Kategori
Artikel/Opini BERITA Covid-19 Hikmah PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Renungan Hidup dan Kematian Surabaya Survivor Covid-19 Topik Penting

Kesempatan Hidup 2 % : Belajar Memancing Keajaiban dari Seorang Dokter Penyintas Covid 19

Masih banyak kabar duka. Tapi biarkan aku bercerita tentang kabar bahagia terlebih dahulu. Kisah tentang seorang lelaki, psikiater, yang terpapar covid 19 untuk kedua  kalinya. Kali ke-2 harus menggunakan ventilator dan  menyabung nyawa.

Ia selamat. Hidup! Lolos dari lubang jarum dan angka kemungkinan 2% untuk  selamat.

Well, don’t talk to me about destiny or unexplained miracle.

Tapi kita pelajari bersama, mengapa semua ini terjadi. Allah memberikan mukjizat, setelah terpenuhinya aspek-aspek yang lain. Apakah yang tidak menerima mukjizat adalah orang yang jelek? Tidak. Mereka yang wafat adalah syahid. Mereka yang survive adalah petarung. Mereka yang petarung sejati, lalu syahid, adalah manusia pilihan. Mereka yang petarung dan tetap hidup, mendapat tugas untuk hidup lebih baik lagi.

Mengapa lelaki ini lolos dari maut? Dengan D-dimer 13.000, saturasi jauh di bawah normal, bergantung ventilator – alat yang terdengar sangat mengerikan seperti kita mendengar vonis hukuman mati atau vonis kanker stadium IV; setiap orang akan menebak. Izrail akan mengetuk pintu kamar ICUnya sebentar lagi.

Nyatanya ia, tadi pagi segar bugar. Memberikan materi yang membuat mata peserta berlinangan dan kembali menimbang-nimbang sebuah pertanyaan penting : apakah hidupku sudah berharga?

Berikut ini cuplikan kisah yang kurasa, menjadi penyebab beliau mendapatkan mukjizat Allah Swt saat hidupnya di ujung tanduk mendapatkan tindakan ECMO

  1. Semangat dari istri tercinta. Ketika setiap orang menebak-nebak bahwa umurnya tak akan lama, sebaliknya dengan sang istri. Ia mengatakan,”Mas jangan bingung. Jangan khawatir. Ini tak akan lama, sebentar lagi insyaallah selesai.”
  2. Sang istri “merampas” HP dari tangan suami. Walau ribuan orang memberikan doa dan semangat, HP di tangan orang sakit bisa melelahkan.
  • 3. Berusaha menjaga kesadaran  selama dalam extracorporeal membrane oxygenation (ECMO) therapy. Dengan ventilator dan kesadaran naik turun, sang istri mengingatkan perawat untuk membangunkan setiap sholat 5 waktu. Sang suami, mencoba sholat sebisanya dengan ingatan tersisa, mencoba merasakan makanan yang masuk, mencoba merasakan air hangat yang diusapkan ke kulitnya untuk mandi.

  • 4. Menghindari TOXIC POSITIVITY, dari teman-teman yang sebetulnya berniat baik. Menghindari perasaan tak enak , perasaan tak berharga karena, “Ah, aku tak sebaik yang disangka teman-temanku. Aku tak sekuat itu.” Semakin sedikit interaksi dengan HP, semakin baik
  • 5. Jeda. Jeda dengan manusia. Merapat  dengan Pencipta. Tanpa HP, terisolasi, hanya berteman alat-alat dan kunjungan nakes sesekali; waktu bermunajat melimpah ruah.
  • 6. Apakah tak boleh menerima perhatian? Boleh sekali. Bahkan perhatian dari teman, kerabat sangat membahagiakan. Seperti seorang teman yang mengiriminya koyo hangat untuk ditempelkan di tubuh! Tak harus makanan atau suplemen. (Kita sebaiknya juga jangan sering-sering japri si sakit menanyakan kondisinya. Kirimkan saja doa, jangan mengirimkan pesan yang membutuhkan jawaban. Kecuali bila sangat mendesak)
  • 7. Yakin , bahwa semua ini memiliki arti dan makna.

Segala penderitaan sejak terindikasi Covid hingga menyerahkan jiwa raga pada Sang Pencipta dan pada tenaga ahli . Meski sakit, pedih, nyeri, tak tertahankan – semua dilalui. Airmata bukan kekalahan. Airmata adalah tanda, bahwa kita mencoba sabar menanggung penderitaan.

  • 8. Ada kondisi delirium, halusinasi. Merasa tubuh disiksa dan dianiaya. Dalam kondisi kesakitan sangat, berdiskusi dengan Allah dan tawar menawar dengan kebaikan yang pernah dilakukan
  • 9. Begitu banyak orang di luar sana yang menangis dan mendoakan kesembuhan.

Karena apa? Karena kebaikan-kebaikan yang ditanamkan, nasehat-nasehat yang dilontarkan, kalimat-kalimat baik yang diucapkan. Bahkan, ketika sang dokter sudah lupa pernah berbuat baik pada seseorang yang tetap mengingat kebaikannya.

Terimakasih dokter Catur, atas kesabarannya menanggung beban dan hidup kembali untuk membagikan semangat.

Terimakasih dokter Izzah, istri yang luarbiasa. Dengan baby kecil, selalu yakin pada pertolongan Allah, bahkan ketika peluang itu hanya bernilai 2% saja.

Apa kesimpulan singkat dari keajaiban dokter Catur?

  • Menanamkan kebaikan (perilaku & perkataan) sehingga ketika musibah datang, banyak yang mendoakan
  • Tabungan amal sholih dapat digunakan untuk “bernegosiasi” dengan Tuhan saat mengharapkan sesuatu
  • Bila pasangan sakit, istri/suami adalah orang terdepan yang menyuntikkan semangat
  • Dalam kondisi parah, pertahankan kesadaran dari waktu ke waktu. Salah satunya dengan mengingat waktu sholat dan mencoba sholat sebisanya
  • Hindari HP. Semangat dari teman-teman bisa jadi toxic positivity

Catatan dari acara zoom hari ini. Pagi, 13 Juli 2021.

Kategori
Artikel/Opini BUKU & NOVEL Covid-19 Hikmah Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Survivor Covid-19

Pengobatan Non-Medis bagi Penderita Covid 19


Jangan lupa, selain 6 M, antibiotic – antivirus, oksigen dan langkah medis; ada upaya-upaya yang harus dilakukan bagi kita semua agar menjadi pemenang dalam pertempuran wabah ini. Terinspirasi dari tulisan Prof. Mukhtasor tempo hari yang mengingatkan pentingnya kekuatan spiritual di saat seperti ini, berikut pengalaman kami sekeluarga sebagai penyintas covid.
Kita tidak bicara ajal & takdir, karena bila telah tiba waktunya; sekuat dan seshalih apapun tetap akan wafat. Mengutip kata Najib Mahfudz dalam Harafisy : “Takdir muncul di kaki langit, terus mendekat setiap waktu. Tak ada yang menunda gerak majunya. Dunia bukan pasangan yang setia.”


••●••


🌷1. Asmaul husna dan dzikrullah. Kalau belum hapal 99 namaNya, tiga ayat terakhir QS Al Hasyr bisa dilakukan. Beriring shalawat, asmaul husna, dzikrullah; akan meringankan saat-saat menyakitkan seperti ketika infus antibiotic atau vitamin masuk ke pembuluh darah.



🍃2. Shalawat. Ada yang pernah mendengar shalawat Nariyah? Shalawat apapun insyaallah bagus. Saya mendapat hadiah buku “Shalawat Nariyah” karya Dr. Alvian Iqbal Zahasfan. Saya pernah bertemu dengannya tahun 2016. Buku ini bagus sekali, mengupas seluk beluk shalawat Nariyah. Mulai sejarah shalawat Nariyah yang digubah oleh Syaikh Ibrahim At Tazi, hingga fadhilah shalawat Nariyah. Termasuk foto-foto indah At Tazi dan berbagai tempat di Maroko. Jadi ingin ke Maroko lagi, aamiin yaa Robb


Sekilas Maroko


🍁3. Sedekah. Sedekah dapat menolak bala, insyaallah. Jangan ragu untuk meminta doa. Bila kita bersedekah lewat lembaga tertentu spt kitabisa.com, atau bit.ly/LMI_donasipalestina , ada slot kosong berisi keterangan. Saya memilih mengisi keterangan itu dengan bait-bait doa, sampai karakter hurufnya full. Tak peduli hanya infaq 10K, isilah dengan doa. Terutama doa meminta perlindungan dari wabah dan doa kesembuhan dari wabah


🌱4. Rendah hati. Kita cenderung menghormati orang dengan posisi terpandang. Di saat seperti ini, jangan ragu untuk rendah hati. Di RS, kami mencoba menghafalkan nama perawat-perawat dan CS. Orang akan bahagia bila namanya diingat, itu adalah bentuk penghargaan bagi mereka. Dokter spesialis sudah sering mendapatkan penghormatan, tetapi tukang sampah? Tukang bersih-bersih? Ucapkan terima kasih kepada mereka yang menyapu lantai dan mengumpulkan barang menjijikkan dari kamar mandi.


🌹5. Baca surat-surat favorit. Al Kahfi, Al Waqiah, Al Mulk, Yaasin, tiga surat terakhir Quran atau apapun surat favorit anda.


💫6. Memperpanjang telomer. Stres memperpendek telomer. Relaksasi dan bahagia memperpanjang telomer. Sesaat sebelum berangkat ke RS, saya memutuskan membawa buku-buku yang akan saya baca. Salah satunya puisi karya Sir Muh. Iqbal. Tak lupa laptop, untuk melepaskan gundah dan rasa tertekan dengan menulis. Menonton film atau anime, bisa mengobati stress saat sakit.


🌜7. Impian jangka panjang. Tak peduli sependek apapun umur kita, impian jangka panjang akan memperpanjang umur. Dalam pengertian denotatif atau konotatif. Meski kami ber-6 positif covid dan kami tak tahu apakah akan selamat; saya tekankan ke anak-anak untuk terus bermimpi.
“Habis ini kita umroh bareng, lanjut ke Uzbekistan ya? Atau Maroko.”
Peduli amat gak punya uang, impian adalah doa.
“Habis ini yuk kita daftar residensi artis. Sebagai penulis, atau artis visual art. Kalian mau Korea, Jepang, Finland, Norway, atau Islandia sekalian?”
Peduli amat nanti akan tertolak saat seleksi dan gak bisa berangkat karena gak dapat dapat grants/ stipends.
“Ummi sama Abah mau daftar S3 insyaallah. Kalian juga, ya. Siapa tau kita bisa apply ke negara yang sama.”
Peduli amat gak lulus LPDP, Mext, KGSP. Impian adalah doa dan seolah kita akan hidup 1000 tahun lagi.


🌟8. Tawakal. Sesaat sebelum tidur, lepaskan semuanya. Jangan pikirkan : suamiku gimana? Anakku siapa yang ngurus? Kalau aku mati, gimana dengan masalah yang belum terselesaikan? Ingatlah. Allah mengatur dan memelihara tata surya, yang ukurannya setitik kecil di tengah galaksi Bimasakti. Allah mengatur Bima Sakti yang ukurannya setitik di antara bermilyar galaksi. Jadi, mengurus diri kita dan keluarga kita, bukan hal extraordinary bagi Allah Yang Maha Besar.
•••••
Share juga ya pengalaman berharga anda semua sebagi penyintas Covid, utamanya pengalaman non medis.

#penyintascovid19 #survivalcovid19 #pahlawancovid19 #ceritacovid19

Kategori
Artikel/Opini BERITA Covid-19 Hikmah PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Survivor Covid-19

COVID 19 & PSIKOLOGI KOGNITIF : GAK TAU, MENYANGKAL, ATAU UDAH PAHAM?

Mengejutkan sekali bahwa saya sudah lupa (atau mengabaikan) beberapa protocol kesehatan!

Padahal baru sekitar 3-4 bulan lalu melawan ganasnya covid dan terpapar bak di ujung maut akibat virus ini. Belum lagi, saya suka mengumpulkan koran-koran yang memiliki informasi penting seperti covid, ilmu pengetahun atau hal menarik lainnya. Koran sejak awal covid menyerang di awal 2020  masih saya simpan. Tapi kenapa saya bisa lupa, abai, atau bahkan meremehkan informasi terkait covid?

🟠1. Kemampuan memory manusia terbatas. Manusia hanya bisa mengingat sekali waktu dengan cepat informasi yang dibagi atas 7-chunks (7 potong). Seperti kita mengingat nomer HP orang. Kalau setiap hari yang dikonsumsi berita macam-macam : covid, selebriti, gossip,  masakan, politik, ekonomi, parenting, travelling dan masih banyak lagi; yah, akhirnya covid terlupakan

🟡2. Memory bisa menurun. Sebuah studi menyebutkan, bahwa ketika mengingat sesuatu, setiap 18 detik ingatan kita akan perkara itu menurun 10%. Gak heran kalau hari ini saya takut setengah mati sama covid, besoknya udah enjoy aja

🔵3. Flashbulb memory. Kita akan ingat banget kenangan yang seperti lampu blitz, walaupun itu gak harus diingat! Kapan Sully dan Go Hara meninggal bunuh diri, kapan Lady Di meninggal, kapan Chester Bennington mengakhiri hidup — masih teringat. Harusnya emang, saya lebih banyak jalan-jalan ke RS. Ke ruang ICU, ke ruang isolasi covid. Sehingga ingatan ttg covid ini jadi “flashbulb”. Masalahnya, saya gak pernah bisa menengok teman2 atau saudara yg sakit covid. Seperti dulu, bisa nengok teman yang hemodialisa, atau kena kanker. Sehingga “flashbulb” tentang minuman bersoda demikian teringat kalau gak mau ginjal rusak dan harus hemodialisa

🟢4. Short term & long term memory. Ingatan jangka panjang akan mengendap lebih lama dibanding ingatan jangka pendek. Kenapa ingatan jangka pendek? Mungkin hanya sekilas, mungkin terasa gak penting, mungkin jarang diulang. Akan jadi long-term memory kalau terasa penting dan terus diulang. Seperti ingatan kaum muslimin pada Al Fatihah dan 3 surat terakhir al Quran. Hampir setiap kita yang muslim ingat, kan? Karena Al Fatihah wajib dibaca dan diulang terus. Karena 3 surat terakhir sering jadi pilihan kalau sholat kilat khusus, sekaligus surat yang diyakini ampuh menangkal setan dan sihir.

••🔴••

Sikap kita terhadap covid juga macam-macam

☑️GAK TAU : masih banyak lho, orang di pelosok yang gak tau tentang covid. Jadi boro-boro tahu tentang vaksin dan masker. Ini karena memory tentang covid gak pernah masuk long term memory, bahkan short term memory. Mungkin juga telinga dan mata mereka jarang mendapat info ini. Bayangkan saudara kita yang disabilitas, yang berada jauh di bawah garis kemiskinan (gak punya HP, gak pernah baca koran, gak ada TV), yang gak punya waktu untuk menyimak berita.

✔️MENYANGKAL : kalau bukan ingatan long term memory, atau “flashbulb” emang susah, ya. Saya patuh banget sama protocol pas awal pandemic, pas kena covid beneran, sama pas gelombang kedua menyerang. Gak heran banyak yang masih menyangkal. Apa saya masuk golongan ini?

UDAH PAHAM : ini biasanya teman-teman saya yang di garda depan. Teman2 dokter, perawat, nakes (radiolog, bagian lab, petugas ambulan, dsb) yang sangat paham. Lalu golongan masyarakat yang percaya , mendapatkan info dari sumber terpercaya.

••🔴••

TERUS GIMANA?

Saya kayaknya masih termasuk golongan yang “menyangkal “ : kadang khawatir. Kadang abai. Seperti kemarin, dapat share di grup tentang gimana cara pakai masker double. Selama ini pahamnya : ya udah di double aja. Ternyata di luar harus MASKER KAIN! Jadi ternyata, saya udah jarang nge-klik berita apapun terkait covid.

Lho kok bisa saya abai?

Karena udah ngerasa kalau covid ini “biasa banget”. Gak flashbulb lagi. Padahal…ntar dulu!

Buat teman-teman dan pemerintah :

❤️Tetap semangat dan sabar untuk memberikan edukasi covid. Long term memory itu lama lho

❤️Bagi informasi dalam 7-chunks. Jangan banyak-banyak. Ntar mabok. Kalau udah ada yang ngasih info covid, kita gak usah share lagi. Tahan sampai agak nantian

❤️Flashbulb : sekali-sekali perlu kali ya. Edukasi ke ruang ICU. Ngajak masyarakat yg gak percaya utk dipersilakan main ke ruang ICU covid (dengan prokes ketat tentunya). Atau kalau gak, sering liat youtube tentang tsunami Covid di India dan liputan ruang ICU utk bangsal Covid

❤️Buat lomba-lomba edukatif tentang covid agar masyarakat makin tertarik untuk belajar. Akhirnya jadi memory yang terpelihara, deh.

—————–

Sinta Yudisia LC – Lulusan Covid

Informasi waktu perjalanan aman sepanjang Covid 2021

Kategori
Covid-19 Hikmah PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Survivor Covid-19

Ledakan Covid ke-2 : Kesamaan Psikologis India & Indonesia

Sewaktu India mengalami gelombang ke-2 wabah Covid 19 sekitar April; saya sebetulnya harap-harap cemas mendengarnya. Berharap kejadian itu tak akan terjadi di Indonesia, namun cemas karena secara kultural, banyak sekali kemiripan psikologis India dan Indonesia.

Ledakan Covid di India sekitar April 2021

💥💥 💥💥

  • Kebersamaan.

Dunia timur lekat dengan kebersamaan. Jepang, Korea, India, Indonesia dan sejenisnya menjadikan tradisi keluarga sebagai bagian kehidupan sejak lahir hingga mati. Ada momen-momen ketika keluarga harus berkumpul. Kalau tidak, nggak lengkap rasanya. Contohnya momen Ramadan dan Idul Fitri .

Karenanya, sepanjang Ramadan dan Syawal, luarbiasa gelombang mudik dan kumpul-kumpul akibat keinginan untuk bersama dengan sanak saudara. Wajar di momen kebersamaan ini pemerintah memprediksi ledakan Covid dan memang terbukti demikian. Berikutnya muncul momen ‘kebersamaan’ yg lain seperti kluster hajatan, kluster resepsi, dsb

  • Ewuh pakewuh

Ewuh pakewuh ini  perasaan seperti merasa serba salah, dan takut kalau dianggap tak menghargai. Apakah anda termasuk yang mendapat undangan pernikahan, hajatan, reunion, atau acara undangan kantor? Di dunia timur, kalau diundang dan tidak hadir, apalagi kerabat dekat rasanya tabu sekali. Begitu pula, kalau misal dulu dia membantu kita saat hajatan, terlalu sekali kalau kita nggak membalasnya kali ini.

  • Tak enak hati

Dalam film Whiskey Tango Foxtrot yang bersetting di Afghanistan, ada percakapan menarik antara Kim Baker (jurnalis perempuan AS) dan Fahim (penerjemah muslim). Fahim menegur Kim dengan nasehat, kata-kata kiasan, sampai analogi kisah. Kim yang tidak mengerti maksud teguran Fahim berkata, “Kalau di Amerika, percakapan macam ini sudah sampai tempat 5 menit yang lalu.”

Waktu beberapa pekan lalu saya mudik ke Tegal, kami menemui banyak orang-orang nggak pakai masker di sepanjang perjalanan. Di rest area, di masjid, di pom bensin, di warung makan. Apakah kami menegur mereka? Yah…anda bisa tebak jawabannya. Kami tak enak hati, lebih memilih menyingkir dan terus memakai masker sebagai bentuk teladan dan tanggung jawab.

  • Menunggu

Masyarakat timur terbiasa menahan diri. Tidak terlalu blak-blakan, tidak cukup agresif. Akibatnya memang terbiasa menunggu. Tidak enak kalau mendahului, tidak enak kalau melaju lebih cepat, tidak enak kalau menegur lebih dahulu. Tidak enak kalau berinisiatif, nanti apa kata orang.

Kebiasaan ‘menunggu’ ini bisa menjadi titik gawat. Saya pernah naik sepeda motor di tengah jalan ramai, lalu macet mendadak. Semua orang memperhatikan. Dengan perjuangan berpeluh, saya menuntun motor itu ke tepi jalan (untung gak dimaki-maki ya, hehe). Orang-orang melihat saya kasihan tapi serba salah.

Berbeda dengan ketika saya di Hong Kong, bertemu orang bule. Waktu itu saya pakai jubah berbahan kaos panjang, tanpa sadar ujungnya masuk escalator. Saya yang panik hanya terpana, nggak tahu mau ngapain. Si bule itu langsung ke arah saya dan merobek bagian bawah jubah! Untung saya pakai celana panjang!

Kita terbiasa menunggu orang lain melakukan apa terlebih dahulu, baru berani bertindak. Akibatnya seringkali sesuatu berjalan lebih parah :  menunggu korban jatuh, menunggu jumlah pasien membludak, menunggu ada tetangga yang ikut vaksin, menunggu ada barengan yang mau lapor kalau kena covid, dsb.

  • Sangat mendengar orang lain

Kalau anda pernah nonton sinetron India, pasti akan paham bagaimana pendapat seseorang bisa diintimidasi oleh banyak orang. Masyarakat timur sangat memperhatikan ‘apa kata orang’.  Kalau ada orang bilang ,”gak usah percaya Covid. Itu rekayasa.” Biasanya, walau sudah punya pendapat sendiri, akan bisa terpengaruh. Apalagi bila kata-kata itu berasal dari teman dekat atau kerabat dekat. “Jangan lapor ke RT RW. Isoman aja. Nanti sembuh sendiri. Malu kalau dilihat tetangga dijemput pakai ambulan.”

Berita Jawa Pos hari ini Senin, 21 Juni 2021

Orang-orang yang sibuk memberikan pendapat masing-masing itu, bisa mempengaruhi keyakinan kita terkait Covid.

Apa yang harus dilakukan?

Sultan Hamengkubuwono X di Yogya, mewacanakan lockdown total untuk wilayahnya kalau tidak bisa disilpin. Saya suka quote beliau, “Pemerintah juga sulit kalau masyarakat tidak mengapresiasi diri sendiri untuk disiplin.”

Covid di Indonesia dengan segala konsekuensinya sudah mulai dijalankan sejak Februari 2020. Belum ada tanda-tanda kehidupan kita ‘back to normal like it used to be’. Sama seperti konsep psikologi bahwa ada kondisi yang tak bisa sembuh total tapi sangat bisa dikendalikan bila seseorang patuh protokol dan memahami kebutuhan dirinya sendiri. Salah seorang klien saya yang didiagnosa schizoaffective bisa sangat produktif dalam hidupnya sekalipun ia seringkali dalam kondisi mengkhawatirkan. Kenapa? Ia sadar ia punya disorder, ia rajin minum obat, ia mendengarkan saran ahli dan ia memutuskan memiliki gaya hidup sehat.

🧡🤍💞

Hayuk!

  1. Love ourselves. Cintai diri kita. Kita ini berharga. Otak, fisik, organ dalam kita sangat sangat berharga. Jadikan kelak ketika sudah lansia, tubuh ini masih fit untuk beribadah dan beraktivitas.
  2. Kendali. Di film Whiskey Tango Foxtrot, ada ucapan menarik Coughlin, seorang prajurit yang kehilangan sepasang kaki dalam perang. Ia ditanya bgm bisa tabah? “Dalam hidup ini, manusia hanya memegang kendali sedikit saja.” Pahamilah, bahwa Covid ini memang amat sangat luar biasa sehingga jangan menggampangkan bahwa kita mudah mengendalikannya
  3. Pengalaman. Percayalah, ada puluhan bahkan ribuan pengalaman yang didapat dalam kawah Candradimuka bernama pandemic corona ini. Kontemplasi, menahan diri, bekerja sama adalah beberapa pelajaran berharga di era ini.
  4. Challenge Yourself. Carilah bakat minat terpendam dan kuasailah hingga mahir. Kita selama ini terlalu lama sibuk dengan dunia luar sampai lupa suara-suara batin sendiri.

Sinta LC alias Lulusan Covid

Berita Kompas hari ini Senin, 21 Juni 2021
Kategori
Catatan Jumat Dunia Islam Fight for Palestina! Gaza Kami Oase Renungan Hidup dan Kematian Topik Penting

Palestina Negara Gagal & Kalah?

Blokade, pengusiran, hingga pemusnahan.

Benarkah pertanda kegagalan & kekalahan?

••••••

            Sebelum kita bahas lebih jauh tentang kalah menang, ada baiknya anda nonton film-film politik seperti Irishman dan Spy Gone North. Yang satu tentang negaranya Uncle Biden, yang satu tentang Korsel-Korut. Di situ akan dapat gambaran tentang “kalah-menang”. Bukan film yang endingnya klise dan hero-nya selalu menang ala-ala film Hollywood yang kita kenal dengan supremasi Amerika.

Palestina memang sering babak belur tiap kali konfrontasi dengan Israel. Korban jiwa luarbiasa, sarana publik hancur luluh, seenaknya Israel menetapkan jam malam di perbatasan dan serangan tanpa ampun sewaktu-waktu. Kita ‘hanya’ bisa mengirimkan donasi, bantuan pangan dan obat, juga kutukan-kutukan. Kirim tentara? Wah, bisa-bisa disangka memicu perang dunia ke-3. Tentara perdamaian seperti yang kita kirimkan ke Bosnia dan Libanon pun, nanti dululah.

Qunut nazilah di mana-mana.

Munasharah hampir tiap pekan ada.

Tapi kapan menangnya? Kapan Tuhan menurunkan bantuan? Apakah kaum muslimin begitu hina hingga semua doa hangus, bahkan sebelum melewati ubun-ubun?

Kategori menang, seringkali dianalogikan dengan sukses.

Orang sukses banyak duitnya, mentereng rumahnya, bejibun investasinya. Abaikan rumahtangganya berantakan, anaknya terlibat kenakalan dan ia depresi hingga selalu tergantung obat-obatan. Yang penting sukses, titik! Padahal bila dirunut lebih jauh, kesuksesannya semu.

Palestina kalah? Nanti dulu. Tontonlah Irishman.

Apakah negara uncle Biden menang, sejak JFK berkuasa? Di film Irishman justru kalah total. Negara itu dikuasai mafia yang mudah mempermainkan angka-angka hasil pemilu. Hingga kini, Amerika tak pernah benar-benar menang. Kasus George Floyd, coronavirus yang menggila, penembakan massal yang hampir selalu ada tiap bulan. Belum lagi kasus-kasus psikologis…subhanallah. Anda akan ngeri lihat negara ‘maju dan menang’ itu dengan segala kasus psikologisnya.

Palestina?

Well, orang-orang Palestina bukannya sakti mandraguna. Tak bisa menangis, kebal senjata, tak bisa trauma. Bukan! Ketika kami ke Gaza 2009, ada orang-orang yang bisu karena trauma dengan situasi perang. Ada anak-anak yang menangis karena kehilangan orangtua. Ada orang-orang yang resah dengan kondisi ekonomi. Anehnya, negara yang sering dianggap pecundang ini selalu punya solusi. Solusi konkrit yang membawa penyelesaian bagi banyak hal.

Miskin? Namanya juga negara yang diblokade.

“Ya Ummu Muhammad, kalau kamu lagi sempit, banyaklah baca al Waqiah,” pesan Abeer Barakah pada temannya. “Insyaallah datang pertolongan Allah. Beasiswa saya cair walaupun kita diblokade.”

Solusi, bukan? Memang duit gak datang dari langit. Tapi harapan dan upaya selalu dilakukan orang-orang Palestina : upaya bumi & harapan langit. Negara yang diblokade itu bisa menanam timun, jeruk, produksi ikan. Bahkan pertanian bunganya ekspor ke Belanda!

Banyak anak muda yang sekarang kehilangan jati diri. Kalau anda mengikuti channel Oli London yang mengaku mirip Jimin – BTS, anda akan bingung. Kok ada orang yang kehilangan jati diri seperti itu? Ajaklah anak Palestina pindah ke Indonesia, itu sudah pernah saya lakukan.

“Kalau jalan-jalan mau. Kalau pindah, nggak. Hadza darul ma’ad. Ini tempat kembali.”

Ya, ampun. Butuh berapa SKS dan kurikulum macam apa untuk menanamkan wawasan kebangsaan macam itu?

Tempo hari, ramai berita tentang demonstrasi di Myanmar. Ada bahasan bahwa ASEAN gak akan mampu menangani jika Myanmar jadi negara gagal akibat perseteruan sengit junta militer, oposisi dan rakyat. Bila jadi negara gagal; perdagangan senjata meningkat. Begitupun perdagangan obat bius dan human trafficking. Bila negara gagal akan menghasilkan perdagangan senjata, obat bius dan perdagangan manusia; silakan nilai sendiri Palestina. Senjata? Mungkin ada yang menyangka pihak militan jual beli senjata. Tapi obat bius dan human trafficking? Palestina, memelihara rakyatnya dari kerusakan, alih-alih menjalani bisnis haram. Padahal di negara miskin (negara kaya juga), human trafficking yang menistakan perempuan banyak terjadi. Pelacuran lazim dilakukan mereka yang sangat terhimpit ekonomi. Kok di Palestina tidak?

Karena ketika Palestina menerima bantuan dari negara manapun, yang dibangun pertama kali perpustakaan. Gak heran orang Palestina pintar-pintar. Dokter, professor, di mana-mana. Diblokade, loh! Yang dibangun rumah sakit. Yang diberdayakan perempuan. Perempuan-perempuan bisu tuli yang trauma pun, diberikan pelatihan. Jadi perempuan tidak harus merendahkan dirinya. Anak-anak? Ada supercamp yang salah satu kurikulumnya menghafal Quran. Tujuan camp ini menyiapkan anak-anak, kalau sewaktu-waktu orangtua mereka meninggal kena bom, mereka harus siap. Bukan itu aja. Di seantero Palestina, yang namanya Yayasan yatim piatu baik dibangun pemerintah, komunitas atau individu berceceran di mana-mana.

“Keluarga kami punya Yayasan yatim,” kata Abeer Barakah. “Kami yakin, bahwa mereka yang menyantuni anak yatim, di surga nanti bertetangga dengan Rasulullah.”

Abeer, yang tak luput dari kesulitan blockade, masih memikirkan buat Yayasan!

Pemerintah gak cukup bikin Yayasan. Di rumah-rumah yang hancur, dibuatkan monument. Pengingat bagi yang syahid. Agar anak-anak mereka atau siapapun mengenal nama-nama yang wafat lebih dahulu demi membela negara. Karena keterbatasan dana, tiak semua rumah dan tempat. Namun inisiatif pemerintah tersebut, benar-benar menghargai perjuangan. Dan anak-anak yatim piatu tersebut, merasa sangat dihargai dan dilindungi negara. Secara materi dan immateri. Secara fisik dan psikologis.

Kalau udah demikian, hakekatnya, yang negara gagal dan kalah siapakah?

Percayalah, siapapun yang menitipkan dana bantuan ke Palestina, insyaallah tidak akan sia-sia.

••••••

Masih ada dana 10K di e wallet atau rekening?

Yuk, bareng-bareng donasi.

Klik bit.ly/LMI_donasipalestina

••••••

Foto : kenangan bersama Abeer Barakah, yang menginspirasi dengan al Waqiahnya, nasehatnya tentang perempuan dan Yayasan amalnya

Kategori
Gaza Kami Hikmah Jurnal Harian Oase Renungan Hidup dan Kematian Surabaya Tokoh Topik Penting Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Protokol Kesunyian

Aku menganggap, dahulu ; kematian sama ramainya seperti kelahiran dan pernikahan. Sanak saudara, tetangga, teman-teman lama, sahabat jauh. Makanan silih berganti tersaji. Saling berpelukan, mengucap salam. Saat kelahiran, satu persatu datang menjenguk teriring doa. Saat pernikahan, satu persatu hadir membawa bingkisan dan doa. Saat kematian, ada kehangatan perhatian dan pelipur lara dari dekapan teman-teman.

Sekarang, aku melihat dunia dengan penduduk 6.000.000.000 manusia ini begitu sunyi.
Jarang lagi kudengar ibu-ibu ngobrol aneka masakan di arisan. Jarang kudengar ibu-ibu berebut tanya pada ustadz pembicara di pengajian. Jarang kudengar anak-anak berebut adzan atau iqomah di masjid.

😞Toko buku yang biasa kusambangi, tutup. Kedai soto tempatku dan keluarga menikmati akhir pekan, tak lagi buka. Penjual minuman coklat kesukaanku, tak lagi tampak. Tukang sol sepatu, penjaja bakso, penjual kue putu, penjual ember keliling; ke mana mereka sekarang? Ke mana orang-orang yang kehadiran mereka menggenapi hari-hariku dengan suara-suara yang unik, suara yang menandakan kehidupan?
Kelahiran yang bisu, pernikahan yang senyap, perdagangan yang sepi; tak seberapa menusuk dibandingkan kematian yang sunyi.

Orang-orang yang kukenal baik, menghilang perlahan dari pandangan mata : aku tak bisa menengok mereka, tak bisa menghibur keluarga mereka, tak bisa betakziyah, apalagi ikut memakamkan. Doa-doa virtual. Pelukan virtual. Airmata virtual. Kata-kata virtual. Berita-berita virtual. Hanya itu yang bisa menyadarkan bahwa aku masih nyata berada di dunia.
Aku, yang bertahun-tahun hidup di keramaian dunia nyata dan dunia media sosial; sekarang merasakan kengerian sunyi yang berdenting-denting di telinga.

🥀Maukah kau ikut merasakan kesunyian yang terkerat di benak?

Sunyi itu ketika ambulan datang, dan semua orang menyingkir menghindar, lantaran takut terkena percikan ludah.
Sunyi itu ketika jam demi jam, waktu demi waktu, sebuah ruang dingin berbau karbol-alkohol membatasi ruang gerak. Dan suara mesin ventilator, gelembung oksigen, menjadi satu-satunya suara di telinga.
Sunyi itu, ketika orang yang lalu lalang adalah perawat, dokter dan yang terakhir : malaikat yang paling dibenci kehadirannya.

Sunyi itu adalah ketika sesedikit mungkin orang yang memandikan mayat, mengakafani, mengantarkan ke peristirahatan terakhir.
Sunyi itu menyakitkan, membenamkan dalam kesenyapan paling pekat dan rasa sepi yang membuat ingin berteriak di manakah semua orang.

Tapi sunyi itu juga yang tetiba membuatmu mendengar suara Tuhanmu : “adakah lagi yang kau sembah selain Aku?”
Dan tetiba kesunyian ini membuatku mendegar suara-suara hatiku yang riuh rendah dalam percakapan monolog. Suara yang selama ini tergantikan dengan kebisingan Instagram, facebook, twitter, line, whatsapp, dan ratusan hingga ribuan email yang masuk setiap tahun.

🥀Kesunyian ini tetiba membuatku menemukan potongan diriku yang hilang : bahwa dulu aku tidak seperti ini. Bahwa dulu aku adalah orang yang tenang, waspada, senang dengan kebijaksanaan, mendahulukan kehati-hatian. Aku sejatinya bukan orang tebruru-buru, yang ceroboh dan sembarangan, yang suka memburu sesuatu tanpa perhitungan.
Sunyi itu tetiba membuatku suka becakap-cakap dengan Tuhan, bahkan aku berbincang denganNya sesaat sebelum tidur dan bertanya : Tuhan, apakah aku masih bisa bernafas esokhari? Sebelum sunyi ini aku akan melihat apa berita terakhir di whatasapp dan Instagram.

🥀Dalam protokol kesunyian yang terpampang : ketika orang demikian sendiri dalam kematian, aku seperti berkaca tentang diriku sendiri kelak. Aku mungkin akan selamat dari Covid, tapi aku pasti akan berakhir pula dalam kesunyian.
Dan ketika semua pelayat sudah pulang, ketika tangis orang-orang sudah terhapuskan, ketika malaikat Izrail sudah menuntaskan tugas : tinggalah aku sendiri di ujung pemakaman. Sunyi. Tanpa teman. Aku menggigil ketakutan, tak tahu siapakah yang bisa kumintai tolong untuk menghalau sunyi yang menikam. Dan saat itu, aku baru mendengar suara Tuhan : ”adakah lagi yang kau sembah selain Aku?”

Kita mati karena corona atau sakit lainnya
Kita akan selalu sendiri pada akhirnya
Protokol sunyi ini hanya sebuah jalan yang harus dilalui
Masanya nanti, kita hanya menemui Tuhan seorang diri

Untuk para guru kehidupanku, sahabat-sahabatku yang telah lebih dahulu berpulang .

💔Everything in this world is not everlasting

⌛️Catatan untuk kepergian :

🥀Bapak Heri Utomo
🥀Ustadz Hilmi Aminuddin
🥀Dr. Arief Basuki (kami pernah bersama tahun 2009 dalam lawatan ke Gaza)

Kategori
Artikel/Opini Hikmah Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Renungan Hidup dan Kematian Topik Penting WRITING. SHARING.

Jangan Usir Keluarga Pasien Covid 19!

Sebuah pesan dari teman nun jauh di sana (bukan Surabaya) , menyampaikan di grup. Sebagai tenaga kesehatan, ia mencari orang dengan nama XXX beralamat YYY yang tengah hamil dan terindikasi reaktif saat rapid test. Pasien hamil tersebut diharapkan dapat melahirkan di RS rujukan covid. Entah bagaimana ceritanya, pasien itu menghilang begitu saja.

Kenapa orang tiba-tiba menghilang atau lari , ketika terindikasi Covid 19? Mari kita bayangkan. Sebelumnya ucapkan dulu, naudzubillahimindzalik. Semoga Allah Swt lindungi kita dan keluarga dari wabah ini.

Sebuah mobil ambulance, berisi 3 atau lebih petugas dengan APD lengkap. Seluruh tubuhnya tertutup baju hazmat warna putih, lengkap dengan sepatu boots dan sarung tangan handscoon. Tak ketinggalan masker N95 dan dan faceshield.

Mereka menjemput seseorang yang terindikasi positif Covid 19.

Instruksinya jelas, very clear : ambil 1 orang, isolasi, karantina, jangan sampai ada satu orangpun yang kena percikan dropletnya. Banyak penderita Covid 19 mendapat stigma dari masyarakat yang sepanjang awal tahun 2020 sudah dihantui berbagai macam ketakutan : kapan virus ini lenyap hingga kembali normal hidup kita sebagai manusia? Mengapa penyakit ini bagai banjir bah melanda setiap negara, tanpa kecuali? Karenanya, ada yang diam membisu, sekalipun dirinya sudah mengalami gejala Covid 19. Bahkan yang ekstrim, sampai melarikan diri.

Pasien Covid 19

Ketika salah seorang sakit dan dirawat di RS, berita di whatsapp beredar, bahkan di facebook. Meminta bantuan doa. Orang ramai-ramai mendoakan. Orang ramai-ramai bersimpati baik dengan uang atau buah tangan.

Pasien Covid? Beranikah ia memberitakan diri di facebook atau grup whatsapp?

“Halo, saya baru saja rapid test. Reaktif. Lalu swab. Hasilnya positif. Doakan saya baik-baik saja, ya.”

Begitukah?

Kecil kemungkinan.

Seringkali, justru pasien akan berkata pada keluarganya,  “jangan bilang siapa-siapa. Biar nanti sendirian saja ke RS , naik kendaraan sendiri.”

Duh, nelangsa banget jadi pasien macam ini. Ia tak ingin menulari keluaga tercinta, tetangga yang ia hormati, teman-teman yang ia sayangi. Sebagai seorang pasien yang tengah sakit lahir batin, pasien Covid justru seringkali berpikir : gimana ya, biar aku nggak menyusahkan orang lain. Siapa aja yang sudah terkontak denganku?

Saya punya teman-teman pahlawan covid 19.

Yang menolak bantuan dari siapapun.

“Cukup saya dan suami yang kena. Saya gak mau orang lain kena.”

Suaminya dirawat. Ia juga sudah mulai meriang. Dan ia mencoba prosedur untuk isolasi mandiri.

Luarbiasa.

Siapa yang mau kena Covid? Nggak ada.

Walau dapat santunan, dapat ganti rugi, ditanggung 100% oleh asuransi bonafid : tetap TIDAK usah kena Covid. Walau pasca kematian, dapat uang ganti rugi yang sangat besar dari perusahaan, tetap TIDAk mau kena covid.

Penyakitnya mematikan.

Saat sakitnya menyengsarakan.

Bahkan ketika baru rapid test pun, sudah sangat menegangkan.

Orang sehat, yang harus bekerja di RS dan pasar, atau tempat umum seperti perbankan dan layanan public, setiap hari harus bertarung dengan kecemasan, dengan ketakutan. Tetapi tugas memanggil dan demi kepentingan banyak pihak, terus berada di medan perang terbuka melawan virus yang tak dapat ditentukan kapan akhirnya. Sampai takdir Tuhan berbicara : bahwa virus Covid 19 menjadi teman bagi sepenggal sejarah hidupnya.

Lalu?

Kita merasa bahwa orang-orang yang terpapar ini adalah orang-orang yang pantas dikucilkan. Warga pendosa yang menulari. Orang seperti itu nggak pantas tinggal di lingkungan sekitar. Ungsikan saja. Pindahkan dia entah ke mana. Suruh ke hotel (peduli amat biayanya!) kalau nggak mau pindah, diusir saja.

Ya Allah.
Begitukah kita?

Padahal, sabda Rasulullah berkata kurang lebih : orang yang dalam kondisi sakit dan teraniaya, bisa naik doanya ke langit tanpa hijab. Teganya kita membiarkan orang-orang macam ini melangitkan doa dalam kepedihan.

Memang, ada orang-orang yang menyembunyikan sakit Covidnya sehingga menulari banyak orang. Tapi yakinlah, orang seperti ini bukan orang jahat yang sengaja berpikiran : aku mau mati, kalian juga harus mati! Tidak. Orang-orang tipe ini adalah ,

Pertama, mereka cemas dengan kelangsungan hidup mereka pribadi. Nanti pekerjaanku gimana? Kalau bosku memPHK gimana? Kalau tetanggaku justru marah gimana? Kalau anak istriku gak bisa makan, bagaimana?

Kedua, mereka tidak memiliki pemahaman utuh bahwa penyakit ini bisa ditanggulangi ketika masih dalam stadium awal. Ketika belum sesak nafas parah, demam tinggi dan tidak perlu ventilator; masih banyak kesempatan sembuh 100%

Ketiga, orang macam ini adalah orang yang mungkin resah dengan pemberitaan bermacam-macam warta yang berseliweran di media koran dan media sosial. Memang kita diminta untuk menyaring. Tapi bahkan kita sesekali bisa termakan hoax, bukan?

Kita juga bukan orang sakti yang bisa menepuk dada : AKU KEBAL TERHADAP COVID 19!!

Kita tidak berharap virus ini menerjang masuk dinding rumah kita.

Tetapi siapa tahu.

Siapa tahu.

Bayangkan ketika sakit itu tiba, entah covid atau apapun.

Lalu seluruh warga mengamuk, mengusir, enggan menyentuh tubuh kita dan ketika matipun enggan memandikan apalagi menyolati. Naudzubillahi mindzalik…

Karenanya, mari bantu dan peduli dengan saudara kita yang terpapar Covid 19!

Cara Mendukung Pasien Covid 19

Ketika salah satu tetangga atau saudara atau teman kita diberitakan terpapar Covid 19 :

  1. Hiburlah ia dan keluarganya. Katakan bahwa ia insyaallah akan sehat dan sembuh, apapun takdir akhirnya
  2. Sampaikan kepada RT dan RW agar berita itu segera dikoordinasikan dan dikonsolidasikan dengan warga
  3. Beri dukungan materi jika bisa. Galang dukungan bersama teman-teman
  4. Kirim makanan ke rumahnya, karena biasanya keluarganya juga terisolasi. Bisa juga mengirim nutrisi seperti madu, probiotik, vitamin C dsb. Bukan kemewahan makanan yang ia harapkan, tapi perhatian dan bantuan, akan sangat melegakan
  5. Kirimkan doa agar ia dan keluarga bisa selamat dari ujian ini dan berkumpul bersama
  6. Tunjukan empati dengan mengirim whatsapp atau menelponnya
  7. Percayalah dengan kata sakti : karma, semesta mendukung (mestakung) , law of attraction, payback, atau apapun itu. Siapa menanam, dia mengetam. Setiap kebaikan yang kita tanam, kita sendiri yang nanti akan memetiknya. Kita membantu orang lain, next time bila terjebak dalam kesulitan, ada aja yang bersedia membantu. Begitupun sebaliknya.

Hentikan perundungan terhadap pasien Covid 19 dan keluarganya!

Kategori
Artikel/Opini Catatan Jumat Hikmah Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Rahasia Perempuan Surabaya Tokoh Topik Penting WRITING. SHARING.

Surabaya : Perempuan, Persaingan, Posisi

Lihat berita tentang bu Khofifah dan bu  Risma belakangan ini, jadi geli sendiri. Dua-duanya tokoh yang punya banyak kiprah di tanah air. Kita tahu bu Khofifah dan bu Risma punya kapabilitas untuk mengelola jabatan publik. Akhir-akhir ini, dengan adanya covid 19 dan berbagai kondisi yang mengiringi (PSBB, rapid test, dlsb); di rumah jadi sibuk berdiskusi. Maklum anak-anak kami terdiri dari lelaki dan perempuan, jadi mereka punya pendapat sendiri-sendiri. Di situlah sebagai orangtua kita harus menjembatani, bila ada yang perlu diluruskan dari pola pikir anak-anak kita.

 

👨‍🦰 Begitulah kalau perempuan memimpin, ya. Pasti ada baper-bapernya. Jadi susah kita. Apa perempuan pada akhirnya gak bisa menduduki jabatan tertentu? Karena pasti perasaannya akan kebawa-bawa?

👱‍♀️Eh, ini gak terkait perempuan atau gender tertentu ya. Margaret Tatcher dan Jacinda Arden juga mampu mengelola kursi Perdana Menteri

👨‍🦰Iya, tapi coba lihat pertikaian ini. Ala emak-emak banget. Ada yang ngamuk-ngamuk, ada yang sindir-sindir

👱‍♀️Karena kali ini permasalahannya kompleks, ya kita gak bisa menilai sekilas.

👨‍🦰Lihat, ya. Beberapa pemimpin yang kebetulan perempuan, bertikai kayak anak kecil

👱‍♀️Memang gak semua perempuan bisa memimpin. Tapi ada lho perempuan yang “tough” banget, dan dia bisa memimpin dengan baik tanpa dicampur perasaan.

Asyik kalau dengar anak-anak berdebat.

Lucu dan mengesankan.

Ciri Khas Perempuan

Perempuan memang punya sumber daya emosi yang besar.

Untuk itulah cocok dengan pekerjaan-pekerjaan pengasuhan : guru, dosen, dokter, perawat, petugas sosial dan sejenisnya. Di zaman ini, banyak perempuan yang semakin terlatih dan pintar sehingga tidak lagi hanya berkutat di pekerjaan pengasuhan. Pekerjaan yang membutuhkan resiko besar seperti tentara dan polisi, juga bisa. Yang membutuhkan tantangan besar seperti pengusaha dan politikus, juga oke. Yang penuh masalah dan rintangan seperti kepala daerah, juga hebat.

Masalahnya : jangan bandingkan perempuan dan lelaki dalam perilaku.

Wong cara berpikirnya beda, anatomi tubuhnya beda, anatomi otaknya beda. Jadi perilakunya pun beda ( baca : Kitab Cinta & Patah Hati; juga Seksologi Pernikahan Islami, hehe).

Termasuk dalam pola kepemimpinan, pasti juga beda.

Bukan cuma bu Khofifah dan bu Risma lho, kalau berseteru model emak-emak.  Ada perempuan-perempuan di posisi jabatan tertentu sangat terlihat ciri khas keperempuanannya. Semisal, ketika bersaing dengan rekan kerja yang sama-sama perempuan, tidak berani bersikap fair. Perempuan suka merasa nggak enak hati, malu berterus terang, dan enggan konfrontasi secara frontal.

Beda dengan laki-laki yang bisa main gebrak, main labrak, hantam kromo. Berkelahi terang-terangan, tapi segera baik kembali kalau masalah selesai.

Perempuan?

Tentu beda. Memendam perasaan tak enak, susah mengungkapkan.

Kalau usia anak sekolah SD- SMA, tentu masalahnya tak rumit-rumit amat. Paling masalah persaingan akademis, persaingan cinta, persaingan perhatian guru. Semakin dewasa dan banyak tanggung jawab, tentu banyak pula yang dipertimbangkan.

Misal, seorang atasan perempuan. Ia akan mempertimbangkan anak buahnya, kadang sampai hal yang sekecil-kecilnya. Rumahnya di mana? Transportasinyanya bagaimana? Cukup gak penghasilannya? Nyaman gak dia di tempat kerja? Gimana kalau dia hamil dan sakit? Ciri pengasuhan perempuan tetap menempel di manapun ia berada. Ciri seorang istri, ciri seorang ibu. Karenanya, kadang atasan perempuan lebih cerewet dari atasan lelaki. Karena ciri pengasuhannya memang tampak sekali.

Ia akan memikirkan hal-hal sepele yang bagi atasan lelaki kayaknya gak banget deh. Misal, ada atasan perempuan saat rapat memikirkan menu makan rapatnya apa? Saat family gathering, apa saja menu yang dihidangkan untuk keluarga para bawahannya? Atasan lelaki tentu gak seperti itu. Tinggal nyewa gedung, hotel, plus menu makanan. Beres deh. Mau enak gak enak, yang penting bayar. Selesai.

Bu Khofifah emak yang mau mengayomi se Jawa Timur. Bu Risma emak yang mau mengayomi Surabaya. Waktu masalah mobil PCR, kelihatan kan ciri khas perempuannya?

Perempuan : Maksimal Level Berapa?

Kalau perempuan selalu punya ciri pengasuhan kayak gitu, bisa gak sih sampai level tinggi?

Misalnya orang nomer 1 di perusahaan. Orang nomer 1 di kementrian. Atau orang nomer 1 sebagai kepala daerah, atau kepala negara? Wah, pernyataan itu bisa mengundang polemik yang panjang. Tapi, saya lebih mau ngebahas ke pendekatan psikologi ya. Karena emang tahunya basic ilmu psikologi.

Kepribadian atau personality sangat berpengaruh pada pola pikir dan perilaku seseorang (baca lagi deh Seksologi Pernikahan Islami dan Kitab Cinta Patah Hati 😊). Personality ini panjang banget prosesnya. Intinya, gak ada lho orang yang tahu-tahu lahir jadi pemimpin. Baik lelaki or perempuan.

Ada perempuan yang awalnya gak bagus jadi pemimpin karena sedikit-sedikit baper. Lalu dia mau dikasih kritik, dikasih saran. Dia mau berkembang dan belajar. Nah, dia akan bisa terus melaju mencapai posisi tinggi. Tapi, proses dia mau “mendengarkan saran” itu juga perlu kedewasaan. Dan kadang kedewasaan itu juga bersumber dari personality.

Ada orang yang sepanjang hidupnya gak bisa dewasa. Sampai usia 30, 40, 50 tetap aja kayak anak-anak. Mau lelaki atau perempuan kalau kayak gini emang bikin senewen. Kalau perempuan masih kekanakan di usia dewasa, ya ia akan rewel. Gak peduli apapun posisinya. Kalau lelaki masih kekanakan di usia dewasa, ia akan adiksi sama perhatian. Eeeh, berarti sama-sama adiksi dong : adiksi perhatian. Cuma modelnya beda.

Perempuan yang hamil, punya anak banyak, kalau dia dewasa dan memiliki personality yang matang; dia akan siap menerima beban berat. Jadi pemimpin perusahaan,  kepala kantor, kepala daerah , kepala departemen, dst. Meski dia lagi repot dengan kondisi dirinya yang hamil, yang rempong sama anak dan suami; dia bisa me-manage masalahnya sendiri. Me-manage emosinya sendiri sehingga nggak merembet ke mana-mana.

Tapi perempuan meski anaknya cuma 1, atau bahkan memilih single karena ingin fokus karir, kalau nggak dewasa ya gak akan siap menerima amanah apapun.

So, kalau saya melihat bu Khofifah dan bu Risma, bukan sekedar : ah, emak-enak, baperan! Gak bisa mimpin daerah. Perempuan gak bagus kalau pegang jabatan tinggi! Enggak bisa se-simple itu. Kalau ada konflik, semua pihak pasti akan bersiaga dan waspada. Memanas. Sampai klimaks.

Masalahnya, kita emang belum pernah punya Gubernur dan Walikota perempuan bersamaan. Periode lalu, pakde Karwo yang jadi gubernur Jawa Timur. Jadi kalau konflik antara perempuan – lelaki, kayaknya bakal ada yang ngalah. Bakal ada yang adem. Tapi karena konflik kali ini antar perempuan, mungkin sensitifitasnya meningkat.

Sebagai perempuan saya ngerti kenapa bu Risma ngamuk-ngamuk pas taman Bungkul rusak berantakan. Lha, emak-emak kalau habis ngepel dan anaknya nginjak dengan kaki kotor aja bisa ngamuk! Perihal mobil PCR kelihatan banget kalau pola komunikasi perempuan yang seringkali by symbol dan berharap orang lain memahami, terjadi. Masalahnya, pola komunikasi perempuan di jajaran atas itu akan jadi tontonan nggak enak kalau dikonsumsi anak-anak bangsa dari berbagai latar belakang usia dan status. Semoga ibu-ibu kita tercinta itu segera berkomunikasi dengan baik lalu cari titik temu, ya.

Bagaimana pendapat anda?

Kategori
Hikmah mother's corner My family Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Remaja. Teenager Suami Istri WRITING. SHARING.

#hikmahcorona 1 : Membaca Bersama & Diskusi 6 Buku dengan Keluarga

Setelah agak lama diagendakan, alhamdulillah baru hari ini terlaksana. Kumpul bersama, baca bersama 30 menit di waktu pagi.

“Boleh ebook?”

“Boleh baca jurnal?”

Noooo!

Entah kenapa, kupaksa anggota keluarga untuk baca buku. B-U-K-U aja. Soalnya kalau ebook dan internetnya nyala, bisa-bisa terdistraksi ke hal lain.  Dan, semua harus duduk bersama membaca 30 menit. Sesudah itu share apa yang telah dibaca. Ternyata, membaca bersama itu lebih menarik dibanding membaca sendiri-sendiri. Apalagi setelah itu, kita share apa yang sudah dibaca.

Untuk buku bahasa Indonesia,  bisa dibaca hingga 20 -30 halaman.

Untuk buku bahasa Inggris, sekitar 5 – 10 halaman. Dan kuakui, bahasa Inggrisku kalah jauh dengan anak-anakku. Mereka baca buku bahasa Inggris ya baca aja, sementara aku harus bawa kamus. Dan aku lebih suka kamus konvensional. Sembari baca The Millennial Whisperer, sembari bawa dan buka kamus. Padahal  kosa kata Inggris di Millennial Whisperer jauh lebih sederhana daripada The Telomer Effect dan The New Smart. Rasa-rasanya aku harus ambil kursus bahasa Inggris pada teman-temanku via online sepanjang masa karantina.

Lalu, kenapa harus share yang harus dibaca? Toh aku sudah baca sendiri Pribadi Hebat (HAMKA) dan Korean Cool (Euny Hong); bahkan dua buku itu kubaca berkali-kali.

“Yang kalian baca dan kalian resapi, pasti beda dengan apa yang Ummi pahami. Siapa tahu pemahaman kalian akan melengkapi pemahaman Ummi,” demikian penjelasanku.

Dan ternyata benar. Anak-anakku punya pemahaman sendiri terkait buku yang dibaca mereka.

Si bungsu Nisrina, baca Korean Cool.

“Korea pernah mengalami masa susah juga. Dan dulu, guru boleh mukul murid-muridnya.”

Si abang nomer 3, Ahmad, baca The Telomer Effect.

“Ketuaan bisa disebabkan telomer yang memendek. Elizabeth Blackburn peneliti, Elissa Epel psikolog. Mereka meneliti bagaimana pemendekan telomer ternyata berpengaruh juga pada perilaku, ketuaan dan penimbunan lemak.”

Si abang nomer 2, Ayyasy, baca Pribadi Hebat.

“Kalau 10 kerbau dengan bobot sama, nilanya sama. Tapi tidak dengan manusia. 10 manusia dengan tinggi sama, kekuatan sama, kepintaran yang sama; nilainya tidak akan sama. Aku baru baca beberapa hal. Nilai manusia yang berbeda disebabkan oleh pertama, kecerdikan. Kedua, empati dan moral.”

Si kakak nomer 1, Arina, baca The New Smart.

“Aku baru tahu kalau Intrapersonal Intelligence berbeda dengan Exintential Intelligence,” ia membawahi beberapa poin penting. “Banyak sekali sekolah yang masih addict dengan kemampuan  bahasa dan matematika, padahal harusnya ada kemampuan  lain yang perlu dikembangkan. Orang berhasil karena memiliki lebih dari 1 inteligensi. Kenapa Leonardo da Vinci dikenang? Karena ia seorang ilmuwan dan artis.”

Membaca bersama, membagikan pengetahuan, mendiskusikannya bisa mempersingkat waktu kita untuk memahami satu sumber referensi. Kalau misalnya kita nggak sempat baca 1 buku, kita bisa meminta orang lain membaca dan merangkumnya. Meski tentu, membaca sendiri lebih memuaskan. Mendengar anak-anakku menyampaikan pendapat mereka sendiri terkait buku yang dibaca dan sudah pernah kubaca, memperkaya pemahamanku . Sebab, mendengarkan suara dan  pendapat anak-anak millennial, sesuai dengan buku yang tengah kubaca : The Millennial Whisperer.

Semoga, aku sempat mereview dan meresume buku ini ya 😊

Kategori
Artikel/Opini BERITA Hikmah Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Renungan Hidup dan Kematian Surabaya Topik Penting Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Susahnya Cari Masker!

Awalnya, kami berniat hanya menyalurkan uang donasi ke lembaga kesehatan dan lembaga ziswaf. Dana yang ada di kami lebih dikhususkan untuk membantu dhuafa saja. Tetapi, ada donatur yang berharap komunitas kami membantu alat kesehatan. Dan, mereka meminta bukti dari barang-barang yang kami beli.

Terus terang, membeli sembako tidak semudah yang dikira, di hari-hari belakangan ini. Harus beli maksimal 10 kg beras, sehingga perlu beli ke beberapa toko. Tapi itu masih dapat diatasi. Masker? Nah, ini lain perkara.

Harga masker, meroket akhir-akhir ini. Satu box yang biasanya hanya 30-50 ribu; sekarang menjadi sepuluh kali lipat. Baru saja datang sepuluh box masker pesanan seharga 300 ribu, penyedia sudah memberitahukan untuk pesanan berikut harga naik menjadi 320 ribu.  Itupun kalau barangnya ada!

Ternyata, masker harus indent dan kita perlu hunting. Macam-macam cara mendapatkannya, macam-macam pula tantangannya. Selain harus bergegas pesan kalau ada info, hati ini deg-degan apakah barangnya akan sampai tepat waktu. Ada beberapa kejadian yang perlu kita pelajari bersama :

♣☻Beberapa orang japri karena saya dan teman-teman  galang doansi. Mereka menawarkan masker. Siapa gak ngiler dengar kata “N95” belakangan ini? Harga 1 boxnya buat geleng-geleng kepala. Ketika saya diskusi dengan teman dokter , justru mereka bilang ,”itu murah bu Sinta! N95 jaman sekarang yah emang gila-gilaan.” Murah ya? Pikir saya. Saya tentu berniat memborong. Untungnya, si dokter bilang, “Mbak Sinta, tolong pastikan ya, kalau maskernya bukan reuse.”

Untungnya saya belum transfer, dan memang gak jadi beli. Entah barang habis atau ada kendala lain, kontak kami terputus ketika saya bertanya kepada penjapri tentang kepastian barangnya masih baru atau sudah reuse.

♣☺Gerak cepat. Ketika ada orang posting di grup  bahwa ia punya persediaan masker, terlambat beberapa menit barangnya sudah habis. Beruntung, saya punya teman yang bekerja di lab dan ia japri menawarkan masker mirip N95. Saya percaya karena selama ini track recordnya memang amanah. Tapi, saya hanya bisa pesan 1 box karena harus berbagai dengan yang lain. Gakpapa lah, pikir saya. Daripada gak ada sama sekali. Itupun masih menunggu berita. Dan kita harus stand by memegang hape karena bila tak jadi membeli, atau slow response, banyak sekali para pembeli di luar yang bersedia.

♣►Menyesal karena gak beli banyak. Inginnya beli langsung banyak. Tapi khawatir juga : apa barangnya ada? Apa barangnya bisa sampai? Apa kita tidak dibohongi? Meskipun pesan ke teman baik sendiri. Bukan teman kita bohong, tapi bisa jadi rekanannya. Maka ketika seorang teman menawarkan masker , saya percaya padanya dan membeli 10 box. Menyesal, karena ketika barang datang tepat waktu; mau pesan lagi sudah gak bisa.

Masker sudah di tangan. Tinggal didistribusikan ke RS. Sekarang, bingung cara menghantarkannya karena kondisi lockdown dan kita diwanti-wanti untuk gak banyak keluar rumah. Akhirnya barang dibawa kurir. Ada pesan teman dokter yang membuat kita waspada, “Mbak Sinta, jangan sampai kurir tahu itu isinya masker ya. Tolong ditutup raat-rapat.” Saya baru sadar, harga 1 box masker  hampir sama dengan 0.5 gram emas! Tentu, kita tidak perlu suudzon pada setiap orang tapi waspda dan hati-hati.

Alhamdulillah…masker sudah tiba di tangan yang tepat. Sedikit memang yang baru bisa kita perbuat bagi ummat, tapi rasanya bahagia sekali membayangkan para dokter dan perawat menggunakan masker donasi kita. Ada japrian seorang teman dokter yang membuat saya teriris-iris :

“Kami di sini sudah maju nyaris tanpa pelindung sama sekali, Mbak.…”

Membayangkan dokter dan perwat menangani pasien di era ini tanpa APD, tanpa masker; rasanya seperti menghantarkan pejuang kesehatan ke areal pemakaman.

Selamat berjuang , para dokter, perawat, apoteker, petugas kesehatan  dan semua pahlawan Covid19!

#GoodwillMovement

#Lawancoronabersama

#Lawancovid19

#ayobersama

#ayolebihbaik

Supported by :
👷‍♂️👷‍♀️Ruang Pelita Surabaya
Kiky 0856- 0612- 5200
Putri 0822- 2183-8498

Kategori
Artikel/Opini BERITA Hikmah My family Oase Renungan Hidup dan Kematian Suami Istri Surabaya Topik Penting Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Tuhan, Terimakasih Telah Beri Kami #Lockdown

Pernah di rumah lebih dari 2 minggu? Belum pernah, kan? Apalagi emak-emak. Seriing banget kita bilang

“Kapan libur, ya, kapaaan??”

Gegara capek anter anak sekolah pulang balik.

Gegara harus antar si kakak les dan si adek TPA.

Gegara harus ke pasar, urus ini itu, kondangan dan seterusnya. Bahkan, Sabtu Minggu itu sering banget jadi hari paling sibuk sedunia. Yang anaknya minta diantar beli bahan-bahan prakarya. Yang suaminya minta dimasakin special. Yang ada saudara hajatan. Tetangga kondangan. Acara RT RW dan lain-lain. Itu belum agenda kita pribadi ya? Namanya enak-emak adaaaa aja repotnya.

Sabtu Minggu kadang malah terpikir buat bikin seprei baru, atau baru keingat kalau barang-barang kecil di rumah udah nyaris lenyap : benang jarum, peniti, kaos kaki bulukan, pisau pada rusak. Akhirnya kalau akhir pekan disempatkan buat beli keperluan dapur dll yang kayaknya kecil tapi besar urusannya ketika pagi hari si anak teriak :

“Kancing baju seragamku lepas , Maaaa!”

Mau cuti?

Emak kagak pernah ada cutinya. Kalau suami sakit, masih ada istri yang pontang panting buatkan bubur. Buatkan agar-agar. Begitupun kalau anak-anak sakit. Kalau emak sakit; boro-boro tidur. Baru terpejam sebentar udah diganggu

“Ummi, ada tukang sayur. Mau belanja apa?”

Kata anak-anak, “udah Ummi istirahat. Biar kita yang ngerjakan.”

Nyatanya sampah numpuk, cucian numpuk. Mau nyalahin anak? Gak bisa juga.

“PRku banyak, Miii!”

Mau istirahat gegara badan meriang flu berat, eh suami tugas keluar kota. Jadilah kita ojek yang antar jemput anak. Pokoknya, jadi emak emang jihad fi sabilillah. Baru benar-benar bisa tertidur  ketika malam tiba. Atau di atas 00. Itupun kalau gak punya baby, lho ya. Kalau punya baby…jangan harap.

Lockdown

Datanglah hari anugerah sedunia. Semua harus di rumah. Gak ada urusan kantor. Gak ada urusan sekolah. Emang sih, harus mikir berkali-kali lipat untuk masalah ketahanan pangan dan keuangan yang menipis. Tapi Mak, ini juga bagian sangat penting dari diri kita.

Lockdown tubuh.

Lockdown pikiran.

Kapan terakhir kali seorang Emak bisa tidur lebih dari 30 menit?

Kapan terakhir kali seorang ibu bisa mengistirahatkan pikiran dari antar jemput, belanja ini itu, persiapan ini itu? Lelah juga lho, lahir batin.

Sekarang, semua di rumah. Suami. Anak-anak. Bukan kondisi ideal 100%.

Tapi 14 hari atau 2 pekan di rumah itu masa berlian banget buat kita jalin komunikasi, buat kita jalin kedekatan, buat jalin apa yang koyak dari hubungan kita gegara hidup ini kadang udah gak normal kecepatannya.

Percayalah.

Anak-anakku akhirnya capek kok main gadget, dan kita duduk melingkar ngobrolin ini itu. Becanda . saling menggoda. Anak-anakku nyerbu dapur, masak seadanya dan si Emak ini bisa duduk-duduk buat ngetik dan baca buku. Anak-anakku bikin agenda macam -macam di rumah dan aku bisa ngobrol dengan suamiku : berjam-jam.

Catat ya, Mak : berjam-jam!!

Baru kita ingat bahwa masa honeymoon dengan pasangan kita dulupun tak sempurna, dan sekaranglah honeymoon kedua. Jadi para Ibu, Bapak, anak-anak; nikmati masa lockdown fisik dan psikismu. Pasti ada yang pulih sesudah ini. Sesuatu yang sangat jauh di luar bayangan kita.

Kamu rinduh sekolahmu, yang selam ini kamu umpat karena membebanimu dengan PR.

Kamu rindu teman-teman sekolah yang selama ini kamu anggap duri karena sering ngebully.

Para bapak merindukan tempat kerja, yang selama ini dikeluhkan karena beban dan gaji yang sedikit.

Para emak merindukan tukang sayur yang selama ini disindir karena gak mau ditawar-tawar.

Dan…berapa banyak kaum muslimin yang rindu datang ke masjid, setelah sekian lama meraka merasa masjid terlalu bising menyuarakan adzan dan selalu berisik dengan nasehat-nasehat?

Tuhan..terimakasih, Kau beri kami #lockdown.

Kupikir awalnya ini hukmanMu

Ternyata ini adalah cara luarbiasa Engkau menyayangi kami. Agar kami berdiam di rumah sesaat sembari mensyukuri setiap hal kecil yang Kau berikan : masih ada keluarga di dalam rumah, masih ada beras untuk ditanak, bisa jamaah lengkap sekeluarga.

Sebelum #lockdown, keluarga kami tak pernah selengkap ini, Ya Allah.

Jadi Bapak Ibu, anak-anak sekalian. Nikmati masa #lockdown bahagia ini. Belum tentu 10 tahun ke depan, kita punya waktu libur  -sebenar-benar libur- selama beberapa pekan dengan komposisi anggota keluarga lengkap tanpa diributkan tetek bengek agenda di luar.

#GoodwillMovement

#lawancoronavirus

#lawancovid19

#ayobersama

#ayolebihbaik

Supported by :
👷‍♂️👷‍♀️Ruang Pelita Surabaya
Kiky 0856- 0612- 5200
Putri 0822- 2183-8498

Header artikel ini diambil dari Republika tentang Corona

Kategori
Artikel/Opini BERITA Cinta & Love Oase Renungan Hidup dan Kematian Surabaya Topik Penting Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Meski Bukan Rachel Vennya

“Influencer bisa langsung mengumpulkan 3 M,” kata anakku memuji Rachel Vennya, sangsi dengan semangatku dan adik-adik Ruang Pelita yang menggagas #GoodwillMovement

“Yah, kita memang bukan Yoona, IU, Song Jong Ki, Irene yang bisa langsung nyumbang masing-masing 1 M,” kataku, menyebut artis KPop yang donasi 100 juta won. Belum lagi Suga BTS, Irene Red Velvet, juga Bong Jong Hoo sutradara Parasite.

Para artis, selebritis, influencer memang bisa mengumpulkan uang dengan mudah. Tapi bukan berarti ciut nyali, bukan? Sebab keinginan orang berdonasi macam-macam. Ada yang menyumbang karena merasa percaya, merasa dekat, dan merasa hanya punya sedikit uang untuk bisa disumbangkan.

Meski sudah banyak lembaga yang melakukan gerakan, sebetulnya tidak akan cukup untuk sebuah kasus besar.  Rachel Vennya mungkin berhasil mengumpulkan donasi dengan jumlah fantastis. Sekali menyumpang belasan, puluhan hingga ratusan juta. Saya dan adik-adik di Ruang Pelita mengumpulkan sekitar puluhan hingga ratusan ribu. Tapi siapa yang akan mengumpulkan donasi orang yang ingin (mampu) menyumbang Rp 500, Rp 1.000, Rp. 5000? Pasti tetap dibutuhkan oleh masyarakat luas pihak-pihak yang mau mengumpulkan donasi sedikit demi sedikit.

Kamis (19/03/2020), kami mencoba memulai #GoodwillMovement. Tujuannya menggalang donasi dari teman-teman, sahabat lama, tetangga. Sedikit demi sedikit mulai terkumpul; yang nantinya akan disalurkan ke lembaga kesehatan dan lembaga ziswaf terpercaya. Bukan sekedar donasi, #GoodwillMovement berusaha membangun kembali silaturrahim dengan orang-orang yang  sejak lama terlupakan dari memori karena kesibukan masing-masing. Mencoba membangun kepedulian kepada orang yang masih harus berkeliling di masa lockdown : tukang sayur, tukang kebersihan, satpam, dsb

Menyusuri nama-nama di phonebook, betapa banyaknya teman lama yang tidak tersapa.

Selalu saja, ada hikmah di balik sebuah bencana. Adik-adik Ruang Pelita menyiapkan default laporan :

Nama :  (nama penyumbang)

Donasi : jumlah

Ditujukan : IMANI care/ LMI/ Ruang Pelita atau Lembaga yang ditunjuk

Permintaan khusus : mohon didoakan atas hajat atau doa atas orang-orang tertentu.

Mengharukan sekali permintaan para donatur. Ada yang memohon agar sekeluarga diselamatkan dari wabah, ada yang meminta didoakan agar kedua orangtuanya yang lansia segera pulih , ada pula yang berharap agar wabah ini segera lenyap dari bumi Indonesia.Covid-19 ini memang mengerikan. Tetapi ada  kebahagiaan tak terperi ketika di malam hari, masih ada yang menjapri, memberitahukan bahwa ia baru saja mentransfer donasi.

“Kalau ada gerakan lagi, saya diberitahu ya, Mbak.”

Masyaallah. Selalu ada orang-orang yang rela berbagi pada sesama.

#GoodwillMovement

#lawancoronavirus

#lawancovid19

#ayobersama

#ayolebihbaik

Kategori
Artikel/Opini Oase Renungan Hidup dan Kematian Surabaya Topik Penting WRITING. SHARING.

🌱🌿🍁🌸 Goodwill Movement : 1 menyelamatkan 5 orang dan Berkelipatan! 🍁🌸🌿🌱

Hayooo, bergerak melakukan goodwill movement seperti yang digagas Trevor Mc Kinney, bocah 12 tahun dalam film Pay It Forward (2000). Kalau 1 orang mengajak 5 orang melakukan kebaikan, lalu masing-masing orang mengajak 5 orang lagi melakukan hal yang sama dan begitu seterusnya; maka kebaikan akan cepat menggelinding bagai bola salju.

Apa yang harus digulirkan?

  1. Infaq/ sedekah untuk para pejuang garis depan pahlawan Covid-19. Berapa harga barang yang dibutuhkan untuk penanggulangan Covid 19? Baju pelindung disposable ( Hazmat Suit ) : Rp. 350.000-500.000 . Sarung tangan handscoon : Rp. 55.000-100.000
    Belum lagi masker, kacamata, dll. Padahal harus sekali pakai dan paramedis di lapangan bisa mencapai seribu orang. Terbayang beratnya beban pemerintah pusat dan daerah, bukan? Tentunya beban kita bersama juga.

Lee Min Ho, BTS, EXO, TWICE, Red Velvet bahkan sutradara Parasite Bong Joon Ho rame-rame berdonasi untuk mengatasi Covid 19. Banyak sudah institusi yang menggagas ini seperti lembaga zakat, lembaga profesi, masjid, gereja, dll. Kita tinggal men’colek’ teman dan mengarahkan . Setiap hari, ingatkan 5 orang saja minimal. Meski cuma Rp. 1000 rupiah, bayangkan yang terkumpul kalau seluruh kelurahan dan kecamatan ikut bergerak.

Berikut beberapa lembaga dan komunitas yang menyalurkan donasi untuk pahlawan garis depan Covid 19 , silakan dipilih 😊

👉🏻 IMANI Care , Bank Syariah Mandiri : 74141-741-77 (kode donasi 019, misal Rp. 100.019) ➡ Lembaga kesehatan
👉🏻 LMI (Lembaga Manajemen Infaq), Bank Syariah Mandiri : 708-2604-191 (kode donasi 83, misal Rp. 100.083) ➡ Lembaga ziswaf
👉🏻 Ruang Pelita (Ruang Pendampingan Psikologi & Literasi) :
Sinta Yudisia Wisudanti, Mandiri 142-00-1673-5556 (kode donasi 019, misal Rp. 100.019) ➡ komunitas

2⃣Alternative gerakan selama masa isolasi, karantina, restricted movement , lockdown :

👴🏽Tidak semua orang paham makna isolasi & karantina. Semisal, para orangtua yang tak familiar dengan gadget atau tak rajin nonton televisi; masih sering ke masjid. Siapkan kotak besar, tempat sajadah sekali pakai. Sajadah, mukena ; bisa langsung diletakkan ke situ untuk dicuci

🏎Tukang sayur, tukang bakso, tukang sampah dll. Selain mencari nafkah; mereka ternyata juga masih dibutuhkan para emak-emak yang terpaksa terisolasi di rumah. Berikan mereka vitamin C, masker kain. Ingatkan untuk sering cuci tangan. Ingatkan untuk jangan menggosok atau menggaruk areal muka. Memang ini tidak maksimal, tapi lebih baik daripada kita tidak membantu sama sekali, bukan?

👻Setiap warga sedang stress saat ini. Dari pejabat negara hingga pejabat rumah tangga. Setiap hari, sempatkan mengirim 1 meme lucu/ kisah lucu untuk menghibur. Tertawa itu sehat lho.

🤲🏻Dan, jangan lupa setiap hari, kirimkan doa khusus bagi 5 saudara kita minimal (sebut namanya secara lengkap, syukur-syukur dengan pasangan + anggota keluarganya). Minta 5 teman untuk mengirim doa ke 5 teman lagi, begitu seterusnya.

📞Selama wabah ini, tanyakan kepada 5 orang teman/tetangga. Apa yang menjadi hajat mereka? Siapa tahu mereka butuh sesuatu. Dan kita juga butuh sesuatu. Sebutir telur, atau 5 sendok gula pasir akan sangat membantu ketika toko-toko tutup. Japri, ya. Siapa tahu ada yang sungkan di grup. “Ih, masa minta bawang merah sih? Masa minta paracetamol? Gula? Garam?”

#lawancoronavirus

#lawancovid19

#sebarkebaikan

#tanamkebaikan

#gerakankebaikan

Supported by :
🕵🏻‍♀🕵🏻 Ruang Pelita – Surabaya
Kiky: 0856-0612-5200
Putri: 0822-2183-849