Kategori
Cinta & Love Hikmah mother's corner My family PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Topik Penting WRITING. SHARING.

Quaden Bayles : Bagaimana Jika Anak Kita adalah Si Pembully?

Kasus Quaden Bayles benar-benar mengiris hati. Seorang anak usia 9 tahun,  penyandang dwarfisme, tinggal di Brisbane Australia menangis pilu menghadapi bullying tiap hari.

“Stab me!!”

“Kill me!!”

Ia menangis histeris.

Si ibu, yang telah berjuang lama menghadapi bullying terhadap anaknya terpaksa mengunggah video itu dan menuntut keadilan. Ia merasa sudah cukup wacana-wacana tentang bullying tetapi mana bukti pembelaan terhadap korban bullying? Apalagi si kecil Bayles mengidap kelainan sehingga fisiknya sangat berbeda dengan anak seusia. Video Bayles mendapat banyak perhatian dunia, termasuk Hugh Jackman pun memberikan dukungan keprihatinan terhadap kasus Bayles.

Anak saya pernah menjadi korban bullying dan juga pelaku bullying. Bila melihatnya sekarang yang berprestasi, kooperatif, cukup punya banyak teman dan mampu berkolaborasi dengan orang seusia,  lebih tua atau lebih muda; tak ada yang menyangka ia dahulu adalah korban bullying dan kemudian menjadi pelaku bullying yang kasar.

Dukungan terhadap korban bullying mungkin sudah banyak dibahas. Tetapi bagaimana menghadapi anak yang melakukan bullying? Ibu Quaden Bayles menjerit meminta pertolongan dari siapa saja yang bisa memberikan nasihat. Ia bahkan berkata, nyaris putus asa : “Stop memberiku advis yang bagus. Aku butuh lebih dari sekedar nasihat! Aku butuh tindakan nyata!!”

Di bawah ini adalah apa yang pernah kami lalui sebagai orangtua dengan anak yang pernah dibully dan pernah membully anak lain. Kasus setiap anak mungkin berbeda tapi semoga apa yang kami hadapi dapat menjadi pelajaran.

  1. Korban dan pelaku. X pernah menjadi korban bullying dalam waktu lama di sekolahnya. Ia disudutkan karena cara bicaranya yang ‘berbeda’ dan beberapa hal terkait fisik. Awalnya ia hanya terdiam, menangis, memendam perasaan hingga matanya berkaca-kaca dan dadanya terlihat berguncang. Lambat laun setelah ia menemukan keberanian, ia melawan anak-anak.  Sedihnya, ganti ia yang membully teman-temannya. X memukul teman-temannya.
  2. Sikap guru. Pihak sekolah memanggil kami orangtuanya. Langkah pertama ini sungguh bijak, sebab yang harus datang adalah ayah ibunya. Bukan ibunya saja atau ayahnya saja. Suami saya minta izin dari kantor dan kami menghadap pihak berwenang di sekolah. Saya ingat, saat itu kami ditemui oleh pihak otorita sekolah dan guru yang sering menangani X. Sebut saja bu guru Aisyah. Ada perkataan bu Aisyah yang membuat saya demikian sedih dan terpukul, tetapi saya rasa itu adalah keputusan paling bijak yang bisa diambil saat itu.

“Bu Sinta, kami sudah mencoba mendekati X dengan berbagai cara. Tapi sepertinya masih kurang mempan. Ia masih sering memukul teman-temannya. Saya minta izin -dengan sangat terpaksa- saya akan memukul X. Di kaki atau tangannya, tidak di areal berbahaya. Supaya X memahami bahwa kena pukul itu menyakitkan.”

Kami tidak menerapkan pukulan di rumah. Kemungkinan, X tidak tahu seperti apa sakitnya dipukul! Saya bersyukur, bu Aisyah memanggil kami dan meminta persetujuan kami. Awalnya suami saya marah dan tidak setuju. Tetapi saya menenangkannya.

“Sebelum memukul anak kita, sekolah meminta izin pada orangtuanya dulu. Saya pikir itu bijaksana,” kata saya. “Kalau sekolah mau ambil sikap otoriter dan tak peduli, sudah pasti X dipukul langsung tanpa perlu minta izin pada kita.”

Akhirnya kesepakatan tersebut diambil.

Tentu, si X pun diberi peringatan terlebih dahulu oleh bu Aisyah. Lain kali dia memukul temannya di tangan atau kaki (kebetulan X tidak memukul di area berbahaya) , bu Aisyah akan membalasnya dengan pelan. Ini karena teman-teman X sama sekali tak ada yang berani menghadapi kegarangan X.

Alhamdulillah, bu Aisyah tidak perlu mengambil sikap memukul itu sering-sering. Sebab ternyata, para guru dan pihak sekolah terus mencari cara menghadapi bullying termasuk yang dilakukan anak saya, X. Seorang guru yang memukul tanpa sebab, memang tak dibenarkan. Tapi saya pikir, bu Aisyah sudah mencoba segala cara dan saya menghormati keputusannya. Yang sangat penting, keputusan beliau didiskusikan pada kami dan kami diajak mempertimbangkan baik buruknya. Saya tidak meminta sekolah atau guru memukul anak-anak, tetapi saya hanya menceritakan pengalaman pribadi yang ternyata sangat membantu X yang garang untuk lebih memahami bahwa memukul itu menyakitkan! Mungkin, karena kami orangtua nya tidak tega untuk memukul anak sendiri, kehadiran seorang guru dapat membantu.

Kami dapat saja berpikir, “X masih anak-anak. Wajar kan berkelahi? Wajar kan kalau memukul, menjambak, menyakiti? Mana ada anak-anak yang gak pernah berkelahi?”

Tetapi, itu yang ada dalam benak saya. Apa yang ada di benak orangtua lain, ketika anaknya disakiti? Kalau anak saya dipukul anak lain, pasti saya pun ingin ada keadilan. Kalaupun keadilan tidak sepenuhnya bisa ditegakkan, pasti kita ingin ada tindakan.

3. Mencari teman sebaya. X membaik perilaku garangnya yang suka memukul anak lain, karena bu Aisyah dan guru lain mencari cara untuk ‘menaklukan’ X. Salah satunya mencari sahabat yang bisa menasehati. Saya tahu, X tidak banyak punya teman saat itu. Atau bisa dikatakan ia common enemy karena kegarangannya, meski X sangat pintar  sains dan matematika. Guru pada akhirnya berhasil membujuk AL (samaran) untuk menjadi sahabat X. AL awalnya enggan berkawan dengan X. Ya, siapa yang mau berteman dengan anak pemarah dan pembuat onar? Tapi AL memang punya sifat bijak dan terkenal lemah lembut. AL kemana-mana membuntuti X dan mencoba memberikan nasehat ala anak-anak.

Ada satu kejadian yang saya ingat diceritakan X dan guru.

Momen penting ketika X mencapai titik balik.

X, sebagai pembully, bukanlah sosok yang dicintai. Ia ditakuti, tapi sesungguhnya tak punya teman. Suatu saat, X menyendiri.  AL mendekati, lalu mengajak bicara. Kalau saya ingat ini, betapa berterimakasihnya kami pada AL yang rela bersikap bijak dan dewasa di masa anak-anaknya demi mendampingi X.

“Sebetulnya semua guru dan teman itu sayang kamu, X. Hanya saja kamu suka memukul. Padahal bu Aisyah itu sayang sekali sama kamu. Bu Aisyah sampai nangis memikirkan kamu.”

X tiba-tiba berlinangan airmata, ketika tahu gurunya bisa menangisi dirinya. Tanpa sadar mata X meleleh. Dua sahabat itu berjanji mereka akan menjadi pribadi yang lebih baik. Esok harinya, X benar-benar berhenti memukul!

4. Komite orangtua. Saya panik. Saya sedih.  Saya tertekan. Sekaligus merasa bersalah. Tiap kali datang ke sekolah menjemput, selalu ada anak yang melapor ke saya, “Bundaaa! X mukul si A.” Besoknya, “Bundaaa, X mukul si B. “ Selalu ada laporan begitu nyaris tiap hari. Rasanya wajah ini panas tertampar tiap kali mendengar laporan itu. Tetapi, saya beruntung dan bersyukur sekali pada saat angkatan X, komite orangtua dipenuhi para orangtua yang baik hati dan hangat. Tidak ada orangtua yang menuding, menyindir, memboikot, atau marah-marah ke saya.

Saya minta maaf pada para ibu karena anak-anaknya kena pukul X. Mereka berkata, “nggakpapa, Bu. Namanya anak-anak.”

Saya nggak tahu  lip service atau tidak. Nyatanya, saya tidak lantas malu untuk ikut acara parenting dan komite  sekolah. Hal itu membuat saya lebih semangat dan terbuka untuk menerima masukan. Ketika X bersalaman kepada orangtua bila bertemu saat pulang sekolah, seringkali para orangtua justru mendoakan X ,”X yang sayang sama teman, ya. X anak pintar.”

Saya yakin, doa dari guru dan para orangtua yang mendoakan X kebaikan turut memberikan perubahan dalam diri anak saya.

5. Pihak berwenang dan ahli. Kali ini bukan X, tetapi salah satu anak kami yang lain yang menjadi korban bullying. Sebut namanya Y.  Singkat cerita, Y dan teman-temannya menjadi korban bully sekelompok anak. Tak boleh ke kamar mandi, tak boleh jajan, tak boleh lewat kalau kelompok tertentu sedang ada di sana. Komita orang tua berembug dan berunding. Didatangkanlah pihak kepolisian ke sekolah. Tujuannya bukan mengancam atau menakuti-nakuti. Ternyata masih banyak anak yang tidak paham bahwa bullying dapat masuk ranah kriminalitas. Begitu pihak kepolisian datang, memberikan ceramah dan arahan ke anak-anak, banyak anak tercerahkan bahwa perilaku mereka yang seperti nya bercanda, mengganggu, mengejek anak lain hingga kelewatan itu bila ditarik garis disiplin bisa menyebabkan mereka kena delik kriminalitas. Ternyata, anak-anak perlu diberi penjelasan lebih mendetil tentang apa saja bullying dan ancaman bagi pelaku.

Dari kisah di atas saya mengambil kesimpulan bahwa :

  1. Orangtua
  2. Anak-anak
  3. Guru
  4. Sekolah/institusi
  5. Pihak berwenang/ahli

Harus bekerja sama bahu membahu untuk menangani kasus bullying. Jangan lagi ada kasus Nadila almarhumah, atau Quaden Bayles. Anak- anak pelaku bullying juga perlu diberi arahan tegas. Sebuah video dari Korea yang mengambil social experiment tentang anak perempuan yang mengaku dibully dan mendatangi orang-orang di taman; memberikan gambaran tentang bagaimana sebuah hubungan antar manusia dapat dibangun.

Ada banyak potongan menarik dari adegan tersebut. Bagi saya, yang menarik adalah salah satunya, ketika si gadis SMA tersebut mendapatkan ‘korban’ social experiment anak-anak mahasiswa.

“Dik…kami dulu juga pernah membully teman dan adik kelas kami,” aku mereka.”Aku rasa saat itu aku sangat tidak dewasa. Aku menyesal sekali. Sayang sekali, nggak ada yang ngasih tahu aku. Kalau aku kembali ke masa itu, aku ingin bersikap baik.”

Bukan hanya korban bullying yang perlu didampingi hingga mereka memiliki resiliensi. Pelaku bullying juga harus didampingi dengan kasih sayang dan ketegasan, penjelasan dan informasi, pemberikan kesempatan dan juga ancaman serta sangsi bila mereka masih terus bertindak di luar batas. Saya bersyukur X pernah diberikan batasan dan ketegasan (meski belum tentu orangtua sepakat anaknya boleh dipukul). Pukulan dan nasehat dari bu Aisyah, dampingan dari sahabat AL, dukungan komite orangtua menjadikan X yang korban bullying dan pelaku bullying dapat menstabilkan kepribadiannya yang semula agresif menjadi lebih matang dan berkembang optimal.

Kategori
Cerita Lucu Hikmah mother's corner My family Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY WRITING. SHARING.

Mengatasi Fobia Kucing

Siapa yang sepakat kalau kucing adalah salah satu makhluk terlucu sedunia? Hayo ngacung!

Sejak kecil aku suka sekali kucing. Meski repot sekolah saat itu, aku tetap memelihara kucing. Seingatku, sejak SD aku suka memelihara kucing. Mengelusnya, menggendongnya, memeluknya; rasanya seneng banget! Apalagi kalau dia menempel-nempelkan badannya ke tubuh kita. Sembari mengeluarkan dengkur nafas yang khas. Kucing-kucingku suka dielus kepala sama dagunya, biasanya kalau dielus dua bagian ini, mereka akan terkantuk-kantuk.

Icung, kucing kami yang kiyuuuut banget !

 

Tapi, ada juga orang yang takut setengah mati sama kucing. Ketakutannya sampai terlihat nggak logis. Aku punya teman SMA (waktu itu kita nggak tau dia takut kucing), lalu kucing itu kita bawa ke dia, dia menjerit dan mengamuk! Teman kuliahku, pernah sampai pingsan pas makan di kantin. Gegara makhluk berbulu itu dengan tenangnya berjalan mendekati setiap pengunjung dan mengelus kaki-kaki yang bergelantungan di sana.

Aku tak percaya ada orang yang takut kucing.

Sampai aku menikah, dan mendapati suami dan anak pertamaku sangat benci kucing! Duh, sedihnya. Suamiku gak  bisa lihat kucing : jijik, nggak suka, sebel, bawaannya marah. Putriku? Lebih dashyat lagi. Sekedar lihat kucing tak bertuan tahu-tahu masuk rumah, lewat begitu aja, ia akan menjerit-jerit ketakutan sembari menutup muka, naik ke kursi dan menangis tersedu-sedu. Hadeeeh.

Awalnya, aku sih fine-fine aja dengan kondisi ini.

Ya sudah. Mau gimana lagi? Toh suami sama anakku gak suka kucing, ya gak usah melihara. Beres kan? Lalu ada kejadian yang mengharuskan kami melihara kucing. Awalnya, nggak niat melihara sih. Rumah kami sedang diserang banyak tikus. Mungkin karena rumah kami bekas areal persawahan. Para tetangga juga mengeluhkan rumah mereka yang banyak tikus. Meski makanan dan perkakas sudah kami tutup rapat, tikus masih suka kencing dan pup di mana-mana. Kotoran tikus sangat berbahaya, kan? Sudah coba pasang perangkap, lem, sampai racun. Tetap aja masih pada berdatangan. Lalu ada yang menyarankan : pelihara kucing saja. Meski kucingnya nggak doyan tikus, bau kucing sudah secara alamiah membuat tikus jera.

Nah, gimana dong dengan suami dan putriku? Kalau suamiku, beliau nggak fobia. Cuma gak suka. Cukup diskusi, selesai. Putriku fobia berat. Benar-benar nggak bisa berada di dekat, atau melihat kucing. Apalagi bersentuhan. Pernah dipaksa, ia benar-benar kaku keringatan menangis sejadi-jadinya. Padahal udah gede lho hahahaha.

Akhirnya, aku mencoba menterapinya dengan perlahan. Namanya CBT – cognitive behaviour therapy.

  1. Sisi kognitif. Definisikan ketakutan.

“Apa sih yang membuatmu takut dengan kucing?”

Awalnya, dia menjawab “pokoknya takut aja!”

Kutanya lagi, “Takut sama bentuknya? Tapi kamu nggak takut kelinci.”

Selidik punya selidik, dia emang geli banget sampai bergidik dengan tubuh berbulu kucing.

Lha kalau nggak berbulu seperti kucing Spinx, apa nggak takut? Katanya malah lebih “gilo” lagi! Lah, gimana sih? Oke deh. Aku juga nggak mungkin melihara Spinx. Harganya bo, kwkwkwk. Jadi kusimpulkan ia takut dengan benda berbulu. Kelinci berbulu tapi beda dengan kucing. Bedanya apa? ”Pokoknya beda,“ kata putriku jengkel.

Berarti ia memang memendam ketakutan karena bulu-nya, bukan bentuk, taring, apalagi sikap mengendap-endap kucing yang kayak hantu aja.

  1. Sisi kognitif. Bangun pemahaman baru bahwa kucing nggak sejelek yang dikira.

Karena nggak takut sama bentuk, tapi sama bulu, berarti putriku masih bisa lihat bentuk kucing. Hanya saja nggak bisa megang atau berdekatan. Adik-adiknya senang sekali nge-share meme lucu terkait kucing, juga membagi video lucu kucing yang tersebar di youtube, IG dan line.

Icung di besek.JPG
Icung suka tidur di tempat-tempat tak lazim 🙂

Awalnya putriku nyinyir, ”ïh ngapain sih? Sebel aku, kalian ngirim video kucing. NGGAK BAKAL aku seneng sama kucing.”

Tapi lama-lama suamiku dan putriku ngakak habis kalau liat video kucing yang lucu. Ini sesudah mereka menonton puluhan video kucing. Jadi bukan hanya sekedar belasan, apalagi satu dua video, ya.

Selain itu ada diskusi-diskusi yang kami bangun :

  • Rasulullah dan para sahabat juga suka kucing, artinya kucing itu hewan yang diberkahi.
  • Kucing adalah penghalau alami tikus. Kalau pakai racun, terus tikusnya mati di rumah tetangga, gimana?
  • Sebagai perempuan, harus bisa mengatasi fobia. Siapa tahu suami, atau keluarga suaminya kelak suka kucing. Nggak lucu kan, kalau misalnya mertua suka kucing lalu menantu saking takutnya mengunci diri di kamar.
  • Di Istanbul, Turki, ada masjid yang imam masjidnya suka banget melihara kucing. Indah kan? Harmoni antara manusia dan hewan, kucing-kucing dibiarkan ikut sholat dan ceramah.

Cat at Istambul Mosque

Kucing di salah satu masjid Aziz Mahmud Hudayi di Istanbul, Turki

 

  1. Sisi perilaku. Ajak melihat dulu. Ajak dekat. Ajak sentuh bulu.

Kalau ada kucing lewat ( di komplek perumahanku banyak kucing seliweran. Apalagi kalau emak-emak belanja di tukang belanja, kucing ikutan mejeng minta kepala ikan) , aku bilang ke putriku : tuh, kucing sama kamu, ukuran badannya lebih gede mana?

Putriku cemberut, tapi ia mikir juga.

”Apa semua kucing menyerang kamu? Nggak kan?”

Lama-lama, putriku nggak histeris kalau lihat kucing lewat.

Lambat laun, putriku hanya waspada kalau lihat kucing , ”Asal dia gak dekat-dekat aku!”

Lama-lama dia mau ngasih makan kucing, tapi nggak mau kalau sampai bersentuhan.

Dan akhirnya, sekarang ia sudah bisa memegang kucing, meski belum bisa menggendongnya.

Putriku & Icung, kucing kami
Putriku sudah bersahabat dengan Icung

Alhamdulillah, di rumah kami memelihara seekor kucing. Kucing ini hadiah dari seorang teman. Sepasang suami istri tua akan membuangnya, dan kami menampungnya. Waktu itu usianya baru 3 bulan, kasihan sekali. Sekarang sudah jadi kucing yang gemuk dan cantik. Dihitung-hitung, nyaris setahun kami melakukan CBT pada putri kami agar ia mulai terbiasa dengan hadirnya kucing. Ia nggak harus melihara kucing kalau sudah menikah. Tapi kalau kelak orang-orang terdekatnya suka kucing, minimal ia bisa ikut bersahabat dan tidak bermusuhan dengan kucing.

Kamu gimana?

Sudah bisa ngatasi fobia kucingmu? J

Kategori
Game Musik My family Oase Remaja. Teenager Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Orangtua Belajar Game : dari PUBG sampai Alan Walker

 

“Ummi coba nonton K/DA popstar, opening ceremony dari League of Legends,” saran putriku, ketika aku bilang malas belajar game.

Sebagai orangtua dan psikolog, mau tak mau aku harus belajar apa yang menjadi hobi, perhatian, kesukaan dari subyek klienku yang didominasi remaja dan orangtua yang mengeluhkan kondisi anak-anak mereka. Membahas dunia anak muda membuatku dapat ‘masuk’ lebih dalam ke inti permasalahan. Misal, konflik harapan akademis orangtua VS anak dapat diredam ketika aku berdiskusi menggunakan cara-cara Rap Mon alias Kim Nan Joon (BTS) merayu mamanya.

K/DA Popstars  dan  Rap Mon (BTS)

Mendalami music dan film, bagiku tak masalah karena dulu sewaktu remaja akupun menyukai dunia ini. Awalnya susah sekali menghafal nama artis, label manajemen, judul lagu, nama fanbase artis Korea dan K-Pop. Bukan hanya karena nama-nama yang masih asing, tapi juga kultur Korea yang sangat berbeda dibanding ketika dulu aku menggandrungi Westlife atau Backstreet Boys.

Game?

Orangtua banyak mengeluhkan keterkaitan anak dengan dunia ini. Aku merasa : “ah, sudahlah. Nggak perlu belajar game dan seluk beluknya. Dirujuk ke psikolog lain aja kalau nggak cocok. Malas.”

Dasarnya emang nggak suka game, selain Candy Crush dan Luxor (kata anak-anakku : itu bukan game!)

Tapi sudut pandangku mulai berubah ketika sekitar berbulan-bulan lalu putriku mengkoreksiku masalah perkembangan game yang harus diketahui psikolog, terlebih sebagai orangtua. Dan aku terkesima melihat K/DA popstar edisi opening ceremony.

Bukan hanya karena lagu itu dibawakan Madison Beer, Jaira Burns serta anggota (G)-idle yang sedang tenar seperti Miyeon dan Soyeon; tetapi juga karena lagunya yang nge-beat banget, easy listening dan…edisi spektakuler megah  perpaduan entertaintment serta teknologi. Di opening ceremony tersebut, nyaris tak bisa di bedakan 4 penyanyi asli dengan tokoh LOL Akali – Ahri – Kai’sa –Evelynn versi 4 dimensi. Mana manusia, mana animasi benar-benar berbaur jadi satu.

Sejak menonton K/DA popstar opening ceremony, pandanganku terhadap game berubah.

Orangtua tak bisa memandang sebelah mata permainan ini, kita harus belajar agar benar-benar memahami dunia anak, dapat mengevaluasi dan mengontrolnya.

PUBG dan Alan Walker

Tetap saja aku nggak mahir main game. Tapi mulai tahu sedikit-sedikit yang disukai anak-anakku meski mereka bukan gamer sejati. Oh ini yang namanya Skyrim, oh ini Mobile Legend, Seven Knights, Honkai Impact 3rd dan tentu saja PUBG (playerunknown’s battleground).

 

Skyrim dan Seven Knights

“Skyrim bagus lho,Mi, ada unsur sejarahnya,” kata putriku.

Awal aku melihat PUBG langsung pikiranku berkata, “emang pantes disukai anak-anak. Dinamis, energik, memacu adrenalin. Anak jadi merasa berada di dunia yang sangat aktif. Sebuah dunia yang sekarang jarang disentuh.”

Ya.

Mana ada anak main lari-larian sambil bawa senapan pak-pak dor seperti kami dulu di masa kecil. Dunia perang-perangan, benteng-bentengan, hide and seek. Apa yang tidak ada di dunia nyata, sekarang dipindahkan ke dunia maya. Main sembunyi-sembunyian, perang-perangan, mempertahankan wilayah. Bedanya, kalau dulu dimainkan anak-anak; sekarang divisualisasikan dewasa. Dan tahu sendiri ‘kan, mainan orang dewasa? Adegan kekerasannya lebih terasa, senapannya bukan kayu tapi visual senjata senapan mesin.

PUBG-Feature-640x353.jpg
PUBG

PUBG sebetulnya tidak sesadis Resident Evil yang penuh adegan darah.

Tapi menurutku, PUBG tidak cocok dimainkan anak-anak dan remaja.

Kill 1, kill 2, kill 3.

Setiap kali berhasil menembak orang; ada laporan jumlah sasaran. Bagiku, memang ini menjadi addiction tersendiri. Kalau sudah bunuh 10, pingin nambah jadi 20, dst. Tidak ada daran mengalir dan organ tubuh zombie terkoyak yang mengerikan menjijikkan seperti Resident Evil, tetap saja, semangat untuk membunuh itu yang membahayakan.

Tetapi, sebelum melarang, orangtua perlu tahu dulu.

“PUBG menurutku biasa aja,” kata anak cowokku.

“Kamu gak pingin main?”

“Nggak. Aku nggak suka tipe itu.”

“Tapi temanku biasa main,” kata anak cewekku. “Biasa aja.”

Karena aku sudah tahu sedikit, aku bisa berkomentar,” nggak sih. Menurut Ummi gak biasa. Meski gak ada adegan sadisnya, permainan itu mengarahkan membunuh musuh sebanyak-banyaknya. Bahkan yang sudah merangkak tak berdaya, harus dipastikan ditembak supaya mati dan dapat skor. Membunuh, tanpa tahu kesalahannya apa, kan nggak bagus?”

 

Alan Walker?

Nah, kalau kita sudah belajar game, akan berkembang ke dunia sekelilingnya. League of Legends punya lagu khas banget, yang membuat pemainnya merasa jadi hero. Nge-beat, buat bergairah.

PUBG apalagi.

Soundtrack PUBG dibawakan sangat apik oleh DJ Alan Walker dengan lagu-lagu yang punya pesan-pesan tertentu. Untuk PUBG, lagu On My Way yang dibawakan Sabrina Carpenter, Farruko, Alan Walker ini sempat menjadi trending topic nomer 1 di youtube. Fans lagu membuat beberapa versi fanmade seperti Ignite (Alan Walker, Julie Bergan, Seungri) untuk PUBG juga. Bisa dibayangkan, kalau sedang main PUBG, diiringi On My Way dan Ignite, serasa jadi pahlawan masa kini yang dinamis, energik, super keren!

On My WayOn My Way dan Ignite karya Alan Walker

            Lagi-lagi, orangtua perlu belajar tahu siapa DJ tenar dunia seperti Chainsmoker, Zedd, dan tentunya Alan Walker. Khusus Alan Walker, nanti perlu dikupas tersendiri terkait lagu-lagunya dari tema psikologis. Sebagai DJ dengan sosok misterius yang sering menggunakan topeng; followers DJ Walkzz atau Alan Walker ini luarbiasa banyaknya.

Sebagai emak-emak pengamat music, aku sendiri sangat tertarik mempelajari Alan Walker. Siapa dia? Kenapa lagu-lagunya sangat bagus dan enak didengar? Sangat bagus di sini dalam pengertian musiknya ya, bukan isi esensinya. Sebab esensi dari lirik lagu Alan Walker punya sisi darkside yang harus diwaspadai siapa saja.

Sejak kemunculan Faded-nya Alan Walker, aku memang penasaran.

Banyak sekali artis yang one hit wonder. Tapi Alan Walker, di usia 21 tahun sudah mengeluarkan lagu-lagu yang unik dan pasti digemari anak muda : Fade, Sing Me to Sleep, Different World, All Falls Down, Lily, Ignite dan tentunya, On My Way. Semuanya laris manis di pasaran.

On My Way Alan Walker.jpg
Alan Walker yang misterius 

Jadi, pantas saja anak muda gemar PUBG apalagi bila diiringi lagu-lagu Alan Walker.

Permainan ini diharamkan di beberapa wilayah, meski Arab Saudi malah menggelar perhelatan PUBG. Sebagai orangtua, kita harus sangat berhati-hati terhadap paparan teknologi dan informasi yang mengepung anak-anak kita. Belajarlah, bangun komunikasi, dan tunjukkan; sisi mana dari PUBG ini yang berbahaya. Menjalin komunikasi dengan anak akan membantunya mengerti dan membuat imunitasnya berkembang secara alamiah. Memang, kadang kita enggan mempelajari kesukaan anak. Akupun awalnya tak terlalu suka K-Pop, apalagi game. Kalau drama dan film Korea, suka-suka aja karena banyak yang bagus. Tapi karena anak-anakku dekat dengan dunia ini, mau tak mau harus mempelajarinya. Setelah mempelajarinya, kita akan tahu mau ‘masuk’ dari sisi yang mana.

 

 

Kategori
Hikmah mother's corner Oase Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Politik yang Bergairah

 

“Mama kamu nyoblos apa?”

“Partai V. Kalau Mama kamu?”

“Aku X. Kok gak sama ya?”

Kami ibu-ibu senyum-senyum dengar percakapan anak-anak kecil di sekolah. Anak-anak itu boleh jadi diajak bunda mereka ke bilik suara, melihat tata cara mencoblos dan terjadi diskusi tersebut. Mereka masih kecil-kecil, kadang masih nangis ngosek kalau nggak dituruti jajan. Tapi pemikiran dan diskusi anak sekarang sangat variatif.

Politik, memang selalu menimbulkan polemik. Pro kontra. Serang sana sini. Hasut sana sini. Kalau membayangkan pertarungan politik 2019, lelah rasanya. Tapi politik juga membawa kehidupan yang lebih bergairah dari waktu-waktu sebelumnya.

Masak sih?

Iyalah.

Waktu saya SMP, SMA, apalagi SD; mana pernah ayah sama ibu saya ngomong bab politik. Saya juga nggak tau pilihan politik mereka berdua. Hanya pernah dengar selentingan kalau pegawai negeri harus ada pilihan wajib. Partai saat itu hanya 3 : Golkar, PPP dan PDI. Seingat saya, waktu kecil bahkan menjelang remaja sampai kuliah; gak ada ketertarikan blas buat ngomong politik.

Sekarang beda.

Bicara politik, bahas politik, bukan hanya sekedar di ruang public atau medsos belaka. Tetapi di ruang rumah kami. Di kamar tidur. Di ruang makan, ruang tamu. Kadang-kadang melihat anak-anak saya berdebat dengan argumentasi mereka, lucu aja. Bahasa-bahasa kelas ‘tinggi’ yang dulu saya nggak nyampe, sekarang biasa diperbincangkan anak-anak kita : pemilihan, hoaks, legislative, melanggar hukum, partai politik, pemilu, posisi strategis, dsb.

Bahkan bagi anak-anak yang belum paham betul pilihan politik yang bijak dan baik itu seperti apa, sudah melontarkan pernyataan politik.

“Ummi, aku ini sudah ikut nyoblos enggak?”

“Ih, aku nggak mau milih ketua kelas kayak dia lagi. Egois banget orangnya!”

“Wah, Ummi! Di koran ada Ilhan Omar. Keren ya, dia!”

Tuh, kan. Padahal usianya belum sampai 17 tahun dan belum dapat KTP.

Saya dulu boro-boro mikir nyoblos. Mikir mana partai yang merepresentasikan suara rakyat, ogah.

Bersyukur banget dengan segala kondisi sekarang, anak-anak dapat dewasa secara alamiah. Memang sih, pasti ada hal-hal buruk yang timbul. Mana ada sih di dunia ini, segala sesuatu disantap tanpa menimbulkan dua sisi mata uang? Politik membuat kehidupan bernegara kadang terpecah belah. Tapi, politik juga membuat hidup lebih bergairah. Anak-anak SD dan SMP mulai mikir : milih ketua kelas macam apa ya, biar kegiatan di kelas bisa berjalan? Bapak ibu juga semakin aktif mengkampanyekan nilai-nilai yang mereka yakini. Ada yang bergabung di komunitas pengajian, paguyuban orangtua, komunitas seni dan segala macam. Semakin banyak berinteraksi, semakin banyak kesempatan berdialog.

Bagi saya ini positif.

Kalau dulu saya taunya sekolah, les, belajar kelompok; anak-anak saya mulai ikut ini itu demi belajar politik yang sesungguhnya.

“Di kampus, aku jadi tim media, Mi. Gak bergengsi sih posisinya. Tapi itu yang aku bisa dan aku bekerja sebaik-baiknya. Eh, karena kerjaku baik, teman-teman selalu suka. Aku sampai diperebutkan sana sini jadi tim sukses, lho.”

“Ilhan Omar dari Somalia keren ya, Mi. Udah punya anak 3, lagi.”

Ilhan Omar memang spektakuler. Perempuan asal Somalia ini pernah tinggal di pengungsian Kenya selama 4 tahun dan hidup dalam kondisi serba sulit.

Ada 2 muslimah yang duduk di kursi Kongres saat ini, satu lagi perempuan keturunan Palestina. Ilhan sendiri terpilih menjadi anggota House of Representative, mewakili distrik 5 negara bagian Minnesota.

 

Perbincangan-perbincangan sepele itu sepertinya tak punya muatan apa-apa. Tapi idola, pusat perhatian anak-anak kita, sekarang dimeriahkan dengan panggung politik. Mereka tidak lagi hanya menjadikan fenomena orang keren dari kalangan artis atau selebritas saja. Tetapi orang-orang dari kancah politik pun bisa jadi orang yang keren banget.

Politik, membawa hidup lebih bergairah!

 

 

( Ilhan Omar, Jawa Pos 7/11/2018 dan 11/11/2018)

 

Kategori
Cinta & Love Jurnal Harian mother's corner My family Oase Pernikahan Psikologi Islam Suami Istri

Suamiku Bisa Berubah!

 

“Pussss?” sapa suamiku.

Aku baru tahu kalau suamiku benar-benar berubah tadi pagi. Sepulang kami dari masjid usai sholat Subuh, aku jalan di belakangnya. Ia berada di depanku, jarak tiga langkah, lalu tampak makhluk hitam kumal berbulu tengah terkantuk dekat tong sampah.

 

Benci kucing setengah mati

Semua anakku suka banget sama kucing. Kucing putih, hitam, kembang telon, abu-abu yang ada di sekitar rumah dan mampir rumah disapa. Dikasih sisa makanan. Dipanggil-panggil. Mau kucing cantik punya tetangga, kucing garong, kucing budukan, kucing maling.

Aku nggak tahu apa penyebab suamiku benci setengah mati sampai ke inti DNA nya sama makhluk berbulu ini.

“Najis!”

“Awas aja kalau sampai nyolong ikan di meja.”

“Bikin plafon bolong kalo lagi musim kawin!”

“Bawa tokso!”

Kalau aku berdalih anak-anak selalu senang hewan peliharaan, suami menolak.

“Semua hewan yang dipelihara anak-anak mati. Ikan, kelinci, burung hantu. Anak-anak belum bisa mandiri melihara hewan.”

Putri bungsuku pernah suatu ketika kudapati pucat ketakutan.

“Aku habis megang kucing, Mi, harus segera cuci tangan…” bisiknya. Memang, kalau ketahuan abahnya, tanpa ampun, anak-anak bisa bungkam diam kena tegur keras dan galak. Aku sendiri nggak tahu, kenapa suamiku benci kucing. Phobia? Enggak juga. Mungkin aja, suamiku takut kucing itu akan mengganggu ikan-ikan kesayangannya. Alasanku juga gak diterima.

“Kalau melihara kucing, bisa ngusir tikur lho, Mas,” aku membujuk.

“Ah, tikus dibunuh pakai racun aja. Lagian tikus sekarang gede-gede, kucing aja malah takut, kok,” tolaknya.

Aku benar-benar mati kutu. Lantaran anak-anakku, 3 suka kucing. 1 aja yang gak suka kucing. Cuma denganku anak-anak bisa berbagi kesenangan mereka terkait kucing.

“Ih, lucunya, Mi…kucing itu. Kucing silang ya?” anakku nunjuk kucing tetangga yang berbulu lebat.

“Mi, lihat nih! Lucunyaaa!” anak-anak hampir setiap hari nge-share video lucu kucing entah dari youtube, line, instagram.

“Kenapa sih Abah nggak bolehin kita melihara kucing,” keluh anak-anakku.

Padahal, bagiku, memelihara hewan banyak sekali manfaatnya. Aku sendiri ikut-ikutan sedih melihat anakku hampir tiap hari dimarahi ayah mereka jika ketahuan bercengkrama dengan kucing-kucing yang entah dari mana datangnya.

Kitkat.jpg

Kenapa berubah?

Memelihara hewan, khususnya kucing, menurutku banyak manfaatnya.

  1. Anak-anakku jadi lebih bagus afeksinya terhadap sesama saudara, dan nggak menghabiskan waktu dengan gadget mereka
  2. Anak-anakku belajar tanggung jawab mulai beli makanan, ngurus pasir, ngurus kotoran
  3. Anak-anakku jadi lebih tertib dan disiplin
  4. Anak-anakku jadi lebih happy, relaks dengan hewan peliharaan

Tapi gimanaaaa? Ayahnya sama sekali benci kucing, hiks.

Denganku anak-anak kadang memendam marah dan tangis.

“Abah kenapa sih, kebangeten banget! Masak melihara kucing 1 aja nggak boleh.”

Sebagai ibu yang baik (jiaaah) aku nggak mungkin bilang, “emang ayah kalian galak! Gak bisa kompromi!”

Kukatakan begini, “eh, Abah itu senang hewan lho! Sejak kecil Abah melihara ikan, merawat burung yang jatuh dari pohon. Tapi Abah kalian itu tanggung jawab. Nggak pernah kakek nenek ikut repot ngurus. Coba kalian sendiri yang merayu Abah pelan-pelan.”

Anak-anak dan aku mencoba mengubah persepsi kepala suku kami.

Caranya?

  1. Anak-anak dan aku nge-share video lucu tentang kucing.
  2. Cari informasi tentang toksoplasma
  3. Cari informasi tentang najis kucing
  4. Cari informasi tentang kisah ulama atau sahabat terkait kucing.

 

Suamiku awalnya kukuh. Tapi lambat laun, terbuka kesempatan dengan syarat. Anakku benar-benar mau tanggung jawab. Ketika kesempatan itu datang, anak-anakku mencoba sebaik-baiknya. Beli pasir, beli wadah untuk pup-pipis, beli makanan kucing. Tak lupa, anak-anak juga berlatih untuk nggak gampang jijik ketika si kucing muntah. Anak-anak juga, meski repot dengan urusan sekolah dan kuliah, bekerja keras untuk menjaga rumah dari najis.

Kulihat, si kakak memberi komando.

“Kamu pulang jam berapa? Bisa beli makan?”

“Kamu bisa beli tissue basah sama tissue kering? Buat ngelap kalau makanan kucing jatuh berceceran.”

Dan ternyata…si kucing itu lucu luarbiasa. Mengeong, naik kursi, mengejar-ngejar siapapun yang tengah berjalan. Termasuk mengganggu suamiku…hahah. Suamiku yang tadinya sebel sekali, akhirnya perlahan suka. Bahkan mulai cerewet kalau anak-anak lalai.

Hingga sekarang, suamiku malah sering celingak celinguk kalau sedang naik kendaraan. Ketika kucing melintas lari .

“Ih, lucu ya, Mi. Kucing kampung yang lewat.”

Suamiku juga suka bercanda dengan anak-anak terkait kucing.

Hingga Subuh pagi tadi, ia menyapa kucing bulukan budukan kampungan yang tengah termenung di tepi sampah, “Pussss.”

Alhamdulillah…ternyata, bukan hal mustahil mengubah suami.

Butuh waktu, kesabaran, doa, kelapangan hati, usaha dan juga keberanian untuk bersitegang hehehe Kalau hal itu baik untuk diperjuangkan, kenapa nggak dilakukan? Aku merasa yakin, bahwa persepsi suamiku perlu diubah lebih kooperatif. Kucing memang kadang meninggalkan jejak najis, bawa toksoplasma, suka mencuri. Tapi semua bisa diatasi dengan kerjasama antar keluarga. Apalagi, bila dibandingkan manfaatnya, luarbiasa. Bukan hanya pengusir tikus dan pembawa keceriaan, tetapi jadi pengasah afeksi anak-anak dan penyebab makin sedikit interaksi dengan gadget!

 

Kategori
mother's corner My family Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY WRITING. SHARING.

Anak Kreatif = Anak Pintar? Tunggu Dulu

 

 

Pernah dengar anak cerdas?

Pastilah pernah.

Anak ini biasanya identik dengan sejumlah kemampuan, utamanya kemampuan akademis dan lebih spesifik lagi kemampuan logis matematis.  Biasanya, orangtua senang sekali punya anak seperti ini. Diajari apa-apa gampang. Diajari pelajaran sekolah langsung paham. Entah apa sejarah yang membentuk pola pemikiran orangtua, sehingga bahasa simbolik seperti matematika lebih dianggap berkelas daripada bahasa simbolik huruf lainnya.

Ingat, matematika itu sebetulnya seni berbahasa. Hanya saja pakai simbol angka.

Sementara bahasa yang menggunakan kata, frase, kalimat hingga menyusun sebuah pola itu juga bentuk bahasa dalam sisi lain. Makanya jangan remehkan ahli hukum yang mampu memutar balikkan fakta atau mampu menemukan celah bahasa secara jeli. Jangan pula remehkan para seniman yang mengolah tubuh membentuk tarian, mengolah warna menjadi lukisan, mengolah kata menjadi novel. Itu juga sebuah keahlian rumit terkait ‘bahasa’.

Anak pintar atau anak cerdas, seringkali membuat orangtua bangga.

Sebab anak jenis ini senang sekali dengan pengakuan dan prestasi. Apakah ini buruk? Tidak juga. Anak-anak harus belajar berkompetisi agar ia tahu apa yang dinamakan perjuangan dalam hidup. Tempo hari, ketika di rumah kedatangan tamu dari China bernama Wendy dan Fan, saya menanyakan apa konsep pendidikan dari orangtua kepada anak.

Wendy, Fan, Sinta
Fan, Wendy, bersama Sinta dan PELITA

Wendy berujar bahwa orangtua biasanya mengatakan hal demikian kepada anaknya : kalau kamu nggak mau kerja keras, ada orang-orang di luar sana akan bekerja lebih keras dan meraih apa yang tidka bisa kamu capai.

Tentang kompetisi dan prestasi ini, baiklah, kita bahas di waktu lain apa pentingnya.

Tetapi, samakah anak cerdas-pintar dengan anak kreatif?

 

Ciri Anak Kreatif

Seringkali, orangtua angkat tangan ketika memiliki anak kreatif.

Rasanya males banget dah punya anak kreatif! Capeee.

Sebab anak kreatif berbeda dengan anak pintar dan cerdas lainnya. Boleh jadi, anak kreatif ini termasuk cerdas. Tapi tidak semua anak cerdas itu kreatif. Walau, jangan samaratakan anak kreatif dengan anak cerdas ya. Anak kreatif dengan IQ biasa-biasa saja ada. Sebab kreatifitas itu bisa diasah, ditumbuhkan, dibina dari lingkungan. Utamanya orangtua.

Anak Cerdas

  1. Mengingat jawaban
  2. Tertarik dengan ilmu
  3. Penuh perhatian pada tugas
  4. Kerja keras untuk berprestasi
  5. Merespon sesuatu dengan perhatian dan pendapat
  6. Belajar dengan mudah
  7. Butuh hingga 6-8 kali untuk menguasai sesuatu
  8. Memahami secara komprehensif

Anak kreatif

  1. Melihat perkecualian
  2. Terpukau dengan ilmu
  3. Mengantuk, mengabaikan tugas
  4. Bermain-main dengan ide dan konsep
  5. Berbagi opini yang aneh ajaib, bahkan penuh konflik
  6. Bertanya : bagaimana jika
  7. Pertanyaan : mengapa harus menguasai materi
  8. Kebanjiran ide, seringkali tidak dikembangkan

Pizza inayah.JPG
Pizza buatan anakku

Ada perbedaan mencolok antara anak pintar dan anak kreatif.

Anak pintar ingin menguasai segala. Ingin berprestasi. Tapi cenderung melahap apa saja yang diajarkan orang. Kalau di film India 3 Idiots, sosok cerdas diwakili Chatur Ramalingam sementara sosok kreatif adalah Rancho. Ibaratnya, anak cerdas diajari matematika, nyantol. Diajari fisika kimia, hayuk. Diajari biologi, bisa. Diajari geografi, sejarah, ekonomi ; oke.

Anak kreatif?

“Kok harus belajar ini?”

“Kalau aku mbolos emang kenapa?”

“Misal nih…misal aku nyontek dan nggak ketahuan, sebenarnya kenapa sih?”

“Aku mau jadi ilmuwan. Pengusaha. Pemimpin. Pencetak uang. Penari dan olahragawan. Komikus. Penulis. Fotografer.”

“Aku pingin jadi da’i dan ustadz. Tapi yang pintar main band sembari main music rock. Boleh gak?”

Gambar Ayyasy
Salah satu gambar anakku

Anak kreatif itu ajiiiiib bener.

Guru dan orangtua harus punya waktu untuk meladeni pertanyaan alien nya yang kadang-kadang buat gondok. Ia akan merespon why dibanding yes. Akan merepon what if dibanding okay.

Ciri khas dari anak kreatif adalah : mereka overflows with ideas alias kebanjiran ide namun sering tidak cukup waktu, tenaga (plus perhatian) untuk merealisasikan. Ini kekurangan anak kreatif yang harus diantisipasi sejak awal.

 

‘Meredam’ Anak Kreatif

Sekedar sharing.

Saya punya anak kreatif.

Ide-idenya busyet banget dah. Kreasinya keren habis. Anak kreatif model ini digandrungi teman-teman, kakak kelas, adik kelas. Dia favorit teman-temannya. Adik-adik kelas yang suka sama hasil karyanya, banyak deh. Namun, dia musuh guru-gurunya dan orangtua yang cerewet seperti saya. Hehehe…

Sebab, anak ini akan berpikir sesuai gaya berpikir dia.

“Kok aku nggak boleh bolos dari pelajaran itu? Aku bosan banget sama gurunya.”

“Kenapa aku harus mendengarkan pelajaran dari seorang guru yang gak pintar menerangkan?”

“Kenapa aku harus repot-repot belajar, sementara aku mau berkreasi?”

Anak macam ini, ketika telah mampu berpikir logis maka harus dibantu untuk membangun peta kognitif yang sehat agar pemahamannya tentang kehidupan sejalan dengan realitas.

‘Meredam’ kreatifitasnya bukan berarti mematikan daya kreasinya. Namun agar ia dapat lebih fokus mewujudkan apa yang diimpikan.

Anak kreatifku, ingin sekali menjadi pengusaha kelas kakap yang berpenghasilan ratusan juta dan mempekerjakan ribuan orang. Ketika kutanya mau jadi pengusaha apa, dia masih berpikir.

“Pengusaha hewan,” cetusnya.

“Baik,” kataku.

Nyatanya burung hantu, kucing, kelinci, ikan-ikan yang akan jadi proyek jualannya mati.

Ganti haluan.

“Mau buat patung dan kerajinan kertas,” katanya lagi.

Ia rendam kertas-kertas koran, jadi patung unik dan tertumpuklah di ruang tengah hingga teras berember-ember serbuk koran yang akhirnya mengeras seperti batu.

Di akhir masa SMA, aku bertanya.

“Kamu mau masuk kuliah mana, Mas?”

Ia menyebutkan kampus favorit teknik.

“Itu harus kuat matematika,” kataku.

“Lho, jurusanku gambar? Kenapa harus matematika?”

“Itu prasyaratnya.”

“Kok gitu? Aku malas belajar matematika!”

Butuh berulan-bulan bagiku meluruskan kognitifnya : malas dan tidak bisa itu beda. Tidak bia berarti dari sononya tidak memiliki kekuatan berpikir di bidang matematika. Malas, adalah punya kemampuan tapi enggan.

Bulan-bulan terakhir menjelang SBMPTN, ia masih berkutat pada pendapatnya : tidak-mau-belajar- matematika.

Aku yakin ia bisa, sebab kemampuan IQnya telah terdeskripsi. Namun ciri kreatifnya yang overflows with ideas dan what if-what if-what if benar-benar membuatku pusing tujuh keliling. Pada akhirnya, aku mendorongnya untuk ikut try out sana sini sembari bertanya pada kakak pengajarnya di bimbingan belajar. Barulah ia sadar sesadar-sadarnya : dibutuhkan kemampuan dasar matematika tingkat tertentu untuk masuk ke fakultas teknik universitas favoritnya.

3 bulan.

3 bulan tersisa menjelang SBMPTN.

Ia nyaris putus asa tapi masih dengan gaya what if nya : ah, kan banyak anak yang mendapatkan keajaiban? Kakak kelasku ada kok yang diterima meski gak pintar-pintar amat.

 

Kreativitas VS Realitas

Tak ada cara lain selain membenturkannya dengan realitas.

Kubeberkan bahwa kampusnya adalah universitas favorit terkemuka di Indonesia, saingannya banyak. Waktu 3 bulan tidaklah cukup untuk mengejar matematika yang diremehkannya.

“Jadi Ummi mendoakan aku nggak lulus, begitu?!”

Ia mulai menebar conflicting opinions, ciri  lain anak kreatif.

Aku mengajaknya duduk dan diskusi .

Hampir setiap hari.

Nyaris  @1 jam kuhabiskan untuk diskusi dengannya, di dalam kamar berdua.

“3 bulan itu kamu bisa menguasai matematika Nak, kalau kamu belajar 5 jam sehari. Malam pun demikian. 3 bulan bukan waktu yang mustahil buat Allah. Maka malam hari selain kamu harus belajar matematika kamu harus sholat malam. Kalau bisa 11 rakaat. Bukan cuma 2 + 3 saja.”

Ia akhirnya menurut.

Tapi ada realitas lain yang harus aku sadarkan.

“Mas, kamu baru berusaha mati-matian 3 bulan terakhir ini. Andaikan kamu gak diterima, kamu mau masuk universitas mana saja dengan fakultas yang lain; atau kamu mau tetap disitu tapi ngulang?”

“Masa’ aku nggak diterima? Aku sudah rajin sholat malam lho…”

Conflicting opinionnya masih belum sembuh!

“Gak ada yang mustahil bagi Allah.  Tapi banyak orang pintar tertunda keberuntungannya. Kamu mungkin salah satunya. 1 tahun kamu bisa pakai buat les bahasa atau kursus yang lain yang kamu suka,” hiburku. Mulai menekankan bahwa ia mungkin saja gagal tahun ini.

Pffuhhhh.

Alhamdulillah, ketika pada akhirnya  tahun itu ia diterima di fakultas favorit universitas favorit yang diimpikannya, tanpa mengulang.

Tapi begitulah perjuangan orangtua menghadapi anak kreatif yang sering kali membayangkan dunia adalah hasil kreasinya sendiri. Prasyarat, syarat, ketentuan, peraturan…gak penting sama sekali!

Bagiku, sayang sekali bila kreativitas anak kita tidak difokuskan pada  hal-hal tertentu. Dan kadang, dibutuhkan energi ekstra untuk mamahamkan anak kreatif, di titik tertentu, bila mereka ingin mewujudkan kreasinya maka mereka harus belajar berhadapan dengan realitas. Sebab mewujudkan kreasi butuh perjuangan besar. Bukan hanya sekedar angan-angan dan ide-ide canggih namun tak bisa dikembangkan.

Rangkuman penting:

Bantu anak kreatif membangun peta kognitif yang realistis plus fasilitasi kreasinya sebelum membenturkannya dengan kondisi di lapangan.

 

Kategori
Jurnal Harian mother's corner My family Oase WRITING. SHARING.

Hari –hari Pertama Berpisah dari Anak : masuk sekolah, mondok di pesantren, berpisah kota karena kuliah

 

Awal si sulung kuliah di kota lain, rasanyaaaa!

Anak cewek, belum terlalu mandiri, punya sakit maag. Melihat kos-kosannya yang minim fasilitas, mau nangis aja rasanya. Saya dulu pernah kos di Jakarta, pergi sendiri bareng teman-teman. Mengalami pahit getir jauh dari orangtua. Pernah nangis juga karena sakit, nggak punya uang, berentem sama teman…hehehe, romansa anak kos-lah. Tapi ketika yang mengalami anak sendiri, kok beda rasanya.

Kos anakku lumayan murah. Aksesnya juga mudah.

Tapi belum ada kasur (ya iyalah). Kulkas, kompor gas, mesin cuci, dispenser; gak tersedia. Aku bayangkan anakku sakit maag yang butuh minuman hangat; pasti sulit sekali buat dia untuk sekedar buat teh panas. Dia cewek tangguh, tapi sekalinya sakit karena datang bulan atau demam flu, bisa buat kelabakan ayah ibunya.

Yah, gimana lagi?

Dia pingin sekali kuliah di bidang sosial. Waktu mau masuk Geografi, ayahnya bilang : Jangan! Musliimah gak cocok disana. Kerja lapangannya di gua-gua berair. Gimana nanti pakai jilbab dan menelusuri daerah seperti itu? Bla-bla-bla. Okelah. Aku manut. Kukatakan pada putriku, jangan masuk kuliah yang kerja lapangannya dan kerja betulannya kelak; berbahaya bagi fisiknya. Maka ia memilih psikologi dan diterima di UGM. Alhamdulillah…kami bersyukur sebab ia diterima di fakultas yang diinginkannya.

Ayah yang belum bisa melepas anak lelakinya foto 1, foto 2

Maunya, Full Fasilitas!

Si bungsu Nis, saat kecil ruarrrr biasa lincah.

Hoby nyanyi, gambar, naik-naik pohon. Pindah ke Surabaya, mengalami gegar budaya dan gegar sekolah. Mau sih masuk sekolah, tapi sakarepe dhewe. Awal aku meninggalkan dia sekolah di TK, rasanya sedih dan gimanaaa gitu. Dia dibiarkan main sendiri di luar, main pasir sendiri dan naik-naik apapun yang dia suka. Sementara teman-temannya main di sentra keilmuan dan berbaris rapi. Sempat berpikir, mengapa bu guru nggak peduli sama Nis?

Tapi setelah kukonsultasikan, Nis memang sengaja dibiarkan pagi hari menghabiskan energi di luar agar ketika masuk kelas sudah dengan kapastias energi yang tidak overloaded lagi. Ah, si kecil yang masih kutimang-timang, kugendong, kuciumi; sekarang sudah harus masuk sekolah dan menghadapi guru-guru serta teman-teman yang mungkin sebagian menjadi sahabatnya. Sebagian menjadi rivalnya. Sebagian menjadi musuhnya.

Hari-hari pertama anakku sekolah di sekolah negeri….rasanyaaaa!

Aku khwatir ia terjebak narkoba, pornografi, pergaulan bebas, tawuran, bolos, keluyurankemana-mana. Maklum, bertahuan-tahun sekolah Islam yang lumayan ketat pengawasannya dengan kurikulum agama terpadu sejak pagi hingga pulang . Nanti gimana kalau tiba-tiba aku diberi laporan yang tidak-tidak terkait anakku? Bagaimana bila ia nggak bisa menolak ajakan buruk temannya? Bagaimana kalau ia difitnah, diperangkap , dikucilkan dan lain-lain?

Ahya.

Inilah realita dunia yang cepat atau lambat harus dihadapi anak-anak.

Dunia bukan hanya lapangan seluas rumah kita, dengan perlindungan dan kasih sayang di setiap ujungnya. Ada penghangat, ada pendingin, ada tempat bertelekan empuk dan segala fasilitas yang mudah diminta. Mereka harus tahu bahwa dunia sesekali keras, kejam, diluar batas, dan mengejutkan.

ibu dan putrinya.jpg
Sedih & bahagia!

Si sulung mulai terbiasa minim fasilitas, mengatur keuangan dan mengatur pola kehidupannya. Sekali ia pernah  masuk rumah sakit karena demam berdarah dan harus mondok di RS PKU di daerah Gamping Sleman. Ia juga bilang kadang-kadang kalau uang menipis, harus berhemat uang.

“Untung Yogya murah-murah, Mi. Nyari warung yang makannya 4000 rupiah masih ada. Nyari laundry yang baru sebulan kemudian diambil dan dibayar, ada. Nyari burjo, yang jual kacang ijo dan mie rebus dengan harga murah, ada. Sampai nyari fotokopi dan internet buat ngeprint murah meriah ada.”

Termasuk nyari wifi ngratis. Dimana mahasiswa cuma beli es teh tapi ngendon jam-jaman buat download jurnal serta you tube-an. Hahahah.

Anakku yang sekolah di negeri juga mulai terbiasa. Ada banyak kisah mengharukan, menggemaskan, dan membuat rasa campur aduk.

Ghasab salah satunya.

“Ummi kan tahu,” kenang si sulung. “Waktu di sekolah dulu, kita diajarkan untuk izin pada orang lain kalau mau pinjam barang. Kalau nggak ghasab namanya. Nah, aku pernah bilang ke guru kalau pensil sama penggarisku hilang, seringkali diambil teman tanpa izin. Ketika kau lapor malah ditegur – kamu kok pelit banget?”

Hah?

Ketika anak kita belajar di sekolah  Islam, iman dan akhlaq menjadi tolok ukur utama : sholat, meminta izin, hormat pada guru, tidak mengambil barang orang lain. Di sekolah negeri yang basis keIslamannya tak terlalu kuat; hal-hal tersebut seringkali diabaikan.

Pernah, anakku mengingatkan temannya untuk sholat Jumat karena di sekolah Islam, saling mengiangatkan adalah hal biasa. Juga teman-teman bersikap positif ketika diingatkan. Maklum, sudah menjadi kebiasaan sekolah Islam untuk watawa shoubil haq, watawa shoubis shabr.

“Cerewet kamu! Banyak bacot!”

Tapi itu yang diterima anakku, dari teman-temannya.

Melihat itu, anak-anakku mulai belajar. Bahwa berada di likungkungan Islami dan sekolah negeri, ada gaya pendekatan berbeda ketika menyampaikan pesan.

 

1001 strategi orangtua

Berpisah dari orangtua pasti banyak pengalaman baru.  Banyak masalah unik yang muncul, yang tadinya tidak terpikirkan. Orangtua pasti harus berpikir keras untuk menyelesaikan masalah yang ada, tanpa menimbulkan masalah baru.

 

sick girl
Rawat inap di RS

  1. Kesehatan. Masing-masing anak kita punya identitas kesehatan berbeda. Ketika si sulung yang punya maag berpisah dari kami, aku belikan termos kecil yang bisa dibawanya kemana-mana dan dapat diisi air panas. Sewaktu-waktu maagnya kumat, ia bisa meneguk air hangat. Awal –awal kuliah; aku mengirimkan makanan kering sebagai stok seperti susu, milo, coklat, energen dan sejenisnya termasuk kue-kue kecil. Ketika ia sudah mulai mengenal lingkungan sekitar; ia bisa menyiapkan makanan sendiri.

 

  1. Relasi dengan orang di sekeliling anak. Guru-guru, teman-teman sekolah, orangtua teman, teman satu kos; haruslah dikenali orangtua. Walaupun tidak dapat menjalin relasi akrab dengan semua pihak; setidaknya jalin hubungan dekat dengan beberapa orang. Aku punya nomer kontak guru sekolah dan teman kos anakku.

Kadang ketika tidak bisa dihubungi aku bertanya :

“Ustadzah, anak saya dimana ya?”

“Mbak Shalihah, si sulung kok nggak bisa dihubungi dari kemarin ya?”

Dengan punya kontak mereka, kita dapat segera mengevaluasi bila sewaktu-waktu terjadi hal-hal diluar kendali. Sakit misalnya.

 

  1. Selain telepon seluler, telepon rumah, media sosial dapat menjadi sarana komunikasi. Instagram, line, whatsapp, facebook dapat menjadi sarana orangtua melacak jejak anaknya.

Aku pernah curiga dengan anak cowokku : kemana dia? Benarkah dia kuliah?

Maka aku cek instagramnya dan alhamdulillah…ia tengah mengerjakan tugas bersama teman-temannya. Sedang cek lokasi lapangan.

teens-are-hiding-their-real-lives-from-nosey-parents-with-fake-instagram-accounts.jpg
Memantau anak  di IG, FB

Saling berteman dengan anak kita di facebook, line dan instagram bisa jadi sarana positif dan negatif. Hahaha

Anakkua pernah ngeshare sebuah meme :

“Akhir dunia! Ibuku punya instagram!”

Aku tertawa, “jadi kamu ngerasa Ummi mata-matai ya lewat instagram?”

Anakku cuma meringis. Mungkin ia merasa dimata-matai tapi bukan itu saja perilaku yang kutunjukkan sebagai ibu yang memang melakukan pengawasan pada anak. Anakku suka menggambar, memposting gambar, membuat grafis berdasar wajah teman-temannya.

“Wah, pas ultah temanmu kamu buat grafis gambarnya sebagia hadiah ultang tahun ya? Ummi dibuatkan yang kayak gitu, dong.”

Media sosial bisa menjadi sarana kedekatan kita dengan anak-anak.

 

  1. Teman satu kos. Kakak tingkat, teman satu angkatan, teman satu daerah adalah orang-orang penting di sekeliling anak kita. Sebagai orangtua , menyimpan nomer HP mereka sangat penting untuk sarana berdiskusi berbagai masalah yang mungkin timbul. Tidak mustahil, anak kita yang masih dalam proses adaptasi dengan lingkungan sekitar justru menjadi trouble maker atau pemicu masalah. Dengan mendekati pihak-pihak yang dekat dengan anak-anak dan menjelaskan duduk persoalan; orangtua dapat membantu . Tentu bukan mengambil alih tanggung jawab ya.

Misal, si sulung suka sekali berkunjung ke rumah neneknya yang juga ada di Yogya. Kalau lagi betah di rumah neneknya, ia bisa berhari-hari disana dan tidak kembali ke tempat kos. Tentu teman-temannya panik. Apalagi si sulung ini orang yang malas mengontak terlebih dahulu. Maka, aku jelaskan pada kakak pengampu kos bahwa ia ada di rumah neneknya dan pintu rumah kontrakan bisa dikunci ketika jam malam tiba.

Sembari tentu mengingatkan si sulung : “kamu itu mbok ya jangan malas mengontak orang. Ingat, keselamatan kita bisa tertolong karena dikenali orang. Pernah kan Ummi cerita, ada anak kecelakaan dan kebetulan tetangga kita lewat? Langung aja tetangga kita mengenali dan membawanya ke rumah sakit. Kalau bukan tetangga kita yang mengenalinya mungkin sudah fatal akibatnya karena orang sekarang biasanya gak berani ambil resiko; malah takut jadi tertuduh. Dengan kamu ngasih tahu orang-orang terdekat; kalau ada apa-apa (naudzubillah…bukan berharap hal buruk) misal kecopetan atau diserempet orang; teman-teman terdekat bisa tahu”.

Perhatikan latar belakang budaya dan keluarga dari teman satu kos anak kita.

Mungkin, anak kita akan berbenturan dengan satu dua orang; dengan penjelasan yang masuk akal insyaallah anak akan mencoba berbesar hati dan mengalah ketika terjadi friksi.

  1. Rumahsakit, BPJS, asuransi kesehatan. Ini pengalaman genting yang kubagikan agar orangtua segera tanggap ketika anak mereka sakit.

Aku dikabari oleh kakak kelas si sulung , teman satu kosnya : “Ummi, Arina demam tinggi”. Awalnya kupikir flu biasa tapi setelah diberi parasetamol dan nggak sembuh-sembuh, aku mulai curiga. Langsung kubeli tiket kereata dan berangkat ke Yogya. Disana, anakku sudah terkapar lemas sekali. Aku periksakan darahnya, aku periksakan ke dokter sepsialis; beberapa dokter sepsialis bilang gak ada yang membahayakan. Paling hanya infeksi. Tapi antibiotik dan obat penurun panas sudah gak mempan. Demam anakku tinggi sekali, ditambah ia sangat lemas dan tak doyan makan apapun. Sesaat sebelum kubawa ke Surabaya untuk penangan intensif, sekali lagi aku cek laborat. Hasilnya : positif DB dan haurs segera rawat inap

Saat itu bulan Ramadhan dan sekalipun aku orang Yogya, aku sudah lama tidak tinggal di Yogya. Aku tanya kesana kemari tentang rumah sakit Islam, gak dapat-dapat. Akhirnya aku dapat di RS PKU gamping. Karena trombosit anakku saat itu masih di atas 100, maka anakku gak boleh pakai BPJS. Akhirnya, ia rawat inap lewat jalur umum.

Aku salut ketika di rumah sakit di Yogya, banyak bertemu anak-anak muda yang tengah mengantarkan temannya untuk rawat jalan atau rawat inap, berbekal  BPJS. Anak-anak mahasiswa perantauan, ternyata saling bahu membahu ketika teman mereka sakit. Mereka antarkan ke rumah sakit, asalkan ada BPJS atau asuransi sehingga si teman pun tak kelabakan ketika ditanya pihak rumah sakit.

 

 

 

Kategori
Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Renungan Hidup dan Kematian WRITING. SHARING.

Peta Psikologis dalam Kasus Bunuh Diri   Chester Bennington (Linkin Park) & Kurt Cobain (Nirvana)

 

 

 

Aku bukan penyuka musik rock tapi nama band itu terlalu famous untuk diabaikan. Anak-anak muda menggandrunginya. Terutama setelah albun mereka Hybrid Theory dan Meteora terjual fantastis. Pagi hari tadi, seorang teman mengabarkan kematian Chester Bennington. Aku hanya bertanya dalam hati, apa gerangan yang menyebabkan para artis papan atas memilih  mengakhiri hidup ketika pilihan-pilihan kesuksesan masih terbentang di hadapan. Membaca berbagai media, salahs atu hal paling menyedihkan dalam hidup Bennington adalah ketika sahabatnya Chris Cornell melakukan upaya bunuh diri beberapa waktu sebelumnya. Surat Bennington untuk Cornell  mengungkapkan rasa dukanya.

logotherapy-2-300x300.jpg
Logotherapy

Ada orang-orang yang begitu dekat dengan kematian, menderita setengah mati seperti Victor Frankl di kamp penyiksaan. Hari demi hari yang demikian berat di kamp, semakin membuatnya menyadari betapa pentingnya hidup, bukan keharusan mati. Frankl menemukan psikoterapi yang terkenal : Logoterapi. Ini logoterapi adalah, ketika manusia depresi berat dan ingin mati; ia diajak untuk kembali menghayati perannya di dunia. Ya, memang. Mudah diucapkan tetapi sangat berat. Orang-orang seperti Victor Frankl ini banyak sekali. Saudara-saudara kita di Palestina dan Suriah sudah menjalaninya. Mereka hidup dalam kesulitan yang luarbiasa, tapi tetap menjalaninya dengan tabah.

Sebaliknya, ada orang-orang yang hidupnya nyaman namun tak punya keinginan hidup. Tanpa dinafikkan, dibalik hari ini mereka punya sejarah kelam kehidupan : bullying, sexual abuse, perceraian orangtua seperti yang dialami Kurt Cobain dan Chester Bennington.

chester bennington linkin park.jpg
Chester Bennington

Otak dan Bunuh Diri

Bunuh diri sesungguhnya pilihan yang dilakukan antara sadar dan tak sadar. Sadar, karena perilaku manusia untuk sampai menggerakkan ekstrimitas atas dan bawah butuh pengendalian otak sadar. Kecuali bila refleks, itu baru gerakan tak sadar.

Bicara masalah otak, para pakar mengatakan bongkahan kelabu ini masih merupakan hantu hingga kini. Emosi, persepsi, motivasi, kesadaran yang membuat manusia tiba-tiba secara ajaib memutuskan sesuatu; benar-benar tak dapat diduga. Hanya dapat diprediksi. Meski demikian, ada beberapa hal yang harus kita cermati bersama.

Maka penyebab bunuh diri ada beragam : patah hati, dililit hutang, sakit berkepanjangan, ditolak kerja, tak diterima sekolah, tak punya gawai dan seterusnya.

Pertanyaannya : bagaimana bisa bunuh diri? Tidakkah orang sudah ngeri melihat senjata tajam, sianida, tali gantungan atau tempat ketinggian?

Dalam bukunya Born to Believe : Gen Iman dalam Otak; Andrew Newberg dan Mark Waldman menjelaskan sistem kerja otak yang menyerupai skema peta. Secara singkat Sigmund Freud menyebutnya alam sadar dan tidak sadar. Manusia lebih sering dipengaruhi alam tak sadar. Newberg dan Waldman mengatakan; peta yang dibentuk otak inilah yang nanti akan membuat manusia melakukan sesuatu. Saat-saat kritis, genting, atau butuh tanggapan cepat; sistem limbik bekerja. Sistem limbik ini terdiri dari amygdala, hippocampus dan thalamus.

Bingung?

Begini. Kita pernah berangkat dari rumah ke tempat kerja, bolak balik tiap hari. Pertama kali berangkat, pasti menghafal Jalan. Tiap pagi saya antar anak sekolah. Ruter dari rumah-sekolah awalnya harus diwaspadai dicermati : oleh lewat jalan ini, belok kiri ada jalan kembar, habis ini pom bensin, disitu ada sekolah SD, ada tiga kali lampu merah, disini putar balik dan seterusnya. Sekali, dua kali, tiga kali; kita betul-betul bekerja di alam kesadaran. Hari ke-20, ke-30, ke- 70 saya antar anak sekolah : lho…tahu-tahu kok sudah sampai sini? Kadang-kadang otomatis gitu aja menjalankan motor. Anda juga begitu kan kalau berangkat ke kantor, ke skolah, atau ngajar di kampus? Asal jangan sampai ke shopping mall sampai jadi alam bawah sadar hehehe.

Otak yang awalnya bekerja dalam kesadaran; dalam banyak situasi akhirnya bekerja tak sadar.

Para motivator bilang : ayo buat 200 cita-cita, tempelkan, nanti alam akan bekerja membentuk jalan ke arah impian anda!

Setiap hari kita bilang : aku benci diriku, benci hidupku, aku gagal, aku nggak punya siapa-siapa, aku stress, lebih baik mati aja kalau begini. Ini adalah peta otak yang memandu hidup kita! Maka suatu saat terjadi situasi impulsive : kematian seseorang, kehilangan sesuatu, gagal pencapaian maka alam bawah sadar langsung bekerja. Naudzubillahi mindzalik.

 

Positive Thinking and Positive Activation

Positive thinking iya.

Tapi aktvitasnya gak positive.

Merokok, terus mengatakan ke tubuh kita : aku pasti sehat, aku pasti kuat, aku pasti hidup 1000 tahun lagi. Itu juga tak dibenarkan. Otak bisa dimanipulasi tapi tak selamanya. Di alam bawah sadar bisa dimanipulasi, tapi kalaus udah sadar; realita akan berjalan.

Attitude.jpg
Positive thinking

Aku ingin sukses. Aku harus berhasil. Aku akan jadi milyarder muda. Ini pemikiran positif tetapi yang dilalui hari demi hari adalah menghabiskan waktu di depan internet dan gawai. Tak pernah baca buku-buku tokoh sukses dunia yang harus mengalami pahit getir kehidupan. Hayati kisah para Nabi yang selalu memulai segala sesuatau dengan perjuangan. Bacalah buku-buku tentang Erdogan dan Buya Hamka. Pelajari kehidupan Gandhi dan Steve Jobs.

Aktivitas positif salah satunya dengan beragama.

Agama ini memang obat yang luarbiasa bagi segala nestapa dan keruwetan dunia. Agama adalah pilar keyakinan yang tiada duanya. Agama telah membuat sekelompok orang mampu menaklukan golongan yang lain. Eisenhowe ketika memimpin Sekutu untuk menaklukan Hitler di medan perang Eropa; mengawali dengan berdoa dan sembahyan sesuai keyakinannya. Doanya dicetak dan disebarluaskan ke kalangan prajurit dan terbukti menaikkan semangat juang.

Ketika medan perang dunia II begitu genting dan beebrapa negarawan besar berkumpul; Stalin bertanya pada Churcill : “ seberapa besar kekuatan tentara Paus di Roma hingga ia dimasukkan dalam pertemuan? “

Pertanyaan Stalin sampai di telinga Paus dan beliau menjawab , “sampaikan kepada anakku Stalin bahwa tentaraku di langit terlalu banyak. Mereka yang akan menentukan peperangan ini.”

Masalah-masalah besar dunia pada akhirnya membuat orang tersadar bahwa agama, merupakan kekuatan yang menyebabkan manusia mampu melesat menjadi individu yang luarbiasa. Demikian pula sebaliknya; bila menjauhi agama, maka kekuatan hidup melemah.

Aktivitas positif disini dapat disimpulkan :

  1. Memliki keyakinan dan keimanan
  2. Memulai hari dengan doa dan ibadah
  3. Punya tujuan hidup
  4. Menetapkan target ideal dan real. Misal ingin kaya dengan penghasilan seperti Lionel Messi, namun juga belajar keras bagaimana mewujudkannya. Lihat cara Messi berlatih dan seterusnya. Bila memang tidak punya kemampuan sepakbola berarti beralih pada kemampuan yang dimiliki
  5. Mencoba membangun relasi nyata, bukan hanya dengan dunia maya
  6. Jujur bila timbul masalah dan segera mencari pertolongan dari pihak ahli. Bila terlilit hutang segera hubungi financial planner, bila tak paham agama segera cari Ustadz/ Ustadzah; bila stress depresi segera cari psikolog atau psikiater.

 

Kasus yang melegenda adalah Kurt Cobain.

Ia memiliki masa lalu seperti Chester Bennington, kedua orangtuanya bercerai ketika mereka masih kecil. Baik Bennington dan Cobain mengaku kehidupan mereka berantakan pasca perceraian orangtua. Kurt Cobain menikah dengan Courtney Love, mereka penggemar heroin dan mariyuana bahkan ketika Love hamil. Pihak kesehatan dan sosial sempat menjerat keduanya dengan pasal hukum ketika mengetahui sebagai orangtua malah menggunakan obat terlarang.

Celakanya, setiap kali Cobain teler dan hilang kesadaran, Love justru menyuntikkan sesuatu untuk membuatnya tersadar kemudian.

Cobain yang pernah memiliki orangtua gagal, menjadi demikian takut menghadapi pernikahan yang awalnya membahagiakan, apalagi ketika memiliki anak Frances. Teman, relasi, pihak manajemen telah menghadirkan terapis namun seringkali baik Cobain dan Love melarikan diri serta menolak.

Saya pribadi seorang psikolog.

Tapi bukan orang yang sakti dari permasalahan. Bila anak-anak bermasalah di sekolah; maka saya berdiskusi dengan guru-guru kelas. Saya berguru pada para Ustadz dan Ustadzah yang telah berhasil mendidik anak-anak mereka. Saya belajar dari para penghafal Quran dan pakar fiqih bila menemukan kebingungan dalam perkara-perkara pendidikan anak yang mungkin berbeda dari sudut pandang agama.

Kita harus belajar dan jujur akan kemampuan diri. Tetaplah optimis dan terus membuat peta positif dari otak kita agar tubuh dan semesta mendorong kita untuk secara otomatis melakukan hal-hal yang baik.

Kategori
mother's corner My family Oase Remaja. Teenager

“Memaksa” Anak untuk Bersama

“Nanti bungkusin aja, Mi. Aku nggak ikut.”

Anakku menolak untuk bergabung akhir pekan, ketika kami ajak makan diluar. Alasannya masuk akal.

“Aku capek! Mau tidur aja. Lagian aku sudah sering keliling-keliling ke arah sana. ”

Wajar sih. Waktu kecil, anak akan menguntit kemana saja ayah ibunya pergi. Tapi setelah remaja, mereka punya kelompok sendiri. Punya agenda sendiri. Meski, mereka juga mengaku senang dan bahagia bila bisa berkumpul bersama.

Tapi, aku merasa waktu berkumpul harus tetap diselenggarakan. Entah mereka pada awalnya tidak setuju, menggerutu, mengomel, atau menolak dengan 1001 alasan. Berkumpul di rumah oke-oke saja; namun berjalan bersama-sama menikmati suasana di luar rumah; akan memiliki rasa berbeda. Lagipula, banyak yang harus dipelajari bersama anak-anak sepanjang menikmati kepadatan lalulintas, mengamati ragam tingkah polah manusia termasuk mengambil beragam hikmah yang harus disaksikan dengan mata kepala sendiri.

Maka si suatu akhir pekan, kami memutuskan makan di luar, walau ada yang wajahnya menggerutu karena tak ingin ikut.

 

Ayo, jauhi gadgetmu!

Kami makan bersama di sate Pak Seger pagi itu. Berhubung butuh waktu untuk membakar sate, yang tersaji lebih dahulu adalah minuman. Dan, tentu, fitur-fitur telepon pintar. Meski telah diingatkan kesepakatan untuk tidak membuka smartphone saat bersama seperti ini, tetap saja ada yang membandel. Aku memberi isyarat pada suami untuk tidak membuka HP nya, sebagaimana akupun menyimpan dan mengabaikan sekian banyak pesan untuk berkonsentrasi pada keluargaku.

2 anak cowokku tenggelam dalam ponselnya.

Anak-anak cewekku lebih fleksibel, mengikuti obrolan kami. Melihat 2 anak cowokku tenggelam di gadgetnya, aku mulai ambil tindakan. Tidak mungkin bilang : ayo, Ummi tadi bilang apa! Masukkan teleponmu ke saku! Dengarkan kalau orangtua bicara. Percuma saja kita pergi jauh-jauh dari rumah kalau semua tenggelam di chat line atau whatsapp!

Kucolek si Mas besar, Ayyasy namanya.

“Eh, kamu ingat nggak pernah ngeshare ke Ummi line today?”

maxresdefault
Pranks yang kadang lucu, kadang kebangetan

Si abang ini suka banget nge share life hacks, video prank, video motivasi sampai berita-berita aktual yang fenomenal atauapun hoax sekalipun.

Ayyas beralih dari ponsel, ganti menatapku.

“Kamu ngeshare ke Ummi berita line today, trus di bawahnya suka ada berita-berita menarik yang lain. Nah ada berita menarik tentang 5 dinosaurus yang masih hidup sampai sekarang. Mokele Mbembe, Mahamba, Megalodon…sebagian ditemukan di Kongo.”

Mokele Mbembe
Mokele Mbembe

Si Mas mulai tertarik dengan pembicaraanku. Dia masih berkutat dengan HPnya tapi mulai mencari apa yang kubicarakan.

“Kayak apa sih Mokele Mbembe itu sebenarnya?” aku ingin tahu.

“Nanti, ya, sebentar,” si Mas masih berkutat dengan info-infonya di HP.

Mas yang lebih kecil, mas kedua, Ahmad namanya. Juga tenggelam di HP.

“Kamu lihat apa?” tanyaku.

“Sebentar Mi, aku lagi lihat robot-robot.”

Aku tahu, Ahmad begitu suka dengan dunia elektronik, otomotif, robot dan sejenisnya. Ia suka browsing tentang dunia tersebut. Namun bagaimanapun, ini acara keluarga. Ia harus terlibat dalam pembicaraan kami. Aku beralih dari pembicaraan mengenai Mokele Mbembe, berdiskusi dengan suamiku dan anak-anak perempuanku tentang kucing. Ahmad dan anak-anakku yang lain suka kucing. Kebetulan beberapa hari lalu kami habis melihat youtube tentang hewan cantik yang hampir punah.

“Eh, kita kan habis lihat clouded leopard, ya Mas? Asyiknya kalau kita bisa melihara hewan kayak gitu yaaa!”

Segera saja pembicaraan di tengah keluarga kami beralih pada kucing. Kucing merah Kalimantan, kucing bakau, blacan, clouded leopard, kucing kampung, dan sembarang jenis kucing. Anak-anak masih melihat satu dua kali pada ponsel mereka tapi mencari tahu tentang apa yang kami bicarakan.

Blacan, clouded leopard, kucing bakau

Aku bersyukur, nahkoda pembicaraan di meja makan hari itu akhirnya ada di tanganku!

Semua terlibat aktif dalam pembicaraan, bercanda, mengemukaan pendapat.

Alhamdulillah, kami dapat menikmati kebersamaan.

Padahal pagi tadi sempat kupikir : biarlah sebagian anak-anak di rumah. Wong mereka memang nggak mau pergi. Nyatanya, mereka kadang-kadang harus dipaksa supaya tetap bersama keluarga. Televisi, gadget, internet, medsos; menjadi hobi anak-anak. Maka sebagai orangtua, kewajiban kita mengajarkan  batasan dan peluang.

 

 

Kategori
Bedah Buku Sinta Yudisia Buku Sinta Yudisia Hikmah Karyaku Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY WRITING. SHARING.

Ibu-ibu yang Membangun Sekolah

 

 

Buku MATA : Mendidik Anak dengan Cinta, Alhamdulillah mendapat sambutan positif dari masyarakat. Setiap kali bedah buku ini, para ibu-ibu yang hadir berkenan membelinya. Mereka pun membeli tak hanya bagi diri sendiri, tapi menyimpan untuk dijual lagi atau diberikan pada teman.

Cover MATAAda hal-hal unik yang kutemukan ketika membedah buku ini.

Baik di Surabaya, atau di Tegal; aku bertemu para ibu yang merasa harus berbuat sesuatu bagi pendidikan anak-anaknya. Mereka bukan orang yang iseng, yang kekurangan uang sehingga cari-cari pemasukan dari SPP sekolah atau justru kelebihan uang hingga mau invest buat sekolah. Bukan!

Mereka justru para ibu yang resah dan tergelitik tentang kondisi sekolah saat ini.

Memang,t ak ada sekolah yang 100% sempurna.

Mau sekolah negeri, internasional, swasta, Islam terpadu, homeschooling, pesantren tradisional, pesantren modern, atau  sekolah di luar negeri sekalipun ; semua memiliki titik kelebihan dan kekurangan sendiri. Salutnya, para ibu-ibu ini berusaha untuk membangun sekolah dengan harapan serta target yang mereka idamkan.

Mereka lalu belajar, belajar, belajar. Tidak semua ibu-ibu yang merancang sekolah ini basic ilmunya adalah pendidikan atau psikologi lho! Malah ada yang pengusaha wedding organizer, pengusaha empek-empek, pengusaha butik , hingga apoteker. Dan ketika mereka semakin luwes membanguns atu sekolah; mereka membangun lagi sekolah yang lain.

Aku?

Hm, insyaallah membuat sekolah masuk dalam daftar impianku.

MATA di Al Musthafa Surabaya dan Yasyis, Tegal

Untuk saat ini, aku lebih ingin membangun sanggar seni. Thesisku tentang Writing Therapy, yang merupakan salah satu cabang dari Art Therapy. Cukup banyak ibu-ibu yang bertanya : ada kelas menulis? Ada kelas menggambar? Ada kelas memasak? Ada kelas music? Ada kelas menari? Dll. Yah, aku belum bisa menyediakan semua seni yang menjadi sarana terapi. Tapi untuk kelas menulis dan menggambar, bisa insyaallah. Aku bisa menulis; anak-anakku jago menggambar dan bisa kuberdayakan untuk membantu kelas tersebut.

Anak-anak istimewa yang kesulitan mengikuti pelajaran akademis normal di sekolah; umumnya butuh komunitas khusus  yang akan membantu mereka mengasah motorik halus, social skill, soft skill.

Para ibu-ibu, sungguh hebat!

Mereka bukan hanya memberikan kontribusi pada ekonomi keluarga dan masyarakat sekitar, membangun peradaban ; tapi selalu punya pemikiran-pemikiran unik untuk menembus kesulitan. Hehehe. Kalau anda seorang ibu seperti saya; pasti merasa demikian. Seroang ibu nyaris tidak mungkin berkata tidak bisa, tidak punya, tidak akan. Kebutuhan keluarga dan anak-anak baik kebutuhan ekonomi dan pendidikan; memacu para ibu untuk harus bisa, harus punya dan selalu akan.

Jempol besar dan banyak untuk para Ibu!

Kategori
My family Nonfiksi Sinta Yudisia Oase Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Bisakah Menciptakan Anak Genius?

 

 

Rasanya sebuah kebetulan yang menakjubkan, ketika Mei ini buku Mendidik Anak dengan Cinta dan National Geographic Indonesia mengangkat tema yang tak akan pernah habis dibahas : IQ dan Kegeniusan.

 

Sebagai seorang psikolog, salah satu hal paling merangsang minat bagi saya adalah tentang perihal genius. Yang bila seseorang berhasil menguasai hal tertentu dengan brilian, ia akan dikatakan gifted. Sampai-sampai saya benar-benar ingin membuat buku khusus tentang bab Genius dan Gifted. Atau istilah radikalnya, ekstrim kanan.

 

Saya penyuka sejarah.

Selalu terpukau oleh gambaran orang-orang hebat dunia : Shalahuddin al Ayyubi, Al Fatih, Steve Jobs, Einstein,  Habibie, Nelson Mandela, Mahathma Gandhi. Saking liarnya pikiran ini, tiap kali bertemu orang pintar saya tergelitik bertanya : berapa skor IQ nya? Bukan untuk memvonis, untuk mengkotakkan, apalagi menghakimi. Namun instink saya berkata, pasti ada apa-apanya dengan orang itu. Apalagi bila bertemu orang hebat yang IQnya biasa-biasa saja. Ini jauh lebih mengesankan.

 

Pasti anda tak percaya bahwa Darwin dan Einstein awalnya dianggap biasa-biasa saja.

Membaca Natgeo Indonesia terbitan kali ini, benar-benar semakin membuat saya penasaran dan semoga semakin membakar impian-impian. Saya harus punya sanggar. Harus punya klinik art therapy. Harus punya pusat penelitian sendiri, terutama tentang anak-anak berbakta dan genius. Yang, kata Natgeo, jumlahnya sangat banyak di dunia. Hanya , karena lingkungan tidak memahami si genius ini, mereka dibiarkan layu dan mati.

 

Einstein dan Sidis

 

Dua orang ini benar-benar saya coba pelajari. Yah, meski saya tak punya irisan otak Einstein seperti yang tersimpan di museum Mutter, Philadelphia. Tetapi quote, buah pemikiran, biogarafi dua tokoh ini mudah ditemui.

Dua-duanya punya potensi otak hebat. Tapi jalan hidup yang dilalui sangat berbeda. Kiranya, saya simpulkan yang ternyata juga sesuai dengan Natgeo temukan. Ada hal-hal yang dapat dicapai dengan potensi IQ kita semua. Kalau diabaikan, layu dan punahlah ia.

  1. Seorang genius tidaklah solitaire. Einstein punya banyak teman. Mileva Maric, Michael Angelo Besso, Marcel Grossman adalah beberapa teman baik Einstein. Sidis? Ia dikabarkan sangat susah membangun relasi interpersonal. Bagaimana bisa demikian? Hal ini tekait dengan poin-pon yang lain.
  2. Orangtua yang mendukung. Einstein, Marc Zuckerberg, Steve Jobs, Margareth Tatcher, Terence Tao punya orangtua yang sangat megnerti anak mereka. Anak-anak spesial yang awalnya didiagnosis tidak pintar, namun orangtua memberikan banyak fasiltias pembelajaran. Ingat , fasiltias tidak selalu mahal! Steve Jobs hanya diberikan meja kecil, palu kecil, paku-paku. Sebab ayahnya hanya tukang kayu. Hermann Einstein hanya memberikan kompas kecil. Sidis? Orangtua memasukkannya ke Harvard di usia muda, memaksanya megnuasai banyak bahasa, mengontak media-media untuk menuliskan tentang anaknya yang berbakat. Najmuddin Ayyub mendampingi Shalahuddin al Ayyubi dalam memaknai intrik politik dan kekuasaan. Sultan Murad II, memilihkan guru-guru terhebat bagi Al Fatih.
  3. Gairah besar. Seorang genius harus didorong punya motivasi dan kegigihan. Sebab biasanya, anak pintar memang cenderung mudah bosan, mudah beralih, mudah meninggalkan hal-hal yang tadinya dimulainya dan tidak ingin diselesaikannya. Einstein, didorong relasi interpersonal yang bagus, punya teman-teman yang mendorongnya untuk berkarya. Ketika dunia dilanda perang, dengan cepat Einstein menjadi pejuang zionis sejati. Sidis? Rasa sendiri membuatnya patah arang hingga di usia 40an tahun ia harus masuk asylum. Al Fatih punya orang-orang yang mendorong dan memotivasinya untuk terus berjuang,s alahs atunya Aq Syamsudin, sang ulama kharismatik. Shalahuddin al Ayyubi, selain mendapat dorongan dari sang ayah Najmuddin Ayyub, juga senantiasa mendapat pendampigan dari Asaduddin Shirkuh, pamannya yang brilian dan pemberani.

Ayo, kita siapkan diri kita dan anak-anak kita untuk mengembangkan diri hingga optimal. Siapa tahu kita genius yang berikutnya!

 

Kategori
Buku Sinta Yudisia Cinta & Love mother's corner My family Nonfiksi Sinta Yudisia Oase WRITING. SHARING.

Buku baru : Mendidik Anak dengan Cinta

Pernahkah kita menemukan jalan buntu ketika mengajarkan bab Tuhan, malaikat, setan dan perkara ghaib lainnya kepada anak-anak?

Apakah kita sulit menanamkan rasa nasionalisme dan kebanggaan menjadi orang Indonesia ?

 

Berangkat dari permasalahan sehari-hari, disesuaikan dengan teori psikologi dan bagaimana sebagai orangtua harus terus mencari akal, mengasah ketrampilan dan jungkir balik berhadapan dengan sifat kritis dan kocaknya anak-anak; buku Mendidik Anak dengan Cinta ini terbit.

 

Dibagi menjadi 3 bab utama.

Bab 1 membahas bagaimana mengajarkan pada anak-anak perihal Tuhan hingga proses kematian.

Bab 2 tentang IQ dan EQ, terutama bagaimana orangtua memandang potensi IQ anak yang mungkin berada di kisaran <100, 100 atau justru > 100.

Bab 3 membahas tentang Kepribadian dan khususnya,  berbagi cara menumbuhkan 18 karakter Indonesia yang dicanangkan pemerintah mulai sifat religius, jujur, toelrasni, kerja keras, mandiri hingga di point 18 yang terakhir tanggung jawab.

 

Harga buku Rp. 65.000

Bisa pesan online ke Vidia 0878 -5153-2589 (whatsapp atau SMS)

 

Terimakasih 🙂

Kategori
Cinta & Love My family Oase Pernikahan Psikologi Islam

Bila istri berpenghasilan : milik siapakah uang istri?

 

 

Tuntutan ekonomi,  dorongan untuk membantu pihak lain, keinginan meningkatkan taraf hidup; membuat  ibu atau istri memutuskan bekerja. Bekerja tidak selalu harus keluar rumah. Dewasa ini banyak sekali peluang penghasilan yang dapat dilakukan tanpa harus meninggalkan keluarga selama 8 jam sehari. Bisnis online, blogger, reviewer produk, buka usaha katering atau busana, konsultan keluarga, konsultan fashion, konsultan bisnis; adalah sedikit di antara peluang bisnis yang dapat dilakukan di rumah sembari mendampingi buah hati. Disisi lain, ada perempuan-perempuan yang harus bekerja sebagai pegawai, pengajar, dosen, pengusaha, anggota dewan, dsb.

downloadPembahasan kali ini bukan memperdebatkan tentang ibu bekerja tetapi justru pasca perempuan berpenghasilan : milik siapakah uang istri?

 

Lelaki adalah Qowwam

Al Quran menegaskan  dalam 4 : 34 yang artinya ,” Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-lai) telah memberikan nafkah dari hartanya….”

Dalam tafsir Quran dijelaskan beberapa hal antara lain :

  1. Kaum laki-laki adalah pemimpin, pemelihara, pembela dan pemberi nafkah dan bertanggung jawab penuh terhadap kaum perempuan yang telah menjadi istri dan keluarganya
  2. Setiap istri wajib mentaati suaminya dalam mengurus rumah tangga,memelihara kehormatannya, memelihara hartanya dan harta suaminya
  3. Setiap istri berhak mengadukan suaminya yang tidak menunaikan kewajibannya kepada pihak yang berwajib dan berwenang untuk menyelesaikannya

 

Menjadi qowwam atau pemimpin berarti memiliki hak-hak istimewa seperti dipatuhi, ditaati, dihormati, disegani, disanjung, ditakuti, didengarkan perintahnya.

Masih ingatkah kita dulu ketika seorang anak minta sesuatu kepada ibu? Ibu biasanya berkata,

“Coba tanya bapakmu dulu.”

Meski kadang-kadang sang ayah pun melontarkan hal yang sama : “terserah kata ibumu.”

Hal ini dilakukan seorang istri atau ibu sebab memandang tinggi kedudukan suami/ayah. Keputusan-keputusan mulai yang remeh hingga penting di rumah harus disetujui suami/ayah seperti  beli sepatu anak-anak, beli handphone, mau jalan-jalan kemana.

Sebagian suami menyerahkan sepenuhnya pada istri untuk mengatur segala urusan rumah tangga.

Suami saya menyerahnya urusan keuangan pada saya. Jadi saya punya buku catatan pengeluaran yang menjelaskan pengeluaran untuk air, listrik, bayar pembantu, mengirim orangtua, SPP anak-anak hingga cicilan-cicilan lainnya. Suami pun terbuka ketika ia ikut acara kantor yang membutuhkan urunan transportasi atau makan bersama, atau ikut paguyuban dan arisan.

Disisi lain, saya pun memberitahu suami bila memiliki pemasukan dari mengisi acara seminar atau royalti buku. Pendek kata, kami berdua mencoba berbicara terbuka tentang pendapatan dan pengeluaran.

Apakah pernah ada rahasia masalah keuangan?

Sesekali ada. Tapi kami sepakat, yah, sekali-sekali nggak papa kan?

Suami pernah membeli barang-barang seperti kaos beraneka ragam. Ia suka sekali kaos-kaos Jersey. Ia beli beberapa seri, termasuk beberapa buah untuk anak-anak laki-laki kami. Ia juga pernah beli kaos-kaos dengan sablon 3 dimensi untuk dirinya dan anak-anak. Barang-barang ini dibeli tanpa memberitahu saya. Sekali-sekali, menuruti keinginan pribadi bukanlah dosa. Asal frekuensi dan pagu-nya dibatas kewajaran.

Apakah saya marah? Awalnya memang bertanya-tanya. Tapi setelah tahu berapa harga barang-barang tersebut, apalagi suami membelinya dari teman-teman dekatnya yang tengah merintis bisnis kaos, saya pun membiarkannya. Suami tidak setiap bulan beli baju, bahkan kadang setahun sekali beli baju. Jumlah barang yang dibelinya masih relatif wajar.

Bagaimana dengan saya?

Saya sesekali membeli jilbab dan baju tanpa pertimbangan suami. Terus terang, saya memang memiliki penghasilan meski kecil. Jumlah barang yang saya beli baik rupa dan harganya tidak boleh melebihi uang pribadi yang saya punya.

Ketika saya akan beli barang relatif mahal seperti handphone, maka saya mengajak suami untuk memilih.

Apakah saya nggak bisa beli handphone sendiri?

Bisa!

Lagipula royalti saya cukup kok buat beli barang elektronik mahal yang saya inginkan. Tetapi, saya pribadi merasa tidak enak hati bila harus beli barang mahal tanpa seizin suami. (Handphone bagi saya mahal. Padahal kata anak-anak : ummi tuh harusnya beli iphone! Tapi smartphone yang cukup kapasitasnya untuk mengunduh jurnal-jurnal ilmiah, bagi saya sudah oke).

Kenapa saya nggak beli barang mahal, dengan uang saya sendiri, tanpa sepengetahuan suami?

Pertama, saya menghargai suami. Ia adalah qowwam dan pemimpin kami. Sepanjang 21 tahun kami menikah, tentu ia pernah melakukan kesalahan dan punya kekurangan. Tapi sebagian besar perilakunya menunjukkan rasa bertanggung jawab. Terutama dalam masalah nafkah. Ketika kami kekurangan, suami tak segan-segan mengajar meski ia sudah sangat lelah seharian kerja di kantor.

Kedua, suami sebagai qowwam pun menunjukkan contoh baik. Ia beli HP bagus seharga 2 jutaan, ketika anak buahnya bahkan sudah rame-rame beli HP harga 10 juta! Dulu ia beli HP murah, dan dibelikan oleh temannya blackberry. Kata suami ,”kalau yang murah sudah bisa digunakan, ngapain beli yang mahal.”

Ketiga, suami tidak segan-segan membantu saya jika kesulitan. Saat sakit dan nggak bisa masak, suami rela belanja dan memasak. Bila saya harus keluar kota, suami rela mengantar. Atau malah membantu menjaga anak-anak. Pendek kata, ia sigap membantu ketika saya butuh bantuan.

 

Qowwam adalah contoh

love-wifePemimpin adalah contoh bagi rakyatnya. Rasulullah Saw memberikan contoh bagaimana menjadi orangtua, suami, panglima perang, negarawan, politikus dan penyayang binatang. Kebiasaan Rasul ini menjadi role model bagi rakyat.

Begitupun suami saya, ayah anak-anak kami.

Anak-anak terbiasa tidak punya HP. Mereka baru beli HP harga 1 jutaan ketika mahasiswa. Kalau ditanya apa nggak kepingin punya HP bagus?

“Kepingin sih, Mi,” jawab anak-anak. “Tapi nanti beli HP pakai uang sendiri aja.”

Putri sulung dan bungsu kami sudah dapat menghasilkan uang dari menulis. Tetapi HP bukan barang primer yang mereka buru pertama kali.

Putra kedua kami, Ibrahim, menyarankan kepada adiknya-adiknya,”kalian kalau butuh HP beli aja yang murah-murah. Tuh, abah sama ummi aja HP nya murahan. Padahal ummi harusnya pakai iphone.”

Sekalipun Ibrahim tidak punya karya tulis seperti kakak perempuan dan adik perempuannya, ia punya prinsip yang ditularkan dari sang ayah.

Sebagai pemimpin, suami juga memberikan contoh dalam hal berpakaian dan makanan. Dalam hal membeli baju ia tidak terbiasa yang mahal-mahal, juga makanan. Maka contoh pemimpin ini mengimbas pada anak-anak. Mereka biasa berpakaian rapi sederhana, disaat anak muda di lingkungan mereka menggunakan pakaian gaul yang bermerek mulai topi hingga sepatu!

Bila suami/ayah suka ke masjid, anak-anak akan meniru. Meski tetap butuh upaya orangtua untuk memotivasi lebih (hehehe…anak-anak itu kadang-kadang diberi contoh baik saja masih suka ngeles!)

Bila suami/ayah suka makan di rumah, anak akan ikut.

Bila suami/ayah berkata kasar, anak akan meniru.

Bila suami/ayah malas, rajin, pemberani, suka sedekah, suka ngomong kotor, maka anak pun akan meniru ayahnya.

 

Hebatnya seorang Suami

Begitu hebatnya posisi ayah dan suami. Namun demikian besar juga tanggung jawabnya. Ia harus dapat mendidik anak istrinya. Bila istri salah, ia harus dapat membenarnya. Bila anak salah, ia harus dapat mendidiknya, tentu dibantu istri.

Begitu hebatnya posisi ayah dan suami, menunjukkan betapa besar pula tanggung jawab dan kewajibannya. Kewajiban presiden, gubernur, guru, tukang batu tentu berbeda kan? Istri wajib taat pada suami, sebagaimana suami wajib menyayangi keluarganya. Istri wajib memenuhi permintaan suami, sebagaimana suami harus mampu memenuhi kewajiban dan tanggung jawabnya.

Pertanyaan berikut muncul.

Wedding rings and large bills of moneyBila, suami tidak mampu memenuhi kewajiban dan tanggung jawabnya, bagaimana istri harus bersikap? Bila suami tidak mampu mencari nafkah dan istrilah yang harus mencari nafkah, bagaimana pula peran domestik di rumah?

Bila, satu-satunya sumber pendapatan di rumah itu adalah istri, apakah penghasilan istri boleh disimpan sendiri?

 

Perkawinan Kultur Timur dan Pembiasaan Islami

Di barat, adalah biasa suami istri bertukar peran.

Suami kerja, istri nggak mau masak, ya makan di luar. Nggak ada kewajiban istri harus mengurus rumah tangga kalau ia nggak mau. Istri kerja, ada kesepakatan pembagian peran domestik, ya suami yang menyuapi anak-anak. Mencuci dan seterusnya.

Dalam dunia timur, pembagian peran domestik dan publik masih sangat kentara.

Lelaki memiliki martabat lebih sehingga akan membuatnya kehilangan self esteem dan self respect bila ketahuan tetangga atau keluarga besar tengah mencuci, memasak, mengurus anak,belanja, antar jemput anak. Bila posisi lelaki saat itu berpenghasilan, tak masalah.

Banyak juga suami sambil berangkat pulang kerja sambil antar jemput anak sekolah, banyak suami sepulang kantor mampir supermarket untuk beli susu atau tetek bengek keperluan rumah tangga.

Yang akan terasa mengesalkan, membuat malu, menjatuhkan harga diri adalah ketika semua dilakukan suami disaat penghasilannya jauh di bawah istri atau malah dirinya (sedang) tidak berpenghasilan!

Bisa dibayangkan posisi suami.

Istri bekerja. Berangkat pagi, pulang sore. Pekerjaan kantor tidak mentolerir gender. Absen jam 7 ya jam 7 : mau laki, perempuan, sakit, sehat, hamil, haid, badmood, dll; aturan organisasi jelas. Jam 7 ya jam 7. Akibatnya istri/ibu setengah mati mengatur jadwal di waktu pagi. Ia ngos-ngosan berangkat kantor.

Alhasil, pekerjaan rumah tentu terbengkalai. Belanja, masak, mencuci.

Bukan istri/ibu tidak mau melakukan tugasnya. Tapi jadwal pekerjaan dan kepadatan kesibukan rumah tangga tidak sesuai lagi dengan jumlah waktu.

Apa yang harus dilakukan bila saat-saat genting seperti ini memang dibutuhkan bantuan suami untuk tugas domestik?

  1. Buatlah kesepakatan suami istri mana saja yang harus dikerjakan. Suami mencuci,menyetrika; istri belanja memasak. Atau sebaliknya.
  2. Saling jujur dengan kondisi hati. Ingat! Setiap orang, setiap keluarga berbeda. Ibu mertua saya berpesan : jangan sampai melihat suami saya mencuci baju. Saya menghargai beliau. Maka saya upayakan suami membantu pekerjaan rumah yang lain : belanja, memasak. Rupanya di keluarga suami, pekerjaan mencuci bisa melukai harga diri laki-laki. Sebaliknya; saya pernah mendengar sebuah keluarga dimana hal yang melukai harga diri laki-laki adalah bila memandikan anak-anak. Maka sang istri menghormati kebiasaan itu, ia meminta suaminya membantu hal-hal lain selain memandikan anak-anak dan memakaikan baju anak-anak
  3. Beri tenggat waktu berubah. Kita semua berasal dari keluarga yang mungkin tidak trampil 100%. Suami yang diharapkan dapat membantu mencuci dan menyetrika, mungkin belum pernah melakukannya. Beri ia waktu 3-6 bulan untuk dapat menyesuaikan diri.
  4. Bila harus memilih uang atau hubungan baik, pilihlah hubungan baik. Kemungkinan, istri sudah sangat lelah memasak. Harus belanja dan cuci-cuci segala. Sementara suami pun keberatan bila harus memasak. Memasak butuh energi besar! Tidak ada salahnya mencoba catering meski harganya mungkin cukup mahal. Selain waktu yang tersisa lebih banyak, hubungan baik dengan pasangan harus menajdi prioritas. Daripada bersikukuh harus masak sendiri sementara suami atau istri kesulitan melakukannya. Ini juga bisa dilakukan terhadap mencuci pakaian yang dapat dialihkan ke laundry.

 

Wahai Suami, Qowwam, Qowwam dan Qowwamlah dirimu!

Para suami, jadikanlah dirimu pantas dihargai. Pantas dikagumi. Pantas dihormati.

Jangan berpikir bahwa dengan menghasilkan uang banyak, itulah satu-satunya kesempatan dihargai. Banyak juga suami berpenghasilan sangat besar namun tingkah polahnya tidak dapat menjadi panutan, akiabtnya istri dan anak-anakpun membandel.

Bila seorang suami posisi nafkahnya berada di bawah istri, atau malah tidak berpenghasilan maka :

  1. Didiklah istri untuk tetap hormat pada suami. Bukan menunjukkan jati diri kelelakian dengan memaki, memukul, bersikap kasar. Perilaku negatif sama sekali tidak meninggalkan jejak hormat, malah menimbulkan jejak kebencian dan perasaan remeh di hati pasangan dan anak-anak. Pastilah ada perasaan terluka ketika istri bekerja, berpenghasilan besar.namun sabarlah dan berpikir positif.
  2. Berusahalan tetap bekerja sekalipun penghasilan kecil. Berikan pada istri dan nasehatilah untuk bersabar.
  3. Bila memakai uang istri katakan maaf, doakan istri atas sedekah yang dilakukannya. Katakan , “semoga ini menjadi sedekah bagimu ya Dek.”
  4. Sama seperti istri yang menjaga harta suami, suami juga perlu menjaga harta istri. Bukan karena istrinya bekerja dan punya uang lebih, suami merasa berhak berfoya-foya. Bersenang-senang. Merasa keenakan bahwa istri juga memiliki penghasilan lumayan. Ingatlah bahwa keberkahan sebuah keluarga ketika suami menjadi qowwam yang sesungguhnya.
  5. Suami harus waspada bila istri bekerja sebab ia tak boleh membiarkan ini belangsung lama. Pendidikan anak mutlak berada di bawah pengasuhan ibu. Bagaimana ibu akan optimal bila suami/ayah tidak giat bekerja?
  6. Jangan malu mengerjakan pekerjaan halal. Betapa banyak pengusaha besar memulai pekerjaan dari titik nol, menjadi orang palign bawah : tukang rumput, tukang batu. Mungkin bisnis suami bangkrut sehingga istri harus bekerja sebagai guru. Tak ada salahnya menjadi supir Gojek, Grab, Uber dan tak perlu malu dengan perbedaan posisi suami istri. Kalau orang mengejek, memangnya mereka mau kasih jabatan dan gaji besar? Berjualan herba dan mengantarnya sendiri ke pemesan, sementara istri duduk manis di kantor; tak perlu berkecil hati. Siapa tahu bukan gaji istri yang membuat keluarga tersebut bisa beli mobil rumah; namun justru ketekunan suami berjualan obat-obatan herbal.

 

 

Penghasilan istri : sedekah dan me time

Dewasa ini, beban haruslah sama-sama dibagi. Beban domestik, beban publik. Beban ekonomi. Kasihan jika suami hanya menjadi satu-satunya sumber pencari nafkah. Istri pun tidak bebas sedekah dan membeli barang yang diingankan, kan? Kasihan pula bila istri menjadi satu-satunya yang menangani urusan domestik. Kalau ia lelah jiwa raga, maka suami juga yang repot.

Jujurlah pada suami bila istri memiliki penghasilan. Utarakan hati-hati perasaan dan tingkatkan ketrampilan komunikasi. Komunikasi itu ada skillnya lho…

Bila seluruh uang istri diberikan untuk menyelenggarakan rumah tangga, bolehkah sekali waktu punya me-time baik dalam bentuk uang atau waktu? Misal, ingin di akhir pekan bebas tugas dan beli makan di luar meski hanya bakso. Bolehkah seharian tidur aja untuk membayar kelelahan di hari-hari yang lain? Bolehkah membeli barang dengan plafon 100-200 ribu uuntuk jilbab, sepatu, dompet, baju? Dengan keterbukaan pikiran dan perasaan, semoga suami menghargai pengorbanan istri dan mengizinkannya untuk bersenang-senang sesekali waktu.

Demikian pula para istri, jagalah perasaan suami bila saat ini penghasilanmu lebih besar dari suami. Saya ingat banget nasehat sederhana ibu mertua saya :

“Penghasilan itu sejatinya rezeki keluarga. Rezeki suami istri. Jangan merasa sombong. Suami punya uang, ia merasa hebat karena sudah bekerja. Istri punya uang, ia merasa hebat karena sudah berpenghasilan. Coba saja, jika mereka berpisah atau bercerai, biasanya rezeki keduanya akan berbeda lagi. Yang merasa punya penghasilan besar, ketika pongah dan merasa lebih baik berpisah, boleh jadi malah pintu rezekinya ditutup olehNya. Sebabnya, karena sumber rezeki berasal dari pasangan jiwanya.”

Naehat ibu mertua itu saya catat banget dalam benak.

Kategori
Oase Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Fanpage Sinta Yudisia

https://m.facebook.com/SintaYudisiaWisudanti/

Akhirnya,  setelah punya 2 Facebook bernama Sinta Yudisia dan Sinta Yudisia II, keduanya full. Maka daripada buat Sinta Yudisia 3, lebih baik buat akun fanpage.

 

Semoga bermanfaat untuk silaturrahim 😊😊💕💞💖

 

 

 

 

 

Kategori
Cinta & Love Jurnal Harian mother's corner Oase WRITING. SHARING.

8 hal yang harus dilakukan suami agar istri tidak menjadi (pembunuh) kejam

 

 

Mata orangtua Indonesia tertuju pada Mutmainah ( Iin) , ibu dua anak yang dituduh melakukan pembunuhan terhadap anaknya Arjuna (1 tahun) , memutilasinya -naudzubillahi mindzalik-  dan melakukan penganiayaan terhadap Kalisa (2 tahun).

Bagi siapapun, berita pembunuhan akan menimbulkan perasaan ngeri mendalam. Bagaimana  mungkin seorang manusia tega menghabisi nyawa manusia lain, apalagi seorang ibu yang seharusnya menyayangi anak-anaknya? Ingatan kita akan melayang pada peristiwa mengejutkan pada tahun 2005 ketika Andrea Yates menghabisi 5 putranya sendiri padahal kehidupan keluarga mereka cukup mapan secara ekonomi mengingat Rusty Yates bekerja di NASA. Peristiwa Mutmainnah juga membuat kita melongok sejenak pada para ibu yang berhasil mengatasi depresinya, salah satu yang terkenal adalah Brooke Shield.

DSC_1426.JPG
Buku yang wajib dibaca Ayah dan Bunda

Stress , Anxietas, Depresi, Skizofren

Stres adalah tekanan kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti mengalami stres. Tekanan pekerjaan, tekanan ekonomi, tekanan akademis. Hampir setiap hari kita bertemu orang stres di jalanan. Para pengendara yang tak sabar menunggu lampu hijau, orang yang marah karena tersenggol motor, anak yang tidak tahan di bully teman, remaja yang tidak suka ditegur guru, anak yang ingin beli HP tapi tidak kesampaian, para lelaki yang ingin beli mobil tapi belum mampu dan seterusnya.

Stres mengintai kehidupan sehari-hari.

Tapi stres, sejatinya kehidupan yang biasa saja dan pantas dialami. Tanpa stres manusia justru tidak akan meningkatkan kewaspadaan dan potensi lain dari dirinya.Namun, stres yang tidak terkendali dapat menimbulkan kecemasan berlebih, selanjutnya depresi dan dalam tataran tertentu skizofrenia. Depresi kategori ringan dan sedang saja sudah memerlukan penanganan, apalagi depresi tingkat berat.

Andrea Yates dan Mutmainnah kemungkinan tengah mengalami depresi berat ketika lintasan pikiran destruktif itu muncul : kamu atau aku yang mati? Keinginan untuk mati bersamalah yang biasanya timbul, meski pada akhirnya, justru lebih banyak peristiwa yang berakhir dengan pelaku tak mampu commit suicide. Sebab memang sejatinya ia bukan pembunuh. Ketika kejadian pembunuhan tersebut berlangsung, ia tengah melampiaskan emosinya yang paling dahsyat dan paling negatif, dan ketika telah terlampiaskan malah sesal berkepanjangan yang tumbuh sepanjang hayat.

 

Antisipasi depresi dan stres sejak awal

Apa ciri khas depresi  berat?

Iin Mutmainnah diceritakan bertubuh kurus, pendiam. Ia pernah menelepon adiknya Riswanto, ia ingin berpisah dari suami. Mengapa orang inign bercerai tentu karena tealh sampai di titik puncak penderitaan dan mengalamai jalan buntu. Orang-orang depresi berat biasanya kehilangan selera makan. Jangan remehkan istri anda dan ibu anak-anak ketika mulai kehilangan selera makan.

“Ya ampun, cuma nggak mau makan aja kok! Biasanya doyan makan dan ngemil segala macam.”

Depresi ringan mungkin hanya ditandai kecemasan berlebih, takut bertemu orang atau malah melampiaskan pada banyak makan. Pada kasus depresi berat orang-orang menjadi anhedonia – kehilangan rasa suka pada dunia. Dunia tidak memiliki daya tarik lagi. Menonton, jalan-jalan, tidur, berbicara, berbincang, bahakn makan sudah bukan daya tarik. Rasanya permasalahan begitu pepat mengisi otak dan tak ada jalan keluar. Depresi berat, dapat ditandai dengan orang yang susah makan dan sulit tidur. Atau malah tidur terus sepanjang hari lantaran aktivitas dunia sudah tidak lagi ada yang menarik termasuk mengurus anak, bekerja, bahkan berhubungan intim dengan suami.

 

Istri Shalihah tidak mungkin menyakiti anak!

Wah, kata siapa?

Saya mendampingi beberapa kasus ibu shalihah yang bukan hanya ingin menyakiti anak-anak tapi malah ingin bunuh diri. Mereka bukan jenis ibu yang suka foya-foya, suka kesenangan, lalu rapuh ketika ujian datang. Bukan!

Suatu ketika, seorang ibu shalihah menceritakan permasalahannya.

“Apakah saya salah, Mbak? Saya ingin bekerja dan punya mobil sebab harus mengantar anak-anak kesana kemari.”

Tubuhnya kurus kering, wajah cantiknya masih cantik namun hilang sudah seri mudanya.

Suaminya pun seorang lelaki sholih. Kepada saya ia bisa bercerita banyak tentang mimpi-mimpinya dan saya balik bertanya, “adik sudah menceritakan keinginan ini pada suami?”

“Tidak, Mbak. Saya takut, jika saya menceritakan keinginan saya, ia kan marah. Saya ingin jadi istri shalihah.”

Ingin aku memeluk bunda-bunda seperti ini.

Suami mereka adalah orang-orang sholih yang yakin betul bahwa istri shalihah adalah batu karang yang terbuat dari granit dan intan, tak akan rapuh oleh badai dan hanya akan dapat tergores oleh pisau berkualitas tinggi!

Oh para suami, anda harus belajar dari Chris, suami Brooke Shield!

love-wife

Brooke Shield, mengatasi depresi

Berkali-kali keguguran, Brooke ingin punya anak. Sangat diluar dugaan, bayi yang dikandungnya membutuhkan banyak terapi sejak masih janin sehingga kehidupan pribadi Brooke pun dilalui susah payah. Bukan hanya kehamilan bermasalah, melahirkanpun dipenuhi rasa sakit yang luarbiasa.

Malam pertama bayi mereka di rumah, Brooke tidak mampu bergerak. Rasa sakit emosional bertahun-tahun menantikan bayi, rasa sakit terapi sepanjeng kehamilan, rasa sakit melahirkan, rasanya ia ingin istirahat sejenak.

Rowan, sang bayi menangis.

Brooke pun menangis. Mengapa? Mengapa ia justru tidak dapat mencintai bayinya dan justru merasa sangat kelelahan dengan semua ini?

Berhari-hari, berminggu-minggu Brooke malah membenci bayinya. Chris masih bersabar. Suatu ketika Chris membeli perangkat bayi di toko bayi dan termenung melihat pasangan-pasangan dengan bayi mereka yang berbahagia. Pertanyaan Chris membuat Brooke mencoba loncat dari jendela apartemen untuk bunuh diri :

“Mengapa, Brooke? Mengapa Rowan tidak membuatmu bahagia?”

Dihantui rasa bersalah,  Brooke ingin mengakhiri hidup semuanya.

Chris, rupanya segera menyadari dan menangis, memeluk isti dan bayinya. Mereka sepakat mencari pertolongan. Mereka sepakat mengundang sahabat-sahabat Brooke untuk menjaganya siang dan malam. Kapanpun, potensi Brooke melukai diri dan bayinya terbentang lebar. Brooke mengalami post partum depression dan harus mengkonsumsi obat anti depresan. Selain itu, Chris, harus menjadi bagian penting yang membantunya menuju proses kesembuhan.

Lambat laun Brooke mulai menemukan kebahagiannya kembali ketika ia telah menemukan dirinya.

Bagi kita para ibu yang telah merasa kehilangan diri kita setelah punya 1, 2, 3 anak maka berhati-hatilah.  Jangan sampai kita tidak terkoneksi lagi dengan alam realita. Saat kita merasa dunia realitas begitu jauh, sesungguhnya, ada halusinasi yang mengintai setiap imaji pemikiran.

Ah, mungkin saja kematian lebih baik. Ah, mungkin saja anak-anak lebih bahagia tanpa ibu. Ah, mungkin saja suamiku selingkuh dan tidak lagi mau bersamaku. Ah, aku bukan ibu yang baik, sebab aku akan mengantarkan anak-anakku ke neraka (ini adalah pengakuan halusinatif dari Andrea Yates).

 

Apa yang harus diwaspadai ayah dan suami?

pregnant wife.jpg

  1. Pastikan emosi istri dalam kondisi stabil saat mengandung. Hamil sangat melelahkan, apalagi bila ini kehamilan yang ke 3, 4, 5 dst. Andrea Yates sesuungguhnya tidak boleh punya anak banyak karena riwayat depresinya, namun Rusty Yates sangat suka anak banyak. Parameter emosi stabil : ia suka cerita, masih tertawa, suka bercanda, masih bisa mengungkapkan keinginan (mas aku mau jalan-jalan, aku kepingin beli bakso dst), tubuh tidak mudah sakit yang merupakan pertanda ketidakstabilan emosi (bila emosi labil, tubuh sering jatuh sakit)
  2. Beri dukungan penuh pasca melahirkan. Pasca melahirkan ini bukan hanya 2 pekan sampai 3 bulan. Tapi tahun-tahun awal perkembangan bayi, sekitar 2 tahun. bukan main repotnya istri apaalgi bila punya 3 atau 4 anak balita. Perkembangan emosi anak-anak yang belum matang, membuat ibu harus waspada 24 jam. Kapankah ibu berhenti dan istirahat? Nyaris tak ada!
  3. Jangan biarkan istri kelewat diam. Pancing ia bicara. Harus! Bagaimana bila karakternya pendiam? Baiklah, tapi suami harus yakin bahwa ia tidak sedang memendam sesuatu. Ketika pulang kantor coba tanya : anak-anak buat masalah gak Dek? Duh kasihan kamu ya…pasti capek. Akhir pekan ini kamu mau kemana? (Kalau nggak punya uang, tidak masalah. Katakan, nanti kalau ada rezeki, Abang akan coba beli keinginan adik. Beli daster, beli bakso, dan keingin wajar sesungguhnya pantas dituruti. Reward seorang suami adalah obat mujarab bagi  self respect nya!) Puji ia, apapun kondisiya. Kalau ia bau dan kotor saat suami pulang, katakan : adik capek banget ya sampai-sampai gak sempat memperhatikan diri sendiri. Andaikata boleh, istri akan berendam di bath tub berisi adonan coklat dan bunga 7 rupa untuk membuat kulit berkilau!
  4. Perhatikan bila istri sakit. Flu? Diare? Demam? Ah, sakit yang biasa. Memang, flu dialami siapa saja. Ingatlah, sakit flu dan sejenisnya yang muncul dari fisik kelewat lelah adalah akibat emosi kelewat lelah pula. Jangan-jangan ada yang mulai tidak imbang di rumah. Fisik yang sakit, bisa berimbas pada sakitnya mental atau malah sebaliknya. Mental yang sakit membuat fisik cepat ambruk.
  5. Berdoalah. Seorang ustadz, seorang ustadzah, tidak akan lepas dari tekanan hidup. Hidup di era modern menuntut banyak hal maka hubungan dengan Allah Swt yang terus menerus akan lebih membuat mental kuat.
  6. Evaluasi segala daya dukung keluarga : ekonomi, pendidikan, kesehatan mental, kesehatan fisik. Waspadalah bila ada yang timpang dan mulailah mencari bantuan pihak-pihak terpercaya untuk mengentaskan masalah. Bila hidup terbelit hutang, harus segera berupaya mengentaskan perekonomian. Pendidikan yang memadai pun akan membantu suami istri lebih bijak memandang permasalahan. Kesehatan mental harus terus dipromosikan termasuk kesehatan fisik.
  7. Dengar, dengar, dengar. Listen, listen, listen. Biarkan istri menangis dan rewel seperti anak kecil. Biarkan ibu mengomel. Ia sedang mencoba meluapkan emosinya. Ketika telah stabil, ajak ke kamar, peluk dan nasehatilah. Mungkin memang ia salah. Mungkin ia keterlaluan. Mungkin ia memang harus mengubah dirinya lebih baik. Tapi beri ia ruang untuk melepaskan tangis dan beban, dan biarlah ia bersandar di bahu kuat para lelaki yang telah ditakdirkan Allah Swt menjadi qowwam
  8. Pujilah istri dengan sebutan positif. Katakan ia cantik, meski Raisa dan Isyana lebih cantik. Katakan ia pintar, meski tentu tidak sepintar Sri Mulyani. Katakan ia hebat, meski ia tidak sehebat Margaret Tatcher. Katakan anda mencintainya, wahai para suami, meski saat itu hati anda pun tengah lelah dirundung masalah. Ingatlah, bahwa anda bukan hanya telah dihalalkan menanamkan benih di rahimnya dan menikmati malam-malam bersamanya. Anda menitipkan anak-anak yang kelak akan ganti merawat anda. Anda menitipkan anak-anak hebat yang ditangan para ibu, mereka membuat anda bangga dengan sebutan ayah. Di tangan ibulah, wahai para suami, anda tengah menitipkan tunas baru yang ketika anak-anak itu berprestasi dan sholih , anda sebagai ayah akan jumawa berkata : ah, itu anak-anakku! Maka tidakkah semua imbalan yang anda dapatkan, pantas anda bayar dengan pengorbanan pula?