Kategori
Artikel/Opini Catatan Jumat Pernikahan PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Suami Istri WRITING. SHARING.

Bagaimana Jika Suami Memiliki 99% Otak Kiri ?

Ini sebetulnya sebuah metafora aja, ya. Karena nggak  mungkin secara fisik otak manusia kiri semua. Pastilah separuh-separuh; kanan dan kiri. Tetapi secara psikis, bisa saja otak lelaki didominasi left brain. Sangat taktikal, mekanik, teknikal. Dan ini saya temui dalam cukup banyak kasus. Jujur, saya justru banyak belajar dari para klien. Kenapa? Sebab merekalah yang langsung berjuang dan mencoba teori-teori yang saya pelajari di bangku kuliah dan pelatihan.

Ilustrasi otak kanan & otak kiri

Contoh kasus 1

Suami istri yang puluhan tahun menikah, sebagian besar anaknya kuliah. Selama menikah, si istri nyaris sama sekali nggak pernah mencuci baju dan memasak! Suaminyalah yang memandikan anak-anak, belanja ke pasar, memasak, mencuci, menjemur bahkan menyeterika! Padahal suaminya seorang pekerja. Ck-ck-ck. Denger ini saya heran sendiri. Ada ya jenis lelaki dan suami yang seperti ini? Trus apa tugas istrinya?

“Kata suami, saya disuruh mendidik anak sebaik-baiknya. Kata suami, mendidik anak itu nggak gampang. Pasti capek.”

Hm, baiklah. Ada quote suami istri paruh baya ini yang luarbiasa bagi saya. Si suami bilang, “lelaki itu harus banyak mengalah, tetapi jangan sampai istri menginjak-injaknya.” Masyaallah.

Contoh kasus 2

Suami istri yang terlihat garing hubungannya. Suami nyaris nggak pernah bersikap romantis pada istri. Boro-boro mengelus. Bilang sayang aja nyaris kagak pernah. Tapi si suami ini menjamin semua kebutuhan istri dan anak-anaknya. Bahkan semenjak anak mereka masih bayi-bayi, suamilah yang mengganti popok. Menggendong tengah malam hingga si bayi tertidur lagi. Kecuali jika si bayi mau menyusu.

Suami yang garing ini, membuat istri sangat tertekan. Sepanjang mereka menikah hampir tak ada sentuhan romansa. Singkat cerita, mereka ingin berpisah.

Clue

Melihat para suami seperti ini, awalnya kesal banget. Apa sih susahnya bilang cinta? Bilang sayang? Tinggal bilang, “Dek, aku cinta kamu.”

Atau whatsapp gitu. Kirim-kirim pesan love. Atau telpon sesekali dan bilang, “Say, aku kangen kamu lho.” Gak butuh waktu lebih dari 30 detik, kan? Cuma tinggal pembiasaan aja. Lalu, terjadi hal-hal yang membuat saya perlu merenungkan hal yang sepertinya gampang itu. Salah satunya, lewat tes kepribadian yang biasanya saya tawarkan kepada klien supaya kami sama-sama tahu profil kepribadian dan hal tersebut menjadi rekam jejak untuk langkah selanjutnya.

Para lelaki ini, yang sulit dan garing menyatakan cinta, memiliki gambar-gambar khas dalam tes proyektif. Ketika saya menyaksikan gambar-gambar tersebut, pelan-pelan menskoringnya, merumuskan grafik psikologisnya, mengklasifikasikan dan menginterpretasikannya ; masyaallah. Ada sesuatu yang menjadi pembelajaran luarbiasa.

Lelaki-lelaki ini begitu mekanik. Taktis. Teknikal praktis.

Ibaratnya, semua belahan otaknya berisi pertimbangan logis dan matematis. Atau, kalau kita pernah menonton film I Robot dan Elysium, lelaki ini seperti robot yang diprogram dengan desain tertentu. Diinsert dengan data tertentu. Softwarenya berisi file-file yang sudah baku dari pabriknya. Dengan kata lain, yang mereka pikirkan adalah : bagaimana anak istriku bisa nyaman. Bagaimana anak-anak bisa sekolah di tempat terbaik. Bagaimana bisa membelikan rumah dan kendaraan layak untuk istri. Bagaimana keuangan keluarga tak morat marit. Bagaimana harus menambah sumber pemasukan bila memang masih kurang. Matematis. Logis. Tipe manusia seperti ini benar-benar kalkulatif. Kalau merasa tak penting tak akan dilakukan. Kalau merasa tak salah tak akan minta maaf. Padahal istri ingin sekali sesekali suaminya mengaku salah (meski gak jelas apa kesalahannya).

Tetapi para lelaki dengan 99% otak kiri dan program robot ini bukannya tak punya perasaan. Mereka bisa menangis. Mereka bisa hancur. Mereka bisa tampak tak berdaya di depan konselor, tampak luluh  lantak dan bertanya-tanya : “apa yang harus saya perbuat lagi buat istri saya?”

Melihat gambar-gambar proyektif mereka, pemikiran dan perasaan saya seperti di-reset ulang. Ya, mungkin ini para lelaki yang demikian garing dan keras, lantaran sepanjang hidupnya di masa lalu dibesarkan oleh keluarga yang prihatin. Orangtua menyuruhnya untuk mandiri sejak belia, kalau bisa ikut menanggung beban adik-adiknya. Ya, setelah dilacak, nyaris tak sejenakpun para lelaki ini sejak masa tumbuh kembangnya merasakan dunia yang berbunga-bunga. Mereka kerja keras di masa sekolah, kerja keras di rumah membantu orangtua, kerja keras di tempat kerja.

Softwarenya sudah berisi file yang maskulin dan serba lelaki.

Lingkungan dan pengalaman bertambah-tambah membentuknya jadi semakin otak kiri.

Tetiba, saya mulai berpikir bahwa para lelaki dengan 99% otak kiri ini justru memiliki sisi hidup yang juga merana nan garing. Dan mereka juga menantikan sentuhan tangan para bidadari di sisinya.

Seseorang Harus Memulai

Jadi, suami yang harus berubah?

Atau istri?

Selalu ada cara untuk mencari pembenaran.

“Kalau suami sudah mencoba romantic, istri akan luluh,” kata perempuan.

“Kalau istri minta maaf, suami akan mencair,” kata lelaki.

Well, saya gak ingin memperpanjang alasan-alasan. Nanti akan seperti pertanyaan : lebih dulu ayam atau telur? Lebih baik, kita berangkat dari data yang ada. Dan mencoba menganalisa fakta.

Saya hanya bilang, kurang lebih.

“Mbak, pasti tertekan ya punya suami keras seperti itu.”

Sang istri menangis berlinang air mata.

“Kalau opsi berpisah memang jadi jalan keluar, okelah. Tapi kita perlu kumpulkan informasi sebanyak-banyaknya agar tak ada sesal.”

Si istri terdiam.

“Saya cuma mau nanya, kalau nanti berpisah, kira-kira Mbak akan dapatkan lagi nggak jenis suami yang seperti dia? Yang kalau malam ngurusi anak-anak, mengantar jemput anak istri kemanapun, menemani Mbak pergi kemanapun Mbak mau diantar? “

Si istri tertegun. Meremas tissue. Merenung lama. Dan airmatanya tumpah ruah. Wajahnya tampak galau.

“Sebetulnya…harus saya akui. Suami saya baiiiik sekali. Sangat baik. Hanya saja ia begitu keras dan kasar.”

Saya lega mendengarnya. Lega bahwa ia bisa menemukan kebaikan suaminya.

“Saya juga nggak tau apakah kalau pisah bisa ketemu lagi laki-laki seperti dia.”

Demikianlah.

Ketika menyadari bahwa suami mirip robot atau manusia 99% otak kiri; setidaknya seorang istri memahami bahwa suaminya memang tipologi orang yang tidak suka mengumbar romansa. Tidak suka mengumbar kata-kata dan janji. Bahkan tak akan mengucapkan sesuatu yang dia tak akan bisa tepati. Sangat matematis dan logis. Gak ada manis-manisnya (beda dengan iklan air mineral : kayak ada manis-manisnya hehe).

Tetapi, siapa tahu ternyata Allah memang menciptakan lelaki ala ‘robot’ macam itu. Kenapa? Supaya ada tangan-tangan bidadari yang akan memeluk suami, menyentuhnya lebih dulu, membisikkan kata mesra. Pra istri yang akan meng-insert file kehangatan dan keceriaan dalam kehidupan suami yang garing karena tempaan hidup. Siapa tahu, dominasi left brain itu akan menurun tak lagi 99%. Memang tak akan langsung drastis berubah.

File kehangatan itu bisa dimulai dari kata-kata lembut dan kalimat mesra. Para istri yang didominasi perasaan dapat memulainya lebih dulu. Yakinlah, bahwa ciptaan Allah tak ada yang salah. Manusia –dalam hal ini istri- yang mendapat tugas untuk membentuk lelaki robot itu menjadi lebih humanis dan manusiawi.

Kategori
Cinta & Love Oase Pernikahan Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Suami Istri WRITING. SHARING.

Salah Paham dengan Pasangan ( bag. 1)

Pernah nggak sih menangkap pesan yang berbeda dari apa yang dilontarkan suami/istri?

“Adek di rumah ngapain?”

Itu pertanyaan singkat suami ketika sore pulang ke rumah.

Pertanyaan yang membuat airmata meloncat dan menjawab panjang lebar :

marriage-relationships-couple-marriages-married_couple-miscommunication-spelling_error-bwhn1956_low.jpg
Marriage error-relationship

“Aku tuh belum sempat seharian istirahat sama sekali! Cucian baju masih numpuk-numpuk karena beberapa hari banyak acara. Setrikaan gak ada yang urus. Mau ke laundry gak sempat. Belum lagi cucian piring! Kenapa nggak masak? Itu rice cooker bahkan masih direndam! Coba deh, Mas kalau akhir pekan sekali-kali di rumah. Ngerasain apa yang aku rasakan. Jangan main bola, keluar sama teman-teman. Nanti akan merasakan beratnya ngerjakan semua pekerjaan rumah. Enak kalau ke kantor, masih sempat duduk , buka facebook, minum kopi!”

Suami melongo, mencoba sabar. Meski jengkel keluar juga pertanyaan, “kan aku tadi cuma nanya : adek di rumah ngapain? Lha kok…?!”

Setelah mengusap airmata, menarik nafas panjang, menenangkan diri.

Barulah pikiran perempuan bekerja.

Lha iya, sih. Tadi suami kan cuma nanya : di rumah ngapain?

 

Indera dan Persepsi

Panca indera itu pintu masuknya persepsi alias pemikiran, pertimbangan, kesimpulan, sudut pandang, cara pandang. Informasi yang masuk lewat indera akan diolah otak dulu. Kalau otak perempuan lagi capek, ya gitu deh.

Pertanyaan suami : “Adek di rumah lagi ngapain?”

Kedengarannya  : ”adek di rumah ngapain aja sih? Kok seharian urusan ruang tamu sampai dapur gak beres-beres. Di kantorku ada banyak perempuan bekerja yang sambil ngasuh anak, urus suami juga. Mereka bisa tuh bagi waktu. Adek seharian di rumah tapi nggak ada makanan, cucian piring dan baju numpuk nggak karuan.”

Padahal belum tentu ini yang ada di pikiran suami!

Begitupun, suami bisa melakukan kesalahan yang sama.

Ketika istri nanya, “Mas, pegang HPnya masih lama?”

Karena pikiran suami lagi jutek, eneg, empet dengan banyak agenda; jawaban yang keluar adalah : “Aku tuh lagi rapat online, Dek. Aku nggak pernah ganggu lho kalau kamu pegang HP. Aku ngertiin kamu lho kalau kamu lagi buka medsos! Lagian aku nggak sering-sering kayak gini. Lebih seringan kamu!”

conversation false.png
False communication

Nah!

Istri pun senewen.

Nanya 1 kalimat. Jawabannya 5 kalimat! Kalimat negatif lagi.

Kalau soal matematika kayak penjumlahan, perkalian, pangkat , eksponen!

Padahal kalau situasi adem, atau orang luar yang kayak lihat sinetron ini paling-paling bilang : harusnya dijawab gini yaaa, Bapak Ibu Terhormat .

+ Suami : “Adek, di rumah ngapain?”

~ Istri : “Seharian tidur. Aku capek banget beberapa hari ini. Beli makan di luar aja ya. Rasanya badanku udah mulai meriang, panas dingin , mau sakit.”

+Suami (jatuh iba) : “Ya ampun…kamu kasihan banget. Udah kubelikan, mau makan apa?”

Itu bayangan penonton!

Atau seharusnya demikian…

~ Istri : “Mas, pegang HPnya masih lama?”

+Suami : “Bentar lagi. 2 menit lagi. Habis itu kutaruh. Aku juga kangen kamu.”

Jiaaah.

#gombal

 

Tapi begitulah hidup.

Mau tahu gimana mengatasi kendala komunikasi.

couple misunderstanding.jpg
Misunderstanding

Pertama

Penonton selalu lebih pintar dari pemain.

Menilai suami istri yang lagi bertikai lebih mudah, daripada kita menjalani pertengkaran itu sendiri. Ih, harusnya si istri sabar sedikit, kek. Atau : dasar lelaki! Maunya menang sendiri.

Demikianlah yang namanya komunikasi. Pasti ada salah-salahnya. Pasti ada buntu-buntunya. Pasti ada sumbatan-sumbatannya. Dan yang paling bisa melihat korelasi itu semua biasanya penonton. Penonton bisa jadi orangtua, kakak adik, teman, konselor dan seterusnya.

Kenapa penonton lebih  pintar?

Karena melihat gambaran utuh.

Kalau dengar suami istri bertengkar, kita seperti melihat televisi. Tayangan slide maju mundur. Dan kita bisa menilai : Naah, ini ini bagian kalimat yang buat suami tersinggung. Ini bagian gesture suami yang buat istri marah.

Tapi pemain, pelakon? Belum tentu.

Karena dia tidak mendapatkan gambaran utuh informasi.

Makanya jawabannya pun tidak tepat. Nilainya separo/ gak komplit/ malah negatif, alias jawaban yang cacat.

 

Suami : “Adek di rumah ngapain?”

Si istri hanya melihat sekilas bayangan suami yang keningnya berkernyit, dahinya berkerut, wajahnya penuh tanya. Seolah suami mempertanyakan keseluruhan aktivitasnya. Padahal suaminya barangkali sedang menumpahkan perhatian : ngapain aja Say seharian di rumah? Aku ingin tahu aktivitasmu lho selama kutinggal dari pagi sampai sore.

Begitu juga istri ketika bertanya HP.

“Mas, masih lama pegang HP?”

Wajah istri yang bertanya-tanya ingin tahu seolah interview, interpretasi, lebih parah interogasi! Padahal bisa aja sebetulnya –andai dijabarkan- si istri akan menambahkan : “Kalau masih lama ku tinggal dulu aja. Aku ngurusi setrikaan bentar. Nanti kalau udah gak pegang HP, barulah kutemani makan sembari ngobrol-ngobrol.”

 

#senikomunikasi

#pasangan

#suamiistri

Kategori
Hikmah Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Suami Istri WRITING. SHARING.

Cocokkah Orang Pintar Mendapat  Pasangan yang (Kurang) Pintar?

Anna (samaran),  terdorong rasa ingin tahu,  menjelang  menikah iseng mengajak calon suaminya mengikuti tes inteligensi. Hasilnya mengejutkan : calon suaminya memiliki skor IQ jauh di bawahnya. Mungkin penyebab yang terlalu mengada-ada, tetapi Anna benar-benar membatalkan pernikahan dencan calon suaminya.

Ia seketika gelisah dan terintimidasi, saat tahu kalau calon suaminya kurang pintar. Yah, begitulah kira-kira. Bagaimana nanti di tengah perjalanan? Bagaimana kalau suaminya lemot, dan Anna yang harus mengambil posisi memimpin untuk memutuskan perkara-perkara penting? Benar nggak sih, kalau orang pintar seharusnya nikah dengan orang yang sama pintarnya?

Dengan kata lain, kalau si cowok nilai raportnya rata-rata 9, berarti si cewek setidaknya punya nilai rata-rata yagn sama. Yah, 8 lah nilai reratanya. Kalau 6-7 masih kurang. Apalagi kalau di bawah 5! Begitupun sebaliknya. Kalau cewek selalu dapat nilai A atau A/B, dapat beasiswa ini itu, brillian di kampus dan organisasi; setidaknya dapat cowok yang sepadan juga, kan?

einstein and maric.jpg
Einstein & Maric

Albert Einstein & Mileva Maric

Hampir semua orang tahu Einstein dengan E = mc2 yang sering diplesetkan energy = makan cemal cemil, hehe. Di balik kesuksesan seorang pria, ada perempuan yang mendukungnya dari belakang : ibu dan istri. Ibu Einstein luarbiasa hebatnya, tentu tak terbantahkan. Masalahnya : apakah istri Einstein secerdas dirinya?

Jawabannya, ya.

Mileva Maric memiliki kegeniusan yang sama dengan Einstein. Bahkan surat cinta mereka ditulis dengan bahasa-bahasa kimia-fisika yang orang awam tak akan mengerti.

Awalnya, Einstein menjalin cinta dengan Marie Winteler yang cantik dan manja. Tetapi, lambat laun ia menjadi bosan karena surat menyurat mereka hanya berisi hal-hal melankolis dramatis. Einstein jatuh cinta pada seorang gadis pintar, dengan tubuh pincang, wajah tak terlalu cantik namun memiliki pesona. Mau tahu isi surat Mileva Maric kepada Einstein yang membius?

 

“Kuliah Profesor Lenard kemarin betul-betul bagus. Ia membahas teori kinetic panas dan gas. Ternyata, molekul oksigen bergerak dengan kecepatan lebih dari 400 meter per detik lalu professor yang baik itu menghitung dan menghitung… dan akhirnya keluar hasil walaupun molekul memang bergerak dengan kecepatan tersebut, tetapi ia hanya bergerak sejauh 1/100 lebar rambut.”

Surat menyurat keduanya bukan hanya membahas permasalahan pribadi tetapi juga penemuan ilmiah. Ya, mereka akhirnya menikah dan dikaruniai 2 orang anak : Hans Albert dan Eduard.Bahagia selamanya? Ternyata, cerita  tidaklah berakhir bahagia.

 

 

Permasalahan Si Orang Pintar

Einstein sangat cerdas dan, memiliki karisma alpha male yang luarbiasa. Wajahnya juga amat tampan dengan pesona yang mampu menaklukan hati para gadis. Mileva Maric sebaliknya. Tetapi bukan masalah penampilan yang menjadi sebab keretakan keduanya. Ketika karir Einstein melesat sementara Maric disibukkan dengan dua bocah lelaki; Maric mulai berontak. Bukankah mereka sama-sama bintang di Politeknik Zurich? Bukankah mereka sama-sama peneliti sains yang ambisius pada pencapaian?

Seenaknya, tak cukup memiliki sopan santun, punya konflik dengan rekan peneliti, menggila ketika kerja, tak mudah diatur; adalah jejak yang sama-sama dimiliki Einstein dan Maric. Pasangan seperti ini tampak sangat mencintai dan kompak pada awalnya, di satu titik, ternyata mereka tak dapat saling melengkapi.

Einstein berpisah pada akhirnya dengan Maric. Ia mencintai Mileva tetapi juga sangat kejam padanya. Kadang, kecerdasan seseorang sering berbanding terbalik dengan sifat empati. Maka tak heran, orang cerdas seringkali digambarkan tak punya hati, karena ia lebih sibuk berbicara dengan apa yang lalu lalang di benak.

Einstein punya catatan perjanjian dengan sang istri :

  1. Kamu akan memastikan pakaianku dicuci dan dibereskan.
  2. Kamu akan memastikan bahwa aku makan 3x teratur di kamar tidurku
  3. Kamu akan memastikan bahwa kamar tidur & kamar kerjaku selalu dirapikan, meja kerja hanya boleh digunakan olehku,

Setidaknya ada 9 poin yang diajukan Einstein kepada istrinya! Bahkan, si ilmuwan menekankan si istri tak boleh meminta keintiman atau hal-hal mesra lainnya.

 

 

kasturba & gandhi.jpg
Kasturba & Gandhi

Mahathma Gandhi & Kasturba

Kasturba adalah seorang perempuan sederhana. Perempuan rumahan yang tak pernah memiliki karir di luar rumah. Ia pandai memasak dan menenun. Sekilas, sosok sepertinya tak cukup pantas bagi lelaki yang sukses berprofesi sebagai pengacara di afrika Selatan : Gandhi. Sama seperti Einstein, Gandhi sangat cerdas dan memiliki karisma alpha male : ia tampan dan memikat.

Berbeda dengan Mileva Maric yang tak mampu mengimbangi langkah Einstein, Kasturba justru sebaliknya.Ialah pendukung Satyagraha & Ahimsa yang dicanangkan Gandhi.

Ketika Gandhi mewacanakan menenun kain sendiri, Kasturba yang pertama kali mengikutinya. Ketika Gandhi meminta Kasturba meninggalkan sendok garpu dan mengosek kamar mandi sendiri –sesuatu yang bertentangan dengan kasta mereka- Kasturba menurut patuh.

Kasturba memang tak memiliki kapasitas seperti Mileva Maric yang sangat cerdas dan mampu mengimbangi segala pemikiran intelektual suaminya. Kasturba mungkin tak mengerti mengapa sang suami meninggalkan kehidupan mapan dan memilih berjuang di India.

Satu yang dilakukan Kasturba : patuh.

Ledakan pemikiran, kekuatan semangat, kekeraskepalaan, sikap tak mau tunduk yang umumnya ada di perilaku orang-orang pintar; ternyata dapat diimbangi oleh Kasturba yang sederhana. Boleh jadi ia bukan perempuan brillian, tetapi jelas ia perempuan yang tepat.

 

IQ = Kematangan Kepribadian?

Siapa sih yang tidak ingin punya suami pintar? Siapa yang tidak bangga punya istri cerdas?

Setiap individu rasanya ingin punya pasangan yang dapat dibanggakan kepada orangtua, khalayak, teman-teman. Terkadang, keinginan itu menjadi sesuatu yang sifatnya lahiriah belaka tanpa melihat makna. Yang penting punya suami lulusan S2, dari universitas ternama. Yang penting punya istri dokter atau dosen. Keinginan itu tidaklah salah tetapi harus siap pula konsekuensinya.

Punya suami/istri super pintar akan menghadapi kendala seperti Maric/ Einstein. Orang pintar cenderung tak dapat dibantah dan suka seenaknya sendiri. Mereka kadang juga asosial, tak banyak punya teman, lebih suka bergulat dengan kecamuk pikiran sendiri. Pasangan hidup harus pandai-pandai menjelaskan ke keluarga. Einstein, selalu beperang dengan ayah ibunya ketika menjelaskan sikap Maric yang seringkali tidak manis kepada keluarga besarnya.

Bukan berarti bahwa orang pintar dilarang menikah dengan orang yang juga pintar, lho!

Ada kok dokter spesialis yang berjodoh dengan dokter spesialis, professor dengan professor, politikus dengan politikus, pengusaha dengan pengusaha. Tapi tidak semuanya demikian.

High IQ.png
High IQ

Sikap Anna di awal cerita tidaklah tepat. Memangnya orang IQ 130 harus menikah dengan yang IQ nya 130? Bisa-bisa nggak ada yang mau jadi makmum dan rakyat dalam rumah tangga kalau begitu!

Seorang yang super aktif di kampus dan peraih banyak beasiswa, tak harus mencari orang yang memiliki riwayat hidup sama. Boleh jadi, seorang lelaki yang sangat brilian di akademis, justru cocok dengan gadis yang biasa-biasa pencapaiannya tetapi memiliki sifat rendah hati, mengalah, sederhana dan tidak terlalu menonjol dalam akademis.

Begitupun sebaliknya.

Seorang gadis yang sangat berprestasi tidak harus menikah dengan lelaki yang memiliki segudang penghargaan dan medali. Mungkin, ia justru harus menikah dengan seorang lelaki sederhana yang akan menge-rem segala ambisinya.

IQ tidak segaris lurus dengan kematangan kepribadian. Terkadang, orang berIQ tinggi justru memiliki kemanjaan luarbiasa sehingga pasangannya harus ngemong sepanjang masa! Boleh jadi, yang memiliki IQ hanya rata-rata saja ternyata memiliki pribadi dewasa dan matang. Ia memang agak lambat memutuskan karena harus berpikir dua tiga kali sebelum memutuskan, karirnya pun tak bagus-bagus amat; tetapi ia adalah pendamping setia yang penuh cinta.

Nah, pasangan mana pilihan anda?

Tokoh tenar dengan IQ tinggi (kiri-kanan) :

 Habibie 200, Matt Damon 160, Rap Mon BTS 148, Natalie Portman 140

 

 

 

Kategori
Buku Sinta Yudisia Cinta & Love Nonfiksi Sinta Yudisia Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Seksologi Islami

Seksologi Pernikahan Islami

Siapa yang bisa diajak bicara terkait seks? Suami? Orangtua? Kakak/adik? Teman? Atau justru lihat YouTube, cari info dari film macam Fifty Shades of Grey. Mungkin juga, buka situs-situs  yang dirasa informatif.
Seks adalah bagian dari hubungan suami-istri yang melibatkan banyak aspek. Bukan hanya fisik tetapi juga emosi, moral, tanggung jawab.
cover seksologi islami biru
Sayangnya, seks semakin kehilangan kualitasnya sebagai dari ibadah yang mulia.
Seks tidak lagi dilakukan dalam ikatan pernikahan atau dilakukan dengan cara semestinya.
Kalaupun dilakukan dengan pasangan sah; semakin pudar pula sebagai bagian dari pleasure principle. Bisa jadi karena kelelahan, hilangnya cinta, atau salah satu pihak mengalami  personality disorder, sexual abuse di masa lalu, adiksi pornografi atau bahkan menderita sex & love addiction sehingga berkali-kali melakukan affair hingga pasangan sah tidak lagi dapat melakukan hubungan intim.
Selain pendekatan agama dan ilmiah, buku ini dilengkapi penjelasan psikologis tentang bagaimana mengatasi berbagai kendala dalam pernikahan terkait seks.
ilustrasi seksologi
Craving Seksologi.JPG
daftar isi seksologi
Buku ini dikemas dengan warna biru tosca yang cantik, sampul hardcover,   lay out & ilustrasi menarik hingga tak bosan membaca. Tersaji dalam 314 halaman.
Harga: Rp. 135.000 (belum ongkir).
Pembelian jumlah tertentu dan reseller dapat diskon menarik.
☎📞Kontak
Vidi 0878-5153-2589
Arina 0815-4513-7523
————–
Rekening :
Mandiri 142-00-1673-5556
Bank Syariah Mandiri (BSM) 7070968597
BRI 0101-01-009291-50-9
Semua a.n Sinta Yudisia Wisudanti
————-
Pemesanan bit.ly/Seksologi

 

❤💐🌸🌺🍥💐🌺🌸❤
Kategori
Buku Sinta Yudisia Cinta & Love Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Suami Istri WRITING. SHARING.

Seks : Tempatkanlah di Posisi Mulia (catatan singkat buku Seksologi Pernikahan Islami)

 

Pernah baca Cadas Tanios atau Lady of Camellias?

Dua buku lawas yang ditulis para dedengkot sastra itu menggambarkan bahwa ketika membahas hubungan intim, bahasa kiasan alias bahasa metafora dapat digunakan. Bukan sekedar keindahan sastra penuh makna yang didapat, tetapi juga pembaca mendapatkan sebuah skema di benak : seks memang tidak perlu diungkapkan secara vulgar, tetapi justru segala sarana keluhuran, kemuliaan, keindahan mengiringi.

Padahal, Cadas Tanios bicara perselingkuhan. Lady of Camellias bicara pelacuran.

Di zaman dahulu, orang tak perlu ‘ganas’ ketika membahas seks. Hubungan Lamia dengan kekasihnya dalam Cadas Tanios, cukup diceritakan bahwa kekasihnya menyuapkan sebutir anggur, cahaya musim panas masuk ke ruangan dari celah-celah jendela dan mereka berdua tertawa menikmatinya. Margeurite dalam Lady of Camellias cukup dikisahkan naik ke lantai dua, menemui tamunya salah satu Count terkemuka, mereka masuk kamar dan mematikan lampu.

Apa yang kita pelajari?

Seks adalah perilaku yang harus dilakukan dalam ruang tertutup, dijaga dari dunia sekeliling yang serba ingin tahu dan mengintip, dibahas dengan bahasa sandi yang cukup dapat dirasakan oleh hati dan dapat dipahami pikiran. Seks tidak harus dipertontonkan hingga mata melihat jelas dan telinga mendengar jelas pula.

Bagaimana sekarang?

Pembahasan seks ada di warung-warung internet lewat video game, di film-film, bahkan dalam iklan-iklan. Informasi seks tidak lagi disampaikan oleh pemuka agama, sastrawan, ilmuwan atau orang yang lebih tua; tapi semua orang bisa menyampaikan dengan gaya masing-masing. Akibatnya, informasi tentang seks yang didapatkan bukan saja jauh dari kebenaran, bahkan seringkali membawa informasi menyimpang. Seks bisa dilakukan dimana saja, kapan saja, dengan siapa saja. Yang penting pleasure principle tercapai. Toh itu kebutuhan asasi makhluk hidup dewasa.

Cover PO SENI

Seks : Darimana Memulai

Membahas sesuatu –segala hal- dimulai dari kognisi dan value/beliefs. Kognisi melibatkan informasi, pengetahuan, pemahaman yang dasar. Tetapi ilmu harus didasari nilai. Ilmu tanpa nilai, akan menghasilkan kebenaran semu.

Misal,

Makhluk hidup butuh makan. Setiap hari harus makan. Ini premis yang benar. Tetapi makan bisa menjadi ibadah, bila didasarkan value/beliefs. Memakan makanan halal dapat menjadi proses panjang mulai mencari nafkah halal baik oleh suami atau istri, membelanjakannya dengan tepat, memilih dan memilah, memasaknya, sampai menyajikannya di meja makan, menyuapinya ke mulut anak-anak atau memasukkannya ke mulut sendiri.

Begitupun hubungan seksual.

Pleasure principle ini bisa menjadi pintu keridhoanNya atau malah menjadi pintu kemurkaanNya. Hubungan intim dapat menjadi pintu keberkahan bila dimulai dari pintu pernikahan, bagaimana mencari ilmu terkait hubungan seksual dan bagaimana mengaplikasikannya menjadi perilaku positif yang mendapatkan keberkahan.

Mudahkah?

Panduan dari Quran dan Hadits begitu banyaknya, tetapi pelaksanaannya butuh pemahaman dan pelaksanaan yang bertingkat-tingkat.

Hadits Rasulullah Saw yang intinya “janganlah menolak ajakan suami meski di atas punggung unta,” secara kognitif mudah dipahami. Tetapi secara perilaku? Bagaimana ketika istri menolak karena kelelahan, trauma masa lalu (sexual abuse dll), memiliki gangguan kepribadian atau bahkan merasa enggan karena tidak mencintai suami? Bagaimana pula ketika sebaliknya, suami yang tak punya hasrat pada istri karena pengaruh pornografi, infidelity, lelahnya pekerjaan atau bahkan memang sudah tak punya hasrat lagi?

Semoga buku ini dapat menjadi panduan bagi yang sedang mencari-cari jawaban terkait masalah seksual. Penulis berusaha menggunakan bahasa ilmiah ketika harus menjelaskan tentang hubungan intim, seperti menggunakan istilah sexual intercourse. Perilaku-perilaku seksual yang perlu kita pelajari bersama seperti cinta sejenis, BDSM, oral sex pun dibahas di sini.

 

 

Para istri yang risih karena suami pegang-pegang terus, semoga mendapatkan solusi.

Para suami yang kecewa karena istri selalu bilang ‘tidak’, semoga mendapatkan solusi.

Para remaja yang mungkin ingin tahu seperti apa kehidupan seksual, semoga bisa belajar.

Jangan khawatir, buku ini insyaallah tidak membosankan. Banyak ilustrasi menarik dan yang harus penulis puji, lay outnya keren!

 

Kategori
Cinta & Love Oase Pernikahan PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Suami Istri

Pisah Kebo (VS Kumpul Kebo) , baikkah?

 

Kumpul kebo? Pasti pernah dengar ya.

Rerata kita yang masih lekat dengan kultur timur nggak akan setuju. Apalagi yang lekat dengan kultur religius. Kumpul kebo artinya hidup serumah, tanpa ikatan pernikahan sah. Kenapa kumpul kebo, bukannya kumpul kucing, kumpul ayam, kumpul kodok; saya nggak tahu. Intinya, kumpul kebo sudah hidup seatap bak suami istri yang sesungguhnya. Makan tidur bareng, tapi tidak ada buku nikah. Tidak ada ijab qabul. Tidak ada saksi, penghulu, pun tentunya tidak ada komitmen. Bubar ya bubar aja.

Lalu apa kumpul kebo?

Apakah itu versi lawan dari kumpul kebo?

kerbau
Pisah kerbau

Makna pisah kebo dalam tradisi lama

“Pisah kebo” artinya hidup tidak serumah, meski masih suami istri. Penyebab pisah rumah, atau setidaknya pisah ranjang, adalah karena pertikaian, perselisihan, adanya ketidaksepahaman. Tetapi, di sini suami belum menjatuhkan talaknya. Belum terlontar kata-kata ‘cerai’ dari mulutnya atau perkataan serupa.

Pisah kebo di sini memiliki tujuan positif dan membangun.

Suami istri yang sedang tegang berat, harus dipisah. Ya, bagaikan minyak sama air. Kutub utara selatan. Balon dan jarum. Jerawat dan ujung jari jemari. Kalau ketemu, mungkin akan saling pencet , saling sikat sampai meletus salah satunya. Kalau nggak ada yang jedorrrr; kayak belum manteb.  Pernah kan lihat suami istri kayak gini?

“Aku mau ngomong, Mas!”

“Ya udah aku dengerin!”

“Mas itu emang gak perhatian. Aku ngomong cuma diem. Aku ngomel cuma muka masem. Aku maunya Mas ngomong, kita diskusi!”

Suami yang udah nggak tahan dengar omelan, maunya langsung cabut. Tapi istrinya nggak membolehkan suami kemana-mana. Pokoknya suaminya harus dengar, sampai salah satu meledak. Entah suami meledak karena nggak tahan kuping, atau istri meledak nggak tahan lihat suami diamnya keterlaluan.

Situasi yang serba salah dan tidak menentu ini, karena tiap kali bahasan mesti panas, kadang bisa diselesaikan dengan “pisah kebo”.

 

Kemana perginya kalau pisah kebo?

separation.jpg
Separation for a moment

Lagi ke rumah orangtua?

Nginap di hotel?

Curhat ke saudara?

Oho, tunggu dulu.

Ada beberapa pisah kebo yang sukses membuat suami dan istri mesra kembali, lebih lengket dari alas sepatu yang nginjak permen karet.

  1. Sebut Romi dan Suci (samaran) . Kebetulan, cek cok terus. Nggak pernah ada kata temu karena memang berbeda latar belakang, berbeda persepsi dan gaya komunikasinya beda banget. Si suami pintar dan kalem, istrinya over ekstravert dan harus dikasih tahu berkali-kali biar ngerti. Jadilah tiap kali ketemu, kayak balon nitrogen ketemu jarum. Jedar. Jeder. Jedor. Sekalem-kalemnya suami, kalau istrinya over cerewet akhirnya panas juga. Situasi rumah yang nggak pernah adem, akhirnya membuat penengah suami istri tersebut mengajukan usulan.

“Kamu harus minggir sebentar ke pesantren!” ujar mediator kepada Suci.

Suci menurut. Dengan seizing suami tentunya, Suci menyepi ke pesantren. Nggak jauh dari kota mereka tinggal, jadi Romi sering nengok si istri.

Eh, setelah pisah kebo seperti ini, timbul rasa sayang. Ternyata kalau jauh, kangen juga ya?

2. Beda Romi dan Suci. Beda pula Awan dan Bintang (samaran). Sama seperti Romi dan Suci, ampun deh dua-duanya. Kali aja tempurung kepala keduanya bukan tersusun dari unsur kalsium, tapi dari besi seperti kepala Magneto. Kerasnya minta ampun. Nggak ada kata ketemu. Kalau sudah marahan, entah di depan anak-anaknya juga berantem. Kan nggak baik kalau begitu, ya?

Untung saja, Bintang bisa pisah kebo sesaat. Kemana dia lari? Ternyata lari ke…rumah orangtua Awan. Bukan ke rumah orangtuanya sendiri lho.

“Kalau aku ke rumah orantuaku, mesti disuruh pisah,” kata Bintang. “Mending aku lari ke rumah mertuaku. Meski tetap aja diomelin, dimarahin, tapi mereka biasanya kasih masukan supaya aku sabar. Aku mau ngalah. Meski aku jengkel karena disuruh sabar; nginap di rumah mertuaku membuat aku merasa harus mempertahankan keutuhan rumah tanggaku. “

 

3. Ada lagi suami macam Tatsuo dan Yong Hae ( kalau ini nama tokoh yang ada di novel Sirius Seoul hehehe). Begitu istri-istri mereka buat masalah, para suami ini memutuskan pisah kebo. Ninggalin istrinya sejenak. Buat ngapain? Kalau Tatsuo ninggalin istrinya buat naik gunung. Kalau Yong Hae ninggalin istrinya buat mancing 2-3 hari. Hihihi…betah banget ya? Para suami ini pisah kebo dengan istrinya, untuk menikahi hobi-hobi mereka yang mungkin sudah lama ditinggalkan. Ada yang naik gunung, mancing, ke toko buku ( kalau ini mah cuma beberapa jam!) dll.

Para suami ini pisah kebo untuk menenangkan diri, mendinginkan pikiran, memuaskan letupan emosi yang disalurkan ke hobi bermanfaat. Kalau pikiran dan hati sudah lapang; kembali ke rumah. Siap-siap diomelin lagi ya, hehehe.

pisah ranjang.jpg
Pisah sementara

 

Baguskah pisah kebo?

Pisah kebo bisa jadi alternative penyelesaian, ketika kedua belah pihak merasa sama-sama benar. Merasa sama-sama nggak mau menurunkan tensi perseteruan. Kadang, pisah kebo bisa dilakukan baik-baik. Artinya, istri minta izin sama suami. Suami minta izin ke istri. Tapi yang kayak gini kayaknya agak susah kalau jujur, ya?

“Mas, aku lagi mangkel banget sama kamu. Izinkan aku ke pesantren ya!”

“Dek, Abang lagi setengah mati sebel sama kamu. Sampai-sampai Abang ingat cewek yang Abang taksir  waktu TK dulu. Izin mancing ya?”

Kayaknya gak bisa deh pakai bahasa jujur kayak gitu.

 

Salah satu pihak harus berkepala dingin, untuk menjalankan aksi pisah kebo.

Suci misalnya bilang, “ Mas, aku pingin belajar fikih deh. Biar ngerti dikit-dikit agama. Tahu sendiri kan, agamaku masih jelek.”

Romi ridho melepas istrinya. Bayangkan kalau Suci terus terang ngomong kalau dia lagi gak pingin ketemu suaminya!

 

Bintang pun demikian.

Izinnya, pingin ngajak anak-anak jenguk kakek neneknya. Padahal sebetulnya ia ingin menghindar sesaat dari suaminya.

Tatsuo dan Yong Hae pun demikian.

“Naik gunung bareng anak mapala,” atau ,”diajakin mancing sekalian reunian bareng teman SMP.”

Saat pisah kebo, para suami atau istri punya kesempatan sesaat menjauh dari akar masalah, pemicu masalah atau penyebab masalah. Dalam kondisi tenang dan menepi ( bukan menyepi, karena bisa jadi tempat yang dituju malah ramai seperti pesantren atau rumah mertua); ada kesempatan untuk menimbang lebih.

Banyak sekali, setelah pisah kebo, suami istri yang menyadari kekurangan diri dan kelebihan masing-masing.

 

Kata Romi, Suci lebih kelihatan tenang dan kalem dari pesantren; begitupun Suci jadi kangen kepada Romi. Awan lebih menghargai Bintang, karena istrinya mau menginap di rumah ibu bapak Awan sekaligus berkesempatan melayani mereka meski sebentar. Ayah ibu Awan senang pula melihat cucu-cucunya. Melihat Bintang mendapatkan dukungan penuh dari ayah ibunya, Awan pun lebih menurunkan tensi.

 

Tatsuo pun demikian.

Naik gunung hanya lihat pohon, rumput, batu; jadi ingat sosok istrinya yang bisa masak.

Yong Hae, setelah berhari-hari bertemu ikan, pun teringat sosok istrinya yang meski nggak bisa masak, selalu menyediakan teh hangat manis. Plus aroma panas omelan.

 

Pisah kebo dengan tujuan merenungi diri, merenungi makna pernikahan, mengingat tujuan hidup sembari menuliskan satu demi satu kebaikan pasangan jiwa; akan membawa kerinduan untuk bersama kembali.

Ah, meski dia galak, keras, terlihat jahat; sesungguhnya gak ada pasangan jiwa yang lebih unggul dari pasangan yang telah Tuhan pilihkan untuk kita.

 

Kunci pisah kebo :

  1. Niat
  2. Pilih tempat yang baik
  3. Pilih rekan/ mediator yang baik

Jangan sampai pisah kebo ke hotel, dengan layanan plus-plus!

——————————-

Sebagian tulisan kusisipkan dalam Seksologi Pernikahan Islami

Cover Seksologi Islami - Ungu

Kategori
Buku Sinta Yudisia Cinta & Love Nonfiksi Sinta Yudisia Oase Perjalanan Menulis

Seksologi Islami (1)

Antara Fatal Attraction dan Unfaithful

(1)

Setiap kali dengar kata seks, apa yang terlintas di benak?

Seronok, erotisme, film X-rated? Rasanya merinding, bulu kuduk berdiri, sebab terlintas adegan-adegan ‘panas’ yang mungkin secara tak sengaja pernah dikonsumsi. Atau tiap kali mendengar kata seks,  justru merasa hal tersebut merupakan  sebuah kata yang punya makna suci dan luhur.

Seksologi Islami! (1) - kecil.png
Utak atik cover pakai Canva 🙂

Seks memiliki makna istimewa dalam Islam, sebab dalam al Baqarah perempuan di analogikan sebagai ladang dan lelaki sebagai petaninya. Dalam psikologi, seks punya makna sangat penting. Hubungan seks bukan hanya merupakan pleasure principle saja, tetapi bermanfaat bagi sistem limbik-dalam yang menjadi salahs atu kekuatan relasi emosional antar manusia.

 

Tetapi, seks menjadi berbahaya bila dikonsumsi di luar nikah. Anda pernah menonton film Fatal Attraction yang dibintangi Michael Douglas dan Glenn Close, atau Unfaithful yang dibintai Richard Gere dan Diane Lane? Mengapa yang paling menjadi obsesif dalam seks di luar nikah adalah perempuan? Sebab sistem limbik dalam perempuan lebih besar dari lelaki. Dan begitu teraktivasi dengan seks, perempuan sulit melepaskan lelaki. Meski dianiaya sekalipun. Itulah sebabnya, sering dijumpai cowok cewek yang pacaran kelewat batas, sang cewek sulit melepaskan pacarnya, meski dianiya dan disakiti secara tak manusiawi sekalipun.

Seksologi Islami  kecil.png
Canva juga. Lebih cerah ya?

Buku ini sedang dalam tahap editing di penerbit. Jadi covernya bisa jadi bukan seperti yang saya posting di sini hehehe.

Mohon doa agar barakah bagi semua ya

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Oase Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Suami Istri Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

3 Pertanyaan Unik tentang Jodoh & Nikah

 

 

 

Belum pernah nih, saya dapat pertanyaan unik macam begini!

Acara macam ini biasanya diminati oleh para muda-mudi usia 20 tahun ke atas yang sudah mulai memasuki usia nikah. Persiapan pra nikah menjadi pembahasan yang sangat dinamis serta menimbulkan banyak pertanyaan misterius. Biasanya, seminar pra nikah memunculkan pertanyaan-pertanyaan seperti apa dan bagaimana memilih jodoh, bagaimana meyakinkan orangtua, bagaimana belajar mencintai, apakah karier atau rumah tangga dulu dst.

Kali ini, di Rumah Keluarga Indonesia, Bangkalan, saya dapat pertanyaan menarik yang membuat makjleb dari peserta.

 

Masyaallah, Subhanallah…peserta yang masih berusia muda ini ternyata memiliki pemikiran matang dan sangat bijaksana. Saya sampai terkaget-kaget mendapat pertanyaan demikian.

3 pertanyaan unik yang diajukan mereka adalah :

  1. Perempuan kan posisinya menunggu. Bagaimana cara kita bersabar menerima takdir ketika mungkin, hingga meninggal kita tidak menikah?
  2. Biasanya seorang muslimah memilih lelaki sholih. Kalau saya tidak. Saya justru ingin mendapatkan lelaki yang biasa-biasa saja, dan ingin membimbingnya. Salahkah keinginan itu?
  3. Apakah pernikahan yang sudah berjalan 23 tahun, dapat dikatakan pernikahan yang barakah?

 

Beberapa buku saya yang berisi tentang jodoh, cinta dan perempuan

Gadis Menunggu atau Mengajukan Diri?

Paradigma bahwa perempuan atau gadis menunggu dan menanti untuk dipilih, dipahami oleh masyarakat kita sebagai tindakan pasif. Padahal, dalam sejarah Islam, perempuan tidak selalu wajib menunggu. Contoh paling dikenal adalam masyarakat Islam adalah ketika bunda Khadijah mencari suami dan memilih nabi Muhammad Saw. Bunda Khadijah mengutus pembantunya untuk mencari tahu tentang pemuda Muhammad.

Apakah tindakah bunda Khadijah tercela? Tidak.

Bahkan tindakan beliau sangat mulia. Beliau mencari lelaki sholih, tidak peduli usia dan status sosial. Pemuda Muhammad saat itu belum menjadi Nabi dan beliau masih berstatus pedagang. Meski dikabarkan sebagai pedagang sukses, tentu secara kekayaan pemuda Muhammad belumlah sama seperti bunda Khadijah. Dalam hal ini, perempuan tidaklah diharamkan mengajukan diri kepada lelaki tetapi tetap melalui kaidah-kaidah syari. Ada beberapa kisah nyata dalam dunia sehari-hari.

 

Kisah 1

Sebut saja namanya Ayu. Ayu, berasal dari sebuah desa kecil di Jawa. Ia mengajukan diri untuk dinikahi oleh Umar, teman satu kampusnya. Tentu saja Umar terkejut dan dapat dipastikan, pemuda itu menolak. Muslimah berjilbab, aktivis rohis, kok mengajukan diri minta dinikahi? Kayak kebablasan, gitu! Tetapi Ayu rupanya bukan akhwat iseng yang main tembak ikhwan. Meski ditolak, Ayu mengajukan diri lagi untuk dinikahi Umar. Beberapa kali terjadi tolak menolak, Umar akhirnya penasaran mengapa Ayu berani mengajukan diri. Jawaban Ayu membuat Umar takluk.

“Umar, saya berasal dari sebuah desa kecil. Besar harapan saya saya kembali ke desa, dan membangun desa saya. Di kampung, hanya saya satu-satunya yang sekolah sampai tinggi. Kalau saya menikah dengan pemuda lain daerah, saya akan dibawa pergi. Sebagai istri yang taat tentu saya akan mengikutinya kemanapun. Tetapi saya sangat berharap bisa kembali ke kampung halaman, maka saya mencari tahu siapa pemuda kampung terdekat yang juga sekolah tinggi. Ternyata saya menemukan nama kamu, Umar. Maka saya mengajukan diri untuk dinikahi. Kalau kamu kembali ke kampungku, berarti saya juga bisa membangun desa saya yang masih tertinggal.”

Masyaallah.

Sungguh, cita-cita Ayu bukanlah cita-cita rendahan.

Ia menembak Umar bukan lantaran ia aktivis, cakep, terkenal di kampus, dambaan para gadis dan seterusnya. Kejujuran Ayu membuat Umar mantap untuk memilihnya. Alhamdulillah mereka kemudian menikah.

 

Kisah 2

Sebut namanya Ina.

Iapun mengajukan diri untuk dinikahi. Tetapi berbeda dengan Ayu, ia tidak punya calon untuk dituju. Kemiripan dengan Ayu adalah mereka sama-sama orang kampung yang kental dengan segala ragam tradisi, termasuk dijodohkan. Ina, selepas kuliah, tahu-tahu harus pulang kampung karena orangtuanya menjodohkannya dengan seorang pria. Tentu saja, Ina yang tengah belajar menjadi muslimah sejati, kalang kabut. Bagaimana ia dapat menerima pilihan orangtuanya? Jangankan memahami Islam secara kaffah, kebiasaan merokok dan melalaikan sholat masih dilakukan pemuda itu. Akhirnya Ina mengontak teman lelaki di kampusnya.

“Adakah ikhwan yang bersedia menikahi saya? Secepatnya melamar pada orangtua saya. Sebab saya dalam kondisi terdesak.”

Masyaallah…kesungguhan Ina untuk menjaga dirinya ternyata didengar Allah. Dia menggerakkan hati seorang pemuda sholih untuk segera melamarnya, hanya selang sehari ketika permintaan Ina terdengar di telinga para ikhwan. Alhamdulillah…Ina dan pemuda sholih itupun menunju pelamainan dan langgeng hingga kini.

 

Pembaca,

Tentu tidak semua gadis seberuntung Ayu dan Ina yang ketika meminta mengajukan diri, pemuda yang dituju berkenan meluluskan. Stigma masyarakat bahwa ketika perempuan minta dinikahi pasti ada “apa-apanya”. Naksir berat, tidak laku, atau bahkan sudah MBA. Wajar bila masyarakat melihat demikian, sebab di belahan dunia Timur, lelaki masih memegang tampuk kepemimpinan dengan gaya maskulin. Ngapain ngejar-ngejar nikah kalau bukan kepepet, kalau bukan karena punya maksud tersembunyi?

Namun kita bukan sedang membahasa bab feminisme di sini. Kita membahas kemaslahatan. Kadang, seorang pemuda memiliki banyak pertimbangan dan tidak melihat dari sisi yang lain. Sementara seorang gadis melihat dari sisi yang lain pula. Tidak megnapa seorang gadis membantu seorang pemuda untuk melihat dari sudut pandang lain bahwa kebutuhan menikah harus disegerakan karena berbagai hal : menjaga agama, tuntutan keluarga, kebutuhan diri sendiri dan seterusnya. Selama hati mencoba tulus dan jujur serta bersungguh-sungguh, Allah akan bukakan jalan. Dan, berhati-hatilah ketika seorang gadis mengajukan diri. Kaidah syari tetap dijaga, jangan melampaui batas dan menggunakan jalur tertutup atau rahasia. Tidak menembak di depan umum apalagi di media sosial!

Lalu bagaimana ketika lelaki yang diinginkan belum kunjung tiba?

Selalulah bersandar pada Allah.

Saya teringat seorang ustadz penghafal Quran yang memebrikan nasehat di kelas, ketika saya mengikuti kelas pembukaan menghafal Quran :

“Allah akan menepati janji sampai seorang hamba benar-benar mencari ilmu dan mengamalkannya.”

Saya baru akan jadi penghafal Quran kalau bersungguh-sungguh mencari ilmu tentang menghafal Quran sekaligus mengamalkannya. Insyaallah Dia akan bukakan jalan dalam penemuan jodoh impian ketika seorang manusia bersungguh-sungguh mencari ilmu dalam menyempurnakan ½ diin sekaligus mengamalkannya : mengamalkan cara berkomunikasi, mengamalkan cara besabar dan mengalah, mengamalkan cara mandiri finansial dst. Sebab ketika ilmu itu tidak dipelajari dengan sungguh-sungguh dan diamalkan, lalu terjadi pernikahan; akan terjadi pernikahan dan pembangkangan. Terjadi pernikahan dan ketidak pedulian. Terjadi pernikahan dan keegoisan. Terjadi pernikahan dengan segala unsur kerusakan. Dalam proses penantian itu, hari demi hari adalah tabungan pahala, tabungan keindahan balasan, tabungan berita gembira bagi seoarng hamba yang taat menjauhi maksiat demi meraih ridhoaNya dalam menjadi pangeran dan putri impian.

Muzammil dan Sonia.jpg

 

 

Memilih Lelaki Biasa-biasa saja

Di awal acara, ditayangkan liputan patah hati netizen ketika Muzammil Hasballah menikah dengan Sonia. Duuuuh, sedihhhh. Cowok seperti itu jarang banget stoknya di atas muka bumi. Maka ketika sold out, hiks-hiks, hati patah deh…

Namun, ada seorang muslimah yang berani berpendapat : kalau saya ingin menikah dengan lelaki yang biasa-biasa karena ingin membantunya memahami agama, apakah salah?

Hm, Pembaca, segala sesuatu pasti ada konsekuensinya.

Punya suami atau istri penghafal Quran sangat membanggakan. Tetapi bukan berarti tidak ada tantangan. Seorang penghafal Quran, sebut saja namanya ustadz Sholih, sangat berhati-hati memilih makanan. Istrinya nggak bisa memasak sembarangan, membeli makanan pabrik di toko, sebab istri harus menjaga ustadz Sholih dari makanan tidak halal, bahkan makanan syubhat. Ustadz Sholih ini hanya mau makan masakan istrinya yang sudah terjamin kehalalannya. Repot kan? Nah, ternyata punya suami hafidz tetap aja ada ujiannya. Jangan dipikir enak, melejit followers, dipuja sana sini ketika punya suami hafidz!

Punya istri hafidzah juga begitu.

Ada seorang suami yang punya istri hafidzah. Ia menyadari betul keutamaan istrinya, maka ia rela mengerjakan seluruh pekerjaan rumah sembari menjadi pengusaha. Pekerjaan utama istrinya adalah menghafal Quran. Sebab, memang butuh waktu spesial untuk memelihara 30 juz. Dan , sang istri yang hafidzah itu lebih sering menerima undangan untuk mengisi pengajian. Eit, bukan berarti sang istri yang hafidzah ini menindas suami. Bukan, ya!. Ia juga rajin membantu usaha suami, rajin berbenah juga. Tetapi ketika pagi hari, saat dhuha para istri atau ibu biasanya sibuk memasak dan mencuci; sang hafidzahjustru sibuk murojaan Quran. Ia mengerjakan pekerjaan rumah di waktu yang lain. Tentu, memiliki istri hafidzah membanggakan, tetapi seorang suami juga harus siap dengan konsekuensinya.

 

Bagaimana dengan punya suami biasa-biasa saja?

Ini juga  bukan pilihan jelek, apalagi diniatkan untuk membimbing lelaki yang belum tahu agama menjadi tahu agama. Bayangkan pahala yang didapat seorang istri, semisal mampu mengajak suaminya yang bertatto untuk rajin ke masjid. Atau bagaimana punya suami perokok untuk jadi penyuka shaum sunnah. Atau yang tadinya suka nge mall, dugem, lalu suka main ke masjid dan mendengar kajian kitab. Besar banget pahal istri seperti ini kan? Tetapi seorang gadis harus siap. Bahwa memiliki suami yang biasa-biasa saja, ia harus berkorban banyak hal, terutama kondisi emosional. Lelaki yang biasa mungkin belum tahu hijab, sehingga kedekatannya dengan beberapa perempuan membuat istri cemburu. Lelaki biasa belum tahu syubhat dan halal, sehingga main terobos sana sini ketika cari uang.  Lelaki biasa-biasa saja mungkin masih harus dibangunkan untuk sholat, di saat istri ingin sekali diimami sholatnya dan mendengarkan bacaan Quran yang tartil.

Memiliki suami hafidz  atau suami biasa-biasa saja, tetap ada konsekuensinya!

Yang pasti, luruskan niat dan patuhi syariat.

 

 

sofyan sinta RKI.JPG

Apakah Pernikahan yang Tahan Lama itu Berarti Barakah?

Ini benar-benar pertanyaan menohok!

Disaat acara seminar pra nikah, saya dan suami diminta testimoni tentang perjalanan taaruf hingga menikah dan bertahan hingga sekarang (doakan ya Pembaca, kami langgeng hingga berkumpul di jannahNya ya…aamiin yaa Robbal ‘alamin).

Maka suami bercerita tentang proses taaruf yang singkat, disusul khitbah dan menikah. Saya pun bercerita tentang kondisi suami yang sesungguhnya masih sangat minim penghasilan ketika menikah dan hingga sekarang kami mencoba untuk tetap sabar dalam kejujuran sebagai pegawai negeri.  Alhamdulillah, kami bisa bertahan hingga 23 tahun pernikahan dengan segala badai, gelombang, suka duka, tangis dan tawa.

Lalu bertanyalah seorang pemuda : “apakah 23 tahun itu bermakna barakah?”

Sungguh, saya dan suami bertatapan mata ketika ditanya seperti itu. Salut dengan pertanyaan kritis dan menohok hingga ke ulu hati.

Kalau dibilang pernikahan sukses, kami tak berani mengakuinya. Sebab kesuksesan hanya dapat dilihat di akhir, di ujung, di titik semua berhenti : kematian dan yaumil akhir. Kami baru akan disebut pasangan suksses bila telah bersama-sama menapaki JannahNya sembari membawa anak cucu kami masuk ke istana syurga. Dan itu sungguh masih rahasia ribuan tahun ke depan yang hanya diketahui Allah Swt. Namun bila bicara keberkahan, saya menysukuri betapa Allah Swt rasanya melimpahkan keberkahan.

Barakah atau berkah, adalah kondisi ketika sesuatu baik yang berifat materi (uang, barang) atau immateri (waktu) memiliki nilai tambah atau nilai lebih dibanding nilai yang sesungguhnya. Misalnya, ketika anak kami masih kecil-kecil, saya berhitung secara jujur berapa seharusnya jumlah penghasilan suami dan saya bila ingin hidup “normal“ : nyicil rumah, nyicil sepeda motor, menyekolahkan anak-anak di sekolah Islam, makan makanan bergizi, dan seterusnya. Maka dicapai angka fantastis : puluhan juta! Dengan 4 anak dan tinggal di kota Surabaya, kami harus punya pengahsilan puluhan juta untuk hidup layak. Apalagi ketika suami ditempatkan di luar kota, seharusnya penghasilan berlipat-lipat lagi. Nyatanya penghasilan suami tidak sampai sekian.

Namun, alhamdulillah, kami senantiasa cukup.

Ada saja rezeqi yang Dia berikan.

Salah satunya adalah rezeqi anak-anak yamng insyaAllah, sholih-shalihah. Anak-anak yang bisa diajak prihatin. Anak yang tahu kalau ayahnya adalah pegawai negeri yang mencoba jujur.

Dulu, waktu anak saya yang pertama usia SMP, ia  hanya bawa sangu 5000. Itu sudah teramsuk transport, makan siang, dan jajan. Tetapi di akhir bulan ketika kami sedang 0 uang, si kakak masih ada  tabungan yang bisa digunakan untuk menyambung hidup. Sampai sekarang, kakak dan adik-adiknya terbiasa menabung dari uang jajan mereka yang jumlahnya jauh di bawah jumlah teman-temannya. Mereka kalau butuh beli alat gambar, sketch book, komik, buku, sepatu atau kebutuhan lain; tahu-tahu punya uang. Bahkan alhamdulillah, si kecil bisa punya HP dari hasilnya menang lomba menulis. Anak-anak bertekad untuk punya laptop, HP dan barang-barang bukan dari hasil mereka memitna orangtua.

“Lho, kok kamu bisa beli sepatu, Mas?” saya nanya ke abang nomer tiga.

“Aku dua minggu ini gak jajan sama sekali, “ katanya.

Bahkan, dua anak lelaki kami ketika SMA masih naik sepeda onthel sementara teman-temannya telah naik sepeda motor mengkilat bahkan sepeda motor ninja yang mahal harganya. Mereka tidak kehilangan harga diri, tidak kehilangan teman, tidak kehilagnan kebahagiaan meski harus bersabar. 4 anak kami terbiasa saling menasehati satu sama lain, saling memberi motivasi. Ketika yang satu punya masalah, maka yang lain akan mendengarkan dan memberi masukan. Bagi kami, situasi ini adalah keberkahan yang merupakan karunia Allah Swt.

Keberkahan yang lain adalah ketika kami bisa membeli rumah ditahun 2011, dengan sepenuh perjuangan. Rumah yang cukup luasnya, dengan cicilan yang terjangkau gaji suami. Saya memang berdoa kepada Allah : “ya Allah berikan kami rumah yang kami mampu mencicilnya, dekat masjid, dikelilingi tetangga yang sholih shalihah, fasilitas memadai seperti air-sampah dll.” Saya berdoa sedetil itu dan alhamdulillah, kami dapat rumah yang sekarang kami tempati. Setiap kali bertemu teman atau supir taksi online, mereka bertanya tentang rumah saya dan terbelalak : “Ibu beruntung sekali! Rumah gede segitu harganya murah banget.”

Itulah keberkahan Allah Swt.

Masih banyak lagi keberkahan-keberkahan yang lain.

Ketika anak-anak di bangku  SMA, teman-teman mereka sudah ikut les ini itu sejak awal kelas 3. Kami belum mampu meleskan mereka. Alasannya dapat ditebak. Rata-rata anak kami baru les menjelang ujian kelulusan. Alhamdulillah, si sulung dapat masuk UGM dan nomer dua di ITS. Itulah keberkahan. Bahwa ketika tidak tersedia uang untuk les ini itu, Allah Swt berikah rizqi berlipat dari sisi lain : anak-anak yang mau belajar meski harus pontang panting cari pinjaman soal.

Dalam hubungan suami istri, saya pun merasakan keberkahan.

Jangan dikira saya dan suami tidak pernah berselisih paham. Namanya suami istri, tentu ada hal-hal yang membuat kami berselisih dan marah satu sama lain. Namun alhamdulillah, kami biasanya marah sehari dua hari. Jarang sekali sampai tiga hari. Rasanya tidak betah, tidak nyaman kalau tidak bertegur sapa. Maka nanti salah satu akan memulai berbaikan sembari saling menyindir hehehehe.

Yah, inilah keberkahan.

Saya bukan perempuan paling cantik dan paling hebat.

Suami tentu juga bukan lelaki super seperti Thor, Captain America, Hulk atau Iron Man. Tetapi kami saling mencintai, insyaallah. Kalau hanya fisik, yah, saya sudah terdepak jauh-jauh hari. Jujur sajalah, lelaki ketika di kantor bertemu banyak perempuan yang jauh lebih mempesona. Bukannya saya tidak merawat diri, ya. Kata suami saya perempuan cantik (gomballlll…biar deh! Saya juga selalu memaksa suami supaya bilang saya yang paling cantik, kwkwkwkwk!) tetapi godaan di luar sana besar. Termasuk saya juga yang sering menjalani aktivitas di luar rumah.

Tetapi itulah keberkahan yang Allah Swt titipkan di keluarga kami hingga masih bertahan hingga sekarang dan semoga bertahan hingga maut menjelang : sedahsyat apapun orang yang kita temui di luar sana, semempesona apapun, bagaimanapun ia membuat hati kita jadi deg-degan dan berbunga-bunga; tetap saja, pasangan cinta yang telah menjalani hidup sekian lama adalah belahan hati terbaik yang pernah ada bagi diri kita.

Mungkin dia tidak lagi membuat deg-degan.

Tidak membuat berdesir-desir.

Tidak membuat mabuk kepayang seperti saat awal nikah dulu.

Tapi rasa bahagia, hangat, tenang, itu tetap ada dan itulah keberkahan. Betapa banyak  pernikahan yang terasa dingin, hambar, tak ada cahaya sama sekali dan tak ada lagi yang pantas dipertahankan dalam hubungan itu kecuali memang tinggal kunci perceraian yang menyelesaikan.

Rasanya, inilah keberkahan yang Allah titipkan.

Semoga, banyak pasangan di luar sana yang usai pernikahannya mencapai 20, 30, 50 tahun dan lebih; bukanlah pernikahan dalam keterpaksaan namun pernikahan dalam keberkahan. Aamiin yaa Robbal ‘alamiin…

 

Panitia Seminar Pra NIkah.JPG

Kategori
Cinta & Love My family Oase Suami Istri WRITING. SHARING.

Mencurahkan Cinta

Anda mencintai Istri? Pasti.

Anda menyayangi suami? Tentu.

Tapi apakah kita sudah mencurahkan cinta dengan segenap  hati, rasa, jiwa, ketulusan?

#eaaaa

 

Ini bukan sedang membahas cinta monyet, puppy love, anak remaja ingusan. Justru membahas tentang cinta kita. Aku dan kamu. Kita berdua. Suami istri. Sepasang insan. Lovers.

Kamus Umum Bahasa Indonesia menjelaskan, curah bermakna 1) menumpahi (melimpahi) banyak-banyak 2) memberi (menganugerahi dsb) banyak-banyak.

Artinya, kalau hanya memberi sedikit, ala kadarnya, jarang-jarang pula; itu bukan mencurahkan. Demikian pula cinta. Pasangan jiwa adalah sosok yang pantas diberikan curahan cinta. Limpahan cinta yang banyak-banyak, bertubi-tubi, mengalir tiada henti.

Hebohnya acara 17an dan penobatan best couple

 

Best couple?

Waktu beberapa hari lalu saya dan suami dinobatkan sebagai best couple di acara 17an RW, saya justru merenung. Kok bisa ya? Apa yang dinilai dan dianggap lebih dari kami? Padahal rasanya semua serba biasa saja.

Tetapi, mungkin ada sesuatu yang kami lakukan yang oranglain jarang lakukan.

Kami belajar dari Abah Ummi, orangtua suami saya.

Abah Ummi adalah orang yang sangat mesra, bahkan sampai usia tua. Kemana-mana jalan bergandengan tangan. Saling mencium pipi kanan kiri , bahkan ketika Abah hanya akan pergi ke masjid. Cium tangan, tentulah.

Ummi adalah perempuan sederhana. Tapi nasehat-nasehat beliau sunggu dalam.

“Kalau suami pergi kemanapun, jangan lupa diantar ke depan. Sing ati-ati, itu adalah doa.”

Sing ati-ati.

Ummi selalu berkata demikian sesaat sebelum Abah beranjak pergi. Ke masjid, pengajian, ke kantor dulu sebelum pensiun. Kebiasaan itu akhirnya terbawa pada kami anak-anaknya. Saya sendiri akan megnantar suami dan anak-anak hingga gerbang pagar. Sembari berdoa dan berpesan banyak hal.

“Jangan lupa al Hasyr ya. Dzikir shalawat. Asmaul husna. Ingat ini hari Jumat, al Kahfi yaaa.”

Maka anak-anak pun berlaku lucu setiap kali saya mau keluar rumah.

“Ummi jangan lupa dzikir shalawat yaaa!”

Pernah, suatu ketika saya repot banget ngurusin dapur. Sampai-sampai suami berangkat kantor hanya lewat begitu saja. Ternyata suami marah besar. Katanya,

“Hal terakhir yang ingin dilihat suami sebelum ke kantor adalah wajah istri. Nggak ada jihad yang lebih besar selain itu.”

Saya sempat nangis sih…hehehe #baper

Lha, ngurus dapur, cucian, dll kan jihad perempuan juga? Tapi setelah dipikir-pikir benar juga. Seorang suami akan berangkat ke medan perang menuju tempat kerja. Kemacetan, umpatan orang-orang di jalan yang juga sama stressnya, tekanan kerja, tuntutan atasan, rekan dan bawahan yang mungkin sedang tak bisa diandalkan dll. Wajah dan senyum istri bisa jadi amunisi untuk siap menghadapi pertarungan #jiaaah

Begitulah. Ternyata, setiap pagi, ada rombongan bapak-bapak yang sering kami temui. Mereka menyaksikan betapa hebohnya saya mengantar suami dan anak-anak hingga gerbang depan.

Waktu yang sedikit antara suami-istri dapat saja tetap berkualtias dengan ikatan, humor dan hal-hal yang membahagiakan.

Si kecil suka menggoda.

“Ummi, Abah kemarin dengerin Raisa lho!”

“Hush, jangan bilang-bilang,” suamiku tertawa berlagak menegur si kecil.

Aku cemberut. Biasalah, sama artis juga bisa cemburu.

“Bagi Abah, Ummi lebih cantik dari Raisa,” kata suamiku.

Semua anakku melet kalau dengar rayuan ini sembari bilang : hueeeeks.

Yah. Perempuan itu, sekalipun tahu kalau rayuan gombal, tetap saja senang.

Ingat lagunya Rihanna feat Eminem : I Love the Way You Lie?

Tuh kan. Bukan cuma saya satu-satunya perempuan yang senang digombalin suami.

Kondangan, ngisi acara, menerima penghargaan sampai nyoblos pilkada

 

Kebersamaan

Abah Ummi itu kemana-mana berdua.

Ke pasar berdua. Pengajian berdua. Periksa ke dokter berdua.

Hal ini pun menular ke anak-anaknya. Kalau pas ada pengajian di masjid yang cuma beberapa langkah dari rumah kami, suami dan saya biaa berjejer berangkat dan pulang. Ada tukang sayur pas hari libur, saya dan suami belanja ke depan rumah. Mau ke toko dekat rumah, saya dan suami berdua. Pendek kata, kalau memungkinkan pergi berdua walau ke tempat yang dekat seperti pasar pojok di luar kompleks; tetap kami lakukan berdua.

 

Mesra

Abah Ummi itu sampai usia tua tetap mesra. Bergandengan tangan seperti anak remaja. Itu juga menular ke anak-anaknya. Seringkali ketika jalan berdua dengan suami, tangan kami otomatis bergandengan. Atau tangan saya otomatis menggandeng tangannya. Atau saya minta suami menggandeng tangan saya #maksa.

Abah, sekalipun sudah capek banget sepulang kerja, terbiasa memijit-mijit betis Ummi. Sentuhan fisik, bergandengan tangan, berciuman pipi; sangat sering dicontohkan Abah Ummi hingga para tetangga dan penjual nasi hafal dengan kebiasaan beliau berdua.

Abah ummine asih nemen yak!” demikian penjual nasi bungkus pernah berkomentar kepada saya ketika saya membeli nasi bungkusnya. Itu bahasa Tegal yang artinya : Abah Ummi saling mengasihi

 

Mencintai tapi tak Mencurahkan

Banyak pasangan yang saling mencintai, tapi tak saling mencurahkan kasi sayang.

Beberapa klien saya mengaku enggan memeluk pasangannya karena malu atau risih. Jarang mengungkapkan kata cinta, dan lebih sering membelikan sesuatu karena dianggap lebih real dalam mengungkapkan cinta. Padahal, yang namanya mencurahkan itu ya segala sesuatu diberikan banyak-banyak.

Memangnya kalau mencurahkan cinta dengan materi, sang suami sanggup membelikan apapun hadiah untuk istri? Mana kuatlah. Kalaupun kaya raya, tetap saja materi ada batasnya. Mencurahkan cinta dalam bentuk limpahan kasih sayang itu haruslah tampak hingga terasa di kulit, terasa di panca indera, membekas dalam ingatan dan lubuk hati #halaaah

Saya yakin, suami istri itu sudah ibarat nyawa dibagi dua. Maka biasanya, ketika salah satu pasangan pergi entah karena meninggal atau berselingkuh; yang satunya akan merana dan hilangnya sinar seri harapannya. Walaupun jangan sampai berputus asa ya…

Masalahnya, cinta itu ada di lubuk hati. Hati itu letaknya di balik kulit, di balik lemak daging, di balik pembuluh darah dan di balik bermacam-macam perspektif. Ada yang bilang rasa hati adalah jantung, hati itu sendiri (liver) bahkan otak. Ya, manapun letak hati; ia jelas bukan oragn yang gampang dilihat denyutnya seperti kedipan mata dan hembusan nafas. Makanya, kerja hati harus ditampilkan ke permukaan.

Senang dengan senyuman.

Tak setuju dengan menggeleng.

Bingung dengan berkerut dahi.

Dan cinta, sebagai rasa yang deskripsinya paling kompleks, harus lebih-lebih lagi cara pengungkapannya. Tak cukup sekali. Berkali-kali. Itulah yang namanya mencurahkan cinta.

 

Rangkuman :

Curahan cinta dibutuhkan pasangan dalam bentuk ucapan, kemesraan, berdekatan, kebersamaan.

 

Kategori
Catatan Jumat Hikmah Oase Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Rahasia Perempuan

Istri, Bicaralah!

 

Tersedu. Menangis. Gemetar.

Ada banyak perempuan yang mengeluhkan diri mereka mengalami depresi hebat, psikosomatis berkepanjangan hingga harus masuk rumah sakit berkali-kali. Psikis mereka demikian sakit hingga menjalar ke sendi-sendi, ke kerja otak, ke maag hingga kadang tremor tak wajar. Ada apakah dengan para istri shalihah yang seharusnya dapat mengarungi hidup ini dengan bahagia?

talking to husband.jpg
Omongan penting apa gak penting?

Omongan Nggak Penting

Perempuan itu banyak bicara.

Kadang hal gak penting pun diutarakan.

“Aku gemuk nggak, Mas?” tanyaku pada suami.

“Nggak,” jawabnya.

“Aku kuruskah?” tanyaku lagi.

“Nggak.”

“Lhooo…jadi aku kurus apa gemuk???”

Ia garuk-garuk kepala.

Kali lain, aku bertanya.

“Cantik Raisa apa Isyana?”

Suamiku mikir, kayaknya gak mau terjebak pada kesalahan bab kurus-gemuk.

“Mas suka Dian Sastro. Pintar sih.”

“Mas gituuuuu yaaa, ternyata selama ini nyimpan perasaan sama artis!”

Kadang, suamiku tertawa dan bilang : “ya ampun, Mi, gak penting banget ditanyain!”

Aku menjelaskan dengan gaya profesional.

“Perempuan itu ya Mas, butuh diyakinkan berkali-kali. Setiap hari. Kalau ia paling cantik sedunia, paling dicintai suaminya. Walau aku tahu gak secantik Raisa, Isyana, Dian Sastro; maunya dengar Mas ngegombal dan bilang aku paling cantik.”

“Bohong kalau gitu, dong?” seloroh suamiku.

Aku cemberut masam.

Itulah sekelumit omongan gak penting bagi laki-laki.

Laki-laki lebih suka membahas transfer Neymar seharga 3,5 T atau kuda hitam di Premiere League. Tata kelola batubara dan pertambangan. Angin politik serta pilkada. Sistem perpajakan dan kebijakan pemerintah. Hal-hal global, besar, fantastik, spektakuler.

Apa yang dibahas tentang Donal Trump?

Laki-laki : perselisihan dengan Vladimir Putin

Perempuan : gaya busana Melania Trump.

Apa yang dibahas tentang sepakbola?

Laki-laki : Real Madrid masih haus gelar juara, kata Zinedine Zidane

Perempuan : WAG mana yang cantik?  Cathy Hummels istri Mats Hummels, atau Andrea Duro –Javier “Chicarito” Hernandez?

Omongan tak penting perempuan ini, sebetulnya bukan menunjukkan kualitas dirinya tak setara laki-laki namun karena ia ingin lebih banyak didengar oleh kubu maskulin- dominan yang menjadi pemimpin puncak dalam hirarki kehidupan. Apabila seorang penguasa tertinggi tak mau mendangar keluh kesah rakyat terkecilnya, pasti rakyat itu akan gelisah , bukan?

Coba dengar apa saja yang dikeluhkan rakyat kecil pada penguasa tertinggi.

Penggembala dan petani mengeluhkan perkara tak penting antara sepetak kebun dan kambing-kambing yang masuk ke pagar, kepada Nabi-Raja Daud as. Raja Daud punya urusan lebih luas ketimbang sepetak tanah, tapi sebagai penguasa ia harus mendengarkan agar kebijakan tertegak.

Presiden Abraham Lincoln, dikenal reputasinya sebagai presiden kebanggaan Amerika – 1. Lincoln, 2. Washington, 3. Roosevelt- ; karena memperhatikan perkara-perkara kecil dari rakyatnya. Ia mendengarkan jeritan hati seorang serdadu yang tertidur malam karena kelelahan di pos jaga pada peperangan Utara-Selatan dan tengah menunggu hukuman mati. Ia mendengar 24 serdadu melakukan kesalahan militer, milisi yang mungkin tidak bersiap maju ke medan perang, dan akhirnya Lincoln memaafkan. Suara 1 orang, 24 orang; dapat saja diabaikan di antara belasan ribu tentara yang juga menyita banyak pikiran. Namun, Lincoln dikenal senang mendengar dan melayani harapan rakyatnya.

Hal sepele bagi Raja Daud dan presiden Lincoln, tapi tidak sepele bagi rakyat kecilnya.

talking to husband 2.jpg
Mencoba bicara & taklukan takut

Taklukan Takut

“Aku pingin mini cooper,” ujarku suatu saat.

“Iya deh, amiin,” kata suamiku.

“Kok Ummi suka mini cooper?” tanya anak-anak.

“Suka sama warnanya yang ngejreng sama bentuk lampunya.”

Ya ampun!

Kata mereka, kalau gitu cari mobil kecil aja lalu di cat oranye atau kuning cerah.

Aku tahu harga mobil mini cooper. Aku tau, suamiku juga tak akan repot-repot cari duit buat beli mobil ala Italian Job itu. Bagi kami, ada sepeda motor dan mobil kantor yang sederhana; cukuplah untuk kendaraan.Tak usah terlalu pusing-pusing memikirkan beli mobil baru walau andai diberikan rezeqi Allah Swt, itu takdir lain.

Suatu saat ada mobil melintas.

“Waaah, ada Tsubaru!” seru anak-anakku.

“Keren ya?” kataku.

Kali lain ada mobil melintas di depan mata, “Mas, ada Lamborghini tuh!”

“He-eh,” kata suamiku.

“Warnanya kuning cantik ya?” kataku.

“Iya.”

“Ummi nanti kalau punya mobil sendiri mau yang warnanya pink, orange atau ungu,” kataku pada anak-anak.

“Wah, gak usah jemput ke sekolah ya Mi, kalau mobilnya warna norak kayak gitu,” kata si kecil.

Kami tertawa.

Itu percakapan yang biasa.

Bagiku.

Tapi tidak bagi sebagian orang.

Seorang ibu cantik berkeluh kesah ia beberapa kali terpikir bunuh diri. Padahal kondisi ekonominya mapan dan ia memiliki suami penyayang, anak-anak tampan. Lama ketika kami berbicara, ia berujar.

“Aku ingin kerja lagi, seperti dulu ketika mahasiswa. Aku adalah aktivis. Ingin punya mobil. Capek angkut anak-anak kesana kemari naik motor.”

Tubuhnya memang kecil mungil.

“Sudah pernah cerita ke suami dek, tentang harapanmu?”

Ia berujar sendu , “nggak berani Mbak. Aku takut. Aku takut dikira minta ini itu dan masuk dalam kategori nggak  bersyukur.”

Ia tak pernah bercerita pada suami apa keinginannya. Apa harapannya. Apa cita-citanya. Yang ada hanya rasa takut. Takut dosa, takut dimarahi, takut dianggap perempuan tak shalihah. Padahal, menceritakan apa keinginan kita bukan berarti sebuah tuntutan. Hanya sebuah ekspresi. Sekedar bilang bahwa ia ingin punya mobil, itupun tak berani. Padahal belum tentu juga yang namanya ‘ingin’ berarti harus beli hari itu juga!

Kisah yang lain, juga dialami ibu muda yang mengalami depresi hingga berkali-kali mencoba bunuh diri.

“Suamiku nggak seperti yang aku bayangkan dulu. Dia nggak pernah mau mendengar aku. Dia memaksa aku begini begitu.”

“Kamu sudah ngomong ke suami apa yang menjadi pikiranmu, Dek?”

“Suamiku nggak bisa diajak ngomong, Mbak!”

Saya terdiam.

Nggak bisa diajak ngomong, apa nggak pernah diajak omong?

Mengajak bicara suami, harus diupayakan meski hasilnya belum tentu sesuai rencana. Tapi keberanian, mengalahkan takut, mencoba terbuka, memancing percakapan : must be!

Sebagaimana aku sering berkata pada suami.

“Jalan-jalan yuuuuk,” ajakku.

“Ayo!” kata suamiku. “Akhir pekan ini ya?”

“Oke.”

Meski aku dan suami tahu, akhir pekan ternyata banyak sekali agenda yang menyebabkan batalnya keinginan kami jalan-jalan berdua. Namun keinginan itu sudah terucap, dan kami mencoba saling memahami harapan satu sama lain.

Menaklukan rasa takut dari dalam diri sendiri adalah langkah penting.

Takut dimarahi.

Takut dicap tak shalihah.

Takut dianggap tak bersyukur.

Takut suami beranggapan kita terlalu banyak menuntut.

Padahal, takut berbicara adalah hambatan komunikasi terbesar. Belum tentu juga suami kita seburuk apa yang ada di pikiran. Siapa tahu, ia terlihat keras, tak peduli, kaku, tak mau tahu adalah akibat istri tak mengungkapkan dengan jelas maksud hati. Setelah istri memberanikan diri berbicara, tentu dengan komunikasi jelas dan pesan yang tertangkap sama frekuensinya  di kedua belah pihak; bukan mustahil suami justru berbalik 180 derajat.

Seorang perempuan merasa resah ketika suaminya dekat dengan perempuan, kawan lamanya.

“Sudah bilang ke suami, Mbak?”

“Aduh, kan aku nggak enak. Masa sudah dewasa harus dikasih tahu.”

“Lho, barangkali suami nggak tahu kalau Mbak cemburu.”

Diapun memberanikan diri, memupus rasa takutnya menegur suami.

Awalnya sang suami sempat tak menggubris dan bilang ,” ini cuma teman lama, Mi. Dan orang-orang biasa kok ngobrol beginian.”

Rasa takut sudah hilang, komunikasi sudah terjalin, tapi frekuensi belum sama.

Istri merasa itu bibit-bibit menuju perselingkuhan, suami merasa biasa saja. Maka istri tersebut lambat laun mencoba meyakinkan suami bahwa boleh jadi si suami tidak merasa apa-apa, namun rasa perempuan-teman-lama tersebut yang berkembang menjadi cinta. Alhamdulillah, keberanian si istri untuk berbicara secara terus terang, menyelamatkan pernikahan.

 

Humoris

Suamiku, kadang-kadang  membawa pekerjaan kantor ke rumah. Hal itu menyebabkannya harus menekuri gawai dan berinteraksi dengan teman-temannya di kantor untuk koordinasi. Padahal, menurutku waktu dengan anak-anak sudah sangat sedikit. Sementara di era sekarang, batas antara kantor dan rumah sedemikian tipisnya. Orang bisa membawa pekerjaan kantor ke rumah, dan membawa urusan rumah ke kantor. Bukankah para orangtua masih terus memantau perkembangan anak dan rumah sembari mereka bekerja di kantor?

Melihat suami membawa gawai, hatiku risau. Tapi ekspresi serius dan tegangnya, juga tak dapat diabaikan.

Aku lalu duduk di depannya, bertopang dagu. Mengamatinya sampai ia merasa risih.

“Kenapa, sih? Jadi nggak enak,” katanya.

“Enak ya jadi handphone. Dielus-elus. Diajak ngomong.”

“Ini lagi rapat, Miii.”

Kubiarkan ia menyeleaikan urusan dan mengamati ekspresinya hingga terlihat raut lega. Berarti, acara rapat-rapatnya sudah selesai, pikirku.

“Emmm….Mas kalau dibayar jadi pembicara berapa sih?”

“Kenapa emangnya?” dia balik bertanya.

“Aku pernah lihat Mas ceramah, asyik banget. Banyak ilmunya. Banyak referensinya. Pasti bayarannya mahal ya manggil Mas.”

Dia tertawa ,”emang apaan sih?”

“Kalau aku sama anak-anak mau minta taujih, kira-kira bayar berapa yaaaaa??”

Suamipun tertawa dan meletakkan gawainya.

Ada banyak kejadian mendongkolkan di rumah.

Termasuk dalam hubungan suami istri. Tapi kalau semua dibawa serius, tegang, konfrontasi; apa jadinya? Humor membuat situasi mencair. Rasa takut menghilang dan percakapan jadi lebih mengalir.

talking to husband 3.jpg
Suamiku, pahlawanku

Ayo, para istri shalihah!

Ajak suami bicara.

Mereka bukan monster yang menyeramkan.

Benar kan, Bapak-bapak?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kategori
Cinta & Love Oase Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY

Tanda-tanda Keretakan Hubungan dengan Pasangan

 

 

Tak ada yang menginginkan cinta berakhir musnah. Berujung kegetiran, apalagi perpisahan. Naudzubillahi mindzalik. Namun, seiring waktu, cinta memudar bahkan hilang tak berbekas. Dia yang dulu begitu berapi-api, sehari dapat mengungkapkan sayang lebih dari 3x bahkan overdosis; sekarang jangankan mengucapkan sayang. Membalas pesan kita enggan, padahal online.  Selalu punya alasan sibuk. Saat bicara cinta rasanya aneh dan menyakitkan, bagai bertepuk sebelah tangan. Pernikahan, dapat diselamatkan dan memang harus diupayakan selamat hingga menuju laut keabadian. Mari kenali tanda-tanda keretakan hubungan agar dapat segera dicari solusinya.

Apa saja tandanya?break-up-spells

  1. Kaku dan jarang tertawa
  2. Tidak punya mimpi bersama
  3. Tidak mesra
  4. Sibuk urusan masing-masing
  5. Bercinta kurang dari seharusnya
  6. Keuangan tersembunyi

Bahas satu-satu ya…

  1. Kaku dan jarang tertawa

Joke, humor, anekdot, itu obat jitu suasana. Asal sesuai kondisi dan takaran. Ingat Nasruddin Hoja dalam memecahkan masalah pelik? Ada canda disitu untuk mencairkan ketegangan. Dalam menyampaikan fatwa pun demikian. Bahkan bila keluarga kita mengalami saat-saat sulit sekalipun, humor ini jangan sampai ditinggalkan. Humor meredakan ketegangan dan menciptakan situasi cair yang menyenangkan.

Pasangan seharusnya mulai waspada bila dalam 2-3 bulan tidak dapat lagi tertawa bersama-sama. Mungkin karena tekanan ekonomi, masalah keluarga besar, atau ada orang ketiga yang menyita perhatian. Orang ketiga ini tidak selalu WIL/PIL yang mengindikasikan perselingkuhan. Mungkin saja orang ketiga ini adalah saudara yang tengah menghadapi masalah keluarga juga sehingga menyita perhatian kita, atau atasan yang sangat menyulitkan, atau teman yang tidak dapat dipercaya.

Pendek kata, banyak masalah di masa kini dapat menimpulkan stress bahkan depresi.

Tertawa bersama itu mudah.

Bagilah kisah-kisah lucu lewat broadcast (BC), meme lucu, menonton film komedi, menikmati acara televisi yang mengibur. Lalu tertawalah bersama. Gelitikilah pasangan agar ia mau tertawa bersama-sama. Jadi, kapan anda dan pasangan tertawa bersama untuk terakhir kali? Kalau pagi ini masih dapat tertawa berdua karena saling mencolek pinggang masing-masing, artinya hubungan anda inysaallah selamat!

 

  1. Tidak punya mimpi dan keinginan bersama

Mimpi bersama akan mengikat satu sama lain. Ingin haji bersama sehingga saling menyisihkan penghasilan, ingin umroh bersama, ingin berlibur bersama, ingin menghabiskan akhir pekan berdua di hotel atau di restoran romantis.

Semakin panjang mimpi itu, insyaallah semakin baik.

“Nanti kalau Mas pensiun, mau ngapain?”

“Aku mau buat café kecil-kecilan, Dek.”

“Kalau gitu mulai sekarang aku coba kumpulkan resep masakan yang khas ya.”

Mimpi ini harus terus dibangun.

Dulu mimpi umroh bareng, terkabul. Tambah mimpi haji. Sudah terkabul, bermimpilah bersama untuk dapat wakaf. Terkabul? Bermimpilah bersama lagi untuk buat yayasan panti asuhan. Terkabul? Bermimpi lagi bersama. Buat perusahaan warisan yang dapat diwariskan pada anak cucu. Terkabul? Buat mimpi-mimpi bersama lagi hingga mimpi akhir bersama adalah menjadi pasangan suami istri di FirdausNya.

Suami istri yang sudah punya penghasilan masing-masing, kadang enggan merancang mimpi bersama. Merasa sudah dapat melaksanakan  sesuatu dengan uang pribadi. Misal, dapat menyantuni orangtua masing-masing dari uang pribadi. Apa salahnya membangun mimpi bersama dalam hal memberi hadiah pada orangtua?

“Dek, aku pingin meng umrohkan kedua belah pihak orangtua kita. Yuk, nabung bareng.”

Nilai kebersamaannya lebih terasa daripada masing-masing bertekad menabung sendiri-sendiri, mengumrohkan orangtua sendiri-sendiri.

 

  1. Tidak mesra

Kemesraan sangat penting untuk mengeratkan hubungan. Sama dengan humor, bila kemesraan mulai menghilang dalam 3 bulan terakhir, waspadalah. Apa sih mesra?

Dalam kamus bahasa Indonesia mesra berarti 1) menyerap 2) sangat dekat dengan hati. Menyerap dalam kamus  disini diartikan perilaku yang benar-benar ‘menyerap’ hingga ke hati. Bukan sekedar ciuman selintas. Bukan pelukan sambil lalu. Bukan sekedar salaman sekedar tempel. Karena sudah serumah bertahun-tahun, seringkali sentuhan fisik hanya formalitas belaka.

Yang penting sudah cium istri ketika berangkat.

Yang penting sudah salam suami ketika akan berpisah. Sentuhan, apalagi obrolan, tidak ada yang benar-benar terserap sampai ke hati.

  1. Sibuk urusan masing-masing

Pekerjaan kantor dan rumah tidak ada habisnya.whatsapp

Bahkan, di rumahpun kadang atasan atau bawahan masih mengontak untuk konsultasi.

“Ini atasanku telpon, Ma, gak enak!”

“Ada rapat via whatsapp buat acara coaching anak-anak pegawai baru.”

“Klienku lagi punya amsalah berat, nggak bisa ditinggalkan.”

Okelah, pekerjaan adalah sumber nafkah. Tapi juga bisa sumber keretakan. Kalau sesudah urusan selesai dan kita masih sibuk dengan gadget masing-masing, yah, rasa hambar akan timbul. Kalau sampai di rumah yang menjadi tujuan adalah remote televisi atau membuka laptop, pasangan akan malas berdekatan.

  1. Bercinta kurang dari seharusnya

Capek? Stres? Sedang marahan?

Hubungan intim yang sehat sekitar 2 x sepekan. Karena kelelahan dan hasrat sudah menguap ditelan permasalahan seharian ditambah macetnya jalan; lenyapkan keinginan bermesraan dengan pasangan. Apalagi bila masalah anak-anak turut menambah bumbu jamu dalam hubungan. Apalagi masalah orangtua, keluarga besar, turut melenyapkan gairah. Padahal kata Buya Hamka, memuaskan nafsu (dengan cara yang benar tentunya) adalah tujuan melestarikan banyak hal. Melestarikan keturunan, melestarikan cinta, melestarikan hubungan.  Banyak pasangan yang karena didera banyak hal, merasakan biasa-biasa saja melakukan hubungan intim dua pekan sekali. Atau malah sebulan sekali. Tidak ada keinginan untuk membangun hasrat, entah bagaimana caranya.

Lalu tiba-tiba, muncullah seseorang yang dapat membangkitkan gariah demikian cepat!

(Nantikan buku saya yang membahas khusus bab Seksologi ya)

  1. Keuangan tersembunyi

Apakah gaji masing-masing harus diketahui pasangan? Ya!

Suami harus tahu penghasilan istri, begitupun sebaliknya. Rem lelaki, konon kabarnya, kuat mencengkram kaum Adam dari perilaku kurang pantas apabila istri yang memegang kendali keuangan. Perempuan, pun tak akan boros-boros amat bila suami tahu berapa besar penghasilannya.

“Lho, kok uangnya sudah habis?”

Meski kita kerap kesal dengan ungkapan seperti itu, tetap saja kritikan suami/istri menjadi pagar. Aduh, habis cepat saja dikritik, apalagi habis tak karuan rimbanya! Bila istri merasa sah-sah saja menyembunyikan tabungannya, begitupun suami merasa harus menyembunyikan penghasilan real nya kpada istri; ini salah satu bencana besar yang mengintai.

Money is monster!

Coba bicara jujur, apa sih yang membuat kita menyembunyikan penghasilan? Karena akan digunakan untuk membelanjakan sesuatu diluar pengetahuan pasangan. Kalau untuk beli hadiah kejutan, okelah. Tapi apa hadiah kejutan dibeli tiap waktu? Biasanya, uang disembunyikan karena kita ingin membeli barang-barang keinginan yang mungkin tidak disetujui pasangan. Baju, jam tangan, sepatu, pemenuhan hobby mahal (pancing,shopping,barang antic, fotografi). Atau, menyembunyikan neraca keuangan rumah tangga karena ada hal pelik lain yang perlu ditutupi?

 

Sinta Yudisia

Psikolog