Kategori
Artikel/Opini BERITA Hikmah Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Renungan Hidup dan Kematian Surabaya Topik Penting Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Susahnya Cari Masker!

Awalnya, kami berniat hanya menyalurkan uang donasi ke lembaga kesehatan dan lembaga ziswaf. Dana yang ada di kami lebih dikhususkan untuk membantu dhuafa saja. Tetapi, ada donatur yang berharap komunitas kami membantu alat kesehatan. Dan, mereka meminta bukti dari barang-barang yang kami beli.

Terus terang, membeli sembako tidak semudah yang dikira, di hari-hari belakangan ini. Harus beli maksimal 10 kg beras, sehingga perlu beli ke beberapa toko. Tapi itu masih dapat diatasi. Masker? Nah, ini lain perkara.

Harga masker, meroket akhir-akhir ini. Satu box yang biasanya hanya 30-50 ribu; sekarang menjadi sepuluh kali lipat. Baru saja datang sepuluh box masker pesanan seharga 300 ribu, penyedia sudah memberitahukan untuk pesanan berikut harga naik menjadi 320 ribu.  Itupun kalau barangnya ada!

Ternyata, masker harus indent dan kita perlu hunting. Macam-macam cara mendapatkannya, macam-macam pula tantangannya. Selain harus bergegas pesan kalau ada info, hati ini deg-degan apakah barangnya akan sampai tepat waktu. Ada beberapa kejadian yang perlu kita pelajari bersama :

♣☻Beberapa orang japri karena saya dan teman-teman  galang doansi. Mereka menawarkan masker. Siapa gak ngiler dengar kata “N95” belakangan ini? Harga 1 boxnya buat geleng-geleng kepala. Ketika saya diskusi dengan teman dokter , justru mereka bilang ,”itu murah bu Sinta! N95 jaman sekarang yah emang gila-gilaan.” Murah ya? Pikir saya. Saya tentu berniat memborong. Untungnya, si dokter bilang, “Mbak Sinta, tolong pastikan ya, kalau maskernya bukan reuse.”

Untungnya saya belum transfer, dan memang gak jadi beli. Entah barang habis atau ada kendala lain, kontak kami terputus ketika saya bertanya kepada penjapri tentang kepastian barangnya masih baru atau sudah reuse.

♣☺Gerak cepat. Ketika ada orang posting di grup  bahwa ia punya persediaan masker, terlambat beberapa menit barangnya sudah habis. Beruntung, saya punya teman yang bekerja di lab dan ia japri menawarkan masker mirip N95. Saya percaya karena selama ini track recordnya memang amanah. Tapi, saya hanya bisa pesan 1 box karena harus berbagai dengan yang lain. Gakpapa lah, pikir saya. Daripada gak ada sama sekali. Itupun masih menunggu berita. Dan kita harus stand by memegang hape karena bila tak jadi membeli, atau slow response, banyak sekali para pembeli di luar yang bersedia.

♣►Menyesal karena gak beli banyak. Inginnya beli langsung banyak. Tapi khawatir juga : apa barangnya ada? Apa barangnya bisa sampai? Apa kita tidak dibohongi? Meskipun pesan ke teman baik sendiri. Bukan teman kita bohong, tapi bisa jadi rekanannya. Maka ketika seorang teman menawarkan masker , saya percaya padanya dan membeli 10 box. Menyesal, karena ketika barang datang tepat waktu; mau pesan lagi sudah gak bisa.

Masker sudah di tangan. Tinggal didistribusikan ke RS. Sekarang, bingung cara menghantarkannya karena kondisi lockdown dan kita diwanti-wanti untuk gak banyak keluar rumah. Akhirnya barang dibawa kurir. Ada pesan teman dokter yang membuat kita waspada, “Mbak Sinta, jangan sampai kurir tahu itu isinya masker ya. Tolong ditutup raat-rapat.” Saya baru sadar, harga 1 box masker  hampir sama dengan 0.5 gram emas! Tentu, kita tidak perlu suudzon pada setiap orang tapi waspda dan hati-hati.

Alhamdulillah…masker sudah tiba di tangan yang tepat. Sedikit memang yang baru bisa kita perbuat bagi ummat, tapi rasanya bahagia sekali membayangkan para dokter dan perawat menggunakan masker donasi kita. Ada japrian seorang teman dokter yang membuat saya teriris-iris :

“Kami di sini sudah maju nyaris tanpa pelindung sama sekali, Mbak.…”

Membayangkan dokter dan perwat menangani pasien di era ini tanpa APD, tanpa masker; rasanya seperti menghantarkan pejuang kesehatan ke areal pemakaman.

Selamat berjuang , para dokter, perawat, apoteker, petugas kesehatan  dan semua pahlawan Covid19!

#GoodwillMovement

#Lawancoronabersama

#Lawancovid19

#ayobersama

#ayolebihbaik

Supported by :
👷‍♂️👷‍♀️Ruang Pelita Surabaya
Kiky 0856- 0612- 5200
Putri 0822- 2183-8498

Kategori
Artikel/Opini BERITA Hikmah My family Oase Renungan Hidup dan Kematian Suami Istri Surabaya Topik Penting Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Tuhan, Terimakasih Telah Beri Kami #Lockdown

Pernah di rumah lebih dari 2 minggu? Belum pernah, kan? Apalagi emak-emak. Seriing banget kita bilang

“Kapan libur, ya, kapaaan??”

Gegara capek anter anak sekolah pulang balik.

Gegara harus antar si kakak les dan si adek TPA.

Gegara harus ke pasar, urus ini itu, kondangan dan seterusnya. Bahkan, Sabtu Minggu itu sering banget jadi hari paling sibuk sedunia. Yang anaknya minta diantar beli bahan-bahan prakarya. Yang suaminya minta dimasakin special. Yang ada saudara hajatan. Tetangga kondangan. Acara RT RW dan lain-lain. Itu belum agenda kita pribadi ya? Namanya enak-emak adaaaa aja repotnya.

Sabtu Minggu kadang malah terpikir buat bikin seprei baru, atau baru keingat kalau barang-barang kecil di rumah udah nyaris lenyap : benang jarum, peniti, kaos kaki bulukan, pisau pada rusak. Akhirnya kalau akhir pekan disempatkan buat beli keperluan dapur dll yang kayaknya kecil tapi besar urusannya ketika pagi hari si anak teriak :

“Kancing baju seragamku lepas , Maaaa!”

Mau cuti?

Emak kagak pernah ada cutinya. Kalau suami sakit, masih ada istri yang pontang panting buatkan bubur. Buatkan agar-agar. Begitupun kalau anak-anak sakit. Kalau emak sakit; boro-boro tidur. Baru terpejam sebentar udah diganggu

“Ummi, ada tukang sayur. Mau belanja apa?”

Kata anak-anak, “udah Ummi istirahat. Biar kita yang ngerjakan.”

Nyatanya sampah numpuk, cucian numpuk. Mau nyalahin anak? Gak bisa juga.

“PRku banyak, Miii!”

Mau istirahat gegara badan meriang flu berat, eh suami tugas keluar kota. Jadilah kita ojek yang antar jemput anak. Pokoknya, jadi emak emang jihad fi sabilillah. Baru benar-benar bisa tertidur  ketika malam tiba. Atau di atas 00. Itupun kalau gak punya baby, lho ya. Kalau punya baby…jangan harap.

Lockdown

Datanglah hari anugerah sedunia. Semua harus di rumah. Gak ada urusan kantor. Gak ada urusan sekolah. Emang sih, harus mikir berkali-kali lipat untuk masalah ketahanan pangan dan keuangan yang menipis. Tapi Mak, ini juga bagian sangat penting dari diri kita.

Lockdown tubuh.

Lockdown pikiran.

Kapan terakhir kali seorang Emak bisa tidur lebih dari 30 menit?

Kapan terakhir kali seorang ibu bisa mengistirahatkan pikiran dari antar jemput, belanja ini itu, persiapan ini itu? Lelah juga lho, lahir batin.

Sekarang, semua di rumah. Suami. Anak-anak. Bukan kondisi ideal 100%.

Tapi 14 hari atau 2 pekan di rumah itu masa berlian banget buat kita jalin komunikasi, buat kita jalin kedekatan, buat jalin apa yang koyak dari hubungan kita gegara hidup ini kadang udah gak normal kecepatannya.

Percayalah.

Anak-anakku akhirnya capek kok main gadget, dan kita duduk melingkar ngobrolin ini itu. Becanda . saling menggoda. Anak-anakku nyerbu dapur, masak seadanya dan si Emak ini bisa duduk-duduk buat ngetik dan baca buku. Anak-anakku bikin agenda macam -macam di rumah dan aku bisa ngobrol dengan suamiku : berjam-jam.

Catat ya, Mak : berjam-jam!!

Baru kita ingat bahwa masa honeymoon dengan pasangan kita dulupun tak sempurna, dan sekaranglah honeymoon kedua. Jadi para Ibu, Bapak, anak-anak; nikmati masa lockdown fisik dan psikismu. Pasti ada yang pulih sesudah ini. Sesuatu yang sangat jauh di luar bayangan kita.

Kamu rinduh sekolahmu, yang selam ini kamu umpat karena membebanimu dengan PR.

Kamu rindu teman-teman sekolah yang selama ini kamu anggap duri karena sering ngebully.

Para bapak merindukan tempat kerja, yang selama ini dikeluhkan karena beban dan gaji yang sedikit.

Para emak merindukan tukang sayur yang selama ini disindir karena gak mau ditawar-tawar.

Dan…berapa banyak kaum muslimin yang rindu datang ke masjid, setelah sekian lama meraka merasa masjid terlalu bising menyuarakan adzan dan selalu berisik dengan nasehat-nasehat?

Tuhan..terimakasih, Kau beri kami #lockdown.

Kupikir awalnya ini hukmanMu

Ternyata ini adalah cara luarbiasa Engkau menyayangi kami. Agar kami berdiam di rumah sesaat sembari mensyukuri setiap hal kecil yang Kau berikan : masih ada keluarga di dalam rumah, masih ada beras untuk ditanak, bisa jamaah lengkap sekeluarga.

Sebelum #lockdown, keluarga kami tak pernah selengkap ini, Ya Allah.

Jadi Bapak Ibu, anak-anak sekalian. Nikmati masa #lockdown bahagia ini. Belum tentu 10 tahun ke depan, kita punya waktu libur  -sebenar-benar libur- selama beberapa pekan dengan komposisi anggota keluarga lengkap tanpa diributkan tetek bengek agenda di luar.

#GoodwillMovement

#lawancoronavirus

#lawancovid19

#ayobersama

#ayolebihbaik

Supported by :
👷‍♂️👷‍♀️Ruang Pelita Surabaya
Kiky 0856- 0612- 5200
Putri 0822- 2183-8498

Header artikel ini diambil dari Republika tentang Corona

Kategori
Artikel/Opini BERITA Cinta & Love Oase Renungan Hidup dan Kematian Surabaya Topik Penting Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Meski Bukan Rachel Vennya

“Influencer bisa langsung mengumpulkan 3 M,” kata anakku memuji Rachel Vennya, sangsi dengan semangatku dan adik-adik Ruang Pelita yang menggagas #GoodwillMovement

“Yah, kita memang bukan Yoona, IU, Song Jong Ki, Irene yang bisa langsung nyumbang masing-masing 1 M,” kataku, menyebut artis KPop yang donasi 100 juta won. Belum lagi Suga BTS, Irene Red Velvet, juga Bong Jong Hoo sutradara Parasite.

Para artis, selebritis, influencer memang bisa mengumpulkan uang dengan mudah. Tapi bukan berarti ciut nyali, bukan? Sebab keinginan orang berdonasi macam-macam. Ada yang menyumbang karena merasa percaya, merasa dekat, dan merasa hanya punya sedikit uang untuk bisa disumbangkan.

Meski sudah banyak lembaga yang melakukan gerakan, sebetulnya tidak akan cukup untuk sebuah kasus besar.  Rachel Vennya mungkin berhasil mengumpulkan donasi dengan jumlah fantastis. Sekali menyumpang belasan, puluhan hingga ratusan juta. Saya dan adik-adik di Ruang Pelita mengumpulkan sekitar puluhan hingga ratusan ribu. Tapi siapa yang akan mengumpulkan donasi orang yang ingin (mampu) menyumbang Rp 500, Rp 1.000, Rp. 5000? Pasti tetap dibutuhkan oleh masyarakat luas pihak-pihak yang mau mengumpulkan donasi sedikit demi sedikit.

Kamis (19/03/2020), kami mencoba memulai #GoodwillMovement. Tujuannya menggalang donasi dari teman-teman, sahabat lama, tetangga. Sedikit demi sedikit mulai terkumpul; yang nantinya akan disalurkan ke lembaga kesehatan dan lembaga ziswaf terpercaya. Bukan sekedar donasi, #GoodwillMovement berusaha membangun kembali silaturrahim dengan orang-orang yang  sejak lama terlupakan dari memori karena kesibukan masing-masing. Mencoba membangun kepedulian kepada orang yang masih harus berkeliling di masa lockdown : tukang sayur, tukang kebersihan, satpam, dsb

Menyusuri nama-nama di phonebook, betapa banyaknya teman lama yang tidak tersapa.

Selalu saja, ada hikmah di balik sebuah bencana. Adik-adik Ruang Pelita menyiapkan default laporan :

Nama :  (nama penyumbang)

Donasi : jumlah

Ditujukan : IMANI care/ LMI/ Ruang Pelita atau Lembaga yang ditunjuk

Permintaan khusus : mohon didoakan atas hajat atau doa atas orang-orang tertentu.

Mengharukan sekali permintaan para donatur. Ada yang memohon agar sekeluarga diselamatkan dari wabah, ada yang meminta didoakan agar kedua orangtuanya yang lansia segera pulih , ada pula yang berharap agar wabah ini segera lenyap dari bumi Indonesia.Covid-19 ini memang mengerikan. Tetapi ada  kebahagiaan tak terperi ketika di malam hari, masih ada yang menjapri, memberitahukan bahwa ia baru saja mentransfer donasi.

“Kalau ada gerakan lagi, saya diberitahu ya, Mbak.”

Masyaallah. Selalu ada orang-orang yang rela berbagi pada sesama.

#GoodwillMovement

#lawancoronavirus

#lawancovid19

#ayobersama

#ayolebihbaik

Kategori
Film Kepenulisan KOREA RESENSI Topik Penting Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

‘Parasite’ Pemenang Oscar : Seni Tutur Natural ala Korea

Sudah pernah nonton drama Korea atau film Korea? Atau membaca novel/ cerpennya? Kaum penggemar film seperti saya biasanya suka melalap film apapun yang dirasa menghibur serta mencerahkan ; apapun negara asalnya. Korea beberapa tahun belakangan ini merajai industri perfilman dengan filmnya yang variatif. Dan, kadang kita menikmati filmnya tanpa tahu….sutradaranya!

Saya suka beragam film. Film pendidikan dan humanis dari India seperti 3 Idiots, Taree Zaman Paar, Bajrangi Bhaijan, Dangal bagus ditonton sekeluarga. Film India lucu habis dan menguras airmata. Seringkali, bumbu feminism dan perang saudara dengan negara tetangga menjadi ide-idenya.

 Film-film horror Guillermo del Torro yang menggunakan bahas Spanyol (plus subtitle yaaa) bukan hanya jump scared saja, tapi indah ditonton. Del Torro senang mengawinkan horror dengan fairy tales; hingga muncullan Cronos, Devil’s Bakcbone, Pan’s Labyrinth, Crimson Peak, Scary Stories to Tell in the Dark dan favorit saya : Mama. Menonton horror del Torro membuat kita berpikir bahwa cerita horror tak selalu berkisar sekedar hantu dan darah; tetapi sebuah cerita utuh yang memiliki kesimpulan mendalam. Devil’s Backbone memberikan sebuah kesimpulan bijak tentang apakah hantu itu. Di akhir cerita, epilog berkata, “Hantu adalah emosi yang masih digantung oleh waktu.” Kurang lebih demikian. Orang-orang yang mati karena pembunuhan, peperangan, wabah dan bencana; mungkin akan menjadi hantu karena masih banyak emosi-emosi yang belum diselesaikan dengan orang-orang yang terhubung dengannya. Ini menurut Del Torro, ya.

Well, back to Korea.

Negara ini buat film komplit bangettt.

Film epic heronya benar-benar membuat semangat nasionalisme bangkit : Admiral, Spy Gone Nort, Tae Gu Ki, My Way dll. Drama serialnya juga membuat termehek-mehek seperti  Great Queen Seondeok, Jewel in the Palace, Dong Yi.

Film horrornya termasuk daftar film horror yang sangat diperhitungkan di pentas dunia : The Mimic, Tale of Two Sisters, Whispering Corridors dan yang mendapat banyak pujian : The Wailing. Asli, nonton the Wailing membuat saya benar-benar merinding. Film horror yang membuat takut adalah yang tidak ketahuan, mana setan dan mana malaikatnya. Bukankah kita jadi merinding ketika orang yang disangka penolong ternyata justru iblisnya? Film komedi romancenya banyak banget. Film actionnya juga gak kalah seru dibanding aksi Hollywood : The Veteran, Extreme Job, Berlin’s File, Cold Eye. Cold Eye adalah film action yang menurut saya belum banyak padanannya . (Hm, entah juga kalau saya kudet hehe).

Parasite?

Saya menuliskan reviewnya segera usai nonton film ini bareng keluarga. Tentu, gak semua sepakat dengan penilaian Oscar, apalagi penilaian saya. Tapi lagi-lagi saya ambil hikmah kenapa Parasite memenangkan 4 oscar kali ini dan Bong Joon Ho dinobatkkan sebagai sutradara terbaik dengan Parasitenya.

Sinema Korea itu….. :

  1. Natural. Alamiah banget. Kalau cerita tentang romance terasa alamiahnya. Kalau cerita kejahatan terasa alamiahnya. Hampir tidak ada yang benar-benar hitam putih di film Korea. Film Spy Gone North tentang Korut VS Korsel, sama sekali nggak membahas bahwa Korsel adalah pahlawan. Tapi masing-masing punya kepentingan. Parasite juga begitu. Apakah keluarga miskin Kim atau keluarga kaya Park yang jahat? Sama sekali nggak ada penggambaran demikian.
  2. Tak bertele-tele. Drakor umumnya berkisar 20 episode seperti Pasta in Love, 49 Days. DoT 16 episode. Barulah kisah epic seperti The Great Queen Seondeok 62 episode. Itupun gak bosen nontonnya heheh. Tidak perlu diperpanjang konflik jika memang sudah bisa diselesaikan dengan cepat. Perkelahian, permusuhan, pertikaian juga gak perlu berlarut-larut. Yang digali seringkali adalah masa lalu masing-masing pelaku sehingga memunculkan konflik emosi di dalam jiwa.
  3. Gado-gado. Komedi selalu muncul meski di tema sedih, romansa, action, horror. Kita bisa dibuat ketawa dengan adegan atau dialognya, lalu segera ditarik lagi ke sebuah situasi yang lain yang memang menjadi genre utama film tersebut. Parasite banyak memunculkan kisah komedi gelap, tentang konyolnya orang miskin dan lebih konyol lagi orang kaya yang gak pernah pegang pekerjaan rumah sama sekali seperti Mrs Park. Ketika Jessica dan Kevin –kakak adik- punya segudang tipu muslihat licik karena mereka terhimpit kemiskinan, kita harus menangis atau tertawa karenanya? Aduh, benar-benar teraduk memang.
  4. Kesabaran dalam membangun alur. Terus terang, sebagai penulis saya banyak belajar dari film, novel, cerpen Korea. Mereka sabar banget membangun detil, menceritakan sesuatu. Kesabaran dalam menjalani sebuah sikap hidup kayaknya jadi nafas dari bangsa Korea, ya. Terlihat dari hallyu yang dimotori oleh KPop, produk literasi dan sineasnya. The Vegetarian karya Han Kang menceritakan segara detil tentang seorang perempuan bernama Yeonhui. Hari demi hari konflik dirinya dikisahkan dengan cermat. Seolah penulis sangat sabat untuk berkisah. Beda dengan saya yang kadang ingin segera cepat selesai. “Udah, jatuh cinta aja./ Udah, mati aja/Udah nikah aja.”
  5. Tema sederhana. Banyak film atau buku Korea temanya sederhana. Seperti Parasite. Tema miskin vs kaya selalu ada. Tema sederhana yang digarap dengan sangat rapi sehingga kita benar-benar merasakan “ ya Tuhan, sengsaranya jadi orang miskin di Korea!” karena itu juga yang diharapkan Bong Joon Ho, banyak orang terbuai oleh ironisnya kemajuan Korea.

Coba kita baca cerpen Sejarah Obat karya Oh Hyun Jong (diterjemahkan oleh Prof. Koh Yung Hun, dosen bahasa Indonesia di HUFS- Korea)  misalnya, menggambarkan tema sederhana tentang seorang perempuan muda yang  terbiasa mengkonsumsi berbagai jenis obat sejak kecil : propolis, omega 3, ginseng merah, dll. Ia melihat neneknya terbiasa minum obat, ia melihat orang-orang di lingkungannya minum obat. Dan si perempuan merasa aman bepergian jika membawa sekantung obat. Ia bahkan berpacaran dengan seorang calon dokter tradisional yang suka meresepkan obat kepada teman-temannya. Dan kecandunnya pada obat semakin betambah. Membaca kembali Sejarah Obat, mengingatkan saya pada kondisi terkini tentang Coronavirus di mana saya seperti ribuan atau jutaan orang yang sangat terobsesi pada masker.

Tulis Hyun Jong “…bahwa segera setelah kita mulai terkena penyakit yang berkaitan dengan penuaan, kita tidak akan pernah berhenti makan obat. Kita akan tetap meminumnya sampai sehari menjelang kematian.”

Betapa kisah sederhana, tentang zaman sekarang ketika orang membenci menjadi tua dan menjadikan obat sebagai jalan keselamatan.

Parasite, saya rasa memiliki 5 kelebihan tersebut.

Natural alamiah, tak bertele-tele, gado-gado, kesabaran penulis scenario dan sutradara membangun alur serta tema sederhana yang dipahami hampir setiap keplaa manusia yang menontonnya. Yah, walau pecinta Korea belum tentu paham bahasa Hangeul 100% sebagaimana para kritikus film dunia, ungkapan Bong Joon Ho patut dipertimbangkan saat menerima piala Golden Globe, “Sekali saja tidak bermasalah dengan subtitle, kalian akan banyak menemukan film menakjubkan!”

Saya setuju dengan Joon Ho.

Sebab banyak film Indonesia yang juga layak maju ke pentas dunia.

Insyaallah, berikutnya Indonesia yang meraih penghargaan!

Kategori
15 Rahasia Melejitkan Bakat Anak ACARA SINTA YUDISIA Catatan Perjalanan Quran kami Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Pesantren Fahim Quran : Hafal 30 Juz sekaligus ahli IT (Programming & DKV) !

Ini salah satu institusi, pesantren, lembaga atau apalah namanya yang menjadi impian saya sejak lama. Gimana caranya anak-anak bisa menghafal Quran sekaligus mempelajari bidang yang memang merupakan bakat minat mereka.

Menghafalkan Quran butuh stamina lahir batin. Konsentrasi tingkat tinggi, motivasi kuat, juga disiplin yang terus menerus. Pantauan dari para guru juga penting, mengingat anak-anak pra remaja dan remaja ini tentu jatuh bangun semangatnya. Biasanya, pesantren mengajarkan ilmu-ilmu agama terkait Quran, hadits, fiqih, bahasa Arab dan Inggris. Di Fahim Quran, bukan hanya cukup hafal 30 juz. Bahkan, salah satu nasehat ustadz Purwanto dalam acara setor hafalan Quran di senja itu, benar-benar menampar kita.

“Bagaimana kalian harus hafal, hidup, beraktivitas, hingga mati dengan seluruh nilai-nilai Quran.”

Beliau mendorong bahwa setiap santri yang menjadi penghafal Quran, harusnya punya semangat dan ambisi lebih. Jangan setelah hafal 30 juz, justru tidak mau berprestasi apa-apa. Tidak mau melakukan aktivitas apa-apa. Padahal alim ulama dan ilmuwan Islam di masa lampau, mereka penghafal Quran dan terus bekerja di bidangnya masing-masing. Kadang, seorang penghafal Quran merasa cukup sudah hafal 30 juz. Merasa sudah sampai di puncak ibadah dan dapat memberikan hadiah mahkota permata kepada orangtua kelak di hari akhir. Harusnya, penghafal Quran menjadi panglima ilmu pengetahuan dan motor dari penggerak peradaban!

Kenapa IT?

IT- information technology  atau teknologi informasi ( TI) adalah teknologi dalam membuat, mengubah, menyimpan, mengirimkan, mencetak atau mengolah apapun terkait informasi. Saat ini, Indonesia sangat membutuhkan ahli-ahli IT sehingga tidak tertinggal dari bangsa lain. Ahli ini selain memiliki kemampuan tinggi, tentu harus memiliki ketahanan mental yang tangguh. Istilah Habibie, berotak Jerman berhati Makkah.

IT di Fahim Quran meliputi dua hal : Programming dan DKV (desain komunikasi visual).

Apa sih DKV itu?

Program studi Desain Komunikasi Visual (DKV) mempelajari ilmu tentang penyampaian pesan (komunikasi) dengan menggunakan elemen-elemen visual atau rupa. Disini siswa akan belajar untuk mengolah pesan secara informatif, komunikatif, dan efektif, serta se-kreatif mungkin agar pesan dapat mencapai sasaran dengan memperhatikan unsur bentuk, warna, tekstur, ruang, huruf, dan segala hal yang berkaitan dengan visual (penglihatan). Misalnya membuat poster, logo, ilustrasi, desain web, foto, video, animasi, dan sebagainya.

Terus terang, anak-anak muda sekarang banyak banget memiliki kecenderungan di aesthetic. Ini hasil tes minta yang pernah saya lakukan pada  mereka, lho! Dulu, seni seringkali hanya dikaitkan dengan seni musik, seni tari, seni patung, seni lukis. Sekarang, aesthetic memiliki makna luas termasuk DKV. Sebuah pesan dari A (sender) akan diterima B (receiver) bila pesannya diterima dengan baik. Baik itu mencakup berbagai macam : baik caranya, bernas kontennya, menarik tampilannya, bisa dipahami maknanya. Pesan-pesan sekarang sangat butuh orang-orang DKV. Lihat aja iklan keselamatan di jalan raya yang digagas kepolisian. Tidak lagi sekedar “Hati-hati di Jalan” tetapi…. “Jatuh cinta itu enak. Kalau jatuh di jalan? Benjol!”

Pesan ini akan jauh lebih sampai ke anak muda (tahu sendiri kan, yang naik motor seenak udel kebanyakan anak muda!).

Fahim Quran juga mempersiapkan anak-anak untuk menjadi programmer. Kalau yang masih bingung, programming itu belajar apaan sih? Programming adalah menganalisis, menyusun, mengedit, menguji kumpulan bahasa pemrograman untuk kemudian menghasilkan sebuah program yang bisa menjalankan suatu tugas tertentu secara otomatis. Untuk lebih mudahnya programmer adalah orang yang membuat program itu sendiri dengan menggunakan kombinasi berbagai programming language. Umumnya, programmer sendiri terbagi menjadi 4 jenis yaitu funcional, operational, graphical dan web-based.

Kalau mau kuliah yang ada bahasa-bahasa programming nya, salah satunya kuliah di teknik informatika ITS. Hehehe, ini bukan promosi ya. Gegara penulis tinggal di Surabaya, tetanggaan sama ITS.

Nah, kalau yang masih bingung (khususnya orangtua) tentang apa itu programmer atau programming, mungkin bisa nonton beberapa film berikut. Film-film ini ada yang tentang kehidupan programmer, ada yang tetnang programming itu sendiri. Kalau nggak ada programmer, rasanya film-film gak akan sebagus ini.

Di Fahim Quran, para santri diajarkan untuk membuat bahasa programming. Sekarang, mereka sudah punya beberapa produk yang bisa diunduh di playstore, lho! Menurut ustadz Purwanto dan ustadzah Yaumi, keduanya pendiri & pengasuh Yayasan Fahim Quran, memadukan tahfidzul Quran dan ilmu IT merupakan tantangan tersendiri. Di satu sisi, menghafal Quran butuh ketekunan dan konsentrasi tinggi, tak bisa diganggu oleh aktivitas lain. Sementara, IT dengan jurusan programming dan DKV butuh konsentrasi yang berbeda. Tetapi, akan sangat disayangkan bila bibit penghafal Quran yang memiliki raw materials sangat bagus tidak dikembangkan sisi intelektual dan talentanya. Sebab, banyak anak muda sekarang yang mahir berkecimpung di dunia IT. Pegnhafal Quran rata-rata memiliki kemampuan memory yang kuat, cocok sekali dengan bahasa pemrograman yang butuh logika tingkat tinggi.

“Apalagi, sebagian besar programmer biasanya gamer juga,” jelas ustadz Purwanto.

Gaming disorder sangat dicemaskan para guru dan orangtua saat ini.

Insyaallah, di Fahim Quran para santri diselaraskan agar tetap dapat megnhafal Quran sekaligus memiliki tanggung jawab megnembangkan bakat minat serta talenta terpendamnya di bidang IT.

2 Jenis Santri di Fahim Quran

Yayasan Fahim Quran memiliki kelas putri, dinamakan santri Fahim Quran. Kelas putra dinamakan QBS, Quadran Boarding School. Keduanya terletak di Bogor, Jawa Barat.

Fahim Quran sebetulnya merupakan singkatan dari Fast-Active-Happy-Integrating in Memorizing Quran. Tahun ini adalah tahun ke-4 Fahim Quran berdiri. Meski baru 4 tahun berdiri, jumlah santri putri mencapai 98 siswi sementara santri putra mencapai 117 siswa. Karena banyaknya permintaan, Fahim Quran terpaksa harus menolak pendaftar, hiks…hiks.

Untuk menghafal Quran, Fahim Quran tak main-main. Mereka punya program sendiri yang pantas dicontoh. Ustadz Purwanto, sang pendiri, menyusun 9 cara metode menghafal Quran. Artinya, metode menghafal Quran ada banyak cara dan pendekatan sehingga orang-orang dengan tipe kepribadian/tipe pembelajar tertentu dapat menghafal Quran sesuai kondisi dirinya. Kebayang kan, ada anak-anak yang putus asa menghafal Quran gegara gak bisa-bisa nambah ayat L. Ternyata, dengan metode pendekatan yang berbeda-beda ini, anak-anak akan dapat menghafal Quran lebih mudah.

Jadi ingat ayat ini,

“Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah ( QS 21 : 2)”

Kalau sudah hafal 30 juz, siswa akan diberangkatkan ke Mesir untuk tasmi kepada syaikh al Azhar. Di sana kurang lebih 3 bulan dan mendapatkan sertifikasi langsung dari pakarnya. Masyaallah…

Berikut ini beberapa hasil karya siswa siswi Fahim Quran (ingat ya, yayasan Fahim Quran menaungi santri putri yang namanya persis seperti nama yayasannya Fahim Quran – FQ. Dan santri putra Quadran Boarding School – QBS).

Yang suka programming, menghasilkan buah karya aplikasi-aplikasi bermanfaat untuk menunjang berbagai kegiatan baik yang bisa diterapkan oleh seiswa, orangtua, juga guru. Yang DKV suka sekali menyalurkan ide-ide mereka ke bentuk tulisan, gambar, desain grafis atau apapun yang berbentuk komunikasi visual. Termasuk membuat tulisan-tulisan. Biasanya memang, seorang komikus senang membuat storyboard sendiri. Begitupun sebaliknya, seorang penulis suka merancang ilustrasinya sendiri meski ia tak mahir melukis. Jadi ingat seorang komikus webtoon – Lookism– yang nama dan hasil karyanya saya tuliskan dalam buku 15 Rahasia Melejitkan Bakat Anak.

Ohya, ada kejadian mengesankan yang ditemui penulis di acara Mukhoyyam Quran, 20 Januari 2020 ini. Ternyata ada seorang ustadzah di sana yang telah lama saya kenal via medsos. Kami berkontak dan berteman via twitter, instagram dan wordpress. Masyaallah, terharu dan bahagiaaa banget akhirnya bisa dipertemukan Allah Swt. Namanya Alfi Najma Zahra. Ia suka sekali membaca serial Takudar. Jadi merasa sangat  berhutang pada para pembaca untuk menuntaskan serial pemimpin muslim dari Mongolia ini.

Bagi para orangtua dan calon siswa yang tertarik untuk menempuh pendidikan di Yayasan Fahim Quran, bisa klik www.sekolahimpian.com .

Semoga kamu temukan dunia impianmu, ya!

Kategori
Artikel/Opini BERITA Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Topik Penting Tulisan Sinta Yudisia

Sisi Psikologis Reynhard Sinaga : Seberapa Jauh Kita Paham tentang Perkosaan?

Ngeri dan ngilu tiap kali membaca, mendengar atau melihat laporan berita perkosaan. Kita berharap jangan sampai diri kita dan setiap anggota keluarga mengalami perkosaan atau naudzubillahi mindzalik, menjadi pelakunya. Begitu kasus Reynhard Sinaga (RS) mencuat, hati ini bertanya-tanya, mengapa kejahatan semacam itu bisa terjadi berulangkali? Seharian ini pikiran dan perasaan resah. Berjam-jam membaca berbagai macam referensi dan hasilnya, sungguh membuat saya pribadi merenung. RS diduga melakukan perkosaan sebanyak 195 kali atau lebih. Kasusnya terbongkar 2017 dan sepanjang 2018-2019 menjalani 4 kali sidang. Hasilnya ia dinyatakan bersalah dan mendapatkan hukuman penjara seumur hidup.

Berita tentang RS berturut-turut dilaporkan di koran terkemuka seperti Jawa Pos 07/01/2020 dan 08/01/2020

Definisi dan jenis perkosaan

Rape atau perkosaan didefinisikan sebagai penetrasi V atau anal tanpa persetujuan pemiliknya. Penetrasi bisa menggunakan alat kelamin, jari atau objek lainnya sementara obyek penetrasi bisa bervariasi antara V, anal, oral. Terdapat berbagai jenis perkosaan seperti penetrative rape, statutory rape, date rape, male rape, dsb. Ada pula perkosaan dengan ditambahkan penganiayaan.

Ada sebuah penelitian unik tentang perkosaan.

Para peneliti  mengumpulkan lebih dari 1.800 responden laki-laki dan mereka diminta untuk mengisi kuesioner. Bentuk pertanyaannya tidak langsung seperti , “Apakah kamu pernah memperkosa orang?” . Pertanyaan seperti ini pastilah akan mendapat jawaban “no”. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan antara lain :

  • Apakah kamu pernah melakukan hubungan intim dengan orang di mana orang tersebut dalam kondisi mabuk?
  • Apakah kamu pernah menampar pasanganmu saat ingin melakukan hubungan intim?
  • Apakah kamu pernah menggunakan kekuatan fisik seperti mencekik, memuntir, saat meminta hubungan intim?

Dsb

Ketika pertanyaan-pertanyaan yang dengan hati-hati disusun tersebut dilontarkan, mengejutkan sekali betapa banyaknya orang yang merasa tidak melakukan perkosaan. Terlebih lagi, banyak korban yang tidak sadar mereka sedang dianiaya atau diperkosa. Para peneliti kemudian membagi menjadi “rape, attempted rape dan sexual assault.” Percobaan perkosaan yang dilakukan berulang dan tak ada korban atau lingkungan yang sadar, membuat pelaku suatu saat benar-benar melakukan tindak pemerkosaan.

Pernah terjadi, sepasang kekasih yang sudah kelewat batas berpacaran; setiap kali si cowok meminta layanan intim  ia akan menyundut ceweknya dengan rokok. Juga mengancam bunuh diri jika cewek itu meninggalkannya. Emosi cewek yang serba kasihan dan tak ingin ditinggal, membuat si cewek mengabulkan apapun permintaan cowok. Mungkin hubungan itu tampaknya berjalan suka sama suka, tetapi peristiwa menyundut rokok itu sebetulnya sudah masuk attempted rape.

Mitos Perkosaan

Terdapat banyak mitos di tengah masyarakat sehingga perkosaan termasuk jenis kejahatan yang sulit dideskripsikan, didefinisikan, juga dikontrol.

  • Perkosaan dilakukan oleh orang asing
  • Pemerkosa adalah orang gila atau psikotik
  • Kebanyakan pemerkosa terlihat ‘berbeda’ dan tidak seperti kita

Ketika melihat dua orang lelaki misalnya, yang satu bertatoo dan satunya lagi mengenakan pakaian rapi; kita sudah punya asumsi bahwa orang bertatoo pasti lebih jahat. Padahal belum tentu demikian! Kasus Harvey Weinstein mencengangkan dunia. Ia seorang produser film kenamaan yang memproduksi Pulp Fiction, Heavenly Creature, Shakespeare in Love yang terjungkal oleh gerakan #MeToo , sebuah gerakan untuk berani angkat suara menghadapi kasus pelecehan seksual dan pemerkosaan.

Mitos yang kita yakini ini membuat kita lebih waspada terhadap orang asing, psikotik, atau yang tampilannya beda dengan orang pada umumnya. Padahal pelaku pemerkosaan bisa jadi orang terdekat, orang waras dan orang yang kesehariannya mirip dengan kita! Karenanya kasus pemerkosaan bisa terjadi di sekolah, kampus, atau tempat kerja. RS sama sekali bukan seorang psikotik. Ia tidak tampak berbeda secara fisik, malah terlihat sama seperti seorang karyawan dan mahasiswa yang stylish.

Sehatkah Mental Pemerkosa?

Sejauh ini diduga ada 4 hal yang menyebabkan seseorang menjadi pemerkosa :

  1. Kerusakan otak. 3,9% pemerkosa di Swedia mengalami kerusakan otak. Penyebabnya tentu beragam mulai benturan, obat-obatan, trauma, dst.
  2. Parafilia, adanya gangguan kepribadian yang mengarah pada perilaku seksual menyimpang seperti voyeurism, fetis, ekshibisionisme, sadistic, masokis, dsb
  3. Attachment problems. Adanya disfungsi dalam relasi keluarga dengan sesama anggota keluarga. Tidak memiliki kelekatan dengan orang-orang terpenting dalam hidup seperti ayah, ibu, saudara, dsb
  4. CD atau cognitive distortion. Punya pola pikir yang salah terkait beberapa sudut pandang. Misal perempuan adalah obyek seks. Atau, orang dalam kondisi lemah lebih tepat dijadikan obyek pemuas ( orang pingsan dirampok atau diperkosa).

Riwayat Klinis Manusia

Selain 4 hal di atas, kita harus mewaspadai diri kita sendiri dan orang-orang di sektiar kita yang mengalami berbagai hal psikologis sebagai berikut. Hal ini bukan untuk melabeli seseorang, tetapi untuk bersegera mencari solusi atas permasalahan yang terjadi.

  1. Pengalaman awal di masa hidup. Masa kanak-kanak adalah masa sangat penting. Manusia yang kehilangan momen bahagia dan kasih sayang di masa ini, cenderung mencari pemuasan dalam hal seks atau dalam bentuk agresifitas. Marilyn Monroe, Jack the Ripper, Adolf Hitler adalah beberapa contoh orang yang mengalami masa kecil demikian buruk sehingga mencari pelampiasan dalam bentuk seks atau agresi.
  2. Riwayat sekolah : menjadi korban atau pelaku bullying, konflik dengan otoritas (guru, orangtua, kepala sekolah dst) harus menjadi perhatian. Ketidakmampuan untuk menjalin relasi sehat dengan orang seusia dan orang yang lebih tua akan membawa dampak.
  3. Riwayat pekerjaan : gonta ganti pekerjaan? Keluar masuk? Bagaimana seseorang mggnatasi konflik dengan rekan kerja dan atasan , harus menjadi catatan.
  4. Catatan psikoseksual : riwayat psikoseksual harus menjadi catatan khusus dan mendapatkan perhatian tentang bagaimana penanganan berlangsung. Apakah lebih senang masturbasi dan nonton pornografi ketika stress? Apakah senang menggosokkan alat kelamin ketika masih anak-anak ketika ketakutan? Dst
  5. Riwayat penyerangan/ agresifitas : jika pernah melakukan tindakan sangat agresif, berhati-hatilah
  6. Minat, hobi, skill, teman : mereka yang memiliki hobi, menguasai skill,  dan memiliki teman berarti memiliki kehidupan mental yang lebih sehat.
  7. Personality/ kepribadian : bagaimana cara seseorang menghadapi masalah? Apakah self imagenya bagus? Bagaimana perilakunya? Dst
  8. Riwayat forensic & psikiatrik sebelumnya : apakah pernah memiliki sejarah kekerasan, menyerang orang, termasuk gangguan psikiatrik lainnya seperti skizofrenia dst.

Analisa Reynhard Sinaga

Melihat paparan di atas, ada beberapa hal yang sepertinya paradox tentang ciri pemerkosa dan sebab-sebab seseorang menjadi pemerkosa. Reynhard cerdas, menarik, banyak teman. Terlihat hangat dan yang juga perlu digarisbawahi, ia cerdas dan berprestasi.

Tetapi berbicara tentang brain injury atau brain damage, ada kemungkinan ia terbiasa mengkonsumsi alcohol dan meng-oplosnya sehingga menyebabnya beberapa fungsi otak terganggu. Ia tak dapat melakukan high thinking order untuk memilah, memilih, menimbang, mengorganisasikan.

Jawa Pos 07/01/2020

Di samping itu, ia telah melakukan beberapa upaya ofensiv seperti percobaan permerkosaan atau perkosaan itu sendiri. Sedihnya, diperkirakan 39% pemerkosa sekalipun telah menjalani perawatan akan mengulangi lagi perilaku ofensifnya. Apalagi pelaku yang sama sekali tidak menjalani perawatan psikiatrik dan psikologis! Tentu, akan mengulangi kesalahan fatalnya lebih sering lagi.

Hukuman terhadap RS telah ditetapkan.

Mari kita tarik hikmah di baliknya, semoga tidak ada lagi korban atau yang lebih parah lagi, menciptakan pelaku. Seseorang dapat menjadi pemerkosa bila :

  1. Mengalami brain damage, boleh jadi karena trauma ( trauma keluarga, bully, penganiayaan seksual); oleh obat-obatan atau pornografi
  2. Tidak memiliki kelekatan yang baik & kuat dengan orangtua
  3. Mengalami masa kecil yang tidak membahagiakan
  4. Masa sekolah yang banyak masalah
  5. Terbiasa attempted rape tapi tak ada orang yang menyadari
  6. Pernah melakukan kekerasan seksual dan tidak segera menjalani perawatan kesehatan mental

Semoga RS adalah orang terakhir yang melakukan kejahatan mengerikan tersebut. Kita harus mewaspadai diri sendiri dan orang-orang terkasih di sekeliling kita agar mereka tidak menjadi korban, pun tidak menjadi pelaku.

Referensi :

Gantman, Ana P.  dan Elizabeth Levy Paluck. —. What is the Psychological Appeal of the Serial Rapist Model? Worldviews Predicting Endorsement. Artikel dari Women in Public Policy Seminar series at theHarvard Kennedy School

Lisak, David dan Paul M. Miller. 2002. Repeat Rape and Multiple Offending Among Undetected Rapists. Violence and Victims, Vol.17, No.1

Orth, Ruby L. Orth, dan Suzanne L. Osman. 2015. Perpetration Experience and Gender Predicting Empathy with a Stranger or Acquaintance Rapist. Modern Psychological Studies Vol 21 : no. 1

Sarkar, Jaydin. 2013. Mental Health Assessment of Rape Offenders. Indian Journal Psychiatry, Jul-Sep; 55(3) : 235 -243

Duell, Mark dan Danyal Hussain. 2020. The rugby player who trapped the world’s most prolific rapist: Male victim, 18, reveals how he beat up Reynhard Sinaga after waking up naked during attack and led police to lair where 195 were assaulted diunduh dari https://www.dailymail.co.uk/news/article-7856057/Britains-prolific-rapist-jailed-30-years.html 07/01/2020

Kategori
Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Rahasia Perempuan Tokoh Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Kepribadian para Finalis American’s Next Top Model

Beberapa waktu yang lalu saya nonton American’s Next Top Model season 24.

Televisi di rumah jarang banget nyala, jadi pas di hotel karena satu acara, mencoba menikmati berbagai informasi berita sembari duduk tenang. Acara yang dipandu Tyra Banks itu cukup mengasyikkan. Bagaimana menjaring calon-calon foto model dari berbagai kalangan. Di ujung audisi terjaring 4 orang :  Shanice Carroll, Khrystyana Kazakova, Jeana Turner dan Kyla Coleman.

Kyla, Jeane, Khrystyana.jpg
ANTM season 24 : Kyla, Jeane, Khrystyana

4 cewek ini cantik-cantik. Shanice berkulit hitam manis. Khrystyana dapat anda tebak : kecantikan khas Rusia yang menawan. Kyla berdarah campuran, dan Jeana punya magnet tertentu. Sepanjang nonton ANTM saya baru tahu, “Ya, ampun. Susah banget jadi model. Dia harus pintar menerjemahkan perintah fotografer.”

Dan, hujan kritik berhamburan dari para panelis.

  • Shanice, kamu terlalu tinggi mengangkat dagu.
  • Khrystyana, kamu penggugup.
  • Jeana, kamu terlalu seksi. Ini iklan shampoo! Bukan pakaian dalam! (ANTM season 24 disponsori Pantene).
  • Kyla, ekspresimu harus lebih bicara.

tyra-banks.jpg
Tyra Banks

Dan foto itu diambil ratusan take. Cuma untuk mengambil 1 gambar terbaik! Panelis benar-benar pedas ketika mengkritik. Itulah sebabnya saya baru tahu, bahwa top model dunia harus ber IQ tinggi agar komunikasi nyambung.  Tyra Banks, host ANTM sendiri memiliki IQ 120. Dan ketika dikritik, reaksi dari peserta akan diamati.

Tahukah anda apa yang menjadi titik tekan dari 4 finalis yang akan terpilih melaju lebih lanjut ke final? Attitude. Perilaku yang muncul dari personality alias kepribadian. Sepanjang karantina, para model direkam dalam tajuk “Beauty in Raw”atau “Beauty in Personality.”

Saya ngefans Khrystyana, tapi ia memang penggugup berat dan sering kehilangan rasa percaya diri. PaAdahal cantiknya luarbiasa, dengan tubuh tinggi dan rambut lebat yang pirang! Ternya orang cantik gak selalu punya self esteem baik. Ketika di ujung audisi  tinggal tersisa 2 : Jeane dan Kyla, saya piker Jeane yang akan lolos. Kenapa?

Kyla masih mentah banget. Ia cantik tapi nggak sekuat Jeane berkarakter di depan kamera. Jeane bertubuh mungil , bermata tajam, dengan dengan wajah sempurna dan selalu membuat orang terpaku ketika bertemu.

Tapi…Kyla yang menang. Wajah Kyla biasa, personalitynya yang hangat dan jebakan-jebakan karantina membuatnya menang. Apa saja kritik juri buat Jeane ketika perdebatan sengit harus memenangkan Jeane atau Kyla?

“Jeane sudah nggak bisa berubah. Dia kaku. Dia nggak mau mendengar masukan. Dia nggak akan bisa berkembang.”

“Kyla mau belajar. Dia  mau berproses.”

ANTM 24 - Kyla, Khrystyana, Shanice.jpg
Persahabatan Kyla, Khrystyana, Shanice para finalis ANTM season 24

Sepanjang masa akhir karantina, Shanice – Kyla – Khrystyana menjadi sahabat akrab. Mereka saling diskusi, bercanda, saling memberikan semangat. Jeane berbeda. Ia angkuh, lebih suka menyendiri, enggan bergabung dan cenderung meremehkan oranglain. Wajar saja demikian. Jeane sudah menjadi model professional dan ANTM kali ini adalah kali kedua ia masuk babak final! Berbeda dengan Shanice – Khrystyana apalagi Kyla yang masih mentah tentang dunia modelling.

Personality memegang peranan penting. Attitude sangat mempengaruhi karir seseorang, bahkan ketika ia bersaing di dunia Top Model yang bagi orang hanya sekedar pamer badan. Konon kabarnya, iklan Pantene akan memilih seorang Angel yang menjadi duta shampoo mereka dengan syarat sangat ketat. Salah satunya harus memiliki kepribadian yang baik .

Pada akhirnya saya mengerti kenapa panelis memilih Kyla Coleman.

Ia bicara gagap. Ia hanya pelayan Starbuck. Tapi ia peduli rasisme. Ia juga pernah menjadi guru volunteer anak-anak berkebutuhan khusus. Ia mampu bersikap bijak ketika kontestan lain menjulukinya “stupid!” . Ia rendah hati, mau mendengarkan orang lain.

Ketika ia mewakili ANTM season 24, netizen serempak memberi selamat kepada Kyla :  gadis muda yang sama sekali tak pernah berpikir jadi model karena keluarganya hanya kalangan menengah ke bawah.

Saya nggak terlalu mengikuti tayangan pemilihan miss universe dan sejenisnya.

Tapi saya suka cara panelis meloloskan pemenang  ANTM : personality dan attitude itu penting banget buat  public figure. Meski hanya kecantikan dan tubuh mereka yang menjadi modal utama dalam bekerja, orang tetap akan menyorot kehidupan sehari-hari. Kata-katanya. Perilakunya. Jadi kalau ada artis yang terekam bangun tidur ngamuk-ngamuk ke ART, selebritas yang memamerkan isi saldo ATMnya yang 40 juta “sekedar buat jajan aja”, harga tas seorang artis 2 M …hmmm. Gimana ya. Di satu sisi mungkin itu untuk menunjukkan buah jerih payahnya dan bagus untuk mendorong anak muda : tuh, jadi youtuber juga bisa loh punya penghasilan besar.

Di sisi lain, saya jadi miris juga. Ketika berita berseliweran memperlihatkan betapa kesenjangan social masih menjadi PR besar untuk bangsa kita. Kriminalitas karena kemiskinan, bencana social dan lain sebagainya; menyoroti kehidupan selebritis harus benar-benar dipilah dan dipilih untuk ditayangkan. Rasanya perih juga, mendengar orang-orang dengan gangguan psikis dan fisik tak mampu berobat karena kekurangan biaya sementara para selebritis mengumbar jumlah tabungannya. (Jangan bicara BPJS ya, karena kalau orang sakit bukan hanya sekedar bicara asuransi. Ongkos PP penunggu, logistic orang-orang di sekitar si sakit, dlsb. Apalagi jika yang sakit kepala keluarga)

Kehidupan seorang selebritis pasti akan menjadi pro kontra. Mereka tentu tak bisa kita paksa untuk hidup sederhana karena pekerjaan menuntut seperti itu. Saya maklum ketika baju artis harus 20 juta, karena ia harus tampil di depan public. Gak mungkin dia pakai baju saya yang murah meriah kan? Tetapi, peng eksposan berita itu yang bisa multitafsir.

Saya ingat seorang artis Michelle Adams, yang nggak punya media social karena memang nggak merasa butuh. Atau Tom Hanks yang tetap setia dengan istrinya yang telah dinikahi 30 tahun. Atau Keanu Reeves yang sederhana. Kehidupan positif artis macam itu rasanya perlu dipublish agar masyarakat yang sudah banyak problema menjadi terpompa semangatnya.

Stasiun televise perlu meramu kode etik tentang hal-hal yang perlu ditayangkan ke public dan mana yang tidak perlu. Kehidupan Maudy Ayunda yang sedang studi ke luar negeri, atau gimana beratnya latihan menyanyi para penyanyi, atau gimana repotnya artis membagi waktu antara sekolah-shooting/ kuliah-shooting, gimana kehidupan seorang dokter dan artis macam Nyctagina dan Lula Kamal; rasanya perlu ditayangkan. Prestasi para artis, tantangan profesi mereka, apa cita-cita mereka kalau sudah nggak laku lagi, kepribadian mereka, bagaimana kehidupan ketika mereka masih susah dulu. Bukan bercerita tentang kekayaan dan tabungan finansial yang itu sebetulnya menjadi arsip paling pribadi.

 

 

Semoga para public figure kita senantiasa dalam perlindungan dan keberkahan Allah Swt, aamiin.

 

Kategori
Cerita Lucu Hikmah mother's corner My family Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY WRITING. SHARING.

Mengatasi Fobia Kucing

Siapa yang sepakat kalau kucing adalah salah satu makhluk terlucu sedunia? Hayo ngacung!

Sejak kecil aku suka sekali kucing. Meski repot sekolah saat itu, aku tetap memelihara kucing. Seingatku, sejak SD aku suka memelihara kucing. Mengelusnya, menggendongnya, memeluknya; rasanya seneng banget! Apalagi kalau dia menempel-nempelkan badannya ke tubuh kita. Sembari mengeluarkan dengkur nafas yang khas. Kucing-kucingku suka dielus kepala sama dagunya, biasanya kalau dielus dua bagian ini, mereka akan terkantuk-kantuk.

Icung, kucing kami yang kiyuuuut banget !

 

Tapi, ada juga orang yang takut setengah mati sama kucing. Ketakutannya sampai terlihat nggak logis. Aku punya teman SMA (waktu itu kita nggak tau dia takut kucing), lalu kucing itu kita bawa ke dia, dia menjerit dan mengamuk! Teman kuliahku, pernah sampai pingsan pas makan di kantin. Gegara makhluk berbulu itu dengan tenangnya berjalan mendekati setiap pengunjung dan mengelus kaki-kaki yang bergelantungan di sana.

Aku tak percaya ada orang yang takut kucing.

Sampai aku menikah, dan mendapati suami dan anak pertamaku sangat benci kucing! Duh, sedihnya. Suamiku gak  bisa lihat kucing : jijik, nggak suka, sebel, bawaannya marah. Putriku? Lebih dashyat lagi. Sekedar lihat kucing tak bertuan tahu-tahu masuk rumah, lewat begitu aja, ia akan menjerit-jerit ketakutan sembari menutup muka, naik ke kursi dan menangis tersedu-sedu. Hadeeeh.

Awalnya, aku sih fine-fine aja dengan kondisi ini.

Ya sudah. Mau gimana lagi? Toh suami sama anakku gak suka kucing, ya gak usah melihara. Beres kan? Lalu ada kejadian yang mengharuskan kami melihara kucing. Awalnya, nggak niat melihara sih. Rumah kami sedang diserang banyak tikus. Mungkin karena rumah kami bekas areal persawahan. Para tetangga juga mengeluhkan rumah mereka yang banyak tikus. Meski makanan dan perkakas sudah kami tutup rapat, tikus masih suka kencing dan pup di mana-mana. Kotoran tikus sangat berbahaya, kan? Sudah coba pasang perangkap, lem, sampai racun. Tetap aja masih pada berdatangan. Lalu ada yang menyarankan : pelihara kucing saja. Meski kucingnya nggak doyan tikus, bau kucing sudah secara alamiah membuat tikus jera.

Nah, gimana dong dengan suami dan putriku? Kalau suamiku, beliau nggak fobia. Cuma gak suka. Cukup diskusi, selesai. Putriku fobia berat. Benar-benar nggak bisa berada di dekat, atau melihat kucing. Apalagi bersentuhan. Pernah dipaksa, ia benar-benar kaku keringatan menangis sejadi-jadinya. Padahal udah gede lho hahahaha.

Akhirnya, aku mencoba menterapinya dengan perlahan. Namanya CBT – cognitive behaviour therapy.

  1. Sisi kognitif. Definisikan ketakutan.

“Apa sih yang membuatmu takut dengan kucing?”

Awalnya, dia menjawab “pokoknya takut aja!”

Kutanya lagi, “Takut sama bentuknya? Tapi kamu nggak takut kelinci.”

Selidik punya selidik, dia emang geli banget sampai bergidik dengan tubuh berbulu kucing.

Lha kalau nggak berbulu seperti kucing Spinx, apa nggak takut? Katanya malah lebih “gilo” lagi! Lah, gimana sih? Oke deh. Aku juga nggak mungkin melihara Spinx. Harganya bo, kwkwkwk. Jadi kusimpulkan ia takut dengan benda berbulu. Kelinci berbulu tapi beda dengan kucing. Bedanya apa? ”Pokoknya beda,“ kata putriku jengkel.

Berarti ia memang memendam ketakutan karena bulu-nya, bukan bentuk, taring, apalagi sikap mengendap-endap kucing yang kayak hantu aja.

  1. Sisi kognitif. Bangun pemahaman baru bahwa kucing nggak sejelek yang dikira.

Karena nggak takut sama bentuk, tapi sama bulu, berarti putriku masih bisa lihat bentuk kucing. Hanya saja nggak bisa megang atau berdekatan. Adik-adiknya senang sekali nge-share meme lucu terkait kucing, juga membagi video lucu kucing yang tersebar di youtube, IG dan line.

Icung di besek.JPG
Icung suka tidur di tempat-tempat tak lazim 🙂

Awalnya putriku nyinyir, ”ïh ngapain sih? Sebel aku, kalian ngirim video kucing. NGGAK BAKAL aku seneng sama kucing.”

Tapi lama-lama suamiku dan putriku ngakak habis kalau liat video kucing yang lucu. Ini sesudah mereka menonton puluhan video kucing. Jadi bukan hanya sekedar belasan, apalagi satu dua video, ya.

Selain itu ada diskusi-diskusi yang kami bangun :

  • Rasulullah dan para sahabat juga suka kucing, artinya kucing itu hewan yang diberkahi.
  • Kucing adalah penghalau alami tikus. Kalau pakai racun, terus tikusnya mati di rumah tetangga, gimana?
  • Sebagai perempuan, harus bisa mengatasi fobia. Siapa tahu suami, atau keluarga suaminya kelak suka kucing. Nggak lucu kan, kalau misalnya mertua suka kucing lalu menantu saking takutnya mengunci diri di kamar.
  • Di Istanbul, Turki, ada masjid yang imam masjidnya suka banget melihara kucing. Indah kan? Harmoni antara manusia dan hewan, kucing-kucing dibiarkan ikut sholat dan ceramah.

Cat at Istambul Mosque

Kucing di salah satu masjid Aziz Mahmud Hudayi di Istanbul, Turki

 

  1. Sisi perilaku. Ajak melihat dulu. Ajak dekat. Ajak sentuh bulu.

Kalau ada kucing lewat ( di komplek perumahanku banyak kucing seliweran. Apalagi kalau emak-emak belanja di tukang belanja, kucing ikutan mejeng minta kepala ikan) , aku bilang ke putriku : tuh, kucing sama kamu, ukuran badannya lebih gede mana?

Putriku cemberut, tapi ia mikir juga.

”Apa semua kucing menyerang kamu? Nggak kan?”

Lama-lama, putriku nggak histeris kalau lihat kucing lewat.

Lambat laun, putriku hanya waspada kalau lihat kucing , ”Asal dia gak dekat-dekat aku!”

Lama-lama dia mau ngasih makan kucing, tapi nggak mau kalau sampai bersentuhan.

Dan akhirnya, sekarang ia sudah bisa memegang kucing, meski belum bisa menggendongnya.

Putriku & Icung, kucing kami
Putriku sudah bersahabat dengan Icung

Alhamdulillah, di rumah kami memelihara seekor kucing. Kucing ini hadiah dari seorang teman. Sepasang suami istri tua akan membuangnya, dan kami menampungnya. Waktu itu usianya baru 3 bulan, kasihan sekali. Sekarang sudah jadi kucing yang gemuk dan cantik. Dihitung-hitung, nyaris setahun kami melakukan CBT pada putri kami agar ia mulai terbiasa dengan hadirnya kucing. Ia nggak harus melihara kucing kalau sudah menikah. Tapi kalau kelak orang-orang terdekatnya suka kucing, minimal ia bisa ikut bersahabat dan tidak bermusuhan dengan kucing.

Kamu gimana?

Sudah bisa ngatasi fobia kucingmu? J

Kategori
Game Musik My family Oase Remaja. Teenager Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Orangtua Belajar Game : dari PUBG sampai Alan Walker

 

“Ummi coba nonton K/DA popstar, opening ceremony dari League of Legends,” saran putriku, ketika aku bilang malas belajar game.

Sebagai orangtua dan psikolog, mau tak mau aku harus belajar apa yang menjadi hobi, perhatian, kesukaan dari subyek klienku yang didominasi remaja dan orangtua yang mengeluhkan kondisi anak-anak mereka. Membahas dunia anak muda membuatku dapat ‘masuk’ lebih dalam ke inti permasalahan. Misal, konflik harapan akademis orangtua VS anak dapat diredam ketika aku berdiskusi menggunakan cara-cara Rap Mon alias Kim Nan Joon (BTS) merayu mamanya.

K/DA Popstars  dan  Rap Mon (BTS)

Mendalami music dan film, bagiku tak masalah karena dulu sewaktu remaja akupun menyukai dunia ini. Awalnya susah sekali menghafal nama artis, label manajemen, judul lagu, nama fanbase artis Korea dan K-Pop. Bukan hanya karena nama-nama yang masih asing, tapi juga kultur Korea yang sangat berbeda dibanding ketika dulu aku menggandrungi Westlife atau Backstreet Boys.

Game?

Orangtua banyak mengeluhkan keterkaitan anak dengan dunia ini. Aku merasa : “ah, sudahlah. Nggak perlu belajar game dan seluk beluknya. Dirujuk ke psikolog lain aja kalau nggak cocok. Malas.”

Dasarnya emang nggak suka game, selain Candy Crush dan Luxor (kata anak-anakku : itu bukan game!)

Tapi sudut pandangku mulai berubah ketika sekitar berbulan-bulan lalu putriku mengkoreksiku masalah perkembangan game yang harus diketahui psikolog, terlebih sebagai orangtua. Dan aku terkesima melihat K/DA popstar edisi opening ceremony.

Bukan hanya karena lagu itu dibawakan Madison Beer, Jaira Burns serta anggota (G)-idle yang sedang tenar seperti Miyeon dan Soyeon; tetapi juga karena lagunya yang nge-beat banget, easy listening dan…edisi spektakuler megah  perpaduan entertaintment serta teknologi. Di opening ceremony tersebut, nyaris tak bisa di bedakan 4 penyanyi asli dengan tokoh LOL Akali – Ahri – Kai’sa –Evelynn versi 4 dimensi. Mana manusia, mana animasi benar-benar berbaur jadi satu.

Sejak menonton K/DA popstar opening ceremony, pandanganku terhadap game berubah.

Orangtua tak bisa memandang sebelah mata permainan ini, kita harus belajar agar benar-benar memahami dunia anak, dapat mengevaluasi dan mengontrolnya.

PUBG dan Alan Walker

Tetap saja aku nggak mahir main game. Tapi mulai tahu sedikit-sedikit yang disukai anak-anakku meski mereka bukan gamer sejati. Oh ini yang namanya Skyrim, oh ini Mobile Legend, Seven Knights, Honkai Impact 3rd dan tentu saja PUBG (playerunknown’s battleground).

 

Skyrim dan Seven Knights

“Skyrim bagus lho,Mi, ada unsur sejarahnya,” kata putriku.

Awal aku melihat PUBG langsung pikiranku berkata, “emang pantes disukai anak-anak. Dinamis, energik, memacu adrenalin. Anak jadi merasa berada di dunia yang sangat aktif. Sebuah dunia yang sekarang jarang disentuh.”

Ya.

Mana ada anak main lari-larian sambil bawa senapan pak-pak dor seperti kami dulu di masa kecil. Dunia perang-perangan, benteng-bentengan, hide and seek. Apa yang tidak ada di dunia nyata, sekarang dipindahkan ke dunia maya. Main sembunyi-sembunyian, perang-perangan, mempertahankan wilayah. Bedanya, kalau dulu dimainkan anak-anak; sekarang divisualisasikan dewasa. Dan tahu sendiri ‘kan, mainan orang dewasa? Adegan kekerasannya lebih terasa, senapannya bukan kayu tapi visual senjata senapan mesin.

PUBG-Feature-640x353.jpg
PUBG

PUBG sebetulnya tidak sesadis Resident Evil yang penuh adegan darah.

Tapi menurutku, PUBG tidak cocok dimainkan anak-anak dan remaja.

Kill 1, kill 2, kill 3.

Setiap kali berhasil menembak orang; ada laporan jumlah sasaran. Bagiku, memang ini menjadi addiction tersendiri. Kalau sudah bunuh 10, pingin nambah jadi 20, dst. Tidak ada daran mengalir dan organ tubuh zombie terkoyak yang mengerikan menjijikkan seperti Resident Evil, tetap saja, semangat untuk membunuh itu yang membahayakan.

Tetapi, sebelum melarang, orangtua perlu tahu dulu.

“PUBG menurutku biasa aja,” kata anak cowokku.

“Kamu gak pingin main?”

“Nggak. Aku nggak suka tipe itu.”

“Tapi temanku biasa main,” kata anak cewekku. “Biasa aja.”

Karena aku sudah tahu sedikit, aku bisa berkomentar,” nggak sih. Menurut Ummi gak biasa. Meski gak ada adegan sadisnya, permainan itu mengarahkan membunuh musuh sebanyak-banyaknya. Bahkan yang sudah merangkak tak berdaya, harus dipastikan ditembak supaya mati dan dapat skor. Membunuh, tanpa tahu kesalahannya apa, kan nggak bagus?”

 

Alan Walker?

Nah, kalau kita sudah belajar game, akan berkembang ke dunia sekelilingnya. League of Legends punya lagu khas banget, yang membuat pemainnya merasa jadi hero. Nge-beat, buat bergairah.

PUBG apalagi.

Soundtrack PUBG dibawakan sangat apik oleh DJ Alan Walker dengan lagu-lagu yang punya pesan-pesan tertentu. Untuk PUBG, lagu On My Way yang dibawakan Sabrina Carpenter, Farruko, Alan Walker ini sempat menjadi trending topic nomer 1 di youtube. Fans lagu membuat beberapa versi fanmade seperti Ignite (Alan Walker, Julie Bergan, Seungri) untuk PUBG juga. Bisa dibayangkan, kalau sedang main PUBG, diiringi On My Way dan Ignite, serasa jadi pahlawan masa kini yang dinamis, energik, super keren!

On My WayOn My Way dan Ignite karya Alan Walker

            Lagi-lagi, orangtua perlu belajar tahu siapa DJ tenar dunia seperti Chainsmoker, Zedd, dan tentunya Alan Walker. Khusus Alan Walker, nanti perlu dikupas tersendiri terkait lagu-lagunya dari tema psikologis. Sebagai DJ dengan sosok misterius yang sering menggunakan topeng; followers DJ Walkzz atau Alan Walker ini luarbiasa banyaknya.

Sebagai emak-emak pengamat music, aku sendiri sangat tertarik mempelajari Alan Walker. Siapa dia? Kenapa lagu-lagunya sangat bagus dan enak didengar? Sangat bagus di sini dalam pengertian musiknya ya, bukan isi esensinya. Sebab esensi dari lirik lagu Alan Walker punya sisi darkside yang harus diwaspadai siapa saja.

Sejak kemunculan Faded-nya Alan Walker, aku memang penasaran.

Banyak sekali artis yang one hit wonder. Tapi Alan Walker, di usia 21 tahun sudah mengeluarkan lagu-lagu yang unik dan pasti digemari anak muda : Fade, Sing Me to Sleep, Different World, All Falls Down, Lily, Ignite dan tentunya, On My Way. Semuanya laris manis di pasaran.

On My Way Alan Walker.jpg
Alan Walker yang misterius 

Jadi, pantas saja anak muda gemar PUBG apalagi bila diiringi lagu-lagu Alan Walker.

Permainan ini diharamkan di beberapa wilayah, meski Arab Saudi malah menggelar perhelatan PUBG. Sebagai orangtua, kita harus sangat berhati-hati terhadap paparan teknologi dan informasi yang mengepung anak-anak kita. Belajarlah, bangun komunikasi, dan tunjukkan; sisi mana dari PUBG ini yang berbahaya. Menjalin komunikasi dengan anak akan membantunya mengerti dan membuat imunitasnya berkembang secara alamiah. Memang, kadang kita enggan mempelajari kesukaan anak. Akupun awalnya tak terlalu suka K-Pop, apalagi game. Kalau drama dan film Korea, suka-suka aja karena banyak yang bagus. Tapi karena anak-anakku dekat dengan dunia ini, mau tak mau harus mempelajarinya. Setelah mempelajarinya, kita akan tahu mau ‘masuk’ dari sisi yang mana.

 

 

Kategori
Catatan Perjalanan Oase Travelling

Tempat Favorit Sepanjang Mudik Lebaran 2019

Lebaran selalu punya kisah. Mulai persiapan keberangkatan yang ruwet, sampai cerita macet di mana-mana. Meski tol sudah dibangun, tetap aja macet. Yang namanya orang mau mudik segitu banyaknya hahaha. Urusan kue kering, sudah ada yang handle. Aku nggak sanggup bikin sendiri. Capek (alasan!).  Sebetulnya karena belum mahir bikin kue kering. Sepanjang  perjalanan mudik, ada beberapa tempat favoritku beserta keluarga. Silakan simak ya!

 

  1. Masjid

 

Kami insyalllah sering mampir masjid. Buat pipis, buat cuci muka, buat sholat jama’ qashar. Buat rehat sejenak. Sepanjang jalanan yang panas, benar-benar buat pikiran tegang. Meski dalam mobil ber AC, yang namanya orang mudik, pasti kepalanya panas. Yah, segitu banyaknya orang ingin cepat sampai.

Ada yang ngantuk, lalu main kebut seenaknya.

Ada yang capek, lalu parkir sembarang parkir.

Ada yang mudik pakai sepeda motor, nah ini yang bikin deg-degan. Beragam kondisi pengendara : rata-rata bawa barang oleh-oleh banyak. Bawa anak kecil juga. Bisa dipastikan mereka juga kelelahan sehingga terkadang tak taat berkendara.

Masjid, jadi tempat kami relaksasi.

Ada beragam jenis masjid. Ada yang tua, ada yang baru dibangun. Ada yang sudah sempurna bangunannya, ada yang masih ala kadarnya. Tapi entah kenapa, air di masjid itu sejuuuk sekali. Rasanya kalau membasuh muka, byaaarrr.

Di bawah ini beberapa masjid yang kami kunjungi dalam perjalanan mudik dan balik 2019.

Al Aqsho depan
Bagian depan masjid Al Aqsho, Klaten. Megah ya?

Al Aqsho Klaten ini merupakan Masjid Agung. Selain interiornya cantik, tersedia ruang unik seperti ruang menyusui dan kolam terapi ikan.

 

Masjid Tulis, Batang yang masih belum jadi. Masjidnya sederhana. Penunggunya seorang lelaki sepuh yang sangat ramah dan sabar. Beliau rajin bebersih.

 

2. Kuliner berbagai kota

Indonesia memang negeri kaya raya. Dapat dilihat dari berbagai jenis makanan. Kampung halaman suamiku, Tegal, dikenal dengan para pengusaha warteg alias warung Tegal yang rata-rata kaya raya. Masakannya…sedaaap. Dan murah! Bayangkan, di warung pinggir jalan yang namanya nasi lengko, kupat lengko, kupat  lodeh paroh , kupat jangan kuning rasanya enak-enak banget. Harga? Rp. 5000! Di Surabaya uang lima ribu hanya cukup buat parkir mobil. Tapi di Tegal masih bisa buat beli makanan satu porsi yang mengenyangkan dan bikin lidah kepelet.

 

Sauto Senggol Tegal

Ada lagi sauto senggol, Tegal. Letaknya dekat alun-alun dan masjid Agung kota Tegal. Kalau di sini, siap-siap antriiii! Apalagi waktunya makan siang atau makan malam. Meski antri (aku sudah berkali-kali kalau mudik dan kemari selalu antri!!) pengunjung tetap rela. Jangan salah kamar, ada beberapa sauto di situ. Sauto Senggol Tegal yang terenak (menurutku) , letaknya persis di sisi kantor polisi Tegal. Bisa kelihatan dari ramai pengunjungnya sih. Harga Rp. 18.000 per porsi. Yang tersedia sauto ayam, sauto campur (ayam + jeroan daging kambing).

Sauto Senggol Tegal

 

Grombyang, Pemalang

Berkali-kali aku kemari, tutup. Pas balik Surabaya, Alhamdulillah buka. Grombyang ini mirip soto, tapi rasa kuahnya lebih pekat. Dagingnya juga berbumbu rempah dan manis. Disediakan sate sapi berempah kalau yang mau daging tambahan. Harganya relative murah (aku lupa harga  tepatnya). Sekitar Rp. 20.000. Grombyang yang terkenal enak letaknya dekat rumah sakit Harapan Sehat dan Klinik Hajah Zaenab, Pemalang. Kalau bawa mobil siap-siap mondar mandir bolak balik cari parkiran kosong, ya.

Grombyang, Pemalang

Burger Monalisa, Yogyakarta

Nah, kalau Yogya kulinernya juga banyak banget dan banyak juga yang khas. Aku cuma mau mengutip satu jenis  makanan khas mahasiswa yang beda, yaitu burger Monalisa. Harganya Rp. 22.000 letaknya di jalan Kaliurang. Antriannya? Padat, Man! Tapi percayalah, worth it. Rotinya enaaak banget. Bahkan, saat kubawa ke hotel dan nginap sampai besok paginya, rasa burgernya masih enak termasuk rotinya dalam kondisi dingin akibat terpapar AC kwkwkwk.

Aku suka burger Monalisa karena rasanya yang gak berubah selama puluhan tahun dan kami punya memori tersendiri terkait burger ini. Ya, waktu pengantin baru 1994, aku dan suamiku mencicipi burger ini untuk pertama kalinya berdua. Cieeee.

Burger Monalisa.JPG
Burger Monalisa, Yogyakarta

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Catatan Perjalanan mother's corner Oase Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY WRITING. SHARING.

Bagaimana Jika Minat-Bakat Anak, Bertentangan dengan Keinginan Orangtua?

“Papa mamaku dokter. Mereka ingin aku jadi dokter juga. Tapi aku nggak mau!”

“Aku suka jadi EO, tapi orangtuaku pingin aku sekolah D3 teknik. Gimana?”

“Awalnya aku kulian di institute agama. Lama-lama orangtuaku tahu, aku berbakat di music.”

“Sepanjang hidup aku nurut orangtuaku, tapi aku sudah nggak tahan lagi. Aku sebetulnya suka gambar dan ingin masuk desain grafis!”

 

Tidak semua orangtua paham, bahwa Allah Swt menitipkan bakat yang luarbiasa ke dalam diri anak-anak. Kalau Leah dulu tidak bersabar mendampingi anaknya menonton televise, mungkin kita tak pernah tahu ada sutradara seperti Steven Spielberg –terlepas pro kontra tentang dirinya. Kalau Paul Jobs tidak rajin mengajari anaknya jadi tukang kecil, dunia mungkin tak menikmati perangkat teknologi seperti yang diciptakan Steve Jobs. Sebetulnya, bagaimana cara orangtua melihat minat bakat anak-anaknya?

Sinta & Siswi SMPIT Al Uswah Tuban
Siswi SMPIT Al USwah Tuban, kelas IX

3 Minat Bakat Utama

Bila seorang anak usia SMP atau SMA menjalani tes bakat minat, mungkin akan muncul 3 minat bakatnya yang tertinggi. Bisa jadi medical – science – social service ; bisa jadi aesthetic-literacy-music. Bisa jadi computational-clerical-practical dan sebagainya. Bahkan kadang-kadang tercipta kombinasi unik : medical – literacypersonal contact.

Kombinasi ini benar-benar anugerah Allah Swt. Dan sebagian bisa jadi karena stimulus lingkungan. Baca deh buku Outlier karya Malcolm Gladwell.

Bagaimana kalau bakat minat sudah ditemukan?

Nah, banyak orangtua nggak siap!

Ada yang kedua orangtuanya dokter (sudah pasti keduanya pintar dan ber IQ tinggi) , anaknya harus kuliah kedokteran. Padahal tak muncul sama sekali bakat minat sains, apalagi medisnya. Yang muncul justru social service – personal contact –literacy. Dapat dibayangkan kalau anak pintar ini jadi pengacara atau politikus ; ia akan sangat cemerlang di bidangnya. Kita juga ingin orang-orang jenius di bidang hukum dan sosial, bukan?

Di era medieval age; para alim ulama menguasa banyak ilmu pengetahuan. Umar Khayyam misalnya, bukan hanya ahli Quran dan Hadits, tetapi jusa ilmuwan, matematikawan, astronom, sastrawan. Seringkali alim ulama menguasai banyak bidang karena Allah Swt memang sudah menitipkan setidaknya 2 atau 3 bakat minat dalam diri setiap manusia. Kalau para orangtua juga masih mencari-cari apa potensinya, silakan dicari agar hidupnya bahagia.

Begitupun, jangan abaikan, jangan menolak apa yang menjadi bakat minat anak-anak. Peluang keberhasilan di atas muka bumi bukan hanya dimiliki orang-orang sains; tetapi orang sosial pun dapat hidup makmur dan sukses – kalau harapan orangtua adalah agar anaknya bisa hidup mapan.

Para orangtua yang luarbiasa mendampingi ananda di acara AMT SMPIT Al USwah Tuban

Orangtua Bijak

Ada seorang anak yang bercerita.

“Aku dulu kuliah di IAIN (UIN sekarang). Lalu ibuku tahu aku nggak terlalu suka bidang agama. Aku pindah kuliah ke universitas yang ada musiknya. Alhamdulillah, aku udah bisa cari uang sendiri sejak kuliah.”

Si anak sering diminta nge-lesin anak SD, bahkan membantu terapi anak ABK yang butuh stimulus music.

Ada lagi anak yang bercerita.

“Aku dulu kuliah di salah satu UN terus nggak nyaman. Untung orangtuaku paham. Aku terus ambil tata rias sekaligus tata busana.”

Ketika aku bertemu ayahnya, luarbiasa tanggapannya, “Alhamdulillah Bu, anak saya tetap berjilbab ketika mendandani artis sebelum tampil di layar kaca. Dan dia sekarang merancang hijab syari buat para artis.”

Nah, luarbiasa bukan? Si anak berdakwah kepada artis dengan caranya sendiri! Coba dia dipaksa kuliah di bidang yang bukan kesukaan dan keahliannya.

Tetapi bagaimana jika orangtua memang memiliki harapan tertentu?

“Aku berharap anakku segera kerja,” keluh sepasang ayah dan ibu. “Kami hanya pedagang. Kami memang paksa dia sekolah sejak SD dan kuliah seperti sekarang.”

Ada orangtua yang memang butuh agar anak-anaknya segera mandiri lantaran ekonomi keluarga butuh support segera dari si anak. Tentu saja, ‘memaksa’ anak seperti ini bukan perkara yang salah 100%. Kuncinya :

  1. Komunikasi terus menerus
  2. Bersabar ketika anak ngambek
  3. Dampingi ketika anak menghadapi masa-masa sulit (aku benci sains! Tapi aku harus kuliah di sini. Mana kakak kelasnya jahat, dosennya gak ada yang pengertian!)
  4. Ketika anak mengeluh terus menerus, dengarkan. Jangan emosi, menyalahkan.
  5. Doakan
  6. Ucapkan kata-kata positif dan terimakasih atas pengorbanannya :”makasih ya, Kakak mau kuliah kedinasan. Bosan ya? Semoga kalau Kakak udah punya uang sendiri, Kakak bisa beli apapun dan pergi kemanapun sesuai keinginan.”

 

Rap Monster BTS ( Kim Nam Joon) bersama ibunda tercinta. Klik sumber (Kiri & kanan.)

 

Anak Bijak

Eh, selain orangtua bijak adapula anak-anak bijak yang mampu mengalah demi keinginan orangtua. Mereka ini juga akhirnya sukses di bidangnya.

Penyuka KPop pastilah kenal dengan BTS yang diasuh Big Hit Entertaintment. Sudah diketahui secara luas, Korea termasuk salah satu negara dunia timur yang sangat menjunjung nilai filosofi Konfusianisme selama 2000 tahun, khususnya ajaran berbakti pada orangtua dan hormat pada yang lebih senior. RM atau Rap Monster (Kim Nam Joon) memiliki IQ yang hanya dimiliki 10% manusia di atas muka bumi. Pantaslah ayah ibunya yang seorang professor dan doktor berharap, si anak mengambil gelar akademis.

Rap Mon tidak membangkang pada ayah ibunya. Kepada sang mama, ia melakukan pendekatan manis.

“Ma, kalau aku ranking 5000 dengan ranking 1, Mama lebih suka mana?”

Orangtua pasti akan bilang : Mama suka kamu ranking 1.

“Kalau aku di bidang akademis, meski aku pinter, aku paling ada di ranking 5000. Tapi kalau aku menggeluti dunia yang aku sukai, aku bisa ranking 1.”

Sang mama pun luluh.

Akhirnya RM terbukti bisa membawa BTS mendunia, bahkan jadi spokeperson PBB. Wah, keren ya cara menaklukan hati sang ibu?

Ada lagi kisah seorang muslimah.

“Aku dulu kuliah S1 dan S2 di  bidang medis. Ibuku berharap aku segera kerja dan kembali ke kampung, maklum aku berasal dari desa. Padahal ternyata bakatku di literasi.”

Sekarang, muslimah itu terus mengembangkan bakat literasinya. Bahkan ada juga muslimah yang punya kisah serupa, ia S1 S2 medis karena ingin menuruti hati ibunda, lalu kuliah lagi bahasa Inggris sesuai bakat minatnya. Sekarang, ia mengelola blog kesehatan, in English pula! Wah, keren banget ya.

Bagi anak-anak muda, berbakti pada orangtua tidak pernah ada ruginya. Akan kita temukan kebahagiaan di sana. Berbakti apda orangtua juga bukan berarti mengubur cita-cita. Bagi yang memiliki kepribadian kuat dan kemampuan otak kuat, turuti dulu keinginan orangtua sembari kita mengejar cita-cita. Nggak perlu stress, segera tekuni hobby untuk mencari keseimbangan.

Tetapi, kalau di tengah jalan mulai tak kuat, mungkin karena kemampuan otak yang pas-pasan dan tipe kepribadian kita yang peragu, pencemas, mudah goyah; segera komunikasikan dengan orangtua. Hayooo, lihat lagi film 3 Idiots, bagaimana Farhan berkata lemah lembut pada ayahnya. Jangan sampai, kita sekolah dan kuliah di tengah-tengah, sudah hampir skripsi, orangtua sudah habis banyak biaya lalu tiba-tiba….”aku nggak kuat!”. Kasihan sekali orangtua kalau begini.

 

Datangi Konselor

Di setiap sekolah dan kampus sekarang biasanya dibuka unit layanan psikologi. Manfaatkan biro ini sebaik-baiknya, kalau memang orangtua dan anak masih bingung mau kemana merancang karir. Mau ke mana sekolah. Mau kemana arah tujuan akademis. Insyaallah bertanya pada ahlinya akan memberikan satu sudut pandang baru.

Yuk!

Bagi para orangtua yagn sudah senior, kalau belum menemukan bakat minatnya, boleh kok digali lagi dan dioptimalkan. Tak usah ragu! Saat saya residensi penulis di Seoul, banyak bertemu orangtua Korea yang berusia 50, 60 tahun bahkan sudah nenek-nenek menemukan bakat mereka yang terpendam karena kewajiban : menulis novel.

Bagi anak-anakku yang masih mencari dunia baru, teruslah berkembang. Kalau kalian memang harus berbakti pada orang tua dan menuruti keinginan orangtua, bersabarlah. Jangan khawatir, masih tersisa kesempatan untuk mencapai apa keinginan kalian. Tetapi, kalau kalian bisa menjalin komunikasi baik dengan orangtua, pahamkan mereka bahwa insyaallah kalian punya cita-cita hebat dan cara hebat tersendiri untuk menjadi sukses.

Kiri : siswa SMPIT Al Uswah Tuba. Kanan : para ustadz ustadzah, guru yang luarbiasa

(Catatan usai mengisi acara Achievement Motivation Training di SMPIT Tuban, 24 Maret 2019)

 

 

 

Kategori
Buku Sinta Yudisia Fiksi Sinta Yudisia Karyaku Kepenulisan Menerbitkan buku Novel Oase Perjalanan Menulis Single in Love Tulisan Sinta Yudisia

Single in Love, buku ke-66 & Judul bukuku yang lain

Alhamdulillah sebentar lagi, bukuku yang ke-66 insyaallah terbit. Ini termasuk urutan buku antologi alias buku yang dikerjakan ramai-ramai.

 

Kalau buku solo, ini buku ke-44 insyaallah. Alhamdulillah, kali ini Single in Love berjodoh dengan penerbit KMO Indonesia.

 

Cover Single in Love + endorsment prof. Koh.JPG

Doakan agar menjadi buku mega-best seller ya 🙂

Bagi yang ingin tahu judul bukuku, ini daftar bukunya :

 

Novel :

  1. Sebuah Janji (GIP)
  2. The Lost Prince (GIP)
  3. Kekuatan Ketujuh (Beranda)
  4. Kuntum-kuntum Bunga (FBA Press)
  5. Ain & The Gank : Coz I Luv U (LPPH)
  6. Ain & The Gank : Gotcha! (LPPH)
  7. Melintasi Batas (Mizan)
  8. Langit Lembayung (Mizan)
  9. Armanusa (Mizan)
  10. Lafadz Cinta (Mizan) – Best Seller
  11. The Road to The Empire- Des 2008 (LPPH)
  12. Reinkarnasi –LPPH – terbit Agustus 2009
  13. Existere (LPPH –Juni 2010)
  14. Takhta Awan, sekuel The Road to the Empire (LPPH 2011)
  15. A Rose (2012, Indiva Publishing)
  16. Rinai ( 2012, Indiva Publishing)
  17. Bulan Nararya (2014, Indiva Publishing)
  18. Polaris Fukuoka (2017, Pastelbooks)
  19. Reem (2017, Pastelbooks)
  20. Lafaz Cinta-republish (2018, Pastelbooks)
  21. Sirius Seoul (2018, Pastelbooks)
  22. Single in Love (on process 2019, KMO)

 

Antologi :

  1. Dapur Kreativitas Para Juara (Mizan)
  2. Cinta Ya Cinta (Mizan)
  3. Selaksa Rindu Dinda (GIP)
  4. Jendela Cinta (GIP)
  5. Sahabat Pelangi ( LPPH)
  6. I Love U So Mad (LPPH)
  7. Jilbab Pertamaku (LPPH)
  8. 17 Tahun (LPPH)
  9. Kisah Kasih dari Negeri Pengantin (LPPH)
  10. Desperate Housewives (LPPH)
  11. Matahari Tak Pernah Sendiri 1 (LPPH)
  12. Matahari Tak Pernah Sendiri 2 (LPPH)
  13. Kutemukan Cinta dalam Tahajudku (Bina Ilmu-2008)
  14. Doa-doa Enteng Jodoh (LPPH-2009)
  15. Bukan Republik Mimpi – Progressio, 2009
  16. La Tahzan For Mother – (LPPH- 2009)
  17. Emak-emak Fesbuker – (Leutika Publishing-2010)
  18. I Love You, Friend –(LPPH-2010)
  19. Storytelling Asia – ASIA Magazine, Seoul, North Korea, 2016
  20. Sedekah Minus (Reverse Donation) , dalam ASIA magazine, Summer 2016, edisi 41
  21. Big-City Children and Curative-Literacy, dalam ASIA magazine, Autumn 2016, edisi 42
  22. Spirit 212 : Cinta Ini Menyatukan Kita (20117, Indiva Publishing)

 

Non fiksi :

  1. Hi, Pretty : 30 hari menjadi cantik (GIP)
  2. Rival-Rival Istri (LPPH)
  3. Kitab Cinta dan Patah Hati (2013, Indiva)
  4. Sketsa Cinta Bunda (2014, Indiva)
  5. Cinta x Cinta : Agar Masa Remaja Tak Sia-sia (Indiva Publishing 2015)
  6. Psikologi Pengantin ( Indiva Publishing 2016)
  7. Mendidik Anak dengan Cinta (GIP, 2017)
  8. Sarah : Seri Perempuan Istimewa ( GIP, 2017)
  9. Seksologi Pernikahan Islami ( Indiva Publishing, 2019)

 

Kumpulan Cerpen :

  1. Bulan di Atas Grotte Markt (GIP)
  2. Red Jewel of Soul (Zikrul Hakim)
  3. Cadas Kebencian (Mizan)
  4. Nyanyian Surga (Mizan) – naik cetak 3x
  5. Pink (Mizan) – Best Seller

 

Buku Anak-anak :

  1. Ketika Upi Bertanya (GIP)
  2. Janji Cici (GIP)
  3. Lulu Sayang Adik (GIP) – naik cetak 2x
  4. Bu Guru Sayang (GIP) – naik cetak 2x
  5. Hantu Kubah Hijau (Novel Anak, Indiva Publishing, 2017)
  6. Juru Kunci Makam ( Novel Anak, dalam proses revisi)

 

Duet :

  1. Bersama Izzatul Jannah : Gadis di Ujung Sajadah (FBA Press)
  2. Bersama Fahri Asiza : Mempelai Tanpa Pengantin (LPPH)
Kategori
Bunda Cantik. Beautiful Mother Cerita Lucu Oase WRITING. SHARING.

♥ Susahnya Jadi Orang Cantik! ♥

 

Pernah merasa sial karena wajahmu nggak cantik, tubuhmu nggak proporsional? Apa yang ada di dirimu kayaknya serba tak pas. Hidung kurang mancung, alis bahkan nggak ada, mata kekecilan , kulitpun terlalu gelap. Kisah seorang teman, sebut namanya Lusi, mungkin bisa dijadikan gambaran.

“Kenapa ya, Bu, aku selalu ..apa ya? Sial atau bagaimana? Pokoknya aku sering merasa nggak beruntung.”

Lusi, sejak SD hingga kuliah selalu merasa nggak cantik. Padahal menurutku ia manis, pandai berdandan dan pintar pula.

“Tahu nggak, Bu,” katanya. “Sejak SMP itu nggak tahu kenapa, teman-teman se-gengku cantik-cantik semua. Sampai kuliah pun begitu! Aku juga nggak tau kenapa komposisinya bisa aku yang paling jelek ada di antara mereka.”

Ya.

Bisa kubayangkan sakitnya jadi Lusi.

Teman satu geng-nya cantik semua. Waktu SMP, zamannya masih naik sepeda motor, teman satu gengnya yang cantik-cantik itu selalu dapat tumpangan pulang. Jangankan minta diantar pulang, para cowok pasti berebut minta ngantar cewek-cewek cantik itu. Setengah memaksa, malah.

“Kalau aku?” Lusi tertawa kecut. “Boro-boro, Bu. Pernah aku kemalaman belajar bersama, teman cowokku bilang : ya udah kamu nebeng siapa gitu loh. Atau kamu mboncengin siapa, hitung-hitung menawarkan jasa.”

Kondisi itu membuat Lusi minder berat.

Apalagi pas saya nanya, “pasti kamu punya kelebihan dibanding teman-teman cantikmu itu? Lebih pintar, misalnya.”

“Lhaaa, itu, Bu,” Lusi nyengir. “Temen-temenku itu, cuantik-cuantiiiik (logat Suroboyoannya keluar!). Udah gitu pinter-pinter banget. Nilaiku selalu yang paling kecil di antara yang lain. Mana kaya lagi.”

Ya iyalah, kataku dalam hati. Kalau anak orang kaya, sudah pasti cantik. Perawatan, gitu loh! Pintar? Ya, bisa juga. Kan bisa les ini itu. (Eh, kenapa ikutan sirik liat orang cantik ya?)

Lusi kelihatan semakin sedih dengan pemikirannya. Dia yang paling jelek, dia yang paling nggak pinter. O, apalagi yang tersisa?

“Mmm, apa temanmu yang cantik itu punya perilaku yang baik?” tanyaku.

“Mereka baik-baiiik banget, Bu. Suka nraktir saya. Bahkan, sahabat dekatku –sebut namanya Ayu- selalu bawa masakan dari rumah. Dia minta mamanya tiap pagi masak dua porsi- satu untuk saya, satu untuk dia.”

Dengar itu, aku jadi ikut-ikutan minder. Cantik, kaya, pinter, baik hati pulaaa?

beautiful and ugly woman.jpg
Beautiful and ugly girl

~Kenapa Si Cantik Suka Berteman denganmu?

“Kenapa sih Ayu suka berteman dengan Lusi?” tanyaku.

“Kata mereka, aku ini orangnya tulus. Suka nolong. Nggak macam-macam. Gak oportunis.”

Ya. Ada orang yang begitu berteman dengan orang kaya, nebeng ini itu. Pinjam bedak, pinjam lipstick.

“Mungkin itu yang buat banyak orang suka sama Lusi, termasuk teman satu gengmu yang cantik-cantik itu,” pujiku.

Lusi happy sebentar, lalu muram lagi.

“Tahu nggak, Bu, dari dulu saya ini selalu jadi penghubung. Tiap kali ada yang naksir Ayu, mesti dekatin saya. Ibu bisa rasakan nggak sih, setiap cowok yang dekat, selalu nanya-nanya Ayu? Apa makanan kesukaan, hobby, rumahnya daaan segala macam.”

Aku meringis. Dasar cowok nggak punya hati!

“Bahkan, kalau lagi jalan berdua sama Ayu nih, Bu, banyak cowok yang suit-suit. Saya terpaksa nyolek Ayu dan bilang, ‘Yu, kamu dipanggil cowok itu. Siapa tahu teman SD mu atau teman lamamu. Nggak enak kan ketemu di  jalan dipanggil nggak nyapa.’”

Saking banyaknya yang nge-fans Ayu, Ayu pasti udah mati rasa dipanggil, ditaksir, ditelpon, dititipin salam, dikasih hadiah diam-diam dan seterusnya.

 

~Pasti ada kelebihanmu

Lusi masih berkutat dengan kemuramannya. Masa SMP, SMA hingga kuliah yang dilaluinya penuh tekanan akibat berteman dengan orang-orang cantik, membuatnya minder luarbiasa. Malu dengan kondisi tubuhnya yang hanya punya wajah ala kadarnya dan tubuh tak terlalu tinggi, bahkan berisi. Istilah sekarang , body shaming. Malu dengan kondisi tubuh dan ingin mengubahnya biar sempurna.

Susah memang, bicara dengan orang yang hanya memandang diri negatif. Apapun sisi kelebihan, justru hanya akan dilihat sebagai sumber kekurangan. Apapun maksud baik orang, dianggap sebagai serangan dan ejekan. Misal, kenapa Ayu senang berteman dengan Lusi adalah karena Ayu nggak banyak punya teman yang bisa dipercaya. Sementara Lusi yang cenderung biasa-biasa saja –bahkan mengaku jelek- tak punya hal untuk ditampilkan kecuali kebaikan hatinya yang luhur. Akibatnya, tampak Ayu yang dianggap buruk karena memanfaatkan Lusi. Lusi juga beranggapan Ayu memilihnya karena bukan pesaing yang pantas diperhitungkan. Ayu jadi kelihatan jahat banget, ya? Padahal tidak selalu orang cantik itu hatinya jahat, otaknya bebal.

Ketika bahasan kami sampai pada pencapaian Lusi, ia mulai terlihat bersinar.

“Alhamdulillah sih, Bu, saya selalu dapat teman dimanapun. Habis kuliah juga gampang cari kerjaan. Suami juga Alhamdulillah sayang.”

Kisah beralih pada Ayu dan teman se-gengnya yang cantik.

“Bagaimana dengan Ayu? Dia juga berkarir dan menikah?”

“Nah itulah, Bu…saya udah lama nggak ketemu. Baru-baru ini ketemu akunnya Ayu, saya inbox. Eh, ternyata yang jawab suaminya. Suaminya jadi admin di semua akun medsosnya.”

Haaa? Saya terbelalak.

Barulah Lusi berterus terang, “sebetulnya, kasihan Ayu, Bu. Dia itu cantik banget kayak bintang film si X. Tiap kali punya pacar, posesif luarbiasa. Dulu pacarnya sampai nanya terusss ke saya : Ayu lagi di mana, sama siapa, ngapain aja, apa sama kamu dst. Saya stresss! Apalagi Ayu,ya, yang punya pacar kayak gitu?”

Dengar si X, kepalaku berkata : cling! Cantik banget dah! Punya pacar posesif sih tinggal diputusin (makanya jangan pacaran hahaha). Tapi punya suami kayak gitu? Apa mau diputusin?

“Ternyata gak selalu enak jadi orang cantik ya,” aku menarik kesimpulan.

Lusi tersipu-sipu, “ iya sih, Bu…ternyata banyak yang harus saya syukuri, ya. Suami saya nggak posesif apalagi sampai obsesif seperti suami Ayu. Ayu nggak boleh kemana-mana, akunnya distalking terus. Dulu selalu berenatem sama pacarnya karena dianggap nggak setia, sering berantem sama teman gadis karena dianggap caper dan merebut pacar orang.”

Hm, kalau sudah gitu, apa kita harus iri sama para perempuan yang dianugerahi Allah Swt wajah dan tubuh cantik di atas rata-rata? Mereka juga punya ujian berat untuk ditaklukan. Kadang malah, enak jadi orang biasa-biasa aja, yang gak terlalu cantik. Penggemarnya sedikit, tapi setia, ahayyy.

@disarikan dengan mengubah nama dan diberikan sedikit bumbu J

 

♥§

Kategori
Hikmah mother's corner Oase Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Politik yang Bergairah

 

“Mama kamu nyoblos apa?”

“Partai V. Kalau Mama kamu?”

“Aku X. Kok gak sama ya?”

Kami ibu-ibu senyum-senyum dengar percakapan anak-anak kecil di sekolah. Anak-anak itu boleh jadi diajak bunda mereka ke bilik suara, melihat tata cara mencoblos dan terjadi diskusi tersebut. Mereka masih kecil-kecil, kadang masih nangis ngosek kalau nggak dituruti jajan. Tapi pemikiran dan diskusi anak sekarang sangat variatif.

Politik, memang selalu menimbulkan polemik. Pro kontra. Serang sana sini. Hasut sana sini. Kalau membayangkan pertarungan politik 2019, lelah rasanya. Tapi politik juga membawa kehidupan yang lebih bergairah dari waktu-waktu sebelumnya.

Masak sih?

Iyalah.

Waktu saya SMP, SMA, apalagi SD; mana pernah ayah sama ibu saya ngomong bab politik. Saya juga nggak tau pilihan politik mereka berdua. Hanya pernah dengar selentingan kalau pegawai negeri harus ada pilihan wajib. Partai saat itu hanya 3 : Golkar, PPP dan PDI. Seingat saya, waktu kecil bahkan menjelang remaja sampai kuliah; gak ada ketertarikan blas buat ngomong politik.

Sekarang beda.

Bicara politik, bahas politik, bukan hanya sekedar di ruang public atau medsos belaka. Tetapi di ruang rumah kami. Di kamar tidur. Di ruang makan, ruang tamu. Kadang-kadang melihat anak-anak saya berdebat dengan argumentasi mereka, lucu aja. Bahasa-bahasa kelas ‘tinggi’ yang dulu saya nggak nyampe, sekarang biasa diperbincangkan anak-anak kita : pemilihan, hoaks, legislative, melanggar hukum, partai politik, pemilu, posisi strategis, dsb.

Bahkan bagi anak-anak yang belum paham betul pilihan politik yang bijak dan baik itu seperti apa, sudah melontarkan pernyataan politik.

“Ummi, aku ini sudah ikut nyoblos enggak?”

“Ih, aku nggak mau milih ketua kelas kayak dia lagi. Egois banget orangnya!”

“Wah, Ummi! Di koran ada Ilhan Omar. Keren ya, dia!”

Tuh, kan. Padahal usianya belum sampai 17 tahun dan belum dapat KTP.

Saya dulu boro-boro mikir nyoblos. Mikir mana partai yang merepresentasikan suara rakyat, ogah.

Bersyukur banget dengan segala kondisi sekarang, anak-anak dapat dewasa secara alamiah. Memang sih, pasti ada hal-hal buruk yang timbul. Mana ada sih di dunia ini, segala sesuatu disantap tanpa menimbulkan dua sisi mata uang? Politik membuat kehidupan bernegara kadang terpecah belah. Tapi, politik juga membuat hidup lebih bergairah. Anak-anak SD dan SMP mulai mikir : milih ketua kelas macam apa ya, biar kegiatan di kelas bisa berjalan? Bapak ibu juga semakin aktif mengkampanyekan nilai-nilai yang mereka yakini. Ada yang bergabung di komunitas pengajian, paguyuban orangtua, komunitas seni dan segala macam. Semakin banyak berinteraksi, semakin banyak kesempatan berdialog.

Bagi saya ini positif.

Kalau dulu saya taunya sekolah, les, belajar kelompok; anak-anak saya mulai ikut ini itu demi belajar politik yang sesungguhnya.

“Di kampus, aku jadi tim media, Mi. Gak bergengsi sih posisinya. Tapi itu yang aku bisa dan aku bekerja sebaik-baiknya. Eh, karena kerjaku baik, teman-teman selalu suka. Aku sampai diperebutkan sana sini jadi tim sukses, lho.”

“Ilhan Omar dari Somalia keren ya, Mi. Udah punya anak 3, lagi.”

Ilhan Omar memang spektakuler. Perempuan asal Somalia ini pernah tinggal di pengungsian Kenya selama 4 tahun dan hidup dalam kondisi serba sulit.

Ada 2 muslimah yang duduk di kursi Kongres saat ini, satu lagi perempuan keturunan Palestina. Ilhan sendiri terpilih menjadi anggota House of Representative, mewakili distrik 5 negara bagian Minnesota.

 

Perbincangan-perbincangan sepele itu sepertinya tak punya muatan apa-apa. Tapi idola, pusat perhatian anak-anak kita, sekarang dimeriahkan dengan panggung politik. Mereka tidak lagi hanya menjadikan fenomena orang keren dari kalangan artis atau selebritas saja. Tetapi orang-orang dari kancah politik pun bisa jadi orang yang keren banget.

Politik, membawa hidup lebih bergairah!

 

 

( Ilhan Omar, Jawa Pos 7/11/2018 dan 11/11/2018)

 

Kategori
Hikmah Jurnal Harian Oase Renungan Hidup dan Kematian WRITING. SHARING.

Kembalilah pada Tuhan-mu, 20 Pahlawan Kementrian Keuangan

 

Berjabat tangan dengan suami/istri menjelang keberangkatan ke tempat tugas, mencium dahi atau pipi mereka, memandang name-tag dengan penuh kebanggaan : pasangan jiwa tengah menunaikan tugas mulia. Instansi kami adalah salah satu instansi dengan amanah berat – menjaga harta negara.

Logo-Kementerian-Keuangan-356.png

Dalam setiap institusi, selalu ada pihak yang memegang entitas kekayaan agar roda organisasi terus berjalan. Di setiap rumah tangga, suami mencari nafkah dan istri yang mengelola serta menjaga harta keluarga. Di setiap negara, pegawai Departemen Keuangan antara lain bertugas menjaga kas negara dari pajak yang disetorkan wajib pajak. Tak jarang, para pegawai Depkeu harus bertugas keluar daerah untuk berbagai macam kewajiban.

Sebagai contoh, WP (wajib pajak) yang berdomisili di Surabaya, terkadang memiliki perusahaan di tempat lain, Makassar atau Bali misalnya. Petugas pajak harus melakukan verifikasi lapangan untuk memastikan segala hal ihwal terkait perusahaan tersebut, agar pajak yang dilaporkan sesuai dengan pajak yang disetorkan. Tak jarang, petugas pajak disambut dengan senyum masam, diusir satpam atau hanya disambut gonggongan anjing. Akhir tahun anggaran, sekitar April atau Mei menjadi bulan yang penuh ketegangan. Laporan pajak menumpuk, para WP banyak yang menyetorkan laporan mepet waktu.

Korban depkeu.jpg
Salah satu korban dari instansi Keuangan

3 atau 4 tahun sekali, keluarga pegawai Depkeu dibuat deg-deg-der dengan surat berita mutasi. Demi efisiensi, efektifitas dan integritas pegawai Depkeu dimutasi secara berkala. Tujuan pemerintah agar tidak terjadi penyimpangan di masing-masing instansi keuangan. Seringkali, pegawai Depkeu memilih mengontrak di sepanjang usia hidup mereka dan baru beli rumah jauh setelah mereka menikah, dengan pertimbangan keluarga akan terus diboyong kemanapun pergi. Ada pula yang memilih LDR – long distance relationship, dengan pertimbangan sekolah anak-anak. Keluarga ditinggalkan di homebase , pegawai Depkeu yang melanglang bertugas. Betapa banyak pasangan yang hanya bertemu di akhir pekan; atau bertemu sebulan 2x. Bila ingin data yang lebih heroik, terdapat pula keluarga Depkeu yang baru bertemu ayah atau ibu mereka lebih dari 1 bulan.

 

Hesti Nuraini, di mata saya

Sekitar tahun 2000an, ketika anak saya masih berjumlah 3 dan kecil-kecil,  kami mengontrak di daerah Jurangmangu, tak jauh dari gedung kuliah STAN. Suami tengah menempuh studi DIV. Mbak Hesti Nuraini dan suaminya, pak Sholahuddin berada di samping rumah kami.

Kontrakan kami kecil mungil, dikenal sebagai rumah petak. Saat itu mbak Hesti yang lebih senior dari saya, belum memiliki keturunan. Tak jarang, anak-anak nyelonong main ke budhe Hesti, dan saya yang kerepotan saat itu menitipkan anak-anak kepada pasangan mbak Hesti- pak Sholahuddin.

Mbak Hesti dari perpajakan.

 

 

Mbak Hesti Nuraini di foto kanan, depan sendiri

 

Ia sosok yang ramah senyum, selalu sumringah kalau bertemu teman. Ia aktivis kampus, dan selalu menyisihkan waktu untuk melakukan kebaikan. Ada beberapa kaliamt percakapan kami yang, bertahun bahkan belasan tahun kemudian, masih bercokol di benak saya. Kata-kata itu sering saya kutip ketika mengisi acara, atau ketika saya harus memberikan nasehat kepada siapa yang bertanya.

Suatu ketika, karena sedang masa studi dan anak-anak yang masih kecil, saya dan suami ingin menjual sepeda motor kami. Padahal itulah satu-satunya kendaraan yang kami punya. Saya masih ingat sekali, mbak Hesti mendatangi saya dan memberikan semangat untuk bersabar, “jangan dijual sepeda motornya ya, Dek. Sabar, semoga diberi kemudahan Allah. Sepeda motor itu ibarat kaki-kaki kita.”

Akhirnya, sepeda motor tidak kami jual dan Allah memberikan rezeqi dari arah yang tak diduga-duga.

Suatu masa, saya menangis. Sebab setiap tahun, ada saja sahabat suami dan keluarganya yang lulus lalu kami berpisah. Ada saja sahabat kami yang dimutasikan ke berbagai daerah. Rasanya, hati ini sedih, kosong, kehilangan. Mbak Hesti, memberikan nasehat luarbiasa.

“Memang begitu ya, dek Sinta. Setiap orang baik, akan meninggalkan jejak di hati kita. Memberikan jejak di hati teman-teman dan tetangganya. Semoga kita pun demikian, ya.”

Saat itu hati saya betul-betul tertohok dengan ucapannya. Saya sering menangisi kepergian sahabat saya, tetapi apakah pernah mengukur diri ini, apa saya cukup baik untuk ditangisi oleh para sahabat yang lain?

Ada kejadian menegangkan saat kami baru pindah ke rumah kontrakan nomer “7” itu, tempat saya dan mbak Hesti bersisian.

Putra kami, Ibrahim Ayyasy lari-lari, terpeleset…dan innnalillahi, bocor kepalanya. Kami baru saja pindah rumah, betapa berantakannya setiap sudut. Ahmad masih baby, Inayah masih kecil. Maka, ketika kami mengurusi Ayyasy, Inayah dan Ahmad kami titipkan ke mbak Hesti dan pak Sholahuddin untuk sementara waktu.

Nyaris, saya tidak punya kenangan buruk tentang mbak Hesti.

Dan, mbak Hesti adalah orang yang sangat- sangat lucu. Cara berbicaranya yang khas, membuat pendengar bisa terpingkal-pingkal. Suatu ketika, mbak Hesti dan suaminya makan di warung. Penjaga warung dengan kenes menyapa pak Sholahuddin yang memang berwajah imut, “Mas, mau makan aja diantar ibunya.”

Saat mendengarnya, saya terpingkal-pingkal. Membayangkan wajah pak Sholahuddin pasti masam sementara mbak Hesti easy-going saja.

Mbak Hesti, di mata saya adalah sosok muslimah yang luarbiasa tangguh, sabar dan memiliki karakter keteladanan yang jarang dimiliki orang lain. Perjalanannya menemukan jodoh sholih, patut dijadikan teladan bagi setiap gadis yang masih menanti pangerannya. Sesudah menikah, iapun lama dikarunai anak, sementara tetangga kanan kirinya yang merupakan adik-adik kelasnya diramaikan oleh celoteh anak-anak. Rumahnya senantiasa rapi, meski ia sangat sibuk dengan berbagai urusan.

Ah, saya sangat kangen pada mbak Hesti

Jurangmangu.JPG
Saya dan mbak Hesti pernah mengontrak rumah petak ini bersama

Entah mengapa, beberapa bulan lalu tepatnya awal Oktober 2018 saya mengisi acara di Universitas Terbuka Pondok Cabe, dan reunian dengan teman-teman STAN di Jurangmangu.

Tahu apa yang saya lakukan?

Saya melintasi rumah petak berderet di Jurangmangu, memotretnya diam-diam dan entah mengapa, teringat sosok mbak Hesti yang menghuni pojok paling kanan. Tiba-tiba saya teringat beberapa tetangga saat itu, dan sosok mbak Hesti yang paling memenuhi ruang memori.

Kecelakaan Lion Air JT 610 benar-benar mengejutkan, menghentak, membuat tak percaya. 20 pegawai Depkeu ada di dalamnya, termasuk mbak Hesti. Tak bisa saya bayangkan bagaimana perasaan pak Sholahuddin dan putri mereka. Bila sebagai teman dan tetangga saja mbak Hesti demikian membekas jejaknya, apalagi sebagai ibu dan istri.

Ah, mbak Hesti.

Kata-katamu masih melekat di benak, sering menjadi quote yang kuulang, dan semoga itu menjadi penimbang amal baikmu.

“Setiap orang baik ketika pergi, pasti akan meninggalkan jejak dalam dan rasa kehilangan di hati banyak orang.”

Selamat jalan tetangga kami, sahabat kami, penasehat kami.

Dalam sebuah hadits Bukhari yang pernah kubaca, Rasulullah Saw pernah bersabda yang intinya, “jika seorang manusia meninggal dan ada 1 saja yang bersaksi akan kebaikannya, maka ia akan masuk surga.”

Wahai Robbku, aku bersaksi, bahwa mbak Hesti Nuraini adalah salah satu orang  baik, teman terbaik  dan tetangga terbaik yang yang pernah kukenal.

 

يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ

ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً

فَادْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِيْۙ

وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْ

Ya ayyatuhannafsul muthmainnah

Irji’i ilaa Robbiki rodhiyatam mardliyyah

Fad-khuli ‘ibadi

Wad-khuli jannati.

Wahai jiwa-jiwa yang tenang, kembalilah pada Robb-mu.

Masuklah kamu menjadi hambaKu, masuklah kamu ke dalam surgaKu

(QS Al Fajr (89)  : 27-30)

 

Boleh jadi, di mata kami kecelakaan itu begitu mengerikan. Tetapi siapa tahu, akhir hidup itu tercatat sebagai kemuliaan lantaran sumbangsih kalian semua pada keluarga, negara dan pada Tuhan Yang Maha Tinggi. Insyaallah, Allah akan menjaga keluarga-keluarga yang ditinggalkan.

Selamat jalan, Para Pahlawan Departemen Keuangan.

Selamat jalan, para korban Lion JT 610.

Doa seluruh bangsa Indonesia untuk yang pergi dan yang ditinggalkan.

(Mbak Hesti Nuraini adalah salah satu dari 20 pegawai Depkeu yang berada dalam pesawat Lion Air JT 610, Senin 29 Oktober 2018. Ia bersama 189 penumpang lain yang dikabarkan hilang )

Bogor, 30/10/2018

lion-air-jt-610-hilang-kontak_20181029_113804
Lion Air JT 610