Apakah aku Nasionalis?

 

 

Waktu kecil, aku pernah bertanya pada ibu ,”Ma, kenapa tiap upacara bendera, aku mau nangis ya liat bendera merah putih sama dengar lagu Indonesia Raya?”

Kata ibu, “wah, itu artinya kamu nasionalis, Sin.”

Jujur, waktu itu aku baru sekitar kelas 3 atau 4 SD. Masih belum tahu apa itu nasionalis, apa itu Islamis, apa itu kapitalis dan komunis; hanya manggut-manggut saja. Bertahun-tahun kemudian, perasaan itu ternyata tidak hilang. Aku senang sekali dengar lagu almarhum Gombloh, Kebyar-kebyar.

Indonesia

Merah darahku

Putih tulangku

Bersatu dalam semangatku

Gebyar gebyar pelangi jingga

Aku  merasa mau menangis tiap kali televisi hitam putihku dulu, yang hanya menayangkan  1 channel saja di tahun 80-an yaitu TVRI, menutup siaran hari itu dengan lagu :

Tanah airku tidak kulupakan

Kan terkenang, selama hidupku

Biarpun saya, pergi jauh

Tidakkan hilang dari kalbu

Tanahku yang kucintai

Engkau kuhargai

 

Walaupun banyak negeri kujalani

Yang masyhur permai dikata orang

Tetapi kampung dan rumahku

Disanalah kurasa senang

Tanahku yang kucintai

Engkau kuhargai

Dan, aku suka sekali dengan lagu Coklat yang berjudul Merah Putih : merah putih teruslah kau berkibar!

 

Indonesia dan Indonesia lagi

Aku tidak menyangka bahwa dengan menjadi penulis, aku berkesempatan mengunjungi beberapa negara. Hongkong, Korea, Jepang, Malaysia, Maroko, Mesir, Palestina. Negara-negara yang membuatku kagum dengan kemajuan, dengan kultur yang kaya, dengan arsitektur, dengan teknologi, dengan kuliner, dengan music dan filmnya. Namun jujur, tiap kali ada di negara orang, aku berpikir : bukannya ini di Indonesia ada ya?

Melihat laut terhampar di Avenue Star HK : ah, begini mah di negeriku banyak. Laut selatan Yogya, laut Bali, selat Madura dll. Sepanjang menelusuri Camplong, Madura menuju Pamekasan; laut biru terhampar. Tiap kali pulang kampung ke Tegal, kampung suamiku, kami menyempatkan ke PAI, pantai alam indah. Di Jawa Timur ada WBL, wisata bahari Lamongan. Tak kurang-kurang kalau mau main air di Indonesia.

Melihat sawah-sawah di daerah Karatsu, Saga, Kyushu aku juga berpikir : ini di Indonesia banyak. Lamongan, dikenal sebagai lumbung beras. Madura, meski sering dianggap gersang, tetap punya sawah. Gresik, Tuban, Lasem, Rembang, Pati hingga nanti aku tiba di Yogya atau Tegal; sawah berpetak-petak terhampar. Meski, ya, ada beberapa yang sudah digantikan real estate.

Di Seoul, pingin banget buat sambel terasi dan kolak. Akhirnya dapat ubi merah dan santan kalengan yang harganya jangan ditanya. Cabe hijau beli di convenience store terdekat. Hiks, di Indonesia harga cabe sama ubi bisa hanya Rp.10.000 . di luar negeri bisa berkali lipat. Dan oh, betapa mahalnya harga buah-buahan….pepaya dan pisang, aku tak berani beli. Mangga??? Mending nanti beli di Indonesia pas lagi musimnya.

Di Maroko,  segala rupa daging ada. Segala jenis roti tersedia.

Tapi aku mau sayur…timun, taoge, kacang panjang, kol, kemangi, tomat dkk. Konon kata mahasiswa di Rabat, kalau mau masak sayur paling hanya ada bayam dan kangkung. Itupun gak selalu tersedia. Aku mau sayur….yang bisa dimakan sebagai lalapan, pecel atau gado-gado. Betapa rindunya akan gemah ripah loh jinawi segala rupa tanaman yang ada di negeriku.

Bukan hanya makanan yang membuat Indonesia nomer satu.

Kapanpun lapar, ada yang jualan. Di dekat rumahku warung penyetan tersebar. Warung bakso dan mie ayam ada. Yang keliling menjajakan bakso, bakwan, rujak cingur, gado-gado, es rujak, masakan matang sampai kerupuk; ada semua.

Dari tadi kok ngomongin kuliner aja sih? ^-^

 

Indonesia lagi

Di negara mayoritas Islam, sebagian orang tidak percaya aku muslim (what???). Padahal aku berkerudung lho! Pasalnya, namaku : Sinta. Sinta identik dengan bahasa sansekerta dan agama Hindu.

Seringkali, melihat waja Asia dan tubuh mungilku, orang langsung menebak : Malaysia?

Aku menggeleng.

“Indonesia,” sahutku tersenyum.

Rupanya Malaysia lebih dikenal sebagian warga dunia, disbanding Indonesia. Parahnya lagi, terutama di Hongkong, waja Indonesia identik dengan BMI (buruh migram Indonesia). Begitu tiba di bagian imigrasi, petugas akan tegas meliat paspor dan lumayan keras memperlakukan mereka yang punya paspor pekerja. Kalau visitor, umumnya mereka lebih ramah. Ya, menjadi bangsa yang bekerja di negeri asing, apalagi sebagai tenaga kasar tentu dipandang sebelah mata. Menjadi pelajar dan peneliti di negeri orang saja sering dianggap remeh, apalagi BMI.

Aku punya pengalaman-pengalaman unik baik yang positif atau negative selama menyandang status warga Indonesia ketiak berada di negeri asing. Namun, aku sungguh berbangga ketika tiba di Maroko.

Sinta dan Rue Sukarno.JPG

Rue Soukarno, Rabat , of Morocco

Di rabat, ibukota Maroko, ada sebuah jalan yang menunjukkan betapa negara tersebut memandang Indonesia dengan mata penghormatan demikian dalam : Rue Soekarno. Jalan ini terletak di tengah kota, dengan latar belakagn benteng merah yang kokoh dan indah mempesona. Terletak dekat gedung parlemen Rabat, bank Maghribi yang sangat artistic, kantor pusat kepolisian dan juga kantor pos serta café-café. Rue Soekarno bukan jalan di ujung gang yang kusam, dengan kendaraan tak beraturan. Rue Soekarno berada di titik yang memungkinkan orang lalu lalang, memandang plang tersebut dan bertanya dalam benak, mengapa presiden Indonesia namanya dipahatkan di negeri orang?

Begitu orang di Maroko mendengar kami Indonesia mereka sontak berkata.

“Indonesia? Good people, good prayer.”

Indonesia dikenal ramah, dikenal baik, dikenal suka menolong, dikenal mudah tersenyum. Walau tentu ada juga hal-hal negative yang tersemat : tidak disiplin, kurang bersih, ceroboh dan sejenisnya.

Sungai Han, Seoul. di Indonesia sungai melimpah ruah

 

Indonesia, aku dilahirkan dan dibesarkan

Aku sangat bersyukur berkebangsaan Indonesia.

Walau sebagian orang mencap negaraku korup, negara kategori berkembang, banyak hutang, banyak masalah; aku tidak bisa bayangkan bila dilahirkan di negara asing. Ya, sesekali sempat muncul pikiran : enak ya kalau tinggal di Malaysia, Korea atau Jepang. Negaranya teratur; rakyatnya disiplin.

Harus kusadari, tidak ada negara di dunia ini yang seperti Indonesia.

Mana negara yang punya pulau terbanyak? Mana negara yang punya laut dan selat sebanyak Indonesia? Mana negara yang punya persediaan air seperti Indonesia? Mana negara dengan hutan, hasil bumi, sebanyak Indonesia?

Aku bahagia punya orangtua Indonesia, yang bersama masyarakat sekitar, mengajarkan aku apa arti penting menyapa tetangga. Beberapa kali ke Hongkong, aku tinggal di apartemen. Aku bertanya teman-temanku, kenalkah mereka dengan tetangga kanan kiri?

“Tidak,” jawab adik-adik FLP.

Di kampungku, di kotaku; kami mengenal siapa tetangga kanan kiri. Siapa tetangga belakang rumah. Siapa pak RT, pak RW, takmir masjid, pemuda karangtaruna. Bahkan suami atau istri keluarga X; siapa anak-anaknya, siapa cucunya. Kami mengenal tukang sayur, tukang bakso, tukang gas dan galon.

Sekalinya ada yang sakit, kami berduyun menengok. Bawa uang atau bingkisan. Jumlahnya tak seberapa, namun ikatannya terasa. Kelahiran, pernikahan, kematian; tetangga dan saudara selalu ada. Cari pembantu? Relative mudah. Kalau pas tidak bisa antar jemput anak, minta tolong teman atau guru di sekolah.

Aku mengagumi kemandirian para lansia di Hong kong , Korea, Jepang.

Namun aku tak bisa bayangkan, kelak di usiaku yang 70 tahun aku hidup sendiri. Guyub nya orang Indonesia membawa kehangatan luarbiasa dalam hati, dalam komunikasi, dalam interaksi, dalam kegiatan keseharian hingga kegiatan kenegaraan. Beberapa kali aku mengikuti acara kantor suami, lagi-lagi, percakapan antara pimpinan dan anak buah; antara sesama teman, antara para istri dan anak-anak berlangsung meriah. Tidak hanya dengan satu dua orang, namun dengan sebagian besar peserta.

Ketika makan malam, buka puasa di daerah Saetgang, KBRI Seoul, kami berkumpul. Mengantri nasi, krupuk dan sop beserta sambal. Mengobrol dengan orang-orang yang baru dikenal. Para tamu Korea terbawa arus suasana. Ikut bergabung walau hanya tersenyum dan tertawa, merasakan kehangatan yang mengalir dari percakapan kami. Dari ekspresi meledak-ledak yang ada di setiap wajah Indonesia di perantauan.

Ada seorang selebriti yang kekayaannya, bisa membuatnya pindah kewarga negaraan. Tapi ia memilih hidup tua di Indonesia.

“Nanti kalau aku tua dan meninggal, nggak ada yang merawatku, memandikanku, menyolatkanku seperti di Indonesia.”

Ah, Indonesia memang negara yang istimewa untuk menjadi tempat kelahiran dan tempat kematian.

Presiden silih berganti. Kepala daerah maju mundur sesuai garis nasib. Rakyat kadang terabaikan, masyarakat kecil sering terpinggirkan. Tetap saja, kami tak ingin meninggalkan Indonesia.

sinta, sawah di karatsu.JPG

Ini Indonesia atau Jepang?

“Ya, karena nggak punya duit!”

Mungkin itu tuduhan orang. Padahal bukan.

Indonesia negeri istimewa yang ditakdirkan Allah Swt memiliki kekayaan luarbiasa, baik SDM maupun SDA. Indonesia negeri istimewa yang dijaga bukan hanya oleh kaum eksekutif, yudikatif, legislative, atau pelaku media sesuai pilar-pilar demokrasi. Indonesia negera istimewa yang dijaga oleh segenap jajaran militer darat, udara, laut dan kepolisian. Indonesia negara istimewa yang dijaga oleh segenap warga negaranya dengan doa, dengan munajat, dengan pengorbanan. Indonesia negara istimewa yang dijaga oleh para alim ulama dengan kerja keras pemikiran, ijtihad, syura dan semangat kebaikan yang terus ditularkan.

Aku berharap, bukan hanya Maroko yang memasang nama Rue Soekarno.

Aku berharp, negara-negara lain di dunia kelak akan memasang nama para pemimpin dan ulama kita di bagian-bagian negeri mereka sebagai penanda bahwa Indonesia, menjadi mercusuar dunia.

 

Iklan

Quiz Cover Novel : Berhadiah Gantungan Cantik dari Jepang

Assalamualaykum warahamtullahi wabarakatuh.

Teman-teman, bloggers dan netizen tersayang,
Silakan ikut kuis di bawah ini. Berhadian 2 gantungan kunci cantik, asli dari Jepang.
Syaratnya mudah, tinggal pilih nomer berapa yang paling sesuai untuk novel saya terbaru, novel semi-biografi seorang tokoh muslim Indonesia yang sukses di dunia Internasional.

Sebagai gambaran, novel ini bercerita tentang seorang pemuda Indonesia yang menjalani hari-hari penuh petualangan di Kyushu Daigaku, Fukuoka. Kerja keras, filosofi hidup yang teguh dijalani, menjadikannya meraih gelar akademis dengan cemerlang, memiliki bisnis sukses di usia muda, dan menjadi pelopor berdirinya masjid pertama kali di pulau Kyushu.

Selain berkisah tentang keunikan menjadi mahasiswa di negeri orang; novel ini juga novel romance dengan setting tempat-tempat menawan di Jepang seperti Ohori koen, Aso Mountain, Karatsu.

Tokoh-tokoh dalam novel ini berbeda dari nvoel-novel saya yang sebelumnya.

Terutama tokoh Keiko, gadis Jepang yang memiliki tanda unik dua guratan di pergelangan tangan, menaruh hati pada Tyo sang tokoh utama dan karena keduanya sama-sama brilliant memiliki kegilaan dan ambisi yang mirip.

Beberapa pilihan cover Rumah Kayu Tanotsu

Beberapa pilihan cover Rumah Kayu Tanotsu

2 gantungan kunci untuk 2 pemenang

2 gantungan kunci untuk 2 pemenang

Ditunggu hingga 22 Desember 2015 ya !

Sarha Palestina & Solitaire Fukuoka

Raja Shehadeh, penulis Walk on the Vanishing Land menceritakan, kebiasaan yang ditanamkan orang-orang Palestina pada para pemuda : Sarha. Sarha adalah pengembaraan seorang diri, menelusuri padang pasir dan jalan-jalan bebatuan untuk berkunjung ke rumah salah seorang kerabat. Kakek, nenek, paman, bibi atau seorang kenalan dari keluarga. Bukan destinasi yang menjadi patokan, tapi untaian kekayaan yang dirangkum sepanjang perjalanan.

Ayah dan anak di tepi laut Mediterrania, Gaza

Ayah dan anak di tepi laut Mediterrania

Melintasi padang pasir, sebuah perjalanan berbahaya menghadapi ular atau kalajengking. Selain ketrampilan teknis yang dibutuhkan untuk survival, Sarha membantu para pengembara mengamati apa yang selama ini lewat dari indera . Suara angin, butir-butir pasir yang beterbangan, gerakan binatang melata. Belajar menangkap gerakan alam yang paling halus, berarti belajar mendengarkan apa yang mungkin terlewatkan.

Kata “panas” dapat berarti air mendidih di suhu 100º celcius, demam tubuh, semangkok bakso yang nikmat, atau justru alert emosi sesaat sebelum meledak menjadi agresivitas. Bagaimana panas gurun pasir?

Panas yang membentang antara Cairo- Iskandariah- El Arish -sesaat sebelum memasuki gerbang pendek paling ganas sedunia : Rafah- adalah panas yang mengandung makna perjalanan. 6 jam perjalanan Cairo -El Arish, landscape gurun kuning emas yang membuat isi perut teraduk dan sebagian tim melelehkan darah dari lubang hidung. Tak ada warna lain dari cakrawala selain bentang biru langit, garis hitam pembatas serta daratan sewarna korona matahari. Terguncang dalam mobil yang makin lama makin menghangat oleh cuaca gurun dan ketakutan; hati makin menciut serta dinding keberanian yang makin lama makin runtuh : mampukah tim kecil ini tiba di Gaza? Cukupkah kami memiliki kenekatan untuk menembus Rafah setelah perjalanan panjang yang menguras energi, tenaga, dan mulai memunculkan air di sudut-sudut mata ini?

Tuhan!
Jika mungkin, putar saja mobil ini kembali ke Cairo dan biarkan kami menikmati tidur nyenyak di Wisma Nusantara.

Tapi inilah Sarha.
Terkadang jiwa manusia memiliki rahasia paling tersembunyi.
Seperti apakah kematian?
Seperti apa pedih dan penderitaan?
Dan seberapa jauh manusia mampu mendekati titik didih?

Setelah panas panjang dan rayuan kehidupan yang nyaris tak terelakkan…
Ahya.
Sebelum memasuki Rafah, kota indah yang kami kunjungi adalah El Arish.
Kota mewah, dengan mansion-mansion tepi laut safir meditterania, dinding-dinding warna kelabu mutiara dan bebungaan musim panas yang menjuntai di pagar-pagar. Hidup terlalu nikmat untuk ditukar dengan perjalanan kematian yang melelahkan.

Untunglah, Sarha tak pernah salah meloloskan pelaku.
Semoga.
Sekali lagi, setelah pengurusan visa yang liat, check point demi check point yang menegangkan, Rafah Mesir menjadi tembok terakhir yang menjulang dalam kekejaman, diam dan kepongahan. Tim kami, menjadi kelompok paling akhir yang diizinkan masuk setelah perselisihan yang menegangkan urat leher.
Hari itu, suatu senja yang damai di Palestina, sembari mendorong kopor berdebu dan menyeret langkah kaki yang menyembunyikan jari jemari lecet , Sarha ini menemukan sepetak kecil tanah, yang merupakan irisan surga.

Rafah Gaza Palestina, sangat bertolak belakang dengan Rafah Mesir.
Bagaimana mungkin sebuah wilayah kecil yang terpisah oleh tembok pembatas, memiliki pantulan cermin yang berbeda?

Sarha panjang Indonesia-Singapur-Mesir-Gaza terbayar ketika senja itu, kami disambut oleh kaum lelaki paling tampan sedunia. Berpakaian jas hitam sederhana, berbaris menanti dalam kesabaran dan senyum hangat tulus.
Bercucuran airmata untuk sekian kali.

Jadi inikah, legenda abadi tanah Anbiya, para penghafal Quran yang menjaga kaum muslimin dan setiap jengkal tanah Palestina? Wajah penuh cahaya, kharisma yang menggetarkan lawan bicara.
Jadi inilah mereka, yang menjamu tetamu dengan secangkir shai, ketika mereka berpuasa. Jadi inilah mereka, membiarkan kami tidur terlelap sementara mereka bergerilya dari satu gang ke gang lain , memastikan kaum muslimin aman. Inilah sepetak negeri yang terblokade, hanya memiliki beberapa jam sehari untuk menyalakan listrik, namun semangat untuk tetap hidup dan berbuat bagi ummat terus menyala.

Betapa inginnya kami tetap tinggal.
Betapa inginnya memilih salah satu dari Khan Younis, Deir al Balah atau Jabaliyah.
Tentu, setiap saat rudal atau bom dapat meledak di setiap tempat.
Namun kebahagiaan Sarha ini tak terbayangkan. Aroma zaitun dan tiin. Debur pantai Aizbah. Quran yang menyatu dalam denyut keseharian.

Namun bukan itu tujuan Sarha.
Sarha bukanlah pengembaraan tanpa tepi.

Siluette Kastil di malam hari

Siluette Kastil di malam hari

Perjalanan menikmati Karatsu dan Fukuoka ini adalah sebagian kecil dari Sarha.
Suasana damai dan serba teratur, perpaduan tradisional dan metropolis yang demikian apik. Mobil-mobil berbaris rapi di belakang garis zebra cross, tepat di belakang lampu merah. Pejalan kaki dan pesepeda bak raja. View gedung bertingkat, mall, jembatan kokoh, dengan latar belakang pegunungan hijau dan perbukitan zamrud. Keindahan Nagoya Castle dan Karatsu Castle yang terpelihara seiiring teknologi maju produk pertanian yang dipasarkan di Karatsu Umakamon Ichiba. Sakura yang meranggas dan momiji yang akan beralih warna menjadi saga. Anak-anak kawaaii bertopi kuning yang lincah, menenteng bento , berlarian dalam penjagaan kakak-kakak kelas mereka di sekolah dasar.
Harmoni.

Sarha mungkin berarti pencarian.Mungkin berarti pencerahan. Adventure and pleasure. Namun bukan berarti seseorang tak kembali dari pengembaraan.
Kenikmatan menyepi di gurun pasir, mendengarkan angin dan memuaskan ego tanpa pernah berbenturan dengan masalah; itukah buah dari pengembaraan? Sepertinya bukan. Sarha mendewasakan seorang anak manusia, membuatnya mengetahui tugas-tugas perkembangan yang harus dikuasai, demi menghadapi masa dewasa yang mengharuskannya mengambil alih sebuah peran. Sarha tidak menjadikan seseorang solitaire -hidup menyendiri- sekalipun untuk memahami makna lebih dalam , terkadang memang harus dilakukan dalam kesunyian.

Manusia membutuhkan saat-saat untuk menyendiri. Hal pertama yang harus dilakukannya adalah mencintai dirinya sendiri terlebih dahulu, bukan dalam rangka mencari pleasure atau menancapkan power, tetapi untuk memahami dimana letak dirinya dalam konstelasi alam semesta. Mendengarkan suara-suara dari dalam diri sendiri, dari batin terdalam, memahami harapan dan kecemasan; bahkan mungkin hal-hal paling absurd dan paling ekstrim, mungkin perlu dilakukan. Bila seseorang tak memahami dirinya sendiri, ia akan sulit memahami potensi-potensi luarbiasa yang dititipkan sang Khaliq. Terkadang, jalinan waktu menciptakan kerumitan yang meninggalkan jejak dalam hingga seseorang sulit bernafas.

Percayalah, usai Sarha seseorang seharusnya menemukan kekuatan.
Bila dulu, ia tak menyadari memiliki kekuatan emosi, maka sekarang ia menemukannya. Bila dulu tak memiliki kekuatan fisik, maka sekarang ia harus melatihnya. Bila dulu, ia bahkan tak merasa punya kekuatan apa-apa , maka sekarang ia harus menemukannya.

Seorang penulis, membutuhkan Sarha setelah menyelesaikan sebuah buku. Ia harus berburu referensi, membaca kembali karya-karya canon sastrawan dunia, menemukan titik cahaya seperti yang dikatakan Imam Ghazali, merumuskan outline, menuangkan gagasan, menemukan hikmah, menafsirkan sebuah peristiwa dan meramunya dalam kalimat-kalimat bermakna. Maka Charles Dickens mengingatkan, setelah seseorang lelah dalam setiap pengembaraan kehidupan, yang ia perlukan adalah berjalan-jalan. Hiduplah dalam imajinasi, nikmatilah khayalan, tapi segeralah bergabung dalam kenyataan.

Bila tidak, hidup akan menjadikanmu split personality.
Nikmati Sarha. Resapi kenikmatan sang penyendiri, si solitaire yang berkelana.
Lalu jalani realita yang kaya akan makna.
Mudah?
Tidak juga.

Lalu bagaimana seseorang mampu bangkit dari penderitaan yang panjang?
Kisah Muhammad al Fatih, penakluk Konstantinopel ini mungkin dapat dijadikan acuan. Ketika ia kalah dalam pertempuran laut yang membumi hanguskan armada, nyaris putus asa al Fatih meminta petunjuk syaikh Aq Syamsudin. Sang syaikh memberikan 3 nasehat : pertama, setiap pemberian Allah setara dengan upaya . Kedua, hukum orang-orang yang tak taat dan berbuat kerusakan.
Ketiga?
Nasehat terakhir inilah yang membawa kemenangan al Fatih.
“Pelajari titik kekalahanmu, sebab disitu kunci kemenanganmu.”

Fatih kalah dengan armada laut yang hancur lebur. Di titik itulah, ia bangun armada dengan versi berbeda yang menghantarkan Muhammad II bergelar al Fatih.

Bila, seorang manusia menemukan titik kelemahannya, menjadikannya titik konsentrasi untuk bangkit; maka ia akan menemukan jawaban atas kekalahannya selama ini.

#10 Karatsu : 10 Destinasi Menarik di Farming City

6. Hikiyama Exhibiton

Hikiyama Exhibition : giginya seharga 5 Milyar :D

Hikiyama Exhibition : giginya seharga 5 Milyar 😀


Hikiyama

Hikiyama


Karatsu Kunchi Festival : sejak 100 th lalu

Karatsu Kunchi Festival : sejak 100 th lalu

7. Karatsu Jinja Temple

Karatsu Jinja Temple : cara memakai air

Karatsu Jinja Temple : cara memakai air

Pohon harapan

Pohon harapan

ohon harapan Karatsu Jinja

ohon harapan Karatsu Jinja

Gerbang Karatsu Jinja Temple

Gerbang Karatsu Jinja Temple

8. Karatsu Ginko (Museum Bank Karatsu)

Karatsu Kinko dan Bapak Kitajima

Karatsu Kinko dan Bapak Kitajima

Karatsu Kinko Museum

Karatsu Kinko Museum

Brankas kuno

Brankas kuno

9. Toko souvenir Alvino ; Karatsu Shi, Shinkou

Alvino, Karatsu Shi, Shinkou

Alvino, Karatsu Shi, Shinkou

10. Kafe Kazuko Tei

Tempura di Cafe Kazuko Tei, Karatsu

Tempura di Cafe Kazuko Tei, Karatsu

#9 Karatsu : 10 Tempat Menarik dalam Sehari


1. Mikaeri No Taki atau Mikaeri Waterfall

Mikaeri Waterfall : Nonaka, Sinta Yudisia, Nyoman Heru, Nunik, Rizaldi, Aswi (belakang) Sinta Rani

Mikaeri Waterfall : Nonaka, Sinta Yudisia, Nyoman Heru, Nunik, Rizaldi, Aswi
(belakang) Sinta Rani

Jembatan "bunga"

Jembatan “bunga”

Mikaeri Waterfall & old people romance

Mikaeri Waterfall & old people romance

Lovely Waterfall

Lovely Waterfall

2. Karatsu Umakamon Ichiba – Farmer’s Market

Surprising Karatsu Umakamon Ichiba!

Surprising Karatsu Umakamon Ichiba!

Pasar bunga cantik, Karatsu 1

Pasar bunga cantik, Karatsu 1

Pasar bunga yang dikemas cantik

Pasar bunga yang dikemas cantik

Mungil dan cantik :)

Mungil dan cantik 🙂

3. Karasushi Restaurant

Karasushi : memilih menu berjalan :D

Karasushi : memilih menu berjalan 😀

Menu lezat berjalan : ambil cepat!

Menu lezat berjalan : ambil cepat!

Bismillah...sushi dengan kecap Azhar Halal Food

Bismillah…sushi dengan kecap Azhar Halal Food

4. Nagasaki Sou

All in Yukata

All in Yukata

Aswi & Yukata

Aswi & Yukata

Rizaldi : our warrior!

Rizaldi : our warrior!

5. Karatsu Castle

Beautiful landscape

Beautiful landscape

Taman Istana

Taman Istana

Denah istana

Denah istana

Sudut pandang atas

Sudut pandang atas

#9
#Karatsu
#Jepang

Enjoy the Journey to Enlightment 🙂

#8 Obrolan menuju Karatsu & Fukuoka : Istri-istri Istimewa

Perjalanan 12 jam lebih menuju Fukuoka hari itu membuahkan rasa kebersamaan dalam tim yang beranggotakan 6 orang : saya, mbak Nunik dan mbak Sinta Rani dari Aquilla tour & travel, Beli Nyoman dari Depok , Rizaldy dari Jejak Imani dan bang Aswi blogger FLP.

Perjalanan menuju Hongkong, mbak Nunik, mbak Sinta Rani dan Beli Nyoman menjadi teman yang seru . Perjalanan menuju Fukuoka, bang Aswi menjadi guru. Sepanjang waktu berjalan, banyak sekali mendengar kisah romantis yang membangun kesatuan jiwa sepasang suami istri. Romantisme tak selalu berarti cinta menggebu, cinta arousal atau cinta yang dibumbui rayuan serta hadiah. Romantisme adalah ketika pasangan mampu meneguhkan paradigma ini : Behind the great man, standing the great woman.

The first duty of love is to listen

The first duty of love is to listen

Kisah pertama, Beli Nyoman adalah seorang ayah dari 3 orang anak. Ia lulusan Teknik Informatikan Gunadarma yang menekuni dunia media. Bidang usahanya membangun jaringan media online. Sebagai seorang individu yang menjadi kepercayaan orang nomer 1 di Depok saat ini, Beli Nyoman seharusnya dapat hidup mewah. Namun cara berpakaiannya, kendaraan sepeda motor yang digunakannya, mengeduhkan dirinya sebagai pribadi sederhana. Beli Nyoman bercerita, ia bersyukur bekerja di lingkungan saat ini yang dikelilingi oleh orang-orang yang membuatnya mampu menjaga agama Insyaallah.

Ia, sebelumnya tidak bekerja di Depok, tapi di luar Jawa.
Langkah-langkah kakinya, ternyata dipandu mercuar doa sang istri tercinta yang senantiasa berucap menuju langit, “ Ya Allah, jadikanlah suami berteman dengan orang-orang yang sholih.”

Ahya. Terkadang, seorang istri lupa mendoakan suaminya. Kebutuhan akan nafkah, membuat seorang perempuan lebih sering berdoa meminta rizqi halal, anak-anak sholih dan lupa mendoakan suaminya, sang Qowwam keluarga, menjadi orang yang sholih.

Love

Love

Kisah kedua, adalah kisah bunda Nur Azizah, istri Nur Mahmudi Ismail, walikota Depok periode hingga 2016. Terpilih dua periode sebagai walikota Depok, tak membuat keluarga Nur Mahmudi meninggalkan sifat kesederhanaan. Pakaian, kendaraan, kebiasaan sehari-hari. Tentu, tak mungkin seorang lelaki meraih demikian banyak penghargaan tanpa dukungan keluarga terutama sang istri. Menurut kisah seorang teman, bila dalam perjalanan mengendarai mobil dan bunda Nur Azizah ikut di dalamnya, beliau tak banyak bercakap-cakap. Saat naik mobil, yang dilakukannya kemudian adalah : membuka al Quran. Membacanya. Ya, bunda Nur Azizah adalah seorang hafidzah.

Kesederhanaan berimbas pada banyak hal, termasuk perkara-perkara kecil. Sebagai istri pejabat, bisa saja bunda Nur berbelanja barang berlebih ketika menuju satu daerah, namun itu tak dilakukannya. Ketika mengunjungi satu tempat, disediakan minuman air botol kemasan, ia tak akan meninggalkan sisanya dan membuangnya, namun akan menyimpannya. Dalam perjalanan, ketika haus, maka cukup air minum yang masih tersisa tadi yang digunakan melepas dahaga.

Pasangan serasi yang melengkapi dan menguatkan.
Anda tentu ingat mengapa Louis XVI diseret ke guillotine, bukan? Tak lain karena Marie Antoinnette gemar berpesta dan membeli pakaian mewah serta permata. Satu kalung berlian Marie Antoinnette yang berkadar 2600 karat, jika dikurskan sekarang sama dengan harga satu kapal perang USS Marine!

Kisah ketiga, dari sahabat unik saya, bang Aswi the biker and blogger.
Kecintaannya pada dunia menulis, mendapatkan dukungan penuh dari sang istri.
Sebagian besar orang menganggap remeh pekerjaan menulis. Berapa sih uang yang didapat dari menulis? Namun pasangan Aswi dan Umi memilih untuk mensyukuri apa yang ada, sebab bila menunggu kata “cukup” tak akan pernah ada habisnya. Salah satu senjata untuk men”cukup”kan apa yang ada adalah dengan bersedekah. Bagi Umi, memiliki uang Rp.20.000 berarti dapat disedekahkan Rp.15.000. Berapa banyak para istri yang mengeluhkan gaji suaminya yang tak cukup, sekalipun setiap bulan sudah mendapatkan pemasukan rutin.

Keywords dari istri-istri istimewa di atas adalah :
doa, Quran dan sedekah.

Masih ada kisah istri istimewa yang lain. Simak nanti ya!

#8
#Karatsu
#Fukuoka
#Jepang

Enjoy the Journey to Enlightment 🙂

#7 Vessel Hotel & Udon Westo : Next Journey to Karatsu

Tiba di Taipei pukul 15.05.
Pesawat dijadwalkan berangkat ke Fukuoka jam 17.25.
Masih cukup waktu untuk jalan-jalan dan foto-foto, pikir kami.
Ternyata, keberangkatan yang seharusnya di A8 diubah ke D1, yang jaraknya cukup jauh. Lagipula, kami lupa memperkirakan bahwa ada selisih waktu antara Indonesia dan Jepang!

Indonesia dengan Hongkong dan Taipei, selisih 1 jam. Jika di Indonesia jam 03.00 maka waktu di Hongkong atau Taipei jam 04.00. Jadi, ketika tiba di Taipei pukul 15.05 seharusnya waktu ditambahkan, kedatangan sekitar pukul 16.00 waktu Taipei. Ditambah foto-foto selfi hampir di setiap sudut, perubahan tempat dan masih harus mencari-cari dimana D1 yang harus ditempuh dengan skytrain, ternyata petugas memberitahukan kami bahwa pesawat ke Fukuoka boarding!

Bandara Internasional Taipei

Bandara Internasional Taipei

Haa? 17.25?
Tak terasa 2 jam untuk ke kamar mandi, berfoto dan jalan kaki kesana kemari!
Untung bersama rombongan, kalau tidak, panik setengah mati. Setidaknya, kalau terpaksa terdampar di Taipei, terdampar berombongan, hehe….

Makan malam moslem meal yang disuguhkan China Airlines, kali ini tak habis disantap. Mungkin karena kami mulai kelelahan, jetlag, terkantuk-kantuk namun sulit tidur; makanan seenak apapun terasa hambar. Yang nikmat dikunyah di mulut hanyalah buah, pudding dan kopi panas. Tak terasa, 12 jam lebih menyusuri kanopi langit, menggilas gumpalan awan dengan burung besi yang terkadang menggeletar naik turun saat bertubrukan dengan pusaran angin.

Sekitar 2 jam kemudian, Alhamdulillah wa syukurillah…kami mendarat di Fukuoka International Airport kurang lebih jam 19.30. Antrian panjang di imigrasi mengharuskan rombongan kami bersabar. Mata berkungang, kepala panas, jari jemari kaki serasa membesar ukurannya. Untung, di ruang tunggu pak Barkah dan pak Kenji Nonaka telah menunggu dengan senyum lebar.

Pastinya, mengurus tamu-tamu bukan perkara mudah.
Namun pak Barkah dan pak Nonaka bersabar mengantar kami check in di hotel Vessel, Fukuoka, mengajak berkeliling Fukuoka untuk melihat kehidupan malam yang penuh gairah dan kegiatan hari itu ditutup dengan makan di Westo Udon jalan Chiyo. Semangkok udon berkisar 620 yen. Menghabiskan menu mangkoksebesar itu alamaaak….untung saya, mb Nunik dan mbak Sinta Rani hanya memesan 2 mankok yang dimakan bersama. Itupun masih tersisa lumayan.

Semangkok Udon

Semangkok Udon

2 mangkok bertiga

2 mangkok bertiga

Maaf Mas...difoto :)

Maaf Mas…difoto 🙂

Lapar banget yak?

Lapar banget yak?

Hari yang sangat melelahkan, namun juga penuh catatan pengalaman.
Arigato gozaimasu semua 🙂

#7
#Karatsu
#Fukuoka
#Jepang

Enjoy the Journey to Englightment 🙂