Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Catatan Perjalanan Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY WRITING. SHARING.

Baju Sial, Laba yang Bawa Rezeqi & Larangan Makan di Cobek

Percaya ada baju yang bawa sial? Saya punya 1. Moga gak nambah, sebab punya 1 aja udah buat senewen. Setiap pakai baju itu ada aja hal menjengkelkan terjadi. Bahkan, teman, sedang memikirkan untuk menulis cerita ini aja…eh mendadak saya lagi di kamar mandi lampu mati sampai teriak-teriak, “helloooo! Adakah yang gangguin Ummi dengan matikan lampu kamar mandi?”

Hehehe, sebab saya suka iseng gangguin anak-anak. Kalau mereka di kamar mandi, saya matikan lampu.

Baju ini sering banget buat saya kesal. Padahal baju ini salah satu baju resmi yang pantas dikenakan buat acara formal. Dulu berupa kain hadiah seseorang, dan saya jahitkan menjadi sebuah baju. Sampai-sampai saya berpikir : jangan-jangan ketika baju ini dibuat, ada ritual tertentu hingga selalu aja ada hal jelek mendatangi.

Mau tau apa aja hal menjengkelkan yang terjadi?

Mulai disemprot orang, kesasar, kejadian-kejadian yang tak diharapkan terjadi (tebak sendiri!), hingga delay pesawat berjam-jam. Malu gak sih, pas saya mau ngisi acara pakai baju ini tetiba izin ke panitia,” maaf dek, ada kamar mandi? Saya mau ke belakang.”

Tetiba perut mules tiada tara! Padahal biasanya kalau saya mau ngisi acara, saya akan atur jadwal makan : gak boleh pedes, gak boleh MSG, gak boleh instan dll. Perut saya tergolong sensitif (pake bangettt).

Saya anggap baju ini bawa sial. Atau pertanda sial. Atau penyebab sial.

Yah, akhirnya, baju ini saya simpan aja di lemari. Mau dikasih orang juga gak mungkin. Selain baju itu kenang-kenangan, andaikata benar bawa sial, masa saya delivery ke orang kesialannya?

Sampai suatu ketika, saya merenung.

Habis baca buku Marie Kondo, bahwa barang-barang yang tidak menimbulkan kebahagiaan lebih baik disingkirkan; saya mulai berpikir tentang baju itu. Dibuang, enggak. Dikasih ke orang, enggak. Dirombeng, enggak. Kalau disimpan, ditumpuk-tumpuk di lemari, gak digunakan sama sekali; hanya akan mengundang ketidak berkahan. Maka tak ada cara lain kecuali mencoba memakai baju ini lagi, dan melawan kesialannya.

Hari itu, hati deg-degan.

Wah, kesialan apa yang akan aku alami hari ini?        Dag dig dug. Menduga-duga. Berpikir-pikir. Menerka-nerka.

Sejak belum pakai baju itu, hati ini berdoa, berbisik pada Allah Swt ,” Ya Allah, andai baju ini bawa sial, lindungi aku dari kesialannya. Andai baju ini buruk, lindungi aku dari keburukannya.”

                       Baju ‘sial’ yang jadi untung

Sejak belum pakai pakai baju itu aku banyak baca istighfar, shalawat nabi dan segala macam dzikir yang dapat terucap. Luarbiasa, hari aku memutuskan pakai baju ‘sial’ itu, ternyata ada banyak keberuntungan terjadi. Aku mengisi 2 acara , mendapat banyak bingkisan dan mendapat banyak teman baru serta pengalaman baru. Nyaris hari itu tidak ada kejadian mengesalkan, kecuali 1x saja yang kuanggap, yah, kebetulan belaka. Kira-kira, apa yang mengubah baju ‘sial’ itu jadi baju ‘untung’?

  1. Berdoa kepada Allah Swt sebelum memakainya.
  2. Sepanjang memakai baju itu banyak istighfar, baca shalawat dan dzikrullah
  3. Selalu positif thinking
  4. Banyak senyum agar happy
  5. Mempersiapkan agenda hari itu dengan matang agar tidak tertimpa eksialan yang sesungguhnya merupakan kecerobohan kita

 

                        Laba-laba pembawa rezeqi

“Kalau ada onggo-onggo, jangan diusir!”

Itu kata ibuku, berpesan kepadaku agar behati-hati bila melihat onggo-onggo.

 

laba laba gonggo
Laba Gonggo (Onggo-onggo)

Tahu onggo-onggo? Sejenis laba-laba yang biasanya nangkring di sudut pojok dinding rumah, dan binatang ini tidak selalu terlihat. Sesungguhnya, ada beberapa hewan yang dianggap pembawa keberuntungan atau malah kesialan. Tokek, yang disunnahkan untuk dibunuh, ternyata oleh orang Jawa dianggap pembawa berita baik. Kejatuhan cicak, dianggap sebagai pertanda sial.

Bagiku, tokek hewan yang menakutkan. Dan gigitannya kata orang cukup berbahaya. Maka aku merasa lebih baik hewan ini diusir dari rumah, bila kita tak mampu membunuhnya. Perihal laba-laba, aku ingat bahwa ini salah satu hewan yang melindungi persembunyian Rasulullah Saw di gua bersama sahabat beliau Abubakar ra. Maka, terlepas dari ia membawa berita baik atau tidak, aku memang enggan mengusirnya. Kecuali bila sarang laba-laba di sudut rumah sudah  menumpuk-numpuk.

Bagaimana dengan kupu-kupu?

Kata orang-orang Jawa kuno, adanya kupu-kupu pertanda akan mendapat tamu tak diundang. Umumnya tamu yang membawa kabar bahagia. Entah benar atau tidak, tapi semasa kecil rumahku pernah kemasukan kupu-kupu. Lalu trataaaa….nenekku datang tiba-tiba. Wah senang sekali! Mungkin saja itu kebetulan belaka.

Berbagai kepercayaan yang berkembang di masyarakat, sesungguhnya merupakan pengetahuan empiris yang tidak dapat diambil kesimpulan mutlak berdasarkan teori yang sudah baku.

Kepercayaan bahwa anak perempuan yang menyapu tak bersih akan punya suami brewokan, menjadi salah satu nasehat yang sering diungkapkan orangtua pada anak-anak perempuan. Yah, kalau orang barat dan orang Turki yang dari sononya sudah bawaan brewokan, apa berarti semua istri mereka gak pintar menyapu rumah? Kadang, ancaman-ancaman untuk menakuti anak atau cucu, bermanfaat supaya mereka segera menghindari perilaku yang kurang baik.

Sambal di cobek.JPG
Jangan makan nasi di cobek!

“Jangan makan nasi dari cobek, nanti jauh jodohnya!”

Sambal di cobek yang tinggal sedikti, enak banget kalau dicolek dengan nasi. Tapi emang sih, melihat orang makan dari cobek, rasanya gimanaaa gitu. Maka orangtua biasanya bilang : nanti jauh jodoh.

“Jangan duduk di depan pintu. Nanti jauh jodoh!”

Yah, kalau orang duduk di pintu, biasanya bikin sebel kan? Menghalangi yang mau lewat dan terpaksa bilang : permisi, nyusun sewu, ngapunten blablabla. Serba nggak enak kan? Maka dibilanglah : jauh jodoh.

Ada nasehat-nasehat trasidional yang masih dapat digunakan dan bahkan menjadi pedoman, namun sebagian yang lain, perlu diperhatikan karena kebaikan isi nya dan tidak perlu diyakini sebagai hal yang sungguh akan terjadi. Misal, terpaksa duduk di pintu karena saat pengajian, ruang tamu shahibul bait dipenuhi jamaah pengajian dan kita terpaksa duduk di pintu, maka bukan berarti jodohnya jauh.

 

 

 

 

Kategori
Catatan Perjalanan Dunia Islam Jurnal Harian Oase Quran kami Renungan Hidup dan Kematian Tokoh WRITING. SHARING.

Rangkuman pertemuan dengan Murteza Fikri, Saddam Hussein dan Muammar Qadafi (3 putra Saifudin Ibrahim)

Pertemuan dengan Ustadz Menachem Ali dan 3 putra Saifudin Ibrahim hari itu, sungguh merupakan hadiah berharga bagi diriku yang berulang tahun pernikahan tepat 25 Desember 2017. Apalagi hari itu fisikku sedang drop sekali, sejak Jumat sakit sehingga butuh perjuangan untuk berangkat pagi ke masjid dan ke acara Saddam Hussein cs di SD Muhammadiyah 4, Pucang Anom, Surabaya. Sampai-sampai di masjid, aku harus merunduk-runduk memegangi perut yang bolak balik kolik hingga putriku berkata, “sabar ya Mi…”

Suamiku pun sempat berkata sebelum berangkat ke acara di Mudipat (Muhammadiyah 4).

“Nggak usah aja ya? Prioritas kesehatan dulu,” ujarnya khawatir melihat kondisiku yang masih agak kepayahan.

Anehnya, entah mengapa tekadku sangat kuat. Bahkan kami berangkat jam 08.00 pagi, masih sepi dan aku harus mampir ke masjid al Falah untuk beristirahat sebentar lantaran perutku yang kolik lagi. Alhamdulillah, kami tetap bisa hadir di acara ketika bangku masih kosong, sebab ternyata acara mulai jam 09.00 pagi. Sebab ternyata, peserta membludak hingga ruangan penuh dan peserta yang tidak kebagian tempat harus rela berdiri!

Membludak!

 

Apa yang kutuliskan adalah catatan sepanjang  3 putra Saifudin Ibrahim memandu acara yang luarbiasa hari itu. Istighfar, hamdalah dan airmata tak terbendung dari mataku. Dari mata para pengunjung. Sungguh; betapa luar biasa 3 pemuda di depan kami yang tetap kokoh dalam keimanan mereka sementara sang ayah saat ini tengah berdakwah dari seberang agama yang lain.

fikri, saddam, qadafi.JPG
Muamamr Qaddafi (3), Murteza Fikri (1), Saddam Hussein (2)

Profil singkat Saifudin Ibrahim

Saifudin Ibrahim berasal dari Bima. Beliau anak ke-2 dari 9 bersaudara. Anak ke-1 perempuan, maka Saifudin Ibrahim terbiasa menjadi pemimpin keluarga. Istrinya, Nurhayati merupakan anak dari 11 bersaudara yang berasal dari Jepara. Baik orangtua Saifudin Ibrahimd an Nurhayati adalah orang-orang terpandang, sebab ayah Saifudin Ibrahim (SI) adalah peolpor Muhamamdiyah di Bima sedang ayah Nurhayati adalah pelopor Muhammadiyyah di Jepara.

SI seorang yang tangguh, pejuang sejati dan orang yang brillian.

Sejak kecil hingga dewasa, ia selalu mencari beasiswa. Ia menempuh pendidikan di Universitas Muhammadiyah Surakarta atas beasiswa PP Muhammadiyah. Si angkatan 1983, mendapat beasiswa kader dan kuliah di Ushuluddin mengambil perbandingan agama. Selanjutnya, SI bekerja sebagai salah satu guru di Mahad Zaytun. Beliau mengajar bab aqidah, tarikh dan bahasa Arab. SI adalah seorang yang sangat fasih berbahasa sehingga ia juga menjadi humas dan bertugas untuk menerima tamu-tamu dari Timur Tengah. Dalam perjalanannya, SI pernah mengIslamkan 12 orang.

 

Murtadnya SI

Tahun 2006, SI keluar dari agama Islam. Setelah ia murtad, SI kuliah lagi di bidang teologi. Ia kemudian berkeliling, utamanya tanggal 25 Desember untuk berceramah di depan jemaat sembari mengutip ayat-ayat Quran yang memang sudah sangat lekat dengan dirinya.

Apa pasal kemurtadan SI?

Ada beberapa kejadian yang terjadi dalam hidup SI, yang diduga menyebabkannya kecewa dengan orang-orang muslim dan akhirnya menyebabkannya berpindah agama

  1. SI di skors dari Zaytun karena dianggap memiliki dualisme pekerjaan. Beliau diskors 3 minggu atas tuduhan tersebut tanpa klarifikasi. Tak tanggung-tanggung beliau diskors oleh pemimpinnya yang selama ini menganggap SI sebagai tangan kanan (menurut Saddam Hussein, yang berjualan herba saat itu adalah Ummi. Jadi bukan Abi)
  2. Bersamaan dengan itu, seorang Nashrani memberikan hibah 1400 New Statemen untuk dibagi-bagikan kepada pesantren
  3. Bermimpi bertemu nabi Isa dan nabi Muhammad Saw meninggalkannya

 

Saddam Hussein kecil menjadi saksi kemurtadan sang Abi

Saddam Huseein saat itu 10 tahun dan duduk di bangku kelas 6. Si kecil Saddamlah yang pertama kali mengetahui kemurtadan Abi, tapi karena kepolosannya belum tahu harus berbuat apa.

SI melakukan perjalanan ke Jakarta, lalu ke Surabaya sebelum ke Lombok dan Bima. Yang membuat Saddam bertanya-tanya saat itu :  mengapa Abi tidak sholat?  Mengapa Abi selalu bertamu dengan teman-teman Nashrani?

Saddam kecil rupanya ingin tahu mengapa abinya tak sholat.

“Abi nggak sholat?”

“Jama qoshor,” jawab SI.

“Kok gak Shubuh?”

SI hanya diam saja.

Menurut Saddam, Abi murtad saat berada di Surabaya. Saddam mendapat instruksi dari abinya ,”Abi mau ngajari toleransi. Kalau mereka doa, kamu ikut nunduk doa.”

Saat di Surabaya, SI bertemu dengan teman-teman Nashraninya, utamanya dari the Gideons. Ia diperlihatkan video-video sementara Saddam diminta main dengan anak seorang pendeta. Meski demikian, saat Saddam mencari ayahnya, ia mendengar sang abi berdoa ,”ya Tuhan Yesus, ini adalah hambaMu…”

Hancur hati Saddam mendengarnya. Ia gemetar namun tak tahu harus berbuat apa. Sebagai anak kecil hanya dapat merasakan kesedihan yang dalam sebab SI baginya adalah sosok seorang abi yang inspiratif dan penyayang keluarga. Berkali-kali SI menekankan pada Saddam, “pokoknya nggak boleh, nggak boleh kasih tahu!” Maksudnya nggak boleh kasih tahu tentang kemurtadan SI kepada anggota keluarga.

Menurut Saddam, ummi sudah mulai curiga namun belum menemukan jawaban pasti. Mengapa status kerja SI dicabut di Zaytun? Dari Indramayu, keluarga SI pindah ke Bekasi, dibelikan rumah oleh Pdt. Eri Sapto Wedha. Saat pindah ke Bekasi 7 hari, Saddam mendapati ummi menangis sejadi-jadinya jam 22.00. Menurut pengakukan Murteza Fikri, ummi menangis selama seminggu lamanya. Namun, di dpean anak-anaknya, ummi belum menceritakan kejadian sebenarnya. Ummi hanya berujar,

“Abi mau pergi jauh. Abi mau pergi ke luar kota lama.”

Ini dilakukan ummi supaya anak-anaknya tak sedih.

Ummi memiliki sakit diabetes yang berkisar antara 300-700. Karena kuatnya semangat ummi, sekalipun memiliki diabetes 700 yang harusnya membuat seseorang terkapar, beliau tetap bangkit berdiri demi anak-anaknya. Memang, ummi sempat agnostik. Namun, menjelang wafatnya ummi berwasiat kepada ketiga putranya agar tetap dalam keIslaman.

2006-2012 anak-anak SI masih serumah dengannya. Sebab kalau tidak ikut aturan main, maka anak-anak tidak makan dan tidak sekolah. SI dibaptis dengan nama Abraham bin Moses.

 

Pertanyaan peserta dan jawaban yang mencerahkan

Ada banyak pertanyaan yang menghujani tiga putra SI : Murteza Fikri, Saddam Hussein dan Muammar Qaddafi. Pertanyaan dari kaum ibu umumnya mirip : bagaimana setelah abi murtad? Apakah masih serumah? Apakah ummi abi masih campur? Apakah mereka bercerai?

Ada pertanyaan-pertanyaan yang sangat menohok dari peserta.

  1. “Abi adalah ayah biologis dari Saddam cs. Tapi menurut Saddam, apakah ayah kalian kafir dzimmi atau kafir harbi?” tanya seorang ibu muallaf yang dulunya memiliki nama baptis Maria Christina.
  2. “Saya telah berdiskusi via whatsapp dengan Abi,” ujar ustadz Menachem Ali. “Menurut saya beliau belum memahami ajaran Nashrani dengan mendalam, sebab beliau masih memiliki kebingungan. Tampaknya, beliau hanya sakit hati dengan beberapa person dalam Islam tetapi kemudian merasa nyaman dengan keluar Islam. Di titik apa Abi terseret hingga keluar dari Islam?”
  3. “Adakah upaya untuk menarik SI kembali kepada Islam?” tegur seorang lelaki, seorang pengurus takmir masjid. “Janganlah anda merasa enjoy dengan melakukan perjalanan kesana kemari, mengisi acara, lalu melupakan kewajiban utama mengembalikan ayah anda kepada Islam.”

 Maria Christina dan ustadz Menachem Ali

 

Kafir harbi dan kafir dzimmi

Kafir harbi adalah mereka yang terang-terangan memerangi Islam sementara kafir dzimmi adalah sebaliknya. Menurut Saddam, SI adalah ayah biologis tetapi SI pindah agama. Urusan murtad adalah urusan SI. Karena beliau ikut campur dalam urusan agama lain termasuk menghina Allah Swt, Rasulullah dan Islam maka SI harus mendapatkan tindakan tegas. SI punya akun youtube ribuan followers dan ribuan likers. SI juga punya yayasan Amanat Agung yang memiliki 300 ribu pengikut aktif-pasif.

Pak herman.JPG
Pak Suherman Rosyidi menjelaskan tentang harbi-dzimmi

Secara karakteristik, SI termasuk kafir harbi. Namun sebagai negara konstitusional tentu tidak dapat diterapkan harbi-dzimmi tetapi kasus SI dapat masuk ke ranah hukum pidana. Jadi kaum muslimin pun tidak dapat main hakim sendiri untuk menentukan harbi-dzimmi, kecuali negara Islam , sementara Indonesia adalah negara konstitusional.

Sesungguhnya, tindak tanduk SI telah banyak meresahkan masyarakat. Namun, pihak kepolisian belum merespon cepat sekalipun yang melaporkan sudah banyak. KNAP (Komisi Nasional Anti Pemurtadan) pada akhirnya tidak mengontak Polri tetapi mengontak MUI yang lansung melaporkan ke Ustadz Maruf Amin. Ustadz Maruf Amin langsung membuat komisi darurat dan ditindak lanjuti oleh pak Tito Karnavian.

SI masuk dalam kategori harbi adalah karena ceramah-ceramahnya yang antara lain mencuplik ayat secara tidak lengkap, beberapa di antaranya adalah

  • Satu-satunya agama yang membolehkan membunuh hanyalah agama Islam
  • Memlintir tentang poligami
  • Tidak ada orang yang dapat menjalankan Islam secara kaffah

 

Memahami ajaran Nashrani

Menurut Saddam, SI memahami betul tentang Islam dan cukup paham ajaran kristiani. Sekalipun memang titik baliknya karena kekecewaan terhadap orang-orang tertentu dalam Islam. Salah satu yang menjadi legitimasi kekecewaan SI adalah tindakan Amrozi dan Imam Samudra.

Walau, tetap saja ada kejadian di luar nalar yang menyebabkan seseorang murtad.

Menurut Saddam, orang murtad karena tiga hal :

  1. Murtad karena harta
  2. Murtad karena nikah
  3. Murtad karena mimpi

SI mengalami nomer 3.

 

Ada perkataan Saddam yang menurutku sangat menohok.

Sesungguhnya di dunia ini, kaum muslimin menyaksikan beberapa jenis korban kemanusiaan. Korban-korban kemanusiaan ini haruslah ditangisi dengan kesedihan mendalam dan segera mendapatkan bantuan.

  1. Korban bencana dan korban perang. Suriah, Palestina, Rohingya. Korban yang syahid telah mencapai 700 ribu dan terus berjalan. Namun pada hakekatnya, korban-korban ini husnul khatimah dan syahid , serta insyaallah masuk ke dalam JannahNya. Kaum muslimin menangisi kondisi saudara-saudaranya yang seperti ini, medoakan dan segera memberikan bantuan
  2. Korban pemurtadan yang sesungguhnya jauh lebih mengenaskan sebab kaum muslimin tidak ada yang menangisi walau akhir hidup korban-korban ini jauh berbeda dari korban yang pertama.

 

Pemurtadan terhadap kaum muslimin dilakukan atas beberapa alasan, antara lain :

  • Kaum muslimin yang miskin, lebih banyak dari yang mapan
  • Kaum muslimin yang awam, lebih banyak dari yang paham

 

Upaya menarik SI kembali pada Islam

Kali ini yang berbicara adalah Muammar Qaddafi.

Masyaallah, sungguh beruntung ummi Nurhayati memiliki 3 pendekar ksatria yang insyaalah sangat dibanggakan kaum muslimin. Mereka masih muda, berani dan juga cerdas.

 

Muammar.JPG
Muammar yang bijak dan berani

“Kami tidak merasa enjoy dengan melakukan hal seperti ini (berdiri di stage dan ceramah). Tetapi kami harus berkeliling, sebab kami bertanggung jawab terhadap jutaan ummat di luar sana yang terpengaruh oleh upaya abi.”

Tentang upaya mengembalikan SI kepada Islam sudah diupayakan anak-anaknya. Meski keahlian agama 3 putranya jauh berada di bawah SI, namun bukan berarti 3 putranya tidak berupaya berdiskusi. Hasilnya adalah kemarahan SI. Saat ini Saddam Hussein lulus dari teknik elektro UMS dan berniat mencari beasiswa yang berbeda dari jurusan sebelumnya, ia ingin mengambil studi perbandingan agama. Sementara Muamamr Qaddafi masih duduk di jurusan komunikasi.

Saddam Hussein menambahkan bahwa tidak ada upaya maksimal dalam mengajak SI kembali pada Islam kecuali mereka telah dipanggil Allah Swt. Bila berkata upaya telah maksimal, maka dapat dikatakan mereka telah menyerah. Pada akhirnya, seluruh hadirin di majelis itu mendoakan agar kiranya Allah Swt berkenan mengembalikan SI ke dalam pangkuan Islam kembali.

Sungguh, hidayah adalah harta yang sangat mahal.

Hidayah merupakan anugerah Allah Swt namun sebagai manusia harus terus berupaya mencari dan mempertahankannya.

 

Kita selayaknya saling mendoakan dan mendukung satu sama lain agar senantiasa berada dalam lindungan dan tuntunan Allah Swt, aamiin yaa Robbal ‘alamin.

Kategori
Hikmah Jurnal Harian Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY WRITING. SHARING.

Tikam, bunuh, perkosa, hajar, tembak, sayat

 

Puluhan tahun yang lalu, ketika masih anak-anak, saya sering bermain di luar rumah hanya mengenakan celana dalam dan singlet. Saya berlari-lari, main petak umpet keliling rumah, menyeberangi kali atau kuburan. Bermain di dekat stasiun, melihat gerbong kereta api tua. Berangkat dan pulang sekolah jalan kaki, naik bemo atau berepeda. Seringkali ketika Ayah tak bisa menjemput dengan vespa tuanya, saya menjadi murid satu-satunya yang dijemput sore.

 
Tak ada takut.
Padahal, ketika SMP saya melewati gudang kereta api yang sangat sepi. Kantor-kantor tua bekas zaman Belanda tanpa penghuni. Ketika orangtua tinggal di Denpasar Bali dan mengirimkan saya untuk sekolah di Yogya, tak ada kekhawatiran sama sekali. Selain nasehat ,”baik-baik ya kamu tinggal sama Nenek. Jadi anak perempuan yang bisa ngeladeni Simbah!”
Mama dan bapak khawatir kalau sebagai cucu perempuan, saya malas-malasan di rumah nenek. Tidak tanggap nyuci piring, nyuci baju, beres-beres. Takut kalau saya hanya baca Kho Ping Ho seharian atau mendengarkan sandiwara radio Saur Sepuh.
Kalau libur, saya akan segera pulang ke Bali, naik bis. Bis turun di beberapa perhentian. Mamah dan bapak terkejut tiba-tiba ketika melihat saya di depan pintu : lho kok kamu pulang….

 
Sebagai pelajar saat itu , tak ada yang membebani pikiran selain : uang jajan, beli buku, belajar kelompok, naik gunung, malam Minggu main ke rumah teman yang sama-sama merantau.Akhir SMA, saya bahkan masih sering pulang malam karena harus hunting soal UMPTN kesana kemari, sampai malam fotokopi, belajar kelompok.

 
Satu-satunya peristiwa berdarah yang pernah saya lalui (ohya, dua persitiwa) adalah ketika SMP naik sepeda dan tidak sengaja terserempet bis. Saya ditolong orang-orang. Kali kedua, ketika belajar naik sepeda motor dan belum bisa mengerem ketika naik tanjakan.

 
Bertemu orang asing, menyenangkan. Saya senang naik bis kota, berbincang dengan tukang jamu, tukang sayur, tukang becak, tukang batu. Bertemu orang baru, menyenangkan, ketika sama-sama bertemu pendaki gunung atau orang baru di bengkel sepeda atau tukang tambal ban motor. Bertemu teman baru menyenangkan, saya senang kenalan dengan anak-anak dari SMP SMA lain. Apalagi ketika menjelang UMPTN, saling berbagi info dan ilmu dengan anak-anak sekolah lain.
Bertemu dengan sebanyak-banyaknya orang, sungguh memperkaya wawasan.

Itu pula nasehat seorang Doktor berkebangsaan Korea yang memberi wejangan di Wisuda S1 saya, bagaimana menajdi orang yang unggul : getting out, meet more and more people.
Bergaulah dengan sebanyak mungkin orang.
Bertemu dengan sebanyak mungkin manusia.
Bercakap, berdiskusi, berguru, berbagi dengan sebanyak mungkin individu yang mungkin memiliki kepandaian dan pengalaman jauh lebih banyak, lebih hebat dari kita.
Namun, beranikah sekarang saya, anda dan para guru sekalian untuk memberikan wacana ini pada anak-anak dan murid-murid : meet more and more people?

 

Bengis & Kejam

knife stab vector
Itukah watak orang di masa sekarang?

 
Yang miskin, membenci orang kaya karena memamerkan kekayaannya. Mengendarai mobil, main klakson seenaknya padahal cuaca sangat panas dan kita pengendara motor sedang bersabar di bawah terik matahari. Yang kaya, benci pada yang miskin karena mereka sangat tidak kompeten dalam beragam pekerjaan : malas, penipu, hanya jadi polisi cepek, selalu meminta dan seterusnya. Yang bodoh, membenci orang pintar apalagi berkedudukan. Mereka yang di atas hanya akan memangsa yang lemah dan hanya akan memanfaatkan. Yang pintar, membenci yang bodoh sebab karena angka kebodohanlah bangsa ini makin terpuruk dan terpuruk.

 
Itukah kita?
Yang akhir-akhir ini selalu curiga, penuh prasangka, membenci orang dan ingin sekejam mungkin menghakimi siapapun yang berseberangan?
Betapa mudah kita membenci.
Mencaci maki orang lain di media social maupun di dunia nyata.
Ketika ucapan tak cukup mewakili kebencian hati, maka apapun jadi senjata : facebook, blog, twitter, instagram. Ketika itu masih belum cukup melampiaskan kebencian, adakah cara lain untuk melampiaskan dendam?

 
Ya.
Lakukan saja yang demikian cepat terlintas pikiran.
Kalau bisa babat, babat saja. Kalau bisa pukul, pukul saja. Kalau bisa tikam, kenapa tidak? Kalau bisa ditembak, kenapa tidak didor?
Seolah, di masa ini, kita kembali ke zaman pra sejarah.
Kembali ke zaman dinosauraus , hutan-hutan, bejana perunggu, tombak besi dan kapak batu.
Hutan-hutan pepohonan sekarang berganti hutan beton apartemen dan mall. Tombak besi dapat diperkecil menjadi pisau atau silet. Kapak batu diubah menjadi senapan atau pistol. Tak da Dinosaurus seperti Velociraptor atau T-Rex, tapi manusia sekarang dapat lebih kejam memangsa orang lain. Velociraptor tak pernah berpikir memperkosa orang. T Rex tak pernah berpikir menyiksa psikis manusia dengan terror.

 

Mari, hidup kembali di zaman Primitif

hand gun
Dulu, orang melengkapi diri dengan senjata agar sewaktu-waktu hewan buas menyerang, kita dapat balik menikam.
Apakah itu yang harus kita lakukan sekarang? Melengkapi anak-anak kita dengan pisau dan senjata tajam?

 
“Nak, selain pena dan pulpen di tasmu, apa kamu sudah bawa clurit? Apa kamu bawa cutter dan silet? Atau, apa kamu bawa pistol? Jangan lupa isi peluru!”

 
Dapatkah sebagai orangtua kita membayangkan anak-anak sekolah membawa persenjataan, mencurigai teman-teman mereka sebagai pemerkosa dan menganggap guru atau dosen yang bersikap keras kepala (dari dulu selalu ada istilah guru dan dosen killer) sebagai pihak yang harus dihabisi?

 
Kemana institusi pendidikan yang melahirkan para pemikir, orang-orang cendeikia, manusia unggul berwawasan luas yang memiliki hati nurani?

 
Kemana insituti hukum yang melindungi masyarakat sebagaimana dulu Al Ayyubi melindungi perempuan dari orang yang melecehkannya?

 

 
Kemana insitusi pemerintah yang mencoba mengayomi segala entitas : di tengah masyarakat akan selalu ada kaya miskin, pandai bodoh, tinggi rendah, pejabat rakyat, petinggi pesuruh, orang dari beragam etnis, orang dari beragam golongan. Apakah perbedaan ini akan menjadi dasar pertentangan sehingga kita memandang setiap orang yang berbeda dengan mata curiga dan akan menghakiminya setiap ada kesempatan? Menghajarnya, memukulnya, menikam dan menyiletnya?

 
Apakah ketika melihat perempuan tak berdaya, lantas ia boleh diperkosa ? Mungkin sebagai lelaki nafsu birahi telah membumbung tinggi, arousal telah demikian memanaskan ubun-ubun, pornografi telah demikian intens hingga menyalakan instink paling dasar : lalu semua dilampiaskan pada seorang perempuan dan harus pula mengkahiri hidupnya?
Apakah ketika kemiskinan menghimpit, maka seseorang yang terlihat dalam posisi lebih berada karena dia mahasiswa, guru atau dosen, maka ia berhak untuk dihabisi?
Apakah karena seseorang bersalah karena mulutnya, maka senjata lebih tepat untuk membalasnya?
Demikian pula, wahai aku, kamu, kita dan kalian yang sedang berada dengan segala kelebihan baik pandai, kaya, berkelapangan : apakah menjadi jalan kita untuk tidak peduli dan memamerkan semua hal disaat yang lain nestapa memerangi segala kekurangan?

 

Zaman Primitif telah Lewat
Zaman Primitif telah lewat. Zaman pra sejarah telah usai. Zaman batu telah lalu. Zaman jahiliyah telah punah. Bersyukurlah hidup di abad modern yang memudahkan sekian ragam aktivitas.
Tidakkah kita ingin hidup di masa dimana peradaban memimpin dunia, setiap individu merasa bebas dan terhormat?

 
Para orangtua ingin mengirimkan anak laki dan perempuan untuk sekolah setinggi tingginya. Para guru dan dosen ingin mengajar. Para pejalan kaki ingin beraktivitas. Para pengguna angkutan ingin tetap berkendaraan , dalam keterbatasan ekonomi menggunakan bis, kereta, angkot , sebab tak mungkin setiap manusia di negeri ini memiliki mobil.
Maka, ayolah kita mulai dari diri sendiri.
Bagi anda yang pemarah, ingatlah untuk beristighfar. Sehingga tak timbul penyesalan dengan mengayunkan pisau, silet, parang ke sembarang leher orang. Yakinlah, bahwa usai membunuh satu orang, hanya tersisa penyesalan akan hari depan yang suram. Kemarahan yang merusak hanya dapat dilawan dengan banyak-banyak mengingatNya.Sebagain masyarakat mungkin akan memaafkan, namun bagaimana dengan keluarga korban?

 
Bagi anda penikmat pornografi, ingatlah bahwa melihat hubungan sexual yang terkspos membuat frontal lobe rusak, hingga anda akan menjadi orang yang mudah memangsa segala : anak sendiri, cucu sendiri, keponkana sendiri, tetangga, murid, ataupun perempuan di jalan. Menyukai pornografi bukan hanya meningkatkan rangsang seksual tapi juga perilaku agresif. Hasrat seksual yang tak terlampiaskan bukan hanya mendesak keinginan untuk memperkosa seseorang, tapi juga membunuh dan menyiksa. Ingatlah, bahwa keperkasaan anda sebagai laki-laki suatu saat akan mendapatkan hukuman yang tak terbayangkan , bila anda melampiaskan nafsu dengan cara yang tak manusiawi.

xxx
Bagi anda pengumbar materi, sadarlah. Begitu banyak orang yang mudah terbakar emosi karena situasi ekonomi, social yang memang belum stabil dewasa ini. Melihat sebagian orang dalam kondisi mapan, dalam hati terbersit cemburu dan kecurigaan. Perbanyak infaq sedekah, perbanyak senyum dan berbagi, perbanyak membantu orang agar jembatan kesenjangan terbangun.

 
Para orangtua, berhati-hatilah memiliki anak. Camkan pada anak-anak kita untuk waspada dan senantiasa Dzikrullah. Usahakan telepon selular dalam kondisi terkontak agar selalu dapat terhubungi dalam situasi kritis. Selalulah berdoa dalam segala kesempatan, agar terlindungi anak-anak kita, anak-anak bangsa, anak-anak ummat ini.

 
Para guru, dosen dan pengajar, berlapang dadalah. Anak-anak pelajar dan mahasiswa berada dalam kondisi serba terhimpit : mata pelajaran, mata kuliah, biaya transportasi, biaya kuliah, biaya praktikum, biaya skripsi, SPP dan segala macam biaya yang bila dibayangkan tak tertanggungkan bagi para pelajar. Belum lagi perilaku menyimpang, pornografi, kecemburuan social, tindak kekerasan mengungkung. Sedikit perilaku impulsive dapat membuat orang lupa diri.

 
Para pemimpin, pejabat, penegak hukum. Ingatlah dalam setiap kebijakan bahwa anda terlibat di dalamnya, terlibat dalam penegakkan keadilan dan kesejahteraan rakyat. Institusi hukum yang bersih dan berdedikasi sangat diharapkan, segala benda yang membahayakan seperti senjata, minuman keras, minuman beralkhohol, pornografi harus ditindak tegas. Bila membutuhkan waktu untuk membereskannya maka bersegeralah untuk membatasinya.

 
Perkosa, tikan, bunuh, hajar, silet, sayat; rasanya kata itu sudah tak kuasa lagi masuk dalam kamus kehidupan kita.

 
Tentu sebagai anak bangsa kita tak ingin menambah daftar kata kerja negative, bukan?
Kita tak ingin ada kata massa, bakar, jarah, rampas, rampok atau kata negatif apapun yang akan muncul dalam berita-berita.
Para pejabat, penegak hukum, pemimpin; anda harus mempertanggung jawabkan sekian banyak korban yang berjatuhan. Siapapun anda, haruslah waspada. Bukan hanya waspada akan kejahatan oranglain. Namun juga waspada, jangan sampai diri kita menyumbangkan kejahatan baik langsung atau tak langsung.

Yuyun, Feby, bu Dosen Nur Ain Lubis ; beristirahatlah dengan tenang. Cinta dan doa kami untukmu. Semoga kematian ini tidak sia-sia. Membuat kami ingat Allah, ingat masih banyak tugas bagi masyarakat untuk menjadi manusia yang lebih beradab.

 

Mei 2016

Kategori
Catatan Perjalanan Oase

Stroke dan Glaukoma : Hati Lelaki ini Tetap Hidup Bersama Jamaah

Bila terdapat audisi keluarga teladan, mungkin inilah salah satu keluarga yang mewakili bagaimana harapan, kasih sayang, dan khusnudzon kepada Allah SWT menjadikan kemiskinan bukan ujian yang dihadapi dengan ratapan. Hati kukuh, sikap tangguh dan semangat baja unutuk melakukan kebaikan; lebih dari orang lain yang memiliki kelebihan harta,waktu, juga kesehatan.

Mbak Nuning, Habibah, Hilma dan pak Imam
Mbak Nuning, Habibah, Hilma dan pak Imam

Pak Imam, namanya.
Saya mengenalnya sebagai lelaki sederhana yang tak banyak bicara namun murah senyum. Ia tidak ada di podium, di panggung, di mimbar. Tak mahir mengutip ayat atau memberikan dalil. Ia penjaga kantor DPD PKS Tegal, juga bagian bersih-bersih jika sebuah acara berlangsung. Ia datang paling awal dan pulang paling akhir. Tugasnya mengumpulkan sampah sisa agar selesai acara, tak ada lagi ceceran barang kotor tertinggal di tempat.

Istrinya, mbak Nuning adalah seorang perempuan sederhana yang selalu tertawa dan tersenyum lebar. Tak pernah mengeluh ini itu sekalipun tempat tinggalnya masuk gang sempit yang sebenarnya tak layak untuk dihuni. Saya mengenal keluarga ini belasan tahun, tak sekalipun mereka pernah meminjam uang atau mengeluh kelaparan, sekalipun pernah suatu saat mbak Nuning keceplosan mereka ternyata berhari-hari tak makan. Putri kecil mereka , Hilma (sekarang sudah menjadi gadis cantik), saat itu mengumpulkan uang limaratus rupiah. Rp500! Dengan uang itu Hilma membeli bubur, meski seorang anak biasanya egois, namun si kecil Hilma membagi bubur itu untuk seluruh anggota keluarga.

Pak Imam dan mbak Nuning memiliki 4 orang putra putri : Ihya, Safir, Hilma dan Habibah. Ihya telah meninggal beberapa tahun lalu karena sakit menahun.

Stroke dan glaukoma

Beberapa bulan lalu, saya mendengar kabar pak Imam stroke.
Betapa sedih hati ini karena tak dapat membantu banyak. Pasti , beban pak Imam, mbak Nuning dan anak-anaknya semakin besar. Teman-teman membantu, Safir juga saat ini telah lulus sekolah juga Hilma. Safir dan Hilma sudah bekerja, namun tentu beban ekonomi belum dapat teratasi. Apalagi, sakitnya pak Imam membutuhkan banyak biaya.
Stroke pak Imam menyebabkannya lumpuh total. Dokter mengatakan, ia dapat kembali normal meski tak seratus persen sembuh, setelah jangka waktu satu tahun. Tidak itu saja, stroke juga menyerang matanya hingga mengalami glaukoma.

Dapat anda bayangkan betapa sedih mbak Nuning dan anak-anaknya?
Bahkan, ketika suami saya menengoknya, ia sama sekali tak mengenal.
“Siapa ya?” pak Imam hanya mampu bertanya-tanya.
Jangankan suami saya. Pak Imam hanya mampu menggambarkan suami saya dengan kata-kata: tinggi, besar, berjenggot.
Berlinang air mata, mbak Nuning mengatakan :
“Jangankan orang lain. Ia tak mengenal anak-anaknya. Tak mengenal istrinya. Tak mengenali wajah saya, bahkan tak ingat nama saya.”

Jalan menuju DPD

Tak ada yang diingat pak Imam setelah stroke.
Kami bertanya, Safir ada dimana pun, ia butuh waktu lama untuk menjawab dan tak ingat tepatnya saat itu putranya ada dimana. Safir menikah beberapa bulan lalu, dan ketika kami bertanya bulan apa Safir menikah; pak Imam pun tak dapat menjawab.
“Bulan apa ya….,” ia mengulang pertanyaan kami.
Namun, apa yang membuat kami demikian terharu adalah, ia mengingat sesuatu dalam hidupnya. Satu-satunya yang ia ingat, satu-satunya yang mengendap dalam benak, satu-satunya yang terekam memori otak, juga memori hatinya.

Ketika ingatan akan anak-anak dan istrinya sama sekali tak meninggalkan bekas, pak Imam ternyata masih ingat jalan dari rumahnya menuju DPD. Lebih dari itu ia akan tersesat, sebab tak mengenali jalan pulang. Namun jarak tempuh, tanda-tanda, belokan antara rumah menuju kantor DPD, masih tetap utuh. Seolah-olah, tanggung jawabnya untuk menajdi bagian dari jamaah, meski kecil dan tampak tak berarti bagi sebagian besar manusia; telah menjadi bagian yang mendarah daging dan tak akan dilepaskannya amanah tersebut.

Kami menangis memandang lelaki sederhana itu yang tentu, tak mengenali siapa kami.

Matanya separuh buta, tubuhnya lumpuh akibat stroke (meski sekarang mulai membaik), ingatannya menghilang namun hatinya tetap utuh hidup bersama jamaah. Orang-orang seperti pak Imam dan keluarganya inilah; yang akan membuat kita banyak belajar.

Ketahanan, resiliensi, endurance; tak akan didapat jika bukan karena ketulusan hanya mengharap balasan Allah SWT, insyaAllah.

Kategori
FLP Jepang

Love : when passion meets commitment

Sinta dan Winiez the Chef, food fotografer

BPP FLP di sekretariat Kampung Rambutan
BPP FLP di sekretariat Kampung Rambutan

Kali ini bukan membahas skala cinta Rubin Z, seperti dalam buku Kitab Cinta dan Patah Hati. Tapi teori segitiga Rubin berlaku juga dalam konteks hubungan organisasi.

Malam ini, mata enggan terpejam bertemu teman-teman FLP. Berdiskusi dengan Daeng Gegge, Kokonata, Nurbaiti Hikaru, Winiez, Sudi , Elvira, Fatih dan mbak Anik. Khusus yang terakhir, ia menyiapkan logistik yang terus menerus untuk peserta rapat.

Selain seru oleh guyonan ala penulis, tepat jam 20.00 di lantai bawah, berbekal laptop, catatan dan note di HP masing-masing; pikiran tercurah untuk membahas salah satu agenda ummat yang tak bisa dipisahkan dari kebiasaan ulama : membaca dan menulis.

Pembahasan pertama tentang FSIN Festival Sastra Islam Nasional yang insyaallah akan diselenggarakan di Makassar, 17 Desember 2015 – 20 Desember 2015. Harapannya, menjadi festival sastra Islam tingkat Internasional sebagaimana Ubud Writers and Reader Festival dan Makassar International Writing Festival.

Pembahasan kedua tentang beetalk.
FLP bekerja sama dengan beetalk, chat platform, aplikasi bertukar pesan seperti whatsapp dan line; yang menyediakan layanan diskusi berkelompok. Terdapat grup Forum Buku, Cerpen dan Puisi dimana karya teman-teman FLP dapat dibaca disana.

Pembahasan ketiga, tentang novel yang sedang saya tulis dan diolah bersama teman-teman FLP untuk menjadi salah satu novel semi otobiografis; dengan setting Jepang yang unik dan indah, mengangkat salah satu tokoh muslim yang insyaAllah, kisah hidupnya amazing, kocak, romantis.

Pembahasan keempat, adalah pembahasan yang tidak masuk dalam agenda struktural namun menjadi pembahasan yang menghangatkan hati kami untuk tetap bersama-sama dalam FLP.
Pertanyaan yang sering diajukan kepada penulis FLP : berapa fee seorang penulis? Berapa honor untuk menjadi pemateri, mengisi workshop?

Okelah, seorang penulis setiap huruf, kata dan kalimatnya adalah argo.Ghostwriter, namanya tak boleh muncul sama sekali dalam buku namun jumlah rekeningnya menggelembung. Marketing, mengatakan seorang penulis harus membranding dirinya. Sebagaimana seorang teman marketing menawarkan diri untuk menjadi asisten saya, sebab menurutnya saya memiliki kemampuan di beberapa bidang : psikologi, penulis dan kemampuan membawakan materi.

Daeng Gegge, Winiez, Nurbaiti, Kokonata ternyata memiliki persepsi yang sama .
Sulit, untuk menjadikan sastra ini sebuah tolok ukur yang dapat dipatok dengan materi, khususnya uang. Gak butuh uang? Bukan begitu juga. Tapi ada hal-hal yang tidak dapat diukur dengan uang, khususnya cinta (haha…lebay).

Menulis itu cinta. Membaca itu cinta, makanya jangan tanya kalau ke toko buku bisa kalap dengan isi dompet. Beda kalau mau beli baju masih mikir-mikir : ini mahal apa enggak? Sepatu ini kok ratusan ribu, toh diinjak juga.Tapi kalau ke book fair, bisa ludes isi dompet. Siapa juga sanggup melihat buku-buku ulama yang sangat sulit didapatkan, untuk tidak dipindahkan ke lemari buku pribadi? Walaupun, hampir semua ruang di rumahku penuh berisi buku, rak buku sudah buat berkali-kali, tetap saja masih kurang dan kurang koleksi buku.

Menulis itu cinta. Mengajarkan tentang sastra itu cinta.
Mendengar anak-anak muridku berkata ,” aku mau jadi penulis kayak Bunda Sinta!” merupakan hadiah yang tidak dapat ditukar dengan honor sekali mengajar.
Mendengar anak-anak dan remaja menjadikan kata “Penulis” sebagai salah satu profil cita-cita mereka, luarbiasa.

Menulis itu passion, cinta yang penuh nyala api. Bersama teman-teman FLP kita juga melakukan komitmen. Ups, jangan ditanya apakah ada ongkos untuk rapat? Kami berangkat dengan uang pribadi, bawa makanan sendiri, saling bertukar hadiah malah. Kadang buku, kadang coklat (thanx to Winiez!), bahkan seringkali hanya bertukar doa.
Fee mengisi acara, kadang-kadang masuk ke kas FLP , untuk memutar roda organisasi.

Melihat ketulusan teman-teman FLP mengawal literasi santun ini, teringat akan kata Taufik Ismail tiap kali ia mendengar kata FLP : CEMBURU.
Cemburu, mengapa FLP baru berdiri ketika usianya telah uzur.
Taufik Ismail menambahkan satu kalimat ; FLP, adalah anugerah Tuhan untuk bangsa Indonesia.

Ketika tempo hari berkesempatan hadir di acara 28 Oktober 2015 di gedung MPR dan bertemu Mustafa Kamal, beliau berkata yang kurang lebih mirip dengan yang dirasakan teman-teman FLP : orang-orang sastra, tidak suka berpikir kalkulatis. Angka, matematika. Kadang-kadang, sesuatu perlu ditimbang dengan rasa dan nurani.
Maka, sastra dapat meluruskan apa yang bengkok.
Sastra dapat melunakkan hati yang keras.
Sastra dapat memperindah, ruang-ruang sempit yang menyesakkan dalam keseharian yang pengap dan melelahkan.

Sekretariat FLP
Muswil FLP Wilayah Jakarta sekaligus mencuri waktu rapat dengan teman-teman BPP.
00.29.
Night is still young for a writer 🙂

Kategori
Catatan Perjalanan Oase WRITING. SHARING.

Apakah Satu Cara ini Sudah Dilakukan agar Doa Terkabul?

Teman,
Mungkin ada beberapa (atau banyak) keinginan penting dalam hidup ini yang belum diraih. Kita merasa telah mengupayakan semua : berdoa, ikhtiyar, meminta nasehat, jatuh bangun, memotivasi diri, mencoba apapun cara yang mungkin. Sampai saat ini, mungkin masih belum terpenuhi juga keinginan besar yang menjadi impian bertahun-tahun.
Kisah ajaib ini mungkin dapat menjadi bahan perenungan.

Doa-doa tulus dari saudara

Tersebutlah sepasang suami istri, usia pernikahan menginjak angka 12 tahun dan belum dikaruniaNya keturunan. Upaya ilmiah hingga alternatif tak kurang-kurang. Hingga suatu hari, datang bantuan yang demikian menakjubkan.
Teman-teman pengajiannya, menginap bersama, sholat qiyamul lail bersama, dengan tujuan khusus satu saja : mendoakan pasangan suami istri ini agar punya putra. Satu bulan kemudian, mereka hamil!
Masyaallah :’)
Betapa indahnya persaudaraan.
Jadi ingat, ketika saya menginginkan sesuatu seperti ingin sekali punya rumah, meminta doa dari sana sini : orangtua, teman-teman, tetangga , saudara. Alhamdulillah, Allah SWT berikan rizqi rumah.
Apakah kita, pernah secara sengaja , sholat qiyamul lail dan secara khusus mendoakan saudara kita? Ahya. Jujur, saya belum. Biasanya saya sholat malam mendoakan hajat diri sendiri dan saudara-saudara lain. Mendoakan saudara lain insyaallah sering, tapi diikuti permintaan-permintaan lain yang biasanya, permintaan pribadi lebih mendominasi.

Betapa indahnya bila kita melakukan sholat malam, mendoakan saudara kita yang tertimpa musibah. Ingat, musibah bukan hanya sakit atau kebangkrutan. Mendapatkan jabatan tinggi, mendapatkan kekayaan, juga “musibah” . Bila saudara kita tidak didoakan, ia akan tergelincir dan saat itu dengan mudahnya kita mencaci makinya : pantas saja masuk penjara, korupsi sih. Pantas saja anaknya nakal, pejabat sih. Pantas saja ada WIL, sibuk sih.

Doa menentramkan hati
Doa adalah senjata

Alangkah menakjubkan bila suatu malam, kita berdoa diam-diam usai sholat 11 rakaat, mendoakan saudara kita yang belum punya jodoh. Yang belum punya putra setelah menikah sekian lama. Yang tengah mendekam di penjara. Yang tengah bangkrut. Yang tengah menangis. Yang tengah menjabat posisi tertentu. Yang tengah menikmati harta.
Dan di ujung belahan dunia lain, tanpa disadari, ada orang-orang yang melakukan hal sama untuk kita : mendoakan keberkahan kita sekeluarga, tercapainya setiap keingiinan kita. Siapa tahu, bukan lisan ini yang menjadi sebab terkabulnya doa, tapi ikatan ukhuwah dan cinta kepedulian kita antara satu sama lain.
Mari, saling mendoakan.

Kategori
Jurnal Harian

Sedekah Emosional atau Sedekah Proporsional?

Sumur Tsunami & Tulisan Allah (by Sinta Yudisia)
Sumur Tsunami & Tulisan Allah ( photo by Sinta Yudisia)

Sedekah harus proporsional, pakai perencanaan dan skala prioritas.

Benarkah ?

Suatu saat, terdapat artikel menarik sebuah majalah yang membahas tentang perencanaan keuangan. Salah satu pos yang ditentukan adalah dompet sosial, atau bagi  kaum muslimin dikenal alokasinya dengan sebutan ZISWAF (zakat, infaq, sedekah, wakaf). Tulisan tersebut mengulas bahwa setiap pengeluaran hendaknya diperhitungkan seksama. Terkait dompet sosial, jangan sampai seseorang mengeluarkannya karena emosional belaka : kasihan, tidak tega, tiba-tiba, iba, tak sampai hati dan sejenisnya.

Pengalaman plus minus infaq/sedekah

Tentang balasan infaq/sedekah, tak diragukan lagi.

Al Baqarah 261- 274 membahas panjang lebar tentang infaq, sedekah dan bagaimana menjaganya agar amalan tersebut tidak menguap pahalanya karena kita sebut-sebut atau kita melakukannya diiringi kemarahan dan perkataan celaan.

Rasanya, ingin sekali memberikan sedekah atau infaq pada orang-orang semacam ini : tahu diri, tahu balas budi setidaknya berterima kasih, dan harta yang kita keluarkan betul-betul dipergunakan untuk kebutuhan primer serta positif. Kenyataannya, terkadang orang-orang yang kita bantu tidak memenuhi harapan tersebut. Bahkan, seringkali Allah SWT menguji kadar keikhlasan kita dengan kejadian berikut : orang yang dibantu balik mencela (boro-boro terimakasih), bergunjing di belakang punggung tentang sedekah kita dan digunakan untuk kebutuhan non primer!

Ah, sulitnya ikhlas.

Sulitnya beramal.

Sulitnya, beramal tepat sasaran!

Apakah kejadian ini pernah anda alami?

  1. Seseorang datang meminta tolong karena anaknya sakit. Belakangan ia minta tolong karena operasi, kontrakannya habis, dagangannya tak laku, anaknya mau masuk sekolah dan seterusnya. Anda membantu, insyaallah dengan niat ikhlas. Lama-lama timbul pertanyaan : benarkah alokasi dana yang di infaq kan? Apakah orang tersebut benar-benar meminjam uang sesuai kebutuhan terdesaknya?
  2. Seseorang meminta tolong ini itu. Sepertinya ia butuh pekerjaan tetap. Tapi ketika ditawarkan menjadi PRT, alasannya macam-macam : yang tidak bisa masaklah, yang tidak ada kendaraan, yang tak diizinkan suami dan seterusnya. Bagaimana cara mengatasi SDM semacam ini?
  3. Seseorang datang berkali-kali meminta bantuan. Alasannya demi kebutuhan sekolah anak-anaknya. Ketika disarankan agar ia memangkas pengeluaran dan mencoba hidup irit, orang tersebut berkata : kasihan anak-anak.

Bagaimana sebagai seorang muslim, kita tidak hanya masa bodoh dengan mengatakan

  • Yang penting aku sudah mengeluarkan hartaku, biar hartaku bersih.
  • Perkara dipakai hal yang buruk atau bohong, terserah dia
  • Nanti dia juga yang dibalas Allah SWT

Bukankah sebagai seorang muslim, seharusnya kita membantu orang lain hingga “tuntas”? Artinya, sedekah tersebut bukan hanya demi kepentingan kita supaya harta kita bersih, berlipat ganda, dan kita semakin kaya ; namun juga tersimpan beberapa perkara ukhuwah Islamiyah bahwa kita harus tahu kondisi saudara kita. Bila ia berbohong luruskan, bila ia malas maka pancing agar bekerja, bila ia kelewat batas maka perlu diingatkan?

Mari kita berbagi pengalaman positif dan nengatif kita beribadah dengan sedekah. Agar ibadah kita ternyata juga bermanfaat bagi orang lain.

Kapan sedekah dibalas oleh Allah SWT?

Saya mengumpulkan beberapa testimoni orang-orang yang mendapatkan balasan ajaib dari Allah SWT terkait sedekah mereka. Tentu ini hak prerogatif Allah SWT, namun tak ada salahnya kita belajar. Orang-orang tersebut mengaku sedekah bila :

  1. Benar-benar yang minta tolong adalah orang yang kelaparan dan melaporkan tak bisa makan
  2. Benar-benar digunakan sebagai biaya pendidikan (beli buku, seragam)
  3. Benar-benar digunakan untuk menolong seseorang dari jeratan hutang.

Cerita pertama, Ibu Sholihah (samaran) sering menolong orang. Ia bercerita suatu saat terjadi hal aneh, dalam kondisi tak punya uang, seorang saudara miskin –sebut saja mas Sabar- datang meminta bantuan uang. Saat itu bu Sholihah hanya punya Rp.4000 ( atau Rp40.000 ya?). Uang terakhir tsb diberikan. Tak berapa lama, bu Sholihah bersih-bersih lemari, merogoh-rogoh kertas dan amplop…jatuhlah uang sebesar 400 ribu! Beberapa waktu kemudian ketika bu Sholihah bertemu kembali dengan saudara miskin tsb, bu Sholiha bertanya,

“Mas Sabar, tempo hari saya sedekah, kok Allah SWT langsung ganti. Saya pingin tahu, sama mas Sabar dipakai apa sih?”

Pak Sabar menangis. Lelaki tua berpakaian lusuh itu mengusap airmata dan tersedu berkata, ”oalaaah Mbakyu…saat itu saya jalan kaki dari Kaliurang sampai Jogja, sampai sandalku tipis. Sepanjang jalan aku sholawatan. Anakku butuh uang buat beli buku. Aku juga bilang sama anakku,

“ Le, Bapak tak cari uang, entah bagaimana caranya. Kamu mnajat di masjid yo…”. Terus aku ke tempat mbakyu…”

Bu Sholihah dan pak Sabar sama- sama menangis karena merasa baik pak Sabar maupun bu Sholihah mendapatkan pertolongan Allah SWT.

Contoh kedua, seorang perempuan muda, sebut namanya Dewi, masih bekerja serabutan. Dewi belum punya rumah , hanya punya sepeda motor, berjualan bisnis online pakaian dan tas yang baru cukup untuk biaya kost dan hidup sehari-hari. Hanya saja, Dewi ini punya kebiasaan menolong teman dan saudara. Suatu saat, Dewi dapat rezeki berhasil menjualkan tanah temannya dan ia mendapat fee makelar sehingga dapat membeli sebuah mobil .

Lho, kok bisa?

Mungkin ini jawabannya.

Seperti biasa, suatu saat Dewi terpaksa harus menyewa mobil dari temannya –Ahmad, samaran- karena keluarga besar berkunjung. Berhubung keluarga besar memerlukan alat transport untuk wira wiri karena banyaknya persoalan keluarga yang harus diatasi, Dewi menyewa mobil untuk mereka dari kantongnya sendiri. Tak tanggung-tanggung, Dewi menyewa sebulan! Tak lama dari kerjadian tersebut, Dewi mendapatkan rezeki. Ternyata, keluarga besar Dewi tertolong dengan adanya mobil sewaan tersebut untuk mengurus tetek bengek masalah. Dan tak dinyana , Ahmad pun mengakui

“Mbak Dewi, tempo hari bisnis sewa mobil saya sepi. Saya sudah mau tutup. Mobil kreditan sudah mau disita. Ternyata mbak Dewi sewa sebulan, bisa buat nutup ini itu dan bisnis saya survive!”

Ternyata, ketika sedekah/infaq kita benar-benar menolong seseorang dari kehancuran, insyaallah saat itu diberikan balasan.

Lalu bagaimana ketika infaq kita tidak tepat sasaran?

Beberapa Solusi

  1. Sebisa mungkin kita silaturrahim ke tempat orang yang membutuhkan bantuan, agar hati makin mantap memberikan bantuan. Dengan tahu bukti fisik baik rumah dan keluarga, insyaallah hati jauh dari syak wasangka.
  2. Kadang tak semua bisa kita kunjungi karena keterbatasan waktu. Cek ricek apa yang diminta. Misal ia minta uang karena tak bisa makan, bagaimana jika diberikan bantuan beras, minyak, telur? Eh, ada lho orang yang ternyata tidak berkenan. Bilangnya lapar tak bisa makan, tapi ketika dibantu sembako, ia cemberut. Hm…
  3. Bila minta bantuan terkait sekolah, cek sekolahnya dimana. Kalau ternyata sekolah di sekolah bergengsi dan mahal, sepertinya harus bertindak tegas. Dalam kasus pak Sabar, putranya sekolah di SD negeri di desa.
  4. Ajak si peminta untuk mengurus surat-surat keterangan tidak mampu agar dapat dipergunakan untuk meringankan biaya sekolah, sakit atau bahkan meminta bantuan modal. Cukup banyak orang yang ternyata enggan mengurus surat keterangan tidak mampu dan merasa lebih nyaman minta ke orang dibanding usaha sendiri.
  5. Solusi 5, mari bahas di bawah.

Pentingnya Lembaga Zakat

Saya tidak bekerja di lembaga zakat.

Namun, sebagai seorang donatur, saya kerap bertukar pikiran dengan para petugasnya. Suatu saat, saya laporkan , apa yang harus dilakukan terhadap orang-orang yang sering meminta berkali-kali tersebut? Bukannya ingin riya atau enggan sedekah, tapi itulah pentingnya ilmu.

“Ibu, memang sebaiknya dana dialokasikan ke lembaga zakat. Sebab biasanya lembaga zakat punya tim untuk verifikasi hingga eksekusi.”

Ah, benar juga ya…

Tapi kan lembaga zakat tidak bisa meng-cover semua? Bagaimana jika banyak orang yang belum dapat akses ke lembaga zakat karena tidak tahu, tidak punya surat-surat sah dan juga malu karena merasa tidak tahu harus bicara apa?

“Itulah yang harus dibantu. Ibu bisa bantu buatkan mereka proposal. Kami berprinsip, orang tak selamanya jadi mustahik, suatu saat harus jadi muzakki. Dalam kelompok-kelompok yang kami bina, kami menyarankan para mustahik belajar berinfaq meski 500 atau 1000.Ini agar mengubah perlahan mental peminta menjadi mental pemberi.”

Ada beberapa kejadian menarik ketika  membantu membuatkan proposal :

  1. Seorang tukang sayur bercerita bahwa harga-harga sayuran makin mahal, apalagi bila beli bumbu dan daging. Saya sendiri tak mampu membantu semua. Akhirnya , dengan bantuan proposal, tukang sayur tersebut dapat dana bantuan bagi
  2. Seorang janda dan buruh, awalnya mendapatkan bantuin rutin secara personal. Ketika saya minta ia untuk mengurus surat-surat ini itu bagi anak-anak yatimnya, ia mengucapkan terimakasih. Bahwa bukan hanya mendapatkan bantuan yatim, ia mendapatkan satu program X yang kebetulan diselenggarakan lembaga zakat dan satu perusahaan tertentu.
  3. Beberapa lembaga zakat lebih memilih memberikan barang produktif seperti mesin jahit, gerobak jual
  4. Meski berupaya profesional, ada juga seorang mustahik yang akhirnya hafal cara mengajukan proposal. Hingga ia bolak balik ke lembaga zakat A, B, C dan mendapatkan uang yang entah kemana uangnya L

Sedekah Emosional ~ Sedekah Proporsional

InsyaaAllah, dengan segala kelebihan rizqi yang Allah SWT berikan, setiap muslim ingin sekali melengkapi amal pahala dengan zakat, infaq, sedekah dan wakaf.

Meski, seringkali secara tiba-tiba kita bertemu seseorang tak dikenal , hati seketika tersentuh dan timbul keinginan untuk membantunya tanpa pamrih. Kadang-kadang hati dapat begitu ikhlas, kadang hati jengkel karena ternyata tak mendapat respon yang diharapkan. Ujian keikhlasan itu adaaaa aja.

  1. Bersiaplah untuk tidak mendapatkan balasan, bahkan sekedar ucapan terimakasih
  2. Bersiaplah untuk diserang balik dan diumpat : yang bantuannya kurang, yang dituduh sedekah dengan barang yang jelek
  3. Bersiaplah untuk dimusuhi, karena orang lain tiba-tiba iri : kenapa aku gak dikasih?
  4. Bersiaplah untuk berjalan dalam rahasia Allah SWT. Kadang , balasan sedekah tak dapat diduga, tak dapat dinyana, tak dapat diraba. Saat keseulitan melanda, hati perih mengadu : Tuhan, apakah tak ada balasan bagi amalku termasuk sedekah sehingga saat kesulitan melanda serasa tertutup semua pintu? Ups…seringkali, kesulitan datang bergulung-gulung. Tapi ketika pintu kemudahan terbuka, bergulung-gulung, berlapis-lapis, berpangkat-pangkat juga datangnya 🙂

Apakah akan sedekah proporsional atau emosional?

Sungguh, itu terserah masing-masing individu. Sebab perjalanan hakikat agama, seringkali tersembunyi, rahasia dan sangat individual sifatnya. Agama menetapkan syariat sebagai jalan; namun kapan seseorang mencecap manisnya balasan Allah SWT, itu tak dapat dijabarkan.

14 Ramadhan 1436 H/ 1 Juli 2015

Sinta Yudisia

Kategori
FLP

FLP dan 18

Konon, orang-orang yang dilahirkan di bulan Februari, cocok menjadi seniman. Sifat sensitif, suka segala sesuatu yang berbau artistik, imajiner, pengkhayal tinggi. Profesi yang cocok adalah artis, penulis, pemusik, atau pekerja seni yang lain. Mungkin itu sebabnya, beberapa nama di FLP yang lahir di bulan Februari seperti mbak Afifah Afra atau Rihanu Alifa, senang berkiprah di dunia kepenulisan.

Boleh jadi, kita percaya prediksi zodiac.
Bahwa orang yang lahir di bulan tertentu, disebabkan pengaruh posisi bulan dan matahari, cairan-caiaran dalam tubuh bereaksi membentuk pola tertentu dan memengaruhi pembentukan karakter.

Pertanyaannya : apakah semua orang yang lahir di bulan Februari dapat menjadi seniman?

FLP : Forum Motivasi

Semakin lama, semakin menyadari, bahwa minat dan bakat tanpa motivasi dan stimulasi sama seperti kecantikan seorang gadis yang dipulas buram dalam rambut acak-acakan, wajah kusam, baju kumal. Potensi cemerlang tak berarti apa-apa, tak memunculkan produk yang mampu dilihat dunia.
Ditakdirkan lahir di bulan Februari bukan serta merta mahir merangkai kata.
Mengolah ide.
Membangun alur.
Merangkai kalimat, menyusun bab demi bab, menemukan judul menarik, mendapatkan penerbit berjodoh, berpasangan dengan editor andal, diterima pasar, laris manis, terkenal, meraup royalti dan roadshow kesana kemari.

Hidup mengajarkan, bahwa dalam setiap pencapaian, dibutuhkan tahap demi tahap latihan. Kadang, lelah rasanya ditolak sana sini. Jangankan penerbit nasional, media lokal bahkan media kampus saja menolak! Alasannya beragam. Padahal setengah mati kita menghasilkan sebuah tulisan sejumlah 10 halaman kuarto. Bolak balik baca referensi. Editing di sana sini. Ganti judul berkali-kali. Tetap saja, cerpen, artikel, opini atau apapun yang kita tulis dianggap sampah oleh oranglain.

Jikalau berjalan sendirian, mungkin sudah jauh-jauh hari patah di tengah jalan.
Urung jadi penulis.
Lebih baik banting stir ke pekerjaan lain yang lebih menjanjikan.
Tapi disinilah kita.

Bersama FLP, Forum Lingkar Pena.
Bersama teman-teman yang punya semangat sastra yang sama. Mengerjakan kebaikan itu tidak sama seperti orang yang menggali tanah untuk menanam pohon cangkok, lalu mendapatkan harta karun emas batang satu kilogram. Menjadi penulis ibarat prajurit Thalut. Perjalanan panjang, terseok, menemukan sungai-sungai yang memukau namun belum diizinkan untuk meneguk air sebanyak mungkin bila belum sampai tujuan.
Bersama FLP, kita menemukan teman-teman dengan semangat sastra yang sama.
Saling menguatkan ketika naskah tertolak.

“Wah, gakpapa! Semangat ya!”
“Aku dulu juga puluhan kali ditolak, tapi pekan kemarin Alhamdulillah tembus resensi.”
“Aku juga tembus…hehe, Surat Pembaca sih!”
“Kamu tulis aja di blog. Jangan dibuang cerita-ceritamu.”

Pendek kata, FLP membersamai kita menemukan kekokohan dalam detik-detik kegagalan. Begitu banyak teman di FLP yang (dianggap) gagal, tapi terus berkarya, berkarya, berkarya lalu di kemudian hari satu demi satu bukunya terbit.

Awalnya antologi.
Awalnya indie.
Awalnya koran lokal.
Awalnya resensi.
Lalu, semakin matang dan lapang dada itu terbangun, Allah SWT bukakan pintu-pintu rezeki. Bersama FLP, kita mendapatkan motivasi untuk terus berproduksi, bermental baja, jauh dari kata menyerah apalagi putus asa, dan insyaallah, semoga dijauhkanNya dari sikap sombong, ujub, riya’, sum’ah.

Siapa sih penulis terkenal, jika tidak dibantu editor, penerbit, pembaca, pasar dan resensor? Semua yang dicapai alah keringat, doa, sujud yang panjang, dan harapan yang tiada putus padaNya. Seorang penulis adalah pembelajar sepanjang hayat. Maka seniman haruslah orang-orang dengan mental beton namun hati selapang samudra, selembut gumpalan awan. Bersama FLP kita akan menemukan teman-teman yang memacu dirinya berprestasi, namun juga saling memberikan motivasi bahwa kita tidak hanya akan berhenti di sini.
Di titik ini.

FLP dan 18

FLP adalah organisasi. Organisasi adalah kumpulan orang-orang. Orang-orang tidak sama dengan 1 orang. Bila seorang anak manusia berusia 18 tahun, ia telah beranjak dewasa. Namun FLP, sebagai organisasi tak dapat disamakan dengan anak remaja yang telah mampu berjalan, berdiri tegak bahkan bertualang kesana kemari.

Sebagai sebuah organisasi yang menaungi puluhan cabang serta ribuan anggota, beragam latar belakang hadir bersama FLP. Orang-orang Februari atau non- Februari. Penulis dan bukan penulis. Pembaca dan bukan pembaca. Pelajar atau non pelajar. Mahasiswa atau non mahasiswa. Karyawan atau non karyawan. Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan yang lainnya. Indonesia dan yang bukan di Indonesia. Merawat rumah sebesar FLP bukan hal yang mudah, namun juga bukan mustahil untuk meraih keberhasilan bersama.

18 tahun FLP berdiri.
Jika tolok ukur keberhasilan adalah buku, FLP banyak melahirkan ratusan buku.
Jika tolok ukur keberhasilan adalah jumlah penulis, FLP banyak melahirkan penulis.
Namun bukan hanya produk materi yang ingin dihasilkan FLP. FLP ingin menjadi bagian dari perjalanan Indonesia, meraih predikat bangsa yang bermartabat, cerdas cendekia dan santun penuh etika.

Syukur Alhamdulillah, FLP tersebar di kalangan pemuda-pemdua yang paham agama sehingga cabang di Saudi Arabia, Yaman, Pakistan, Mesir berdiri serta menghasilkan karya tulis agama yang bukan hanya memberikan petunjuk, namun renyah dalam penyajian hingga masyarakat awam tertarik membaca dan memahaminya.

Syukur Alhamdulillah, FLP tersebar di kalangan warga Indonesia yang bermukim di Hongkong, Taiwan, Jepang, Amerika sehingga tulisan-tulisan yang dihasilkan adalah bagaimana tetap menjaga jati diri keIslaman di tengah masyarakat non muslim. Bagaimana tetap bekerja, berkarya, di tengah himpitan kesulitan yang pada dasarnya mengasah sebuah batu menjadi berlian.

Syukur Alhamdulillah, penulis FLP melanglang buana belajar di negeri orang hingga ke Inggris dan Turki sehingga informasi-informasi tentang dunia Islam terkini dapat hadir langsung dari orang pertama. Berikut informasi seputar dunia yang sangat dibutuhkan bagi segenap anggota FLP untuk lebih mempertajam kualitas kepenulisan.

18 tahun FLP berdiri.
Insyaallah kita akan tetap bersama hingga di angaka 20, 30, atau bahkan 100 tahun.
Membersamai bangsa Indonesia, ummat muslimin sedunia, bahwa aktivitas membaca dan menulis bukan hal asing bagi para ulama dan cendekia. Bahwa setiap muslim, akan menjadikan Nun dan Iqro, sebagai pembiasaan sehari-hari dalam memahami agama. Dalam menjalani kehidupan.

Nun dan Iqro.
Semoga, setiap anggota FLP semakin bijak dalam berucap lisan dan tulisan dalam segala ranah kehidupan.
Selamat Hari Jadi FLP yang ke 18.
Salam Pena.
Salam Sastra Santun.

Sinta Yudisia
Ketua Umum FLP 2013-2017

Sinta Yudisia Milad FLP 18

Kategori
Catatan Perjalanan Jurnal Harian mother's corner Oase

Murobbi Muda (1)

Sebut namanya Ali. Bertubuh kecil, kurus, dan imut-imut. Tidak terlihat seperti guru atau ustadz, karena ia memang bukan salah satu dari keduanya. Ia mentor anak-anak SMA yang sering disebut sebagai Murobbi.
Sekilas tidak ada yang istimewa pada Ali selain bahasanya yang gaul dan santai.
Tapi Ali, perlahan membawa adik-adik binaannya menjadi tertarik untuk mengamalkan Islam. Bukan sekedar mengenal Islam. Sebut saja Happy, cowok SMA yang semula malas-malasan pengajian. Tak jarang, tiap kali Happy mau berangkat pengajian, yang terjadi adalah perang adu mulut dengan ayah ibunya. Yah, tidak sampai Bharatayudha, tapi cukup membuat ketegangan yang menyebalkan. Dan berlangsung berulang-ulang pula setiap pekan!

Suatu saat cuaca berubah.
Happy senang mendapatkan guru ngaji seperti Ali.
Apa pasal?

teacher

Awalnya, sang ibu lah yang sering menegur Happy.
“Kamu nggak pengajian bareng kelompokmu?”
“Nunggu di SMS temanku,” jawab Happy santai.
“Lho, kamu dong yang SMS,” protes ibu.
“Pulsaku habis.”
“Pakai HP ibu.”
Beberapa saat, “ sudah nih! Gak dijawab kan?”
“SMS guru ngajimu.”
“….gak dibalas, Ibu!”
“Ditelpon kalau gitu!”
Semakin tak terhubung dering telepon, semakin kuat azzam untuk gagal pengajian.
Dan, agenda pengajian berantakan . Entah anak-anak yang sibuk, guru ngaji yang sibuk, atau keduanya tak punya waktu dan agenda yang klop.
Happy melewati begitu saja pengajiannya, entah ia hadir atau lebih banyak bolosnya.

******

Ali ternyata punya siasat lain.
Ali yang meng SMS adik-adik binaan.
Tak menjawab?
Ali menelepon.
Tak bisa berangkat?
Ali yang menghampiri, menjemput.
Tak ada sepeda motor?
Ali yang akan mengantarkan pulang.
Hm, Happy tak punya alasan malas pengajian sekarang.
Suatu saat, Happy sakit demam tinggi, bertepatan jadwal pengajian. Ia minta izin kepada Ali.

Alakazam!
Ali mengizinkan Happy tidak berangkat pengajian, namun malam hari, sembari menggandeng teman Happy, Ali menengok Happy dan membawakan….susu UHT kardus besar dua buah! So sweet. Happy pun tersipu.
Happy semakin tak punya alasan menghindar dari pengajian. Sekarang, ia malah sungkans endiri bila tak mengontak teman atau Ali.
Suatu ketika, kejadian ala remaja lainnya. Hari itu akhir pekan.

“Ibu, aku nggak bisa pengajian.”
“Kenapa?”
“Ada lomba sekolah, bareng teman-teman, di mall X.”
“Eh? Trus pengajianmu bagaimana?”
“Aku izin laaaah…habis gimana? Masa aku ninggalin teman-teman? Gak ikut lomba? Gak jadi supporter?”

Happy pun izin tak pengajian.
Seharian di luar rumah, hingga malam. Ibu dan ayah hanya bisa uring-uringan tiap kali menelepon, latar belakang hingar bingar mall menjadi original soundtrack.
Tiap kali telepon menyambung,
“Kamu sudah makaaaan?”
“Sudaaah Buuu!!’
“Kamu sudah sholaaaat??”
“Sudaaaah Buuu!!”

Malam hari, meski lega, ibu dan ayah senewen juga. Lebih memilih mall, lebih memilih lomba, daripada pengajian? Meski kasihan melihat muka lelah Happy, rasanya ibu ingin menyemprot dengan kalimat pedas saat melihatnya tiba di rumah.
Tapi…
“Ibu, tadi mas Ali menengok tim-ku di Mall. Ia ngasih semangat ke aku. Mas Ali cuma bisa sebentar sih…”

#Glek.
#Jleb.
Ibu menyimpan kemarahan. Merasakan keharuan sangat.
Bukan terhadap Happy.
Tapi terhadap Ali.

**********

Lagi-lagi interogasi.
“Kamu nggak pengajian?”
“Ya ampun Bu…aku ini mau UAS,” papar Happy cemberut. “Tapi aku mau ngaji kok. Aku sudah kontak mas Ali dan teman-teman. Rencana mau jalan-jalan refreshing.”
Sampai siang, agennda pengajian itu ternyata gagal.
Ibu senewen.
“Kamu nggak ngaji lagi?”
“Lha mas Ali membatalkan. Katanya biar adik-adik belajar UAS.”

Oh,baiklah, pikir ibu. Mungkin Ali benar.
Dan senja itu, Happy mendapatkan kiriman manis dari Ali, beserta seluruh teman-teman pengajiannya : satu batang coklat Van Houten, dikirimkan langsung oleh Ali ke rumah-rumah adik binaannya.
Happy berseri-seri.
Ibu terpana.
“Apa kata Ali?” tanya ibu #kepo.
“Katanya, ini coklat buat temanku ngelembur belajar, Bu! Buat teman-teman yang lagi pada UAS, dikirimi juga!”

*******

Murobbi muda.
Kejahatan, keburukan, senantiasa ber –evolusi, ber-revolusi; kebaikan juga harus berpacu untuk dapat memikat sebagaimana dunia hedonisme demikian memukau anak-anak muda. Para ustadz yang berceramah di mimbar-mimbar tak akan menarik pemuda seperti Happy yang kreatif, kritis dan selalu ingin bertanya kenapa ia harus begini dan dilarang begitu.

Murobbi muda seperti Ali mungkin belum banyak, tapi harus terus dipupuk.
Tanpa sadar, Ali telah membantu Happy mengokohkan jati dirinya.
Ketika ibu menegur keras,” kamu kok nggak ngaji lagi???”
Happy tersenyum dan berkata, “ Bu, aku tadi terlambat pengajian dan sepertinya mas Ali sudah keburu pergi. Tapi aku meng iqob diriku karena kehilangan pengajian ini, dengan membaca al Quran lebih banyak.”
Mengapa Ali dapat mengubah Happy sedikit demi sedikit?

Mungkin puisi dari catatan perjalanan para pemuda Ikram dalam buku Travelog Tarbawi Kami dapat mewakili hubungan Ali dan Happy serta teman-temannya

Untuk mencintai, mengasihi serta menyantuni itu
Lebih meninggalkan kesan tarbiyah yang mendalam
Daripada sekadar berceramah dan
Menasehati tanpa memahami

Ali.
Murobbi muda.
Tetaplah lucu, gaul, dekat dihati adik-adikmu.
Perhatian yang kau berikan, membuat adik-adikmu memahami ukhuwah Islamiyah, lebih dari sekedar catatan.
freundschaft-moslemische-kinder-7945862

Kategori
Catatan Perjalanan Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY

Rendah Hati atau Rendah Diri ?

Salah tingkah rasanya bila orang memuji : wah hebat ya! Tulisanmu bagus! Anda luarbiasa!
Tak sanggup mendengar kata-kata pujian tersebut, sebab di belakang kesuksesan seseorang –termasuk saya- ada suami, anak-anak, keluarga, teman-teman, dosen, dan sekian banyak guru-guru kehidupan yang menghantarkan kita menuju kesuksesan. Maka, setiap pujian rasanya seperti sentakan tak pantas. Kita belum apa-apa.

lowself

Saya memilih menolak untuk dipuji; selain takut riya, ujub, sum’ah…rasanya masih banyak orang yang pantas mendapatkan penghargaan. Tulisan masih jauh dari sempurna. Prestasi biasa saja.

Suatu ketika, tibalah masa ujian praktek. Salah satu tahapan sebelum layak mendapatkan gelar Psikolog Klinis adalah melakukan case conference di suatu rumah sakit Jiwa terkemuka di Surabaya, di depan para dosen, pembimbing, Psikolog dan Dokter Jiwa. Bagaimanapun saya berusaha sebaik-baiknya, tetap terasa demikian kecil. Rasanya ada yang salah, meski kami tak tidur nyenyak berhari-harimenyantap sekian banyak jurnal, buku referensi dan buku sakti PPDGJ & DSM V. Rasanya ada yang kurang, meski seteliti mungkin membuat assessment. Rasanya ada yang keliru, meski secermat mungkin melakukan intervensi dan Psikoedukasi. Rasanya, tak pantas lulus dengan nilai terbaik meski berkali-kali pembimbing memberikan selamat bahwa presentasi saya sangat bagus dan meyakinkan hingga ia mengirim pesan singkat, “…terimakasih atas kerja kerasnya!”

Saya berkonsultasi kepada salah satu dosen kami, seorang doctor yang sangat berpengalaman di bidang klinis. Di luar dugaan, argumentasi saya dipatahkan dengan tegas. Ia, yang biasanya demikian lembut dan santai, tiba-tiba berubah menjadi demikian…marah. Mungkin tidak marah, tapi balik mengkiritk saya dengan tajam.

low-self-esteem
Percakapan kami kurang lebih demikian.
“Saya rasanya belum yakin dengan semua,” saya mengeluh.
“Lho, apanya yang belum yakin?” ia menyelidik
“Scoring, assessment, intervensi, evaluasi…semua…”
“Berarti selama ini kita bimbingan nggak ada hasilnya?”
“Oh…bukan begitu , Bu…,” aku terkejut sekali.

“Atau anda meragukan kami sebagai dosen, pembimbing dan semua institusi ini?”
“Bukan! Bukan begitu…”
“Hm, terus apa?” bu dosenmenatapku penuh selidik.
“Saya merasa…ada yang salah…kurang…ada celah…”
“Celah itu yang harus ditutup, tiap kali kita belajar dan maju ujian seperti ini!” tegasnya.
“Tapi…saya merasa sangat jelek…saya takut salah…”
“Anda merasa tidak mampu? Berarti anda tidak professional dan silakan kembali ke bangku kuliah S1!”
Terkejut. Tertampar. Terhenyak. Termenung.

“Siapa yang bisa mengelak dari salah?” ujar dosen menjelaskan. “Setiap orang bisa salah. Apalagi anda yang sedang belajar dan belum bergelar Psikolog. Tapi apa yang harus anda tekankan pada diri sendiri, anda harus yakin ketika melangkah. Ketika menegakkan diagnosis. Sekian banyak ujian yang harus dilalui adalah tahapan untuk menutup celah. Apa celah anda selama ini?”

Saya merenung.
“Saya…orang yang senang memperhatikan hal besar, tapi sering mengabaikan hal kecil. Saya merasa dapat menggali assessment dari tes WAIS, Rho, Wartegg, dsb…saya merasa observasi dan interview adalah hal sepele. Ternyata, saya mendapatkan gambaran utuh tentang klien dan keluarganya dari observasi dan interview.”
“Nah, itu jawaban dari celah yang telah anda dapatkan!”
Saya terdiam.
“Berarti…saya nggak boleh merasa rendah diri, nggak pantas, terus merasa salah?”
“Anda harus yakin berdiri di atas kebenaran ketika bersikap professional. Profesional dengan ilmu yang telah dipelajari, dengan pengalaman yang telah dijalani.”

images
Tanpa keyakinan, tanpa sikap professional, tanpa merasa utuh dan pasti dengan pijakan serta jalan yang dilalui; bagaimana bisa meyakinkan apalagi mempengaruhi orang di luar sana?
Itulah gambaran diriku.
Saya sering ingin merasa rendah hati karena tidak ingin dipuji, ternyata itu refleksi rendah diri. Dan rendah diri berarti kita tidak professional dengan ilmu dan pengalaman yang telah kita miliki, kita jalani selama ini. Manusia bisa saja salah. Psikolog, dokter, penulis, polisi, hakim , presiden dan seterusnya. Apakah ketika seorang dokter melakukan diagnosis yang berbeda-beda pada pasiennya; ia serta merta dianggap malpraktek?

Dokter A berkata ia alergi, dokter B berkata ia ISPA, dokter C berkata batuk biasa, dokter D mengatakan radang paru-paru. Mungkin analogi ini salah, tapi tak ada yang menuntut semua dokter melakukan malpraktek. Mereka dituntut malpraktek ketika tidak melakukan langkah sesuai prosedur, missal melakukan operasi tanpa izin keluarga pasien atau pasien tak tahu efek samping obat.

Seorang Psikolog A boleh jadi mendiagnosa seorang anak hiperaktif, psikolog B ADHD, psikolog C autis, psikolog D hanya mengatakan gangguan perkembangan biasa , psikolog E mengatakan anak tersebut hanya mencari perhatian orangtua.

Apakah semuanya tidak professional? Ketika mereka melakukannya sepenuh dedikasi, sesuai ilmud an pengalaman yang dimiliki, maka semuanya tetap dalam koridor profesionalisme.

Demikian pula terhadap semua profesi kita, antara lain penulis. Janganlah rendah diri ketika orang bertanya, “ apa sih kehebatan novel anda? Apa yang ingin anda jual dari tulisan anda?”

Dan Brown, memiliki pemikiran brillian ketika suatu hari mendengar para professor seni menjelaskan lukisan the Last Supper. Ia berkhayal tentang spionase, tentang rahasia di balik simbol-simbol. Seluruh mahasiswa di kelas itu, berpuluh-puluh orang mengkaji tentang the Last Supper. Semuanya paham tentang lukisan tersebut. Tetapi Dan Brown tak mundur untuk menuliskan novel yang controversial tersebut. Sebab ia berpendapat, “ hanya orang di ruangan ini yang tahu makna the Last Supper dari professor Seni. Jutaan orang dil luar sana belum mengetahuinya!”

Jangan takut berkarya.
Jangan takut melangkah.
Jangan takut salah , meski harus jujur dan memperbaiki diri.
Bersikaplah professional.
Dan buang rendah dirimu!

Kategori
Catatan Perjalanan mother's corner Oase

Ungkapan hati seorang Nenek 73 tahun mengenai sosok Capres Prabowo Subianto

Kekagumanku pada beliau bukan hanya sekarang, bahkan semenjak aku masih menjadi mahasiswi di sebuah Perguruan Tinggi Negeri Yogyakarta.
Kusaksikan semenjak mengemban tugas sebagai prajurit sampai melesat menjadi Danjen Kopassus (yang sebelumnya bernama RPKAD, Pasukan Baret Merah yang saya banggakan itu) karena prestasi-prestasinya, sampai akhirnya menjadi Pangkostrad.
Sering prestasi yang beliau capai dikait-kaitkan dengan opini, “itukan karena beliau adalah menantu Presiden!!!”
Pada pandangan saya beliau adalah seorang gentlemen. Seorang yang selalu “ menggenggam” nilai-nilai kebenaran dan keadilan dalam situasi apapun.
Saya sangat bangga sebagai orang Indonesia yang saat itu memiliki pasukan TNI AD / Kopassus yang sangat ditakuti lawan-lawan negara.
Kekaguman saya semakin bertambah pada saat terjadi peristiwa kerusuhan di tahun 1998 , dimana beliau saat itu ada dalam arus pusaran peristiwa tersebut.
Sebagai menantu presiden ( yang sedang ada dalam akhir kekuasaan) dan sebagai prajurit, yang tugasnya sebagai pembela negara dan pemersatu bangsa (NKRI) dilemma itu tentu saja beliau alami sangat sulit.
Tapi lagi-lagi saya menyaksikan betapa dengan kokohnya beliau masih memegang nilai-nilai kebenaran itu , meski terfitnahkan dimana-mana.
Alhamdulillah saya tidak termakan oleh fitnah itu. Dan saya saat itu tetap yakin bahwa tujuan beliau adalah benar.
Tapi saya sangat sedih ketika beliau diberhentikan (dengan hormat) dari TNI AD. Hakekatnya bersalahkah beliau??? Kalau tindakan-tindakannya saat itu untuk menyelamatkan NKRI? Batinku bertanya.

Tentu saja dengan pengorbanan perasaan yang sangat besar. Beliau hadapai pemberhentian tugas itu dengan tegak, tegar dan percaya diri bahwa beliau sekedar memperjuangkan kebenaran demi NKRI.
Lama aku tidak mendengar kabar beliau. Kabarnya , beliau ada di negeri orang karena penguasa negeri itu adalah sahabatnya (beliau banyak sahabat-sahabatnya).
Beberapa tahun kemudian, kusaksikan dilayar televisi, beliau diangkat menjadi ketua HKTI…aku bertanya : mantan Jenderal, mengurusi tani dan nelayan??? Alangkah mulianya dan merakyatnya beliau!!
Kemudian kusaksikan ada Partai Baru “GERINDRA” di bawah pemimpin beliau. Aku ingin ikut bergabung, tapi aku tahu diri, aku sudah bukan anak muda lagi.
Tapi aku sedih ketika pilpres tahun 2009; beliau “hanya” mencalonkan diri sebagai wakil; padahal saya yakin, beliau lebih hebat dari capresnya. Tapi sungguh ini sebuah hikmah bahwa saat itu yang terpilih adalah bapak SBY.
Dan sekarang beliau menyadari bahwa rakyat Indonesia membutuhkan beliau dan dengan sigapnya layaknya sikap seorang prajurit mencalonkan diri sebagai Presiden.

Bravo, Pak.
Tentu saja aku memilih capres no 1.
Semoga Allah meridhoi. Amin. Amin. Amin.

Siti , Nenek dari 10 cucu
Lulusan sarjana Farmasi 1973, Yogyakarta

Surat utk prabowo 1

Surat utk Prabowo

Kategori
Cinta & Love mother's corner Tulisan Sinta Yudisia

Mari Berpolitik!

Pernahkah anda mengajarkan si kecil berpolitik?
Bagaimana mungkin mengajarkan anak di bawah umur untuk memilih partai, anggota legislatif dan memahami cara politik bekerja! Tentu, bila makna politik dipersempit sebagai cara seseorang mendapatkan posisi dalam pemerintahan, kita tak mungkin mengajarkan anak SD berpolitik.
time-young-voters

Perilaku seseorang tidak dibentuk hanya dengan sekali kejadian. Mengapa seorang anak takut kecoak dan berseru girang melihat kucing, apalagi gajah dan jerapah? Secara logika, jika takut melihat kecoak, maka akan semakin takut melihat binatang yang jauh lebih besar. Proses berpikir, adaptasi, modelling dan seterusnya membentuk perilaku hingga setelah dewasa pun, kita berseru jijik dan gemas melihat kecoak. Padahal cukup sekali injak, gepenglah ia.

Stereotip tentang polisi pun demikian.
Sejak kecil, ketika si anak susah makan, ibu akan berkata ,”awas, nanti Mama panggilkan polisi!”
Tak cukup hanya itu, si kecil menyerap demikian banyak informasi dari sekitar, ketika percakapan orang dewasa terjadi ,” pakai helm, biar gak ditilang polisi!” atau ,” ah, terobos lampu, gak ada polisi di perempatan jalan kok.”
Sosok polisi yang jahat, nakal, ditakuti menjadi terpatri dalam benak dan demikian sulit bagi kita mengubah citra polisi padahal masih banyak polisi yang baik dan jujur di tengah masyarakat.

Belajar Dialog
Suatu ketika si kecil menangis sesenggukan.
“Aku nggak mau ngomong lagi! Tiap kali berantem, mesti aku yang dimarahin! Aku mau diem aja!”
Rupanya, si kakak yang sudah pintar argumen berhasil menyudutkan si kecil hingga ia yang tak tahu harus bicara apa lagi, hanya bisa menangis. Ada kalimat berbahaya yang diungkapkannya, sebagai makhluk tertindas , “aku nggak mau ngomong lagi!”
Seolah-olah, dalam kondisi kalah dan tak berdaya, pilihan tidak bicara adalah jalan satu-satunya.
“Eh, Nis harus bicara.”
“Nggak mau!”
“Nanti tambah mangkel lho, tuh lihat, karena nggak mau ngomong air matanya jadi bercucuran begitu. Berarti hati Nis marah kan!”
“Nggak mau!”
“Mas tadi ngomong jelek ke Nis ya?”
“Nggak mau! Pokoknya nggak mau!”
“Sini peluk Ummi dulu,” aku menghapus airmatanya dan menenangkan di bahu.
“Aku dibilangin: telingamu buat apa sih? Dikasih tau nggak mau dengar…”

Dan mengalirkan cerita dari mulut si kecil yang bagi kita sangat amat sepele.
Tahukah anda, bahwa tahapan ini kita tengah mengajarkan si kecil berpolitik, sebagaimana kata Charles Blattberg yang mengatakan bahwa politik adalah merespon konflik dengan dialog?
Kita membiasakan di tengah keluarga bahwa yang kecil tak harus mengalah dan bersedia di tindas. Begitupun yang besar, tak boleh sewenang-wenang, boleh berlaku seenaknya sendiri meski ia berada di pihak yang benar.

Belajar Mendapatkan Sesuatu
Si kakak ingin burung hantu.
“Aku mau melihara burung hantu. Pokoknya aku kepingin banget! Aku dah bosan melihara ikan, Ummi.”
Tentu, ayahnya marah. Sebab kami pernah memelihara kelinci, kucing, hamster yang hasilnya…mati semua. Hanya ikan-ikan yang masih bertahan : koki, kuhli, ikan pedang, ikan gelas dsb yang perlahan juga wafat satu demi satu. Tapi alasan si kakak ,” dulu kan aku masih kecil, makanya hewan-hewan pada mati. Sekarang aku sudah besar. Aku mau melihara burung hantu. Seperti Soren, dalam Guardian of Gaa’hole!”

Kukatakan pada si ayah bahwa kita tak boleh mengebiri begitu saja keinginan seseorang. Justru kita harus bantu, sejauh mana ia mampu mewujudkannya, dengan cara yang realistis.
“Oke. Kamu boleh searching di internet, cari berapa harganya, apa makanannya, bagaimana cara memeliharanya.”
Si kakak rajin mencari di internet, kaskus dan bermacam-macam situs. Ia mendapatkan informasi berapa harga burung hantu sepasang, berapa harga jangkrik, berapa harga glove atau sarung tangan hantu. Si celepuk atau burung hantu ini hanya melek di malam hari, bisa disuapi di waktu malam. Jadi si kakak bisa merawatnya sepulang sekolah.
Semua informasi siap. Tempat membeli sudah diketahui.
“Jadi, kapan kita beli?” kata si kakak.

Itulah. Permasalahan terakhir adalah permasalahan budget. Harga 500 ribu lumayan mahal untuk memelihara hewan. Berbeda dengan koki mutiara yang hanya 25 ribu dapat beberapa buntal.
“500 ribu, Mas? Bagaimana kalau kita mencicil? Kamu menyisihkan dari uang sakumu?”
Kalau ia mau tidak jajan, jalan kaki, tidak boros uang, mungkin sebulan bisa menabung 50 ribu dan dalam setahun ke depan bisa membeli si Celepuk. Atau,
“perbanyak sholat. Banyak menghafal Quran. Ummi sering dapat rezeki mendadak lho dengan banyak berdoa.”

Anak-anak sering kuceritakan keajaiban doa safar, keajaiban sedekah, dan bagaimana ketika memohon bersungguh-sungguh; impian dapat terkabul. Impian yang kecil sekalipun.
Apa yang dipelajari kakak dalam proses membeli burung hantu itu adalah proses yang digambarkan Harold Laswell tentang politik : siapa mendapatkan apa, kapan dan bagaimana. Kita mengajarkan anak-anak yang lebih besar untuk menghormati yang lebih kecil, mengajarkan mereka untuk bertahap memperoleh sesuatu. Tak ada yang instan, semua harus di program dengan baik, butuh step by step meraih apa yang diinginkan.

Belajar Memimpin, Belajar Dipimpin
Dua kakak telah duduk di bangku SMA.
Belajar organisasi, belajar interaksi. Pembentukan karakter di masa ini sungguh-sungguh punya relasi dengan dunia politik. Suatu ketika kami dipanggil sekolah karena ananda tidak mengumpulkan beberapa tugas. Masa sih? rasanya, putri kami termasuk orang yang perfect dalam urusan akademik.
Ternyata, si kakak putri punya tugas kelompok dan ia menjadi ketua. Akibat karakter perfectnya, ia tidak bisa mendelegasikan tugas.
“Soalnya si ini gak punya laptop, si ini gak ada bukunya, si itu bla bla bla…”
“Kak,” tegurku. “Sekalipun papermu nilanya 100 atau A, tapi kamu kerjakan sendiri, percuma. Biar saja teman-temanmu sulit baca referensi in English, hanya bisa copy paste, gak bisa bikin struktur kalimat yang bagus dan seterusnya; lalu nilai paper kalian hanya dapat 70 itu jauh lebih baik. Karena saat ini kamu sedang belajar berkelompok, bekerja sama. Kecuali kalau tugas individual, kerjakan ngotot dapat 100 ya nggak masalah.”
Di lain pihak, si kakak yang satunya, mau aja diminta mengerjakan beragam hal.
Urunan ini, urunan itu. Beli ini, beli itu. Kerjakan ini, kerjakan itu.
“Lha, kok kamu capek banget sih kayaknya di organisasi X.”
“Aku kan nggak bisa enak-enakan, meski aku cuma dapat seksi gak penting, Mi.”
“Tapi kamu harus bisa memilah, mana yang harus ditaati. Nggak semua permintaan kakak kelas dituruti kalau itu di luar budget, di luar kemampuan.”
Kukatakan, dalam rapat-rapat, si kakak jangan hanya jadi pendengar saja.
“Kamu sekali-sekali mengajukan pendapat, usul. Suatu saat, kakak yang harus bisa me- manage teman-teman. Jangan hanya bersedia jadi pelaksana. Makanya, ayo belajar berpikir.”

Belajar politik ala Confucius, bahwa politik berarti kecukupan makanan, kekuatan militer, mendapat kepercayaan rakyat. Terlibat dalam organisasi sejak masih SMP atau SMA dalam OSIS atau kegiatan ekstrakurikuler lainnya, bertanggung jawab pada salah satu seksi, menjadi ketua panitia atau ketua organisasi berarti belajar politik ala Confusius – meraih kepercayaan orang lain , menjaganya.

Mendorong Anak-anak Berpolitik
Politik tidak hanya sekedar pencoblosan saat pemilu. Politik tidak hanya sekedar hingar bingar kampanye. Politik bukan cukup pasang baliho dan spanduk. Belajar politik, terutama bagi anggota keluarga dapat dilakukan dimana saja, dengan media apapun yang dimiliki.
Ketika menonton film Korea bersama anak-anak, itu adalah ajang politik keluarga. Kami terharu bersama, menangis menikmati penggal I am a King atau Masquerade; kisah tentang orang biasa yang memiliki wajah mirip dengan raja, lalu bertukar tempat karena satu insiden. Bagaimana raja dan putra mahkota yang pengecut, belajar banyak dari rakyat yang pura-pura menjadi raja. Seorang rakyat terkadang memiliki keberanian dan kebijaksanaan yang tak terbayangkan. Saat berhadapan dengan menteri yang korup dan ditakuti, sang raja berkata,
“ …karena orang-orang seperti engkaulah, Joseon ditindas oleh kerajaan Ming!”

Menonton Tae Guk Ki , Berlin’s File , The Man From Nowhere atau serial the Great Queen Seondeok ; menikmati tayangan music Korea, melihat jajaran restoran Dim Sum di pinggir-pinggir jalan kami bertanya-tanya : bagaimana mungkin dalam jangka waktu tak kurang dari 20 tahun Korea Selatan merangsek seperti ini? Merajai dengan makanan, film, musik, budaya, barang elektronika dsb?
Budaya adalah produk masyarakat. Bersama budaya ada seni sastra, seni musik, seni teater dan drama, film, kuliner dll.
Saya berpesan kepada anak-anak,
“suatu saat kalian harus buat film serial sebagus the Great Queen Seondeok. Ada banyak peristiwa sejarah yang bisa difilmkan kolosal dan spektakuler , perang Badar dan perang Uhud, misalnya. Atau kisah Walisongo, perang kemerdekaan, perang Diponegoro dan sebagainya.
Kalian harus bikin grup musik yang mengangkat tema batik. Lihat, budaya Korea dengan oplas nya begitu diminati anak muda.”

Setiap pulang dari perjalanan, saya bercerita tentang daerah tersebut kepada anak-anak. Betapa di Gaza, Palestina yang terblokade, angkutan umum terdiri dari mobil bagus dan nyaman. Betapa Gaza berusaha mandiri dengan apa yang dimiliki, tidak melulu bergantung pada bangsa asing.
“Suatu saat nanti, Anak-anak, kalau kalian memimpin, semoga kalian membawa Indonesia lebih baik. Membawa Indonesia seperti yang diimpikan Sayyid Quthb : akan ada sebuah negeri yang menjadi mercusuar dunia. Negeri muslim yang kaya.”

Jadi, berpolitiklah dari sekarang.
Jangan bekukan politik hanya di era 5 tahunan, dalam kotak-kotak kepentingan. Jangan termakan propaganda dan tendensi media tertentu. Kita bangun politik mercusuar, dari rahim rumah-rumah kita. Anak-anak bangsa yang bijak bestari, berani bersuara, tangguh dalam pentas dunia, cerdik mengelola masalah, pandai menemukan solusi.

Menjelang 2014, bentuk persepsi anak-anak dengan informasi yang membangun character building. Jangan biasakan caci maki, jangan biasakan stigma. Katakan bila kita memilih seseorang, kita harus tahu kredibilitasnya, harus tahu apa program kerjanya. Mungkin anak-anak belum tahu betul tentang politik, sebagaimana filosofi politik ala Plato dan Aristoteles. Tapi kita bisa bangun pemahaman mereka tentang politik, sebagaimana Sultan Murad saat mendidik al Fatih, the Conqueror – tentang Konstantinopel.

Mari ajarkan anak-anak berpolitik.
“Nak, Indonesia ini kaya. Negeri ini milik kalian. Suatu saat nanti, ketika kalian besar, kalian yang akan mengelolanya. Maka, belajarlah dari Umar, saat memimpin ia masuk ke pasar dan blusukan hingga daerah-daerah. Belajarlah dari Abubakar. Belajarlah dari Shalahuddin al Ayyubi.”

Anak-anak kita belum faham betul tentang partai.
Tapi anak-anak mulai belajar untuk bersuara, menyatakan pendapat, berdialog dengan baik, tidak pragmatis. Dan, karakter kepemimpinan termasuk pemimpin politik, kita bangun di sini, dalam ruang-ruang rumah kita. Di Quran yang dihafalkan. Di meja makan. Di kamar. Di depan televisi. Di halaman-halaman buku yang dibaca dan didiskusikan bersama.

Kategori
Bunda Cantik. Beautiful Mother Catatan Perjalanan Cinta & Love mother's corner Rahasia Perempuan

Poligami : Rijal yang Qowwam, Ketangguhan istri Pertama, Ketulusan istri Kedua

Masih ingat tentang keajaiban doa safar?
Setelah beberapa kali bertemu teman perjalanan yang kurang mengenakkan, akibat saya juga meremehkan doa safar, saya lalu bersungguh-sungguh berdoa setiap kali melakukan perjalanan keluar kota : semoga diberikanNya teman sholih dan sholihah. Alhamdulillah, Allah SWT mengabulkan doa-doa. Di beberapa perjalanan, teman duduk saya orang-orang yang luarbiasa.
Beberapa sudah saya tuliskan secara singkat :
1. Pemuda sholih, kakak beradik hafidz
2. IRT pengusaha sukses
3. Tukang becak, cucunya hafidz
4. Seorang teman lama, istri ke-2
Kali ini, saya ingin melukiskan pengalaman istimewa yang subhanallah…betul-betul sebuah skenarioNya.

Jakarta , terdampar menunggu Shubuh
Moga bukan dislexia. Atau rabun. Atau apalah.
Akhir-akhir ini saya suka salah baca tulisan. Ikut lomba menulis, bolak balik lihat persyaratan, 1-5 halaman. Setelah dikirim, ternyata 5-10 halaman! Bolak balik salah lihat jadwal kuliah. Yang terparah, bolak balik lihat jadwal Jogja Muslim Festival, tertera pagi hari. Akhirnya mengiyakan panitia Medan untuk mengisi acara pagi hari berikutnya. Ternyata…, acara Jogja sore hari. Terpaksalah jadwal pesawat dicancel, diubah, dan terpaksa terdampar di bandara Soetta dari jam sebelas malam hingga Shubuh esok harinya.

Shubuh, setelah check in dan duduk di waiting room, wajah ini bertatapan dengan seorang perempuan berjilbab kuning. Dia dan saya sama-sama terdiam beberapa detik.

poli

Kami telah berpisah 15 tahun yang lalu! Setelah perasaan saya demikian lelah, harus berlomba dengan waktu, memikul ransel, dan yang paling menyebalkan menggerutu mengkritik diri sendiri yang berulang kali salah melihat simbol angka ; rupanya ada rahasia di balik semua kesalahan-baca-ini. Di balik tiket yang terpaksa berganti jam. Di balik jadwal yang amburadul berantakan. Di balik nafas ngos-ngosan memburu waktu di bandara Adi Sucipto, Soetta, Kualanamu.
Lalu kami berdua sama-sama terpekik, bersalaman, cipika cipiki dengan perasaan rindu membuncah.
Mari, kita simak kisah kasih 3 insan yang terpatri dalam cinta unik. Nama saya samarkan dengan Raffi, Yuni, dan Shara.

Bila cinta dalam ikatan dakwah
Shara seorang perempuan cerdas sholihah berputra satu. Suaminya meninggal di saat usianya masih demikian muda, kecelakaan yang mendadak. Aku masih ingat bagaimana Shara demikian tegar, sementara kami yang takziyah menangis tak henti-henti. Suami Shara seorang lelaki sholih, baik akhlaqnya, dai yang tiada duanya.
Bertahun-tahun kemudian aku mendapat undangan pernikahan Shara. Ia dilamar seorang lelaki berkedudukan, sebagai istri kedua. Konon, lelaki itu –Raffi- meminta istri pertamanya Yuni untuk mencarikan istri kedua. Yuni pun menemukan Shara dan mereka sepakat bertiga untuk mengikat diri dalam ikatan cinta yang sah, dalam naungan lazuardi dakwah.

15 tahun kemudian aku bertemu Shara.
Tentu, insting perempuanku berusaha ingin tahu. Aku menyebutnya Kakak.
“Kakak tinggal di…?”
“J.”
“Suami kak Shara dimana?”
“Ya di J juga dong dek,” Shara tertawa.
Kamis atu pesawat. Duduk berdampingan. Dan mengalirlah kisah indah yang demikian ingin kutuliskan secara khusus untuk sebanyak mungkin orang. Meski sebagai perempuan sampai kapanpun tak akan bisa menerima alasan poligami, kisah Raffi, Yuni dan Shara pantas untuk direnungkan.

Kunci poligami
Shara telah menyelesaikan studi S3nya. Kami bertukar nama, di depan namanya tertera gelar doktor. Ia seorang perempuan yang aktif, dengan segudang kesibukan. Aku yakin, pernikahan mereka tentu tidak seindah si cantik cerdik Shahrzad mengisahkan 1001 malam ke telinga raja Persia.
Pasti ada yang indah.
Pasti ada yang seru.
Pasti ada yang heboh.
Dan kita, sebagai perempuan, senang mendengar ksiah dramatis, melankolis, terutama sisi konflik yang meruncing kan?
Penasaran dengan kisah cinta segitiga, aku langsung bertanya. Beruntung, Shara sangat bijaksana melayani rasa ingin tahuku. Teori, selalu lebih simple daripada praktek. Teori, selalu jadi kambing hitam bila prakteknya bermasalah. Bagaimanapun, teori adalah penyederhanaan fakta di lapangan. Kisah Shara boleh jadi terdengar teoritis bagi sebagaian kalangan, tapi demikianlah yang dialami Shara.
Raffi mampu menjaga keharmonisan hubungan dengan Yuni dan Shara. Tentu ada friksi disana sini, masing-masing punya cara khas mengatasi masalah.

Raffi
Usianya terpaut 20 tahun dari Shara. Raffi adalah seorang lelaki yang matang. Dalam pandangan Shara, Raffi mampu menjadi qowwam bagi keluarga istri pertama dan kedua. Raffi mampu mendidik Yuni, sekalipun tidak mengabaikan sisi-sisi manusiawi Yuni yang mudah meradang saat berada di posisi istri pertama.
Raffi tahu, bahwa menikah untuk yang kedua kalinya , secara syariat tidak membutuhkan izin dari istri pertama. Lagipula, mana ada istri yang mengizinkan? Tapi Raffi memilih untuk tidak sembunyi-sembunyi, dengan alasan agama atau dakwah sekalipun. Raffi mendiskusikan secara terbuka dengan Yuni keinginannya untuk menikah lagi, di saat putra putri mereka telah berjumlah 5 dan kondisi keuangan keluarga sangat mapan. Raffi meminta Yuni yang memilihkan.

Bukan mudah mencari pasangan bagi Raffi dan Yuni.
Yuni mencari-cari dan akhirnya menemukan Shara, janda beranak satu yang tangguh. Raffi mendiskusikan terbuka dengan seluruh anggota keluarga, di saat anak-anak beranjak remaja. Alhamdulillah, semua terbuka untuk menerima Shara.

Yuni
Yuni adalah perempuan cerdas berpendidikan tinggi. Berdasar cerita Shara, ia perempuan yang sangat dominan. Dalam tahun-tahun pertama pernikahan Raffi dan Shara, Yuni benar-benar memegang kendali keluarga. Keuangan, pembagian hari, semua berada di tangan Yuni. Raffi lebih banyak berada di rumah Yuni, ketimbang di rumah Shara. Kadang, Yuni juga tidak bisa menghindari gesekan dengan Shara. Apalagi rumah mereka juga bertetangga.
Shara
Ketulusan dan upaya memahami, rupanya salah satu kunci Shara mampu menjaga stabilitas keluarga Raffi dan Yuni.
“Kakak tau, Sin,” ujarnya, “ kakak juga banyak belajar dari para istri yang dipoligami, bahwa tahun-tahun pertama adalah masa yang sangat sulit. Maka kakak ambil posisi mengalah, kakak lebih banyak mundur jika ada keputusan harus diambil suami istri.”
Shara mengalah dalam masalah hari. Shara mengalah dalam masalah keuangan. Untungnya, Shara punya penghasilan sendiri. Apalagi Shara menyadari, anak-anak Yuni berjumlah 5 orang dan semuanya membutuhkan perhatian moril dan materil.

Ketulusan, sikap mengalah Shara membuat Yuni juga melunak.
Di kemudian hari, Raffi bisa membagi hari antara Yuni dan Shara masing-masing setiap 2 hari. Ketika anak-anak Yuni mulai lulus kuliah, Shara meminta kepada Raffi dukungan materi kepada anak-anaknya (dari Raffi, Shara mendapatkan seorang putra). Yuni dan putra putrinya tak keberatan dengan permintaan ini.

Shara punya beberapa tips untuk mengatasi friksi saat menghadapi Raffi dan Yuni :
• Ketika landasan awal adalah niat ibadah kepada Allah SWT, niat karena dakwah, insyaAllah guncangan yang terjadi akan kembali mereda setelah masing-masing merenungkan niat awal kembali. Berbeda yang main kucing-kucingan. Sekalipun dalam agama dibenarkan, menurut Shara, musyawarah akan menimbulkan kebaikan. Terutama dampak bagi anak-anak.
• Jika Yuni menyakiti hati Shara, Shara tidak serta merta membalasnya. Di saat Shara berkunjung ke suatu daerah untuk urusan tugas atau dakwah, Shara selalu membelikan oleh-oleh untuk Yuni. Bila sakit hati Shara belum sembuh, Shara akan menitipkan buah tangan kepada Raffi dan mengatakan, “titip untuk kak Yuni ya.”
• Shara membiasakan menulis surat untuk Yuni, dalam kesempatan-kesempatan istimewa ataupun saat mereka punya masalah. Shara menuliskan “terimakasih telah berbagi kebahagiaan” atau “terimakasih telah berbagi cinta.” Shara sangat menghindari perkataan “terimakasih sudah mengizinkan bang Raffi…” . Sebab bagi Shara , kata MENGIZINKAN akan melukai perasaan Yuni. Yah, siapa yang mengizinkan? Atau bila mengizinkan, tentu dengan perasaan gundah, sakit yang luarbiasa dan kata-kata itu hanya akan menuding : nah, kamu kan udah ngijinin suami kamu nikah lagi.
• Shara senantiasa berkata pada anak-anak Yuni : Ummi memang bukan ibu yang melahirkan kalian, tapi kalian adalah anak-anak Ummi. Kelak, ketika Ummi meninggal maka anak Ummi A dan B hanya akan memiliki kalian sebagai saudara. Begitupun sebaliknya. Alhamdulillah, anak-anak Yuni dan Shara bersaudara layaknya saudara kandung.

Saya yakin, tak mudah menjalani kehidupan sebagai Raffi, Yuni dan Shara.
Membayangkan suami kita berbagi dengan perempuan lain, tak sanggup rasanya. Tapi saya sungguh terkesan dengan ucapan Shara yang memuji suaminya.
“Kunci poligami memang ada di suami, Sin. Jika ia mampu menjadi sebenar-benar qowwam, sebenar-benar pemimpin yang bijak dan mampu membimbing keluarga; insyaallah akan baik. Meski semua ada kendala, insyaallah tetap teratasi.”

Saya, mungkin seperti anda , perempuan kebanyakan. Tak akan berpikir poligami. Namun semenjak bertemu Shara kembali, ada denyut lain dalam doa. Semoga Allah SWT senantiasa menjaga orang-orang seperti Raffi, Yuni dan Shara; menjaga setiap keluarga yang senantiasa berupaya berada dalam jalan kebaikan.

Kategori
mother's corner Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY UNTAG, My Campus

Gagal + Terlambat + Semangat = Hasil Positif

Apa yang harus dilakukan manusia saat target tak tercapai, pencapaian tak sempurna, hasil yang diupayakan pun tak sukses alias gagal?
Saya pernah mengalami masa-masa ketika ingin berhenti di satu titik. Beranggapan bahwa gagal ini mungkin pertanda harus berhenti, atau berganti haluan. Setelah semester demi semester kuliah Psikologi Alhamdulillah mendapatkan IP 4 atau 3, 8 , saya berpikir ; sebentar lagi cepat selesai. Cum laude. Lanjut S 2 dan yah, sikap pragmatis manusia : segera bantu-bantu suami bersikap produktif untuk biaya sekolah anak-anak .goodwork
Sebab suami sudah wanti-wanti ,” Ummi, kalau kuliah sudah mengorbankan banyak hal. Tenaga, uang, waktu. Harus maksimal hasilnya.”
Ketika beberapa kali saya dapat beasiswa sebagai mahasiswa teladan, suami bersyukur. Tapi ada suatu masa saat mengerjakan skripsi, benturan-benturan terjadi.
Mereka yang IP nya jauh di bawah saya, melaju demikian cepat.
1 semeter. 2 semester.
Saya terhambat.
Bukan karena malas, tidak pernah mengerjakan. Tetapi ada beberapa kendala teknis yang membuat saya bertanya pada Tuhan : bukankah saya berdoa setiap kali waktu istijabah, agar lulus tepat waktu sehingga efisien di sana sini?

Titik Tolak
Penelitian saya memang cukup simple, dengan subyek yang agak rumit.
Hubungan Communication Skill dengan Psychological Well-Being pada Tunarungu.
Banyak yang membahas ketrampilan berkomunikasi. Banyak pula yang membahas PWB atau disisi lain Subjective Well Being (SWB). PWB adalah skala untuk mengukur derajat kebahagiaan yang diteliti dan dirumuskan oleh Carol D. Ryff, professor psikologi dari Wisconsin University, USA.
Permasalahan mulai timbul ketika hal-hal sederhana yang saya bayangkan, cukup sulit dilapangan. Saya memiliki subyek cukup banyak tunarungu untuk anak-anak. Ternyata anak-anak belum dapat merasakan kebahagiaan secara riil, maka saya harus hunting subyek remaja-dewasa. Berurusan dengan birokrasi. Berhadapan orang-orang tipe “lama” yang enggan bekerja professional bila tidak diberi gratifikasi. Dan, kesulitan terbesar adalah harus menerjemahkan bahasa Ryff ke dalam bahasa tunarungu.

Saya belajar sedikit-sedikit signal language.
Kamu cantik. Terima kasih. Sama-sama. Siapa namamu. Pusing. Bingung. Assalamualaykum. Wa’alaykumsalam. Kamu harus rajin. Kamu tidak boleh bohong.

Lelah sekali.
Apalagi berkejar-kejaran dengan ujian akhir anak-anak, tahun ajaran baru, deadline tulisan. Kalau begini caranya…apa saya mundur saja ya? Bukankah cita-cita saya pada awalnya mandiri financial sebagai pengusaha, penulis; bukannya habis-habisan untuk penelitian macam ini? Meski, jauh di lubuk hati, terselip keinginan-keinginan yang melambung jauh tinggi. Betapa inginnya menjadi ulama ilmuwan macam Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, yang tulisan-tulisannya saay baca hingga sekarang sebagai pengobat dahaga pengetahuan dan pencarian. Tidakkah saya ingin seperti mereka?

Buku. Membaca.
Menjadi penawar letih.
Saat mempelajari kisah Sigmund Freud, tokoh psikoanalis yang dipuja sekaligus dihujat, cukup membuat merenung. Seorang Yahudi, dalam masa sulit antisemit, dikungkung kesengsaraan Perang Dunia I dan masa-masa tumbuhnya ilmu psikologi yang belum pasti ; Freud terus menerus aktif menulis The Psychopatology of Everyday Life (1901) , Three Essays on The Theory of Sexuality (1905) , Totem and Taboo (1913) , Introductory Lectures on Psychoanalys (1916), Beyond the Pleasure Principle (1920), The Ego and Id (1923), the Question of Lay Analysis (1926), The Future of An Illusion (1927), Moses adn Monotheism (1930). Freud rajin mengunjungi pasien, sejawat dan anggota masyarakat untuk memperkenalkan psikoanalis.
Para ulama dan cendekiawan muslim tentunya mengalami hal serupa : menemui kesulitan, kebuntuan baik saat meneliti ataupun saat menuangkan gagasan dalam tulisan. Semua itu tak membuat mundur apalagi menyerah.
Mempelajari semangat Ibnu Rusyd, Al Kindi, Al Farabi, Khwarizmi, Piri Reis, Ibnu Sina dan banyak lagi ulama cendekiawan terkemuka membuat kita menyadari bahwa halangan yang ada saat ini mungkin tak senilai bila dibandingkan dengan zaman dahulu. Sekarang lebih mudah mengunduh informasi jurnal , membaca buku elektronik, men-delete tulisan, meng copy, mencetak dan seterusnya.

Di titik ini saya tersadar, bahwa cita-cita besar mustahil hanya berhadapan dengan sandungan batu kerikil. Samudra, bukit dan gunung, bahkan tanjakan ke langit akan ditemui para pemimpi.

RahasiaNya
Alhamdulillah, selesai sudah strata satu.
Setelah sebelumnya sempat maju mundur saat mendaftar fakultas psikologi : apa saya tidak terlalu tua untuk memulai menimba ilmu secara serius? Mengingat selama ini mengikuti suami berpindah dari satu kota ke kota lain, sehingga tak dapat memusatkan pikiran tentang up-grading diri. Saat anak-anak beranjak besar, satu tekad kuat bangkit : ini saatnya saya menimba ilmu kembali. Tak perlu berkecil hati terhadap ucapan orang lain. Suatu saat, kita buktikan pada dunia bahwa tujuan menjalani semua ini adalah demi tujuan mulia. Secara pribadi saya ingin menuntaskan ilmu psikologi hingga ke titik terdepan, terpuncak : agar saya memiliki hujjah kuat dalam melayani ummat.
Kepada siapa ummat bertanya tentang konseling keluarga, anak-anak gifted atau special needs, kenakalan remaja, atau bahkan untuk kasus-kasus ekstrim traumatic ; jika bukan kepada ulama muslim yang memahami? Bila kita tak ambil bagian sebagai ilmuwan muslim, maka ummat akan diterapi dengan pendekatan-pendekatan psikoanalis, behavior, humanistic yang mungkin di dalamnya mengandung pola-pola terapi yang sangat tidak Islami.

Ke depan, mungkin 10 atau 20 tahun lagi, saya ingin membangun Islamic Crisis Center, suatu pusat rehabilitasi dan penelitian bersadar ilmu pengetahuan berbasis Quran. Turki pernah memiliki rumahsakit di abad 15, sebuah rumahsakit yang para dokter dan terapisnya mampu membedakan penyakit qalbu dan ruh ; mana yang mental disorder (schizofren, dll) dan mana yang gangguan setan (semacam exorcist dan sejenisnya). Pendekatan ilmiah, dengan terapi yang mengedepankan pendekatan spiritual berikut kedokteran modern yang terpercaya baik secara fisik maupun psikis. Ya, mengapa kita tidak kembali membangun Pusat semacam itu?
Saya juga ingin seproduktif Freud, Jean Piaget, dll dalam hal menulis sehingga keilmuan mereka senantiasa ditelaah, dikritisi, diperbaharui, disempurnakan sepanjang waktu.

Alhamdulillah, rahasiaNya yang saya syukuri terbaca kini.
Penelitian hubungan Communication Skill dan PWB pada tunarungu, terpilih sebagai salah satu penelitian menarik oleh kampus dan insyaAllah pada November mendatang saya mempresentasikan penelitian tersebut pada International Conference Psychology in Helath, Educational, Social and Organizational Setting di depan pakar-pakar psikologi dari mancanegara. Mohon doa dari teman-teman sekalian. Langkah kecil ini, semoga awal dari sebuah tahapan langkah yang besar.
Batu-batu kerikil di masa lalu, rupanya Allah siapkan supaya saya lebih berhati-hati melangkah dan bersiap mengganti sandal dengan sepatu yang lebih kuat .

Kategori
Tulisan Sinta Yudisia

Setan Paling Menakutkan : Sadako Yamamura

Kuntilanak. Jelangkung. Tengkorak.Genderuwo. Dalbo. Vampire. Makhluk jadi-jadian macam apa yang akan membuat kita ketakutan setengah mati? Atau, apakah kejadian yang membuat anda percaya bahwa membaca 3 surat terakhir Quran : al Ikhlash, al Falaq, an Naas dapat menghentikan atau minimal – menghambat gangguan setan?
Sadako Yamamura.220px-Theringpostere

Sejak mengenalnya, entah mengapa saya semakin meyakini bahwa 3 surat terakhir al Quran adalah senjata ampuh penangkal gangguan setan.

Apakah yang menyebabkan ia begitu menakutkan, lebih mengerikan dari setan apapun yang pernah saya kenal sebelumnya? Apakah setan perempuan yang telah di filmkan dengan judul The Ring versi Amerika atau Ringu versi Jepang, demikian menyeramkan? Wajah busuk, rambut masai terurai, darah berceceran dimana-mana?

Bagi anda penikmat film horror, film-film Insidious, the Conjuring, The Reaping, The Ring, Skeleton Key, Silk, Coming Soon adalah film yang memanjakan mata, teriakan dan bulu roma. Tapi apakah film itu membuat anda tak bisa tidur, ketakutan, atau justru merasa santai karena sepanjang menonton film tersebut di bioskop anda telah melepaskan semua ketegangan dan tekanan hidup dengan bersama-sama berteriak tanpa malu : AAAAAAA!!!
Tapi percayalah, menonton film di bioskop, tidak meninggalkan jejak semengerikan ketika membaca novelnya.

Koji Suzuki (Ring) : Sadako Yamamura

Koji Suzuki meramu novel Ring dengan diksi sederhana, kocak dan tentu saja sebagaimana karakter orang Jepang pada umumnya : ilmiah. Apa yang menyebabkan novel horror ini istimewa justru karena setan yang dibawakan Suzuki bukan berasal dari dunia lain. Bukan berasal dari makhluk dari alam kubur, bukan berasal dari rumah angker atau pohon beringin yang berada di rumah tua.
Setan versi Koji Suzuki demikian ilmiah, masuk akal.

Dan bertransformasi.
Dari setan tradisional, kuno, konvensional, ortodhoks kepada setan yang lebih canggih, maju, modern dan berilmu pengetahuan.

Siapa Sadako?

Berawal dari kematian Tomoko Oishi, gadis berambut indah yang mati mengenaskan dengan tangan menjambak rambut. Diagnosis : serangan jantung. Di tempat lain seorang supir taksi, Kimura, tak sengaja tertubruk seorang pemuda bersepeda motor yang tiba-tiba mati dengan helm tak dapat dilepas darii kepala. Diagnosis : serangan jantung.
Benang merah cerita ini adalah Kimura.

Sopir taksi ini, sebulan kemudian menaikkan seorang penumpang ,jurnalis Daily News, Asakawa. Kimura bersemangat menceritakan kejadian sebulan yang lalu yang membuatnya terkejut, dan naluri investigative Asakawa mencatat detil cerita Kimura. Terlebih, Tomoko Oisi adalah keponakan Shizu, istri Asakawa. Penyelidikan Asakawa membawanya pada sebuah video tahun 50-60an. Sebuah video yang tampak asal-asalan, dengan potongan kejadian tak runut.
Gunung Mihara. Dadu. Bayi yang baru lahir. Seorang nenek dengan logat aneh. Ratusan gambar manusia. Dan seorang lelaki asing di akhir cerita. Asakawa tak mengerti makna pesan video, dan mengajak Ryuji –sahabatnya- menonton bersama. Ryuji seorang profersor brilian yang eksentrik. Saat keduanya menonton, ada rasa yang sama muncul. Letusan gunung Mihara terasa mengguncang sungguh. Dan bayi yang baru lahir…Asakawa dan Ryuji merasa tangan mereka berlumuran lendir licin.

Pesan terakhir video hanya pendek : kalian akan mati 7 hari dari sekarang, di jam yang sama, kecuali kalian melakukan hal yang diperintahkan.
Apa yang diperintahkan? Apa makna video itu? Mengapa saat menonton video itu…terasa seperti mengalami hal yang sesungguhnya?

ESP – extra sensory perception

Lewat penelitian yang menegangkan dalam ancaman topan badai, cuaca yang tak bersahabat dan pondok yang menyeramkan – pondok B-4-, Asakawa dan Ryuji menemukan mata rantai kejadian.
Tahun 50-60, Jepang diguncang oleh penemuan-penemuan okultisme, supranatural. Ini mengingatkan kita bahwa di era yang sama, semua sisi dunia sibuk berlomba menciptakan manusia mesin yang mampu menjadi serdadu tangguh, sebagaimana kabar burung bahwa Hitler menguji cobakan manusia super agar menjadi prajurit setia. Era ini menjadi latar belakang film-film fiksi ilmiah semacam Push, X-Men, dsb.
Berawal dari professor Ikuma yang meneliti orang-orang dengan kekuatan extra sensory perception, ia mengumpulkan ratusan orang dengan ESP istimewa dan menemukan seorang gadis 20 an tahun bernama Shizuko. Shizuko bukan hanya istimewa karena mampu meramal, tetapi juga membuat Ikuma jatuh cinta. Sayangnya, cinta mereka terlarang , Shizuko lalu dan hamil dan pasca melahirkan ia meninggalkan bayinya sementara kepada neneknya jauh di desa.

Hubungan Ikuma-Shizuko dipuja media, sebab mereka dianggap sebagai pasangan istimewa dengan kemampuan istimewa. Tetapi, public Jepang menginginkan sesuatu yang ilmiah. Mereka tidak begitu saja percaya kekuatan supranatural, sekalipun Shizuko berhasil meramalkan letusan gunung Mihara. Di depan 100 ilmuwan dan media, Ikuma dan Shizuko diminta mendemonstrasikan kekuatannya untuk menebak angka mata dadu yang tersembunyi. Shizuko menyerah, menangis dan berkata, “ aku tak sanggup lagi…”
Bagi Shizuko, kekuatan supranatural adalah sesuatu yang tidak dapat dikendalikan, hanya sesekali muncul. Tapi public dan media Jepang saat itu menganggap mereka berdua telah berbohong. Reputasi Ikuma hancur, Shizuko depresi berat. Ikuma pun meninggalkan Shizuko. Dalam kedukaan, Shizuko kembali ke kampung halaman, mengambil anaknya yang masih kecil, dan pergi menghilang begitu saja.
Siapakah anak Shizuko dan Ikuma?

Ialah Sadako Yamamura. Seorang gadis yang memiliki kemampuan ESP lebih tinggi dari sang ibu. Tetapi Shizuko melarang betul Sadako menggunakan kemampuannya, sebab tak ingin Sadako mengalami nasib serupa dirinya.
Cerita berkata lain. Akibat tekanan hidup, Shizuko bunuh diri dengan melemparkan diri mencebur di kawah gunung Mihara. Sadako yang kesepian tak memiliki siapapun, selepas SMA bergabung pada kelompok sandiwara Soaring.
Malapetaka mulai timbul.

Sadako, adalah gadis penyendiri yang punya bakat acting lumayan. Dan, Sadako Yamamura memiliki kecantikan sangat istimewa. Bertubuh ramping, dengan pergelangan ramping dan rambut hitam yang panjang, leher jenjang dan bentuk tubuh ideal. Setiap lelaki yang bertemu dengannya merasa tersirap. Bahkan, Asakawa merasa aliran yang merayap cepat ketika melihat foto Sadako.
Terkucil, sendiri, tak memiliki siapapun sebagai tempat berbagi, dengan kecantikan yang menyihir dan memenjara, membuat Sadako berada dalam jurang bahaya. Kepala sandiwara Soaring berusaha memperkosa, tetapi keesokan hari ditemukan dalam keadaan tak bernyawa : gagal jantung.
Sejak saat itu Sadako tak lagi diketahui kabar beritanya.

Kemana Sadako?

Penelitian Asakawa membawanya pada seorang lelaki lumayan tampan bernama dokter Nagao yang sudah berusia 50an tahun. Anehnya, Asakawa diliputi kebencian saat pertama melihat wajahnya, sebab wajah itu muncul di gambar tayangan terakhir dalam video!
Dengan desakan dan bukti dari Asakawa dan Ryuji, Nagao mengaku, kurang lebih demikian.
,”…suatu saat di Sanatorium, pertama kali aku bertemu Sadako. Ia mengunjungi Ikuma, ayahnya yang hampir mati. Aku sedang terkena virus cacar yang membuatku demam tinggi, lalu aku keluar dan melihat seroang gadis sedang menyandar di pohon. Cantiknya! Darahku tersirap. Aku mengajaknya menyepi, ke pondok, ke dekat sumur. Kalian boleh percaya atau tidak…tapi gadis itu membuatku…mempengaruhiku untuk..melakukan sesuatu. aku mencoba menodainya, dan lalu membunuhnya..Aku tak ingin melakukannya, tapi ia merasuki pikiranku hingga membuatku melakukan hal buruk tersebut. “

Nagao melanjutkan,”
“…Sadako sangat cantik…tapi aku tidak jadi menodainya sebab…”
Asakawa dan Ryuji terpana!
Virus asing yang tengah dipelajari para ilmuwan Jepang berada dalam tubuh Sadako! Testicular feminization syndrome.
“….dalam legenda kita disebutkan, bahwa kecantikan yang demikian rupawan adalah bila seorang makhluk memiliki dua jenis kelamin!”
Itulah mengapa Sadako demikian cantik rupawan. Itulah sebabnya gadis malang itu begitu ingin mati. Ia, yang memiliki kekuatan ESP menjelang ajalnya memindahkan semua gambar yang telah ia lalui atau ia perkirakan ke dalam tabung televisi, ke dalam gambar video, sebab itu kemampuan supranaturalnya : mencetak gambar di atas film meski tanpa alat apapun. Hanya menggunakan indera.

Asakawa dan Ryuji menuju pondok B-4, menuju sumur di sana, meluncur ke dalam dan mengambil tulang belulang Sadako. Jawaban atas gunung Mihara, dadu, lelaki yang ternyata adalah Nagao telah terjawab. Lalu bayi, Nenek, dan ratusan gambar manusia? Ah, mungkin saja sebagai perempuan Sadako sangat menginginkan anak meski kelaminnya adalah lelaki dan perempuan. Nenek itu adalah neneknya dan mungkin saja ratusan gambar orang itu adalah ratusan gambar orang yang telah ditemuinya.
Asakawa dan Ryuji kembali ke Tokyo. Merasa aman, mungkin itu yang diinginkan Sadako. Agar mereka menguburkan secara layak tulang belulangnya. Video itu adalah ekspresi kedukaannya pada dunia yang tidak adil.
Asakawa lega. Sepekan telah berlalu dari jam yang ditetapkan. Ia tetap hidup.

Ryuji?

Tiba di Tokyo Asakawa berpisah dari Ryuji. Asakawa tidur dengan tenang dan merasa semua telah berlalu. Hingga Mai, asisten Ryuji menelepon dan mengabarkannya bahwa Ryuji baru saja meninggal. Diagnosis : serangan jantung.
Kepanikan luarbiasa menyerang Asakawa.
Apa yang diinginkan Sadako? Bukankah ia telah melakukan penangkal yang diisyaratkan dan ditunjukkan oleh video? Mengapa Asakawa hidup dan Ryuji mati?
Apa yang telah dilakukan Asakawa sehingga ia selamat dari kutukan Sadako sementara Ryuji tidak? Apakah…Sadako membenci dan mengutuk umat manusia atas kehidupan yang sama sekali tak berpihak padanya, pada ayah ibunya, pada keseluruhan denyut nafasnya?

Asakawa menggigil, ketika tiba-tiba menyadari sesuatu. Ia tanpa sengaja telah melakukan penangkalnya! Serta merta, Asakawa menyambar telepon dan menelepon Shizu istrinya.
“Kau tanpa sengaja menonton video itu bersama Yoko! Lakukan apa yang kukatakan, cepat!”
Beberapa hari lalu, Shizu dan Yoko putri mereka menonton video itu tanpa sengaja.
Asakawa menangis.
Ia mengerti kini. Apa makna bayi yang baru lahir, apa makna ratusan orang-orang yang dicitrakan Sadako lewat kemampuan telekinesisnya ke dalam video.

Asakawa telah melakukan penangkalnya : mengcopy, menduplikasi video itu dan meminta Ryuji menontonnya. Itulah makna bayi dan ratusan orang-orang, seperti virus yang menimpa kelamin Sadako! Jika Shizu dan Yoko ingin selamat, mereka harus melakukan hal yang sama dan harus meminta ayah ibu Shizu menontonnya!
Asakawa berada dalam keputus asaan yang dalam. Apakah ia harus menyelamatkan Shizu dan Yoko atau menyelamatkan nyawa sekian banyak manusia? Apakah ia sanggup kehilangan Shizu dan Yoko? Dan kebencian, kutukan Sadako telah menemukan wadah berkembang biak seperti virus lewat media yang kemudian demikian dicintai manusia – era video, era digital, era visual.
Sebagai manusia Asakawa merasakan kepedihan, kekalahan dan kemarahan yang dalam atas kekalahannya pada setan Sadako. Sadako adalah representasi setan yang demikian canggih, pasukan gelap era millennium.

Bukan mencuri, menipu, berbohong, berkhianat yang merupakan bisikan dan godaan setan. Era itu sudah lewat. Setan bertransformasi lebih pintar dari yang diduga kebanyakan manusia. Sadako dan setan membujuk manusia untuk berbuat lebih.
Copy. Duplikasi. Biarkan dosa tak tertangkal dan menyebar seperti virus.
Akhir novel the Ring membuat saya ketakutan.
(Menonton filmya yang dibintangi Naomi Watts atau versi Jepang Ringu, yang menonjol justru tampilan setan perempuan berambut panjang. Padahal bukan itu esensi setan!)
Selama ini, pemahaman dangkal saya tentang setan adalah bahwa makhluk ghaib itu menjelang pergantian malam dan pagi berkeliaran, mengganggu. Anak-anak akan menjadi malas sholat, sensitive, mudah marah dan bertengkar. Bayi-bayi menangis. Maka, saran sang ibu seperti biasanya adalah demikian,
“…tidak ada aktivitas lain seperti nonton, membaca, bergurau atau apapun menjelang dan ba’da maghrib selain sholat dan mengaji.”
Selain berusaha menghidupkan pergantian hari dengan ibadah kepadaNya, pengalaman pribadi saya yang lalai berdzikir padaNya di saat pergantian hari menjadi catatan yang cukup buruk untuk dialami. Saat lalai ibadah di kala maghrib ( entah kelelahan, terjebak kemacetan hingga terlambat sholat, dlsb) maka setiap anggota keluarga menjadi sensitive, mudah tersinggung dan marah. Anak-anak bisa saling serang ucapan dan bertengkar. Saya mengingatkan, “…ayo istighfar, sholat, tilawah. Biar setannya nggak tambah gede!”

Itulah setan dalam bayangan saya.
Menggoda untuk marah. Membuat malas sholat dan membaca Quran. Dan, saya seringkali lalai menunaikan sunnah-sunnah “kecil dan mudah” seperti membaca 3 surat terakhir. Dan, kadangkala saya merasa sudah “selamat” ketika keluarga berjalan baik, rizqi berjalan lancar, merasa setan tak punya celah mengganggu manusia. Ah, saya kan sudah sholat 5 waktu. Sudah baca quran. Sudah berdakwah. Sudah bersedekah. Sudah berbuat baik begini begitu. Insyaallah saya tidak diganggu setan.

Tulisan Koji Suzuki membuat kita merenung.
Benarkah setan sudah berhenti, kalah, ketika kita terlihat “sholih” dan baik-baik saja? Atau sesungguhnya setan punya segudang cara cerdik untuk menaklukan manusia, bahkan lebih canggih lagi?
Copy. Duplikasi. Biarkan manusia semakin menggila mengorbankan orang lain, agar diri kita sendiri selamat.
Bagi saya, Sadako Yamamura menakutkan bukan karena gambaran versi filmnya : perempuan cantik yang berubah menyeramkan dengan rambut panjang. Sadako menyeramkan karena ia hidup dalam diri manusia – dalam tubuh Asakawa- dan mengelabui manusia untuk terus, terus, terus meng copy dan menduplikasi kejahatan meski harus mengorbankan pihak lain.

Itulah setan yang menakutkan.
Bukan yang sekedar membuat kita menjerit. Tapi mengajari untuk melakukan.
Maka, jangan abaikan penangkal setan sekecil apapun : 3 surat terakhir, dzikir, istighfar, puasa dan apapunn yang diajarkan oleh Nabi yang suci untuk memerangi musuh utama manusia hingga menjelang kiamat nanti