Apakah aku Nasionalis?

 

 

Waktu kecil, aku pernah bertanya pada ibu ,”Ma, kenapa tiap upacara bendera, aku mau nangis ya liat bendera merah putih sama dengar lagu Indonesia Raya?”

Kata ibu, “wah, itu artinya kamu nasionalis, Sin.”

Jujur, waktu itu aku baru sekitar kelas 3 atau 4 SD. Masih belum tahu apa itu nasionalis, apa itu Islamis, apa itu kapitalis dan komunis; hanya manggut-manggut saja. Bertahun-tahun kemudian, perasaan itu ternyata tidak hilang. Aku senang sekali dengar lagu almarhum Gombloh, Kebyar-kebyar.

Indonesia

Merah darahku

Putih tulangku

Bersatu dalam semangatku

Gebyar gebyar pelangi jingga

Aku  merasa mau menangis tiap kali televisi hitam putihku dulu, yang hanya menayangkan  1 channel saja di tahun 80-an yaitu TVRI, menutup siaran hari itu dengan lagu :

Tanah airku tidak kulupakan

Kan terkenang, selama hidupku

Biarpun saya, pergi jauh

Tidakkan hilang dari kalbu

Tanahku yang kucintai

Engkau kuhargai

 

Walaupun banyak negeri kujalani

Yang masyhur permai dikata orang

Tetapi kampung dan rumahku

Disanalah kurasa senang

Tanahku yang kucintai

Engkau kuhargai

Dan, aku suka sekali dengan lagu Coklat yang berjudul Merah Putih : merah putih teruslah kau berkibar!

 

Indonesia dan Indonesia lagi

Aku tidak menyangka bahwa dengan menjadi penulis, aku berkesempatan mengunjungi beberapa negara. Hongkong, Korea, Jepang, Malaysia, Maroko, Mesir, Palestina. Negara-negara yang membuatku kagum dengan kemajuan, dengan kultur yang kaya, dengan arsitektur, dengan teknologi, dengan kuliner, dengan music dan filmnya. Namun jujur, tiap kali ada di negara orang, aku berpikir : bukannya ini di Indonesia ada ya?

Melihat laut terhampar di Avenue Star HK : ah, begini mah di negeriku banyak. Laut selatan Yogya, laut Bali, selat Madura dll. Sepanjang menelusuri Camplong, Madura menuju Pamekasan; laut biru terhampar. Tiap kali pulang kampung ke Tegal, kampung suamiku, kami menyempatkan ke PAI, pantai alam indah. Di Jawa Timur ada WBL, wisata bahari Lamongan. Tak kurang-kurang kalau mau main air di Indonesia.

Melihat sawah-sawah di daerah Karatsu, Saga, Kyushu aku juga berpikir : ini di Indonesia banyak. Lamongan, dikenal sebagai lumbung beras. Madura, meski sering dianggap gersang, tetap punya sawah. Gresik, Tuban, Lasem, Rembang, Pati hingga nanti aku tiba di Yogya atau Tegal; sawah berpetak-petak terhampar. Meski, ya, ada beberapa yang sudah digantikan real estate.

Di Seoul, pingin banget buat sambel terasi dan kolak. Akhirnya dapat ubi merah dan santan kalengan yang harganya jangan ditanya. Cabe hijau beli di convenience store terdekat. Hiks, di Indonesia harga cabe sama ubi bisa hanya Rp.10.000 . di luar negeri bisa berkali lipat. Dan oh, betapa mahalnya harga buah-buahan….pepaya dan pisang, aku tak berani beli. Mangga??? Mending nanti beli di Indonesia pas lagi musimnya.

Di Maroko,  segala rupa daging ada. Segala jenis roti tersedia.

Tapi aku mau sayur…timun, taoge, kacang panjang, kol, kemangi, tomat dkk. Konon kata mahasiswa di Rabat, kalau mau masak sayur paling hanya ada bayam dan kangkung. Itupun gak selalu tersedia. Aku mau sayur….yang bisa dimakan sebagai lalapan, pecel atau gado-gado. Betapa rindunya akan gemah ripah loh jinawi segala rupa tanaman yang ada di negeriku.

Bukan hanya makanan yang membuat Indonesia nomer satu.

Kapanpun lapar, ada yang jualan. Di dekat rumahku warung penyetan tersebar. Warung bakso dan mie ayam ada. Yang keliling menjajakan bakso, bakwan, rujak cingur, gado-gado, es rujak, masakan matang sampai kerupuk; ada semua.

Dari tadi kok ngomongin kuliner aja sih? ^-^

 

Indonesia lagi

Di negara mayoritas Islam, sebagian orang tidak percaya aku muslim (what???). Padahal aku berkerudung lho! Pasalnya, namaku : Sinta. Sinta identik dengan bahasa sansekerta dan agama Hindu.

Seringkali, melihat waja Asia dan tubuh mungilku, orang langsung menebak : Malaysia?

Aku menggeleng.

“Indonesia,” sahutku tersenyum.

Rupanya Malaysia lebih dikenal sebagian warga dunia, disbanding Indonesia. Parahnya lagi, terutama di Hongkong, waja Indonesia identik dengan BMI (buruh migram Indonesia). Begitu tiba di bagian imigrasi, petugas akan tegas meliat paspor dan lumayan keras memperlakukan mereka yang punya paspor pekerja. Kalau visitor, umumnya mereka lebih ramah. Ya, menjadi bangsa yang bekerja di negeri asing, apalagi sebagai tenaga kasar tentu dipandang sebelah mata. Menjadi pelajar dan peneliti di negeri orang saja sering dianggap remeh, apalagi BMI.

Aku punya pengalaman-pengalaman unik baik yang positif atau negative selama menyandang status warga Indonesia ketiak berada di negeri asing. Namun, aku sungguh berbangga ketika tiba di Maroko.

Sinta dan Rue Sukarno.JPG

Rue Soukarno, Rabat , of Morocco

Di rabat, ibukota Maroko, ada sebuah jalan yang menunjukkan betapa negara tersebut memandang Indonesia dengan mata penghormatan demikian dalam : Rue Soekarno. Jalan ini terletak di tengah kota, dengan latar belakagn benteng merah yang kokoh dan indah mempesona. Terletak dekat gedung parlemen Rabat, bank Maghribi yang sangat artistic, kantor pusat kepolisian dan juga kantor pos serta café-café. Rue Soekarno bukan jalan di ujung gang yang kusam, dengan kendaraan tak beraturan. Rue Soekarno berada di titik yang memungkinkan orang lalu lalang, memandang plang tersebut dan bertanya dalam benak, mengapa presiden Indonesia namanya dipahatkan di negeri orang?

Begitu orang di Maroko mendengar kami Indonesia mereka sontak berkata.

“Indonesia? Good people, good prayer.”

Indonesia dikenal ramah, dikenal baik, dikenal suka menolong, dikenal mudah tersenyum. Walau tentu ada juga hal-hal negative yang tersemat : tidak disiplin, kurang bersih, ceroboh dan sejenisnya.

Sungai Han, Seoul. di Indonesia sungai melimpah ruah

 

Indonesia, aku dilahirkan dan dibesarkan

Aku sangat bersyukur berkebangsaan Indonesia.

Walau sebagian orang mencap negaraku korup, negara kategori berkembang, banyak hutang, banyak masalah; aku tidak bisa bayangkan bila dilahirkan di negara asing. Ya, sesekali sempat muncul pikiran : enak ya kalau tinggal di Malaysia, Korea atau Jepang. Negaranya teratur; rakyatnya disiplin.

Harus kusadari, tidak ada negara di dunia ini yang seperti Indonesia.

Mana negara yang punya pulau terbanyak? Mana negara yang punya laut dan selat sebanyak Indonesia? Mana negara yang punya persediaan air seperti Indonesia? Mana negara dengan hutan, hasil bumi, sebanyak Indonesia?

Aku bahagia punya orangtua Indonesia, yang bersama masyarakat sekitar, mengajarkan aku apa arti penting menyapa tetangga. Beberapa kali ke Hongkong, aku tinggal di apartemen. Aku bertanya teman-temanku, kenalkah mereka dengan tetangga kanan kiri?

“Tidak,” jawab adik-adik FLP.

Di kampungku, di kotaku; kami mengenal siapa tetangga kanan kiri. Siapa tetangga belakang rumah. Siapa pak RT, pak RW, takmir masjid, pemuda karangtaruna. Bahkan suami atau istri keluarga X; siapa anak-anaknya, siapa cucunya. Kami mengenal tukang sayur, tukang bakso, tukang gas dan galon.

Sekalinya ada yang sakit, kami berduyun menengok. Bawa uang atau bingkisan. Jumlahnya tak seberapa, namun ikatannya terasa. Kelahiran, pernikahan, kematian; tetangga dan saudara selalu ada. Cari pembantu? Relative mudah. Kalau pas tidak bisa antar jemput anak, minta tolong teman atau guru di sekolah.

Aku mengagumi kemandirian para lansia di Hong kong , Korea, Jepang.

Namun aku tak bisa bayangkan, kelak di usiaku yang 70 tahun aku hidup sendiri. Guyub nya orang Indonesia membawa kehangatan luarbiasa dalam hati, dalam komunikasi, dalam interaksi, dalam kegiatan keseharian hingga kegiatan kenegaraan. Beberapa kali aku mengikuti acara kantor suami, lagi-lagi, percakapan antara pimpinan dan anak buah; antara sesama teman, antara para istri dan anak-anak berlangsung meriah. Tidak hanya dengan satu dua orang, namun dengan sebagian besar peserta.

Ketika makan malam, buka puasa di daerah Saetgang, KBRI Seoul, kami berkumpul. Mengantri nasi, krupuk dan sop beserta sambal. Mengobrol dengan orang-orang yang baru dikenal. Para tamu Korea terbawa arus suasana. Ikut bergabung walau hanya tersenyum dan tertawa, merasakan kehangatan yang mengalir dari percakapan kami. Dari ekspresi meledak-ledak yang ada di setiap wajah Indonesia di perantauan.

Ada seorang selebriti yang kekayaannya, bisa membuatnya pindah kewarga negaraan. Tapi ia memilih hidup tua di Indonesia.

“Nanti kalau aku tua dan meninggal, nggak ada yang merawatku, memandikanku, menyolatkanku seperti di Indonesia.”

Ah, Indonesia memang negara yang istimewa untuk menjadi tempat kelahiran dan tempat kematian.

Presiden silih berganti. Kepala daerah maju mundur sesuai garis nasib. Rakyat kadang terabaikan, masyarakat kecil sering terpinggirkan. Tetap saja, kami tak ingin meninggalkan Indonesia.

sinta, sawah di karatsu.JPG

Ini Indonesia atau Jepang?

“Ya, karena nggak punya duit!”

Mungkin itu tuduhan orang. Padahal bukan.

Indonesia negeri istimewa yang ditakdirkan Allah Swt memiliki kekayaan luarbiasa, baik SDM maupun SDA. Indonesia negeri istimewa yang dijaga bukan hanya oleh kaum eksekutif, yudikatif, legislative, atau pelaku media sesuai pilar-pilar demokrasi. Indonesia negera istimewa yang dijaga oleh segenap jajaran militer darat, udara, laut dan kepolisian. Indonesia negara istimewa yang dijaga oleh segenap warga negaranya dengan doa, dengan munajat, dengan pengorbanan. Indonesia negara istimewa yang dijaga oleh para alim ulama dengan kerja keras pemikiran, ijtihad, syura dan semangat kebaikan yang terus ditularkan.

Aku berharap, bukan hanya Maroko yang memasang nama Rue Soekarno.

Aku berharp, negara-negara lain di dunia kelak akan memasang nama para pemimpin dan ulama kita di bagian-bagian negeri mereka sebagai penanda bahwa Indonesia, menjadi mercusuar dunia.

 

Quiz Cover Novel : Berhadiah Gantungan Cantik dari Jepang

Assalamualaykum warahamtullahi wabarakatuh.

Teman-teman, bloggers dan netizen tersayang,
Silakan ikut kuis di bawah ini. Berhadian 2 gantungan kunci cantik, asli dari Jepang.
Syaratnya mudah, tinggal pilih nomer berapa yang paling sesuai untuk novel saya terbaru, novel semi-biografi seorang tokoh muslim Indonesia yang sukses di dunia Internasional.

Sebagai gambaran, novel ini bercerita tentang seorang pemuda Indonesia yang menjalani hari-hari penuh petualangan di Kyushu Daigaku, Fukuoka. Kerja keras, filosofi hidup yang teguh dijalani, menjadikannya meraih gelar akademis dengan cemerlang, memiliki bisnis sukses di usia muda, dan menjadi pelopor berdirinya masjid pertama kali di pulau Kyushu.

Selain berkisah tentang keunikan menjadi mahasiswa di negeri orang; novel ini juga novel romance dengan setting tempat-tempat menawan di Jepang seperti Ohori koen, Aso Mountain, Karatsu.

Tokoh-tokoh dalam novel ini berbeda dari nvoel-novel saya yang sebelumnya.

Terutama tokoh Keiko, gadis Jepang yang memiliki tanda unik dua guratan di pergelangan tangan, menaruh hati pada Tyo sang tokoh utama dan karena keduanya sama-sama brilliant memiliki kegilaan dan ambisi yang mirip.

Beberapa pilihan cover Rumah Kayu Tanotsu

Beberapa pilihan cover Rumah Kayu Tanotsu

2 gantungan kunci untuk 2 pemenang

2 gantungan kunci untuk 2 pemenang

Ditunggu hingga 22 Desember 2015 ya !

Bagaimana Menjadikan Novelmu sebagai Film?

Sebagian penulis menginginkan novel , cerpen, atau tulisannya diangkat ke layar lebar. Sebagian berkata, tidak ingin demikian. Sebab, bagaimanapun, novel yang bagus tidak identik dengan naik ke layar lebar. Best seller tidak selalu best quality. Apapun itu, mari kita belajar bersama-sama bagaimana sebuah novel dapat diterjemahkan ke dalam bahasa visual.

• Novel dan film sama-sama produk kreatif, karenanya tidak ada parameter baku tentang nilai bagus atau tidak. Sebagaimana matematika yang merupakan ilmu pasti, sastra dan film termasuk ranah non sains sehingga sangat subyektif sifatnya.

Bulan Nararya

Bulan Nararya

• Novel merupakan produk yang pendek proses produksinya. Seorang penulis, seorang editor, seorang ilustrator, percetakan, dan penerbit plus tim distribusi sudah dapat menghasilkan sebuah novel yang terpajang di Gramedia. Film , tidak. Satu adegan dapat membutuhkan 30 orang crew. Maka bayangkan bila film itu selesai dibuat, berapa jumlah tenaga yang terlibat.

Pembuatan film yg rumit

Pembuatan film yg rumit

Dulu, orang yang punya uang banyak dapat membuat film. Sekarang, ada beberapa pertimbangan mengapa novel yang satu dapat difilmkan, sementara novel yang satunya lagi dengan sekian banyak penghargaan dan pujian, malah tidak daapt difilmkan.

Di bawah ini beberapa pertimbangan apakah novelmu layak difilmkan? Tulisan ini merupakan hasil diskusi dengan beberapa rekan perfilman.

1. Penonton.

Sebagus apapun novel, ketika akan diangkat ke layar lebar maka pertanyaan pertama dan terpenting yang muncul adalah : SIAPA yang mau nonton? Film sejarah, film agama, film edukasi tentu sangat bagus untuk ditonton. Memberi wawasan kognitif baru, memberikan model positif. Tapi apakah ada yang mau nonton?

Maka target penonton menjadi target awal pembuatan film.
Misal, film James Bond atau Fast & Furious, juga film hantu. Awalnya mudah ditebak, tengahnya teriak-teriak, akhirnya gampang disimpulkan. Tapi yang suka nonton banyak. Mulai pasangan yang kasmaran, karena film action dan horror buat si cewek cari pelukan; sampai anak-anak remaja yang memang hobbi petualangan. Ditambah Hollywood minded banget, jadi deh. Kalau suka nonton film James Bond (saya nonton beberapa kali mulai yang aktornya Timothy Dalton, Roger Moore, Sean Connery, Pierce Brosnan, Daniel Craig) adegannya selalu sama! Kejar-kejaran di awal, cewek sexi yang gak nyambung sama jalan cerita, yang kalau cewek itu di delete pun nggak memengaruhi jalan cerita.

Bandingkan dengan Trilogi Bourne yang keren, keren banget karena Julie Stiles memerankan Nikki, cewek pengurus logistik untuk setiap prajurit yang ditugaskan sebagai mata-mata. Akting keren, setting keren, alur kuat.

Bourne Supremacy : salah satu film favorit

Bourne Supremacy : salah satu film favorit

Selain remaja yang jadi sasaran produk, anak-anak juga. Maka film anak-anak laris di pasaran karena anak biasanya nonton sama ibu bapak, teman-teman atau guru. Film anak-anak seperti Petualangan Sherina, Harry Potter dll tentu ditonton bersama-sama termasuk ditonton bersama guru atau rekan sekolah. Masih ingat film Janur Kuning? Penontonnya anak-anak sekolah dan guru-guru sehingga meski film edukasi ini lumayan membosankan, tetap saja untung.

Jadi, kalau novelmu ingin difilmkan, coba tanya pada diri sendiri dan teman-teman : kira-kira target penonton siapa ya? Mereka ini yang akan beli tiket, nonton, meramaikan bioskop dan stakeholder menarik keuntungan.

3 hari film sepi penonton, maka poster akan diturunkan.
Butuh biaya besar agar poster tetap di tempat hingga pekan pertama dan kedua. Orang biasanya “ngeh” ketika poster itu nangkring hingga lebih dari 1 minggu.
Membuat film bagus dengan budget tinggi yang menang penghargaan sudah cenderung ditinggalkan, kecuali oleh insan kreatif yang idealis. Rata-rata executif produser ingin untung, minimal balik modal.

2. Budget

Budget aman 2,5 M rupiah, sudah termasuk promosi 500 juta dan sewa artis. Film nya juga akan tayang di bioskop 21 atau XXI. Punya uang lebih banyak, lebih save lagi, 5 M misalnya.
Budget ini adalah urusan produser. Produser yang mengatur uang akan lari kemana dan kemana. Bila keuangan telah dibagi pos-posnya, maka produser harus ketat dan konsisten. Ayat-ayat Cinta kang Abik misalnya, memindahkan setting Mesir ke Semarang dengan trik-trik tertentu agar kesan Timur Tengahnya dapat namun budget tidak membengkak.

Film juga dapat dibuat dengan dana minim di bawah 500 juta, 100 juta, 50 juta. Tapi tentu dengan artis yang belum terkenal, tak dapat tayang di bioskop, kualitas yang tak dapat dijamin.

3. Triangle System : Produser, Sutradara, Penulis Skenario

Produser : produser dan Executif Produser berbeda. Executif produser hanya punya uang dan tahu untung. Invest, selesai. Produser film mencari dana, mengelola budget. Segala urusan budgeting di produser, maka produser adalah think thank film. Kalau dana mepet apa yang harus dipangkas? Setting atau alur? Maka , ketika festival film, anugerah sebagai best film akan didapat oleh produser. Produser satu-satunya orang yang berhak berkata : ini film saya!

Sutradara : sutradara adalah orang yang mengubah cerita menjadi bentuk visual. Butuh ketrampilan, sense, artistik yang tinggi untuk menerjemahkan novel atau cerita ke dalam bentuk film.
Film Lord of Ther Ring 1-3 mulai The Fellowship of The Ring, Two Towers, Return of The King adalah film indah yang masih saja dikritik penggemar karena dainggap kurang mengadaptasi novel ke film. Padahal…ckckck, Peter Jackson dan crewnya menyabet belasan piala Oscar!

Lord of The Ring : film indah yang belum bosan ditonton

Lord of The Ring : film indah yang belum bosan ditonton

Penulis Skenario : penulis skenario dan penulis novel berbeda. Penulis skenario adalah orang yang membuat dialog, setting, membuat panduan bagi semua crew termasuk aktor aktris agar berada dalam alur untuk membuat satu film dengan rasa tertentu.

Bila telah mendapatkan 3 unsur ini, maka produksi film dapat mulai dijalankan. Namun bila belum mendapatkan produser, sutradara dan penulis skenario; termasuk pertimbangan potensi penonton yang disebutkan di awal; sebuah novel belum dapat diadaptasi ke layar lebar.

Bagaimana memilih nama untuk tokoh novelmu?

Momiji atau kouyou

Momiji atau kouyou

Untuk kesekian kali, seseorang menginbox masalah nama.
“Mbak, apakah Montaser dan Rinai adalah tokoh nyata?”
Saya hanya menjawab dengan emoticon 🙂
Perihal nama, bahkan seorang ibu muda bertanya, bolehkah memberi putrinya nama Karadiza, putri bangsawan Persia yang jatuh cinta pada Takudar. Mungkin ia khawatir harus membayar upeti tertentu bila mengambil nama dari sebuah novel.
“Jangan Karadiza, Bunda,” sahutku. “Pakai saja nama Aisyah, itu lebih indah.”
Memilih nama untuk tokoh novel, cukup sulit.
Seperti memilih nama untuk anak-anak kita; begitupun nama seorang tokoh protagonis, deuteragonis, antagonis dan tritagonis.

Takudar

Nama ini memang sudah tertera dalam sejarah. Tokoh yang kata pak Maman S Mahayana, sang editor dan budayawan, “mungkin hanya kamu satu-satunya Sinta, yang pernah menuliskan tentangnya.”
Saya jatuh cinta pada Takudar sejak membaca sejarah singkatnya dalam The Preaching of Islam, Thomas W. Arnold. Sejak saat itu serasa tak cukup waktu dan referensi memburu sang tokoh, bahkan hingga ke Hongkong Library. Ahh, di lantai 9 dari 12 lantai perpustakaan yang mengingatkan pada Perpustakaan Ajaib Bibbi Boken – Jostein Garner; terdapat buku-buku sejarah Asia yang sangat amat lengkap termasuk Mongolia.

Mongolia adalah Jenghiz Khan. Mongolia adalah Kubilai Khan. Mongolia adalah Jalaluddin Akbar. Mongolia adalah Aurangzeb.

Takudar, hanya sejarah kecil yang muncul ketika Bani Saljuk dan Bani Mamluk masih menggeliat. Maka ketika diujung perjalanannya selama 2 tahun menjadi kaisar muslim, Takudar memilih jalan sufistik untuk mengobati dukalaranya berjalan dalam kesendirian. Sejarah akan berkata lain, andaikata ia hidup sezaman dengan Shalahuddin al Ayyubi atau Muhammad al Fatih.

Almamuchi dan Karadiza (The Road to The Empire dan Takhta Awan)

Saya penggemar film.
Film-film kocak, drama, action. Tentu disesuaikan tempat dan waktu. Once Upon a Time in China, tamat beberapa serial. Salah satu film kungfu menampilkan tokoh perempuan bernama Uchatadara, dan itulah nama yang saya pakai sebagai nama Almamuchi. Almamuchi dan Karadiza didadapt dengan mengobrak abrik kamus Mongolia dan bahasa Persia.

Montaser (Rinai)
Berapa banyak sudah gadis yang bertanya : apakah tokoh ini ada?
Mungkin, inilah tokoh yang paling menimbulkan sensasi jatuh cinta. Syukurlah. Orang-orang seperti Montaser lah yang seharusnya ada di benak para gadis. Dengan suguhan drama Korea dan Turki, para gadis dibuat mabuk kepayang oleh tokoh fiktif tampan yang bagus secara fisik. Satu berwajah klimis, licin, mengkilat, dengan hidung dan dagu buatan. Satu berhidung mancung, bercambang, alis tebal dan mata bak elang. Dua-duanya sama : membuat seorang perempuan menjatuhkan pilihan dari casingnya terlebih dahulu.
Montaser adalah lafal luwes untuk bahasa Arab Muntashir.

Siapa ia?
Sesunggunya seorang anak kecil laki-laki, putra seorang Ibunda luarbiasa yang membaktikan hidupnya di UCAS university sebagai dosen di Khan Younis, Gaza. Saya terkesan oleh nama tersebut dan menjadikannya nama tokoh dalam novel Rinai. Apakah sosok Montaser ada?
Banyak.
Sangat banyak.
Jadi, berharaplah bagi yang masih jomblo untuk bisa memilikinya satu.

Rinai (Rinai)
Ada satu tokoh film remaja yang saya suka namanya : River Phoenix. Ia punya saudara-saudara yang namanya diambil pula dari gejala alam seperti Rainbow. Terkesan oleh ide memberi nama dari gejala-gejala alam, maka novel bersetting Palestina inipun mengambil nama tokohnya dari situasi alam : Rinai Hujan.

Nararya (Bulan Nararya)

Nararya adalah nama unisex dalam bahasa Sansekerta. Dapat digunakan oleh laki-laki atau perempuan. Nararya berarti kemuliaan. Nama ini saya dapat dari kamus bahasa Sansekerta, googling aja!
Sansekerta menyediakan nama-nama unik yang cantik didengar dan dibaca.

Yudhistira (Bulan Nararya)

Sejak dulu, saya ngefans dengan tokoh wayang bernama Yudhistira. Konon, sebagai anak tertua ia memiliki darah putih karena demikian sayang pada adik-adiknya dan rela mengorbankan apapun demi kebahagiaan mereka.
Saya selalu terkesan ketika mendengar seorang kakak yang mampu menjadi panutan bagi adik-adiknya, maka nama Yudhistira sering masuk dalam benak tiap kali berencana menyusun novel. Lagi pula, Yudhistira mirip-mirip Yudisia, nama tengah saya …haha

Fuyuzakura

Fuyuzakura

X- Novel Romance bersetting Jepang

Novel romansa bersetting Jepang ini cukup sulit juga menentukan nama.
Apa nama tokoh yang mengesankan tapi juga bukan nama yang biasa ditemukan?
Joko, Budi, Hari, Bambang, Bagus, sudah biasa. Nama-nama itu bukannya tak boleh dipakai namun para pembaca biasanya terkesan oleh gambaran seroang tokoh. Montaser, Rinai, Nararya, Yudhistira, Takudar, mudah diingat oleh pembaca ketika mereka tengah mendiskusikannya.

Maka, novel romance bersetting Jepang ini pun harus memiliki nama-nama tokoh yang unik.
Nama unik kadang-kadang berasal dari teman-teman sendiri, maka berhati-hatilah jadi teman penulis. Setiap pertemuan dengan seseorang akan menjadi bahan baku untuk tulisan mulai nama, curhat, sampai emosi yang ditampilkan. Semakin aneh kamu, semakin senang penulis mendapatkan profile untuk tokohnya.

Ada usulan nama untuk novel Jepang ini? Silakan 🙂

Tatara Gawa : salah satu setting romance

Aliran biru Tatara Gawa

Aliran biru Tatara Gawa

Tatara gawa, salah satu sudut indah yang akan muncul dalam novel romansaku bersetting Jepang. Selain tempat ini punya memori psikologis dengan tokoh utama, silakan lihat hal unik dalam foto di atas.

Jembatannya?
Pepohonannya?
Rerumputannya?
Aliran sungainya?
Warna birunya?

#Jepang
#Fukuoka
#Romance

Love : when passion meets commitment

Sinta dan Winiez the Chef, food fotografer

BPP FLP di sekretariat Kampung Rambutan

BPP FLP di sekretariat Kampung Rambutan

Kali ini bukan membahas skala cinta Rubin Z, seperti dalam buku Kitab Cinta dan Patah Hati. Tapi teori segitiga Rubin berlaku juga dalam konteks hubungan organisasi.

Malam ini, mata enggan terpejam bertemu teman-teman FLP. Berdiskusi dengan Daeng Gegge, Kokonata, Nurbaiti Hikaru, Winiez, Sudi , Elvira, Fatih dan mbak Anik. Khusus yang terakhir, ia menyiapkan logistik yang terus menerus untuk peserta rapat.

Selain seru oleh guyonan ala penulis, tepat jam 20.00 di lantai bawah, berbekal laptop, catatan dan note di HP masing-masing; pikiran tercurah untuk membahas salah satu agenda ummat yang tak bisa dipisahkan dari kebiasaan ulama : membaca dan menulis.

Pembahasan pertama tentang FSIN Festival Sastra Islam Nasional yang insyaallah akan diselenggarakan di Makassar, 17 Desember 2015 – 20 Desember 2015. Harapannya, menjadi festival sastra Islam tingkat Internasional sebagaimana Ubud Writers and Reader Festival dan Makassar International Writing Festival.

Pembahasan kedua tentang beetalk.
FLP bekerja sama dengan beetalk, chat platform, aplikasi bertukar pesan seperti whatsapp dan line; yang menyediakan layanan diskusi berkelompok. Terdapat grup Forum Buku, Cerpen dan Puisi dimana karya teman-teman FLP dapat dibaca disana.

Pembahasan ketiga, tentang novel yang sedang saya tulis dan diolah bersama teman-teman FLP untuk menjadi salah satu novel semi otobiografis; dengan setting Jepang yang unik dan indah, mengangkat salah satu tokoh muslim yang insyaAllah, kisah hidupnya amazing, kocak, romantis.

Pembahasan keempat, adalah pembahasan yang tidak masuk dalam agenda struktural namun menjadi pembahasan yang menghangatkan hati kami untuk tetap bersama-sama dalam FLP.
Pertanyaan yang sering diajukan kepada penulis FLP : berapa fee seorang penulis? Berapa honor untuk menjadi pemateri, mengisi workshop?

Okelah, seorang penulis setiap huruf, kata dan kalimatnya adalah argo.Ghostwriter, namanya tak boleh muncul sama sekali dalam buku namun jumlah rekeningnya menggelembung. Marketing, mengatakan seorang penulis harus membranding dirinya. Sebagaimana seorang teman marketing menawarkan diri untuk menjadi asisten saya, sebab menurutnya saya memiliki kemampuan di beberapa bidang : psikologi, penulis dan kemampuan membawakan materi.

Daeng Gegge, Winiez, Nurbaiti, Kokonata ternyata memiliki persepsi yang sama .
Sulit, untuk menjadikan sastra ini sebuah tolok ukur yang dapat dipatok dengan materi, khususnya uang. Gak butuh uang? Bukan begitu juga. Tapi ada hal-hal yang tidak dapat diukur dengan uang, khususnya cinta (haha…lebay).

Menulis itu cinta. Membaca itu cinta, makanya jangan tanya kalau ke toko buku bisa kalap dengan isi dompet. Beda kalau mau beli baju masih mikir-mikir : ini mahal apa enggak? Sepatu ini kok ratusan ribu, toh diinjak juga.Tapi kalau ke book fair, bisa ludes isi dompet. Siapa juga sanggup melihat buku-buku ulama yang sangat sulit didapatkan, untuk tidak dipindahkan ke lemari buku pribadi? Walaupun, hampir semua ruang di rumahku penuh berisi buku, rak buku sudah buat berkali-kali, tetap saja masih kurang dan kurang koleksi buku.

Menulis itu cinta. Mengajarkan tentang sastra itu cinta.
Mendengar anak-anak muridku berkata ,” aku mau jadi penulis kayak Bunda Sinta!” merupakan hadiah yang tidak dapat ditukar dengan honor sekali mengajar.
Mendengar anak-anak dan remaja menjadikan kata “Penulis” sebagai salah satu profil cita-cita mereka, luarbiasa.

Menulis itu passion, cinta yang penuh nyala api. Bersama teman-teman FLP kita juga melakukan komitmen. Ups, jangan ditanya apakah ada ongkos untuk rapat? Kami berangkat dengan uang pribadi, bawa makanan sendiri, saling bertukar hadiah malah. Kadang buku, kadang coklat (thanx to Winiez!), bahkan seringkali hanya bertukar doa.
Fee mengisi acara, kadang-kadang masuk ke kas FLP , untuk memutar roda organisasi.

Melihat ketulusan teman-teman FLP mengawal literasi santun ini, teringat akan kata Taufik Ismail tiap kali ia mendengar kata FLP : CEMBURU.
Cemburu, mengapa FLP baru berdiri ketika usianya telah uzur.
Taufik Ismail menambahkan satu kalimat ; FLP, adalah anugerah Tuhan untuk bangsa Indonesia.

Ketika tempo hari berkesempatan hadir di acara 28 Oktober 2015 di gedung MPR dan bertemu Mustafa Kamal, beliau berkata yang kurang lebih mirip dengan yang dirasakan teman-teman FLP : orang-orang sastra, tidak suka berpikir kalkulatis. Angka, matematika. Kadang-kadang, sesuatu perlu ditimbang dengan rasa dan nurani.
Maka, sastra dapat meluruskan apa yang bengkok.
Sastra dapat melunakkan hati yang keras.
Sastra dapat memperindah, ruang-ruang sempit yang menyesakkan dalam keseharian yang pengap dan melelahkan.

Sekretariat FLP
Muswil FLP Wilayah Jakarta sekaligus mencuri waktu rapat dengan teman-teman BPP.
00.29.
Night is still young for a writer 🙂

Naik Sepeda : hemat, keren, dan romantis

Sepeda bukan milik kalangan menengah ke bawah dan orang-orang tua saja. Di Jepang, sepeda jadi sarana transportasi yang istimewa. Anak, remaja, orangtua. Bahkan, cewek-cewek metropop yang cantik sembari menenteng tas bermerek dan pakai baju modis, naik sepeda juga.
Kenapa sih kita naik sepeda?

Cewek cantik Jepang bersepeda :) ~ candid camera

Cewek cantik Jepang bersepeda 🙂 ~ candid camera

1. Realistis
Waktu putri saya masuk Psikologi UGM, saya menawarkan sepeda motor. Ia menolak dan memilih sepeda onthel.
“Teman-teman satu kos, ngonthel semua, Mi.”
Okelah.
Padahal, kasihan , pikir saya. Lumayan juga Karangwuni ke UGM.
Tapi nasehat ibunda saya bagus juga untuk disimak.
“Bagus tuh sepeda. Realistis. Gak mikir bensin. Orangtua sekarang suka gak berpikir logis. Belikan HP, nanti pulsanya bagaimana? Beli motor atau mobil, bensin bagaimana?”
Iya juga sih.

Meski orangtua dapat membelikan bensin dan pulsa, otonomi anak jadi tak terbentuk sejak dini. Belajar irit, belajar prihatin, belajar tau nilai uang, belajar mengatur waktu; akan membantu anak-anak meningkatkan kemampuan mereka mengelola potensi sumber daya yang ada.
Akhirnya, putra-putra kami yang SMA pun naik sepeda. Tanpa berpikir bensin, bengkel, oli dst.

Jepang, mungkin lebih realistis dari Indonesia. Alokasi dana untuk bensin adalah pengeluaran tersendiri. Maka orang beramai-ramai naik sepeda, daripada beramai-ramai beli bensin.

2. Gerak badan
Ngaku aja, sekarang udah jarang jalan kaki kan?
Sedikit -sedikit angkot, ojek, bis, lift, eskalator.
Sedikit-sedikit gadget.
Kalau di Hongkong, orang dapat memaksakan jalan kaki dari satu stasiun ke stasiun lain, di Indonesia mungkin sulit. Sepeda termasuk sarana yang memungkinkan untuk Indonesia. Setidaknya untuk ke sekolah dan ke kampus. Ke kantor mungkin jgua sih. Suami saya tempo hari sempat bolak balik naik sepeda onta karena ingin menguruskan badan, tapi akhirnya menyerah hehe…

3. Anti polusi

Coba saat lampu merah.
Sanggupkah anda bertahan di belakang knalpot-knalpot yang membagikan gratis zat polutan, tanpa perlindungan masker?
Setiap kali keluar rumah naik sepeda motor; saya harus megnenakan sarung tangan, helm lengkap plus slayer. Gak tahan deh kalau harus terpapar polutan selama berjam-jam di jalan atau bermenit-menit.

Sepeda akan mengurangi polusi udara. Yah, meski pasti di antara kita ada yang berpendapat : saya ngurangi polusi, yang lain bagaimana? Susah juga sih kalau kebaikan harus saling menunggu untuk dilaksanakan. Kalau baru mampu melakukan yang kecil, sendiri, lakukan saja. Insyaallah suatu saat orang-orang akan mengikuti langkah kebaikan kita.

4. Humanisasi

Bila tidak diimbangi pengguna sepeda, jalan raya kita semakin dipenuhi polusi dan dehumanisasi. Sepeda becak tersingkir, berikutnya motor megnuasai, mobil merajai, truk bis sesuka hati. Sepeda membuat kita lebih berperilaku bak human being sesungguhnya. Lebih peduli ekosistem, habitat dimana kita tinggal. Lebih peduli, bahwa pengguna sepeda adalah pihak yang lebih lemah sehingga harus diberikan kesempatan lebih dulu.

Yuk, naik sepeda!

Eh, sekedar informasi.
Novel Romance saya yang berikut, banyak meliput tentang sepeda dan kegiatan bersepeda di Jepang lho. Coba, romantis mana pasangan yang sedang jatuh cinta : naik mobil, naik bus, naik motor, atau naik sepeda?

Tungguh jawabannya 🙂