Kategori
15 Rahasia Melejitkan Bakat Anak Artikel/Opini Hobby Kepenulisan KOREA My family PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Remaja. Teenager Tokoh WRITING. SHARING.

Yiruma 이루마 : Korea bukan hanya K-Pop

Awalnya, mau buat video pendek buat ngisi acara parenting sama mengulas beberapa buku. Biasanya mengulas buku atau membuat uraian parenting dengan tulisan; kali ini agar audience gak bosan, aku coba buat video dengan Kinemaster. Pokoknya harus nyoba buat sendiri, karena kalau nggak nyoba, gak pernah tau salah di mana. Meski jelek, gakpapa. Yang jelek itu bisa diperbaiki. Tapi kalau nol sama sekali, malah gak bisa di upgrade.

Nah, gegara buat video inilah, aku butuh suara-suara latar di belakang. Entah lagu atau instrumentalia. Karena referensiku minim, selama ini tahunya instrumentalia ya model Beethoven, Mozart, atau Canon-D Pachbel. Paling kekinian Ievan Pollka yang lazim digunakan untuk Senam Pinguin.

Siapapun suka Beethoven- Fur Elise dan Mozart – Rondo Alla Turca, especially orang-orang macam diriku yang sudah senior hehehe. Tapi kan, kubuat video itu harapannya biar ditonton segala usia? Utamanya remaja dan young adult, gitu. Kalau ada latar instrumentalianya, ya yang indah dan ringan. Gak sangat spektakuler megah kayak Alla Turca.

Lalu cari-cari, entah gimana sampailah pada Yiruma. Kupikir dia orang Jepang. Namanya Yiruma gitu. Seperti Naruto, Tsubata, Noriko. Gitu-gitulah. Eeeh ternyata 이루마 atau  Yi-Ru- Ma. Marga Korea di depan yang popular adalah Kim dan Lee. Kalau Kim (atau Gim) , gak banyak berubah ketika diromanizasikan. Kalau Lee, itu yang banyak diubah agar mudah.

Aslinya adalah 이atau i. Kalau lidah Indonesia biasa aja bilang ‘i’ , tapi tidak dengan lidah luar negeri. Sehingga awalan 이 (i) dalam 이루마  (I-Ru-Ma) ini seringkali diubah menjadi Lee atau Yi. Jadi, nama asli Yiruma ini sebetulnya adalah I-Ru-Ma.

Kembali ke instrumentalia.

Yiruma ini bikin banyak orang komen di videonya. Ada yang bilang kalau jadi kepingin jadi pianist kayak Yiruma. Ada yang bilang kalau permainan musiknya sangat menyentuh. Ada yang bilang kalau di aitu asli Korea, jangan salah sangka kalau dia orang Jepang, ya! Ada beberapa instrumentalia Yiruma yang aku suka dan sudah (dan akan ) kupakai untuk video-videoku.

Mulai rutin buat video 🙂 Youtube Mendampingi Anak di Era Lokcdown
  1. River Flows in You
  2. Reminiscent
  3. May be, dll

Kalau Kiss  the Rain aku gak terlalu suka. Gegara udah keseringan dipakai buat acara motivasi ya kwkwkwk.

Setelah tau Yiruma ini, aku menyadari bahwa industry music Korea bukan hanya KPop yang banyak mempenetrasi pasar dengan lagu-lagu easy listening. Korea benar-benar menyiapkan sumber daya luarbiasa terkait entertainment, terutama seni musik. Selain menggarap anak-anak muda yang suka KPop, para remaja dan dewasa awal yang suka drakor dan film Korea; ternyata orang-orang serius pun menjadi target sasaran Korea dengan menyuguhkan musik-musik apik seperti karya-karya Yiruma 이루마.

Yiruma in header link

Kategori
Film Kepenulisan KOREA RESENSI Topik Penting Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

‘Parasite’ Pemenang Oscar : Seni Tutur Natural ala Korea

Sudah pernah nonton drama Korea atau film Korea? Atau membaca novel/ cerpennya? Kaum penggemar film seperti saya biasanya suka melalap film apapun yang dirasa menghibur serta mencerahkan ; apapun negara asalnya. Korea beberapa tahun belakangan ini merajai industri perfilman dengan filmnya yang variatif. Dan, kadang kita menikmati filmnya tanpa tahu….sutradaranya!

Saya suka beragam film. Film pendidikan dan humanis dari India seperti 3 Idiots, Taree Zaman Paar, Bajrangi Bhaijan, Dangal bagus ditonton sekeluarga. Film India lucu habis dan menguras airmata. Seringkali, bumbu feminism dan perang saudara dengan negara tetangga menjadi ide-idenya.

 Film-film horror Guillermo del Torro yang menggunakan bahas Spanyol (plus subtitle yaaa) bukan hanya jump scared saja, tapi indah ditonton. Del Torro senang mengawinkan horror dengan fairy tales; hingga muncullan Cronos, Devil’s Bakcbone, Pan’s Labyrinth, Crimson Peak, Scary Stories to Tell in the Dark dan favorit saya : Mama. Menonton horror del Torro membuat kita berpikir bahwa cerita horror tak selalu berkisar sekedar hantu dan darah; tetapi sebuah cerita utuh yang memiliki kesimpulan mendalam. Devil’s Backbone memberikan sebuah kesimpulan bijak tentang apakah hantu itu. Di akhir cerita, epilog berkata, “Hantu adalah emosi yang masih digantung oleh waktu.” Kurang lebih demikian. Orang-orang yang mati karena pembunuhan, peperangan, wabah dan bencana; mungkin akan menjadi hantu karena masih banyak emosi-emosi yang belum diselesaikan dengan orang-orang yang terhubung dengannya. Ini menurut Del Torro, ya.

Well, back to Korea.

Negara ini buat film komplit bangettt.

Film epic heronya benar-benar membuat semangat nasionalisme bangkit : Admiral, Spy Gone Nort, Tae Gu Ki, My Way dll. Drama serialnya juga membuat termehek-mehek seperti  Great Queen Seondeok, Jewel in the Palace, Dong Yi.

Film horrornya termasuk daftar film horror yang sangat diperhitungkan di pentas dunia : The Mimic, Tale of Two Sisters, Whispering Corridors dan yang mendapat banyak pujian : The Wailing. Asli, nonton the Wailing membuat saya benar-benar merinding. Film horror yang membuat takut adalah yang tidak ketahuan, mana setan dan mana malaikatnya. Bukankah kita jadi merinding ketika orang yang disangka penolong ternyata justru iblisnya? Film komedi romancenya banyak banget. Film actionnya juga gak kalah seru dibanding aksi Hollywood : The Veteran, Extreme Job, Berlin’s File, Cold Eye. Cold Eye adalah film action yang menurut saya belum banyak padanannya . (Hm, entah juga kalau saya kudet hehe).

Parasite?

Saya menuliskan reviewnya segera usai nonton film ini bareng keluarga. Tentu, gak semua sepakat dengan penilaian Oscar, apalagi penilaian saya. Tapi lagi-lagi saya ambil hikmah kenapa Parasite memenangkan 4 oscar kali ini dan Bong Joon Ho dinobatkkan sebagai sutradara terbaik dengan Parasitenya.

Sinema Korea itu….. :

  1. Natural. Alamiah banget. Kalau cerita tentang romance terasa alamiahnya. Kalau cerita kejahatan terasa alamiahnya. Hampir tidak ada yang benar-benar hitam putih di film Korea. Film Spy Gone North tentang Korut VS Korsel, sama sekali nggak membahas bahwa Korsel adalah pahlawan. Tapi masing-masing punya kepentingan. Parasite juga begitu. Apakah keluarga miskin Kim atau keluarga kaya Park yang jahat? Sama sekali nggak ada penggambaran demikian.
  2. Tak bertele-tele. Drakor umumnya berkisar 20 episode seperti Pasta in Love, 49 Days. DoT 16 episode. Barulah kisah epic seperti The Great Queen Seondeok 62 episode. Itupun gak bosen nontonnya heheh. Tidak perlu diperpanjang konflik jika memang sudah bisa diselesaikan dengan cepat. Perkelahian, permusuhan, pertikaian juga gak perlu berlarut-larut. Yang digali seringkali adalah masa lalu masing-masing pelaku sehingga memunculkan konflik emosi di dalam jiwa.
  3. Gado-gado. Komedi selalu muncul meski di tema sedih, romansa, action, horror. Kita bisa dibuat ketawa dengan adegan atau dialognya, lalu segera ditarik lagi ke sebuah situasi yang lain yang memang menjadi genre utama film tersebut. Parasite banyak memunculkan kisah komedi gelap, tentang konyolnya orang miskin dan lebih konyol lagi orang kaya yang gak pernah pegang pekerjaan rumah sama sekali seperti Mrs Park. Ketika Jessica dan Kevin –kakak adik- punya segudang tipu muslihat licik karena mereka terhimpit kemiskinan, kita harus menangis atau tertawa karenanya? Aduh, benar-benar teraduk memang.
  4. Kesabaran dalam membangun alur. Terus terang, sebagai penulis saya banyak belajar dari film, novel, cerpen Korea. Mereka sabar banget membangun detil, menceritakan sesuatu. Kesabaran dalam menjalani sebuah sikap hidup kayaknya jadi nafas dari bangsa Korea, ya. Terlihat dari hallyu yang dimotori oleh KPop, produk literasi dan sineasnya. The Vegetarian karya Han Kang menceritakan segara detil tentang seorang perempuan bernama Yeonhui. Hari demi hari konflik dirinya dikisahkan dengan cermat. Seolah penulis sangat sabat untuk berkisah. Beda dengan saya yang kadang ingin segera cepat selesai. “Udah, jatuh cinta aja./ Udah, mati aja/Udah nikah aja.”
  5. Tema sederhana. Banyak film atau buku Korea temanya sederhana. Seperti Parasite. Tema miskin vs kaya selalu ada. Tema sederhana yang digarap dengan sangat rapi sehingga kita benar-benar merasakan “ ya Tuhan, sengsaranya jadi orang miskin di Korea!” karena itu juga yang diharapkan Bong Joon Ho, banyak orang terbuai oleh ironisnya kemajuan Korea.

Coba kita baca cerpen Sejarah Obat karya Oh Hyun Jong (diterjemahkan oleh Prof. Koh Yung Hun, dosen bahasa Indonesia di HUFS- Korea)  misalnya, menggambarkan tema sederhana tentang seorang perempuan muda yang  terbiasa mengkonsumsi berbagai jenis obat sejak kecil : propolis, omega 3, ginseng merah, dll. Ia melihat neneknya terbiasa minum obat, ia melihat orang-orang di lingkungannya minum obat. Dan si perempuan merasa aman bepergian jika membawa sekantung obat. Ia bahkan berpacaran dengan seorang calon dokter tradisional yang suka meresepkan obat kepada teman-temannya. Dan kecandunnya pada obat semakin betambah. Membaca kembali Sejarah Obat, mengingatkan saya pada kondisi terkini tentang Coronavirus di mana saya seperti ribuan atau jutaan orang yang sangat terobsesi pada masker.

Tulis Hyun Jong “…bahwa segera setelah kita mulai terkena penyakit yang berkaitan dengan penuaan, kita tidak akan pernah berhenti makan obat. Kita akan tetap meminumnya sampai sehari menjelang kematian.”

Betapa kisah sederhana, tentang zaman sekarang ketika orang membenci menjadi tua dan menjadikan obat sebagai jalan keselamatan.

Parasite, saya rasa memiliki 5 kelebihan tersebut.

Natural alamiah, tak bertele-tele, gado-gado, kesabaran penulis scenario dan sutradara membangun alur serta tema sederhana yang dipahami hampir setiap keplaa manusia yang menontonnya. Yah, walau pecinta Korea belum tentu paham bahasa Hangeul 100% sebagaimana para kritikus film dunia, ungkapan Bong Joon Ho patut dipertimbangkan saat menerima piala Golden Globe, “Sekali saja tidak bermasalah dengan subtitle, kalian akan banyak menemukan film menakjubkan!”

Saya setuju dengan Joon Ho.

Sebab banyak film Indonesia yang juga layak maju ke pentas dunia.

Insyaallah, berikutnya Indonesia yang meraih penghargaan!

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Bedah Buku Sinta Yudisia Buku Sinta Yudisia KOREA PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY WRITING. SHARING.

31 Januari – 2 Februari 2020, Jakarta & Tangerang

Sinta Yudisia <psikologsinta@gmail.com>12:18 PM (5 minutes ago)
to me

💫 SELF HEALING WITH WRITING 💫•– Womens Mental Health Workshop; Mom’s Journey to Happiness –••💗

 Stress dengan penghakiman netizen di media sosial saat kita “curhat” ??••🌷 Dinamika kehidupan seringkali membuat para ibu berjuang keras hadapi ragam kesulitan.•Tak jarang, meninggalkan ‘luka’ tak terjamah yang tidak dipahami orang lain. Hingga lupa dengan cara sederhana dalam berbahagia.••–Dalam kasus paling ekstrim, dapat mengancam keselamatan diri dan orang lain.–••Tahukah Moms, bahwa menulis bisa jadi sarana penyembuhan, bahkan memperkuat rasa bahagia ??••Komunitas Ibu Bahagia Indonesia @komunitasibubahagia bekerjasama dengan  @actforhumanity dan @ihsanmediapenerbit mempersembahkan workshop terbatas :

💫 SELF HEALING WITH WRITING 💫

— Womens Mental Health Workshop; Mom’s Journey to Happiness –••Narasumber :•🧕🏻 Sinta Yudisia W S.Psi, M.Psi, Psikolog — Psikolog – Penulis @sintayudisia•🧕🏻 Irena Puspawardani S.Si (Teh Rena Puspa) — Pembina KIB Indonesia – Penulis @rena.puspa.khadeeja••Bersama, kita belajar tentang seni terapi menulis tangan sebagai salah satu metode penyembuhan diri ☘️🌷🍀🌺💚••📆 Sabtu, 01 Februari 2020⏰ 09:00 – 13:00 WIB🏢 Menara 165 – ACT Lt. 9 Jalan TB. Simatupang, Jakarta Selatan••💎 Ticket Prices :•🌷 EARLY BIRD (10 – 14 Januari) : 200K🌻 NORMAL (15 – 27 Januari) : 235K🌹 HOT SEATS (28 Januari – 1 Februari) : 250K🐨 Kids Corner (4 – 7 tahun) : 30K/Anak•💳 Transfer :BNI a.n Fina Febiyanti(009) 0349618487https://bit.ly/PendaftaranWorkshopKIBhttps://bit.ly/PendaftaranWorkshopKIBhttps://bit.ly/PendaftaranWorkshopKIB••📲https://bit.ly/AdminKIB📲https://bit.ly/AdminKIB📲https://bit.ly/AdminKIB•••💚❄ Bahagia Hatinya, Sehat Jiwanya ❄💚••#HappyMomHappyFamily#DiaryIbuBahagia#komunitasibubahagia#workshop #menulistangan#handwriting #freewriting#womensmentalhealth#kesehatanmental #ibubahagia #act #aksicepattanggap #ihsanmedia

Acara di atas untuk Ayah dan Bunda.

Untuk remaja, ada acara di bawah ini :

Membahas seluk beluk Korea, hallyu termasuk K-Pop beserta boyband girlband nya.

Yang di Jakarta dan Tangerang, silakan hadir yaaa

Kategori
KOREA Oase Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Remaja. Teenager WRITING. SHARING.

Antara Sulli f(x) dan Hatsune Miku

 

 

Baru beberapa pekan yang lalu saya merenungi sebuah channel video Youtube tentang Hatsune Miku. Saya bolak balik menonton Is Hatsune Miku a Better Pop Star than Justin Bieber? Dalam video tersebut, Chris Plante menceritakan bahkan interaksi seorang bintang dengan para fansnya bisa sangat positif, bisa sangat negatif. Plante mengisahkan tentang Bieber, seorang bintang muda yang manis dan memiliki jutaan penggemar. Tetapi dunia entertainment melibas masa mudanya, melihatnya sebagai tambang uang dan para pemuja Bieber tidak memberikan celah bagi Bieber untuk berbuat ‘salah’. Akibatnya, Bieber yang kita kenal sekarang berbeda dengan Bieber yang mempopulerkan lagu Baby.

Hatsune_Miku.png
Hatsune Miku

Kita tentu menunggu-nunggu berbagai moment para selebritis dunia menampikan sisi terbaiknya, misal di karpet merah Oscar. Mereka yang berpenampilan bagus mendapatkan pujian, yang berpenampilan tak menarik mendapat banyak hujatan. Padahal belum tentu yang berpenampilan tak menarik itu sengaja tak memilih style, hanya saja ia berseberangan dengan orang kebanyakan. Hujat menghujat sudah lazim dilakukan netizen. Dengan bahasa sopan, hingga bahasa sangat menyakitkan.

Konsumen sekarang bukan hanya melahap lagu dan film para artis. Semua kehidupan pribadinya, juga dikonsumsi habis-habisan. Kemana dia belanja, kemana dia menyekolahkan anak, menghabiskan liburan di mana, sampai ke area paling pribadi : kenapa dia pacaran dengan si X, kenapa dia menikah dengan si A, kenapa dia memutus kontrak, kenapa dia keluar dari agensi?

Padahal bisa jadi masalahnya sangat pribadi.

Misal, seorang bintang merasa kelelahan –lahir batin- ketika harus menggelar konser. Tak heran banyak mereka yang terkena substantial abuse , mengingat dalam kondisi lelah dan sedih pun mereka harus tampil ceria di publik. Kita, orang biasa, enak aja. Kapan mau marah, kapan mau nangis, kapan mau cemberut. Emang ada yang peduli? Paling yang protes cuma pasangan dan anak-anak. Para bintang itu boleh jadi punya alasan sangat pribadi tentang dunia yang dipilih atau ditinggalkannya, alasan yang tidak bisa diungkap ke publik. Siapa yang tahu apa yang sebenarnya terjadi pada pernikahan Song Jong Ki dan Song Hye Kyo?

Saya masih ingat, bintang favorit saya di film X-File , Gillian Anderson, pernah tertangkap paparazzi tidak mencukur bulu ketiaknya. Ya, namanya dia lagi belanja dan  liburan. Bukan main sadis para jurnalis dan pengkritiknya. Sebagaimana Aishwarya Rai ketika menjadi gendut sehabis melahirkan. Perempuan yang pernah meraih  predikat tubuh terindah ini langsung dihabisi netizen. Untungnya, banyak warga India yang membelanya dan mengatakan : di kultur kami, sangat biasa seorang ibu menjadi gemuk. Maka saya nggak heran, melihat betapa stressnya para bintang pasca melahirkan, bahkan ia baru sehari dua hari melahirkan sudah harus menggenjot sepeda statis agar perutnya cepat langsing. Bukankah itu yang membuat Brooke Shield juga mengalami post partum depression? Sepanjang ia hamil yang melelahkan hingga punya anak, tak henti-hentinya dunia luar ingin tahu seperti apa beritanya.

Desember 2017, saya menuliskan tentang kematian Jong Hyun , salah seorang personel Shinee. Setiap kali menulis di blog tentang Korea, kisah tentang dirinya kerap ter-link begitu saja. Sedih itu masih terasa. Apalagi saat itu tak beda jauh dengan kematian Chester Bennington.  Secara pribadi saya tak mengikuti instagram atau twitter dari Bennington, Jong Hyun atau Sulli. Tapi sebagai seorang psikolog yang sering mendengar keluhan anak muda tentang kerasnya dunia media sosia, dapat kita bayangkan apa yang dihadapi para artis dunia. Terutama, artis muda macam Sulli. Fisiknya, perilakunya, pilihan bajunya, pilihan pasangan cintanya, karirnya, semuanya ada di bawah pengawasan netizen. Label manajemen sendiri sudah merupakan tekanan luarbiasa, apalagi ditambah tekanan dari berbagai pihak.

Sulli Young.jpg
Sulli Young : demikian cantik dan lucunya :”(

Kejadian Sulli, semoga yang terakhir kali terjadi. Seorang gadis muda yang masih mempunyai jalan panjang kehidupan, hancur berkeping tanpa ia tahu ke mana harus mengadu. Ia baru 25 tahun, kehidupan yang panjang terhampar di hadapannya. Apalagi Sulli memiliki banyak fans (dan juga haters, tentunya), tentu pilihan Sulli tentang apapun termasuk pilihan mengakhiri hidup akan menjadi sebuah berita yang sangat rentan untuk dikonsumsi.

Apa yang bisa dilakukan sebagai netizen dan warga dunia seperti kita?

  1. Kalau kita fans seseorang, gunakan selalu kata-kata bijak untuk mendukungnya. Katakan semangat, pantang menyerah, kamu luarbiasa, kamu inspiratif dan seterusnya.
  2. Kalau kita bukan fansnya, tak usah kepo dengan IG atau twitternya. Saya nggak ngefans si X dan Y, gak perlu follow atau stalking. Jadi gak perlu terlalu sering melihat postingan mereka. Kenapa? Karena nanti saya akan terbakar untuk ikut julid, menghakimi. Mending saya follow akun Sacha yang sering mengkoreksi englishnya para Seleb.
  3. Kalau kita tergabung dalam sebuah komunitas seperti ARMY fans BTS, Carat fans Seventeen, EXO-L fans EXO, Blink fans Blackpink, Reveluv fans Red Velvet atau apapun itu; mari lakukan gerakan-gerakan yang menghimbau pada kepedulian terhadap sesama. Misal, 10 Oktober tempo hari diperingati sebagai World Mental Health Day atau Hari Kesehatan Mental Sedunia. Tema tahun ini sangat spesifik : Suicide Prevention. Sedih sekali, bahwa Sulli justru harus menjadi salah satu korban suicide yang sedang kita perangi.
  4. Interaksi kita dengan dunia maya memiliki dinding setipis udara. Tak terlihat, tapi besar pengaruhnya. Rasanya ringan saja membully orang, lalu meninggalkannya dalam keresahan, gegara kita toh tak akan pernah bertemu fisik dengannya. Padahal, di semesta ini terjadi hukum law of attraction : setiap yang kita lakukan, ibarat pendulum, akan balik mengenai kita lagi. Jejak yang kita tinggalkan di IG, twitter, youtube channel siapapun semoga menjadi jejak baik yang suatu saat akan kembali ke kita lagi.

 

Yah, kembali ke pemaparan Chris Plante.

Kelak, mungkin saja kita harus mengganti semua artis dunia dengan sosok Hatsune Miku. Hatsune Miku popular dengan lagu Ievan Pollka, lagu yang sering diputar di sekolah dan acara pelatihan sembari melakukan senam Pinguin. Tahu kan siapa dia? Bukan manusia, bukan makhluk hidup, bukan boneka, juga bukan robot. Ia ‘hanya’ aplikasi sehingga tak merasakan sedih, susah, tersinggung, apalagi depresi. Miku punya jutaan fans. Lagunya digemari. Sosoknya dinanti. Konsernya buat orang antri. Para gadis membuat duplikasi. Walau ada yang pro kontra dengan Hatsune Miku, no problem. Ia tak punyarasa, tak punya raga, tak punya nyawa. Pendek kata, tak punya kehidupan. Maka Miku juga tak punya  masalah.

Kita prihatin dengan kehidupan para pesohor yang dipuja tapi juga rentan oleh berbagai masalah. Mereka juga manusia seperti kita. Mereka juga punya orangtua dan saudara seperti kita. Terlebih lagi, sebagai manusia kita saling terhubung satu sama lain. Boleh jadi Sulli sama sekali tidak masuk dalam lingkaran perhatian kita, tetapi bagaimana dengan anak-anak dan murid-murid di luar sana?

 

Sulli f(x).jpg
Sulli f(x) yang cantik dan begitu muda

 

 

Tidak dipungkiri, salah satu yang membuat Sulli merasa demikian berat adalah serangan para haters di media sosial. Setiap label manajemen, manajemen artis di manapun, baik di Korea dan Indonesia harus punya konselor atau psikolog khusus yang rutin mendampingi dari waktu demi waktu demi membangun mental sehat. Terlebih dalam situasi krisis seperti pemasaran yang anjlok, pembubaran grup, kesulitan karir, tak kunjung debut atau ada konflik internal, termasuk timbulnya permasalahan keuangan, keluarga dan permasalahan cinta. Persoalan di atas lazim terjadi pada banyak kasus, terlebih bagi artis. Perlu ada manajemen psikologis bagaimana mengelola interaksi dengan media sosial termasuk interaksi dengan para fans dan haters agar dapat dibangun lebih produktif.

Pada akhirnya, kita sendiri harus dapat membangun dunia yang sehat dengan media sosial. Fans dan haters kita boleh jadi tak sebanyak Sulli. Tapi bisa jadi kehidupan keseharian kita sudah sama satu dengan yang lainnya : tidak ada lagi dinding tebal di rumah, semua dapat menembus masuk dan keluar lewat media sosial. Apa yang realistic dan un-realistic sudah kabur, tak ada batasnya sama sekali. Bahkan, konon kabarnya, otak saat ini sudah tak dapat membedakan mana yang fiksi dan mana yang nonfiksi, saking banyaknya terperangkap dalam dunia maya yang merebut sebagian besar dunia nyata kita. Ketika dunia maya terasa lebih dominan, maka apa yang nyata terasa tak ada artinya. Hujatan fans di medsos sejumlah ribuan bisa membebani pikiran (padahal belum tentu orangnya sebanyak itu, karena bisa jadi memakai akun palsu), sementara dunia nyata yang menghadirkan seorang teman, sepasang orangtua yang senantiasa mencintai, seorang kakak atau adik yang menemani,  serasa tak ada arti.

Dunia maya, seperti namanya, maya. Ia tak nyata. Ghaib. Tak dapat diraba.

Yang nyata, tampak, teraba dan terasa jauh lebih berharga. Seperti kehidupan kita. Seperti keluarga dan teman-teman nyata. Jumlahnya tak banyak. Teman nyata kita mungkin cuma 5, sementara teman FB atau IG ada 5000. Tetapi yang 5 itu lebih nyata dibanding 5000. Penting bagi manusia untuk membangun relasi dengan teman nyata lebih sering, daripada dengan teman maya.

Sulli yang cantik, semoga kisahmu menjadi pelajaran bagi banyak orang.

 

 

 

Kategori
Film Hobby KOREA Mancanegara Oase RESENSI

Parasite (기생충) pemenang festival Cannes 2019 : Berhati-hatilah Ketika Bicara

 

“Syukurlah, semalam hujan turun.”

Anda pernah mengucapkan ini?

Bukankah itu ucapan yang wajar?

Itulah yang dikatakan Mrs. Park yang cantik dan kayaraya lewat telepon ketika tengah ngobrol bersama temannya. Tetapi, ucapan itulah yang mengubah raut wajah tuan Kim, sopirnya yang baru saja selesai membantu Mrs. Park berbelanja dalam jumlah besar untuk pesta ultah si bungsu, Dasong.

Hujan bagi tuan dan nyonya Park adalah tidur di sofa empuk sembari berpelukan, sembari mengamati si kecil Dasong tidur di tenda yang berada di pekarangan luas nan indah, dari ruang tengah keluarga mereka yang cantik dan nyaman lewat sebuah jendela kaca besar pembatas dinding.

“Tendanya beli di Amerika,” begitu kata nyonya Kim.

Hujan semalam, bagi keluarga sopir Kim, adalah sebuah bencana besar. Hujan dan banjir ini digambarkan demikian  mencengangkan, memilukan, dan tentu saja –merepotkan.

“Hujan membuat air limbah menguap!!” jerit tetangga.

Hujan  membuat rumah petak tuan Kim, yang lebih rendah dari jalan raya, cepat menyapu barang-barang. Di Korea, flat paling bawah yang biasanya hanya mendapatkan sedikit sinar matahari dan seolah berada di bawah tanah, adalah flat berharga paling murah. Hujan membuat tuan Kim meneriaki putranya Ki Woo agar segera menutup jendela kecil rumah mereka agar rumah tidak tenggelam. Hujan membuat Ki Jung, putri tuan Kim harus menekan kuat-kuat tutup kloset, agar kotoran dalam kloset  tidak muncrat kemana-mana. Maklum, banjir akan membuat kloset meluap. Percayalah, melihat Ki Jung/ Jessica berjuang menutup kloset yang terus memuncratkan kotoran hitam keluar tiap kali riak gelombang banjir datang, perasaan kita campur baur antara jijik dan iba.

Situasi banjir di lingkungan kumuh ini demikian mencekam.

Hujan malam itu, membuat seluruh penghuni perkampungan kumuh terpaksa mengungsi.

Mereka tinggal di stadion. Berebut baju bekas dari sumbangan warga sekitar. Di saat yang sama, nyonya Kim tengah memilih-milih baju apa yang akan dikenakan di pestanya, dari ruang khusus miliknya yang menyimpang ratusan baju di almari-almari.

Bagi orang kaya, hujan adalah situasi yang demikian romantic. Bagi orang yang tak punya rumah, itu adalah bencana.

parasite - cannes.jpeg
Parasite, pemenang festival Cannes 2019

Kelebihan Parasite (기생충 : Gisaengchung)

Film ini disutradarai Bong Joon Ho dan ditulis juga olehnya. Sebagaimana film Korea pada umumnya yang gado-gado; film ini begitu kocak, konyol, horror, menyentuh dan juga, lumayan sadis di adegan pembunuhan. Adegan demi adegan kita diajak untuk semakin larut dalam kekonyolan, yang semakin lama semakin mencekam akan rahasia tersembunyi di tengah rumah megah tuan Park.

Korea mendapatkan Palme d’Or untuk tahun ini dan memang, Parasite pantas mendapatkannya. Ada beberapa pesan penting yang disampaikan secara mendalam oleh Bong Joo Ho.

 

  1. Kebohongan akan terus ditutupi oleh kebohongan lain.

Berbohong itu sangat addictive. Buat kecanduan. Awalnya bohong, menipu, memfitnah lalu bertambah serakah. Itulah yang dilakukan keluarga Kim. Kita akan bersimpati pada kehidupan mereka yang sangat miskin, tapi juga miris.

Awalnya Ki Woo/ Kevin berbohong. Lalu ia ingin semakin menipu keluarga Park. Maka ia berbohong demi saudarinya Ki Jung/ Jessica agar bisa diterima sebagai guru privat seni di tengah keluarga Park. Jessica lalu memfitnah supir keluarga itu agar bisa memasukkan ayahnya, tuan Kim sebagai supir. Tuan Kim, Kevin, Jessica akhirnya memfitnah housekeeper keluarga Park yang baik hati, Moon Gwang agar bisa memasukkan ibunya. 4 sekawan ini lalu bahu membahu dalam berbohong dan menipu demi mengeksploitasi keluarga Park.

 

  1. Berhati-hatilah dalam berucap

Kadang, manusia khilaf berkata-kata.

Sebagai orang kaya, tuan dan nyonya Park sebetulnya cukup baik hati. Hanya saja, mereka terbiasa memerintah dan menjadikan kepentingan pribadi mereka jauh lebih penting daripada kepentingan orang lain yang lebih rendah, termasuk pembantu dan sopir mereka.

“Syukurlah, semalam hujan.”

“Baunya tuan Kim, tukang masak dan Jessica sama,” kata Dasong.

“Orang-orang bawah tanah punya bau yang khas.”

“Tuan Kim punya bau, yang bisa menembus kursi sampai tercium dari bangku belakang,” kata tuan Kim kepada istrinya.

Banjir, bau busuk, baju jelek, kurang makan, bertahan hidup dari hari ke hari adalah keseharian manusia miskin yang tinggal di kampung kumuh. Mungkin, awalnya keluarga Kim senang menipu keluarga Park dan mereka berlagak seolah menjadi pemilik rumah megah tersebut. Lama-lama, komentar tuan dan nyonya Park yang sebetulnya biasa saja, menjadi tikaman yang luarbiasa menyakitkan.

parasite - keluarga miskin
Kemiskinan keluarga Kim yang digambarkan sangat apik, sumber Tribunnews

  1. Jangan mudah percaya pada orang lain

Kehidupan orang kelas bawah yang harus bertaham demi sesuap nasi, digambarkan sangat apik. Masyarakat marginal seringkali harus mempergunakan banyak cara agar bisa mendapatkan uang, termasuk berbohong dan menipu. Keluarga Kim digambarkan sebagai keluarga yang kompak dan tough, sebaliknya keluarga Park meski kayaraya sangat rapuh. Mengapa mereka mudah percaya pada  Kevin, Jessica, tuan Kim dan nyonya Kim? Nyonya Kim tidak bisa mengurus rumah dan memasak, sehingga ia harus punya housekeeper. Siapa yang bisa mengerjakan tugas rumah tangganya, akan ia percaya. Dahye dan Dasong punya kesulitan belajar. Nyonya Park tidak bisa mengajari putra putrinya, maka ia sangat membutuhkan guru les yang akan membantunya; itu sebabnya nyonya Park sangat tergantung pada Kevin dan Jessica. Tuan dan Nyonya Park sudah terbiasa dilayani. Hidup tanpa supir sangat tak nyaman. Maka ia sangat percaya pada tuan Kim. Melihat orang miskin mengeksploitasi orangkaya, sungguh sebuah parodi sarkasm. Biasanya orang kaya yang mengeskploitasi orang miskin, kali ini sebaliknya.

Seharusnya, kita tidak mudah percaya omongan, hasutan, fitnah yang ditujukan untuk menjatuhkan seseorang. Sepertinya bagus buat kepentingan diri kita sendiri, tetapi kenyataannya sebaliknya.

parasite - nyonya Park.jpg
Parasite – Nyonya Park yang cantik dan naif

  1. Hidup tak perlu membuat rencana.

Ini perkataan yang mak jleeeeb bangettt.

Meski saya kurang setuju dengan pendapat tuan Kim.

Saat terkena bencana bajir limbah, tuan Kim, Kevin dan Jessica harus mengungsi dengan ratusan penghuni kumuh lainnya di stadiun.

“Ayah, apa kau punya rencana?” tanya Ki Woo.

“Tidak,” kata tuan Kim.

“Kenapa? Kau bilang, kau selalu punya rencana.”

“Percayalah Nak, hidup itu tidak seharusnya direncanakan. Sebab semua akan meleset dari rencana.”

Ooowwwwh.

Kita boleh tak percaya perkataan ini.

Tapi tuan Kim mengatakan kalimat itu dalam kondisi yang demikian pedih, membuat hati permirsa tercabik. Seolah, bagi orang miskin seperti mereka; tak perlu membuat rencana apapun dalam hidup.

Sebab, seringkali hidup tak terjadwal sesuai rencana.

parasite - kompaknya keluarga kim.jpg
Kompaknya kakak beradik Kim – Parasite

 

 

 

Kategori
Catatan Jumat Catatan Perjalanan Cinta & Love Dunia Islam Mancanegara Oase Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Esai Robin Kirk tentang Palestina yang Membawa Keajaiban!

 

Kami berdiskusi tentang berbagai hal terkait dunia kepenulisan. Lalu tiba-tiba sang profesor bercerita, kuterjemahkan dalam bahasa Indonesia secara bebas ya.

“Sinta, bukumu tentang Palestina mengingatkanku pada sebuah esai yang kutulis.”

Aku menjadi tertarik. Segala bahasan tentang Palestina, menurutku pantas disimak.

“Aku membuat esai tentang Palestina, ketika Gaza sedang dihujani bom. Kucari-cari foto di internet, lalu muncullah sebuah foto yang bagiku sangat menggetarkan.

Kamu sudah baca ‘Book of Thief’?”

Book of thief.JPG
Book of Thief kubeli di pasar loak buku Hong Kong

 

Aku jawab sudah membaca buku dan menonton filmnya

“Esaiku dimuat di beberapa tempat. Kisah tentang seorang gadis kecil yang mengorek-ngorek reruntuhan bangunan untuk mengumpulkan buku-buku yang tersisa…bagiku sangat luarbiasa.”

Aku mendengarkan penuh minat.

“Lalu, berbulan setelah esaiku dimuat, seorang jurnalis bernama Marcello di Cinto mengirim email padaku. Katanya, ‘Aku akan ke Palestina! Akan kucari anak itu!”

Robin berkata, ”aku bahkan tidak tahu apa anak itu masih hidup atau sudah mati1”

Kata jurnalis tersebut, ia akan memberi kabar pada Robin Kirk ketika sudah sampai di Palestina. Ya. Berbulan-bulan tanpa kabar,sang  jurnalis suatu hari menginbox Robin Kirk dan memberikan kabar bahagia.

Robin Kirk menuliskan esai tentang Palestina berdasar foto yang didapat dari internet (kiri). Tulisan Kirk membuat di Cinto bertekad mencari gadis itu! (kanan)

“Aku telah menemukan anak itu. Namanya Maram al Assar. Dia di kamp pengungsian Nuseirat. Kutelusuri dari fotografer yang mengambil fotonya –fotografer ini telah kehilangan dua kaki karena perang yang terdahulu-  lalu, kami menemukan Maram.”

Aku yakin, bukan pekerjaan ringan bagi Marcello di Cinto untuk menemukan Maram di tengah gelombang peperangan di Palestina. Tetapi tulisan Robin Kirk, profesor yang juga penulis buku anak itu demikian menggugah, hingga ia bertekad untuk mempertaruhkan  nyawa demi sosok gadis kecil yang menjadi buah bibir karena aktivitas hebatnya.

Aku dan Robin berkaca-kaca.

Robin Kirk and Sinta
Profesor Robin Kirk & aku, Sinta 

Kata Robin, inilah sosok nyata Liesl dalam buku ‘Book of Thief’ , gadis yang di dalam hirup pikuk carut marut peperangan, tetap mencintai buku dan menjadikan membaca sebagai bagian penting aktivitas kehidupan.

Kalau anak Palestina saja mencintai buku dan menyisihkan waktu untuk membaca di sela peperangan, kita juga harus menyisihkan waktu lebih banyak untuk membaca, dan menulis tentunya.

 

Kategori
Buku Sinta Yudisia Fiksi Sinta Yudisia Jepang KOREA Kyushu Mancanegara Oase Sirius Seoul Travelling WRITING. SHARING.

Seperti apa sosok Sofia di novel Sirius Seoul?

 

 

Aku teringat sepenggal percakapanku dengan Profesor Robin Kirk, pakar cerita anak yang juga ikut residensi penulis di Seoul Juli 2018 tempo hari.

“Apa yang ingin kamu sampaikan ketika menulis novel untuk remaja, terlebih settingnya Jepang dan Korea?”

cover Sirius Seoul
Cover Sirius Seoul. Cantik , ya? 🙂

Kuceritakan bahwa anak muda Indonesia  menggemari Jepang dan Korea. Film-filmnya, animasi, komik, drama, musik, kuliner dan seterusnya. Banyak pertanyaan muncul di hatiku : kok bisa ya buat film sekeren itu padahal plot dan settingnya sederhana? Oh, ternyata ada kekuatan di karakter tokohnya. Kok bisa ya K-pop sekeren itu? Oh ternyata mereka tahan banting, masuk karantina bertahun-tahun sebelum debut. Filosofi han sudah mendarah daging dalam diri mereka. Yang mau sukses, harus sabar dan tahan banting.

Sosok di Polaris Fukuoka dan Sirius Seoul, masih sama. Sofia, si anak yatim piatu yang merantau ke Fukuoka, nebeng hidup dan kerja di pamannya yang super galak tapi baik hati. Di Sirius Seoul, Sofia menghabiskan liburan musim panasnya di Seoul, menikmati konser boyband dan mengunjungi tempat-tempat eksotis sembari mencari jejak sepupunya yang belum pernah dikenalnya, Ninef.

Sofia yang kesasar ketika naik bis di Seoul (kiri) . Sofia dan Ninef saling bertukar cerita (kanan)

 

 

Seperti apa sosok Sofia?

  1. Energik
  2. Suka berdebat terutama dengan si Om
  3. Karena gak punya ayah, agak-agak gimana kalau ketemu cowok . Kata si Om ,”kamu jangan genit kalau ketemu cowok!”
  4. Suka makan telur. Sampai-sampai Jie Eun, Rei dan Umeko bosen lihat menu makan Sofia.
  5. Punya jiwa altruist tinggi. Kali aja dia punya kepribadian tipe A- Agreeableness, salah satu dari Big Five Personality ya?
  6. Suka pakai baju batik. Karena batik itu melambangkan budaya Indonesia yang cantik banget.
  7. Rajin kalau lagi mood
  8. Bisa tidur masih pakai jilbab dan kaos kaki kalau udah kecapekan hahaha…
  9. Kalau lagi malas, mirip banget sama Gudetama, tokokh telur dalam kartun Jepang!
  10. Bodynya atletis –bukan tipis- , maklum angkut-angkut barang di toko si Om. Lari kesana kemari dari apatonya di Fukuoka dan kampusnya di Kitakyushu. Apalagi si Om nggak suka dengan karyawan yang klemar klemer, banyak alasan
  11. Wajahnya manis, tapi jangan dibayangkan seperti Jie Eun yang mirip Rose – Blakcpink atau adiknya , Yi Kyung yang mirip Jisoo.
  12. Suka nolong orang, tapi suka ngutang ke si Om dan tantenya, Nanda yang judes tapi kindhearted.

 

Selebihnya baca sendiri aja yaaa

 

(meski Sofia masih amat sangat gaul, gak bisa lepas dari IG dan boyband girlband pujaannya; diam-diam dia terus belajar mencari jati diri. Satu yang ingin kutampilkan di novel Polaris Fukuoka dan Sirius Seoul : betapa istimewanya gadis Indonesia karena mereka dikenal mandiri, baik hati dan suka menolong . Jadi, banggalah jadi gadis dan perempuan Indonesia!)

 

Mohon  doa di hari baik, bulan baik ini, agar novel Sirius Seoul lancer terbit. Barakah dan bermanfaat bagi masyarakat luas, pembaca menemukan pencerahan, serta keunggulan Indonesia semakin dikenal masyarakat dunia.

 

Kategori
Catatan Jumat Fiksi Sinta Yudisia Karyaku Kepenulisan KOREA Oase Perjalanan Menulis Renungan Hidup dan Kematian WRITING. SHARING.

Ya Allah, Bayarlah Aku!

Aku pernah bilang ke suami, “Mas, kalau aku nulis tapi penghasilannya sedikit, atau malah nggak ada sama sekali, gimana?”

Suamiku alhamdulillah berkata, “ya nggak papa. Yang wajib cari nafkah itu suami. Tapi dicukup-cukupin, ya. Kalau memang Inta bisa dakwah di situ, semoga barakah.”

Apa aku nggak pernah nangis?

Apa aku nggak pernah kecewa?

Seringlah. Pas sudah nunggu 3 bulan, bahkan 6 bulan, 9 bulan, atau ada yang 12 bulan ternyata royalti yang dihasilkan jauh dari jutaan. Bahkan kadang nggak bisa diambil di ATM. Royalti yang dicadangkan untuk bayar ini itu, bayar sekolah dll, ternyata jauh dari perkiraan.

Apakah lebih baik aku berhenti menulis dan dagang online saja? Begitu banyak temanku dagang online dan jadi kayaraya. Tapi, ah, hati ini sudah terpanggil untuk menulis.

Aku masih ingat penggal sebuah acara dakwah.

Waktu itu, uangku tinggal Rp. 6000. Anak-anakku masih kecil, 4 orang. Aku mengisi acara dan seluruh anggota keluarga menunggu, siapa tahu aku pulang bawa bingkisan. Entah uang, nasi kotak, atau kue. Ternyata, panitia memang pas-pasan. Tak ada sama sekali bingkisan yang kubawa pulang. Bahkan aku harus keluar uang bensin sendiri.

Sepanjang jalan pulang, naik sepeda motor, aku menangis. Menangis membayangkan 4 anakku dan suamiku yang insyaallah jujur sebagai pegawai negeri, menahan lapar.

Hujan saat itu.

Air mataku bercampur derai hujan. Tetapi entah mengapa, hatiku tidak ingin mengucapkan sumpah serapah pada panitia. Apalagi pada Allah dan malaikatNya. Mungkin saat itu imanku sedang bagus. Yang kuingat, di bawah curahan hujan aku berdoa kepada Allah.

“Ya Allah, kalau seorang pegawai saja dibayar oleh perusahaan, apalagi aku. Aku bekerja untukMu ya Allah. Maka bayarlah aku dengan pantas. Tidakada satupun perusahaan pun di muka bumi ini yang bisa menggajiku dengan pantas, kecuali Engkau ya Allah.”

Apakah aku langsung dapat uang?

Tidak.

Tetapi hatiku terasa demikian tenang.

Suamiku juga ikhlas.

Dan anak-anakku dengan wajah teduh berkata, menyambutku yang pulang dengan tangan kosong, “kita lagi harus bersabar ya, Mi?”

Ya.

Kalau kita bekerja untuk Allah, yakinlah suatu saat, Dia akan bayar. Memang kita butuh uang, dan uang itu harus dicari agar kita tidak jatuh pada yang haram. Tetapi ketika telah berupaya keras di jalan kebaikan, yakinlah, Allah yang akan menggaji kita.Pasti banyak kesulitan. Pasti banyak keterhimpitan. Kadang kita harus berhutang, lalu bulan depan gali lobang tutup lobang. Sampai kapan? Sampai kita merasa yakin bahwa rizqi tidak selalu berupa materi.

Prof Koh dan Sinta
Prof. Koh Yung Hun, HUFS

Hingga aku tiba di sini, di kantor Profesor  Koh Yung Hun.

Aku melihat gaji Allah yang terpampang di hadapanku. Sedekah Minus 2016 menghantarkanku ke Seoul Foundation for Arts and Culture. Lalu 2018, ketika aku kembali kemari, aku bertemu profesor Koh Yung Hun  bersama mbak Ummu Hani.

“Bu Sinta sudah tahukan, kalau Sekedah Minus saya masukkan dalam buku wajib untuk mahasiswa di sini?”

Aku hanya berucap alhamdulillah.

“Ohya, apa bu Sinta bisa menulis untuk majalah Korea?”

Aku berucap alhamdulillah lagi.

Sedekah Minus adalah karya yang entah, sudah dibayar atau tidak oleh koran yang memuatnya. Tetapi aku menuliskannya sebagai bentuk perwujudan kegalauan hatiku sendiri akan makna sedekah. Di akhir pertemuan, apa yang profesor Koh katakan sungguh membuatku tercenung.

“Dari Sedekah Minus tersebut, orang-orang yang membacanya belajar tentang makna kebaikan. Saya rasa itu yang penting. Ada 300 orang mahasiswa HUFS   yang belajar di fakultas bahasa Indonesia, kami punya 4 kelas. Dan masih ada 100 orang lagi yang mengambil bahasa Indonesia  untuk major kelas.”

400 orang setiap tahun, yang membaca Sedekah Minus.

Ya Allah, andaikata 400 orang itu tahu makna kehidupan.  Lalu tahun ajaran berikutnya 400 lagi. Lalu tahun berikutnya 400 lagi, lebih atau kurang. Aku melihat buku wajib berjudul Membaca Teks Bahasa Indonesia  :  인도네니아어  읽기연습. Kata-kata yang diterjemahkan secara khusus ke bahasa Korea : kiai, ustadz, santri, jamaah, ibadah, azan, dhuha, rakaat, imam, istighfar, tasbih, tahmid, takbir, infak, waqiah, mulk. Kata-kata itu asing bagi masyarakat Korea tetapi mereka mencoba mencari penjelasannya. Dan  apa aku pernah menduga bahwa tulisanku akan di bawa hingga ke negeri K-Pop?

Cerpenku “Sedekah Minus” yang diterjemahkan ke dalam bahasa Korea & menjadi buku pegangan  mahasiswa HUFS

 

Aku hanya membayangkan, para mahasiswa Korea yang belajar bahasa Indonesia akan mencari tahu apa itu sedekah. Apa itu Tuhan, apa itu agama, dan yang lain-lain. Bagiku, bayaran yang diberikan Allah jauh di luar perkiraan.

Aku bekerja untukMu ya, Allah.

Maka bayarlah aku.

Adakah di atas muka bumi ini perusahaan yang dapat menggaji dengan pantas, saya, anda atau siapapun yang mencoba berbuat kebaikan di jalanNya?

 

Kategori
Beasiswa / Scholarship Buku Sinta Yudisia Catatan Perjalanan Kepenulisan KOREA Mancanegara Oase Perjalanan Menulis Travelling Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Residensi Penulis, Ngapain Aja?

 

Mungkin masih ada yang bertanya-tanya : Writer’s Residency atau residensi penulis itu ngapain aja sih? Apa sama dengan jalan-jalan biasa? Ke luar negeri, dibiayai, makan-makan, selfie-selfie; begitu?

Hehehe, nggak juga kali. Yah, sedikit banyak ada miripnya, tetapi ada tanggung jawab besar ketika kita mengikuti residensi penulis. Kita punya tangung jawab membawa nama negara Indonesia tercinta.

Residensi penulis, mirip karantina sebetulnya. Penulis diisolasi sejenak dari dunia luar, supaya bisa berkonsentrasi menulis. Tahu sendiri kan,penulis itu adaaa aja kerjaannya. Kayak saya yang ibu rumah tangga dan psikolog ini. Sehari-hari mencuci, memasak, berantem sama anak-anak (alamaaak!) , menemui klien dst. Belum lagi ngobrol sama tukang sayur, wah…tulisan nggak kelar-kelar.

Residensi penulis membuat kita fokus. Ya. F-O-K-U-S. Itu ternyata kunci utama menjadi penulis. Di residensi inilah kita kemudian nggak ngurusi apa-apa, kecuali masak ala kadarnya dan mencuci baju sendiri. Berhasilkah? Alhamdulillah, berhasil bagi saya.

 

Lingkungan yang asri, memunculkan inspirasi

Di residensi Art Space Yeonhui, milik dari SFAC atau Seoul Foundation for Arts and Culture ini, saya bisa menyelesaikan banyak tulisa. Bagi saya banyak karena dalam waktu 3 minggu, kalau di Indonesia rasanya sulit banget.

  1. Seksologi Islami, buku non fiksi yang insyaallah akan diterbitkan oleh Indiva Publishing 2018.
  2. Tiga buah buku anak serial Children Stories yang insyaallah akan diterbitkan oleh Ziyad Publishing. Masing-masing berjudul : Hii, Aku Takut; Yuk, Senyum dan Bertemu Orang Asing. Insyaallah terbit 2018.
  3. Cerpen Sepetak Nasi di Ujung Sumpit, yang saya kirimkan ke Kompas. Masih nunggu kabar.
  4. 3 Menit yang Bahagia, saya kirimkan ke Jawa Pos, masih nunggu kabar.
  5. Esai Mengapa Unsur Korea Menarik untuk Dituliskan dalam Novel dan Cerpen? Yang insyaallah akan diterbitkan oleh majalah Koreana, musim gugur 2018.
  6. Revisi untuk novel Sirius Seoul yang insyaallah diterbitkan Pastelbooks, 2018.
  7. Tulisan-tulisan lepas untuk blog
  8. Video-video pendek tentang Seoul seperti tentang SFAC, Itaewon, Line Store, HUFS (Hankuk University of Foreign Studies).

 

Perpustakaan di Yeonhui, Seodaemun-gu, asyik banget!

Kebayang kan, kalau di Indonesia, tugas utama sebagai emak-emak akan membuat waktu menulis tersingkirkan terlebih dahulu. Bukan saya mengeluh atau menyesal ya. Tetapi alhamdulillah, Allah kasih kesempatan saya ke Seoul untuk residensi selama 3 pekan; maka saya manfaatkan sebaik-baiknya.

Sehari-hari kalau nggak jalan keluar, saya akan duduk di depan netbook untuk menulis.

3 Novel di Yeonhui Siktak.JPG
Reem & Polaris Fukuoka adalah novel yang saya tulis sebagiannya di SFAC 2016

Nah, kalau anda mau ikut residensi penulis; rencana mau menulis apa aja?

 

Selain itu, kalau kita ikut residensi penulis maka harus ada hal-hal yang disiapkan.

Yeonhui Siktak.JPG
Bahasa yang wajib dihafal : saya tidak makan babi dan saya tidak minum alkohol 

  1. Belajar bahasa, meski sedikit. Kalau di Korea,setidaknya belajar untuk tahu huruf hangeul. Insyaallah gak sulit, kok. Dari hanya annyeong haseyo; sedikit-sedikit saya udah bisa merangkai kalimat. Meski dibantu sama google hehehe. Misal : joneun dwaejigogi meokji ahneunda yang artinya saya nggak makan babi. Atau joneun Indonesia-saramimnida yang artinya saya orang Indonesia

 

  1. Masak sendiri. Bisa kan? Wong sudah biasa masak mie J.

 

  1. Nyuci sendiri

 

  1. Berani jalan-jalan sendiri, belajar dari yang terdekat. Untuk melatih keberanian, cari convenience store Lalu cari halte bus terdekat. Lalu cari stasiun kereta terdekat. Daaaan….berani kesasar, ya! Saya udah bolak balik kesasar.
Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Hikmah KOREA Mancanegara Oase

Persiapan buat ke Korea

“Aduh, mahalnya!”

“Aduh gak punya uang…”

Itu kalimat yang haram dikatakan kalau kita punya cita-cita. Nenekku, bulik-bulikku, dan mamaku selalu bilang kalau kita punya keinginan, nggak usah bilang hal-hal negatif. Duh mahal. Duh nggak cukup duitku. Saat punya keinginan  langsung aja bilang, “ya Allah , mudahkan rezekiku untuk terwujudnya keinginanku.”

 

Aku aja nggak nyangka bisa ke Seoul ini. Nanti aku bahas keajaiban menjelang berangkat ke Seoul ya…

 

Kita bicara persiapan dulu. Kalau kamu mau ke Korea (baca luar negeri). Bisa jadi peraturan di Korea dan negara lain itu beda-beda.

  1. Paspor. Buat paspor jauh-jauh hari. Perkara kita mau berangkat ke LN atau nggak, urusan nanti. Sama seperti kamu punya KTP. Emang karena mau nikah baru ngurus KTP? Enggak kan? Paspor juga gitu. Kalau buat jauh-jauh hari, kita nggak gelisah karena harus nembak. Buat paspor murah, 355 ribu, asal syaratnya lengkap. Tapi kalau nembak bisa 1,2 juta, 1,5 juta, 1,9 juta sampai 4 juta!

 

  1. Visa itu kayak apa sih?  Tiap kali mau masuk negara asing selain Indonesia kita butuh visa. Pas  mau ke Korea, aku gak bisa ngurus visa sendiri. Maka  kukirim pasporku ke Jakarta. Salah satu sahabat yang mengurus visa-visaku adalah Aquila Travel, Jalan Cendrawasih 2 no 11, Cilandak, Jakarta Selaran 12420. Bisa di cek di www.aquilatravel.co.id. Pengalamanku nih…mereka cukup amanah. Buat visa ke Korea itu antara 1-2 juta,tergantung mau sekali masuk atau multiple entry. Nah, 2018 ini aku lolos ke Seoul, pihak Aquila ngecek visaku. Ternyata masih berlaku sampai 2021. Mereka hanya minta biaya admin 200 (padahal untuk orang gaptek seperti aku, mereka bisa aja kasih tarif tinggi kan?)

 

  1. Travel insurance. Untuk Seoul, mereka minta travel insurance. Buat jaga-jaga kalau kita sakit, hilang koper dll. Harganya $75. Jadi kalau nanti mendadak ada apa-apa (moga-moga aja nggak, naudzubillah) kita gak usah keluar uang. Semua udah diurus sama pihak asuransi.
  2. Tiket PP. Sekarang udah banyak banget penerbangan Surabaya-Seoul. 2016 aku ke Korea, nggak ada yang dari Surabaya. Rata-rata dari Jakarta. Semakin banyak aja yang pingin ketemu Oppa Eonni cakep yaaa. Mahal gak tiket PP? Kalau yang mau mahal juga ada, PP 50 juta kwkwkw. Mending buat haji umroh laaah. Tapi kamu bisa terus belajar cari tiket murah. Kamu bisa cari di traveloka,tiket.com, nusatrip dll. Dengan rajin cari info  kita bisa dapat tiket murah.

 

  1. Living cost. Sepanjang di Korea butuh biaya. Tukar uang rupiah kita ke won atau dollar. Berapa sih biaya yang dibutuhkan sepanjang di Korea? Ntar ada tulisan lanjutan ya.

Selamat menikmati perjalanan yang penuh hikmah ya 🙂

 

ㄷ도봐요

Ddo bwayo.

See you later.

 

 

 

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA KOREA Mancanegara Oase Perjalanan Menulis

Bagaimana keluar dari bandara Incheon, Seoul?

How to get your place from Incheon International Airport.

Alhamdulillah…akhirnya tiba lagi di negerinya K-Pop dan drakor yang kondang  itu.

Perjalanan dari Surabaya ke Jakarta memakan waktu 1 jam aja. Tiba di Soetta transit sekitar 2-3 jam. Cukup buat menyusuri bandara yang hadeeeh buat kaki bengkak. Bandara Soetta sekarang udah gedelho (eh, emang dulu kecil?). Gak tahu kenapa kok kayaknya bandara ini tambah gede.  Padahal baru beberapa bulan yang lalu tiba di Soetta.

Perjalanan Jakarta- Seoul berjalan dari jam 23.30dan tiba di Seoul jam 06.30 WIBT (waktu Indonesia barat tercinta) atau jam 08.30 waktu Korea. Berarti sekitar 7 jam perjalanan udara.

Alhamdulillah nggak mengalami kendala di imigrasi. Semua lancar,dan teman yang mau menjemputku sudah stand by sejak jam 09.00 . Meski mendarat jam 08.30 kita masih antri di imigrasi dan pengambilan bagasi kan?

Dari bandara Incheon kami naik kereta api ke Seoul Station. Berhenti di  stasiun Hongik University lalu naik taxi sekitar 5000 won ke Yeonhui.

Nah, meski ini kali kedua aku ke Korea, agak celingukan juga mencari jalan keluar untuk ketemu temanku. Dan juga keluar menuju transportasi subway. Jadi alurnya begini :

Kiri : subway dari arah pesawat untuk masuk ke gedung bandara. Kanan : imigrasi

  1. Keluar pesawar ikuti aja panah yang ada arrival atau baggage claim
  2. Ada banyak toilet. Kita bisa pipis dulu. Soalnya di atas pesawat kadang kruang nyaman
  3. Kalau mau ke bagian bagasi dan imigrasi, kita naik kereta api 1 kali. Sudah tersedia dari arah turun pesawat, untuk naik kereta ini.ikut arus aja
  4. Keluar kereta nanti naik tangga eskalator sekali
  5. Sampailah di imigrasi. Antri di sini
  6. Lalu keluar imigrasi, cek bagasi kita ada di pesawat apa, di jalur bagasi berapa
  7. Ada panduan exit. Biasanya pintu C
  8. Kalau sudah di lobby luar bandara,biasanya naik lift sekali ke lantai 2 untuk bisa naik kereta api
  9. Beli T-money dulu atau kalau udah punya, isi di vendor machine
  10. Silakan naik kereta api. Yang ini perhentian terakhir di Seoul Station.

Kiri : papan informasi bagasi kita dari penerbangan apa, misal GA 878 ada di belt 9. Kanan : pintu C tempat keluar

 

 

Kiri : gate untuk gesek kartu. Pastikan kartu T-money ada isinya. Kanan : antrian naik subway.

Trataaaa.

Akhirnya aku bisa sampai di residensi penulis yang keren ini. Tempatnya dingin, nyaman, teduh, rindang. Kesunyian yang ada di sekeliling menyebabkan penulis mudah menghasilkan karya, mencari inspirasi dan berkontemplasi terhadap banyak hal.

#seoul

#novel

#fiksi

#penulisindonesia

Hari ke #1 di #seoul

Hari ke #2 di #seoul

Kategori
Catatan Perjalanan Jurnal Harian Kepenulisan Mancanegara Oase WRITING. SHARING.

Seoul, I am coming back!

Alhamdulillah, meski baru rencana, insyaallah saya akan berangkat kembali ke Seoul, Korea Selatan. Ceritanya, pengajuan aplikasi untuk tinggal selama sebulan di residensi bergengsi Yeonhui, Seodamun-gu, disetujui pihak SFAC (Seoul Foundation for Arts and Culture).

Kapankah itu? Rentang waktu yang diizinkan adalah 1-31 Juli 2018.

Berarti pas musim panas ya? Cuaca nggak beda jauh dengan Indonesia.

Nah, saya bagi cerita di sini apa saja yang perlu disiapkan ya.

  1. Kalau mau ikut seleksi SFAC minimal kita harus punya karya tulis fiksi seperti cerpen/ antologi/ novel yang telah dipublikasikan. Kalau kamu ingin tahu seperti apa SFAC, gampang! Tinggal googling atau bisa ke mari ya SFAC
  2. Minta surat rekomendasi dari penerbit dan komunitas agar aplikasi anda lebih berkualitas
  3. Sering-sering kontak mereka via email untuk tahu apakah aplikasi kita disetujui. umumnya kita diizinkan tinggal selama sebulan di Seoul. Sebulan, lho! Bisa jalan-jalan ke Itaewon, line store, Coex building tempat SM entertainment ngantor atau ke kuil-kuil.
  4. Harus mencantumkan residency planning. Jadi mau ngapain aja selama di Korea. Kalau saya memang ingin nulis di residensi mereka yang nyaman banget.
  5. Doakan ya teman-teman agar semua dimudahkan Allah Swt. Sebab masih banyak pernak pernik yang harus diselesaikan nih 🙂

 

 

Mari, silakan mencicip 🙂

Searah jarum jam : Coex building, sungai Han, HUFS (Hankuk University of Foreign Studies bersama Feby), bersama mbal Aqiela di taman mawar buatan.

OK Sinta di Deoksugung, Seoul
Kenangan di Deoksugung, 2016

Kategori
Mancanegara Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Remaja. Teenager Tulisan Sinta Yudisia

Mengapa Artis, Girlband & Boyband Korea Punya Banyak Penggemar?

 

Masa remaja dulu, boyband yang marak di blantika musik adalah New Kids on The Block, Westlife, Boyz to Men dan sejenisnya. Wah ketahuan deh angkatan umur berapa! Ketika punya anak-anak remaja, saya belajar menyukai dunia disekitar mereka. Manga, anime, boyband girlband, film Korea, film Jepang dan segala seluk beluk industri seni negara Ginseng dan negara Matahari Terbit.

Alhasil, saya cukup mengenal boyband seperti Super Junior, Shinee, Wonder Girl, SNSD atau Girls Generation. Yang terbaru pun cukup tahu seperti BTS, Seventeen, G Friend, Red Velvet. Penggemar mereka punya sebutan sendiri : ELF untuk Suju, Carat untuk Seventeen, A.R.M.Y untuk BTS.

Rap monster BTS.jpg
Rap Monster BTS dg IQ 148!

 

Apa yang saya suka dari pekerja seni Korea : mereka all out. Rap monster dari BTS, Hani dari EXID, lalu Song Jong Ki dan Kim Tae Hee adalah beberapa anggota band dan movie star yang bukan hanya menekuni dunia hiburan namun juga sangat cerdas di bidang akademik. Belum lagi, berita tentang kerasnya masa karantina mereka di bawah manajemen terkenal, membuat orang-orang geleng kepala. Aturan makan ketat, tak boleh pacaran, sekian jam berlatih vokal dan olah tubuh. Yoona, salah satu anggota girlband SNSD bukan hanya bertubuh langsing tapi ia juga penyuka olahraga esktrim panjat tebing.

kim tae hee.jpg
Kim Tae Hee : Cantik dan Pintar!

Girl Band yang Keren

Anak-anak SMP dan SMA bahkan mahasiswa sangat menggemari artis dan girband Korea. Mengapa tidak? Apa saja penyebabnya?

  1. Goodlooking. Gadis Korea disebut sebagai salah satu perempuan tercantik dunia karena kulitnya yang putih dan rambutnya yang hitam serta halus.
  2. Stylish. Cewek Korea , apalagi yang tampil di dunia hiburan sangat pandai memadu madankan beragam jenis pakaian. Boleh jadi karena tubuh tinggi, langsing dan kulit putih membuat mereka tidak kesulitan memilih busana.
  3. Childish. Imut, kekanakan, unyu-unyu, menggemaskan. Ih, pokoknya kalau melihat gaya mereka rasanya geregetan. Pingin nyubit pipinya!
  4. Energic dance. Melihat 4, 5, 9 cewek cantik berkumpul sudah membuat mata terpesona. Apalagi olah geraknya yang kompak, energik, dengan tarian-tarian yang ditata oleh koreografer andal. Jadilah tampilan hiburan yang benar-benar menarik dan so entertain!

 

Girlband sebagai Role Model

Begitu kuatnya industri seni dari Korea sehingga masyarakat, utamanya remaja berbondong-bondong ke negeri Ginseng baik ingin berlibur atau sekolah disana. Kata-kata kamsamhamnida, saranghe, oppa, eonni, ajuhsi, menjadi kata yang biasa  diucapkan. Bila generasi 90-an serba kebarat-baratan; generasi 2000an serba ketimur-timuran. Tokoh idola umumnya akan menjadi role model  bagi pengikutnya. Di tiap dekade, di tiap musim, di rentang waktu tertentu selalu ada idola yang jadi trendsetter dunia. Musim baju leher sabrina yang dikenakan Audrey Hepburn, perempuan mengikutinya. Musim rambut pendek ala Demi Moore yang ngehits di film Ghost, perempuan ramai-ramai memangkas rambutnya. Musim poni panjang ala Jennifer Aniston di film Friends , perempuan melakukan hal yang sama. Demam Korea membawa followersnya kepada beberapa tata aturan yang biasa ditemui di masyrakat Korea.

Apa itu?

Gaya makan, gaya bicara, cara bergerak dan berperilaku, hingga gaya hidup.

Di era 50-an ketika body berisi ala Marilyn Monroe mendunia, perempuan tidak terlalu pusing dengan ukuran tubuh. Yang dianggap sexy justru yang tubuhnya cenderung gemuk. Bibir tebal sedikit memble dianggap sensual. 70-an dunia model dikejutkan dengan supermodel Twiggy yang tubuhnya setipis papan. Maka orang kurus berbangga saat bersosialisasi dengan teman-temannya. Hal ini terjadi hingga era 80-an, sampai-sampai, orang dianggap cantik bila berbibir tipis. Ketika itu belum dikenal operasi plastik; maka orang lebih suka merekayasa wajahnya dengan gaya rambut dan tampilan make-up. Di era demam Korea; trendsetter yang diikuti adalah tubuh (amat sangat) ramping, kulut putih dan wajah imut kekanakan. Raut innocent berupa hidung runcing, mata berkelopak, bentuk wajah oval. Mereka yang pesek, berahang persegi, dahi lebar, gigi maju dan bibir memble; silakan minggir.

 

Hyoyeon SNSD dan Yoona SNSD

Maka, dikenal kemudian di jagad gonjang ganjing ini tubuh super ramping yang dapat diperoleh dengan mengikuti diet super ketat : makan timun dan ubi merah. Tak ada ayam goreng Upin Ipin, tak ada mak nyusss nya Bondan, tak ada es krim, tak ada coklat. Kalau diet masih oke-lah. Yang sangat jauh darikultur Indonesia adalah …budaya oplas alias operasi plastik. Ini sudah menjadi rahasia umum, bahwa sebagian besar artis Korea harus melewati bedah plastik untuk mendapatkan wajah yang diidamkan dan mendapatkan penggemar. Jelek sedikit, hujatan akan dituai.  Sangat sedikit artis yang tetap alami seperti Kim Tae He atau Song Hye Kyo. Lee Min Ho yang sudah tampan saja, harus memperbaiki hidungnya agar lebih mancung.

Budaya kerja keras dan kecintaan pada seni bangsanya sendiri adalah hal yang pantas diacungi jempol dari artis Korea. Namun gaya hidup mereka, tampaknya tak cocok dengan budaya bangsa kita. Indonesia mengenal kesantunan, tata krama, tepa selira yang semuanya dilandaskan pada keluhuran budi. Bukan fisik semata. Maka menilai seseorang hanya dari fisiknya saja, sungguh tidak imbang. Sedihnya, banyak generasi muda sekarang meniru girlband dan boyband Korea hanya dari tampilan fisiknya saja. Oplas, ikut oplas. Diet, ikut diet. Berpakaian minim, ikut demikian.

Padahal, remaja Indonesia akan menjadi remaja unggul bila menjunjung nilai budaya sendiri. Mereka makan kimchi, kita makan pecel. Mereka berpakaian mini, kita lebih suka baju batik. Mereka oplas, kita tak malu dengan kulit coklat, hidung tak mancung, pipi chubby dan body berisi. Sebab inilah anugerah Tuhan bagi bangsa Indonesia. Bangsa yang dikenal sebagai bangsa berperilaku luhur, yang megnhargai manusia karena ketinggian ilmu dan budi pekerti. Bukan sekedar tampilan fisik.

 

Kategori
Catatan Perjalanan Oase WRITING. SHARING.

#1 Tempat cantik di Seoul dan Sekelilingnya

Kalau anda bekesempatan berkunjung ke Korea Selatan , tepatnya ke Seoul, ada banyak daerah cantik yang dapat dikunjungi. Saya pilikan 5 dulu ya!

 

  1. Deoksugung Palace (Istana Deoksugung)

Istana ini memang legendaris. Dilengkapi taman, loronglorong, juga danau tempat raja bercengkrama bersama keluarga. Mengingatkan kita pada kisah di serial Great Queen Seon Deok, Dong Yi, Masquerade. Yang fenomenal adalah Gyeongbukgung. Tapi, Deoksugung ini juga tak kalah megahnya.

Sebetulnya, istana-istana kuno yang ada di Indonesia tak kalah megahnya. Istana Maimun di Medan, bekas peninggalan Majapahit di daerah Singosari (biasa dilalui dalam perjalanan Surabaya- Malang), Candi-candi di Jambi, Candi Ratu Boko di Yogyakarta. Sayangnya, transportasi menuju areal pariwisata kita kurang tersedia. Di Korea selatan, angkutan bis dan kereta api tersedia dengan mudah sehingga turis mampu menjangkau area tersebut.

  1. Kuil Bong Eun Sa (Bong Eun Sa Temple)

Kuil ini dilengkapi lampu-lampu kertas dan kolam teratai, dengan bunga-bunga teratai yang jika mekar, cantik sekali sebagai wallpaper .

Menarik sekali bila masjid-masjid kita pun dihias indah tiap kali menyelenggarakaan perayaan seperti Id, Maulid, Muharram. Masjid yang dihias meriah akan membuat masyarakat berduyun-duyun datang. Memang, awalnya mungkin untuk berwisata. Namun sembari menikmati keindahan arsitektur dan perayaan, lama-lama anak dan remaja semakin tertarik untuk menyambangi masjid.

  1. Coex

Coex sebetulnya mirip gedung ekshibisi. Uniknya, gedung ini berdekatan dengan Bong Eun Sa, jadi kita bisa menikmati dunia modern dengan segala pameran di dalamnya sebelum melangkah ke dunia masa lalu di kuil Bong Eun Sa.

Coex ini sebtulnya berupa gedung-gedung dengan ruang besar untuk seminar, workshop dan launching produk. Untuk menarik minat remaja, selalus aja ada pojok berbentuk jantung hati untuk tempat selfie dan wefie.

 

  1. Han River (Sungai Han)

Sungai romantic ini bukan hanya dijaga kebersihannya. Sepanjang tepian dilengkapi taman-taman, kapal pesiar, bunga sakura buatan yang cantik sebagai teman selfie atau wefie.

 

Salah satu penulis kenamaan Seoul, Han Kang, memiliki nama yang berarti sungai Han.

Sebetulnya, sungai-sungai di Indonesia tak kalah menariknya. Di Surabaya sendiri ada sungai Jagir yang melintas, membelah Surabaya hingga menuju laut. Hiks….sungainya dipenuhi sampah dan plastic. Alhamdulillah,w arga sekarang semakin peduli, jadi berusaha menyadari bahwa sampah dapat merusak lingkungan dan merusak pemandangan.

 

  1. Dongdaemun History & Culture Park Station

Gedung berbentuk unik dengan warna kelabu. Bentuknya membuat kita seakan berada di abad futuristic. Di luar gedung ini dilengkapi kebun mawar buatan yang terbuat dari lampu. Lampui-lampu ini dicetak berbentuk mawar , sehingga ketika malam tiba, bersinar bak negeri peri!

 

Seoul, mampu memadukan sisi modern dan tradisional. Sitana Gyeongbukgung dan Deoksugung masih terpelihara, berikut musem nasional di sisi istana yang menyimpan pernak pernih sejarah mulai baju kaisar hingga mata uang, peta dll.

Berkeliling mancanegara membuat saya sadar, Indonesia jauh lebih kaya.

Bila masyarakat Indonesia menyadari kekayaan dan memelihara semua sumber daya, insyaAllah kita melaju melampaui Korea.

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Catatan Perjalanan Mancanegara Oase WRITING. SHARING.

Tips Penulis Mancanegara  

 

 

Penulis dan lukisan
Indonesia, Pakistan, India, Turki, Filipina

Bertemu dengan penulis mancanegara ketika menghadiri undangan Seoul Foundation for Arts and Culture Juli 2016 merupakan salah satu pengalaman berharga sebagai penulis. Diskusi dan bertukar pikiran dengan berbagai penulis dari berbagai belahan dunia, membuat saya banyak belajar tentang bagaimana mengasah kemampuan sebagai penulis.

Di bawah saya tuliskan rangkuman singkat hasil diskusi dengan penulis yang mewakili kiprah literasi di Negara masing-masing :

  1. Batkhuyag Purevkhuu

Beliau adalah seorang profesor berasal dari Mongolia yang menguasai secara fasih bahasa Russia. Sekalipun diskusi kami dalam bahasa Inggris cukup terkendala, beliau banyak memberikan filosofi hidup sebagai seorang penulis. Sebetulnya, Batkhuyag dapat berbahasa Inggris namun ia khawatir pengucapannya tak cukup lancar maka sepanjang acara resmi beliau senantiasa didampingi penerjemah perempuan, Enkhjargal.

Sinta, PD, Prof. Batkhuyag
Batkhuyag, Sinta, PD

Bagi saya, ia mewakili bangsa Mongolia yang mengesankan. Saat sesi perkenalan diri, ia begitu bijak membuka pidato dengan mendoakan kami agar menjadi penulis yang semakin sukses di kemudian hari.

Batkhuyag menjelaskan, bagi bangsa Mongolia tak menguasai bahasa Inggris bukan hal yang memalukan. Mereka harus terlebih dahulu menguasai syair-syair asli Mongolia yang berjumpah puluhan ribu kata.

Sastra, membuat perjalanan hidup sebuah negara lebih bermakna. Batkhuyag pernah mengunjungi beberapa Negara dan ia sangat prihatin dengan Taiwan yang minim jejak budaya serta sastra. Nafas manusia berkejaran dalam uang dan materi.

Manusia, seharusnya tidak mengukur kesuksesan hidupnya hanya dari materi. Ada yang diperhatikan, dicapai, diraih di luar ukuran materi. Penulis, adalah salah satu profesi yang bertugas untuk mengingatkan manusia pada makna hidupnya. Sebab, kehidupan seorang penulis yang biasanya penuh komitmen, perjuangan dan kesederhaan mengalir dalam kata-kata yang ditulisnya.

 

  1. Sandra Roldan

Penulis cantik dari Filipina ini merupakan teman diskusi yang hangat dan menyenangkan. Ia punya tiga tips untuk menjadi penulis :

  1. Read and read
  2. Write
  3. Get another job!

Korean writer, Prabda, Sinta, Sandra
Korean writer, Prabda, Sinta, Sandra

Baik di Indonesia, Filipina, atau belahan manapun dari dunia ini; ilmu sastra tidaklah mendapatkan penghargaan materi berlimpah sebagaimana sains atau disiplin ilmu lainnya. Menjadi seorang penulis, berarti harus siap dengan kehidupan yang jauh dari standar kecukupan. Maka, alangkah baiknya bila sebagai penulis kita memperkaya diri dengan baca, baca, baca lagi. Menulis, menulis, menulis lagi. Lalu menopang hidup dari pekerjaan selain menjadi penulis. Sandra sendiri menjadi asisten profesor.

 

  1. Pankaj Dubey

Banyak ilmu unik  yang saya dapatkan dari penulis dan sutradara film ini.

Ketika membahas film, PD , panggilan akrab Pankaj Dubey mengatakan : Bollywood tak akan dapat mengejar Hollywood dalam hal teknologi. Ya! Bayangkan saja film James Bond, Bourne, Mission Impossible, atau science fiction macam Interstellar atau The Martian. Film horror nyapun membutuhkan kecanggihan rekayasa seperti Conjuring 1 dan 2, Mama dan Crimson Peak. Film-film imajinasi tak kalah seru mengusung teknologi : Mirror Mirror, Snow White & Huntsman, Haary Potter, Narnia dst.

Lalu apa yang ditawarkan oleh Bollywood serta sastra India?

Storytelling. Bagaimana mengisahkan sesuatu dengan indah, mendayu, memukau.

Dan fiksi India lebih menggaungkan myths, mitos. Fiksi yang benar-benar fiksi. Khayalan. Tidak harus ada alur cerita yang masuk akal. Bagi PD, bila ingin menulis cerita yang serba masuk akal, tulislah buku motivasi. Fiction is fiction. Keunggulan sebuah fiksi adalah karena unsur-unsur mitos serta hal tak masuk akal yang masuk ke dalam cerita.

 

  1. Shaheen Akhtar.

 

Shaheen Akhtar adalah penulis Bangladesh yang mewakili suara perempuan. Bagi Shaheen kisah-kisah perempuan tak ada habisnya untuk dieksplorasi. Shaheen memberikan saya sebuah buku luarbiasa Women in Concert, An Anthology of Bengali Muslim Women’s Writings, 1904-1938. Bagaimana perempuan menghadapi polemik hidup terkait busana muslim, kehidupan sosial politik, juga tantangan ekonomi.

Menulis cerita tentang perempuan dari sudut pandang perempuan, akan menjadi kisah istimewa bagi pembaca dunia.

women in concert, vegetarian, underwear
Women in Concert (Shaheen akhtar), The Vegetarian (Han Kang), Underwear (Kim Nan Il)

  1. Penulis-penulis Korea : Yun Dong Ju, Kim Nan Il, Go San Dol, Han Kang dll

Content.

Isi.

Dalam diskusi dalam ruang laboratorium di Yeonhui serta dalam perjalanan mengunjungi meonumen Yun Dong Ju; penulis-penulis Korea menekankan pada content atau isi tulisan. Tak akan ada publishing, promosi, resensi bila penulis tidak memiliki tulisan dengan isi berbobot. Content adalah bahan bakar. Dengan content, promosi dapat dinyalakan.

Maka, penulis-penulis Korea selalu berusaha menajamkan isi serta cara penulisan dalam setiap karyanya. Kim Nan Il menuliskan Underwear , dengan dialog-dialog yang ringan seputar kehidupan sederhana seorang penulis hingga perseteruan panjang Korea Utara-Korea Selatan. Han Kang menuliskan The Vegetarian , seorang perempuan yang mengubah gaya hidupnya dai penyantap segala menjadi seorang vegan. Peralihan gaya hidup ini menimbulkan kontroversi yang tiada habisnya di tengah keluarga hingga ia harus berhadapan dengan suami, adik, adik ipar serta dokter yang menvonisnya mengalami gangguan jiwa.

 

 

Setelah mendapatkan masukan dari penulis-penulis mancanegara di atas, anda ingin jadi penulis yang seperti apa?