Kategori
Catatan Jumat Dunia Islam Fight for Palestina! Gaza Kami Oase Renungan Hidup dan Kematian Topik Penting

Palestina Negara Gagal & Kalah?

Blokade, pengusiran, hingga pemusnahan.

Benarkah pertanda kegagalan & kekalahan?

••••••

            Sebelum kita bahas lebih jauh tentang kalah menang, ada baiknya anda nonton film-film politik seperti Irishman dan Spy Gone North. Yang satu tentang negaranya Uncle Biden, yang satu tentang Korsel-Korut. Di situ akan dapat gambaran tentang “kalah-menang”. Bukan film yang endingnya klise dan hero-nya selalu menang ala-ala film Hollywood yang kita kenal dengan supremasi Amerika.

Palestina memang sering babak belur tiap kali konfrontasi dengan Israel. Korban jiwa luarbiasa, sarana publik hancur luluh, seenaknya Israel menetapkan jam malam di perbatasan dan serangan tanpa ampun sewaktu-waktu. Kita ‘hanya’ bisa mengirimkan donasi, bantuan pangan dan obat, juga kutukan-kutukan. Kirim tentara? Wah, bisa-bisa disangka memicu perang dunia ke-3. Tentara perdamaian seperti yang kita kirimkan ke Bosnia dan Libanon pun, nanti dululah.

Qunut nazilah di mana-mana.

Munasharah hampir tiap pekan ada.

Tapi kapan menangnya? Kapan Tuhan menurunkan bantuan? Apakah kaum muslimin begitu hina hingga semua doa hangus, bahkan sebelum melewati ubun-ubun?

Kategori menang, seringkali dianalogikan dengan sukses.

Orang sukses banyak duitnya, mentereng rumahnya, bejibun investasinya. Abaikan rumahtangganya berantakan, anaknya terlibat kenakalan dan ia depresi hingga selalu tergantung obat-obatan. Yang penting sukses, titik! Padahal bila dirunut lebih jauh, kesuksesannya semu.

Palestina kalah? Nanti dulu. Tontonlah Irishman.

Apakah negara uncle Biden menang, sejak JFK berkuasa? Di film Irishman justru kalah total. Negara itu dikuasai mafia yang mudah mempermainkan angka-angka hasil pemilu. Hingga kini, Amerika tak pernah benar-benar menang. Kasus George Floyd, coronavirus yang menggila, penembakan massal yang hampir selalu ada tiap bulan. Belum lagi kasus-kasus psikologis…subhanallah. Anda akan ngeri lihat negara ‘maju dan menang’ itu dengan segala kasus psikologisnya.

Palestina?

Well, orang-orang Palestina bukannya sakti mandraguna. Tak bisa menangis, kebal senjata, tak bisa trauma. Bukan! Ketika kami ke Gaza 2009, ada orang-orang yang bisu karena trauma dengan situasi perang. Ada anak-anak yang menangis karena kehilangan orangtua. Ada orang-orang yang resah dengan kondisi ekonomi. Anehnya, negara yang sering dianggap pecundang ini selalu punya solusi. Solusi konkrit yang membawa penyelesaian bagi banyak hal.

Miskin? Namanya juga negara yang diblokade.

“Ya Ummu Muhammad, kalau kamu lagi sempit, banyaklah baca al Waqiah,” pesan Abeer Barakah pada temannya. “Insyaallah datang pertolongan Allah. Beasiswa saya cair walaupun kita diblokade.”

Solusi, bukan? Memang duit gak datang dari langit. Tapi harapan dan upaya selalu dilakukan orang-orang Palestina : upaya bumi & harapan langit. Negara yang diblokade itu bisa menanam timun, jeruk, produksi ikan. Bahkan pertanian bunganya ekspor ke Belanda!

Banyak anak muda yang sekarang kehilangan jati diri. Kalau anda mengikuti channel Oli London yang mengaku mirip Jimin – BTS, anda akan bingung. Kok ada orang yang kehilangan jati diri seperti itu? Ajaklah anak Palestina pindah ke Indonesia, itu sudah pernah saya lakukan.

“Kalau jalan-jalan mau. Kalau pindah, nggak. Hadza darul ma’ad. Ini tempat kembali.”

Ya, ampun. Butuh berapa SKS dan kurikulum macam apa untuk menanamkan wawasan kebangsaan macam itu?

Tempo hari, ramai berita tentang demonstrasi di Myanmar. Ada bahasan bahwa ASEAN gak akan mampu menangani jika Myanmar jadi negara gagal akibat perseteruan sengit junta militer, oposisi dan rakyat. Bila jadi negara gagal; perdagangan senjata meningkat. Begitupun perdagangan obat bius dan human trafficking. Bila negara gagal akan menghasilkan perdagangan senjata, obat bius dan perdagangan manusia; silakan nilai sendiri Palestina. Senjata? Mungkin ada yang menyangka pihak militan jual beli senjata. Tapi obat bius dan human trafficking? Palestina, memelihara rakyatnya dari kerusakan, alih-alih menjalani bisnis haram. Padahal di negara miskin (negara kaya juga), human trafficking yang menistakan perempuan banyak terjadi. Pelacuran lazim dilakukan mereka yang sangat terhimpit ekonomi. Kok di Palestina tidak?

Karena ketika Palestina menerima bantuan dari negara manapun, yang dibangun pertama kali perpustakaan. Gak heran orang Palestina pintar-pintar. Dokter, professor, di mana-mana. Diblokade, loh! Yang dibangun rumah sakit. Yang diberdayakan perempuan. Perempuan-perempuan bisu tuli yang trauma pun, diberikan pelatihan. Jadi perempuan tidak harus merendahkan dirinya. Anak-anak? Ada supercamp yang salah satu kurikulumnya menghafal Quran. Tujuan camp ini menyiapkan anak-anak, kalau sewaktu-waktu orangtua mereka meninggal kena bom, mereka harus siap. Bukan itu aja. Di seantero Palestina, yang namanya Yayasan yatim piatu baik dibangun pemerintah, komunitas atau individu berceceran di mana-mana.

“Keluarga kami punya Yayasan yatim,” kata Abeer Barakah. “Kami yakin, bahwa mereka yang menyantuni anak yatim, di surga nanti bertetangga dengan Rasulullah.”

Abeer, yang tak luput dari kesulitan blockade, masih memikirkan buat Yayasan!

Pemerintah gak cukup bikin Yayasan. Di rumah-rumah yang hancur, dibuatkan monument. Pengingat bagi yang syahid. Agar anak-anak mereka atau siapapun mengenal nama-nama yang wafat lebih dahulu demi membela negara. Karena keterbatasan dana, tiak semua rumah dan tempat. Namun inisiatif pemerintah tersebut, benar-benar menghargai perjuangan. Dan anak-anak yatim piatu tersebut, merasa sangat dihargai dan dilindungi negara. Secara materi dan immateri. Secara fisik dan psikologis.

Kalau udah demikian, hakekatnya, yang negara gagal dan kalah siapakah?

Percayalah, siapapun yang menitipkan dana bantuan ke Palestina, insyaallah tidak akan sia-sia.

••••••

Masih ada dana 10K di e wallet atau rekening?

Yuk, bareng-bareng donasi.

Klik bit.ly/LMI_donasipalestina

••••••

Foto : kenangan bersama Abeer Barakah, yang menginspirasi dengan al Waqiahnya, nasehatnya tentang perempuan dan Yayasan amalnya

Kategori
BERITA Catatan Jumat Da'wah Islam Dunia Islam Hikmah Mancanegara Oase Renungan Hidup dan Kematian Topik Penting Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Kenya, Namibia, Somalia etc : Afrika & pendidikan ala Wakanda

Selama ini, pandangan mata teralihkan dari Afrika.

Covid 19, locus, kekeringan, kelaparan; membuat Afrika seolah ujung mati dari dunia.

Beberapa waktu lalu, ketika diminta mengisi acara di sebuah institusi tentang menjadi educator atau pendidik di era pandemic ini; saya menelusuri berbagai sumber baik tertulis maupun yang berbentuk video bagaimana menjadi pendidik baik guru atau dosen di era penuh tantangan ini.

Kita akan berpikir bahwa solusi ada di negara-negara maju seperti Eropa , Amerika atau benua Asia. Afrika, yang di hari-hari biasa saja menghadapi situasi kekeringan dan rawan pangan serta konflik berkepanjangan; apakah mungkin mampu bertahan di era “unprecedented times” ?

Jepang, Korea, Jerman, Perancis, Malaysia tentu tak diragukan lagi.

Tapi bagaimana dengan Afrika?

Hatiku tergelitik untuk mengetahui dan benar-benar ternganga, bahwa kita mungkin menganggap sebelah mata pada benua yang disebutkan National Geographic sebagai negeri para Firaun Hitam – para penguasa dunia yang kuat dan kayaraya pernah berasal dari wilayah ini.

Yang unik adalah, kita yang selama ini dimanjakan oleh modernisasi dan fasilitas teknologi lalu tergagap-gagap ketika era lockdown melanda : Afrika tampaknya justru terbiasa menghadapi bencana. Ya, tentu saja mereka kekurangan fasilitas kesehatan dan sarana prasarana lainnya. Namun beberapa negara ternyata tanggap cepat terhadap kebutuhan di dunia pendidikan.  Menelusuri laporan Unesco dan Unicef, ini beberapa di antara terobosan Afrika :

Paul dan Ndapewa adala guru-guru yang mencari terobosan di era Covid sumber Unesco : Learning Never Stops

  1. Orangtua kesulitan memindahkan pola pembelajaran. Stres, ketegangan, kebosanan, akhirnya menimbulkan kerawanan di rumah. Natgeo menyampaikan bahwa alih-alih membuat rumah menjadi homeschooling tanpa persiapan, orangtua lebih baik mengajarkan lifeskill pada anaknya. Kenya, lebih dahulu menerapkannya. Para guru yang terbatas sarana prasarananya, mengajarkan lifeskill bahasa daerah kepada anak didiknya – Swahili. Selain menumbuhkan ikatan pada budaya leluhur, beberapa keahlian pun ikut meningkat. Mengapa kita tidak ajarkan kembali bahasa Jawa secara intensif, huruf hanacaraka; atau bahasa daerah wilayah masing-masing kepada anak-anak kita?
  2. Ndapuwa, seorang guru di Namibia. Menceritakan bahwa ia seharusnya berkoordinasi dengan orangtua lewat grup whatsapp. Tapi, apa mungkin? Hanya ada 2 orangtua yang punya gadget. Ndapuwa kemudian berkata, bahwa ia punya target baru sekarang, selain hanya berkonsentrasi pada anak-anak : mengajarkan orangtua membaca dan matematika. Mengapa kita sebagai orangtua, tidak membuat kelompok-kelompok belajar? Materi belajar anak-anak, bisa kita adopsi.
  3. Sebagian Somalia dilanda konflik. Sebagian warga Somalia menjadi pengungsi ke Kenya. Sebagai negara yang bertetangga dekat, Kenya tidak mengabaikan kebutuhan para pengungsi. Mereka mempersiapkan guru-guru relawan pengajar bahasa Inggris, lewat radio-radio untuk pengungsi Somalia. Mengapa kita tidak terjun menjadi guru bagi para pengungsi di Indonesia seperti Rohingnya atau orang-orang yang terkatung-katung sebagai imigran gelap?

Teringat Wakanda, negeri imajinatif dalam film Black Panther.

Kemajuan bangsanya, kecanggihan teknologinya, keberanian rakyatnya.

Afrika, dulu pernah merajai dunia. Banyak nilai-nilai keluhuran yang dapat diambil dari negeri para Firaun Hitam.

Sejak era colonial dan perang dunia, Afrika menjadi tujuan aneksasi dan kolonialisme. Kekayaan mereka dirampas, terutama hasil tambang. Kemiskinan dan kelaparan menjadi pemandangan yang lazim di benua Afrika. Setiap kali mendengar kata Afrika, pikiran kita akan terhubung dengan virus Ebola, peperangan suku dan padang-padang kering.

Habis ngisi acara tersebut, pikiran saya terus tertuju ke Afrika.

Apalagi, salah satu tokoh yang saya kagumi, pasangan ayah anak Nurmagomedov punya proyek membuat sumur-sumur air di Nigeria. Ayah Khabib , Abdulmanap Nurmagomedov baru saja wafat karena Covid 19.

Berhari-hari mencari-cari, kalau ingin qurban ke daerah Afrika, ke mana ya?

Cari-cari, manakah lembaga yang menyalurkan hewan qurban ke daerah bencana kemanusiaan? Udah beberapa waktu ini menelusuri dan dapatlah LMI – Lembaga Manajemen Infaq di Jawa Timur yang salah satu target penyaluran kurban ke benua Afrika, antara lain Kenya dan Somalia. Selain program ke Palestina dan Myanmar juga ada.

Hayuk!

Wakanda memang imajinatif, tapi negeri Afrika adalah mutiara hitam bagi peradaban dunia. Sudah lama pikiran dan hati saya  tertuju ke sana. Semoga, rangkaian titik-titik peristiwa ini semakin mendekatkan kita satu sama lain sebagai bangsa yang mulia.

Kategori
Artikel/Opini Catatan Jumat Hikmah Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Rahasia Perempuan Surabaya Tokoh Topik Penting WRITING. SHARING.

Surabaya : Perempuan, Persaingan, Posisi

Lihat berita tentang bu Khofifah dan bu  Risma belakangan ini, jadi geli sendiri. Dua-duanya tokoh yang punya banyak kiprah di tanah air. Kita tahu bu Khofifah dan bu Risma punya kapabilitas untuk mengelola jabatan publik. Akhir-akhir ini, dengan adanya covid 19 dan berbagai kondisi yang mengiringi (PSBB, rapid test, dlsb); di rumah jadi sibuk berdiskusi. Maklum anak-anak kami terdiri dari lelaki dan perempuan, jadi mereka punya pendapat sendiri-sendiri. Di situlah sebagai orangtua kita harus menjembatani, bila ada yang perlu diluruskan dari pola pikir anak-anak kita.

 

👨‍🦰 Begitulah kalau perempuan memimpin, ya. Pasti ada baper-bapernya. Jadi susah kita. Apa perempuan pada akhirnya gak bisa menduduki jabatan tertentu? Karena pasti perasaannya akan kebawa-bawa?

👱‍♀️Eh, ini gak terkait perempuan atau gender tertentu ya. Margaret Tatcher dan Jacinda Arden juga mampu mengelola kursi Perdana Menteri

👨‍🦰Iya, tapi coba lihat pertikaian ini. Ala emak-emak banget. Ada yang ngamuk-ngamuk, ada yang sindir-sindir

👱‍♀️Karena kali ini permasalahannya kompleks, ya kita gak bisa menilai sekilas.

👨‍🦰Lihat, ya. Beberapa pemimpin yang kebetulan perempuan, bertikai kayak anak kecil

👱‍♀️Memang gak semua perempuan bisa memimpin. Tapi ada lho perempuan yang “tough” banget, dan dia bisa memimpin dengan baik tanpa dicampur perasaan.

Asyik kalau dengar anak-anak berdebat.

Lucu dan mengesankan.

Ciri Khas Perempuan

Perempuan memang punya sumber daya emosi yang besar.

Untuk itulah cocok dengan pekerjaan-pekerjaan pengasuhan : guru, dosen, dokter, perawat, petugas sosial dan sejenisnya. Di zaman ini, banyak perempuan yang semakin terlatih dan pintar sehingga tidak lagi hanya berkutat di pekerjaan pengasuhan. Pekerjaan yang membutuhkan resiko besar seperti tentara dan polisi, juga bisa. Yang membutuhkan tantangan besar seperti pengusaha dan politikus, juga oke. Yang penuh masalah dan rintangan seperti kepala daerah, juga hebat.

Masalahnya : jangan bandingkan perempuan dan lelaki dalam perilaku.

Wong cara berpikirnya beda, anatomi tubuhnya beda, anatomi otaknya beda. Jadi perilakunya pun beda ( baca : Kitab Cinta & Patah Hati; juga Seksologi Pernikahan Islami, hehe).

Termasuk dalam pola kepemimpinan, pasti juga beda.

Bukan cuma bu Khofifah dan bu Risma lho, kalau berseteru model emak-emak.  Ada perempuan-perempuan di posisi jabatan tertentu sangat terlihat ciri khas keperempuanannya. Semisal, ketika bersaing dengan rekan kerja yang sama-sama perempuan, tidak berani bersikap fair. Perempuan suka merasa nggak enak hati, malu berterus terang, dan enggan konfrontasi secara frontal.

Beda dengan laki-laki yang bisa main gebrak, main labrak, hantam kromo. Berkelahi terang-terangan, tapi segera baik kembali kalau masalah selesai.

Perempuan?

Tentu beda. Memendam perasaan tak enak, susah mengungkapkan.

Kalau usia anak sekolah SD- SMA, tentu masalahnya tak rumit-rumit amat. Paling masalah persaingan akademis, persaingan cinta, persaingan perhatian guru. Semakin dewasa dan banyak tanggung jawab, tentu banyak pula yang dipertimbangkan.

Misal, seorang atasan perempuan. Ia akan mempertimbangkan anak buahnya, kadang sampai hal yang sekecil-kecilnya. Rumahnya di mana? Transportasinyanya bagaimana? Cukup gak penghasilannya? Nyaman gak dia di tempat kerja? Gimana kalau dia hamil dan sakit? Ciri pengasuhan perempuan tetap menempel di manapun ia berada. Ciri seorang istri, ciri seorang ibu. Karenanya, kadang atasan perempuan lebih cerewet dari atasan lelaki. Karena ciri pengasuhannya memang tampak sekali.

Ia akan memikirkan hal-hal sepele yang bagi atasan lelaki kayaknya gak banget deh. Misal, ada atasan perempuan saat rapat memikirkan menu makan rapatnya apa? Saat family gathering, apa saja menu yang dihidangkan untuk keluarga para bawahannya? Atasan lelaki tentu gak seperti itu. Tinggal nyewa gedung, hotel, plus menu makanan. Beres deh. Mau enak gak enak, yang penting bayar. Selesai.

Bu Khofifah emak yang mau mengayomi se Jawa Timur. Bu Risma emak yang mau mengayomi Surabaya. Waktu masalah mobil PCR, kelihatan kan ciri khas perempuannya?

Perempuan : Maksimal Level Berapa?

Kalau perempuan selalu punya ciri pengasuhan kayak gitu, bisa gak sih sampai level tinggi?

Misalnya orang nomer 1 di perusahaan. Orang nomer 1 di kementrian. Atau orang nomer 1 sebagai kepala daerah, atau kepala negara? Wah, pernyataan itu bisa mengundang polemik yang panjang. Tapi, saya lebih mau ngebahas ke pendekatan psikologi ya. Karena emang tahunya basic ilmu psikologi.

Kepribadian atau personality sangat berpengaruh pada pola pikir dan perilaku seseorang (baca lagi deh Seksologi Pernikahan Islami dan Kitab Cinta Patah Hati 😊). Personality ini panjang banget prosesnya. Intinya, gak ada lho orang yang tahu-tahu lahir jadi pemimpin. Baik lelaki or perempuan.

Ada perempuan yang awalnya gak bagus jadi pemimpin karena sedikit-sedikit baper. Lalu dia mau dikasih kritik, dikasih saran. Dia mau berkembang dan belajar. Nah, dia akan bisa terus melaju mencapai posisi tinggi. Tapi, proses dia mau “mendengarkan saran” itu juga perlu kedewasaan. Dan kadang kedewasaan itu juga bersumber dari personality.

Ada orang yang sepanjang hidupnya gak bisa dewasa. Sampai usia 30, 40, 50 tetap aja kayak anak-anak. Mau lelaki atau perempuan kalau kayak gini emang bikin senewen. Kalau perempuan masih kekanakan di usia dewasa, ya ia akan rewel. Gak peduli apapun posisinya. Kalau lelaki masih kekanakan di usia dewasa, ia akan adiksi sama perhatian. Eeeh, berarti sama-sama adiksi dong : adiksi perhatian. Cuma modelnya beda.

Perempuan yang hamil, punya anak banyak, kalau dia dewasa dan memiliki personality yang matang; dia akan siap menerima beban berat. Jadi pemimpin perusahaan,  kepala kantor, kepala daerah , kepala departemen, dst. Meski dia lagi repot dengan kondisi dirinya yang hamil, yang rempong sama anak dan suami; dia bisa me-manage masalahnya sendiri. Me-manage emosinya sendiri sehingga nggak merembet ke mana-mana.

Tapi perempuan meski anaknya cuma 1, atau bahkan memilih single karena ingin fokus karir, kalau nggak dewasa ya gak akan siap menerima amanah apapun.

So, kalau saya melihat bu Khofifah dan bu Risma, bukan sekedar : ah, emak-enak, baperan! Gak bisa mimpin daerah. Perempuan gak bagus kalau pegang jabatan tinggi! Enggak bisa se-simple itu. Kalau ada konflik, semua pihak pasti akan bersiaga dan waspada. Memanas. Sampai klimaks.

Masalahnya, kita emang belum pernah punya Gubernur dan Walikota perempuan bersamaan. Periode lalu, pakde Karwo yang jadi gubernur Jawa Timur. Jadi kalau konflik antara perempuan – lelaki, kayaknya bakal ada yang ngalah. Bakal ada yang adem. Tapi karena konflik kali ini antar perempuan, mungkin sensitifitasnya meningkat.

Sebagai perempuan saya ngerti kenapa bu Risma ngamuk-ngamuk pas taman Bungkul rusak berantakan. Lha, emak-emak kalau habis ngepel dan anaknya nginjak dengan kaki kotor aja bisa ngamuk! Perihal mobil PCR kelihatan banget kalau pola komunikasi perempuan yang seringkali by symbol dan berharap orang lain memahami, terjadi. Masalahnya, pola komunikasi perempuan di jajaran atas itu akan jadi tontonan nggak enak kalau dikonsumsi anak-anak bangsa dari berbagai latar belakang usia dan status. Semoga ibu-ibu kita tercinta itu segera berkomunikasi dengan baik lalu cari titik temu, ya.

Bagaimana pendapat anda?

Kategori
Artikel/Opini Catatan Jumat Hikmah Hobby My family Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Quran kami Renungan Hidup dan Kematian Topik Penting WRITING. SHARING.

7 Cara Melawan Kecemasan Akibat Pandemi Covid 19

Mengapa pandemic kali ini diibaratkan medan perang? Karena tak seorangpun tahu berapa intensitasnya, berapa durasinya. Banyak hal tak terduga terjadi.

Pertanyaan-pertanyaan membombardir benak : apa aku akan dipecat? Apa bisnisku akan gulung tikar? Bagaimana anak istriku? Apakah ada teman atau saudara meninggal? Atau, akankah aku meninggal akibat pandemic ini?Ibarat medan tempur, kita semua adalah prajuritnya. Prajurit sejati tak akan pernah tahu kapan, di mana dan bagaimana musuh akan menyerang. Ia harus siap, itu saja. Bahkan prajurit paling terlatih sekalipun, pernah mengalami anxiety atau bahkan depresi. Tetapi manusia selalu mampu -atas izinNya- menjadi pemenang dari berbagai pertempuran paling berbahaya di dunia.

Di barat ( co/: Amerika), pandemic Covid 19 menghasilkan situasi parallel yang baru : pandemic kecemasan. Bagi kita , situasi ini perlu diwaspadai dan dicermati. Ibarat prajurit yang baik, semakin mengenal medan dan senjata yang dimiliki, semakin baik melakukan pertempuran dari waktu ke waktu. Mari kita lakukan langkah berikut 😊


1. Aktivasi hati🌞💎

Overthinking menjangkiti sebagian besar warga dunia. Pemikiran yang terlalu berlebihan membuat kita cemas menghadapi hal-hal rutin, apalagi hal besar. Oh, anak sudah hampir masuk sekolah. Ah, suami tak bisa pulang lantaran terjebak lockdowndi seberang sana. Dari mana sumber pikiran berasal? Dari otak dan hati. Otak dan hati yang kosong, akan terisi dengan hal-hal keruh. Karenanya, aktivasi otak dan hati kita dengan terus berdenyut mengingatNya.

Seorang ibu yang memasak bisa mengaktivasi hatinya dengan berkata : Ya Allah, bantu aku agar masakan ini jadi enak. Seorang ayah yang berkubang dengan pekerjaannya mengaktivasi hatinya : Ya Allah, cukupkan rizkiMu. Jagalah istri dan anak-anakku, jaga orangtua kami yang tak dapat kami jenguk lantaran corona virus.Ajarkah anak-anak untuk mengaktivasi hati mereka.

“Nak, tiap kali kalian main game, baca bismillah. Tiap kali kalian nge-zoom dengan teman-teman, niatkan silaturrahim mencari ridhoNya. Kalau kalian buka line dan IG, jangan lupa baca bismillah dan shalawat.”Mungkin, konten yang dibaca anak-anak kita tak lazim untuk diawal dengan basmallah dan shalawat. Tapi inilah saatnya, mengaktivasi seluruh hati anggota keluarga untuk terhubung kepadaNya. Siapa tahu dengan demikian, anak-anak akan mengurangi keretergantungannya pada gadget. Suami akan tetap focus pada pekerjaan dan tidak mulai berpikir macam-macam (naudzubillah). Semoga para suami yang telah berpisah lebih dari 3 bulan dengan istri dan anak-anaknya diberikan kekuatan dan kesabaran.


2. Sibuk, sibuk, sibuk🏃‍♂️🏃‍♀️

Walau di rumah, jangan nganggur.Jangan terlalu banyak tidur dan bolak balik membuka channel yang sama.Sibuk, sibuk, sibuklah. Bongkar lemari. Tata kembali letak baju dan buku. Bongkar isi googlefoto dan bersihkan. Bongkar file-file lama dan rapikan. Bertanam, berkebun, atau memelihara hewan. Sibukkan pikiran, sibukkan hati, sibukkan fisik. Jangan ada kekosongan di benak dan hati; juga jangan biarkan anggota keluarga kosong dengan kelengahan. Rebahlah di pembaringan ketika mengantuk sangat, jangan ketika pikiran masih bisa berkelana dalam lamunan panjang. Pekerjaan yang biasa dilakukan pembantu, bisa diambil alih. Pekerjaan yang biasa dilakukan karyawan kita, kerjakan.


3. Ngobrol🗣🗣Anda terjebak sendiri , di perantauan? Mahasiswa atau pekerja?Sesungguhnya, anda butuh sangat teman mengobrol. Tapi, tak selalu ada pihak yang bisa diajak video call dengan whatsapp, line, zoom, google duo. Selain kesibukan, kuota jadi keterbatasan. Mengapa tak mencoba bercakap-cakap dengan Quran? Setiap kali membaca Quran dan mengeluarkan suara, posisi kita seperti orang yang tengah “bercakap-cakap”. Kita bicara, Tuhan Mendengar. Kita mendengar, Tuhan Berbicara.

Hm, kalau sudah berbicara dengan Quran dan ingin pengalaman lain?Baiklah, coba cara ini. Anda harus cari teman mengobrol. Pernah coba google assistant?

Di keluarga kami, pernah melakukannya.“Hi, do you know Siri?”Google assistant menjawab, “Siri works for Apple and I prefer…oranges.”Hahaha…lumayan terhibur!


4. Berkesenian🎥✒️

Tak heran Gal Gadot mencoba menyanyi dan diunggah. Banyak orang mencoba bernyanyi, meski suara mereka auto fals. Banyak orang mencoba kembali bermain musik, meski tak semahir Brian May atau James Hatefield. Kita harus menperhalus rasa dengan berkesenian. Entah menyanyi, memainkan music, menyusun puisi, melukis, membuat kaligrafi, membuat patchwork, membuat food-art, atau mencoba seni-seni popart lain macam Andy Warhol. Seni akan memperhalus budi pekerti seseorang dan membuat kita tidak hanya berpikir hal-hal yang banal atau perifer, tapi yang dalam dan penuh makna.Suami saya mengalihkan energi dengan melukis.Sepanjang pandemic ini sudah 4 lukisan di atas kanvas yang diselesaikan. Awalnya, ia terlihat resah dan panik, seperti orang-orang pada umumnya. Belakangan, wajahnya terlihat ceria dan happy, alhamdulillah. Kata suami, ia bisa beralih dari pemikiran negatif seperti kematian, pandemic, issue ekonomi; ke arah hobi melukis.


5. Pelajari hal baru 👩‍🏫👩‍🍳

Stacko?Uno?Pernah main dua hal di atas?Ada hal-hal baru yang sepertinya nggak terlalu penting tapi bagus untuk dipelajari agar pikiran relaks dan hati gembira. Saya pribadi baru bisa main kartu uno ketika wabah Covid 19 melanda. Bukan bermain kartunya yang penting, tapi ternyata, duduk melingkar berenam sembari bermain kartu membuat kita bisa saling bercerita banyak dalam situasi santai.Mempelajari permainan anak-anak sekarang yang dulu belum dikenal, bisa membangkitkan kegairahan yang baru.Mempelajari bahasa asing atau bahasa daerah juga bagus. Saya dan si bungsu kembali belajar menulis huruf hanacaraka. Dulu saya mahir sekali membuat surat dengan huruf jawa kuno ini, tapi sudah lupa karena berbagai kesibukan. Yang suka Jepang bisa belajar hiragana dan katakana, yang suka Korea bisa belajar hangeul.


6. Dengarkan, ucapkan berulang kalimat yang membawa semangat ✊💪Mendengarkan murottal Quran dan ma’tsurat dari gadget atau komputer adalah langkah terbaik. Saya suka sekali 2 ayat terakhir al Kahfi dan sering mengulang-ulanginya. Seperti sebuah sihir, penghibur, pengingat; ada banyak ilmu Allah yang tidak kita ketahui sama sekali.Kalau anda masih suka mendengarkan lagu-lagu, pilih yang membangkitkan semangat. Jangan yang justru mengulang-ulang kepedihan : patah hati, memory masa lalu yang menyakitkan, kegagalan.

Fight Song (Rachel Platten) bisa membuat lebih semangat terhadap kegagalan. Ulangi kalimat :

I only have one match

But I can make an explosion.

Ya, kita mungkin mengalami banyak kegagalan di era pandemic. Tapi ada masanya suatu saat kita akan membuat ledakan dahsyat dengan prestasi positif yang mencengangkan!

Double Knot (Stray Kids) juga bagus didengar.

Stand up wherever you go

You’ll make it with no trouble..

Cause my life is a five star movies

I am not done yet so

My life, your life are five star movies!


7. Carilah nasehat 💞

Kala kegundahan sudah terlalu parah, kecemasan menggerogoti, anxiety dan depresi menjadi penyakit; tak ada salahnya segera mencari nasehat. Nasehat-nasehat bijak dari guru agama bisa menjernihkan hati. Saya suka mengulang-ulang iklan Zain Ramadan 2020 . Salah satu kalimat yang saya suka, sebuah nasehat berharga :Pandemic ini pasti akan meninggalkan kitaTapi Tuhan tak akan pernah meninggalkan hambaNya

Kategori
Artikel/Opini Catatan Jumat Pernikahan PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Suami Istri WRITING. SHARING.

Bagaimana Jika Suami Memiliki 99% Otak Kiri ?

Ini sebetulnya sebuah metafora aja, ya. Karena nggak  mungkin secara fisik otak manusia kiri semua. Pastilah separuh-separuh; kanan dan kiri. Tetapi secara psikis, bisa saja otak lelaki didominasi left brain. Sangat taktikal, mekanik, teknikal. Dan ini saya temui dalam cukup banyak kasus. Jujur, saya justru banyak belajar dari para klien. Kenapa? Sebab merekalah yang langsung berjuang dan mencoba teori-teori yang saya pelajari di bangku kuliah dan pelatihan.

Ilustrasi otak kanan & otak kiri

Contoh kasus 1

Suami istri yang puluhan tahun menikah, sebagian besar anaknya kuliah. Selama menikah, si istri nyaris sama sekali nggak pernah mencuci baju dan memasak! Suaminyalah yang memandikan anak-anak, belanja ke pasar, memasak, mencuci, menjemur bahkan menyeterika! Padahal suaminya seorang pekerja. Ck-ck-ck. Denger ini saya heran sendiri. Ada ya jenis lelaki dan suami yang seperti ini? Trus apa tugas istrinya?

“Kata suami, saya disuruh mendidik anak sebaik-baiknya. Kata suami, mendidik anak itu nggak gampang. Pasti capek.”

Hm, baiklah. Ada quote suami istri paruh baya ini yang luarbiasa bagi saya. Si suami bilang, “lelaki itu harus banyak mengalah, tetapi jangan sampai istri menginjak-injaknya.” Masyaallah.

Contoh kasus 2

Suami istri yang terlihat garing hubungannya. Suami nyaris nggak pernah bersikap romantis pada istri. Boro-boro mengelus. Bilang sayang aja nyaris kagak pernah. Tapi si suami ini menjamin semua kebutuhan istri dan anak-anaknya. Bahkan semenjak anak mereka masih bayi-bayi, suamilah yang mengganti popok. Menggendong tengah malam hingga si bayi tertidur lagi. Kecuali jika si bayi mau menyusu.

Suami yang garing ini, membuat istri sangat tertekan. Sepanjang mereka menikah hampir tak ada sentuhan romansa. Singkat cerita, mereka ingin berpisah.

Clue

Melihat para suami seperti ini, awalnya kesal banget. Apa sih susahnya bilang cinta? Bilang sayang? Tinggal bilang, “Dek, aku cinta kamu.”

Atau whatsapp gitu. Kirim-kirim pesan love. Atau telpon sesekali dan bilang, “Say, aku kangen kamu lho.” Gak butuh waktu lebih dari 30 detik, kan? Cuma tinggal pembiasaan aja. Lalu, terjadi hal-hal yang membuat saya perlu merenungkan hal yang sepertinya gampang itu. Salah satunya, lewat tes kepribadian yang biasanya saya tawarkan kepada klien supaya kami sama-sama tahu profil kepribadian dan hal tersebut menjadi rekam jejak untuk langkah selanjutnya.

Para lelaki ini, yang sulit dan garing menyatakan cinta, memiliki gambar-gambar khas dalam tes proyektif. Ketika saya menyaksikan gambar-gambar tersebut, pelan-pelan menskoringnya, merumuskan grafik psikologisnya, mengklasifikasikan dan menginterpretasikannya ; masyaallah. Ada sesuatu yang menjadi pembelajaran luarbiasa.

Lelaki-lelaki ini begitu mekanik. Taktis. Teknikal praktis.

Ibaratnya, semua belahan otaknya berisi pertimbangan logis dan matematis. Atau, kalau kita pernah menonton film I Robot dan Elysium, lelaki ini seperti robot yang diprogram dengan desain tertentu. Diinsert dengan data tertentu. Softwarenya berisi file-file yang sudah baku dari pabriknya. Dengan kata lain, yang mereka pikirkan adalah : bagaimana anak istriku bisa nyaman. Bagaimana anak-anak bisa sekolah di tempat terbaik. Bagaimana bisa membelikan rumah dan kendaraan layak untuk istri. Bagaimana keuangan keluarga tak morat marit. Bagaimana harus menambah sumber pemasukan bila memang masih kurang. Matematis. Logis. Tipe manusia seperti ini benar-benar kalkulatif. Kalau merasa tak penting tak akan dilakukan. Kalau merasa tak salah tak akan minta maaf. Padahal istri ingin sekali sesekali suaminya mengaku salah (meski gak jelas apa kesalahannya).

Tetapi para lelaki dengan 99% otak kiri dan program robot ini bukannya tak punya perasaan. Mereka bisa menangis. Mereka bisa hancur. Mereka bisa tampak tak berdaya di depan konselor, tampak luluh  lantak dan bertanya-tanya : “apa yang harus saya perbuat lagi buat istri saya?”

Melihat gambar-gambar proyektif mereka, pemikiran dan perasaan saya seperti di-reset ulang. Ya, mungkin ini para lelaki yang demikian garing dan keras, lantaran sepanjang hidupnya di masa lalu dibesarkan oleh keluarga yang prihatin. Orangtua menyuruhnya untuk mandiri sejak belia, kalau bisa ikut menanggung beban adik-adiknya. Ya, setelah dilacak, nyaris tak sejenakpun para lelaki ini sejak masa tumbuh kembangnya merasakan dunia yang berbunga-bunga. Mereka kerja keras di masa sekolah, kerja keras di rumah membantu orangtua, kerja keras di tempat kerja.

Softwarenya sudah berisi file yang maskulin dan serba lelaki.

Lingkungan dan pengalaman bertambah-tambah membentuknya jadi semakin otak kiri.

Tetiba, saya mulai berpikir bahwa para lelaki dengan 99% otak kiri ini justru memiliki sisi hidup yang juga merana nan garing. Dan mereka juga menantikan sentuhan tangan para bidadari di sisinya.

Seseorang Harus Memulai

Jadi, suami yang harus berubah?

Atau istri?

Selalu ada cara untuk mencari pembenaran.

“Kalau suami sudah mencoba romantic, istri akan luluh,” kata perempuan.

“Kalau istri minta maaf, suami akan mencair,” kata lelaki.

Well, saya gak ingin memperpanjang alasan-alasan. Nanti akan seperti pertanyaan : lebih dulu ayam atau telur? Lebih baik, kita berangkat dari data yang ada. Dan mencoba menganalisa fakta.

Saya hanya bilang, kurang lebih.

“Mbak, pasti tertekan ya punya suami keras seperti itu.”

Sang istri menangis berlinang air mata.

“Kalau opsi berpisah memang jadi jalan keluar, okelah. Tapi kita perlu kumpulkan informasi sebanyak-banyaknya agar tak ada sesal.”

Si istri terdiam.

“Saya cuma mau nanya, kalau nanti berpisah, kira-kira Mbak akan dapatkan lagi nggak jenis suami yang seperti dia? Yang kalau malam ngurusi anak-anak, mengantar jemput anak istri kemanapun, menemani Mbak pergi kemanapun Mbak mau diantar? “

Si istri tertegun. Meremas tissue. Merenung lama. Dan airmatanya tumpah ruah. Wajahnya tampak galau.

“Sebetulnya…harus saya akui. Suami saya baiiiik sekali. Sangat baik. Hanya saja ia begitu keras dan kasar.”

Saya lega mendengarnya. Lega bahwa ia bisa menemukan kebaikan suaminya.

“Saya juga nggak tau apakah kalau pisah bisa ketemu lagi laki-laki seperti dia.”

Demikianlah.

Ketika menyadari bahwa suami mirip robot atau manusia 99% otak kiri; setidaknya seorang istri memahami bahwa suaminya memang tipologi orang yang tidak suka mengumbar romansa. Tidak suka mengumbar kata-kata dan janji. Bahkan tak akan mengucapkan sesuatu yang dia tak akan bisa tepati. Sangat matematis dan logis. Gak ada manis-manisnya (beda dengan iklan air mineral : kayak ada manis-manisnya hehe).

Tetapi, siapa tahu ternyata Allah memang menciptakan lelaki ala ‘robot’ macam itu. Kenapa? Supaya ada tangan-tangan bidadari yang akan memeluk suami, menyentuhnya lebih dulu, membisikkan kata mesra. Pra istri yang akan meng-insert file kehangatan dan keceriaan dalam kehidupan suami yang garing karena tempaan hidup. Siapa tahu, dominasi left brain itu akan menurun tak lagi 99%. Memang tak akan langsung drastis berubah.

File kehangatan itu bisa dimulai dari kata-kata lembut dan kalimat mesra. Para istri yang didominasi perasaan dapat memulainya lebih dulu. Yakinlah, bahwa ciptaan Allah tak ada yang salah. Manusia –dalam hal ini istri- yang mendapat tugas untuk membentuk lelaki robot itu menjadi lebih humanis dan manusiawi.

Kategori
Catatan Jumat Cinta & Love Oase Quran Kami Suami Istri WRITING. SHARING.

Sembuh Setelah Bercakap-cakap dengan Quran

Beberapa waktu lalu, saya mendapatkan pengalaman luarbiasa yang kisahnya langsung saya share kepada anak-anak, dan merekapun terkesima. Kisah ini saya dapatkan ketika akhir tahun 2019 berkunjung ke kampung halaman suami, Tegal.

Namanya bu Nuning.

Mbak Nuning & suaminya, pak Imam

Saya biasa memanggilnya dengan  nama mbak Nuning. Seorang ibu luarbiasa yang tak pernah lepas senyum terpahat di bibir meski kesulitan hidup bertubi-tubi, berton-ton menghimpit. Kalau saya buat rekap kepahitan hidup;  mungkin sepanjang beliau benafas, lebih besar bobot susah daripada senangnya. Ajaibnya, di setiap benturan kesulitan, selalu ada peristiwa luarbiasa yang membuat kita tergetar : Maha Besar Allah menitipkan sebagian ayat-Nya ke dalam kehidupan hamba-hamba pilihanNya.

Beberapa waktu lalu mbak Nuning bercerita, ia mengalami stroke. Separuh tubuhnya lumpuh, saraf mulutnya pun lumpuh total. 2 bulan ia mengalami stroke parah dan saya tak bisa bayangkan bagaimana ia jalani kehidupan sehari-hari. Bayangkan, suaminya sakit dan mbak Nuning yang selama ini merawatnya. Suaminya juga pernah stroke dan hingga saat ini masih membutuhkan pendampingan. Kalau istri juga ikut-ikutan sakit, bagaimana nasib roda kehidupan mereka? Meski ada asuransi kesehatan, tentu tak dapat menutupi semua keperluan hidup dan sakit. Apalagi beli obat yang di luar tanggungan BPJS. Untuk makan sehari-haripun mereka seringkali harus bersabar dengan kondisi yang ada. Lumpuh? stroke? Tak bisa bicara? Ya Allah…

Dokter saraf yang baik hati menangani, memberikan dorongan pada keluarga mbak Nuning.

“Meski saraf mulutnya sudah hampir 100% kena, Ummi tetap harus diajak bicara,” kata dokter saraf, berpesan pada anak-anak mbak Nuning. “Pokoknya diajak bicara aja, diajak aktivitas semampunya.”

Kita tentu tahu, stroke butuh penanganan cepat dan tepat. Obat yang bagus, terapis andal, kontrol rutin. Tetapi semua biaya itu tak ditanggung asuransi, kan? Transportasi PP ke rumah sakit tentu biaya tersendiri, belum lagi yang lain-lain.

Mbak Nuning & suami yang insyaallah selalu harmonis, dalam segala kesulitan yang menghimpit

Masyaallah, meski hidup dalam kesulitan, Allah Swt memberikan mbak Nuning anak-anak yang sholih sholihah. Anda mungkin pernah melihat orang bisu atau tuli berbicara. Bahasanya aneh, bukan? Suaranya lantang, berteriak-teriak memekakkan telinga, kadang buat lawan bicara deg-degan atau malah kesal karena komunikasi tak nyambung. Begitulah mbak Nuning ketika mengalami stroke dan lumpuh mulutnya.

Salah seorang putranya  memberikan semangat dan nasehat, “Ummi, Ummi memang harus terus belajar bicara. Ngajak orang bicara. Tapi lihat kan? Orang yang diajak bicara Ummi kadang kesal. Malah nggak suka karena Ummi ngomongnya gak jelas, sembarangan, orang juga nggak ngerti-ngerti apa yang Ummi bicarakan.”

Kurang lebih demikian kata si putra.

“Tapi Ummi harus terus ngomong, terus bicara, terus latihan bersuara. Daripada Ummi ngajak ngomong orang dan orang malah jengkel, kesal, marah; mending Ummi ngajak omong Al Quran saja,ya.”

Demikian bijak saran  putra mbak Nuning.

Dulu, penelitian S1 saya tentang tunarungu. Anak-anak yang tak bica mendengar dan biasanya kesulitan bicara ini, memang suaranya sangat keras menggaung kemana-mana. Kadang orang yang diajak bicara sering tak sabar dan meminta mereka lebih baik pakai bahasa isyarat. Itu juga yang terjadi pada mbak Nuning. Ia tak dapat bicara, seperti orang bisu gagu karena stroke yang menyerang saraf mulutnya. Tetapi ia harus bicara kalau ingin sembuh. Dan, tak semua orang mau diajak bicara…

Mbak Nuning menuruti saran si putra. Setiap hari ia mengajak bicara Quran, bahkan sehari bisa 8 juz dibacanya Quran dan diajaknya bicara layaknya orang bercakap-cakap.

Saya nggak akan promosi suatu barang.

Tetapi demikianlah ceritanya.

Seiring mbak Nuning terus mengajak Quran ‘bicara’ ada orang yang membawakannya british propolis dan obat ini memang membantunya untuk sembuh. Mbak Nuning bukannya menganggap british propolis woooww banget. Bukan demikian! Tetapi katanya, “ karena saya bicara dengan Quran, ada aja cara untuk sembuh. Salah satunya orang mengantarkan british propolis itu.”

British propolis, salah satu cara mbak Nuning untuk sembuh

Ketika saya bertemu mbak nuning akhir Desember lalu, saya sama sekali nggak nyangka ia sempat stroke selama 2 bulan. Terkapar lumpuh dan bisu. Inti kisah beliau yang saya simak betul-betul : “Kalau tak ada orang yang bisa diajak bicara, bicaralah dengan Quran. Nanti, Quran akan membantu mencarikan jalan kesembuhan –dengan izin Allah- lewat jalan yang dibukakan oleh seseorang atau sebuah peristiwa.”

Semoga, kita bisa rutin mengajak Quran berbicara ya?

“Kalau tak ada orang yang bisa diajak bicara, bicaralah dengan Quran. Nanti, Quran akan membantu mencarikan jalan kesembuhan –dengan izin Allah- lewat jalan yang dibukakan oleh seseorang atau sebuah peristiwa.”

#jumatbarakah

#jumathikmah

#energiquran

Kategori
Catatan Jumat Cinta & Love Oase Pernikahan Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Renungan Hidup dan Kematian Suami Istri WRITING. SHARING.

Sempurna Hingga Ke Surga

Kisah suami istri ini demikian romantis, kebayang menovelkannya.emoji flower.gif

 

Sebut namanya Ali. Tinggi, atletis, ganteng. Ditambah pinter, baik hati, posisi bergengsi di instansi terpandang. Berkali-kali short course ke luar negeri. Australia, Swedia dll. Bule2 naksir Ali. Kebayang kan good lookingnya?

 

Sebut namanya Aisyah. Cantik, pinter, posisi bergengsi, mandiri finansial. Saking cantiknya, pernah 11 orang antri melamar!

 

Aisyah & Ali berjodoh. Sempurna. Fisik, finansial, karier, kesempatan. Selain beruntung, karib mereka sangat banyak karena Ali si good looking– berhati emas. Julukannya Ali si Baik Hati.

 

Orang tak tahu apa di belakang.

Orang tak tahu badai di depan.

gif shooting stars.gif

Beberapa tahun menikah, Ali jatuh sakit. Sakit yang amat jarang diderita orang kebanyakan hingga tubuh atletisnya memudar (dengar jenis sakitnya saja rasanya nyeri). Berat badan menyusut, kesegarannya hilang, ketampanannya lenyap. Ia hidup di kursi roda, tinggal kulit berbalut tulang. Cuci darah, jantungnya juga bermasalah, selalu berbekal oksigen kemana-mana. Ke kantor tertatih, di kantor tersedia oksigen besar. Di taksi selalu bawa oksigen kecil.

 

Aisyah si Cantik?

Setiap hari, sebelum kerja (dan sepulang kerja) memasak sendiri semua. Termasuk makanan kecil seperti pastel, bakpao. Ali doyan makan tapi makanannya harus amat dijaga.

“Honey, aku pingin ngemil,” begitu pinta Ali.

Aisyah bangun jam tiga pagi, nyaris setiap hari , untuk memasak menu utama dan makanan cemilan.

Terbayang betapa lelahnya Aisyah. Belum lagi ia harus berdedikasi di kantor. Mengingat, pengobatan Ali hanya sebentar ditanggung BPJS. Belum lagi, di belakagn punggung mereka berdua ada keluarga yang harus jgua ditanggung kebutuhan finansialnya. Saking capeknya Aisyah, kadang ia tak sadar tertidur di bawah ranjang masih membawa baskom berisi muntahan suami.

 

Bukan sekali dua kali Ali meminta Aisyah meninggalkannya,  “Honey, kamu boleh kok nikah sama orang lain. Kamu masih muda,  cantik.”

 

gif two people moon and star.gif

Tapi Aisyah menolak. Mereka sering tertidur sambil bergenggaman tangan. Saling memeluk dan menguatkan. Menangis bersamaan. Merasakan bahwa derita ini adalah milik mereka berdua, bukan cuma milik Ali seorang yang tengah diintai Izrail.

“Kita sempurnakan sampai akhirat ya, Mas,” Aisyah tersedu sembari memeluk suaminya.

 

Aku menangis melihat foto mereka saat Ali masih bugar. Lebih menangis saat melihat Ali sholat di atas kursi roda, bekerja mengetik di laptop di ranjang RS dg berbagai slang menancap di tubuh. Kecerdasannya masih dibutuhkan instansi tempatnya bekerja.

 

“Kenapa saya sangat mencintai mas Ali ya, Bu?” tangis Aisyah.

gif love.gif

Itulah mawaddah. Kau mencintainya karena ia tampan, cantik, pintar, berpangkat, nermartabat. Itulah wa rahmah. Kau iba kepadanya sebab ia lemah,  sakit, butuh bantuan, butuh penopang. Rahmah ini seringkali dianggap tak masuk akal. Suami lemah, sakit-sakitan, tak berdaya, tak mampu memberi nafkah lahir batin; mengapa tak ditinggal saja? Toh syariat memperbolehkan. Tapi demikian keajaiban sakinah mawaddah warrahmah. Sekali kita mengikat janji dengan seseorang karena Ilahi Rabbi; tiga elemen itu akan senantiasa mengiringi, insyaallah.

 

 

 

Teori cinta ala Zick Rubin dan Robert Sternberg pupus sudah. Cinta yang seperti bangunan segitiga, dengan sudut commitment, passion, intimacy. Cinta yang kokoh kuat konon kabarnya harus berdasar komitmen, kedekatan hati dan juga hubungan fisik yang intens.

Apa yang didapat Aisyah dari Ali dari segi passion? Nyaris tak ada. 7 tahun Ali terbenam di kursi roda, kepayahan bahkan hanya untuk berdiri sholat. Ali masih bekerja di kantor bukan hanya lantaran ia sangat pintar, tapi bekerja juga menjadi bagian dari semangat hidupnya.

Apa yang didapat Aisyah dari segi intimacy? Sangat minim. Sebab fisik Ali yang telah sedemikian lemah; tak dapat lagi menjadi teman berbagi untuk mendengar keluh kesah seputar kantor, rekan kerja, tuntutan atasan.

Tapi mereka berdua sungguh kuat mengikat diri dalam tali komitmen . Impian “kita sempurnakan hingga ke surga” benar-benar merasuk hingga Ali mencoba menghibur Aisyah untuk ikhlas dan sabar (ketika Aisyah pada akhirnya menolak meninggalkan Ali). Pun Aisyah mencoba ikhlas, bahwa Ali dengan segenap derita yang tertambat di dirinya adalah bagian dari perjalanan panjang mereka berdua.

Rubin dan Sterberg pun mengakui.

Jika ikatan passion mudah lepas, ikatan intimacy lebih kuat untuk terurai, maka ikatan komitmen itu betul-betul bagai rantai baja yang tak mudah teriris derita. Semoga, kisah Aisyah dan Ali yang sekelumit ini, memberi inspirasi cahaya bagi kita –bagiku juga- bahwa komitmen “sempurna hingga ke surga” itu sebuah teori yang mungkin tidak tercantum dalam jurnal ilmiah manapun, tetapi terpatri dalam jiwa sebagai ikatan janji kepada pasangan dan kepada Ilahi Rabbi.

 

Kategori
Artikel/Opini Catatan Jumat Film Hikmah Oase WRITING. SHARING.

Film Hanum & Rangga : Lelaki atau Perempuan yang Harus Mengalah Lebih Dulu?

Ada dua quote yang terngiang (saya nggak bilang  100% setuju ya…terngiang aja) :

Pertama,  ucapan Rangga yang intinya , “apa kamu mau meneruskan karier kamu dan mengesampingkan perasaan suami kamu?”

Kedua, ucapan Hanum yang intinya, “aku ingin mengejar salah satu bintangku. 4 tahun aku mendampingimu, mengorbankan cita-citaku demi kamu. Apa nggak bisa sekali saja  ganti aku yang menggejar impianku?”

Kalau anda perempuan, jadi Hanum, dan sebagai lelaki anda adalah Rangga; mana yang harus didahulukan : karier suami atau karier istri?

Hanum & Rangga 

 

Hidup itu Pilihan

Life is choice.

Menikah dengan siapa, itu termasuk pilihan. Ketika menikah, sepasang lelaki dan perempuan harus siap menanggung pilihan. Mau cepat punya anak, itu pilihan. Mau nggak punya anak dulu, atau sama sekali nggak mau punya anak karena repot; itu pilihan. Selain rizqi dan takdir Tuhan Yang Maha Kuasa, tentu.

 

hanum2-kisah-hanum-dan-rangga-diadaptasi-ke-layar-lebar-700x700
Pujian Hanum kepada Rangga

Kalau simpulnya takdir, selesai semua perkara.

Sekali lagi, di ranah ikhtiar kita diwajibkan berpikir, menimbang, menelaah dan berusaha. Ada suami istri yang melaju kariernya karena komitmen bersama dan sama-sama tak ada kendala. Ada yang salah satu harus mengalah karena memang kondisi mengharuskan demikian. Rangga (Rio Dewanto) , yang tengah mengambil studi disertasi ke Vienna, tentu harus fokus pada studinya. Dari perspektif perempuan; Hanumlah yang harus bersabar dan mengalah demi karier suami.

Saya bisa merasakan kegusaran Hanum (Acha Septriasa)  dan bagaimana semangatnya mendampingi suami meniti karier. Insting perempuan , mau nggak mau memang berada dalam pengayoman dan perlindungan lelaki. Jadi secara naluriah, perempuan bahagia melihat lelaki yang kuat, bertanggung jawab, mampu melindungi dan berada di garda depan. Itulah sebabnya anak  perempuan relatif bahagia punya ayah yang dapat mengayomi, adik perempuan senang punya abang lelaki yang dapat melindungi, istri bangga punya suami yang dapat memimpin. Maka perasaan perempuan terbetik bangga bila suami berada di garda terdepan dalam hidup : bagus kariernya, bagus studinya, bagus kedudukannya, bagus posisinya. Kebanggaan seorang perempuan ini terefleksi dalam pilihannya menjalani hidup : “Majulah Mas, meski aku harus mendorong dari belakang dengan segenap kemampuan. Meski aku harus mengorbankan studiku, karierku dan otakku yang cemerlang. Tapi meski berkorban, entah mengapa aku bangga dan bahagia.” Eh, ini bukan kata Hanum ya 🙂

 

Hanum & Andy Cooper.jpg
Andy Cooper dan Hanum dalam acara meeting.

Ada perempuan yang rela menahan dirinya untuk nggak meneruskan studinya, lantaran suaminya memilih tidak melanjutkan studi, meski otak si perempuan sangat cemerlang. Ada perempuan yang bekerja keras untuk membiayai studi suami. Pokoknya, kasus seperti Hanum yang memilih mengorbankan diri demi suami; nggak kurang-kurang terlihat di sekeliling kita.

 

Lelaki atau Perempuan yang Mengalah?

Sekilas di film Hanum dan Rangga; terlihat Rangga yang sangat mengalah dan memahami Hanum sementara Hanum sangat ambisius menjadi reporter GNTV.

Kisah dibuka ketika Rangga dan Hanum bersiap ke bandara; datanglah Samanta (Sam) yang menawarkan posisi internship 3 pekan bagi Hanum. Awalnya, Hanum ragu antara New York atau Vienna. Apalagi posisinya saat itu sudah bersiap masuk taksi dan sebentar lagi terbang ke Eropa. Kebesaran hati Rangga yang melihat gundah perasaan Hanum, membuat lelaki itu mengambil keputusan membatalkan perjalanan ke Vienna dan memilih tinggal sementara menunggui Hanum menyelesaikan internshipnya.

Di sinilah, keputusan suami dan istri diuji ketahanannya.

Hanum sangat sibuk mencari berita untuk GNTV. Apalagi, atasannya, Andy Cooper (Arifin Putra)  sangat ambisius dan tahu cara mempersuasi serta menekan anak buahnya seperti Sam dan Hanum. Selisih paham dan curiga satu sama lain, menambah intrik. Hanum curiga pada Rangga dan Azima Hussein (Titi Kamal), seorang janda berputri 1 bernama Sarah. Apalagi Sarah sangat menyukai Rangga. Demikian pula, Rangga mencurigai Andy Cooper yang pintar, good looking dan mampu meraih perhatian penuh Hanum.

Konflik muncul ketika Andy menitik beratkan channelnya pada rating dan tayangan kontroversial Hanum menuai 10 juta viewers dalam jangka waktu 2 jam. Meski awalnya Hanum terpaksa mengikuti gaya Andy dalam membuat tayangan, ia pada akhirnya membuat pilihan berbeda. Rating bisa dibangun tanpa harus membuat tayangan termehek-mehek.

Ohya, ada satu lagi perkataan yang saya suka dari Hanum,

“Good news is still good news.”

Awalnya, bad news is good news, right?

Tapi di tangan Hanum yang membuat ide candid camera, terlihat bagaimana masyarakat Amerika tidak semuanya beranggapan Islam itu teroris. Anda pasti pernah lihat tayangan macam begini kan? Setting dibuat asli, ada kamera tersembunyi, ada stimulus kejadian yang memunculkan kejadian yang diharapkan. Ini namanya eksperimen sosial.

Seorang perempuan bercadar antri di kasir. Kasir memaki-makinya dan menyuruhnya balik kebelakang antrian, mempersilakan pengantri lain untuk maju lebih dahulu. Uniknya, justru pengunjung toko yang lain membela perempuan bercadar tersebut. Tayangan reality show yang keren kan?

Insight of Moslem menuai pujian. Ratingnya meningkat dan sebagai hadiah selain bonus yang besar; Hanum diminta live show menggelar wawancara eksklusif dengan berbagai narasumber termasuk istri seorang lelaki yang syahid di Suriah pada saat Memorial Day 9/11.

Karier Hanum yang semakin menanjak mulai menimbulkan kekesalan, kegusaran dan kemarahan Rangga. Beberapa ucapannya yang khas lelaki muncul seperti,

“Apa kamu mau mengesampingkan perasaan suami kamu?”

“Sebagai suami aku nggak memberi kamu izin!”

“Apa kamu meninggalkan tanggung jawab sebagai istri?”

Yah, wajar sih Rangga beranggapan demikian.

Dalam kondisi super sibuk, Hanum selalu menyempatkan diri membuat sarapan meski hanya mie goreng dan telur ceplok (saya nggak mau nyebutin merk yaaa. Tapi ngaku aja, para istri yang lagi super sibuk biasa masakin suaminya mie jenis ini kan?)

 

Istri Melawan Suami

Awalnya sih, sempat rada gimana gitu melihat Hanum gak ngefek blas diancam : “sebagai suami saya nggak ngasih izin kamu!”

Tapi ternyata, istri gelisah lho kalau diancam demikian.

Hanum kalut, pening, pusing dan sama sekali nggak bisa konsentrasi. Dan ternyata, meski kayaknya ia berjalan ngeloyor pergi sembari masang tampang menantang  (Acha Septriasa emang jago mimic, yah!); Hanum ternyata berusaha menyelesaikan pekerjaannya dan mulai menimbang-nimbang.

Jadi para suami, kalau istri terlihat  nyebelin, gak taat, gak nurut, nantang; janganlah langsung dicap durhaka karena pada hakekatnya mereka sedang bertarung dengan diri sendiri untuk mengalahkan egoism. Berhubung  Rangga memberikan contoh bagaimana sebagai lelaki ia mengalahkan egoism dan mempercayai keputusan Hanum; pada akhirnya egoism Hanum pun luntur dan ia memilih mengikuti suami ke Vienna. Posisi puncak diberikan ke Sam, cowok gokil yang sebetulnya sangat bertanggung jawab dan pekerja keras.

 

Film ini sukses membuatku menangis.

Membuat dua putriku menangis.

Yah, kami menonton bersepuluh saat itu dan rata-rata kami mellow banget nonton film ini. Nis, anakku SMA yang duduk di sampingku sepanjang film, berkali-kali tersedu melihat romansa Hanum dan Rangga. Apalagi adegan-adegan ketika Hanum membuka voice recorder dari Rangga. Adegan ketika Rangga yang galau bertemu beberapa pasangan suami istri yang mesra di taman, di jalan, di manapun ia berada.

Puncaknya, ketika Rangga bertemu pasangan kakek nenek yang mesra.

Duileee…ini bikin kantung air mataku kempes!

Pesan film ini : salah satu pihak harus rela mengalah terlebih dahulu agar pernikahan berjalan stabil. Dan yakin deh, pihak suami atau istri akan mengimbali sikap mengalah itu dengan bersikap mengalah pula dilain waktu.

Pesan lain : jangan ragu mempertontonkan kemesraan suami istri di muka umum. Siapa tahu, itu menjadi obat dan penguat bagi pasangan yang sedang galau kwkwkwkw.

 

Kategori
Catatan Jumat Oase Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Remaja. Teenager Sirius Seoul

Psikologi Gaul (1) : Memahami Remaja

 

“Boleh pakai kutex?”

“Kalau tattoo?”

“Pacaran kan nggak papa kalau cuma jalan-jalan.”

“Mau warnai rambut. Asal gak hitam gakpapa, kan?”

“Aku main game kalau lagi bosen. Semua orang ngomel melulu. Yah, namanya bosen gimana!”

“Males sekolah/ngampus. Dikejar-kejar melulu.”

Itu sebagian dari keluhan remaja yang mampir ke agendaku.

Ya, mereka yang dilahirkan tahun  2000an dan lebih muda lagi pasti mengalami clash dengan generasi yang lebih senior. Anggapan para guru dan orangtua bahwa generasi ini lebih nggak bisa diatur, lebih seenaknya aja, nggak mandiri; mungkin sekilas benar. Remaja di usia ini memang ampun banget, bikin cenat cenut kepala dan jantung nyaris meledak saking nahan emosi.

 

          Pahami Tipe Kepribadian

Meski urusan tes kepribadian dan gangguan kepribadian itu adalah wilayah psikolog/psikiater; orangtua dan pendidik perlu tahu garis besarnya. Umumnya kepribadian dibagi 5 wilayah besar : OCEAN – openness to experience, conscientiousness, extraversion, agreeableness dan neuroticm. Dari artinya sudah dapat dikira-kira : O tipe yang suka petualangan dan pengalaman baru, C tipe yang rigid dan disiplin, E – ekstrover, A- tipe sosial yang senang kalau orang lain senang dan N- tipe penggugup.

Susan Cain, membagi kepribadian hanya 2 wilayah besar. Ekstrover dan Introver. Kalau ada perincian, hanya dibagi ekstrover tenang dan esktrover gelisah, introver tenang dan introver gelisah.

Apapun itu, kepribadian anak tidak sama persis dengan orangtua. Kalau mirip, iya.

Anaknya tipe O? Apalagi usia remaja, ya udah deh. Jarang betah di rumah. Senangnya naik gunung, panjat tebing, ikut ini ikut itu. Beda dengan tipe N yang penggugup ketemu orang : ia akan diam tenang di rumah entah baca buku atau ngerjain PR.

Tipe kepribadian ini gak mutlak-mutlak amat.

Bisa jadi suatu saat berubah, dengan asupan informasi, pendekatan kognitif dan disiplin perilaku.

Misal anak introver yang emang sama sekali gak bisa gaul. Maunya sendiri aja. Apalagi kalau IQnya di atas 130 yang sudah masuk ranah gifted, si dia yang senang intrapersonal ini makin menyendiri dengan ide-ide kreatifnya yang gak mudah dipahami orang. Dengan bantuan pendekatan yang komunikatif, introvernya akan lebih stabil dan ia dapat mulai bersosialisasi dengan lingkungan sekitar meski nggak akan berubah jadi ekstrover sejati.

 

          Perbanyak Komunikasi

Setenang-tenangnya seorang anak , sesantun-santunnya; ketika memasuki usia remaja ada yang berubah dalam dirinya baik kematangan kognitif, kematangan emosi termasuk kematangan hormonal. Yang biasanya gak gampang nyolot, kena PMS, sensi deh.

Yang biasanya nurut kalau disuruh-suruh mulai nanya :”Mama kok nyuruh aku terus? Adik gak disuruh!”

Kondisi menjelang dewasa ini kadang berbenturan dengan orangtua dan guru; maka label pembangkang ini cucok disematkan ke remaja.

Seorang remaja mengaku membaca komik sembunyi-sembunyi, sebab orangtuanya akan membuang semua komiknya ke  halaman bila ketahuan.

Seorang remaja, mengeluh sering bolos karena hampir semua guru BK nya menakutkan.

Seorang remaja, mengaku sudah lama tidak kuliah karena ia memiliki ketakutan bertemu orang-orang (anehnya, dampak dari bullying dan parenting orangtua baru tampak jelas di usia remaja).

Tidak ada cara lain kecuali mencoba bersimpati pada mereka : mendengar, mendengar, mendengar. Menyimak, menyimak dan mencoba memahami emosi yang berkecamuk.

BTS- unofficial biography dan Sirius Seoul (kiri). Penghargaan terhadap BTS, Twice, Stray Kids, G(i)-dle (kanan)

 

Aku pernah mengisi sebuah pengajian remaja.

Usai acara, malu-malu 2 orang remaja mendekatiku dan bertanya :

“Kok Bunda tahu BTS?”

“Ya, tahulah,” aku tersenyum simpul.

“Eh, memangnya, bias Bunda siapa?”

“Bunda suka Rap Monster (RM). Dia salah satu idol dengan IQ tinggi, lho.”

Perbincangan pun mengalir.

Suatu ketika, klienku adalah seorang remaja yang mengaku ia sudah nggak sanggup kuliah.

Berjam-jam aku menyimak ceritanya, membuat catatan dan membuat janji untuk bertemu. Ketika aku ke Korea, ia kupersilakan terapi kepada psikolog dan terapis lain tetapi kemudian kembali lagi padaku.

“Bun,” keluhnya, “waktu aku ke terapis lain, ia banyak menasehatiku. Ia malah nggak sabar dengar ceritaku.”

Memberi nasehat, memang selalu ingin dilakukan orangtua seperti kita.

Padahal sebetulnya, dengan membuka sumbatan komunikasi, membiarkan para remaja ini bercerita banyak tentang hidup mereka yang juga jumpalitan ke sana kemari; juga salah satu pintu kestabilan kepribadian mereka dan insyaallah para remaja ini akan dapat diarahkan pada akhirnya.

Suatu ketika, aku mendapatkan beberapa klien yang kecanduan game.

Dibanding demam Japanese wave dan K-Pop yang bagiku lebih menarik, aku relative nggak begitu paham mengapa remaja bahwa orang dewasa addict video game! (Klien-klienku yang adiksi kepada video game sebagian sudah menikah dan bekerja sehingga terganggu urusan rumahtangga dan kariernya!)

Aku bertanya pada anak-anakku tentang video game.

Yang membuatku terperangah, anakku mengajakku menonton you tube, opening ceremony turnamen game.

“Lihat nih, Mi. Supaya Ummi tahu, kemegahan dunia gamers.”

Opening ceremony itu membawakan lagu K/DA-Popstar dengan 4 idol. 2 idolnya adalah G(I)-DLE yang baru saja mendapatkan award sebagai pendatang terbaik di dunia music. Selain lagunya yang easy listening, penonton arena disuguhkan tayangan 3 dimensi (atau 4 dimensi ya?) sehingga mana yang artis, mana yang tokoh LOL (League of Legend) versi animasi campur baur dengan tokoh manusia. Mata kita nggak bisa membedakan mana sosok manusia, mana sosok animasi!

Orangtua yang anaknya terpapar video game, usai menonton opening ceremony LoL ini harus berpikir bijak : apakah anaknya akan menjadikan video game sebagai salah satu cara hidup  seperti Elon Musk si pembuat Tesla, menjadi gamer sejati seperti cewek Surabaya Indri Sherlyana (kata anakku pemenang kompetisi e-sport hadiahnya M bahkan T!) atau mulai berkomunikasi kepada anak untuk mengurai adiksinya kepada video game.

Indri Sherlyana, gamer cewek asal Surabaya; KDA Popstar, Rockman

 

 

 

Sinta Yudisia

Penulis, Psikolog, Emak yang baru belajar apa itu Skyrim, Dota, LoL, Mobile Legend

 

Referensi :

Jawa Pos, 14/10/2018 (Indri Sherlyana)

Jawa Pos, 18/10/2018 (Rockman)

KDA Popstar https://www.youtube.com/watch?v=hif2E1QaDDs

 

Kategori
Catatan Jumat Catatan Perjalanan Cinta & Love Dunia Islam Mancanegara Oase Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Esai Robin Kirk tentang Palestina yang Membawa Keajaiban!

 

Kami berdiskusi tentang berbagai hal terkait dunia kepenulisan. Lalu tiba-tiba sang profesor bercerita, kuterjemahkan dalam bahasa Indonesia secara bebas ya.

“Sinta, bukumu tentang Palestina mengingatkanku pada sebuah esai yang kutulis.”

Aku menjadi tertarik. Segala bahasan tentang Palestina, menurutku pantas disimak.

“Aku membuat esai tentang Palestina, ketika Gaza sedang dihujani bom. Kucari-cari foto di internet, lalu muncullah sebuah foto yang bagiku sangat menggetarkan.

Kamu sudah baca ‘Book of Thief’?”

Book of thief.JPG
Book of Thief kubeli di pasar loak buku Hong Kong

 

Aku jawab sudah membaca buku dan menonton filmnya

“Esaiku dimuat di beberapa tempat. Kisah tentang seorang gadis kecil yang mengorek-ngorek reruntuhan bangunan untuk mengumpulkan buku-buku yang tersisa…bagiku sangat luarbiasa.”

Aku mendengarkan penuh minat.

“Lalu, berbulan setelah esaiku dimuat, seorang jurnalis bernama Marcello di Cinto mengirim email padaku. Katanya, ‘Aku akan ke Palestina! Akan kucari anak itu!”

Robin berkata, ”aku bahkan tidak tahu apa anak itu masih hidup atau sudah mati1”

Kata jurnalis tersebut, ia akan memberi kabar pada Robin Kirk ketika sudah sampai di Palestina. Ya. Berbulan-bulan tanpa kabar,sang  jurnalis suatu hari menginbox Robin Kirk dan memberikan kabar bahagia.

Robin Kirk menuliskan esai tentang Palestina berdasar foto yang didapat dari internet (kiri). Tulisan Kirk membuat di Cinto bertekad mencari gadis itu! (kanan)

“Aku telah menemukan anak itu. Namanya Maram al Assar. Dia di kamp pengungsian Nuseirat. Kutelusuri dari fotografer yang mengambil fotonya –fotografer ini telah kehilangan dua kaki karena perang yang terdahulu-  lalu, kami menemukan Maram.”

Aku yakin, bukan pekerjaan ringan bagi Marcello di Cinto untuk menemukan Maram di tengah gelombang peperangan di Palestina. Tetapi tulisan Robin Kirk, profesor yang juga penulis buku anak itu demikian menggugah, hingga ia bertekad untuk mempertaruhkan  nyawa demi sosok gadis kecil yang menjadi buah bibir karena aktivitas hebatnya.

Aku dan Robin berkaca-kaca.

Robin Kirk and Sinta
Profesor Robin Kirk & aku, Sinta 

Kata Robin, inilah sosok nyata Liesl dalam buku ‘Book of Thief’ , gadis yang di dalam hirup pikuk carut marut peperangan, tetap mencintai buku dan menjadikan membaca sebagai bagian penting aktivitas kehidupan.

Kalau anak Palestina saja mencintai buku dan menyisihkan waktu untuk membaca di sela peperangan, kita juga harus menyisihkan waktu lebih banyak untuk membaca, dan menulis tentunya.

 

Kategori
Catatan Jumat Fiksi Sinta Yudisia Karyaku Kepenulisan KOREA Oase Perjalanan Menulis Renungan Hidup dan Kematian WRITING. SHARING.

Ya Allah, Bayarlah Aku!

Aku pernah bilang ke suami, “Mas, kalau aku nulis tapi penghasilannya sedikit, atau malah nggak ada sama sekali, gimana?”

Suamiku alhamdulillah berkata, “ya nggak papa. Yang wajib cari nafkah itu suami. Tapi dicukup-cukupin, ya. Kalau memang Inta bisa dakwah di situ, semoga barakah.”

Apa aku nggak pernah nangis?

Apa aku nggak pernah kecewa?

Seringlah. Pas sudah nunggu 3 bulan, bahkan 6 bulan, 9 bulan, atau ada yang 12 bulan ternyata royalti yang dihasilkan jauh dari jutaan. Bahkan kadang nggak bisa diambil di ATM. Royalti yang dicadangkan untuk bayar ini itu, bayar sekolah dll, ternyata jauh dari perkiraan.

Apakah lebih baik aku berhenti menulis dan dagang online saja? Begitu banyak temanku dagang online dan jadi kayaraya. Tapi, ah, hati ini sudah terpanggil untuk menulis.

Aku masih ingat penggal sebuah acara dakwah.

Waktu itu, uangku tinggal Rp. 6000. Anak-anakku masih kecil, 4 orang. Aku mengisi acara dan seluruh anggota keluarga menunggu, siapa tahu aku pulang bawa bingkisan. Entah uang, nasi kotak, atau kue. Ternyata, panitia memang pas-pasan. Tak ada sama sekali bingkisan yang kubawa pulang. Bahkan aku harus keluar uang bensin sendiri.

Sepanjang jalan pulang, naik sepeda motor, aku menangis. Menangis membayangkan 4 anakku dan suamiku yang insyaallah jujur sebagai pegawai negeri, menahan lapar.

Hujan saat itu.

Air mataku bercampur derai hujan. Tetapi entah mengapa, hatiku tidak ingin mengucapkan sumpah serapah pada panitia. Apalagi pada Allah dan malaikatNya. Mungkin saat itu imanku sedang bagus. Yang kuingat, di bawah curahan hujan aku berdoa kepada Allah.

“Ya Allah, kalau seorang pegawai saja dibayar oleh perusahaan, apalagi aku. Aku bekerja untukMu ya Allah. Maka bayarlah aku dengan pantas. Tidakada satupun perusahaan pun di muka bumi ini yang bisa menggajiku dengan pantas, kecuali Engkau ya Allah.”

Apakah aku langsung dapat uang?

Tidak.

Tetapi hatiku terasa demikian tenang.

Suamiku juga ikhlas.

Dan anak-anakku dengan wajah teduh berkata, menyambutku yang pulang dengan tangan kosong, “kita lagi harus bersabar ya, Mi?”

Ya.

Kalau kita bekerja untuk Allah, yakinlah suatu saat, Dia akan bayar. Memang kita butuh uang, dan uang itu harus dicari agar kita tidak jatuh pada yang haram. Tetapi ketika telah berupaya keras di jalan kebaikan, yakinlah, Allah yang akan menggaji kita.Pasti banyak kesulitan. Pasti banyak keterhimpitan. Kadang kita harus berhutang, lalu bulan depan gali lobang tutup lobang. Sampai kapan? Sampai kita merasa yakin bahwa rizqi tidak selalu berupa materi.

Prof Koh dan Sinta
Prof. Koh Yung Hun, HUFS

Hingga aku tiba di sini, di kantor Profesor  Koh Yung Hun.

Aku melihat gaji Allah yang terpampang di hadapanku. Sedekah Minus 2016 menghantarkanku ke Seoul Foundation for Arts and Culture. Lalu 2018, ketika aku kembali kemari, aku bertemu profesor Koh Yung Hun  bersama mbak Ummu Hani.

“Bu Sinta sudah tahukan, kalau Sekedah Minus saya masukkan dalam buku wajib untuk mahasiswa di sini?”

Aku hanya berucap alhamdulillah.

“Ohya, apa bu Sinta bisa menulis untuk majalah Korea?”

Aku berucap alhamdulillah lagi.

Sedekah Minus adalah karya yang entah, sudah dibayar atau tidak oleh koran yang memuatnya. Tetapi aku menuliskannya sebagai bentuk perwujudan kegalauan hatiku sendiri akan makna sedekah. Di akhir pertemuan, apa yang profesor Koh katakan sungguh membuatku tercenung.

“Dari Sedekah Minus tersebut, orang-orang yang membacanya belajar tentang makna kebaikan. Saya rasa itu yang penting. Ada 300 orang mahasiswa HUFS   yang belajar di fakultas bahasa Indonesia, kami punya 4 kelas. Dan masih ada 100 orang lagi yang mengambil bahasa Indonesia  untuk major kelas.”

400 orang setiap tahun, yang membaca Sedekah Minus.

Ya Allah, andaikata 400 orang itu tahu makna kehidupan.  Lalu tahun ajaran berikutnya 400 lagi. Lalu tahun berikutnya 400 lagi, lebih atau kurang. Aku melihat buku wajib berjudul Membaca Teks Bahasa Indonesia  :  인도네니아어  읽기연습. Kata-kata yang diterjemahkan secara khusus ke bahasa Korea : kiai, ustadz, santri, jamaah, ibadah, azan, dhuha, rakaat, imam, istighfar, tasbih, tahmid, takbir, infak, waqiah, mulk. Kata-kata itu asing bagi masyarakat Korea tetapi mereka mencoba mencari penjelasannya. Dan  apa aku pernah menduga bahwa tulisanku akan di bawa hingga ke negeri K-Pop?

Cerpenku “Sedekah Minus” yang diterjemahkan ke dalam bahasa Korea & menjadi buku pegangan  mahasiswa HUFS

 

Aku hanya membayangkan, para mahasiswa Korea yang belajar bahasa Indonesia akan mencari tahu apa itu sedekah. Apa itu Tuhan, apa itu agama, dan yang lain-lain. Bagiku, bayaran yang diberikan Allah jauh di luar perkiraan.

Aku bekerja untukMu ya, Allah.

Maka bayarlah aku.

Adakah di atas muka bumi ini perusahaan yang dapat menggaji dengan pantas, saya, anda atau siapapun yang mencoba berbuat kebaikan di jalanNya?

 

Kategori
Catatan Jumat Hikmah Oase Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Rahasia Perempuan

Istri, Bicaralah!

 

Tersedu. Menangis. Gemetar.

Ada banyak perempuan yang mengeluhkan diri mereka mengalami depresi hebat, psikosomatis berkepanjangan hingga harus masuk rumah sakit berkali-kali. Psikis mereka demikian sakit hingga menjalar ke sendi-sendi, ke kerja otak, ke maag hingga kadang tremor tak wajar. Ada apakah dengan para istri shalihah yang seharusnya dapat mengarungi hidup ini dengan bahagia?

talking to husband.jpg
Omongan penting apa gak penting?

Omongan Nggak Penting

Perempuan itu banyak bicara.

Kadang hal gak penting pun diutarakan.

“Aku gemuk nggak, Mas?” tanyaku pada suami.

“Nggak,” jawabnya.

“Aku kuruskah?” tanyaku lagi.

“Nggak.”

“Lhooo…jadi aku kurus apa gemuk???”

Ia garuk-garuk kepala.

Kali lain, aku bertanya.

“Cantik Raisa apa Isyana?”

Suamiku mikir, kayaknya gak mau terjebak pada kesalahan bab kurus-gemuk.

“Mas suka Dian Sastro. Pintar sih.”

“Mas gituuuuu yaaa, ternyata selama ini nyimpan perasaan sama artis!”

Kadang, suamiku tertawa dan bilang : “ya ampun, Mi, gak penting banget ditanyain!”

Aku menjelaskan dengan gaya profesional.

“Perempuan itu ya Mas, butuh diyakinkan berkali-kali. Setiap hari. Kalau ia paling cantik sedunia, paling dicintai suaminya. Walau aku tahu gak secantik Raisa, Isyana, Dian Sastro; maunya dengar Mas ngegombal dan bilang aku paling cantik.”

“Bohong kalau gitu, dong?” seloroh suamiku.

Aku cemberut masam.

Itulah sekelumit omongan gak penting bagi laki-laki.

Laki-laki lebih suka membahas transfer Neymar seharga 3,5 T atau kuda hitam di Premiere League. Tata kelola batubara dan pertambangan. Angin politik serta pilkada. Sistem perpajakan dan kebijakan pemerintah. Hal-hal global, besar, fantastik, spektakuler.

Apa yang dibahas tentang Donal Trump?

Laki-laki : perselisihan dengan Vladimir Putin

Perempuan : gaya busana Melania Trump.

Apa yang dibahas tentang sepakbola?

Laki-laki : Real Madrid masih haus gelar juara, kata Zinedine Zidane

Perempuan : WAG mana yang cantik?  Cathy Hummels istri Mats Hummels, atau Andrea Duro –Javier “Chicarito” Hernandez?

Omongan tak penting perempuan ini, sebetulnya bukan menunjukkan kualitas dirinya tak setara laki-laki namun karena ia ingin lebih banyak didengar oleh kubu maskulin- dominan yang menjadi pemimpin puncak dalam hirarki kehidupan. Apabila seorang penguasa tertinggi tak mau mendangar keluh kesah rakyat terkecilnya, pasti rakyat itu akan gelisah , bukan?

Coba dengar apa saja yang dikeluhkan rakyat kecil pada penguasa tertinggi.

Penggembala dan petani mengeluhkan perkara tak penting antara sepetak kebun dan kambing-kambing yang masuk ke pagar, kepada Nabi-Raja Daud as. Raja Daud punya urusan lebih luas ketimbang sepetak tanah, tapi sebagai penguasa ia harus mendengarkan agar kebijakan tertegak.

Presiden Abraham Lincoln, dikenal reputasinya sebagai presiden kebanggaan Amerika – 1. Lincoln, 2. Washington, 3. Roosevelt- ; karena memperhatikan perkara-perkara kecil dari rakyatnya. Ia mendengarkan jeritan hati seorang serdadu yang tertidur malam karena kelelahan di pos jaga pada peperangan Utara-Selatan dan tengah menunggu hukuman mati. Ia mendengar 24 serdadu melakukan kesalahan militer, milisi yang mungkin tidak bersiap maju ke medan perang, dan akhirnya Lincoln memaafkan. Suara 1 orang, 24 orang; dapat saja diabaikan di antara belasan ribu tentara yang juga menyita banyak pikiran. Namun, Lincoln dikenal senang mendengar dan melayani harapan rakyatnya.

Hal sepele bagi Raja Daud dan presiden Lincoln, tapi tidak sepele bagi rakyat kecilnya.

talking to husband 2.jpg
Mencoba bicara & taklukan takut

Taklukan Takut

“Aku pingin mini cooper,” ujarku suatu saat.

“Iya deh, amiin,” kata suamiku.

“Kok Ummi suka mini cooper?” tanya anak-anak.

“Suka sama warnanya yang ngejreng sama bentuk lampunya.”

Ya ampun!

Kata mereka, kalau gitu cari mobil kecil aja lalu di cat oranye atau kuning cerah.

Aku tahu harga mobil mini cooper. Aku tau, suamiku juga tak akan repot-repot cari duit buat beli mobil ala Italian Job itu. Bagi kami, ada sepeda motor dan mobil kantor yang sederhana; cukuplah untuk kendaraan.Tak usah terlalu pusing-pusing memikirkan beli mobil baru walau andai diberikan rezeqi Allah Swt, itu takdir lain.

Suatu saat ada mobil melintas.

“Waaah, ada Tsubaru!” seru anak-anakku.

“Keren ya?” kataku.

Kali lain ada mobil melintas di depan mata, “Mas, ada Lamborghini tuh!”

“He-eh,” kata suamiku.

“Warnanya kuning cantik ya?” kataku.

“Iya.”

“Ummi nanti kalau punya mobil sendiri mau yang warnanya pink, orange atau ungu,” kataku pada anak-anak.

“Wah, gak usah jemput ke sekolah ya Mi, kalau mobilnya warna norak kayak gitu,” kata si kecil.

Kami tertawa.

Itu percakapan yang biasa.

Bagiku.

Tapi tidak bagi sebagian orang.

Seorang ibu cantik berkeluh kesah ia beberapa kali terpikir bunuh diri. Padahal kondisi ekonominya mapan dan ia memiliki suami penyayang, anak-anak tampan. Lama ketika kami berbicara, ia berujar.

“Aku ingin kerja lagi, seperti dulu ketika mahasiswa. Aku adalah aktivis. Ingin punya mobil. Capek angkut anak-anak kesana kemari naik motor.”

Tubuhnya memang kecil mungil.

“Sudah pernah cerita ke suami dek, tentang harapanmu?”

Ia berujar sendu , “nggak berani Mbak. Aku takut. Aku takut dikira minta ini itu dan masuk dalam kategori nggak  bersyukur.”

Ia tak pernah bercerita pada suami apa keinginannya. Apa harapannya. Apa cita-citanya. Yang ada hanya rasa takut. Takut dosa, takut dimarahi, takut dianggap perempuan tak shalihah. Padahal, menceritakan apa keinginan kita bukan berarti sebuah tuntutan. Hanya sebuah ekspresi. Sekedar bilang bahwa ia ingin punya mobil, itupun tak berani. Padahal belum tentu juga yang namanya ‘ingin’ berarti harus beli hari itu juga!

Kisah yang lain, juga dialami ibu muda yang mengalami depresi hingga berkali-kali mencoba bunuh diri.

“Suamiku nggak seperti yang aku bayangkan dulu. Dia nggak pernah mau mendengar aku. Dia memaksa aku begini begitu.”

“Kamu sudah ngomong ke suami apa yang menjadi pikiranmu, Dek?”

“Suamiku nggak bisa diajak ngomong, Mbak!”

Saya terdiam.

Nggak bisa diajak ngomong, apa nggak pernah diajak omong?

Mengajak bicara suami, harus diupayakan meski hasilnya belum tentu sesuai rencana. Tapi keberanian, mengalahkan takut, mencoba terbuka, memancing percakapan : must be!

Sebagaimana aku sering berkata pada suami.

“Jalan-jalan yuuuuk,” ajakku.

“Ayo!” kata suamiku. “Akhir pekan ini ya?”

“Oke.”

Meski aku dan suami tahu, akhir pekan ternyata banyak sekali agenda yang menyebabkan batalnya keinginan kami jalan-jalan berdua. Namun keinginan itu sudah terucap, dan kami mencoba saling memahami harapan satu sama lain.

Menaklukan rasa takut dari dalam diri sendiri adalah langkah penting.

Takut dimarahi.

Takut dicap tak shalihah.

Takut dianggap tak bersyukur.

Takut suami beranggapan kita terlalu banyak menuntut.

Padahal, takut berbicara adalah hambatan komunikasi terbesar. Belum tentu juga suami kita seburuk apa yang ada di pikiran. Siapa tahu, ia terlihat keras, tak peduli, kaku, tak mau tahu adalah akibat istri tak mengungkapkan dengan jelas maksud hati. Setelah istri memberanikan diri berbicara, tentu dengan komunikasi jelas dan pesan yang tertangkap sama frekuensinya  di kedua belah pihak; bukan mustahil suami justru berbalik 180 derajat.

Seorang perempuan merasa resah ketika suaminya dekat dengan perempuan, kawan lamanya.

“Sudah bilang ke suami, Mbak?”

“Aduh, kan aku nggak enak. Masa sudah dewasa harus dikasih tahu.”

“Lho, barangkali suami nggak tahu kalau Mbak cemburu.”

Diapun memberanikan diri, memupus rasa takutnya menegur suami.

Awalnya sang suami sempat tak menggubris dan bilang ,” ini cuma teman lama, Mi. Dan orang-orang biasa kok ngobrol beginian.”

Rasa takut sudah hilang, komunikasi sudah terjalin, tapi frekuensi belum sama.

Istri merasa itu bibit-bibit menuju perselingkuhan, suami merasa biasa saja. Maka istri tersebut lambat laun mencoba meyakinkan suami bahwa boleh jadi si suami tidak merasa apa-apa, namun rasa perempuan-teman-lama tersebut yang berkembang menjadi cinta. Alhamdulillah, keberanian si istri untuk berbicara secara terus terang, menyelamatkan pernikahan.

 

Humoris

Suamiku, kadang-kadang  membawa pekerjaan kantor ke rumah. Hal itu menyebabkannya harus menekuri gawai dan berinteraksi dengan teman-temannya di kantor untuk koordinasi. Padahal, menurutku waktu dengan anak-anak sudah sangat sedikit. Sementara di era sekarang, batas antara kantor dan rumah sedemikian tipisnya. Orang bisa membawa pekerjaan kantor ke rumah, dan membawa urusan rumah ke kantor. Bukankah para orangtua masih terus memantau perkembangan anak dan rumah sembari mereka bekerja di kantor?

Melihat suami membawa gawai, hatiku risau. Tapi ekspresi serius dan tegangnya, juga tak dapat diabaikan.

Aku lalu duduk di depannya, bertopang dagu. Mengamatinya sampai ia merasa risih.

“Kenapa, sih? Jadi nggak enak,” katanya.

“Enak ya jadi handphone. Dielus-elus. Diajak ngomong.”

“Ini lagi rapat, Miii.”

Kubiarkan ia menyeleaikan urusan dan mengamati ekspresinya hingga terlihat raut lega. Berarti, acara rapat-rapatnya sudah selesai, pikirku.

“Emmm….Mas kalau dibayar jadi pembicara berapa sih?”

“Kenapa emangnya?” dia balik bertanya.

“Aku pernah lihat Mas ceramah, asyik banget. Banyak ilmunya. Banyak referensinya. Pasti bayarannya mahal ya manggil Mas.”

Dia tertawa ,”emang apaan sih?”

“Kalau aku sama anak-anak mau minta taujih, kira-kira bayar berapa yaaaaa??”

Suamipun tertawa dan meletakkan gawainya.

Ada banyak kejadian mendongkolkan di rumah.

Termasuk dalam hubungan suami istri. Tapi kalau semua dibawa serius, tegang, konfrontasi; apa jadinya? Humor membuat situasi mencair. Rasa takut menghilang dan percakapan jadi lebih mengalir.

talking to husband 3.jpg
Suamiku, pahlawanku

Ayo, para istri shalihah!

Ajak suami bicara.

Mereka bukan monster yang menyeramkan.

Benar kan, Bapak-bapak?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kategori
Artikel/Opini Bunda Cantik. Beautiful Mother Catatan Jumat Hikmah Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Rahasia Perempuan Remaja. Teenager WRITING. SHARING.

Muslimah : Celana Panjang, Rok atau Jubah?

Putriku membagi link sebuah diskusi hangat di media sosial tentang muslimah yang memakai celana panjang. Muslimah tersebut dikritik oleh senior dan teman-temannya karena  menggunakan pakaian yang dianggap tidak Islami. Aku sendiri bukan orang yang sangat faqih dalam hal agama, tapi berupaya menimba ilmu sedikit-sedikit dan menyempurnakannya.

Sebetulnya, bagaimana sih muslimah seharusnya berpakaian?

Apakah ia harus berupa jubah panjang, longgar, bewarna hitam, dengan jilbab menjuntai hingga melewati panggul? Ataukah boleh menggunakan atas bawah seperti rok SMA, seragam instansi resmi PNS, atau menggunakan celana panjang?

Aku tidak akan membahas detail tentang kajian Quran dan Hadits sebab memang kafaah ilmu pengetahuanku bukan disitu. Aku lebih ingin mengupasnya dari sudut pandang psikologi dan parenting, juga tentang human-development yang menyisir usia wajib berhijab : usia aqil baligh.

 

  1. Konsep Belajar

Busana muslimah, berhijab, berjilbab ; adalah sebuah langkah dalam sekian banyak rangkaian dalam agama Islam. Sebagai muslim dan muslimah kita wajib belajar tentang agama. Mulai belajar bagaimana membaca Quran dengan tartil, membaca tafsir, membaca hadits sampai memahami fiqih, shirah dan segala hal terkait agama ini.

Belajar mencakup pemahaman tentang proses, tujuan, membentuk pengetahuan, berpikir strategis hingga metakognisi tentang materi ajar yang dimaksud.

Belajar agama berarti meliputi proses, tujuan belajar agama, membentuk pengetahuan, berpikir strategis hingga metakognisi.

Aku ingat, bagaimana pertama kali dulu semasa SMA masuk kelas rohis dan mendapat pelajaran tentang busana muslimah. Terus terang aku tahu wajibnya busana muslimah dari teman-teman lain, belum membaca langsung ayat tersebut dari Quran. Maka aku mengalami tahapan belajar.

Celana kulot.jpg

Proses, tidak serta merta langung berjilbab saat itu. Sebab aku masih mengumpulkan informasi, masih tengok kanan kiri, masih lihat apakah sohib karibku pakai jilbab  atau enggak. Setelah sampai di satu titik : ya. Kayaknya aku harus pakai jilbab. Karena apa?

Karena pengalaman pribadi.

Seseorang terkadang sampai di titik agama, karena berbagai jalan yang berbeda. 1001 cerita orang pakai jilbab tak akan sama. Akupun demikian. Waktu itu, ayahku meninggal, meninggalkan kepedihan yang dalam. Maka aku hanya berpikir simple : masa’ aku nggak akan membahagiakan ayaku dengan menjadi gadis shalihah? Maka aku menggunakan jilbab agar ayahku tenang di alam baka. Barulah kemudian sedikit demi sedikit aku memahami wajibnya busana muslimah.

Langsung pakai rok?

No way.

Lha, enggak punya.

Aku anak pecinta alam, pegiat kempo dan suka nonton bioskop. Kebanyakan punya celana panjang. Kalau nunggu punya rok baru pakai jilbab, bisa jadi berthaun-tahun kemudian baru pakai jilbab! Saat itu kupikir, yang penting ada pakaian panjang, aku anggap itu jilbab.

Ada celana jins panjang, pakai aja.

Ada baju lengan panjang, entah itu sweater atau kemeja, pakai aja.

Ada sembarang kain yang bisa dipakai kerudung, pakai aja. Entah bahannya katun, linen, atau bahan plitat plitut yang butuh puluhan peniti hahahah. Pernah aku pakai jilbab yang entah apa nama bahannya. Pas di tempat les, bolak balik melorot ke belakang hingga rambutku menyembul semua!

Yang penting, pakai baju panjang, plus kerudung. Titik.

Itulah proses.

Barulah kemudian , ketika kuliah dan bisa menabung sedikit demi sedikit, aku beli jilbab yang pantas. Rok-rok dan blus, diberi tanteku dan mamaku yang modelnya…..alamak, encik-encik buuuuangetttt. Tuwek! Tapi yah, terima aja. Hitung-hitung nambah koleksi busana muslimah.

Maka aku faham, ketika sekarang melihat ada anak remaja putrid menggunakan beragam jilbab.

Jipon, jilbab poni yang masih memperlihatkan poni.

Jilbab lempar, yang ujung-ujungnya dilempar ke belakang.

Jilbab satu peniti, yang disemat di bewah leher, dan masih memperlihatkan kulit leher dan dada.

Dan jenis jilbab yang lain.

Apakah jilbab yang belum syari itu berdosa?

Wallahu’alam. Hanya Allah Swt yang tahu.

Hanya Allah yang tahu apakah itu pahala ataukah dosa, ketika aku masih pakai celana panjang ketat dengan kemeja dan jilbab ala kadarnya ketika tak ada seorangpun saat itu yang bisa mendampingku pakai jilbab.

Hanya Allah yang tahu apakah itu pahala dan dosa, ketika aku masih bongkar pasang jilbab, karena tersudut teman-temanku semua belum pakai jilbab.

Hanya Allah yang tahu apakah pahala dan dosa, ketika aku jatuh bangun bongkar pasang jilbab, belajar terus tentang Quran dan Hadits lalu mencari tahu apa dosanya orang tidak berkerudung?

Tetapi sekarang aku menyadari, tak ada manusia yang bisa baik sekali jadi. Langsung muslimah taat, keren, shalihah, ghadul basar, hafal quran, membasahi lisan dengan dzikrullah, menjadi pemateri dan motivator agama.

Akulah itu, yang pertama kali pakai jilbab cekikikan bersama teman-teman, hadir ke majlis taklim karena pemateri rohisnya mahasiswa yang keren.

Akulah itu , yang masih suka koleksi music dan kelayapan di bioksop, dengan jilbab tersemat di kepala.

Akulah itu, yang masih suka gossip sana gossip sini, meski sudah mulai ikut pengajian.

Tetapi berminggu, berbulan, bertahun kemudian; apa yang berubah.

Jilbab awut-awutan gak karuan, yang penting asal pakai entah syari entah tidak, mulai berubah lebih santun dan indah. Lebih menutup aurat. Dengan rok, blus panjang dan jilbab yang juga menutup dada. Kalau pakai lengan ¾, memakai deker. Awal kuliah, ketika pakai kulot atau celana, kuusahakan mengenakan kaos yang panjang bajunya hingga hampir lutut.

Bersamaan dengan busana muslimah itu, ahklakku membaik. Ilmu agamaku meningkat. Dan kebiasaan buruk seperti gak peduli pada orang, bicara sembarangan, bicara menyakitkan, boros, suka menghabiskan waktu untuk music dan nonton; berganti dengan aktivitas lain yang lebih produktif. Bukan berari aku sekarang jadi orang suci yang gak pernah bicara pedas atau gak pernah marah, sama sekali gak dengar music dan nonton film, ya!

Dulu kalau seminggu gak nonton film 2 atau 3 kali, rasanya suntuk. Sekarang santai aja. Sebab hiburan juga beragam, terutama baca buku. Baca biografi sangat mengasyikkan. Nonton film kalau dulu apa aja diembat, sekarang lihat reviewnya dulu. Rotten tomatoes bagus? Oke. Ada waktu? Oke. Udah download? Oke. Karena nonton di bioskop sudah gak sempat. Males hehehe.

Film-film seperti Spotlight dan Split yang sangat dekat dengan dunia menulis dan psikologi, menjadi film wajib tonton. Dan kutonton itu di rumah. Tak gak harus di bioskop, aku nunggu sampai bisa download gratis .

Proses itu sungguh panjang. Kalau dihitung-hitung hingga sekarang, kurang lebih 25 tahun lebih sudah aku berjilbab. Dan rasanya masih saja ada yang kurang dari proses beragama-ku.

Proses, tujuan belajar agama, membentuk pengetahuan, berpikir strategis hingga metakognisi. Proses, tujuan dan membentuk pengetahuan tentang agama , khususnya jilbab sudah kulalui.

Muslimah Fashion 2.jpgBerpikir strategis tentang jilbab?

Nanti gimana ya aku dapat jodoh.

Nanti gimana ya aku kerja kalau ditolak karena memakai kerudung.

Saat SMA aku bertanya pada teman-teman, boleh gak kalau pakai kerudung tapi kupingnya kelihatan? Mengingat foto saat itu harus memperlihatkan telinga. Untungnya, peraturan segera membolehkan ijazah pakai jilbab.

Aku sempat takut pakai jilbab karena takut mama marah.

Bagaimana cara mengatasi ‘berpikir strategis’? Aku minta saran teman. Sahabatku bilang,

“Sin, kalau aku, yang buat mamaku marah adalah sejak aku pakai jilbab aku tuh lamaaa banget kalau disuruh keluar. Maka kita harus pakai jilbab yang simple. Jangan ribet.”

Saat itu belum banyak jilbab kaos seperti sekarang. Maka kalau aku punya uang, aku segera beli jilbab bahan kaos bentuk segitiga, yang ada tali dua , bisa dililitkan cepat di belakang leher. Sisa kain yang menjuntai di kanan kiri tinggal diikat dan diberi peniti satu. Cepat. Itulah berpikir strategis, gimana biar aku bisa pakai jilbab dan tetap aman.

Metakognisi?

Jodoh, uang , karier, pekerjaan.

Itu juga yang dikhawatirkan sebagian besar muslimah. Itu juga yang menimpaku. Maka aku terus menerus bertanya pada diri sendiri : untuk apa pakai jilbab. Kalau karena Allah, masa’ Allah tidak akan memberikan jodoh untukku? Kalau karena Allah, masa’ Allah tak akan memberi rizki dan uang padaku? Selalu ada pertempuran dalam diri dan ini sungguh berat. Alhamdulillah, metakognisi dari belajar tentang jilbab berhasil kuraih. Aku harus terus belajar hingga akhir hayat, terkait sisi hidup yang lain.

 

  1. Bertahap

Pakaian muslimah seharusnya seperti yang telah diatur dalam agama.

Menutupi dada, tidak membentuk tubuh, tidak menyerupai laki-laki dalam segala aspeknya.

Konteks menyerupai laki-laki ini bisa banyak makna dan bersinggungan dengan banyak kultur.

Jubah, dikenal di kalangan Arab dikenakan laki-laki dan perempuan. Laki-laki pun berjubah. Bahkan, laki-laki menggunakan kerudung di atas kepala untuk melindungi dari hawa panas. Maka di daerah Arab, perempuan diminta lebih panjang menggunakan kerudung di kepala, agar tidak menyerupai laki-laki.

Bagaimana dengan belahan bumi lain?

Ada kultur skandinavia yang memperlihatkan lelaki biasa pakai rok. Ada kultur Jawa dimana laki-laki juga biasa pakai kain panjang, jarik, seperti perempuan. Motif kain laki-laki dan perempuan pun bisa sama : parang rusak, wahyu tumurun, nogo kembar, sidho mukti. Dua-duanya dapat dipakai laki-laki dan perempuan. Hanya saja, lelaki menggunakan beskap dan blangkon, perempuan kebaya. Bila perempuan muslimah ingin menggunakan batik dan kebaya, tinggal menutupkan kerudung ke kepala dan menyempurnakan dengan kaos kaki. Kebaya pun dibuat yang tidak terlalu membentuk tubuh.

Lalu bagaimana dengan celana panjang?

Ini dia yang hingga kini masih menimbulkan perdebatan.

Celana jins, awalnya dipakai para penambang Amerika untuk melindungi kulit dari cacing tambang yang ganas. Para penambang umumnya laki-laki, meski ada yang perempuan juga. Celana ini umumnya berbentuk celana monyet, dengan kantung di dada dan celana yang diberi tambahan hingga perut dan dada serta diberi semacam bretel di bahu kanan kiri.

Kalau dilihat dari sejarah, yang mengenakan celana panjang memang kebanyakan laki-laki.

Pangeran Antasari, Pattimura, Pangeran Diponegoro; foto-foto mereka menggunakan celana panjang. Tetapi wilayah Aceh seperti Cut Meutia dan Cut Nya Dien, menggunakan celana panjang juga dengan perbedaan di bagian busana atas.

Sekali lagi, aku bukan ahli terkait fiqih. Jadi, hanya mengupas dari sudut pandang ilmu yang aku tahu.

Maka, celana panjang, sepanjang ia tidak memperlihatkan aurat seperti paha dan panggul yang ketat; maka boleh-boleh saja. Asalkan menggunakan pakaian yang  lebar seperti tunik hingga lutut atau minimal paha. Kulot juga panjang dan lebar, lebih nyaman dipakai.

Kalau diminta memilih apakah celana panjang, rok dan jubah yang lebih baik?

Aku pribadi merasa salut dengan mereka yang menggunakan jubah. Terlihat lebih anggun dan lebih mawas diri; juga lebih tidak menampakkan aurat. Aku juga pakai jubah; meski tidak di segala kondisi. Bila mengisi acara di insitusi resmi, aku lebih memilih mengenakan rok dan blus. Utamanya batik, agar lebih memperlihatkan cirri khas Indonesia.

Tetapi aku juga tidak akan mengkritik para muslimah yang harus berkontribusi sebagai polisi, tentara, perawat, pekerja pabrik, petani, peternak, tukang sampah. Aku menjumpai seorang muslimah yang harus bekerja sebagai pemulung dan tukang sampah; maka ia mungkin merasa celana panjang cocok untuknya agar tidak mengganggu saat bekerja.

Ya, itu kan tuntutan pekerjaan!

Bagaimana kalau mahasiswa? Bukan tuntutan pekerjaan, atuh!

Alangkah baiknya mahasiswa kalau ia berjubah dan berjilbab panjang. Atau menggunakan rok dan blus panjang. Tetapi kalau ia memilih bercelana panjang karena sedang bertahap memantaskan diri; maka itu akan menjadi proses pembelajaran luarbiasa bagi dirinya. Ia mungkin akan mencibir teman-temannya yang memakai busana kurung mirip emak-emak; tapi ia pasti akan belajar menilai. Malah mungkin, ia masih pakai celana ngatung 7/8 yang memperlihatkan betis, pakai baju ¾  yang tipis melambai, pakai jilbab ala kadarnya yang masih memperlihatkan rambut mencuat keluar dari pori-pori jilbab.

Tak mengapa.

Ia sedang menjalani proses, berjalan menuju tujuan tertentu dan mengumpulkan pengetahuan. 3 atau 5 tahun dari sekarang ia mungkin akan berubah. Yang penting, para muslimah berhijab rapi tidak mudah untuk menjustifikasi seseorang hanya berdasarkan penampilan.

Don’t judge the book by it’s cover. Okay?

Eh, tempo hari aku jadi juri Kartini lho!

Aku ketemu dengan para muslimah muda yang keren abis. Bikin diri ini yang sudah senior jadi malu. Ada yang pakai jubah dan jilbab panjang ala sosialita. Ada yang pakai rok, jaket almamater dan jilbab ala aktivis rohis. Ada yang pakai celana panjang dan kaos. Tapi mereka perempuan muda yang rrruaaarrbiasa!

Be yourself and never stop learning.

Fashionable  dan cantik ya?

Yang masih pakai celana panjang, terus belajar. Yang masih pakai rok, terus belajar. Yang masih pakai jubah, terus belajar.

Sampai kapan?

Sampai malaikat Raqib Atid menutup kitab dan menyerahkan urusannya pada Izrail.

 

  1. Sederhana

Naaaaah, yang ini nih lebih cucok buat bahasan muslimah.

Sebab, mau pakai celana panjang, rok, atau juba; ada kebiasaan buruk mengintai. Hiks, kebiasaan apa itu? Sikap arogan, jealousy, egosentris. Lihat teman keren pakai baju a, kit aingin pakai A. Lihat sohib keren pakai jilbab B, kita nyari di online jilbab B. Lihat ustadzah di televise pakai jubah panjang dan jilbab panjang dengan motif menarik; kita juga harus punya.

Salah satu cirri khas muslimah yang harus menempel pada dirinya; entah apapun jenis busananya adalah sifat sederhana.

Pakai celana panjang dan blus syari; kalau tasnya harus hermes Kelly, hmh.

Pakai rok dan blus syari tapi lemarinya penuh baju dan gak pernah dikosongkan buat bakti sosial, hmh.

Pakai jubah dan jilbab panjang tapi harganya selangit, hmh.

Baju kurung Malaysia.jpg
Baju kurung ala Malaysia

Apa gak boleh bermewah-mewah? Apa standar orang kaya harus selalu sama dengan standar menengah ke bawah? Sudah terbiasa beli busana di Hong Kong dan distrik Gangnam; rasanya gatel kalau pakai kaos beli di minimarket. Wah, kalau sudah dari kakek neneknya kaya; orang memang tidak akan mudah mengubah gaya hidup. Tapi bukan hal itu yang menjadi titik tekan.

Gaya hidup Utsman bin Affan dan Umar bin Khatab, juga Ali bin abi Thalib beda. Mereka berbeda cara makan, tempat tinggal, gaya berbusana. Tapi mereka dijamin masuk surga lho.

Sederhana itu, berusaha untuk terlihat 2 atau 3 level di bawah standar kekayaan yang sebetulnya. Itu filosofis yang kudapat ketika bertemu seorang pengusaha muslim nan sukses di Indonesia dan Jepang. Kisah hidup beliau menginspirasi dua tokoh konyol di Polaris Fukuoka, seorang gadis bernama Sofia dan pamannya Hanif (promosi hahaha). Konon, orang Jepagn suka dengan gaya hidup 2-3 level di bawah standar kekayaan. Itu namanya orang kaya beneran. Bukan OKB atau kaya boongan.

Punya duit 1 juta, yah, beli baju yang harga 100-200 ribu. Jangan punya duit 1 juta tapi pinginnya baju sekelas 3 juta.

Sederhana itu dicontohkan Carlos Slim, Mark Zuckerberg. Makin kaya, makin gak kelihatan. Bukan makin kaya makin belagu. Kalau jadi muslimah kaya, kelihatan dari jejak sedekahnya seperti Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf, bukan dari jejak upload statusnya ya.

Gakpapa tasnya Hermes Kelly, tapi infaqnya sebesar kapal perang.

Gakpapa busananya beli di Paris dan Korea, tapi infaqnya sebesar mobil Jaguar, Mustang dan Ferrari. Jangan dibalik. Tasnya Hermes Kelly, infaqnya senilai tas Tanggulangin. Busananya puluhan ribu Yen atau jutaan won; infaqnya sebesar odong-odong.

Sederhanalah dalam berbusana. Sebab itu akan membuat kita cantik. Hehehe, ini bukan menghibur diri sendiri ya?

  1. Tidak Berlebihan

Islam itu pertengahan.

Tidak belebihan, tidak kekurangan. Yang sedang dan biasa.

Gaya kasual pakai celana gunung yang longgar, dengan kaos loreng ala sate Madura, okelah. Tapi gak perlu segala gelang etnik dipakai mulai gelang kaki, gelang tangan, kalung tumpuk-tumpuk. Gelang kayu dan kelang karet okelah dijadikan satu. Dengan cincin tempurung penyu juga cantik, kalau kita jenis cewek yang enggan pakai perak dan emas. Jilbab dan topi baret, bisa jadi padanan, dengan vest ringan. Kadang, saking inginnya memadu madankan apa yang dipunyai di lemari; semua asesoris dikenakan. Padahal, pilih saja satu dua. Simple is beautiful.

Jubah cantik.jpg
Gaya sederhana yg chic

Bergaun pun harus sederhana.

Tidak selalu harus punya jilbab yang sewarna dengan motif bunga di baju. Bunga biru, jilbab harus biru. Bunga marun, jilbab harus marun. Bunga pink, jilbab harus pink. Padahal dengan punya jilbab hitam, coklat, krem dan merah tua; dapat mewakili semua busana yang ada. Rok pun usahakan punya yang dapat mewakili untuk banyak acara.

Kecuali kalau artis, presenter ya! Itu memang dunia yang butuh penampilan. Padahal banyak lho artis yang tetap sederhana.

Tahu Julia Stiles kan? Yang main di trilogy Bourne. Ohya, sekarang sudah sampai seri ke-5 hehe. Kata paparazzi, dia gak terlalu suka pesta sebab gak punya banyak koleksi gaun. Artis pun tidak harus punya baju sekontainer. Ratu Rania dari Yordania pun tidak terlalu suka mengkoleksi permata seperti para perempuan bangsawan lainnya. Konon, bila punya permata baru, yang lainnya akan diserahkan padap ihak keluarga atau negara. Yang sering dipakainya adalah mahkota kenegaraan.

 

  1. Jangan sampai bosan

Dalam beragama, hendaklah berada pada sisi tengah-tengah.

Sebab, Rasulullah Saw sendiri mengkhawatirkan apabila kita sangat keras pada diri sendiri; suatu saat sikap ekstrim itu akan menjadi sebaliknya. Permisif. Saking sederhananya dan ingin memelihara diri; sama sekali tidak pernah memakai perhiasan. Padahal Allah Swt pun suka bila hambaNya memperlihatkan sebagian dari kenikmatan yang diberikan olehNya.

Sikap tengah dalam agama membuat kita tidak bosan.

Kita ingin sederhana dalam berbusana, maka agar berhemat, memilih jubah dan jilbab sebagai pakaian sehari-hari. Tak mengapa menyisihkan uang, memberikan reward diri dengan membeli bros cantik atau kaos kaki yang nyaman dipakai.

Segala pilihan busana mulai celana panjang, rok, jubah; dipilih atas dasar ketaatan kepada Allah Swt. Hanya kita yang tahu, apa yang ada di lubuk hati terdalam. Kalau memilih memakai celana panjang; janganlah mengucap sumpah dengan mengatakan tak akan pernah memakai jubah yang seperti emak-emak. Sebab, siapa tahu suaminya kelak ingin istrinya mengenakan busana anggun. Yang mengenakan gaun pun, tak usah menyumpah-nyumpah mereka yang mengenakan celana panjang. Siapa tahu kelak berada dalam situasi yang menyebabkan ia harus menanggalkan gaun panjang dan menggantinya dengan pakaian yang lain.

Di tahun 2009, saya berkesempatan ke Palestina, Gaza.

Maka perempuan disana terbiasa mengenakan celana panjang, dan dilapisan luar mengenakan abaya. Tentu kita paham, kenapa ini dilakukan. Mereka siap lari dan menyelamatkan diri bila sewaktu-waktu bom jatuh di wilayah pemukiman.

Jadi, apa pilihan busana muslimahmu?

 

 

 

 

 

Kategori
Catatan Jumat Oase Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY WRITING. SHARING.

Tahukah Anda, Mimpi di Malam Hari Punya Makna Tertentu?

 

 

Pernahkah kita menyadari bahwa mimpi bukanlah sekedar bunga tidur namun merupakan sebuah isyarat akan suatu kejadian yang diilhamkan olehNya?

Tentu tidak semua mimpi perlu ditafsirkan, sebab kita belumlah se sholih nabi Yusuf a.s yang mampu menerjemahkan mimpi-mimpi raja dengan tepat.

Dalam kitab Fathul Bari tercatat sebuah doa, bila kita ingin bermimpi yang baik.

doa-fathul-bari
Doa minta diberikan mimpi yang baik

Allahumma inni as-aluka ru’ya sholihatan, shodiqotan, nafiatan, hafidzatan, ghoiro man-siyatin.

“Ya Allah sesungguhnya aku memohon padaMu mimpi yang baik, benar, manfaat, berkesan dan tidak terlupakan.”

Sebelum tidur, memang kaum muslimin disunnahkan bersiwak, berwudhu, membaca 3 surat terakhir. Kadang-kadang kita dihantui mimpi buruk sehingga Rasululla Saw mensunnahkan begitu bangun untuk membaca ta’awudz. Mimpi buruk sebaiknya tidak diceritakan, sebaliknya mimpi baik lebih utama diceritakan.

Bagi Sigmund Freud, mimpi adalah emosi-emosi yang ditekan sedemikian dalam akibat reaksi menghadapi sebuah kejadian. Orang yang bermimpi buruk  mungkin mengalami kejadian traumatic.Orang yang jatuh cinta akan memimpikan orang yang dipujanya.

Dalam Islam, tentu makna mimpi tidaklah sama seperti Freud.

Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah menuliskan, saat seseorang tidur, beristirahatlah pula tubuh dan pikirannya namun semua inderanya sebetulnya dalam keadaan waspada penuh. Kulit kita lebih sensitif, maka sekalipun tidur kita dapat merasakan bila kecoak merambati lengan kan? Demikian pula mata, seolah-olah sangat tajam melihat sesuatu. Mimpi yang dapat diingat dengan baik setelah bangun tidur tanpa susah payah me-recall adalah isyarat Tuhan. Sebaliknya, mimpi yang lenyap dari ingatan adalah mimpi yang tidak memiliki pertanda. Demikianlah kata Ibnu Khaldun.

Lalu apa makna mimpi-mimpi kita?

Tafsir mimpi Ibnu Sirrin.JPG
Kitab tafsir mimpi Ibnu Sirrin

Berikut arti beberapa mimpi menurut pendapat Ibnu Sirrin. Ada ratusan tafsir mimpi di dalam buku tafsir beliau, namun saya sarikan berdasarkan mimpi yang juga pernah saya alami. Beberapa mimpi memiliki arti buruk. Saya pribadi bila mendapati mimpi yang bermakna buruk akan mencoba memperbanyak sedekah dan berdoa. Bukankah kata Umar ra, takdir dapat ditolak dengan doa? Begitupun kata baginda Rasul saw, sedekah dapat menolak bala?

  1. Gigi tanggal

Gigi tanggal bermakna anggota keluarga ada yang wafat. Saya ingat, dulu menjelang ayah dan eyang saya meninggal secara berdekatan, saya bermimpi gigi tanggal beberapa .

  1. Mengenakan pakaian

Mengenakan pakaian berwarna warni bermakna sukacita. Mengenakan pakaian hijau berarti akan mendapatkan kedudukan terhormat. Pakaian hijau adalah ciri khas penghuni surga. Sebaliknya bila pakaian yang dipakai berwarna kuning adalah isyarat sakit.

  1. Bercumbu dengan perempuan lain

Jangan cemburu membabi buta ketika bermimpi suami bercumbu dengan perempuan lain, bahkan sangat cantik! Ini bukan berarti isyarat suami berselingkuh.

Menurut Ibnu Sirrin, perempuan cantik bermakna kehidupan dunia. Bercumbu bersama perempuan cantik berarti akan bertambahlah beban hidup di dunia, entah itu dalam hal pekerjaan atau keluarga.

  1. Makan makanan lezat

Makan makanan bila terasa sekali kelezatannya berarti akan mendapatkan rezeqi dari Allah Swt.

  1. Menyusui anak-anak/ merawat anak-anak

Anak-anak berarti kesusahan, kerepotan. Bermimpi merawat anak-anak berarti akan mendapatkan kejadian-kejadian yang merepotkan.

 

  1. Memiliki rambut yang indah

Rambut indah diartikan sebagai mahkota, harta kekayaan dan martabat. Bermimpi memiliki rambut indah berarti akan bertambah kemuliaan dan kekayaan.

 

  1. Buang air besar

Buang air besar diyakini si pemimpi akan kehilangan uang dalam jumlah cukup besar karena satu kejadian. Bila bermimpi ini ; perbanyaklah doa, istighfar dan sedekah. Sebaliknya, mimpi membersihkan tinja atau kotoran bermakna baik.

 

  1. Mimpi membersihkan rumah

Mimpi membersihkan rumah insyaallah pertanda baik, si empunya akan mendapatkan rizqi dari Allah Swt.

 

  1. Mimpi bertemu seseorang

Mimpi bertemu seseorang memiliki makna akan mendapatkan bantuan atau pertolongan dari seseorang yang namanya tersebut dalam mimpi, atau seperti yang sifatnya sesuai nama dalam mimpi.

 10.Mimpi melihat mayat

Mimpi melihat mayat insyaallah pertanda baik, tanda si empunya akan mendapatkan karunia harta dari Allah Swt.

dream
Dream of night

Dalam menafsirkan mimpi ini tentu anda tak bisa seperti ahli nujum, dapat menerka arti mimpi-mimpi orang-orang. Bisa jadi, seseorang diberi mimpi yang sangat istimewa sehingga tidak ada arti tafsirnya . Mimpi juga sangat individual sifatnya. Saya sendiri mengalami mimpi-mimpi seperti yang di atas dan belum mengalami sekian banyak ragam mimpi seperti yang ditafsirkan Ibnu Sirrin.

Dalam kitab tafsir Ibnu Sirrin ada beberapa mimpi istimewa yang saya sendiri belum pernah mengalaminya dengan jelas. Mimpi itu seperti mimpi bertemu para Nabi. Ibnu Sirrin memiliki sendiri kategori arti mimpi mulai apa arti mimpi bertemu nabi Adam as hingga bertemu nabi Muhamamd Saw. Demikian pula, Ibnu Sirrin menyusun tafsir ketika kita bermimpi membaca surat-surat dalam al Quran. Bermimpi membaca surat al Fatihah, berbeda maknanya dari surat al Baqarah, demikian seterusnya.

 

Mengapa saya tertarik membahas mimpi?

Dream 2.jpg
Nightmare

Sebab saya lebih mempercayai makna mimpi sesuai pendapat alim ulama seperti Ibnu Khaldun dan Ibnu Sirrin, dibandingkan tafsir mimpi seperti Freud yang lebih banyak mengemukakan basic instinct dan perasaan ter-repress. Meski, tentu saja tidak semua pendapat Freud salah. Membaca kitab ulama, membuat diri ini merasa tenang dan tahu kemana harus melangkah.

 

Kategori
Catatan Jumat Hikmah mother's corner Oase

Super Child : Anak tak boleh Salah dan Kalah

 

 

Kita akan menciptakan super child, si anak super yang akan menghadapi dunia 50 tahun ke depan. Anak impian kita yang merupakan gabungan Jenderal perang Qutuz, Shalahuddin al Ayyubi, Muhammad al Fatih. Anak yang mampu menggabungkan teknologi dan wirausaha ala Bill Gates dan Steve Jobs. Anak yang memiliki pengalaman kenegaraan seperti Mahathma Gandhi dan Nelson Mandela. Anak yang memiliki kefahaman ilmu agama seperti Syaikh Yusuf Qardhawi dan Syaikh Aidh al Qarni. Anak yang mampu berkomunikasi dengan fasih, menjalin hubungan interpersonal yang baik, diterima di tengah khalayak dengan terbuka.

Kalau bisa, bukan hanya 1 atau 2 anak kita yang seperti itu. Tapi semuanya!

chidren-image

Dunia tanpa Dinding

Kita dibesarkan dalam dunia yang memilki kesenjangan bagai tanpa limit antara realitas dan idealita.

Dalam dunia yang serba mengabaikan norma, kita ingin anak-anak teguh memahami prinsip agama, maka orangtua mengirimkan anak-anak ke sekolah Islam terbaik. Pesantren, boarding school, sekolah Islam plus, sekolah Islam terpadu, sekolah internasional, homeschooling. Kita memilih mana sekolah (yang dianggap) terbaik, berapapun biayanya.

Biaya sekolah Islam mulai dengan kisaran 500 ribu perbulan, hingga 5 juta per bulan. Uang masuk mulai 5 juta hingga ada pula yang 50 juta. Sungguh kita berharap, dengan upaya banting tulang peras keringat mencari uang halal, anak-anak pun masuk sekolah dan keluar dari sekolah dengan produk unggul berkualitas.

Tidak cukup hanya itu.

Segala fasilitas kita coba kerahkan untuk membentuk anak-anak menjadi Super Child.

Ensiklopedi, VCD, kaset, TV kabel, supercamp, pelatihan,  kursus, seminar motivasi; apapun yang dapat mengasah kemampuan anak, kita lakukan.

Anak-anak kita, buah cinta dengan pasangan, perhiasan mata dan harapan kehidupan mulia di dunia akhirat tumbuh dari waktu ke waktu. TK, SD, SMP, SMA, kuliah. Lalu semua bagai noktah merah yang saling terhubung. Mungkin kita telah meramalkan sesuatu, atau kita justru terkaget-kaget menghadapi anak sendiri.

Kecewakah kita sebagai orangtua?

 

Rezeki : selalu ada yang bertolak belakang.

Di dunia ini selalu ada yang bertolak belakang.

Kaya miskin.

Maka kita sering mendengar pepatah : rezeki sudah dibagi. Memang ada orang yang diberikan Allah Swt kehidupan demikian mudah, sehingga usaha apapun jadi uang. Tapi ada juga orang yagn diberikan kesulitan ekonomi, usaha apapun selalu terhalang. Meski tak boleh berputus asa dan harus tetap berjuang demi perbaikan ekonomi, bahkan memperbesar factor X seperti tahajjud, tilawah, sedekah, silaturrahim dan lain-lain; nyatanya kita tetap percaya bahwa ada orang yang diberikan keberlimpahan rezeki lebih oleh Allah Swt.

Tak mungkin rakyat Indonesia 280 juta,semuanya terdiri atas orang-orang seperti Chairul Tanjung, Aburizal Bakrie, Jusul Kalla bukan? Tak mungkin pula semua rakyat Indonesia terdiri dari Yusuf Mansur, Arifin Ilham, Mario Teguh. Ada orang-orang seperti kita yang mungkin ‘biasa-biasa’ saja dan belum menemukan potensi sebenarnya.

Pintar bodoh. Cepat lambat. Cerdas kurang cerdas.

“Ya ampun, senengnya ya Bu! Anaknya berkali-kali lolos olimpiade sains, sampai dikirim ke luarnegeri!”

“Yah, memang dari kecil sudah senang matematika, kok!”

“Rahasinya apa? Punya anak pinter begitu? Makan ikan atau omega 3 banyak-banyak kali ya pas di kandungan…?”

“Oh, nggak juga kok. Kali aja karena bapak ibunya pinter ya?”

Hehehe …

Sementara anak-anak kita jangankan olimpiade sains. Mata pelajaran matematika saja harus bolak balik belajar!

“Ya Allah, senangnya ya…anaknya hafidz Quran semua. Apa rahasianya, Bunda?”

“Alhamdulillah sejak SD memang saya masukkan pesantren, Bu.”

“Wah, sedih dong pisah sama anak sejak kecil…”

“Memang sih, tapi saya bertekad anak-anak jadi penghafal Quran semua.”

Alhamdulillah.

Saya sendiri bahagia mendengar keluarga penghafal Quran. Meski tak semua keluarga muslim dapat mewujudkannya, karena berbagai alasan. Karena biaya, karena jarak, karena kesehatan, karena pertimbangan A, B, C yang seringkali hanya diketahui keluarga yang bersangkutan.

Pintar. Penghafal Quran. Unggul di pelajaran.

Demikianlah gambaran rezeki anak-anak yang sangat membanggakan.

Lalu adakah anak yang tidak pintar? Yang bukan penghafal Quran? Yang berada di urutan bawah ranking kelas?

Ya.childs-imagination

Mungkin itu anak-anak kita. Dan mereka rezeki dari Allah.

Mereka belum menghafalkan Quran bukan karena meninggalkan Quran, tapi karena proses yang ditempuh masih panjang. Anak-anak kita yang ‘terpaksa’ sekolah di sekolah negeri kemungkinan sulit mendapatkan tambahan hafalan Quran, kecuali orangtua punya trik-trik jitu. Anak-anak kita yang dianugerahi Allah Swt IQ standar mungkin tak akan mampu menguasai matematika, fisika, kimia dengan cepat. Mereka lebih trampil berjualan, menggambar, atau berkomunikasi dengan teman.

 

Anak yang tak punya arti bagi orangtua

Suatu saat saya marah besar pada si Abang.

Saya bawa ke kamar, ajak bicara berdua. Saya beberkan kelebihannya dan juga kesalahannya yang membuat saya marah. Saya marah sebab ia lebih terlambat ke masjid di banding adiknya. Saya marah sebab ia lebih jarang baca Quran dan lebih sedikit hafalannya. Saya marah sebab ia lebih longgar menjalankan sunnah Nabi dibandingkan adik-adiknya.

Saya jelaskan Muhamamd al Fatih. Saya jelaskan Steve Jobs. Saya paparkan Einstein.

Lalu si abang tertunduk, matanya berkaca-kaca.

“Jadi selama ini , apa yang aku lakukan buat Ummi nggak ada artinya ya?”

“Apa maksud kamu, Mas?” sebagai ibu saya semakin marah ditantang demikian.

“Yang lebih baik dimata Ummi adalah adek yang rajin ke masjid. Iya, adek memang hafalan Qurannya lebih banyak. Lebih nurut. Lebih shalih.”

Saya menahan nafas, menahan diri.

“Kalau aku rajin jemput adek ke sekolah, apa itu nggak ada artinya? Aku selama ini taat sama Ummi, gak mau jalan sama cewek, gak pernah ke bioskop dan mall ; gak mau pacaran; karena taat sama Ummi; apa itu gak ada artinya? Meski teman-temanku rajin ngajak aku hang out, aku berusaha patuh sama Ummi.”

brother-sister-1

 

Aku terdiam.

“Aku sering belikan Ummi oleh-oleh tiap kali aku ke kantin sekolah. Aku senang belikan Ummi lauk pauk biar Ummi gak usah masak.  Kalau di jalan aku mampir Indomaret atau Alfamart, aku telpon Ummi : Ummi butuh apa? Ummi mau minuman apa? Aku tahu susu kesukaan ummi. Aku tahu snack kesukaan Ummi.”

Aku tercekat.

“Aku selalu berusaha menyisihkan uang saku, biar nanti saat Abah Ummi nggak punya uang dan aku butuh beli buku-buku; aku nggak harus minta lagi.”

Tiba-tiba mataku basah.

Abang pun terlihat sedih.

“Aku minta maaf kalau kadang berkata kasar sama Ummi .”

Ahya.

Ia, si abang memang tidak hebat di akademik, seperti kakak sulung dan adiknya. Tapi ia punya banyak teman dan rata-rata teman sekolah menyukainya. Ia, si abang yang memang hafalan Qurannya masih sedikit. Sholatpun masih sering diingatkan untuk ke Masjid. Tetapi,

“Ummi, aku tahu ibadahku kurang. Maka sekarang aku rajin ikut pengajian. Dan aku ngisi pengajian adik-adik SD.”

Ia, si abang yang sering kuprotes karena ibadahnya kurang disana sini. Ternyata Minggu pagi saat waktunya bermalas-malas bagi anak seusia dia,  berusaha siap jam 7 pagi.

“Ngapain kamu, Mas?”

“Mau isi pengajian anak SD, Mi.”

“Nih uang bensin,” aku selipkan beberapa lembar uang.

Lalu si abang berangkat dan pulang tak lama kemudian.

“Lho nggak jadi?” tanyaku.

“Anak-anaknyanya ternyata pada gak bisa.”

“Oh,” aku mengangguk. Kulihat seplastik besar makanan dan minuman. “Apa itu?”

“Makanan dan minuman buat adik-adik pengajian. Biar mereka senang.”

Aku tersenyum. Mengelus kepalanya. Dan ia tidak mutung atau patah semangat meski pengajian kadang-kadang gagal berlangsung.

Tiba-tiba aku ingat semangatnya untuk menjemput kebaikan dan menebarkan kebaikan; meski ia masih banyak kekurangan disana-sini.

Sebagai orangtua aku memang sering menuntut lebih pada anakku.

Mereka harus shalih. Mereka harus pintar. Mereka harus jadi orang hebat. Dan seketika kata-kata si Abang membuatku sedih dan tersadar,

“Apa yang aku lakukan selama ini, nggak ada artinya buat Ummi?”

 

Biarkan proses itu berjalan

Sungguh, kita senang bila mendapatkan anugerah easy child. Bukan hard child. Anak yang dari sononya sudah gampang diapa-apakan. Gampang disuruh, gampang diatur, gampang dibentuk. Susah sekali jadi orangtua yang harus berhadapan dengan anak yang ngeyel, keras kepala, mau menang sendiri, tidak mudah diatur-atur.

Tapi mereka anak-anak kita.

Ada darah kita mengalir di dalamnya, baik ataupun buruk. Mereka shalih, sebab kitapun shalih. Mereka keras kepala, mungkin kita ayah ibunya ada yang keras kepala. Mereka sulit belajar sains, sebab kita pun tidak terlalu menyukai sains. Mereka sedang terbentuk, sebab mereka memang harus ditempa tahap demi tahap.

Bila anak kita belum menjadi pegnhafal Quran saat ini, jangan patah semangat. Mungkin ia bisa jadi penghafal Quran 5 atau 10 tahun ke depan. Bila anak kita belum rajin ke masjid, jangan berhenti mengajaknya. Mungkin suatu saat ia akan tersadar, justru ketika kuliah atau malah sudah berkeluarga.

Mungkin anak kita belum menjadi anak yang kita banggakan.

Tapi, biarkan proses indah itu berlangsung. Waktu demi waktu. Tahap demi tahap. Sebagaimana para Nabi dan orang shalih pun tidak serta merta punya keturunan yang diinginkan. Apalagi kita yang masih banyak tambal sulam dalam segala pengabdian kepadaNya.

Mengapa, tidak bersama anak-anak kita, bergandengan tangan menuju keridhoanNya? Mengapa tidak kita syukuri punya darah keturunan disaat orang-orang lain sangat sulit punya anak kandung? Mengapa ketika kita kesulitan menghadapi anak-anak kita; ayo azzamkan bahwa kita pun harus meningkatkan kualitas diri sebagai orangtua : kualitas belajar, komunikasi, ibadah dan yang lain-lainnya?

Anak-anak itu adalah anak impian kita.

Mereka hanya harus menemukan jati diri. Dan suatu saat, dengan segala kekuarangan yang mereka miliki; mereka akan saling bekerja sama bahu membahu bersama anak-anak lain untuk menciptakan peradaban baru yang lebih unggul dari masa skearang.

 

(Terimakasih, Kak Malik, atas sharingnya malam itu di Depok. Terimakasih anak-anakku, juga murid-murid kelasku yang luarbiasa)