Apakah aku Nasionalis?

 

 

Waktu kecil, aku pernah bertanya pada ibu ,”Ma, kenapa tiap upacara bendera, aku mau nangis ya liat bendera merah putih sama dengar lagu Indonesia Raya?”

Kata ibu, “wah, itu artinya kamu nasionalis, Sin.”

Jujur, waktu itu aku baru sekitar kelas 3 atau 4 SD. Masih belum tahu apa itu nasionalis, apa itu Islamis, apa itu kapitalis dan komunis; hanya manggut-manggut saja. Bertahun-tahun kemudian, perasaan itu ternyata tidak hilang. Aku senang sekali dengar lagu almarhum Gombloh, Kebyar-kebyar.

Indonesia

Merah darahku

Putih tulangku

Bersatu dalam semangatku

Gebyar gebyar pelangi jingga

Aku  merasa mau menangis tiap kali televisi hitam putihku dulu, yang hanya menayangkan  1 channel saja di tahun 80-an yaitu TVRI, menutup siaran hari itu dengan lagu :

Tanah airku tidak kulupakan

Kan terkenang, selama hidupku

Biarpun saya, pergi jauh

Tidakkan hilang dari kalbu

Tanahku yang kucintai

Engkau kuhargai

 

Walaupun banyak negeri kujalani

Yang masyhur permai dikata orang

Tetapi kampung dan rumahku

Disanalah kurasa senang

Tanahku yang kucintai

Engkau kuhargai

Dan, aku suka sekali dengan lagu Coklat yang berjudul Merah Putih : merah putih teruslah kau berkibar!

 

Indonesia dan Indonesia lagi

Aku tidak menyangka bahwa dengan menjadi penulis, aku berkesempatan mengunjungi beberapa negara. Hongkong, Korea, Jepang, Malaysia, Maroko, Mesir, Palestina. Negara-negara yang membuatku kagum dengan kemajuan, dengan kultur yang kaya, dengan arsitektur, dengan teknologi, dengan kuliner, dengan music dan filmnya. Namun jujur, tiap kali ada di negara orang, aku berpikir : bukannya ini di Indonesia ada ya?

Melihat laut terhampar di Avenue Star HK : ah, begini mah di negeriku banyak. Laut selatan Yogya, laut Bali, selat Madura dll. Sepanjang menelusuri Camplong, Madura menuju Pamekasan; laut biru terhampar. Tiap kali pulang kampung ke Tegal, kampung suamiku, kami menyempatkan ke PAI, pantai alam indah. Di Jawa Timur ada WBL, wisata bahari Lamongan. Tak kurang-kurang kalau mau main air di Indonesia.

Melihat sawah-sawah di daerah Karatsu, Saga, Kyushu aku juga berpikir : ini di Indonesia banyak. Lamongan, dikenal sebagai lumbung beras. Madura, meski sering dianggap gersang, tetap punya sawah. Gresik, Tuban, Lasem, Rembang, Pati hingga nanti aku tiba di Yogya atau Tegal; sawah berpetak-petak terhampar. Meski, ya, ada beberapa yang sudah digantikan real estate.

Di Seoul, pingin banget buat sambel terasi dan kolak. Akhirnya dapat ubi merah dan santan kalengan yang harganya jangan ditanya. Cabe hijau beli di convenience store terdekat. Hiks, di Indonesia harga cabe sama ubi bisa hanya Rp.10.000 . di luar negeri bisa berkali lipat. Dan oh, betapa mahalnya harga buah-buahan….pepaya dan pisang, aku tak berani beli. Mangga??? Mending nanti beli di Indonesia pas lagi musimnya.

Di Maroko,  segala rupa daging ada. Segala jenis roti tersedia.

Tapi aku mau sayur…timun, taoge, kacang panjang, kol, kemangi, tomat dkk. Konon kata mahasiswa di Rabat, kalau mau masak sayur paling hanya ada bayam dan kangkung. Itupun gak selalu tersedia. Aku mau sayur….yang bisa dimakan sebagai lalapan, pecel atau gado-gado. Betapa rindunya akan gemah ripah loh jinawi segala rupa tanaman yang ada di negeriku.

Bukan hanya makanan yang membuat Indonesia nomer satu.

Kapanpun lapar, ada yang jualan. Di dekat rumahku warung penyetan tersebar. Warung bakso dan mie ayam ada. Yang keliling menjajakan bakso, bakwan, rujak cingur, gado-gado, es rujak, masakan matang sampai kerupuk; ada semua.

Dari tadi kok ngomongin kuliner aja sih? ^-^

 

Indonesia lagi

Di negara mayoritas Islam, sebagian orang tidak percaya aku muslim (what???). Padahal aku berkerudung lho! Pasalnya, namaku : Sinta. Sinta identik dengan bahasa sansekerta dan agama Hindu.

Seringkali, melihat waja Asia dan tubuh mungilku, orang langsung menebak : Malaysia?

Aku menggeleng.

“Indonesia,” sahutku tersenyum.

Rupanya Malaysia lebih dikenal sebagian warga dunia, disbanding Indonesia. Parahnya lagi, terutama di Hongkong, waja Indonesia identik dengan BMI (buruh migram Indonesia). Begitu tiba di bagian imigrasi, petugas akan tegas meliat paspor dan lumayan keras memperlakukan mereka yang punya paspor pekerja. Kalau visitor, umumnya mereka lebih ramah. Ya, menjadi bangsa yang bekerja di negeri asing, apalagi sebagai tenaga kasar tentu dipandang sebelah mata. Menjadi pelajar dan peneliti di negeri orang saja sering dianggap remeh, apalagi BMI.

Aku punya pengalaman-pengalaman unik baik yang positif atau negative selama menyandang status warga Indonesia ketiak berada di negeri asing. Namun, aku sungguh berbangga ketika tiba di Maroko.

Sinta dan Rue Sukarno.JPG

Rue Soukarno, Rabat , of Morocco

Di rabat, ibukota Maroko, ada sebuah jalan yang menunjukkan betapa negara tersebut memandang Indonesia dengan mata penghormatan demikian dalam : Rue Soekarno. Jalan ini terletak di tengah kota, dengan latar belakagn benteng merah yang kokoh dan indah mempesona. Terletak dekat gedung parlemen Rabat, bank Maghribi yang sangat artistic, kantor pusat kepolisian dan juga kantor pos serta café-café. Rue Soekarno bukan jalan di ujung gang yang kusam, dengan kendaraan tak beraturan. Rue Soekarno berada di titik yang memungkinkan orang lalu lalang, memandang plang tersebut dan bertanya dalam benak, mengapa presiden Indonesia namanya dipahatkan di negeri orang?

Begitu orang di Maroko mendengar kami Indonesia mereka sontak berkata.

“Indonesia? Good people, good prayer.”

Indonesia dikenal ramah, dikenal baik, dikenal suka menolong, dikenal mudah tersenyum. Walau tentu ada juga hal-hal negative yang tersemat : tidak disiplin, kurang bersih, ceroboh dan sejenisnya.

Sungai Han, Seoul. di Indonesia sungai melimpah ruah

 

Indonesia, aku dilahirkan dan dibesarkan

Aku sangat bersyukur berkebangsaan Indonesia.

Walau sebagian orang mencap negaraku korup, negara kategori berkembang, banyak hutang, banyak masalah; aku tidak bisa bayangkan bila dilahirkan di negara asing. Ya, sesekali sempat muncul pikiran : enak ya kalau tinggal di Malaysia, Korea atau Jepang. Negaranya teratur; rakyatnya disiplin.

Harus kusadari, tidak ada negara di dunia ini yang seperti Indonesia.

Mana negara yang punya pulau terbanyak? Mana negara yang punya laut dan selat sebanyak Indonesia? Mana negara yang punya persediaan air seperti Indonesia? Mana negara dengan hutan, hasil bumi, sebanyak Indonesia?

Aku bahagia punya orangtua Indonesia, yang bersama masyarakat sekitar, mengajarkan aku apa arti penting menyapa tetangga. Beberapa kali ke Hongkong, aku tinggal di apartemen. Aku bertanya teman-temanku, kenalkah mereka dengan tetangga kanan kiri?

“Tidak,” jawab adik-adik FLP.

Di kampungku, di kotaku; kami mengenal siapa tetangga kanan kiri. Siapa tetangga belakang rumah. Siapa pak RT, pak RW, takmir masjid, pemuda karangtaruna. Bahkan suami atau istri keluarga X; siapa anak-anaknya, siapa cucunya. Kami mengenal tukang sayur, tukang bakso, tukang gas dan galon.

Sekalinya ada yang sakit, kami berduyun menengok. Bawa uang atau bingkisan. Jumlahnya tak seberapa, namun ikatannya terasa. Kelahiran, pernikahan, kematian; tetangga dan saudara selalu ada. Cari pembantu? Relative mudah. Kalau pas tidak bisa antar jemput anak, minta tolong teman atau guru di sekolah.

Aku mengagumi kemandirian para lansia di Hong kong , Korea, Jepang.

Namun aku tak bisa bayangkan, kelak di usiaku yang 70 tahun aku hidup sendiri. Guyub nya orang Indonesia membawa kehangatan luarbiasa dalam hati, dalam komunikasi, dalam interaksi, dalam kegiatan keseharian hingga kegiatan kenegaraan. Beberapa kali aku mengikuti acara kantor suami, lagi-lagi, percakapan antara pimpinan dan anak buah; antara sesama teman, antara para istri dan anak-anak berlangsung meriah. Tidak hanya dengan satu dua orang, namun dengan sebagian besar peserta.

Ketika makan malam, buka puasa di daerah Saetgang, KBRI Seoul, kami berkumpul. Mengantri nasi, krupuk dan sop beserta sambal. Mengobrol dengan orang-orang yang baru dikenal. Para tamu Korea terbawa arus suasana. Ikut bergabung walau hanya tersenyum dan tertawa, merasakan kehangatan yang mengalir dari percakapan kami. Dari ekspresi meledak-ledak yang ada di setiap wajah Indonesia di perantauan.

Ada seorang selebriti yang kekayaannya, bisa membuatnya pindah kewarga negaraan. Tapi ia memilih hidup tua di Indonesia.

“Nanti kalau aku tua dan meninggal, nggak ada yang merawatku, memandikanku, menyolatkanku seperti di Indonesia.”

Ah, Indonesia memang negara yang istimewa untuk menjadi tempat kelahiran dan tempat kematian.

Presiden silih berganti. Kepala daerah maju mundur sesuai garis nasib. Rakyat kadang terabaikan, masyarakat kecil sering terpinggirkan. Tetap saja, kami tak ingin meninggalkan Indonesia.

sinta, sawah di karatsu.JPG

Ini Indonesia atau Jepang?

“Ya, karena nggak punya duit!”

Mungkin itu tuduhan orang. Padahal bukan.

Indonesia negeri istimewa yang ditakdirkan Allah Swt memiliki kekayaan luarbiasa, baik SDM maupun SDA. Indonesia negeri istimewa yang dijaga bukan hanya oleh kaum eksekutif, yudikatif, legislative, atau pelaku media sesuai pilar-pilar demokrasi. Indonesia negera istimewa yang dijaga oleh segenap jajaran militer darat, udara, laut dan kepolisian. Indonesia negara istimewa yang dijaga oleh segenap warga negaranya dengan doa, dengan munajat, dengan pengorbanan. Indonesia negara istimewa yang dijaga oleh para alim ulama dengan kerja keras pemikiran, ijtihad, syura dan semangat kebaikan yang terus ditularkan.

Aku berharap, bukan hanya Maroko yang memasang nama Rue Soekarno.

Aku berharp, negara-negara lain di dunia kelak akan memasang nama para pemimpin dan ulama kita di bagian-bagian negeri mereka sebagai penanda bahwa Indonesia, menjadi mercusuar dunia.

 

Iklan

Ketika Issue Negatif terhadap Ulama Tidak Berpengaruh

 

 

Kampanye hitam dan issue negatif terhadap satu pihak sudah digunakan sejak lama untuk menjatuhkan martabat lawan, dan diharapkan dapat mendongkrak posisi penyerang. Sejarah mencatat bagaimana Rasulullah Saw dianggap sebagai penyihir dan pendusta tetapi semua terbantahkan sebab jejak hidup beliau memang tidak tercerminkan dalam berita bohong yang tersebar. Fitnah terhadap Aisyah ra dalam kisah terkenal haditsul ifki, dihembus demikian kuat, tetap tak dapat menghitamkan jejak ummahatul mukminin shalihat yang terkenal sangat cerdas serta sangat menjaga shaumnya. Muhammad Al Fatih pernah dianggap berambisi pada kekuasaan dan melakukan konspirasi ketika dua saudara laki-laki tiri Al Fatih, Ahmad bin Murad dan Alauddin Ali, meninggal terbunuh. Namun kampanye hitam itu terhapus. Sebab bagaimana mungkin orang dengan watak licik mampu mengorganisasikan pasukan bernyali sekaligus luhur budi? Ketaatan dan kedekatan Al Fatih pada ulama besar di masanya seperti Mollah Ghorani dan Aq Syamsuddin, semakin menghapus berita dusta. Mereka yang dekat dengan ulama, adalah mereka yang tahu batas antara kebenaran dan kebathilan.

syaikh-yusuf-qardhawi-dan-dr-hidayat-nur-wahid

Syaikh Yusuf Qardhawi & Dr. Hidayat Nur Wahid

Dalam surat al Maidah ayat 41 dikabarkan bahwa orang-orang Yahudi gemar sekali percaya pada berita bohong – hoax istilah zaman sekarang. Hoax dengan komponen yang membangkitkan bias negatif memang sangat digemari masyarakat, utamanya karena informasi ini benar-benar memainkan perasaan, keputusan, serta bagaimana proses informasi di jalur mental seseorang berjalan (Lang, Park, et al, 2007)

Apakah kampanye hitam terhadap pihak lawan bermanfaat untuk menjatuhkannya, memperkuat posisi penyerang dan memenangkan pertarungan? Apakah hoax dan bias berita negatif akan mengunci seluruh informasi dan benar-benar membuat orang hanya cenderung ke satu sisi?  Penelitian di lapangan akan memberikan jawaban.

 

Membangun Emosi Negatif

Emosi negatif terhadap kampanye hitam membuat kualitas dan kuantitas seseorang menurun dalam pertimbangan politik, pencarian informasi maupun penambahan pengetahuan politik.

Secara garis besar emosi manusia terdiri atas lima hal : marah, takut, jijik, bahagia dan sedih. Tiga emosi negatif yang pertama menjadi bahan penelitian ahli sosial yang mengaitkan dengan issue-issue di media, terutama media sosial. Emosi jijik tersisih, yang tersisa adalah emosi marah serta takut yang memberikan informasi penting. Ternyata respon fisiologis dan kognitif manusia amat sangat berbeda saat merespon takut dan marah.

Rasa takut terhadap issue negatif politik membuat orang terpacu mencari informasi dan belajar politik (Valentino et al, 2008) Tetapi tidak dengan rasa marah. Rasa marah akibat kampanye negatif membuat dampak yang berbeda dari rasa takut. Mereka yang terpicu amarahnya justru akan berbalik dari rasa takut; pada akhirnya enggan belajar politik sebab beranggapan politik adalah hal paling busuk dalam sejarah tatanan manusia. Pertimbangan-pertimbangan terhadap politik menajdi sarkastik, atau malah pragmatis.

Pendek kata, kampanye negatif yang membangkitkan rasa takut akan menjadikan orang lebih berperilaku positif,  dalam hal ini terkait information seeking dan recall. Namun kampanye negatif yang membangkitkan amarah akan menjadikan orang berperilaku negatif baik dalam information seeking maupun recall.

Informasi negatif lebih dapat membangun respon emosional, kognitif dan perilaku dari target sasaran dibanding informasi netral dan positif. Apakah para penyerang bermaksud demikian? Boleh jadi. Berita-berita yang menebarkan kemarahan akan cepat sekali mendapatkan respon masyarakat, dibanding berita yang menebar ketakutan. Masarakat diharap membuat respon cepat yang bedasarkan pertimbangan cognitive heuristic , tanpa sempat mencari informasi yang akurat dalam membangun kerangka berpikir yang menuju ke arah penyelesaian solutif. Ingatkah beberapa hari lalu beredar di media sosial tentang unggahan status seseorang yang ingin membeli al Quran dan kertas di dalamnya dipakai untuk membersihkan tinja? Atau unggahan pihak-pihak yang mengatakan sosok ini bukan ulama, sosok itu adalah penebar makar, dengan bahasa-bahasa yang menmbangkitkan kegusaran. Untungnya, masyarakat Indonesia semakin waspada sehingga melakukan information seeking terlebih dahulu sebelum bertindak.

Kali ini,  masyarakat pun dibuat marah dengan pemberitaan terkait ulama yang mendapatkan perlikau tak pantas di ruang persidangan. Padahal, dalam struktur kaum muslimin, ulama dihormati sedemikian dalam dan luas sebagaimana agama lain menghormati para pemimpin spiritualnya. Masyarakat seperti  artis, pejabat, penguasa terbiasa mendatangi ulama untuk beragam kepentingan. Rakyat kecil dan selebritis umumnya membutuhkan kehadiran ulama sebagai penyejuk hati dalam menghadapi seribu satu persoalan hidup. Pejabat dan penguasa mendatangi ulama untuk fatwanya, untuk dukungan kekuatannya,  untuk penggalangan suara dari ratusan ribu bahkan jutaan santri yang dimiliki para alim ulama.

Kita berhutang budi pada ulama

 

Dampak Kampanye Hitam Terhadap Ulama

Apakah tujuan kampanye hitam dengan menebar issue negatif?

Salah satunya adalah agar masyarakat memiliki ingatan lebih memorable ketika me-recall satu informasi yang pernah masuk dalam ingatan. Ingatan ini betul-betul tajam dan diharapkan dapat membantu di ruang-ruang pemilihan. Menjatuhkan seseorang akan membuat pihak penyerang mendapatkan posisi angin. Ingatan ini membuat masyarakat cenderung ke satu pihak, dengan kecenderungan yang sangat besar. Harapan ini tampaknya berbeda dengan penemuan di lapangan, bila memang kondisi yang terjadi benar-benar jujur tanpa rekayasa.

Kampanye hitam dengan issue negatif justru menurunkan rasa political efficacy, kepercayaan terhadap pemerintah dan secara keseluruhan merusak public mood  (R. Lau et all, 2007). Rakyat semakin resah dan tidak memiliki mood baik terhadap politik, enggan pula mencari informasi yang akurat, pada akhirnya lebih mempercayai berita hoax dibanding percaya pada kebenaran. Bila rakyat lebih percaya pada issue-issue negative –terlebih hoax-, dapat kita bayangkan. Negara adidaya seperti Amerika pun dibuat limbung sebab presidennya, pemerintahannya, rakyatnya saat ini lebih mempercayai issue negatif. Tidak selamanya berita hoax dan issue negatif  menguntungkan pihak penyerang sebab pada akhirnya baik informasi negatif yang menimbulkan rasa takut dan marah akan menghasilkan satu sikap : information seeking dan recall.

 

Ingatan terhadap Ulama

Recall adalah proses memanggil ulang yang sangat penting dalam proses kognitif. Dalam bersikap dan bertindak, manusia seringkali melakukan berlandaskan azas kognitif dengan memanggil ulang informasi yang pernah didapat. Bagaimana orangtua menghadapi anak-anak, dengan memanggil ulang ingatan masa lalu terhadap apa yang pernah dialami sendiri di masa kanak-kanak. Bagaimana menghadapi situasi, dengan memanggil ulang informasi yang membantu mengatasi situasi tersebut.

Recall atau memanggil ulang ingatan terhadap ulama, telah kita miliki bertahun-tahun bahkan puluhan tahun.

Apa skema dalam otak kita terkait ulama?

Mereka yang memiliki pesantren, mengurus anak-anak yatim hingga anak-anak yang paling dibuang masyarakat. Mereka yang memiliki ilmu agama mendalam dan luas, menempuh pendidikan di pusat-pusat studi Islam di seantero tanah Arab, Afrika dan keseluruhan Maghribi. Mereka yang menghabiskan hari-hari dengan mengorbankan seluruh hidup bagi agama. Mereka yang babat alas, mendirikan pesantren mulai dari nol hingga menjadi madrasah besar. Mereka yang bergerak dalam diam, ketika para politisi berorasi di atas mimbar dan pengusaha mempertontonkan kesuksesan. Mereka yang  saat hidupnya dicari untuk dimintai nasehat, mereka yang saat wafatnya ditangisi para pelayat.

Membuat issue negatif terhadap ulama di Indonesia, tidak akan membuat masyarakat me-recall informasi negatif terhadap sosok tersebut. Sebab selama puluhan tahun, informasi yang tertanam di benak adalah keluhuran dan kemuliaan mereka. Memang, ada ulama yang lebih mencintai dunia dan tidak berpihak pada masyarakat yang menderita, namun prosentasenya sangat sedikit. Ribuan alim ulama di negeri ini, mendampingi masyarakat di saat-saat sulit. Memberikan nasehat agar rakyat selalu bersabar dan bukankah nasehat ulama ini sangat bermanfaat bagi posisi penguasa?

Maka, kampanye hitam terhadap ulama, issue-issue negatif yang menyudutkan ulama, berita-berita bohong dan berita yang memicu kemarahan terkait ulama tidak akan mengubah proses recall masyarakat terhadap profesi mulia ini. Sungguh, ulama adalah asset bangsa yang luarbiasa, yang posisinya didapat bukan karena harta atau pangkat, tapi karena ilmu dan kemuliaan.

Bila Ali Sadikin yang spektakuler membangun Jakarta saja begitu menghormati Mohammad Natsir sang ulama, lalu apalah kita yang belum berbuat apa-apa; berani mencaci maki ulama?

 

Sinta Yudisia

Penulis dan Psikolog Klinis

Arti Ulama bagiku dan keluargaku

 

 

Jauh sebelum gonjang ganjing jagad perpolitikan, keluargaku telah mengenal kiai dan ulama. Kami memanggil ulama itu dengan sebutan “pak Yayi, Gus, Kiai, Ustadz”. Tergantung kebiasaan santri masing-masing. Para kiai atau ulama yang kami sambangi, mungkin tidak setenar Habieb Rizieq, Hidayat Nur Wahid, Bachtiar Natsir, KH MA’ruf Amin. Tapi kehadiran mereka sungguh-sungguh kami rasakan demikian dekat, demikian mengayomi, demikian membantu. Ada beberapa peristiwa kritis dalam hidup kami yang ,tanpa bantuan alim ulama, entah hidup kami seperti apa jadinya.

  1. Ketika remaja, ayahku didagnosa penyakit diabetes namun rangkaian sakitnya benar-benar aneh. Kata orang-orang, ayah kami kena santet. Saat itu aku belum pakai jilbab dan agamaku masih jauh sekali dari cukup. Aku ikut saja mamah pergi dari satu kiai ke kiai yang lain. Umumnya mereka memiliki analisa sama : ayahku terkena santet. Satu yang mengesankan dan akan kukenang sampai kapanpun, para kiai tersebut mengatakan : “tidak usah dibalas santetnya. Biarkan saja. Yang penting Ibu rajin sholat.” Dalam bayangan anak kecil seprtiku saat itu : ngapain gak balas santetnya? Dikirim balik aja biar mereka juga mati dan merasakan sakit seperti ayah. Belasan tahun kemudian kusadari, para kiai itu mengajarkan hal sederhana kepada kami : bab aqidah. Serahkan saja pada Allah karena itu perkara ghaib. Lagipula, setan suka membuat makar : bilang kalau penyantetnya adalah si A, padahal bukan. Lalu kita kirim balik, maka kita akan mendapatkan dosa yang  sangat besar.

 

  1. Ketika harta kelaurga habis sehabis habisnya. Masih dalam rangkaian santet. Semua asset keluarga tak bersisa. Rumah, mobil, perusahaan, tanah-tanah. Mamah pintar berbisnis. Beliau sempat menabung dan membelikan setiap anaknya rumah untuk masa depan. Belum sampai rumah itu dibagikan, semuanya ludes-des-des. Tidak ada yang tersisa bahkan perabot pun harus binasa. Entah terjual, hilang, atau diambil orang. Mama menyambangi satu kiai ke kiai yang lain. Jawaban mereka sama : sedekah, sedekah, sedekah. Mama awalnya nggak menyadari, denial Wong lagi susah kok malah sedekah. Belakangan b eliau baru sadar….selama ini harta sedemikian banyak tidak pernah dibersihkan dengan zakat, infaq, sedekah. Mama masi minim sekali pemahaman agamanya. Perlahan, dengan didampingi para alim ulama, pemahaman agama mama berangsur membaik dan beliau sering menyarankan pada anak-anaknya untuk memperbanyak sedekah.

 

  1. Setiap keluarga memiliki masalah kritis. Keluarga kami diuji Allah Swt dengan beberapa ujian yang bukan saja bab harta. Abang, sejak muda terlibat narkoba. Entah berapa kali sudah mama harus berurusan dengan polisi, rumah sakit, orang-orang yang mengamuk karena barang mereka menghilang (penderita narkoba akan melakukan apapun untuk membeli barang). Rumah ssakit hanya mampu mengobati sesaat. Kepolisian lebih meneyrahkan perkara itu untuk ditangani dengan cara kekeluargaan. Lalu, kemana seorang janda seperti mama yang telah habis ludes barang-barangnya mengobati abangku yang telah menjadi pecandu? JAwabannya adala pesantren dan para kiai atau ulama. Mereka mempersilakan mamaku yang tak punya uang untuk datang ke pesantrennya. Mereka memeprsilakan abangku untuk tinggal di pesantren-pesantren beliau. Betapa kehidupan ulama,s antri dan pesantren demikian “hidup” dan sederhana.

“Sin, Mama belum pernah makan seperti di pesantren X. Hanya pakai sayur jipang bersantan tapi enaaak banget, Masyaallah. Kalau di pesantren Y Mama cuma makan nasi sama teri. Ya Allah…kenapa makan di pesantren2 itu terasa nikmat banget ya?”

“Di pesantren A, kita jarang banget tidur, Sin. Tapi kok badan Mama jadi fit ya. Kita tidur seringkali sampai jam 22.00 atau malah jam 24.00. Nanti jam 02.30 sudah bangun untuk mandi wuwung –mandi keramas. Ternyata nikmat banget ya…habis itu sola tmalam. Lanjut Shubuh.”

“Di pesantren B Mama diajak shaum Daud. Mama gak pernah berpikir kuat puasa Daud, ternyata luarbiasa. Kamu harus coba, Sin!”

Ketika ada kerabat yang mengalami problematika rumah tangga luarbiasa, kami membawanya kepada para kiai. Para kiai dan ulama tersebut bukan psikolog, bukan konselor, bukan konsultan. Tapi ucapan-ucapan beliau sangat menohok hingga membuat orang-orang yang bermasalah itu menunduk, kadang bercucuran airmata.

Ini beberapa nasehat ulama yang menohok para saudaraku yang tertimpa musibah dalam pernikahannya.

“Gimana mau tentrem rumah tangganya? Rumahnya gak pernah dipakai sholat berjamaah!”

“Pernikahan itu, kalau suami istri gak mau saling mensyukuri, ya akan terus menuntut. Akan panas! Akan membuat rezeqi mampet!”

“Kalau suami sudah tidak bisa menjadi qowwam, lelaki yang seharusnya menjadi pemimpin dalam  urusan agama, maka perempuan boleh menggugat cerai.”

“Nduk, berhati-hatilah ketika berbuat salah ya. Nanti membayarnya susah sekali…”

 

  1. Pengalaman nenekku, almarhum. Nenek ini orang yang luarbiasa, demikian cantik dan sabar serta sangat halus bertutur kata. Namun, bukan berarti beliau tidak pernah marah. Konon kabarnya, kalau beliau marah bisa takut orang-orang di sekitar. Ya, biasanya orang yang sabar sangat mengerikan ketika meledak! Putri nenek 4 orang , perempuan semua (mamaku putri beliau yang pertama). Nenek janda ketika mama masi sangat kecil, dapat dibayangkan pahitnya perjuangan beliau membesarkan 4 anak perempuan di era penjajahan Belanda, Jepang, maupun masa-masa sulit Indonesia di awal kemerdekaan. Menghadapi 4 orang putri yang luarbiasa tantangannya, sering membuat nenek menangis. Kemana nenek yang janda, dilanda kesulitan mulai anak-anaknya kecil hingga putrid-putrinya dewasa mencari bantuan?

Ke alim ulama.

Nenek bercerita padaku, “suatu saat, Nenek sangat sedih memikirkan mama kamu, Sin. Nenek lalu ke kiai A. Kata beliau : coba banyak-banyak baca Alam Nasyrah dan baca artinya.”

Waktu itu tafsir Quran belum seperti sekarang.

Nenek melanjutkan : “habis baca Alam Nasyrah, Nenek sadar. Allah telah melapangkan hidup Nenek. Selalu saja dilapangkan. Lalu dikasih ujian lagi. Dilapangkan lagi. Begitu seterusnya. Bacalah itu kalau kamu tiap kali merasa susah ya.”

  1. Sebagai konselor dan psikolog, aku selalu lari ke alim ulama. Mengapa? Sebagai terapis, aku tau bagaimana menjalankan tahapan psikoterapis mulai awal, mengakhirinya hingga psychological report writing. Tetapi di titik mana aku harus meningatkan klien-klienku untuk terus bertahan dengan masalah mereka atau segera move on, utamanya dalam kasus pernikahan? Tentu, fatwa para ustadz, alim ulama, telah membantuku dan menyelamatkan –atas izin Allah Swt- banyak keluarga-keluarga : teruskah mereka hidup bersama pasangan atau bismillah, berpisah?

Seorang alim ulama pernah memberikan nasehat yang menjadi panduanku dalam proses piskoterapis dan konseling, utamanya kasus pernikahan :

Bila pasangan murtad, maka otomatis lepaslah tali ikatan pernikahan

Bila salah satu pasangan bermaksiat (berselingkuh, berbohong, melakukan tindak criminal, KDRT pada pasangan dan anak, suami tidak mau mencari nafkah, gangguan orientasi seksual,  dll) maka dikembalikan pada kekuatan pasangan apakah mau bertahan ataukah tetap terus. Tetap terus disini dengan niat semua tahapan untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan dengan upaya semaksimal mungkin memperbaiki kondisi yang ada. Misal, bila pasangan berselingkuh, apakah pasangan di satu sisi akan bertahan, memaafkan, memperbaiki kondisi dll? Sangat tergantung dalam proses konseling, psikoterapi dan perkembangan keluarga tersebut.

Sungguh, tanpa bantuan para ustadz, kiai dan alim ulama; apa jadinya profesi-profesi yang berkaitan hidup dengan orang banyak seperti dokter, psikolog, guru, PNS dan lainnya?

syaikh-yusuf-qardhawi-dan-dr-hidayat-nur-wahid

Syaikh Yusuf Qardawi & Dr. Hidayat Nur Wahid

Teman-temanku para dokter, mereka sungguh berpegang pada fatwa ulama dalam menjalani profesi mereka. Teman-temanku para ibu dan istri, mereka sunggu berpegang pada fatwa ulama dalam memilih menjadi ibu rumah tangga dan meninggalkan karir yang gilang gemilang. Teman-temanku para perempuan bekerja, mereka berpedoman pada fatwa ulama bagaimana berdandan, tetap patuh pada suami, tetap membagi perhatian dengan anak-anak. Teman-temanku para pedagang, mereka berpegang pada fatwa ulama bagaimana cara berbisnis mulai dari promosi hingga jual beli. Teman-temanku yang berada di instansi pemerintah, dalam segala jajaran institusi, berpegangan pada fatwa alim ulama perihal gaji, uang syubhat, maupun insentif. Teman-temanku di segala penjuru yang menjadi konsumen, berpegangan apda fatwa ulama tentang produk halal : dari obat hingga cara pengobatan, dari makanan hingga bahan baku. Teman-temanku berpegang pada fatwa ulama bagaimana cara mencari jodoh, bagaimana jujur dalam studi dan bekerja, bagaimana menjaga adab di media sosial.

Tak bisa kubayangkan, seperti apa kerusakan bagi diriku pribadi, bagi keluargaku, bagi keluarga teman-temanku dan setiap individu bila mereka tidak dipandu dengan ilmu ulama dalam menjalani hidup ini.