Kategori
KOREA Oase Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Remaja. Teenager WRITING. SHARING.

Antara Sulli f(x) dan Hatsune Miku

 

 

Baru beberapa pekan yang lalu saya merenungi sebuah channel video Youtube tentang Hatsune Miku. Saya bolak balik menonton Is Hatsune Miku a Better Pop Star than Justin Bieber? Dalam video tersebut, Chris Plante menceritakan bahkan interaksi seorang bintang dengan para fansnya bisa sangat positif, bisa sangat negatif. Plante mengisahkan tentang Bieber, seorang bintang muda yang manis dan memiliki jutaan penggemar. Tetapi dunia entertainment melibas masa mudanya, melihatnya sebagai tambang uang dan para pemuja Bieber tidak memberikan celah bagi Bieber untuk berbuat ‘salah’. Akibatnya, Bieber yang kita kenal sekarang berbeda dengan Bieber yang mempopulerkan lagu Baby.

Hatsune_Miku.png
Hatsune Miku

Kita tentu menunggu-nunggu berbagai moment para selebritis dunia menampikan sisi terbaiknya, misal di karpet merah Oscar. Mereka yang berpenampilan bagus mendapatkan pujian, yang berpenampilan tak menarik mendapat banyak hujatan. Padahal belum tentu yang berpenampilan tak menarik itu sengaja tak memilih style, hanya saja ia berseberangan dengan orang kebanyakan. Hujat menghujat sudah lazim dilakukan netizen. Dengan bahasa sopan, hingga bahasa sangat menyakitkan.

Konsumen sekarang bukan hanya melahap lagu dan film para artis. Semua kehidupan pribadinya, juga dikonsumsi habis-habisan. Kemana dia belanja, kemana dia menyekolahkan anak, menghabiskan liburan di mana, sampai ke area paling pribadi : kenapa dia pacaran dengan si X, kenapa dia menikah dengan si A, kenapa dia memutus kontrak, kenapa dia keluar dari agensi?

Padahal bisa jadi masalahnya sangat pribadi.

Misal, seorang bintang merasa kelelahan –lahir batin- ketika harus menggelar konser. Tak heran banyak mereka yang terkena substantial abuse , mengingat dalam kondisi lelah dan sedih pun mereka harus tampil ceria di publik. Kita, orang biasa, enak aja. Kapan mau marah, kapan mau nangis, kapan mau cemberut. Emang ada yang peduli? Paling yang protes cuma pasangan dan anak-anak. Para bintang itu boleh jadi punya alasan sangat pribadi tentang dunia yang dipilih atau ditinggalkannya, alasan yang tidak bisa diungkap ke publik. Siapa yang tahu apa yang sebenarnya terjadi pada pernikahan Song Jong Ki dan Song Hye Kyo?

Saya masih ingat, bintang favorit saya di film X-File , Gillian Anderson, pernah tertangkap paparazzi tidak mencukur bulu ketiaknya. Ya, namanya dia lagi belanja dan  liburan. Bukan main sadis para jurnalis dan pengkritiknya. Sebagaimana Aishwarya Rai ketika menjadi gendut sehabis melahirkan. Perempuan yang pernah meraih  predikat tubuh terindah ini langsung dihabisi netizen. Untungnya, banyak warga India yang membelanya dan mengatakan : di kultur kami, sangat biasa seorang ibu menjadi gemuk. Maka saya nggak heran, melihat betapa stressnya para bintang pasca melahirkan, bahkan ia baru sehari dua hari melahirkan sudah harus menggenjot sepeda statis agar perutnya cepat langsing. Bukankah itu yang membuat Brooke Shield juga mengalami post partum depression? Sepanjang ia hamil yang melelahkan hingga punya anak, tak henti-hentinya dunia luar ingin tahu seperti apa beritanya.

Desember 2017, saya menuliskan tentang kematian Jong Hyun , salah seorang personel Shinee. Setiap kali menulis di blog tentang Korea, kisah tentang dirinya kerap ter-link begitu saja. Sedih itu masih terasa. Apalagi saat itu tak beda jauh dengan kematian Chester Bennington.  Secara pribadi saya tak mengikuti instagram atau twitter dari Bennington, Jong Hyun atau Sulli. Tapi sebagai seorang psikolog yang sering mendengar keluhan anak muda tentang kerasnya dunia media sosia, dapat kita bayangkan apa yang dihadapi para artis dunia. Terutama, artis muda macam Sulli. Fisiknya, perilakunya, pilihan bajunya, pilihan pasangan cintanya, karirnya, semuanya ada di bawah pengawasan netizen. Label manajemen sendiri sudah merupakan tekanan luarbiasa, apalagi ditambah tekanan dari berbagai pihak.

Sulli Young.jpg
Sulli Young : demikian cantik dan lucunya :”(

Kejadian Sulli, semoga yang terakhir kali terjadi. Seorang gadis muda yang masih mempunyai jalan panjang kehidupan, hancur berkeping tanpa ia tahu ke mana harus mengadu. Ia baru 25 tahun, kehidupan yang panjang terhampar di hadapannya. Apalagi Sulli memiliki banyak fans (dan juga haters, tentunya), tentu pilihan Sulli tentang apapun termasuk pilihan mengakhiri hidup akan menjadi sebuah berita yang sangat rentan untuk dikonsumsi.

Apa yang bisa dilakukan sebagai netizen dan warga dunia seperti kita?

  1. Kalau kita fans seseorang, gunakan selalu kata-kata bijak untuk mendukungnya. Katakan semangat, pantang menyerah, kamu luarbiasa, kamu inspiratif dan seterusnya.
  2. Kalau kita bukan fansnya, tak usah kepo dengan IG atau twitternya. Saya nggak ngefans si X dan Y, gak perlu follow atau stalking. Jadi gak perlu terlalu sering melihat postingan mereka. Kenapa? Karena nanti saya akan terbakar untuk ikut julid, menghakimi. Mending saya follow akun Sacha yang sering mengkoreksi englishnya para Seleb.
  3. Kalau kita tergabung dalam sebuah komunitas seperti ARMY fans BTS, Carat fans Seventeen, EXO-L fans EXO, Blink fans Blackpink, Reveluv fans Red Velvet atau apapun itu; mari lakukan gerakan-gerakan yang menghimbau pada kepedulian terhadap sesama. Misal, 10 Oktober tempo hari diperingati sebagai World Mental Health Day atau Hari Kesehatan Mental Sedunia. Tema tahun ini sangat spesifik : Suicide Prevention. Sedih sekali, bahwa Sulli justru harus menjadi salah satu korban suicide yang sedang kita perangi.
  4. Interaksi kita dengan dunia maya memiliki dinding setipis udara. Tak terlihat, tapi besar pengaruhnya. Rasanya ringan saja membully orang, lalu meninggalkannya dalam keresahan, gegara kita toh tak akan pernah bertemu fisik dengannya. Padahal, di semesta ini terjadi hukum law of attraction : setiap yang kita lakukan, ibarat pendulum, akan balik mengenai kita lagi. Jejak yang kita tinggalkan di IG, twitter, youtube channel siapapun semoga menjadi jejak baik yang suatu saat akan kembali ke kita lagi.

 

Yah, kembali ke pemaparan Chris Plante.

Kelak, mungkin saja kita harus mengganti semua artis dunia dengan sosok Hatsune Miku. Hatsune Miku popular dengan lagu Ievan Pollka, lagu yang sering diputar di sekolah dan acara pelatihan sembari melakukan senam Pinguin. Tahu kan siapa dia? Bukan manusia, bukan makhluk hidup, bukan boneka, juga bukan robot. Ia ‘hanya’ aplikasi sehingga tak merasakan sedih, susah, tersinggung, apalagi depresi. Miku punya jutaan fans. Lagunya digemari. Sosoknya dinanti. Konsernya buat orang antri. Para gadis membuat duplikasi. Walau ada yang pro kontra dengan Hatsune Miku, no problem. Ia tak punyarasa, tak punya raga, tak punya nyawa. Pendek kata, tak punya kehidupan. Maka Miku juga tak punya  masalah.

Kita prihatin dengan kehidupan para pesohor yang dipuja tapi juga rentan oleh berbagai masalah. Mereka juga manusia seperti kita. Mereka juga punya orangtua dan saudara seperti kita. Terlebih lagi, sebagai manusia kita saling terhubung satu sama lain. Boleh jadi Sulli sama sekali tidak masuk dalam lingkaran perhatian kita, tetapi bagaimana dengan anak-anak dan murid-murid di luar sana?

 

Sulli f(x).jpg
Sulli f(x) yang cantik dan begitu muda

 

 

Tidak dipungkiri, salah satu yang membuat Sulli merasa demikian berat adalah serangan para haters di media sosial. Setiap label manajemen, manajemen artis di manapun, baik di Korea dan Indonesia harus punya konselor atau psikolog khusus yang rutin mendampingi dari waktu demi waktu demi membangun mental sehat. Terlebih dalam situasi krisis seperti pemasaran yang anjlok, pembubaran grup, kesulitan karir, tak kunjung debut atau ada konflik internal, termasuk timbulnya permasalahan keuangan, keluarga dan permasalahan cinta. Persoalan di atas lazim terjadi pada banyak kasus, terlebih bagi artis. Perlu ada manajemen psikologis bagaimana mengelola interaksi dengan media sosial termasuk interaksi dengan para fans dan haters agar dapat dibangun lebih produktif.

Pada akhirnya, kita sendiri harus dapat membangun dunia yang sehat dengan media sosial. Fans dan haters kita boleh jadi tak sebanyak Sulli. Tapi bisa jadi kehidupan keseharian kita sudah sama satu dengan yang lainnya : tidak ada lagi dinding tebal di rumah, semua dapat menembus masuk dan keluar lewat media sosial. Apa yang realistic dan un-realistic sudah kabur, tak ada batasnya sama sekali. Bahkan, konon kabarnya, otak saat ini sudah tak dapat membedakan mana yang fiksi dan mana yang nonfiksi, saking banyaknya terperangkap dalam dunia maya yang merebut sebagian besar dunia nyata kita. Ketika dunia maya terasa lebih dominan, maka apa yang nyata terasa tak ada artinya. Hujatan fans di medsos sejumlah ribuan bisa membebani pikiran (padahal belum tentu orangnya sebanyak itu, karena bisa jadi memakai akun palsu), sementara dunia nyata yang menghadirkan seorang teman, sepasang orangtua yang senantiasa mencintai, seorang kakak atau adik yang menemani,  serasa tak ada arti.

Dunia maya, seperti namanya, maya. Ia tak nyata. Ghaib. Tak dapat diraba.

Yang nyata, tampak, teraba dan terasa jauh lebih berharga. Seperti kehidupan kita. Seperti keluarga dan teman-teman nyata. Jumlahnya tak banyak. Teman nyata kita mungkin cuma 5, sementara teman FB atau IG ada 5000. Tetapi yang 5 itu lebih nyata dibanding 5000. Penting bagi manusia untuk membangun relasi dengan teman nyata lebih sering, daripada dengan teman maya.

Sulli yang cantik, semoga kisahmu menjadi pelajaran bagi banyak orang.

 

 

 

Kategori
Buku Sinta Yudisia Hikmah Jepang Oase Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Renungan Hidup dan Kematian Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Kontroversial Video Logan Paul tentang Aokigahara dan Upaya Mengatasi Commit-Suicide

 

Kita selalu merinding mendengar kata bunuh diri atau commit suicide.

Kematian adalah salah satu hal yang pasti akan dialami makhluk hidup. Namun bagaimana akhir hidup manusia, sungguh merupakan perenungan bagi kita semua. Sebagian manusia meninggal karena wabah kelaparan, peperangan, bencana alam, endemi penyakit atau human error seperti kebakaran dan kecelakaan. Walau bila bicara takdir, maka semua telah tertulis di lauhil mahfuz.

Tetapi, menjadi kewajiban manusia beriman dan berakal untuk mencermati segala fenomena yang terjadi dan berupaya sebaik mungkin menanggulanginya. Wabah penyakit misalnya, manusia berupaya sebaik mungkin untuk mengenali demam berdarah; mulai mencegah, mengenali tanda, memberikan pertolongan pertama hingga memberi perawatan sampai mencapai taraf kesembuhan. Belum lama ini di wilayah Jawa Timur utamanya Surabaya, dikejutkan dengan wabah difteri. Maka pemerintah dan masyarakat ramai-ramai menggalakkan vaksin.

Bencana yang disebabkan human error misalnya, pun dicoba diatasi sebaik mungkin.

Kebakaran? Banjir?

Kalau disebabkan karena buang puntung rokok sembarangan, sampah menumpuk; maka semua harus diantisipasi. Kecuali apabila kemarau panjang yang menimbulkan kebakaran dahsyat seperti di Australia tempo hari. Bagaimana dengan commit suicide? Apakah ia human error ataukah takdir yang tidak dapat diubah?

Kembali, kita tidak akan membahas takdir namun kita akan berupaya sebaik mungkin untuk mengatasi, atau mencegahnya.

jonghyun-in-shinee-concert-rexfeatures_6860129f-res
Jonghyun Shinee

Chester Bennington, Jonghyun dan Marilyn Monroe

Sederet artis papan atas dikabarkan bunuh diri.

Yang terus dikenang sepanjang zaman adalah Marilyn Monroe. Artis cantik nan sensual ini, seharusnya mendapatkan apa saja yang dapat diraih dunia; bila kebahagiaan itu senilai materi. Tetapi, Monroe tidak mendapatkannya. Ia mengalami abuse sejak kecil, suami pertamanya memperlakukan tidak baik dan pada akhirnya ia menjadi bintang bom seks. Monroe mendambakan kehidupan sebagai istri dan ibu, maka ia pernah berkata : “kalau perempuan disuruh memilih antara karier atau keluarga, pilihlah keluarga. Aku sangat ingin punya anak dari rahimku sendiri.”

Ya.

Monroe yagn sensual dikabarkan berkali-kali mengalami keguguran.

Menjelang akhir hayat ia menjalin kasih dengan JF Kennedy, dan sungguh ia berharap itu merupakan kisah cinta sejati. Meski kerabat dekat sudah mengingatkan, mustahil Monroe menjadi first lady karena meski ia sangat menawan sebagai bom seks, publik Amerika tetap akan memilih Jacquline Onassis sebagai ibu negara!

Chester Bennington pun memiliki masa lalu yang sangat tak stabil. Vokalis idola anak muda yang sangat legendaris dengan Meteora nya ini, mengakhiri hidup sehingga publik merasa sangat terkejut sebab sangat sedikit grup musik semacam Linkin Park. Nyaris tak percaya di puncak keberhasilan, dipuja jutaan penggemar, memotivasi anak-anakmuda, menghentak dengan genre rock berbeda; tetap saja tak membuat Bennington nyaman dengan semuanya.

Jong Hyun?

Books about Korea

Kita akan memahami mengapa ia memilih mengakhiri hidup bila telah membaca Korean Cool –Euny Hong.

“Setiap negara maju, pasti memiliki ironi,” tulisnya. Bila belum memiliki ironi, maka ia bukan negara maju. Dengan kata lain, menurut Hong, kemajuan negara pasti akan menimbulkan paradoks. Negara yang makmur, maju, tenang, damai, sukses; belum tentu terlihat seperti apa di permukaan. Kerja keras pejabat dan rakyat, kadang harus dibayar mahal. Untuk menciptakan kemakmuran setiap orang harus bekerja lebih dari waktu rata-rata. Setiap orang harus berpikir untuk maju, sukses, berhasil; dan mereka yang menghambat kemajuan akan terpinggirkan.

Euny Hong menyebutnya ‘masa perbudakan’. Setiap warga Korea paham, bila belum mencapai target, mereka akan rela dalam masa perbudakan. Itulah sebabnya, boyband dan girlband rela berada dalam masa karantina dari 5 hingga 13 tahun. Mereka berlatih vokal, berlatih menari, berlatih tampil, berlatih manggung dan seterusnya hingga ketika debut muncul : sempurna. Sehari latihan bisa memakan waktu belasan jam, kalori makanan terkontrol dan aktivitas harian pun terjadwal.

Inilah ironi.

Dunia berdecak dengan hallyu yang menganeksasi dunia. Berbeda dengan Amerika yang daya serangnya hard melalui milter dan ekonomi, Korea Selatan sangat soft : melewati budaya. Dan betul kata Hong , “Korea memiliki apa yang tak dimiliki Amerika. Kami pernah menjadi negara dunia ketiga. Jadi kami pernah tahu bagaimana rasanya menjadi terbelakang.”

Kita mengelu-elukan boy band dan girl band. Tapi pernahkah kita tahu apa penderitaan mereka, ratapan hati, tangis dan kelelahan di balik panggung? Sekali mereka melakukan kesalahan, hujatan mengalir.  Lebih gemuk, berjerawat, bermuka masam dan sejenisnya; publik menghujat. Padahal para idol adalah manusia juga yang ingin sesekali menjadi diri mereka apa adanya. Ingin bersantai, bermalas, membangkang; yah, mirip anak muda pada umumnya.

 

Aokigahara dan Bunuh Diri

Hutan Aokihagara dan film the Forest

Pernah lihat film the Forest yang mengambil tempat di Aokigahara? Aokigahara terletak kurang dari 100 mil arah barat Tokyo, terkenal karena keindahan hutan dan gua-guanya yagn eksotik. Serta, pepohonan rimbun yang menjadi tempat persembunyian sempurna bagi orang-orang yang ingin mengakhiri hidup.

Budaya bunuh diri Jepang sangat dikenal masyarakat dunia, sebagian berdecak kagum, sebagian sangat menentang. Seppuku, kamikaze, harakiri dan sejenisnya merupakan  tindakan lelaki Jepang dalam mempertahankan kehormatan. Mereka lakukan bila kalah perang atau justru melakukan serangan bunuh diri untuk menyentak lawan. Tradisi yang awalnya dipakai sebagai upacara kehormatan ini bergeser menjadi sebuah perilaku yang bukan hanya dilakukan kaum militer tapi masyarakat biasa. Bila dulu orang mengenal tradisi bunuh diri dilakukan oleh para samurai yang kalah tanding dan para serdadu Jepang ketika kalah perang dunia ke-2; maka orang-orang zaman kini lebih mudah melakukan tanpa melewati perang tanding atau perang medan laga. Yang penting merasa ‘kalah’ maka bunuh diri dilakukan. Kalah dalan cinta, kalah dalam akademis, kalah dalam bisnis, kalah dalam pekerjaan, kalah tidak mencapai apa-apa. Kalah, bahkan sebelum kita mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri.

 

Hutan Aokigahara dan Logan Paul dengan video kontroversialnya

 

Cara memandang bunuh diri bagi masyarakat Jepang dan masyarakat dunia lain, pasti berbeda. Vlogger yang mungkin memandang konsep bunuh diri secara berbeda, adalah Logan Paul yang videonya tengah viral.

Paul Logan bisa mengolok-olok Aokigahara dan tradisi bunuh diri masyarakat Jepang sementara videonya menempati ranking 10 teratas dunia. Kontan, publik mengecam youtube karenea video itu bebas ditonton. Saya tidak akan membahas dunia maya sebab tidak memiliki kehalian di sana, tetapi lebih memilih menyikapi bagaimana kita memandang bunuh diri sebagai sebuah tradisi, dan sebagai sebuah perilaku yang tampaknya mulai lazim dilakukan.

 

Mengapa Bunuh Diri?

Sungguh, keprihatinan ini menyeruak mencermati kondisi sekeliling. Apalagi, tradisi bunuh diri lekat dengan masyarakat Jepang dan sekarang Korea Selatan, yang gelombangnya tengah diminati anak-anak muda Indoensia. J-pop dan K-pop sangat memikat; maka tak ada salahnya kita mencoba memelajari kultur kedua bangsa tersebut dan mengambil apa yang baik bagi Indoensia dan menyaring apa yang kurang tepat bagi bangsa ini.

Di novel Polaris Fukuoka, dikisahkan Yamagata Isao bunuh diri. Adiknya, Nozomi sempat berniat melakukan hal yang sama tetapi persahabatannya dengan Sofia mencegahnya melakukan hal ini. Mengapa Isao bunuh diri? Tekanan akademik dan tuntutan orangtua, yang berseberangan dengan bakat minatnya, membuat dirinya melakukan hal itu.

Mengapa saya mengangkat tema ini?

Saya pernah melakukan tes bakat minat untuk anak SMP. Dan ketika hasil tes keluar, saya konsultasikan dengan guru-guru sekolah; tampaklah bahwa orangtua tidak dapat menerima begitu saja bakat minat anak mereka. Ada seorang anak yang memiliki dua orangtua sukes sebagai ahli medis. Orangtuanya berharap anaknya pun seperti itu. Padahal ketika tes bakat minatnya keluar, yang muncul adalah kecenderungan literasi, aesthethic dan social service! Sungguh tidak nampak kecenderungan ke sains dan medikal. Sangat disayangkan bila orangtua masih memaksa anak-anaknya menjadi sesuatu, karena pertimbangan status dan ekonomi.

 

Kutipan percakapan Sofia dan Nozomi membahas bab bunuh diri

Demikian pula Isao.

Ia yang sesungguhnya ingin jadi pemusik, dengan kecerdasan otaknya dipaksa harus menjadi mahasiwa di universitas terkemuka. Begitu pula Nozomi. Tentu saja, diharuskan demikian karena bisnis keluarga mengharuskan para pewaris harus menekuni ilmu tertentu dan menguasai keahlian tertentu; walau bakat minat tidak mendukung.

Demikianlah, sebuah ironi.

Kemajuan dan kemapanan, bila tanpa pemahaman emosional yang baik dan pendekatan nurani akan menimbulkan kekacauan hati dan kegalauan pikiran. Dan, begitu mudahnya orang memutuskan bunuh diri ketika kalah.

“Di titik apa seseorang memutuskan bunuh diri?” tanya Sofia pada Nozomi.

“Di titik ketika mereka merasa diabaikan,” jawab Nozomi.

 

Perbedaan Budaya dan Tradisi

Eropa dan Amerika berbeda.

Di wilayah ini, kultur individualis telah terasah sejak dini. Kemandirian, memutuskan sesuatu secara individual dan bukan kolektif; biasa dilakukan. Anak tidur terpisah sejak kecil, anak usia 18 tahun bebas hidup serumah dengan pacarnya, anak remaja naik mobil dan mengkonsumsi alkhol ; sudah diputuskan sejak usia 18 tahun. Diabakan, hidup sendiri, sudah menjadi kebiasaan; walau akhir-akhir ini fatherless family pun memunculkan masalah baru. Terbiasa mandiri dan individualis itu bukannya tanpa masalah.

Bagaimana dengan dunia timur : Indonesia, Jepang, India, Korea?

Kita masyarakat kolektif.

Menikah butuh pertimbangan paman bibi, kakak adek, kakek nenek, tetangga sepupu dll.

Kuliah pun demikian. Cari jodoh pun demikian. Bekerja pun demikian. Maka pertimbangan banyak orang seringkali jadi perhatian yang memusingkan. Walau diri sendiri sudah tak mampu menanggulangi, tetap harus memikirkan oranglain. Inilah ironisnya.

Perasaan tertekan dan tidak mampu mengungkapkan apa yang ada di dalam benak dan hati; bagi masyarakat timur lambat laun menjadi batu yang menghimpit. Maka bila tidak dikomunikasikan, disalurkan dengan baik; di titik tertenu menajdi perasaan kalah yang membabi buta : mati lebih enak (seperti sebuah novel karya Alistair Maclean). Walau ternyata, di novel tersebut dikisahkan, perjuangan seseorang untuk mati sama sulitnya seperti perjuangan seseorang yang mencoba hidup!

 

Mengatasi Bunuh Diri

Peduli, itu kuncinya.

Mindfulness of others, cobalah mempertimbangkan pikiran dan perasaan orang lain. Cobalah peduli dan berbicara pada orang yang tengah membutuhkan sandaran dan telinga; sebagaimana yang dilakukan Sofia dan Tatsuo pada Nozomi. Memang, orang yang tengah punya masalah bisa jadi sangat membebani. Mereka mengungkapkan keluhan dan permasalahan sementara orang yang tengah mendengarkanpun jugamemiliki segudang masalah yang tak kurang beratnya; tetapi itu dilakukan karena hati dan batin mereka, mental mereka sedang rapuh dan sakit. Kalau kita sedang banyak pikiran, inginnya mengomel, kan? Lagi marah, pinginnya mengumpat. Lagi sedih, inginnya meratap dan menangis.

Demikian pula dengan orang yang punya banyak beban menghimpit, sampai tak tahu harus bagaimana lagi. Mereka ingin mengosongkan pikiran dan hati yang pepat, ingin mencurahkan keluar, ingin mencari tempat pelarian. Masih untung bila mereka menemukan teman, sahabat, saudara yang jadi tempat berbagi. Kadang, ingin curhat di medsos bukannya dapat simpati dan empati; malah dimaki-maki.

Maka, di pusat-pusat rehabilitiasi mental kita akan menemui orang yang afeksinya tumpul. Sedih banget, mendapat penderitaan bertubi, menerima kemalangan beruntun; malah tertawa (ini sebetulnya salah satu tanda ketumpulan afeksi yang harus diwaspadai) Orang skizofren tidak lagi tahu beda bahwa sedih itu menangis dan senang itu tertawa. Mereka marah, senang, sedih, biasa, akan  selalu tertawa. Depresi dan skizofrenia yang akut; bisa menimbulkan pemikiran shortcut . Entah itu melukai oranglain, atau bila tak memiliki kekuatan melukai oranglain, akan berbalik melakukan self-harm. Awalnya hanya menjambak diri sendiri atau membenturkan kepala, tetapi lambat laun bila tak tertahankan, akan melakukan hal pintas yang dianggap mengakhiri penderitaan.

Bunuh diri adalah perilaku yang harus diwaspadai.

Berbeda dengan pelaku free sex, drug abuse, pornografi dsb yang masih dapat diperbaiki, bunuh diri sungguh fatal sebab pelakunya langsung meninggal dan tak ada lagi yang dapat diperbaiki. Maka pemerintah dan masyarakat harus waspada terhadap kasus ini. Paul Logan mungkin harus mendapatkan peringatan tetapi videonya membuat orang terhenyak : apakah sekarang perilaku bunuh diri sudah tidak membuat orang menjerit, menangis, dan ngeri; tetapi malah membuat orang excited dan tertawa? Apakah sesungguhnya Logan Paul itu kita : semakin lucu (meski prank dan menyusahkan orang), semakin menakutkan, semakin sadis, semakin membuat bulu kuduk merinding maka itu akan membuat klik meninggi dan viewers membanjir?

Semoga video Logan Paul tidak mencerminkan kita. Ia telah membuat klarifikasi videonya tentang Aokigahara yang terkenal sebagai  suicide forest. Di video tersebut, Logan Paul mengambil video dengan latar belakang tubuh orang yang mati bunuh diri sembari tertawa-tawa dan mengunggah ungkapan yang kurang pantas.

Ke depannya, kita harus mewaspadai dengan perilaku dan kecederungan teman-teman kita, keluarga kita untuk beunuh diri.

Atau bahkan, kita harus mewaspadai diri sendiri, apakah telah tampak keinginan untuk bunuh diri?

 

 

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Catatan Perjalanan Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY WRITING. SHARING.

Baju Sial, Laba yang Bawa Rezeqi & Larangan Makan di Cobek

Percaya ada baju yang bawa sial? Saya punya 1. Moga gak nambah, sebab punya 1 aja udah buat senewen. Setiap pakai baju itu ada aja hal menjengkelkan terjadi. Bahkan, teman, sedang memikirkan untuk menulis cerita ini aja…eh mendadak saya lagi di kamar mandi lampu mati sampai teriak-teriak, “helloooo! Adakah yang gangguin Ummi dengan matikan lampu kamar mandi?”

Hehehe, sebab saya suka iseng gangguin anak-anak. Kalau mereka di kamar mandi, saya matikan lampu.

Baju ini sering banget buat saya kesal. Padahal baju ini salah satu baju resmi yang pantas dikenakan buat acara formal. Dulu berupa kain hadiah seseorang, dan saya jahitkan menjadi sebuah baju. Sampai-sampai saya berpikir : jangan-jangan ketika baju ini dibuat, ada ritual tertentu hingga selalu aja ada hal jelek mendatangi.

Mau tau apa aja hal menjengkelkan yang terjadi?

Mulai disemprot orang, kesasar, kejadian-kejadian yang tak diharapkan terjadi (tebak sendiri!), hingga delay pesawat berjam-jam. Malu gak sih, pas saya mau ngisi acara pakai baju ini tetiba izin ke panitia,” maaf dek, ada kamar mandi? Saya mau ke belakang.”

Tetiba perut mules tiada tara! Padahal biasanya kalau saya mau ngisi acara, saya akan atur jadwal makan : gak boleh pedes, gak boleh MSG, gak boleh instan dll. Perut saya tergolong sensitif (pake bangettt).

Saya anggap baju ini bawa sial. Atau pertanda sial. Atau penyebab sial.

Yah, akhirnya, baju ini saya simpan aja di lemari. Mau dikasih orang juga gak mungkin. Selain baju itu kenang-kenangan, andaikata benar bawa sial, masa saya delivery ke orang kesialannya?

Sampai suatu ketika, saya merenung.

Habis baca buku Marie Kondo, bahwa barang-barang yang tidak menimbulkan kebahagiaan lebih baik disingkirkan; saya mulai berpikir tentang baju itu. Dibuang, enggak. Dikasih ke orang, enggak. Dirombeng, enggak. Kalau disimpan, ditumpuk-tumpuk di lemari, gak digunakan sama sekali; hanya akan mengundang ketidak berkahan. Maka tak ada cara lain kecuali mencoba memakai baju ini lagi, dan melawan kesialannya.

Hari itu, hati deg-degan.

Wah, kesialan apa yang akan aku alami hari ini?        Dag dig dug. Menduga-duga. Berpikir-pikir. Menerka-nerka.

Sejak belum pakai baju itu, hati ini berdoa, berbisik pada Allah Swt ,” Ya Allah, andai baju ini bawa sial, lindungi aku dari kesialannya. Andai baju ini buruk, lindungi aku dari keburukannya.”

                       Baju ‘sial’ yang jadi untung

Sejak belum pakai pakai baju itu aku banyak baca istighfar, shalawat nabi dan segala macam dzikir yang dapat terucap. Luarbiasa, hari aku memutuskan pakai baju ‘sial’ itu, ternyata ada banyak keberuntungan terjadi. Aku mengisi 2 acara , mendapat banyak bingkisan dan mendapat banyak teman baru serta pengalaman baru. Nyaris hari itu tidak ada kejadian mengesalkan, kecuali 1x saja yang kuanggap, yah, kebetulan belaka. Kira-kira, apa yang mengubah baju ‘sial’ itu jadi baju ‘untung’?

  1. Berdoa kepada Allah Swt sebelum memakainya.
  2. Sepanjang memakai baju itu banyak istighfar, baca shalawat dan dzikrullah
  3. Selalu positif thinking
  4. Banyak senyum agar happy
  5. Mempersiapkan agenda hari itu dengan matang agar tidak tertimpa eksialan yang sesungguhnya merupakan kecerobohan kita

 

                        Laba-laba pembawa rezeqi

“Kalau ada onggo-onggo, jangan diusir!”

Itu kata ibuku, berpesan kepadaku agar behati-hati bila melihat onggo-onggo.

 

laba laba gonggo
Laba Gonggo (Onggo-onggo)

Tahu onggo-onggo? Sejenis laba-laba yang biasanya nangkring di sudut pojok dinding rumah, dan binatang ini tidak selalu terlihat. Sesungguhnya, ada beberapa hewan yang dianggap pembawa keberuntungan atau malah kesialan. Tokek, yang disunnahkan untuk dibunuh, ternyata oleh orang Jawa dianggap pembawa berita baik. Kejatuhan cicak, dianggap sebagai pertanda sial.

Bagiku, tokek hewan yang menakutkan. Dan gigitannya kata orang cukup berbahaya. Maka aku merasa lebih baik hewan ini diusir dari rumah, bila kita tak mampu membunuhnya. Perihal laba-laba, aku ingat bahwa ini salah satu hewan yang melindungi persembunyian Rasulullah Saw di gua bersama sahabat beliau Abubakar ra. Maka, terlepas dari ia membawa berita baik atau tidak, aku memang enggan mengusirnya. Kecuali bila sarang laba-laba di sudut rumah sudah  menumpuk-numpuk.

Bagaimana dengan kupu-kupu?

Kata orang-orang Jawa kuno, adanya kupu-kupu pertanda akan mendapat tamu tak diundang. Umumnya tamu yang membawa kabar bahagia. Entah benar atau tidak, tapi semasa kecil rumahku pernah kemasukan kupu-kupu. Lalu trataaaa….nenekku datang tiba-tiba. Wah senang sekali! Mungkin saja itu kebetulan belaka.

Berbagai kepercayaan yang berkembang di masyarakat, sesungguhnya merupakan pengetahuan empiris yang tidak dapat diambil kesimpulan mutlak berdasarkan teori yang sudah baku.

Kepercayaan bahwa anak perempuan yang menyapu tak bersih akan punya suami brewokan, menjadi salah satu nasehat yang sering diungkapkan orangtua pada anak-anak perempuan. Yah, kalau orang barat dan orang Turki yang dari sononya sudah bawaan brewokan, apa berarti semua istri mereka gak pintar menyapu rumah? Kadang, ancaman-ancaman untuk menakuti anak atau cucu, bermanfaat supaya mereka segera menghindari perilaku yang kurang baik.

Sambal di cobek.JPG
Jangan makan nasi di cobek!

“Jangan makan nasi dari cobek, nanti jauh jodohnya!”

Sambal di cobek yang tinggal sedikti, enak banget kalau dicolek dengan nasi. Tapi emang sih, melihat orang makan dari cobek, rasanya gimanaaa gitu. Maka orangtua biasanya bilang : nanti jauh jodoh.

“Jangan duduk di depan pintu. Nanti jauh jodoh!”

Yah, kalau orang duduk di pintu, biasanya bikin sebel kan? Menghalangi yang mau lewat dan terpaksa bilang : permisi, nyusun sewu, ngapunten blablabla. Serba nggak enak kan? Maka dibilanglah : jauh jodoh.

Ada nasehat-nasehat trasidional yang masih dapat digunakan dan bahkan menjadi pedoman, namun sebagian yang lain, perlu diperhatikan karena kebaikan isi nya dan tidak perlu diyakini sebagai hal yang sungguh akan terjadi. Misal, terpaksa duduk di pintu karena saat pengajian, ruang tamu shahibul bait dipenuhi jamaah pengajian dan kita terpaksa duduk di pintu, maka bukan berarti jodohnya jauh.

 

 

 

 

Kategori
Artikel/Opini da'wahku Dunia Islam Oase Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Ketika Issue Negatif terhadap Ulama Tidak Berpengaruh

 

 

Kampanye hitam dan issue negatif terhadap satu pihak sudah digunakan sejak lama untuk menjatuhkan martabat lawan, dan diharapkan dapat mendongkrak posisi penyerang. Sejarah mencatat bagaimana Rasulullah Saw dianggap sebagai penyihir dan pendusta tetapi semua terbantahkan sebab jejak hidup beliau memang tidak tercerminkan dalam berita bohong yang tersebar. Fitnah terhadap Aisyah ra dalam kisah terkenal haditsul ifki, dihembus demikian kuat, tetap tak dapat menghitamkan jejak ummahatul mukminin shalihat yang terkenal sangat cerdas serta sangat menjaga shaumnya. Muhammad Al Fatih pernah dianggap berambisi pada kekuasaan dan melakukan konspirasi ketika dua saudara laki-laki tiri Al Fatih, Ahmad bin Murad dan Alauddin Ali, meninggal terbunuh. Namun kampanye hitam itu terhapus. Sebab bagaimana mungkin orang dengan watak licik mampu mengorganisasikan pasukan bernyali sekaligus luhur budi? Ketaatan dan kedekatan Al Fatih pada ulama besar di masanya seperti Mollah Ghorani dan Aq Syamsuddin, semakin menghapus berita dusta. Mereka yang dekat dengan ulama, adalah mereka yang tahu batas antara kebenaran dan kebathilan.

syaikh-yusuf-qardhawi-dan-dr-hidayat-nur-wahid
Syaikh Yusuf Qardhawi & Dr. Hidayat Nur Wahid

Dalam surat al Maidah ayat 41 dikabarkan bahwa orang-orang Yahudi gemar sekali percaya pada berita bohong – hoax istilah zaman sekarang. Hoax dengan komponen yang membangkitkan bias negatif memang sangat digemari masyarakat, utamanya karena informasi ini benar-benar memainkan perasaan, keputusan, serta bagaimana proses informasi di jalur mental seseorang berjalan (Lang, Park, et al, 2007)

Apakah kampanye hitam terhadap pihak lawan bermanfaat untuk menjatuhkannya, memperkuat posisi penyerang dan memenangkan pertarungan? Apakah hoax dan bias berita negatif akan mengunci seluruh informasi dan benar-benar membuat orang hanya cenderung ke satu sisi?  Penelitian di lapangan akan memberikan jawaban.

 

Membangun Emosi Negatif

Emosi negatif terhadap kampanye hitam membuat kualitas dan kuantitas seseorang menurun dalam pertimbangan politik, pencarian informasi maupun penambahan pengetahuan politik.

yusuf-qaradhawi-biografi-web-2
Syaikh Yusuf Qardhawi, Dr. Hidayat Nur Wahid, ulama-ulama

Secara garis besar emosi manusia terdiri atas lima hal : marah, takut, jijik, bahagia dan sedih. Tiga emosi negatif yang pertama menjadi bahan penelitian ahli sosial yang mengaitkan dengan issue-issue di media, terutama media sosial. Emosi jijik tersisih, yang tersisa adalah emosi marah serta takut yang memberikan informasi penting. Ternyata respon fisiologis dan kognitif manusia amat sangat berbeda saat merespon takut dan marah.

Rasa takut terhadap issue negatif politik membuat orang terpacu mencari informasi dan belajar politik (Valentino et al, 2008) Tetapi tidak dengan rasa marah. Rasa marah akibat kampanye negatif membuat dampak yang berbeda dari rasa takut. Mereka yang terpicu amarahnya justru akan berbalik dari rasa takut; pada akhirnya enggan belajar politik sebab beranggapan politik adalah hal paling busuk dalam sejarah tatanan manusia. Pertimbangan-pertimbangan terhadap politik menajdi sarkastik, atau malah pragmatis.

Pendek kata, kampanye negatif yang membangkitkan rasa takut akan menjadikan orang lebih berperilaku positif,  dalam hal ini terkait information seeking dan recall. Namun kampanye negatif yang membangkitkan amarah akan menjadikan orang berperilaku negatif baik dalam information seeking maupun recall.

Informasi negatif lebih dapat membangun respon emosional, kognitif dan perilaku dari target sasaran dibanding informasi netral dan positif. Apakah para penyerang bermaksud demikian? Boleh jadi. Berita-berita yang menebarkan kemarahan akan cepat sekali mendapatkan respon masyarakat, dibanding berita yang menebar ketakutan. Masarakat diharap membuat respon cepat yang bedasarkan pertimbangan cognitive heuristic , tanpa sempat mencari informasi yang akurat dalam membangun kerangka berpikir yang menuju ke arah penyelesaian solutif. Ingatkah beberapa hari lalu beredar di media sosial tentang unggahan status seseorang yang ingin membeli al Quran dan kertas di dalamnya dipakai untuk membersihkan tinja? Atau unggahan pihak-pihak yang mengatakan sosok ini bukan ulama, sosok itu adalah penebar makar, dengan bahasa-bahasa yang menmbangkitkan kegusaran. Untungnya, masyarakat Indonesia semakin waspada sehingga melakukan information seeking terlebih dahulu sebelum bertindak.

Kali ini,  masyarakat pun dibuat marah dengan pemberitaan terkait ulama yang mendapatkan perlikau tak pantas di ruang persidangan. Padahal, dalam struktur kaum muslimin, ulama dihormati sedemikian dalam dan luas sebagaimana agama lain menghormati para pemimpin spiritualnya. Masyarakat seperti  artis, pejabat, penguasa terbiasa mendatangi ulama untuk beragam kepentingan. Rakyat kecil dan selebritis umumnya membutuhkan kehadiran ulama sebagai penyejuk hati dalam menghadapi seribu satu persoalan hidup. Pejabat dan penguasa mendatangi ulama untuk fatwanya, untuk dukungan kekuatannya,  untuk penggalangan suara dari ratusan ribu bahkan jutaan santri yang dimiliki para alim ulama.

Kita berhutang budi pada ulama

 

Dampak Kampanye Hitam Terhadap Ulama

Apakah tujuan kampanye hitam dengan menebar issue negatif?

Salah satunya adalah agar masyarakat memiliki ingatan lebih memorable ketika me-recall satu informasi yang pernah masuk dalam ingatan. Ingatan ini betul-betul tajam dan diharapkan dapat membantu di ruang-ruang pemilihan. Menjatuhkan seseorang akan membuat pihak penyerang mendapatkan posisi angin. Ingatan ini membuat masyarakat cenderung ke satu pihak, dengan kecenderungan yang sangat besar. Harapan ini tampaknya berbeda dengan penemuan di lapangan, bila memang kondisi yang terjadi benar-benar jujur tanpa rekayasa.

Kampanye hitam dengan issue negatif justru menurunkan rasa political efficacy, kepercayaan terhadap pemerintah dan secara keseluruhan merusak public mood  (R. Lau et all, 2007). Rakyat semakin resah dan tidak memiliki mood baik terhadap politik, enggan pula mencari informasi yang akurat, pada akhirnya lebih mempercayai berita hoax dibanding percaya pada kebenaran. Bila rakyat lebih percaya pada issue-issue negative –terlebih hoax-, dapat kita bayangkan. Negara adidaya seperti Amerika pun dibuat limbung sebab presidennya, pemerintahannya, rakyatnya saat ini lebih mempercayai issue negatif. Tidak selamanya berita hoax dan issue negatif  menguntungkan pihak penyerang sebab pada akhirnya baik informasi negatif yang menimbulkan rasa takut dan marah akan menghasilkan satu sikap : information seeking dan recall.

 

Ingatan terhadap Ulama

Recall adalah proses memanggil ulang yang sangat penting dalam proses kognitif. Dalam bersikap dan bertindak, manusia seringkali melakukan berlandaskan azas kognitif dengan memanggil ulang informasi yang pernah didapat. Bagaimana orangtua menghadapi anak-anak, dengan memanggil ulang ingatan masa lalu terhadap apa yang pernah dialami sendiri di masa kanak-kanak. Bagaimana menghadapi situasi, dengan memanggil ulang informasi yang membantu mengatasi situasi tersebut.

Recall atau memanggil ulang ingatan terhadap ulama, telah kita miliki bertahun-tahun bahkan puluhan tahun.

Apa skema dalam otak kita terkait ulama?

Mereka yang memiliki pesantren, mengurus anak-anak yatim hingga anak-anak yang paling dibuang masyarakat. Mereka yang memiliki ilmu agama mendalam dan luas, menempuh pendidikan di pusat-pusat studi Islam di seantero tanah Arab, Afrika dan keseluruhan Maghribi. Mereka yang menghabiskan hari-hari dengan mengorbankan seluruh hidup bagi agama. Mereka yang babat alas, mendirikan pesantren mulai dari nol hingga menjadi madrasah besar. Mereka yang bergerak dalam diam, ketika para politisi berorasi di atas mimbar dan pengusaha mempertontonkan kesuksesan. Mereka yang  saat hidupnya dicari untuk dimintai nasehat, mereka yang saat wafatnya ditangisi para pelayat.

Membuat issue negatif terhadap ulama di Indonesia, tidak akan membuat masyarakat me-recall informasi negatif terhadap sosok tersebut. Sebab selama puluhan tahun, informasi yang tertanam di benak adalah keluhuran dan kemuliaan mereka. Memang, ada ulama yang lebih mencintai dunia dan tidak berpihak pada masyarakat yang menderita, namun prosentasenya sangat sedikit. Ribuan alim ulama di negeri ini, mendampingi masyarakat di saat-saat sulit. Memberikan nasehat agar rakyat selalu bersabar dan bukankah nasehat ulama ini sangat bermanfaat bagi posisi penguasa?

Maka, kampanye hitam terhadap ulama, issue-issue negatif yang menyudutkan ulama, berita-berita bohong dan berita yang memicu kemarahan terkait ulama tidak akan mengubah proses recall masyarakat terhadap profesi mulia ini. Sungguh, ulama adalah asset bangsa yang luarbiasa, yang posisinya didapat bukan karena harta atau pangkat, tapi karena ilmu dan kemuliaan.

Bila Ali Sadikin yang spektakuler membangun Jakarta saja begitu menghormati Mohammad Natsir sang ulama, lalu apalah kita yang belum berbuat apa-apa; berani mencaci maki ulama?

 

Sinta Yudisia

Penulis dan Psikolog Klinis

Kategori
da'wahku Hikmah Jurnal Harian Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Renungan Hidup dan Kematian WRITING. SHARING.

Arti Ulama bagiku dan keluargaku

 

 

Jauh sebelum gonjang ganjing jagad perpolitikan, keluargaku telah mengenal kiai dan ulama. Kami memanggil ulama itu dengan sebutan “pak Yayi, Gus, Kiai, Ustadz”. Tergantung kebiasaan santri masing-masing. Para kiai atau ulama yang kami sambangi, mungkin tidak setenar Habieb Rizieq, Hidayat Nur Wahid, Bachtiar Natsir, KH MA’ruf Amin. Tapi kehadiran mereka sungguh-sungguh kami rasakan demikian dekat, demikian mengayomi, demikian membantu. Ada beberapa peristiwa kritis dalam hidup kami yang ,tanpa bantuan alim ulama, entah hidup kami seperti apa jadinya.

  1. Ketika remaja, ayahku didagnosa penyakit diabetes namun rangkaian sakitnya benar-benar aneh. Kata orang-orang, ayah kami kena santet. Saat itu aku belum pakai jilbab dan agamaku masih jauh sekali dari cukup. Aku ikut saja mamah pergi dari satu kiai ke kiai yang lain. Umumnya mereka memiliki analisa sama : ayahku terkena santet. Satu yang mengesankan dan akan kukenang sampai kapanpun, para kiai tersebut mengatakan : “tidak usah dibalas santetnya. Biarkan saja. Yang penting Ibu rajin sholat.” Dalam bayangan anak kecil seprtiku saat itu : ngapain gak balas santetnya? Dikirim balik aja biar mereka juga mati dan merasakan sakit seperti ayah. Belasan tahun kemudian kusadari, para kiai itu mengajarkan hal sederhana kepada kami : bab aqidah. Serahkan saja pada Allah karena itu perkara ghaib. Lagipula, setan suka membuat makar : bilang kalau penyantetnya adalah si A, padahal bukan. Lalu kita kirim balik, maka kita akan mendapatkan dosa yang  sangat besar.

 

  1. Ketika harta kelaurga habis sehabis habisnya. Masih dalam rangkaian santet. Semua asset keluarga tak bersisa. Rumah, mobil, perusahaan, tanah-tanah. Mamah pintar berbisnis. Beliau sempat menabung dan membelikan setiap anaknya rumah untuk masa depan. Belum sampai rumah itu dibagikan, semuanya ludes-des-des. Tidak ada yang tersisa bahkan perabot pun harus binasa. Entah terjual, hilang, atau diambil orang. Mama menyambangi satu kiai ke kiai yang lain. Jawaban mereka sama : sedekah, sedekah, sedekah. Mama awalnya nggak menyadari, denial Wong lagi susah kok malah sedekah. Belakangan b eliau baru sadar….selama ini harta sedemikian banyak tidak pernah dibersihkan dengan zakat, infaq, sedekah. Mama masi minim sekali pemahaman agamanya. Perlahan, dengan didampingi para alim ulama, pemahaman agama mama berangsur membaik dan beliau sering menyarankan pada anak-anaknya untuk memperbanyak sedekah.

 

  1. Setiap keluarga memiliki masalah kritis. Keluarga kami diuji Allah Swt dengan beberapa ujian yang bukan saja bab harta. Abang, sejak muda terlibat narkoba. Entah berapa kali sudah mama harus berurusan dengan polisi, rumah sakit, orang-orang yang mengamuk karena barang mereka menghilang (penderita narkoba akan melakukan apapun untuk membeli barang). Rumah ssakit hanya mampu mengobati sesaat. Kepolisian lebih meneyrahkan perkara itu untuk ditangani dengan cara kekeluargaan. Lalu, kemana seorang janda seperti mama yang telah habis ludes barang-barangnya mengobati abangku yang telah menjadi pecandu? JAwabannya adala pesantren dan para kiai atau ulama. Mereka mempersilakan mamaku yang tak punya uang untuk datang ke pesantrennya. Mereka memeprsilakan abangku untuk tinggal di pesantren-pesantren beliau. Betapa kehidupan ulama,s antri dan pesantren demikian “hidup” dan sederhana.
muslim-scholars
Ulama Islam

“Sin, Mama belum pernah makan seperti di pesantren X. Hanya pakai sayur jipang bersantan tapi enaaak banget, Masyaallah. Kalau di pesantren Y Mama cuma makan nasi sama teri. Ya Allah…kenapa makan di pesantren2 itu terasa nikmat banget ya?”

“Di pesantren A, kita jarang banget tidur, Sin. Tapi kok badan Mama jadi fit ya. Kita tidur seringkali sampai jam 22.00 atau malah jam 24.00. Nanti jam 02.30 sudah bangun untuk mandi wuwung –mandi keramas. Ternyata nikmat banget ya…habis itu sola tmalam. Lanjut Shubuh.”

“Di pesantren B Mama diajak shaum Daud. Mama gak pernah berpikir kuat puasa Daud, ternyata luarbiasa. Kamu harus coba, Sin!”

Ketika ada kerabat yang mengalami problematika rumah tangga luarbiasa, kami membawanya kepada para kiai. Para kiai dan ulama tersebut bukan psikolog, bukan konselor, bukan konsultan. Tapi ucapan-ucapan beliau sangat menohok hingga membuat orang-orang yang bermasalah itu menunduk, kadang bercucuran airmata.

Ini beberapa nasehat ulama yang menohok para saudaraku yang tertimpa musibah dalam pernikahannya.

“Gimana mau tentrem rumah tangganya? Rumahnya gak pernah dipakai sholat berjamaah!”

“Pernikahan itu, kalau suami istri gak mau saling mensyukuri, ya akan terus menuntut. Akan panas! Akan membuat rezeqi mampet!”

“Kalau suami sudah tidak bisa menjadi qowwam, lelaki yang seharusnya menjadi pemimpin dalam  urusan agama, maka perempuan boleh menggugat cerai.”

“Nduk, berhati-hatilah ketika berbuat salah ya. Nanti membayarnya susah sekali…”

 

  1. Pengalaman nenekku, almarhum. Nenek ini orang yang luarbiasa, demikian cantik dan sabar serta sangat halus bertutur kata. Namun, bukan berarti beliau tidak pernah marah. Konon kabarnya, kalau beliau marah bisa takut orang-orang di sekitar. Ya, biasanya orang yang sabar sangat mengerikan ketika meledak! Putri nenek 4 orang , perempuan semua (mamaku putri beliau yang pertama). Nenek janda ketika mama masi sangat kecil, dapat dibayangkan pahitnya perjuangan beliau membesarkan 4 anak perempuan di era penjajahan Belanda, Jepang, maupun masa-masa sulit Indonesia di awal kemerdekaan. Menghadapi 4 orang putri yang luarbiasa tantangannya, sering membuat nenek menangis. Kemana nenek yang janda, dilanda kesulitan mulai anak-anaknya kecil hingga putrid-putrinya dewasa mencari bantuan?

Ke alim ulama.

Nenek bercerita padaku, “suatu saat, Nenek sangat sedih memikirkan mama kamu, Sin. Nenek lalu ke kiai A. Kata beliau : coba banyak-banyak baca Alam Nasyrah dan baca artinya.”

Waktu itu tafsir Quran belum seperti sekarang.

Nenek melanjutkan : “habis baca Alam Nasyrah, Nenek sadar. Allah telah melapangkan hidup Nenek. Selalu saja dilapangkan. Lalu dikasih ujian lagi. Dilapangkan lagi. Begitu seterusnya. Bacalah itu kalau kamu tiap kali merasa susah ya.”

old-quran
Old Quran
  1. Sebagai konselor dan psikolog, aku selalu lari ke alim ulama. Mengapa? Sebagai terapis, aku tau bagaimana menjalankan tahapan psikoterapis mulai awal, mengakhirinya hingga psychological report writing. Tetapi di titik mana aku harus meningatkan klien-klienku untuk terus bertahan dengan masalah mereka atau segera move on, utamanya dalam kasus pernikahan? Tentu, fatwa para ustadz, alim ulama, telah membantuku dan menyelamatkan –atas izin Allah Swt- banyak keluarga-keluarga : teruskah mereka hidup bersama pasangan atau bismillah, berpisah?

Seorang alim ulama pernah memberikan nasehat yang menjadi panduanku dalam proses piskoterapis dan konseling, utamanya kasus pernikahan :

Bila pasangan murtad, maka otomatis lepaslah tali ikatan pernikahan

Bila salah satu pasangan bermaksiat (berselingkuh, berbohong, melakukan tindak criminal, KDRT pada pasangan dan anak, suami tidak mau mencari nafkah, gangguan orientasi seksual,  dll) maka dikembalikan pada kekuatan pasangan apakah mau bertahan ataukah tetap terus. Tetap terus disini dengan niat semua tahapan untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan dengan upaya semaksimal mungkin memperbaiki kondisi yang ada. Misal, bila pasangan berselingkuh, apakah pasangan di satu sisi akan bertahan, memaafkan, memperbaiki kondisi dll? Sangat tergantung dalam proses konseling, psikoterapi dan perkembangan keluarga tersebut.

Sungguh, tanpa bantuan para ustadz, kiai dan alim ulama; apa jadinya profesi-profesi yang berkaitan hidup dengan orang banyak seperti dokter, psikolog, guru, PNS dan lainnya?

syaikh-yusuf-qardhawi-dan-dr-hidayat-nur-wahid
Syaikh Yusuf Qardawi & Dr. Hidayat Nur Wahid

Teman-temanku para dokter, mereka sungguh berpegang pada fatwa ulama dalam menjalani profesi mereka. Teman-temanku para ibu dan istri, mereka sunggu berpegang pada fatwa ulama dalam memilih menjadi ibu rumah tangga dan meninggalkan karir yang gilang gemilang. Teman-temanku para perempuan bekerja, mereka berpedoman pada fatwa ulama bagaimana berdandan, tetap patuh pada suami, tetap membagi perhatian dengan anak-anak. Teman-temanku para pedagang, mereka berpegang pada fatwa ulama bagaimana cara berbisnis mulai dari promosi hingga jual beli. Teman-temanku yang berada di instansi pemerintah, dalam segala jajaran institusi, berpegangan pada fatwa alim ulama perihal gaji, uang syubhat, maupun insentif. Teman-temanku di segala penjuru yang menjadi konsumen, berpegangan apda fatwa ulama tentang produk halal : dari obat hingga cara pengobatan, dari makanan hingga bahan baku. Teman-temanku berpegang pada fatwa ulama bagaimana cara mencari jodoh, bagaimana jujur dalam studi dan bekerja, bagaimana menjaga adab di media sosial.

Tak bisa kubayangkan, seperti apa kerusakan bagi diriku pribadi, bagi keluargaku, bagi keluarga teman-temanku dan setiap individu bila mereka tidak dipandu dengan ilmu ulama dalam menjalani hidup ini.

 

Kategori
Catatan Jumat Oase Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY WRITING. SHARING.

Tahukah Anda, Mimpi di Malam Hari Punya Makna Tertentu?

 

 

Pernahkah kita menyadari bahwa mimpi bukanlah sekedar bunga tidur namun merupakan sebuah isyarat akan suatu kejadian yang diilhamkan olehNya?

Tentu tidak semua mimpi perlu ditafsirkan, sebab kita belumlah se sholih nabi Yusuf a.s yang mampu menerjemahkan mimpi-mimpi raja dengan tepat.

Dalam kitab Fathul Bari tercatat sebuah doa, bila kita ingin bermimpi yang baik.

doa-fathul-bari
Doa minta diberikan mimpi yang baik

Allahumma inni as-aluka ru’ya sholihatan, shodiqotan, nafiatan, hafidzatan, ghoiro man-siyatin.

“Ya Allah sesungguhnya aku memohon padaMu mimpi yang baik, benar, manfaat, berkesan dan tidak terlupakan.”

Sebelum tidur, memang kaum muslimin disunnahkan bersiwak, berwudhu, membaca 3 surat terakhir. Kadang-kadang kita dihantui mimpi buruk sehingga Rasululla Saw mensunnahkan begitu bangun untuk membaca ta’awudz. Mimpi buruk sebaiknya tidak diceritakan, sebaliknya mimpi baik lebih utama diceritakan.

Bagi Sigmund Freud, mimpi adalah emosi-emosi yang ditekan sedemikian dalam akibat reaksi menghadapi sebuah kejadian. Orang yang bermimpi buruk  mungkin mengalami kejadian traumatic.Orang yang jatuh cinta akan memimpikan orang yang dipujanya.

Dalam Islam, tentu makna mimpi tidaklah sama seperti Freud.

Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah menuliskan, saat seseorang tidur, beristirahatlah pula tubuh dan pikirannya namun semua inderanya sebetulnya dalam keadaan waspada penuh. Kulit kita lebih sensitif, maka sekalipun tidur kita dapat merasakan bila kecoak merambati lengan kan? Demikian pula mata, seolah-olah sangat tajam melihat sesuatu. Mimpi yang dapat diingat dengan baik setelah bangun tidur tanpa susah payah me-recall adalah isyarat Tuhan. Sebaliknya, mimpi yang lenyap dari ingatan adalah mimpi yang tidak memiliki pertanda. Demikianlah kata Ibnu Khaldun.

Lalu apa makna mimpi-mimpi kita?

Tafsir mimpi Ibnu Sirrin.JPG
Kitab tafsir mimpi Ibnu Sirrin

Berikut arti beberapa mimpi menurut pendapat Ibnu Sirrin. Ada ratusan tafsir mimpi di dalam buku tafsir beliau, namun saya sarikan berdasarkan mimpi yang juga pernah saya alami. Beberapa mimpi memiliki arti buruk. Saya pribadi bila mendapati mimpi yang bermakna buruk akan mencoba memperbanyak sedekah dan berdoa. Bukankah kata Umar ra, takdir dapat ditolak dengan doa? Begitupun kata baginda Rasul saw, sedekah dapat menolak bala?

  1. Gigi tanggal

Gigi tanggal bermakna anggota keluarga ada yang wafat. Saya ingat, dulu menjelang ayah dan eyang saya meninggal secara berdekatan, saya bermimpi gigi tanggal beberapa .

  1. Mengenakan pakaian

Mengenakan pakaian berwarna warni bermakna sukacita. Mengenakan pakaian hijau berarti akan mendapatkan kedudukan terhormat. Pakaian hijau adalah ciri khas penghuni surga. Sebaliknya bila pakaian yang dipakai berwarna kuning adalah isyarat sakit.

  1. Bercumbu dengan perempuan lain

Jangan cemburu membabi buta ketika bermimpi suami bercumbu dengan perempuan lain, bahkan sangat cantik! Ini bukan berarti isyarat suami berselingkuh.

Menurut Ibnu Sirrin, perempuan cantik bermakna kehidupan dunia. Bercumbu bersama perempuan cantik berarti akan bertambahlah beban hidup di dunia, entah itu dalam hal pekerjaan atau keluarga.

  1. Makan makanan lezat

Makan makanan bila terasa sekali kelezatannya berarti akan mendapatkan rezeqi dari Allah Swt.

  1. Menyusui anak-anak/ merawat anak-anak

Anak-anak berarti kesusahan, kerepotan. Bermimpi merawat anak-anak berarti akan mendapatkan kejadian-kejadian yang merepotkan.

 

  1. Memiliki rambut yang indah

Rambut indah diartikan sebagai mahkota, harta kekayaan dan martabat. Bermimpi memiliki rambut indah berarti akan bertambah kemuliaan dan kekayaan.

 

  1. Buang air besar

Buang air besar diyakini si pemimpi akan kehilangan uang dalam jumlah cukup besar karena satu kejadian. Bila bermimpi ini ; perbanyaklah doa, istighfar dan sedekah. Sebaliknya, mimpi membersihkan tinja atau kotoran bermakna baik.

 

  1. Mimpi membersihkan rumah

Mimpi membersihkan rumah insyaallah pertanda baik, si empunya akan mendapatkan rizqi dari Allah Swt.

 

  1. Mimpi bertemu seseorang

Mimpi bertemu seseorang memiliki makna akan mendapatkan bantuan atau pertolongan dari seseorang yang namanya tersebut dalam mimpi, atau seperti yang sifatnya sesuai nama dalam mimpi.

 10.Mimpi melihat mayat

Mimpi melihat mayat insyaallah pertanda baik, tanda si empunya akan mendapatkan karunia harta dari Allah Swt.

dream
Dream of night

Dalam menafsirkan mimpi ini tentu anda tak bisa seperti ahli nujum, dapat menerka arti mimpi-mimpi orang-orang. Bisa jadi, seseorang diberi mimpi yang sangat istimewa sehingga tidak ada arti tafsirnya . Mimpi juga sangat individual sifatnya. Saya sendiri mengalami mimpi-mimpi seperti yang di atas dan belum mengalami sekian banyak ragam mimpi seperti yang ditafsirkan Ibnu Sirrin.

Dalam kitab tafsir Ibnu Sirrin ada beberapa mimpi istimewa yang saya sendiri belum pernah mengalaminya dengan jelas. Mimpi itu seperti mimpi bertemu para Nabi. Ibnu Sirrin memiliki sendiri kategori arti mimpi mulai apa arti mimpi bertemu nabi Adam as hingga bertemu nabi Muhamamd Saw. Demikian pula, Ibnu Sirrin menyusun tafsir ketika kita bermimpi membaca surat-surat dalam al Quran. Bermimpi membaca surat al Fatihah, berbeda maknanya dari surat al Baqarah, demikian seterusnya.

 

Mengapa saya tertarik membahas mimpi?

Dream 2.jpg
Nightmare

Sebab saya lebih mempercayai makna mimpi sesuai pendapat alim ulama seperti Ibnu Khaldun dan Ibnu Sirrin, dibandingkan tafsir mimpi seperti Freud yang lebih banyak mengemukakan basic instinct dan perasaan ter-repress. Meski, tentu saja tidak semua pendapat Freud salah. Membaca kitab ulama, membuat diri ini merasa tenang dan tahu kemana harus melangkah.

 

Kategori
Cerita Lucu Oase Pernikahan PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Suami Istri

Bagaimana Merawat Cinta dalam LDR – Long Distance Relationship?

 

 

Tak dapat dipungkiri, di era sekarang, pasangan terpaksa berpisah karena tuntutan kesibukan masing-masing. Mungkin saja suami atau istri sedang menempuh pendidikan di luar kota, luar pulau, atau bahkan luar negeri. Padahal, sangat besar hasrat untuk bertatap muka setidaknya sekali sehari. Sangat ingin bertemu fisik, memeluknya atau bersalaman ketika suami pergi. Kenyataannya, tidak selalu suami istri dapat tinggal serumah karena satu dan lain hal. Ada pekerjaan suami yang mengharuskannya mutasi tiap beberapa tahun sekali sementara anak-anak tentu harus pindah-pindah sekolah bila ikut terus kemanapun ayahnya pergi. Idealnya memang demikian. Namun bila terpaksa menjalin LDR, apakah yang harus dilakukan pasangan?

LDR ini dapat terjadi ketika pasangan masih membina karier di awal-awal tahun pernikahan sebagaimana yang saya tulsikan dalam buku Psikologi Pengantin.

long-distance-relationship-ideas-300x224

 

  1. Doa

Jangan remehkan doa ya, seberapapun terlihat ringan. Ya Allah, jagalah dia untukku, misalnya dmeikian. Dunia ini dipenuhi partikel dan molekul yang saling bersinggungan dan memiliki keterkaitan. Gelombang elektromagnetik memengaruhi satu wujud materi dengan wujud yang lainnya. Doa-doa seorang ibu sangat bermanfaat bagi ianaknya, begitupun doa suami berguna bagi sitri dan demikian pula sebaliknya. Doakan ia disana sehat, semangat, bahagia dan setia.

Doa ini juga sangat bagus bagi afirmasi diri bahwa perjalanan cinta yang mengharuskan perpisahan menyakitkan akibat LDR seperti ini akan berjalan baik-baik saja hingga waktunya tiba berkumpul kembali.

Jangan lupa untuk mengingatkan pasangan disana agar juga berdoa. Toh doa tidak selalu harus dalam bahasa Arab.

“Sama-sama berdoa ya Say, agar kita dapat dipertemukan kembali segera olehNya.”

Siapa tahu, doa sepasang manusia yang sama-sama naik di langit ketujuh akan berjodoh di bawah ArsyNya dan terkabul menjadi sebua takdir pertemuan yang indah.

 

  1. Lakukan kebaikan

Sama seperti doa, dalam dunia ini selalu ada ‘karma’ , hukum alam bahwa kebaikan itu akan berbalik kepada si pelakunya.  Bersedekah secara rutin akan menolak bala. Bersedekah senyuman kepada orang-orang akan menuai kebahagiaan dan orangpun balik mendoakan kita.  Jangan suka berbuat buruk bahkan kepada hewan dan anak kecil yang tidak mampu menolak ancaman hehe…

Berhematlah. Jangan mentang-mentang tidak ada pengawasan maka diri bebas melakukan segala sesuatu. Tetaplah menjaga diri seolah-olah si dia ada di samping dan dapat memantau. Kalau si dia tiba-tiba memberikan kejutan waktu : tahu-tahu hadir dan ketahuan kalau kita lagi suka shopping dan menghabiskan waktu dengan hang out, serta tidak mempedulikan situasi rumah; runyam juga kan?

Ketika berjauhan, bukan berarti kendali menjadi lebih longgar, justru harusnya lebih ketat. Batasi hubungan dengan lawan jenis agar tidak terjadi syak wasangka.

 

  1. Positive thinking

Positive thinking adalah obat bagi penyakit-penyakit mental mulai yang berat dan ghaib macam terkena sihir dan santet hingga kecemasan (anxiety). Berita perselingkuhan, CLBK, cinta satu malam, TTM, friend with benefit, online infidelity memang marak. Tetapi tidak berarti pasangan melakukan itu semua lantaran ia jauh dari kita.

Be positive.

Be happy.

Dalam Islam, husnudzan, walaupun tidak menghilangkan kewaspadaan. Artinya, tidak selalu kewaspadaan ini dianggap sebagai bentuk ,”ini waktunya aku nyewa detektif!”

Bila sudah lewat 2 pekan, atau 1 bulan; luangkan waktu untuk bertemu pasangan secara fisik. Bila ada kendala keuangan atau kesehatan, ungkapkan secara jujur agar pasangan tahu bahwa tidak bertemunya fisik bukan lantaran karena cinta yang memudar.

kalung-cinta

  1. Manipulasi otak

Otak itu dapat dimanipulasi lho!

Pasti tahu kan metoda hypnotherapy, hypnoparenting, hypnoselling. Atau bentuk afirmasi yang mengatakan : aku bisa, aku bisa, aku bisa; padahal awalnya gak bisa. Lewat whatsapp, line, facebook, atau email; lewat telepon atau rekaman suara katakana ia cantik atau ia tampan. Katakana cinta dan rindu. Walaupun sebenarnya hati tak rindu (karena kenyataannya ada pasangan yang lebih senang ditinggalkan suami/istrinya untuk sementara waktu agar bebas  beraktivitas); tetap harus katakan rindu, kangen, ingin bertemu, cinta, dan seterusnya.

Manipulasi otak ini penting agar kita tetap merasa bahwa kitalah yang paling menarik bagi pasangan. Kitalah yang paling dirinudkannya. Kitalah yang paling rupawan sejagad raya. Dan dia pun merasakan hal yang sama.

 

  1. Usahakan ‘lempar’ joke setiap hari

Jangan setiap kali diskusi via whatsapp seperti ini

“Aduh, Pa, dua dapur berat ya. Mama pusing nih!”

“Anak-anak butuh perhatian. Gimana nih kalau sosok ayahnya gak ada?”

“Mas sibuk banget ya? Sampai-sampai gak sempat nelpon aku dan anak-anak?”

“Mama kirim via excell, lengkap dengan attachment semua bon pengeluaran kita ya!”

Gubrak deh!

Suami disana enggan membaca notifikasi pesan yang masuk, dari akun bernama mama pusing.

Kirim meme lucu agar dapat tertawa berdua. Tawa adalah obat ampuh bagi hubungan cinta lo!

  1. Jangan bawa emosi amat sangat saat online

Percayalah, bahasa lisan dan tulisan itu bedaaaaaa jauuuuhhh!

Jawab singkat bisa bermakna sejuta.

“Bisa ditelpon, Mas?”

Jawabnya : Y.

Hati sudah senewen. Sebelum dia disana selesai typing… maka kita sudah lebih dahulu mengirim : kok gitu jawabannya? Gak suka ditelpon ya?

Padahal mungkin si dia lagi mau lari ke kamar mandi, buang air kecil dulu biar pas di telpon gak kebelet-kebelet saking panjangnya isi aduan macam BAP.

 

Sumber gambar

http://livesadvice.com/tag/long-distance-relationship/

https://www.etsy.com/uk/market/long_distance_relationship

 

 

 

 

 

 

Kategori
Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY WRITING. SHARING.

Kejahatan #2 : Paradigma Uang

(Lanjutan dari  https://sintayudisia.wordpress.com/2017/01/17/kejahatan-1-ayah-peng-implant-dasar-kejahatan/ )

 

Koruptor yang mencuri jutaan, puluhan hingga ratusan juta, milyaran bahkan trilyunan; jelas bukan orang miskin. Pencuri kelas teri biasanya ber IQ rendah, tapi pencuri kelas kakap jelas ber IQ tinggi, genius atau malah gifted.

Apakah pencuri dan koruptor dilandasi niat yang salah?

Tidak selalu.

Murni (samaran) mencuri berulang-ulang karena kemiskinan. Ia harus menghidupi 2 anak, sementara suaminya entah kemana. Murni mendekam di penjara bolak balik karena tertangkap basah mencuri barang-barang elektronik. Sasarannya memang kompleks yang sepi tanpa satpam.  Bukannya Murni senang mendekam di balik jeruji, ia menyatakan keinginan untuk bekerja normal seperti jualan keripik atau laundry. Namun, (maaf), wajahnya sangat jelek hingga tidak melicinkan jalan baginya untuk menjadi pekerja walau hanya buruh rendahan.

Ita (samaran) melakukan korupsi, menggelapkan uang perusahaan. Ketika tertangkap ia berkilah, di ranah insdutri apa yang ia lakukan sudah biasa. Banyak perusahaan melakukan apa yang ia lakukan. Ita menggunakan uang di luar anggaran, dalam jumlah besar, untuk memberikan insentif pada karyawan. Alasannya, toh uang itu tidak ia pakai. Uang sebesar itu digunakan memberikan imbalan kepada karyawan yang memang membutuhkan.

bad_money_by_ibetterthanyou-d5140yw.jpg

Ada banyak orang seperti Ita yang saat tertangkap OTT oleh KPK atau polisi, menggunakan alasan : semua kesalahan ada di sistem yang berjalan. Tanpa  negosiasi tidak akan memenangkan tender, tanpa korupsi tidak akan mendapatkan jatah dana yang  digunakan untuk tujuan kebaikan, pelaku korupsi umumnya korban yang diumpankan oleh pihak tertentu.

Boleh jadi sistem memang salah.

Mengurus surat-surat, memasukkan sekolah atau kuliah, mendapatkan sertifikat, tertangkap tengah melanggar hukum; semua butuh uang. Membesarkan anak-anak dengan baik, fasilitas rumah-kendaraan-kesehatan-hiburan , konsumsi sehari-hari atau kebutuhan tahunan; semua butuh uang. Mustahil kita beli cabe , ditukar dengan doa kan?

“Bang, saya beli cabe tapi nggak pake uang. Balasannya, Abang setiap hari saya doakan.”

“Pak Guru bu Guru, saya nggak bsia bayar sekolah. Tapi bukankah jadi pengajar harus ikhlas? Ilmu itu amal jariyah. Kalaupun tidak dibayar di dunia, bapak dan ibu guru akan dapat surge di akhirat.”

Mustahil juga transaksi seperti di atas, walaupun dalam beberapa kasus memungkinkan terjadi.

Uang. Uang. Uang. Uang. Uang.

uang x.jpg

Uang mengatasi masalah kebutuhan sehari-hari. Uang mengatasi kebutuhan industry. Uang mengatasi masalah perpolitikan. Uang mengatasi urusan keluarga, masyarakat dan negara. Tanpa uang, roda kehidupan mati.

Benarkah?

Uang memang alat vital tetapi itu bukan satu-satunya alat yang dapat menyelamatkan segala situasi. Memberikan insentif pada karyawan memang penting namun bila keuangan perusahaan tidak memungkinkan, reward bentuk lain dapat diupayakan. Awalnya niat Ita baik. Namun niat baik tanpa cara yang baik, akan menggeserkan niat dan membuatnya mudah melakukan tindakan serupa di kemudian hari, dengan alasan berbeda.

Apa yang dilakukan Murni, serupa dengan yang dilakukan para PSK di wilayah Dolly pada awalnya. Niat mereka baik, namun melakukan dengan cara yang tidak baik. Banyak orang miskin datang ke wilayah Bangunsari, Tambak Asri, Klakah, Sememi, Bangun Rejo, Jarak + Dolly dengan tujuan mengais rezeki.

Menemani pelanggan berbicara, minum, lalu hubungan short time, dengan imbalan yang jauh lebih besar dari bekerja sebagai buruh. Awal PSK bekerja umumnya uang rutin dikirimkan ke kampung halaman. Lama-lama, uang tersebut digunakan untuk konsumsi pribadi seperti membeli pakaian, membeli gawai canggih, ke salon dan Spa secara rutin. Uang kiriman ke kampung pun macet.

Murni pun demikian. Pada akhirnya, uang hasil curiannya tidak digunakan untuk biaya anak-anaknya namun untuk keperluannya berhura-hura.

Sebagai klinisian, orang-orang seperti Murni dan Ita, juga para koruptor yang pada awalnya berniat baik, pantas dikasihani. Mereka merasa terjebak sistem, merasa dikorbankan, merasa harus melindungi banyak orang dan merasa harus memberikan reward pada banyak orang. Selama uang dianggap sebagai satu satunya alat yang dapat menuntaskan segala, maka selama itu pula uang dianggap dewa. Berapa jumlah uang yang seharusnya dimiliki? Tidak terbatas, sebab yang harus dihargai dengan uang banyak sekali.

Hiburan, harus dengan uang. Persahabatan, harus dengan uang. Koneksi, harus dengan uang. Branding, harus dengan uang.

Mahathma Gandhi adalah contoh nyata yang dapat menjelaskan bahwa uang bukanlah segalanya. Ketika orang-orang terpesona dengan gaya hidup ala Inggris yang elegan, ia memintal sendiri bajunya dan meninggalkan pisau-garpu. Dasi, sepatu, ditinggalkan berganti sandal sederhana. Ia berjalan kaki kemana-mana atau naik kereta ekonomi. Prinsipnya, kalau bangsa India memang harus hidup apa adanya dengan kemandirian, kesederhanaan , bahkan terlihat kampungan; biarkan saja. Karena memang inilah identitas bangsa.

Kita pernah mengenal kata gotong royong, dimana hubungan kekerabatan tidak didasarkan uang. Membangun rumah, melaksanakan pesta, semuanya atas dasar sukarela. Memang, uang dibutuhkan, tapi rasa kebersamaan dan persaudaraan jauh lebih penting. Alhamdulillah, sekarang banyak perhelatan yang sengaja mencantumkan : dilarang membawa hadiah atau uang dalam bentuk apapun. Kehadiran dan doa anda jauh lebih penting. Undangan ini akan menepis kegelisahan : berapa ya saya harus nyumbang? 50? 100? Tapi saya kan seorang pejabat? Masa menyumbang hanya 50? Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin mahal nilai sosial yang harus dibayar. Padahal, semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin ia menjadi contoh bagi orang lain. Betapa kesederhanaa, gaya hidupnya, sikap dan pembawaannya akan mengayomi  anggota masyarakat lain yang kedudukannya berada di bawah statusnya.

Kita pernah mengenal, bahwa hadiah bahkan hasil karya tangan sendiri jauh lebih mengesankan daripada hadiah uang.

Waktu saya kecil, kalau ingin memberi hadiah ulang tahun, biaanya saya buat hiasan dinding dan semacamnya. Ketika menyelenggarakan ulang tahun, mama membuat sendiri wadah kue beserta kue-kuenya. Orangtua saat itu sangat lazim berbuat demikian. Betapa bangganya seorang ibu ketika mendapatkan pujian : waah, kue buatannya enak sekali ya… saat itu kehidupan konsumtif belum dikenal. Ulang tahun traktir di café mewah, di resto ala barat bergengsi, memberi hadiah mahal yang tinggal beli. Bahwa memberikan hadiah atau menyelengggarakan pesta, tidak perlu semewah mungkin, menjadi paradigm orang-orang saat itu. Akibatnya tak ada orangtua pusing : berapa biaya pesta anaknya? Berapa biaya pesta ulangtahun? Berapa biaya nikah?

Kita pernah mengalami, bahwa orang-orang yang diangkat menjadi pemimpin adalah orang-orang yang disegani di tengah masyarakat.

Ada seorang ‘ustadzah’ waktu saya kecil yang sangat dikenal dengan senyumnya, namanya bu Jali. Saya masih ingat senyumnya yang lebar dan tulus. Ia suka silaturrahmi kesana kemari, mengunjungi para pelacur, memberi mereka nasehat. Mengisi pengajian tanpa dibayar. Kalau ada pemilihan anggota legislative saat itu, bu Jali pasti akan menang di situ! Ia tidak butuh baliho, spanduk, selebaran, bingkisan, berkat,  untuk menarik massa datang. Ia lakukan dengan sukarela kebiasaan silarurrahmi dan itu berlangsung bertahun-tahun. Sekali lagi, bu Jali bukan ustadzah, namun reputasinya luarbiasa.

Paradigma tentang uang membuat kita gelap mata.

Okelah, belanja kebutuan harian, sekolah, beli bensin dan pulsa harus dengan uang. Namun ada yang tak perlu ditukar dengan uang. Kesenangan, gaya hidup, hubungan antar manusia, kekerabatan, hadiah-hadiah; tidak selalu harus berupa uang. Perhatian tulus sebagai sahabat antara seorang pemimpin dengan bawahan, antara seorang politikus dengan konstituen, antara atasan dan pegawai; akan memangkas kebutuhan akan uang yang digunakan untuk ‘memangkas’ banyak hal. Akibat tak pernah berkunjung ke rakyat dan tak pernah tahu apakah ia baik atau buruk, maka uang menjadi alat tukar yang cepat untuk membeli branding. Berapa banyak uang dibutuhkan?

Kita bukan pencuri seperti Murni, bukan koruptor seperti Ita.

Tetapi bukan tidak mungkin, kita punya paradigma sama tentang uang. Kita bukan penjahat, namun bukan mustahil kita tengah meng-implant ide-ide kejahatan ke tengah masyarakat.

 

 

Kategori
Cinta & Love Jurnal Harian mother's corner Oase WRITING. SHARING.

8 hal yang harus dilakukan suami agar istri tidak menjadi (pembunuh) kejam

 

 

Mata orangtua Indonesia tertuju pada Mutmainah ( Iin) , ibu dua anak yang dituduh melakukan pembunuhan terhadap anaknya Arjuna (1 tahun) , memutilasinya -naudzubillahi mindzalik-  dan melakukan penganiayaan terhadap Kalisa (2 tahun).

Bagi siapapun, berita pembunuhan akan menimbulkan perasaan ngeri mendalam. Bagaimana  mungkin seorang manusia tega menghabisi nyawa manusia lain, apalagi seorang ibu yang seharusnya menyayangi anak-anaknya? Ingatan kita akan melayang pada peristiwa mengejutkan pada tahun 2005 ketika Andrea Yates menghabisi 5 putranya sendiri padahal kehidupan keluarga mereka cukup mapan secara ekonomi mengingat Rusty Yates bekerja di NASA. Peristiwa Mutmainnah juga membuat kita melongok sejenak pada para ibu yang berhasil mengatasi depresinya, salah satu yang terkenal adalah Brooke Shield.

DSC_1426.JPG
Buku yang wajib dibaca Ayah dan Bunda

Stress , Anxietas, Depresi, Skizofren

Stres adalah tekanan kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti mengalami stres. Tekanan pekerjaan, tekanan ekonomi, tekanan akademis. Hampir setiap hari kita bertemu orang stres di jalanan. Para pengendara yang tak sabar menunggu lampu hijau, orang yang marah karena tersenggol motor, anak yang tidak tahan di bully teman, remaja yang tidak suka ditegur guru, anak yang ingin beli HP tapi tidak kesampaian, para lelaki yang ingin beli mobil tapi belum mampu dan seterusnya.

Stres mengintai kehidupan sehari-hari.

Tapi stres, sejatinya kehidupan yang biasa saja dan pantas dialami. Tanpa stres manusia justru tidak akan meningkatkan kewaspadaan dan potensi lain dari dirinya.Namun, stres yang tidak terkendali dapat menimbulkan kecemasan berlebih, selanjutnya depresi dan dalam tataran tertentu skizofrenia. Depresi kategori ringan dan sedang saja sudah memerlukan penanganan, apalagi depresi tingkat berat.

Andrea Yates dan Mutmainnah kemungkinan tengah mengalami depresi berat ketika lintasan pikiran destruktif itu muncul : kamu atau aku yang mati? Keinginan untuk mati bersamalah yang biasanya timbul, meski pada akhirnya, justru lebih banyak peristiwa yang berakhir dengan pelaku tak mampu commit suicide. Sebab memang sejatinya ia bukan pembunuh. Ketika kejadian pembunuhan tersebut berlangsung, ia tengah melampiaskan emosinya yang paling dahsyat dan paling negatif, dan ketika telah terlampiaskan malah sesal berkepanjangan yang tumbuh sepanjang hayat.

 

Antisipasi depresi dan stres sejak awal

Apa ciri khas depresi  berat?

Iin Mutmainnah diceritakan bertubuh kurus, pendiam. Ia pernah menelepon adiknya Riswanto, ia ingin berpisah dari suami. Mengapa orang inign bercerai tentu karena tealh sampai di titik puncak penderitaan dan mengalamai jalan buntu. Orang-orang depresi berat biasanya kehilangan selera makan. Jangan remehkan istri anda dan ibu anak-anak ketika mulai kehilangan selera makan.

“Ya ampun, cuma nggak mau makan aja kok! Biasanya doyan makan dan ngemil segala macam.”

Depresi ringan mungkin hanya ditandai kecemasan berlebih, takut bertemu orang atau malah melampiaskan pada banyak makan. Pada kasus depresi berat orang-orang menjadi anhedonia – kehilangan rasa suka pada dunia. Dunia tidak memiliki daya tarik lagi. Menonton, jalan-jalan, tidur, berbicara, berbincang, bahakn makan sudah bukan daya tarik. Rasanya permasalahan begitu pepat mengisi otak dan tak ada jalan keluar. Depresi berat, dapat ditandai dengan orang yang susah makan dan sulit tidur. Atau malah tidur terus sepanjang hari lantaran aktivitas dunia sudah tidak lagi ada yang menarik termasuk mengurus anak, bekerja, bahkan berhubungan intim dengan suami.

 

Istri Shalihah tidak mungkin menyakiti anak!

Wah, kata siapa?

Saya mendampingi beberapa kasus ibu shalihah yang bukan hanya ingin menyakiti anak-anak tapi malah ingin bunuh diri. Mereka bukan jenis ibu yang suka foya-foya, suka kesenangan, lalu rapuh ketika ujian datang. Bukan!

Suatu ketika, seorang ibu shalihah menceritakan permasalahannya.

“Apakah saya salah, Mbak? Saya ingin bekerja dan punya mobil sebab harus mengantar anak-anak kesana kemari.”

Tubuhnya kurus kering, wajah cantiknya masih cantik namun hilang sudah seri mudanya.

Suaminya pun seorang lelaki sholih. Kepada saya ia bisa bercerita banyak tentang mimpi-mimpinya dan saya balik bertanya, “adik sudah menceritakan keinginan ini pada suami?”

“Tidak, Mbak. Saya takut, jika saya menceritakan keinginan saya, ia kan marah. Saya ingin jadi istri shalihah.”

Ingin aku memeluk bunda-bunda seperti ini.

Suami mereka adalah orang-orang sholih yang yakin betul bahwa istri shalihah adalah batu karang yang terbuat dari granit dan intan, tak akan rapuh oleh badai dan hanya akan dapat tergores oleh pisau berkualitas tinggi!

Oh para suami, anda harus belajar dari Chris, suami Brooke Shield!

love-wife

Brooke Shield, mengatasi depresi

Berkali-kali keguguran, Brooke ingin punya anak. Sangat diluar dugaan, bayi yang dikandungnya membutuhkan banyak terapi sejak masih janin sehingga kehidupan pribadi Brooke pun dilalui susah payah. Bukan hanya kehamilan bermasalah, melahirkanpun dipenuhi rasa sakit yang luarbiasa.

Malam pertama bayi mereka di rumah, Brooke tidak mampu bergerak. Rasa sakit emosional bertahun-tahun menantikan bayi, rasa sakit terapi sepanjeng kehamilan, rasa sakit melahirkan, rasanya ia ingin istirahat sejenak.

Rowan, sang bayi menangis.

Brooke pun menangis. Mengapa? Mengapa ia justru tidak dapat mencintai bayinya dan justru merasa sangat kelelahan dengan semua ini?

Berhari-hari, berminggu-minggu Brooke malah membenci bayinya. Chris masih bersabar. Suatu ketika Chris membeli perangkat bayi di toko bayi dan termenung melihat pasangan-pasangan dengan bayi mereka yang berbahagia. Pertanyaan Chris membuat Brooke mencoba loncat dari jendela apartemen untuk bunuh diri :

“Mengapa, Brooke? Mengapa Rowan tidak membuatmu bahagia?”

Dihantui rasa bersalah,  Brooke ingin mengakhiri hidup semuanya.

Chris, rupanya segera menyadari dan menangis, memeluk isti dan bayinya. Mereka sepakat mencari pertolongan. Mereka sepakat mengundang sahabat-sahabat Brooke untuk menjaganya siang dan malam. Kapanpun, potensi Brooke melukai diri dan bayinya terbentang lebar. Brooke mengalami post partum depression dan harus mengkonsumsi obat anti depresan. Selain itu, Chris, harus menjadi bagian penting yang membantunya menuju proses kesembuhan.

Lambat laun Brooke mulai menemukan kebahagiannya kembali ketika ia telah menemukan dirinya.

Bagi kita para ibu yang telah merasa kehilangan diri kita setelah punya 1, 2, 3 anak maka berhati-hatilah.  Jangan sampai kita tidak terkoneksi lagi dengan alam realita. Saat kita merasa dunia realitas begitu jauh, sesungguhnya, ada halusinasi yang mengintai setiap imaji pemikiran.

Ah, mungkin saja kematian lebih baik. Ah, mungkin saja anak-anak lebih bahagia tanpa ibu. Ah, mungkin saja suamiku selingkuh dan tidak lagi mau bersamaku. Ah, aku bukan ibu yang baik, sebab aku akan mengantarkan anak-anakku ke neraka (ini adalah pengakuan halusinatif dari Andrea Yates).

 

Apa yang harus diwaspadai ayah dan suami?

pregnant wife.jpg

  1. Pastikan emosi istri dalam kondisi stabil saat mengandung. Hamil sangat melelahkan, apalagi bila ini kehamilan yang ke 3, 4, 5 dst. Andrea Yates sesuungguhnya tidak boleh punya anak banyak karena riwayat depresinya, namun Rusty Yates sangat suka anak banyak. Parameter emosi stabil : ia suka cerita, masih tertawa, suka bercanda, masih bisa mengungkapkan keinginan (mas aku mau jalan-jalan, aku kepingin beli bakso dst), tubuh tidak mudah sakit yang merupakan pertanda ketidakstabilan emosi (bila emosi labil, tubuh sering jatuh sakit)
  2. Beri dukungan penuh pasca melahirkan. Pasca melahirkan ini bukan hanya 2 pekan sampai 3 bulan. Tapi tahun-tahun awal perkembangan bayi, sekitar 2 tahun. bukan main repotnya istri apaalgi bila punya 3 atau 4 anak balita. Perkembangan emosi anak-anak yang belum matang, membuat ibu harus waspada 24 jam. Kapankah ibu berhenti dan istirahat? Nyaris tak ada!
  3. Jangan biarkan istri kelewat diam. Pancing ia bicara. Harus! Bagaimana bila karakternya pendiam? Baiklah, tapi suami harus yakin bahwa ia tidak sedang memendam sesuatu. Ketika pulang kantor coba tanya : anak-anak buat masalah gak Dek? Duh kasihan kamu ya…pasti capek. Akhir pekan ini kamu mau kemana? (Kalau nggak punya uang, tidak masalah. Katakan, nanti kalau ada rezeki, Abang akan coba beli keinginan adik. Beli daster, beli bakso, dan keingin wajar sesungguhnya pantas dituruti. Reward seorang suami adalah obat mujarab bagi  self respect nya!) Puji ia, apapun kondisiya. Kalau ia bau dan kotor saat suami pulang, katakan : adik capek banget ya sampai-sampai gak sempat memperhatikan diri sendiri. Andaikata boleh, istri akan berendam di bath tub berisi adonan coklat dan bunga 7 rupa untuk membuat kulit berkilau!
  4. Perhatikan bila istri sakit. Flu? Diare? Demam? Ah, sakit yang biasa. Memang, flu dialami siapa saja. Ingatlah, sakit flu dan sejenisnya yang muncul dari fisik kelewat lelah adalah akibat emosi kelewat lelah pula. Jangan-jangan ada yang mulai tidak imbang di rumah. Fisik yang sakit, bisa berimbas pada sakitnya mental atau malah sebaliknya. Mental yang sakit membuat fisik cepat ambruk.
  5. Berdoalah. Seorang ustadz, seorang ustadzah, tidak akan lepas dari tekanan hidup. Hidup di era modern menuntut banyak hal maka hubungan dengan Allah Swt yang terus menerus akan lebih membuat mental kuat.
  6. Evaluasi segala daya dukung keluarga : ekonomi, pendidikan, kesehatan mental, kesehatan fisik. Waspadalah bila ada yang timpang dan mulailah mencari bantuan pihak-pihak terpercaya untuk mengentaskan masalah. Bila hidup terbelit hutang, harus segera berupaya mengentaskan perekonomian. Pendidikan yang memadai pun akan membantu suami istri lebih bijak memandang permasalahan. Kesehatan mental harus terus dipromosikan termasuk kesehatan fisik.
  7. Dengar, dengar, dengar. Listen, listen, listen. Biarkan istri menangis dan rewel seperti anak kecil. Biarkan ibu mengomel. Ia sedang mencoba meluapkan emosinya. Ketika telah stabil, ajak ke kamar, peluk dan nasehatilah. Mungkin memang ia salah. Mungkin ia keterlaluan. Mungkin ia memang harus mengubah dirinya lebih baik. Tapi beri ia ruang untuk melepaskan tangis dan beban, dan biarlah ia bersandar di bahu kuat para lelaki yang telah ditakdirkan Allah Swt menjadi qowwam
  8. Pujilah istri dengan sebutan positif. Katakan ia cantik, meski Raisa dan Isyana lebih cantik. Katakan ia pintar, meski tentu tidak sepintar Sri Mulyani. Katakan ia hebat, meski ia tidak sehebat Margaret Tatcher. Katakan anda mencintainya, wahai para suami, meski saat itu hati anda pun tengah lelah dirundung masalah. Ingatlah, bahwa anda bukan hanya telah dihalalkan menanamkan benih di rahimnya dan menikmati malam-malam bersamanya. Anda menitipkan anak-anak yang kelak akan ganti merawat anda. Anda menitipkan anak-anak hebat yang ditangan para ibu, mereka membuat anda bangga dengan sebutan ayah. Di tangan ibulah, wahai para suami, anda tengah menitipkan tunas baru yang ketika anak-anak itu berprestasi dan sholih , anda sebagai ayah akan jumawa berkata : ah, itu anak-anakku! Maka tidakkah semua imbalan yang anda dapatkan, pantas anda bayar dengan pengorbanan pula?

 

 

Kategori
Cinta & Love Oase Rahasia Perempuan WRITING. SHARING.

Kriteria Istri Kedua

 

 

Cantik.Muda. Berpendidikan.Berpenghasilan.

Demikian rata-rata kriteria perempuan yang akan dijadikan istri kedua, entah ia masih gadis ataupun janda. Berbeda dengan istri pertama yang sederhana, polos, lugu; biasanya istri kedua bertolak belakang dari istri pertama.

Benarkah?

silhouette_muslimah_by_maxzymus-d69der4-770x577.jpg

Polemik Poligami

Persoalan poligami akan selalu pro kontra, tak akan pernah ada kata sepakat, apalagi bila pendapat lelaki dan perempuan dibenturkan. Perempuan beranggapan lelaki mau enak sendiri, lelaki beranggapan  perempuan tidak memahami syariat. Persoalan semakin pelik jika poligami sudah melibatkan kontak emosi terlalu jauh : seorang suami yang tidak dapat curhat kepada istrinya lalu menemukan perempuan lain yang kebetulan cocok menjadi teman curhatnya. Atau, seorang suami menemukan istri yang selama ini diimpikannya, hal yang tidak didapatkannya dari istri pertama.

 

Secara alamiah, lelaki  memliki instink petualang, melebihi perempuan. Perempuan paling energik dan sangat bebas sekalipun, seiiring posisinya sebagai istri dan ibu pada akhirnya akan mengakhiri masa adventuringnya.  Mendekam di rumah menikmati fitrah sebagai  istri, ibu , pendidik, pengasuh, tukang masak dan seterusnya. Lelaki, walau bertanggung jawab terhadap kebutuhan nafkah keluarga; tetap memiliki semangat berpetualang.  Ada lelaki yang teap suka main bola, naik gunung, jalan-jalan, hang out dengan teman-temannya, nonton keluar. Walau ia seorang family man sekalipun, sisi adventuring itu tidaklah hilang.

 

Bila kebiasaan adventuring ini mendapatkan pelepasan semestinya, biasanya ia tidak membutuhkan lagi petualangan cinta. Misal, ia aktif di organisasi, yayasan, sibuk mengejar karir, terlibat aktif mengasuh anak-anak maka energinya akan tersalur. Namun  dalam kejenuhan dan keterdiaman, lelaki bisa memulai petualangan cinta.

 

Lha, apa hubungannya dengan poligami?

 

Poligami ala Rasulullah Saw dan orang-orang shalih.

Rasulullah saw menikah lagi setelah bunda Khadijah wafat. Pernikahan beliau rata-rata mengambil  janda yang sudah tua. Pernikahan dengan perempuan muda nan cantik antara lain terjadi terhadap  Aisyah dan Shofiyyah. Meski demikian, visi misi pernikahan beliau tidaklah bergeser dari kepentingan dakwah dan tentu sesuai syariah.

Sultan Murad menikahi Huma Khatun ( Ibunda Al Fatih) sebagai istri ketiga, juga karena alasan politik. Selain alasan politik, Sultan Murad mampu mengkondisikan istri-istrinya untuk taat kepada Allah.  Bacaan al Quran senantiasa menemani hari-hari mereka;begitupun pertempuran-pertempuran jihad mengisi hari-hari Sultan Murad.

 

Poligami sekarang

Sebetulnya, tidak ada keharusan lelaki harus menikah lagi dengan perempuan yang lebih tua. Harus janda. Beranak banyak. Jelek pula. Tidak ada satu ayatpun dalam Quran dan Hadits yang melarang lelaki menikahi perempuan disebabkan kelebihan-kelebihan yang ada padanya.Apakah haram menikahi perempuan pintar? Tidak. Apakah haram menikahi perempuan cantik? No. Apakah haram menikahi perempuan muda? Haram menikahi perempuan berpenghasilan dan kaya? Tidak dan tidak.

2 jalan

Silakan saja mencari istri pertama yang pintar, kaya, cantik, muda. Silakan mencari istri kedua yang seperti itu juga. Ketiga dan keempat juga dengan kriteria yang sama.

Lalu apa masalahnya?

Masalahnya adalah bila visi misi bergeser.

Dulu, menikah dengan istri pertama dalam kondisi serba kekurangan. Maklum, baru lulus kuliah. Penghasilan hanya berapa ratus ribu. Kontrakan rumah petak yang banjir  dan bau. Yang dicari adalah perempuan yang tahan banting : mau bagaimanapun rupa dan bentuknya. Mau bagaimanapun asal keluarga dan kondisi keuangannya.

Dua puluh tahun kemudian , atau lima belas tahun, atau malah baru sepuluh dan lima tahun;ketika kondisi keuangan membaik. Si pemuda culun yang sederhana dulu berubah menjadi lelaki yang gagah dan berkharisma.  Keuangan membaik dengan status mapan dan kedudukan terhormat : suami dengan istri dan sekian anak, rumah disini, kendaraan ini.

 

Ketika hasratnya untuk memiliki istri kedua muncul, biasanya ia tidak lagi memilih seperti istri pertama yang apa adanya. Setidaknya yang kedua hadir disaat posisinya mapan, maka ya, haruslah perempuan yang lumayan. Lumayan parasnya. Lumayan pendidikan dan keuangannya. Perkara istri pertama sakit hati dan anak-anak tak mengerti dengan pilihan sang kepala keluarga : itu urusan kesekian.

 

Membenci syariat?

Jika perempuan menolak poligami, jangan serta merta mengatakannya : nggak mau patuh ya sama perintah Allah? Nggak mau taat syariat ya? Mau menolak isi Quran?

Maka, meski hati patah dan sakit luarbiasa,  pilihan poligami terpaksa dijalankan. Apapun konsekuensinya. Kalau nanti istri pertama sakit-sakitan, dikira tidak ikhlas. Kalaupun menerima dengan hati lapang, sepanjang jalan pernikahan pastilah akan tumbuh beragam persoalan yang kadang-kadang, tertuding lagi perempuan. Ini gara-gara istri pertama gak mau mengalah. Ini gara-gara istri kedua ngelunjak.

 

Lelaki adalah Qowwam

Lelaki adalah peimpin bagi dirinya, istri, anak-anaknya. Keluarganya. Ummatnya. Pernikahan haruslah membangun mahligai yang sakinah mawaddah warrahmah. Seharusnya, lelaki yang memiliki logika lebih dari perempuan memprediksi apa yang akan terjadi ke depan.

 

Menikahi istri kedua berusia 25 tahun saat istri pertama 45 tahun, apa dampaknya? Bila istri pertama merelakan, apa yang harus disiapkan suami? Apa kesepakatan yang harus ditegakkan antara istri pertama dan kedua? Bagaimana tentang maisyah? Bila istri kedua memiliki pegnhasilan besar, seorang pengusaha atau wanita karir; bukan berarti kewajiban nafkah sang Qowwam teralihkan, bukan?

“Nanti pembagian nafkah bagaimana?” istri pertama bertanya cemas, mengingat kebutuhan anak-anak.

“Tenang, dia bepekreja dan berpenghasilan kok,” jawab suami, menjelaskan si kedua

Lantas, dimana sikap ke qowwamannya jika ia memilih istri yang mapan dan merasa tidak punya kewajiban menafkahi?

 

Tak Bisa Berbagi Hati

Rasulullah saw memang lebih mencintai Aisyah. Aisyah dan Shafiyyah pun pernah berselisih. Aisyah dan Hafsah pun pernah berselisih. Tak akan pernah persoalan hati dan emosi dapat ditimbang dengan rasio.

Meski, pengakuan beberapa lelaki menyatakan, cinta terhadap istri pertama dan kedua bukan seperti membagi hati ( seperti mencintai anak 1, 2, 3, 4 dst tetap sama besarnya) ; kecenderungan itu pastilah ada.

Cenderung terhadap istri pertama yang telah berkorban waktu, tenaga, hati, pikiran dan semua yang dimiliki. Atau cenderung terhadap istri kedua yang cenderung ‘baru’ : baru sebagai teman, baru sebagai kekasih, baru sebagai pasangan.

Percayalah, kecenderungan itu pasti muncul.

Siapkah laki-laki jujur dan menanggung konsekuensinya?

Beberapa berjanji, tak akan meninggalkan anak-anak ketika memiliki istri yang berikut; nyatanya tak selalu kondisi ekonomi stabil . Keharusan mencari nafkah bagi dua istri menyebabkan waktu semakin tersita. Dua dapur dan dua keluarga tentu membutuhkan lebih banyak supplai finansial. Belum lagi perselisihan yang menguras emosi. Antar kedua istri, antar kedua keluarga, antar anak-anak. Ujung-ujungnya, poligami yang disalahkan : tuh kan, anak-anaknya nakal. Keluarga morat marit. Bapaknya kawin lagi sih!

 

Lalu bagaimana?

Bila, memang poligami akan dilakukan, bisakah seorang suami menceritakan secara jujur apa yang nanti akan terjadi : keuangan, waktu, urusan ranjang, kecenderungan hati, anak-anak dan seterusnya?

Bila berkomitmen akan bertanggung jawab terhadap segala konsekuensi, bisakah ia menepati janji-janjinya?

Dan bila ingin seperti Rasulullah Saw, bisakah istri kedua adalah gadis-gadis yang sudah sangat matang dalam kesendirian. Janda-janda beranak banyak yang kurang mampu. Perempuan-perempuan tak cantik yang memang tidak dilirik laki-laki.

Bisakah sang istri pertama tetap perempuan yang jauh lebih cantik, lebih muda, lebih terhormat?

Atau mau jujur bahwa dalam petualangan kali ini,  pernikahan disimbolkan demikian : istri pertama untuk keprihatinan, istri kedua untuk bersenang-senang. Kalau demikian halnya, janganlah membawa nama sunnah rasulullah saw sebagai alasan poligami.

Sebab sunnah Rasulullah juga berbareng dengan kewajiban untuk menghargai ibu dari anak-anak; perempuan yang berbakti terhadap suami, istri yang sehari-hari menyisihkan seluruh kepentingan pribadinya untuk suami tercinta.

 

Kategori
Buku Sinta Yudisia Menerbitkan buku Nonfiksi Sinta Yudisia Oase Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY

Psikologi Pengantin

 

Psikologi Pengantin
Cover Hijau Psikologi Pengantin

Yang punya istri pintar cari uang dan aktif di luar, eh, suaminya selingkuh juga.

Yang punya istri berkhidmat di rumah, mengabdi pada suami dan anak-anak, eh ditinggal juga.

Yang suaminya ganteng dan sholih, bukan jaminan juga istrinya tak berpaling.

Jadi pernikahan itu bagaimana sih? Bagaimana menjadikan pernikahan kita tetap seperti masa-masa pengantin?

Ada yang bilang,  melayani suami harus lihai dapur dan kasur. Tapi tahukah anda, penemuan-penemuan di ranah psikologi dan sosial  merumuskan hal-hal mengejutkan seputar pernikahan?

Saya terkejut dan merenung saat menelaah puluhan riset  tersebut , lalu membuat buku sederhana ini , berjudul  Psikologi Pengantin yang semoga menjawab pertanyaan.

  • 5 tahun pertama pernikahan bolehlah laki-laki dirayu dengan kasur. Tapi ternyata, ada lagi yang dibutuhkannya. Simak diskusinya di buku ini ,ya.
  • Ada permasalahan kunci dalam pernikahan suami istri yang seringkali tabu dibicarakan. Atau sekali dibicarakan, bisa berujung ledakan. Apakah sex? Atau yang lain?
  • Ada beberapa titik penting pernikahan yang kalau diperhatikan seksama, dapat menjadikan suami istri pengantin sepanjang masa.
  • Buku ini mungkin vulgar di beberapa bagian, terutama hubungan intim suami istri. Tapi percayalah, membahas hal tabu yang dalam Islam bernilai ibadah, lebih baik dibicarakan dalam konteks ilmiah daripada mencuri-curi pengetahun dari google serta youtube!

 

Untuk pemesanan Psikologi Pengantin (harga 40 K) ,

Kontak Penerbit Indiva atau

Vidi 0878 -5153 -2589

Ayyasy 0856- 0865-4369

 

Nantikan  kuis-kuis menarik seputar Psikologi Pengantin yang berhadiah macam-macam gantungan kunci mancanegara !

 

 

Kategori
Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Tulisan Sinta Yudisia

(3) Ayah atau Bunda yang Lebih Berperan?

Wahai, Ibu!
Ibu, center person, sudah menjadi rahasia umum merupakan sumber mata air bagi anak-anaknya. Mata air kasih sayang, mata air keilmuan, mata air ketenangan. Keterlibatan ibu merupakan keharusan bagi perkembangan anak yang membutuhkan II(instrumetnal involvement) dan MAI (mentoring advising involvement). Pasangan ayah ibu yang mampu melibatkan diri dalam II- MAI, sungguh menyempurnakan tumbuh kembang anak.
Satu lagi tugas penting ibu adalah EI (expressive involvement) yang membuat anak memiliki karakter spiritual, emosional seimbang, sosial, fisik, juga kemampuan bersenang-senang. Ibu yang berhasil menghadirkan sosoknya secara utuh akan membuat anak memiliki karakter di atas, meski bukannya menafikkan kehadiran ayah.
Pernahkah kita melihat anak yang sangat serius, tak dapat ‘tersenggol’ sedikit, cepat marah, segala sesuatu harus perfek dan diukur bagai standar hitam-putih?

Kemungkinan, kehadiran ibu kurang optimal. Ibu yang terlalu sibuk, ibu yang terlalu menegakkan disiplin tanpa menyadari ada hal-hal yang dapat disepakati secara fleksibel , ibu yang hanya mampu menyuruh-nyuruh dan memberi hukuman.
Karakter spiritual utamanya dibangun oleh ibu, meski moralitas harus dibangun oleh ayah-ibu. Keseimbangan emosional memerlukan hadirnya ibu, maka, anak yang sangat tantrum dan emosional seringkali hanya dapat ditenangkan dengan dekapan ibu. Kemampuan anak berinteraksi sosial juga perlu mendapatkan asuhan sang ibu, begitupun perkembangan fisik dan hal yang sering terabaikan namun amat sangat penting di dunia milleinium dewasa ini : kemampuan enjoy, fun, pleasure, menikmati leisure time. Anak-anak sekarang cepat stres hanya karena perkara sepele, semisal tak memiliki gadget yang sama dengan teman, atau tak memiliki teman main. Anak-anak cepat stres karena tugas sekolah, macet lalu lintas, persaingan antar teman, atau tak masuk dalam satu peer grup dengan teman sebaya.
Betapa banyaknya yang masih dapat dinikmati dalam hidup!
Tak punya gadget? Masih ada buku, lompat tali, bola, menanam pohon, memelihara kucing dan ikan, atau cooking class! Ditolak peer group di sekolah? Bukannya masih ada teman-teman anak tetangga dan teman bermain di masjid kompleks?
Ternyata , kedekatan anak dengan ibu, memiliki satu karakter ajaib yang diperlukan anak-anak dewasa ini : mampu melihat dunia dari kacamata riang gembira! Ah, tak apalah tak terpilih olimpiade matematika, bukankah masih ada lomba melukis dan lomba macapat? Ah, tak apalah sang ayah sibuk sepanjang hari, bukankah ada ibu yang dapat diajak bermain dakon dan bekel?

sex-education-1-728
Dulu, masih ingatkah kita, bahwa seorang ibu adalah bagian dari teman bermain. Bermain masak-masakan, bermain jual-jualan, bermain gunting menggunting kertas. Wahai, Ibu, marilah libatkan diri dalam expressive involvement agar anak-anak tetap memiliki batin yang senantiasa ceria di tengah dunia yang serba cepat dan serba canggih.
Kita boleh tak setuju pada pendapat Sigmund Freud terkait basic instinct, tapi kita akan setuju dengan pendapatnya yang satu ini : sebagian besar penyimpangan pada manusia, bersumber dari ketidakhadiran sang Ibu.

 

Bagian 3 dari 3 tulisan

Sinta Yudisia
April 2016

Kategori
Cinta & Love Jurnal Harian mother's corner Oase Rahasia Perempuan WRITING. SHARING.

Suami, Kestabilan dan  Refleksi Piala Penghargaan

 

 

Sinta & Sofyan di Anugerah Kartini 2016_2
Aku (Sinta Yudisia) dan suamiku, Agus Sofyan. 21 April 2106, Grand City Mall Surabaya : Penghargaan dari Aliansi Perempuan Indonesia

21 April 2016 beberapa hari lalu, saya mendapatkan penghargaan dari API (Aliansi Perempuan Indonesia) Membangun Bangsa sebagai salah satu orang berprestasi,  yang mewakili kiprah para perempuan di dunia jurnalistik dan kepenulisan. Bertempat di Grand City Mall, acara yang berlangsung Kamis dari jam 15.00-17.00 berlangsung khidmat.

Alhamdulillah wasyukurillah.

Di balik itu semua, peran suami,  anak-anak dan doa orang tua kami tentu berada di belakang semua ini.

Orang yang pertama kali mendapatkan pemberitahuan terkait perihal-perihal penting dalam hidup seperti : undangan mengisi acara, terbitnya buku, peluang beasiswa, penghargaan dan kemenangan atas sesuatu tertuju pada satu orang. Suami. Ia orang yang sepertinya akan turut berbahagia, dan tentu saja menanggung konsekuensi.

Ya. Siapa lagi yang akan menderita dengan perginya istri mengisi acara kesana kemari, bila bukan suami? Siapa lagi yang akan turut menanggung beban ketika istri mendapatkan peluang beasiswa atau panggilan ke mancanegara, bila bukan suami? Siapa lagi yang akan bersabar menghadapi anak-anak, melihat rumah berantakan, cucian menumpuk ketika istri berkiprah di luar; bila bukan suami?

Kamis kemarin, tepatnya 21 April 2016, saya mendapatkan penghargaan atas kiprah di bidang jurnalistik atau kepenulisan dari Aliansi Perempuan Indonesia Membangun Bangsa. Betapa bahagia ketika suami dapat mendampingi, tentu seizin atasannya untuk keluar kantor siang hari. Berada di sisi suami, duduk berdampingan, ketika ia mengambil gambar saat tangan menggenggam piala  rasanya inilah kemenangan bersama.

Sebagai ibu dan istri, tanpa sumbangsih peran suami, rasanya mustahil perempuan mencapai taraf memuaskan dalam kiprahnya.

 

Suami adalah Qawwam (Pemimpin)

Suamiku tidak sehebat Superman, Batman, Ironman, Captain America atau Thor. Ia juga belum menyerupai para sahabat Nabi Saw dalam beramal ibadah. Ia masih harus banyak belajar untuk menjadi seperti Buya Hamka atau Muhammad Natsir atau Sir Muhammad Iqbal. Orasi? Ia tak hebat-hebat amat, namun cukup membuatku dan anak-anak termanggut-manggut ketika menjelaskan perihal Quran dan Hadits.

Satu yang special dari suamiku dan kurasa, salah satu karakter yang sebaiknya melekat pada diri laki-laki : sikapnya mengambil peran sebagai pemimpin atau qawwam dalam keluarga. Bila bicara perihal sunnah, mungkin sebagai istri, aku lebih unggul dari suami : sholat malam, sholat dhuha, hafalan quran. Kuamati suami, ia selalu berusaha tegak dalam hal-hal prinsip, tanpa bisa ditawar. Sholat wajib tepat waktu dan ke masjid, selelah apapun, bahkan ketika malam hanya sempat terlelap sesaat. Sekali waktu ada yang luput, namun tidak menjadi kebiasaan.

Apa yang menjadi unggul dari sholat ke masjid?

Suamiku menjadi teladan langsung dan utama, untukku dan  anak-anak.

Tak ada excuse, tak ada kata no, tak ada tawar menawar untuk hal yang prinsip : sholat wajib. Bagi suamiku, yang wajib akan selalu berada di hierarki tertinggi, teratas, utama dan harus dinomersatukan.

Sholat wajib.

Usahakan tepat waktu.

Apapun, tak perlu pakai alasan.

Sepertinya hal sepele, namun membuatku dan anak-anak belajar mengatur hierarki dalam keluarga. Sebagus-bagusnya amalan sunnah, tak ada yang mengalahkan amalan wajib. Sehebat-hebatnya sebuah perkara, tak akan lebih mulia dari peran yang utama.

 

Sinta & Sofyan Wisuda MAgister_2
Inayah, Sinta Yudisia, Agus Sofyan : Wisuda Magister Psikologi Profesi, 20 Februari 2016

Hierarki kepentingan dan peran

Menempatkan perkara prinsip dalam hierarki yang semestinya, membuatku sempat maju mundur dalam menjalani berbagai peran. Peran ibu dan istri sudah luarbiasa padat, belum ditambah peran public. Sebagai penulis, psikolog dan guru; Sabtu dan Minggu dalam sebulan seringkali terjadwal padat.

Ibarat sholat wajib, suami memberikan batasan-batasan prinsip. Apa yang harus dikerjakan ibu dan istri, tak boleh ditinggalkan. Kalaupun ada keringanan karena pergi keluar kota atau keluar negeri, bukan melenggang kangkung.

Atas kebesaran hati suami yang mendukung setiap kiprah, aku juga tak ingin seenak udel mempermaikan peran. Sebelum pergi keluar kota atau keluar negeri, kuusahakan urusan makanan dan cucian beres. Bila harus catering, maka kususun menu selama sepekan. Cucian? Kuajak anak-anak berbagi peran. Bila mereka terlalu lelah, kuajarkan bagaimana mencuci dan memilah pakaian, sebelum dilempar ke laundry. Beres-beres rumah? Beragam ukuran tas plastic untuk beragam sampah kusiapkan. Pengumuman-pengumuman cantik terpasang di beberapa areal dinding; untuk mengingatkan masin-masing akan tugasnya.

Peran ibu dan istri masih kupegang dari jarak yang jauh. Mengontrol belajar, mengontrol makanan, mengontrol sholat dan ibadah anak-anak.

Suami memberikan izin bagiku untuk sesekali berkiprah membaktikan ilmu namun ia tegaskan; jangan sampai peran ibu dan istri terabaikan. Prinsip sholat wajib sebagai hierarki utama terpelihara di rumah kami : yang wajib, penting, fundamental, tetap harus didahulukan. Perkara-perkara sampingan dapat ditunda.

 

Qawwam adalah stabilisator

Suami dan istri saling menyeimbangkan. Bila suami gusar, istri menenangkan. Bila istri marah, suami bersabar. Bila suami kecewa, istri menghibur. Bila istri mengomel tak karuan, suami rela mendengarkan.

Sekali lagi, suami dan keluargaku bukan gambaran hebat-hebat amat yang ideal seratus persen. Namun, adanya poros dalam keluarga kami, membuat perputaran tetap dalam sumbunya. Kalaupun melenting jauh, tak akan terlepas lepas tanpa tarikan gravitasi. Seorang suami, ayah, adalah pemimpin keluarga. Ia menyeimbangkan ketika mulai terjadi pergeseran bahkan penyelewengan.

Segala izin, bersumber pada suami. Ialah yang akan menentukan, dengan segala hormat dan ketinggian martabat, bahwa keputusan penting ada di tangannya.

“Aku ingin kuliah sastra,” kata si sulung.

“Aku mau aplikasi beasiswa ke luarnegeri,” kata adiknya.

“Aku mau studi engineer tentang mesin-mesin besar,” kata nomer tiga.

“Aku masih bingung,” kata si bungsu. “Jadi dokter, penulis atau sejarawan?”

Maka qawwam akan mengambil keputusan penting dengan segala pertimbangan.

Begitupun ketika aku melaporkan ,” Mas, aku akan mengisi keluar kota tanggal sekian.”

Ia menjawab,” gak capek? Gak keseringan keluar kota?”

Sebagai poros, suami akan menjaga agar semua anggota keluarga tetap dalam orbitnya.

Sekali lagi, perkataan suami tak akan memiliki makna sama sekali bila ia bukan merupakan qawwam bagi keluarga kami. Perkataannya, pemikirannya, pandangannya, keputusannya adalah arah penting bagi kebijakan keluarga.

 

Suami dan kesempatan istri berprestasi

Rasanya malu sekali, bila terlontar ucapan bahwa apa yang kita capai semata-mata hanya karena kepintaran dan kehebatan diri pribadi. Mungkin aku punya sejuta diksi indah untuk dituliskan dalam sebuah novel, namun tanpa izin suami untuk meninggalkan sejenak beberapa pos pekerjaan, aku tak akan punya waktu khusus sehari dua hari untuk berkonsentrasi pada tulisan. Biasanya, bila deadline tulisan tiba, aku akan meminta izin pada suami untuk benar-benar full di depan laptop.

Ketika tulisan itu mendapatkan penghargaan, bukankan ada peran suami di dalamnya?

Terlebih, ketika sedang konsentrasi pada ujian akhir profesi psikologi…nyaris tak terkatakan bagaimana tekanan akademis. Ujian praktek dan thesis kejar mengejar; klien tak semua kooperatif, laporan termasuk verbatim yang luarbiasa membuat mata berair karena panas dan tangisan. Ups….betapa tak mungkin semua itu dilalui tanpa ada toleransi seorang suami.

Qawwam kita.

Sang pemimpin.

Yang rela menanggung beban dan derita ketika istri maju ke depan, mengasah potensi.

Maka, bila kemudian aku terpilih mewakili sekian banyak perempuan luarbiasa di negeri ini untuk menerima penghargaan di Hari Kartini 2016; sungguh, ini bukan hanya bicara tentang kiprah perempuan. Ini adalah prestasi para suami yang tersenyum lapang dada ketika istrinya tergopoh keluar rumah , mengisi pelatihan. Ini adalah kerja keras suami untuk dapat juga sedikit-sedikit membantu kerja domestic istri : memasak, membereskan rumah, mencuci.

Penghargaan untuk perempuan berprestasi, adalah penghargaan untuk sebuah keluarga yang mencoba untuk bahu membahu mengatasi tantangan zaman.

Penghargaan untuk perempuan, adalah penghargaan pula untukmu para suami, yang rela menjadi lokomotif peradaban dengan selalu melaju di depan. Menjadi imam. Menjadi teladan. Menjadi pemimpin. Menjadi pendamping istri dengan segala suka duka.

 

 

Untuk suamiku tercinta, terimakasih atas segala dukunganmu

Sinta Yudisia

 

 

 

 

Kategori
Nonfiksi Sinta Yudisia Oase Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY

#Psikologipengantin 4

Bicara hal ini selalu seru dan, malu-malu 😊

Psikologi Pengantin 7

Kategori
Nonfiksi Sinta Yudisia Oase Pernikahan PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY

#Psikologipengantin 2

Intimacy adalah…

Psikologi Pengantin 6