Kontroversial Video Logan Paul tentang Aokigahara dan Upaya Mengatasi Commit-Suicide

 

Kita selalu merinding mendengar kata bunuh diri atau commit suicide.

Kematian adalah salah satu hal yang pasti akan dialami makhluk hidup. Namun bagaimana akhir hidup manusia, sungguh merupakan perenungan bagi kita semua. Sebagian manusia meninggal karena wabah kelaparan, peperangan, bencana alam, endemi penyakit atau human error seperti kebakaran dan kecelakaan. Walau bila bicara takdir, maka semua telah tertulis di lauhil mahfuz.

Tetapi, menjadi kewajiban manusia beriman dan berakal untuk mencermati segala fenomena yang terjadi dan berupaya sebaik mungkin menanggulanginya. Wabah penyakit misalnya, manusia berupaya sebaik mungkin untuk mengenali demam berdarah; mulai mencegah, mengenali tanda, memberikan pertolongan pertama hingga memberi perawatan sampai mencapai taraf kesembuhan. Belum lama ini di wilayah Jawa Timur utamanya Surabaya, dikejutkan dengan wabah difteri. Maka pemerintah dan masyarakat ramai-ramai menggalakkan vaksin.

Bencana yang disebabkan human error misalnya, pun dicoba diatasi sebaik mungkin.

Kebakaran? Banjir?

Kalau disebabkan karena buang puntung rokok sembarangan, sampah menumpuk; maka semua harus diantisipasi. Kecuali apabila kemarau panjang yang menimbulkan kebakaran dahsyat seperti di Australia tempo hari. Bagaimana dengan commit suicide? Apakah ia human error ataukah takdir yang tidak dapat diubah?

Kembali, kita tidak akan membahas takdir namun kita akan berupaya sebaik mungkin untuk mengatasi, atau mencegahnya.

Chester Bennington, Jonghyun dan Marilyn Monroe

Sederet artis papan atas dikabarkan bunuh diri.

Yang terus dikenang sepanjang zaman adalah Marilyn Monroe. Artis cantik nan sensual ini, seharusnya mendapatkan apa saja yang dapat diraih dunia; bila kebahagiaan itu senilai materi. Tetapi, Monroe tidak mendapatkannya. Ia mengalami abuse sejak kecil, suami pertamanya memperlakukan tidak baik dan pada akhirnya ia menjadi bintang bom seks. Monroe mendambakan kehidupan sebagai istri dan ibu, maka ia pernah berkata : “kalau perempuan disuruh memilih antara karier atau keluarga, pilihlah keluarga. Aku sangat ingin punya anak dari rahimku sendiri.”

Ya.

Monroe yagn sensual dikabarkan berkali-kali mengalami keguguran.

Menjelang akhir hayat ia menjalin kasih dengan JF Kennedy, dan sungguh ia berharap itu merupakan kisah cinta sejati. Meski kerabat dekat sudah mengingatkan, mustahil Monroe menjadi first lady karena meski ia sangat menawan sebagai bom seks, publik Amerika tetap akan memilih Jacquline Onassis sebagai ibu negara!

Chester Bennington pun memiliki masa lalu yang sangat tak stabil. Vokalis idola anak muda yang sangat legendaris dengan Meteora nya ini, mengakhiri hidup sehingga publik merasa sangat terkejut sebab sangat sedikit grup musik semacam Linkin Park. Nyaris tak percaya di puncak keberhasilan, dipuja jutaan penggemar, memotivasi anak-anakmuda, menghentak dengan genre rock berbeda; tetap saja tak membuat Bennington nyaman dengan semuanya.

Jong Hyun?

Books about Korea

Kita akan memahami mengapa ia memilih mengakhiri hidup bila telah membaca Korean Cool –Euny Hong.

“Setiap negara maju, pasti memiliki ironi,” tulisnya. Bila belum memiliki ironi, maka ia bukan negara maju. Dengan kata lain, menurut Hong, kemajuan negara pasti akan menimbulkan paradoks. Negara yang makmur, maju, tenang, damai, sukses; belum tentu terlihat seperti apa di permukaan. Kerja keras pejabat dan rakyat, kadang harus dibayar mahal. Untuk menciptakan kemakmuran setiap orang harus bekerja lebih dari waktu rata-rata. Setiap orang harus berpikir untuk maju, sukses, berhasil; dan mereka yang menghambat kemajuan akan terpinggirkan.

Euny Hong menyebutnya ‘masa perbudakan’. Setiap warga Korea paham, bila belum mencapai target, mereka akan rela dalam masa perbudakan. Itulah sebabnya, boyband dan girlband rela berada dalam masa karantina dari 5 hingga 13 tahun. Mereka berlatih vokal, berlatih menari, berlatih tampil, berlatih manggung dan seterusnya hingga ketika debut muncul : sempurna. Sehari latihan bisa memakan waktu belasan jam, kalori makanan terkontrol dan aktivitas harian pun terjadwal.

Inilah ironi.

Dunia berdecak dengan hallyu yang menganeksasi dunia. Berbeda dengan Amerika yang daya serangnya hard melalui milter dan ekonomi, Korea Selatan sangat soft : melewati budaya. Dan betul kata Hong , “Korea memiliki apa yang tak dimiliki Amerika. Kami pernah menjadi negara dunia ketiga. Jadi kami pernah tahu bagaimana rasanya menjadi terbelakang.”

Kita mengelu-elukan boy band dan girl band. Tapi pernahkah kita tahu apa penderitaan mereka, ratapan hati, tangis dan kelelahan di balik panggung? Sekali mereka melakukan kesalahan, hujatan mengalir.  Lebih gemuk, berjerawat, bermuka masam dan sejenisnya; publik menghujat. Padahal para idol adalah manusia juga yang ingin sesekali menjadi diri mereka apa adanya. Ingin bersantai, bermalas, membangkang; yah, mirip anak muda pada umumnya.

 

Aokigahara dan Bunuh Diri

Hutan Aokihagara dan film the Forest

Pernah lihat film the Forest yang mengambil tempat di Aokigahara? Aokigahara terletak kurang dari 100 mil arah barat Tokyo, terkenal karena keindahan hutan dan gua-guanya yagn eksotik. Serta, pepohonan rimbun yang menjadi tempat persembunyian sempurna bagi orang-orang yang ingin mengakhiri hidup.

Budaya bunuh diri Jepang sangat dikenal masyarakat dunia, sebagian berdecak kagum, sebagian sangat menentang. Seppuku, kamikaze, harakiri dan sejenisnya merupakan  tindakan lelaki Jepang dalam mempertahankan kehormatan. Mereka lakukan bila kalah perang atau justru melakukan serangan bunuh diri untuk menyentak lawan. Tradisi yang awalnya dipakai sebagai upacara kehormatan ini bergeser menjadi sebuah perilaku yang bukan hanya dilakukan kaum militer tapi masyarakat biasa. Bila dulu orang mengenal tradisi bunuh diri dilakukan oleh para samurai yang kalah tanding dan para serdadu Jepang ketika kalah perang dunia ke-2; maka orang-orang zaman kini lebih mudah melakukan tanpa melewati perang tanding atau perang medan laga. Yang penting merasa ‘kalah’ maka bunuh diri dilakukan. Kalah dalan cinta, kalah dalam akademis, kalah dalam bisnis, kalah dalam pekerjaan, kalah tidak mencapai apa-apa. Kalah, bahkan sebelum kita mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri.

 

Hutan Aokigahara dan Logan Paul dengan video kontroversialnya

 

Cara memandang bunuh diri bagi masyarakat Jepang dan masyarakat dunia lain, pasti berbeda. Vlogger yang mungkin memandang konsep bunuh diri secara berbeda, adalah Logan Paul yang videonya tengah viral.

Paul Logan bisa mengolok-olok Aokigahara dan tradisi bunuh diri masyarakat Jepang sementara videonya menempati ranking 10 teratas dunia. Kontan, publik mengecam youtube karenea video itu bebas ditonton. Saya tidak akan membahas dunia maya sebab tidak memiliki kehalian di sana, tetapi lebih memilih menyikapi bagaimana kita memandang bunuh diri sebagai sebuah tradisi, dan sebagai sebuah perilaku yang tampaknya mulai lazim dilakukan.

 

Mengapa Bunuh Diri?

Sungguh, keprihatinan ini menyeruak mencermati kondisi sekeliling. Apalagi, tradisi bunuh diri lekat dengan masyarakat Jepang dan sekarang Korea Selatan, yang gelombangnya tengah diminati anak-anak muda Indoensia. J-pop dan K-pop sangat memikat; maka tak ada salahnya kita mencoba memelajari kultur kedua bangsa tersebut dan mengambil apa yang baik bagi Indoensia dan menyaring apa yang kurang tepat bagi bangsa ini.

Di novel Polaris Fukuoka, dikisahkan Yamagata Isao bunuh diri. Adiknya, Nozomi sempat berniat melakukan hal yang sama tetapi persahabatannya dengan Sofia mencegahnya melakukan hal ini. Mengapa Isao bunuh diri? Tekanan akademik dan tuntutan orangtua, yang berseberangan dengan bakat minatnya, membuat dirinya melakukan hal itu.

Mengapa saya mengangkat tema ini?

Saya pernah melakukan tes bakat minat untuk anak SMP. Dan ketika hasil tes keluar, saya konsultasikan dengan guru-guru sekolah; tampaklah bahwa orangtua tidak dapat menerima begitu saja bakat minat anak mereka. Ada seorang anak yang memiliki dua orangtua sukes sebagai ahli medis. Orangtuanya berharap anaknya pun seperti itu. Padahal ketika tes bakat minatnya keluar, yang muncul adalah kecenderungan literasi, aesthethic dan social service! Sungguh tidak nampak kecenderungan ke sains dan medikal. Sangat disayangkan bila orangtua masih memaksa anak-anaknya menjadi sesuatu, karena pertimbangan status dan ekonomi.

 

Kutipan percakapan Sofia dan Nozomi membahas bab bunuh diri

Demikian pula Isao.

Ia yang sesungguhnya ingin jadi pemusik, dengan kecerdasan otaknya dipaksa harus menjadi mahasiwa di universitas terkemuka. Begitu pula Nozomi. Tentu saja, diharuskan demikian karena bisnis keluarga mengharuskan para pewaris harus menekuni ilmu tertentu dan menguasai keahlian tertentu; walau bakat minat tidak mendukung.

Demikianlah, sebuah ironi.

Kemajuan dan kemapanan, bila tanpa pemahaman emosional yang baik dan pendekatan nurani akan menimbulkan kekacauan hati dan kegalauan pikiran. Dan, begitu mudahnya orang memutuskan bunuh diri ketika kalah.

“Di titik apa seseorang memutuskan bunuh diri?” tanya Sofia pada Nozomi.

“Di titik ketika mereka merasa diabaikan,” jawab Nozomi.

 

Perbedaan Budaya dan Tradisi

Eropa dan Amerika berbeda.

Di wilayah ini, kultur individualis telah terasah sejak dini. Kemandirian, memutuskan sesuatu secara individual dan bukan kolektif; biasa dilakukan. Anak tidur terpisah sejak kecil, anak usia 18 tahun bebas hidup serumah dengan pacarnya, anak remaja naik mobil dan mengkonsumsi alkhol ; sudah diputuskan sejak usia 18 tahun. Diabakan, hidup sendiri, sudah menjadi kebiasaan; walau akhir-akhir ini fatherless family pun memunculkan masalah baru. Terbiasa mandiri dan individualis itu bukannya tanpa masalah.

Bagaimana dengan dunia timur : Indonesia, Jepang, India, Korea?

Kita masyarakat kolektif.

Menikah butuh pertimbangan paman bibi, kakak adek, kakek nenek, tetangga sepupu dll.

Kuliah pun demikian. Cari jodoh pun demikian. Bekerja pun demikian. Maka pertimbangan banyak orang seringkali jadi perhatian yang memusingkan. Walau diri sendiri sudah tak mampu menanggulangi, tetap harus memikirkan oranglain. Inilah ironisnya.

Perasaan tertekan dan tidak mampu mengungkapkan apa yang ada di dalam benak dan hati; bagi masyarakat timur lambat laun menjadi batu yang menghimpit. Maka bila tidak dikomunikasikan, disalurkan dengan baik; di titik tertenu menajdi perasaan kalah yang membabi buta : mati lebih enak (seperti sebuah novel karya Alistair Maclean). Walau ternyata, di novel tersebut dikisahkan, perjuangan seseorang untuk mati sama sulitnya seperti perjuangan seseorang yang mencoba hidup!

 

Mengatasi Bunuh Diri

Peduli, itu kuncinya.

Mindfulness of others, cobalah mempertimbangkan pikiran dan perasaan orang lain. Cobalah peduli dan berbicara pada orang yang tengah membutuhkan sandaran dan telinga; sebagaimana yang dilakukan Sofia dan Tatsuo pada Nozomi. Memang, orang yang tengah punya masalah bisa jadi sangat membebani. Mereka mengungkapkan keluhan dan permasalahan sementara orang yang tengah mendengarkanpun jugamemiliki segudang masalah yang tak kurang beratnya; tetapi itu dilakukan karena hati dan batin mereka, mental mereka sedang rapuh dan sakit. Kalau kita sedang banyak pikiran, inginnya mengomel, kan? Lagi marah, pinginnya mengumpat. Lagi sedih, inginnya meratap dan menangis.

Demikian pula dengan orang yang punya banyak beban menghimpit, sampai tak tahu harus bagaimana lagi. Mereka ingin mengosongkan pikiran dan hati yang pepat, ingin mencurahkan keluar, ingin mencari tempat pelarian. Masih untung bila mereka menemukan teman, sahabat, saudara yang jadi tempat berbagi. Kadang, ingin curhat di medsos bukannya dapat simpati dan empati; malah dimaki-maki.

Maka, di pusat-pusat rehabilitiasi mental kita akan menemui orang yang afeksinya tumpul. Sedih banget, mendapat penderitaan bertubi, menerima kemalangan beruntun; malah tertawa (ini sebetulnya salah satu tanda ketumpulan afeksi yang harus diwaspadai) Orang skizofren tidak lagi tahu beda bahwa sedih itu menangis dan senang itu tertawa. Mereka marah, senang, sedih, biasa, akan  selalu tertawa. Depresi dan skizofrenia yang akut; bisa menimbulkan pemikiran shortcut . Entah itu melukai oranglain, atau bila tak memiliki kekuatan melukai oranglain, akan berbalik melakukan self-harm. Awalnya hanya menjambak diri sendiri atau membenturkan kepala, tetapi lambat laun bila tak tertahankan, akan melakukan hal pintas yang dianggap mengakhiri penderitaan.

Bunuh diri adalah perilaku yang harus diwaspadai.

Berbeda dengan pelaku free sex, drug abuse, pornografi dsb yang masih dapat diperbaiki, bunuh diri sungguh fatal sebab pelakunya langsung meninggal dan tak ada lagi yang dapat diperbaiki. Maka pemerintah dan masyarakat harus waspada terhadap kasus ini. Paul Logan mungkin harus mendapatkan peringatan tetapi videonya membuat orang terhenyak : apakah sekarang perilaku bunuh diri sudah tidak membuat orang menjerit, menangis, dan ngeri; tetapi malah membuat orang excited dan tertawa? Apakah sesungguhnya Logan Paul itu kita : semakin lucu (meski prank dan menyusahkan orang), semakin menakutkan, semakin sadis, semakin membuat bulu kuduk merinding maka itu akan membuat klik meninggi dan viewers membanjir?

Semoga video Logan Paul tidak mencerminkan kita. Ia telah membuat klarifikasi videonya tentang Aokigahara yang terkenal sebagai  suicide forest. Di video tersebut, Logan Paul mengambil video dengan latar belakang tubuh orang yang mati bunuh diri sembari tertawa-tawa dan mengunggah ungkapan yang kurang pantas.

Ke depannya, kita harus mewaspadai dengan perilaku dan kecederungan teman-teman kita, keluarga kita untuk beunuh diri.

Atau bahkan, kita harus mewaspadai diri sendiri, apakah telah tampak keinginan untuk bunuh diri?

 

 

Iklan

Baju Sial, Laba yang Bawa Rezeqi & Larangan Makan di Cobek

Percaya ada baju yang bawa sial? Saya punya 1. Moga gak nambah, sebab punya 1 aja udah buat senewen. Setiap pakai baju itu ada aja hal menjengkelkan terjadi. Bahkan, teman, sedang memikirkan untuk menulis cerita ini aja…eh mendadak saya lagi di kamar mandi lampu mati sampai teriak-teriak, “helloooo! Adakah yang gangguin Ummi dengan matikan lampu kamar mandi?”

Hehehe, sebab saya suka iseng gangguin anak-anak. Kalau mereka di kamar mandi, saya matikan lampu.

Baju ini sering banget buat saya kesal. Padahal baju ini salah satu baju resmi yang pantas dikenakan buat acara formal. Dulu berupa kain hadiah seseorang, dan saya jahitkan menjadi sebuah baju. Sampai-sampai saya berpikir : jangan-jangan ketika baju ini dibuat, ada ritual tertentu hingga selalu aja ada hal jelek mendatangi.

Mau tau apa aja hal menjengkelkan yang terjadi?

Mulai disemprot orang, kesasar, kejadian-kejadian yang tak diharapkan terjadi (tebak sendiri!), hingga delay pesawat berjam-jam. Malu gak sih, pas saya mau ngisi acara pakai baju ini tetiba izin ke panitia,” maaf dek, ada kamar mandi? Saya mau ke belakang.”

Tetiba perut mules tiada tara! Padahal biasanya kalau saya mau ngisi acara, saya akan atur jadwal makan : gak boleh pedes, gak boleh MSG, gak boleh instan dll. Perut saya tergolong sensitif (pake bangettt).

Saya anggap baju ini bawa sial. Atau pertanda sial. Atau penyebab sial.

Yah, akhirnya, baju ini saya simpan aja di lemari. Mau dikasih orang juga gak mungkin. Selain baju itu kenang-kenangan, andaikata benar bawa sial, masa saya delivery ke orang kesialannya?

Sampai suatu ketika, saya merenung.

Habis baca buku Marie Kondo, bahwa barang-barang yang tidak menimbulkan kebahagiaan lebih baik disingkirkan; saya mulai berpikir tentang baju itu. Dibuang, enggak. Dikasih ke orang, enggak. Dirombeng, enggak. Kalau disimpan, ditumpuk-tumpuk di lemari, gak digunakan sama sekali; hanya akan mengundang ketidak berkahan. Maka tak ada cara lain kecuali mencoba memakai baju ini lagi, dan melawan kesialannya.

Hari itu, hati deg-degan.

Wah, kesialan apa yang akan aku alami hari ini?        Dag dig dug. Menduga-duga. Berpikir-pikir. Menerka-nerka.

Sejak belum pakai baju itu, hati ini berdoa, berbisik pada Allah Swt ,” Ya Allah, andai baju ini bawa sial, lindungi aku dari kesialannya. Andai baju ini buruk, lindungi aku dari keburukannya.”

                       Baju ‘sial’ yang jadi untung

Sejak belum pakai pakai baju itu aku banyak baca istighfar, shalawat nabi dan segala macam dzikir yang dapat terucap. Luarbiasa, hari aku memutuskan pakai baju ‘sial’ itu, ternyata ada banyak keberuntungan terjadi. Aku mengisi 2 acara , mendapat banyak bingkisan dan mendapat banyak teman baru serta pengalaman baru. Nyaris hari itu tidak ada kejadian mengesalkan, kecuali 1x saja yang kuanggap, yah, kebetulan belaka. Kira-kira, apa yang mengubah baju ‘sial’ itu jadi baju ‘untung’?

  1. Berdoa kepada Allah Swt sebelum memakainya.
  2. Sepanjang memakai baju itu banyak istighfar, baca shalawat dan dzikrullah
  3. Selalu positif thinking
  4. Banyak senyum agar happy
  5. Mempersiapkan agenda hari itu dengan matang agar tidak tertimpa eksialan yang sesungguhnya merupakan kecerobohan kita

 

                        Laba-laba pembawa rezeqi

“Kalau ada onggo-onggo, jangan diusir!”

Itu kata ibuku, berpesan kepadaku agar behati-hati bila melihat onggo-onggo.

 

laba laba gonggo

Laba Gonggo (Onggo-onggo)

Tahu onggo-onggo? Sejenis laba-laba yang biasanya nangkring di sudut pojok dinding rumah, dan binatang ini tidak selalu terlihat. Sesungguhnya, ada beberapa hewan yang dianggap pembawa keberuntungan atau malah kesialan. Tokek, yang disunnahkan untuk dibunuh, ternyata oleh orang Jawa dianggap pembawa berita baik. Kejatuhan cicak, dianggap sebagai pertanda sial.

Bagiku, tokek hewan yang menakutkan. Dan gigitannya kata orang cukup berbahaya. Maka aku merasa lebih baik hewan ini diusir dari rumah, bila kita tak mampu membunuhnya. Perihal laba-laba, aku ingat bahwa ini salah satu hewan yang melindungi persembunyian Rasulullah Saw di gua bersama sahabat beliau Abubakar ra. Maka, terlepas dari ia membawa berita baik atau tidak, aku memang enggan mengusirnya. Kecuali bila sarang laba-laba di sudut rumah sudah  menumpuk-numpuk.

Bagaimana dengan kupu-kupu?

Kata orang-orang Jawa kuno, adanya kupu-kupu pertanda akan mendapat tamu tak diundang. Umumnya tamu yang membawa kabar bahagia. Entah benar atau tidak, tapi semasa kecil rumahku pernah kemasukan kupu-kupu. Lalu trataaaa….nenekku datang tiba-tiba. Wah senang sekali! Mungkin saja itu kebetulan belaka.

Berbagai kepercayaan yang berkembang di masyarakat, sesungguhnya merupakan pengetahuan empiris yang tidak dapat diambil kesimpulan mutlak berdasarkan teori yang sudah baku.

Kepercayaan bahwa anak perempuan yang menyapu tak bersih akan punya suami brewokan, menjadi salah satu nasehat yang sering diungkapkan orangtua pada anak-anak perempuan. Yah, kalau orang barat dan orang Turki yang dari sononya sudah bawaan brewokan, apa berarti semua istri mereka gak pintar menyapu rumah? Kadang, ancaman-ancaman untuk menakuti anak atau cucu, bermanfaat supaya mereka segera menghindari perilaku yang kurang baik.

Sambal di cobek.JPG

Jangan makan nasi di cobek!

“Jangan makan nasi dari cobek, nanti jauh jodohnya!”

Sambal di cobek yang tinggal sedikti, enak banget kalau dicolek dengan nasi. Tapi emang sih, melihat orang makan dari cobek, rasanya gimanaaa gitu. Maka orangtua biasanya bilang : nanti jauh jodoh.

“Jangan duduk di depan pintu. Nanti jauh jodoh!”

Yah, kalau orang duduk di pintu, biasanya bikin sebel kan? Menghalangi yang mau lewat dan terpaksa bilang : permisi, nyusun sewu, ngapunten blablabla. Serba nggak enak kan? Maka dibilanglah : jauh jodoh.

Ada nasehat-nasehat trasidional yang masih dapat digunakan dan bahkan menjadi pedoman, namun sebagian yang lain, perlu diperhatikan karena kebaikan isi nya dan tidak perlu diyakini sebagai hal yang sungguh akan terjadi. Misal, terpaksa duduk di pintu karena saat pengajian, ruang tamu shahibul bait dipenuhi jamaah pengajian dan kita terpaksa duduk di pintu, maka bukan berarti jodohnya jauh.

 

 

 

 

Ketika Issue Negatif terhadap Ulama Tidak Berpengaruh

 

 

Kampanye hitam dan issue negatif terhadap satu pihak sudah digunakan sejak lama untuk menjatuhkan martabat lawan, dan diharapkan dapat mendongkrak posisi penyerang. Sejarah mencatat bagaimana Rasulullah Saw dianggap sebagai penyihir dan pendusta tetapi semua terbantahkan sebab jejak hidup beliau memang tidak tercerminkan dalam berita bohong yang tersebar. Fitnah terhadap Aisyah ra dalam kisah terkenal haditsul ifki, dihembus demikian kuat, tetap tak dapat menghitamkan jejak ummahatul mukminin shalihat yang terkenal sangat cerdas serta sangat menjaga shaumnya. Muhammad Al Fatih pernah dianggap berambisi pada kekuasaan dan melakukan konspirasi ketika dua saudara laki-laki tiri Al Fatih, Ahmad bin Murad dan Alauddin Ali, meninggal terbunuh. Namun kampanye hitam itu terhapus. Sebab bagaimana mungkin orang dengan watak licik mampu mengorganisasikan pasukan bernyali sekaligus luhur budi? Ketaatan dan kedekatan Al Fatih pada ulama besar di masanya seperti Mollah Ghorani dan Aq Syamsuddin, semakin menghapus berita dusta. Mereka yang dekat dengan ulama, adalah mereka yang tahu batas antara kebenaran dan kebathilan.

syaikh-yusuf-qardhawi-dan-dr-hidayat-nur-wahid

Syaikh Yusuf Qardhawi & Dr. Hidayat Nur Wahid

Dalam surat al Maidah ayat 41 dikabarkan bahwa orang-orang Yahudi gemar sekali percaya pada berita bohong – hoax istilah zaman sekarang. Hoax dengan komponen yang membangkitkan bias negatif memang sangat digemari masyarakat, utamanya karena informasi ini benar-benar memainkan perasaan, keputusan, serta bagaimana proses informasi di jalur mental seseorang berjalan (Lang, Park, et al, 2007)

Apakah kampanye hitam terhadap pihak lawan bermanfaat untuk menjatuhkannya, memperkuat posisi penyerang dan memenangkan pertarungan? Apakah hoax dan bias berita negatif akan mengunci seluruh informasi dan benar-benar membuat orang hanya cenderung ke satu sisi?  Penelitian di lapangan akan memberikan jawaban.

 

Membangun Emosi Negatif

Emosi negatif terhadap kampanye hitam membuat kualitas dan kuantitas seseorang menurun dalam pertimbangan politik, pencarian informasi maupun penambahan pengetahuan politik.

Secara garis besar emosi manusia terdiri atas lima hal : marah, takut, jijik, bahagia dan sedih. Tiga emosi negatif yang pertama menjadi bahan penelitian ahli sosial yang mengaitkan dengan issue-issue di media, terutama media sosial. Emosi jijik tersisih, yang tersisa adalah emosi marah serta takut yang memberikan informasi penting. Ternyata respon fisiologis dan kognitif manusia amat sangat berbeda saat merespon takut dan marah.

Rasa takut terhadap issue negatif politik membuat orang terpacu mencari informasi dan belajar politik (Valentino et al, 2008) Tetapi tidak dengan rasa marah. Rasa marah akibat kampanye negatif membuat dampak yang berbeda dari rasa takut. Mereka yang terpicu amarahnya justru akan berbalik dari rasa takut; pada akhirnya enggan belajar politik sebab beranggapan politik adalah hal paling busuk dalam sejarah tatanan manusia. Pertimbangan-pertimbangan terhadap politik menajdi sarkastik, atau malah pragmatis.

Pendek kata, kampanye negatif yang membangkitkan rasa takut akan menjadikan orang lebih berperilaku positif,  dalam hal ini terkait information seeking dan recall. Namun kampanye negatif yang membangkitkan amarah akan menjadikan orang berperilaku negatif baik dalam information seeking maupun recall.

Informasi negatif lebih dapat membangun respon emosional, kognitif dan perilaku dari target sasaran dibanding informasi netral dan positif. Apakah para penyerang bermaksud demikian? Boleh jadi. Berita-berita yang menebarkan kemarahan akan cepat sekali mendapatkan respon masyarakat, dibanding berita yang menebar ketakutan. Masarakat diharap membuat respon cepat yang bedasarkan pertimbangan cognitive heuristic , tanpa sempat mencari informasi yang akurat dalam membangun kerangka berpikir yang menuju ke arah penyelesaian solutif. Ingatkah beberapa hari lalu beredar di media sosial tentang unggahan status seseorang yang ingin membeli al Quran dan kertas di dalamnya dipakai untuk membersihkan tinja? Atau unggahan pihak-pihak yang mengatakan sosok ini bukan ulama, sosok itu adalah penebar makar, dengan bahasa-bahasa yang menmbangkitkan kegusaran. Untungnya, masyarakat Indonesia semakin waspada sehingga melakukan information seeking terlebih dahulu sebelum bertindak.

Kali ini,  masyarakat pun dibuat marah dengan pemberitaan terkait ulama yang mendapatkan perlikau tak pantas di ruang persidangan. Padahal, dalam struktur kaum muslimin, ulama dihormati sedemikian dalam dan luas sebagaimana agama lain menghormati para pemimpin spiritualnya. Masyarakat seperti  artis, pejabat, penguasa terbiasa mendatangi ulama untuk beragam kepentingan. Rakyat kecil dan selebritis umumnya membutuhkan kehadiran ulama sebagai penyejuk hati dalam menghadapi seribu satu persoalan hidup. Pejabat dan penguasa mendatangi ulama untuk fatwanya, untuk dukungan kekuatannya,  untuk penggalangan suara dari ratusan ribu bahkan jutaan santri yang dimiliki para alim ulama.

Kita berhutang budi pada ulama

 

Dampak Kampanye Hitam Terhadap Ulama

Apakah tujuan kampanye hitam dengan menebar issue negatif?

Salah satunya adalah agar masyarakat memiliki ingatan lebih memorable ketika me-recall satu informasi yang pernah masuk dalam ingatan. Ingatan ini betul-betul tajam dan diharapkan dapat membantu di ruang-ruang pemilihan. Menjatuhkan seseorang akan membuat pihak penyerang mendapatkan posisi angin. Ingatan ini membuat masyarakat cenderung ke satu pihak, dengan kecenderungan yang sangat besar. Harapan ini tampaknya berbeda dengan penemuan di lapangan, bila memang kondisi yang terjadi benar-benar jujur tanpa rekayasa.

Kampanye hitam dengan issue negatif justru menurunkan rasa political efficacy, kepercayaan terhadap pemerintah dan secara keseluruhan merusak public mood  (R. Lau et all, 2007). Rakyat semakin resah dan tidak memiliki mood baik terhadap politik, enggan pula mencari informasi yang akurat, pada akhirnya lebih mempercayai berita hoax dibanding percaya pada kebenaran. Bila rakyat lebih percaya pada issue-issue negative –terlebih hoax-, dapat kita bayangkan. Negara adidaya seperti Amerika pun dibuat limbung sebab presidennya, pemerintahannya, rakyatnya saat ini lebih mempercayai issue negatif. Tidak selamanya berita hoax dan issue negatif  menguntungkan pihak penyerang sebab pada akhirnya baik informasi negatif yang menimbulkan rasa takut dan marah akan menghasilkan satu sikap : information seeking dan recall.

 

Ingatan terhadap Ulama

Recall adalah proses memanggil ulang yang sangat penting dalam proses kognitif. Dalam bersikap dan bertindak, manusia seringkali melakukan berlandaskan azas kognitif dengan memanggil ulang informasi yang pernah didapat. Bagaimana orangtua menghadapi anak-anak, dengan memanggil ulang ingatan masa lalu terhadap apa yang pernah dialami sendiri di masa kanak-kanak. Bagaimana menghadapi situasi, dengan memanggil ulang informasi yang membantu mengatasi situasi tersebut.

Recall atau memanggil ulang ingatan terhadap ulama, telah kita miliki bertahun-tahun bahkan puluhan tahun.

Apa skema dalam otak kita terkait ulama?

Mereka yang memiliki pesantren, mengurus anak-anak yatim hingga anak-anak yang paling dibuang masyarakat. Mereka yang memiliki ilmu agama mendalam dan luas, menempuh pendidikan di pusat-pusat studi Islam di seantero tanah Arab, Afrika dan keseluruhan Maghribi. Mereka yang menghabiskan hari-hari dengan mengorbankan seluruh hidup bagi agama. Mereka yang babat alas, mendirikan pesantren mulai dari nol hingga menjadi madrasah besar. Mereka yang bergerak dalam diam, ketika para politisi berorasi di atas mimbar dan pengusaha mempertontonkan kesuksesan. Mereka yang  saat hidupnya dicari untuk dimintai nasehat, mereka yang saat wafatnya ditangisi para pelayat.

Membuat issue negatif terhadap ulama di Indonesia, tidak akan membuat masyarakat me-recall informasi negatif terhadap sosok tersebut. Sebab selama puluhan tahun, informasi yang tertanam di benak adalah keluhuran dan kemuliaan mereka. Memang, ada ulama yang lebih mencintai dunia dan tidak berpihak pada masyarakat yang menderita, namun prosentasenya sangat sedikit. Ribuan alim ulama di negeri ini, mendampingi masyarakat di saat-saat sulit. Memberikan nasehat agar rakyat selalu bersabar dan bukankah nasehat ulama ini sangat bermanfaat bagi posisi penguasa?

Maka, kampanye hitam terhadap ulama, issue-issue negatif yang menyudutkan ulama, berita-berita bohong dan berita yang memicu kemarahan terkait ulama tidak akan mengubah proses recall masyarakat terhadap profesi mulia ini. Sungguh, ulama adalah asset bangsa yang luarbiasa, yang posisinya didapat bukan karena harta atau pangkat, tapi karena ilmu dan kemuliaan.

Bila Ali Sadikin yang spektakuler membangun Jakarta saja begitu menghormati Mohammad Natsir sang ulama, lalu apalah kita yang belum berbuat apa-apa; berani mencaci maki ulama?

 

Sinta Yudisia

Penulis dan Psikolog Klinis

Arti Ulama bagiku dan keluargaku

 

 

Jauh sebelum gonjang ganjing jagad perpolitikan, keluargaku telah mengenal kiai dan ulama. Kami memanggil ulama itu dengan sebutan “pak Yayi, Gus, Kiai, Ustadz”. Tergantung kebiasaan santri masing-masing. Para kiai atau ulama yang kami sambangi, mungkin tidak setenar Habieb Rizieq, Hidayat Nur Wahid, Bachtiar Natsir, KH MA’ruf Amin. Tapi kehadiran mereka sungguh-sungguh kami rasakan demikian dekat, demikian mengayomi, demikian membantu. Ada beberapa peristiwa kritis dalam hidup kami yang ,tanpa bantuan alim ulama, entah hidup kami seperti apa jadinya.

  1. Ketika remaja, ayahku didagnosa penyakit diabetes namun rangkaian sakitnya benar-benar aneh. Kata orang-orang, ayah kami kena santet. Saat itu aku belum pakai jilbab dan agamaku masih jauh sekali dari cukup. Aku ikut saja mamah pergi dari satu kiai ke kiai yang lain. Umumnya mereka memiliki analisa sama : ayahku terkena santet. Satu yang mengesankan dan akan kukenang sampai kapanpun, para kiai tersebut mengatakan : “tidak usah dibalas santetnya. Biarkan saja. Yang penting Ibu rajin sholat.” Dalam bayangan anak kecil seprtiku saat itu : ngapain gak balas santetnya? Dikirim balik aja biar mereka juga mati dan merasakan sakit seperti ayah. Belasan tahun kemudian kusadari, para kiai itu mengajarkan hal sederhana kepada kami : bab aqidah. Serahkan saja pada Allah karena itu perkara ghaib. Lagipula, setan suka membuat makar : bilang kalau penyantetnya adalah si A, padahal bukan. Lalu kita kirim balik, maka kita akan mendapatkan dosa yang  sangat besar.

 

  1. Ketika harta kelaurga habis sehabis habisnya. Masih dalam rangkaian santet. Semua asset keluarga tak bersisa. Rumah, mobil, perusahaan, tanah-tanah. Mamah pintar berbisnis. Beliau sempat menabung dan membelikan setiap anaknya rumah untuk masa depan. Belum sampai rumah itu dibagikan, semuanya ludes-des-des. Tidak ada yang tersisa bahkan perabot pun harus binasa. Entah terjual, hilang, atau diambil orang. Mama menyambangi satu kiai ke kiai yang lain. Jawaban mereka sama : sedekah, sedekah, sedekah. Mama awalnya nggak menyadari, denial Wong lagi susah kok malah sedekah. Belakangan b eliau baru sadar….selama ini harta sedemikian banyak tidak pernah dibersihkan dengan zakat, infaq, sedekah. Mama masi minim sekali pemahaman agamanya. Perlahan, dengan didampingi para alim ulama, pemahaman agama mama berangsur membaik dan beliau sering menyarankan pada anak-anaknya untuk memperbanyak sedekah.

 

  1. Setiap keluarga memiliki masalah kritis. Keluarga kami diuji Allah Swt dengan beberapa ujian yang bukan saja bab harta. Abang, sejak muda terlibat narkoba. Entah berapa kali sudah mama harus berurusan dengan polisi, rumah sakit, orang-orang yang mengamuk karena barang mereka menghilang (penderita narkoba akan melakukan apapun untuk membeli barang). Rumah ssakit hanya mampu mengobati sesaat. Kepolisian lebih meneyrahkan perkara itu untuk ditangani dengan cara kekeluargaan. Lalu, kemana seorang janda seperti mama yang telah habis ludes barang-barangnya mengobati abangku yang telah menjadi pecandu? JAwabannya adala pesantren dan para kiai atau ulama. Mereka mempersilakan mamaku yang tak punya uang untuk datang ke pesantrennya. Mereka memeprsilakan abangku untuk tinggal di pesantren-pesantren beliau. Betapa kehidupan ulama,s antri dan pesantren demikian “hidup” dan sederhana.

“Sin, Mama belum pernah makan seperti di pesantren X. Hanya pakai sayur jipang bersantan tapi enaaak banget, Masyaallah. Kalau di pesantren Y Mama cuma makan nasi sama teri. Ya Allah…kenapa makan di pesantren2 itu terasa nikmat banget ya?”

“Di pesantren A, kita jarang banget tidur, Sin. Tapi kok badan Mama jadi fit ya. Kita tidur seringkali sampai jam 22.00 atau malah jam 24.00. Nanti jam 02.30 sudah bangun untuk mandi wuwung –mandi keramas. Ternyata nikmat banget ya…habis itu sola tmalam. Lanjut Shubuh.”

“Di pesantren B Mama diajak shaum Daud. Mama gak pernah berpikir kuat puasa Daud, ternyata luarbiasa. Kamu harus coba, Sin!”

Ketika ada kerabat yang mengalami problematika rumah tangga luarbiasa, kami membawanya kepada para kiai. Para kiai dan ulama tersebut bukan psikolog, bukan konselor, bukan konsultan. Tapi ucapan-ucapan beliau sangat menohok hingga membuat orang-orang yang bermasalah itu menunduk, kadang bercucuran airmata.

Ini beberapa nasehat ulama yang menohok para saudaraku yang tertimpa musibah dalam pernikahannya.

“Gimana mau tentrem rumah tangganya? Rumahnya gak pernah dipakai sholat berjamaah!”

“Pernikahan itu, kalau suami istri gak mau saling mensyukuri, ya akan terus menuntut. Akan panas! Akan membuat rezeqi mampet!”

“Kalau suami sudah tidak bisa menjadi qowwam, lelaki yang seharusnya menjadi pemimpin dalam  urusan agama, maka perempuan boleh menggugat cerai.”

“Nduk, berhati-hatilah ketika berbuat salah ya. Nanti membayarnya susah sekali…”

 

  1. Pengalaman nenekku, almarhum. Nenek ini orang yang luarbiasa, demikian cantik dan sabar serta sangat halus bertutur kata. Namun, bukan berarti beliau tidak pernah marah. Konon kabarnya, kalau beliau marah bisa takut orang-orang di sekitar. Ya, biasanya orang yang sabar sangat mengerikan ketika meledak! Putri nenek 4 orang , perempuan semua (mamaku putri beliau yang pertama). Nenek janda ketika mama masi sangat kecil, dapat dibayangkan pahitnya perjuangan beliau membesarkan 4 anak perempuan di era penjajahan Belanda, Jepang, maupun masa-masa sulit Indonesia di awal kemerdekaan. Menghadapi 4 orang putri yang luarbiasa tantangannya, sering membuat nenek menangis. Kemana nenek yang janda, dilanda kesulitan mulai anak-anaknya kecil hingga putrid-putrinya dewasa mencari bantuan?

Ke alim ulama.

Nenek bercerita padaku, “suatu saat, Nenek sangat sedih memikirkan mama kamu, Sin. Nenek lalu ke kiai A. Kata beliau : coba banyak-banyak baca Alam Nasyrah dan baca artinya.”

Waktu itu tafsir Quran belum seperti sekarang.

Nenek melanjutkan : “habis baca Alam Nasyrah, Nenek sadar. Allah telah melapangkan hidup Nenek. Selalu saja dilapangkan. Lalu dikasih ujian lagi. Dilapangkan lagi. Begitu seterusnya. Bacalah itu kalau kamu tiap kali merasa susah ya.”

  1. Sebagai konselor dan psikolog, aku selalu lari ke alim ulama. Mengapa? Sebagai terapis, aku tau bagaimana menjalankan tahapan psikoterapis mulai awal, mengakhirinya hingga psychological report writing. Tetapi di titik mana aku harus meningatkan klien-klienku untuk terus bertahan dengan masalah mereka atau segera move on, utamanya dalam kasus pernikahan? Tentu, fatwa para ustadz, alim ulama, telah membantuku dan menyelamatkan –atas izin Allah Swt- banyak keluarga-keluarga : teruskah mereka hidup bersama pasangan atau bismillah, berpisah?

Seorang alim ulama pernah memberikan nasehat yang menjadi panduanku dalam proses piskoterapis dan konseling, utamanya kasus pernikahan :

Bila pasangan murtad, maka otomatis lepaslah tali ikatan pernikahan

Bila salah satu pasangan bermaksiat (berselingkuh, berbohong, melakukan tindak criminal, KDRT pada pasangan dan anak, suami tidak mau mencari nafkah, gangguan orientasi seksual,  dll) maka dikembalikan pada kekuatan pasangan apakah mau bertahan ataukah tetap terus. Tetap terus disini dengan niat semua tahapan untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan dengan upaya semaksimal mungkin memperbaiki kondisi yang ada. Misal, bila pasangan berselingkuh, apakah pasangan di satu sisi akan bertahan, memaafkan, memperbaiki kondisi dll? Sangat tergantung dalam proses konseling, psikoterapi dan perkembangan keluarga tersebut.

Sungguh, tanpa bantuan para ustadz, kiai dan alim ulama; apa jadinya profesi-profesi yang berkaitan hidup dengan orang banyak seperti dokter, psikolog, guru, PNS dan lainnya?

syaikh-yusuf-qardhawi-dan-dr-hidayat-nur-wahid

Syaikh Yusuf Qardawi & Dr. Hidayat Nur Wahid

Teman-temanku para dokter, mereka sungguh berpegang pada fatwa ulama dalam menjalani profesi mereka. Teman-temanku para ibu dan istri, mereka sunggu berpegang pada fatwa ulama dalam memilih menjadi ibu rumah tangga dan meninggalkan karir yang gilang gemilang. Teman-temanku para perempuan bekerja, mereka berpedoman pada fatwa ulama bagaimana berdandan, tetap patuh pada suami, tetap membagi perhatian dengan anak-anak. Teman-temanku para pedagang, mereka berpegang pada fatwa ulama bagaimana cara berbisnis mulai dari promosi hingga jual beli. Teman-temanku yang berada di instansi pemerintah, dalam segala jajaran institusi, berpegangan pada fatwa alim ulama perihal gaji, uang syubhat, maupun insentif. Teman-temanku di segala penjuru yang menjadi konsumen, berpegangan apda fatwa ulama tentang produk halal : dari obat hingga cara pengobatan, dari makanan hingga bahan baku. Teman-temanku berpegang pada fatwa ulama bagaimana cara mencari jodoh, bagaimana jujur dalam studi dan bekerja, bagaimana menjaga adab di media sosial.

Tak bisa kubayangkan, seperti apa kerusakan bagi diriku pribadi, bagi keluargaku, bagi keluarga teman-temanku dan setiap individu bila mereka tidak dipandu dengan ilmu ulama dalam menjalani hidup ini.

 

Tahukah Anda, Mimpi di Malam Hari Punya Makna Tertentu?

 

 

Pernahkah kita menyadari bahwa mimpi bukanlah sekedar bunga tidur namun merupakan sebuah isyarat akan suatu kejadian yang diilhamkan olehNya?

Tentu tidak semua mimpi perlu ditafsirkan, sebab kita belumlah se sholih nabi Yusuf a.s yang mampu menerjemahkan mimpi-mimpi raja dengan tepat.

Dalam kitab Fathul Bari tercatat sebuah doa, bila kita ingin bermimpi yang baik.

doa-fathul-bari

Doa minta diberikan mimpi yang baik

Allahumma inni as-aluka ru’ya sholihatan, shodiqotan, nafiatan, hafidzatan, ghoiro man-siyatin.

“Ya Allah sesungguhnya aku memohon padaMu mimpi yang baik, benar, manfaat, berkesan dan tidak terlupakan.”

Sebelum tidur, memang kaum muslimin disunnahkan bersiwak, berwudhu, membaca 3 surat terakhir. Kadang-kadang kita dihantui mimpi buruk sehingga Rasululla Saw mensunnahkan begitu bangun untuk membaca ta’awudz. Mimpi buruk sebaiknya tidak diceritakan, sebaliknya mimpi baik lebih utama diceritakan.

Bagi Sigmund Freud, mimpi adalah emosi-emosi yang ditekan sedemikian dalam akibat reaksi menghadapi sebuah kejadian. Orang yang bermimpi buruk  mungkin mengalami kejadian traumatic.Orang yang jatuh cinta akan memimpikan orang yang dipujanya.

Dalam Islam, tentu makna mimpi tidaklah sama seperti Freud.

Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah menuliskan, saat seseorang tidur, beristirahatlah pula tubuh dan pikirannya namun semua inderanya sebetulnya dalam keadaan waspada penuh. Kulit kita lebih sensitif, maka sekalipun tidur kita dapat merasakan bila kecoak merambati lengan kan? Demikian pula mata, seolah-olah sangat tajam melihat sesuatu. Mimpi yang dapat diingat dengan baik setelah bangun tidur tanpa susah payah me-recall adalah isyarat Tuhan. Sebaliknya, mimpi yang lenyap dari ingatan adalah mimpi yang tidak memiliki pertanda. Demikianlah kata Ibnu Khaldun.

Lalu apa makna mimpi-mimpi kita?

Tafsir mimpi Ibnu Sirrin.JPG

Kitab tafsir mimpi Ibnu Sirrin

Berikut arti beberapa mimpi menurut pendapat Ibnu Sirrin. Ada ratusan tafsir mimpi di dalam buku tafsir beliau, namun saya sarikan berdasarkan mimpi yang juga pernah saya alami. Beberapa mimpi memiliki arti buruk. Saya pribadi bila mendapati mimpi yang bermakna buruk akan mencoba memperbanyak sedekah dan berdoa. Bukankah kata Umar ra, takdir dapat ditolak dengan doa? Begitupun kata baginda Rasul saw, sedekah dapat menolak bala?

  1. Gigi tanggal

Gigi tanggal bermakna anggota keluarga ada yang wafat. Saya ingat, dulu menjelang ayah dan eyang saya meninggal secara berdekatan, saya bermimpi gigi tanggal beberapa .

  1. Mengenakan pakaian

Mengenakan pakaian berwarna warni bermakna sukacita. Mengenakan pakaian hijau berarti akan mendapatkan kedudukan terhormat. Pakaian hijau adalah ciri khas penghuni surga. Sebaliknya bila pakaian yang dipakai berwarna kuning adalah isyarat sakit.

  1. Bercumbu dengan perempuan lain

Jangan cemburu membabi buta ketika bermimpi suami bercumbu dengan perempuan lain, bahkan sangat cantik! Ini bukan berarti isyarat suami berselingkuh.

Menurut Ibnu Sirrin, perempuan cantik bermakna kehidupan dunia. Bercumbu bersama perempuan cantik berarti akan bertambahlah beban hidup di dunia, entah itu dalam hal pekerjaan atau keluarga.

  1. Makan makanan lezat

Makan makanan bila terasa sekali kelezatannya berarti akan mendapatkan rezeqi dari Allah Swt.

  1. Menyusui anak-anak/ merawat anak-anak

Anak-anak berarti kesusahan, kerepotan. Bermimpi merawat anak-anak berarti akan mendapatkan kejadian-kejadian yang merepotkan.

 

  1. Memiliki rambut yang indah

Rambut indah diartikan sebagai mahkota, harta kekayaan dan martabat. Bermimpi memiliki rambut indah berarti akan bertambah kemuliaan dan kekayaan.

 

  1. Buang air besar

Buang air besar diyakini si pemimpi akan kehilangan uang dalam jumlah cukup besar karena satu kejadian. Bila bermimpi ini ; perbanyaklah doa, istighfar dan sedekah. Sebaliknya, mimpi membersihkan tinja atau kotoran bermakna baik.

 

  1. Mimpi membersihkan rumah

Mimpi membersihkan rumah insyaallah pertanda baik, si empunya akan mendapatkan rizqi dari Allah Swt.

 

  1. Mimpi bertemu seseorang

Mimpi bertemu seseorang memiliki makna akan mendapatkan bantuan atau pertolongan dari seseorang yang namanya tersebut dalam mimpi, atau seperti yang sifatnya sesuai nama dalam mimpi.

 10.Mimpi melihat mayat

Mimpi melihat mayat insyaallah pertanda baik, tanda si empunya akan mendapatkan karunia harta dari Allah Swt.

Dalam menafsirkan mimpi ini tentu anda tak bisa seperti ahli nujum, dapat menerka arti mimpi-mimpi orang-orang. Bisa jadi, seseorang diberi mimpi yang sangat istimewa sehingga tidak ada arti tafsirnya . Mimpi juga sangat individual sifatnya. Saya sendiri mengalami mimpi-mimpi seperti yang di atas dan belum mengalami sekian banyak ragam mimpi seperti yang ditafsirkan Ibnu Sirrin.

Dalam kitab tafsir Ibnu Sirrin ada beberapa mimpi istimewa yang saya sendiri belum pernah mengalaminya dengan jelas. Mimpi itu seperti mimpi bertemu para Nabi. Ibnu Sirrin memiliki sendiri kategori arti mimpi mulai apa arti mimpi bertemu nabi Adam as hingga bertemu nabi Muhamamd Saw. Demikian pula, Ibnu Sirrin menyusun tafsir ketika kita bermimpi membaca surat-surat dalam al Quran. Bermimpi membaca surat al Fatihah, berbeda maknanya dari surat al Baqarah, demikian seterusnya.

 

Mengapa saya tertarik membahas mimpi?

Sebab saya lebih mempercayai makna mimpi sesuai pendapat alim ulama seperti Ibnu Khaldun dan Ibnu Sirrin, dibandingkan tafsir mimpi seperti Freud yang lebih banyak mengemukakan basic instinct dan perasaan ter-repress. Meski, tentu saja tidak semua pendapat Freud salah. Membaca kitab ulama, membuat diri ini merasa tenang dan tahu kemana harus melangkah.

 

Bagaimana Merawat Cinta dalam LDR – Long Distance Relationship?

 

 

Tak dapat dipungkiri, di era sekarang, pasangan terpaksa berpisah karena tuntutan kesibukan masing-masing. Mungkin saja suami atau istri sedang menempuh pendidikan di luar kota, luar pulau, atau bahkan luar negeri. Padahal, sangat besar hasrat untuk bertatap muka setidaknya sekali sehari. Sangat ingin bertemu fisik, memeluknya atau bersalaman ketika suami pergi. Kenyataannya, tidak selalu suami istri dapat tinggal serumah karena satu dan lain hal. Ada pekerjaan suami yang mengharuskannya mutasi tiap beberapa tahun sekali sementara anak-anak tentu harus pindah-pindah sekolah bila ikut terus kemanapun ayahnya pergi. Idealnya memang demikian. Namun bila terpaksa menjalin LDR, apakah yang harus dilakukan pasangan?

LDR ini dapat terjadi ketika pasangan masih membina karier di awal-awal tahun pernikahan sebagaimana yang saya tulsikan dalam buku Psikologi Pengantin.

long-distance-relationship-ideas-300x224

 

  1. Doa

Jangan remehkan doa ya, seberapapun terlihat ringan. Ya Allah, jagalah dia untukku, misalnya dmeikian. Dunia ini dipenuhi partikel dan molekul yang saling bersinggungan dan memiliki keterkaitan. Gelombang elektromagnetik memengaruhi satu wujud materi dengan wujud yang lainnya. Doa-doa seorang ibu sangat bermanfaat bagi ianaknya, begitupun doa suami berguna bagi sitri dan demikian pula sebaliknya. Doakan ia disana sehat, semangat, bahagia dan setia.

Doa ini juga sangat bagus bagi afirmasi diri bahwa perjalanan cinta yang mengharuskan perpisahan menyakitkan akibat LDR seperti ini akan berjalan baik-baik saja hingga waktunya tiba berkumpul kembali.

Jangan lupa untuk mengingatkan pasangan disana agar juga berdoa. Toh doa tidak selalu harus dalam bahasa Arab.

“Sama-sama berdoa ya Say, agar kita dapat dipertemukan kembali segera olehNya.”

Siapa tahu, doa sepasang manusia yang sama-sama naik di langit ketujuh akan berjodoh di bawah ArsyNya dan terkabul menjadi sebua takdir pertemuan yang indah.

 

  1. Lakukan kebaikan

Sama seperti doa, dalam dunia ini selalu ada ‘karma’ , hukum alam bahwa kebaikan itu akan berbalik kepada si pelakunya.  Bersedekah secara rutin akan menolak bala. Bersedekah senyuman kepada orang-orang akan menuai kebahagiaan dan orangpun balik mendoakan kita.  Jangan suka berbuat buruk bahkan kepada hewan dan anak kecil yang tidak mampu menolak ancaman hehe…

Berhematlah. Jangan mentang-mentang tidak ada pengawasan maka diri bebas melakukan segala sesuatu. Tetaplah menjaga diri seolah-olah si dia ada di samping dan dapat memantau. Kalau si dia tiba-tiba memberikan kejutan waktu : tahu-tahu hadir dan ketahuan kalau kita lagi suka shopping dan menghabiskan waktu dengan hang out, serta tidak mempedulikan situasi rumah; runyam juga kan?

Ketika berjauhan, bukan berarti kendali menjadi lebih longgar, justru harusnya lebih ketat. Batasi hubungan dengan lawan jenis agar tidak terjadi syak wasangka.

 

  1. Positive thinking

Positive thinking adalah obat bagi penyakit-penyakit mental mulai yang berat dan ghaib macam terkena sihir dan santet hingga kecemasan (anxiety). Berita perselingkuhan, CLBK, cinta satu malam, TTM, friend with benefit, online infidelity memang marak. Tetapi tidak berarti pasangan melakukan itu semua lantaran ia jauh dari kita.

Be positive.

Be happy.

Dalam Islam, husnudzan, walaupun tidak menghilangkan kewaspadaan. Artinya, tidak selalu kewaspadaan ini dianggap sebagai bentuk ,”ini waktunya aku nyewa detektif!”

Bila sudah lewat 2 pekan, atau 1 bulan; luangkan waktu untuk bertemu pasangan secara fisik. Bila ada kendala keuangan atau kesehatan, ungkapkan secara jujur agar pasangan tahu bahwa tidak bertemunya fisik bukan lantaran karena cinta yang memudar.

kalung-cinta

  1. Manipulasi otak

Otak itu dapat dimanipulasi lho!

Pasti tahu kan metoda hypnotherapy, hypnoparenting, hypnoselling. Atau bentuk afirmasi yang mengatakan : aku bisa, aku bisa, aku bisa; padahal awalnya gak bisa. Lewat whatsapp, line, facebook, atau email; lewat telepon atau rekaman suara katakana ia cantik atau ia tampan. Katakana cinta dan rindu. Walaupun sebenarnya hati tak rindu (karena kenyataannya ada pasangan yang lebih senang ditinggalkan suami/istrinya untuk sementara waktu agar bebas  beraktivitas); tetap harus katakan rindu, kangen, ingin bertemu, cinta, dan seterusnya.

Manipulasi otak ini penting agar kita tetap merasa bahwa kitalah yang paling menarik bagi pasangan. Kitalah yang paling dirinudkannya. Kitalah yang paling rupawan sejagad raya. Dan dia pun merasakan hal yang sama.

 

  1. Usahakan ‘lempar’ joke setiap hari

Jangan setiap kali diskusi via whatsapp seperti ini

“Aduh, Pa, dua dapur berat ya. Mama pusing nih!”

“Anak-anak butuh perhatian. Gimana nih kalau sosok ayahnya gak ada?”

“Mas sibuk banget ya? Sampai-sampai gak sempat nelpon aku dan anak-anak?”

“Mama kirim via excell, lengkap dengan attachment semua bon pengeluaran kita ya!”

Gubrak deh!

Suami disana enggan membaca notifikasi pesan yang masuk, dari akun bernama mama pusing.

Kirim meme lucu agar dapat tertawa berdua. Tawa adalah obat ampuh bagi hubungan cinta lo!

  1. Jangan bawa emosi amat sangat saat online

Percayalah, bahasa lisan dan tulisan itu bedaaaaaa jauuuuhhh!

Jawab singkat bisa bermakna sejuta.

“Bisa ditelpon, Mas?”

Jawabnya : Y.

Hati sudah senewen. Sebelum dia disana selesai typing… maka kita sudah lebih dahulu mengirim : kok gitu jawabannya? Gak suka ditelpon ya?

Padahal mungkin si dia lagi mau lari ke kamar mandi, buang air kecil dulu biar pas di telpon gak kebelet-kebelet saking panjangnya isi aduan macam BAP.

 

Sumber gambar

http://livesadvice.com/tag/long-distance-relationship/

https://www.etsy.com/uk/market/long_distance_relationship

 

 

 

 

 

 

Kejahatan #2 : Paradigma Uang

(Lanjutan dari  https://sintayudisia.wordpress.com/2017/01/17/kejahatan-1-ayah-peng-implant-dasar-kejahatan/ )

 

Koruptor yang mencuri jutaan, puluhan hingga ratusan juta, milyaran bahkan trilyunan; jelas bukan orang miskin. Pencuri kelas teri biasanya ber IQ rendah, tapi pencuri kelas kakap jelas ber IQ tinggi, genius atau malah gifted.

Apakah pencuri dan koruptor dilandasi niat yang salah?

Tidak selalu.

Murni (samaran) mencuri berulang-ulang karena kemiskinan. Ia harus menghidupi 2 anak, sementara suaminya entah kemana. Murni mendekam di penjara bolak balik karena tertangkap basah mencuri barang-barang elektronik. Sasarannya memang kompleks yang sepi tanpa satpam.  Bukannya Murni senang mendekam di balik jeruji, ia menyatakan keinginan untuk bekerja normal seperti jualan keripik atau laundry. Namun, (maaf), wajahnya sangat jelek hingga tidak melicinkan jalan baginya untuk menjadi pekerja walau hanya buruh rendahan.

Ita (samaran) melakukan korupsi, menggelapkan uang perusahaan. Ketika tertangkap ia berkilah, di ranah insdutri apa yang ia lakukan sudah biasa. Banyak perusahaan melakukan apa yang ia lakukan. Ita menggunakan uang di luar anggaran, dalam jumlah besar, untuk memberikan insentif pada karyawan. Alasannya, toh uang itu tidak ia pakai. Uang sebesar itu digunakan memberikan imbalan kepada karyawan yang memang membutuhkan.

bad_money_by_ibetterthanyou-d5140yw.jpg

Ada banyak orang seperti Ita yang saat tertangkap OTT oleh KPK atau polisi, menggunakan alasan : semua kesalahan ada di sistem yang berjalan. Tanpa  negosiasi tidak akan memenangkan tender, tanpa korupsi tidak akan mendapatkan jatah dana yang  digunakan untuk tujuan kebaikan, pelaku korupsi umumnya korban yang diumpankan oleh pihak tertentu.

Boleh jadi sistem memang salah.

Mengurus surat-surat, memasukkan sekolah atau kuliah, mendapatkan sertifikat, tertangkap tengah melanggar hukum; semua butuh uang. Membesarkan anak-anak dengan baik, fasilitas rumah-kendaraan-kesehatan-hiburan , konsumsi sehari-hari atau kebutuhan tahunan; semua butuh uang. Mustahil kita beli cabe , ditukar dengan doa kan?

“Bang, saya beli cabe tapi nggak pake uang. Balasannya, Abang setiap hari saya doakan.”

“Pak Guru bu Guru, saya nggak bsia bayar sekolah. Tapi bukankah jadi pengajar harus ikhlas? Ilmu itu amal jariyah. Kalaupun tidak dibayar di dunia, bapak dan ibu guru akan dapat surge di akhirat.”

Mustahil juga transaksi seperti di atas, walaupun dalam beberapa kasus memungkinkan terjadi.

Uang. Uang. Uang. Uang. Uang.

uang x.jpg

Uang mengatasi masalah kebutuhan sehari-hari. Uang mengatasi kebutuhan industry. Uang mengatasi masalah perpolitikan. Uang mengatasi urusan keluarga, masyarakat dan negara. Tanpa uang, roda kehidupan mati.

Benarkah?

Uang memang alat vital tetapi itu bukan satu-satunya alat yang dapat menyelamatkan segala situasi. Memberikan insentif pada karyawan memang penting namun bila keuangan perusahaan tidak memungkinkan, reward bentuk lain dapat diupayakan. Awalnya niat Ita baik. Namun niat baik tanpa cara yang baik, akan menggeserkan niat dan membuatnya mudah melakukan tindakan serupa di kemudian hari, dengan alasan berbeda.

Apa yang dilakukan Murni, serupa dengan yang dilakukan para PSK di wilayah Dolly pada awalnya. Niat mereka baik, namun melakukan dengan cara yang tidak baik. Banyak orang miskin datang ke wilayah Bangunsari, Tambak Asri, Klakah, Sememi, Bangun Rejo, Jarak + Dolly dengan tujuan mengais rezeki.

Menemani pelanggan berbicara, minum, lalu hubungan short time, dengan imbalan yang jauh lebih besar dari bekerja sebagai buruh. Awal PSK bekerja umumnya uang rutin dikirimkan ke kampung halaman. Lama-lama, uang tersebut digunakan untuk konsumsi pribadi seperti membeli pakaian, membeli gawai canggih, ke salon dan Spa secara rutin. Uang kiriman ke kampung pun macet.

Murni pun demikian. Pada akhirnya, uang hasil curiannya tidak digunakan untuk biaya anak-anaknya namun untuk keperluannya berhura-hura.

Sebagai klinisian, orang-orang seperti Murni dan Ita, juga para koruptor yang pada awalnya berniat baik, pantas dikasihani. Mereka merasa terjebak sistem, merasa dikorbankan, merasa harus melindungi banyak orang dan merasa harus memberikan reward pada banyak orang. Selama uang dianggap sebagai satu satunya alat yang dapat menuntaskan segala, maka selama itu pula uang dianggap dewa. Berapa jumlah uang yang seharusnya dimiliki? Tidak terbatas, sebab yang harus dihargai dengan uang banyak sekali.

Hiburan, harus dengan uang. Persahabatan, harus dengan uang. Koneksi, harus dengan uang. Branding, harus dengan uang.

Mahathma Gandhi adalah contoh nyata yang dapat menjelaskan bahwa uang bukanlah segalanya. Ketika orang-orang terpesona dengan gaya hidup ala Inggris yang elegan, ia memintal sendiri bajunya dan meninggalkan pisau-garpu. Dasi, sepatu, ditinggalkan berganti sandal sederhana. Ia berjalan kaki kemana-mana atau naik kereta ekonomi. Prinsipnya, kalau bangsa India memang harus hidup apa adanya dengan kemandirian, kesederhanaan , bahkan terlihat kampungan; biarkan saja. Karena memang inilah identitas bangsa.

Kita pernah mengenal kata gotong royong, dimana hubungan kekerabatan tidak didasarkan uang. Membangun rumah, melaksanakan pesta, semuanya atas dasar sukarela. Memang, uang dibutuhkan, tapi rasa kebersamaan dan persaudaraan jauh lebih penting. Alhamdulillah, sekarang banyak perhelatan yang sengaja mencantumkan : dilarang membawa hadiah atau uang dalam bentuk apapun. Kehadiran dan doa anda jauh lebih penting. Undangan ini akan menepis kegelisahan : berapa ya saya harus nyumbang? 50? 100? Tapi saya kan seorang pejabat? Masa menyumbang hanya 50? Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin mahal nilai sosial yang harus dibayar. Padahal, semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin ia menjadi contoh bagi orang lain. Betapa kesederhanaa, gaya hidupnya, sikap dan pembawaannya akan mengayomi  anggota masyarakat lain yang kedudukannya berada di bawah statusnya.

Kita pernah mengenal, bahwa hadiah bahkan hasil karya tangan sendiri jauh lebih mengesankan daripada hadiah uang.

Waktu saya kecil, kalau ingin memberi hadiah ulang tahun, biaanya saya buat hiasan dinding dan semacamnya. Ketika menyelenggarakan ulang tahun, mama membuat sendiri wadah kue beserta kue-kuenya. Orangtua saat itu sangat lazim berbuat demikian. Betapa bangganya seorang ibu ketika mendapatkan pujian : waah, kue buatannya enak sekali ya… saat itu kehidupan konsumtif belum dikenal. Ulang tahun traktir di café mewah, di resto ala barat bergengsi, memberi hadiah mahal yang tinggal beli. Bahwa memberikan hadiah atau menyelengggarakan pesta, tidak perlu semewah mungkin, menjadi paradigm orang-orang saat itu. Akibatnya tak ada orangtua pusing : berapa biaya pesta anaknya? Berapa biaya pesta ulangtahun? Berapa biaya nikah?

Kita pernah mengalami, bahwa orang-orang yang diangkat menjadi pemimpin adalah orang-orang yang disegani di tengah masyarakat.

Ada seorang ‘ustadzah’ waktu saya kecil yang sangat dikenal dengan senyumnya, namanya bu Jali. Saya masih ingat senyumnya yang lebar dan tulus. Ia suka silaturrahmi kesana kemari, mengunjungi para pelacur, memberi mereka nasehat. Mengisi pengajian tanpa dibayar. Kalau ada pemilihan anggota legislative saat itu, bu Jali pasti akan menang di situ! Ia tidak butuh baliho, spanduk, selebaran, bingkisan, berkat,  untuk menarik massa datang. Ia lakukan dengan sukarela kebiasaan silarurrahmi dan itu berlangsung bertahun-tahun. Sekali lagi, bu Jali bukan ustadzah, namun reputasinya luarbiasa.

Paradigma tentang uang membuat kita gelap mata.

Okelah, belanja kebutuan harian, sekolah, beli bensin dan pulsa harus dengan uang. Namun ada yang tak perlu ditukar dengan uang. Kesenangan, gaya hidup, hubungan antar manusia, kekerabatan, hadiah-hadiah; tidak selalu harus berupa uang. Perhatian tulus sebagai sahabat antara seorang pemimpin dengan bawahan, antara seorang politikus dengan konstituen, antara atasan dan pegawai; akan memangkas kebutuhan akan uang yang digunakan untuk ‘memangkas’ banyak hal. Akibat tak pernah berkunjung ke rakyat dan tak pernah tahu apakah ia baik atau buruk, maka uang menjadi alat tukar yang cepat untuk membeli branding. Berapa banyak uang dibutuhkan?

Kita bukan pencuri seperti Murni, bukan koruptor seperti Ita.

Tetapi bukan tidak mungkin, kita punya paradigma sama tentang uang. Kita bukan penjahat, namun bukan mustahil kita tengah meng-implant ide-ide kejahatan ke tengah masyarakat.