Reem & IBF Award 2018

Di balik Reem, Polaris Fukuoka dan The Road to The Empire

Reem's Award.JPG

Alhamdulillah #reem mendapat penghargaan untuk kategori fiksi dewasa terbaik 2018

 

 

Perjalanan the Road to The Empire, tidaklah mudah. Didahului dengan buku Sebuah Janji, The Lost Prince, lalu muncullah the Road to The Empire. Kisah Takudar berawal dari sebuah buku warisan ayah yang telah meninggal sejak SMA, the Preaching of Islam karya Thomas W. Arnold. Saat menyusun ksiah Takudar, internet belum seperti sekarang. Perlu waktu berhari, berminggu, bertahun untuk mengkumpulkan kliping koran tentang Mongolia dan negara-negara sekitarnya; serta tentang sejarah yang berkaitan dengannya.

Muluskah jalan TRTE?

Tidak. Pertama, ditolak penerbit dengan alasan pasar tidak suka tema berat, apalagi sejarah. Memang, dunia perbukuan ibarat ranah dagang yang tidak bisa diperhitungkan keuntungannya 100%. Ada buku yang bagus ternyata malah jeblok di pasaran, ada buku biasa-biasa saja dan penulisnya tidak butuh energi besar untuk menulis, malah laris manis. Itu masalah rezeqi dari Allah Swt. Kedua, TRTE lama sekali tidak menemukan penerbit yagn sesuai hingga bertemu dengan Lingkar Pena Publishing House dan mendapatkan editor andal, pak Maman S. Mahayana.

Tetapi masyaallah subhanallah, hingga sekarang kisah tentang Takudar lah yang paling banyak dicari orang. Orang masih menunggu buku ke-5 yang aku sendiri belum sempat selesaikan. The Road to The Empire meraih penghargaan sebagai fiksi dewasa terbaik di ajang IBF Award 2009.

IBF Award 09 dan 18.JPG

Polaris Fukuoka yang masuk nominasi sebagai fiksi terbaik 2018, Reem fiksi terbaik 2018 , The Road to The Empire fiksi terbaik 2009

 

Bagaimana dengan Polaris Fukuoka dan Reem?

Jujur, aku tidak menyangka dua novel ini masuk nominasi fiksi terbaik. Mengingat penilainya adalah Dr. Adian Husaini, Ibu Nina Armando, bapak Ahmadun Yosi Herfanda dan masih ada dua juri keren yang aku lupa nama beliau.

Polaris Fukuoka bersetting Jepang. Butuh energi besar untuk mempelajari budaya, filosofi, nilai-nilai dan rasanya ketika buku tersebut terbit; masih ada rasa tak puas karena aku belum cukup dalam memahami segala hal terkait Jepang.

Reem?

Mempelajari Palestina dan Maroko bukanlah pekerjaan mudah. Novel ini sebetulnya berdasar skenario bapak Beni Setiawan dan dari skenario itulah kususun novel Reem. Banyak rintangan, hambatan, halangan dalam menyusun buku Reem.  Polaris Fukuoka sudah disusun outlinenya sejak 2015 dan baru terbit 2017. Reem disusun sejak 2016 dan baru terbit 2017.

 

Di awal 2017, di buku harianku, tertulis catatan sekian banyak cerita pendek, naskah lomba, novel yang masih menemukan jalan buntu hingga aku sempat merasakan kesedihan yang dalam. Akankah aku berhenti di sini sebagai penulis? Apakah lebih baik aku bisnis online saja, yang banyak menjanjikan keuntungan?

 

Tetapi, ketika berada dalam ajang IBF seperti Rabu kemarin 18 April 2018 kemarin, di tengah insan perbukuan yang sama-sama merasakan rumit, keras, getir dan jatuh bangunnya industri perbukuan; kata-kata dari pak Hikmat Kurnia ketua panita, pak M. Anis Baswedan ketua IBF, sambutan dari pak Fadli Zon dan sambutan dari TGB sangat menyejukkan. Menyalakan api. Membuat hati-hati kita membara lagi calam celupan rasa cinta pada ilmu pengetahun, pengorbanan, dan keutamaan dari membaca, menulis, mempelajari, memahami hingga akhirnya menjadi bijak dalam menjalani hidup.

All winners.JPG

Kata TGB “people with beautiful minds”

Sebuah quote dari TGB dan istri beliau yang cantik dan cerdas membuatku terkesima.

“Para penulis yang berdiri di depan, menerima penghargaan adalah people with beautiful minds.

 

2009 bersama suamiku Agus Sofyan, 2018 bersama putraku Ibrahim Ayyyasy Kholilullah

Masyaallah.

Subhanallah.

Pada titik di mana kita merasa rendah, lelah, buntu dan putus asa; ada Allah Swt dan para tentara langitnya  siap memanggul harapan dan cita-cita ajaib kita menuju kemungkinan yang layak untuk diwujudkan.

 

Terimakasih kepada semua pihak yang telah menjadikan Polaris Fukuoka dan Reem sebagai novel terbaik 2018.

 

#novel

#novelislami

#reem

#polarisfukuoka

Iklan

Kontroversial Video Logan Paul tentang Aokigahara dan Upaya Mengatasi Commit-Suicide

 

Kita selalu merinding mendengar kata bunuh diri atau commit suicide.

Kematian adalah salah satu hal yang pasti akan dialami makhluk hidup. Namun bagaimana akhir hidup manusia, sungguh merupakan perenungan bagi kita semua. Sebagian manusia meninggal karena wabah kelaparan, peperangan, bencana alam, endemi penyakit atau human error seperti kebakaran dan kecelakaan. Walau bila bicara takdir, maka semua telah tertulis di lauhil mahfuz.

Tetapi, menjadi kewajiban manusia beriman dan berakal untuk mencermati segala fenomena yang terjadi dan berupaya sebaik mungkin menanggulanginya. Wabah penyakit misalnya, manusia berupaya sebaik mungkin untuk mengenali demam berdarah; mulai mencegah, mengenali tanda, memberikan pertolongan pertama hingga memberi perawatan sampai mencapai taraf kesembuhan. Belum lama ini di wilayah Jawa Timur utamanya Surabaya, dikejutkan dengan wabah difteri. Maka pemerintah dan masyarakat ramai-ramai menggalakkan vaksin.

Bencana yang disebabkan human error misalnya, pun dicoba diatasi sebaik mungkin.

Kebakaran? Banjir?

Kalau disebabkan karena buang puntung rokok sembarangan, sampah menumpuk; maka semua harus diantisipasi. Kecuali apabila kemarau panjang yang menimbulkan kebakaran dahsyat seperti di Australia tempo hari. Bagaimana dengan commit suicide? Apakah ia human error ataukah takdir yang tidak dapat diubah?

Kembali, kita tidak akan membahas takdir namun kita akan berupaya sebaik mungkin untuk mengatasi, atau mencegahnya.

Chester Bennington, Jonghyun dan Marilyn Monroe

Sederet artis papan atas dikabarkan bunuh diri.

Yang terus dikenang sepanjang zaman adalah Marilyn Monroe. Artis cantik nan sensual ini, seharusnya mendapatkan apa saja yang dapat diraih dunia; bila kebahagiaan itu senilai materi. Tetapi, Monroe tidak mendapatkannya. Ia mengalami abuse sejak kecil, suami pertamanya memperlakukan tidak baik dan pada akhirnya ia menjadi bintang bom seks. Monroe mendambakan kehidupan sebagai istri dan ibu, maka ia pernah berkata : “kalau perempuan disuruh memilih antara karier atau keluarga, pilihlah keluarga. Aku sangat ingin punya anak dari rahimku sendiri.”

Ya.

Monroe yagn sensual dikabarkan berkali-kali mengalami keguguran.

Menjelang akhir hayat ia menjalin kasih dengan JF Kennedy, dan sungguh ia berharap itu merupakan kisah cinta sejati. Meski kerabat dekat sudah mengingatkan, mustahil Monroe menjadi first lady karena meski ia sangat menawan sebagai bom seks, publik Amerika tetap akan memilih Jacquline Onassis sebagai ibu negara!

Chester Bennington pun memiliki masa lalu yang sangat tak stabil. Vokalis idola anak muda yang sangat legendaris dengan Meteora nya ini, mengakhiri hidup sehingga publik merasa sangat terkejut sebab sangat sedikit grup musik semacam Linkin Park. Nyaris tak percaya di puncak keberhasilan, dipuja jutaan penggemar, memotivasi anak-anakmuda, menghentak dengan genre rock berbeda; tetap saja tak membuat Bennington nyaman dengan semuanya.

Jong Hyun?

Books about Korea

Kita akan memahami mengapa ia memilih mengakhiri hidup bila telah membaca Korean Cool –Euny Hong.

“Setiap negara maju, pasti memiliki ironi,” tulisnya. Bila belum memiliki ironi, maka ia bukan negara maju. Dengan kata lain, menurut Hong, kemajuan negara pasti akan menimbulkan paradoks. Negara yang makmur, maju, tenang, damai, sukses; belum tentu terlihat seperti apa di permukaan. Kerja keras pejabat dan rakyat, kadang harus dibayar mahal. Untuk menciptakan kemakmuran setiap orang harus bekerja lebih dari waktu rata-rata. Setiap orang harus berpikir untuk maju, sukses, berhasil; dan mereka yang menghambat kemajuan akan terpinggirkan.

Euny Hong menyebutnya ‘masa perbudakan’. Setiap warga Korea paham, bila belum mencapai target, mereka akan rela dalam masa perbudakan. Itulah sebabnya, boyband dan girlband rela berada dalam masa karantina dari 5 hingga 13 tahun. Mereka berlatih vokal, berlatih menari, berlatih tampil, berlatih manggung dan seterusnya hingga ketika debut muncul : sempurna. Sehari latihan bisa memakan waktu belasan jam, kalori makanan terkontrol dan aktivitas harian pun terjadwal.

Inilah ironi.

Dunia berdecak dengan hallyu yang menganeksasi dunia. Berbeda dengan Amerika yang daya serangnya hard melalui milter dan ekonomi, Korea Selatan sangat soft : melewati budaya. Dan betul kata Hong , “Korea memiliki apa yang tak dimiliki Amerika. Kami pernah menjadi negara dunia ketiga. Jadi kami pernah tahu bagaimana rasanya menjadi terbelakang.”

Kita mengelu-elukan boy band dan girl band. Tapi pernahkah kita tahu apa penderitaan mereka, ratapan hati, tangis dan kelelahan di balik panggung? Sekali mereka melakukan kesalahan, hujatan mengalir.  Lebih gemuk, berjerawat, bermuka masam dan sejenisnya; publik menghujat. Padahal para idol adalah manusia juga yang ingin sesekali menjadi diri mereka apa adanya. Ingin bersantai, bermalas, membangkang; yah, mirip anak muda pada umumnya.

 

Aokigahara dan Bunuh Diri

Hutan Aokihagara dan film the Forest

Pernah lihat film the Forest yang mengambil tempat di Aokigahara? Aokigahara terletak kurang dari 100 mil arah barat Tokyo, terkenal karena keindahan hutan dan gua-guanya yagn eksotik. Serta, pepohonan rimbun yang menjadi tempat persembunyian sempurna bagi orang-orang yang ingin mengakhiri hidup.

Budaya bunuh diri Jepang sangat dikenal masyarakat dunia, sebagian berdecak kagum, sebagian sangat menentang. Seppuku, kamikaze, harakiri dan sejenisnya merupakan  tindakan lelaki Jepang dalam mempertahankan kehormatan. Mereka lakukan bila kalah perang atau justru melakukan serangan bunuh diri untuk menyentak lawan. Tradisi yang awalnya dipakai sebagai upacara kehormatan ini bergeser menjadi sebuah perilaku yang bukan hanya dilakukan kaum militer tapi masyarakat biasa. Bila dulu orang mengenal tradisi bunuh diri dilakukan oleh para samurai yang kalah tanding dan para serdadu Jepang ketika kalah perang dunia ke-2; maka orang-orang zaman kini lebih mudah melakukan tanpa melewati perang tanding atau perang medan laga. Yang penting merasa ‘kalah’ maka bunuh diri dilakukan. Kalah dalan cinta, kalah dalam akademis, kalah dalam bisnis, kalah dalam pekerjaan, kalah tidak mencapai apa-apa. Kalah, bahkan sebelum kita mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri.

 

Hutan Aokigahara dan Logan Paul dengan video kontroversialnya

 

Cara memandang bunuh diri bagi masyarakat Jepang dan masyarakat dunia lain, pasti berbeda. Vlogger yang mungkin memandang konsep bunuh diri secara berbeda, adalah Logan Paul yang videonya tengah viral.

Paul Logan bisa mengolok-olok Aokigahara dan tradisi bunuh diri masyarakat Jepang sementara videonya menempati ranking 10 teratas dunia. Kontan, publik mengecam youtube karenea video itu bebas ditonton. Saya tidak akan membahas dunia maya sebab tidak memiliki kehalian di sana, tetapi lebih memilih menyikapi bagaimana kita memandang bunuh diri sebagai sebuah tradisi, dan sebagai sebuah perilaku yang tampaknya mulai lazim dilakukan.

 

Mengapa Bunuh Diri?

Sungguh, keprihatinan ini menyeruak mencermati kondisi sekeliling. Apalagi, tradisi bunuh diri lekat dengan masyarakat Jepang dan sekarang Korea Selatan, yang gelombangnya tengah diminati anak-anak muda Indoensia. J-pop dan K-pop sangat memikat; maka tak ada salahnya kita mencoba memelajari kultur kedua bangsa tersebut dan mengambil apa yang baik bagi Indoensia dan menyaring apa yang kurang tepat bagi bangsa ini.

Di novel Polaris Fukuoka, dikisahkan Yamagata Isao bunuh diri. Adiknya, Nozomi sempat berniat melakukan hal yang sama tetapi persahabatannya dengan Sofia mencegahnya melakukan hal ini. Mengapa Isao bunuh diri? Tekanan akademik dan tuntutan orangtua, yang berseberangan dengan bakat minatnya, membuat dirinya melakukan hal itu.

Mengapa saya mengangkat tema ini?

Saya pernah melakukan tes bakat minat untuk anak SMP. Dan ketika hasil tes keluar, saya konsultasikan dengan guru-guru sekolah; tampaklah bahwa orangtua tidak dapat menerima begitu saja bakat minat anak mereka. Ada seorang anak yang memiliki dua orangtua sukes sebagai ahli medis. Orangtuanya berharap anaknya pun seperti itu. Padahal ketika tes bakat minatnya keluar, yang muncul adalah kecenderungan literasi, aesthethic dan social service! Sungguh tidak nampak kecenderungan ke sains dan medikal. Sangat disayangkan bila orangtua masih memaksa anak-anaknya menjadi sesuatu, karena pertimbangan status dan ekonomi.

 

Kutipan percakapan Sofia dan Nozomi membahas bab bunuh diri

Demikian pula Isao.

Ia yang sesungguhnya ingin jadi pemusik, dengan kecerdasan otaknya dipaksa harus menjadi mahasiwa di universitas terkemuka. Begitu pula Nozomi. Tentu saja, diharuskan demikian karena bisnis keluarga mengharuskan para pewaris harus menekuni ilmu tertentu dan menguasai keahlian tertentu; walau bakat minat tidak mendukung.

Demikianlah, sebuah ironi.

Kemajuan dan kemapanan, bila tanpa pemahaman emosional yang baik dan pendekatan nurani akan menimbulkan kekacauan hati dan kegalauan pikiran. Dan, begitu mudahnya orang memutuskan bunuh diri ketika kalah.

“Di titik apa seseorang memutuskan bunuh diri?” tanya Sofia pada Nozomi.

“Di titik ketika mereka merasa diabaikan,” jawab Nozomi.

 

Perbedaan Budaya dan Tradisi

Eropa dan Amerika berbeda.

Di wilayah ini, kultur individualis telah terasah sejak dini. Kemandirian, memutuskan sesuatu secara individual dan bukan kolektif; biasa dilakukan. Anak tidur terpisah sejak kecil, anak usia 18 tahun bebas hidup serumah dengan pacarnya, anak remaja naik mobil dan mengkonsumsi alkhol ; sudah diputuskan sejak usia 18 tahun. Diabakan, hidup sendiri, sudah menjadi kebiasaan; walau akhir-akhir ini fatherless family pun memunculkan masalah baru. Terbiasa mandiri dan individualis itu bukannya tanpa masalah.

Bagaimana dengan dunia timur : Indonesia, Jepang, India, Korea?

Kita masyarakat kolektif.

Menikah butuh pertimbangan paman bibi, kakak adek, kakek nenek, tetangga sepupu dll.

Kuliah pun demikian. Cari jodoh pun demikian. Bekerja pun demikian. Maka pertimbangan banyak orang seringkali jadi perhatian yang memusingkan. Walau diri sendiri sudah tak mampu menanggulangi, tetap harus memikirkan oranglain. Inilah ironisnya.

Perasaan tertekan dan tidak mampu mengungkapkan apa yang ada di dalam benak dan hati; bagi masyarakat timur lambat laun menjadi batu yang menghimpit. Maka bila tidak dikomunikasikan, disalurkan dengan baik; di titik tertenu menajdi perasaan kalah yang membabi buta : mati lebih enak (seperti sebuah novel karya Alistair Maclean). Walau ternyata, di novel tersebut dikisahkan, perjuangan seseorang untuk mati sama sulitnya seperti perjuangan seseorang yang mencoba hidup!

 

Mengatasi Bunuh Diri

Peduli, itu kuncinya.

Mindfulness of others, cobalah mempertimbangkan pikiran dan perasaan orang lain. Cobalah peduli dan berbicara pada orang yang tengah membutuhkan sandaran dan telinga; sebagaimana yang dilakukan Sofia dan Tatsuo pada Nozomi. Memang, orang yang tengah punya masalah bisa jadi sangat membebani. Mereka mengungkapkan keluhan dan permasalahan sementara orang yang tengah mendengarkanpun jugamemiliki segudang masalah yang tak kurang beratnya; tetapi itu dilakukan karena hati dan batin mereka, mental mereka sedang rapuh dan sakit. Kalau kita sedang banyak pikiran, inginnya mengomel, kan? Lagi marah, pinginnya mengumpat. Lagi sedih, inginnya meratap dan menangis.

Demikian pula dengan orang yang punya banyak beban menghimpit, sampai tak tahu harus bagaimana lagi. Mereka ingin mengosongkan pikiran dan hati yang pepat, ingin mencurahkan keluar, ingin mencari tempat pelarian. Masih untung bila mereka menemukan teman, sahabat, saudara yang jadi tempat berbagi. Kadang, ingin curhat di medsos bukannya dapat simpati dan empati; malah dimaki-maki.

Maka, di pusat-pusat rehabilitiasi mental kita akan menemui orang yang afeksinya tumpul. Sedih banget, mendapat penderitaan bertubi, menerima kemalangan beruntun; malah tertawa (ini sebetulnya salah satu tanda ketumpulan afeksi yang harus diwaspadai) Orang skizofren tidak lagi tahu beda bahwa sedih itu menangis dan senang itu tertawa. Mereka marah, senang, sedih, biasa, akan  selalu tertawa. Depresi dan skizofrenia yang akut; bisa menimbulkan pemikiran shortcut . Entah itu melukai oranglain, atau bila tak memiliki kekuatan melukai oranglain, akan berbalik melakukan self-harm. Awalnya hanya menjambak diri sendiri atau membenturkan kepala, tetapi lambat laun bila tak tertahankan, akan melakukan hal pintas yang dianggap mengakhiri penderitaan.

Bunuh diri adalah perilaku yang harus diwaspadai.

Berbeda dengan pelaku free sex, drug abuse, pornografi dsb yang masih dapat diperbaiki, bunuh diri sungguh fatal sebab pelakunya langsung meninggal dan tak ada lagi yang dapat diperbaiki. Maka pemerintah dan masyarakat harus waspada terhadap kasus ini. Paul Logan mungkin harus mendapatkan peringatan tetapi videonya membuat orang terhenyak : apakah sekarang perilaku bunuh diri sudah tidak membuat orang menjerit, menangis, dan ngeri; tetapi malah membuat orang excited dan tertawa? Apakah sesungguhnya Logan Paul itu kita : semakin lucu (meski prank dan menyusahkan orang), semakin menakutkan, semakin sadis, semakin membuat bulu kuduk merinding maka itu akan membuat klik meninggi dan viewers membanjir?

Semoga video Logan Paul tidak mencerminkan kita. Ia telah membuat klarifikasi videonya tentang Aokigahara yang terkenal sebagai  suicide forest. Di video tersebut, Logan Paul mengambil video dengan latar belakang tubuh orang yang mati bunuh diri sembari tertawa-tawa dan mengunggah ungkapan yang kurang pantas.

Ke depannya, kita harus mewaspadai dengan perilaku dan kecederungan teman-teman kita, keluarga kita untuk beunuh diri.

Atau bahkan, kita harus mewaspadai diri sendiri, apakah telah tampak keinginan untuk bunuh diri?

 

 

Membumikan Ilmu Psikologi

 

 

Literasi sains, saya tertarik dengan bahasan Kompas hari ini, Kamis, 16 November 2017. Bahwa masyarakat umum perlu sekali mengetahui apa saja perjalanan dan pencapaian dunia ilmiah. Betapa banyaknya berita hoaks yang terebar. Berdasarkan tulisan hari ini, tulisan hoaks tertinggi di bidang kesehatan, politik dan dunia entertainment.

Di bidang kesehatan, kita mengambil kata-kata WHO bahwa sehat berarti memiliki ketiadaan cacat baik fisik maupun mental. A state of complete physical, mental and social well-being and not merely the absence of disease or infirmity; kata-kata ini saya cantumkan dalam penelitian saya saat skripsi dulu yang membahas tentang PWB atau psychological well being.

Hoak di bidang kesehatan memang menempati urutan pertama. Termasuk kesehatan mental.  Hoaxs sendiri bermakna “ a plan to deceive someone, such as telling the police there is a bomb somewhere when there is not one, or a trick: The bomb threat turned out to be a hoax.

He’d made a hoax call claiming to be the president.

Hoak adalah rencanan untuk menipu seseorang. Dengan kata lain, hoak bukanlah sebuah berita yang 100% bisa dipercaya kebenarannya. Bahkan, boleh jadi muatan kebenarannya hanya 25% atau malah 0%. Dalam ranah psikologi, saya sendiri merasakan itu betapa klien telah dipenuhi pikiran dan pemahamannya oleh berita hoak.

“Anda perlu segera datang ke rumah sakit X.”

“Bu Sinta mau bilang kalau saya gila?!”

Di kali lain,

“Anda sepertinya harus dibantu obat.”

“Apa saya kelihatan nggak waras??!”

Skizofrenia, insane, depresi, mood, stress dan seterusnya telah dipahami secara salah ke tengah masyarakat.

Koran hari ini, Jawa Pos, 16 November 2017 juga memberitakan hal yang sangat mengerikan terkait perlakuan orang-orang normal terhadap seorang penderita gangguan jiwa di tengah jalan. Stigma terhadap penyakit jiwa begitu buruknya hingga akhirnya masyarakat enggan berobat, enggan menyadari dan mengakui bahwa di sekelilingnya (atau bahkan dirinya sendiri) memiliki gangguan emosi atau gangguan kepribadian. Seringkali, orang datang kepada psikiater atau psikolog ketika gangguan sudah dirasa tak tertahankan, ibaratnya stadium 4 dari penyakit kanker. Bila tidak segera ditangani maka akan menjadi penyakit yang menggerogoti diri dan lingkungan, bahkan akan menimbulkan dampak tak diinginkan.

 

Tugas Psikolog dan Ilmuwan Psikologi

Menjadi tugas orang-orang yang pahamd unia kesehatan untuk membumikan ilmunya. Sebagai psikolog, saya rutin memposting hal-hal terkait psikologi. Beberapa hari lalu saya memposting tentang lelaki dengan pribadian alpha-male. Tulisan ini mendapat respon lumayan ramai dari pembaca medsos. Harapan saya agar lelaki lebih waspada bila dirinya memiliki kharisma itu dan perempuan pun tidak lantas terperdaya.

Sebagai penulis novel, saya juga menghadirkan ke tangah masyarakat tentang kehidupan psikolog atau setidaknya novel yang merangkum ilmu psikologi. Rinai dan Bulan Nararya sendiri mengetengahkan kehidupan Rinai dan Nararya yang merupakan orang-orang psikologi dengan segala suka dukanya.

Saya juga membuat buku-buku yang ringan terkait dunia psikologi seperti Sketsa Cinta Bunda, Mendidik Anak dengan Cinta. Bahkan, di buku Sarah : Seri Perempuan Istimewa yang merupakan buku sejarah; secara tak langsung saya selipkan ilmu psikologi. Misalnya, saya kemukakan bahwa Sarah adalah seorang perempuan yang berani bicara. Itulah sebabnya, kenapa perempuan harus berani bicara di saat penting dalam hidupnya. Sarah berani bicara kepada ayahnya. Sejarah Sarah memang masih diteliti hingga kini. Namun disinyalir, ia seorang putri bangsawan terkemuka dari dinasti Isin atau Larsa di daerah Mesopotamia. Betapa Sarah berani mengemukakan pendapat untuk bicara tegas, ketika ia memilih Ibrahim sebagai suami.

 

Begitupun, Sarah adalah perempuan yang berani bicara dan bertindak, ketika ia yakin berada di atas garis kebenaran. Ketika 3 malaikat yang mulia : Jibril, Mikail, Isrofil hadir ke rumahnya; Nabi Ibrahim as merasa sedih akan berita buruk yang akan menimpa kaum Saduum. Namun tidak dengan Sarah, mendengar berita dari malaikat iapun ikut murka terhadap kedzaliman kaum Saduum yang berani menentenag Allah Swt dan Rasulnya, Luth as.

 

Mengapa buku bisa menjadi ajang komunikasi dari seorang ilmuwan kepada khalayak? Sebab buku menjadi bahasa yang tidak mungkin diucapkan semua oleh penyampainya. Buku juga bsia menyelipkan nilai-nilai secara halus tanpa terasa.

Carl Sagan menulis tentang Contact; sebagai astronom ia ingin menyampaikan kepada khalayak tetnang dunia astronomi ketika membahasa makhluk luar angkasa. Frank Tallis seorang psikolog klinis  yang menbuat serangkaian novel seperti Death in Vienna dan Vienna Blood  untuk menjelaskan pada khalayak bahwa psikoanalis tidak hanya bicara masalah basic instinct terkait sexual saja. Tetapi bagaimana tokoh utamanya , Max Lieberman berusaha mengungkap kejahatan dengan pendekatan psikoanalis kepada tersangka.

 

Selain novel dewasa dan buku sejarah dan motivasi yang saya selipi ilmu psikologi; saya juga membuat novel-novel remaja dengan rangkaian ilmu psikologi di dalamnya.

Reem dan Polaris Fukuoka, dua tokoh di dalamnya yaitu Reem dan Sofia memiliki satu kebiasaan psikologis yang sangat baik : menulis. Reem suka menulis puisi, Sofia suka menulis buku harian. Itu sebabnya, ketika saya memposting di fesbuk tentang apakah menulis dan kebiasan mencurahkan perasaan di buku diary membuat seseorang dapat melampiaskan marah dan benci? Hampir semua yang memberikan komen menjawab : ya.

 

Menggaungkan Ke Orang Sekeliling

Saya selalu menorong orang-orang di sekeliling untuk menjadi konselor kecil-kecilan. Baik kepada suami ataupun anak-anak saya.

1

“Ummi, temanku ada yang korban KDRT. Dia sama ibunya.”

“Sudah lapor ke polisi, Nak?”

“Kayaknya enggak deh…”

“Kalau begitu, kamu harus jadi teman curhatnya ya…”

 

2

“Ummi, temanku ada yang kelakuannya menyebalkan banget. Udah gitu dia gak ngerasa lagi kalau nyebelin.”

“Yah, itu namanya orang yang dalam berkomunikasi memiliki non-verbal disorder. Dia gak bisa memahami bahwa tingkah laku, sikapnya itu menyebalkan orang lain.’

“Trus gimana?”

“Kasih dia hadiah. Nanti kan bisa kamu dekati.”

 

3.

“Ummi, temanku ternyata ada yang orangtuanya single parent.”

“Trus, anaknya gimana?”

“Kebetulan sih anaknya baik. Ibunya perhatian. Bekas ayahnya juga perhatian.”

“Oh bagus itu. Kamu dekat sama dia kan?”

“Iya.”

“Kamu harus jadi teman baiknya. Ajak dia ngobrol ya.”

 

4

“Kenapa sekarang perempuan suka menggugat cerai?” tanya suamiku yang kebetulan ruang lingkup kerjanya di wilayah HRD.

“Oh, selingkuh ya?” sahutku.

“Ya.”

“Itu karena perempuan dominasi perasaan. Jadi pas sudah nikah lalu ketemu lelaki yang mempesona, terhanyut. Padahal belum tentu lelaki itu sebaik suaminya yang sekarang.”

“Trus gimana?”

“Ya memang hubungan suami istri harus didekatkan. Jadi kalau suami pindah kerja, usahakan istri mengikuti. Kantor dan pemerintah harus melihat aspek itu. Jangan sembarangan mutasi karyawan.”

 

Edukasi kepada Orang Sekeliling

Saya sampaikan kepada klien-klien bahwa skizofren dan depresi bukanlah hantu menakutkan yang membuat orang punya cacat seumur hidup dan menebarkan bau busuk hingga harus diasingkan. Sebagai psikolog, kitapun harus memperkenalkan diri kepada orang-orang sekitar : saya psikolog. Kalau orang bertanya apa bisa minta obat , maka kita jawab : itu ranah psikiater. Orang-orang akan semakin paham apa perbedaan psikolog dan psikiater bila kita terus menggaungkan. Dan juga, orang akan memahami level sakit ketika harus mengunjungi kedua ahli tersebut.

Seorang ibu pernah melaporkan kerabatnya yang sering mengamuk tak karuan hingga mengancam lingkungan. Orang-orang menyebutnya gila. Apalagi agresifitas dan gangguannya sudah kelewat parah. Apalagi keluarganya orang tak mampu.

“Saya harus gimana bu Sinta?”

“Ibu punya BPJS?”

“Ada sih.”

“Masukkan ia ke rumah sakit X.”

“Memangnya bisa? Terus berapa hari?”

Saya jelaskan bahwa obat-oabt antidepresan dan antipsikotik sebagian masuk dalam daftar BPJS. Dan pasien rumah sakit jiwa yang tidak mampu , gratis. Mereka akan rawat inap antara 30-60 hari tergantung daya tampung rumah sakit. Ketika sudah waktunya keluar, mereka akan kelur dan ketika kambuhpun bisa masuk lagi. Pendek kata, orang dengan gangguan seperti ini memiliki banyak cara untuk sembuh. Jadi jangan hanya didiamkan. Bahkan, kalau kita sendiri sudah mengalami tekanan hidup berkali kali dan beragam  jenisnya, jangan malu untuk mendatangi psikolog.

Uuntuk edukasi kepada masyarakat, alhamdulillah saya sendiri mencoba berbagai cara. Antara lain lewat tulisan, siaran radio, seminar dan wrokshop. Untuk kali ini, saya ingin memperkenalkan suatu program yang sudah lama sekali saya impikan. Saya bercita-cita memiliki Pusat Penelitian dan Pusat Penyembuhan dengan konsep art therapy. Mungkin karena saya sendiri berjiwa seniman ya. Salahs atunya adalah metode writing therapy. Semoga metode ini dapat diterima khalayak di berbagai level usia dan menjadi salah satu sarana menuju kesehatan mental yang paripurna.

reem workshop

 

 

 

 

 

 

Mengenal Writing Therapy atau Terapi Menulis

 

 

Pernahkah dengar tentang writing therapy atau terapi menulis?

Dan menurut anda, bisakah menulis menjadi salah satu bentuk terapi?

Terapi menulis, adalah salah satu bagian besar dari art therapy atau terapi seni. Terapi seni mencakup semua terapi psikologis yang menggunakan pendekatan seni dalam proses terapeutiknya. Berhubung seni sendiri mencakup pemaknaan yang luas, maka terapi seni pun dapat bermacam-macam mulai terapi melukis, psikodrama, terapi menulis dan sebagainya.

Terapi menulis digaungkan antara lain oleh James Pennebaker.

Walau terapi ini tentu menuai pro dan kontra, tetapi beberapa pihak semakin terpanggil untuk menjadikan cara ini sebagai sebuah cara ampuh untuk mengatasi berbagai gangguan.  Umumnya, orang masih lebih mempercayai terapi kognitif dan terapi behavior yang terlihat lebih jitu dalam mengatasi gangguan kepribadian ataupun gangguan perilaku. Atau bila sudah terlalu dalam, pendekatan psikoanalitik dirasa lebih tepat. Terapi menulis lebih masuk ke arah pendekatan transpersonal yang disebut sebagai pendekatan atau madzhab keempat sesudah psikoanalis, perilaku dan kognitif. Bahkan, Pennebaker mengklaim klien-kliennya yang memiliki trauma masa lalu parah menjadi jauh lebih baik ketika menjalani writing therapy atau terapi menulis.

 

Siapa yang menjalani terapi menulis?

Gadis-gadis zaman dulu,  atau yang hidup di era 80-90; punya perilaku unik dalam kehidupan sosial. Waktu saya SD, SMP, SMA ; saat salahs atu ulang tahun maka teman-teman satu gengnya akan punya default barang sebagai hadiah. Kaset, boneka, kartu ucapan  yang bisa mengeluarkan irama musik,  atau buku harian. Buku harian lengkap dengan gembok dan kunci! Rata-rata gadis zaman saya punya buku harian dan itupun tak cuma satu. Di toko buku, buku harian jenis yang paling suka diburu para cewek. Rasanya, kalau bisa mengumpulkan uang dan memiliki buku harian yang diidam-idamkan : bahagiaaa sekali. Buku harian itu biasanya memiliki tebal 300-400 halaman. Berwarna-warni; dominasi pink tentu saja. Dengan quote kecil yang membuat hati makin baper seperti : love at the first sight is endless love. Always thinking about you. Your eyes is like a rainbow. Miss you like crazy dan begitu-begitulah. Pokoknya, diary menampung curhat para gadis dan insyaallah aman sebab tegembok dan tersimpan di lemari. Kecuali bila ada yang usil mengambil kunci gemboknya.

Gadis zaman saya dulu nyaris tidak mengenal kata stress.

Jangan dibilang kalau di zaman itu tekanannya tidak seberat sekarang ya. Beuh! Sama beratnya! Di segala zaman, tantangan sendiri-sendiri.

Zaman saya sekolah, belum ada whatsapp dan line. Kalau tidak masuk sekolah karena sakit atau izin keperluan keluarga; harus cari pinjaman buku teman untuk fotokopi atau disalin tulisan tangan. Tidak semua rumah punya telepon, jadi tidak selalu persoalan diselesaikan melalui telepon. Internet? Boro-boro. Tugas sekolah yang memerlukan referensi diselesaikan dengan cara bermain ke perpustakaan atau pergi ke toko loak . Di Yogya, toko loak buku ada di shopping center. Wuah, ini surganya saya. Kalau naik becak kemari, bisa berjam-jam mendekam dan menyusuri gang-gangnya!

Tekanan di zaman saya besar.

Sama besarnya dengan tekanan hidup era sekarang, namun bentuknya lain.

Tetapi kami punya cara pelampiasan, tanpa kami sadari : menulis.

Jatuh cinta, patah hati, dimusuhi teman, di bully, dimarahi guru, disetrap guru, dimarahi orangtua, berantem dengan kakak, adik yang menyebalkan, nilai ulangan jelek semua tumplek blek di buku harian. Pendek kata rindu benci dendam cinta dibuang ke buku harian. Maka seorang cewek bisa marah besar kalau diarynya sampai ketahuan orang lain hehehe.

Sekarang,

Kebiasaan itu sudah hilang.

Tak ada waktu menulis buku harian.

Oh, bukan tak ada waktu tapi tak zaman lagi.

Semua tulisan diposting di facebook, instagram, line.

Dan, belum sempat penulisnya merenungi kisah hidupnya ; bertubi reaksi datang. Memuji, menghujat, menyela, memberi nasehat, mencemooh. Tak ada waktu menenangkan diri. Tak ada jeda meredam marah. Yang ada justru kemarahan yang semakin meruncing. Jangankan melampiaskan perasaan terpendam, justru postingan kita di medsos membuat persoalan baru yang membuat perasaan kembali tertekan.

reem workshop.jpeg

Writing therapy atau terapi menulis bukanlah sekedar menulis, lalu mempublikasikannya di media sosial sehingga orang banyak bebas menilai diri seseorang semau mereka. Terapi menulis justru bertujuan untuk menumpahkan segala , mengendapkan rasa dan ketika membaca dan membaca lagi tulisan tersebut; timbul pencerahan mendalam yang menyebabkan si pelaku menjadi lebih tenang dan mantap  ketika mengambil suatu tindak positif.

Tahukah anda bahwa Buya Hamka pun pernah putus asa?

Ulama favorit saya ini pernah terpikir mengakhiri hidup ketika di penjara.

Lalu, ia membaca ulang buku yang telah dituliskannya.

Membaca ulang tulisan sendiri, membuat Buya Hamka meraih kekuatan luarbiasa dan di penjara ia menghasilkan karya menakjubkan tentang al Quran.

Semua orang perlu menulis.

Menulis adalah salah satu bentuk terapi.

Bahkan, bila kita enggan bertemu terapis, semoga menulis menjadi salah satu cara penyembuhan.

Tunggu tulisan berikutnya tentang writing therapy atau terapi menulis ya.

Reem and PF.JPG

#Reem

#Polarisfukuoka

 

Maukah Kamu Jadi Penulis?

 

 

Tidak ada universitas yang khusus memiliki fakultas atau jurusan yang mencetak seseorang menjadi penulis.  Bahkan fakultas FIB sekalipun, tidak secara otomatis membuat mahasiswanya mengambil profesi penulis sebagai pekerjaan hidupnya. Penulis adalah pekerjaan lepas yang benar-benar ‘lepas’ : hanya orang-orang yang benar-benar niat jadi penulis, akan menjalani profesi sebagai penulis dengan segala lika likunya.

Bertahun-tahun lalu, di era tahun 2000an, saat novel dan kumpulan cerpen di tanah air meledak penjualannya; orang ramai-ramai ingin jadi penulis. Pelatihan-pelatihan digelar dan pesertanya mengalir deras. Sekarang, acara-acara kepenulisan sepi peminat. Bedah buku jarang dihadiri khalayak. Orang enggan mengirimkan cerpen ke koran-koran atau majalah. Alasannya : menulis susah-susah, lalu tertolak, kalaupun dimuat bayarannya tak imbang antara jumlah dan tenaga menagih. Royalti penulis tak seberapa besar. Perlahan-lahan, pekerjaan sebagai penulis semakin sepi peminat. Orang tak lagi tertarik untuk menjadikan dunia kepenulisan sebagai salah satu pekerjaan bergengsi yang menghasilkan uang.

 

Tujuan Bekerja

Ada banyak motivasi seseorang untuk bekerja.

Mencari nafkah, menunjukkan eksistensi diri, menuruti permintaan orangtua, atau agar terlihat layak sebagai calon menantu ketika meminang perempuan suatu hari. Bagi seorang lelaki, bekerja adalah salah satu medan jihadnya sehingga ia harus bersungguh-sungguh mencari nafkah halal. Menafkahi istri dan membesarkan anak-anak adalah perkara serius; yang membutuhkan segenap sumber daya dari orangtua. Profesi penulis, memang seringkali dianggap tidak dapat menjadi jaminan bagi laki-laki untuk dapat megnhidupi secara layak keluarganya.

Namun, ada banyak teman-teman saya yang berjenis kelamin laki-laki dan tetap bertahan sebagai penulis. Kehidupan mereka memang tidak mewah. Satu dua orang berhasil meraih impiannya lewat jalur menulis dan hidup cukup dari hasil menulis buku. Sebagian besar, harus bekerja keras sebagai penulis untuk dapat hidup layaknya orang ‘normal’. Tetapi, mereka terlihat sangat bahagia dan bangga dengan pekerjaannya. Mereka merasa menemukan jatidiri sejati sebagai seorang penulis. Mereka merasa, bahwa dengan menulis inilah banyak hal dalam diri mereka berkembang. Salah satu aspek psychological well being adalah personal growth. Menjadi penulis, mengharuskan seseorang belajar dan terus belajar. Rupanya, ini membuat teman-teman penulis saya yang laki-laki gemar melahap buku dan tulisan apapun. Kebiasaan membaca ini membuat mereka lebih bijak, fleksibel, dan mampu mencermati banyak hal dalam hidup dengan filosofi yang indah bermakna. Teman-teman penulis saya terus ‘tumbuh’.

Sinta & Batkhuyag.JPG

Prof. Batkhuyaag Purekvuu & Sinta Yudisia, di Yeonhui, Seoul

“Penulis seharusnya tidak hanya mempertimbangkan materi. Dalam hidup ada yang tidak dapat diukur dengan kekayaan.” Prof. Batkhuyaag Purekvu

Bagi perempuan, profesi menulis tidak masalah.

Biasanya, perempuan telah memiliki sokongan nafkah dari ayah, suami atau saudara lelakinya. Maka bagi perempuan, profesi penulis lebih tidak membingungkan dibanding laki-laki. Tentu saja, ada beberapa teman-teman saya yang perempuan; menjadikan dunia kepenulisan sebagai tumpuan hidupnya. Mereka bekerja sama kerasnya seperti laki-laki yang penulis; sehingga rabat penjualan buku atau royalti adalah salah satu sumber penghasilan.

Sama seperti laki-laki penulis, teman-teman perempuan penulis memiliki personal growth yang bagus. Mereka menjadi manusia-manusia yang bijak dalam segala aspek. Sebagai salah satu contoh, seorang teman penulis perempuan sahabat saya –ia salah satu guru spiritual saya dalam hal kesabaran-  hingga kini hidup dalam kesederhanaan. Masih naik motor butut. Laptop baru punya sebentar, selama ini nebeng komputer masjid ketika mengetik. Baru-baru ini saja ia juga memiliki ponsel pintar setelah bertahun-tahun (lamaaa sekali) ia hanya punya telepon jadul yang hanya dapat mengirim SMS. Keluarga intinya sering menyindir, mengejek, menyudutkan atau entah apalah yang memojokkannya. Selalu memandang miring pada profesi penulis yang dipilihnya.

Tetapi saya melihat personal growth yang luarbiasa dari diri sahabat ini.

Kesabaran.

Dan ketergantungannya pada Allah, luarbiasa.

Setiap kejadian buruk yang menimpanya, nyaris tak ada yang membuatnya berduka apalagi putus asa. Prinsipnya sederhana, selama penghasilan menulis masih dapat menopangnya untuk hidup, akan ia lakukan. Meski, hidup yang dipilihnya sangat sederhana dan seluruh penghasilannya bukan hanya bagi dirinya tapi juga bagi keluarganya.

Bekerja, adalah salah satu kewajiban manusia.

Bahkan, salah satu predictor of happiness adalah bekerja. Orang yang tidak memiliki pekerjaan termasuk orang yang tidak bahagia. Pengangguran adalah orang yang tidak bahagia. Peminta-minta adalah orang yang tidak bahagia. Bergantung pada orang lain adalah orang yang tidak bahagia. Namun, banyak juga orang stress, tertekan, depresi dan merasa benci pada pekerjaannya. Ia selalu merasa setiap pagi adalah mimpi buruk ketika  harus melihat rekan, atasan, setumpuk pekerjaan dan pengahsilan yang rasanya tak sesuai dengan apa yang dikorbankan. Apa yang menjadi tuntutan hidup. Mungkin ia kurang bersyukur. Atau mungkin, ia sama sekali tidak tahu filosofi bekerja.

Seorang penulis tahu betul untuk apa ia bekerja.

Ia bekerja untuk dirinya sendiri. Untuk memenuhi kebutuhan manusia paling dasar berupa sandang, pangan, papan. Tetapi, tuntutan pekerjaan sebagai penulis, membuat penulis harus terus bekerja sama dan mengamati orang lain. Ia harus bekerja sama dengan editor, rekan pembaca, resensor, ilustrator dan banyak lagi. Apa hal ini tidak didapatkan di tempat lain? Ada. Tentu saja, nyaris semua pekerjaan membutuhkan daya dukung dari elemen lain. Tetapi dalam dunia kepenulisan, rasanya kerjasama dengan banyak pihak menjadi sebuah kelaziman. Meski, saat menulis, seseorang menjadi individu yang sangat personal.

Penulis, harus terbiasa mengamati orang. Melihat. Mengobservasi. Sebab itu salah satu inti keahliannya dalam menilai orang dan memindahkannya ke dalam buku –jika ia penulis novel atau cerpen. Kebiasaan mengamati orang ini membuat penulis mudah memahami orang lain (walau belum tentu dapat mudah berempati ya!), dan membuat penulis dapat mengambil ilham dari sisi manapun.

Belum lagi, seorang penulis harus mengetahui watak sebagian besar pembaca. Ia terbiasa membaca orang, ia terbiasa mengamati orang-orang. Ia biasa bekejar sama dengan orang, orang dan orang. Saya suka sekali berteman dengan para penulis, sebab mereka sosok-sosok paling humanis yang pernah saya kenal. Yah, adalah penulis yang egois satu atau dua; tapi tak banyak. Rata-rata teman penulis saya enak diajak ngomong, mudah mengerti kesulitan orang lain, ringan tangan membantu (tapi jangan dimanfaatkan ya!). Salah satu sisi humanis penulis adalah, seringnya ia tidak tega memasang harga mahal bagi bukunya sendiri hehehe. Ia rela memberi potonga harga, diskon, rabat, terhadap pembaca yang merengek meminta penurunan harga. Saya pribadi, kalau teman penulis menjual buku, seringkali bilang begini : kubeli dengan harga wajar. Gak usah diskon! Aku tahu sulitnya nulis buku! Maka yang seharusnya membeli buku dari seorang teman penulis, adalah temannya sendiri yang juga seorang penulis.

 

Hal Buruk yang Terjadi pada Penulis

Diluar kebanggaan, sisi humanis dan kesabaran yang biasanya melekat pada diri penulis; ada beberapa hal buruk yang mungkin menghampiri seseorang ketika ia memutuskan menajdi penulis. Hal ini harus disadari sejak awal agar orang tak hanya memikirkan hal muluk-muluk ketika menjadi penulis.

 

  1. Perjalanan panjang, mungkin seumur hidup

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk jadi penulis mahir?

3 bulan, 6 bulan, 2 tahun? Ketika bukunya telah terbit 5 atau 10? Atau setelah ia mengikuti workshop selama puluhan jam?

Saya ingin sedikit bercerita.

Salah satu impian saya adalah jadi penulis buku anak-anak. Entah karena masa kecil saya terlalu bahagia atau malah kelewat sengsara hahaha. Yang pasti, senang sekali menonton film yang berkisah tentang anak-anak seperti Heidi, Little House on The Prairie, Secret Garden. Bahkan nonton Barbie pun saya suka. Apalagi Narnia, The Bridge to Terrabithia, Charlie and Chocolate Factory dll. Buku-buku yang mengisahkan anak kecil saya suka banget! Kim, Rudyard Kipling. Serial Trio Detektif, Nancy Drew, Sapta Siaga. Yang terbaru adalah buku-buku karya Jostein Gaarner.

Kapan saya bisa seperti mereka?

Maka saya mencoba menulis cerita anak.

Alamaaak, susyeh!

Kalau lihat buku cerita anak : yah, cuma 16 halaman doang, gampang!

Hantu Kubah HIjau - resolusi kecil

Hantu Kubah Hijau : novel anak yang baru terbit setelah 10 tahun!

Nyatanya sulit. Saya ingin buat buku yang bisa dibaca oleh anak-anakku sendiri. Nyatanya, buku itu ternyata tak terbit-terbit hingga 10 tahun! Hantu Kubah Hijau adalah sebuah buku cerita anak, novel petualangan yang butuh waktu bertahun-tahun untuk terbit. Bahkan, ketika masuk meja redaksi saya masih dibimbing oleh tim editornya untuk terus mengembangkan cerita…

Hanya orang-orang bermental baja, punya lengan dan jari jemari otot kawat-besi yang bisa kuat belaja rmenulis, mengetik, ditolak, diedit, ketik ulang, edit lagi, direvisi dan seterusnya.

Kalau khalayak melihat akhir tahun 2017 ini beberapa buku saya terbit, itu bukan hasil kerja mulai Januari 2017. Tapi ada yang dikerjakan sejak 2016 (Reem), ada yang ditulis sejak 2015 (Polaris Fukuoka), ada yang dikerjakan sejak 2007, hiks hiks…

Pelatihan, workshop, camp atau apapun namanya hanya dapat memantik keinginan untuk menulis. Selebihnya, penulis harus punya jiwa baja untuk terus berjuang mengembangkan diri –personal growth hingga ia mencapai titik kesabaran yang dibutuhkan dan titik kekuatan yang paling besar untuk mampu mengubah dunia : lewat mengubah dirinya terlebih dahulu.

 

Reem ditulis 2016, Polaris Fukuoka dirancang sejak 2015

 

  1. Gagalnya buku di pasaran

Jangan menilai Dan Brown, Andrea Hirata, Habiburrahman el Shirazy dari karyanya yang sekarang sudah laris manis bahkan mendunia.

Mereka pernah merasakan bagaimana pahitnya buku gagal. Mereka adalah orang-orang yang bukunya pernah gagal, dikritik bahkan tidak pernah diprediksi akan menjadi penulis tenar.

Dan Brown bahkan pernah mengubah namanya menjadi Daniella Brown, dengan prediksi bukunya lebih laris. Nyatanya tidak juga. Saya sendiri pernah berpikir jangan-jangan nama Sinta Yudisia kurang laku. Enaknya diganti apa ya? SY Danti, terinspirasi SH Mintarja. Atau S. Yudi W; mengingat nama maskulin lebih meyakinkan daripada nama feminin. Alhasil saya kembali pada nama asli : Sinta Yudisia. Walau itu kependekan dari Sinta Yudisia Wisudanti.

Buku yang gagal di pasaran?

Hehehe…japri aja ya, kalau mau tahu 🙂

Saya ingat nasehat seorang teman pengusaha sukses : kalau mau jadi pengusaha sukses, harus bisa sabar melihat barangnya numpuk tak terjual. Itu ujian kesabaran yang akan mengasah diri. Maka saya mencoba sabar dan berbesar hati melihat beberapa jenis buku masih menumpuk belum terjual. Seiirng waktu, orang akan menanyakan buku-buku kita yang lain ketika satu buku laris di pasaran.

 

  1. Cepatnya write off

Ini terkait dengan nomer 2. Kalau gagal di pasaran, biasanya cepat write off atau dikembalikan hak terbitnya ke penulis. Ini salah satu momen paling menyedihkan bagi penulis. Ketika sepucuk surat dilayangkan dari penerbit : mohon maaf, buku anda ditarik dari peredaran. Bukan lantaran subversif, kontorversial, memicu hate speech, hoax dan sejenisnya. Tapi karena tak laku! Rasanya pingin nangis garuk-garuk dinding.

Inilah bagian dari personal growth.

Kita jadi belajar untuk berkembang, adaptasi, menyesuaikan diri ketika buku gagal.

Apakah akan terus menulis?

Apakah akan meningkatkan kapasitas menulis?

Apakah akan beradaptasi?

Apakah akan ngotot dengan kualitas karya yang itu-itu aja?

Tentu, tidak mesti harus leat kegagalan. Kalau bisa; jadikan kegagalan saya sebagai pembelajaran bagi semua. Jadi mari sama-sama belajar.

 

  1. Kritik pedas terhadap karya.

Penulis, sebuah profesi yang berhubungan dengan banyak orang , apalagi ketika karyanya terbit. Bahkan, sebelum terbit dalam bentuk buku dan ia melontarkan gagasan-gagasannya dalam bentuk quote, meme, potongan cerita; orang-orang sudah bisa memberikan komentar. Komentar manis-manis tentulah ada. Komentar yang menusuk, wah, sudah pasti.

Kok ceritanya itu-itu aja?

Endingnya pasti sudah bisa ketebak.

Kenapa diterbitkan indie? Gak laku di mayor ya?

Wah, lagi-lagi cerita tentang dunia kampus. Anak pesantren. Cinta-cintaan.

Covernya terlalu dark. Kurang menarik.

Dan lain-lain.

Profesi penulis adalah profesi yang siap dengan kritikan, sindiran, bahkan mungkin dituduh memplagiat sesuatu padahal penulisnya merasa terinspirasi dengan sebuah buku hingga karakter tokoh, alur cerita sampai endingpun tanpa terasa terbawa dalam imajinasinya.

Saya punya teman penulis yagn punya kometnar keren ketika dia dituduh menulis karya-karya yang mainstream, alias kisah yang itu-itu aja. Kisah cinderella, upik abu, atau kisah picisan princess prince.

“Memangnya kenapa kalau kita menulis hal yang mainstream? Kalau kita justru mahir disitu dan mampu memolesnya dengan indah? Masih banyak orang yang butuh bacaan dengan isi yang mainstream. Mereka tetap butuh pencerahan dengan cerita yang ringan.”

Iya ya.

Bagi saya, kisah orang hijrah pakai jilbab, mainstream. Taaruf, nikah muda, mainstream. Jatuh cinta dengan ikhwan berjenggot, mainstream. Cerita rohis di kampus, mainstream. Terpesona dengan kecantikan muslimah berjilbab, mainstream.

Tapi, bagi anak-anak remaja SMP SMA yang belum banyak pengalaman; kisah mainstream itu bisa jadi sangat baru bagi mereka. Cinta monyet yang pernah saya alamai dan rasakan; belum banyak dirasakan anak-anak muda zaman sekarang sehingga mereka tetap butuh panduan versi kekinian. Maka buku-buku mainstream itu tetap dibutuhkan. Penulis-penulis baru harus belajar menulis kisah mainstream dengan cara meningkatkan kualitas karya.

 

 

  1. Stigma & kurangnya pengakuan terhadap profesi

“Apa pekerjaan anda?”

“Penulis.”

“Mmm…maksudnya?”

“Saya penulis freelance, nulis buku motivasi, novel.”

“Oooh.”

Pertanyaan itu sering terlontar ketika di bank, kantor polisi, sekolah, dan lain-lain. Orang masih belum tahu dan karena ketidak tahuan, belum menghargai profesi penulis. Belum lagi, penghargaan profesi menulis ini belum seideal seperti yang diharapkan. Pejabat, tokoh besar, orang penting; seringkali mengontak penulis untuk berbagai kepentingan. Jangankan memberikan fee yang layak, bahkan terkadang, penulis tidak diberi imbalan apapun untuk menuliskan sebuah kisah.

Ini terjadi pada beberapa teman saya yang diminta untuk menuliskan kisah-kisah tertentu; lalu tidak diberi imbalan sama sekali meski pada awalnya dijanjikan imbalan. Tentu saja, teman-teman penulis juga harus mawas diri tentang pentingnya perjanjian di awal. Dan tidak perlu sungkan untuk menuliskan hitam di atas putih; apa saja hak kewajiban dan berapa besaran fee yang diharapkan. Termasuk, bila dibutuhkan dana untuk menggali informasi, wawancara, transpor kesana kemari; tentunya harus ditanggung oleh pengguna jasa penulis.

Memang, penghargaan terhadap profesi ini masih belum selayaknya.

Tetapi lambat laun, seiiring komitmen kita pada dunia kepenulisan, insyaallah orang semakin paham profesi penulis dan semakin menghargainya.

 

Reem : buku ke 61, Novel  ke 19 dan Sekilas Kisah di Dalamnya

 

Inspired by true story.

Akhirnya novel ini terbit juga. Setelah melalui perjuangan panjang seorang penulis. Apa sih perjuangan panjang penulis?

  1. Menyelesaikan novel : mulai menggali ide, membuat outline, mengembangkan cerita, menentukan prolog-ending-konflik-tokoh dsb
  2. Menentukan penerbit (akhirnya diterbitkan Mizan, lini Pastelbooks)
  3. Berkolaborasi dengan editor dan tim
  4. Menentukan cover
  5. Merancang promosi seperti bedah buku dll

Nah…panjang kan?

Begitulah sebuah buku. Melalui proses panjang dan bahkan setelah terbitnya, tetap harus dirawat keberadaannya. Ibarat anak, tidak hanya dilahirkan tapi harus dirawat dan dibesarkan. Sebab jangan sampai sebuah produk yang mati-matian dihasilkan setelah melewati serangkaian pajang; harus terbit segera dan menghilang seketika.

 

Reem kecil.jpg

 

Reem

Reem adalah nama seorang gadis yang luarbiasa.

Ia gadis cantik, berdarah asli Palestina. Sungguh, ternyata dalam dirinya mengalir darah Indonesia. Ayahnya asli Palestina, Gaza sementara ibunya berasal dari Kalimantan. Takdir Allah Swt mempertemukan kedua orangtua Reem dan mereka menikah; lalu memiliki putri tunggal bernama Reem. Baik ayah dan ibu Reem, keduanya berprofesi sebagai dokter.

Kisah dalam novel Reem tidak 100% nyata, sebab sebagiannya adalah fiktif.

Namun sosok Reem benarlah ada.

Ia seorang gadis yang sangat cantik, pernah masuk majalah Perancis untuk memperagakan beberapa busana muslim. Reem menolak tour ke Eropa sebab ingin konsentrasi di studinya. Ia hafal Quran sejak usia 11 tahun. Menekuni sasrta, sejarah dan berharap bisa menjadi seorang mufassir.

Reem, sosok gadis tangguh lapang dada.

Ia ingin terus mengabdi di kamp pengungsian namun Allah Swt menentukan lain. Tanpa diduga Reem berada dalam kanker stadium lanjut. Dengan hafalan Quran, sakit yang diderita, kemampuan sastra dan keahliannya melukis; Reem terus berkiprah hingga Allah Swt menentukan garis akhirnya.

 

Adaptasi Novel

Cinta menjadi bagian penting dari sebuah cerita. Sebab cinta erat kaitannya dengan emosi manusia. Munculnya tokoh-tokoh fiktif dalam cerita ini untuk memberikan gambaran kepada pembaca, tentang lika liku kehidupan Reem. Kasim yang jatuh cinta padanya saat berorasi di depan gedung parlemen Rabat. Alya dan Ilham yang konyol, kocak, senang bertikai dan ramai kalau bertengkar; berada di sekeliling Kasim. Dokter Salim Aziz yang menangani sakitnya Reem, juga turut jatuh hati pada gadis penghafal Quran yang berbudi mulia ini.

Fez, Rabat : Rue Sukarno, Lorong rahasia

 

Setting Maroko mendominasi.

Kota-kota indah seperti Rabat, Fez, Marrakesh menjadi bagian di dalamnya.

Meski ada jalinan kisah rahasia antara Kasim dan Reem, keduanya tetap menjaga batas-batas.

Saya suka menyisipkan filosofi dalam setiap novel yang saya tulis.

Salah satu jimat terkenal Maroko, yang sebagian besar dihuni suku Bar bar dan Amazigh, dikenal sebagai hamsa hand. Hamsa hand berbentuk telapak tangan dengan lima jari. Apa makna hamsa hand? Baca sendiri di novel Reem ya…

Mana pula tempat di Maroko yang mengesankan?

Banyak.

Tetapi yang suka petualangan dan misteri akan menyukai lorong-lorong rahasia kota Fez. Yang suka festival akan menyukai Chez Ali dengan pertunjukan heroik para pangeran berkuda yang berlomba menyelamatkan seorang putri.

Tempat favorit saya yang harus muncul di novel Reem?

Sebuah jalan bernama Rue Sukarno. Betapa negarawan bangsa ini begitu dihormati di mata dunia.

 

Bagian Mengesankan dari Novel Reem

 

Sinta, Zaitun dan Maroko - kecil.JPG

Maroko & Palestina : kebun zaitun terbentang

Puisi.

Reem sangat menyukai puisi.

Maka dalam novel ini bertebaran puisi-puisi baik karya Reem sendiri, karya saya, maupun karya penyair Palestina Iqbal Tamimi dan Mahmud Darwish. Puisi tentang cinta, penghambaan pada Robb, hingga keberanian setiap warga Palestina dalam mempertahankan tanah airnya. Bila tak mampu mempertahankan negara;  maka kecintaan tiada henti pada tanah air, menggalang donasi, memperkenalkan budaya Palestina, berkiprah di kamp pengungsian dan mengajar anak-anak yatim piatu korban perang adalah sedikit hal yang dapat dilakukan. Dan Reem, melakukan itu.

Silakan menikmati 🙂

 

Novel ini diadaptasi dari skenario film karya Beni Setiawan.

 

Mengapa  Menulis Novel (lagi)

Novel terakhirku terbit 2013, berjudul Bulan Nararya, diterbitkan oleh penerbit Indiva Solo.

bulan-nararya.jpg

Bulan Nararya, Indiva Publishing

Setelah itu, cukup lama hiatus dari menulis novel. Alasannya? Ada beberapa penyebab.  Yang pragmatis banget, fiksi Islami sedang lesu. Jadi, honor dari menulis novel, apalagi menunggu royalty nya, tak terlalu sepadan. Pernah mencoba menulis cerpen untuk media massa, namun hingga saat ini masih harus terus belajar dan mencoba, sembari berdoa agar keberuntungan berpihak. Alasan klise yang lain, kesibukan dan waktu yang sedemikian sempit. Menulis fiksi tidak mudah. Walau identik dengan mengkhayal, berimajinasi, berpikir kreatif; nyatanya menulis fiksi juga membutuhkan banyak referensi sebagaimana menuliskan non fiksi.

Energy menulis fiksi, beralih kepada buku motivasi.

 

Alhamdulillah, berikutnya muncul Kitab Cinta Patah Hati, Sketsa Cinta Bunda, Cinta x Cinta dan Psikologi Pengantin. Semuanya terbit di Indiva (Solo). Lalu Mendidik Anak dengan Cinta, diterbitkan oleh GIP (Jakarta). Penjualan buku non fiksi terhitung lumayan. Pesanan online membanjir, royalty yang didapat Alhamdulillah lebih baik dari buku fiksi.

Kalau hanya  bicara royalty, rasanya enggan kembali menekuni fiksi.

Namun, suatu hari, seorang teman datang ke rumah. Ia membawa bertumpuk-tumpuk buku novel. Rasa rindu untuk menulis fiksi pun terbit. Rasa-rasanya, alasan royalty terlalu sederhana untuk meninggalkan dunia ini. Seorang penulis, seorang sastrawan, tidak selalu berorientasi materi. Kalau materi satu-satunya alasan manusia bahagia; maka Firaun dan orang-orang tajir dunia  adalah salah satu orang paling bahagia di dunia. Sayangnya, mereka tidak mengisi kuesioner psychological well-being nya Carol Ryff hehehe sehingga kita tidak tahu berapa kadar kebahagiaan mereka. Kalau alasan waktu, ah, sibuk mana aku dengan Dan Brown dan JK Rowling? Mereka bisa produktif menulis.

Maka, aku kembali menulis fiksi, dengan segala tantangannya.

Harus belajar ulang menemukan diksi-diksi baru, sebab fiksi harus mampu menyajikan diksi indah, walau bukan berarti mewah. Diksi tepat, halus, memukau; kadang ditemui di buku kamus KBBI atau dari puisi teman-teman sendiri. Aku kembali memelajari apa diksi yang tepat untuk menggambarkan kematian, cinta, rasa bahagia dan seterusnya.

Dan ups, bertahun lalu pernah kutuliskan bahwa ‘musuh’ sekaligus mitra para penulis adalah editor (aku pernah menulsikan secara khusus bahwa editor ini bisa jadi sangat kejam!). Mereka yang menilai karya kita pertama kali, membantainya, memberikan persepsi unik sebagai pembaca awal. Sebab para penulis selalu beranggapan karyanya telah sempurna! Hingga lupa, bahwa banyak celah terdapat dalam karya tulisnya.

Aku kembali belajar membuat novel anak dan novel remaja-dewasa.

Bukan hanya memelajari alur, penokohan, setting, dialog, footnote, anotasi dan seterusnya.

Tapi belajar mencari judul yang cocok untuk novelku. Termasuk  belajar, cover seperti apa yang cocok bagi pembaca Indonesia.

Berhasil?

Nanti dulu.

Insyaallah, 2017 ini ada beberapa novelku yang terbit baik novel anak dan novel remaja-dewasa. Bila novel itu sampai di tengah khalayak, maka percayalah : itu bukan pekerjaan sekali jadi. Itu adalah pekerjaan berhari-hari, berminggu, berbulan, bahkan bertahun- tahun.

Kadang, capek ketika editor mengkritik.

“Mbak, halamannya kurang.”

“Sudah baca novel ini? Yang ini dan ini? ”

“Kenapa memilih judul dan sub judul demikian?”

“Belum ada anotasinya.”

Dan banyaaaakkk lagi kritik yang lain J

Namun, seiring dengan kritik-kritik tajam tersebut, kita meningkatkan kualitas diri.

Tokoh-tokoh besar dunia seperti Imam Syafii dan HAMKA mengingatkan, akan pentingnya belajar terus menerus, dalam segala aspek. Imam Syafii bahkan mengingatkan, mereka yang tidak mau belajar, bacakan saja takbir untuknya sebab  ia telah wafat sebelum ajal tiba.

Jadi, kalau aku tidakmau belajar bagaimana membuat novel yang baik dari waktu ke waktu, maka nasehat Imam Syafii itu bisa jatuh pada diriku sendiri.

Sebuah, buku adalah rangkaian proses.

Aku menikmati menjadi penulis, baik fiksi maupun non fiksi.

Sejak buku pertama terbit hingga buku ke sekian, itulah proses menulisku. Itulah proses hidupku.

Tak ada proses dan hasil sempurna, kecuali kita tutup usia.

Doakan buku-buku ku bermanfaat bagi ummat sedunia, bagi keluargaku dan bagi diriku sendiri ya. Insyaallah novel anak yang akan terbit di Indiva berjudul Hantu Kubah Hijau dan Juru Kunci Makam. Keduanya bertema petualangan.

Cover Hantu Kubah Hijau. Kalau Polaris Fukuoka, masih cover belum fix, tayang di wattpad

Novel remaja-dewasa yang insyaallah akan terbit di salah satu lini Mizan berjudul Reem : apakah maut dan desing peluru ini akan mematahkan cintamu? Novel ini bersetting Maroko dan Spanyol. Khusus novel Reem, based on true story, meski ada alur cerita yang berkembang. Novel kedua adalah Polaris Fukuoka, bersetting Jepang.

Entah berapa kali aku membaca ulang naskahku sendiri baik Hantu Kubah Hijau, Juru Kunci Makam, Reem, dan Polaris Fukuoka. Memperbaiki yang typo, memperbaiki dialog atau setting yang kurang tajam, menghapus bagian tertentu serta menambahkan . Banyak hal-hal lucu saat menuliskan dan membaca ulang novel-novel tersebut. Sebelum pembaca memutuskan membeli novel-novel ini, simak terus cuplikan kisah dan behind the scene novel ya 🙂