Reem & IBF Award 2018

Di balik Reem, Polaris Fukuoka dan The Road to The Empire

Reem's Award.JPG

Alhamdulillah #reem mendapat penghargaan untuk kategori fiksi dewasa terbaik 2018

 

 

Perjalanan the Road to The Empire, tidaklah mudah. Didahului dengan buku Sebuah Janji, The Lost Prince, lalu muncullah the Road to The Empire. Kisah Takudar berawal dari sebuah buku warisan ayah yang telah meninggal sejak SMA, the Preaching of Islam karya Thomas W. Arnold. Saat menyusun ksiah Takudar, internet belum seperti sekarang. Perlu waktu berhari, berminggu, bertahun untuk mengkumpulkan kliping koran tentang Mongolia dan negara-negara sekitarnya; serta tentang sejarah yang berkaitan dengannya.

Muluskah jalan TRTE?

Tidak. Pertama, ditolak penerbit dengan alasan pasar tidak suka tema berat, apalagi sejarah. Memang, dunia perbukuan ibarat ranah dagang yang tidak bisa diperhitungkan keuntungannya 100%. Ada buku yang bagus ternyata malah jeblok di pasaran, ada buku biasa-biasa saja dan penulisnya tidak butuh energi besar untuk menulis, malah laris manis. Itu masalah rezeqi dari Allah Swt. Kedua, TRTE lama sekali tidak menemukan penerbit yagn sesuai hingga bertemu dengan Lingkar Pena Publishing House dan mendapatkan editor andal, pak Maman S. Mahayana.

Tetapi masyaallah subhanallah, hingga sekarang kisah tentang Takudar lah yang paling banyak dicari orang. Orang masih menunggu buku ke-5 yang aku sendiri belum sempat selesaikan. The Road to The Empire meraih penghargaan sebagai fiksi dewasa terbaik di ajang IBF Award 2009.

IBF Award 09 dan 18.JPG

Polaris Fukuoka yang masuk nominasi sebagai fiksi terbaik 2018, Reem fiksi terbaik 2018 , The Road to The Empire fiksi terbaik 2009

 

Bagaimana dengan Polaris Fukuoka dan Reem?

Jujur, aku tidak menyangka dua novel ini masuk nominasi fiksi terbaik. Mengingat penilainya adalah Dr. Adian Husaini, Ibu Nina Armando, bapak Ahmadun Yosi Herfanda dan masih ada dua juri keren yang aku lupa nama beliau.

Polaris Fukuoka bersetting Jepang. Butuh energi besar untuk mempelajari budaya, filosofi, nilai-nilai dan rasanya ketika buku tersebut terbit; masih ada rasa tak puas karena aku belum cukup dalam memahami segala hal terkait Jepang.

Reem?

Mempelajari Palestina dan Maroko bukanlah pekerjaan mudah. Novel ini sebetulnya berdasar skenario bapak Beni Setiawan dan dari skenario itulah kususun novel Reem. Banyak rintangan, hambatan, halangan dalam menyusun buku Reem.  Polaris Fukuoka sudah disusun outlinenya sejak 2015 dan baru terbit 2017. Reem disusun sejak 2016 dan baru terbit 2017.

 

Di awal 2017, di buku harianku, tertulis catatan sekian banyak cerita pendek, naskah lomba, novel yang masih menemukan jalan buntu hingga aku sempat merasakan kesedihan yang dalam. Akankah aku berhenti di sini sebagai penulis? Apakah lebih baik aku bisnis online saja, yang banyak menjanjikan keuntungan?

 

Tetapi, ketika berada dalam ajang IBF seperti Rabu kemarin 18 April 2018 kemarin, di tengah insan perbukuan yang sama-sama merasakan rumit, keras, getir dan jatuh bangunnya industri perbukuan; kata-kata dari pak Hikmat Kurnia ketua panita, pak M. Anis Baswedan ketua IBF, sambutan dari pak Fadli Zon dan sambutan dari TGB sangat menyejukkan. Menyalakan api. Membuat hati-hati kita membara lagi calam celupan rasa cinta pada ilmu pengetahun, pengorbanan, dan keutamaan dari membaca, menulis, mempelajari, memahami hingga akhirnya menjadi bijak dalam menjalani hidup.

All winners.JPG

Kata TGB “people with beautiful minds”

Sebuah quote dari TGB dan istri beliau yang cantik dan cerdas membuatku terkesima.

“Para penulis yang berdiri di depan, menerima penghargaan adalah people with beautiful minds.

 

2009 bersama suamiku Agus Sofyan, 2018 bersama putraku Ibrahim Ayyyasy Kholilullah

Masyaallah.

Subhanallah.

Pada titik di mana kita merasa rendah, lelah, buntu dan putus asa; ada Allah Swt dan para tentara langitnya  siap memanggul harapan dan cita-cita ajaib kita menuju kemungkinan yang layak untuk diwujudkan.

 

Terimakasih kepada semua pihak yang telah menjadikan Polaris Fukuoka dan Reem sebagai novel terbaik 2018.

 

#novel

#novelislami

#reem

#polarisfukuoka

Iklan

Writing for Healing : Menulis itu Menyembuhkan, atau Malah Membuka Trauma?

Kasus 1

Seorang perempuan, sebut namanya Ina, senantiasa berlinang dan berdebar setiap kali mengetikkan sebuah nama. Ya, nama lelaki itu Yuda (samaran). Dialah lelaki yang paling mengerti dirinya. Tetapi jalan  hidup tak dapat ditebak, Yuda dan Ina tidaklah berjodoh. Meski Yuda dan Ina berpisah kota, masing-masing telah memiliki kesibukan, kenangan akan Yuda tidaklah menguap begitu saja. Ina memiliki karir bagus dan keluarga yang bahagia, begitupun Yuda. Walau demikian, tiap kali mengingat, menyebut, menulis nama Yuda; rasa sakit itu masih terasa. Tetapi Ina tentu saja tak bisa menghapus Yuda dari dunia ini. Mereka masih bertemu dalam rapat, kerja, aktivitas sehari-hari.

 

Kasus 2

Sebut namanya Angie.

Gadis cantik dan pintar yang membuat banyak orang iri. Angie Memiliki banyak penggemar, terutama pemuda, yang mengungkapkan cinta dengan cara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi. Banyak orang iri pada Angie, utamanya kaum hawa. Betapa tidak? Angie yang supel, murah senyum, humoris, pintar, pintar cari uang sejak kuliah, aktivis pula, berteman banyak; pendek kata tak ada nilai negatif dalam dirinya! Bahkan Angie bukan tipologi cewek sombong yang merasa sok cantik. Itulah sebabnya teman cewek dan cowoknya bejibun.

Tetapi tak banyak yang tahu masa lalu Angie. Keluarganya yang berantakan, hingga tiap kali ia menceritakan kisah masa lalunya pada segelintir orang yang bisa dipercaya, tangannya tremor. Asam lambung naik. Mata berkunang-kunang. Orang-orang bisa bercerita tentang ayah ibunya dengan santai.

“Liburan kemana?’

“Lebaran mudik nggak?”

“Kamu ditelpon siapa? Wisuda nanti siapa aja yang datang?”

Pertanyaan lumrah seperti itu biasa bagi sebagian orang. Tapi Angie pasti berkeringat dingin ketika terpaksa harus menjawab. Keluarga yang berantakan, ayah dan ibu yang terpisah, keluarga besar yang turut campur tangan dan ketidak utuhan persaudaraan merupakan masa lalu yang sangat membekas bagi Angie. Ia bahkan sempat tak ingin menikah, sebab mengingat perpisahan ayah bundanya yang sangat menyakitkan, sampai-sampai keluarga besar turut campur hingga ketika ia dewasa.

Angie mencoba mengatasinya dengan menulis. Di beberapa bagian tiap kali tiba di edisi perpisahan orangtua, atau edisi ketika ia harus mandiri sebagai individu sejak SMP, SMA dan kuliah; dadanya tiba-tiba terhimpit . Bahkan, pernah suatu ketika, Angie tengah berada di jalan raya dan ingatan akan perpisahan orangtuanya merangsek pikiran tiba-tiba. Ia gemetar dan kehilangan keseimbangan. Angie mengaku, saat itu tengah menuliskan pengalaman pribadi dan trauma perpisahan orangtuanya terlalu sulit untuk diungkapkan.

Peserta Writing for Healing mencoba mengungkapkan kisah

Menulis : Mencoba Merunut Sebuah Kisah

Banyak orang tidak dapat mengenal ujung pangkal kehidupannya sendiri.

“Aku nggak tahu harus cerita dari mana.”

“Aku marah! Sedih! Tapi aku nggak tahu sama siapa!”

“Mmmm…aku cerita begini ya,” lalu ia bercerita panjang dan terbata. “Eh, bukan, ceritanya sebetulnya begini.”

Ruwet. Bingung. Kusut. Tak terlihat celah penyelesaian. Bahkan, tidak tahu darimana semua bermula. Demikianlah manusia ketika sedang menghadapi masalah. Ia merasa bahwa semua orang menjadi pokok masalah. Atau juga ada yang merasa, dirinyalah yang tidak mampu dan tak sanggup menghadapi masalah sehingga setiap kejadian selalu berujung lebih buruk dari titik awal.

Menulis kisah, awalnya akan berantakan.

Susunan kalimat yang seharusnya Subyek- Predikat- Obyek plus keterangan; bisa tertukar-tukar tak karuan. Selain SPK yang tidak karuan, urutan kisah kejadian bisa jadi tumpang tindih. Kisah yang seharusnya merupakan cerita masa lalu- masa sekarang- harapan masa depan; berubah menjadi harapan masa lalu (yang tentu tak bisa diubah) , kesalahan menafsirkan masa sekarang dan memastikan bahwa masa depan sudah terjadi saat ini.

“Pasti hidupku berantakan. Dulu aku gagal, coba kalau orang-orang di sekelilingku gak begini. Besok bakal begini lagi. Gak ada yang ngerti aku dan suatu saat pasti keluargaku juga gagal lagi seperti orangtuaku gulu.”

Kalimat-kalimat yang muncul bukanlah rentetan suatu kisah.

Lebih banyak ungkapan emosional yang belum tentu obyektif.

Menulis dapat membantu seseorang merunut kisah hidupnya agar tertata dan dapat dibaca lebih baik. Biasanya, seseorang ketika bolak balik membaca tulisannya akan termenung.

“Kok, aku banyak menyalahkan ibuku ya? Memangnya saat itu ibuku ngapain, sampai-sampai ia bisa berbuat salah?’

WFH 2

Berbaim kata dalam Writing for Healing

Merunut kisah adalah merupakan alur penting dalam pemahaman kita terhadap apa yang telah terjadi dan bagaimana segala sesuatu akan dirancang. Saat seseorang dapat merunut kisahnya dengan baik, ia mungkin akan terluka tetapi dapat mengenali sesuatu lebih utuh.

Kisah siswa yang  menuliskan kekecewaan kepada orangtuanya ini mungkin dapat menjadi gambaran bahwa menuliskan kisah, dapat membuat seseorang melihat masalah lebih utuh. Tulisan siswa tersebut kurang lebih demikian.

“Aku benci boarding school. Aku benci sekolah asrama. Lagipula kenapa Cuma aku yang sekolah asrama? Karena aku bandel? Biar aku bisa dibuang gitu? Gak ngerepoti orangtua? Aku benci sekolah asrama, soalnya anaknya bandel-bandel. Guru-gurunya gak asik. Apa-apa nggak boleh. Awal sekolah asrama aku nangis. Aku benci! Aku ingat sekolahku yang dulu. Ingat teman-teman lamaku. Aku pingin pulang. Pingin balik ke rumah. Apalagi kalau aku ngadu tentang temanku yang memang nakal, malah aku yang dinasehati. Suruh sabarlah. Suruh ngerti. Lah, dianya yang salah?”

Setelah melewati proses menulis beberapa kali, siswa tersebut rupanya mendapatkan sedikit demi sedikit insight tentang kondisi yang sedang dihadapinya. Dan proses ini memang tidak sebentar ya.

“Ya, aku memang keluarga besar. Adikku banyak. Mungkin, aku memang perlu sekolah asrama supaya ada yang bisa ngawasi aku. Kalau di rumah, mamaku sibuk antar jemput adik. Aku mungkin gak keurus. Walau mama nggak bisa ngontak aku tiap hari, lama-lama asik juga sekolah di asrama. Mama masih sayang aku kok. Buktinya, papa dan mama memilih sekolah asrama yang mahal harganya, padahal adik-adikku cuma sekolah yang murah. Kata mama biar aku bisa jadi orang berguna.”

Menulis, dapat membantu seseorang merunut ksiah yang sesungguhnya. Bahwa kejadian yang tengah berlangsung bukanlah sebuah malapetaka, tapi sebuah pilihan terbaik dari sekian banyak pilihan yang ada; yang tak bisa dihindarkan selaku manusia. Seorang anak masih bergantung pada orangtua dan memiliki kewajiban menurut meski juga tetap harus bersuara; seorang anak menjadi bagian dari sebuah keluarga. Bila keluarga tersebut memiliki masalah maka anak tersebut juga harus menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari penambah masalah. Alhamdulillah, menulis membantu orang untuk dapat merunut kisah dengan lebih baik. Meski belum tentu mereka menyetujuinya.

Anak yang menuliskan kisah tersebut pada akhirnya memiliki trauma tertentu pada boarding school namun ia tidak menolak ketika masuk ke sekolah yang sejenis dengan catatan, boarding schoolnya tidak terlalu jauh dari domisili orangtua sehingga ketika terjadi kondisi bullying; ia bisa segera mencari pertolongan.

 

Menulis membuka Trauma Lama

Ya.

Menulis memang membuka luka.

Luka yang sudah tertutup, dikorek lagi, berdarah, dan menimbulkan luka baru yang tak kalah perih. Memang demikianlah bila kita berniat membongkar luka lama. Lalu mengapa harus dibongkar padahal sudah selesai? Case closed?  Kalau  masalah sudah selesai, tidak perlu diutak-atik lagi.

Memang selayaknya, permasalahan lama yang sudah tertutup tak perlu dibongkar lagi.

Namun, seringkali, permasalahan yang sudah ditutup, dipendam, disimpan; ternyata tidak selesai begitu saja. Kebencian pada orangtua yang dulu tak mampu mendidik dengan baik, kebencian pada saudara yang berbuat aniaya, kebencian pada teman yang pernah mengaganggu; seiring waktu akan berlalu. Kita hidup terpisah dari orangtua ketika kuliah dan bekerja, begitupun saudara dan teman pun akan berjauhan seiring waktu yang memisahkan. Masalahnya, suatu saat, seorang anak yang membenci orangtuanya; bisa jadi kelak ia menjadi orangtua. Seorang manusia yang memiliki hubungan kurang baik dengan saudara atau teman, ternyata harus bertemu lagi dengan saudara dan temannya dalam suatu perkara.

Atau, kalaupun tidak lagi bertemu dengan orangtua atau pihak-pihak yang pernah memiliki masalah; kita akan berada dalam posisi yang mirip dengan kejadian dahulu.

Dulu menjadi anak.

Sekarang menjadi orangtua.

Kebencian yang mengendap kepada orangtua dalam berganti menjadi amarah pada situasi, atau pada anak, atau pada pasangan; atau pada apa saja yang mirip dengan situasi di masa lampau. Maka hal inilah yang seharunya diselesaikan.

Menuliskan nama atau kejadian atau tempat, mungkin awalnya akan mengorek luka.

Nama mantan.

Nama orangtua, entah nama ayah atau ibu.

Nama guru, atau nama dosen.

Nama teman, atau sahabat.

Nama kota.

Nama kejadian.

Tahukah anda, bahwa ada seseorang yang enggan dipanggil “sesuatu” karena trauma?

Saya selalu memanggil teman dan sahabat perempuan dengan sebutan : manis atau cantik. Hai, mbak Cantik! Hai adik Manis!

 

“Jangan panggil aku dengan sebutan cantik, Mbak! Aku benci. Awas kalau Mbak sampai panggil aku cantik lagi. Aku benci panggilan itu. Awas ya, Mbak, jangan lagi-lagi bilang aku cantik atau sejenisnya!!”

Tentu saja, aku terperangah, Dan terseinggung pada awalnya. Sebab, temanku telah berlaku demikian over, menurutku. Apa salahnya memanggil cantik? Apa salahnya memanggil manis? Dan ketika kemudian dia menuliskah kisahnya secara rahasia, aku tahu, bahwa panggilan cantik baginya adalah sebuah luka menganga. Panggilan cantik, adalah ketika di masa kecil, saat ia  harus tinggal dengan seorang kerabat yang jauh lebih tua; telah menyebabkannya mengalami sexual abuse. Lelaki tua itu merayunya dengan sebutan : anak cantik.

Ya Tuhan. Na’udzubillahi mindzalik.

Sungguh.

Ada di antara kita yang memiliki luka-luka menganga dan luka itu disebebakn oleh suatu kejadian, seseorang atau mungkin sebuah situasi keterpaksaan. Memang tidak mudah melaluinya, tetapi memungkirinya juga hanya akan menjauhkan dari kesembuhan.

Menulis, memang akan membongkar luka lama. Tetapi luka ini ingin kita sembuhkan bersama. Setidaknya, ingin disembuhkan oleh korban yang mengalaminya dan merasa tersiksa. Tuliskan perlahan-lahan nama orang yang pernah melukai dengan teramat dalam.

Awalnya gemetar. Tak mampu. Bahkan timbul kebencian pada semua yang terkait dengan nama itu. Tak mengapa, bila kita sudah merasa siap bertarung dengan diri sendiri. Kebencian, kesedihan, rasa malu, putus asa dan beribu rasa negatif lainnya akan menyeruak bersama-sama. Akan muncul airmata. Amarah. Bila tidak kuat melakukannya sendiri, mintalah seorang sahabat untuk mendampingi sepanajng menuliskan nama atau peristiwa tertentu yang menyakitkan. Bila melakukannya sendiri dianggap baik-baik saja, silahkan.

Beberapa tips untuk menuliskan suatu yang bermakna kebencian atau penderitaan :

  1. Tulislah di atas sebuah buku putih. Boleh bergambar. Nuansa putih akan menciptakan rasa bersih dan tenang.
  2. Usahakan kertas cukup tebal. Kertas tipis akan mudah sobek bila mengalami tekanan.
  3. Gunakan bolpoin. Pensil akan lekas patah bila diiringi kemarahan
  4. Bila tak bisa menyebut sebuah nama, katakan dia
  5. Bila tak mampu menuliskan peristiwa atau sesuatu yang menyakitkan, buatlah simbol. Entah E, X atau Æ
  6. Pelihara kesadaran diri sebaik-baiknya. Cermati bila tangan berkeringat, dahi berkeringat, dada berdegup kencang, jemari gemetar.
  7. Biasanya, menuliskan nama atau peristiwa, terasa sangat berat. Lebih baik bercerita seputar kisah yang menimbulkan trauma.

WFH All

Ayo, menulis untuk bahagia 🙂

 

 

 

Membumikan Ilmu Psikologi

 

 

Literasi sains, saya tertarik dengan bahasan Kompas hari ini, Kamis, 16 November 2017. Bahwa masyarakat umum perlu sekali mengetahui apa saja perjalanan dan pencapaian dunia ilmiah. Betapa banyaknya berita hoaks yang terebar. Berdasarkan tulisan hari ini, tulisan hoaks tertinggi di bidang kesehatan, politik dan dunia entertainment.

Di bidang kesehatan, kita mengambil kata-kata WHO bahwa sehat berarti memiliki ketiadaan cacat baik fisik maupun mental. A state of complete physical, mental and social well-being and not merely the absence of disease or infirmity; kata-kata ini saya cantumkan dalam penelitian saya saat skripsi dulu yang membahas tentang PWB atau psychological well being.

Hoak di bidang kesehatan memang menempati urutan pertama. Termasuk kesehatan mental.  Hoaxs sendiri bermakna “ a plan to deceive someone, such as telling the police there is a bomb somewhere when there is not one, or a trick: The bomb threat turned out to be a hoax.

He’d made a hoax call claiming to be the president.

Hoak adalah rencanan untuk menipu seseorang. Dengan kata lain, hoak bukanlah sebuah berita yang 100% bisa dipercaya kebenarannya. Bahkan, boleh jadi muatan kebenarannya hanya 25% atau malah 0%. Dalam ranah psikologi, saya sendiri merasakan itu betapa klien telah dipenuhi pikiran dan pemahamannya oleh berita hoak.

“Anda perlu segera datang ke rumah sakit X.”

“Bu Sinta mau bilang kalau saya gila?!”

Di kali lain,

“Anda sepertinya harus dibantu obat.”

“Apa saya kelihatan nggak waras??!”

Skizofrenia, insane, depresi, mood, stress dan seterusnya telah dipahami secara salah ke tengah masyarakat.

Koran hari ini, Jawa Pos, 16 November 2017 juga memberitakan hal yang sangat mengerikan terkait perlakuan orang-orang normal terhadap seorang penderita gangguan jiwa di tengah jalan. Stigma terhadap penyakit jiwa begitu buruknya hingga akhirnya masyarakat enggan berobat, enggan menyadari dan mengakui bahwa di sekelilingnya (atau bahkan dirinya sendiri) memiliki gangguan emosi atau gangguan kepribadian. Seringkali, orang datang kepada psikiater atau psikolog ketika gangguan sudah dirasa tak tertahankan, ibaratnya stadium 4 dari penyakit kanker. Bila tidak segera ditangani maka akan menjadi penyakit yang menggerogoti diri dan lingkungan, bahkan akan menimbulkan dampak tak diinginkan.

 

Tugas Psikolog dan Ilmuwan Psikologi

Menjadi tugas orang-orang yang pahamd unia kesehatan untuk membumikan ilmunya. Sebagai psikolog, saya rutin memposting hal-hal terkait psikologi. Beberapa hari lalu saya memposting tentang lelaki dengan pribadian alpha-male. Tulisan ini mendapat respon lumayan ramai dari pembaca medsos. Harapan saya agar lelaki lebih waspada bila dirinya memiliki kharisma itu dan perempuan pun tidak lantas terperdaya.

Sebagai penulis novel, saya juga menghadirkan ke tangah masyarakat tentang kehidupan psikolog atau setidaknya novel yang merangkum ilmu psikologi. Rinai dan Bulan Nararya sendiri mengetengahkan kehidupan Rinai dan Nararya yang merupakan orang-orang psikologi dengan segala suka dukanya.

Saya juga membuat buku-buku yang ringan terkait dunia psikologi seperti Sketsa Cinta Bunda, Mendidik Anak dengan Cinta. Bahkan, di buku Sarah : Seri Perempuan Istimewa yang merupakan buku sejarah; secara tak langsung saya selipkan ilmu psikologi. Misalnya, saya kemukakan bahwa Sarah adalah seorang perempuan yang berani bicara. Itulah sebabnya, kenapa perempuan harus berani bicara di saat penting dalam hidupnya. Sarah berani bicara kepada ayahnya. Sejarah Sarah memang masih diteliti hingga kini. Namun disinyalir, ia seorang putri bangsawan terkemuka dari dinasti Isin atau Larsa di daerah Mesopotamia. Betapa Sarah berani mengemukakan pendapat untuk bicara tegas, ketika ia memilih Ibrahim sebagai suami.

 

Begitupun, Sarah adalah perempuan yang berani bicara dan bertindak, ketika ia yakin berada di atas garis kebenaran. Ketika 3 malaikat yang mulia : Jibril, Mikail, Isrofil hadir ke rumahnya; Nabi Ibrahim as merasa sedih akan berita buruk yang akan menimpa kaum Saduum. Namun tidak dengan Sarah, mendengar berita dari malaikat iapun ikut murka terhadap kedzaliman kaum Saduum yang berani menentenag Allah Swt dan Rasulnya, Luth as.

 

Mengapa buku bisa menjadi ajang komunikasi dari seorang ilmuwan kepada khalayak? Sebab buku menjadi bahasa yang tidak mungkin diucapkan semua oleh penyampainya. Buku juga bsia menyelipkan nilai-nilai secara halus tanpa terasa.

Carl Sagan menulis tentang Contact; sebagai astronom ia ingin menyampaikan kepada khalayak tetnang dunia astronomi ketika membahasa makhluk luar angkasa. Frank Tallis seorang psikolog klinis  yang menbuat serangkaian novel seperti Death in Vienna dan Vienna Blood  untuk menjelaskan pada khalayak bahwa psikoanalis tidak hanya bicara masalah basic instinct terkait sexual saja. Tetapi bagaimana tokoh utamanya , Max Lieberman berusaha mengungkap kejahatan dengan pendekatan psikoanalis kepada tersangka.

 

Selain novel dewasa dan buku sejarah dan motivasi yang saya selipi ilmu psikologi; saya juga membuat novel-novel remaja dengan rangkaian ilmu psikologi di dalamnya.

Reem dan Polaris Fukuoka, dua tokoh di dalamnya yaitu Reem dan Sofia memiliki satu kebiasaan psikologis yang sangat baik : menulis. Reem suka menulis puisi, Sofia suka menulis buku harian. Itu sebabnya, ketika saya memposting di fesbuk tentang apakah menulis dan kebiasan mencurahkan perasaan di buku diary membuat seseorang dapat melampiaskan marah dan benci? Hampir semua yang memberikan komen menjawab : ya.

 

Menggaungkan Ke Orang Sekeliling

Saya selalu menorong orang-orang di sekeliling untuk menjadi konselor kecil-kecilan. Baik kepada suami ataupun anak-anak saya.

1

“Ummi, temanku ada yang korban KDRT. Dia sama ibunya.”

“Sudah lapor ke polisi, Nak?”

“Kayaknya enggak deh…”

“Kalau begitu, kamu harus jadi teman curhatnya ya…”

 

2

“Ummi, temanku ada yang kelakuannya menyebalkan banget. Udah gitu dia gak ngerasa lagi kalau nyebelin.”

“Yah, itu namanya orang yang dalam berkomunikasi memiliki non-verbal disorder. Dia gak bisa memahami bahwa tingkah laku, sikapnya itu menyebalkan orang lain.’

“Trus gimana?”

“Kasih dia hadiah. Nanti kan bisa kamu dekati.”

 

3.

“Ummi, temanku ternyata ada yang orangtuanya single parent.”

“Trus, anaknya gimana?”

“Kebetulan sih anaknya baik. Ibunya perhatian. Bekas ayahnya juga perhatian.”

“Oh bagus itu. Kamu dekat sama dia kan?”

“Iya.”

“Kamu harus jadi teman baiknya. Ajak dia ngobrol ya.”

 

4

“Kenapa sekarang perempuan suka menggugat cerai?” tanya suamiku yang kebetulan ruang lingkup kerjanya di wilayah HRD.

“Oh, selingkuh ya?” sahutku.

“Ya.”

“Itu karena perempuan dominasi perasaan. Jadi pas sudah nikah lalu ketemu lelaki yang mempesona, terhanyut. Padahal belum tentu lelaki itu sebaik suaminya yang sekarang.”

“Trus gimana?”

“Ya memang hubungan suami istri harus didekatkan. Jadi kalau suami pindah kerja, usahakan istri mengikuti. Kantor dan pemerintah harus melihat aspek itu. Jangan sembarangan mutasi karyawan.”

 

Edukasi kepada Orang Sekeliling

Saya sampaikan kepada klien-klien bahwa skizofren dan depresi bukanlah hantu menakutkan yang membuat orang punya cacat seumur hidup dan menebarkan bau busuk hingga harus diasingkan. Sebagai psikolog, kitapun harus memperkenalkan diri kepada orang-orang sekitar : saya psikolog. Kalau orang bertanya apa bisa minta obat , maka kita jawab : itu ranah psikiater. Orang-orang akan semakin paham apa perbedaan psikolog dan psikiater bila kita terus menggaungkan. Dan juga, orang akan memahami level sakit ketika harus mengunjungi kedua ahli tersebut.

Seorang ibu pernah melaporkan kerabatnya yang sering mengamuk tak karuan hingga mengancam lingkungan. Orang-orang menyebutnya gila. Apalagi agresifitas dan gangguannya sudah kelewat parah. Apalagi keluarganya orang tak mampu.

“Saya harus gimana bu Sinta?”

“Ibu punya BPJS?”

“Ada sih.”

“Masukkan ia ke rumah sakit X.”

“Memangnya bisa? Terus berapa hari?”

Saya jelaskan bahwa obat-oabt antidepresan dan antipsikotik sebagian masuk dalam daftar BPJS. Dan pasien rumah sakit jiwa yang tidak mampu , gratis. Mereka akan rawat inap antara 30-60 hari tergantung daya tampung rumah sakit. Ketika sudah waktunya keluar, mereka akan kelur dan ketika kambuhpun bisa masuk lagi. Pendek kata, orang dengan gangguan seperti ini memiliki banyak cara untuk sembuh. Jadi jangan hanya didiamkan. Bahkan, kalau kita sendiri sudah mengalami tekanan hidup berkali kali dan beragam  jenisnya, jangan malu untuk mendatangi psikolog.

Uuntuk edukasi kepada masyarakat, alhamdulillah saya sendiri mencoba berbagai cara. Antara lain lewat tulisan, siaran radio, seminar dan wrokshop. Untuk kali ini, saya ingin memperkenalkan suatu program yang sudah lama sekali saya impikan. Saya bercita-cita memiliki Pusat Penelitian dan Pusat Penyembuhan dengan konsep art therapy. Mungkin karena saya sendiri berjiwa seniman ya. Salahs atunya adalah metode writing therapy. Semoga metode ini dapat diterima khalayak di berbagai level usia dan menjadi salah satu sarana menuju kesehatan mental yang paripurna.

reem workshop

 

 

 

 

 

 

Mengenal Writing Therapy atau Terapi Menulis

 

 

Pernahkah dengar tentang writing therapy atau terapi menulis?

Dan menurut anda, bisakah menulis menjadi salah satu bentuk terapi?

Terapi menulis, adalah salah satu bagian besar dari art therapy atau terapi seni. Terapi seni mencakup semua terapi psikologis yang menggunakan pendekatan seni dalam proses terapeutiknya. Berhubung seni sendiri mencakup pemaknaan yang luas, maka terapi seni pun dapat bermacam-macam mulai terapi melukis, psikodrama, terapi menulis dan sebagainya.

Terapi menulis digaungkan antara lain oleh James Pennebaker.

Walau terapi ini tentu menuai pro dan kontra, tetapi beberapa pihak semakin terpanggil untuk menjadikan cara ini sebagai sebuah cara ampuh untuk mengatasi berbagai gangguan.  Umumnya, orang masih lebih mempercayai terapi kognitif dan terapi behavior yang terlihat lebih jitu dalam mengatasi gangguan kepribadian ataupun gangguan perilaku. Atau bila sudah terlalu dalam, pendekatan psikoanalitik dirasa lebih tepat. Terapi menulis lebih masuk ke arah pendekatan transpersonal yang disebut sebagai pendekatan atau madzhab keempat sesudah psikoanalis, perilaku dan kognitif. Bahkan, Pennebaker mengklaim klien-kliennya yang memiliki trauma masa lalu parah menjadi jauh lebih baik ketika menjalani writing therapy atau terapi menulis.

 

Siapa yang menjalani terapi menulis?

Gadis-gadis zaman dulu,  atau yang hidup di era 80-90; punya perilaku unik dalam kehidupan sosial. Waktu saya SD, SMP, SMA ; saat salahs atu ulang tahun maka teman-teman satu gengnya akan punya default barang sebagai hadiah. Kaset, boneka, kartu ucapan  yang bisa mengeluarkan irama musik,  atau buku harian. Buku harian lengkap dengan gembok dan kunci! Rata-rata gadis zaman saya punya buku harian dan itupun tak cuma satu. Di toko buku, buku harian jenis yang paling suka diburu para cewek. Rasanya, kalau bisa mengumpulkan uang dan memiliki buku harian yang diidam-idamkan : bahagiaaa sekali. Buku harian itu biasanya memiliki tebal 300-400 halaman. Berwarna-warni; dominasi pink tentu saja. Dengan quote kecil yang membuat hati makin baper seperti : love at the first sight is endless love. Always thinking about you. Your eyes is like a rainbow. Miss you like crazy dan begitu-begitulah. Pokoknya, diary menampung curhat para gadis dan insyaallah aman sebab tegembok dan tersimpan di lemari. Kecuali bila ada yang usil mengambil kunci gemboknya.

Gadis zaman saya dulu nyaris tidak mengenal kata stress.

Jangan dibilang kalau di zaman itu tekanannya tidak seberat sekarang ya. Beuh! Sama beratnya! Di segala zaman, tantangan sendiri-sendiri.

Zaman saya sekolah, belum ada whatsapp dan line. Kalau tidak masuk sekolah karena sakit atau izin keperluan keluarga; harus cari pinjaman buku teman untuk fotokopi atau disalin tulisan tangan. Tidak semua rumah punya telepon, jadi tidak selalu persoalan diselesaikan melalui telepon. Internet? Boro-boro. Tugas sekolah yang memerlukan referensi diselesaikan dengan cara bermain ke perpustakaan atau pergi ke toko loak . Di Yogya, toko loak buku ada di shopping center. Wuah, ini surganya saya. Kalau naik becak kemari, bisa berjam-jam mendekam dan menyusuri gang-gangnya!

Tekanan di zaman saya besar.

Sama besarnya dengan tekanan hidup era sekarang, namun bentuknya lain.

Tetapi kami punya cara pelampiasan, tanpa kami sadari : menulis.

Jatuh cinta, patah hati, dimusuhi teman, di bully, dimarahi guru, disetrap guru, dimarahi orangtua, berantem dengan kakak, adik yang menyebalkan, nilai ulangan jelek semua tumplek blek di buku harian. Pendek kata rindu benci dendam cinta dibuang ke buku harian. Maka seorang cewek bisa marah besar kalau diarynya sampai ketahuan orang lain hehehe.

Sekarang,

Kebiasaan itu sudah hilang.

Tak ada waktu menulis buku harian.

Oh, bukan tak ada waktu tapi tak zaman lagi.

Semua tulisan diposting di facebook, instagram, line.

Dan, belum sempat penulisnya merenungi kisah hidupnya ; bertubi reaksi datang. Memuji, menghujat, menyela, memberi nasehat, mencemooh. Tak ada waktu menenangkan diri. Tak ada jeda meredam marah. Yang ada justru kemarahan yang semakin meruncing. Jangankan melampiaskan perasaan terpendam, justru postingan kita di medsos membuat persoalan baru yang membuat perasaan kembali tertekan.

reem workshop.jpeg

Writing therapy atau terapi menulis bukanlah sekedar menulis, lalu mempublikasikannya di media sosial sehingga orang banyak bebas menilai diri seseorang semau mereka. Terapi menulis justru bertujuan untuk menumpahkan segala , mengendapkan rasa dan ketika membaca dan membaca lagi tulisan tersebut; timbul pencerahan mendalam yang menyebabkan si pelaku menjadi lebih tenang dan mantap  ketika mengambil suatu tindak positif.

Tahukah anda bahwa Buya Hamka pun pernah putus asa?

Ulama favorit saya ini pernah terpikir mengakhiri hidup ketika di penjara.

Lalu, ia membaca ulang buku yang telah dituliskannya.

Membaca ulang tulisan sendiri, membuat Buya Hamka meraih kekuatan luarbiasa dan di penjara ia menghasilkan karya menakjubkan tentang al Quran.

Semua orang perlu menulis.

Menulis adalah salah satu bentuk terapi.

Bahkan, bila kita enggan bertemu terapis, semoga menulis menjadi salah satu cara penyembuhan.

Tunggu tulisan berikutnya tentang writing therapy atau terapi menulis ya.

Reem and PF.JPG

#Reem

#Polarisfukuoka

 

Maukah Kamu Jadi Penulis?

 

 

Tidak ada universitas yang khusus memiliki fakultas atau jurusan yang mencetak seseorang menjadi penulis.  Bahkan fakultas FIB sekalipun, tidak secara otomatis membuat mahasiswanya mengambil profesi penulis sebagai pekerjaan hidupnya. Penulis adalah pekerjaan lepas yang benar-benar ‘lepas’ : hanya orang-orang yang benar-benar niat jadi penulis, akan menjalani profesi sebagai penulis dengan segala lika likunya.

Bertahun-tahun lalu, di era tahun 2000an, saat novel dan kumpulan cerpen di tanah air meledak penjualannya; orang ramai-ramai ingin jadi penulis. Pelatihan-pelatihan digelar dan pesertanya mengalir deras. Sekarang, acara-acara kepenulisan sepi peminat. Bedah buku jarang dihadiri khalayak. Orang enggan mengirimkan cerpen ke koran-koran atau majalah. Alasannya : menulis susah-susah, lalu tertolak, kalaupun dimuat bayarannya tak imbang antara jumlah dan tenaga menagih. Royalti penulis tak seberapa besar. Perlahan-lahan, pekerjaan sebagai penulis semakin sepi peminat. Orang tak lagi tertarik untuk menjadikan dunia kepenulisan sebagai salah satu pekerjaan bergengsi yang menghasilkan uang.

 

Tujuan Bekerja

Ada banyak motivasi seseorang untuk bekerja.

Mencari nafkah, menunjukkan eksistensi diri, menuruti permintaan orangtua, atau agar terlihat layak sebagai calon menantu ketika meminang perempuan suatu hari. Bagi seorang lelaki, bekerja adalah salah satu medan jihadnya sehingga ia harus bersungguh-sungguh mencari nafkah halal. Menafkahi istri dan membesarkan anak-anak adalah perkara serius; yang membutuhkan segenap sumber daya dari orangtua. Profesi penulis, memang seringkali dianggap tidak dapat menjadi jaminan bagi laki-laki untuk dapat megnhidupi secara layak keluarganya.

Namun, ada banyak teman-teman saya yang berjenis kelamin laki-laki dan tetap bertahan sebagai penulis. Kehidupan mereka memang tidak mewah. Satu dua orang berhasil meraih impiannya lewat jalur menulis dan hidup cukup dari hasil menulis buku. Sebagian besar, harus bekerja keras sebagai penulis untuk dapat hidup layaknya orang ‘normal’. Tetapi, mereka terlihat sangat bahagia dan bangga dengan pekerjaannya. Mereka merasa menemukan jatidiri sejati sebagai seorang penulis. Mereka merasa, bahwa dengan menulis inilah banyak hal dalam diri mereka berkembang. Salah satu aspek psychological well being adalah personal growth. Menjadi penulis, mengharuskan seseorang belajar dan terus belajar. Rupanya, ini membuat teman-teman penulis saya yang laki-laki gemar melahap buku dan tulisan apapun. Kebiasaan membaca ini membuat mereka lebih bijak, fleksibel, dan mampu mencermati banyak hal dalam hidup dengan filosofi yang indah bermakna. Teman-teman penulis saya terus ‘tumbuh’.

Sinta & Batkhuyag.JPG

Prof. Batkhuyaag Purekvuu & Sinta Yudisia, di Yeonhui, Seoul

“Penulis seharusnya tidak hanya mempertimbangkan materi. Dalam hidup ada yang tidak dapat diukur dengan kekayaan.” Prof. Batkhuyaag Purekvu

Bagi perempuan, profesi menulis tidak masalah.

Biasanya, perempuan telah memiliki sokongan nafkah dari ayah, suami atau saudara lelakinya. Maka bagi perempuan, profesi penulis lebih tidak membingungkan dibanding laki-laki. Tentu saja, ada beberapa teman-teman saya yang perempuan; menjadikan dunia kepenulisan sebagai tumpuan hidupnya. Mereka bekerja sama kerasnya seperti laki-laki yang penulis; sehingga rabat penjualan buku atau royalti adalah salah satu sumber penghasilan.

Sama seperti laki-laki penulis, teman-teman perempuan penulis memiliki personal growth yang bagus. Mereka menjadi manusia-manusia yang bijak dalam segala aspek. Sebagai salah satu contoh, seorang teman penulis perempuan sahabat saya –ia salah satu guru spiritual saya dalam hal kesabaran-  hingga kini hidup dalam kesederhanaan. Masih naik motor butut. Laptop baru punya sebentar, selama ini nebeng komputer masjid ketika mengetik. Baru-baru ini saja ia juga memiliki ponsel pintar setelah bertahun-tahun (lamaaa sekali) ia hanya punya telepon jadul yang hanya dapat mengirim SMS. Keluarga intinya sering menyindir, mengejek, menyudutkan atau entah apalah yang memojokkannya. Selalu memandang miring pada profesi penulis yang dipilihnya.

Tetapi saya melihat personal growth yang luarbiasa dari diri sahabat ini.

Kesabaran.

Dan ketergantungannya pada Allah, luarbiasa.

Setiap kejadian buruk yang menimpanya, nyaris tak ada yang membuatnya berduka apalagi putus asa. Prinsipnya sederhana, selama penghasilan menulis masih dapat menopangnya untuk hidup, akan ia lakukan. Meski, hidup yang dipilihnya sangat sederhana dan seluruh penghasilannya bukan hanya bagi dirinya tapi juga bagi keluarganya.

Bekerja, adalah salah satu kewajiban manusia.

Bahkan, salah satu predictor of happiness adalah bekerja. Orang yang tidak memiliki pekerjaan termasuk orang yang tidak bahagia. Pengangguran adalah orang yang tidak bahagia. Peminta-minta adalah orang yang tidak bahagia. Bergantung pada orang lain adalah orang yang tidak bahagia. Namun, banyak juga orang stress, tertekan, depresi dan merasa benci pada pekerjaannya. Ia selalu merasa setiap pagi adalah mimpi buruk ketika  harus melihat rekan, atasan, setumpuk pekerjaan dan pengahsilan yang rasanya tak sesuai dengan apa yang dikorbankan. Apa yang menjadi tuntutan hidup. Mungkin ia kurang bersyukur. Atau mungkin, ia sama sekali tidak tahu filosofi bekerja.

Seorang penulis tahu betul untuk apa ia bekerja.

Ia bekerja untuk dirinya sendiri. Untuk memenuhi kebutuhan manusia paling dasar berupa sandang, pangan, papan. Tetapi, tuntutan pekerjaan sebagai penulis, membuat penulis harus terus bekerja sama dan mengamati orang lain. Ia harus bekerja sama dengan editor, rekan pembaca, resensor, ilustrator dan banyak lagi. Apa hal ini tidak didapatkan di tempat lain? Ada. Tentu saja, nyaris semua pekerjaan membutuhkan daya dukung dari elemen lain. Tetapi dalam dunia kepenulisan, rasanya kerjasama dengan banyak pihak menjadi sebuah kelaziman. Meski, saat menulis, seseorang menjadi individu yang sangat personal.

Penulis, harus terbiasa mengamati orang. Melihat. Mengobservasi. Sebab itu salah satu inti keahliannya dalam menilai orang dan memindahkannya ke dalam buku –jika ia penulis novel atau cerpen. Kebiasaan mengamati orang ini membuat penulis mudah memahami orang lain (walau belum tentu dapat mudah berempati ya!), dan membuat penulis dapat mengambil ilham dari sisi manapun.

Belum lagi, seorang penulis harus mengetahui watak sebagian besar pembaca. Ia terbiasa membaca orang, ia terbiasa mengamati orang-orang. Ia biasa bekejar sama dengan orang, orang dan orang. Saya suka sekali berteman dengan para penulis, sebab mereka sosok-sosok paling humanis yang pernah saya kenal. Yah, adalah penulis yang egois satu atau dua; tapi tak banyak. Rata-rata teman penulis saya enak diajak ngomong, mudah mengerti kesulitan orang lain, ringan tangan membantu (tapi jangan dimanfaatkan ya!). Salah satu sisi humanis penulis adalah, seringnya ia tidak tega memasang harga mahal bagi bukunya sendiri hehehe. Ia rela memberi potonga harga, diskon, rabat, terhadap pembaca yang merengek meminta penurunan harga. Saya pribadi, kalau teman penulis menjual buku, seringkali bilang begini : kubeli dengan harga wajar. Gak usah diskon! Aku tahu sulitnya nulis buku! Maka yang seharusnya membeli buku dari seorang teman penulis, adalah temannya sendiri yang juga seorang penulis.

 

Hal Buruk yang Terjadi pada Penulis

Diluar kebanggaan, sisi humanis dan kesabaran yang biasanya melekat pada diri penulis; ada beberapa hal buruk yang mungkin menghampiri seseorang ketika ia memutuskan menajdi penulis. Hal ini harus disadari sejak awal agar orang tak hanya memikirkan hal muluk-muluk ketika menjadi penulis.

 

  1. Perjalanan panjang, mungkin seumur hidup

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk jadi penulis mahir?

3 bulan, 6 bulan, 2 tahun? Ketika bukunya telah terbit 5 atau 10? Atau setelah ia mengikuti workshop selama puluhan jam?

Saya ingin sedikit bercerita.

Salah satu impian saya adalah jadi penulis buku anak-anak. Entah karena masa kecil saya terlalu bahagia atau malah kelewat sengsara hahaha. Yang pasti, senang sekali menonton film yang berkisah tentang anak-anak seperti Heidi, Little House on The Prairie, Secret Garden. Bahkan nonton Barbie pun saya suka. Apalagi Narnia, The Bridge to Terrabithia, Charlie and Chocolate Factory dll. Buku-buku yang mengisahkan anak kecil saya suka banget! Kim, Rudyard Kipling. Serial Trio Detektif, Nancy Drew, Sapta Siaga. Yang terbaru adalah buku-buku karya Jostein Gaarner.

Kapan saya bisa seperti mereka?

Maka saya mencoba menulis cerita anak.

Alamaaak, susyeh!

Kalau lihat buku cerita anak : yah, cuma 16 halaman doang, gampang!

Hantu Kubah HIjau - resolusi kecil

Hantu Kubah Hijau : novel anak yang baru terbit setelah 10 tahun!

Nyatanya sulit. Saya ingin buat buku yang bisa dibaca oleh anak-anakku sendiri. Nyatanya, buku itu ternyata tak terbit-terbit hingga 10 tahun! Hantu Kubah Hijau adalah sebuah buku cerita anak, novel petualangan yang butuh waktu bertahun-tahun untuk terbit. Bahkan, ketika masuk meja redaksi saya masih dibimbing oleh tim editornya untuk terus mengembangkan cerita…

Hanya orang-orang bermental baja, punya lengan dan jari jemari otot kawat-besi yang bisa kuat belaja rmenulis, mengetik, ditolak, diedit, ketik ulang, edit lagi, direvisi dan seterusnya.

Kalau khalayak melihat akhir tahun 2017 ini beberapa buku saya terbit, itu bukan hasil kerja mulai Januari 2017. Tapi ada yang dikerjakan sejak 2016 (Reem), ada yang ditulis sejak 2015 (Polaris Fukuoka), ada yang dikerjakan sejak 2007, hiks hiks…

Pelatihan, workshop, camp atau apapun namanya hanya dapat memantik keinginan untuk menulis. Selebihnya, penulis harus punya jiwa baja untuk terus berjuang mengembangkan diri –personal growth hingga ia mencapai titik kesabaran yang dibutuhkan dan titik kekuatan yang paling besar untuk mampu mengubah dunia : lewat mengubah dirinya terlebih dahulu.

 

Reem ditulis 2016, Polaris Fukuoka dirancang sejak 2015

 

  1. Gagalnya buku di pasaran

Jangan menilai Dan Brown, Andrea Hirata, Habiburrahman el Shirazy dari karyanya yang sekarang sudah laris manis bahkan mendunia.

Mereka pernah merasakan bagaimana pahitnya buku gagal. Mereka adalah orang-orang yang bukunya pernah gagal, dikritik bahkan tidak pernah diprediksi akan menjadi penulis tenar.

Dan Brown bahkan pernah mengubah namanya menjadi Daniella Brown, dengan prediksi bukunya lebih laris. Nyatanya tidak juga. Saya sendiri pernah berpikir jangan-jangan nama Sinta Yudisia kurang laku. Enaknya diganti apa ya? SY Danti, terinspirasi SH Mintarja. Atau S. Yudi W; mengingat nama maskulin lebih meyakinkan daripada nama feminin. Alhasil saya kembali pada nama asli : Sinta Yudisia. Walau itu kependekan dari Sinta Yudisia Wisudanti.

Buku yang gagal di pasaran?

Hehehe…japri aja ya, kalau mau tahu 🙂

Saya ingat nasehat seorang teman pengusaha sukses : kalau mau jadi pengusaha sukses, harus bisa sabar melihat barangnya numpuk tak terjual. Itu ujian kesabaran yang akan mengasah diri. Maka saya mencoba sabar dan berbesar hati melihat beberapa jenis buku masih menumpuk belum terjual. Seiirng waktu, orang akan menanyakan buku-buku kita yang lain ketika satu buku laris di pasaran.

 

  1. Cepatnya write off

Ini terkait dengan nomer 2. Kalau gagal di pasaran, biasanya cepat write off atau dikembalikan hak terbitnya ke penulis. Ini salah satu momen paling menyedihkan bagi penulis. Ketika sepucuk surat dilayangkan dari penerbit : mohon maaf, buku anda ditarik dari peredaran. Bukan lantaran subversif, kontorversial, memicu hate speech, hoax dan sejenisnya. Tapi karena tak laku! Rasanya pingin nangis garuk-garuk dinding.

Inilah bagian dari personal growth.

Kita jadi belajar untuk berkembang, adaptasi, menyesuaikan diri ketika buku gagal.

Apakah akan terus menulis?

Apakah akan meningkatkan kapasitas menulis?

Apakah akan beradaptasi?

Apakah akan ngotot dengan kualitas karya yang itu-itu aja?

Tentu, tidak mesti harus leat kegagalan. Kalau bisa; jadikan kegagalan saya sebagai pembelajaran bagi semua. Jadi mari sama-sama belajar.

 

  1. Kritik pedas terhadap karya.

Penulis, sebuah profesi yang berhubungan dengan banyak orang , apalagi ketika karyanya terbit. Bahkan, sebelum terbit dalam bentuk buku dan ia melontarkan gagasan-gagasannya dalam bentuk quote, meme, potongan cerita; orang-orang sudah bisa memberikan komentar. Komentar manis-manis tentulah ada. Komentar yang menusuk, wah, sudah pasti.

Kok ceritanya itu-itu aja?

Endingnya pasti sudah bisa ketebak.

Kenapa diterbitkan indie? Gak laku di mayor ya?

Wah, lagi-lagi cerita tentang dunia kampus. Anak pesantren. Cinta-cintaan.

Covernya terlalu dark. Kurang menarik.

Dan lain-lain.

Profesi penulis adalah profesi yang siap dengan kritikan, sindiran, bahkan mungkin dituduh memplagiat sesuatu padahal penulisnya merasa terinspirasi dengan sebuah buku hingga karakter tokoh, alur cerita sampai endingpun tanpa terasa terbawa dalam imajinasinya.

Saya punya teman penulis yagn punya kometnar keren ketika dia dituduh menulis karya-karya yang mainstream, alias kisah yang itu-itu aja. Kisah cinderella, upik abu, atau kisah picisan princess prince.

“Memangnya kenapa kalau kita menulis hal yang mainstream? Kalau kita justru mahir disitu dan mampu memolesnya dengan indah? Masih banyak orang yang butuh bacaan dengan isi yang mainstream. Mereka tetap butuh pencerahan dengan cerita yang ringan.”

Iya ya.

Bagi saya, kisah orang hijrah pakai jilbab, mainstream. Taaruf, nikah muda, mainstream. Jatuh cinta dengan ikhwan berjenggot, mainstream. Cerita rohis di kampus, mainstream. Terpesona dengan kecantikan muslimah berjilbab, mainstream.

Tapi, bagi anak-anak remaja SMP SMA yang belum banyak pengalaman; kisah mainstream itu bisa jadi sangat baru bagi mereka. Cinta monyet yang pernah saya alamai dan rasakan; belum banyak dirasakan anak-anak muda zaman sekarang sehingga mereka tetap butuh panduan versi kekinian. Maka buku-buku mainstream itu tetap dibutuhkan. Penulis-penulis baru harus belajar menulis kisah mainstream dengan cara meningkatkan kualitas karya.

 

 

  1. Stigma & kurangnya pengakuan terhadap profesi

“Apa pekerjaan anda?”

“Penulis.”

“Mmm…maksudnya?”

“Saya penulis freelance, nulis buku motivasi, novel.”

“Oooh.”

Pertanyaan itu sering terlontar ketika di bank, kantor polisi, sekolah, dan lain-lain. Orang masih belum tahu dan karena ketidak tahuan, belum menghargai profesi penulis. Belum lagi, penghargaan profesi menulis ini belum seideal seperti yang diharapkan. Pejabat, tokoh besar, orang penting; seringkali mengontak penulis untuk berbagai kepentingan. Jangankan memberikan fee yang layak, bahkan terkadang, penulis tidak diberi imbalan apapun untuk menuliskan sebuah kisah.

Ini terjadi pada beberapa teman saya yang diminta untuk menuliskan kisah-kisah tertentu; lalu tidak diberi imbalan sama sekali meski pada awalnya dijanjikan imbalan. Tentu saja, teman-teman penulis juga harus mawas diri tentang pentingnya perjanjian di awal. Dan tidak perlu sungkan untuk menuliskan hitam di atas putih; apa saja hak kewajiban dan berapa besaran fee yang diharapkan. Termasuk, bila dibutuhkan dana untuk menggali informasi, wawancara, transpor kesana kemari; tentunya harus ditanggung oleh pengguna jasa penulis.

Memang, penghargaan terhadap profesi ini masih belum selayaknya.

Tetapi lambat laun, seiiring komitmen kita pada dunia kepenulisan, insyaallah orang semakin paham profesi penulis dan semakin menghargainya.

 

Reem : buku ke 61, Novel  ke 19 dan Sekilas Kisah di Dalamnya

 

Inspired by true story.

Akhirnya novel ini terbit juga. Setelah melalui perjuangan panjang seorang penulis. Apa sih perjuangan panjang penulis?

  1. Menyelesaikan novel : mulai menggali ide, membuat outline, mengembangkan cerita, menentukan prolog-ending-konflik-tokoh dsb
  2. Menentukan penerbit (akhirnya diterbitkan Mizan, lini Pastelbooks)
  3. Berkolaborasi dengan editor dan tim
  4. Menentukan cover
  5. Merancang promosi seperti bedah buku dll

Nah…panjang kan?

Begitulah sebuah buku. Melalui proses panjang dan bahkan setelah terbitnya, tetap harus dirawat keberadaannya. Ibarat anak, tidak hanya dilahirkan tapi harus dirawat dan dibesarkan. Sebab jangan sampai sebuah produk yang mati-matian dihasilkan setelah melewati serangkaian pajang; harus terbit segera dan menghilang seketika.

 

Reem kecil.jpg

 

Reem

Reem adalah nama seorang gadis yang luarbiasa.

Ia gadis cantik, berdarah asli Palestina. Sungguh, ternyata dalam dirinya mengalir darah Indonesia. Ayahnya asli Palestina, Gaza sementara ibunya berasal dari Kalimantan. Takdir Allah Swt mempertemukan kedua orangtua Reem dan mereka menikah; lalu memiliki putri tunggal bernama Reem. Baik ayah dan ibu Reem, keduanya berprofesi sebagai dokter.

Kisah dalam novel Reem tidak 100% nyata, sebab sebagiannya adalah fiktif.

Namun sosok Reem benarlah ada.

Ia seorang gadis yang sangat cantik, pernah masuk majalah Perancis untuk memperagakan beberapa busana muslim. Reem menolak tour ke Eropa sebab ingin konsentrasi di studinya. Ia hafal Quran sejak usia 11 tahun. Menekuni sasrta, sejarah dan berharap bisa menjadi seorang mufassir.

Reem, sosok gadis tangguh lapang dada.

Ia ingin terus mengabdi di kamp pengungsian namun Allah Swt menentukan lain. Tanpa diduga Reem berada dalam kanker stadium lanjut. Dengan hafalan Quran, sakit yang diderita, kemampuan sastra dan keahliannya melukis; Reem terus berkiprah hingga Allah Swt menentukan garis akhirnya.

 

Adaptasi Novel

Cinta menjadi bagian penting dari sebuah cerita. Sebab cinta erat kaitannya dengan emosi manusia. Munculnya tokoh-tokoh fiktif dalam cerita ini untuk memberikan gambaran kepada pembaca, tentang lika liku kehidupan Reem. Kasim yang jatuh cinta padanya saat berorasi di depan gedung parlemen Rabat. Alya dan Ilham yang konyol, kocak, senang bertikai dan ramai kalau bertengkar; berada di sekeliling Kasim. Dokter Salim Aziz yang menangani sakitnya Reem, juga turut jatuh hati pada gadis penghafal Quran yang berbudi mulia ini.

Fez, Rabat : Rue Sukarno, Lorong rahasia

 

Setting Maroko mendominasi.

Kota-kota indah seperti Rabat, Fez, Marrakesh menjadi bagian di dalamnya.

Meski ada jalinan kisah rahasia antara Kasim dan Reem, keduanya tetap menjaga batas-batas.

Saya suka menyisipkan filosofi dalam setiap novel yang saya tulis.

Salah satu jimat terkenal Maroko, yang sebagian besar dihuni suku Bar bar dan Amazigh, dikenal sebagai hamsa hand. Hamsa hand berbentuk telapak tangan dengan lima jari. Apa makna hamsa hand? Baca sendiri di novel Reem ya…

Mana pula tempat di Maroko yang mengesankan?

Banyak.

Tetapi yang suka petualangan dan misteri akan menyukai lorong-lorong rahasia kota Fez. Yang suka festival akan menyukai Chez Ali dengan pertunjukan heroik para pangeran berkuda yang berlomba menyelamatkan seorang putri.

Tempat favorit saya yang harus muncul di novel Reem?

Sebuah jalan bernama Rue Sukarno. Betapa negarawan bangsa ini begitu dihormati di mata dunia.

 

Bagian Mengesankan dari Novel Reem

 

Sinta, Zaitun dan Maroko - kecil.JPG

Maroko & Palestina : kebun zaitun terbentang

Puisi.

Reem sangat menyukai puisi.

Maka dalam novel ini bertebaran puisi-puisi baik karya Reem sendiri, karya saya, maupun karya penyair Palestina Iqbal Tamimi dan Mahmud Darwish. Puisi tentang cinta, penghambaan pada Robb, hingga keberanian setiap warga Palestina dalam mempertahankan tanah airnya. Bila tak mampu mempertahankan negara;  maka kecintaan tiada henti pada tanah air, menggalang donasi, memperkenalkan budaya Palestina, berkiprah di kamp pengungsian dan mengajar anak-anak yatim piatu korban perang adalah sedikit hal yang dapat dilakukan. Dan Reem, melakukan itu.

Silakan menikmati 🙂

 

Novel ini diadaptasi dari skenario film karya Beni Setiawan.

 

Mengutip Sastra Cinta bagi Palestina

 

 

Aku tidak lagi bisa berbual-bual menulis tentang Palestina. Sudah cukup berita mewartakannya. Terlalu sakit jejak yang ditorehkan dalam hati, sementara kita tak bisa berbuat apa-apa selain berduka dan mengutuk.

Hari ini aku ingin berbagi kepada kalian semua dan mereka , kepada anda dan kamu, kepada kita dan kami. Kepada pembaca blog, facebook dan siapapun yang masih dapat mengeja simbol. Palestina akan selalu ada. Dalam debu, dalam batu, dalam angin, di riak ombak dan laut, dalam perundingan-perundingan dan sastra-sastra dunia.

Aku cuplikan, ketikkan ulang, secuil bagian heroik dari buku tentang Palestina yang kumiliki. Secuil ini semoga menggelitik hati, untuk ikut memikirkan sesuatu tentang Palestina.

 

Moonlight on Holy Palestine.JPG

Kisah indah dan heroik

Moolight on The Holy Land Palestine ~ Yahya Yakhlif

 

…….

Di sebuah jalan kecil menuju Jerusalem, kami berhenti di sebuah gerumbulan phon zaitun di pinggir jalan untuk makan dan istirahat. Kapten Ma’moun duduk bersama-sama kami, makan seperti yang kami makan, dan mengobrol bersama. Dia menebarkan optimisme, menginpsirasi kami dengan keberanian dan keteguhan hati, memenuhi jiwa kami dengan kegembiraan karena turut ambil bagian dalam mempertahankan kota suci Jerusalem.

Dia berbicara dengan aksen Damaskus yang elok, dan tak pernah melepaskan kacamata yang membuatnya terlihat lebih menarik dan menjadikan warna kulit Damaskusnya terlihat lebih terang.

“Aku mulai mempercayainya,” kata Najib saat kami kembali ke truk dan iring-iringan melanjutkan perjalanan. Najib minum dari botolnya, lalu bergumam : “Kapan kita akan sampai ke Jerusalem?”

 

………..

Kami menuju ke markas regional untuk istirahat sebentar. Kemudian kapten Ma’moun menerima telegram dari komandan tertinggi dan memanggil kami agar bekumpul.

“Saudaraku,” katanya ,” pertempuran di Mishmar Haemek semakin berat. Musuh telah berhasil menambah kekuatannya, dan kita harus membantu membantu membendung serangan mereka.”

Dan itulah yang kami lakukan, membendung gempuran pasukan Hagannah yang menyerang kami pada sebuah front luas. Sebagian besar pasukan kami dipaksa mundur menghadapi serangan gencar dari pasukan yang lebih superior dalam jumlah dan kelengkapan. Kami berhasil menerobos kepungan atas korp artileri yang terjebak, melakukan tindakan penyelamatan, dan setelah melalui pertempuran yang sengit, kami berhasil mengeluarkan korp tersebut. Kapten Ma’moun, yang memimpin tugas penyelamatan itu tertembak dan terkapar. Akhirnya, pertempuran mereda dan pasukan kami kembali ke posisi semula. Spirit kapten Ma’moun yang syahid terus menyemangati kami layaknya seekor burung hijau. Meskipun dia telah meninggal, kami merasakan kehadirannya hidup bersama kami, dan kami mengulang-ulang kisah tentang keberanian, karakter, dan kesederhanaannya. Komandan tertinggi telah memilih beberapa orang, termasuk Asad Al Shohba, untuk mengawal jenazah kapten Ma’moun ke Damaskus.

Sebuah pertempuran yang sungguh aneh, penuh pelanggaran, berakhir dengan penarikan mundur pasukan dan kamipun tak mendapatkan apa-apa. Aku dipromosikan menjadi komandan peleton. Meskipun demikian, akudikepung oleh perasaan pahit, benci dan malu.

Kami kembali ke posisi semula, di pinggiran al Mansi. Seragam kolonel Nour Al Din masiih tergantung di dinding kamar, namun rompi peluru tak terlihat lagi disitu. Aku lalu teringat Najib, yang mengucapkan salam perpisahannya dan pergi.

Aku pikir berkah Tuhan akan menyertai lelaki pemberani itu,  kemanapun ia pergi. Semoga mimpi-mimpinya dipenuhi dengan rusa, kupu-kupu, dan bunga; dipenuhi dengan pemandangan pohon muknissat al janna ; dan dipenuhi dengan bau orang yang dicintainya, yang telah menginspirasikan hatinya dengan gairah tak pernah padam.

 

A Little Piece of Ground (Bola-bola Mimpi) – Elizabeth Laird

 

Bola bola mimpi.JPG

Anak-anak Palestina yang pembernai tapi konyol, kocak dan lucu setengah mati!

Ledakan itu, meskipun lebih mirip suara “gedebug”, sempat membuat ketiga anak itu terlompat kaget. Debu beterbangan dari jemabtan di bawah sana. Selama beberapa saat, mereka tidak bisa apa-apa. Setelah debu-debu itu mulai menipis, mereka melihat ketiga tentara itu keluar dari pesembeunyian . Kantong plastik itu sudah lenyap, tapi serpihan plastik dan kertasnya masih melayang-layang di udara, dan akhirnya jatuh ke tanah. Salah seorang tentara menendangi serpihan-serpihan itu dengan kesal. Seorang lainnya menarik tentanra stres itu ke pinggir, lalu membungkuk dan mengambil sesuatu. Dia menunjukkan sesuatu itu pada yang lainnya, meneriakkan kata-kata mirip sumpah serapah, lalu membuangnya. Dia kemudian kembali ke jalan raya.

“Apa itu tadi? Apa yang kamu taruh di dalamnya?” tanya Karim.

Hopper menyeringai senang.

“Batu. Aku tulisi Palestina Merdeka di satu sisi , Matilah Israel di baliknya, dan Pecundang di sepanjang pinggirannya.”

“Oh, Wow! Kereeen..!” mulut Joni sampai menganga saking kagumnya.

“Tapi, mereka kan nggak bisa baca tulisan Arab,” sergah Karim.

“Aku tulis dalam bahasa Inggris, kok.”

Hopper baru saja mengucapkan hal lain ketika suara yang menusuk telinga mulai terdengar. Suara itu mendengung semakin keras.

“Helikopter!” desis Karim. “Mereka menyisir daerah ini. Mereka pasti melihat kita! Kita bakal tertangkap!”

Hopper tidak membuang-buang waktu lagi. Dia langsung mencari tempat berlindung, di atap terbuka itu.

“Di bawah tangki air! Disana!” katanya, “kita harus sembunyi!”

“Nggak ada gunanya,” pikiran Karim berpacu dengan waktu. “Mereka pasti punya alat pendeteksi panas. Mereka pasti menemukan kita. Kita harus masuk ke gedung!”

 

 

 

Jalan jalan di Palestina.JPG

Salah satu buku yang aku suka sekali

Palestinian Walks : Notes on a Vanishing Landscape – Raja Shehadeh

………

Betapa aku iri pada Abu Ameen yang hidup dengan percaya diri dan aman di bukit tempat ia lahir dan mati, yang ia yakin takkan berubah selamanya. Pernahkah Abu Ameen memimpikan suatu hari bukit-bukit bebas tempat ia biasa melarikan diri dari kekangan kehidupan di desa takkan lagi bisa dikunjungi oleh keturunannya? Betapa para pendaki gunung dari mancanegara tak tahu betapa beruntungnya bisa berjalan di negeri yang mereka cinta tanpa amarah, rasa takut, atau tak aman. Betapa berharganya bisa berjalan-jalan tanpa wacana politik berseliweran di kepala, tanpa takut kehilangan apa yang telah mereka cintai, tanpa resah hak mereka untuk menikmatinya akan dirampas. Hanya untuk berjalan-jalan dan menikmati dan menikmati apa yang ditawarkan alam, seperti yang dulu bisa kulakukan.

………

 

Kadang-kadang , ketika bangun pagi dan menatap keluar keperbukitan, aku membayangkan Abu Ameen berdiri di pagi hari di atas qasr-nya jauh di atas bukit. Ia dikelilingi kabut yang memenuhi lembah dan menyamarkan lipatan bukit-bukit, membuat segalanya tampak  licin. Di sekitarnya aku bisa melihat kabut telah sampai ke tiap lipatan dan lekukan lembah, menciptakan danau-danau yang beruap di antara bukit-bukit yang kering dan terpanggang. Ia terus berdiri di ranah yang kini telah terubah itu, mengikuti naiknya matahari di langit, mengamatinya mengisap kabut, mengosongkan danau-danau malam tadi, dan mengembalikan bukit-bukit itu ke keadaan mereka yang lumrah, kering dan bergelombang.

Jika seseorang mencari Abu Ameen, awalnya dia takkan bisa langsung melihatnya, namun begitu kabut mulai memudar dan matahari makin mencerah, muncullah sesosok yang cerlang. Sulur-sulur kabut yang mengelilinginya akan bercahaya terkena sinar matahari. Kerlap kerlip yang berwarna warni akan menerangi tubuhnya, memberinya sayap-sayap seakan ia dapat terbang di atas lembah, sosok yang fana laksana unggas liar atau dewa bukit yang pucat.

Aku sering penasaran kepada Abu Ameen sementara aku berdiri di pagi hari menatap ke pedesaan. Apa yang akan ia katakan jika melihat negerinya sekarang? Akankah jiwanya mendidih dengan amarah pada kami yang membiarkan tanahnya dihancurkan dan diambil alih, ataukah ia hanya akan menikmati satu sarha panjang lagi, membiarkan jiwanya mengembara bebas di atas negeri ini, tanpa kekangan batas-batas, seperti keadaannya suatu waktu dulu?

 

 

Reem ~ Sinta Yudisia

Insyaallah terbit Juli atau Agustus 2017

Reem Cantik Palestina.jpgReem