Mencurahkan Cinta

Anda mencintai Istri? Pasti.

Anda menyayangi suami? Tentu.

Tapi apakah kita sudah mencurahkan cinta dengan segenap  hati, rasa, jiwa, ketulusan?

#eaaaa

 

Ini bukan sedang membahas cinta monyet, puppy love, anak remaja ingusan. Justru membahas tentang cinta kita. Aku dan kamu. Kita berdua. Suami istri. Sepasang insan. Lovers.

Kamus Umum Bahasa Indonesia menjelaskan, curah bermakna 1) menumpahi (melimpahi) banyak-banyak 2) memberi (menganugerahi dsb) banyak-banyak.

Artinya, kalau hanya memberi sedikit, ala kadarnya, jarang-jarang pula; itu bukan mencurahkan. Demikian pula cinta. Pasangan jiwa adalah sosok yang pantas diberikan curahan cinta. Limpahan cinta yang banyak-banyak, bertubi-tubi, mengalir tiada henti.

Hebohnya acara 17an dan penobatan best couple

 

Best couple?

Waktu beberapa hari lalu saya dan suami dinobatkan sebagai best couple di acara 17an RW, saya justru merenung. Kok bisa ya? Apa yang dinilai dan dianggap lebih dari kami? Padahal rasanya semua serba biasa saja.

Tetapi, mungkin ada sesuatu yang kami lakukan yang oranglain jarang lakukan.

Kami belajar dari Abah Ummi, orangtua suami saya.

Abah Ummi adalah orang yang sangat mesra, bahkan sampai usia tua. Kemana-mana jalan bergandengan tangan. Saling mencium pipi kanan kiri , bahkan ketika Abah hanya akan pergi ke masjid. Cium tangan, tentulah.

Ummi adalah perempuan sederhana. Tapi nasehat-nasehat beliau sunggu dalam.

“Kalau suami pergi kemanapun, jangan lupa diantar ke depan. Sing ati-ati, itu adalah doa.”

Sing ati-ati.

Ummi selalu berkata demikian sesaat sebelum Abah beranjak pergi. Ke masjid, pengajian, ke kantor dulu sebelum pensiun. Kebiasaan itu akhirnya terbawa pada kami anak-anaknya. Saya sendiri akan megnantar suami dan anak-anak hingga gerbang pagar. Sembari berdoa dan berpesan banyak hal.

“Jangan lupa al Hasyr ya. Dzikir shalawat. Asmaul husna. Ingat ini hari Jumat, al Kahfi yaaa.”

Maka anak-anak pun berlaku lucu setiap kali saya mau keluar rumah.

“Ummi jangan lupa dzikir shalawat yaaa!”

Pernah, suatu ketika saya repot banget ngurusin dapur. Sampai-sampai suami berangkat kantor hanya lewat begitu saja. Ternyata suami marah besar. Katanya,

“Hal terakhir yang ingin dilihat suami sebelum ke kantor adalah wajah istri. Nggak ada jihad yang lebih besar selain itu.”

Saya sempat nangis sih…hehehe #baper

Lha, ngurus dapur, cucian, dll kan jihad perempuan juga? Tapi setelah dipikir-pikir benar juga. Seorang suami akan berangkat ke medan perang menuju tempat kerja. Kemacetan, umpatan orang-orang di jalan yang juga sama stressnya, tekanan kerja, tuntutan atasan, rekan dan bawahan yang mungkin sedang tak bisa diandalkan dll. Wajah dan senyum istri bisa jadi amunisi untuk siap menghadapi pertarungan #jiaaah

Begitulah. Ternyata, setiap pagi, ada rombongan bapak-bapak yang sering kami temui. Mereka menyaksikan betapa hebohnya saya mengantar suami dan anak-anak hingga gerbang depan.

Waktu yang sedikit antara suami-istri dapat saja tetap berkualtias dengan ikatan, humor dan hal-hal yang membahagiakan.

Si kecil suka menggoda.

“Ummi, Abah kemarin dengerin Raisa lho!”

“Hush, jangan bilang-bilang,” suamiku tertawa berlagak menegur si kecil.

Aku cemberut. Biasalah, sama artis juga bisa cemburu.

“Bagi Abah, Ummi lebih cantik dari Raisa,” kata suamiku.

Semua anakku melet kalau dengar rayuan ini sembari bilang : hueeeeks.

Yah. Perempuan itu, sekalipun tahu kalau rayuan gombal, tetap saja senang.

Ingat lagunya Rihanna feat Eminem : I Love the Way You Lie?

Tuh kan. Bukan cuma saya satu-satunya perempuan yang senang digombalin suami.

Kondangan, ngisi acara, menerima penghargaan sampai nyoblos pilkada

 

Kebersamaan

Abah Ummi itu kemana-mana berdua.

Ke pasar berdua. Pengajian berdua. Periksa ke dokter berdua.

Hal ini pun menular ke anak-anaknya. Kalau pas ada pengajian di masjid yang cuma beberapa langkah dari rumah kami, suami dan saya biaa berjejer berangkat dan pulang. Ada tukang sayur pas hari libur, saya dan suami belanja ke depan rumah. Mau ke toko dekat rumah, saya dan suami berdua. Pendek kata, kalau memungkinkan pergi berdua walau ke tempat yang dekat seperti pasar pojok di luar kompleks; tetap kami lakukan berdua.

 

Mesra

Abah Ummi itu sampai usia tua tetap mesra. Bergandengan tangan seperti anak remaja. Itu juga menular ke anak-anaknya. Seringkali ketika jalan berdua dengan suami, tangan kami otomatis bergandengan. Atau tangan saya otomatis menggandeng tangannya. Atau saya minta suami menggandeng tangan saya #maksa.

Abah, sekalipun sudah capek banget sepulang kerja, terbiasa memijit-mijit betis Ummi. Sentuhan fisik, bergandengan tangan, berciuman pipi; sangat sering dicontohkan Abah Ummi hingga para tetangga dan penjual nasi hafal dengan kebiasaan beliau berdua.

Abah ummine asih nemen yak!” demikian penjual nasi bungkus pernah berkomentar kepada saya ketika saya membeli nasi bungkusnya. Itu bahasa Tegal yang artinya : Abah Ummi saling mengasihi

 

Mencintai tapi tak Mencurahkan

Banyak pasangan yang saling mencintai, tapi tak saling mencurahkan kasi sayang.

Beberapa klien saya mengaku enggan memeluk pasangannya karena malu atau risih. Jarang mengungkapkan kata cinta, dan lebih sering membelikan sesuatu karena dianggap lebih real dalam mengungkapkan cinta. Padahal, yang namanya mencurahkan itu ya segala sesuatu diberikan banyak-banyak.

Memangnya kalau mencurahkan cinta dengan materi, sang suami sanggup membelikan apapun hadiah untuk istri? Mana kuatlah. Kalaupun kaya raya, tetap saja materi ada batasnya. Mencurahkan cinta dalam bentuk limpahan kasih sayang itu haruslah tampak hingga terasa di kulit, terasa di panca indera, membekas dalam ingatan dan lubuk hati #halaaah

Saya yakin, suami istri itu sudah ibarat nyawa dibagi dua. Maka biasanya, ketika salah satu pasangan pergi entah karena meninggal atau berselingkuh; yang satunya akan merana dan hilangnya sinar seri harapannya. Walaupun jangan sampai berputus asa ya…

Masalahnya, cinta itu ada di lubuk hati. Hati itu letaknya di balik kulit, di balik lemak daging, di balik pembuluh darah dan di balik bermacam-macam perspektif. Ada yang bilang rasa hati adalah jantung, hati itu sendiri (liver) bahkan otak. Ya, manapun letak hati; ia jelas bukan oragn yang gampang dilihat denyutnya seperti kedipan mata dan hembusan nafas. Makanya, kerja hati harus ditampilkan ke permukaan.

Senang dengan senyuman.

Tak setuju dengan menggeleng.

Bingung dengan berkerut dahi.

Dan cinta, sebagai rasa yang deskripsinya paling kompleks, harus lebih-lebih lagi cara pengungkapannya. Tak cukup sekali. Berkali-kali. Itulah yang namanya mencurahkan cinta.

 

Rangkuman :

Curahan cinta dibutuhkan pasangan dalam bentuk ucapan, kemesraan, berdekatan, kebersamaan.

 

Iklan

9 thoughts on “Mencurahkan Cinta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s