Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Bedah Buku Sinta Yudisia Karyaku Kyushu Mancanegara Remaja. Teenager

Mental Health Issues (1) dalam Polaris Fukuoka

Depresi. Suicidal thoughts atau pemikiran bunuh diri.

Aku berharap, novel Polaris Fukuoka dapat menjadi jembatan budaya remaja Indonesia- Jepang sekaligus membuat pembaca memahami seluk beluk depresi.

Dulu, sangat jarang menemui orang depresi atau orang yang ingin bunuh diri.  Sekarang, banyak sekali orang tua, bahkan remaja dan anak-anak yang merasa tertekan hidupnya karena tuntutan akademis atau tuntutan tak realistis dari lingkungan sekitar. Anehnya lagi, depresi yang berujung pada pemikiran bunuh diri tidak lagi didominasi oleh orang-orang dengan pendidikan rendah atau ekonomi kelas bawah. Mereka yang pintar, dari kalangan berada juga terancam gangguan mental yang mengerikan ini!

Selain paparan media sosial dan kehidupan kompetitif yang tak sehat, memang ada kultur-kultur tertentu yang turut memicu tekanan dalam diri seseorang.  Di novel Polaris Fukuoka yang bersetting budaya Jepang, beberapa point itu kuangkat.

  1. Budaya timur, termasuk Indonesia dan Jepang, sangat menghormati orangtua terutama ayah ibu. Hal ini tentu baik, mengingat dalam agama Islam pun, kewajiban berbakti pada orangtua menempati urutan teratas sesudah taat kepada Tuhan. Namun, bila komunikasi nggak berjalan lancar, anak bisa tertekan. Sebagaimana Yamagata Isao dan adiknya Yamagata Nozomi. Isao berakhir bunuh diri setelah berkali-kali membuat puisi jisei, puisi bertema kematian. Orangtua yang sukses tidak selalu mewariskan ketenangan hidup bagi anak-anaknya. Kadang, orangtua justru ingin anak-anaknya melanjutkan kesuksesan finansial yang telah dibangun puluhan tahun. Pilihan bakat minat, pilihan sekolah, pilihan akademis pada akhirnya ditentukan orangtua demi keberlangsungan kemapanan finansial. Keluarga Yamagata memaksa Isao dan Nozomi menekuni bidang ilmu tertentu – sesuatu yang sangat jauh dari minat bakat Isao dan Nozomi. Jadi, meskipun kewajiban patuh pada orangtua harus tetap berlaku, orangtua harus mencoba memahami keinginan anak-anaknya. Begitupun, anak-anak harus mencoba untuk menyampaikan apa harapan mereka, meskipun pada akhirnya entah orangtua atau anak harus mengalah salah satu.

2. Diam itu anggun dan kuat. Budaya timur meyakini ini, bahwa masalah harus dipendam rapat-rapat. Jangan sampai orang tahu! Padahal , ada orang-orang yang memang memiliki tipe kepribadian pencemas, disagreeableness, introver yang lebih senang memendam masalah sendiri. Memendam masalah lo ya – bukan memendam solusi. Sehingga, suatu saat ketika nggak kuat akan meledak. Entah itu bentuknya melukai orang lain atau melukai diri sendiri. Mencoba berteman dan bercerita pada orang lain merupakan salah satu solusi seperti persahabatan Sofia dan Nozomi, juga Sofia dan Tatsuo.

3. Komunikasi itu nggak gampang. Kadang harus ada ledakan dan api. Tapi nggak papa, sebab nanti ledakan itu perlahan akan mereda menjadi abu dan debu. Jangan takut ledakan, sebab sedang membangun jembatan pemahaman. Sofia yang tinggal bersama om Hanif, pamannya; seringsekali berantem demi mencoba mencocokkan apa yang ada di isi kepala mereka berdua.

Kebetulan, akhir tahun 2019, tepatnya 31 Desember 2019, aku diminta UI- IBF untuk membedah novel Polaris Fukuoka dalam kaitannya dengan mental health issue. Beberapa novelku memang mengangkat tema kesehatan mental dan bagaimana cara menghadapinya.

Nah, di bawah ini adalah beberapa link review Polaris Fukuoka yang bisa disimak, ya.

http://ellcheese.blogspot.com/2019/03/review-novel-polaris-fukuoka-by-sinta.html

http://nurin-light.blogspot.com/2018/10/polaris-fukuoka.html

https://rayescapingmadness.wordpress.com/2018/04/13/kind-of-book-review-polaris-fukuoka/

Mencoba berteman dan bercerita pada orang lain merupakan salah satu solusi seperti persahabatan Sofia dan Nozomi, juga Sofia dan Tatsuo (Polaris Fukuoka)

Kategori
Fiksi Sinta Yudisia Jepang KOREA Kyushu Mancanegara Oase Sirius Seoul Travelling Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Sirius Seoul : Nol & Zero bag. 2

 

Sofia mengunyah perlahan telur scrambled yang dicampur beragam sayuran. Dia harus bersegera menye­lesaikan makan siang bila tidak ingin kehilangan waktu shalat zuhur. Jie Eun masih setia dengan makan siang yang membuatnya tidak berlemak: dada ayam, irisan timun, rebusan sejenis ubi. Entah mengapa, dia yang terlihat paling lahap menghabiskan makan siang.

“Aku sebenarnya ingin mengambil beberapa program. Kita ada pelatihan untuk menjadi guru pada musim panas,” Sofia menjelaskan. “Juga, relawan untuk Festival Hua Fu di departemen anak.”

Natsuyasumi atau musim panas adalah masa liburan panjang. Banyak mahasiswa memanfaatkan masa ba­hagia ini justru dengan mengambil pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan kampus, atau diadakan oleh kakak-kakak tingkat yang telah lulus untuk merekrut adik-adik tingkat menjadi karyawan di berbagai instansi kelak.

Masa ini juga masa paling tepat bagi para mahasiswa yang hidup di perantauan untuk bekerja arubaito atau paruh waktu. Karena liburan resmi, bahkan instansi pemerintah pun bersedia merekrut pegawai berstatus gakusei atau mahasiswa. Mahasiswa asing sekalipun.

Jeda perkuliahan juga menjadi waktu paling tepat untuk mendapatkan relawan bagi kegiatan-kegiatan yang akan diselenggarakan begitu musim panas usai. Rata-rata, perkuliahan dimulai pada musim semi April, terpotong musim panas, aktif kembali pada musim gugur yang sering kali ditandai dengan banyaknya matsuri atau festival. Festival-festival bukan hanya diselenggarakan di setiap prefektur yang memelihara cita rasa tradisional berusia ribuan tahun, tetapi juga di kampus-kampus demi mengusung nilai-nilai unik yang ditawarkan civitas academica.

Rancangan Hanaya Florist
Rancangan Hanaya Florist

“Kamu ingin mendaftar sebagai relawan?” Rei men­delik.

“Kupikir, bekerja di belahan bumi mana pun masih lebih menarik daripada berada di toko bunga pamanku,” Sofia terkekeh.

Hm, sepertinya aku mau arubaito di toko pamanmu,” Rei menggumam.

“Wah, itu bagus!” seru Sofia. “Percayalah, pamanku seperti malaikat bagi karyawannya. Dia hanya berbeda perlakuan terhadapku. Mungkin karena aku bandel.”

Rei dan Umeko tertawa.

“Tapi,” Sofia memandang makan siangnya yang mulai dingin, “memikirkan musim panas diisi dengan bekerja, training, menjadi relawan; rasanya aku lekas menua. Apakah tidak bisa kita liburan seutuhnya?”

Jie Eun yang sedari tadi hanya mengamati mulai angkat suara.

“Kalian tidak ingin ke Korea sesekali? Dekat, kan, dari sini?” Jie Eun bertanya ringan.

Ungkapan Jie Eun membuat ketiga temannya menghentikan aktivitas seketika. Ya. Mengapa tidak? Bukankah Korea hanya sedikit di atas Fukuoka? Pasti menyenangkan bisa melihat belahan lain dari dunia se­

lain Joshi Daigaku, apartemen, dan toko bunga. Ups, pasti menyenangkan sejenak menjauh dari tekanan Paman.

“Kalian bisa ke SM Town, pergi ke teater, atau ke Pulau Jeju.”

“Maksudmu, SM Entertaintment?” Sofia menahanna­pas. “Suju, TVXQ, Bigbang, EXO, BTS, SNSD, Blackpink, Red Velvet?”

“Bigbang bukan SM, Sofia.”

Whatever,” Sofia menepuk-nepuk mulut, tanda kelepasan bicara, “maksudmu, kita bisa ke sana dan berfoto, beli barang keren di flagship stores?”

“Kalau tujuanmu belanja barang, bisa kuantar ke toko Line di Itaewon,” Jie Eun tertawa. “Tapi, pastikan apa tujuanmu ke Korea.”

Rei dan Umeko berpandangan. Sofia memandang Jie Eun bergairah.

“Aku rasa, penawaranmu membuatku semangat menghabiskan makanan.”

cover Sirius Seoul
Masukkan keterangan

“Kalian bisa tinggal di rumahku,” Jie Eun menawar­kan. “Bukan rumah mewah, tapi kurasa cukup menyenangkan untuk menghabiskan musim panas. Kita bisa bersepeda di sepanjang Sungai Han, menikmati makanan khas yang terkenal seperti bulgogi dan bibimbap. Menon­ton konser. Kalau kalian suka, kita bisa melihat titik perbatasan Korea Selatan dan Korea Utara. Tempat itu mengasyikkan untuk penyuka sejarah seperti Sofia.”

Kotak makan Sofia segera tandas.

“Aku harus segera shalat. Jie Eun, kamsahamnida. Aku rasa, aku ingin sekali menghabiskan liburanku di negerimu.”

“Suatu kehormatan bagiku memperkenalkan Korea kepada kalian,” Jie Eun tersenyum manis.

Rei dan Umeko melempar pandang sembari tertawa riang.

Ajakan Jie Eun yang tampaknya hanya sekadar per­cakapan sekilas, membuat suasana siang hari itu terasa dipenuhi pelangi.

 

*****

Kategori
Buku Sinta Yudisia Fiksi Sinta Yudisia Karyaku Kepenulisan KOREA Kyushu Mancanegara Oase Sirius Seoul Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Sirius Seoul : Nol & Zero, bag. 1

Ikuti kisahnya dan nantikan hadiahnya!

 

Rasanya sepertiぐでたま. Gudetama, si telur yang eng­gan melakukan hal dengan sepenuh hati. Si telur yang bosan diperintah-perintah dan lebih senang tengkurap, menungging sebagai bentuk pemberontakan dan peno­lakan. Si melankolis berbentuk kuning, yang malas dan kerap menggumam: meh, aaahhh.

Bila malam tiba, ingin bersorak melihat shoji ka­marnya. Bau sarung bantal dan selimut adalah aroma ternikmat yang pernah dihirup. Sering kali bila terlam­pau lelah, Sofia tertidur masih mengenakan kaus kaki dan jilbab yang membalut kepala. Barulah dini hari saat ingin ke belakang karena hawa demikian dingin, dia membersihkan diri berikut sikat gigi dan menyelesaikan agenda yang seharusnya ditunaikan sebelum tidur.

cover Sirius Seoul
Sirius Seoul yang insyaallah terbit September 2018

Dering alarm pagi merupakan hukuman bagi kesenangan!

Andai waktu dapat ditunda dan dia dapat menelusup ke bawah lantai tatami. Menimbun diri di balik tumpukan baju yang belum disetrika, menimbun diri di balik gulungan selimut, bermimpi bahwa natsuyasumi sedang terjadi hari ini.

Sebetulnya, Paman tidak lagi seperti matsu yang kaku. Jarang mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan. Namun, perintahnya makin sering, makin kerap, makin beruntun.

Ambilkan barang. Ada yang mau antar dan nitip di An Nour.

Jemput tamu di Bandara Fukuoka.

Belikan bibit bunga.

Jangan lama-lama di kampus. Kerjakan tugas sambil jaga toko.

“Main ke Aso jangan keseringan. Mentang-mentang tiket pelajar dapat diskon. Ngapain jauh-jauh cari krim susu di kaki Gunung Aso?”

 

*******

 

Kantin Joshi Daigaku, dihiasi meja putih dan kursi kuning cerah, tidak mampu memberikan energi positif. Dinding merah bata yang menjadi ciri khas kampus perempuan, bagai batas-batas penuh bisikan membawa pesan rahasia bak cerita di film horor.

“Aku merasa semester ini sebagian besar diriku hancur,” keluh Rei.

“Sama,” Umeko mengiakan.

Sofia yang menyusul tampak sama kusutnya.

“Aku tidak mengerti apa yang salah,” Rei masih ke­hilangan semangat. “Kuliah nursing, pelatihan keguruan, dan children care harusnya berjalan mudah.”

“Apakah kita sudah kehilangan sifat keperempuanan sehingga pelajaran perempuan terlihat sangat sulit?” Sofia melempar pertanyaan retorik.

“Kamu betul,” ujar Rei dan Umeko nyaris serem­pak.

“Dulu, ibu-ibu kita sangat rajin dan tahan banting,” Umeko menambahkan. “Mereka langsung belajar dari alam. Sekarang, kita kehilangan keahlian. Ah, ternyata jadi perempuan terampil sangat sulit.”

“Kita butuh liburan,” usul Rei.

“Setuju!” Sofia yang pertama kali mengiakan, sebe­lum yang lain sempat menghela napas.

Mereka memandang makan siang masing-masing tanpa selera. Bahkan, olahan telur Sofia yang biasanya paling mengundang selera, tidak dilirik oleh Rei dan Umeko.

“Aku sepertinya akan mengambil semester pendek,” Umeko terlihat ragu. “Tapi, aku tidak menolak kalau kalian memaksa.”

Sofia dan Rei tertawa.

“Tak seorang pun menolak liburan, Umeko!” Rei menggoda. “Ada usulan kita akan ke mana?”

“Aso?” Umeko menawarkan.

Sofia sontak lunglai.

Bukan dia tidak suka pemandangan gunung eksotis, kabut, dan pemandian air panas. Apalagi, hamparan pe­ternakan sapi yang menyediakan susu terenak di dunia. Berikut es krim yang jelas-jelas lezat. Oishi! Meccha umai! Tapi, ucapan Paman membuat semangatnya segera ken­dur. Entah mengapa, Paman melarangnya sering-sering ke Aso. Mungkin, usai perjalanan wisata ke sana, Sofia persis seperti si Kuning Telur Gudetama. Menungging tidur, malas seharian.

Menolak ajakan Umeko, tidak sopan rasanya. Untung, Jie Eun segera bergabung menyesuaikan percakapan.

“Ke mana kalian natsuyasumi kali ini?” tanyanya.

Rei menggeleng.

Umeko mengangkat alis.

 

#siriusseoul #polarisfukuoka #novel #romance #adventure #friendship #itaewon

#linestore #smtown #seoul #korea #kpop #idol #boyband #girlband

Aso 27.jpg
Pegunungan Aso di Fukuoka. Cantik ya?

Kategori
Buku Sinta Yudisia Fiksi Sinta Yudisia Jepang KOREA Kyushu Mancanegara Oase Sirius Seoul Travelling WRITING. SHARING.

Seperti apa sosok Sofia di novel Sirius Seoul?

 

 

Aku teringat sepenggal percakapanku dengan Profesor Robin Kirk, pakar cerita anak yang juga ikut residensi penulis di Seoul Juli 2018 tempo hari.

“Apa yang ingin kamu sampaikan ketika menulis novel untuk remaja, terlebih settingnya Jepang dan Korea?”

cover Sirius Seoul
Cover Sirius Seoul. Cantik , ya? 🙂

Kuceritakan bahwa anak muda Indonesia  menggemari Jepang dan Korea. Film-filmnya, animasi, komik, drama, musik, kuliner dan seterusnya. Banyak pertanyaan muncul di hatiku : kok bisa ya buat film sekeren itu padahal plot dan settingnya sederhana? Oh, ternyata ada kekuatan di karakter tokohnya. Kok bisa ya K-pop sekeren itu? Oh ternyata mereka tahan banting, masuk karantina bertahun-tahun sebelum debut. Filosofi han sudah mendarah daging dalam diri mereka. Yang mau sukses, harus sabar dan tahan banting.

Sosok di Polaris Fukuoka dan Sirius Seoul, masih sama. Sofia, si anak yatim piatu yang merantau ke Fukuoka, nebeng hidup dan kerja di pamannya yang super galak tapi baik hati. Di Sirius Seoul, Sofia menghabiskan liburan musim panasnya di Seoul, menikmati konser boyband dan mengunjungi tempat-tempat eksotis sembari mencari jejak sepupunya yang belum pernah dikenalnya, Ninef.

Sofia yang kesasar ketika naik bis di Seoul (kiri) . Sofia dan Ninef saling bertukar cerita (kanan)

 

 

Seperti apa sosok Sofia?

  1. Energik
  2. Suka berdebat terutama dengan si Om
  3. Karena gak punya ayah, agak-agak gimana kalau ketemu cowok . Kata si Om ,”kamu jangan genit kalau ketemu cowok!”
  4. Suka makan telur. Sampai-sampai Jie Eun, Rei dan Umeko bosen lihat menu makan Sofia.
  5. Punya jiwa altruist tinggi. Kali aja dia punya kepribadian tipe A- Agreeableness, salah satu dari Big Five Personality ya?
  6. Suka pakai baju batik. Karena batik itu melambangkan budaya Indonesia yang cantik banget.
  7. Rajin kalau lagi mood
  8. Bisa tidur masih pakai jilbab dan kaos kaki kalau udah kecapekan hahaha…
  9. Kalau lagi malas, mirip banget sama Gudetama, tokokh telur dalam kartun Jepang!
  10. Bodynya atletis –bukan tipis- , maklum angkut-angkut barang di toko si Om. Lari kesana kemari dari apatonya di Fukuoka dan kampusnya di Kitakyushu. Apalagi si Om nggak suka dengan karyawan yang klemar klemer, banyak alasan
  11. Wajahnya manis, tapi jangan dibayangkan seperti Jie Eun yang mirip Rose – Blakcpink atau adiknya , Yi Kyung yang mirip Jisoo.
  12. Suka nolong orang, tapi suka ngutang ke si Om dan tantenya, Nanda yang judes tapi kindhearted.

 

Selebihnya baca sendiri aja yaaa

 

(meski Sofia masih amat sangat gaul, gak bisa lepas dari IG dan boyband girlband pujaannya; diam-diam dia terus belajar mencari jati diri. Satu yang ingin kutampilkan di novel Polaris Fukuoka dan Sirius Seoul : betapa istimewanya gadis Indonesia karena mereka dikenal mandiri, baik hati dan suka menolong . Jadi, banggalah jadi gadis dan perempuan Indonesia!)

 

Mohon  doa di hari baik, bulan baik ini, agar novel Sirius Seoul lancer terbit. Barakah dan bermanfaat bagi masyarakat luas, pembaca menemukan pencerahan, serta keunggulan Indonesia semakin dikenal masyarakat dunia.

 

Kategori
Fiksi Sinta Yudisia Kepenulisan Kyushu Oase Sastra Islam WRITING. SHARING.

Maukah Kamu Jadi Penulis?

 

 

Tidak ada universitas yang khusus memiliki fakultas atau jurusan yang mencetak seseorang menjadi penulis.  Bahkan fakultas FIB sekalipun, tidak secara otomatis membuat mahasiswanya mengambil profesi penulis sebagai pekerjaan hidupnya. Penulis adalah pekerjaan lepas yang benar-benar ‘lepas’ : hanya orang-orang yang benar-benar niat jadi penulis, akan menjalani profesi sebagai penulis dengan segala lika likunya.

Bertahun-tahun lalu, di era tahun 2000an, saat novel dan kumpulan cerpen di tanah air meledak penjualannya; orang ramai-ramai ingin jadi penulis. Pelatihan-pelatihan digelar dan pesertanya mengalir deras. Sekarang, acara-acara kepenulisan sepi peminat. Bedah buku jarang dihadiri khalayak. Orang enggan mengirimkan cerpen ke koran-koran atau majalah. Alasannya : menulis susah-susah, lalu tertolak, kalaupun dimuat bayarannya tak imbang antara jumlah dan tenaga menagih. Royalti penulis tak seberapa besar. Perlahan-lahan, pekerjaan sebagai penulis semakin sepi peminat. Orang tak lagi tertarik untuk menjadikan dunia kepenulisan sebagai salah satu pekerjaan bergengsi yang menghasilkan uang.

 

Tujuan Bekerja

Ada banyak motivasi seseorang untuk bekerja.

Mencari nafkah, menunjukkan eksistensi diri, menuruti permintaan orangtua, atau agar terlihat layak sebagai calon menantu ketika meminang perempuan suatu hari. Bagi seorang lelaki, bekerja adalah salah satu medan jihadnya sehingga ia harus bersungguh-sungguh mencari nafkah halal. Menafkahi istri dan membesarkan anak-anak adalah perkara serius; yang membutuhkan segenap sumber daya dari orangtua. Profesi penulis, memang seringkali dianggap tidak dapat menjadi jaminan bagi laki-laki untuk dapat megnhidupi secara layak keluarganya.

Namun, ada banyak teman-teman saya yang berjenis kelamin laki-laki dan tetap bertahan sebagai penulis. Kehidupan mereka memang tidak mewah. Satu dua orang berhasil meraih impiannya lewat jalur menulis dan hidup cukup dari hasil menulis buku. Sebagian besar, harus bekerja keras sebagai penulis untuk dapat hidup layaknya orang ‘normal’. Tetapi, mereka terlihat sangat bahagia dan bangga dengan pekerjaannya. Mereka merasa menemukan jatidiri sejati sebagai seorang penulis. Mereka merasa, bahwa dengan menulis inilah banyak hal dalam diri mereka berkembang. Salah satu aspek psychological well being adalah personal growth. Menjadi penulis, mengharuskan seseorang belajar dan terus belajar. Rupanya, ini membuat teman-teman penulis saya yang laki-laki gemar melahap buku dan tulisan apapun. Kebiasaan membaca ini membuat mereka lebih bijak, fleksibel, dan mampu mencermati banyak hal dalam hidup dengan filosofi yang indah bermakna. Teman-teman penulis saya terus ‘tumbuh’.

Sinta & Batkhuyag.JPG
Prof. Batkhuyaag Purekvuu & Sinta Yudisia, di Yeonhui, Seoul

“Penulis seharusnya tidak hanya mempertimbangkan materi. Dalam hidup ada yang tidak dapat diukur dengan kekayaan.” Prof. Batkhuyaag Purekvu

Bagi perempuan, profesi menulis tidak masalah.

Biasanya, perempuan telah memiliki sokongan nafkah dari ayah, suami atau saudara lelakinya. Maka bagi perempuan, profesi penulis lebih tidak membingungkan dibanding laki-laki. Tentu saja, ada beberapa teman-teman saya yang perempuan; menjadikan dunia kepenulisan sebagai tumpuan hidupnya. Mereka bekerja sama kerasnya seperti laki-laki yang penulis; sehingga rabat penjualan buku atau royalti adalah salah satu sumber penghasilan.

Sama seperti laki-laki penulis, teman-teman perempuan penulis memiliki personal growth yang bagus. Mereka menjadi manusia-manusia yang bijak dalam segala aspek. Sebagai salah satu contoh, seorang teman penulis perempuan sahabat saya –ia salah satu guru spiritual saya dalam hal kesabaran-  hingga kini hidup dalam kesederhanaan. Masih naik motor butut. Laptop baru punya sebentar, selama ini nebeng komputer masjid ketika mengetik. Baru-baru ini saja ia juga memiliki ponsel pintar setelah bertahun-tahun (lamaaa sekali) ia hanya punya telepon jadul yang hanya dapat mengirim SMS. Keluarga intinya sering menyindir, mengejek, menyudutkan atau entah apalah yang memojokkannya. Selalu memandang miring pada profesi penulis yang dipilihnya.

Tetapi saya melihat personal growth yang luarbiasa dari diri sahabat ini.

Kesabaran.

Dan ketergantungannya pada Allah, luarbiasa.

Setiap kejadian buruk yang menimpanya, nyaris tak ada yang membuatnya berduka apalagi putus asa. Prinsipnya sederhana, selama penghasilan menulis masih dapat menopangnya untuk hidup, akan ia lakukan. Meski, hidup yang dipilihnya sangat sederhana dan seluruh penghasilannya bukan hanya bagi dirinya tapi juga bagi keluarganya.

Bekerja, adalah salah satu kewajiban manusia.

Bahkan, salah satu predictor of happiness adalah bekerja. Orang yang tidak memiliki pekerjaan termasuk orang yang tidak bahagia. Pengangguran adalah orang yang tidak bahagia. Peminta-minta adalah orang yang tidak bahagia. Bergantung pada orang lain adalah orang yang tidak bahagia. Namun, banyak juga orang stress, tertekan, depresi dan merasa benci pada pekerjaannya. Ia selalu merasa setiap pagi adalah mimpi buruk ketika  harus melihat rekan, atasan, setumpuk pekerjaan dan pengahsilan yang rasanya tak sesuai dengan apa yang dikorbankan. Apa yang menjadi tuntutan hidup. Mungkin ia kurang bersyukur. Atau mungkin, ia sama sekali tidak tahu filosofi bekerja.

Seorang penulis tahu betul untuk apa ia bekerja.

Ia bekerja untuk dirinya sendiri. Untuk memenuhi kebutuhan manusia paling dasar berupa sandang, pangan, papan. Tetapi, tuntutan pekerjaan sebagai penulis, membuat penulis harus terus bekerja sama dan mengamati orang lain. Ia harus bekerja sama dengan editor, rekan pembaca, resensor, ilustrator dan banyak lagi. Apa hal ini tidak didapatkan di tempat lain? Ada. Tentu saja, nyaris semua pekerjaan membutuhkan daya dukung dari elemen lain. Tetapi dalam dunia kepenulisan, rasanya kerjasama dengan banyak pihak menjadi sebuah kelaziman. Meski, saat menulis, seseorang menjadi individu yang sangat personal.

Penulis, harus terbiasa mengamati orang. Melihat. Mengobservasi. Sebab itu salah satu inti keahliannya dalam menilai orang dan memindahkannya ke dalam buku –jika ia penulis novel atau cerpen. Kebiasaan mengamati orang ini membuat penulis mudah memahami orang lain (walau belum tentu dapat mudah berempati ya!), dan membuat penulis dapat mengambil ilham dari sisi manapun.

Belum lagi, seorang penulis harus mengetahui watak sebagian besar pembaca. Ia terbiasa membaca orang, ia terbiasa mengamati orang-orang. Ia biasa bekejar sama dengan orang, orang dan orang. Saya suka sekali berteman dengan para penulis, sebab mereka sosok-sosok paling humanis yang pernah saya kenal. Yah, adalah penulis yang egois satu atau dua; tapi tak banyak. Rata-rata teman penulis saya enak diajak ngomong, mudah mengerti kesulitan orang lain, ringan tangan membantu (tapi jangan dimanfaatkan ya!). Salah satu sisi humanis penulis adalah, seringnya ia tidak tega memasang harga mahal bagi bukunya sendiri hehehe. Ia rela memberi potonga harga, diskon, rabat, terhadap pembaca yang merengek meminta penurunan harga. Saya pribadi, kalau teman penulis menjual buku, seringkali bilang begini : kubeli dengan harga wajar. Gak usah diskon! Aku tahu sulitnya nulis buku! Maka yang seharusnya membeli buku dari seorang teman penulis, adalah temannya sendiri yang juga seorang penulis.

 

Hal Buruk yang Terjadi pada Penulis

Diluar kebanggaan, sisi humanis dan kesabaran yang biasanya melekat pada diri penulis; ada beberapa hal buruk yang mungkin menghampiri seseorang ketika ia memutuskan menajdi penulis. Hal ini harus disadari sejak awal agar orang tak hanya memikirkan hal muluk-muluk ketika menjadi penulis.

 

  1. Perjalanan panjang, mungkin seumur hidup

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk jadi penulis mahir?

3 bulan, 6 bulan, 2 tahun? Ketika bukunya telah terbit 5 atau 10? Atau setelah ia mengikuti workshop selama puluhan jam?

Saya ingin sedikit bercerita.

Salah satu impian saya adalah jadi penulis buku anak-anak. Entah karena masa kecil saya terlalu bahagia atau malah kelewat sengsara hahaha. Yang pasti, senang sekali menonton film yang berkisah tentang anak-anak seperti Heidi, Little House on The Prairie, Secret Garden. Bahkan nonton Barbie pun saya suka. Apalagi Narnia, The Bridge to Terrabithia, Charlie and Chocolate Factory dll. Buku-buku yang mengisahkan anak kecil saya suka banget! Kim, Rudyard Kipling. Serial Trio Detektif, Nancy Drew, Sapta Siaga. Yang terbaru adalah buku-buku karya Jostein Gaarner.

Kapan saya bisa seperti mereka?

Maka saya mencoba menulis cerita anak.

Alamaaak, susyeh!

Kalau lihat buku cerita anak : yah, cuma 16 halaman doang, gampang!

Hantu Kubah HIjau - resolusi kecil
Hantu Kubah Hijau : novel anak yang baru terbit setelah 10 tahun!

Nyatanya sulit. Saya ingin buat buku yang bisa dibaca oleh anak-anakku sendiri. Nyatanya, buku itu ternyata tak terbit-terbit hingga 10 tahun! Hantu Kubah Hijau adalah sebuah buku cerita anak, novel petualangan yang butuh waktu bertahun-tahun untuk terbit. Bahkan, ketika masuk meja redaksi saya masih dibimbing oleh tim editornya untuk terus mengembangkan cerita…

Hanya orang-orang bermental baja, punya lengan dan jari jemari otot kawat-besi yang bisa kuat belaja rmenulis, mengetik, ditolak, diedit, ketik ulang, edit lagi, direvisi dan seterusnya.

Kalau khalayak melihat akhir tahun 2017 ini beberapa buku saya terbit, itu bukan hasil kerja mulai Januari 2017. Tapi ada yang dikerjakan sejak 2016 (Reem), ada yang ditulis sejak 2015 (Polaris Fukuoka), ada yang dikerjakan sejak 2007, hiks hiks…

Pelatihan, workshop, camp atau apapun namanya hanya dapat memantik keinginan untuk menulis. Selebihnya, penulis harus punya jiwa baja untuk terus berjuang mengembangkan diri –personal growth hingga ia mencapai titik kesabaran yang dibutuhkan dan titik kekuatan yang paling besar untuk mampu mengubah dunia : lewat mengubah dirinya terlebih dahulu.

 

Reem ditulis 2016, Polaris Fukuoka dirancang sejak 2015

 

  1. Gagalnya buku di pasaran

Jangan menilai Dan Brown, Andrea Hirata, Habiburrahman el Shirazy dari karyanya yang sekarang sudah laris manis bahkan mendunia.

Mereka pernah merasakan bagaimana pahitnya buku gagal. Mereka adalah orang-orang yang bukunya pernah gagal, dikritik bahkan tidak pernah diprediksi akan menjadi penulis tenar.

Dan Brown bahkan pernah mengubah namanya menjadi Daniella Brown, dengan prediksi bukunya lebih laris. Nyatanya tidak juga. Saya sendiri pernah berpikir jangan-jangan nama Sinta Yudisia kurang laku. Enaknya diganti apa ya? SY Danti, terinspirasi SH Mintarja. Atau S. Yudi W; mengingat nama maskulin lebih meyakinkan daripada nama feminin. Alhasil saya kembali pada nama asli : Sinta Yudisia. Walau itu kependekan dari Sinta Yudisia Wisudanti.

Buku yang gagal di pasaran?

Hehehe…japri aja ya, kalau mau tahu 🙂

Saya ingat nasehat seorang teman pengusaha sukses : kalau mau jadi pengusaha sukses, harus bisa sabar melihat barangnya numpuk tak terjual. Itu ujian kesabaran yang akan mengasah diri. Maka saya mencoba sabar dan berbesar hati melihat beberapa jenis buku masih menumpuk belum terjual. Seiirng waktu, orang akan menanyakan buku-buku kita yang lain ketika satu buku laris di pasaran.

 

  1. Cepatnya write off

Ini terkait dengan nomer 2. Kalau gagal di pasaran, biasanya cepat write off atau dikembalikan hak terbitnya ke penulis. Ini salah satu momen paling menyedihkan bagi penulis. Ketika sepucuk surat dilayangkan dari penerbit : mohon maaf, buku anda ditarik dari peredaran. Bukan lantaran subversif, kontorversial, memicu hate speech, hoax dan sejenisnya. Tapi karena tak laku! Rasanya pingin nangis garuk-garuk dinding.

Inilah bagian dari personal growth.

Kita jadi belajar untuk berkembang, adaptasi, menyesuaikan diri ketika buku gagal.

Apakah akan terus menulis?

Apakah akan meningkatkan kapasitas menulis?

Apakah akan beradaptasi?

Apakah akan ngotot dengan kualitas karya yang itu-itu aja?

Tentu, tidak mesti harus leat kegagalan. Kalau bisa; jadikan kegagalan saya sebagai pembelajaran bagi semua. Jadi mari sama-sama belajar.

 

  1. Kritik pedas terhadap karya.

Penulis, sebuah profesi yang berhubungan dengan banyak orang , apalagi ketika karyanya terbit. Bahkan, sebelum terbit dalam bentuk buku dan ia melontarkan gagasan-gagasannya dalam bentuk quote, meme, potongan cerita; orang-orang sudah bisa memberikan komentar. Komentar manis-manis tentulah ada. Komentar yang menusuk, wah, sudah pasti.

Kok ceritanya itu-itu aja?

Endingnya pasti sudah bisa ketebak.

Kenapa diterbitkan indie? Gak laku di mayor ya?

Wah, lagi-lagi cerita tentang dunia kampus. Anak pesantren. Cinta-cintaan.

Covernya terlalu dark. Kurang menarik.

Dan lain-lain.

Profesi penulis adalah profesi yang siap dengan kritikan, sindiran, bahkan mungkin dituduh memplagiat sesuatu padahal penulisnya merasa terinspirasi dengan sebuah buku hingga karakter tokoh, alur cerita sampai endingpun tanpa terasa terbawa dalam imajinasinya.

Saya punya teman penulis yagn punya kometnar keren ketika dia dituduh menulis karya-karya yang mainstream, alias kisah yang itu-itu aja. Kisah cinderella, upik abu, atau kisah picisan princess prince.

“Memangnya kenapa kalau kita menulis hal yang mainstream? Kalau kita justru mahir disitu dan mampu memolesnya dengan indah? Masih banyak orang yang butuh bacaan dengan isi yang mainstream. Mereka tetap butuh pencerahan dengan cerita yang ringan.”

Iya ya.

Bagi saya, kisah orang hijrah pakai jilbab, mainstream. Taaruf, nikah muda, mainstream. Jatuh cinta dengan ikhwan berjenggot, mainstream. Cerita rohis di kampus, mainstream. Terpesona dengan kecantikan muslimah berjilbab, mainstream.

Tapi, bagi anak-anak remaja SMP SMA yang belum banyak pengalaman; kisah mainstream itu bisa jadi sangat baru bagi mereka. Cinta monyet yang pernah saya alamai dan rasakan; belum banyak dirasakan anak-anak muda zaman sekarang sehingga mereka tetap butuh panduan versi kekinian. Maka buku-buku mainstream itu tetap dibutuhkan. Penulis-penulis baru harus belajar menulis kisah mainstream dengan cara meningkatkan kualitas karya.

 

 

  1. Stigma & kurangnya pengakuan terhadap profesi

“Apa pekerjaan anda?”

“Penulis.”

“Mmm…maksudnya?”

“Saya penulis freelance, nulis buku motivasi, novel.”

“Oooh.”

Pertanyaan itu sering terlontar ketika di bank, kantor polisi, sekolah, dan lain-lain. Orang masih belum tahu dan karena ketidak tahuan, belum menghargai profesi penulis. Belum lagi, penghargaan profesi menulis ini belum seideal seperti yang diharapkan. Pejabat, tokoh besar, orang penting; seringkali mengontak penulis untuk berbagai kepentingan. Jangankan memberikan fee yang layak, bahkan terkadang, penulis tidak diberi imbalan apapun untuk menuliskan sebuah kisah.

Ini terjadi pada beberapa teman saya yang diminta untuk menuliskan kisah-kisah tertentu; lalu tidak diberi imbalan sama sekali meski pada awalnya dijanjikan imbalan. Tentu saja, teman-teman penulis juga harus mawas diri tentang pentingnya perjanjian di awal. Dan tidak perlu sungkan untuk menuliskan hitam di atas putih; apa saja hak kewajiban dan berapa besaran fee yang diharapkan. Termasuk, bila dibutuhkan dana untuk menggali informasi, wawancara, transpor kesana kemari; tentunya harus ditanggung oleh pengguna jasa penulis.

Memang, penghargaan terhadap profesi ini masih belum selayaknya.

Tetapi lambat laun, seiiring komitmen kita pada dunia kepenulisan, insyaallah orang semakin paham profesi penulis dan semakin menghargainya.

 

Kategori
Fiksi Sinta Yudisia Jepang Kyushu Mancanegara Menerbitkan buku Oase Perjalanan Menulis WRITING. SHARING.

Novel ke-19, buku ke-61 : Polaris Fukuoka 福岡の北極星

Novel ini dalam proses terbit di salah satu lini Mizan insyaallah. Editing alhamdulillah telah selesai; tinggal menunggu lay outer dan ilustrator. Saya ingin cerita sedikit perihal novel ini yan boleh dibaca untuk anak-anak dan remaja bahkan dewasa. Simak ya 🙂

sofia pink polkadot
Ada 3 hal penting tentang Fukuoka no Hokkyokusei atau Polaris Fukuoka :
1. Novel semua kalangan
2. Mengapa Polaris atau 北極星 hokkyokusei?
3. Tokoh gadis bernama Sofia

 

Novel Semua Kalangan
Meski settingnya Indonesia dan Jepang, anak-anak tidak akan kesulitan. Novel ini menggunakan bahasa yang mudah dicerna, sekalipun setting berupa kereta api, kastil, apartemen, jisei (puisi kematian) serta beberapa filosofi Jepang seperti bitoku mungkin belum dikenal.
Konflik keluarga dan budaya lebih dimunculkan, antara tokoh Sofia dan pamannya. Antara Sofia dengan asisten dosennya, nona Kobayashi. Romansa konyol antara Sofia dan Tatsuo muncul sedikit, layaknya insan remaja yang sedang mencari jatidiri. Tapi bumbu cinta berupa pacaran tak muncul dengan sering. Persahabatan antara Sofia, Umeko, Rei serta Nozomi yang misterius lebih mendominasi. Di sela-sela itulah kehadiran lawan jenis memberikan ‘cling-cling’ tertentu. Cinta tidak harus menjadi dominasi cerita, sebab dunia remaja lebih diwarnai dengan petualangan heroik, senang-senang bersama sahabat dan hang out alias jalan-jalan mengunjungi wilayah baru.

Setting unik disini adalah mengambil kota Fukuoka dan Kitakyushu yang masih ada dalam wilayah perfektur Fukuoka, pulau Kyushu

 
Polaris atau 北極星 hokkyokusei

polaris star.jpg
Polaris Star

Amati langit, lindungi bumi.
Motto itu saya dapatkan ketika belajar tentang situs-situs astronomi , utamanya bintang Utara Polaris. Manusia sering mengamati langit yang begitu indah, cantik, misterius dan terasa transendental. Seringkali, dalam kegalauan manusia memandang bulan purnama, atau mencari bintang terang di langit.

big dipper polaris.jpg
Mengamati Polaris dalam big dipper

 

Terkadang, kita merasa kehidupan langit mengawasi langkah-langkah ini. Menatap kesepian dan kepedihan kita sembari berbisik bahwa harapan itu masih tersemat.
Polaris adalah bintang terang di kutub utara, menjadi penunjuk arah para pengelana. Apa hubungannya dengan kisah ini? Simak aja nanti di novelnya ya hehehe

Sofia
Nama ini manis banget yaaa?
Baik diucapkan, ditulis, atau didengar. Sofia sendiri merupakan istri Rasulullah Saw yang cantik jelita. Hanya bunda Aisyah ra yang dapat menandingin kecantikannya.
Kalau tokoh Sofia dalam Fukuoka no Hokkyokusei ini adalah tokoh sentral, gadis cerewet, pemberontak, sembrono tapi sebetulnya ia suka belajar. Kebiasaan ala Indonesia yang malas, tak suka menyiapkan plan A plan B, bekerja asal-asalan; menjadi karakter Sofia yang berbenturan dengan pamannya di Fukuoka.
Paman, seorang laki-laki mandiri yang menceplok telurpun harus sangat rapi dengan wajan tertentu; berhadapan dengan Sofia yang suka menggoreng telur dalam wajan asal-asalan dan campur baur dengan masakan lain!

 

 Sofia

Meski Paman dan Sofia sering berantem sampai Sofia pun sempat nggak tahan hidup seatap dengan paman; akhirnya mereka saling memahami. Sesama perantau harus menjalin persaudaraan dan saling menghargai yang merupakan perkara penting. Plus kemandirian dan kerja keras yang selama ini diremehkan Sofia.

Adakah hal unik lain dalam novel ini?
Ada. Tentang jisei. Butuh waktu lama bagi saya untuk belajar pusisi kematian sebab susunan puisi ini tak lazim dikenal di Indonesia. Jisei menghubungkan Sofia dan Isao, membuat malam-malam Sofia menjadi sangat horor dengan nuansa roh jahat. Ups 😦

 

Yang penasaran bisa simak sebagian kisahnya di wattpad. Okeee?

link tulisan ‘Sofia’

http://thesecondlifefashionwhore.blogspot.co.id/
http://freedesignresources.net/sofia-free-font/

https://www.etsy.com/listing/85193918/wall-letters-name-art-prints-sofia-fresh , http://www.allthingspolkadot.com/wooden-polka-dot-wall-letters/

Kategori
Catatan Perjalanan Oase Renungan Hidup dan Kematian WRITING. SHARING.

Apakah aku Nasionalis?

 

 

Waktu kecil, aku pernah bertanya pada ibu ,”Ma, kenapa tiap upacara bendera, aku mau nangis ya liat bendera merah putih sama dengar lagu Indonesia Raya?”

Kata ibu, “wah, itu artinya kamu nasionalis, Sin.”

Jujur, waktu itu aku baru sekitar kelas 3 atau 4 SD. Masih belum tahu apa itu nasionalis, apa itu Islamis, apa itu kapitalis dan komunis; hanya manggut-manggut saja. Bertahun-tahun kemudian, perasaan itu ternyata tidak hilang. Aku senang sekali dengar lagu almarhum Gombloh, Kebyar-kebyar.

Indonesia

Merah darahku

Putih tulangku

Bersatu dalam semangatku

Gebyar gebyar pelangi jingga

cokelat-merah-putih
Cokelat band

Aku  merasa mau menangis tiap kali televisi hitam putihku dulu, yang hanya menayangkan  1 channel saja di tahun 80-an yaitu TVRI, menutup siaran hari itu dengan lagu :

Tanah airku tidak kulupakan

Kan terkenang, selama hidupku

Biarpun saya, pergi jauh

Tidakkan hilang dari kalbu

Tanahku yang kucintai

Engkau kuhargai

 

Walaupun banyak negeri kujalani

Yang masyhur permai dikata orang

Tetapi kampung dan rumahku

Disanalah kurasa senang

Tanahku yang kucintai

Engkau kuhargai

Dan, aku suka sekali dengan lagu Coklat yang berjudul Merah Putih : merah putih teruslah kau berkibar!

 

Indonesia dan Indonesia lagi

Aku tidak menyangka bahwa dengan menjadi penulis, aku berkesempatan mengunjungi beberapa negara. Hongkong, Korea, Jepang, Malaysia, Maroko, Mesir, Palestina. Negara-negara yang membuatku kagum dengan kemajuan, dengan kultur yang kaya, dengan arsitektur, dengan teknologi, dengan kuliner, dengan music dan filmnya. Namun jujur, tiap kali ada di negara orang, aku berpikir : bukannya ini di Indonesia ada ya?

Melihat laut terhampar di Avenue Star HK : ah, begini mah di negeriku banyak. Laut selatan Yogya, laut Bali, selat Madura dll. Sepanjang menelusuri Camplong, Madura menuju Pamekasan; laut biru terhampar. Tiap kali pulang kampung ke Tegal, kampung suamiku, kami menyempatkan ke PAI, pantai alam indah. Di Jawa Timur ada WBL, wisata bahari Lamongan. Tak kurang-kurang kalau mau main air di Indonesia.

Melihat sawah-sawah di daerah Karatsu, Saga, Kyushu aku juga berpikir : ini di Indonesia banyak. Lamongan, dikenal sebagai lumbung beras. Madura, meski sering dianggap gersang, tetap punya sawah. Gresik, Tuban, Lasem, Rembang, Pati hingga nanti aku tiba di Yogya atau Tegal; sawah berpetak-petak terhampar. Meski, ya, ada beberapa yang sudah digantikan real estate.

Di Seoul, pingin banget buat sambel terasi dan kolak. Akhirnya dapat ubi merah dan santan kalengan yang harganya jangan ditanya. Cabe hijau beli di convenience store terdekat. Hiks, di Indonesia harga cabe sama ubi bisa hanya Rp.10.000 . di luar negeri bisa berkali lipat. Dan oh, betapa mahalnya harga buah-buahan….pepaya dan pisang, aku tak berani beli. Mangga??? Mending nanti beli di Indonesia pas lagi musimnya.

Di Maroko,  segala rupa daging ada. Segala jenis roti tersedia.

Tapi aku mau sayur…timun, taoge, kacang panjang, kol, kemangi, tomat dkk. Konon kata mahasiswa di Rabat, kalau mau masak sayur paling hanya ada bayam dan kangkung. Itupun gak selalu tersedia. Aku mau sayur….yang bisa dimakan sebagai lalapan, pecel atau gado-gado. Betapa rindunya akan gemah ripah loh jinawi segala rupa tanaman yang ada di negeriku.

Bukan hanya makanan yang membuat Indonesia nomer satu.

Kapanpun lapar, ada yang jualan. Di dekat rumahku warung penyetan tersebar. Warung bakso dan mie ayam ada. Yang keliling menjajakan bakso, bakwan, rujak cingur, gado-gado, es rujak, masakan matang sampai kerupuk; ada semua.

Dari tadi kok ngomongin kuliner aja sih? ^-^

 

Indonesia lagi

Di negara mayoritas Islam, sebagian orang tidak percaya aku muslim (what???). Padahal aku berkerudung lho! Pasalnya, namaku : Sinta. Sinta identik dengan bahasa sansekerta dan agama Hindu.

Seringkali, melihat waja Asia dan tubuh mungilku, orang langsung menebak : Malaysia?

Aku menggeleng.

“Indonesia,” sahutku tersenyum.

Rupanya Malaysia lebih dikenal sebagian warga dunia, disbanding Indonesia. Parahnya lagi, terutama di Hongkong, waja Indonesia identik dengan BMI (buruh migram Indonesia). Begitu tiba di bagian imigrasi, petugas akan tegas meliat paspor dan lumayan keras memperlakukan mereka yang punya paspor pekerja. Kalau visitor, umumnya mereka lebih ramah. Ya, menjadi bangsa yang bekerja di negeri asing, apalagi sebagai tenaga kasar tentu dipandang sebelah mata. Menjadi pelajar dan peneliti di negeri orang saja sering dianggap remeh, apalagi BMI.

Aku punya pengalaman-pengalaman unik baik yang positif atau negative selama menyandang status warga Indonesia ketiak berada di negeri asing. Namun, aku sungguh berbangga ketika tiba di Maroko.

Sinta dan Rue Sukarno.JPG
Rue Soukarno, Rabat , of Morocco

Di rabat, ibukota Maroko, ada sebuah jalan yang menunjukkan betapa negara tersebut memandang Indonesia dengan mata penghormatan demikian dalam : Rue Soekarno. Jalan ini terletak di tengah kota, dengan latar belakagn benteng merah yang kokoh dan indah mempesona. Terletak dekat gedung parlemen Rabat, bank Maghribi yang sangat artistic, kantor pusat kepolisian dan juga kantor pos serta café-café. Rue Soekarno bukan jalan di ujung gang yang kusam, dengan kendaraan tak beraturan. Rue Soekarno berada di titik yang memungkinkan orang lalu lalang, memandang plang tersebut dan bertanya dalam benak, mengapa presiden Indonesia namanya dipahatkan di negeri orang?

Begitu orang di Maroko mendengar kami Indonesia mereka sontak berkata.

“Indonesia? Good people, good prayer.”

Indonesia dikenal ramah, dikenal baik, dikenal suka menolong, dikenal mudah tersenyum. Walau tentu ada juga hal-hal negative yang tersemat : tidak disiplin, kurang bersih, ceroboh dan sejenisnya.

Sungai Han, Seoul. di Indonesia sungai melimpah ruah

 

Indonesia, aku dilahirkan dan dibesarkan

Aku sangat bersyukur berkebangsaan Indonesia.

Walau sebagian orang mencap negaraku korup, negara kategori berkembang, banyak hutang, banyak masalah; aku tidak bisa bayangkan bila dilahirkan di negara asing. Ya, sesekali sempat muncul pikiran : enak ya kalau tinggal di Malaysia, Korea atau Jepang. Negaranya teratur; rakyatnya disiplin.

Harus kusadari, tidak ada negara di dunia ini yang seperti Indonesia.

Mana negara yang punya pulau terbanyak? Mana negara yang punya laut dan selat sebanyak Indonesia? Mana negara yang punya persediaan air seperti Indonesia? Mana negara dengan hutan, hasil bumi, sebanyak Indonesia?

Aku bahagia punya orangtua Indonesia, yang bersama masyarakat sekitar, mengajarkan aku apa arti penting menyapa tetangga. Beberapa kali ke Hongkong, aku tinggal di apartemen. Aku bertanya teman-temanku, kenalkah mereka dengan tetangga kanan kiri?

“Tidak,” jawab adik-adik FLP.

Di kampungku, di kotaku; kami mengenal siapa tetangga kanan kiri. Siapa tetangga belakang rumah. Siapa pak RT, pak RW, takmir masjid, pemuda karangtaruna. Bahkan suami atau istri keluarga X; siapa anak-anaknya, siapa cucunya. Kami mengenal tukang sayur, tukang bakso, tukang gas dan galon.

Sekalinya ada yang sakit, kami berduyun menengok. Bawa uang atau bingkisan. Jumlahnya tak seberapa, namun ikatannya terasa. Kelahiran, pernikahan, kematian; tetangga dan saudara selalu ada. Cari pembantu? Relative mudah. Kalau pas tidak bisa antar jemput anak, minta tolong teman atau guru di sekolah.

Aku mengagumi kemandirian para lansia di Hong kong , Korea, Jepang.

Namun aku tak bisa bayangkan, kelak di usiaku yang 70 tahun aku hidup sendiri. Guyub nya orang Indonesia membawa kehangatan luarbiasa dalam hati, dalam komunikasi, dalam interaksi, dalam kegiatan keseharian hingga kegiatan kenegaraan. Beberapa kali aku mengikuti acara kantor suami, lagi-lagi, percakapan antara pimpinan dan anak buah; antara sesama teman, antara para istri dan anak-anak berlangsung meriah. Tidak hanya dengan satu dua orang, namun dengan sebagian besar peserta.

Ketika makan malam, buka puasa di daerah Saetgang, KBRI Seoul, kami berkumpul. Mengantri nasi, krupuk dan sop beserta sambal. Mengobrol dengan orang-orang yang baru dikenal. Para tamu Korea terbawa arus suasana. Ikut bergabung walau hanya tersenyum dan tertawa, merasakan kehangatan yang mengalir dari percakapan kami. Dari ekspresi meledak-ledak yang ada di setiap wajah Indonesia di perantauan.

Ada seorang selebriti yang kekayaannya, bisa membuatnya pindah kewarga negaraan. Tapi ia memilih hidup tua di Indonesia.

“Nanti kalau aku tua dan meninggal, nggak ada yang merawatku, memandikanku, menyolatkanku seperti di Indonesia.”

Ah, Indonesia memang negara yang istimewa untuk menjadi tempat kelahiran dan tempat kematian.

Presiden silih berganti. Kepala daerah maju mundur sesuai garis nasib. Rakyat kadang terabaikan, masyarakat kecil sering terpinggirkan. Tetap saja, kami tak ingin meninggalkan Indonesia.

sinta, sawah di karatsu.JPG
Ini Indonesia atau Jepang?

“Ya, karena nggak punya duit!”

Mungkin itu tuduhan orang. Padahal bukan.

Indonesia negeri istimewa yang ditakdirkan Allah Swt memiliki kekayaan luarbiasa, baik SDM maupun SDA. Indonesia negeri istimewa yang dijaga bukan hanya oleh kaum eksekutif, yudikatif, legislative, atau pelaku media sesuai pilar-pilar demokrasi. Indonesia negera istimewa yang dijaga oleh segenap jajaran militer darat, udara, laut dan kepolisian. Indonesia negara istimewa yang dijaga oleh segenap warga negaranya dengan doa, dengan munajat, dengan pengorbanan. Indonesia negara istimewa yang dijaga oleh para alim ulama dengan kerja keras pemikiran, ijtihad, syura dan semangat kebaikan yang terus ditularkan.

gombloh
Gombloh

Aku berharap, bukan hanya Maroko yang memasang nama Rue Soekarno.

Aku berharp, negara-negara lain di dunia kelak akan memasang nama para pemimpin dan ulama kita di bagian-bagian negeri mereka sebagai penanda bahwa Indonesia, menjadi mercusuar dunia.

 

Kategori
Fiksi Sinta Yudisia Jepang Mancanegara QUIZ WRITING. SHARING.

Quiz Cover Novel : Berhadiah Gantungan Cantik dari Jepang

Assalamualaykum warahamtullahi wabarakatuh.

Teman-teman, bloggers dan netizen tersayang,
Silakan ikut kuis di bawah ini. Berhadian 2 gantungan kunci cantik, asli dari Jepang.
Syaratnya mudah, tinggal pilih nomer berapa yang paling sesuai untuk novel saya terbaru, novel semi-biografi seorang tokoh muslim Indonesia yang sukses di dunia Internasional.

Sebagai gambaran, novel ini bercerita tentang seorang pemuda Indonesia yang menjalani hari-hari penuh petualangan di Kyushu Daigaku, Fukuoka. Kerja keras, filosofi hidup yang teguh dijalani, menjadikannya meraih gelar akademis dengan cemerlang, memiliki bisnis sukses di usia muda, dan menjadi pelopor berdirinya masjid pertama kali di pulau Kyushu.

Selain berkisah tentang keunikan menjadi mahasiswa di negeri orang; novel ini juga novel romance dengan setting tempat-tempat menawan di Jepang seperti Ohori koen, Aso Mountain, Karatsu.

Tokoh-tokoh dalam novel ini berbeda dari nvoel-novel saya yang sebelumnya.

Terutama tokoh Keiko, gadis Jepang yang memiliki tanda unik dua guratan di pergelangan tangan, menaruh hati pada Tyo sang tokoh utama dan karena keduanya sama-sama brilliant memiliki kegilaan dan ambisi yang mirip.

Beberapa pilihan cover Rumah Kayu Tanotsu
Beberapa pilihan cover Rumah Kayu Tanotsu

2 gantungan kunci untuk 2 pemenang
2 gantungan kunci untuk 2 pemenang

Ditunggu hingga 22 Desember 2015 ya !

Kategori
Film Jepang WRITING. SHARING.

Bagaimana Menjadikan Novelmu sebagai Film?

Sebagian penulis menginginkan novel , cerpen, atau tulisannya diangkat ke layar lebar. Sebagian berkata, tidak ingin demikian. Sebab, bagaimanapun, novel yang bagus tidak identik dengan naik ke layar lebar. Best seller tidak selalu best quality. Apapun itu, mari kita belajar bersama-sama bagaimana sebuah novel dapat diterjemahkan ke dalam bahasa visual.

• Novel dan film sama-sama produk kreatif, karenanya tidak ada parameter baku tentang nilai bagus atau tidak. Sebagaimana matematika yang merupakan ilmu pasti, sastra dan film termasuk ranah non sains sehingga sangat subyektif sifatnya.

Bulan Nararya
Bulan Nararya

• Novel merupakan produk yang pendek proses produksinya. Seorang penulis, seorang editor, seorang ilustrator, percetakan, dan penerbit plus tim distribusi sudah dapat menghasilkan sebuah novel yang terpajang di Gramedia. Film , tidak. Satu adegan dapat membutuhkan 30 orang crew. Maka bayangkan bila film itu selesai dibuat, berapa jumlah tenaga yang terlibat.

Pembuatan film yg rumit
Pembuatan film yg rumit

Dulu, orang yang punya uang banyak dapat membuat film. Sekarang, ada beberapa pertimbangan mengapa novel yang satu dapat difilmkan, sementara novel yang satunya lagi dengan sekian banyak penghargaan dan pujian, malah tidak daapt difilmkan.

Di bawah ini beberapa pertimbangan apakah novelmu layak difilmkan? Tulisan ini merupakan hasil diskusi dengan beberapa rekan perfilman.

1. Penonton.

Sebagus apapun novel, ketika akan diangkat ke layar lebar maka pertanyaan pertama dan terpenting yang muncul adalah : SIAPA yang mau nonton? Film sejarah, film agama, film edukasi tentu sangat bagus untuk ditonton. Memberi wawasan kognitif baru, memberikan model positif. Tapi apakah ada yang mau nonton?

Maka target penonton menjadi target awal pembuatan film.
Misal, film James Bond atau Fast & Furious, juga film hantu. Awalnya mudah ditebak, tengahnya teriak-teriak, akhirnya gampang disimpulkan. Tapi yang suka nonton banyak. Mulai pasangan yang kasmaran, karena film action dan horror buat si cewek cari pelukan; sampai anak-anak remaja yang memang hobbi petualangan. Ditambah Hollywood minded banget, jadi deh. Kalau suka nonton film James Bond (saya nonton beberapa kali mulai yang aktornya Timothy Dalton, Roger Moore, Sean Connery, Pierce Brosnan, Daniel Craig) adegannya selalu sama! Kejar-kejaran di awal, cewek sexi yang gak nyambung sama jalan cerita, yang kalau cewek itu di delete pun nggak memengaruhi jalan cerita.

Bandingkan dengan Trilogi Bourne yang keren, keren banget karena Julie Stiles memerankan Nikki, cewek pengurus logistik untuk setiap prajurit yang ditugaskan sebagai mata-mata. Akting keren, setting keren, alur kuat.

Bourne Supremacy : salah satu film favorit
Bourne Supremacy : salah satu film favorit

Selain remaja yang jadi sasaran produk, anak-anak juga. Maka film anak-anak laris di pasaran karena anak biasanya nonton sama ibu bapak, teman-teman atau guru. Film anak-anak seperti Petualangan Sherina, Harry Potter dll tentu ditonton bersama-sama termasuk ditonton bersama guru atau rekan sekolah. Masih ingat film Janur Kuning? Penontonnya anak-anak sekolah dan guru-guru sehingga meski film edukasi ini lumayan membosankan, tetap saja untung.

Jadi, kalau novelmu ingin difilmkan, coba tanya pada diri sendiri dan teman-teman : kira-kira target penonton siapa ya? Mereka ini yang akan beli tiket, nonton, meramaikan bioskop dan stakeholder menarik keuntungan.

3 hari film sepi penonton, maka poster akan diturunkan.
Butuh biaya besar agar poster tetap di tempat hingga pekan pertama dan kedua. Orang biasanya “ngeh” ketika poster itu nangkring hingga lebih dari 1 minggu.
Membuat film bagus dengan budget tinggi yang menang penghargaan sudah cenderung ditinggalkan, kecuali oleh insan kreatif yang idealis. Rata-rata executif produser ingin untung, minimal balik modal.

2. Budget

Budget aman 2,5 M rupiah, sudah termasuk promosi 500 juta dan sewa artis. Film nya juga akan tayang di bioskop 21 atau XXI. Punya uang lebih banyak, lebih save lagi, 5 M misalnya.
Budget ini adalah urusan produser. Produser yang mengatur uang akan lari kemana dan kemana. Bila keuangan telah dibagi pos-posnya, maka produser harus ketat dan konsisten. Ayat-ayat Cinta kang Abik misalnya, memindahkan setting Mesir ke Semarang dengan trik-trik tertentu agar kesan Timur Tengahnya dapat namun budget tidak membengkak.

Film juga dapat dibuat dengan dana minim di bawah 500 juta, 100 juta, 50 juta. Tapi tentu dengan artis yang belum terkenal, tak dapat tayang di bioskop, kualitas yang tak dapat dijamin.

3. Triangle System : Produser, Sutradara, Penulis Skenario

Produser : produser dan Executif Produser berbeda. Executif produser hanya punya uang dan tahu untung. Invest, selesai. Produser film mencari dana, mengelola budget. Segala urusan budgeting di produser, maka produser adalah think thank film. Kalau dana mepet apa yang harus dipangkas? Setting atau alur? Maka , ketika festival film, anugerah sebagai best film akan didapat oleh produser. Produser satu-satunya orang yang berhak berkata : ini film saya!

Sutradara : sutradara adalah orang yang mengubah cerita menjadi bentuk visual. Butuh ketrampilan, sense, artistik yang tinggi untuk menerjemahkan novel atau cerita ke dalam bentuk film.
Film Lord of Ther Ring 1-3 mulai The Fellowship of The Ring, Two Towers, Return of The King adalah film indah yang masih saja dikritik penggemar karena dainggap kurang mengadaptasi novel ke film. Padahal…ckckck, Peter Jackson dan crewnya menyabet belasan piala Oscar!

Lord of The Ring : film indah yang belum bosan ditonton
Lord of The Ring : film indah yang belum bosan ditonton

Penulis Skenario : penulis skenario dan penulis novel berbeda. Penulis skenario adalah orang yang membuat dialog, setting, membuat panduan bagi semua crew termasuk aktor aktris agar berada dalam alur untuk membuat satu film dengan rasa tertentu.

Bila telah mendapatkan 3 unsur ini, maka produksi film dapat mulai dijalankan. Namun bila belum mendapatkan produser, sutradara dan penulis skenario; termasuk pertimbangan potensi penonton yang disebutkan di awal; sebuah novel belum dapat diadaptasi ke layar lebar.

Kategori
Bulan Nararya Cinta & Love Jepang TAKHTA AWAN The Road to the Empire Tokoh

Bagaimana memilih nama untuk tokoh novelmu?

Momiji atau kouyou
Momiji atau kouyou

Untuk kesekian kali, seseorang menginbox masalah nama.
“Mbak, apakah Montaser dan Rinai adalah tokoh nyata?”
Saya hanya menjawab dengan emoticon 🙂
Perihal nama, bahkan seorang ibu muda bertanya, bolehkah memberi putrinya nama Karadiza, putri bangsawan Persia yang jatuh cinta pada Takudar. Mungkin ia khawatir harus membayar upeti tertentu bila mengambil nama dari sebuah novel.
“Jangan Karadiza, Bunda,” sahutku. “Pakai saja nama Aisyah, itu lebih indah.”
Memilih nama untuk tokoh novel, cukup sulit.
Seperti memilih nama untuk anak-anak kita; begitupun nama seorang tokoh protagonis, deuteragonis, antagonis dan tritagonis.

Takudar

Nama ini memang sudah tertera dalam sejarah. Tokoh yang kata pak Maman S Mahayana, sang editor dan budayawan, “mungkin hanya kamu satu-satunya Sinta, yang pernah menuliskan tentangnya.”
Saya jatuh cinta pada Takudar sejak membaca sejarah singkatnya dalam The Preaching of Islam, Thomas W. Arnold. Sejak saat itu serasa tak cukup waktu dan referensi memburu sang tokoh, bahkan hingga ke Hongkong Library. Ahh, di lantai 9 dari 12 lantai perpustakaan yang mengingatkan pada Perpustakaan Ajaib Bibbi Boken – Jostein Garner; terdapat buku-buku sejarah Asia yang sangat amat lengkap termasuk Mongolia.

Mongolia adalah Jenghiz Khan. Mongolia adalah Kubilai Khan. Mongolia adalah Jalaluddin Akbar. Mongolia adalah Aurangzeb.

Takudar, hanya sejarah kecil yang muncul ketika Bani Saljuk dan Bani Mamluk masih menggeliat. Maka ketika diujung perjalanannya selama 2 tahun menjadi kaisar muslim, Takudar memilih jalan sufistik untuk mengobati dukalaranya berjalan dalam kesendirian. Sejarah akan berkata lain, andaikata ia hidup sezaman dengan Shalahuddin al Ayyubi atau Muhammad al Fatih.

Almamuchi dan Karadiza (The Road to The Empire dan Takhta Awan)

Saya penggemar film.
Film-film kocak, drama, action. Tentu disesuaikan tempat dan waktu. Once Upon a Time in China, tamat beberapa serial. Salah satu film kungfu menampilkan tokoh perempuan bernama Uchatadara, dan itulah nama yang saya pakai sebagai nama Almamuchi. Almamuchi dan Karadiza didadapt dengan mengobrak abrik kamus Mongolia dan bahasa Persia.

Montaser (Rinai)
Berapa banyak sudah gadis yang bertanya : apakah tokoh ini ada?
Mungkin, inilah tokoh yang paling menimbulkan sensasi jatuh cinta. Syukurlah. Orang-orang seperti Montaser lah yang seharusnya ada di benak para gadis. Dengan suguhan drama Korea dan Turki, para gadis dibuat mabuk kepayang oleh tokoh fiktif tampan yang bagus secara fisik. Satu berwajah klimis, licin, mengkilat, dengan hidung dan dagu buatan. Satu berhidung mancung, bercambang, alis tebal dan mata bak elang. Dua-duanya sama : membuat seorang perempuan menjatuhkan pilihan dari casingnya terlebih dahulu.
Montaser adalah lafal luwes untuk bahasa Arab Muntashir.

Siapa ia?
Sesunggunya seorang anak kecil laki-laki, putra seorang Ibunda luarbiasa yang membaktikan hidupnya di UCAS university sebagai dosen di Khan Younis, Gaza. Saya terkesan oleh nama tersebut dan menjadikannya nama tokoh dalam novel Rinai. Apakah sosok Montaser ada?
Banyak.
Sangat banyak.
Jadi, berharaplah bagi yang masih jomblo untuk bisa memilikinya satu.

Rinai (Rinai)
Ada satu tokoh film remaja yang saya suka namanya : River Phoenix. Ia punya saudara-saudara yang namanya diambil pula dari gejala alam seperti Rainbow. Terkesan oleh ide memberi nama dari gejala-gejala alam, maka novel bersetting Palestina inipun mengambil nama tokohnya dari situasi alam : Rinai Hujan.

Nararya (Bulan Nararya)

Nararya adalah nama unisex dalam bahasa Sansekerta. Dapat digunakan oleh laki-laki atau perempuan. Nararya berarti kemuliaan. Nama ini saya dapat dari kamus bahasa Sansekerta, googling aja!
Sansekerta menyediakan nama-nama unik yang cantik didengar dan dibaca.

Yudhistira (Bulan Nararya)

Sejak dulu, saya ngefans dengan tokoh wayang bernama Yudhistira. Konon, sebagai anak tertua ia memiliki darah putih karena demikian sayang pada adik-adiknya dan rela mengorbankan apapun demi kebahagiaan mereka.
Saya selalu terkesan ketika mendengar seorang kakak yang mampu menjadi panutan bagi adik-adiknya, maka nama Yudhistira sering masuk dalam benak tiap kali berencana menyusun novel. Lagi pula, Yudhistira mirip-mirip Yudisia, nama tengah saya …haha

Fuyuzakura
Fuyuzakura

X- Novel Romance bersetting Jepang

Novel romansa bersetting Jepang ini cukup sulit juga menentukan nama.
Apa nama tokoh yang mengesankan tapi juga bukan nama yang biasa ditemukan?
Joko, Budi, Hari, Bambang, Bagus, sudah biasa. Nama-nama itu bukannya tak boleh dipakai namun para pembaca biasanya terkesan oleh gambaran seroang tokoh. Montaser, Rinai, Nararya, Yudhistira, Takudar, mudah diingat oleh pembaca ketika mereka tengah mendiskusikannya.

Maka, novel romance bersetting Jepang ini pun harus memiliki nama-nama tokoh yang unik.
Nama unik kadang-kadang berasal dari teman-teman sendiri, maka berhati-hatilah jadi teman penulis. Setiap pertemuan dengan seseorang akan menjadi bahan baku untuk tulisan mulai nama, curhat, sampai emosi yang ditampilkan. Semakin aneh kamu, semakin senang penulis mendapatkan profile untuk tokohnya.

Ada usulan nama untuk novel Jepang ini? Silakan 🙂

Kategori
Cinta & Love Fiksi Sinta Yudisia Jepang

Tatara Gawa : salah satu setting romance

Aliran biru Tatara Gawa
Aliran biru Tatara Gawa

Tatara gawa, salah satu sudut indah yang akan muncul dalam novel romansaku bersetting Jepang. Selain tempat ini punya memori psikologis dengan tokoh utama, silakan lihat hal unik dalam foto di atas.

Jembatannya?
Pepohonannya?
Rerumputannya?
Aliran sungainya?
Warna birunya?

#Jepang
#Fukuoka
#Romance

Kategori
FLP Jepang

Love : when passion meets commitment

Sinta dan Winiez the Chef, food fotografer

BPP FLP di sekretariat Kampung Rambutan
BPP FLP di sekretariat Kampung Rambutan

Kali ini bukan membahas skala cinta Rubin Z, seperti dalam buku Kitab Cinta dan Patah Hati. Tapi teori segitiga Rubin berlaku juga dalam konteks hubungan organisasi.

Malam ini, mata enggan terpejam bertemu teman-teman FLP. Berdiskusi dengan Daeng Gegge, Kokonata, Nurbaiti Hikaru, Winiez, Sudi , Elvira, Fatih dan mbak Anik. Khusus yang terakhir, ia menyiapkan logistik yang terus menerus untuk peserta rapat.

Selain seru oleh guyonan ala penulis, tepat jam 20.00 di lantai bawah, berbekal laptop, catatan dan note di HP masing-masing; pikiran tercurah untuk membahas salah satu agenda ummat yang tak bisa dipisahkan dari kebiasaan ulama : membaca dan menulis.

Pembahasan pertama tentang FSIN Festival Sastra Islam Nasional yang insyaallah akan diselenggarakan di Makassar, 17 Desember 2015 – 20 Desember 2015. Harapannya, menjadi festival sastra Islam tingkat Internasional sebagaimana Ubud Writers and Reader Festival dan Makassar International Writing Festival.

Pembahasan kedua tentang beetalk.
FLP bekerja sama dengan beetalk, chat platform, aplikasi bertukar pesan seperti whatsapp dan line; yang menyediakan layanan diskusi berkelompok. Terdapat grup Forum Buku, Cerpen dan Puisi dimana karya teman-teman FLP dapat dibaca disana.

Pembahasan ketiga, tentang novel yang sedang saya tulis dan diolah bersama teman-teman FLP untuk menjadi salah satu novel semi otobiografis; dengan setting Jepang yang unik dan indah, mengangkat salah satu tokoh muslim yang insyaAllah, kisah hidupnya amazing, kocak, romantis.

Pembahasan keempat, adalah pembahasan yang tidak masuk dalam agenda struktural namun menjadi pembahasan yang menghangatkan hati kami untuk tetap bersama-sama dalam FLP.
Pertanyaan yang sering diajukan kepada penulis FLP : berapa fee seorang penulis? Berapa honor untuk menjadi pemateri, mengisi workshop?

Okelah, seorang penulis setiap huruf, kata dan kalimatnya adalah argo.Ghostwriter, namanya tak boleh muncul sama sekali dalam buku namun jumlah rekeningnya menggelembung. Marketing, mengatakan seorang penulis harus membranding dirinya. Sebagaimana seorang teman marketing menawarkan diri untuk menjadi asisten saya, sebab menurutnya saya memiliki kemampuan di beberapa bidang : psikologi, penulis dan kemampuan membawakan materi.

Daeng Gegge, Winiez, Nurbaiti, Kokonata ternyata memiliki persepsi yang sama .
Sulit, untuk menjadikan sastra ini sebuah tolok ukur yang dapat dipatok dengan materi, khususnya uang. Gak butuh uang? Bukan begitu juga. Tapi ada hal-hal yang tidak dapat diukur dengan uang, khususnya cinta (haha…lebay).

Menulis itu cinta. Membaca itu cinta, makanya jangan tanya kalau ke toko buku bisa kalap dengan isi dompet. Beda kalau mau beli baju masih mikir-mikir : ini mahal apa enggak? Sepatu ini kok ratusan ribu, toh diinjak juga.Tapi kalau ke book fair, bisa ludes isi dompet. Siapa juga sanggup melihat buku-buku ulama yang sangat sulit didapatkan, untuk tidak dipindahkan ke lemari buku pribadi? Walaupun, hampir semua ruang di rumahku penuh berisi buku, rak buku sudah buat berkali-kali, tetap saja masih kurang dan kurang koleksi buku.

Menulis itu cinta. Mengajarkan tentang sastra itu cinta.
Mendengar anak-anak muridku berkata ,” aku mau jadi penulis kayak Bunda Sinta!” merupakan hadiah yang tidak dapat ditukar dengan honor sekali mengajar.
Mendengar anak-anak dan remaja menjadikan kata “Penulis” sebagai salah satu profil cita-cita mereka, luarbiasa.

Menulis itu passion, cinta yang penuh nyala api. Bersama teman-teman FLP kita juga melakukan komitmen. Ups, jangan ditanya apakah ada ongkos untuk rapat? Kami berangkat dengan uang pribadi, bawa makanan sendiri, saling bertukar hadiah malah. Kadang buku, kadang coklat (thanx to Winiez!), bahkan seringkali hanya bertukar doa.
Fee mengisi acara, kadang-kadang masuk ke kas FLP , untuk memutar roda organisasi.

Melihat ketulusan teman-teman FLP mengawal literasi santun ini, teringat akan kata Taufik Ismail tiap kali ia mendengar kata FLP : CEMBURU.
Cemburu, mengapa FLP baru berdiri ketika usianya telah uzur.
Taufik Ismail menambahkan satu kalimat ; FLP, adalah anugerah Tuhan untuk bangsa Indonesia.

Ketika tempo hari berkesempatan hadir di acara 28 Oktober 2015 di gedung MPR dan bertemu Mustafa Kamal, beliau berkata yang kurang lebih mirip dengan yang dirasakan teman-teman FLP : orang-orang sastra, tidak suka berpikir kalkulatis. Angka, matematika. Kadang-kadang, sesuatu perlu ditimbang dengan rasa dan nurani.
Maka, sastra dapat meluruskan apa yang bengkok.
Sastra dapat melunakkan hati yang keras.
Sastra dapat memperindah, ruang-ruang sempit yang menyesakkan dalam keseharian yang pengap dan melelahkan.

Sekretariat FLP
Muswil FLP Wilayah Jakarta sekaligus mencuri waktu rapat dengan teman-teman BPP.
00.29.
Night is still young for a writer 🙂

Kategori
Jepang

Naik Sepeda : hemat, keren, dan romantis

Sepeda bukan milik kalangan menengah ke bawah dan orang-orang tua saja. Di Jepang, sepeda jadi sarana transportasi yang istimewa. Anak, remaja, orangtua. Bahkan, cewek-cewek metropop yang cantik sembari menenteng tas bermerek dan pakai baju modis, naik sepeda juga.
Kenapa sih kita naik sepeda?

Cewek cantik Jepang bersepeda :) ~ candid camera
Cewek cantik Jepang bersepeda 🙂 ~ candid camera

1. Realistis
Waktu putri saya masuk Psikologi UGM, saya menawarkan sepeda motor. Ia menolak dan memilih sepeda onthel.
“Teman-teman satu kos, ngonthel semua, Mi.”
Okelah.
Padahal, kasihan , pikir saya. Lumayan juga Karangwuni ke UGM.
Tapi nasehat ibunda saya bagus juga untuk disimak.
“Bagus tuh sepeda. Realistis. Gak mikir bensin. Orangtua sekarang suka gak berpikir logis. Belikan HP, nanti pulsanya bagaimana? Beli motor atau mobil, bensin bagaimana?”
Iya juga sih.

Meski orangtua dapat membelikan bensin dan pulsa, otonomi anak jadi tak terbentuk sejak dini. Belajar irit, belajar prihatin, belajar tau nilai uang, belajar mengatur waktu; akan membantu anak-anak meningkatkan kemampuan mereka mengelola potensi sumber daya yang ada.
Akhirnya, putra-putra kami yang SMA pun naik sepeda. Tanpa berpikir bensin, bengkel, oli dst.

Jepang, mungkin lebih realistis dari Indonesia. Alokasi dana untuk bensin adalah pengeluaran tersendiri. Maka orang beramai-ramai naik sepeda, daripada beramai-ramai beli bensin.

2. Gerak badan
Ngaku aja, sekarang udah jarang jalan kaki kan?
Sedikit -sedikit angkot, ojek, bis, lift, eskalator.
Sedikit-sedikit gadget.
Kalau di Hongkong, orang dapat memaksakan jalan kaki dari satu stasiun ke stasiun lain, di Indonesia mungkin sulit. Sepeda termasuk sarana yang memungkinkan untuk Indonesia. Setidaknya untuk ke sekolah dan ke kampus. Ke kantor mungkin jgua sih. Suami saya tempo hari sempat bolak balik naik sepeda onta karena ingin menguruskan badan, tapi akhirnya menyerah hehe…

3. Anti polusi

Coba saat lampu merah.
Sanggupkah anda bertahan di belakang knalpot-knalpot yang membagikan gratis zat polutan, tanpa perlindungan masker?
Setiap kali keluar rumah naik sepeda motor; saya harus megnenakan sarung tangan, helm lengkap plus slayer. Gak tahan deh kalau harus terpapar polutan selama berjam-jam di jalan atau bermenit-menit.

Sepeda akan mengurangi polusi udara. Yah, meski pasti di antara kita ada yang berpendapat : saya ngurangi polusi, yang lain bagaimana? Susah juga sih kalau kebaikan harus saling menunggu untuk dilaksanakan. Kalau baru mampu melakukan yang kecil, sendiri, lakukan saja. Insyaallah suatu saat orang-orang akan mengikuti langkah kebaikan kita.

4. Humanisasi

Bila tidak diimbangi pengguna sepeda, jalan raya kita semakin dipenuhi polusi dan dehumanisasi. Sepeda becak tersingkir, berikutnya motor megnuasai, mobil merajai, truk bis sesuka hati. Sepeda membuat kita lebih berperilaku bak human being sesungguhnya. Lebih peduli ekosistem, habitat dimana kita tinggal. Lebih peduli, bahwa pengguna sepeda adalah pihak yang lebih lemah sehingga harus diberikan kesempatan lebih dulu.

Yuk, naik sepeda!

Eh, sekedar informasi.
Novel Romance saya yang berikut, banyak meliput tentang sepeda dan kegiatan bersepeda di Jepang lho. Coba, romantis mana pasangan yang sedang jatuh cinta : naik mobil, naik bus, naik motor, atau naik sepeda?

Tungguh jawabannya 🙂

Kategori
Hikmah Jepang Mancanegara Oase

Sarha Palestina & Solitaire Fukuoka

Raja Shehadeh, penulis Walk on the Vanishing Land menceritakan, kebiasaan yang ditanamkan orang-orang Palestina pada para pemuda : Sarha. Sarha adalah pengembaraan seorang diri, menelusuri padang pasir dan jalan-jalan bebatuan untuk berkunjung ke rumah salah seorang kerabat. Kakek, nenek, paman, bibi atau seorang kenalan dari keluarga. Bukan destinasi yang menjadi patokan, tapi untaian kekayaan yang dirangkum sepanjang perjalanan.

Ayah dan anak di tepi laut Mediterrania, Gaza
Ayah dan anak di tepi laut Mediterrania

Melintasi padang pasir, sebuah perjalanan berbahaya menghadapi ular atau kalajengking. Selain ketrampilan teknis yang dibutuhkan untuk survival, Sarha membantu para pengembara mengamati apa yang selama ini lewat dari indera . Suara angin, butir-butir pasir yang beterbangan, gerakan binatang melata. Belajar menangkap gerakan alam yang paling halus, berarti belajar mendengarkan apa yang mungkin terlewatkan.

Kata “panas” dapat berarti air mendidih di suhu 100º celcius, demam tubuh, semangkok bakso yang nikmat, atau justru alert emosi sesaat sebelum meledak menjadi agresivitas. Bagaimana panas gurun pasir?

Panas yang membentang antara Cairo- Iskandariah- El Arish -sesaat sebelum memasuki gerbang pendek paling ganas sedunia : Rafah- adalah panas yang mengandung makna perjalanan. 6 jam perjalanan Cairo -El Arish, landscape gurun kuning emas yang membuat isi perut teraduk dan sebagian tim melelehkan darah dari lubang hidung. Tak ada warna lain dari cakrawala selain bentang biru langit, garis hitam pembatas serta daratan sewarna korona matahari. Terguncang dalam mobil yang makin lama makin menghangat oleh cuaca gurun dan ketakutan; hati makin menciut serta dinding keberanian yang makin lama makin runtuh : mampukah tim kecil ini tiba di Gaza? Cukupkah kami memiliki kenekatan untuk menembus Rafah setelah perjalanan panjang yang menguras energi, tenaga, dan mulai memunculkan air di sudut-sudut mata ini?

Tuhan!
Jika mungkin, putar saja mobil ini kembali ke Cairo dan biarkan kami menikmati tidur nyenyak di Wisma Nusantara.

Tapi inilah Sarha.
Terkadang jiwa manusia memiliki rahasia paling tersembunyi.
Seperti apakah kematian?
Seperti apa pedih dan penderitaan?
Dan seberapa jauh manusia mampu mendekati titik didih?

Setelah panas panjang dan rayuan kehidupan yang nyaris tak terelakkan…
Ahya.
Sebelum memasuki Rafah, kota indah yang kami kunjungi adalah El Arish.
Kota mewah, dengan mansion-mansion tepi laut safir meditterania, dinding-dinding warna kelabu mutiara dan bebungaan musim panas yang menjuntai di pagar-pagar. Hidup terlalu nikmat untuk ditukar dengan perjalanan kematian yang melelahkan.

Untunglah, Sarha tak pernah salah meloloskan pelaku.
Semoga.
Sekali lagi, setelah pengurusan visa yang liat, check point demi check point yang menegangkan, Rafah Mesir menjadi tembok terakhir yang menjulang dalam kekejaman, diam dan kepongahan. Tim kami, menjadi kelompok paling akhir yang diizinkan masuk setelah perselisihan yang menegangkan urat leher.
Hari itu, suatu senja yang damai di Palestina, sembari mendorong kopor berdebu dan menyeret langkah kaki yang menyembunyikan jari jemari lecet , Sarha ini menemukan sepetak kecil tanah, yang merupakan irisan surga.

Rafah Gaza Palestina, sangat bertolak belakang dengan Rafah Mesir.
Bagaimana mungkin sebuah wilayah kecil yang terpisah oleh tembok pembatas, memiliki pantulan cermin yang berbeda?

Sarha panjang Indonesia-Singapur-Mesir-Gaza terbayar ketika senja itu, kami disambut oleh kaum lelaki paling tampan sedunia. Berpakaian jas hitam sederhana, berbaris menanti dalam kesabaran dan senyum hangat tulus.
Bercucuran airmata untuk sekian kali.

Jadi inikah, legenda abadi tanah Anbiya, para penghafal Quran yang menjaga kaum muslimin dan setiap jengkal tanah Palestina? Wajah penuh cahaya, kharisma yang menggetarkan lawan bicara.
Jadi inilah mereka, yang menjamu tetamu dengan secangkir shai, ketika mereka berpuasa. Jadi inilah mereka, membiarkan kami tidur terlelap sementara mereka bergerilya dari satu gang ke gang lain , memastikan kaum muslimin aman. Inilah sepetak negeri yang terblokade, hanya memiliki beberapa jam sehari untuk menyalakan listrik, namun semangat untuk tetap hidup dan berbuat bagi ummat terus menyala.

Betapa inginnya kami tetap tinggal.
Betapa inginnya memilih salah satu dari Khan Younis, Deir al Balah atau Jabaliyah.
Tentu, setiap saat rudal atau bom dapat meledak di setiap tempat.
Namun kebahagiaan Sarha ini tak terbayangkan. Aroma zaitun dan tiin. Debur pantai Aizbah. Quran yang menyatu dalam denyut keseharian.

Namun bukan itu tujuan Sarha.
Sarha bukanlah pengembaraan tanpa tepi.

Siluette Kastil di malam hari
Siluette Kastil di malam hari

Perjalanan menikmati Karatsu dan Fukuoka ini adalah sebagian kecil dari Sarha.
Suasana damai dan serba teratur, perpaduan tradisional dan metropolis yang demikian apik. Mobil-mobil berbaris rapi di belakang garis zebra cross, tepat di belakang lampu merah. Pejalan kaki dan pesepeda bak raja. View gedung bertingkat, mall, jembatan kokoh, dengan latar belakang pegunungan hijau dan perbukitan zamrud. Keindahan Nagoya Castle dan Karatsu Castle yang terpelihara seiiring teknologi maju produk pertanian yang dipasarkan di Karatsu Umakamon Ichiba. Sakura yang meranggas dan momiji yang akan beralih warna menjadi saga. Anak-anak kawaaii bertopi kuning yang lincah, menenteng bento , berlarian dalam penjagaan kakak-kakak kelas mereka di sekolah dasar.
Harmoni.

Sarha mungkin berarti pencarian.Mungkin berarti pencerahan. Adventure and pleasure. Namun bukan berarti seseorang tak kembali dari pengembaraan.
Kenikmatan menyepi di gurun pasir, mendengarkan angin dan memuaskan ego tanpa pernah berbenturan dengan masalah; itukah buah dari pengembaraan? Sepertinya bukan. Sarha mendewasakan seorang anak manusia, membuatnya mengetahui tugas-tugas perkembangan yang harus dikuasai, demi menghadapi masa dewasa yang mengharuskannya mengambil alih sebuah peran. Sarha tidak menjadikan seseorang solitaire -hidup menyendiri- sekalipun untuk memahami makna lebih dalam , terkadang memang harus dilakukan dalam kesunyian.

Manusia membutuhkan saat-saat untuk menyendiri. Hal pertama yang harus dilakukannya adalah mencintai dirinya sendiri terlebih dahulu, bukan dalam rangka mencari pleasure atau menancapkan power, tetapi untuk memahami dimana letak dirinya dalam konstelasi alam semesta. Mendengarkan suara-suara dari dalam diri sendiri, dari batin terdalam, memahami harapan dan kecemasan; bahkan mungkin hal-hal paling absurd dan paling ekstrim, mungkin perlu dilakukan. Bila seseorang tak memahami dirinya sendiri, ia akan sulit memahami potensi-potensi luarbiasa yang dititipkan sang Khaliq. Terkadang, jalinan waktu menciptakan kerumitan yang meninggalkan jejak dalam hingga seseorang sulit bernafas.

Percayalah, usai Sarha seseorang seharusnya menemukan kekuatan.
Bila dulu, ia tak menyadari memiliki kekuatan emosi, maka sekarang ia menemukannya. Bila dulu tak memiliki kekuatan fisik, maka sekarang ia harus melatihnya. Bila dulu, ia bahkan tak merasa punya kekuatan apa-apa , maka sekarang ia harus menemukannya.

Seorang penulis, membutuhkan Sarha setelah menyelesaikan sebuah buku. Ia harus berburu referensi, membaca kembali karya-karya canon sastrawan dunia, menemukan titik cahaya seperti yang dikatakan Imam Ghazali, merumuskan outline, menuangkan gagasan, menemukan hikmah, menafsirkan sebuah peristiwa dan meramunya dalam kalimat-kalimat bermakna. Maka Charles Dickens mengingatkan, setelah seseorang lelah dalam setiap pengembaraan kehidupan, yang ia perlukan adalah berjalan-jalan. Hiduplah dalam imajinasi, nikmatilah khayalan, tapi segeralah bergabung dalam kenyataan.

Bila tidak, hidup akan menjadikanmu split personality.
Nikmati Sarha. Resapi kenikmatan sang penyendiri, si solitaire yang berkelana.
Lalu jalani realita yang kaya akan makna.
Mudah?
Tidak juga.

Lalu bagaimana seseorang mampu bangkit dari penderitaan yang panjang?
Kisah Muhammad al Fatih, penakluk Konstantinopel ini mungkin dapat dijadikan acuan. Ketika ia kalah dalam pertempuran laut yang membumi hanguskan armada, nyaris putus asa al Fatih meminta petunjuk syaikh Aq Syamsudin. Sang syaikh memberikan 3 nasehat : pertama, setiap pemberian Allah setara dengan upaya . Kedua, hukum orang-orang yang tak taat dan berbuat kerusakan.
Ketiga?
Nasehat terakhir inilah yang membawa kemenangan al Fatih.
“Pelajari titik kekalahanmu, sebab disitu kunci kemenanganmu.”

Fatih kalah dengan armada laut yang hancur lebur. Di titik itulah, ia bangun armada dengan versi berbeda yang menghantarkan Muhammad II bergelar al Fatih.

Bila, seorang manusia menemukan titik kelemahannya, menjadikannya titik konsentrasi untuk bangkit; maka ia akan menemukan jawaban atas kekalahannya selama ini.

Kategori
Catatan Perjalanan Jepang Mancanegara

#8 Obrolan menuju Karatsu & Fukuoka : Istri-istri Istimewa

Perjalanan 12 jam lebih menuju Fukuoka hari itu membuahkan rasa kebersamaan dalam tim yang beranggotakan 6 orang : saya, mbak Nunik dan mbak Sinta Rani dari Aquilla tour & travel, Beli Nyoman dari Depok , Rizaldy dari Jejak Imani dan bang Aswi blogger FLP.

Perjalanan menuju Hongkong, mbak Nunik, mbak Sinta Rani dan Beli Nyoman menjadi teman yang seru . Perjalanan menuju Fukuoka, bang Aswi menjadi guru. Sepanjang waktu berjalan, banyak sekali mendengar kisah romantis yang membangun kesatuan jiwa sepasang suami istri. Romantisme tak selalu berarti cinta menggebu, cinta arousal atau cinta yang dibumbui rayuan serta hadiah. Romantisme adalah ketika pasangan mampu meneguhkan paradigma ini : Behind the great man, standing the great woman.

The first duty of love is to listen
The first duty of love is to listen

Kisah pertama, Beli Nyoman adalah seorang ayah dari 3 orang anak. Ia lulusan Teknik Informatikan Gunadarma yang menekuni dunia media. Bidang usahanya membangun jaringan media online. Sebagai seorang individu yang menjadi kepercayaan orang nomer 1 di Depok saat ini, Beli Nyoman seharusnya dapat hidup mewah. Namun cara berpakaiannya, kendaraan sepeda motor yang digunakannya, mengeduhkan dirinya sebagai pribadi sederhana. Beli Nyoman bercerita, ia bersyukur bekerja di lingkungan saat ini yang dikelilingi oleh orang-orang yang membuatnya mampu menjaga agama Insyaallah.

Ia, sebelumnya tidak bekerja di Depok, tapi di luar Jawa.
Langkah-langkah kakinya, ternyata dipandu mercuar doa sang istri tercinta yang senantiasa berucap menuju langit, “ Ya Allah, jadikanlah suami berteman dengan orang-orang yang sholih.”

Ahya. Terkadang, seorang istri lupa mendoakan suaminya. Kebutuhan akan nafkah, membuat seorang perempuan lebih sering berdoa meminta rizqi halal, anak-anak sholih dan lupa mendoakan suaminya, sang Qowwam keluarga, menjadi orang yang sholih.

Love
Love

Kisah kedua, adalah kisah bunda Nur Azizah, istri Nur Mahmudi Ismail, walikota Depok periode hingga 2016. Terpilih dua periode sebagai walikota Depok, tak membuat keluarga Nur Mahmudi meninggalkan sifat kesederhanaan. Pakaian, kendaraan, kebiasaan sehari-hari. Tentu, tak mungkin seorang lelaki meraih demikian banyak penghargaan tanpa dukungan keluarga terutama sang istri. Menurut kisah seorang teman, bila dalam perjalanan mengendarai mobil dan bunda Nur Azizah ikut di dalamnya, beliau tak banyak bercakap-cakap. Saat naik mobil, yang dilakukannya kemudian adalah : membuka al Quran. Membacanya. Ya, bunda Nur Azizah adalah seorang hafidzah.

Kesederhanaan berimbas pada banyak hal, termasuk perkara-perkara kecil. Sebagai istri pejabat, bisa saja bunda Nur berbelanja barang berlebih ketika menuju satu daerah, namun itu tak dilakukannya. Ketika mengunjungi satu tempat, disediakan minuman air botol kemasan, ia tak akan meninggalkan sisanya dan membuangnya, namun akan menyimpannya. Dalam perjalanan, ketika haus, maka cukup air minum yang masih tersisa tadi yang digunakan melepas dahaga.

Pasangan serasi yang melengkapi dan menguatkan.
Anda tentu ingat mengapa Louis XVI diseret ke guillotine, bukan? Tak lain karena Marie Antoinnette gemar berpesta dan membeli pakaian mewah serta permata. Satu kalung berlian Marie Antoinnette yang berkadar 2600 karat, jika dikurskan sekarang sama dengan harga satu kapal perang USS Marine!

Kisah ketiga, dari sahabat unik saya, bang Aswi the biker and blogger.
Kecintaannya pada dunia menulis, mendapatkan dukungan penuh dari sang istri.
Sebagian besar orang menganggap remeh pekerjaan menulis. Berapa sih uang yang didapat dari menulis? Namun pasangan Aswi dan Umi memilih untuk mensyukuri apa yang ada, sebab bila menunggu kata “cukup” tak akan pernah ada habisnya. Salah satu senjata untuk men”cukup”kan apa yang ada adalah dengan bersedekah. Bagi Umi, memiliki uang Rp.20.000 berarti dapat disedekahkan Rp.15.000. Berapa banyak para istri yang mengeluhkan gaji suaminya yang tak cukup, sekalipun setiap bulan sudah mendapatkan pemasukan rutin.

Keywords dari istri-istri istimewa di atas adalah :
doa, Quran dan sedekah.

Masih ada kisah istri istimewa yang lain. Simak nanti ya!

#8
#Karatsu
#Fukuoka
#Jepang

Enjoy the Journey to Enlightment 🙂