Seksologi Islami (1)

Antara Fatal Attraction dan Unfaithful

(1)

Setiap kali dengar kata seks, apa yang terlintas di benak?

Seronok, erotisme, film X-rated? Rasanya merinding, bulu kuduk berdiri, sebab terlintas adegan-adegan ‘panas’ yang mungkin secara tak sengaja pernah dikonsumsi. Atau tiap kali mendengar kata seks,  justru merasa hal tersebut merupakan  sebuah kata yang punya makna suci dan luhur.

Seksologi Islami! (1) - kecil.png

Utak atik cover pakai Canva 🙂

Seks memiliki makna istimewa dalam Islam, sebab dalam al Baqarah perempuan di analogikan sebagai ladang dan lelaki sebagai petaninya. Dalam psikologi, seks punya makna sangat penting. Hubungan seks bukan hanya merupakan pleasure principle saja, tetapi bermanfaat bagi sistem limbik-dalam yang menjadi salahs atu kekuatan relasi emosional antar manusia.

 

Tetapi, seks menjadi berbahaya bila dikonsumsi di luar nikah. Anda pernah menonton film Fatal Attraction yang dibintangi Michael Douglas dan Glenn Close, atau Unfaithful yang dibintai Richard Gere dan Diane Lane? Mengapa yang paling menjadi obsesif dalam seks di luar nikah adalah perempuan? Sebab sistem limbik dalam perempuan lebih besar dari lelaki. Dan begitu teraktivasi dengan seks, perempuan sulit melepaskan lelaki. Meski dianiaya sekalipun. Itulah sebabnya, sering dijumpai cowok cewek yang pacaran kelewat batas, sang cewek sulit melepaskan pacarnya, meski dianiya dan disakiti secara tak manusiawi sekalipun.

Seksologi Islami  kecil.png

Canva juga. Lebih cerah ya?

Buku ini sedang dalam tahap editing di penerbit. Jadi covernya bisa jadi bukan seperti yang saya posting di sini hehehe.

Mohon doa agar barakah bagi semua ya

Iklan

#Jodoh (1) : Perlukah Tes Kepribadian untuk Memilih Suami / Istri?

Kasus 1

Seorang gadis, sebut namanya Ina, menangis ketika tahu keadaan calon suaminya. Ia dan Anton (samaran) berniat menikah selepas Ina kuliah. Mereka satu almamater dan berkenalan di kampus, disibukkan dengan agenda masing-masing dan menyepakati akan segera ijab qabul setelah selesai kuliah. Beberapa kali Anton masuk rumah sakit dan Ina tidak terlalu menanggapi. Ina berpikir, orang masuk rumah sakit karena DB atau tipus adalah hal biasa. Tetapi suatu ketika saat Anton masuk rumah sakit, Ina mengutarakan kepada orangtua Anton keinginan untuk menjenguk. Orangtua Anton menolak dengan alasan putra mereka butuh istirahat. Ina curiga. Sebab tidak ada teman-teman Anton yang menjenguk dan ia pun tertolak. Ina mengupayakan berbagai cara untuk mencari tahu dan alangkah terkejutnya Ina ketika pada akhirnya menemukan fakta, calon suaminya dirawat beberapa kali di …rumah sakit jiwa. Berlinang air mata Ina. Ingin ia meninggalkan Anton tetapi di sisi lain, Ina merasa Anton adalah lelaki yang sangat baik. Tulus. Jujur. Apa adanya.

 

Kasus 2

Sebut namanya Ayu. Seorang pebisnis sukses dan memiliki keluarga yang bahagia. Anak-anaknya cerdas dan pintar, dikaruniai suami lelaki yang baik dan penyayang, Adi (samaran). Dari luar, tentu banyak yang iri pada Ayu. Tetapi Ayu menyimpan masalahnya sendiri. Bertahun-tahun dalam kehidupan mereka, ialah yang menjadi tulang punggung. Mencari nafkah, berjualan apapun hingga laris manis dikenal pelanggan, mampu membeli properti dan mobil yang diinginkan. Termasuk, ia membayar hutang-hutang keluarga, utamanya hutang sang suami. Adi lelaki sholih tetapi ia tidak cukup tangguh sebagai pencari nafkah. Dahulu, Ayu menerima pinangan Adi karena melihat keluarga Adi kakak-beradik. Mereka orang-orang tough dan pejuang keras. Adi sendiri sebetulnya lulusan Universitas bergengsi. Tetapi ternyata, dari keluarga besar Adi, dialah yang berbeda. Jauh di luar dugaan Ayu, Adi ternyata tak memiliki daya tahan sebesar saudara-saudaranya.

 

*********

Ina, pada akhirnya berketetapan hati untuk menerima suaminya yang skizofrenia. Penanganan ODS- orang dengan skizofrenia ( untuk menghormati mereka, maka tidak disebut ‘pengidap, penyandang, penderita’) telah mencapai kemajuan pesat. Farmakologi alias bantuan obat-obatan dibutuhkan sepanjang hayat. Karena Anton menunjukkan gejala yang mirip sepanjang tahun, maka akan dapat diprediksi kapan datangnya gangguan. Yang penting, situasi dan lingkungan harus terkontrol. Anton kemungkinan harus tinggal di kota yang tenang, jauh dari tekanan dan kebisingan.

Begitupun Ayu.

Setelah ia menyadari bahwa kepribadian suaminya berbeda dari saudara-saudaranya terdahulu, bahwa suaminya memiliki potensi sendiri yang mungkin dalam pandangan orang terstigma sebagai pemalas dan orang yang enggan bekerja keras; Ayu  dapat menerima dan perlahan mencoba memahami. Konflik dan perang dengan suaminya masih berlangsung sesekali, namun kognisi Ayu mulai dipenuhi pemahaman sedikit demi sedikit.

Ada pernyataan menggelitik dari seorang psikolog.

Ia berharap, ada tes psikologi ketika sepasang calon suami istri akan menikah. Sebab menurutnya, tes psikologi sama pentingnya dengan imunisasi tetanus dan cek HIV Aids. Tes psikologi  akan memberi bekal bagi pasangan seperti apa kondisi belahan jiwa mereka.

 

Menilai Pasangan dalam Konsep Dunia Kuno

Sesungguhnya, menilai seseorang untuk masuk bursa kerja atau masuk bursa menantu/pasangan hidup telah dilakukan sejak zaman kuno. Kalau anda orang Jawa, pasti pernah dengan namanya weton. Weton ini mencakup hari lahir dan hari pasaran. Misal Senin Pon, Selasa Pahing, Rabu Legi dan macam-macam lagi. Orang Jawa yang memegang teguh aturan ini akan punya prinsip :  menikah harus hari ini, tidak boleh makan ini itu, dst. Secara pribadi saya kurang setuju dengan yang berbau khurafat atau takhayul. Namun tentang weton, saya melihatnya mirip zodiac.

Weton dan zodiac memprediksi tipe kepribadian seseorang. Namanya prediksi, tentu tidak mutlak 100% salah.

“Lho, katanya Aquarius tenang, kalem, menghanyutkan. Nyatanya dia keras dan gak bsia kompromi.”

“Ngakunya Leo! Pemimpin dan pendobrak, inisiator. Ternyata lahirnya doang yang Agustus, tapi nyalinya kayak anak kecil!”

Saya pernah bertanya tentang orang-orang yang saya kenal,  diprediksi wetonnya.

Sebut Tia dan Andi. Dua orang ini ternyata setelah ditelusuri memiliki weton yang keras. Harusnya mereka tidak menikah, tapi karena takdir  maka menikahlah. Orang-orang Jawa yang memegang filosofi Jawa dengan kuat mengatakan, orang seperti Tia dan Andi ini kalau tidak tirakat alias menahan diri dari segala godaan (godaan makan, godaan harta, godaan bicara, godaan marah dst) akan remuk redam rumah tangganya. Saya pikir ada benarnya. Sebab Tia dan Andi ini sama-sama keras kepala. Ampun dah kalau mereka sudah bertikai. Tidak ada yang bisa melerai selain diri mereka sendiri. Meminta Tia mengalah? Haduh, dia akan berkomentar bahwa dirinya sudah berkorban ini itu. Andi mengalah? Dia bilang sudah banyak mengalah sebagai laki-laki. Jadi? Syahwat Tia dan Andi dalam banyak hal belum dapat dikendalikan seperti syahwat bicara, dst. Istilah orang sekarang nyolot. Baik Tia atau Andi bisa berkata-kata yang membuat ubun-ubun berasap. Lha saya yang tidak seatap aja bisa panas kuping, apalagi mereka yang seatap seranjang saling melempar kata-kata tajam mendengar pilihan kata-kata mereka yang kelewat tajam.

Kejadian yang lain, sebut namanya Donna dan Rangga.

Sama seperti Tia dan Andi yang wetonnya tak selaras, Donna dan Rangga ini mendapat peringatan dari banyak kalangan bahwa pernikahan mereka akan penuh tantangan. Saya sependapat dengan para penasehat Jawa. Secara psikologis, Donna dan Rangga sama-sama anak mami yang sepanjang hidup mereka, sang Bunda mengambil alih peran kemandirian dan tanggung jawab. Alamak! Dua orang yang belum mandiri, manja, egois disatukan dalam satu mahligai. Yah, dapat ditebak Donna dan Rangga menjalani hari-harinya. Sampai-sampai seorang penasehat Jawa berkata : kalau keduanya tidak puasa Daud, pernikahan tersebut akan buyar.

Menilai (Calon) Pasangan dari Sudut Pandang Psikologis

Menurut saya, tes kepribadian masih relevan untuk dilakukan bagi mereka yang ingin menikah; asal jangan tes inteligensi (kecuali bila sangat diperlukan). Sebab pernah terjadi kasus, sepasang calon pengantin akan menikah dan iseng-iseng mereka tes inteligensi. IQ si lelaki ternyata jauh di bawah perempuan dan calon mempelai itu lalu membatalkan rencana pernikahan mereka!

Tes kepribadian ada banyak sekali.

Yang sederhana, untuk dapat memahami OCEAN – openness to experience, conscientiousness, extraversion, agreebleness & neuroticm. Manakah yang lebih dominan, manakah yang lebih rendah? Tes kepribadian inipun sebaiknya berupa anjuran, bukan seperti cek HIV Aids atau imunisasi yang lain. Sebab, di Indonesia pemahaman tentang dunia psikologis masih belum sepenuhnya diterima.

Dari sini, calon suami atau istri bisa mendapatkan data yang mungkin suatu saat dibutuhkan. Bila ternyata dengan data tersebut dia bersedia menerima dengan segala konsekuensinya, Alhamdulillah. Kasus Ina dan Anton adalah salah satu kasus sangat ekstrim. Sungguh indah kata-kata Ina.

“Mengapa saya sok suci dan sok baik, sok pintar dengan menilai Anton? Memang dia ODS, tetapi sepanjang saya berhubungan dengan lelaki, Anton lah yang paling baik. Saya belum pernah menemukan lelaki sebaik dia. Dia jujur, tulus, apa adanya. Saya khawatir ketika meninggalkannya, justru tidak mendapat lelaki sebaik dia.”

bulan nararya

Bulan Nararya : novel psikologis dengan kisah seorang perempuan yang memiliki suami ODS

Memang, orang-orang seperti Anton ini memiliki kekurangan di bidang stabilitas mental. Namun seringkali, orang-orang seperti ini yang sangat baik hatinya. Hati mereka suci dan murni, tidak memiliki prasangka dan kebencian sama sekali. Ah, memang Allah memberikan satu kelebihan dibanding yang lain. Lagipula, sebagai orang terpelajar, Ina lalu banyak belajar tentang ODS dan cara penanggulangannya; termasuk rutinitas mengkonsumsi obat dan mempersiapkan rencana masa depan. Masyaallah…cinta yang indah ya? Mengingatkan saya pada novel Bulan Nararya.

Ketika telah memiliki data tentang gambaran kepribadian calon pasangan, atau mungkin ketika kita telah  menikah dan baru tahu tentang tes kepribadian ini; gunakan data ini secara bijak. Jangan sampai ketika tahu kekurangan (calon) pasangan maka kita serta merta mundur atau meninggalkan. Boleh jadi watak pasangan keras dan tidak mau kompromi; tetapi dia tipologi orang yang mudah didinginkan dengan sentuhan dan kelembutan. Boleh jadi pasangan seorang pencemas dan selalu punya pandangan negatif terhadap segala sesuatu; tetapi di sisi diri kita yang punya sifat optimis dan terbuka, si dia akan melejit potensinya.

Ingat, Kepribadian BUKAN Inteligensi!

Ayu dan Adi, Tia dan Andi, Donna dan Rangga mungkin terkecoh . Lelaki pilihan hidup mereka adalah lelaki brillian di dunia kampus dan dunia kerja. Adi, Andi, Rangga adalah orang-orang dengan inteligensi jauh di atas rata-rata; terbukti dari kemampuan akademis mereka dan keahlian bisnis mereka.

Perempuan seperti Ayu, Tia, Donna ‘terkecoh’ bahwa orang dengan inteligensi tinggi pastilah orang yang dapat diandalkan. Ternyata belum tentu demikian. Orang dengan inteligensi atau IQ tinggi belum tentu memiliki kematangan pribadi, mampu bersikap dewasa, dapat mengambil keputusan tepat di situasi sulit, menjadi solution-maker di saat kritis dan sederet harapan kita yang melambung tinggi.

Kadang, orang dengan IQ tinggi justru memiliki relasi kurang baik dengan manusia lain. Kadang orang dengan IQ sedang atau bahkan di bawah rata-rata dapat memiliki hubungan hangat dan harmonis dengan sekitar. Pendek kata, ketika memilih pasangan, janglanlah silau oleh sesuatu yang terlihat sebagai pencapaian, prestasi, kehebatan dan seterusnya.

“Wah, pasanganku aktivis kampus. Pasti dia keren!”

“Dia jadi pembicara dimana-mana, tentu senang kalau jadi pasangan hidupnya.”

“Pengusaha muda, pintar, kaya. Siapa yang nggak mau jadi istrinya?”

Inteligensi atau IQ sering dapat tampil ke permukaan tetapi karakter seseorang dapat tersembunyi jauh di dasar perilaku keseharian dan baru terlihat gambaran sesungguhnya ketika seseorang telah seatap, serumah, semeja makan, seranjang. Ada kan, orang yang demikian hebat di kantor, disenangi atasan, rekan kerja dan anak buah; namun di rumah perilaku dan kata-katanya sangat kejam kepada istri/suami dan anak-anak? Yang tampil di luar rumah adalah persona dirinya yang terpoles rupawan, yang ada di rumah adalah citra dirinya yang sesungguhnya.

Tes kepribadian untuk melihat profil psikologis pasangan, tentu harus hati-hati diputuskan.

Tes kepribadian untuk merekrut karyawan atau manajer telah lazim dilakukan, sebab ketika tertolak, calon pekerja dapat mencari pekerjaan lain. Tetapi profil kepribadian seseorang dalam rangka memilih atau dipilih sebagai pasangan hidup, dapat menjadi stigma yang melekat sepanjang waktu. Apalagi bila kemudian orang dengan hasil profil negatif, ditolak untuk menjadi calon menantu atau calon istri/suami.

Saya pernah melakukan tes kepribadian kepada seorang gadis, sebut namanya Lusi. Hasil tes kepribadiannya sungguh ‘ajaib’ sebab jalan kehidupan di belakang Lusi demikian traumatik. Rasanya ngeri membayangkan gadis seenergik Lusi memiliki kisah hidup sedemikian rupa. Saya sampaikan kepada lelaki yang baru menikahinya.

“Tahukah anda seperti apa masa lalu Lusi?”

“Saya tahu dengan persis Mbak, karena itu saya siap menikahinya dengan segala konsekuensinya.”

Lelaki sholih ini, sebut namanya Sholih, memang mencoba menepati janjinya. Ia selalu bersiap ketika Lusi tiba-tiba mengalami tremor hebat dan pingsan di jalan terkena situasi traumatik. Salah satu yang disiapkan Sholih adalah ia telah mengatur jadwal pekerjaannya dan berkomunikasi dengan rekan-rekan sekerja bahwa sewaktu-waktu ia harus keluar mendadak dari kantor sebab Lusi membutuhkan bantuan dirinya. Sholih juga memiliki beberapa nomer telepon darurat yang akan selalu dikontak untuk memastikan Lusi baik-baik saja.

Tentu ssaja, tes kepribadian untuk memahami pasangan ini tak diperlukan bila kita betul-betul telah memahami dia dengan sebenar-benarnya. Kadangkala, ada sisi keraguan dalam diri, apakah dia persis sama seperti kesehariannya di luar rumah? Benarkah ia penyayang? Benarkah ia orang yang lembut dan seterusnya.

 

Insyaallah bersambung:)

 

 

 

Bagaimana Merawat Cinta dalam LDR – Long Distance Relationship?

 

 

Tak dapat dipungkiri, di era sekarang, pasangan terpaksa berpisah karena tuntutan kesibukan masing-masing. Mungkin saja suami atau istri sedang menempuh pendidikan di luar kota, luar pulau, atau bahkan luar negeri. Padahal, sangat besar hasrat untuk bertatap muka setidaknya sekali sehari. Sangat ingin bertemu fisik, memeluknya atau bersalaman ketika suami pergi. Kenyataannya, tidak selalu suami istri dapat tinggal serumah karena satu dan lain hal. Ada pekerjaan suami yang mengharuskannya mutasi tiap beberapa tahun sekali sementara anak-anak tentu harus pindah-pindah sekolah bila ikut terus kemanapun ayahnya pergi. Idealnya memang demikian. Namun bila terpaksa menjalin LDR, apakah yang harus dilakukan pasangan?

LDR ini dapat terjadi ketika pasangan masih membina karier di awal-awal tahun pernikahan sebagaimana yang saya tulsikan dalam buku Psikologi Pengantin.

long-distance-relationship-ideas-300x224

 

  1. Doa

Jangan remehkan doa ya, seberapapun terlihat ringan. Ya Allah, jagalah dia untukku, misalnya dmeikian. Dunia ini dipenuhi partikel dan molekul yang saling bersinggungan dan memiliki keterkaitan. Gelombang elektromagnetik memengaruhi satu wujud materi dengan wujud yang lainnya. Doa-doa seorang ibu sangat bermanfaat bagi ianaknya, begitupun doa suami berguna bagi sitri dan demikian pula sebaliknya. Doakan ia disana sehat, semangat, bahagia dan setia.

Doa ini juga sangat bagus bagi afirmasi diri bahwa perjalanan cinta yang mengharuskan perpisahan menyakitkan akibat LDR seperti ini akan berjalan baik-baik saja hingga waktunya tiba berkumpul kembali.

Jangan lupa untuk mengingatkan pasangan disana agar juga berdoa. Toh doa tidak selalu harus dalam bahasa Arab.

“Sama-sama berdoa ya Say, agar kita dapat dipertemukan kembali segera olehNya.”

Siapa tahu, doa sepasang manusia yang sama-sama naik di langit ketujuh akan berjodoh di bawah ArsyNya dan terkabul menjadi sebua takdir pertemuan yang indah.

 

  1. Lakukan kebaikan

Sama seperti doa, dalam dunia ini selalu ada ‘karma’ , hukum alam bahwa kebaikan itu akan berbalik kepada si pelakunya.  Bersedekah secara rutin akan menolak bala. Bersedekah senyuman kepada orang-orang akan menuai kebahagiaan dan orangpun balik mendoakan kita.  Jangan suka berbuat buruk bahkan kepada hewan dan anak kecil yang tidak mampu menolak ancaman hehe…

Berhematlah. Jangan mentang-mentang tidak ada pengawasan maka diri bebas melakukan segala sesuatu. Tetaplah menjaga diri seolah-olah si dia ada di samping dan dapat memantau. Kalau si dia tiba-tiba memberikan kejutan waktu : tahu-tahu hadir dan ketahuan kalau kita lagi suka shopping dan menghabiskan waktu dengan hang out, serta tidak mempedulikan situasi rumah; runyam juga kan?

Ketika berjauhan, bukan berarti kendali menjadi lebih longgar, justru harusnya lebih ketat. Batasi hubungan dengan lawan jenis agar tidak terjadi syak wasangka.

 

  1. Positive thinking

Positive thinking adalah obat bagi penyakit-penyakit mental mulai yang berat dan ghaib macam terkena sihir dan santet hingga kecemasan (anxiety). Berita perselingkuhan, CLBK, cinta satu malam, TTM, friend with benefit, online infidelity memang marak. Tetapi tidak berarti pasangan melakukan itu semua lantaran ia jauh dari kita.

Be positive.

Be happy.

Dalam Islam, husnudzan, walaupun tidak menghilangkan kewaspadaan. Artinya, tidak selalu kewaspadaan ini dianggap sebagai bentuk ,”ini waktunya aku nyewa detektif!”

Bila sudah lewat 2 pekan, atau 1 bulan; luangkan waktu untuk bertemu pasangan secara fisik. Bila ada kendala keuangan atau kesehatan, ungkapkan secara jujur agar pasangan tahu bahwa tidak bertemunya fisik bukan lantaran karena cinta yang memudar.

kalung-cinta

  1. Manipulasi otak

Otak itu dapat dimanipulasi lho!

Pasti tahu kan metoda hypnotherapy, hypnoparenting, hypnoselling. Atau bentuk afirmasi yang mengatakan : aku bisa, aku bisa, aku bisa; padahal awalnya gak bisa. Lewat whatsapp, line, facebook, atau email; lewat telepon atau rekaman suara katakana ia cantik atau ia tampan. Katakana cinta dan rindu. Walaupun sebenarnya hati tak rindu (karena kenyataannya ada pasangan yang lebih senang ditinggalkan suami/istrinya untuk sementara waktu agar bebas  beraktivitas); tetap harus katakan rindu, kangen, ingin bertemu, cinta, dan seterusnya.

Manipulasi otak ini penting agar kita tetap merasa bahwa kitalah yang paling menarik bagi pasangan. Kitalah yang paling dirinudkannya. Kitalah yang paling rupawan sejagad raya. Dan dia pun merasakan hal yang sama.

 

  1. Usahakan ‘lempar’ joke setiap hari

Jangan setiap kali diskusi via whatsapp seperti ini

“Aduh, Pa, dua dapur berat ya. Mama pusing nih!”

“Anak-anak butuh perhatian. Gimana nih kalau sosok ayahnya gak ada?”

“Mas sibuk banget ya? Sampai-sampai gak sempat nelpon aku dan anak-anak?”

“Mama kirim via excell, lengkap dengan attachment semua bon pengeluaran kita ya!”

Gubrak deh!

Suami disana enggan membaca notifikasi pesan yang masuk, dari akun bernama mama pusing.

Kirim meme lucu agar dapat tertawa berdua. Tawa adalah obat ampuh bagi hubungan cinta lo!

  1. Jangan bawa emosi amat sangat saat online

Percayalah, bahasa lisan dan tulisan itu bedaaaaaa jauuuuhhh!

Jawab singkat bisa bermakna sejuta.

“Bisa ditelpon, Mas?”

Jawabnya : Y.

Hati sudah senewen. Sebelum dia disana selesai typing… maka kita sudah lebih dahulu mengirim : kok gitu jawabannya? Gak suka ditelpon ya?

Padahal mungkin si dia lagi mau lari ke kamar mandi, buang air kecil dulu biar pas di telpon gak kebelet-kebelet saking panjangnya isi aduan macam BAP.

 

Sumber gambar

http://livesadvice.com/tag/long-distance-relationship/

https://www.etsy.com/uk/market/long_distance_relationship

 

 

 

 

 

 

5 Cara Mengetahui Pasangan Berbohong

 

 

Jangan sampai pasangan berselingkuh, naudzubillahi min dzalik.

Bagaimana mengetahui kalau pasangan yang dicintai telah berdusta, bahkan mungkin tengah bermain mata di belakang? Mengetahui telah terjadi hal negative atau menyimpang dalam hubungan cinta perlu dideteksi sejak awal. Sehingga, keputusan-keputusan tepat dapat diambil. Apakah hubungan ini pelu diteruskan? Apakah sudah waktunya mendatangi konselor? Apakah si dia punya kepribadian yang nyeleneh?

Yuk, simak!

 

  1. Minta ia mengulangi cerita.

“Mas , kamu hari ini kemana?’

“Oh, aku makan siang dengan dengan teman alumni di Sutoz.”

Kalau ingin mengecek apakah cerita itu valid, beberapa jam kemudian dalam kondisi ia lengah (mungkin sambil nyetir, atau dia lagi buka fesbuk, atau lagi nyuci motor) ;pancing lagi dengan pertanyaan beda.

“Ada film Golden Globe lagi diputar di Cito dan CGV. Tadi kemana?”

Kalau benar-benar ia ke Sutoz, ia dapat mengulangi lagi dengan jawaban sama “Sutoz”. Makan malam nanti boleh diulangi lagi dengan cara berbeda.

“Eh, aku ada teman kerja di café makanan Jepang dimana tuh…yang Mas tadi sebutkan..?”

Kalau dia berulang-ulang masih dapat  menyebutkan Sutoz, berarti insyaallah ceritanya valid.

Teknik ini digunakan dalam salah satu buku feature tentang spionase karya Victor Ostrovsky. Cara merekrut orang yang tekun dan teliti serta tepat, adalah ketika orang itu dapat ditanya pada saat-saat terdesak dengan jawaban konsisten. Misal, nama saya Sinta dan harus menyamar menjadi Mona. Maka kemana-mana harus memakai nama Mona. Suatu saat, ada tim penyeleksi yang tau-tahu menabrak saya di mall, lalu barang saya berjatuhan.  Dalam kondisi gugup mereka akan bertanya :aduh maaf ya Mbak…sorry barangnya jatuhh. Mbak siapa ya…?

Begitu saya jawab “Sinta”, maka saya nggak akan lolos sebagai agen spionase. Orang-orang yang terlatih untuk “berbohong” akan spontan menyebut Mona. Dan itu melalui pelatihan bertahun-tahun, serta harus orang-orang bertalenta tertentu yagn dapat lolos seleksi tersebut, menurut Victor. Cara deteksi kebohongan seperti itu bisa dilakukan pada seseorang ketika diminta mengulang-ulang sebuah cerita. Akuratkah? Konsistenkah?

  1. Balik sekuensial

Coba tanyakan urutan sebuah kejadian.

“Hari ini ke Sutoz ya? Jam berapa Mas? Soalnya aku juga rencana mau ketemuan alumni tapi bingung makan dimana.”

Dia akan cerita.

“Darimana Mas berangkat, biar gak macet?”

Dia akan cerita. Selang beberapa lama, coba tanya kembali.

“Eh, Mas berangkat awal darimana ya?”

Dia akan cerita dan kita dapat menambahkan pertanyaan, “dari bakso Solo itu belok  atau lurus ya?” atau ,”jam segitu macet gak ya di Wonokromo?”

Kalau titik ebrangkatnya dari kantor di Ahmad Yani dan betul-betul menuju Sutoz, maka ia akan benar-benar tahu jalan kesana meski pertanyaan dibolak balik. Anya saja jangan interogatif banget ya…pasangan bisa sebel kalau disangka yng enggak –enggak hehe…ini kalau ada kekhawatiran yang mulai sangat mencurigakan.

  1. Beri kejutan waktu

Atur pertemuan tiba-tiba tanpa kasih kabar terlebih dahulu. Tahu-tahu muncul di kantornya. Tahu-tahu kembali ke rumah (kalau dia di rumah). Pasangan yang masih saling mencintai dan saling setia akans angat senang dengan kejutan ini.

“Lho, kok kamu datang ke kantor sih?”

Kalau dia marah, bisa juga karena merasa terganggu. Lha wong lagi meeting sama atasannya dan tiba-tiba kita bawa pizza…kan serba bingung hehehe. Tapi kalau nggak ada apa-apa, biasanya pasangan hanya agak bête dan kaget, marahnya nggak akan sampai kelewat batas. Kalau ada apa-apa saat kasih kejutan waktu dan dia marraaah besar…perlu dipertanyakan. Memang pertemuan macam apa atau dengan siapa yang diinginkannya?

 

  1. Kasih hadiah tiba-tiba

Beri hadiah kejuta. Kaos, hem, sepatu atau kaos kaki. Jilbab, bros, atau blus. Lihat reaksinya. Biasa-biasa aja? Atau senang bukan main?

Hadiah dari pasangangan yang sangat dicintai, pasti akan begitu membahagiakan. Ingat waktu Rasulullah Saw memberi hadiah bebatuan pada bunda Aisyah ra? Bunda Aisyah girang bukan kepalang. Ya, namanya cinta! Walau hanya oleh-oleh seplastik es jeruk, atau setangkai bunga dari kebun di depan rumah; hadia dari orang tersayang itu sanat membahagiakan.

Kalau suda tidak ada perasaan cinta, hadiah-hdiah apapun akan terasa remeh temeh dan hambar. Rekasi yang timbul biasa, bahkan acuh tak acuh. Malah timbul marah : kok kamu boros begini sih? Nggak usah deh kasih-kasih hadiah lagi. Yah…beli hadiah memang boros sih.,..tapi jangan segitunya memarahai pasangan yan gsudah berniat baik dan bersusah payah.

  1. Pinjam telepon selulernya

Ponsel atau HP yang diberi password adalah pertanda tidak ada saling keterbukaan antara pasangan. Cobalah sesekali pegang HP pasangan dan lihat reaksinya. Atau pinjam dengan alasan pulsa habis atau kuota internet limit. Kalau si dia biasa saja, maka tidak ada apa-apa. Kalau kalang kabut, nah!

Alhamdulillah, saya dan suami suka gaonta ganti HP berdua. Maksudnya tukar menukar. Suami terbiasa lihat chat saya (paling saya larang untuk melihat yang ada tanda khusus sebab itu chat klien saya). Da sayapun bebas mau lihat emailnya, chattingnya, atau foto-fotonya.

“Wah, kali aja si dia punya HP lain di kantor.”

Saya ingat Abraham Lincoln berkata : engkau bisa sesekali membohongi orang. Tapi engkau tidak bisa membohongi orang sepanjang waktu.

Sama seperti Victor Ostrovsky dalam tulisannya tentang spionaseyang intinya : mereka yang tidak terlatih untuk berbohong demi keamanan negara, akan terjatuh suatu saat nanti bagaimanapun lihainya.

 

Meskipun kita sudah membekali diri dengan ketrampilan mendeteksi kebohongan, ketrampilan menaklukan pasangan, ketrampilan memikat hati lawan jenis dan seribu ketrampilan lainnya; jangan lupa untuk berdoa kepadaNya. Dia-lah yang membolak balik hati manusia. Jadi, teruslah berdoa dalam sujud atau waktu-waktu istijabah, semoga cinta suci ini abadi hingga di Jannatul Firdaus. Aamiin yaa Robb…

Membincang buku kita : best seller, very fast moving, write off, dan gagal pasar

 

 

Setiap penulis, pasti berharap bukunya best seller atau laris manis di pasar.

Bila royalty 1 buku 10 % dan harga buku Rp.50.000 misalnya, maka penulis bisa dapat Rp.5.000 rupiah perbuku. Kalau buku terjual semua 3000 eksemplar, wah, dalam satu periode pembayaran royalty dapat Rp.15.000.000. Maka, penulis yang bukunya best seller biasanya dapat membeli laptop, komputer, sepeda motor, bahkan mobil dan rumah. Dapat naik haji dan umroh, melakukan perjalanan keluar negeri dan seterusnya. Senang ya?

 

Kapan buku best seller?

Berbincang tentang best seller, tentu tidak mudah. Sebab best seller belum tentu sama dengan best quality. Ada buku-buku yang menang lomba, sangat bagus tema dan idenya, cantik diksinya, namun buku tersebut jeblok dipasaran. Penyebabnya macam-macam. Mulai cover yang kurang menarik, penulis yang kurang dikenal, promosi yang kurang gencar serta moment yang tidak pas.

 

psikologi-pengantin

Alhamdulilah, 3 bulan telah naik cetak yg kedua

Dalam perjalanan kepenulisan saya, tidak semua buku-buku best seller. Yang penjualannya best seller antara lain Lafadz Cinta, Pink, Rinai, The Road to The Empire dan Alhamdulillah sekarang Psikologi Pengantin.

 

Yang very fast moving saat baru terbit adalah The Road to The Empire.

Buku yang hingga kini masih diminati dan terus ditanyakan pembaca adalah Rose, Rinai, Bulan Nararya serial Takudar : Sebuah Janji, The Lost Prince, The Road to The Empire dan Takhta Awan. Buku anak-anak pun demikian seperti Janji Cici dan Ketika Upi Bertanya.

Apa sebab buku tersebut laris manis?

 

1.Karena covernya : Lafadz Cinta, Pink. (ada pembaca yang menyangka penulisnya adalah yang terpampang di cover. Hellooo….itu Karina Kapoor, plis. Penulisnya lebih cantik kwkwkwk)

2. Karena kisahnya yang spesifik : serial Takudar. Tidak setiap penulis menyukai setting Mongolia dan mengangkat tokoh yang jarang dikenal. Saya memang sudah lama jatuh cinta dengan Takudar ini, sejak menemukan buku warisan ayah berjudul The Preaching of Islam Thomas W. Arnold.

 

3.Karena kisahnya yang sederhana : Rose dan Lafadz Cinta. Rose dan Lafadz Cinta ini sebetulnya kisah cinta yang sederhana, setiap penulis insyaallah bisa menulisnya. Bandingnya dengan serial Takudar yang mungkin tidak setiap penulis bisa menuliskan setting Mongolia sebab memang tidak terlalu menyukai dataran China, gurun Gobi dan sejarah Jenghiz Khan.

cover-rinai1

Rinai : Palestina

4.Karena momentnya yang pas : Rinai bersetting Palestina. Novel ini tergolong lumayan ‘berat’ sebab berbau psikologi. Namun moment yang tepat, bersamaan dengan moment Palestina, novel ini cukup laris di pasar.

 

5.Karena dibutuhkan masyarakat : Psikologi Pengantin. Banyak anak muda dan pasangan baru yang butuh panduan psikologis tentang pernikahan dan bagaimana merawat hubungan agar tetap seperti pengantin baru. Sepertinya, kebutuhan pasar inilah yang membuat Psikologi Pengantin dapat naik cetak yang kedua dalam jangka waktu 3 bulan sejak terbitnya.

 

Buku Write Off

Buku write off adalah buku yang ditarik dari pasaran karena sudah dianggap tidak layak jual (duh sediiih banget …hiks). Buku ini biasanya dikembalikan hak terbitnya kepada penulis dan penulis berhak untuk : merevisi naskah, menyerahkan pada penerbit lain, menerbitkan dalam bentuk e-book atau menerbitkan di blognya pribadi.

Sebetulnya, buku write off belum tentu berarti  buku kita jelek lho.

Buku ditarik dari pasaran kemungkinan momentnya kurang tepat, promosinya kurang gencar. Banyak buku write off yang dikembalikan ke penulis lalu penulisnya menjual via online dan buku tersebut malah laris manissss.

 

Bagaimana membuat buku best seller?

Manusia wajib berusaha. Allah Swt yang akan merumuskan akhir perjalanan kita, termasuk bagaimana nasib naskah-naskah yang ditulis dengan segenap pengorbanan. Nyaris, tidak ada penulis yang sembarangan ketika menuliskan sebuah karya, walau ia hanya selarik puisi.

Bila ingin buku best seller, ayo kita saling berbagi ilmu. Pengalaman saya di bawah, semoga bermanfaat buat saya pribadi dan buat orang lain.

  1. Cover. Jangan main-main dengan cover. Orang Indonesia suka sekali dengan tampilan dan kemasan. Cover Lafadz Cinta, saat itu sedang booming cover buku menggunakan wajah seseorang. Kalau sekarang novel saya diterbitkan dengan cover wajah, mungkin orang tidak melirik. Diskusikan dengan editor, illustrator, apa cover yang menarik di pasaran. Penulis harus sering jalan ke toko buku dan melihat apa sih buku yang sedang digemari kalangan tertentu. Cover Pink pun demikian eye catching maka kumpulan cerpen Pink sangat laris saat itu.
  2. Judul. Ternyata, judul buku juga berpengaruh. Dari hasil diskusi dengan banyak orang, ternyata judul buku harus simple dan tidak multitafsir. Kitab Cinta Patah Hati, Cinta x Cinta, dan Psikologi Pengantin adalah buku-buku motivasi cinta yang saya tulis dengan mengumpulkan referensi psikologi puluhan bahkan ratusan. Namun , tidak semua buku itu diterima pasar dengan baik. Kata para pembaca, Cinta x Cinta menimbulkan multitafsir : ini apa sih isinya? Walaupun cover dan tampilan buku itu untuk remaja. Sementara Psikologi Pengantin jelas mengarah pada orang yang mau menikah, ingin menikah, atau baru menikah.
  3. Promosi. Rajin- rajinlah promosi di media sosial : blog, twitter, instagram, fanpage, facebook. Semoga, audience semakin sadar bahwa ada buku manis sedang terbit di pasaran. Setiap orang yang menanyakan buku ini coba ditanggapi, sekalipun hanya bertanya : berapa harganya? Ada di pasaran enggak? Walaupun kadang-kadang pembaca dan khalayak menanyakan hal-hal yang membuat penulis bersedih : ada diskon? Ada gratisan? 200 halaman buku baik novel atau non fiksi, ditulis setidaknya 1 bulan lebih. Ada yang 3, 6 bahkan 24 bulan! Malah ada yang bretahun-tahun! Betapa sedihnya ketika khalayak masih beranggapan buku terssebut seharusnya lebih murah dari Rp. 50.000. Tetapi, penulis sedang mengkomunikasikan karyanya dengan pembaca. Maka penulis harus bermental positif untuk meyakinkan khalayak : buku ini layak anda miliki sekalipun uang anda akan berkurang Rp.50.000
  4. Paket. Kalau buku sudah write off, ambil saja oleh penulis. Jual system paket. Biasanya , pembaca suka beli system paket sebab ongkos kirimnya sekalian. System paket juga mereduksi harga buku. Penulis senang, pembaca juga senang.
  5. Doa. Ini factor X yang tidak boleh dilupakan siapa saja. Hanya Allah Swt pemberi rezeqi. Bila rezeqi royalty belum milik penulis, mungkin rezeqi yang lain mengintip. Rezeqi menang lomba, rezeqi cerpen koran atau majalah, rezeqi mengisi acara dll. Mental positif akan membuka pintu rezeki, insyaAllah.

 

 

Mengapa Psikologi Pengantin?

 

Banyak hal baru di buku ini. Detail mengupas masalah keluarga dari pernik-perniknya, cocok buat yang mau menikah atau sudah menikah. Yang kita awam masalah seksologi dan trauma-trauma, mbak Sinta bisa mengupas dengan netral, yang kadang dikalangan kita tidak terpikir,” Agustina, Jakarta

daftar isi Psikologi Pengantin

Daftar isi Psikologi Pengantin

Mengapa menulis Psikologi Pengantin?

Masalah pernikahan yang dihadapi pasangan muda atau pun pasangan matang, berkembang dari waktu ke waktu. Perselingkuhan, relasi dengan anak dan orangtua (juga dengan pasangan), money management, pilihan karier dan masih banyak lagi. Hal yang tabu untuk dibicarakan –hubungan intim- ternyata sangat sensitive untuk segera dibahas sejak awal pernikahan agar masing-masing mendapatkan jalan keluar.

Terpanggil menulis panduan yang ringan namun memberikan informasi lebih, Psikologi Pengantin disusun.

Hal utama yang ingiin disampaikan adalah, agar setiap permasalahan pernikahan diselesaikan dengan cara bijak, ilmiah, dengan langkah-langkah bertahap yang terprogram. Bukan sekedar berlandaskan kata orang atau semata-mata keputusan emosional belaka.

Masalah seksual misalnya.

Kepada siapa kita bertanya bila ada hambatan dengan pasangan?

Ah, bukankah masalah ranjang memalukan untuk dibahas? Seolah yang mengadukan maniak dan tidak mau menerima apa adanya. Hal ini tentu saja sangat salah. Hubungan seksual adalah ibadah dalam Islam. Setiap ibadah seperti sholat,  zakat, puasa, haji , ada aturannya. Ada rambu-rambunya, selain hikmah yang didapatkan. Sholat perintah Allah Swt, hikmahnya berupa kesehatan fisik dan mental. Hubungan seksual adalah perintah dari Allah Swt yang sampai termaktub dalam Quran. Hikmahnya menimbulkan kestabilan emosi. Bila orang mengabaikan sholat , apakah jadinya? Sebagaimana orang menjadikan seksual sebagai permainan belaka, apakah dampaknya?

Ada beberapa hal yang bagi saya menarik untuk dituliskan.

Psikologi Pengantin membahas prewedding dan post wedding. Di antaranya pre dan post, terdapat sub bab khusus membahas seksologi. Dalam prewedding, bahasan karierku dan kariermu salah satu yang saya pribadi sukai.  Teman-teman yang saya temui sepanjang lawatan di dalam negeri dan luar negeri memberikan banyak pengalaman baru terkait karier masing-masing . Begitupun me-time, yang tercantum dalam post wedding. Mengapa me-time penting bagi  masing-masing pasangan? Mengapa suami tetap butuh waktu untuk berkumpul dengan teman-temannya , begitupun istri perlu waktu untuk mengembangkan diri dan menyalurkan hobby?

Lalu, apa pula isi seksologi? (bersambung)

crop cover Psikologi Pengantin

 

 

Psikologi Pengantin

 

Psikologi Pengantin

Cover Hijau Psikologi Pengantin

Yang punya istri pintar cari uang dan aktif di luar, eh, suaminya selingkuh juga.

Yang punya istri berkhidmat di rumah, mengabdi pada suami dan anak-anak, eh ditinggal juga.

Yang suaminya ganteng dan sholih, bukan jaminan juga istrinya tak berpaling.

Jadi pernikahan itu bagaimana sih? Bagaimana menjadikan pernikahan kita tetap seperti masa-masa pengantin?

Ada yang bilang,  melayani suami harus lihai dapur dan kasur. Tapi tahukah anda, penemuan-penemuan di ranah psikologi dan sosial  merumuskan hal-hal mengejutkan seputar pernikahan?

Saya terkejut dan merenung saat menelaah puluhan riset  tersebut , lalu membuat buku sederhana ini , berjudul  Psikologi Pengantin yang semoga menjawab pertanyaan.

  • 5 tahun pertama pernikahan bolehlah laki-laki dirayu dengan kasur. Tapi ternyata, ada lagi yang dibutuhkannya. Simak diskusinya di buku ini ,ya.
  • Ada permasalahan kunci dalam pernikahan suami istri yang seringkali tabu dibicarakan. Atau sekali dibicarakan, bisa berujung ledakan. Apakah sex? Atau yang lain?
  • Ada beberapa titik penting pernikahan yang kalau diperhatikan seksama, dapat menjadikan suami istri pengantin sepanjang masa.
  • Buku ini mungkin vulgar di beberapa bagian, terutama hubungan intim suami istri. Tapi percayalah, membahas hal tabu yang dalam Islam bernilai ibadah, lebih baik dibicarakan dalam konteks ilmiah daripada mencuri-curi pengetahun dari google serta youtube!

 

Untuk pemesanan Psikologi Pengantin (harga 40 K) ,

Kontak Penerbit Indiva atau

Vidi 0878 -5153 -2589

Ayyasy 0856- 0865-4369

 

Nantikan  kuis-kuis menarik seputar Psikologi Pengantin yang berhadiah macam-macam gantungan kunci mancanegara !