Kategori
Catatan Perjalanan Oase Renungan Hidup dan Kematian WRITING. SHARING.

Apakah aku Nasionalis?

 

 

Waktu kecil, aku pernah bertanya pada ibu ,”Ma, kenapa tiap upacara bendera, aku mau nangis ya liat bendera merah putih sama dengar lagu Indonesia Raya?”

Kata ibu, “wah, itu artinya kamu nasionalis, Sin.”

Jujur, waktu itu aku baru sekitar kelas 3 atau 4 SD. Masih belum tahu apa itu nasionalis, apa itu Islamis, apa itu kapitalis dan komunis; hanya manggut-manggut saja. Bertahun-tahun kemudian, perasaan itu ternyata tidak hilang. Aku senang sekali dengar lagu almarhum Gombloh, Kebyar-kebyar.

Indonesia

Merah darahku

Putih tulangku

Bersatu dalam semangatku

Gebyar gebyar pelangi jingga

cokelat-merah-putih
Cokelat band

Aku  merasa mau menangis tiap kali televisi hitam putihku dulu, yang hanya menayangkan  1 channel saja di tahun 80-an yaitu TVRI, menutup siaran hari itu dengan lagu :

Tanah airku tidak kulupakan

Kan terkenang, selama hidupku

Biarpun saya, pergi jauh

Tidakkan hilang dari kalbu

Tanahku yang kucintai

Engkau kuhargai

 

Walaupun banyak negeri kujalani

Yang masyhur permai dikata orang

Tetapi kampung dan rumahku

Disanalah kurasa senang

Tanahku yang kucintai

Engkau kuhargai

Dan, aku suka sekali dengan lagu Coklat yang berjudul Merah Putih : merah putih teruslah kau berkibar!

 

Indonesia dan Indonesia lagi

Aku tidak menyangka bahwa dengan menjadi penulis, aku berkesempatan mengunjungi beberapa negara. Hongkong, Korea, Jepang, Malaysia, Maroko, Mesir, Palestina. Negara-negara yang membuatku kagum dengan kemajuan, dengan kultur yang kaya, dengan arsitektur, dengan teknologi, dengan kuliner, dengan music dan filmnya. Namun jujur, tiap kali ada di negara orang, aku berpikir : bukannya ini di Indonesia ada ya?

Melihat laut terhampar di Avenue Star HK : ah, begini mah di negeriku banyak. Laut selatan Yogya, laut Bali, selat Madura dll. Sepanjang menelusuri Camplong, Madura menuju Pamekasan; laut biru terhampar. Tiap kali pulang kampung ke Tegal, kampung suamiku, kami menyempatkan ke PAI, pantai alam indah. Di Jawa Timur ada WBL, wisata bahari Lamongan. Tak kurang-kurang kalau mau main air di Indonesia.

Melihat sawah-sawah di daerah Karatsu, Saga, Kyushu aku juga berpikir : ini di Indonesia banyak. Lamongan, dikenal sebagai lumbung beras. Madura, meski sering dianggap gersang, tetap punya sawah. Gresik, Tuban, Lasem, Rembang, Pati hingga nanti aku tiba di Yogya atau Tegal; sawah berpetak-petak terhampar. Meski, ya, ada beberapa yang sudah digantikan real estate.

Di Seoul, pingin banget buat sambel terasi dan kolak. Akhirnya dapat ubi merah dan santan kalengan yang harganya jangan ditanya. Cabe hijau beli di convenience store terdekat. Hiks, di Indonesia harga cabe sama ubi bisa hanya Rp.10.000 . di luar negeri bisa berkali lipat. Dan oh, betapa mahalnya harga buah-buahan….pepaya dan pisang, aku tak berani beli. Mangga??? Mending nanti beli di Indonesia pas lagi musimnya.

Di Maroko,  segala rupa daging ada. Segala jenis roti tersedia.

Tapi aku mau sayur…timun, taoge, kacang panjang, kol, kemangi, tomat dkk. Konon kata mahasiswa di Rabat, kalau mau masak sayur paling hanya ada bayam dan kangkung. Itupun gak selalu tersedia. Aku mau sayur….yang bisa dimakan sebagai lalapan, pecel atau gado-gado. Betapa rindunya akan gemah ripah loh jinawi segala rupa tanaman yang ada di negeriku.

Bukan hanya makanan yang membuat Indonesia nomer satu.

Kapanpun lapar, ada yang jualan. Di dekat rumahku warung penyetan tersebar. Warung bakso dan mie ayam ada. Yang keliling menjajakan bakso, bakwan, rujak cingur, gado-gado, es rujak, masakan matang sampai kerupuk; ada semua.

Dari tadi kok ngomongin kuliner aja sih? ^-^

 

Indonesia lagi

Di negara mayoritas Islam, sebagian orang tidak percaya aku muslim (what???). Padahal aku berkerudung lho! Pasalnya, namaku : Sinta. Sinta identik dengan bahasa sansekerta dan agama Hindu.

Seringkali, melihat waja Asia dan tubuh mungilku, orang langsung menebak : Malaysia?

Aku menggeleng.

“Indonesia,” sahutku tersenyum.

Rupanya Malaysia lebih dikenal sebagian warga dunia, disbanding Indonesia. Parahnya lagi, terutama di Hongkong, waja Indonesia identik dengan BMI (buruh migram Indonesia). Begitu tiba di bagian imigrasi, petugas akan tegas meliat paspor dan lumayan keras memperlakukan mereka yang punya paspor pekerja. Kalau visitor, umumnya mereka lebih ramah. Ya, menjadi bangsa yang bekerja di negeri asing, apalagi sebagai tenaga kasar tentu dipandang sebelah mata. Menjadi pelajar dan peneliti di negeri orang saja sering dianggap remeh, apalagi BMI.

Aku punya pengalaman-pengalaman unik baik yang positif atau negative selama menyandang status warga Indonesia ketiak berada di negeri asing. Namun, aku sungguh berbangga ketika tiba di Maroko.

Sinta dan Rue Sukarno.JPG
Rue Soukarno, Rabat , of Morocco

Di rabat, ibukota Maroko, ada sebuah jalan yang menunjukkan betapa negara tersebut memandang Indonesia dengan mata penghormatan demikian dalam : Rue Soekarno. Jalan ini terletak di tengah kota, dengan latar belakagn benteng merah yang kokoh dan indah mempesona. Terletak dekat gedung parlemen Rabat, bank Maghribi yang sangat artistic, kantor pusat kepolisian dan juga kantor pos serta café-café. Rue Soekarno bukan jalan di ujung gang yang kusam, dengan kendaraan tak beraturan. Rue Soekarno berada di titik yang memungkinkan orang lalu lalang, memandang plang tersebut dan bertanya dalam benak, mengapa presiden Indonesia namanya dipahatkan di negeri orang?

Begitu orang di Maroko mendengar kami Indonesia mereka sontak berkata.

“Indonesia? Good people, good prayer.”

Indonesia dikenal ramah, dikenal baik, dikenal suka menolong, dikenal mudah tersenyum. Walau tentu ada juga hal-hal negative yang tersemat : tidak disiplin, kurang bersih, ceroboh dan sejenisnya.

Sungai Han, Seoul. di Indonesia sungai melimpah ruah

 

Indonesia, aku dilahirkan dan dibesarkan

Aku sangat bersyukur berkebangsaan Indonesia.

Walau sebagian orang mencap negaraku korup, negara kategori berkembang, banyak hutang, banyak masalah; aku tidak bisa bayangkan bila dilahirkan di negara asing. Ya, sesekali sempat muncul pikiran : enak ya kalau tinggal di Malaysia, Korea atau Jepang. Negaranya teratur; rakyatnya disiplin.

Harus kusadari, tidak ada negara di dunia ini yang seperti Indonesia.

Mana negara yang punya pulau terbanyak? Mana negara yang punya laut dan selat sebanyak Indonesia? Mana negara yang punya persediaan air seperti Indonesia? Mana negara dengan hutan, hasil bumi, sebanyak Indonesia?

Aku bahagia punya orangtua Indonesia, yang bersama masyarakat sekitar, mengajarkan aku apa arti penting menyapa tetangga. Beberapa kali ke Hongkong, aku tinggal di apartemen. Aku bertanya teman-temanku, kenalkah mereka dengan tetangga kanan kiri?

“Tidak,” jawab adik-adik FLP.

Di kampungku, di kotaku; kami mengenal siapa tetangga kanan kiri. Siapa tetangga belakang rumah. Siapa pak RT, pak RW, takmir masjid, pemuda karangtaruna. Bahkan suami atau istri keluarga X; siapa anak-anaknya, siapa cucunya. Kami mengenal tukang sayur, tukang bakso, tukang gas dan galon.

Sekalinya ada yang sakit, kami berduyun menengok. Bawa uang atau bingkisan. Jumlahnya tak seberapa, namun ikatannya terasa. Kelahiran, pernikahan, kematian; tetangga dan saudara selalu ada. Cari pembantu? Relative mudah. Kalau pas tidak bisa antar jemput anak, minta tolong teman atau guru di sekolah.

Aku mengagumi kemandirian para lansia di Hong kong , Korea, Jepang.

Namun aku tak bisa bayangkan, kelak di usiaku yang 70 tahun aku hidup sendiri. Guyub nya orang Indonesia membawa kehangatan luarbiasa dalam hati, dalam komunikasi, dalam interaksi, dalam kegiatan keseharian hingga kegiatan kenegaraan. Beberapa kali aku mengikuti acara kantor suami, lagi-lagi, percakapan antara pimpinan dan anak buah; antara sesama teman, antara para istri dan anak-anak berlangsung meriah. Tidak hanya dengan satu dua orang, namun dengan sebagian besar peserta.

Ketika makan malam, buka puasa di daerah Saetgang, KBRI Seoul, kami berkumpul. Mengantri nasi, krupuk dan sop beserta sambal. Mengobrol dengan orang-orang yang baru dikenal. Para tamu Korea terbawa arus suasana. Ikut bergabung walau hanya tersenyum dan tertawa, merasakan kehangatan yang mengalir dari percakapan kami. Dari ekspresi meledak-ledak yang ada di setiap wajah Indonesia di perantauan.

Ada seorang selebriti yang kekayaannya, bisa membuatnya pindah kewarga negaraan. Tapi ia memilih hidup tua di Indonesia.

“Nanti kalau aku tua dan meninggal, nggak ada yang merawatku, memandikanku, menyolatkanku seperti di Indonesia.”

Ah, Indonesia memang negara yang istimewa untuk menjadi tempat kelahiran dan tempat kematian.

Presiden silih berganti. Kepala daerah maju mundur sesuai garis nasib. Rakyat kadang terabaikan, masyarakat kecil sering terpinggirkan. Tetap saja, kami tak ingin meninggalkan Indonesia.

sinta, sawah di karatsu.JPG
Ini Indonesia atau Jepang?

“Ya, karena nggak punya duit!”

Mungkin itu tuduhan orang. Padahal bukan.

Indonesia negeri istimewa yang ditakdirkan Allah Swt memiliki kekayaan luarbiasa, baik SDM maupun SDA. Indonesia negeri istimewa yang dijaga bukan hanya oleh kaum eksekutif, yudikatif, legislative, atau pelaku media sesuai pilar-pilar demokrasi. Indonesia negera istimewa yang dijaga oleh segenap jajaran militer darat, udara, laut dan kepolisian. Indonesia negara istimewa yang dijaga oleh segenap warga negaranya dengan doa, dengan munajat, dengan pengorbanan. Indonesia negara istimewa yang dijaga oleh para alim ulama dengan kerja keras pemikiran, ijtihad, syura dan semangat kebaikan yang terus ditularkan.

gombloh
Gombloh

Aku berharap, bukan hanya Maroko yang memasang nama Rue Soekarno.

Aku berharp, negara-negara lain di dunia kelak akan memasang nama para pemimpin dan ulama kita di bagian-bagian negeri mereka sebagai penanda bahwa Indonesia, menjadi mercusuar dunia.

 

Kategori
Fiksi Sinta Yudisia Jepang Mancanegara QUIZ WRITING. SHARING.

Quiz Cover Novel : Berhadiah Gantungan Cantik dari Jepang

Assalamualaykum warahamtullahi wabarakatuh.

Teman-teman, bloggers dan netizen tersayang,
Silakan ikut kuis di bawah ini. Berhadian 2 gantungan kunci cantik, asli dari Jepang.
Syaratnya mudah, tinggal pilih nomer berapa yang paling sesuai untuk novel saya terbaru, novel semi-biografi seorang tokoh muslim Indonesia yang sukses di dunia Internasional.

Sebagai gambaran, novel ini bercerita tentang seorang pemuda Indonesia yang menjalani hari-hari penuh petualangan di Kyushu Daigaku, Fukuoka. Kerja keras, filosofi hidup yang teguh dijalani, menjadikannya meraih gelar akademis dengan cemerlang, memiliki bisnis sukses di usia muda, dan menjadi pelopor berdirinya masjid pertama kali di pulau Kyushu.

Selain berkisah tentang keunikan menjadi mahasiswa di negeri orang; novel ini juga novel romance dengan setting tempat-tempat menawan di Jepang seperti Ohori koen, Aso Mountain, Karatsu.

Tokoh-tokoh dalam novel ini berbeda dari nvoel-novel saya yang sebelumnya.

Terutama tokoh Keiko, gadis Jepang yang memiliki tanda unik dua guratan di pergelangan tangan, menaruh hati pada Tyo sang tokoh utama dan karena keduanya sama-sama brilliant memiliki kegilaan dan ambisi yang mirip.

Beberapa pilihan cover Rumah Kayu Tanotsu
Beberapa pilihan cover Rumah Kayu Tanotsu
2 gantungan kunci untuk 2 pemenang
2 gantungan kunci untuk 2 pemenang

Ditunggu hingga 22 Desember 2015 ya !

Kategori
Hikmah Jepang Mancanegara Oase

Sarha Palestina & Solitaire Fukuoka

Raja Shehadeh, penulis Walk on the Vanishing Land menceritakan, kebiasaan yang ditanamkan orang-orang Palestina pada para pemuda : Sarha. Sarha adalah pengembaraan seorang diri, menelusuri padang pasir dan jalan-jalan bebatuan untuk berkunjung ke rumah salah seorang kerabat. Kakek, nenek, paman, bibi atau seorang kenalan dari keluarga. Bukan destinasi yang menjadi patokan, tapi untaian kekayaan yang dirangkum sepanjang perjalanan.

Ayah dan anak di tepi laut Mediterrania, Gaza
Ayah dan anak di tepi laut Mediterrania

Melintasi padang pasir, sebuah perjalanan berbahaya menghadapi ular atau kalajengking. Selain ketrampilan teknis yang dibutuhkan untuk survival, Sarha membantu para pengembara mengamati apa yang selama ini lewat dari indera . Suara angin, butir-butir pasir yang beterbangan, gerakan binatang melata. Belajar menangkap gerakan alam yang paling halus, berarti belajar mendengarkan apa yang mungkin terlewatkan.

Kata “panas” dapat berarti air mendidih di suhu 100º celcius, demam tubuh, semangkok bakso yang nikmat, atau justru alert emosi sesaat sebelum meledak menjadi agresivitas. Bagaimana panas gurun pasir?

Panas yang membentang antara Cairo- Iskandariah- El Arish -sesaat sebelum memasuki gerbang pendek paling ganas sedunia : Rafah- adalah panas yang mengandung makna perjalanan. 6 jam perjalanan Cairo -El Arish, landscape gurun kuning emas yang membuat isi perut teraduk dan sebagian tim melelehkan darah dari lubang hidung. Tak ada warna lain dari cakrawala selain bentang biru langit, garis hitam pembatas serta daratan sewarna korona matahari. Terguncang dalam mobil yang makin lama makin menghangat oleh cuaca gurun dan ketakutan; hati makin menciut serta dinding keberanian yang makin lama makin runtuh : mampukah tim kecil ini tiba di Gaza? Cukupkah kami memiliki kenekatan untuk menembus Rafah setelah perjalanan panjang yang menguras energi, tenaga, dan mulai memunculkan air di sudut-sudut mata ini?

Tuhan!
Jika mungkin, putar saja mobil ini kembali ke Cairo dan biarkan kami menikmati tidur nyenyak di Wisma Nusantara.

Tapi inilah Sarha.
Terkadang jiwa manusia memiliki rahasia paling tersembunyi.
Seperti apakah kematian?
Seperti apa pedih dan penderitaan?
Dan seberapa jauh manusia mampu mendekati titik didih?

Setelah panas panjang dan rayuan kehidupan yang nyaris tak terelakkan…
Ahya.
Sebelum memasuki Rafah, kota indah yang kami kunjungi adalah El Arish.
Kota mewah, dengan mansion-mansion tepi laut safir meditterania, dinding-dinding warna kelabu mutiara dan bebungaan musim panas yang menjuntai di pagar-pagar. Hidup terlalu nikmat untuk ditukar dengan perjalanan kematian yang melelahkan.

Untunglah, Sarha tak pernah salah meloloskan pelaku.
Semoga.
Sekali lagi, setelah pengurusan visa yang liat, check point demi check point yang menegangkan, Rafah Mesir menjadi tembok terakhir yang menjulang dalam kekejaman, diam dan kepongahan. Tim kami, menjadi kelompok paling akhir yang diizinkan masuk setelah perselisihan yang menegangkan urat leher.
Hari itu, suatu senja yang damai di Palestina, sembari mendorong kopor berdebu dan menyeret langkah kaki yang menyembunyikan jari jemari lecet , Sarha ini menemukan sepetak kecil tanah, yang merupakan irisan surga.

Rafah Gaza Palestina, sangat bertolak belakang dengan Rafah Mesir.
Bagaimana mungkin sebuah wilayah kecil yang terpisah oleh tembok pembatas, memiliki pantulan cermin yang berbeda?

Sarha panjang Indonesia-Singapur-Mesir-Gaza terbayar ketika senja itu, kami disambut oleh kaum lelaki paling tampan sedunia. Berpakaian jas hitam sederhana, berbaris menanti dalam kesabaran dan senyum hangat tulus.
Bercucuran airmata untuk sekian kali.

Jadi inikah, legenda abadi tanah Anbiya, para penghafal Quran yang menjaga kaum muslimin dan setiap jengkal tanah Palestina? Wajah penuh cahaya, kharisma yang menggetarkan lawan bicara.
Jadi inilah mereka, yang menjamu tetamu dengan secangkir shai, ketika mereka berpuasa. Jadi inilah mereka, membiarkan kami tidur terlelap sementara mereka bergerilya dari satu gang ke gang lain , memastikan kaum muslimin aman. Inilah sepetak negeri yang terblokade, hanya memiliki beberapa jam sehari untuk menyalakan listrik, namun semangat untuk tetap hidup dan berbuat bagi ummat terus menyala.

Betapa inginnya kami tetap tinggal.
Betapa inginnya memilih salah satu dari Khan Younis, Deir al Balah atau Jabaliyah.
Tentu, setiap saat rudal atau bom dapat meledak di setiap tempat.
Namun kebahagiaan Sarha ini tak terbayangkan. Aroma zaitun dan tiin. Debur pantai Aizbah. Quran yang menyatu dalam denyut keseharian.

Namun bukan itu tujuan Sarha.
Sarha bukanlah pengembaraan tanpa tepi.

Siluette Kastil di malam hari
Siluette Kastil di malam hari

Perjalanan menikmati Karatsu dan Fukuoka ini adalah sebagian kecil dari Sarha.
Suasana damai dan serba teratur, perpaduan tradisional dan metropolis yang demikian apik. Mobil-mobil berbaris rapi di belakang garis zebra cross, tepat di belakang lampu merah. Pejalan kaki dan pesepeda bak raja. View gedung bertingkat, mall, jembatan kokoh, dengan latar belakang pegunungan hijau dan perbukitan zamrud. Keindahan Nagoya Castle dan Karatsu Castle yang terpelihara seiiring teknologi maju produk pertanian yang dipasarkan di Karatsu Umakamon Ichiba. Sakura yang meranggas dan momiji yang akan beralih warna menjadi saga. Anak-anak kawaaii bertopi kuning yang lincah, menenteng bento , berlarian dalam penjagaan kakak-kakak kelas mereka di sekolah dasar.
Harmoni.

Sarha mungkin berarti pencarian.Mungkin berarti pencerahan. Adventure and pleasure. Namun bukan berarti seseorang tak kembali dari pengembaraan.
Kenikmatan menyepi di gurun pasir, mendengarkan angin dan memuaskan ego tanpa pernah berbenturan dengan masalah; itukah buah dari pengembaraan? Sepertinya bukan. Sarha mendewasakan seorang anak manusia, membuatnya mengetahui tugas-tugas perkembangan yang harus dikuasai, demi menghadapi masa dewasa yang mengharuskannya mengambil alih sebuah peran. Sarha tidak menjadikan seseorang solitaire -hidup menyendiri- sekalipun untuk memahami makna lebih dalam , terkadang memang harus dilakukan dalam kesunyian.

Manusia membutuhkan saat-saat untuk menyendiri. Hal pertama yang harus dilakukannya adalah mencintai dirinya sendiri terlebih dahulu, bukan dalam rangka mencari pleasure atau menancapkan power, tetapi untuk memahami dimana letak dirinya dalam konstelasi alam semesta. Mendengarkan suara-suara dari dalam diri sendiri, dari batin terdalam, memahami harapan dan kecemasan; bahkan mungkin hal-hal paling absurd dan paling ekstrim, mungkin perlu dilakukan. Bila seseorang tak memahami dirinya sendiri, ia akan sulit memahami potensi-potensi luarbiasa yang dititipkan sang Khaliq. Terkadang, jalinan waktu menciptakan kerumitan yang meninggalkan jejak dalam hingga seseorang sulit bernafas.

Percayalah, usai Sarha seseorang seharusnya menemukan kekuatan.
Bila dulu, ia tak menyadari memiliki kekuatan emosi, maka sekarang ia menemukannya. Bila dulu tak memiliki kekuatan fisik, maka sekarang ia harus melatihnya. Bila dulu, ia bahkan tak merasa punya kekuatan apa-apa , maka sekarang ia harus menemukannya.

Seorang penulis, membutuhkan Sarha setelah menyelesaikan sebuah buku. Ia harus berburu referensi, membaca kembali karya-karya canon sastrawan dunia, menemukan titik cahaya seperti yang dikatakan Imam Ghazali, merumuskan outline, menuangkan gagasan, menemukan hikmah, menafsirkan sebuah peristiwa dan meramunya dalam kalimat-kalimat bermakna. Maka Charles Dickens mengingatkan, setelah seseorang lelah dalam setiap pengembaraan kehidupan, yang ia perlukan adalah berjalan-jalan. Hiduplah dalam imajinasi, nikmatilah khayalan, tapi segeralah bergabung dalam kenyataan.

Bila tidak, hidup akan menjadikanmu split personality.
Nikmati Sarha. Resapi kenikmatan sang penyendiri, si solitaire yang berkelana.
Lalu jalani realita yang kaya akan makna.
Mudah?
Tidak juga.

Lalu bagaimana seseorang mampu bangkit dari penderitaan yang panjang?
Kisah Muhammad al Fatih, penakluk Konstantinopel ini mungkin dapat dijadikan acuan. Ketika ia kalah dalam pertempuran laut yang membumi hanguskan armada, nyaris putus asa al Fatih meminta petunjuk syaikh Aq Syamsudin. Sang syaikh memberikan 3 nasehat : pertama, setiap pemberian Allah setara dengan upaya . Kedua, hukum orang-orang yang tak taat dan berbuat kerusakan.
Ketiga?
Nasehat terakhir inilah yang membawa kemenangan al Fatih.
“Pelajari titik kekalahanmu, sebab disitu kunci kemenanganmu.”

Fatih kalah dengan armada laut yang hancur lebur. Di titik itulah, ia bangun armada dengan versi berbeda yang menghantarkan Muhammad II bergelar al Fatih.

Bila, seorang manusia menemukan titik kelemahannya, menjadikannya titik konsentrasi untuk bangkit; maka ia akan menemukan jawaban atas kekalahannya selama ini.

Kategori
Catatan Perjalanan Jepang Mancanegara

#10 Karatsu : 10 Destinasi Menarik di Farming City

6. Hikiyama Exhibiton

Hikiyama Exhibition : giginya seharga 5 Milyar :D
Hikiyama Exhibition : giginya seharga 5 Milyar 😀

Hikiyama
Hikiyama

Karatsu Kunchi Festival : sejak 100 th lalu
Karatsu Kunchi Festival : sejak 100 th lalu

7. Karatsu Jinja Temple

Karatsu Jinja Temple : cara memakai air
Karatsu Jinja Temple : cara memakai air
Pohon harapan
Pohon harapan
ohon harapan Karatsu Jinja
ohon harapan Karatsu Jinja
Gerbang Karatsu Jinja Temple
Gerbang Karatsu Jinja Temple

8. Karatsu Ginko (Museum Bank Karatsu)

Karatsu Kinko dan Bapak Kitajima
Karatsu Kinko dan Bapak Kitajima
Karatsu Kinko Museum
Karatsu Kinko Museum
Brankas kuno
Brankas kuno

9. Toko souvenir Alvino ; Karatsu Shi, Shinkou

Alvino, Karatsu Shi, Shinkou
Alvino, Karatsu Shi, Shinkou

10. Kafe Kazuko Tei

Tempura di Cafe Kazuko Tei, Karatsu
Tempura di Cafe Kazuko Tei, Karatsu
Kategori
Catatan Perjalanan Jepang Mancanegara

#9 Karatsu : 10 Tempat Menarik dalam Sehari


1. Mikaeri No Taki atau Mikaeri Waterfall

Mikaeri Waterfall : Nonaka, Sinta Yudisia, Nyoman Heru, Nunik, Rizaldi, Aswi (belakang) Sinta Rani
Mikaeri Waterfall : Nonaka, Sinta Yudisia, Nyoman Heru, Nunik, Rizaldi, Aswi
(belakang) Sinta Rani
Jembatan "bunga"
Jembatan “bunga”
Mikaeri Waterfall & old people romance
Mikaeri Waterfall & old people romance
Lovely Waterfall
Lovely Waterfall

2. Karatsu Umakamon Ichiba – Farmer’s Market

Surprising Karatsu Umakamon Ichiba!
Surprising Karatsu Umakamon Ichiba!
Pasar bunga cantik, Karatsu 1
Pasar bunga cantik, Karatsu 1
Pasar bunga yang dikemas cantik
Pasar bunga yang dikemas cantik
Mungil dan cantik :)
Mungil dan cantik 🙂

3. Karasushi Restaurant

Karasushi : memilih menu berjalan :D
Karasushi : memilih menu berjalan 😀
Menu lezat berjalan : ambil cepat!
Menu lezat berjalan : ambil cepat!
Bismillah...sushi dengan kecap Azhar Halal Food
Bismillah…sushi dengan kecap Azhar Halal Food

4. Nagasaki Sou

All in Yukata
All in Yukata
Aswi & Yukata
Aswi & Yukata
Rizaldi : our warrior!
Rizaldi : our warrior!

5. Karatsu Castle

Beautiful landscape
Beautiful landscape
Taman Istana
Taman Istana
Denah istana
Denah istana
Sudut pandang atas
Sudut pandang atas

#9
#Karatsu
#Jepang

Enjoy the Journey to Enlightment 🙂

Kategori
Catatan Perjalanan Jepang Mancanegara

#8 Obrolan menuju Karatsu & Fukuoka : Istri-istri Istimewa

Perjalanan 12 jam lebih menuju Fukuoka hari itu membuahkan rasa kebersamaan dalam tim yang beranggotakan 6 orang : saya, mbak Nunik dan mbak Sinta Rani dari Aquilla tour & travel, Beli Nyoman dari Depok , Rizaldy dari Jejak Imani dan bang Aswi blogger FLP.

Perjalanan menuju Hongkong, mbak Nunik, mbak Sinta Rani dan Beli Nyoman menjadi teman yang seru . Perjalanan menuju Fukuoka, bang Aswi menjadi guru. Sepanjang waktu berjalan, banyak sekali mendengar kisah romantis yang membangun kesatuan jiwa sepasang suami istri. Romantisme tak selalu berarti cinta menggebu, cinta arousal atau cinta yang dibumbui rayuan serta hadiah. Romantisme adalah ketika pasangan mampu meneguhkan paradigma ini : Behind the great man, standing the great woman.

The first duty of love is to listen
The first duty of love is to listen

Kisah pertama, Beli Nyoman adalah seorang ayah dari 3 orang anak. Ia lulusan Teknik Informatikan Gunadarma yang menekuni dunia media. Bidang usahanya membangun jaringan media online. Sebagai seorang individu yang menjadi kepercayaan orang nomer 1 di Depok saat ini, Beli Nyoman seharusnya dapat hidup mewah. Namun cara berpakaiannya, kendaraan sepeda motor yang digunakannya, mengeduhkan dirinya sebagai pribadi sederhana. Beli Nyoman bercerita, ia bersyukur bekerja di lingkungan saat ini yang dikelilingi oleh orang-orang yang membuatnya mampu menjaga agama Insyaallah.

Ia, sebelumnya tidak bekerja di Depok, tapi di luar Jawa.
Langkah-langkah kakinya, ternyata dipandu mercuar doa sang istri tercinta yang senantiasa berucap menuju langit, “ Ya Allah, jadikanlah suami berteman dengan orang-orang yang sholih.”

Ahya. Terkadang, seorang istri lupa mendoakan suaminya. Kebutuhan akan nafkah, membuat seorang perempuan lebih sering berdoa meminta rizqi halal, anak-anak sholih dan lupa mendoakan suaminya, sang Qowwam keluarga, menjadi orang yang sholih.

Love
Love

Kisah kedua, adalah kisah bunda Nur Azizah, istri Nur Mahmudi Ismail, walikota Depok periode hingga 2016. Terpilih dua periode sebagai walikota Depok, tak membuat keluarga Nur Mahmudi meninggalkan sifat kesederhanaan. Pakaian, kendaraan, kebiasaan sehari-hari. Tentu, tak mungkin seorang lelaki meraih demikian banyak penghargaan tanpa dukungan keluarga terutama sang istri. Menurut kisah seorang teman, bila dalam perjalanan mengendarai mobil dan bunda Nur Azizah ikut di dalamnya, beliau tak banyak bercakap-cakap. Saat naik mobil, yang dilakukannya kemudian adalah : membuka al Quran. Membacanya. Ya, bunda Nur Azizah adalah seorang hafidzah.

Kesederhanaan berimbas pada banyak hal, termasuk perkara-perkara kecil. Sebagai istri pejabat, bisa saja bunda Nur berbelanja barang berlebih ketika menuju satu daerah, namun itu tak dilakukannya. Ketika mengunjungi satu tempat, disediakan minuman air botol kemasan, ia tak akan meninggalkan sisanya dan membuangnya, namun akan menyimpannya. Dalam perjalanan, ketika haus, maka cukup air minum yang masih tersisa tadi yang digunakan melepas dahaga.

Pasangan serasi yang melengkapi dan menguatkan.
Anda tentu ingat mengapa Louis XVI diseret ke guillotine, bukan? Tak lain karena Marie Antoinnette gemar berpesta dan membeli pakaian mewah serta permata. Satu kalung berlian Marie Antoinnette yang berkadar 2600 karat, jika dikurskan sekarang sama dengan harga satu kapal perang USS Marine!

Kisah ketiga, dari sahabat unik saya, bang Aswi the biker and blogger.
Kecintaannya pada dunia menulis, mendapatkan dukungan penuh dari sang istri.
Sebagian besar orang menganggap remeh pekerjaan menulis. Berapa sih uang yang didapat dari menulis? Namun pasangan Aswi dan Umi memilih untuk mensyukuri apa yang ada, sebab bila menunggu kata “cukup” tak akan pernah ada habisnya. Salah satu senjata untuk men”cukup”kan apa yang ada adalah dengan bersedekah. Bagi Umi, memiliki uang Rp.20.000 berarti dapat disedekahkan Rp.15.000. Berapa banyak para istri yang mengeluhkan gaji suaminya yang tak cukup, sekalipun setiap bulan sudah mendapatkan pemasukan rutin.

Keywords dari istri-istri istimewa di atas adalah :
doa, Quran dan sedekah.

Masih ada kisah istri istimewa yang lain. Simak nanti ya!

#8
#Karatsu
#Fukuoka
#Jepang

Enjoy the Journey to Enlightment 🙂

Kategori
Catatan Perjalanan Jepang Mancanegara

#7 Vessel Hotel & Udon Westo : Next Journey to Karatsu

Tiba di Taipei pukul 15.05.
Pesawat dijadwalkan berangkat ke Fukuoka jam 17.25.
Masih cukup waktu untuk jalan-jalan dan foto-foto, pikir kami.
Ternyata, keberangkatan yang seharusnya di A8 diubah ke D1, yang jaraknya cukup jauh. Lagipula, kami lupa memperkirakan bahwa ada selisih waktu antara Indonesia dan Jepang!

Indonesia dengan Hongkong dan Taipei, selisih 1 jam. Jika di Indonesia jam 03.00 maka waktu di Hongkong atau Taipei jam 04.00. Jadi, ketika tiba di Taipei pukul 15.05 seharusnya waktu ditambahkan, kedatangan sekitar pukul 16.00 waktu Taipei. Ditambah foto-foto selfi hampir di setiap sudut, perubahan tempat dan masih harus mencari-cari dimana D1 yang harus ditempuh dengan skytrain, ternyata petugas memberitahukan kami bahwa pesawat ke Fukuoka boarding!

Bandara Internasional Taipei
Bandara Internasional Taipei

Haa? 17.25?
Tak terasa 2 jam untuk ke kamar mandi, berfoto dan jalan kaki kesana kemari!
Untung bersama rombongan, kalau tidak, panik setengah mati. Setidaknya, kalau terpaksa terdampar di Taipei, terdampar berombongan, hehe….

Makan malam moslem meal yang disuguhkan China Airlines, kali ini tak habis disantap. Mungkin karena kami mulai kelelahan, jetlag, terkantuk-kantuk namun sulit tidur; makanan seenak apapun terasa hambar. Yang nikmat dikunyah di mulut hanyalah buah, pudding dan kopi panas. Tak terasa, 12 jam lebih menyusuri kanopi langit, menggilas gumpalan awan dengan burung besi yang terkadang menggeletar naik turun saat bertubrukan dengan pusaran angin.

Sekitar 2 jam kemudian, Alhamdulillah wa syukurillah…kami mendarat di Fukuoka International Airport kurang lebih jam 19.30. Antrian panjang di imigrasi mengharuskan rombongan kami bersabar. Mata berkungang, kepala panas, jari jemari kaki serasa membesar ukurannya. Untung, di ruang tunggu pak Barkah dan pak Kenji Nonaka telah menunggu dengan senyum lebar.

Pastinya, mengurus tamu-tamu bukan perkara mudah.
Namun pak Barkah dan pak Nonaka bersabar mengantar kami check in di hotel Vessel, Fukuoka, mengajak berkeliling Fukuoka untuk melihat kehidupan malam yang penuh gairah dan kegiatan hari itu ditutup dengan makan di Westo Udon jalan Chiyo. Semangkok udon berkisar 620 yen. Menghabiskan menu mangkoksebesar itu alamaaak….untung saya, mb Nunik dan mbak Sinta Rani hanya memesan 2 mankok yang dimakan bersama. Itupun masih tersisa lumayan.

Semangkok Udon
Semangkok Udon
2 mangkok bertiga
2 mangkok bertiga
Maaf Mas...difoto :)
Maaf Mas…difoto 🙂
Lapar banget yak?
Lapar banget yak?

Hari yang sangat melelahkan, namun juga penuh catatan pengalaman.
Arigato gozaimasu semua 🙂

#7
#Karatsu
#Fukuoka
#Jepang

Enjoy the Journey to Englightment 🙂

Kategori
Catatan Perjalanan Jepang Mancanegara

#6 To Karatsu

Perjalanan menuju #Karatsu Jepang, membutuhkan ketahanan fisik yang prima.
China Airlines menjadwalkan berangkat dari Jakarta pukul 06.25 pagi menuju beberapa bandara International hingga nanti akhirnya tiba di Fukuoka.

Karena berdomisili di Surabaya, maka harus ke Jakarta sehari sebelumnya. Suami menyarankan agar sempat istirahat, maka harus sampai Jakarta sore hari, dan mencari hotel terdekat. Saya mengambil penerbangan Batik Air pukul 12.50 dan tiba di Cengkareng 14.20.

Salah satu penginapan yang nyaman adalah J hotel di jalan Perancis no 9, 10 menit dari bandara. Pelanggan dijemput di bandara, gratis pula, dan esoknya diantar ke bandara, free of charge. Tarif hotel beragam, yang termurah Rp. 378.000 pun sudah sangat nyaman. Sayangnya, Tidak bisa tidur nyenyak di J hotel karena semalaman ngobrol dengan kembaran saya, Sinta Rani dari Aquila Travel hahaha…

Jam 04.00 pagi, kami menuju terminal 2 D, untuk check in. Barang yang boleh dititipkan di bagasi sejumlah kurang lebih 20 kg. Langkah selanjutnya masuk imigrasi. Sholat shubuh dapat dilakukan setelah melewati imigrasi. Ingat, cairan lebih dari 100 ml tak boleh masuk, apapun itu. Shampoo, sabun cair, parfum, minyak kayu putih, air minum, dan sejenisnya. Ukuran cairan yang diperbolehkan masuk ke pesawat adalah seukuran botol Yakult.

China Airlines menyediakan moslem meal sebagai sarapan.
Nasi goreng panas, telor ceplok dan bistik ; dilengkapi buah segar menjadi pilihan tepat . Baru sadar, inilah pertama kali duduk tenang dan nyaman, menikmati waktu, memanjakan diri, menonton film setelah sebelumnya hectic dengan setumpuk tugas (baca https://sintayudisia.wordpress.com/2015/10/03/5-karatsu-estafet-perjalanan-dan-logoterapi/)

Penerbangan pertama menuju Hongkong International Airport seharusnya ditempuh dalam waktu 4 jam. 4 jam duduk adalah waktu yang sangat membosankan dan membuat sendi-sendi kaku. Memang, di pesawat disediakan beragam tontonan gratis mulai film, musik, berita, permainan. Saya memilih film Jurrasic World yang dibintangi Chris Pratt dan San Andreas. Tidur bosan, mau baca pusing. Bolak balik ke kanan ke kiri mengganggu teman-teman di sebelah. Ngobrol dengan Bli Nyoman di kiri, ngobrol dengan mbak Nunik dan mbak Sinta Rani di sebelah kanan. Tidur lagi. Bangun, melihat jam. Tidur lagi, terguncang-guncang. Ups…

Cuaca sangat tidak bersahabat siang itu.
Pilot mengatakan, kami akan segera mendarat ketika jam menunjuk pukul 11.00 siang. Cuaca berawan, hujan, mendung membuat pilot terpaksa menerbangkan pesawat di udara 15 menit untuk mencari posisi. Permintaan maaf dikumandangkan lewat speaker. Penumpang berkali-kali serempak berteriak ketakutan ketika pesawat mengalami turbulensi. Suara-suara gelegak muntah terdengar, aroma minyak angin mengudara di mana-mana. Haduh, sampai salah satu penumpang muntah dan mengeluarkan anyir asam lambung….tamat sudah pertahanan diri! Saya bakalan ikut threw up hiks….

Mirip adegan fim laga usai jagoan mengalahkan tokoh antagonis, ketika pilot berhasil mendarat hampir pukul 12.00 siang, serentak tepuk tangan terdengar. Baru kali ini!
Mungkin, semua penumpang merasakan pembuluh darah, isi perut, jaringan otak, teraduk-aduk bagai campuran es Palu Butung.

Sinta Yudisia, Nunik, Sinta Rani
Sinta Yudisia, Nunik, Sinta Rani

Penumpang transit dipersilakan melaporkan ke petugas transfer, tersedia petugas-petugas dengan seragam yang membawa kertas pengumuman transit ke Taipei. Jadi, insyaAllah kita tidak tersesat. Penerbangan selanjutnya berada di gate 47. Alih-alih ke gate 47, kami ber-6 malam mengambil foto-foto bergantian. Padahal saat turun dari pesawat, kesepakatan pertama : mau ke kamar mandi! Anehnya, masih sempat jeprat jepret entah berapa kali. Setelah puas berfoto dengan tulisan Welcome to Hongkong, maka kami menuju gate 47 dan mencari kamar mandi di sana. Alhamdulillah, bekal botol kosong saya sangat berharga. Closet hanya menyediakan air untuk menyiram kotoran dan tissue kering. Sekalipun dalam konteks bersuci, mengusap dengan barang kering seperti batu, daun atau kertas sudah cukup; tetap rasanya kurang afdol tanpa air. Maka, siapkan botol kosong dari tanah air. Tidak perlu yang seukuran 1,5 liter (kalau ranselnya besar, silakan saja…), cukup botol kosong ukuran 600 ml. Air dapat diambil dari wastafel.

Skay train Taiwan bersama Sinta Yudisia, Rizaldi, Beli Nyoman, Nunik, Sinta Rani
Skay train Taiwan bersama Sinta Yudisia, Rizaldi, Beli Nyoman, Nunik, Sinta Rani

Pesawat berikutnya menuju Taipei, boarding pukul 13.25. Potongan tiket sebelumnya masih dipakai, dengan nomor kursi yang sama. Moslem meal kali ini lebih simple , roti isi jamur, air putih dan buah apel.

Kembali, perut ini teraduk-aduk oleh perjalanan pesawat yang bertubrukan dengan gumpalan-gumpalan awan, curahan hujan dan gelombang angin.

Whatever, this is not about the destination.
Remember, the journey is always full of memories.

Jika, sebuah peristiwa mengingatkan pada sebuah buku.
Maka Karatsu kali ini mengingatkan pada novel saya pribadi, #Rinai.
Ada orang-orang unik yang membuat kita ingin menuliskannya, sebagai pengingat bagi diri sendiri dan bagi orang lain. Montaser, tokoh pemuda Palestina, yang mengawal tim Indonesia; banyak pembaca bertanya-tanya apakah ia tokoh yang benar adanya?

Mungkin ia fiktif.
Mungkin ia nyata.
Tapi, Montaser adalah seorang pemuda yang hari itu menuangkan shai kepada para tamu, ketika ia sendiri tengah berpuasa. Pemuda yang suka bersedekah, yang muncul dan perginya bagai jam malam. Pemuda yang hdiup antara bangku kuliah, ladang zaitun, pantai Aizbah dan terowongan-terowongan rahasia.

Ketika tulisan tentang Karatsu ini nanti muncul, imajinasi penulis dan imajinasi pembaca mungkin akan bertemu dalam sebuah dimensi makrokosmos : siapakah ia? Apakah ia ada? Apakah ia hanya rekaan?

Anggaplah tokoh itu hanyalah rekaan.
Namun apakah anda tak ingin Montaser benar adanya dalam kehidupan ini?
Montaser dalam  RINAI

#6
#Karatsu
#Jepang

Enjoy the Journey to Enlightment 🙂

Kategori
Catatan Perjalanan Jepang Mancanegara

#5 #Karatsu , estafet perjalanan dan Logoterapi

Sometimes it’s the journey that teaches you a lot about your destination (Drake)

Selalu ada pengalaman menarik tiap kali berkunjung ke suatu wilayah.
Tak ada destinasi yang sama, tak ada upaya yang persis sama. Pulang lebaran misalnya, meski tiap tahun berkali-kali menuju tempat yang sama, selalu ada pelajaran berharga tiap tahun yang dapat dipetik.

Tahun ini pun, ketika pulang ke Tegal dan Yogya, kami sekeluarga menyempatkan berkunjung ke pemakaman Imogiri dan pemakaman raja-raja di Kotagede. Journey ini membawa kami memahami siapa sebenarnya Nyai Roro Kidul dan Sultan Agung Hanyokrokusuma. Jauh dari mistis yang dibayangkan orang-orang pada umumnya, heroisme Sultan Agung di masa Mataram Islam membawanya bersahabat dengan Aceh, Palembang, Turki dan Palestina.

Baca selengkapnya di https://sintayudisia.wordpress.com/2015/07/29/kanjeng-ratu-kidul-atau-nyai-roro-kidul/

Perjalanan menuju #Karatsu kali ini dipenuhi adegan-adegan menarik.
Saya dan Bang Aswi sebagai perwakilan FLP memiliki kesibukan masing-masing. Bang Aswi harus mengejar deadline tulisan; saya mengejar deadline ‘tulisan’ laporan pra PKPP 2 dan 3 yang tebal laporannya setebal tumpukan ban.

Tidur adalah barang mewah. Bagi penulis yang mengejar deadline, kasur dan bantal adalah musuh utama hahaha. Jangan coba-coba ganggu penulis menjelang garis mati atau deadline, galaknya melebihi reptilia menjelang musim kawin.

Heartbeat berdetak tidak normal tiap kali menatap ponsel.
Koordinasi dengan tim Karatsu terkait visa dan tiket, juga *ping dari dosen atau bagian admin kampus terkait agenda kampus yang membuat jantuung melorot ke dengkul : jadwal ujian. Dosen yang tiba-tiba bertugas ke tempat lain. Lembar-lembar praktikum yang tiba-tiba ketlingsut entah dimana. Tukang foto kopi yang salah memfoto kopi. Verbatim dan analisa profile kepribadian yang puluhan lembar dan…whaaat? Oh MY GOD! Ternyata belum disave ketika mematikan komputer…huhuhu…

Sabar. Sabar. Sabar.
Mengapa juga penulis berjodoh dengan kata deadline, sebagaimana dokter berjodoh dengan tulisan cakar ayam? Sepertinya, kalau belum kena deadline, semua perangkat fisiologis belum menyala.

Back to laptop.

#Karatsu kali ini menyimpan pula kisah-kisah menegangkan yang mengajarkan banyak hal sebagaimana Logoterapi Viktor Frankl mengajarkan satu temuan unik.
Abraham Maslow berkata : aktualisasi atau kesuksesan yang akan mengubah manusia.
Frankl berbeda. Penderitaan, bahkan jurang terdalam manusia, yang akan mengubah manusia menjadi lebih baik. Kali ini, saya memilih Frankl , meski sebelumnya demikian mengagumi piramida Maslow.

Setelah sebelumnya banyak bereksperimen dengan klien-klien, maka kali ini baiklah, seorang terapis perlu berksperimen dengan dirinya sendiri.

1. Passport
Dulu, saya membuat paspor dibantu calo. Sekarang, KANIM (kantor imigrasi) lebih transparan, maka semua diurus sendiri. Saya memilih mendaftar via online. Waktu itu, saya diundang mengisi acara di Malaysia bulan Maret dan harus mengurus perpanjangan paspor sekitar bulan Februari.
Kalau dulu percala calo, sekarang saya percaya informasi teman-teman dan internet. Ternyata, JANGAN PERCAYA 100% pada informasi dari pihak luar, kecuali langsung dari sumber pertama.
Kebohongan? Tidak juga. Tapi sebuah laporan, boleh jadi subyektif.
“Gampang kok..”
“Urus aja sendiri. Cepet!”
“Murah.”
“Sehari jadi!”

Maka bertanya kesana kemari, termasuk pada tuan Google saya percaya : mengurus paspor di Kanim daerah Sidoarjo hanya butuh 1 hari. Ternyata ups, 1 hari itu bisa molor karena saat itu:
berangkat dari rumah pukul 7 pagi dan antrian barisan di imigrasi menyerupai pembeli tiket film Harry Potter
Human errrrrooorrrr : hari itu komputer kacau hingga kami dipulangkan paksa hiks hiks hiks…harus datang keesokan harinya dengan antrian yang jauh lebih heboh
Benar mengurus hanya 1 hari. Tapi sampai pasport itu selesai dicetak, butuh waktu sekitar sepekan hari kerja.
Maka, selain mengandalkan informasi dari teman-teman, Google, carilah informasi dari sumber pertama atau jadwalkan buat paspor berbulan-bulan sebelumnya. Rhenald Kasali bilang , tak perlu menunggu harus keluar negeri untuk buat pasport. Buat dulu. Sebab kita tidak tahu kapan dibutuhkan. Sebagaimana KTP, gak mesti karena mau masuk rumah sakit atau daftar kuliah kan?

2. Visa
Visa ke Jepang sebetulnya tidak sulit. Kebetulan, karena kami diundang pemerintah #Karatsu, maka yang diperlukan adalah passport, surat undangan, itinerary selama di #Karatsu dan kode boooking tiket pesawat.
Nah, inilah moment tepat seorang terapis bereksperimen dengan dirinya sendiri hehe…

Mengurus Visa ke Jepang di Surabaya cukup datang ke Konjen Jepang di Jalan Sumatra 93. Dari arah viaduct Kertajaya (satu arah), melewatiMirota Batik, belok kanan. Di Jalan Raya Gubeng nanti di sebelah kanan meleati toko Elizabeth dan jalan Jawa; sebelah kiri Siloam Hospital, BPJS di jalan Kayoon. Terus saja hingga di sebelah kiri bertemu jalan Kalimantan : masuk saja. Sebab ketika bertemu dengan persilangan jalan pertama, itulan jalan Sumatra. Belok kiri dan carilah bangunan dengan pagar besi menjulang tinggi, persis sama dengan bangunan Konjen Amerika.

Lapor pada petugas, katakan akan mengurus visa.
Isi blanko dan tinggalkan perkakas elektronik.
Masuk ke ruang pembuatan visa, ambil nomer antrian dan akan dipanggil sesuai nomer urutan.
Naaah…semua berjalan lancar dan cepat, kecuali saya hehe…
Thanks God…ketemu Mahfudz, cowok muda keren yang saya tulis kemarin di
https://sintayudisia.wordpress.com/2015/09/29/4-orang-orang-istimewa-3-rajo-is-not-idiot/
Mahfudz banyak membantu.
Pasalnya?
Blanko-blanko sederhana itu benar-benar blank.
Inilah kemunduran kognitif (sementara lho ya…)
Atensi yang terdistraksi.
Ketidak mampuan fokus dan memusatkan perhatian.
Anxiety.
Apa lagi ya diagnosis untuk diri sendiri? 😀

Intinya, saya bolak balik ke bagian admin yang sangat ramah dan mengesankan itu, hanya karena kurang isi ini , isi itu, tanda tangan dst. Sampai-sampai si Mbak berbaik hati membantu mengisikan blanko dengan pensil dan saya tinggal mengisinya dengan pulpen.
Mahfudz pun membantu saya menyiapkan berkas. Ya ampyun…
Pfffuuuuhhh…

Bagian yang lucu ketika ditanya.
“Mau kemana?”
“Karatsu, Mbak.”
“Wilayah?”
“Saga perfektur, Kyushu utara.”
Si Mbak meninggalkan saya sesaat, menuju peta besar yang terhampar di dinding.
Mungkin ia perlu cek ricek lagi, apa orang yang bolak balik salah mengisi blanko ini tidak tersesat di belantara negara ultramodern. Beberapa saat ia mengamati peta dan belum menemukan Kratsu.

Saya pun hanya berdiam, dan tak dapat menunjukkan, di mana letaknya.
So sorry, Mam. Klien anda kali ini sangat merepotkan . Tapi ia sungguh bertanggung jawab, tidak hanya mengiyakan saja ketika saya bilang ada suatu kota bernama Karatsu di Jepang.

Mahfudz masih menemani hingga selesai pengurusan visa. Untung saja ada Mahfudz, lumayan …

3. Persiapan perbekalan :

Pergi keluar kota, sebaiknya tidak menyiapkan di saat mepet. Mungkin sedikit ribet dan memakan tempat, tapi agar tak ada yang tercecer, sebaiknya disiapkan 1-2 minggu sebelum keebrangkatan. Saya terbiasa menurunkan koper dari atas lemari, membukanya dan mulai meletakkan barang-barang (tanpa dirapikan dulu, yang penting disisihkan). Barang-barang kecil yang tampaknya sepele seperti potongan kuku, karet , gunting, tas plastik, namun butuh alokasi waktu dan pemikiran.

a) Siapkan notes kecil untuk mencatat barang-barang apa saja yang akan dibawa. Setiap destinasi akan berbeda. Palestina misalnya, harus bawa baterai dan senter, siapa tahu berhadapan dengan jam malam dan keadaan gelap gulita. Hongkong, siapkan sepatu nyaman sebab kemana-mana jalan kaki. Kalau pakai high heels…bengkak betis. Jepang? Browsing, sedang musim apa.

4 musim subtropis berbeda dg Indonesia
4 musim subtropis berbeda dg Indonesia

b) Beragam ukuran tas kecil. Tas-tas kecil, terutama yang bentuknya seperti dompet besar dengan risleting tertutup rapat, sangat berguna. Bedakan barang-barang penting seperti paspor, visa dan uang ; peralatan mandi ; peralatan kosmetik; peralatan tulis menulis.

c) Ransel adalah tas yang nyaman dipakai perjalanan jauh. Kalau ingin tampilan feminin, pilih ransel dengan bentuk dan warna perempuan. Tas selempang ukuran besar juga oke, tapi secara pribadi, saya tidak anjurkan. Sebab pelancong biasanya membawa banyak perbekalan. Tas selempang cukup melelahkan.

Siapkan ransel nyaman
Siapkan ransel nyaman

d) Koper : pilih koper yang kuat dan tahan banting. Jangan terburu beli koper murah namun rodanya cepat lepas atau pegangannya cepat putus.
e) Sepatu. Sepatu yang nyaman untuk bepergian jauh (ini bukan promosi ya…) adalah Bata, Kickers dan Triset.
Pilih sepatu yg nyaman
Pilih sepatu yg nyaman

f) Bila ingin bersuci dengan lebih nyaman, bawa gelas plastik atau botol aqua bekas. Di tempat umum di luar negeri, closet sangat berbeda dengan di rumah yang berlimpah air

4. Ketahanan fisik.
Jaga fisik baik-baik ketika sebulan hingga beberapa minggu menjelang keberangkatan. Jangan sampai sakit, sehingga mengurangi jatah waktu untuk berkeliling menikmati perjalanan dan belajar banyak hal. Bawa obat-obatan standar seperti penghilang rasa sakit, minyak kayu putih, plester, mutivitamin.

5. Ruhiyah : alat sholat dan Quran juga masuk hitungan ya!

6. Uang dengan mata uang setempat. Lebih baik menukar di money changer di Indonesia daripada di bandara tujuan. Saya pernah tidak sempat menukar ketika akan ke Hongkong. Alhasil harus menerima ketika rupiah dihargai jauh lebih kecil dibandingkan ketika menukar uang di tanah air.

7. Niatkan Bismillah… untuk mencari hikmah dalam setiap perjalanan. Ini harusnya diletakkan di awal.

Jadi, apa hubungannya dengan makna penderitaan Logoterapi?
Setidaknya, penderitaan dari pengalaman perjalanan sebelumnya, membuat saya lebih bijaksana hehe…

Sebagai penutup, anda pernah wudhu di wastafel?
Ini biasanya saya lakukan (bukan cuma saya sih….sering lihat juga orang-orang demikian), bila antrian wudhu panjang, sementara tempat wudhu sangat terbatas. Ini biasanya terjadi di mall-mall yang menyediakan fasilitas sholat minim. Maka, wastafel menjadi pilihan wudhu.

Saya dan teman-teman pernah disemprot keamanan ketika di Hongkong.
Kata mereka, jorok banget orang Indonesia! Wastafel yang biasanya dipakai cuci muka, dipakai cuci tangan hingga ke siku dan kakipun naik kesana!

Enjoy the Journey to Enlightment 🙂

#5
#Karatsu
#Jepang

Kategori
Catatan Perjalanan Jepang Mancanegara WRITING. SHARING.

#4 Orang-orang Istimewa (3) : Rajo is not Idiot!

Bahkan sebelum berangkat ke #Karatsu, percik-percik keajaiban seperti titik-titik merah yang saling terhubung.
Saat pembuatan visa di Konjen Jepang Surabaya,
“Mbak Sinta?”
Seseorang menyapa.
Saya tak mengenalnya. Who is he?
Lalu ia menyebutkan nama dan MasyaAllah!
Inikah orang yang disebut-sebut mas Ali Muakhir?
Inikah orang yang begitu upload sesuatu, para blogger ramai mengomentari dan sharing?
Ini kan yang…
Jadi ini orang yang sering saya intip ilmunya, saya email chatnya dan diam-diam menunggu kapan bisa berguru padanya?

23 tahun, Man!
Masih sangat muda, untuk kategori ilmu blogging tingkat dewa! (#lebay…Sorry, Huda. Just surprising how I was so lucky).
Mahfudz Huda tidak mengingatkan saya pada sebuah buku, tapi pada sebuah film yang entah sudah berapa kali saya tonton dan tonton lagi : 3 Idiots. Mahfudz ibarat Rajo Rastogi, ilmuwan yang sering menuangkan pemelitian dan gagasannya di blog pribadinya. Rajo dianggap idiot pada awalnya, namun bersama Ranchoddas dan Farhan, mereka buktikan label idiot adalah salah besar.

They're not Idiots!
They’re not Idiots!

Usai mengurus visa bersama Mahfudz dan putri saya, bertiga kami menyusuri jalan Jawa mencari makanan dan minuman yang adekuat sebagai pengganjal perut. Satu restoran lesehan di sekitar jalan Jawa menjadi pilihan, kami duduk bertiga dan saya belajar banyak, banyak, banyak sekali tentang dunia blogging.
Kesukaan Mahfudz menuangkan ilmu kimianya di blog, membuatnya dipinang sang dosen (bukan sebagai menantu) tapi sebagai mahasiwa Faculty of Science, Molecular Simulation di Okayama University, Jepang.
Saya pribadi baru dengar Kimia Komputasi. Yah, maklum, sebab lingkup ilmu sosial lebih banyak membahas psikoterapi dengan semua derivasinya.

Banyak orang pintar, namun kadangkala enggan meluangkan waktu untuk menulis.
Mahfudz sungguh berbeda. Ia justru menjadwalkan menulis sepekan beberapa kali dan blognya pun bukan hanya satu!
Mahfudz mirip Rajo, dan mereka sungguh bukan idiot. Kalau Rajo memakai banyak cincin batu akik , kamu nggak kan Mahfudz 🙂 ?
Terimakasih sudah berbagi cerita tentang Jepang, tentang ikan, tentang minuman berwarna oranye, tentang hararu.

Mahfudz Huda dan muridnya :)
Mahfudz Huda dan muridnya 🙂

Kalau penasaran dengan salah satu inspirator penulisan #Karatsu #Fukuoka , boleh mengintip blog Mahfudz di http://www.mystupidtheory.com atau http://www.r3my.com

Tulisan #4 dari Journey to Enlightment

#Karatsu
#Fukuoka
#Jepang

Kategori
Catatan Perjalanan Hikmah Jepang Mancanegara WRITING. SHARING.

#3 Orang-orang Istimewa (2) : Man’s Search for Meaning

Bertemu seseorang, pikiran ini melesat ke jajaran buku-buku di rumah. Bila ia sebuah buku, apakah judulnya?

Sepasang sahabat yang sejak dulu diam-diam saya kagumi, mengingatkan pada sebuah buku monumental karya Viktor Frankl : Man’s Search for Meaning. Gagasan Frankl menolak pleasure principle Freud, ia pun tak setuju dengan will to power Adler. Bagi Frankl, manusia terlalu dangkal untuk sekedar mencari kesenangan dan kekuasaan dalam hidup. Manusia lebih dari itu. Sepanjang hidup, manusia mencari meaning. Makna.

Konsep logoterapi Frankl mengkristal setelah ia selamat dari kebrutalan penjara Bavaria. Diperlakukan bak binatang, seluruh tulisannya dimusnahkan, Frankl nyaris mati karena serangan jantung yang kerap menghinggapi tawanan yang malnutri dan dehumanisasi. Semangat untuk menuliskan kembali buah pikirannyan membuat Frankl bertahan dan ajaib, ia hidup hingga 1997.

Pendapat Frankl yang pantas direnungkan adalah persepsinya tentang dirinya sendiri, “aku tak pernah tahu tentang diriku kecuali satu hal sederhana : aku tak akan melupakan kebaikan orang lain dan tak akan pernah menaruh dendam pada siapapun.”

Man's Search for Meaning - Viktor Frankl
Man’s Search for Meaning – Viktor Frankl

Pendapatnya tentang frustrasi eksistensial mengungkapkan, tak selamanya penderitaan itu buruk. Adakalanya, penderitaan membuat manusia lebih cemerlang, lebih berkilau dari makhluk lain sejagad raya.

Sepasang sahabat ini, yang tertakdir menjadi suami istri, cukup lama saya kenal. Setelah berpisah karena kesibukan masing-masing, saya hanya menyapa Wid lewat whatsapp. Hingga suatu ketika, saya mengupload sebuah tulisan https://sintayudisia.wordpress.com/2015/09/18/masjid-fukuoka-satu-titik-wilayah-makrokosmos/

Lama saya tak berkomunikasi dengan Hani (samaran) sampai tiba-tiba ia mengomentari tulisan tersebut dengan sebuah pertanyaan : Azhar Halal Food?
Maka kembali kami bertemu lewat dunia maya setelah sekian lama berpisah. Kali ini, dipertemukan dengan suaminya yang selama ini just say hello. Luarbiasa mereka, pasangan muda ini, yang ketika mengenalnya, luluh sudah perasaan bahwa di dunia ini kita adalah orang yang paling banyak masalah. Paling menderita.
Allah memasangkan mereka, sebagai pelajaran bahwa dalam situasi-situasi paling ekstrim, manusia mampu memperlihatkan sisi-sisi paling manusiawi dalam dirinya. Sisi manusiawi yang bahkan lebih tinggi derajatnya dari malaikat, sisi manusiawi yang bukan menafikkan perasaan marah, kecewa, sedih, menyesal , putus asa. Perasaan negatif itu pastilah muncul, namun bagaimana mengelolanya, itu yang menjadi pemilah.

Frankl's Quote
Frankl’s Quote

Man’s Search For Meaning.
Cerita suami Hani menjadi salah satu bahan penting untuk penulisan #Karatsu #Fukuoka.
Tentang komunitas muslim.
Tentang surviving.
Tentang bagaimana mengubah arah ketidakberdayaan manusia menjadi batu loncatan untuk meraih sesuatu.
Thanks for sharing.
Kisah sepasang suami istri ini kelak, layak dibukukan sebagaimana Jean Piaget mengamati anak-anaknya dan merumuskan teori Psikologi Perkembangan. Apa yang dialami, dilalui, dihayati, diperjuangkan mereka berdua akan sama nilainya seperti teori logoterapi Viktor Frankl.

Kapan kita copy darat lagi, Hani? 🙂

Tulisan ke #3 dari Journey to Enlightment

#Karatsu
#Fukuoka
#Jepang

Kategori
Catatan Perjalanan Jepang Mancanegara WRITING. SHARING.

#2 Orang-orang Istimewa (1)

Steve Jobs berkata bahwa dalam hidup ini, manusia akan menemukan red dots -titik-titik merah- yang bila dirangkai, akan membentuk sebuah pola. Pola itu mungkin tak bermakna, absurd, ketika usia masih demikian muda dan manusia belum tahu hakikat hidup. Suatu masa saat insight dengan kedewasaan, pola itu akan memberikan arti penting.

Seorang Ustadz pernah menyampaikan hikmah kisah Nabi Yusuf a.s.
Pertemuan dengan orang-orang dalam penjara, bukanlah terjadi kebetulan. Orang-orang tersebut memiliki peran dalam kehidupan Yusuf as dan sejarah dunia di kemudian hari. Jangan remehkan siapapun, who knows, orang-orang itu yang akan membuat jalur titik merah : pola yang akan menentukan bagaimana cita-cita dipahatkan.

Saya pernah menuliskan kisah bertemu orang-orang ajaib mulai pemuda penjaja cinta, supir taksi, hingga seorang lelaki yang suka sekali mengumpat dengan kata-kata kotor. Orang-orang yang kadang tak senonoh di perjalanan, membuat saya mengambil satu keputusan luarbiasa penting : berdoa sebelum perjalanan.

Dulu, biasa saja menyiapkan perjalanan. Tiket, uang, baju, makanan dan minuman. Sampai suatu ketika bertemu orang yang “luarbiasa” akhlaqnya hingga sejak itu memanjatkan doa safar : Ya Allah, berikan teman perjalanan yang sholih shalihah. Berikan teman satu gerbong yang baik. Berikan teman duduk di pesawat yang memberi hikmah ilmu. Alhamdulillah, sejak saat itu perjalanan demi perjalanan bertemu orang-orang yang memberikan wawasan ilmu dalam segala nuansanya.

Ahya, seperti quote dalam novel #Rose yang ternyata seringkali dikutip pembaca.
“Tuhan ternyata tak pernah melupakan doa-doa hambaNya.”
Bahkan ketika si hamba lelah, jenuh, malas berdoa sebab merasa tak mendapatkan jawaban.

Doa memohon teman baik sepanjang perjalanan, ternyata bukan hanya perjalanan dalam arti denotatif, tapi juga dalam arti konotatif. Perjalanan waktu demi waktu, mempertemukan langkah ini dengan orang-orang yang luarbiasa menginspirasi. Lucu, sekaligus mengharukan.

Bang Aswi, blogger and biker
Bang Aswi, blogger and biker

Si Blogger dan Biker

Sepedaan?
Hari gini?
Saat orang naik Rubicon, Hummer, Alphard?

Si Abang yang satu ini justru memilih sepeda sebagai kendaraan tercinta. Ia mengaku mendapatkan banyak hikmah dan pengalaman yang kaya sepanjang mengayuh sepedanya.
Lupa kapan pertama kali pertemuan kami. Yang terakhir, saat rapat kerja di daerah dataran tinggi Jawa Tengah. Sekalipun kami satu tim, intensitas komunikasi tidak terlalu sering. Hal istimewa darinya : ia sanggup bersepeda bahkan menempuh jarak Jakarta-Bandung!
Hehe…kapan-kapan teruskan sampai Surabaya, Bang 🙂

Tulisan-tulisannya lebih ke how-to yang simple : bagaimana membuat bisnis laundry etc.
Lalu, buku-bukunya jarang terbit lagi. Tetapi saya tetap stalking twitternya yang semakin cetar membahana . Sahabat saya yang satu ini menekuni blogging! Penghasilan utamanya sebagai blogger, silakan buat penulis yang lain iri. Mungkin belum sekaya JK Rowling, namun memadukan minat dan bakat, hobby dan karier , adalah satu kesempatan istimewa dariNya.

Si Abang yang satu ini romantis pula.
31 Agustus menggunggah foto bersama istri tercinta, saat ia berulang tahun yang ke 38. So sweet!
Proyek penghargaan yang baru-baru saja diraihnya adalah testdrive Datsun mengelilingi Sulawesi, hasil dari ketekunannya sebagai blogger.

Test drive keliling Sulawesi!
Test drive keliling Sulawesi!

Padatkah jadwalnya?
Selain sebagai blogger, Bang Aswi –nama selebritisnya – juga dikenal sebagai editor dan layouter. Beruntung sekali bila meneleponnya langsung diangkat. Kali ini, atas kiprahnya di dunia blogging, membuat bang Aswi terpilih sebagai salah satu wakil Indonesia dari FLP yang akan melaporkan keindahan kota Karatsu, Saga Perfecture, daerah Kyushu Utara.

Penghubung kami –serasa adegan spionase- harus berkali-kali mengontak bang Aswi, memburunya, memastikannya ikut, menembus kesulitan sinyal wilayah Indonesia Timur yang blank spotnya buat gigit jari, nendang kursi, deg-degan setengah mati!

Selamat , Bang Aswi!
Live tweetnya tentang #Karatsu, sangat ditunggu!
Silakan berkenalan lebih jauh dengan blogger dan biker ini di http://www.bangaswi.wordpress.com

Tulisan ke #2 dari Journey to Enlightment
#Karatsu
#Fukuoka
#Jepang