Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Bedah Buku Sinta Yudisia Karyaku Kyushu Mancanegara Remaja. Teenager

Mental Health Issues (1) dalam Polaris Fukuoka

Depresi. Suicidal thoughts atau pemikiran bunuh diri.

Aku berharap, novel Polaris Fukuoka dapat menjadi jembatan budaya remaja Indonesia- Jepang sekaligus membuat pembaca memahami seluk beluk depresi.

Dulu, sangat jarang menemui orang depresi atau orang yang ingin bunuh diri.  Sekarang, banyak sekali orang tua, bahkan remaja dan anak-anak yang merasa tertekan hidupnya karena tuntutan akademis atau tuntutan tak realistis dari lingkungan sekitar. Anehnya lagi, depresi yang berujung pada pemikiran bunuh diri tidak lagi didominasi oleh orang-orang dengan pendidikan rendah atau ekonomi kelas bawah. Mereka yang pintar, dari kalangan berada juga terancam gangguan mental yang mengerikan ini!

Selain paparan media sosial dan kehidupan kompetitif yang tak sehat, memang ada kultur-kultur tertentu yang turut memicu tekanan dalam diri seseorang.  Di novel Polaris Fukuoka yang bersetting budaya Jepang, beberapa point itu kuangkat.

  1. Budaya timur, termasuk Indonesia dan Jepang, sangat menghormati orangtua terutama ayah ibu. Hal ini tentu baik, mengingat dalam agama Islam pun, kewajiban berbakti pada orangtua menempati urutan teratas sesudah taat kepada Tuhan. Namun, bila komunikasi nggak berjalan lancar, anak bisa tertekan. Sebagaimana Yamagata Isao dan adiknya Yamagata Nozomi. Isao berakhir bunuh diri setelah berkali-kali membuat puisi jisei, puisi bertema kematian. Orangtua yang sukses tidak selalu mewariskan ketenangan hidup bagi anak-anaknya. Kadang, orangtua justru ingin anak-anaknya melanjutkan kesuksesan finansial yang telah dibangun puluhan tahun. Pilihan bakat minat, pilihan sekolah, pilihan akademis pada akhirnya ditentukan orangtua demi keberlangsungan kemapanan finansial. Keluarga Yamagata memaksa Isao dan Nozomi menekuni bidang ilmu tertentu – sesuatu yang sangat jauh dari minat bakat Isao dan Nozomi. Jadi, meskipun kewajiban patuh pada orangtua harus tetap berlaku, orangtua harus mencoba memahami keinginan anak-anaknya. Begitupun, anak-anak harus mencoba untuk menyampaikan apa harapan mereka, meskipun pada akhirnya entah orangtua atau anak harus mengalah salah satu.

2. Diam itu anggun dan kuat. Budaya timur meyakini ini, bahwa masalah harus dipendam rapat-rapat. Jangan sampai orang tahu! Padahal , ada orang-orang yang memang memiliki tipe kepribadian pencemas, disagreeableness, introver yang lebih senang memendam masalah sendiri. Memendam masalah lo ya – bukan memendam solusi. Sehingga, suatu saat ketika nggak kuat akan meledak. Entah itu bentuknya melukai orang lain atau melukai diri sendiri. Mencoba berteman dan bercerita pada orang lain merupakan salah satu solusi seperti persahabatan Sofia dan Nozomi, juga Sofia dan Tatsuo.

3. Komunikasi itu nggak gampang. Kadang harus ada ledakan dan api. Tapi nggak papa, sebab nanti ledakan itu perlahan akan mereda menjadi abu dan debu. Jangan takut ledakan, sebab sedang membangun jembatan pemahaman. Sofia yang tinggal bersama om Hanif, pamannya; seringsekali berantem demi mencoba mencocokkan apa yang ada di isi kepala mereka berdua.

Kebetulan, akhir tahun 2019, tepatnya 31 Desember 2019, aku diminta UI- IBF untuk membedah novel Polaris Fukuoka dalam kaitannya dengan mental health issue. Beberapa novelku memang mengangkat tema kesehatan mental dan bagaimana cara menghadapinya.

Nah, di bawah ini adalah beberapa link review Polaris Fukuoka yang bisa disimak, ya.

http://ellcheese.blogspot.com/2019/03/review-novel-polaris-fukuoka-by-sinta.html

http://nurin-light.blogspot.com/2018/10/polaris-fukuoka.html

https://rayescapingmadness.wordpress.com/2018/04/13/kind-of-book-review-polaris-fukuoka/

Mencoba berteman dan bercerita pada orang lain merupakan salah satu solusi seperti persahabatan Sofia dan Nozomi, juga Sofia dan Tatsuo (Polaris Fukuoka)

Kategori
KOREA Oase Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Remaja. Teenager WRITING. SHARING.

Antara Sulli f(x) dan Hatsune Miku

 

 

Baru beberapa pekan yang lalu saya merenungi sebuah channel video Youtube tentang Hatsune Miku. Saya bolak balik menonton Is Hatsune Miku a Better Pop Star than Justin Bieber? Dalam video tersebut, Chris Plante menceritakan bahkan interaksi seorang bintang dengan para fansnya bisa sangat positif, bisa sangat negatif. Plante mengisahkan tentang Bieber, seorang bintang muda yang manis dan memiliki jutaan penggemar. Tetapi dunia entertainment melibas masa mudanya, melihatnya sebagai tambang uang dan para pemuja Bieber tidak memberikan celah bagi Bieber untuk berbuat ‘salah’. Akibatnya, Bieber yang kita kenal sekarang berbeda dengan Bieber yang mempopulerkan lagu Baby.

Hatsune_Miku.png
Hatsune Miku

Kita tentu menunggu-nunggu berbagai moment para selebritis dunia menampikan sisi terbaiknya, misal di karpet merah Oscar. Mereka yang berpenampilan bagus mendapatkan pujian, yang berpenampilan tak menarik mendapat banyak hujatan. Padahal belum tentu yang berpenampilan tak menarik itu sengaja tak memilih style, hanya saja ia berseberangan dengan orang kebanyakan. Hujat menghujat sudah lazim dilakukan netizen. Dengan bahasa sopan, hingga bahasa sangat menyakitkan.

Konsumen sekarang bukan hanya melahap lagu dan film para artis. Semua kehidupan pribadinya, juga dikonsumsi habis-habisan. Kemana dia belanja, kemana dia menyekolahkan anak, menghabiskan liburan di mana, sampai ke area paling pribadi : kenapa dia pacaran dengan si X, kenapa dia menikah dengan si A, kenapa dia memutus kontrak, kenapa dia keluar dari agensi?

Padahal bisa jadi masalahnya sangat pribadi.

Misal, seorang bintang merasa kelelahan –lahir batin- ketika harus menggelar konser. Tak heran banyak mereka yang terkena substantial abuse , mengingat dalam kondisi lelah dan sedih pun mereka harus tampil ceria di publik. Kita, orang biasa, enak aja. Kapan mau marah, kapan mau nangis, kapan mau cemberut. Emang ada yang peduli? Paling yang protes cuma pasangan dan anak-anak. Para bintang itu boleh jadi punya alasan sangat pribadi tentang dunia yang dipilih atau ditinggalkannya, alasan yang tidak bisa diungkap ke publik. Siapa yang tahu apa yang sebenarnya terjadi pada pernikahan Song Jong Ki dan Song Hye Kyo?

Saya masih ingat, bintang favorit saya di film X-File , Gillian Anderson, pernah tertangkap paparazzi tidak mencukur bulu ketiaknya. Ya, namanya dia lagi belanja dan  liburan. Bukan main sadis para jurnalis dan pengkritiknya. Sebagaimana Aishwarya Rai ketika menjadi gendut sehabis melahirkan. Perempuan yang pernah meraih  predikat tubuh terindah ini langsung dihabisi netizen. Untungnya, banyak warga India yang membelanya dan mengatakan : di kultur kami, sangat biasa seorang ibu menjadi gemuk. Maka saya nggak heran, melihat betapa stressnya para bintang pasca melahirkan, bahkan ia baru sehari dua hari melahirkan sudah harus menggenjot sepeda statis agar perutnya cepat langsing. Bukankah itu yang membuat Brooke Shield juga mengalami post partum depression? Sepanjang ia hamil yang melelahkan hingga punya anak, tak henti-hentinya dunia luar ingin tahu seperti apa beritanya.

Desember 2017, saya menuliskan tentang kematian Jong Hyun , salah seorang personel Shinee. Setiap kali menulis di blog tentang Korea, kisah tentang dirinya kerap ter-link begitu saja. Sedih itu masih terasa. Apalagi saat itu tak beda jauh dengan kematian Chester Bennington.  Secara pribadi saya tak mengikuti instagram atau twitter dari Bennington, Jong Hyun atau Sulli. Tapi sebagai seorang psikolog yang sering mendengar keluhan anak muda tentang kerasnya dunia media sosia, dapat kita bayangkan apa yang dihadapi para artis dunia. Terutama, artis muda macam Sulli. Fisiknya, perilakunya, pilihan bajunya, pilihan pasangan cintanya, karirnya, semuanya ada di bawah pengawasan netizen. Label manajemen sendiri sudah merupakan tekanan luarbiasa, apalagi ditambah tekanan dari berbagai pihak.

Sulli Young.jpg
Sulli Young : demikian cantik dan lucunya :”(

Kejadian Sulli, semoga yang terakhir kali terjadi. Seorang gadis muda yang masih mempunyai jalan panjang kehidupan, hancur berkeping tanpa ia tahu ke mana harus mengadu. Ia baru 25 tahun, kehidupan yang panjang terhampar di hadapannya. Apalagi Sulli memiliki banyak fans (dan juga haters, tentunya), tentu pilihan Sulli tentang apapun termasuk pilihan mengakhiri hidup akan menjadi sebuah berita yang sangat rentan untuk dikonsumsi.

Apa yang bisa dilakukan sebagai netizen dan warga dunia seperti kita?

  1. Kalau kita fans seseorang, gunakan selalu kata-kata bijak untuk mendukungnya. Katakan semangat, pantang menyerah, kamu luarbiasa, kamu inspiratif dan seterusnya.
  2. Kalau kita bukan fansnya, tak usah kepo dengan IG atau twitternya. Saya nggak ngefans si X dan Y, gak perlu follow atau stalking. Jadi gak perlu terlalu sering melihat postingan mereka. Kenapa? Karena nanti saya akan terbakar untuk ikut julid, menghakimi. Mending saya follow akun Sacha yang sering mengkoreksi englishnya para Seleb.
  3. Kalau kita tergabung dalam sebuah komunitas seperti ARMY fans BTS, Carat fans Seventeen, EXO-L fans EXO, Blink fans Blackpink, Reveluv fans Red Velvet atau apapun itu; mari lakukan gerakan-gerakan yang menghimbau pada kepedulian terhadap sesama. Misal, 10 Oktober tempo hari diperingati sebagai World Mental Health Day atau Hari Kesehatan Mental Sedunia. Tema tahun ini sangat spesifik : Suicide Prevention. Sedih sekali, bahwa Sulli justru harus menjadi salah satu korban suicide yang sedang kita perangi.
  4. Interaksi kita dengan dunia maya memiliki dinding setipis udara. Tak terlihat, tapi besar pengaruhnya. Rasanya ringan saja membully orang, lalu meninggalkannya dalam keresahan, gegara kita toh tak akan pernah bertemu fisik dengannya. Padahal, di semesta ini terjadi hukum law of attraction : setiap yang kita lakukan, ibarat pendulum, akan balik mengenai kita lagi. Jejak yang kita tinggalkan di IG, twitter, youtube channel siapapun semoga menjadi jejak baik yang suatu saat akan kembali ke kita lagi.

 

Yah, kembali ke pemaparan Chris Plante.

Kelak, mungkin saja kita harus mengganti semua artis dunia dengan sosok Hatsune Miku. Hatsune Miku popular dengan lagu Ievan Pollka, lagu yang sering diputar di sekolah dan acara pelatihan sembari melakukan senam Pinguin. Tahu kan siapa dia? Bukan manusia, bukan makhluk hidup, bukan boneka, juga bukan robot. Ia ‘hanya’ aplikasi sehingga tak merasakan sedih, susah, tersinggung, apalagi depresi. Miku punya jutaan fans. Lagunya digemari. Sosoknya dinanti. Konsernya buat orang antri. Para gadis membuat duplikasi. Walau ada yang pro kontra dengan Hatsune Miku, no problem. Ia tak punyarasa, tak punya raga, tak punya nyawa. Pendek kata, tak punya kehidupan. Maka Miku juga tak punya  masalah.

Kita prihatin dengan kehidupan para pesohor yang dipuja tapi juga rentan oleh berbagai masalah. Mereka juga manusia seperti kita. Mereka juga punya orangtua dan saudara seperti kita. Terlebih lagi, sebagai manusia kita saling terhubung satu sama lain. Boleh jadi Sulli sama sekali tidak masuk dalam lingkaran perhatian kita, tetapi bagaimana dengan anak-anak dan murid-murid di luar sana?

 

Sulli f(x).jpg
Sulli f(x) yang cantik dan begitu muda

 

 

Tidak dipungkiri, salah satu yang membuat Sulli merasa demikian berat adalah serangan para haters di media sosial. Setiap label manajemen, manajemen artis di manapun, baik di Korea dan Indonesia harus punya konselor atau psikolog khusus yang rutin mendampingi dari waktu demi waktu demi membangun mental sehat. Terlebih dalam situasi krisis seperti pemasaran yang anjlok, pembubaran grup, kesulitan karir, tak kunjung debut atau ada konflik internal, termasuk timbulnya permasalahan keuangan, keluarga dan permasalahan cinta. Persoalan di atas lazim terjadi pada banyak kasus, terlebih bagi artis. Perlu ada manajemen psikologis bagaimana mengelola interaksi dengan media sosial termasuk interaksi dengan para fans dan haters agar dapat dibangun lebih produktif.

Pada akhirnya, kita sendiri harus dapat membangun dunia yang sehat dengan media sosial. Fans dan haters kita boleh jadi tak sebanyak Sulli. Tapi bisa jadi kehidupan keseharian kita sudah sama satu dengan yang lainnya : tidak ada lagi dinding tebal di rumah, semua dapat menembus masuk dan keluar lewat media sosial. Apa yang realistic dan un-realistic sudah kabur, tak ada batasnya sama sekali. Bahkan, konon kabarnya, otak saat ini sudah tak dapat membedakan mana yang fiksi dan mana yang nonfiksi, saking banyaknya terperangkap dalam dunia maya yang merebut sebagian besar dunia nyata kita. Ketika dunia maya terasa lebih dominan, maka apa yang nyata terasa tak ada artinya. Hujatan fans di medsos sejumlah ribuan bisa membebani pikiran (padahal belum tentu orangnya sebanyak itu, karena bisa jadi memakai akun palsu), sementara dunia nyata yang menghadirkan seorang teman, sepasang orangtua yang senantiasa mencintai, seorang kakak atau adik yang menemani,  serasa tak ada arti.

Dunia maya, seperti namanya, maya. Ia tak nyata. Ghaib. Tak dapat diraba.

Yang nyata, tampak, teraba dan terasa jauh lebih berharga. Seperti kehidupan kita. Seperti keluarga dan teman-teman nyata. Jumlahnya tak banyak. Teman nyata kita mungkin cuma 5, sementara teman FB atau IG ada 5000. Tetapi yang 5 itu lebih nyata dibanding 5000. Penting bagi manusia untuk membangun relasi dengan teman nyata lebih sering, daripada dengan teman maya.

Sulli yang cantik, semoga kisahmu menjadi pelajaran bagi banyak orang.

 

 

 

Kategori
Oase Pernikahan Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Remaja. Teenager Suami Istri WRITING. SHARING.

Pernikahan Seharga Kaos Kaki

 

Pernah beli baju lebaran?

Ada yang beli sebelum Ramadhan tiba, takut bila agenda memilih-milih baju menggangu aktivitas puasa dan tarawih kita. Ada yang membelinya menunggu THR, karena beli baju lebaran butuh budget tinggi. Ada yang sengaja beli baju lebaran di mall terkemuka atau butik ternama, sebab lebaran termasuk momen tahunan yang istimewa.

emak pakai daster di hut ri 73.jpg
Emak berdaster

Baju daster?

Daster dapur, cukuplah harga 30ribu. Motifnya jelek, jahitannya gampang lepas, gakpapa. Yang penting enak, nyaman dipakai pas ulek-ulek bumbu. Umumnya, daster ini kalau robek, dibiarkan  begitu saja. Nanti kalau mirip keset dengan robekan-robekan serupa jendela, tinggal beli yang baru.

Kaos kaki?

Harganya murah, 10 ribuan. Beli tanpa mikir, nyuci kalau sempat. Kadang pas lewat alun-alun hari Minggu, nggak sengaja lihat dan kasihan pembelinya, belilah sepasang. Hilang satu, tinggal beli lagi. Hilang sebelah, sudah ikhlaskan. Ujung jempolnya sobek sedikit, mending buang aja. Repot amat jahit-jahit kaos kaki. Kalau masih layak, naik tahta jadi pegangan panci panas.

 

Harga waktu dan uang

Ada kata kunci dari pakaian yang kita beli : waktu dan harga.

Semakin penting sebuah acara, semakin tinggi uang yang disisihkan. Semakin banyak pula waktu yang dialokasikan untuk memikir, mendesain, memutuskan, membatalkan, mengkaji ulang. Tidak akan sama mendesain baju wisuda yang spektakuler dengan baju arisan yang setiap bulan ada. Tidak akan sama harga dan waktu membeli rumah dengan membeli sapu. Butuh waktu belasan bahkan puluhan tahun untuk mengumpulkan uang, memikirkan, memutuskan membeli rumah. Tapi sekedar sapu, bisalah sewaktu-waktu.

 

Berapa Harga Pernikahan Kita?

Seorang klien saya memikirkan rencana pernikahannya sejak kecil. Ia tidak ingin pernikahannya seperti orangtuanya. Ia tidak ingin punya anak seperti kakak-kakaknya yang naudzubillah. Beranjak SMA, ia sudah menetapkan calon suami macam apa yang diharapkannya. Impiannya hadir dalam harapan dan langkah tahap demi tahap. Sejak kuliah S1 dan S2 rajin ikut kajian pernikahan dan parenting, yang pastilah mahal untuk kantung mahasiswa. Waktu sebagai mahasiswa yang tugasnya ampun-ampunan, ia sisihkan untuk mengikuti berbagai seminar. Uangnya yang pas-pasan, juga dialokasikan untuk menambah ilmu. Hasilnya, Alhamdulillah, ia mendapatkan suami yang sangat diharapkannya.

Ada seorang klien, yang justru ikut seminar-seminar menikah setelah ia menikah.

Di kepalanya ada rasa menghantui, kenapa ia pacaran sekian lama. Pada saat menikah terbukti , karakter pacarnya berbeda sekali dengan yang dulu. Tetapi ia menyadari satu hal, pacaran dan pernikahan ternyata bukan garis paralel. Malah seperti sumbu X dan Y yang beda banget arahnya. Ketika ia menyadari kurang ilmu dan merasakan dosa, ia banyak mengalokasikan waktu untuk belajar, belajar. Dengan statusnya sebagai istri dan ibu, ia masih mau menyeret-nyeret anaknya ikut seminar ini itu.

Tetapi ada pula orang-orang yang unik.

Anak-anaknya sudah bermasalah. Istrinya sudah kehabisan nafas. Ia masih saja tak pernah meluangkan waktu memikirkan pernikahan : ini enaknya ditangani bagaimana ya? Yang ada di pikirannya karir, karir, karir. Oke. Karir dan uang perlu. Kalau karir seharga baju lebaran, apa pernikahan harus seharga kaos kaki? Nggak juga. Kalau ingin karir dan pernikahan sama-sama seharga baju lebaran, luangkan waktu dan harga.

Kita akan sibuk mendeteksi raut muka atasan dan rekan kerja : wah, si bos kayaknya lagi nggak mood. Enaknya beliau diapain ya? Pasti seorang bawahan akan berjuang dua kali lipat performanya lebih baik hari itu agar mood bosnya segera baik. Tapi sering , kita gagal menangkap raut muka istri dan suami yang lagi keruh. Malah, kalau pasangan lagi keruh, rasanya pingin cepat-cepat cabut dari sisinya. Malas amat! Padahal, kalau bisa dijual, kira-kira berapa sih harga bos, rekan kerja, pasangan kita? Jawab sendiri.

Kaos_Kaki_Formal_Pria_Isi_3_Pasang___Kaos_Kaki_Kantoran___Ka.jpgAda yang memperlakukan bos seharga emas, memperlakukan teman-teman kerja seharga perak, tetapi harga pasangannya cuma seperti plastik disposable.

Pernahkah, kita berhari-hari mencemaskan pasangan kita?

Kok suami/istri sepertinya lagi banyak pikiran? Apa yang ada di benaknya? Apa yang sedang merisaukannya? Apa yang bisa kulakukan supaya dia baik kembali dan bagaimana caraku membuatnya senang?

 

Mengapa  Pernikahan Mahal?

Sebetulnya, nyaris semua orang menganggap pernikahan sesuatu yang ‘mahal’. Banyak orang bisa gonta ganti pacar tapi lamaaa sekali memikirkan dengan siapa ia akan menikah. Masih banyak orang beranggapan, kalau bisa menikah sekali saja seumur hidup. Kita ingin tua bersama, meninggal bersama, dan kelak di surgaNya pun bersama-sama.

Tetapi kita seringkali memperlakukan barang mahal dengan rasa sangat murah. Seperti kaos kaki. Nggak mikir, rusak tinggal buang, hilang ya sudahlah.

Seperti petunjuk di awal : waktu dan harga.

Tak pernah sama sekali mengalokasikan waktu untuk pasangan dan anak. Tapi berharap pasangan setia, pasangan mengerti, anak-anak shalih shalihah, anak-anak baik-baik saja. Berat amat mengalokasikan waktu, pikiran, uang untuk keluarga;  tetapi semua harus berjalan sesuai mestinya! Ibarat orang nggak mau invest apa-apa, tapi maunya dapat deviden dan  bunga.

Selayaknya kita berpikir : kapan ya bisa jalan berdua dengan suami/istri? Mana ya restoran yang nyaman untuk bicara? Bukannya istri nggak mau masak. Tapi situasi café atau resto yang dilayani, membuat istri fokus memandang wajah suami. Kalau memasak di rumah, ia akan sibuk memasak dan beberes. 1 jam duduk berhadap-hadapan di restoran; suami istri bisa menikmati ngobrol berdua. Abaikan harga makanan minuman yang mencapai seratus ribu. Abaikan pikiran ; aduh, mahalnya. Waktu berdua itu terlalu mahal untuk ditukar dengan uang seratus ribu.

Kapan ya jalan-jalan sama anak-anak?

Memang repot. Apalagi kalau punya anak mulai besar. Yang satu suka bioskop, yang satu suka ngemall, yang satu suka makan. Bagaimana orangtua harus mencari celah waktu supaya semua bisa berkumpul. Ribet, makan waktu, makan tenaga, bahkan mungkin makan biaya. Ketika anak-anak butuh perhatian di akhir pekan : aduh, capeknya nemani ke bioskop. Antri beli tiket, antri parkir mobil, macet di jalan raya. Lebih enak tidur di rumah (sembari pegang gadget tentunya!). Padahal saat ke bioskop kita bisa merengkuh pundaknya, menggandeng lengannya, mengacak rambut mereka. Nggak harus bioskop sih, bisa toko buku atau ke factory outlet.

Harga pasangan sangat mahal.

Harga anak-anak sangat sangat mahal.

Mereka investasi berharga di masa depan, ketika kita tua renta, ketika kita sudah meninggal di alam kubur. Coba tanyakan pada para pengusaha sukses : jenis usaha apa yang nggak butuh investasi uang dan waktu? Pasti kita ditertawakan. Kalaupun ada usaha yang modalnya 0, waktu adalah investasinya yang berharga.

Jangan pernah mengeluhkan pernikahan yang terasa gagal, sempit, menyesakkan kalau kita memperlakukannya seharga kaos kaki. Pikirkan keluarga. Pikirkan posisi kita ada di mana. Pikirkan pasangan suami/istri kita dengan sungguh-sungguh. Berjam-jam, berhari, berbulan; seperti kalau mau beli baju lebaran. Lalu alokasikan harga. Ya, mungkin memang harus menguras uang. Mungkin, harus mau keluar biaya untuk jalan berdua dengan si sulung yang mulai intens pacarannya. Mungkin, harus mau keluar biaya untuk ngobrol dengan si bungsu berdua yang nilanya mata pelajarannya semua jeblok.

married-couples-romantic-date-ideas.jpg
Romantic married couples

Oh, pernikahan belum masuk taraf membahayakan. Tapi ingin pembaruan kan?

Kok rasanya sudah agak hambar, ya. Ketemu di ranjang biasa aja. Lihat mukanya tidak ada desir di dada. Pesan pendek darinya di gadget juga bukan prioritas. Anak-anak kok mulai nggak ekspresif kalau ketemu orangtua. Lebih suka pakai headset kalau di rumah. Lebih milih hang out sama teman ketimbang orangtua. Ah, banyak tanda-tanda kecil yang mulai butuh reparasi.

Kategori
Game Musik My family Oase Remaja. Teenager Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Orangtua Belajar Game : dari PUBG sampai Alan Walker

 

“Ummi coba nonton K/DA popstar, opening ceremony dari League of Legends,” saran putriku, ketika aku bilang malas belajar game.

Sebagai orangtua dan psikolog, mau tak mau aku harus belajar apa yang menjadi hobi, perhatian, kesukaan dari subyek klienku yang didominasi remaja dan orangtua yang mengeluhkan kondisi anak-anak mereka. Membahas dunia anak muda membuatku dapat ‘masuk’ lebih dalam ke inti permasalahan. Misal, konflik harapan akademis orangtua VS anak dapat diredam ketika aku berdiskusi menggunakan cara-cara Rap Mon alias Kim Nan Joon (BTS) merayu mamanya.

K/DA Popstars  dan  Rap Mon (BTS)

Mendalami music dan film, bagiku tak masalah karena dulu sewaktu remaja akupun menyukai dunia ini. Awalnya susah sekali menghafal nama artis, label manajemen, judul lagu, nama fanbase artis Korea dan K-Pop. Bukan hanya karena nama-nama yang masih asing, tapi juga kultur Korea yang sangat berbeda dibanding ketika dulu aku menggandrungi Westlife atau Backstreet Boys.

Game?

Orangtua banyak mengeluhkan keterkaitan anak dengan dunia ini. Aku merasa : “ah, sudahlah. Nggak perlu belajar game dan seluk beluknya. Dirujuk ke psikolog lain aja kalau nggak cocok. Malas.”

Dasarnya emang nggak suka game, selain Candy Crush dan Luxor (kata anak-anakku : itu bukan game!)

Tapi sudut pandangku mulai berubah ketika sekitar berbulan-bulan lalu putriku mengkoreksiku masalah perkembangan game yang harus diketahui psikolog, terlebih sebagai orangtua. Dan aku terkesima melihat K/DA popstar edisi opening ceremony.

Bukan hanya karena lagu itu dibawakan Madison Beer, Jaira Burns serta anggota (G)-idle yang sedang tenar seperti Miyeon dan Soyeon; tetapi juga karena lagunya yang nge-beat banget, easy listening dan…edisi spektakuler megah  perpaduan entertaintment serta teknologi. Di opening ceremony tersebut, nyaris tak bisa di bedakan 4 penyanyi asli dengan tokoh LOL Akali – Ahri – Kai’sa –Evelynn versi 4 dimensi. Mana manusia, mana animasi benar-benar berbaur jadi satu.

Sejak menonton K/DA popstar opening ceremony, pandanganku terhadap game berubah.

Orangtua tak bisa memandang sebelah mata permainan ini, kita harus belajar agar benar-benar memahami dunia anak, dapat mengevaluasi dan mengontrolnya.

PUBG dan Alan Walker

Tetap saja aku nggak mahir main game. Tapi mulai tahu sedikit-sedikit yang disukai anak-anakku meski mereka bukan gamer sejati. Oh ini yang namanya Skyrim, oh ini Mobile Legend, Seven Knights, Honkai Impact 3rd dan tentu saja PUBG (playerunknown’s battleground).

 

Skyrim dan Seven Knights

“Skyrim bagus lho,Mi, ada unsur sejarahnya,” kata putriku.

Awal aku melihat PUBG langsung pikiranku berkata, “emang pantes disukai anak-anak. Dinamis, energik, memacu adrenalin. Anak jadi merasa berada di dunia yang sangat aktif. Sebuah dunia yang sekarang jarang disentuh.”

Ya.

Mana ada anak main lari-larian sambil bawa senapan pak-pak dor seperti kami dulu di masa kecil. Dunia perang-perangan, benteng-bentengan, hide and seek. Apa yang tidak ada di dunia nyata, sekarang dipindahkan ke dunia maya. Main sembunyi-sembunyian, perang-perangan, mempertahankan wilayah. Bedanya, kalau dulu dimainkan anak-anak; sekarang divisualisasikan dewasa. Dan tahu sendiri ‘kan, mainan orang dewasa? Adegan kekerasannya lebih terasa, senapannya bukan kayu tapi visual senjata senapan mesin.

PUBG-Feature-640x353.jpg
PUBG

PUBG sebetulnya tidak sesadis Resident Evil yang penuh adegan darah.

Tapi menurutku, PUBG tidak cocok dimainkan anak-anak dan remaja.

Kill 1, kill 2, kill 3.

Setiap kali berhasil menembak orang; ada laporan jumlah sasaran. Bagiku, memang ini menjadi addiction tersendiri. Kalau sudah bunuh 10, pingin nambah jadi 20, dst. Tidak ada daran mengalir dan organ tubuh zombie terkoyak yang mengerikan menjijikkan seperti Resident Evil, tetap saja, semangat untuk membunuh itu yang membahayakan.

Tetapi, sebelum melarang, orangtua perlu tahu dulu.

“PUBG menurutku biasa aja,” kata anak cowokku.

“Kamu gak pingin main?”

“Nggak. Aku nggak suka tipe itu.”

“Tapi temanku biasa main,” kata anak cewekku. “Biasa aja.”

Karena aku sudah tahu sedikit, aku bisa berkomentar,” nggak sih. Menurut Ummi gak biasa. Meski gak ada adegan sadisnya, permainan itu mengarahkan membunuh musuh sebanyak-banyaknya. Bahkan yang sudah merangkak tak berdaya, harus dipastikan ditembak supaya mati dan dapat skor. Membunuh, tanpa tahu kesalahannya apa, kan nggak bagus?”

 

Alan Walker?

Nah, kalau kita sudah belajar game, akan berkembang ke dunia sekelilingnya. League of Legends punya lagu khas banget, yang membuat pemainnya merasa jadi hero. Nge-beat, buat bergairah.

PUBG apalagi.

Soundtrack PUBG dibawakan sangat apik oleh DJ Alan Walker dengan lagu-lagu yang punya pesan-pesan tertentu. Untuk PUBG, lagu On My Way yang dibawakan Sabrina Carpenter, Farruko, Alan Walker ini sempat menjadi trending topic nomer 1 di youtube. Fans lagu membuat beberapa versi fanmade seperti Ignite (Alan Walker, Julie Bergan, Seungri) untuk PUBG juga. Bisa dibayangkan, kalau sedang main PUBG, diiringi On My Way dan Ignite, serasa jadi pahlawan masa kini yang dinamis, energik, super keren!

On My WayOn My Way dan Ignite karya Alan Walker

            Lagi-lagi, orangtua perlu belajar tahu siapa DJ tenar dunia seperti Chainsmoker, Zedd, dan tentunya Alan Walker. Khusus Alan Walker, nanti perlu dikupas tersendiri terkait lagu-lagunya dari tema psikologis. Sebagai DJ dengan sosok misterius yang sering menggunakan topeng; followers DJ Walkzz atau Alan Walker ini luarbiasa banyaknya.

Sebagai emak-emak pengamat music, aku sendiri sangat tertarik mempelajari Alan Walker. Siapa dia? Kenapa lagu-lagunya sangat bagus dan enak didengar? Sangat bagus di sini dalam pengertian musiknya ya, bukan isi esensinya. Sebab esensi dari lirik lagu Alan Walker punya sisi darkside yang harus diwaspadai siapa saja.

Sejak kemunculan Faded-nya Alan Walker, aku memang penasaran.

Banyak sekali artis yang one hit wonder. Tapi Alan Walker, di usia 21 tahun sudah mengeluarkan lagu-lagu yang unik dan pasti digemari anak muda : Fade, Sing Me to Sleep, Different World, All Falls Down, Lily, Ignite dan tentunya, On My Way. Semuanya laris manis di pasaran.

On My Way Alan Walker.jpg
Alan Walker yang misterius 

Jadi, pantas saja anak muda gemar PUBG apalagi bila diiringi lagu-lagu Alan Walker.

Permainan ini diharamkan di beberapa wilayah, meski Arab Saudi malah menggelar perhelatan PUBG. Sebagai orangtua, kita harus sangat berhati-hati terhadap paparan teknologi dan informasi yang mengepung anak-anak kita. Belajarlah, bangun komunikasi, dan tunjukkan; sisi mana dari PUBG ini yang berbahaya. Menjalin komunikasi dengan anak akan membantunya mengerti dan membuat imunitasnya berkembang secara alamiah. Memang, kadang kita enggan mempelajari kesukaan anak. Akupun awalnya tak terlalu suka K-Pop, apalagi game. Kalau drama dan film Korea, suka-suka aja karena banyak yang bagus. Tapi karena anak-anakku dekat dengan dunia ini, mau tak mau harus mempelajarinya. Setelah mempelajarinya, kita akan tahu mau ‘masuk’ dari sisi yang mana.

 

 

Kategori
Cinta & Love mother's corner My family Oase Pernikahan Remaja. Teenager Suami Istri

Pelukan Skin–to-Skin yang Menjadi Obat

 

 

“Ummi, keloni,” rengek si bungsu ketika beberapa waktu lalu sakit.

“Lho, Ummi udah tidur di sampingmu.”

“Tapi belum dikeloni.”

“Ummi sejak tadi tidur di samping kamu, Say.”

“Pokoknya keloni!”

Aku memeluknya dari belakang, merasakan tubuhnya yang panas karena demam tinggi.

Beberapa bulan lalu kami gantian sakit. Dua anakku gejala DB, yang dua lagi flu berat. Disusul suamiku sakit dan yang terakhir  ambruk adalah aku. Emak-emak biasanya terkapar terakhir; ketika semua sudah tumbang, si ibu masih tegar. Giliran yang lain sembuh, tubuhku mulai merasakan sakit.

 

Anehnya, semua anakku yang sudah besar-besar ( 3 sudah kuliah, yang bungsu di SMA) merengek hal yang sama.

“Ummi, keloni…”

Bukannya aku tak mau, tapi bisa dibayangkan repotnya bagaimana! Saat anak sakit; semua butuh dilayani. Makan minum nggak bisa sendiri, otomatis aku suapin. Mandi harus pakai air panas. Bahkan karena sangat lemas, si bungsu pun harus aku mandikan. Makan harus disediakan. Obat harus dituangkan, disuapin. Sedikit-sedikit merengek.

 

Mother and son lay in bed together

“Ummi, sini.”

“Ummi suapin.”

“Ummi temanin.”

Dan yang buat kepala pusing, kalau mereka ingin tidur entah pagi, siang, sore atau malam maka rengekannya adalah, “Ummi…keloni.”

Keloni adalah istilah Jawa. Bukan sekedar berada di samping anak, tetapi menjulurkan tangan memeluk tubuh si anak. Tangan ibu memeluk leher, atau dada, atau pinggang. Pokoknya, posisi anak seperti dipeluk

Awalnya, aku benar-benar jengkel ketika anakku rewel. Apa mereka nggak ngerti? Umminya capek setengah mati! Semua agenda aku tunda. Konsultasi via whatsapp pun harus dijadwal ulang. Cucian baju menumpuk, cucian piring apalagi. Karena khawatir ada gejala typhus, hampir gak ada alat makan yang digunakan bersamaan. Duh, benar-benar hari yang memeras tenaga sampai ke tulang-tulang.

 

 

“Nak, Kamu bisa keloni Ummi?”

Aku tumbang dengan demam lebih dari 39 derajat.

Benar-benar terkapar. Sholat duduk. Obat turun panas biasa tak mempan. Handuk kompresan tak banyak pengaruh. Seluruh persendian ngilu. Kepala sakit luarbiasa, telinga seperti ditusuk. Aku sangat gelisah. Tak ada tempat tidur yang nyaman. Dari kamarku, pindah ke kamar anak-anak. Pindah ke ruang tengah. Pindah ke ruang tamu. Kalau bisa tertidur sekejap, itu sudah sangat lumayan.

Anehnya, aku mulai merengek kepada anak-anak.

“Kalian bisa keloni Ummi?”

Suamiku sudah memelukku, tapi ia juga harus segera berangkat ke kantor. Tinggal anak-anakku. Sejak pagi sampai malam; anakku giliran memelukku. Mengeloni umminya. Tidak cukup hanya ada di sampingku, salah satu anakku harus merangkulkan tangannya ke leherku atau ke pinggangku. Aku harus menggenggam tangan mereka , baru bisa tertidur sesaat.

 

Aku sendiri heran : manjakah aku? Apa karena aku sakit dan selama ini melayani mereka, sekarang seolah aku ganti minta dilayani, diladeni, dimanjakan?

 

 

Obat Kecemasan

Ternyata aku tidak manja, hehehe.

Seorang neurolog pernah memberi nasehat pada seorang klienku yang selalu mengkonsumi obat-obat seperti Sanax dan Alprazolam. Klienku ini memang memiliki riwayat panjang kehidupan yang keras, sekarang sering tak bisa tidur. Apalagi kalau dengar masalah anak-anaknya.

Neurolog tersebut tentu tak ingin meresepkan obat selalu, karena bagaimanapun , ketergantungan itu tak baik. Ada sarannya kepada klienku yang membuatku terkesan.

“Ibu kalau bisa jangan tidur sendiri. Ibu tidurnya ditemani, ya. Sebab, kalau orang sangat pencemas, bahkan waktu tidurpun butuh ditemani.”

Orang pencemas tak bisa tidur tenang. Sebentar-sebentar bangun, oleh mimpi buruk atau oleh kecemasannya sendiri. Ketika ia melihat ada seseorang yang tidur di sampingnya, ia akan berangsur tenang.

 

Panas dan Cemas Bersamaan

Mungkin, itu analogi sakitku.

Saat demamku tinggi, sakitku tak bisa dikatakan rasanya, ada kecemasan luarbiasa yang melanda pikiranku : nanti bagaimana baju kerja suamiku? Bagaimana aku menyiapkan keperluan anak-anakku? Bagaimana klien-klienku? Bagaimana janji-janjiku? Dan kecemasan paling besar yang megnhantui adalah : bagaimana kalau sakitku ini membawaku mati?

Tanpa sadar, sakitku membawa cemas luarbiasa. Meski semua kegiatan sudah diundur, tak dapat dipungkiri, rasa bersalah dan tanggung jawab mengiringi.

Ketika sakitku rasanya sudah tak tertahankan, aku minta suamiku membacakan surat-surat Quran. Matsurot. Anakku menyetelkan rekaman doa matsurot juga saat menemaniku. Dan mereka bergantian memelukku, menciumiku, menggenggam tanganku, menyisiri rambutku. Pendek kata, tubuhku harus dipegang-pegang oleh suami dan anakku.

Maka kemudian perlahan aku bisa tertidur.

Dan seiring kecemasanku menghilang, aku bisa tidur, dan kesehatanku pulih.

Bukan hanya seorang bayi yang butuh pelukan.

Orang dewasa, siapapun dia, ketika sakit fisik dan psikis, ternyata membutuhkan pelukan skin to skin dari orang-orang yang dicintainya.

Aku mulai membiasakan kembali pelukan skin to skin. Ketika anak-anakku pulang dari kampus dan sekolah; entah apa yang mereka alami. Mungkin konflik dengan dosen, teman, atau orang di jalan. Mungkin mengalami bully-ing. Mungkin mengalami frustrasi karena target tak sesuai harapan. Mungkin mengalami kejadian tak mengenakkan sehingga muncul kemarahan dan kecemasan. Biasanya aku cukup cium pipi kanan kiri, sekarang lebih intens. Memeluk, mengusap tangan, menggenggam jemari. Kepada suamiku juga. Siapa tahu, di balik aktivitas sehari-hari yang melenakan, tersembunyi kecemasan yang kronis.

 

Mother and son lay in bed together

https://www.scarymommy.com/lying-down-with-your-kids-until-they-fall-asleep-is-not-bad-habit/

https://muslimdunyaa.com/best-islamic-love-quotes/

 

Kategori
Catatan Jumat Oase Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Remaja. Teenager Sirius Seoul

Psikologi Gaul (1) : Memahami Remaja

 

“Boleh pakai kutex?”

“Kalau tattoo?”

“Pacaran kan nggak papa kalau cuma jalan-jalan.”

“Mau warnai rambut. Asal gak hitam gakpapa, kan?”

“Aku main game kalau lagi bosen. Semua orang ngomel melulu. Yah, namanya bosen gimana!”

“Males sekolah/ngampus. Dikejar-kejar melulu.”

Itu sebagian dari keluhan remaja yang mampir ke agendaku.

Ya, mereka yang dilahirkan tahun  2000an dan lebih muda lagi pasti mengalami clash dengan generasi yang lebih senior. Anggapan para guru dan orangtua bahwa generasi ini lebih nggak bisa diatur, lebih seenaknya aja, nggak mandiri; mungkin sekilas benar. Remaja di usia ini memang ampun banget, bikin cenat cenut kepala dan jantung nyaris meledak saking nahan emosi.

 

          Pahami Tipe Kepribadian

Meski urusan tes kepribadian dan gangguan kepribadian itu adalah wilayah psikolog/psikiater; orangtua dan pendidik perlu tahu garis besarnya. Umumnya kepribadian dibagi 5 wilayah besar : OCEAN – openness to experience, conscientiousness, extraversion, agreeableness dan neuroticm. Dari artinya sudah dapat dikira-kira : O tipe yang suka petualangan dan pengalaman baru, C tipe yang rigid dan disiplin, E – ekstrover, A- tipe sosial yang senang kalau orang lain senang dan N- tipe penggugup.

Susan Cain, membagi kepribadian hanya 2 wilayah besar. Ekstrover dan Introver. Kalau ada perincian, hanya dibagi ekstrover tenang dan esktrover gelisah, introver tenang dan introver gelisah.

Apapun itu, kepribadian anak tidak sama persis dengan orangtua. Kalau mirip, iya.

Anaknya tipe O? Apalagi usia remaja, ya udah deh. Jarang betah di rumah. Senangnya naik gunung, panjat tebing, ikut ini ikut itu. Beda dengan tipe N yang penggugup ketemu orang : ia akan diam tenang di rumah entah baca buku atau ngerjain PR.

Tipe kepribadian ini gak mutlak-mutlak amat.

Bisa jadi suatu saat berubah, dengan asupan informasi, pendekatan kognitif dan disiplin perilaku.

Misal anak introver yang emang sama sekali gak bisa gaul. Maunya sendiri aja. Apalagi kalau IQnya di atas 130 yang sudah masuk ranah gifted, si dia yang senang intrapersonal ini makin menyendiri dengan ide-ide kreatifnya yang gak mudah dipahami orang. Dengan bantuan pendekatan yang komunikatif, introvernya akan lebih stabil dan ia dapat mulai bersosialisasi dengan lingkungan sekitar meski nggak akan berubah jadi ekstrover sejati.

 

          Perbanyak Komunikasi

Setenang-tenangnya seorang anak , sesantun-santunnya; ketika memasuki usia remaja ada yang berubah dalam dirinya baik kematangan kognitif, kematangan emosi termasuk kematangan hormonal. Yang biasanya gak gampang nyolot, kena PMS, sensi deh.

Yang biasanya nurut kalau disuruh-suruh mulai nanya :”Mama kok nyuruh aku terus? Adik gak disuruh!”

Kondisi menjelang dewasa ini kadang berbenturan dengan orangtua dan guru; maka label pembangkang ini cucok disematkan ke remaja.

Seorang remaja mengaku membaca komik sembunyi-sembunyi, sebab orangtuanya akan membuang semua komiknya ke  halaman bila ketahuan.

Seorang remaja, mengeluh sering bolos karena hampir semua guru BK nya menakutkan.

Seorang remaja, mengaku sudah lama tidak kuliah karena ia memiliki ketakutan bertemu orang-orang (anehnya, dampak dari bullying dan parenting orangtua baru tampak jelas di usia remaja).

Tidak ada cara lain kecuali mencoba bersimpati pada mereka : mendengar, mendengar, mendengar. Menyimak, menyimak dan mencoba memahami emosi yang berkecamuk.

BTS- unofficial biography dan Sirius Seoul (kiri). Penghargaan terhadap BTS, Twice, Stray Kids, G(i)-dle (kanan)

 

Aku pernah mengisi sebuah pengajian remaja.

Usai acara, malu-malu 2 orang remaja mendekatiku dan bertanya :

“Kok Bunda tahu BTS?”

“Ya, tahulah,” aku tersenyum simpul.

“Eh, memangnya, bias Bunda siapa?”

“Bunda suka Rap Monster (RM). Dia salah satu idol dengan IQ tinggi, lho.”

Perbincangan pun mengalir.

Suatu ketika, klienku adalah seorang remaja yang mengaku ia sudah nggak sanggup kuliah.

Berjam-jam aku menyimak ceritanya, membuat catatan dan membuat janji untuk bertemu. Ketika aku ke Korea, ia kupersilakan terapi kepada psikolog dan terapis lain tetapi kemudian kembali lagi padaku.

“Bun,” keluhnya, “waktu aku ke terapis lain, ia banyak menasehatiku. Ia malah nggak sabar dengar ceritaku.”

Memberi nasehat, memang selalu ingin dilakukan orangtua seperti kita.

Padahal sebetulnya, dengan membuka sumbatan komunikasi, membiarkan para remaja ini bercerita banyak tentang hidup mereka yang juga jumpalitan ke sana kemari; juga salah satu pintu kestabilan kepribadian mereka dan insyaallah para remaja ini akan dapat diarahkan pada akhirnya.

Suatu ketika, aku mendapatkan beberapa klien yang kecanduan game.

Dibanding demam Japanese wave dan K-Pop yang bagiku lebih menarik, aku relative nggak begitu paham mengapa remaja bahwa orang dewasa addict video game! (Klien-klienku yang adiksi kepada video game sebagian sudah menikah dan bekerja sehingga terganggu urusan rumahtangga dan kariernya!)

Aku bertanya pada anak-anakku tentang video game.

Yang membuatku terperangah, anakku mengajakku menonton you tube, opening ceremony turnamen game.

“Lihat nih, Mi. Supaya Ummi tahu, kemegahan dunia gamers.”

Opening ceremony itu membawakan lagu K/DA-Popstar dengan 4 idol. 2 idolnya adalah G(I)-DLE yang baru saja mendapatkan award sebagai pendatang terbaik di dunia music. Selain lagunya yang easy listening, penonton arena disuguhkan tayangan 3 dimensi (atau 4 dimensi ya?) sehingga mana yang artis, mana yang tokoh LOL (League of Legend) versi animasi campur baur dengan tokoh manusia. Mata kita nggak bisa membedakan mana sosok manusia, mana sosok animasi!

Orangtua yang anaknya terpapar video game, usai menonton opening ceremony LoL ini harus berpikir bijak : apakah anaknya akan menjadikan video game sebagai salah satu cara hidup  seperti Elon Musk si pembuat Tesla, menjadi gamer sejati seperti cewek Surabaya Indri Sherlyana (kata anakku pemenang kompetisi e-sport hadiahnya M bahkan T!) atau mulai berkomunikasi kepada anak untuk mengurai adiksinya kepada video game.

Indri Sherlyana, gamer cewek asal Surabaya; KDA Popstar, Rockman

 

 

 

Sinta Yudisia

Penulis, Psikolog, Emak yang baru belajar apa itu Skyrim, Dota, LoL, Mobile Legend

 

Referensi :

Jawa Pos, 14/10/2018 (Indri Sherlyana)

Jawa Pos, 18/10/2018 (Rockman)

KDA Popstar https://www.youtube.com/watch?v=hif2E1QaDDs

 

Kategori
Film mother's corner My family Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Remaja. Teenager RESENSI WRITING. SHARING.

Film Searching : Ketika Sebagian Temanmu di Media Sosial Jahat & Opportunist!

 

“Ummi harus nonton!” anakku mengirim teks. “Aku udah nonton sama temanku di Yogya.”

“Yah…kalau film begitu, Ummi gak ada temannya buat ke bioskop.”

“Ummi harus ajak Abah dan adik-adik buat nonton. Bagus banget! Gimana tentang dunia maya saat ini. Gimana orangtua harus belajar.”

Aku penasaran banget. Film-film psikologis memang sengaja kutonton untuk memberikan pelajaran visual, minimal untukku pribadi seperti film Split yang dibintangi James Mac Avoy. Split hanya kuunduh dari youtube. Tapi begitu lihat trailernya, kurasa Searching adalah film yang harus kutonton sekeluarga dan aku harus mendorong orang menonton film ini juga.

 

 

Searching

Membagi Kebahagiaan di Media Sosial

Apa kita sering membagi pengalaman manis di medsos? FB, IG, twitter, dst? Ya. Makan, jalan-jalan, apalagi kalau mencapai prestasi. Pasti akan diunggah. Begitupun keluarga David Kim yang senantiasa mengunggah kisah bahagianya. Cerita dimulai ketika David Kim mengunggah foto-foto bahagianya bersama Pam, istri tercintanya yang cantik dan baik. Apalagi ketika hadir anak perempuan mereka, Margot, maka nyaris semua kehidupan Margo dibagi ke medsos. Lahirnya, ultahnya, sekolahnya sampai les-lesnya. Sejak Margot bayi lho, kisahnya sudah menghuni media social! Sah-sah saja kan?

Termasuk, ketika David Kim harus menghadapi kenyataan pahit : Pam menderita kanker lymphoma dan akhirnya meninggal.

Pembukaan kisah ini begitu sedih. Rasanya berterima kasih sekali kepada media social, seperti facebook karena menjadi alat yang dapat menyimpan semua informasi dan memori terindah ktia.

 

Apakah followers itu teman sejati?

Konflik mulai muncul ketika Margot tiba-tiba menghilang. David kehilangan jejak ketika tiba-tiba Margot yang mengaku kerja kelompok Biologi, tidak pulang ke rumah. Awalnya, orang-orang menyangka hanya sekedar kenakalan biasa. Yah, namanya remaja. Pingin bolos, pingin hang out ke mana, gitu. Atau diam-diam punya pacar yang nggak direstui orangtua.

Perbincanga-perbincangan David dengan Peter, adiknya, membuat kita sebagai orangtua merenung.

“Kamu sudah kontak semua teman-temannya?” tanya Peter.

“Aku sudah kontak semua temannya di facebook!”

“Coba cari teman off-linenya,” saran Peter. Maksudnya, teman yang bukan dari teman dunia maya.

“Aku nggak tahu,” jawab David jujur.

“Yah, kalau kamu saja sebagai ayahnya nggak tahu, who would?” sahut Peter.

Menampar banget.

Who would?

Kalau ayah ibunya aja nggak punya kontak teman-teman off line sang anak, lalu mau mengharap siapa?

searching filmsearching film

Teman Medsos Kadang Jahatnya Minta Ampun!

Ketika David menelepon satu-satu , -bayangkan : teman facebook yang ratusan !- untuk mencari keberadaan anaknya; mulai terkuat sedikti demi sedikit misteri. Nggak ada satupun yang mengaku sebagai teman Margot. Termasuk Isaac, yang ibunya merupakan sahabat baik David dan Kim. Semua mengaku begini.

“Kami nggak terlalu dekat,” jawab teman Margot (lupa namanya) cewek negro yang cantik.

“Soalnya papa mama kami kan teman dekat kamu, Mr Kim.”

“Margot selalu makan siang sendiri.”

David yang nge-blank bertanya dengan pertanyaan ala ortu : tapi kan kalian ngajak Margot belajar kerkel? Ngajak dia jalan-jalan?

“Errrg, tapi kami bukan teman dekatnya.”

Whattt???

Kepanikan David mulai memuncak. Film ini juga mengetengahkan adegan-adegan lucu ketika David nggak tahu apa itu tumblr (dia mengetik searching : tumbler), apa itu YouCast.

Yang buat nyesek banget dan ini bukan yang terjadi di tengah-tengah kita :

Ketika Margot dikabarkan menghilang dan diperkirakan meninggal, teman-temannya mengunggah berita-berita yang jauh dari ekspetasi :

  • Youtuber negro cantik ngaku bukan temannya  mengatakan : “aku ini sahabat dekatnya.” Langsung menuai ribuan views.
  • Aku ini menjadi relawan, kata temannya yang lain.
  • Pray for margot, ayo galang dana!
  • dll

Teman-teman Margo yang nggak mengaku satupun sebagai teman baiknya, tetiba ngaku-ngaku jadi teman baik dan mengunggah status mereka di medsos agar mendapat like dan view banyak berikut dapat duit!

Belum lagi, berita David mencari Margot banyak diunggah ke medsos oleh para relawan yang mencari Margot, baik berupa video atau foto. Dan captionnya, ampun. Bukannya simpati, yang nggak tahu permasalahan malah mengatakan : yah, pasti keluarganya berantakan. Semua berawal dari rumah. Bahkan muncul hashtag  #dadfail. Foto David beredar sebagai foto yang cute tapi jahat. Malah ada orang yang mulai sinis, ngapain juga capek-capek jadi relawan?

Bisakah kita bayangkan perasaan orangtua seperti David?

Pantas saja kemudian David jadi hilang kendali dan memukul seorang pemuda yang diduga menghabisi Margot.

 

Kemana Margo?

Margo diduga jadi prostitutee. Margo diduga jualan narkoba. Margo diduga melarikan diri. Margo diduga terlibat perdagangan illegal. Semua prasangka buruk muncul.

Manisnya, ketika semua orang sudah menyerah bahkan ungkapan belasungkawa muncul, insting David sebagai seorang ayah muncul saat mengenal dari Youcast teman ngobrol Margo bernama fish_n_chip.

Lalu?

Anda sepertinya harus nonton bersama keluarga.

Apa yang menyebabkan Margo dalam bahaya , adalah karena fish_n_chip tahu semua (catat : semua) informasi tentang Margo termasuk  ibunya yang sakit lymphoma. Fish_n_chip mampu menjebak Margo beradasar semua informasi sambung menyambung yang didapatnya dari medsos.

 

 

 

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Artikel/Opini Buku Sinta Yudisia Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Remaja. Teenager

Membumikan Ilmu Psikologi

 

 

Literasi sains, saya tertarik dengan bahasan Kompas hari ini, Kamis, 16 November 2017. Bahwa masyarakat umum perlu sekali mengetahui apa saja perjalanan dan pencapaian dunia ilmiah. Betapa banyaknya berita hoaks yang terebar. Berdasarkan tulisan hari ini, tulisan hoaks tertinggi di bidang kesehatan, politik dan dunia entertainment.

Di bidang kesehatan, kita mengambil kata-kata WHO bahwa sehat berarti memiliki ketiadaan cacat baik fisik maupun mental. A state of complete physical, mental and social well-being and not merely the absence of disease or infirmity; kata-kata ini saya cantumkan dalam penelitian saya saat skripsi dulu yang membahas tentang PWB atau psychological well being.

Hoak di bidang kesehatan memang menempati urutan pertama. Termasuk kesehatan mental.  Hoaxs sendiri bermakna “ a plan to deceive someone, such as telling the police there is a bomb somewhere when there is not one, or a trick: The bomb threat turned out to be a hoax.

He’d made a hoax call claiming to be the president.

Hoak adalah rencanan untuk menipu seseorang. Dengan kata lain, hoak bukanlah sebuah berita yang 100% bisa dipercaya kebenarannya. Bahkan, boleh jadi muatan kebenarannya hanya 25% atau malah 0%. Dalam ranah psikologi, saya sendiri merasakan itu betapa klien telah dipenuhi pikiran dan pemahamannya oleh berita hoak.

Asylum-slide-PUIB-superJumbo - Copy.jpg
Asylum

“Anda perlu segera datang ke rumah sakit X.”

“Bu Sinta mau bilang kalau saya gila?!”

Di kali lain,

“Anda sepertinya harus dibantu obat.”

“Apa saya kelihatan nggak waras??!”

Skizofrenia, insane, depresi, mood, stress dan seterusnya telah dipahami secara salah ke tengah masyarakat.

Koran hari ini, Jawa Pos, 16 November 2017 juga memberitakan hal yang sangat mengerikan terkait perlakuan orang-orang normal terhadap seorang penderita gangguan jiwa di tengah jalan. Stigma terhadap penyakit jiwa begitu buruknya hingga akhirnya masyarakat enggan berobat, enggan menyadari dan mengakui bahwa di sekelilingnya (atau bahkan dirinya sendiri) memiliki gangguan emosi atau gangguan kepribadian. Seringkali, orang datang kepada psikiater atau psikolog ketika gangguan sudah dirasa tak tertahankan, ibaratnya stadium 4 dari penyakit kanker. Bila tidak segera ditangani maka akan menjadi penyakit yang menggerogoti diri dan lingkungan, bahkan akan menimbulkan dampak tak diinginkan.

 

Tugas Psikolog dan Ilmuwan Psikologi

Menjadi tugas orang-orang yang pahamd unia kesehatan untuk membumikan ilmunya. Sebagai psikolog, saya rutin memposting hal-hal terkait psikologi. Beberapa hari lalu saya memposting tentang lelaki dengan pribadian alpha-male. Tulisan ini mendapat respon lumayan ramai dari pembaca medsos. Harapan saya agar lelaki lebih waspada bila dirinya memiliki kharisma itu dan perempuan pun tidak lantas terperdaya.

Sebagai penulis novel, saya juga menghadirkan ke tangah masyarakat tentang kehidupan psikolog atau setidaknya novel yang merangkum ilmu psikologi. Rinai dan Bulan Nararya sendiri mengetengahkan kehidupan Rinai dan Nararya yang merupakan orang-orang psikologi dengan segala suka dukanya.

Saya juga membuat buku-buku yang ringan terkait dunia psikologi seperti Sketsa Cinta Bunda, Mendidik Anak dengan Cinta. Bahkan, di buku Sarah : Seri Perempuan Istimewa yang merupakan buku sejarah; secara tak langsung saya selipkan ilmu psikologi. Misalnya, saya kemukakan bahwa Sarah adalah seorang perempuan yang berani bicara. Itulah sebabnya, kenapa perempuan harus berani bicara di saat penting dalam hidupnya. Sarah berani bicara kepada ayahnya. Sejarah Sarah memang masih diteliti hingga kini. Namun disinyalir, ia seorang putri bangsawan terkemuka dari dinasti Isin atau Larsa di daerah Mesopotamia. Betapa Sarah berani mengemukakan pendapat untuk bicara tegas, ketika ia memilih Ibrahim sebagai suami.

 

Begitupun, Sarah adalah perempuan yang berani bicara dan bertindak, ketika ia yakin berada di atas garis kebenaran. Ketika 3 malaikat yang mulia : Jibril, Mikail, Isrofil hadir ke rumahnya; Nabi Ibrahim as merasa sedih akan berita buruk yang akan menimpa kaum Saduum. Namun tidak dengan Sarah, mendengar berita dari malaikat iapun ikut murka terhadap kedzaliman kaum Saduum yang berani menentenag Allah Swt dan Rasulnya, Luth as.

 

Mengapa buku bisa menjadi ajang komunikasi dari seorang ilmuwan kepada khalayak? Sebab buku menjadi bahasa yang tidak mungkin diucapkan semua oleh penyampainya. Buku juga bsia menyelipkan nilai-nilai secara halus tanpa terasa.

Carl Sagan menulis tentang Contact; sebagai astronom ia ingin menyampaikan kepada khalayak tetnang dunia astronomi ketika membahasa makhluk luar angkasa. Frank Tallis seorang psikolog klinis  yang menbuat serangkaian novel seperti Death in Vienna dan Vienna Blood  untuk menjelaskan pada khalayak bahwa psikoanalis tidak hanya bicara masalah basic instinct terkait sexual saja. Tetapi bagaimana tokoh utamanya , Max Lieberman berusaha mengungkap kejahatan dengan pendekatan psikoanalis kepada tersangka.

 

Selain novel dewasa dan buku sejarah dan motivasi yang saya selipi ilmu psikologi; saya juga membuat novel-novel remaja dengan rangkaian ilmu psikologi di dalamnya.

Reem dan Polaris Fukuoka, dua tokoh di dalamnya yaitu Reem dan Sofia memiliki satu kebiasaan psikologis yang sangat baik : menulis. Reem suka menulis puisi, Sofia suka menulis buku harian. Itu sebabnya, ketika saya memposting di fesbuk tentang apakah menulis dan kebiasan mencurahkan perasaan di buku diary membuat seseorang dapat melampiaskan marah dan benci? Hampir semua yang memberikan komen menjawab : ya.

 

Menggaungkan Ke Orang Sekeliling

Saya selalu menorong orang-orang di sekeliling untuk menjadi konselor kecil-kecilan. Baik kepada suami ataupun anak-anak saya.

1

“Ummi, temanku ada yang korban KDRT. Dia sama ibunya.”

“Sudah lapor ke polisi, Nak?”

“Kayaknya enggak deh…”

“Kalau begitu, kamu harus jadi teman curhatnya ya…”

 

2

“Ummi, temanku ada yang kelakuannya menyebalkan banget. Udah gitu dia gak ngerasa lagi kalau nyebelin.”

“Yah, itu namanya orang yang dalam berkomunikasi memiliki non-verbal disorder. Dia gak bisa memahami bahwa tingkah laku, sikapnya itu menyebalkan orang lain.’

“Trus gimana?”

“Kasih dia hadiah. Nanti kan bisa kamu dekati.”

 

3.

“Ummi, temanku ternyata ada yang orangtuanya single parent.”

“Trus, anaknya gimana?”

“Kebetulan sih anaknya baik. Ibunya perhatian. Bekas ayahnya juga perhatian.”

“Oh bagus itu. Kamu dekat sama dia kan?”

“Iya.”

“Kamu harus jadi teman baiknya. Ajak dia ngobrol ya.”

 

4

“Kenapa sekarang perempuan suka menggugat cerai?” tanya suamiku yang kebetulan ruang lingkup kerjanya di wilayah HRD.

“Oh, selingkuh ya?” sahutku.

“Ya.”

“Itu karena perempuan dominasi perasaan. Jadi pas sudah nikah lalu ketemu lelaki yang mempesona, terhanyut. Padahal belum tentu lelaki itu sebaik suaminya yang sekarang.”

“Trus gimana?”

“Ya memang hubungan suami istri harus didekatkan. Jadi kalau suami pindah kerja, usahakan istri mengikuti. Kantor dan pemerintah harus melihat aspek itu. Jangan sembarangan mutasi karyawan.”

 

Edukasi kepada Orang Sekeliling

Saya sampaikan kepada klien-klien bahwa skizofren dan depresi bukanlah hantu menakutkan yang membuat orang punya cacat seumur hidup dan menebarkan bau busuk hingga harus diasingkan. Sebagai psikolog, kitapun harus memperkenalkan diri kepada orang-orang sekitar : saya psikolog. Kalau orang bertanya apa bisa minta obat , maka kita jawab : itu ranah psikiater. Orang-orang akan semakin paham apa perbedaan psikolog dan psikiater bila kita terus menggaungkan. Dan juga, orang akan memahami level sakit ketika harus mengunjungi kedua ahli tersebut.

Seorang ibu pernah melaporkan kerabatnya yang sering mengamuk tak karuan hingga mengancam lingkungan. Orang-orang menyebutnya gila. Apalagi agresifitas dan gangguannya sudah kelewat parah. Apalagi keluarganya orang tak mampu.

“Saya harus gimana bu Sinta?”

“Ibu punya BPJS?”

“Ada sih.”

“Masukkan ia ke rumah sakit X.”

“Memangnya bisa? Terus berapa hari?”

Saya jelaskan bahwa obat-oabt antidepresan dan antipsikotik sebagian masuk dalam daftar BPJS. Dan pasien rumah sakit jiwa yang tidak mampu , gratis. Mereka akan rawat inap antara 30-60 hari tergantung daya tampung rumah sakit. Ketika sudah waktunya keluar, mereka akan kelur dan ketika kambuhpun bisa masuk lagi. Pendek kata, orang dengan gangguan seperti ini memiliki banyak cara untuk sembuh. Jadi jangan hanya didiamkan. Bahkan, kalau kita sendiri sudah mengalami tekanan hidup berkali kali dan beragam  jenisnya, jangan malu untuk mendatangi psikolog.

Uuntuk edukasi kepada masyarakat, alhamdulillah saya sendiri mencoba berbagai cara. Antara lain lewat tulisan, siaran radio, seminar dan wrokshop. Untuk kali ini, saya ingin memperkenalkan suatu program yang sudah lama sekali saya impikan. Saya bercita-cita memiliki Pusat Penelitian dan Pusat Penyembuhan dengan konsep art therapy. Mungkin karena saya sendiri berjiwa seniman ya. Salahs atunya adalah metode writing therapy. Semoga metode ini dapat diterima khalayak di berbagai level usia dan menjadi salah satu sarana menuju kesehatan mental yang paripurna.

reem workshop

 

 

 

 

 

 

Kategori
Mancanegara Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Remaja. Teenager Tulisan Sinta Yudisia

Mengapa Artis, Girlband & Boyband Korea Punya Banyak Penggemar?

 

Masa remaja dulu, boyband yang marak di blantika musik adalah New Kids on The Block, Westlife, Boyz to Men dan sejenisnya. Wah ketahuan deh angkatan umur berapa! Ketika punya anak-anak remaja, saya belajar menyukai dunia disekitar mereka. Manga, anime, boyband girlband, film Korea, film Jepang dan segala seluk beluk industri seni negara Ginseng dan negara Matahari Terbit.

Alhasil, saya cukup mengenal boyband seperti Super Junior, Shinee, Wonder Girl, SNSD atau Girls Generation. Yang terbaru pun cukup tahu seperti BTS, Seventeen, G Friend, Red Velvet. Penggemar mereka punya sebutan sendiri : ELF untuk Suju, Carat untuk Seventeen, A.R.M.Y untuk BTS.

Rap monster BTS.jpg
Rap Monster BTS dg IQ 148!

 

Apa yang saya suka dari pekerja seni Korea : mereka all out. Rap monster dari BTS, Hani dari EXID, lalu Song Jong Ki dan Kim Tae Hee adalah beberapa anggota band dan movie star yang bukan hanya menekuni dunia hiburan namun juga sangat cerdas di bidang akademik. Belum lagi, berita tentang kerasnya masa karantina mereka di bawah manajemen terkenal, membuat orang-orang geleng kepala. Aturan makan ketat, tak boleh pacaran, sekian jam berlatih vokal dan olah tubuh. Yoona, salah satu anggota girlband SNSD bukan hanya bertubuh langsing tapi ia juga penyuka olahraga esktrim panjat tebing.

kim tae hee.jpg
Kim Tae Hee : Cantik dan Pintar!

Girl Band yang Keren

Anak-anak SMP dan SMA bahkan mahasiswa sangat menggemari artis dan girband Korea. Mengapa tidak? Apa saja penyebabnya?

  1. Goodlooking. Gadis Korea disebut sebagai salah satu perempuan tercantik dunia karena kulitnya yang putih dan rambutnya yang hitam serta halus.
  2. Stylish. Cewek Korea , apalagi yang tampil di dunia hiburan sangat pandai memadu madankan beragam jenis pakaian. Boleh jadi karena tubuh tinggi, langsing dan kulit putih membuat mereka tidak kesulitan memilih busana.
  3. Childish. Imut, kekanakan, unyu-unyu, menggemaskan. Ih, pokoknya kalau melihat gaya mereka rasanya geregetan. Pingin nyubit pipinya!
  4. Energic dance. Melihat 4, 5, 9 cewek cantik berkumpul sudah membuat mata terpesona. Apalagi olah geraknya yang kompak, energik, dengan tarian-tarian yang ditata oleh koreografer andal. Jadilah tampilan hiburan yang benar-benar menarik dan so entertain!

 

Girlband sebagai Role Model

Begitu kuatnya industri seni dari Korea sehingga masyarakat, utamanya remaja berbondong-bondong ke negeri Ginseng baik ingin berlibur atau sekolah disana. Kata-kata kamsamhamnida, saranghe, oppa, eonni, ajuhsi, menjadi kata yang biasa  diucapkan. Bila generasi 90-an serba kebarat-baratan; generasi 2000an serba ketimur-timuran. Tokoh idola umumnya akan menjadi role model  bagi pengikutnya. Di tiap dekade, di tiap musim, di rentang waktu tertentu selalu ada idola yang jadi trendsetter dunia. Musim baju leher sabrina yang dikenakan Audrey Hepburn, perempuan mengikutinya. Musim rambut pendek ala Demi Moore yang ngehits di film Ghost, perempuan ramai-ramai memangkas rambutnya. Musim poni panjang ala Jennifer Aniston di film Friends , perempuan melakukan hal yang sama. Demam Korea membawa followersnya kepada beberapa tata aturan yang biasa ditemui di masyrakat Korea.

Apa itu?

Gaya makan, gaya bicara, cara bergerak dan berperilaku, hingga gaya hidup.

Di era 50-an ketika body berisi ala Marilyn Monroe mendunia, perempuan tidak terlalu pusing dengan ukuran tubuh. Yang dianggap sexy justru yang tubuhnya cenderung gemuk. Bibir tebal sedikit memble dianggap sensual. 70-an dunia model dikejutkan dengan supermodel Twiggy yang tubuhnya setipis papan. Maka orang kurus berbangga saat bersosialisasi dengan teman-temannya. Hal ini terjadi hingga era 80-an, sampai-sampai, orang dianggap cantik bila berbibir tipis. Ketika itu belum dikenal operasi plastik; maka orang lebih suka merekayasa wajahnya dengan gaya rambut dan tampilan make-up. Di era demam Korea; trendsetter yang diikuti adalah tubuh (amat sangat) ramping, kulut putih dan wajah imut kekanakan. Raut innocent berupa hidung runcing, mata berkelopak, bentuk wajah oval. Mereka yang pesek, berahang persegi, dahi lebar, gigi maju dan bibir memble; silakan minggir.

 

Hyoyeon SNSD dan Yoona SNSD

Maka, dikenal kemudian di jagad gonjang ganjing ini tubuh super ramping yang dapat diperoleh dengan mengikuti diet super ketat : makan timun dan ubi merah. Tak ada ayam goreng Upin Ipin, tak ada mak nyusss nya Bondan, tak ada es krim, tak ada coklat. Kalau diet masih oke-lah. Yang sangat jauh darikultur Indonesia adalah …budaya oplas alias operasi plastik. Ini sudah menjadi rahasia umum, bahwa sebagian besar artis Korea harus melewati bedah plastik untuk mendapatkan wajah yang diidamkan dan mendapatkan penggemar. Jelek sedikit, hujatan akan dituai.  Sangat sedikit artis yang tetap alami seperti Kim Tae He atau Song Hye Kyo. Lee Min Ho yang sudah tampan saja, harus memperbaiki hidungnya agar lebih mancung.

Budaya kerja keras dan kecintaan pada seni bangsanya sendiri adalah hal yang pantas diacungi jempol dari artis Korea. Namun gaya hidup mereka, tampaknya tak cocok dengan budaya bangsa kita. Indonesia mengenal kesantunan, tata krama, tepa selira yang semuanya dilandaskan pada keluhuran budi. Bukan fisik semata. Maka menilai seseorang hanya dari fisiknya saja, sungguh tidak imbang. Sedihnya, banyak generasi muda sekarang meniru girlband dan boyband Korea hanya dari tampilan fisiknya saja. Oplas, ikut oplas. Diet, ikut diet. Berpakaian minim, ikut demikian.

Padahal, remaja Indonesia akan menjadi remaja unggul bila menjunjung nilai budaya sendiri. Mereka makan kimchi, kita makan pecel. Mereka berpakaian mini, kita lebih suka baju batik. Mereka oplas, kita tak malu dengan kulit coklat, hidung tak mancung, pipi chubby dan body berisi. Sebab inilah anugerah Tuhan bagi bangsa Indonesia. Bangsa yang dikenal sebagai bangsa berperilaku luhur, yang megnhargai manusia karena ketinggian ilmu dan budi pekerti. Bukan sekedar tampilan fisik.

 

Kategori
Cinta & Love Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Remaja. Teenager WRITING. SHARING.

4 Cara Move On : ditinggal pacar, dikhianati teman,  gagal akademis & gagal usaha

 

 

Pernah patah hati?

Teman yang kita percaya tahu-tahu menusuk dari belakang, menipu diam-diam?

Fail-Grade-0811
F is failed?

Atau berkali-kali ujian, mencoba beasiswa, memulai bisnis dan hasilnya bolak balik nihil; malah minus? Kita semua pernah mengalami hari-hari pahit sehingga ingin rasanya dunia berakhir.  Mirip lagu lama yang dipopulerkan Sonia sekitar tahun 90an :

Why does the sun goes on shining

Why does the sea rush to shore

Don’t they know, it’s the end of the world

Kayaknya, hidup gak punya arti lagi saat orang yang kita sayangi tiba-tiba berbalik menjauh, memutuskan, memusuhi.

Kayaknya nggak ingin ketemu teman-teman lagi ketika nilai akademis jeblok, atau gak lulus SBMPTN. Lihat, orang pada rame-rame unggah foto diterima di PTN atau PTS favorit. Rame-rame unggah satus habis ujian sidang skripsi, sementara kita boro-boro masuk bab IV bab V. Judul aja bolak balik ditolak, hiks!

 

Sukses 100%

Yuk, kita coba cari orang jenis ini.

Juara 1 sejak SD, SMP, SMA. Malah rangking 1 sejak TK dan playgroup. Ampyuuun, sejak kelas toddler sampai kelas infant ranking 1 paralel? Ajaiiib. Mahasiswa dapat beasiswa, lulus cepat kerja, dapat jodoh dan punya perusahaan gede sekelas Suzuki, Chrysler, Ford. Dianugerahi otak dengan kapasitas IQ 200 poin, keluarga yang harmonis serta tak pernah sakit seumur hidup.

Well, guys.

Kayaknya orang jenis ini malah jarang-jarang bisa hidup di planet bumi.

Tuhan menciptakan rasa sakit supaya orang bisa punya imunitas. Bayangkan kalau orang nggak pernah sakit dan sengsara seumur hidup, suatu saat kena jarum atau flu batuk pilek; sudah masuk IGD langsung koma.

Genius dan IQSteve Jobs pernah susah banget hidupnya, sampai-sampai harus jual tutup botol supaya bisa beli makan. Jean Paul Sartre sakit-sakitan di masa kecil, sebelum dunia mengakuinya sebagai salah satu filsuf dengan kata-kata yang menyihir. Albert Einstein, di masa kecil mengalami echolalia yang menyebabkannya gagap berbicara dan tampak seperti anak bodoh. Apalagi Einstein rangking buncit dari 70 siswa. Masih mending kamu yang nomer 5 dari belakang, kan? Mahathma Gandhi dicibir orang ketika menggaungkan satyagraha, swadesi, ahimsa. Ya ampun, hari gini, ketika orang rame-rame pada pakai produk luarnegeri yang bergengsi; ngapain juga pakai selembar kain yang dipintal sendiri?

Orang yang ingin selalu sukses 100% di masa hidupnya, akan mudah patah di tengah jalan.

Banyak kok contohnya.

Ada orang bernama William James Sidis. Anak pintar jenius, ganteng pulak! Orangtuanya berharap dia sukses terus, namun akhirnya di usia masih sangat muda, sekitar 40an tahun; ia mengalami depresi berat dan harus berakhir hidup mengenaskan.

Ketika kita sakit.

Dikhianati.

Ditipu.

Gagal.

Jatuh.

Imunitas tubuh menebal berlapis-lapis hingga satu semester kemudian, setahun ke depan, lima tahun berikutnya dan 10 tahun di masa yang akan datang; muncul individu baru yang jauh lebih cemerlang. Bukan aku yang cengeng, gampang diperdaya, mudah ditipu cinta picisan, mau main belakang dan potong kompas.

Aku adalah sosok baru yang tangguh, optimis, ceria yang suatu saat akan….roaarrrr!

Kunci : baca biografi orang hebat.

 

Love Yourself

Benci banget sama diriku ini. Orang mudah belajar matematika, aku boro-boro. Kalkulus, trigonometri, aljabar sampai nyontek pun tetap nggak ngerti! Orang mudah banget belajar fisika dan kimia; kita gak paham-paham hukum katrol meski tiap hari nimba di sumur pakai ember dibantu roda bertali. Tiap hari beli bensin tapi nggak ngerti apa sih benzena dan teori molekulnya.

Katanya gampang masuk kelas sosial, eh nyatanya tetap aja nggak paham apa itu teori ekonomi? Bagaimana konsep geografi? Sejarah suka sedikit sedikit tapi juga gak paham terlalu dalam. Gak pernah ngerti sejarah Indonesia apalagi ngerti apa bedanya perang Dunia I dan perang Dunia II. Tapi kalau World War Z tahu, hehehe. Atau War of the World. Atau Game of Throne. Atau Final Fantasy. Atau BTS. Seventeen. Goblin. Nah…

Kalau di kelas, paling mahir gambar-gambar buat manga. Kata teman-teman, kita bisa masuk jurusan desain sebab gambar kita bagus. Tapi kata guru seni, gambar kita sama sekali gak ada nilanya! Wong bahas perspektif aja bingung antara 2 dimensi dan 3 dimensi.

Seolah-olah, Tuhan menciptakan kita biasa-biasa aja.

Atau malah di bawah standar.

emma watson 1.jpg
Emma Watson : cantik, pintar, sukses karir. Lulus Brown University lagi!

Betapa tak adilnya dunia, ada orang cantik, kaya, pintar, kuliah kedokteran dengan mudahnya. Ada orang ganteng, pandai, berkecukupan, kuliah teknik dengan mudahnya.

Sampai kapanpun, kalau kita nggak mencintai diri kita apa adanya, maka selamanya tak ada nilai positif yang muncul bersinar dari dalam diri. Contoh di bawah ini, pasti akan buat kalian menghargai apa yang sudah ada dalam hidup.

Sebut namanya Sofia.

Yatim sejak kecil, ibunya meninggal pula ketika ia SD. Waktu kecil sering digebuki budenya karena sama sekali gak paham matematika. Ketika anak-anak lain bahagia punya sepasang orangtua, Sofia ini malah sering bertanya-tanya tentang jati dirinya. Hidup tanpa ayah dan ibu, ikut saudara, bisa kita bayangkan seperti apa perihnya?

Eh, lulus SMA, makin lengkap penderitaannya. 2x nyoba SBMPTN gagal. Akhirnya ia diterima di universitas serta fakultas yang sama sekali jauuuh dari bayangannya : fakultas tata boga. Sofia sama sekali nggak pernah berpikir mau apa ia di fakultas ini, nggak ada bayangan masuk kesana sejak kecil dan mau jadi apa ia disana.

Keperihan hidup membuat Sofia lari pada sastra: ia suka menulis buku dan tentu suka baca buku. Alhasil di usia muda, ketika orang masih tertatih belajar menulis fiksi non fiksi, Sofia sudah menghiasai koran-koran dengan tulisannya. Dan, dia mahir membuat kue-kue. Keahliannya spesial, sebab ia membuat kue khusus untuk orang diabetes, untuk anak autis dan sejenisnya. Di usia muda, Sofia sudah punya penghasilan lumayan sebagai penulis, chef, berjilbab dan alhamduillah telah dipersunting oleh seorang lelaki sholih.

F.L.Y
Love Yourself

Kalau sekarang, mungkin ada banyak gadis yang iri pada posisi Sofia. Gimana enggak? Cantik, telah menemukan belahan jiwa, punya penghasilan mandiri yang mumpuni pula! Sofia tidak akan jadi orang segigih itu kalau nggak punya masa lalu yang super duper pahit.

Kunci : love yourself. Find your talent.

 

Btw, Sofia itu salah  atu tokoh di novelku yang insyaallah segera terbit berjudul Polaris Fukuoka 🙂

 

Nikmati Rasa Sakit

Gagal? Huhu. Pingin nagis sampai kasur bisa diperas.

Tapi nanti apa kata orang : cengeng, Lu! Udah gede  masih nangis! Don’t cry , be tough!

Guys, nangis itu boleh dilakukan cewek or cowok. Nangis itu salah satu cara katarsis, pengosongan agar isi dada yang penuh berkurang bebannya. Setidaknya, terasa lebih ringan. Akui secara jujur bahwa hari ini, menit ini, detik ini, kita sedang sakit hatiiii banget. Merasa minder. Merasa malu. Merasa nggak berharga. Menerima itu lebih baik dari denial. Tak perlu pura-pura sok kuat, sok tangguh : aku nggak papa kok!

crying
Crying is okay for both, girl or boy

Menangislah.

Biarlah rasa kesal, sakit, marah itu menenggelamkanmu sesaat. Orang butuh pelepasan. Tetapi, sedih ini sama sekali nggak boleh terlalu lama. Bahkan jangan sampai lebih dari 2 pekan. Sedih berkepanjangan apalagi lewat dari 2 pekan, masuk 1 bulan, terus ke 6 bulan; wah-wah-wah. Bisa-bisa masuk fase depresi. Segera setelah 3 hari hapus air mata. Bangkit dari tempat tidur. Minum susu, olah raga, makan buah, minum jus. Beri asupan otak dengan vitamin dan makanan bergizi.

Come on guys! Satu arena sudah gagal. Kita harus siapkan fisik dan psikis untuk arena yang lain!

Kunci : sedih, tapi tak boleh lebih dari 2 pekan

 

Cari Teman Sejenis

Oho, pecundang gabung sama pecundang yaaa?

Orang gagal berteman sama orang nyungsep , gitu?

Ya maklum, setali tiga uang.

Eits, bukan gitu juga. Kita tetap butuh teman yang sukses, yang pintar. Tapi disaat jatuh, seringkali kebersamaan bersama teman-teman senasib akan menguatkan. Kalau patah hati, cari teman-teman yang juga pernah putus cinta sama pacarnya. Ah, mereka aja ternyata bisa ketawa ketiwi sesudah 2 bulan patah cinta dan hidup hepi sama keluarga dan teman-temannya. Gak perlu segera nyari pacar baru.

Eh, ternyata teman SMA yang gagal masuk SBMPTN bukan cuma gue doang?

Malah ada kakak kelas yang 2-3 kali gagal, masih terus nyoba dan sekarang ia malah nyambi jadi supir taksi online. Nah, berteman dengan orang-orang yang sejenis, serupa, sewarna; setidaknya akan membuat diri merasa tak minder-minder amat. Ternyata, bukan cuma aku aja ya yang mengalami kegagalan di dunia. Kelak, kalau kita sukses dan masih ada teman yang gagal; kita bisa berbagi kisah suskes.

Namun, memilih teman yang serupa atau sejenis ini bukan sekedar asal pilih ya. Jangan teman-teman yang melemahkan iman.

“Yah, emang di dunia ini harus ada kelompok uji coba yang gagal. Kali aja itu jenis spesies kita, Bro.”

“Kemarin aku gagal. Kali aja tahun depan harus pake joki, ya?”

“Hm, dengar-dengar sih orang seperti kita gagal karena nggak nyogok. Apa kita coba sekali lagi pakai jalan belakang?”

best friends.jpg
Best friend

Tunggu dulu. Teman-teman semacam ini jangan diterima asumsi mereka. Jujur = gagal, curang = sukses adalah fallacy of comparison. Perbandingan yang keliru. Ada juga kok jujur = sukses, curang = gagal. Oalah, jatuh ketimpa tangga. Sudah joki, nyogok, curang nyontek; masih gagal pulak! Mending-mending jujur, apa adanya, lurus. Meski gagal tetap ada kebanggaan.

Sama seperti orang patah hati.

Jangan sekali-kali  mikir commit suicide apalagi membenturkan diri dalam masalah. Disakiti pacar lalu bersumpah akan memacari sebanyak mungkin orang untuk kemudian dihempaskan.

“Biar orang tahu seperti apa rasanya patah hati. Dia bisa dapat cewek baru, emang aku gak bisa dapat cowok baru yang lebih kaya dan lebih keren?”

Tidak ada satupun sikap yang dapat menjunjung tinggi martabat seseorang kecuali  :prestasi jujur. Diputuskan pacar, lawan rasa sakit dan hancurnya self esteem itu dengan membangun self esteem lewat prestasi. Bukan main sikat sana sini. Suatu saat, kita bisa dengan tegak kepala lewat di depannya : helooo, aku yang kamu campakkan malah bersyukur terlepas dari laki-laki buaya. Aku bisa fokus pada prestasi dan karir, serta menjalin relasi dengan laki-laki lebih baik dan bertanggung jawab.

Kunci : cari teman yang serupa, yang menguatkan iman

 

 

 

 

Kategori
mother's corner My family Oase Remaja. Teenager

“Memaksa” Anak untuk Bersama

“Nanti bungkusin aja, Mi. Aku nggak ikut.”

Anakku menolak untuk bergabung akhir pekan, ketika kami ajak makan diluar. Alasannya masuk akal.

“Aku capek! Mau tidur aja. Lagian aku sudah sering keliling-keliling ke arah sana. ”

Wajar sih. Waktu kecil, anak akan menguntit kemana saja ayah ibunya pergi. Tapi setelah remaja, mereka punya kelompok sendiri. Punya agenda sendiri. Meski, mereka juga mengaku senang dan bahagia bila bisa berkumpul bersama.

Tapi, aku merasa waktu berkumpul harus tetap diselenggarakan. Entah mereka pada awalnya tidak setuju, menggerutu, mengomel, atau menolak dengan 1001 alasan. Berkumpul di rumah oke-oke saja; namun berjalan bersama-sama menikmati suasana di luar rumah; akan memiliki rasa berbeda. Lagipula, banyak yang harus dipelajari bersama anak-anak sepanjang menikmati kepadatan lalulintas, mengamati ragam tingkah polah manusia termasuk mengambil beragam hikmah yang harus disaksikan dengan mata kepala sendiri.

Maka si suatu akhir pekan, kami memutuskan makan di luar, walau ada yang wajahnya menggerutu karena tak ingin ikut.

 

Ayo, jauhi gadgetmu!

Kami makan bersama di sate Pak Seger pagi itu. Berhubung butuh waktu untuk membakar sate, yang tersaji lebih dahulu adalah minuman. Dan, tentu, fitur-fitur telepon pintar. Meski telah diingatkan kesepakatan untuk tidak membuka smartphone saat bersama seperti ini, tetap saja ada yang membandel. Aku memberi isyarat pada suami untuk tidak membuka HP nya, sebagaimana akupun menyimpan dan mengabaikan sekian banyak pesan untuk berkonsentrasi pada keluargaku.

2 anak cowokku tenggelam dalam ponselnya.

Anak-anak cewekku lebih fleksibel, mengikuti obrolan kami. Melihat 2 anak cowokku tenggelam di gadgetnya, aku mulai ambil tindakan. Tidak mungkin bilang : ayo, Ummi tadi bilang apa! Masukkan teleponmu ke saku! Dengarkan kalau orangtua bicara. Percuma saja kita pergi jauh-jauh dari rumah kalau semua tenggelam di chat line atau whatsapp!

Kucolek si Mas besar, Ayyasy namanya.

“Eh, kamu ingat nggak pernah ngeshare ke Ummi line today?”

maxresdefault
Pranks yang kadang lucu, kadang kebangetan

Si abang ini suka banget nge share life hacks, video prank, video motivasi sampai berita-berita aktual yang fenomenal atauapun hoax sekalipun.

Ayyas beralih dari ponsel, ganti menatapku.

“Kamu ngeshare ke Ummi berita line today, trus di bawahnya suka ada berita-berita menarik yang lain. Nah ada berita menarik tentang 5 dinosaurus yang masih hidup sampai sekarang. Mokele Mbembe, Mahamba, Megalodon…sebagian ditemukan di Kongo.”

Mokele Mbembe
Mokele Mbembe

Si Mas mulai tertarik dengan pembicaraanku. Dia masih berkutat dengan HPnya tapi mulai mencari apa yang kubicarakan.

“Kayak apa sih Mokele Mbembe itu sebenarnya?” aku ingin tahu.

“Nanti, ya, sebentar,” si Mas masih berkutat dengan info-infonya di HP.

Mas yang lebih kecil, mas kedua, Ahmad namanya. Juga tenggelam di HP.

“Kamu lihat apa?” tanyaku.

“Sebentar Mi, aku lagi lihat robot-robot.”

Aku tahu, Ahmad begitu suka dengan dunia elektronik, otomotif, robot dan sejenisnya. Ia suka browsing tentang dunia tersebut. Namun bagaimanapun, ini acara keluarga. Ia harus terlibat dalam pembicaraan kami. Aku beralih dari pembicaraan mengenai Mokele Mbembe, berdiskusi dengan suamiku dan anak-anak perempuanku tentang kucing. Ahmad dan anak-anakku yang lain suka kucing. Kebetulan beberapa hari lalu kami habis melihat youtube tentang hewan cantik yang hampir punah.

“Eh, kita kan habis lihat clouded leopard, ya Mas? Asyiknya kalau kita bisa melihara hewan kayak gitu yaaa!”

Segera saja pembicaraan di tengah keluarga kami beralih pada kucing. Kucing merah Kalimantan, kucing bakau, blacan, clouded leopard, kucing kampung, dan sembarang jenis kucing. Anak-anak masih melihat satu dua kali pada ponsel mereka tapi mencari tahu tentang apa yang kami bicarakan.

Blacan, clouded leopard, kucing bakau

Aku bersyukur, nahkoda pembicaraan di meja makan hari itu akhirnya ada di tanganku!

Semua terlibat aktif dalam pembicaraan, bercanda, mengemukaan pendapat.

Alhamdulillah, kami dapat menikmati kebersamaan.

Padahal pagi tadi sempat kupikir : biarlah sebagian anak-anak di rumah. Wong mereka memang nggak mau pergi. Nyatanya, mereka kadang-kadang harus dipaksa supaya tetap bersama keluarga. Televisi, gadget, internet, medsos; menjadi hobi anak-anak. Maka sebagai orangtua, kewajiban kita mengajarkan  batasan dan peluang.

 

 

Kategori
Artikel/Opini Bunda Cantik. Beautiful Mother Catatan Jumat Hikmah Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Rahasia Perempuan Remaja. Teenager WRITING. SHARING.

Muslimah : Celana Panjang, Rok atau Jubah?

Putriku membagi link sebuah diskusi hangat di media sosial tentang muslimah yang memakai celana panjang. Muslimah tersebut dikritik oleh senior dan teman-temannya karena  menggunakan pakaian yang dianggap tidak Islami. Aku sendiri bukan orang yang sangat faqih dalam hal agama, tapi berupaya menimba ilmu sedikit-sedikit dan menyempurnakannya.

Sebetulnya, bagaimana sih muslimah seharusnya berpakaian?

Apakah ia harus berupa jubah panjang, longgar, bewarna hitam, dengan jilbab menjuntai hingga melewati panggul? Ataukah boleh menggunakan atas bawah seperti rok SMA, seragam instansi resmi PNS, atau menggunakan celana panjang?

Aku tidak akan membahas detail tentang kajian Quran dan Hadits sebab memang kafaah ilmu pengetahuanku bukan disitu. Aku lebih ingin mengupasnya dari sudut pandang psikologi dan parenting, juga tentang human-development yang menyisir usia wajib berhijab : usia aqil baligh.

 

  1. Konsep Belajar

Busana muslimah, berhijab, berjilbab ; adalah sebuah langkah dalam sekian banyak rangkaian dalam agama Islam. Sebagai muslim dan muslimah kita wajib belajar tentang agama. Mulai belajar bagaimana membaca Quran dengan tartil, membaca tafsir, membaca hadits sampai memahami fiqih, shirah dan segala hal terkait agama ini.

Belajar mencakup pemahaman tentang proses, tujuan, membentuk pengetahuan, berpikir strategis hingga metakognisi tentang materi ajar yang dimaksud.

Belajar agama berarti meliputi proses, tujuan belajar agama, membentuk pengetahuan, berpikir strategis hingga metakognisi.

Aku ingat, bagaimana pertama kali dulu semasa SMA masuk kelas rohis dan mendapat pelajaran tentang busana muslimah. Terus terang aku tahu wajibnya busana muslimah dari teman-teman lain, belum membaca langsung ayat tersebut dari Quran. Maka aku mengalami tahapan belajar.

Celana kulot.jpg

Proses, tidak serta merta langung berjilbab saat itu. Sebab aku masih mengumpulkan informasi, masih tengok kanan kiri, masih lihat apakah sohib karibku pakai jilbab  atau enggak. Setelah sampai di satu titik : ya. Kayaknya aku harus pakai jilbab. Karena apa?

Karena pengalaman pribadi.

Seseorang terkadang sampai di titik agama, karena berbagai jalan yang berbeda. 1001 cerita orang pakai jilbab tak akan sama. Akupun demikian. Waktu itu, ayahku meninggal, meninggalkan kepedihan yang dalam. Maka aku hanya berpikir simple : masa’ aku nggak akan membahagiakan ayaku dengan menjadi gadis shalihah? Maka aku menggunakan jilbab agar ayahku tenang di alam baka. Barulah kemudian sedikit demi sedikit aku memahami wajibnya busana muslimah.

Langsung pakai rok?

No way.

Lha, enggak punya.

Aku anak pecinta alam, pegiat kempo dan suka nonton bioskop. Kebanyakan punya celana panjang. Kalau nunggu punya rok baru pakai jilbab, bisa jadi berthaun-tahun kemudian baru pakai jilbab! Saat itu kupikir, yang penting ada pakaian panjang, aku anggap itu jilbab.

Ada celana jins panjang, pakai aja.

Ada baju lengan panjang, entah itu sweater atau kemeja, pakai aja.

Ada sembarang kain yang bisa dipakai kerudung, pakai aja. Entah bahannya katun, linen, atau bahan plitat plitut yang butuh puluhan peniti hahahah. Pernah aku pakai jilbab yang entah apa nama bahannya. Pas di tempat les, bolak balik melorot ke belakang hingga rambutku menyembul semua!

Yang penting, pakai baju panjang, plus kerudung. Titik.

Itulah proses.

Barulah kemudian , ketika kuliah dan bisa menabung sedikit demi sedikit, aku beli jilbab yang pantas. Rok-rok dan blus, diberi tanteku dan mamaku yang modelnya…..alamak, encik-encik buuuuangetttt. Tuwek! Tapi yah, terima aja. Hitung-hitung nambah koleksi busana muslimah.

Maka aku faham, ketika sekarang melihat ada anak remaja putrid menggunakan beragam jilbab.

Jipon, jilbab poni yang masih memperlihatkan poni.

Jilbab lempar, yang ujung-ujungnya dilempar ke belakang.

Jilbab satu peniti, yang disemat di bewah leher, dan masih memperlihatkan kulit leher dan dada.

Dan jenis jilbab yang lain.

Apakah jilbab yang belum syari itu berdosa?

Wallahu’alam. Hanya Allah Swt yang tahu.

Hanya Allah yang tahu apakah itu pahala ataukah dosa, ketika aku masih pakai celana panjang ketat dengan kemeja dan jilbab ala kadarnya ketika tak ada seorangpun saat itu yang bisa mendampingku pakai jilbab.

Hanya Allah yang tahu apakah itu pahala dan dosa, ketika aku masih bongkar pasang jilbab, karena tersudut teman-temanku semua belum pakai jilbab.

Hanya Allah yang tahu apakah pahala dan dosa, ketika aku jatuh bangun bongkar pasang jilbab, belajar terus tentang Quran dan Hadits lalu mencari tahu apa dosanya orang tidak berkerudung?

Tetapi sekarang aku menyadari, tak ada manusia yang bisa baik sekali jadi. Langsung muslimah taat, keren, shalihah, ghadul basar, hafal quran, membasahi lisan dengan dzikrullah, menjadi pemateri dan motivator agama.

Akulah itu, yang pertama kali pakai jilbab cekikikan bersama teman-teman, hadir ke majlis taklim karena pemateri rohisnya mahasiswa yang keren.

Akulah itu , yang masih suka koleksi music dan kelayapan di bioksop, dengan jilbab tersemat di kepala.

Akulah itu, yang masih suka gossip sana gossip sini, meski sudah mulai ikut pengajian.

Tetapi berminggu, berbulan, bertahun kemudian; apa yang berubah.

Jilbab awut-awutan gak karuan, yang penting asal pakai entah syari entah tidak, mulai berubah lebih santun dan indah. Lebih menutup aurat. Dengan rok, blus panjang dan jilbab yang juga menutup dada. Kalau pakai lengan ¾, memakai deker. Awal kuliah, ketika pakai kulot atau celana, kuusahakan mengenakan kaos yang panjang bajunya hingga hampir lutut.

Bersamaan dengan busana muslimah itu, ahklakku membaik. Ilmu agamaku meningkat. Dan kebiasaan buruk seperti gak peduli pada orang, bicara sembarangan, bicara menyakitkan, boros, suka menghabiskan waktu untuk music dan nonton; berganti dengan aktivitas lain yang lebih produktif. Bukan berari aku sekarang jadi orang suci yang gak pernah bicara pedas atau gak pernah marah, sama sekali gak dengar music dan nonton film, ya!

Dulu kalau seminggu gak nonton film 2 atau 3 kali, rasanya suntuk. Sekarang santai aja. Sebab hiburan juga beragam, terutama baca buku. Baca biografi sangat mengasyikkan. Nonton film kalau dulu apa aja diembat, sekarang lihat reviewnya dulu. Rotten tomatoes bagus? Oke. Ada waktu? Oke. Udah download? Oke. Karena nonton di bioskop sudah gak sempat. Males hehehe.

Film-film seperti Spotlight dan Split yang sangat dekat dengan dunia menulis dan psikologi, menjadi film wajib tonton. Dan kutonton itu di rumah. Tak gak harus di bioskop, aku nunggu sampai bisa download gratis .

Proses itu sungguh panjang. Kalau dihitung-hitung hingga sekarang, kurang lebih 25 tahun lebih sudah aku berjilbab. Dan rasanya masih saja ada yang kurang dari proses beragama-ku.

Proses, tujuan belajar agama, membentuk pengetahuan, berpikir strategis hingga metakognisi. Proses, tujuan dan membentuk pengetahuan tentang agama , khususnya jilbab sudah kulalui.

Muslimah Fashion 2.jpgBerpikir strategis tentang jilbab?

Nanti gimana ya aku dapat jodoh.

Nanti gimana ya aku kerja kalau ditolak karena memakai kerudung.

Saat SMA aku bertanya pada teman-teman, boleh gak kalau pakai kerudung tapi kupingnya kelihatan? Mengingat foto saat itu harus memperlihatkan telinga. Untungnya, peraturan segera membolehkan ijazah pakai jilbab.

Aku sempat takut pakai jilbab karena takut mama marah.

Bagaimana cara mengatasi ‘berpikir strategis’? Aku minta saran teman. Sahabatku bilang,

“Sin, kalau aku, yang buat mamaku marah adalah sejak aku pakai jilbab aku tuh lamaaa banget kalau disuruh keluar. Maka kita harus pakai jilbab yang simple. Jangan ribet.”

Saat itu belum banyak jilbab kaos seperti sekarang. Maka kalau aku punya uang, aku segera beli jilbab bahan kaos bentuk segitiga, yang ada tali dua , bisa dililitkan cepat di belakang leher. Sisa kain yang menjuntai di kanan kiri tinggal diikat dan diberi peniti satu. Cepat. Itulah berpikir strategis, gimana biar aku bisa pakai jilbab dan tetap aman.

Metakognisi?

Jodoh, uang , karier, pekerjaan.

Itu juga yang dikhawatirkan sebagian besar muslimah. Itu juga yang menimpaku. Maka aku terus menerus bertanya pada diri sendiri : untuk apa pakai jilbab. Kalau karena Allah, masa’ Allah tidak akan memberikan jodoh untukku? Kalau karena Allah, masa’ Allah tak akan memberi rizki dan uang padaku? Selalu ada pertempuran dalam diri dan ini sungguh berat. Alhamdulillah, metakognisi dari belajar tentang jilbab berhasil kuraih. Aku harus terus belajar hingga akhir hayat, terkait sisi hidup yang lain.

 

  1. Bertahap

Pakaian muslimah seharusnya seperti yang telah diatur dalam agama.

Menutupi dada, tidak membentuk tubuh, tidak menyerupai laki-laki dalam segala aspeknya.

Konteks menyerupai laki-laki ini bisa banyak makna dan bersinggungan dengan banyak kultur.

Jubah, dikenal di kalangan Arab dikenakan laki-laki dan perempuan. Laki-laki pun berjubah. Bahkan, laki-laki menggunakan kerudung di atas kepala untuk melindungi dari hawa panas. Maka di daerah Arab, perempuan diminta lebih panjang menggunakan kerudung di kepala, agar tidak menyerupai laki-laki.

Bagaimana dengan belahan bumi lain?

Ada kultur skandinavia yang memperlihatkan lelaki biasa pakai rok. Ada kultur Jawa dimana laki-laki juga biasa pakai kain panjang, jarik, seperti perempuan. Motif kain laki-laki dan perempuan pun bisa sama : parang rusak, wahyu tumurun, nogo kembar, sidho mukti. Dua-duanya dapat dipakai laki-laki dan perempuan. Hanya saja, lelaki menggunakan beskap dan blangkon, perempuan kebaya. Bila perempuan muslimah ingin menggunakan batik dan kebaya, tinggal menutupkan kerudung ke kepala dan menyempurnakan dengan kaos kaki. Kebaya pun dibuat yang tidak terlalu membentuk tubuh.

Lalu bagaimana dengan celana panjang?

Ini dia yang hingga kini masih menimbulkan perdebatan.

Celana jins, awalnya dipakai para penambang Amerika untuk melindungi kulit dari cacing tambang yang ganas. Para penambang umumnya laki-laki, meski ada yang perempuan juga. Celana ini umumnya berbentuk celana monyet, dengan kantung di dada dan celana yang diberi tambahan hingga perut dan dada serta diberi semacam bretel di bahu kanan kiri.

Kalau dilihat dari sejarah, yang mengenakan celana panjang memang kebanyakan laki-laki.

Pangeran Antasari, Pattimura, Pangeran Diponegoro; foto-foto mereka menggunakan celana panjang. Tetapi wilayah Aceh seperti Cut Meutia dan Cut Nya Dien, menggunakan celana panjang juga dengan perbedaan di bagian busana atas.

Sekali lagi, aku bukan ahli terkait fiqih. Jadi, hanya mengupas dari sudut pandang ilmu yang aku tahu.

Maka, celana panjang, sepanjang ia tidak memperlihatkan aurat seperti paha dan panggul yang ketat; maka boleh-boleh saja. Asalkan menggunakan pakaian yang  lebar seperti tunik hingga lutut atau minimal paha. Kulot juga panjang dan lebar, lebih nyaman dipakai.

Kalau diminta memilih apakah celana panjang, rok dan jubah yang lebih baik?

Aku pribadi merasa salut dengan mereka yang menggunakan jubah. Terlihat lebih anggun dan lebih mawas diri; juga lebih tidak menampakkan aurat. Aku juga pakai jubah; meski tidak di segala kondisi. Bila mengisi acara di insitusi resmi, aku lebih memilih mengenakan rok dan blus. Utamanya batik, agar lebih memperlihatkan cirri khas Indonesia.

Tetapi aku juga tidak akan mengkritik para muslimah yang harus berkontribusi sebagai polisi, tentara, perawat, pekerja pabrik, petani, peternak, tukang sampah. Aku menjumpai seorang muslimah yang harus bekerja sebagai pemulung dan tukang sampah; maka ia mungkin merasa celana panjang cocok untuknya agar tidak mengganggu saat bekerja.

Ya, itu kan tuntutan pekerjaan!

Bagaimana kalau mahasiswa? Bukan tuntutan pekerjaan, atuh!

Alangkah baiknya mahasiswa kalau ia berjubah dan berjilbab panjang. Atau menggunakan rok dan blus panjang. Tetapi kalau ia memilih bercelana panjang karena sedang bertahap memantaskan diri; maka itu akan menjadi proses pembelajaran luarbiasa bagi dirinya. Ia mungkin akan mencibir teman-temannya yang memakai busana kurung mirip emak-emak; tapi ia pasti akan belajar menilai. Malah mungkin, ia masih pakai celana ngatung 7/8 yang memperlihatkan betis, pakai baju ¾  yang tipis melambai, pakai jilbab ala kadarnya yang masih memperlihatkan rambut mencuat keluar dari pori-pori jilbab.

Tak mengapa.

Ia sedang menjalani proses, berjalan menuju tujuan tertentu dan mengumpulkan pengetahuan. 3 atau 5 tahun dari sekarang ia mungkin akan berubah. Yang penting, para muslimah berhijab rapi tidak mudah untuk menjustifikasi seseorang hanya berdasarkan penampilan.

Don’t judge the book by it’s cover. Okay?

Eh, tempo hari aku jadi juri Kartini lho!

Aku ketemu dengan para muslimah muda yang keren abis. Bikin diri ini yang sudah senior jadi malu. Ada yang pakai jubah dan jilbab panjang ala sosialita. Ada yang pakai rok, jaket almamater dan jilbab ala aktivis rohis. Ada yang pakai celana panjang dan kaos. Tapi mereka perempuan muda yang rrruaaarrbiasa!

Be yourself and never stop learning.

Fashionable  dan cantik ya?

Yang masih pakai celana panjang, terus belajar. Yang masih pakai rok, terus belajar. Yang masih pakai jubah, terus belajar.

Sampai kapan?

Sampai malaikat Raqib Atid menutup kitab dan menyerahkan urusannya pada Izrail.

 

  1. Sederhana

Naaaaah, yang ini nih lebih cucok buat bahasan muslimah.

Sebab, mau pakai celana panjang, rok, atau juba; ada kebiasaan buruk mengintai. Hiks, kebiasaan apa itu? Sikap arogan, jealousy, egosentris. Lihat teman keren pakai baju a, kit aingin pakai A. Lihat sohib keren pakai jilbab B, kita nyari di online jilbab B. Lihat ustadzah di televise pakai jubah panjang dan jilbab panjang dengan motif menarik; kita juga harus punya.

Salah satu cirri khas muslimah yang harus menempel pada dirinya; entah apapun jenis busananya adalah sifat sederhana.

Pakai celana panjang dan blus syari; kalau tasnya harus hermes Kelly, hmh.

Pakai rok dan blus syari tapi lemarinya penuh baju dan gak pernah dikosongkan buat bakti sosial, hmh.

Pakai jubah dan jilbab panjang tapi harganya selangit, hmh.

Baju kurung Malaysia.jpg
Baju kurung ala Malaysia

Apa gak boleh bermewah-mewah? Apa standar orang kaya harus selalu sama dengan standar menengah ke bawah? Sudah terbiasa beli busana di Hong Kong dan distrik Gangnam; rasanya gatel kalau pakai kaos beli di minimarket. Wah, kalau sudah dari kakek neneknya kaya; orang memang tidak akan mudah mengubah gaya hidup. Tapi bukan hal itu yang menjadi titik tekan.

Gaya hidup Utsman bin Affan dan Umar bin Khatab, juga Ali bin abi Thalib beda. Mereka berbeda cara makan, tempat tinggal, gaya berbusana. Tapi mereka dijamin masuk surga lho.

Sederhana itu, berusaha untuk terlihat 2 atau 3 level di bawah standar kekayaan yang sebetulnya. Itu filosofis yang kudapat ketika bertemu seorang pengusaha muslim nan sukses di Indonesia dan Jepang. Kisah hidup beliau menginspirasi dua tokoh konyol di Polaris Fukuoka, seorang gadis bernama Sofia dan pamannya Hanif (promosi hahaha). Konon, orang Jepagn suka dengan gaya hidup 2-3 level di bawah standar kekayaan. Itu namanya orang kaya beneran. Bukan OKB atau kaya boongan.

Punya duit 1 juta, yah, beli baju yang harga 100-200 ribu. Jangan punya duit 1 juta tapi pinginnya baju sekelas 3 juta.

Sederhana itu dicontohkan Carlos Slim, Mark Zuckerberg. Makin kaya, makin gak kelihatan. Bukan makin kaya makin belagu. Kalau jadi muslimah kaya, kelihatan dari jejak sedekahnya seperti Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf, bukan dari jejak upload statusnya ya.

Gakpapa tasnya Hermes Kelly, tapi infaqnya sebesar kapal perang.

Gakpapa busananya beli di Paris dan Korea, tapi infaqnya sebesar mobil Jaguar, Mustang dan Ferrari. Jangan dibalik. Tasnya Hermes Kelly, infaqnya senilai tas Tanggulangin. Busananya puluhan ribu Yen atau jutaan won; infaqnya sebesar odong-odong.

Sederhanalah dalam berbusana. Sebab itu akan membuat kita cantik. Hehehe, ini bukan menghibur diri sendiri ya?

  1. Tidak Berlebihan

Islam itu pertengahan.

Tidak belebihan, tidak kekurangan. Yang sedang dan biasa.

Gaya kasual pakai celana gunung yang longgar, dengan kaos loreng ala sate Madura, okelah. Tapi gak perlu segala gelang etnik dipakai mulai gelang kaki, gelang tangan, kalung tumpuk-tumpuk. Gelang kayu dan kelang karet okelah dijadikan satu. Dengan cincin tempurung penyu juga cantik, kalau kita jenis cewek yang enggan pakai perak dan emas. Jilbab dan topi baret, bisa jadi padanan, dengan vest ringan. Kadang, saking inginnya memadu madankan apa yang dipunyai di lemari; semua asesoris dikenakan. Padahal, pilih saja satu dua. Simple is beautiful.

Jubah cantik.jpg
Gaya sederhana yg chic

Bergaun pun harus sederhana.

Tidak selalu harus punya jilbab yang sewarna dengan motif bunga di baju. Bunga biru, jilbab harus biru. Bunga marun, jilbab harus marun. Bunga pink, jilbab harus pink. Padahal dengan punya jilbab hitam, coklat, krem dan merah tua; dapat mewakili semua busana yang ada. Rok pun usahakan punya yang dapat mewakili untuk banyak acara.

Kecuali kalau artis, presenter ya! Itu memang dunia yang butuh penampilan. Padahal banyak lho artis yang tetap sederhana.

Tahu Julia Stiles kan? Yang main di trilogy Bourne. Ohya, sekarang sudah sampai seri ke-5 hehe. Kata paparazzi, dia gak terlalu suka pesta sebab gak punya banyak koleksi gaun. Artis pun tidak harus punya baju sekontainer. Ratu Rania dari Yordania pun tidak terlalu suka mengkoleksi permata seperti para perempuan bangsawan lainnya. Konon, bila punya permata baru, yang lainnya akan diserahkan padap ihak keluarga atau negara. Yang sering dipakainya adalah mahkota kenegaraan.

 

  1. Jangan sampai bosan

Dalam beragama, hendaklah berada pada sisi tengah-tengah.

Sebab, Rasulullah Saw sendiri mengkhawatirkan apabila kita sangat keras pada diri sendiri; suatu saat sikap ekstrim itu akan menjadi sebaliknya. Permisif. Saking sederhananya dan ingin memelihara diri; sama sekali tidak pernah memakai perhiasan. Padahal Allah Swt pun suka bila hambaNya memperlihatkan sebagian dari kenikmatan yang diberikan olehNya.

Sikap tengah dalam agama membuat kita tidak bosan.

Kita ingin sederhana dalam berbusana, maka agar berhemat, memilih jubah dan jilbab sebagai pakaian sehari-hari. Tak mengapa menyisihkan uang, memberikan reward diri dengan membeli bros cantik atau kaos kaki yang nyaman dipakai.

Segala pilihan busana mulai celana panjang, rok, jubah; dipilih atas dasar ketaatan kepada Allah Swt. Hanya kita yang tahu, apa yang ada di lubuk hati terdalam. Kalau memilih memakai celana panjang; janganlah mengucap sumpah dengan mengatakan tak akan pernah memakai jubah yang seperti emak-emak. Sebab, siapa tahu suaminya kelak ingin istrinya mengenakan busana anggun. Yang mengenakan gaun pun, tak usah menyumpah-nyumpah mereka yang mengenakan celana panjang. Siapa tahu kelak berada dalam situasi yang menyebabkan ia harus menanggalkan gaun panjang dan menggantinya dengan pakaian yang lain.

Di tahun 2009, saya berkesempatan ke Palestina, Gaza.

Maka perempuan disana terbiasa mengenakan celana panjang, dan dilapisan luar mengenakan abaya. Tentu kita paham, kenapa ini dilakukan. Mereka siap lari dan menyelamatkan diri bila sewaktu-waktu bom jatuh di wilayah pemukiman.

Jadi, apa pilihan busana muslimahmu?

 

 

 

 

 

Kategori
Oase Perjalanan Menulis Remaja. Teenager Sastra Islam WRITING. SHARING.

Mengapa  Menulis Novel (lagi)

Novel terakhirku terbit 2013, berjudul Bulan Nararya, diterbitkan oleh penerbit Indiva Solo.

bulan-nararya.jpg
Bulan Nararya, Indiva Publishing

Setelah itu, cukup lama hiatus dari menulis novel. Alasannya? Ada beberapa penyebab.  Yang pragmatis banget, fiksi Islami sedang lesu. Jadi, honor dari menulis novel, apalagi menunggu royalty nya, tak terlalu sepadan. Pernah mencoba menulis cerpen untuk media massa, namun hingga saat ini masih harus terus belajar dan mencoba, sembari berdoa agar keberuntungan berpihak. Alasan klise yang lain, kesibukan dan waktu yang sedemikian sempit. Menulis fiksi tidak mudah. Walau identik dengan mengkhayal, berimajinasi, berpikir kreatif; nyatanya menulis fiksi juga membutuhkan banyak referensi sebagaimana menuliskan non fiksi.

Energy menulis fiksi, beralih kepada buku motivasi.

 

Alhamdulillah, berikutnya muncul Kitab Cinta Patah Hati, Sketsa Cinta Bunda, Cinta x Cinta dan Psikologi Pengantin. Semuanya terbit di Indiva (Solo). Lalu Mendidik Anak dengan Cinta, diterbitkan oleh GIP (Jakarta). Penjualan buku non fiksi terhitung lumayan. Pesanan online membanjir, royalty yang didapat Alhamdulillah lebih baik dari buku fiksi.

Kalau hanya  bicara royalty, rasanya enggan kembali menekuni fiksi.

Namun, suatu hari, seorang teman datang ke rumah. Ia membawa bertumpuk-tumpuk buku novel. Rasa rindu untuk menulis fiksi pun terbit. Rasa-rasanya, alasan royalty terlalu sederhana untuk meninggalkan dunia ini. Seorang penulis, seorang sastrawan, tidak selalu berorientasi materi. Kalau materi satu-satunya alasan manusia bahagia; maka Firaun dan orang-orang tajir dunia  adalah salah satu orang paling bahagia di dunia. Sayangnya, mereka tidak mengisi kuesioner psychological well-being nya Carol Ryff hehehe sehingga kita tidak tahu berapa kadar kebahagiaan mereka. Kalau alasan waktu, ah, sibuk mana aku dengan Dan Brown dan JK Rowling? Mereka bisa produktif menulis.

Maka, aku kembali menulis fiksi, dengan segala tantangannya.

Harus belajar ulang menemukan diksi-diksi baru, sebab fiksi harus mampu menyajikan diksi indah, walau bukan berarti mewah. Diksi tepat, halus, memukau; kadang ditemui di buku kamus KBBI atau dari puisi teman-teman sendiri. Aku kembali memelajari apa diksi yang tepat untuk menggambarkan kematian, cinta, rasa bahagia dan seterusnya.

Dan ups, bertahun lalu pernah kutuliskan bahwa ‘musuh’ sekaligus mitra para penulis adalah editor (aku pernah menulsikan secara khusus bahwa editor ini bisa jadi sangat kejam!). Mereka yang menilai karya kita pertama kali, membantainya, memberikan persepsi unik sebagai pembaca awal. Sebab para penulis selalu beranggapan karyanya telah sempurna! Hingga lupa, bahwa banyak celah terdapat dalam karya tulisnya.

Aku kembali belajar membuat novel anak dan novel remaja-dewasa.

Bukan hanya memelajari alur, penokohan, setting, dialog, footnote, anotasi dan seterusnya.

Tapi belajar mencari judul yang cocok untuk novelku. Termasuk  belajar, cover seperti apa yang cocok bagi pembaca Indonesia.

Berhasil?

Nanti dulu.

Insyaallah, 2017 ini ada beberapa novelku yang terbit baik novel anak dan novel remaja-dewasa. Bila novel itu sampai di tengah khalayak, maka percayalah : itu bukan pekerjaan sekali jadi. Itu adalah pekerjaan berhari-hari, berminggu, berbulan, bahkan bertahun- tahun.

Kadang, capek ketika editor mengkritik.

“Mbak, halamannya kurang.”

“Sudah baca novel ini? Yang ini dan ini? ”

“Kenapa memilih judul dan sub judul demikian?”

“Belum ada anotasinya.”

Dan banyaaaakkk lagi kritik yang lain J

Namun, seiring dengan kritik-kritik tajam tersebut, kita meningkatkan kualitas diri.

Tokoh-tokoh besar dunia seperti Imam Syafii dan HAMKA mengingatkan, akan pentingnya belajar terus menerus, dalam segala aspek. Imam Syafii bahkan mengingatkan, mereka yang tidak mau belajar, bacakan saja takbir untuknya sebab  ia telah wafat sebelum ajal tiba.

Jadi, kalau aku tidakmau belajar bagaimana membuat novel yang baik dari waktu ke waktu, maka nasehat Imam Syafii itu bisa jatuh pada diriku sendiri.

Sebuah, buku adalah rangkaian proses.

Aku menikmati menjadi penulis, baik fiksi maupun non fiksi.

Sejak buku pertama terbit hingga buku ke sekian, itulah proses menulisku. Itulah proses hidupku.

Tak ada proses dan hasil sempurna, kecuali kita tutup usia.

Doakan buku-buku ku bermanfaat bagi ummat sedunia, bagi keluargaku dan bagi diriku sendiri ya. Insyaallah novel anak yang akan terbit di Indiva berjudul Hantu Kubah Hijau dan Juru Kunci Makam. Keduanya bertema petualangan.

Cover Hantu Kubah Hijau. Kalau Polaris Fukuoka, masih cover belum fix, tayang di wattpad

Novel remaja-dewasa yang insyaallah akan terbit di salah satu lini Mizan berjudul Reem : apakah maut dan desing peluru ini akan mematahkan cintamu? Novel ini bersetting Maroko dan Spanyol. Khusus novel Reem, based on true story, meski ada alur cerita yang berkembang. Novel kedua adalah Polaris Fukuoka, bersetting Jepang.

Entah berapa kali aku membaca ulang naskahku sendiri baik Hantu Kubah Hijau, Juru Kunci Makam, Reem, dan Polaris Fukuoka. Memperbaiki yang typo, memperbaiki dialog atau setting yang kurang tajam, menghapus bagian tertentu serta menambahkan . Banyak hal-hal lucu saat menuliskan dan membaca ulang novel-novel tersebut. Sebelum pembaca memutuskan membeli novel-novel ini, simak terus cuplikan kisah dan behind the scene novel ya 🙂

 

 

 

 

Kategori
da'wahku FLP FLP Kids FLP Wilayah Jawa Timur Kepenulisan Mancanegara Oase Remaja. Teenager Sastra Islam

Berapa Besar Sumbangsih FLP (Forum Lingkar Pena) bagi Indonesia?

 

 

22 Februari 2017, Forum Lingkar Pena tepat berusia 20 tahun.

flp

Organisasi ini di sebut Taufik Ismail sebagai  ‘anugerah Tuhan bagi bangsa Indonesia’, sebuah ucapan yang layak direnungkan dan dibanggakan bagi segenap anggota serta pengurus FLP di Indonesia maupun perwakilannya di luar negeri.  Dalam angka yang diakhiri dengan imbuhan –an ; anggota FLP mencapai ribuan bahkan belasan ribu dengan buku-buku yang juga mencapai ribuan sejak organisasi ini berdiri di tahun 1997. Jumlah pastinya, haruslah disesuaikan dengan dinamika serta arsip organisasi. Mengingat, menggabungkan anggota yang penuh daya imajinasi dan kreativitas lalu merapikannya dalam struktur organisasi bukannya perkara mudah.

Milad FLP 19, Yogya.JPG
Yogyakarta-Ulang tahun FLP ke 19, 2016

Memandang  konstelasi perbukuan dan dunia sastra, dimanakah letak FLP? Apakah penulis-penulis FLP merupakan seniman serta sastrawan yang berkualitas yang karyanya pantas dibanggakan mulai level lokal, nasional hingga internasional? Apakah karya-karya FLP layak menembus pasar global internasional dan menjadi karya sastra yang mewakili wajah Indonesia?

 

Keberagaman anggota FLP

Salah satu asset luarbiasa dari FLP adalah demikian penuh keragaman corak dari anggota yang tersebar di penjuru Indonesia serta di beberapa titik mancanegara. Usia SD-SMP dikelompokkan sebagai FLP kids, diatas itu bergabung menjadi anggota FLP regular. Setiap cabang dan wilayah punya kekhasan masing-masing yang disesuaikan dengan kultur setempat serta ketersediaan sumber daya. BPP FLP memantau wilayah-wilayah, memberikan masukan serta mengatur seluk beluk keorganisasian.

rohingya-2

FLP kids menampung anak-anak SD –SMP yang sangat menyukai dunia tulis menulis. Mengingat buku-buku karya penulis cilik sangat digemari di seantero Indonesia, penerbit sangat membutuhkan karya-karya bermutu. Lini PECI (penulis cilik Indonesia) dari penerbit  Indiva, KKPK (kecil-kecil punya karya) dari Mizan; adalah beberapa yang sangat giat menerbitkan karya para penulis cilik. Tentu, penerbit memiliki cara tersendiri dalam menyaring tulisan berkualitas yang disukai pasar; namun, FLP pun turut membantu menyuburkan semangat berkarya di kalangan anak-anak Indonesia.

FLP Jombang, FLP Padang, FLP Lampung

 

Bagi remaja, untuk usia SMA dan mahasiswa, FLP menjadi organisasi kepenulisan yang diperhitungkan. Betapa banyak orangtua yang menginginkan anaknya mengembangkan bakat minat dibidang kepenulisan, mengontak FLP pusat atau wilayah dan meminta narahubung dari FLP yang terdekat. Remaja-remaja ini yang memang memiliki hobby membaca pada awalnya, lama-lama ingin mengembangkan diri dengan menulis. Apalagi, pekerjaan menulis sekarang bukan hanya terbatas membuat buku, menerbitkan cerpen, menulis puisi. Penulis sekarang lebih berkembang lagi profesinya mencakup penulis scenario, blogger, penulis lagu, hingga penyedia konten dari media-media online. Remaja-remaja berbakat menemukan FLP sebagai salah satu wadah yang memahami kebutuan mereka, menjadi organisasi yang asyik dan seru untuk membahas seputar dunia sastra terkini. Bukan itu saja, dari ranah kepenulisan, bahasan yang didiskusikan di media sosial dapat berkembang mulai film, music hingga politik. Anak-anak muda di FLP belajar untuk menuliskan opini mereka sendiri, bukan hanya sekedar copy paste, potong-salin. Bukan hanya sekedar broadcast. Anak-anak muda di FLP berusaha menilai sesuatu dari sudut pandang pribadi, dari perenungan dan penafsiran versi sendiri.

Terkadang, di WAG atau whatsapp grup FLP timbul ketegangan ketika membahas politik. Namun uniknya, anak-anak muda ini berusaha untuk terus menajamkan tulisan dengan bersumber pada fakta dan data; serta mencoba untuk berargumentasi dengan tagline sastra santun. Apa yang kita pikirkan, apa yang kita rasakan, apa yang kita lakukan dan katakan serta tulisan; haruslah dengan kesantunan. Ketika menyerang satu pihak atau mengkritik satu golongan; tidaklah perlu menggunakan kata-kata yang tidak pantas. Anak-anak muda di FLP tumbuh menjadi generasi yang suka membaca, suka menulis. Maka bila kita membaca tulisan mereka diblog atau facebook, terasa sekali bahwa penulis FLP membawa nuansa yang berbeda. Konyol lucu, menghibur, namun bukan tong kosong.

Kalangan dewasa FLP, terdiri dari lebih banyak ragam elemen. Dosen, guru, karyawan, peneliti, sastrawan, PNS, pengusaha, editor, mahasiswa,  maupun kalangan professional lain. Ada pula kalangan pekerja istimewa yang dikenal sebagai tenaga kerja  Indonesia, yang bekerja di Hong Kong dan Taiwan. Karya-karya mereka telah diakui secara lokal, nasional bahkan internasional. Bagi guru, nama Gegge Mappangewa dari Makassar, Umi Kulsum dari Jombang, dan Khairani dari Banjarmasin adalah beberapa nama FLP yang karyanya berulang-ulang meraih penghargaan. Bukan hanya karya, namun juga kiprahnya di dunia belajar mengajar menjadi teladan bagi sesame guru mupun menjadi motivator bagi siswa. Agaknya, kemampuan mereka menulis menjadi salah satu point tersendiri untuk menjadikan para guru dan anggota FLP ini sebagai sosok teladan.

Di kalangan dosen dan penulis, FLP memiliki nama-nama Helvy Tiana Rosa, Irfan Hidayatullah; keduanya mantan ketua FLP terdahulu. Topik Mulyana, juga salah satu dosen dan pengurus FLP yang tulisannya tersebar di media massa sebagai sastrawan atau kritikus. Dari kalangan peneliti, muncul nama Maimon Herawati dan Ganjar Widhiyoga. Dua orang ini bak suhu kungfu yang akan turun gunung ketika dunia gonjang ganjing dengan segala hiruk pikuk berita hoax. Setiap kali tulisannya diunggah ke media massa, Maimon Herawati dan Ganjar Widhiyoga akan menuai banyak likers (juga haters) dan dishare ke banyak mungkin pembaca. Dari kalangan professional, nama-nama Intan Savitri sebagai ilmuwan psikologi, Yeni Mulati (Afifah Afra) sebagai CEO  ; menjadi referensi berharga bagi pembaca tiap kali mereka menelurkan tulisan baik buku atau sebuah catatan di media sosial. Di kalangan selebritas sendiri, tentu tak asing nama Habiburrahman el Shirazy dan Asma Nadia sebagai penulis-penulis kondang yang memberikan warna luarbiasa bagi dunia perfilman Indonesia.

Adakah kalangan istimewa dari FLP?

Tentu saja, kalangan ibu-ibu. Para ibu disini adalah ibu-ibu yang luarbiasa. Ditengah kesibukan dan tingkah polah mereka yang sangat spesifik sebagai kaum ibu yang cerewet, suka belanja, suka mengomel; para ibu  menelurkan karya-karya yang  sangat membanggakan. Selain buku-buku, penulis perempuan FLP banyak aktif sebagai blogger dan meraih banyak keuntungan baik financial maupun immaterial. Sebut saja Pipiet Senja, Naqiyyah Syam, Gesang Sari, Risalah Husna, Sri Widiyastuti, Puspitasari, Fauziah Rachmawati, Lina Astuti dan masih banyak lagi.

Blogger laki-laki?

Wah kalau ini jangan ditanya, jumlahnya menjamur di FLP!

Ali Muakhir, Koko Nata, Bang Aswi, Rafif Amir, Sokat Rahman, Bang Syaiha, Billy Antoro, Ilham Anugrah yang bila ditotal jumlah blogger FLP, mencapai puluhan bahkan ratusan. Mengapa demikian? Sebab rata-rata penulis FLP memiliki blog yang rutin dipelihara dengan tulisan dan laporan pandangan mata. Para blogger ini bukan hanya sibuk mengejar prestasi di dunia blogging, namun juga aktif dalam profesi masing-masing di dunia nyata.

Selain kelompok di atas, masih ada beberapa golongan di FLP yang demikian unik. Dua di antaranyanya adalah para pekerja serta mahasiswa perantauan di luar negeri.

FLP Hongkong.jpg
FLP Hong Kong

BMI Hong Kong dan pekerja di Taiwan adalah wilayah FLP yang sering menuai kekaguman akibat sepak terjang mereka yang luarbiasa. Bukan hanya mereka hidup di negeri orang, bekerja sebagai karyawan pabrik atau rumah tangga; hidup di level marginal, terpinggirkan dan kadang tidak dihargai secara layak; pada kenyataannya para pekerja Hong Kong dan Taiwan ini merupakan penulis-penulis yang luarbiasa. Sebut saja di antaranyanya Rihanu Alifa, Anna Ilham, Enda Soedjono, Shanna Azzahra, Indira, Ssy Laili. Mereka bukan hanya aktif di media sosial namun juga menulis di koran-koran lokal yang beredar di Hong Kong dan sekitarnya.

Mahasiwa perantauan di luar negeri, pun memberikan contoh luarbiasa bagaimana para pelajar harus membagi dengan bijak antara keuangan untuk mengelola organisasi, membeli buku, dan hidup cukup di perantauan. Bagaimana harus membagi waktu antara belajar, membaca jurnal (tentu dalam bahasa asing!), membaca referensi dan menelurkan buku-buku. FLP Mesir, FLP Yaman , FLP Turki, Maroko, Arab Saudi, Malaysia yang namanya terlalu panjang untuk disebutkan satu persatu. Anggota FLP yang pulang ke tanah air pun terus bergiat menyelesaikan karya seperti Awy Qolawwun yang merupakan jebolan FLP Arab Saudi, Adly el Fadly yang merupakan jebolan FLP Yaman, Irja NAshrullah yang masih aktif di FLP Mesir.

Demikian beragamnya anggota FLP hingga satu sama lain saling memberikan informasi berharga terkait dunia literasi yang tengah berkembang, issue-issue kekinian, berbagi ilmu sesuai dengan kapasitasnya, berbagi informasi lomba dan saling mendorong untuk meraih prestasi. Keragaman anggota FLP ini memperkaya para anggota untuk terus memacu masing-masing individu terus dan terus belajar.

 

Karya-karya yang terus berkembang

Karya FLP pernah dianggap karya kacangan.

Mengingat karya-karya tersebut begitu sederhana, begitu seragam dengan karya-karya sebagian besar anggota FLP, tidak menimbulkan makna yang dalam serta tidak layak untuk disejajarkan dengan karya-karya besar HAMKA atau Pramoedya.

Mengapa dianggap kacangan?

Memang karya FLP banyak yang seragam. Mengingat salah satu pilar FLP adalah keIslaman; banyak anggota FLP yang masih memahami karya Islami haruslah memiliki alur pesantren, masjid, tokoh berjilbab dan berjenggot. Kisahnya seputar mendapat hidayah saat menjadi mahasiswa kampus yang aktif di rohis, menjadi suka al Quran ketika di pesantren, atau mendapat kesempatan studi ke Timur Tengah.

Karya FLP dianggap minim kekayaan diksi serta mudah ditebak alurnya. Awalnya susah, lalu happy ending. Akhir yang mudah sekali diprediksi : menikah dengan sesama orang sholih, berhasil mendapatkan akhwat cantik idaman, lulus beasiswa dengan gilang gemilang, menjadi dosen dan disukai banyak mahasiswa.

Sesungguhnya, karya FLP tidaklah bisa disebut karya ‘kacangan’.

Siapakah HAMKA dan Pramoedya?  Adalah orang-orang yang kenyang makan asam garam kehidupan. Hidup dalam situasi sosial dan politik yang panas, merasakan peperangan dan penjara yang pedih. Sebagaimana kata Nietzche : hanya peperangan yang dapat membuktikan siapa manusia sesungguhnya, siapa binatang sesungguhnya.

Anggota FLP yang masih SMA dan mahasiswa, ibarat anak yang belajar berjalan, masih tertatih-tatih meraba-raba. Mereka seringkali harus menyisihkan uang untuk membeli buku sendiri yang bagi kantong Indonesia relative mahal, mereka juga tidak duduk di bangku fakultas FIB atau jurusan sastra. Mereka adalah anak-anak yang senang membaca, menulis, membaca, menulis. Karya-karya mereka adalah latihan yang sesunggunya. Sejak awal, mereka harus kenyang dengan kritikan pedas dan Alhamdulillah, mereka pantang mundur, terus menulis dan terus belajar. Perubahan-perubahan itu terlihat pasti merayap. Satu demi satu adik-adik FLP meraih penghargaan di tingkat lokal. Baik lokal sekolah, lokal kampus, lokal regional di koran kota. Lalu mulai muncul di koran nasional, di media online nasional, memenangkan lomba yang ringan persaingannya hingga lomba-lomba yang berat persaingannya serta level jurinya.

Adalah tokoh-tokoh FLP seperti Habiburrahman el Shirazy, Asma Nadia, Benny Arnas yang level ketokohannya diakui dunia. Mereka tidak lagi hanya memberikan pelatihan di tingkat Indonesia, namun diminta mengisi acara-acara di berbagai event di mancanegara. Ada banyak potensi di FLP yang insyaallah siap mengekor keberhasilan para pendahulunya seperti Asma Nadia, kang Abik dan Benny Arnas. Mashdar Zainal, salah satu anggota FLP Jawa Timur yang karya-karyanya tembus secara fantastis di koran ‘sulit’ seperti Jawa Pos dan Kompas.

Karya-karya kacangan FLP, akan terasa kacangan bila dikunyah oleh orang-orang dewasa yang level bacaannya sekelas para peraih nobel, pullitzer, dan penghagaan dunia lain : Najib Mahfudz, Amin Malouf, Rudyard Kipling, Orhan Pamuk, Serdar Ozkan, Nicholas Carr. Namun karya-karya ‘kacangan’ FLP akan menjadi kue lezat bagi sesama remaja yang butuh asupan bacaan ringan. Dan, mereka membutuhkan bacaan sejenis yang banyak jumlahnya.

Seorang gadis yang ingin memakai jilbab; akan terinspriasi oleh novel-novel tentang jilbab sekalipun alurnya kacangan, bombastis, tidak masuk akal, tidak relevan bahkan terlalu mengada-ada. Bila ia membaca 5, 10, 20 novel serupa yang menceritakan pengalaman memakai jilbab; bukan tidak mungkin ia pun pada akhirnya mantap berkerudung.

Seorang pemuda yang maju mundur untuk studi di pesantren; ketika membaca buku-buku yang mirip dan terkesan ‘sastra abal-abal’ ; sesuai level usianya yang masih suka menelan hal yang renyah dan ringan; pada akhirnya terdorong masuk ke pesantren dan membuka pintu kesadarannya untuk berjuang mengenyam pendidikan serius serta memangsa kitab-kitab yang jauh lebih berat dari sekedar naskah kacangan.

Anak-anak SD, yang masih suka berimajinasi dan membaca perkara ringan tentang dunia peri, dunia fantasi, kehidupan ala istana dan putri-pangeran; terdorong banyak menbaca buku ‘kacangan’ yang mungkin tidak sekelas Little Women (Louisa May Alcott) ,  Secret Garden (Burnett), Kim (Rudyard Kipling) atau bahkan Toto Chan. Namun, ketersediaan buku-buku ringan ini akan mendorong mereka memangsa buku level lebih tinggi dan pada akhirnya mereka suka mengunyah buku berat dan suatu ketika, menghasilkan karya sastra yang lebih mumpuni di waktu-waktu yang berikut.

Belajar menulis membutuhkan perjuangan panjang.

Tidak hanya dibatasi oleh bangku kuliah 4 tahun untuk S1, 2 tahun untuk S2. Belum tentu mahasiswa FIB atau sastra mampu menuliskan buku berkualitas bila mereka tidak mau belajar dengan susah payah. Sebagaimana belum tentu mahasiswa S2, S3 dan peneliti dapat menulis karya ilmiah dengan luwes dan dapat diterima oleh masyarakat luas. Menulis karya ‘kacangan’ kadang merupakan stimulant awal bagi penulis untuk belajar bagaimana menyesuiakan ritme kesibukan dengan target menulis : berapa buku setahun, berapa bulan selesai 1 buku, berapa bab harus dikerjakan 1 minggu, berapa halaman dalam 1 hari dan berapa jam untuk menulis. Ketika ritme menulis ‘kacangan’ ini terbentuk; lambat laun dengan dorongan individu dan organsisasi akan tercapai karya-karya yang semakin berbobot dari waktu ke waktu.

FLP, memang dikenal sebagai pabrik penulis.

Terkesan sebagai organisasi yang mengeluarkan penulis-penulis karbitan, penulis kuantitas bukan penulis kualitas, penulis kualitas pabrik bukan kualitas butik. Meski demikian; segala kritik tentu berharga bagi tumbuh kembang sosok individu dan organisasi. Mereka yang telah bertahun-tahun menulis, tentu harus berupaya meningkatkan kapasitas diri agar karya tulis tidak selamanya kacangan. Bolehlah karya-karya ‘kacangan’ dihasilkan oleh anggota pemula; semakin tinggi level anggota FLP di tingkat madya dan andal; maka proses kreativitasnya harus terus bejalan. Karya yang dihasilkan pun harus semakin berat bobot kualitas, keilmuan, logika berpikir, maupun maknanya.

Proses, adalah bagian yang diakui di FLP.

Tidak ada proses sekali jadi.

Tidak ada proses yang singkat.

Tidak ada proses yang hanya seminggu.

Semua proses, bahkan penciptaan langit dan bumi melalui 7 tahapan di ‘tangan’ Allah Swt . Apalagi proses manusia,  mungkin melalui puluhan, ratusan, ribuan tahapan.

 

FLP dan pasar lokal-global

FLP cukup berhasil menyasar pasar lokal. Terbukti, walau dunia penerbitan pasang surut, penulis-penulis baru di FLP bermunculan mengeluarkan novel dan karya non fiksi.

Anggota FLP yang memiliki basic ilmu syariah seperti Irja Nashrullah, Awy Qolawun, Adly el Fadly suskes menggarap pasar nasional yang membutuhkan buku-buku kajian keIslaman dengan bahasa ringan; bukan bahasa referensial yang cendeung berat.  Afifah Afra, Naqiyyah Syam; sukses menggarap pasar remaja putri dan ibu-ibu. Ali Muakhir, Koko Nata, Sri Widiyastuti sukses menggarap pasar anak-anak. Habiburrahman, Asma Nadia sukses menggarap pembaca perempuan; sementara Benny Arnas dan Mashdar Zainal sukses memanfaatkan ceruk sastra yang jarang digeluti penulis karena effortnya yang cukup besar. Rafif Amir, Gesang Sari, Sokat Rahman, Billy, Aprillia, dkk  dan blogger FLP sukses menggarap pasar online yang celahnya sangat terbuka dan ramai.

Dalam era digital, FLP mencoba beradaptasi.

Kertas-kertas berimbas pada penebangan kayu yang mengancam paru-paru dunia. Disisi lain, orang-orang masih belum terbiasa menggunakan perangkat elektronik untuk membaca buku. E-book sebuah keniscayaan, namun juga cepat memunculkan kelelahan. Apalagi, orang cenderung membuka media sosial ketika berinteraksi dengan gawai dan cepat teralihkan dari niat semula yang ingin membaca buku elektronik. Buku-buku berhana baku kertas masih diminati, walaupun juga, manusia harus dibiasakan semakin efektif efisien dalam bertingkah laku.

Bekerja sama dengan beberapa media online seperti beetalk, bitread dan UC News; merupakan satu langkah FLP memasuki pasar lebih luas. Anggota FLP tidak hanya harus belajar menulis fiksi – non fiksi; tapi juga belajar menulis materi-materi up to date yang diminati masyarakat luas mulai bahasan Donald Trump-Melania, hingga bagaimana hidup awet muda.

 

Apa yang Diberikan FLP pada Indonesia?

Jawabannya adalah Sumber Daya Manusia.

SDM adalah asset sangat mahal yang menghabiskan modal luarbiasa besar. Dalam sebuah perpustakaan di Seoul, terpahat reader is leader. Pembaca adalah pemimpin. Begitupun pemimpin adalah seorang pembaca. Negarawan kita adalah pembaca, penulis dan orang yang tiada berhenti belajar. Bung Karno, bung Hatta, Mohammad Natsir, HAMKA, Ki Hajar Dewantara, adalah para pembaca yang luarbiasa. HAMKA bahkan mewajibkan dirinya membaca buku dalam beragam bahasa untuk menajamkan otak. Pantas saja, Indonesia berhasil melawan kekuatan asing yang luarbiasa tangguh. Mereka memiliki senajta, kita memiliki daya juang.

FLP memberikan pada Indonesia sekian ribu manusia yang suka membaca dan menulis. Mereka bukan hanya orang-orang yang duduk di bangku akedemis; namun juga para buruh dan tenaga kerja marginal. Mereka bukan hanya orang yang terbiasa duduk di belakang meja mengerjakan laporan keuangan, namun juga para ibu yang bergelut dengan harga cabai. Mereka bukan hanya para dosen dan guru, tapi juga para pelajar SD hingga mahasiswa.

FLP memberikan kesempatan berproses. FLP memberikan lingkungan yang nyaman bagi para pembaca dan (calon) penulis. FLP mengasah kemampuan di luar bakat minat yang paling dasar. FLP memberikan para penulis informasi dan jaringan berharga yang harus dimiliki penulis untuk go local, go national, go international. Dalam ranah global dewasa ini, tidak ada seseorang yang dapat berhasil hanya secara individual. Ia butuh dukungan, butuh kelompok, butuh orang-orang di belakang layar.

Di belakang layar FLP; tersebar ribuan anak muda yang namanya tidak tercantum sebagi penulis atau blogger. Mereka adalah para buzzer dan reviewer yang rela mem-boost buku, agenda literasi, kegiatan kepenulisan agar sukses. Mereka adalah pengurus-pengurus FLP Pusat, wilayah, cabang, hingga ranting yang bersedia berpayah-payah menjalankan roda organisasi agar tercipta harmonisasi antara penulis, dunia perbukuan, kalangan media dan penerbitan yang harus terus bersinergi untuk menghasilkan karya-karya spektakuler. Orang-orang di belakang layar inilah yang membantu munculnya penulis-penulis tenar dan popular.

FLP Wilayah Jawa Barat, FLP Wilayah Jawa Timur, FLP Wilayah Riau

Bersama FLP, hadir wajah-wajah muda, wajah-wajah baru penulis; maupun hadir wajah-wajah penulis yang terus bermetamorfosa menjadi HAMKA dan Pramoedya yang berikutnya.

Selamat ulangtahun ke 20, FLP.

Berarti, berkarya, berbagi.

Teruslah berjuang dengan pena!

Kategori
My family Oase Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Remaja. Teenager Sejarah Islam

Melindungi keluarga dari issue-issue negatif : diskusi bersama anak seputar LGBT, komunisme, hoax dan radikalisme

 

 

“Ummi, bagaimana jika temanku ada yang berpaham kiri?”

“Siapakah yang melanggar HAM, Mi? Apakah ketika pemerintah represif pada PKI, itu tidak termasuk melanggar HAM?”

“Mi, kita tidak setuju LGBT. Tapi mereka juga manusia. Bagaimana seharusnya?”

“Aku baca di media online, tidak apa-apa memilih pemimpin yang non muslim selama ia cakap. MAlah aksi 411 dan 212 itu hanya merupakan kepentingan politik saja.”

Permasalahan yang terbentang di hadapan kita semakin   beragam.

Dulu, melepaskan anak-anak ke sekolah atau ke kampus, hati ini diliputi kekhawatiran akan hipnotis, digendam, diculik, mengalami bully-ng, atau dibegal.  Belum lagi masalah keamanan tuntas 100%, kita dihadapkan pada issue-issue yang bagi kita, bertentangan dengan norma agama seperti LGBT. Terlepas ada pro dan kontra terkait issue ini, para aktivis, peneliti, komunitas dan penyuara HAM semakin gencar mewacanakan bahwa LGBT bukanlah satu disorder.

Kita bahkan masih harus terus melakukan edukasi kepada anak-anak terkait LGBT, bukan dalam pengertian memojokkan atau menghakimi, namun justru menyadarkan;  datang lagi issue-issue lain yang tak kalah gencar menggempur dinding-dinding rumah kita.

Permasalahan freesex, LGBT, personality disorder seperti MPD (multiple personality disorder) atau DID (dissociative identity disorder) seperti yang digambarkan dalam film Split; seringkali dikaitkan dengan pola asuh. Kehadiran orangtua sebagai centre person dan ideal person menjadi faktor utama bahkan mungkin faktor penentu, akan seperti apa kepribadian, cara berpikir, bahkan perilaku anak-anak kita. Tetapi bagaimana kita dapat meyakini anak-anak sudah sangat memahami dan mengambil pilihan tepat terhadap issue-issue yang mungkin bertolak belakang dengan filosofi keluarga kita?

Janganlah merasa takut.

Sebab Allah Swt senantiasa menurunkan penyakit berserta obat, baik sakit fisik ataupun psikis. Segala sesuatu memiliki pasangan seperti sakit-sembuh, obat-penyakit, masalah-solusi. Apa yang mengancam di depan mata, sesunguhnya telah ada jalan keluar yang ditempuh para ulama-ulama terdahulu, para khalifah serta para negarawan kita. Saya coba sarikan  dari beragam sumber, semoga bermanfaat bagi kita sebagi orangtua dan pendidik untuk membentengi keluarga dari issue negative yang bertentangan dengan filosofi yang kita anut.

 

Sejarah, Sejarah, Sejarah

Al Quran berisi sejarah. Jasmerah, kata Soekarno, jangan lupakan sejarah.  Dalam Knowing Muslim Youth, salah satu ciri khas yang membentuk pemuda muslim adalah historical basic ( Herrera et). Sejarah Islam dalam semua aspeknya adalah ciri penting yang membangun jati diri anak-anak kita. Maka shiroh Nabawiyah, sejarah para pahlawan Islam seperti Shalahuddin al Ayyubi, Muhammad Al Fatih, HAMKA, Sudirman, Muhammad Natsir, dan tokoh-tokoh lainnya harus sering mengudara di di rumah kita.

history_main
Islamic History

Bukan hanya menyediakan buku-buku, tapi termasuk  menyediakan waktu untuk berdiskusi.

Historical basic ini akan membentuk alur pemikiran yang terpatri dan memberikan nuansa bagi kita termasuk anak-anak dalam menyikapi sesuatu.

Muhammad Natsir misalnya.

Sikap santun dan rendah hati beliau membuat kehadirannya dinanti banyak orang. Meski berseteru keras dengan Aidit dan Ali Sadikin; di luar arena perdebatan mereka tetap bersahabat.  Tidak ada kata kompromi untuk ideology yang bertentangan dengan agama namun bagaimana tetap harmonis menjalin hubungan dengan orang-orang yagn bersebarangan.

Dalam menceritakan kisah-kisah yang sensitive seperti bagaimana Indonesia menghadapi Komunis, bagaimana perang antar suku bahkan perang antar agama pernah pecah; perlu disampaikan dengan cara lemah lembut dan bukan emosional. Sisi-sisi kritis perlu dibangun, sekalipun tengah membangun fondasi kecintaan pada agama. Sesedikit mungkin hate speech disampaikan.

Bahwa Natsir dan Ali Sadikin pernah sangat bertolak belakang dalam hal halal haram, jangan disampaikan dengan nada penuh kebencian.

“Ali Sadikin pernah lho mengunjungi Natsir dan mengatakan kayaknya pak Natsir naik helicopter aja deh. Jalanan Jakarta saya bangun dari uang haram semua. Tuh, Ali Sadikin saja menghormati seorang ulama seperti Muhamamd Natsir. Seharusnya memang kita menghormati ulama ya…Para negarawan kita dulu termasuk Bung Karno sangat menghormati ulama. Meski pernah juga memenjarakan mereka.”

history
History of Islam

Sejarah adalah bagian dari dunia global. Sejarah adalah bagian penting dari agama. Sejarah adalah bagian penting bagi keluarga kita. Jadikanlah kisah-kisah sejarah yang spektakuler sebagai bagian dari pembentukan jatidiri anak-anak melalui historical basic.

 

Self Identity (minimize contradiction)

Bagian penting dari membangun jati diri anak-anak adalah melalui identitas dirinya atau self identity. Karena kita bicara anak-anak berarti rentang usia mereka antara kanak, anak, remaja; maka ketahuilah bahwa dalam proses pembentukan bukan hanya melalui proses ‘pembakaran’.

Seperti keramik, ada masanya diuleni karena adonan masih liat dan kenyal. Ada masanya mulai bisa dibentuk karena adonan mulai setengah keras. Ada masanya dijemur sebab adonan sudah dianggap jadi dan harus diawetkan. Pada akhirnya adonan dipanggang di oven bersuhu tinggi agar tahan lama dan tidak mudah pecah. Usai keramik jadi masih perlu dibubuhi cat warna warni termasuk pelapis kilat agar bukan hanya cantik ukirannya, kokoh bentuknya, multifungsi barangnya namun juga indah dan menarik mata dipandang.

Dalam membentuk definisi diri, minimalkan kontradiksi agar anak tidak terlalu bingung. Cara-cara ini ternyata dipakai untuk anak-anak  muslim yang bahkan tinggal di wilayah inhospitable environment seperti wilayah Brooklyn, USA. Dalam Being Young, Muslim and America in Brooklyn (Bayoumi) peneliti mengatakan bahwa salah satu cara anak-anak muslim mendefinisikan diri adalah melalui self identity with no contradiciton. Bila anak muda umumnya suka music rock maka anak muda muslim di Brooklyn mencoba menggemari rap.

Beberapa putra saya sekolah di sekolah negeri. Ras, suku, agama bercampur jadi satu. Anak-anak  muslim tidak semuanya berjilbab, tidak semuanya sholat. Meski demikian, abang dan adek berusaha beradaptasi dengan caranya sendiri.

“Temanku pernah bercerita tentang daging babi. Itu daging paling enak katanya,” ujar adek.

“Trus, kamu bilang apa?” tanyaku.

“Aku balik nanya, Mi. Daging babi itu kayak apa sih rasanya? Temanku balik nanya : kamu pernah makan bakso urat? Ya begitu itu rasanya. Enak kan? Aku cuma tertawa.”

Perbincangan daging babi, minuman keras, film porno, pacaran pada awalnya merupakan diskusi permukaan yang hadir di antara anak-anak yang tumbuh di lingkungan beragam. Anak-anak belajar membentuk identitasnya, dengan meminimkan kontradiksi antara teman sebaya. Namun perlahan-lahan, ‘di belakang anak-anak’ sebagai orangtua kita membantu proses identifikasinya.

Bila kita berkata : kok berteman sama teman yang seperti itu sih? Kan masih ada teman yang lain? Maka hal itu akan menimbulkan kontradiksi di awal : dia makan babi, tapi pintar matematika dan mau mengajari aku. Dia suka pornografi tapi sayang sama teman-temannya dan suka membelikan kue. Dalam hal ini pesan-pesan kontradiksi harus disamarkan dan sebaliknya, orangtua menjadi jembatan yang membantu anak-anak untuk memahami beragam variable dalam hubungan antar manusia.

“Temanku banyak yang nggak mendukung aksi 411 dan 212, Mi.”

“Memang banyak orang belum paham akar permasalahan. Kalau begitu, nggak usah bersikap frontal pada mereka. Kalau orang belum mengerti, belum paham, gak bisa dipaksakan.”

“Kok orang masih mendukung A*** ya, Mi? Temanku juga ada yang begitu.”

Diskusi tentang pemerintahan, tentang partai, tentang posisi kaum muslimin menjadi diskusi yang harus terus menerus diagendakan di tengah keluarga. Meminimalisasi kontradiksi bukan berarti menghilangkan identitas diri, namun saat terjadi benturan, ada baiknya mengajarkan anak-anak untuk tidak bersikap hitam-putih. Begitu banyak hal yang masih menjadi grey area,  menjadi areal kebingungan bagi anak-anak muda yang harus diimbangi dengan penjelasan bijak dan terus menerus.

 

Radicalization without an Ideology

Hal lain yang sangat berbahaya bagi anak-anak adalah radikalisasi tanpa dasar ideology yang jelas. Kata-kata radikal pada awalnya bermakna kembali ke akar (radix = akar) , kembali ke awal, kembali ke filosofi dasar. Kini, radikal mengalami penyempitan makna sebagai faham keras tanpa kompromi.radicalism

Apa saja yang membuat anak menjadi radikal?

Sikap otoriter orangtua tanpa diskusi, tanpa cela, tanpa celah. Kata-kata  pokoknya, yang penting, seharusnya dan yang sejenisnya akan membentuk watak keras yang tanpa alasan jelas.

“Apa pendapat ummi tentang LGBT? Bagaimana dengan pendapat ahli yang mengatakan bahwa gen tersebut diturunkan? Teman-temanku ada yang LGBT.”

Aku berpikir bahwa langsung mengatakan halal-haram akan mengunci diskusi ini. Aku khawatir, jika anak-anak mendapatkan informasi lain dan itu yang mereka pilih, maka akhirnya akan bertentangan dengan filosofi keluarga kami. Dalam Islam, LGBT telah menjadi hal yang disepakati alim ulama. Maka, menjadi kewajiban hamba beriman untuk menjalankannya

“Ummi percaya bahwa genetic ada yang diturunkan. Dalam konsep neurosains, beberapa genetik yang mempengaruhi temperamen manusia memang diturunkan. Bila orangtuanya agresif, anak punya potensi agresif. Bila orangtua skizofren, anak punya potensi skizofren. Bila orangtua introvert, anak cenderung introvert. Memang sifat-sifat genetis ada yang diturunkan. Tapi bukan selesai sampai disitu kan?

Kalau ada potensi skizofren, maka harus dikontrol. Ada potensi agresif maka dikondisikan bagaimana lingkungan, sikap, persepsi yang dapat mengurangi agresifitas. Demikian pula LGBT, kalaupun benar genetiknya diturunkan maka berarti dapat dikontrol dan dikendalikan. Artinya, tidak cukup bahasannya bahwa secara genetis diturunkan tapi apa yang akan kita lakukan selanjutnya?

Ayahmu keras dan pemarah, Nak. Itu diturunkan dari orangtua.

Tapi beliau menyadari usai marah dengan membaca istigfar dan mencoba melatih lebih dalam kesabaran. Sebab marah akan lebih mendekatkan pada neraka. Ayah nggak pernah bilang : ya pokoknya ayah pemarah! Kamu sebagai istri dan anak-anak jangan buat aku marah! Ayah gak begitu kan?”

“Terus kalau aku bertemu dengan teman yang LGBT bagaimana?”

“Tetap temani dia. Jadi teman curhatnya. Barangkali orangtuanya tidak punya waktu untuknya sehingga ia haus kasih sayang dari siapa saja.”

“Orangtuanya bercerai sih…”

Di kali lain anak-anak pernah bertanya tentang komunis.

“Mengapa di era Soeharto pemerintah bersikap represif terhadap PKI?”

Kujelaskan panjang lebar tentang komunis, sejak sejarahnya di Indonesia hingga sepak terjang mereka yang sering kali berbenturan dengan para ulama dan santri yang merupakan representasi Islam.

“Tetapi, apakah mereka harus ditekan seperti itu?”

“Pemerintah Indonesia memang sempat menghadapi beberapa tuduhan HAM. Ada Peturs di tahun 1980-an, ketika perampok berkeliaran dan polisi kewalahan. Akhirnya, penembak misterius menghabisi perampok walau terkadang ada yang salah sasaran. Begitupun komunis. Pemerintah akhirnya bertindak represif bahkan ke anak cucunya, sekalipun mungkin cucunya sudah tidak tau menahu. Ini sangat berkaitan dengan sejarah bangsa bahwa komunis beberapa kali melakukan pengkhianatan.”

Beberapa teman-teman anak kita mungkin memiliki ideology berbeda. Mungkin saja mereka penganut LGBT, mungkin saja mereka penganut komunisme. Memberi pemahaman yang keras tanpa penjelasan panjang lebar akan membuat anak pun menjadi radikal tanpa berlandas ideology yang benar.

“Pada akhirnya, Nak, Islamlah satu-satunya solusi. Sebab baik komunis atau kapitalis sama-sama memberikan pengaruh buruk pada msayarakat.  Cina sekarang pun lebih  berorientasi kapitalis sekalipun ideologinya komunis.”

Pembahasan menarik yang bergulir di tengah keluarga antara lain bab Cina.

Berita yang beredar di seputar whastsapp, line, media online seringkali membangun radikalisme tanpa ideology. Masih ingat beberapa hari lalu ada foto seorang pemuda yang mengatakan : aku mau beli Quran untuk ngelap tinja aku? Entah siapa yang memposting , yang pasti setelah ditelusuri alamatnya tak jelas. Bayangkan bila alamatnya diketemukan dan penghuninya ternyata sama sekali tak melakukan! Orang-orang radikal yang hanya dibesarkan dengan kebencian pastinya akan memberi hukuman tanpa ampun.

“Ummi punya teman-teman Cina sejak SMP. Mereka umumnya pekerja keras. Menghargai uang. Waktu di kampus, Ummi punya teman Cina yang kebagian tugas fotokopi. Fotokopi satu handout saat itu sekitar Rp1.800. Kalau kita orang Jawa, paling bayar 2000 perak dan 200 nya dii ikhlaskan aja. Tapi kalau teman ummi yang Cina nggak. Padahal dia laki-laki, dia menyiapkan recehan 100 perak yang dibawa dalam dompet besar. Setiap ada orang bayar 2000, dia kembalikan 200 perak. Kenapa dia berlaku demikian? Kalau Ummi yang jadi bendahara, malaslah. Tapi begitulah orang Cina, sangat menghargai uang.”

Anakku manggut-manggut.

“Teman-teman Cina Ummi kalau kuliah, serius, nggak main-main. Begitu mereka gak bisa serius kuliah, mereka mending  kerja. Beda dengan kita orang pribumi yang rata-rata kuliah buat gengsi kan?”

Aku mencoba menanamkan dalam diri anak-anak bahwa orang-orang Cina memiliki etos kerja yang luarbiasa. Di Surabaya bagian barat berdiri sekolah dan kampus non muslim yang notabene milik Chinese. Kurikulum, SDM, orientasi mereka luarbiasa. Mereka lebih takut anak didiknya tidak bisa berbisnis dapirapa sekedar mengejar nilai UNAS.

Namun demikian, politik dan ekonomi tidak boleh dikuasai satu elemen saja.

Maka kujelaskan bahwa tidak semua orang Cina buruk, sebagaimana tidak semua orang Jawa itu juga baik. Bukan etnis Cina, Jawa, Bali, Batak yang salah. Namun salah bangsa Indonesia sendiri, salah kaum muslimin yang tidak mau bekerja keras masuk ke ranah politik,  masuk ke ranah ekonomi, tidak mau bekerja keras membangun karier seingga terkalahkan di banyak sektor. Kalaupun di kasus 411 dan 212 salah satu yang menjadi pusat perhatian adalah gubernur dengan etnis Cina, tidak menjadikan seluruh warga berdarah Cina yang ada di negeri ini menjadi satu jenis stereotype.

 

Confusion vs Totalizing Structures

Meski kita masih membentuk anak-anak bagai menguleni lempung tanah liat, jangan biarkan juga mereka menjadi bingung. Struktur kepribadian dan mental anak-anak harus dibangun dengan totalitas.

Totalitas yang pertama adalah ketaatan pada Allah Swt dan RasulNya.

Tidak ada tawar menawar lagi bahwa Quran dan Sunnah adalah pedoman. Masalahnya, bagaimana cara kita menanamkan hal-hal penting berbau ideologis filosofis tetapi bukan sekedar radikal tanpa fondasi?

Suatu ketika, aku menyadari sesuatu.

Sebagai ibu aku kerap bersitegang dengan anak-anakku yang berpikir kritis. Mengapa kita gak boleh potong rambut model begini? Mengapa gak boleh boncengan cowok cewek? Mengapa harus ke masjid? Mengapa harus baca Quran? Aku beranggapan anakku benar-benar tidak Islami sehingga yang muncul saat itu hanyalah pertengkaran. Rasanya, percuma semua langkah psikoterapis yang kulakukan. Tidak ada hasilnya. Bahkan hatiku mulai menangis, mengapa doa-doa yang kupanjatkan seolah belum terjawab. Aku ingin punya anak sholih. Titik.

“Kalau kamu susah, cobalah buka Quran dan cari jawabannya disana,” saran ibuku

Aku coba lakukan itu, dengan niat memohon padaNya agar diberi petunjuk untuk memahamkan Islam pada anak-anakku.

Masyaallah, Allah memberiku ilham. Kubuka terjemahan. Yatafakkarun. Ya’qilun. Yadzdzakarun. Sering sekali kutemu ayat-ayat itu dan belum mneyadari bahwa itulah terapi yang cocok buat anak-anakku yang kritis dan ngeyel. Terapi kognitif. Ya, anakku mungkin salah salah memahami sesuatu, termasuk agama ini. Aku membangun radikalisme tanpa landasan ideology yang dipahami,  sehingga ketika anakku menghadapi sesautu iapun akan radikal pula. Begitupun, ketika ia kebingungan terhadap suatu fenomena, struktur total kepribadian mental yang semula sudah kusanga kuat, ternyata rapuh.

Suatu ketika dalam keadaan nyaman, kutanya si abang.

“Kenapa kamu gak mau baca Quran sesuai target, Mas?”

Ia menjawab jujur , “soalnya Quran nggak menarik , Mi.”

Aku mengangguk. Menghormati jawaban jujurnya. Quran tidak menarik. Maka menjadi tanggung jawabku untuk menjadikan Quran menarik. Suatu ketika, anakku membaca tentang berita-berita online  yang dipenuhi berita simpang siur. Ia sempat binilang : mana sih berita yang bsia dipercaya? Ia bingung. Disaat itu aku membaca surat al Maidah 41. Saat aku membaca terjemahannya, aku tertegun. Rasanya cocok dengan kondisi anakku.

hoax-category
berita hoax

“Mas, Ummi bacakan arti surat yang sedang Ummi baca ini ya. Intinya adalah, di zaman Rasulullah dulu pun, ada orang-orang yang senaaaaang banget berita hoax. Jadi, memang sudah watak manusia suka dengan berita-berita miring.”

Diskusi kami lumayan meriah saat itu mengaitkan hoax dnegan kisah dalam Quran.

Semenjak itu, setiap kali terkait satu kejadian dengan al Quran, aku jelaskan hubungannya dengan situasi-situasi terkini. Aku terharu sekali ketika beberapa hari yang lalu, si Abang memegang tanganku dan berkata, “Ummi, aku sudah membaca lebih dari target hari ini. Aku merasa lega dan merasa bersyukur sekali.”

Sebagai orangtua, aku tidak ingin membiarkannya  berlama dalam keadaan confuse terkait Quran. Ia harus memiliki struktur pemahaman yang utuh tentang apa itu agama, Quran, Hadits dan menjadi tanggung jawabku sebagai orangtua mencari 1000 cara untuk menghantarkannya kepada pamahaman yang total.

 

Solidarity, Community, Collective Future

Di Kompas hari ini (01/02/2017), dilaporkan tentang Alexander Bissonnete, pemuda 27 tahun yang melepaskan tembakan di masjid Quebec City, Canada dan menewaskan 6 orang serta melukai 8 orang. Motif Bissonnette belum diketahui namun dari akun mesosnya dilacak ia pendukung Donald Trump,  tokoh ekstrim kanan Perancis Marine le Pen, anti feminism, pendukung band Megadeath. Diberitakan bawa Bisonnette hanya memiliki teman adik kembarnya sendiri.

Aksi solidaritas bukan hanya sekedar turun ke jalan membela Suriah dan Rohingya.

Membangun komunitas, solidaritas bersama teman-teman sebaya, akan membangun jati diri siapa sebenarnya anak-anak kita. Begitupun membangun masa depan kolektif : apa yang kita inginkan? Indonesia seperti apa yang didambakan?

Kerapkali aku berdiskusi dengan ak-anak, mereka ingin jadi seperti apa di kemudian hari? Mereka inginkan Indonesia yang seperti apa?

“Aku ingin Indonesia jadi superpower. Karena Indonesia negeri kayaraya,” sahut anak-anakku bergantian.

“Aku ingin suatu saat Jepang, Cina, Korea yang malah bergantung sama Indonesia,” kata anakku yang lain.

Impian kolektif itu harus dibangun bersama dan tidak mungkin sendiri-sendiri. Si penyendiri akan lebih banyak berpikir dengan caranya sendiri, beranggapan langkahnya paling benar seperti Bissonnette. Dengan memiliki pemikiran kolektif bersama, anak-anak akan membangun diri dan lingkungannya. Akan tahu mana hal-hal yang mengancam diri dan bangsa.

Kudorong anak-anak yang sejak SD dan SMP untuk semakin giat ke masjid dan bergabung dengan remaja masjid. Collective future akan kita bangun bersama mulai dari rumah, RT, masjid kompleks dan akhirnya ke masyarakat luas. Collective future ini membutuhkan SDM andal yang bukan hanya kuat mentalnya dengan landasan aqidah dan akhlaq yang benar, tapi juga siap menanggung beban-beban amanah dengan cara bermoral dan bermartabat, juga professional.

Kudorong anak-anak bukan hanya aktif di sekolah tapi juga aktif di remaja masjid. Mereka harus membangun kesadaran kolektif bersama teman-teman sekolah, teman-teman media sosial, teman-teman remaja masjid, teman-teman karang taruna. Kesadaran kolektif ini akan membentengi anak-anak kita dan anak-anak tetangga, anak-anak di masyarakat kita  bagaimana cara memilih : memilih pasangan hidup, memilih ideology, memilih pemimpin, dan pilihan-pilihan penting lain dalam hidup ini.