Kategori
Film Kepenulisan KOREA RESENSI Topik Penting Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

'Parasite' Pemenang Oscar : Seni Tutur Natural ala Korea

Sudah pernah nonton drama Korea atau film Korea? Atau membaca novel/ cerpennya? Kaum penggemar film seperti saya biasanya suka melalap film apapun yang dirasa menghibur serta mencerahkan ; apapun negara asalnya. Korea beberapa tahun belakangan ini merajai industri perfilman dengan filmnya yang variatif. Dan, kadang kita menikmati filmnya tanpa tahu….sutradaranya!

Saya suka beragam film. Film pendidikan dan humanis dari India seperti 3 Idiots, Taree Zaman Paar, Bajrangi Bhaijan, Dangal bagus ditonton sekeluarga. Film India lucu habis dan menguras airmata. Seringkali, bumbu feminism dan perang saudara dengan negara tetangga menjadi ide-idenya.

 Film-film horror Guillermo del Torro yang menggunakan bahas Spanyol (plus subtitle yaaa) bukan hanya jump scared saja, tapi indah ditonton. Del Torro senang mengawinkan horror dengan fairy tales; hingga muncullan Cronos, Devil’s Bakcbone, Pan’s Labyrinth, Crimson Peak, Scary Stories to Tell in the Dark dan favorit saya : Mama. Menonton horror del Torro membuat kita berpikir bahwa cerita horror tak selalu berkisar sekedar hantu dan darah; tetapi sebuah cerita utuh yang memiliki kesimpulan mendalam. Devil’s Backbone memberikan sebuah kesimpulan bijak tentang apakah hantu itu. Di akhir cerita, epilog berkata, “Hantu adalah emosi yang masih digantung oleh waktu.” Kurang lebih demikian. Orang-orang yang mati karena pembunuhan, peperangan, wabah dan bencana; mungkin akan menjadi hantu karena masih banyak emosi-emosi yang belum diselesaikan dengan orang-orang yang terhubung dengannya. Ini menurut Del Torro, ya.

Well, back to Korea.

Negara ini buat film komplit bangettt.

Film epic heronya benar-benar membuat semangat nasionalisme bangkit : Admiral, Spy Gone Nort, Tae Gu Ki, My Way dll. Drama serialnya juga membuat termehek-mehek seperti  Great Queen Seondeok, Jewel in the Palace, Dong Yi.

Film horrornya termasuk daftar film horror yang sangat diperhitungkan di pentas dunia : The Mimic, Tale of Two Sisters, Whispering Corridors dan yang mendapat banyak pujian : The Wailing. Asli, nonton the Wailing membuat saya benar-benar merinding. Film horror yang membuat takut adalah yang tidak ketahuan, mana setan dan mana malaikatnya. Bukankah kita jadi merinding ketika orang yang disangka penolong ternyata justru iblisnya? Film komedi romancenya banyak banget. Film actionnya juga gak kalah seru dibanding aksi Hollywood : The Veteran, Extreme Job, Berlin’s File, Cold Eye. Cold Eye adalah film action yang menurut saya belum banyak padanannya . (Hm, entah juga kalau saya kudet hehe).

Parasite?

Saya menuliskan reviewnya segera usai nonton film ini bareng keluarga. Tentu, gak semua sepakat dengan penilaian Oscar, apalagi penilaian saya. Tapi lagi-lagi saya ambil hikmah kenapa Parasite memenangkan 4 oscar kali ini dan Bong Joon Ho dinobatkkan sebagai sutradara terbaik dengan Parasitenya.

Sinema Korea itu….. :

  1. Natural. Alamiah banget. Kalau cerita tentang romance terasa alamiahnya. Kalau cerita kejahatan terasa alamiahnya. Hampir tidak ada yang benar-benar hitam putih di film Korea. Film Spy Gone North tentang Korut VS Korsel, sama sekali nggak membahas bahwa Korsel adalah pahlawan. Tapi masing-masing punya kepentingan. Parasite juga begitu. Apakah keluarga miskin Kim atau keluarga kaya Park yang jahat? Sama sekali nggak ada penggambaran demikian.
  2. Tak bertele-tele. Drakor umumnya berkisar 20 episode seperti Pasta in Love, 49 Days. DoT 16 episode. Barulah kisah epic seperti The Great Queen Seondeok 62 episode. Itupun gak bosen nontonnya heheh. Tidak perlu diperpanjang konflik jika memang sudah bisa diselesaikan dengan cepat. Perkelahian, permusuhan, pertikaian juga gak perlu berlarut-larut. Yang digali seringkali adalah masa lalu masing-masing pelaku sehingga memunculkan konflik emosi di dalam jiwa.
  3. Gado-gado. Komedi selalu muncul meski di tema sedih, romansa, action, horror. Kita bisa dibuat ketawa dengan adegan atau dialognya, lalu segera ditarik lagi ke sebuah situasi yang lain yang memang menjadi genre utama film tersebut. Parasite banyak memunculkan kisah komedi gelap, tentang konyolnya orang miskin dan lebih konyol lagi orang kaya yang gak pernah pegang pekerjaan rumah sama sekali seperti Mrs Park. Ketika Jessica dan Kevin –kakak adik- punya segudang tipu muslihat licik karena mereka terhimpit kemiskinan, kita harus menangis atau tertawa karenanya? Aduh, benar-benar teraduk memang.
  4. Kesabaran dalam membangun alur. Terus terang, sebagai penulis saya banyak belajar dari film, novel, cerpen Korea. Mereka sabar banget membangun detil, menceritakan sesuatu. Kesabaran dalam menjalani sebuah sikap hidup kayaknya jadi nafas dari bangsa Korea, ya. Terlihat dari hallyu yang dimotori oleh KPop, produk literasi dan sineasnya. The Vegetarian karya Han Kang menceritakan segara detil tentang seorang perempuan bernama Yeonhui. Hari demi hari konflik dirinya dikisahkan dengan cermat. Seolah penulis sangat sabat untuk berkisah. Beda dengan saya yang kadang ingin segera cepat selesai. “Udah, jatuh cinta aja./ Udah, mati aja/Udah nikah aja.”
  5. Tema sederhana. Banyak film atau buku Korea temanya sederhana. Seperti Parasite. Tema miskin vs kaya selalu ada. Tema sederhana yang digarap dengan sangat rapi sehingga kita benar-benar merasakan “ ya Tuhan, sengsaranya jadi orang miskin di Korea!” karena itu juga yang diharapkan Bong Joon Ho, banyak orang terbuai oleh ironisnya kemajuan Korea.

Coba kita baca cerpen Sejarah Obat karya Oh Hyun Jong (diterjemahkan oleh Prof. Koh Yung Hun, dosen bahasa Indonesia di HUFS- Korea)  misalnya, menggambarkan tema sederhana tentang seorang perempuan muda yang  terbiasa mengkonsumsi berbagai jenis obat sejak kecil : propolis, omega 3, ginseng merah, dll. Ia melihat neneknya terbiasa minum obat, ia melihat orang-orang di lingkungannya minum obat. Dan si perempuan merasa aman bepergian jika membawa sekantung obat. Ia bahkan berpacaran dengan seorang calon dokter tradisional yang suka meresepkan obat kepada teman-temannya. Dan kecandunnya pada obat semakin betambah. Membaca kembali Sejarah Obat, mengingatkan saya pada kondisi terkini tentang Coronavirus di mana saya seperti ribuan atau jutaan orang yang sangat terobsesi pada masker.

Tulis Hyun Jong “…bahwa segera setelah kita mulai terkena penyakit yang berkaitan dengan penuaan, kita tidak akan pernah berhenti makan obat. Kita akan tetap meminumnya sampai sehari menjelang kematian.”

Betapa kisah sederhana, tentang zaman sekarang ketika orang membenci menjadi tua dan menjadikan obat sebagai jalan keselamatan.

Parasite, saya rasa memiliki 5 kelebihan tersebut.

Natural alamiah, tak bertele-tele, gado-gado, kesabaran penulis scenario dan sutradara membangun alur serta tema sederhana yang dipahami hampir setiap keplaa manusia yang menontonnya. Yah, walau pecinta Korea belum tentu paham bahasa Hangeul 100% sebagaimana para kritikus film dunia, ungkapan Bong Joon Ho patut dipertimbangkan saat menerima piala Golden Globe, “Sekali saja tidak bermasalah dengan subtitle, kalian akan banyak menemukan film menakjubkan!”

Saya setuju dengan Joon Ho.

Sebab banyak film Indonesia yang juga layak maju ke pentas dunia.

Insyaallah, berikutnya Indonesia yang meraih penghargaan!

Kategori
KOREA Oase Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Remaja. Teenager WRITING. SHARING.

Antara Sulli f(x) dan Hatsune Miku

 

 

Baru beberapa pekan yang lalu saya merenungi sebuah channel video Youtube tentang Hatsune Miku. Saya bolak balik menonton Is Hatsune Miku a Better Pop Star than Justin Bieber? Dalam video tersebut, Chris Plante menceritakan bahkan interaksi seorang bintang dengan para fansnya bisa sangat positif, bisa sangat negatif. Plante mengisahkan tentang Bieber, seorang bintang muda yang manis dan memiliki jutaan penggemar. Tetapi dunia entertainment melibas masa mudanya, melihatnya sebagai tambang uang dan para pemuja Bieber tidak memberikan celah bagi Bieber untuk berbuat ‘salah’. Akibatnya, Bieber yang kita kenal sekarang berbeda dengan Bieber yang mempopulerkan lagu Baby.

Hatsune_Miku.png
Hatsune Miku

Kita tentu menunggu-nunggu berbagai moment para selebritis dunia menampikan sisi terbaiknya, misal di karpet merah Oscar. Mereka yang berpenampilan bagus mendapatkan pujian, yang berpenampilan tak menarik mendapat banyak hujatan. Padahal belum tentu yang berpenampilan tak menarik itu sengaja tak memilih style, hanya saja ia berseberangan dengan orang kebanyakan. Hujat menghujat sudah lazim dilakukan netizen. Dengan bahasa sopan, hingga bahasa sangat menyakitkan.

Konsumen sekarang bukan hanya melahap lagu dan film para artis. Semua kehidupan pribadinya, juga dikonsumsi habis-habisan. Kemana dia belanja, kemana dia menyekolahkan anak, menghabiskan liburan di mana, sampai ke area paling pribadi : kenapa dia pacaran dengan si X, kenapa dia menikah dengan si A, kenapa dia memutus kontrak, kenapa dia keluar dari agensi?

Padahal bisa jadi masalahnya sangat pribadi.

Misal, seorang bintang merasa kelelahan –lahir batin- ketika harus menggelar konser. Tak heran banyak mereka yang terkena substantial abuse , mengingat dalam kondisi lelah dan sedih pun mereka harus tampil ceria di publik. Kita, orang biasa, enak aja. Kapan mau marah, kapan mau nangis, kapan mau cemberut. Emang ada yang peduli? Paling yang protes cuma pasangan dan anak-anak. Para bintang itu boleh jadi punya alasan sangat pribadi tentang dunia yang dipilih atau ditinggalkannya, alasan yang tidak bisa diungkap ke publik. Siapa yang tahu apa yang sebenarnya terjadi pada pernikahan Song Jong Ki dan Song Hye Kyo?

Saya masih ingat, bintang favorit saya di film X-File , Gillian Anderson, pernah tertangkap paparazzi tidak mencukur bulu ketiaknya. Ya, namanya dia lagi belanja dan  liburan. Bukan main sadis para jurnalis dan pengkritiknya. Sebagaimana Aishwarya Rai ketika menjadi gendut sehabis melahirkan. Perempuan yang pernah meraih  predikat tubuh terindah ini langsung dihabisi netizen. Untungnya, banyak warga India yang membelanya dan mengatakan : di kultur kami, sangat biasa seorang ibu menjadi gemuk. Maka saya nggak heran, melihat betapa stressnya para bintang pasca melahirkan, bahkan ia baru sehari dua hari melahirkan sudah harus menggenjot sepeda statis agar perutnya cepat langsing. Bukankah itu yang membuat Brooke Shield juga mengalami post partum depression? Sepanjang ia hamil yang melelahkan hingga punya anak, tak henti-hentinya dunia luar ingin tahu seperti apa beritanya.

Desember 2017, saya menuliskan tentang kematian Jong Hyun , salah seorang personel Shinee. Setiap kali menulis di blog tentang Korea, kisah tentang dirinya kerap ter-link begitu saja. Sedih itu masih terasa. Apalagi saat itu tak beda jauh dengan kematian Chester Bennington.  Secara pribadi saya tak mengikuti instagram atau twitter dari Bennington, Jong Hyun atau Sulli. Tapi sebagai seorang psikolog yang sering mendengar keluhan anak muda tentang kerasnya dunia media sosia, dapat kita bayangkan apa yang dihadapi para artis dunia. Terutama, artis muda macam Sulli. Fisiknya, perilakunya, pilihan bajunya, pilihan pasangan cintanya, karirnya, semuanya ada di bawah pengawasan netizen. Label manajemen sendiri sudah merupakan tekanan luarbiasa, apalagi ditambah tekanan dari berbagai pihak.

Sulli Young.jpg
Sulli Young : demikian cantik dan lucunya :”(

Kejadian Sulli, semoga yang terakhir kali terjadi. Seorang gadis muda yang masih mempunyai jalan panjang kehidupan, hancur berkeping tanpa ia tahu ke mana harus mengadu. Ia baru 25 tahun, kehidupan yang panjang terhampar di hadapannya. Apalagi Sulli memiliki banyak fans (dan juga haters, tentunya), tentu pilihan Sulli tentang apapun termasuk pilihan mengakhiri hidup akan menjadi sebuah berita yang sangat rentan untuk dikonsumsi.

Apa yang bisa dilakukan sebagai netizen dan warga dunia seperti kita?

  1. Kalau kita fans seseorang, gunakan selalu kata-kata bijak untuk mendukungnya. Katakan semangat, pantang menyerah, kamu luarbiasa, kamu inspiratif dan seterusnya.
  2. Kalau kita bukan fansnya, tak usah kepo dengan IG atau twitternya. Saya nggak ngefans si X dan Y, gak perlu follow atau stalking. Jadi gak perlu terlalu sering melihat postingan mereka. Kenapa? Karena nanti saya akan terbakar untuk ikut julid, menghakimi. Mending saya follow akun Sacha yang sering mengkoreksi englishnya para Seleb.
  3. Kalau kita tergabung dalam sebuah komunitas seperti ARMY fans BTS, Carat fans Seventeen, EXO-L fans EXO, Blink fans Blackpink, Reveluv fans Red Velvet atau apapun itu; mari lakukan gerakan-gerakan yang menghimbau pada kepedulian terhadap sesama. Misal, 10 Oktober tempo hari diperingati sebagai World Mental Health Day atau Hari Kesehatan Mental Sedunia. Tema tahun ini sangat spesifik : Suicide Prevention. Sedih sekali, bahwa Sulli justru harus menjadi salah satu korban suicide yang sedang kita perangi.
  4. Interaksi kita dengan dunia maya memiliki dinding setipis udara. Tak terlihat, tapi besar pengaruhnya. Rasanya ringan saja membully orang, lalu meninggalkannya dalam keresahan, gegara kita toh tak akan pernah bertemu fisik dengannya. Padahal, di semesta ini terjadi hukum law of attraction : setiap yang kita lakukan, ibarat pendulum, akan balik mengenai kita lagi. Jejak yang kita tinggalkan di IG, twitter, youtube channel siapapun semoga menjadi jejak baik yang suatu saat akan kembali ke kita lagi.

 

Yah, kembali ke pemaparan Chris Plante.

Kelak, mungkin saja kita harus mengganti semua artis dunia dengan sosok Hatsune Miku. Hatsune Miku popular dengan lagu Ievan Pollka, lagu yang sering diputar di sekolah dan acara pelatihan sembari melakukan senam Pinguin. Tahu kan siapa dia? Bukan manusia, bukan makhluk hidup, bukan boneka, juga bukan robot. Ia ‘hanya’ aplikasi sehingga tak merasakan sedih, susah, tersinggung, apalagi depresi. Miku punya jutaan fans. Lagunya digemari. Sosoknya dinanti. Konsernya buat orang antri. Para gadis membuat duplikasi. Walau ada yang pro kontra dengan Hatsune Miku, no problem. Ia tak punyarasa, tak punya raga, tak punya nyawa. Pendek kata, tak punya kehidupan. Maka Miku juga tak punya  masalah.

Kita prihatin dengan kehidupan para pesohor yang dipuja tapi juga rentan oleh berbagai masalah. Mereka juga manusia seperti kita. Mereka juga punya orangtua dan saudara seperti kita. Terlebih lagi, sebagai manusia kita saling terhubung satu sama lain. Boleh jadi Sulli sama sekali tidak masuk dalam lingkaran perhatian kita, tetapi bagaimana dengan anak-anak dan murid-murid di luar sana?

 

Sulli f(x).jpg
Sulli f(x) yang cantik dan begitu muda

 

 

Tidak dipungkiri, salah satu yang membuat Sulli merasa demikian berat adalah serangan para haters di media sosial. Setiap label manajemen, manajemen artis di manapun, baik di Korea dan Indonesia harus punya konselor atau psikolog khusus yang rutin mendampingi dari waktu demi waktu demi membangun mental sehat. Terlebih dalam situasi krisis seperti pemasaran yang anjlok, pembubaran grup, kesulitan karir, tak kunjung debut atau ada konflik internal, termasuk timbulnya permasalahan keuangan, keluarga dan permasalahan cinta. Persoalan di atas lazim terjadi pada banyak kasus, terlebih bagi artis. Perlu ada manajemen psikologis bagaimana mengelola interaksi dengan media sosial termasuk interaksi dengan para fans dan haters agar dapat dibangun lebih produktif.

Pada akhirnya, kita sendiri harus dapat membangun dunia yang sehat dengan media sosial. Fans dan haters kita boleh jadi tak sebanyak Sulli. Tapi bisa jadi kehidupan keseharian kita sudah sama satu dengan yang lainnya : tidak ada lagi dinding tebal di rumah, semua dapat menembus masuk dan keluar lewat media sosial. Apa yang realistic dan un-realistic sudah kabur, tak ada batasnya sama sekali. Bahkan, konon kabarnya, otak saat ini sudah tak dapat membedakan mana yang fiksi dan mana yang nonfiksi, saking banyaknya terperangkap dalam dunia maya yang merebut sebagian besar dunia nyata kita. Ketika dunia maya terasa lebih dominan, maka apa yang nyata terasa tak ada artinya. Hujatan fans di medsos sejumlah ribuan bisa membebani pikiran (padahal belum tentu orangnya sebanyak itu, karena bisa jadi memakai akun palsu), sementara dunia nyata yang menghadirkan seorang teman, sepasang orangtua yang senantiasa mencintai, seorang kakak atau adik yang menemani,  serasa tak ada arti.

Dunia maya, seperti namanya, maya. Ia tak nyata. Ghaib. Tak dapat diraba.

Yang nyata, tampak, teraba dan terasa jauh lebih berharga. Seperti kehidupan kita. Seperti keluarga dan teman-teman nyata. Jumlahnya tak banyak. Teman nyata kita mungkin cuma 5, sementara teman FB atau IG ada 5000. Tetapi yang 5 itu lebih nyata dibanding 5000. Penting bagi manusia untuk membangun relasi dengan teman nyata lebih sering, daripada dengan teman maya.

Sulli yang cantik, semoga kisahmu menjadi pelajaran bagi banyak orang.

 

 

 

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Bedah Buku Sinta Yudisia Buku Sinta Yudisia Fiksi Sinta Yudisia KOREA Perjalanan Menulis Sirius Seoul

Bedah buku Sirius Seoul di Surabaya

Assalamualaikum…
Anyeonghaseyo

Kamu suka hallyu? Kamu kpopers? Atau pecinta drama?

Nah kebetulan ikut kuy ke acara terkece tahun ini!

Kalian bisa dapet doorprize menarik asli korea!

BB Sirius Seoul.png

Kapan lagi bisa dapet doorprize dari negri para oppa, bias, dan idola kalian

*Lokasinya di *Majelis Mie* Jalan Citarum No. 2 Darmo Surabaya

@ 08.00 pagi – 11.30 siang

# Minggu, 23 Desember 2018

~Agenda :
– Bedah buku Sirius Seoul
– Bincang akrab dengan bunda Sinta yang sudah 2x ikut SFAC – _Seoul Foundation for Arts and Culture_

HTM 30k ( food+beverage)
70k ( food+beverage+book)

Cp :
Arina 081545137523
Icha 082336541985

Hwaiting!
Yuuuk, ikutan dan ajak teman2 daebak-kiyowo kamu !

Kategori
Hobby Jepang KOREA Oase WRITING. SHARING.

Kalau Kamu Penggemar Hallyu           

                                                  

Sejak lama, aku mengamati hallyu dengan segala produknya, utamanya drakor dan KPop. Untuk drakor kita bahas next time ya, sebab aku ingin ngebahas KPop.

Aku termasuk cukup lama mengamati KPop, menjadi penggemarnya juga meski mungkin gak fanatic pada satu idol dan bergabung sebagai fans. Sejak  masa TVXQ/ DBSK lanjut ke generasi Wonder Girl, Suju, SNSD hingga kini masa Red Velvet, Twice, G(i)-dle, Momoland dan tentunya, Black Pink. Di rumah, kami membahas seru seputar KPop. Ada yang ngefans MonstaX, EXO, BTS, Seventeen. Wah, kalau di rumah ada yang pro ini, ada yang pro itu. Ada KPop yang jadi kesukaan kami bersama, seperti Akmu atau Akdong Musician. Selain lagunya keren, mereka juga kakak adik. Waktu audisi Akmu; tiga juri dari JYP, YG dan SM yang diwakili Boa sampai terpesona banget.

Kadang si bungsu bilang ketika debat sengit dengan kakak-kakaknya,

“Mbak jangan jadi haters, dong!”

“Aku bukan haters! Aku cuma gak suka!”

Lalu aku tengahi mereka dan mengajak dialog.

“Eh, masing-masing punya bias, gakpapa kan? Ngapain juga kalian ribut.”

Aku suka baca biografi, maka kalau ada buku biografi apapun, insyaallah kubeli. Mulai dari Mahathma Gandi sampai Elon Musk. Mulai Suju sampai BTS.

Buku2 Korea (1).JPG
Koleksi beberapa bukuku tentang Korea

Kalau anak muda lebih gandrung ke idol, mungkin aku lebih ingin lihat kenapa sih mereka bisa setenar itu? Tentu gak lepas dari peran pemerintah dan orang-orang di belakang SM, JYP, YG. Sekarang muncul pula manajemen yang tidak setenar “Big Three” tapi mampu membawa idolnya maju menggebrak. Sebut Big Hit yang menaungi BTS, Dublekick yang menaungi Momoland, Starship menaungi MonstaX dan Cube menaungi G(i)-dle.

 

 

~Suka duka KPop

Membaca berita tentang KPop dan membuka channel youtube-nya, aku dapat rasakan perjuangan para idol. Dapat merasakan suka duka dunia ini, termasuk ketika mereka mendapatkan tekanan dari pelatih, dunia luar, bahkan dari fansnya sendiri atau fans bias yang lain.

Ingatkan waktu Momoland ngehits dengan Boom-Boom? Selain Nancy yang dipuji-puji, ada YooE yang dijelek-jelekkan karena wajahnya yang dianggap gak cantik blas. Padahal bagiku YooE murah senyum dan ceria banget.

Baca BTS, aku ikut merasakan kepedihan Jungkook sebagai maknae yang usia 13 tahun harus pergi dari rumahnya dan menjalani pelatihan. 13 tahun itu kalau anak-anakku masih manja-manjaan sama Abah Umminya. Jungkook sering nangis, untungnya ada RM dan Suga-grandpa yang selalu mendampinginya.

 

Black Pink?

Aku sempat kaget karena formasi ini diisi Lisa dari Thailand.

Baik Jennie, Jisoo, Rose dan Lisa punya kelebihan masing-masing. Tapi tetap saja yang paling berat bebannya adalah Lisa. Dia harus belajar bahasa Korea dari 0, belajar kultur Korea dan bersabar menerima segala kritikan pedas.

Ada yang bilang Lisa bukan cewek asli, ia hanya tersenyum.

Ada yang bilang, Lisa selalu kebagian kostum  paling jelek diantara 3 rekannya, ia hanya tertawa.

Bahkan ada fans non-Lisa yang bagiku sangat keterlaluan : mengatakannya terlalu kurus, gak bakal menjadikannya pacar seumur-umur, dll; tapi Lisa tetap santai.

 

 

~Kelebihan KPop

Tak dapat dipungkiri KPop memang benar-benar mencengangkan. Hallyu jadi mewabah, dan orang berlomba ingin tahu tentang Korea. Orang-orang yang dikategorikan Ahjussi dan Ahjumma macam aku mungkin gak terlalu ngeh dengan KPop. Tapi demam Korea tetap saja terjadi. Itu memang keberhasilan pemerintah Korea membaca misi budaya mereka.

SM.JPG
Kiyowo ya? 🙂

Euny Hong dalam Korean Cool mengatakan bahwa inti dari keberhasilan Korea termasuk hallyu adalah ajaran Konfusianisme . Setiap idol tetap harus mengutamakan keluarga, berbakti pada orangtua, hoobae menghormati sunbae dan yang senior melindungi maknae.

Irene, leader di Red Velvet contoh yang manis terkait leadership.

Ia mengurus paspor teman-temannya, membagikan snack kepada teman-temannya, membetulkan rambut dan pita temannya, bahkan mencari kain untuk menutupi kaki temannya yang “terbuka” saat duduk pada acara show.

Ayah Suga-BTS bilang, “aku nggak tau kenapa banyak yang ngefans anakku. Apanya sih yang bikin dia kelihatan cakep?”

Suga hanya tersenyum malu menanggapi komentar ayahnya dan memberikan hormat kepadanya. Coba kalau kita dibilang gitu sama ayah sendiri, pasti akan ngambek dan bilang, “Ayah malu-maluin sih!”

 

 

~Apakah semua kultur KPop bisa ditiru?

Setiap bangsa punya karakter masing-masing yang harus dipelihara.

Ini kutekankan sekali pada anak-anakku, pada saat aku ngisi acara remaja dan parenting, juga pada tulisan-tulisanku termasuk novelku.

Cover Sirius Seoul dll
Sirius Seoul, Polaris Fukuoka, Lafaz Cinta, Reem dengan setting beragam

Korea memelihara han, Jepang memelihara bitoku dan fugen jikkou; maka Indonesia pun harus memelihara karakter bangsanya sendiri.

Prinsip han sesuai dengan bangsa Indonesia, mirip-miriplah dengan berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Kita harus kuat menanggung derita, kesulitan, kesusahan, adversity demi mencapai sebuah tujuan besar.

Bitoku dan fugen jikkou pun demikian. Bersenyap-senyap, lalu kumandangkan kemenangan yang spektakuler dan dramatis. Istilah kita, tong kosong nyaring bunyinya. Jangan jadi tong kosong, tapi jadinya orang seperti padi yang punya isi.

Beberapa kultur KPop mulai menuai kritik, bahkan dari fansnya sendiri dan dari masyarakat Korea. Misal, ketika suatu ketika Momoland tampil dengan rok sangat pendek sehingga beberapa personilnya terlihat canggung dan harus berkali-kali membetulkan rok.

Fans nya marah.

“Kami menyukai Momoland karena lagunya yang energik! Bukan karena tampilan sexynya.”

Budaya industri pun mulai menuai kritik keras.

Salah satunya Black Pink.

Apa yang kita sukai dari KPop?

Kesatuan, kekompakan, kerjasama.

Miss A, bubar karena salah satu personilnya, Suzy mendapatkan porsi lebih dalam karirnya dan itu difasilitasi oleh JYP. Suzy main dalan “Dream High” , lalu karienya makin bersinar sendirian. Akibatnya, 3 member yang lain tenggelam lalu menghilang. 4 Minutes pun demikian ketika HyunA bersinar sendirian, lalu member yang lain perlahan lenyap dari peredaran.

Jennie mengeluarkan lagu Solo.

Para netizen bersuara keras dan mulai mengkritik bahwa Black Pink bukan “Jennie and Friends”. Black Pink adalah kekompakan, kerjasama dan harmoni.

Banyak yang menyukai Black Pink, banyak pula yang mengkritiknya. Bukan hanya di Indonesia tapi di seantero dunia termasuk di Korea sendiri. Bagiku itu hal biasa, sebab memang demikian seharusnya selebritas. Ia pasti dipuja dan harus siap menerima kritik.

Sinta di SMTown
Aku di SM Town. Ada foto Suju, Exo dan Shinee

~Mencontoh Idol

Kalau aku menyukai seseorang, aku akan mencoba melihat sisi positif dan mencontohnya. Kalau suka Lisa, cobalah bersikap seperti dirinya yang cool dan tenang.

Ingatkan waktu netizen kompak mencela Jennie karena sikapnya yang kurang sopan kepada Lisa? Waktu ditanya, hadiah ultah apa yang akan diberikan pada Lisa, Jennie bilang, “aku akan menghadiahi tamparan di wajahnya.”

Guyon sih. Tapi tetap saja bagi sebagian orang keterlaluan, apalagi fans Lisa. Tapi Lisa begitu santai dan tidak terpancing.

Contohlah Lisa ketika menerima kritik dan dan serangan ; tetap tenang, tersenyum. Wajarlah bila ada yang tidak menyetujui penampilan Black Pink, sebab itu pun terjadi pada fans Momoland. Jangan mudah marah, berkata kasar, apalagi membabi buta.

Fans justru harus bersikap bijak.

Aku bukan fans fanatic BTS. Tapi ada salah satu idolnya, Namjoon/Rapmon yang sangat fenomenal di dunia psikologi. IQnya 148! Kemampuannya hanya dimiliki 1% orang di seantero dunia. Apa dia sombong? Nggak. Malah dia mencontohkan banyak hal baik : suka baca buku (Haruki Murakami, bo!), ngemong sama anak buahnya, dan selalu dapat diandalkan. Kapan-kapan kutuliskan tentang RM ya.

Pasti idolmu, idol kita, idol siapapun pernah menerima kritik.

Ayo, kita jadi fans yang bijak.

Jangan sampai idol kita justru dianggap sebagai sumber masalah. Kritik mengkritik itu biasa. Tanggapi dengan kepala dingin, bijak dan dewasa. Kalau para idol KPop itu begituserius  menjalankan ajaran Konfusianisme dengan baik, apakah kita nggak ingin menjalankan peri kehidupan bangsa Indonesia yang ramah, santun dan sopan?

 

 

Kategori
Fiksi Sinta Yudisia Karyaku Kepenulisan KOREA Oase

Sirius Seoul dan pembaca

Senangnya, ketika buku kita terdistribusi ke berbagai segmen pembaca. Semoga Sirius Seoul membawa manfaat luas bagi pembaca di tanah air hingga ke pelosok penjuru dunia 🙂

Kategori
Jepang Karyaku Kepenulisan KOREA Mancanegara Oase

Sirius Seoul: Nol & Zero, bag. 3

 

Mari, lakukan pendekatan kepada Paman. Harus berbaik-baik dengan beliau untuk mendapatkan izin secara mulus pergi ke negeri tetangga.

Kadang, Sofia ingin menggoda Paman dan menanya­kan apakah tidak ada yang menyibukkan dirinya selain pekerjaan? Pada Sabtu dan Minggu pun, Paman masih bekerja.

“Om Hanif harus jaga kondisi,” Sofia berlagak manis suatu ketika. “Sekali-sekali istirahat, enggak akan rugi, kan? Om menghabiskan waktu dengan kerja, kerja, kerja. Enggak capek, apa?”

“Enggak. Biasa aja.”

“Tapi, yang lihat, capek, Om,” Sofia manyun.

“Kamu yang capek?”

“Begitulah.”

“Kamu capek emang ngapain aja? Cuma kuliah, jaga toko. Main akhir pekan.”

“Cumaaa …?”

“Om dulu seusia kamu merintis bisnis sambil kuliah. Sampai tidur di meja dapurnya orang, saking capeknya. Makan sering kali nunggu sisa restoran, biar irit. Kamu gitu juga?”

“Enggak, sih ….”

“Jadi, jangan cepat ngeluh capek. Pengorbananmu belum apa-apanya.”

Hadeh.

Jangan bicara masalah pengorbanan dan rasa le­lah dengan Paman. Omelannya bisa sampai satu mega giga terabyte. Paman sebetulnya bukan makhluk tanpa perasaan seperti para elf alias peri yang hidup di negeri dongeng.

“Om kerja keras pengin menyenangkan nenek kamu,” ujar Paman tanpa maksud menyombongkan.

Nah, ini yang membuat Sofia melting.

“Memang, Om mau ngasih apa ke Nenek?” Sofia ingin tahu.

“Pengin ngajak Nenek ke sini. Tinggal di sini.”

“Tante Nanda pasti enggak boleh.”

“Om tahu,” Paman mengaku, “pasti si Nanda enggak bakal mengizinkan. Yah, Om pengin ajak nenek kamu naik haji. Om kerja keras biar Nenek bisa segera haji. Yang terdekat, Om ingin ngajak nenekmu umrah sambil jalan-jalan ke Turki.”

Sugoi! Om keren. Nenek punya tabungan, kok, Om.”

“Maksudmu?”

“Ya, aku cuma mau bilang kalau Nenek punya tabungan.”

“Kok, kamu tahu?”

“Nenek sering ngajari aku sebagai anak gadis harus rajin nabung. Zaman old dulu, waktu bank belum seperti sekarang; anak gadis suka nabung dengan cara beli perhiasan. Beli cincin, anting, liontin. Gitu-gitulah. Kata Nenek itu buat tabungan.”

Ha, jadi enggak boros kayak kamu, ya?”

“Bukan begitu!” Sofia sewot. “Nenek itu rajin nabung. Uang yang dikirim Om sama yang dikasih Tante Nanda, biasanya disimpan. Hanya sebagian buat keperlu­an sehari-hari. Buat Nenek reuni sama teman-temannya, jalan ke mana. Selebihnya, ditabung.”

“Ya, sudah. Berarti bagus itu, Nenek banyak tabungannya.”

“Artinya, cukuplah kalau buat Nenek jalan ke Jepun sini atau buat ongkos umrah.”

“Jadi?”

“Ya, Om enggak usah memforsir diri.”

Ha, balik lagi ke situ?”

“… yyya, maksudku, Om harus jaga kondisi, gitu, lho!”

“Perhatian banget kamu.”

“Ya, iyalah,” Sofia menepuk dada. “Makanya, Om segera punya istri, biar ada yang tambah perhatian.”

Paman terkekeh.

Sampai di sini, Sofia sering tergelitik untuk menanyakan tentang Gyeong Hui dan Ninef, orang-orang pada masa lalu yang pernah memiliki tempat khusus dalam kehidupan Paman.

“Om enggak pengin nikah?”

“Nantilah kalau Nenek sudah haji.”

“Yah, sudah lumutan, Om. Sudah jadi prasasti. Fo­sil!” Sofia mengejek. “Habis umrah aja.”

“Lagian, siapa yang mau sama Om?” Paman meren­dah di hadapannya.

Sofia mengamati sang paman.

Paman memang tidak seperti anak belasan tahun yang masih segar bugar. Namun, bukan berarti kehilangan pesona sama sekali.

“Ngapain kamu lihat-lihat Om?” Paman menegur.

Sofia tergelak, “Om masih ganteng. Gabungan Satou Takeru dan Gong Yoo.”

Hahaha!” Paman tergelak.

“Ya, hanya perlu dihilangkan double chin sama sedikit buncit di perut. Selebihnya, masih oke. Paman masih pantas melamar anak orang.”

Kalau sudah di titik ini, Paman biasanya tidak berlama-lama.

“Sudahlah, Om lagi banyak urusan. Kerjaan. Kamu juga harus jadi seperti nenekmu. Apa nasihat Nenek tadi? Anak gadis harus banyak nabung emas, buat ke­pentingan masa depan. Jangan habis buat shopping dan nonton melulu.”

Belum jadi tua seperti Nenek, rasanya kulit menyusut mengerut seperti nenek-nenek.

 

#siriusseoul #polarisfukuoka #novel #romance #adventure #friendship #itaewon

#linestore #smtown #seoul #korea #kpop #idol

*****

Gong Yoo , Satou Takeru 

gong yoosatou takeru

Kategori
Fiksi Sinta Yudisia Jepang KOREA Kyushu Mancanegara Oase Sirius Seoul Travelling Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Sirius Seoul : Nol & Zero bag. 2

 

Sofia mengunyah perlahan telur scrambled yang dicampur beragam sayuran. Dia harus bersegera menye­lesaikan makan siang bila tidak ingin kehilangan waktu shalat zuhur. Jie Eun masih setia dengan makan siang yang membuatnya tidak berlemak: dada ayam, irisan timun, rebusan sejenis ubi. Entah mengapa, dia yang terlihat paling lahap menghabiskan makan siang.

“Aku sebenarnya ingin mengambil beberapa program. Kita ada pelatihan untuk menjadi guru pada musim panas,” Sofia menjelaskan. “Juga, relawan untuk Festival Hua Fu di departemen anak.”

Natsuyasumi atau musim panas adalah masa liburan panjang. Banyak mahasiswa memanfaatkan masa ba­hagia ini justru dengan mengambil pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan kampus, atau diadakan oleh kakak-kakak tingkat yang telah lulus untuk merekrut adik-adik tingkat menjadi karyawan di berbagai instansi kelak.

Masa ini juga masa paling tepat bagi para mahasiswa yang hidup di perantauan untuk bekerja arubaito atau paruh waktu. Karena liburan resmi, bahkan instansi pemerintah pun bersedia merekrut pegawai berstatus gakusei atau mahasiswa. Mahasiswa asing sekalipun.

Jeda perkuliahan juga menjadi waktu paling tepat untuk mendapatkan relawan bagi kegiatan-kegiatan yang akan diselenggarakan begitu musim panas usai. Rata-rata, perkuliahan dimulai pada musim semi April, terpotong musim panas, aktif kembali pada musim gugur yang sering kali ditandai dengan banyaknya matsuri atau festival. Festival-festival bukan hanya diselenggarakan di setiap prefektur yang memelihara cita rasa tradisional berusia ribuan tahun, tetapi juga di kampus-kampus demi mengusung nilai-nilai unik yang ditawarkan civitas academica.

Rancangan Hanaya Florist
Rancangan Hanaya Florist

“Kamu ingin mendaftar sebagai relawan?” Rei men­delik.

“Kupikir, bekerja di belahan bumi mana pun masih lebih menarik daripada berada di toko bunga pamanku,” Sofia terkekeh.

Hm, sepertinya aku mau arubaito di toko pamanmu,” Rei menggumam.

“Wah, itu bagus!” seru Sofia. “Percayalah, pamanku seperti malaikat bagi karyawannya. Dia hanya berbeda perlakuan terhadapku. Mungkin karena aku bandel.”

Rei dan Umeko tertawa.

“Tapi,” Sofia memandang makan siangnya yang mulai dingin, “memikirkan musim panas diisi dengan bekerja, training, menjadi relawan; rasanya aku lekas menua. Apakah tidak bisa kita liburan seutuhnya?”

Jie Eun yang sedari tadi hanya mengamati mulai angkat suara.

“Kalian tidak ingin ke Korea sesekali? Dekat, kan, dari sini?” Jie Eun bertanya ringan.

Ungkapan Jie Eun membuat ketiga temannya menghentikan aktivitas seketika. Ya. Mengapa tidak? Bukankah Korea hanya sedikit di atas Fukuoka? Pasti menyenangkan bisa melihat belahan lain dari dunia se­

lain Joshi Daigaku, apartemen, dan toko bunga. Ups, pasti menyenangkan sejenak menjauh dari tekanan Paman.

“Kalian bisa ke SM Town, pergi ke teater, atau ke Pulau Jeju.”

“Maksudmu, SM Entertaintment?” Sofia menahanna­pas. “Suju, TVXQ, Bigbang, EXO, BTS, SNSD, Blackpink, Red Velvet?”

“Bigbang bukan SM, Sofia.”

Whatever,” Sofia menepuk-nepuk mulut, tanda kelepasan bicara, “maksudmu, kita bisa ke sana dan berfoto, beli barang keren di flagship stores?”

“Kalau tujuanmu belanja barang, bisa kuantar ke toko Line di Itaewon,” Jie Eun tertawa. “Tapi, pastikan apa tujuanmu ke Korea.”

Rei dan Umeko berpandangan. Sofia memandang Jie Eun bergairah.

“Aku rasa, penawaranmu membuatku semangat menghabiskan makanan.”

cover Sirius Seoul
Masukkan keterangan

“Kalian bisa tinggal di rumahku,” Jie Eun menawar­kan. “Bukan rumah mewah, tapi kurasa cukup menyenangkan untuk menghabiskan musim panas. Kita bisa bersepeda di sepanjang Sungai Han, menikmati makanan khas yang terkenal seperti bulgogi dan bibimbap. Menon­ton konser. Kalau kalian suka, kita bisa melihat titik perbatasan Korea Selatan dan Korea Utara. Tempat itu mengasyikkan untuk penyuka sejarah seperti Sofia.”

Kotak makan Sofia segera tandas.

“Aku harus segera shalat. Jie Eun, kamsahamnida. Aku rasa, aku ingin sekali menghabiskan liburanku di negerimu.”

“Suatu kehormatan bagiku memperkenalkan Korea kepada kalian,” Jie Eun tersenyum manis.

Rei dan Umeko melempar pandang sembari tertawa riang.

Ajakan Jie Eun yang tampaknya hanya sekadar per­cakapan sekilas, membuat suasana siang hari itu terasa dipenuhi pelangi.

 

*****

Kategori
Buku Sinta Yudisia Fiksi Sinta Yudisia Karyaku Kepenulisan KOREA Kyushu Mancanegara Oase Sirius Seoul Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Sirius Seoul : Nol & Zero, bag. 1

Ikuti kisahnya dan nantikan hadiahnya!

 

Rasanya sepertiぐでたま. Gudetama, si telur yang eng­gan melakukan hal dengan sepenuh hati. Si telur yang bosan diperintah-perintah dan lebih senang tengkurap, menungging sebagai bentuk pemberontakan dan peno­lakan. Si melankolis berbentuk kuning, yang malas dan kerap menggumam: meh, aaahhh.

Bila malam tiba, ingin bersorak melihat shoji ka­marnya. Bau sarung bantal dan selimut adalah aroma ternikmat yang pernah dihirup. Sering kali bila terlam­pau lelah, Sofia tertidur masih mengenakan kaus kaki dan jilbab yang membalut kepala. Barulah dini hari saat ingin ke belakang karena hawa demikian dingin, dia membersihkan diri berikut sikat gigi dan menyelesaikan agenda yang seharusnya ditunaikan sebelum tidur.

cover Sirius Seoul
Sirius Seoul yang insyaallah terbit September 2018

Dering alarm pagi merupakan hukuman bagi kesenangan!

Andai waktu dapat ditunda dan dia dapat menelusup ke bawah lantai tatami. Menimbun diri di balik tumpukan baju yang belum disetrika, menimbun diri di balik gulungan selimut, bermimpi bahwa natsuyasumi sedang terjadi hari ini.

Sebetulnya, Paman tidak lagi seperti matsu yang kaku. Jarang mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan. Namun, perintahnya makin sering, makin kerap, makin beruntun.

Ambilkan barang. Ada yang mau antar dan nitip di An Nour.

Jemput tamu di Bandara Fukuoka.

Belikan bibit bunga.

Jangan lama-lama di kampus. Kerjakan tugas sambil jaga toko.

“Main ke Aso jangan keseringan. Mentang-mentang tiket pelajar dapat diskon. Ngapain jauh-jauh cari krim susu di kaki Gunung Aso?”

 

*******

 

Kantin Joshi Daigaku, dihiasi meja putih dan kursi kuning cerah, tidak mampu memberikan energi positif. Dinding merah bata yang menjadi ciri khas kampus perempuan, bagai batas-batas penuh bisikan membawa pesan rahasia bak cerita di film horor.

“Aku merasa semester ini sebagian besar diriku hancur,” keluh Rei.

“Sama,” Umeko mengiakan.

Sofia yang menyusul tampak sama kusutnya.

“Aku tidak mengerti apa yang salah,” Rei masih ke­hilangan semangat. “Kuliah nursing, pelatihan keguruan, dan children care harusnya berjalan mudah.”

“Apakah kita sudah kehilangan sifat keperempuanan sehingga pelajaran perempuan terlihat sangat sulit?” Sofia melempar pertanyaan retorik.

“Kamu betul,” ujar Rei dan Umeko nyaris serem­pak.

“Dulu, ibu-ibu kita sangat rajin dan tahan banting,” Umeko menambahkan. “Mereka langsung belajar dari alam. Sekarang, kita kehilangan keahlian. Ah, ternyata jadi perempuan terampil sangat sulit.”

“Kita butuh liburan,” usul Rei.

“Setuju!” Sofia yang pertama kali mengiakan, sebe­lum yang lain sempat menghela napas.

Mereka memandang makan siang masing-masing tanpa selera. Bahkan, olahan telur Sofia yang biasanya paling mengundang selera, tidak dilirik oleh Rei dan Umeko.

“Aku sepertinya akan mengambil semester pendek,” Umeko terlihat ragu. “Tapi, aku tidak menolak kalau kalian memaksa.”

Sofia dan Rei tertawa.

“Tak seorang pun menolak liburan, Umeko!” Rei menggoda. “Ada usulan kita akan ke mana?”

“Aso?” Umeko menawarkan.

Sofia sontak lunglai.

Bukan dia tidak suka pemandangan gunung eksotis, kabut, dan pemandian air panas. Apalagi, hamparan pe­ternakan sapi yang menyediakan susu terenak di dunia. Berikut es krim yang jelas-jelas lezat. Oishi! Meccha umai! Tapi, ucapan Paman membuat semangatnya segera ken­dur. Entah mengapa, Paman melarangnya sering-sering ke Aso. Mungkin, usai perjalanan wisata ke sana, Sofia persis seperti si Kuning Telur Gudetama. Menungging tidur, malas seharian.

Menolak ajakan Umeko, tidak sopan rasanya. Untung, Jie Eun segera bergabung menyesuaikan percakapan.

“Ke mana kalian natsuyasumi kali ini?” tanyanya.

Rei menggeleng.

Umeko mengangkat alis.

 

#siriusseoul #polarisfukuoka #novel #romance #adventure #friendship #itaewon

#linestore #smtown #seoul #korea #kpop #idol #boyband #girlband

Aso 27.jpg
Pegunungan Aso di Fukuoka. Cantik ya?