Kategori
Literasi Wakaf Zakat Oase WRITING. SHARING.

Generasi Muda  & Wakaf 4.0

Apa yang ada di benak anda ketika mendengar 4.0?

Bila bertanya pada mahasiswa, maka jawabannya adalah : IPK atau indeks prestasi kumulatif. Tentu, bukan itu yang dimaksud. Istilah 4.0 sering digaungkan di berbagai aspek dunia akademis, birokrasi, perdagangan, industri hingga politik dan kehidupan bernegara. Secara singkat, 4.0 dianggap sebagai sebuah revolusi keempat yang mengubah cara manusia beraktivitas sehari-hari mulai kehidupan pribadi hingga kehidupan sosial. Revolusi 4.0 dipandang sebagai perpanjangan era 3.0, padahal jauh berbeda. Di era 3.0 cara kita melakukan transaksi keuangan hanya menggunakan teller bank dan mesin ATM.  Saat ini, transaksi keuangan dapat dilakukan dengan berbagai cara. Kartu kredit dan kartu debit dikeluarkan semua institusi perbankan. E-wallet sangat banyak jumlahnya. Aplikasi all in one tumbuh subur, dari yang  berbasis layanan kendaraan online hingga aplikasi syariah.

4.0 adalah era dimana Internet of Things (IoT), rekayasa genetika, robot, kendaraan tanpa pengemudi, Artificial Intelligent, Big Data, mesin pintar dan berbagai temuan lain saling terkontak dalam satu waktu. Pengguna dapat memutuskan berbagai hal penting bersamaan, terjadi pemangkasan waktu dan jalur distribusi untuk menyelesaikan berbagai  kebutuhan. Sebagai contoh : orangtua dapat menggunakan layanan online perbankan untuk membayar biaya pendidikan semua anak-anaknya, membayar asuransi, listrik, air, gas, mengisi uang elektronik dan memesan makanan serta membeli lemari hanya dengan duduk! Dulu, untuk menyelesaikan semua itu, orangtua harus datang ke sekolah atau universitas, ke kantor PLN, perusahaan air minum, penjual gas, datang ke restoran dan harus ke toko meubel.

Era 4.0 memang memudahkan banyak hal, tetapi juga harus dicermati sebagai kondisi yang mencerminkan VUCA – volatile, uncertain, complex, ambiguous. Volatile berarti sesuatu dapat berubah cepat dalam skala besar. Uncertain menggambarkan kondisi sekarang yang tidak dapat diramalkan dengan  jelas. Complex bermakna banyak sekali yang harus dipertimbangkan dan diputuskan, sementara ambiguous diterjemahkan sebagai simbol-simbol yang memiliki banyak makna.

Apapun itu, selamat datang masa 4.0. Selamat tinggal era 3.0, apalagi 2.0 bahkan 1.0. Mereka yang tidak mau belajar, akan tergilas. Mereka yang tidak mau berubah akan terhempas.

 

Siapa yang paling dekat dengan 4.0?

Bicara tentang revolusi industri 4.0, berarti membahas sebuah zaman yang diwakili oleh generasinya. Tak ayal lagi, mereka yang dekat dengan era 4.0 adalah generasi muda; baik dari masa generasi Y, Z atau alpha. Senior yang sudah mapan tak boleh mengabaikan fakta ini, sebab 4.0 dekat dengan makna sesuatu dapat berubah dengan sangat cepat dan dalam skala besar – volatile.

Dulu, selebritis dan pengusaha harus meniti tangga dari bawah. Sekarang, mereka dapat potong kompas, tak perlu lagi berurusan dengan pihak-pihak yang memperpanjang jalur pencapaian. Selebritis dapat mempopulerkan diri lebih cepat lewat media sosial seperti youtube dan instagram; pengusaha dapat segera memasarkan produknya lewat  marketplace dan blog. Sebuah kejadian dapat beredar informasinya lewat media sosial dengan cepat; begitupun bala bantuan yang diharapkan. Bencana alam misalnya, dalam sehari bahkan satu jam, orang-orang yang bersimpati akan menggalang dana untuk membantu saudaranya di belahan bumi lain.

Remaja adalah agen perubahan.

Beberapa wilayah yang dulu tak mungkin disentuh anak muda, sekarang justru menjadi dunia anak muda dengan segala dinamikanya. Sebut saja politik dan dunia usaha. Di waktu lampau, dunia ini dipenuhi orang-orang dewasa, bahkan orang berusia paruh baya. Sekarang, politik dunia diwarnai kaum muda seperti Alexandria Ocasio- Cortez, anggota dewan termuda  di Amerika, Mark Zuckerberg pendiri facebook, Sergei Brin dan Larry Page pendiri google. Entitas yang membutuhkan figur untuk dikenal masyarakat luas menggunakan influencer muda sebagai pemantik. Tak ada lagi yang meremehkan kaum muda. Mereka agent of change, sekaligus gelombang kuat untuk menyuarakan perubahan.

Dalam bidang religi pun, generasi muda membuat gebrakan-gebrakan kreatif yang mencengangkan. Mereka membuat komunitas, film, laman berita termasuk konten-konten lucu, kreatif dan menarik di berbagai media sosial. Informasi penting dan berbobot kini dikemas dengan gaya anak muda hingga pesan itu sampai ke masyarakat luas.

Wakaf, adalah salah satu amal terbaik dalam Islam.

Selayaknya setiap jiwa menanamkan sedekah dalam bentuk wakaf, sekecil apapun kontribusi yang dilakukannya. Pahala mengalir hingga yaumil akhir, terciptanya kantong-kantong produktifitas, mereka yang miskin dan terpinggirkan dapat tetap sejahtera menikmati layanan pendidikan dan kesehatan, serta layanan publik yang lain. Melihat pentingnya wakaf bagi pembangunan ummat, selayaknya wakaf digencarkan di berbagai kalangan, bukan hanya di kalangan dewasa dan berpunya, tapi juga dikalangan generasi muda sebagai agent of change. Nature dari generasi ini adalah : mereka suka berbagai informasi baik verbal, visual atau audia kepada khalayak. Ketika mereka sudah menyuarakannya, masyarakat luas akan senang menjadi bagian dari gerakannya. Tetapi, untuk menggandeng kalangan muda, diperlukan trik khusus agar mereka tertarik.

 

Wakaf : dari Anak Muda untuk Anak Muda

Anak muda suka hiburan, itu sudah pasti.

Perlu dipahami, hiburan tidaklah selalu bernilai negatif. Bila hiburan dikemas dengan nilai-nilai religius, ilmu pengetahuan dan ketrampilan; akan sangat bagus bagi perkembangan fisik dan psikis generasi muda. Remaja perlu diberikan wadah untuk berkreasi. Bakat dan minat mereka demikian beragam, mulai kecenderungan untuk beraktivitas kinestetik yang biasanya dilakukan outdoor atau di luar ruangan, hingga aktivitas kontemplasi semacam sains atau seni.

Saat ini, sangat jarang sarana anak muda berupa gedung luas dan gelanggang yang dapat menampung berbagai aktivitas. Menurut Rothwell Miller Interest Blank, minat anak muda terbagi sediktinya ke dalam dua belas kategori , meliputi : outdoor, mekanik, komputasi, klerikal, sains, medis, teknik, personal contact, social service, seni, literatur, practical. Bayangkan bila anak-anak muda ini diberikan wadah untuk berkreasi sesuai bakat minat, kita akan mendapatkan ribuan bahwan jutaan mereka yang ahli di bidang lapangan, olahraga, komputasi, sains, seni, literasi dan seterusnya. Bakat dan minat tidak didapatkan begitu saja, tetapi harus dilatih hingga mencapai level 10.000 jam terbang.

Anak muda membutuhkan wadah dan fasilitas yang dapat menunjang potensinya.

Savant Whiltshire.jpg
Stephen Whiltshire, seniman savant

Kita tidak tahu apakah di antara mereka ada seseorang seperti Magnus Carlsen, grandmaster catur, Daniel Tammet si autistic savant, atau Stephen Whiltshire si pelukis genius. Yang harus diupayakan oleh pemerintah, pendidik, penyandang dana, filantropis adalah bagaimana semua pihak dapat bersinergi untuk menciptakan peradaban yang lebih maju dan bermartabat bagi generasi penerus.

Ketika dunia dikepung hutan beton dan besi-besi, sungguh anak muda memerlukan gelanggang luas tempat mereka dapat berkreasi, berkontemplasi sekaligus mengasah ketrampilan sosial. Gelanggang remaja, yang merupakan gabungan dari berbagai value pendidikan, religiusitas dan kebangsaan; dapat terwujud salah satunya melalui program wakaf.

Bila dirasa pemerintah dan lembaga wakaf konvensional kesulitan mewujudkannya, mengapa tidak gunakan kelompok anak-anak muda untuk membangun sendiri gelanggang yang mereka butuhkan?

gelora utk disabilitas.png
Gelanggang remaja untuk disabilitas

Layanan Wakaf Digital dengan Nominal Terjangkau

Wakaf, selama ini dianggap sebagai sedekah dengan nominal besar. Padahal tidak selalu harus demikian, bukan? Sebuah lembaga zakat lokal di salah satu kabupaten di Jawa Timur melaporkan, lembaga zakat kabupaten mereka memperoleh penghargaan sebagai lembaga dengan performa terbaik. Padahal mereka tidak menghimpun dari muzakki berpenghasilan besar. Ternyata, para pemungut infaq rajin mendatangi masyarakat pinggiran yang terdiri dari nelayan dan petani, memberikan edukasi tentang pentingnya infaq dan mereka mengumpulkan recehan seribuan serta duaribuan. Hasilnya? Luarbiasa. Perolehannya lebih besar dari muzakki kaya yang memberikan infaq dengan nominal-nominal besar.

Generasi muda dapat didekati dengan cara demikian. Edukasi wakaf harus digaungkan.

Program wakaf tidak lagi dalam bentuk nominal ratusan ribu rupiah, tapi dapat diberikan pilihan puluhan ribu, hingga ribuan rupiah saja. Anak-anak muda yang enggan berinfaq tetapi memiliki saldo lumayan di e-wallet mereka, akan tergugah untuk berwakaf duaribu rupiah, setidaknya seminggu sekali di hari Jumat. Sekarang, anak muda gemar berbagi informasi dan semangat di hari-hari tertentu, terutama hari Jumat.

Mengapa tak memanfaatkan semangat ini?

wakaf aplikasi.jpg
Anak muda & aplikasi wakaf

Layanan wakaf digital ini tinggal disatukan dalam berbagai macam aplikasi yang bertebaran, seperti aplikasi kendaraan online atau uang elektronik lainnya. Jangan remehkan sekedar limaratus atau seribu rupiah. Bila dikalikan dengan ribuan jiwa muda, hasilnya luarbiasa!

 

Portofolio Penerima Wakaf

Anak muda selalu punya rasa ingin tahu besar!

Ke mana disalurkan? Seperti apa proyek wakaf yang didanai? Apakah dana tersalurkan menjadi masjid, rumahsakit, sekolah, klinik, ataukan gelanggang remaja? Portofolio wakaf ini sangat penting untuk menggungah curiousity, kebanggaan dan kepercayaan.

Umumnya, pewakaf akan semakin bersemangat memberikan dana ketika mengetahui, seberapa jauh bentuk fisik alokasi dana wakaf. Sejauh mana telah menjadi pondasi, telah berdiri dinding, telah diberikan furnitur, dan seterusnya.

Dalam layanan digital, baik aplikasi yang diunduh atau memanfaatkan instagram misalnya, perkembangan bentuk fisik alokasi dana wakaf dapat ditampilkan. Pewakaf akan senang sekali melihat tahap demi tahap, apalagi bila informasi disajikan secara detil. Bahkan diberikan link youtubenya!

Wakaf yang telah dikelola pemerintah, secara data telah mencukupi. Tetapi tentu, harus lebih gencar lagi penyebaran informasi wakaf dan edukasi wakaf nya. Situs dapat dikembangkan, ditambahkan link-link menarik seperti liputan para blogger, youtuber dan influencer. Agar, yang berbicara ke tengah masyarakat luas bukan hanya sekedar simbol angka dan huruf tetapi gambar-gambar visual cerita cerita yang lebih dinamis.

Misal, data wakaf di Jawa Timur untuk wilayah Surabaya. Tercatat di daerah Wonokromo saja mencapai angka tujuh belas. Wonokromo adalah sebuah wilayah kecil, mendapatkan wakaf sejumlah tujuh belas tentu luarbiasa. Tetapi seperti apakah perkembangan wakaf yang terakhir? Kapankah diupdate? Seperti apakah sekolah yang berjalan dan klinik yang dioperasikan? Apakah cukup hanya berdiri bangunan fisik berbentuk masjidnya saja, tetapi bangunan itu sepi dari jamaah, bahkan tak ada takmir dan nihil kegiatan? Tentu sangat disayangkan.

Harapan kita semua, wakaf bukanlah benda mati, tetapi sebuah sinergi antara bangunan fisik yang membisu dengan aktivtias manusia-manusianya yang lincah dan selalu kreatif menembus kendala.

tanah-wakaf-berwujud-masjid-_131230140629-500.jpg
Wakaf masjid

Kita berharap, anak-anak mudalah yang akan menyalurkan energi dahsyat mereka, untuk mengelola berbagai wakaf yang tesedia. Bila, wakaf itu tidak hanya bagi aktivitas yang mainstream tetapi justru diperuntukkan bagi aktivitas–aktivitas extraordinary : gelanggang olahraga panahan, gulat, berkuda; gelanggang seni tari saman, remo atau tari piring; gelanggang skateboard dan longboard, gelanggang musik, gelanggan seni visual modern macam manga dan anime; dapatkah anda bayangkan?

Anak-anak muda Indonesia akan memiliki sebuah gelanggan remaja bernafaskan religius.

Mereka yang terpinggirkan karena masalah ekonomi, masalah kelaurga, masalah disabilitas, atau masalah lingkungan; akan memiliki tempat untuk dituju.

Wakaf, sejatinya diperuntukan bagi generansi penerus, sehingga harus dipikirkan fasilitas apa saja yang dibutuhkan generasi muda. Wakaf  bukan sekedar prasasti orang terdahulu yang sukses secara finansial sehingga peruntukannya tak mau bergeser dari bangunan masjid dan sekolah.

Sudah waktunya kita mengajak generasi muda, menciptakan arena untuk mereka, dan membantu menumbuhkan  potensi bakat minat yang  luarbiasa!

 

 

Referensi :

Hooper, Rowan. 2018. Superhuman : Life at the Extremes of Our Capacity. New York : Simon and Schuster

Baenanda, Listhari. 2019. Mengenal Lebih Jauh Revolusi Industri 4.0. Diunduh dari  https://binus.ac.id/knowledge/2019/05/mengenal-lebih-jauh-revolusi-industri-4-0/ pada 20/10/2019

Gladwell, Malcolm. 2018. Outlier. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama

Kategori
Oase Renungan Hidup dan Kematian Tokoh WRITING. SHARING.

Beberapa Nasehat Terbaik B.J. Habibie

 

 

 

انا لله وانا اليه راجعون

Telah pergi salah satu putra terbaik bangsa Indonesia, bapak Bacharuddin Jusuf  Habibie.

Mantan Presiden  Ri , Habibie wafat.png

Airmata rasanya mengalir begitu saja, terisak tanpa dapat ditahan. Meski  aku dan sebagian besar kita belum pernah bertemu langsung, tapi banyak hal yang bisa kita pelajari. Malam ini, kuambil dari rak buku salah satu buku favoritku : Total Habibie, karya A. Makmur Makka dari penerbit Edelweiss. Ada banyak hal yang dapat diambil dari buku ini. Romantisme suami istri, perjuangan sebuah keluarga, hingga visi misi sebagai bapak bangsa.

BJ Habibie, cover buku
Total Habibie : penerbit Edelweiss

Tidak mudah menjadi kepala negara bagi 200 juta orang dengan suku bangsa sejumlah 800an. Kebiasaan, adat istiadat, cara berpikir, cara berbahasa dan banyak lagi; sangat berbeda. Tetapi BJ Habibie memiliki terobosan-terobosan spektakuler. Beliau selalu mendorong anak bangsa untuk bermimpi dan bercita-cita besar. Fokus bangsa pada pencapaian, prestasi, keberhasilan sehingga kepala  kita dipenuhi keinginan untuk bagaimana meraih prestasi setinggi-tingginya.

Otaknya Jerman, hatinya Mekkah. Itu nasehat singkat beliau yang sangat mengena bagi anak muda dan generasi penerus. Pintar saja tak cukup kalau moralnya busuk. Sebaliknya, moral luhur tanpa bekal kecerdasan juga tak akan mampu bersaing di era global

Ada beberapa gagasan dan pendapat beliau yang patut dicontoh dan semoga terwujud segera :

  1. Gandakan diri jadi 1000, jika engkau merasa sukses.

BJ Habibie & 1000.jpg

Sebagaimana Habibie bertekad menggandakan dirinya minimal menjadi 1000 orang. Ia selalu mendorong anak bangsa untuk berprestasi tinggi. Dalam buku Total Habibie, beliau mengambil contoh orang Jepang yang suka berteriak banzaaaiii untuk menyemangati rekan kerjanya yang sukses. Indonesia, memiliki ciri iri hati dan dengki yang harus dihilangkan. Ketika melihat orang lain sukses, harusnya memberi semangat agar ia naik lebih tinggi lagi. Ketika kita sendiri sukses, harus mampu menggandakan menjadi 1000 orang dan jangan bangga menjadi pintar & kaya sendirian.

 

 

  1. Jadilah anak bangsa yang memiliki produk andalan dan unggulan.

Andalan & unggulan.jpg

Apa beda andalan dan unggulan? Banyak orang memiliki produk andalan, tapi bukan unggulan. Produk andalan itu bagus dijual, tetapi bukan satu-satunya produk di pasaran. Alangkah baiknya bila sebuah produk itu andalan dan unggulan. Misal, Indonesia memproduksi N250 Gatotkaca IPTN. Itu adalah produk andalan sekaligus unggulan. Dari 180 negara hanya 15 negara yang bisa membuat pesawat, salah satunya Indonesia.

 

 

 

 

 

  1. Ilmuwan harus mengubah teori.

Saya memahaminya begini :

Sebuah teori, terutama konsep sosial, terbangun oleh situasi. Misal “orang miskin tidak dapat mencapai tingkatan tinggi karena tak punya uang untuk sekolah.” Seorang ilmuwan harus mampu mengubah teori itu. Orang miskin tidak dapat mencapai tingkatan tinggi jika tidak punya kemauan belajar. Orang  kaya tidak dapat mencapai tingkatan tinggi jika tidak punya kemauan belajar.

Jadi seorang ilmuwan jangan hanya taat pada teori tetapi harus mampu menciptakan teori baru atau bahkan mengubah paradigm teori yang implementasinya merugikan.

  1. Jangan memiliki mental kasir.

Kasir adalah orang yang senang menerima uang.

Membangun sebuah bangsa yang besar, tolok ukurnya memang tidak memiliki kekayaan material dalam jangka waktu dekat. Tetapi SDM harus dibangun dengan biaya sangat mahal. Negara kita sangat paradox : kaya tapi miskin, indah tapi jelek.

  1. Setiap kita , baik individu dan bangsa, harus berupaya mandiri.

Sebuah bangsa, jangan hanya mau tunduk pada kepentingan asing. Begitupun setiap individu, harus be;ajar mandiri dalam segala aspek agar memiliki kedaulatan pribadi dan kemampuan untuk berkembang optimal.

  1. Masih banyak lagi pidato dan nasehat-nasehat beliau yang sangat berharga untuk disimak.

Kemesraan ibu Ainun dan pak Habibie yang sangat lekat di benak dan hati bangsa Indonesia. Love both of you. May Allah grant with jannah.

 

Ah, kenapa hatiku sedih sekali?

Rasanya seperti merasa kosong dan hampa.

Aku ingat caranya berbicara yang meledak-ledak, sangat antusias dengan mata yang berbinar. Ingat keshalihan dirinya sebagai kepala negara. Ingat betapa setia dan mesranya pada bu Ainun Habibie.

Semoga Allah mengabulkan cita-cita pak Habibie : gandakan bagi bangsa ini 1000 orang, 100.000 orang, sebanyak mungkin yang Engkau Ridhoi seperti Habibie, ya Allah.

 

(Cuplikan-cuplikan  halaman berasal dari buku Total Habibie, karya A. Makmur Makka, penerbit Edelweiss, Depok – 2013)

 

Kategori
Film Hobby KOREA Mancanegara Oase RESENSI

Parasite (기생충) pemenang festival Cannes 2019 : Berhati-hatilah Ketika Bicara

 

“Syukurlah, semalam hujan turun.”

Anda pernah mengucapkan ini?

Bukankah itu ucapan yang wajar?

Itulah yang dikatakan Mrs. Park yang cantik dan kayaraya lewat telepon ketika tengah ngobrol bersama temannya. Tetapi, ucapan itulah yang mengubah raut wajah tuan Kim, sopirnya yang baru saja selesai membantu Mrs. Park berbelanja dalam jumlah besar untuk pesta ultah si bungsu, Dasong.

Hujan bagi tuan dan nyonya Park adalah tidur di sofa empuk sembari berpelukan, sembari mengamati si kecil Dasong tidur di tenda yang berada di pekarangan luas nan indah, dari ruang tengah keluarga mereka yang cantik dan nyaman lewat sebuah jendela kaca besar pembatas dinding.

“Tendanya beli di Amerika,” begitu kata nyonya Kim.

Hujan semalam, bagi keluarga sopir Kim, adalah sebuah bencana besar. Hujan dan banjir ini digambarkan demikian  mencengangkan, memilukan, dan tentu saja –merepotkan.

“Hujan membuat air limbah menguap!!” jerit tetangga.

Hujan  membuat rumah petak tuan Kim, yang lebih rendah dari jalan raya, cepat menyapu barang-barang. Di Korea, flat paling bawah yang biasanya hanya mendapatkan sedikit sinar matahari dan seolah berada di bawah tanah, adalah flat berharga paling murah. Hujan membuat tuan Kim meneriaki putranya Ki Woo agar segera menutup jendela kecil rumah mereka agar rumah tidak tenggelam. Hujan membuat Ki Jung, putri tuan Kim harus menekan kuat-kuat tutup kloset, agar kotoran dalam kloset  tidak muncrat kemana-mana. Maklum, banjir akan membuat kloset meluap. Percayalah, melihat Ki Jung/ Jessica berjuang menutup kloset yang terus memuncratkan kotoran hitam keluar tiap kali riak gelombang banjir datang, perasaan kita campur baur antara jijik dan iba.

Situasi banjir di lingkungan kumuh ini demikian mencekam.

Hujan malam itu, membuat seluruh penghuni perkampungan kumuh terpaksa mengungsi.

Mereka tinggal di stadion. Berebut baju bekas dari sumbangan warga sekitar. Di saat yang sama, nyonya Kim tengah memilih-milih baju apa yang akan dikenakan di pestanya, dari ruang khusus miliknya yang menyimpang ratusan baju di almari-almari.

Bagi orang kaya, hujan adalah situasi yang demikian romantic. Bagi orang yang tak punya rumah, itu adalah bencana.

parasite - cannes.jpeg
Parasite, pemenang festival Cannes 2019

Kelebihan Parasite (기생충 : Gisaengchung)

Film ini disutradarai Bong Joon Ho dan ditulis juga olehnya. Sebagaimana film Korea pada umumnya yang gado-gado; film ini begitu kocak, konyol, horror, menyentuh dan juga, lumayan sadis di adegan pembunuhan. Adegan demi adegan kita diajak untuk semakin larut dalam kekonyolan, yang semakin lama semakin mencekam akan rahasia tersembunyi di tengah rumah megah tuan Park.

Korea mendapatkan Palme d’Or untuk tahun ini dan memang, Parasite pantas mendapatkannya. Ada beberapa pesan penting yang disampaikan secara mendalam oleh Bong Joo Ho.

 

  1. Kebohongan akan terus ditutupi oleh kebohongan lain.

Berbohong itu sangat addictive. Buat kecanduan. Awalnya bohong, menipu, memfitnah lalu bertambah serakah. Itulah yang dilakukan keluarga Kim. Kita akan bersimpati pada kehidupan mereka yang sangat miskin, tapi juga miris.

Awalnya Ki Woo/ Kevin berbohong. Lalu ia ingin semakin menipu keluarga Park. Maka ia berbohong demi saudarinya Ki Jung/ Jessica agar bisa diterima sebagai guru privat seni di tengah keluarga Park. Jessica lalu memfitnah supir keluarga itu agar bisa memasukkan ayahnya, tuan Kim sebagai supir. Tuan Kim, Kevin, Jessica akhirnya memfitnah housekeeper keluarga Park yang baik hati, Moon Gwang agar bisa memasukkan ibunya. 4 sekawan ini lalu bahu membahu dalam berbohong dan menipu demi mengeksploitasi keluarga Park.

 

  1. Berhati-hatilah dalam berucap

Kadang, manusia khilaf berkata-kata.

Sebagai orang kaya, tuan dan nyonya Park sebetulnya cukup baik hati. Hanya saja, mereka terbiasa memerintah dan menjadikan kepentingan pribadi mereka jauh lebih penting daripada kepentingan orang lain yang lebih rendah, termasuk pembantu dan sopir mereka.

“Syukurlah, semalam hujan.”

“Baunya tuan Kim, tukang masak dan Jessica sama,” kata Dasong.

“Orang-orang bawah tanah punya bau yang khas.”

“Tuan Kim punya bau, yang bisa menembus kursi sampai tercium dari bangku belakang,” kata tuan Kim kepada istrinya.

Banjir, bau busuk, baju jelek, kurang makan, bertahan hidup dari hari ke hari adalah keseharian manusia miskin yang tinggal di kampung kumuh. Mungkin, awalnya keluarga Kim senang menipu keluarga Park dan mereka berlagak seolah menjadi pemilik rumah megah tersebut. Lama-lama, komentar tuan dan nyonya Park yang sebetulnya biasa saja, menjadi tikaman yang luarbiasa menyakitkan.

parasite - keluarga miskin
Kemiskinan keluarga Kim yang digambarkan sangat apik, sumber Tribunnews
  1. Jangan mudah percaya pada orang lain

Kehidupan orang kelas bawah yang harus bertaham demi sesuap nasi, digambarkan sangat apik. Masyarakat marginal seringkali harus mempergunakan banyak cara agar bisa mendapatkan uang, termasuk berbohong dan menipu. Keluarga Kim digambarkan sebagai keluarga yang kompak dan tough, sebaliknya keluarga Park meski kayaraya sangat rapuh. Mengapa mereka mudah percaya pada  Kevin, Jessica, tuan Kim dan nyonya Kim? Nyonya Kim tidak bisa mengurus rumah dan memasak, sehingga ia harus punya housekeeper. Siapa yang bisa mengerjakan tugas rumah tangganya, akan ia percaya. Dahye dan Dasong punya kesulitan belajar. Nyonya Park tidak bisa mengajari putra putrinya, maka ia sangat membutuhkan guru les yang akan membantunya; itu sebabnya nyonya Park sangat tergantung pada Kevin dan Jessica. Tuan dan Nyonya Park sudah terbiasa dilayani. Hidup tanpa supir sangat tak nyaman. Maka ia sangat percaya pada tuan Kim. Melihat orang miskin mengeksploitasi orangkaya, sungguh sebuah parodi sarkasm. Biasanya orang kaya yang mengeskploitasi orang miskin, kali ini sebaliknya.

Seharusnya, kita tidak mudah percaya omongan, hasutan, fitnah yang ditujukan untuk menjatuhkan seseorang. Sepertinya bagus buat kepentingan diri kita sendiri, tetapi kenyataannya sebaliknya.

parasite - nyonya Park.jpg
Parasite – Nyonya Park yang cantik dan naif
  1. Hidup tak perlu membuat rencana.

Ini perkataan yang mak jleeeeb bangettt.

Meski saya kurang setuju dengan pendapat tuan Kim.

Saat terkena bencana bajir limbah, tuan Kim, Kevin dan Jessica harus mengungsi dengan ratusan penghuni kumuh lainnya di stadiun.

“Ayah, apa kau punya rencana?” tanya Ki Woo.

“Tidak,” kata tuan Kim.

“Kenapa? Kau bilang, kau selalu punya rencana.”

“Percayalah Nak, hidup itu tidak seharusnya direncanakan. Sebab semua akan meleset dari rencana.”

Ooowwwwh.

Kita boleh tak percaya perkataan ini.

Tapi tuan Kim mengatakan kalimat itu dalam kondisi yang demikian pedih, membuat hati permirsa tercabik. Seolah, bagi orang miskin seperti mereka; tak perlu membuat rencana apapun dalam hidup.

Sebab, seringkali hidup tak terjadwal sesuai rencana.

parasite - kompaknya keluarga kim.jpg
Kompaknya kakak beradik Kim – Parasite

 

 

 

Kategori
Catatan Perjalanan Oase Travelling

Tempat Favorit Sepanjang Mudik Lebaran 2019

Lebaran selalu punya kisah. Mulai persiapan keberangkatan yang ruwet, sampai cerita macet di mana-mana. Meski tol sudah dibangun, tetap aja macet. Yang namanya orang mau mudik segitu banyaknya hahaha. Urusan kue kering, sudah ada yang handle. Aku nggak sanggup bikin sendiri. Capek (alasan!).  Sebetulnya karena belum mahir bikin kue kering. Sepanjang  perjalanan mudik, ada beberapa tempat favoritku beserta keluarga. Silakan simak ya!

 

  1. Masjid

 

Kami insyalllah sering mampir masjid. Buat pipis, buat cuci muka, buat sholat jama’ qashar. Buat rehat sejenak. Sepanjang jalanan yang panas, benar-benar buat pikiran tegang. Meski dalam mobil ber AC, yang namanya orang mudik, pasti kepalanya panas. Yah, segitu banyaknya orang ingin cepat sampai.

Ada yang ngantuk, lalu main kebut seenaknya.

Ada yang capek, lalu parkir sembarang parkir.

Ada yang mudik pakai sepeda motor, nah ini yang bikin deg-degan. Beragam kondisi pengendara : rata-rata bawa barang oleh-oleh banyak. Bawa anak kecil juga. Bisa dipastikan mereka juga kelelahan sehingga terkadang tak taat berkendara.

Masjid, jadi tempat kami relaksasi.

Ada beragam jenis masjid. Ada yang tua, ada yang baru dibangun. Ada yang sudah sempurna bangunannya, ada yang masih ala kadarnya. Tapi entah kenapa, air di masjid itu sejuuuk sekali. Rasanya kalau membasuh muka, byaaarrr.

Di bawah ini beberapa masjid yang kami kunjungi dalam perjalanan mudik dan balik 2019.

Al Aqsho depan
Bagian depan masjid Al Aqsho, Klaten. Megah ya?

Al Aqsho Klaten ini merupakan Masjid Agung. Selain interiornya cantik, tersedia ruang unik seperti ruang menyusui dan kolam terapi ikan.

 

Masjid Tulis, Batang yang masih belum jadi. Masjidnya sederhana. Penunggunya seorang lelaki sepuh yang sangat ramah dan sabar. Beliau rajin bebersih.

 

2. Kuliner berbagai kota

Indonesia memang negeri kaya raya. Dapat dilihat dari berbagai jenis makanan. Kampung halaman suamiku, Tegal, dikenal dengan para pengusaha warteg alias warung Tegal yang rata-rata kaya raya. Masakannya…sedaaap. Dan murah! Bayangkan, di warung pinggir jalan yang namanya nasi lengko, kupat lengko, kupat  lodeh paroh , kupat jangan kuning rasanya enak-enak banget. Harga? Rp. 5000! Di Surabaya uang lima ribu hanya cukup buat parkir mobil. Tapi di Tegal masih bisa buat beli makanan satu porsi yang mengenyangkan dan bikin lidah kepelet.

 

Sauto Senggol Tegal

Ada lagi sauto senggol, Tegal. Letaknya dekat alun-alun dan masjid Agung kota Tegal. Kalau di sini, siap-siap antriiii! Apalagi waktunya makan siang atau makan malam. Meski antri (aku sudah berkali-kali kalau mudik dan kemari selalu antri!!) pengunjung tetap rela. Jangan salah kamar, ada beberapa sauto di situ. Sauto Senggol Tegal yang terenak (menurutku) , letaknya persis di sisi kantor polisi Tegal. Bisa kelihatan dari ramai pengunjungnya sih. Harga Rp. 18.000 per porsi. Yang tersedia sauto ayam, sauto campur (ayam + jeroan daging kambing).

Sauto Senggol Tegal

 

Grombyang, Pemalang

Berkali-kali aku kemari, tutup. Pas balik Surabaya, Alhamdulillah buka. Grombyang ini mirip soto, tapi rasa kuahnya lebih pekat. Dagingnya juga berbumbu rempah dan manis. Disediakan sate sapi berempah kalau yang mau daging tambahan. Harganya relative murah (aku lupa harga  tepatnya). Sekitar Rp. 20.000. Grombyang yang terkenal enak letaknya dekat rumah sakit Harapan Sehat dan Klinik Hajah Zaenab, Pemalang. Kalau bawa mobil siap-siap mondar mandir bolak balik cari parkiran kosong, ya.

Grombyang, Pemalang

Burger Monalisa, Yogyakarta

Nah, kalau Yogya kulinernya juga banyak banget dan banyak juga yang khas. Aku cuma mau mengutip satu jenis  makanan khas mahasiswa yang beda, yaitu burger Monalisa. Harganya Rp. 22.000 letaknya di jalan Kaliurang. Antriannya? Padat, Man! Tapi percayalah, worth it. Rotinya enaaak banget. Bahkan, saat kubawa ke hotel dan nginap sampai besok paginya, rasa burgernya masih enak termasuk rotinya dalam kondisi dingin akibat terpapar AC kwkwkwk.

Aku suka burger Monalisa karena rasanya yang gak berubah selama puluhan tahun dan kami punya memori tersendiri terkait burger ini. Ya, waktu pengantin baru 1994, aku dan suamiku mencicipi burger ini untuk pertama kalinya berdua. Cieeee.

Burger Monalisa.JPG
Burger Monalisa, Yogyakarta
Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Catatan Perjalanan mother's corner Oase Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY WRITING. SHARING.

Bagaimana Jika Minat-Bakat Anak, Bertentangan dengan Keinginan Orangtua?

“Papa mamaku dokter. Mereka ingin aku jadi dokter juga. Tapi aku nggak mau!”

“Aku suka jadi EO, tapi orangtuaku pingin aku sekolah D3 teknik. Gimana?”

“Awalnya aku kulian di institute agama. Lama-lama orangtuaku tahu, aku berbakat di music.”

“Sepanjang hidup aku nurut orangtuaku, tapi aku sudah nggak tahan lagi. Aku sebetulnya suka gambar dan ingin masuk desain grafis!”

 

Tidak semua orangtua paham, bahwa Allah Swt menitipkan bakat yang luarbiasa ke dalam diri anak-anak. Kalau Leah dulu tidak bersabar mendampingi anaknya menonton televise, mungkin kita tak pernah tahu ada sutradara seperti Steven Spielberg –terlepas pro kontra tentang dirinya. Kalau Paul Jobs tidak rajin mengajari anaknya jadi tukang kecil, dunia mungkin tak menikmati perangkat teknologi seperti yang diciptakan Steve Jobs. Sebetulnya, bagaimana cara orangtua melihat minat bakat anak-anaknya?

Sinta & Siswi SMPIT Al Uswah Tuban
Siswi SMPIT Al USwah Tuban, kelas IX

3 Minat Bakat Utama

Bila seorang anak usia SMP atau SMA menjalani tes bakat minat, mungkin akan muncul 3 minat bakatnya yang tertinggi. Bisa jadi medical – science – social service ; bisa jadi aesthetic-literacy-music. Bisa jadi computational-clerical-practical dan sebagainya. Bahkan kadang-kadang tercipta kombinasi unik : medical – literacypersonal contact.

Kombinasi ini benar-benar anugerah Allah Swt. Dan sebagian bisa jadi karena stimulus lingkungan. Baca deh buku Outlier karya Malcolm Gladwell.

Bagaimana kalau bakat minat sudah ditemukan?

Nah, banyak orangtua nggak siap!

Ada yang kedua orangtuanya dokter (sudah pasti keduanya pintar dan ber IQ tinggi) , anaknya harus kuliah kedokteran. Padahal tak muncul sama sekali bakat minat sains, apalagi medisnya. Yang muncul justru social service – personal contact –literacy. Dapat dibayangkan kalau anak pintar ini jadi pengacara atau politikus ; ia akan sangat cemerlang di bidangnya. Kita juga ingin orang-orang jenius di bidang hukum dan sosial, bukan?

Di era medieval age; para alim ulama menguasa banyak ilmu pengetahuan. Umar Khayyam misalnya, bukan hanya ahli Quran dan Hadits, tetapi jusa ilmuwan, matematikawan, astronom, sastrawan. Seringkali alim ulama menguasai banyak bidang karena Allah Swt memang sudah menitipkan setidaknya 2 atau 3 bakat minat dalam diri setiap manusia. Kalau para orangtua juga masih mencari-cari apa potensinya, silakan dicari agar hidupnya bahagia.

Begitupun, jangan abaikan, jangan menolak apa yang menjadi bakat minat anak-anak. Peluang keberhasilan di atas muka bumi bukan hanya dimiliki orang-orang sains; tetapi orang sosial pun dapat hidup makmur dan sukses – kalau harapan orangtua adalah agar anaknya bisa hidup mapan.

Para orangtua yang luarbiasa mendampingi ananda di acara AMT SMPIT Al USwah Tuban

Orangtua Bijak

Ada seorang anak yang bercerita.

“Aku dulu kuliah di IAIN (UIN sekarang). Lalu ibuku tahu aku nggak terlalu suka bidang agama. Aku pindah kuliah ke universitas yang ada musiknya. Alhamdulillah, aku udah bisa cari uang sendiri sejak kuliah.”

Si anak sering diminta nge-lesin anak SD, bahkan membantu terapi anak ABK yang butuh stimulus music.

Ada lagi anak yang bercerita.

“Aku dulu kuliah di salah satu UN terus nggak nyaman. Untung orangtuaku paham. Aku terus ambil tata rias sekaligus tata busana.”

Ketika aku bertemu ayahnya, luarbiasa tanggapannya, “Alhamdulillah Bu, anak saya tetap berjilbab ketika mendandani artis sebelum tampil di layar kaca. Dan dia sekarang merancang hijab syari buat para artis.”

Nah, luarbiasa bukan? Si anak berdakwah kepada artis dengan caranya sendiri! Coba dia dipaksa kuliah di bidang yang bukan kesukaan dan keahliannya.

Tetapi bagaimana jika orangtua memang memiliki harapan tertentu?

“Aku berharap anakku segera kerja,” keluh sepasang ayah dan ibu. “Kami hanya pedagang. Kami memang paksa dia sekolah sejak SD dan kuliah seperti sekarang.”

Ada orangtua yang memang butuh agar anak-anaknya segera mandiri lantaran ekonomi keluarga butuh support segera dari si anak. Tentu saja, ‘memaksa’ anak seperti ini bukan perkara yang salah 100%. Kuncinya :

  1. Komunikasi terus menerus
  2. Bersabar ketika anak ngambek
  3. Dampingi ketika anak menghadapi masa-masa sulit (aku benci sains! Tapi aku harus kuliah di sini. Mana kakak kelasnya jahat, dosennya gak ada yang pengertian!)
  4. Ketika anak mengeluh terus menerus, dengarkan. Jangan emosi, menyalahkan.
  5. Doakan
  6. Ucapkan kata-kata positif dan terimakasih atas pengorbanannya :”makasih ya, Kakak mau kuliah kedinasan. Bosan ya? Semoga kalau Kakak udah punya uang sendiri, Kakak bisa beli apapun dan pergi kemanapun sesuai keinginan.”

 

Rap Monster BTS ( Kim Nam Joon) bersama ibunda tercinta. Klik sumber (Kiri & kanan.)

 

Anak Bijak

Eh, selain orangtua bijak adapula anak-anak bijak yang mampu mengalah demi keinginan orangtua. Mereka ini juga akhirnya sukses di bidangnya.

Penyuka KPop pastilah kenal dengan BTS yang diasuh Big Hit Entertaintment. Sudah diketahui secara luas, Korea termasuk salah satu negara dunia timur yang sangat menjunjung nilai filosofi Konfusianisme selama 2000 tahun, khususnya ajaran berbakti pada orangtua dan hormat pada yang lebih senior. RM atau Rap Monster (Kim Nam Joon) memiliki IQ yang hanya dimiliki 10% manusia di atas muka bumi. Pantaslah ayah ibunya yang seorang professor dan doktor berharap, si anak mengambil gelar akademis.

Rap Mon tidak membangkang pada ayah ibunya. Kepada sang mama, ia melakukan pendekatan manis.

“Ma, kalau aku ranking 5000 dengan ranking 1, Mama lebih suka mana?”

Orangtua pasti akan bilang : Mama suka kamu ranking 1.

“Kalau aku di bidang akademis, meski aku pinter, aku paling ada di ranking 5000. Tapi kalau aku menggeluti dunia yang aku sukai, aku bisa ranking 1.”

Sang mama pun luluh.

Akhirnya RM terbukti bisa membawa BTS mendunia, bahkan jadi spokeperson PBB. Wah, keren ya cara menaklukan hati sang ibu?

Ada lagi kisah seorang muslimah.

“Aku dulu kuliah S1 dan S2 di  bidang medis. Ibuku berharap aku segera kerja dan kembali ke kampung, maklum aku berasal dari desa. Padahal ternyata bakatku di literasi.”

Sekarang, muslimah itu terus mengembangkan bakat literasinya. Bahkan ada juga muslimah yang punya kisah serupa, ia S1 S2 medis karena ingin menuruti hati ibunda, lalu kuliah lagi bahasa Inggris sesuai bakat minatnya. Sekarang, ia mengelola blog kesehatan, in English pula! Wah, keren banget ya.

Bagi anak-anak muda, berbakti pada orangtua tidak pernah ada ruginya. Akan kita temukan kebahagiaan di sana. Berbakti apda orangtua juga bukan berarti mengubur cita-cita. Bagi yang memiliki kepribadian kuat dan kemampuan otak kuat, turuti dulu keinginan orangtua sembari kita mengejar cita-cita. Nggak perlu stress, segera tekuni hobby untuk mencari keseimbangan.

Tetapi, kalau di tengah jalan mulai tak kuat, mungkin karena kemampuan otak yang pas-pasan dan tipe kepribadian kita yang peragu, pencemas, mudah goyah; segera komunikasikan dengan orangtua. Hayooo, lihat lagi film 3 Idiots, bagaimana Farhan berkata lemah lembut pada ayahnya. Jangan sampai, kita sekolah dan kuliah di tengah-tengah, sudah hampir skripsi, orangtua sudah habis banyak biaya lalu tiba-tiba….”aku nggak kuat!”. Kasihan sekali orangtua kalau begini.

 

Datangi Konselor

Di setiap sekolah dan kampus sekarang biasanya dibuka unit layanan psikologi. Manfaatkan biro ini sebaik-baiknya, kalau memang orangtua dan anak masih bingung mau kemana merancang karir. Mau ke mana sekolah. Mau kemana arah tujuan akademis. Insyaallah bertanya pada ahlinya akan memberikan satu sudut pandang baru.

Yuk!

Bagi para orangtua yagn sudah senior, kalau belum menemukan bakat minatnya, boleh kok digali lagi dan dioptimalkan. Tak usah ragu! Saat saya residensi penulis di Seoul, banyak bertemu orangtua Korea yang berusia 50, 60 tahun bahkan sudah nenek-nenek menemukan bakat mereka yang terpendam karena kewajiban : menulis novel.

Bagi anak-anakku yang masih mencari dunia baru, teruslah berkembang. Kalau kalian memang harus berbakti pada orang tua dan menuruti keinginan orangtua, bersabarlah. Jangan khawatir, masih tersisa kesempatan untuk mencapai apa keinginan kalian. Tetapi, kalau kalian bisa menjalin komunikasi baik dengan orangtua, pahamkan mereka bahwa insyaallah kalian punya cita-cita hebat dan cara hebat tersendiri untuk menjadi sukses.

Kiri : siswa SMPIT Al Uswah Tuba. Kanan : para ustadz ustadzah, guru yang luarbiasa

(Catatan usai mengisi acara Achievement Motivation Training di SMPIT Tuban, 24 Maret 2019)

 

 

 

Kategori
Cinta & Love Fiksi Sinta Yudisia Karyaku Novel Oase Single in Love WRITING. SHARING.

8 hal istimewa dalam novel Single in Love

Mau tahu, apa yang pembaca dapat dari novel Single in Love?

Cover Single in Love + endorsment prof. Koh
  1. Seni berbicara dengan lelaki
  2. Seni membaca pikiran/perasaan orang lain
  3. Better single or couple?
  4. Cara bijak berbuat baik
  5. Derajat lelaki
  6. Posisi perempuan
  7. Energi positif dari kejadian negatif
  8. Selaras ego, karier, cinta

Seni berbicara dengan lelaki

Cowok cewek itu beda banget struktur otaknya. Dari fisiknya saja sangat berbeda, cara kerja otak, persepsi, mengambil kesimpulan, mengambil tindakan. Seringkali cewek salah megnartikan maksud cowok. Andromeda dan Venna, dua tokoh dalam novel ini kerap salah berkomunikasi dengan suami mereka. Akibatnya, hubungan retak.

———-

Venna menggigit bibir.

“Kalau laki-laki diam, harusnya perempuan mikir,” Orion berkata tajam. “Kalau laki-laki bilang terserah, harusnya perempuan menimbang pakai perasaan.”

Benarkah? Berapa kalikah Sam berkata terserah, kamu tahu mana yang terbaik, kamu bisa memutuskan? (hal. 112)

———–

Seni membaca pikiran/perasaan orang lain

Seringkali kita mengukur segalanya pakai persepsi dan perasaan diri sendiri. Padahal, seharusnya kita pun perlu melihat bagaimana kondisi orang lain? Apakah sebenarnya ia bahagia, atau menderita? Apakah ia mau dibantu, atau justru ingin dibiarkan sendiri?

———

Venna menatap telepon selulernya.

Ia menarik napas dan membuangnya perlahan.

Bukan hanya Titi yang mengatakan demikian. Andromedapun begitu.

“Kamu itu semua dipikir, semua mau kamu bantu! Kalau orang nggak minta bantuan, ya nggak usah dibantu.”

“Meski dia mau jatuh ke jurang?” pancing Venna.

“Ya. Meski dia mau jatuh, mau terkapar, mau mati. Nanti kamu nggak punya energi buat jalani hidup kamu sendiri.” (hal. 203)

Better single or couple?

Single in love 007 - lores.jpg

Adakalanya, orang lelah menjadi couple. Karena menikah itu berbagi, termasuk berbagi derita. Seringkali orang menyangka ketika berdua itu melelahkan, lebih baik sendiri. Hal itu tidak salah sebenarnya. Tapi mari kita lihat pendapat Titi.

———–

Menikah itu memang pedih, bagi sebagian orang. Tapi ketika jadi single, itu juga nggak sepenuhnya bahagia, lho!” ( hal. 180)

———-

Cara bijak berbuat baik

Saking baik dan shalihnya kita, kadang semua orang yang menderita ingin segera dibantu! Padahal nggak selalu demikian. Bahkan, bisa jadi bantuan kita akan memberatkannya, menghimpitnya atau mendesaknya ke arah yang kurang nyaman.

———

Masih belum memahami mengapa usaha baiknya untuk mempertahankankan pernikahan Andromeda, dalam kaca-mata psikologis termasuk yang tidak dibenarkan. Bagi Profesor Bintari, ketika seseorang tidak meminta bantuan, lantas apa gunanya dibantu? Sama seperti seorang pasien yang tidak datang ke dokter, apakah dokter harus mengejar-ngejarnya untuk memberikan resep? Mungkin saja pasien itu tidak merasa sakit dengan penyakit yang dideritanya, atau dia memang sudah punya obat alternatif sehingga tidak membutuhkan dokter yang meresepkan obat kimiawi. Pendek kata, seorang dokter baru bisa mengobati pasiennya ketika sang pasien merasa sakit dan membutuhkan bantuan si dokter. Demikian kira-kira anggapan profesor. (hal. 169)

——–

Derajat lelaki

Dalam agama Islam, kodrat lelaki memang berada di atas perempuan, bukan dalam pengertian penindasan. Lelaki berada di garis depan sebab mereka berkewajibab membina perempuan dan keluarga; melindungi, menafkahi, memberikan rasa aman. Sebaliknya, dalam posisi lelaki yang menjadi pemimpin, imam atau qowwam tersebut; perempuan pun hendaknya menyadari bahwa mereka berada dalam posisi prajurit. Seorang prajurit bukan berarti kehilangan hak manusiawinya untuk hidup dan memiliki impian. Perbedaan prajurit dan pemimpin adalah pada hirarki perintah. Perintah lelakipun, masih dapat ditawar jika memang perempuan memiliki ide yang lebih baik.

———————–

“Harusnya Mbak kasih tahu aku dulu!”

“Orion! Ini bukan hierarki kepemimpinan yang harus lapor ke siapa! Aku hanya ingat Mama pertama kali, titik.”

“Karena aku nggak ada dalam daftar dewan pertim-bangan yang pertama kali. Selalu begitu, kan?”

Venna bingung, mencoba menahan diri. Siapapun bisa sensitif mendengar hal yang di luar perkiraan. Bahkan Orion yang sama sekali tak terlibat. Pemuda itu mungkin saja tiba-tiba teringat perpisahan Papa dan Mama yang pasti melukainya, dan sekarang Triton memenuhi seluruh ruang kekhawatiran.

“Tahu apa kesalahan Mbak? Kesalahan yang sama seperti yang dilakukan Mama dan Mbak Meda.” (hal. 104)

——–

Posisi perempuan

Perempuan memiliki tempat terhormat di dunia ini. Tak ada yang dapat menggantikan posisi perempuan untuk hamil dan menyusui. Tak ada pula yang dapat menggantikan posisinya untuk menjadi belahan jiwa lelaki. Sebagai prajurit, kewajiban utama perempuan adalah menempatkan lelaki sebagai qowwam bagi dirinya. Ketika lelaki tidak bisa menjadi qowwam –entah karena ia memang tak mampu atau dikerdilkan oleh perempuan- maka ketidakstabilan terjadi di atas muka bumi.

Single in love 004 - lores.jpg

———-

Kisah yang sudah belasan, puluhan atau ratusan kali didengar dari mulut perempuan. Ketika klien-klien Venna mengadukan pernikahan di ambang bahaya, para lelaki yang jauh dari peran qowwam–pemimpin, mereka kelelahan beradaptasi dan bernegosiasi. Keluh-kesah itu harus ditampung semua tapi tidak boleh disimpulkan dalam kondisi emosional. Sebab, saat para suami hadir untuk melengkapi family therapy, kisah yang diungkapkan dapat sangat berseberangan! Siapa menindas siapa, siapa mengelabui siapa, campur baur dalam egoisme dan sikap unfaithful, dishonest. Berbenturan kepentingan masing-masing pihak sering kali melindungi kisah sebenarnya. Meski perempuan, Venna jujur mengakui, kaumnya seringkali bersembunyi di balik air mata saat mengungkap sesuatu. Tampak sebagai makhluk tertindas, padahal bahasa manis dan sikap gemulainya mampu melukai harga diri lelaki tercabik hingga serpihan! (hal. 94)

Energi positif dari kejadian negatif

Kehidupan memang menyajikan dua sisi : pahit dan manis, derita dan bahagia, gagal dan pencapaian, tangis dan tawa. Meski demikian, kita sama-sama berharap bahwa dalam posisi apapun; kebahagiaan tetap menjadi bagian dari hari-hari istimewa kita. Walau hidup terasa demikian berat dan sulit, bukan berarti haram mengecap kebahagiaan, bukan?

Titi dan professor Bintari adalah dua orang dalam novel ini yang mampu mengambil energy positif dalam hidup mereka yang tampaknya berjalan tak diharapkan.

——-

Oh, Dear. Saya hanya mau bilang, bahwa saya menyesal dulu telah bercerai. Memang suami saya punya banyak kekurangan. Tapi ternyata, dengan bercerai seperti ini saya menyesali setiap hari dan itu menjadi kekuatan bagi diri saya untuk terus mendorong orang-orang menjauhi perceraian. Kecuali bila memang amat sangat terpaksa.

See? Saya mendapatkan jalan kebijaksanaan. Mungkin itu yang namanya takdir, ya.

Kalau Andromeda akhirnya bercerai, kamu nggak perlu risau. Anaknya mungkin akan bermasalah, ia sendiri mungkin akan semakin tak stabil personality-nya. Tapi semoga itu menjadi jalan kebijaksanaan bagi kakakmu. Sebab dia ter-nyata tidak menjadi bijaksana ketika memiliki suami sebaik suaminya yang sekarang.” (hal. 218)

—————–

Selaras ego, karier, cinta

Meski pernikahan merupakan koordinasi, harus bisa kooperatif antar dua belah pihak; bukan berarti salahs atu pihak harus terus merasa menderita dan berkorban bagi pihak lain. Justru, satu pihak withdrawal dari banyak hal untuk memberikan kesempatan bagi pasangan; di waktu lain ia bisa melaju dan mmeinta pasangan untuk ganti memahami dirinya yang telah berkorban.

————————–

“Masih ingat ketika kita kecil, Mama tugas ke Bandung sementara aku sakit demam berdarah? Meski merengek, Mama tetap merasa harus ke Bandung, aku ditunggui Eyang Putri. Papa juga terpaksa cuti, meski di kantor Papa juga sedang laporan akhir tahun yang menuntut karyawan lembur.”

“Itu namanya kerja sama, Orion,” Andromeda mendesis.

“Bagi Mama kerja sama. Tetap saja bagiku pengorbanan, bagi Papa juga, kan? Mama harusnya mengerti kalau orang lain juga berkorban.” (hal. 189)

~~~~~~~~~

Harga novel 95K (belum discount dan ongkir). Pesanan Single in Love dapat mengontak Vidi 0878-5153-2589/ Ahmad 0878-5521-6487. Silakan mengisi bit.ly/novelsingleinlove

Kategori
Catatan Jumat Cinta & Love Oase Pernikahan Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Renungan Hidup dan Kematian Suami Istri WRITING. SHARING.

Sempurna Hingga Ke Surga

Kisah suami istri ini demikian romantis, kebayang menovelkannya.emoji flower.gif

 

Sebut namanya Ali. Tinggi, atletis, ganteng. Ditambah pinter, baik hati, posisi bergengsi di instansi terpandang. Berkali-kali short course ke luar negeri. Australia, Swedia dll. Bule2 naksir Ali. Kebayang kan good lookingnya?

 

Sebut namanya Aisyah. Cantik, pinter, posisi bergengsi, mandiri finansial. Saking cantiknya, pernah 11 orang antri melamar!

 

Aisyah & Ali berjodoh. Sempurna. Fisik, finansial, karier, kesempatan. Selain beruntung, karib mereka sangat banyak karena Ali si good looking– berhati emas. Julukannya Ali si Baik Hati.

 

Orang tak tahu apa di belakang.

Orang tak tahu badai di depan.

gif shooting stars.gif

Beberapa tahun menikah, Ali jatuh sakit. Sakit yang amat jarang diderita orang kebanyakan hingga tubuh atletisnya memudar (dengar jenis sakitnya saja rasanya nyeri). Berat badan menyusut, kesegarannya hilang, ketampanannya lenyap. Ia hidup di kursi roda, tinggal kulit berbalut tulang. Cuci darah, jantungnya juga bermasalah, selalu berbekal oksigen kemana-mana. Ke kantor tertatih, di kantor tersedia oksigen besar. Di taksi selalu bawa oksigen kecil.

 

Aisyah si Cantik?

Setiap hari, sebelum kerja (dan sepulang kerja) memasak sendiri semua. Termasuk makanan kecil seperti pastel, bakpao. Ali doyan makan tapi makanannya harus amat dijaga.

“Honey, aku pingin ngemil,” begitu pinta Ali.

Aisyah bangun jam tiga pagi, nyaris setiap hari , untuk memasak menu utama dan makanan cemilan.

Terbayang betapa lelahnya Aisyah. Belum lagi ia harus berdedikasi di kantor. Mengingat, pengobatan Ali hanya sebentar ditanggung BPJS. Belum lagi, di belakagn punggung mereka berdua ada keluarga yang harus jgua ditanggung kebutuhan finansialnya. Saking capeknya Aisyah, kadang ia tak sadar tertidur di bawah ranjang masih membawa baskom berisi muntahan suami.

 

Bukan sekali dua kali Ali meminta Aisyah meninggalkannya,  “Honey, kamu boleh kok nikah sama orang lain. Kamu masih muda,  cantik.”

 

gif two people moon and star.gif

Tapi Aisyah menolak. Mereka sering tertidur sambil bergenggaman tangan. Saling memeluk dan menguatkan. Menangis bersamaan. Merasakan bahwa derita ini adalah milik mereka berdua, bukan cuma milik Ali seorang yang tengah diintai Izrail.

“Kita sempurnakan sampai akhirat ya, Mas,” Aisyah tersedu sembari memeluk suaminya.

 

Aku menangis melihat foto mereka saat Ali masih bugar. Lebih menangis saat melihat Ali sholat di atas kursi roda, bekerja mengetik di laptop di ranjang RS dg berbagai slang menancap di tubuh. Kecerdasannya masih dibutuhkan instansi tempatnya bekerja.

 

“Kenapa saya sangat mencintai mas Ali ya, Bu?” tangis Aisyah.

gif love.gif

Itulah mawaddah. Kau mencintainya karena ia tampan, cantik, pintar, berpangkat, nermartabat. Itulah wa rahmah. Kau iba kepadanya sebab ia lemah,  sakit, butuh bantuan, butuh penopang. Rahmah ini seringkali dianggap tak masuk akal. Suami lemah, sakit-sakitan, tak berdaya, tak mampu memberi nafkah lahir batin; mengapa tak ditinggal saja? Toh syariat memperbolehkan. Tapi demikian keajaiban sakinah mawaddah warrahmah. Sekali kita mengikat janji dengan seseorang karena Ilahi Rabbi; tiga elemen itu akan senantiasa mengiringi, insyaallah.

 

 

 

Teori cinta ala Zick Rubin dan Robert Sternberg pupus sudah. Cinta yang seperti bangunan segitiga, dengan sudut commitment, passion, intimacy. Cinta yang kokoh kuat konon kabarnya harus berdasar komitmen, kedekatan hati dan juga hubungan fisik yang intens.

Apa yang didapat Aisyah dari Ali dari segi passion? Nyaris tak ada. 7 tahun Ali terbenam di kursi roda, kepayahan bahkan hanya untuk berdiri sholat. Ali masih bekerja di kantor bukan hanya lantaran ia sangat pintar, tapi bekerja juga menjadi bagian dari semangat hidupnya.

Apa yang didapat Aisyah dari segi intimacy? Sangat minim. Sebab fisik Ali yang telah sedemikian lemah; tak dapat lagi menjadi teman berbagi untuk mendengar keluh kesah seputar kantor, rekan kerja, tuntutan atasan.

Tapi mereka berdua sungguh kuat mengikat diri dalam tali komitmen . Impian “kita sempurnakan hingga ke surga” benar-benar merasuk hingga Ali mencoba menghibur Aisyah untuk ikhlas dan sabar (ketika Aisyah pada akhirnya menolak meninggalkan Ali). Pun Aisyah mencoba ikhlas, bahwa Ali dengan segenap derita yang tertambat di dirinya adalah bagian dari perjalanan panjang mereka berdua.

Rubin dan Sterberg pun mengakui.

Jika ikatan passion mudah lepas, ikatan intimacy lebih kuat untuk terurai, maka ikatan komitmen itu betul-betul bagai rantai baja yang tak mudah teriris derita. Semoga, kisah Aisyah dan Ali yang sekelumit ini, memberi inspirasi cahaya bagi kita –bagiku juga- bahwa komitmen “sempurna hingga ke surga” itu sebuah teori yang mungkin tidak tercantum dalam jurnal ilmiah manapun, tetapi terpatri dalam jiwa sebagai ikatan janji kepada pasangan dan kepada Ilahi Rabbi.

 

Kategori
Bunda Cantik. Beautiful Mother Cerita Lucu Oase WRITING. SHARING.

♥ Susahnya Jadi Orang Cantik! ♥

 

Pernah merasa sial karena wajahmu nggak cantik, tubuhmu nggak proporsional? Apa yang ada di dirimu kayaknya serba tak pas. Hidung kurang mancung, alis bahkan nggak ada, mata kekecilan , kulitpun terlalu gelap. Kisah seorang teman, sebut namanya Lusi, mungkin bisa dijadikan gambaran.

“Kenapa ya, Bu, aku selalu ..apa ya? Sial atau bagaimana? Pokoknya aku sering merasa nggak beruntung.”

Lusi, sejak SD hingga kuliah selalu merasa nggak cantik. Padahal menurutku ia manis, pandai berdandan dan pintar pula.

“Tahu nggak, Bu,” katanya. “Sejak SMP itu nggak tahu kenapa, teman-teman se-gengku cantik-cantik semua. Sampai kuliah pun begitu! Aku juga nggak tau kenapa komposisinya bisa aku yang paling jelek ada di antara mereka.”

Ya.

Bisa kubayangkan sakitnya jadi Lusi.

Teman satu geng-nya cantik semua. Waktu SMP, zamannya masih naik sepeda motor, teman satu gengnya yang cantik-cantik itu selalu dapat tumpangan pulang. Jangankan minta diantar pulang, para cowok pasti berebut minta ngantar cewek-cewek cantik itu. Setengah memaksa, malah.

“Kalau aku?” Lusi tertawa kecut. “Boro-boro, Bu. Pernah aku kemalaman belajar bersama, teman cowokku bilang : ya udah kamu nebeng siapa gitu loh. Atau kamu mboncengin siapa, hitung-hitung menawarkan jasa.”

Kondisi itu membuat Lusi minder berat.

Apalagi pas saya nanya, “pasti kamu punya kelebihan dibanding teman-teman cantikmu itu? Lebih pintar, misalnya.”

“Lhaaa, itu, Bu,” Lusi nyengir. “Temen-temenku itu, cuantik-cuantiiiik (logat Suroboyoannya keluar!). Udah gitu pinter-pinter banget. Nilaiku selalu yang paling kecil di antara yang lain. Mana kaya lagi.”

Ya iyalah, kataku dalam hati. Kalau anak orang kaya, sudah pasti cantik. Perawatan, gitu loh! Pintar? Ya, bisa juga. Kan bisa les ini itu. (Eh, kenapa ikutan sirik liat orang cantik ya?)

Lusi kelihatan semakin sedih dengan pemikirannya. Dia yang paling jelek, dia yang paling nggak pinter. O, apalagi yang tersisa?

“Mmm, apa temanmu yang cantik itu punya perilaku yang baik?” tanyaku.

“Mereka baik-baiiik banget, Bu. Suka nraktir saya. Bahkan, sahabat dekatku –sebut namanya Ayu- selalu bawa masakan dari rumah. Dia minta mamanya tiap pagi masak dua porsi- satu untuk saya, satu untuk dia.”

Dengar itu, aku jadi ikut-ikutan minder. Cantik, kaya, pinter, baik hati pulaaa?

beautiful and ugly woman.jpg
Beautiful and ugly girl

~Kenapa Si Cantik Suka Berteman denganmu?

“Kenapa sih Ayu suka berteman dengan Lusi?” tanyaku.

“Kata mereka, aku ini orangnya tulus. Suka nolong. Nggak macam-macam. Gak oportunis.”

Ya. Ada orang yang begitu berteman dengan orang kaya, nebeng ini itu. Pinjam bedak, pinjam lipstick.

“Mungkin itu yang buat banyak orang suka sama Lusi, termasuk teman satu gengmu yang cantik-cantik itu,” pujiku.

Lusi happy sebentar, lalu muram lagi.

“Tahu nggak, Bu, dari dulu saya ini selalu jadi penghubung. Tiap kali ada yang naksir Ayu, mesti dekatin saya. Ibu bisa rasakan nggak sih, setiap cowok yang dekat, selalu nanya-nanya Ayu? Apa makanan kesukaan, hobby, rumahnya daaan segala macam.”

Aku meringis. Dasar cowok nggak punya hati!

“Bahkan, kalau lagi jalan berdua sama Ayu nih, Bu, banyak cowok yang suit-suit. Saya terpaksa nyolek Ayu dan bilang, ‘Yu, kamu dipanggil cowok itu. Siapa tahu teman SD mu atau teman lamamu. Nggak enak kan ketemu di  jalan dipanggil nggak nyapa.’”

Saking banyaknya yang nge-fans Ayu, Ayu pasti udah mati rasa dipanggil, ditaksir, ditelpon, dititipin salam, dikasih hadiah diam-diam dan seterusnya.

 

~Pasti ada kelebihanmu

Lusi masih berkutat dengan kemuramannya. Masa SMP, SMA hingga kuliah yang dilaluinya penuh tekanan akibat berteman dengan orang-orang cantik, membuatnya minder luarbiasa. Malu dengan kondisi tubuhnya yang hanya punya wajah ala kadarnya dan tubuh tak terlalu tinggi, bahkan berisi. Istilah sekarang , body shaming. Malu dengan kondisi tubuh dan ingin mengubahnya biar sempurna.

Susah memang, bicara dengan orang yang hanya memandang diri negatif. Apapun sisi kelebihan, justru hanya akan dilihat sebagai sumber kekurangan. Apapun maksud baik orang, dianggap sebagai serangan dan ejekan. Misal, kenapa Ayu senang berteman dengan Lusi adalah karena Ayu nggak banyak punya teman yang bisa dipercaya. Sementara Lusi yang cenderung biasa-biasa saja –bahkan mengaku jelek- tak punya hal untuk ditampilkan kecuali kebaikan hatinya yang luhur. Akibatnya, tampak Ayu yang dianggap buruk karena memanfaatkan Lusi. Lusi juga beranggapan Ayu memilihnya karena bukan pesaing yang pantas diperhitungkan. Ayu jadi kelihatan jahat banget, ya? Padahal tidak selalu orang cantik itu hatinya jahat, otaknya bebal.

Ketika bahasan kami sampai pada pencapaian Lusi, ia mulai terlihat bersinar.

“Alhamdulillah sih, Bu, saya selalu dapat teman dimanapun. Habis kuliah juga gampang cari kerjaan. Suami juga Alhamdulillah sayang.”

Kisah beralih pada Ayu dan teman se-gengnya yang cantik.

“Bagaimana dengan Ayu? Dia juga berkarir dan menikah?”

“Nah itulah, Bu…saya udah lama nggak ketemu. Baru-baru ini ketemu akunnya Ayu, saya inbox. Eh, ternyata yang jawab suaminya. Suaminya jadi admin di semua akun medsosnya.”

Haaa? Saya terbelalak.

Barulah Lusi berterus terang, “sebetulnya, kasihan Ayu, Bu. Dia itu cantik banget kayak bintang film si X. Tiap kali punya pacar, posesif luarbiasa. Dulu pacarnya sampai nanya terusss ke saya : Ayu lagi di mana, sama siapa, ngapain aja, apa sama kamu dst. Saya stresss! Apalagi Ayu,ya, yang punya pacar kayak gitu?”

Dengar si X, kepalaku berkata : cling! Cantik banget dah! Punya pacar posesif sih tinggal diputusin (makanya jangan pacaran hahaha). Tapi punya suami kayak gitu? Apa mau diputusin?

“Ternyata gak selalu enak jadi orang cantik ya,” aku menarik kesimpulan.

Lusi tersipu-sipu, “ iya sih, Bu…ternyata banyak yang harus saya syukuri, ya. Suami saya nggak posesif apalagi sampai obsesif seperti suami Ayu. Ayu nggak boleh kemana-mana, akunnya distalking terus. Dulu selalu berenatem sama pacarnya karena dianggap nggak setia, sering berantem sama teman gadis karena dianggap caper dan merebut pacar orang.”

Hm, kalau sudah gitu, apa kita harus iri sama para perempuan yang dianugerahi Allah Swt wajah dan tubuh cantik di atas rata-rata? Mereka juga punya ujian berat untuk ditaklukan. Kadang malah, enak jadi orang biasa-biasa aja, yang gak terlalu cantik. Penggemarnya sedikit, tapi setia, ahayyy.

@disarikan dengan mengubah nama dan diberikan sedikit bumbu J

 

♥§

Kategori
Artikel/Opini Catatan Jumat Film Hikmah Oase WRITING. SHARING.

Film Hanum & Rangga : Lelaki atau Perempuan yang Harus Mengalah Lebih Dulu?

Ada dua quote yang terngiang (saya nggak bilang  100% setuju ya…terngiang aja) :

Pertama,  ucapan Rangga yang intinya , “apa kamu mau meneruskan karier kamu dan mengesampingkan perasaan suami kamu?”

Kedua, ucapan Hanum yang intinya, “aku ingin mengejar salah satu bintangku. 4 tahun aku mendampingimu, mengorbankan cita-citaku demi kamu. Apa nggak bisa sekali saja  ganti aku yang menggejar impianku?”

Kalau anda perempuan, jadi Hanum, dan sebagai lelaki anda adalah Rangga; mana yang harus didahulukan : karier suami atau karier istri?

Hanum & Rangga 

 

Hidup itu Pilihan

Life is choice.

Menikah dengan siapa, itu termasuk pilihan. Ketika menikah, sepasang lelaki dan perempuan harus siap menanggung pilihan. Mau cepat punya anak, itu pilihan. Mau nggak punya anak dulu, atau sama sekali nggak mau punya anak karena repot; itu pilihan. Selain rizqi dan takdir Tuhan Yang Maha Kuasa, tentu.

 

hanum2-kisah-hanum-dan-rangga-diadaptasi-ke-layar-lebar-700x700
Pujian Hanum kepada Rangga

Kalau simpulnya takdir, selesai semua perkara.

Sekali lagi, di ranah ikhtiar kita diwajibkan berpikir, menimbang, menelaah dan berusaha. Ada suami istri yang melaju kariernya karena komitmen bersama dan sama-sama tak ada kendala. Ada yang salah satu harus mengalah karena memang kondisi mengharuskan demikian. Rangga (Rio Dewanto) , yang tengah mengambil studi disertasi ke Vienna, tentu harus fokus pada studinya. Dari perspektif perempuan; Hanumlah yang harus bersabar dan mengalah demi karier suami.

Saya bisa merasakan kegusaran Hanum (Acha Septriasa)  dan bagaimana semangatnya mendampingi suami meniti karier. Insting perempuan , mau nggak mau memang berada dalam pengayoman dan perlindungan lelaki. Jadi secara naluriah, perempuan bahagia melihat lelaki yang kuat, bertanggung jawab, mampu melindungi dan berada di garda depan. Itulah sebabnya anak  perempuan relatif bahagia punya ayah yang dapat mengayomi, adik perempuan senang punya abang lelaki yang dapat melindungi, istri bangga punya suami yang dapat memimpin. Maka perasaan perempuan terbetik bangga bila suami berada di garda terdepan dalam hidup : bagus kariernya, bagus studinya, bagus kedudukannya, bagus posisinya. Kebanggaan seorang perempuan ini terefleksi dalam pilihannya menjalani hidup : “Majulah Mas, meski aku harus mendorong dari belakang dengan segenap kemampuan. Meski aku harus mengorbankan studiku, karierku dan otakku yang cemerlang. Tapi meski berkorban, entah mengapa aku bangga dan bahagia.” Eh, ini bukan kata Hanum ya 🙂

 

Hanum & Andy Cooper.jpg
Andy Cooper dan Hanum dalam acara meeting.

Ada perempuan yang rela menahan dirinya untuk nggak meneruskan studinya, lantaran suaminya memilih tidak melanjutkan studi, meski otak si perempuan sangat cemerlang. Ada perempuan yang bekerja keras untuk membiayai studi suami. Pokoknya, kasus seperti Hanum yang memilih mengorbankan diri demi suami; nggak kurang-kurang terlihat di sekeliling kita.

 

Lelaki atau Perempuan yang Mengalah?

Sekilas di film Hanum dan Rangga; terlihat Rangga yang sangat mengalah dan memahami Hanum sementara Hanum sangat ambisius menjadi reporter GNTV.

Kisah dibuka ketika Rangga dan Hanum bersiap ke bandara; datanglah Samanta (Sam) yang menawarkan posisi internship 3 pekan bagi Hanum. Awalnya, Hanum ragu antara New York atau Vienna. Apalagi posisinya saat itu sudah bersiap masuk taksi dan sebentar lagi terbang ke Eropa. Kebesaran hati Rangga yang melihat gundah perasaan Hanum, membuat lelaki itu mengambil keputusan membatalkan perjalanan ke Vienna dan memilih tinggal sementara menunggui Hanum menyelesaikan internshipnya.

Di sinilah, keputusan suami dan istri diuji ketahanannya.

Hanum sangat sibuk mencari berita untuk GNTV. Apalagi, atasannya, Andy Cooper (Arifin Putra)  sangat ambisius dan tahu cara mempersuasi serta menekan anak buahnya seperti Sam dan Hanum. Selisih paham dan curiga satu sama lain, menambah intrik. Hanum curiga pada Rangga dan Azima Hussein (Titi Kamal), seorang janda berputri 1 bernama Sarah. Apalagi Sarah sangat menyukai Rangga. Demikian pula, Rangga mencurigai Andy Cooper yang pintar, good looking dan mampu meraih perhatian penuh Hanum.

Konflik muncul ketika Andy menitik beratkan channelnya pada rating dan tayangan kontroversial Hanum menuai 10 juta viewers dalam jangka waktu 2 jam. Meski awalnya Hanum terpaksa mengikuti gaya Andy dalam membuat tayangan, ia pada akhirnya membuat pilihan berbeda. Rating bisa dibangun tanpa harus membuat tayangan termehek-mehek.

Ohya, ada satu lagi perkataan yang saya suka dari Hanum,

“Good news is still good news.”

Awalnya, bad news is good news, right?

Tapi di tangan Hanum yang membuat ide candid camera, terlihat bagaimana masyarakat Amerika tidak semuanya beranggapan Islam itu teroris. Anda pasti pernah lihat tayangan macam begini kan? Setting dibuat asli, ada kamera tersembunyi, ada stimulus kejadian yang memunculkan kejadian yang diharapkan. Ini namanya eksperimen sosial.

Seorang perempuan bercadar antri di kasir. Kasir memaki-makinya dan menyuruhnya balik kebelakang antrian, mempersilakan pengantri lain untuk maju lebih dahulu. Uniknya, justru pengunjung toko yang lain membela perempuan bercadar tersebut. Tayangan reality show yang keren kan?

Insight of Moslem menuai pujian. Ratingnya meningkat dan sebagai hadiah selain bonus yang besar; Hanum diminta live show menggelar wawancara eksklusif dengan berbagai narasumber termasuk istri seorang lelaki yang syahid di Suriah pada saat Memorial Day 9/11.

Karier Hanum yang semakin menanjak mulai menimbulkan kekesalan, kegusaran dan kemarahan Rangga. Beberapa ucapannya yang khas lelaki muncul seperti,

“Apa kamu mau mengesampingkan perasaan suami kamu?”

“Sebagai suami aku nggak memberi kamu izin!”

“Apa kamu meninggalkan tanggung jawab sebagai istri?”

Yah, wajar sih Rangga beranggapan demikian.

Dalam kondisi super sibuk, Hanum selalu menyempatkan diri membuat sarapan meski hanya mie goreng dan telur ceplok (saya nggak mau nyebutin merk yaaa. Tapi ngaku aja, para istri yang lagi super sibuk biasa masakin suaminya mie jenis ini kan?)

 

Istri Melawan Suami

Awalnya sih, sempat rada gimana gitu melihat Hanum gak ngefek blas diancam : “sebagai suami saya nggak ngasih izin kamu!”

Tapi ternyata, istri gelisah lho kalau diancam demikian.

Hanum kalut, pening, pusing dan sama sekali nggak bisa konsentrasi. Dan ternyata, meski kayaknya ia berjalan ngeloyor pergi sembari masang tampang menantang  (Acha Septriasa emang jago mimic, yah!); Hanum ternyata berusaha menyelesaikan pekerjaannya dan mulai menimbang-nimbang.

Jadi para suami, kalau istri terlihat  nyebelin, gak taat, gak nurut, nantang; janganlah langsung dicap durhaka karena pada hakekatnya mereka sedang bertarung dengan diri sendiri untuk mengalahkan egoism. Berhubung  Rangga memberikan contoh bagaimana sebagai lelaki ia mengalahkan egoism dan mempercayai keputusan Hanum; pada akhirnya egoism Hanum pun luntur dan ia memilih mengikuti suami ke Vienna. Posisi puncak diberikan ke Sam, cowok gokil yang sebetulnya sangat bertanggung jawab dan pekerja keras.

 

Film ini sukses membuatku menangis.

Membuat dua putriku menangis.

Yah, kami menonton bersepuluh saat itu dan rata-rata kami mellow banget nonton film ini. Nis, anakku SMA yang duduk di sampingku sepanjang film, berkali-kali tersedu melihat romansa Hanum dan Rangga. Apalagi adegan-adegan ketika Hanum membuka voice recorder dari Rangga. Adegan ketika Rangga yang galau bertemu beberapa pasangan suami istri yang mesra di taman, di jalan, di manapun ia berada.

Puncaknya, ketika Rangga bertemu pasangan kakek nenek yang mesra.

Duileee…ini bikin kantung air mataku kempes!

Pesan film ini : salah satu pihak harus rela mengalah terlebih dahulu agar pernikahan berjalan stabil. Dan yakin deh, pihak suami atau istri akan mengimbali sikap mengalah itu dengan bersikap mengalah pula dilain waktu.

Pesan lain : jangan ragu mempertontonkan kemesraan suami istri di muka umum. Siapa tahu, itu menjadi obat dan penguat bagi pasangan yang sedang galau kwkwkwkw.

 

Kategori
Hikmah mother's corner Oase Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Politik yang Bergairah

 

“Mama kamu nyoblos apa?”

“Partai V. Kalau Mama kamu?”

“Aku X. Kok gak sama ya?”

Kami ibu-ibu senyum-senyum dengar percakapan anak-anak kecil di sekolah. Anak-anak itu boleh jadi diajak bunda mereka ke bilik suara, melihat tata cara mencoblos dan terjadi diskusi tersebut. Mereka masih kecil-kecil, kadang masih nangis ngosek kalau nggak dituruti jajan. Tapi pemikiran dan diskusi anak sekarang sangat variatif.

Politik, memang selalu menimbulkan polemik. Pro kontra. Serang sana sini. Hasut sana sini. Kalau membayangkan pertarungan politik 2019, lelah rasanya. Tapi politik juga membawa kehidupan yang lebih bergairah dari waktu-waktu sebelumnya.

Masak sih?

Iyalah.

Waktu saya SMP, SMA, apalagi SD; mana pernah ayah sama ibu saya ngomong bab politik. Saya juga nggak tau pilihan politik mereka berdua. Hanya pernah dengar selentingan kalau pegawai negeri harus ada pilihan wajib. Partai saat itu hanya 3 : Golkar, PPP dan PDI. Seingat saya, waktu kecil bahkan menjelang remaja sampai kuliah; gak ada ketertarikan blas buat ngomong politik.

Sekarang beda.

Bicara politik, bahas politik, bukan hanya sekedar di ruang public atau medsos belaka. Tetapi di ruang rumah kami. Di kamar tidur. Di ruang makan, ruang tamu. Kadang-kadang melihat anak-anak saya berdebat dengan argumentasi mereka, lucu aja. Bahasa-bahasa kelas ‘tinggi’ yang dulu saya nggak nyampe, sekarang biasa diperbincangkan anak-anak kita : pemilihan, hoaks, legislative, melanggar hukum, partai politik, pemilu, posisi strategis, dsb.

Bahkan bagi anak-anak yang belum paham betul pilihan politik yang bijak dan baik itu seperti apa, sudah melontarkan pernyataan politik.

“Ummi, aku ini sudah ikut nyoblos enggak?”

“Ih, aku nggak mau milih ketua kelas kayak dia lagi. Egois banget orangnya!”

“Wah, Ummi! Di koran ada Ilhan Omar. Keren ya, dia!”

Tuh, kan. Padahal usianya belum sampai 17 tahun dan belum dapat KTP.

Saya dulu boro-boro mikir nyoblos. Mikir mana partai yang merepresentasikan suara rakyat, ogah.

Bersyukur banget dengan segala kondisi sekarang, anak-anak dapat dewasa secara alamiah. Memang sih, pasti ada hal-hal buruk yang timbul. Mana ada sih di dunia ini, segala sesuatu disantap tanpa menimbulkan dua sisi mata uang? Politik membuat kehidupan bernegara kadang terpecah belah. Tapi, politik juga membuat hidup lebih bergairah. Anak-anak SD dan SMP mulai mikir : milih ketua kelas macam apa ya, biar kegiatan di kelas bisa berjalan? Bapak ibu juga semakin aktif mengkampanyekan nilai-nilai yang mereka yakini. Ada yang bergabung di komunitas pengajian, paguyuban orangtua, komunitas seni dan segala macam. Semakin banyak berinteraksi, semakin banyak kesempatan berdialog.

Bagi saya ini positif.

Kalau dulu saya taunya sekolah, les, belajar kelompok; anak-anak saya mulai ikut ini itu demi belajar politik yang sesungguhnya.

“Di kampus, aku jadi tim media, Mi. Gak bergengsi sih posisinya. Tapi itu yang aku bisa dan aku bekerja sebaik-baiknya. Eh, karena kerjaku baik, teman-teman selalu suka. Aku sampai diperebutkan sana sini jadi tim sukses, lho.”

“Ilhan Omar dari Somalia keren ya, Mi. Udah punya anak 3, lagi.”

Ilhan Omar memang spektakuler. Perempuan asal Somalia ini pernah tinggal di pengungsian Kenya selama 4 tahun dan hidup dalam kondisi serba sulit.

Ada 2 muslimah yang duduk di kursi Kongres saat ini, satu lagi perempuan keturunan Palestina. Ilhan sendiri terpilih menjadi anggota House of Representative, mewakili distrik 5 negara bagian Minnesota.

 

Perbincangan-perbincangan sepele itu sepertinya tak punya muatan apa-apa. Tapi idola, pusat perhatian anak-anak kita, sekarang dimeriahkan dengan panggung politik. Mereka tidak lagi hanya menjadikan fenomena orang keren dari kalangan artis atau selebritas saja. Tetapi orang-orang dari kancah politik pun bisa jadi orang yang keren banget.

Politik, membawa hidup lebih bergairah!

 

 

( Ilhan Omar, Jawa Pos 7/11/2018 dan 11/11/2018)

 

Kategori
Hikmah Jurnal Harian Oase Renungan Hidup dan Kematian WRITING. SHARING.

Kembalilah pada Tuhan-mu, 20 Pahlawan Kementrian Keuangan

 

Berjabat tangan dengan suami/istri menjelang keberangkatan ke tempat tugas, mencium dahi atau pipi mereka, memandang name-tag dengan penuh kebanggaan : pasangan jiwa tengah menunaikan tugas mulia. Instansi kami adalah salah satu instansi dengan amanah berat – menjaga harta negara.

Logo-Kementerian-Keuangan-356.png

Dalam setiap institusi, selalu ada pihak yang memegang entitas kekayaan agar roda organisasi terus berjalan. Di setiap rumah tangga, suami mencari nafkah dan istri yang mengelola serta menjaga harta keluarga. Di setiap negara, pegawai Departemen Keuangan antara lain bertugas menjaga kas negara dari pajak yang disetorkan wajib pajak. Tak jarang, para pegawai Depkeu harus bertugas keluar daerah untuk berbagai macam kewajiban.

Sebagai contoh, WP (wajib pajak) yang berdomisili di Surabaya, terkadang memiliki perusahaan di tempat lain, Makassar atau Bali misalnya. Petugas pajak harus melakukan verifikasi lapangan untuk memastikan segala hal ihwal terkait perusahaan tersebut, agar pajak yang dilaporkan sesuai dengan pajak yang disetorkan. Tak jarang, petugas pajak disambut dengan senyum masam, diusir satpam atau hanya disambut gonggongan anjing. Akhir tahun anggaran, sekitar April atau Mei menjadi bulan yang penuh ketegangan. Laporan pajak menumpuk, para WP banyak yang menyetorkan laporan mepet waktu.

Korban depkeu.jpg
Salah satu korban dari instansi Keuangan

3 atau 4 tahun sekali, keluarga pegawai Depkeu dibuat deg-deg-der dengan surat berita mutasi. Demi efisiensi, efektifitas dan integritas pegawai Depkeu dimutasi secara berkala. Tujuan pemerintah agar tidak terjadi penyimpangan di masing-masing instansi keuangan. Seringkali, pegawai Depkeu memilih mengontrak di sepanjang usia hidup mereka dan baru beli rumah jauh setelah mereka menikah, dengan pertimbangan keluarga akan terus diboyong kemanapun pergi. Ada pula yang memilih LDR – long distance relationship, dengan pertimbangan sekolah anak-anak. Keluarga ditinggalkan di homebase , pegawai Depkeu yang melanglang bertugas. Betapa banyak pasangan yang hanya bertemu di akhir pekan; atau bertemu sebulan 2x. Bila ingin data yang lebih heroik, terdapat pula keluarga Depkeu yang baru bertemu ayah atau ibu mereka lebih dari 1 bulan.

 

Hesti Nuraini, di mata saya

Sekitar tahun 2000an, ketika anak saya masih berjumlah 3 dan kecil-kecil,  kami mengontrak di daerah Jurangmangu, tak jauh dari gedung kuliah STAN. Suami tengah menempuh studi DIV. Mbak Hesti Nuraini dan suaminya, pak Sholahuddin berada di samping rumah kami.

Kontrakan kami kecil mungil, dikenal sebagai rumah petak. Saat itu mbak Hesti yang lebih senior dari saya, belum memiliki keturunan. Tak jarang, anak-anak nyelonong main ke budhe Hesti, dan saya yang kerepotan saat itu menitipkan anak-anak kepada pasangan mbak Hesti- pak Sholahuddin.

Mbak Hesti dari perpajakan.

 

 

Mbak Hesti Nuraini di foto kanan, depan sendiri

 

Ia sosok yang ramah senyum, selalu sumringah kalau bertemu teman. Ia aktivis kampus, dan selalu menyisihkan waktu untuk melakukan kebaikan. Ada beberapa kaliamt percakapan kami yang, bertahun bahkan belasan tahun kemudian, masih bercokol di benak saya. Kata-kata itu sering saya kutip ketika mengisi acara, atau ketika saya harus memberikan nasehat kepada siapa yang bertanya.

Suatu ketika, karena sedang masa studi dan anak-anak yang masih kecil, saya dan suami ingin menjual sepeda motor kami. Padahal itulah satu-satunya kendaraan yang kami punya. Saya masih ingat sekali, mbak Hesti mendatangi saya dan memberikan semangat untuk bersabar, “jangan dijual sepeda motornya ya, Dek. Sabar, semoga diberi kemudahan Allah. Sepeda motor itu ibarat kaki-kaki kita.”

Akhirnya, sepeda motor tidak kami jual dan Allah memberikan rezeqi dari arah yang tak diduga-duga.

Suatu masa, saya menangis. Sebab setiap tahun, ada saja sahabat suami dan keluarganya yang lulus lalu kami berpisah. Ada saja sahabat kami yang dimutasikan ke berbagai daerah. Rasanya, hati ini sedih, kosong, kehilangan. Mbak Hesti, memberikan nasehat luarbiasa.

“Memang begitu ya, dek Sinta. Setiap orang baik, akan meninggalkan jejak di hati kita. Memberikan jejak di hati teman-teman dan tetangganya. Semoga kita pun demikian, ya.”

Saat itu hati saya betul-betul tertohok dengan ucapannya. Saya sering menangisi kepergian sahabat saya, tetapi apakah pernah mengukur diri ini, apa saya cukup baik untuk ditangisi oleh para sahabat yang lain?

Ada kejadian menegangkan saat kami baru pindah ke rumah kontrakan nomer “7” itu, tempat saya dan mbak Hesti bersisian.

Putra kami, Ibrahim Ayyasy lari-lari, terpeleset…dan innnalillahi, bocor kepalanya. Kami baru saja pindah rumah, betapa berantakannya setiap sudut. Ahmad masih baby, Inayah masih kecil. Maka, ketika kami mengurusi Ayyasy, Inayah dan Ahmad kami titipkan ke mbak Hesti dan pak Sholahuddin untuk sementara waktu.

Nyaris, saya tidak punya kenangan buruk tentang mbak Hesti.

Dan, mbak Hesti adalah orang yang sangat- sangat lucu. Cara berbicaranya yang khas, membuat pendengar bisa terpingkal-pingkal. Suatu ketika, mbak Hesti dan suaminya makan di warung. Penjaga warung dengan kenes menyapa pak Sholahuddin yang memang berwajah imut, “Mas, mau makan aja diantar ibunya.”

Saat mendengarnya, saya terpingkal-pingkal. Membayangkan wajah pak Sholahuddin pasti masam sementara mbak Hesti easy-going saja.

Mbak Hesti, di mata saya adalah sosok muslimah yang luarbiasa tangguh, sabar dan memiliki karakter keteladanan yang jarang dimiliki orang lain. Perjalanannya menemukan jodoh sholih, patut dijadikan teladan bagi setiap gadis yang masih menanti pangerannya. Sesudah menikah, iapun lama dikarunai anak, sementara tetangga kanan kirinya yang merupakan adik-adik kelasnya diramaikan oleh celoteh anak-anak. Rumahnya senantiasa rapi, meski ia sangat sibuk dengan berbagai urusan.

Ah, saya sangat kangen pada mbak Hesti

Jurangmangu.JPG
Saya dan mbak Hesti pernah mengontrak rumah petak ini bersama

Entah mengapa, beberapa bulan lalu tepatnya awal Oktober 2018 saya mengisi acara di Universitas Terbuka Pondok Cabe, dan reunian dengan teman-teman STAN di Jurangmangu.

Tahu apa yang saya lakukan?

Saya melintasi rumah petak berderet di Jurangmangu, memotretnya diam-diam dan entah mengapa, teringat sosok mbak Hesti yang menghuni pojok paling kanan. Tiba-tiba saya teringat beberapa tetangga saat itu, dan sosok mbak Hesti yang paling memenuhi ruang memori.

Kecelakaan Lion Air JT 610 benar-benar mengejutkan, menghentak, membuat tak percaya. 20 pegawai Depkeu ada di dalamnya, termasuk mbak Hesti. Tak bisa saya bayangkan bagaimana perasaan pak Sholahuddin dan putri mereka. Bila sebagai teman dan tetangga saja mbak Hesti demikian membekas jejaknya, apalagi sebagai ibu dan istri.

Ah, mbak Hesti.

Kata-katamu masih melekat di benak, sering menjadi quote yang kuulang, dan semoga itu menjadi penimbang amal baikmu.

“Setiap orang baik ketika pergi, pasti akan meninggalkan jejak dalam dan rasa kehilangan di hati banyak orang.”

Selamat jalan tetangga kami, sahabat kami, penasehat kami.

Dalam sebuah hadits Bukhari yang pernah kubaca, Rasulullah Saw pernah bersabda yang intinya, “jika seorang manusia meninggal dan ada 1 saja yang bersaksi akan kebaikannya, maka ia akan masuk surga.”

Wahai Robbku, aku bersaksi, bahwa mbak Hesti Nuraini adalah salah satu orang  baik, teman terbaik  dan tetangga terbaik yang yang pernah kukenal.

 

يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ

ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً

فَادْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِيْۙ

وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْ

Ya ayyatuhannafsul muthmainnah

Irji’i ilaa Robbiki rodhiyatam mardliyyah

Fad-khuli ‘ibadi

Wad-khuli jannati.

Wahai jiwa-jiwa yang tenang, kembalilah pada Robb-mu.

Masuklah kamu menjadi hambaKu, masuklah kamu ke dalam surgaKu

(QS Al Fajr (89)  : 27-30)

 

Boleh jadi, di mata kami kecelakaan itu begitu mengerikan. Tetapi siapa tahu, akhir hidup itu tercatat sebagai kemuliaan lantaran sumbangsih kalian semua pada keluarga, negara dan pada Tuhan Yang Maha Tinggi. Insyaallah, Allah akan menjaga keluarga-keluarga yang ditinggalkan.

Selamat jalan, Para Pahlawan Departemen Keuangan.

Selamat jalan, para korban Lion JT 610.

Doa seluruh bangsa Indonesia untuk yang pergi dan yang ditinggalkan.

(Mbak Hesti Nuraini adalah salah satu dari 20 pegawai Depkeu yang berada dalam pesawat Lion Air JT 610, Senin 29 Oktober 2018. Ia bersama 189 penumpang lain yang dikabarkan hilang )

Bogor, 30/10/2018

lion-air-jt-610-hilang-kontak_20181029_113804
Lion Air JT 610

 

Kategori
Hikmah Jepang Karyaku Kepenulisan KOREA Oase Perjalanan Menulis WRITING. SHARING.

Buku, Empek-Empek, Bros ~ Kunci Menulis (1) : Konsisten

 

 

Apa persamaan buku, empek-empek dan bros?

Seorang sahabatku, mbak Yulyani namanya, bertahun-tahun membuat empek-empek. Memilih ikan sendiri, menguliti ikan, memisahkan daging ikan dari durinya, menggiling daging lalu dicampur dengan tepung sagu dan bla-bla-bla sampai jadi empek-empek yang menurutku terenak di lidah. Kuah cukonya? Wuah, jangan tanya. Aku kalau beli empek-empek Yenna, mesti beli tambahan kuah cuko. Anak-anakku akan makan kuah itu dengan teman krupuk, pilus, mie, atau apa aja yang bisa dicampur.

Kalau dengar mbak Yulyani cerita tentang empek-empeknya, aku bengong. Kok bisa orang secantik itu betah di dapur?

“Saya memang suka masak, Dek,” itu ungkapnya.

Memangnya orang cantik nggak boleh identik dengan dapur?

Empek-empek.JPG
Keripik ikan endesss punya mbak Yulyani

Pendek kata, bisnis empek-empeknya luarbiasa. Dari bisnis itu sekarang melebar menjadi keripik ikan yang rasanyaaaa…aduh, gak berhenti cheating-day. Bikin gagal diet hahaha. Pokoknya, endesss. Dari bisnis empek-empek ini, beliau merambah usaha yang lain seperti garmen. Apa hubungannya? Konon kabarnya, pengusaha pandai melirik pasar. Jadi, ketika bisnis empek-empek sukses, mbak Yulyani melihat pangsa pasar pakaian yang sangat besar. Branding Carmey-nya melesat. Dan bukan itu aja. Beliau juga motivator andal yang mampu menggerakkan orang. Kalau habis ketemu mbak Yulyani, bawaannya gak betah duduk. Pingin bikin ini, pingin buat itu, pingin jualan ini. Anakku yang pernah ikut pelatihannya bilang,

“Ummi, kata bunda Yulyani, kita boleh jadi apa aja. Mau jadi guru, dosen, pegawai negeri, anggota dewan dan lain-lain, boleh. Tapi semua profesi itu harus diiringi dengan jadi pengusaha. Aku pingin kayak bunda Yulyani.”

Begitu.

Nah, kalau bros?

2007 saat pindah pertama kali ke  Surabaya, aku tahu ada toko pakaian kecil dekat rumah. Namanya daerah Pandugo. Tokonya bernama Ashanty ( ini bukan punya Anang dan istrinya, lho). Pemiliknya, suka membuat handmade bros dan dijual ke teman-temannya. Brosnya cantik, unik dan beda dengan yang lain. Pokoknya gak ada kembarannya, deh! Lambat laun, dari bros ia buat dompet, tutup toples, tempat tissue dan seterusnya. Lalu buka stand kalau ada bazaar.

Terus?

Bros Ashanty.JPG
Cantik-cantik ya?

Nah, karena pesanan makin banyak, akhirnya kulihat toko Ashanty ini buka pengiriman barang : JNE (aku nggak promosi yaaa). Awalnya kecil, dan gak banyak dikenal. Di sekelilin Rungkut ada Pos, Tiki, JNE, Wahana. JNE punya Ashanty semula hanya punya 1 karyawan yang mendobel  sebagai karyawan jaga toko Ashanty butik yang jual pernak perik bros. Lama-lama, nambah 2, 3 karyawan.

Kenapa? Karena JNE Ashanty buka Senin- Minggu. Jam 08.00- 20.00. Jadi fleksibel banget buat emak-emak kayak aku yang kadang ngos-ngosan bagi waktu. Kalau kirim paket buku termasuk novelku yang baru , Sirius Seoul, aku pakai JNE Ashanty selain pos dan wahana, sesuai permintaan pelanggan.

Terus?

Berhubung orang lalu lalang ke JNE dan toko handmade, maka Ashanty gelar lapak di depan toko…lapak kue. Kue-kue titipan orang-orang. Risoles, sus, lumpia, cucur, gethuk,  aneka minuman dan segala macam. Ashanty membidik para orangtua yang pasti, paginya gak sempat masak dan kepingin beli jajan sehat untuk anak-anak yang sekolah.

Sekarang, Ashanty semakin banyak menambah bisnisnya seperti tour and travel dan buka toko kue. Asyik banget ya kalau dengar success story nya? Aku aja ngiler. Padahal siapa yang tahu perjuangan sukses di belakang Ashanty butik.  2007 Ashanty hanya toko kecil. Sekarang, masyaallah…

 

Kunci Menulis (1) : Konsisten

Aku lihat, mbak Yulyani dan toko butik Ashanty punya ciri mirip dengan penulis :

konsistensi.

Orang mungkin akan nanya-nanya kalau buat empek-mepek atau bros : emang laku?

Nanti kalau jual ada yang mau? Kalau nggak laku, malu banget kali ya? Trus modalnya gak balik? Trus kalau ketahuan tetangga sama teman…alamak, mau ditaruh di mana mukaku? Apalagi kalau orang cuma nanya, gak jadi beli. Mending nanya, ini mah cuma melengos. Bla bla bla. Banyaklah alasan kita.

 

Mbak Yulyani dengan empek-empek Yenna dan toko Ashanty mengajarkan pada kita bahwa konsisten melakukan sesuatu, insyaallah akan berbuah positif di tahun ke-3, 5 dan seterusnya. Di tahun ke-10 dan seterusnya, semakin membuahkan hasil.

Begitupun menulis.

Ketika konsisten menulis 1 halaman, 2 halaman, 3 halaman maka akan selesai 100 halaman. Dari 1 buku antologi menjadi 2, 3, 4 buku antologi. Pada akhirnya akan menjadi buku solo dan seterusnya. Kapan menikmati hasil royalty dan honor dimuat di media? Mungkin di tahun ke-3, 5 atau 10.

Konsisten berjalin kuat dengan kesabaran.

“Jadikan sholat dan sabar sebagai penolongmu, “ Al Baqarah  (2) : 45

Ayat ini benar banget!

Kalau nggak sabar dalam menjalani sesuatu,maka nggak akan ada hasilnya. Nggak akan ada buahnya. Nggak akan ada nikmatnya.

Cover Sirius Seoul dll.jpg
Sirius Seoul, Polaris Fukuoka, Lafaz Cinta, Reem

Koreografer Korea yang menyiapkan penari untuk penari latar boyband atau girlband, melatih trainee secara konsisten bisa sampai 20 jam sehari. Mbak Yulyani, konsisten mencoba membuat keripik ikan sampai habis 200 kg tepung! Dan akhirnya beliau menemukan resep yang ciamik banget.

Kamu mau jadi pengusaha dan pebisnis seperti mbak Yulyani atau toko Ashanty, atau jadi penulis dunia seperti Najib Mahfudz dan JK Rowling?

Konsisten adalah salah satu kuncinya.

Mbak Yulyani pernah memberiku nasehat, “kalau usaha baru sedikit, baru sebentar, sudah menyerah dan mau pindah ke bidang lain; kapan menuai hasil?”

Iya, juga. Jualan kue, 2 minggu udah capek dan malu. Ganti jualan minuman. 1 minggu gak ada hasil, pindah percetakan. Sebulan gak ada hasil, pindah ke tour travel. Kapan bisnis itu diberikan kesempatan merangkak, berdiri, berlari kalau kita sendiri gak mau menyirami?

Penulis pun demikian. Buat 1, 2, 3 cerpen dan dikirim ke media, ditolak; sudah bilang ,” kayaknya aku nggak bakat.”

Buat 1 novel, terbit, pasar nggak merespon bagus, udah mundur, “kayaknya menulis bukan duniaku.”

Lalu kapan tulisan-tulisan kita bisa terasah semakin bagus, memikat, mempesona dan mencerahkan kalau penulisnya tak ingin konsisten dalam kesabaran?

Keabaran itu bukan hanya ketika mengumpulkan niat, menyelesaikan tahap satu sampai tahap tuntas pekerjaan tersebut, tetapi juga sabar ketika orang tak satupun menoleh ke arah karya yang sudah kita torehkan susah payah. Mbak Yulyani dan butik Ashanty sudah menjalani itu semua. Kamu dan aku mau nggak jadi orang konsisten yang akan menuai hasil memadai di satu waktu?

 

#siriusseoul  #polarisfukuoka #kitakyushu #jepang #korea #novel #remaja #friendship #lovestory

#adventure

 

Kategori
Cinta & Love Oase Pernikahan PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Suami Istri

Pisah Kebo (VS Kumpul Kebo) , baikkah?

 

Kumpul kebo? Pasti pernah dengar ya.

Rerata kita yang masih lekat dengan kultur timur nggak akan setuju. Apalagi yang lekat dengan kultur religius. Kumpul kebo artinya hidup serumah, tanpa ikatan pernikahan sah. Kenapa kumpul kebo, bukannya kumpul kucing, kumpul ayam, kumpul kodok; saya nggak tahu. Intinya, kumpul kebo sudah hidup seatap bak suami istri yang sesungguhnya. Makan tidur bareng, tapi tidak ada buku nikah. Tidak ada ijab qabul. Tidak ada saksi, penghulu, pun tentunya tidak ada komitmen. Bubar ya bubar aja.

Lalu apa kumpul kebo?

Apakah itu versi lawan dari kumpul kebo?

kerbau
Pisah kerbau

Makna pisah kebo dalam tradisi lama

“Pisah kebo” artinya hidup tidak serumah, meski masih suami istri. Penyebab pisah rumah, atau setidaknya pisah ranjang, adalah karena pertikaian, perselisihan, adanya ketidaksepahaman. Tetapi, di sini suami belum menjatuhkan talaknya. Belum terlontar kata-kata ‘cerai’ dari mulutnya atau perkataan serupa.

Pisah kebo di sini memiliki tujuan positif dan membangun.

Suami istri yang sedang tegang berat, harus dipisah. Ya, bagaikan minyak sama air. Kutub utara selatan. Balon dan jarum. Jerawat dan ujung jari jemari. Kalau ketemu, mungkin akan saling pencet , saling sikat sampai meletus salah satunya. Kalau nggak ada yang jedorrrr; kayak belum manteb.  Pernah kan lihat suami istri kayak gini?

“Aku mau ngomong, Mas!”

“Ya udah aku dengerin!”

“Mas itu emang gak perhatian. Aku ngomong cuma diem. Aku ngomel cuma muka masem. Aku maunya Mas ngomong, kita diskusi!”

Suami yang udah nggak tahan dengar omelan, maunya langsung cabut. Tapi istrinya nggak membolehkan suami kemana-mana. Pokoknya suaminya harus dengar, sampai salah satu meledak. Entah suami meledak karena nggak tahan kuping, atau istri meledak nggak tahan lihat suami diamnya keterlaluan.

Situasi yang serba salah dan tidak menentu ini, karena tiap kali bahasan mesti panas, kadang bisa diselesaikan dengan “pisah kebo”.

 

Kemana perginya kalau pisah kebo?

separation.jpg
Separation for a moment

Lagi ke rumah orangtua?

Nginap di hotel?

Curhat ke saudara?

Oho, tunggu dulu.

Ada beberapa pisah kebo yang sukses membuat suami dan istri mesra kembali, lebih lengket dari alas sepatu yang nginjak permen karet.

  1. Sebut Romi dan Suci (samaran) . Kebetulan, cek cok terus. Nggak pernah ada kata temu karena memang berbeda latar belakang, berbeda persepsi dan gaya komunikasinya beda banget. Si suami pintar dan kalem, istrinya over ekstravert dan harus dikasih tahu berkali-kali biar ngerti. Jadilah tiap kali ketemu, kayak balon nitrogen ketemu jarum. Jedar. Jeder. Jedor. Sekalem-kalemnya suami, kalau istrinya over cerewet akhirnya panas juga. Situasi rumah yang nggak pernah adem, akhirnya membuat penengah suami istri tersebut mengajukan usulan.

“Kamu harus minggir sebentar ke pesantren!” ujar mediator kepada Suci.

Suci menurut. Dengan seizing suami tentunya, Suci menyepi ke pesantren. Nggak jauh dari kota mereka tinggal, jadi Romi sering nengok si istri.

Eh, setelah pisah kebo seperti ini, timbul rasa sayang. Ternyata kalau jauh, kangen juga ya?

2. Beda Romi dan Suci. Beda pula Awan dan Bintang (samaran). Sama seperti Romi dan Suci, ampun deh dua-duanya. Kali aja tempurung kepala keduanya bukan tersusun dari unsur kalsium, tapi dari besi seperti kepala Magneto. Kerasnya minta ampun. Nggak ada kata ketemu. Kalau sudah marahan, entah di depan anak-anaknya juga berantem. Kan nggak baik kalau begitu, ya?

Untung saja, Bintang bisa pisah kebo sesaat. Kemana dia lari? Ternyata lari ke…rumah orangtua Awan. Bukan ke rumah orangtuanya sendiri lho.

“Kalau aku ke rumah orantuaku, mesti disuruh pisah,” kata Bintang. “Mending aku lari ke rumah mertuaku. Meski tetap aja diomelin, dimarahin, tapi mereka biasanya kasih masukan supaya aku sabar. Aku mau ngalah. Meski aku jengkel karena disuruh sabar; nginap di rumah mertuaku membuat aku merasa harus mempertahankan keutuhan rumah tanggaku. “

 

3. Ada lagi suami macam Tatsuo dan Yong Hae ( kalau ini nama tokoh yang ada di novel Sirius Seoul hehehe). Begitu istri-istri mereka buat masalah, para suami ini memutuskan pisah kebo. Ninggalin istrinya sejenak. Buat ngapain? Kalau Tatsuo ninggalin istrinya buat naik gunung. Kalau Yong Hae ninggalin istrinya buat mancing 2-3 hari. Hihihi…betah banget ya? Para suami ini pisah kebo dengan istrinya, untuk menikahi hobi-hobi mereka yang mungkin sudah lama ditinggalkan. Ada yang naik gunung, mancing, ke toko buku ( kalau ini mah cuma beberapa jam!) dll.

Para suami ini pisah kebo untuk menenangkan diri, mendinginkan pikiran, memuaskan letupan emosi yang disalurkan ke hobi bermanfaat. Kalau pikiran dan hati sudah lapang; kembali ke rumah. Siap-siap diomelin lagi ya, hehehe.

pisah ranjang.jpg
Pisah sementara

 

Baguskah pisah kebo?

Pisah kebo bisa jadi alternative penyelesaian, ketika kedua belah pihak merasa sama-sama benar. Merasa sama-sama nggak mau menurunkan tensi perseteruan. Kadang, pisah kebo bisa dilakukan baik-baik. Artinya, istri minta izin sama suami. Suami minta izin ke istri. Tapi yang kayak gini kayaknya agak susah kalau jujur, ya?

“Mas, aku lagi mangkel banget sama kamu. Izinkan aku ke pesantren ya!”

“Dek, Abang lagi setengah mati sebel sama kamu. Sampai-sampai Abang ingat cewek yang Abang taksir  waktu TK dulu. Izin mancing ya?”

Kayaknya gak bisa deh pakai bahasa jujur kayak gitu.

 

Salah satu pihak harus berkepala dingin, untuk menjalankan aksi pisah kebo.

Suci misalnya bilang, “ Mas, aku pingin belajar fikih deh. Biar ngerti dikit-dikit agama. Tahu sendiri kan, agamaku masih jelek.”

Romi ridho melepas istrinya. Bayangkan kalau Suci terus terang ngomong kalau dia lagi gak pingin ketemu suaminya!

 

Bintang pun demikian.

Izinnya, pingin ngajak anak-anak jenguk kakek neneknya. Padahal sebetulnya ia ingin menghindar sesaat dari suaminya.

Tatsuo dan Yong Hae pun demikian.

“Naik gunung bareng anak mapala,” atau ,”diajakin mancing sekalian reunian bareng teman SMP.”

Saat pisah kebo, para suami atau istri punya kesempatan sesaat menjauh dari akar masalah, pemicu masalah atau penyebab masalah. Dalam kondisi tenang dan menepi ( bukan menyepi, karena bisa jadi tempat yang dituju malah ramai seperti pesantren atau rumah mertua); ada kesempatan untuk menimbang lebih.

Banyak sekali, setelah pisah kebo, suami istri yang menyadari kekurangan diri dan kelebihan masing-masing.

 

Kata Romi, Suci lebih kelihatan tenang dan kalem dari pesantren; begitupun Suci jadi kangen kepada Romi. Awan lebih menghargai Bintang, karena istrinya mau menginap di rumah ibu bapak Awan sekaligus berkesempatan melayani mereka meski sebentar. Ayah ibu Awan senang pula melihat cucu-cucunya. Melihat Bintang mendapatkan dukungan penuh dari ayah ibunya, Awan pun lebih menurunkan tensi.

 

Tatsuo pun demikian.

Naik gunung hanya lihat pohon, rumput, batu; jadi ingat sosok istrinya yang bisa masak.

Yong Hae, setelah berhari-hari bertemu ikan, pun teringat sosok istrinya yang meski nggak bisa masak, selalu menyediakan teh hangat manis. Plus aroma panas omelan.

 

Pisah kebo dengan tujuan merenungi diri, merenungi makna pernikahan, mengingat tujuan hidup sembari menuliskan satu demi satu kebaikan pasangan jiwa; akan membawa kerinduan untuk bersama kembali.

Ah, meski dia galak, keras, terlihat jahat; sesungguhnya gak ada pasangan jiwa yang lebih unggul dari pasangan yang telah Tuhan pilihkan untuk kita.

 

Kunci pisah kebo :

  1. Niat
  2. Pilih tempat yang baik
  3. Pilih rekan/ mediator yang baik

Jangan sampai pisah kebo ke hotel, dengan layanan plus-plus!

——————————-

Sebagian tulisan kusisipkan dalam Seksologi Pernikahan Islami

Cover Seksologi Islami - Ungu

Kategori
Film mother's corner My family Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Remaja. Teenager RESENSI WRITING. SHARING.

Film Searching : Ketika Sebagian Temanmu di Media Sosial Jahat & Opportunist!

 

“Ummi harus nonton!” anakku mengirim teks. “Aku udah nonton sama temanku di Yogya.”

“Yah…kalau film begitu, Ummi gak ada temannya buat ke bioskop.”

“Ummi harus ajak Abah dan adik-adik buat nonton. Bagus banget! Gimana tentang dunia maya saat ini. Gimana orangtua harus belajar.”

Aku penasaran banget. Film-film psikologis memang sengaja kutonton untuk memberikan pelajaran visual, minimal untukku pribadi seperti film Split yang dibintangi James Mac Avoy. Split hanya kuunduh dari youtube. Tapi begitu lihat trailernya, kurasa Searching adalah film yang harus kutonton sekeluarga dan aku harus mendorong orang menonton film ini juga.

 

 

Searching

Membagi Kebahagiaan di Media Sosial

Apa kita sering membagi pengalaman manis di medsos? FB, IG, twitter, dst? Ya. Makan, jalan-jalan, apalagi kalau mencapai prestasi. Pasti akan diunggah. Begitupun keluarga David Kim yang senantiasa mengunggah kisah bahagianya. Cerita dimulai ketika David Kim mengunggah foto-foto bahagianya bersama Pam, istri tercintanya yang cantik dan baik. Apalagi ketika hadir anak perempuan mereka, Margot, maka nyaris semua kehidupan Margo dibagi ke medsos. Lahirnya, ultahnya, sekolahnya sampai les-lesnya. Sejak Margot bayi lho, kisahnya sudah menghuni media social! Sah-sah saja kan?

Termasuk, ketika David Kim harus menghadapi kenyataan pahit : Pam menderita kanker lymphoma dan akhirnya meninggal.

Pembukaan kisah ini begitu sedih. Rasanya berterima kasih sekali kepada media social, seperti facebook karena menjadi alat yang dapat menyimpan semua informasi dan memori terindah ktia.

 

Apakah followers itu teman sejati?

Konflik mulai muncul ketika Margot tiba-tiba menghilang. David kehilangan jejak ketika tiba-tiba Margot yang mengaku kerja kelompok Biologi, tidak pulang ke rumah. Awalnya, orang-orang menyangka hanya sekedar kenakalan biasa. Yah, namanya remaja. Pingin bolos, pingin hang out ke mana, gitu. Atau diam-diam punya pacar yang nggak direstui orangtua.

Perbincanga-perbincangan David dengan Peter, adiknya, membuat kita sebagai orangtua merenung.

“Kamu sudah kontak semua teman-temannya?” tanya Peter.

“Aku sudah kontak semua temannya di facebook!”

“Coba cari teman off-linenya,” saran Peter. Maksudnya, teman yang bukan dari teman dunia maya.

“Aku nggak tahu,” jawab David jujur.

“Yah, kalau kamu saja sebagai ayahnya nggak tahu, who would?” sahut Peter.

Menampar banget.

Who would?

Kalau ayah ibunya aja nggak punya kontak teman-teman off line sang anak, lalu mau mengharap siapa?

searching filmsearching film

Teman Medsos Kadang Jahatnya Minta Ampun!

Ketika David menelepon satu-satu , -bayangkan : teman facebook yang ratusan !- untuk mencari keberadaan anaknya; mulai terkuat sedikti demi sedikit misteri. Nggak ada satupun yang mengaku sebagai teman Margot. Termasuk Isaac, yang ibunya merupakan sahabat baik David dan Kim. Semua mengaku begini.

“Kami nggak terlalu dekat,” jawab teman Margot (lupa namanya) cewek negro yang cantik.

“Soalnya papa mama kami kan teman dekat kamu, Mr Kim.”

“Margot selalu makan siang sendiri.”

David yang nge-blank bertanya dengan pertanyaan ala ortu : tapi kan kalian ngajak Margot belajar kerkel? Ngajak dia jalan-jalan?

“Errrg, tapi kami bukan teman dekatnya.”

Whattt???

Kepanikan David mulai memuncak. Film ini juga mengetengahkan adegan-adegan lucu ketika David nggak tahu apa itu tumblr (dia mengetik searching : tumbler), apa itu YouCast.

Yang buat nyesek banget dan ini bukan yang terjadi di tengah-tengah kita :

Ketika Margot dikabarkan menghilang dan diperkirakan meninggal, teman-temannya mengunggah berita-berita yang jauh dari ekspetasi :

  • Youtuber negro cantik ngaku bukan temannya  mengatakan : “aku ini sahabat dekatnya.” Langsung menuai ribuan views.
  • Aku ini menjadi relawan, kata temannya yang lain.
  • Pray for margot, ayo galang dana!
  • dll

Teman-teman Margo yang nggak mengaku satupun sebagai teman baiknya, tetiba ngaku-ngaku jadi teman baik dan mengunggah status mereka di medsos agar mendapat like dan view banyak berikut dapat duit!

Belum lagi, berita David mencari Margot banyak diunggah ke medsos oleh para relawan yang mencari Margot, baik berupa video atau foto. Dan captionnya, ampun. Bukannya simpati, yang nggak tahu permasalahan malah mengatakan : yah, pasti keluarganya berantakan. Semua berawal dari rumah. Bahkan muncul hashtag  #dadfail. Foto David beredar sebagai foto yang cute tapi jahat. Malah ada orang yang mulai sinis, ngapain juga capek-capek jadi relawan?

Bisakah kita bayangkan perasaan orangtua seperti David?

Pantas saja kemudian David jadi hilang kendali dan memukul seorang pemuda yang diduga menghabisi Margot.

 

Kemana Margo?

Margo diduga jadi prostitutee. Margo diduga jualan narkoba. Margo diduga melarikan diri. Margo diduga terlibat perdagangan illegal. Semua prasangka buruk muncul.

Manisnya, ketika semua orang sudah menyerah bahkan ungkapan belasungkawa muncul, insting David sebagai seorang ayah muncul saat mengenal dari Youcast teman ngobrol Margo bernama fish_n_chip.

Lalu?

Anda sepertinya harus nonton bersama keluarga.

Apa yang menyebabkan Margo dalam bahaya , adalah karena fish_n_chip tahu semua (catat : semua) informasi tentang Margo termasuk  ibunya yang sakit lymphoma. Fish_n_chip mampu menjebak Margo beradasar semua informasi sambung menyambung yang didapatnya dari medsos.

 

 

 

Kategori
Fiksi Sinta Yudisia Jepang KOREA Kyushu Mancanegara Oase Sirius Seoul Travelling Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Sirius Seoul : Nol & Zero bag. 2

 

Sofia mengunyah perlahan telur scrambled yang dicampur beragam sayuran. Dia harus bersegera menye­lesaikan makan siang bila tidak ingin kehilangan waktu shalat zuhur. Jie Eun masih setia dengan makan siang yang membuatnya tidak berlemak: dada ayam, irisan timun, rebusan sejenis ubi. Entah mengapa, dia yang terlihat paling lahap menghabiskan makan siang.

“Aku sebenarnya ingin mengambil beberapa program. Kita ada pelatihan untuk menjadi guru pada musim panas,” Sofia menjelaskan. “Juga, relawan untuk Festival Hua Fu di departemen anak.”

Natsuyasumi atau musim panas adalah masa liburan panjang. Banyak mahasiswa memanfaatkan masa ba­hagia ini justru dengan mengambil pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan kampus, atau diadakan oleh kakak-kakak tingkat yang telah lulus untuk merekrut adik-adik tingkat menjadi karyawan di berbagai instansi kelak.

Masa ini juga masa paling tepat bagi para mahasiswa yang hidup di perantauan untuk bekerja arubaito atau paruh waktu. Karena liburan resmi, bahkan instansi pemerintah pun bersedia merekrut pegawai berstatus gakusei atau mahasiswa. Mahasiswa asing sekalipun.

Jeda perkuliahan juga menjadi waktu paling tepat untuk mendapatkan relawan bagi kegiatan-kegiatan yang akan diselenggarakan begitu musim panas usai. Rata-rata, perkuliahan dimulai pada musim semi April, terpotong musim panas, aktif kembali pada musim gugur yang sering kali ditandai dengan banyaknya matsuri atau festival. Festival-festival bukan hanya diselenggarakan di setiap prefektur yang memelihara cita rasa tradisional berusia ribuan tahun, tetapi juga di kampus-kampus demi mengusung nilai-nilai unik yang ditawarkan civitas academica.

Rancangan Hanaya Florist
Rancangan Hanaya Florist

“Kamu ingin mendaftar sebagai relawan?” Rei men­delik.

“Kupikir, bekerja di belahan bumi mana pun masih lebih menarik daripada berada di toko bunga pamanku,” Sofia terkekeh.

Hm, sepertinya aku mau arubaito di toko pamanmu,” Rei menggumam.

“Wah, itu bagus!” seru Sofia. “Percayalah, pamanku seperti malaikat bagi karyawannya. Dia hanya berbeda perlakuan terhadapku. Mungkin karena aku bandel.”

Rei dan Umeko tertawa.

“Tapi,” Sofia memandang makan siangnya yang mulai dingin, “memikirkan musim panas diisi dengan bekerja, training, menjadi relawan; rasanya aku lekas menua. Apakah tidak bisa kita liburan seutuhnya?”

Jie Eun yang sedari tadi hanya mengamati mulai angkat suara.

“Kalian tidak ingin ke Korea sesekali? Dekat, kan, dari sini?” Jie Eun bertanya ringan.

Ungkapan Jie Eun membuat ketiga temannya menghentikan aktivitas seketika. Ya. Mengapa tidak? Bukankah Korea hanya sedikit di atas Fukuoka? Pasti menyenangkan bisa melihat belahan lain dari dunia se­

lain Joshi Daigaku, apartemen, dan toko bunga. Ups, pasti menyenangkan sejenak menjauh dari tekanan Paman.

“Kalian bisa ke SM Town, pergi ke teater, atau ke Pulau Jeju.”

“Maksudmu, SM Entertaintment?” Sofia menahanna­pas. “Suju, TVXQ, Bigbang, EXO, BTS, SNSD, Blackpink, Red Velvet?”

“Bigbang bukan SM, Sofia.”

Whatever,” Sofia menepuk-nepuk mulut, tanda kelepasan bicara, “maksudmu, kita bisa ke sana dan berfoto, beli barang keren di flagship stores?”

“Kalau tujuanmu belanja barang, bisa kuantar ke toko Line di Itaewon,” Jie Eun tertawa. “Tapi, pastikan apa tujuanmu ke Korea.”

Rei dan Umeko berpandangan. Sofia memandang Jie Eun bergairah.

“Aku rasa, penawaranmu membuatku semangat menghabiskan makanan.”

cover Sirius Seoul
Masukkan keterangan

“Kalian bisa tinggal di rumahku,” Jie Eun menawar­kan. “Bukan rumah mewah, tapi kurasa cukup menyenangkan untuk menghabiskan musim panas. Kita bisa bersepeda di sepanjang Sungai Han, menikmati makanan khas yang terkenal seperti bulgogi dan bibimbap. Menon­ton konser. Kalau kalian suka, kita bisa melihat titik perbatasan Korea Selatan dan Korea Utara. Tempat itu mengasyikkan untuk penyuka sejarah seperti Sofia.”

Kotak makan Sofia segera tandas.

“Aku harus segera shalat. Jie Eun, kamsahamnida. Aku rasa, aku ingin sekali menghabiskan liburanku di negerimu.”

“Suatu kehormatan bagiku memperkenalkan Korea kepada kalian,” Jie Eun tersenyum manis.

Rei dan Umeko melempar pandang sembari tertawa riang.

Ajakan Jie Eun yang tampaknya hanya sekadar per­cakapan sekilas, membuat suasana siang hari itu terasa dipenuhi pelangi.

 

*****