(2) Ayah atau Bunda yang Lebih Berperan?

O, Ayah!
Penelitian di atas tentu masih melibatkan peran bunda, sesuatu yang tak disanggah lagi. Namun hadirnya ayah ke tengah anak-anak sungguh semakin menakjubkan! Tahukah kita, bahwa seorang ayah yang memiliki keterlibatan hangat dalam keluarga, maka anaknya akan lebih lancar membaca dan mengerjakan matematika sejak usia 8 tahun di sekolah dasar? Bila kehadiran ayah tampak nyata di rumah, tanda-tanda kemunculan conduct disorder alias gangguan perilaku yang seharusnya muncul sejak usia 10 tahun, dapat diminimalisasi?
Maka bila kehadiran ayah adalah nihil, atau sosoknya raib dari rumah; tidak saja anak-anak mengalami hambatan pelajaran namun juga mengalami hambatan dalam berperilaku.
Ayah dibutuhkan dalam 2 hal keterlibatan : instrumental involvement dan mentoring-advising involvement.
Wahai ayah, berusahalah untuk bertanggung jawab dan disiplin terhadap segala sesuatu sebab ternyata tanggung jawab ini berada di pundakmu. Jangan lempar handuk sembarangan, lepas kaos kaki sesuka hati, piring kotor dibiarkan, dan meninggalkan semua tinggalan pekerjaan tanpa dirapikan ulang. Hal-hal kecil melatih ketrampilan. Seorang ibu yang merapikan rumah masih belum cukup membangun karakter disiplin dan tanggung jawab dalam diri anak-anak; ayah harus melengkapinya. Memunculkan gairah anak untuk memilih karir tertentu dalam hidupnya, pun hasil peran sang ayah.

Paul Jobs, seorang tukang kayu. Setiap kali menukang, membuat pagar dan lemari, ia menyiapkan meja kecil dan palu kecil bagi putranya, Steve. Sembari menukang, ia berbicara pada putranya, “Steve, dalam membangun sesuatu yang terpenting bukan apa yang tampak. Lihat lemari ini, yang paling penting adalah sisi belakangnya. Kokoh!”

Jobs

Steve Jobs

Steve bukan menjadi tukang kayu. Tapi filosofi Paul Jobs melekat kuat ketika ia menciptakan computer dan perangkat lain : yang tidak tampak, ternyata bagian yang paling penting. Dunia mengenalnya sebagai Steve Jobs, information technology entrepreneur. Bahkan segala perihal tentang dirinya tak hanya berbau teknologi; buku, film, caranya presentasi, menginspirasi banyak orang.
Instrumental involvement, penting dalam perkembangan etik dan moral. Ingatlah, bahwa spiritual kadang-kadang tidak serta merta memunculkan sisi etis dan moralis. Ingat kasus Jim Baker dan Jimmy Swaggart? Seorang anak yang rajin sholat dan baca Quran terkadang masih suka bersikap kasar dan berkata menyakitkan, ayahnya yang dapat membantu sang anak menemukan sifat etis dan moralis dalam dirinya.

Gandhi

Mahathma Gandhi

Anda tahu Mahathma Gandhi?
Ketika mencanangkan gerakan Ahimsa dan Satyagraha di India, ia tidak memerintahkan anak buah atau seluruh pengikutnya melakukan aksi tertentu. Gandhi tahu, Kasturbai, istrinya dan anak-anak sekian lama hidup dalam gaya Eropa : roti , garpu dan pisau. Gandhi tahu, tak mudah mengubah keluarga, masyarakat, apatah lagi India. Maka yang dilakukan Gandhi sebagai suami dan ayah adalah meninggalkan cara makan Eropa, beralih makan menggunakan tangan. Gandhi mencuci kakus dan mengosek kamar mandi, sesuatu yang tak akan pernah dilakukan kalangan Brahmana dan Ksatria! Gandhi menggunakan sari, menanggalkan dasi dan jas.
Ajaib.
Gandhi berhasil seorang ayah yang konsisten menginspirasi anak, istri, keponakan, tetangga hingga seluruh negeri dan wilayah protektorat Inggris lainnya. Gandhi berhasil melawan hegemoni Inggris dengan segala derivatnya : politik, militer, ekonomi, hingga budaya. Inilah peran ayah dalam menginspirasi sisi etis dan moralis bagi anak-anak dan keluarga.

Wahai, Ayah!
Anda tak perlu rendah hati ketika hanya berprofesi sebagai pegawai rendah, atau pengusaha dengan gaji kecil.
“Ah, bagaimana mungkin ayah sepertiku dapat menjadikan anak-anaknya sebagai orang-orang sukses?”

Thatcher

Margareth Tatcher muda

Alfred Roberts, si tukang sepatu, bangga pada kecantikan Margareth dan Muriel. Khusus Margareth, sejak kecil si cantik nan cerdas ini memikat khalayak bukan hanya karena kecerdasan superiornya, tapi juga kemampuan orasinya. Menyaksikan putri perempuannya punya banyak bakat sementara dirinya hanya seorang tukang sepatu, Alfred Roberts rajin menulis surat untuk putrinya, mengatakan kebanggaan dan harapannya. Alfred tak pernah putus asa, mendorong putrinya untuk terus meraih yang terbaik dalam pendidikan. Sama seperti Paul Jobs, Alfred Roberts meletakkan dasar-dasar fundamental bagi karir putrinya yang terkenal sebagai Wanita Besi, Margareth Tathcher.
Para lelaki di atas membangun karakter anggota keluarga mereka dengan memenuhi kaidah instrumental involvement sehingga anak-anak menemukan keberhasilan karir, memahami jalan etis dan moral, disiplin dan bertanggung jawab dalam kehidupan.

Mentoring advising involvement, adalah keterlibatan (ayah) untuk membangun kompetensi, kemampuan untuk menjadi mentor bagi orang lain serta mendukung perkembangan intelektual. Keterlibatan ayah ternyata sangat penting bagi perkembangan akademis anak-anak di sekolah. Ayah yang terlibat dalam pendidikan bagi anak-anak, membentuk karakter keluarga yang dapat welas asih kepada sesama. Bila, kasih sayang dari ayah cukup, anak-anak tak akan haus dahaga mencari sumber perhatian di luar yang seringkali tampak dalam perilaku agresif, impulsif , hiper sensitif. Kehadiran ayah dalam edukasi anak-anak juga membantu kompetensinya , perkembangan intelektual dan akademisnya. Sosok ideal person ayah menjadikan anak-anak punya semangat untuk mencanangkan cita-cita tinggi : menjadi presiden, menjadi pengusaha sukses, menjadi menteri atau ahli agama serta cita-cita mulia lainnya.

Sinta Yudisia, Bagian ke-2 dari 3 tulisan

Iklan

Ayah atau Bunda yang Lebih Berperan? (1)

images (51)

Amerika, pernah menjadi Negara dan masyarakat religious hingga sekitar tahun 70-80an. Beberapa skandal menggoyang sendi Negara sehingga khalayak bertanya-tanya : apakah benar agama tepat dijadikan sebagai patokan?
Televangelist Jim Baker dan Jimmy Swaggart adalah salah contoh sedikit dari kasus yang menggemparkan. Keduanya, yang dikenal sebagai pengkhutbah dan rajin muncul di acara televisi, terbukti melakukan affair dengan rekan kerja dan juga PSK. Gary Hart, salah satu tokoh kharismatik dari kubu Demokrat tertangkap basah bersama aktris sexy berambut pirang : Donna Rice. Amerika gempar, tak hanya kalangan agamawan, negarawan pun jatuh karena perempuan.
Tak cukup sampai disitu.
Serial keluarga yang laris manis seperti Family Ties dan The Cosby Show, hanya indah di layar kaca. Film-film tersebut dianggap tidak mencerminkan dinamika keluarga yang sesungguhnya. Meredith Baxter, yang berperan sebagai Elyse Keaton, ibu dinamis dalam keluarga harmonis; dalam kehidupan nyata mengalami perceraian berkali-kali dan pada akhirnya memproklamirkan diri sebagai lesbi. The Cosby Show mengalami hal yang sama. Lisa Bonet, salah satu pemerannya memainkan Angel Heart yang sensual bersama Mickey Rourke, menimbulkan gelombang protes besar di Amerika. Mengapa PH tak selektif memilih artis?
Sejak decade 80an, Amerika berkembang ke arah kehidupan individualis yang materialistis. Agama dan harmonisasi kehidupan yang tampil indah dalam media-media; perlahan ditinggalkan.
Bagaimana dengan Indonesia?

Keluarga Indonesia
Berbeda dengan Amerika yang tidak lagi mempercayai institusi agama dan keluarga, Indonesia masih beranggapan dua entitas ini sebagai sumber kekuatan. Sekalipun para pengkhutbah di televisi mendapatkan pujian dan hujatan, agama tetap suci dari tuduhan. Yang salah hanya para pelaku.
Begitupun keluarga. Betapapun para pelaku sinetron yang memerankan pasangan harmonis amburadul kehidupannya di luar sana, masing-masing kita masih tetap percaya dan berusaha membangun keluarga yang kokoh kuat.
Sesungguhnya, pada peran siapakah yang sangat penting dalam keluarga? Ayah ataukah Bunda? Kalaupun kita beranggapan peran Ayah dan Bunda sama pentingnya,sama kuatnya, di sisi mana mereka harus menyadari peran utamanya?
Sekali lagi, keluarga adalah benteng dari setiap anggotanya. Seorang ayah merasa tentram berada di tengah keluarga. Seorang bunda merasa nyaman di tengah keluarga. Anak-anak merasa senang, bahagia, bangga di tengah keluarga. Bila ada di antara kita yang gelisah di tengah keluarga sendiri,perlu dicatat. Apakah keluarganya yang salah, atau diri pribadi yang bermasalah.
Mari kita lihat penelitian yang ingin mengetahui sejauh mana pengaruhnya terhadap anak-anak akan keterlibatan orangtua dalam kehidupan mereka. Penelitian ini untuk mengungkap tiga dimensi keterlibatan orangtua : EI , II. MAI. EI adalah expressive involvement, keterlibatan dalam perkembangan spiritual, emosional, social, fisik. Juga kemampuan untuk membangun relasi, kemampuan untuk dapat bersenang-senang . II instrumental involvement adalah keterlibatan yang diperlukan dalam perkembangan untuk membangun tanggung jawab dan kemandirian, etik dan moral, perkembangan karir, disiplin, bertanggung jawab pada pekerjaan rumah dan sekolah. MAI atau mentoring advising involvement adalah membangun kompetensi, kemampuan untuk menjadi mentor bagi orang lain serta perkembangan intelektual.

Sinta Yudisia

Bagian 1 dari 3 tulisan

 

Suami, Kestabilan dan  Refleksi Piala Penghargaan

 

 

Sinta & Sofyan di Anugerah Kartini 2016_2

Aku (Sinta Yudisia) dan suamiku, Agus Sofyan. 21 April 2106, Grand City Mall Surabaya : Penghargaan dari Aliansi Perempuan Indonesia

21 April 2016 beberapa hari lalu, saya mendapatkan penghargaan dari API (Aliansi Perempuan Indonesia) Membangun Bangsa sebagai salah satu orang berprestasi,  yang mewakili kiprah para perempuan di dunia jurnalistik dan kepenulisan. Bertempat di Grand City Mall, acara yang berlangsung Kamis dari jam 15.00-17.00 berlangsung khidmat.

Alhamdulillah wasyukurillah.

Di balik itu semua, peran suami,  anak-anak dan doa orang tua kami tentu berada di belakang semua ini.

Orang yang pertama kali mendapatkan pemberitahuan terkait perihal-perihal penting dalam hidup seperti : undangan mengisi acara, terbitnya buku, peluang beasiswa, penghargaan dan kemenangan atas sesuatu tertuju pada satu orang. Suami. Ia orang yang sepertinya akan turut berbahagia, dan tentu saja menanggung konsekuensi.

Ya. Siapa lagi yang akan menderita dengan perginya istri mengisi acara kesana kemari, bila bukan suami? Siapa lagi yang akan turut menanggung beban ketika istri mendapatkan peluang beasiswa atau panggilan ke mancanegara, bila bukan suami? Siapa lagi yang akan bersabar menghadapi anak-anak, melihat rumah berantakan, cucian menumpuk ketika istri berkiprah di luar; bila bukan suami?

Kamis kemarin, tepatnya 21 April 2016, saya mendapatkan penghargaan atas kiprah di bidang jurnalistik atau kepenulisan dari Aliansi Perempuan Indonesia Membangun Bangsa. Betapa bahagia ketika suami dapat mendampingi, tentu seizin atasannya untuk keluar kantor siang hari. Berada di sisi suami, duduk berdampingan, ketika ia mengambil gambar saat tangan menggenggam piala  rasanya inilah kemenangan bersama.

Sebagai ibu dan istri, tanpa sumbangsih peran suami, rasanya mustahil perempuan mencapai taraf memuaskan dalam kiprahnya.

 

Suami adalah Qawwam (Pemimpin)

Suamiku tidak sehebat Superman, Batman, Ironman, Captain America atau Thor. Ia juga belum menyerupai para sahabat Nabi Saw dalam beramal ibadah. Ia masih harus banyak belajar untuk menjadi seperti Buya Hamka atau Muhammad Natsir atau Sir Muhammad Iqbal. Orasi? Ia tak hebat-hebat amat, namun cukup membuatku dan anak-anak termanggut-manggut ketika menjelaskan perihal Quran dan Hadits.

Satu yang special dari suamiku dan kurasa, salah satu karakter yang sebaiknya melekat pada diri laki-laki : sikapnya mengambil peran sebagai pemimpin atau qawwam dalam keluarga. Bila bicara perihal sunnah, mungkin sebagai istri, aku lebih unggul dari suami : sholat malam, sholat dhuha, hafalan quran. Kuamati suami, ia selalu berusaha tegak dalam hal-hal prinsip, tanpa bisa ditawar. Sholat wajib tepat waktu dan ke masjid, selelah apapun, bahkan ketika malam hanya sempat terlelap sesaat. Sekali waktu ada yang luput, namun tidak menjadi kebiasaan.

Apa yang menjadi unggul dari sholat ke masjid?

Suamiku menjadi teladan langsung dan utama, untukku dan  anak-anak.

Tak ada excuse, tak ada kata no, tak ada tawar menawar untuk hal yang prinsip : sholat wajib. Bagi suamiku, yang wajib akan selalu berada di hierarki tertinggi, teratas, utama dan harus dinomersatukan.

Sholat wajib.

Usahakan tepat waktu.

Apapun, tak perlu pakai alasan.

Sepertinya hal sepele, namun membuatku dan anak-anak belajar mengatur hierarki dalam keluarga. Sebagus-bagusnya amalan sunnah, tak ada yang mengalahkan amalan wajib. Sehebat-hebatnya sebuah perkara, tak akan lebih mulia dari peran yang utama.

 

Sinta & Sofyan Wisuda MAgister_2

Inayah, Sinta Yudisia, Agus Sofyan : Wisuda Magister Psikologi Profesi, 20 Februari 2016

Hierarki kepentingan dan peran

Menempatkan perkara prinsip dalam hierarki yang semestinya, membuatku sempat maju mundur dalam menjalani berbagai peran. Peran ibu dan istri sudah luarbiasa padat, belum ditambah peran public. Sebagai penulis, psikolog dan guru; Sabtu dan Minggu dalam sebulan seringkali terjadwal padat.

Ibarat sholat wajib, suami memberikan batasan-batasan prinsip. Apa yang harus dikerjakan ibu dan istri, tak boleh ditinggalkan. Kalaupun ada keringanan karena pergi keluar kota atau keluar negeri, bukan melenggang kangkung.

Atas kebesaran hati suami yang mendukung setiap kiprah, aku juga tak ingin seenak udel mempermaikan peran. Sebelum pergi keluar kota atau keluar negeri, kuusahakan urusan makanan dan cucian beres. Bila harus catering, maka kususun menu selama sepekan. Cucian? Kuajak anak-anak berbagi peran. Bila mereka terlalu lelah, kuajarkan bagaimana mencuci dan memilah pakaian, sebelum dilempar ke laundry. Beres-beres rumah? Beragam ukuran tas plastic untuk beragam sampah kusiapkan. Pengumuman-pengumuman cantik terpasang di beberapa areal dinding; untuk mengingatkan masin-masing akan tugasnya.

Peran ibu dan istri masih kupegang dari jarak yang jauh. Mengontrol belajar, mengontrol makanan, mengontrol sholat dan ibadah anak-anak.

Suami memberikan izin bagiku untuk sesekali berkiprah membaktikan ilmu namun ia tegaskan; jangan sampai peran ibu dan istri terabaikan. Prinsip sholat wajib sebagai hierarki utama terpelihara di rumah kami : yang wajib, penting, fundamental, tetap harus didahulukan. Perkara-perkara sampingan dapat ditunda.

 

Qawwam adalah stabilisator

Suami dan istri saling menyeimbangkan. Bila suami gusar, istri menenangkan. Bila istri marah, suami bersabar. Bila suami kecewa, istri menghibur. Bila istri mengomel tak karuan, suami rela mendengarkan.

Sekali lagi, suami dan keluargaku bukan gambaran hebat-hebat amat yang ideal seratus persen. Namun, adanya poros dalam keluarga kami, membuat perputaran tetap dalam sumbunya. Kalaupun melenting jauh, tak akan terlepas lepas tanpa tarikan gravitasi. Seorang suami, ayah, adalah pemimpin keluarga. Ia menyeimbangkan ketika mulai terjadi pergeseran bahkan penyelewengan.

Segala izin, bersumber pada suami. Ialah yang akan menentukan, dengan segala hormat dan ketinggian martabat, bahwa keputusan penting ada di tangannya.

“Aku ingin kuliah sastra,” kata si sulung.

“Aku mau aplikasi beasiswa ke luarnegeri,” kata adiknya.

“Aku mau studi engineer tentang mesin-mesin besar,” kata nomer tiga.

“Aku masih bingung,” kata si bungsu. “Jadi dokter, penulis atau sejarawan?”

Maka qawwam akan mengambil keputusan penting dengan segala pertimbangan.

Begitupun ketika aku melaporkan ,” Mas, aku akan mengisi keluar kota tanggal sekian.”

Ia menjawab,” gak capek? Gak keseringan keluar kota?”

Sebagai poros, suami akan menjaga agar semua anggota keluarga tetap dalam orbitnya.

Sekali lagi, perkataan suami tak akan memiliki makna sama sekali bila ia bukan merupakan qawwam bagi keluarga kami. Perkataannya, pemikirannya, pandangannya, keputusannya adalah arah penting bagi kebijakan keluarga.

 

Suami dan kesempatan istri berprestasi

Rasanya malu sekali, bila terlontar ucapan bahwa apa yang kita capai semata-mata hanya karena kepintaran dan kehebatan diri pribadi. Mungkin aku punya sejuta diksi indah untuk dituliskan dalam sebuah novel, namun tanpa izin suami untuk meninggalkan sejenak beberapa pos pekerjaan, aku tak akan punya waktu khusus sehari dua hari untuk berkonsentrasi pada tulisan. Biasanya, bila deadline tulisan tiba, aku akan meminta izin pada suami untuk benar-benar full di depan laptop.

Ketika tulisan itu mendapatkan penghargaan, bukankan ada peran suami di dalamnya?

Terlebih, ketika sedang konsentrasi pada ujian akhir profesi psikologi…nyaris tak terkatakan bagaimana tekanan akademis. Ujian praktek dan thesis kejar mengejar; klien tak semua kooperatif, laporan termasuk verbatim yang luarbiasa membuat mata berair karena panas dan tangisan. Ups….betapa tak mungkin semua itu dilalui tanpa ada toleransi seorang suami.

Qawwam kita.

Sang pemimpin.

Yang rela menanggung beban dan derita ketika istri maju ke depan, mengasah potensi.

Maka, bila kemudian aku terpilih mewakili sekian banyak perempuan luarbiasa di negeri ini untuk menerima penghargaan di Hari Kartini 2016; sungguh, ini bukan hanya bicara tentang kiprah perempuan. Ini adalah prestasi para suami yang tersenyum lapang dada ketika istrinya tergopoh keluar rumah , mengisi pelatihan. Ini adalah kerja keras suami untuk dapat juga sedikit-sedikit membantu kerja domestic istri : memasak, membereskan rumah, mencuci.

Penghargaan untuk perempuan berprestasi, adalah penghargaan untuk sebuah keluarga yang mencoba untuk bahu membahu mengatasi tantangan zaman.

Penghargaan untuk perempuan, adalah penghargaan pula untukmu para suami, yang rela menjadi lokomotif peradaban dengan selalu melaju di depan. Menjadi imam. Menjadi teladan. Menjadi pemimpin. Menjadi pendamping istri dengan segala suka duka.

 

 

Untuk suamiku tercinta, terimakasih atas segala dukunganmu

Sinta Yudisia

 

 

 

 

Jika kau nakal dan berbakat, jadilah Guru!

 

Meski ranking pertama, di kelas maupun paralel ketika SD, bukan berarti perjalanan akademisku tanpa cacat. Nyaris setiap hari terlambat sekolah, karena saat itu kami tinggal di Denpasar Bali. Angkutan hanya andong/dokar dan vespa ayah satu-satunya. Masih kuingat betul raport kelas 2 SD, masih sistem cawu (catur wulan) belum semesteran. Salah satu cawu, rankingku diturunkan ke peringkat ke-2 karena setiap hari terlambat, hingga di raport tertulis peringatan : Jangan sering terlambat!

Mau bagaimana lagi? Rumah kami jauh, sekolah Islam saat itu hanya SD Muhammadiyah I dan II yang posisinya belum dapat dideteksi google map. Meski ada penurunan ranking, guru wali kelasku –yang lupa siapa namanya- senantiasa menyambut dengan senyum ramah, ketika membuka pintu kelas. Ia mengantarkanku ke tempat duduk.

SMP, aku pindah dari Bali ke Yogya. Semua mata pelajaran oke-oke saja kecuali satu : Bahasa J-a-w-a. Nilai ujian pertamaku 0 yang sangat besar. Apa itu tembang dhandanggula? Apa itu hanacaraka? Apa itu tulisan pasangan? Hiks…nilai itu membuatku menangis, tapi di ulangan berikutnya…nilaiku melesat 8 dan 10 selalu! Apa pasal?
Guru bahasa Jawa kami baik kelas 1,2, 3 selalu cantik dan pintar nembang.
Kuneng gantyi kang winarni
Nenggih Dityo Sukasrana
Raden Sumantri Arine
Nalika marang pratapan
Oneng marang kang Raka….

Tembang Asmaradhana itu sering kukutip dalam tulisan, cerpen, maupun novelku. Indah betul lirik, syair maupun nadanya. Aku terpukau oleh kisah Sukasrana, sang adik berbentuk raksasa yang jelek rupa namun berhati luhur. Merindukan pertemuan dengan Raden Sumantri, ksatria tampan kebanggaan Prabu Arjuna yang tidak mau mengakui Sukasrana sebagai adik lantaran kejelekan fisiknya.
SMA?
Haha…yang ini pasti banyak kenangan. Nonton bareng, jalan bareng, bolos bareng, ngibulin guru.
Banyak kisah lucu, kuceritakan salah satunya.

Guru bahasa Inggris kami, sebut sama namanya Mrs. Sweety, berwajah ramah dengan dandanan jadul awal abad XX : rambut panjang dikepang dua dan diangkat ke atas, bertemu tepat di tengah-tengah. Beliau ramah, jago bahasa Inggris dan punya satu kesukaan unik : mengajar papan tulis.
Maksudnya, waktunya lebih banyak dihabiskan dengan menulis papan kayu hijau dengan kapur, dan hanya sekali-sekali berbalik ke arah kami. Guru-guru macam ini banyak sebetulnya, saat itu belum ada OHP apalagi LCD plus powerpoint.
Maka,
Setiap Mrs. Sweety menatap papan kayu (bukan whiteboard yang masih menampakkan bayangan murid di belakang), kami yang duduk di bangku masing-masing membuat ulah.
Melempar kaos kaki ke sembarang teman, siapa yang kena, yaaa…rezeki dia.
Melempar taplak.
Melempar kertas.
Atau berdiri, bukan duduk di kursi.
Atau berdiri, di atas kursi!
Kira-kira, waktunya kalimat in English mendekati titik, maka serentak murid duduk di kursi, memasang tampang innocent.
Suatu saat, yang namanya apes.
Seorang siswa cowok yang rajin, sholih, jarang berbuat onar, sebut saja namanya Dewo.
“Ayo, Wo! Berdiri! Masih lama tuh nulisnya!”
“Iya, cepetan!”
Dewo celingukan. Posturnya tinggi ramping, berbeda denganku yang bertubuh mungil. Aku belum pernah berani naik kursi, takut kenapa-kenapa. Tapi rata-rata teman cowok pernah. Yang tubuhnya tinggi besar, harus waspada, manakala kursi kayu patah atau kepelset.
“Ayo, Wo!”
Dewo lalu berdiri tenang, melihat kiri kanan, hup! Naik ke kursi, berdiri.
Dan Mrs. Sweety tibat-tiba membalikkan badan sebelum tulisannya slesai sampai di titik….

Kami duduk tenang, tanpa mimik bersalah dan membiarkan Dewo menanggung dosa besarnya sendiri. Kasihan Dewo hahaha…
Marahkah Mrs. Sweety?
Sama sekali tidak. Ia membiarkan kejadian itu , tersenyum, dan mempersilakan Dewo turun dari kursi, duduk kembali.

Kalau mengingat kejadian-kejadian saat SMA, benar-benar membuat wajah awet muda.
Sempat terpikir, apakah guru akan kehilngan muka ketika muridnya kurang ajar? Tidak ternyata. Guru-guru yang memang memiliki “isi” , meski kami suka berlaku seenaknya, jauh di lubuk hati mendapatkan kehormatan tulus dari kami.
Lihat saja komentar teman-teman .
“Eh, bu Cantik itu, rambutnya indah kayak iklan Sunsilk ya..”
“Iya. Dari belakang, asala jangan pas noleh….cling!”
Meski diolok-olok, tiap kali kami tidak mengerti bahasa Inggris, tetap menyambangi beliau karena ilmu yang melimpah ruah.
Ah, guru-guruku.
Tak ada seorangpun dari kalian yang menimbulkan jejak kebencian sekalipun ada rumor beberapa orang guru membuka les, dan memberikan bocoran soal kepada murid lesnya. Soekarno, Hatta, Soeharto, Habibie, dan semua presiden kita menempati posisinya karena melewati bangku-bangku yang di depannya seorang guru , tulus menyampaikan ilmu.
Saat kita duduk di kursi mobil sekarang, dalam kamar ber AC, dengan ponsel terbaru dan kesempatan keliling dunia; guru kita kemungkinan ada di rumahnya yang mungil. Bertubuh rapuh, dengan pensiun yang bahkan tak cukup untuk membayar cicilan motor, biaya kesehatan, listrik air dan kebutuhan sehari-hari.

Setiap hari aku bertemu guru-guru yang luarbiasa.
Tempat aku menitipkan anak-anakku sejak TK, SD, SMP dan SMA.
Kadang, seorang guru tahu lebih banyak dari ayah ibunya.
“Maaf, putra ayah bunda suka mukul temannya.”
Atau, “ Bunda, tempo hari ananda nilai matematika nya jelek, tapi sekarang Alhamdulillah dapat 9 terus.”

Gurukah engkau?
Putri pertamaku, si pemberontak cerdas dan suka membangkang, pembaca ulung yang telah menamatkan buku-buku spektakuler sejak ia SMP. Ketika aku dan suamiku sering bersitegang dengannya, maka masih kuingat, seorang guru favoritnya yang sering menjadi teman diskusi kami,
“dari dulu, sejak bertemu dengan ananda, saya tahu ia istimewa. Hanya saja, ada sesuatu dalam dirinya yang perlu ditaklukan.”
Gurulah yang membuat putriku bermimpi masuk Geografi, ingin menekuni sistem informasi geografi seperti pangeran William, suami Kate Middleton. Guru-guru anakku, yang membuatnya rela menghabiskan malam dengan belajar, sholat malam dan membuka cakrawala bahwa ia harus hidup jauh dari ayah ibunya bila ingin mandiri. Kalau sekarang putriku berada di UGM, fakultas psikologi, itu bukan karena aku menekuni dunia yang sama. Betapa seringnya putriku, berjam-jam di sekolah menghabiskan waktu berdiskusi dengan ustadz Y, ustadz X, ustadzah A, ustadzah B. Pulang ke rumah, kata-kata anak-anakku adalah

“Ummi, kata ustadz ini begini…kata ustadzah begitu….”

Tiap kali mengingat diskusi-diskusi itu, tiap kali mengingat guru-guru anakku maka aku berpesan pada putra putri kami.
“Suatu saat Nak, saat kalian jadi orang, jangan lupakan gurumu. Ustadz Y, ustadz X, ustadzah A, ustadzah B yang kenyang dengan kemarahanmu. Kenyang dengan pembangkanganmu. Muliakan mereka. Doakan mereka.”
“Iya Ummi,” kata anak-anakku. “Aku akan belikan ustadz ustadzahku mobil satu-satu dan menaikkan haji mereka semua.”

Bagiku, menjadi guru adalah pekerjaan yang membuat waktu sempit kita, menjadi bernilai amal jariyah. Maka kusisihkan di antara kesibukan dan kepadatan beragam jadwal, sehari dalam sepekan bertatap muka dengan murid-muridku. Berapa honornya? Banyak. Sangat banyak.
Sebab wajah-wajah murid-muridku yang haus ilmu, mengingatkanku saat kecil dulu, masa-masa aku duduk di kelas dan mengamati guruku dengan takjub.
Betapa cantik dan pintarnya dia!
Betapa dia tahu segala!
Betapa aku ingin seperti dia!
Sinta Yudisia
Guru

Inayah cs Al Uswah SMAIT

Inayah di antara teman-teman dan Ustadzah Windy Aprilia

Nis dan Ustadzah Poppy - Copy

Ustadzah Poppy, guru matematika favorit ^-^

Inayah, Ustadzah Windy, Ustadzah - Copy

2 diantara sekian banyak Ustadzah yg berperan besar bagi Inayah

2) Doa Ajaib

Pernahkah anda menghina orang?

Jangan pernah sekali-sekali, sebab penghinaan sungguh suatu penghormatan bagi orang yang terhina, suatu saat nanti! Melesatkan si terhina ke tempat yang lebih baik dan menjatuhkan si penghina dalam rasa malu luarbiasa!

Atau anda pernah terhina?

Sebut namanya Ayu, perempuan dari keluarga sederhana yang perjalanan hidupnya hanya dapat disebut dengan kata Innalillahi …laa haula wa laa quwwata illa billah. Kondisi ekonomi morat marit, makan sulit dan hidup harus menumpang belas kasih dari saudara.

Dalam kondisi menumpang ke saudara, perlakuan-perlakuan di luar batas sering terjadi. Ia harus sekolah, memasak, mencuci, menerima perintah sekalipun badan sudah sangat loyo dan tentu saja : menjadi tempat tertuduh ketika barang hilang.

Sujud indah

Sujud indah

Ketika pada akhirnya menikah, pihak keluarga suami pun melakukan hal-hal yang kurang manusiawi. Singkat cerita, Ayu bercerai dengan suaminya.

Sepanjang hidup, Ayu sudah kehilangan airmata. Kondisi menempanya mnejadi perempuan tegar yang kadang-kadang emosional dan garang. Kalimat-kalimat hinaan seperti

“Dasar melarat!”

“An***g!”

“Pe**k!” sudah sering ditelan mentah-mentah.

Ayu bekerja apa saja, yang penting tidak menjual diri.

Hinaan dari orang-orang terdekat atau dari orang yang bertemu dengannya kadang tidak masuk akal. Beberapa hinaan terhadap dirinya yang pantas dicatat adalah :

“Aku akan sujud sama kamu kalau kamu bisa beli mobil!”

“Apa? Sok cantik! Kalau kamu naik Honda Civic aku sembah kamu!”

Tiap kali menerima sumpah serapah, Ayu sudah kehilangan rasa untuk sedih atau menangis. Ia hanya bilang, “ Yo wis, kuterima hinaanmu.”

Jauh di lubuk hati, Ayu hanya bilang bahwa hatinya sakit dan sakit dan sakit, hingga tak mampu untuk berdoa kecuali hanya menangis kepadaNya.

Ah.

Sehari-hari Ayu terbiasa hidup dalam sumpah serapah.

Ia jualan apa saja; makanan seperti risoles,sawut, kroket.  Sepatu, baju, tas; apa saja perdagangan onlen yang  menguntungkan, dilakukan.

Kehidupan Ayu tetap biasa-biasa saja, naik sepeda motor kepanasan dan ia terima dengan hati segagah macan. Ayu akan menerima order apa saja yang bisa dijual. Suatu ketika, ada orang yang berusaha menjual tanah namun tidak laku-laku. Entah mengapa, Ayu ditawari untuk menjualkan.

“Yu, tolong jualkan tanah, siapa tahu rezeki kamu,” kata temannya.”Aku udah usaha gak ada yang laku.”

Konon, tanah itu seperti jodoh. Siapa pembeli dan penjual, benar-benar rahasia langit. Di tangan Ayu, deal terjadi! Ayu benar-benar terharu saat mendapatkan komisi. Dan sejak itu, Ayu menekuni pekerjaan  keras yang biasa ditekuni laki-laki : makelar tanah.

Ayu naik Honda Civic sekarang.

Doa-doa serapah penghinaan yang bertahun-tahun lalu dilontarkan orang-orang di sekelilingnya!

Orang-orang yang menghinanya terpuruk, bahkan meminta belas kasihan kepadanya, meminta sokongan dana.

Jadi,

Apakah anda masih mau menghina orang sekarang?

1) Doa Ajaib

Doa adalah senjata. Banyak kejadian ajaib terjadi karena doa. Simak beberapa yang saya temui dari kisah pribadi atau kisah orang-orang.

Doa khusyu

Doa khusyu

Orang miskin kuliah kedokteran?

Saya senang ngobrol dengan supir taxi. Biasanya, supir taxi bercerita tentang kesulitan hidup, komisi kecil, anak-anak yang sulit sekolah.

Lalu bertemulah saya dengan pak Sholih (samaran).

“Anaknya sekolah Pak?”

“Alhamdulillah, Mbak.”

“Dimana?”

“Yang kecil kuliah di IAIN.”

Wah hebat, pikirku. Biasanya lepas SMU atau SMK kerja.

“Terus yang besar?”

Kutebak jawabannya sudah nikah, sudah kerja, atau kuliah seperti adiknya di IAIN.

“Anu Mbak…maaf bukan nyombong. anak saya yang sulung…ambil spesialis kandungan.”

GUBRAK!!

Apa???

Rahasia Doa Ibu

Saya bertanya dan jawabannya sederhana.

“Ibunya, sejak anaknya kecil-kecil, kalau pada mau berangkat sekolah dielus kepalanya. Doanya apa aja yang bisa.”

Jadi, doa ajaib sang Ibu menghantarkan kesuksesan anaknya. Hal yang tampaknya mustahil, tak mungkin, pesimis, hanya setitik celah; menjadi kesempatan luarbiasa dengan DOA!

Left Group : Bertahan atau Keluar?

Suatu ketika, grup yang berisi orangtua murid SD kelas V ditutup. Putra putri kami sudah lulus dan masuk SMP.
Ketika satu persatu dikeluarkan, ada rasa sedih tak terjabarkan.
Ah…biasanya ada yang share tentang nasehat.
Share foto foto yang mengundang tawa atau haru.
Share kegiatan.

Left whatsapp ? Why?

Padahal, masih ada puluhan grup yang harus saya ikuti! Kehilangan satu toh tak masalah. Tapi, ada grup yang ketika dibubarkan rasanya sedih sekali 
Ada grup yang kita ingin Left group. Ada yang kita ingin bersama selalu. Ternyata benar kata Rasulullah Saw yang intinya : ruh manusia ibarat sepasukan burung membentuk formasi.

Pernah lihat burung terbang membentuk huruf V raksasa di angkasa ketika senja? Mungkin seperti itu gambarannya.
Kita sedih berpisah dengan orang-orang yang dekat di hati, meski tak kenal wajah, lupa nama. Namun disatukan dalam grup media sosial dan merasakan ruh yang sama.
Kita mungkin terikat dengan grup alumni, angkatan, teman seprofesi dll yang seolah memiliki latar belakang sama namun ternyata hati-hati kita tidak terikat. Mungkin saja kita merasa ada grup yang terlalu vulgar ketika membahas sesuatu, ada yang ketika beberapa individu melontarkan pernyataan kontroversial maka yang lainnya ikut emosi, atau ada pula yang merasa keterlibatannya di grup tidak mendapatkan manfaat.

Alone without whatsapp

Alone without whatsapp

Hm, bila hati tak terikat padahal seharusnya hati-hati para sahabat saling menyatu, tidakkah doa Rabithah dibutuhkan?