Baju Sial, Laba yang Bawa Rezeqi & Larangan Makan di Cobek

Percaya ada baju yang bawa sial? Saya punya 1. Moga gak nambah, sebab punya 1 aja udah buat senewen. Setiap pakai baju itu ada aja hal menjengkelkan terjadi. Bahkan, teman, sedang memikirkan untuk menulis cerita ini aja…eh mendadak saya lagi di kamar mandi lampu mati sampai teriak-teriak, “helloooo! Adakah yang gangguin Ummi dengan matikan lampu kamar mandi?”

Hehehe, sebab saya suka iseng gangguin anak-anak. Kalau mereka di kamar mandi, saya matikan lampu.

Baju ini sering banget buat saya kesal. Padahal baju ini salah satu baju resmi yang pantas dikenakan buat acara formal. Dulu berupa kain hadiah seseorang, dan saya jahitkan menjadi sebuah baju. Sampai-sampai saya berpikir : jangan-jangan ketika baju ini dibuat, ada ritual tertentu hingga selalu aja ada hal jelek mendatangi.

Mau tau apa aja hal menjengkelkan yang terjadi?

Mulai disemprot orang, kesasar, kejadian-kejadian yang tak diharapkan terjadi (tebak sendiri!), hingga delay pesawat berjam-jam. Malu gak sih, pas saya mau ngisi acara pakai baju ini tetiba izin ke panitia,” maaf dek, ada kamar mandi? Saya mau ke belakang.”

Tetiba perut mules tiada tara! Padahal biasanya kalau saya mau ngisi acara, saya akan atur jadwal makan : gak boleh pedes, gak boleh MSG, gak boleh instan dll. Perut saya tergolong sensitif (pake bangettt).

Saya anggap baju ini bawa sial. Atau pertanda sial. Atau penyebab sial.

Yah, akhirnya, baju ini saya simpan aja di lemari. Mau dikasih orang juga gak mungkin. Selain baju itu kenang-kenangan, andaikata benar bawa sial, masa saya delivery ke orang kesialannya?

Sampai suatu ketika, saya merenung.

Habis baca buku Marie Kondo, bahwa barang-barang yang tidak menimbulkan kebahagiaan lebih baik disingkirkan; saya mulai berpikir tentang baju itu. Dibuang, enggak. Dikasih ke orang, enggak. Dirombeng, enggak. Kalau disimpan, ditumpuk-tumpuk di lemari, gak digunakan sama sekali; hanya akan mengundang ketidak berkahan. Maka tak ada cara lain kecuali mencoba memakai baju ini lagi, dan melawan kesialannya.

Hari itu, hati deg-degan.

Wah, kesialan apa yang akan aku alami hari ini?        Dag dig dug. Menduga-duga. Berpikir-pikir. Menerka-nerka.

Sejak belum pakai baju itu, hati ini berdoa, berbisik pada Allah Swt ,” Ya Allah, andai baju ini bawa sial, lindungi aku dari kesialannya. Andai baju ini buruk, lindungi aku dari keburukannya.”

                       Baju ‘sial’ yang jadi untung

Sejak belum pakai pakai baju itu aku banyak baca istighfar, shalawat nabi dan segala macam dzikir yang dapat terucap. Luarbiasa, hari aku memutuskan pakai baju ‘sial’ itu, ternyata ada banyak keberuntungan terjadi. Aku mengisi 2 acara , mendapat banyak bingkisan dan mendapat banyak teman baru serta pengalaman baru. Nyaris hari itu tidak ada kejadian mengesalkan, kecuali 1x saja yang kuanggap, yah, kebetulan belaka. Kira-kira, apa yang mengubah baju ‘sial’ itu jadi baju ‘untung’?

  1. Berdoa kepada Allah Swt sebelum memakainya.
  2. Sepanjang memakai baju itu banyak istighfar, baca shalawat dan dzikrullah
  3. Selalu positif thinking
  4. Banyak senyum agar happy
  5. Mempersiapkan agenda hari itu dengan matang agar tidak tertimpa eksialan yang sesungguhnya merupakan kecerobohan kita

 

                        Laba-laba pembawa rezeqi

“Kalau ada onggo-onggo, jangan diusir!”

Itu kata ibuku, berpesan kepadaku agar behati-hati bila melihat onggo-onggo.

 

laba laba gonggo

Laba Gonggo (Onggo-onggo)

Tahu onggo-onggo? Sejenis laba-laba yang biasanya nangkring di sudut pojok dinding rumah, dan binatang ini tidak selalu terlihat. Sesungguhnya, ada beberapa hewan yang dianggap pembawa keberuntungan atau malah kesialan. Tokek, yang disunnahkan untuk dibunuh, ternyata oleh orang Jawa dianggap pembawa berita baik. Kejatuhan cicak, dianggap sebagai pertanda sial.

Bagiku, tokek hewan yang menakutkan. Dan gigitannya kata orang cukup berbahaya. Maka aku merasa lebih baik hewan ini diusir dari rumah, bila kita tak mampu membunuhnya. Perihal laba-laba, aku ingat bahwa ini salah satu hewan yang melindungi persembunyian Rasulullah Saw di gua bersama sahabat beliau Abubakar ra. Maka, terlepas dari ia membawa berita baik atau tidak, aku memang enggan mengusirnya. Kecuali bila sarang laba-laba di sudut rumah sudah  menumpuk-numpuk.

Bagaimana dengan kupu-kupu?

Kata orang-orang Jawa kuno, adanya kupu-kupu pertanda akan mendapat tamu tak diundang. Umumnya tamu yang membawa kabar bahagia. Entah benar atau tidak, tapi semasa kecil rumahku pernah kemasukan kupu-kupu. Lalu trataaaa….nenekku datang tiba-tiba. Wah senang sekali! Mungkin saja itu kebetulan belaka.

Berbagai kepercayaan yang berkembang di masyarakat, sesungguhnya merupakan pengetahuan empiris yang tidak dapat diambil kesimpulan mutlak berdasarkan teori yang sudah baku.

Kepercayaan bahwa anak perempuan yang menyapu tak bersih akan punya suami brewokan, menjadi salah satu nasehat yang sering diungkapkan orangtua pada anak-anak perempuan. Yah, kalau orang barat dan orang Turki yang dari sononya sudah bawaan brewokan, apa berarti semua istri mereka gak pintar menyapu rumah? Kadang, ancaman-ancaman untuk menakuti anak atau cucu, bermanfaat supaya mereka segera menghindari perilaku yang kurang baik.

Sambal di cobek.JPG

Jangan makan nasi di cobek!

“Jangan makan nasi dari cobek, nanti jauh jodohnya!”

Sambal di cobek yang tinggal sedikti, enak banget kalau dicolek dengan nasi. Tapi emang sih, melihat orang makan dari cobek, rasanya gimanaaa gitu. Maka orangtua biasanya bilang : nanti jauh jodoh.

“Jangan duduk di depan pintu. Nanti jauh jodoh!”

Yah, kalau orang duduk di pintu, biasanya bikin sebel kan? Menghalangi yang mau lewat dan terpaksa bilang : permisi, nyusun sewu, ngapunten blablabla. Serba nggak enak kan? Maka dibilanglah : jauh jodoh.

Ada nasehat-nasehat trasidional yang masih dapat digunakan dan bahkan menjadi pedoman, namun sebagian yang lain, perlu diperhatikan karena kebaikan isi nya dan tidak perlu diyakini sebagai hal yang sungguh akan terjadi. Misal, terpaksa duduk di pintu karena saat pengajian, ruang tamu shahibul bait dipenuhi jamaah pengajian dan kita terpaksa duduk di pintu, maka bukan berarti jodohnya jauh.

 

 

 

 

Iklan

Rangkuman pertemuan dengan Murteza Fikri, Saddam Hussein dan Muammar Qadafi (3 putra Saifudin Ibrahim)

Pertemuan dengan Ustadz Menachem Ali dan 3 putra Saifudin Ibrahim hari itu, sungguh merupakan hadiah berharga bagi diriku yang berulang tahun pernikahan tepat 25 Desember 2017. Apalagi hari itu fisikku sedang drop sekali, sejak Jumat sakit sehingga butuh perjuangan untuk berangkat pagi ke masjid dan ke acara Saddam Hussein cs di SD Muhammadiyah 4, Pucang Anom, Surabaya. Sampai-sampai di masjid, aku harus merunduk-runduk memegangi perut yang bolak balik kolik hingga putriku berkata, “sabar ya Mi…”

Suamiku pun sempat berkata sebelum berangkat ke acara di Mudipat (Muhammadiyah 4).

“Nggak usah aja ya? Prioritas kesehatan dulu,” ujarnya khawatir melihat kondisiku yang masih agak kepayahan.

Anehnya, entah mengapa tekadku sangat kuat. Bahkan kami berangkat jam 08.00 pagi, masih sepi dan aku harus mampir ke masjid al Falah untuk beristirahat sebentar lantaran perutku yang kolik lagi. Alhamdulillah, kami tetap bisa hadir di acara ketika bangku masih kosong, sebab ternyata acara mulai jam 09.00 pagi. Sebab ternyata, peserta membludak hingga ruangan penuh dan peserta yang tidak kebagian tempat harus rela berdiri!

Membludak!

 

Apa yang kutuliskan adalah catatan sepanjang  3 putra Saifudin Ibrahim memandu acara yang luarbiasa hari itu. Istighfar, hamdalah dan airmata tak terbendung dari mataku. Dari mata para pengunjung. Sungguh; betapa luar biasa 3 pemuda di depan kami yang tetap kokoh dalam keimanan mereka sementara sang ayah saat ini tengah berdakwah dari seberang agama yang lain.

fikri, saddam, qadafi.JPG

Muamamr Qaddafi (3), Murteza Fikri (1), Saddam Hussein (2)

Profil singkat Saifudin Ibrahim

Saifudin Ibrahim berasal dari Bima. Beliau anak ke-2 dari 9 bersaudara. Anak ke-1 perempuan, maka Saifudin Ibrahim terbiasa menjadi pemimpin keluarga. Istrinya, Nurhayati merupakan anak dari 11 bersaudara yang berasal dari Jepara. Baik orangtua Saifudin Ibrahimd an Nurhayati adalah orang-orang terpandang, sebab ayah Saifudin Ibrahim (SI) adalah peolpor Muhamamdiyah di Bima sedang ayah Nurhayati adalah pelopor Muhammadiyyah di Jepara.

SI seorang yang tangguh, pejuang sejati dan orang yang brillian.

Sejak kecil hingga dewasa, ia selalu mencari beasiswa. Ia menempuh pendidikan di Universitas Muhammadiyah Surakarta atas beasiswa PP Muhammadiyah. Si angkatan 1983, mendapat beasiswa kader dan kuliah di Ushuluddin mengambil perbandingan agama. Selanjutnya, SI bekerja sebagai salah satu guru di Mahad Zaytun. Beliau mengajar bab aqidah, tarikh dan bahasa Arab. SI adalah seorang yang sangat fasih berbahasa sehingga ia juga menjadi humas dan bertugas untuk menerima tamu-tamu dari Timur Tengah. Dalam perjalanannya, SI pernah mengIslamkan 12 orang.

 

Murtadnya SI

Tahun 2006, SI keluar dari agama Islam. Setelah ia murtad, SI kuliah lagi di bidang teologi. Ia kemudian berkeliling, utamanya tanggal 25 Desember untuk berceramah di depan jemaat sembari mengutip ayat-ayat Quran yang memang sudah sangat lekat dengan dirinya.

Apa pasal kemurtadan SI?

Ada beberapa kejadian yang terjadi dalam hidup SI, yang diduga menyebabkannya kecewa dengan orang-orang muslim dan akhirnya menyebabkannya berpindah agama

  1. SI di skors dari Zaytun karena dianggap memiliki dualisme pekerjaan. Beliau diskors 3 minggu atas tuduhan tersebut tanpa klarifikasi. Tak tanggung-tanggung beliau diskors oleh pemimpinnya yang selama ini menganggap SI sebagai tangan kanan (menurut Saddam Hussein, yang berjualan herba saat itu adalah Ummi. Jadi bukan Abi)
  2. Bersamaan dengan itu, seorang Nashrani memberikan hibah 1400 New Statemen untuk dibagi-bagikan kepada pesantren
  3. Bermimpi bertemu nabi Isa dan nabi Muhammad Saw meninggalkannya

 

Saddam Hussein kecil menjadi saksi kemurtadan sang Abi

Saddam Huseein saat itu 10 tahun dan duduk di bangku kelas 6. Si kecil Saddamlah yang pertama kali mengetahui kemurtadan Abi, tapi karena kepolosannya belum tahu harus berbuat apa.

SI melakukan perjalanan ke Jakarta, lalu ke Surabaya sebelum ke Lombok dan Bima. Yang membuat Saddam bertanya-tanya saat itu :  mengapa Abi tidak sholat?  Mengapa Abi selalu bertamu dengan teman-teman Nashrani?

Saddam kecil rupanya ingin tahu mengapa abinya tak sholat.

“Abi nggak sholat?”

“Jama qoshor,” jawab SI.

“Kok gak Shubuh?”

SI hanya diam saja.

Menurut Saddam, Abi murtad saat berada di Surabaya. Saddam mendapat instruksi dari abinya ,”Abi mau ngajari toleransi. Kalau mereka doa, kamu ikut nunduk doa.”

Saat di Surabaya, SI bertemu dengan teman-teman Nashraninya, utamanya dari the Gideons. Ia diperlihatkan video-video sementara Saddam diminta main dengan anak seorang pendeta. Meski demikian, saat Saddam mencari ayahnya, ia mendengar sang abi berdoa ,”ya Tuhan Yesus, ini adalah hambaMu…”

Hancur hati Saddam mendengarnya. Ia gemetar namun tak tahu harus berbuat apa. Sebagai anak kecil hanya dapat merasakan kesedihan yang dalam sebab SI baginya adalah sosok seorang abi yang inspiratif dan penyayang keluarga. Berkali-kali SI menekankan pada Saddam, “pokoknya nggak boleh, nggak boleh kasih tahu!” Maksudnya nggak boleh kasih tahu tentang kemurtadan SI kepada anggota keluarga.

Menurut Saddam, ummi sudah mulai curiga namun belum menemukan jawaban pasti. Mengapa status kerja SI dicabut di Zaytun? Dari Indramayu, keluarga SI pindah ke Bekasi, dibelikan rumah oleh Pdt. Eri Sapto Wedha. Saat pindah ke Bekasi 7 hari, Saddam mendapati ummi menangis sejadi-jadinya jam 22.00. Menurut pengakukan Murteza Fikri, ummi menangis selama seminggu lamanya. Namun, di dpean anak-anaknya, ummi belum menceritakan kejadian sebenarnya. Ummi hanya berujar,

“Abi mau pergi jauh. Abi mau pergi ke luar kota lama.”

Ini dilakukan ummi supaya anak-anaknya tak sedih.

Ummi memiliki sakit diabetes yang berkisar antara 300-700. Karena kuatnya semangat ummi, sekalipun memiliki diabetes 700 yang harusnya membuat seseorang terkapar, beliau tetap bangkit berdiri demi anak-anaknya. Memang, ummi sempat agnostik. Namun, menjelang wafatnya ummi berwasiat kepada ketiga putranya agar tetap dalam keIslaman.

2006-2012 anak-anak SI masih serumah dengannya. Sebab kalau tidak ikut aturan main, maka anak-anak tidak makan dan tidak sekolah. SI dibaptis dengan nama Abraham bin Moses.

 

Pertanyaan peserta dan jawaban yang mencerahkan

Ada banyak pertanyaan yang menghujani tiga putra SI : Murteza Fikri, Saddam Hussein dan Muammar Qaddafi. Pertanyaan dari kaum ibu umumnya mirip : bagaimana setelah abi murtad? Apakah masih serumah? Apakah ummi abi masih campur? Apakah mereka bercerai?

Ada pertanyaan-pertanyaan yang sangat menohok dari peserta.

  1. “Abi adalah ayah biologis dari Saddam cs. Tapi menurut Saddam, apakah ayah kalian kafir dzimmi atau kafir harbi?” tanya seorang ibu muallaf yang dulunya memiliki nama baptis Maria Christina.
  2. “Saya telah berdiskusi via whatsapp dengan Abi,” ujar ustadz Menachem Ali. “Menurut saya beliau belum memahami ajaran Nashrani dengan mendalam, sebab beliau masih memiliki kebingungan. Tampaknya, beliau hanya sakit hati dengan beberapa person dalam Islam tetapi kemudian merasa nyaman dengan keluar Islam. Di titik apa Abi terseret hingga keluar dari Islam?”
  3. “Adakah upaya untuk menarik SI kembali kepada Islam?” tegur seorang lelaki, seorang pengurus takmir masjid. “Janganlah anda merasa enjoy dengan melakukan perjalanan kesana kemari, mengisi acara, lalu melupakan kewajiban utama mengembalikan ayah anda kepada Islam.”

 Maria Christina dan ustadz Menachem Ali

 

Kafir harbi dan kafir dzimmi

Kafir harbi adalah mereka yang terang-terangan memerangi Islam sementara kafir dzimmi adalah sebaliknya. Menurut Saddam, SI adalah ayah biologis tetapi SI pindah agama. Urusan murtad adalah urusan SI. Karena beliau ikut campur dalam urusan agama lain termasuk menghina Allah Swt, Rasulullah dan Islam maka SI harus mendapatkan tindakan tegas. SI punya akun youtube ribuan followers dan ribuan likers. SI juga punya yayasan Amanat Agung yang memiliki 300 ribu pengikut aktif-pasif.

Pak herman.JPG

Pak Suherman Rosyidi menjelaskan tentang harbi-dzimmi

Secara karakteristik, SI termasuk kafir harbi. Namun sebagai negara konstitusional tentu tidak dapat diterapkan harbi-dzimmi tetapi kasus SI dapat masuk ke ranah hukum pidana. Jadi kaum muslimin pun tidak dapat main hakim sendiri untuk menentukan harbi-dzimmi, kecuali negara Islam , sementara Indonesia adalah negara konstitusional.

Sesungguhnya, tindak tanduk SI telah banyak meresahkan masyarakat. Namun, pihak kepolisian belum merespon cepat sekalipun yang melaporkan sudah banyak. KNAP (Komisi Nasional Anti Pemurtadan) pada akhirnya tidak mengontak Polri tetapi mengontak MUI yang lansung melaporkan ke Ustadz Maruf Amin. Ustadz Maruf Amin langsung membuat komisi darurat dan ditindak lanjuti oleh pak Tito Karnavian.

SI masuk dalam kategori harbi adalah karena ceramah-ceramahnya yang antara lain mencuplik ayat secara tidak lengkap, beberapa di antaranya adalah

  • Satu-satunya agama yang membolehkan membunuh hanyalah agama Islam
  • Memlintir tentang poligami
  • Tidak ada orang yang dapat menjalankan Islam secara kaffah

 

Memahami ajaran Nashrani

Menurut Saddam, SI memahami betul tentang Islam dan cukup paham ajaran kristiani. Sekalipun memang titik baliknya karena kekecewaan terhadap orang-orang tertentu dalam Islam. Salah satu yang menjadi legitimasi kekecewaan SI adalah tindakan Amrozi dan Imam Samudra.

Walau, tetap saja ada kejadian di luar nalar yang menyebabkan seseorang murtad.

Menurut Saddam, orang murtad karena tiga hal :

  1. Murtad karena harta
  2. Murtad karena nikah
  3. Murtad karena mimpi

SI mengalami nomer 3.

 

Ada perkataan Saddam yang menurutku sangat menohok.

Sesungguhnya di dunia ini, kaum muslimin menyaksikan beberapa jenis korban kemanusiaan. Korban-korban kemanusiaan ini haruslah ditangisi dengan kesedihan mendalam dan segera mendapatkan bantuan.

  1. Korban bencana dan korban perang. Suriah, Palestina, Rohingya. Korban yang syahid telah mencapai 700 ribu dan terus berjalan. Namun pada hakekatnya, korban-korban ini husnul khatimah dan syahid , serta insyaallah masuk ke dalam JannahNya. Kaum muslimin menangisi kondisi saudara-saudaranya yang seperti ini, medoakan dan segera memberikan bantuan
  2. Korban pemurtadan yang sesungguhnya jauh lebih mengenaskan sebab kaum muslimin tidak ada yang menangisi walau akhir hidup korban-korban ini jauh berbeda dari korban yang pertama.

 

Pemurtadan terhadap kaum muslimin dilakukan atas beberapa alasan, antara lain :

  • Kaum muslimin yang miskin, lebih banyak dari yang mapan
  • Kaum muslimin yang awam, lebih banyak dari yang paham

 

Upaya menarik SI kembali pada Islam

Kali ini yang berbicara adalah Muammar Qaddafi.

Masyaallah, sungguh beruntung ummi Nurhayati memiliki 3 pendekar ksatria yang insyaalah sangat dibanggakan kaum muslimin. Mereka masih muda, berani dan juga cerdas.

 

Muammar.JPG

Muammar yang bijak dan berani

“Kami tidak merasa enjoy dengan melakukan hal seperti ini (berdiri di stage dan ceramah). Tetapi kami harus berkeliling, sebab kami bertanggung jawab terhadap jutaan ummat di luar sana yang terpengaruh oleh upaya abi.”

Tentang upaya mengembalikan SI kepada Islam sudah diupayakan anak-anaknya. Meski keahlian agama 3 putranya jauh berada di bawah SI, namun bukan berarti 3 putranya tidak berupaya berdiskusi. Hasilnya adalah kemarahan SI. Saat ini Saddam Hussein lulus dari teknik elektro UMS dan berniat mencari beasiswa yang berbeda dari jurusan sebelumnya, ia ingin mengambil studi perbandingan agama. Sementara Muamamr Qaddafi masih duduk di jurusan komunikasi.

Saddam Hussein menambahkan bahwa tidak ada upaya maksimal dalam mengajak SI kembali pada Islam kecuali mereka telah dipanggil Allah Swt. Bila berkata upaya telah maksimal, maka dapat dikatakan mereka telah menyerah. Pada akhirnya, seluruh hadirin di majelis itu mendoakan agar kiranya Allah Swt berkenan mengembalikan SI ke dalam pangkuan Islam kembali.

Sungguh, hidayah adalah harta yang sangat mahal.

Hidayah merupakan anugerah Allah Swt namun sebagai manusia harus terus berupaya mencari dan mempertahankannya.

 

Kita selayaknya saling mendoakan dan mendukung satu sama lain agar senantiasa berada dalam lindungan dan tuntunan Allah Swt, aamiin yaa Robbal ‘alamin.

Tikam, bunuh, perkosa, hajar, tembak, sayat

 

Puluhan tahun yang lalu, ketika masih anak-anak, saya sering bermain di luar rumah hanya mengenakan celana dalam dan singlet. Saya berlari-lari, main petak umpet keliling rumah, menyeberangi kali atau kuburan. Bermain di dekat stasiun, melihat gerbong kereta api tua. Berangkat dan pulang sekolah jalan kaki, naik bemo atau berepeda. Seringkali ketika Ayah tak bisa menjemput dengan vespa tuanya, saya menjadi murid satu-satunya yang dijemput sore.

 
Tak ada takut.
Padahal, ketika SMP saya melewati gudang kereta api yang sangat sepi. Kantor-kantor tua bekas zaman Belanda tanpa penghuni. Ketika orangtua tinggal di Denpasar Bali dan mengirimkan saya untuk sekolah di Yogya, tak ada kekhawatiran sama sekali. Selain nasehat ,”baik-baik ya kamu tinggal sama Nenek. Jadi anak perempuan yang bisa ngeladeni Simbah!”
Mama dan bapak khawatir kalau sebagai cucu perempuan, saya malas-malasan di rumah nenek. Tidak tanggap nyuci piring, nyuci baju, beres-beres. Takut kalau saya hanya baca Kho Ping Ho seharian atau mendengarkan sandiwara radio Saur Sepuh.
Kalau libur, saya akan segera pulang ke Bali, naik bis. Bis turun di beberapa perhentian. Mamah dan bapak terkejut tiba-tiba ketika melihat saya di depan pintu : lho kok kamu pulang….

 
Sebagai pelajar saat itu , tak ada yang membebani pikiran selain : uang jajan, beli buku, belajar kelompok, naik gunung, malam Minggu main ke rumah teman yang sama-sama merantau.Akhir SMA, saya bahkan masih sering pulang malam karena harus hunting soal UMPTN kesana kemari, sampai malam fotokopi, belajar kelompok.

 
Satu-satunya peristiwa berdarah yang pernah saya lalui (ohya, dua persitiwa) adalah ketika SMP naik sepeda dan tidak sengaja terserempet bis. Saya ditolong orang-orang. Kali kedua, ketika belajar naik sepeda motor dan belum bisa mengerem ketika naik tanjakan.

 
Bertemu orang asing, menyenangkan. Saya senang naik bis kota, berbincang dengan tukang jamu, tukang sayur, tukang becak, tukang batu. Bertemu orang baru, menyenangkan, ketika sama-sama bertemu pendaki gunung atau orang baru di bengkel sepeda atau tukang tambal ban motor. Bertemu teman baru menyenangkan, saya senang kenalan dengan anak-anak dari SMP SMA lain. Apalagi ketika menjelang UMPTN, saling berbagi info dan ilmu dengan anak-anak sekolah lain.
Bertemu dengan sebanyak-banyaknya orang, sungguh memperkaya wawasan.

Itu pula nasehat seorang Doktor berkebangsaan Korea yang memberi wejangan di Wisuda S1 saya, bagaimana menajdi orang yang unggul : getting out, meet more and more people.
Bergaulah dengan sebanyak mungkin orang.
Bertemu dengan sebanyak mungkin manusia.
Bercakap, berdiskusi, berguru, berbagi dengan sebanyak mungkin individu yang mungkin memiliki kepandaian dan pengalaman jauh lebih banyak, lebih hebat dari kita.
Namun, beranikah sekarang saya, anda dan para guru sekalian untuk memberikan wacana ini pada anak-anak dan murid-murid : meet more and more people?

 

Bengis & Kejam

knife stab vector
Itukah watak orang di masa sekarang?

 
Yang miskin, membenci orang kaya karena memamerkan kekayaannya. Mengendarai mobil, main klakson seenaknya padahal cuaca sangat panas dan kita pengendara motor sedang bersabar di bawah terik matahari. Yang kaya, benci pada yang miskin karena mereka sangat tidak kompeten dalam beragam pekerjaan : malas, penipu, hanya jadi polisi cepek, selalu meminta dan seterusnya. Yang bodoh, membenci orang pintar apalagi berkedudukan. Mereka yang di atas hanya akan memangsa yang lemah dan hanya akan memanfaatkan. Yang pintar, membenci yang bodoh sebab karena angka kebodohanlah bangsa ini makin terpuruk dan terpuruk.

 
Itukah kita?
Yang akhir-akhir ini selalu curiga, penuh prasangka, membenci orang dan ingin sekejam mungkin menghakimi siapapun yang berseberangan?
Betapa mudah kita membenci.
Mencaci maki orang lain di media social maupun di dunia nyata.
Ketika ucapan tak cukup mewakili kebencian hati, maka apapun jadi senjata : facebook, blog, twitter, instagram. Ketika itu masih belum cukup melampiaskan kebencian, adakah cara lain untuk melampiaskan dendam?

 
Ya.
Lakukan saja yang demikian cepat terlintas pikiran.
Kalau bisa babat, babat saja. Kalau bisa pukul, pukul saja. Kalau bisa tikam, kenapa tidak? Kalau bisa ditembak, kenapa tidak didor?
Seolah, di masa ini, kita kembali ke zaman pra sejarah.
Kembali ke zaman dinosauraus , hutan-hutan, bejana perunggu, tombak besi dan kapak batu.
Hutan-hutan pepohonan sekarang berganti hutan beton apartemen dan mall. Tombak besi dapat diperkecil menjadi pisau atau silet. Kapak batu diubah menjadi senapan atau pistol. Tak da Dinosaurus seperti Velociraptor atau T-Rex, tapi manusia sekarang dapat lebih kejam memangsa orang lain. Velociraptor tak pernah berpikir memperkosa orang. T Rex tak pernah berpikir menyiksa psikis manusia dengan terror.

 

Mari, hidup kembali di zaman Primitif

hand gun
Dulu, orang melengkapi diri dengan senjata agar sewaktu-waktu hewan buas menyerang, kita dapat balik menikam.
Apakah itu yang harus kita lakukan sekarang? Melengkapi anak-anak kita dengan pisau dan senjata tajam?

 
“Nak, selain pena dan pulpen di tasmu, apa kamu sudah bawa clurit? Apa kamu bawa cutter dan silet? Atau, apa kamu bawa pistol? Jangan lupa isi peluru!”

 
Dapatkah sebagai orangtua kita membayangkan anak-anak sekolah membawa persenjataan, mencurigai teman-teman mereka sebagai pemerkosa dan menganggap guru atau dosen yang bersikap keras kepala (dari dulu selalu ada istilah guru dan dosen killer) sebagai pihak yang harus dihabisi?

 
Kemana institusi pendidikan yang melahirkan para pemikir, orang-orang cendeikia, manusia unggul berwawasan luas yang memiliki hati nurani?

 
Kemana insituti hukum yang melindungi masyarakat sebagaimana dulu Al Ayyubi melindungi perempuan dari orang yang melecehkannya?

 

 
Kemana insitusi pemerintah yang mencoba mengayomi segala entitas : di tengah masyarakat akan selalu ada kaya miskin, pandai bodoh, tinggi rendah, pejabat rakyat, petinggi pesuruh, orang dari beragam etnis, orang dari beragam golongan. Apakah perbedaan ini akan menjadi dasar pertentangan sehingga kita memandang setiap orang yang berbeda dengan mata curiga dan akan menghakiminya setiap ada kesempatan? Menghajarnya, memukulnya, menikam dan menyiletnya?

 
Apakah ketika melihat perempuan tak berdaya, lantas ia boleh diperkosa ? Mungkin sebagai lelaki nafsu birahi telah membumbung tinggi, arousal telah demikian memanaskan ubun-ubun, pornografi telah demikian intens hingga menyalakan instink paling dasar : lalu semua dilampiaskan pada seorang perempuan dan harus pula mengkahiri hidupnya?
Apakah ketika kemiskinan menghimpit, maka seseorang yang terlihat dalam posisi lebih berada karena dia mahasiswa, guru atau dosen, maka ia berhak untuk dihabisi?
Apakah karena seseorang bersalah karena mulutnya, maka senjata lebih tepat untuk membalasnya?
Demikian pula, wahai aku, kamu, kita dan kalian yang sedang berada dengan segala kelebihan baik pandai, kaya, berkelapangan : apakah menjadi jalan kita untuk tidak peduli dan memamerkan semua hal disaat yang lain nestapa memerangi segala kekurangan?

 

Zaman Primitif telah Lewat
Zaman Primitif telah lewat. Zaman pra sejarah telah usai. Zaman batu telah lalu. Zaman jahiliyah telah punah. Bersyukurlah hidup di abad modern yang memudahkan sekian ragam aktivitas.
Tidakkah kita ingin hidup di masa dimana peradaban memimpin dunia, setiap individu merasa bebas dan terhormat?

 
Para orangtua ingin mengirimkan anak laki dan perempuan untuk sekolah setinggi tingginya. Para guru dan dosen ingin mengajar. Para pejalan kaki ingin beraktivitas. Para pengguna angkutan ingin tetap berkendaraan , dalam keterbatasan ekonomi menggunakan bis, kereta, angkot , sebab tak mungkin setiap manusia di negeri ini memiliki mobil.
Maka, ayolah kita mulai dari diri sendiri.
Bagi anda yang pemarah, ingatlah untuk beristighfar. Sehingga tak timbul penyesalan dengan mengayunkan pisau, silet, parang ke sembarang leher orang. Yakinlah, bahwa usai membunuh satu orang, hanya tersisa penyesalan akan hari depan yang suram. Kemarahan yang merusak hanya dapat dilawan dengan banyak-banyak mengingatNya.Sebagain masyarakat mungkin akan memaafkan, namun bagaimana dengan keluarga korban?

 
Bagi anda penikmat pornografi, ingatlah bahwa melihat hubungan sexual yang terkspos membuat frontal lobe rusak, hingga anda akan menjadi orang yang mudah memangsa segala : anak sendiri, cucu sendiri, keponkana sendiri, tetangga, murid, ataupun perempuan di jalan. Menyukai pornografi bukan hanya meningkatkan rangsang seksual tapi juga perilaku agresif. Hasrat seksual yang tak terlampiaskan bukan hanya mendesak keinginan untuk memperkosa seseorang, tapi juga membunuh dan menyiksa. Ingatlah, bahwa keperkasaan anda sebagai laki-laki suatu saat akan mendapatkan hukuman yang tak terbayangkan , bila anda melampiaskan nafsu dengan cara yang tak manusiawi.

xxx
Bagi anda pengumbar materi, sadarlah. Begitu banyak orang yang mudah terbakar emosi karena situasi ekonomi, social yang memang belum stabil dewasa ini. Melihat sebagian orang dalam kondisi mapan, dalam hati terbersit cemburu dan kecurigaan. Perbanyak infaq sedekah, perbanyak senyum dan berbagi, perbanyak membantu orang agar jembatan kesenjangan terbangun.

 
Para orangtua, berhati-hatilah memiliki anak. Camkan pada anak-anak kita untuk waspada dan senantiasa Dzikrullah. Usahakan telepon selular dalam kondisi terkontak agar selalu dapat terhubungi dalam situasi kritis. Selalulah berdoa dalam segala kesempatan, agar terlindungi anak-anak kita, anak-anak bangsa, anak-anak ummat ini.

 
Para guru, dosen dan pengajar, berlapang dadalah. Anak-anak pelajar dan mahasiswa berada dalam kondisi serba terhimpit : mata pelajaran, mata kuliah, biaya transportasi, biaya kuliah, biaya praktikum, biaya skripsi, SPP dan segala macam biaya yang bila dibayangkan tak tertanggungkan bagi para pelajar. Belum lagi perilaku menyimpang, pornografi, kecemburuan social, tindak kekerasan mengungkung. Sedikit perilaku impulsive dapat membuat orang lupa diri.

 
Para pemimpin, pejabat, penegak hukum. Ingatlah dalam setiap kebijakan bahwa anda terlibat di dalamnya, terlibat dalam penegakkan keadilan dan kesejahteraan rakyat. Institusi hukum yang bersih dan berdedikasi sangat diharapkan, segala benda yang membahayakan seperti senjata, minuman keras, minuman beralkhohol, pornografi harus ditindak tegas. Bila membutuhkan waktu untuk membereskannya maka bersegeralah untuk membatasinya.

 
Perkosa, tikan, bunuh, hajar, silet, sayat; rasanya kata itu sudah tak kuasa lagi masuk dalam kamus kehidupan kita.

 
Tentu sebagai anak bangsa kita tak ingin menambah daftar kata kerja negative, bukan?
Kita tak ingin ada kata massa, bakar, jarah, rampas, rampok atau kata negatif apapun yang akan muncul dalam berita-berita.
Para pejabat, penegak hukum, pemimpin; anda harus mempertanggung jawabkan sekian banyak korban yang berjatuhan. Siapapun anda, haruslah waspada. Bukan hanya waspada akan kejahatan oranglain. Namun juga waspada, jangan sampai diri kita menyumbangkan kejahatan baik langsung atau tak langsung.

Yuyun, Feby, bu Dosen Nur Ain Lubis ; beristirahatlah dengan tenang. Cinta dan doa kami untukmu. Semoga kematian ini tidak sia-sia. Membuat kami ingat Allah, ingat masih banyak tugas bagi masyarakat untuk menjadi manusia yang lebih beradab.

 

Mei 2016

Stroke dan Glaukoma : Hati Lelaki ini Tetap Hidup Bersama Jamaah

Bila terdapat audisi keluarga teladan, mungkin inilah salah satu keluarga yang mewakili bagaimana harapan, kasih sayang, dan khusnudzon kepada Allah SWT menjadikan kemiskinan bukan ujian yang dihadapi dengan ratapan. Hati kukuh, sikap tangguh dan semangat baja unutuk melakukan kebaikan; lebih dari orang lain yang memiliki kelebihan harta,waktu, juga kesehatan.

Mbak Nuning, Habibah, Hilma dan pak Imam

Mbak Nuning, Habibah, Hilma dan pak Imam

Pak Imam, namanya.
Saya mengenalnya sebagai lelaki sederhana yang tak banyak bicara namun murah senyum. Ia tidak ada di podium, di panggung, di mimbar. Tak mahir mengutip ayat atau memberikan dalil. Ia penjaga kantor DPD PKS Tegal, juga bagian bersih-bersih jika sebuah acara berlangsung. Ia datang paling awal dan pulang paling akhir. Tugasnya mengumpulkan sampah sisa agar selesai acara, tak ada lagi ceceran barang kotor tertinggal di tempat.

Istrinya, mbak Nuning adalah seorang perempuan sederhana yang selalu tertawa dan tersenyum lebar. Tak pernah mengeluh ini itu sekalipun tempat tinggalnya masuk gang sempit yang sebenarnya tak layak untuk dihuni. Saya mengenal keluarga ini belasan tahun, tak sekalipun mereka pernah meminjam uang atau mengeluh kelaparan, sekalipun pernah suatu saat mbak Nuning keceplosan mereka ternyata berhari-hari tak makan. Putri kecil mereka , Hilma (sekarang sudah menjadi gadis cantik), saat itu mengumpulkan uang limaratus rupiah. Rp500! Dengan uang itu Hilma membeli bubur, meski seorang anak biasanya egois, namun si kecil Hilma membagi bubur itu untuk seluruh anggota keluarga.

Pak Imam dan mbak Nuning memiliki 4 orang putra putri : Ihya, Safir, Hilma dan Habibah. Ihya telah meninggal beberapa tahun lalu karena sakit menahun.

Stroke dan glaukoma

Beberapa bulan lalu, saya mendengar kabar pak Imam stroke.
Betapa sedih hati ini karena tak dapat membantu banyak. Pasti , beban pak Imam, mbak Nuning dan anak-anaknya semakin besar. Teman-teman membantu, Safir juga saat ini telah lulus sekolah juga Hilma. Safir dan Hilma sudah bekerja, namun tentu beban ekonomi belum dapat teratasi. Apalagi, sakitnya pak Imam membutuhkan banyak biaya.
Stroke pak Imam menyebabkannya lumpuh total. Dokter mengatakan, ia dapat kembali normal meski tak seratus persen sembuh, setelah jangka waktu satu tahun. Tidak itu saja, stroke juga menyerang matanya hingga mengalami glaukoma.

Dapat anda bayangkan betapa sedih mbak Nuning dan anak-anaknya?
Bahkan, ketika suami saya menengoknya, ia sama sekali tak mengenal.
“Siapa ya?” pak Imam hanya mampu bertanya-tanya.
Jangankan suami saya. Pak Imam hanya mampu menggambarkan suami saya dengan kata-kata: tinggi, besar, berjenggot.
Berlinang air mata, mbak Nuning mengatakan :
“Jangankan orang lain. Ia tak mengenal anak-anaknya. Tak mengenal istrinya. Tak mengenali wajah saya, bahkan tak ingat nama saya.”

Jalan menuju DPD

Tak ada yang diingat pak Imam setelah stroke.
Kami bertanya, Safir ada dimana pun, ia butuh waktu lama untuk menjawab dan tak ingat tepatnya saat itu putranya ada dimana. Safir menikah beberapa bulan lalu, dan ketika kami bertanya bulan apa Safir menikah; pak Imam pun tak dapat menjawab.
“Bulan apa ya….,” ia mengulang pertanyaan kami.
Namun, apa yang membuat kami demikian terharu adalah, ia mengingat sesuatu dalam hidupnya. Satu-satunya yang ia ingat, satu-satunya yang mengendap dalam benak, satu-satunya yang terekam memori otak, juga memori hatinya.

Ketika ingatan akan anak-anak dan istrinya sama sekali tak meninggalkan bekas, pak Imam ternyata masih ingat jalan dari rumahnya menuju DPD. Lebih dari itu ia akan tersesat, sebab tak mengenali jalan pulang. Namun jarak tempuh, tanda-tanda, belokan antara rumah menuju kantor DPD, masih tetap utuh. Seolah-olah, tanggung jawabnya untuk menajdi bagian dari jamaah, meski kecil dan tampak tak berarti bagi sebagian besar manusia; telah menjadi bagian yang mendarah daging dan tak akan dilepaskannya amanah tersebut.

Kami menangis memandang lelaki sederhana itu yang tentu, tak mengenali siapa kami.

Matanya separuh buta, tubuhnya lumpuh akibat stroke (meski sekarang mulai membaik), ingatannya menghilang namun hatinya tetap utuh hidup bersama jamaah. Orang-orang seperti pak Imam dan keluarganya inilah; yang akan membuat kita banyak belajar.

Ketahanan, resiliensi, endurance; tak akan didapat jika bukan karena ketulusan hanya mengharap balasan Allah SWT, insyaAllah.

Love : when passion meets commitment

Sinta dan Winiez the Chef, food fotografer

BPP FLP di sekretariat Kampung Rambutan

BPP FLP di sekretariat Kampung Rambutan

Kali ini bukan membahas skala cinta Rubin Z, seperti dalam buku Kitab Cinta dan Patah Hati. Tapi teori segitiga Rubin berlaku juga dalam konteks hubungan organisasi.

Malam ini, mata enggan terpejam bertemu teman-teman FLP. Berdiskusi dengan Daeng Gegge, Kokonata, Nurbaiti Hikaru, Winiez, Sudi , Elvira, Fatih dan mbak Anik. Khusus yang terakhir, ia menyiapkan logistik yang terus menerus untuk peserta rapat.

Selain seru oleh guyonan ala penulis, tepat jam 20.00 di lantai bawah, berbekal laptop, catatan dan note di HP masing-masing; pikiran tercurah untuk membahas salah satu agenda ummat yang tak bisa dipisahkan dari kebiasaan ulama : membaca dan menulis.

Pembahasan pertama tentang FSIN Festival Sastra Islam Nasional yang insyaallah akan diselenggarakan di Makassar, 17 Desember 2015 – 20 Desember 2015. Harapannya, menjadi festival sastra Islam tingkat Internasional sebagaimana Ubud Writers and Reader Festival dan Makassar International Writing Festival.

Pembahasan kedua tentang beetalk.
FLP bekerja sama dengan beetalk, chat platform, aplikasi bertukar pesan seperti whatsapp dan line; yang menyediakan layanan diskusi berkelompok. Terdapat grup Forum Buku, Cerpen dan Puisi dimana karya teman-teman FLP dapat dibaca disana.

Pembahasan ketiga, tentang novel yang sedang saya tulis dan diolah bersama teman-teman FLP untuk menjadi salah satu novel semi otobiografis; dengan setting Jepang yang unik dan indah, mengangkat salah satu tokoh muslim yang insyaAllah, kisah hidupnya amazing, kocak, romantis.

Pembahasan keempat, adalah pembahasan yang tidak masuk dalam agenda struktural namun menjadi pembahasan yang menghangatkan hati kami untuk tetap bersama-sama dalam FLP.
Pertanyaan yang sering diajukan kepada penulis FLP : berapa fee seorang penulis? Berapa honor untuk menjadi pemateri, mengisi workshop?

Okelah, seorang penulis setiap huruf, kata dan kalimatnya adalah argo.Ghostwriter, namanya tak boleh muncul sama sekali dalam buku namun jumlah rekeningnya menggelembung. Marketing, mengatakan seorang penulis harus membranding dirinya. Sebagaimana seorang teman marketing menawarkan diri untuk menjadi asisten saya, sebab menurutnya saya memiliki kemampuan di beberapa bidang : psikologi, penulis dan kemampuan membawakan materi.

Daeng Gegge, Winiez, Nurbaiti, Kokonata ternyata memiliki persepsi yang sama .
Sulit, untuk menjadikan sastra ini sebuah tolok ukur yang dapat dipatok dengan materi, khususnya uang. Gak butuh uang? Bukan begitu juga. Tapi ada hal-hal yang tidak dapat diukur dengan uang, khususnya cinta (haha…lebay).

Menulis itu cinta. Membaca itu cinta, makanya jangan tanya kalau ke toko buku bisa kalap dengan isi dompet. Beda kalau mau beli baju masih mikir-mikir : ini mahal apa enggak? Sepatu ini kok ratusan ribu, toh diinjak juga.Tapi kalau ke book fair, bisa ludes isi dompet. Siapa juga sanggup melihat buku-buku ulama yang sangat sulit didapatkan, untuk tidak dipindahkan ke lemari buku pribadi? Walaupun, hampir semua ruang di rumahku penuh berisi buku, rak buku sudah buat berkali-kali, tetap saja masih kurang dan kurang koleksi buku.

Menulis itu cinta. Mengajarkan tentang sastra itu cinta.
Mendengar anak-anak muridku berkata ,” aku mau jadi penulis kayak Bunda Sinta!” merupakan hadiah yang tidak dapat ditukar dengan honor sekali mengajar.
Mendengar anak-anak dan remaja menjadikan kata “Penulis” sebagai salah satu profil cita-cita mereka, luarbiasa.

Menulis itu passion, cinta yang penuh nyala api. Bersama teman-teman FLP kita juga melakukan komitmen. Ups, jangan ditanya apakah ada ongkos untuk rapat? Kami berangkat dengan uang pribadi, bawa makanan sendiri, saling bertukar hadiah malah. Kadang buku, kadang coklat (thanx to Winiez!), bahkan seringkali hanya bertukar doa.
Fee mengisi acara, kadang-kadang masuk ke kas FLP , untuk memutar roda organisasi.

Melihat ketulusan teman-teman FLP mengawal literasi santun ini, teringat akan kata Taufik Ismail tiap kali ia mendengar kata FLP : CEMBURU.
Cemburu, mengapa FLP baru berdiri ketika usianya telah uzur.
Taufik Ismail menambahkan satu kalimat ; FLP, adalah anugerah Tuhan untuk bangsa Indonesia.

Ketika tempo hari berkesempatan hadir di acara 28 Oktober 2015 di gedung MPR dan bertemu Mustafa Kamal, beliau berkata yang kurang lebih mirip dengan yang dirasakan teman-teman FLP : orang-orang sastra, tidak suka berpikir kalkulatis. Angka, matematika. Kadang-kadang, sesuatu perlu ditimbang dengan rasa dan nurani.
Maka, sastra dapat meluruskan apa yang bengkok.
Sastra dapat melunakkan hati yang keras.
Sastra dapat memperindah, ruang-ruang sempit yang menyesakkan dalam keseharian yang pengap dan melelahkan.

Sekretariat FLP
Muswil FLP Wilayah Jakarta sekaligus mencuri waktu rapat dengan teman-teman BPP.
00.29.
Night is still young for a writer 🙂

Apakah Satu Cara ini Sudah Dilakukan agar Doa Terkabul?

Teman,
Mungkin ada beberapa (atau banyak) keinginan penting dalam hidup ini yang belum diraih. Kita merasa telah mengupayakan semua : berdoa, ikhtiyar, meminta nasehat, jatuh bangun, memotivasi diri, mencoba apapun cara yang mungkin. Sampai saat ini, mungkin masih belum terpenuhi juga keinginan besar yang menjadi impian bertahun-tahun.
Kisah ajaib ini mungkin dapat menjadi bahan perenungan.

Doa-doa tulus dari saudara

Tersebutlah sepasang suami istri, usia pernikahan menginjak angka 12 tahun dan belum dikaruniaNya keturunan. Upaya ilmiah hingga alternatif tak kurang-kurang. Hingga suatu hari, datang bantuan yang demikian menakjubkan.
Teman-teman pengajiannya, menginap bersama, sholat qiyamul lail bersama, dengan tujuan khusus satu saja : mendoakan pasangan suami istri ini agar punya putra. Satu bulan kemudian, mereka hamil!
Masyaallah :’)
Betapa indahnya persaudaraan.
Jadi ingat, ketika saya menginginkan sesuatu seperti ingin sekali punya rumah, meminta doa dari sana sini : orangtua, teman-teman, tetangga , saudara. Alhamdulillah, Allah SWT berikan rizqi rumah.
Apakah kita, pernah secara sengaja , sholat qiyamul lail dan secara khusus mendoakan saudara kita? Ahya. Jujur, saya belum. Biasanya saya sholat malam mendoakan hajat diri sendiri dan saudara-saudara lain. Mendoakan saudara lain insyaallah sering, tapi diikuti permintaan-permintaan lain yang biasanya, permintaan pribadi lebih mendominasi.

Betapa indahnya bila kita melakukan sholat malam, mendoakan saudara kita yang tertimpa musibah. Ingat, musibah bukan hanya sakit atau kebangkrutan. Mendapatkan jabatan tinggi, mendapatkan kekayaan, juga “musibah” . Bila saudara kita tidak didoakan, ia akan tergelincir dan saat itu dengan mudahnya kita mencaci makinya : pantas saja masuk penjara, korupsi sih. Pantas saja anaknya nakal, pejabat sih. Pantas saja ada WIL, sibuk sih.

Doa menentramkan hati

Doa adalah senjata

Alangkah menakjubkan bila suatu malam, kita berdoa diam-diam usai sholat 11 rakaat, mendoakan saudara kita yang belum punya jodoh. Yang belum punya putra setelah menikah sekian lama. Yang tengah mendekam di penjara. Yang tengah bangkrut. Yang tengah menangis. Yang tengah menjabat posisi tertentu. Yang tengah menikmati harta.
Dan di ujung belahan dunia lain, tanpa disadari, ada orang-orang yang melakukan hal sama untuk kita : mendoakan keberkahan kita sekeluarga, tercapainya setiap keingiinan kita. Siapa tahu, bukan lisan ini yang menjadi sebab terkabulnya doa, tapi ikatan ukhuwah dan cinta kepedulian kita antara satu sama lain.
Mari, saling mendoakan.

Sedekah Emosional atau Sedekah Proporsional?

Sumur Tsunami & Tulisan Allah (by Sinta Yudisia)

Sumur Tsunami & Tulisan Allah ( photo by Sinta Yudisia)

Sedekah harus proporsional, pakai perencanaan dan skala prioritas.

Benarkah ?

Suatu saat, terdapat artikel menarik sebuah majalah yang membahas tentang perencanaan keuangan. Salah satu pos yang ditentukan adalah dompet sosial, atau bagi  kaum muslimin dikenal alokasinya dengan sebutan ZISWAF (zakat, infaq, sedekah, wakaf). Tulisan tersebut mengulas bahwa setiap pengeluaran hendaknya diperhitungkan seksama. Terkait dompet sosial, jangan sampai seseorang mengeluarkannya karena emosional belaka : kasihan, tidak tega, tiba-tiba, iba, tak sampai hati dan sejenisnya.

Pengalaman plus minus infaq/sedekah

Tentang balasan infaq/sedekah, tak diragukan lagi.

Al Baqarah 261- 274 membahas panjang lebar tentang infaq, sedekah dan bagaimana menjaganya agar amalan tersebut tidak menguap pahalanya karena kita sebut-sebut atau kita melakukannya diiringi kemarahan dan perkataan celaan.

Rasanya, ingin sekali memberikan sedekah atau infaq pada orang-orang semacam ini : tahu diri, tahu balas budi setidaknya berterima kasih, dan harta yang kita keluarkan betul-betul dipergunakan untuk kebutuhan primer serta positif. Kenyataannya, terkadang orang-orang yang kita bantu tidak memenuhi harapan tersebut. Bahkan, seringkali Allah SWT menguji kadar keikhlasan kita dengan kejadian berikut : orang yang dibantu balik mencela (boro-boro terimakasih), bergunjing di belakang punggung tentang sedekah kita dan digunakan untuk kebutuhan non primer!

Ah, sulitnya ikhlas.

Sulitnya beramal.

Sulitnya, beramal tepat sasaran!

Apakah kejadian ini pernah anda alami?

  1. Seseorang datang meminta tolong karena anaknya sakit. Belakangan ia minta tolong karena operasi, kontrakannya habis, dagangannya tak laku, anaknya mau masuk sekolah dan seterusnya. Anda membantu, insyaallah dengan niat ikhlas. Lama-lama timbul pertanyaan : benarkah alokasi dana yang di infaq kan? Apakah orang tersebut benar-benar meminjam uang sesuai kebutuhan terdesaknya?
  2. Seseorang meminta tolong ini itu. Sepertinya ia butuh pekerjaan tetap. Tapi ketika ditawarkan menjadi PRT, alasannya macam-macam : yang tidak bisa masaklah, yang tidak ada kendaraan, yang tak diizinkan suami dan seterusnya. Bagaimana cara mengatasi SDM semacam ini?
  3. Seseorang datang berkali-kali meminta bantuan. Alasannya demi kebutuhan sekolah anak-anaknya. Ketika disarankan agar ia memangkas pengeluaran dan mencoba hidup irit, orang tersebut berkata : kasihan anak-anak.

Bagaimana sebagai seorang muslim, kita tidak hanya masa bodoh dengan mengatakan

  • Yang penting aku sudah mengeluarkan hartaku, biar hartaku bersih.
  • Perkara dipakai hal yang buruk atau bohong, terserah dia
  • Nanti dia juga yang dibalas Allah SWT

Bukankah sebagai seorang muslim, seharusnya kita membantu orang lain hingga “tuntas”? Artinya, sedekah tersebut bukan hanya demi kepentingan kita supaya harta kita bersih, berlipat ganda, dan kita semakin kaya ; namun juga tersimpan beberapa perkara ukhuwah Islamiyah bahwa kita harus tahu kondisi saudara kita. Bila ia berbohong luruskan, bila ia malas maka pancing agar bekerja, bila ia kelewat batas maka perlu diingatkan?

Mari kita berbagi pengalaman positif dan nengatif kita beribadah dengan sedekah. Agar ibadah kita ternyata juga bermanfaat bagi orang lain.

Kapan sedekah dibalas oleh Allah SWT?

Saya mengumpulkan beberapa testimoni orang-orang yang mendapatkan balasan ajaib dari Allah SWT terkait sedekah mereka. Tentu ini hak prerogatif Allah SWT, namun tak ada salahnya kita belajar. Orang-orang tersebut mengaku sedekah bila :

  1. Benar-benar yang minta tolong adalah orang yang kelaparan dan melaporkan tak bisa makan
  2. Benar-benar digunakan sebagai biaya pendidikan (beli buku, seragam)
  3. Benar-benar digunakan untuk menolong seseorang dari jeratan hutang.

Cerita pertama, Ibu Sholihah (samaran) sering menolong orang. Ia bercerita suatu saat terjadi hal aneh, dalam kondisi tak punya uang, seorang saudara miskin –sebut saja mas Sabar- datang meminta bantuan uang. Saat itu bu Sholihah hanya punya Rp.4000 ( atau Rp40.000 ya?). Uang terakhir tsb diberikan. Tak berapa lama, bu Sholihah bersih-bersih lemari, merogoh-rogoh kertas dan amplop…jatuhlah uang sebesar 400 ribu! Beberapa waktu kemudian ketika bu Sholihah bertemu kembali dengan saudara miskin tsb, bu Sholiha bertanya,

“Mas Sabar, tempo hari saya sedekah, kok Allah SWT langsung ganti. Saya pingin tahu, sama mas Sabar dipakai apa sih?”

Pak Sabar menangis. Lelaki tua berpakaian lusuh itu mengusap airmata dan tersedu berkata, ”oalaaah Mbakyu…saat itu saya jalan kaki dari Kaliurang sampai Jogja, sampai sandalku tipis. Sepanjang jalan aku sholawatan. Anakku butuh uang buat beli buku. Aku juga bilang sama anakku,

“ Le, Bapak tak cari uang, entah bagaimana caranya. Kamu mnajat di masjid yo…”. Terus aku ke tempat mbakyu…”

Bu Sholihah dan pak Sabar sama- sama menangis karena merasa baik pak Sabar maupun bu Sholihah mendapatkan pertolongan Allah SWT.

Contoh kedua, seorang perempuan muda, sebut namanya Dewi, masih bekerja serabutan. Dewi belum punya rumah , hanya punya sepeda motor, berjualan bisnis online pakaian dan tas yang baru cukup untuk biaya kost dan hidup sehari-hari. Hanya saja, Dewi ini punya kebiasaan menolong teman dan saudara. Suatu saat, Dewi dapat rezeki berhasil menjualkan tanah temannya dan ia mendapat fee makelar sehingga dapat membeli sebuah mobil .

Lho, kok bisa?

Mungkin ini jawabannya.

Seperti biasa, suatu saat Dewi terpaksa harus menyewa mobil dari temannya –Ahmad, samaran- karena keluarga besar berkunjung. Berhubung keluarga besar memerlukan alat transport untuk wira wiri karena banyaknya persoalan keluarga yang harus diatasi, Dewi menyewa mobil untuk mereka dari kantongnya sendiri. Tak tanggung-tanggung, Dewi menyewa sebulan! Tak lama dari kerjadian tersebut, Dewi mendapatkan rezeki. Ternyata, keluarga besar Dewi tertolong dengan adanya mobil sewaan tersebut untuk mengurus tetek bengek masalah. Dan tak dinyana , Ahmad pun mengakui

“Mbak Dewi, tempo hari bisnis sewa mobil saya sepi. Saya sudah mau tutup. Mobil kreditan sudah mau disita. Ternyata mbak Dewi sewa sebulan, bisa buat nutup ini itu dan bisnis saya survive!”

Ternyata, ketika sedekah/infaq kita benar-benar menolong seseorang dari kehancuran, insyaallah saat itu diberikan balasan.

Lalu bagaimana ketika infaq kita tidak tepat sasaran?

Beberapa Solusi

  1. Sebisa mungkin kita silaturrahim ke tempat orang yang membutuhkan bantuan, agar hati makin mantap memberikan bantuan. Dengan tahu bukti fisik baik rumah dan keluarga, insyaallah hati jauh dari syak wasangka.
  2. Kadang tak semua bisa kita kunjungi karena keterbatasan waktu. Cek ricek apa yang diminta. Misal ia minta uang karena tak bisa makan, bagaimana jika diberikan bantuan beras, minyak, telur? Eh, ada lho orang yang ternyata tidak berkenan. Bilangnya lapar tak bisa makan, tapi ketika dibantu sembako, ia cemberut. Hm…
  3. Bila minta bantuan terkait sekolah, cek sekolahnya dimana. Kalau ternyata sekolah di sekolah bergengsi dan mahal, sepertinya harus bertindak tegas. Dalam kasus pak Sabar, putranya sekolah di SD negeri di desa.
  4. Ajak si peminta untuk mengurus surat-surat keterangan tidak mampu agar dapat dipergunakan untuk meringankan biaya sekolah, sakit atau bahkan meminta bantuan modal. Cukup banyak orang yang ternyata enggan mengurus surat keterangan tidak mampu dan merasa lebih nyaman minta ke orang dibanding usaha sendiri.
  5. Solusi 5, mari bahas di bawah.

Pentingnya Lembaga Zakat

Saya tidak bekerja di lembaga zakat.

Namun, sebagai seorang donatur, saya kerap bertukar pikiran dengan para petugasnya. Suatu saat, saya laporkan , apa yang harus dilakukan terhadap orang-orang yang sering meminta berkali-kali tersebut? Bukannya ingin riya atau enggan sedekah, tapi itulah pentingnya ilmu.

“Ibu, memang sebaiknya dana dialokasikan ke lembaga zakat. Sebab biasanya lembaga zakat punya tim untuk verifikasi hingga eksekusi.”

Ah, benar juga ya…

Tapi kan lembaga zakat tidak bisa meng-cover semua? Bagaimana jika banyak orang yang belum dapat akses ke lembaga zakat karena tidak tahu, tidak punya surat-surat sah dan juga malu karena merasa tidak tahu harus bicara apa?

“Itulah yang harus dibantu. Ibu bisa bantu buatkan mereka proposal. Kami berprinsip, orang tak selamanya jadi mustahik, suatu saat harus jadi muzakki. Dalam kelompok-kelompok yang kami bina, kami menyarankan para mustahik belajar berinfaq meski 500 atau 1000.Ini agar mengubah perlahan mental peminta menjadi mental pemberi.”

Ada beberapa kejadian menarik ketika  membantu membuatkan proposal :

  1. Seorang tukang sayur bercerita bahwa harga-harga sayuran makin mahal, apalagi bila beli bumbu dan daging. Saya sendiri tak mampu membantu semua. Akhirnya , dengan bantuan proposal, tukang sayur tersebut dapat dana bantuan bagi
  2. Seorang janda dan buruh, awalnya mendapatkan bantuin rutin secara personal. Ketika saya minta ia untuk mengurus surat-surat ini itu bagi anak-anak yatimnya, ia mengucapkan terimakasih. Bahwa bukan hanya mendapatkan bantuan yatim, ia mendapatkan satu program X yang kebetulan diselenggarakan lembaga zakat dan satu perusahaan tertentu.
  3. Beberapa lembaga zakat lebih memilih memberikan barang produktif seperti mesin jahit, gerobak jual
  4. Meski berupaya profesional, ada juga seorang mustahik yang akhirnya hafal cara mengajukan proposal. Hingga ia bolak balik ke lembaga zakat A, B, C dan mendapatkan uang yang entah kemana uangnya L

Sedekah Emosional ~ Sedekah Proporsional

InsyaaAllah, dengan segala kelebihan rizqi yang Allah SWT berikan, setiap muslim ingin sekali melengkapi amal pahala dengan zakat, infaq, sedekah dan wakaf.

Meski, seringkali secara tiba-tiba kita bertemu seseorang tak dikenal , hati seketika tersentuh dan timbul keinginan untuk membantunya tanpa pamrih. Kadang-kadang hati dapat begitu ikhlas, kadang hati jengkel karena ternyata tak mendapat respon yang diharapkan. Ujian keikhlasan itu adaaaa aja.

  1. Bersiaplah untuk tidak mendapatkan balasan, bahkan sekedar ucapan terimakasih
  2. Bersiaplah untuk diserang balik dan diumpat : yang bantuannya kurang, yang dituduh sedekah dengan barang yang jelek
  3. Bersiaplah untuk dimusuhi, karena orang lain tiba-tiba iri : kenapa aku gak dikasih?
  4. Bersiaplah untuk berjalan dalam rahasia Allah SWT. Kadang , balasan sedekah tak dapat diduga, tak dapat dinyana, tak dapat diraba. Saat keseulitan melanda, hati perih mengadu : Tuhan, apakah tak ada balasan bagi amalku termasuk sedekah sehingga saat kesulitan melanda serasa tertutup semua pintu? Ups…seringkali, kesulitan datang bergulung-gulung. Tapi ketika pintu kemudahan terbuka, bergulung-gulung, berlapis-lapis, berpangkat-pangkat juga datangnya 🙂

Apakah akan sedekah proporsional atau emosional?

Sungguh, itu terserah masing-masing individu. Sebab perjalanan hakikat agama, seringkali tersembunyi, rahasia dan sangat individual sifatnya. Agama menetapkan syariat sebagai jalan; namun kapan seseorang mencecap manisnya balasan Allah SWT, itu tak dapat dijabarkan.

14 Ramadhan 1436 H/ 1 Juli 2015

Sinta Yudisia