Kategori
da'wahku FLP FLP Kids FLP Wilayah Jawa Timur Kepenulisan Mancanegara Oase Remaja. Teenager Sastra Islam

Berapa Besar Sumbangsih FLP (Forum Lingkar Pena) bagi Indonesia?

 

 

22 Februari 2017, Forum Lingkar Pena tepat berusia 20 tahun.

flp

Organisasi ini di sebut Taufik Ismail sebagai  ‘anugerah Tuhan bagi bangsa Indonesia’, sebuah ucapan yang layak direnungkan dan dibanggakan bagi segenap anggota serta pengurus FLP di Indonesia maupun perwakilannya di luar negeri.  Dalam angka yang diakhiri dengan imbuhan –an ; anggota FLP mencapai ribuan bahkan belasan ribu dengan buku-buku yang juga mencapai ribuan sejak organisasi ini berdiri di tahun 1997. Jumlah pastinya, haruslah disesuaikan dengan dinamika serta arsip organisasi. Mengingat, menggabungkan anggota yang penuh daya imajinasi dan kreativitas lalu merapikannya dalam struktur organisasi bukannya perkara mudah.

Milad FLP 19, Yogya.JPG
Yogyakarta-Ulang tahun FLP ke 19, 2016

Memandang  konstelasi perbukuan dan dunia sastra, dimanakah letak FLP? Apakah penulis-penulis FLP merupakan seniman serta sastrawan yang berkualitas yang karyanya pantas dibanggakan mulai level lokal, nasional hingga internasional? Apakah karya-karya FLP layak menembus pasar global internasional dan menjadi karya sastra yang mewakili wajah Indonesia?

 

Keberagaman anggota FLP

Salah satu asset luarbiasa dari FLP adalah demikian penuh keragaman corak dari anggota yang tersebar di penjuru Indonesia serta di beberapa titik mancanegara. Usia SD-SMP dikelompokkan sebagai FLP kids, diatas itu bergabung menjadi anggota FLP regular. Setiap cabang dan wilayah punya kekhasan masing-masing yang disesuaikan dengan kultur setempat serta ketersediaan sumber daya. BPP FLP memantau wilayah-wilayah, memberikan masukan serta mengatur seluk beluk keorganisasian.

rohingya-2

FLP kids menampung anak-anak SD –SMP yang sangat menyukai dunia tulis menulis. Mengingat buku-buku karya penulis cilik sangat digemari di seantero Indonesia, penerbit sangat membutuhkan karya-karya bermutu. Lini PECI (penulis cilik Indonesia) dari penerbit  Indiva, KKPK (kecil-kecil punya karya) dari Mizan; adalah beberapa yang sangat giat menerbitkan karya para penulis cilik. Tentu, penerbit memiliki cara tersendiri dalam menyaring tulisan berkualitas yang disukai pasar; namun, FLP pun turut membantu menyuburkan semangat berkarya di kalangan anak-anak Indonesia.

FLP Jombang, FLP Padang, FLP Lampung

 

Bagi remaja, untuk usia SMA dan mahasiswa, FLP menjadi organisasi kepenulisan yang diperhitungkan. Betapa banyak orangtua yang menginginkan anaknya mengembangkan bakat minat dibidang kepenulisan, mengontak FLP pusat atau wilayah dan meminta narahubung dari FLP yang terdekat. Remaja-remaja ini yang memang memiliki hobby membaca pada awalnya, lama-lama ingin mengembangkan diri dengan menulis. Apalagi, pekerjaan menulis sekarang bukan hanya terbatas membuat buku, menerbitkan cerpen, menulis puisi. Penulis sekarang lebih berkembang lagi profesinya mencakup penulis scenario, blogger, penulis lagu, hingga penyedia konten dari media-media online. Remaja-remaja berbakat menemukan FLP sebagai salah satu wadah yang memahami kebutuan mereka, menjadi organisasi yang asyik dan seru untuk membahas seputar dunia sastra terkini. Bukan itu saja, dari ranah kepenulisan, bahasan yang didiskusikan di media sosial dapat berkembang mulai film, music hingga politik. Anak-anak muda di FLP belajar untuk menuliskan opini mereka sendiri, bukan hanya sekedar copy paste, potong-salin. Bukan hanya sekedar broadcast. Anak-anak muda di FLP berusaha menilai sesuatu dari sudut pandang pribadi, dari perenungan dan penafsiran versi sendiri.

Terkadang, di WAG atau whatsapp grup FLP timbul ketegangan ketika membahas politik. Namun uniknya, anak-anak muda ini berusaha untuk terus menajamkan tulisan dengan bersumber pada fakta dan data; serta mencoba untuk berargumentasi dengan tagline sastra santun. Apa yang kita pikirkan, apa yang kita rasakan, apa yang kita lakukan dan katakan serta tulisan; haruslah dengan kesantunan. Ketika menyerang satu pihak atau mengkritik satu golongan; tidaklah perlu menggunakan kata-kata yang tidak pantas. Anak-anak muda di FLP tumbuh menjadi generasi yang suka membaca, suka menulis. Maka bila kita membaca tulisan mereka diblog atau facebook, terasa sekali bahwa penulis FLP membawa nuansa yang berbeda. Konyol lucu, menghibur, namun bukan tong kosong.

Kalangan dewasa FLP, terdiri dari lebih banyak ragam elemen. Dosen, guru, karyawan, peneliti, sastrawan, PNS, pengusaha, editor, mahasiswa,  maupun kalangan professional lain. Ada pula kalangan pekerja istimewa yang dikenal sebagai tenaga kerja  Indonesia, yang bekerja di Hong Kong dan Taiwan. Karya-karya mereka telah diakui secara lokal, nasional bahkan internasional. Bagi guru, nama Gegge Mappangewa dari Makassar, Umi Kulsum dari Jombang, dan Khairani dari Banjarmasin adalah beberapa nama FLP yang karyanya berulang-ulang meraih penghargaan. Bukan hanya karya, namun juga kiprahnya di dunia belajar mengajar menjadi teladan bagi sesame guru mupun menjadi motivator bagi siswa. Agaknya, kemampuan mereka menulis menjadi salah satu point tersendiri untuk menjadikan para guru dan anggota FLP ini sebagai sosok teladan.

Di kalangan dosen dan penulis, FLP memiliki nama-nama Helvy Tiana Rosa, Irfan Hidayatullah; keduanya mantan ketua FLP terdahulu. Topik Mulyana, juga salah satu dosen dan pengurus FLP yang tulisannya tersebar di media massa sebagai sastrawan atau kritikus. Dari kalangan peneliti, muncul nama Maimon Herawati dan Ganjar Widhiyoga. Dua orang ini bak suhu kungfu yang akan turun gunung ketika dunia gonjang ganjing dengan segala hiruk pikuk berita hoax. Setiap kali tulisannya diunggah ke media massa, Maimon Herawati dan Ganjar Widhiyoga akan menuai banyak likers (juga haters) dan dishare ke banyak mungkin pembaca. Dari kalangan professional, nama-nama Intan Savitri sebagai ilmuwan psikologi, Yeni Mulati (Afifah Afra) sebagai CEO  ; menjadi referensi berharga bagi pembaca tiap kali mereka menelurkan tulisan baik buku atau sebuah catatan di media sosial. Di kalangan selebritas sendiri, tentu tak asing nama Habiburrahman el Shirazy dan Asma Nadia sebagai penulis-penulis kondang yang memberikan warna luarbiasa bagi dunia perfilman Indonesia.

Adakah kalangan istimewa dari FLP?

Tentu saja, kalangan ibu-ibu. Para ibu disini adalah ibu-ibu yang luarbiasa. Ditengah kesibukan dan tingkah polah mereka yang sangat spesifik sebagai kaum ibu yang cerewet, suka belanja, suka mengomel; para ibu  menelurkan karya-karya yang  sangat membanggakan. Selain buku-buku, penulis perempuan FLP banyak aktif sebagai blogger dan meraih banyak keuntungan baik financial maupun immaterial. Sebut saja Pipiet Senja, Naqiyyah Syam, Gesang Sari, Risalah Husna, Sri Widiyastuti, Puspitasari, Fauziah Rachmawati, Lina Astuti dan masih banyak lagi.

Blogger laki-laki?

Wah kalau ini jangan ditanya, jumlahnya menjamur di FLP!

Ali Muakhir, Koko Nata, Bang Aswi, Rafif Amir, Sokat Rahman, Bang Syaiha, Billy Antoro, Ilham Anugrah yang bila ditotal jumlah blogger FLP, mencapai puluhan bahkan ratusan. Mengapa demikian? Sebab rata-rata penulis FLP memiliki blog yang rutin dipelihara dengan tulisan dan laporan pandangan mata. Para blogger ini bukan hanya sibuk mengejar prestasi di dunia blogging, namun juga aktif dalam profesi masing-masing di dunia nyata.

Selain kelompok di atas, masih ada beberapa golongan di FLP yang demikian unik. Dua di antaranyanya adalah para pekerja serta mahasiswa perantauan di luar negeri.

FLP Hongkong.jpg
FLP Hong Kong

BMI Hong Kong dan pekerja di Taiwan adalah wilayah FLP yang sering menuai kekaguman akibat sepak terjang mereka yang luarbiasa. Bukan hanya mereka hidup di negeri orang, bekerja sebagai karyawan pabrik atau rumah tangga; hidup di level marginal, terpinggirkan dan kadang tidak dihargai secara layak; pada kenyataannya para pekerja Hong Kong dan Taiwan ini merupakan penulis-penulis yang luarbiasa. Sebut saja di antaranyanya Rihanu Alifa, Anna Ilham, Enda Soedjono, Shanna Azzahra, Indira, Ssy Laili. Mereka bukan hanya aktif di media sosial namun juga menulis di koran-koran lokal yang beredar di Hong Kong dan sekitarnya.

Mahasiwa perantauan di luar negeri, pun memberikan contoh luarbiasa bagaimana para pelajar harus membagi dengan bijak antara keuangan untuk mengelola organisasi, membeli buku, dan hidup cukup di perantauan. Bagaimana harus membagi waktu antara belajar, membaca jurnal (tentu dalam bahasa asing!), membaca referensi dan menelurkan buku-buku. FLP Mesir, FLP Yaman , FLP Turki, Maroko, Arab Saudi, Malaysia yang namanya terlalu panjang untuk disebutkan satu persatu. Anggota FLP yang pulang ke tanah air pun terus bergiat menyelesaikan karya seperti Awy Qolawwun yang merupakan jebolan FLP Arab Saudi, Adly el Fadly yang merupakan jebolan FLP Yaman, Irja NAshrullah yang masih aktif di FLP Mesir.

Demikian beragamnya anggota FLP hingga satu sama lain saling memberikan informasi berharga terkait dunia literasi yang tengah berkembang, issue-issue kekinian, berbagi ilmu sesuai dengan kapasitasnya, berbagi informasi lomba dan saling mendorong untuk meraih prestasi. Keragaman anggota FLP ini memperkaya para anggota untuk terus memacu masing-masing individu terus dan terus belajar.

 

Karya-karya yang terus berkembang

Karya FLP pernah dianggap karya kacangan.

Mengingat karya-karya tersebut begitu sederhana, begitu seragam dengan karya-karya sebagian besar anggota FLP, tidak menimbulkan makna yang dalam serta tidak layak untuk disejajarkan dengan karya-karya besar HAMKA atau Pramoedya.

Mengapa dianggap kacangan?

Memang karya FLP banyak yang seragam. Mengingat salah satu pilar FLP adalah keIslaman; banyak anggota FLP yang masih memahami karya Islami haruslah memiliki alur pesantren, masjid, tokoh berjilbab dan berjenggot. Kisahnya seputar mendapat hidayah saat menjadi mahasiswa kampus yang aktif di rohis, menjadi suka al Quran ketika di pesantren, atau mendapat kesempatan studi ke Timur Tengah.

Karya FLP dianggap minim kekayaan diksi serta mudah ditebak alurnya. Awalnya susah, lalu happy ending. Akhir yang mudah sekali diprediksi : menikah dengan sesama orang sholih, berhasil mendapatkan akhwat cantik idaman, lulus beasiswa dengan gilang gemilang, menjadi dosen dan disukai banyak mahasiswa.

Sesungguhnya, karya FLP tidaklah bisa disebut karya ‘kacangan’.

Siapakah HAMKA dan Pramoedya?  Adalah orang-orang yang kenyang makan asam garam kehidupan. Hidup dalam situasi sosial dan politik yang panas, merasakan peperangan dan penjara yang pedih. Sebagaimana kata Nietzche : hanya peperangan yang dapat membuktikan siapa manusia sesungguhnya, siapa binatang sesungguhnya.

Anggota FLP yang masih SMA dan mahasiswa, ibarat anak yang belajar berjalan, masih tertatih-tatih meraba-raba. Mereka seringkali harus menyisihkan uang untuk membeli buku sendiri yang bagi kantong Indonesia relative mahal, mereka juga tidak duduk di bangku fakultas FIB atau jurusan sastra. Mereka adalah anak-anak yang senang membaca, menulis, membaca, menulis. Karya-karya mereka adalah latihan yang sesunggunya. Sejak awal, mereka harus kenyang dengan kritikan pedas dan Alhamdulillah, mereka pantang mundur, terus menulis dan terus belajar. Perubahan-perubahan itu terlihat pasti merayap. Satu demi satu adik-adik FLP meraih penghargaan di tingkat lokal. Baik lokal sekolah, lokal kampus, lokal regional di koran kota. Lalu mulai muncul di koran nasional, di media online nasional, memenangkan lomba yang ringan persaingannya hingga lomba-lomba yang berat persaingannya serta level jurinya.

Adalah tokoh-tokoh FLP seperti Habiburrahman el Shirazy, Asma Nadia, Benny Arnas yang level ketokohannya diakui dunia. Mereka tidak lagi hanya memberikan pelatihan di tingkat Indonesia, namun diminta mengisi acara-acara di berbagai event di mancanegara. Ada banyak potensi di FLP yang insyaallah siap mengekor keberhasilan para pendahulunya seperti Asma Nadia, kang Abik dan Benny Arnas. Mashdar Zainal, salah satu anggota FLP Jawa Timur yang karya-karyanya tembus secara fantastis di koran ‘sulit’ seperti Jawa Pos dan Kompas.

Karya-karya kacangan FLP, akan terasa kacangan bila dikunyah oleh orang-orang dewasa yang level bacaannya sekelas para peraih nobel, pullitzer, dan penghagaan dunia lain : Najib Mahfudz, Amin Malouf, Rudyard Kipling, Orhan Pamuk, Serdar Ozkan, Nicholas Carr. Namun karya-karya ‘kacangan’ FLP akan menjadi kue lezat bagi sesama remaja yang butuh asupan bacaan ringan. Dan, mereka membutuhkan bacaan sejenis yang banyak jumlahnya.

Seorang gadis yang ingin memakai jilbab; akan terinspriasi oleh novel-novel tentang jilbab sekalipun alurnya kacangan, bombastis, tidak masuk akal, tidak relevan bahkan terlalu mengada-ada. Bila ia membaca 5, 10, 20 novel serupa yang menceritakan pengalaman memakai jilbab; bukan tidak mungkin ia pun pada akhirnya mantap berkerudung.

Seorang pemuda yang maju mundur untuk studi di pesantren; ketika membaca buku-buku yang mirip dan terkesan ‘sastra abal-abal’ ; sesuai level usianya yang masih suka menelan hal yang renyah dan ringan; pada akhirnya terdorong masuk ke pesantren dan membuka pintu kesadarannya untuk berjuang mengenyam pendidikan serius serta memangsa kitab-kitab yang jauh lebih berat dari sekedar naskah kacangan.

Anak-anak SD, yang masih suka berimajinasi dan membaca perkara ringan tentang dunia peri, dunia fantasi, kehidupan ala istana dan putri-pangeran; terdorong banyak menbaca buku ‘kacangan’ yang mungkin tidak sekelas Little Women (Louisa May Alcott) ,  Secret Garden (Burnett), Kim (Rudyard Kipling) atau bahkan Toto Chan. Namun, ketersediaan buku-buku ringan ini akan mendorong mereka memangsa buku level lebih tinggi dan pada akhirnya mereka suka mengunyah buku berat dan suatu ketika, menghasilkan karya sastra yang lebih mumpuni di waktu-waktu yang berikut.

Belajar menulis membutuhkan perjuangan panjang.

Tidak hanya dibatasi oleh bangku kuliah 4 tahun untuk S1, 2 tahun untuk S2. Belum tentu mahasiswa FIB atau sastra mampu menuliskan buku berkualitas bila mereka tidak mau belajar dengan susah payah. Sebagaimana belum tentu mahasiswa S2, S3 dan peneliti dapat menulis karya ilmiah dengan luwes dan dapat diterima oleh masyarakat luas. Menulis karya ‘kacangan’ kadang merupakan stimulant awal bagi penulis untuk belajar bagaimana menyesuiakan ritme kesibukan dengan target menulis : berapa buku setahun, berapa bulan selesai 1 buku, berapa bab harus dikerjakan 1 minggu, berapa halaman dalam 1 hari dan berapa jam untuk menulis. Ketika ritme menulis ‘kacangan’ ini terbentuk; lambat laun dengan dorongan individu dan organsisasi akan tercapai karya-karya yang semakin berbobot dari waktu ke waktu.

FLP, memang dikenal sebagai pabrik penulis.

Terkesan sebagai organisasi yang mengeluarkan penulis-penulis karbitan, penulis kuantitas bukan penulis kualitas, penulis kualitas pabrik bukan kualitas butik. Meski demikian; segala kritik tentu berharga bagi tumbuh kembang sosok individu dan organisasi. Mereka yang telah bertahun-tahun menulis, tentu harus berupaya meningkatkan kapasitas diri agar karya tulis tidak selamanya kacangan. Bolehlah karya-karya ‘kacangan’ dihasilkan oleh anggota pemula; semakin tinggi level anggota FLP di tingkat madya dan andal; maka proses kreativitasnya harus terus bejalan. Karya yang dihasilkan pun harus semakin berat bobot kualitas, keilmuan, logika berpikir, maupun maknanya.

Proses, adalah bagian yang diakui di FLP.

Tidak ada proses sekali jadi.

Tidak ada proses yang singkat.

Tidak ada proses yang hanya seminggu.

Semua proses, bahkan penciptaan langit dan bumi melalui 7 tahapan di ‘tangan’ Allah Swt . Apalagi proses manusia,  mungkin melalui puluhan, ratusan, ribuan tahapan.

 

FLP dan pasar lokal-global

FLP cukup berhasil menyasar pasar lokal. Terbukti, walau dunia penerbitan pasang surut, penulis-penulis baru di FLP bermunculan mengeluarkan novel dan karya non fiksi.

Anggota FLP yang memiliki basic ilmu syariah seperti Irja Nashrullah, Awy Qolawun, Adly el Fadly suskes menggarap pasar nasional yang membutuhkan buku-buku kajian keIslaman dengan bahasa ringan; bukan bahasa referensial yang cendeung berat.  Afifah Afra, Naqiyyah Syam; sukses menggarap pasar remaja putri dan ibu-ibu. Ali Muakhir, Koko Nata, Sri Widiyastuti sukses menggarap pasar anak-anak. Habiburrahman, Asma Nadia sukses menggarap pembaca perempuan; sementara Benny Arnas dan Mashdar Zainal sukses memanfaatkan ceruk sastra yang jarang digeluti penulis karena effortnya yang cukup besar. Rafif Amir, Gesang Sari, Sokat Rahman, Billy, Aprillia, dkk  dan blogger FLP sukses menggarap pasar online yang celahnya sangat terbuka dan ramai.

Dalam era digital, FLP mencoba beradaptasi.

Kertas-kertas berimbas pada penebangan kayu yang mengancam paru-paru dunia. Disisi lain, orang-orang masih belum terbiasa menggunakan perangkat elektronik untuk membaca buku. E-book sebuah keniscayaan, namun juga cepat memunculkan kelelahan. Apalagi, orang cenderung membuka media sosial ketika berinteraksi dengan gawai dan cepat teralihkan dari niat semula yang ingin membaca buku elektronik. Buku-buku berhana baku kertas masih diminati, walaupun juga, manusia harus dibiasakan semakin efektif efisien dalam bertingkah laku.

Bekerja sama dengan beberapa media online seperti beetalk, bitread dan UC News; merupakan satu langkah FLP memasuki pasar lebih luas. Anggota FLP tidak hanya harus belajar menulis fiksi – non fiksi; tapi juga belajar menulis materi-materi up to date yang diminati masyarakat luas mulai bahasan Donald Trump-Melania, hingga bagaimana hidup awet muda.

 

Apa yang Diberikan FLP pada Indonesia?

Jawabannya adalah Sumber Daya Manusia.

SDM adalah asset sangat mahal yang menghabiskan modal luarbiasa besar. Dalam sebuah perpustakaan di Seoul, terpahat reader is leader. Pembaca adalah pemimpin. Begitupun pemimpin adalah seorang pembaca. Negarawan kita adalah pembaca, penulis dan orang yang tiada berhenti belajar. Bung Karno, bung Hatta, Mohammad Natsir, HAMKA, Ki Hajar Dewantara, adalah para pembaca yang luarbiasa. HAMKA bahkan mewajibkan dirinya membaca buku dalam beragam bahasa untuk menajamkan otak. Pantas saja, Indonesia berhasil melawan kekuatan asing yang luarbiasa tangguh. Mereka memiliki senajta, kita memiliki daya juang.

FLP memberikan pada Indonesia sekian ribu manusia yang suka membaca dan menulis. Mereka bukan hanya orang-orang yang duduk di bangku akedemis; namun juga para buruh dan tenaga kerja marginal. Mereka bukan hanya orang yang terbiasa duduk di belakang meja mengerjakan laporan keuangan, namun juga para ibu yang bergelut dengan harga cabai. Mereka bukan hanya para dosen dan guru, tapi juga para pelajar SD hingga mahasiswa.

FLP memberikan kesempatan berproses. FLP memberikan lingkungan yang nyaman bagi para pembaca dan (calon) penulis. FLP mengasah kemampuan di luar bakat minat yang paling dasar. FLP memberikan para penulis informasi dan jaringan berharga yang harus dimiliki penulis untuk go local, go national, go international. Dalam ranah global dewasa ini, tidak ada seseorang yang dapat berhasil hanya secara individual. Ia butuh dukungan, butuh kelompok, butuh orang-orang di belakang layar.

Di belakang layar FLP; tersebar ribuan anak muda yang namanya tidak tercantum sebagi penulis atau blogger. Mereka adalah para buzzer dan reviewer yang rela mem-boost buku, agenda literasi, kegiatan kepenulisan agar sukses. Mereka adalah pengurus-pengurus FLP Pusat, wilayah, cabang, hingga ranting yang bersedia berpayah-payah menjalankan roda organisasi agar tercipta harmonisasi antara penulis, dunia perbukuan, kalangan media dan penerbitan yang harus terus bersinergi untuk menghasilkan karya-karya spektakuler. Orang-orang di belakang layar inilah yang membantu munculnya penulis-penulis tenar dan popular.

FLP Wilayah Jawa Barat, FLP Wilayah Jawa Timur, FLP Wilayah Riau

Bersama FLP, hadir wajah-wajah muda, wajah-wajah baru penulis; maupun hadir wajah-wajah penulis yang terus bermetamorfosa menjadi HAMKA dan Pramoedya yang berikutnya.

Selamat ulangtahun ke 20, FLP.

Berarti, berkarya, berbagi.

Teruslah berjuang dengan pena!

Kategori
Artikel/Opini da'wahku Dunia Islam Oase Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Ketika Issue Negatif terhadap Ulama Tidak Berpengaruh

 

 

Kampanye hitam dan issue negatif terhadap satu pihak sudah digunakan sejak lama untuk menjatuhkan martabat lawan, dan diharapkan dapat mendongkrak posisi penyerang. Sejarah mencatat bagaimana Rasulullah Saw dianggap sebagai penyihir dan pendusta tetapi semua terbantahkan sebab jejak hidup beliau memang tidak tercerminkan dalam berita bohong yang tersebar. Fitnah terhadap Aisyah ra dalam kisah terkenal haditsul ifki, dihembus demikian kuat, tetap tak dapat menghitamkan jejak ummahatul mukminin shalihat yang terkenal sangat cerdas serta sangat menjaga shaumnya. Muhammad Al Fatih pernah dianggap berambisi pada kekuasaan dan melakukan konspirasi ketika dua saudara laki-laki tiri Al Fatih, Ahmad bin Murad dan Alauddin Ali, meninggal terbunuh. Namun kampanye hitam itu terhapus. Sebab bagaimana mungkin orang dengan watak licik mampu mengorganisasikan pasukan bernyali sekaligus luhur budi? Ketaatan dan kedekatan Al Fatih pada ulama besar di masanya seperti Mollah Ghorani dan Aq Syamsuddin, semakin menghapus berita dusta. Mereka yang dekat dengan ulama, adalah mereka yang tahu batas antara kebenaran dan kebathilan.

syaikh-yusuf-qardhawi-dan-dr-hidayat-nur-wahid
Syaikh Yusuf Qardhawi & Dr. Hidayat Nur Wahid

Dalam surat al Maidah ayat 41 dikabarkan bahwa orang-orang Yahudi gemar sekali percaya pada berita bohong – hoax istilah zaman sekarang. Hoax dengan komponen yang membangkitkan bias negatif memang sangat digemari masyarakat, utamanya karena informasi ini benar-benar memainkan perasaan, keputusan, serta bagaimana proses informasi di jalur mental seseorang berjalan (Lang, Park, et al, 2007)

Apakah kampanye hitam terhadap pihak lawan bermanfaat untuk menjatuhkannya, memperkuat posisi penyerang dan memenangkan pertarungan? Apakah hoax dan bias berita negatif akan mengunci seluruh informasi dan benar-benar membuat orang hanya cenderung ke satu sisi?  Penelitian di lapangan akan memberikan jawaban.

 

Membangun Emosi Negatif

Emosi negatif terhadap kampanye hitam membuat kualitas dan kuantitas seseorang menurun dalam pertimbangan politik, pencarian informasi maupun penambahan pengetahuan politik.

yusuf-qaradhawi-biografi-web-2
Syaikh Yusuf Qardhawi, Dr. Hidayat Nur Wahid, ulama-ulama

Secara garis besar emosi manusia terdiri atas lima hal : marah, takut, jijik, bahagia dan sedih. Tiga emosi negatif yang pertama menjadi bahan penelitian ahli sosial yang mengaitkan dengan issue-issue di media, terutama media sosial. Emosi jijik tersisih, yang tersisa adalah emosi marah serta takut yang memberikan informasi penting. Ternyata respon fisiologis dan kognitif manusia amat sangat berbeda saat merespon takut dan marah.

Rasa takut terhadap issue negatif politik membuat orang terpacu mencari informasi dan belajar politik (Valentino et al, 2008) Tetapi tidak dengan rasa marah. Rasa marah akibat kampanye negatif membuat dampak yang berbeda dari rasa takut. Mereka yang terpicu amarahnya justru akan berbalik dari rasa takut; pada akhirnya enggan belajar politik sebab beranggapan politik adalah hal paling busuk dalam sejarah tatanan manusia. Pertimbangan-pertimbangan terhadap politik menajdi sarkastik, atau malah pragmatis.

Pendek kata, kampanye negatif yang membangkitkan rasa takut akan menjadikan orang lebih berperilaku positif,  dalam hal ini terkait information seeking dan recall. Namun kampanye negatif yang membangkitkan amarah akan menjadikan orang berperilaku negatif baik dalam information seeking maupun recall.

Informasi negatif lebih dapat membangun respon emosional, kognitif dan perilaku dari target sasaran dibanding informasi netral dan positif. Apakah para penyerang bermaksud demikian? Boleh jadi. Berita-berita yang menebarkan kemarahan akan cepat sekali mendapatkan respon masyarakat, dibanding berita yang menebar ketakutan. Masarakat diharap membuat respon cepat yang bedasarkan pertimbangan cognitive heuristic , tanpa sempat mencari informasi yang akurat dalam membangun kerangka berpikir yang menuju ke arah penyelesaian solutif. Ingatkah beberapa hari lalu beredar di media sosial tentang unggahan status seseorang yang ingin membeli al Quran dan kertas di dalamnya dipakai untuk membersihkan tinja? Atau unggahan pihak-pihak yang mengatakan sosok ini bukan ulama, sosok itu adalah penebar makar, dengan bahasa-bahasa yang menmbangkitkan kegusaran. Untungnya, masyarakat Indonesia semakin waspada sehingga melakukan information seeking terlebih dahulu sebelum bertindak.

Kali ini,  masyarakat pun dibuat marah dengan pemberitaan terkait ulama yang mendapatkan perlikau tak pantas di ruang persidangan. Padahal, dalam struktur kaum muslimin, ulama dihormati sedemikian dalam dan luas sebagaimana agama lain menghormati para pemimpin spiritualnya. Masyarakat seperti  artis, pejabat, penguasa terbiasa mendatangi ulama untuk beragam kepentingan. Rakyat kecil dan selebritis umumnya membutuhkan kehadiran ulama sebagai penyejuk hati dalam menghadapi seribu satu persoalan hidup. Pejabat dan penguasa mendatangi ulama untuk fatwanya, untuk dukungan kekuatannya,  untuk penggalangan suara dari ratusan ribu bahkan jutaan santri yang dimiliki para alim ulama.

Kita berhutang budi pada ulama

 

Dampak Kampanye Hitam Terhadap Ulama

Apakah tujuan kampanye hitam dengan menebar issue negatif?

Salah satunya adalah agar masyarakat memiliki ingatan lebih memorable ketika me-recall satu informasi yang pernah masuk dalam ingatan. Ingatan ini betul-betul tajam dan diharapkan dapat membantu di ruang-ruang pemilihan. Menjatuhkan seseorang akan membuat pihak penyerang mendapatkan posisi angin. Ingatan ini membuat masyarakat cenderung ke satu pihak, dengan kecenderungan yang sangat besar. Harapan ini tampaknya berbeda dengan penemuan di lapangan, bila memang kondisi yang terjadi benar-benar jujur tanpa rekayasa.

Kampanye hitam dengan issue negatif justru menurunkan rasa political efficacy, kepercayaan terhadap pemerintah dan secara keseluruhan merusak public mood  (R. Lau et all, 2007). Rakyat semakin resah dan tidak memiliki mood baik terhadap politik, enggan pula mencari informasi yang akurat, pada akhirnya lebih mempercayai berita hoax dibanding percaya pada kebenaran. Bila rakyat lebih percaya pada issue-issue negative –terlebih hoax-, dapat kita bayangkan. Negara adidaya seperti Amerika pun dibuat limbung sebab presidennya, pemerintahannya, rakyatnya saat ini lebih mempercayai issue negatif. Tidak selamanya berita hoax dan issue negatif  menguntungkan pihak penyerang sebab pada akhirnya baik informasi negatif yang menimbulkan rasa takut dan marah akan menghasilkan satu sikap : information seeking dan recall.

 

Ingatan terhadap Ulama

Recall adalah proses memanggil ulang yang sangat penting dalam proses kognitif. Dalam bersikap dan bertindak, manusia seringkali melakukan berlandaskan azas kognitif dengan memanggil ulang informasi yang pernah didapat. Bagaimana orangtua menghadapi anak-anak, dengan memanggil ulang ingatan masa lalu terhadap apa yang pernah dialami sendiri di masa kanak-kanak. Bagaimana menghadapi situasi, dengan memanggil ulang informasi yang membantu mengatasi situasi tersebut.

Recall atau memanggil ulang ingatan terhadap ulama, telah kita miliki bertahun-tahun bahkan puluhan tahun.

Apa skema dalam otak kita terkait ulama?

Mereka yang memiliki pesantren, mengurus anak-anak yatim hingga anak-anak yang paling dibuang masyarakat. Mereka yang memiliki ilmu agama mendalam dan luas, menempuh pendidikan di pusat-pusat studi Islam di seantero tanah Arab, Afrika dan keseluruhan Maghribi. Mereka yang menghabiskan hari-hari dengan mengorbankan seluruh hidup bagi agama. Mereka yang babat alas, mendirikan pesantren mulai dari nol hingga menjadi madrasah besar. Mereka yang bergerak dalam diam, ketika para politisi berorasi di atas mimbar dan pengusaha mempertontonkan kesuksesan. Mereka yang  saat hidupnya dicari untuk dimintai nasehat, mereka yang saat wafatnya ditangisi para pelayat.

Membuat issue negatif terhadap ulama di Indonesia, tidak akan membuat masyarakat me-recall informasi negatif terhadap sosok tersebut. Sebab selama puluhan tahun, informasi yang tertanam di benak adalah keluhuran dan kemuliaan mereka. Memang, ada ulama yang lebih mencintai dunia dan tidak berpihak pada masyarakat yang menderita, namun prosentasenya sangat sedikit. Ribuan alim ulama di negeri ini, mendampingi masyarakat di saat-saat sulit. Memberikan nasehat agar rakyat selalu bersabar dan bukankah nasehat ulama ini sangat bermanfaat bagi posisi penguasa?

Maka, kampanye hitam terhadap ulama, issue-issue negatif yang menyudutkan ulama, berita-berita bohong dan berita yang memicu kemarahan terkait ulama tidak akan mengubah proses recall masyarakat terhadap profesi mulia ini. Sungguh, ulama adalah asset bangsa yang luarbiasa, yang posisinya didapat bukan karena harta atau pangkat, tapi karena ilmu dan kemuliaan.

Bila Ali Sadikin yang spektakuler membangun Jakarta saja begitu menghormati Mohammad Natsir sang ulama, lalu apalah kita yang belum berbuat apa-apa; berani mencaci maki ulama?

 

Sinta Yudisia

Penulis dan Psikolog Klinis

Kategori
da'wahku Hikmah Jurnal Harian Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Renungan Hidup dan Kematian WRITING. SHARING.

Arti Ulama bagiku dan keluargaku

 

 

Jauh sebelum gonjang ganjing jagad perpolitikan, keluargaku telah mengenal kiai dan ulama. Kami memanggil ulama itu dengan sebutan “pak Yayi, Gus, Kiai, Ustadz”. Tergantung kebiasaan santri masing-masing. Para kiai atau ulama yang kami sambangi, mungkin tidak setenar Habieb Rizieq, Hidayat Nur Wahid, Bachtiar Natsir, KH MA’ruf Amin. Tapi kehadiran mereka sungguh-sungguh kami rasakan demikian dekat, demikian mengayomi, demikian membantu. Ada beberapa peristiwa kritis dalam hidup kami yang ,tanpa bantuan alim ulama, entah hidup kami seperti apa jadinya.

  1. Ketika remaja, ayahku didagnosa penyakit diabetes namun rangkaian sakitnya benar-benar aneh. Kata orang-orang, ayah kami kena santet. Saat itu aku belum pakai jilbab dan agamaku masih jauh sekali dari cukup. Aku ikut saja mamah pergi dari satu kiai ke kiai yang lain. Umumnya mereka memiliki analisa sama : ayahku terkena santet. Satu yang mengesankan dan akan kukenang sampai kapanpun, para kiai tersebut mengatakan : “tidak usah dibalas santetnya. Biarkan saja. Yang penting Ibu rajin sholat.” Dalam bayangan anak kecil seprtiku saat itu : ngapain gak balas santetnya? Dikirim balik aja biar mereka juga mati dan merasakan sakit seperti ayah. Belasan tahun kemudian kusadari, para kiai itu mengajarkan hal sederhana kepada kami : bab aqidah. Serahkan saja pada Allah karena itu perkara ghaib. Lagipula, setan suka membuat makar : bilang kalau penyantetnya adalah si A, padahal bukan. Lalu kita kirim balik, maka kita akan mendapatkan dosa yang  sangat besar.

 

  1. Ketika harta kelaurga habis sehabis habisnya. Masih dalam rangkaian santet. Semua asset keluarga tak bersisa. Rumah, mobil, perusahaan, tanah-tanah. Mamah pintar berbisnis. Beliau sempat menabung dan membelikan setiap anaknya rumah untuk masa depan. Belum sampai rumah itu dibagikan, semuanya ludes-des-des. Tidak ada yang tersisa bahkan perabot pun harus binasa. Entah terjual, hilang, atau diambil orang. Mama menyambangi satu kiai ke kiai yang lain. Jawaban mereka sama : sedekah, sedekah, sedekah. Mama awalnya nggak menyadari, denial Wong lagi susah kok malah sedekah. Belakangan b eliau baru sadar….selama ini harta sedemikian banyak tidak pernah dibersihkan dengan zakat, infaq, sedekah. Mama masi minim sekali pemahaman agamanya. Perlahan, dengan didampingi para alim ulama, pemahaman agama mama berangsur membaik dan beliau sering menyarankan pada anak-anaknya untuk memperbanyak sedekah.

 

  1. Setiap keluarga memiliki masalah kritis. Keluarga kami diuji Allah Swt dengan beberapa ujian yang bukan saja bab harta. Abang, sejak muda terlibat narkoba. Entah berapa kali sudah mama harus berurusan dengan polisi, rumah sakit, orang-orang yang mengamuk karena barang mereka menghilang (penderita narkoba akan melakukan apapun untuk membeli barang). Rumah ssakit hanya mampu mengobati sesaat. Kepolisian lebih meneyrahkan perkara itu untuk ditangani dengan cara kekeluargaan. Lalu, kemana seorang janda seperti mama yang telah habis ludes barang-barangnya mengobati abangku yang telah menjadi pecandu? JAwabannya adala pesantren dan para kiai atau ulama. Mereka mempersilakan mamaku yang tak punya uang untuk datang ke pesantrennya. Mereka memeprsilakan abangku untuk tinggal di pesantren-pesantren beliau. Betapa kehidupan ulama,s antri dan pesantren demikian “hidup” dan sederhana.
muslim-scholars
Ulama Islam

“Sin, Mama belum pernah makan seperti di pesantren X. Hanya pakai sayur jipang bersantan tapi enaaak banget, Masyaallah. Kalau di pesantren Y Mama cuma makan nasi sama teri. Ya Allah…kenapa makan di pesantren2 itu terasa nikmat banget ya?”

“Di pesantren A, kita jarang banget tidur, Sin. Tapi kok badan Mama jadi fit ya. Kita tidur seringkali sampai jam 22.00 atau malah jam 24.00. Nanti jam 02.30 sudah bangun untuk mandi wuwung –mandi keramas. Ternyata nikmat banget ya…habis itu sola tmalam. Lanjut Shubuh.”

“Di pesantren B Mama diajak shaum Daud. Mama gak pernah berpikir kuat puasa Daud, ternyata luarbiasa. Kamu harus coba, Sin!”

Ketika ada kerabat yang mengalami problematika rumah tangga luarbiasa, kami membawanya kepada para kiai. Para kiai dan ulama tersebut bukan psikolog, bukan konselor, bukan konsultan. Tapi ucapan-ucapan beliau sangat menohok hingga membuat orang-orang yang bermasalah itu menunduk, kadang bercucuran airmata.

Ini beberapa nasehat ulama yang menohok para saudaraku yang tertimpa musibah dalam pernikahannya.

“Gimana mau tentrem rumah tangganya? Rumahnya gak pernah dipakai sholat berjamaah!”

“Pernikahan itu, kalau suami istri gak mau saling mensyukuri, ya akan terus menuntut. Akan panas! Akan membuat rezeqi mampet!”

“Kalau suami sudah tidak bisa menjadi qowwam, lelaki yang seharusnya menjadi pemimpin dalam  urusan agama, maka perempuan boleh menggugat cerai.”

“Nduk, berhati-hatilah ketika berbuat salah ya. Nanti membayarnya susah sekali…”

 

  1. Pengalaman nenekku, almarhum. Nenek ini orang yang luarbiasa, demikian cantik dan sabar serta sangat halus bertutur kata. Namun, bukan berarti beliau tidak pernah marah. Konon kabarnya, kalau beliau marah bisa takut orang-orang di sekitar. Ya, biasanya orang yang sabar sangat mengerikan ketika meledak! Putri nenek 4 orang , perempuan semua (mamaku putri beliau yang pertama). Nenek janda ketika mama masi sangat kecil, dapat dibayangkan pahitnya perjuangan beliau membesarkan 4 anak perempuan di era penjajahan Belanda, Jepang, maupun masa-masa sulit Indonesia di awal kemerdekaan. Menghadapi 4 orang putri yang luarbiasa tantangannya, sering membuat nenek menangis. Kemana nenek yang janda, dilanda kesulitan mulai anak-anaknya kecil hingga putrid-putrinya dewasa mencari bantuan?

Ke alim ulama.

Nenek bercerita padaku, “suatu saat, Nenek sangat sedih memikirkan mama kamu, Sin. Nenek lalu ke kiai A. Kata beliau : coba banyak-banyak baca Alam Nasyrah dan baca artinya.”

Waktu itu tafsir Quran belum seperti sekarang.

Nenek melanjutkan : “habis baca Alam Nasyrah, Nenek sadar. Allah telah melapangkan hidup Nenek. Selalu saja dilapangkan. Lalu dikasih ujian lagi. Dilapangkan lagi. Begitu seterusnya. Bacalah itu kalau kamu tiap kali merasa susah ya.”

old-quran
Old Quran
  1. Sebagai konselor dan psikolog, aku selalu lari ke alim ulama. Mengapa? Sebagai terapis, aku tau bagaimana menjalankan tahapan psikoterapis mulai awal, mengakhirinya hingga psychological report writing. Tetapi di titik mana aku harus meningatkan klien-klienku untuk terus bertahan dengan masalah mereka atau segera move on, utamanya dalam kasus pernikahan? Tentu, fatwa para ustadz, alim ulama, telah membantuku dan menyelamatkan –atas izin Allah Swt- banyak keluarga-keluarga : teruskah mereka hidup bersama pasangan atau bismillah, berpisah?

Seorang alim ulama pernah memberikan nasehat yang menjadi panduanku dalam proses piskoterapis dan konseling, utamanya kasus pernikahan :

Bila pasangan murtad, maka otomatis lepaslah tali ikatan pernikahan

Bila salah satu pasangan bermaksiat (berselingkuh, berbohong, melakukan tindak criminal, KDRT pada pasangan dan anak, suami tidak mau mencari nafkah, gangguan orientasi seksual,  dll) maka dikembalikan pada kekuatan pasangan apakah mau bertahan ataukah tetap terus. Tetap terus disini dengan niat semua tahapan untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan dengan upaya semaksimal mungkin memperbaiki kondisi yang ada. Misal, bila pasangan berselingkuh, apakah pasangan di satu sisi akan bertahan, memaafkan, memperbaiki kondisi dll? Sangat tergantung dalam proses konseling, psikoterapi dan perkembangan keluarga tersebut.

Sungguh, tanpa bantuan para ustadz, kiai dan alim ulama; apa jadinya profesi-profesi yang berkaitan hidup dengan orang banyak seperti dokter, psikolog, guru, PNS dan lainnya?

syaikh-yusuf-qardhawi-dan-dr-hidayat-nur-wahid
Syaikh Yusuf Qardawi & Dr. Hidayat Nur Wahid

Teman-temanku para dokter, mereka sungguh berpegang pada fatwa ulama dalam menjalani profesi mereka. Teman-temanku para ibu dan istri, mereka sunggu berpegang pada fatwa ulama dalam memilih menjadi ibu rumah tangga dan meninggalkan karir yang gilang gemilang. Teman-temanku para perempuan bekerja, mereka berpedoman pada fatwa ulama bagaimana berdandan, tetap patuh pada suami, tetap membagi perhatian dengan anak-anak. Teman-temanku para pedagang, mereka berpegang pada fatwa ulama bagaimana cara berbisnis mulai dari promosi hingga jual beli. Teman-temanku yang berada di instansi pemerintah, dalam segala jajaran institusi, berpegangan pada fatwa alim ulama perihal gaji, uang syubhat, maupun insentif. Teman-temanku di segala penjuru yang menjadi konsumen, berpegangan apda fatwa ulama tentang produk halal : dari obat hingga cara pengobatan, dari makanan hingga bahan baku. Teman-temanku berpegang pada fatwa ulama bagaimana cara mencari jodoh, bagaimana jujur dalam studi dan bekerja, bagaimana menjaga adab di media sosial.

Tak bisa kubayangkan, seperti apa kerusakan bagi diriku pribadi, bagi keluargaku, bagi keluarga teman-temanku dan setiap individu bila mereka tidak dipandu dengan ilmu ulama dalam menjalani hidup ini.

 

Kategori
Artikel/Opini da'wahku Oase Sejarah Islam WRITING. SHARING.

Bila Pengejek dan Pengolok berbalik menjadi Pendukung

 

Jika anda memakai  jilbab seperti saya di era 90an, pasti pernah  mengalami masa-masa yang spesial ini.

“Kamu mau kayak orang Iran ya?” kata salah  seorang saudara.

“Kamu ikut aliran apa sih?”

Apalagi ketika saya membatasi pergaulan, mengurangi film dan musik, tuduhan semakin berdatangan : “kamu sekarang nggak asyik lagi diajak ngobrol.”

Ketika saya tidak mau diajak bersalaman dengan pakde paklik mereka sontak murka : “memangnya aku ini apamu, Sin? Pakde paklik merasa tersinggung sekali saya tidak mau menyentuh tangan mereka.”

Waktu nikah muda di usia 20-an tahun, lengkaplah sudah stigma cewek berjilbab : “kamu itu dipengaruhi banget ya sama suru ngaji kamu? Kamu nggak mau kerja? Maunya di rumah aja? Hah, mau anak banyak? Ampun deh! Anak dua aja susah setengah mati!”

Berlinang air mata ini. Sakit rasanya. Kalau yang menyudutkan adalah guru-guru sekolah, nggak papa. Kalau yang menyindir dan mengolok-olok teman satu geng, okelah. Kalau yang menjauh adalah klub bahasa Inggris dan klub  pecinta alam, ya sudahlah. Tapi ketika saudara sendiri yang ikut-ikutan menyindir, mengejek, menyudutkan, menuduh macam-macam; jauh di lubuk hati sakitnya tak terkira melebihi goresan yang ditorehkan orang lain.

Saya ingin pakai jilbab karena ingin menjaga kemuliaan diri dan akhirnya menjaga kemuliaan keluarga, tapi mengapa keluarga sendiri juga yang menentang? Dulu, waktu saya pakai celana pendek dan kaos rock n roll, tidak ada yang menegur. Orang pacaran dibiarkan, orang menikah dikomentari. Padahal pacaran dan menikah sama-sama menghabiskan uang. Bedanya yang satu tidak terarah, yang satu terarah.

Tetapi ternyata, apa yang dilakukan atas landasan kebenaran, semakin kokoh dari hari ke hari. Satu demi satu sepupu, paman, bibi, pakde, bude yang menentang akhirnya ikut memakai jilbab. Yang dulu memarahi karena menikah  muda, malah memuji kami. Yang menuduh aliran sesat ketika tengah mendalami agama, ramai-ramai ikut pengajian dalam segala bentuknya. Ada yang ikut tasawuf, ada yang ikut Muhammadiyah, ada yang ikut NU, ada yang lebih suka tabligh. Pendek kata, semua yang menentang saya melakukan kebaikan dulu, pada akhirnya berbalik memuji dan mendukung. Bahkan mengikuti.

 

Kebaikan akan Berkembang

Alam semesta memuai. Kita semua tumbuh dan berkembang. Kejahatan tumbuh berkembang, sebaliknya, kebaikan juga tumbuh dan mekar. Dulu pacaran diam-diam, sekarang bahkan bugil dan berhubungan intim difoto, dishare, di like dan di comment!

Demikian pula kebaikan secara hukum alam, mengikuti aksi reaksi.

Ibaratnya, dimana ada Firaun, disitu ada Musa.

Semakin dahsyat keburukan, semakin dahsyat pula kebaikan mencari celah untuk tumbuh subur. Dulu saya harus menjahit baju sendiri, memakai taplak untuk jilbab. Satu-satuunya model jilbab saat itu hanya model ala qasidah, jilbab dengan topi. Kain jilbabnya tipis dan berbentuk segitiga tipis. Sekarang? Mau cari model busana dan kerudung ala apapun, ada! Harganya tersedia di segala level. Butiknya tersedia di setiap sudut jalan.  Mau pakai celana panjang, rok, gamis, cadar, abaya, baju kurung, baju pesta. Bahkan busana renang berhijabpun, ada. Disaat orang rame-rame memamerkan foto bugil, para muslimah pun tak ketinggalan memamerkan bahwa busana syari demikian modern dan stylish.

 

Panggung pendidikan, panggung sosial dan panggung politik

Apa sih yang laris dijual?

Ih, acara-acara yang menghibur ala dunia entertaintment dong. Pentas musik, film, novel teenlit chicklit, televisi yang menayangkan sinetron. Di zaman saya dulu, jangan coba-coba pakai label Islam. Nggak bakal laku! Yang namanya sekolah Islam dan pesantren, hiiii. Kumuh, pojok, kudisan, terbelakang. Apalagi pesantren. Alamak! Ketombean, kutuan, korengan. Yang mentereng adalah sekolah-skolah internasional dan sekolah non-muslim. Ekonomi dan perbank-an? Wuah, mana ada ekonomi syariah. Mana ada bank syariah. Yang ada adalah pinjaman bunga berbunga. Masih ingat ketika mama saya dulu punya usaha apotik, setengah mati cari pinjaman ke bank. Harus bayar setoran per hari (atau perpekan ya?). Telat sedikit, atau kurang meski seribu perak, di black list.

Sekarang?

Kalau mau daftar sekolah Islam, haus antri daftar November. Padahal tahun ajarannya masih Juli Agustus! Sekolah-sekolah Islam menjamur dan luarbiasa bagusnya. Pesantren? Mau cari yang tradisional atau modern, semua ada. Yang mahal atau murah, silakan, sama bagusnya. Daycare, taman kanak-kanak, SD, SMP SMA Islam wuaahhh, kualitasnya luarbiasa.

EO wedding sampai seminar, pelatihan yang muslim; ada. Sinetron muslim, ada. Novel Islami, ada. Warung, cafe, resto, makanan, minuman, hotel, wisata Islami, ada. Motivator, ada. Yang ceramah agama laris manis sekarang. Ustadz ustadzah adalah pekerjaan bergengsi yang menghasilkan pendapatan layak. Tidak seperti di zaman saya kecil dulu, ustadz itu miskin banget!

Bank-bank syariah menjamur. Senang banget lihat pegawai bank yang cantik-cantik berjilbab; tangkas, cerdas. Hampir di tiap kantor pemerintah atau swasta gemar mengadakan kajian Islam mulai dari belajar tahsin Quran sampai belajar tentang pernikahan dan parenting.

Panggung pendidikan dan sosial kita telah  mulai merasakan indahnya nafas Islam. Islam maju, indah, mampu bersaing dan solutif. Lalu; dunia yang memuai inipun menunjukkan sunnatullah. Hukum alam.

Boleh  kan Islam mulai merambah ke dunia politik?

natsir
Mohammad Natsir

Mulailah kaum muslimin yang semakin cerdas dan sadar akan posisinya; merasakan tanggung jawab sebagai khalifah. Wah, kalau sosial dan ekonomi saja mulai merasakan keteraturan dan keberkahan ketika dikelola oleh kaum muslimin; boleh dong urusan-urusan politik serta kenegaraan diatur juga oleh kaum muslimin. Tidak dengan cara anarkis, membabai buta, main seruduk. Tapi dengan cara yang baik kok. Sebagaimaan di pentas sosial dan pendidikan, kaum muslimin juga belajar banyak menjadi tokoh di bidangnya. Kaum muslimin semakin mahir, semakin cakap mengelola permasalahan dan mencari jalan keluarnya.

Ketika lembaga zakat dan ekonomi Islam berkembang, terasa sekali masyarakat miskin dan yang amat sangat  miskin mendapatkan bantuna. Banyak anak yatim, yatim piatu, keluarga dhuafa yang terbantu ketika sakit, membuka usaha, meneruskan pendidikan.

Ketika kaum muslimah semakin mampu menjaga diri dengan busana syari dan semakin memahami agama; kehidupan di kantor dan dunia kerja semakin lebih kondusif. Masing-masing kita lebih lapang melepas anak perempuan atau istri bekerja (jika harus bekerja).

Pendidikan, ekonomi, sosial; sudah.

Tapi masih ada yang kurang.

Sebab memang pentas politik dikelola oleh orang-orang yang sangat mahir dalam menaklukan segala sesuatu. Politikus haruslah negarawan. Saya masih ingat ucapan seorang tokoh muslim, Dr. Eko Fajar Nurpasetyo, Phd, yang memilih kembali ke Indonesia meskipun ia dan keluarganya dapat hidup makmur di negeri para Shogun. Bisnis potong ayam, potong daging, dan microchipnya telah mendunia Inti ucapan beliau, “seorang negarawan, pemimpin, melihat 20 tahun ke depan. Mempersiapkan situasi dan kondisi bagi generasi sesudahnya.”

Dampak ekonomi Islam dapat dirasakan sekarang. Pendidikan yang baik membuat orangtua tenang dan membantu mempersiapkan masa depan. Kehidupan sosial yang baik membuat masyarakat lebih stabil. Tapi siapa yang dapat menajmin berlangsungnya semua itu? Bisa saja arah kebijakan berbalik arus sehingga ekonomi Islam, pendidikan Islami, dan kehidupan sosial lalu ambruk. Negarala yang menjamin berlangsungnya hal yang baik, atau yang buruk.

Jadi, tak salah kemudian kalau orang-orang sholih mengarahkan pandangan mereka ke pentas politik. Lagipula, kan memang bersaing di negeri sendiri?

 

Semua Perkara Islami Awalnya Mendapat Tantangan

Pernah menyekolahkan anak di SDIT?

Saya menyekolahkan anak-anak di SDIT mulai gedung itu masih bangunan jelek, di tanah sewaan, guru segelintir. SMPIT juga begitu. SMAIT juga begitu. Putri saya sekolah SMAIT dengan jumlah siswa segelintir. Bangunan berhantu, di gang sempit yang ujiannya masih menumpang ke sekolah lain!

Sekarang? SDIT, SMPIT, SMAIT tempat anak saya sekolah hampir selalu menolak murid setiap tahun karena tak cukup lokal. Sekolah Islam menjadi incaran pertama kali!

“Kamu itu ngapain nyekolahin anak di sekolah yang akreditasinya gak jelas? Jangankan diakui atau disamakan, mungkin terdaftar aja belum!”

Kalau sekarang saya diminta mengisi acara parenting, hal yang saya ucapkan adalah : saya bangga menyekolahkan anak-anak saya di sekolah Islam ini. Biar bangunannya jelek, tapi guru-gurunya punya komitmen tinggi dan tahu kemana kualitas pendidikan akan dibawa. Maka anak-anak kami yang bersekolah di SIT insyaallah menjadi anak-anak berkarakter.

Pertentangan, resah gelisah, maju mundur; dialami pada awal berdirinya sebuah institusi. Termasuk lembaga sosial dan perekonomian. Siapa juga yang dulu mau buka tabungan di bank Islam macam Muamalat? Mending di bank lain yang bunga depositonya jelas! Kini bank-bank Islam digemari. Bukan hanya karena semakin maju pelayanannya, rasa tentram dan barakah membuat kaum msulimin senang berinteraksi dengan layanan perbankan Islami.

Politik Islam?

“Kotor! Semua politikus busuk. Semua partai Islam korup, sama aja. Semua anggota dewan menghalalkan segala cara. Ngapain kiai dan ustadz duduk disana? Nggak kompeten. Politik itu tempatnya barang haram, maksiat, terlaknat beredar.”

Ya iyalah. Yang jadi panduan Il Prince nya Machiavelli. Jelas politikusnya kotor seperti klan Medici.

Coba yang dibaca Muqaddimah Ibnu Khaldun, pasti beda. Yang dibaca Siyasah Syariyah  Ibnu Taimiyah, pasti melek. Yang dibaca karya Buya Hamka dan Mohammad Natsir, pasti lebih semangat.

Memang bisa ya politik Islam memimpin negeri? Nggak akan menindas, main anarkis, memaksakan kehendak? Wah, yang bilang Islam selalu menindas berarti gak baca sejarah Indonesia, nih. Suku Batak itu dikepung Aceh dan Melayu sejak lama, aman-aman saja. Bali dihimpit Jawa Timur, Madura, Sasak, Bugis yang kuat sekali sisi religusitasnya; tetap damai sampai sekarang.

Mainlah kapan-kapan ke Surabaya. Kalau lewat daerah Nginden hari-hari tertentu saat misa Kristiani, mobil-mobil memacetkan jalanan sampai kita nyaris kehabisan nafas. Tapi tidak ada kok keluhan atau ancaman supaya gereja menghentikan peribadatan. Kaum muslimin menerima perbedaan keyakinan.

Ini bulan Desember. Pasti anda lihat dong dimana-mana penuh pohon Natal dan para penjaja minimarket pakai topi Sinterklas. Kita kaum muslimin sebetulnya tidak terima lho. Kan muslim mayoritas. Kok dipaksa mengadakan perayaan Natal di seantero negeri sih? Tapi sekali lagi, kaum muslimin tepaselira. Di Bali, sekolah-sekolah Islam mengikuti libur Galungan, Nyepi, Kuningan. Di kalender nasional juga. Tidak ada protes meski sebagian sekolah Islam tetap masuk.

Nah, kalau sekarang kaum muslimin masuk ke ranah politik dalam segala aspeknya, anggap saja itu hukum alam yang memuai. Boleh dong kita duduk sebagai bupati, gubernur, Panglima ABRI, menteri, presiden asalkan itu fair. Lewat pemilihan yang adil. Kalau ada hal-hal yang berjalan tidak adil, selayaknya kaum muslimin protes. Protes bisa lewat media sosial, media massa, jalur resmi, lembaga hukum, lewat anggota legislatif, dan seterusnya. Kalau semua sudah dilakukan dan masih tetap buntu, ya, aksi bersama atau demonstrasi. Eh, demonstrasi itu hal lumrah di negara manapun. Waktu rakyat Amerika tidak menerima Trump menjadi presiden, mereka demo juga. Aksi damai pernah dilakukan Mahathma Gandhi yang mengumandangkan Ahimsa-Satyagraha. Martin Luther King Jr. Juga pernah melakukan  saat menuntut kesetaraan hal sipil.

Aksi demonstrasi Islam dianggap aneh? Ya, sama seperti panggung sosial, pendidikan, ekonomi yang dianggap sebelah mata oleh pemeluknya sendiri (apalagi yang non muslim). Meski, lama-lama kaum muslimin yang menentang, justru merasakan keberkahan panggung-panggung Islami itu dan berbalik mendukung.

Awalnya, saya ragu dengan aksi 411 dan 212 : benar nggak sih ini Islami? Sampai saya datang di acara al Falah 27 November tempo hari dan mendapatkan penjelasan dari Bachtiar Nasir.

Punk muslim, laki-laki, perempuan, anak-anak di acara aksi 

 

Tapi pasti ada kan di kalangan kaum muslimin yang masih ragu, bahkan tidak setuju dan menentang agenda ini? Wajar kok.

Dalam sejarah juga terjadi.Yang menentang kaum muslimin dengan keras salah satunya bangsa Mongolia hingga mereka menghancurkan Baghdad. Tetapi sejak Chagatay, Tuqluq Timur Khan, Anada Khan, Baraka Khan, begitu banyak bangsa Mongolia menjadi muslim. Apa alasannya? Mereka punya pepatah kuno Mongolia. Pepatah yang membuat mereka berbalik memeluk Islam.

Pepatah ini cocok untuk 411 ddan 212.

“Kalau ada suatu hal yang begitu mudah tersebar sebagaimana angin bertiup, perkara itu pastilah perkara kebaikan.”

Bangsa Mongolia yang menaklukan Eropa hingga Asia ternganga : kok ada ya keyakinan yang tersebar demikian luas sebagaimana arah angin bertiup dengan mudah? Logika itu membuat mereka memahami bahwa Islam adalah kebaikan semata.

Masih tidak percaya 411 dan 212 bagaimana angin bertiup membawa kebaikan?

Kalau begitu anda harus nonton film Pay It Forward. Satu anak punya niat baik, akan menyebar ke 3 anak. 3 anak punya niat baik, akan menyebar ke 9 anak. Begitu seterusnya.

Masih belum percaya juga?

Hm, gimana ya. Gini aja.

Pasang iklan termahal untuk radio di Surabaya itu ranking pertama dipegang Suara Surabaya. Wajarlah. Itu radio FM yang kondang banget. Tahu ranking kedua siapa? Ternyata Suara Muslim Surabaya. Lho, kok bisa? Ya. Karena pendengar Suara Muslim Surabaya sangat besar meskipun pasif. Mendengar data ini saya diam-diam merenung. Padahal, Suara Muslim Surabaya itu radio keagamaan lho. Tidak menayangkan K-Pop seperti Seventeen, BTS atau EXID, Black Pink. Tidak menayangkan BMTH, SoAD atau Linking Park. Tapi diam-diam banyak pengagumnya.

Jangan-jangan kita seperti pendengar radio Suara Muslim Surabaya. Pasif, tapi diam-diam mengagumi. Meski kita menghujat, meremehkan, mencaci maki aksi para ulama dan aksi bela Islam; diam-diam ada rasa kagum juga kan? Atau diam-diam mendukung dengan dana dan doa? Kalau nggak bisa mendukung dana dan doa, jangan caci maki para ulama dan aksi bela Islam. Segitu banyak orang lagi berdoa di hari Jumat, lho. Hari keramat. Sayyidul ayyam. Kebayang gak sih kalau kita minta didoakan sama ummat Islam yang segitu banyaknya, di hari Jumat, di tengah aksi memperjuangkan kebenaran? Kalau kita nggak mau mendukung, jangan mencaci maki. Takutnya nih, ribuan doa kaum muslimin yang tangannya menegadah ke langit, mengirimkan doa-doa rahasia bagi pendukung dan pencela.

Kalau malaikat-malaikatNya turun tangan, memangnya masih ada kolong langit yang aman?

 

Sinta Yudisia, Ordinary People

 

Kategori
Cinta & Love da'wahku Dunia Islam Oase

Surat Cinta untuk Rohingya dari Anak-anak  SDIT Al Uswah, Surabaya

 

 

 

Hanum, 5C

Assalamualaikum

Dear rakyat Rohingya,

Hai, aku Hanum. Aku berasal dari Indonesia. Aku sangat senang sekali jika surat ini bisa tersampaikan pada kalian. Ingin sekali aku bisa bertemu kalian. Aku hanya ingin menyemangati kalian, tetaplah menjadi seorang muslim. Tetaplah bersatu untuk Islam. Jangan mau kita ditindas!tunbnjukkan bahwa kami muslim tidak lemah. Percayalah bawha Allah akan membantu hambaNya yangs abar berjuang untuk Islam. Kalian harus tetap semangat memperjuangkan hak kalian. Berdoakan kepada Allah pada masa lapang dan sempit. Mari kita bersatu untuk Islam, buatlah nama Islam harum. Aku akan datang mendukungmu rakyat Rohingya. Insyaallah jika kalian ingin berusaha, maka apa yang kalian inginkan akan tercapai. Amin.

rohingya-4

Khadijah, 4C

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamualaikum

Apakabar saudaraku? Senang kalau bisa berkenalan bagaimana keadaan disana? Mohon maaf ya kami tidak bisa membantu kalian. Aku sangat terharu dengan perjuangan kalian meskipun kalian diperkosa dan dibantai. Kalian tidak meninggalkan agama Allah. Insyaallah jika kalian meninggal terbunuh akan mati syahid. Sungguh kejam orang Myanmar yang beragama Budha mengapa mereka berbuat begitu? Padahal orang Islam tidak mengganggu agama Budha! Aku disini menitip salam untuk saudarakau di Rohingya, orang Islam. Semoga kami bisa menyusul ke surga Allah. Amin. Selamat berjuang.

rohingya-2

Neina Nur Rahmania, 4B

Assalamualaikum, warga Rohngya, namaku Neina.

Aku tinggal di Indonesia. Kotanya Surabaya. Aku dari SDIT Al Uswah. Aku kasihan sekali karena kalian diusir oleh negara kalian sendiri. Karena kalian ingin hidup, karena kalian rela hidup di kapal. Andaikan aku bisa membantu kalian, aku akan memberi  kalian rumah, makan, dll. Tapi aku tidak bisa membantu. Tapi aku bangga kepada kalian, karena kalian tetap berjuang memeluk Islam. Sebelum saya mengakhiri surat  ini saya akan meminta maaf sebesar-besarnya karena  tidak bisa membantu kalian. Semoga Allah menghapus dosa kalian dan memudahkan kalian hidup. Kalau ada yang terbunuh, aku tidak terima. Karena agama Islam tidak bersalah. Tetap semangat ya!

Wassalamualaikum.

 

Nadia Sabila Azka, 4C

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Perkenalkan nama saya Nabila Nadia Azka. Saya dari Surabaya Jawa Timur. Setelah guru saya menceritakan tentang keadaan kalian semua, saya merasa kasihan, takut dan lainnya. Saat guru saya menceritakannya, saya berpikir bagaimana jika saya sedang berada di Rohingya.  Setiap hari seperti disiksa. Tapi saya berasa kagum dengan kalian semua. Kalian tidak pantang menyerah dan sebagainya. Tapi saya disini masih suka menyerah dan masih butuh bantuan orang lain. Saya sangat kagum dengan kalian semua. Saya akui kalian hebat, kuat, pintar dan hebat. Kalian sudah dibom, ditembak dan sebagainya. Jika saya yang digitukan saya merasa sangat kesal dengan para pembonm dan penembak. Saya akan mendoakan kalian semua yang di Rohingya agar kalian semua bisa masuk surga. Dan semoga kalian selalu kuat dan sehat selalu. Dan semoga tempat tinggal kalian bisa kembali. Rohingya hebat.

 

Nisrina Huwaida Qurrota Aini, 5A

 

Assalamualaiakum sadaraku di Rohingya.

Perkenalkan namaku Nisrina Huwaida Qurrota Aini.

Saat ini aku sekolah di SDIT Al Uswah Surabaya dan duduk di kelas 5. Aku sangat sedih  melihat kalian semua diusir oleh negara Myanmar. Aku akan selalu mendoakan saudara Rohingya bsia bertahan hidup. Aku yakin manusia yang membela agama Islam selalu dilindungi oleh Allah. Kalian pasti bisa!!! Allahuakbar!

Allah pasti menempatkan suadaraku di Rohingya di surga tertinggi Allah, amin. Salam dari Nisrina. Aku sayang saudaraku Rohingya.

 

Anisa Titi Larasati, 4B

Dear Rohingya,

Assalamualaikum s audaraku di Rohingya.

Perkenalkan nama saya Anisa Titi Larasati dari Indonesia.

Kami sedih mendengar derita kalian disana. Saya ingin membantu kalian semua. Semoga kalian dilindungi oleh Alalh SWT. Semoga kalian juga mendapatkan banyak bantuan. Kami sangat kasihan kepada kalian semua. Karena kalian hidup berhari-hari tetapi tidak mendapatkan makanan dan minunman. Maafkan saya karena saya belum bisa memberikan donasi kepada kalian. Saya hanya bisa berdoa untuk kalian. Love you Rohingya.

 

Fasya Syaffanah, 5A

Assalamualaikum…

Perkenalkan nama saya Fasya Syaffanah.

Saya bersekolah di SDIT Al Uswah. Saya biasanya dipanggil Fasya. Saya berumur 11 tahun. Oh ya maafkan kita ya kita sebagai warga Indonesia cuma bisa bantu doain aja. Kita tidak bisa pergi ke neeara kalian. Semoga Allah selalu melindungi kalian. Aku turut berduka cita atas bencana yang sekarang kalian timpa. Katanya kalian diusir dari negara Myanmar karena kalian muslim. Yang mengusir kalian adalah orang Budha. Aku sebagai salah satu warga Indonesia mengucapkan minta maaf. Negara Myanmar telah mengusir Rohingya itu adalah hal yang sangat kejam. Semoga Allah selalu menjaga kalian, selalu melindungi kalian, selalu menolong kalian.

save-rohingya-insta-2-copy

Kategori
Cerita Lucu da'wahku Jurnal Harian My family Tulisan Sinta Yudisia

Bingkisan Acara

“Yaaa, Ummi mau kemana?”
“Ummi mau cari barakahnya rizqi ya, Sayang.”
Menjadi bagian dari masyarakat Indonesia, bagian dari ummat manusia, bagian dari kaum muslimin; ada tanggung jawab yang tidak bisa diabaikan sebagai makhluk sosial. Manusia tidak bisa selamanya mengaku sebagai makhluk individu.
Maka, bila mendapat amanah da’wah, sebisa mungkin kutunaikan sebaik-baiknya. Tapi bagaimana membahasakan pada anak-anakku yang ketika itu masih kecil-kecil? Balasan surga masih terlalu abstrak bagi mereka, amar ma’ruf nahiy munkar juga belum begitu difahami. Barulah ketika mereka beranjak remaja, mereka faham ketika kuajarkan tentang kewajiban kaum muslimin.

tango-face-smile-md
Dalam acara da’wah, selalu kubahasakan bahwa dengan turut serta bahu membahu memikirkan dan menuntaskan masalah ummat, maka keluarga kami pun akan senantiasa mendapatkan rizqi dari Nya, rizqi yang penuh barakah. Jangan bayangkan rizqi da’wah itu dalam bentuk uang, dalam tiap kebaikan yang kami dapatkan, kuusahakan mengkorelasikannya dengan kebaikan Allah dan rizqi da’wah.
Misal, suatu saat anakku demam tinggi. Salah satu anakku ada yang sangat alergi obat. Maka, aku betul-betul bingung, apalagi saat itu suamiku sedang tugas jauh di luar kota. Cari info kesana kemari, maka rizqi da’wah itupun kudapatkan.
Seorang ikhwan memberi tahu, “ degan Ijo aja, bu Sinta. Anak-anak saya, juga begitu kalau demam.”
Ahya, alhamdulillah rizqi da’wah berupa informasi obat itu kudapat.
Pelajaran-pelajaran berharga dalam kehidupan, yang tidak mungkin di dapat di bangku sekolah atau kuliah, ku share kepada anak-anak agar mereka turut mencicipi nikmatnya rizqi da’wah.

Bingkisan acara
Setiap kali mengisi acara, selalu rizqi da’wah itupun menyertai.
Suatu ketika, aku mengisi acara di rumah susun. Sungguh tidak terbayang, mereka yang kesulitan itu akan membawakanku bingkisan buah, nasi dalam keranjang dan….serantang sayur. Sesampai di rumah, bahkan aku terharu di depan anak-anakku. Melihat potongan ayam demikian kecil, bihun sebagai lauk, dan nasi yang demikian keras.
“Lihat Nak,” ujarku. “Orang-orang itu sehari-hari makan susah. Jualan rujak, gorengan, malah ada yang ongkos jahit per tas Rp.100 rupiah. Tapi masih menyempatkan memasak seperti ini, dan nyangoni Ummi makanan kayak begini.”
Anak-anak ikut mengucapkan subhanallah, dan demikian mensyukuri cerita yang kuberikan betapa keseharian kami masih demikian luarbiasa.
Di lain ketika, aku mengisi pengajian di sebuah kampung.
Betapa kecil rumah-rumah mereka, betapa sesak bahkan untuk menyelenggarakan pengajian satu RT. Kadang, sungguh, aku sangat ingin menolak bingkisan mereka tapi lagi-lagi para ibu berkata, “ hanya ini yang bisa kami berikan.”
Ternyata bingkisan itu berisi 1 baju dan 1 tas, yang dijahit sendiri oleh seorang peserta pengajian!
Banyak sekali bingkisan acara, rizqi da’wah yang rasanya di betul-betul di atur olehNya.

Flash Disk hingga peralatan dapur
Tak kalah menariknya, bingkisan acara yang disiapkan ibu-ibu sebuah kompleks. Sekolah Ibu ternyata dibutuhkan pula ibu-ibu kalangan atas yang kesehariannya sibuk bergelut dengan karir sehingga mereka demikian antusias saat mengikuti Sekolah Ibu.
“Bu Sinta, ini kami beri bingkisan ya,” kata ibu pengasuh Sekolah Ibu.
Tentu bukan uang tapi….flash disk! Aku benar-benar merasa berterimakasih. Bagaimana tidak? Pelupa salah satu sifat yang membuat suamiku sering uring-uringan. Entah berapa jaket yang kuhilangkan karena lupa, tertinggal hingga tinggal satu jaket coklat yang kata suamiku, “ awas, kalau yang ini ketinggalan entah dimana, harus ambil ya!” Aku sering lupa meletakkan dompet, kacamata. Pulpen entah berapa yang raib, dan yang paling mengenaskan adalah flash disk. Maka hadiah flash disk sungguh sangat berharga.
Di lemari dapur subhanallah, tersimpan barang-barang bermanfaat yang kudapat dari bingkisan acara. Piring , mangkok, sendok, dan gelas adalah hadiah dari sabun, mie. Tapi masa’ menyuguhkan tamu pakai gelas hadiah kecap? Konon kurang etis. Alhamdulillah, selalu dapat hal bermanfaat dari da’wah seperti gelas cantik, nampan, teko.

Tikus, tikus,tikus
Tikus mungkin juga berevolusi.
Kami sementara ini masih membiarkan halaman belakang apa adanya, jadi makhluk berbulu itu sangat sulit dibendung. Apakah tikus sekarang menunjukkan inteligensi yang lebih tinggai dari dekade sebelumnya? Mungkin saja!
Tikus di rumah kami tidak menggigit sembarang barang. Plastik, dipilih-pilihnya juga. Ia akan membiarkan plastik murahan dan akan menggerigiti….tupperware! Kalau lupa menyisihkan barang-barang yang sudah dicuci masuk ke dalam rumah, maka esok hari biasanya tikus akan memakan tutup atau tepian wadah tupperware.
Dan, akibat penyakit pelupa, entah berapa barang dapur yang hangus terbakar hingga rantang, dan wadah-wadah alumunium sering berlubang.
Subhanallah, belum lama ini mengisi acara ibu-ibu, lagi-lagi dapat hadiah yang kubutuhkan, seperangkat canister tupperware. Kali ini, sangat hati-hati kujaga agar tikus tidak sembarangan menggerigiti.
Lalu, aku membutuhkan sebuah barang.
Mau tahu?

Gelas Besar!
Suamiku berasal dari Tegal.
Dan, kebiasaan terkenal kota ini adalah teh poci. Setiap pagi, saat kami masih di Tegal, ritual menyambut hari adalah merebus teh tubruk. Teh mendidih dituangkan dalam gelas, dan sarapan pagi bersama keluarga besar akan sangat nikmat ditemani bergelas-gelas besar teh panas, legit, manis dan kental.
Aku ingin sekali punya gelas besar.
Setiap hari, keluarga kami menyeduh teh dalam cangkir-cangkir yang terasa kekecilan untuk tradisi Tegal, gelas-gelas yang tidak cukup menampung selera. Sebesar-besarnya gelas hanya ukuran mug. Aku mencoba mencari gelas besar, tapi harus ke pusat barang pecah belah yang tidak sempat-sempat kukunjungi. Hanya kalau lewat supermarket, kucari gelas besar, tidak ketemu juga.
Dulu, Ummi di Tegal memang tidak pernah membeli gelas besar. Gelas-gelas besar bertelinga itu hadiah dari sabun colek yang sekarang sudah musnah di pasaran. Aku sampai bilang ke suamiku,
“mas, aku pingin cari gelas besar seperti yang di Tegal. Enak banget minum teh kayak gitu ya.”
Maklum, kalau sudah waktunya ngelembur, minuman panas adalah teman favorit termasuk teh panas!
Keinginan itu terpendam dan berlalu begitu saja.
Sampai suatu ketika aku diminta mengisi acara keputrian dan pulang seperti biasa, membawa bingkisan acara. Aku ingat, hari itu hari Sabtu. Kebetulan aku mengisi acara da’wah , dan suamiku juga memiliki acara da’wah sendiri. Anak-anak, menyambut riang bingkisan kue dan membuka kertas kado saat aku pulang siang itu.
Perlahan-lahan, putriku melepas selotip dan melepas lapisan kertas kado.
“Waaaah, gelasnya cantik sekali!” kata putriku.
Aku terbelalak. Ada tiga gelas bercorak daun centil warna pink. Bukan coraknya yang membuat tercengan tapi…ukurannya! Gelas itu kuletakkan tepat di tengah-tengah meja makan, menunggu suamiku pulang. Dan sore hari, ketika suamiku pulang, ia berseru heboh,
“…ya ampun, Mi! Kita kan pingin gelas kayak gitu??”
Aku tertawa.
Alhamdulillah. Bahkan hingga keinginan kecil sekalipun, Allah mendengarkan!

Kategori
da'wahku Oase

Surat Umar bin Abdul Aziz, Khalifah Bani Umayyah, kepada pejabatnya

Tercatatlah Khalifah Umayyad, Umar II, yang tak jauh berbeda dengan khalifah kakek buyutnya, Umar I. Hati Umar II atau Umar bin Abdul Aziz demikian lemah lembut, bahkan ia memerintahkan para pejabatnya untuk bersikap lemah lembut pada non Muslim. Surat edarannya kepada para pejabatnya berbunyi :

“Berikan perhatian kepada kondisi (orang-orang yang bukan Islam), yang dilindungi dan perlakukanlah mereka dengan lembut. Bila ada di antara mereka mencapai usia tua dan tidak mempunyai sumber penghidupan, andalah yang harus mengurus keperluan hidupnya. Bila orang itu mempunyai saudara mintalah agar orang ini mengurusnya…”

Surat yang lain Khalifah Umar II berbunyi :

“Murnikan daftar-daftar yang ada dari pengadaan kewajiban yang tidak perlu (yakni pajak yang dikenakan secara tidak adil) ; dan pelajari arsip yang lama juga. Bila telah dilakukan tindakan yang tidak adil, baik terhadap orang yang beragama Islam maupun yang tidak beragama Islam, pulihkanlah haknya. Bila ada di antara orang yang menerima perlakuan tidak adil itu yang meninggal dunia, berikanlah haknya kepada ahli warisnya.”

Kategori
Cerita Lucu Cinta & Love da'wahku mother's corner Oase

Matematika Harapan

matematika harapan

Kategori
Cerita Lucu Cinta & Love da'wahku Oase Psikologi Islam

Forever Young Dakwah : Tawa, Lucu & Unik :-)

Tak selamanya seruan kebaikan identik dengan terorisme, perang, issue politik, skandal suap. Banyak hal-hal seru dan unik yang ditemui!

young
…..dakwah

1. Suami siaga, lelaki serba bisa

Banyak perempuan kepincut ustadz dan dai, bukan hanya para gadis. Ibu-ibu pengajian, baik yang sudah punya menantu atau yang berharap menantu rajin berbisik.
“Bapak itu rajin banget bantuin istrinya nyuci! Kemarin saya lihat dia bantuin njemurin di depan!”
Para ibu itu sedang membicarakan seorang lelaki dai (bukan suami saya!) yang terkenal dengan gerakan mencuci bersama. Waktu saya baru melahirkan aak pertama di Medan, jauh dari orangtua dan sanak saudara di Jawa, suami rajin ke warung belanja dan memasak. Ibu-ibu bengong.
“Mas bisa masak?”
Suami mengiyakan. Hingga hari ini, kebiasaan memasak itu tetap menjadi hobby dan ibu-ibu sering berkata,
“Waaah, bu Sinta! Suaminya pinter banget masak lho. Masak, bikin sop dikasih kayu manis, saya ketawa! Eeeeh, ternyata lain kali saya coba, enak banget.”
Saya bilang, kalau urusan memasak daging, suami memang ahlinya akrena ia suka benget mendown load dari mana-mana, mencoba beragam maincourse.

Yang saya heran, cerita suami pintar memasak beredar cepat di kalangan ibu ibu kompleks, teman kantor.
Padahal yang serupa suami saya banyak lhooo…pernah gak lihat ustadz naik sepeda motor, bonceng dua anaknya sembari menggendong si bayi dengan selendang, cari sarapan? Istrinya sedang berdakwah. So sweet!
Tak heran, ustadz dan dai memang selalu jadi incaran karena mereka hormat pada orangtua, sayang keluarga, cinta istri dan ngopeni anak-anak hingga muncul istilah LIPIA.
Lelaki Idaman Para Ibu dan Akhwat. Hahaha…

2. Bengkel, obeng dan perempuan

Gak cuma dainya yang luarbiasa. Ustadzahya juga keren. Bukan hanya gesit di dapur, nyuci baju, nyabutin rumput dan ngosek kamar mandi. Para ibu yang waktunya habis buat dakwah harus berpikir untuk gak tergantung suami.
Obeng? Kenal lah. Untuk mengutak atik setrika dan mesin cuci.
Bengkel? Nunggu suamiiii? Kapan kelarnya!

Berhubungan dengan satpam, tukang listrik, tukang air bahkan debt collector harus bisa. Seorang teman, ustadzah, yang tersngkut urusan waris menjadi sangat mahir untuk menghadapi polisi, jaksa bahkan para debt collector yang luarbiasa kasar. Saya sendiri, kalau ke bengkel sudah siap-siap bekal : minuman, buku-buku, catatan, pulpen, camilan. Berhubung di bengekel antri, lama, panas dan bising; para teknisi dan mekanis suka bengong lihat (geer !) sebab kita bisa menghabiskan waktu satu hingga satu setengah jam untuk berkutat dengan buku, aktif menjalin kontak sana sini via HP, merancang tugas dengan kertas dan pensil. Sore hari, motor sudah beres dan suami tidak diributkan dengan aduan mogok, aki kering, starter gak nyala.
Genteng bocor? Pompa air rusak? Ups, meski gak mengerjakan sendiri, para istri sigap mengontak tukang.

3. KB : Keluarga Besaaaaarr

Rumah kami hanya berisi 6 orang. Dengan 4 orang anak, rasanya masih sangat kurang, meski sebagian orang sudah bilang 4 anak itu banyak banget!
Kagum dengan para dai dan daiyah yang punya komitmen memiliki keluarga besar dengan segala tantagannya : financial, pendidikan, sosial, misi ke depan dsb. Tetapi, banyak yang berhasil mendidik anak-anak dalam keluarga besar. Ketakutan financial tak beralasan, pendidikan juga seiring sejalan, meski tentu saja kesulitan muncul di sana sini.

Memangnya yang punya anak tunggal tidak menemui kesulitan?
Walaupun, ketika si kecil merengek minta adik,
“….Ummi, temenku punya adik. Koq aku nggak?”
Kuajukan proposal ke anak-anak yang lain.
“Gimana kalau Ummi hamil dan punya anak lagi?”
“Enggaaaaak!” teriak si sulung.
Yah, harap maklum, ia pusing dengan tiga adik. Meski, seringkali bercerita betapa senangnya melihat teman-teman sekolahnya memiliki keluarga besar, beradik 5, 6, bahkan 9!

Harusnya, kita tidak terlalu pusing dengan urusan demografi. Jerman dan Jepang sudah khawatir dengan angka usia produktif. Punya anak banyak memang butuh kesiapan mental spiritual. Lucunya,
“Bu Ayu (samaran) melahirkan,” kabar bahagia tersebar.
“Anak kelima?” tanyaku.
“Bukan, ketujuh.”
Ups, aku salah hitung. Sedihnya, aku tidak bisa menghafal semua nama anak teman-temanku. Paling anak pertama, kedua , ketiga. Aku sendiri suka salah sebut memanggil anakku yang hanya 4 orang!
“Ahmaaaad!” seruku.
“Aku,Mi?”
“Eh bukan, maksud Ummi mas Ayyasy!”
Hehehe…slip tongue, maklum, keseringan ngomel.
InsyaAllah, selama orangtua sholih dan sholihah, Allah SWT menitipkan rizqi berlimpah pada si anak yang muncul meramaikan dunia!

4. Hadiah Rapat

Peci, lobe? Buku referensi? Baju koko?
Itu hadiah biasa saat rapat organisasi.
Akhir-akhir ini….
“Nih, hadiah buat Ummi,” ucap suamiku, membawa bingkisan usai rapat.
“Kue? Buah?”
Kadang usai rapat, masih tersisa logistic yang bisa dibawa pulang.
“Bukan,” suamiku menggeleng.
Aku membuka bingkisan. Jilbab.
“Kok?” aku mengerutkan kening. Beberapa kali menerima hadiah serupa.
“Iya, sekarang hadiahnya bukan baju koko , tapi jilbab.”
Yang rapat suami, yang dapat hadiah istri.
“Aaaaaaa,” serudukku, “ pinter nih Ustadz pemimpin rapat! Biar istrinya pada nggak ngerajuk ya saat suaminya rapat seharian di hari libur?”

Smart solution, ustadz, hehehe…bukan matre loh.
Tahaddu, tahabbu. Soalnya, para suami saking sibuknya dakwah, suka melupakan hadiah kecil untuk istri tercinta. Bukan pula berharap materi. Kebutuhan rumahtangga dan dakwah yang berkejaran, sering membuat perempuan melupakan kebutuhan berpenampilan baik 

5. Daster VS baju resmi

Teori lama ini sering dipakai : jangan pakai daster yang kau pakai di dapur, masuk ke kamar!
Teori dan praktek sering lupa bersalaman! Tetapi, ssst…ada ustadzah yang rrrrruaaarrbiasa yang berdandan seperti orang mau ngisi acara, justru pas suami di rumah.
Selalu ada tips-tips menarik dari para ustadzah kita bagaimana merawat cinta suami.

“Saya selalu mandi, menjelang suami pulang,” aku seorang ustadzah,” meski suami pulang jam duabelas malam. Biasanya suami SMS, sudah dekat rumah dan saya mandi. Kata suami, bila menemukan istrinya pulang dalam keadaan segar, rasanya hilang semua penat.”
Duh, saya terharu.
Tiap kali mendenngar bagaimana para ustadzah di tengah kesibukan dakwah mengabdi pada suami.

6. Diskusi Palestina

Diskusi keluarga adalah saat-saat penting mempertautkan hati anggota keluarga.
Pernah nonton film-film mafia macam Godfather? Keluarga bertemu, bertukar pikiran, berbagi cerita. Diskusi keluarga adalah tempat para dai dan daiyah berbagi wawasan dengan anggota keluarga yang lain. Diskusi bisa mulai tentang dinosaurus, ilmu pengetahuan terbaru versi National Geographic, berita-berita terkini hingga Palestina.
Hari ini, kami sekeluarga membahas buku Suad Amiry – Palestinaku dalam Cengkraman Ariel Sharon (Sharon & My Mother in Law).
Kami tertawa terbahak-bahak , membaca dan mendiskusikan kecerdasan orang Palestina menghadapi orang-orang Israel yang selalu disibukkan urusan occupation –pendudukan dan demografi.
Keluarga-keluarga dakwah menyadari arti pentingnya keluarga sebagai pondasi Negara. Maka, selalu ada waktu bersama keluarga, meski hanya berbincang di atas sepeda motor.

7. Masjid VS Anak-anak!

Siapa yang tidak ingin anaknya mencintai amal sholih?
Tentu, sebagai orangtua, ingin sejak dini memperkenalkan putra putrinya –terutama anak lelaki- kepada rumah Allah, masjid, sebagai tempat base camp paling utama. Tapi tantangan para keluarga dai bermacam-macam.
“Pak, kalau bawa anak, jangan di shof depan!”
“Anaknya ngompol, Paaak!!” rupanya ada yang terburu-buru Shubuh, lupa belum pakai pampers. “Nanti disiram masjidnya. Bukan di pel. Di S-I-R-A-M!”
“Anak Bapak itu, yang cewek, sukanya ngobrol di belakang pas sudah mulai sholat!”
Duh.
Rasanya kita ingat.
Waktu kecil dulu, sholat tarawih, isinya maiiiiin melulu. Cekikak-cekikik.
Tapi, orangtua sekarang mungkin lebih sensitive. Lagi pula, anak dai dan daiyah, karena kecerdasan mereka yang diatas rata-rata : selalu punya bahan pembicaraan dan cerewet minta ampun. Alhasil, masjid jadi ramai setengah mati. Masjid yang tadinya hanya berisi orang-orang tua, mulai ramai celoteh anak-anak yang bahkan masih bicara cedal minta adzan!
Tapi begitulah.
Perjuangan para dai untuk mengajukan diri menjadi imam, menjadi pengisi khutbah, kultum, mengelola Qurban dll akhirnya memiliki suara yang bisa didengar.
“Bapak-bapak takmir, daripada anak-anak nongkrong di playstation dan warnet, apa nggak lebih baik mereka main di masjid?”
Banyak pertentangan.
Alhamdulillah, belakangan banyak perkembangan.
Sekarang, bukan hal yang aneh melihat balita dan anak TK, SD berlarian di masjid.
Dengan peringatan.

“Siapa yang membawa anak kecil, harap bertanggung jawab menjaga kekhidmatan masjid. Dijaga dari najis. Bila mengompol, orangtua bertanggungjawab.”

8. Forever Young

Tahun demi tahun berganti. Kulit mulai tak secemerlang dulu, beberapa penanda usia muncul. Tapi, rasanya masih sekitar sweet seventeen atau awal duapuluhan.
Bukannya tua-tua keladi atau mengidap penyakit mental regressi.
Mungkin karena sering bergaul dengan anak muda, remaja, membuat para dai dan daiyah merasa berjiwa bergelora. Meski dakwah semakin spesifik, mengurus pengajian bapak-bapak atau ibu-ibu, tidak menafikkan setiap dai harus siap berinteraksi dengan kalangan manapun, termasuk anak dan remaja.
Pun, permasalahan dakwah menuntut up grade terus menerus.
Hafalan yang harus bertambah ( ini mencegah pikun), wawasan yang diperbahuri ( ini mencegah telmi), mengasah spesifikasi ( ini mengasah skill); membuat para dai dan daiyah selalu segar dan semangat.
Anda pernah melihat dai dan ustadz yang keluar loyo, gontai, klentrak klentruk?
Tidak.
Saya bahkan heran melihat ustadz yang usianya 50, 60, 70 masih demikian energik mengelola dakwah dengan segala dinamikanya. Dampaknya, situasi sosial, komunal , berimbas pada individu. Banyak keluarga dai yang tetap awet hingga pesta perak, emas. Energi yang di-regenerasi menyebabkan visi misi yang terus diperbaharui.
Akibatnya, tak ada kata bosan dalam meniti hidup hingga berniat mencoba hal-hal amazing yang nyeleneh. Tak ada kata bosan dalam berinteraksi dengan anak banyak. Tak ada kata bosan bertemu dengan pasangan yang telah menemani belasan, puluhan tahun. Tak ada kata bosan bertemu aneka ragam manusia dan persoalan-persoalan humanistic.
Bagaimana tidak awet muda, kalau rajin puasa? (Penuaan terus terjadi akibat reaksi oksidasi dalam tubuh. Reaksi ini bisa dikurangi dengan pembakaran lemak-lemak lewat puasa)
Bagaimana tidak awet muda, kalau rajin sholat malam? (sholat malam memperlancar aliran darah ke kepala, mengencerkan darah. Obat pengencer darah yang terlalu kental luarbiasa mahalnya!)
Bagaimana tidak awet muda, bila selalu bertemu hal-hal baru setiap hari? (dakwah selalu siap berinteraksi dengan hal-hal yag kadaluarsa atau yang tengah jadi trending news)
Dakwah membuat pelakunya tetap sesegar dulu, ketika masih mahasiwa
Stay young. Forever!

Kategori
Cinta & Love da'wahku Oase Psikologi Islam

Purnama Dakwah

Setiap orang pernah mengalami hal ini.
Menyisihkan uang setengah mati, kebutuhan primer dikesampingkan, hasrat membeli pun ditekan, demi keinginan untuk memberikan sesuatu pada orang lain. Ketika barang tersebut berada di tangan, kita pun berperang dengan diri sendiri : diberikan atau tidak ya? Mengingat kebutuhan pribadipun mendesak. Ketika hati kecil memutuskan lebih baik berkorban demi orang lain, maka barang yang ingin kita infaq kan berpindah tangan pada pihak yang membutuhkan.

sweet house

Kejadian berikutnya?
Sebagaimana saya pernah memberi kepada orang lain, berusaha ikhlas dan si penerima –alih-alih berucap terimakasih –
“…aduh, kalau yang begini mending buat anakmu saja deh!”
“Kalau ngasih jangan cuma begini dong.”

Dua kali lipat. Atau, tiga kali. Atau malah beratus kali lipat ujian keikhlasan yang menampar kemudian, tidak hanya di awal niat. Ketika menjalankan, bahkan usai melakukan. Tanggapan orang, sungguh tak kira-kira.
Bila dibuat footnote, kebaikan yang kita lakukan, belum tentu berbuah penghargaan.
Lho, katanya harus ikhlas, dan ikhlas ukurannya hanya ridho Allah SWT?
Memang, tetapi jujur, bila dibenturkan pada sikap orang lain; kadangkala perih hati ini hingga sajadah dibuat basah kuyup menerima pengaduan. Kebaikan dalam skala kecil –individual- maupun skala besar –komunal- pastilah menemui duri-duri yang menoreh daging hati.

Ungkapan,
“partai dakwah sama saja!”
“Mencampurkan yang halal dengan yang haram, maka semuanya haram!”
“Saya selamanya tak berpolitik, lebih memilih membesarkan pesantren dan jauh dari unsure-unsur perebutan kekuasaan, hal-hal kotor.”
Ups,
Sesekali emosi meletup, dan ujung-ujungnya sebagai perempuan, airmata lumayan meredakan gejolak hati.

Wajah Unik

Tapi dakwah tak selamanya menyesakkan dada.
Malah sebaliknya, sepanjang menyusuri jalan berliku ini, kebahagiaan-kebahagiaan rasanya tak pernah absen menghampiri. Sekian banyak tuduhan atas dakwah yang kita usung, tetap saja hadir perkara-perkara yang menghibur.

Saya pribadi, untuk hal-hal tertentu tak pernah menyatakan berada dalam barisan satu partai X. Tapi, seringkali ketika tengah mengisi satu acara baik acara motivasi, kepenulisan atau parenting,
“Anda itu aktif di partai X sebagai pengurus apa mbak?”
Saya bengong, sebab situasinya sangat tidak homogen sehingga terpaksa saya jawab, “ maaf, saya simpatisan dek.”
Suatu saat di atas podium, saat tengah membawakan acara parenting dan hambatan-hambatan yang muncul, seorang audiens bertanya dengan keras, menyerang motif ideology yang saya bawa. Saya sempat terdiam dan tidak ingin membawa suasana memanas, anehnya seseorang justru berdiri dan membela,
“…anda tidak bisa bertanya demikian pada Bu Sinta. Ini acara parenting.”
Di lain waktu, ketika seorang teman akan mengadakan penelitian tentang perempuan dan kosmetika, dosen pakar klinis saya berkata,
“…kamu teliti saja tuh Sinta sama partainya. Saya salut sama perempuan-perempuannya yang berprestasi dan tidak tergerus zaman, mengikuti arus mode dan tren kosmetik.”
Saya bengong asli, untuk yang kesekian kali.

Ujung-ujungnya, saya bertanya pada seseorang, yang pernah membela saya mati-matian dari serangan.
“Apa sih yang menyebabkan orang mengaitkan saya dengan partai X? Padahal belum tentu kan? Saya nggak pernah lho bilang kalau saya berafiliasi ke partai X.”
Sertamerta, perempuan itu –sebut saya namanya bu Ayu- tertawa.
“Mbak Sinta itu pasti partai X.”
“Lho, koq anda menuduh begitu?”
“Sudah kelihatan koq dari wajahnya.”
Memang wajah saya seperti apa? Rok, blus, jilbab, bros, sepatu, sama seperti orang kebanyakan. Sesekali saya memakai lipglos, bila diperlukan.
“Wajah orang-orang partai X nggak bisa disembunyikan mbak,” kata bu Ayu. “Wajahnya ramah dan teduh.”

Ohya?
Saya jadi teringat kejadian belasan tahun silam, ketika berada di Medan. Kami biasa mengadakan pengajian dari rumah ke rumah. Semula, memang ada kecurigaan pengajian kami adalah aliran sesat tapi lama kelamaan, penduduk sekitar memahami bahkan menyayangi kami seperti saudara. Waktu itu, saya baru memiliki putri 1 orang ; teman-teman ada yang sudah berputra 3, 4 atau lebih. Yang membuat tetangga memuji pengajian kami dan malah ingin bergabung adalah perkara…..wajah!
“Aku mau ah ikut pengajiannya bu Sinta,” usul seorang ibu.
Alasannya sederhana.
“Muka ibu-ibunya sabar ‘kali, padahal anaknya banyak-banyak. Tak pernah aku dengar mereka marah-marah. Anak aku baru satu, aku sudah merepet seharian. Kayak mana sih, pengajian bu Sinta, bisa buat orang sabar?”
Wajah, muka, senyum kita.
Yang selama ini tak pernah terpikirkan, adalah hiburan untuk orang lain.

The Hapiness Family

Anda pasti dapat meraba “dapur”nya para pekerja dakwah.
Segalanya dimaknai Alhamdulillah. Gaji seratus ribu,sejuta, atau berapapun adalah Alhamdulillah wa syukurillah. Rumah ngontrak, baru bisa beli nyicil, Alhamdulillah. Sepeda motor, sepeda onthel, Alhamdulillah.
Anak-anak? Hm, bukan termasuk jajaran keluarga berencana. Dua anak (tidak) cukup. Keluarga kami hanya terdiri dari 4 orang anak. Ketika suatu saat putri kami, Inayah, bersekolah di SMP negeri, temannya bertanya
“Adik kamu berapa, In?”
“Tiga orang.”
Teman-temannya terpekik, “banyak bangeeeeet!!”
Inayah tertawa ketika menceritakan hal tersebut kepadaku,” gimana kalau teman-temanku tahu, temen Ummi ada yang anaknya 7, 9, bahkan 11 ya Mi?”

Keluarga dakwah adalah keluarga yang menjadi panutan. Orang-orang seringkali terkesima memandang ini : para suami sibuk tetapi masih sempat menggendong anak, menyuapi anak, antar jemput anak, mengajak anak-anak ke masjid. Para istri –sekalipun berprofesi di rumah- tak kurang sibuk mulai mengurusi arisan RT, berkiprah di yayasan dan organisasi, hingga aktif membina pengajian di mana-mana.
Sesekali memang, beberapa keluarga dakwah mengalami masalah, baik dalam hal financial atau hubungan interpersonal. Tetapi sebagian besar melihat, bahwa keluarga dakwah adalah milliu yang tidak didirikan dengan main-main. Lelaki dan perempuan diikat dalam cita-cita dakwah, membangun rumah dakwah step by step, memiliki anak dalam kerangka dakwah dan begitu seterusnya.

Tidak hanya di tengah masyarakat, dalam keluarga besar, seringkali keluarga dakwah menjadi panutan dan tempat keluarga besar merujuk bila terjadi masalah keluarga yang pelik.
Saya tak enak hati, mendengar pujian seorang tetangga yang senantiasa mengacungkan jempolnya tiap kali melihat kami sekeluarga ke masjid. Saya hanya bertanya dalam hati, apa yang ada dalam benak beliau, bahwa dalam barisan dakwah ini terdapat ribuan keluarga dakwah yang sama-sama pantas diacungi ibu jari?
Inayah, mulai dapat menyaring kejadian sehari-hari. Seringkali , lontaran ucapannya membutuhkan diskusi panjang.

“Apa yang membuat Abah Ummi tidak terpikir bercerai? Apa yang membuat Abah Ummi tidak selingkuh?”
Mungkin, ia menemukan kasus-kasus tersebut dalam dunia nyata maupun entertainment.
Penelitian tentang family therapy, romantic love yang mendasari hubungan lelaki perempuan memang tak usai di jelajah. Yang pasti, ketika keluarga kehilangan visi misi, pasti terombang-ambing. Sebuah keluarga muda masih punya visi misi membangun rumah, punya mobil, meniti karir, punya anak. Bila tercapai, what next?
“Kalau Ummi gak terlibat dakwah, gak tau deh,” ucapku jujur. “Pasti percakapan sehari-hari berkisar masalah financial, urusan cinta, kemungkinan WIL PIL. Hal yang terlalu kecil untuk dibicarakan, bila sebuah keluarga sudah mapan/settled. Tetapi pembicaraan dakwah tiada habisnya. Kita bicara masalah orientasi,masalah cita-cita besar, langkah hari ini dan seterusnya.”

Banyak sekali keluarga senior dakwah yang masih tetap romantic hingga sekarang, memiliki cucu, dan mereka tetap merasa sebagai pasangan tujuhbelas tahun. Barakah, bisa dikatakan demikian. Di sisi lain, dua orang lelaki perempuan yang masih merasa dalam satu ikatan demi mencapai visi misi ke depan, akan relative mampu bertahan sekalipun fitnah harta, wanita, tahta menghampiri.
Memiliki keluarga bahagia berbasis dakwah dan kebaikan, adalah harta mahal yang tak akan pernah anda dapatkan hanya dengan ikut bersesi-sesi smart parenting atau family therapy.

The Great Life

Pernah ikut acara motivasi oleh motivator paling representative?
Apa yang anda dapatkan?
Keinginan menggebu untuk berubah, punya perusahanaan multinasional, berpenghasilan M setiap bulan, punya karyawan ribuan dan seterusnya. Sepekan, sebulan, lalu perlahan cita-cita besar itu surut ke belakang didera banyak hambatan.

Bila anda, saat ini berada dalam kapal dan bahtera kebaikan dakwah, anda telah membayar Rp. O kepada ustadz/ustadzah juga kepada dakwah yang mendampingi, membimbing hingga ;
• Dari tak punya ambisi pribadi, memiliki ambisi (mendapat IP terbaik demi dakwah, memiliki perusahanaan dengan finansial kuat demi dakwah, memiliki pribadi cemerlang agar dapat mengorbitkan dakwah, memiliki keluarga kuat sebagai penopang dakwah)
• Memiliki time schedule mulai tahun pertama hingga tahun ke sepuluh, duapuluh, tigapuluh, dst
• Memiliki komunitas yang akan memantau langkah progress atau malah step backward
• Senantiasa termotivasi untuk berpetualang, menjelajah daerah baru
• Selalu termotivasi untuk bersaing dengan yang lain hingga kita selalu mengasah, meng up grade diri
• Memiliki network, jaringan yang luarbiasa
• Memiliki teman-teman yang memang “teman” bukan serigala berbulu domba; mereka selalu mengingatkan bila kita salah, membantu bila butuh
• Dari tak tahu apa-apa menjadi harus belajar banyak : pengusaha, orangtua yang hebat, pendidik spektakuler, pendobrak stagnansi, politisi dst.
• Sebutkan saja, apa yang sudah anda peroleh selama dalam kebaikan ini

Bila, anda berani membayar mahal untuk seroang motivator yang hanya bisa membimbing 2 hari; berapa sudah yang kita bayarkan dan juga dapatkan dari dakwah? Kitalah yang lebih menjulang, mengorbit ke angkasa bersama kebaikan

Fitnah Dakwah

Anda, telah menjadi seorang pengusaha penting.
Dan masih bermimpi hanya akan menghadapi pesaing ketika masih menjadi ritel atau membuka toko kelontong?
Dulu, kita hanya pegawai kecil, gaji ngepas, yang hanya cukup untuk makan anak istri. Lalu kita berdoa, supaya dibukakan pintu rezeki dan penjadi orang yang lebih “ diatas” sebab orang “dibawah” lebih tak mampu berbuat banyak. Menjadi pelaksana dan kepala seksi; beda imbalannya, beda tantangannya. Menjadi penonton bola dan pemain bola, beda imbalannya, beda tantangan dan cemoohannya. Menjadi pengusaha yang hanya punya karyawan 2 (satu anda, satunya lagi istri/suami), berbeda dengan pengusaha yang memiliki karyawan 100,1000 orang; berbeda imbalan dan juga tantangan-resikonya.

Berdakwah kepada anak kecil, mengajarinya mengaji di TPA, memiliki tantangan.
Berdakwah kepada tetangga untuk menambahi acara arisan dengan sedikit sharing pengethuan, ketrampilan dan agama; memiliki tantangan.
Berdakwah kepada guru-guru sekolah negeri agar mencontohkan disiplin dan mencintai pengetahuan, memiliki tantangan.
Berdakwah kepada pegawai negeri agar tak korupsi dan tak menyalahgunakan wewenang jabatan, memiliki tantangan.
Berdakwah kepada pelaku bisnis agar memiliki etika, memiliki tantangan.
Berdakwah kepada para pengelola negara agar menyelamatkan asset, memberikan layanan kepada rakyat banyak; memiliki tantangan.

Manakah yang lebih ringan atau sebaliknya, lebih liat tantangannya?

Karena tak memiliki ketrampilan, kapabilitas, keberanian, juga ambisi besar; kita akan merasa lebih baik berdakwah di ranah kecil. Kecil resikonya, kecil fitnahnya, kecil cemoohannya, kecil kemungkinan dipersalahkan ; meski kecil pula dampak kebaikannya. Was-was, sakit hati, tak siap mental maka banyak yang tak mau mengambil ranah-ranah besar sebagai kekuatan dakwah. Membiarkan peluang diambil alih oleh asing, biarkan anak keturunan kita merana mengemis, dan kita tak punya harga diri.

Tergelincir Dakwah

Tak makshum seseorang, kecuali Nabi.
Kita pasti bisa berbuat salah, begitupun pelaku dakwah. Kalau begitu, apa yang menjamin jalan ini tak salah?
Berpikir salah benar, berpikir hitam putih. Aku baik, kamu jahat. Kami surga, mereka neraka. Tak ada ambisi : mengapa kita tak masuk surga bersama-sama?

Dakwah mungkin akan menuai salah. Beberapa perhitungan tak tepat, beberapa pelaku ternodai. Lalu kita berhenti, mencela, sementara orang-orang salah tetap berambisi melangkah maju. Memang, kenapa kalau kita salah? Apa harga mati, bahwa kita tak bisa mencoba lagi?
Seorang anak, sama sekali tak boleh main internet, dengan alasan takut game online dan pronografi. Selamnya, orangtuanya mengatakan internet haram. Ia, memang terlindungi dari kecanduan. Tetapi alangkah sayangnya, bahwa bersama internet bukan hanya sekedar pornografi dan game online : ilmu pengetahuan yang luarbiasa bisa diakses, berita terkini, belajar membuat blog, bisnis online, dll.
Dalam dakwah, kita harus mencoba hal-hal baru dipandu para ahli syariat.

Dakwah dan politik, mustahil disatukan. Sebab politik selama ini selalu terangkai dengan feminism korupsi, birokrasi yang bisa dibeli, laporan keuangan yang tidak accountable, belum lagi gratifikasi sex. Selamanya , bila politik dirangkaian dengan domain keburukan, maka ia adalah cela.

Tetapi bagaimana bila politik adalah seperti saat kepemimpinan Umar bin Khathab, Umar bin Abdul Aziz, Harun Al Rasyid?

Bahwa politik adalah layanan pendidikan hingga memunculkan ribuan ulama dan kaum cerdik cendikia. Bahwa politik adalah pengelolaan harta rakyat dan pemerintahan, hingga di masa paceklik masa Umar ra, kas punya simpanan dan tak harus impor apalagi mengemis! Bahwa politik adalah kekuatan militer hingga bersatunya Quthuz dan Baybar menaklukan Mongolia. Bahwa politik adalah perlindungan anak dan perempuan, terjaminnya masa depan bangsa.

Apakah untuk hal sepenting itu, dakwah tidak pantas memperjuangkannya?
Fitnah boleh muncul, tetapi bukan berarti berhenti di satu titik.
Atas barakah Allah SWT yang telah melimpahkan keluarga yang kuat, anak-anak yang banyak dan sehat, wajah yang senantiasa tersenyum (meski sekian banyak masalah menghadang). Atas barakah allah SWT bahwa kita tak ciut hanya di tempat ini tapi tetap memiliki ambisi-ambisi besar untuk kepentingan transcendental dan horizontal.
Mari.
Simak puisi Iqbal yang selalu menggentarkan.

“Abad ini adalah malaikat kematian untuk kalian
Dengan merawat ala pencari nafkah ia cekik jiwamu
Hatimu gemetar tatkala memikirkan perjuangan
Hidup adalah kematian bila ruh jihad tlah menghilang
Pendidikan membuatmu asing dari kegairahan bangsawan
Yang mendorong cendekiawan bersikap berani tak kenal gentar
Alam menganugerahimu ketajaman mata elang
Tapi perbudakan memberimu penglihatan seekor kelelawar.”

Kategori
Cinta & Love da'wahku mother's corner Oase Psikologi Islam Rahasia Perempuan

Psikologi Da’wah (2) : Eksistensi dan Regresi

Silakan silang multiple choice di bawah ini, pilih salah satu yang anda anggap paling tepat.
1. Siapa orang yang paling mudah diajak berinteraksi :
a. Orangtua
b. Saudara (kandung/ipar/sepupu)
c. Pasangan
d. Teman kerja (instansi/komunitas)
e. Tetangga
f. Diri sendiri

2. Lama intensitas menjalin komunikasi, berdasarkan jawaban di atas :
a. 2 minggu
b. 1 bulan
c. 6 bulan
d. 1 bulan
e. Lebih dari 1 tahun
f. Lebih dari 10 tahun

Well, I think you should be very honest to yourself!

Jika boleh berkata jujur, ada obyek da’wah yang ternyata berada dalam lingkaran terdekat. Orangtua sudah oke, tetangga mengenal kebaikan kita, relasi acung jempol pada prestasi. Adik kakak sangat bergantung pada kita : materi atau non materi.
Lalu muncullah pihak yang sangat membutuhkan da’wah.
Apa?
Suami? Istri? Anak-anak?

Celakanya lagi, ternyata obyek da’wah yang lupa tersentuh adalah yang begitu dekat.
Interaksinya berjalan lebih dari setahun, lebih dari sepuluh tahun, tiap pekan, bahkan berjalan seumur hidup. Ada pihak yang terlupakan tersentuh obyek da’wah, yang ternyata amat sangat sulit ditaklukan bagai gunung granit menjulang. Kita telah berjalan mengelilingi gunung itu, mendakinya mungkin, mengeruk sebongkah demi sebongkah agar sampai di puncak; tetap belum tertaklukan.
Siapa obyak da’wah yang lebih sulit untuk difahami dan ditaklukan, selain diri sendiri?

1. Memahami Eksistensi
2. Piramida Maslow
3. Regresi

1. Memahami Eksistensi

Eksistensi sering diterjemahkan sebagai “keberadaan”. Seseorang meski ia ada secara fisik dan materi, belum tentu dianggap ada oleh orang sekelilingnya. Boleh jadi karena ia enggan muncul, tidak pernah terlihat prestasinya, atau memang orang tidak membutuhkan siapa dia.
Cogito Ergo Sum adalah kredo terkenal dari Rene Descartes. Aku berpikir, maka aku ada.
Tampaknya, hal ini relevan dengan kondisi manusia. Bukankah Allah SWT berkali-kali menyebutkan la’alakum ta’qilun –agar kamu mengerti (2 : 242) ; la’alahun yatadzakarun- agar mereka mengambil pelajaran (2 :221) ; yubayyinuha liqaumi ya’lamun – diterangkan kepada orang2 yg berpengetahuan (2 :230).

pondering-our-purpose_0

Konsep bahwa kita harus berpikir, menelaah, merenungkan, mencari jawaban, berpikir lagi, bahkan setelah tercapai kognisi harus metakognisi ; tampaknya menjadi intisari keberadaan manusia.
Mungkin , sebagian manusia beranggapan eksistensi dapat dicapai dengan materi, ketenaran atau hal yang serupa dengannya. Jawabannya ya, tapi tentu tak lama.

Di dunia entertainment, dalam ranah music, sering dikenal One Hit Wonder. Seseorang yang melejit hanya karena satu hit lagu saja. Contoh ini sudah banyak terjadi.
Di tahun 80-90, remaja hysteria bila bertemu Tommy Page (Shoulder to Cry On). Sekarang, ketika bintang Justin Beiber sempat terang benderang, sinarnya mulai redup dihantam K-Pop dan J-Pop. Lagu keroyokan dengan wajah mulus dan koreografi andal, dihantam lagi dengan tampilan kocak PSY – gangnam Style. Gelombang itu kini berganti dengan One Direction, grup music British yang melejit dengan What Makes You Beautiful & One Thing. One Direction, dipuja dan diperingatkan : akankah menjadi One Hit wonder? Dikenal sekali, bersinar, bak komet dan meteor di langit yang disambut sorak sorai sebab membawa cahaya kemilau di langit malam; sensasional terang benderangnya tapi cepat menghilang di balik cakrawala?

Sebagai pelaku kebaikan, kita sangat tak ingin eksistensi kita menjadi One Hit Wonder, One Man Show. Tak mengapa nama tak muncul di media, disebut orang, tetapi kebaikan yang mengalir bak film Pay It Forward.

Di tengah hedonis Hollywood, juga para pelaku kebaikan dan dakwah, film ini pantas direnungkan. Kisah seorang anak (diperankan Haley Joey Osment) yang menggulirkan ide sangat sederhana : berbuatlah kebaikan pada 3 orang dan mintalah kepada masing-masing orang tersebut agar berbuat kebaikan kepada 3 orang juga. Begitu seterusnya.

Kita ingin eksistensi kita betul-betul ada, maka berpikirlah. Merenung. Aku harus bagaimana? Aku mau apa? Aku mau kemana? Apa jadwalku hari ini? Siapa aku 10 tahun ke depan?
Membenahi diri sendiri, tampaknya menjadi asset penting bagi para pelaku da’wah agar ia tidak terseret eksistensi sementara. Enggan aktif di organisasi bila mendapat peran sie konsumsi. Enggan aktif di rohis, bila hanya terus mendengarkan nasehat (kapan dong gilliranku bicara?). Enggan berkiprah di lini manapun, bila hanya kebagian peran figuran.

Siapa sih yang tidak megnawali kerja besar dengan berperan sebagai figuran?
Channing Tatum berperan sebagai figuran di Lemony Snicket : Unfortunate Adventure. Shiah Lebouf berperan kecil di I Robot. Evo Morales, sebelum menjadi presiden Bolivia berperan sebagai pengacara dengan gaji ala kadarnya membela petani kecil hingga ia dikenal sebagai coca lawyer.
Lakukan hal-hal kecil demi eksistensi, lalu melangkahlah ke hal besar.

Kalau, sepanjang hidup hanya mendapat peran kecil selalu, menjadi figuran, tak pernah beranjak dari sie konsumsi dan transportasi?
Kita mungkin pernah mendengar sebuah cerita tentang orang yang biasa-biasa saja.

“dilahirkan pada tahun 1901, nilai-nilainya antara C dan D, menikah dengan nona Mediacore, memiliki anak Averagement Jr dan Baby Medicore. Memiliki masa pengabdian tak baik selama 40 tahun, memegang berbagai posisi tak penting. Dia tidak berani menghadapi resiko atau memanfaatkan peluang. Dia tidak pernah mengasah bakat dan selalu pasif. Hidup selama 60 tahun tanpa tujuan, rencana , kemauan, keyakinan atau tekad. Pada nisannya tertulis :

Disinilah makam
Mr. Averagemen dilahirkan 1901
Meninggal 1921, dikebumikan 1964
Dita tidak pernah mencoba sesuatu
Harapan kehidupannya terlalu sedikit
Kehidupan tidak berarti baginya “

Ow sedihnya.
Atau anda mau mendengar cerita yang ini?
Tak ada yang berani melawan gelombang kekuatan Jenghiz Khan di akhir abad XII. Sultan Muhammad II, penguasa Khwarizmi yang selalu dikelilingi biduanita kalah memalukan, para ulama dan penduduk dihabisi. Tak ada yang berani menentang aneksasi Mongolia.

Seorang pemuda bangsawan, dari garis selir yang senantiasa dicibir, hanya punya beberapa gelintir pasukan mencoba menghadang Jenghiz Khan. Ia bertahan mati-matian hingga sang jenderal, Temur berkata :
“Jaladdin, anda tak dapat menyelamatkan semua. Rakyat telah pergi mengungsi.”
Jaladdin kalah. Pemuda itu selalu dicibir oleh Ibu Suri Torghun dan Sultan Muhammad II sebagai “anak selir yang tidak punya apa-apa”
Tahukah anda apa yang dikatakan Jenghiz Khan, penakluk yang kekuatannya dianggap melebihi Adolf Hitler, saat melihat Jaladdin yang gagah berani?

“Demi Langit Biru! Aku akan menukar empat anakku (Ogoday, Chagatay, Jujiy dan Tuluy) untuk dpat memiliki seorang keturunan seperti Jaladdin!”
Averegement figuran dalam hidup ini. Jaladdin figuran juga.
Tapi sepertinya eksistensi mereka berbeda. Anda pilih yang mana?

2. Piramida Maslow

Maslow membagi kebutuhan manusia menjadi 5 tingkat (belakangan menjadi 7 tingkat). Dari bawah : 1.physiological needs – 2.safety needs – 3.love needs- 4.esteem needs – 5.self actualization needs. (6 & 7 adalah kebutuhan social dan transcendental)
1-4 adalah kebutuhan yang muncul karena “kekurangan”. 5 adalah kebutuhan yang muncul karena “berkembang”.
Pertanyaannya :
• Apakah hierarki itu mutlak?
• Bisakah kita menjalankan semua kebutuhan itu bersamaan?
• Tidak bisakah kebutuhan itu dibalik?
Sebab, bila menunggu semua kebutuhan dasar terpenuhi lalu barulah kita melangkah kepada watak social dan transcendental; aduh, lamanya! Tetapi hierarki ini memang terjadi secara alamiah. Biasanya demikian.

Tapi, bukankah kita ingin menjadi yang tidak biasa, setelah memahami makna eksistensi?
Maka boleh saja, menjadi kebutuhan paling mendasar adalah kebutuhan kita secara vertical transcendental – kebutuhan kita kepada Allah SWT. Bahkan ketika kita lapar, kebutuhan rasa aman belum terpenuhi, cinta belum mendapatkan; sebagai muslim justru keinginan transcendental itulah yang utama. Berikutnya adalah social. Meski masih lapar, banyak hal wajib yang belum tercukupi, rasanya kita juga ingin berbagi kepada sesama.
Hierarki Maslow ini bisa dibolak balik bila berkenaan dengan diri pribadi (ingat, kita paling sulit mendakwahi diri sendiri). Tapi jangan dibolak balik ketika berhadapan dengan orang lain!
Bertemu tukang becak yang tinggal di kos-kosan kumuh, ia yang kebutuhan fisiologisnya belum terpenuhi, apalagi keamanan dan kebutuhan akan cinta dan kasih sayang; bisakah kita menuntutnya transcendental dan social.
“Pak becak, makanya sampeyan banyak sedekah biar rejekinya mengalir! Sampeyan sabar ya, hidup itu ujian!”
Gubrak!
Eksistensi kita sebagai pelaku kebaikan yang “berpikir” akan dianggap miring.

“Gak salah nih ustadz, nyuruh sabar sama orang yang hidupnya sudah susah bertumpuk-tumpuk.?!”
Memang menyuruh sabar baik, tapi ada bahasa lain yang dapat dipakai, “ Pak becak, adakah yang bisa kami bantu? Kalau butuh modal, kami dapat membantu untuk menghubungkan sampeyan dengan BMT terdekat.”
Konsep sabarnya sama, caranya beda!

3. Regresi

Kita telah memilih yang terbaik dalam hidup.
Eksistensi sebagai pelaku kebaikan, bahkan memilih menjadi penyeru kebaikan.
Tetapi, mungkinkah suatu saat, eksistensi itu pudar perlahan? Bagai nebula-kabut awan yang meledak menjadi supernova, membentuk bintang gilang gemilang, membesar menjadi bintang putih yang berubah nyala menjadi merah, lalu perlahan mengecil, mengerdil? Tak cukup hanya menjadi bintang kerdil yang cahayanya lamat. Ia menjadi bintang kerdil yang memangsa segala. Bahkan beralih rupa menjadi blackhole –lubang hitam yang akan menelan setiap materi, bahkan cahaya.
Itukah kita?
Yang dahulu dikenal eksistensinya sebagai pelaku dan penyeru cahaya –berubah menjadi bintang kerdil bahkan black hole mengerikan?

regression

No ! Never! But, is it possible?
Sangat mungkin.
Perlu diketahui, stagnan adalah musuh manusia. Manusia tak pernah tetap. Manusia terus berubah. Meski perubahannya adalah mencari titik equilibrium, titik dimana ia merasa nyaman dan aman.
Regersi memang dikenal di madzhab psikoanalis, ditentang oleh Humanistik dan Behavioris; tetapi mau tak mau, kita mempercayai istilah ini.
• Tua-tua keladi
• Wah, nakalnya telat.

Apa yang sebetulnya terjadi pada orang, yang kembali ke masa dulu, kalau tidak dibilang ia kembali ke masa jahiliyah bahkan saat belum mengenal Islam dan organisasi dakwah?
Itulah regresi. Masa seseorang dapat kembali menjadi seperti dulu, seperti kanak dan remaja, seperti sediakala. Jatuhkah ia? Tersesatkah?
Bila anda mengenal Michael Jackson, ialah contoh tepat regresi. Seseroang yang kehilangan banyak dimasa kecil/remaja, kelak akan “menagih” saat dewasa dan saat memiliki kendali (uang, kuasa). Dulu, sangat miskin, lalu menjadi pejabat. Dengan uang di tangan ia akan regresi. Dulu tak bisa membeli mobil-mobilan ,sekarang akan mengkoleksi mobil.
Dulu, remaja jelek tak kira-kira, tak pernah ada cewek yang bersedia menjadi pacar. Setelah beristri, matang, mapan, mampu merawat diri; tibalah saat bersenang-senang dan mereguk nikmat yang dulu belum pernah dicicipi. Itulah regresi.
Ada masanya, kita menagih apa yang dulu sempat hilang di masa lalu.
Tidak pacaran, bukan karena pemahaman, tapi karena takut ustadz dan teman pengajian. Kelak, ia akan regresi bila tiba kesempatan tak ada orang yang dapat mengendalikan. Shoum sunnah bukan karena mencontoh Nabi, tapi karena tak punya uang, dan begitulah contoh menjadi aktivis. Kelak, makan tak kira-kira, tak cukup hanya sekedar 4 sehat 5 sempurna. 6 mahal, 7 bergengsi,8,9,10 dst.
Maka, berhati-hatilah pada regresi, bila anda tiba di suatu masa dimana dunia ada di tangan. Tidak mesti tergelincir, bila tahu cara menghadapi.

Kecil kurang kasih sayang orangtua? Ajaklah pasangan bicara, selalu punya waktu spesial untuk bermanja-manja sebab pasangan kali ini akan menjadi orangtua-sahabat-kekasih; jadi, tak perlu cari orangluar untuk melengkapi.

Kecil kurang mainan? Beli rumah, sedekahkan. Beli apertemen, sedekahkan. Beli mobil, jual lagi, sedehkah (kegilaan shopping seringkali bukan karena ingin “memiliki” tapi karena ingin “menghilangkan/menghabiskan” uang yang dipunya. Jadi kalau sudah beli, ya sedekahkan saja)

Kecil dianiaya, diperintah-perintah? Lalu menjadi orang yang powerfull, untouchable? Ups, No! Kita menjadi pejabat saat kecil melarat, lalu hilang sensitivitas pada orang lain? Mengapa tidak mencoba mencontoh kaum hippies yang kaya raya, lalu sesekali menanggalkan pakaian, berpakaian ala kadarnya, untuk melihat : apa reaksi orang saat melihat tubuh kita tanpa materi? Maka, akan ditemukan teman sejati. Eh, si A ternyata hanya bermanis rupa. Eh, si B ternyata hanya mendekat bila ada maunya. Subhanallah, ternyata si X adalah kawan sejati, ia adalah teman yang selalu mengingatkan.
Bersiaplah regresi. Pahami waktunya. Kendalikan diri.

Sebab kita tak ingin menjadi bintang kerdil, apalagi blakchole yang bahkan menolak cahaya!

Kategori
Cinta & Love da'wahku Oase Psikologi Islam

Psikologi Dakwah (1)

Andai Nabi Muhammad Saw diminta menyeru gunung, batu atau hewan untuk tunduk pada Allah SWT; tentu tak butuh waktu 23 tahun untuk menyempurnakan tugas. Memahami, mengerti, menghimpun, mengkoordinasi manusia tampaknya butuh keahlian paripurna. Tak pelak, Nabi Muhammad Saw adalah contoh teladan bagaimana beliau mampu menempatkan manusia terbaik di posisi masing-masing. Pun, Rasulullah Saw tetap manusia biasa yang bercanda, melakukan aktivitas sehari-hari, marah, berproduksi, bernegosiasi ; hal yang membuat Rasul tetap berinteraksi dengan setiap elemen alam semesta.

Manusia kadang dianalogikan dengan piramida ( Abraham Maslow), gunung es (Sigmund Freud), hewan-tikus ( BF Skinner), topeng ( Carl Gustav Jung).
Dalam dakwah, dasar-dasar psikologi memang harus difahami agar sebagai pelaku dakwah kita memahami dan tetap semangat! Tentu tidak bisa semua teori di break down disini, semoga di kesempatan lain dapat menelaah lebih jauh lagi sehingga kita dapat memiliki bekal relative cukup untuk memahami obyek manusia, atau obyek dakwah.

1. Individual Differences

Pernah lihat kembar identik yang berasal dari satu telur? Wajah mirip, tinggi sama, body sama. Masih kecil bisa diseragamkan pakaian. Besar sedikit, meski kembar, tak mau disamakan. Sangat alamiah, tak ada satupun manusia yang sama persis. Hal ini membuat kita tak boleh mn -generalisir
“Wah, gak mau sama orang Madura. Kasar dan keras kepala!” (saya banyak punya teman Madura yang sangat halus, melebihi orang Yogya dan Solo)
“Aduh, susah deh kalau sama orang Yogya/Solo. Kalem sih…tapi, manis di mulut doang.” (saya banyak punya teman Yogya dan Solo yang fair, to the point, tidak suka lip service!)
“Jangan sampai sama orang Bandung atau Betawi. Ukurannya materi.” (saya punya kenalan banyak orang dari wilayah ini yang sampai sekarang tetap hidup sederhana)
Memang, secara antropologi, masing-masing budaya membawa warna sendiri tapi sungguh, setiap individu adalah makhluk berbeda! Hal ini akan memberikan semangat buat para pelaku kebaikan bahwa siapapun yang ditemui : Batak, Padang, Banjar, Madura, Bali, Papua mereka akan menjadi individu yang berbeda tergantung “sentuhan”.
Dan, jangan samakan satu orang dengan orang yang lain meski sekali waktu kita memang perlu membandingkan sebagai persaingan.
“eh, jangan kalah dong sama orang Madura yang tahan banting dan pintar membaca peluang ekonomi.”

2. Predisposisi

Bahasa gampangnya – sudah turunan atau dari sononya.
Beberapa karakter dan watak memang diturunkan sesuai pendapat carl Gustav Jung. Anak yang dilahirkan dari ayah ibu berwatak keras, biasanya wataknya pun keras. Anak dari keluarga berhemat, ia juga disiplin menjaga uang. Anak dari keluarga yang humoris, iapun akan humoris.

National geographic terbaru melaporkan, beberapa karate dalam genetic akan mewarnai sifat seseorang. Misal DNRD4-7R, membuat manusia suka petualangan, menjelajah, berani, tak kenal takut. Kita mengenal Steve Irwing yang tewas tertusuk ikan, Thomas Abercrombie yang suka memotret wilayah konflik.
Ada orang-orang yang secara “turunan” ngeyel, ada yang mudah diarahkan.
Tak mungkin 280 juta penduduk Indonesia punya gen yang sama, yang membuat mereka mudah sekali diarahkan ke satu tujuan kan?

3. Insight

Memotret masalah secara keseluruhan adalah makna insight. Ibarat bulan purnama, kalau masih lubang sedikit, ia belum terhitung purnama. Lihatlah bulan bulat bak piring, itulah purnama. Jilbab, sholat wajib, sedekah, tersenyum dan semua perilaku baik sesungguhnya hasil pemahaman dan aktivitas sempurna.
Sedekah — tercapai melalui pemahaman, juga si individu memiliki uang, hasil jerih payah, pengembangan ekonomi bertahun-tahun, mungkin juga hasil tabungan yang disisihkan.

Jilbab – bukan sekedar kain di atas kepala. Ia buah aqidah kepada Allah SWT, latihan melawan hawa nafsu, yakin akan prestasi, yakin akan tampilan diri, ketrampilan menggunakan peniti dan jarum pentul, kemampuan menahan panas bila musim kemarau.
“Malas pakai jilbab Mbak, ribet,” itu alasan seorang remaja.
Kalau gitu pakai aja jilbab kaos!
Selesai? Tentu tidak.

“Waah, harus beli baju baru dong kalau mau pakai jilbab. Gak punya duit buat beli jilbab!”
Pakai korden dong kaya kaum Anshor ketika ayat jilbab turun.
Ups, bisa-bisa obyek dakwah kita sewot. Maka, penggalangan jilbab cantik pun diadakan.
Masih belum mau juga pakai jilbab? Informasi jilbab terkini seperti yang dikenakan Khayrunnisa Gul, Hana Tajima, Dian Pelangi bisa diberikan. Takut gak dapat kerja? Hampir semua instansi pemerintah dan swasta sekarang justru memilih perempuan berjilbab.

Dan, sepanjang perjalanan “mencari” agenda penempaan aqidah harus terus menerus berjalan agar di satu titik ketika aqidahnya kokoh, akhlaqiyahnya siap, kognisinya memadai; seorang perempuan mengenakan jilbab dengan kesadaran penuh. Bila, sepanjang perjalanannya mencari jilbab ia malah kesulitan mencari kerja, tak kunjung mendapat jodoh sebab menghindari pacaran, prestasi akademik ngepas sebab harus bekerja juga, ujian demi ujian silih berganti datang; maka bukan jilbab yang menjadi tumpuannya memaknai kesalahan. Tetapi secara bijak, secara insight, individu berhasil melihat segala sesuatu tidak secara parsial.

4. Modifikasi Perilaku

Berapa lama mengubah perilaku seseorang yang pelit menjadi suka sedekah? Yang malas baca Quran jadi gemar hafalan? Yang suka menunda sholat jadi sholat tepat waktu? Bisakah semua perilaku buruk berubah dalam waktu cepat?
Modifikasi perilaku memang pilihan cepat , tanpa mengenal latar belakang atau visi misi ke depan. Pokoknya berrubah, titik. Hal ini sering menjadi pilihan behavioristik yang ingin cepat mengubah perilaku anak ngompol, malam belajar, kecanduan game dst.
Berapa lama?
Bayangkan, mengubah satu perilaku saja sedikitnya butuh 6 bulan! Itupun di bawah panduan ahli dan orang yang berniat berubah hingga ke point 10!
Jadi, berapa lama mengubah seorang individu yang enggan sholat, suka ngomong jorok, senang mengkritik Islam, suka pornografi tapi ia seorang mahasiswa berprestasi yang sangat ingin kita ajak masuk ke dalam lingkaran kebaikan?
Artinya, jangan patah arang ketika yang baru berubah dari semua perilaku buruknya baru sedikit. Sholat mepet waktu (dari yang semula bolong-bolong), masih suka mengkritik Islam, masih ngomong jorok, tapi sudah menjauhi film-film porno.

Manusia memang unik!
Tapi bayangkan, andai barisan special dan unik ini bergabung dalam shaf yang rapat dan siap bekerja sama dalam kebaikan!

Kategori
Cinta & Love da'wahku mother's corner Oase

Cinta & Hati Patah di Jalan Dakwah

Berapa lama sudah langkah kaki membersamai kebaikan?
Masih terasa baru saja hari kemarin kajian-kajian rutin di SMA saat aku cekikikan dengan teman-teman, mencuri pandang ke arah kakak Rohis cowok yang good looking. Pertanyaan-pertanyaan khas remaja pada umumnya.

“Apa?? Gak boleh pacaran?”
Alamak, kita hidup di abad ke berapa?

“Harus pakai jilbab?!?”
Huhu. Saat itu rok jins dengan kaos lengan pendek berkerah sedang tren, juga celana jins dengan hem yang lengannya digulung. Rambut berpotongan layer di samping ala Jennifer Aniston – Friend, potong pendek ala Demi Moore – Ghost, atau potong bob pendek se leher dengan ujung rambut menjuntai kanan kiri pipi.

“Musik gak boleh!!”
Ow, kemana harus kulempar the Final Countdown, Wild Frontier atau lagu-lagu romantic Richard Marx dan Tommy Page?
Saat itu nasyid belum se booming sekarang. Belum ada Maher Zein, Sami Yusuf, Opick, Izzatul Islam, dll. Jilbab juga masih sangat jarang dipakai, pilihannya pun sangat-sangat konvensional kalau nggak bisa dibilang –maaf, ndeso. Sekarang, setiap gadis muslimah bisa memilih pakaian sesuai kepribadiaannya : sporty, casual, elegan, feminine dsb. Mau tetap berjubah pun oke, mau pakai rok, tunik….asal syari.

Dari tasawwuf, garis keras hingga pengajian rutin

Pengajian yang rajin kuikuti selain Rohis di sekolah adalah tasawwuf. Saat remaja, kita ingin mencicipi segala macam sisi kehidupan. Kupikir, tasawwuf sangat menentramkan. Tapi yang kuikuti sangat jauh pemahamannya dengan rubric tasawwuf Republika yang diasuh Prof. Nazaruddin Umar. Disini akhirnya kufahami, ilmu dan agama bila beriringan mampu menciptakan pemahaman, amalan yang insyaAllah benar. Tasawwuf yang ditulis Prof. Nazaruddin Umar benar-benar membuat kita memahami bahwa salik, mursyid, peran Nabi dsb tidak membuat manusia menyepi.

Tasawwuf yang kuikuti dulu, membuatku mengasingkan diri. Benar-benar menyerahkan semua pada Allah SWT, termasuk urusan ibadah, akhlaq dll. Kalau dikehendaki Nya kita akan mudah sholat, akan mudah sedekah. Hidup tak perlu susah-susah amat, semua sudah diatur. Awalnya memang menentramkan, tapi kemudian banyak berbenturan ketika statusku mahasiswi. Aku hanya berdzikir, tidak pernah belajar, dengan alasan : semua kehendak Allah. Kalau baik, aku akan tetap di kampus. Sepanjang jalan, dimanapun aku berdzikir. Mungkin pemahamanku yang salah. Dzikir itu baik, tetapi seharusnya tidak meniadakan usaha manusia.

Perlahan, aku meninggalkan kajian tersebut.
Lalu aku beralih pada sebuah kelompok yang sangat hitam-putih.
Aku sempat mengikutinya beberapa kali, tetapi hatiku tercabik oleh orasi sang ustadz yang demikian keras. Hatiku patah, merasakan bahwa tak ada tempat bagi orang sepertiku yang masih begitu banyak dosa.
Satu yang membuatku bertanya-tanya saat itu adalah, ceramah sang ustadz mencaci maki seorang ulama Mesir. Aku sendiri belum kenal betul dengan ulama Mesir tersebut , tapi seingatku, ajaran agama yang paling asasi adalah : jangan meng ghibah. Apalagi mencaci maki orang dengan bahasa yang memerahkan telinga. Musa as, Harun as, tetap menggunakan kalimat baik sekalipun di depan Firaun. Dengan ulama lain yang mungkin berbeda madzhab, apakah diizinkan untuk menghina, menyumpah, mencerca, mencaci maki dengan kalimat tak pantas?

Pemuda, the agent of change

Apakah dunia kampus yang kondusif mengubahku menjadi pribadi Islami?
Oho, nggak secepat itu. Jubahku panjang, jilbab lebar, dzikir kemana-mana, menangis ketika sholat tapi aku masih bertanya : aku ingin ikut pengajian, tapi apa ini yang benar? Aku loncat kesana kemari, sampai-sampai sang ustadz yang membina mengatakan
“..Sinta nggak usah sama saya ya.”
Hehe. Kesal mungkin.
Bila mengingat beliau yang hari ini entah dimana, rasanya ingin sekali berterima kasih atas kesabaran ustadz dan istrinya yang membimbing di tengah kesederhanaan.

Saat itu usiaku belum 20 tahun. Tetapi suatu kesadaran mulai timbul, bahwa dimana-mana pemuda selalu menjadi agen perubah. Lihatlah kemerdekaan Indonesia. Bung Karno, Bung Hatta, Serikat Islam –HOS Cokroaminoto dll; semua memberikan kontribusi positif yang merubah nasib bangsa ketika mereka muda. Semangat, idealism, organisasi, segala lini ditempuh demi kemerdekaan. Lapangan Tiananmen digenangi darah pemuda ketika menuntut reformasi

Tahun 90an, Indonesia dalam kondisi yang rawan.
Saat kuliah, sempat beredar issue “mukena melayang”, kabar yang beredar seorang perempuan kaya mencari khadam jin ketika naik haji agar kekayaannya berlipat. Konon, ia meninggal di tanah suci tetapi perjanjiannya dengan alam ghaib telah terjalin sehingga khadam jin itu tetap ke Indonesia. Jadilah “mukena melayang” menghantui jalan-jalan. Para muslimah berjilbab tak berani keluar malam, padahal biasanya usai magrib atau usai isya masih rutin menyambangi adik-adik tingkat. Bukan karena kami takut “mukena melayang” tetapi khawatir bahwa beberapa wilayah orang bersikap brutal terhadap mereka yang dianggap wakil “pembuat makar”. Entah bagaimana ceritanya, mukena dan jilbab disamakan hingga kami berhati-hati bila keluar rumah.

Belum lagi issue “kolor ijo” , Ninja pembantai, atau pencuri berjilbab yang beredar di kampur-kampus (orang ini memakai jilbab tetapi aslinya hanya kedok agar bisa leluasa mencuri di masjid-masjid kampus)
Semangat mudaku dengan energy lebih dan pemahaman yang semakin syumuliyah –menyeluruh; membuatku faham bahwa Islam yang selama ini kufahami dan kulakukan masih setengah-setengah. Islam adalah dzikir, sekaligus prestasi. Islam adalah pakaian, sekaligus seni. Islam adalah Quran dan nasyid, film dan juga sastra. Islam adalah pendidikan juga ekonomi dan teknologi. Islam adalah keluarga, juga masyarakat.
Islam adalah segala.
Bila selama ini Islam serasa tak sesuai, mungkin ada yang salah.

Langkah salah

Pernah, sekali waktu, begitu bersemangatnya berdakwah (ilmuku yang masih sangat dangkal pula) aku memaksakan kehendak. Jilbab wajib, music tinggalkan! Semua haram, kalau tidak : neraka. Sembari mengutip ayat-ayat yang mendukung.
Akibatnya terlihat. Adik-adik muslimah mengenakan jilbab, tetapi satu demi satu , bertahun kemudian melepas jilbabnya. Aku lupa meletakkan pemahaman adalah langkah pertama. Mereka yang berubah demikian cepat dan radikal, dapat kembali ke asal demikian cepat pula.
Sekarang bila mendakwahkan masalah jilbab, maka yang pertama adalah mengutip ayat-ayat tentang jilbab seperti dalam An Nisa & Al Ahzab. Lalu menyampaikan bahwa jilbab adalah identitas, martabat dan satu paket kemusliman seseorang. Bila belum bisa berjilbab (takut, malas, dll), apakah harus dipaksa?
Dakwah adalah jalan panjang. Dengan sekali pengajian, mungkinkah bisa merubah hati seseorang?

Menurut Ibnu Sina, hati seseorang harus dilembutkan dulu sebelum siap menerima kebaikan. Untuk mengajak seseorang betul-betul menerima jilbab mungkin seseorang butuh paparan bukti jilbab dari kakak kelas : aktivis, akhlaq manis, prestasi akademis.
Latar belakang seseorang, sangat berpengaruh.

Mereka yang tumbuh dalam situasi hangat, mungkin akan siap menerima perubahan tanpa gejolak. Tetapi individu yang tumbuh dalam situasi sulit, akan resisten terhadap dunia luar, membenci pihak lain yang dianggap beruntung dan menentang apapun yang dianggapnya mengganggu. Mendakwahkan tentang jilbab misalnya, butuh jalan panjang.
Dititik ini, dakwah adalah seni untuk menyampaikan, bagaimana seseorang dapat
menerima keindahan Islam dan kelak menyadari, Islam tidak hanya indah dan berisi janji-janji surga ; Islam juga meminta tanggung jawab dan kontribusi, keterlibatan dan pengorbanan.

Patah hati dan kecewa

Percayalah.
Pernahkah kita selalu puas dan bahagia dalam hidup ini?
Setiap kejadian yang bertentangan dengan kehendak, tidak harus berujung pada rasa putus ada dan frustrasi, apalagi sampai kesimpulan fatalis.
“Alaaah, ustadz ternyata sama saja,” ketika kita melihat bertahun silam seorang ustadz kondang diberitakan menikah untuk yang kedua kali. Ia dihujat, terutama oleh kaum perempuan. (Kita lupa , setiap hari ada saja berita artis selingkuh, cerai, mengganggu hubungan orang lain)
Pernah kecewa, ketika seorang ustadz yang kemudian kaya karena jabatan, berubah akhlaqnya (kita lupa, ustadz macam itu hanya beberapa gelintir. Allah SWT masih menitipkan sekian banyak ustadz yang tak tersebut namanya oleh media massa, tetapi rela mengorbankan apapun demi dakwah Islam)
Pernah marah, ketika seorang ustadz berkedudukan tinggi, tak menyapa dan tersenyum padahal ia sangat mengenal kami (kita lupa, masih banyak ustadz; yang bahkan yang setingkat wakil gubernur pun main ke rumah, sederhana-hangat, menitipkan uang untuk anak-anak. Masih banyak ustadz yang rajin memberikan hadiah kepada tetangga dan teman-teman)
Ya.
Sayangnya kita fatalis. Bila menemukan kesalahan, maka beranggapan semuanya akan seperti itu.
Mengapa kita tidak seperti saat muda dulu, menjadi the agent of change?
Saat Indonesia dihantam badai korupsi dan pengkhianatan, kita yakin, kita adalah salah satu yang bisa menyelamatkan bangsa ini. Ketika perjalanan dakwah Islam tidak semulus yang dibayangkan, orang-orang yang berada dalam kapal besar inipun harus melampaui sekian banyak ujian : ujian individu, ujian keluarga, ujian harta jabatan, ujian persaudaraan dll. Bila para ustadz atau saudara kita terjebak kesalahan, semangat the agent of change itu janganlah meluntur : kita pergi saja, sudah tidak ada harapan. Bertahan, berbuat baik, kemungkinan ke depan kita lah yang akan menggantikan peran mereka.

Bila Indonesia dipenuhi korupsi, pulau-pulaunya tergadai dan terjual, tambangnya telah dibeli asing, apakah kita akan memutuskan pindah saja ke Singapura atau Australia? Rasanya tidak. Kita memilih mendidik anak-anak dan mengatakan : ini Negara kita, milik kita, suatu saat harus kalian kelola kembali apa yang menjadi milik bangsa dan rakyat Indonesia.
Bila, kita ternyata tak memiliki ambisi kebaikan, tak memiliki semangat perubahan, lebih nyaman tidak terlibat dakwah (yang memang penuh resiko dan perjuangan lahir batin).

Masih ingat teori Evolusi Darwin , Survival of the Fittest yang sebelumnya dikemukakan Herbert Spencer? Frase “survival of the fittest” atau “natural selection” telah mengalami banyak penyimpangan dibandingkan makna aslinya tetapi seringkali frasa tersebut digunakan dalam situasi-situasi pertarungan & pertempuran (ekonomi, politik, kondisi alam dsb)
“Dalam pertarungan hidup yang abadi, hanya varietas/ras yang memiliki keuntungan dalam struktur, konstitusi, naluri yang akan bertahan. Natural selection (seleksi alam) memiliki ide yang sama dengan survival of the fittest.”

Survival of the fittest memiliki makna : mereka yang bertahan adalah yang layak, pantas, tepat dan siap. Bukan yang paling besar atau paling kuat, tetapi yang paling adaptif.
Tampaknya, pendapat Spencer dan Darwin ada benarnya dalam ranah dakwah.

Kategori
Catatan Perjalanan Cinta & Love da'wahku Jurnal Harian mother's corner My family Oase Psikologi Islam Quran kami Quran Kami Rahasia Perempuan

Cerita Anak & Al Baqarah

Waktu masuk kelas tahfiz dan ustadz kami mewajibkan untuk menghafal dari juz 1, saya betul-betul kecut.
Juz 1?
Yang panjang itu?
Yang isi ceritanya tentang sapi betina, hukum jual beli, dll?
Ampun deh, saya nggak sanggup…
Tapi bagaimana lagi, masak tiap pekan mau bilang, “…maaf ustadz, saya belum hafal. Susah betul!”

1 tahun berlalu
Alhamdulillah. Horee…segala puji hanya milik Allah SWT . Dengan bangga saya bisa bilang ke anak-anak. “Ummi sudah hafal lho juz 1…sekarang masuk juz 2. Kalian bagaimana?”
Rasanya ada kebanggaan, rasa otoritas juga ketika menagih hafalan anak-anak : ayo, ayo setor hafalan! Nanti kalau anak-anak tanya…lha, emang Ummi hafalannya sampai mana? Sungguh, menurunlah figur populer saya sebagai ibu di mata anak-anak. Dengan menghafal Quran seperti ini, anak-anak tampakya melihat saya cukup punya otoritas ketika saya menagih hafalan mereka.
Menghafalkan juz 1 memang gampang-gampang susah. Susahnya kalau persepsi kita bilang itu susah. Gampangnya….seperti sebuah cerita panjang yang berkesinambungan.

Menjaga hafalan
Waktu favorit menjaga hafalan saya di dapur dan jalanan, waktu mengantar / menjemput anak2 sekolah. Naik sepeda motor, wajah tertutup slayer (jadi tak terlihat kalau mulut komat kamit) , bersembunyi di dalam helm.
Saya sempat berpikir, suatu saat akan buat penelitian klinis psikologi.
Mengapa saat menghafalkan, melafalkan, murojaah Quran; gerak refleks dan instink kita jadi tajam ya? Bagi yang tinggal di Surabaya tahu sendiri lah kemacetan dan bernafsunya orang-orang di perempatan Ir. Soekarno (jembatan MERR II C) , perempatan Bratang, perempatan Jagir. Saat orang jelalatan menghitung angka mundur lampu lalulintas, atau bersiap meng gas selaju mungkin kendaraannya saat lampu beranjak hijau, saya bisa tenang di atas sadel. Menghafalkan al Baqarah.
Anehnya, saya termasuk orang yang pengugup dan takut setengah mati kalau dipepet sepeda motor, apalagi disalip jarak dekat. Orang-orang sudah sedemikian nekatnya kalau mau potong jalan pintas! Saat saya melafalkan Quran, kesalip, sedikit tergoncang, alhamdulillah semua gerak tubuh refleks terkoordinasi untuk tetap stabil memegang stang.
Penjelasan psikologis ilmiahnya bagaimana ya?
Karena kalau saya lagi malas menghafal Quran, melaju di atas sepeda motor begitu-begitu aja, pikiran melayag entah kemana, disalip anak SMP naik sepeda motor…bisa dipastikan oleng dan saya akan memilih menepi banget menelusuri jalur sebelah kiri.

Al Baqarah itu…
Ada hewan-hewan unik dalam al Baqarah. Sapi, kera, binatang melata. Saya sempat berpikir juga; apa dampaknya bagi anak-anak muslim bila tes CAT- Children Apperception Test, jenis hewan yang digunakan bukan sembarang hewan macam beruang dsb tetapi hewan2 yg ada dalam Quran? Pastilah Allah SWT mewahyukan beragam jenis hewan di Quran dengan alasan-alasan yang sangat kuat.
Untungnya lagi, menghafalkan al Baqarah membuat kita punya bahan cerita banyak dan sangat meyentuh buat anak-anak!

Suara Ibu paling Merdu
Percayalah.
Meski sebagai ibu kita nggak balak lolos AFI, Suara Indonesia, Galaxy Superstar, Mama Mia, Indonesia Idol…bagi anak-anak suara ibu adalah melodi paling merdu. Pernah kan menyanyikan lagu Ilir-ilir, InsyaAllah , Rindu Rasul atau apalah jenisnya di hadapan anak kita? Pernahkah mereka bilang,”…..stop! Stop, Miii! Anda belum beruntung dalam audisi kali ini, silakan ulangi lain waktu…..”
Enggak kan?
Yang ada, kita diminta untuk menyanyi dan berdendang lagi sampai anak-anak tertidur.
Maka, sungguh…suatu kebahagiaan saat ngeloni anak, membelai rambut mereka, menyuruh mereka berwudhu dulu, bersama membaca 3 surat terakhir al Quran, maka kemudian kita menghadiahkan hadiah paling indah bagi anak-anak malam itu.
Meski tidak tiap malam, saya sempatkan untuk bisa mendampingi anak-anak menjelang mereka terpejam.
One night.
„Nis, mau Ummi bacain apa dari al Baqarah?”
Nis berpikir, sambil mengantuk berat.
”Sapi betina, kisah Firaun, doa nabi Ibrahim, pesan nabi Yaqub pada anaknya…atau tentang penciptaan langit bumi?”
”Ya! Ya! Itu aja Mi….yg penciptaan langit bumi.”

“Inna fii kholqissawamati wal ardhi wakhtilafil laili wan nahaar…”(2 : 164)

Saya tirukan bentuk alam sementa, isyarat malam dan siang, hujan, hewan melata, hembusan angin. Nis memandang takjub. Menjelang matanya terpejam,
”….bacakan sisanya esok ya Mi…”

Ow, Al Baqarah…
Ternyata tak sesulit yg kuperkirakan.

Doa untuk Anak & Kisah para Nabi

Usai sholat, mau ke sekolah, atau bila ada kesempatan berharga, saya usahakan mendoakan anak-anak dengan memegang kepalanya.
”Sini deh…mau nggak Ummi bacakan doa Nabi Ibrahim untuk anak-anaknya?”
Ya.
Siapa anak muslim yang tidak kenal Nabi Ibrahim dan kisah legendarisnya yang tiap tahun diperingati saat Idul Adha? Siapa anak muslim yang tidak mengenal romantisme indah Nabi Ibrahim dan kasih sayangnya pada Ismail? Maka anak-anak biasanya berebut ke arah saya ketika saya berkata, ”…hayooo, siapa mau Ummi doakan?”

”Robbana waj’alna muslimaini laka wamin dzurriyatinaa ummatamuslimatalak, wa arina manasikana wa tub ’alayna..innaka anta tawwaburrahim” (2 :128)

Ketika Anak Bertanya Kematian

Hal paling sering ditanyakan orangtua adalah ketika anak bertanya tentang perpisahan (anak saya pernah bertanya masalah perceraian…) termasuk di dalamnya gambaran mengenai kematian. Saya sendiri sedih bila berhadapan dengan pertanyaan ini, tapi ketika suatu saat anak saya berlinangan air mata menanyakan hal tersebut termasuk ia meragukan apakah bisa memegang teguh Islam saat besar dan kami tiada nanti.

”Am kuntum syuhadaa – a idz hadhoro ya’qubal mautu idz qola libaniihi maa ta’buduna mimba’di….” (2 :133)

”Sayang..tau nggak waktu nabi Yaqub mau meninggal? Yang ditanyakan ke anak-anaknya : besok kalian menyembah siapa?
Abah Ummi ini miskin, nggak punya apa-apa, berbeda dengan Allah Yang Maha Kaya. Belum tentu kalian jadi orang sukses kalau bergantung sama Abah Ummi. Tapi Allah Maha Kaya. Kalau kalian bergantung sama Allah …insyaAllah, kelak jadi orang yang kalian inginkan…
Lihat tuh nabi Yaqub…”

Sekarang, kalau anak-anak tanya yang aneh-aneh, saya suka berpikir…apa ya jawabannya dari al Baqarah? Ini karena saya memang baru menghafalkan sebagian dari surat tersebut. Mungkin, kalau saya sudah hafal 30 juz, saya bisa bercerita banyak lagi.

Kategori
Catatan Perjalanan Cinta & Love da'wahku Dunia Islam Fight for Palestina! Gaza Kami Jurnal Harian Kepenulisan Oase Perjalanan Menulis Rahasia Perempuan

Perempuan Cantik Palestina (Gaza part 1)

“Andai hidung Cleopatra sedikit lebih pendek, wajah dunia tak akan berubah.”

Blaise Pascal (1623-1662) ternyata tidak hanya merumuskan segitiga Pascal yang terkenal. Ia pun menuliskan tentang bagaimana kecantikan Cleopatra membius banyak lelaki pada zamannya.

Sejarah mencatat, dunia terkadang takluk di bawah kecantikan perempuan. Benua Afrika memiliki sejarah legendaris berkenaan dengan kedudukan perempuan berikut paras rupawan mereka. Nefertiti, permaisuri Akhenaten; Cleopatra VII dari dinasti Ptolemaic yang disebut-sebut menjadi pemikat Julius Caesar dan Mark Anthony; Queen Farida Safinaz Zulfikar – istri I raja Farouk.

Perempuan tercantik di dunia, salah satunya berasal dari Alexandria, Mesir. Bukan hanya kebetulan Cleopatra VII dan Safinaz Zulfikar pun berasal dari kota tersebut.

Kecantikan, seolah menjadi syarat mutlak bagi perempuan era modern untuk menampilkan ciri khas kepribadiannya. Tengok saja idola anak muda zaman sekarang yang menggandrungi grup musik asal Korea dan Jepang, dimana sebagian besar mereka berwajah mulus cantik tanpa cela. Bahkan grup band lelaki.

Persyaratan menjadi anggota grup penyanyi tersebut : bersuara indah, bertubuh proporsional, cantik sempurna secara fisik, dan bersedia operasi plastik. Tren operasi plastik tampaknya mewabah di Asia Timur, tak peduli memakan korban nyawa seperti Wang Bei, artis China yang demikian cantik dan terpaksa kehilangan nyawa di meja operasi akibat kegagalan dokter saat membiusnya.

Indonesia, mulai memasuki gejala mempercantik fisik secara operasi plastik, tak peduli harga yang harus dibayar.
Seharusnya, kita belajar mempercantik diri seperti perempuan-perempuan Palestina. Layaknya kaum hawa, perempuan Palestina biasa mengolesi wajah mereka dengan minyak zaitun, minyak yang dipercaya terbaik merawat kekenyalan kulit dan mempertahankan kemudaannya.

Saat berada di Cairo, mata terbelalak menatap kecantikan gadis-gadis Mesir yang lalu lalang di tengah cuaca panas terik. Wajah aristokrat, kulit putih bercahaya, mata indah dan kontur wajah sempurna! Pantaslah salah satu kota di Mesir, Alexandria, dinobatkan sebagai penghasil gadis tercantik dengam mahar termahal : minimal 80.000 dollar! Itu belum termasuk biaya apartemen dan pernikahan. Tentu, jumlah uang itu mewakili betapa kecantikan gadis Alexandria pantas menjadi buah bibir.
Subhanallah, Maha Sempurna Allah menciptakan manusia dengan segala kelebihannya. Menurut kisah yang beredar, salah satu yang memelihara kecantikan wanita Mesir adalah mereka senang mengkonsumsi susu sejak kecil sehingga kehalusan kulit terjaga.

Bagaimana dengan perempuan-perempuan Gaza?
Kecantikan kaum hawa Gaza, tak kalah menakjubkan.
Tetapi sungguh, kecantikan mereka berbeda dengan perempuan-perempuan di negeri lain. Kesederhanaan, ketekunan, kecerdasan, ketangguhan tampak dalam perilaku keseharian. Rehab Shubair, Ittimad Tarbawi, Abeer Barakat, Lina Ameer, Noha Sabhan adalah segelintir perempuan Palestina yang kami temui. Sorot mata mereka menunjukkan kesungguhan dalam menapaki masa depan. Tutur bahasa sopan dengan intonasi tegas. Tanpa polesan make up apapun, mereka tampil cantik dalam balutan abaya dan scarf warna warni. Polesan luar tampaknya tak mendominasi meski sekali waktu, dalam acara pernikahan gadis-gadis tampil lebih attraktif dalam dandanan dan pakaian.

Di Mesir, perempuan muslimah tetap mengenakan busana menutup aurat namun dalam corak dan model yang jauh lebih glamour, mengenakan perhiasan-perhiasan dan sebagian bermake up tebal; hal yang tidak dijumpai pada perempuan Palestina. Bukan dogma fundamentalis yang melarang perempuan tabarruj berlebihan, tetapi lebih kepada karakter perempuan Palestina yang suka bersikap sederhana serta lebih mengedepankan kecerdasan intelektual serta kekuatan pancaran cahaya ruhani.

Di tengah perempuan Palestina, pembicaraan adalah seputar bagaimana tetap mengurus keluarga secara baik sembari meningkatkan kapasitas diri. Di sisi lain, membahas ummat dan masyarakat menjadi agenda penting. Abeer Barakat sendiri menyatakan ia memiliki yayasan yatim piatu sekalipun kondisi keluarga mereka tak berlebih sangat. Memiliki yayasan yatim piatu sebagai bentuk kepedulian pada masyarakat, di samping Abeer bercita-cita kelak menjadi teman dekat Rasulullah Saw di surga seperti dua jari yang tak terpisahkan. Noha Sabhan sendiri tak main-main dengan aktivitasnya : tengah hamil besar dan tetap mengurus pengajian. Hari-hari biasa murid pengajiannya mencapai 100-150 orang, di musim panas bisa dua kali lipat!

Efisiensi waktu, menjadi penting bagi perempuan Palestina.
Mereka membagi waktu sebaik mungkin untuk beragam kegiatan dan tak tersisa untuk hal-hal yang kurang bermanfaat. Televisi, agaknya juga dimaksimalkan bagi perkembangan mental keluarga.

Menikmati kecantikan perempuan Mesir dan Palestina tentu berbeda. Ada gelora metropolis di Cairo, menyaksikan tawa canda raut rupawan para duplikat Cleopatra. Di Gaza; ramuan kecantikan adalah kesungguhan dan kesederhanaan, sholat malam dan hafalan Quran, kepatuhan pada suami dan pengembangan diri, mengurus anak-anak dan peduli masyarakat. Selain minyak zaitun yang juga biasa dikenakan Cleopatra sebagai pemelihara kecantikan; perempuan Gaza memelihara pesona diri mereka dengan tidak mengkonsumsi junk food atau makanan instant.
Telur rebus, tomat, timun, yoghurt adalah makanan keseharian.

Berpuasa, bukan hal yang aneh dilakukan. Giat beraktivitas, hanya memakai khadimah yang dibayar 24 dollar sehari sekali dalam seminggu. Menghabiskan waktu dengan bersosialisai dan berorganisasi, turut berpartisipasi dalam kerja-kerja pemerintah membangun ummat. Pantas saja, mereka tetap ramping dan cantik tanpa harus sedot lemak apalagi operasi plastik.