Kategori
My family Oase Perjalanan Menulis Pernikahan Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY UNTAG, My Campus WRITING. SHARING.

Saat Suami Dapat Mendidik Istri

 

“Kamu tuh hasil bentukan dan didikan suami kamu,” celetuk sahabatku. Begitu kira-kira konteks kalimatnya.

Aku terkejut. Selama 24 tahun menikah, hampir nggak pernah dengar kalimat seperti itu. Mungkin yang mirip-mirip ada, tapi kalimat yang diucapkan temanku belum lama ini menyentak betul. Bagiku, suami adalah kekasih, sahabat, mitra. Kadang teman adu urat leher juga hahaha. Kalau nggak ada suami, nggak ada yang diajak diskusi seru mulai anak sampai urusan sosial politik ekonomi.

Guru?

Apakah suamiku adalah guruku?

Hmmm.

 

Nasehat CJ Lewis

Penulis Narnia ini memberi nasehat kepada pendidik ,”alirilah gurun, bukan menebang pohon.” Konsep mendidik itu mungkin dilakukan suamiku ketika pada awal nikah, aku belum tahu mau jadi apa. Impian untuk jadi istri dan ibu yang baik, ada. Tapi adakah cita-cita selain itu?

Aku suka masak dan jahit. Aku pernah berjualan kue tradisional dan menjahit baju sebagai pemasukan tambahan dan penyaluran hobby. Aku juga suka nulis. Masalahnya, mana impianku yang benar-benar mau difokuskan? Nah, disitu masalahnya.

Aku suka jahit. Baju anak-anakku ketika kecil, nyaris semuanya aku jahit. Korden, aku buat sendiri. Seprei sarung bantal-guling, juga. Teman-temanku bilang : “buat butik aja!”

Oke. Bolehlah.

Aku juga suka buat patchwork. Patchwork ku, cantik-cantik lho. Dompet, tas dan berbagai kreasi kerajinan tangan. Suamiku, mendukung sepenuh hati. Tapi kayaknya ia pun jengkel setengah mati. Tiap kali aku ajak belanja, niatnya beli benang dan kain.

“Kenapa pulangnya bawa ember, sandal, keset dll??”

Rupanya suamiku nggak paham, kalau perempuan bilang 5 menit; itu maksudnya 1 jam. Kalau bilang cuma mau beli benang, itu maksudnya beli benang, gunting, pensil, kertas karbon, kain dan mungkin mesin jahitnya sekalian! Ternyata, aku punya kelebihan dan kekurangan yang baru kuketahui kelak ketika aku lulus sebagai psikolog.

“Ummi tuh nggak fokus, yah,” tegur suamiku. “Yang dikerjain apa aja sih?”

Kalau aku berangkat mau isi acara, suamiku udah rapi lebih dahulu. Aku masih sibuk belanja, cuci piring cuci baju, beberes kamar.

“Perempuan mana bisa pergi begitu aja! Kalau keluar rumah, ya yang di dalam harus beres dulu, ” kilahku.

“Ya, tapi skala prioritas dan fokus, Mi,” tegasnya.

Baru kuketahui, bahwa suamiku tengah “mengaliri gurun” dan bukannya “menebang pohon”. Ia nggak pernah bilang ,”ya udah, berangkat sendiri aja. Capek aku nganter kalau harus ngebut.” Meski ngomel panjang pendek, ia tetap setia mengantarku ke tempat acara.

Nggak pernah ia berkata, “kalau gini caranya, males aku antar kamu belanja!” atau ”kalau gini caranya, nggak usah nulis aja!”

Yang ia lakukan ketika  awal kumenulis adalah, terbangun di tengah malam, terkantuk-kantuk, membuatkanku secangkir kopi susu. Menemaniku yang masih terbata mengetik tak-tik-tuk; dan ia akan tertidur di kursi. Melihat potensiku yang masih sekecil kecambah alias taoge, suamiku nggak langsung menebangnya. Tapi mengairinya, entah kapan bisa jadi pohon kacang hijau.

Percaya itu Lebih dari Cinta

Kemarin, waktu naik ojek online, aku mendengar lagu manis Judika. Endingnya adalah :

Karena percaya itu lebih dari cinta

Duh, aku terharu banget dengar lagu itu. Sampai-sampai, putriku Arina menoleh ke arahku dan kami berpandangan sembari kompak berkata ,” manis bangeeett!”

Bertahun lalu, teman-teman perempuanku pernah berkata:

“Wah Sin, suamiku pencemburu banget. Mana boleh aku pergi nginap-nginap.”

“Suamiku nggak bolehkan aku jadi penulis. Katanya : buat apa?”

Anak-anakkupun nanya, “Abah nggak cemburu sama Ummi? Padahal ummi udah sampai kemana-mana, ke luar negeri juga.”

Yah.

Aku akhirnya nanya ke suamiku ,”Mas cemburu nggak kalau aku ke luar negeri? Kalau aku foto berdua dengan adik-adik FLP yang sebagian cowok? Kalau aku ketemu professor Koh Yung Hun? Kalau aku ketemu A, B, C?”

Jawaban suamiku simple, “aku percaya Ummi. Insyaallah karena kita diikat keimanan.”

Itu jawaban normatif yaaa.

Jawaban konyolnya adalah ,”gak ada yang lebih ganteng dari aku!”

Dan bener juga sih. Kalau dilihat-lihat, diamati, suamiku paling ganteng. Terserah cewek lain mau bilang apa yah. Bagiku, pria ganteng itu yang bisa sholat jamaah di masjid. Sederhana dalam berpenampilan, tapi tetap tampil stylish. Yang bisa jadi qowwam dan imam buat keluarga. Yang perkataan dan perbuatannya senada. Yang penyayang orangtua, istri, anak-anak, saudara-saudaranya. Yang punya banyak teman. Sebab, bagiku orang ini kharismatik. Dan itu suamiku kwkwkwk. Kalau ada kriteria yang lain dan itu cocok buat para istri, berarti lelaki itu paling ganteng buat istrinya.

Kembali pada asas percaya.

Suamiku mempercayaiku tanpa pernah bongkar-bongkar apa isi inbox FB, atau private message di whatsapp. Kalau sesekali ia melihat, wajarlah. Kadang, kami melihat HP satu sama lain untuk lihat foto lucu, meme lucu, video konyol atau bahkan pesan-pesan hikmah yang mungkin gak ada di HP sendiri. Tapi itu jarang sekali. Kadang 2 atau 3 bulan sekali.

Ketika melepasku ke luar negeri, yang dikatakannya adalah, ”aku bakal kangen. Tapi aku percaya Ummi.”

Akhirnya, aku tak pernah panik, khawatir, cemas, ketakutan kalau ketemu siapa saja yang ilmunya bisa kudapat. Aku ceritakan semua pada suami ilmu yang kuperoleh hari itu, pekan itu, tanpa beban.

“Mas, aku ketemu professor ini. Luar biasa pandangannya. Aku ketemu pengusaha ini, luarbiasa capaiannya.” Bahkan, “Mas, aku naik taksi, supir taksinya masyaallah banget…”

Cemburu?

Pernahlah. Tapi hanya di permukaan, nggak sampai yang benar-benar masuk ke hati. Aku sering sekali cerita tukang sayur, supir, tukang bangunan, satpam yang kukagumi lantaran kehebatan mereka mendidik keluarga. Suamiku akan berkata, “dulu Abah juga begitu. Kalau bukan karena Abah Ummi, Mas nggak akan sekolah setinggi ini.”

Penghormatan suamiku pada orangtua kami, sungguh luarbiasa.

 

Aku Harus Membekalimu

Murid harus lebih baik dari gurunya.

Aku pernah nanya : kok boleh aku kuliah S1, S2? Padahal saat itu ekonomi mepet dan situasi serba kejar tayang. Kata suamiku : kalau suatu saat nanti aku harus sendiri, aku punya bekal cukup untuk mendidik anak-anak dan membantu mereka sampai mereka bisa mandiri. Ini bukan berarti kami berpisah atau salah satu meninggal ya, huhuhu. Suamiku kerja di institusi pemerintah yang rotasi mutasinya tinggi. Sudah pasti, aku harus sendiri menangani anak-anak. Itu butuh ilmu, bahkan butuh support ekonomi juga.

Sinta Wisuda S2.JPG
Arina putriku, aku dan Agus Sofyan

Aku kuliah S2 magister psikologi profesi di Universitas 17 Agustus Surabaya lebih dahulu. Suamiku saat itu masih S1. Tapi ia biasa aja, bahkan sering mengantarku penelitian ke sana kemari, magang di RSJ Menur. Barulah kemudian suamiku lulus S2. Bahkan, ia sudah bilang beberapa kali : nanti kita bareng kuliah S3 ya. Aamiin yaa Robb…

Selama ini itu kuanggap mitra.

Tapi ternyata, itu juga sikap seorang guru.

Guru adalah pendidik yang mengairi gurun, menumbuhkan kepercayaan, memberikan teladan, mengembangkan potensi.

Pantas temanku bilang, “kamu tuh hasil didikan dan bentukan suami kamu!”

Tentu, jejak didikan orangtuaku masih tersisa di diriku. Tapi sesudah menikah, sungguh, suami adalah guru yang utama.

Ah, terimakasih suamiku, guruku.

Yang sudah rela berpayah-payah mendidik istrimu yang kadang manja, ngeyel, ngambek, sering ngomong ala perempuan banget (ya iyalah) yang buat suami elus dada. Potensiku berkembang dan melejit, karena guruku selalu mendorong di belakang. Mendampingi di samping. Dan kadang, ketika aku nggak tahu jalan, berada di depan untuk membukakan wawasan.

 

Kategori
mother's corner Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY UNTAG, My Campus

Gagal + Terlambat + Semangat = Hasil Positif

Apa yang harus dilakukan manusia saat target tak tercapai, pencapaian tak sempurna, hasil yang diupayakan pun tak sukses alias gagal?
Saya pernah mengalami masa-masa ketika ingin berhenti di satu titik. Beranggapan bahwa gagal ini mungkin pertanda harus berhenti, atau berganti haluan. Setelah semester demi semester kuliah Psikologi Alhamdulillah mendapatkan IP 4 atau 3, 8 , saya berpikir ; sebentar lagi cepat selesai. Cum laude. Lanjut S 2 dan yah, sikap pragmatis manusia : segera bantu-bantu suami bersikap produktif untuk biaya sekolah anak-anak .goodwork
Sebab suami sudah wanti-wanti ,” Ummi, kalau kuliah sudah mengorbankan banyak hal. Tenaga, uang, waktu. Harus maksimal hasilnya.”
Ketika beberapa kali saya dapat beasiswa sebagai mahasiswa teladan, suami bersyukur. Tapi ada suatu masa saat mengerjakan skripsi, benturan-benturan terjadi.
Mereka yang IP nya jauh di bawah saya, melaju demikian cepat.
1 semeter. 2 semester.
Saya terhambat.
Bukan karena malas, tidak pernah mengerjakan. Tetapi ada beberapa kendala teknis yang membuat saya bertanya pada Tuhan : bukankah saya berdoa setiap kali waktu istijabah, agar lulus tepat waktu sehingga efisien di sana sini?

Titik Tolak
Penelitian saya memang cukup simple, dengan subyek yang agak rumit.
Hubungan Communication Skill dengan Psychological Well-Being pada Tunarungu.
Banyak yang membahas ketrampilan berkomunikasi. Banyak pula yang membahas PWB atau disisi lain Subjective Well Being (SWB). PWB adalah skala untuk mengukur derajat kebahagiaan yang diteliti dan dirumuskan oleh Carol D. Ryff, professor psikologi dari Wisconsin University, USA.
Permasalahan mulai timbul ketika hal-hal sederhana yang saya bayangkan, cukup sulit dilapangan. Saya memiliki subyek cukup banyak tunarungu untuk anak-anak. Ternyata anak-anak belum dapat merasakan kebahagiaan secara riil, maka saya harus hunting subyek remaja-dewasa. Berurusan dengan birokrasi. Berhadapan orang-orang tipe “lama” yang enggan bekerja professional bila tidak diberi gratifikasi. Dan, kesulitan terbesar adalah harus menerjemahkan bahasa Ryff ke dalam bahasa tunarungu.

Saya belajar sedikit-sedikit signal language.
Kamu cantik. Terima kasih. Sama-sama. Siapa namamu. Pusing. Bingung. Assalamualaykum. Wa’alaykumsalam. Kamu harus rajin. Kamu tidak boleh bohong.

Lelah sekali.
Apalagi berkejar-kejaran dengan ujian akhir anak-anak, tahun ajaran baru, deadline tulisan. Kalau begini caranya…apa saya mundur saja ya? Bukankah cita-cita saya pada awalnya mandiri financial sebagai pengusaha, penulis; bukannya habis-habisan untuk penelitian macam ini? Meski, jauh di lubuk hati, terselip keinginan-keinginan yang melambung jauh tinggi. Betapa inginnya menjadi ulama ilmuwan macam Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, yang tulisan-tulisannya saay baca hingga sekarang sebagai pengobat dahaga pengetahuan dan pencarian. Tidakkah saya ingin seperti mereka?

Buku. Membaca.
Menjadi penawar letih.
Saat mempelajari kisah Sigmund Freud, tokoh psikoanalis yang dipuja sekaligus dihujat, cukup membuat merenung. Seorang Yahudi, dalam masa sulit antisemit, dikungkung kesengsaraan Perang Dunia I dan masa-masa tumbuhnya ilmu psikologi yang belum pasti ; Freud terus menerus aktif menulis The Psychopatology of Everyday Life (1901) , Three Essays on The Theory of Sexuality (1905) , Totem and Taboo (1913) , Introductory Lectures on Psychoanalys (1916), Beyond the Pleasure Principle (1920), The Ego and Id (1923), the Question of Lay Analysis (1926), The Future of An Illusion (1927), Moses adn Monotheism (1930). Freud rajin mengunjungi pasien, sejawat dan anggota masyarakat untuk memperkenalkan psikoanalis.
Para ulama dan cendekiawan muslim tentunya mengalami hal serupa : menemui kesulitan, kebuntuan baik saat meneliti ataupun saat menuangkan gagasan dalam tulisan. Semua itu tak membuat mundur apalagi menyerah.
Mempelajari semangat Ibnu Rusyd, Al Kindi, Al Farabi, Khwarizmi, Piri Reis, Ibnu Sina dan banyak lagi ulama cendekiawan terkemuka membuat kita menyadari bahwa halangan yang ada saat ini mungkin tak senilai bila dibandingkan dengan zaman dahulu. Sekarang lebih mudah mengunduh informasi jurnal , membaca buku elektronik, men-delete tulisan, meng copy, mencetak dan seterusnya.

Di titik ini saya tersadar, bahwa cita-cita besar mustahil hanya berhadapan dengan sandungan batu kerikil. Samudra, bukit dan gunung, bahkan tanjakan ke langit akan ditemui para pemimpi.

RahasiaNya
Alhamdulillah, selesai sudah strata satu.
Setelah sebelumnya sempat maju mundur saat mendaftar fakultas psikologi : apa saya tidak terlalu tua untuk memulai menimba ilmu secara serius? Mengingat selama ini mengikuti suami berpindah dari satu kota ke kota lain, sehingga tak dapat memusatkan pikiran tentang up-grading diri. Saat anak-anak beranjak besar, satu tekad kuat bangkit : ini saatnya saya menimba ilmu kembali. Tak perlu berkecil hati terhadap ucapan orang lain. Suatu saat, kita buktikan pada dunia bahwa tujuan menjalani semua ini adalah demi tujuan mulia. Secara pribadi saya ingin menuntaskan ilmu psikologi hingga ke titik terdepan, terpuncak : agar saya memiliki hujjah kuat dalam melayani ummat.
Kepada siapa ummat bertanya tentang konseling keluarga, anak-anak gifted atau special needs, kenakalan remaja, atau bahkan untuk kasus-kasus ekstrim traumatic ; jika bukan kepada ulama muslim yang memahami? Bila kita tak ambil bagian sebagai ilmuwan muslim, maka ummat akan diterapi dengan pendekatan-pendekatan psikoanalis, behavior, humanistic yang mungkin di dalamnya mengandung pola-pola terapi yang sangat tidak Islami.

Ke depan, mungkin 10 atau 20 tahun lagi, saya ingin membangun Islamic Crisis Center, suatu pusat rehabilitasi dan penelitian bersadar ilmu pengetahuan berbasis Quran. Turki pernah memiliki rumahsakit di abad 15, sebuah rumahsakit yang para dokter dan terapisnya mampu membedakan penyakit qalbu dan ruh ; mana yang mental disorder (schizofren, dll) dan mana yang gangguan setan (semacam exorcist dan sejenisnya). Pendekatan ilmiah, dengan terapi yang mengedepankan pendekatan spiritual berikut kedokteran modern yang terpercaya baik secara fisik maupun psikis. Ya, mengapa kita tidak kembali membangun Pusat semacam itu?
Saya juga ingin seproduktif Freud, Jean Piaget, dll dalam hal menulis sehingga keilmuan mereka senantiasa ditelaah, dikritisi, diperbaharui, disempurnakan sepanjang waktu.

Alhamdulillah, rahasiaNya yang saya syukuri terbaca kini.
Penelitian hubungan Communication Skill dan PWB pada tunarungu, terpilih sebagai salah satu penelitian menarik oleh kampus dan insyaAllah pada November mendatang saya mempresentasikan penelitian tersebut pada International Conference Psychology in Helath, Educational, Social and Organizational Setting di depan pakar-pakar psikologi dari mancanegara. Mohon doa dari teman-teman sekalian. Langkah kecil ini, semoga awal dari sebuah tahapan langkah yang besar.
Batu-batu kerikil di masa lalu, rupanya Allah siapkan supaya saya lebih berhati-hati melangkah dan bersiap mengganti sandal dengan sepatu yang lebih kuat .

Kategori
Catatan Perjalanan Cinta & Love Jurnal Harian Kuliah Psikologi mother's corner My campus UNTAG, My Campus

FAKULTAS PSIKOLOGI & KAMPUSKU, UNIV. 17 AGUSTUS 1945 SURABAYA

Sinta Yudisia, KKN Untag
2007, pertama kami kami sekeluarga terlempar ke satu kota di wilayah Jawa Timur, Surabaya. Sama sekali tak pernah kubayangkan aku kembali harus merantau mengikuti suami yang setia pada Negara di KPP – Kantor Pelayanan Pajak. Setelah Medan, Jakarta, Yogya, Tegal yang demikian nyaman; penuh pertanyaan di benak aku bertanya : seperti apakah Surabaya?
Setahun sesudah kepindahan, seorang teman menawariku kuliah kembali.
Tentang perjalanan keilmuan, bagai seorang awak kapal yang senantiasa mengikuti keman arah angin berlayar. SMA, aku ingin sekali masuk ITB karena begitu tergila-gila dengan outerspace. Dengan meninggalnya ayah, cita-cita itu harus beralih. Aku harus ambil jalan pintas, kalau mau membantu Mamah. Alhamdulillah, aku diterima di STAN dan IESP – Ilmu Ekonomi & Studi Pembangunan UGM.
STAN, mungkin bukan impianku. Meski IP baik – selalu di atas 3 – aku merasa ini bukan duniaku. Aku menjelajahi lagi dunia keilmuan – ambil MIPA univ .Terbuka dan Ma’had al Ishlah. Semua tak terselesaikan ketika kemudian aku menikah dan satu persatu anak lahir. Aku merasa lebih baik mendampingi suami kuliah Ajun Khusus dan meneruskan D IV.
Bahkan sebelum menjadi penulis, aku adalah orang yang suka membaca.
Apalagi ketika menulis menjadi pilihan hidupku, sungguh, kehidupan para ulama yang senantiasa belajar dan mengajar kerap menghantui. Maka, seorang teman di Surabaya –Vina namanya- menawariku kuliah di kampus tak jauh dari rumah. UNTAG atau Universitas 17 Agustus 1945, Surabaya. Rasanya hati melonjak gembira.


”Aku kuliah sastra ya, Mas?” pintaku pada suami.
Suamiku sepertinya keberatan.
“Psikologi aja , Mi. Bermanfaat untuk anak-anak.”

PSIKOLOGI, belajar apa?

Saat mengisi blanko pendaftaran, aku bahkan tak tahu Psikologi itu apa selain bahwa jurusan inilah yang diridhoi suamiku! Meski demikian aku tetap mencoba berpikir positif, siapa tahu nanti bisa kuliah sastra juga:-D.
Semester pertama, seperti mengingat kembali masa-masa awal di bangku STAN – Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, Jurangmangu – Jakarta (sebetulnya masuk wilayah Tangerang, tapi lebih dekat ke Jakarta). Bahasa Indonesia, Agama, Bahasa Inggris, ISBD. Sengaja aku tak menggunakan transkrip nilai di STAN, lebih baik mengawali semua betul-betul dari awal agar api keilmuan yang memercik , menyala lebih sempurna.
Selain MKDU – Mata Kuliah Dasar Umum, semester I mulai diperkenalkan dengan Psikologi Umum dan Filsafat – Ibu yang melahirkan ranah psikologi. Semester demi semester berikutnya, aku semakin bergairah. Apa yang selama ini menjadi pertanyaan : apa yang dipelajari dari manusia? – sedikit demi sedikit terjawab sudah. Bagi rekan-rekan yang penasaran dengan Psikologi, silakan simak mata kuliah kami berikut sedikit penjelasannya :
Semester I : Agama, Bahasa Indonesia, ISBD, Bahasa Inggris, Filsafat Umum, Antropobiologi, Sosiologi, Psikologi Umum I, Statistik I
Semester II : Pendidikan Kewarganegaraan, Filsafat Manusia, Antropologi, Psikologi Umum II, Statistik II, Psikologi Faal I, Psikologi Perkembangan I, Psikologi Sosial I, Psiologi Kepribadian I
Semester III : Kode Etik Psikologi, Filsafat Ilmu & Logika, Psikologi Faal II, Psikologi Perkembangan II, Psi. Sosial II, Psi. Kepribadian II,, Psi. Pendidikan, Psi. Industri & Organisasi, Psi. Klinis, Psi. Motivasi, Psikodiagnostik I
Semester IV : Kesehatan Mental. Psi. Belajar, Metode Penelitian Kuantitatif, Psi. Eksperimen, Psikometri, Psi. Konseling, Psi. Komuikasi, Psikodiagnostik II – Observasi , Psi. Forensik
Semester V : Psi. Kognitif, Konstruksi Alat Ukur, Psi. Proyektif, Metode Peneltian Kualitatif, Psi. Abnormal, Tes Inventory, Psikoterapy, Teknik Konseling
Semester VI : Tes Inteligensi, Tes Grafis & Wartegg, Psikodiagnostik III – Interview, Dinamika Kelompok, Teknik Penyusunan Proposal & Skripsi, Desain Pelatihan
Semester VII : Tes Bakat Minat, Tes Roscharch, TAT/CAT (Thematic Apperception Test/ Children Apperception Test), Seminar Psikologi , IKD ( Ilmu Kealaman Dasar)

* Mata kuliah di atas sesuai dengan kardi (kartu studi) saya….. Bisa berbeda, sesuai dengan semester gasal/genap yang diambil, atau mata kuliah wajib yang merupakan prasyarat ke jenjang berikut.

PSIKOLOGI : cukup membaca buku saja?

Sebagian orang berpendapat, mempelajari manusia cukup lewat buku saja. Banyak trainer & motivator andal sama sekali tidak punya latar belakang psikologi. Toh mereka bisa berkomunikasi baik dengan audience.
Anggapan tersebut sama saja ketika kita berpikir, kalau sakit gigi cukup minum antibiotik ditambah pengurang rasa sakit. Ke dokter, paling-paling resepnya itu lagi. Banyak sekali buku parenting yang dijual di tengah pasar buku terkait ibu, anak, keluarga, suami dsb.
Pendapat tersebut tak ada salahnya, sepanjang buku-buku tersebut untuk memperkaya khazanah pribadi. Tetapi, di titik tertentu, orang yang memiliki kompetensi memadai diperlukan.
Apa sih kategori anak nakal? Cerdas? Trouble maker? Bagaimaa perkembangan saat ini misalnya indigo? Bagaimana dengan keluarga yang berantakan? Lelaki & perempuan dengan masa puber kedua?
Silakan simak catatan berikut .

PSIKOLOGI PERKEMBANGAN
Mempelajari perkembangan manusia sejak fetus hingga masa empty nest- masa tua. Yang dipelajari tentu bukan fisiologi sekalipun hal tersebut pun dibahas secara singkat. Ibu-ibu dengan gangguan emosional yang parah di masa mengandung, besar kemungkinan memiliki anak dengan emosi serupa. Bila, di kemudian hari sang anak mengalami banyak hambatan perkembangan, biasanya akan dirunut ke belakang sejarah hidupnya baik dari auto -anamnesa maupun allo- anamnesa. Sejarah hidup yang dipelajari macam ini akan membantu semua pihak untuk bersikap lebih bijak dan tepat.
Psikologi perkembangan memakai teori Erik Erikson, Jean Piaget, Sigmund Freud, Noah Chomsky dan banyak lagi.
Psikologi tidak menggunakan kata ’pasti’ sebab kepribadian manusia sementara mengalami psikodinamika. ”Kecenderungan” lebih sering digunakan untuk mengungkap perilaku, personality/kepribadian, kecerdasan dll.
Belajar psikologi perkembangan, membuatku menyadari tingkah laku anak-anak; baik anak-anakku , anak temanku, anak-anak pada umumnya yang kutemui di jalan. Oh, anakku kurang ini di masa perkembangan balita, pantes saja dia begini….Oh, anakku sering kupupuk ini pas balita, pantas saja dia sekarang suka begitu….

PSIKOLOGI KLINIS
Inti dari mata kuliah ini adalah,
“ bagaimana yang sehat agar tetap sehat, yang sakit tidak bertambah sakit.”
Psi. klinis meliputi wilayah luas mulai anak, remaja, dewasa, gerontology, komunitas. Psi. klinis semacam pengantar bahwa dimanapun terdapat manusia dan komunitasnya; potensi maupun permasalahan akan dimungkinkan timbul. Apa yang dapat kita lakukan untuk menghilangkan, minimal meminimalisasi hal-hal buruk dalam perilaku dan perkembangan psikis?

PSIKOLOGI ABNORMAL
Psi. Abnormal membahas semua perilaku menyimpang seperti depressi, gangguan mood, anxiety, perilaku bunuh diri, voyeurism, fethishisme, dsb. Seringkali, perasaan menjadi merinding tiap kali melihat begitu banyak masalah kejiwaan yang menimpa masyarakat modern, terutama masyarakat metropolis.
Salah satu yang ditengarai menimpa jutaan warga AS (tak terkecuali Indonesia) adalah MPD – Multiple Personality Disorder. Jika kita pernah membaca 24 wajah Billy dan Sybill , begitulah kira-kira.

PSIKOLOGI KONSELING, TEKNIK KONSELING
Kuliah psikologi, meski tidak selalu harus menjadi terapis, diperlukan pengetahuan untuk bisa membantu orang lain. Konseling berbeda denga sekedar curhat. Konselor diharapkan mampu mengarahkan, setidaknya mendampingi, klien untuk bertanggung jawab pada pilihan hidupnya sendiri.
Seringkali hal ini bertentangan dengan hati nurani.
Bagaimanapun konselor tidak bisa mengambil alih tanggung jawab klien selaku manusia utuh. Semisal, seorang suami yang datang ke konselor dan berharap ia bisa tetap mempertahankan WIL serta rumahtangganya. Konselor tak berhak men judge : anda harus setia pada istri. Ya kalau ternyata sang suami mau, kalau tidak? Seorang konselor mendampingi hingga orang tersebut siap mengambil pilihan. Mau terus berselingkuh? Silakan tanggung sendiri akibatnya, termasuk kehilangan istri dan anak-anak.
Seorang terapis pernah bercerita, ia menangani kasus perempuan amat cantik yang dianiaya suami. Terapis tersebut menawarkan bantuan, bahkan jika dirasa perlu dibawa ke ranah hukum. Tetapi perempuan tersebut menolak,
“suami saya lah yang mensupply seluruh kebutuhan hidup, termasuk perjalananan saya ke luar negeri.”
Rupanya perempuan tersebut tidak bisa membendung hasratnya untuk shopping rutin ke luar negeri. Jika itu pilihannya, maka terapis ‘hanya’ memberikan panduan bagaimana bisa mengatasi rasa sakit.

PSIKODIAGNOSTIK
Inilah mata kuliah yang membuat pusing, ngos-ngosan tetapi sungguh, memberikan ilmu yang luarbiasa. Dulu dikenal sebagai PD I- VIII, sekarang lebih disebut dengan alat yang digunakan. Misal tes Ro (Tes Rorscharch), tes TAT/CAT, tes Inteligensi, dll.
Psikodiagnostik adalah suatu ilmu, alat , yang digunakan psikolog untuk dapat memperkirakan kecenderungan klien baik IQ, kepribadian, bakat dan minatnya.
Misalnya tes Inventory yang banyak menggunakan pernyataan verbal sebagai ungkapan. Tes ini banyak digunakan dalam perekrutan seperti EPPS, 16 PF, Pauli, SOV. Hasil tes dapat menunjukkan kecenderungan si testee yang sangat bermanfaat apakah ia akan menduduki level assisten, manager, dsb ? Apalagi bila dilengkapi tes bakat minat.

STATISTIK , PSIKOMETRI
Angka-angka adalah hal yang akrab dengan dunia psikologi. Bagi para peneliti, statistik dan psikometri adalah hal yang wajib dikuasai. Hal ini penting ketika akan melakukan eksperimen atau penelitian lain. Adakah hubungan antara konsumsi timbal bagi kecerdasan ? Bagaimana hubungan antara pasien HIV dengan pemahaman mereka akan agama ? Aadakah hubungan kemampuan berkomunikasi pada penderita pendengaran (hearing loss) dengan kemampuan mengendalikan emosi?

DOSEN-DOSEN KAMI
Nyaris semua dosen kami pandai berinteraksi dengan orang lain, tampil sebagai sosok yang mempesona. Pakaian rapi, sophisticated, ramah. Seringkali kami berbisik di belakang : ih, bu ini cantik banget, bu ini manis banget. Kupikir, karena mereka diminta tampil untuk memberikan solusi bagi permasalahan orang lain, mereka juga harus mampu memperlihatkan – dibalik semua masalah pribadi yang pastinya ada- bahwa mereka adalah sosok kuat dan bertalenta.
Untuk mengarungi badai kehidupan, bukan hanya sosok tangguh yang dibutuhkan. Diperlukan kejelian, kemampuan memahami masalah, berdamai dengan masalah, mungkin menikmati masalah. Dalam konsep Islam, itulah yang dinamakan sabar.

PSIKOLOGI UNTUK LELAKI ATAU PEREMPUAN?
Herannya, tokoh psikologi yang muncul ke permukaan begitu banyak laki-laki. Lelaki tidak menjadi feminin ketika ia masuk fakultas psikologi. Banyak dosen lelaki kami yang tetap maskulin. Mereka hanya terlihat lebih mampu mengendalikan diri.
Untuk perempuan, psikologi sangat cocok digeluti. Bukan hanya sebagai ilmu yang dipakai untuk menterapi diri pribadi, tetapi juga untuk anak, suami, keluarga, masyarakat, pendidik dan seterusnya.

KAMPUSKU, UNTAG
Rasanya bersyukur sekali bahwa Allah SWT memperjalankan aku kemari.
Banyak hal positif kutemukan, ilmu baru yang membuatku lebih mawas diri.
Untag terletak di Semolowaru 45 Surabaya, 15 menit dari rumahku. Kampusku sederhana, dengan uang SPP perbulan yang terjangkau. Beberapa tampilan fisik mulai berubah mulai taman yang diperindah, bangunan-bangunan di tepi jalan seperti toko buku, gerai PMI, bank Jatim, Pos, klinik juga ministore. Di toko buku, aku senang sekali melihat-lihat kumpulan jurnal psikologi yang dijual Rp. 50,000per judul/ volume. Sesekali kalau ada uang aku membeli sebagai tambahan pengetahuan.
Beberapa kali aku mewakili kampus mengikuti Psychodebate, dan lolos ke putaran berikutnya meski belum sampai babak final. Di Psychodebate kami diminta mengupas masalah yang sedang berkembang seperti PSK, homeschooling, videogame, dll.
Ada kantin di belakang kampus yang menjadi tempat rehat buat kami kalau lapar saat kuliah hingga siang, atau harus mengejar urusan praktikum.
Ada masjid Baitul Fikri di sebelah parkiran yang menjadi tempat rehat dan sholat magrib saat harus kuliah malam.
Ada lab. psikologi tempat kami berlatih menguasai bermacam alat psikodiagnostik, tempat kami melakukan roleplay, mengetes testee, berdiskusi dengan para asistan lab hingga malam.
Ada para dosen tempat kami terkadang curhat masalah pribadi dan mereka mendengarkan penuh perhatian.

Sekarang, aku berada di semester VII, baru saja menyelesaikan KKN.
Rasanya waktu berlalu begitu cepat, masih banyak yang ingin kupelajari dan kunikmati di kampus. Apapun itu, aku merasa sedih harus memikirkan bahwa sebentar lagi harus meninggalkan Untag, meninggalkan dosen-dosen yang kucintai. Tetapi hidup tak berhenti di masa lalu, tak menetap di masa sekarang. Hidup melangkah ke masa depan.

But time growing old, teaches all things ~ Aeschylus
Lost time is never found again ~ Benyamin Franklin

Sinta Yudisia
Fak. Psikologi Univ. 17 Agustus 1945, Surabaya

Kategori
Catatan Perjalanan Kuliah Psikologi UNTAG, My Campus

Minta doa dari semua untuk UTS 16 November

Alhamdulillah acara silaturrahim FLP Jatim dengan Cabang & Ranting kemarin, Sabtu 7 November, berjalan baik. Minta doa, tanggal 16 November mau UTS, semoga Ilmu yang berhasil diserap maksimal, dapat ditularkan kepada orang lain, dapat diaplikasikan. Doakan nilai mbak excellent.

 

Sekalin minta maaf jika pekerjaan mengedit dan membantu adik2 FLP untuk membaca naskah jadi tertunda ba’da ujian ya…