Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Anak Menulis BUKU & NOVEL Fiksi Sinta Yudisia Kepenulisan Menerbitkan buku Novel Perjalanan Menulis PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY TEKNIK MENULIS WRITING. SHARING.

Pelatihan Online Menulis Novel Tahap-1

Tema : Menulis Novel Bersetting Kuat

Suka Korea, Jepang, Eropa atau Timur Tengah? Ingin punya novel sesuai imajinasi berlatar negara yang kita impikan?
Hayuuuk, gabung di kelas online penulisan novel bersama Sinta Yudisia (penulis, psikolog, DP FLP) . Novel-novelnya yang berlatar belakang berbagai negara telah meraih penghargaan tingkat nasional.

🏅🏅🏅
~The Road to The Empire (Mongolia) IBF Award terbaik 2009
~ Reem ( Maroko) IBF Award terbaik 2018
~ Polaris Fukuoka ( Jepang) nominee IBF Award 2018
~ Lafaz Cinta (Belanda) , best seller
⏳Waktu : Sabtu, 2 Mei 2020
⏰Jam : 09. 00 – 11. 00 WIB
✍Fasilitas :
-Materi dalam bentuk pdf

  • Webinar (Zoom meeting/ hangout/ dsb), yang akan diberitahukan oleh admin
    👨🏻‍💻👩🏻‍💻Peserta : remaja usia SMP, SMA dan Mahasiswa
    💴Biaya :
    Dipersilakan infaq dengan kelipatan Rp. 20. 000, beri kode unik 19 di belakang (Misal Rp. 80.019). Seluruhnya insyaallah akan disalurkan untuk donasi Covid-19 berama Ruang Pelita ( Ruang Pendampingan Psikologi & Literasi) Sinta Yudisia yang telah menyalurkan dana puluhan juta rupiah untuk dhuafa dan APD ke berbagai RS Surabaya.

👉🏻Mandiri : 142-00-1673-5556
👉🏻BSM : 7070-968597
An. Sinta Yudisia Wisudanti

▶ mengisi link bit.ly/pelatihannovel
~~
Sinta Yudisia adalah penulis & psikolog. Telah menulis dan diterbitkan 22 novel, 21 antologi, 10 buku non-fiksi, 6 buku cerita anak, 5 kumcer, 2 buku duet. Mengikuti SFAC ( Seoul Foundation for Arts & Culture) dalam program writer’s residence tahun 2016 & 2018

~
Didukung oleh :
👷‍♂‍👷‍♀‍Ruang Pelita Surabaya
Kiky 0856- 0612- 5200
Putri 0822- 2183-8498

Kategori
BUKU & NOVEL Hikmah Kepenulisan PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY TEKNIK MENULIS WRITING. SHARING.

#HikmahCorona 4️⃣ : Burial Rites ~ Ritus-ritus Pemakaman [jangan pernah meminta mati pada Tuhan!]📚📖📒

Agnes Magnusdottir tak pernah punya teman, ia bahkan tak pernah tahu siapa ayah dan ibunya. Ibu angkat yang dicintainya, Inga, meninggal ketika melahirkan di musim dingin saat badai salju mengamuk dahsyat. Mayat Inga tak bisa langsung dikuburkan, karena pekarangan terlalu beku bahkan ketika musim semi menjelang. Mayat itu harus disimpan di antara jerami, garam dan ikan-ikan asin agar tetap awet hingga tanah agak gembur ketika musim panas tiba.

Berpindah dari satu keluarga angkat ke keluarga angkat yang lain.
Bekerja sebagai pelayan penyabit rumput dan pemerah susu, di lembah-lembah.

💔Satu-satunya teman serta kekasihnya pun mengkhianatinya, dan Agnes dituduh membunuh Natan Ketilsson! 3 orang terdakwa menanti hukuman mati atas pembunuhan terhadap Natan : Fridrik, Sigga dan Agnes. Tetapi, dakwaan atas ketiganya harus menunggu pengesahan dari kerajaan Denmark. Penjara tak mampu menampung penjahat lagi. Maka Agnes Magnusdottir menunggu waktu hukuman tiba dan Komisaris Wilayah Bjorn Blondal memberlakukan sebuah keputusan penting : Agnes Magnusdottir harus ditempatkan di dekat tempat eksekusinya.

Ia diasingkan ke Kornsa, ditempatkan ke sebuah keluarga yang terang-terangan membenci dan menolaknya.
Diperlakukan seperti budak, dicaci sebagai pembunuh, selalu dicemooh sebagai perempuan murahan; lambat laun keluarga Jonsson yang menampungnya mulai berubah.

Jon dan Margret mulai melihat betapa Agnes cerdas dan cekatan bekerja. Dua anak gadis mereka -Steina dan Lauga- yang semula sangat membenci dan ketakutan akan dibunuh Agnes; pun merasakan sosok Agnes berbeda dari yang didakwakan. Terlebih Asisten Pendeta Thorvardur Jonsson yang akrab dipanggil Toti, menemui betapa Agnes hafal kisah-kisah Kristiani dan ia bukanlah gadis bejat.

Steina merasakan kehadiran seorang kakak perempuan, dan Margret merasakan kebahagian melihat 3 gadis di rumah mereka bagai keluarga yag sempurna. Tetapi, sebuah surat pengadilan memporakporandakan kisah cinta mereka yang begitu hangat terjalin. Ketika Agnes merasakan cinta tulus Steina sebagai seorang saudari yang tak pernah dimilikinya, keputusan pengadilan tak dapat diganggu gugat lagi : Agnes harus dihukum penggal.

Burial Rites mengambil setting wilayah Islandia Utara, di akhir abad 19.
Kita akan dibawa oleh diksi menakjubkan Hannah Kent dan seketika membayangkan seperti apa mengerikannya badai salju dan bagaimana kejamnya musim dingin yang hanya bisa diterangi oleh cahaya lilin, lemak ikan paus, serta kotoran sapi sebagai bahan bakar. Tetapi kita juga akan dibawa kepada pengalaman menakjubkan saat Agnes kecil dulu, pertama kali melihat cahaya aurora.

💞✍️
~~~~~~~~~~~
“….Keseluruhan langit berselimutkan warna. Belum pernah aku melihat yang seperti itu. Tirai-tirai raksasa berupa cahaya, bergerak seolah ditiup angin, menggelembung di atas kami. Bjorn benar – tampaknya seolah-olah langit malam sedang terbakar pelan-pelan. Ada sapuan-sapuan warna ungu yang mengembang, berlatar belakang gelap malam serta bintang-bintang yang bertebaran di keseluruhannya. Cahaya-cahaya itu surut, seperti ombak, lalu tiba-tiba disela oleh torehan-torehan baru berwarna hijau ungu yang menukik melintasi langit, seperti jatuh dari ketinggian yang amat sangat.

“Lihat, Agnes!” ayah angkatku berkata, dan dia memutar pundakku supaya aku bisa melihat supaya kecemerlangan cahaya-cahaya utara itu menyoroti gigir gunung menjadi sebuah relief yang tajam. Meski waktu itu sudah malam, aku bisa melihat kaki langit yang bungkuk dan sudah sangat kukenali.
~~~~~~~~~~~~
💞✍️

Di atas adalah salah satu deskripsi memukau ketika Agnes kecil pertama kali melihat aurora. Dan yang sangat menghantam adalah, ketika Agnes diberitahukan oleh Bjorn ayah angkatnya bahwa cahaya utara yang sangat indah itu sebetulnya adalah pertanda cuaca dingin sangat buruk yang sebentar lagi melanda wilayah mereka. Cuaca dingin penyebab kematian Inga, ibu angkatnya.

💞Keindahan dan kepedihan.
Seperti bersisian.
Lucu dan duka, seperti sepasang kekasih.
Tersenyum-senyum sendiri dengan penggambaran penulis tentang peseteruan Steina dan Lauga, dua gadis cantik dan pintar dari keluarga Jonsson yang membuat pusing ibu mereka, Margret. Perempuan zaman dahulu seperti Roslin, kenalan Margret, yang selalu hamil dan beranak banyak. Gosip para ibu ternyata ada di mana-mana, bahkan mereka yang tinggal di lembah-lembah sembari panen atau menanam.

😭😭😭
Dan hati ini, terasa demikian teriris membaca perjalanan hidup Agnes demikian menyayat tanpa pernah menemukan kebahagiaan. Satu-satunya rasa hangat yang pernah mengaliri dirinya adalah ketika tinggal di Kornsa, sesaat menjelang eksekusinya. Kita ikut terbakar oleh kemarahan Agnes pada dunia yang kejam, ikut marah pada para lelaki di masa itu seperti Natan Ketilsson yang begitu merendahkan perempuan. Dan kita akan diajak masuk ke dalam pertarungan pemikiran Agnes yang terus bertempur antara baik dan buruk.
Bagian yang terus menancap di ingatan adalah ketika pendeta Toti menerima kabar bahwa eksekusi Agnes jatuh di tanggal 14 April, dan itu berarti tinggal 6 hari lagi dari masa itu. Jon, Margret, Steina dan Lauga tak bisa menerimanya. Tetapi Toti tak dapat berbuat apa-apa, lantaran Komisaris Wilayah Bjorn Blondal sudah mengancamnya.

Malam hari sebelum eksekusi, Margret membuka peti tempat ia menyimpan barang-barang terbaik. Ia mengeluarkan syal indah rajutannya sendiri, blus putih dan rok hitam panjang. Dulu, awal pertama Agnes tiba, tinggal dan bekerja di rumah mereka; Agnes pernah dihukum lantaran dituduh mencuri bros Lauga. Padahal tidak demikian, karena Agnes sedang membereskan rumah keluarga Jonsson. Dan malam itu, ketika Margret dengan hati hancur lebur menyiapkan baju paling baik bagi Agnes, ia memandang Lauga.
“Brosmu, Lauga.”

Penggalam percakapan antara Margret dan Lauga itu benar-benar mencabikku, karena sejak awal digambarkan betapa Lauga demikian membenci Agnes. Tetapi di akhir hidup Agnes, Lauga memberikan benda kesayangannya, justru ketika ia mulai merasakan mencintai Agnes sebagai kakak.

💞💞💞

Tidak semua diksi indah dalam Burial Rites kuingat.
Tetapi ada penggalan-penggalan quote baik kalimat atau kisah yang masih menancap.
Intinya demikian kira-kira :

✍️😭“Aku ingin sekali menanyakan pada Pendeta Toti, tapi belum sempat kuutarakan. Mengapa hidupku selalu sial, dan Tuhan mencekikku dengan nasib buruk dari hulu hingga ke hilir. Aku ingin tahu apakah Tuhan menghukumku? Lantaran dulu aku sering sekali berteriak-teriak ketika menghadapi sesuatu :
Aku ingin mati! Aku ingin mati! Aku ingin mati!
Apakah permohonanku itu Tuhan lantas menyiksaku?
Ketika kematian itu sudah dekat aku justru berharap ada kesalahan di pengadilan, semua menunggu, dan aku tetap hidup.”

👉Bait ini membuatku sungguh merenung.
Percayalah, kalimatku dengan kalimat Agnes berbeda. Tapi aku lupa melipat diksi itu ada di halaman berapa ☹
Kadang, kita suka melepas omongan di mulut kita semau-mau hati supaya membuat orang jengkel, supaya kita melepaskan nafsu dan supaya lepas jeratan ego. Tetapi, andai kata-kata itu dikabulkan Tuhan , kita mungkin akan menjerit-jerit minta putar haluan.

📚📖📚Buku Burial Rites sudah lama kubeli, tapi tak sempat-sempat kubaca. Selama masa lockdown ini, kami sekeluarga menyempatkan diri hampir tiap hari membaca setidaknya 30 menit di rumah. Novel ini kembali menggoda mataku untuk disentuh dan dibelai, untuk dinikmati. Burial Rites cocok sekali di baca pada ruang masa kini, di mana kita mulai mengkhawatirkan kematian datang memenggal kedamaian dan kebahagiaan. Dulu, suatu masa, mungkin kita pernah begitu kesal pada kehidupan sehingga berteriak pada takdir : lebih baik mati saja! Tetapi, seperti tangisan Agnes menjelang eksekusi, apakah kematian demikian lezat disesap bagai beruang mendamba madu?

🥇Burial Rites adalah novel karya Hannah Kent yang memenangkan berbagai lomba seperti Pemenang The ABIA Literacy Fiction Book of the Year 2014, Pemenang The ABA NIELSEN Bookdata Bookseller’s Choice Award 2014, Pemenang The Booktopia People’s Choice Award 201

Kategori
Cinta & Love Fiksi Sinta Yudisia Karyaku Novel Oase Single in Love WRITING. SHARING.

8 hal istimewa dalam novel Single in Love

Mau tahu, apa yang pembaca dapat dari novel Single in Love?

Cover Single in Love + endorsment prof. Koh
  1. Seni berbicara dengan lelaki
  2. Seni membaca pikiran/perasaan orang lain
  3. Better single or couple?
  4. Cara bijak berbuat baik
  5. Derajat lelaki
  6. Posisi perempuan
  7. Energi positif dari kejadian negatif
  8. Selaras ego, karier, cinta

Seni berbicara dengan lelaki

Cowok cewek itu beda banget struktur otaknya. Dari fisiknya saja sangat berbeda, cara kerja otak, persepsi, mengambil kesimpulan, mengambil tindakan. Seringkali cewek salah megnartikan maksud cowok. Andromeda dan Venna, dua tokoh dalam novel ini kerap salah berkomunikasi dengan suami mereka. Akibatnya, hubungan retak.

———-

Venna menggigit bibir.

“Kalau laki-laki diam, harusnya perempuan mikir,” Orion berkata tajam. “Kalau laki-laki bilang terserah, harusnya perempuan menimbang pakai perasaan.”

Benarkah? Berapa kalikah Sam berkata terserah, kamu tahu mana yang terbaik, kamu bisa memutuskan? (hal. 112)

———–

Seni membaca pikiran/perasaan orang lain

Seringkali kita mengukur segalanya pakai persepsi dan perasaan diri sendiri. Padahal, seharusnya kita pun perlu melihat bagaimana kondisi orang lain? Apakah sebenarnya ia bahagia, atau menderita? Apakah ia mau dibantu, atau justru ingin dibiarkan sendiri?

———

Venna menatap telepon selulernya.

Ia menarik napas dan membuangnya perlahan.

Bukan hanya Titi yang mengatakan demikian. Andromedapun begitu.

“Kamu itu semua dipikir, semua mau kamu bantu! Kalau orang nggak minta bantuan, ya nggak usah dibantu.”

“Meski dia mau jatuh ke jurang?” pancing Venna.

“Ya. Meski dia mau jatuh, mau terkapar, mau mati. Nanti kamu nggak punya energi buat jalani hidup kamu sendiri.” (hal. 203)

Better single or couple?

Single in love 007 - lores.jpg

Adakalanya, orang lelah menjadi couple. Karena menikah itu berbagi, termasuk berbagi derita. Seringkali orang menyangka ketika berdua itu melelahkan, lebih baik sendiri. Hal itu tidak salah sebenarnya. Tapi mari kita lihat pendapat Titi.

———–

Menikah itu memang pedih, bagi sebagian orang. Tapi ketika jadi single, itu juga nggak sepenuhnya bahagia, lho!” ( hal. 180)

———-

Cara bijak berbuat baik

Saking baik dan shalihnya kita, kadang semua orang yang menderita ingin segera dibantu! Padahal nggak selalu demikian. Bahkan, bisa jadi bantuan kita akan memberatkannya, menghimpitnya atau mendesaknya ke arah yang kurang nyaman.

———

Masih belum memahami mengapa usaha baiknya untuk mempertahankankan pernikahan Andromeda, dalam kaca-mata psikologis termasuk yang tidak dibenarkan. Bagi Profesor Bintari, ketika seseorang tidak meminta bantuan, lantas apa gunanya dibantu? Sama seperti seorang pasien yang tidak datang ke dokter, apakah dokter harus mengejar-ngejarnya untuk memberikan resep? Mungkin saja pasien itu tidak merasa sakit dengan penyakit yang dideritanya, atau dia memang sudah punya obat alternatif sehingga tidak membutuhkan dokter yang meresepkan obat kimiawi. Pendek kata, seorang dokter baru bisa mengobati pasiennya ketika sang pasien merasa sakit dan membutuhkan bantuan si dokter. Demikian kira-kira anggapan profesor. (hal. 169)

——–

Derajat lelaki

Dalam agama Islam, kodrat lelaki memang berada di atas perempuan, bukan dalam pengertian penindasan. Lelaki berada di garis depan sebab mereka berkewajibab membina perempuan dan keluarga; melindungi, menafkahi, memberikan rasa aman. Sebaliknya, dalam posisi lelaki yang menjadi pemimpin, imam atau qowwam tersebut; perempuan pun hendaknya menyadari bahwa mereka berada dalam posisi prajurit. Seorang prajurit bukan berarti kehilangan hak manusiawinya untuk hidup dan memiliki impian. Perbedaan prajurit dan pemimpin adalah pada hirarki perintah. Perintah lelakipun, masih dapat ditawar jika memang perempuan memiliki ide yang lebih baik.

———————–

“Harusnya Mbak kasih tahu aku dulu!”

“Orion! Ini bukan hierarki kepemimpinan yang harus lapor ke siapa! Aku hanya ingat Mama pertama kali, titik.”

“Karena aku nggak ada dalam daftar dewan pertim-bangan yang pertama kali. Selalu begitu, kan?”

Venna bingung, mencoba menahan diri. Siapapun bisa sensitif mendengar hal yang di luar perkiraan. Bahkan Orion yang sama sekali tak terlibat. Pemuda itu mungkin saja tiba-tiba teringat perpisahan Papa dan Mama yang pasti melukainya, dan sekarang Triton memenuhi seluruh ruang kekhawatiran.

“Tahu apa kesalahan Mbak? Kesalahan yang sama seperti yang dilakukan Mama dan Mbak Meda.” (hal. 104)

——–

Posisi perempuan

Perempuan memiliki tempat terhormat di dunia ini. Tak ada yang dapat menggantikan posisi perempuan untuk hamil dan menyusui. Tak ada pula yang dapat menggantikan posisinya untuk menjadi belahan jiwa lelaki. Sebagai prajurit, kewajiban utama perempuan adalah menempatkan lelaki sebagai qowwam bagi dirinya. Ketika lelaki tidak bisa menjadi qowwam –entah karena ia memang tak mampu atau dikerdilkan oleh perempuan- maka ketidakstabilan terjadi di atas muka bumi.

Single in love 004 - lores.jpg

———-

Kisah yang sudah belasan, puluhan atau ratusan kali didengar dari mulut perempuan. Ketika klien-klien Venna mengadukan pernikahan di ambang bahaya, para lelaki yang jauh dari peran qowwam–pemimpin, mereka kelelahan beradaptasi dan bernegosiasi. Keluh-kesah itu harus ditampung semua tapi tidak boleh disimpulkan dalam kondisi emosional. Sebab, saat para suami hadir untuk melengkapi family therapy, kisah yang diungkapkan dapat sangat berseberangan! Siapa menindas siapa, siapa mengelabui siapa, campur baur dalam egoisme dan sikap unfaithful, dishonest. Berbenturan kepentingan masing-masing pihak sering kali melindungi kisah sebenarnya. Meski perempuan, Venna jujur mengakui, kaumnya seringkali bersembunyi di balik air mata saat mengungkap sesuatu. Tampak sebagai makhluk tertindas, padahal bahasa manis dan sikap gemulainya mampu melukai harga diri lelaki tercabik hingga serpihan! (hal. 94)

Energi positif dari kejadian negatif

Kehidupan memang menyajikan dua sisi : pahit dan manis, derita dan bahagia, gagal dan pencapaian, tangis dan tawa. Meski demikian, kita sama-sama berharap bahwa dalam posisi apapun; kebahagiaan tetap menjadi bagian dari hari-hari istimewa kita. Walau hidup terasa demikian berat dan sulit, bukan berarti haram mengecap kebahagiaan, bukan?

Titi dan professor Bintari adalah dua orang dalam novel ini yang mampu mengambil energy positif dalam hidup mereka yang tampaknya berjalan tak diharapkan.

——-

Oh, Dear. Saya hanya mau bilang, bahwa saya menyesal dulu telah bercerai. Memang suami saya punya banyak kekurangan. Tapi ternyata, dengan bercerai seperti ini saya menyesali setiap hari dan itu menjadi kekuatan bagi diri saya untuk terus mendorong orang-orang menjauhi perceraian. Kecuali bila memang amat sangat terpaksa.

See? Saya mendapatkan jalan kebijaksanaan. Mungkin itu yang namanya takdir, ya.

Kalau Andromeda akhirnya bercerai, kamu nggak perlu risau. Anaknya mungkin akan bermasalah, ia sendiri mungkin akan semakin tak stabil personality-nya. Tapi semoga itu menjadi jalan kebijaksanaan bagi kakakmu. Sebab dia ter-nyata tidak menjadi bijaksana ketika memiliki suami sebaik suaminya yang sekarang.” (hal. 218)

—————–

Selaras ego, karier, cinta

Meski pernikahan merupakan koordinasi, harus bisa kooperatif antar dua belah pihak; bukan berarti salahs atu pihak harus terus merasa menderita dan berkorban bagi pihak lain. Justru, satu pihak withdrawal dari banyak hal untuk memberikan kesempatan bagi pasangan; di waktu lain ia bisa melaju dan mmeinta pasangan untuk ganti memahami dirinya yang telah berkorban.

————————–

“Masih ingat ketika kita kecil, Mama tugas ke Bandung sementara aku sakit demam berdarah? Meski merengek, Mama tetap merasa harus ke Bandung, aku ditunggui Eyang Putri. Papa juga terpaksa cuti, meski di kantor Papa juga sedang laporan akhir tahun yang menuntut karyawan lembur.”

“Itu namanya kerja sama, Orion,” Andromeda mendesis.

“Bagi Mama kerja sama. Tetap saja bagiku pengorbanan, bagi Papa juga, kan? Mama harusnya mengerti kalau orang lain juga berkorban.” (hal. 189)

~~~~~~~~~

Harga novel 95K (belum discount dan ongkir). Pesanan Single in Love dapat mengontak Vidi 0878-5153-2589/ Ahmad 0878-5521-6487. Silakan mengisi bit.ly/novelsingleinlove

Kategori
Fiksi Sinta Yudisia Karyaku Kepenulisan KOREA Menerbitkan buku Novel Oase Single in Love Sirius Seoul TEKNIK MENULIS WRITING. SHARING.

Teknik Menulis Dialog dalam Novel

Pernah membaca sebuah novel yang dialognya terasa kaku? Aneh bin ajaib dan rasanya buat pusing kepala?

Atau pernah membaca novel yang dialognya buat kita tidak mau berhenti membaca? Terasa menyentuh emosi atau bahkan membuat kita meradang?

Berikut beberapa tips singkat membuat dialog yang mengena dan akan membuat cerita mengalir lancar. Meski tema sederhana, ujung cerita bisa ditebak, dialog yang disusun dengan baik akan membuat pembaca tidak bosan menikmati buku. Dan, biasanya pembaca suka melopati deskripsi dan narasi, lho! Malah  penasaran dengan dialog tokoh-tokohnya dan sepanjang membuka ratusan halaman novel, yang dinikmati adalah dialognya!

 

Dialog

Dialog artinya percakapan dua arah. Maksud dua arah ini adalah :

  1. Antara orang dengan orang
  2. Antara orang dengan sekelompok orang
  3. Antara orang dengan dirinya sendiri (monolog)
  4. Antara orang dengan non-manusia (contoh : percakapan imajinatif dengan kucing, hantu, dsb)

 

 

Perlu digarisbawahi oleh pembaca ketika menulis novel. Novel bukanlah :

  1. Drama
  2. Percakapan sehari-hari seperti dunia nyata

 

Mari simak kisah berikut.

 

————————-

Orion bertemu dengan Triton.

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” kata Orion.

“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab Triton.

“Apa kabar Triton?” sapa Orion.

“Baik, Om!”

“Kamu tambah gemuk?” canda Orion.

“Om juga tambah bulat!” cetus Triton.

——————————

 

Bagaimana rasanya menikmati dialog di atas? Seperti ada yang terasa kaku, janggal bukan? Lalu, di mana letak kejanggalannya?

Ya. Pada pembuka pertemuan antara Orion dan Triton. Dalam kehidupan sehari-hari, bila kedua orang bertemu, maka bisa jadi apa yang dilakukan Orion dan Triton itu benar. Saling bertukar salam, menyapa dengan keakraban , dan seterusnya. Dalam novel, kita harus bisa memilah dan memilih dengan “rasa” agar dialog-dialog yang muncul tidak semua ditampilkan. Pilih yang paling penting dan mewakili.

 

——————————————

Orion tiba-tiba muncul di depan pintu, selang sehari berikut.

Ia tak mengindahkan larangan Venna.

“Hollaaaa!”

“Om Iooooonnnn!!”

Fera merangkul pinggangnya. Gany bergelayut di belakang leher,  Triton menggelendot di kaki. Rintihan Orion yang mengaduh keberatan tak digubris. Mereka terjerembab ke sofa dan tertawa histeris bersama-sama.

“Om bawa es krim?”

“Bawa susu? Bawa yoghurt?”

“Belikan aku komik?”

“Kalian udah tambah gede-gede, ya!” Orion mengacak rambut semua keponakannya. Mengulurkan es krim ke masing-masing yang disambut dengan tawa riang.

 

————

Cover Single in Love + endorsment prof. Koh

Apa yang berubah?

Percakapan ala naskah drama dan dunia nyata dihapus, digantikan percakapan imajinatif. Pembaca menikmati potongan dialog dan narasi/deskripsi singkat keadaan. Potongan dialog di atas adalah dialog antara Orion, si om multitalenta dengan tiga keponakannya yang heboh – Fera, Gany dan Triton dalam novel Single in Love yang insyaallah segera terbit Maret 2019 oleh penerbit KMO Indonesia.

 

 

Membuat dialog memang tak mudah. Kadang penulis harus mengedit jeli sebelum diedit ulang oleh editor bertingkat di penerbit, penulis harus re-read naskahnya, bahkan harus bongkar pasang agar dialog terkesan hidup dan ‘nyambung’ dengan keseluruhan cerita, terutama dengan karakter tokoh, deskripsi, narasi dan semua elemen fiksi.

 

Meski tak mudah, bukan berarti membuat dialog yang cantik mustahil dilakukan.

 

Saya pribadi harus mengkonsumi banyak buku, belajar otodidak untuk dapat menyusun dialog yang manis dan renyah untuk dikunyah pembaca. Beberapa buku yang menjadi  referensi untuk menyusun Single in Love, terutama terkait dialognya adalah :

  1. The Vegetarian – Han Kang
  2. Colorless Tsukuru Tazaki – Haruki Murakami
  3. 1Q84 – Haruki Murakami
  4. The Miraculous Journey of Edward Tulane – Kate DiCamillo
  5. 3 Tahun – Anton Chekov
  6. Dll

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Di bawah ini adalah contoh beberapa dialog dari novel-novel saya.

 

Contoh dialog dalam novel Sirius Seoul

————–

 

“Aku yang menang,” ujar Yong Hae. “Tapi, kuakui kamu hebat. Setiap pagi kamu lari?”

Sofia tertawa. Ya, dia harus lari-lari kalau tidak ingin terlambat ke Joshi Daigaku dan kembali ke toko bunga. Jarak Fukuoka dan Kitakyushu bukan seperti Hongik ke Yeonhui. Belum lagi, dia harus angkat-angkat barang di Hanaya Florist.

“Apa permintaanmu?” Sofia bertanya. “Akan kutu­ruti asalkan masuk akal.”

“Aku tidak minta yang muluk. Cukuplah kamu me­nepati janji untuk menjaga Ninef.”

“Oke,” Sofia menunduk, memegang lututnya, me­narik napas. Mereka berdua memandang Ninef yang berada di titik seberang. “Aku benar-benar ingin me­naklukannya.”

“Mengapa?”

cover Sirius Seoul

 

Contoh dialog dalam Polaris Fukuoka

 

————–

Fasting, ha?” Nozomi mengangguk. “Di pergantian tahun, kami juga melakukan perenungan diri. Malam hari, tepat jam dua belas, kuil-kuil Buddha akan menggaungkan 108 lonceng, jumlah dosa yang diyakini dilakukan manusia.”

“Seratus delapan dosa?” Sofia mengulang.

“Seratus delapan. Ya.”

“Dalam agamaku, ada dosa-dosa besar. Ada dosa-dosa kecil,” Sofia menjelaskan. “Termasuk dosa besar adalah bila manusia tidak percaya adanya Tuhan.”

“Aku percaya adanya Tuhan,” Nozomi menyela.

“Bagus,” puji Sofia. “Ada dosa besar dalam agama kami yang entah, apakah termasuk dalam 108 dosa yang kamu sebutkan tadi.”

“Apa itu?”

Polaris Fukuoka

Semoga teman-teman bisa sama-sama belajar ya 🙂

Bagi teman-teman yang ingin pesan buku silakan kontak Vidi di 0878-5153-2589 atau Ahmad 0878-5521-6487. Form pengisian bisa di bit.ly/novelsingleinlove atau di bit.ly/SiriusSeoul

 

Terimakasih 🙂

Kategori
Buku Sinta Yudisia Fiksi Sinta Yudisia Karyaku Kepenulisan Menerbitkan buku Novel Oase Perjalanan Menulis Single in Love Tulisan Sinta Yudisia

Single in Love, buku ke-66 & Judul bukuku yang lain

Alhamdulillah sebentar lagi, bukuku yang ke-66 insyaallah terbit. Ini termasuk urutan buku antologi alias buku yang dikerjakan ramai-ramai.

 

Kalau buku solo, ini buku ke-44 insyaallah. Alhamdulillah, kali ini Single in Love berjodoh dengan penerbit KMO Indonesia.

 

Cover Single in Love + endorsment prof. Koh.JPG

Doakan agar menjadi buku mega-best seller ya 🙂

Bagi yang ingin tahu judul bukuku, ini daftar bukunya :

 

Novel :

  1. Sebuah Janji (GIP)
  2. The Lost Prince (GIP)
  3. Kekuatan Ketujuh (Beranda)
  4. Kuntum-kuntum Bunga (FBA Press)
  5. Ain & The Gank : Coz I Luv U (LPPH)
  6. Ain & The Gank : Gotcha! (LPPH)
  7. Melintasi Batas (Mizan)
  8. Langit Lembayung (Mizan)
  9. Armanusa (Mizan)
  10. Lafadz Cinta (Mizan) – Best Seller
  11. The Road to The Empire- Des 2008 (LPPH)
  12. Reinkarnasi –LPPH – terbit Agustus 2009
  13. Existere (LPPH –Juni 2010)
  14. Takhta Awan, sekuel The Road to the Empire (LPPH 2011)
  15. A Rose (2012, Indiva Publishing)
  16. Rinai ( 2012, Indiva Publishing)
  17. Bulan Nararya (2014, Indiva Publishing)
  18. Polaris Fukuoka (2017, Pastelbooks)
  19. Reem (2017, Pastelbooks)
  20. Lafaz Cinta-republish (2018, Pastelbooks)
  21. Sirius Seoul (2018, Pastelbooks)
  22. Single in Love (on process 2019, KMO)

 

Antologi :

  1. Dapur Kreativitas Para Juara (Mizan)
  2. Cinta Ya Cinta (Mizan)
  3. Selaksa Rindu Dinda (GIP)
  4. Jendela Cinta (GIP)
  5. Sahabat Pelangi ( LPPH)
  6. I Love U So Mad (LPPH)
  7. Jilbab Pertamaku (LPPH)
  8. 17 Tahun (LPPH)
  9. Kisah Kasih dari Negeri Pengantin (LPPH)
  10. Desperate Housewives (LPPH)
  11. Matahari Tak Pernah Sendiri 1 (LPPH)
  12. Matahari Tak Pernah Sendiri 2 (LPPH)
  13. Kutemukan Cinta dalam Tahajudku (Bina Ilmu-2008)
  14. Doa-doa Enteng Jodoh (LPPH-2009)
  15. Bukan Republik Mimpi – Progressio, 2009
  16. La Tahzan For Mother – (LPPH- 2009)
  17. Emak-emak Fesbuker – (Leutika Publishing-2010)
  18. I Love You, Friend –(LPPH-2010)
  19. Storytelling Asia – ASIA Magazine, Seoul, North Korea, 2016
  20. Sedekah Minus (Reverse Donation) , dalam ASIA magazine, Summer 2016, edisi 41
  21. Big-City Children and Curative-Literacy, dalam ASIA magazine, Autumn 2016, edisi 42
  22. Spirit 212 : Cinta Ini Menyatukan Kita (20117, Indiva Publishing)

 

Non fiksi :

  1. Hi, Pretty : 30 hari menjadi cantik (GIP)
  2. Rival-Rival Istri (LPPH)
  3. Kitab Cinta dan Patah Hati (2013, Indiva)
  4. Sketsa Cinta Bunda (2014, Indiva)
  5. Cinta x Cinta : Agar Masa Remaja Tak Sia-sia (Indiva Publishing 2015)
  6. Psikologi Pengantin ( Indiva Publishing 2016)
  7. Mendidik Anak dengan Cinta (GIP, 2017)
  8. Sarah : Seri Perempuan Istimewa ( GIP, 2017)
  9. Seksologi Pernikahan Islami ( Indiva Publishing, 2019)

 

Kumpulan Cerpen :

  1. Bulan di Atas Grotte Markt (GIP)
  2. Red Jewel of Soul (Zikrul Hakim)
  3. Cadas Kebencian (Mizan)
  4. Nyanyian Surga (Mizan) – naik cetak 3x
  5. Pink (Mizan) – Best Seller

 

Buku Anak-anak :

  1. Ketika Upi Bertanya (GIP)
  2. Janji Cici (GIP)
  3. Lulu Sayang Adik (GIP) – naik cetak 2x
  4. Bu Guru Sayang (GIP) – naik cetak 2x
  5. Hantu Kubah Hijau (Novel Anak, Indiva Publishing, 2017)
  6. Juru Kunci Makam ( Novel Anak, dalam proses revisi)

 

Duet :

  1. Bersama Izzatul Jannah : Gadis di Ujung Sajadah (FBA Press)
  2. Bersama Fahri Asiza : Mempelai Tanpa Pengantin (LPPH)
Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Bedah Buku Sinta Yudisia Buku Sinta Yudisia Fiksi Sinta Yudisia KOREA Perjalanan Menulis Sirius Seoul

Bedah buku Sirius Seoul di Surabaya

Assalamualaikum…
Anyeonghaseyo

Kamu suka hallyu? Kamu kpopers? Atau pecinta drama?

Nah kebetulan ikut kuy ke acara terkece tahun ini!

Kalian bisa dapet doorprize menarik asli korea!

BB Sirius Seoul.png

Kapan lagi bisa dapet doorprize dari negri para oppa, bias, dan idola kalian

*Lokasinya di *Majelis Mie* Jalan Citarum No. 2 Darmo Surabaya

@ 08.00 pagi – 11.30 siang

# Minggu, 23 Desember 2018

~Agenda :
– Bedah buku Sirius Seoul
– Bincang akrab dengan bunda Sinta yang sudah 2x ikut SFAC – _Seoul Foundation for Arts and Culture_

HTM 30k ( food+beverage)
70k ( food+beverage+book)

Cp :
Arina 081545137523
Icha 082336541985

Hwaiting!
Yuuuk, ikutan dan ajak teman2 daebak-kiyowo kamu !

Kategori
Fiksi Sinta Yudisia Karyaku Kepenulisan KOREA Oase

Sirius Seoul dan pembaca

Senangnya, ketika buku kita terdistribusi ke berbagai segmen pembaca. Semoga Sirius Seoul membawa manfaat luas bagi pembaca di tanah air hingga ke pelosok penjuru dunia 🙂

Kategori
Jepang Karyaku Kepenulisan KOREA Mancanegara Oase

Sirius Seoul: Nol & Zero, bag. 3

 

Mari, lakukan pendekatan kepada Paman. Harus berbaik-baik dengan beliau untuk mendapatkan izin secara mulus pergi ke negeri tetangga.

Kadang, Sofia ingin menggoda Paman dan menanya­kan apakah tidak ada yang menyibukkan dirinya selain pekerjaan? Pada Sabtu dan Minggu pun, Paman masih bekerja.

“Om Hanif harus jaga kondisi,” Sofia berlagak manis suatu ketika. “Sekali-sekali istirahat, enggak akan rugi, kan? Om menghabiskan waktu dengan kerja, kerja, kerja. Enggak capek, apa?”

“Enggak. Biasa aja.”

“Tapi, yang lihat, capek, Om,” Sofia manyun.

“Kamu yang capek?”

“Begitulah.”

“Kamu capek emang ngapain aja? Cuma kuliah, jaga toko. Main akhir pekan.”

“Cumaaa …?”

“Om dulu seusia kamu merintis bisnis sambil kuliah. Sampai tidur di meja dapurnya orang, saking capeknya. Makan sering kali nunggu sisa restoran, biar irit. Kamu gitu juga?”

“Enggak, sih ….”

“Jadi, jangan cepat ngeluh capek. Pengorbananmu belum apa-apanya.”

Hadeh.

Jangan bicara masalah pengorbanan dan rasa le­lah dengan Paman. Omelannya bisa sampai satu mega giga terabyte. Paman sebetulnya bukan makhluk tanpa perasaan seperti para elf alias peri yang hidup di negeri dongeng.

“Om kerja keras pengin menyenangkan nenek kamu,” ujar Paman tanpa maksud menyombongkan.

Nah, ini yang membuat Sofia melting.

“Memang, Om mau ngasih apa ke Nenek?” Sofia ingin tahu.

“Pengin ngajak Nenek ke sini. Tinggal di sini.”

“Tante Nanda pasti enggak boleh.”

“Om tahu,” Paman mengaku, “pasti si Nanda enggak bakal mengizinkan. Yah, Om pengin ajak nenek kamu naik haji. Om kerja keras biar Nenek bisa segera haji. Yang terdekat, Om ingin ngajak nenekmu umrah sambil jalan-jalan ke Turki.”

Sugoi! Om keren. Nenek punya tabungan, kok, Om.”

“Maksudmu?”

“Ya, aku cuma mau bilang kalau Nenek punya tabungan.”

“Kok, kamu tahu?”

“Nenek sering ngajari aku sebagai anak gadis harus rajin nabung. Zaman old dulu, waktu bank belum seperti sekarang; anak gadis suka nabung dengan cara beli perhiasan. Beli cincin, anting, liontin. Gitu-gitulah. Kata Nenek itu buat tabungan.”

Ha, jadi enggak boros kayak kamu, ya?”

“Bukan begitu!” Sofia sewot. “Nenek itu rajin nabung. Uang yang dikirim Om sama yang dikasih Tante Nanda, biasanya disimpan. Hanya sebagian buat keperlu­an sehari-hari. Buat Nenek reuni sama teman-temannya, jalan ke mana. Selebihnya, ditabung.”

“Ya, sudah. Berarti bagus itu, Nenek banyak tabungannya.”

“Artinya, cukuplah kalau buat Nenek jalan ke Jepun sini atau buat ongkos umrah.”

“Jadi?”

“Ya, Om enggak usah memforsir diri.”

Ha, balik lagi ke situ?”

“… yyya, maksudku, Om harus jaga kondisi, gitu, lho!”

“Perhatian banget kamu.”

“Ya, iyalah,” Sofia menepuk dada. “Makanya, Om segera punya istri, biar ada yang tambah perhatian.”

Paman terkekeh.

Sampai di sini, Sofia sering tergelitik untuk menanyakan tentang Gyeong Hui dan Ninef, orang-orang pada masa lalu yang pernah memiliki tempat khusus dalam kehidupan Paman.

“Om enggak pengin nikah?”

“Nantilah kalau Nenek sudah haji.”

“Yah, sudah lumutan, Om. Sudah jadi prasasti. Fo­sil!” Sofia mengejek. “Habis umrah aja.”

“Lagian, siapa yang mau sama Om?” Paman meren­dah di hadapannya.

Sofia mengamati sang paman.

Paman memang tidak seperti anak belasan tahun yang masih segar bugar. Namun, bukan berarti kehilangan pesona sama sekali.

“Ngapain kamu lihat-lihat Om?” Paman menegur.

Sofia tergelak, “Om masih ganteng. Gabungan Satou Takeru dan Gong Yoo.”

Hahaha!” Paman tergelak.

“Ya, hanya perlu dihilangkan double chin sama sedikit buncit di perut. Selebihnya, masih oke. Paman masih pantas melamar anak orang.”

Kalau sudah di titik ini, Paman biasanya tidak berlama-lama.

“Sudahlah, Om lagi banyak urusan. Kerjaan. Kamu juga harus jadi seperti nenekmu. Apa nasihat Nenek tadi? Anak gadis harus banyak nabung emas, buat ke­pentingan masa depan. Jangan habis buat shopping dan nonton melulu.”

Belum jadi tua seperti Nenek, rasanya kulit menyusut mengerut seperti nenek-nenek.

 

#siriusseoul #polarisfukuoka #novel #romance #adventure #friendship #itaewon

#linestore #smtown #seoul #korea #kpop #idol

*****

Gong Yoo , Satou Takeru 

gong yoosatou takeru

Kategori
Fiksi Sinta Yudisia Jepang KOREA Kyushu Mancanegara Oase Sirius Seoul Travelling Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Sirius Seoul : Nol & Zero bag. 2

 

Sofia mengunyah perlahan telur scrambled yang dicampur beragam sayuran. Dia harus bersegera menye­lesaikan makan siang bila tidak ingin kehilangan waktu shalat zuhur. Jie Eun masih setia dengan makan siang yang membuatnya tidak berlemak: dada ayam, irisan timun, rebusan sejenis ubi. Entah mengapa, dia yang terlihat paling lahap menghabiskan makan siang.

“Aku sebenarnya ingin mengambil beberapa program. Kita ada pelatihan untuk menjadi guru pada musim panas,” Sofia menjelaskan. “Juga, relawan untuk Festival Hua Fu di departemen anak.”

Natsuyasumi atau musim panas adalah masa liburan panjang. Banyak mahasiswa memanfaatkan masa ba­hagia ini justru dengan mengambil pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan kampus, atau diadakan oleh kakak-kakak tingkat yang telah lulus untuk merekrut adik-adik tingkat menjadi karyawan di berbagai instansi kelak.

Masa ini juga masa paling tepat bagi para mahasiswa yang hidup di perantauan untuk bekerja arubaito atau paruh waktu. Karena liburan resmi, bahkan instansi pemerintah pun bersedia merekrut pegawai berstatus gakusei atau mahasiswa. Mahasiswa asing sekalipun.

Jeda perkuliahan juga menjadi waktu paling tepat untuk mendapatkan relawan bagi kegiatan-kegiatan yang akan diselenggarakan begitu musim panas usai. Rata-rata, perkuliahan dimulai pada musim semi April, terpotong musim panas, aktif kembali pada musim gugur yang sering kali ditandai dengan banyaknya matsuri atau festival. Festival-festival bukan hanya diselenggarakan di setiap prefektur yang memelihara cita rasa tradisional berusia ribuan tahun, tetapi juga di kampus-kampus demi mengusung nilai-nilai unik yang ditawarkan civitas academica.

Rancangan Hanaya Florist
Rancangan Hanaya Florist

“Kamu ingin mendaftar sebagai relawan?” Rei men­delik.

“Kupikir, bekerja di belahan bumi mana pun masih lebih menarik daripada berada di toko bunga pamanku,” Sofia terkekeh.

Hm, sepertinya aku mau arubaito di toko pamanmu,” Rei menggumam.

“Wah, itu bagus!” seru Sofia. “Percayalah, pamanku seperti malaikat bagi karyawannya. Dia hanya berbeda perlakuan terhadapku. Mungkin karena aku bandel.”

Rei dan Umeko tertawa.

“Tapi,” Sofia memandang makan siangnya yang mulai dingin, “memikirkan musim panas diisi dengan bekerja, training, menjadi relawan; rasanya aku lekas menua. Apakah tidak bisa kita liburan seutuhnya?”

Jie Eun yang sedari tadi hanya mengamati mulai angkat suara.

“Kalian tidak ingin ke Korea sesekali? Dekat, kan, dari sini?” Jie Eun bertanya ringan.

Ungkapan Jie Eun membuat ketiga temannya menghentikan aktivitas seketika. Ya. Mengapa tidak? Bukankah Korea hanya sedikit di atas Fukuoka? Pasti menyenangkan bisa melihat belahan lain dari dunia se­

lain Joshi Daigaku, apartemen, dan toko bunga. Ups, pasti menyenangkan sejenak menjauh dari tekanan Paman.

“Kalian bisa ke SM Town, pergi ke teater, atau ke Pulau Jeju.”

“Maksudmu, SM Entertaintment?” Sofia menahanna­pas. “Suju, TVXQ, Bigbang, EXO, BTS, SNSD, Blackpink, Red Velvet?”

“Bigbang bukan SM, Sofia.”

Whatever,” Sofia menepuk-nepuk mulut, tanda kelepasan bicara, “maksudmu, kita bisa ke sana dan berfoto, beli barang keren di flagship stores?”

“Kalau tujuanmu belanja barang, bisa kuantar ke toko Line di Itaewon,” Jie Eun tertawa. “Tapi, pastikan apa tujuanmu ke Korea.”

Rei dan Umeko berpandangan. Sofia memandang Jie Eun bergairah.

“Aku rasa, penawaranmu membuatku semangat menghabiskan makanan.”

cover Sirius Seoul
Masukkan keterangan

“Kalian bisa tinggal di rumahku,” Jie Eun menawar­kan. “Bukan rumah mewah, tapi kurasa cukup menyenangkan untuk menghabiskan musim panas. Kita bisa bersepeda di sepanjang Sungai Han, menikmati makanan khas yang terkenal seperti bulgogi dan bibimbap. Menon­ton konser. Kalau kalian suka, kita bisa melihat titik perbatasan Korea Selatan dan Korea Utara. Tempat itu mengasyikkan untuk penyuka sejarah seperti Sofia.”

Kotak makan Sofia segera tandas.

“Aku harus segera shalat. Jie Eun, kamsahamnida. Aku rasa, aku ingin sekali menghabiskan liburanku di negerimu.”

“Suatu kehormatan bagiku memperkenalkan Korea kepada kalian,” Jie Eun tersenyum manis.

Rei dan Umeko melempar pandang sembari tertawa riang.

Ajakan Jie Eun yang tampaknya hanya sekadar per­cakapan sekilas, membuat suasana siang hari itu terasa dipenuhi pelangi.

 

*****

Kategori
Buku Sinta Yudisia Fiksi Sinta Yudisia Karyaku Kepenulisan KOREA Kyushu Mancanegara Oase Sirius Seoul Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Sirius Seoul : Nol & Zero, bag. 1

Ikuti kisahnya dan nantikan hadiahnya!

 

Rasanya sepertiぐでたま. Gudetama, si telur yang eng­gan melakukan hal dengan sepenuh hati. Si telur yang bosan diperintah-perintah dan lebih senang tengkurap, menungging sebagai bentuk pemberontakan dan peno­lakan. Si melankolis berbentuk kuning, yang malas dan kerap menggumam: meh, aaahhh.

Bila malam tiba, ingin bersorak melihat shoji ka­marnya. Bau sarung bantal dan selimut adalah aroma ternikmat yang pernah dihirup. Sering kali bila terlam­pau lelah, Sofia tertidur masih mengenakan kaus kaki dan jilbab yang membalut kepala. Barulah dini hari saat ingin ke belakang karena hawa demikian dingin, dia membersihkan diri berikut sikat gigi dan menyelesaikan agenda yang seharusnya ditunaikan sebelum tidur.

cover Sirius Seoul
Sirius Seoul yang insyaallah terbit September 2018

Dering alarm pagi merupakan hukuman bagi kesenangan!

Andai waktu dapat ditunda dan dia dapat menelusup ke bawah lantai tatami. Menimbun diri di balik tumpukan baju yang belum disetrika, menimbun diri di balik gulungan selimut, bermimpi bahwa natsuyasumi sedang terjadi hari ini.

Sebetulnya, Paman tidak lagi seperti matsu yang kaku. Jarang mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan. Namun, perintahnya makin sering, makin kerap, makin beruntun.

Ambilkan barang. Ada yang mau antar dan nitip di An Nour.

Jemput tamu di Bandara Fukuoka.

Belikan bibit bunga.

Jangan lama-lama di kampus. Kerjakan tugas sambil jaga toko.

“Main ke Aso jangan keseringan. Mentang-mentang tiket pelajar dapat diskon. Ngapain jauh-jauh cari krim susu di kaki Gunung Aso?”

 

*******

 

Kantin Joshi Daigaku, dihiasi meja putih dan kursi kuning cerah, tidak mampu memberikan energi positif. Dinding merah bata yang menjadi ciri khas kampus perempuan, bagai batas-batas penuh bisikan membawa pesan rahasia bak cerita di film horor.

“Aku merasa semester ini sebagian besar diriku hancur,” keluh Rei.

“Sama,” Umeko mengiakan.

Sofia yang menyusul tampak sama kusutnya.

“Aku tidak mengerti apa yang salah,” Rei masih ke­hilangan semangat. “Kuliah nursing, pelatihan keguruan, dan children care harusnya berjalan mudah.”

“Apakah kita sudah kehilangan sifat keperempuanan sehingga pelajaran perempuan terlihat sangat sulit?” Sofia melempar pertanyaan retorik.

“Kamu betul,” ujar Rei dan Umeko nyaris serem­pak.

“Dulu, ibu-ibu kita sangat rajin dan tahan banting,” Umeko menambahkan. “Mereka langsung belajar dari alam. Sekarang, kita kehilangan keahlian. Ah, ternyata jadi perempuan terampil sangat sulit.”

“Kita butuh liburan,” usul Rei.

“Setuju!” Sofia yang pertama kali mengiakan, sebe­lum yang lain sempat menghela napas.

Mereka memandang makan siang masing-masing tanpa selera. Bahkan, olahan telur Sofia yang biasanya paling mengundang selera, tidak dilirik oleh Rei dan Umeko.

“Aku sepertinya akan mengambil semester pendek,” Umeko terlihat ragu. “Tapi, aku tidak menolak kalau kalian memaksa.”

Sofia dan Rei tertawa.

“Tak seorang pun menolak liburan, Umeko!” Rei menggoda. “Ada usulan kita akan ke mana?”

“Aso?” Umeko menawarkan.

Sofia sontak lunglai.

Bukan dia tidak suka pemandangan gunung eksotis, kabut, dan pemandian air panas. Apalagi, hamparan pe­ternakan sapi yang menyediakan susu terenak di dunia. Berikut es krim yang jelas-jelas lezat. Oishi! Meccha umai! Tapi, ucapan Paman membuat semangatnya segera ken­dur. Entah mengapa, Paman melarangnya sering-sering ke Aso. Mungkin, usai perjalanan wisata ke sana, Sofia persis seperti si Kuning Telur Gudetama. Menungging tidur, malas seharian.

Menolak ajakan Umeko, tidak sopan rasanya. Untung, Jie Eun segera bergabung menyesuaikan percakapan.

“Ke mana kalian natsuyasumi kali ini?” tanyanya.

Rei menggeleng.

Umeko mengangkat alis.

 

#siriusseoul #polarisfukuoka #novel #romance #adventure #friendship #itaewon

#linestore #smtown #seoul #korea #kpop #idol #boyband #girlband

Aso 27.jpg
Pegunungan Aso di Fukuoka. Cantik ya?

Kategori
Buku Sinta Yudisia Fiksi Sinta Yudisia Jepang KOREA Kyushu Mancanegara Oase Sirius Seoul Travelling WRITING. SHARING.

Seperti apa sosok Sofia di novel Sirius Seoul?

 

 

Aku teringat sepenggal percakapanku dengan Profesor Robin Kirk, pakar cerita anak yang juga ikut residensi penulis di Seoul Juli 2018 tempo hari.

“Apa yang ingin kamu sampaikan ketika menulis novel untuk remaja, terlebih settingnya Jepang dan Korea?”

cover Sirius Seoul
Cover Sirius Seoul. Cantik , ya? 🙂

Kuceritakan bahwa anak muda Indonesia  menggemari Jepang dan Korea. Film-filmnya, animasi, komik, drama, musik, kuliner dan seterusnya. Banyak pertanyaan muncul di hatiku : kok bisa ya buat film sekeren itu padahal plot dan settingnya sederhana? Oh, ternyata ada kekuatan di karakter tokohnya. Kok bisa ya K-pop sekeren itu? Oh ternyata mereka tahan banting, masuk karantina bertahun-tahun sebelum debut. Filosofi han sudah mendarah daging dalam diri mereka. Yang mau sukses, harus sabar dan tahan banting.

Sosok di Polaris Fukuoka dan Sirius Seoul, masih sama. Sofia, si anak yatim piatu yang merantau ke Fukuoka, nebeng hidup dan kerja di pamannya yang super galak tapi baik hati. Di Sirius Seoul, Sofia menghabiskan liburan musim panasnya di Seoul, menikmati konser boyband dan mengunjungi tempat-tempat eksotis sembari mencari jejak sepupunya yang belum pernah dikenalnya, Ninef.

Sofia yang kesasar ketika naik bis di Seoul (kiri) . Sofia dan Ninef saling bertukar cerita (kanan)

 

 

Seperti apa sosok Sofia?

  1. Energik
  2. Suka berdebat terutama dengan si Om
  3. Karena gak punya ayah, agak-agak gimana kalau ketemu cowok . Kata si Om ,”kamu jangan genit kalau ketemu cowok!”
  4. Suka makan telur. Sampai-sampai Jie Eun, Rei dan Umeko bosen lihat menu makan Sofia.
  5. Punya jiwa altruist tinggi. Kali aja dia punya kepribadian tipe A- Agreeableness, salah satu dari Big Five Personality ya?
  6. Suka pakai baju batik. Karena batik itu melambangkan budaya Indonesia yang cantik banget.
  7. Rajin kalau lagi mood
  8. Bisa tidur masih pakai jilbab dan kaos kaki kalau udah kecapekan hahaha…
  9. Kalau lagi malas, mirip banget sama Gudetama, tokokh telur dalam kartun Jepang!
  10. Bodynya atletis –bukan tipis- , maklum angkut-angkut barang di toko si Om. Lari kesana kemari dari apatonya di Fukuoka dan kampusnya di Kitakyushu. Apalagi si Om nggak suka dengan karyawan yang klemar klemer, banyak alasan
  11. Wajahnya manis, tapi jangan dibayangkan seperti Jie Eun yang mirip Rose – Blakcpink atau adiknya , Yi Kyung yang mirip Jisoo.
  12. Suka nolong orang, tapi suka ngutang ke si Om dan tantenya, Nanda yang judes tapi kindhearted.

 

Selebihnya baca sendiri aja yaaa

 

(meski Sofia masih amat sangat gaul, gak bisa lepas dari IG dan boyband girlband pujaannya; diam-diam dia terus belajar mencari jati diri. Satu yang ingin kutampilkan di novel Polaris Fukuoka dan Sirius Seoul : betapa istimewanya gadis Indonesia karena mereka dikenal mandiri, baik hati dan suka menolong . Jadi, banggalah jadi gadis dan perempuan Indonesia!)

 

Mohon  doa di hari baik, bulan baik ini, agar novel Sirius Seoul lancer terbit. Barakah dan bermanfaat bagi masyarakat luas, pembaca menemukan pencerahan, serta keunggulan Indonesia semakin dikenal masyarakat dunia.

 

Kategori
Beasiswa / Scholarship Buku Sinta Yudisia Catatan Perjalanan Kepenulisan KOREA Mancanegara Oase Perjalanan Menulis Travelling Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Residensi Penulis, Ngapain Aja?

 

Mungkin masih ada yang bertanya-tanya : Writer’s Residency atau residensi penulis itu ngapain aja sih? Apa sama dengan jalan-jalan biasa? Ke luar negeri, dibiayai, makan-makan, selfie-selfie; begitu?

Hehehe, nggak juga kali. Yah, sedikit banyak ada miripnya, tetapi ada tanggung jawab besar ketika kita mengikuti residensi penulis. Kita punya tangung jawab membawa nama negara Indonesia tercinta.

Residensi penulis, mirip karantina sebetulnya. Penulis diisolasi sejenak dari dunia luar, supaya bisa berkonsentrasi menulis. Tahu sendiri kan,penulis itu adaaa aja kerjaannya. Kayak saya yang ibu rumah tangga dan psikolog ini. Sehari-hari mencuci, memasak, berantem sama anak-anak (alamaaak!) , menemui klien dst. Belum lagi ngobrol sama tukang sayur, wah…tulisan nggak kelar-kelar.

Residensi penulis membuat kita fokus. Ya. F-O-K-U-S. Itu ternyata kunci utama menjadi penulis. Di residensi inilah kita kemudian nggak ngurusi apa-apa, kecuali masak ala kadarnya dan mencuci baju sendiri. Berhasilkah? Alhamdulillah, berhasil bagi saya.

 

Lingkungan yang asri, memunculkan inspirasi

Di residensi Art Space Yeonhui, milik dari SFAC atau Seoul Foundation for Arts and Culture ini, saya bisa menyelesaikan banyak tulisa. Bagi saya banyak karena dalam waktu 3 minggu, kalau di Indonesia rasanya sulit banget.

  1. Seksologi Islami, buku non fiksi yang insyaallah akan diterbitkan oleh Indiva Publishing 2018.
  2. Tiga buah buku anak serial Children Stories yang insyaallah akan diterbitkan oleh Ziyad Publishing. Masing-masing berjudul : Hii, Aku Takut; Yuk, Senyum dan Bertemu Orang Asing. Insyaallah terbit 2018.
  3. Cerpen Sepetak Nasi di Ujung Sumpit, yang saya kirimkan ke Kompas. Masih nunggu kabar.
  4. 3 Menit yang Bahagia, saya kirimkan ke Jawa Pos, masih nunggu kabar.
  5. Esai Mengapa Unsur Korea Menarik untuk Dituliskan dalam Novel dan Cerpen? Yang insyaallah akan diterbitkan oleh majalah Koreana, musim gugur 2018.
  6. Revisi untuk novel Sirius Seoul yang insyaallah diterbitkan Pastelbooks, 2018.
  7. Tulisan-tulisan lepas untuk blog
  8. Video-video pendek tentang Seoul seperti tentang SFAC, Itaewon, Line Store, HUFS (Hankuk University of Foreign Studies).

 

Perpustakaan di Yeonhui, Seodaemun-gu, asyik banget!

Kebayang kan, kalau di Indonesia, tugas utama sebagai emak-emak akan membuat waktu menulis tersingkirkan terlebih dahulu. Bukan saya mengeluh atau menyesal ya. Tetapi alhamdulillah, Allah kasih kesempatan saya ke Seoul untuk residensi selama 3 pekan; maka saya manfaatkan sebaik-baiknya.

Sehari-hari kalau nggak jalan keluar, saya akan duduk di depan netbook untuk menulis.

3 Novel di Yeonhui Siktak.JPG
Reem & Polaris Fukuoka adalah novel yang saya tulis sebagiannya di SFAC 2016

Nah, kalau anda mau ikut residensi penulis; rencana mau menulis apa aja?

 

Selain itu, kalau kita ikut residensi penulis maka harus ada hal-hal yang disiapkan.

Yeonhui Siktak.JPG
Bahasa yang wajib dihafal : saya tidak makan babi dan saya tidak minum alkohol 

  1. Belajar bahasa, meski sedikit. Kalau di Korea,setidaknya belajar untuk tahu huruf hangeul. Insyaallah gak sulit, kok. Dari hanya annyeong haseyo; sedikit-sedikit saya udah bisa merangkai kalimat. Meski dibantu sama google hehehe. Misal : joneun dwaejigogi meokji ahneunda yang artinya saya nggak makan babi. Atau joneun Indonesia-saramimnida yang artinya saya orang Indonesia

 

  1. Masak sendiri. Bisa kan? Wong sudah biasa masak mie J.

 

  1. Nyuci sendiri

 

  1. Berani jalan-jalan sendiri, belajar dari yang terdekat. Untuk melatih keberanian, cari convenience store Lalu cari halte bus terdekat. Lalu cari stasiun kereta terdekat. Daaaan….berani kesasar, ya! Saya udah bolak balik kesasar.
Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Karyaku Oase Perjalanan Menulis Sastra Islam WRITING. SHARING.

Reem & IBF Award 2018

Di balik Reem, Polaris Fukuoka dan The Road to The Empire

Reem's Award.JPG
Alhamdulillah #reem mendapat penghargaan untuk kategori fiksi dewasa terbaik 2018

 

 

Perjalanan the Road to The Empire, tidaklah mudah. Didahului dengan buku Sebuah Janji, The Lost Prince, lalu muncullah the Road to The Empire. Kisah Takudar berawal dari sebuah buku warisan ayah yang telah meninggal sejak SMA, the Preaching of Islam karya Thomas W. Arnold. Saat menyusun ksiah Takudar, internet belum seperti sekarang. Perlu waktu berhari, berminggu, bertahun untuk mengkumpulkan kliping koran tentang Mongolia dan negara-negara sekitarnya; serta tentang sejarah yang berkaitan dengannya.

Muluskah jalan TRTE?

Tidak. Pertama, ditolak penerbit dengan alasan pasar tidak suka tema berat, apalagi sejarah. Memang, dunia perbukuan ibarat ranah dagang yang tidak bisa diperhitungkan keuntungannya 100%. Ada buku yang bagus ternyata malah jeblok di pasaran, ada buku biasa-biasa saja dan penulisnya tidak butuh energi besar untuk menulis, malah laris manis. Itu masalah rezeqi dari Allah Swt. Kedua, TRTE lama sekali tidak menemukan penerbit yagn sesuai hingga bertemu dengan Lingkar Pena Publishing House dan mendapatkan editor andal, pak Maman S. Mahayana.

Tetapi masyaallah subhanallah, hingga sekarang kisah tentang Takudar lah yang paling banyak dicari orang. Orang masih menunggu buku ke-5 yang aku sendiri belum sempat selesaikan. The Road to The Empire meraih penghargaan sebagai fiksi dewasa terbaik di ajang IBF Award 2009.

IBF Award 09 dan 18.JPG
Polaris Fukuoka yang masuk nominasi sebagai fiksi terbaik 2018, Reem fiksi terbaik 2018 , The Road to The Empire fiksi terbaik 2009

 

Bagaimana dengan Polaris Fukuoka dan Reem?

Jujur, aku tidak menyangka dua novel ini masuk nominasi fiksi terbaik. Mengingat penilainya adalah Dr. Adian Husaini, Ibu Nina Armando, bapak Ahmadun Yosi Herfanda dan masih ada dua juri keren yang aku lupa nama beliau.

Polaris Fukuoka bersetting Jepang. Butuh energi besar untuk mempelajari budaya, filosofi, nilai-nilai dan rasanya ketika buku tersebut terbit; masih ada rasa tak puas karena aku belum cukup dalam memahami segala hal terkait Jepang.

Reem?

Mempelajari Palestina dan Maroko bukanlah pekerjaan mudah. Novel ini sebetulnya berdasar skenario bapak Beni Setiawan dan dari skenario itulah kususun novel Reem. Banyak rintangan, hambatan, halangan dalam menyusun buku Reem.  Polaris Fukuoka sudah disusun outlinenya sejak 2015 dan baru terbit 2017. Reem disusun sejak 2016 dan baru terbit 2017.

 

Di awal 2017, di buku harianku, tertulis catatan sekian banyak cerita pendek, naskah lomba, novel yang masih menemukan jalan buntu hingga aku sempat merasakan kesedihan yang dalam. Akankah aku berhenti di sini sebagai penulis? Apakah lebih baik aku bisnis online saja, yang banyak menjanjikan keuntungan?

 

Tetapi, ketika berada dalam ajang IBF seperti Rabu kemarin 18 April 2018 kemarin, di tengah insan perbukuan yang sama-sama merasakan rumit, keras, getir dan jatuh bangunnya industri perbukuan; kata-kata dari pak Hikmat Kurnia ketua panita, pak M. Anis Baswedan ketua IBF, sambutan dari pak Fadli Zon dan sambutan dari TGB sangat menyejukkan. Menyalakan api. Membuat hati-hati kita membara lagi calam celupan rasa cinta pada ilmu pengetahun, pengorbanan, dan keutamaan dari membaca, menulis, mempelajari, memahami hingga akhirnya menjadi bijak dalam menjalani hidup.

All winners.JPG
Kata TGB “people with beautiful minds”

Sebuah quote dari TGB dan istri beliau yang cantik dan cerdas membuatku terkesima.

“Para penulis yang berdiri di depan, menerima penghargaan adalah people with beautiful minds.

 

2009 bersama suamiku Agus Sofyan, 2018 bersama putraku Ibrahim Ayyyasy Kholilullah

Masyaallah.

Subhanallah.

Pada titik di mana kita merasa rendah, lelah, buntu dan putus asa; ada Allah Swt dan para tentara langitnya  siap memanggul harapan dan cita-cita ajaib kita menuju kemungkinan yang layak untuk diwujudkan.

 

Terimakasih kepada semua pihak yang telah menjadikan Polaris Fukuoka dan Reem sebagai novel terbaik 2018.

 

#novel

#novelislami

#reem

#polarisfukuoka

Kategori
Buku Sinta Yudisia Hikmah Jepang Oase Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Renungan Hidup dan Kematian Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Kontroversial Video Logan Paul tentang Aokigahara dan Upaya Mengatasi Commit-Suicide

 

Kita selalu merinding mendengar kata bunuh diri atau commit suicide.

Kematian adalah salah satu hal yang pasti akan dialami makhluk hidup. Namun bagaimana akhir hidup manusia, sungguh merupakan perenungan bagi kita semua. Sebagian manusia meninggal karena wabah kelaparan, peperangan, bencana alam, endemi penyakit atau human error seperti kebakaran dan kecelakaan. Walau bila bicara takdir, maka semua telah tertulis di lauhil mahfuz.

Tetapi, menjadi kewajiban manusia beriman dan berakal untuk mencermati segala fenomena yang terjadi dan berupaya sebaik mungkin menanggulanginya. Wabah penyakit misalnya, manusia berupaya sebaik mungkin untuk mengenali demam berdarah; mulai mencegah, mengenali tanda, memberikan pertolongan pertama hingga memberi perawatan sampai mencapai taraf kesembuhan. Belum lama ini di wilayah Jawa Timur utamanya Surabaya, dikejutkan dengan wabah difteri. Maka pemerintah dan masyarakat ramai-ramai menggalakkan vaksin.

Bencana yang disebabkan human error misalnya, pun dicoba diatasi sebaik mungkin.

Kebakaran? Banjir?

Kalau disebabkan karena buang puntung rokok sembarangan, sampah menumpuk; maka semua harus diantisipasi. Kecuali apabila kemarau panjang yang menimbulkan kebakaran dahsyat seperti di Australia tempo hari. Bagaimana dengan commit suicide? Apakah ia human error ataukah takdir yang tidak dapat diubah?

Kembali, kita tidak akan membahas takdir namun kita akan berupaya sebaik mungkin untuk mengatasi, atau mencegahnya.

jonghyun-in-shinee-concert-rexfeatures_6860129f-res
Jonghyun Shinee

Chester Bennington, Jonghyun dan Marilyn Monroe

Sederet artis papan atas dikabarkan bunuh diri.

Yang terus dikenang sepanjang zaman adalah Marilyn Monroe. Artis cantik nan sensual ini, seharusnya mendapatkan apa saja yang dapat diraih dunia; bila kebahagiaan itu senilai materi. Tetapi, Monroe tidak mendapatkannya. Ia mengalami abuse sejak kecil, suami pertamanya memperlakukan tidak baik dan pada akhirnya ia menjadi bintang bom seks. Monroe mendambakan kehidupan sebagai istri dan ibu, maka ia pernah berkata : “kalau perempuan disuruh memilih antara karier atau keluarga, pilihlah keluarga. Aku sangat ingin punya anak dari rahimku sendiri.”

Ya.

Monroe yagn sensual dikabarkan berkali-kali mengalami keguguran.

Menjelang akhir hayat ia menjalin kasih dengan JF Kennedy, dan sungguh ia berharap itu merupakan kisah cinta sejati. Meski kerabat dekat sudah mengingatkan, mustahil Monroe menjadi first lady karena meski ia sangat menawan sebagai bom seks, publik Amerika tetap akan memilih Jacquline Onassis sebagai ibu negara!

Chester Bennington pun memiliki masa lalu yang sangat tak stabil. Vokalis idola anak muda yang sangat legendaris dengan Meteora nya ini, mengakhiri hidup sehingga publik merasa sangat terkejut sebab sangat sedikit grup musik semacam Linkin Park. Nyaris tak percaya di puncak keberhasilan, dipuja jutaan penggemar, memotivasi anak-anakmuda, menghentak dengan genre rock berbeda; tetap saja tak membuat Bennington nyaman dengan semuanya.

Jong Hyun?

Books about Korea

Kita akan memahami mengapa ia memilih mengakhiri hidup bila telah membaca Korean Cool –Euny Hong.

“Setiap negara maju, pasti memiliki ironi,” tulisnya. Bila belum memiliki ironi, maka ia bukan negara maju. Dengan kata lain, menurut Hong, kemajuan negara pasti akan menimbulkan paradoks. Negara yang makmur, maju, tenang, damai, sukses; belum tentu terlihat seperti apa di permukaan. Kerja keras pejabat dan rakyat, kadang harus dibayar mahal. Untuk menciptakan kemakmuran setiap orang harus bekerja lebih dari waktu rata-rata. Setiap orang harus berpikir untuk maju, sukses, berhasil; dan mereka yang menghambat kemajuan akan terpinggirkan.

Euny Hong menyebutnya ‘masa perbudakan’. Setiap warga Korea paham, bila belum mencapai target, mereka akan rela dalam masa perbudakan. Itulah sebabnya, boyband dan girlband rela berada dalam masa karantina dari 5 hingga 13 tahun. Mereka berlatih vokal, berlatih menari, berlatih tampil, berlatih manggung dan seterusnya hingga ketika debut muncul : sempurna. Sehari latihan bisa memakan waktu belasan jam, kalori makanan terkontrol dan aktivitas harian pun terjadwal.

Inilah ironi.

Dunia berdecak dengan hallyu yang menganeksasi dunia. Berbeda dengan Amerika yang daya serangnya hard melalui milter dan ekonomi, Korea Selatan sangat soft : melewati budaya. Dan betul kata Hong , “Korea memiliki apa yang tak dimiliki Amerika. Kami pernah menjadi negara dunia ketiga. Jadi kami pernah tahu bagaimana rasanya menjadi terbelakang.”

Kita mengelu-elukan boy band dan girl band. Tapi pernahkah kita tahu apa penderitaan mereka, ratapan hati, tangis dan kelelahan di balik panggung? Sekali mereka melakukan kesalahan, hujatan mengalir.  Lebih gemuk, berjerawat, bermuka masam dan sejenisnya; publik menghujat. Padahal para idol adalah manusia juga yang ingin sesekali menjadi diri mereka apa adanya. Ingin bersantai, bermalas, membangkang; yah, mirip anak muda pada umumnya.

 

Aokigahara dan Bunuh Diri

Hutan Aokihagara dan film the Forest

Pernah lihat film the Forest yang mengambil tempat di Aokigahara? Aokigahara terletak kurang dari 100 mil arah barat Tokyo, terkenal karena keindahan hutan dan gua-guanya yagn eksotik. Serta, pepohonan rimbun yang menjadi tempat persembunyian sempurna bagi orang-orang yang ingin mengakhiri hidup.

Budaya bunuh diri Jepang sangat dikenal masyarakat dunia, sebagian berdecak kagum, sebagian sangat menentang. Seppuku, kamikaze, harakiri dan sejenisnya merupakan  tindakan lelaki Jepang dalam mempertahankan kehormatan. Mereka lakukan bila kalah perang atau justru melakukan serangan bunuh diri untuk menyentak lawan. Tradisi yang awalnya dipakai sebagai upacara kehormatan ini bergeser menjadi sebuah perilaku yang bukan hanya dilakukan kaum militer tapi masyarakat biasa. Bila dulu orang mengenal tradisi bunuh diri dilakukan oleh para samurai yang kalah tanding dan para serdadu Jepang ketika kalah perang dunia ke-2; maka orang-orang zaman kini lebih mudah melakukan tanpa melewati perang tanding atau perang medan laga. Yang penting merasa ‘kalah’ maka bunuh diri dilakukan. Kalah dalan cinta, kalah dalam akademis, kalah dalam bisnis, kalah dalam pekerjaan, kalah tidak mencapai apa-apa. Kalah, bahkan sebelum kita mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri.

 

Hutan Aokigahara dan Logan Paul dengan video kontroversialnya

 

Cara memandang bunuh diri bagi masyarakat Jepang dan masyarakat dunia lain, pasti berbeda. Vlogger yang mungkin memandang konsep bunuh diri secara berbeda, adalah Logan Paul yang videonya tengah viral.

Paul Logan bisa mengolok-olok Aokigahara dan tradisi bunuh diri masyarakat Jepang sementara videonya menempati ranking 10 teratas dunia. Kontan, publik mengecam youtube karenea video itu bebas ditonton. Saya tidak akan membahas dunia maya sebab tidak memiliki kehalian di sana, tetapi lebih memilih menyikapi bagaimana kita memandang bunuh diri sebagai sebuah tradisi, dan sebagai sebuah perilaku yang tampaknya mulai lazim dilakukan.

 

Mengapa Bunuh Diri?

Sungguh, keprihatinan ini menyeruak mencermati kondisi sekeliling. Apalagi, tradisi bunuh diri lekat dengan masyarakat Jepang dan sekarang Korea Selatan, yang gelombangnya tengah diminati anak-anak muda Indoensia. J-pop dan K-pop sangat memikat; maka tak ada salahnya kita mencoba memelajari kultur kedua bangsa tersebut dan mengambil apa yang baik bagi Indoensia dan menyaring apa yang kurang tepat bagi bangsa ini.

Di novel Polaris Fukuoka, dikisahkan Yamagata Isao bunuh diri. Adiknya, Nozomi sempat berniat melakukan hal yang sama tetapi persahabatannya dengan Sofia mencegahnya melakukan hal ini. Mengapa Isao bunuh diri? Tekanan akademik dan tuntutan orangtua, yang berseberangan dengan bakat minatnya, membuat dirinya melakukan hal itu.

Mengapa saya mengangkat tema ini?

Saya pernah melakukan tes bakat minat untuk anak SMP. Dan ketika hasil tes keluar, saya konsultasikan dengan guru-guru sekolah; tampaklah bahwa orangtua tidak dapat menerima begitu saja bakat minat anak mereka. Ada seorang anak yang memiliki dua orangtua sukes sebagai ahli medis. Orangtuanya berharap anaknya pun seperti itu. Padahal ketika tes bakat minatnya keluar, yang muncul adalah kecenderungan literasi, aesthethic dan social service! Sungguh tidak nampak kecenderungan ke sains dan medikal. Sangat disayangkan bila orangtua masih memaksa anak-anaknya menjadi sesuatu, karena pertimbangan status dan ekonomi.

 

Kutipan percakapan Sofia dan Nozomi membahas bab bunuh diri

Demikian pula Isao.

Ia yang sesungguhnya ingin jadi pemusik, dengan kecerdasan otaknya dipaksa harus menjadi mahasiwa di universitas terkemuka. Begitu pula Nozomi. Tentu saja, diharuskan demikian karena bisnis keluarga mengharuskan para pewaris harus menekuni ilmu tertentu dan menguasai keahlian tertentu; walau bakat minat tidak mendukung.

Demikianlah, sebuah ironi.

Kemajuan dan kemapanan, bila tanpa pemahaman emosional yang baik dan pendekatan nurani akan menimbulkan kekacauan hati dan kegalauan pikiran. Dan, begitu mudahnya orang memutuskan bunuh diri ketika kalah.

“Di titik apa seseorang memutuskan bunuh diri?” tanya Sofia pada Nozomi.

“Di titik ketika mereka merasa diabaikan,” jawab Nozomi.

 

Perbedaan Budaya dan Tradisi

Eropa dan Amerika berbeda.

Di wilayah ini, kultur individualis telah terasah sejak dini. Kemandirian, memutuskan sesuatu secara individual dan bukan kolektif; biasa dilakukan. Anak tidur terpisah sejak kecil, anak usia 18 tahun bebas hidup serumah dengan pacarnya, anak remaja naik mobil dan mengkonsumsi alkhol ; sudah diputuskan sejak usia 18 tahun. Diabakan, hidup sendiri, sudah menjadi kebiasaan; walau akhir-akhir ini fatherless family pun memunculkan masalah baru. Terbiasa mandiri dan individualis itu bukannya tanpa masalah.

Bagaimana dengan dunia timur : Indonesia, Jepang, India, Korea?

Kita masyarakat kolektif.

Menikah butuh pertimbangan paman bibi, kakak adek, kakek nenek, tetangga sepupu dll.

Kuliah pun demikian. Cari jodoh pun demikian. Bekerja pun demikian. Maka pertimbangan banyak orang seringkali jadi perhatian yang memusingkan. Walau diri sendiri sudah tak mampu menanggulangi, tetap harus memikirkan oranglain. Inilah ironisnya.

Perasaan tertekan dan tidak mampu mengungkapkan apa yang ada di dalam benak dan hati; bagi masyarakat timur lambat laun menjadi batu yang menghimpit. Maka bila tidak dikomunikasikan, disalurkan dengan baik; di titik tertenu menajdi perasaan kalah yang membabi buta : mati lebih enak (seperti sebuah novel karya Alistair Maclean). Walau ternyata, di novel tersebut dikisahkan, perjuangan seseorang untuk mati sama sulitnya seperti perjuangan seseorang yang mencoba hidup!

 

Mengatasi Bunuh Diri

Peduli, itu kuncinya.

Mindfulness of others, cobalah mempertimbangkan pikiran dan perasaan orang lain. Cobalah peduli dan berbicara pada orang yang tengah membutuhkan sandaran dan telinga; sebagaimana yang dilakukan Sofia dan Tatsuo pada Nozomi. Memang, orang yang tengah punya masalah bisa jadi sangat membebani. Mereka mengungkapkan keluhan dan permasalahan sementara orang yang tengah mendengarkanpun jugamemiliki segudang masalah yang tak kurang beratnya; tetapi itu dilakukan karena hati dan batin mereka, mental mereka sedang rapuh dan sakit. Kalau kita sedang banyak pikiran, inginnya mengomel, kan? Lagi marah, pinginnya mengumpat. Lagi sedih, inginnya meratap dan menangis.

Demikian pula dengan orang yang punya banyak beban menghimpit, sampai tak tahu harus bagaimana lagi. Mereka ingin mengosongkan pikiran dan hati yang pepat, ingin mencurahkan keluar, ingin mencari tempat pelarian. Masih untung bila mereka menemukan teman, sahabat, saudara yang jadi tempat berbagi. Kadang, ingin curhat di medsos bukannya dapat simpati dan empati; malah dimaki-maki.

Maka, di pusat-pusat rehabilitiasi mental kita akan menemui orang yang afeksinya tumpul. Sedih banget, mendapat penderitaan bertubi, menerima kemalangan beruntun; malah tertawa (ini sebetulnya salah satu tanda ketumpulan afeksi yang harus diwaspadai) Orang skizofren tidak lagi tahu beda bahwa sedih itu menangis dan senang itu tertawa. Mereka marah, senang, sedih, biasa, akan  selalu tertawa. Depresi dan skizofrenia yang akut; bisa menimbulkan pemikiran shortcut . Entah itu melukai oranglain, atau bila tak memiliki kekuatan melukai oranglain, akan berbalik melakukan self-harm. Awalnya hanya menjambak diri sendiri atau membenturkan kepala, tetapi lambat laun bila tak tertahankan, akan melakukan hal pintas yang dianggap mengakhiri penderitaan.

Bunuh diri adalah perilaku yang harus diwaspadai.

Berbeda dengan pelaku free sex, drug abuse, pornografi dsb yang masih dapat diperbaiki, bunuh diri sungguh fatal sebab pelakunya langsung meninggal dan tak ada lagi yang dapat diperbaiki. Maka pemerintah dan masyarakat harus waspada terhadap kasus ini. Paul Logan mungkin harus mendapatkan peringatan tetapi videonya membuat orang terhenyak : apakah sekarang perilaku bunuh diri sudah tidak membuat orang menjerit, menangis, dan ngeri; tetapi malah membuat orang excited dan tertawa? Apakah sesungguhnya Logan Paul itu kita : semakin lucu (meski prank dan menyusahkan orang), semakin menakutkan, semakin sadis, semakin membuat bulu kuduk merinding maka itu akan membuat klik meninggi dan viewers membanjir?

Semoga video Logan Paul tidak mencerminkan kita. Ia telah membuat klarifikasi videonya tentang Aokigahara yang terkenal sebagai  suicide forest. Di video tersebut, Logan Paul mengambil video dengan latar belakang tubuh orang yang mati bunuh diri sembari tertawa-tawa dan mengunggah ungkapan yang kurang pantas.

Ke depannya, kita harus mewaspadai dengan perilaku dan kecederungan teman-teman kita, keluarga kita untuk beunuh diri.

Atau bahkan, kita harus mewaspadai diri sendiri, apakah telah tampak keinginan untuk bunuh diri?

 

 

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Artikel/Opini Buku Sinta Yudisia Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Remaja. Teenager

Membumikan Ilmu Psikologi

 

 

Literasi sains, saya tertarik dengan bahasan Kompas hari ini, Kamis, 16 November 2017. Bahwa masyarakat umum perlu sekali mengetahui apa saja perjalanan dan pencapaian dunia ilmiah. Betapa banyaknya berita hoaks yang terebar. Berdasarkan tulisan hari ini, tulisan hoaks tertinggi di bidang kesehatan, politik dan dunia entertainment.

Di bidang kesehatan, kita mengambil kata-kata WHO bahwa sehat berarti memiliki ketiadaan cacat baik fisik maupun mental. A state of complete physical, mental and social well-being and not merely the absence of disease or infirmity; kata-kata ini saya cantumkan dalam penelitian saya saat skripsi dulu yang membahas tentang PWB atau psychological well being.

Hoak di bidang kesehatan memang menempati urutan pertama. Termasuk kesehatan mental.  Hoaxs sendiri bermakna “ a plan to deceive someone, such as telling the police there is a bomb somewhere when there is not one, or a trick: The bomb threat turned out to be a hoax.

He’d made a hoax call claiming to be the president.

Hoak adalah rencanan untuk menipu seseorang. Dengan kata lain, hoak bukanlah sebuah berita yang 100% bisa dipercaya kebenarannya. Bahkan, boleh jadi muatan kebenarannya hanya 25% atau malah 0%. Dalam ranah psikologi, saya sendiri merasakan itu betapa klien telah dipenuhi pikiran dan pemahamannya oleh berita hoak.

Asylum-slide-PUIB-superJumbo - Copy.jpg
Asylum

“Anda perlu segera datang ke rumah sakit X.”

“Bu Sinta mau bilang kalau saya gila?!”

Di kali lain,

“Anda sepertinya harus dibantu obat.”

“Apa saya kelihatan nggak waras??!”

Skizofrenia, insane, depresi, mood, stress dan seterusnya telah dipahami secara salah ke tengah masyarakat.

Koran hari ini, Jawa Pos, 16 November 2017 juga memberitakan hal yang sangat mengerikan terkait perlakuan orang-orang normal terhadap seorang penderita gangguan jiwa di tengah jalan. Stigma terhadap penyakit jiwa begitu buruknya hingga akhirnya masyarakat enggan berobat, enggan menyadari dan mengakui bahwa di sekelilingnya (atau bahkan dirinya sendiri) memiliki gangguan emosi atau gangguan kepribadian. Seringkali, orang datang kepada psikiater atau psikolog ketika gangguan sudah dirasa tak tertahankan, ibaratnya stadium 4 dari penyakit kanker. Bila tidak segera ditangani maka akan menjadi penyakit yang menggerogoti diri dan lingkungan, bahkan akan menimbulkan dampak tak diinginkan.

 

Tugas Psikolog dan Ilmuwan Psikologi

Menjadi tugas orang-orang yang pahamd unia kesehatan untuk membumikan ilmunya. Sebagai psikolog, saya rutin memposting hal-hal terkait psikologi. Beberapa hari lalu saya memposting tentang lelaki dengan pribadian alpha-male. Tulisan ini mendapat respon lumayan ramai dari pembaca medsos. Harapan saya agar lelaki lebih waspada bila dirinya memiliki kharisma itu dan perempuan pun tidak lantas terperdaya.

Sebagai penulis novel, saya juga menghadirkan ke tangah masyarakat tentang kehidupan psikolog atau setidaknya novel yang merangkum ilmu psikologi. Rinai dan Bulan Nararya sendiri mengetengahkan kehidupan Rinai dan Nararya yang merupakan orang-orang psikologi dengan segala suka dukanya.

Saya juga membuat buku-buku yang ringan terkait dunia psikologi seperti Sketsa Cinta Bunda, Mendidik Anak dengan Cinta. Bahkan, di buku Sarah : Seri Perempuan Istimewa yang merupakan buku sejarah; secara tak langsung saya selipkan ilmu psikologi. Misalnya, saya kemukakan bahwa Sarah adalah seorang perempuan yang berani bicara. Itulah sebabnya, kenapa perempuan harus berani bicara di saat penting dalam hidupnya. Sarah berani bicara kepada ayahnya. Sejarah Sarah memang masih diteliti hingga kini. Namun disinyalir, ia seorang putri bangsawan terkemuka dari dinasti Isin atau Larsa di daerah Mesopotamia. Betapa Sarah berani mengemukakan pendapat untuk bicara tegas, ketika ia memilih Ibrahim sebagai suami.

 

Begitupun, Sarah adalah perempuan yang berani bicara dan bertindak, ketika ia yakin berada di atas garis kebenaran. Ketika 3 malaikat yang mulia : Jibril, Mikail, Isrofil hadir ke rumahnya; Nabi Ibrahim as merasa sedih akan berita buruk yang akan menimpa kaum Saduum. Namun tidak dengan Sarah, mendengar berita dari malaikat iapun ikut murka terhadap kedzaliman kaum Saduum yang berani menentenag Allah Swt dan Rasulnya, Luth as.

 

Mengapa buku bisa menjadi ajang komunikasi dari seorang ilmuwan kepada khalayak? Sebab buku menjadi bahasa yang tidak mungkin diucapkan semua oleh penyampainya. Buku juga bsia menyelipkan nilai-nilai secara halus tanpa terasa.

Carl Sagan menulis tentang Contact; sebagai astronom ia ingin menyampaikan kepada khalayak tetnang dunia astronomi ketika membahasa makhluk luar angkasa. Frank Tallis seorang psikolog klinis  yang menbuat serangkaian novel seperti Death in Vienna dan Vienna Blood  untuk menjelaskan pada khalayak bahwa psikoanalis tidak hanya bicara masalah basic instinct terkait sexual saja. Tetapi bagaimana tokoh utamanya , Max Lieberman berusaha mengungkap kejahatan dengan pendekatan psikoanalis kepada tersangka.

 

Selain novel dewasa dan buku sejarah dan motivasi yang saya selipi ilmu psikologi; saya juga membuat novel-novel remaja dengan rangkaian ilmu psikologi di dalamnya.

Reem dan Polaris Fukuoka, dua tokoh di dalamnya yaitu Reem dan Sofia memiliki satu kebiasaan psikologis yang sangat baik : menulis. Reem suka menulis puisi, Sofia suka menulis buku harian. Itu sebabnya, ketika saya memposting di fesbuk tentang apakah menulis dan kebiasan mencurahkan perasaan di buku diary membuat seseorang dapat melampiaskan marah dan benci? Hampir semua yang memberikan komen menjawab : ya.

 

Menggaungkan Ke Orang Sekeliling

Saya selalu menorong orang-orang di sekeliling untuk menjadi konselor kecil-kecilan. Baik kepada suami ataupun anak-anak saya.

1

“Ummi, temanku ada yang korban KDRT. Dia sama ibunya.”

“Sudah lapor ke polisi, Nak?”

“Kayaknya enggak deh…”

“Kalau begitu, kamu harus jadi teman curhatnya ya…”

 

2

“Ummi, temanku ada yang kelakuannya menyebalkan banget. Udah gitu dia gak ngerasa lagi kalau nyebelin.”

“Yah, itu namanya orang yang dalam berkomunikasi memiliki non-verbal disorder. Dia gak bisa memahami bahwa tingkah laku, sikapnya itu menyebalkan orang lain.’

“Trus gimana?”

“Kasih dia hadiah. Nanti kan bisa kamu dekati.”

 

3.

“Ummi, temanku ternyata ada yang orangtuanya single parent.”

“Trus, anaknya gimana?”

“Kebetulan sih anaknya baik. Ibunya perhatian. Bekas ayahnya juga perhatian.”

“Oh bagus itu. Kamu dekat sama dia kan?”

“Iya.”

“Kamu harus jadi teman baiknya. Ajak dia ngobrol ya.”

 

4

“Kenapa sekarang perempuan suka menggugat cerai?” tanya suamiku yang kebetulan ruang lingkup kerjanya di wilayah HRD.

“Oh, selingkuh ya?” sahutku.

“Ya.”

“Itu karena perempuan dominasi perasaan. Jadi pas sudah nikah lalu ketemu lelaki yang mempesona, terhanyut. Padahal belum tentu lelaki itu sebaik suaminya yang sekarang.”

“Trus gimana?”

“Ya memang hubungan suami istri harus didekatkan. Jadi kalau suami pindah kerja, usahakan istri mengikuti. Kantor dan pemerintah harus melihat aspek itu. Jangan sembarangan mutasi karyawan.”

 

Edukasi kepada Orang Sekeliling

Saya sampaikan kepada klien-klien bahwa skizofren dan depresi bukanlah hantu menakutkan yang membuat orang punya cacat seumur hidup dan menebarkan bau busuk hingga harus diasingkan. Sebagai psikolog, kitapun harus memperkenalkan diri kepada orang-orang sekitar : saya psikolog. Kalau orang bertanya apa bisa minta obat , maka kita jawab : itu ranah psikiater. Orang-orang akan semakin paham apa perbedaan psikolog dan psikiater bila kita terus menggaungkan. Dan juga, orang akan memahami level sakit ketika harus mengunjungi kedua ahli tersebut.

Seorang ibu pernah melaporkan kerabatnya yang sering mengamuk tak karuan hingga mengancam lingkungan. Orang-orang menyebutnya gila. Apalagi agresifitas dan gangguannya sudah kelewat parah. Apalagi keluarganya orang tak mampu.

“Saya harus gimana bu Sinta?”

“Ibu punya BPJS?”

“Ada sih.”

“Masukkan ia ke rumah sakit X.”

“Memangnya bisa? Terus berapa hari?”

Saya jelaskan bahwa obat-oabt antidepresan dan antipsikotik sebagian masuk dalam daftar BPJS. Dan pasien rumah sakit jiwa yang tidak mampu , gratis. Mereka akan rawat inap antara 30-60 hari tergantung daya tampung rumah sakit. Ketika sudah waktunya keluar, mereka akan kelur dan ketika kambuhpun bisa masuk lagi. Pendek kata, orang dengan gangguan seperti ini memiliki banyak cara untuk sembuh. Jadi jangan hanya didiamkan. Bahkan, kalau kita sendiri sudah mengalami tekanan hidup berkali kali dan beragam  jenisnya, jangan malu untuk mendatangi psikolog.

Uuntuk edukasi kepada masyarakat, alhamdulillah saya sendiri mencoba berbagai cara. Antara lain lewat tulisan, siaran radio, seminar dan wrokshop. Untuk kali ini, saya ingin memperkenalkan suatu program yang sudah lama sekali saya impikan. Saya bercita-cita memiliki Pusat Penelitian dan Pusat Penyembuhan dengan konsep art therapy. Mungkin karena saya sendiri berjiwa seniman ya. Salahs atunya adalah metode writing therapy. Semoga metode ini dapat diterima khalayak di berbagai level usia dan menjadi salah satu sarana menuju kesehatan mental yang paripurna.

reem workshop