari bahaya pecahan peluru. Hingga anak-anak, tahu bagaimana menghadapi tentara Israel meski hanya berbekal sebentuk batu.
Saya mungkin seperti anda dan jutaan manusia yang lain, menyangka bahwa kematian hanya akan menjemput nanti ketika usia menginjak angka 60 tahun ke atas. Kehidupan saat ini masih sangat layak dinikmati. Rancangan mingguan, bulanan bahkan tahunan ke depan menggambarkan kebutuhan-kebutuhan manusia dalam dimensi duniawi. Sangat sedikit mengingat kematian kecuali saat takziyah dan melewati areal pemakaman.

Di Gaza, Palestina, hidup terasa demikian aneh dan asing, namun juga menentramkan.
Udara pagi demikian segar, pasokan oksigen yang disiapkan tumbuhan zaitun dan tiin. Salam bertebaran, dengung Quran tiada henti. Wajah-wajah ramah teduh. Riuh rendah suara anak-anak sekolah, percakapan warga yang sama seperti warga lainnya dari belahan manapun di dunia ini. Hanya saja, warga negara ini tak gentar menghadapi kematian. Kepahitan tentulah ada, tapi mereka tak pernah takut hingga berniat meninggalkan Darul Ma’ad.
Mereka selalu waspada dengan kematian yang begitu dekat berteman dengan kehidupan.
Amat sangat waspada.
Hingga setiap langkah. Setiap jejak. Setiap nafas. Ditujukan bagi persiapan menuju keabadian.

Sekali lagi, Palestina dihantam kesulitan.
Para penjaga al Aqso, pengawal tanah kenabian, terbiasa menghadapi kelaparan dengan berpuasa dan berbuka hanya dengan segelas airputih. Mereka sanggup menghadapi persenjataan canggih dengan lemparan batu dan merakit roket-roket sederhana.
Tapi, apakah kita, hanya berdiam diri?
Atas nama kemanusiaan dan surga yang diimpikan, atas nama Allah Yang Maha Menyaksikan. Setiap keping rupiah dari kita adalah pertemuan dahsyat doa-doa mereka dengan cinta kaum muslimin. Setiap kepedulian kita adalah jalinan kuat dengan impian warga Gaza : ya Allah, jadikan saudara-saudara kami di Indonesia dapat menunaikan sholat di Al Aqso, kiblat pertama kaum muslimin.

Salurkan dana pada lembaga yang anda pilih.
Atau bersama Forum Lingkar Pena, FLP.
Organisasi Kepenulisan Muslim yang insyaallah terbesar di dunia, aktif dan konsisten menyebarkan nilai-nilai Islami yang Universal.
BSM (Bank Syariah Mandiri) cabang Dewi Sartika, Jakarta, no rekening 7033 101858, an Forum Lingkar Pena. Harap konfirmasi kepada Nurbaiti Hikaru 0815 72014615. Tweet ke @flpoke dan amati daftar donasi melalui website www://flp.or.id
Dana insyaallah sampai langsung kepada warga Gaza Palestina, melalui mitra FLP : BSMI dan KNRP insyaAllah

Kategori
Dunia Islam

Kau Harus Hidup! You Have to Live! (a poem for Egypt)

Puisi yg kubacakan saat orasi #SaveEgypt di DPRD Surabaya, Jumat 16 Agustus 2013

Puisi yg kubacakan saat orasi #SaveEgypt di DPRD Surabaya
Puisi yg kubacakan saat orasi #SaveEgypt di DPRD Surabaya

Kau harus hidup!
Ibu mendoakanku
Bukan karena aku tua, dan kau anakku tercinta

Kau harus hidup!
Ayahku berkata
Bukan karena aku tua, dan karena engkau adalah mataku

Kau harus hidup!
Abangku berkata, melindungi tubuhku agar selamat
Bukan hanya karena kita sedarah dan kau adikku

Kau harus hidup!
Bukan karena aku istrimu
Sekalipun, aku demikian mencintaimu

Aku harus hidup!
Kukatakan pada diriku berulangkali
Kulihat ayahku tewas
Ibuku tewas
Abangku tewas
Juga istriku tewas

Seluruh kesaksianku berada dalam kameraku

Aku harus hidup!
Bukan hanya karena aku putra kesayangan ibu
Tapi aku putra dari negeri ini

Aku harus hidup!
Bukan karena aku mata ayahku
Tapi aku adalah mata dunia

Aku harus hidup!
Bukan karena aku suadara dari abangku
Tetapi aku adalah saudara bagi kemanusiaan

Aku harus hidup!
Bukan karena cinta istriku
Tetapi karena aku menikahi kejujuran, lebih dari menikahi dirinya

Aku harus hidup!
Sebesar keinginanku untuk mati saat ini, berada bersama orang-orang yang kucintai
Sebesar rasa sakit yang membunuhku

Tapi aku harus hidup
Untuk menceritakan pada dunia
Kebiadaban, kenistaan ini

Kupersembahkan:
Pada rakyat, jurnalis, seluruh kru berita
Yang telah memeluk dahsyat kematian
Meninggalkan orang-orang yang dicintai
Merasakan keperihan fisik dan emosional yang demikian dalam
Untuk tetap menceritakan pada dunia apa yang terjadi
You’re not alone, Egypt!

Puisi Karya Ganjar Widhiyoga, mahasiswa program doktoral Hubungan Internasional di New Castle, Inggris
(didedikasikan utk rekan2 wartawan, jurnalis, kamerawan & semua yg gugur dlm tragedi kemanusiaan)

Foto2 dapat dilihat di

IMG_3945.jpg

“You have to live,”
She prayed for me.
“Not because I am old,
and you are my beloved son.”

“You have to live,”
He said to me.
“Not because I am blind,
and you are my eyes.”

“You have to live,”
He pushed me into safety.
“Not because you are my blood
and my brother.”

“You have to live,”
She shielded me.
“Not because you are my love,
eventhough I love you enough.”

I have to live!
I told to myself repeatedly.
When I saw my father died,
when I saw my mother died,
when I saw my brother died,
when I saw my beloved wife died…

All I witnessed behind my camera.

I have to live!
My mother had prayed for me.
Not because I am her son,
but because I am
the son of this land.

I have to live!
My father had said that to me.
Not because I am his eyes,
but because I am
the world’s eyes.

I have to live!
My brother had guarded me.
Not because I am his brother,
but because I am
the brother of humanity.

I have to live!
My wife had sacrificed herself for me.
Not because she loved me,
But because I am married to truth
Even before I met her.

I have to live,
I whispered to myself.
As much as I want to die
and be with those that I love…
As much as this pain
is killing me…

But I have to live…
Just to tell the world
about this massacre.

A tribute to:
All citizens, journalists and news crews
who have embraced the danger of death,
left their loved ones,
and are feeling terrible physical and emotional pains
to open the world’s eyes.
You have to live!

Kategori
Dunia Islam Oase

Kepada Presiden Mursi

Salam sejahtera untukmu, Mr. Presiden, beserta segenap keluarga dan orang-orang yang tetap berusaha menapaki jalanNya dalam kebaikan. Shalawat untuk Nabiku tercinta, teladan dalam amanah dakwah yang panjang berliku, dengan tangga tertinggi surga. Shalawat pula untuk keluarga Nabi yang sederhana, para tabiin, salafus shalih, dan orang-orang yang senantiasa percaya pada janji Allah.
Imam President Mohammed Mursi

Apa kabarmu, Tuan? Selama 10 hari terakhir Ramadhan hidupku disibukkan oleh semangat ibadah, itikaf, tilawah Quran, berinfaq shadaqah dan ah, tentu saja. Riuh rendah suasana lebaran yang menjadi budaya bangsa Indonesia : silaturrahim, sungkem dan mencium ayah ibu, menengok kerabat dekat, bercanda dengan keponakan dan handai tolan. Sebagai bagian dari rakyat Indonesia berjumlah 280 juta, kami juga disibukkan oleh harga daging sapi yang melonjak hingga 120ribu/kg, cabai, tiket angkutan dan padat merayap jalanan saat mudik – balik.
Dan, bertemu bersama keluarga, kembali diskusi-diskusi meriah merebak. Mulai perkembangan anak-anak, pencapaian karir, hingga kondisi negara.

Presiden Mursi,
Sungguh, tak layak. Kata orang, tak baik mengungkap keburukan keluarga sendiri, membuka aibnya pada orang luar. Aku tak ingin membuka aib keluargaku, bangsaku, pada orang lain. Tapi bagiku, kau bukan “orang lain”, Mr. President.
Di negaraku, sejak lama aku merasa menjadi anak angkat, anak tiri, atau tak punya siapa-siapa sebagai tempat mengadu. Sejak kecil, remaja, mulai menikah hingga dewasa; permasalahan yang dihadapi bangsaku serasa tak melangkah maju : ekonomi sulit, kriminalitas, sensitivitas antar suku, kesenjangan antara borjuis proletar. Waktu kecil, tiap kali lebaran aku harus berdesakan bersama sekian ribu pengantri kereta api untuk mudik; sekarang memang lebih baik. Tetapi jalanan dipenuhi kendaraan pribadi sementara kendaraan umum masih jauh dari memadai; baik kenyamanan maupun keamanan. Maka uang lebaran kami habis oleh harga-harga membumbung.
Andai saja, bukan karena takut kepada Allah SWT dan keinginan untuk berbakti pada orangtua, sungkem pada mereka, dan keinginan menyambung silaturrahim ; rasanya enggan menjadi bagian dari keruwetan lebaran.

Presiden Mursi,
Sepanjang melaju dari Jawa Timur hingga Jawa Tengah, betapa makmurnya negeri kami Indonesia. Kanan kiri dipenuhi sawah, hutan jati, kebun tebu, tembakau. Sungai-sungai mengalir. Di alas Mantingan, masyarakat menjual ikan-ikan yang didapat dari kolam air. Alas Roban tak seseram dulu, jalur perbukitan dibelah. Kanan kiri dipenuhi penjaja kelapa hijau, dan rest area yang menyediakan makanan hangat. Sepanjang Ramadhan dan lebaran, sungguh kami tak kekurangan makan. Apapun bisa didapat di Indonesia. Daging sapi, ayam, beras, buah-buahan. Makanan tradisional hingga franchise Amerika, dapat dipilih mudah. Asalkan punya uang.

Presiden Mursi,
Indonesia demikian makmur. Pepatah berkata, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja. Ibaratnya, melempar kayu, pohonpun tumbuh. Bukan sekedar kolam air, tetapi danau susu.
Maka, aku sangat terbiasa hidup enak. Apa-apa ada.
Sulit rasanya hidup susah. Antri sedikit, malas. Jalan ke tong sampah, malas. Jatuh bangun berdagang , malas. Berpikir 20 tahun Indonesia ke depan, malas. Rasanya, negeri surgawi ini terlalu kaya, sehingga 7 turunan cukup menghidupi anak-cucu-cicit. Mungkin itulah dapat dimaklumi kenapa orang-orang di negeri ini ingin jalan pintas, serba cepat, potong kompas. Maka jangan heran, di negeri kami mulai artis hingga pejabat, terbiasa mencapai karir dengan cara kilat; tak peduli seperti apa kualitas karirnya.
Aku sendiri, pada awalnya adalah anak muda dengan idealism tinggi.
Ingin mengubah negeri ini, menjadi lebih baik. Langkah-langkah bertahap mulai perbaikan individu, keluarga, masyarakat, lalu negara dan semesta.

Nasehat al Banna dan Syaikh Ahmad ar Rasyid

Presiden Mursi,
Kadang aku kecewa dengan diriku. Dalam tahapan ini, nasehat syaikh Ahmad ar Rasyid, sang dai muharrik sungguh menyentak, menikam. Aku merasa diriku demikian baik, dan akan sanggup memikul segalanya sendiri. Tetapi syaikh ar Rasyid menasehati,
“…akan selalu dibutuhkan dai-dai, pejuang muda. Sebab para pejuang tua, telah kelelahan disebabkan oleh perkara-perkara manusiawi.”

Ya. Manusiawi. Atau duniawi?
Betapa saat muda kami selalu berdiskusi tentang bagaimana mengubah negeri ini. Angkutan negeri, pasar-pasar, sekolah, system perkonomian, pemilihan kepala daerah, kepala pemerintahan. Hal-hal kecil kami bahas, bahkan bagaimana menyalurkan bantuan jilbab dan bahan makanan ke pelosok banjir.
Perkara-perkara manusiawi lambat laun memperlambat laju kami. Ekonomi yang belum mapan, karir yang belum beranjak, biaya hidup yang melonjak, juga permasalahan keluarga. Maka langkah lelah kami menjadi terseok oleh perkara-perkara yang dulu jauh diluar jangkauan pikiran kami. Keinginan membeli rumah, membeli mobil, membeli baju baru, investasi, dan beragam kepentingan ekonomi yang campur baur antara keinginan dan kebutuhan. Kami, masih menyandang predikat dai. Masih berkinginan menapakai jalan kebaikan. Tapi ah, mengapa sangat sulit kini untuk ikut merasakan keletihan dan perjuangan yang biasa dilalui para Nabi dan Rasul?

Lalu, muncullah engkau, Mr. President.
Maka teringatlah kami oleh nasehat Hasan al Banna yang intinya, seorang manusia tak boleh putus asa oleh dirinya sendiri, meski telah melakukan kesalahan, bahkan mungkin maksiat dan dosa. Seorang dai tak boleh berhenti, meski mungkin ia pernah tersangkut, tersandung, tercebur, ternodai oleh “persoalan, kesibukan, kelemahan manusiawinya.”
Aku teringat tulisan Abbas Assisi, penulis Bersama Kafilah Ikhwan.
Dalam kalimat pengantarnya yang demikian mencengangkan, sungguh tergedor hati kami.
“Bahwa setiap manusia, setiap bagian dari bumi, adalah asset-asset Islam yang harus dipelihara.”
Bukan dihancurkan. Dirobohkan. Diruntuhkan. Diratakan tanah. Ditinggalkan. Diasingkan. Tetapi dipelihara. Dibangun. Dikelola. Dimanfaatkan. Dilindungi. Bagi setiap ummat manusia di dunia, tak peduli apa ras dan agamanya, apa status dan kedudukannya.

Presiden Mursi, dimanapun kau berada,
dalam benteng, tembok atau pembaringan.
Dirimu, hadir bagai pasokan stamina yang mengusap kelelahan kami. Bagai gambaran janji yang sempat kami ingkari. Bagai seteguk air di oase kering perjalanan kehidupan. Saat kami kelelahan dalam jalan dakwah. Atas sedikitnya pengikut, atas kurangnya fasilitas, atas kesulitan-kesulitan yang menghadang.
Maka kau dan Ikhwanul Muslimin memberikan pelajaran berharga bagi jalan dakwah, jalan kebaikan di Indonesia.

Mesir dengan Gurun Sinai yang keemasan panas membara, aroma padang pasir dengan uap mematangkan paru-paru, mendidihkan pembuluh darah. Maka kami di Indonesia, berada di dua musim tak ekstrim, dikelilingi hutan, sungai dan suasana curah hujan yang basah. Mesir, dengan militer berkokang senjata, lautan darah, terbantainya putra putri terbaik negeri; Ikhwanul Muslimin tetap menganggap setiap anak negeri Mesir adalah saudara kandung. Maka kami di Indonesia, tak boleh beranggapan mereka yang berbeda partai, organisasi massa, berbeda suku sebagai orang yang bukan saudara lagi.
Mesir, dengan kemenangan Ikhwanul Muslimin lebih dari 50%, dengan terpilihnya presiden penghafal Quran seperti dirimu; ternyata masih menempuh jalan panjang dakwah, jalan liku kemenangan. Perihnya kesabaran. Maka kami disini, yang baru mampu memperlihatkan sedikit wangi aroma dakwah; tak boleh gegabah, congkak dan merasa dakwah telah sampai pada puncak tertinggi.

Mr.President Mursi, wherever you are,
Singkat nian perkenalan ini. Belum lama kami demikian bahagia akan hadirnya dirimu. Sosok ramah, wajah teduh, suara tenang dan aura penuh kharisma. Kami rindu hadirmu, seperti kedatanganmu di Indonesia saat gempa Aceh melanda. Alangkah indah bila dirimu dapat hadir ke Indonesia, berjabat tangan dengan presiden negeri kami sembari memberikan wejangan-wejangan berharga tentang bagaimana seorang pemimpin harus welas asih kepada rakyat negerinya. Alangkah indah bila dirimu dapat hadir ke Indonesia, memberikan semangat kemandirian, bahwa menjadi bangsa yang besar dan bermartabat tak harus tunduk pada negara superpower namun justru harus mampu menentukan arah sikap bangsa, sesuai karakter kepribadian yang dimiliki.

Presiden Mursi,
Sempat terdengar issue kau telah wafat. Anehnya, bahkan hanya sekedar issue, hati kami telah tercabik. Apalah lagi bila suatu saat kau benar-benar menghadapNya. Hingga saat ini bangsa kami, Indonesia, juga presiden kami belum menentukan pendapat terhadap Mesir dan dirimu. Kami masih menunggu. Masih mengamati. Masih menimbang. Melihat kanan kiri. Mencari sekutu.
Tetapi Mr.President, tidak semua warga masyarakat Indonesia tidak peduli padamu, pada Mesir dan Ikhwanul Muslimin. Ada di antara kami yang tetap mengingatmu dalam doa-doa, mengumpulkan tanda tangan untuk petisi, menuliskan berita-berita terkini tentang Mesir lewat media sosial. Meski bibir para pejabat negara tak menyebut namamu dalam rapat-rapat cabinet, percayalah, ribuan , ratusan ribu atau bahkan jutaan masyarakat Indonesia mengingat Mrusi dan Mesir dalam benak serta doa.

Presiden Mursi,
Untuk sementara Indonesia tak dapat membantu apa-apa.
Meski demikian kami ingin sekali mengucap terima kasih atas segenap upayamu. Menjadi dirimu sangat tak mudah. Menjadi presiden Mesir, tentu taruhannya lebih dari sekedar harta dan jabatan. Harta benda, keluarga, bahkan dirimu telah kau serahkan bagi kejayaan ummat. Kau menjadi bunga dakwah, dengan segala keperihan, sakit dan pedih yang tak dapat dipikul oleh sembarang manusia.

Presiden Mursi, meski kami tak dapat menyumbangkan apa-apa, meski tak tahu diri kami meminta.
Bertahanlah. Bersabarlah. Lipat gandakan kesabaran.
Bagi kami, dirimu lebih dari sekedar Presiden.
Kau bunga dakwah kami. Kau titik terang Venus di hamparan malam yang hanya memendarkan cahaya bintang redup. Kau panglima dan pewaris Nabi. Kau peletik api semangat para dai. Kau dan segenap perjuangan Ikhwanul Muslimin adalah cermin perjalanan panjang dakwah kebajikan. Bahwa dirimu dan sepak terjangmu, bukanlah gambaran Firaun dalam campuran monarki, otoritarian, absolutism. Bahwa yang kau tawarkan, adalah kembalinya kejayaan ummat bila mengacu pada Quran Sunnah yang telah lama ditinggalkan di belakang. Tetapi rupanya, bukan hanya musuh-musuhmu yang tak percaya. Bahkan kaum muslimin, sebagian meragukan visi misi dakwahmu.

Muhammad Mursi, Presiden Mesir, Presiden di hati kaum muslimin.
Kami tak dapat mengirimkan pesawat tempur dengan skuadron terbaik, atau kapal induk perang, atau pasukan perdamaian untuk mendukung dirimu. Mencari tahu keberadaan dirimu. Kelak, suatu saat bila kemenangan kembali datang kepadamu, maafkanlah aku. Maafkan bangsa kami, rakyat Indonesia.
Jika tak ada sesuatupun yang dapat kami berikan kepadamu sebagai pertolongan. Maka usai dzikrullah, shalawat Nabi, dan doa bagi kaum muslimin. Kami serahkan urusan dirimu, Ikhwanul Muslimin dan rakyat Mesir pada pemilik 99 Nama.

Pada Allah yang Aziiz, Jabbar. Sang Maha Perkasa, Maha Gagah.
Pada Allah yang Qowiyy, Matiin. Sang Maha Kuat, Maha Kokoh.

Dan jika ternyata kau telah syahid, bersama barisan para syuhada yang memperjuangkan kalimatullah, tengoklah padaku yang berlari kelelahan mencari wajah Nabiku. Sebut namaku. Satu di antara puluhan juta orang yang mencintai, mendoakanmu.

Sinta Yudisia
15 Agustus 2013/ 8 Syawal 1434H

Kategori
Dunia Islam

Saya, Mursi dan Ikhwanul Muslimin

Apa yang membuat kita bisa demikian peduli pada Mesir, pada Muhammad Mursi padahal sama sekali tak ada “hubungan dekat” antara kita dan mereka?

Saya mengenal nama Ikhwanul Muslimin sekitar tahun 1990an. Waktu remaja saat itu, kehidupan pribadi dan keluarga tengah dilanda kemelut hebat. Saat penuh ujicoba, manusia biasanya lebih dekat kepada Tuhan. Ketika itu, pengajian tasawwuf menjadi pilihan. Saya bisa menghabiskanw aktu berjam-jam di jamaah tasawwuf, berdzikir dengan mata terpejam dan airmata berlinangan hingga tersedu-sedu. Bahan bacaan saya saat itu sangat beragam. Mulai kita tasawwuf , kitab klenik sampai sebuah buku yang saya lupa judulnya dan berapa halaman. Tapi tokohnya saya sangat-sangat ingat : Zainab Al Ghazali. Entah mengapa, sosoknya yang terdzalimi seketika menggantikan idola saya yang saat itu masih berputar-putar di Tommy Page dan Richard Marx ( A Shoulder to Cry On ; Right Here Waiting).

Tommy Page yang keren dan cool, Marx yang romantic man kok rasanya jadi kalah jauh pamor dengan Zainab Al Ghazali. Diam-diam, saya jadi mencari tahu, siapa sih Zainab Al Ghazali. Dan hingga saat ini, ia salah satu tokoh perempuan idola saya. Meski, antara saya dan Zainab al Ghazali tak terjalin hubungan darah, ia tak kenal saya, ia pun mana sempat memberikan bantuan ke saya. Kenapa saya mencintainya ya?

Ikhwanul Muslimin
Saya tak membahas masalah sejarahnya. Itu sudah diketahui banyak orang. Saya juga tak ingin membelanya mati-matian, emosional, apalagi sampai sekedar asal cuap. Pada awalnya, saya beranggapan dakwah politik hanya sekedar kamuflase. Di tasawwuf dulu, bukankah manusia terbaik adalah yang hatinya senantiasa ingat Allah, senantiasa berdzikir dan dimanapun ridho padaNya? Yang terbaik, apakah bukan mereka yang senantiasa melazimkan dzikir kemana-mana. Saat itu saya merasa menjadi manusia terbaik, sebab saya bisa dzikir sepanjang hari, baik hati maupun lisan. Bila diingat, tentu tak salah. Tapi pengajian tasawwuf saat itu membuat saya salah langkah (bukan tasawwuf itu yang salah).
Nilai saya jeblok. Ah, itu kan memang kehendak Allah.
Saya nggak punya uang. Ah, memang itu maunya Allah.
Saya nggak bisa membantu orang. Ah, nanti Allah yang akan bantu dia. Sungguh, keterdiaman saya membuat merasa menjadi orang terbaik di dunia ini. Apalagi saya sanggup dzikir sepanjang hari sembari beraktivitas. Seiirnig waktu, saat benturan hidup tak tertahankan. Seorang saudara terjebak narkoba. Seorang saudara jobless, hingga terpaksa menjadi preman. Pergaulan bebas, sehingga beberapa sahabat dekat hamil di luar nikah. Tetap saat itu saya berpikir, “ ini kan kehendak Allah? Orang berdosa, orang beribadah adalah kehendak Allah. Kita hanya berdzikir.”

Tetapi, ratapan seorang ibu janda yang berurai airmata di depan saya karena putranya bolak balik di penjara karena kasus narkoba, bolak balik jadi penjahat karena nggak punya kerja menohok. “Aku sudah berdoa, aku sudah bekerja, aku sudah berupaya…tapi apa bukan salah pemerintah sehingga narkoba tersedia dimana-mana? Apa bukan salah pemerintah kalau anakku nggak bisa dapat kerja?” Saat itu hatiku tertohok mendengarnya. Ah, dzikir. Dzikir saja, bu. InsyaAllah ini kehendak Allah.

Lama-alam aku berpikir, apa aku bukan orang apatis ya? Apa aku bukan orang yang malas berusaha, belajar , cari uang dan selalu mengandalkan : ah ini kehendak Allah. Apa aku bukan jenis orang yang kejam ya, karena tiap kali orang minta bantuan aku bilang : belum rezeki anda ya, aku nggak ada dana (karena aku nggak mau kerja, nggak mau belajar/kuliah, sibuk dzikir seharian)…padahal jujur, aku anak pintar intelgensi dan pintar bekerja. Aku bisa bekerja keras untuk punya uang banyak, dan bisa untuk membantu orang lain.

Lalu, aku mulai mengenal buku-buku pergerakan. Apa itu Ikhwanul Muslimin? Konsepnya yang syumuliyah membuat jiwa remajaku yang bertanya sekian banyak hal seolah mendapatkan sinyal : narkoba, pemerintah, kemiskinan, kehendak Tuhan, kehendak manusia dll. Perlahan aku mulai bertanya-tanya : siapa Ikhwanul Muslimin ini? Maka, bertahun kemudian aku menajdi pengagum gerakan ini.

Ya. Berkecimpung dalam politik memang kotor. Tapi apakah kita rela seluruh jajaran petinggi, pejabat negara, pemegang keputusan adalah orang-orang bejat? Bukankah seharusnya dijabat orang-orang baik?

Tapi politik itu kotor. Ya. Lalu menunggu sampai mereka mau memberikannya pada kita? Secara logika mana mungkin seorang mafia menyerahkan bisnis kartelnya pada polisi jujur. Maka, terkagum-kagum pada kiprah Ikhwanul Muslimin yang memulainya dari dakwah sosial, pendidikan, dan merambah ranah politik dengan cara-cara elegan.

Pemerintahan yang notabene adalah kumpulan perusahaan, kumpulan asset, kumpulan sumber daya, kumpulan kepentingan; siapa yang harus mengendalikannya? Tentu orang-orang yang amanah. Dan, hingga saat ini masih terkagum-kagum dengan sepak terjang Ikhwanul Muslimin yang berisi beragam manusia : yang intelek hingga buruh, pengusaha hingga pelajar, anak-anak hingga orangtua. Semuanya bergerak dengan orbit yang sama : membangun dunia yang lebih baik. Dan…siapa sih yang tidak terpana melihat orang-orang cerdas, sukses dalam karir, sukses dalam rumah tangga….penghafal Quran dan dai pula? Ups, runtuh sudah skema dalam pola pikir kita bahwa kesuksesan itu identik dengan kebrutalan, main sikat, main tindas, main rampas. Kemenangan bisa diraih dengan cara sportif, fair, transparan.

Everything is fair in love an war tampaknya tak berlaku bagi Ikhwanul Muslimin. Meski tercambuk berdarah-darah, Ikhwanul Muslimin mampu memenangkan kompetisi tanpa kecurangan apalagi kekerasan. Masih ingan kan konsep Swadeshi nya Mahathma Gandhi? Dengan anggun dan elegan, Ikhwanul Muslimin memenangkan hati rakyat.
“Aku memenangkan hati manusia dengan bersikap mulia, “ demikian kurang lebih saran Shalahuddin al Ayyubi.

Mursi
Lelaki ini sebelumnya tak kukenal. Apalagi ia yang mengenalku. Apa sih kontribusi Mursi dalam hidupku? Tak pernah beli bukuku, memberi sumbangan royalty, apalagi memberikan jasa-jasa yang lain.

Saya dan suami, sering bertemu orang aneh. Kami sepakat, hati tidak bisa ditipu. Bertemu tukang becak, supir taksi, satpam ; ah, kenapa jatuh cinta ya? Oh, ternyata ia orang baik. Bertemu pejabat ini itu, aduh…kok hati rasa gerah ya? Oh, ternyata memang mereka punya udang di balik batu. Kadang, kita memakai hati sebagai intuisi untuk mengenal manusia.

Muhammad Mursi. Apa kita pernah bertemu, bertatap muka? Tidak. Tapi saya tak bisa memungkiri bahwa hati ini terlanjur jatuh cinta pada Mr.President. Jatuh cinta pada hafalan Qurannya. Jatuh cinta pada istrinya yang menyambangi para janda. Jatuh cinta pada pilihannya pada Hisyam Kandil sebagai PM -dulu. Jatuh cinta pada keputusan-keputusannya. Jatuh cinta pada sikapnya terhadap Rafah, Gaza.

Memang siapa yang merekayasa itu semua? Mursi tak pernah memberi kita apa-apa. Ikhwanul Muslimin juga tidak. Mesir? Apa pernah menggelontorkan bantuan untuk Indonesia agar terlepas dari hutang? Tidak juga. Tapi, kenapa bisa kita mencintai Mesir, Mursi, Ikhwanul Muslimin, rakyat Palestina dan rakyat Mesir? Karena , meski kita manusia yang sehari-hari berkubang dosa. Suka bermaksiat. Suka menggunjing. Suka mencemooh dan mengejek kegagalan orang. Jauh di lubuk manusia terdalam, terdapat sebuah titik.

Imam Ghazali menyebutnya “titik hati” yang secara elektris bergetar saat dekat dengan Tuhan. Mungkin, titik hatik kecil kit, noktah putih itu. Yang masih menyisakan dzikir padaNya. Tak bisa memungkiri bahwa di balik semua sifat keburukan manusia yang kita punya, di relung terdalam nurani, ada getaran cinta murni yang muncul tiap kali bertemu sesuatu yang juga murni dan jernih. Maka kita menangis ketika Uje wafat (meski tak kenal). Maka kita terketuk menyantuni anak yatim (meski kita tak kenal). Maka kita terketuk membantu korban bencana (meski tak kenal). Dan noktah putih kecil dalam hati ini, jatuh cinta tanpa disadari kepada orang-orang yang tidak kita kenal sama sekali. Mursi, Ikhwanul Muslimin, rakyat Mesir.

Memangnya, ada pihak yang pernah memaksa kita untuk mencintai Mursi? Tidak. Tetapi apakah orang kecil seperti saya. Rakyat jelata yang masih dilanda kesulitan beraneka ragam, dilanda kerusuhan kriminalitas dan kesenjangan ekonomi; tidak pantas jatuh cinta pada Presiden penghafal Quran yang terus berjuang dalam kebaikan seperti Mursi? Apa saya tidak semakin mencintai Mursi , ketika seorang Syaikh Gaza di Ramadhan ini menjadi imam masjid kami bercerita : “ jika Mesir kuat, kuatlah Palestina. Begitupun sebaliknya. Bersama Mursi, kami kuat. Mursi, setiap hari selalu bertanya : bagaimana kabar al Aqsho hari ini?”

Apakah salah, bila tanpa kita sadari, jatuh cinta pada pemimpin seperti Mursi?

Kategori
Cinta & Love Fight for Palestina! Gaza Kami ~RINAI~ Sinta Yudisia

Happy Palestine’s (not Valentine’s) Day

happy palestine's day

Kategori
Catatan Perjalanan Fight for Palestina! Gaza Kami ~RINAI~ Sinta Yudisia

Tanya dan Fakta seputar Palestina : Rangkuman Diskusi sepanjang Bedah Buku #Rinai 23 Nov 2012- 2 Des 2012

Membahas Palestina , baik Tepi Barat atau Jalur Gaza, memunculkan polemic tiada habis. Ideologi, agama, aqidah, hingga kepentingan politik dan ekonomi mewarnai. Tetapi membincang Palestina, rasa yang sama muncul mulai anak-anak, remaja hingga golongan dewasa. Tanpa bermaksud memperuncing friksi, inilah rangkuman perjalanan Bedah Buku #Rinai yang banyak diwarnai diskusi seru dan kisah-kisah menarik

1. Naik apa ke Gaza? (Baitul Quran, Sragen)
2. Bagaimana cara membuat bom? (Baitul Quran, Sragen)
3. Bagaimana anak-anak Gaza? (Nuruzzaman, UNAIR)
4. Apa yang paling menginspirasi dari Gaza? (Nuruzzaman, UNAIR)
5. Bagaimana cara perempuan mendidik anak? (Gema Muslimah, UNS)
6. Apa yang dapat kita lakukan untuk Gaza? (Gema Muslimah, UNS)
7. Bagaimana menceritakan Palestina pada anak-anak? (ICMI, Jatim)
8. Bagaimana kode etik jurnalistik? (ICMI Jatim)
9. Israel VS Palestine : Who is becoming loser? (ICMI Jatim)
10. Bagaimana pendidikan dan karir perempuan Gaza? (Temu Muslimah Kampus Swasta, Sby)
11. Tentang Nasionalisme (ICMI, Jatim)

Simak hasil diskusi kami, semoga bermanfaat.

1. Naik apa ke Gaza? (Baitul Quran, Sragen)
Perjalanan ke Palestina bukan main melelahkan. Tim BSMI 2010 saat itu harus menembus Rafah di era rezim Mubarok. Sejak di Indonesia persiapan barang-barang, fisik, tekanan mental untuk “tidak bisa menembus Rafah” yang berarti tidak berhasil memasuki Palestina, sudah harus disiapkan. Check point berkali-kali, asykar Mesir (saat itu) seringkali tidak ramah. Juga, visa kami yang sempat jadi bulan-bulanan di Rafah Mesir. Secara singkat ini rutenya.
* Surabaya – Jakarta : pesawat
* Jakarta –Singapur (transit) – Abu Dhabi (transit) – Cairo : pesawat
* Cairo-Ismailiyah-Sinai-El Arish-Rafah : mobil
* Rafah Mesir – Rafah Palestina : bis, beberapa menit saja
* Khan Younis- Deir al Balah- Gaza City- Jabaliya : mobil dinas

Bis ini yg mjd angkutan tim BSMI, Adham sang penterjemah
Bis ini yg mjd angkutan tim BSMI, Adham sang penterjemah

Sekilas, seperti perjalanan biasa-biasa. Di atas SQ yang membawa tim selama belasan jam, persendian serasa kaku, panggul dan tulang ekor panas bukan main. Belum lagi melintasi Sinai yang berjam-jam terdiri atas padang pasir keemasan membara : nafas serasa tersengal tak sanggup menahan panas manguar!

2. Bagaimana cara membuat bom? (Baitul Quran, Sragen)

Inteligensi kaum Yahudi , kerapkali dianggap hanya dapat dikalahkan oleh orang-orang istimewa macam bangsa Palestina. Konon, pemuda Gaza mampu merakit apapun menjadi bom : sayur, kopi, sampo, dsb. Dalam situasi terjepit, sebagaimana bangsa kita dulu yang mampu menjadikan bamboo runcing sebagai senjata, warga Gaza tak hilang akal menjadikan apapun sebagai senjata.
Tapi, jangan tanyakan bagaimana merakitnya, asli saya tidak tahu!
Saya bukan teknisi, tapi calon psikolog, insyaAllah. Jadi lebih faham bagaimana manusia bisa dirakit, daripada merakit senjata. Bukan orientasi membuat bom itu yang menjadi focus utama, tetapi bagaimana mampu tetap sekolah, meraih prestasi akademis, hidup berkorban dan berjuang, selalu punya tujuan mulia, selalu peduli sesama; nilai-nilai itu yang saya bagi terutama kepada peserta anak-anak dan remaja.

3. Bagaimana anak-anak Gaza? (Nuruzzaman, UNAIR)

Bermain, bercanda  & suka difoto :)
Bermain, bercanda & suka difoto 🙂

Sama saja seperti anak-anak lain.
Senang main bola, main perang-perangan tapi kalau bermain peran prajurit Qossam VS Yahudi, rata-rata tidak mau jadi tentara Israel, haha. Suka permen dan es krim, suka bermanja-manja pada orangtua, pakai topeng Batman juga. Bedanya, sejak kecil mereka sangat dekat dengan Quran.
Menjadi penghafal Quran, bukan hanya keinginan orangtua belaka yang mendamba anak sholih, tapi tampaknya pemerintah menyadari anak-anak adalah asset Negara sehingga kurikulum menghafap Quran masuk dalam system pendidikan ; bersinergi dengan kementrian lain termasuk Ministry of Women Affairs.

4. Apa yang paling menginspirasi dari Gaza? (Nuruzzaman, UNAIR)
Salah satu yang sangat menginspirasi sepulang dari Palestina adalah sinergi antara pemerintah dan rakyat. Pemerintah melayani, rakyat percaya. Beberapa kisah dibawah, cukup mewakili.
* Ministry of Culture
Ketika rumah-rumah hancur akibat serangan rudal Israel, tugas kementrian budaya adalah memugar rumah tersebut sebagai warisan sejarah dan budaya. “Ini rumah Asy Syahid fulan….”. Perlakuan pemerintah terhadap kejadian ini setidaknya membuat anak-anak yang ditinggal syahid orangtuanya merasa bangga, merasa bahwa pengorbanan mereka menjadi yatim piatu tidak sia-sia. Negara menghargai dan anak-anak tersebut dipelihara, tidak terlantar menjadi anak jalanan.
* Ministry of Women Affairs
Kementrian perempuan melatih perempuan-perempuan memiliki ketrampilan sehingga mampu mandiri secara financial. Ditinggalkan suami/ayah sebagai tulang punggung keluarga, menyebabkan tugas pencari nafkah beralih kepada kaum perempuan.
Tidak hanya focus pada perempuan, kementrian perempuan bersama kementrian-kementrian lain menjadwalkan program menghafal Quran tiap kali summer camp, sehingga anak-anak menambah hafalam Quran secara signifikan dalam 2-3 bulan.
* Militer/tentara
Peran militer memberikan rasa aman pada rakyat. Sejak HAMAS memerintah, masyarakat merasa aman melepas putri kecil mereka belanja sendiri ke supermarket. Prostitusi dan drug abuse terhapus, minuman keras juga tidak merajalela. Malam hari, pasukan Qossam menjaga hingga ke gang-gang kecil sehingga rumah-rumah dibiarkan tidak terkunci dan situasi tetap aman. Yang mengharukan, prajurit Qossam terbiasa puasa Senin Kamis. Malam hari, para ibu atau warga lain menyiapkan makan sahur; menghantarkan ke pos-pos penjagaan :’)
* Angkutan umum
Pejabat dibiasakan naik Fiat tahun 70an yang mungkin pabriknya sudah tidak memproduksi lagi. Tetapi rakyat disiapkan angkutan warna kuning cerah, berAC, baru, sehingga warga merasa aman menggunakan kendaraan umum, tidak terpicu untuk memiliki mobil pribadi karena angkutan umum yang tidak nyaman.

5. Bagaimana cara perempuan mendidik anak? (Gema Muslimah, UNS)

“We believe in Allah,” itu kata Mrs. Rehab Shubair. Itu yang diajarkan para ibu kepada anak-anaknya dengan percaya pada Allah SWT, percaya pada janji Quran.
Anak-anak biasa diajarkan menghafal Quran di rumah, terutama surat pendek, sehingga di summer camp , mereka telah memiliki dasar untuk masuk ke tahap berikut menghafal , ibarat tahap advance & intermediate. Selain itu, para ibu mengajarkan bagaimana harus beradaptasi dengan situasi darurat seperti menjauhi jendela saat bumi terasa bergetar, dsb.

6. Apa yang dapat kita lakukan untuk Gaza? (Gema Muslimah, UNS)
Doa yang tiada putus, terutama di waktu istijabah, Bukan hanya buat Palestina tapi juga buat Rohingya, Mesir dan belahan manapun dari bumiNya yang terdapat kaum muslimin. Menyisihkan dana, berjuang lewat pena, lewat media social (tetapi juga harus berhati-hati)

7. Bagaimana menceritakan Palestina pada anak-anak? (ICMI, Jatim)
Ada sebuah cerita menarik seorang guru di Surabaya. Ia mengisahkan perang di Palestina, tanpa bermaksud menebar kebencian. Ternyata, anak-anak mampu menangkap cerita. Suatu saat, mereka diminta presentasi tentang Negara-negara dunia, sembari memperlihatkan bendera Negara yang b ersangkutan. Sampai pada Negara Israel, sang murid menginjak-injak bintang David.
Menceritakan Palestina kepada anak-anak di masa sensitive perkembangan, memang harus berhati-hati. Anak-anak sangat perasa, imajinatif, mudah cemas dan panic. Di usia TK –SD, kemampuan operasional formal belum berkembang sempurna dimana mereka dapat berpikir abstrak dan menghubungkan ABC dst. Memperlihatkan foto-foto berdarah, anak-anak terluka dengan organ tubuh tak utuh lagi dapat menyebabkan trauma.
Saya pribadi, di Kelas Menulis SDIT Al Uswah mengajarkan terutama 2 hal :
* Bagaimana anak-anak Palestina tetap bersemangat sekolah meski kepedihan mendera. Tetap sekolah di bawah desing peluru, di bawah ancaman bom sewaktu-waktu, terancam terkena peluru nyasar.
* Bagaimana anak-anak Palestina menyadari harga orangtua yang harus dihormati dan dicintai. Mereka berangkat sekolah mungkin masih menyalami orangtua, memeluk dan mencium mereka, ketika pulang besar kemungkinan orangtua syahid atau kakak yang tiba-tiba tewas.
Ternyata, mengisahkan tentang semangat sekolah dan kecintaan pada orangtua, sangat membekas pada diri anak-anak. Kelak, di usia yang lebih matang, sekitar SMP akhir atau SMA, foto-foto yang lebih real dapat kita perlihatkan. Itupun harus melihat jika anak-anak tidak sedang dalam trauma tertentu. Mereka yang tengah bermasalah berat dengan orangtua dan lingkungan akan menjadi sensitive, terimpuls melakukan hal negative ketika melihat foto-foto miris.

8. Bagaimana kode etik jurnalistik? (ICMI Jatim)
Etiskah meng unggah foto-foto kekejaman Israel, foto anak-anak atau remaja dengan luka mengenaskan? Foto para perempuan yang terluka parah? Menurut bu Sirikit Syah, pakar media, ada 2 aliran besar jurnalistik. Pertama, sangat menjaga “kesopanan” artinya memilih betul foto-foto yang relative bisa “diterima” semua pihak. Kedua, yang jujur apa adanya, sekalipun menimbulkan efek tertentu –kengerian, muak, jijik, amarah.

Sekarang pun muncul Jurnalisme Perasaan. Dulu, jurnalis diminta meliput cover both-side; artinya ia harus menceritakan secara fair dari dua sisi. Misal, RS Asy Syifa hancur, yang diwawancarai harus pihak Palestina dan Israel. Peraturan itu tak berlaku kini. Jurnalis boleh melaporkan cover one-side, bahkan dengan nilai subyektif. Ia berhak melaporkan kondisi Gaza hanya dari kacamata Palestina, tanpa perlu mewawancarai pihak Israel; mengingat mewawancarai Israel juga menimbulkan kesulitan tertentu dan ada kemungkinan ketidak jujuran muncul.

9. Israel VS Palestine : Who is becoming loser? (ICMI Jatim)

Perang Israel VS Palestina kali ini diramaikan dengan perang media social. Ungkapan-ungkapan pedas menyakitkan kaum muslimin : mana Tuhan kamu? Toh Palestina tetap terjajah, Israel menang!
Sejarah mengajarkan , Tuhan kerapkali menunda kekalahan dan kemenangan untuk menimbulkan dampak yang jauh lebih dramatis. Kisah Firaun Musa yang legendaries buktinya, atau Qarun dan Musa.
Qarun yang semula sholih, setelah kayaraya berbalik memusuhi Musa bahkan ingkar tiap kali diingatkan masalah berbagi harta pada kaum miskin. Tak cukup sampai disitu, Qarun beralih menyembah Sobek, dewa Buaya penguasa Nil. Suatu ketika, Qarun minta adu kekuatan. Ia memanggil Sobek, memintanya menenggelamkan Musa. Hasilnya nihil. Musa berdoa pada Allah SWT dan Qarun ditenggelamkan beserta hartanya yang berlimpah.
Darimana kita tahu Israel sebetulnya menderita kekalahan, setidaknya kekalahan mental?
* Tentara Israel dikenal memakai pampers, tak berani turun kencing ketika menyerang darat. Mereka tetap di dalam tank, khawatir tangan-tangan mungil penggenggam batu melempar kearah mereka
* Suburnya rahim perempuan Palestina, mampu melahirkan anak-anak kembar. Ratio penduduk Gaza, meski seringkali dimusnahkan, semakin beranjak naik dari tahun ke tahun
• 2000: 1.120.000
• 2001 : 1.167.000
• 2002: 1.200.000
* Homoseksual di Israel merajalela, dengan dalih HAM. Homoseks tak melahirkan anak, bukan? Akibatnya penduduk Yahudi menyusut
* Banyak pemuda Israel lari keluar negeri, tak mau ikut wajib militer. Berbeda dengan pemuda Palestina yang bertekad mempertahankan tanah air, bahkan sekalipun mereka sukses di Negara manapun (Amerika, Jerman, dll) mereka tetap kembali ke Gaza
* Ancaman Israel untuk mampu menghancurkan Gaza tak didukung kekuatan personil. Sangat sedikit warga Israel yang siap maju ke medan perang, maka Israel meminta bantuan internasional. Pernahkah kita mendengar Palestina meminta bantuan dikirimkan tambahan pasukan? Tidak.

10. Tentang nasionalisme Palestina (ICMI , Jatim)

selalu ada bendera Palestina & simbol al Aqsho di tiap rumah
selalu ada bendera Palestina & simbol al Aqsho di tiap rumah

Setiap warga Palestina memasang bendera hitam-putih-hijau dengan segitiga merah di tiap rumah, ditambah lukisan atau pahatan Al Aqsha. Kita baru memasang bendera ketika diperintahkan pak RT. Banyak yang perlu diprihatinkan dari Indonesia, sehingga mereka yang ke luar negeri dan mendapatkan kehidupan yang nyaman, enggan berbalik ke Indonesia. Tak bisa disalahkan juga, kita ingat bagaimana kasus IPTN menyebabkan 2000 insinyur terbaik Indonesia terkatung dan akhirnya memilih ke luar negeri karena pemerintah sendiri tak memberikan penghargaan layak.
Bagaimana rakyat mencintai tanah air mereka, Palestina, memang akrena masalah ideology , aqidah dan ibadah. Tetapi tak dapat disangkal, pemerintah di Gaza pun memberikan pelayanan yang baik sehingga rakyat dapat memberikan loyalitas dan jiwa nasionalismenya untuk bahu membahu berperang bersama Negara saat dibutuhkan.

11. Bagaimana pendidikan dan karir perempuan Gaza? (Temu Muslimah Kampus Swasta, Sby)

Meski telah berputra & bercucu, Mrs. shubair tetap semangat bekerja utk perempuan Palestina
Meski telah berputra & bercucu, Mrs. shubair tetap semangat bekerja utk perempuan Palestina

Mengingat perempuan menjadi salah satu tulang punggung Negara, perempuan harus disiapkan sejak dini dengan bekal pendidikan dan ketrampilan. Banyaknya lelaki (suami, ayah, anak) yang syahid menjadikan perempuan maju ke garda depan. Belum lagi bila, lelaki di tengah keluarga sengaja dibuat cacat, agar beban perempuan bertambah. Tanpa persiapan apa-apa, perempuan tak akan sanggup memikul ekonomi dan segala macam kesulitan. Memang, Negara membantu, tetapi akan sangat baik bila bantuan Negara didukung kesiapan SDM sehingga terjalin kerjasama to take and to give. Bila memungkinkan, perempuan Gaza sekolah setinggi-tingginya, bahkan mengambil beasiswa ke luar negeri dan kelak kembali membangun Negara. Mereka diberikan kesempatan bekerja yang sama : dosen, salon, pegawai, dokter, perawat, guru, koki dsb.