Kategori
Da'wah Islam Hikmah Oase Surabaya WRITING. SHARING.

Rohis Bukan Teroris

 

Bom di Surabaya yang meledak kemarin, Ahad 13 Mei 2018, pasti akan memunculkan berbagai dinamika. Diskusi, polemik, asumsi, lempar melempar opini, bahkan pendapat negatif berhamburan. Apapun itu, saya tetap ingin menuliskan apa yang ada di benak dan hati, dan mencoba menuangkannya secara santun bermartabat.

 

Doktrin teroris jelas tidak ditanamkan sehari dua hari. Butuh waktu pekanan, bulanan, bahkan bertahun-tahun untuk membentuk seseorang menjadi ekstrimis. Berapa tahun Belanda menjajah Indonesia hingga muncul doktrin “merdeka ataoe mati” ? Setelah penjajahan, penistaan, penjarahan, penganiayaan, pembunuhan terus menerus terhadap anak-anak bangsa; bangsa Indonesia pada akhirnya bergerak untuk berjuang hingga tetes darah penghabisan. Berapa lama pula para pahlawan seperti Cut Nyak Din, Diponegoro, Imam Bonjol, Hasanuddin dkk hingga organisasi macam Sarekat Dagang Islam, Budi Utomo dll untuk membangkitkan semangat perlawanan terhadap penjajah?

 

Berbulan.

Bertahun.

Belasan dan puluhan tahun.

 

 

ustaz-abdul-somad
Ustadz Abdul Somad

Doktrin radikal, fundamentalis, teroris tidak bisa ditanam dalam jangka waktu sebentar. Tetapi juga jangan sembarangan mengatakan bahwa doktrin ini muncul “hanya” karena penanaman nilai-nilai Islam semata. Karena rutin ngaji, jadi radikal. Karena ikut rohis, jadi ekstrimis. Karena rajin ke masjid, ikut kajian Abdul Somad dan Habib Riziq, jadi teroris.

Bukan hanya karena satu masalah Indonesia pernah menggaungkan semangat lawan kolonialisme Belanda dengan slogan beragam : Sekali Merdeka, Tetap Merdeka. Rawe-rawe rantas, malang-malang putung. Mati satu, tumbuh seribu.

Bukan hanya karena satu alasan. Tidak.

 

Belanda datang ke Indonesia, mengadu domba dan memecah belah. Sudah bukan rahasia lagi bahwa politik devide et impera Belanda bertujuan memecah belah Indonesia. Terpecahnya kesultanan Ngayogyakarta dan kasunanan Surakarta dalam perjanjian Giyanti, akibat VOC juga. Belanda selalu mencampuri urusan Amangkurat I, dan memecah belahnya dengan pangeran Adipati Anom dalam kerajaan Mataram. Belanda tidak henti-henti mencampuri , memecah belah setiap kekuasaan yang bercokol di nusantara.

 

Belanda juga memaksa bangsa Indonesia melakukan hal tak menusiawi. Ketika Herman Willen Daendels diutus ke Indonesia untuk mempertahankan tanah Jawa dari Inggris, ia melakukan banyak cara tak manusiawi. Memaksa kerja rodi untuk membangun pabrik senjata di Semarang dan Surabaya, membangun jalan Anyer Panarukan. Memaksa rakyat menjual hasil bumi dengan harga murah kepada Belanda (verplichte leverantie); memaksa Preanger Stelsel, yaitu rakyat dipaksa bertanam kopi, menjual tanah Negara kepada swasta asing seperti Han Ti Ko pengusaha China. Rakyat Indonesia menjadi kasta terbawah di negeri sendiri.

 

Belanda menarik pajak yang berat, utamanya pada warga Tionghoa yang merupakan warga mayoritas saat itu dan mereka banyak berdagang.  Belanda sering menyiksa rakyat dan melakukan penyiksaan, seperti yang terjadi di penjara Kalisosok, Surabaya.

Banyak sekali alasan untuk menjadikan orang ekstrimis, fundamentalis, teroris. Bukan hanya karena satu alasan saja.

Sebagaimana peristiwa pengeboman di Surabaya, apakah doktrin agama satu-satunya alasan menjadikan orang teroris? Apakah rohis adalah lembaga cikal bakal teroris? Nanti dulu. Saya tidak sepakat rohis dianggap sebagai satu-satunya lembaga penghasil teroris karena sebagaimana Belanda dulu menyiksa bangsa Indonesia, ada sekian banyak hal yang ‘menyiksa’ bangsa ini hingga menjadi sakit. Sakit fisik, sakit psikis, sakit ekonomi. Dan sakit yang tiada ujung itu bisa menyebabkan –misalnya-  seorang penghuni penjara Kalisosok seperti Li Hong Li, kuli kontrak, berani bangkit dan berontak.

 

Apakah rohis membentuk ekstrimis juga, sebagaimana Belanda pada akhirnya secara tidak langsung membentuk ekstrimis pejuang kemerdekaan?

Hm, nanti dulu.

naruto sasuke.jpg
Naruto Sasuke Rohis

Rohis BUKAN Teroris

 

  1. Rohis BUKAN teroris, sebab saya dulu mengenyam rohis sejak SMA dan kuliah. Rohis membuat saya memakai kerudung, sholat wajib dan sunnah lebih giat, faham bahwa keridhoaan Allah sejalan keridhoan orangtua. Sejak ikut rohis saya merasa harus lebih baik kepada ayah dan ibu. Lho, bukannya itu didapat di pelajaran agama? Alamak, pelajaran agama yang di sekolah hanya 2 jam lebih sering membahas hukum waris, memandikan jenazah. Sesuatu yang jauuuuh dari pikiran anak muda! Rohis membahas hal kekinian yang menyentuh jiwa muda saya saat itu.

 

  1. Rohis BUKAN teroris. Rohis adalah organisasi, dimana saya minta anak-anak untuk bergabung. Ya. Orangtua mana di zaman ini yang bisa merasa yakin, sekilo sejak anak keluar dari rumah, ia masih anak baik-baik saja? HP, internet, mall, teman-teman dapat menjadi ancaman. Kalau ia ke mall, jangan-jangan…Kalau ia belajar bersama ke rumah teman, jangan-jangan…Kalau ia buka internet, jangan-jangan… Menyuruh mereka aktif di rohis membuat saya selaku ibu merasa ‘aman’ : ada yang mengingatkan anakku untuk takut kepada Tuhan. Religiusitas menjadi salah satu cara mengatasi juvenile delinquency, sebab anak-anak merasa punya kendali diri

 

 

  1. Rohis BUKAN teroris. Di jalan rohis saya lebih tahu bahwa Quran itu untuk dibaca, bukan buat mahar saja. Di jalan rohis saya tahu, bahwa semakin paham Islam, semakin optimis dan positif kita memandang hidup (gak peduli gagal SBMPTN, gagal masuk kerja, gagal usaha, gagal punya pacar, gagal berjodoh dengan seseorang. Judulnya move on sepanjang masa, karena itu tadi, sandarannya Allah. Tuhan semata. Jadi segala sesuatu dianggap ada hikmahnya). Waduh, kalau saya gak masuk rohis, mungkin saya cepat patah arang. Sumbu pendek. Pikiran cupet. Gak lulus kuliah, hopeless. Gak dapat-dapat jodoh, dengki. Gak dapat kerja layak, umpat sana sini.

 

  1. Rohis BUKAN teroris. Bertahun setelah saya ikut rohis di SMA dan kuliah; tiap kali saya ngisi acara kepenulisan, psikologi, parenting atau apalah namanya selalu saya sisipkan ke tengah audiens : ikutlah kajian Islami alias rohis dimanapun anda berada.

 

Lha, yang saya hadapi wanita karir. Cantik, pinter, berduit. Gak ikut rohis? Gimana kalau dia kena virus perselingkuhan? Yang saya hadapi mahasiswa jauh dari ortu, dengan energi vitalitas tinggi dan libido meledak; gimana kalau dia kenapa-kenapa sama lawan jenisnya? Perlu anda ingat, orang yang belum pernah sama sekali ikut kajian Islam alias rohis dalam hidupnya, juga berpotensi serupa teroris. Contoh, menangani urusan SDM kantor : 1 karyawan atau 1 kepala seksi terindikasi perselingkuhan; hadehhh. Ruwet. Rumit! Bukan hanya membengkak jadi kasus suami istri, pengabaian anak-anak. Kantor pun amburadul, anak buah terbengkalai, target kantor gak tercapai. Apa ini bukan masalah besar?

 

Baru 1 orang. Gimana kalau satu instansi, satu departemen ada virus korupsi, virus selingkuh, virus malas kerja dll? Ingat. Rohis dan kajian Islam yang mengggerakkan orang-orang di kampus, kantor, sekolah untuk bisa bertindak profesional alias itqon. Kerja adalah ibadah! Kelak mereka harus bertanggung jawab di hadapan Tuhan atas hasil kerja keras mereka.

 

  1. Rohis BUKAN teroris. Di hadapan anda sekarang tersaji anak-anak muda yang keren luarbiasa. Dakwah di instagram, dakwah youtubers, dakwah bloggers, pengusaha makanan dan pengusaha outfit yang outstanding! Anak-anak muda yang rela nikah muda dengan segala konsekuensinya, daripada pacaran. Mereka jaga nama baik orangtua dan keluarga, lho! Anak-anak muda yang memacu diri mencari beasiswa dan giat organisasi, sebab tujuan belajar bukan hanya keahlian individualistis. Tapi keahlian teamwork. Anak-anak muda yang segera galang dana jika ada bencana alam dan bencana kemanusiaan. Anak-anak muda kreatif, inovatif; tapi seperti kata Habibi : otaknya Jerman, hatinya Ka’bah. Ini bukan cuma didikan ortu dan sekolah. Rohis juga ikut ambil bagian di dalamnya.

 

rohis
Rohis keren

Jadi kalau rohis dibilang penghasil teroris, wah gimana ya?

Saya tidak setuju.

Kalau rohis kantong teroris, hitung aja sendiri berapa teroris yang ada dari Aceh sampai Papua. Dan, dengan jumlah teroris sebanyak itu, Indonesia jadi apa, coba?

Sinta Yudisia

Penulis & Psikolog

 

 

 

 

 

Kategori
Oase Surabaya WRITING. SHARING.

Surabaya : Tetep Cangkrukan, Cak!

 

10 tahun yang lalu, kami memutuskan tinggal di Surabaya. Setelah melanglang tinggal di beberapa kota mulai ujung utara Sumatera hingga ujung timur pulau Jawa, kami menjadikan Surabaya sebagai base camp. Banyak alasan yang menjadikan kami memilih kota ini.

 

  1. Masyarakat Surabaya yang didominasi orang Jawa Timur, terkenal blak-blakan. Bicara apa adanya. Saya yang sebetulnya orang Yogyakarta asli, awalnya kaget.
  2. Jalan di Surabaya relatif lebar, dengan penghijauan di tengah jalan. Kalaupun macet di ruas MERR atau Ahmad Yani, ada taman-taman hijau yang memanjakan mata yang lelah. Hampir tiap sudut kota, lahan kosong disulap menjadi taman artistik. Terimakasih, bu Risma.
  3. Kemacetan di Surabaya belum terlalu parah dan semoga tidak parah!
  4. Budaya cangkrukan (nongkrong) yang membuat warga lebih dekat satu sama lain
  5. Budaya mancing, bahkan saat hujan deras, yang disukai masyarakat

 

 

Balai Kota Surabaya malam hari
Balai Kota Surabaya di malam hari

 

Telingaku yang awalnya terbiasa mendengar kata-kata sopan dan lemah lembut khas Yogyakarta, sungguh terganggu ketika awalnya mendengar kata yang seperti makian.

“Janc**k! Ndiasmu ning endi!” (Janc*k, kepalamu di mana?)

“Cuk, gak pathek-en aku  di PHK. Sing penting enthuk duwit halal.” (Gak rugi diPHK. Yang penting dapat uang halal)

Kon ki gak lapo-lapo, gak gelem kerjo, mangan njaluk dibayari. Mbok pikir aku bank mlaku, ngono ta? Nek urip kudu urup!” (Kamu tuh nggak ngapa-ngapain, gak mau kerja, makan minta dibayari. Kamu pikir aku bank berjalan, begitu? Hidup harus menyala/bangkit!)

“Sapurane, Cak! Ngono yo ngono ning ojo ngono!” (Maaf, Mas. Gitu ya gitu, tapi jangan begitu)

 

Konon, janc**k sebetulnya bukan misuh. Ada yang mengatakan itu adalah sapaan akrab yang mengalami pergeseran makna  (ingat, kata bangs*t yang sebetulnya kutu-kutu kecil , menjadi makian palign kasar di Indonesia). Janc*k konon nama kendaraan Belanda yang bernama Jan Cox. Para tentara Indonesia mengingatkan rakyat untuk berhati-hati terhadap kendaraan yang satu ini.

“Awas, awas! Ono Jan Cox! Ojo nganti ketemu karo tank kuwi!”

Jan Cox.jpg
Jan Cox menjadi Janc*k

 

 

Itulah Surabaya.

Janc*k, cangkrukan, ngomong kasar, bicara apa adanya; lama-lama terasa memiliki makna tersendiri. Orang Surabaya berbeda dengan orang Yogyakarta. Orang Surabaya sekilas kasar, ‘panas’, gampang misuhan. Tapi, jarang sekali orang Surabaya yang punya dendam di hati. Saya punya banyak teman, yang kalau mereka tersinggung atau tak suka, langsung ngomong di depan.

“Ojo ngono lah, Mbak. Gak ilok.”

“Rego sak mono njaluk luwih. Yo sapurane.”

Nyaris, tidak kutemukan orang yang di depan mata bilang ya, gak papa, silakan tapi di belakang punggung bilang berbeda. Maka aku merasakan kehidupan antara satu orang dengan orang lain, antara satu rumah dengan rumah lain, antara satu kampung dengan kampung lain, antara satu RT dengan RT lain, satu RW dengan RW lain terasa tak memiliki api dalam sekam.

Sebab semua telah selesai di permukaan.

 

Blak-blakan.

Senggol bacok istilahnya.

Ojo nyenggol nek ora gelem dibacok, demikian kira-kira. Jangan ganggu kalau gak mau balas disakiti.

Maka saya heran, ketika peristiwa bom terjadi : benarkah ini dilakukan warga Surabaya? Benarkah ini dilakukan orang-orang yang dalam keseharian kita, memiliki keberanian untuk bicara terbuka dan apa adanya? Rasanya tidak.

 

Siapapun mereka yang melakukan, saya yakin bukan bagian dari Surabaya, apalagi bagian dari Indonesia. Sebab kami warga Surabaya terbiasa berbicara terus terang, jujur dan apa adanya. Cangkrukan ngopi-ngopi menunjukkan di hati masyarakat luas, kebersamaan itu sangat penting. Bahkan dilakukan oleh para bapak-bapak yang sangat lelah sepulang kerja. Kami terbiasa cangkrukan di warung kopi, di pos satpam, saat rehat di kantor, bahkan di masjid usai sholat berjamaah.

Janc*k, adalah sapaan akrab satu pemuda dengan pemuda lain, satu bapak dengan bapak lain, satu warga dengan warga lain. Bahwa di antara kami , jalinan teman dan persahabatan lebih kuat dari pada ikatan pribadi yang mengedepankan egoisme.

 

Jadi?

Apakah ledakan  bom ini akan melunturkan tali kekerabatan warga Surabaya?

Ojo nganti ngono, Cak!

Yo,  cangkrukan bareng maneh! Ngopi-ngopi. Iki kuthone awake dhewe.

Surabaya punya kita.

Ayo, jaga dengan persaudaraan dan jiwa ksatria .

Orang Surabaya dikenal berjiwa patriotik. Tidak lemah oleh hasutan dan ancaman. Jan Cox saja menyingkir. Apalagi mereka yang berjiwa kerdil. Tetap kuat dan bersatu, warga Surabaya!

Angkot, warkop, bakso. Harmoni di Surabaya

Foto-foto dokumen pribadi dan

https://deskgram.org/explore/tags/indonesianhistory

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Buku Sinta Yudisia Fiksi Sinta Yudisia Menerbitkan buku Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY

Mengenal Writing Therapy atau Terapi Menulis

 

 

Pernahkah dengar tentang writing therapy atau terapi menulis?

Dan menurut anda, bisakah menulis menjadi salah satu bentuk terapi?

Terapi menulis, adalah salah satu bagian besar dari art therapy atau terapi seni. Terapi seni mencakup semua terapi psikologis yang menggunakan pendekatan seni dalam proses terapeutiknya. Berhubung seni sendiri mencakup pemaknaan yang luas, maka terapi seni pun dapat bermacam-macam mulai terapi melukis, psikodrama, terapi menulis dan sebagainya.

Terapi menulis digaungkan antara lain oleh James Pennebaker.

Walau terapi ini tentu menuai pro dan kontra, tetapi beberapa pihak semakin terpanggil untuk menjadikan cara ini sebagai sebuah cara ampuh untuk mengatasi berbagai gangguan.  Umumnya, orang masih lebih mempercayai terapi kognitif dan terapi behavior yang terlihat lebih jitu dalam mengatasi gangguan kepribadian ataupun gangguan perilaku. Atau bila sudah terlalu dalam, pendekatan psikoanalitik dirasa lebih tepat. Terapi menulis lebih masuk ke arah pendekatan transpersonal yang disebut sebagai pendekatan atau madzhab keempat sesudah psikoanalis, perilaku dan kognitif. Bahkan, Pennebaker mengklaim klien-kliennya yang memiliki trauma masa lalu parah menjadi jauh lebih baik ketika menjalani writing therapy atau terapi menulis.

 

Siapa yang menjalani terapi menulis?

Gadis-gadis zaman dulu,  atau yang hidup di era 80-90; punya perilaku unik dalam kehidupan sosial. Waktu saya SD, SMP, SMA ; saat salahs atu ulang tahun maka teman-teman satu gengnya akan punya default barang sebagai hadiah. Kaset, boneka, kartu ucapan  yang bisa mengeluarkan irama musik,  atau buku harian. Buku harian lengkap dengan gembok dan kunci! Rata-rata gadis zaman saya punya buku harian dan itupun tak cuma satu. Di toko buku, buku harian jenis yang paling suka diburu para cewek. Rasanya, kalau bisa mengumpulkan uang dan memiliki buku harian yang diidam-idamkan : bahagiaaa sekali. Buku harian itu biasanya memiliki tebal 300-400 halaman. Berwarna-warni; dominasi pink tentu saja. Dengan quote kecil yang membuat hati makin baper seperti : love at the first sight is endless love. Always thinking about you. Your eyes is like a rainbow. Miss you like crazy dan begitu-begitulah. Pokoknya, diary menampung curhat para gadis dan insyaallah aman sebab tegembok dan tersimpan di lemari. Kecuali bila ada yang usil mengambil kunci gemboknya.

diary with key
Diary

Gadis zaman saya dulu nyaris tidak mengenal kata stress.

Jangan dibilang kalau di zaman itu tekanannya tidak seberat sekarang ya. Beuh! Sama beratnya! Di segala zaman, tantangan sendiri-sendiri.

Zaman saya sekolah, belum ada whatsapp dan line. Kalau tidak masuk sekolah karena sakit atau izin keperluan keluarga; harus cari pinjaman buku teman untuk fotokopi atau disalin tulisan tangan. Tidak semua rumah punya telepon, jadi tidak selalu persoalan diselesaikan melalui telepon. Internet? Boro-boro. Tugas sekolah yang memerlukan referensi diselesaikan dengan cara bermain ke perpustakaan atau pergi ke toko loak . Di Yogya, toko loak buku ada di shopping center. Wuah, ini surganya saya. Kalau naik becak kemari, bisa berjam-jam mendekam dan menyusuri gang-gangnya!

Tekanan di zaman saya besar.

Sama besarnya dengan tekanan hidup era sekarang, namun bentuknya lain.

Tetapi kami punya cara pelampiasan, tanpa kami sadari : menulis.

Jatuh cinta, patah hati, dimusuhi teman, di bully, dimarahi guru, disetrap guru, dimarahi orangtua, berantem dengan kakak, adik yang menyebalkan, nilai ulangan jelek semua tumplek blek di buku harian. Pendek kata rindu benci dendam cinta dibuang ke buku harian. Maka seorang cewek bisa marah besar kalau diarynya sampai ketahuan orang lain hehehe.

Sekarang,

Kebiasaan itu sudah hilang.

Tak ada waktu menulis buku harian.

Oh, bukan tak ada waktu tapi tak zaman lagi.

Semua tulisan diposting di facebook, instagram, line.

Dan, belum sempat penulisnya merenungi kisah hidupnya ; bertubi reaksi datang. Memuji, menghujat, menyela, memberi nasehat, mencemooh. Tak ada waktu menenangkan diri. Tak ada jeda meredam marah. Yang ada justru kemarahan yang semakin meruncing. Jangankan melampiaskan perasaan terpendam, justru postingan kita di medsos membuat persoalan baru yang membuat perasaan kembali tertekan.

reem workshop.jpeg

Writing therapy atau terapi menulis bukanlah sekedar menulis, lalu mempublikasikannya di media sosial sehingga orang banyak bebas menilai diri seseorang semau mereka. Terapi menulis justru bertujuan untuk menumpahkan segala , mengendapkan rasa dan ketika membaca dan membaca lagi tulisan tersebut; timbul pencerahan mendalam yang menyebabkan si pelaku menjadi lebih tenang dan mantap  ketika mengambil suatu tindak positif.

Tahukah anda bahwa Buya Hamka pun pernah putus asa?

Ulama favorit saya ini pernah terpikir mengakhiri hidup ketika di penjara.

Lalu, ia membaca ulang buku yang telah dituliskannya.

Membaca ulang tulisan sendiri, membuat Buya Hamka meraih kekuatan luarbiasa dan di penjara ia menghasilkan karya menakjubkan tentang al Quran.

Semua orang perlu menulis.

Menulis adalah salah satu bentuk terapi.

Bahkan, bila kita enggan bertemu terapis, semoga menulis menjadi salah satu cara penyembuhan.

Tunggu tulisan berikutnya tentang writing therapy atau terapi menulis ya.

Reem and PF.JPG

#Reem

#Polarisfukuoka

 

Kategori
Artikel/Opini da'wahku Oase Sejarah Islam WRITING. SHARING.

Bila Pengejek dan Pengolok berbalik menjadi Pendukung

 

Jika anda memakai  jilbab seperti saya di era 90an, pasti pernah  mengalami masa-masa yang spesial ini.

“Kamu mau kayak orang Iran ya?” kata salah  seorang saudara.

“Kamu ikut aliran apa sih?”

Apalagi ketika saya membatasi pergaulan, mengurangi film dan musik, tuduhan semakin berdatangan : “kamu sekarang nggak asyik lagi diajak ngobrol.”

Ketika saya tidak mau diajak bersalaman dengan pakde paklik mereka sontak murka : “memangnya aku ini apamu, Sin? Pakde paklik merasa tersinggung sekali saya tidak mau menyentuh tangan mereka.”

Waktu nikah muda di usia 20-an tahun, lengkaplah sudah stigma cewek berjilbab : “kamu itu dipengaruhi banget ya sama suru ngaji kamu? Kamu nggak mau kerja? Maunya di rumah aja? Hah, mau anak banyak? Ampun deh! Anak dua aja susah setengah mati!”

Berlinang air mata ini. Sakit rasanya. Kalau yang menyudutkan adalah guru-guru sekolah, nggak papa. Kalau yang menyindir dan mengolok-olok teman satu geng, okelah. Kalau yang menjauh adalah klub bahasa Inggris dan klub  pecinta alam, ya sudahlah. Tapi ketika saudara sendiri yang ikut-ikutan menyindir, mengejek, menyudutkan, menuduh macam-macam; jauh di lubuk hati sakitnya tak terkira melebihi goresan yang ditorehkan orang lain.

Saya ingin pakai jilbab karena ingin menjaga kemuliaan diri dan akhirnya menjaga kemuliaan keluarga, tapi mengapa keluarga sendiri juga yang menentang? Dulu, waktu saya pakai celana pendek dan kaos rock n roll, tidak ada yang menegur. Orang pacaran dibiarkan, orang menikah dikomentari. Padahal pacaran dan menikah sama-sama menghabiskan uang. Bedanya yang satu tidak terarah, yang satu terarah.

Tetapi ternyata, apa yang dilakukan atas landasan kebenaran, semakin kokoh dari hari ke hari. Satu demi satu sepupu, paman, bibi, pakde, bude yang menentang akhirnya ikut memakai jilbab. Yang dulu memarahi karena menikah  muda, malah memuji kami. Yang menuduh aliran sesat ketika tengah mendalami agama, ramai-ramai ikut pengajian dalam segala bentuknya. Ada yang ikut tasawuf, ada yang ikut Muhammadiyah, ada yang ikut NU, ada yang lebih suka tabligh. Pendek kata, semua yang menentang saya melakukan kebaikan dulu, pada akhirnya berbalik memuji dan mendukung. Bahkan mengikuti.

 

Kebaikan akan Berkembang

Alam semesta memuai. Kita semua tumbuh dan berkembang. Kejahatan tumbuh berkembang, sebaliknya, kebaikan juga tumbuh dan mekar. Dulu pacaran diam-diam, sekarang bahkan bugil dan berhubungan intim difoto, dishare, di like dan di comment!

Demikian pula kebaikan secara hukum alam, mengikuti aksi reaksi.

Ibaratnya, dimana ada Firaun, disitu ada Musa.

Semakin dahsyat keburukan, semakin dahsyat pula kebaikan mencari celah untuk tumbuh subur. Dulu saya harus menjahit baju sendiri, memakai taplak untuk jilbab. Satu-satuunya model jilbab saat itu hanya model ala qasidah, jilbab dengan topi. Kain jilbabnya tipis dan berbentuk segitiga tipis. Sekarang? Mau cari model busana dan kerudung ala apapun, ada! Harganya tersedia di segala level. Butiknya tersedia di setiap sudut jalan.  Mau pakai celana panjang, rok, gamis, cadar, abaya, baju kurung, baju pesta. Bahkan busana renang berhijabpun, ada. Disaat orang rame-rame memamerkan foto bugil, para muslimah pun tak ketinggalan memamerkan bahwa busana syari demikian modern dan stylish.

 

Panggung pendidikan, panggung sosial dan panggung politik

Apa sih yang laris dijual?

Ih, acara-acara yang menghibur ala dunia entertaintment dong. Pentas musik, film, novel teenlit chicklit, televisi yang menayangkan sinetron. Di zaman saya dulu, jangan coba-coba pakai label Islam. Nggak bakal laku! Yang namanya sekolah Islam dan pesantren, hiiii. Kumuh, pojok, kudisan, terbelakang. Apalagi pesantren. Alamak! Ketombean, kutuan, korengan. Yang mentereng adalah sekolah-skolah internasional dan sekolah non-muslim. Ekonomi dan perbank-an? Wuah, mana ada ekonomi syariah. Mana ada bank syariah. Yang ada adalah pinjaman bunga berbunga. Masih ingat ketika mama saya dulu punya usaha apotik, setengah mati cari pinjaman ke bank. Harus bayar setoran per hari (atau perpekan ya?). Telat sedikit, atau kurang meski seribu perak, di black list.

Sekarang?

Kalau mau daftar sekolah Islam, haus antri daftar November. Padahal tahun ajarannya masih Juli Agustus! Sekolah-sekolah Islam menjamur dan luarbiasa bagusnya. Pesantren? Mau cari yang tradisional atau modern, semua ada. Yang mahal atau murah, silakan, sama bagusnya. Daycare, taman kanak-kanak, SD, SMP SMA Islam wuaahhh, kualitasnya luarbiasa.

EO wedding sampai seminar, pelatihan yang muslim; ada. Sinetron muslim, ada. Novel Islami, ada. Warung, cafe, resto, makanan, minuman, hotel, wisata Islami, ada. Motivator, ada. Yang ceramah agama laris manis sekarang. Ustadz ustadzah adalah pekerjaan bergengsi yang menghasilkan pendapatan layak. Tidak seperti di zaman saya kecil dulu, ustadz itu miskin banget!

Bank-bank syariah menjamur. Senang banget lihat pegawai bank yang cantik-cantik berjilbab; tangkas, cerdas. Hampir di tiap kantor pemerintah atau swasta gemar mengadakan kajian Islam mulai dari belajar tahsin Quran sampai belajar tentang pernikahan dan parenting.

Panggung pendidikan dan sosial kita telah  mulai merasakan indahnya nafas Islam. Islam maju, indah, mampu bersaing dan solutif. Lalu; dunia yang memuai inipun menunjukkan sunnatullah. Hukum alam.

Boleh  kan Islam mulai merambah ke dunia politik?

natsir
Mohammad Natsir

Mulailah kaum muslimin yang semakin cerdas dan sadar akan posisinya; merasakan tanggung jawab sebagai khalifah. Wah, kalau sosial dan ekonomi saja mulai merasakan keteraturan dan keberkahan ketika dikelola oleh kaum muslimin; boleh dong urusan-urusan politik serta kenegaraan diatur juga oleh kaum muslimin. Tidak dengan cara anarkis, membabai buta, main seruduk. Tapi dengan cara yang baik kok. Sebagaimaan di pentas sosial dan pendidikan, kaum muslimin juga belajar banyak menjadi tokoh di bidangnya. Kaum muslimin semakin mahir, semakin cakap mengelola permasalahan dan mencari jalan keluarnya.

Ketika lembaga zakat dan ekonomi Islam berkembang, terasa sekali masyarakat miskin dan yang amat sangat  miskin mendapatkan bantuna. Banyak anak yatim, yatim piatu, keluarga dhuafa yang terbantu ketika sakit, membuka usaha, meneruskan pendidikan.

Ketika kaum muslimah semakin mampu menjaga diri dengan busana syari dan semakin memahami agama; kehidupan di kantor dan dunia kerja semakin lebih kondusif. Masing-masing kita lebih lapang melepas anak perempuan atau istri bekerja (jika harus bekerja).

Pendidikan, ekonomi, sosial; sudah.

Tapi masih ada yang kurang.

Sebab memang pentas politik dikelola oleh orang-orang yang sangat mahir dalam menaklukan segala sesuatu. Politikus haruslah negarawan. Saya masih ingat ucapan seorang tokoh muslim, Dr. Eko Fajar Nurpasetyo, Phd, yang memilih kembali ke Indonesia meskipun ia dan keluarganya dapat hidup makmur di negeri para Shogun. Bisnis potong ayam, potong daging, dan microchipnya telah mendunia Inti ucapan beliau, “seorang negarawan, pemimpin, melihat 20 tahun ke depan. Mempersiapkan situasi dan kondisi bagi generasi sesudahnya.”

Dampak ekonomi Islam dapat dirasakan sekarang. Pendidikan yang baik membuat orangtua tenang dan membantu mempersiapkan masa depan. Kehidupan sosial yang baik membuat masyarakat lebih stabil. Tapi siapa yang dapat menajmin berlangsungnya semua itu? Bisa saja arah kebijakan berbalik arus sehingga ekonomi Islam, pendidikan Islami, dan kehidupan sosial lalu ambruk. Negarala yang menjamin berlangsungnya hal yang baik, atau yang buruk.

Jadi, tak salah kemudian kalau orang-orang sholih mengarahkan pandangan mereka ke pentas politik. Lagipula, kan memang bersaing di negeri sendiri?

 

Semua Perkara Islami Awalnya Mendapat Tantangan

Pernah menyekolahkan anak di SDIT?

Saya menyekolahkan anak-anak di SDIT mulai gedung itu masih bangunan jelek, di tanah sewaan, guru segelintir. SMPIT juga begitu. SMAIT juga begitu. Putri saya sekolah SMAIT dengan jumlah siswa segelintir. Bangunan berhantu, di gang sempit yang ujiannya masih menumpang ke sekolah lain!

Sekarang? SDIT, SMPIT, SMAIT tempat anak saya sekolah hampir selalu menolak murid setiap tahun karena tak cukup lokal. Sekolah Islam menjadi incaran pertama kali!

“Kamu itu ngapain nyekolahin anak di sekolah yang akreditasinya gak jelas? Jangankan diakui atau disamakan, mungkin terdaftar aja belum!”

Kalau sekarang saya diminta mengisi acara parenting, hal yang saya ucapkan adalah : saya bangga menyekolahkan anak-anak saya di sekolah Islam ini. Biar bangunannya jelek, tapi guru-gurunya punya komitmen tinggi dan tahu kemana kualitas pendidikan akan dibawa. Maka anak-anak kami yang bersekolah di SIT insyaallah menjadi anak-anak berkarakter.

Pertentangan, resah gelisah, maju mundur; dialami pada awal berdirinya sebuah institusi. Termasuk lembaga sosial dan perekonomian. Siapa juga yang dulu mau buka tabungan di bank Islam macam Muamalat? Mending di bank lain yang bunga depositonya jelas! Kini bank-bank Islam digemari. Bukan hanya karena semakin maju pelayanannya, rasa tentram dan barakah membuat kaum msulimin senang berinteraksi dengan layanan perbankan Islami.

Politik Islam?

“Kotor! Semua politikus busuk. Semua partai Islam korup, sama aja. Semua anggota dewan menghalalkan segala cara. Ngapain kiai dan ustadz duduk disana? Nggak kompeten. Politik itu tempatnya barang haram, maksiat, terlaknat beredar.”

Ya iyalah. Yang jadi panduan Il Prince nya Machiavelli. Jelas politikusnya kotor seperti klan Medici.

Coba yang dibaca Muqaddimah Ibnu Khaldun, pasti beda. Yang dibaca Siyasah Syariyah  Ibnu Taimiyah, pasti melek. Yang dibaca karya Buya Hamka dan Mohammad Natsir, pasti lebih semangat.

Memang bisa ya politik Islam memimpin negeri? Nggak akan menindas, main anarkis, memaksakan kehendak? Wah, yang bilang Islam selalu menindas berarti gak baca sejarah Indonesia, nih. Suku Batak itu dikepung Aceh dan Melayu sejak lama, aman-aman saja. Bali dihimpit Jawa Timur, Madura, Sasak, Bugis yang kuat sekali sisi religusitasnya; tetap damai sampai sekarang.

Mainlah kapan-kapan ke Surabaya. Kalau lewat daerah Nginden hari-hari tertentu saat misa Kristiani, mobil-mobil memacetkan jalanan sampai kita nyaris kehabisan nafas. Tapi tidak ada kok keluhan atau ancaman supaya gereja menghentikan peribadatan. Kaum muslimin menerima perbedaan keyakinan.

Ini bulan Desember. Pasti anda lihat dong dimana-mana penuh pohon Natal dan para penjaja minimarket pakai topi Sinterklas. Kita kaum muslimin sebetulnya tidak terima lho. Kan muslim mayoritas. Kok dipaksa mengadakan perayaan Natal di seantero negeri sih? Tapi sekali lagi, kaum muslimin tepaselira. Di Bali, sekolah-sekolah Islam mengikuti libur Galungan, Nyepi, Kuningan. Di kalender nasional juga. Tidak ada protes meski sebagian sekolah Islam tetap masuk.

Nah, kalau sekarang kaum muslimin masuk ke ranah politik dalam segala aspeknya, anggap saja itu hukum alam yang memuai. Boleh dong kita duduk sebagai bupati, gubernur, Panglima ABRI, menteri, presiden asalkan itu fair. Lewat pemilihan yang adil. Kalau ada hal-hal yang berjalan tidak adil, selayaknya kaum muslimin protes. Protes bisa lewat media sosial, media massa, jalur resmi, lembaga hukum, lewat anggota legislatif, dan seterusnya. Kalau semua sudah dilakukan dan masih tetap buntu, ya, aksi bersama atau demonstrasi. Eh, demonstrasi itu hal lumrah di negara manapun. Waktu rakyat Amerika tidak menerima Trump menjadi presiden, mereka demo juga. Aksi damai pernah dilakukan Mahathma Gandhi yang mengumandangkan Ahimsa-Satyagraha. Martin Luther King Jr. Juga pernah melakukan  saat menuntut kesetaraan hal sipil.

Aksi demonstrasi Islam dianggap aneh? Ya, sama seperti panggung sosial, pendidikan, ekonomi yang dianggap sebelah mata oleh pemeluknya sendiri (apalagi yang non muslim). Meski, lama-lama kaum muslimin yang menentang, justru merasakan keberkahan panggung-panggung Islami itu dan berbalik mendukung.

Awalnya, saya ragu dengan aksi 411 dan 212 : benar nggak sih ini Islami? Sampai saya datang di acara al Falah 27 November tempo hari dan mendapatkan penjelasan dari Bachtiar Nasir.

Punk muslim, laki-laki, perempuan, anak-anak di acara aksi 

 

Tapi pasti ada kan di kalangan kaum muslimin yang masih ragu, bahkan tidak setuju dan menentang agenda ini? Wajar kok.

Dalam sejarah juga terjadi.Yang menentang kaum muslimin dengan keras salah satunya bangsa Mongolia hingga mereka menghancurkan Baghdad. Tetapi sejak Chagatay, Tuqluq Timur Khan, Anada Khan, Baraka Khan, begitu banyak bangsa Mongolia menjadi muslim. Apa alasannya? Mereka punya pepatah kuno Mongolia. Pepatah yang membuat mereka berbalik memeluk Islam.

Pepatah ini cocok untuk 411 ddan 212.

“Kalau ada suatu hal yang begitu mudah tersebar sebagaimana angin bertiup, perkara itu pastilah perkara kebaikan.”

Bangsa Mongolia yang menaklukan Eropa hingga Asia ternganga : kok ada ya keyakinan yang tersebar demikian luas sebagaimana arah angin bertiup dengan mudah? Logika itu membuat mereka memahami bahwa Islam adalah kebaikan semata.

Masih tidak percaya 411 dan 212 bagaimana angin bertiup membawa kebaikan?

Kalau begitu anda harus nonton film Pay It Forward. Satu anak punya niat baik, akan menyebar ke 3 anak. 3 anak punya niat baik, akan menyebar ke 9 anak. Begitu seterusnya.

Masih belum percaya juga?

Hm, gimana ya. Gini aja.

Pasang iklan termahal untuk radio di Surabaya itu ranking pertama dipegang Suara Surabaya. Wajarlah. Itu radio FM yang kondang banget. Tahu ranking kedua siapa? Ternyata Suara Muslim Surabaya. Lho, kok bisa? Ya. Karena pendengar Suara Muslim Surabaya sangat besar meskipun pasif. Mendengar data ini saya diam-diam merenung. Padahal, Suara Muslim Surabaya itu radio keagamaan lho. Tidak menayangkan K-Pop seperti Seventeen, BTS atau EXID, Black Pink. Tidak menayangkan BMTH, SoAD atau Linking Park. Tapi diam-diam banyak pengagumnya.

Jangan-jangan kita seperti pendengar radio Suara Muslim Surabaya. Pasif, tapi diam-diam mengagumi. Meski kita menghujat, meremehkan, mencaci maki aksi para ulama dan aksi bela Islam; diam-diam ada rasa kagum juga kan? Atau diam-diam mendukung dengan dana dan doa? Kalau nggak bisa mendukung dana dan doa, jangan caci maki para ulama dan aksi bela Islam. Segitu banyak orang lagi berdoa di hari Jumat, lho. Hari keramat. Sayyidul ayyam. Kebayang gak sih kalau kita minta didoakan sama ummat Islam yang segitu banyaknya, di hari Jumat, di tengah aksi memperjuangkan kebenaran? Kalau kita nggak mau mendukung, jangan mencaci maki. Takutnya nih, ribuan doa kaum muslimin yang tangannya menegadah ke langit, mengirimkan doa-doa rahasia bagi pendukung dan pencela.

Kalau malaikat-malaikatNya turun tangan, memangnya masih ada kolong langit yang aman?

 

Sinta Yudisia, Ordinary People