Kategori
Cinta & Love Hikmah mother's corner My family PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Topik Penting WRITING. SHARING.

Quaden Bayles : Bagaimana Jika Anak Kita adalah Si Pembully?

Kasus Quaden Bayles benar-benar mengiris hati. Seorang anak usia 9 tahun,  penyandang dwarfisme, tinggal di Brisbane Australia menangis pilu menghadapi bullying tiap hari.

“Stab me!!”

“Kill me!!”

Ia menangis histeris.

Si ibu, yang telah berjuang lama menghadapi bullying terhadap anaknya terpaksa mengunggah video itu dan menuntut keadilan. Ia merasa sudah cukup wacana-wacana tentang bullying tetapi mana bukti pembelaan terhadap korban bullying? Apalagi si kecil Bayles mengidap kelainan sehingga fisiknya sangat berbeda dengan anak seusia. Video Bayles mendapat banyak perhatian dunia, termasuk Hugh Jackman pun memberikan dukungan keprihatinan terhadap kasus Bayles.

Anak saya pernah menjadi korban bullying dan juga pelaku bullying. Bila melihatnya sekarang yang berprestasi, kooperatif, cukup punya banyak teman dan mampu berkolaborasi dengan orang seusia,  lebih tua atau lebih muda; tak ada yang menyangka ia dahulu adalah korban bullying dan kemudian menjadi pelaku bullying yang kasar.

Dukungan terhadap korban bullying mungkin sudah banyak dibahas. Tetapi bagaimana menghadapi anak yang melakukan bullying? Ibu Quaden Bayles menjerit meminta pertolongan dari siapa saja yang bisa memberikan nasihat. Ia bahkan berkata, nyaris putus asa : “Stop memberiku advis yang bagus. Aku butuh lebih dari sekedar nasihat! Aku butuh tindakan nyata!!”

Di bawah ini adalah apa yang pernah kami lalui sebagai orangtua dengan anak yang pernah dibully dan pernah membully anak lain. Kasus setiap anak mungkin berbeda tapi semoga apa yang kami hadapi dapat menjadi pelajaran.

  1. Korban dan pelaku. X pernah menjadi korban bullying dalam waktu lama di sekolahnya. Ia disudutkan karena cara bicaranya yang ‘berbeda’ dan beberapa hal terkait fisik. Awalnya ia hanya terdiam, menangis, memendam perasaan hingga matanya berkaca-kaca dan dadanya terlihat berguncang. Lambat laun setelah ia menemukan keberanian, ia melawan anak-anak.  Sedihnya, ganti ia yang membully teman-temannya. X memukul teman-temannya.
  2. Sikap guru. Pihak sekolah memanggil kami orangtuanya. Langkah pertama ini sungguh bijak, sebab yang harus datang adalah ayah ibunya. Bukan ibunya saja atau ayahnya saja. Suami saya minta izin dari kantor dan kami menghadap pihak berwenang di sekolah. Saya ingat, saat itu kami ditemui oleh pihak otorita sekolah dan guru yang sering menangani X. Sebut saja bu guru Aisyah. Ada perkataan bu Aisyah yang membuat saya demikian sedih dan terpukul, tetapi saya rasa itu adalah keputusan paling bijak yang bisa diambil saat itu.

“Bu Sinta, kami sudah mencoba mendekati X dengan berbagai cara. Tapi sepertinya masih kurang mempan. Ia masih sering memukul teman-temannya. Saya minta izin -dengan sangat terpaksa- saya akan memukul X. Di kaki atau tangannya, tidak di areal berbahaya. Supaya X memahami bahwa kena pukul itu menyakitkan.”

Kami tidak menerapkan pukulan di rumah. Kemungkinan, X tidak tahu seperti apa sakitnya dipukul! Saya bersyukur, bu Aisyah memanggil kami dan meminta persetujuan kami. Awalnya suami saya marah dan tidak setuju. Tetapi saya menenangkannya.

“Sebelum memukul anak kita, sekolah meminta izin pada orangtuanya dulu. Saya pikir itu bijaksana,” kata saya. “Kalau sekolah mau ambil sikap otoriter dan tak peduli, sudah pasti X dipukul langsung tanpa perlu minta izin pada kita.”

Akhirnya kesepakatan tersebut diambil.

Tentu, si X pun diberi peringatan terlebih dahulu oleh bu Aisyah. Lain kali dia memukul temannya di tangan atau kaki (kebetulan X tidak memukul di area berbahaya) , bu Aisyah akan membalasnya dengan pelan. Ini karena teman-teman X sama sekali tak ada yang berani menghadapi kegarangan X.

Alhamdulillah, bu Aisyah tidak perlu mengambil sikap memukul itu sering-sering. Sebab ternyata, para guru dan pihak sekolah terus mencari cara menghadapi bullying termasuk yang dilakukan anak saya, X. Seorang guru yang memukul tanpa sebab, memang tak dibenarkan. Tapi saya pikir, bu Aisyah sudah mencoba segala cara dan saya menghormati keputusannya. Yang sangat penting, keputusan beliau didiskusikan pada kami dan kami diajak mempertimbangkan baik buruknya. Saya tidak meminta sekolah atau guru memukul anak-anak, tetapi saya hanya menceritakan pengalaman pribadi yang ternyata sangat membantu X yang garang untuk lebih memahami bahwa memukul itu menyakitkan! Mungkin, karena kami orangtua nya tidak tega untuk memukul anak sendiri, kehadiran seorang guru dapat membantu.

Kami dapat saja berpikir, “X masih anak-anak. Wajar kan berkelahi? Wajar kan kalau memukul, menjambak, menyakiti? Mana ada anak-anak yang gak pernah berkelahi?”

Tetapi, itu yang ada dalam benak saya. Apa yang ada di benak orangtua lain, ketika anaknya disakiti? Kalau anak saya dipukul anak lain, pasti saya pun ingin ada keadilan. Kalaupun keadilan tidak sepenuhnya bisa ditegakkan, pasti kita ingin ada tindakan.

3. Mencari teman sebaya. X membaik perilaku garangnya yang suka memukul anak lain, karena bu Aisyah dan guru lain mencari cara untuk ‘menaklukan’ X. Salah satunya mencari sahabat yang bisa menasehati. Saya tahu, X tidak banyak punya teman saat itu. Atau bisa dikatakan ia common enemy karena kegarangannya, meski X sangat pintar  sains dan matematika. Guru pada akhirnya berhasil membujuk AL (samaran) untuk menjadi sahabat X. AL awalnya enggan berkawan dengan X. Ya, siapa yang mau berteman dengan anak pemarah dan pembuat onar? Tapi AL memang punya sifat bijak dan terkenal lemah lembut. AL kemana-mana membuntuti X dan mencoba memberikan nasehat ala anak-anak.

Ada satu kejadian yang saya ingat diceritakan X dan guru.

Momen penting ketika X mencapai titik balik.

X, sebagai pembully, bukanlah sosok yang dicintai. Ia ditakuti, tapi sesungguhnya tak punya teman. Suatu saat, X menyendiri.  AL mendekati, lalu mengajak bicara. Kalau saya ingat ini, betapa berterimakasihnya kami pada AL yang rela bersikap bijak dan dewasa di masa anak-anaknya demi mendampingi X.

“Sebetulnya semua guru dan teman itu sayang kamu, X. Hanya saja kamu suka memukul. Padahal bu Aisyah itu sayang sekali sama kamu. Bu Aisyah sampai nangis memikirkan kamu.”

X tiba-tiba berlinangan airmata, ketika tahu gurunya bisa menangisi dirinya. Tanpa sadar mata X meleleh. Dua sahabat itu berjanji mereka akan menjadi pribadi yang lebih baik. Esok harinya, X benar-benar berhenti memukul!

4. Komite orangtua. Saya panik. Saya sedih.  Saya tertekan. Sekaligus merasa bersalah. Tiap kali datang ke sekolah menjemput, selalu ada anak yang melapor ke saya, “Bundaaa! X mukul si A.” Besoknya, “Bundaaa, X mukul si B. “ Selalu ada laporan begitu nyaris tiap hari. Rasanya wajah ini panas tertampar tiap kali mendengar laporan itu. Tetapi, saya beruntung dan bersyukur sekali pada saat angkatan X, komite orangtua dipenuhi para orangtua yang baik hati dan hangat. Tidak ada orangtua yang menuding, menyindir, memboikot, atau marah-marah ke saya.

Saya minta maaf pada para ibu karena anak-anaknya kena pukul X. Mereka berkata, “nggakpapa, Bu. Namanya anak-anak.”

Saya nggak tahu  lip service atau tidak. Nyatanya, saya tidak lantas malu untuk ikut acara parenting dan komite  sekolah. Hal itu membuat saya lebih semangat dan terbuka untuk menerima masukan. Ketika X bersalaman kepada orangtua bila bertemu saat pulang sekolah, seringkali para orangtua justru mendoakan X ,”X yang sayang sama teman, ya. X anak pintar.”

Saya yakin, doa dari guru dan para orangtua yang mendoakan X kebaikan turut memberikan perubahan dalam diri anak saya.

5. Pihak berwenang dan ahli. Kali ini bukan X, tetapi salah satu anak kami yang lain yang menjadi korban bullying. Sebut namanya Y.  Singkat cerita, Y dan teman-temannya menjadi korban bully sekelompok anak. Tak boleh ke kamar mandi, tak boleh jajan, tak boleh lewat kalau kelompok tertentu sedang ada di sana. Komita orang tua berembug dan berunding. Didatangkanlah pihak kepolisian ke sekolah. Tujuannya bukan mengancam atau menakuti-nakuti. Ternyata masih banyak anak yang tidak paham bahwa bullying dapat masuk ranah kriminalitas. Begitu pihak kepolisian datang, memberikan ceramah dan arahan ke anak-anak, banyak anak tercerahkan bahwa perilaku mereka yang seperti nya bercanda, mengganggu, mengejek anak lain hingga kelewatan itu bila ditarik garis disiplin bisa menyebabkan mereka kena delik kriminalitas. Ternyata, anak-anak perlu diberi penjelasan lebih mendetil tentang apa saja bullying dan ancaman bagi pelaku.

Dari kisah di atas saya mengambil kesimpulan bahwa :

  1. Orangtua
  2. Anak-anak
  3. Guru
  4. Sekolah/institusi
  5. Pihak berwenang/ahli

Harus bekerja sama bahu membahu untuk menangani kasus bullying. Jangan lagi ada kasus Nadila almarhumah, atau Quaden Bayles. Anak- anak pelaku bullying juga perlu diberi arahan tegas. Sebuah video dari Korea yang mengambil social experiment tentang anak perempuan yang mengaku dibully dan mendatangi orang-orang di taman; memberikan gambaran tentang bagaimana sebuah hubungan antar manusia dapat dibangun.

Ada banyak potongan menarik dari adegan tersebut. Bagi saya, yang menarik adalah salah satunya, ketika si gadis SMA tersebut mendapatkan ‘korban’ social experiment anak-anak mahasiswa.

“Dik…kami dulu juga pernah membully teman dan adik kelas kami,” aku mereka.”Aku rasa saat itu aku sangat tidak dewasa. Aku menyesal sekali. Sayang sekali, nggak ada yang ngasih tahu aku. Kalau aku kembali ke masa itu, aku ingin bersikap baik.”

Bukan hanya korban bullying yang perlu didampingi hingga mereka memiliki resiliensi. Pelaku bullying juga harus didampingi dengan kasih sayang dan ketegasan, penjelasan dan informasi, pemberikan kesempatan dan juga ancaman serta sangsi bila mereka masih terus bertindak di luar batas. Saya bersyukur X pernah diberikan batasan dan ketegasan (meski belum tentu orangtua sepakat anaknya boleh dipukul). Pukulan dan nasehat dari bu Aisyah, dampingan dari sahabat AL, dukungan komite orangtua menjadikan X yang korban bullying dan pelaku bullying dapat menstabilkan kepribadiannya yang semula agresif menjadi lebih matang dan berkembang optimal.

Kategori
Jurnal Harian My family Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY WRITING. SHARING.

Asyik Punya Anak Banyak, atau Anak Sedikit?

 

“Hah? Anakmu 4?”

Dosen saya terbelalak. Beliau tak percaya saya bisa punya anak banyak. Maklum, badan saya kecil mungil.  Waktu melihat ekspresi beliau yang seperti itu, sebetulnya saya ingin terus bilang : “aslinya saya ingin punya anak 6 atau 12 lho, Pak.”

 

Waktu putri sulung saya sekolah di SMP Negeri, dia juga sering menerima ungkapan terkejut dari teman-temannya.

“Hah, Adikmu 3? Banyak bangettt?”

“Padahal temanku ada yang bersaudara 9 ya, Mi, hahaha,” si Sulung tertawa.

“Coba dosen Ummi tau ada orang seperti Ustadzah Yoyoh Yusroh yang putranya 13,” sahutku pula.

moslem family
Happy moslem family!

Anak Sedikit : Pengeluaran Tak Banyak

Orang memilih punya anak 1 atau 2, dengan beberapa alasan. Ada yang alasannya kesehatan. Ada yang alasannya keuangan. Yang alasannya kesehatan; biasanya karena si ibu tak mampu melahirkan banyak. Bolak balik caesar. Yang pertimbangan keuangan, biasanya mengatakan ,

“Yah…tau sendirilah. Berapa harga susu. Berapa biaya sekolah. Berapa biaya anak sakit. Bukannya tak percaya rizqi Allah, tapi sebagai manusia kita juga harus usaha. Kalau puunya anak banyak tapi orang tua nggak mampu memberikan pendidikan dan kesehatan yang layak, akhirnya mereka tidak akan menjadi asset yang  baik juga.”

Begitulah kira-kira.

Saya tak menyalahkan pendapat ini.

Sebab, memang dalam kenyatannya, ada teman-teman yang beranak banyak sudah berjuang sekuat kemampuan untuk memberikan pendidikan dan kesehatan yang layak pada anak-anak. Namun, karena situasi ekonomi dan kebijakan pemerintah  tidak berpihak pada keluarga beranak banyak, akhirnya beban ekonomi dipikul hanya oleh keluarga yang bersangkutan.

 

Anak Banyak : Asset Keluarga dan Negara

Bagaimana dengan orang yang memilih beranak banyak?

Saya salah satunya. Alasannya klise : saya suka keluarga yang ramai, mengingatk keluarga saya dulu hanya 3 bersaudara. Saya punya abang 1, adik 1. Rasanya kok sepiiii kalau semua sudah sekolah dan pulang sekolah. Saya sering keluar mencari teman bermain, tetangga-tetangga sekitar. Saya iri waktu kecil, ada tetangga depan rumah yang punya anak 5. Sebel banget, kalau saya berantem dengan anak tetangga yang seusia; maka kakak-kakaknya akan membela dia sementara saya hanya seorang diri menghadapai konspirasi!  #Jiaaah

Saya bertekad : awas ya, bseok saya mau punya anak banyak! Hehehe.

Menikah, awalnya saya ingin punya anak banyak.

Apalah daya, anak pertama keguguran. Alhamdulillah, anak-anak yang berikut muncul. Hanya saja, kesehatan saya sepertinya kurang menunjang hingga ketika kehamilan ke-5, dokter memutuskan agar saya tidak lagi mengandung.

Lalu apa rasanya punya anak 4?

Heroik bangettt laaah.

Inayah, ayyasy, ahmad, nis.jpg
4 anak kecil yang lucu dan heboh!

Sepeda Motor 1

Waktu itu satu-satunya kendaraan hanya sepeda motor. Maklum, suami menempuh studi D4 di Jakarta saat saya hamil anak ke-4. Jadi kalau keluar rumah, suami yang nyetir motor. Saya di belakang. Si sulung dan nomer dua di depan, saya memangku anak ketiga sembari hamil. Untung waktu itu badan suami dan saya masih kurus-kurus, jadi cukup aja motor kecil begitu heheheh.

Punya anak-anak kecil 4 itu antara nangis dan tertawa, bahagia dan jengkel.

Si sulung masih kecil saya titipi sebentar adiknya untuk belanja ke warung sayur. Kalau bawa anak 3 kebayang deh repotnya. Jadi saya titipi dia dengan adiknya. Pulang-pulang heboh.

“Ummiiiii…akuu digigit Mbaaak!” si adek nangis kekejer.

Yah, perebutan barang mainan atau makanan kecil. Si sulung gemes karena adiknya tak mau berbagi, lalu ia menggigit tangannya!

 

Banyak Insiden Menakjubkan

Punya anak 4 itu rempong. Anak 3 masih belum terasa capeknya, tapi 4? Itu benar-benar menguras tenaga. Maka kita harus bisa berbagi tugas dengan suami dan anak-anak. Dan berbagi tugas itu tidak selamanya mulus, sebab terkadang, malah justru semakin menambah ruwet!

“Mbak, tolong adik dimandikan ya,” aku minta si sulung memandikan si bungsu. Sama-sama cewek.

3 menit. 5 menit. 7 menit. 15 menit.

Kupikir main air, main sabun, atau main apalah.

Tahu-tahu!

Si bungsu yang saat itu masih sekitar usia 5 tahun, keluar cengar cengir. Pakai handuk. Si Sulung juga terlihat antara gugup dan tertawa.

“Kenapa?” tanyaku melihat mereka berdua.

“Ini gimana cara melepasnya, Mi?” si Sulung bertanya.

Aku menatap takjub pada rambut si bungsu yang terurai panjang. Ia memang anak cewek yang feminin, memelihara rambut panjang ketika itu. Si sulung mengeramasinya, lalu si bungsu menyisir rambut panjangya di kamar mandi. Rupanya, ia menyisir tak sampai ujung rambut bawah, sudah dikembalikan lagi ke ubun-ubun. 3x diulangi, sisir itu nyangkut,ruwet, uwel-uwelan di pangkal rambut! Kalau di ujung rambut, bisa dipotong saja. Tapi ini di pangkal? Mau dibotakin?

Hari yang sudah full akhirnya bertambah padat dengan upacara melepaskan sisir dari rambut. Kupotong dengan pisau yang dibakar api, kupatahkan kecil-kecil, tetap saja bundel semrawut gak karuan. Akhirnya, rambut si adek terpotong juga…

Si sulung memang suka bereksperimen dengan rambut. Sebelumnya, rambut adik laki-lakinya dipotong seperti di salon; hingga seperti keset . Panjang, pendek, botak tak beraturan.

Alhamdulillah… insiden-insiden yang terjadi tak sampai menimbulkan kecelakaan. Tapi aku sebagai ibu harus ngelus dada, sport jantung, siap waspada ketika salah seorang anak berteriak.

“Miiii!!”

Rasanya jantung ini melorot ke kandung kemih.

Alhamdulillah, bila anak mulai besar

 

Berbagi, Berdiskusi, Cari Uang Sendiri

Kata orang-orang tua, punya anak banyak itu repot pas kecil. Senang pas besar.

Saat anak-anak sudah mulai masuk sekolah usia SD, aku mulai merasakan senangnya punya anak banyak. Mereka dapat disuruh ke warung, buang sampah, membantu mencuci, menyapu dan saling menjaga satu sama lain. Semakin dewasa, saat usia SMP dan SMA; mereka mulai dapat diajak berdiskusi tentang segala sesuatu. Bahkan, mereka seringkali membagi cerita lucu yang membuatku dan suamiku tertawa terbahak. Kadang mereka mengkritik kami.

lukas graham.jpg
Lukas Graham

“Ummi harus dengan lagu Lukas Graham 7 years Old,” kata si Sulung, “Itu bagus banget, cara orangtua mendidik anaknya. Ummi juga harus lihat serial Ted di youtube, ada serial-serial tentang orangtua muslim mendidik anaknya di Eropa. Atau bagaimana cewek mempertahankan hijabnya.”

Si kecil pun sudah mulai berdakwah kepada orangtuanya, “Ummi kurang dengung tuh, baca Qurannya.”

Keempat anak kami, kadang kami minta untuk mengoreksi hafalan orangtuanya.

Apalagi ketika anak-anak mulai berprestasi dan menang lomba; mereka bisa punya uang sendiri.

Rasanya terharu sekali ketika mereka memberikan uang itu ke kami.

“Uang ini dipakai Ummi aja.”

“Ummi pinjam ya?” tanyaku.

“Nggak ussah pinjam, Mi. Buat Ummi aja. Aku juga sudah hutang hidup sama Ummi.”

Duh, kalau sudah begini terharu rasanyaaa.

Kalau ayah dan bunda dan adik-adik yang sudah (siap) menikah; pilih anak banyak atau anak sedikit?

 

 

Moslem family http://www.manchestereveningnews.co.uk/business/business-news/muslim-cleric-tortured-in-libya-for-months-874486

Lukas graham https://www.livenation.com/artists/98423/lukas-graham

Kategori
Jurnal Harian mother's corner My family Oase WRITING. SHARING.

Hari –hari Pertama Berpisah dari Anak : masuk sekolah, mondok di pesantren, berpisah kota karena kuliah

 

Awal si sulung kuliah di kota lain, rasanyaaaa!

Anak cewek, belum terlalu mandiri, punya sakit maag. Melihat kos-kosannya yang minim fasilitas, mau nangis aja rasanya. Saya dulu pernah kos di Jakarta, pergi sendiri bareng teman-teman. Mengalami pahit getir jauh dari orangtua. Pernah nangis juga karena sakit, nggak punya uang, berentem sama teman…hehehe, romansa anak kos-lah. Tapi ketika yang mengalami anak sendiri, kok beda rasanya.

Kos anakku lumayan murah. Aksesnya juga mudah.

Tapi belum ada kasur (ya iyalah). Kulkas, kompor gas, mesin cuci, dispenser; gak tersedia. Aku bayangkan anakku sakit maag yang butuh minuman hangat; pasti sulit sekali buat dia untuk sekedar buat teh panas. Dia cewek tangguh, tapi sekalinya sakit karena datang bulan atau demam flu, bisa buat kelabakan ayah ibunya.

Yah, gimana lagi?

Dia pingin sekali kuliah di bidang sosial. Waktu mau masuk Geografi, ayahnya bilang : Jangan! Musliimah gak cocok disana. Kerja lapangannya di gua-gua berair. Gimana nanti pakai jilbab dan menelusuri daerah seperti itu? Bla-bla-bla. Okelah. Aku manut. Kukatakan pada putriku, jangan masuk kuliah yang kerja lapangannya dan kerja betulannya kelak; berbahaya bagi fisiknya. Maka ia memilih psikologi dan diterima di UGM. Alhamdulillah…kami bersyukur sebab ia diterima di fakultas yang diinginkannya.

Ayah yang belum bisa melepas anak lelakinya foto 1, foto 2

Maunya, Full Fasilitas!

Si bungsu Nis, saat kecil ruarrrr biasa lincah.

Hoby nyanyi, gambar, naik-naik pohon. Pindah ke Surabaya, mengalami gegar budaya dan gegar sekolah. Mau sih masuk sekolah, tapi sakarepe dhewe. Awal aku meninggalkan dia sekolah di TK, rasanya sedih dan gimanaaa gitu. Dia dibiarkan main sendiri di luar, main pasir sendiri dan naik-naik apapun yang dia suka. Sementara teman-temannya main di sentra keilmuan dan berbaris rapi. Sempat berpikir, mengapa bu guru nggak peduli sama Nis?

Tapi setelah kukonsultasikan, Nis memang sengaja dibiarkan pagi hari menghabiskan energi di luar agar ketika masuk kelas sudah dengan kapastias energi yang tidak overloaded lagi. Ah, si kecil yang masih kutimang-timang, kugendong, kuciumi; sekarang sudah harus masuk sekolah dan menghadapi guru-guru serta teman-teman yang mungkin sebagian menjadi sahabatnya. Sebagian menjadi rivalnya. Sebagian menjadi musuhnya.

Hari-hari pertama anakku sekolah di sekolah negeri….rasanyaaaa!

Aku khwatir ia terjebak narkoba, pornografi, pergaulan bebas, tawuran, bolos, keluyurankemana-mana. Maklum, bertahuan-tahun sekolah Islam yang lumayan ketat pengawasannya dengan kurikulum agama terpadu sejak pagi hingga pulang . Nanti gimana kalau tiba-tiba aku diberi laporan yang tidak-tidak terkait anakku? Bagaimana bila ia nggak bisa menolak ajakan buruk temannya? Bagaimana kalau ia difitnah, diperangkap , dikucilkan dan lain-lain?

Ahya.

Inilah realita dunia yang cepat atau lambat harus dihadapi anak-anak.

Dunia bukan hanya lapangan seluas rumah kita, dengan perlindungan dan kasih sayang di setiap ujungnya. Ada penghangat, ada pendingin, ada tempat bertelekan empuk dan segala fasilitas yang mudah diminta. Mereka harus tahu bahwa dunia sesekali keras, kejam, diluar batas, dan mengejutkan.

ibu dan putrinya.jpg
Sedih & bahagia!

Si sulung mulai terbiasa minim fasilitas, mengatur keuangan dan mengatur pola kehidupannya. Sekali ia pernah  masuk rumah sakit karena demam berdarah dan harus mondok di RS PKU di daerah Gamping Sleman. Ia juga bilang kadang-kadang kalau uang menipis, harus berhemat uang.

“Untung Yogya murah-murah, Mi. Nyari warung yang makannya 4000 rupiah masih ada. Nyari laundry yang baru sebulan kemudian diambil dan dibayar, ada. Nyari burjo, yang jual kacang ijo dan mie rebus dengan harga murah, ada. Sampai nyari fotokopi dan internet buat ngeprint murah meriah ada.”

Termasuk nyari wifi ngratis. Dimana mahasiswa cuma beli es teh tapi ngendon jam-jaman buat download jurnal serta you tube-an. Hahahah.

Anakku yang sekolah di negeri juga mulai terbiasa. Ada banyak kisah mengharukan, menggemaskan, dan membuat rasa campur aduk.

Ghasab salah satunya.

“Ummi kan tahu,” kenang si sulung. “Waktu di sekolah dulu, kita diajarkan untuk izin pada orang lain kalau mau pinjam barang. Kalau nggak ghasab namanya. Nah, aku pernah bilang ke guru kalau pensil sama penggarisku hilang, seringkali diambil teman tanpa izin. Ketika kau lapor malah ditegur – kamu kok pelit banget?”

Hah?

Ketika anak kita belajar di sekolah  Islam, iman dan akhlaq menjadi tolok ukur utama : sholat, meminta izin, hormat pada guru, tidak mengambil barang orang lain. Di sekolah negeri yang basis keIslamannya tak terlalu kuat; hal-hal tersebut seringkali diabaikan.

Pernah, anakku mengingatkan temannya untuk sholat Jumat karena di sekolah Islam, saling mengiangatkan adalah hal biasa. Juga teman-teman bersikap positif ketika diingatkan. Maklum, sudah menjadi kebiasaan sekolah Islam untuk watawa shoubil haq, watawa shoubis shabr.

“Cerewet kamu! Banyak bacot!”

Tapi itu yang diterima anakku, dari teman-temannya.

Melihat itu, anak-anakku mulai belajar. Bahwa berada di likungkungan Islami dan sekolah negeri, ada gaya pendekatan berbeda ketika menyampaikan pesan.

 

1001 strategi orangtua

Berpisah dari orangtua pasti banyak pengalaman baru.  Banyak masalah unik yang muncul, yang tadinya tidak terpikirkan. Orangtua pasti harus berpikir keras untuk menyelesaikan masalah yang ada, tanpa menimbulkan masalah baru.

 

sick girl
Rawat inap di RS

  1. Kesehatan. Masing-masing anak kita punya identitas kesehatan berbeda. Ketika si sulung yang punya maag berpisah dari kami, aku belikan termos kecil yang bisa dibawanya kemana-mana dan dapat diisi air panas. Sewaktu-waktu maagnya kumat, ia bisa meneguk air hangat. Awal –awal kuliah; aku mengirimkan makanan kering sebagai stok seperti susu, milo, coklat, energen dan sejenisnya termasuk kue-kue kecil. Ketika ia sudah mulai mengenal lingkungan sekitar; ia bisa menyiapkan makanan sendiri.

 

  1. Relasi dengan orang di sekeliling anak. Guru-guru, teman-teman sekolah, orangtua teman, teman satu kos; haruslah dikenali orangtua. Walaupun tidak dapat menjalin relasi akrab dengan semua pihak; setidaknya jalin hubungan dekat dengan beberapa orang. Aku punya nomer kontak guru sekolah dan teman kos anakku.

Kadang ketika tidak bisa dihubungi aku bertanya :

“Ustadzah, anak saya dimana ya?”

“Mbak Shalihah, si sulung kok nggak bisa dihubungi dari kemarin ya?”

Dengan punya kontak mereka, kita dapat segera mengevaluasi bila sewaktu-waktu terjadi hal-hal diluar kendali. Sakit misalnya.

 

  1. Selain telepon seluler, telepon rumah, media sosial dapat menjadi sarana komunikasi. Instagram, line, whatsapp, facebook dapat menjadi sarana orangtua melacak jejak anaknya.

Aku pernah curiga dengan anak cowokku : kemana dia? Benarkah dia kuliah?

Maka aku cek instagramnya dan alhamdulillah…ia tengah mengerjakan tugas bersama teman-temannya. Sedang cek lokasi lapangan.

teens-are-hiding-their-real-lives-from-nosey-parents-with-fake-instagram-accounts.jpg
Memantau anak  di IG, FB

Saling berteman dengan anak kita di facebook, line dan instagram bisa jadi sarana positif dan negatif. Hahaha

Anakkua pernah ngeshare sebuah meme :

“Akhir dunia! Ibuku punya instagram!”

Aku tertawa, “jadi kamu ngerasa Ummi mata-matai ya lewat instagram?”

Anakku cuma meringis. Mungkin ia merasa dimata-matai tapi bukan itu saja perilaku yang kutunjukkan sebagai ibu yang memang melakukan pengawasan pada anak. Anakku suka menggambar, memposting gambar, membuat grafis berdasar wajah teman-temannya.

“Wah, pas ultah temanmu kamu buat grafis gambarnya sebagia hadiah ultang tahun ya? Ummi dibuatkan yang kayak gitu, dong.”

Media sosial bisa menjadi sarana kedekatan kita dengan anak-anak.

 

  1. Teman satu kos. Kakak tingkat, teman satu angkatan, teman satu daerah adalah orang-orang penting di sekeliling anak kita. Sebagai orangtua , menyimpan nomer HP mereka sangat penting untuk sarana berdiskusi berbagai masalah yang mungkin timbul. Tidak mustahil, anak kita yang masih dalam proses adaptasi dengan lingkungan sekitar justru menjadi trouble maker atau pemicu masalah. Dengan mendekati pihak-pihak yang dekat dengan anak-anak dan menjelaskan duduk persoalan; orangtua dapat membantu . Tentu bukan mengambil alih tanggung jawab ya.

Misal, si sulung suka sekali berkunjung ke rumah neneknya yang juga ada di Yogya. Kalau lagi betah di rumah neneknya, ia bisa berhari-hari disana dan tidak kembali ke tempat kos. Tentu teman-temannya panik. Apalagi si sulung ini orang yang malas mengontak terlebih dahulu. Maka, aku jelaskan pada kakak pengampu kos bahwa ia ada di rumah neneknya dan pintu rumah kontrakan bisa dikunci ketika jam malam tiba.

Sembari tentu mengingatkan si sulung : “kamu itu mbok ya jangan malas mengontak orang. Ingat, keselamatan kita bisa tertolong karena dikenali orang. Pernah kan Ummi cerita, ada anak kecelakaan dan kebetulan tetangga kita lewat? Langung aja tetangga kita mengenali dan membawanya ke rumah sakit. Kalau bukan tetangga kita yang mengenalinya mungkin sudah fatal akibatnya karena orang sekarang biasanya gak berani ambil resiko; malah takut jadi tertuduh. Dengan kamu ngasih tahu orang-orang terdekat; kalau ada apa-apa (naudzubillah…bukan berharap hal buruk) misal kecopetan atau diserempet orang; teman-teman terdekat bisa tahu”.

Perhatikan latar belakang budaya dan keluarga dari teman satu kos anak kita.

Mungkin, anak kita akan berbenturan dengan satu dua orang; dengan penjelasan yang masuk akal insyaallah anak akan mencoba berbesar hati dan mengalah ketika terjadi friksi.

  1. Rumahsakit, BPJS, asuransi kesehatan. Ini pengalaman genting yang kubagikan agar orangtua segera tanggap ketika anak mereka sakit.

Aku dikabari oleh kakak kelas si sulung , teman satu kosnya : “Ummi, Arina demam tinggi”. Awalnya kupikir flu biasa tapi setelah diberi parasetamol dan nggak sembuh-sembuh, aku mulai curiga. Langsung kubeli tiket kereata dan berangkat ke Yogya. Disana, anakku sudah terkapar lemas sekali. Aku periksakan darahnya, aku periksakan ke dokter sepsialis; beberapa dokter sepsialis bilang gak ada yang membahayakan. Paling hanya infeksi. Tapi antibiotik dan obat penurun panas sudah gak mempan. Demam anakku tinggi sekali, ditambah ia sangat lemas dan tak doyan makan apapun. Sesaat sebelum kubawa ke Surabaya untuk penangan intensif, sekali lagi aku cek laborat. Hasilnya : positif DB dan haurs segera rawat inap

Saat itu bulan Ramadhan dan sekalipun aku orang Yogya, aku sudah lama tidak tinggal di Yogya. Aku tanya kesana kemari tentang rumah sakit Islam, gak dapat-dapat. Akhirnya aku dapat di RS PKU gamping. Karena trombosit anakku saat itu masih di atas 100, maka anakku gak boleh pakai BPJS. Akhirnya, ia rawat inap lewat jalur umum.

Aku salut ketika di rumah sakit di Yogya, banyak bertemu anak-anak muda yang tengah mengantarkan temannya untuk rawat jalan atau rawat inap, berbekal  BPJS. Anak-anak mahasiswa perantauan, ternyata saling bahu membahu ketika teman mereka sakit. Mereka antarkan ke rumah sakit, asalkan ada BPJS atau asuransi sehingga si teman pun tak kelabakan ketika ditanya pihak rumah sakit.

 

 

 

Kategori
mother's corner My family Oase Remaja. Teenager

“Memaksa” Anak untuk Bersama

“Nanti bungkusin aja, Mi. Aku nggak ikut.”

Anakku menolak untuk bergabung akhir pekan, ketika kami ajak makan diluar. Alasannya masuk akal.

“Aku capek! Mau tidur aja. Lagian aku sudah sering keliling-keliling ke arah sana. ”

Wajar sih. Waktu kecil, anak akan menguntit kemana saja ayah ibunya pergi. Tapi setelah remaja, mereka punya kelompok sendiri. Punya agenda sendiri. Meski, mereka juga mengaku senang dan bahagia bila bisa berkumpul bersama.

Tapi, aku merasa waktu berkumpul harus tetap diselenggarakan. Entah mereka pada awalnya tidak setuju, menggerutu, mengomel, atau menolak dengan 1001 alasan. Berkumpul di rumah oke-oke saja; namun berjalan bersama-sama menikmati suasana di luar rumah; akan memiliki rasa berbeda. Lagipula, banyak yang harus dipelajari bersama anak-anak sepanjang menikmati kepadatan lalulintas, mengamati ragam tingkah polah manusia termasuk mengambil beragam hikmah yang harus disaksikan dengan mata kepala sendiri.

Maka si suatu akhir pekan, kami memutuskan makan di luar, walau ada yang wajahnya menggerutu karena tak ingin ikut.

 

Ayo, jauhi gadgetmu!

Kami makan bersama di sate Pak Seger pagi itu. Berhubung butuh waktu untuk membakar sate, yang tersaji lebih dahulu adalah minuman. Dan, tentu, fitur-fitur telepon pintar. Meski telah diingatkan kesepakatan untuk tidak membuka smartphone saat bersama seperti ini, tetap saja ada yang membandel. Aku memberi isyarat pada suami untuk tidak membuka HP nya, sebagaimana akupun menyimpan dan mengabaikan sekian banyak pesan untuk berkonsentrasi pada keluargaku.

2 anak cowokku tenggelam dalam ponselnya.

Anak-anak cewekku lebih fleksibel, mengikuti obrolan kami. Melihat 2 anak cowokku tenggelam di gadgetnya, aku mulai ambil tindakan. Tidak mungkin bilang : ayo, Ummi tadi bilang apa! Masukkan teleponmu ke saku! Dengarkan kalau orangtua bicara. Percuma saja kita pergi jauh-jauh dari rumah kalau semua tenggelam di chat line atau whatsapp!

Kucolek si Mas besar, Ayyasy namanya.

“Eh, kamu ingat nggak pernah ngeshare ke Ummi line today?”

maxresdefault
Pranks yang kadang lucu, kadang kebangetan

Si abang ini suka banget nge share life hacks, video prank, video motivasi sampai berita-berita aktual yang fenomenal atauapun hoax sekalipun.

Ayyas beralih dari ponsel, ganti menatapku.

“Kamu ngeshare ke Ummi berita line today, trus di bawahnya suka ada berita-berita menarik yang lain. Nah ada berita menarik tentang 5 dinosaurus yang masih hidup sampai sekarang. Mokele Mbembe, Mahamba, Megalodon…sebagian ditemukan di Kongo.”

Mokele Mbembe
Mokele Mbembe

Si Mas mulai tertarik dengan pembicaraanku. Dia masih berkutat dengan HPnya tapi mulai mencari apa yang kubicarakan.

“Kayak apa sih Mokele Mbembe itu sebenarnya?” aku ingin tahu.

“Nanti, ya, sebentar,” si Mas masih berkutat dengan info-infonya di HP.

Mas yang lebih kecil, mas kedua, Ahmad namanya. Juga tenggelam di HP.

“Kamu lihat apa?” tanyaku.

“Sebentar Mi, aku lagi lihat robot-robot.”

Aku tahu, Ahmad begitu suka dengan dunia elektronik, otomotif, robot dan sejenisnya. Ia suka browsing tentang dunia tersebut. Namun bagaimanapun, ini acara keluarga. Ia harus terlibat dalam pembicaraan kami. Aku beralih dari pembicaraan mengenai Mokele Mbembe, berdiskusi dengan suamiku dan anak-anak perempuanku tentang kucing. Ahmad dan anak-anakku yang lain suka kucing. Kebetulan beberapa hari lalu kami habis melihat youtube tentang hewan cantik yang hampir punah.

“Eh, kita kan habis lihat clouded leopard, ya Mas? Asyiknya kalau kita bisa melihara hewan kayak gitu yaaa!”

Segera saja pembicaraan di tengah keluarga kami beralih pada kucing. Kucing merah Kalimantan, kucing bakau, blacan, clouded leopard, kucing kampung, dan sembarang jenis kucing. Anak-anak masih melihat satu dua kali pada ponsel mereka tapi mencari tahu tentang apa yang kami bicarakan.

Blacan, clouded leopard, kucing bakau

Aku bersyukur, nahkoda pembicaraan di meja makan hari itu akhirnya ada di tanganku!

Semua terlibat aktif dalam pembicaraan, bercanda, mengemukaan pendapat.

Alhamdulillah, kami dapat menikmati kebersamaan.

Padahal pagi tadi sempat kupikir : biarlah sebagian anak-anak di rumah. Wong mereka memang nggak mau pergi. Nyatanya, mereka kadang-kadang harus dipaksa supaya tetap bersama keluarga. Televisi, gadget, internet, medsos; menjadi hobi anak-anak. Maka sebagai orangtua, kewajiban kita mengajarkan  batasan dan peluang.

 

 

Kategori
My family Nonfiksi Sinta Yudisia Oase Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Bisakah Menciptakan Anak Genius?

 

 

Rasanya sebuah kebetulan yang menakjubkan, ketika Mei ini buku Mendidik Anak dengan Cinta dan National Geographic Indonesia mengangkat tema yang tak akan pernah habis dibahas : IQ dan Kegeniusan.

 

Sebagai seorang psikolog, salah satu hal paling merangsang minat bagi saya adalah tentang perihal genius. Yang bila seseorang berhasil menguasai hal tertentu dengan brilian, ia akan dikatakan gifted. Sampai-sampai saya benar-benar ingin membuat buku khusus tentang bab Genius dan Gifted. Atau istilah radikalnya, ekstrim kanan.

 

Saya penyuka sejarah.

Selalu terpukau oleh gambaran orang-orang hebat dunia : Shalahuddin al Ayyubi, Al Fatih, Steve Jobs, Einstein,  Habibie, Nelson Mandela, Mahathma Gandhi. Saking liarnya pikiran ini, tiap kali bertemu orang pintar saya tergelitik bertanya : berapa skor IQ nya? Bukan untuk memvonis, untuk mengkotakkan, apalagi menghakimi. Namun instink saya berkata, pasti ada apa-apanya dengan orang itu. Apalagi bila bertemu orang hebat yang IQnya biasa-biasa saja. Ini jauh lebih mengesankan.

 

Pasti anda tak percaya bahwa Darwin dan Einstein awalnya dianggap biasa-biasa saja.

Membaca Natgeo Indonesia terbitan kali ini, benar-benar semakin membuat saya penasaran dan semoga semakin membakar impian-impian. Saya harus punya sanggar. Harus punya klinik art therapy. Harus punya pusat penelitian sendiri, terutama tentang anak-anak berbakta dan genius. Yang, kata Natgeo, jumlahnya sangat banyak di dunia. Hanya , karena lingkungan tidak memahami si genius ini, mereka dibiarkan layu dan mati.

 

Einstein dan Sidis

 

Dua orang ini benar-benar saya coba pelajari. Yah, meski saya tak punya irisan otak Einstein seperti yang tersimpan di museum Mutter, Philadelphia. Tetapi quote, buah pemikiran, biogarafi dua tokoh ini mudah ditemui.

Dua-duanya punya potensi otak hebat. Tapi jalan hidup yang dilalui sangat berbeda. Kiranya, saya simpulkan yang ternyata juga sesuai dengan Natgeo temukan. Ada hal-hal yang dapat dicapai dengan potensi IQ kita semua. Kalau diabaikan, layu dan punahlah ia.

  1. Seorang genius tidaklah solitaire. Einstein punya banyak teman. Mileva Maric, Michael Angelo Besso, Marcel Grossman adalah beberapa teman baik Einstein. Sidis? Ia dikabarkan sangat susah membangun relasi interpersonal. Bagaimana bisa demikian? Hal ini tekait dengan poin-pon yang lain.
  2. Orangtua yang mendukung. Einstein, Marc Zuckerberg, Steve Jobs, Margareth Tatcher, Terence Tao punya orangtua yang sangat megnerti anak mereka. Anak-anak spesial yang awalnya didiagnosis tidak pintar, namun orangtua memberikan banyak fasiltias pembelajaran. Ingat , fasiltias tidak selalu mahal! Steve Jobs hanya diberikan meja kecil, palu kecil, paku-paku. Sebab ayahnya hanya tukang kayu. Hermann Einstein hanya memberikan kompas kecil. Sidis? Orangtua memasukkannya ke Harvard di usia muda, memaksanya megnuasai banyak bahasa, mengontak media-media untuk menuliskan tentang anaknya yang berbakat. Najmuddin Ayyub mendampingi Shalahuddin al Ayyubi dalam memaknai intrik politik dan kekuasaan. Sultan Murad II, memilihkan guru-guru terhebat bagi Al Fatih.
  3. Gairah besar. Seorang genius harus didorong punya motivasi dan kegigihan. Sebab biasanya, anak pintar memang cenderung mudah bosan, mudah beralih, mudah meninggalkan hal-hal yang tadinya dimulainya dan tidak ingin diselesaikannya. Einstein, didorong relasi interpersonal yang bagus, punya teman-teman yang mendorongnya untuk berkarya. Ketika dunia dilanda perang, dengan cepat Einstein menjadi pejuang zionis sejati. Sidis? Rasa sendiri membuatnya patah arang hingga di usia 40an tahun ia harus masuk asylum. Al Fatih punya orang-orang yang mendorong dan memotivasinya untuk terus berjuang,s alahs atunya Aq Syamsudin, sang ulama kharismatik. Shalahuddin al Ayyubi, selain mendapat dorongan dari sang ayah Najmuddin Ayyub, juga senantiasa mendapat pendampigan dari Asaduddin Shirkuh, pamannya yang brilian dan pemberani.

Ayo, kita siapkan diri kita dan anak-anak kita untuk mengembangkan diri hingga optimal. Siapa tahu kita genius yang berikutnya!