Tikam, bunuh, perkosa, hajar, tembak, sayat

 

Puluhan tahun yang lalu, ketika masih anak-anak, saya sering bermain di luar rumah hanya mengenakan celana dalam dan singlet. Saya berlari-lari, main petak umpet keliling rumah, menyeberangi kali atau kuburan. Bermain di dekat stasiun, melihat gerbong kereta api tua. Berangkat dan pulang sekolah jalan kaki, naik bemo atau berepeda. Seringkali ketika Ayah tak bisa menjemput dengan vespa tuanya, saya menjadi murid satu-satunya yang dijemput sore.

 
Tak ada takut.
Padahal, ketika SMP saya melewati gudang kereta api yang sangat sepi. Kantor-kantor tua bekas zaman Belanda tanpa penghuni. Ketika orangtua tinggal di Denpasar Bali dan mengirimkan saya untuk sekolah di Yogya, tak ada kekhawatiran sama sekali. Selain nasehat ,”baik-baik ya kamu tinggal sama Nenek. Jadi anak perempuan yang bisa ngeladeni Simbah!”
Mama dan bapak khawatir kalau sebagai cucu perempuan, saya malas-malasan di rumah nenek. Tidak tanggap nyuci piring, nyuci baju, beres-beres. Takut kalau saya hanya baca Kho Ping Ho seharian atau mendengarkan sandiwara radio Saur Sepuh.
Kalau libur, saya akan segera pulang ke Bali, naik bis. Bis turun di beberapa perhentian. Mamah dan bapak terkejut tiba-tiba ketika melihat saya di depan pintu : lho kok kamu pulang….

 
Sebagai pelajar saat itu , tak ada yang membebani pikiran selain : uang jajan, beli buku, belajar kelompok, naik gunung, malam Minggu main ke rumah teman yang sama-sama merantau.Akhir SMA, saya bahkan masih sering pulang malam karena harus hunting soal UMPTN kesana kemari, sampai malam fotokopi, belajar kelompok.

 
Satu-satunya peristiwa berdarah yang pernah saya lalui (ohya, dua persitiwa) adalah ketika SMP naik sepeda dan tidak sengaja terserempet bis. Saya ditolong orang-orang. Kali kedua, ketika belajar naik sepeda motor dan belum bisa mengerem ketika naik tanjakan.

 
Bertemu orang asing, menyenangkan. Saya senang naik bis kota, berbincang dengan tukang jamu, tukang sayur, tukang becak, tukang batu. Bertemu orang baru, menyenangkan, ketika sama-sama bertemu pendaki gunung atau orang baru di bengkel sepeda atau tukang tambal ban motor. Bertemu teman baru menyenangkan, saya senang kenalan dengan anak-anak dari SMP SMA lain. Apalagi ketika menjelang UMPTN, saling berbagi info dan ilmu dengan anak-anak sekolah lain.
Bertemu dengan sebanyak-banyaknya orang, sungguh memperkaya wawasan.

Itu pula nasehat seorang Doktor berkebangsaan Korea yang memberi wejangan di Wisuda S1 saya, bagaimana menajdi orang yang unggul : getting out, meet more and more people.
Bergaulah dengan sebanyak mungkin orang.
Bertemu dengan sebanyak mungkin manusia.
Bercakap, berdiskusi, berguru, berbagi dengan sebanyak mungkin individu yang mungkin memiliki kepandaian dan pengalaman jauh lebih banyak, lebih hebat dari kita.
Namun, beranikah sekarang saya, anda dan para guru sekalian untuk memberikan wacana ini pada anak-anak dan murid-murid : meet more and more people?

 

Bengis & Kejam

knife stab vector
Itukah watak orang di masa sekarang?

 
Yang miskin, membenci orang kaya karena memamerkan kekayaannya. Mengendarai mobil, main klakson seenaknya padahal cuaca sangat panas dan kita pengendara motor sedang bersabar di bawah terik matahari. Yang kaya, benci pada yang miskin karena mereka sangat tidak kompeten dalam beragam pekerjaan : malas, penipu, hanya jadi polisi cepek, selalu meminta dan seterusnya. Yang bodoh, membenci orang pintar apalagi berkedudukan. Mereka yang di atas hanya akan memangsa yang lemah dan hanya akan memanfaatkan. Yang pintar, membenci yang bodoh sebab karena angka kebodohanlah bangsa ini makin terpuruk dan terpuruk.

 
Itukah kita?
Yang akhir-akhir ini selalu curiga, penuh prasangka, membenci orang dan ingin sekejam mungkin menghakimi siapapun yang berseberangan?
Betapa mudah kita membenci.
Mencaci maki orang lain di media social maupun di dunia nyata.
Ketika ucapan tak cukup mewakili kebencian hati, maka apapun jadi senjata : facebook, blog, twitter, instagram. Ketika itu masih belum cukup melampiaskan kebencian, adakah cara lain untuk melampiaskan dendam?

 
Ya.
Lakukan saja yang demikian cepat terlintas pikiran.
Kalau bisa babat, babat saja. Kalau bisa pukul, pukul saja. Kalau bisa tikam, kenapa tidak? Kalau bisa ditembak, kenapa tidak didor?
Seolah, di masa ini, kita kembali ke zaman pra sejarah.
Kembali ke zaman dinosauraus , hutan-hutan, bejana perunggu, tombak besi dan kapak batu.
Hutan-hutan pepohonan sekarang berganti hutan beton apartemen dan mall. Tombak besi dapat diperkecil menjadi pisau atau silet. Kapak batu diubah menjadi senapan atau pistol. Tak da Dinosaurus seperti Velociraptor atau T-Rex, tapi manusia sekarang dapat lebih kejam memangsa orang lain. Velociraptor tak pernah berpikir memperkosa orang. T Rex tak pernah berpikir menyiksa psikis manusia dengan terror.

 

Mari, hidup kembali di zaman Primitif

hand gun
Dulu, orang melengkapi diri dengan senjata agar sewaktu-waktu hewan buas menyerang, kita dapat balik menikam.
Apakah itu yang harus kita lakukan sekarang? Melengkapi anak-anak kita dengan pisau dan senjata tajam?

 
“Nak, selain pena dan pulpen di tasmu, apa kamu sudah bawa clurit? Apa kamu bawa cutter dan silet? Atau, apa kamu bawa pistol? Jangan lupa isi peluru!”

 
Dapatkah sebagai orangtua kita membayangkan anak-anak sekolah membawa persenjataan, mencurigai teman-teman mereka sebagai pemerkosa dan menganggap guru atau dosen yang bersikap keras kepala (dari dulu selalu ada istilah guru dan dosen killer) sebagai pihak yang harus dihabisi?

 
Kemana institusi pendidikan yang melahirkan para pemikir, orang-orang cendeikia, manusia unggul berwawasan luas yang memiliki hati nurani?

 
Kemana insituti hukum yang melindungi masyarakat sebagaimana dulu Al Ayyubi melindungi perempuan dari orang yang melecehkannya?

 

 
Kemana insitusi pemerintah yang mencoba mengayomi segala entitas : di tengah masyarakat akan selalu ada kaya miskin, pandai bodoh, tinggi rendah, pejabat rakyat, petinggi pesuruh, orang dari beragam etnis, orang dari beragam golongan. Apakah perbedaan ini akan menjadi dasar pertentangan sehingga kita memandang setiap orang yang berbeda dengan mata curiga dan akan menghakiminya setiap ada kesempatan? Menghajarnya, memukulnya, menikam dan menyiletnya?

 
Apakah ketika melihat perempuan tak berdaya, lantas ia boleh diperkosa ? Mungkin sebagai lelaki nafsu birahi telah membumbung tinggi, arousal telah demikian memanaskan ubun-ubun, pornografi telah demikian intens hingga menyalakan instink paling dasar : lalu semua dilampiaskan pada seorang perempuan dan harus pula mengkahiri hidupnya?
Apakah ketika kemiskinan menghimpit, maka seseorang yang terlihat dalam posisi lebih berada karena dia mahasiswa, guru atau dosen, maka ia berhak untuk dihabisi?
Apakah karena seseorang bersalah karena mulutnya, maka senjata lebih tepat untuk membalasnya?
Demikian pula, wahai aku, kamu, kita dan kalian yang sedang berada dengan segala kelebihan baik pandai, kaya, berkelapangan : apakah menjadi jalan kita untuk tidak peduli dan memamerkan semua hal disaat yang lain nestapa memerangi segala kekurangan?

 

Zaman Primitif telah Lewat
Zaman Primitif telah lewat. Zaman pra sejarah telah usai. Zaman batu telah lalu. Zaman jahiliyah telah punah. Bersyukurlah hidup di abad modern yang memudahkan sekian ragam aktivitas.
Tidakkah kita ingin hidup di masa dimana peradaban memimpin dunia, setiap individu merasa bebas dan terhormat?

 
Para orangtua ingin mengirimkan anak laki dan perempuan untuk sekolah setinggi tingginya. Para guru dan dosen ingin mengajar. Para pejalan kaki ingin beraktivitas. Para pengguna angkutan ingin tetap berkendaraan , dalam keterbatasan ekonomi menggunakan bis, kereta, angkot , sebab tak mungkin setiap manusia di negeri ini memiliki mobil.
Maka, ayolah kita mulai dari diri sendiri.
Bagi anda yang pemarah, ingatlah untuk beristighfar. Sehingga tak timbul penyesalan dengan mengayunkan pisau, silet, parang ke sembarang leher orang. Yakinlah, bahwa usai membunuh satu orang, hanya tersisa penyesalan akan hari depan yang suram. Kemarahan yang merusak hanya dapat dilawan dengan banyak-banyak mengingatNya.Sebagain masyarakat mungkin akan memaafkan, namun bagaimana dengan keluarga korban?

 
Bagi anda penikmat pornografi, ingatlah bahwa melihat hubungan sexual yang terkspos membuat frontal lobe rusak, hingga anda akan menjadi orang yang mudah memangsa segala : anak sendiri, cucu sendiri, keponkana sendiri, tetangga, murid, ataupun perempuan di jalan. Menyukai pornografi bukan hanya meningkatkan rangsang seksual tapi juga perilaku agresif. Hasrat seksual yang tak terlampiaskan bukan hanya mendesak keinginan untuk memperkosa seseorang, tapi juga membunuh dan menyiksa. Ingatlah, bahwa keperkasaan anda sebagai laki-laki suatu saat akan mendapatkan hukuman yang tak terbayangkan , bila anda melampiaskan nafsu dengan cara yang tak manusiawi.

xxx
Bagi anda pengumbar materi, sadarlah. Begitu banyak orang yang mudah terbakar emosi karena situasi ekonomi, social yang memang belum stabil dewasa ini. Melihat sebagian orang dalam kondisi mapan, dalam hati terbersit cemburu dan kecurigaan. Perbanyak infaq sedekah, perbanyak senyum dan berbagi, perbanyak membantu orang agar jembatan kesenjangan terbangun.

 
Para orangtua, berhati-hatilah memiliki anak. Camkan pada anak-anak kita untuk waspada dan senantiasa Dzikrullah. Usahakan telepon selular dalam kondisi terkontak agar selalu dapat terhubungi dalam situasi kritis. Selalulah berdoa dalam segala kesempatan, agar terlindungi anak-anak kita, anak-anak bangsa, anak-anak ummat ini.

 
Para guru, dosen dan pengajar, berlapang dadalah. Anak-anak pelajar dan mahasiswa berada dalam kondisi serba terhimpit : mata pelajaran, mata kuliah, biaya transportasi, biaya kuliah, biaya praktikum, biaya skripsi, SPP dan segala macam biaya yang bila dibayangkan tak tertanggungkan bagi para pelajar. Belum lagi perilaku menyimpang, pornografi, kecemburuan social, tindak kekerasan mengungkung. Sedikit perilaku impulsive dapat membuat orang lupa diri.

 
Para pemimpin, pejabat, penegak hukum. Ingatlah dalam setiap kebijakan bahwa anda terlibat di dalamnya, terlibat dalam penegakkan keadilan dan kesejahteraan rakyat. Institusi hukum yang bersih dan berdedikasi sangat diharapkan, segala benda yang membahayakan seperti senjata, minuman keras, minuman beralkhohol, pornografi harus ditindak tegas. Bila membutuhkan waktu untuk membereskannya maka bersegeralah untuk membatasinya.

 
Perkosa, tikan, bunuh, hajar, silet, sayat; rasanya kata itu sudah tak kuasa lagi masuk dalam kamus kehidupan kita.

 
Tentu sebagai anak bangsa kita tak ingin menambah daftar kata kerja negative, bukan?
Kita tak ingin ada kata massa, bakar, jarah, rampas, rampok atau kata negatif apapun yang akan muncul dalam berita-berita.
Para pejabat, penegak hukum, pemimpin; anda harus mempertanggung jawabkan sekian banyak korban yang berjatuhan. Siapapun anda, haruslah waspada. Bukan hanya waspada akan kejahatan oranglain. Namun juga waspada, jangan sampai diri kita menyumbangkan kejahatan baik langsung atau tak langsung.

Yuyun, Feby, bu Dosen Nur Ain Lubis ; beristirahatlah dengan tenang. Cinta dan doa kami untukmu. Semoga kematian ini tidak sia-sia. Membuat kami ingat Allah, ingat masih banyak tugas bagi masyarakat untuk menjadi manusia yang lebih beradab.

 

Mei 2016

Iklan

Stroke dan Glaukoma : Hati Lelaki ini Tetap Hidup Bersama Jamaah

Bila terdapat audisi keluarga teladan, mungkin inilah salah satu keluarga yang mewakili bagaimana harapan, kasih sayang, dan khusnudzon kepada Allah SWT menjadikan kemiskinan bukan ujian yang dihadapi dengan ratapan. Hati kukuh, sikap tangguh dan semangat baja unutuk melakukan kebaikan; lebih dari orang lain yang memiliki kelebihan harta,waktu, juga kesehatan.

Mbak Nuning, Habibah, Hilma dan pak Imam

Mbak Nuning, Habibah, Hilma dan pak Imam

Pak Imam, namanya.
Saya mengenalnya sebagai lelaki sederhana yang tak banyak bicara namun murah senyum. Ia tidak ada di podium, di panggung, di mimbar. Tak mahir mengutip ayat atau memberikan dalil. Ia penjaga kantor DPD PKS Tegal, juga bagian bersih-bersih jika sebuah acara berlangsung. Ia datang paling awal dan pulang paling akhir. Tugasnya mengumpulkan sampah sisa agar selesai acara, tak ada lagi ceceran barang kotor tertinggal di tempat.

Istrinya, mbak Nuning adalah seorang perempuan sederhana yang selalu tertawa dan tersenyum lebar. Tak pernah mengeluh ini itu sekalipun tempat tinggalnya masuk gang sempit yang sebenarnya tak layak untuk dihuni. Saya mengenal keluarga ini belasan tahun, tak sekalipun mereka pernah meminjam uang atau mengeluh kelaparan, sekalipun pernah suatu saat mbak Nuning keceplosan mereka ternyata berhari-hari tak makan. Putri kecil mereka , Hilma (sekarang sudah menjadi gadis cantik), saat itu mengumpulkan uang limaratus rupiah. Rp500! Dengan uang itu Hilma membeli bubur, meski seorang anak biasanya egois, namun si kecil Hilma membagi bubur itu untuk seluruh anggota keluarga.

Pak Imam dan mbak Nuning memiliki 4 orang putra putri : Ihya, Safir, Hilma dan Habibah. Ihya telah meninggal beberapa tahun lalu karena sakit menahun.

Stroke dan glaukoma

Beberapa bulan lalu, saya mendengar kabar pak Imam stroke.
Betapa sedih hati ini karena tak dapat membantu banyak. Pasti , beban pak Imam, mbak Nuning dan anak-anaknya semakin besar. Teman-teman membantu, Safir juga saat ini telah lulus sekolah juga Hilma. Safir dan Hilma sudah bekerja, namun tentu beban ekonomi belum dapat teratasi. Apalagi, sakitnya pak Imam membutuhkan banyak biaya.
Stroke pak Imam menyebabkannya lumpuh total. Dokter mengatakan, ia dapat kembali normal meski tak seratus persen sembuh, setelah jangka waktu satu tahun. Tidak itu saja, stroke juga menyerang matanya hingga mengalami glaukoma.

Dapat anda bayangkan betapa sedih mbak Nuning dan anak-anaknya?
Bahkan, ketika suami saya menengoknya, ia sama sekali tak mengenal.
“Siapa ya?” pak Imam hanya mampu bertanya-tanya.
Jangankan suami saya. Pak Imam hanya mampu menggambarkan suami saya dengan kata-kata: tinggi, besar, berjenggot.
Berlinang air mata, mbak Nuning mengatakan :
“Jangankan orang lain. Ia tak mengenal anak-anaknya. Tak mengenal istrinya. Tak mengenali wajah saya, bahkan tak ingat nama saya.”

Jalan menuju DPD

Tak ada yang diingat pak Imam setelah stroke.
Kami bertanya, Safir ada dimana pun, ia butuh waktu lama untuk menjawab dan tak ingat tepatnya saat itu putranya ada dimana. Safir menikah beberapa bulan lalu, dan ketika kami bertanya bulan apa Safir menikah; pak Imam pun tak dapat menjawab.
“Bulan apa ya….,” ia mengulang pertanyaan kami.
Namun, apa yang membuat kami demikian terharu adalah, ia mengingat sesuatu dalam hidupnya. Satu-satunya yang ia ingat, satu-satunya yang mengendap dalam benak, satu-satunya yang terekam memori otak, juga memori hatinya.

Ketika ingatan akan anak-anak dan istrinya sama sekali tak meninggalkan bekas, pak Imam ternyata masih ingat jalan dari rumahnya menuju DPD. Lebih dari itu ia akan tersesat, sebab tak mengenali jalan pulang. Namun jarak tempuh, tanda-tanda, belokan antara rumah menuju kantor DPD, masih tetap utuh. Seolah-olah, tanggung jawabnya untuk menajdi bagian dari jamaah, meski kecil dan tampak tak berarti bagi sebagian besar manusia; telah menjadi bagian yang mendarah daging dan tak akan dilepaskannya amanah tersebut.

Kami menangis memandang lelaki sederhana itu yang tentu, tak mengenali siapa kami.

Matanya separuh buta, tubuhnya lumpuh akibat stroke (meski sekarang mulai membaik), ingatannya menghilang namun hatinya tetap utuh hidup bersama jamaah. Orang-orang seperti pak Imam dan keluarganya inilah; yang akan membuat kita banyak belajar.

Ketahanan, resiliensi, endurance; tak akan didapat jika bukan karena ketulusan hanya mengharap balasan Allah SWT, insyaAllah.

Love : when passion meets commitment

Sinta dan Winiez the Chef, food fotografer

BPP FLP di sekretariat Kampung Rambutan

BPP FLP di sekretariat Kampung Rambutan

Kali ini bukan membahas skala cinta Rubin Z, seperti dalam buku Kitab Cinta dan Patah Hati. Tapi teori segitiga Rubin berlaku juga dalam konteks hubungan organisasi.

Malam ini, mata enggan terpejam bertemu teman-teman FLP. Berdiskusi dengan Daeng Gegge, Kokonata, Nurbaiti Hikaru, Winiez, Sudi , Elvira, Fatih dan mbak Anik. Khusus yang terakhir, ia menyiapkan logistik yang terus menerus untuk peserta rapat.

Selain seru oleh guyonan ala penulis, tepat jam 20.00 di lantai bawah, berbekal laptop, catatan dan note di HP masing-masing; pikiran tercurah untuk membahas salah satu agenda ummat yang tak bisa dipisahkan dari kebiasaan ulama : membaca dan menulis.

Pembahasan pertama tentang FSIN Festival Sastra Islam Nasional yang insyaallah akan diselenggarakan di Makassar, 17 Desember 2015 – 20 Desember 2015. Harapannya, menjadi festival sastra Islam tingkat Internasional sebagaimana Ubud Writers and Reader Festival dan Makassar International Writing Festival.

Pembahasan kedua tentang beetalk.
FLP bekerja sama dengan beetalk, chat platform, aplikasi bertukar pesan seperti whatsapp dan line; yang menyediakan layanan diskusi berkelompok. Terdapat grup Forum Buku, Cerpen dan Puisi dimana karya teman-teman FLP dapat dibaca disana.

Pembahasan ketiga, tentang novel yang sedang saya tulis dan diolah bersama teman-teman FLP untuk menjadi salah satu novel semi otobiografis; dengan setting Jepang yang unik dan indah, mengangkat salah satu tokoh muslim yang insyaAllah, kisah hidupnya amazing, kocak, romantis.

Pembahasan keempat, adalah pembahasan yang tidak masuk dalam agenda struktural namun menjadi pembahasan yang menghangatkan hati kami untuk tetap bersama-sama dalam FLP.
Pertanyaan yang sering diajukan kepada penulis FLP : berapa fee seorang penulis? Berapa honor untuk menjadi pemateri, mengisi workshop?

Okelah, seorang penulis setiap huruf, kata dan kalimatnya adalah argo.Ghostwriter, namanya tak boleh muncul sama sekali dalam buku namun jumlah rekeningnya menggelembung. Marketing, mengatakan seorang penulis harus membranding dirinya. Sebagaimana seorang teman marketing menawarkan diri untuk menjadi asisten saya, sebab menurutnya saya memiliki kemampuan di beberapa bidang : psikologi, penulis dan kemampuan membawakan materi.

Daeng Gegge, Winiez, Nurbaiti, Kokonata ternyata memiliki persepsi yang sama .
Sulit, untuk menjadikan sastra ini sebuah tolok ukur yang dapat dipatok dengan materi, khususnya uang. Gak butuh uang? Bukan begitu juga. Tapi ada hal-hal yang tidak dapat diukur dengan uang, khususnya cinta (haha…lebay).

Menulis itu cinta. Membaca itu cinta, makanya jangan tanya kalau ke toko buku bisa kalap dengan isi dompet. Beda kalau mau beli baju masih mikir-mikir : ini mahal apa enggak? Sepatu ini kok ratusan ribu, toh diinjak juga.Tapi kalau ke book fair, bisa ludes isi dompet. Siapa juga sanggup melihat buku-buku ulama yang sangat sulit didapatkan, untuk tidak dipindahkan ke lemari buku pribadi? Walaupun, hampir semua ruang di rumahku penuh berisi buku, rak buku sudah buat berkali-kali, tetap saja masih kurang dan kurang koleksi buku.

Menulis itu cinta. Mengajarkan tentang sastra itu cinta.
Mendengar anak-anak muridku berkata ,” aku mau jadi penulis kayak Bunda Sinta!” merupakan hadiah yang tidak dapat ditukar dengan honor sekali mengajar.
Mendengar anak-anak dan remaja menjadikan kata “Penulis” sebagai salah satu profil cita-cita mereka, luarbiasa.

Menulis itu passion, cinta yang penuh nyala api. Bersama teman-teman FLP kita juga melakukan komitmen. Ups, jangan ditanya apakah ada ongkos untuk rapat? Kami berangkat dengan uang pribadi, bawa makanan sendiri, saling bertukar hadiah malah. Kadang buku, kadang coklat (thanx to Winiez!), bahkan seringkali hanya bertukar doa.
Fee mengisi acara, kadang-kadang masuk ke kas FLP , untuk memutar roda organisasi.

Melihat ketulusan teman-teman FLP mengawal literasi santun ini, teringat akan kata Taufik Ismail tiap kali ia mendengar kata FLP : CEMBURU.
Cemburu, mengapa FLP baru berdiri ketika usianya telah uzur.
Taufik Ismail menambahkan satu kalimat ; FLP, adalah anugerah Tuhan untuk bangsa Indonesia.

Ketika tempo hari berkesempatan hadir di acara 28 Oktober 2015 di gedung MPR dan bertemu Mustafa Kamal, beliau berkata yang kurang lebih mirip dengan yang dirasakan teman-teman FLP : orang-orang sastra, tidak suka berpikir kalkulatis. Angka, matematika. Kadang-kadang, sesuatu perlu ditimbang dengan rasa dan nurani.
Maka, sastra dapat meluruskan apa yang bengkok.
Sastra dapat melunakkan hati yang keras.
Sastra dapat memperindah, ruang-ruang sempit yang menyesakkan dalam keseharian yang pengap dan melelahkan.

Sekretariat FLP
Muswil FLP Wilayah Jakarta sekaligus mencuri waktu rapat dengan teman-teman BPP.
00.29.
Night is still young for a writer 🙂

Apakah Satu Cara ini Sudah Dilakukan agar Doa Terkabul?

Teman,
Mungkin ada beberapa (atau banyak) keinginan penting dalam hidup ini yang belum diraih. Kita merasa telah mengupayakan semua : berdoa, ikhtiyar, meminta nasehat, jatuh bangun, memotivasi diri, mencoba apapun cara yang mungkin. Sampai saat ini, mungkin masih belum terpenuhi juga keinginan besar yang menjadi impian bertahun-tahun.
Kisah ajaib ini mungkin dapat menjadi bahan perenungan.

Doa-doa tulus dari saudara

Tersebutlah sepasang suami istri, usia pernikahan menginjak angka 12 tahun dan belum dikaruniaNya keturunan. Upaya ilmiah hingga alternatif tak kurang-kurang. Hingga suatu hari, datang bantuan yang demikian menakjubkan.
Teman-teman pengajiannya, menginap bersama, sholat qiyamul lail bersama, dengan tujuan khusus satu saja : mendoakan pasangan suami istri ini agar punya putra. Satu bulan kemudian, mereka hamil!
Masyaallah :’)
Betapa indahnya persaudaraan.
Jadi ingat, ketika saya menginginkan sesuatu seperti ingin sekali punya rumah, meminta doa dari sana sini : orangtua, teman-teman, tetangga , saudara. Alhamdulillah, Allah SWT berikan rizqi rumah.
Apakah kita, pernah secara sengaja , sholat qiyamul lail dan secara khusus mendoakan saudara kita? Ahya. Jujur, saya belum. Biasanya saya sholat malam mendoakan hajat diri sendiri dan saudara-saudara lain. Mendoakan saudara lain insyaallah sering, tapi diikuti permintaan-permintaan lain yang biasanya, permintaan pribadi lebih mendominasi.

Betapa indahnya bila kita melakukan sholat malam, mendoakan saudara kita yang tertimpa musibah. Ingat, musibah bukan hanya sakit atau kebangkrutan. Mendapatkan jabatan tinggi, mendapatkan kekayaan, juga “musibah” . Bila saudara kita tidak didoakan, ia akan tergelincir dan saat itu dengan mudahnya kita mencaci makinya : pantas saja masuk penjara, korupsi sih. Pantas saja anaknya nakal, pejabat sih. Pantas saja ada WIL, sibuk sih.

Doa menentramkan hati

Doa adalah senjata

Alangkah menakjubkan bila suatu malam, kita berdoa diam-diam usai sholat 11 rakaat, mendoakan saudara kita yang belum punya jodoh. Yang belum punya putra setelah menikah sekian lama. Yang tengah mendekam di penjara. Yang tengah bangkrut. Yang tengah menangis. Yang tengah menjabat posisi tertentu. Yang tengah menikmati harta.
Dan di ujung belahan dunia lain, tanpa disadari, ada orang-orang yang melakukan hal sama untuk kita : mendoakan keberkahan kita sekeluarga, tercapainya setiap keingiinan kita. Siapa tahu, bukan lisan ini yang menjadi sebab terkabulnya doa, tapi ikatan ukhuwah dan cinta kepedulian kita antara satu sama lain.
Mari, saling mendoakan.

Sedekah Emosional atau Sedekah Proporsional?

Sumur Tsunami & Tulisan Allah (by Sinta Yudisia)

Sumur Tsunami & Tulisan Allah ( photo by Sinta Yudisia)

Sedekah harus proporsional, pakai perencanaan dan skala prioritas.

Benarkah ?

Suatu saat, terdapat artikel menarik sebuah majalah yang membahas tentang perencanaan keuangan. Salah satu pos yang ditentukan adalah dompet sosial, atau bagi  kaum muslimin dikenal alokasinya dengan sebutan ZISWAF (zakat, infaq, sedekah, wakaf). Tulisan tersebut mengulas bahwa setiap pengeluaran hendaknya diperhitungkan seksama. Terkait dompet sosial, jangan sampai seseorang mengeluarkannya karena emosional belaka : kasihan, tidak tega, tiba-tiba, iba, tak sampai hati dan sejenisnya.

Pengalaman plus minus infaq/sedekah

Tentang balasan infaq/sedekah, tak diragukan lagi.

Al Baqarah 261- 274 membahas panjang lebar tentang infaq, sedekah dan bagaimana menjaganya agar amalan tersebut tidak menguap pahalanya karena kita sebut-sebut atau kita melakukannya diiringi kemarahan dan perkataan celaan.

Rasanya, ingin sekali memberikan sedekah atau infaq pada orang-orang semacam ini : tahu diri, tahu balas budi setidaknya berterima kasih, dan harta yang kita keluarkan betul-betul dipergunakan untuk kebutuhan primer serta positif. Kenyataannya, terkadang orang-orang yang kita bantu tidak memenuhi harapan tersebut. Bahkan, seringkali Allah SWT menguji kadar keikhlasan kita dengan kejadian berikut : orang yang dibantu balik mencela (boro-boro terimakasih), bergunjing di belakang punggung tentang sedekah kita dan digunakan untuk kebutuhan non primer!

Ah, sulitnya ikhlas.

Sulitnya beramal.

Sulitnya, beramal tepat sasaran!

Apakah kejadian ini pernah anda alami?

  1. Seseorang datang meminta tolong karena anaknya sakit. Belakangan ia minta tolong karena operasi, kontrakannya habis, dagangannya tak laku, anaknya mau masuk sekolah dan seterusnya. Anda membantu, insyaallah dengan niat ikhlas. Lama-lama timbul pertanyaan : benarkah alokasi dana yang di infaq kan? Apakah orang tersebut benar-benar meminjam uang sesuai kebutuhan terdesaknya?
  2. Seseorang meminta tolong ini itu. Sepertinya ia butuh pekerjaan tetap. Tapi ketika ditawarkan menjadi PRT, alasannya macam-macam : yang tidak bisa masaklah, yang tidak ada kendaraan, yang tak diizinkan suami dan seterusnya. Bagaimana cara mengatasi SDM semacam ini?
  3. Seseorang datang berkali-kali meminta bantuan. Alasannya demi kebutuhan sekolah anak-anaknya. Ketika disarankan agar ia memangkas pengeluaran dan mencoba hidup irit, orang tersebut berkata : kasihan anak-anak.

Bagaimana sebagai seorang muslim, kita tidak hanya masa bodoh dengan mengatakan

  • Yang penting aku sudah mengeluarkan hartaku, biar hartaku bersih.
  • Perkara dipakai hal yang buruk atau bohong, terserah dia
  • Nanti dia juga yang dibalas Allah SWT

Bukankah sebagai seorang muslim, seharusnya kita membantu orang lain hingga “tuntas”? Artinya, sedekah tersebut bukan hanya demi kepentingan kita supaya harta kita bersih, berlipat ganda, dan kita semakin kaya ; namun juga tersimpan beberapa perkara ukhuwah Islamiyah bahwa kita harus tahu kondisi saudara kita. Bila ia berbohong luruskan, bila ia malas maka pancing agar bekerja, bila ia kelewat batas maka perlu diingatkan?

Mari kita berbagi pengalaman positif dan nengatif kita beribadah dengan sedekah. Agar ibadah kita ternyata juga bermanfaat bagi orang lain.

Kapan sedekah dibalas oleh Allah SWT?

Saya mengumpulkan beberapa testimoni orang-orang yang mendapatkan balasan ajaib dari Allah SWT terkait sedekah mereka. Tentu ini hak prerogatif Allah SWT, namun tak ada salahnya kita belajar. Orang-orang tersebut mengaku sedekah bila :

  1. Benar-benar yang minta tolong adalah orang yang kelaparan dan melaporkan tak bisa makan
  2. Benar-benar digunakan sebagai biaya pendidikan (beli buku, seragam)
  3. Benar-benar digunakan untuk menolong seseorang dari jeratan hutang.

Cerita pertama, Ibu Sholihah (samaran) sering menolong orang. Ia bercerita suatu saat terjadi hal aneh, dalam kondisi tak punya uang, seorang saudara miskin –sebut saja mas Sabar- datang meminta bantuan uang. Saat itu bu Sholihah hanya punya Rp.4000 ( atau Rp40.000 ya?). Uang terakhir tsb diberikan. Tak berapa lama, bu Sholihah bersih-bersih lemari, merogoh-rogoh kertas dan amplop…jatuhlah uang sebesar 400 ribu! Beberapa waktu kemudian ketika bu Sholihah bertemu kembali dengan saudara miskin tsb, bu Sholiha bertanya,

“Mas Sabar, tempo hari saya sedekah, kok Allah SWT langsung ganti. Saya pingin tahu, sama mas Sabar dipakai apa sih?”

Pak Sabar menangis. Lelaki tua berpakaian lusuh itu mengusap airmata dan tersedu berkata, ”oalaaah Mbakyu…saat itu saya jalan kaki dari Kaliurang sampai Jogja, sampai sandalku tipis. Sepanjang jalan aku sholawatan. Anakku butuh uang buat beli buku. Aku juga bilang sama anakku,

“ Le, Bapak tak cari uang, entah bagaimana caranya. Kamu mnajat di masjid yo…”. Terus aku ke tempat mbakyu…”

Bu Sholihah dan pak Sabar sama- sama menangis karena merasa baik pak Sabar maupun bu Sholihah mendapatkan pertolongan Allah SWT.

Contoh kedua, seorang perempuan muda, sebut namanya Dewi, masih bekerja serabutan. Dewi belum punya rumah , hanya punya sepeda motor, berjualan bisnis online pakaian dan tas yang baru cukup untuk biaya kost dan hidup sehari-hari. Hanya saja, Dewi ini punya kebiasaan menolong teman dan saudara. Suatu saat, Dewi dapat rezeki berhasil menjualkan tanah temannya dan ia mendapat fee makelar sehingga dapat membeli sebuah mobil .

Lho, kok bisa?

Mungkin ini jawabannya.

Seperti biasa, suatu saat Dewi terpaksa harus menyewa mobil dari temannya –Ahmad, samaran- karena keluarga besar berkunjung. Berhubung keluarga besar memerlukan alat transport untuk wira wiri karena banyaknya persoalan keluarga yang harus diatasi, Dewi menyewa mobil untuk mereka dari kantongnya sendiri. Tak tanggung-tanggung, Dewi menyewa sebulan! Tak lama dari kerjadian tersebut, Dewi mendapatkan rezeki. Ternyata, keluarga besar Dewi tertolong dengan adanya mobil sewaan tersebut untuk mengurus tetek bengek masalah. Dan tak dinyana , Ahmad pun mengakui

“Mbak Dewi, tempo hari bisnis sewa mobil saya sepi. Saya sudah mau tutup. Mobil kreditan sudah mau disita. Ternyata mbak Dewi sewa sebulan, bisa buat nutup ini itu dan bisnis saya survive!”

Ternyata, ketika sedekah/infaq kita benar-benar menolong seseorang dari kehancuran, insyaallah saat itu diberikan balasan.

Lalu bagaimana ketika infaq kita tidak tepat sasaran?

Beberapa Solusi

  1. Sebisa mungkin kita silaturrahim ke tempat orang yang membutuhkan bantuan, agar hati makin mantap memberikan bantuan. Dengan tahu bukti fisik baik rumah dan keluarga, insyaallah hati jauh dari syak wasangka.
  2. Kadang tak semua bisa kita kunjungi karena keterbatasan waktu. Cek ricek apa yang diminta. Misal ia minta uang karena tak bisa makan, bagaimana jika diberikan bantuan beras, minyak, telur? Eh, ada lho orang yang ternyata tidak berkenan. Bilangnya lapar tak bisa makan, tapi ketika dibantu sembako, ia cemberut. Hm…
  3. Bila minta bantuan terkait sekolah, cek sekolahnya dimana. Kalau ternyata sekolah di sekolah bergengsi dan mahal, sepertinya harus bertindak tegas. Dalam kasus pak Sabar, putranya sekolah di SD negeri di desa.
  4. Ajak si peminta untuk mengurus surat-surat keterangan tidak mampu agar dapat dipergunakan untuk meringankan biaya sekolah, sakit atau bahkan meminta bantuan modal. Cukup banyak orang yang ternyata enggan mengurus surat keterangan tidak mampu dan merasa lebih nyaman minta ke orang dibanding usaha sendiri.
  5. Solusi 5, mari bahas di bawah.

Pentingnya Lembaga Zakat

Saya tidak bekerja di lembaga zakat.

Namun, sebagai seorang donatur, saya kerap bertukar pikiran dengan para petugasnya. Suatu saat, saya laporkan , apa yang harus dilakukan terhadap orang-orang yang sering meminta berkali-kali tersebut? Bukannya ingin riya atau enggan sedekah, tapi itulah pentingnya ilmu.

“Ibu, memang sebaiknya dana dialokasikan ke lembaga zakat. Sebab biasanya lembaga zakat punya tim untuk verifikasi hingga eksekusi.”

Ah, benar juga ya…

Tapi kan lembaga zakat tidak bisa meng-cover semua? Bagaimana jika banyak orang yang belum dapat akses ke lembaga zakat karena tidak tahu, tidak punya surat-surat sah dan juga malu karena merasa tidak tahu harus bicara apa?

“Itulah yang harus dibantu. Ibu bisa bantu buatkan mereka proposal. Kami berprinsip, orang tak selamanya jadi mustahik, suatu saat harus jadi muzakki. Dalam kelompok-kelompok yang kami bina, kami menyarankan para mustahik belajar berinfaq meski 500 atau 1000.Ini agar mengubah perlahan mental peminta menjadi mental pemberi.”

Ada beberapa kejadian menarik ketika  membantu membuatkan proposal :

  1. Seorang tukang sayur bercerita bahwa harga-harga sayuran makin mahal, apalagi bila beli bumbu dan daging. Saya sendiri tak mampu membantu semua. Akhirnya , dengan bantuan proposal, tukang sayur tersebut dapat dana bantuan bagi
  2. Seorang janda dan buruh, awalnya mendapatkan bantuin rutin secara personal. Ketika saya minta ia untuk mengurus surat-surat ini itu bagi anak-anak yatimnya, ia mengucapkan terimakasih. Bahwa bukan hanya mendapatkan bantuan yatim, ia mendapatkan satu program X yang kebetulan diselenggarakan lembaga zakat dan satu perusahaan tertentu.
  3. Beberapa lembaga zakat lebih memilih memberikan barang produktif seperti mesin jahit, gerobak jual
  4. Meski berupaya profesional, ada juga seorang mustahik yang akhirnya hafal cara mengajukan proposal. Hingga ia bolak balik ke lembaga zakat A, B, C dan mendapatkan uang yang entah kemana uangnya L

Sedekah Emosional ~ Sedekah Proporsional

InsyaaAllah, dengan segala kelebihan rizqi yang Allah SWT berikan, setiap muslim ingin sekali melengkapi amal pahala dengan zakat, infaq, sedekah dan wakaf.

Meski, seringkali secara tiba-tiba kita bertemu seseorang tak dikenal , hati seketika tersentuh dan timbul keinginan untuk membantunya tanpa pamrih. Kadang-kadang hati dapat begitu ikhlas, kadang hati jengkel karena ternyata tak mendapat respon yang diharapkan. Ujian keikhlasan itu adaaaa aja.

  1. Bersiaplah untuk tidak mendapatkan balasan, bahkan sekedar ucapan terimakasih
  2. Bersiaplah untuk diserang balik dan diumpat : yang bantuannya kurang, yang dituduh sedekah dengan barang yang jelek
  3. Bersiaplah untuk dimusuhi, karena orang lain tiba-tiba iri : kenapa aku gak dikasih?
  4. Bersiaplah untuk berjalan dalam rahasia Allah SWT. Kadang , balasan sedekah tak dapat diduga, tak dapat dinyana, tak dapat diraba. Saat keseulitan melanda, hati perih mengadu : Tuhan, apakah tak ada balasan bagi amalku termasuk sedekah sehingga saat kesulitan melanda serasa tertutup semua pintu? Ups…seringkali, kesulitan datang bergulung-gulung. Tapi ketika pintu kemudahan terbuka, bergulung-gulung, berlapis-lapis, berpangkat-pangkat juga datangnya 🙂

Apakah akan sedekah proporsional atau emosional?

Sungguh, itu terserah masing-masing individu. Sebab perjalanan hakikat agama, seringkali tersembunyi, rahasia dan sangat individual sifatnya. Agama menetapkan syariat sebagai jalan; namun kapan seseorang mencecap manisnya balasan Allah SWT, itu tak dapat dijabarkan.

14 Ramadhan 1436 H/ 1 Juli 2015

Sinta Yudisia

FLP dan 18

Konon, orang-orang yang dilahirkan di bulan Februari, cocok menjadi seniman. Sifat sensitif, suka segala sesuatu yang berbau artistik, imajiner, pengkhayal tinggi. Profesi yang cocok adalah artis, penulis, pemusik, atau pekerja seni yang lain. Mungkin itu sebabnya, beberapa nama di FLP yang lahir di bulan Februari seperti mbak Afifah Afra atau Rihanu Alifa, senang berkiprah di dunia kepenulisan.

Boleh jadi, kita percaya prediksi zodiac.
Bahwa orang yang lahir di bulan tertentu, disebabkan pengaruh posisi bulan dan matahari, cairan-caiaran dalam tubuh bereaksi membentuk pola tertentu dan memengaruhi pembentukan karakter.

Pertanyaannya : apakah semua orang yang lahir di bulan Februari dapat menjadi seniman?

FLP : Forum Motivasi

Semakin lama, semakin menyadari, bahwa minat dan bakat tanpa motivasi dan stimulasi sama seperti kecantikan seorang gadis yang dipulas buram dalam rambut acak-acakan, wajah kusam, baju kumal. Potensi cemerlang tak berarti apa-apa, tak memunculkan produk yang mampu dilihat dunia.
Ditakdirkan lahir di bulan Februari bukan serta merta mahir merangkai kata.
Mengolah ide.
Membangun alur.
Merangkai kalimat, menyusun bab demi bab, menemukan judul menarik, mendapatkan penerbit berjodoh, berpasangan dengan editor andal, diterima pasar, laris manis, terkenal, meraup royalti dan roadshow kesana kemari.

Hidup mengajarkan, bahwa dalam setiap pencapaian, dibutuhkan tahap demi tahap latihan. Kadang, lelah rasanya ditolak sana sini. Jangankan penerbit nasional, media lokal bahkan media kampus saja menolak! Alasannya beragam. Padahal setengah mati kita menghasilkan sebuah tulisan sejumlah 10 halaman kuarto. Bolak balik baca referensi. Editing di sana sini. Ganti judul berkali-kali. Tetap saja, cerpen, artikel, opini atau apapun yang kita tulis dianggap sampah oleh oranglain.

Jikalau berjalan sendirian, mungkin sudah jauh-jauh hari patah di tengah jalan.
Urung jadi penulis.
Lebih baik banting stir ke pekerjaan lain yang lebih menjanjikan.
Tapi disinilah kita.

Bersama FLP, Forum Lingkar Pena.
Bersama teman-teman yang punya semangat sastra yang sama. Mengerjakan kebaikan itu tidak sama seperti orang yang menggali tanah untuk menanam pohon cangkok, lalu mendapatkan harta karun emas batang satu kilogram. Menjadi penulis ibarat prajurit Thalut. Perjalanan panjang, terseok, menemukan sungai-sungai yang memukau namun belum diizinkan untuk meneguk air sebanyak mungkin bila belum sampai tujuan.
Bersama FLP, kita menemukan teman-teman dengan semangat sastra yang sama.
Saling menguatkan ketika naskah tertolak.

“Wah, gakpapa! Semangat ya!”
“Aku dulu juga puluhan kali ditolak, tapi pekan kemarin Alhamdulillah tembus resensi.”
“Aku juga tembus…hehe, Surat Pembaca sih!”
“Kamu tulis aja di blog. Jangan dibuang cerita-ceritamu.”

Pendek kata, FLP membersamai kita menemukan kekokohan dalam detik-detik kegagalan. Begitu banyak teman di FLP yang (dianggap) gagal, tapi terus berkarya, berkarya, berkarya lalu di kemudian hari satu demi satu bukunya terbit.

Awalnya antologi.
Awalnya indie.
Awalnya koran lokal.
Awalnya resensi.
Lalu, semakin matang dan lapang dada itu terbangun, Allah SWT bukakan pintu-pintu rezeki. Bersama FLP, kita mendapatkan motivasi untuk terus berproduksi, bermental baja, jauh dari kata menyerah apalagi putus asa, dan insyaallah, semoga dijauhkanNya dari sikap sombong, ujub, riya’, sum’ah.

Siapa sih penulis terkenal, jika tidak dibantu editor, penerbit, pembaca, pasar dan resensor? Semua yang dicapai alah keringat, doa, sujud yang panjang, dan harapan yang tiada putus padaNya. Seorang penulis adalah pembelajar sepanjang hayat. Maka seniman haruslah orang-orang dengan mental beton namun hati selapang samudra, selembut gumpalan awan. Bersama FLP kita akan menemukan teman-teman yang memacu dirinya berprestasi, namun juga saling memberikan motivasi bahwa kita tidak hanya akan berhenti di sini.
Di titik ini.

FLP dan 18

FLP adalah organisasi. Organisasi adalah kumpulan orang-orang. Orang-orang tidak sama dengan 1 orang. Bila seorang anak manusia berusia 18 tahun, ia telah beranjak dewasa. Namun FLP, sebagai organisasi tak dapat disamakan dengan anak remaja yang telah mampu berjalan, berdiri tegak bahkan bertualang kesana kemari.

Sebagai sebuah organisasi yang menaungi puluhan cabang serta ribuan anggota, beragam latar belakang hadir bersama FLP. Orang-orang Februari atau non- Februari. Penulis dan bukan penulis. Pembaca dan bukan pembaca. Pelajar atau non pelajar. Mahasiswa atau non mahasiswa. Karyawan atau non karyawan. Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan yang lainnya. Indonesia dan yang bukan di Indonesia. Merawat rumah sebesar FLP bukan hal yang mudah, namun juga bukan mustahil untuk meraih keberhasilan bersama.

18 tahun FLP berdiri.
Jika tolok ukur keberhasilan adalah buku, FLP banyak melahirkan ratusan buku.
Jika tolok ukur keberhasilan adalah jumlah penulis, FLP banyak melahirkan penulis.
Namun bukan hanya produk materi yang ingin dihasilkan FLP. FLP ingin menjadi bagian dari perjalanan Indonesia, meraih predikat bangsa yang bermartabat, cerdas cendekia dan santun penuh etika.

Syukur Alhamdulillah, FLP tersebar di kalangan pemuda-pemdua yang paham agama sehingga cabang di Saudi Arabia, Yaman, Pakistan, Mesir berdiri serta menghasilkan karya tulis agama yang bukan hanya memberikan petunjuk, namun renyah dalam penyajian hingga masyarakat awam tertarik membaca dan memahaminya.

Syukur Alhamdulillah, FLP tersebar di kalangan warga Indonesia yang bermukim di Hongkong, Taiwan, Jepang, Amerika sehingga tulisan-tulisan yang dihasilkan adalah bagaimana tetap menjaga jati diri keIslaman di tengah masyarakat non muslim. Bagaimana tetap bekerja, berkarya, di tengah himpitan kesulitan yang pada dasarnya mengasah sebuah batu menjadi berlian.

Syukur Alhamdulillah, penulis FLP melanglang buana belajar di negeri orang hingga ke Inggris dan Turki sehingga informasi-informasi tentang dunia Islam terkini dapat hadir langsung dari orang pertama. Berikut informasi seputar dunia yang sangat dibutuhkan bagi segenap anggota FLP untuk lebih mempertajam kualitas kepenulisan.

18 tahun FLP berdiri.
Insyaallah kita akan tetap bersama hingga di angaka 20, 30, atau bahkan 100 tahun.
Membersamai bangsa Indonesia, ummat muslimin sedunia, bahwa aktivitas membaca dan menulis bukan hal asing bagi para ulama dan cendekia. Bahwa setiap muslim, akan menjadikan Nun dan Iqro, sebagai pembiasaan sehari-hari dalam memahami agama. Dalam menjalani kehidupan.

Nun dan Iqro.
Semoga, setiap anggota FLP semakin bijak dalam berucap lisan dan tulisan dalam segala ranah kehidupan.
Selamat Hari Jadi FLP yang ke 18.
Salam Pena.
Salam Sastra Santun.

Sinta Yudisia
Ketua Umum FLP 2013-2017

Sinta Yudisia Milad FLP 18

Murobbi Muda (1)

Sebut namanya Ali. Bertubuh kecil, kurus, dan imut-imut. Tidak terlihat seperti guru atau ustadz, karena ia memang bukan salah satu dari keduanya. Ia mentor anak-anak SMA yang sering disebut sebagai Murobbi.
Sekilas tidak ada yang istimewa pada Ali selain bahasanya yang gaul dan santai.
Tapi Ali, perlahan membawa adik-adik binaannya menjadi tertarik untuk mengamalkan Islam. Bukan sekedar mengenal Islam. Sebut saja Happy, cowok SMA yang semula malas-malasan pengajian. Tak jarang, tiap kali Happy mau berangkat pengajian, yang terjadi adalah perang adu mulut dengan ayah ibunya. Yah, tidak sampai Bharatayudha, tapi cukup membuat ketegangan yang menyebalkan. Dan berlangsung berulang-ulang pula setiap pekan!

Suatu saat cuaca berubah.
Happy senang mendapatkan guru ngaji seperti Ali.
Apa pasal?

teacher

Awalnya, sang ibu lah yang sering menegur Happy.
“Kamu nggak pengajian bareng kelompokmu?”
“Nunggu di SMS temanku,” jawab Happy santai.
“Lho, kamu dong yang SMS,” protes ibu.
“Pulsaku habis.”
“Pakai HP ibu.”
Beberapa saat, “ sudah nih! Gak dijawab kan?”
“SMS guru ngajimu.”
“….gak dibalas, Ibu!”
“Ditelpon kalau gitu!”
Semakin tak terhubung dering telepon, semakin kuat azzam untuk gagal pengajian.
Dan, agenda pengajian berantakan . Entah anak-anak yang sibuk, guru ngaji yang sibuk, atau keduanya tak punya waktu dan agenda yang klop.
Happy melewati begitu saja pengajiannya, entah ia hadir atau lebih banyak bolosnya.

******

Ali ternyata punya siasat lain.
Ali yang meng SMS adik-adik binaan.
Tak menjawab?
Ali menelepon.
Tak bisa berangkat?
Ali yang menghampiri, menjemput.
Tak ada sepeda motor?
Ali yang akan mengantarkan pulang.
Hm, Happy tak punya alasan malas pengajian sekarang.
Suatu saat, Happy sakit demam tinggi, bertepatan jadwal pengajian. Ia minta izin kepada Ali.

Alakazam!
Ali mengizinkan Happy tidak berangkat pengajian, namun malam hari, sembari menggandeng teman Happy, Ali menengok Happy dan membawakan….susu UHT kardus besar dua buah! So sweet. Happy pun tersipu.
Happy semakin tak punya alasan menghindar dari pengajian. Sekarang, ia malah sungkans endiri bila tak mengontak teman atau Ali.
Suatu ketika, kejadian ala remaja lainnya. Hari itu akhir pekan.

“Ibu, aku nggak bisa pengajian.”
“Kenapa?”
“Ada lomba sekolah, bareng teman-teman, di mall X.”
“Eh? Trus pengajianmu bagaimana?”
“Aku izin laaaah…habis gimana? Masa aku ninggalin teman-teman? Gak ikut lomba? Gak jadi supporter?”

Happy pun izin tak pengajian.
Seharian di luar rumah, hingga malam. Ibu dan ayah hanya bisa uring-uringan tiap kali menelepon, latar belakang hingar bingar mall menjadi original soundtrack.
Tiap kali telepon menyambung,
“Kamu sudah makaaaan?”
“Sudaaah Buuu!!’
“Kamu sudah sholaaaat??”
“Sudaaaah Buuu!!”

Malam hari, meski lega, ibu dan ayah senewen juga. Lebih memilih mall, lebih memilih lomba, daripada pengajian? Meski kasihan melihat muka lelah Happy, rasanya ibu ingin menyemprot dengan kalimat pedas saat melihatnya tiba di rumah.
Tapi…
“Ibu, tadi mas Ali menengok tim-ku di Mall. Ia ngasih semangat ke aku. Mas Ali cuma bisa sebentar sih…”

#Glek.
#Jleb.
Ibu menyimpan kemarahan. Merasakan keharuan sangat.
Bukan terhadap Happy.
Tapi terhadap Ali.

**********

Lagi-lagi interogasi.
“Kamu nggak pengajian?”
“Ya ampun Bu…aku ini mau UAS,” papar Happy cemberut. “Tapi aku mau ngaji kok. Aku sudah kontak mas Ali dan teman-teman. Rencana mau jalan-jalan refreshing.”
Sampai siang, agennda pengajian itu ternyata gagal.
Ibu senewen.
“Kamu nggak ngaji lagi?”
“Lha mas Ali membatalkan. Katanya biar adik-adik belajar UAS.”

Oh,baiklah, pikir ibu. Mungkin Ali benar.
Dan senja itu, Happy mendapatkan kiriman manis dari Ali, beserta seluruh teman-teman pengajiannya : satu batang coklat Van Houten, dikirimkan langsung oleh Ali ke rumah-rumah adik binaannya.
Happy berseri-seri.
Ibu terpana.
“Apa kata Ali?” tanya ibu #kepo.
“Katanya, ini coklat buat temanku ngelembur belajar, Bu! Buat teman-teman yang lagi pada UAS, dikirimi juga!”

*******

Murobbi muda.
Kejahatan, keburukan, senantiasa ber –evolusi, ber-revolusi; kebaikan juga harus berpacu untuk dapat memikat sebagaimana dunia hedonisme demikian memukau anak-anak muda. Para ustadz yang berceramah di mimbar-mimbar tak akan menarik pemuda seperti Happy yang kreatif, kritis dan selalu ingin bertanya kenapa ia harus begini dan dilarang begitu.

Murobbi muda seperti Ali mungkin belum banyak, tapi harus terus dipupuk.
Tanpa sadar, Ali telah membantu Happy mengokohkan jati dirinya.
Ketika ibu menegur keras,” kamu kok nggak ngaji lagi???”
Happy tersenyum dan berkata, “ Bu, aku tadi terlambat pengajian dan sepertinya mas Ali sudah keburu pergi. Tapi aku meng iqob diriku karena kehilangan pengajian ini, dengan membaca al Quran lebih banyak.”
Mengapa Ali dapat mengubah Happy sedikit demi sedikit?

Mungkin puisi dari catatan perjalanan para pemuda Ikram dalam buku Travelog Tarbawi Kami dapat mewakili hubungan Ali dan Happy serta teman-temannya

Untuk mencintai, mengasihi serta menyantuni itu
Lebih meninggalkan kesan tarbiyah yang mendalam
Daripada sekadar berceramah dan
Menasehati tanpa memahami

Ali.
Murobbi muda.
Tetaplah lucu, gaul, dekat dihati adik-adikmu.
Perhatian yang kau berikan, membuat adik-adikmu memahami ukhuwah Islamiyah, lebih dari sekedar catatan.
freundschaft-moslemische-kinder-7945862