Bisakah Menciptakan Anak Genius?

 

 

Rasanya sebuah kebetulan yang menakjubkan, ketika Mei ini buku Mendidik Anak dengan Cinta dan National Geographic Indonesia mengangkat tema yang tak akan pernah habis dibahas : IQ dan Kegeniusan.

 

Sebagai seorang psikolog, salah satu hal paling merangsang minat bagi saya adalah tentang perihal genius. Yang bila seseorang berhasil menguasai hal tertentu dengan brilian, ia akan dikatakan gifted. Sampai-sampai saya benar-benar ingin membuat buku khusus tentang bab Genius dan Gifted. Atau istilah radikalnya, ekstrim kanan.

 

Saya penyuka sejarah.

Selalu terpukau oleh gambaran orang-orang hebat dunia : Shalahuddin al Ayyubi, Al Fatih, Steve Jobs, Einstein,  Habibie, Nelson Mandela, Mahathma Gandhi. Saking liarnya pikiran ini, tiap kali bertemu orang pintar saya tergelitik bertanya : berapa skor IQ nya? Bukan untuk memvonis, untuk mengkotakkan, apalagi menghakimi. Namun instink saya berkata, pasti ada apa-apanya dengan orang itu. Apalagi bila bertemu orang hebat yang IQnya biasa-biasa saja. Ini jauh lebih mengesankan.

 

Pasti anda tak percaya bahwa Darwin dan Einstein awalnya dianggap biasa-biasa saja.

Membaca Natgeo Indonesia terbitan kali ini, benar-benar semakin membuat saya penasaran dan semoga semakin membakar impian-impian. Saya harus punya sanggar. Harus punya klinik art therapy. Harus punya pusat penelitian sendiri, terutama tentang anak-anak berbakta dan genius. Yang, kata Natgeo, jumlahnya sangat banyak di dunia. Hanya , karena lingkungan tidak memahami si genius ini, mereka dibiarkan layu dan mati.

 

Einstein dan Sidis

 

Dua orang ini benar-benar saya coba pelajari. Yah, meski saya tak punya irisan otak Einstein seperti yang tersimpan di museum Mutter, Philadelphia. Tetapi quote, buah pemikiran, biogarafi dua tokoh ini mudah ditemui.

Dua-duanya punya potensi otak hebat. Tapi jalan hidup yang dilalui sangat berbeda. Kiranya, saya simpulkan yang ternyata juga sesuai dengan Natgeo temukan. Ada hal-hal yang dapat dicapai dengan potensi IQ kita semua. Kalau diabaikan, layu dan punahlah ia.

  1. Seorang genius tidaklah solitaire. Einstein punya banyak teman. Mileva Maric, Michael Angelo Besso, Marcel Grossman adalah beberapa teman baik Einstein. Sidis? Ia dikabarkan sangat susah membangun relasi interpersonal. Bagaimana bisa demikian? Hal ini tekait dengan poin-pon yang lain.
  2. Orangtua yang mendukung. Einstein, Marc Zuckerberg, Steve Jobs, Margareth Tatcher, Terence Tao punya orangtua yang sangat megnerti anak mereka. Anak-anak spesial yang awalnya didiagnosis tidak pintar, namun orangtua memberikan banyak fasiltias pembelajaran. Ingat , fasiltias tidak selalu mahal! Steve Jobs hanya diberikan meja kecil, palu kecil, paku-paku. Sebab ayahnya hanya tukang kayu. Hermann Einstein hanya memberikan kompas kecil. Sidis? Orangtua memasukkannya ke Harvard di usia muda, memaksanya megnuasai banyak bahasa, mengontak media-media untuk menuliskan tentang anaknya yang berbakat. Najmuddin Ayyub mendampingi Shalahuddin al Ayyubi dalam memaknai intrik politik dan kekuasaan. Sultan Murad II, memilihkan guru-guru terhebat bagi Al Fatih.
  3. Gairah besar. Seorang genius harus didorong punya motivasi dan kegigihan. Sebab biasanya, anak pintar memang cenderung mudah bosan, mudah beralih, mudah meninggalkan hal-hal yang tadinya dimulainya dan tidak ingin diselesaikannya. Einstein, didorong relasi interpersonal yang bagus, punya teman-teman yang mendorongnya untuk berkarya. Ketika dunia dilanda perang, dengan cepat Einstein menjadi pejuang zionis sejati. Sidis? Rasa sendiri membuatnya patah arang hingga di usia 40an tahun ia harus masuk asylum. Al Fatih punya orang-orang yang mendorong dan memotivasinya untuk terus berjuang,s alahs atunya Aq Syamsudin, sang ulama kharismatik. Shalahuddin al Ayyubi, selain mendapat dorongan dari sang ayah Najmuddin Ayyub, juga senantiasa mendapat pendampigan dari Asaduddin Shirkuh, pamannya yang brilian dan pemberani.

Ayo, kita siapkan diri kita dan anak-anak kita untuk mengembangkan diri hingga optimal. Siapa tahu kita genius yang berikutnya!

 

Iklan

Buku baru : Mendidik Anak dengan Cinta

Pernahkah kita menemukan jalan buntu ketika mengajarkan bab Tuhan, malaikat, setan dan perkara ghaib lainnya kepada anak-anak?

Apakah kita sulit menanamkan rasa nasionalisme dan kebanggaan menjadi orang Indonesia ?

 

Berangkat dari permasalahan sehari-hari, disesuaikan dengan teori psikologi dan bagaimana sebagai orangtua harus terus mencari akal, mengasah ketrampilan dan jungkir balik berhadapan dengan sifat kritis dan kocaknya anak-anak; buku Mendidik Anak dengan Cinta ini terbit.

 

Dibagi menjadi 3 bab utama.

Bab 1 membahas bagaimana mengajarkan pada anak-anak perihal Tuhan hingga proses kematian.

Bab 2 tentang IQ dan EQ, terutama bagaimana orangtua memandang potensi IQ anak yang mungkin berada di kisaran <100, 100 atau justru > 100.

Bab 3 membahas tentang Kepribadian dan khususnya,  berbagi cara menumbuhkan 18 karakter Indonesia yang dicanangkan pemerintah mulai sifat religius, jujur, toelrasni, kerja keras, mandiri hingga di point 18 yang terakhir tanggung jawab.

 

Harga buku Rp. 65.000

Bisa pesan online ke Vidia 0878 -5153-2589 (whatsapp atau SMS)

 

Terimakasih 🙂

Children with Special Needs (ABK) : stem cell, pubertas, lapangan pekerjaan, hingga pasangan hidup ?

 

 

Mengisi acara bersama Prof. Bambang, spesialis anak ; mas dokter Hafid Psikater, mas Bayu psikolog adalah kesempatan berharga yang jarang-jarang saya dapatkan. Plus moderator ayah Aris yang tangguh, ayah dari ananda Raffi yang didiagnosis dengan Autism. Saya rangkum percik-percik ilmu luarbiasa hari itu untuk menambah khazanah pemahaman saya pribadi.

Apa aja sih yang didiskusikan?

Di bawah ini saya rangkum bahasan menarik yang insyaallah bermanfaat bagi pembaca : stem cell, pubertas, lapangan pekerjaan bagi ABK, pasangan hidup, relaksasi atau hipnoterapi, juga dukungan komunitas.

 

  1. Stem cell

Pertanyaan seorang peserta seminar menarik, tentang stem cell. Sang ibu bercerita, putranya yang mengalami autism disuntik stem cell di lengan. Ada perubahan perilaku sebab 2 hari sang putra lebih pendiam dari biasanya.

Benarkah stem cell dapat mengobati autism?

prof-bambang

Prof.dr. Bambang Permana, Spesialis anak

Penjelasan Prof. Bambang sangat menarik.

Beliau menjelaskan penelitian-penelitian terkait autism yang hingga kini terus digalakkan. Sebelum menjawab tentang tepatkah stem cell bagi autism, profesor Bambang menjelaskan penyebab autism :

  1. Kelainan fungsi otak karena inflamasi di jaringan interkoneksi otak kanan-kiri sehingga menimbulkan gangguan perilaku ASD (autis spectrum disorder) hal ini bisa disebabkans alah satunya oleh virus
  2. Logam berat. Dulu, orang menyangka imunisasi penyebab autis. Namun kecurigaan itu tidak mendasar sekarang. Logam berat banyak ditemukan di laut dalam, maka anak autis secara populasi sangat besar ditemukan di peseisir pantai. Sekarang warga AS jarang mau makan salmon sebab ikan salmon disebut-sebut banyak mengandung logam berat.
  3. Gangguang system imun pada pencernaan. Akibatnya protein-protein besar dari usus masuk ke darah, otak menimbulkan inflamasi. Maka perlu diperbaiki system pencernaan.

Apakah stem cell bermanfaat bagi autis?

Bila memperbaiki sitem imun pencernaan, kemungkinan suntikan stem cell akan bermanfaat bagi penyandang autis. Mengapa ananda pasca disuntik menjadi lebih diam? Kemungkinan sedang terjadi proses di dalam tubuhnya sehingga menimbulkan reaksi tersebut.

 

  1. Pubertas ABK

Hal yang mengkhawatirkan bagi orangtua dan pendidik adalah menghadapi pubertas ABK. Samakah pubertas mereka? Apakah mereka mengalami gangguan hormone? Apakah mereka dapat tertarik pada pasangan ?

Untuk pubertas, profesor Bambang mengambil contoh CP atau cerebral palsy dengan level 1, 2, 3, 4, 5. Bagai CP 1 tidak ada masalah dalam keseimbangan hormonal sehingga bagi remaja putra dan putri dengan CP 1 akan mengalami masalah pubertas yang sama saja dengan orang lain. Bagi CP 3-4-5 ada gangguan hormonal pada hipofis yang mengakibatkan ketidakwajaran proses.

Oleh sebab itu sekolah inklusi harus memasukkan unsur  pendidikan + kesehatan kedalam kurikulum agar semua pihak dapat mendampingi penyandang CP menuju kehidupan yang optimal.

 

 

  1. Lapangan pekerjaan

Bagaimana orang special need atau berkebutuhan khusus bekerja?

Beberapa perusahaan otomotif mempekerjaan penyandang thalessemia dan mereka memiliki kebijakan mengizinkan pekerja thalessemia untuk istirahat 3 hari tiap 6 minggu. Microsoft kono kabarnya mempekerjakan 1% pegawainya yang merupakan penyandang autism.

Lapangan pekerjaan sangat terbuka bagi orang berkebutuhan khusus.

Begitu banyak penyandang disleksia menjadi tokoh : David Boies, Steven Spielberg, Keira Knighley, Justin Timberlake, Keanu Reeves, Vince Vaughn. Daniel Radcliffe mengidap disfraksia. Autism salah satunya Claire Danes. Disabilitas seperti Stephen Hawking.

 

  1. Pasangan hidup

Apakah orang berkebutuhan khusus dapat menikah?

Profesor Bambang memberikan penjelasan khusus untuk CP. Untuk CP 1 dapat menikah dengan siapa saja, insyaallah. Namun mulai CP 3,4,5 sebisa mungkin orang dari pasangan normal sebab penyandang ini membutuhkan bantuan dalam kehidupan sehari-hari. Meski demikian, takdir Allah akan menentukan siapakah jodoh terbaik bagi orang berkebutuhan khusus.

 

  1. Ketidaksiapan orang tua

Banyak orangtua tidak siap menerima diagnose anak ABK. Ada yang meninggalkan pasangan dan anaknya. Ada yang bercerai. Namun tidak sedikit yang justru menjadi solid dan kuat luarbiasa, menjadikan kehadiran anak ABK sebagai anugerah tak terkira.

ortu-teladan

Incredible parents 🙂

Sedih, kecewa, merasa melakukan satu dosa, terpukul dan menolak takdir adalah sikap yang dialami orangtua ABK. Setelah menemukan kekuatan kembali, biasanya orangtua akan berjuang untuk memulai langkah panjang perjalanan.

ABK tentu membutuhkan kesabaran, dukungan financial dan dukungan sosial.

Bagi orangtua yang merasa terpukul, ikutlah komunitas agar mendapatkan pengalaman berharga dari orangtua-orangtua yang mengalami kejadian serupa.

 

  1. Komunitas

Family support group sangat penting. Di Surabaya ada komunitas yang digagas oleh dokter Sawitri. Kebetulan saya dan dokter Sawitri menerima penghargaan untuk perempuan berprestasi versi AILA 2016 kemarin di bulan April.

Mbak Sawitri ini punya komunitas Peduli Kasih ABK. Menjadi penjembatan antara orangtua-orangtua yang memiliki anak gangguan pendengaran, autis, cerebral palsy, down syndrome dan banyak lagi. Bertemu sesama orangtua akan berbagi informasi berharga seputar dukungan optimal terhadap ananda tercinta, juga, saling mendoakan dan menularkan aura positif.

Dukungan orangtua terhadap anak ABK sangat penting.

Dukungan pasangan terhadap orang berkebutuhan khusus sangat penting. Ini saya ungkap secara khusus di novel Bulan Nararya dan juga tema skizofrenia yang pernah saya tuliskan sebelumnya. Suami, istri, anak-anak yang dapat menerima kekurangan salah satu anggota keluarga; akan mengoptimalkan peran masing-masing. Kerjasama setiap anggota akan menghasilkan buah yang membanggakan!

 

  1. Beda cacat dan disabilitas

Menarik sekali hal singkat yang dipaparkan mas Bayu. Mas Bayu adalah seorang psikolog, relawan ABK Peduli Kasih dan penyandang disabilitas.

bayu

Mas Bayu, Psikolog yang luarbiasa !

Apakah beda cacat (impairment) dan disable?

Impairment atau cacat, dinisbatkan pada penderita dan seolah-olah itu menjadi aib serta kekurangan seumur hidunya. Missal cacat pendengaran, cacat penglihatan, atau impairment yang lain. Padahal, orang cacat bila diberi peluang dan pelatihan, akan sama aktivitasnya dengan orang normal. Ingat, 10% penduduk dunia adalah orang dengan kebutuhan khusus.

Bila, orang autis, disleksia, hearing impairment, cerebral pasly, maupun penyandang special needs lainnya mampu mandiri bahkan berkontribusi positif; apakah ia masih dianggap cacat?

Bahkan mungkin, ia tidak lagi dianggap disable sebab justru kiprahnya melampaui orang normal pada umumnya. Di Indonesia sendiri dikenal difabel atau differential ability , bahwa orang cacat sebetulnya bukan ‘cacat’ tapi mereka memiliki kemampuan lain. David Boies, pengacara terkenal dan kaya raya dari Amerika, memiliki cacat membaca. Sebagai penyandang disleksia ia mungkin membaca berkas klien hanya beberpa lembar berhari-hari saat orang normal hanya butuh 2 jam! Namun, David Boies mampu mendengar cermat dan menghafal cepat, serta merumuskan perkara dengan brilian sehingga mampu memenangkan kliennya. David Boies tentu tidak cacat, tapi justru punya different ability.

Apakah kita masih mengatakan Nick Vujicic cacat sementara ia adalah motivator tingkat dunia? Maka sebutan cacat, impairment, disable, handicapped harus sangat berhati-hati dilabelkan.

 

  1. Mirroring, hipnoterapi dan aura ketenangan

Sepanjang sesi seminar dan tanya jawab, biasalah, anak-anak heboh di belakang. Sebagian anak-anak yang hadir adalah children with special needs. Sesi seminar rebut. Sesi coffe break ribut. Sesi pemberian reward ribut.

Tetapi ada moment yang pantas dicatat ketika mas dokter Hafid (saya menyebut demikian karena dokter yang satu ini masih muda dan lucu banget!) memberikan panduan singkat tentang relaksasi.

Duduk di kursi. Telapak kaki menempel di lantai. Relaks. Posisi nyaman.

Setiap kali kita menarik nafas maka kedua tangan mengepal, telapak kaki menekuk ke atas sekua tmungkin ( kea rah tulang kering). Lalu hembuskan nafas pelahan sembari melepaskan kepalan tangan dan meletakkan kembali telapak kaki ke lantai.

Hal ini dilakukan semua peserta seminar berulang-ulang sembari memejamkan mata.

Apa yang terjadi?

Anak-anak yang semual heboh pun menjadi senyap!

Ternyata sikap tenang, sepi, senyap dari orangtua menular kepada anak-anak. Pantas saja emosi positif juga membawa dampak positif. Kalau orangtua heboh, ngomel, ngedumel panjang lebar; anak-anakpun makin gelisah. Betul kan?

 

Support Group ABK PEduli Kasih.JPG

Para relawan, guru, pendidik ABK yang luarbiasa 🙂

8 hal yang harus dilakukan suami agar istri tidak menjadi (pembunuh) kejam

 

 

Mata orangtua Indonesia tertuju pada Mutmainah ( Iin) , ibu dua anak yang dituduh melakukan pembunuhan terhadap anaknya Arjuna (1 tahun) , memutilasinya -naudzubillahi mindzalik-  dan melakukan penganiayaan terhadap Kalisa (2 tahun).

Bagi siapapun, berita pembunuhan akan menimbulkan perasaan ngeri mendalam. Bagaimana  mungkin seorang manusia tega menghabisi nyawa manusia lain, apalagi seorang ibu yang seharusnya menyayangi anak-anaknya? Ingatan kita akan melayang pada peristiwa mengejutkan pada tahun 2005 ketika Andrea Yates menghabisi 5 putranya sendiri padahal kehidupan keluarga mereka cukup mapan secara ekonomi mengingat Rusty Yates bekerja di NASA. Peristiwa Mutmainnah juga membuat kita melongok sejenak pada para ibu yang berhasil mengatasi depresinya, salah satu yang terkenal adalah Brooke Shield.

DSC_1426.JPG

Buku yang wajib dibaca Ayah dan Bunda 

Stress , Anxietas, Depresi, Skizofren

Stres adalah tekanan kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti mengalami stres. Tekanan pekerjaan, tekanan ekonomi, tekanan akademis. Hampir setiap hari kita bertemu orang stres di jalanan. Para pengendara yang tak sabar menunggu lampu hijau, orang yang marah karena tersenggol motor, anak yang tidak tahan di bully teman, remaja yang tidak suka ditegur guru, anak yang ingin beli HP tapi tidak kesampaian, para lelaki yang ingin beli mobil tapi belum mampu dan seterusnya.

Stres mengintai kehidupan sehari-hari.

Tapi stres, sejatinya kehidupan yang biasa saja dan pantas dialami. Tanpa stres manusia justru tidak akan meningkatkan kewaspadaan dan potensi lain dari dirinya.Namun, stres yang tidak terkendali dapat menimbulkan kecemasan berlebih, selanjutnya depresi dan dalam tataran tertentu skizofrenia. Depresi kategori ringan dan sedang saja sudah memerlukan penanganan, apalagi depresi tingkat berat.

Andrea Yates dan Mutmainnah kemungkinan tengah mengalami depresi berat ketika lintasan pikiran destruktif itu muncul : kamu atau aku yang mati? Keinginan untuk mati bersamalah yang biasanya timbul, meski pada akhirnya, justru lebih banyak peristiwa yang berakhir dengan pelaku tak mampu commit suicide. Sebab memang sejatinya ia bukan pembunuh. Ketika kejadian pembunuhan tersebut berlangsung, ia tengah melampiaskan emosinya yang paling dahsyat dan paling negatif, dan ketika telah terlampiaskan malah sesal berkepanjangan yang tumbuh sepanjang hayat.

 

Antisipasi depresi dan stres sejak awal

Apa ciri khas depresi  berat?

Iin Mutmainnah diceritakan bertubuh kurus, pendiam. Ia pernah menelepon adiknya Riswanto, ia ingin berpisah dari suami. Mengapa orang inign bercerai tentu karena tealh sampai di titik puncak penderitaan dan mengalamai jalan buntu. Orang-orang depresi berat biasanya kehilangan selera makan. Jangan remehkan istri anda dan ibu anak-anak ketika mulai kehilangan selera makan.

“Ya ampun, cuma nggak mau makan aja kok! Biasanya doyan makan dan ngemil segala macam.”

Depresi ringan mungkin hanya ditandai kecemasan berlebih, takut bertemu orang atau malah melampiaskan pada banyak makan. Pada kasus depresi berat orang-orang menjadi anhedonia – kehilangan rasa suka pada dunia. Dunia tidak memiliki daya tarik lagi. Menonton, jalan-jalan, tidur, berbicara, berbincang, bahakn makan sudah bukan daya tarik. Rasanya permasalahan begitu pepat mengisi otak dan tak ada jalan keluar. Depresi berat, dapat ditandai dengan orang yang susah makan dan sulit tidur. Atau malah tidur terus sepanjang hari lantaran aktivitas dunia sudah tidak lagi ada yang menarik termasuk mengurus anak, bekerja, bahkan berhubungan intim dengan suami.

 

Istri Shalihah tidak mungkin menyakiti anak!

Wah, kata siapa?

Saya mendampingi beberapa kasus ibu shalihah yang bukan hanya ingin menyakiti anak-anak tapi malah ingin bunuh diri. Mereka bukan jenis ibu yang suka foya-foya, suka kesenangan, lalu rapuh ketika ujian datang. Bukan!

Suatu ketika, seorang ibu shalihah menceritakan permasalahannya.

“Apakah saya salah, Mbak? Saya ingin bekerja dan punya mobil sebab harus mengantar anak-anak kesana kemari.”

Tubuhnya kurus kering, wajah cantiknya masih cantik namun hilang sudah seri mudanya.

Suaminya pun seorang lelaki sholih. Kepada saya ia bisa bercerita banyak tentang mimpi-mimpinya dan saya balik bertanya, “adik sudah menceritakan keinginan ini pada suami?”

“Tidak, Mbak. Saya takut, jika saya menceritakan keinginan saya, ia kan marah. Saya ingin jadi istri shalihah.”

Ingin aku memeluk bunda-bunda seperti ini.

Suami mereka adalah orang-orang sholih yang yakin betul bahwa istri shalihah adalah batu karang yang terbuat dari granit dan intan, tak akan rapuh oleh badai dan hanya akan dapat tergores oleh pisau berkualitas tinggi!

Oh para suami, anda harus belajar dari Chris, suami Brooke Shield!

love-wife

Brooke Shield, mengatasi depresi

Berkali-kali keguguran, Brooke ingin punya anak. Sangat diluar dugaan, bayi yang dikandungnya membutuhkan banyak terapi sejak masih janin sehingga kehidupan pribadi Brooke pun dilalui susah payah. Bukan hanya kehamilan bermasalah, melahirkanpun dipenuhi rasa sakit yang luarbiasa.

Malam pertama bayi mereka di rumah, Brooke tidak mampu bergerak. Rasa sakit emosional bertahun-tahun menantikan bayi, rasa sakit terapi sepanjeng kehamilan, rasa sakit melahirkan, rasanya ia ingin istirahat sejenak.

Rowan, sang bayi menangis.

Brooke pun menangis. Mengapa? Mengapa ia justru tidak dapat mencintai bayinya dan justru merasa sangat kelelahan dengan semua ini?

Berhari-hari, berminggu-minggu Brooke malah membenci bayinya. Chris masih bersabar. Suatu ketika Chris membeli perangkat bayi di toko bayi dan termenung melihat pasangan-pasangan dengan bayi mereka yang berbahagia. Pertanyaan Chris membuat Brooke mencoba loncat dari jendela apartemen untuk bunuh diri :

“Mengapa, Brooke? Mengapa Rowan tidak membuatmu bahagia?”

Dihantui rasa bersalah,  Brooke ingin mengakhiri hidup semuanya.

Chris, rupanya segera menyadari dan menangis, memeluk isti dan bayinya. Mereka sepakat mencari pertolongan. Mereka sepakat mengundang sahabat-sahabat Brooke untuk menjaganya siang dan malam. Kapanpun, potensi Brooke melukai diri dan bayinya terbentang lebar. Brooke mengalami post partum depression dan harus mengkonsumsi obat anti depresan. Selain itu, Chris, harus menjadi bagian penting yang membantunya menuju proses kesembuhan.

Lambat laun Brooke mulai menemukan kebahagiannya kembali ketika ia telah menemukan dirinya.

Bagi kita para ibu yang telah merasa kehilangan diri kita setelah punya 1, 2, 3 anak maka berhati-hatilah.  Jangan sampai kita tidak terkoneksi lagi dengan alam realita. Saat kita merasa dunia realitas begitu jauh, sesungguhnya, ada halusinasi yang mengintai setiap imaji pemikiran.

Ah, mungkin saja kematian lebih baik. Ah, mungkin saja anak-anak lebih bahagia tanpa ibu. Ah, mungkin saja suamiku selingkuh dan tidak lagi mau bersamaku. Ah, aku bukan ibu yang baik, sebab aku akan mengantarkan anak-anakku ke neraka (ini adalah pengakuan halusinatif dari Andrea Yates).

 

Apa yang harus diwaspadai ayah dan suami?

pregnant wife.jpg

  1. Pastikan emosi istri dalam kondisi stabil saat mengandung. Hamil sangat melelahkan, apalagi bila ini kehamilan yang ke 3, 4, 5 dst. Andrea Yates sesuungguhnya tidak boleh punya anak banyak karena riwayat depresinya, namun Rusty Yates sangat suka anak banyak. Parameter emosi stabil : ia suka cerita, masih tertawa, suka bercanda, masih bisa mengungkapkan keinginan (mas aku mau jalan-jalan, aku kepingin beli bakso dst), tubuh tidak mudah sakit yang merupakan pertanda ketidakstabilan emosi (bila emosi labil, tubuh sering jatuh sakit)
  2. Beri dukungan penuh pasca melahirkan. Pasca melahirkan ini bukan hanya 2 pekan sampai 3 bulan. Tapi tahun-tahun awal perkembangan bayi, sekitar 2 tahun. bukan main repotnya istri apaalgi bila punya 3 atau 4 anak balita. Perkembangan emosi anak-anak yang belum matang, membuat ibu harus waspada 24 jam. Kapankah ibu berhenti dan istirahat? Nyaris tak ada!
  3. Jangan biarkan istri kelewat diam. Pancing ia bicara. Harus! Bagaimana bila karakternya pendiam? Baiklah, tapi suami harus yakin bahwa ia tidak sedang memendam sesuatu. Ketika pulang kantor coba tanya : anak-anak buat masalah gak Dek? Duh kasihan kamu ya…pasti capek. Akhir pekan ini kamu mau kemana? (Kalau nggak punya uang, tidak masalah. Katakan, nanti kalau ada rezeki, Abang akan coba beli keinginan adik. Beli daster, beli bakso, dan keingin wajar sesungguhnya pantas dituruti. Reward seorang suami adalah obat mujarab bagi  self respect nya!) Puji ia, apapun kondisiya. Kalau ia bau dan kotor saat suami pulang, katakan : adik capek banget ya sampai-sampai gak sempat memperhatikan diri sendiri. Andaikata boleh, istri akan berendam di bath tub berisi adonan coklat dan bunga 7 rupa untuk membuat kulit berkilau!
  4. Perhatikan bila istri sakit. Flu? Diare? Demam? Ah, sakit yang biasa. Memang, flu dialami siapa saja. Ingatlah, sakit flu dan sejenisnya yang muncul dari fisik kelewat lelah adalah akibat emosi kelewat lelah pula. Jangan-jangan ada yang mulai tidak imbang di rumah. Fisik yang sakit, bisa berimbas pada sakitnya mental atau malah sebaliknya. Mental yang sakit membuat fisik cepat ambruk.
  5. Berdoalah. Seorang ustadz, seorang ustadzah, tidak akan lepas dari tekanan hidup. Hidup di era modern menuntut banyak hal maka hubungan dengan Allah Swt yang terus menerus akan lebih membuat mental kuat.
  6. Evaluasi segala daya dukung keluarga : ekonomi, pendidikan, kesehatan mental, kesehatan fisik. Waspadalah bila ada yang timpang dan mulailah mencari bantuan pihak-pihak terpercaya untuk mengentaskan masalah. Bila hidup terbelit hutang, harus segera berupaya mengentaskan perekonomian. Pendidikan yang memadai pun akan membantu suami istri lebih bijak memandang permasalahan. Kesehatan mental harus terus dipromosikan termasuk kesehatan fisik.
  7. Dengar, dengar, dengar. Listen, listen, listen. Biarkan istri menangis dan rewel seperti anak kecil. Biarkan ibu mengomel. Ia sedang mencoba meluapkan emosinya. Ketika telah stabil, ajak ke kamar, peluk dan nasehatilah. Mungkin memang ia salah. Mungkin ia keterlaluan. Mungkin ia memang harus mengubah dirinya lebih baik. Tapi beri ia ruang untuk melepaskan tangis dan beban, dan biarlah ia bersandar di bahu kuat para lelaki yang telah ditakdirkan Allah Swt menjadi qowwam
  8. Pujilah istri dengan sebutan positif. Katakan ia cantik, meski Raisa dan Isyana lebih cantik. Katakan ia pintar, meski tentu tidak sepintar Sri Mulyani. Katakan ia hebat, meski ia tidak sehebat Margaret Tatcher. Katakan anda mencintainya, wahai para suami, meski saat itu hati anda pun tengah lelah dirundung masalah. Ingatlah, bahwa anda bukan hanya telah dihalalkan menanamkan benih di rahimnya dan menikmati malam-malam bersamanya. Anda menitipkan anak-anak yang kelak akan ganti merawat anda. Anda menitipkan anak-anak hebat yang ditangan para ibu, mereka membuat anda bangga dengan sebutan ayah. Di tangan ibulah, wahai para suami, anda tengah menitipkan tunas baru yang ketika anak-anak itu berprestasi dan sholih , anda sebagai ayah akan jumawa berkata : ah, itu anak-anakku! Maka tidakkah semua imbalan yang anda dapatkan, pantas anda bayar dengan pengorbanan pula?