Ketika Issue Negatif terhadap Ulama Tidak Berpengaruh

 

 

Kampanye hitam dan issue negatif terhadap satu pihak sudah digunakan sejak lama untuk menjatuhkan martabat lawan, dan diharapkan dapat mendongkrak posisi penyerang. Sejarah mencatat bagaimana Rasulullah Saw dianggap sebagai penyihir dan pendusta tetapi semua terbantahkan sebab jejak hidup beliau memang tidak tercerminkan dalam berita bohong yang tersebar. Fitnah terhadap Aisyah ra dalam kisah terkenal haditsul ifki, dihembus demikian kuat, tetap tak dapat menghitamkan jejak ummahatul mukminin shalihat yang terkenal sangat cerdas serta sangat menjaga shaumnya. Muhammad Al Fatih pernah dianggap berambisi pada kekuasaan dan melakukan konspirasi ketika dua saudara laki-laki tiri Al Fatih, Ahmad bin Murad dan Alauddin Ali, meninggal terbunuh. Namun kampanye hitam itu terhapus. Sebab bagaimana mungkin orang dengan watak licik mampu mengorganisasikan pasukan bernyali sekaligus luhur budi? Ketaatan dan kedekatan Al Fatih pada ulama besar di masanya seperti Mollah Ghorani dan Aq Syamsuddin, semakin menghapus berita dusta. Mereka yang dekat dengan ulama, adalah mereka yang tahu batas antara kebenaran dan kebathilan.

syaikh-yusuf-qardhawi-dan-dr-hidayat-nur-wahid

Syaikh Yusuf Qardhawi & Dr. Hidayat Nur Wahid

Dalam surat al Maidah ayat 41 dikabarkan bahwa orang-orang Yahudi gemar sekali percaya pada berita bohong – hoax istilah zaman sekarang. Hoax dengan komponen yang membangkitkan bias negatif memang sangat digemari masyarakat, utamanya karena informasi ini benar-benar memainkan perasaan, keputusan, serta bagaimana proses informasi di jalur mental seseorang berjalan (Lang, Park, et al, 2007)

Apakah kampanye hitam terhadap pihak lawan bermanfaat untuk menjatuhkannya, memperkuat posisi penyerang dan memenangkan pertarungan? Apakah hoax dan bias berita negatif akan mengunci seluruh informasi dan benar-benar membuat orang hanya cenderung ke satu sisi?  Penelitian di lapangan akan memberikan jawaban.

 

Membangun Emosi Negatif

Emosi negatif terhadap kampanye hitam membuat kualitas dan kuantitas seseorang menurun dalam pertimbangan politik, pencarian informasi maupun penambahan pengetahuan politik.

Secara garis besar emosi manusia terdiri atas lima hal : marah, takut, jijik, bahagia dan sedih. Tiga emosi negatif yang pertama menjadi bahan penelitian ahli sosial yang mengaitkan dengan issue-issue di media, terutama media sosial. Emosi jijik tersisih, yang tersisa adalah emosi marah serta takut yang memberikan informasi penting. Ternyata respon fisiologis dan kognitif manusia amat sangat berbeda saat merespon takut dan marah.

Rasa takut terhadap issue negatif politik membuat orang terpacu mencari informasi dan belajar politik (Valentino et al, 2008) Tetapi tidak dengan rasa marah. Rasa marah akibat kampanye negatif membuat dampak yang berbeda dari rasa takut. Mereka yang terpicu amarahnya justru akan berbalik dari rasa takut; pada akhirnya enggan belajar politik sebab beranggapan politik adalah hal paling busuk dalam sejarah tatanan manusia. Pertimbangan-pertimbangan terhadap politik menajdi sarkastik, atau malah pragmatis.

Pendek kata, kampanye negatif yang membangkitkan rasa takut akan menjadikan orang lebih berperilaku positif,  dalam hal ini terkait information seeking dan recall. Namun kampanye negatif yang membangkitkan amarah akan menjadikan orang berperilaku negatif baik dalam information seeking maupun recall.

Informasi negatif lebih dapat membangun respon emosional, kognitif dan perilaku dari target sasaran dibanding informasi netral dan positif. Apakah para penyerang bermaksud demikian? Boleh jadi. Berita-berita yang menebarkan kemarahan akan cepat sekali mendapatkan respon masyarakat, dibanding berita yang menebar ketakutan. Masarakat diharap membuat respon cepat yang bedasarkan pertimbangan cognitive heuristic , tanpa sempat mencari informasi yang akurat dalam membangun kerangka berpikir yang menuju ke arah penyelesaian solutif. Ingatkah beberapa hari lalu beredar di media sosial tentang unggahan status seseorang yang ingin membeli al Quran dan kertas di dalamnya dipakai untuk membersihkan tinja? Atau unggahan pihak-pihak yang mengatakan sosok ini bukan ulama, sosok itu adalah penebar makar, dengan bahasa-bahasa yang menmbangkitkan kegusaran. Untungnya, masyarakat Indonesia semakin waspada sehingga melakukan information seeking terlebih dahulu sebelum bertindak.

Kali ini,  masyarakat pun dibuat marah dengan pemberitaan terkait ulama yang mendapatkan perlikau tak pantas di ruang persidangan. Padahal, dalam struktur kaum muslimin, ulama dihormati sedemikian dalam dan luas sebagaimana agama lain menghormati para pemimpin spiritualnya. Masyarakat seperti  artis, pejabat, penguasa terbiasa mendatangi ulama untuk beragam kepentingan. Rakyat kecil dan selebritis umumnya membutuhkan kehadiran ulama sebagai penyejuk hati dalam menghadapi seribu satu persoalan hidup. Pejabat dan penguasa mendatangi ulama untuk fatwanya, untuk dukungan kekuatannya,  untuk penggalangan suara dari ratusan ribu bahkan jutaan santri yang dimiliki para alim ulama.

Kita berhutang budi pada ulama

 

Dampak Kampanye Hitam Terhadap Ulama

Apakah tujuan kampanye hitam dengan menebar issue negatif?

Salah satunya adalah agar masyarakat memiliki ingatan lebih memorable ketika me-recall satu informasi yang pernah masuk dalam ingatan. Ingatan ini betul-betul tajam dan diharapkan dapat membantu di ruang-ruang pemilihan. Menjatuhkan seseorang akan membuat pihak penyerang mendapatkan posisi angin. Ingatan ini membuat masyarakat cenderung ke satu pihak, dengan kecenderungan yang sangat besar. Harapan ini tampaknya berbeda dengan penemuan di lapangan, bila memang kondisi yang terjadi benar-benar jujur tanpa rekayasa.

Kampanye hitam dengan issue negatif justru menurunkan rasa political efficacy, kepercayaan terhadap pemerintah dan secara keseluruhan merusak public mood  (R. Lau et all, 2007). Rakyat semakin resah dan tidak memiliki mood baik terhadap politik, enggan pula mencari informasi yang akurat, pada akhirnya lebih mempercayai berita hoax dibanding percaya pada kebenaran. Bila rakyat lebih percaya pada issue-issue negative –terlebih hoax-, dapat kita bayangkan. Negara adidaya seperti Amerika pun dibuat limbung sebab presidennya, pemerintahannya, rakyatnya saat ini lebih mempercayai issue negatif. Tidak selamanya berita hoax dan issue negatif  menguntungkan pihak penyerang sebab pada akhirnya baik informasi negatif yang menimbulkan rasa takut dan marah akan menghasilkan satu sikap : information seeking dan recall.

 

Ingatan terhadap Ulama

Recall adalah proses memanggil ulang yang sangat penting dalam proses kognitif. Dalam bersikap dan bertindak, manusia seringkali melakukan berlandaskan azas kognitif dengan memanggil ulang informasi yang pernah didapat. Bagaimana orangtua menghadapi anak-anak, dengan memanggil ulang ingatan masa lalu terhadap apa yang pernah dialami sendiri di masa kanak-kanak. Bagaimana menghadapi situasi, dengan memanggil ulang informasi yang membantu mengatasi situasi tersebut.

Recall atau memanggil ulang ingatan terhadap ulama, telah kita miliki bertahun-tahun bahkan puluhan tahun.

Apa skema dalam otak kita terkait ulama?

Mereka yang memiliki pesantren, mengurus anak-anak yatim hingga anak-anak yang paling dibuang masyarakat. Mereka yang memiliki ilmu agama mendalam dan luas, menempuh pendidikan di pusat-pusat studi Islam di seantero tanah Arab, Afrika dan keseluruhan Maghribi. Mereka yang menghabiskan hari-hari dengan mengorbankan seluruh hidup bagi agama. Mereka yang babat alas, mendirikan pesantren mulai dari nol hingga menjadi madrasah besar. Mereka yang bergerak dalam diam, ketika para politisi berorasi di atas mimbar dan pengusaha mempertontonkan kesuksesan. Mereka yang  saat hidupnya dicari untuk dimintai nasehat, mereka yang saat wafatnya ditangisi para pelayat.

Membuat issue negatif terhadap ulama di Indonesia, tidak akan membuat masyarakat me-recall informasi negatif terhadap sosok tersebut. Sebab selama puluhan tahun, informasi yang tertanam di benak adalah keluhuran dan kemuliaan mereka. Memang, ada ulama yang lebih mencintai dunia dan tidak berpihak pada masyarakat yang menderita, namun prosentasenya sangat sedikit. Ribuan alim ulama di negeri ini, mendampingi masyarakat di saat-saat sulit. Memberikan nasehat agar rakyat selalu bersabar dan bukankah nasehat ulama ini sangat bermanfaat bagi posisi penguasa?

Maka, kampanye hitam terhadap ulama, issue-issue negatif yang menyudutkan ulama, berita-berita bohong dan berita yang memicu kemarahan terkait ulama tidak akan mengubah proses recall masyarakat terhadap profesi mulia ini. Sungguh, ulama adalah asset bangsa yang luarbiasa, yang posisinya didapat bukan karena harta atau pangkat, tapi karena ilmu dan kemuliaan.

Bila Ali Sadikin yang spektakuler membangun Jakarta saja begitu menghormati Mohammad Natsir sang ulama, lalu apalah kita yang belum berbuat apa-apa; berani mencaci maki ulama?

 

Sinta Yudisia

Penulis dan Psikolog Klinis

Membincang buku kita : best seller, very fast moving, write off, dan gagal pasar

 

 

Setiap penulis, pasti berharap bukunya best seller atau laris manis di pasar.

Bila royalty 1 buku 10 % dan harga buku Rp.50.000 misalnya, maka penulis bisa dapat Rp.5.000 rupiah perbuku. Kalau buku terjual semua 3000 eksemplar, wah, dalam satu periode pembayaran royalty dapat Rp.15.000.000. Maka, penulis yang bukunya best seller biasanya dapat membeli laptop, komputer, sepeda motor, bahkan mobil dan rumah. Dapat naik haji dan umroh, melakukan perjalanan keluar negeri dan seterusnya. Senang ya?

 

Kapan buku best seller?

Berbincang tentang best seller, tentu tidak mudah. Sebab best seller belum tentu sama dengan best quality. Ada buku-buku yang menang lomba, sangat bagus tema dan idenya, cantik diksinya, namun buku tersebut jeblok dipasaran. Penyebabnya macam-macam. Mulai cover yang kurang menarik, penulis yang kurang dikenal, promosi yang kurang gencar serta moment yang tidak pas.

 

psikologi-pengantin

Alhamdulilah, 3 bulan telah naik cetak yg kedua

Dalam perjalanan kepenulisan saya, tidak semua buku-buku best seller. Yang penjualannya best seller antara lain Lafadz Cinta, Pink, Rinai, The Road to The Empire dan Alhamdulillah sekarang Psikologi Pengantin.

 

Yang very fast moving saat baru terbit adalah The Road to The Empire.

Buku yang hingga kini masih diminati dan terus ditanyakan pembaca adalah Rose, Rinai, Bulan Nararya serial Takudar : Sebuah Janji, The Lost Prince, The Road to The Empire dan Takhta Awan. Buku anak-anak pun demikian seperti Janji Cici dan Ketika Upi Bertanya.

Apa sebab buku tersebut laris manis?

 

1.Karena covernya : Lafadz Cinta, Pink. (ada pembaca yang menyangka penulisnya adalah yang terpampang di cover. Hellooo….itu Karina Kapoor, plis. Penulisnya lebih cantik kwkwkwk)

2. Karena kisahnya yang spesifik : serial Takudar. Tidak setiap penulis menyukai setting Mongolia dan mengangkat tokoh yang jarang dikenal. Saya memang sudah lama jatuh cinta dengan Takudar ini, sejak menemukan buku warisan ayah berjudul The Preaching of Islam Thomas W. Arnold.

 

3.Karena kisahnya yang sederhana : Rose dan Lafadz Cinta. Rose dan Lafadz Cinta ini sebetulnya kisah cinta yang sederhana, setiap penulis insyaallah bisa menulisnya. Bandingnya dengan serial Takudar yang mungkin tidak setiap penulis bisa menuliskan setting Mongolia sebab memang tidak terlalu menyukai dataran China, gurun Gobi dan sejarah Jenghiz Khan.

cover-rinai1

Rinai : Palestina

4.Karena momentnya yang pas : Rinai bersetting Palestina. Novel ini tergolong lumayan ‘berat’ sebab berbau psikologi. Namun moment yang tepat, bersamaan dengan moment Palestina, novel ini cukup laris di pasar.

 

5.Karena dibutuhkan masyarakat : Psikologi Pengantin. Banyak anak muda dan pasangan baru yang butuh panduan psikologis tentang pernikahan dan bagaimana merawat hubungan agar tetap seperti pengantin baru. Sepertinya, kebutuhan pasar inilah yang membuat Psikologi Pengantin dapat naik cetak yang kedua dalam jangka waktu 3 bulan sejak terbitnya.

 

Buku Write Off

Buku write off adalah buku yang ditarik dari pasaran karena sudah dianggap tidak layak jual (duh sediiih banget …hiks). Buku ini biasanya dikembalikan hak terbitnya kepada penulis dan penulis berhak untuk : merevisi naskah, menyerahkan pada penerbit lain, menerbitkan dalam bentuk e-book atau menerbitkan di blognya pribadi.

Sebetulnya, buku write off belum tentu berarti  buku kita jelek lho.

Buku ditarik dari pasaran kemungkinan momentnya kurang tepat, promosinya kurang gencar. Banyak buku write off yang dikembalikan ke penulis lalu penulisnya menjual via online dan buku tersebut malah laris manissss.

 

Bagaimana membuat buku best seller?

Manusia wajib berusaha. Allah Swt yang akan merumuskan akhir perjalanan kita, termasuk bagaimana nasib naskah-naskah yang ditulis dengan segenap pengorbanan. Nyaris, tidak ada penulis yang sembarangan ketika menuliskan sebuah karya, walau ia hanya selarik puisi.

Bila ingin buku best seller, ayo kita saling berbagi ilmu. Pengalaman saya di bawah, semoga bermanfaat buat saya pribadi dan buat orang lain.

  1. Cover. Jangan main-main dengan cover. Orang Indonesia suka sekali dengan tampilan dan kemasan. Cover Lafadz Cinta, saat itu sedang booming cover buku menggunakan wajah seseorang. Kalau sekarang novel saya diterbitkan dengan cover wajah, mungkin orang tidak melirik. Diskusikan dengan editor, illustrator, apa cover yang menarik di pasaran. Penulis harus sering jalan ke toko buku dan melihat apa sih buku yang sedang digemari kalangan tertentu. Cover Pink pun demikian eye catching maka kumpulan cerpen Pink sangat laris saat itu.
  2. Judul. Ternyata, judul buku juga berpengaruh. Dari hasil diskusi dengan banyak orang, ternyata judul buku harus simple dan tidak multitafsir. Kitab Cinta Patah Hati, Cinta x Cinta, dan Psikologi Pengantin adalah buku-buku motivasi cinta yang saya tulis dengan mengumpulkan referensi psikologi puluhan bahkan ratusan. Namun , tidak semua buku itu diterima pasar dengan baik. Kata para pembaca, Cinta x Cinta menimbulkan multitafsir : ini apa sih isinya? Walaupun cover dan tampilan buku itu untuk remaja. Sementara Psikologi Pengantin jelas mengarah pada orang yang mau menikah, ingin menikah, atau baru menikah.
  3. Promosi. Rajin- rajinlah promosi di media sosial : blog, twitter, instagram, fanpage, facebook. Semoga, audience semakin sadar bahwa ada buku manis sedang terbit di pasaran. Setiap orang yang menanyakan buku ini coba ditanggapi, sekalipun hanya bertanya : berapa harganya? Ada di pasaran enggak? Walaupun kadang-kadang pembaca dan khalayak menanyakan hal-hal yang membuat penulis bersedih : ada diskon? Ada gratisan? 200 halaman buku baik novel atau non fiksi, ditulis setidaknya 1 bulan lebih. Ada yang 3, 6 bahkan 24 bulan! Malah ada yang bretahun-tahun! Betapa sedihnya ketika khalayak masih beranggapan buku terssebut seharusnya lebih murah dari Rp. 50.000. Tetapi, penulis sedang mengkomunikasikan karyanya dengan pembaca. Maka penulis harus bermental positif untuk meyakinkan khalayak : buku ini layak anda miliki sekalipun uang anda akan berkurang Rp.50.000
  4. Paket. Kalau buku sudah write off, ambil saja oleh penulis. Jual system paket. Biasanya , pembaca suka beli system paket sebab ongkos kirimnya sekalian. System paket juga mereduksi harga buku. Penulis senang, pembaca juga senang.
  5. Doa. Ini factor X yang tidak boleh dilupakan siapa saja. Hanya Allah Swt pemberi rezeqi. Bila rezeqi royalty belum milik penulis, mungkin rezeqi yang lain mengintip. Rezeqi menang lomba, rezeqi cerpen koran atau majalah, rezeqi mengisi acara dll. Mental positif akan membuka pintu rezeki, insyaAllah.

 

 

Left Group : Bertahan atau Keluar?

Suatu ketika, grup yang berisi orangtua murid SD kelas V ditutup. Putra putri kami sudah lulus dan masuk SMP.
Ketika satu persatu dikeluarkan, ada rasa sedih tak terjabarkan.
Ah…biasanya ada yang share tentang nasehat.
Share foto foto yang mengundang tawa atau haru.
Share kegiatan.

Left whatsapp ? Why?

Padahal, masih ada puluhan grup yang harus saya ikuti! Kehilangan satu toh tak masalah. Tapi, ada grup yang ketika dibubarkan rasanya sedih sekali 
Ada grup yang kita ingin Left group. Ada yang kita ingin bersama selalu. Ternyata benar kata Rasulullah Saw yang intinya : ruh manusia ibarat sepasukan burung membentuk formasi.

Pernah lihat burung terbang membentuk huruf V raksasa di angkasa ketika senja? Mungkin seperti itu gambarannya.
Kita sedih berpisah dengan orang-orang yang dekat di hati, meski tak kenal wajah, lupa nama. Namun disatukan dalam grup media sosial dan merasakan ruh yang sama.
Kita mungkin terikat dengan grup alumni, angkatan, teman seprofesi dll yang seolah memiliki latar belakang sama namun ternyata hati-hati kita tidak terikat. Mungkin saja kita merasa ada grup yang terlalu vulgar ketika membahas sesuatu, ada yang ketika beberapa individu melontarkan pernyataan kontroversial maka yang lainnya ikut emosi, atau ada pula yang merasa keterlibatannya di grup tidak mendapatkan manfaat.

Alone without whatsapp

Alone without whatsapp

Hm, bila hati tak terikat padahal seharusnya hati-hati para sahabat saling menyatu, tidakkah doa Rabithah dibutuhkan?