Kategori
Artikel/Opini BERITA Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Topik Penting Tulisan Sinta Yudisia

Sisi Psikologis Reynhard Sinaga : Seberapa Jauh Kita Paham tentang Perkosaan?

Ngeri dan ngilu tiap kali membaca, mendengar atau melihat laporan berita perkosaan. Kita berharap jangan sampai diri kita dan setiap anggota keluarga mengalami perkosaan atau naudzubillahi mindzalik, menjadi pelakunya. Begitu kasus Reynhard Sinaga (RS) mencuat, hati ini bertanya-tanya, mengapa kejahatan semacam itu bisa terjadi berulangkali? Seharian ini pikiran dan perasaan resah. Berjam-jam membaca berbagai macam referensi dan hasilnya, sungguh membuat saya pribadi merenung. RS diduga melakukan perkosaan sebanyak 195 kali atau lebih. Kasusnya terbongkar 2017 dan sepanjang 2018-2019 menjalani 4 kali sidang. Hasilnya ia dinyatakan bersalah dan mendapatkan hukuman penjara seumur hidup.

Berita tentang RS berturut-turut dilaporkan di koran terkemuka seperti Jawa Pos 07/01/2020 dan 08/01/2020

Definisi dan jenis perkosaan

Rape atau perkosaan didefinisikan sebagai penetrasi V atau anal tanpa persetujuan pemiliknya. Penetrasi bisa menggunakan alat kelamin, jari atau objek lainnya sementara obyek penetrasi bisa bervariasi antara V, anal, oral. Terdapat berbagai jenis perkosaan seperti penetrative rape, statutory rape, date rape, male rape, dsb. Ada pula perkosaan dengan ditambahkan penganiayaan.

Ada sebuah penelitian unik tentang perkosaan.

Para peneliti  mengumpulkan lebih dari 1.800 responden laki-laki dan mereka diminta untuk mengisi kuesioner. Bentuk pertanyaannya tidak langsung seperti , “Apakah kamu pernah memperkosa orang?” . Pertanyaan seperti ini pastilah akan mendapat jawaban “no”. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan antara lain :

  • Apakah kamu pernah melakukan hubungan intim dengan orang di mana orang tersebut dalam kondisi mabuk?
  • Apakah kamu pernah menampar pasanganmu saat ingin melakukan hubungan intim?
  • Apakah kamu pernah menggunakan kekuatan fisik seperti mencekik, memuntir, saat meminta hubungan intim?

Dsb

Ketika pertanyaan-pertanyaan yang dengan hati-hati disusun tersebut dilontarkan, mengejutkan sekali betapa banyaknya orang yang merasa tidak melakukan perkosaan. Terlebih lagi, banyak korban yang tidak sadar mereka sedang dianiaya atau diperkosa. Para peneliti kemudian membagi menjadi “rape, attempted rape dan sexual assault.” Percobaan perkosaan yang dilakukan berulang dan tak ada korban atau lingkungan yang sadar, membuat pelaku suatu saat benar-benar melakukan tindak pemerkosaan.

Pernah terjadi, sepasang kekasih yang sudah kelewat batas berpacaran; setiap kali si cowok meminta layanan intim  ia akan menyundut ceweknya dengan rokok. Juga mengancam bunuh diri jika cewek itu meninggalkannya. Emosi cewek yang serba kasihan dan tak ingin ditinggal, membuat si cewek mengabulkan apapun permintaan cowok. Mungkin hubungan itu tampaknya berjalan suka sama suka, tetapi peristiwa menyundut rokok itu sebetulnya sudah masuk attempted rape.

Mitos Perkosaan

Terdapat banyak mitos di tengah masyarakat sehingga perkosaan termasuk jenis kejahatan yang sulit dideskripsikan, didefinisikan, juga dikontrol.

  • Perkosaan dilakukan oleh orang asing
  • Pemerkosa adalah orang gila atau psikotik
  • Kebanyakan pemerkosa terlihat ‘berbeda’ dan tidak seperti kita

Ketika melihat dua orang lelaki misalnya, yang satu bertatoo dan satunya lagi mengenakan pakaian rapi; kita sudah punya asumsi bahwa orang bertatoo pasti lebih jahat. Padahal belum tentu demikian! Kasus Harvey Weinstein mencengangkan dunia. Ia seorang produser film kenamaan yang memproduksi Pulp Fiction, Heavenly Creature, Shakespeare in Love yang terjungkal oleh gerakan #MeToo , sebuah gerakan untuk berani angkat suara menghadapi kasus pelecehan seksual dan pemerkosaan.

Mitos yang kita yakini ini membuat kita lebih waspada terhadap orang asing, psikotik, atau yang tampilannya beda dengan orang pada umumnya. Padahal pelaku pemerkosaan bisa jadi orang terdekat, orang waras dan orang yang kesehariannya mirip dengan kita! Karenanya kasus pemerkosaan bisa terjadi di sekolah, kampus, atau tempat kerja. RS sama sekali bukan seorang psikotik. Ia tidak tampak berbeda secara fisik, malah terlihat sama seperti seorang karyawan dan mahasiswa yang stylish.

Sehatkah Mental Pemerkosa?

Sejauh ini diduga ada 4 hal yang menyebabkan seseorang menjadi pemerkosa :

  1. Kerusakan otak. 3,9% pemerkosa di Swedia mengalami kerusakan otak. Penyebabnya tentu beragam mulai benturan, obat-obatan, trauma, dst.
  2. Parafilia, adanya gangguan kepribadian yang mengarah pada perilaku seksual menyimpang seperti voyeurism, fetis, ekshibisionisme, sadistic, masokis, dsb
  3. Attachment problems. Adanya disfungsi dalam relasi keluarga dengan sesama anggota keluarga. Tidak memiliki kelekatan dengan orang-orang terpenting dalam hidup seperti ayah, ibu, saudara, dsb
  4. CD atau cognitive distortion. Punya pola pikir yang salah terkait beberapa sudut pandang. Misal perempuan adalah obyek seks. Atau, orang dalam kondisi lemah lebih tepat dijadikan obyek pemuas ( orang pingsan dirampok atau diperkosa).

Riwayat Klinis Manusia

Selain 4 hal di atas, kita harus mewaspadai diri kita sendiri dan orang-orang di sektiar kita yang mengalami berbagai hal psikologis sebagai berikut. Hal ini bukan untuk melabeli seseorang, tetapi untuk bersegera mencari solusi atas permasalahan yang terjadi.

  1. Pengalaman awal di masa hidup. Masa kanak-kanak adalah masa sangat penting. Manusia yang kehilangan momen bahagia dan kasih sayang di masa ini, cenderung mencari pemuasan dalam hal seks atau dalam bentuk agresifitas. Marilyn Monroe, Jack the Ripper, Adolf Hitler adalah beberapa contoh orang yang mengalami masa kecil demikian buruk sehingga mencari pelampiasan dalam bentuk seks atau agresi.
  2. Riwayat sekolah : menjadi korban atau pelaku bullying, konflik dengan otoritas (guru, orangtua, kepala sekolah dst) harus menjadi perhatian. Ketidakmampuan untuk menjalin relasi sehat dengan orang seusia dan orang yang lebih tua akan membawa dampak.
  3. Riwayat pekerjaan : gonta ganti pekerjaan? Keluar masuk? Bagaimana seseorang mggnatasi konflik dengan rekan kerja dan atasan , harus menjadi catatan.
  4. Catatan psikoseksual : riwayat psikoseksual harus menjadi catatan khusus dan mendapatkan perhatian tentang bagaimana penanganan berlangsung. Apakah lebih senang masturbasi dan nonton pornografi ketika stress? Apakah senang menggosokkan alat kelamin ketika masih anak-anak ketika ketakutan? Dst
  5. Riwayat penyerangan/ agresifitas : jika pernah melakukan tindakan sangat agresif, berhati-hatilah
  6. Minat, hobi, skill, teman : mereka yang memiliki hobi, menguasai skill,  dan memiliki teman berarti memiliki kehidupan mental yang lebih sehat.
  7. Personality/ kepribadian : bagaimana cara seseorang menghadapi masalah? Apakah self imagenya bagus? Bagaimana perilakunya? Dst
  8. Riwayat forensic & psikiatrik sebelumnya : apakah pernah memiliki sejarah kekerasan, menyerang orang, termasuk gangguan psikiatrik lainnya seperti skizofrenia dst.

Analisa Reynhard Sinaga

Melihat paparan di atas, ada beberapa hal yang sepertinya paradox tentang ciri pemerkosa dan sebab-sebab seseorang menjadi pemerkosa. Reynhard cerdas, menarik, banyak teman. Terlihat hangat dan yang juga perlu digarisbawahi, ia cerdas dan berprestasi.

Tetapi berbicara tentang brain injury atau brain damage, ada kemungkinan ia terbiasa mengkonsumsi alcohol dan meng-oplosnya sehingga menyebabnya beberapa fungsi otak terganggu. Ia tak dapat melakukan high thinking order untuk memilah, memilih, menimbang, mengorganisasikan.

Jawa Pos 07/01/2020

Di samping itu, ia telah melakukan beberapa upaya ofensiv seperti percobaan permerkosaan atau perkosaan itu sendiri. Sedihnya, diperkirakan 39% pemerkosa sekalipun telah menjalani perawatan akan mengulangi lagi perilaku ofensifnya. Apalagi pelaku yang sama sekali tidak menjalani perawatan psikiatrik dan psikologis! Tentu, akan mengulangi kesalahan fatalnya lebih sering lagi.

Hukuman terhadap RS telah ditetapkan.

Mari kita tarik hikmah di baliknya, semoga tidak ada lagi korban atau yang lebih parah lagi, menciptakan pelaku. Seseorang dapat menjadi pemerkosa bila :

  1. Mengalami brain damage, boleh jadi karena trauma ( trauma keluarga, bully, penganiayaan seksual); oleh obat-obatan atau pornografi
  2. Tidak memiliki kelekatan yang baik & kuat dengan orangtua
  3. Mengalami masa kecil yang tidak membahagiakan
  4. Masa sekolah yang banyak masalah
  5. Terbiasa attempted rape tapi tak ada orang yang menyadari
  6. Pernah melakukan kekerasan seksual dan tidak segera menjalani perawatan kesehatan mental

Semoga RS adalah orang terakhir yang melakukan kejahatan mengerikan tersebut. Kita harus mewaspadai diri sendiri dan orang-orang terkasih di sekeliling kita agar mereka tidak menjadi korban, pun tidak menjadi pelaku.

Referensi :

Gantman, Ana P.  dan Elizabeth Levy Paluck. —. What is the Psychological Appeal of the Serial Rapist Model? Worldviews Predicting Endorsement. Artikel dari Women in Public Policy Seminar series at theHarvard Kennedy School

Lisak, David dan Paul M. Miller. 2002. Repeat Rape and Multiple Offending Among Undetected Rapists. Violence and Victims, Vol.17, No.1

Orth, Ruby L. Orth, dan Suzanne L. Osman. 2015. Perpetration Experience and Gender Predicting Empathy with a Stranger or Acquaintance Rapist. Modern Psychological Studies Vol 21 : no. 1

Sarkar, Jaydin. 2013. Mental Health Assessment of Rape Offenders. Indian Journal Psychiatry, Jul-Sep; 55(3) : 235 -243

Duell, Mark dan Danyal Hussain. 2020. The rugby player who trapped the world’s most prolific rapist: Male victim, 18, reveals how he beat up Reynhard Sinaga after waking up naked during attack and led police to lair where 195 were assaulted diunduh dari https://www.dailymail.co.uk/news/article-7856057/Britains-prolific-rapist-jailed-30-years.html 07/01/2020

Kategori
Buku Sinta Yudisia Cinta & Love Nonfiksi Sinta Yudisia Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Seksologi Islami

Seksologi Pernikahan Islami

Siapa yang bisa diajak bicara terkait seks? Suami? Orangtua? Kakak/adik? Teman? Atau justru lihat YouTube, cari info dari film macam Fifty Shades of Grey. Mungkin juga, buka situs-situs  yang dirasa informatif.
Seks adalah bagian dari hubungan suami-istri yang melibatkan banyak aspek. Bukan hanya fisik tetapi juga emosi, moral, tanggung jawab.
cover seksologi islami biru
Sayangnya, seks semakin kehilangan kualitasnya sebagai dari ibadah yang mulia.
Seks tidak lagi dilakukan dalam ikatan pernikahan atau dilakukan dengan cara semestinya.
Kalaupun dilakukan dengan pasangan sah; semakin pudar pula sebagai bagian dari pleasure principle. Bisa jadi karena kelelahan, hilangnya cinta, atau salah satu pihak mengalami  personality disorder, sexual abuse di masa lalu, adiksi pornografi atau bahkan menderita sex & love addiction sehingga berkali-kali melakukan affair hingga pasangan sah tidak lagi dapat melakukan hubungan intim.
Selain pendekatan agama dan ilmiah, buku ini dilengkapi penjelasan psikologis tentang bagaimana mengatasi berbagai kendala dalam pernikahan terkait seks.
ilustrasi seksologi
Craving Seksologi.JPG
daftar isi seksologi
Buku ini dikemas dengan warna biru tosca yang cantik, sampul hardcover,   lay out & ilustrasi menarik hingga tak bosan membaca. Tersaji dalam 314 halaman.
Harga: Rp. 135.000 (belum ongkir).
Pembelian jumlah tertentu dan reseller dapat diskon menarik.
☎📞Kontak
Vidi 0878-5153-2589
Arina 0815-4513-7523
————–
Rekening :
Mandiri 142-00-1673-5556
Bank Syariah Mandiri (BSM) 7070968597
BRI 0101-01-009291-50-9
Semua a.n Sinta Yudisia Wisudanti
————-
Pemesanan bit.ly/Seksologi

 

❤💐🌸🌺🍥💐🌺🌸❤
Kategori
My family Oase Perjalanan Menulis Pernikahan Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY UNTAG, My Campus WRITING. SHARING.

Saat Suami Dapat Mendidik Istri

 

“Kamu tuh hasil bentukan dan didikan suami kamu,” celetuk sahabatku. Begitu kira-kira konteks kalimatnya.

Aku terkejut. Selama 24 tahun menikah, hampir nggak pernah dengar kalimat seperti itu. Mungkin yang mirip-mirip ada, tapi kalimat yang diucapkan temanku belum lama ini menyentak betul. Bagiku, suami adalah kekasih, sahabat, mitra. Kadang teman adu urat leher juga hahaha. Kalau nggak ada suami, nggak ada yang diajak diskusi seru mulai anak sampai urusan sosial politik ekonomi.

Guru?

Apakah suamiku adalah guruku?

Hmmm.

 

Nasehat CJ Lewis

Penulis Narnia ini memberi nasehat kepada pendidik ,”alirilah gurun, bukan menebang pohon.” Konsep mendidik itu mungkin dilakukan suamiku ketika pada awal nikah, aku belum tahu mau jadi apa. Impian untuk jadi istri dan ibu yang baik, ada. Tapi adakah cita-cita selain itu?

Aku suka masak dan jahit. Aku pernah berjualan kue tradisional dan menjahit baju sebagai pemasukan tambahan dan penyaluran hobby. Aku juga suka nulis. Masalahnya, mana impianku yang benar-benar mau difokuskan? Nah, disitu masalahnya.

Aku suka jahit. Baju anak-anakku ketika kecil, nyaris semuanya aku jahit. Korden, aku buat sendiri. Seprei sarung bantal-guling, juga. Teman-temanku bilang : “buat butik aja!”

Oke. Bolehlah.

Aku juga suka buat patchwork. Patchwork ku, cantik-cantik lho. Dompet, tas dan berbagai kreasi kerajinan tangan. Suamiku, mendukung sepenuh hati. Tapi kayaknya ia pun jengkel setengah mati. Tiap kali aku ajak belanja, niatnya beli benang dan kain.

“Kenapa pulangnya bawa ember, sandal, keset dll??”

Rupanya suamiku nggak paham, kalau perempuan bilang 5 menit; itu maksudnya 1 jam. Kalau bilang cuma mau beli benang, itu maksudnya beli benang, gunting, pensil, kertas karbon, kain dan mungkin mesin jahitnya sekalian! Ternyata, aku punya kelebihan dan kekurangan yang baru kuketahui kelak ketika aku lulus sebagai psikolog.

“Ummi tuh nggak fokus, yah,” tegur suamiku. “Yang dikerjain apa aja sih?”

Kalau aku berangkat mau isi acara, suamiku udah rapi lebih dahulu. Aku masih sibuk belanja, cuci piring cuci baju, beberes kamar.

“Perempuan mana bisa pergi begitu aja! Kalau keluar rumah, ya yang di dalam harus beres dulu, ” kilahku.

“Ya, tapi skala prioritas dan fokus, Mi,” tegasnya.

Baru kuketahui, bahwa suamiku tengah “mengaliri gurun” dan bukannya “menebang pohon”. Ia nggak pernah bilang ,”ya udah, berangkat sendiri aja. Capek aku nganter kalau harus ngebut.” Meski ngomel panjang pendek, ia tetap setia mengantarku ke tempat acara.

Nggak pernah ia berkata, “kalau gini caranya, males aku antar kamu belanja!” atau ”kalau gini caranya, nggak usah nulis aja!”

Yang ia lakukan ketika  awal kumenulis adalah, terbangun di tengah malam, terkantuk-kantuk, membuatkanku secangkir kopi susu. Menemaniku yang masih terbata mengetik tak-tik-tuk; dan ia akan tertidur di kursi. Melihat potensiku yang masih sekecil kecambah alias taoge, suamiku nggak langsung menebangnya. Tapi mengairinya, entah kapan bisa jadi pohon kacang hijau.

Percaya itu Lebih dari Cinta

Kemarin, waktu naik ojek online, aku mendengar lagu manis Judika. Endingnya adalah :

Karena percaya itu lebih dari cinta

Duh, aku terharu banget dengar lagu itu. Sampai-sampai, putriku Arina menoleh ke arahku dan kami berpandangan sembari kompak berkata ,” manis bangeeett!”

Bertahun lalu, teman-teman perempuanku pernah berkata:

“Wah Sin, suamiku pencemburu banget. Mana boleh aku pergi nginap-nginap.”

“Suamiku nggak bolehkan aku jadi penulis. Katanya : buat apa?”

Anak-anakkupun nanya, “Abah nggak cemburu sama Ummi? Padahal ummi udah sampai kemana-mana, ke luar negeri juga.”

Yah.

Aku akhirnya nanya ke suamiku ,”Mas cemburu nggak kalau aku ke luar negeri? Kalau aku foto berdua dengan adik-adik FLP yang sebagian cowok? Kalau aku ketemu professor Koh Yung Hun? Kalau aku ketemu A, B, C?”

Jawaban suamiku simple, “aku percaya Ummi. Insyaallah karena kita diikat keimanan.”

Itu jawaban normatif yaaa.

Jawaban konyolnya adalah ,”gak ada yang lebih ganteng dari aku!”

Dan bener juga sih. Kalau dilihat-lihat, diamati, suamiku paling ganteng. Terserah cewek lain mau bilang apa yah. Bagiku, pria ganteng itu yang bisa sholat jamaah di masjid. Sederhana dalam berpenampilan, tapi tetap tampil stylish. Yang bisa jadi qowwam dan imam buat keluarga. Yang perkataan dan perbuatannya senada. Yang penyayang orangtua, istri, anak-anak, saudara-saudaranya. Yang punya banyak teman. Sebab, bagiku orang ini kharismatik. Dan itu suamiku kwkwkwk. Kalau ada kriteria yang lain dan itu cocok buat para istri, berarti lelaki itu paling ganteng buat istrinya.

Kembali pada asas percaya.

Suamiku mempercayaiku tanpa pernah bongkar-bongkar apa isi inbox FB, atau private message di whatsapp. Kalau sesekali ia melihat, wajarlah. Kadang, kami melihat HP satu sama lain untuk lihat foto lucu, meme lucu, video konyol atau bahkan pesan-pesan hikmah yang mungkin gak ada di HP sendiri. Tapi itu jarang sekali. Kadang 2 atau 3 bulan sekali.

Ketika melepasku ke luar negeri, yang dikatakannya adalah, ”aku bakal kangen. Tapi aku percaya Ummi.”

Akhirnya, aku tak pernah panik, khawatir, cemas, ketakutan kalau ketemu siapa saja yang ilmunya bisa kudapat. Aku ceritakan semua pada suami ilmu yang kuperoleh hari itu, pekan itu, tanpa beban.

“Mas, aku ketemu professor ini. Luar biasa pandangannya. Aku ketemu pengusaha ini, luarbiasa capaiannya.” Bahkan, “Mas, aku naik taksi, supir taksinya masyaallah banget…”

Cemburu?

Pernahlah. Tapi hanya di permukaan, nggak sampai yang benar-benar masuk ke hati. Aku sering sekali cerita tukang sayur, supir, tukang bangunan, satpam yang kukagumi lantaran kehebatan mereka mendidik keluarga. Suamiku akan berkata, “dulu Abah juga begitu. Kalau bukan karena Abah Ummi, Mas nggak akan sekolah setinggi ini.”

Penghormatan suamiku pada orangtua kami, sungguh luarbiasa.

 

Aku Harus Membekalimu

Murid harus lebih baik dari gurunya.

Aku pernah nanya : kok boleh aku kuliah S1, S2? Padahal saat itu ekonomi mepet dan situasi serba kejar tayang. Kata suamiku : kalau suatu saat nanti aku harus sendiri, aku punya bekal cukup untuk mendidik anak-anak dan membantu mereka sampai mereka bisa mandiri. Ini bukan berarti kami berpisah atau salah satu meninggal ya, huhuhu. Suamiku kerja di institusi pemerintah yang rotasi mutasinya tinggi. Sudah pasti, aku harus sendiri menangani anak-anak. Itu butuh ilmu, bahkan butuh support ekonomi juga.

Sinta Wisuda S2.JPG
Arina putriku, aku dan Agus Sofyan

Aku kuliah S2 magister psikologi profesi di Universitas 17 Agustus Surabaya lebih dahulu. Suamiku saat itu masih S1. Tapi ia biasa aja, bahkan sering mengantarku penelitian ke sana kemari, magang di RSJ Menur. Barulah kemudian suamiku lulus S2. Bahkan, ia sudah bilang beberapa kali : nanti kita bareng kuliah S3 ya. Aamiin yaa Robb…

Selama ini itu kuanggap mitra.

Tapi ternyata, itu juga sikap seorang guru.

Guru adalah pendidik yang mengairi gurun, menumbuhkan kepercayaan, memberikan teladan, mengembangkan potensi.

Pantas temanku bilang, “kamu tuh hasil didikan dan bentukan suami kamu!”

Tentu, jejak didikan orangtuaku masih tersisa di diriku. Tapi sesudah menikah, sungguh, suami adalah guru yang utama.

Ah, terimakasih suamiku, guruku.

Yang sudah rela berpayah-payah mendidik istrimu yang kadang manja, ngeyel, ngambek, sering ngomong ala perempuan banget (ya iyalah) yang buat suami elus dada. Potensiku berkembang dan melejit, karena guruku selalu mendorong di belakang. Mendampingi di samping. Dan kadang, ketika aku nggak tahu jalan, berada di depan untuk membukakan wawasan.

 

Kategori
Buku Sinta Yudisia Cinta & Love Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Suami Istri WRITING. SHARING.

Seks : Tempatkanlah di Posisi Mulia (catatan singkat buku Seksologi Pernikahan Islami)

 

Pernah baca Cadas Tanios atau Lady of Camellias?

Dua buku lawas yang ditulis para dedengkot sastra itu menggambarkan bahwa ketika membahas hubungan intim, bahasa kiasan alias bahasa metafora dapat digunakan. Bukan sekedar keindahan sastra penuh makna yang didapat, tetapi juga pembaca mendapatkan sebuah skema di benak : seks memang tidak perlu diungkapkan secara vulgar, tetapi justru segala sarana keluhuran, kemuliaan, keindahan mengiringi.

Padahal, Cadas Tanios bicara perselingkuhan. Lady of Camellias bicara pelacuran.

Di zaman dahulu, orang tak perlu ‘ganas’ ketika membahas seks. Hubungan Lamia dengan kekasihnya dalam Cadas Tanios, cukup diceritakan bahwa kekasihnya menyuapkan sebutir anggur, cahaya musim panas masuk ke ruangan dari celah-celah jendela dan mereka berdua tertawa menikmatinya. Margeurite dalam Lady of Camellias cukup dikisahkan naik ke lantai dua, menemui tamunya salah satu Count terkemuka, mereka masuk kamar dan mematikan lampu.

Apa yang kita pelajari?

Seks adalah perilaku yang harus dilakukan dalam ruang tertutup, dijaga dari dunia sekeliling yang serba ingin tahu dan mengintip, dibahas dengan bahasa sandi yang cukup dapat dirasakan oleh hati dan dapat dipahami pikiran. Seks tidak harus dipertontonkan hingga mata melihat jelas dan telinga mendengar jelas pula.

Bagaimana sekarang?

Pembahasan seks ada di warung-warung internet lewat video game, di film-film, bahkan dalam iklan-iklan. Informasi seks tidak lagi disampaikan oleh pemuka agama, sastrawan, ilmuwan atau orang yang lebih tua; tapi semua orang bisa menyampaikan dengan gaya masing-masing. Akibatnya, informasi tentang seks yang didapatkan bukan saja jauh dari kebenaran, bahkan seringkali membawa informasi menyimpang. Seks bisa dilakukan dimana saja, kapan saja, dengan siapa saja. Yang penting pleasure principle tercapai. Toh itu kebutuhan asasi makhluk hidup dewasa.

Cover PO SENI

Seks : Darimana Memulai

Membahas sesuatu –segala hal- dimulai dari kognisi dan value/beliefs. Kognisi melibatkan informasi, pengetahuan, pemahaman yang dasar. Tetapi ilmu harus didasari nilai. Ilmu tanpa nilai, akan menghasilkan kebenaran semu.

Misal,

Makhluk hidup butuh makan. Setiap hari harus makan. Ini premis yang benar. Tetapi makan bisa menjadi ibadah, bila didasarkan value/beliefs. Memakan makanan halal dapat menjadi proses panjang mulai mencari nafkah halal baik oleh suami atau istri, membelanjakannya dengan tepat, memilih dan memilah, memasaknya, sampai menyajikannya di meja makan, menyuapinya ke mulut anak-anak atau memasukkannya ke mulut sendiri.

Begitupun hubungan seksual.

Pleasure principle ini bisa menjadi pintu keridhoanNya atau malah menjadi pintu kemurkaanNya. Hubungan intim dapat menjadi pintu keberkahan bila dimulai dari pintu pernikahan, bagaimana mencari ilmu terkait hubungan seksual dan bagaimana mengaplikasikannya menjadi perilaku positif yang mendapatkan keberkahan.

Mudahkah?

Panduan dari Quran dan Hadits begitu banyaknya, tetapi pelaksanaannya butuh pemahaman dan pelaksanaan yang bertingkat-tingkat.

Hadits Rasulullah Saw yang intinya “janganlah menolak ajakan suami meski di atas punggung unta,” secara kognitif mudah dipahami. Tetapi secara perilaku? Bagaimana ketika istri menolak karena kelelahan, trauma masa lalu (sexual abuse dll), memiliki gangguan kepribadian atau bahkan merasa enggan karena tidak mencintai suami? Bagaimana pula ketika sebaliknya, suami yang tak punya hasrat pada istri karena pengaruh pornografi, infidelity, lelahnya pekerjaan atau bahkan memang sudah tak punya hasrat lagi?

Semoga buku ini dapat menjadi panduan bagi yang sedang mencari-cari jawaban terkait masalah seksual. Penulis berusaha menggunakan bahasa ilmiah ketika harus menjelaskan tentang hubungan intim, seperti menggunakan istilah sexual intercourse. Perilaku-perilaku seksual yang perlu kita pelajari bersama seperti cinta sejenis, BDSM, oral sex pun dibahas di sini.

 

 

Para istri yang risih karena suami pegang-pegang terus, semoga mendapatkan solusi.

Para suami yang kecewa karena istri selalu bilang ‘tidak’, semoga mendapatkan solusi.

Para remaja yang mungkin ingin tahu seperti apa kehidupan seksual, semoga bisa belajar.

Jangan khawatir, buku ini insyaallah tidak membosankan. Banyak ilustrasi menarik dan yang harus penulis puji, lay outnya keren!

 

Kategori
Buku Sinta Yudisia Cinta & Love Hikmah Karyaku KOREA Oase Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Sirius Seoul Suami Istri

Cinta : sejati, selingkuh, sejenis.

Lagu cinta apa yang paling kamu suka?

Waktu masih zaman SMP SMA dulu, aku paling suka lagu Nikka Costa.

nikka costa
Nikka Costa

It’s my first love

Seems that I am too young

He doesn’t even know

Wish that I could show him what I’m feeling

 

Mengingat cinta, seperti membuat rasa penuh bunga bermekaran. Udara semerbak, bulan bersinar terang, semua orang tersenyum. Manusia bergerak dalam slow motion. Persis seperti ketika Pia jatuh cinta pada Rancho di 3 Idiots! Geli-geli sendiri bila ingat kita pernah jatuh cinta dengan teman sekelas, kakak kelas, teman lain fakultas atau bahkan yang usianya jauh lebih tua : asisten dosen atau guru/dosen!

Para filsuf punya sejuta kata-kata sihir untuk menggambarkan cinta.

“Yang jatuh cinta, tidak akan merasakan gravitasi,” kata Einstein.

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,” kata Sapardi Djoko Damono.

Ribuan kata mutiara menjadi penghias buku harian, catatan sekolah, diktat kuliah, quote manis yang diunggah ke media social sembari membuat versi pic-art nya. Setiap kali membayangkan wajah orang yang membuat hati berdesir, rasanya dunia dipenuhi mimpi indah. Duh, kapan ketemu dia, ya? Duh, andaikan bisa ketemu sebentar, berduaan sebentaaar aja. Kalau boleh waktu berhenti sesaat ketika ada kesempatan berdua dengannya.

70808107-with-love-black-silhouette-vector-hand-drawn-illustration
With love

Cinta, dianalogikan seperti coklat. Legit, manis, lezat, memikat. Kata cinta, memunculkan satu persepsi yang sama di benak hampir setiap orang : gambar jantung hati.

Begitu banyak kisah di dunia ini yang menggambarkan kekuatan cinta. Nabi Ibrahim as sukses karena cinta Sarah dan Hajar. Nabi Muhammad Saw sukses karena cinta Khadijah ra. Buya Hamka sukses karena dukungan Siti Raham.  Einstein sukses karena didampingi Mileva Maric. Mahathma Gandhi sukses karena dukungan Kasturbai. BJ Habibie sukses karena dukungan luarbiasa dari bunda Ainun.

Pertanyaannya : apakah cinta yang demikian indah itu, merupakan anugerah atau ujian?

 

Cinta : awalnya anugerah

Bayangkan dunia tanpa cinta!

Tidak ada anak-anak, tidak ada keindahan, tidak ada produk-produk ekonomi, tidak ada kegairahan hidup.

Konon, ekonomi digerakkan karena cinta. Lho, ini bukan sok filosofis. Segala produk yang bersumber dari ‘cinta’ menuai untung : film, musik, makanan, kosmetik, otomotif, elektronik, pariwisata dll. Film romance disukai. Music yang mengandung unsur cinta, digandrungi. Makanan seperti coklat, meraup profit luarbiasa. Café-café yang menawarkan sudut romantisme, laku keras. Kosmetik yang menjanjikan perempuan/ lelaki akan lebih dicintai karena fisik yang makin menarik; laku keras. Otomotif yang menggambarkan mobil bisa dikendarai berdua, atau bisa dikendarai sekeluarga; laris manis. Elektronik yang bisa memudahkan seseorang menghubungi kekasihnya di seberang sana, terjual habis.

 

Konon kabarnya, cinta itu dari Tuhan.

Sementara, kebencian dari setan.

Jadi, segala sesuatu yang menimbulkan rasa cinta, berawal dari Tuhan. Cinta pada orangtua, cinta pada pasangan jiwa, cinta pada anak-anak, cinta pada sesama manusia dan seterusnya. Kebencian adalah perwujudan dari nafsu syaithoni, sehingga kebencian pada manusia adalah wujud terkutuk.

Kalau cinta dari Tuhan, apakah semua bentuk cinta merupakan pesan Ilahiyah?

Bagaimana jika manusia merasakan cinta –yang konon dititipkan olehNya- dan cinta itu tertuju pada subyek-subyek yang bertentangan dengan garis hukumNya? Apakah itu anugerah, ujian; ataukah kita salah memaknai salah satunya?

7070 love cats-800x800.jpg
Love

Misal, jatuh cinta pada suami/ istri orang.

Bukankah manusia tak bisa merekayasa hati, sehingga bisa punya kecenderungan sesuai pilihan benaknya? Lalu salah siapa ketika tiba-tiba seorang manusia jatuh cinta pada orang lain sementara dirinya sudah terikat janji, dan orang yang membuatnya jatuh hati juga telah terikat sumpah setia?

Bagaimana pula, bila manusia jatuh cinta pada sosok seperti : saudara kandung ( insest), anak kecil (pedofil) , cinta kepada rekan sesama jenis (homo/lesbi), tokoh anime, idol, dll ?

 

Nasihat Victor Frankl

Si penemu logoterapi yang menerbitkan karya legendaris Man’s Search for Meaning mengatakan: patung Liberty di pesisir Timur Amerika harusnya dilengkapi dengan patung Responsibility di pesisir Barat.

Ya, seringkali manusia yang dianugerahkan fisik, ruh dan akal sempurna tidak siap untuk membangun patung Responsibility.

Siapkah kalau berselingkuh dan merebut pasangan orang lain? Siapkah dengan pasangan yang kecewa dan anak-anak yang berantakan; serta kelak, teman selingkuhan itu berpotensi akan berselingkuh pula dengan orang lain? Belum lagi cibiran social dan banyak hukuman social yang harus dipikul. Yang dibayangkan adalah indahnya cinta bersama orang yang tengah menjadi tambatan hati.

Siapkah menikah dengan Idol yang super ganteng atau super cantik?

Hal-hal yang dilakukan sasaeng terhadap idol K-pop mereka terkadang sungguh di luar batas. Cinta seorang fan kepada Taecyeon (2 PM), Baekhyun (EXO), Jonghyun (CNBlue), Taeyang & G-Dragon (Bigbang); perlu direnungkan. Sasaeng rela melukai diri dan menuliskan surat menggunakan darah haidh kepada sosok yang sangat digandrungi dan dicintai.  Apakah ketika pada akhirnya bisa berpacaran dan menikah dengan Taeyang atau G-Dragon; maka kebahagiaan akan menaungi? Bagaimana pula jika jatuh cinta pada salah satu tokoh anime seperti Kamen Rider, atau pemerannya, Satou Takeru? Tokoh-tokoh rekaan penulis cerita yang tidak ada di dunia nyata dan diharapkan benar-benar ada di dunia nyata.

Demikian pula, cinta yang dianggap sebagai preferensi seksual seperti cinta pada anak kecil, cinta pada saudara kandung dan cinta pada sesama jenis. Benarkah patung Responsibility sudah kita bangun, berdampingan dengan patung Liberty?

 

Cinta : Anugerah sekaligus Ujian

Cinta pada uang wajar, namanya manusia. Itu anugerah. Dengan cinta pada uang, maka manusia giat bekerja dan hal itu menimbulkan perputaran roda ekonomi dan gairahnya kehidupan seantero dunia mulai kehidupan rumah tangga hingga kehidupan bernegara.

Cinta yang di luar batas, itu yang harus dikendalikan dengan patung Responsibility. Kalau cinta terlalu hebat pada uang hingga menabrak batas haram  apakah sudah siap dengan Responsibility? Yang penting cinta uang, dapat uang, pakai uang. Padahal, Resposibility yang harus ditanggung adalah : kehidupan tidak berkah, pasangan yang tidak setia, anak-anak yang pembangkang, rumah yang tidak nyaman ditinggali, mobil yang selalu sial, teman-teman yang oportunis dst. Saat manusia mencintai uang berlebihan; ia inginnya tetap bebas merdeka memilih semuanya termasuk : dapat pasangan baik, anak-anak  penurut dan berprestasi, hidup tanpa kendala.

Tidak ada manusia yang berkata.

“Aku milih cinta uang saja. Nggak papa pasangan nggak setia, anakku jadi amburadul, temanku pengkhianat semua. Yang penting duitku banyak.”

Nggak, kan?

Manusia ingin semua.

Liberty ya iya, Responsibility-nya tidak dikalkulasi.

Cinta pun demikian.

Cinta yang sah, antara suami istri pun adalah anugerah, pada awalnya.

Tapi kalau suami atau istri tidak bisa membangun patung Responsibility, bagaimana jadinya? Hanya cinta saja, tidak diikuti komitmen. Seperti salah satu skala dari 8 skala Zick Rubin tentang macam-macam pola cinta. Cinta yang hanya cinta melulu tanpa komitmen, tanpa punya visi misi, hanya akan nabrak sana sini. Istri yang cinta setengah mati sama suaminya, bisa jadi obsessive luarbiasa. Suaminya nggak boleh kemana-mana, nggak boleh reuni, nggak boleh meeting di luar kota. Pun nggak boleh mengunjungi orangtua, nggak boleh lagi dekat sama kakak adiknya, nggak boleh puunya hobi, nggak boleh senang-senang sendiri.

Cinta pada uang, pada jabatan, pada kedudukan, pada suami atau istri, pada anak-anak awalnya merupakan anugerah. Tapi bila manusia tidak bisa mengelolanya dengan baik; akan menjadi fitnah.

Bila Liberty tidak dibarengi Responsibility, manusia hanya mau memilih hal yang mudah, enak, memikat, tanpa mau menimbang bahwa semua punya tanggung jawab. Konsekuensi. Perhitungan.

 

Cinta yang Perlu Dipertimbangkan

Cinta pada suami atau istri orang.

Cinta pada teman sejenis.

Cinta pada anak di bawah umur.

Awalnya, mungkin anugerah.

Ah, cinta dan sayang pada suami/istri orang, awalnya karena rekan bisnis. Bukankah mencintai saudara itu ajaran agama yang mulia? Bukankah memberi perhatian & hadiah, adalah bagian dari persahabatan?  Bukankah kata Rasulullas Saw : tahaddu tahabbu, memberi hadiahlah agar kalian saling mencintai?

Lalu suami atau istri orang yang tadinya hanya sahabat, tempat berkonsultasi, rekan bisnis, rekan organisasi, rekan sejawat lama-lama menjadi rekan sehati. Pertimbangkanlah, bahwa Tuhan Maha Melihat.

Maha Menghitung.

“Aku jatuh cinta pada teman sekelasku di kelas Magister. Ia begitu pintar dan mempesona. Aku telah punya istri dan anak-anak. Tetapi bayangan temanku yang memikat, begitu mendominasi. Aku sering menangis di masjid, sembari membaca Quran. Ya Allah…aku nggak mau ini. Kenapa hatiku tergoda untuk berselingkuh?

Aku tahu hatiku sakit. Karena kutahu istriku demikian baik. Maka aku rajin ke masjid, baca Quran dan kuminta teman-teman menasehatiku. Lambat laun hatiku menjadi netral. Tiap kali melihat temanku di kelas Magister, aku merasa bersalah. Aku menyayanginya dan menghormatinya sebagai teman sekarang. Betapa, beruntungnya aku punya istri yang setia melayaniku di rumah.”

Demikianlah pengakuan seorang lelaki.

Cinta pada teman sejenis.

Ah, bukankah ini boleh?

Ia yang merupakan teman, sahabat, sosok yang selalu ada ketika kita sekolah dan kuliah. Ketika kerja. Ia yang sigap mendengarkan keluh kesah. Ia yang tidak pernah mematikan koneksi internet dan mau jam berapapun dianggu. Ia bahkan rela menyisihkan uangnya demi kepentingan kita. Tidakkah sahabat semacam ini adalah belahan jiwa yang sesungguhnya?

Mencintai teman sejenis, sungguh tidak terlarang, ketika masih dalam batas persahabatan. Tetapi ketika melampaui batas persahabatan, tidakkah perlu mengobati hati kita yang tengah terluka itu seperti sosok lelaki si pembaca Quran di masjid dalam kisah di atas?

“Aku selalu jatuh cinta pada perempuan, meski aku juga perempuan. Tetapi ketika aku berjilbab, aku belajar agama, aku tahu Tuhan melarangku dmeikian. Aku menangis. Hatiku sakit. Aku jatuh cinta pada sahabatku. Dan apapun bisa kulakukan, kalau mau. Ya siapa yang mencurigai dua anak gadis yang tinggal satu kamar? Orang lebih curiga cowok cewek tinggal seatap.

Tetapi, aku rasa Tuhan tidak mengizinkan ini.

Maka aku berjuang setengah mati mencoba mencintai lelaki.

Aku maskulin, maka aku mencoba lebih feminine. Dan aku mencoba untuk memikirkan lelaki, jatuh cinta pada lelaki dan membayangkan kelak suamiku lelaki. Ternyata kau bisa jatuh cinta pada seorang lelaki temanku! Horeee! Alhamdulillah. Aku nggak mau pacaran, tetapi hatiku bahagia. Ternyata aku pun bisa jatuh cinta pada lawan jenis.

Semua tergantung bagaimana cara kita mengelola hati.”

 

Cinta, ah…

Aku yakin, kita semua pernah mengalami cinta rahasia.

Cinta yang tidak seorangpun boleh tahu. Hanya antara diri kita dan Tuhan saja.

Entah itu jatuh cinta pada teman sekelas, pada kakak kelas, pada pacar orang lain, pada tunangan orang lain, pada pasangan hidup orang lain. Pada anime, idol, atau sahabat sejenis. Perempuan dan perempuan, lelaki dan lelaki.

Cinta itu indah, apapun bentuknya.

Cinta itu pada akhirnya akan membuat ketagihan, ingin memiliki (dalam kadar tertentu menjadi obsessive), ingin mencicipi, ingin bersama berdekatan dan seterusnya dan seterusnya. Sebagai manusia dewasa kita dapat mengkhayalkan, bahwa bagian dari cinta adalah eros. Nafsu. Itulah bagian dari cinta. Bila nafsu ini tidak dikendalikan, ia bagaikan naga dengan mulut api yang akan menghanguskan segala.

Jatuh  cinta pada pasangan orang, perlu dikendalikan agar kita tidak hanya mencecap Liberty dan tunggang langgang dari Responsibility.

Jatuh cinta pada Idol, K-Pop, tokokh anime; harus segera dikendalikan agar diri  bisa segera berpihak pada realita. Sejelek-jeleknya pasangan hidup, masih lebih mending yang real daripada yang imajinatif.

Jatuh cinta pada rekan sejenis, perlu dipertimbangkan. Ditelaah, direnungkan. Diluruskan. Meski DSM V sudah tidak mencantumkan cinta sejenis sebagai bagian dari disorder.

Siapkah kita membangun patung Responsibility menghadapi segala kendala kehidupan, ketika memilih cinta yang tidak biasa? Celaan manusia, hinaan orang, hukuman social, tidak berarti apa-apa. Tetapi manusia tak akan sanggup menghadapi keputusanNya.

Seorang kiai berkata kepada santrinya.

“Hati-hati ya, Nduk, Le, ketika berbuat dosa. Segera mohon ampun. Nanti kamu nggak kuat bayarnya.”

Medengar nasehat itu, hatiku tercabik.

Kita bukan orang suci.

Hanya Nabi yang ma’shum.

Kita juga tidak berhak menghakimi dan melabeli orang, kecuali memang ia memiliki keahlian sebagai halim peradilan,hakim agama atau professional di bidang keilmuan yang terkait. Tetapi perkataan pak Kiai itu patut direnungkan. Perkataan yang sama dengan nasehat Victor Frankl.

Ketika kita melakukan satu tindakan Liberty, kuatkan membayar Responsibility nya?

———————

Tentang cinta sejenis, kutuliskan dalam novel Lafaz Cinta dan Seksologi Pernikahan Islami. Cinta romansa dengan setting Korea dan K-Pop kutuliskan dalam Sirius Seoul.