Kategori
Artikel/Opini BERITA Covid-19 Hikmah PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Survivor Covid-19

COVID 19 & PSIKOLOGI KOGNITIF : GAK TAU, MENYANGKAL, ATAU UDAH PAHAM?

Mengejutkan sekali bahwa saya sudah lupa (atau mengabaikan) beberapa protocol kesehatan!

Padahal baru sekitar 3-4 bulan lalu melawan ganasnya covid dan terpapar bak di ujung maut akibat virus ini. Belum lagi, saya suka mengumpulkan koran-koran yang memiliki informasi penting seperti covid, ilmu pengetahun atau hal menarik lainnya. Koran sejak awal covid menyerang di awal 2020  masih saya simpan. Tapi kenapa saya bisa lupa, abai, atau bahkan meremehkan informasi terkait covid?

🟠1. Kemampuan memory manusia terbatas. Manusia hanya bisa mengingat sekali waktu dengan cepat informasi yang dibagi atas 7-chunks (7 potong). Seperti kita mengingat nomer HP orang. Kalau setiap hari yang dikonsumsi berita macam-macam : covid, selebriti, gossip,  masakan, politik, ekonomi, parenting, travelling dan masih banyak lagi; yah, akhirnya covid terlupakan

🟡2. Memory bisa menurun. Sebuah studi menyebutkan, bahwa ketika mengingat sesuatu, setiap 18 detik ingatan kita akan perkara itu menurun 10%. Gak heran kalau hari ini saya takut setengah mati sama covid, besoknya udah enjoy aja

🔵3. Flashbulb memory. Kita akan ingat banget kenangan yang seperti lampu blitz, walaupun itu gak harus diingat! Kapan Sully dan Go Hara meninggal bunuh diri, kapan Lady Di meninggal, kapan Chester Bennington mengakhiri hidup — masih teringat. Harusnya emang, saya lebih banyak jalan-jalan ke RS. Ke ruang ICU, ke ruang isolasi covid. Sehingga ingatan ttg covid ini jadi “flashbulb”. Masalahnya, saya gak pernah bisa menengok teman2 atau saudara yg sakit covid. Seperti dulu, bisa nengok teman yang hemodialisa, atau kena kanker. Sehingga “flashbulb” tentang minuman bersoda demikian teringat kalau gak mau ginjal rusak dan harus hemodialisa

🟢4. Short term & long term memory. Ingatan jangka panjang akan mengendap lebih lama dibanding ingatan jangka pendek. Kenapa ingatan jangka pendek? Mungkin hanya sekilas, mungkin terasa gak penting, mungkin jarang diulang. Akan jadi long-term memory kalau terasa penting dan terus diulang. Seperti ingatan kaum muslimin pada Al Fatihah dan 3 surat terakhir al Quran. Hampir setiap kita yang muslim ingat, kan? Karena Al Fatihah wajib dibaca dan diulang terus. Karena 3 surat terakhir sering jadi pilihan kalau sholat kilat khusus, sekaligus surat yang diyakini ampuh menangkal setan dan sihir.

••🔴••

Sikap kita terhadap covid juga macam-macam

☑️GAK TAU : masih banyak lho, orang di pelosok yang gak tau tentang covid. Jadi boro-boro tahu tentang vaksin dan masker. Ini karena memory tentang covid gak pernah masuk long term memory, bahkan short term memory. Mungkin juga telinga dan mata mereka jarang mendapat info ini. Bayangkan saudara kita yang disabilitas, yang berada jauh di bawah garis kemiskinan (gak punya HP, gak pernah baca koran, gak ada TV), yang gak punya waktu untuk menyimak berita.

✔️MENYANGKAL : kalau bukan ingatan long term memory, atau “flashbulb” emang susah, ya. Saya patuh banget sama protocol pas awal pandemic, pas kena covid beneran, sama pas gelombang kedua menyerang. Gak heran banyak yang masih menyangkal. Apa saya masuk golongan ini?

UDAH PAHAM : ini biasanya teman-teman saya yang di garda depan. Teman2 dokter, perawat, nakes (radiolog, bagian lab, petugas ambulan, dsb) yang sangat paham. Lalu golongan masyarakat yang percaya , mendapatkan info dari sumber terpercaya.

••🔴••

TERUS GIMANA?

Saya kayaknya masih termasuk golongan yang “menyangkal “ : kadang khawatir. Kadang abai. Seperti kemarin, dapat share di grup tentang gimana cara pakai masker double. Selama ini pahamnya : ya udah di double aja. Ternyata di luar harus MASKER KAIN! Jadi ternyata, saya udah jarang nge-klik berita apapun terkait covid.

Lho kok bisa saya abai?

Karena udah ngerasa kalau covid ini “biasa banget”. Gak flashbulb lagi. Padahal…ntar dulu!

Buat teman-teman dan pemerintah :

❤️Tetap semangat dan sabar untuk memberikan edukasi covid. Long term memory itu lama lho

❤️Bagi informasi dalam 7-chunks. Jangan banyak-banyak. Ntar mabok. Kalau udah ada yang ngasih info covid, kita gak usah share lagi. Tahan sampai agak nantian

❤️Flashbulb : sekali-sekali perlu kali ya. Edukasi ke ruang ICU. Ngajak masyarakat yg gak percaya utk dipersilakan main ke ruang ICU covid (dengan prokes ketat tentunya). Atau kalau gak, sering liat youtube tentang tsunami Covid di India dan liputan ruang ICU utk bangsal Covid

❤️Buat lomba-lomba edukatif tentang covid agar masyarakat makin tertarik untuk belajar. Akhirnya jadi memory yang terpelihara, deh.

—————–

Sinta Yudisia LC – Lulusan Covid

Informasi waktu perjalanan aman sepanjang Covid 2021

Kategori
My family Parenting PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY

Rusyda (kematangan) yang Tertunda

Lama saya bertanya-tanya kepada diri sendiri : kenapa banyak ortu sekarang yang mengeluhkan anaknya nggak mandiri? Nggak dewasa? Padahal sudah umurnya. Sampai kemudian saya menemukan buku karya Dr. Khalil Ahmad Asyantut ini, Rumahku Sekolahku.

Bukunya tipis, tapi masyaallah.

Menjawab sebagian besar perang di benak saya yang mempertanyakan psikologi VS parenting Islami.

Makna rusyda

Rusyda berarti kematangan. Dr. Khalid menekankan bahwa orangtua harus membantu anaknya dalam segala aspek , hingga mencapai usia rusyda. Usia rusyda ini bisa jadi saat dia sekolah, dia bekerja, bahkan menikah. Setelah menikah, jangan pula dilepaskan sebab ada anak-anak yang belum rusyda setelah menikah!

Pernah dengan suami istri bertengkar gegara yang suami suka jejepangan dan istrinya penggemar berat KPop? Yah, begitulah anak muda zaman sekarang. Di masa saya dulu, hal-hal semacam itu nggak ada. Suami saya penggemar film action ala Rambo, saya suka film drama macam Ghost atau Dying Young (haha…ketahuan banget umur berapa!). Suami suka sepak bola, saya suka baca buku. Tapi ya udahlah, hepi-hepi sendiri aja dan gak usah berantem. Berantem sesekali, tapi gak jadi konflik tajam. Padahal saya nikah sama suami di kisaran usia 20-21.

Kenapa rusyda tertunda?

“Rusyda” berarti kematangan

Banyak aspeknya

Pertama, jauhnya anak dari pengalaman real. Kondisi lingkungan, tantangan zaman, pekerjaan ortu, dll menyebabkan pengaruh dalam kehidupan anak. Zaman saya dulu, namanya bepergian jauh ke rumah nenek , sendirian, udah biasa. Naik bis, naik kereta api. Ortu saya kerja di Denpasar Bali, nenek saya tinggal di Lempuyangan Yogya. Sejak SMP udah biasa tuh PP Bali- Yogya sendiri. Naik travel pernah, dst. Bgm sejak SMP udah tahu berinteraksi dengan supir yang galak, teman sebangku di bis yang penipu dan nyolong uang, tetiba bis diganti karena rusak; itu sudah biasa. Menderita dan berjuang secara real, sudah biasa.

Anak sekarang? Termasuk anak saya.

Takut diculik, takut digendam, takut dianiaya. Ke sekolah aja diantar. Betapa banyak teman anak saya yang bawa sepeda ke sekolah, digendam. Yah, akhirnya ortu trauma dan memutuskan antar jemput anaknya.

Bersosialisasi?

Well, anak sekarang (termasuk anak saya) banyak menghubungi temannya via gadget. Untung rumah saya depannya masjid, jadi anak-anak masih sering ketemu orang.

Kita dulu?

Mau main ke rumah teman untuk belajar bersama perlu berinteraksi dengan banyak orang : izin nenek, izin om tante , izin ortu. Belum lagi izin sama ortunya teman. Saya kenal lho sama ortu teman-teman SMA saya gegara sering main ke rumah teman.

Menyangkut point pertama, gak bisa disalahkan kalau sikap ortu protektif banget di zaman sekarang. Temannya siapa, main ke mana, gadgetnya isinya apa. Semua seperti bom waktu. Wajar ortu takut. Kadang, teman anak di dumay tidak sesuai foto profilnya. PPnya cowok ternyata cewek. Eh, begitu sebaliknya. Ngakunya mau ikut turnamen game, tapi siapa tau?  Bilangnya mau belajar tapi di rumah teman…who knows? Wajar ada ortu yg kelewat protektif banget banget.

Kedua, sikap protektif ortu.

Ketiga, sedikitnya kesempatan komunikasi dan interaksi.

Dulu, sekolah gak butuh modal. Kemana-mana jalan kaki, bersedepada, nyalin catatan teman atau paling banter fotokopi. Gak butuh pulsa, gak perlu beli flashdisk dan harddisk, gak butuh gadget dengan RAM besar. Sekarang, beda lagi. Hampir setiap anak butuh HP canggih, butuh laptop, butuh kuota. Dampaknya? Ortu memeras keringat banting tulang memenuhi kebutuhan dasar anak untuk sekolah. Akibatnya, waktu ortu untuk bersama anak lebih sedikit.

Ini fakta yang gak bisa diabaikan.

Apalagi bila tinggal di kota besar. Akibatnya, kesempatan diskusi, bertukar pikiran, bertukar cerita udah jarang banget. Dulu, bapak saya PNS pulang jam 2. Masih sempat jemput saya, ngajarin saya ngaji. Kalau ada kebutuhan sekolah yang mendadak harus dibeli kayak buku tulis dan sejenisnya, bapak mengantar. Saya inget banget, ketika SD, lagi musim dompet warna warni. Bapak yang nganter saya ke toko, dan membelikan itu.

Sekarang, meski suami dulu pernah tinggal satu kota, sampai rumah habis maghrib. Belum kalau macet, Isya baru sampai. Anak-anak juga demikian. Minggu baru sempat kumpul, itupun kalau gak ada kondangan dan acara lain.

Terus gimana?

Ya, kembali ke QS Iqro : baca. Belajar. Jadi ortu harus belajar, belajar, belajar terus. Bukan hanya anaknya aja yg sekolah kuliah dari jam 7 pagi sampai jam 5 sore. Kita juga harus belajar. Ketika perkembangan anak sejak kecil tidak mendapatkan pendampingan semestinya, wajar mereka lambat tumbuh dewasa. Rusdyanya terhambat. Kalau sudah begini, ortu jangan buru-buru bilang :

“Kamu kan udah SMA? Milih jurusan kuliah aja nggak ngerti? Bapak dulu kuliah di luar kota, daftar aja berangkat sendiri.”

“Kamu kan udah kuliah, harusnya ngerti dong, capeknya ortu!”

“Lho, kamu udah niat nikah. Masak nggak ngerti kalau nikah itu butuh persiapan banyak?”

“Kamu udah nikah. Udah jadi suami/istri. Masak gak tau apa kewajibanmu?”

Ada anak SMP yang udah dewasa dan mandiri. Tapi ada juga yang kuliah masih serba dilayani dan dikasih tahu. Ada yang sejak SMA udah bisa dilepas, tapi ada juga yang udah kerja dan nikah, masih aja bergantung pada ortu. Bergantung finansial, nasihat, bahkan eksekusi keputusan dalam perkara remeh.

Satu quote dr. Khalid yang indah tentang ortu yang telah memiliki anak yang menikah : tidak ikut campur tangan dalam urusan pribadi rumah tangga mereka. Tetapi ortu harus, membimbing anak-anak kepada kebaikan setelah menikah dan hubungan ortu tidak melemah setelah menikah.

Agaknya belia uingin menekankan bahwa sepanjang anak belum benar-benar rusyda, ortu adalah figure yang sangat dibtuhkan anak sepanjang hayat mereka.           Kitapun sampai seusia ini selalu menjadikan orangtua sebagai figure utama , bukan?

Hayo, antarkan anak-anak pada rusyda yang sesungguhnya. Dan jangan berkecil hati, karena kata dr. Khalid dan para pakar pendidikan Islam, banyak banget anak sekarang yang kematangannya mundur. Next saya bahas buku Dr. Jasim al Muthawwa’ ya, tentang Smart Islamic Parenting. Buku ini juga bagus, indah, menyentuh banget dan menjawab banyak pertanyaan saya pribadi seputar parenting Islami & psikologi Islami.

Pemesanan buku-buku Sinta ke Ibrahim 085608654369

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Bunda Cantik. Beautiful Mother Hikmah Hobby My family Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Referensi Fiksi WRITING. SHARING.

Kamu Lagi Jualan?

Sebagian orang, nyangka saya lagi jualan produk tertentu ketika mau buat seminar Healthy & Confident Minggu nanti 21-02-2021 bareng komunitas Ruang Pelita. Padahal enggak sama sekali!

Pertama, saya ingin share gimana Ayyasy bisa menurunkan BB hingga 20 kg lebih. Dia tadinya nduut banget, mudah sakit, mudah demam. Macem-macemlah. Dia ngerasa makin lama tambah melar dan tiap lebaran gak ada baju cukup. Insecure juga.

Diet? Aduuuh, kami hanya kuat sebentar. Karena terus terang kalau saya harus melek malam, capek ke sana ke mari, perut lapar bikin lemes.

Nutrisi tertentu? Bolehlah. Tapi lama-lama juga gak kuat di kantong.

Akhirnya, kita semua paham bahwa jalan orang masing-masing untuk mencapai keinginan. Ada yang sukses dengan diet karbo, diet keto, jadi vegan. Ada yang sukses dengan mengganti makanan melalui herba nutrisi tertentu.

Kami ingin share bila ternyata, kita harus mengubah mindset dan lifestyle. Gak drastic emang, gak instan. Sebab baik Ayyasy ataupun suami , baru 2 tahun kelihatan lebih ideal. Tetapi hasilnya perlahan, pasti, tubuh fit dan ketika mau cheating day, hasilnya gak nambah banyak.

Lanjut ke Ayyasy.

  1. Orang malas banget olah raga. Ayyasy mengawalinya dengan ngedance. Prinsipnya, dia pingin hepi saat workout. Dia ngikuti dance para idol Korea  dari berbagi youtube. Ketika tubuhnya udah luwes, dia masuk ke babak berikut
  2. Orang gemuk emang lamban, jadi malas2an. Makanya sesudah luwes bergerak, Ayyasy WO sungguhan.
  3. Mulai menghitung kalori. Kalau dulu apapun disikat, sekarang mulai mencermati. Oh, krupuk berapa kalori? Coklat berapa kalori? Es krim? Ayam goreng? Gak diet ketat banget, tapi biar ngitung kebutuhan kalori. Kalau sudah makan brownies 2 potong, ya jangan minum es teh lagi

Kedua, suami saya.

Lingkar perut suami sampai 100 lebih dan BB nya juga lebih dari 100. Rutin ke tukang pijit hampir tiap bulan karena adaaaa aja yg masalah. Punggungnya, lehernya, kakinya. Udah kayak kakek-kakek dah. Alhamdulillah setelah bisa memodifikasi hidupnya, suami turun 17 kg.

Saya?

Hahaha.

Saya ini kalau di rumah benar-benar kerja keras. Kalau gak makan karbo, rasanya gak kuat nyuci piring, nyuci baju, nyeterika. Ibaratnya, orang Jawa kalau nggak makan nasi, kayak kurang kenyang! Mau makan roti seberapapaun banyaknya, tetap kayak gak makan!

Tersindir dengan BB suami dan Ayyasy, sayapun bertekad memperbaiki diri.

Oke, semua berawal dari pikiran.

Mau langsing? Ya jangan liat mukbang melulu. Lihat para boyband bikin chocotang alamaaak…endezzzz! Liat idol makan corn dog, yummy. Pingin bikin juga. Maka kalau habis liat acara makan2, saya ganti nyari channel Suzanna Yabar atau Yulia Baltschun. Atau channel apapun yg menceritakan WO di rumah, cardio ringan dll. Lumayan, akhirnya tertancap di benak : ohya, cardio cuma 15 menit lho! Padahal saya bisa ngetik 3 jam di latptop! Masa 15 menit gak bisa?

Mindset kedua, ketiga, nanti aja ya.

Ayyasy itu dulu, sampai mahasiswa selalu ngeri kalau udah flu. Padahal cuma batuk pilek, kami harus sedia panadol ibuprofen dan segala jenis obat penghilang rasa nyeri lantaran dia gampang banget demam tinggi. Padahal cuma masuk angin. Setelah langsing, masyaallah, tubuhnya tahan banting. Sampai2 pernah ada acara naik gunung sama komunitasnya, tentornya udah bilang : Ini gak bakal ada yg kuat sit up 20. Ternyata dia kuat leg raises, push up , sit up lebih dari yang ditentukan

Selain bicara fisik, tentu, gimana tetap percaya diri walau body goals belum tercapai. Dan bagaimana mengasah potensi dari dalam diri, agar kita menjadi seseorang yang bersinar.

Silakan ya!

FYI, Ruang Pelita mengadakan rangkaian beberapa acara yang oke punya. Stay tune!

—————————————————-

🔸️🟠 Healthy & Confident :
Sehat & Membangun Self Image 🟠🔸️

➿➿➿
Ngerasa gak cakep? Kurang good-looking ? Insecure karena penampilan gak oke? Ngerasa selalu kurang dari orang lain?
➿➿➿

Waaah, kita berjodoh, donk. Acara ini cocok buat kamu, insyaallah!
Gimana merancang healthy lifestyle agar tubuhmu lebih fit.
Kecantikan & ketampanan adalah bonus dari sehat!
Sekaligus memupuk rasa percaya diri agar pesonamu lebih terpancar.
Bersama 3 pembicara keren yang akan membuatmu termotivasi!

1️⃣ Dokter Sania ~
🌺Dokter, Motivator
🌼 Healthy Lifestyle for Your Goodlooking
🔸Gimana hidup sehat agar fisikmu oke, sehingga penampilanmu juga keren

2️⃣ Bunda Sinta ~
🌸Penulis, Psikolog, Traveller
🍁 Confident in Every Season
🔸Membangun Rasa Percaya Dirimu agar Siap Menaklukan Dunia

3️⃣ Kak Ayyasy ~
🦅 Illustrator, Healthy Enthusiast🥇Cara Oke Menurunkan Berat Badan dan Membangun Self Image
🔹Berpengalaman dalam menurunkan BB 25 kg dengan cara sehat


⏳Ahad, 21 Februari 2021
⏰08.00-11.00
💡Link Zoom menyusul
👉HTM : 10K saja

Fasilitas :
🐥Ilmu aplikatif
👣Relasi pengembangan diri
🍪Doorprize : buku, pulsa, cookies sehat

✍️Pendaftaran :
bit.ly/healthyandconfident
▶️transfer ke BSI (bank syariah indonesia) 7129-62-4943 a.n Ahmad Syahid Robbani
CP 0878-5521-6487


Selamat bergabung!
Enjoy your amazing life ❤️🧡👍👍

Didukung oleh :
Ruang Pelita, Polaris Store, Goodcookies

Belajar dari Attack on Titan (2) : Apa Penyebab Kreativitas Hajime Isayama?

Hajime Isayama atau Isayama-sensei mungkin belum termasuk most prolific manga artists sepanjang sejarah manga sejak Astro Boy karya Osamu Tezuka diluncurkan. Tetapi, para penggemarnya di seantero dunia sampai bertanya-tanya ,”Apakah mungkin ada lagi manga series se-epic ini di kemudian hari? Apakah ada anime yang ditunggu-tunggu kehadirannya, sampai para fans berlomba membuat berbagai macam prediksi di akun-akun mereka terkait bagaimana akhir hidup Eren Jeager si tokoh utama?”

Seperti biasa, kalau saya kagum pada seseorang, jadi pingin cari tahu seperti apa sih latar belakangnya? Orangtuanya? Sekolahnya? Kepribadiannya dll? Sama seperti ketika ngefans berat pada Khabib Nurmagomedov yang mengantarkan pada pemahaman bahwa dengan tangan dingin sang ayah, Abdulmanap Nurmagomedov, sosok Khabib bisa muncul.

Berikut adalah beberapa fakta terkait bagaimana kreativitas & imajinasi Isayama-sensei muncul.

  1. Ayahnya melarang ia menjadi mangaka.
  2. Mengalami bullying
  3. Inferior-complex
  4. Desanya mirip Wall of Maria
  5. Kesukaan pada Jurrasic Park
  6. Tetaplah jadi anak-anak!

Poin 1. Well, ternyata ayah Isayama melarang anaknya jadi komikus. Hahaha. Di dunia di mana anima manga menjadi salah satu pemasukan besar bagi negara Jepang, masih ada lho orangtua yang melarang anaknya jadi komikus. Apalagi Indonesia! Tapi ternyata, larangan orangtua bisa jadi sebuah api dalam sekam yang akan meledakkan potensi anak suatu ketika. Jadi, apakah orangtua sebaiknya menyalurkan atau memendam bakat anaknya? Itu ada bahasannya tersendiri nanti.

Poin 2. Isayama mengalami bullying di waktu sekolah. Maka, tokoh antagonis musuh Eren Jeager digambarkan sebagai Titan dengan ukuran 2 m, 10 m, sampai 50 m. Ia mengatakan bahwa seseorang yang di-bully selalu menghadapi tekanan dari pihak  luar yang memiliki fisik besar atau memiliki pengaruh besar. Pengalaman masa kecil sangat berpengaruh pada kreativitas dan imajinasi seseorang.

Poin 3. Inferior complex. Introvert, tak mudah bergaul, asosial, buruk di akademis dan olahraga. Ya, apa yang bisa dibanggakan Isayama di masa sekolah? Cewek tak mendekat, temanpun jarang. Tapi, banyak orang dengan tipe kepribadian ini yang cocok jadi artis. Kesendirian mereka menciptakan satu ruang luas untuk berkreativitas dan berimajinasi. Ruang sunyi yang diramaikan oleh pikiran-pikiran dan gagasan sendiri tentang bagaimana membangun dunia baru – building new world. Banyak mangaka Jepang yang sukses membangun dunia baru dalam kisah-kisahnya. Hikikomori memang salah satu ancaman bagi Jepang. Paradoksnya, bila orang kreatif + introvert bisa menemukan jati dirinya dalam dunia ini, mereka justru bisa berkarya. Tentu, tak semua hikikomori baik, ya! Karena kalau bertahun-tahun mengurung diri juga tak sehat.

Poin 4. Desa kecil Isayama di Oita, dipagari oleh gunung-gunung. Ia sering berpikir, kapan ya bisa keluar dari kampung halaman?  Ia sering merasa terkekang di sana dan ingin sekali melihat dunia luar. Hayo, mirip pemikiran siapakah itu? Yup. Pemikiran Armin Alert dan Eren Jeager untuk keluar dari 3 lapis tembok : Wall of Sina, Wall of Rose, Wall of Maria. Ketika saya menuliskan kisah Hantu Kubah Hijau, setting itu banyak saya ambil dari kota Tegal, tempat asal suami saya. Novel Rose, setting Yogyakarta kota kecil saya. Bulan Nararya, setting Surabaya tempat tinggal saya.

Poin 5. Kenapa tokohnya Titan makan orang? Karena ia terinspirasi dari film Jurrasic Park, tentang bagaimana hewan besar memakan manusia. Banyak seniman terinspriasi dari film-film atau buku masa kecil. Steven Spielberg misalnya.

Poin 6. Tetaplah jadi anak-anak! Waaah, saya terpukau sekali sama quote ini sampai-sampai masuk ke novel online saya di kwikku.com Half of Lemon (https://www.kwikku.com/novel/read/half-of-lemon)

Ketika Isayama diwawancarai, kenapa bisa punya imajinasi begitu dengan cerita yang begitu menakjubkan berikut tokoh-tokoh yang membuat pembaca & penonton sampai termehek-mehek?

“Banyak temanku ketika kecil ingin jadi mangaka. Ketika mereka besar, mereka berhadapan dengan dunia realita. Benturan harapan dan realita membuat mereka harus memilih, seketika itu juga impian mereka pudar. Aku? Sepertinya aku tak pernah tumbuh dewasa dan tetap menjadi anak-anak.”

Kata-kata itu betul-betul inspiring, terutama saya yang seringkali merenung mengapa banyak lelaki/perempuan tidak dewasa ketika usianya sudah mataang. Saya jadi teringat film Big– debut Tom Hanks pertama kali. Film itu berkisah dan mengkritik, mengapa perusahaan mainan justru menyewa tenaga professional orang-orang dewasa yang tidak mengerti untuk apa sebuah mainan diciptakan? Permainan membosankan! Mahal, pula.

Ketika Tom Hanks kecil -dengan bantuan sebuah mesin impian- berubah menjadi dewasa, kelucuan muncul. Tom Hanks dewasa, dengan “children inside” di dalam dirinya, bisa membawa perusahaan mainan tersebut lebih dinamis. Dengan mainan-mainan edukatif yang menyenangkan, bukan hanya mainan mahal yang hanya bertujuan gengsi semata.

Ya.

Bagi sebagian profesi, tetap menjadi anak-anak adalah kunci.

Anak-anak adalah sumber kreativitas dan imajinasi tak terbatas. Mereka tidak takut dicela, tidak takut gagal, tidak takut berbeda. Orang dewasalah yang mengharuskan mereka mengambil patron tertentu.

Tetaplah menjadi anak-anak. Quote itu saya masukkan ke dalam Half of Lemon. Ada banyak anak muda yang resah dengan dirinya :  mengapa aku berbeda dengan yang lain? Mengapa aku masih suka nonton Upin Ipin, suka boneka, suka mainan robot, suka gambar-gambar? Mengapa aku tidak bisa menyukai apa yang disukai orang dewasa? Tidak ingin jadi ASN, tidak ingin masuk fakultas mainstream, tidak sesuai dengan keinginan orangtua?

Sesungguhnya, kedewasaan bukan ditetapkan oleh sekedar kesukaan. Tanggung jawab dan kemandirian, itu lebih menjadi karakter utama. Jadi, kalau ada anak kita yang menekuni dunia anak-anak : guru PAUD, buku cerita anak, komik, animasi, penulis dan dunia kreatif lain; kemungkinan dalam keseharian mereka masih tampak kekanakan dengan ide dan perilaku. Tapi bukan berarti mereka tidak menjadi dewasa dalam pengertian yang sesungguhnya!

Ada kemiripan antara saya dan Isayama-sensei. Mungkin juga kesamaan dengan para penulis dan pekerja kreatif lainnya. Kami, masih punya sisi anak-anak sampai sekarang 😊

Kategori
Cinta & Love Hikmah mother's corner My family Oase Parenting WRITING. SHARING.

Bagaimana Mengelola Emosi Negatif ?

Ada aja yang buat orangtua naik pitam saat pandemic dan anak2 belajar di rumah :

  • Yang lagi belajar daring, trus ada anak-anak tetanggan manggil : “Main yuuuuk!” lalu si anak serta merta melempar tugas daringnya dan lari ke luar.
  • Ada anak yang kayaknya pegang gadget, belajar daring….eeeeh, ternyata nyambi-nyambi. Nyambi stalking idol, nyambi gaming, nyambi lihat postingan IG. Alhasil , tugas daring gak selesai-selesai. Guru pusing, ortu apalagi.

Emosi manusia ada yang positif dan negatif. Gak semua emosi negatif itu buruk, justru kadang merupakan alarm, ada yang gak beres dengan diri kita dan lingkungan kita. Wajar orangtua marah ketika lihat anak-anaknya gak beres dengan urusan kemandirian, tanggung jawab dan pelajaran daring. Tapi, bagaimana dengan hadits Rasulullah yang terkenal ?

لاَ تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّةُ

“Janganlah engkau marah, maka bagimu surga.”

Bukankah itu berarti orangtua gak boleh marah?

Kalau kita lihat hadits tersebut bila dikaitkan dengan hadits2 yang lain bagaimana cara Rasulullah Saw mengajarkan mengelola marah dengan cara : diam (stay calm) , berganti posisi (relaksasi) , mengambil air wudhu (aktivitas distraksi)  maka Rasulullah Saw tidak hanya melarang marah dan membuat orang hanya memendam perasaannya saja. Tapi justru beliau mengajarkan cara mengelola dan menyalurkannya agar marah itu terkendali, dan kalau pun keluar dalam skala yang proporsional.

Dan kalau marah suatu saat meledak (namanya manusia, kadang ada kondisi yang tidak tertahan dan tidak dapat dikontrol) Rasulullah Saw pun menganjurkan untuk banyak istighfar dalam segala kondisi. Disamping hadits-hadits lain tentang bagaimana mengikuti perbuatan yang buruk dengan kebaikan-kebaikan yang banyak.

Ada kisah menarik seorang ibu yang selalu marah, naik pitam setiap kali pulang kerja. Salah satu yang biasa dilakukan untuk melampiaskan marah adalah dengan mengumpat kasar kepada anak-anaknya. Pada akhirnya, alhamdulillah, dia berhasil mengatasi kondisi tersebut. Bagaimana caranya?

  1. Mencermati kapan marah – biasanya jam 5 sore, menjelang pulang kerja
  2. Kenapa marah – campur aduk pikiran antara tugas kantor yang belum selesai dan pekerjaan rumah yang menghadang
  3. Bagaimana marah – mengumpat kata-kata kasar walau  tidak main tangan
  4. Keinginan berubah – sangat ingin berubah tapi bingung gimana caranya

Biasanya, setelah seseorang dapat mendeskripsikan masalahnya dengan detil, dia mulai bisa melihat bagaimana cara mengatasinya. Ibu tsb gimana?

  1. Jam 4 sore mulai membereskan pekerjaan. Memberikan motivasi diri bahwa pekerjaan yang belum selesai disimpan saja utk besok. Jam 16.30 mulai emgnhadirkan wajah anak-anak, foto-foto mereka, dan kelucuan. Aura rumah mulai terasa jam 16.30
  2. Kenapa marah – mulai tereduksi ketika menjelang pulang kantor tidak lagi memikrikan pekerjaan kantor. Bayangan rumah pun diganti . bukan lagi anak yang belum mandi, gak mau mau sendiri, rumah berantakan. Berganti kelucuan, spontanitas anak-anak, riuh rendahnya mereka
  3. Mulai memilih kata-kata marah yang lebih positif (ibu tsb termasuk yg temperamental jadi harus berubah bertahap). Misal, tidak lagi bilang “kalian susah banget diatur! Jam segini belum mandi!” tapi diganti dengan à “Iiih, siapa yang jam segini masih bau kecut? Coba udah mandi, pasti tambah ganteng!”

Buat para Ibu yang jadi Guru, semangaaattt!

Yang penting, sebagai orangtua kita harus terusss sama-sama belajar. Yang murid belajar daring efektif, yang guru belajar daring efektif, yang orangtua belajar segala hal agar semua berjalan efektif 😊

Diselenggarakan oleh KOPI (Komunitas Orangtua Pintar Indonesia ) yang diselenggarakan oleh ibu-ibu di Surabaya

Kategori
Artikel/Opini Catatan Jumat Hikmah Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Rahasia Perempuan Surabaya Tokoh Topik Penting WRITING. SHARING.

Surabaya : Perempuan, Persaingan, Posisi

Lihat berita tentang bu Khofifah dan bu  Risma belakangan ini, jadi geli sendiri. Dua-duanya tokoh yang punya banyak kiprah di tanah air. Kita tahu bu Khofifah dan bu Risma punya kapabilitas untuk mengelola jabatan publik. Akhir-akhir ini, dengan adanya covid 19 dan berbagai kondisi yang mengiringi (PSBB, rapid test, dlsb); di rumah jadi sibuk berdiskusi. Maklum anak-anak kami terdiri dari lelaki dan perempuan, jadi mereka punya pendapat sendiri-sendiri. Di situlah sebagai orangtua kita harus menjembatani, bila ada yang perlu diluruskan dari pola pikir anak-anak kita.

 

👨‍🦰 Begitulah kalau perempuan memimpin, ya. Pasti ada baper-bapernya. Jadi susah kita. Apa perempuan pada akhirnya gak bisa menduduki jabatan tertentu? Karena pasti perasaannya akan kebawa-bawa?

👱‍♀️Eh, ini gak terkait perempuan atau gender tertentu ya. Margaret Tatcher dan Jacinda Arden juga mampu mengelola kursi Perdana Menteri

👨‍🦰Iya, tapi coba lihat pertikaian ini. Ala emak-emak banget. Ada yang ngamuk-ngamuk, ada yang sindir-sindir

👱‍♀️Karena kali ini permasalahannya kompleks, ya kita gak bisa menilai sekilas.

👨‍🦰Lihat, ya. Beberapa pemimpin yang kebetulan perempuan, bertikai kayak anak kecil

👱‍♀️Memang gak semua perempuan bisa memimpin. Tapi ada lho perempuan yang “tough” banget, dan dia bisa memimpin dengan baik tanpa dicampur perasaan.

Asyik kalau dengar anak-anak berdebat.

Lucu dan mengesankan.

Ciri Khas Perempuan

Perempuan memang punya sumber daya emosi yang besar.

Untuk itulah cocok dengan pekerjaan-pekerjaan pengasuhan : guru, dosen, dokter, perawat, petugas sosial dan sejenisnya. Di zaman ini, banyak perempuan yang semakin terlatih dan pintar sehingga tidak lagi hanya berkutat di pekerjaan pengasuhan. Pekerjaan yang membutuhkan resiko besar seperti tentara dan polisi, juga bisa. Yang membutuhkan tantangan besar seperti pengusaha dan politikus, juga oke. Yang penuh masalah dan rintangan seperti kepala daerah, juga hebat.

Masalahnya : jangan bandingkan perempuan dan lelaki dalam perilaku.

Wong cara berpikirnya beda, anatomi tubuhnya beda, anatomi otaknya beda. Jadi perilakunya pun beda ( baca : Kitab Cinta & Patah Hati; juga Seksologi Pernikahan Islami, hehe).

Termasuk dalam pola kepemimpinan, pasti juga beda.

Bukan cuma bu Khofifah dan bu Risma lho, kalau berseteru model emak-emak.  Ada perempuan-perempuan di posisi jabatan tertentu sangat terlihat ciri khas keperempuanannya. Semisal, ketika bersaing dengan rekan kerja yang sama-sama perempuan, tidak berani bersikap fair. Perempuan suka merasa nggak enak hati, malu berterus terang, dan enggan konfrontasi secara frontal.

Beda dengan laki-laki yang bisa main gebrak, main labrak, hantam kromo. Berkelahi terang-terangan, tapi segera baik kembali kalau masalah selesai.

Perempuan?

Tentu beda. Memendam perasaan tak enak, susah mengungkapkan.

Kalau usia anak sekolah SD- SMA, tentu masalahnya tak rumit-rumit amat. Paling masalah persaingan akademis, persaingan cinta, persaingan perhatian guru. Semakin dewasa dan banyak tanggung jawab, tentu banyak pula yang dipertimbangkan.

Misal, seorang atasan perempuan. Ia akan mempertimbangkan anak buahnya, kadang sampai hal yang sekecil-kecilnya. Rumahnya di mana? Transportasinyanya bagaimana? Cukup gak penghasilannya? Nyaman gak dia di tempat kerja? Gimana kalau dia hamil dan sakit? Ciri pengasuhan perempuan tetap menempel di manapun ia berada. Ciri seorang istri, ciri seorang ibu. Karenanya, kadang atasan perempuan lebih cerewet dari atasan lelaki. Karena ciri pengasuhannya memang tampak sekali.

Ia akan memikirkan hal-hal sepele yang bagi atasan lelaki kayaknya gak banget deh. Misal, ada atasan perempuan saat rapat memikirkan menu makan rapatnya apa? Saat family gathering, apa saja menu yang dihidangkan untuk keluarga para bawahannya? Atasan lelaki tentu gak seperti itu. Tinggal nyewa gedung, hotel, plus menu makanan. Beres deh. Mau enak gak enak, yang penting bayar. Selesai.

Bu Khofifah emak yang mau mengayomi se Jawa Timur. Bu Risma emak yang mau mengayomi Surabaya. Waktu masalah mobil PCR, kelihatan kan ciri khas perempuannya?

Perempuan : Maksimal Level Berapa?

Kalau perempuan selalu punya ciri pengasuhan kayak gitu, bisa gak sih sampai level tinggi?

Misalnya orang nomer 1 di perusahaan. Orang nomer 1 di kementrian. Atau orang nomer 1 sebagai kepala daerah, atau kepala negara? Wah, pernyataan itu bisa mengundang polemik yang panjang. Tapi, saya lebih mau ngebahas ke pendekatan psikologi ya. Karena emang tahunya basic ilmu psikologi.

Kepribadian atau personality sangat berpengaruh pada pola pikir dan perilaku seseorang (baca lagi deh Seksologi Pernikahan Islami dan Kitab Cinta Patah Hati 😊). Personality ini panjang banget prosesnya. Intinya, gak ada lho orang yang tahu-tahu lahir jadi pemimpin. Baik lelaki or perempuan.

Ada perempuan yang awalnya gak bagus jadi pemimpin karena sedikit-sedikit baper. Lalu dia mau dikasih kritik, dikasih saran. Dia mau berkembang dan belajar. Nah, dia akan bisa terus melaju mencapai posisi tinggi. Tapi, proses dia mau “mendengarkan saran” itu juga perlu kedewasaan. Dan kadang kedewasaan itu juga bersumber dari personality.

Ada orang yang sepanjang hidupnya gak bisa dewasa. Sampai usia 30, 40, 50 tetap aja kayak anak-anak. Mau lelaki atau perempuan kalau kayak gini emang bikin senewen. Kalau perempuan masih kekanakan di usia dewasa, ya ia akan rewel. Gak peduli apapun posisinya. Kalau lelaki masih kekanakan di usia dewasa, ia akan adiksi sama perhatian. Eeeh, berarti sama-sama adiksi dong : adiksi perhatian. Cuma modelnya beda.

Perempuan yang hamil, punya anak banyak, kalau dia dewasa dan memiliki personality yang matang; dia akan siap menerima beban berat. Jadi pemimpin perusahaan,  kepala kantor, kepala daerah , kepala departemen, dst. Meski dia lagi repot dengan kondisi dirinya yang hamil, yang rempong sama anak dan suami; dia bisa me-manage masalahnya sendiri. Me-manage emosinya sendiri sehingga nggak merembet ke mana-mana.

Tapi perempuan meski anaknya cuma 1, atau bahkan memilih single karena ingin fokus karir, kalau nggak dewasa ya gak akan siap menerima amanah apapun.

So, kalau saya melihat bu Khofifah dan bu Risma, bukan sekedar : ah, emak-enak, baperan! Gak bisa mimpin daerah. Perempuan gak bagus kalau pegang jabatan tinggi! Enggak bisa se-simple itu. Kalau ada konflik, semua pihak pasti akan bersiaga dan waspada. Memanas. Sampai klimaks.

Masalahnya, kita emang belum pernah punya Gubernur dan Walikota perempuan bersamaan. Periode lalu, pakde Karwo yang jadi gubernur Jawa Timur. Jadi kalau konflik antara perempuan – lelaki, kayaknya bakal ada yang ngalah. Bakal ada yang adem. Tapi karena konflik kali ini antar perempuan, mungkin sensitifitasnya meningkat.

Sebagai perempuan saya ngerti kenapa bu Risma ngamuk-ngamuk pas taman Bungkul rusak berantakan. Lha, emak-emak kalau habis ngepel dan anaknya nginjak dengan kaki kotor aja bisa ngamuk! Perihal mobil PCR kelihatan banget kalau pola komunikasi perempuan yang seringkali by symbol dan berharap orang lain memahami, terjadi. Masalahnya, pola komunikasi perempuan di jajaran atas itu akan jadi tontonan nggak enak kalau dikonsumsi anak-anak bangsa dari berbagai latar belakang usia dan status. Semoga ibu-ibu kita tercinta itu segera berkomunikasi dengan baik lalu cari titik temu, ya.

Bagaimana pendapat anda?

Kategori
Artikel/Opini Hikmah mother's corner My family Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Renungan Hidup dan Kematian Topik Penting Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Pernikahan “New Normal” & Keluarga “New Normal”

Pernahkah terbayang pisah dari pasangan (suami/istri) lebih dari 3 bulan?Oke, mungkin ada yang terpisah untuk sementara waktu selama 6 bulan, 12 bulan, atau bahkan 24 bulan. Ada istri yang terpisah dari suami saat suami studi di luar negeri selama 2 tahun, karena beasiswa minim. Tapi itu kondisi extraordinary. Bukan kondisi normal pada umumnya.Ada yang suaminya baru pulang 3 atau 4 bulan sekali karena bekerja di pertambangan pedalaman yang sangat sulit dijangkau kendaraan. Boro-boro mobil. Sinyal saja susah. Tapi itu kondisi extraordinary, bukan kondisi normal pada umumnya.


Ada orangtua yang baru boleh menengok anak di pesantren dengan jadwal ketat 6 bulan sekali, atau bahkan 12 bulan sekali. Tapi tidak semua pesantren atau boarding school memberlakukan jadwal demikian.
Sekarang, sepertinya kita harus mulai merencanakan bahwa bertemu dengan anak-anak atau bertemu dengan istri/ suami, bisa jadi baru terealisasi berbulan-bulan kemudian. Sejak era pandemic, beberapa teman berkata tidak bertemu pasangan lebih dari 1 bulan. Bahkan ada yang sudah 4 bulan tidak bertemu.


Strategi apa yang bisa dilakukan bagi pernikahan dan keluarga “New Normal” agar keluarga kita tak berantakan akibat kehidupan yang tidak dapat diprediksi beberapa waktu ke depan? Finansial, edukasi, bahkan sekedar tatap muka saja menjadi sebuah abnormalitas. Keluarga yang stabil saja bisa berubah labil, apalagi yang sejak awal sudah menghadapi prahara. Bisa-bisa karam sebelum pandemic selesai!


🧕👳‍♂️1. Setiap keluarga harus memiliki guru spiritual yang memahami agama. Entah ustadz/ustadzah, dai/daiyah, Pak Kiai/ Bu Nyai. Buat apa? Ada banyak yang harus kita tanyakan. Misal, banyak pernikahan yang harus diselenggarakan lewat media online. Lalu, bagaimana solusi bagi suami istri yang tidak bisa bertemu lebih dari 3 bulan? Seorang yang faqih dalam agama akan membantu kita untuk memahami hal-hal haram halal, termasuk kondisi kedaruratan.


👩‍🏫👨‍🏫2. Setiap orangtua harus belajar menjadi guru. Ada anak-anak yang bisa disegerakan masuk sekolah ketika nanti jadwal tahun ajaran baru diberlakukan. Tapi ada anak-anak yang rentan secara fisik dan psikis, mungkin harus lebih lama di rumah. Homeschooling, kejar paket, dan pembelajaran sejenis akan menjadi pilihan yang masuk akal bagi orangtua.


💵💰3. Setiap anggota keluarga harus paham mengelola keuangan. Kondisi finansial setiap keluarga saat ini bukan berada dalam kurva normal. Perusahaan ambruk. Pabrik tutup, karyawan di-PHK. Kerjasama antar anggota keluarga sangat penting. Kalau tidak semua bisa menghasilkan uang, setidaknya setiap orang bisa meminimalisasi pengeluaran.Misal, ketika dulu setiap kamar harus menggunakan AC, maka sekarang anak-anak perlu dikondisikan untuk menggunakan AC bergantian. Atau tidur bersama dalam satu ruang ber-AC di kamar ukuran paling besar, jika memungkinkan. Beberapa teman yang memiliki anak usia kuliah memutuskan untuk cuti dari kuliah dan membantu orangtuanya berbisnis demi mendapatkan pemasukan yang lebih stabil untuk keluarga.


✊💪4. Setiap anggota keluarga harus saling menguatkan satu sama lain. Saling memberikan kekuatan positif.“Jangan lupa untuk Dhuha 4 rakaat,” si Abang mengingatkan saya dan adik2nya. “Aku pernah baca kalau Dhuha 4 rakaat, maka Allah akan menjamin rizqi kita hari itu.”Sebuah afirmasi yang bagus bagi kami untuk lebih giat melakukan 4 rakaat daripada hanya sekedar 2 rakaat.“Saya takut mati. Belum siap. Tiap hari bayang kematian itu begitu dekat,” ucap beberapa klien saya. Kondisi pandemic ini membuat setiap orang merasa maut mengintai. Bagus, jika itu akan meningkatkan kedekatan kita pada Tuhan. Buruk, bila yang meningkat adalah anxiety.Suami saya tak kurang cemasnya. Meng-share berita tentang tingginya angka penderita Covid 19 di Jawa Timur, meng-share berita tentang teman-temannya yang berpulang karena sakit.

Siapapun cemas.

Siapapun tertekan saat ini.

Saya pun juga takut kematian, seperti anda!

Tapi saya tidak boleh menambahkan minyak ke dalam api.“Hayo Mas, kita list siapa saja teman-teman kita yang masih sehat. Yang mau naik haji, yang berprestasi.”Bisa jadi suatu saat saya yang terjebak kecemasan dan suamilah yang harus membesarkan hati saya. Ketahuilah, pikiran positif akan membuat sebuah kesengsaraan lebih lembut terasa. Ketika kita bilang , “insyaallah gak akan jatuh.” Lalu kita terjatuh, pikiran kita akan berkata bahwa itu hanyalah terpeleset kecil.


💗☪️💖5. Setiap keluarga harus memiliki waktu khusus untuk diskusi. Yang di rumah, harus menyempatkan untuk duduk melingkar bersama. Yang terpisah, harus meluangkan untuk zoom atau vidcall. Bahasan penting harus mulai dikaji, ditelaah, didiskusikan dengan kepala dingin. Dua anak kami seharusnya menyelesaikan studi tahun ini. Tetapi, segala kemungkinan bisa saja terjadi.“Kalian harus siap ya, kalau ternyata studi kalian lebih lambat selesai.”

💑6. Setiap suami-istri harus berlatih dan memiliki skill komunikasi jarak jauh. Apa saja yang bagus untuk didiskusikan? Apa saja yang sebaiknya dihindari? Pembicaraan humor dan jokes harus lebih sering dilakukan. Hindari perbincangan yang memunculkan perdebatan sengit semisal pro kontra kebijakan PSBB. Haduh, copy darat saja bisa silang pendapat, apalagi kita berdebat lewat vidcall! Termasuk, kita mencoba berhati-hati ketika menyampaikan masalah keluarga.
❌“Anak-anak jadi sulit diatur sejak bapaknya jarang pulang,” misal istri mengeluhkan demikian.Memang, anak yang lama tidak bertemu sosok ayah akan gelisah. Tapi bukan demikian kalimat yang seharusnya dipilih. Karena bisa jadi si suami sekaligus ayah, di seberang sedang rindu dan cemas dengan kondisi dirinya pribadi.
✅Kita bisa memilih :“Ayah…ada gak kalimat semangat yang mau disampaikan untuk si Sulung? Dia lho sekarang yang jadi komandan di rumah.”Maksud hati, kita akan menyampaikan : si Sulung ini berulah. Gak ngerti tanggung jawab. Gak ngerti taat pada orangtua dst! Tapi kita membahasakan dengan kalimat yang lebih positif.Semoga setiap keluarga sukses melewati masa-masa penuh tantangan pandemic Covid 19!

Sinta Yudisia

#stayathomemom

#stayathomewife

Kategori
Artikel/Opini Catatan Jumat Hikmah Hobby My family Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Quran kami Renungan Hidup dan Kematian Topik Penting WRITING. SHARING.

7 Cara Melawan Kecemasan Akibat Pandemi Covid 19

Mengapa pandemic kali ini diibaratkan medan perang? Karena tak seorangpun tahu berapa intensitasnya, berapa durasinya. Banyak hal tak terduga terjadi.

Pertanyaan-pertanyaan membombardir benak : apa aku akan dipecat? Apa bisnisku akan gulung tikar? Bagaimana anak istriku? Apakah ada teman atau saudara meninggal? Atau, akankah aku meninggal akibat pandemic ini?Ibarat medan tempur, kita semua adalah prajuritnya. Prajurit sejati tak akan pernah tahu kapan, di mana dan bagaimana musuh akan menyerang. Ia harus siap, itu saja. Bahkan prajurit paling terlatih sekalipun, pernah mengalami anxiety atau bahkan depresi. Tetapi manusia selalu mampu -atas izinNya- menjadi pemenang dari berbagai pertempuran paling berbahaya di dunia.

Di barat ( co/: Amerika), pandemic Covid 19 menghasilkan situasi parallel yang baru : pandemic kecemasan. Bagi kita , situasi ini perlu diwaspadai dan dicermati. Ibarat prajurit yang baik, semakin mengenal medan dan senjata yang dimiliki, semakin baik melakukan pertempuran dari waktu ke waktu. Mari kita lakukan langkah berikut 😊


1. Aktivasi hati🌞💎

Overthinking menjangkiti sebagian besar warga dunia. Pemikiran yang terlalu berlebihan membuat kita cemas menghadapi hal-hal rutin, apalagi hal besar. Oh, anak sudah hampir masuk sekolah. Ah, suami tak bisa pulang lantaran terjebak lockdowndi seberang sana. Dari mana sumber pikiran berasal? Dari otak dan hati. Otak dan hati yang kosong, akan terisi dengan hal-hal keruh. Karenanya, aktivasi otak dan hati kita dengan terus berdenyut mengingatNya.

Seorang ibu yang memasak bisa mengaktivasi hatinya dengan berkata : Ya Allah, bantu aku agar masakan ini jadi enak. Seorang ayah yang berkubang dengan pekerjaannya mengaktivasi hatinya : Ya Allah, cukupkan rizkiMu. Jagalah istri dan anak-anakku, jaga orangtua kami yang tak dapat kami jenguk lantaran corona virus.Ajarkah anak-anak untuk mengaktivasi hati mereka.

“Nak, tiap kali kalian main game, baca bismillah. Tiap kali kalian nge-zoom dengan teman-teman, niatkan silaturrahim mencari ridhoNya. Kalau kalian buka line dan IG, jangan lupa baca bismillah dan shalawat.”Mungkin, konten yang dibaca anak-anak kita tak lazim untuk diawal dengan basmallah dan shalawat. Tapi inilah saatnya, mengaktivasi seluruh hati anggota keluarga untuk terhubung kepadaNya. Siapa tahu dengan demikian, anak-anak akan mengurangi keretergantungannya pada gadget. Suami akan tetap focus pada pekerjaan dan tidak mulai berpikir macam-macam (naudzubillah). Semoga para suami yang telah berpisah lebih dari 3 bulan dengan istri dan anak-anaknya diberikan kekuatan dan kesabaran.


2. Sibuk, sibuk, sibuk🏃‍♂️🏃‍♀️

Walau di rumah, jangan nganggur.Jangan terlalu banyak tidur dan bolak balik membuka channel yang sama.Sibuk, sibuk, sibuklah. Bongkar lemari. Tata kembali letak baju dan buku. Bongkar isi googlefoto dan bersihkan. Bongkar file-file lama dan rapikan. Bertanam, berkebun, atau memelihara hewan. Sibukkan pikiran, sibukkan hati, sibukkan fisik. Jangan ada kekosongan di benak dan hati; juga jangan biarkan anggota keluarga kosong dengan kelengahan. Rebahlah di pembaringan ketika mengantuk sangat, jangan ketika pikiran masih bisa berkelana dalam lamunan panjang. Pekerjaan yang biasa dilakukan pembantu, bisa diambil alih. Pekerjaan yang biasa dilakukan karyawan kita, kerjakan.


3. Ngobrol🗣🗣Anda terjebak sendiri , di perantauan? Mahasiswa atau pekerja?Sesungguhnya, anda butuh sangat teman mengobrol. Tapi, tak selalu ada pihak yang bisa diajak video call dengan whatsapp, line, zoom, google duo. Selain kesibukan, kuota jadi keterbatasan. Mengapa tak mencoba bercakap-cakap dengan Quran? Setiap kali membaca Quran dan mengeluarkan suara, posisi kita seperti orang yang tengah “bercakap-cakap”. Kita bicara, Tuhan Mendengar. Kita mendengar, Tuhan Berbicara.

Hm, kalau sudah berbicara dengan Quran dan ingin pengalaman lain?Baiklah, coba cara ini. Anda harus cari teman mengobrol. Pernah coba google assistant?

Di keluarga kami, pernah melakukannya.“Hi, do you know Siri?”Google assistant menjawab, “Siri works for Apple and I prefer…oranges.”Hahaha…lumayan terhibur!


4. Berkesenian🎥✒️

Tak heran Gal Gadot mencoba menyanyi dan diunggah. Banyak orang mencoba bernyanyi, meski suara mereka auto fals. Banyak orang mencoba kembali bermain musik, meski tak semahir Brian May atau James Hatefield. Kita harus menperhalus rasa dengan berkesenian. Entah menyanyi, memainkan music, menyusun puisi, melukis, membuat kaligrafi, membuat patchwork, membuat food-art, atau mencoba seni-seni popart lain macam Andy Warhol. Seni akan memperhalus budi pekerti seseorang dan membuat kita tidak hanya berpikir hal-hal yang banal atau perifer, tapi yang dalam dan penuh makna.Suami saya mengalihkan energi dengan melukis.Sepanjang pandemic ini sudah 4 lukisan di atas kanvas yang diselesaikan. Awalnya, ia terlihat resah dan panik, seperti orang-orang pada umumnya. Belakangan, wajahnya terlihat ceria dan happy, alhamdulillah. Kata suami, ia bisa beralih dari pemikiran negatif seperti kematian, pandemic, issue ekonomi; ke arah hobi melukis.


5. Pelajari hal baru 👩‍🏫👩‍🍳

Stacko?Uno?Pernah main dua hal di atas?Ada hal-hal baru yang sepertinya nggak terlalu penting tapi bagus untuk dipelajari agar pikiran relaks dan hati gembira. Saya pribadi baru bisa main kartu uno ketika wabah Covid 19 melanda. Bukan bermain kartunya yang penting, tapi ternyata, duduk melingkar berenam sembari bermain kartu membuat kita bisa saling bercerita banyak dalam situasi santai.Mempelajari permainan anak-anak sekarang yang dulu belum dikenal, bisa membangkitkan kegairahan yang baru.Mempelajari bahasa asing atau bahasa daerah juga bagus. Saya dan si bungsu kembali belajar menulis huruf hanacaraka. Dulu saya mahir sekali membuat surat dengan huruf jawa kuno ini, tapi sudah lupa karena berbagai kesibukan. Yang suka Jepang bisa belajar hiragana dan katakana, yang suka Korea bisa belajar hangeul.


6. Dengarkan, ucapkan berulang kalimat yang membawa semangat ✊💪Mendengarkan murottal Quran dan ma’tsurat dari gadget atau komputer adalah langkah terbaik. Saya suka sekali 2 ayat terakhir al Kahfi dan sering mengulang-ulanginya. Seperti sebuah sihir, penghibur, pengingat; ada banyak ilmu Allah yang tidak kita ketahui sama sekali.Kalau anda masih suka mendengarkan lagu-lagu, pilih yang membangkitkan semangat. Jangan yang justru mengulang-ulang kepedihan : patah hati, memory masa lalu yang menyakitkan, kegagalan.

Fight Song (Rachel Platten) bisa membuat lebih semangat terhadap kegagalan. Ulangi kalimat :

I only have one match

But I can make an explosion.

Ya, kita mungkin mengalami banyak kegagalan di era pandemic. Tapi ada masanya suatu saat kita akan membuat ledakan dahsyat dengan prestasi positif yang mencengangkan!

Double Knot (Stray Kids) juga bagus didengar.

Stand up wherever you go

You’ll make it with no trouble..

Cause my life is a five star movies

I am not done yet so

My life, your life are five star movies!


7. Carilah nasehat 💞

Kala kegundahan sudah terlalu parah, kecemasan menggerogoti, anxiety dan depresi menjadi penyakit; tak ada salahnya segera mencari nasehat. Nasehat-nasehat bijak dari guru agama bisa menjernihkan hati. Saya suka mengulang-ulang iklan Zain Ramadan 2020 . Salah satu kalimat yang saya suka, sebuah nasehat berharga :Pandemic ini pasti akan meninggalkan kitaTapi Tuhan tak akan pernah meninggalkan hambaNya

Kategori
Artikel/Opini My family PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Renungan Hidup dan Kematian Suami Istri Topik Penting WRITING. SHARING.

Manusia Maunya Minum Obat

Pernah dengan efek placebo?

Placebo effect adalah fenomena ketika orang merasakan manfaat setelah mengkonsumsi sesuatu yang sebetulnya hanya merupakan zat inactive saja. Misal ada 90 orang yang sedang diteliti menggunakan obat A sebagai obat flu. 30 orang diberi obat A, 30 orang tidak diberi obat apapun, dan 30 orang lagi diberikan kapsul kosong hanya berisi air tetapi diberitahukan bahwan kapsul tersebut berisi obat A.

Hasilnya?

Orang yang mengkonsumsi obat A sembuh dari flu, orang yang tidak mium obat A tetap sakit. Dan orang yang pura-pura diberi obat A ternyata juga sembuh dari flu! Orang yang pura-pura diberi obat A dan menyatakan diri sembuh, inilah yang disebut efek placebo.

Kita sebetulnya bisa memanfaatkan kasus placebo ini untuk diri sendiri dan keluarga.

Obat Flu Berat

Saya sering flu berat. Mungkin karena begadang malam saat harus menyelesaikan tulisan. Biasanya, yang bisa menyamankan tubuh adalah segelas teh hangat manis dengan irisan lemon.

“Lho, yang manjur ya air jeruk lemon hangat ,” tegur ibu. Beliau seringkali mengkonsumsi kunyit dan lemon sehari-hari.

“Nggak kok,” saya bersikeras. “Teh lemon menyembuhkan juga.”

Dan, teh lemon itu masih ada syaratnya : dibuatkan oleh suami atau anak-anak.

Apakah teh lemon itu yang menyembuhkan? Atau saat sakit saya pingin lebih egois dan manja dan cari-cari perhatian? Ataukah sebetulnya teh lemon itu diganti segelas kopi pans atau susu panas, tetap menyembuhkan; asal yang membuatkan suami dan anak-anak?

Entahlah.

Yang pasti rumus kesembuhan saya adalah minuman panas + dibuatkan orang kesayangan.

Apakah rumus ini berlaku buat anda? Belum tentu. Anda harus cari efek placebo sendiri.

Obat Sakit Perut

Penyakit saya yang lain adalah sakit perut. Kembung karena masuk angin hingga sering diare.

“Lha kamu itu sakit perut kok malah makan rujak, sih?” tegur ibu saya keras.

“Ini bukan bakteri kok, Ma,” jawab saya sok tahu. “Ini masuk angin.”

“Wis karepmu!” kata ibu saya , menyerah. Terserah elo deh!

Kalau masuk angin parah gegara begadang, penyakit yang timbul adalah diare. Kembung parah. Sampai agak muntir-muntir. Kalau sudah begini bisa dipastikan sulit tidur dan nggak doyan makan apapun. Padahal bisa tidur dan bisa makan adalah salah satu kunci kesembuhan. Akhirnya, saya berpikir keras, makanan apa yang merangsang nafsu makan supaya saya doyan makan dan segera sembuh.

Mie instan + telur + cabe, rujak pedas, sambel terasi; kadang malah jadi pintu kesembuhan. Syaratnya yaitu tadi, harus yakin bukan karena penyakit akibat bakteri hehehe.

Secara teori orang sakit perut harus menjaga makanan. Tapi kadang, kalau sudah mulut pahit dan gak doyan makan, saya yakin bahwa makanan ‘unik’ yang saya pilih justru membantu sembuh.

Placebo & Covid 19

Tanpa perlu memandang remeh pada Covid 19; sebagian kita terbagi dalam beberapa kubu. Sangat ketakutan, atau sangat meremehkan. Seharusnya kita berada di tengah-tengah. Tetap waspada, menjaga diri seperti yang disarankan pakar kesehatan, tidak cemas berlebih sehingga menjadi anxiety.

Katakanlah, kita memang sudah membawa virus Covid 19 dalam tubuh kita. Apa yang terjadi ketika kemudian panik setengah mati, merasa sebentar lagi mati, rasa kering di tenggorokan akibat cuaca panas sudah seperti sesak nafas hebat sehingga merasa perlu segera ke RS?

Pandangan “sebentar lagi mati” itu sangat bagus dalam konsep agama. Tapi bukan dihadapi dengan meratap, heboh dan panik. Justru sebaliknya : memperbanyak ibadah, membuat wasiat, memberikan nasehat penting kepada keluarga sekitar, jika masih ada harta disimpan utk ahli waris dan sebagian dibagikan. Bayangkan andai “sebentar lagi mati” justru dihadapi dengan panic buying lantaran takut mati kelaparan.

Bayangkan placebo effect  ini ketika ternyata kita memang terjangkit Covid 19.

  • Meminum kunyit dan meyakininya bahwa kunyit anti inflamasi dan mampu menaikkan daya tahan tubuh. Tak peduli ada jurnal yang (memang benar) menyatakan kunyit tak ampuh.
  • Meminum lemon dan meyakininya memiliki banyak vitamin C, meski ada yang meyatakan vitamin C tak banyak memberikan pengaruh.
  • Banyak minum air putih, yakin bisa sembuh,  meski ada yang menyakininya tak ada hubungan air putih dengan kekebalan tubuh.
  • Banyak berdiam di rumah dan meyakininya bahwa ini ampuh untuk memutus mata rantai Covid 19, meski berita berkata semua orang di kota besar adalah OTG.
  • Banyak minum air kacang hijau yang banyak mengandung vitamin E dan meyakininya bagus untuk melawan Covid 19 meski jurnal yang menyatakan itu masih sedikit.

Manusia selau butuh obat dan merasa nyaman ketika mengkonsumsi obat yang diyakininya mujarab. Ada orang yang merasa harus beli obat paten, meski isinya mirip dengan generic. Ada orang yang merasa harus minum obat tertentu, meski kunci sebenarnya harus istirahat dan makan bernutrisi.Ada orang-orang yang merasa sakit ketika belum bertemu dokter, dan harus ketemu dokter, dan langsung sembuh ketika dokter bilang, “Anda gakpapa, kok, !”

Meski sekian banyak membaca sumber berita dan tidak ada satupun tanda-tanda sakit yang diderita; rasa-rasanya tubuh tetap sakit dan penyakit “jangan-jangan” timbul tenggelam di benak. Jangan-jangan sudah terjangkit. Jangan-jangan sudah parah. Jangan-jangan sudah positif. Bahkan ketika tubuh tidak tumbang karena Covid 19, orang bisa mati karena rasa cemas dan takutnya yang berlebih.

Manusia butuh obat ketika ia (merasa) sakit.

Kalau kita merasa terus-terusan sakit, obat semahal apapun tidak menyembuhkan. Sebaliknya, bila yakin bahwa obat murah pun  bisa menyembuhkan, tubuh segera pulih.Tentu, ini tanpa mengabaikan saran dan kepakaran ahli medis, ya!

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Bedah Buku Sinta Yudisia Karyaku Kyushu Mancanegara Remaja. Teenager

Mental Health Issues (1) dalam Polaris Fukuoka

Depresi. Suicidal thoughts atau pemikiran bunuh diri.

Aku berharap, novel Polaris Fukuoka dapat menjadi jembatan budaya remaja Indonesia- Jepang sekaligus membuat pembaca memahami seluk beluk depresi.

Dulu, sangat jarang menemui orang depresi atau orang yang ingin bunuh diri.  Sekarang, banyak sekali orang tua, bahkan remaja dan anak-anak yang merasa tertekan hidupnya karena tuntutan akademis atau tuntutan tak realistis dari lingkungan sekitar. Anehnya lagi, depresi yang berujung pada pemikiran bunuh diri tidak lagi didominasi oleh orang-orang dengan pendidikan rendah atau ekonomi kelas bawah. Mereka yang pintar, dari kalangan berada juga terancam gangguan mental yang mengerikan ini!

Selain paparan media sosial dan kehidupan kompetitif yang tak sehat, memang ada kultur-kultur tertentu yang turut memicu tekanan dalam diri seseorang.  Di novel Polaris Fukuoka yang bersetting budaya Jepang, beberapa point itu kuangkat.

  1. Budaya timur, termasuk Indonesia dan Jepang, sangat menghormati orangtua terutama ayah ibu. Hal ini tentu baik, mengingat dalam agama Islam pun, kewajiban berbakti pada orangtua menempati urutan teratas sesudah taat kepada Tuhan. Namun, bila komunikasi nggak berjalan lancar, anak bisa tertekan. Sebagaimana Yamagata Isao dan adiknya Yamagata Nozomi. Isao berakhir bunuh diri setelah berkali-kali membuat puisi jisei, puisi bertema kematian. Orangtua yang sukses tidak selalu mewariskan ketenangan hidup bagi anak-anaknya. Kadang, orangtua justru ingin anak-anaknya melanjutkan kesuksesan finansial yang telah dibangun puluhan tahun. Pilihan bakat minat, pilihan sekolah, pilihan akademis pada akhirnya ditentukan orangtua demi keberlangsungan kemapanan finansial. Keluarga Yamagata memaksa Isao dan Nozomi menekuni bidang ilmu tertentu – sesuatu yang sangat jauh dari minat bakat Isao dan Nozomi. Jadi, meskipun kewajiban patuh pada orangtua harus tetap berlaku, orangtua harus mencoba memahami keinginan anak-anaknya. Begitupun, anak-anak harus mencoba untuk menyampaikan apa harapan mereka, meskipun pada akhirnya entah orangtua atau anak harus mengalah salah satu.

2. Diam itu anggun dan kuat. Budaya timur meyakini ini, bahwa masalah harus dipendam rapat-rapat. Jangan sampai orang tahu! Padahal , ada orang-orang yang memang memiliki tipe kepribadian pencemas, disagreeableness, introver yang lebih senang memendam masalah sendiri. Memendam masalah lo ya – bukan memendam solusi. Sehingga, suatu saat ketika nggak kuat akan meledak. Entah itu bentuknya melukai orang lain atau melukai diri sendiri. Mencoba berteman dan bercerita pada orang lain merupakan salah satu solusi seperti persahabatan Sofia dan Nozomi, juga Sofia dan Tatsuo.

3. Komunikasi itu nggak gampang. Kadang harus ada ledakan dan api. Tapi nggak papa, sebab nanti ledakan itu perlahan akan mereda menjadi abu dan debu. Jangan takut ledakan, sebab sedang membangun jembatan pemahaman. Sofia yang tinggal bersama om Hanif, pamannya; seringsekali berantem demi mencoba mencocokkan apa yang ada di isi kepala mereka berdua.

Kebetulan, akhir tahun 2019, tepatnya 31 Desember 2019, aku diminta UI- IBF untuk membedah novel Polaris Fukuoka dalam kaitannya dengan mental health issue. Beberapa novelku memang mengangkat tema kesehatan mental dan bagaimana cara menghadapinya.

Nah, di bawah ini adalah beberapa link review Polaris Fukuoka yang bisa disimak, ya.

http://ellcheese.blogspot.com/2019/03/review-novel-polaris-fukuoka-by-sinta.html

http://nurin-light.blogspot.com/2018/10/polaris-fukuoka.html

https://rayescapingmadness.wordpress.com/2018/04/13/kind-of-book-review-polaris-fukuoka/

Mencoba berteman dan bercerita pada orang lain merupakan salah satu solusi seperti persahabatan Sofia dan Nozomi, juga Sofia dan Tatsuo (Polaris Fukuoka)

Kategori
Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Rahasia Perempuan Tokoh Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Kepribadian para Finalis American’s Next Top Model

Beberapa waktu yang lalu saya nonton American’s Next Top Model season 24.

Televisi di rumah jarang banget nyala, jadi pas di hotel karena satu acara, mencoba menikmati berbagai informasi berita sembari duduk tenang. Acara yang dipandu Tyra Banks itu cukup mengasyikkan. Bagaimana menjaring calon-calon foto model dari berbagai kalangan. Di ujung audisi terjaring 4 orang :  Shanice Carroll, Khrystyana Kazakova, Jeana Turner dan Kyla Coleman.

Kyla, Jeane, Khrystyana.jpg
ANTM season 24 : Kyla, Jeane, Khrystyana

4 cewek ini cantik-cantik. Shanice berkulit hitam manis. Khrystyana dapat anda tebak : kecantikan khas Rusia yang menawan. Kyla berdarah campuran, dan Jeana punya magnet tertentu. Sepanjang nonton ANTM saya baru tahu, “Ya, ampun. Susah banget jadi model. Dia harus pintar menerjemahkan perintah fotografer.”

Dan, hujan kritik berhamburan dari para panelis.

  • Shanice, kamu terlalu tinggi mengangkat dagu.
  • Khrystyana, kamu penggugup.
  • Jeana, kamu terlalu seksi. Ini iklan shampoo! Bukan pakaian dalam! (ANTM season 24 disponsori Pantene).
  • Kyla, ekspresimu harus lebih bicara.

tyra-banks.jpg
Tyra Banks

Dan foto itu diambil ratusan take. Cuma untuk mengambil 1 gambar terbaik! Panelis benar-benar pedas ketika mengkritik. Itulah sebabnya saya baru tahu, bahwa top model dunia harus ber IQ tinggi agar komunikasi nyambung.  Tyra Banks, host ANTM sendiri memiliki IQ 120. Dan ketika dikritik, reaksi dari peserta akan diamati.

Tahukah anda apa yang menjadi titik tekan dari 4 finalis yang akan terpilih melaju lebih lanjut ke final? Attitude. Perilaku yang muncul dari personality alias kepribadian. Sepanjang karantina, para model direkam dalam tajuk “Beauty in Raw”atau “Beauty in Personality.”

Saya ngefans Khrystyana, tapi ia memang penggugup berat dan sering kehilangan rasa percaya diri. PaAdahal cantiknya luarbiasa, dengan tubuh tinggi dan rambut lebat yang pirang! Ternya orang cantik gak selalu punya self esteem baik. Ketika di ujung audisi  tinggal tersisa 2 : Jeane dan Kyla, saya piker Jeane yang akan lolos. Kenapa?

Kyla masih mentah banget. Ia cantik tapi nggak sekuat Jeane berkarakter di depan kamera. Jeane bertubuh mungil , bermata tajam, dengan dengan wajah sempurna dan selalu membuat orang terpaku ketika bertemu.

Tapi…Kyla yang menang. Wajah Kyla biasa, personalitynya yang hangat dan jebakan-jebakan karantina membuatnya menang. Apa saja kritik juri buat Jeane ketika perdebatan sengit harus memenangkan Jeane atau Kyla?

“Jeane sudah nggak bisa berubah. Dia kaku. Dia nggak mau mendengar masukan. Dia nggak akan bisa berkembang.”

“Kyla mau belajar. Dia  mau berproses.”

ANTM 24 - Kyla, Khrystyana, Shanice.jpg
Persahabatan Kyla, Khrystyana, Shanice para finalis ANTM season 24

Sepanjang masa akhir karantina, Shanice – Kyla – Khrystyana menjadi sahabat akrab. Mereka saling diskusi, bercanda, saling memberikan semangat. Jeane berbeda. Ia angkuh, lebih suka menyendiri, enggan bergabung dan cenderung meremehkan oranglain. Wajar saja demikian. Jeane sudah menjadi model professional dan ANTM kali ini adalah kali kedua ia masuk babak final! Berbeda dengan Shanice – Khrystyana apalagi Kyla yang masih mentah tentang dunia modelling.

Personality memegang peranan penting. Attitude sangat mempengaruhi karir seseorang, bahkan ketika ia bersaing di dunia Top Model yang bagi orang hanya sekedar pamer badan. Konon kabarnya, iklan Pantene akan memilih seorang Angel yang menjadi duta shampoo mereka dengan syarat sangat ketat. Salah satunya harus memiliki kepribadian yang baik .

Pada akhirnya saya mengerti kenapa panelis memilih Kyla Coleman.

Ia bicara gagap. Ia hanya pelayan Starbuck. Tapi ia peduli rasisme. Ia juga pernah menjadi guru volunteer anak-anak berkebutuhan khusus. Ia mampu bersikap bijak ketika kontestan lain menjulukinya “stupid!” . Ia rendah hati, mau mendengarkan orang lain.

Ketika ia mewakili ANTM season 24, netizen serempak memberi selamat kepada Kyla :  gadis muda yang sama sekali tak pernah berpikir jadi model karena keluarganya hanya kalangan menengah ke bawah.

Saya nggak terlalu mengikuti tayangan pemilihan miss universe dan sejenisnya.

Tapi saya suka cara panelis meloloskan pemenang  ANTM : personality dan attitude itu penting banget buat  public figure. Meski hanya kecantikan dan tubuh mereka yang menjadi modal utama dalam bekerja, orang tetap akan menyorot kehidupan sehari-hari. Kata-katanya. Perilakunya. Jadi kalau ada artis yang terekam bangun tidur ngamuk-ngamuk ke ART, selebritas yang memamerkan isi saldo ATMnya yang 40 juta “sekedar buat jajan aja”, harga tas seorang artis 2 M …hmmm. Gimana ya. Di satu sisi mungkin itu untuk menunjukkan buah jerih payahnya dan bagus untuk mendorong anak muda : tuh, jadi youtuber juga bisa loh punya penghasilan besar.

Di sisi lain, saya jadi miris juga. Ketika berita berseliweran memperlihatkan betapa kesenjangan social masih menjadi PR besar untuk bangsa kita. Kriminalitas karena kemiskinan, bencana social dan lain sebagainya; menyoroti kehidupan selebritis harus benar-benar dipilah dan dipilih untuk ditayangkan. Rasanya perih juga, mendengar orang-orang dengan gangguan psikis dan fisik tak mampu berobat karena kekurangan biaya sementara para selebritis mengumbar jumlah tabungannya. (Jangan bicara BPJS ya, karena kalau orang sakit bukan hanya sekedar bicara asuransi. Ongkos PP penunggu, logistic orang-orang di sekitar si sakit, dlsb. Apalagi jika yang sakit kepala keluarga)

Kehidupan seorang selebritis pasti akan menjadi pro kontra. Mereka tentu tak bisa kita paksa untuk hidup sederhana karena pekerjaan menuntut seperti itu. Saya maklum ketika baju artis harus 20 juta, karena ia harus tampil di depan public. Gak mungkin dia pakai baju saya yang murah meriah kan? Tetapi, peng eksposan berita itu yang bisa multitafsir.

Saya ingat seorang artis Michelle Adams, yang nggak punya media social karena memang nggak merasa butuh. Atau Tom Hanks yang tetap setia dengan istrinya yang telah dinikahi 30 tahun. Atau Keanu Reeves yang sederhana. Kehidupan positif artis macam itu rasanya perlu dipublish agar masyarakat yang sudah banyak problema menjadi terpompa semangatnya.

Stasiun televise perlu meramu kode etik tentang hal-hal yang perlu ditayangkan ke public dan mana yang tidak perlu. Kehidupan Maudy Ayunda yang sedang studi ke luar negeri, atau gimana beratnya latihan menyanyi para penyanyi, atau gimana repotnya artis membagi waktu antara sekolah-shooting/ kuliah-shooting, gimana kehidupan seorang dokter dan artis macam Nyctagina dan Lula Kamal; rasanya perlu ditayangkan. Prestasi para artis, tantangan profesi mereka, apa cita-cita mereka kalau sudah nggak laku lagi, kepribadian mereka, bagaimana kehidupan ketika mereka masih susah dulu. Bukan bercerita tentang kekayaan dan tabungan finansial yang itu sebetulnya menjadi arsip paling pribadi.

 

 

Semoga para public figure kita senantiasa dalam perlindungan dan keberkahan Allah Swt, aamiin.

 

Kategori
Cerita Lucu Hikmah mother's corner My family Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY WRITING. SHARING.

Mengatasi Fobia Kucing

Siapa yang sepakat kalau kucing adalah salah satu makhluk terlucu sedunia? Hayo ngacung!

Sejak kecil aku suka sekali kucing. Meski repot sekolah saat itu, aku tetap memelihara kucing. Seingatku, sejak SD aku suka memelihara kucing. Mengelusnya, menggendongnya, memeluknya; rasanya seneng banget! Apalagi kalau dia menempel-nempelkan badannya ke tubuh kita. Sembari mengeluarkan dengkur nafas yang khas. Kucing-kucingku suka dielus kepala sama dagunya, biasanya kalau dielus dua bagian ini, mereka akan terkantuk-kantuk.

Icung, kucing kami yang kiyuuuut banget !

 

Tapi, ada juga orang yang takut setengah mati sama kucing. Ketakutannya sampai terlihat nggak logis. Aku punya teman SMA (waktu itu kita nggak tau dia takut kucing), lalu kucing itu kita bawa ke dia, dia menjerit dan mengamuk! Teman kuliahku, pernah sampai pingsan pas makan di kantin. Gegara makhluk berbulu itu dengan tenangnya berjalan mendekati setiap pengunjung dan mengelus kaki-kaki yang bergelantungan di sana.

Aku tak percaya ada orang yang takut kucing.

Sampai aku menikah, dan mendapati suami dan anak pertamaku sangat benci kucing! Duh, sedihnya. Suamiku gak  bisa lihat kucing : jijik, nggak suka, sebel, bawaannya marah. Putriku? Lebih dashyat lagi. Sekedar lihat kucing tak bertuan tahu-tahu masuk rumah, lewat begitu aja, ia akan menjerit-jerit ketakutan sembari menutup muka, naik ke kursi dan menangis tersedu-sedu. Hadeeeh.

Awalnya, aku sih fine-fine aja dengan kondisi ini.

Ya sudah. Mau gimana lagi? Toh suami sama anakku gak suka kucing, ya gak usah melihara. Beres kan? Lalu ada kejadian yang mengharuskan kami melihara kucing. Awalnya, nggak niat melihara sih. Rumah kami sedang diserang banyak tikus. Mungkin karena rumah kami bekas areal persawahan. Para tetangga juga mengeluhkan rumah mereka yang banyak tikus. Meski makanan dan perkakas sudah kami tutup rapat, tikus masih suka kencing dan pup di mana-mana. Kotoran tikus sangat berbahaya, kan? Sudah coba pasang perangkap, lem, sampai racun. Tetap aja masih pada berdatangan. Lalu ada yang menyarankan : pelihara kucing saja. Meski kucingnya nggak doyan tikus, bau kucing sudah secara alamiah membuat tikus jera.

Nah, gimana dong dengan suami dan putriku? Kalau suamiku, beliau nggak fobia. Cuma gak suka. Cukup diskusi, selesai. Putriku fobia berat. Benar-benar nggak bisa berada di dekat, atau melihat kucing. Apalagi bersentuhan. Pernah dipaksa, ia benar-benar kaku keringatan menangis sejadi-jadinya. Padahal udah gede lho hahahaha.

Akhirnya, aku mencoba menterapinya dengan perlahan. Namanya CBT – cognitive behaviour therapy.

  1. Sisi kognitif. Definisikan ketakutan.

“Apa sih yang membuatmu takut dengan kucing?”

Awalnya, dia menjawab “pokoknya takut aja!”

Kutanya lagi, “Takut sama bentuknya? Tapi kamu nggak takut kelinci.”

Selidik punya selidik, dia emang geli banget sampai bergidik dengan tubuh berbulu kucing.

Lha kalau nggak berbulu seperti kucing Spinx, apa nggak takut? Katanya malah lebih “gilo” lagi! Lah, gimana sih? Oke deh. Aku juga nggak mungkin melihara Spinx. Harganya bo, kwkwkwk. Jadi kusimpulkan ia takut dengan benda berbulu. Kelinci berbulu tapi beda dengan kucing. Bedanya apa? ”Pokoknya beda,“ kata putriku jengkel.

Berarti ia memang memendam ketakutan karena bulu-nya, bukan bentuk, taring, apalagi sikap mengendap-endap kucing yang kayak hantu aja.

  1. Sisi kognitif. Bangun pemahaman baru bahwa kucing nggak sejelek yang dikira.

Karena nggak takut sama bentuk, tapi sama bulu, berarti putriku masih bisa lihat bentuk kucing. Hanya saja nggak bisa megang atau berdekatan. Adik-adiknya senang sekali nge-share meme lucu terkait kucing, juga membagi video lucu kucing yang tersebar di youtube, IG dan line.

Icung di besek.JPG
Icung suka tidur di tempat-tempat tak lazim 🙂

Awalnya putriku nyinyir, ”ïh ngapain sih? Sebel aku, kalian ngirim video kucing. NGGAK BAKAL aku seneng sama kucing.”

Tapi lama-lama suamiku dan putriku ngakak habis kalau liat video kucing yang lucu. Ini sesudah mereka menonton puluhan video kucing. Jadi bukan hanya sekedar belasan, apalagi satu dua video, ya.

Selain itu ada diskusi-diskusi yang kami bangun :

  • Rasulullah dan para sahabat juga suka kucing, artinya kucing itu hewan yang diberkahi.
  • Kucing adalah penghalau alami tikus. Kalau pakai racun, terus tikusnya mati di rumah tetangga, gimana?
  • Sebagai perempuan, harus bisa mengatasi fobia. Siapa tahu suami, atau keluarga suaminya kelak suka kucing. Nggak lucu kan, kalau misalnya mertua suka kucing lalu menantu saking takutnya mengunci diri di kamar.
  • Di Istanbul, Turki, ada masjid yang imam masjidnya suka banget melihara kucing. Indah kan? Harmoni antara manusia dan hewan, kucing-kucing dibiarkan ikut sholat dan ceramah.

Cat at Istambul Mosque

Kucing di salah satu masjid Aziz Mahmud Hudayi di Istanbul, Turki

 

  1. Sisi perilaku. Ajak melihat dulu. Ajak dekat. Ajak sentuh bulu.

Kalau ada kucing lewat ( di komplek perumahanku banyak kucing seliweran. Apalagi kalau emak-emak belanja di tukang belanja, kucing ikutan mejeng minta kepala ikan) , aku bilang ke putriku : tuh, kucing sama kamu, ukuran badannya lebih gede mana?

Putriku cemberut, tapi ia mikir juga.

”Apa semua kucing menyerang kamu? Nggak kan?”

Lama-lama, putriku nggak histeris kalau lihat kucing lewat.

Lambat laun, putriku hanya waspada kalau lihat kucing , ”Asal dia gak dekat-dekat aku!”

Lama-lama dia mau ngasih makan kucing, tapi nggak mau kalau sampai bersentuhan.

Dan akhirnya, sekarang ia sudah bisa memegang kucing, meski belum bisa menggendongnya.

Putriku & Icung, kucing kami
Putriku sudah bersahabat dengan Icung

Alhamdulillah, di rumah kami memelihara seekor kucing. Kucing ini hadiah dari seorang teman. Sepasang suami istri tua akan membuangnya, dan kami menampungnya. Waktu itu usianya baru 3 bulan, kasihan sekali. Sekarang sudah jadi kucing yang gemuk dan cantik. Dihitung-hitung, nyaris setahun kami melakukan CBT pada putri kami agar ia mulai terbiasa dengan hadirnya kucing. Ia nggak harus melihara kucing kalau sudah menikah. Tapi kalau kelak orang-orang terdekatnya suka kucing, minimal ia bisa ikut bersahabat dan tidak bermusuhan dengan kucing.

Kamu gimana?

Sudah bisa ngatasi fobia kucingmu? J

Kategori
KOREA Oase Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Remaja. Teenager WRITING. SHARING.

Antara Sulli f(x) dan Hatsune Miku

 

 

Baru beberapa pekan yang lalu saya merenungi sebuah channel video Youtube tentang Hatsune Miku. Saya bolak balik menonton Is Hatsune Miku a Better Pop Star than Justin Bieber? Dalam video tersebut, Chris Plante menceritakan bahkan interaksi seorang bintang dengan para fansnya bisa sangat positif, bisa sangat negatif. Plante mengisahkan tentang Bieber, seorang bintang muda yang manis dan memiliki jutaan penggemar. Tetapi dunia entertainment melibas masa mudanya, melihatnya sebagai tambang uang dan para pemuja Bieber tidak memberikan celah bagi Bieber untuk berbuat ‘salah’. Akibatnya, Bieber yang kita kenal sekarang berbeda dengan Bieber yang mempopulerkan lagu Baby.

Hatsune_Miku.png
Hatsune Miku

Kita tentu menunggu-nunggu berbagai moment para selebritis dunia menampikan sisi terbaiknya, misal di karpet merah Oscar. Mereka yang berpenampilan bagus mendapatkan pujian, yang berpenampilan tak menarik mendapat banyak hujatan. Padahal belum tentu yang berpenampilan tak menarik itu sengaja tak memilih style, hanya saja ia berseberangan dengan orang kebanyakan. Hujat menghujat sudah lazim dilakukan netizen. Dengan bahasa sopan, hingga bahasa sangat menyakitkan.

Konsumen sekarang bukan hanya melahap lagu dan film para artis. Semua kehidupan pribadinya, juga dikonsumsi habis-habisan. Kemana dia belanja, kemana dia menyekolahkan anak, menghabiskan liburan di mana, sampai ke area paling pribadi : kenapa dia pacaran dengan si X, kenapa dia menikah dengan si A, kenapa dia memutus kontrak, kenapa dia keluar dari agensi?

Padahal bisa jadi masalahnya sangat pribadi.

Misal, seorang bintang merasa kelelahan –lahir batin- ketika harus menggelar konser. Tak heran banyak mereka yang terkena substantial abuse , mengingat dalam kondisi lelah dan sedih pun mereka harus tampil ceria di publik. Kita, orang biasa, enak aja. Kapan mau marah, kapan mau nangis, kapan mau cemberut. Emang ada yang peduli? Paling yang protes cuma pasangan dan anak-anak. Para bintang itu boleh jadi punya alasan sangat pribadi tentang dunia yang dipilih atau ditinggalkannya, alasan yang tidak bisa diungkap ke publik. Siapa yang tahu apa yang sebenarnya terjadi pada pernikahan Song Jong Ki dan Song Hye Kyo?

Saya masih ingat, bintang favorit saya di film X-File , Gillian Anderson, pernah tertangkap paparazzi tidak mencukur bulu ketiaknya. Ya, namanya dia lagi belanja dan  liburan. Bukan main sadis para jurnalis dan pengkritiknya. Sebagaimana Aishwarya Rai ketika menjadi gendut sehabis melahirkan. Perempuan yang pernah meraih  predikat tubuh terindah ini langsung dihabisi netizen. Untungnya, banyak warga India yang membelanya dan mengatakan : di kultur kami, sangat biasa seorang ibu menjadi gemuk. Maka saya nggak heran, melihat betapa stressnya para bintang pasca melahirkan, bahkan ia baru sehari dua hari melahirkan sudah harus menggenjot sepeda statis agar perutnya cepat langsing. Bukankah itu yang membuat Brooke Shield juga mengalami post partum depression? Sepanjang ia hamil yang melelahkan hingga punya anak, tak henti-hentinya dunia luar ingin tahu seperti apa beritanya.

Desember 2017, saya menuliskan tentang kematian Jong Hyun , salah seorang personel Shinee. Setiap kali menulis di blog tentang Korea, kisah tentang dirinya kerap ter-link begitu saja. Sedih itu masih terasa. Apalagi saat itu tak beda jauh dengan kematian Chester Bennington.  Secara pribadi saya tak mengikuti instagram atau twitter dari Bennington, Jong Hyun atau Sulli. Tapi sebagai seorang psikolog yang sering mendengar keluhan anak muda tentang kerasnya dunia media sosia, dapat kita bayangkan apa yang dihadapi para artis dunia. Terutama, artis muda macam Sulli. Fisiknya, perilakunya, pilihan bajunya, pilihan pasangan cintanya, karirnya, semuanya ada di bawah pengawasan netizen. Label manajemen sendiri sudah merupakan tekanan luarbiasa, apalagi ditambah tekanan dari berbagai pihak.

Sulli Young.jpg
Sulli Young : demikian cantik dan lucunya :”(

Kejadian Sulli, semoga yang terakhir kali terjadi. Seorang gadis muda yang masih mempunyai jalan panjang kehidupan, hancur berkeping tanpa ia tahu ke mana harus mengadu. Ia baru 25 tahun, kehidupan yang panjang terhampar di hadapannya. Apalagi Sulli memiliki banyak fans (dan juga haters, tentunya), tentu pilihan Sulli tentang apapun termasuk pilihan mengakhiri hidup akan menjadi sebuah berita yang sangat rentan untuk dikonsumsi.

Apa yang bisa dilakukan sebagai netizen dan warga dunia seperti kita?

  1. Kalau kita fans seseorang, gunakan selalu kata-kata bijak untuk mendukungnya. Katakan semangat, pantang menyerah, kamu luarbiasa, kamu inspiratif dan seterusnya.
  2. Kalau kita bukan fansnya, tak usah kepo dengan IG atau twitternya. Saya nggak ngefans si X dan Y, gak perlu follow atau stalking. Jadi gak perlu terlalu sering melihat postingan mereka. Kenapa? Karena nanti saya akan terbakar untuk ikut julid, menghakimi. Mending saya follow akun Sacha yang sering mengkoreksi englishnya para Seleb.
  3. Kalau kita tergabung dalam sebuah komunitas seperti ARMY fans BTS, Carat fans Seventeen, EXO-L fans EXO, Blink fans Blackpink, Reveluv fans Red Velvet atau apapun itu; mari lakukan gerakan-gerakan yang menghimbau pada kepedulian terhadap sesama. Misal, 10 Oktober tempo hari diperingati sebagai World Mental Health Day atau Hari Kesehatan Mental Sedunia. Tema tahun ini sangat spesifik : Suicide Prevention. Sedih sekali, bahwa Sulli justru harus menjadi salah satu korban suicide yang sedang kita perangi.
  4. Interaksi kita dengan dunia maya memiliki dinding setipis udara. Tak terlihat, tapi besar pengaruhnya. Rasanya ringan saja membully orang, lalu meninggalkannya dalam keresahan, gegara kita toh tak akan pernah bertemu fisik dengannya. Padahal, di semesta ini terjadi hukum law of attraction : setiap yang kita lakukan, ibarat pendulum, akan balik mengenai kita lagi. Jejak yang kita tinggalkan di IG, twitter, youtube channel siapapun semoga menjadi jejak baik yang suatu saat akan kembali ke kita lagi.

 

Yah, kembali ke pemaparan Chris Plante.

Kelak, mungkin saja kita harus mengganti semua artis dunia dengan sosok Hatsune Miku. Hatsune Miku popular dengan lagu Ievan Pollka, lagu yang sering diputar di sekolah dan acara pelatihan sembari melakukan senam Pinguin. Tahu kan siapa dia? Bukan manusia, bukan makhluk hidup, bukan boneka, juga bukan robot. Ia ‘hanya’ aplikasi sehingga tak merasakan sedih, susah, tersinggung, apalagi depresi. Miku punya jutaan fans. Lagunya digemari. Sosoknya dinanti. Konsernya buat orang antri. Para gadis membuat duplikasi. Walau ada yang pro kontra dengan Hatsune Miku, no problem. Ia tak punyarasa, tak punya raga, tak punya nyawa. Pendek kata, tak punya kehidupan. Maka Miku juga tak punya  masalah.

Kita prihatin dengan kehidupan para pesohor yang dipuja tapi juga rentan oleh berbagai masalah. Mereka juga manusia seperti kita. Mereka juga punya orangtua dan saudara seperti kita. Terlebih lagi, sebagai manusia kita saling terhubung satu sama lain. Boleh jadi Sulli sama sekali tidak masuk dalam lingkaran perhatian kita, tetapi bagaimana dengan anak-anak dan murid-murid di luar sana?

 

Sulli f(x).jpg
Sulli f(x) yang cantik dan begitu muda

 

 

Tidak dipungkiri, salah satu yang membuat Sulli merasa demikian berat adalah serangan para haters di media sosial. Setiap label manajemen, manajemen artis di manapun, baik di Korea dan Indonesia harus punya konselor atau psikolog khusus yang rutin mendampingi dari waktu demi waktu demi membangun mental sehat. Terlebih dalam situasi krisis seperti pemasaran yang anjlok, pembubaran grup, kesulitan karir, tak kunjung debut atau ada konflik internal, termasuk timbulnya permasalahan keuangan, keluarga dan permasalahan cinta. Persoalan di atas lazim terjadi pada banyak kasus, terlebih bagi artis. Perlu ada manajemen psikologis bagaimana mengelola interaksi dengan media sosial termasuk interaksi dengan para fans dan haters agar dapat dibangun lebih produktif.

Pada akhirnya, kita sendiri harus dapat membangun dunia yang sehat dengan media sosial. Fans dan haters kita boleh jadi tak sebanyak Sulli. Tapi bisa jadi kehidupan keseharian kita sudah sama satu dengan yang lainnya : tidak ada lagi dinding tebal di rumah, semua dapat menembus masuk dan keluar lewat media sosial. Apa yang realistic dan un-realistic sudah kabur, tak ada batasnya sama sekali. Bahkan, konon kabarnya, otak saat ini sudah tak dapat membedakan mana yang fiksi dan mana yang nonfiksi, saking banyaknya terperangkap dalam dunia maya yang merebut sebagian besar dunia nyata kita. Ketika dunia maya terasa lebih dominan, maka apa yang nyata terasa tak ada artinya. Hujatan fans di medsos sejumlah ribuan bisa membebani pikiran (padahal belum tentu orangnya sebanyak itu, karena bisa jadi memakai akun palsu), sementara dunia nyata yang menghadirkan seorang teman, sepasang orangtua yang senantiasa mencintai, seorang kakak atau adik yang menemani,  serasa tak ada arti.

Dunia maya, seperti namanya, maya. Ia tak nyata. Ghaib. Tak dapat diraba.

Yang nyata, tampak, teraba dan terasa jauh lebih berharga. Seperti kehidupan kita. Seperti keluarga dan teman-teman nyata. Jumlahnya tak banyak. Teman nyata kita mungkin cuma 5, sementara teman FB atau IG ada 5000. Tetapi yang 5 itu lebih nyata dibanding 5000. Penting bagi manusia untuk membangun relasi dengan teman nyata lebih sering, daripada dengan teman maya.

Sulli yang cantik, semoga kisahmu menjadi pelajaran bagi banyak orang.

 

 

 

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Artikel/Opini Buku Sinta Yudisia Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Remaja. Teenager

Membumikan Ilmu Psikologi

 

 

Literasi sains, saya tertarik dengan bahasan Kompas hari ini, Kamis, 16 November 2017. Bahwa masyarakat umum perlu sekali mengetahui apa saja perjalanan dan pencapaian dunia ilmiah. Betapa banyaknya berita hoaks yang terebar. Berdasarkan tulisan hari ini, tulisan hoaks tertinggi di bidang kesehatan, politik dan dunia entertainment.

Di bidang kesehatan, kita mengambil kata-kata WHO bahwa sehat berarti memiliki ketiadaan cacat baik fisik maupun mental. A state of complete physical, mental and social well-being and not merely the absence of disease or infirmity; kata-kata ini saya cantumkan dalam penelitian saya saat skripsi dulu yang membahas tentang PWB atau psychological well being.

Hoak di bidang kesehatan memang menempati urutan pertama. Termasuk kesehatan mental.  Hoaxs sendiri bermakna “ a plan to deceive someone, such as telling the police there is a bomb somewhere when there is not one, or a trick: The bomb threat turned out to be a hoax.

He’d made a hoax call claiming to be the president.

Hoak adalah rencanan untuk menipu seseorang. Dengan kata lain, hoak bukanlah sebuah berita yang 100% bisa dipercaya kebenarannya. Bahkan, boleh jadi muatan kebenarannya hanya 25% atau malah 0%. Dalam ranah psikologi, saya sendiri merasakan itu betapa klien telah dipenuhi pikiran dan pemahamannya oleh berita hoak.

Asylum-slide-PUIB-superJumbo - Copy.jpg
Asylum

“Anda perlu segera datang ke rumah sakit X.”

“Bu Sinta mau bilang kalau saya gila?!”

Di kali lain,

“Anda sepertinya harus dibantu obat.”

“Apa saya kelihatan nggak waras??!”

Skizofrenia, insane, depresi, mood, stress dan seterusnya telah dipahami secara salah ke tengah masyarakat.

Koran hari ini, Jawa Pos, 16 November 2017 juga memberitakan hal yang sangat mengerikan terkait perlakuan orang-orang normal terhadap seorang penderita gangguan jiwa di tengah jalan. Stigma terhadap penyakit jiwa begitu buruknya hingga akhirnya masyarakat enggan berobat, enggan menyadari dan mengakui bahwa di sekelilingnya (atau bahkan dirinya sendiri) memiliki gangguan emosi atau gangguan kepribadian. Seringkali, orang datang kepada psikiater atau psikolog ketika gangguan sudah dirasa tak tertahankan, ibaratnya stadium 4 dari penyakit kanker. Bila tidak segera ditangani maka akan menjadi penyakit yang menggerogoti diri dan lingkungan, bahkan akan menimbulkan dampak tak diinginkan.

 

Tugas Psikolog dan Ilmuwan Psikologi

Menjadi tugas orang-orang yang pahamd unia kesehatan untuk membumikan ilmunya. Sebagai psikolog, saya rutin memposting hal-hal terkait psikologi. Beberapa hari lalu saya memposting tentang lelaki dengan pribadian alpha-male. Tulisan ini mendapat respon lumayan ramai dari pembaca medsos. Harapan saya agar lelaki lebih waspada bila dirinya memiliki kharisma itu dan perempuan pun tidak lantas terperdaya.

Sebagai penulis novel, saya juga menghadirkan ke tangah masyarakat tentang kehidupan psikolog atau setidaknya novel yang merangkum ilmu psikologi. Rinai dan Bulan Nararya sendiri mengetengahkan kehidupan Rinai dan Nararya yang merupakan orang-orang psikologi dengan segala suka dukanya.

Saya juga membuat buku-buku yang ringan terkait dunia psikologi seperti Sketsa Cinta Bunda, Mendidik Anak dengan Cinta. Bahkan, di buku Sarah : Seri Perempuan Istimewa yang merupakan buku sejarah; secara tak langsung saya selipkan ilmu psikologi. Misalnya, saya kemukakan bahwa Sarah adalah seorang perempuan yang berani bicara. Itulah sebabnya, kenapa perempuan harus berani bicara di saat penting dalam hidupnya. Sarah berani bicara kepada ayahnya. Sejarah Sarah memang masih diteliti hingga kini. Namun disinyalir, ia seorang putri bangsawan terkemuka dari dinasti Isin atau Larsa di daerah Mesopotamia. Betapa Sarah berani mengemukakan pendapat untuk bicara tegas, ketika ia memilih Ibrahim sebagai suami.

 

Begitupun, Sarah adalah perempuan yang berani bicara dan bertindak, ketika ia yakin berada di atas garis kebenaran. Ketika 3 malaikat yang mulia : Jibril, Mikail, Isrofil hadir ke rumahnya; Nabi Ibrahim as merasa sedih akan berita buruk yang akan menimpa kaum Saduum. Namun tidak dengan Sarah, mendengar berita dari malaikat iapun ikut murka terhadap kedzaliman kaum Saduum yang berani menentenag Allah Swt dan Rasulnya, Luth as.

 

Mengapa buku bisa menjadi ajang komunikasi dari seorang ilmuwan kepada khalayak? Sebab buku menjadi bahasa yang tidak mungkin diucapkan semua oleh penyampainya. Buku juga bsia menyelipkan nilai-nilai secara halus tanpa terasa.

Carl Sagan menulis tentang Contact; sebagai astronom ia ingin menyampaikan kepada khalayak tetnang dunia astronomi ketika membahasa makhluk luar angkasa. Frank Tallis seorang psikolog klinis  yang menbuat serangkaian novel seperti Death in Vienna dan Vienna Blood  untuk menjelaskan pada khalayak bahwa psikoanalis tidak hanya bicara masalah basic instinct terkait sexual saja. Tetapi bagaimana tokoh utamanya , Max Lieberman berusaha mengungkap kejahatan dengan pendekatan psikoanalis kepada tersangka.

 

Selain novel dewasa dan buku sejarah dan motivasi yang saya selipi ilmu psikologi; saya juga membuat novel-novel remaja dengan rangkaian ilmu psikologi di dalamnya.

Reem dan Polaris Fukuoka, dua tokoh di dalamnya yaitu Reem dan Sofia memiliki satu kebiasaan psikologis yang sangat baik : menulis. Reem suka menulis puisi, Sofia suka menulis buku harian. Itu sebabnya, ketika saya memposting di fesbuk tentang apakah menulis dan kebiasan mencurahkan perasaan di buku diary membuat seseorang dapat melampiaskan marah dan benci? Hampir semua yang memberikan komen menjawab : ya.

 

Menggaungkan Ke Orang Sekeliling

Saya selalu menorong orang-orang di sekeliling untuk menjadi konselor kecil-kecilan. Baik kepada suami ataupun anak-anak saya.

1

“Ummi, temanku ada yang korban KDRT. Dia sama ibunya.”

“Sudah lapor ke polisi, Nak?”

“Kayaknya enggak deh…”

“Kalau begitu, kamu harus jadi teman curhatnya ya…”

 

2

“Ummi, temanku ada yang kelakuannya menyebalkan banget. Udah gitu dia gak ngerasa lagi kalau nyebelin.”

“Yah, itu namanya orang yang dalam berkomunikasi memiliki non-verbal disorder. Dia gak bisa memahami bahwa tingkah laku, sikapnya itu menyebalkan orang lain.’

“Trus gimana?”

“Kasih dia hadiah. Nanti kan bisa kamu dekati.”

 

3.

“Ummi, temanku ternyata ada yang orangtuanya single parent.”

“Trus, anaknya gimana?”

“Kebetulan sih anaknya baik. Ibunya perhatian. Bekas ayahnya juga perhatian.”

“Oh bagus itu. Kamu dekat sama dia kan?”

“Iya.”

“Kamu harus jadi teman baiknya. Ajak dia ngobrol ya.”

 

4

“Kenapa sekarang perempuan suka menggugat cerai?” tanya suamiku yang kebetulan ruang lingkup kerjanya di wilayah HRD.

“Oh, selingkuh ya?” sahutku.

“Ya.”

“Itu karena perempuan dominasi perasaan. Jadi pas sudah nikah lalu ketemu lelaki yang mempesona, terhanyut. Padahal belum tentu lelaki itu sebaik suaminya yang sekarang.”

“Trus gimana?”

“Ya memang hubungan suami istri harus didekatkan. Jadi kalau suami pindah kerja, usahakan istri mengikuti. Kantor dan pemerintah harus melihat aspek itu. Jangan sembarangan mutasi karyawan.”

 

Edukasi kepada Orang Sekeliling

Saya sampaikan kepada klien-klien bahwa skizofren dan depresi bukanlah hantu menakutkan yang membuat orang punya cacat seumur hidup dan menebarkan bau busuk hingga harus diasingkan. Sebagai psikolog, kitapun harus memperkenalkan diri kepada orang-orang sekitar : saya psikolog. Kalau orang bertanya apa bisa minta obat , maka kita jawab : itu ranah psikiater. Orang-orang akan semakin paham apa perbedaan psikolog dan psikiater bila kita terus menggaungkan. Dan juga, orang akan memahami level sakit ketika harus mengunjungi kedua ahli tersebut.

Seorang ibu pernah melaporkan kerabatnya yang sering mengamuk tak karuan hingga mengancam lingkungan. Orang-orang menyebutnya gila. Apalagi agresifitas dan gangguannya sudah kelewat parah. Apalagi keluarganya orang tak mampu.

“Saya harus gimana bu Sinta?”

“Ibu punya BPJS?”

“Ada sih.”

“Masukkan ia ke rumah sakit X.”

“Memangnya bisa? Terus berapa hari?”

Saya jelaskan bahwa obat-oabt antidepresan dan antipsikotik sebagian masuk dalam daftar BPJS. Dan pasien rumah sakit jiwa yang tidak mampu , gratis. Mereka akan rawat inap antara 30-60 hari tergantung daya tampung rumah sakit. Ketika sudah waktunya keluar, mereka akan kelur dan ketika kambuhpun bisa masuk lagi. Pendek kata, orang dengan gangguan seperti ini memiliki banyak cara untuk sembuh. Jadi jangan hanya didiamkan. Bahkan, kalau kita sendiri sudah mengalami tekanan hidup berkali kali dan beragam  jenisnya, jangan malu untuk mendatangi psikolog.

Uuntuk edukasi kepada masyarakat, alhamdulillah saya sendiri mencoba berbagai cara. Antara lain lewat tulisan, siaran radio, seminar dan wrokshop. Untuk kali ini, saya ingin memperkenalkan suatu program yang sudah lama sekali saya impikan. Saya bercita-cita memiliki Pusat Penelitian dan Pusat Penyembuhan dengan konsep art therapy. Mungkin karena saya sendiri berjiwa seniman ya. Salahs atunya adalah metode writing therapy. Semoga metode ini dapat diterima khalayak di berbagai level usia dan menjadi salah satu sarana menuju kesehatan mental yang paripurna.

reem workshop

 

 

 

 

 

 

Kategori
Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Renungan Hidup dan Kematian WRITING. SHARING.

Peta Psikologis dalam Kasus Bunuh Diri   Chester Bennington (Linkin Park) & Kurt Cobain (Nirvana)

 

 

 

Aku bukan penyuka musik rock tapi nama band itu terlalu famous untuk diabaikan. Anak-anak muda menggandrunginya. Terutama setelah albun mereka Hybrid Theory dan Meteora terjual fantastis. Pagi hari tadi, seorang teman mengabarkan kematian Chester Bennington. Aku hanya bertanya dalam hati, apa gerangan yang menyebabkan para artis papan atas memilih  mengakhiri hidup ketika pilihan-pilihan kesuksesan masih terbentang di hadapan. Membaca berbagai media, salahs atu hal paling menyedihkan dalam hidup Bennington adalah ketika sahabatnya Chris Cornell melakukan upaya bunuh diri beberapa waktu sebelumnya. Surat Bennington untuk Cornell  mengungkapkan rasa dukanya.

logotherapy-2-300x300.jpg
Logotherapy

Ada orang-orang yang begitu dekat dengan kematian, menderita setengah mati seperti Victor Frankl di kamp penyiksaan. Hari demi hari yang demikian berat di kamp, semakin membuatnya menyadari betapa pentingnya hidup, bukan keharusan mati. Frankl menemukan psikoterapi yang terkenal : Logoterapi. Ini logoterapi adalah, ketika manusia depresi berat dan ingin mati; ia diajak untuk kembali menghayati perannya di dunia. Ya, memang. Mudah diucapkan tetapi sangat berat. Orang-orang seperti Victor Frankl ini banyak sekali. Saudara-saudara kita di Palestina dan Suriah sudah menjalaninya. Mereka hidup dalam kesulitan yang luarbiasa, tapi tetap menjalaninya dengan tabah.

Sebaliknya, ada orang-orang yang hidupnya nyaman namun tak punya keinginan hidup. Tanpa dinafikkan, dibalik hari ini mereka punya sejarah kelam kehidupan : bullying, sexual abuse, perceraian orangtua seperti yang dialami Kurt Cobain dan Chester Bennington.

chester bennington linkin park.jpg
Chester Bennington

Otak dan Bunuh Diri

Bunuh diri sesungguhnya pilihan yang dilakukan antara sadar dan tak sadar. Sadar, karena perilaku manusia untuk sampai menggerakkan ekstrimitas atas dan bawah butuh pengendalian otak sadar. Kecuali bila refleks, itu baru gerakan tak sadar.

Bicara masalah otak, para pakar mengatakan bongkahan kelabu ini masih merupakan hantu hingga kini. Emosi, persepsi, motivasi, kesadaran yang membuat manusia tiba-tiba secara ajaib memutuskan sesuatu; benar-benar tak dapat diduga. Hanya dapat diprediksi. Meski demikian, ada beberapa hal yang harus kita cermati bersama.

Maka penyebab bunuh diri ada beragam : patah hati, dililit hutang, sakit berkepanjangan, ditolak kerja, tak diterima sekolah, tak punya gawai dan seterusnya.

Pertanyaannya : bagaimana bisa bunuh diri? Tidakkah orang sudah ngeri melihat senjata tajam, sianida, tali gantungan atau tempat ketinggian?

Dalam bukunya Born to Believe : Gen Iman dalam Otak; Andrew Newberg dan Mark Waldman menjelaskan sistem kerja otak yang menyerupai skema peta. Secara singkat Sigmund Freud menyebutnya alam sadar dan tidak sadar. Manusia lebih sering dipengaruhi alam tak sadar. Newberg dan Waldman mengatakan; peta yang dibentuk otak inilah yang nanti akan membuat manusia melakukan sesuatu. Saat-saat kritis, genting, atau butuh tanggapan cepat; sistem limbik bekerja. Sistem limbik ini terdiri dari amygdala, hippocampus dan thalamus.

Bingung?

Begini. Kita pernah berangkat dari rumah ke tempat kerja, bolak balik tiap hari. Pertama kali berangkat, pasti menghafal Jalan. Tiap pagi saya antar anak sekolah. Ruter dari rumah-sekolah awalnya harus diwaspadai dicermati : oleh lewat jalan ini, belok kiri ada jalan kembar, habis ini pom bensin, disitu ada sekolah SD, ada tiga kali lampu merah, disini putar balik dan seterusnya. Sekali, dua kali, tiga kali; kita betul-betul bekerja di alam kesadaran. Hari ke-20, ke-30, ke- 70 saya antar anak sekolah : lho…tahu-tahu kok sudah sampai sini? Kadang-kadang otomatis gitu aja menjalankan motor. Anda juga begitu kan kalau berangkat ke kantor, ke skolah, atau ngajar di kampus? Asal jangan sampai ke shopping mall sampai jadi alam bawah sadar hehehe.

Otak yang awalnya bekerja dalam kesadaran; dalam banyak situasi akhirnya bekerja tak sadar.

Para motivator bilang : ayo buat 200 cita-cita, tempelkan, nanti alam akan bekerja membentuk jalan ke arah impian anda!

Setiap hari kita bilang : aku benci diriku, benci hidupku, aku gagal, aku nggak punya siapa-siapa, aku stress, lebih baik mati aja kalau begini. Ini adalah peta otak yang memandu hidup kita! Maka suatu saat terjadi situasi impulsive : kematian seseorang, kehilangan sesuatu, gagal pencapaian maka alam bawah sadar langsung bekerja. Naudzubillahi mindzalik.

 

Positive Thinking and Positive Activation

Positive thinking iya.

Tapi aktvitasnya gak positive.

Merokok, terus mengatakan ke tubuh kita : aku pasti sehat, aku pasti kuat, aku pasti hidup 1000 tahun lagi. Itu juga tak dibenarkan. Otak bisa dimanipulasi tapi tak selamanya. Di alam bawah sadar bisa dimanipulasi, tapi kalaus udah sadar; realita akan berjalan.

Attitude.jpg
Positive thinking

Aku ingin sukses. Aku harus berhasil. Aku akan jadi milyarder muda. Ini pemikiran positif tetapi yang dilalui hari demi hari adalah menghabiskan waktu di depan internet dan gawai. Tak pernah baca buku-buku tokoh sukses dunia yang harus mengalami pahit getir kehidupan. Hayati kisah para Nabi yang selalu memulai segala sesuatau dengan perjuangan. Bacalah buku-buku tentang Erdogan dan Buya Hamka. Pelajari kehidupan Gandhi dan Steve Jobs.

Aktivitas positif salah satunya dengan beragama.

Agama ini memang obat yang luarbiasa bagi segala nestapa dan keruwetan dunia. Agama adalah pilar keyakinan yang tiada duanya. Agama telah membuat sekelompok orang mampu menaklukan golongan yang lain. Eisenhowe ketika memimpin Sekutu untuk menaklukan Hitler di medan perang Eropa; mengawali dengan berdoa dan sembahyan sesuai keyakinannya. Doanya dicetak dan disebarluaskan ke kalangan prajurit dan terbukti menaikkan semangat juang.

Ketika medan perang dunia II begitu genting dan beebrapa negarawan besar berkumpul; Stalin bertanya pada Churcill : “ seberapa besar kekuatan tentara Paus di Roma hingga ia dimasukkan dalam pertemuan? “

Pertanyaan Stalin sampai di telinga Paus dan beliau menjawab , “sampaikan kepada anakku Stalin bahwa tentaraku di langit terlalu banyak. Mereka yang akan menentukan peperangan ini.”

Masalah-masalah besar dunia pada akhirnya membuat orang tersadar bahwa agama, merupakan kekuatan yang menyebabkan manusia mampu melesat menjadi individu yang luarbiasa. Demikian pula sebaliknya; bila menjauhi agama, maka kekuatan hidup melemah.

Aktivitas positif disini dapat disimpulkan :

  1. Memliki keyakinan dan keimanan
  2. Memulai hari dengan doa dan ibadah
  3. Punya tujuan hidup
  4. Menetapkan target ideal dan real. Misal ingin kaya dengan penghasilan seperti Lionel Messi, namun juga belajar keras bagaimana mewujudkannya. Lihat cara Messi berlatih dan seterusnya. Bila memang tidak punya kemampuan sepakbola berarti beralih pada kemampuan yang dimiliki
  5. Mencoba membangun relasi nyata, bukan hanya dengan dunia maya
  6. Jujur bila timbul masalah dan segera mencari pertolongan dari pihak ahli. Bila terlilit hutang segera hubungi financial planner, bila tak paham agama segera cari Ustadz/ Ustadzah; bila stress depresi segera cari psikolog atau psikiater.

 

Kasus yang melegenda adalah Kurt Cobain.

Ia memiliki masa lalu seperti Chester Bennington, kedua orangtuanya bercerai ketika mereka masih kecil. Baik Bennington dan Cobain mengaku kehidupan mereka berantakan pasca perceraian orangtua. Kurt Cobain menikah dengan Courtney Love, mereka penggemar heroin dan mariyuana bahkan ketika Love hamil. Pihak kesehatan dan sosial sempat menjerat keduanya dengan pasal hukum ketika mengetahui sebagai orangtua malah menggunakan obat terlarang.

Celakanya, setiap kali Cobain teler dan hilang kesadaran, Love justru menyuntikkan sesuatu untuk membuatnya tersadar kemudian.

Cobain yang pernah memiliki orangtua gagal, menjadi demikian takut menghadapi pernikahan yang awalnya membahagiakan, apalagi ketika memiliki anak Frances. Teman, relasi, pihak manajemen telah menghadirkan terapis namun seringkali baik Cobain dan Love melarikan diri serta menolak.

Saya pribadi seorang psikolog.

Tapi bukan orang yang sakti dari permasalahan. Bila anak-anak bermasalah di sekolah; maka saya berdiskusi dengan guru-guru kelas. Saya berguru pada para Ustadz dan Ustadzah yang telah berhasil mendidik anak-anak mereka. Saya belajar dari para penghafal Quran dan pakar fiqih bila menemukan kebingungan dalam perkara-perkara pendidikan anak yang mungkin berbeda dari sudut pandang agama.

Kita harus belajar dan jujur akan kemampuan diri. Tetaplah optimis dan terus membuat peta positif dari otak kita agar tubuh dan semesta mendorong kita untuk secara otomatis melakukan hal-hal yang baik.