Mengapa  Menulis Novel (lagi)

Novel terakhirku terbit 2013, berjudul Bulan Nararya, diterbitkan oleh penerbit Indiva Solo.

bulan-nararya.jpg

Bulan Nararya, Indiva Publishing

Setelah itu, cukup lama hiatus dari menulis novel. Alasannya? Ada beberapa penyebab.  Yang pragmatis banget, fiksi Islami sedang lesu. Jadi, honor dari menulis novel, apalagi menunggu royalty nya, tak terlalu sepadan. Pernah mencoba menulis cerpen untuk media massa, namun hingga saat ini masih harus terus belajar dan mencoba, sembari berdoa agar keberuntungan berpihak. Alasan klise yang lain, kesibukan dan waktu yang sedemikian sempit. Menulis fiksi tidak mudah. Walau identik dengan mengkhayal, berimajinasi, berpikir kreatif; nyatanya menulis fiksi juga membutuhkan banyak referensi sebagaimana menuliskan non fiksi.

Energy menulis fiksi, beralih kepada buku motivasi.

 

Alhamdulillah, berikutnya muncul Kitab Cinta Patah Hati, Sketsa Cinta Bunda, Cinta x Cinta dan Psikologi Pengantin. Semuanya terbit di Indiva (Solo). Lalu Mendidik Anak dengan Cinta, diterbitkan oleh GIP (Jakarta). Penjualan buku non fiksi terhitung lumayan. Pesanan online membanjir, royalty yang didapat Alhamdulillah lebih baik dari buku fiksi.

Kalau hanya  bicara royalty, rasanya enggan kembali menekuni fiksi.

Namun, suatu hari, seorang teman datang ke rumah. Ia membawa bertumpuk-tumpuk buku novel. Rasa rindu untuk menulis fiksi pun terbit. Rasa-rasanya, alasan royalty terlalu sederhana untuk meninggalkan dunia ini. Seorang penulis, seorang sastrawan, tidak selalu berorientasi materi. Kalau materi satu-satunya alasan manusia bahagia; maka Firaun dan orang-orang tajir dunia  adalah salah satu orang paling bahagia di dunia. Sayangnya, mereka tidak mengisi kuesioner psychological well-being nya Carol Ryff hehehe sehingga kita tidak tahu berapa kadar kebahagiaan mereka. Kalau alasan waktu, ah, sibuk mana aku dengan Dan Brown dan JK Rowling? Mereka bisa produktif menulis.

Maka, aku kembali menulis fiksi, dengan segala tantangannya.

Harus belajar ulang menemukan diksi-diksi baru, sebab fiksi harus mampu menyajikan diksi indah, walau bukan berarti mewah. Diksi tepat, halus, memukau; kadang ditemui di buku kamus KBBI atau dari puisi teman-teman sendiri. Aku kembali memelajari apa diksi yang tepat untuk menggambarkan kematian, cinta, rasa bahagia dan seterusnya.

Dan ups, bertahun lalu pernah kutuliskan bahwa ‘musuh’ sekaligus mitra para penulis adalah editor (aku pernah menulsikan secara khusus bahwa editor ini bisa jadi sangat kejam!). Mereka yang menilai karya kita pertama kali, membantainya, memberikan persepsi unik sebagai pembaca awal. Sebab para penulis selalu beranggapan karyanya telah sempurna! Hingga lupa, bahwa banyak celah terdapat dalam karya tulisnya.

Aku kembali belajar membuat novel anak dan novel remaja-dewasa.

Bukan hanya memelajari alur, penokohan, setting, dialog, footnote, anotasi dan seterusnya.

Tapi belajar mencari judul yang cocok untuk novelku. Termasuk  belajar, cover seperti apa yang cocok bagi pembaca Indonesia.

Berhasil?

Nanti dulu.

Insyaallah, 2017 ini ada beberapa novelku yang terbit baik novel anak dan novel remaja-dewasa. Bila novel itu sampai di tengah khalayak, maka percayalah : itu bukan pekerjaan sekali jadi. Itu adalah pekerjaan berhari-hari, berminggu, berbulan, bahkan bertahun- tahun.

Kadang, capek ketika editor mengkritik.

“Mbak, halamannya kurang.”

“Sudah baca novel ini? Yang ini dan ini? ”

“Kenapa memilih judul dan sub judul demikian?”

“Belum ada anotasinya.”

Dan banyaaaakkk lagi kritik yang lain J

Namun, seiring dengan kritik-kritik tajam tersebut, kita meningkatkan kualitas diri.

Tokoh-tokoh besar dunia seperti Imam Syafii dan HAMKA mengingatkan, akan pentingnya belajar terus menerus, dalam segala aspek. Imam Syafii bahkan mengingatkan, mereka yang tidak mau belajar, bacakan saja takbir untuknya sebab  ia telah wafat sebelum ajal tiba.

Jadi, kalau aku tidakmau belajar bagaimana membuat novel yang baik dari waktu ke waktu, maka nasehat Imam Syafii itu bisa jatuh pada diriku sendiri.

Sebuah, buku adalah rangkaian proses.

Aku menikmati menjadi penulis, baik fiksi maupun non fiksi.

Sejak buku pertama terbit hingga buku ke sekian, itulah proses menulisku. Itulah proses hidupku.

Tak ada proses dan hasil sempurna, kecuali kita tutup usia.

Doakan buku-buku ku bermanfaat bagi ummat sedunia, bagi keluargaku dan bagi diriku sendiri ya. Insyaallah novel anak yang akan terbit di Indiva berjudul Hantu Kubah Hijau dan Juru Kunci Makam. Keduanya bertema petualangan.

Cover Hantu Kubah Hijau. Kalau Polaris Fukuoka, masih cover belum fix, tayang di wattpad

Novel remaja-dewasa yang insyaallah akan terbit di salah satu lini Mizan berjudul Reem : apakah maut dan desing peluru ini akan mematahkan cintamu? Novel ini bersetting Maroko dan Spanyol. Khusus novel Reem, based on true story, meski ada alur cerita yang berkembang. Novel kedua adalah Polaris Fukuoka, bersetting Jepang.

Entah berapa kali aku membaca ulang naskahku sendiri baik Hantu Kubah Hijau, Juru Kunci Makam, Reem, dan Polaris Fukuoka. Memperbaiki yang typo, memperbaiki dialog atau setting yang kurang tajam, menghapus bagian tertentu serta menambahkan . Banyak hal-hal lucu saat menuliskan dan membaca ulang novel-novel tersebut. Sebelum pembaca memutuskan membeli novel-novel ini, simak terus cuplikan kisah dan behind the scene novel ya 🙂

 

 

 

 

Novel Bunuh Diri?

book-arrow-cover-death-old-media-19179999

 

Memiliki profesi penulis, tentu harus siap dengan segala konsekuensi. Segala profesi memiliki titik positif negatif, sisi senang dan sengsara, bahagia dan nestapa. Sebut saja guru. Sahabat-sahabat saya yang berprofesi sebagai guru swasta harus siap banting tulang dengan penghasilan yang pas standar UMR, jangan tanya ketika ada cicilan rumah dan sepeda motor. Apa sisi kebahagiaannya? Saat murid-murid mereka lebih pintar, lebih bisa menghafal Quran, menang di arena-arena Olimpiade. Bahkan, murid-murid tersebut telah masuk perguruan tinggi bergengsi saat guru mereka masih mengabdikan diri di institusi pendidikan dengan segala pengorbanan.

 

Menjadi penulis, memiliki dua sisi yang sama.

 

Sisi bahagia ketika :

  • Karya terbit
  • Bentuk fisik buku cantik dan menarik
  • Buku tampil di toko-toko buku terkemuka
  • Best seller
  • DP (downpaymen) dibayarkan juga royalty per 3 atau 6 bulan
  • Menang penghargaan
  • Difilmkan
  • Mendapat apresiasi positif dari khalayak pembaca, kritikus, dsb
  • Diundang bedah buku
  • Diresensi
  • Quote-quote buku muncul di media sosial

 

 

Sisi sedih ketika :

  • Karya ditolak, ditolak, ditolak lagi (apalagi ditolak di beberapa penerbit)
  • Terbit tapi bentuk fisik seadanya alias tidak menarik sama sekali
  • Buku terbit tapi tidak laku
  • Write off alias hak terbit dikembalikan ke penulis
  • Tidak ada laporan royalty
  • Mendapat apresiasi negative dari khalayak
  • Dikritik habis-habisan
  • Orang-orang minta hadiah buku tersebut, minimal discount (padahal menulisnya dalam kubangan airmata dan keringat)

 

Beberapa tahun belakangan ini, novel (terutama novel Islami) mengalami penurunan drastis hingga penulis banyak yang mengambil alih profesi lain. Mengapa novel Islami yang pernah berjaya, tidak laku? Apakah ini terjadi pada semua jenis novel? Apakah profesi penulis ini nanti ditinggalkan? Apakah profesi penulis harus seperti guru, disertifikasi dan mendapatkan penghasilan pasti agar profesi ini diminati kembali?

 

Ada beberapa hal yang ingin saya bahas dan silakan ditambahkan bila ada yang kruang atau perlu diluruskan.

Flying-Books-Vector-Graphics.jpg

  1. Novel Islami

Label Islami memiliki sisi keuntungan dan kekurangan.

Sisi keuntungan, pembelinya merasa pasti akan mendapatkan pencerahan walau kadang-kadang lelah dengan nasehat-nasehat. Bolak balik beli novel Islami baik tokoh, peran, prolog dan ending sama semua.

Sisi kekurangan, stigma masyarakat terhadap novel islami sebagai novel yang membosankan mulai berakar kuat. Novel Islami hanya dinikmati oleh pembeli yang ingin Islami, bukan yang non Islami atau yang masih alergi-Islami.

Maka, penulis yang ingin menggalakkan kembali novel Islami harus belajar banyak hal, termasuk memahami sisi-sisi syariah, dakwah dari novel Islami.

Bolehkah alur ceritanya agak menyeramkan : bunuh diri, sexual abuse,  prositusi, pacaran kelewat batas, homoseksual, pembunuhan, poligami,  nikah beda agama; namun mungkin ada pesan yang ingin diselipkan disana?

Bila memilih tema yang sensitif, bagaimana pula mengolahnya agar novel Islami tetap terjaga kesantunan dan yang tak boleh dilupakan, kelarisan penjualannya?

 

 

  1. Apa yang harus kita pelajari?

Menjadi penulis, harus belajar banyak hal. Saya termasuk yang amsih harus banyak, banyak, banyak belajar dari teman-teman penulis, pembaca, editor, resensor,  sutradara, penulis scenario dan lain sebagainya.

Kesabaran. Kesabaran tak pelak lagi salah satu kunci utama manusia dalam mencapai target hidupnya. Kesabaran dalam menuliskan kisah mulai 10, 20, 70, 100, hingga 400 halaman. Kesabaran dalam tahapan menulis novel. Kesabaran ketika harus bekerja sama dengan editor dan sang editor meminta revisi di beberapa bagian. Kesabaran untuk berdiskusi dengan penulis lain. Kesabaran untuk menerima kritikan. Kesabaran ketika naskah ditolak, atau diterbitkan namun tidak laku. Kesabaran terhadap segala jenis kemungkinan yang terjadi pada naskah kita.

Membaca novel dan buku lain. Membeli novel baru, meminjam dari teman, menyempatkan membaca. Menyempatkan membaca ulang. Membaca novel atau buku-buku lain akan memberikan gairah baru dalam tulisan kita. Meski, bukan berarti kita harus meniru 100% gaya menulis Helvy Tiana Rosa, Asma Naida, Kang Abik, Dan Brown, JRR Tolkien, JK Rowling; membaca karya mereka akan memperkaya khazanah.

Berani menampilkan novel yang beda. Jangan pernah berpikir bahwa dakwah, atau menyampaikan kebaikan harus dilakukan dengan satu cara. Apakah semua pendakwah harus seperti Ustadz Maulana, Ustadz Arifin Ilham, Ustadz Yusuf Mansur? Maher Zain dan Raef berdakwah dengan music. Bahkan Ustadz Arifin Ilhan dan Dr. Zakir Naik akan berbeda cara menyampaikan. Setiap penulis memiliki cirri kekhasan masing-masing. Cobalah untuk menampilkan novel yang berbeda. Tokoh protagonist tidak harus lelaki sholih berjenggot yang berdiam dari satu masjid ke masjid lain. Boleh jadi ia seorang residivis yang menemukan jalan pulang dan ingin mengentaskan kampung preman. Atau seorang cassanova flamboyant yang ratusan kali berpacaran dan akhirnya bingung menentukan standar perempuan cantik. Atau seorang perempuan korban KDRT yang menemukan titik keberanian untuk bangkit membela hak dirinya setelah menyadari bahwa ia punya adil dalam sadistis-masokis.

Detail. Pernah baca novel Dan Brown? Atau Tom Clancy? Kisah Dan Brown sebetulnya mirip-mirip, menceritakan tentang simbol rahasia, atau Tom Clancy dengan tokoh Ryan yang menampilkan heroism khas Uncle Sam. Hanya saja kita dibuat terhanyut karena detail. Detail bangunan, detail karya seni, detail makna simbol, detail sejarah, detail pangkalan militer. Kalau ingin mengisahkan kisah cinta tentang ikhwan-akhwat, mengapa tidak coba kita eksplor detailnya? Kisah ta’aruf, aktivis rohis, aktivis kampus masih menarik dieskplor asal dengan gaya berbeda.

Misal, seorang ikhwan yang ingin segera nikah.

Proses nikah dengan akhwatnya kan bisa dieksplor.

Ikhwannya berasal dari keluarga sederhana, punya kakak perempuan yang belum nikah, adik perempuan yang manja dan kolokan. Benturan ketika si ikhwan itu pingin nikah, pasti menarik. Perselisihan dengan kakak perempuannya yang bolak balik pacaran gagal, adik perempuan yang gak mau ditinggalkan si abang. Belum lagi proses taaruf dengan keluarga akhwat yang misal, dari high class. Si akhwat super duper cantik, good looking dan pintar, si ikhwan pintar tapi culun.  Si ikhwan gak pernah makan steak karena rajin puasa Daud demi menghemat  uang beasiswa. Khitbah di rumah akhwat bisa jadi disaster , ketika keluarga akhwat menyuguhkan makanan ala barat dengan pisau dan garpu sementara keluarga di ikhwan milih makan pakai tangan sambil selonjoran hahahah.

Perjuangan ikhwan tersebut mendapatkan istri shalihah yang gak gampang, pantas dieksplor. Betapa banyak novel Islami yang menggambarkan kehidupan jauh dari realita : ikhwan akhwat sama-sama cakep, dari kalangan berada, taaruf, nikah, malam pertama indah. Jadi deh…ditambah cerita ala Cinderella si ikhwan berhasil dapat beasiswa di luarnegeri dst dst.

 

Tema. Banyak sekali tema yang masih harus digali dari perjalanan hidup manusia. Tema politik belum banyak yang menyentuh. Tema pesantren juga baru sebagian, belum banyak dieksplor dengan dalam. Misal,  (inspired by true story) kehidupan seorang Kiai yang punya dua anak putra, dua-duanya mengembangkan pesantren. Salah satu pesantren sukses, salah satu gagal. Atau tema politik, ketika ayah dan anak memilih jalur politik yang berbeda dan kedua-duanya sama-sama jadi anggota legislatif. Atau bagaimana seorang anak menyadarkan kedua orangtuanya yang sama-sama berselingkuh (naudzubillahi mindzalik).

 

Kemahiran bercerita. Sorang sutradara film memberikan masukan kepada saya, belajarlah dari cara orang India berkisah. Lihatlah film-filmnya. Orang India termasuk salah satu penutur yang baik. Saya sendiri terkesan dengan film India antara lain Jodha Akbar dan Navya. Jodha Akbar sangat detil mengisahkan ornament pakaian yang berbeda antara bangsawan Mughal dan bangsawan Rajput. Bagaimana 3 istri Jalaluddin : Sakina, Ruqaya dan Jodha punya gaya berpakaian yang khas. Sakina lebih suka pakai gaun seperti kulot, Ruqaya lengan panjang dan Jodha sari berlengan pendek. Dalam salah satu episode, jalaluddin terkesan sekali ketika Jodha bersedia menukar pakaian bangsawan Rajput dan mengenakan busana tradisional Mughal.

Navya pun demikian. Dengan setting modern dan tema ala anak muda sekarang, pacaran, Navya kebingunan ketika harus menentukan pilihan antara menerima undangan sang pacar atau menghadiri acara yang diadakan di rumahnya sendiri. Pacaran bukan sekedar jalan bareng, bonceng berduaan, pegang tangan dan ciuman. Kalau kata orang-orang pacaran adalah proses penyesuaian, mengapa tidak ditampilkan proses penyesuaian yang sesungguhnya? Agar generasi muda tahu bahwa pacaran bukan sekedar senang-senang tapi banyak resikonya.

Flipped (Wendelin Van Draanen) diangkat dari novel berjudul sama adalah kisah pacaran anak SMP yang manis dan sama sekali tak ada adegan di luar batas. Julianna Baker yang suka naik pohon, jatuh cinta setengah mati dengan Bryce Loski, cowok ganteng bermata biru. Dalam novel ini Julianna yang setengah mati mengejar-ngejar Bryce namun kecewa ketika Bryce tak dapat menerima keluarga Julianne. Paman Julianne seorang MR (mental retarded) yang tinggal bersama keluarga mereka. Ayah Julianna, seorang pelukis yang demikian menyayangi adiknya dan mengajarkan Julianna bahwa pamannya adalah bagian dari keluarga mereka. Cara Juli menyatakan cinta pada Bryce pun tak lazim, Juli senang mengirimkan telur-telur ayamnya kepada Bryce J

 

Terinspirasi dari novel dan film ini pula, saya menuliskan Sophia and Pink, kisah dua remaja putri yang tumbuh di tengah keluarga tidak sempurna. Tokoh Sophia mencari cinta di tengah pergulatan dirinya mencari jati diri. Julianna, Sophia, Pink gadis remaja yang tengah dipenuhi ledakan hormon, energi, imajinasi, keinginan berpetualangan termasuk ingin mencicipi bagaimana cinta di masa remaja.

  1. Kritik mana yang harus diterima?

Terimalah kritik dengan lapang dada dan perbaikilah bila memang sesuai dengan gaya kepenulisan kita. Serial Takudar memunculkan fans yang bertahun-tahun menantikan serial akhirnya namun demikian, tetap ada yang mengkritiknya dan mengatakan mengapa tokoh lelaki karya Sinta Yudisia relative mirip? Sholih dan seolah tanpa cela. Mengapa sekali-sekali tidak menampilkan tokoh lelaki yang beda? Penjahat mungkin, atau penipu.

Atas kritik-kritik tersebut , sebagai penulis saya coba perbaiki dengan menampilkan tokoh yang berbeda. Dalam beberapa novel yang sedang saya garap, tokohnya justru antagonis dan selfish. Kalau dalam beberapa novel yang akan terbit tokohnya tetap seorang pemuda sholih berkarakter, karea itulah harapan saya sebagai penulis. Akan muncul pemuda-pemuda pemimpin yang merupakan pengganti Al Ayyubi, Al Fatih, Thalut., Baybar.

  1. Segmen mana yang harus diperhatikan?

Tidak mungkin menggarap semua segmen. Bahwa novel kita akan diterima anak-anak, remaja, orang dewasa, guru, mahasiswa, pelajar, perempuan dan laki-laki. Ada novel yang memang ditujukan bagi perempuan dewasa seperti novel chicklit. Ada novel yang ditujukan terutama bagi remaja putrid seperti teenlit. Ada buku-buku untuk kalangan muda seperti chicken soup. Ada buku-buku motivasi bisnis yang cocok untuk kalangan pebisnis pemula tapi tak akan diminati anak-anak. Bahkan anak-anak pun dibagi-bagi segmennya : yang suka ilustrasi baca komik, yang suka fantasi baca novel, yang suka keduanya baca novel-komik. Itupun masih dibagi lagi : pre school, SD, SMP.

 

 

Kalau dikatakan novel Islami bunuh diri dengan banyaknya novel sejenis bertabur, saya kurang setuju. Kalaupun mati, mungkin mati suri. Banyak penulis-penulis FLP yang semakin mahir menuliskan karya mereka dan diterima pasaran. Ada yang semakin makin menulis cerita anak, novel remaja maupun novel dewasa.

Apa yang harus ditingkatkan?

Komunikasi antara penulis-penerbit-pasar serta semua stakeholder turut terlibat untuk mensukseskan pasar perbukuan.

 

 

Quiz Cover Novel : Berhadiah Gantungan Cantik dari Jepang

Assalamualaykum warahamtullahi wabarakatuh.

Teman-teman, bloggers dan netizen tersayang,
Silakan ikut kuis di bawah ini. Berhadian 2 gantungan kunci cantik, asli dari Jepang.
Syaratnya mudah, tinggal pilih nomer berapa yang paling sesuai untuk novel saya terbaru, novel semi-biografi seorang tokoh muslim Indonesia yang sukses di dunia Internasional.

Sebagai gambaran, novel ini bercerita tentang seorang pemuda Indonesia yang menjalani hari-hari penuh petualangan di Kyushu Daigaku, Fukuoka. Kerja keras, filosofi hidup yang teguh dijalani, menjadikannya meraih gelar akademis dengan cemerlang, memiliki bisnis sukses di usia muda, dan menjadi pelopor berdirinya masjid pertama kali di pulau Kyushu.

Selain berkisah tentang keunikan menjadi mahasiswa di negeri orang; novel ini juga novel romance dengan setting tempat-tempat menawan di Jepang seperti Ohori koen, Aso Mountain, Karatsu.

Tokoh-tokoh dalam novel ini berbeda dari nvoel-novel saya yang sebelumnya.

Terutama tokoh Keiko, gadis Jepang yang memiliki tanda unik dua guratan di pergelangan tangan, menaruh hati pada Tyo sang tokoh utama dan karena keduanya sama-sama brilliant memiliki kegilaan dan ambisi yang mirip.

Beberapa pilihan cover Rumah Kayu Tanotsu

Beberapa pilihan cover Rumah Kayu Tanotsu

2 gantungan kunci untuk 2 pemenang

2 gantungan kunci untuk 2 pemenang

Ditunggu hingga 22 Desember 2015 ya !

Bagaimana memilih nama untuk tokoh novelmu?

Momiji atau kouyou

Momiji atau kouyou

Untuk kesekian kali, seseorang menginbox masalah nama.
“Mbak, apakah Montaser dan Rinai adalah tokoh nyata?”
Saya hanya menjawab dengan emoticon 🙂
Perihal nama, bahkan seorang ibu muda bertanya, bolehkah memberi putrinya nama Karadiza, putri bangsawan Persia yang jatuh cinta pada Takudar. Mungkin ia khawatir harus membayar upeti tertentu bila mengambil nama dari sebuah novel.
“Jangan Karadiza, Bunda,” sahutku. “Pakai saja nama Aisyah, itu lebih indah.”
Memilih nama untuk tokoh novel, cukup sulit.
Seperti memilih nama untuk anak-anak kita; begitupun nama seorang tokoh protagonis, deuteragonis, antagonis dan tritagonis.

Takudar

Nama ini memang sudah tertera dalam sejarah. Tokoh yang kata pak Maman S Mahayana, sang editor dan budayawan, “mungkin hanya kamu satu-satunya Sinta, yang pernah menuliskan tentangnya.”
Saya jatuh cinta pada Takudar sejak membaca sejarah singkatnya dalam The Preaching of Islam, Thomas W. Arnold. Sejak saat itu serasa tak cukup waktu dan referensi memburu sang tokoh, bahkan hingga ke Hongkong Library. Ahh, di lantai 9 dari 12 lantai perpustakaan yang mengingatkan pada Perpustakaan Ajaib Bibbi Boken – Jostein Garner; terdapat buku-buku sejarah Asia yang sangat amat lengkap termasuk Mongolia.

Mongolia adalah Jenghiz Khan. Mongolia adalah Kubilai Khan. Mongolia adalah Jalaluddin Akbar. Mongolia adalah Aurangzeb.

Takudar, hanya sejarah kecil yang muncul ketika Bani Saljuk dan Bani Mamluk masih menggeliat. Maka ketika diujung perjalanannya selama 2 tahun menjadi kaisar muslim, Takudar memilih jalan sufistik untuk mengobati dukalaranya berjalan dalam kesendirian. Sejarah akan berkata lain, andaikata ia hidup sezaman dengan Shalahuddin al Ayyubi atau Muhammad al Fatih.

Almamuchi dan Karadiza (The Road to The Empire dan Takhta Awan)

Saya penggemar film.
Film-film kocak, drama, action. Tentu disesuaikan tempat dan waktu. Once Upon a Time in China, tamat beberapa serial. Salah satu film kungfu menampilkan tokoh perempuan bernama Uchatadara, dan itulah nama yang saya pakai sebagai nama Almamuchi. Almamuchi dan Karadiza didadapt dengan mengobrak abrik kamus Mongolia dan bahasa Persia.

Montaser (Rinai)
Berapa banyak sudah gadis yang bertanya : apakah tokoh ini ada?
Mungkin, inilah tokoh yang paling menimbulkan sensasi jatuh cinta. Syukurlah. Orang-orang seperti Montaser lah yang seharusnya ada di benak para gadis. Dengan suguhan drama Korea dan Turki, para gadis dibuat mabuk kepayang oleh tokoh fiktif tampan yang bagus secara fisik. Satu berwajah klimis, licin, mengkilat, dengan hidung dan dagu buatan. Satu berhidung mancung, bercambang, alis tebal dan mata bak elang. Dua-duanya sama : membuat seorang perempuan menjatuhkan pilihan dari casingnya terlebih dahulu.
Montaser adalah lafal luwes untuk bahasa Arab Muntashir.

Siapa ia?
Sesunggunya seorang anak kecil laki-laki, putra seorang Ibunda luarbiasa yang membaktikan hidupnya di UCAS university sebagai dosen di Khan Younis, Gaza. Saya terkesan oleh nama tersebut dan menjadikannya nama tokoh dalam novel Rinai. Apakah sosok Montaser ada?
Banyak.
Sangat banyak.
Jadi, berharaplah bagi yang masih jomblo untuk bisa memilikinya satu.

Rinai (Rinai)
Ada satu tokoh film remaja yang saya suka namanya : River Phoenix. Ia punya saudara-saudara yang namanya diambil pula dari gejala alam seperti Rainbow. Terkesan oleh ide memberi nama dari gejala-gejala alam, maka novel bersetting Palestina inipun mengambil nama tokohnya dari situasi alam : Rinai Hujan.

Nararya (Bulan Nararya)

Nararya adalah nama unisex dalam bahasa Sansekerta. Dapat digunakan oleh laki-laki atau perempuan. Nararya berarti kemuliaan. Nama ini saya dapat dari kamus bahasa Sansekerta, googling aja!
Sansekerta menyediakan nama-nama unik yang cantik didengar dan dibaca.

Yudhistira (Bulan Nararya)

Sejak dulu, saya ngefans dengan tokoh wayang bernama Yudhistira. Konon, sebagai anak tertua ia memiliki darah putih karena demikian sayang pada adik-adiknya dan rela mengorbankan apapun demi kebahagiaan mereka.
Saya selalu terkesan ketika mendengar seorang kakak yang mampu menjadi panutan bagi adik-adiknya, maka nama Yudhistira sering masuk dalam benak tiap kali berencana menyusun novel. Lagi pula, Yudhistira mirip-mirip Yudisia, nama tengah saya …haha

Fuyuzakura

Fuyuzakura

X- Novel Romance bersetting Jepang

Novel romansa bersetting Jepang ini cukup sulit juga menentukan nama.
Apa nama tokoh yang mengesankan tapi juga bukan nama yang biasa ditemukan?
Joko, Budi, Hari, Bambang, Bagus, sudah biasa. Nama-nama itu bukannya tak boleh dipakai namun para pembaca biasanya terkesan oleh gambaran seroang tokoh. Montaser, Rinai, Nararya, Yudhistira, Takudar, mudah diingat oleh pembaca ketika mereka tengah mendiskusikannya.

Maka, novel romance bersetting Jepang ini pun harus memiliki nama-nama tokoh yang unik.
Nama unik kadang-kadang berasal dari teman-teman sendiri, maka berhati-hatilah jadi teman penulis. Setiap pertemuan dengan seseorang akan menjadi bahan baku untuk tulisan mulai nama, curhat, sampai emosi yang ditampilkan. Semakin aneh kamu, semakin senang penulis mendapatkan profile untuk tokohnya.

Ada usulan nama untuk novel Jepang ini? Silakan 🙂

Tatara Gawa : salah satu setting romance

Aliran biru Tatara Gawa

Aliran biru Tatara Gawa

Tatara gawa, salah satu sudut indah yang akan muncul dalam novel romansaku bersetting Jepang. Selain tempat ini punya memori psikologis dengan tokoh utama, silakan lihat hal unik dalam foto di atas.

Jembatannya?
Pepohonannya?
Rerumputannya?
Aliran sungainya?
Warna birunya?

#Jepang
#Fukuoka
#Romance