Kategori
Film Kepenulisan KOREA RESENSI Topik Penting Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

'Parasite' Pemenang Oscar : Seni Tutur Natural ala Korea

Sudah pernah nonton drama Korea atau film Korea? Atau membaca novel/ cerpennya? Kaum penggemar film seperti saya biasanya suka melalap film apapun yang dirasa menghibur serta mencerahkan ; apapun negara asalnya. Korea beberapa tahun belakangan ini merajai industri perfilman dengan filmnya yang variatif. Dan, kadang kita menikmati filmnya tanpa tahu….sutradaranya!

Saya suka beragam film. Film pendidikan dan humanis dari India seperti 3 Idiots, Taree Zaman Paar, Bajrangi Bhaijan, Dangal bagus ditonton sekeluarga. Film India lucu habis dan menguras airmata. Seringkali, bumbu feminism dan perang saudara dengan negara tetangga menjadi ide-idenya.

 Film-film horror Guillermo del Torro yang menggunakan bahas Spanyol (plus subtitle yaaa) bukan hanya jump scared saja, tapi indah ditonton. Del Torro senang mengawinkan horror dengan fairy tales; hingga muncullan Cronos, Devil’s Bakcbone, Pan’s Labyrinth, Crimson Peak, Scary Stories to Tell in the Dark dan favorit saya : Mama. Menonton horror del Torro membuat kita berpikir bahwa cerita horror tak selalu berkisar sekedar hantu dan darah; tetapi sebuah cerita utuh yang memiliki kesimpulan mendalam. Devil’s Backbone memberikan sebuah kesimpulan bijak tentang apakah hantu itu. Di akhir cerita, epilog berkata, “Hantu adalah emosi yang masih digantung oleh waktu.” Kurang lebih demikian. Orang-orang yang mati karena pembunuhan, peperangan, wabah dan bencana; mungkin akan menjadi hantu karena masih banyak emosi-emosi yang belum diselesaikan dengan orang-orang yang terhubung dengannya. Ini menurut Del Torro, ya.

Well, back to Korea.

Negara ini buat film komplit bangettt.

Film epic heronya benar-benar membuat semangat nasionalisme bangkit : Admiral, Spy Gone Nort, Tae Gu Ki, My Way dll. Drama serialnya juga membuat termehek-mehek seperti  Great Queen Seondeok, Jewel in the Palace, Dong Yi.

Film horrornya termasuk daftar film horror yang sangat diperhitungkan di pentas dunia : The Mimic, Tale of Two Sisters, Whispering Corridors dan yang mendapat banyak pujian : The Wailing. Asli, nonton the Wailing membuat saya benar-benar merinding. Film horror yang membuat takut adalah yang tidak ketahuan, mana setan dan mana malaikatnya. Bukankah kita jadi merinding ketika orang yang disangka penolong ternyata justru iblisnya? Film komedi romancenya banyak banget. Film actionnya juga gak kalah seru dibanding aksi Hollywood : The Veteran, Extreme Job, Berlin’s File, Cold Eye. Cold Eye adalah film action yang menurut saya belum banyak padanannya . (Hm, entah juga kalau saya kudet hehe).

Parasite?

Saya menuliskan reviewnya segera usai nonton film ini bareng keluarga. Tentu, gak semua sepakat dengan penilaian Oscar, apalagi penilaian saya. Tapi lagi-lagi saya ambil hikmah kenapa Parasite memenangkan 4 oscar kali ini dan Bong Joon Ho dinobatkkan sebagai sutradara terbaik dengan Parasitenya.

Sinema Korea itu….. :

  1. Natural. Alamiah banget. Kalau cerita tentang romance terasa alamiahnya. Kalau cerita kejahatan terasa alamiahnya. Hampir tidak ada yang benar-benar hitam putih di film Korea. Film Spy Gone North tentang Korut VS Korsel, sama sekali nggak membahas bahwa Korsel adalah pahlawan. Tapi masing-masing punya kepentingan. Parasite juga begitu. Apakah keluarga miskin Kim atau keluarga kaya Park yang jahat? Sama sekali nggak ada penggambaran demikian.
  2. Tak bertele-tele. Drakor umumnya berkisar 20 episode seperti Pasta in Love, 49 Days. DoT 16 episode. Barulah kisah epic seperti The Great Queen Seondeok 62 episode. Itupun gak bosen nontonnya heheh. Tidak perlu diperpanjang konflik jika memang sudah bisa diselesaikan dengan cepat. Perkelahian, permusuhan, pertikaian juga gak perlu berlarut-larut. Yang digali seringkali adalah masa lalu masing-masing pelaku sehingga memunculkan konflik emosi di dalam jiwa.
  3. Gado-gado. Komedi selalu muncul meski di tema sedih, romansa, action, horror. Kita bisa dibuat ketawa dengan adegan atau dialognya, lalu segera ditarik lagi ke sebuah situasi yang lain yang memang menjadi genre utama film tersebut. Parasite banyak memunculkan kisah komedi gelap, tentang konyolnya orang miskin dan lebih konyol lagi orang kaya yang gak pernah pegang pekerjaan rumah sama sekali seperti Mrs Park. Ketika Jessica dan Kevin –kakak adik- punya segudang tipu muslihat licik karena mereka terhimpit kemiskinan, kita harus menangis atau tertawa karenanya? Aduh, benar-benar teraduk memang.
  4. Kesabaran dalam membangun alur. Terus terang, sebagai penulis saya banyak belajar dari film, novel, cerpen Korea. Mereka sabar banget membangun detil, menceritakan sesuatu. Kesabaran dalam menjalani sebuah sikap hidup kayaknya jadi nafas dari bangsa Korea, ya. Terlihat dari hallyu yang dimotori oleh KPop, produk literasi dan sineasnya. The Vegetarian karya Han Kang menceritakan segara detil tentang seorang perempuan bernama Yeonhui. Hari demi hari konflik dirinya dikisahkan dengan cermat. Seolah penulis sangat sabat untuk berkisah. Beda dengan saya yang kadang ingin segera cepat selesai. “Udah, jatuh cinta aja./ Udah, mati aja/Udah nikah aja.”
  5. Tema sederhana. Banyak film atau buku Korea temanya sederhana. Seperti Parasite. Tema miskin vs kaya selalu ada. Tema sederhana yang digarap dengan sangat rapi sehingga kita benar-benar merasakan “ ya Tuhan, sengsaranya jadi orang miskin di Korea!” karena itu juga yang diharapkan Bong Joon Ho, banyak orang terbuai oleh ironisnya kemajuan Korea.

Coba kita baca cerpen Sejarah Obat karya Oh Hyun Jong (diterjemahkan oleh Prof. Koh Yung Hun, dosen bahasa Indonesia di HUFS- Korea)  misalnya, menggambarkan tema sederhana tentang seorang perempuan muda yang  terbiasa mengkonsumsi berbagai jenis obat sejak kecil : propolis, omega 3, ginseng merah, dll. Ia melihat neneknya terbiasa minum obat, ia melihat orang-orang di lingkungannya minum obat. Dan si perempuan merasa aman bepergian jika membawa sekantung obat. Ia bahkan berpacaran dengan seorang calon dokter tradisional yang suka meresepkan obat kepada teman-temannya. Dan kecandunnya pada obat semakin betambah. Membaca kembali Sejarah Obat, mengingatkan saya pada kondisi terkini tentang Coronavirus di mana saya seperti ribuan atau jutaan orang yang sangat terobsesi pada masker.

Tulis Hyun Jong “…bahwa segera setelah kita mulai terkena penyakit yang berkaitan dengan penuaan, kita tidak akan pernah berhenti makan obat. Kita akan tetap meminumnya sampai sehari menjelang kematian.”

Betapa kisah sederhana, tentang zaman sekarang ketika orang membenci menjadi tua dan menjadikan obat sebagai jalan keselamatan.

Parasite, saya rasa memiliki 5 kelebihan tersebut.

Natural alamiah, tak bertele-tele, gado-gado, kesabaran penulis scenario dan sutradara membangun alur serta tema sederhana yang dipahami hampir setiap keplaa manusia yang menontonnya. Yah, walau pecinta Korea belum tentu paham bahasa Hangeul 100% sebagaimana para kritikus film dunia, ungkapan Bong Joon Ho patut dipertimbangkan saat menerima piala Golden Globe, “Sekali saja tidak bermasalah dengan subtitle, kalian akan banyak menemukan film menakjubkan!”

Saya setuju dengan Joon Ho.

Sebab banyak film Indonesia yang juga layak maju ke pentas dunia.

Insyaallah, berikutnya Indonesia yang meraih penghargaan!

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Bedah Buku Sinta Yudisia Buku Sinta Yudisia KOREA PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY WRITING. SHARING.

31 Januari – 2 Februari 2020, Jakarta & Tangerang

Sinta Yudisia <psikologsinta@gmail.com>12:18 PM (5 minutes ago)
to me

💫 SELF HEALING WITH WRITING 💫•– Womens Mental Health Workshop; Mom’s Journey to Happiness –••💗

 Stress dengan penghakiman netizen di media sosial saat kita “curhat” ??••🌷 Dinamika kehidupan seringkali membuat para ibu berjuang keras hadapi ragam kesulitan.•Tak jarang, meninggalkan ‘luka’ tak terjamah yang tidak dipahami orang lain. Hingga lupa dengan cara sederhana dalam berbahagia.••–Dalam kasus paling ekstrim, dapat mengancam keselamatan diri dan orang lain.–••Tahukah Moms, bahwa menulis bisa jadi sarana penyembuhan, bahkan memperkuat rasa bahagia ??••Komunitas Ibu Bahagia Indonesia @komunitasibubahagia bekerjasama dengan  @actforhumanity dan @ihsanmediapenerbit mempersembahkan workshop terbatas :

💫 SELF HEALING WITH WRITING 💫

— Womens Mental Health Workshop; Mom’s Journey to Happiness –••Narasumber :•🧕🏻 Sinta Yudisia W S.Psi, M.Psi, Psikolog — Psikolog – Penulis @sintayudisia•🧕🏻 Irena Puspawardani S.Si (Teh Rena Puspa) — Pembina KIB Indonesia – Penulis @rena.puspa.khadeeja••Bersama, kita belajar tentang seni terapi menulis tangan sebagai salah satu metode penyembuhan diri ☘️🌷🍀🌺💚••📆 Sabtu, 01 Februari 2020⏰ 09:00 – 13:00 WIB🏢 Menara 165 – ACT Lt. 9 Jalan TB. Simatupang, Jakarta Selatan••💎 Ticket Prices :•🌷 EARLY BIRD (10 – 14 Januari) : 200K🌻 NORMAL (15 – 27 Januari) : 235K🌹 HOT SEATS (28 Januari – 1 Februari) : 250K🐨 Kids Corner (4 – 7 tahun) : 30K/Anak•💳 Transfer :BNI a.n Fina Febiyanti(009) 0349618487https://bit.ly/PendaftaranWorkshopKIBhttps://bit.ly/PendaftaranWorkshopKIBhttps://bit.ly/PendaftaranWorkshopKIB••📲https://bit.ly/AdminKIB📲https://bit.ly/AdminKIB📲https://bit.ly/AdminKIB•••💚❄ Bahagia Hatinya, Sehat Jiwanya ❄💚••#HappyMomHappyFamily#DiaryIbuBahagia#komunitasibubahagia#workshop #menulistangan#handwriting #freewriting#womensmentalhealth#kesehatanmental #ibubahagia #act #aksicepattanggap #ihsanmedia

Acara di atas untuk Ayah dan Bunda.

Untuk remaja, ada acara di bawah ini :

Membahas seluk beluk Korea, hallyu termasuk K-Pop beserta boyband girlband nya.

Yang di Jakarta dan Tangerang, silakan hadir yaaa

Kategori
15 Rahasia Melejitkan Bakat Anak ACARA SINTA YUDISIA Catatan Perjalanan Quran kami Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Pesantren Fahim Quran : Hafal 30 Juz sekaligus ahli IT (Programming & DKV) !

Ini salah satu institusi, pesantren, lembaga atau apalah namanya yang menjadi impian saya sejak lama. Gimana caranya anak-anak bisa menghafal Quran sekaligus mempelajari bidang yang memang merupakan bakat minat mereka.

Menghafalkan Quran butuh stamina lahir batin. Konsentrasi tingkat tinggi, motivasi kuat, juga disiplin yang terus menerus. Pantauan dari para guru juga penting, mengingat anak-anak pra remaja dan remaja ini tentu jatuh bangun semangatnya. Biasanya, pesantren mengajarkan ilmu-ilmu agama terkait Quran, hadits, fiqih, bahasa Arab dan Inggris. Di Fahim Quran, bukan hanya cukup hafal 30 juz. Bahkan, salah satu nasehat ustadz Purwanto dalam acara setor hafalan Quran di senja itu, benar-benar menampar kita.

“Bagaimana kalian harus hafal, hidup, beraktivitas, hingga mati dengan seluruh nilai-nilai Quran.”

Beliau mendorong bahwa setiap santri yang menjadi penghafal Quran, harusnya punya semangat dan ambisi lebih. Jangan setelah hafal 30 juz, justru tidak mau berprestasi apa-apa. Tidak mau melakukan aktivitas apa-apa. Padahal alim ulama dan ilmuwan Islam di masa lampau, mereka penghafal Quran dan terus bekerja di bidangnya masing-masing. Kadang, seorang penghafal Quran merasa cukup sudah hafal 30 juz. Merasa sudah sampai di puncak ibadah dan dapat memberikan hadiah mahkota permata kepada orangtua kelak di hari akhir. Harusnya, penghafal Quran menjadi panglima ilmu pengetahuan dan motor dari penggerak peradaban!

Kenapa IT?

IT- information technology  atau teknologi informasi ( TI) adalah teknologi dalam membuat, mengubah, menyimpan, mengirimkan, mencetak atau mengolah apapun terkait informasi. Saat ini, Indonesia sangat membutuhkan ahli-ahli IT sehingga tidak tertinggal dari bangsa lain. Ahli ini selain memiliki kemampuan tinggi, tentu harus memiliki ketahanan mental yang tangguh. Istilah Habibie, berotak Jerman berhati Makkah.

IT di Fahim Quran meliputi dua hal : Programming dan DKV (desain komunikasi visual).

Apa sih DKV itu?

Program studi Desain Komunikasi Visual (DKV) mempelajari ilmu tentang penyampaian pesan (komunikasi) dengan menggunakan elemen-elemen visual atau rupa. Disini siswa akan belajar untuk mengolah pesan secara informatif, komunikatif, dan efektif, serta se-kreatif mungkin agar pesan dapat mencapai sasaran dengan memperhatikan unsur bentuk, warna, tekstur, ruang, huruf, dan segala hal yang berkaitan dengan visual (penglihatan). Misalnya membuat poster, logo, ilustrasi, desain web, foto, video, animasi, dan sebagainya.

Terus terang, anak-anak muda sekarang banyak banget memiliki kecenderungan di aesthetic. Ini hasil tes minta yang pernah saya lakukan pada  mereka, lho! Dulu, seni seringkali hanya dikaitkan dengan seni musik, seni tari, seni patung, seni lukis. Sekarang, aesthetic memiliki makna luas termasuk DKV. Sebuah pesan dari A (sender) akan diterima B (receiver) bila pesannya diterima dengan baik. Baik itu mencakup berbagai macam : baik caranya, bernas kontennya, menarik tampilannya, bisa dipahami maknanya. Pesan-pesan sekarang sangat butuh orang-orang DKV. Lihat aja iklan keselamatan di jalan raya yang digagas kepolisian. Tidak lagi sekedar “Hati-hati di Jalan” tetapi…. “Jatuh cinta itu enak. Kalau jatuh di jalan? Benjol!”

Pesan ini akan jauh lebih sampai ke anak muda (tahu sendiri kan, yang naik motor seenak udel kebanyakan anak muda!).

Fahim Quran juga mempersiapkan anak-anak untuk menjadi programmer. Kalau yang masih bingung, programming itu belajar apaan sih? Programming adalah menganalisis, menyusun, mengedit, menguji kumpulan bahasa pemrograman untuk kemudian menghasilkan sebuah program yang bisa menjalankan suatu tugas tertentu secara otomatis. Untuk lebih mudahnya programmer adalah orang yang membuat program itu sendiri dengan menggunakan kombinasi berbagai programming language. Umumnya, programmer sendiri terbagi menjadi 4 jenis yaitu funcional, operational, graphical dan web-based.

Kalau mau kuliah yang ada bahasa-bahasa programming nya, salah satunya kuliah di teknik informatika ITS. Hehehe, ini bukan promosi ya. Gegara penulis tinggal di Surabaya, tetanggaan sama ITS.

Nah, kalau yang masih bingung (khususnya orangtua) tentang apa itu programmer atau programming, mungkin bisa nonton beberapa film berikut. Film-film ini ada yang tentang kehidupan programmer, ada yang tetnang programming itu sendiri. Kalau nggak ada programmer, rasanya film-film gak akan sebagus ini.

Di Fahim Quran, para santri diajarkan untuk membuat bahasa programming. Sekarang, mereka sudah punya beberapa produk yang bisa diunduh di playstore, lho! Menurut ustadz Purwanto dan ustadzah Yaumi, keduanya pendiri & pengasuh Yayasan Fahim Quran, memadukan tahfidzul Quran dan ilmu IT merupakan tantangan tersendiri. Di satu sisi, menghafal Quran butuh ketekunan dan konsentrasi tinggi, tak bisa diganggu oleh aktivitas lain. Sementara, IT dengan jurusan programming dan DKV butuh konsentrasi yang berbeda. Tetapi, akan sangat disayangkan bila bibit penghafal Quran yang memiliki raw materials sangat bagus tidak dikembangkan sisi intelektual dan talentanya. Sebab, banyak anak muda sekarang yang mahir berkecimpung di dunia IT. Pegnhafal Quran rata-rata memiliki kemampuan memory yang kuat, cocok sekali dengan bahasa pemrograman yang butuh logika tingkat tinggi.

“Apalagi, sebagian besar programmer biasanya gamer juga,” jelas ustadz Purwanto.

Gaming disorder sangat dicemaskan para guru dan orangtua saat ini.

Insyaallah, di Fahim Quran para santri diselaraskan agar tetap dapat megnhafal Quran sekaligus memiliki tanggung jawab megnembangkan bakat minat serta talenta terpendamnya di bidang IT.

2 Jenis Santri di Fahim Quran

Yayasan Fahim Quran memiliki kelas putri, dinamakan santri Fahim Quran. Kelas putra dinamakan QBS, Quadran Boarding School. Keduanya terletak di Bogor, Jawa Barat.

Fahim Quran sebetulnya merupakan singkatan dari Fast-Active-Happy-Integrating in Memorizing Quran. Tahun ini adalah tahun ke-4 Fahim Quran berdiri. Meski baru 4 tahun berdiri, jumlah santri putri mencapai 98 siswi sementara santri putra mencapai 117 siswa. Karena banyaknya permintaan, Fahim Quran terpaksa harus menolak pendaftar, hiks…hiks.

Untuk menghafal Quran, Fahim Quran tak main-main. Mereka punya program sendiri yang pantas dicontoh. Ustadz Purwanto, sang pendiri, menyusun 9 cara metode menghafal Quran. Artinya, metode menghafal Quran ada banyak cara dan pendekatan sehingga orang-orang dengan tipe kepribadian/tipe pembelajar tertentu dapat menghafal Quran sesuai kondisi dirinya. Kebayang kan, ada anak-anak yang putus asa menghafal Quran gegara gak bisa-bisa nambah ayat L. Ternyata, dengan metode pendekatan yang berbeda-beda ini, anak-anak akan dapat menghafal Quran lebih mudah.

Jadi ingat ayat ini,

“Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah ( QS 21 : 2)”

Kalau sudah hafal 30 juz, siswa akan diberangkatkan ke Mesir untuk tasmi kepada syaikh al Azhar. Di sana kurang lebih 3 bulan dan mendapatkan sertifikasi langsung dari pakarnya. Masyaallah…

Berikut ini beberapa hasil karya siswa siswi Fahim Quran (ingat ya, yayasan Fahim Quran menaungi santri putri yang namanya persis seperti nama yayasannya Fahim Quran – FQ. Dan santri putra Quadran Boarding School – QBS).

Yang suka programming, menghasilkan buah karya aplikasi-aplikasi bermanfaat untuk menunjang berbagai kegiatan baik yang bisa diterapkan oleh seiswa, orangtua, juga guru. Yang DKV suka sekali menyalurkan ide-ide mereka ke bentuk tulisan, gambar, desain grafis atau apapun yang berbentuk komunikasi visual. Termasuk membuat tulisan-tulisan. Biasanya memang, seorang komikus senang membuat storyboard sendiri. Begitupun sebaliknya, seorang penulis suka merancang ilustrasinya sendiri meski ia tak mahir melukis. Jadi ingat seorang komikus webtoon – Lookism– yang nama dan hasil karyanya saya tuliskan dalam buku 15 Rahasia Melejitkan Bakat Anak.

Ohya, ada kejadian mengesankan yang ditemui penulis di acara Mukhoyyam Quran, 20 Januari 2020 ini. Ternyata ada seorang ustadzah di sana yang telah lama saya kenal via medsos. Kami berkontak dan berteman via twitter, instagram dan wordpress. Masyaallah, terharu dan bahagiaaa banget akhirnya bisa dipertemukan Allah Swt. Namanya Alfi Najma Zahra. Ia suka sekali membaca serial Takudar. Jadi merasa sangat  berhutang pada para pembaca untuk menuntaskan serial pemimpin muslim dari Mongolia ini.

Bagi para orangtua dan calon siswa yang tertarik untuk menempuh pendidikan di Yayasan Fahim Quran, bisa klik www.sekolahimpian.com .

Semoga kamu temukan dunia impianmu, ya!

Kategori
Artikel/Opini Catatan Jumat Pernikahan PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Suami Istri WRITING. SHARING.

Bagaimana Jika Suami Memiliki 99% Otak Kiri ?

Ini sebetulnya sebuah metafora aja, ya. Karena nggak  mungkin secara fisik otak manusia kiri semua. Pastilah separuh-separuh; kanan dan kiri. Tetapi secara psikis, bisa saja otak lelaki didominasi left brain. Sangat taktikal, mekanik, teknikal. Dan ini saya temui dalam cukup banyak kasus. Jujur, saya justru banyak belajar dari para klien. Kenapa? Sebab merekalah yang langsung berjuang dan mencoba teori-teori yang saya pelajari di bangku kuliah dan pelatihan.

Ilustrasi otak kanan & otak kiri

Contoh kasus 1

Suami istri yang puluhan tahun menikah, sebagian besar anaknya kuliah. Selama menikah, si istri nyaris sama sekali nggak pernah mencuci baju dan memasak! Suaminyalah yang memandikan anak-anak, belanja ke pasar, memasak, mencuci, menjemur bahkan menyeterika! Padahal suaminya seorang pekerja. Ck-ck-ck. Denger ini saya heran sendiri. Ada ya jenis lelaki dan suami yang seperti ini? Trus apa tugas istrinya?

“Kata suami, saya disuruh mendidik anak sebaik-baiknya. Kata suami, mendidik anak itu nggak gampang. Pasti capek.”

Hm, baiklah. Ada quote suami istri paruh baya ini yang luarbiasa bagi saya. Si suami bilang, “lelaki itu harus banyak mengalah, tetapi jangan sampai istri menginjak-injaknya.” Masyaallah.

Contoh kasus 2

Suami istri yang terlihat garing hubungannya. Suami nyaris nggak pernah bersikap romantis pada istri. Boro-boro mengelus. Bilang sayang aja nyaris kagak pernah. Tapi si suami ini menjamin semua kebutuhan istri dan anak-anaknya. Bahkan semenjak anak mereka masih bayi-bayi, suamilah yang mengganti popok. Menggendong tengah malam hingga si bayi tertidur lagi. Kecuali jika si bayi mau menyusu.

Suami yang garing ini, membuat istri sangat tertekan. Sepanjang mereka menikah hampir tak ada sentuhan romansa. Singkat cerita, mereka ingin berpisah.

Clue

Melihat para suami seperti ini, awalnya kesal banget. Apa sih susahnya bilang cinta? Bilang sayang? Tinggal bilang, “Dek, aku cinta kamu.”

Atau whatsapp gitu. Kirim-kirim pesan love. Atau telpon sesekali dan bilang, “Say, aku kangen kamu lho.” Gak butuh waktu lebih dari 30 detik, kan? Cuma tinggal pembiasaan aja. Lalu, terjadi hal-hal yang membuat saya perlu merenungkan hal yang sepertinya gampang itu. Salah satunya, lewat tes kepribadian yang biasanya saya tawarkan kepada klien supaya kami sama-sama tahu profil kepribadian dan hal tersebut menjadi rekam jejak untuk langkah selanjutnya.

Para lelaki ini, yang sulit dan garing menyatakan cinta, memiliki gambar-gambar khas dalam tes proyektif. Ketika saya menyaksikan gambar-gambar tersebut, pelan-pelan menskoringnya, merumuskan grafik psikologisnya, mengklasifikasikan dan menginterpretasikannya ; masyaallah. Ada sesuatu yang menjadi pembelajaran luarbiasa.

Lelaki-lelaki ini begitu mekanik. Taktis. Teknikal praktis.

Ibaratnya, semua belahan otaknya berisi pertimbangan logis dan matematis. Atau, kalau kita pernah menonton film I Robot dan Elysium, lelaki ini seperti robot yang diprogram dengan desain tertentu. Diinsert dengan data tertentu. Softwarenya berisi file-file yang sudah baku dari pabriknya. Dengan kata lain, yang mereka pikirkan adalah : bagaimana anak istriku bisa nyaman. Bagaimana anak-anak bisa sekolah di tempat terbaik. Bagaimana bisa membelikan rumah dan kendaraan layak untuk istri. Bagaimana keuangan keluarga tak morat marit. Bagaimana harus menambah sumber pemasukan bila memang masih kurang. Matematis. Logis. Tipe manusia seperti ini benar-benar kalkulatif. Kalau merasa tak penting tak akan dilakukan. Kalau merasa tak salah tak akan minta maaf. Padahal istri ingin sekali sesekali suaminya mengaku salah (meski gak jelas apa kesalahannya).

Tetapi para lelaki dengan 99% otak kiri dan program robot ini bukannya tak punya perasaan. Mereka bisa menangis. Mereka bisa hancur. Mereka bisa tampak tak berdaya di depan konselor, tampak luluh  lantak dan bertanya-tanya : “apa yang harus saya perbuat lagi buat istri saya?”

Melihat gambar-gambar proyektif mereka, pemikiran dan perasaan saya seperti di-reset ulang. Ya, mungkin ini para lelaki yang demikian garing dan keras, lantaran sepanjang hidupnya di masa lalu dibesarkan oleh keluarga yang prihatin. Orangtua menyuruhnya untuk mandiri sejak belia, kalau bisa ikut menanggung beban adik-adiknya. Ya, setelah dilacak, nyaris tak sejenakpun para lelaki ini sejak masa tumbuh kembangnya merasakan dunia yang berbunga-bunga. Mereka kerja keras di masa sekolah, kerja keras di rumah membantu orangtua, kerja keras di tempat kerja.

Softwarenya sudah berisi file yang maskulin dan serba lelaki.

Lingkungan dan pengalaman bertambah-tambah membentuknya jadi semakin otak kiri.

Tetiba, saya mulai berpikir bahwa para lelaki dengan 99% otak kiri ini justru memiliki sisi hidup yang juga merana nan garing. Dan mereka juga menantikan sentuhan tangan para bidadari di sisinya.

Seseorang Harus Memulai

Jadi, suami yang harus berubah?

Atau istri?

Selalu ada cara untuk mencari pembenaran.

“Kalau suami sudah mencoba romantic, istri akan luluh,” kata perempuan.

“Kalau istri minta maaf, suami akan mencair,” kata lelaki.

Well, saya gak ingin memperpanjang alasan-alasan. Nanti akan seperti pertanyaan : lebih dulu ayam atau telur? Lebih baik, kita berangkat dari data yang ada. Dan mencoba menganalisa fakta.

Saya hanya bilang, kurang lebih.

“Mbak, pasti tertekan ya punya suami keras seperti itu.”

Sang istri menangis berlinang air mata.

“Kalau opsi berpisah memang jadi jalan keluar, okelah. Tapi kita perlu kumpulkan informasi sebanyak-banyaknya agar tak ada sesal.”

Si istri terdiam.

“Saya cuma mau nanya, kalau nanti berpisah, kira-kira Mbak akan dapatkan lagi nggak jenis suami yang seperti dia? Yang kalau malam ngurusi anak-anak, mengantar jemput anak istri kemanapun, menemani Mbak pergi kemanapun Mbak mau diantar? “

Si istri tertegun. Meremas tissue. Merenung lama. Dan airmatanya tumpah ruah. Wajahnya tampak galau.

“Sebetulnya…harus saya akui. Suami saya baiiiik sekali. Sangat baik. Hanya saja ia begitu keras dan kasar.”

Saya lega mendengarnya. Lega bahwa ia bisa menemukan kebaikan suaminya.

“Saya juga nggak tau apakah kalau pisah bisa ketemu lagi laki-laki seperti dia.”

Demikianlah.

Ketika menyadari bahwa suami mirip robot atau manusia 99% otak kiri; setidaknya seorang istri memahami bahwa suaminya memang tipologi orang yang tidak suka mengumbar romansa. Tidak suka mengumbar kata-kata dan janji. Bahkan tak akan mengucapkan sesuatu yang dia tak akan bisa tepati. Sangat matematis dan logis. Gak ada manis-manisnya (beda dengan iklan air mineral : kayak ada manis-manisnya hehe).

Tetapi, siapa tahu ternyata Allah memang menciptakan lelaki ala ‘robot’ macam itu. Kenapa? Supaya ada tangan-tangan bidadari yang akan memeluk suami, menyentuhnya lebih dulu, membisikkan kata mesra. Pra istri yang akan meng-insert file kehangatan dan keceriaan dalam kehidupan suami yang garing karena tempaan hidup. Siapa tahu, dominasi left brain itu akan menurun tak lagi 99%. Memang tak akan langsung drastis berubah.

File kehangatan itu bisa dimulai dari kata-kata lembut dan kalimat mesra. Para istri yang didominasi perasaan dapat memulainya lebih dulu. Yakinlah, bahwa ciptaan Allah tak ada yang salah. Manusia –dalam hal ini istri- yang mendapat tugas untuk membentuk lelaki robot itu menjadi lebih humanis dan manusiawi.

Kategori
Catatan Jumat Cinta & Love Oase Quran Kami Suami Istri WRITING. SHARING.

Sembuh Setelah Bercakap-cakap dengan Quran

Beberapa waktu lalu, saya mendapatkan pengalaman luarbiasa yang kisahnya langsung saya share kepada anak-anak, dan merekapun terkesima. Kisah ini saya dapatkan ketika akhir tahun 2019 berkunjung ke kampung halaman suami, Tegal.

Namanya bu Nuning.

Mbak Nuning & suaminya, pak Imam

Saya biasa memanggilnya dengan  nama mbak Nuning. Seorang ibu luarbiasa yang tak pernah lepas senyum terpahat di bibir meski kesulitan hidup bertubi-tubi, berton-ton menghimpit. Kalau saya buat rekap kepahitan hidup;  mungkin sepanjang beliau benafas, lebih besar bobot susah daripada senangnya. Ajaibnya, di setiap benturan kesulitan, selalu ada peristiwa luarbiasa yang membuat kita tergetar : Maha Besar Allah menitipkan sebagian ayat-Nya ke dalam kehidupan hamba-hamba pilihanNya.

Beberapa waktu lalu mbak Nuning bercerita, ia mengalami stroke. Separuh tubuhnya lumpuh, saraf mulutnya pun lumpuh total. 2 bulan ia mengalami stroke parah dan saya tak bisa bayangkan bagaimana ia jalani kehidupan sehari-hari. Bayangkan, suaminya sakit dan mbak Nuning yang selama ini merawatnya. Suaminya juga pernah stroke dan hingga saat ini masih membutuhkan pendampingan. Kalau istri juga ikut-ikutan sakit, bagaimana nasib roda kehidupan mereka? Meski ada asuransi kesehatan, tentu tak dapat menutupi semua keperluan hidup dan sakit. Apalagi beli obat yang di luar tanggungan BPJS. Untuk makan sehari-haripun mereka seringkali harus bersabar dengan kondisi yang ada. Lumpuh? stroke? Tak bisa bicara? Ya Allah…

Dokter saraf yang baik hati menangani, memberikan dorongan pada keluarga mbak Nuning.

“Meski saraf mulutnya sudah hampir 100% kena, Ummi tetap harus diajak bicara,” kata dokter saraf, berpesan pada anak-anak mbak Nuning. “Pokoknya diajak bicara aja, diajak aktivitas semampunya.”

Kita tentu tahu, stroke butuh penanganan cepat dan tepat. Obat yang bagus, terapis andal, kontrol rutin. Tetapi semua biaya itu tak ditanggung asuransi, kan? Transportasi PP ke rumah sakit tentu biaya tersendiri, belum lagi yang lain-lain.

Mbak Nuning & suami yang insyaallah selalu harmonis, dalam segala kesulitan yang menghimpit

Masyaallah, meski hidup dalam kesulitan, Allah Swt memberikan mbak Nuning anak-anak yang sholih sholihah. Anda mungkin pernah melihat orang bisu atau tuli berbicara. Bahasanya aneh, bukan? Suaranya lantang, berteriak-teriak memekakkan telinga, kadang buat lawan bicara deg-degan atau malah kesal karena komunikasi tak nyambung. Begitulah mbak Nuning ketika mengalami stroke dan lumpuh mulutnya.

Salah seorang putranya  memberikan semangat dan nasehat, “Ummi, Ummi memang harus terus belajar bicara. Ngajak orang bicara. Tapi lihat kan? Orang yang diajak bicara Ummi kadang kesal. Malah nggak suka karena Ummi ngomongnya gak jelas, sembarangan, orang juga nggak ngerti-ngerti apa yang Ummi bicarakan.”

Kurang lebih demikian kata si putra.

“Tapi Ummi harus terus ngomong, terus bicara, terus latihan bersuara. Daripada Ummi ngajak ngomong orang dan orang malah jengkel, kesal, marah; mending Ummi ngajak omong Al Quran saja,ya.”

Demikian bijak saran  putra mbak Nuning.

Dulu, penelitian S1 saya tentang tunarungu. Anak-anak yang tak bica mendengar dan biasanya kesulitan bicara ini, memang suaranya sangat keras menggaung kemana-mana. Kadang orang yang diajak bicara sering tak sabar dan meminta mereka lebih baik pakai bahasa isyarat. Itu juga yang terjadi pada mbak Nuning. Ia tak dapat bicara, seperti orang bisu gagu karena stroke yang menyerang saraf mulutnya. Tetapi ia harus bicara kalau ingin sembuh. Dan, tak semua orang mau diajak bicara…

Mbak Nuning menuruti saran si putra. Setiap hari ia mengajak bicara Quran, bahkan sehari bisa 8 juz dibacanya Quran dan diajaknya bicara layaknya orang bercakap-cakap.

Saya nggak akan promosi suatu barang.

Tetapi demikianlah ceritanya.

Seiring mbak Nuning terus mengajak Quran ‘bicara’ ada orang yang membawakannya british propolis dan obat ini memang membantunya untuk sembuh. Mbak Nuning bukannya menganggap british propolis woooww banget. Bukan demikian! Tetapi katanya, “ karena saya bicara dengan Quran, ada aja cara untuk sembuh. Salah satunya orang mengantarkan british propolis itu.”

British propolis, salah satu cara mbak Nuning untuk sembuh

Ketika saya bertemu mbak nuning akhir Desember lalu, saya sama sekali nggak nyangka ia sempat stroke selama 2 bulan. Terkapar lumpuh dan bisu. Inti kisah beliau yang saya simak betul-betul : “Kalau tak ada orang yang bisa diajak bicara, bicaralah dengan Quran. Nanti, Quran akan membantu mencarikan jalan kesembuhan –dengan izin Allah- lewat jalan yang dibukakan oleh seseorang atau sebuah peristiwa.”

Semoga, kita bisa rutin mengajak Quran berbicara ya?

“Kalau tak ada orang yang bisa diajak bicara, bicaralah dengan Quran. Nanti, Quran akan membantu mencarikan jalan kesembuhan –dengan izin Allah- lewat jalan yang dibukakan oleh seseorang atau sebuah peristiwa.”

#jumatbarakah

#jumathikmah

#energiquran

Kategori
15 Rahasia Melejitkan Bakat Anak Buku Sinta Yudisia Hikmah Karyaku Kepenulisan Menerbitkan buku Nonfiksi Sinta Yudisia Oase WRITING. SHARING.

Apa Bakatmu?

Lama sekali, aku ingin menuliskan buku terkait bakat dan minat anak. Semua bersumber ketika aku sendiri terlambat memahami tentang potensi diriku.

Sejak kecil aku suka berkhayal : menjadi ratu, pasukan paskibraka, penyanyi, wonder woman dan banyak lagi. Sama sekali tak terpikir bahwa kemampuan mengkhayal itu perwujudan dari kreatifitas membuat cerita baru berdasarkan informasi yang sudah ada. Meski sudah suka menulis diary sejak SD, nyatanya aku malah masuk kelas Fisika ketika SMA. Saat itu, kelas di SMA dibagi A1 (Fisika), A2 (Biologi) dan A3 (Sosial). Dulu masih ada kelas A4 (bahasa) tapi jarang juga tersedia. Karena saat itu multiple intelligence belum dikenal, orangtua dan lingkungan mendorongku masuk kelas Fisika. Kata mereka, aku pintar.

Anehnya, aku masuk kelas Fisika tetapi kuliah di Ekonomi Akuntansi. Bayangkan! Sangat jauh panggang dari api hehehe.

Semakin hari aku malah nggak mengerti dengan keinginan dan cita-citaku. Kenapa makin lama nggak suka dengan sains? Gak suka ekonomi? Ketika usiaku menjelang 30 tahun aku coba-coba buat cerpen dan berhasil! Aku ikut beberapa lomba tingkat nasional dan Alhamdulillah, menang. Ketika itulah aku baru mulai sadar : “Oh, aku punya bakat nulis, ya?”

Tidak pernah terpikir menulis menjadi sumber pemasukan.

Setelah 10 tahun menulis aku semakin yakin bahwa menulis adalah duniaku. Apalagi ketika tes minat RMIB, kecenderunganku ke arah aesthetic dan literasi. Klop dah.Terus terang aku terlambat mengetahui minat dan bakatku. Andai sejak kecil aku sudah tahu bahwa bakat minatmu menjadi seorang seniman, aku mungkin akan kuliah di ISI atau masuk fakultas sastra.

Anak-anak : Mereka harus berkembang lebih baik

Sekarang, aku tak ingin kejadian yang sama terulang.

Jujur, awalnya aku masih terperangkap dalam paradigma lama : anak-anakku harus masuk sekolah yang jurusannya sains. Nanti mereka bisa enak memilih. Toh nggak papa kuliah ekonomi bila berasal dari kelas MIA, bukan?

Tetapi, anak-anak ternyata menderita ketika mereka dipaksa masuk kelas sains padahal dalam diri mereka mengalir jiwa altruist, jiwa seniman, jiwa kebebasan. Perlahan, aku mulai belajar dari sana sini. Kebetulan aku kuliah psikologi saat sudah menjadi ibu, jadi aku mulai dapat membaca walau masih kabur, tentang potensi anak-anakku.

Aku melalap berbagai jurnal.

Artikel.

Majalah.

Buku Indonesia dan Inggris.

Karya antologi putri-putri kami. Kiri : ada karya Arina. Kanan : ada karya Nisrina

Pada akhirnya, aku menyelesaikan membuat buku 15 Rahasia Melejitkan Bakat Anak ini, sebuah buku yang sudah kuimpikan lama sebagai bentuk curahan perasaan dan pikiranku tentang bagaimana menemukan bakat terpendam anak-anak. Alhamdulillah, putri-putriku suka menulis. Tetapi bakat saja tanpa motivasi besar seperti mobil mewah tanpa bensin!

gundam and my family.JPG
Salah satu putra kami memiliki kesukaan merakit gundam

Kupikir semua anakku berdarah seni. Tetapi ada satu orang anakku yang baru kuketahui usia onsetnya, mahir merakit sesuatu saat SMP. Ia suka menabung dan membeli Gundam/ Gunpla.

Semoga buku ini bermanfaat bagi para orangtua di luar sana yang cemas, ingin tahu, kesal, marah; karena tak kunjung menemukan potensi anak-anak mereka yang sebetulnya memiliki innate talent atau hidden talent rrruaaarrrbiasa!

PO 15 Rahasia.jpg
Kategori
Cinta & Love mother's corner Oase Renungan Hidup dan Kematian WRITING. SHARING.

Surga yang Disegerakan : Belajar dari Kepergian Ananda Rozien

Terbayangkah kehilangan orang yang sangat dicintai : anak, pasangan, orangtua?

Rasanya tak sanggup membayangkan.

Apalagi, bila kehilangan itu begitu tiba-tiba.

Saya ingat, ketika bapak meninggal tahu 1992. Mama begitu tegar mengurusi beliau saat sakitnya, wira wiri ke rumah sakit. Saat itu belum ada ojek online seperti sekarang, jadi mama mengantar bapak ke rumah sakit naik dokar dulu, baru naik bemo. Belum lagi wira wiri RS-rumah. Meski lelah lahir batin ketika bapak wafat, mama tetap merasa kehilangan. Meski sudah menduga bapak akan wafat karena beliau menderita sakit komplikasi, mama tetap terpukul.

Ya, meski bapak sakit lama, ketika beliau wafat, rasa kehilangan tetap sangat menyiksa. Bapak yang sudah sakit lama, yang sudah memberitakan kabar kematiannya jauh-jauh hari, tetap meninggalkan jejak menyakitkan ketika beliau pergi. Apatah lagi kepergian orang –orang tercinta yang mendadak.

 

Pertemuan Tak Dikira

 

Saya mengenal bu Indira tak terduga. Ketika mengisi acara parenting di Ukhuwah Banjarmasin  Sabtu 16 November 2019, esoknya saya dijadwalkan mengisi di Banjarbaru 17 November. Saya dijemput sepasang suami istri yang luar biasa. Kami mengobrol sepanjang jalan dengan hangat dan penuh gurauan.

Lalu tiba-tiba muncul percakapan yang membuat jantung seperti tercerabut dari rongganya.

“Mbak Sinta tahu siswa Husnul Khatimah yang wafat tempo hari?”

Ya, saya ingat.

Beberapa waktu lalu, tersebar kabar demikian ramai di grup whatsapp & telegram (6/7 September 2019), tentang wafatnya seorang santri Husnul Khatimah dengan cara di luar kebiasaan : ia meninggal tertikam seorang preman.

“Itu putra saya,” kata bu Indira.

Rozien, almarhum.png
Almarhum ananda Rozien

Saya nyaris tak bisa berkata-kata. Lutut lemas.

Saya berhadapan dengan seorang ayah dan ibu yang kehilangan anaknya dengan cara tiba-tiba!

Saya harus bilang apa? “Sabar ya.” Alangkah klise kata-kata itu. Bahkan ketika saya berucap “sabar”, belum tentu mampu sabar seperti mereka.

Saya hanya bisa berulang-ulang mengucapkan dzikrullah, terkaget-kaget atas pertemuan serba tak terduga. Dan cerita dari sang ibunda, mengalir demikian indahnya.

 

Ananda yang Luarbiasa

Ia adalah seroang pemuda yang luarbiasa. Menempuh studi di HK karena ingin jadi penghafal Quran. Menjelang kelulusan, ia ingin masuk fakultas kedokteran di luarnegeri. Tak ada firasat apapun ketika umminya di Banjarbaru hari itu ingin menjenguk putranya, Rozien.

Anehnya, Rozien mengatakan hal-hal yang ketika itu terasa biasa saja, namun ketika tiada tampak seperti sebuah isyarat.

“Ummi, hari ini entah mengapa aku bahagia sekali.”

Umminya tentu tak merasa apapun. Hanya saja, wajah Rozien tampak demikian bercahaya dan berseri-seri ketika mereka berkomunikasi via video call.

“Ummi, hari ini aku mau pulang sama Ummi, ya.”

Padahal saat itu belum jadwal libur santri, sang ummi tentu menganggap itu sebagai kelakar.

Rozien syahid insyaallah setelah mengalami luka-luka akibat ditikam senjata tajam oleh seorang preman. Sang ummi yang tegar luar biasa, di hari kematiannya tentu ingin sekali memberikan kabar kepada suaminya, abi Rozien. Qadarullah, abi sedang sibuk sehingga tak terkontak. Pada akhirnya, abi terkontak lewat video call.

“Abi, anak kita…,” kata bu Indira antara sedih dan bingung. “Anak kita sudah tiada.”

Si Abi, yang tak kalah sabarnya berkata : “Ummi , matikan video callnya. Abi akan sholat dulu.”

Abi dan ummi dari Rozien, mendapatkan ujian kesabaran yang langsung ke jantung hati : cepat, tak terduga, tak dapat menawar lagi.

Sang ummi, dengan sangat bijak kemudian berkata pada abi, “Abi nggak perlu ke Jakarta. Rozien akan pulang dengan Ummi. Sebagaimana permintaan Rozien menjelang akhir hayatnya – ‘Rozien ingin pulang bersama ummi –hari ini.’”

Rozien dibawa ke pesantren HK, dan qadarullah, semua santri menyolatkannya tepat jam 3 malam. Hari baik, waktu terbaik. Bahkan yang memandikannya adalah para ustadz-ustadz yang hafidz Quran.

Bunda Indira dan almarhum ananda Rozien.jpg
Beribu pelajaran dari kematian anak sholih : Muhammad Rozien

Surga yang Disegerakan

Quote ini saya ambil dari percakapan dengan  mbak Indira. Sebuah quote yang indah; surga yang dipercepat oleh Allah datangnya. Ia bisa datang lewat tangan orangtua kita yang membutuhkan perawatan, bisa datang lewat orang yang meminta sedekah, bsia datang lewat anak-anak yang membutuhkan uluran tangan dan didikan dari orang tua. Juga bisa datang atas musibah yang tak terduga datangnya.

Bagi orang luar seperti kita, yang tak mengalami pahitnya kehilangan orang yang dicintai, mungkin hanya dapat mengucapkan Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Memeluk saudara kita saat takziyah, mendekapnya erat, membantunya baik materi- non materi. Hati kita ikut merasakan goncangan, hampa, kesedihan dan entahlah lukisan apa yang tergambar di benak dan perasaan.

Namun tetap saja, seberat-berat kesedihan kita; tak ada yang paling berat kecuali yang mengalaminya sendiri.

Saya dikejutkan lagi oleh seorang sahabat, Cahya Naurizza yang kehilangan putranya, Ghaza. Ghaza yang lucu, baru berusia 7 tahun, pergi dengan cara demikian tiba-tiba.

Rasa hati saya sebagai seorang ibu remuk redam, tak bisa membayangkan betapa pedih hati sang bunda. Apapun yang ada di rumah pasti akan mengingatkan pada keberadaan ananda : baju, makanan kesukaan, tempat tidur, sudut-sudut kebersamaan. Meski ikhlas, air mata pastilah tumpah ketika mengenang si buah hati.

Surga yang disegerakan.

Saya tak hendak mengatakan  ‘sabarlah’. Karena kesabaran dalam diri para bunda-bunda luarbiasa ini sudah mencapai implementasi, bukan sekedar teori. Tetapi, segala kepedihan itu selalu selaras dengan hadiah yang disiapkan dengan penuh rahasia. Entah apa rahasia itu. Tapi pasti, sebuah hadiah yang luarbiasa nilainya. Apakah lagi ia  disiapkan oleh Allah  Rabbul Izzati.

Indira &amp; Sinta
Pertemuan tak terduga dengan bu Indira di Banjarmasin & Banjarbaru (dok.pribadi)

Sebetulnya, banyak sekali yang ingin saya tuliskan, utamanya tentang ananda Rozien. Ia adalah permata hati orangtuanya, dan akan selalu demikian. Hanya saja…ah, sulit sekali menuliskannya. Saya butuh upaya dan keberanian untuk menuangkan kalimat demi kalimat; sebab jujur, rasa perih dan kehilangan turut menghantui. Tak terbayangkan bukan, bagaimana sang bunda dan ayahanda menghadapi hari demi hari?

Insyaallah, suatu hari nanti, kita akan bisa membaca kisah Rozien secara lengkap. Ketika hati-hati ini sudah lebih siap untuk menerima kehilangan. Cinta itu memang selalu punya dua sayap; sayap harap dan ragu. Sayap cinta dan luka. Sayap bahagia dan duka.

 

Para bunda sahabat-sahabatku, surga itu telah disegerakan bagimu.

Semoga, hati-hatimu tetap dalam kebahagiaan dan ketenangan dalam bimbingan Ilahi Robbi.

 

#jumatbarakah

#kisahikmah

#anakshalih

#ayahbunda

 

 

 

Kategori
Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Rahasia Perempuan Tokoh Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Kepribadian para Finalis American’s Next Top Model

Beberapa waktu yang lalu saya nonton American’s Next Top Model season 24.

Televisi di rumah jarang banget nyala, jadi pas di hotel karena satu acara, mencoba menikmati berbagai informasi berita sembari duduk tenang. Acara yang dipandu Tyra Banks itu cukup mengasyikkan. Bagaimana menjaring calon-calon foto model dari berbagai kalangan. Di ujung audisi terjaring 4 orang :  Shanice Carroll, Khrystyana Kazakova, Jeana Turner dan Kyla Coleman.

Kyla, Jeane, Khrystyana.jpg
ANTM season 24 : Kyla, Jeane, Khrystyana

4 cewek ini cantik-cantik. Shanice berkulit hitam manis. Khrystyana dapat anda tebak : kecantikan khas Rusia yang menawan. Kyla berdarah campuran, dan Jeana punya magnet tertentu. Sepanjang nonton ANTM saya baru tahu, “Ya, ampun. Susah banget jadi model. Dia harus pintar menerjemahkan perintah fotografer.”

Dan, hujan kritik berhamburan dari para panelis.

  • Shanice, kamu terlalu tinggi mengangkat dagu.
  • Khrystyana, kamu penggugup.
  • Jeana, kamu terlalu seksi. Ini iklan shampoo! Bukan pakaian dalam! (ANTM season 24 disponsori Pantene).
  • Kyla, ekspresimu harus lebih bicara.

tyra-banks.jpg
Tyra Banks

Dan foto itu diambil ratusan take. Cuma untuk mengambil 1 gambar terbaik! Panelis benar-benar pedas ketika mengkritik. Itulah sebabnya saya baru tahu, bahwa top model dunia harus ber IQ tinggi agar komunikasi nyambung.  Tyra Banks, host ANTM sendiri memiliki IQ 120. Dan ketika dikritik, reaksi dari peserta akan diamati.

Tahukah anda apa yang menjadi titik tekan dari 4 finalis yang akan terpilih melaju lebih lanjut ke final? Attitude. Perilaku yang muncul dari personality alias kepribadian. Sepanjang karantina, para model direkam dalam tajuk “Beauty in Raw”atau “Beauty in Personality.”

Saya ngefans Khrystyana, tapi ia memang penggugup berat dan sering kehilangan rasa percaya diri. PaAdahal cantiknya luarbiasa, dengan tubuh tinggi dan rambut lebat yang pirang! Ternya orang cantik gak selalu punya self esteem baik. Ketika di ujung audisi  tinggal tersisa 2 : Jeane dan Kyla, saya piker Jeane yang akan lolos. Kenapa?

Kyla masih mentah banget. Ia cantik tapi nggak sekuat Jeane berkarakter di depan kamera. Jeane bertubuh mungil , bermata tajam, dengan dengan wajah sempurna dan selalu membuat orang terpaku ketika bertemu.

Tapi…Kyla yang menang. Wajah Kyla biasa, personalitynya yang hangat dan jebakan-jebakan karantina membuatnya menang. Apa saja kritik juri buat Jeane ketika perdebatan sengit harus memenangkan Jeane atau Kyla?

“Jeane sudah nggak bisa berubah. Dia kaku. Dia nggak mau mendengar masukan. Dia nggak akan bisa berkembang.”

“Kyla mau belajar. Dia  mau berproses.”

ANTM 24 - Kyla, Khrystyana, Shanice.jpg
Persahabatan Kyla, Khrystyana, Shanice para finalis ANTM season 24

Sepanjang masa akhir karantina, Shanice – Kyla – Khrystyana menjadi sahabat akrab. Mereka saling diskusi, bercanda, saling memberikan semangat. Jeane berbeda. Ia angkuh, lebih suka menyendiri, enggan bergabung dan cenderung meremehkan oranglain. Wajar saja demikian. Jeane sudah menjadi model professional dan ANTM kali ini adalah kali kedua ia masuk babak final! Berbeda dengan Shanice – Khrystyana apalagi Kyla yang masih mentah tentang dunia modelling.

Personality memegang peranan penting. Attitude sangat mempengaruhi karir seseorang, bahkan ketika ia bersaing di dunia Top Model yang bagi orang hanya sekedar pamer badan. Konon kabarnya, iklan Pantene akan memilih seorang Angel yang menjadi duta shampoo mereka dengan syarat sangat ketat. Salah satunya harus memiliki kepribadian yang baik .

Pada akhirnya saya mengerti kenapa panelis memilih Kyla Coleman.

Ia bicara gagap. Ia hanya pelayan Starbuck. Tapi ia peduli rasisme. Ia juga pernah menjadi guru volunteer anak-anak berkebutuhan khusus. Ia mampu bersikap bijak ketika kontestan lain menjulukinya “stupid!” . Ia rendah hati, mau mendengarkan orang lain.

Ketika ia mewakili ANTM season 24, netizen serempak memberi selamat kepada Kyla :  gadis muda yang sama sekali tak pernah berpikir jadi model karena keluarganya hanya kalangan menengah ke bawah.

Saya nggak terlalu mengikuti tayangan pemilihan miss universe dan sejenisnya.

Tapi saya suka cara panelis meloloskan pemenang  ANTM : personality dan attitude itu penting banget buat  public figure. Meski hanya kecantikan dan tubuh mereka yang menjadi modal utama dalam bekerja, orang tetap akan menyorot kehidupan sehari-hari. Kata-katanya. Perilakunya. Jadi kalau ada artis yang terekam bangun tidur ngamuk-ngamuk ke ART, selebritas yang memamerkan isi saldo ATMnya yang 40 juta “sekedar buat jajan aja”, harga tas seorang artis 2 M …hmmm. Gimana ya. Di satu sisi mungkin itu untuk menunjukkan buah jerih payahnya dan bagus untuk mendorong anak muda : tuh, jadi youtuber juga bisa loh punya penghasilan besar.

Di sisi lain, saya jadi miris juga. Ketika berita berseliweran memperlihatkan betapa kesenjangan social masih menjadi PR besar untuk bangsa kita. Kriminalitas karena kemiskinan, bencana social dan lain sebagainya; menyoroti kehidupan selebritis harus benar-benar dipilah dan dipilih untuk ditayangkan. Rasanya perih juga, mendengar orang-orang dengan gangguan psikis dan fisik tak mampu berobat karena kekurangan biaya sementara para selebritis mengumbar jumlah tabungannya. (Jangan bicara BPJS ya, karena kalau orang sakit bukan hanya sekedar bicara asuransi. Ongkos PP penunggu, logistic orang-orang di sekitar si sakit, dlsb. Apalagi jika yang sakit kepala keluarga)

Kehidupan seorang selebritis pasti akan menjadi pro kontra. Mereka tentu tak bisa kita paksa untuk hidup sederhana karena pekerjaan menuntut seperti itu. Saya maklum ketika baju artis harus 20 juta, karena ia harus tampil di depan public. Gak mungkin dia pakai baju saya yang murah meriah kan? Tetapi, peng eksposan berita itu yang bisa multitafsir.

Saya ingat seorang artis Michelle Adams, yang nggak punya media social karena memang nggak merasa butuh. Atau Tom Hanks yang tetap setia dengan istrinya yang telah dinikahi 30 tahun. Atau Keanu Reeves yang sederhana. Kehidupan positif artis macam itu rasanya perlu dipublish agar masyarakat yang sudah banyak problema menjadi terpompa semangatnya.

Stasiun televise perlu meramu kode etik tentang hal-hal yang perlu ditayangkan ke public dan mana yang tidak perlu. Kehidupan Maudy Ayunda yang sedang studi ke luar negeri, atau gimana beratnya latihan menyanyi para penyanyi, atau gimana repotnya artis membagi waktu antara sekolah-shooting/ kuliah-shooting, gimana kehidupan seorang dokter dan artis macam Nyctagina dan Lula Kamal; rasanya perlu ditayangkan. Prestasi para artis, tantangan profesi mereka, apa cita-cita mereka kalau sudah nggak laku lagi, kepribadian mereka, bagaimana kehidupan ketika mereka masih susah dulu. Bukan bercerita tentang kekayaan dan tabungan finansial yang itu sebetulnya menjadi arsip paling pribadi.

 

 

Semoga para public figure kita senantiasa dalam perlindungan dan keberkahan Allah Swt, aamiin.

 

Kategori
Cerita Lucu Hikmah mother's corner My family Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY WRITING. SHARING.

Mengatasi Fobia Kucing

Siapa yang sepakat kalau kucing adalah salah satu makhluk terlucu sedunia? Hayo ngacung!

Sejak kecil aku suka sekali kucing. Meski repot sekolah saat itu, aku tetap memelihara kucing. Seingatku, sejak SD aku suka memelihara kucing. Mengelusnya, menggendongnya, memeluknya; rasanya seneng banget! Apalagi kalau dia menempel-nempelkan badannya ke tubuh kita. Sembari mengeluarkan dengkur nafas yang khas. Kucing-kucingku suka dielus kepala sama dagunya, biasanya kalau dielus dua bagian ini, mereka akan terkantuk-kantuk.

Icung, kucing kami yang kiyuuuut banget !

 

Tapi, ada juga orang yang takut setengah mati sama kucing. Ketakutannya sampai terlihat nggak logis. Aku punya teman SMA (waktu itu kita nggak tau dia takut kucing), lalu kucing itu kita bawa ke dia, dia menjerit dan mengamuk! Teman kuliahku, pernah sampai pingsan pas makan di kantin. Gegara makhluk berbulu itu dengan tenangnya berjalan mendekati setiap pengunjung dan mengelus kaki-kaki yang bergelantungan di sana.

Aku tak percaya ada orang yang takut kucing.

Sampai aku menikah, dan mendapati suami dan anak pertamaku sangat benci kucing! Duh, sedihnya. Suamiku gak  bisa lihat kucing : jijik, nggak suka, sebel, bawaannya marah. Putriku? Lebih dashyat lagi. Sekedar lihat kucing tak bertuan tahu-tahu masuk rumah, lewat begitu aja, ia akan menjerit-jerit ketakutan sembari menutup muka, naik ke kursi dan menangis tersedu-sedu. Hadeeeh.

Awalnya, aku sih fine-fine aja dengan kondisi ini.

Ya sudah. Mau gimana lagi? Toh suami sama anakku gak suka kucing, ya gak usah melihara. Beres kan? Lalu ada kejadian yang mengharuskan kami melihara kucing. Awalnya, nggak niat melihara sih. Rumah kami sedang diserang banyak tikus. Mungkin karena rumah kami bekas areal persawahan. Para tetangga juga mengeluhkan rumah mereka yang banyak tikus. Meski makanan dan perkakas sudah kami tutup rapat, tikus masih suka kencing dan pup di mana-mana. Kotoran tikus sangat berbahaya, kan? Sudah coba pasang perangkap, lem, sampai racun. Tetap aja masih pada berdatangan. Lalu ada yang menyarankan : pelihara kucing saja. Meski kucingnya nggak doyan tikus, bau kucing sudah secara alamiah membuat tikus jera.

Nah, gimana dong dengan suami dan putriku? Kalau suamiku, beliau nggak fobia. Cuma gak suka. Cukup diskusi, selesai. Putriku fobia berat. Benar-benar nggak bisa berada di dekat, atau melihat kucing. Apalagi bersentuhan. Pernah dipaksa, ia benar-benar kaku keringatan menangis sejadi-jadinya. Padahal udah gede lho hahahaha.

Akhirnya, aku mencoba menterapinya dengan perlahan. Namanya CBT – cognitive behaviour therapy.

  1. Sisi kognitif. Definisikan ketakutan.

“Apa sih yang membuatmu takut dengan kucing?”

Awalnya, dia menjawab “pokoknya takut aja!”

Kutanya lagi, “Takut sama bentuknya? Tapi kamu nggak takut kelinci.”

Selidik punya selidik, dia emang geli banget sampai bergidik dengan tubuh berbulu kucing.

Lha kalau nggak berbulu seperti kucing Spinx, apa nggak takut? Katanya malah lebih “gilo” lagi! Lah, gimana sih? Oke deh. Aku juga nggak mungkin melihara Spinx. Harganya bo, kwkwkwk. Jadi kusimpulkan ia takut dengan benda berbulu. Kelinci berbulu tapi beda dengan kucing. Bedanya apa? ”Pokoknya beda,“ kata putriku jengkel.

Berarti ia memang memendam ketakutan karena bulu-nya, bukan bentuk, taring, apalagi sikap mengendap-endap kucing yang kayak hantu aja.

  1. Sisi kognitif. Bangun pemahaman baru bahwa kucing nggak sejelek yang dikira.

Karena nggak takut sama bentuk, tapi sama bulu, berarti putriku masih bisa lihat bentuk kucing. Hanya saja nggak bisa megang atau berdekatan. Adik-adiknya senang sekali nge-share meme lucu terkait kucing, juga membagi video lucu kucing yang tersebar di youtube, IG dan line.

Icung di besek.JPG
Icung suka tidur di tempat-tempat tak lazim 🙂

Awalnya putriku nyinyir, ”ïh ngapain sih? Sebel aku, kalian ngirim video kucing. NGGAK BAKAL aku seneng sama kucing.”

Tapi lama-lama suamiku dan putriku ngakak habis kalau liat video kucing yang lucu. Ini sesudah mereka menonton puluhan video kucing. Jadi bukan hanya sekedar belasan, apalagi satu dua video, ya.

Selain itu ada diskusi-diskusi yang kami bangun :

  • Rasulullah dan para sahabat juga suka kucing, artinya kucing itu hewan yang diberkahi.
  • Kucing adalah penghalau alami tikus. Kalau pakai racun, terus tikusnya mati di rumah tetangga, gimana?
  • Sebagai perempuan, harus bisa mengatasi fobia. Siapa tahu suami, atau keluarga suaminya kelak suka kucing. Nggak lucu kan, kalau misalnya mertua suka kucing lalu menantu saking takutnya mengunci diri di kamar.
  • Di Istanbul, Turki, ada masjid yang imam masjidnya suka banget melihara kucing. Indah kan? Harmoni antara manusia dan hewan, kucing-kucing dibiarkan ikut sholat dan ceramah.

Cat at Istambul Mosque

Kucing di salah satu masjid Aziz Mahmud Hudayi di Istanbul, Turki

 

  1. Sisi perilaku. Ajak melihat dulu. Ajak dekat. Ajak sentuh bulu.

Kalau ada kucing lewat ( di komplek perumahanku banyak kucing seliweran. Apalagi kalau emak-emak belanja di tukang belanja, kucing ikutan mejeng minta kepala ikan) , aku bilang ke putriku : tuh, kucing sama kamu, ukuran badannya lebih gede mana?

Putriku cemberut, tapi ia mikir juga.

”Apa semua kucing menyerang kamu? Nggak kan?”

Lama-lama, putriku nggak histeris kalau lihat kucing lewat.

Lambat laun, putriku hanya waspada kalau lihat kucing , ”Asal dia gak dekat-dekat aku!”

Lama-lama dia mau ngasih makan kucing, tapi nggak mau kalau sampai bersentuhan.

Dan akhirnya, sekarang ia sudah bisa memegang kucing, meski belum bisa menggendongnya.

Putriku &amp; Icung, kucing kami
Putriku sudah bersahabat dengan Icung

Alhamdulillah, di rumah kami memelihara seekor kucing. Kucing ini hadiah dari seorang teman. Sepasang suami istri tua akan membuangnya, dan kami menampungnya. Waktu itu usianya baru 3 bulan, kasihan sekali. Sekarang sudah jadi kucing yang gemuk dan cantik. Dihitung-hitung, nyaris setahun kami melakukan CBT pada putri kami agar ia mulai terbiasa dengan hadirnya kucing. Ia nggak harus melihara kucing kalau sudah menikah. Tapi kalau kelak orang-orang terdekatnya suka kucing, minimal ia bisa ikut bersahabat dan tidak bermusuhan dengan kucing.

Kamu gimana?

Sudah bisa ngatasi fobia kucingmu? J

Kategori
Literasi Wakaf Zakat Oase WRITING. SHARING.

Generasi Muda  & Wakaf 4.0

Apa yang ada di benak anda ketika mendengar 4.0?

Bila bertanya pada mahasiswa, maka jawabannya adalah : IPK atau indeks prestasi kumulatif. Tentu, bukan itu yang dimaksud. Istilah 4.0 sering digaungkan di berbagai aspek dunia akademis, birokrasi, perdagangan, industri hingga politik dan kehidupan bernegara. Secara singkat, 4.0 dianggap sebagai sebuah revolusi keempat yang mengubah cara manusia beraktivitas sehari-hari mulai kehidupan pribadi hingga kehidupan sosial. Revolusi 4.0 dipandang sebagai perpanjangan era 3.0, padahal jauh berbeda. Di era 3.0 cara kita melakukan transaksi keuangan hanya menggunakan teller bank dan mesin ATM.  Saat ini, transaksi keuangan dapat dilakukan dengan berbagai cara. Kartu kredit dan kartu debit dikeluarkan semua institusi perbankan. E-wallet sangat banyak jumlahnya. Aplikasi all in one tumbuh subur, dari yang  berbasis layanan kendaraan online hingga aplikasi syariah.

4.0 adalah era dimana Internet of Things (IoT), rekayasa genetika, robot, kendaraan tanpa pengemudi, Artificial Intelligent, Big Data, mesin pintar dan berbagai temuan lain saling terkontak dalam satu waktu. Pengguna dapat memutuskan berbagai hal penting bersamaan, terjadi pemangkasan waktu dan jalur distribusi untuk menyelesaikan berbagai  kebutuhan. Sebagai contoh : orangtua dapat menggunakan layanan online perbankan untuk membayar biaya pendidikan semua anak-anaknya, membayar asuransi, listrik, air, gas, mengisi uang elektronik dan memesan makanan serta membeli lemari hanya dengan duduk! Dulu, untuk menyelesaikan semua itu, orangtua harus datang ke sekolah atau universitas, ke kantor PLN, perusahaan air minum, penjual gas, datang ke restoran dan harus ke toko meubel.

Era 4.0 memang memudahkan banyak hal, tetapi juga harus dicermati sebagai kondisi yang mencerminkan VUCA – volatile, uncertain, complex, ambiguous. Volatile berarti sesuatu dapat berubah cepat dalam skala besar. Uncertain menggambarkan kondisi sekarang yang tidak dapat diramalkan dengan  jelas. Complex bermakna banyak sekali yang harus dipertimbangkan dan diputuskan, sementara ambiguous diterjemahkan sebagai simbol-simbol yang memiliki banyak makna.

Apapun itu, selamat datang masa 4.0. Selamat tinggal era 3.0, apalagi 2.0 bahkan 1.0. Mereka yang tidak mau belajar, akan tergilas. Mereka yang tidak mau berubah akan terhempas.

 

Siapa yang paling dekat dengan 4.0?

Bicara tentang revolusi industri 4.0, berarti membahas sebuah zaman yang diwakili oleh generasinya. Tak ayal lagi, mereka yang dekat dengan era 4.0 adalah generasi muda; baik dari masa generasi Y, Z atau alpha. Senior yang sudah mapan tak boleh mengabaikan fakta ini, sebab 4.0 dekat dengan makna sesuatu dapat berubah dengan sangat cepat dan dalam skala besar – volatile.

Dulu, selebritis dan pengusaha harus meniti tangga dari bawah. Sekarang, mereka dapat potong kompas, tak perlu lagi berurusan dengan pihak-pihak yang memperpanjang jalur pencapaian. Selebritis dapat mempopulerkan diri lebih cepat lewat media sosial seperti youtube dan instagram; pengusaha dapat segera memasarkan produknya lewat  marketplace dan blog. Sebuah kejadian dapat beredar informasinya lewat media sosial dengan cepat; begitupun bala bantuan yang diharapkan. Bencana alam misalnya, dalam sehari bahkan satu jam, orang-orang yang bersimpati akan menggalang dana untuk membantu saudaranya di belahan bumi lain.

Remaja adalah agen perubahan.

Beberapa wilayah yang dulu tak mungkin disentuh anak muda, sekarang justru menjadi dunia anak muda dengan segala dinamikanya. Sebut saja politik dan dunia usaha. Di waktu lampau, dunia ini dipenuhi orang-orang dewasa, bahkan orang berusia paruh baya. Sekarang, politik dunia diwarnai kaum muda seperti Alexandria Ocasio- Cortez, anggota dewan termuda  di Amerika, Mark Zuckerberg pendiri facebook, Sergei Brin dan Larry Page pendiri google. Entitas yang membutuhkan figur untuk dikenal masyarakat luas menggunakan influencer muda sebagai pemantik. Tak ada lagi yang meremehkan kaum muda. Mereka agent of change, sekaligus gelombang kuat untuk menyuarakan perubahan.

Dalam bidang religi pun, generasi muda membuat gebrakan-gebrakan kreatif yang mencengangkan. Mereka membuat komunitas, film, laman berita termasuk konten-konten lucu, kreatif dan menarik di berbagai media sosial. Informasi penting dan berbobot kini dikemas dengan gaya anak muda hingga pesan itu sampai ke masyarakat luas.

Wakaf, adalah salah satu amal terbaik dalam Islam.

Selayaknya setiap jiwa menanamkan sedekah dalam bentuk wakaf, sekecil apapun kontribusi yang dilakukannya. Pahala mengalir hingga yaumil akhir, terciptanya kantong-kantong produktifitas, mereka yang miskin dan terpinggirkan dapat tetap sejahtera menikmati layanan pendidikan dan kesehatan, serta layanan publik yang lain. Melihat pentingnya wakaf bagi pembangunan ummat, selayaknya wakaf digencarkan di berbagai kalangan, bukan hanya di kalangan dewasa dan berpunya, tapi juga dikalangan generasi muda sebagai agent of change. Nature dari generasi ini adalah : mereka suka berbagai informasi baik verbal, visual atau audia kepada khalayak. Ketika mereka sudah menyuarakannya, masyarakat luas akan senang menjadi bagian dari gerakannya. Tetapi, untuk menggandeng kalangan muda, diperlukan trik khusus agar mereka tertarik.

 

Wakaf : dari Anak Muda untuk Anak Muda

Anak muda suka hiburan, itu sudah pasti.

Perlu dipahami, hiburan tidaklah selalu bernilai negatif. Bila hiburan dikemas dengan nilai-nilai religius, ilmu pengetahuan dan ketrampilan; akan sangat bagus bagi perkembangan fisik dan psikis generasi muda. Remaja perlu diberikan wadah untuk berkreasi. Bakat dan minat mereka demikian beragam, mulai kecenderungan untuk beraktivitas kinestetik yang biasanya dilakukan outdoor atau di luar ruangan, hingga aktivitas kontemplasi semacam sains atau seni.

Saat ini, sangat jarang sarana anak muda berupa gedung luas dan gelanggang yang dapat menampung berbagai aktivitas. Menurut Rothwell Miller Interest Blank, minat anak muda terbagi sediktinya ke dalam dua belas kategori , meliputi : outdoor, mekanik, komputasi, klerikal, sains, medis, teknik, personal contact, social service, seni, literatur, practical. Bayangkan bila anak-anak muda ini diberikan wadah untuk berkreasi sesuai bakat minat, kita akan mendapatkan ribuan bahwan jutaan mereka yang ahli di bidang lapangan, olahraga, komputasi, sains, seni, literasi dan seterusnya. Bakat dan minat tidak didapatkan begitu saja, tetapi harus dilatih hingga mencapai level 10.000 jam terbang.

Anak muda membutuhkan wadah dan fasilitas yang dapat menunjang potensinya.

Savant Whiltshire.jpg
Stephen Whiltshire, seniman savant

Kita tidak tahu apakah di antara mereka ada seseorang seperti Magnus Carlsen, grandmaster catur, Daniel Tammet si autistic savant, atau Stephen Whiltshire si pelukis genius. Yang harus diupayakan oleh pemerintah, pendidik, penyandang dana, filantropis adalah bagaimana semua pihak dapat bersinergi untuk menciptakan peradaban yang lebih maju dan bermartabat bagi generasi penerus.

Ketika dunia dikepung hutan beton dan besi-besi, sungguh anak muda memerlukan gelanggang luas tempat mereka dapat berkreasi, berkontemplasi sekaligus mengasah ketrampilan sosial. Gelanggang remaja, yang merupakan gabungan dari berbagai value pendidikan, religiusitas dan kebangsaan; dapat terwujud salah satunya melalui program wakaf.

Bila dirasa pemerintah dan lembaga wakaf konvensional kesulitan mewujudkannya, mengapa tidak gunakan kelompok anak-anak muda untuk membangun sendiri gelanggang yang mereka butuhkan?

gelora utk disabilitas.png
Gelanggang remaja untuk disabilitas

Layanan Wakaf Digital dengan Nominal Terjangkau

Wakaf, selama ini dianggap sebagai sedekah dengan nominal besar. Padahal tidak selalu harus demikian, bukan? Sebuah lembaga zakat lokal di salah satu kabupaten di Jawa Timur melaporkan, lembaga zakat kabupaten mereka memperoleh penghargaan sebagai lembaga dengan performa terbaik. Padahal mereka tidak menghimpun dari muzakki berpenghasilan besar. Ternyata, para pemungut infaq rajin mendatangi masyarakat pinggiran yang terdiri dari nelayan dan petani, memberikan edukasi tentang pentingnya infaq dan mereka mengumpulkan recehan seribuan serta duaribuan. Hasilnya? Luarbiasa. Perolehannya lebih besar dari muzakki kaya yang memberikan infaq dengan nominal-nominal besar.

Generasi muda dapat didekati dengan cara demikian. Edukasi wakaf harus digaungkan.

Program wakaf tidak lagi dalam bentuk nominal ratusan ribu rupiah, tapi dapat diberikan pilihan puluhan ribu, hingga ribuan rupiah saja. Anak-anak muda yang enggan berinfaq tetapi memiliki saldo lumayan di e-wallet mereka, akan tergugah untuk berwakaf duaribu rupiah, setidaknya seminggu sekali di hari Jumat. Sekarang, anak muda gemar berbagi informasi dan semangat di hari-hari tertentu, terutama hari Jumat.

Mengapa tak memanfaatkan semangat ini?

wakaf aplikasi.jpg
Anak muda & aplikasi wakaf

Layanan wakaf digital ini tinggal disatukan dalam berbagai macam aplikasi yang bertebaran, seperti aplikasi kendaraan online atau uang elektronik lainnya. Jangan remehkan sekedar limaratus atau seribu rupiah. Bila dikalikan dengan ribuan jiwa muda, hasilnya luarbiasa!

 

Portofolio Penerima Wakaf

Anak muda selalu punya rasa ingin tahu besar!

Ke mana disalurkan? Seperti apa proyek wakaf yang didanai? Apakah dana tersalurkan menjadi masjid, rumahsakit, sekolah, klinik, ataukan gelanggang remaja? Portofolio wakaf ini sangat penting untuk menggungah curiousity, kebanggaan dan kepercayaan.

Umumnya, pewakaf akan semakin bersemangat memberikan dana ketika mengetahui, seberapa jauh bentuk fisik alokasi dana wakaf. Sejauh mana telah menjadi pondasi, telah berdiri dinding, telah diberikan furnitur, dan seterusnya.

Dalam layanan digital, baik aplikasi yang diunduh atau memanfaatkan instagram misalnya, perkembangan bentuk fisik alokasi dana wakaf dapat ditampilkan. Pewakaf akan senang sekali melihat tahap demi tahap, apalagi bila informasi disajikan secara detil. Bahkan diberikan link youtubenya!

Wakaf yang telah dikelola pemerintah, secara data telah mencukupi. Tetapi tentu, harus lebih gencar lagi penyebaran informasi wakaf dan edukasi wakaf nya. Situs dapat dikembangkan, ditambahkan link-link menarik seperti liputan para blogger, youtuber dan influencer. Agar, yang berbicara ke tengah masyarakat luas bukan hanya sekedar simbol angka dan huruf tetapi gambar-gambar visual cerita cerita yang lebih dinamis.

Misal, data wakaf di Jawa Timur untuk wilayah Surabaya. Tercatat di daerah Wonokromo saja mencapai angka tujuh belas. Wonokromo adalah sebuah wilayah kecil, mendapatkan wakaf sejumlah tujuh belas tentu luarbiasa. Tetapi seperti apakah perkembangan wakaf yang terakhir? Kapankah diupdate? Seperti apakah sekolah yang berjalan dan klinik yang dioperasikan? Apakah cukup hanya berdiri bangunan fisik berbentuk masjidnya saja, tetapi bangunan itu sepi dari jamaah, bahkan tak ada takmir dan nihil kegiatan? Tentu sangat disayangkan.

Harapan kita semua, wakaf bukanlah benda mati, tetapi sebuah sinergi antara bangunan fisik yang membisu dengan aktivtias manusia-manusianya yang lincah dan selalu kreatif menembus kendala.

tanah-wakaf-berwujud-masjid-_131230140629-500.jpg
Wakaf masjid

Kita berharap, anak-anak mudalah yang akan menyalurkan energi dahsyat mereka, untuk mengelola berbagai wakaf yang tesedia. Bila, wakaf itu tidak hanya bagi aktivitas yang mainstream tetapi justru diperuntukkan bagi aktivitas–aktivitas extraordinary : gelanggang olahraga panahan, gulat, berkuda; gelanggang seni tari saman, remo atau tari piring; gelanggang skateboard dan longboard, gelanggang musik, gelanggan seni visual modern macam manga dan anime; dapatkah anda bayangkan?

Anak-anak muda Indonesia akan memiliki sebuah gelanggan remaja bernafaskan religius.

Mereka yang terpinggirkan karena masalah ekonomi, masalah kelaurga, masalah disabilitas, atau masalah lingkungan; akan memiliki tempat untuk dituju.

Wakaf, sejatinya diperuntukan bagi generansi penerus, sehingga harus dipikirkan fasilitas apa saja yang dibutuhkan generasi muda. Wakaf  bukan sekedar prasasti orang terdahulu yang sukses secara finansial sehingga peruntukannya tak mau bergeser dari bangunan masjid dan sekolah.

Sudah waktunya kita mengajak generasi muda, menciptakan arena untuk mereka, dan membantu menumbuhkan  potensi bakat minat yang  luarbiasa!

 

 

Referensi :

Hooper, Rowan. 2018. Superhuman : Life at the Extremes of Our Capacity. New York : Simon and Schuster

Baenanda, Listhari. 2019. Mengenal Lebih Jauh Revolusi Industri 4.0. Diunduh dari  https://binus.ac.id/knowledge/2019/05/mengenal-lebih-jauh-revolusi-industri-4-0/ pada 20/10/2019

Gladwell, Malcolm. 2018. Outlier. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama

Kategori
KOREA Oase Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Remaja. Teenager WRITING. SHARING.

Antara Sulli f(x) dan Hatsune Miku

 

 

Baru beberapa pekan yang lalu saya merenungi sebuah channel video Youtube tentang Hatsune Miku. Saya bolak balik menonton Is Hatsune Miku a Better Pop Star than Justin Bieber? Dalam video tersebut, Chris Plante menceritakan bahkan interaksi seorang bintang dengan para fansnya bisa sangat positif, bisa sangat negatif. Plante mengisahkan tentang Bieber, seorang bintang muda yang manis dan memiliki jutaan penggemar. Tetapi dunia entertainment melibas masa mudanya, melihatnya sebagai tambang uang dan para pemuja Bieber tidak memberikan celah bagi Bieber untuk berbuat ‘salah’. Akibatnya, Bieber yang kita kenal sekarang berbeda dengan Bieber yang mempopulerkan lagu Baby.

Hatsune_Miku.png
Hatsune Miku

Kita tentu menunggu-nunggu berbagai moment para selebritis dunia menampikan sisi terbaiknya, misal di karpet merah Oscar. Mereka yang berpenampilan bagus mendapatkan pujian, yang berpenampilan tak menarik mendapat banyak hujatan. Padahal belum tentu yang berpenampilan tak menarik itu sengaja tak memilih style, hanya saja ia berseberangan dengan orang kebanyakan. Hujat menghujat sudah lazim dilakukan netizen. Dengan bahasa sopan, hingga bahasa sangat menyakitkan.

Konsumen sekarang bukan hanya melahap lagu dan film para artis. Semua kehidupan pribadinya, juga dikonsumsi habis-habisan. Kemana dia belanja, kemana dia menyekolahkan anak, menghabiskan liburan di mana, sampai ke area paling pribadi : kenapa dia pacaran dengan si X, kenapa dia menikah dengan si A, kenapa dia memutus kontrak, kenapa dia keluar dari agensi?

Padahal bisa jadi masalahnya sangat pribadi.

Misal, seorang bintang merasa kelelahan –lahir batin- ketika harus menggelar konser. Tak heran banyak mereka yang terkena substantial abuse , mengingat dalam kondisi lelah dan sedih pun mereka harus tampil ceria di publik. Kita, orang biasa, enak aja. Kapan mau marah, kapan mau nangis, kapan mau cemberut. Emang ada yang peduli? Paling yang protes cuma pasangan dan anak-anak. Para bintang itu boleh jadi punya alasan sangat pribadi tentang dunia yang dipilih atau ditinggalkannya, alasan yang tidak bisa diungkap ke publik. Siapa yang tahu apa yang sebenarnya terjadi pada pernikahan Song Jong Ki dan Song Hye Kyo?

Saya masih ingat, bintang favorit saya di film X-File , Gillian Anderson, pernah tertangkap paparazzi tidak mencukur bulu ketiaknya. Ya, namanya dia lagi belanja dan  liburan. Bukan main sadis para jurnalis dan pengkritiknya. Sebagaimana Aishwarya Rai ketika menjadi gendut sehabis melahirkan. Perempuan yang pernah meraih  predikat tubuh terindah ini langsung dihabisi netizen. Untungnya, banyak warga India yang membelanya dan mengatakan : di kultur kami, sangat biasa seorang ibu menjadi gemuk. Maka saya nggak heran, melihat betapa stressnya para bintang pasca melahirkan, bahkan ia baru sehari dua hari melahirkan sudah harus menggenjot sepeda statis agar perutnya cepat langsing. Bukankah itu yang membuat Brooke Shield juga mengalami post partum depression? Sepanjang ia hamil yang melelahkan hingga punya anak, tak henti-hentinya dunia luar ingin tahu seperti apa beritanya.

Desember 2017, saya menuliskan tentang kematian Jong Hyun , salah seorang personel Shinee. Setiap kali menulis di blog tentang Korea, kisah tentang dirinya kerap ter-link begitu saja. Sedih itu masih terasa. Apalagi saat itu tak beda jauh dengan kematian Chester Bennington.  Secara pribadi saya tak mengikuti instagram atau twitter dari Bennington, Jong Hyun atau Sulli. Tapi sebagai seorang psikolog yang sering mendengar keluhan anak muda tentang kerasnya dunia media sosia, dapat kita bayangkan apa yang dihadapi para artis dunia. Terutama, artis muda macam Sulli. Fisiknya, perilakunya, pilihan bajunya, pilihan pasangan cintanya, karirnya, semuanya ada di bawah pengawasan netizen. Label manajemen sendiri sudah merupakan tekanan luarbiasa, apalagi ditambah tekanan dari berbagai pihak.

Sulli Young.jpg
Sulli Young : demikian cantik dan lucunya :”(

Kejadian Sulli, semoga yang terakhir kali terjadi. Seorang gadis muda yang masih mempunyai jalan panjang kehidupan, hancur berkeping tanpa ia tahu ke mana harus mengadu. Ia baru 25 tahun, kehidupan yang panjang terhampar di hadapannya. Apalagi Sulli memiliki banyak fans (dan juga haters, tentunya), tentu pilihan Sulli tentang apapun termasuk pilihan mengakhiri hidup akan menjadi sebuah berita yang sangat rentan untuk dikonsumsi.

Apa yang bisa dilakukan sebagai netizen dan warga dunia seperti kita?

  1. Kalau kita fans seseorang, gunakan selalu kata-kata bijak untuk mendukungnya. Katakan semangat, pantang menyerah, kamu luarbiasa, kamu inspiratif dan seterusnya.
  2. Kalau kita bukan fansnya, tak usah kepo dengan IG atau twitternya. Saya nggak ngefans si X dan Y, gak perlu follow atau stalking. Jadi gak perlu terlalu sering melihat postingan mereka. Kenapa? Karena nanti saya akan terbakar untuk ikut julid, menghakimi. Mending saya follow akun Sacha yang sering mengkoreksi englishnya para Seleb.
  3. Kalau kita tergabung dalam sebuah komunitas seperti ARMY fans BTS, Carat fans Seventeen, EXO-L fans EXO, Blink fans Blackpink, Reveluv fans Red Velvet atau apapun itu; mari lakukan gerakan-gerakan yang menghimbau pada kepedulian terhadap sesama. Misal, 10 Oktober tempo hari diperingati sebagai World Mental Health Day atau Hari Kesehatan Mental Sedunia. Tema tahun ini sangat spesifik : Suicide Prevention. Sedih sekali, bahwa Sulli justru harus menjadi salah satu korban suicide yang sedang kita perangi.
  4. Interaksi kita dengan dunia maya memiliki dinding setipis udara. Tak terlihat, tapi besar pengaruhnya. Rasanya ringan saja membully orang, lalu meninggalkannya dalam keresahan, gegara kita toh tak akan pernah bertemu fisik dengannya. Padahal, di semesta ini terjadi hukum law of attraction : setiap yang kita lakukan, ibarat pendulum, akan balik mengenai kita lagi. Jejak yang kita tinggalkan di IG, twitter, youtube channel siapapun semoga menjadi jejak baik yang suatu saat akan kembali ke kita lagi.

 

Yah, kembali ke pemaparan Chris Plante.

Kelak, mungkin saja kita harus mengganti semua artis dunia dengan sosok Hatsune Miku. Hatsune Miku popular dengan lagu Ievan Pollka, lagu yang sering diputar di sekolah dan acara pelatihan sembari melakukan senam Pinguin. Tahu kan siapa dia? Bukan manusia, bukan makhluk hidup, bukan boneka, juga bukan robot. Ia ‘hanya’ aplikasi sehingga tak merasakan sedih, susah, tersinggung, apalagi depresi. Miku punya jutaan fans. Lagunya digemari. Sosoknya dinanti. Konsernya buat orang antri. Para gadis membuat duplikasi. Walau ada yang pro kontra dengan Hatsune Miku, no problem. Ia tak punyarasa, tak punya raga, tak punya nyawa. Pendek kata, tak punya kehidupan. Maka Miku juga tak punya  masalah.

Kita prihatin dengan kehidupan para pesohor yang dipuja tapi juga rentan oleh berbagai masalah. Mereka juga manusia seperti kita. Mereka juga punya orangtua dan saudara seperti kita. Terlebih lagi, sebagai manusia kita saling terhubung satu sama lain. Boleh jadi Sulli sama sekali tidak masuk dalam lingkaran perhatian kita, tetapi bagaimana dengan anak-anak dan murid-murid di luar sana?

 

Sulli f(x).jpg
Sulli f(x) yang cantik dan begitu muda

 

 

Tidak dipungkiri, salah satu yang membuat Sulli merasa demikian berat adalah serangan para haters di media sosial. Setiap label manajemen, manajemen artis di manapun, baik di Korea dan Indonesia harus punya konselor atau psikolog khusus yang rutin mendampingi dari waktu demi waktu demi membangun mental sehat. Terlebih dalam situasi krisis seperti pemasaran yang anjlok, pembubaran grup, kesulitan karir, tak kunjung debut atau ada konflik internal, termasuk timbulnya permasalahan keuangan, keluarga dan permasalahan cinta. Persoalan di atas lazim terjadi pada banyak kasus, terlebih bagi artis. Perlu ada manajemen psikologis bagaimana mengelola interaksi dengan media sosial termasuk interaksi dengan para fans dan haters agar dapat dibangun lebih produktif.

Pada akhirnya, kita sendiri harus dapat membangun dunia yang sehat dengan media sosial. Fans dan haters kita boleh jadi tak sebanyak Sulli. Tapi bisa jadi kehidupan keseharian kita sudah sama satu dengan yang lainnya : tidak ada lagi dinding tebal di rumah, semua dapat menembus masuk dan keluar lewat media sosial. Apa yang realistic dan un-realistic sudah kabur, tak ada batasnya sama sekali. Bahkan, konon kabarnya, otak saat ini sudah tak dapat membedakan mana yang fiksi dan mana yang nonfiksi, saking banyaknya terperangkap dalam dunia maya yang merebut sebagian besar dunia nyata kita. Ketika dunia maya terasa lebih dominan, maka apa yang nyata terasa tak ada artinya. Hujatan fans di medsos sejumlah ribuan bisa membebani pikiran (padahal belum tentu orangnya sebanyak itu, karena bisa jadi memakai akun palsu), sementara dunia nyata yang menghadirkan seorang teman, sepasang orangtua yang senantiasa mencintai, seorang kakak atau adik yang menemani,  serasa tak ada arti.

Dunia maya, seperti namanya, maya. Ia tak nyata. Ghaib. Tak dapat diraba.

Yang nyata, tampak, teraba dan terasa jauh lebih berharga. Seperti kehidupan kita. Seperti keluarga dan teman-teman nyata. Jumlahnya tak banyak. Teman nyata kita mungkin cuma 5, sementara teman FB atau IG ada 5000. Tetapi yang 5 itu lebih nyata dibanding 5000. Penting bagi manusia untuk membangun relasi dengan teman nyata lebih sering, daripada dengan teman maya.

Sulli yang cantik, semoga kisahmu menjadi pelajaran bagi banyak orang.

 

 

 

Kategori
Cinta & Love Oase Pernikahan Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Suami Istri WRITING. SHARING.

Salah Paham dengan Pasangan ( bag. 1)

Pernah nggak sih menangkap pesan yang berbeda dari apa yang dilontarkan suami/istri?

“Adek di rumah ngapain?”

Itu pertanyaan singkat suami ketika sore pulang ke rumah.

Pertanyaan yang membuat airmata meloncat dan menjawab panjang lebar :

marriage-relationships-couple-marriages-married_couple-miscommunication-spelling_error-bwhn1956_low.jpg
Marriage error-relationship

“Aku tuh belum sempat seharian istirahat sama sekali! Cucian baju masih numpuk-numpuk karena beberapa hari banyak acara. Setrikaan gak ada yang urus. Mau ke laundry gak sempat. Belum lagi cucian piring! Kenapa nggak masak? Itu rice cooker bahkan masih direndam! Coba deh, Mas kalau akhir pekan sekali-kali di rumah. Ngerasain apa yang aku rasakan. Jangan main bola, keluar sama teman-teman. Nanti akan merasakan beratnya ngerjakan semua pekerjaan rumah. Enak kalau ke kantor, masih sempat duduk , buka facebook, minum kopi!”

Suami melongo, mencoba sabar. Meski jengkel keluar juga pertanyaan, “kan aku tadi cuma nanya : adek di rumah ngapain? Lha kok…?!”

Setelah mengusap airmata, menarik nafas panjang, menenangkan diri.

Barulah pikiran perempuan bekerja.

Lha iya, sih. Tadi suami kan cuma nanya : di rumah ngapain?

 

Indera dan Persepsi

Panca indera itu pintu masuknya persepsi alias pemikiran, pertimbangan, kesimpulan, sudut pandang, cara pandang. Informasi yang masuk lewat indera akan diolah otak dulu. Kalau otak perempuan lagi capek, ya gitu deh.

Pertanyaan suami : “Adek di rumah lagi ngapain?”

Kedengarannya  : ”adek di rumah ngapain aja sih? Kok seharian urusan ruang tamu sampai dapur gak beres-beres. Di kantorku ada banyak perempuan bekerja yang sambil ngasuh anak, urus suami juga. Mereka bisa tuh bagi waktu. Adek seharian di rumah tapi nggak ada makanan, cucian piring dan baju numpuk nggak karuan.”

Padahal belum tentu ini yang ada di pikiran suami!

Begitupun, suami bisa melakukan kesalahan yang sama.

Ketika istri nanya, “Mas, pegang HPnya masih lama?”

Karena pikiran suami lagi jutek, eneg, empet dengan banyak agenda; jawaban yang keluar adalah : “Aku tuh lagi rapat online, Dek. Aku nggak pernah ganggu lho kalau kamu pegang HP. Aku ngertiin kamu lho kalau kamu lagi buka medsos! Lagian aku nggak sering-sering kayak gini. Lebih seringan kamu!”

conversation false.png
False communication

Nah!

Istri pun senewen.

Nanya 1 kalimat. Jawabannya 5 kalimat! Kalimat negatif lagi.

Kalau soal matematika kayak penjumlahan, perkalian, pangkat , eksponen!

Padahal kalau situasi adem, atau orang luar yang kayak lihat sinetron ini paling-paling bilang : harusnya dijawab gini yaaa, Bapak Ibu Terhormat .

+ Suami : “Adek, di rumah ngapain?”

~ Istri : “Seharian tidur. Aku capek banget beberapa hari ini. Beli makan di luar aja ya. Rasanya badanku udah mulai meriang, panas dingin , mau sakit.”

+Suami (jatuh iba) : “Ya ampun…kamu kasihan banget. Udah kubelikan, mau makan apa?”

Itu bayangan penonton!

Atau seharusnya demikian…

~ Istri : “Mas, pegang HPnya masih lama?”

+Suami : “Bentar lagi. 2 menit lagi. Habis itu kutaruh. Aku juga kangen kamu.”

Jiaaah.

#gombal

 

Tapi begitulah hidup.

Mau tahu gimana mengatasi kendala komunikasi.

couple misunderstanding.jpg
Misunderstanding

Pertama

Penonton selalu lebih pintar dari pemain.

Menilai suami istri yang lagi bertikai lebih mudah, daripada kita menjalani pertengkaran itu sendiri. Ih, harusnya si istri sabar sedikit, kek. Atau : dasar lelaki! Maunya menang sendiri.

Demikianlah yang namanya komunikasi. Pasti ada salah-salahnya. Pasti ada buntu-buntunya. Pasti ada sumbatan-sumbatannya. Dan yang paling bisa melihat korelasi itu semua biasanya penonton. Penonton bisa jadi orangtua, kakak adik, teman, konselor dan seterusnya.

Kenapa penonton lebih  pintar?

Karena melihat gambaran utuh.

Kalau dengar suami istri bertengkar, kita seperti melihat televisi. Tayangan slide maju mundur. Dan kita bisa menilai : Naah, ini ini bagian kalimat yang buat suami tersinggung. Ini bagian gesture suami yang buat istri marah.

Tapi pemain, pelakon? Belum tentu.

Karena dia tidak mendapatkan gambaran utuh informasi.

Makanya jawabannya pun tidak tepat. Nilainya separo/ gak komplit/ malah negatif, alias jawaban yang cacat.

 

Suami : “Adek di rumah ngapain?”

Si istri hanya melihat sekilas bayangan suami yang keningnya berkernyit, dahinya berkerut, wajahnya penuh tanya. Seolah suami mempertanyakan keseluruhan aktivitasnya. Padahal suaminya barangkali sedang menumpahkan perhatian : ngapain aja Say seharian di rumah? Aku ingin tahu aktivitasmu lho selama kutinggal dari pagi sampai sore.

Begitu juga istri ketika bertanya HP.

“Mas, masih lama pegang HP?”

Wajah istri yang bertanya-tanya ingin tahu seolah interview, interpretasi, lebih parah interogasi! Padahal bisa aja sebetulnya –andai dijabarkan- si istri akan menambahkan : “Kalau masih lama ku tinggal dulu aja. Aku ngurusi setrikaan bentar. Nanti kalau udah gak pegang HP, barulah kutemani makan sembari ngobrol-ngobrol.”

 

#senikomunikasi

#pasangan

#suamiistri

Kategori
Oase Renungan Hidup dan Kematian Tokoh WRITING. SHARING.

Beberapa Nasehat Terbaik B.J. Habibie

 

 

 

انا لله وانا اليه راجعون

Telah pergi salah satu putra terbaik bangsa Indonesia, bapak Bacharuddin Jusuf  Habibie.

Mantan Presiden  Ri , Habibie wafat.png

Airmata rasanya mengalir begitu saja, terisak tanpa dapat ditahan. Meski  aku dan sebagian besar kita belum pernah bertemu langsung, tapi banyak hal yang bisa kita pelajari. Malam ini, kuambil dari rak buku salah satu buku favoritku : Total Habibie, karya A. Makmur Makka dari penerbit Edelweiss. Ada banyak hal yang dapat diambil dari buku ini. Romantisme suami istri, perjuangan sebuah keluarga, hingga visi misi sebagai bapak bangsa.

BJ Habibie, cover buku
Total Habibie : penerbit Edelweiss

Tidak mudah menjadi kepala negara bagi 200 juta orang dengan suku bangsa sejumlah 800an. Kebiasaan, adat istiadat, cara berpikir, cara berbahasa dan banyak lagi; sangat berbeda. Tetapi BJ Habibie memiliki terobosan-terobosan spektakuler. Beliau selalu mendorong anak bangsa untuk bermimpi dan bercita-cita besar. Fokus bangsa pada pencapaian, prestasi, keberhasilan sehingga kepala  kita dipenuhi keinginan untuk bagaimana meraih prestasi setinggi-tingginya.

Otaknya Jerman, hatinya Mekkah. Itu nasehat singkat beliau yang sangat mengena bagi anak muda dan generasi penerus. Pintar saja tak cukup kalau moralnya busuk. Sebaliknya, moral luhur tanpa bekal kecerdasan juga tak akan mampu bersaing di era global

Ada beberapa gagasan dan pendapat beliau yang patut dicontoh dan semoga terwujud segera :

  1. Gandakan diri jadi 1000, jika engkau merasa sukses.

BJ Habibie & 1000.jpg

Sebagaimana Habibie bertekad menggandakan dirinya minimal menjadi 1000 orang. Ia selalu mendorong anak bangsa untuk berprestasi tinggi. Dalam buku Total Habibie, beliau mengambil contoh orang Jepang yang suka berteriak banzaaaiii untuk menyemangati rekan kerjanya yang sukses. Indonesia, memiliki ciri iri hati dan dengki yang harus dihilangkan. Ketika melihat orang lain sukses, harusnya memberi semangat agar ia naik lebih tinggi lagi. Ketika kita sendiri sukses, harus mampu menggandakan menjadi 1000 orang dan jangan bangga menjadi pintar & kaya sendirian.

 

 

  1. Jadilah anak bangsa yang memiliki produk andalan dan unggulan.

Andalan & unggulan.jpg

Apa beda andalan dan unggulan? Banyak orang memiliki produk andalan, tapi bukan unggulan. Produk andalan itu bagus dijual, tetapi bukan satu-satunya produk di pasaran. Alangkah baiknya bila sebuah produk itu andalan dan unggulan. Misal, Indonesia memproduksi N250 Gatotkaca IPTN. Itu adalah produk andalan sekaligus unggulan. Dari 180 negara hanya 15 negara yang bisa membuat pesawat, salah satunya Indonesia.

 

 

 

 

 

  1. Ilmuwan harus mengubah teori.

Saya memahaminya begini :

Sebuah teori, terutama konsep sosial, terbangun oleh situasi. Misal “orang miskin tidak dapat mencapai tingkatan tinggi karena tak punya uang untuk sekolah.” Seorang ilmuwan harus mampu mengubah teori itu. Orang miskin tidak dapat mencapai tingkatan tinggi jika tidak punya kemauan belajar. Orang  kaya tidak dapat mencapai tingkatan tinggi jika tidak punya kemauan belajar.

Jadi seorang ilmuwan jangan hanya taat pada teori tetapi harus mampu menciptakan teori baru atau bahkan mengubah paradigm teori yang implementasinya merugikan.

  1. Jangan memiliki mental kasir.

Kasir adalah orang yang senang menerima uang.

Membangun sebuah bangsa yang besar, tolok ukurnya memang tidak memiliki kekayaan material dalam jangka waktu dekat. Tetapi SDM harus dibangun dengan biaya sangat mahal. Negara kita sangat paradox : kaya tapi miskin, indah tapi jelek.

  1. Setiap kita , baik individu dan bangsa, harus berupaya mandiri.

Sebuah bangsa, jangan hanya mau tunduk pada kepentingan asing. Begitupun setiap individu, harus be;ajar mandiri dalam segala aspek agar memiliki kedaulatan pribadi dan kemampuan untuk berkembang optimal.

  1. Masih banyak lagi pidato dan nasehat-nasehat beliau yang sangat berharga untuk disimak.

Kemesraan ibu Ainun dan pak Habibie yang sangat lekat di benak dan hati bangsa Indonesia. Love both of you. May Allah grant with jannah.

 

Ah, kenapa hatiku sedih sekali?

Rasanya seperti merasa kosong dan hampa.

Aku ingat caranya berbicara yang meledak-ledak, sangat antusias dengan mata yang berbinar. Ingat keshalihan dirinya sebagai kepala negara. Ingat betapa setia dan mesranya pada bu Ainun Habibie.

Semoga Allah mengabulkan cita-cita pak Habibie : gandakan bagi bangsa ini 1000 orang, 100.000 orang, sebanyak mungkin yang Engkau Ridhoi seperti Habibie, ya Allah.

 

(Cuplikan-cuplikan  halaman berasal dari buku Total Habibie, karya A. Makmur Makka, penerbit Edelweiss, Depok – 2013)

 

Kategori
Hikmah Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Suami Istri WRITING. SHARING.

Cocokkah Orang Pintar Mendapat  Pasangan yang (Kurang) Pintar?

Anna (samaran),  terdorong rasa ingin tahu,  menjelang  menikah iseng mengajak calon suaminya mengikuti tes inteligensi. Hasilnya mengejutkan : calon suaminya memiliki skor IQ jauh di bawahnya. Mungkin penyebab yang terlalu mengada-ada, tetapi Anna benar-benar membatalkan pernikahan dencan calon suaminya.

Ia seketika gelisah dan terintimidasi, saat tahu kalau calon suaminya kurang pintar. Yah, begitulah kira-kira. Bagaimana nanti di tengah perjalanan? Bagaimana kalau suaminya lemot, dan Anna yang harus mengambil posisi memimpin untuk memutuskan perkara-perkara penting? Benar nggak sih, kalau orang pintar seharusnya nikah dengan orang yang sama pintarnya?

Dengan kata lain, kalau si cowok nilai raportnya rata-rata 9, berarti si cewek setidaknya punya nilai rata-rata yagn sama. Yah, 8 lah nilai reratanya. Kalau 6-7 masih kurang. Apalagi kalau di bawah 5! Begitupun sebaliknya. Kalau cewek selalu dapat nilai A atau A/B, dapat beasiswa ini itu, brillian di kampus dan organisasi; setidaknya dapat cowok yang sepadan juga, kan?

einstein and maric.jpg
Einstein & Maric

Albert Einstein & Mileva Maric

Hampir semua orang tahu Einstein dengan E = mc2 yang sering diplesetkan energy = makan cemal cemil, hehe. Di balik kesuksesan seorang pria, ada perempuan yang mendukungnya dari belakang : ibu dan istri. Ibu Einstein luarbiasa hebatnya, tentu tak terbantahkan. Masalahnya : apakah istri Einstein secerdas dirinya?

Jawabannya, ya.

Mileva Maric memiliki kegeniusan yang sama dengan Einstein. Bahkan surat cinta mereka ditulis dengan bahasa-bahasa kimia-fisika yang orang awam tak akan mengerti.

Awalnya, Einstein menjalin cinta dengan Marie Winteler yang cantik dan manja. Tetapi, lambat laun ia menjadi bosan karena surat menyurat mereka hanya berisi hal-hal melankolis dramatis. Einstein jatuh cinta pada seorang gadis pintar, dengan tubuh pincang, wajah tak terlalu cantik namun memiliki pesona. Mau tahu isi surat Mileva Maric kepada Einstein yang membius?

 

“Kuliah Profesor Lenard kemarin betul-betul bagus. Ia membahas teori kinetic panas dan gas. Ternyata, molekul oksigen bergerak dengan kecepatan lebih dari 400 meter per detik lalu professor yang baik itu menghitung dan menghitung… dan akhirnya keluar hasil walaupun molekul memang bergerak dengan kecepatan tersebut, tetapi ia hanya bergerak sejauh 1/100 lebar rambut.”

Surat menyurat keduanya bukan hanya membahas permasalahan pribadi tetapi juga penemuan ilmiah. Ya, mereka akhirnya menikah dan dikaruniai 2 orang anak : Hans Albert dan Eduard.Bahagia selamanya? Ternyata, cerita  tidaklah berakhir bahagia.

 

 

Permasalahan Si Orang Pintar

Einstein sangat cerdas dan, memiliki karisma alpha male yang luarbiasa. Wajahnya juga amat tampan dengan pesona yang mampu menaklukan hati para gadis. Mileva Maric sebaliknya. Tetapi bukan masalah penampilan yang menjadi sebab keretakan keduanya. Ketika karir Einstein melesat sementara Maric disibukkan dengan dua bocah lelaki; Maric mulai berontak. Bukankah mereka sama-sama bintang di Politeknik Zurich? Bukankah mereka sama-sama peneliti sains yang ambisius pada pencapaian?

Seenaknya, tak cukup memiliki sopan santun, punya konflik dengan rekan peneliti, menggila ketika kerja, tak mudah diatur; adalah jejak yang sama-sama dimiliki Einstein dan Maric. Pasangan seperti ini tampak sangat mencintai dan kompak pada awalnya, di satu titik, ternyata mereka tak dapat saling melengkapi.

Einstein berpisah pada akhirnya dengan Maric. Ia mencintai Mileva tetapi juga sangat kejam padanya. Kadang, kecerdasan seseorang sering berbanding terbalik dengan sifat empati. Maka tak heran, orang cerdas seringkali digambarkan tak punya hati, karena ia lebih sibuk berbicara dengan apa yang lalu lalang di benak.

Einstein punya catatan perjanjian dengan sang istri :

  1. Kamu akan memastikan pakaianku dicuci dan dibereskan.
  2. Kamu akan memastikan bahwa aku makan 3x teratur di kamar tidurku
  3. Kamu akan memastikan bahwa kamar tidur & kamar kerjaku selalu dirapikan, meja kerja hanya boleh digunakan olehku,

Setidaknya ada 9 poin yang diajukan Einstein kepada istrinya! Bahkan, si ilmuwan menekankan si istri tak boleh meminta keintiman atau hal-hal mesra lainnya.

 

 

kasturba & gandhi.jpg
Kasturba & Gandhi

Mahathma Gandhi & Kasturba

Kasturba adalah seorang perempuan sederhana. Perempuan rumahan yang tak pernah memiliki karir di luar rumah. Ia pandai memasak dan menenun. Sekilas, sosok sepertinya tak cukup pantas bagi lelaki yang sukses berprofesi sebagai pengacara di afrika Selatan : Gandhi. Sama seperti Einstein, Gandhi sangat cerdas dan memiliki karisma alpha male : ia tampan dan memikat.

Berbeda dengan Mileva Maric yang tak mampu mengimbangi langkah Einstein, Kasturba justru sebaliknya.Ialah pendukung Satyagraha & Ahimsa yang dicanangkan Gandhi.

Ketika Gandhi mewacanakan menenun kain sendiri, Kasturba yang pertama kali mengikutinya. Ketika Gandhi meminta Kasturba meninggalkan sendok garpu dan mengosek kamar mandi sendiri –sesuatu yang bertentangan dengan kasta mereka- Kasturba menurut patuh.

Kasturba memang tak memiliki kapasitas seperti Mileva Maric yang sangat cerdas dan mampu mengimbangi segala pemikiran intelektual suaminya. Kasturba mungkin tak mengerti mengapa sang suami meninggalkan kehidupan mapan dan memilih berjuang di India.

Satu yang dilakukan Kasturba : patuh.

Ledakan pemikiran, kekuatan semangat, kekeraskepalaan, sikap tak mau tunduk yang umumnya ada di perilaku orang-orang pintar; ternyata dapat diimbangi oleh Kasturba yang sederhana. Boleh jadi ia bukan perempuan brillian, tetapi jelas ia perempuan yang tepat.

 

IQ = Kematangan Kepribadian?

Siapa sih yang tidak ingin punya suami pintar? Siapa yang tidak bangga punya istri cerdas?

Setiap individu rasanya ingin punya pasangan yang dapat dibanggakan kepada orangtua, khalayak, teman-teman. Terkadang, keinginan itu menjadi sesuatu yang sifatnya lahiriah belaka tanpa melihat makna. Yang penting punya suami lulusan S2, dari universitas ternama. Yang penting punya istri dokter atau dosen. Keinginan itu tidaklah salah tetapi harus siap pula konsekuensinya.

Punya suami/istri super pintar akan menghadapi kendala seperti Maric/ Einstein. Orang pintar cenderung tak dapat dibantah dan suka seenaknya sendiri. Mereka kadang juga asosial, tak banyak punya teman, lebih suka bergulat dengan kecamuk pikiran sendiri. Pasangan hidup harus pandai-pandai menjelaskan ke keluarga. Einstein, selalu beperang dengan ayah ibunya ketika menjelaskan sikap Maric yang seringkali tidak manis kepada keluarga besarnya.

Bukan berarti bahwa orang pintar dilarang menikah dengan orang yang juga pintar, lho!

Ada kok dokter spesialis yang berjodoh dengan dokter spesialis, professor dengan professor, politikus dengan politikus, pengusaha dengan pengusaha. Tapi tidak semuanya demikian.

High IQ.png
High IQ

Sikap Anna di awal cerita tidaklah tepat. Memangnya orang IQ 130 harus menikah dengan yang IQ nya 130? Bisa-bisa nggak ada yang mau jadi makmum dan rakyat dalam rumah tangga kalau begitu!

Seorang yang super aktif di kampus dan peraih banyak beasiswa, tak harus mencari orang yang memiliki riwayat hidup sama. Boleh jadi, seorang lelaki yang sangat brilian di akademis, justru cocok dengan gadis yang biasa-biasa pencapaiannya tetapi memiliki sifat rendah hati, mengalah, sederhana dan tidak terlalu menonjol dalam akademis.

Begitupun sebaliknya.

Seorang gadis yang sangat berprestasi tidak harus menikah dengan lelaki yang memiliki segudang penghargaan dan medali. Mungkin, ia justru harus menikah dengan seorang lelaki sederhana yang akan menge-rem segala ambisinya.

IQ tidak segaris lurus dengan kematangan kepribadian. Terkadang, orang berIQ tinggi justru memiliki kemanjaan luarbiasa sehingga pasangannya harus ngemong sepanjang masa! Boleh jadi, yang memiliki IQ hanya rata-rata saja ternyata memiliki pribadi dewasa dan matang. Ia memang agak lambat memutuskan karena harus berpikir dua tiga kali sebelum memutuskan, karirnya pun tak bagus-bagus amat; tetapi ia adalah pendamping setia yang penuh cinta.

Nah, pasangan mana pilihan anda?

Tokoh tenar dengan IQ tinggi (kiri-kanan) :

 Habibie 200, Matt Damon 160, Rap Mon BTS 148, Natalie Portman 140

 

 

 

Kategori
Oase Pernikahan Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Remaja. Teenager Suami Istri WRITING. SHARING.

Pernikahan Seharga Kaos Kaki

 

Pernah beli baju lebaran?

Ada yang beli sebelum Ramadhan tiba, takut bila agenda memilih-milih baju menggangu aktivitas puasa dan tarawih kita. Ada yang membelinya menunggu THR, karena beli baju lebaran butuh budget tinggi. Ada yang sengaja beli baju lebaran di mall terkemuka atau butik ternama, sebab lebaran termasuk momen tahunan yang istimewa.

emak pakai daster di hut ri 73.jpg
Emak berdaster

Baju daster?

Daster dapur, cukuplah harga 30ribu. Motifnya jelek, jahitannya gampang lepas, gakpapa. Yang penting enak, nyaman dipakai pas ulek-ulek bumbu. Umumnya, daster ini kalau robek, dibiarkan  begitu saja. Nanti kalau mirip keset dengan robekan-robekan serupa jendela, tinggal beli yang baru.

Kaos kaki?

Harganya murah, 10 ribuan. Beli tanpa mikir, nyuci kalau sempat. Kadang pas lewat alun-alun hari Minggu, nggak sengaja lihat dan kasihan pembelinya, belilah sepasang. Hilang satu, tinggal beli lagi. Hilang sebelah, sudah ikhlaskan. Ujung jempolnya sobek sedikit, mending buang aja. Repot amat jahit-jahit kaos kaki. Kalau masih layak, naik tahta jadi pegangan panci panas.

 

Harga waktu dan uang

Ada kata kunci dari pakaian yang kita beli : waktu dan harga.

Semakin penting sebuah acara, semakin tinggi uang yang disisihkan. Semakin banyak pula waktu yang dialokasikan untuk memikir, mendesain, memutuskan, membatalkan, mengkaji ulang. Tidak akan sama mendesain baju wisuda yang spektakuler dengan baju arisan yang setiap bulan ada. Tidak akan sama harga dan waktu membeli rumah dengan membeli sapu. Butuh waktu belasan bahkan puluhan tahun untuk mengumpulkan uang, memikirkan, memutuskan membeli rumah. Tapi sekedar sapu, bisalah sewaktu-waktu.

 

Berapa Harga Pernikahan Kita?

Seorang klien saya memikirkan rencana pernikahannya sejak kecil. Ia tidak ingin pernikahannya seperti orangtuanya. Ia tidak ingin punya anak seperti kakak-kakaknya yang naudzubillah. Beranjak SMA, ia sudah menetapkan calon suami macam apa yang diharapkannya. Impiannya hadir dalam harapan dan langkah tahap demi tahap. Sejak kuliah S1 dan S2 rajin ikut kajian pernikahan dan parenting, yang pastilah mahal untuk kantung mahasiswa. Waktu sebagai mahasiswa yang tugasnya ampun-ampunan, ia sisihkan untuk mengikuti berbagai seminar. Uangnya yang pas-pasan, juga dialokasikan untuk menambah ilmu. Hasilnya, Alhamdulillah, ia mendapatkan suami yang sangat diharapkannya.

Ada seorang klien, yang justru ikut seminar-seminar menikah setelah ia menikah.

Di kepalanya ada rasa menghantui, kenapa ia pacaran sekian lama. Pada saat menikah terbukti , karakter pacarnya berbeda sekali dengan yang dulu. Tetapi ia menyadari satu hal, pacaran dan pernikahan ternyata bukan garis paralel. Malah seperti sumbu X dan Y yang beda banget arahnya. Ketika ia menyadari kurang ilmu dan merasakan dosa, ia banyak mengalokasikan waktu untuk belajar, belajar. Dengan statusnya sebagai istri dan ibu, ia masih mau menyeret-nyeret anaknya ikut seminar ini itu.

Tetapi ada pula orang-orang yang unik.

Anak-anaknya sudah bermasalah. Istrinya sudah kehabisan nafas. Ia masih saja tak pernah meluangkan waktu memikirkan pernikahan : ini enaknya ditangani bagaimana ya? Yang ada di pikirannya karir, karir, karir. Oke. Karir dan uang perlu. Kalau karir seharga baju lebaran, apa pernikahan harus seharga kaos kaki? Nggak juga. Kalau ingin karir dan pernikahan sama-sama seharga baju lebaran, luangkan waktu dan harga.

Kita akan sibuk mendeteksi raut muka atasan dan rekan kerja : wah, si bos kayaknya lagi nggak mood. Enaknya beliau diapain ya? Pasti seorang bawahan akan berjuang dua kali lipat performanya lebih baik hari itu agar mood bosnya segera baik. Tapi sering , kita gagal menangkap raut muka istri dan suami yang lagi keruh. Malah, kalau pasangan lagi keruh, rasanya pingin cepat-cepat cabut dari sisinya. Malas amat! Padahal, kalau bisa dijual, kira-kira berapa sih harga bos, rekan kerja, pasangan kita? Jawab sendiri.

Kaos_Kaki_Formal_Pria_Isi_3_Pasang___Kaos_Kaki_Kantoran___Ka.jpgAda yang memperlakukan bos seharga emas, memperlakukan teman-teman kerja seharga perak, tetapi harga pasangannya cuma seperti plastik disposable.

Pernahkah, kita berhari-hari mencemaskan pasangan kita?

Kok suami/istri sepertinya lagi banyak pikiran? Apa yang ada di benaknya? Apa yang sedang merisaukannya? Apa yang bisa kulakukan supaya dia baik kembali dan bagaimana caraku membuatnya senang?

 

Mengapa  Pernikahan Mahal?

Sebetulnya, nyaris semua orang menganggap pernikahan sesuatu yang ‘mahal’. Banyak orang bisa gonta ganti pacar tapi lamaaa sekali memikirkan dengan siapa ia akan menikah. Masih banyak orang beranggapan, kalau bisa menikah sekali saja seumur hidup. Kita ingin tua bersama, meninggal bersama, dan kelak di surgaNya pun bersama-sama.

Tetapi kita seringkali memperlakukan barang mahal dengan rasa sangat murah. Seperti kaos kaki. Nggak mikir, rusak tinggal buang, hilang ya sudahlah.

Seperti petunjuk di awal : waktu dan harga.

Tak pernah sama sekali mengalokasikan waktu untuk pasangan dan anak. Tapi berharap pasangan setia, pasangan mengerti, anak-anak shalih shalihah, anak-anak baik-baik saja. Berat amat mengalokasikan waktu, pikiran, uang untuk keluarga;  tetapi semua harus berjalan sesuai mestinya! Ibarat orang nggak mau invest apa-apa, tapi maunya dapat deviden dan  bunga.

Selayaknya kita berpikir : kapan ya bisa jalan berdua dengan suami/istri? Mana ya restoran yang nyaman untuk bicara? Bukannya istri nggak mau masak. Tapi situasi café atau resto yang dilayani, membuat istri fokus memandang wajah suami. Kalau memasak di rumah, ia akan sibuk memasak dan beberes. 1 jam duduk berhadap-hadapan di restoran; suami istri bisa menikmati ngobrol berdua. Abaikan harga makanan minuman yang mencapai seratus ribu. Abaikan pikiran ; aduh, mahalnya. Waktu berdua itu terlalu mahal untuk ditukar dengan uang seratus ribu.

Kapan ya jalan-jalan sama anak-anak?

Memang repot. Apalagi kalau punya anak mulai besar. Yang satu suka bioskop, yang satu suka ngemall, yang satu suka makan. Bagaimana orangtua harus mencari celah waktu supaya semua bisa berkumpul. Ribet, makan waktu, makan tenaga, bahkan mungkin makan biaya. Ketika anak-anak butuh perhatian di akhir pekan : aduh, capeknya nemani ke bioskop. Antri beli tiket, antri parkir mobil, macet di jalan raya. Lebih enak tidur di rumah (sembari pegang gadget tentunya!). Padahal saat ke bioskop kita bisa merengkuh pundaknya, menggandeng lengannya, mengacak rambut mereka. Nggak harus bioskop sih, bisa toko buku atau ke factory outlet.

Harga pasangan sangat mahal.

Harga anak-anak sangat sangat mahal.

Mereka investasi berharga di masa depan, ketika kita tua renta, ketika kita sudah meninggal di alam kubur. Coba tanyakan pada para pengusaha sukses : jenis usaha apa yang nggak butuh investasi uang dan waktu? Pasti kita ditertawakan. Kalaupun ada usaha yang modalnya 0, waktu adalah investasinya yang berharga.

Jangan pernah mengeluhkan pernikahan yang terasa gagal, sempit, menyesakkan kalau kita memperlakukannya seharga kaos kaki. Pikirkan keluarga. Pikirkan posisi kita ada di mana. Pikirkan pasangan suami/istri kita dengan sungguh-sungguh. Berjam-jam, berhari, berbulan; seperti kalau mau beli baju lebaran. Lalu alokasikan harga. Ya, mungkin memang harus menguras uang. Mungkin, harus mau keluar biaya untuk jalan berdua dengan si sulung yang mulai intens pacarannya. Mungkin, harus mau keluar biaya untuk ngobrol dengan si bungsu berdua yang nilanya mata pelajarannya semua jeblok.

married-couples-romantic-date-ideas.jpg
Romantic married couples

Oh, pernikahan belum masuk taraf membahayakan. Tapi ingin pembaruan kan?

Kok rasanya sudah agak hambar, ya. Ketemu di ranjang biasa aja. Lihat mukanya tidak ada desir di dada. Pesan pendek darinya di gadget juga bukan prioritas. Anak-anak kok mulai nggak ekspresif kalau ketemu orangtua. Lebih suka pakai headset kalau di rumah. Lebih milih hang out sama teman ketimbang orangtua. Ah, banyak tanda-tanda kecil yang mulai butuh reparasi.