Maukah Kamu Jadi Penulis?

 

 

Tidak ada universitas yang khusus memiliki fakultas atau jurusan yang mencetak seseorang menjadi penulis.  Bahkan fakultas FIB sekalipun, tidak secara otomatis membuat mahasiswanya mengambil profesi penulis sebagai pekerjaan hidupnya. Penulis adalah pekerjaan lepas yang benar-benar ‘lepas’ : hanya orang-orang yang benar-benar niat jadi penulis, akan menjalani profesi sebagai penulis dengan segala lika likunya.

Bertahun-tahun lalu, di era tahun 2000an, saat novel dan kumpulan cerpen di tanah air meledak penjualannya; orang ramai-ramai ingin jadi penulis. Pelatihan-pelatihan digelar dan pesertanya mengalir deras. Sekarang, acara-acara kepenulisan sepi peminat. Bedah buku jarang dihadiri khalayak. Orang enggan mengirimkan cerpen ke koran-koran atau majalah. Alasannya : menulis susah-susah, lalu tertolak, kalaupun dimuat bayarannya tak imbang antara jumlah dan tenaga menagih. Royalti penulis tak seberapa besar. Perlahan-lahan, pekerjaan sebagai penulis semakin sepi peminat. Orang tak lagi tertarik untuk menjadikan dunia kepenulisan sebagai salah satu pekerjaan bergengsi yang menghasilkan uang.

 

Tujuan Bekerja

Ada banyak motivasi seseorang untuk bekerja.

Mencari nafkah, menunjukkan eksistensi diri, menuruti permintaan orangtua, atau agar terlihat layak sebagai calon menantu ketika meminang perempuan suatu hari. Bagi seorang lelaki, bekerja adalah salah satu medan jihadnya sehingga ia harus bersungguh-sungguh mencari nafkah halal. Menafkahi istri dan membesarkan anak-anak adalah perkara serius; yang membutuhkan segenap sumber daya dari orangtua. Profesi penulis, memang seringkali dianggap tidak dapat menjadi jaminan bagi laki-laki untuk dapat megnhidupi secara layak keluarganya.

Namun, ada banyak teman-teman saya yang berjenis kelamin laki-laki dan tetap bertahan sebagai penulis. Kehidupan mereka memang tidak mewah. Satu dua orang berhasil meraih impiannya lewat jalur menulis dan hidup cukup dari hasil menulis buku. Sebagian besar, harus bekerja keras sebagai penulis untuk dapat hidup layaknya orang ‘normal’. Tetapi, mereka terlihat sangat bahagia dan bangga dengan pekerjaannya. Mereka merasa menemukan jatidiri sejati sebagai seorang penulis. Mereka merasa, bahwa dengan menulis inilah banyak hal dalam diri mereka berkembang. Salah satu aspek psychological well being adalah personal growth. Menjadi penulis, mengharuskan seseorang belajar dan terus belajar. Rupanya, ini membuat teman-teman penulis saya yang laki-laki gemar melahap buku dan tulisan apapun. Kebiasaan membaca ini membuat mereka lebih bijak, fleksibel, dan mampu mencermati banyak hal dalam hidup dengan filosofi yang indah bermakna. Teman-teman penulis saya terus ‘tumbuh’.

Sinta & Batkhuyag.JPG

Prof. Batkhuyaag Purekvuu & Sinta Yudisia, di Yeonhui, Seoul

“Penulis seharusnya tidak hanya mempertimbangkan materi. Dalam hidup ada yang tidak dapat diukur dengan kekayaan.” Prof. Batkhuyaag Purekvu

Bagi perempuan, profesi menulis tidak masalah.

Biasanya, perempuan telah memiliki sokongan nafkah dari ayah, suami atau saudara lelakinya. Maka bagi perempuan, profesi penulis lebih tidak membingungkan dibanding laki-laki. Tentu saja, ada beberapa teman-teman saya yang perempuan; menjadikan dunia kepenulisan sebagai tumpuan hidupnya. Mereka bekerja sama kerasnya seperti laki-laki yang penulis; sehingga rabat penjualan buku atau royalti adalah salah satu sumber penghasilan.

Sama seperti laki-laki penulis, teman-teman perempuan penulis memiliki personal growth yang bagus. Mereka menjadi manusia-manusia yang bijak dalam segala aspek. Sebagai salah satu contoh, seorang teman penulis perempuan sahabat saya –ia salah satu guru spiritual saya dalam hal kesabaran-  hingga kini hidup dalam kesederhanaan. Masih naik motor butut. Laptop baru punya sebentar, selama ini nebeng komputer masjid ketika mengetik. Baru-baru ini saja ia juga memiliki ponsel pintar setelah bertahun-tahun (lamaaa sekali) ia hanya punya telepon jadul yang hanya dapat mengirim SMS. Keluarga intinya sering menyindir, mengejek, menyudutkan atau entah apalah yang memojokkannya. Selalu memandang miring pada profesi penulis yang dipilihnya.

Tetapi saya melihat personal growth yang luarbiasa dari diri sahabat ini.

Kesabaran.

Dan ketergantungannya pada Allah, luarbiasa.

Setiap kejadian buruk yang menimpanya, nyaris tak ada yang membuatnya berduka apalagi putus asa. Prinsipnya sederhana, selama penghasilan menulis masih dapat menopangnya untuk hidup, akan ia lakukan. Meski, hidup yang dipilihnya sangat sederhana dan seluruh penghasilannya bukan hanya bagi dirinya tapi juga bagi keluarganya.

Bekerja, adalah salah satu kewajiban manusia.

Bahkan, salah satu predictor of happiness adalah bekerja. Orang yang tidak memiliki pekerjaan termasuk orang yang tidak bahagia. Pengangguran adalah orang yang tidak bahagia. Peminta-minta adalah orang yang tidak bahagia. Bergantung pada orang lain adalah orang yang tidak bahagia. Namun, banyak juga orang stress, tertekan, depresi dan merasa benci pada pekerjaannya. Ia selalu merasa setiap pagi adalah mimpi buruk ketika  harus melihat rekan, atasan, setumpuk pekerjaan dan pengahsilan yang rasanya tak sesuai dengan apa yang dikorbankan. Apa yang menjadi tuntutan hidup. Mungkin ia kurang bersyukur. Atau mungkin, ia sama sekali tidak tahu filosofi bekerja.

Seorang penulis tahu betul untuk apa ia bekerja.

Ia bekerja untuk dirinya sendiri. Untuk memenuhi kebutuhan manusia paling dasar berupa sandang, pangan, papan. Tetapi, tuntutan pekerjaan sebagai penulis, membuat penulis harus terus bekerja sama dan mengamati orang lain. Ia harus bekerja sama dengan editor, rekan pembaca, resensor, ilustrator dan banyak lagi. Apa hal ini tidak didapatkan di tempat lain? Ada. Tentu saja, nyaris semua pekerjaan membutuhkan daya dukung dari elemen lain. Tetapi dalam dunia kepenulisan, rasanya kerjasama dengan banyak pihak menjadi sebuah kelaziman. Meski, saat menulis, seseorang menjadi individu yang sangat personal.

Penulis, harus terbiasa mengamati orang. Melihat. Mengobservasi. Sebab itu salah satu inti keahliannya dalam menilai orang dan memindahkannya ke dalam buku –jika ia penulis novel atau cerpen. Kebiasaan mengamati orang ini membuat penulis mudah memahami orang lain (walau belum tentu dapat mudah berempati ya!), dan membuat penulis dapat mengambil ilham dari sisi manapun.

Belum lagi, seorang penulis harus mengetahui watak sebagian besar pembaca. Ia terbiasa membaca orang, ia terbiasa mengamati orang-orang. Ia biasa bekejar sama dengan orang, orang dan orang. Saya suka sekali berteman dengan para penulis, sebab mereka sosok-sosok paling humanis yang pernah saya kenal. Yah, adalah penulis yang egois satu atau dua; tapi tak banyak. Rata-rata teman penulis saya enak diajak ngomong, mudah mengerti kesulitan orang lain, ringan tangan membantu (tapi jangan dimanfaatkan ya!). Salah satu sisi humanis penulis adalah, seringnya ia tidak tega memasang harga mahal bagi bukunya sendiri hehehe. Ia rela memberi potonga harga, diskon, rabat, terhadap pembaca yang merengek meminta penurunan harga. Saya pribadi, kalau teman penulis menjual buku, seringkali bilang begini : kubeli dengan harga wajar. Gak usah diskon! Aku tahu sulitnya nulis buku! Maka yang seharusnya membeli buku dari seorang teman penulis, adalah temannya sendiri yang juga seorang penulis.

 

Hal Buruk yang Terjadi pada Penulis

Diluar kebanggaan, sisi humanis dan kesabaran yang biasanya melekat pada diri penulis; ada beberapa hal buruk yang mungkin menghampiri seseorang ketika ia memutuskan menajdi penulis. Hal ini harus disadari sejak awal agar orang tak hanya memikirkan hal muluk-muluk ketika menjadi penulis.

 

  1. Perjalanan panjang, mungkin seumur hidup

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk jadi penulis mahir?

3 bulan, 6 bulan, 2 tahun? Ketika bukunya telah terbit 5 atau 10? Atau setelah ia mengikuti workshop selama puluhan jam?

Saya ingin sedikit bercerita.

Salah satu impian saya adalah jadi penulis buku anak-anak. Entah karena masa kecil saya terlalu bahagia atau malah kelewat sengsara hahaha. Yang pasti, senang sekali menonton film yang berkisah tentang anak-anak seperti Heidi, Little House on The Prairie, Secret Garden. Bahkan nonton Barbie pun saya suka. Apalagi Narnia, The Bridge to Terrabithia, Charlie and Chocolate Factory dll. Buku-buku yang mengisahkan anak kecil saya suka banget! Kim, Rudyard Kipling. Serial Trio Detektif, Nancy Drew, Sapta Siaga. Yang terbaru adalah buku-buku karya Jostein Gaarner.

Kapan saya bisa seperti mereka?

Maka saya mencoba menulis cerita anak.

Alamaaak, susyeh!

Kalau lihat buku cerita anak : yah, cuma 16 halaman doang, gampang!

Hantu Kubah HIjau - resolusi kecil

Hantu Kubah Hijau : novel anak yang baru terbit setelah 10 tahun!

Nyatanya sulit. Saya ingin buat buku yang bisa dibaca oleh anak-anakku sendiri. Nyatanya, buku itu ternyata tak terbit-terbit hingga 10 tahun! Hantu Kubah Hijau adalah sebuah buku cerita anak, novel petualangan yang butuh waktu bertahun-tahun untuk terbit. Bahkan, ketika masuk meja redaksi saya masih dibimbing oleh tim editornya untuk terus mengembangkan cerita…

Hanya orang-orang bermental baja, punya lengan dan jari jemari otot kawat-besi yang bisa kuat belaja rmenulis, mengetik, ditolak, diedit, ketik ulang, edit lagi, direvisi dan seterusnya.

Kalau khalayak melihat akhir tahun 2017 ini beberapa buku saya terbit, itu bukan hasil kerja mulai Januari 2017. Tapi ada yang dikerjakan sejak 2016 (Reem), ada yang ditulis sejak 2015 (Polaris Fukuoka), ada yang dikerjakan sejak 2007, hiks hiks…

Pelatihan, workshop, camp atau apapun namanya hanya dapat memantik keinginan untuk menulis. Selebihnya, penulis harus punya jiwa baja untuk terus berjuang mengembangkan diri –personal growth hingga ia mencapai titik kesabaran yang dibutuhkan dan titik kekuatan yang paling besar untuk mampu mengubah dunia : lewat mengubah dirinya terlebih dahulu.

 

Reem ditulis 2016, Polaris Fukuoka dirancang sejak 2015

 

  1. Gagalnya buku di pasaran

Jangan menilai Dan Brown, Andrea Hirata, Habiburrahman el Shirazy dari karyanya yang sekarang sudah laris manis bahkan mendunia.

Mereka pernah merasakan bagaimana pahitnya buku gagal. Mereka adalah orang-orang yang bukunya pernah gagal, dikritik bahkan tidak pernah diprediksi akan menjadi penulis tenar.

Dan Brown bahkan pernah mengubah namanya menjadi Daniella Brown, dengan prediksi bukunya lebih laris. Nyatanya tidak juga. Saya sendiri pernah berpikir jangan-jangan nama Sinta Yudisia kurang laku. Enaknya diganti apa ya? SY Danti, terinspirasi SH Mintarja. Atau S. Yudi W; mengingat nama maskulin lebih meyakinkan daripada nama feminin. Alhasil saya kembali pada nama asli : Sinta Yudisia. Walau itu kependekan dari Sinta Yudisia Wisudanti.

Buku yang gagal di pasaran?

Hehehe…japri aja ya, kalau mau tahu 🙂

Saya ingat nasehat seorang teman pengusaha sukses : kalau mau jadi pengusaha sukses, harus bisa sabar melihat barangnya numpuk tak terjual. Itu ujian kesabaran yang akan mengasah diri. Maka saya mencoba sabar dan berbesar hati melihat beberapa jenis buku masih menumpuk belum terjual. Seiirng waktu, orang akan menanyakan buku-buku kita yang lain ketika satu buku laris di pasaran.

 

  1. Cepatnya write off

Ini terkait dengan nomer 2. Kalau gagal di pasaran, biasanya cepat write off atau dikembalikan hak terbitnya ke penulis. Ini salah satu momen paling menyedihkan bagi penulis. Ketika sepucuk surat dilayangkan dari penerbit : mohon maaf, buku anda ditarik dari peredaran. Bukan lantaran subversif, kontorversial, memicu hate speech, hoax dan sejenisnya. Tapi karena tak laku! Rasanya pingin nangis garuk-garuk dinding.

Inilah bagian dari personal growth.

Kita jadi belajar untuk berkembang, adaptasi, menyesuaikan diri ketika buku gagal.

Apakah akan terus menulis?

Apakah akan meningkatkan kapasitas menulis?

Apakah akan beradaptasi?

Apakah akan ngotot dengan kualitas karya yang itu-itu aja?

Tentu, tidak mesti harus leat kegagalan. Kalau bisa; jadikan kegagalan saya sebagai pembelajaran bagi semua. Jadi mari sama-sama belajar.

 

  1. Kritik pedas terhadap karya.

Penulis, sebuah profesi yang berhubungan dengan banyak orang , apalagi ketika karyanya terbit. Bahkan, sebelum terbit dalam bentuk buku dan ia melontarkan gagasan-gagasannya dalam bentuk quote, meme, potongan cerita; orang-orang sudah bisa memberikan komentar. Komentar manis-manis tentulah ada. Komentar yang menusuk, wah, sudah pasti.

Kok ceritanya itu-itu aja?

Endingnya pasti sudah bisa ketebak.

Kenapa diterbitkan indie? Gak laku di mayor ya?

Wah, lagi-lagi cerita tentang dunia kampus. Anak pesantren. Cinta-cintaan.

Covernya terlalu dark. Kurang menarik.

Dan lain-lain.

Profesi penulis adalah profesi yang siap dengan kritikan, sindiran, bahkan mungkin dituduh memplagiat sesuatu padahal penulisnya merasa terinspirasi dengan sebuah buku hingga karakter tokoh, alur cerita sampai endingpun tanpa terasa terbawa dalam imajinasinya.

Saya punya teman penulis yagn punya kometnar keren ketika dia dituduh menulis karya-karya yang mainstream, alias kisah yang itu-itu aja. Kisah cinderella, upik abu, atau kisah picisan princess prince.

“Memangnya kenapa kalau kita menulis hal yang mainstream? Kalau kita justru mahir disitu dan mampu memolesnya dengan indah? Masih banyak orang yang butuh bacaan dengan isi yang mainstream. Mereka tetap butuh pencerahan dengan cerita yang ringan.”

Iya ya.

Bagi saya, kisah orang hijrah pakai jilbab, mainstream. Taaruf, nikah muda, mainstream. Jatuh cinta dengan ikhwan berjenggot, mainstream. Cerita rohis di kampus, mainstream. Terpesona dengan kecantikan muslimah berjilbab, mainstream.

Tapi, bagi anak-anak remaja SMP SMA yang belum banyak pengalaman; kisah mainstream itu bisa jadi sangat baru bagi mereka. Cinta monyet yang pernah saya alamai dan rasakan; belum banyak dirasakan anak-anak muda zaman sekarang sehingga mereka tetap butuh panduan versi kekinian. Maka buku-buku mainstream itu tetap dibutuhkan. Penulis-penulis baru harus belajar menulis kisah mainstream dengan cara meningkatkan kualitas karya.

 

 

  1. Stigma & kurangnya pengakuan terhadap profesi

“Apa pekerjaan anda?”

“Penulis.”

“Mmm…maksudnya?”

“Saya penulis freelance, nulis buku motivasi, novel.”

“Oooh.”

Pertanyaan itu sering terlontar ketika di bank, kantor polisi, sekolah, dan lain-lain. Orang masih belum tahu dan karena ketidak tahuan, belum menghargai profesi penulis. Belum lagi, penghargaan profesi menulis ini belum seideal seperti yang diharapkan. Pejabat, tokoh besar, orang penting; seringkali mengontak penulis untuk berbagai kepentingan. Jangankan memberikan fee yang layak, bahkan terkadang, penulis tidak diberi imbalan apapun untuk menuliskan sebuah kisah.

Ini terjadi pada beberapa teman saya yang diminta untuk menuliskan kisah-kisah tertentu; lalu tidak diberi imbalan sama sekali meski pada awalnya dijanjikan imbalan. Tentu saja, teman-teman penulis juga harus mawas diri tentang pentingnya perjanjian di awal. Dan tidak perlu sungkan untuk menuliskan hitam di atas putih; apa saja hak kewajiban dan berapa besaran fee yang diharapkan. Termasuk, bila dibutuhkan dana untuk menggali informasi, wawancara, transpor kesana kemari; tentunya harus ditanggung oleh pengguna jasa penulis.

Memang, penghargaan terhadap profesi ini masih belum selayaknya.

Tetapi lambat laun, seiiring komitmen kita pada dunia kepenulisan, insyaallah orang semakin paham profesi penulis dan semakin menghargainya.

 

Iklan

Novel ke-19, buku ke-61 : Polaris Fukuoka 福岡の北極星

Novel ini dalam proses terbit di salah satu lini Mizan insyaallah. Editing alhamdulillah telah selesai; tinggal menunggu lay outer dan ilustrator. Saya ingin cerita sedikit perihal novel ini yan boleh dibaca untuk anak-anak dan remaja bahkan dewasa. Simak ya 🙂

sofia pink polkadot
Ada 3 hal penting tentang Fukuoka no Hokkyokusei atau Polaris Fukuoka :
1. Novel semua kalangan
2. Mengapa Polaris atau 北極星 hokkyokusei?
3. Tokoh gadis bernama Sofia

 

Novel Semua Kalangan
Meski settingnya Indonesia dan Jepang, anak-anak tidak akan kesulitan. Novel ini menggunakan bahasa yang mudah dicerna, sekalipun setting berupa kereta api, kastil, apartemen, jisei (puisi kematian) serta beberapa filosofi Jepang seperti bitoku mungkin belum dikenal.
Konflik keluarga dan budaya lebih dimunculkan, antara tokoh Sofia dan pamannya. Antara Sofia dengan asisten dosennya, nona Kobayashi. Romansa konyol antara Sofia dan Tatsuo muncul sedikit, layaknya insan remaja yang sedang mencari jatidiri. Tapi bumbu cinta berupa pacaran tak muncul dengan sering. Persahabatan antara Sofia, Umeko, Rei serta Nozomi yang misterius lebih mendominasi. Di sela-sela itulah kehadiran lawan jenis memberikan ‘cling-cling’ tertentu. Cinta tidak harus menjadi dominasi cerita, sebab dunia remaja lebih diwarnai dengan petualangan heroik, senang-senang bersama sahabat dan hang out alias jalan-jalan mengunjungi wilayah baru.

Setting unik disini adalah mengambil kota Fukuoka dan Kitakyushu yang masih ada dalam wilayah perfektur Fukuoka, pulau Kyushu

 
Polaris atau 北極星 hokkyokusei

Amati langit, lindungi bumi.
Motto itu saya dapatkan ketika belajar tentang situs-situs astronomi , utamanya bintang Utara Polaris. Manusia sering mengamati langit yang begitu indah, cantik, misterius dan terasa transendental. Seringkali, dalam kegalauan manusia memandang bulan purnama, atau mencari bintang terang di langit.

big dipper polaris.jpg

Mengamati Polaris dalam big dipper

 

Terkadang, kita merasa kehidupan langit mengawasi langkah-langkah ini. Menatap kesepian dan kepedihan kita sembari berbisik bahwa harapan itu masih tersemat.
Polaris adalah bintang terang di kutub utara, menjadi penunjuk arah para pengelana. Apa hubungannya dengan kisah ini? Simak aja nanti di novelnya ya hehehe

Sofia
Nama ini manis banget yaaa?
Baik diucapkan, ditulis, atau didengar. Sofia sendiri merupakan istri Rasulullah Saw yang cantik jelita. Hanya bunda Aisyah ra yang dapat menandingin kecantikannya.
Kalau tokoh Sofia dalam Fukuoka no Hokkyokusei ini adalah tokoh sentral, gadis cerewet, pemberontak, sembrono tapi sebetulnya ia suka belajar. Kebiasaan ala Indonesia yang malas, tak suka menyiapkan plan A plan B, bekerja asal-asalan; menjadi karakter Sofia yang berbenturan dengan pamannya di Fukuoka.
Paman, seorang laki-laki mandiri yang menceplok telurpun harus sangat rapi dengan wajan tertentu; berhadapan dengan Sofia yang suka menggoreng telur dalam wajan asal-asalan dan campur baur dengan masakan lain!

 

 Sofia

Meski Paman dan Sofia sering berantem sampai Sofia pun sempat nggak tahan hidup seatap dengan paman; akhirnya mereka saling memahami. Sesama perantau harus menjalin persaudaraan dan saling menghargai yang merupakan perkara penting. Plus kemandirian dan kerja keras yang selama ini diremehkan Sofia.

Adakah hal unik lain dalam novel ini?
Ada. Tentang jisei. Butuh waktu lama bagi saya untuk belajar pusisi kematian sebab susunan puisi ini tak lazim dikenal di Indonesia. Jisei menghubungkan Sofia dan Isao, membuat malam-malam Sofia menjadi sangat horor dengan nuansa roh jahat. Ups 😦

 

Yang penasaran bisa simak sebagian kisahnya di wattpad. Okeee?

link tulisan ‘Sofia’

http://thesecondlifefashionwhore.blogspot.co.id/
http://freedesignresources.net/sofia-free-font/

https://www.etsy.com/listing/85193918/wall-letters-name-art-prints-sofia-fresh , http://www.allthingspolkadot.com/wooden-polka-dot-wall-letters/

Apakah aku Nasionalis?

 

 

Waktu kecil, aku pernah bertanya pada ibu ,”Ma, kenapa tiap upacara bendera, aku mau nangis ya liat bendera merah putih sama dengar lagu Indonesia Raya?”

Kata ibu, “wah, itu artinya kamu nasionalis, Sin.”

Jujur, waktu itu aku baru sekitar kelas 3 atau 4 SD. Masih belum tahu apa itu nasionalis, apa itu Islamis, apa itu kapitalis dan komunis; hanya manggut-manggut saja. Bertahun-tahun kemudian, perasaan itu ternyata tidak hilang. Aku senang sekali dengar lagu almarhum Gombloh, Kebyar-kebyar.

Indonesia

Merah darahku

Putih tulangku

Bersatu dalam semangatku

Gebyar gebyar pelangi jingga

Aku  merasa mau menangis tiap kali televisi hitam putihku dulu, yang hanya menayangkan  1 channel saja di tahun 80-an yaitu TVRI, menutup siaran hari itu dengan lagu :

Tanah airku tidak kulupakan

Kan terkenang, selama hidupku

Biarpun saya, pergi jauh

Tidakkan hilang dari kalbu

Tanahku yang kucintai

Engkau kuhargai

 

Walaupun banyak negeri kujalani

Yang masyhur permai dikata orang

Tetapi kampung dan rumahku

Disanalah kurasa senang

Tanahku yang kucintai

Engkau kuhargai

Dan, aku suka sekali dengan lagu Coklat yang berjudul Merah Putih : merah putih teruslah kau berkibar!

 

Indonesia dan Indonesia lagi

Aku tidak menyangka bahwa dengan menjadi penulis, aku berkesempatan mengunjungi beberapa negara. Hongkong, Korea, Jepang, Malaysia, Maroko, Mesir, Palestina. Negara-negara yang membuatku kagum dengan kemajuan, dengan kultur yang kaya, dengan arsitektur, dengan teknologi, dengan kuliner, dengan music dan filmnya. Namun jujur, tiap kali ada di negara orang, aku berpikir : bukannya ini di Indonesia ada ya?

Melihat laut terhampar di Avenue Star HK : ah, begini mah di negeriku banyak. Laut selatan Yogya, laut Bali, selat Madura dll. Sepanjang menelusuri Camplong, Madura menuju Pamekasan; laut biru terhampar. Tiap kali pulang kampung ke Tegal, kampung suamiku, kami menyempatkan ke PAI, pantai alam indah. Di Jawa Timur ada WBL, wisata bahari Lamongan. Tak kurang-kurang kalau mau main air di Indonesia.

Melihat sawah-sawah di daerah Karatsu, Saga, Kyushu aku juga berpikir : ini di Indonesia banyak. Lamongan, dikenal sebagai lumbung beras. Madura, meski sering dianggap gersang, tetap punya sawah. Gresik, Tuban, Lasem, Rembang, Pati hingga nanti aku tiba di Yogya atau Tegal; sawah berpetak-petak terhampar. Meski, ya, ada beberapa yang sudah digantikan real estate.

Di Seoul, pingin banget buat sambel terasi dan kolak. Akhirnya dapat ubi merah dan santan kalengan yang harganya jangan ditanya. Cabe hijau beli di convenience store terdekat. Hiks, di Indonesia harga cabe sama ubi bisa hanya Rp.10.000 . di luar negeri bisa berkali lipat. Dan oh, betapa mahalnya harga buah-buahan….pepaya dan pisang, aku tak berani beli. Mangga??? Mending nanti beli di Indonesia pas lagi musimnya.

Di Maroko,  segala rupa daging ada. Segala jenis roti tersedia.

Tapi aku mau sayur…timun, taoge, kacang panjang, kol, kemangi, tomat dkk. Konon kata mahasiswa di Rabat, kalau mau masak sayur paling hanya ada bayam dan kangkung. Itupun gak selalu tersedia. Aku mau sayur….yang bisa dimakan sebagai lalapan, pecel atau gado-gado. Betapa rindunya akan gemah ripah loh jinawi segala rupa tanaman yang ada di negeriku.

Bukan hanya makanan yang membuat Indonesia nomer satu.

Kapanpun lapar, ada yang jualan. Di dekat rumahku warung penyetan tersebar. Warung bakso dan mie ayam ada. Yang keliling menjajakan bakso, bakwan, rujak cingur, gado-gado, es rujak, masakan matang sampai kerupuk; ada semua.

Dari tadi kok ngomongin kuliner aja sih? ^-^

 

Indonesia lagi

Di negara mayoritas Islam, sebagian orang tidak percaya aku muslim (what???). Padahal aku berkerudung lho! Pasalnya, namaku : Sinta. Sinta identik dengan bahasa sansekerta dan agama Hindu.

Seringkali, melihat waja Asia dan tubuh mungilku, orang langsung menebak : Malaysia?

Aku menggeleng.

“Indonesia,” sahutku tersenyum.

Rupanya Malaysia lebih dikenal sebagian warga dunia, disbanding Indonesia. Parahnya lagi, terutama di Hongkong, waja Indonesia identik dengan BMI (buruh migram Indonesia). Begitu tiba di bagian imigrasi, petugas akan tegas meliat paspor dan lumayan keras memperlakukan mereka yang punya paspor pekerja. Kalau visitor, umumnya mereka lebih ramah. Ya, menjadi bangsa yang bekerja di negeri asing, apalagi sebagai tenaga kasar tentu dipandang sebelah mata. Menjadi pelajar dan peneliti di negeri orang saja sering dianggap remeh, apalagi BMI.

Aku punya pengalaman-pengalaman unik baik yang positif atau negative selama menyandang status warga Indonesia ketiak berada di negeri asing. Namun, aku sungguh berbangga ketika tiba di Maroko.

Sinta dan Rue Sukarno.JPG

Rue Soukarno, Rabat , of Morocco

Di rabat, ibukota Maroko, ada sebuah jalan yang menunjukkan betapa negara tersebut memandang Indonesia dengan mata penghormatan demikian dalam : Rue Soekarno. Jalan ini terletak di tengah kota, dengan latar belakagn benteng merah yang kokoh dan indah mempesona. Terletak dekat gedung parlemen Rabat, bank Maghribi yang sangat artistic, kantor pusat kepolisian dan juga kantor pos serta café-café. Rue Soekarno bukan jalan di ujung gang yang kusam, dengan kendaraan tak beraturan. Rue Soekarno berada di titik yang memungkinkan orang lalu lalang, memandang plang tersebut dan bertanya dalam benak, mengapa presiden Indonesia namanya dipahatkan di negeri orang?

Begitu orang di Maroko mendengar kami Indonesia mereka sontak berkata.

“Indonesia? Good people, good prayer.”

Indonesia dikenal ramah, dikenal baik, dikenal suka menolong, dikenal mudah tersenyum. Walau tentu ada juga hal-hal negative yang tersemat : tidak disiplin, kurang bersih, ceroboh dan sejenisnya.

Sungai Han, Seoul. di Indonesia sungai melimpah ruah

 

Indonesia, aku dilahirkan dan dibesarkan

Aku sangat bersyukur berkebangsaan Indonesia.

Walau sebagian orang mencap negaraku korup, negara kategori berkembang, banyak hutang, banyak masalah; aku tidak bisa bayangkan bila dilahirkan di negara asing. Ya, sesekali sempat muncul pikiran : enak ya kalau tinggal di Malaysia, Korea atau Jepang. Negaranya teratur; rakyatnya disiplin.

Harus kusadari, tidak ada negara di dunia ini yang seperti Indonesia.

Mana negara yang punya pulau terbanyak? Mana negara yang punya laut dan selat sebanyak Indonesia? Mana negara yang punya persediaan air seperti Indonesia? Mana negara dengan hutan, hasil bumi, sebanyak Indonesia?

Aku bahagia punya orangtua Indonesia, yang bersama masyarakat sekitar, mengajarkan aku apa arti penting menyapa tetangga. Beberapa kali ke Hongkong, aku tinggal di apartemen. Aku bertanya teman-temanku, kenalkah mereka dengan tetangga kanan kiri?

“Tidak,” jawab adik-adik FLP.

Di kampungku, di kotaku; kami mengenal siapa tetangga kanan kiri. Siapa tetangga belakang rumah. Siapa pak RT, pak RW, takmir masjid, pemuda karangtaruna. Bahkan suami atau istri keluarga X; siapa anak-anaknya, siapa cucunya. Kami mengenal tukang sayur, tukang bakso, tukang gas dan galon.

Sekalinya ada yang sakit, kami berduyun menengok. Bawa uang atau bingkisan. Jumlahnya tak seberapa, namun ikatannya terasa. Kelahiran, pernikahan, kematian; tetangga dan saudara selalu ada. Cari pembantu? Relative mudah. Kalau pas tidak bisa antar jemput anak, minta tolong teman atau guru di sekolah.

Aku mengagumi kemandirian para lansia di Hong kong , Korea, Jepang.

Namun aku tak bisa bayangkan, kelak di usiaku yang 70 tahun aku hidup sendiri. Guyub nya orang Indonesia membawa kehangatan luarbiasa dalam hati, dalam komunikasi, dalam interaksi, dalam kegiatan keseharian hingga kegiatan kenegaraan. Beberapa kali aku mengikuti acara kantor suami, lagi-lagi, percakapan antara pimpinan dan anak buah; antara sesama teman, antara para istri dan anak-anak berlangsung meriah. Tidak hanya dengan satu dua orang, namun dengan sebagian besar peserta.

Ketika makan malam, buka puasa di daerah Saetgang, KBRI Seoul, kami berkumpul. Mengantri nasi, krupuk dan sop beserta sambal. Mengobrol dengan orang-orang yang baru dikenal. Para tamu Korea terbawa arus suasana. Ikut bergabung walau hanya tersenyum dan tertawa, merasakan kehangatan yang mengalir dari percakapan kami. Dari ekspresi meledak-ledak yang ada di setiap wajah Indonesia di perantauan.

Ada seorang selebriti yang kekayaannya, bisa membuatnya pindah kewarga negaraan. Tapi ia memilih hidup tua di Indonesia.

“Nanti kalau aku tua dan meninggal, nggak ada yang merawatku, memandikanku, menyolatkanku seperti di Indonesia.”

Ah, Indonesia memang negara yang istimewa untuk menjadi tempat kelahiran dan tempat kematian.

Presiden silih berganti. Kepala daerah maju mundur sesuai garis nasib. Rakyat kadang terabaikan, masyarakat kecil sering terpinggirkan. Tetap saja, kami tak ingin meninggalkan Indonesia.

sinta, sawah di karatsu.JPG

Ini Indonesia atau Jepang?

“Ya, karena nggak punya duit!”

Mungkin itu tuduhan orang. Padahal bukan.

Indonesia negeri istimewa yang ditakdirkan Allah Swt memiliki kekayaan luarbiasa, baik SDM maupun SDA. Indonesia negeri istimewa yang dijaga bukan hanya oleh kaum eksekutif, yudikatif, legislative, atau pelaku media sesuai pilar-pilar demokrasi. Indonesia negera istimewa yang dijaga oleh segenap jajaran militer darat, udara, laut dan kepolisian. Indonesia negara istimewa yang dijaga oleh segenap warga negaranya dengan doa, dengan munajat, dengan pengorbanan. Indonesia negara istimewa yang dijaga oleh para alim ulama dengan kerja keras pemikiran, ijtihad, syura dan semangat kebaikan yang terus ditularkan.

Aku berharap, bukan hanya Maroko yang memasang nama Rue Soekarno.

Aku berharp, negara-negara lain di dunia kelak akan memasang nama para pemimpin dan ulama kita di bagian-bagian negeri mereka sebagai penanda bahwa Indonesia, menjadi mercusuar dunia.

 

Quiz Cover Novel : Berhadiah Gantungan Cantik dari Jepang

Assalamualaykum warahamtullahi wabarakatuh.

Teman-teman, bloggers dan netizen tersayang,
Silakan ikut kuis di bawah ini. Berhadian 2 gantungan kunci cantik, asli dari Jepang.
Syaratnya mudah, tinggal pilih nomer berapa yang paling sesuai untuk novel saya terbaru, novel semi-biografi seorang tokoh muslim Indonesia yang sukses di dunia Internasional.

Sebagai gambaran, novel ini bercerita tentang seorang pemuda Indonesia yang menjalani hari-hari penuh petualangan di Kyushu Daigaku, Fukuoka. Kerja keras, filosofi hidup yang teguh dijalani, menjadikannya meraih gelar akademis dengan cemerlang, memiliki bisnis sukses di usia muda, dan menjadi pelopor berdirinya masjid pertama kali di pulau Kyushu.

Selain berkisah tentang keunikan menjadi mahasiswa di negeri orang; novel ini juga novel romance dengan setting tempat-tempat menawan di Jepang seperti Ohori koen, Aso Mountain, Karatsu.

Tokoh-tokoh dalam novel ini berbeda dari nvoel-novel saya yang sebelumnya.

Terutama tokoh Keiko, gadis Jepang yang memiliki tanda unik dua guratan di pergelangan tangan, menaruh hati pada Tyo sang tokoh utama dan karena keduanya sama-sama brilliant memiliki kegilaan dan ambisi yang mirip.

Beberapa pilihan cover Rumah Kayu Tanotsu

Beberapa pilihan cover Rumah Kayu Tanotsu

2 gantungan kunci untuk 2 pemenang

2 gantungan kunci untuk 2 pemenang

Ditunggu hingga 22 Desember 2015 ya !

Bagaimana Menjadikan Novelmu sebagai Film?

Sebagian penulis menginginkan novel , cerpen, atau tulisannya diangkat ke layar lebar. Sebagian berkata, tidak ingin demikian. Sebab, bagaimanapun, novel yang bagus tidak identik dengan naik ke layar lebar. Best seller tidak selalu best quality. Apapun itu, mari kita belajar bersama-sama bagaimana sebuah novel dapat diterjemahkan ke dalam bahasa visual.

• Novel dan film sama-sama produk kreatif, karenanya tidak ada parameter baku tentang nilai bagus atau tidak. Sebagaimana matematika yang merupakan ilmu pasti, sastra dan film termasuk ranah non sains sehingga sangat subyektif sifatnya.

Bulan Nararya

Bulan Nararya

• Novel merupakan produk yang pendek proses produksinya. Seorang penulis, seorang editor, seorang ilustrator, percetakan, dan penerbit plus tim distribusi sudah dapat menghasilkan sebuah novel yang terpajang di Gramedia. Film , tidak. Satu adegan dapat membutuhkan 30 orang crew. Maka bayangkan bila film itu selesai dibuat, berapa jumlah tenaga yang terlibat.

Pembuatan film yg rumit

Pembuatan film yg rumit

Dulu, orang yang punya uang banyak dapat membuat film. Sekarang, ada beberapa pertimbangan mengapa novel yang satu dapat difilmkan, sementara novel yang satunya lagi dengan sekian banyak penghargaan dan pujian, malah tidak daapt difilmkan.

Di bawah ini beberapa pertimbangan apakah novelmu layak difilmkan? Tulisan ini merupakan hasil diskusi dengan beberapa rekan perfilman.

1. Penonton.

Sebagus apapun novel, ketika akan diangkat ke layar lebar maka pertanyaan pertama dan terpenting yang muncul adalah : SIAPA yang mau nonton? Film sejarah, film agama, film edukasi tentu sangat bagus untuk ditonton. Memberi wawasan kognitif baru, memberikan model positif. Tapi apakah ada yang mau nonton?

Maka target penonton menjadi target awal pembuatan film.
Misal, film James Bond atau Fast & Furious, juga film hantu. Awalnya mudah ditebak, tengahnya teriak-teriak, akhirnya gampang disimpulkan. Tapi yang suka nonton banyak. Mulai pasangan yang kasmaran, karena film action dan horror buat si cewek cari pelukan; sampai anak-anak remaja yang memang hobbi petualangan. Ditambah Hollywood minded banget, jadi deh. Kalau suka nonton film James Bond (saya nonton beberapa kali mulai yang aktornya Timothy Dalton, Roger Moore, Sean Connery, Pierce Brosnan, Daniel Craig) adegannya selalu sama! Kejar-kejaran di awal, cewek sexi yang gak nyambung sama jalan cerita, yang kalau cewek itu di delete pun nggak memengaruhi jalan cerita.

Bandingkan dengan Trilogi Bourne yang keren, keren banget karena Julie Stiles memerankan Nikki, cewek pengurus logistik untuk setiap prajurit yang ditugaskan sebagai mata-mata. Akting keren, setting keren, alur kuat.

Bourne Supremacy : salah satu film favorit

Bourne Supremacy : salah satu film favorit

Selain remaja yang jadi sasaran produk, anak-anak juga. Maka film anak-anak laris di pasaran karena anak biasanya nonton sama ibu bapak, teman-teman atau guru. Film anak-anak seperti Petualangan Sherina, Harry Potter dll tentu ditonton bersama-sama termasuk ditonton bersama guru atau rekan sekolah. Masih ingat film Janur Kuning? Penontonnya anak-anak sekolah dan guru-guru sehingga meski film edukasi ini lumayan membosankan, tetap saja untung.

Jadi, kalau novelmu ingin difilmkan, coba tanya pada diri sendiri dan teman-teman : kira-kira target penonton siapa ya? Mereka ini yang akan beli tiket, nonton, meramaikan bioskop dan stakeholder menarik keuntungan.

3 hari film sepi penonton, maka poster akan diturunkan.
Butuh biaya besar agar poster tetap di tempat hingga pekan pertama dan kedua. Orang biasanya “ngeh” ketika poster itu nangkring hingga lebih dari 1 minggu.
Membuat film bagus dengan budget tinggi yang menang penghargaan sudah cenderung ditinggalkan, kecuali oleh insan kreatif yang idealis. Rata-rata executif produser ingin untung, minimal balik modal.

2. Budget

Budget aman 2,5 M rupiah, sudah termasuk promosi 500 juta dan sewa artis. Film nya juga akan tayang di bioskop 21 atau XXI. Punya uang lebih banyak, lebih save lagi, 5 M misalnya.
Budget ini adalah urusan produser. Produser yang mengatur uang akan lari kemana dan kemana. Bila keuangan telah dibagi pos-posnya, maka produser harus ketat dan konsisten. Ayat-ayat Cinta kang Abik misalnya, memindahkan setting Mesir ke Semarang dengan trik-trik tertentu agar kesan Timur Tengahnya dapat namun budget tidak membengkak.

Film juga dapat dibuat dengan dana minim di bawah 500 juta, 100 juta, 50 juta. Tapi tentu dengan artis yang belum terkenal, tak dapat tayang di bioskop, kualitas yang tak dapat dijamin.

3. Triangle System : Produser, Sutradara, Penulis Skenario

Produser : produser dan Executif Produser berbeda. Executif produser hanya punya uang dan tahu untung. Invest, selesai. Produser film mencari dana, mengelola budget. Segala urusan budgeting di produser, maka produser adalah think thank film. Kalau dana mepet apa yang harus dipangkas? Setting atau alur? Maka , ketika festival film, anugerah sebagai best film akan didapat oleh produser. Produser satu-satunya orang yang berhak berkata : ini film saya!

Sutradara : sutradara adalah orang yang mengubah cerita menjadi bentuk visual. Butuh ketrampilan, sense, artistik yang tinggi untuk menerjemahkan novel atau cerita ke dalam bentuk film.
Film Lord of Ther Ring 1-3 mulai The Fellowship of The Ring, Two Towers, Return of The King adalah film indah yang masih saja dikritik penggemar karena dainggap kurang mengadaptasi novel ke film. Padahal…ckckck, Peter Jackson dan crewnya menyabet belasan piala Oscar!

Lord of The Ring : film indah yang belum bosan ditonton

Lord of The Ring : film indah yang belum bosan ditonton

Penulis Skenario : penulis skenario dan penulis novel berbeda. Penulis skenario adalah orang yang membuat dialog, setting, membuat panduan bagi semua crew termasuk aktor aktris agar berada dalam alur untuk membuat satu film dengan rasa tertentu.

Bila telah mendapatkan 3 unsur ini, maka produksi film dapat mulai dijalankan. Namun bila belum mendapatkan produser, sutradara dan penulis skenario; termasuk pertimbangan potensi penonton yang disebutkan di awal; sebuah novel belum dapat diadaptasi ke layar lebar.

Bagaimana memilih nama untuk tokoh novelmu?

Momiji atau kouyou

Momiji atau kouyou

Untuk kesekian kali, seseorang menginbox masalah nama.
“Mbak, apakah Montaser dan Rinai adalah tokoh nyata?”
Saya hanya menjawab dengan emoticon 🙂
Perihal nama, bahkan seorang ibu muda bertanya, bolehkah memberi putrinya nama Karadiza, putri bangsawan Persia yang jatuh cinta pada Takudar. Mungkin ia khawatir harus membayar upeti tertentu bila mengambil nama dari sebuah novel.
“Jangan Karadiza, Bunda,” sahutku. “Pakai saja nama Aisyah, itu lebih indah.”
Memilih nama untuk tokoh novel, cukup sulit.
Seperti memilih nama untuk anak-anak kita; begitupun nama seorang tokoh protagonis, deuteragonis, antagonis dan tritagonis.

Takudar

Nama ini memang sudah tertera dalam sejarah. Tokoh yang kata pak Maman S Mahayana, sang editor dan budayawan, “mungkin hanya kamu satu-satunya Sinta, yang pernah menuliskan tentangnya.”
Saya jatuh cinta pada Takudar sejak membaca sejarah singkatnya dalam The Preaching of Islam, Thomas W. Arnold. Sejak saat itu serasa tak cukup waktu dan referensi memburu sang tokoh, bahkan hingga ke Hongkong Library. Ahh, di lantai 9 dari 12 lantai perpustakaan yang mengingatkan pada Perpustakaan Ajaib Bibbi Boken – Jostein Garner; terdapat buku-buku sejarah Asia yang sangat amat lengkap termasuk Mongolia.

Mongolia adalah Jenghiz Khan. Mongolia adalah Kubilai Khan. Mongolia adalah Jalaluddin Akbar. Mongolia adalah Aurangzeb.

Takudar, hanya sejarah kecil yang muncul ketika Bani Saljuk dan Bani Mamluk masih menggeliat. Maka ketika diujung perjalanannya selama 2 tahun menjadi kaisar muslim, Takudar memilih jalan sufistik untuk mengobati dukalaranya berjalan dalam kesendirian. Sejarah akan berkata lain, andaikata ia hidup sezaman dengan Shalahuddin al Ayyubi atau Muhammad al Fatih.

Almamuchi dan Karadiza (The Road to The Empire dan Takhta Awan)

Saya penggemar film.
Film-film kocak, drama, action. Tentu disesuaikan tempat dan waktu. Once Upon a Time in China, tamat beberapa serial. Salah satu film kungfu menampilkan tokoh perempuan bernama Uchatadara, dan itulah nama yang saya pakai sebagai nama Almamuchi. Almamuchi dan Karadiza didadapt dengan mengobrak abrik kamus Mongolia dan bahasa Persia.

Montaser (Rinai)
Berapa banyak sudah gadis yang bertanya : apakah tokoh ini ada?
Mungkin, inilah tokoh yang paling menimbulkan sensasi jatuh cinta. Syukurlah. Orang-orang seperti Montaser lah yang seharusnya ada di benak para gadis. Dengan suguhan drama Korea dan Turki, para gadis dibuat mabuk kepayang oleh tokoh fiktif tampan yang bagus secara fisik. Satu berwajah klimis, licin, mengkilat, dengan hidung dan dagu buatan. Satu berhidung mancung, bercambang, alis tebal dan mata bak elang. Dua-duanya sama : membuat seorang perempuan menjatuhkan pilihan dari casingnya terlebih dahulu.
Montaser adalah lafal luwes untuk bahasa Arab Muntashir.

Siapa ia?
Sesunggunya seorang anak kecil laki-laki, putra seorang Ibunda luarbiasa yang membaktikan hidupnya di UCAS university sebagai dosen di Khan Younis, Gaza. Saya terkesan oleh nama tersebut dan menjadikannya nama tokoh dalam novel Rinai. Apakah sosok Montaser ada?
Banyak.
Sangat banyak.
Jadi, berharaplah bagi yang masih jomblo untuk bisa memilikinya satu.

Rinai (Rinai)
Ada satu tokoh film remaja yang saya suka namanya : River Phoenix. Ia punya saudara-saudara yang namanya diambil pula dari gejala alam seperti Rainbow. Terkesan oleh ide memberi nama dari gejala-gejala alam, maka novel bersetting Palestina inipun mengambil nama tokohnya dari situasi alam : Rinai Hujan.

Nararya (Bulan Nararya)

Nararya adalah nama unisex dalam bahasa Sansekerta. Dapat digunakan oleh laki-laki atau perempuan. Nararya berarti kemuliaan. Nama ini saya dapat dari kamus bahasa Sansekerta, googling aja!
Sansekerta menyediakan nama-nama unik yang cantik didengar dan dibaca.

Yudhistira (Bulan Nararya)

Sejak dulu, saya ngefans dengan tokoh wayang bernama Yudhistira. Konon, sebagai anak tertua ia memiliki darah putih karena demikian sayang pada adik-adiknya dan rela mengorbankan apapun demi kebahagiaan mereka.
Saya selalu terkesan ketika mendengar seorang kakak yang mampu menjadi panutan bagi adik-adiknya, maka nama Yudhistira sering masuk dalam benak tiap kali berencana menyusun novel. Lagi pula, Yudhistira mirip-mirip Yudisia, nama tengah saya …haha

Fuyuzakura

Fuyuzakura

X- Novel Romance bersetting Jepang

Novel romansa bersetting Jepang ini cukup sulit juga menentukan nama.
Apa nama tokoh yang mengesankan tapi juga bukan nama yang biasa ditemukan?
Joko, Budi, Hari, Bambang, Bagus, sudah biasa. Nama-nama itu bukannya tak boleh dipakai namun para pembaca biasanya terkesan oleh gambaran seroang tokoh. Montaser, Rinai, Nararya, Yudhistira, Takudar, mudah diingat oleh pembaca ketika mereka tengah mendiskusikannya.

Maka, novel romance bersetting Jepang ini pun harus memiliki nama-nama tokoh yang unik.
Nama unik kadang-kadang berasal dari teman-teman sendiri, maka berhati-hatilah jadi teman penulis. Setiap pertemuan dengan seseorang akan menjadi bahan baku untuk tulisan mulai nama, curhat, sampai emosi yang ditampilkan. Semakin aneh kamu, semakin senang penulis mendapatkan profile untuk tokohnya.

Ada usulan nama untuk novel Jepang ini? Silakan 🙂

Tatara Gawa : salah satu setting romance

Aliran biru Tatara Gawa

Aliran biru Tatara Gawa

Tatara gawa, salah satu sudut indah yang akan muncul dalam novel romansaku bersetting Jepang. Selain tempat ini punya memori psikologis dengan tokoh utama, silakan lihat hal unik dalam foto di atas.

Jembatannya?
Pepohonannya?
Rerumputannya?
Aliran sungainya?
Warna birunya?

#Jepang
#Fukuoka
#Romance