Kategori
Catatan Jumat Dunia Islam Fight for Palestina! Gaza Kami Oase Renungan Hidup dan Kematian Topik Penting

Palestina Negara Gagal & Kalah?

Blokade, pengusiran, hingga pemusnahan.

Benarkah pertanda kegagalan & kekalahan?

••••••

            Sebelum kita bahas lebih jauh tentang kalah menang, ada baiknya anda nonton film-film politik seperti Irishman dan Spy Gone North. Yang satu tentang negaranya Uncle Biden, yang satu tentang Korsel-Korut. Di situ akan dapat gambaran tentang “kalah-menang”. Bukan film yang endingnya klise dan hero-nya selalu menang ala-ala film Hollywood yang kita kenal dengan supremasi Amerika.

Palestina memang sering babak belur tiap kali konfrontasi dengan Israel. Korban jiwa luarbiasa, sarana publik hancur luluh, seenaknya Israel menetapkan jam malam di perbatasan dan serangan tanpa ampun sewaktu-waktu. Kita ‘hanya’ bisa mengirimkan donasi, bantuan pangan dan obat, juga kutukan-kutukan. Kirim tentara? Wah, bisa-bisa disangka memicu perang dunia ke-3. Tentara perdamaian seperti yang kita kirimkan ke Bosnia dan Libanon pun, nanti dululah.

Qunut nazilah di mana-mana.

Munasharah hampir tiap pekan ada.

Tapi kapan menangnya? Kapan Tuhan menurunkan bantuan? Apakah kaum muslimin begitu hina hingga semua doa hangus, bahkan sebelum melewati ubun-ubun?

Kategori menang, seringkali dianalogikan dengan sukses.

Orang sukses banyak duitnya, mentereng rumahnya, bejibun investasinya. Abaikan rumahtangganya berantakan, anaknya terlibat kenakalan dan ia depresi hingga selalu tergantung obat-obatan. Yang penting sukses, titik! Padahal bila dirunut lebih jauh, kesuksesannya semu.

Palestina kalah? Nanti dulu. Tontonlah Irishman.

Apakah negara uncle Biden menang, sejak JFK berkuasa? Di film Irishman justru kalah total. Negara itu dikuasai mafia yang mudah mempermainkan angka-angka hasil pemilu. Hingga kini, Amerika tak pernah benar-benar menang. Kasus George Floyd, coronavirus yang menggila, penembakan massal yang hampir selalu ada tiap bulan. Belum lagi kasus-kasus psikologis…subhanallah. Anda akan ngeri lihat negara ‘maju dan menang’ itu dengan segala kasus psikologisnya.

Palestina?

Well, orang-orang Palestina bukannya sakti mandraguna. Tak bisa menangis, kebal senjata, tak bisa trauma. Bukan! Ketika kami ke Gaza 2009, ada orang-orang yang bisu karena trauma dengan situasi perang. Ada anak-anak yang menangis karena kehilangan orangtua. Ada orang-orang yang resah dengan kondisi ekonomi. Anehnya, negara yang sering dianggap pecundang ini selalu punya solusi. Solusi konkrit yang membawa penyelesaian bagi banyak hal.

Miskin? Namanya juga negara yang diblokade.

“Ya Ummu Muhammad, kalau kamu lagi sempit, banyaklah baca al Waqiah,” pesan Abeer Barakah pada temannya. “Insyaallah datang pertolongan Allah. Beasiswa saya cair walaupun kita diblokade.”

Solusi, bukan? Memang duit gak datang dari langit. Tapi harapan dan upaya selalu dilakukan orang-orang Palestina : upaya bumi & harapan langit. Negara yang diblokade itu bisa menanam timun, jeruk, produksi ikan. Bahkan pertanian bunganya ekspor ke Belanda!

Banyak anak muda yang sekarang kehilangan jati diri. Kalau anda mengikuti channel Oli London yang mengaku mirip Jimin – BTS, anda akan bingung. Kok ada orang yang kehilangan jati diri seperti itu? Ajaklah anak Palestina pindah ke Indonesia, itu sudah pernah saya lakukan.

“Kalau jalan-jalan mau. Kalau pindah, nggak. Hadza darul ma’ad. Ini tempat kembali.”

Ya, ampun. Butuh berapa SKS dan kurikulum macam apa untuk menanamkan wawasan kebangsaan macam itu?

Tempo hari, ramai berita tentang demonstrasi di Myanmar. Ada bahasan bahwa ASEAN gak akan mampu menangani jika Myanmar jadi negara gagal akibat perseteruan sengit junta militer, oposisi dan rakyat. Bila jadi negara gagal; perdagangan senjata meningkat. Begitupun perdagangan obat bius dan human trafficking. Bila negara gagal akan menghasilkan perdagangan senjata, obat bius dan perdagangan manusia; silakan nilai sendiri Palestina. Senjata? Mungkin ada yang menyangka pihak militan jual beli senjata. Tapi obat bius dan human trafficking? Palestina, memelihara rakyatnya dari kerusakan, alih-alih menjalani bisnis haram. Padahal di negara miskin (negara kaya juga), human trafficking yang menistakan perempuan banyak terjadi. Pelacuran lazim dilakukan mereka yang sangat terhimpit ekonomi. Kok di Palestina tidak?

Karena ketika Palestina menerima bantuan dari negara manapun, yang dibangun pertama kali perpustakaan. Gak heran orang Palestina pintar-pintar. Dokter, professor, di mana-mana. Diblokade, loh! Yang dibangun rumah sakit. Yang diberdayakan perempuan. Perempuan-perempuan bisu tuli yang trauma pun, diberikan pelatihan. Jadi perempuan tidak harus merendahkan dirinya. Anak-anak? Ada supercamp yang salah satu kurikulumnya menghafal Quran. Tujuan camp ini menyiapkan anak-anak, kalau sewaktu-waktu orangtua mereka meninggal kena bom, mereka harus siap. Bukan itu aja. Di seantero Palestina, yang namanya Yayasan yatim piatu baik dibangun pemerintah, komunitas atau individu berceceran di mana-mana.

“Keluarga kami punya Yayasan yatim,” kata Abeer Barakah. “Kami yakin, bahwa mereka yang menyantuni anak yatim, di surga nanti bertetangga dengan Rasulullah.”

Abeer, yang tak luput dari kesulitan blockade, masih memikirkan buat Yayasan!

Pemerintah gak cukup bikin Yayasan. Di rumah-rumah yang hancur, dibuatkan monument. Pengingat bagi yang syahid. Agar anak-anak mereka atau siapapun mengenal nama-nama yang wafat lebih dahulu demi membela negara. Karena keterbatasan dana, tiak semua rumah dan tempat. Namun inisiatif pemerintah tersebut, benar-benar menghargai perjuangan. Dan anak-anak yatim piatu tersebut, merasa sangat dihargai dan dilindungi negara. Secara materi dan immateri. Secara fisik dan psikologis.

Kalau udah demikian, hakekatnya, yang negara gagal dan kalah siapakah?

Percayalah, siapapun yang menitipkan dana bantuan ke Palestina, insyaallah tidak akan sia-sia.

••••••

Masih ada dana 10K di e wallet atau rekening?

Yuk, bareng-bareng donasi.

Klik bit.ly/LMI_donasipalestina

••••••

Foto : kenangan bersama Abeer Barakah, yang menginspirasi dengan al Waqiahnya, nasehatnya tentang perempuan dan Yayasan amalnya

Kategori
Gaza Kami Hikmah Jurnal Harian Oase Renungan Hidup dan Kematian Surabaya Tokoh Topik Penting Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Protokol Kesunyian

Aku menganggap, dahulu ; kematian sama ramainya seperti kelahiran dan pernikahan. Sanak saudara, tetangga, teman-teman lama, sahabat jauh. Makanan silih berganti tersaji. Saling berpelukan, mengucap salam. Saat kelahiran, satu persatu datang menjenguk teriring doa. Saat pernikahan, satu persatu hadir membawa bingkisan dan doa. Saat kematian, ada kehangatan perhatian dan pelipur lara dari dekapan teman-teman.

Sekarang, aku melihat dunia dengan penduduk 6.000.000.000 manusia ini begitu sunyi.
Jarang lagi kudengar ibu-ibu ngobrol aneka masakan di arisan. Jarang kudengar ibu-ibu berebut tanya pada ustadz pembicara di pengajian. Jarang kudengar anak-anak berebut adzan atau iqomah di masjid.

😞Toko buku yang biasa kusambangi, tutup. Kedai soto tempatku dan keluarga menikmati akhir pekan, tak lagi buka. Penjual minuman coklat kesukaanku, tak lagi tampak. Tukang sol sepatu, penjaja bakso, penjual kue putu, penjual ember keliling; ke mana mereka sekarang? Ke mana orang-orang yang kehadiran mereka menggenapi hari-hariku dengan suara-suara yang unik, suara yang menandakan kehidupan?
Kelahiran yang bisu, pernikahan yang senyap, perdagangan yang sepi; tak seberapa menusuk dibandingkan kematian yang sunyi.

Orang-orang yang kukenal baik, menghilang perlahan dari pandangan mata : aku tak bisa menengok mereka, tak bisa menghibur keluarga mereka, tak bisa betakziyah, apalagi ikut memakamkan. Doa-doa virtual. Pelukan virtual. Airmata virtual. Kata-kata virtual. Berita-berita virtual. Hanya itu yang bisa menyadarkan bahwa aku masih nyata berada di dunia.
Aku, yang bertahun-tahun hidup di keramaian dunia nyata dan dunia media sosial; sekarang merasakan kengerian sunyi yang berdenting-denting di telinga.

🥀Maukah kau ikut merasakan kesunyian yang terkerat di benak?

Sunyi itu ketika ambulan datang, dan semua orang menyingkir menghindar, lantaran takut terkena percikan ludah.
Sunyi itu ketika jam demi jam, waktu demi waktu, sebuah ruang dingin berbau karbol-alkohol membatasi ruang gerak. Dan suara mesin ventilator, gelembung oksigen, menjadi satu-satunya suara di telinga.
Sunyi itu, ketika orang yang lalu lalang adalah perawat, dokter dan yang terakhir : malaikat yang paling dibenci kehadirannya.

Sunyi itu adalah ketika sesedikit mungkin orang yang memandikan mayat, mengakafani, mengantarkan ke peristirahatan terakhir.
Sunyi itu menyakitkan, membenamkan dalam kesenyapan paling pekat dan rasa sepi yang membuat ingin berteriak di manakah semua orang.

Tapi sunyi itu juga yang tetiba membuatmu mendengar suara Tuhanmu : “adakah lagi yang kau sembah selain Aku?”
Dan tetiba kesunyian ini membuatku mendegar suara-suara hatiku yang riuh rendah dalam percakapan monolog. Suara yang selama ini tergantikan dengan kebisingan Instagram, facebook, twitter, line, whatsapp, dan ratusan hingga ribuan email yang masuk setiap tahun.

🥀Kesunyian ini tetiba membuatku menemukan potongan diriku yang hilang : bahwa dulu aku tidak seperti ini. Bahwa dulu aku adalah orang yang tenang, waspada, senang dengan kebijaksanaan, mendahulukan kehati-hatian. Aku sejatinya bukan orang tebruru-buru, yang ceroboh dan sembarangan, yang suka memburu sesuatu tanpa perhitungan.
Sunyi itu tetiba membuatku suka becakap-cakap dengan Tuhan, bahkan aku berbincang denganNya sesaat sebelum tidur dan bertanya : Tuhan, apakah aku masih bisa bernafas esokhari? Sebelum sunyi ini aku akan melihat apa berita terakhir di whatasapp dan Instagram.

🥀Dalam protokol kesunyian yang terpampang : ketika orang demikian sendiri dalam kematian, aku seperti berkaca tentang diriku sendiri kelak. Aku mungkin akan selamat dari Covid, tapi aku pasti akan berakhir pula dalam kesunyian.
Dan ketika semua pelayat sudah pulang, ketika tangis orang-orang sudah terhapuskan, ketika malaikat Izrail sudah menuntaskan tugas : tinggalah aku sendiri di ujung pemakaman. Sunyi. Tanpa teman. Aku menggigil ketakutan, tak tahu siapakah yang bisa kumintai tolong untuk menghalau sunyi yang menikam. Dan saat itu, aku baru mendengar suara Tuhan : ”adakah lagi yang kau sembah selain Aku?”

Kita mati karena corona atau sakit lainnya
Kita akan selalu sendiri pada akhirnya
Protokol sunyi ini hanya sebuah jalan yang harus dilalui
Masanya nanti, kita hanya menemui Tuhan seorang diri

Untuk para guru kehidupanku, sahabat-sahabatku yang telah lebih dahulu berpulang .

💔Everything in this world is not everlasting

⌛️Catatan untuk kepergian :

🥀Bapak Heri Utomo
🥀Ustadz Hilmi Aminuddin
🥀Dr. Arief Basuki (kami pernah bersama tahun 2009 dalam lawatan ke Gaza)

Kategori
Dunia Islam Gaza Kami Oase Sejarah Islam Tokoh

Belajar tentang Jerusalem dan Palestina (1)  : Sumbangsih Dunia Islam yang Tak Tertandingi

Setiap kali bumi Palestina bergolak, mau tak mau kita kembali menoleh ke belakang untuk belajar sejarah dari buku-buku terserak yang tersedia di sekitar. Kadang-kadang, buku-buku tersebut menyajikan informsi sepatah-sepatah sehingga kita harus merangkai sendiri bagaimana sejarah manusia membentuk persepsi, menciptakan konflik, menghancurkan tatanan, atau  memunculkan harapan. Jerusalem dan Palestina akan selalu memancing pertikaian. Akan selalu menimbulkan  ribuan sudut pandang berbeda. Bahkan, orang-orang yang terlibat didalamnya di satu sisi dielukan sebagai pahlawan, di sisi lain disebut sebagai penjahat. Bagaimanapun hebatnya sosok Shalahuddin al Ayyubi, sebagian sejarawan -termasuk non  muslim-  sangat mengagumi beliau.  Namun bagi sebagian yang lain, dianggap sebagai perusak.

 

Jerusalem Awal di masa Nabi Daud as dan Nabi Sulaiman as

Jerusalem awalnya adalah sebuah wilayah tak lebih dari 15 ha yang hanya mampu menampung 1200 penduduk. Namanya mulai disbut-sebut bersamaan dengan kisah Nabi Dauh Saw. Bagi kaum muslimin, Nabi Daud adalah salah satu dari 25 nabi yang dimuliakan Allah Swt. Di masa jauh sebelum  Rasulullah Saw diutus menjadi nabi, tidak ada pembatasan berapa jumlah perempuan yang boleh diperistri seorang laki-laki. Sejarah mencatat secara simpang siur berapa jumlah istri Nabi Daud as dan Nabi Sulaiman as. Konon, Nabi Sulaiman as  memiliki 700 istri dan 300 selir.

Salah satu kisah yang masyhur adalah kisah ketika Nabi Daud as jatuh cinta pada seorang perempuan sangat cantik yang telah bersuami. Sumber Nashrani menyebutkan perempuan tersebut bernama Batsheba dan suaminya  seorang prajurit bernama Urian. Nabi Daud as mengirimkan Urian ke medan perang  hingga tewas dalam sebuah pertempuran.  Ketika nabi Daud as memperistri Batsheba, apa yang terjadi sesungguhnya hanya diketahui oelh segelintir orang, salah satunya seorang ulama shalih bernama Nathan. Dalam sebuah pertemuan, Nathan menyampaikan satu kisah.

“Adalah seorang Raja kayaraya yang telah memiliki segala. Namun ia masih menginginkan seekor domba yang dimiliki petani miskin. Raja itupun merebutnya!”

Hati Nabi Daud as trenyuh dan tersentak mendengarnya. Hingga sontak berteriak ,” Raja seperti itu harusnya mati!”

Nathan berujar hormat, “Andalah Raja itu.”

Nabi Daud as memohon ampun atas semua kesalahannya kepada Allah Swt. Bayi yang dikandung Batsheba meninggal, meninggalkan duka yang dalam di hati Nabi Daud as. Ungkapan ulama shalih Nathan terngiang.

Namun, dikemudian hari ia mengandung lagi dan lahirlah seorang bayi laki-laki sangat tampan dan masyhur dengan kekuasannya. Bayi itu diberi nama : Sulaiman. Sulaiman, kelak menggantikan Nabi Daud as menjadi nabi dan raja. Bukan hanya cerdas, kuat, tampan dan tangguh; Nabi Sulaiman as adalah seorang arsitek andal. Salah satu sumbangsihnya yang menjadi jejak tak terkira dalam sejarah manusia di bumi adalah Kuil Sulaiman. Tujuan membangun kuil ini bukan semata-mata tonggak pencanangan kemegahan kekuasaannya, namun juga menjadi tempat bagi rakyatnya untuk bermunajat.

Nabi Sulaiman as tidaklah tertakdir abadi.

Di bawah kepemimpinannya, negara termasuk wilayah Jerusalem hidup  makmur. Namun usai wafatnya, para kerabatnya bertikai dan berperang. Sejarah panjang menghiasai Jerusalem dengan heroisme dan kekejian. Nama-nama masyhur dikenal, baik masyhur dalam sisi kecemerlangan maupun kegelapan. Nebukadnezar, Darius, Alexander the Great adalah segelintir nama yang beririsan dengan Jerusalem. Alexander Agung memiliki jenderal terpercaya, Ptolemy. Dinasti Ptolemy inilah yang kelak akan mengurus wilayah Mediterrania. Kepengurusan yang akhirnya salah kaprah ditangani oleh Cleopatra. Sosok legendaris yang sebetulnya sangat cerdas, namun kecantikannya yang bak dewi kahyanagan  membuat orang-orang di sekelilingnya mabuk kepayang, rela bertempur, bersedia mati termasuk Julius Caesar dan Marc Anthony. Jerusalem terkatung-katung dalam situasi terlantar. Sebelum Masehi, ada lagi satu sosok sangat cantik yang turut berperan terhadap Jerusalem, yaitu ratu Salome dan dinastinya. Sesudah Masehi, berturut-turut nama kejan seperti Caligula dan Nero, menjadi penguasa Jerusalem.

           Cleopatra dan Salome, dua Ratu sebelum Masehi yang tershor karena kecantikannya

 

Jerusalem Islam

Nabi  Muhammad Saw menjadikan titik ini sebagai salah satu tapak mirajnya sebelum ke Sidratul Muntaha. Bagi kaum muslimin, Jerusalem sama berharganya dengan Haramain. Jejak Islam yang mulia tertoreh di sejarah Jerusalem. Sejarawan yang sangat sarkasm seperti Simon Sebag Montofiore pun mengatakan ketika Umar bin Khattab menguasai Jerusalem, tak ada sikap bermusuhan terhadap penganut monotheis : Kristen maupun Yahudi. Kontribusi para khalifah pun tak dapat dipandang sebelah mata, termasuk zaman dinasti Umayyah dan dinasti Abbasiyah. Meski dua dinasti ini berselisih paham, keduanya tetap berupaya menjaga Jerusalem sebagaimana contoh yang pernah dilakukan leluhurnya, Umar bin Khattab ra.

Haram-al-Sharif
Haram al Syarif

 

Muawiyah dan Haram al Syarif

Usai diangkat menjadi khalifah dan memerintah dari Damaskus, Muawiyah menggunakan koin dengan gambar Ilya Filistin atau Aelia Palestina yang menggambarkan pengagungannya terhadap Jerusalem. Muawiyah disukai masyarakat di luar Islam sebab melengkapi armada perangnya dengan orang-orang Nashrani dan seringkali meminjam riwayat Yahudi tentang kuil untuk menghormati mereka.

Muawiyah dianggap sebagai pencipta yang sesungguhnya dari Haram al Syarif atau dikenal sebagai Temple Mount ( Bukit Kuil). Haram al Syarif adalah suatu wilayah suci dimana di dalamnya terdapat bangunan masjid al Aqsa, Kubah Sakhrah (Dome of the Rock) dan Kubah Rantai (Dome of Chain ). Beliau meratakan batu Benteng Antonia lama, memperluas taman dan menambah satu ruang heksagonal dengan sisi terbuka Kubah Rantai, juga membangun masjid.

jerualem pict.jpg
Old Jerusalem

Abdul Malik bin Marwan

Abdul Malik bin Marwan jenis orang yang  tak suka pujian. Ketika seseorang memujinya ia akan menghardik dan mengatakan , “Jangan menyanjungku! Aku lebih tahu diriku dari dirimu!”

Abdul Malim menyatukan Syria dan Palestina, bercita-cita  menyatukan Islam tanpa perang saudara. Ia merancang pembangunan jalan utama antara Jerusalem dan Damaskus . Ia mengalokasikan harta setara dengan pegnhasilannya sebagai khalifah selama tujuh  tahun untuk menciptakan Dome of the Rock.

Dome of ther Rock . Sinta di depan wallpaper Dome of ther Rock, kementrian kesehatan Palestina 2009

 

Abdul Malik membangun tempat itu bagi semua kalanga.

Bukan sebuah masjid, namun tempat suci. Bentuk oktagonalnya menyerupai wisma Nashrani, kubahnya mengingatkan pada Makam Suci dan Hagia Sofia di Konstantinopel namun jalan melingkarnya dicancang berkeliling seperti thawaf di Kabah, Mekkah.

Batu itu adalah situs surga Adam, altar Ibrahim, tempat dimana Nabi Daud dan Nabi Sulaiman merancang Kuil, tempat Rasulullah Saw memijakkan kakinya saat Isra Miraj. Abdul Malik membangun kembali Kuil Yahudi untuk permurnian wahyu sejati, Islam.

Bangunan itu tak punya poros pusat namun memiliki  3 lapis.

Lapis pertama adalah tembok luar. Berikutnya arkade (gang beratap)  segi delapan dan kemudian tepat di bawah kubah : arkade yang mengelilingi kubah itu sendiri.

Kubah itu diibaratkan seperti surga , hubungan dengan Tuhan dalam arsitektur Islam yang kaya dan deskriptif. Kubah emas, pualam putih, dekoarsai mewah merupakan simbol sura Adn. Kekayaan gambarnya yang berupa pohon, buah, bunga, perhiasan, mahkota; bukan hanya gambaran yang menyenangkan bagi kalangan muslimin tapi juga nonmuslim. Tamsilnya menyatukan keindahan surgawi dan nun dahulu kala, kemegahan kerajaan Daud dan Sulaiman. Kubah emas dianggap sebagai lambang kejayaan Islam dimasa Abdul Malik, melampaui era Justinian dan Konstantin yang Agung. Kubah itu dirawat oleh 300 budak kulit hitam, 20 orang Yahudi dan 10 orang Nashrani.  Sekalipun Abdul Malik merombak Kuil ini, kaum Yahudi dan Nashrani tetap merasa kuil ini diperuntukkan bagi mereka. Dinasti Umayyh mengizinkan kuil suci itu menjadi tempat berdoa bagi dua agama langit lainnya :  Yahudi dan Nashrani.

Harun Al Rashid
Harun al Rasyid

Harun al Rasyid

Harun Al Rasyid adalah permata cemerlang dari dinasti Abbasiyah.

Dimasanya, ia menjalin kerjasama baik dengan Charlemagne, raja Frank yang menguasai Prancis, Italia dan Jerman saat ini. Sekalipun sangat      ingin menguasai Jerusalem, Charlemagne lebih memilih bekerja sama dengan Harun al Rasyid. Mereka bertukar duta selama bertahun-tahun. Charlemagne tentu saja belum mampu mengalahkan Harun al Rasyid karena kemajuan Islam dalam segala sektor saat itu tak tertandingi. Sebagai contoh, Harun al Rasyid memberikan hadiah seekor gajah dan jam air astrolabe kepada Raja Frank. Namun masyarakat Nashrani beranggapan astrolabe merupakan alat sihir iblis.

Tidak ada perjanjian antar keduanya secara formal namun properti kaum Nashrani didata dan dilindungi. Sebagai ganti, raja Frank membayar jizyah 850 dinar. Harun al Rasyid mengizinkan sang Raja menciptakan lingkungan Nashrani di sekitar makam Suci dengan sebuah tinggal untuk biarawati, perpustakaan dan penginapan untuk peziarah yang dapat menampung 150 pendeta dan 17 biarawati.

Pasca kematian Harun al Rasyid, putranya al Ma’mun meneruskan kebijaksaannya. Ma’mun mendirikan akademi sastra sains yang sangat terkenal : Baitul Hikmah. Dan ketika mengunjungi Jerusalem, ia membangun gerbang-gerbang baru di kuil untuk memperkuat seluruh areal Haram al Syarif.

 

Sumber :

Jerusalem the Biography, Simon Sebag Montefiore dan buku-buku lainnya

Kategori
Buku Sinta Yudisia Fiksi Sinta Yudisia Gaza Kami Oase Sastra Islam Sejarah Islam Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Mengutip Sastra Cinta bagi Palestina

 

 

Aku tidak lagi bisa berbual-bual menulis tentang Palestina. Sudah cukup berita mewartakannya. Terlalu sakit jejak yang ditorehkan dalam hati, sementara kita tak bisa berbuat apa-apa selain berduka dan mengutuk.

Hari ini aku ingin berbagi kepada kalian semua dan mereka , kepada anda dan kamu, kepada kita dan kami. Kepada pembaca blog, facebook dan siapapun yang masih dapat mengeja simbol. Palestina akan selalu ada. Dalam debu, dalam batu, dalam angin, di riak ombak dan laut, dalam perundingan-perundingan dan sastra-sastra dunia.

Aku cuplikan, ketikkan ulang, secuil bagian heroik dari buku tentang Palestina yang kumiliki. Secuil ini semoga menggelitik hati, untuk ikut memikirkan sesuatu tentang Palestina.

 

Moonlight on Holy Palestine.JPG
Kisah indah dan heroik

Moolight on The Holy Land Palestine ~ Yahya Yakhlif

 

…….

Di sebuah jalan kecil menuju Jerusalem, kami berhenti di sebuah gerumbulan phon zaitun di pinggir jalan untuk makan dan istirahat. Kapten Ma’moun duduk bersama-sama kami, makan seperti yang kami makan, dan mengobrol bersama. Dia menebarkan optimisme, menginpsirasi kami dengan keberanian dan keteguhan hati, memenuhi jiwa kami dengan kegembiraan karena turut ambil bagian dalam mempertahankan kota suci Jerusalem.

Dia berbicara dengan aksen Damaskus yang elok, dan tak pernah melepaskan kacamata yang membuatnya terlihat lebih menarik dan menjadikan warna kulit Damaskusnya terlihat lebih terang.

“Aku mulai mempercayainya,” kata Najib saat kami kembali ke truk dan iring-iringan melanjutkan perjalanan. Najib minum dari botolnya, lalu bergumam : “Kapan kita akan sampai ke Jerusalem?”

 

………..

Kami menuju ke markas regional untuk istirahat sebentar. Kemudian kapten Ma’moun menerima telegram dari komandan tertinggi dan memanggil kami agar bekumpul.

“Saudaraku,” katanya ,” pertempuran di Mishmar Haemek semakin berat. Musuh telah berhasil menambah kekuatannya, dan kita harus membantu membantu membendung serangan mereka.”

Dan itulah yang kami lakukan, membendung gempuran pasukan Hagannah yang menyerang kami pada sebuah front luas. Sebagian besar pasukan kami dipaksa mundur menghadapi serangan gencar dari pasukan yang lebih superior dalam jumlah dan kelengkapan. Kami berhasil menerobos kepungan atas korp artileri yang terjebak, melakukan tindakan penyelamatan, dan setelah melalui pertempuran yang sengit, kami berhasil mengeluarkan korp tersebut. Kapten Ma’moun, yang memimpin tugas penyelamatan itu tertembak dan terkapar. Akhirnya, pertempuran mereda dan pasukan kami kembali ke posisi semula. Spirit kapten Ma’moun yang syahid terus menyemangati kami layaknya seekor burung hijau. Meskipun dia telah meninggal, kami merasakan kehadirannya hidup bersama kami, dan kami mengulang-ulang kisah tentang keberanian, karakter, dan kesederhanaannya. Komandan tertinggi telah memilih beberapa orang, termasuk Asad Al Shohba, untuk mengawal jenazah kapten Ma’moun ke Damaskus.

Sebuah pertempuran yang sungguh aneh, penuh pelanggaran, berakhir dengan penarikan mundur pasukan dan kamipun tak mendapatkan apa-apa. Aku dipromosikan menjadi komandan peleton. Meskipun demikian, akudikepung oleh perasaan pahit, benci dan malu.

Kami kembali ke posisi semula, di pinggiran al Mansi. Seragam kolonel Nour Al Din masiih tergantung di dinding kamar, namun rompi peluru tak terlihat lagi disitu. Aku lalu teringat Najib, yang mengucapkan salam perpisahannya dan pergi.

Aku pikir berkah Tuhan akan menyertai lelaki pemberani itu,  kemanapun ia pergi. Semoga mimpi-mimpinya dipenuhi dengan rusa, kupu-kupu, dan bunga; dipenuhi dengan pemandangan pohon muknissat al janna ; dan dipenuhi dengan bau orang yang dicintainya, yang telah menginspirasikan hatinya dengan gairah tak pernah padam.

 

A Little Piece of Ground (Bola-bola Mimpi) – Elizabeth Laird

 

Bola bola mimpi.JPG
Anak-anak Palestina yang pembernai tapi konyol, kocak dan lucu setengah mati!

Ledakan itu, meskipun lebih mirip suara “gedebug”, sempat membuat ketiga anak itu terlompat kaget. Debu beterbangan dari jemabtan di bawah sana. Selama beberapa saat, mereka tidak bisa apa-apa. Setelah debu-debu itu mulai menipis, mereka melihat ketiga tentara itu keluar dari pesembeunyian . Kantong plastik itu sudah lenyap, tapi serpihan plastik dan kertasnya masih melayang-layang di udara, dan akhirnya jatuh ke tanah. Salah seorang tentara menendangi serpihan-serpihan itu dengan kesal. Seorang lainnya menarik tentanra stres itu ke pinggir, lalu membungkuk dan mengambil sesuatu. Dia menunjukkan sesuatu itu pada yang lainnya, meneriakkan kata-kata mirip sumpah serapah, lalu membuangnya. Dia kemudian kembali ke jalan raya.

“Apa itu tadi? Apa yang kamu taruh di dalamnya?” tanya Karim.

Hopper menyeringai senang.

“Batu. Aku tulisi Palestina Merdeka di satu sisi , Matilah Israel di baliknya, dan Pecundang di sepanjang pinggirannya.”

“Oh, Wow! Kereeen..!” mulut Joni sampai menganga saking kagumnya.

“Tapi, mereka kan nggak bisa baca tulisan Arab,” sergah Karim.

“Aku tulis dalam bahasa Inggris, kok.”

Hopper baru saja mengucapkan hal lain ketika suara yang menusuk telinga mulai terdengar. Suara itu mendengung semakin keras.

“Helikopter!” desis Karim. “Mereka menyisir daerah ini. Mereka pasti melihat kita! Kita bakal tertangkap!”

Hopper tidak membuang-buang waktu lagi. Dia langsung mencari tempat berlindung, di atap terbuka itu.

“Di bawah tangki air! Disana!” katanya, “kita harus sembunyi!”

“Nggak ada gunanya,” pikiran Karim berpacu dengan waktu. “Mereka pasti punya alat pendeteksi panas. Mereka pasti menemukan kita. Kita harus masuk ke gedung!”

 

 

 

Jalan jalan di Palestina.JPG
Salah satu buku yang aku suka sekali

Palestinian Walks : Notes on a Vanishing Landscape – Raja Shehadeh

………

Betapa aku iri pada Abu Ameen yang hidup dengan percaya diri dan aman di bukit tempat ia lahir dan mati, yang ia yakin takkan berubah selamanya. Pernahkah Abu Ameen memimpikan suatu hari bukit-bukit bebas tempat ia biasa melarikan diri dari kekangan kehidupan di desa takkan lagi bisa dikunjungi oleh keturunannya? Betapa para pendaki gunung dari mancanegara tak tahu betapa beruntungnya bisa berjalan di negeri yang mereka cinta tanpa amarah, rasa takut, atau tak aman. Betapa berharganya bisa berjalan-jalan tanpa wacana politik berseliweran di kepala, tanpa takut kehilangan apa yang telah mereka cintai, tanpa resah hak mereka untuk menikmatinya akan dirampas. Hanya untuk berjalan-jalan dan menikmati dan menikmati apa yang ditawarkan alam, seperti yang dulu bisa kulakukan.

………

 

Kadang-kadang , ketika bangun pagi dan menatap keluar keperbukitan, aku membayangkan Abu Ameen berdiri di pagi hari di atas qasr-nya jauh di atas bukit. Ia dikelilingi kabut yang memenuhi lembah dan menyamarkan lipatan bukit-bukit, membuat segalanya tampak  licin. Di sekitarnya aku bisa melihat kabut telah sampai ke tiap lipatan dan lekukan lembah, menciptakan danau-danau yang beruap di antara bukit-bukit yang kering dan terpanggang. Ia terus berdiri di ranah yang kini telah terubah itu, mengikuti naiknya matahari di langit, mengamatinya mengisap kabut, mengosongkan danau-danau malam tadi, dan mengembalikan bukit-bukit itu ke keadaan mereka yang lumrah, kering dan bergelombang.

Jika seseorang mencari Abu Ameen, awalnya dia takkan bisa langsung melihatnya, namun begitu kabut mulai memudar dan matahari makin mencerah, muncullah sesosok yang cerlang. Sulur-sulur kabut yang mengelilinginya akan bercahaya terkena sinar matahari. Kerlap kerlip yang berwarna warni akan menerangi tubuhnya, memberinya sayap-sayap seakan ia dapat terbang di atas lembah, sosok yang fana laksana unggas liar atau dewa bukit yang pucat.

Aku sering penasaran kepada Abu Ameen sementara aku berdiri di pagi hari menatap ke pedesaan. Apa yang akan ia katakan jika melihat negerinya sekarang? Akankah jiwanya mendidih dengan amarah pada kami yang membiarkan tanahnya dihancurkan dan diambil alih, ataukah ia hanya akan menikmati satu sarha panjang lagi, membiarkan jiwanya mengembara bebas di atas negeri ini, tanpa kekangan batas-batas, seperti keadaannya suatu waktu dulu?

 

 

Reem ~ Sinta Yudisia

Insyaallah terbit Juli atau Agustus 2017

Reem Cantik Palestina.jpgReem

Kategori
Catatan Perjalanan Gaza Kami Oase WRITING. SHARING.

Tanpa Surabaya, Indonesia telah menjadi Inggris : Energi Ilahiyah dalam  tabligh akbar Al Falah

 

 

Mata meleleh mendengar lantunan Quran surat al Maidah : 51-58 . Betapa sesungguhnya Allah Swt telah memberi peringatan sejak berabad lampau, tapi kita juga yang tidak memperhatikannya. Penutup acara hari itu diserahkan kepada ustadz Bachtiar Nasir , ketua GNPF MUI.  Apa yang disampaikan beliau benar-benar membuat tersentak.

Berikut adalah rangkuman dari apa yang disampaikan ustadz Bachtiar Nasir . Semoga menjadi perenungan untuk kita.

“Inggris negara sekutu terhebat di Perang Dunia II.  Tetapi oleh Surabaya Inggris,  benar benar dianggap sekutu (seukuran kutu).  Kapolri sesuungguhnya tidak pernah melarang aksi 212. Sore nanti tekanan terhadap kaum muslimin lewat kapolda dan kapolres dicabut. Perusahan organda,  bis-bis boleh menyewakan kendaraan ke Jakarta. Ummat Islam apalagi Surabaya,  semakin ditekan semakin nekat berbahaya. 10.000 orang Ciamis dilarang naik kendaraan maka sejak Senin akan jalan kaki.

Bachtiar Nasir bertanya : kalau gak boleh naik bis ke Jakarta mau naik apa?

Audiens menjawab : motor,  truk, kapal laut, booking pesawat.

Kata beliau, terlalu murah bagi orang Surabaya utk beli tiket
Saya jelaskan mulai yang kasat mata sampai yang menurut pandangan ulama. Demo empat November 3-5 x lipat dari 1998. 212 bisa lebih besar lagi.

Ada sebuah konspirasi jangka panjang. Kenapa ada yang  begitu perkasa di hadapan hukum. Ada pelumpuhan hukum sehingga hukum  tunduk pada pemodal yang menguasai pejabat. Uangnya sebetulnya sedikit. 6 ribuan trilyun uang ummat Islam  ada di Indonesia.

A*** akan dilindungi karena tidak punya niat jahat.
Kalau orang ngomong di muka umum, tidak ngelindur maka ia melakukan dengan sengaja. Kita sedang diadu domba.

Arswendo ditangkap pakai fatwa MUI. Dalam kasus A*** gak bisa pakai  fatwa MUI. Sebetulnya apa yang terjadi sehingga hukum lumpuh?
Gara gara investor politik menempatkan aktor politik untuk memaksakan kehendak. Yang menjadi pemimpin di negara ini adalah orang yang imannya setipis uang kertas.

Ini yang kasat mata.

Indonesia tidk jadi tuan rumah di negeri sendiri. Kedua, penyimpangan tafsir Pancasila dan bhinneka tunggal ika. Bhinneka Tunggal Ika kalau minoritas boleh memimpin yang mayoritas muslim. Saya memberi tahu kepada pemimpin partai. Pemimpin ormas. Anda akan menajdi fossil pemimpin jika tidak bergabung  dengan kekuatan rakyat sekarang. Ada yang memaksakan Al Maidah berjalan sehingga  apa yang terjadi sekarang.

Ingin hukum jahiliyah berlaku. Tidak  ingin Ketuhanan yang Maha Esa.

Mau tuhannya kodok. Tembok. Terserah. Maka pejabat saat ini bertuhan pada pantat dan perut. Pemimpin yang hanya menjaga pantatnya saja alias kursinya saja. Ada yang ingin hukum jahiliyah di Indonesia. Bukan Islam. Mau lesbi, gay, LGBT, transgender gakpapa.

Ketiga, Sila 4 5 sudah tidak ada. Sila Persatuan Indonesia sudah tidak ada. Dibelah menjadi ultra tiongkok dan kapitalis. Tanda-tanda komunisme sudah ada. Indikator sudah kuat. Petinggi negeri banyak yang berpikir: daripada dijajah Amerika mending dijajah Cina. Sebab Amerika 80 : Indonesia 20. Kalau Cina 20 : Indonesia 80. Bohong! Teknologi. SDM,  semua dari  Cina!

Apa yang membuat ini meledak?

Semua bersumber dari siapa yang lebih bagus hukumnya selain hukum Allah? Ada hukum jahiliyah yang ingin ditegakkan, melawan para ulama yang ingin hukum benar- benar ditegakkan.

Presiden datang ke Prabowo. Datang ke SBY. Kira-kira apa hubungannya? Orang mengira ini masalah politik.

Bukan! Ini masalah Al Maidah 51!

Kita ke Jakarta mati belum tentu membela undang- undang masuk surga. Tapi membela Quran insyaallah masuk surga.

Yang terjadi adalah energi Ilahi Al Maidah. Hari ini insyaallah panas menjadi adem. Sebagaimana api diperintahkan menjadi dingin (dalam kasus Nabi Ibrahim as). Semoga panas hari ini menjadi energi jihad. Usai deadlock, saya tidak bisa bertemu presiden. Saya ingin bertemu presiden. Tapi gak tau presiden ada dimana.

Ketika deadlock, tiba-tiba ada mentri marah pada bawahannya. Bertanya,  mengapa tidak terjadi hujan petir (buatan). Jawabnya : Pak mentri, saya sudah 4 kali bolak balik menerbangkan pesawat untuk menaburkan garam, tapi tidak terjadi hujan.

Hari itu harusnya yang mati ribuan. Berdesak desak. Suasana itu lebih lelah dan lebih padat. Kanan pagar gedung. Kiri pagar gedung gedung.
Kemarin 411 ditembaki gas air mata. Harusnya gas air mata di tembak keatas. Israel begitu. Tapi kemarin tidak begitu. Harusnya ditembak ke atas.  Sekali saja. Ini kemarin berkali-kali. Orang-orang  sedang kekurangan oksigen.

Padahal, kalau ada orang nginjak rumput diteriakkan: hati- hati provokasi. Pasukan kebersihan ada 2000 orang. Tidak pernah ada demonstrasi seperti itu. Demonstrasi ini putih. Para pemimpin itu hanya eksis di medsos. Memiliki massa itulah politik sesungguhnya. Anda yang menagakan cacing dan mencacingkan naga, tunggu tanggal mainnya. Mereka mengatakan itu cuma gerakan politik.
Mereka mempersepsikan kita seperti cacing tapi menekan kita seperti naga.

Kalau anda gagal paham anda akan tergilas. Ini aksi damai sebab ini kita cinta damai. Saat itu gas air mata dosis tinggi ditembakkan bertubi-tubi.
Supaya mike tetap di tangan ulama yang berteriak : Bertahan. Duduk. Jangan melawan. Jangan lari.

Dengan izin Allah…

Bagaimana kita menang?

  1. Aksi damai
  2. Melawan dengan bertahan
  3. Pasti menang dengan bersabar

Kalau bukam karena Surabaya, Indonesia sudah jadi negara Inggris.

Jadi tadi pagi saya minta izin pada Habib Riziq untuk  ke Surabaya.
Jangan jadikan Yahudi Nasrani teman dekat  apalagi pemimpin.

Wahai orang-orang kafir, jangan bermimpi memimpin NKRI yang muslim. Natal orang muslim disuruh pakai topi Sinterklas, awas! Kami tidak mau aqidah kami dijajah di negeri sendiri.

Selama ini Islam terpecah belah. Saat ini semuanya bersatu karena energi Al Maidah. Selama ini seminar dll tidak bisa menyatukan.

Bagaimana kaum muslimin dapat menang :

  1. Ummat terikat pada fatwa ulama. Ummat Islam faham Quran sunnah karena ilmu ulama. Setelah Quran, Sunnah, kebawah seterusnya adalah domain para ulama.
  2. Pemimpin kita adalah para ulama. “ulil amri” tafsir pertama adalah ulama, bukan presiden! Siapa yang wajib diataati, didengar, dijaga, didekati, diajak hidup bersama adalah ulama. Kitaharus tunduk pada kepempimpinan habaib, kiai, ulama. Maka jaga juga lembaga ke-ulama-an.”

 

Sinta Yudisia – Ordinary People

Ini adalah catatan sepanjang mengikuti acara. Mungkin saja ada yang terlewat atau ada yang salah. Laporan 27 November 2016 , tabligh akbar bersama GUIB JATIM.

 

Pak polisi yang cantik dan santun

Yang unik : pasukan sampah dan Punk Muslim

 

Kategori
Fight for Palestina! Gaza Kami

Sognando Palestina

*Randa Ghazy

(Randa Ghazy adalah seorang penulis belia 13 tahun asal Mesir. Orangtuanya senantiasa berkata bahwa anak-anak Palestina adalah saudara-saudaranya)

Pesan anak Palestina pada sahabatnya :

Aku berpikir bahwa mungkin aku bisa menetap disini
Membaca sampai dunia berakhir
Tetapi dalam kenyataannya
Satu-satunya yang penting buatku adalah kalian
Dan, dirimu

anak palestina

Aku berpikir bahwa kau telah memberikan sebuah keluarga untukku
Kau, adalah keluargaku
Dan bahwa barangkali
Aku tak cukup lengkap mengutarakan padamu
Aku benar-benar menyayangimu

Suatu hari nanti
Bila kita tak akan bersama lagi
Aku tidak akan bisa berkata :
Terimakasih
Terimakasih atas segala yang kau lakukan padaku

Jika perang ditakdirkan usai
Jika kita ditakdirkan merebut kembali tanah ini
Jika kita sanggup melepaskan diri dari kekerasan
Aku senang sekali bisa berada di dekatmu dan berkata :
Kita telah berhasil!

Ketika kelak kau menjadi lelaki dewasa
Akan sangat sulit bagimu
Sangat sulit
Untuk membebaskan dirimu dan mengakui
Bahwa hatimu terbakar oleh perasaan yang begitu halus
Rasa yang melampaui kepedihan
Itulah Cinta

children of Gaza
Dibacakan dalam aksi solidaritas Palestina , Grahadi Surabaya, 11 Juli 2014

Kategori
Fight for Palestina! Gaza Kami

ORANG PALESTINA

*Harun Hashim Rasyid

(Harun Hashim Rasyid adalah penyair Palestina, lahir 1930 dan hidup di bawah penindasan Zionis Israel. Puisi-puisinya yang terkenal antara lain Kapal Kemarahan (Safinat al Gadhab), Orang-orang Asing (Al Ghuraba) dan masih banyak lagi. Salah satu yang terkenal adalah puisi berjudul Orang Palestina)

father n son in gaza

Orang Palestina aku
Orang Palestina namaku
Dengan tulisan terang
Di segala medan pertempuran
Telah kupahatkan namaku
Mengaburkan segala sebutan
Huruf-huruf namaku melekat padaku
Hidup bersamaku, menghidupi aku
Mengisi jiwaku dengan api
Dan berdenyut di urat-urat nadi

Orang Palestina aku
Itu namaku kutahu
Itu menyiksa dan menyusahkan aku
Mengejar dan melukai aku
Karena namaku Orang Palestina
Dan sesuka mereka,
Mereka telah membuat aku mengembara

Aku telah hidup sekian lama
Tanpa sifat tanpa rupa
Dan sesuka mereka
Mereka lontarkan padaku segala nama dan sebutan nista
Penjara-penjara dengan pintu-pintu lebar terbuka
Mengundang aku
Dan di segala pelabuhan udara di dunia
Diketahui nama dan sebutanku
Angin khianat membawa aku
Menghamburkan aku

Orang Palestina
Nama itu mengikuti aku, hidup bersamaku
Orang Palestina, itu tertakdir padaku
Melekat padaku, menggairahkan aku

Orang Palestina aku
Meskipun berkhianat mereka padaku dan pada tujuanku
Orang Palestina aku
Meskipun di pasaran mereka jual aku
Seberapa mereka suka, seharga ratusan juta
Orang Palestina aku
Meskipun di tiang gantungan mereka giring aku
Orang Palestina aku
Meskipun ke dinding mereka ikat aku

Orang Palestina aku
Orang Palestina aku
Meskipun ke api mereka lemparkan aku
Aku : apalah arti diriku?

Tanpa namaku, Orang Palestina
Tanpa tanah air dimana aku mengabdikan hidup
Dimana aku dilindungi dan melindunginya
Aku
Apalah arti diriku

Jawab, jawablah aku!

Perempuan Gaza di tepi Pantai
Perempuan Gaza bersama keledai di tepi pantai

Dibacakan pada Aksi Solidaritas Palestina, Grahadi Surabaya, 11 Juli 2014

Kategori
Catatan Perjalanan Fight for Palestina! Gaza Kami Jurnal Harian Quran Kami ~RINAI~ Sinta Yudisia

Jika Kau Pergi Ke Gaza, Palestina

Sekali saja, andai kesempatan itu datang, meminta kita datang ke Palestina, apa yang harus disiapkan?
Paspor visa, agar dapat berangkat dan pulang dengan selamat. Sejumlah uang yang dapat dikonversikan ke mata uang asing, tak mungkin di negeri orang tak bawa uang saku. Logistik, agar tak kelaparan sepanjang perjalanan maupun di tempat tujuan. Pakaian sesuai musim, mengingat Palestina dapat mengalami cuaca ekstrim sangat panas atau sangat dingin. Baterai, sebab listrik hanya dijatah 3-5 jam oleh Israel. Alat komunikasi, siapa tahu keadaan terjepit dan kritis, harus mengontak pihak otoritas. Ohya, kamera. Mengabadikan perjalanan tak lengkap tanpa kesan visual. Sediakan kantong-kantong sisa di ransel dan koper, agar dapat membeli souvenir di toko-toko handicraft yang tersebar di sepanjang jalan di Gaza City. Harganya relatif murah. Kecuali jika ingin membeli abaya, perlu menyiapkan sekitar 200 shekel per gaun.
Cukupkah?
Rasanya cukup.
Tambahkan tim penerjemah yang mampu berbahasa Arab, bila hanya paham ana dan antum.
Jika perjalanan itu bertujuan menikmati eksotika Khan Khalili, Kairo atau biru safir Mediterrania el Arish, daftar di atas cukup. Namun bila anda berkehendak memasuki Palestina, ada hal-hal lain yang harus disiapkan.

Bon-bon, Gaza

1. Believe in Allah
Ini saran dari Rehab Shubair, Ministry of Women Affairs. Keadaan di Palestina betul-betul tak dapat diprediksi. Tak ada siklus rutin pasti sebagaimana kita bangun Shubuh, sholat, menyiapkan sarapan, berangkat ke kantor dan mengantar anak sekolah, pulang sore dan bercengkrama kembali, melepas penat dan begitu seterusnya. Merencanakan akhir pekan, merencanakan beli sesuatu di awal bulan. Berniat melakukan sesuatu di tahun depan.
Terjebak jam malam. Terjebak sirene peringatan sehingga rumah dan sekolah harus bergegas mengawasi jendela agar anak-anak menjauhi kaca –sniper mengincar bahkan hanya sekedar gerakan melongok .
Mereka yang kau cintai, belum tentu dapat kau cium dan peluk kembali, malam nanti.
Seorang anak mungkin tewas dalam perjalanan pulang sekolah. Seorang ibu mungkin tertembak ketika sedang ke pasar atau bekerja mencari nafkah tambahan. Seorang ayah mungkin terkena rudal ketika tengah menunaikan kewajiban.

Kematian adalah hal biasa.
Syahid adalah cita-cita.
Tapi Palestina, juga Gaza, berisi manusia-manusia yang punya hati; menjerit bila sakit, menangis saat terluka, terisak jika kehilangan. Siapa diantara kita yang sanggup kehilangan sesuatu yang dicintai dengan cara mendadak dan cara paling menyedihkan? Tak ada.
Maka Ministry of Women, bekerja sama dengan semua lembaga pemerintah menggaungkan pesan-pesan propaganda, bahwa bila rakyat Palestina ingin bertahan, mereka harus percaya Allah. Believe in Allah bukan lips service, sekedar slogan dan teriakan.
Believe in Allah menggaung dari dinding-dinding rumah, dari program harian rumah tangga, dari kurikulum sekolah, dari target pemerintah. Pemerintah menetapkan bahwa summer camp adalah waktu wajib bagi para pelajar untuk libur sekolah, mengikuti supercamp untuk mengasah leadership dan life skill, dan program sepanjang kurang lebih tiga bulan ini terutama menempa para pelajar menghafal Quran.
Quran adalah salah satu bentuk believe in Allah, tak ada tawar menawar lagi.

kantor, gaza
2. Al Waqiah
Ini adalah saran dari Abeer Barakah, seorang ibu muda cantik berputra putri 4 orang, dosen UCAS. Kehidupan di Gaza boleh jadi sangat rumit, di blokade bertahun-tahun. Pasokan barang terpaksa melalui smuggling tunnel, mulai genset, mobil sampai hewan Qurban. Mulai shampoo sampai jepit rambut. Mulai tabung gas hingga obat-obatan. Masih belum cukup rupanya, smuggling tunnel seringkali terpantau satelit dan dibombardir hingga menewaskan para pekerja dan merugikan ribuan rakyat yang tergantung hidupnya dari pasar gelap.
2012, Gaza masih dapat bernafas lega ketika Rafah dibuka atas kebijakan presiden Mursi. Sekarang, Rafah kembali ditutup dan rakyat Gaza terengah-engah memenuhi kebutuhan hidup.

Bagi Abeer, Allah Maha Kaya dan tidak terpasung hanya oleh blokade, hantaman rudal, smuggling tunnel atau sirene jam malam.
Ia melazimkan bacaan al Waqiah setiap hari demi jaminan rizqi dariNya. Karena itu, sekalipun kondisi sulit dan kelaparan menimpa hampir setiap kepala penduduk Gaza, mereka selalu bahagia akan datangnya rizqi Allah yang tak disangka-sangka. Cairnya beasiswa, bantuan dari negara tetangga macam Yordania atau Qatar. Dan tentu, bantuan dari Indonesia adalah salah satu jawaban atas al Waqiah yang istiqomah dilakukan.
Abeer Barakah, bahkan masih merasa belum cukup membeli tiket ke surga dengan sekedar tinggal di tanah para Anbiya. Ia dan suaminya mendirikan yayasan, memelihara anak-anak yatim, berpegang pada salah satu hadits Rasulullah Saw yang artinya kurang lebih : Rasul dan penyantun para yatim bagaikan dua jari tak terpisahkan di surga.
Rindu padamu, Abeer. Miss you much, your family and all of Gaza people.
Dalam kehidupan yang sangat singkat ini mereka tak pernah lupa tempat kembali, tak pernah lupa bahwa tiket ke sana bukan semurah tiket masuk konser musik atau bioskop XXI.

gaza's people
3. An Anfaal dan At Taubah
Anda lelaki, seorang ayah atau pemuda?
Akan sangat malu bila belum menghafalkan 2 surat ini. Surat kebanggaan yang menjadi pelipur lara, penegak tulang belakang, pembusung dada bahwa kaum muslimin tak akan pernah terhina meski terpaksa mengais belah kasih, bergantung hidup sebesar 70% dari bantuan internasional.
Inilah surat yang menjadikan para pemuda boleh mendaftar sebagai prajurit Hamas.
Sekedar jago beladiri, tubuh tegap dan wajah sangar tak cukup. Sebab prajurit Palestina bukan berperang menggunakan drone atau melaju di atas pesawat-pesawat tempur, berlindung di balik tank-tank baja. Para pemuda harus siap menjadi prajurit kapanpun tugas negara memanggil. Mereka harus bergilir menjaga perbatasan, sewaktu-waktu terjebak perang yang pecah tiba-tiba, terkena peluru nyasar atau pecahan bom. Kekuatan mental dan ruhiyah menjadi syarat utama agar sanggup mengatasi rasa sakit fisik dan psikis.
Maka, jangan hanya terbakar emosi sesaat dan berniat mendaftar sebagai relawan perang di Palestina. Gaza tak pernah meminta bantuan pasukan perdamaian. Gaza tak pernah menghiba memohon gencatan senjata dengan Israel. Mereka merasa cukup dengan sumber daya manusia yang mereka miliki, yang tidak dimiliki negara manapun di dunia ini termasuk Indonesia. Prajurit penghafal Quran.
Yang Gaza harapkan adalah kepedulian warga muslim dunia, agar senantiasa mendoakan dan menyisihkan dana bagi operasional negara mungil yang bahkan tak boleh mencari ikan di perairan lautnya sendiri.

ministry of women affairs
4. Sabar
Sabar adalah syarat mutlak bagi seseorang yang berniat memasuki Gaza, Palestina.
Apalagi yang dibutuhkan bagi seseorang yang menunggu tanpa kepastian?
Pemeriksaan check point, tertolak di gerbang Rafah, perjalanan melelahkan via jalur darat, belum lagi diusir oleh tentara Mesir dari perbatasan. Tak ada bekal yang lebih baik kecuali sabar : baik dapat menerobos masuk ataupun tertolak. Beberapa relawan mengisahkan bahkan terpaksa gigit jari setelah tinggal berminggu-minggu di El Arish tak dapat menembus Rafah.
Bila berhasil memasuki Gaza, Palestina, bersabarlah. Belum tentu dapat pulang sesuai waktu yang dijanjikan sebab gerbang Rafah bukan terbuka-tertutup sesuai jam kerja. Inilah satu-satunya gerbang antar negara paling ajaib di dunia : tak ada jadwal tetap, tak ada hukum pasti, tak ada prosedur yang dapat dipelajari, tak ada orang dalam yang dapat ditembus. Hanya dapat dibuka sesuai kesepakatan dengan Israel dan Mesir yang saat ini tak berpihak pada tetangga muslimnya sendiri.
Tinggal di Gaza berarti harus bersiap-siap kekurangan air dan listrik, juga harus waspada terhadap kemungkinan tembakan-tembakan Israel yang lepas tanpa perjanjian.

5. Waspada
Tak perlu khawatir akan keamanan yang berasal dari warga Gaza. Insyaallah aman tidur malam meski tanpa mengunci pintu. Insyaallah tak ada pencopet sebab warga Gaza memiliki izzah. Jangankan mencopet, mengemis saja mereka enggan.
Yang harus diwaspadai adalah, demikian tipisnya jarak antara hidup dan mati.
Siapa sangka, sesaat ketika mengajar, terdengar dentuman dan di waktu yang sama kita telah terlempar ke dimensi yang lain : alam barzakh?
Bukan berarti warga Gaza membabi buta menuju kematian dan tak lagi peduli pada perjuangan hidup. Mereka tetap bekerja, menuntut ilmu, bahkan hingga strata tiga. Mereka giat mencari beasiswa ke negeri jauh untuk diaplikasikan kembali ke Palestina. Mereka berlatih survival, bagaimana menyelamatkan diri dari bahaya pecahan peluru. Hingga anak-anak, tahu bagaimana menghadapi tentara Israel meski hanya berbekal sebentuk batu.
Saya mungkin seperti anda dan jutaan manusia yang lain, menyangka bahwa kematian hanya akan menjemput nanti ketika usia menginjak angka 60 tahun ke atas. Kehidupan saat ini masih sangat layak dinikmati. Rancangan mingguan, bulanan bahkan tahunan ke depan menggambarkan kebutuhan-kebutuhan manusia dalam dimensi duniawi. Sangat sedikit mengingat kematian kecuali saat takziyah dan melewati areal pemakaman.

Di Gaza, Palestina, hidup terasa demikian aneh dan asing, namun juga menentramkan.
Udara pagi demikian segar, pasokan oksigen yang disiapkan tumbuhan zaitun dan tiin. Salam bertebaran, dengung Quran tiada henti. Wajah-wajah ramah teduh. Riuh rendah suara anak-anak sekolah, percakapan warga yang sama seperti warga lainnya dari belahan manapun di dunia ini. Hanya saja, warga negara ini tak gentar menghadapi kematian. Kepahitan tentulah ada, tapi mereka tak pernah takut hingga berniat meninggalkan Darul Ma’ad.
Mereka selalu waspada dengan kematian yang begitu dekat berteman dengan kehidupan.
Amat sangat waspada.
Hingga setiap langkah. Setiap jejak. Setiap nafas. Ditujukan bagi persiapan menuju keabadian.

Sekali lagi, Palestina dihantam kesulitan.
Para penjaga al Aqso, pengawal tanah kenabian, terbiasa menghadapi kelaparan dengan berpuasa dan berbuka hanya dengan segelas airputih. Mereka sanggup menghadapi persenjataan canggih dengan lemparan batu dan merakit roket-roket sederhana.
Tapi, apakah kita, hanya berdiam diri?
Atas nama kemanusiaan dan surga yang diimpikan, atas nama Allah Yang Maha Menyaksikan. Setiap keping rupiah dari kita adalah pertemuan dahsyat doa-doa mereka dengan cinta kaum muslimin. Setiap kepedulian kita adalah jalinan kuat dengan impian warga Gaza : ya Allah, jadikan saudara-saudara kami di Indonesia dapat menunaikan sholat di Al Aqso, kiblat pertama kaum muslimin.

Salurkan dana pada lembaga yang anda pilih.
Atau bersama Forum Lingkar Pena, FLP.
Organisasi Kepenulisan Muslim yang insyaallah terbesar di dunia, aktif dan konsisten menyebarkan nilai-nilai Islami yang Universal.
BSM (Bank Syariah Mandiri) cabang Dewi Sartika, Jakarta, no rekening 7033 101858, an Forum Lingkar Pena. Harap konfirmasi kepada Nurbaiti Hikaru 0815 72014615. Tweet ke @flpoke dan amati daftar donasi melalui website www://flp.or.id
Dana insyaallah sampai langsung kepada warga Gaza Palestina, melalui mitra FLP : BSMI dan KNRP insyaAllah

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Catatan Perjalanan Gaza Kami ~RINAI~ Sinta Yudisia

#Rinai : antara FLP, Palestina, Psikologi

Dibawah ini rangkuman wawancara dengan mbak Vika Wisnu, Sindo Trijaya FM, Kamis 28 Februari 2013 (maaf jika ada yang terlewat atau khilaf). Semoga bermanfaat ya 

Sindo trijaya FM, Sinta Yudisia, Vika, Rinai

Apa sih isi Rinai?
Fiksi documenter, tentang relawan perempuan yang berusaha memberontak kungkungan adat Jawa di belakang dirinya. Salah satu “rebellion” nya adalah dengan pergi ke kancah konflik. Juga merangkum kehidupan sehari-hari masyarakat Gaza, Palestina; anak-anak di sana.

Rinai itu siapa?
Rinai adalah tokoh utama dalam novel “Rinai”. Sengaja memilih nama-nama yang sangat Indonesia sekali, kecuali untuk kisah-kisah ber setting asing (missal The Road to The Empire, Takhta Awan – tentu, harus nama Mongolia)

Bagaimana mendapatkan informasi tentang Palestina?
Kebetulan tahun 2010 berangkat ke Palestina bersama BSMI- Bulan Sabit Merah Indonesia. Saat itu gerbang Rafah belum dibuka seperti sekarang, masih di bawah kepemimpinan Husni Mubarak.

Bagaimana akses ke Kementrian Perempuan dan Kementrian Budaya?
Saat berada di Gaza, diundang ke kementrian tersebut. Di kementrian Budaya, bahkan disambut oleh seorang penyair yang bersenandung tentang Tanah Air dan Ibunda!

Apa goal dari buku Rinai?
Agar kita mencintai tanah air Indonesia. Mereka yang tanahnya sudah hancur saja, masih mencintai negaranya, apalagi kita yang diberikan olehNya tanah subur. Juga, agar kita mensyukuri betapa makmurnya Indonesia. Di Palestina, seringkali menyaksikan pohon dan bangunan hancur lebur, sementara di sini kita bisa menyaksikan beringin dan akasia rimbun.

Alangkah bahagianya bisa belanja di Indonesia pakai rupiah (jangan tanyakan kursnya pakai dollar!) sementara di Gaza masih pakai shekel, mata uang Israel. Bayangkan bila kita harus belanja di Indonesai pakai gulden atau yen! Sedih kan?
Kita juga belajar menghormati bendera merah putih, yang bisa berkibar di tanah air kita sendiri. Di Palestina, mereka berjuang agar bendera bangsanya bisa berkibar di tanah airnya sendiri.
Kita juga belajar dari Palestina, betapa mereka punya harga diri. Nggak gampang jadi pengemis, peminta-minta. Filosofi mereka : anda bisa miskin, boleh mengemis 1-2 bulan. Tapi kalau sampai bertahun-tahun mengemis, itu bukan miskin tapi pekerjaan! Di Gaza, kita akan menemukan anak-anak dengan kondisi fisik tidak lengkap, mereka masih berkeliling berjualan shai-teh.
Perempuan bersuaha eksis dengan bekerja, menghasilkan sesuatu dengan tangan mereka sendiri dan tak melulu mengandalkan bantuan orang. Mereka memang punya tradisi beranak banyak, tetapi meski kondisi perang, anak banyak, para perempuan tetap berambisi kuliah terus hingga S3!

Apa arti FLP bagi karya-karya anda?
FLP – Forum Lingkar Pena adalah organasisai yang tidak hanya berisi penulis tapi semua insan yang peduli pada dunia literasi. Ada pembaca, kritikus di sana. Teman-teman FLP –utamanya yang berbasis ilmu sastra atau FIB biasa mengkirtik karya saya : oh, tokoh anda kurang begini Mbak…setting, alur harusnya begini.

Sindo Trijaya FM, Sinta Yudisia

Bagi saya itu masukan yang luarbiasa, ketika karya kita dikritik!
FLP adalah organsiasi non profit yang telah memiliki sekitar 100 cabang dan ranting di Indoensia dan mancanegara. Kami baru saja ul ngtahun ke 16pada 22 Februari kemarin, insyaAllah akan menyelenggarakan Munas FLP di Bali Agustus 2013 nanti.
Di FLP selain belajar menulis kita juga belajar berorganiasi.

Siapa yang membuat anda terus berkarya?

Klise jawabannya : suami dan anak-anak. Anak saya adalah kritikus yang andal dan pedaaas!

Sindo trijaya FM, Sinta Yudisia, Inayah

Siapa penulis yang menginspirasi?
Kalau dari luar , Amin Malouf, Nagouib Mahfoudz. Dari Indonesia ada mba Helvy, mb Asma nadia, Mbak Afifah Afra (lho koq perempuan semua…?)
 Sebetulnya saya mau bilang kalau semua teman-teman FLP sangta menginspirasi saya, ingin menyebutkan nama satu demi satu tapi waktunya nggak cukup.

Apa aktivitas harian anda?
Pekerjaan utama adalah ibu dan istri, ingat ini adalah karir juga, bayarannya adalah cinta! Saya mengajar kelas menulis di SDIT al Uswah, masih menyelesaikan studi Psikologi di Universitas 17 Agustus 1945 Surbaya, mengisi training dan motivasi kepenulisan, menulis dll

Apa hambatan utama penulis?
Kemalasan!
Malas adalah musuh terbesar, tapi harus dilawan. Kalau lagi malas , saya biasanya baca buku-buku biografi seperti Helen Keller misalnya. Ia yang buta, bisu, tuli, harus berkomunikasi pakai alphabet manual saja tetap bisa menghasilkan buku. Kita yang lengkap jasmaninya apa lagi

Kategori
Cinta & Love Fight for Palestina! Gaza Kami ~RINAI~ Sinta Yudisia

Happy Palestine’s (not Valentine’s) Day

happy palestine's day

Kategori
Catatan Perjalanan Fight for Palestina! Gaza Kami ~RINAI~ Sinta Yudisia

Tanya dan Fakta seputar Palestina : Rangkuman Diskusi sepanjang Bedah Buku #Rinai 23 Nov 2012- 2 Des 2012

Membahas Palestina , baik Tepi Barat atau Jalur Gaza, memunculkan polemic tiada habis. Ideologi, agama, aqidah, hingga kepentingan politik dan ekonomi mewarnai. Tetapi membincang Palestina, rasa yang sama muncul mulai anak-anak, remaja hingga golongan dewasa. Tanpa bermaksud memperuncing friksi, inilah rangkuman perjalanan Bedah Buku #Rinai yang banyak diwarnai diskusi seru dan kisah-kisah menarik

1. Naik apa ke Gaza? (Baitul Quran, Sragen)
2. Bagaimana cara membuat bom? (Baitul Quran, Sragen)
3. Bagaimana anak-anak Gaza? (Nuruzzaman, UNAIR)
4. Apa yang paling menginspirasi dari Gaza? (Nuruzzaman, UNAIR)
5. Bagaimana cara perempuan mendidik anak? (Gema Muslimah, UNS)
6. Apa yang dapat kita lakukan untuk Gaza? (Gema Muslimah, UNS)
7. Bagaimana menceritakan Palestina pada anak-anak? (ICMI, Jatim)
8. Bagaimana kode etik jurnalistik? (ICMI Jatim)
9. Israel VS Palestine : Who is becoming loser? (ICMI Jatim)
10. Bagaimana pendidikan dan karir perempuan Gaza? (Temu Muslimah Kampus Swasta, Sby)
11. Tentang Nasionalisme (ICMI, Jatim)

Simak hasil diskusi kami, semoga bermanfaat.

1. Naik apa ke Gaza? (Baitul Quran, Sragen)
Perjalanan ke Palestina bukan main melelahkan. Tim BSMI 2010 saat itu harus menembus Rafah di era rezim Mubarok. Sejak di Indonesia persiapan barang-barang, fisik, tekanan mental untuk “tidak bisa menembus Rafah” yang berarti tidak berhasil memasuki Palestina, sudah harus disiapkan. Check point berkali-kali, asykar Mesir (saat itu) seringkali tidak ramah. Juga, visa kami yang sempat jadi bulan-bulanan di Rafah Mesir. Secara singkat ini rutenya.
* Surabaya – Jakarta : pesawat
* Jakarta –Singapur (transit) – Abu Dhabi (transit) – Cairo : pesawat
* Cairo-Ismailiyah-Sinai-El Arish-Rafah : mobil
* Rafah Mesir – Rafah Palestina : bis, beberapa menit saja
* Khan Younis- Deir al Balah- Gaza City- Jabaliya : mobil dinas

Bis ini yg mjd angkutan tim BSMI, Adham sang penterjemah
Bis ini yg mjd angkutan tim BSMI, Adham sang penterjemah

Sekilas, seperti perjalanan biasa-biasa. Di atas SQ yang membawa tim selama belasan jam, persendian serasa kaku, panggul dan tulang ekor panas bukan main. Belum lagi melintasi Sinai yang berjam-jam terdiri atas padang pasir keemasan membara : nafas serasa tersengal tak sanggup menahan panas manguar!

2. Bagaimana cara membuat bom? (Baitul Quran, Sragen)

Inteligensi kaum Yahudi , kerapkali dianggap hanya dapat dikalahkan oleh orang-orang istimewa macam bangsa Palestina. Konon, pemuda Gaza mampu merakit apapun menjadi bom : sayur, kopi, sampo, dsb. Dalam situasi terjepit, sebagaimana bangsa kita dulu yang mampu menjadikan bamboo runcing sebagai senjata, warga Gaza tak hilang akal menjadikan apapun sebagai senjata.
Tapi, jangan tanyakan bagaimana merakitnya, asli saya tidak tahu!
Saya bukan teknisi, tapi calon psikolog, insyaAllah. Jadi lebih faham bagaimana manusia bisa dirakit, daripada merakit senjata. Bukan orientasi membuat bom itu yang menjadi focus utama, tetapi bagaimana mampu tetap sekolah, meraih prestasi akademis, hidup berkorban dan berjuang, selalu punya tujuan mulia, selalu peduli sesama; nilai-nilai itu yang saya bagi terutama kepada peserta anak-anak dan remaja.

3. Bagaimana anak-anak Gaza? (Nuruzzaman, UNAIR)

Bermain, bercanda  & suka difoto :)
Bermain, bercanda & suka difoto 🙂

Sama saja seperti anak-anak lain.
Senang main bola, main perang-perangan tapi kalau bermain peran prajurit Qossam VS Yahudi, rata-rata tidak mau jadi tentara Israel, haha. Suka permen dan es krim, suka bermanja-manja pada orangtua, pakai topeng Batman juga. Bedanya, sejak kecil mereka sangat dekat dengan Quran.
Menjadi penghafal Quran, bukan hanya keinginan orangtua belaka yang mendamba anak sholih, tapi tampaknya pemerintah menyadari anak-anak adalah asset Negara sehingga kurikulum menghafap Quran masuk dalam system pendidikan ; bersinergi dengan kementrian lain termasuk Ministry of Women Affairs.

4. Apa yang paling menginspirasi dari Gaza? (Nuruzzaman, UNAIR)
Salah satu yang sangat menginspirasi sepulang dari Palestina adalah sinergi antara pemerintah dan rakyat. Pemerintah melayani, rakyat percaya. Beberapa kisah dibawah, cukup mewakili.
* Ministry of Culture
Ketika rumah-rumah hancur akibat serangan rudal Israel, tugas kementrian budaya adalah memugar rumah tersebut sebagai warisan sejarah dan budaya. “Ini rumah Asy Syahid fulan….”. Perlakuan pemerintah terhadap kejadian ini setidaknya membuat anak-anak yang ditinggal syahid orangtuanya merasa bangga, merasa bahwa pengorbanan mereka menjadi yatim piatu tidak sia-sia. Negara menghargai dan anak-anak tersebut dipelihara, tidak terlantar menjadi anak jalanan.
* Ministry of Women Affairs
Kementrian perempuan melatih perempuan-perempuan memiliki ketrampilan sehingga mampu mandiri secara financial. Ditinggalkan suami/ayah sebagai tulang punggung keluarga, menyebabkan tugas pencari nafkah beralih kepada kaum perempuan.
Tidak hanya focus pada perempuan, kementrian perempuan bersama kementrian-kementrian lain menjadwalkan program menghafal Quran tiap kali summer camp, sehingga anak-anak menambah hafalam Quran secara signifikan dalam 2-3 bulan.
* Militer/tentara
Peran militer memberikan rasa aman pada rakyat. Sejak HAMAS memerintah, masyarakat merasa aman melepas putri kecil mereka belanja sendiri ke supermarket. Prostitusi dan drug abuse terhapus, minuman keras juga tidak merajalela. Malam hari, pasukan Qossam menjaga hingga ke gang-gang kecil sehingga rumah-rumah dibiarkan tidak terkunci dan situasi tetap aman. Yang mengharukan, prajurit Qossam terbiasa puasa Senin Kamis. Malam hari, para ibu atau warga lain menyiapkan makan sahur; menghantarkan ke pos-pos penjagaan :’)
* Angkutan umum
Pejabat dibiasakan naik Fiat tahun 70an yang mungkin pabriknya sudah tidak memproduksi lagi. Tetapi rakyat disiapkan angkutan warna kuning cerah, berAC, baru, sehingga warga merasa aman menggunakan kendaraan umum, tidak terpicu untuk memiliki mobil pribadi karena angkutan umum yang tidak nyaman.

5. Bagaimana cara perempuan mendidik anak? (Gema Muslimah, UNS)

“We believe in Allah,” itu kata Mrs. Rehab Shubair. Itu yang diajarkan para ibu kepada anak-anaknya dengan percaya pada Allah SWT, percaya pada janji Quran.
Anak-anak biasa diajarkan menghafal Quran di rumah, terutama surat pendek, sehingga di summer camp , mereka telah memiliki dasar untuk masuk ke tahap berikut menghafal , ibarat tahap advance & intermediate. Selain itu, para ibu mengajarkan bagaimana harus beradaptasi dengan situasi darurat seperti menjauhi jendela saat bumi terasa bergetar, dsb.

6. Apa yang dapat kita lakukan untuk Gaza? (Gema Muslimah, UNS)
Doa yang tiada putus, terutama di waktu istijabah, Bukan hanya buat Palestina tapi juga buat Rohingya, Mesir dan belahan manapun dari bumiNya yang terdapat kaum muslimin. Menyisihkan dana, berjuang lewat pena, lewat media social (tetapi juga harus berhati-hati)

7. Bagaimana menceritakan Palestina pada anak-anak? (ICMI, Jatim)
Ada sebuah cerita menarik seorang guru di Surabaya. Ia mengisahkan perang di Palestina, tanpa bermaksud menebar kebencian. Ternyata, anak-anak mampu menangkap cerita. Suatu saat, mereka diminta presentasi tentang Negara-negara dunia, sembari memperlihatkan bendera Negara yang b ersangkutan. Sampai pada Negara Israel, sang murid menginjak-injak bintang David.
Menceritakan Palestina kepada anak-anak di masa sensitive perkembangan, memang harus berhati-hati. Anak-anak sangat perasa, imajinatif, mudah cemas dan panic. Di usia TK –SD, kemampuan operasional formal belum berkembang sempurna dimana mereka dapat berpikir abstrak dan menghubungkan ABC dst. Memperlihatkan foto-foto berdarah, anak-anak terluka dengan organ tubuh tak utuh lagi dapat menyebabkan trauma.
Saya pribadi, di Kelas Menulis SDIT Al Uswah mengajarkan terutama 2 hal :
* Bagaimana anak-anak Palestina tetap bersemangat sekolah meski kepedihan mendera. Tetap sekolah di bawah desing peluru, di bawah ancaman bom sewaktu-waktu, terancam terkena peluru nyasar.
* Bagaimana anak-anak Palestina menyadari harga orangtua yang harus dihormati dan dicintai. Mereka berangkat sekolah mungkin masih menyalami orangtua, memeluk dan mencium mereka, ketika pulang besar kemungkinan orangtua syahid atau kakak yang tiba-tiba tewas.
Ternyata, mengisahkan tentang semangat sekolah dan kecintaan pada orangtua, sangat membekas pada diri anak-anak. Kelak, di usia yang lebih matang, sekitar SMP akhir atau SMA, foto-foto yang lebih real dapat kita perlihatkan. Itupun harus melihat jika anak-anak tidak sedang dalam trauma tertentu. Mereka yang tengah bermasalah berat dengan orangtua dan lingkungan akan menjadi sensitive, terimpuls melakukan hal negative ketika melihat foto-foto miris.

8. Bagaimana kode etik jurnalistik? (ICMI Jatim)
Etiskah meng unggah foto-foto kekejaman Israel, foto anak-anak atau remaja dengan luka mengenaskan? Foto para perempuan yang terluka parah? Menurut bu Sirikit Syah, pakar media, ada 2 aliran besar jurnalistik. Pertama, sangat menjaga “kesopanan” artinya memilih betul foto-foto yang relative bisa “diterima” semua pihak. Kedua, yang jujur apa adanya, sekalipun menimbulkan efek tertentu –kengerian, muak, jijik, amarah.

Sekarang pun muncul Jurnalisme Perasaan. Dulu, jurnalis diminta meliput cover both-side; artinya ia harus menceritakan secara fair dari dua sisi. Misal, RS Asy Syifa hancur, yang diwawancarai harus pihak Palestina dan Israel. Peraturan itu tak berlaku kini. Jurnalis boleh melaporkan cover one-side, bahkan dengan nilai subyektif. Ia berhak melaporkan kondisi Gaza hanya dari kacamata Palestina, tanpa perlu mewawancarai pihak Israel; mengingat mewawancarai Israel juga menimbulkan kesulitan tertentu dan ada kemungkinan ketidak jujuran muncul.

9. Israel VS Palestine : Who is becoming loser? (ICMI Jatim)

Perang Israel VS Palestina kali ini diramaikan dengan perang media social. Ungkapan-ungkapan pedas menyakitkan kaum muslimin : mana Tuhan kamu? Toh Palestina tetap terjajah, Israel menang!
Sejarah mengajarkan , Tuhan kerapkali menunda kekalahan dan kemenangan untuk menimbulkan dampak yang jauh lebih dramatis. Kisah Firaun Musa yang legendaries buktinya, atau Qarun dan Musa.
Qarun yang semula sholih, setelah kayaraya berbalik memusuhi Musa bahkan ingkar tiap kali diingatkan masalah berbagi harta pada kaum miskin. Tak cukup sampai disitu, Qarun beralih menyembah Sobek, dewa Buaya penguasa Nil. Suatu ketika, Qarun minta adu kekuatan. Ia memanggil Sobek, memintanya menenggelamkan Musa. Hasilnya nihil. Musa berdoa pada Allah SWT dan Qarun ditenggelamkan beserta hartanya yang berlimpah.
Darimana kita tahu Israel sebetulnya menderita kekalahan, setidaknya kekalahan mental?
* Tentara Israel dikenal memakai pampers, tak berani turun kencing ketika menyerang darat. Mereka tetap di dalam tank, khawatir tangan-tangan mungil penggenggam batu melempar kearah mereka
* Suburnya rahim perempuan Palestina, mampu melahirkan anak-anak kembar. Ratio penduduk Gaza, meski seringkali dimusnahkan, semakin beranjak naik dari tahun ke tahun
• 2000: 1.120.000
• 2001 : 1.167.000
• 2002: 1.200.000
* Homoseksual di Israel merajalela, dengan dalih HAM. Homoseks tak melahirkan anak, bukan? Akibatnya penduduk Yahudi menyusut
* Banyak pemuda Israel lari keluar negeri, tak mau ikut wajib militer. Berbeda dengan pemuda Palestina yang bertekad mempertahankan tanah air, bahkan sekalipun mereka sukses di Negara manapun (Amerika, Jerman, dll) mereka tetap kembali ke Gaza
* Ancaman Israel untuk mampu menghancurkan Gaza tak didukung kekuatan personil. Sangat sedikit warga Israel yang siap maju ke medan perang, maka Israel meminta bantuan internasional. Pernahkah kita mendengar Palestina meminta bantuan dikirimkan tambahan pasukan? Tidak.

10. Tentang nasionalisme Palestina (ICMI , Jatim)

selalu ada bendera Palestina & simbol al Aqsho di tiap rumah
selalu ada bendera Palestina & simbol al Aqsho di tiap rumah

Setiap warga Palestina memasang bendera hitam-putih-hijau dengan segitiga merah di tiap rumah, ditambah lukisan atau pahatan Al Aqsha. Kita baru memasang bendera ketika diperintahkan pak RT. Banyak yang perlu diprihatinkan dari Indonesia, sehingga mereka yang ke luar negeri dan mendapatkan kehidupan yang nyaman, enggan berbalik ke Indonesia. Tak bisa disalahkan juga, kita ingat bagaimana kasus IPTN menyebabkan 2000 insinyur terbaik Indonesia terkatung dan akhirnya memilih ke luar negeri karena pemerintah sendiri tak memberikan penghargaan layak.
Bagaimana rakyat mencintai tanah air mereka, Palestina, memang akrena masalah ideology , aqidah dan ibadah. Tetapi tak dapat disangkal, pemerintah di Gaza pun memberikan pelayanan yang baik sehingga rakyat dapat memberikan loyalitas dan jiwa nasionalismenya untuk bahu membahu berperang bersama Negara saat dibutuhkan.

11. Bagaimana pendidikan dan karir perempuan Gaza? (Temu Muslimah Kampus Swasta, Sby)

Meski telah berputra & bercucu, Mrs. shubair tetap semangat bekerja utk perempuan Palestina
Meski telah berputra & bercucu, Mrs. shubair tetap semangat bekerja utk perempuan Palestina

Mengingat perempuan menjadi salah satu tulang punggung Negara, perempuan harus disiapkan sejak dini dengan bekal pendidikan dan ketrampilan. Banyaknya lelaki (suami, ayah, anak) yang syahid menjadikan perempuan maju ke garda depan. Belum lagi bila, lelaki di tengah keluarga sengaja dibuat cacat, agar beban perempuan bertambah. Tanpa persiapan apa-apa, perempuan tak akan sanggup memikul ekonomi dan segala macam kesulitan. Memang, Negara membantu, tetapi akan sangat baik bila bantuan Negara didukung kesiapan SDM sehingga terjalin kerjasama to take and to give. Bila memungkinkan, perempuan Gaza sekolah setinggi-tingginya, bahkan mengambil beasiswa ke luar negeri dan kelak kembali membangun Negara. Mereka diberikan kesempatan bekerja yang sama : dosen, salon, pegawai, dokter, perawat, guru, koki dsb.

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Fight for Palestina! Gaza Kami ~RINAI~ Sinta Yudisia

#Rinai di ICMI Jawa Timur 1 Des 2012

BB #Rinai bersama Bu Sirikit pakar media, cak Mail ketua ICMI Jatim & rekan2 ICMI muda
BB #Rinai bersama Bu Sirikit pakar media, cak Mail ketua ICMI Jatim & rekan2 ICMI muda
Ariashinta,  aku, Bu Herdiana, Bu Santi, Bu Aliya
Ariashinta, aku, Bu Herdiana, Bu Santi, Bu Aliya

bersama Inayah, Ika, wina, Aulia, Asril dan Novan
bersama Inayah, Ika, wina, Aulia, Asril dan Novan

Berdiskusi tentang Palestina dg berbagai referensi yg ada
Berdiskusi tentang Palestina dg berbagai referensi yg ada

Kategori
Fight for Palestina! Gaza Kami Tulisan Sinta Yudisia

Republika,Senin 19 Nov 2012 “Gaza,Relawan, Legiun Cyber”

Gaza, Relawan, Legiun Cyber

Sinta Yudisia
Penulis, Relawan BSMI, tinggal lima hari di Khan Younis- Gaza 2010

Kantor PM Ismail Haniyah sekarang sudah hancur lebur, terkena rudal Israel

Masih segar dalam ingatan peristiwa Cast Lead di akhir 2008 yang menyatukan hati seluruh kaum muslimin dunia untuk turut meng counter tindakan aneksasi kolonial paling tak masuk akal dalam sejarah millelium modern. Israel menjatuhkan bom yang jelas-jelas dilarang dalam konvensi Jenewa – bom fosfor. Bom ini bukan hanya meninggalkan jejak mengerikan di langit, menghanguskan tubuh manusia hingga beberapa hari uap panas masih mengepul dari daging yang melelehi tulang, yang lebih utama : bom fosfor menjadikan Jabaliyah tanah beracun hingga tumbuhan mati, tanah sulit ditanami.

Di awal tahun Hijriyah 1434, kaum muslimin dikejutkan oleh kematian Ahmad Jabari, komando Izzuddin al Qossam, sayap militer HAMAS. Pembunuhan salah satu tokoh penting di jajaran HAMAS ini memang sudah diisyaratkan oleh Shaul Mofaz, mantan kepala staf militer Israel (Republika 14/11/12). Ahmad Jabari dan Ismail Haaniyah, disebut-sebut sebagai tokoh kunci yang akan merapuhkan Palestina, khususnya Gaza, bila dilenyapkan.
Situasi politik menjelang pemilu 22 Januari tahun depan, menjadi alasan PM Beyamin Netanyahu dan menteri pertahanan Ehud Barak untuk mencari muka di kalangan rakyat dengan menghantam musuh paling oposisional. Menjadikan Suriah, Tunisia, atau bahkan Mesir sekalipun sebagai musuh; tak sedramatis ketika menjadikan Palestina sebagai sasaran serangan. Selalu, bila tindakan keras dan arogan terhadap musuh Israel mengemuka, sang pemilik keputusan diperkirakan mendapatkan simpati dan suara yang melonjak.

Joe Sacco, pemenang American Book Award 1996 untuk karya yang berjudul Palestine; selama tiga bulan tinggal berkeliling di Gaza, Nablus, dan Tel Aviv merangkum pendapat tentang pendudukan dari kaca mata Palestina dan Israel. Penduduk Israel mengaku lelah terus menerus dipojokkan harus meminta maaf atas tindakan pendudukan. Sacco pun merasa Tel Aviv demikian dekat dengan kehidupan beradab ala masyarakat Barat : pasaraya, pantai Mediterrania, masalah keseharian. Berbeda dengan Palestina yang demikian suram. Tetapi warga Israel pun menyebut Kampung Arab Silwan yang bersebelahan dengan pemukiman Yahudi dengan perbandingan sebuah desa yang indah dan pemukiman yang tak pada tempatnya. Sebagaimana Raja Shehadeh dalam Palestinian Walks, Notes on Vanishing Landscape menyebutkan, warga Palestina senang memelihara kebun zaitun dan tiin sementara Israel merampas bukit-bukit dan memahatnya melingkar dengan bangunan-bangunan pemukiman, bagai sabuk tak beraturan.

Tindakan Israel tentang pemukiman, pendudukan, aneksasi, blokade, menyelisihi perjanjian membuat geram banyak pihak. Reaksi keras muncul dari warga Israel sendiri yang menolak serangan ke Gaza awal Muharram ini, dan tentu saja kaum muslimin yang menggelar sekian banyak aksi di dunia maya. Hashtag beragam muncul di twitter : SavePalestine, prayforgaza, savegaza dan masih banyak lagi. Lembaga zakat dan lembaga kemanusiaan bersegera menggalang dana. Berita-berita keadaan terkini Gaza mengalir cepat lewat media sosial. Relawan yang bergerak dari nurani kemanusiaan terdalam, bergerak tanpa dukungan biaya ataupun seruan pemerintah. Dimanapun bencana kemanusiaan muncul –bencana alam, tragedi kemanusiaan dan perang- akan selalu muncul sekelompok orang yang bahu membahu membantu saudaranya sesama manusia, entah dari belahan bumi manapun.

Legiun tanpa nama atau dikenal sebagai Hactivist ikut memberikan suara dukungan bagi Gaza. Didukung kepiawaian mereka dalam IT, kelompok ini menjadi prajurit cyber yang handal disaat media lain tersendat memberitakan kondisi kritis terkini. Hactivist adalah sebutan bagi sekelompok orang –mirip prajurit sehingga disebut legiun- yang mampu menembus keamanan dunia maya. Sasarannya bukan finasial tetapi cenderung politis; kehadirannya dibenci, tapi juga dinanti. Tindakan Hactivist yang terkenal antara lain mengumumkan dukungan terhadap Wikileaks dan meluncurkan serangan terhadap Amazon, PayPal, MasterCard, Visa dan PostFinance pada Desember 2010. Hactivist melakukan operasi Robin Hood pada November 2011 : mencuri data kartu kredit untuk didonasikan pada kaum papa. Sasarannya Chase, Bank of America dan Citibank. Untuk saat ini, salah satu Hactivist yang memberitakan menit per menit kondisi Gaza adalah akun dengan sebutan AnonymousPress. Rajin meng update informasi, memberi panduan bagaimana cara berkomunikasi saat listrik diputus oleh Israel –lewat komunikasi radio yang sudah sangat lama ditinggalkan-, juga mengunggah foto-foto. Akibatnya mereka juga mendapatkan sumpah serapah dari kelompok pro Israel yang mengatakan bahwa HAMAS bersikap pengecut dan melanggar kode etik dengan menampilkan foto anak-anak dalam kondisi mengenaskan.

Everything is fair in love and war, kredo itu boleh jadi dipegang Israel. Apapun halal dilakukan bila menyangkut perang melawan Palestina. Joe Sacco melaporkan pandangan mata bagaimana tentara Israel menginterogasi anak Palestina tanpa mengindahkan hukum kemanusiaan konvesi Jenewa : para serdadu berteduh sementara sang anak harus berdiri di tengah hujan, basah kuyup kedinginan dalam todongan senjata dan interogasi. Bila Palestina membalas, itu kejahatan. Bila Israel menyerang, itu pertahanan. Cast Lead 2008-2009 digelar dalam keadaan jauh dari kondisi fairness, imbang dan bermartabat. Gaza terblokade, listrik sulit, pasokan makanan dan obat minim. Satu-satunya yang membuat masyarakat bertahan adalah kepercayaan mereka kepada Tuhan dan syukurlah, kepada pemerintahan.

Pasca Cast Lead, Gaza bangkit cepat. UCAS, salah satu universitas di Gaza City mampu membangun kembali bangunan enam tingkat dengan menggunakan batu, semen, besi-besi yang hancur. Tambak ikan berkolam-kolam di Asdaa land, diikuti produksi susu. Kebun zaitun dan tiin terpelihara; begitupun timun, tomat dan jeruk. Perempuan-perempuan disiapkan untuk terdidik dan terlatih sehingga kelak mampu tampil, bila diharuskan. Nyaris setiap keluarga di Palestina harus merelakan anggota lelaki, tulang punggung keluarga untuk terpenjara, cacat atau terbunuh. Warga Gaza, termasuk anak-anak memiliki ambisi besar untuk mampu menghafalkan Quran di usia muda. Jangan heran bila di masjid-masjid Gaza, imam masjid seorang remaja tujuh belas tahun, bercelana jins, diizinkan memimpin sholat disebabkan hafalannya 30 juz sempurna. Warga Gaza juga tak kalah cerdas dibanding orang Yahudi yang sering diakui keunggulan inteligensinya; bukan saja karena para ibu sangat concern masalah asupan makanan anak, pemerintah sangat memperhatikan pendidikan dan pembangunan perpustakaan-perpustakaan, dan tentu saja – hafalan Quran yang diakui mampu meningkatkan kualitas memory, suatu metode yang dipercaya meningkatkan kapasitas IQ.

Israel boleh jadi mengerahkan kemampuan fisik terbaiknya – tentara, peralatan perang, sekutu, media massa. Tetapi peperangan, tidak selalu dimenangkan kuantitas. Perang Badar dan pertempuran Thalut-Jalut adalah salah satu bukti, kualitas kelompok kecil dapat menumbangkan dominasi lawan. Perang Vietnam di era tujuh puluhan, menampar malu wajah Amerika yang harus angkat kaki melawan pasukan Vietkong. Rusiapun tak sanggup terus menerus berkonfrontasi dengan suku Cossack, Chechnya. Gaza, terbukti mampu bertahan dan bangkit dengan kemampuan terbaik.

Dukungan para relawan yang terus bergelombang, baik moril dan materil, menjadi bahan bakar bagi Palestina untuk terus bertahan; sekaligus menunjukkan pada dunia bahwa bukan hanya Israel yang memiliki sekutu. Sekutu Palestina mungkin dianggap lebih lemah, tapi ikatan nurani dan kemanusiaan seringkali berlangsung jujur, berkesinambungan; berbeda dengan sekutu Israel yang hanya dilandasi kepentingan finasial dan politis.

Prajurit cyber bersiap menghadang tindakan merugikan Israel dengan terus memberikan informasi dyadic ; bagaimana para relawan dapat terus mengakses informasi terkini untuk disebarluaskan demi kepentingan penggalangan bantuan dan bagaimana Palestina dapat secara teknis mengatasi kendala informasi dibantu para Hactivist. Bila Israel masih merasa menang, ada baiknya kita merenungkan akhir Yitzhak Shamir, Perdana Menteri ketujuh. Saat Shamir menjabat sebagai menteri luarnegeri, dengan Menachem Begin sebagai perdana menteri, ia diduga terlibat dalam pembantaian keji Shabra Shatila 1982 di kamp pengungsi Libanon. Tahun 2004, Shamir menderita Alzheimer parah yang membutuhkan dana pengobatan tak sedikit. Pemerintah Israel berlepas tangan dari pemberian bantuan dana kesehatan, Shamir hidup memilukan hingga ajal menjemput 2012.

Akan selalu ada invisible hand, untuk memberikan akhir yang pantas bagi tiap pemain.

(versi asli sebelum diedit ^_^)

Kategori
Catatan Perjalanan FLP Gaza Kami Perjalanan Menulis ~RINAI~ Sinta Yudisia

~ RINAI ~ : Epistolari-Berbingkai, Romantisme- Heroic, Tafsir mimpi-Scientific

(mengabadikan 5 hari di Khan Younis, Jabaliya, Deir Al Balah, Gaza City)

Setiap tulisan menyimpan kisah perjalanannya sendiri.
Buku, cerpen, artikel, cerita anak atau bahkan sekedar outline – garis besar- menggambarkan detik demi detik seorang penulis mencoba merangkai aliran darah, helaan nafas, detak jantung, lompatan pikiran, arung imajinasi hingga impian di masa datang. Setiap peristiwa nyata yang memiliki makna, dicoba renungkan dan fahami, dicoba untuk dibagi kepada khalayak dengan persepsi dan pemahaman yang telah dirangkum dalam jejak hidup penulis.
Novel Takudar mulai Sebuah Janji, The Lost Prince, The Road to the Empire, Takhta Awan adalah perjalanan panjang menggali monument sejarah Mongolia yang menyimpan bulir-bulir keemasan kaisar muslim . Meski singkat, meski tak populer, Takudar pernah ada dengan segala jejak perjuangan.
Novel Existere adalah perenungan dunia prostitusi dan poligami. Lafaz Cinta tentang memaknai cinta yang sebagian besar tak berujung seperti Cinderella. Novel Reinkarnasi perpaduan dunia mistik Jawa yang mengagungkan pusaka-pusaka dan ramalan Satria Piningit. Novel Rose bercerita tentang gadis yang hamil di luar nikah dan bagaimana cara keluarga besar menangani aibnya.
Rinai?

* Epistolari & Cerita Berbingkai
Novel Rinai adalah novel yang disajikan dengan cara berbeda.
Bila pada novel-novel yang lain alurnya maju atau mundur, dilengkapi narasi dan dialog; Rinai pun demikian. Yang membuatnya berbeda, adalah cara bertutur dengan gaya Epistolari dan Cerita Berbingkai.
Epistolari adalah cerita yang disusun dari surat menyurat; Cerita Berbingkai adalah cerita di dalam cerita. Selain Rinai Hujan sang tokoh utama, masih ada beberapa tokoh yang memegang peranan penting. Siapakah “aku”?

* Tafsir Mimpi
Kisah ~RINAI~ diawali dengan hal tak biasa. Sebagai seorang gadis, tak aneh bila sesekali bermimpi ular. Menurut Filosofi Jawa, mimpi ular pertanda jodoh, tapi tidak demikian halnya dengan alam bawah sadar yang dipercayai aliran Psikoanalisa.
Rinai kerapkali bermimpi ular. Ia bahkan memandang rendah dirinya sendiri, hingga menemukan satu teori mimpi yang digagas Ibnu Khaldun

* Relawan Gaza
Sebagai gadis yang senantiasa diharuskan tutup mulut, rendah hati dan mengalah; banyak hal yang membuat Rinai ingin memberontak dan melawan doktrin sang ibunda, Rafika. Mulai melarikan diri ke Surabaya, mendaftar sebagai relawan kerja-kerja sosial agar pergi jauh dari rumah. Kedekatannya dengan sang dosen, Nora Effendi, membawanya terpilih dalam misi kemanusiaan bersama HRNW – human relief for human welfare. Rinai yang muda dan polos, menjadi bulan-bulanan Amaretta dan Orion, anggota tim relawan yang tahu betul misi kemanusiaan kali ini membawa pesan tersembunyi.

* Beautiful Land
Gaza adalah negeri yang menakjubkan. Tanah subur dengan aroma zaitun dan tiin, senyum ramah mengembang murni bukan artifisial, anak-anak yang tetap penuh harga diri. Biru laut meditrranian, pantai Aizbah, Asdaa Land atau Suq Arbaah adalah sedikit dari keindahan Gaza, Palestina.
Rasakan dan cicipi lezatnya roti Isy dengan taburan Zataar.
Rasakan aroma jamuan tuan rumah yang berpuasa, tetapi mengutamakan tetamu.
Dengarkan celoteh anak-anak.
Dengarkan gesek dedaunan malam yang berbaur dengan gumam Quran.
Rasakan pertemuan dengan Montaser.
Pemuda dengan mata Sinai dan kehormatan seorang petualang.

** Royalti bagi Palestina
InsyaAllah, 50% royalti akan disumbangkan bagi pemuda-pemuda Gaza Palestina yang datang ke Indonesia untuk bersekolah atas inisiatif BSMI – Bulan Sabit Merah Indonesia; selain itu juga bagi anak-anak dan perempuan yang menjadi concern Ministry of Women Affairs, juga pembangunan perpustakaan dan pengembangan seni budaya yang digagas oleh ministry of Culture.

Bersama novel Rinai kita akan menjelajah perjalanan misterius dalam mimpi-mimpi manusia yang dituliskan Ibnu Khaldun dalam Muqqadimah, menjelajah perbatasan Rafah dan tinggal di Gaza; mencintai setiap kebaikan dan mencoba membangun perubahan positif yang dimulai dari diri sendiri.

Penulis : Sinta Yudisia
http://www.sintayudisia.wordpress.com
http://www.sintayudisia. multiply.com
Facebook : Sinta Yudisia II
Twitter : @penasinta
Email : sintayudisia@gmail.com

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Catatan Perjalanan Cinta & Love FLP Gaza Kami Jurnal Harian Perjalanan Menulis Psikologi Islam ROSE

Profile Sinta Yudisia, Dialog Jumat Republika 18 Mei 2012