Skizofrenia (Gila) : from What to How (3)

Why- mengapa seseorang dapat menjadi gila?
Setelah sebelumnya membahas what-apa dan who-siapa saja yang dapat menderita skizofren, timbul pertanyaan mengapa seseorang dapat mengalami skizofren dan yang lainnya tidak? Toh ada orang yang kehilangan pekerjaan, ongkang-ongkang kaki, merokok, jalan-jalan dan tetap no problem meski menjadi beban keluarga. Ada orang yang kehilangan pacar, malah bangkit dan bolak balik pacaran serta memutuskan hubungan dengan enteng; sementara di sisi lain seorang gadis putus cinta sekali sudah berakhir di RSJ? Ada orang yang menderita diabetes mellitus , tetap optimis serta melakukan diet, kehidupan karier –cintanya berjalan begitu dinamisnya.
Mengapa terjadi skizofren?

1. Genogram : rantai faktor genetik.
Beberapa sifat kepribadian dibentuk oleh genetik, lalu dibentuk oleh pola asuh, lingkungan, gizi dst. Bila orangtua pendiam, anak-anaknya beberapa akan pendiam juga. Bila orangtua mudah cemas, anakpun demikian. Kakek nenek, ayah ibu, yang memiliki bakat skizofren akan menurunkan pula bakat tersebut pada anaknya (tentang bagaimana mengatasi, akan dibahas lebih lanjut, dilengkapi kisah-kisah sejati)

2. Batas kemampuan
Setiap orang memiliki nilai ambang.a_busy_street_by_kaipu-d4co80o
Ada orang yang sanggup makan cabai 10 dengan tahu goreng 1, tanpa kepedasan. Ada orang yang hanya makan cabai 1, sudah setengah mati pedasnya. Ada anak yang di-bully-ing tetap cuek, sekolah, asyik beraktivitas sendiri. Ada anak yang dua hari saja bermusuhan dengan sahabatnya (padahal masih banyak teman yang lain) rasanya sempit dunia. Ada orang yang tidak punya uang tetap bisa menikmati suasana, ada orang yang begitu uang di dompet tinggal 100 ribu, cemas bukan main.

Masing-masing orang memiliki nilai ambang.
Rumitnya, fisik dapat terlihat. Semisal tensi tiba-tiba naik, orang mudah menyesuaikan diri dengan diet garam, misalnya. Lalu kapan kita tahu, bahwa rutinitas sehari-hari yang tampaknya sepele ternyata menggerogoti kemampuan jiwa untuk bertahan?
Kemarahan yang mudah meledak akibat hal sepele, insomnia berhari-hari, cemas berlebihan, gemetar bila menahan emosi adalah sedikit ciri-ciri bahwa psikis mulai harus diberikan kelonggaran.

3. Tidak ada dukungan
Menanggung segala beban sendiri, tampaknya menjadi keharusan yang dipikul masyarakat millenium dewasa ini. Saat ayah ibu sibuk dengan urusan pekerjaan, remaja yang tengah berkembang dalam ledakan hormonal dan emosi tak mendapatkan bahu sebagai tempat bersandar. Seorang ibu yang kelelahan dengan setumpuk kerjaan kantor dan rumah tangga, mendapati suaminya pun memiliki beban kerja yang tak kalah beratnya.
Situasi kota yang panas, padat, membuat orang bersegera ingin menyudahi urusan dan tak ingin terlibat masalah dengan banyak orang. Semakin sedikit menjalin pertemanan, semakin sedikit masalah. Tampaknya demikian. Padahal semakin sedikit berinteraksi dengan manusia lain, semakin rentan seseorang dengan pikiran-pikiran negatifnya sendiri.
lonely

4. Tipe kepribadian
Tipe kepribadian A, B, C yang cenderung mengalami gangguan kepribadian menjadi salah satu penyebab munculnya skizofren. Sebagai contoh, tipe kepribadian A yang aneh dan eksentrik pada orang-orang yang paranoid terhadap sesuatu, membuat distorsi kognitif. Takut berbagi dengan orang lain, khawatir akan bocor, tersebar luas, alih-alih mendapat jalan keluar; akhirnya masalah hanya dipendam sendiri. Takut akan masa depan akibat pekerjaan yang belum tetap. Takut belum mendapatkan jodoh di usia yang sudah matang.

Begitupun tipe B, salah satunya narsistik. Merasa bahwa dirinya yang paling unggul, paling cantik, paling pandai dan paling pantas terhadap posisi tertentu. Sehingga dalam ajang audisi kecantikan misalnya, bila peserta lain yang mendapatkan juara akan merasa juri tak adil. Atau merasa bila pekerjaan bukan dikerjaan oleh dirinya sendiri, akan berakhir berantakan.

Atau tipe C, salah satunya obsesif kompulsif. Tak pernah yakin, selalu ketakutan bila ada hal detail yang belum ditunaikan. Takut bahwa seantero warga kota pembawa kuman berbahaya sehingga jemari tangan dan seluruh badan mudah terkontaminasi, akibatnya menjaga kebersihan dengan sangat ekstrim.crying_face_by_angeli7-d68uvtn

5. Terlalu berlebihan
Terlalu berlebihan dalam menghadapi sesuatu, menjadi salah satu faktor pemicu. Baik terlalu mempermudah, atau melebih-lebihkan. Manusia memeiliki psikodinamika yang meliputi aspek emosi, kognisi, motivasi, sosial yang harus seimbang. Terlalu berlebihan menekankan pada salah satu akan menimbulkan kerapuhan disisi yang lain sehingga ketika menghadapi situasi yang tak dapat dikendalikan oleh salah satu faktor, runtuhlah ketangguhan kepribadian.
Sebagai contoh, orang yang hanya mengedepankan aspek kognisi atau inteligensi, beranggapan semakin pandai, tinggi kedudukan seseorang; semakin kaya dan mudah hidupnya. Padahal dalam hidup banyak terjadi peristiwa tak terduga yang tak dapat diselesaikan dengan inteligensi. Orang sakit, tak akan banyak berfungsi inteligensinya, tetapi kehidupan sosial akan memberikan pengaruh. Bila kontak sosialnya baik, ia dijenguk, diringankan bebannya, insyaAllah akan segera sembuh.
Dalam usaha perekonomian misalnya, bukan hanya faktor relasi sosial dan inteligensi yang berpengaruh. Pasar banyak diatur oleh invisible hand, bila tiba-tiba collaps, maka aspek emosi yang berperan.

6. Nutrisi
Sebagian penyandang skizofren memang mengalami nutrisi yang kurang. Nutrisi ini bila dimulai sejak masa awal kehidupan, dapat mempengaruhi inteligensi dan kondisi syaraf-syaraf otaknya. Pasien-pasien di bangsal seringkali berasal dari wilayah-wilayah yang tandus, mengalami malnutrisi sejak masa pertumbuhan dan dilanjutkan dengan kesehatan yang serampangan di masa dewasa.

7. Inteligensi
Inteligensi bukan satu-satunya faktor penentu, namun turut menyumbang dalam kasus skizofren. Pengidap skizofren umumnya memiliki inteligensi di bawah rata-rata meski akhir-akhir ini ditemui pula para sarjana, orang-orang dengan kecerdasan tinggi yang mengidap skizofren.
Mereka yang berinteligensi rendah, tak mampu mencari jalan keluar bila masalah menghadang. Saat dikeluarkan dari pekerjaan, berpikir bahwa pekerjaan tersebut adalah satu-satunya lahan pendapatan. Padahal, dengan mengandalkan kecerdasan yang dikaruniakan Allah berapapun skornya, skill dan aspek-aspek yang lain, insyaAllah selalu tersedia rizki.

2 thoughts on “Skizofrenia (Gila) : from What to How (3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s