Kategori
Jurnal Harian mother's corner Oase Pernikahan PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY

(2) Ayah atau Bunda yang Lebih Berperan?

O, Ayah!
Penelitian di atas tentu masih melibatkan peran bunda, sesuatu yang tak disanggah lagi. Namun hadirnya ayah ke tengah anak-anak sungguh semakin menakjubkan! Tahukah kita, bahwa seorang ayah yang memiliki keterlibatan hangat dalam keluarga, maka anaknya akan lebih lancar membaca dan mengerjakan matematika sejak usia 8 tahun di sekolah dasar? Bila kehadiran ayah tampak nyata di rumah, tanda-tanda kemunculan conduct disorder alias gangguan perilaku yang seharusnya muncul sejak usia 10 tahun, dapat diminimalisasi?
Maka bila kehadiran ayah adalah nihil, atau sosoknya raib dari rumah; tidak saja anak-anak mengalami hambatan pelajaran namun juga mengalami hambatan dalam berperilaku.
Ayah dibutuhkan dalam 2 hal keterlibatan : instrumental involvement dan mentoring-advising involvement.
Wahai ayah, berusahalah untuk bertanggung jawab dan disiplin terhadap segala sesuatu sebab ternyata tanggung jawab ini berada di pundakmu. Jangan lempar handuk sembarangan, lepas kaos kaki sesuka hati, piring kotor dibiarkan, dan meninggalkan semua tinggalan pekerjaan tanpa dirapikan ulang. Hal-hal kecil melatih ketrampilan. Seorang ibu yang merapikan rumah masih belum cukup membangun karakter disiplin dan tanggung jawab dalam diri anak-anak; ayah harus melengkapinya. Memunculkan gairah anak untuk memilih karir tertentu dalam hidupnya, pun hasil peran sang ayah.

Paul Jobs, seorang tukang kayu. Setiap kali menukang, membuat pagar dan lemari, ia menyiapkan meja kecil dan palu kecil bagi putranya, Steve. Sembari menukang, ia berbicara pada putranya, “Steve, dalam membangun sesuatu yang terpenting bukan apa yang tampak. Lihat lemari ini, yang paling penting adalah sisi belakangnya. Kokoh!”

Jobs
Steve Jobs

Steve bukan menjadi tukang kayu. Tapi filosofi Paul Jobs melekat kuat ketika ia menciptakan computer dan perangkat lain : yang tidak tampak, ternyata bagian yang paling penting. Dunia mengenalnya sebagai Steve Jobs, information technology entrepreneur. Bahkan segala perihal tentang dirinya tak hanya berbau teknologi; buku, film, caranya presentasi, menginspirasi banyak orang.
Instrumental involvement, penting dalam perkembangan etik dan moral. Ingatlah, bahwa spiritual kadang-kadang tidak serta merta memunculkan sisi etis dan moralis. Ingat kasus Jim Baker dan Jimmy Swaggart? Seorang anak yang rajin sholat dan baca Quran terkadang masih suka bersikap kasar dan berkata menyakitkan, ayahnya yang dapat membantu sang anak menemukan sifat etis dan moralis dalam dirinya.

Gandhi
Mahathma Gandhi

Anda tahu Mahathma Gandhi?
Ketika mencanangkan gerakan Ahimsa dan Satyagraha di India, ia tidak memerintahkan anak buah atau seluruh pengikutnya melakukan aksi tertentu. Gandhi tahu, Kasturbai, istrinya dan anak-anak sekian lama hidup dalam gaya Eropa : roti , garpu dan pisau. Gandhi tahu, tak mudah mengubah keluarga, masyarakat, apatah lagi India. Maka yang dilakukan Gandhi sebagai suami dan ayah adalah meninggalkan cara makan Eropa, beralih makan menggunakan tangan. Gandhi mencuci kakus dan mengosek kamar mandi, sesuatu yang tak akan pernah dilakukan kalangan Brahmana dan Ksatria! Gandhi menggunakan sari, menanggalkan dasi dan jas.
Ajaib.
Gandhi berhasil seorang ayah yang konsisten menginspirasi anak, istri, keponakan, tetangga hingga seluruh negeri dan wilayah protektorat Inggris lainnya. Gandhi berhasil melawan hegemoni Inggris dengan segala derivatnya : politik, militer, ekonomi, hingga budaya. Inilah peran ayah dalam menginspirasi sisi etis dan moralis bagi anak-anak dan keluarga.

Wahai, Ayah!
Anda tak perlu rendah hati ketika hanya berprofesi sebagai pegawai rendah, atau pengusaha dengan gaji kecil.
“Ah, bagaimana mungkin ayah sepertiku dapat menjadikan anak-anaknya sebagai orang-orang sukses?”

Thatcher
Margareth Tatcher muda

Alfred Roberts, si tukang sepatu, bangga pada kecantikan Margareth dan Muriel. Khusus Margareth, sejak kecil si cantik nan cerdas ini memikat khalayak bukan hanya karena kecerdasan superiornya, tapi juga kemampuan orasinya. Menyaksikan putri perempuannya punya banyak bakat sementara dirinya hanya seorang tukang sepatu, Alfred Roberts rajin menulis surat untuk putrinya, mengatakan kebanggaan dan harapannya. Alfred tak pernah putus asa, mendorong putrinya untuk terus meraih yang terbaik dalam pendidikan. Sama seperti Paul Jobs, Alfred Roberts meletakkan dasar-dasar fundamental bagi karir putrinya yang terkenal sebagai Wanita Besi, Margareth Tathcher.
Para lelaki di atas membangun karakter anggota keluarga mereka dengan memenuhi kaidah instrumental involvement sehingga anak-anak menemukan keberhasilan karir, memahami jalan etis dan moral, disiplin dan bertanggung jawab dalam kehidupan.

Mentoring advising involvement, adalah keterlibatan (ayah) untuk membangun kompetensi, kemampuan untuk menjadi mentor bagi orang lain serta mendukung perkembangan intelektual. Keterlibatan ayah ternyata sangat penting bagi perkembangan akademis anak-anak di sekolah. Ayah yang terlibat dalam pendidikan bagi anak-anak, membentuk karakter keluarga yang dapat welas asih kepada sesama. Bila, kasih sayang dari ayah cukup, anak-anak tak akan haus dahaga mencari sumber perhatian di luar yang seringkali tampak dalam perilaku agresif, impulsif , hiper sensitif. Kehadiran ayah dalam edukasi anak-anak juga membantu kompetensinya , perkembangan intelektual dan akademisnya. Sosok ideal person ayah menjadikan anak-anak punya semangat untuk mencanangkan cita-cita tinggi : menjadi presiden, menjadi pengusaha sukses, menjadi menteri atau ahli agama serta cita-cita mulia lainnya.

Sinta Yudisia, Bagian ke-2 dari 3 tulisan

Kategori
Jurnal Harian mother's corner Oase Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY

Ayah atau Bunda yang Lebih Berperan? (1)

images (51)

Amerika, pernah menjadi Negara dan masyarakat religious hingga sekitar tahun 70-80an. Beberapa skandal menggoyang sendi Negara sehingga khalayak bertanya-tanya : apakah benar agama tepat dijadikan sebagai patokan?
Televangelist Jim Baker dan Jimmy Swaggart adalah salah contoh sedikit dari kasus yang menggemparkan. Keduanya, yang dikenal sebagai pengkhutbah dan rajin muncul di acara televisi, terbukti melakukan affair dengan rekan kerja dan juga PSK. Gary Hart, salah satu tokoh kharismatik dari kubu Demokrat tertangkap basah bersama aktris sexy berambut pirang : Donna Rice. Amerika gempar, tak hanya kalangan agamawan, negarawan pun jatuh karena perempuan.
Tak cukup sampai disitu.
Serial keluarga yang laris manis seperti Family Ties dan The Cosby Show, hanya indah di layar kaca. Film-film tersebut dianggap tidak mencerminkan dinamika keluarga yang sesungguhnya. Meredith Baxter, yang berperan sebagai Elyse Keaton, ibu dinamis dalam keluarga harmonis; dalam kehidupan nyata mengalami perceraian berkali-kali dan pada akhirnya memproklamirkan diri sebagai lesbi. The Cosby Show mengalami hal yang sama. Lisa Bonet, salah satu pemerannya memainkan Angel Heart yang sensual bersama Mickey Rourke, menimbulkan gelombang protes besar di Amerika. Mengapa PH tak selektif memilih artis?
Sejak decade 80an, Amerika berkembang ke arah kehidupan individualis yang materialistis. Agama dan harmonisasi kehidupan yang tampil indah dalam media-media; perlahan ditinggalkan.
Bagaimana dengan Indonesia?

Keluarga Indonesia
Berbeda dengan Amerika yang tidak lagi mempercayai institusi agama dan keluarga, Indonesia masih beranggapan dua entitas ini sebagai sumber kekuatan. Sekalipun para pengkhutbah di televisi mendapatkan pujian dan hujatan, agama tetap suci dari tuduhan. Yang salah hanya para pelaku.
Begitupun keluarga. Betapapun para pelaku sinetron yang memerankan pasangan harmonis amburadul kehidupannya di luar sana, masing-masing kita masih tetap percaya dan berusaha membangun keluarga yang kokoh kuat.
Sesungguhnya, pada peran siapakah yang sangat penting dalam keluarga? Ayah ataukah Bunda? Kalaupun kita beranggapan peran Ayah dan Bunda sama pentingnya,sama kuatnya, di sisi mana mereka harus menyadari peran utamanya?
Sekali lagi, keluarga adalah benteng dari setiap anggotanya. Seorang ayah merasa tentram berada di tengah keluarga. Seorang bunda merasa nyaman di tengah keluarga. Anak-anak merasa senang, bahagia, bangga di tengah keluarga. Bila ada di antara kita yang gelisah di tengah keluarga sendiri,perlu dicatat. Apakah keluarganya yang salah, atau diri pribadi yang bermasalah.
Mari kita lihat penelitian yang ingin mengetahui sejauh mana pengaruhnya terhadap anak-anak akan keterlibatan orangtua dalam kehidupan mereka. Penelitian ini untuk mengungkap tiga dimensi keterlibatan orangtua : EI , II. MAI. EI adalah expressive involvement, keterlibatan dalam perkembangan spiritual, emosional, social, fisik. Juga kemampuan untuk membangun relasi, kemampuan untuk dapat bersenang-senang . II instrumental involvement adalah keterlibatan yang diperlukan dalam perkembangan untuk membangun tanggung jawab dan kemandirian, etik dan moral, perkembangan karir, disiplin, bertanggung jawab pada pekerjaan rumah dan sekolah. MAI atau mentoring advising involvement adalah membangun kompetensi, kemampuan untuk menjadi mentor bagi orang lain serta perkembangan intelektual.

Sinta Yudisia

Bagian 1 dari 3 tulisan

 

Kategori
Cinta & Love Jurnal Harian mother's corner Oase Rahasia Perempuan WRITING. SHARING.

Suami, Kestabilan dan  Refleksi Piala Penghargaan

 

 

Sinta & Sofyan di Anugerah Kartini 2016_2
Aku (Sinta Yudisia) dan suamiku, Agus Sofyan. 21 April 2106, Grand City Mall Surabaya : Penghargaan dari Aliansi Perempuan Indonesia

21 April 2016 beberapa hari lalu, saya mendapatkan penghargaan dari API (Aliansi Perempuan Indonesia) Membangun Bangsa sebagai salah satu orang berprestasi,  yang mewakili kiprah para perempuan di dunia jurnalistik dan kepenulisan. Bertempat di Grand City Mall, acara yang berlangsung Kamis dari jam 15.00-17.00 berlangsung khidmat.

Alhamdulillah wasyukurillah.

Di balik itu semua, peran suami,  anak-anak dan doa orang tua kami tentu berada di belakang semua ini.

Orang yang pertama kali mendapatkan pemberitahuan terkait perihal-perihal penting dalam hidup seperti : undangan mengisi acara, terbitnya buku, peluang beasiswa, penghargaan dan kemenangan atas sesuatu tertuju pada satu orang. Suami. Ia orang yang sepertinya akan turut berbahagia, dan tentu saja menanggung konsekuensi.

Ya. Siapa lagi yang akan menderita dengan perginya istri mengisi acara kesana kemari, bila bukan suami? Siapa lagi yang akan turut menanggung beban ketika istri mendapatkan peluang beasiswa atau panggilan ke mancanegara, bila bukan suami? Siapa lagi yang akan bersabar menghadapi anak-anak, melihat rumah berantakan, cucian menumpuk ketika istri berkiprah di luar; bila bukan suami?

Kamis kemarin, tepatnya 21 April 2016, saya mendapatkan penghargaan atas kiprah di bidang jurnalistik atau kepenulisan dari Aliansi Perempuan Indonesia Membangun Bangsa. Betapa bahagia ketika suami dapat mendampingi, tentu seizin atasannya untuk keluar kantor siang hari. Berada di sisi suami, duduk berdampingan, ketika ia mengambil gambar saat tangan menggenggam piala  rasanya inilah kemenangan bersama.

Sebagai ibu dan istri, tanpa sumbangsih peran suami, rasanya mustahil perempuan mencapai taraf memuaskan dalam kiprahnya.

 

Suami adalah Qawwam (Pemimpin)

Suamiku tidak sehebat Superman, Batman, Ironman, Captain America atau Thor. Ia juga belum menyerupai para sahabat Nabi Saw dalam beramal ibadah. Ia masih harus banyak belajar untuk menjadi seperti Buya Hamka atau Muhammad Natsir atau Sir Muhammad Iqbal. Orasi? Ia tak hebat-hebat amat, namun cukup membuatku dan anak-anak termanggut-manggut ketika menjelaskan perihal Quran dan Hadits.

Satu yang special dari suamiku dan kurasa, salah satu karakter yang sebaiknya melekat pada diri laki-laki : sikapnya mengambil peran sebagai pemimpin atau qawwam dalam keluarga. Bila bicara perihal sunnah, mungkin sebagai istri, aku lebih unggul dari suami : sholat malam, sholat dhuha, hafalan quran. Kuamati suami, ia selalu berusaha tegak dalam hal-hal prinsip, tanpa bisa ditawar. Sholat wajib tepat waktu dan ke masjid, selelah apapun, bahkan ketika malam hanya sempat terlelap sesaat. Sekali waktu ada yang luput, namun tidak menjadi kebiasaan.

Apa yang menjadi unggul dari sholat ke masjid?

Suamiku menjadi teladan langsung dan utama, untukku dan  anak-anak.

Tak ada excuse, tak ada kata no, tak ada tawar menawar untuk hal yang prinsip : sholat wajib. Bagi suamiku, yang wajib akan selalu berada di hierarki tertinggi, teratas, utama dan harus dinomersatukan.

Sholat wajib.

Usahakan tepat waktu.

Apapun, tak perlu pakai alasan.

Sepertinya hal sepele, namun membuatku dan anak-anak belajar mengatur hierarki dalam keluarga. Sebagus-bagusnya amalan sunnah, tak ada yang mengalahkan amalan wajib. Sehebat-hebatnya sebuah perkara, tak akan lebih mulia dari peran yang utama.

 

Sinta & Sofyan Wisuda MAgister_2
Inayah, Sinta Yudisia, Agus Sofyan : Wisuda Magister Psikologi Profesi, 20 Februari 2016

Hierarki kepentingan dan peran

Menempatkan perkara prinsip dalam hierarki yang semestinya, membuatku sempat maju mundur dalam menjalani berbagai peran. Peran ibu dan istri sudah luarbiasa padat, belum ditambah peran public. Sebagai penulis, psikolog dan guru; Sabtu dan Minggu dalam sebulan seringkali terjadwal padat.

Ibarat sholat wajib, suami memberikan batasan-batasan prinsip. Apa yang harus dikerjakan ibu dan istri, tak boleh ditinggalkan. Kalaupun ada keringanan karena pergi keluar kota atau keluar negeri, bukan melenggang kangkung.

Atas kebesaran hati suami yang mendukung setiap kiprah, aku juga tak ingin seenak udel mempermaikan peran. Sebelum pergi keluar kota atau keluar negeri, kuusahakan urusan makanan dan cucian beres. Bila harus catering, maka kususun menu selama sepekan. Cucian? Kuajak anak-anak berbagi peran. Bila mereka terlalu lelah, kuajarkan bagaimana mencuci dan memilah pakaian, sebelum dilempar ke laundry. Beres-beres rumah? Beragam ukuran tas plastic untuk beragam sampah kusiapkan. Pengumuman-pengumuman cantik terpasang di beberapa areal dinding; untuk mengingatkan masin-masing akan tugasnya.

Peran ibu dan istri masih kupegang dari jarak yang jauh. Mengontrol belajar, mengontrol makanan, mengontrol sholat dan ibadah anak-anak.

Suami memberikan izin bagiku untuk sesekali berkiprah membaktikan ilmu namun ia tegaskan; jangan sampai peran ibu dan istri terabaikan. Prinsip sholat wajib sebagai hierarki utama terpelihara di rumah kami : yang wajib, penting, fundamental, tetap harus didahulukan. Perkara-perkara sampingan dapat ditunda.

 

Qawwam adalah stabilisator

Suami dan istri saling menyeimbangkan. Bila suami gusar, istri menenangkan. Bila istri marah, suami bersabar. Bila suami kecewa, istri menghibur. Bila istri mengomel tak karuan, suami rela mendengarkan.

Sekali lagi, suami dan keluargaku bukan gambaran hebat-hebat amat yang ideal seratus persen. Namun, adanya poros dalam keluarga kami, membuat perputaran tetap dalam sumbunya. Kalaupun melenting jauh, tak akan terlepas lepas tanpa tarikan gravitasi. Seorang suami, ayah, adalah pemimpin keluarga. Ia menyeimbangkan ketika mulai terjadi pergeseran bahkan penyelewengan.

Segala izin, bersumber pada suami. Ialah yang akan menentukan, dengan segala hormat dan ketinggian martabat, bahwa keputusan penting ada di tangannya.

“Aku ingin kuliah sastra,” kata si sulung.

“Aku mau aplikasi beasiswa ke luarnegeri,” kata adiknya.

“Aku mau studi engineer tentang mesin-mesin besar,” kata nomer tiga.

“Aku masih bingung,” kata si bungsu. “Jadi dokter, penulis atau sejarawan?”

Maka qawwam akan mengambil keputusan penting dengan segala pertimbangan.

Begitupun ketika aku melaporkan ,” Mas, aku akan mengisi keluar kota tanggal sekian.”

Ia menjawab,” gak capek? Gak keseringan keluar kota?”

Sebagai poros, suami akan menjaga agar semua anggota keluarga tetap dalam orbitnya.

Sekali lagi, perkataan suami tak akan memiliki makna sama sekali bila ia bukan merupakan qawwam bagi keluarga kami. Perkataannya, pemikirannya, pandangannya, keputusannya adalah arah penting bagi kebijakan keluarga.

 

Suami dan kesempatan istri berprestasi

Rasanya malu sekali, bila terlontar ucapan bahwa apa yang kita capai semata-mata hanya karena kepintaran dan kehebatan diri pribadi. Mungkin aku punya sejuta diksi indah untuk dituliskan dalam sebuah novel, namun tanpa izin suami untuk meninggalkan sejenak beberapa pos pekerjaan, aku tak akan punya waktu khusus sehari dua hari untuk berkonsentrasi pada tulisan. Biasanya, bila deadline tulisan tiba, aku akan meminta izin pada suami untuk benar-benar full di depan laptop.

Ketika tulisan itu mendapatkan penghargaan, bukankan ada peran suami di dalamnya?

Terlebih, ketika sedang konsentrasi pada ujian akhir profesi psikologi…nyaris tak terkatakan bagaimana tekanan akademis. Ujian praktek dan thesis kejar mengejar; klien tak semua kooperatif, laporan termasuk verbatim yang luarbiasa membuat mata berair karena panas dan tangisan. Ups….betapa tak mungkin semua itu dilalui tanpa ada toleransi seorang suami.

Qawwam kita.

Sang pemimpin.

Yang rela menanggung beban dan derita ketika istri maju ke depan, mengasah potensi.

Maka, bila kemudian aku terpilih mewakili sekian banyak perempuan luarbiasa di negeri ini untuk menerima penghargaan di Hari Kartini 2016; sungguh, ini bukan hanya bicara tentang kiprah perempuan. Ini adalah prestasi para suami yang tersenyum lapang dada ketika istrinya tergopoh keluar rumah , mengisi pelatihan. Ini adalah kerja keras suami untuk dapat juga sedikit-sedikit membantu kerja domestic istri : memasak, membereskan rumah, mencuci.

Penghargaan untuk perempuan berprestasi, adalah penghargaan untuk sebuah keluarga yang mencoba untuk bahu membahu mengatasi tantangan zaman.

Penghargaan untuk perempuan, adalah penghargaan pula untukmu para suami, yang rela menjadi lokomotif peradaban dengan selalu melaju di depan. Menjadi imam. Menjadi teladan. Menjadi pemimpin. Menjadi pendamping istri dengan segala suka duka.

 

 

Untuk suamiku tercinta, terimakasih atas segala dukunganmu

Sinta Yudisia

 

 

 

 

Kategori
Artikel/Opini Oase WRITING. SHARING.

Jika kau nakal dan berbakat, jadilah Guru!

 

Meski ranking pertama, di kelas maupun paralel ketika SD, bukan berarti perjalanan akademisku tanpa cacat. Nyaris setiap hari terlambat sekolah, karena saat itu kami tinggal di Denpasar Bali. Angkutan hanya andong/dokar dan vespa ayah satu-satunya. Masih kuingat betul raport kelas 2 SD, masih sistem cawu (catur wulan) belum semesteran. Salah satu cawu, rankingku diturunkan ke peringkat ke-2 karena setiap hari terlambat, hingga di raport tertulis peringatan : Jangan sering terlambat!

Mau bagaimana lagi? Rumah kami jauh, sekolah Islam saat itu hanya SD Muhammadiyah I dan II yang posisinya belum dapat dideteksi google map. Meski ada penurunan ranking, guru wali kelasku –yang lupa siapa namanya- senantiasa menyambut dengan senyum ramah, ketika membuka pintu kelas. Ia mengantarkanku ke tempat duduk.

SMP, aku pindah dari Bali ke Yogya. Semua mata pelajaran oke-oke saja kecuali satu : Bahasa J-a-w-a. Nilai ujian pertamaku 0 yang sangat besar. Apa itu tembang dhandanggula? Apa itu hanacaraka? Apa itu tulisan pasangan? Hiks…nilai itu membuatku menangis, tapi di ulangan berikutnya…nilaiku melesat 8 dan 10 selalu! Apa pasal?
Guru bahasa Jawa kami baik kelas 1,2, 3 selalu cantik dan pintar nembang.
Kuneng gantyi kang winarni
Nenggih Dityo Sukasrana
Raden Sumantri Arine
Nalika marang pratapan
Oneng marang kang Raka….

Tembang Asmaradhana itu sering kukutip dalam tulisan, cerpen, maupun novelku. Indah betul lirik, syair maupun nadanya. Aku terpukau oleh kisah Sukasrana, sang adik berbentuk raksasa yang jelek rupa namun berhati luhur. Merindukan pertemuan dengan Raden Sumantri, ksatria tampan kebanggaan Prabu Arjuna yang tidak mau mengakui Sukasrana sebagai adik lantaran kejelekan fisiknya.
SMA?
Haha…yang ini pasti banyak kenangan. Nonton bareng, jalan bareng, bolos bareng, ngibulin guru.
Banyak kisah lucu, kuceritakan salah satunya.

Guru bahasa Inggris kami, sebut sama namanya Mrs. Sweety, berwajah ramah dengan dandanan jadul awal abad XX : rambut panjang dikepang dua dan diangkat ke atas, bertemu tepat di tengah-tengah. Beliau ramah, jago bahasa Inggris dan punya satu kesukaan unik : mengajar papan tulis.
Maksudnya, waktunya lebih banyak dihabiskan dengan menulis papan kayu hijau dengan kapur, dan hanya sekali-sekali berbalik ke arah kami. Guru-guru macam ini banyak sebetulnya, saat itu belum ada OHP apalagi LCD plus powerpoint.
Maka,
Setiap Mrs. Sweety menatap papan kayu (bukan whiteboard yang masih menampakkan bayangan murid di belakang), kami yang duduk di bangku masing-masing membuat ulah.
Melempar kaos kaki ke sembarang teman, siapa yang kena, yaaa…rezeki dia.
Melempar taplak.
Melempar kertas.
Atau berdiri, bukan duduk di kursi.
Atau berdiri, di atas kursi!
Kira-kira, waktunya kalimat in English mendekati titik, maka serentak murid duduk di kursi, memasang tampang innocent.
Suatu saat, yang namanya apes.
Seorang siswa cowok yang rajin, sholih, jarang berbuat onar, sebut saja namanya Dewo.
“Ayo, Wo! Berdiri! Masih lama tuh nulisnya!”
“Iya, cepetan!”
Dewo celingukan. Posturnya tinggi ramping, berbeda denganku yang bertubuh mungil. Aku belum pernah berani naik kursi, takut kenapa-kenapa. Tapi rata-rata teman cowok pernah. Yang tubuhnya tinggi besar, harus waspada, manakala kursi kayu patah atau kepelset.
“Ayo, Wo!”
Dewo lalu berdiri tenang, melihat kiri kanan, hup! Naik ke kursi, berdiri.
Dan Mrs. Sweety tibat-tiba membalikkan badan sebelum tulisannya slesai sampai di titik….

Kami duduk tenang, tanpa mimik bersalah dan membiarkan Dewo menanggung dosa besarnya sendiri. Kasihan Dewo hahaha…
Marahkah Mrs. Sweety?
Sama sekali tidak. Ia membiarkan kejadian itu , tersenyum, dan mempersilakan Dewo turun dari kursi, duduk kembali.

Kalau mengingat kejadian-kejadian saat SMA, benar-benar membuat wajah awet muda.
Sempat terpikir, apakah guru akan kehilngan muka ketika muridnya kurang ajar? Tidak ternyata. Guru-guru yang memang memiliki “isi” , meski kami suka berlaku seenaknya, jauh di lubuk hati mendapatkan kehormatan tulus dari kami.
Lihat saja komentar teman-teman .
“Eh, bu Cantik itu, rambutnya indah kayak iklan Sunsilk ya..”
“Iya. Dari belakang, asala jangan pas noleh….cling!”
Meski diolok-olok, tiap kali kami tidak mengerti bahasa Inggris, tetap menyambangi beliau karena ilmu yang melimpah ruah.
Ah, guru-guruku.
Tak ada seorangpun dari kalian yang menimbulkan jejak kebencian sekalipun ada rumor beberapa orang guru membuka les, dan memberikan bocoran soal kepada murid lesnya. Soekarno, Hatta, Soeharto, Habibie, dan semua presiden kita menempati posisinya karena melewati bangku-bangku yang di depannya seorang guru , tulus menyampaikan ilmu.
Saat kita duduk di kursi mobil sekarang, dalam kamar ber AC, dengan ponsel terbaru dan kesempatan keliling dunia; guru kita kemungkinan ada di rumahnya yang mungil. Bertubuh rapuh, dengan pensiun yang bahkan tak cukup untuk membayar cicilan motor, biaya kesehatan, listrik air dan kebutuhan sehari-hari.

Setiap hari aku bertemu guru-guru yang luarbiasa.
Tempat aku menitipkan anak-anakku sejak TK, SD, SMP dan SMA.
Kadang, seorang guru tahu lebih banyak dari ayah ibunya.
“Maaf, putra ayah bunda suka mukul temannya.”
Atau, “ Bunda, tempo hari ananda nilai matematika nya jelek, tapi sekarang Alhamdulillah dapat 9 terus.”

Gurukah engkau?
Putri pertamaku, si pemberontak cerdas dan suka membangkang, pembaca ulung yang telah menamatkan buku-buku spektakuler sejak ia SMP. Ketika aku dan suamiku sering bersitegang dengannya, maka masih kuingat, seorang guru favoritnya yang sering menjadi teman diskusi kami,
“dari dulu, sejak bertemu dengan ananda, saya tahu ia istimewa. Hanya saja, ada sesuatu dalam dirinya yang perlu ditaklukan.”
Gurulah yang membuat putriku bermimpi masuk Geografi, ingin menekuni sistem informasi geografi seperti pangeran William, suami Kate Middleton. Guru-guru anakku, yang membuatnya rela menghabiskan malam dengan belajar, sholat malam dan membuka cakrawala bahwa ia harus hidup jauh dari ayah ibunya bila ingin mandiri. Kalau sekarang putriku berada di UGM, fakultas psikologi, itu bukan karena aku menekuni dunia yang sama. Betapa seringnya putriku, berjam-jam di sekolah menghabiskan waktu berdiskusi dengan ustadz Y, ustadz X, ustadzah A, ustadzah B. Pulang ke rumah, kata-kata anak-anakku adalah

“Ummi, kata ustadz ini begini…kata ustadzah begitu….”

Tiap kali mengingat diskusi-diskusi itu, tiap kali mengingat guru-guru anakku maka aku berpesan pada putra putri kami.
“Suatu saat Nak, saat kalian jadi orang, jangan lupakan gurumu. Ustadz Y, ustadz X, ustadzah A, ustadzah B yang kenyang dengan kemarahanmu. Kenyang dengan pembangkanganmu. Muliakan mereka. Doakan mereka.”
“Iya Ummi,” kata anak-anakku. “Aku akan belikan ustadz ustadzahku mobil satu-satu dan menaikkan haji mereka semua.”

Bagiku, menjadi guru adalah pekerjaan yang membuat waktu sempit kita, menjadi bernilai amal jariyah. Maka kusisihkan di antara kesibukan dan kepadatan beragam jadwal, sehari dalam sepekan bertatap muka dengan murid-muridku. Berapa honornya? Banyak. Sangat banyak.
Sebab wajah-wajah murid-muridku yang haus ilmu, mengingatkanku saat kecil dulu, masa-masa aku duduk di kelas dan mengamati guruku dengan takjub.
Betapa cantik dan pintarnya dia!
Betapa dia tahu segala!
Betapa aku ingin seperti dia!
Sinta Yudisia
Guru

Inayah cs Al Uswah SMAIT
Inayah di antara teman-teman dan Ustadzah Windy Aprilia
Nis dan Ustadzah Poppy - Copy
Ustadzah Poppy, guru matematika favorit ^-^
Inayah, Ustadzah Windy, Ustadzah - Copy
2 diantara sekian banyak Ustadzah yg berperan besar bagi Inayah
Kategori
Catatan Perjalanan Hikmah

2) Doa Ajaib

Pernahkah anda menghina orang?

Jangan pernah sekali-sekali, sebab penghinaan sungguh suatu penghormatan bagi orang yang terhina, suatu saat nanti! Melesatkan si terhina ke tempat yang lebih baik dan menjatuhkan si penghina dalam rasa malu luarbiasa!

Atau anda pernah terhina?

Sebut namanya Ayu, perempuan dari keluarga sederhana yang perjalanan hidupnya hanya dapat disebut dengan kata Innalillahi …laa haula wa laa quwwata illa billah. Kondisi ekonomi morat marit, makan sulit dan hidup harus menumpang belas kasih dari saudara.

Dalam kondisi menumpang ke saudara, perlakuan-perlakuan di luar batas sering terjadi. Ia harus sekolah, memasak, mencuci, menerima perintah sekalipun badan sudah sangat loyo dan tentu saja : menjadi tempat tertuduh ketika barang hilang.

Sujud indah
Sujud indah

Ketika pada akhirnya menikah, pihak keluarga suami pun melakukan hal-hal yang kurang manusiawi. Singkat cerita, Ayu bercerai dengan suaminya.

Sepanjang hidup, Ayu sudah kehilangan airmata. Kondisi menempanya mnejadi perempuan tegar yang kadang-kadang emosional dan garang. Kalimat-kalimat hinaan seperti

“Dasar melarat!”

“An***g!”

“Pe**k!” sudah sering ditelan mentah-mentah.

Ayu bekerja apa saja, yang penting tidak menjual diri.

Hinaan dari orang-orang terdekat atau dari orang yang bertemu dengannya kadang tidak masuk akal. Beberapa hinaan terhadap dirinya yang pantas dicatat adalah :

“Aku akan sujud sama kamu kalau kamu bisa beli mobil!”

“Apa? Sok cantik! Kalau kamu naik Honda Civic aku sembah kamu!”

Tiap kali menerima sumpah serapah, Ayu sudah kehilangan rasa untuk sedih atau menangis. Ia hanya bilang, “ Yo wis, kuterima hinaanmu.”

Jauh di lubuk hati, Ayu hanya bilang bahwa hatinya sakit dan sakit dan sakit, hingga tak mampu untuk berdoa kecuali hanya menangis kepadaNya.

Ah.

Sehari-hari Ayu terbiasa hidup dalam sumpah serapah.

Ia jualan apa saja; makanan seperti risoles,sawut, kroket.  Sepatu, baju, tas; apa saja perdagangan onlen yang  menguntungkan, dilakukan.

Kehidupan Ayu tetap biasa-biasa saja, naik sepeda motor kepanasan dan ia terima dengan hati segagah macan. Ayu akan menerima order apa saja yang bisa dijual. Suatu ketika, ada orang yang berusaha menjual tanah namun tidak laku-laku. Entah mengapa, Ayu ditawari untuk menjualkan.

“Yu, tolong jualkan tanah, siapa tahu rezeki kamu,” kata temannya.”Aku udah usaha gak ada yang laku.”

Konon, tanah itu seperti jodoh. Siapa pembeli dan penjual, benar-benar rahasia langit. Di tangan Ayu, deal terjadi! Ayu benar-benar terharu saat mendapatkan komisi. Dan sejak itu, Ayu menekuni pekerjaan  keras yang biasa ditekuni laki-laki : makelar tanah.

Ayu naik Honda Civic sekarang.

Doa-doa serapah penghinaan yang bertahun-tahun lalu dilontarkan orang-orang di sekelilingnya!

Orang-orang yang menghinanya terpuruk, bahkan meminta belas kasihan kepadanya, meminta sokongan dana.

Jadi,

Apakah anda masih mau menghina orang sekarang?

Kategori
Catatan Perjalanan Hikmah Jurnal Harian

1) Doa Ajaib

Doa adalah senjata. Banyak kejadian ajaib terjadi karena doa. Simak beberapa yang saya temui dari kisah pribadi atau kisah orang-orang.

Doa khusyu
Doa khusyu

Orang miskin kuliah kedokteran?

Saya senang ngobrol dengan supir taxi. Biasanya, supir taxi bercerita tentang kesulitan hidup, komisi kecil, anak-anak yang sulit sekolah.

Lalu bertemulah saya dengan pak Sholih (samaran).

“Anaknya sekolah Pak?”

“Alhamdulillah, Mbak.”

“Dimana?”

“Yang kecil kuliah di IAIN.”

Wah hebat, pikirku. Biasanya lepas SMU atau SMK kerja.

“Terus yang besar?”

Kutebak jawabannya sudah nikah, sudah kerja, atau kuliah seperti adiknya di IAIN.

“Anu Mbak…maaf bukan nyombong. anak saya yang sulung…ambil spesialis kandungan.”

GUBRAK!!

Apa???

Rahasia Doa Ibu

Saya bertanya dan jawabannya sederhana.

“Ibunya, sejak anaknya kecil-kecil, kalau pada mau berangkat sekolah dielus kepalanya. Doanya apa aja yang bisa.”

Jadi, doa ajaib sang Ibu menghantarkan kesuksesan anaknya. Hal yang tampaknya mustahil, tak mungkin, pesimis, hanya setitik celah; menjadi kesempatan luarbiasa dengan DOA!

Kategori
Catatan Perjalanan Jurnal Harian

Left Group : Bertahan atau Keluar?

Suatu ketika, grup yang berisi orangtua murid SD kelas V ditutup. Putra putri kami sudah lulus dan masuk SMP.
Ketika satu persatu dikeluarkan, ada rasa sedih tak terjabarkan.
Ah…biasanya ada yang share tentang nasehat.
Share foto foto yang mengundang tawa atau haru.
Share kegiatan.

Left whatsapp ? Why?

Padahal, masih ada puluhan grup yang harus saya ikuti! Kehilangan satu toh tak masalah. Tapi, ada grup yang ketika dibubarkan rasanya sedih sekali 
Ada grup yang kita ingin Left group. Ada yang kita ingin bersama selalu. Ternyata benar kata Rasulullah Saw yang intinya : ruh manusia ibarat sepasukan burung membentuk formasi.

Pernah lihat burung terbang membentuk huruf V raksasa di angkasa ketika senja? Mungkin seperti itu gambarannya.
Kita sedih berpisah dengan orang-orang yang dekat di hati, meski tak kenal wajah, lupa nama. Namun disatukan dalam grup media sosial dan merasakan ruh yang sama.
Kita mungkin terikat dengan grup alumni, angkatan, teman seprofesi dll yang seolah memiliki latar belakang sama namun ternyata hati-hati kita tidak terikat. Mungkin saja kita merasa ada grup yang terlalu vulgar ketika membahas sesuatu, ada yang ketika beberapa individu melontarkan pernyataan kontroversial maka yang lainnya ikut emosi, atau ada pula yang merasa keterlibatannya di grup tidak mendapatkan manfaat.

Alone without whatsapp
Alone without whatsapp

Hm, bila hati tak terikat padahal seharusnya hati-hati para sahabat saling menyatu, tidakkah doa Rabithah dibutuhkan?

Kategori
Artikel/Opini mother's corner PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY

Neuroliterasi : Kecerdasan Berbahasa yang merupakan dasar kecerdasan selanjutnya

Pernah menonton film Contact yang dibintangi Jodie Foster dan Matthew McConaughey?

Contact : film tentang bagaimana berbicara dengan outer space
Contact : film tentang bagaimana berbicara dengan outer space

Yup. Jodie Foster berhasil berkomunikasi dengan penghuni outerspace selain manusia dengan bahasa semesta : matematika. Orang sering beranggapan bahwa bahasa hanya terdiri dari kata dan kalimat,, padahal bahasa adalah alat komunikasi agar pihak-pihak yang berinteraksi memahami pesan. Matematika, adalah salah satu bahasa logic yang akan digunakan dalam ilmu sains, sosial bahkan ilmu-ilmu humanistik termasuk literasi.

Orangtua ingin sekali anaknya cerdas.
Bila si anak mendapat nilai A atau 100 bulat untuk matematika, fisika atau kimia; luarbiasa bangga! Berbeda ketika mendapat nilai A atau 100 untuk pelajaran Agama, menggambar, atau Sejarah; masih kurang prestisius. Mengapa seorang anak sangat mahir matematika sementara yang lain lelet ?

Intelegensi

Tes IQ akan terus mengundang diskusi. Manusia memang selalu ingin mendisuksikan banyak hal. Trial error, membuat hipotesa, menentukan rumus, eksperimen, begitu terus menerus berulang. Sekalipun test IQ mengundang pro dan kontra; nyaris semua orang sepakat bahwa ada anak-anak yang memang berbakat cerdas dari “sono”nya. Diterangkan sekali, langsung mengerti. Ada yang butuh 2-3 x pengulangan. Ada yang butuh 10x pengulangan. Ada yang hingga ratusan kali diterangkan, tetap tidak mengerti.

Baiklah.
Anggap saja semua anak di Indonesia memiliki IQ 100 yang berarti dalam taraf normal atau rata-rata.
IQ 100 tersebut bukan berarti SEMUA menjadi mahir menguasai bidang-bidang yang SAMA. Si A lebih unggul kecerdasan verbalnya, si B lebih unggul kecerdasan arithmeticnya, si C lebih unggul reasoningnya, si D lebih unggul di bidang visual spasial dan seterusnya.

Bila, setiap anak , katakanlah punya potensi yang sama besar, lalu bagaimana cara orangtua melesatkan kecerdasannya hingga optimal?
Tahapan perkembangan
Sedihnya, begitu cepat waktu berlalu.
Tahu-tahu anak kita masuk playgroup.
Tahu-tahu masuk TK.
Tahu-tahu SD, SMP dan seterusnya. Aah, belum cukup rasanya menimang, anak-anak sudah berlari cepat. Yah, bukan sekedar timang menimang, namun cukupkah sudah stimulus yang diberikan orangtua pada anak?

Bahasa, adalah salah satu alat komunikasi.
Dengan bahasa, anak belajar mengucapkan bunyi, berekspresi, mengidentifikasi obyek.

Ini kucing :)
Ini kucing 🙂

“Ini pisang.Ini kucing. Ada berapa buah pisangnya? Satu-dua-tiga,” dan pembimbing bertepuk tangan tiga kali untuk merangsang semua kecerdasan baik auditori, visual maupun memori anak agar mengingat apa 3 (tiga) itu.
Kelak, pemahaman dasar dari makna “3” sebagai salah satu angka; akan terus berkembang tentang penjumlahan, perkalian, pembagian dan pengurangan. Berikutnya pangkat, KPK (kelipatan persekutuan kecil), FPB (faktor persekutuan besar). Si angka ini akan terus menguntit hingga masuk ke rumus-rumus stokiometri kimia, rumus kecepatan fisika, rumus neraca laba rugi akuntansi, rumus statistik di ilmu sosial dan seterusnya.
Betapa, kecerdasan di waktu dewasa, bila dihitung waktu mundur, diperoleh saat remaja. Kecerdasan remaja diperolah saat pra remaja. Kecerdasan pra remaja saat anak-anak. Kecerdasan anak-anak saat kanak-kanak dan kecerdasan masa kanak-kanak dibentuk sejak balita, batita, toddler, infant, bahkan sejak janin dalam kandungan!

Piramida Bahasa

Tata Bahasa
Bahasa Ekspresif : Berbicara dan Menulis
Bahasa Reseptif : Menyimak dan Mendengar
I d e n t i f i k a s i O b y e k
Bunyi meniru , bunyi berulang
Bunyi asal

Kecerdasan tidak diperoleh langsung oleh manusia namun didapatkan tahap demi tahap. Anak tak dapat meniru bila tak tahu bunyi asal. Selanjutnya ia akan mengidentifikasi objek : burung, tikus, kursi, mobil, boleh, jangan, marah, sayang dan seterusnya.
Naik ke tangga piramida berikut : MENYIMAK dan MEMBACA.
Maka orangtua harus selalu senantiasa mengajak anak-anak untuk menyimak serta membaca cerita. Terutama cerita-cerita keteladanan seperti kisah Sirah Nabawiyah Nabi Muhammad Saw beserta seluruh kisah para Nabi dan keluarga mereka serta para sahabat yang mengikutinya. Kisah-kisah heroisme seperti perjuangan bangsa Indonesia merebut kemerdekaan juga dapat dikisahkan kembali. Ada baiknya anak-anak disediakan buku-buku yang menarik.
Sebelum mampu bertata bahasa dengan baik, anak akan belajar cara BICARA dan MENULIS.

Masak dan makan adalah kesempatan banyak cerita kepada anak
Masak dan makan adalah kesempatan banyak cerita kepada anak

Ajaklah anak-anak untuk berbicara tentang apa saja, terutama hal-hal keseharian.
“Bunda mau masak lho. Kamu mau makan apa hari ini?”
“Nggak tahu.”
“Kalau telur sama tempe, kamu milih apa Sayang?”
“Telur.”
“Direbus atau digoreng?”
“Nggak tahu.”
“Bunda rebuskan, nanti kamu yang kupas ya?”
“Iya.”
“Kalau mau digoreng, ayo kita pecahkan telur di mangkok, baru kita tuang ke wajan isi minyak.”
Anak akan mendengar, melihat gerakan bibir dan mencoba memahami apa yang disampaikan oleh lingkungannya.

Ketrampilan menyimak, membaca, bicara dan menulis ini kelak akan sangat bermanfaat ketika anak masuk ke bangku akademis yang membutuhkan 4 ketrampilan berbahasa tersebut.
Matematika, misalnya.
Bukanlah membutuhkan daya konsentrasi tinggi dan anak diharuskan bersabar dalam mengenali angka atau bahkan huruf, kata dalam soal cerita?

Referensi :
Materi pelatihan Neurosains Terapan Smart Brain Energy, oleh Sumartini M Thahir
Beaty, Janice J. Observasi Perkembangan Anak Usia Dini. Prenada Media 2013

Kategori
mother's corner Sketsa Cinta Bunda

TONGKAT CINTA, SELIPAN UANG dan FABEL AESOP

Selalu ada cerita menarik saat berbagi pengalaman, metode, plus minus dalam mendidik anak. 22 November 2014 , memperingati Hari Pahlawan, fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) menyelenggarakan acara bedah buku Sketsa Cinta Bunda karya Sinta Yudisia dan Sekolah Para Pencari Ilmu karya Hamdiyatur Rohmah Chalim. Dan, acara ini menjadi lebih spesial, dihadiri Yoon Sengui dari Korsel dan Begench Soyunov dari Turkmenistan.
Bu Sirikit Syah dan Dr. Andik Matulessy mencermati dua buku ini dari sisi ilmiah sementara pak Sengui dan pak Soyunov berbagi pengalaman seru seputar dunia pendidikan di negeri masing-masing.
Mau tahu?
yoon soyunov
TONGKAT CINTA
Kekerasan. Pukulan.
Kebiasaan ini sudah cukup lama ditinggalkan para orangtua mengingat kekhawatiran anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang terpecah saat hidup dalam situasi traumatis. Namun, di beberapa belahan bagian dunia, pukulan tetap menjadi cara orangtua mengungkapkan cinta.
Agaknya, kita jangan bersikap antipati dulu bila mendapati pola asuh dengan metode memukul. Bukankah Rasulullah Saw sendiri mengajarkan agar ananda dipukul saat usia 10 tahun ketia tak mau sholat?
Memukul memang menjadi sangat tak baik dalam kondisi emosional atau kemarahan yang memuncak. Dalam beberapa hal, memukul menjadi pilihan yang tak terelakkan.

Tidak semua orangtua di Korea menerapkan Tongkat Cinta, tetapi orangtua Yoon Sengui salah satu yang masih tetap mempertahankannya. Tongkat Cinta adalah beberapa jenis tongkat, yang berbeda ukuran tebalnya, biasanya terdiri dari 3 jenis ukuran. Tipis, lebih tebal, tebal. Yang paling tipis untuk kesalahan relatif ringan seperti tidak mengerjakan PR , berbohong. Yang tebal untuk kasus relatif berat seperti berkelahi dan memukul teman.

Tongkat Cinta digunakan dengan memperhatikan beberapa hal :
1) Telah terjadi kesepakatan antara orangtua dan anak.
2) Tidak digunakan dalam keadaan emosi.
3) Hanya digunakan dalam usia perkembangan SD-SMP.
4) Yang memukul lebih baik sang Ibu

Dilarang memukul bila belum terjadi kesepakatan. Anak harus memahami bila ia melakukan satu keburukan, ia harus bertanggung jawab sesuai kesepakatan. Bila berbohong, lebih parah lagi. Biasanya, orangtua telah tahu kesalahan anak, namun mendorong anak untuk berani berkata jujur. Kisah unik Yoon Sengui boleh disimak.
“Yoon Sengui!” panggil mama (panggilan nama lengkap biasanya menunjukkan hal serius telah terjadi)
“Ya, Mama.”
“Apa PR mu selesai?”
“Sudah selesai.”
Mama mengulang dan mengingatkan, “berarti kamu sudah tahu hukumannya.”

Yoon Sengui gigit jari!
Ia akan menerima 2 jenis hukuman : pertama, karena PRnya belum selesai. Kedua, karena ia telah berbohong.
“Silakan ambil tongkat mana yang menurutmu sesuai dengan kesalahanmu.”
Yoon Sengui mengambil tongkat, memberikan kepada mama dan mama memukul kakinya dengan sungguh-sungguh. Pemukulan tidak terjadi di sembarang ruangan, tapi di ruang khusus tertutup yang tidak dapat dilihatorang banyak agar anak tak merasa malu. Ketika Sengui menangis, papa berdiam di pojok memberi isyarat agar ia bersabar. Usai acara hukuman, papa memeluknya, menghiburnya,
“…kamu tahu. Mama sangat mencintaimu.”

Malam hari, ketika Yoon Sengui tertidur, mama masuk ke kamar sembari bercucuran airmata dan mengoleskan balsem ke kaki putranya. Mama akan berkata bahwa ia melakukan semua ini demi kebaikan Yoon Sengui.
Kelak, ketika dewasa, Sengui merasa hal positif dari pola pendidikan tersebut. Ia lebih disiplin dan tahu bertanggung jawab. Ketika SMA, mama tidak lagi menjadi sosok yang keras dan tegas; namun ganti sang papa menjadi sosok yang ditakuti. Papa tidak memukul. Sebab usia SMA dianggap telah mampu berpikir lebih jauh.

Mengapa ibu yang memukul?
Bila sosok ayah yang melakukan pemukulan, akan lekat sebagai sosok kuat perkasa di rumah yang melakukan penganiayaan. Sosok ibu yang lembut dan pengayom, lebih tepat dalam memberikan hukuman jera.
Tongkat Cinta, dijual bebas ditoko-toko. Harga satu paketnya relatif mahal, sekitar Rp.500.000. Mungkin, bagi sebagian besar orang hukuman ini sangat tidak manusiawi. Namun di Indonesia sendiri, hukuman menggunakan pukulan pernah dikenal. Ibu saya bercerita, ketika kecil anak-anak ramai belajar mengaji, sang guru membawa githik. Sebuah tongkat kecil yang akan beliau pergunakan untuk memukul ringan jemari anak-anak yang ribut sendiri dan tak mau belajar. Ibu beranggapan, pukulan itu tidak membekaskan pengalaman traumatis, bahkan menjadi pengalaman yang lucu serta berharga. Kemungkinan, guru ngaji saat itu melakukannya dengan penuh pengabdian, bukan pelampiasan emosi.
Nyaris terlupa, pukulan Tongkat Cinta tidak boleh dilakukan saat orangtua marah. Bila marah, orangtua harus meredamkan marah terlebih dahulu dan baru menghukum putra putri mereka setelah berjam-jam lepas dari kemarahan.

SELIPAN UANG
Menjadi hal yang lazim bagi anak-anak di seantero dunia untuk suka pada pekerjaan yang satu ini : membaca Komik!
Tidak semua orangtua suka anaknya membaca komik, termasuk orangtua dan kakek Yoon Sengui. Namun, kali ini hukumannya bukan Tongkat Cinta . Bukankah hal tersebut tidak ada dalam kesepakatan? Apa yang dilakukan kakek Sengui dan mama Sengui?

a. Kakek Sengui
Kakek Yoon Sengui menghadiahkan cucunya buku-buku bagus yang layak dibaca. Menrutunya , Yoon lebih baik membaca buku ilmu pengetahun daripada membaca komik! Tapi Yoon kecil tentu saja menolak. Kakek tak habis pikir.
“Yoon, kalau kamu membaca buku, kamu pasti akan menemukan hal berharga. Ketika menemukannya, ambillah!”
Yoon Sengui merasa, itu hanya akal-akalan kakek. “Sesuatu yang berharga” pastilah berupa ilmu pengetahuan. Ternyata, kakek menyelipkan…uang! Sekalipun awalnya saat membolak balik halaman demi mengharapkan uang, ternyata ada beberapa bab menarik yang akhirnya dibaca.

b. Mama Sengui
Mama Yoon Sengui tak suka putranya membaca komik. Bila Yoon membaca komik, mama akan memintanya menghafal semua dialog yang ada di buku komik.
Mama juga mengontrol buku bacaan Yoon. Setiap hari menjelang tidur, Yoon diminta menuliskan komentarnya tentang buku tersebut.
Yoon akan dimarahi bila komentarnya hanya,

Buku ini jelek.
Buku ini menarik.

Yoon harus menuliskan apa yang membuat buku itu menarik atau jelek, minimal 1 kalimat saja.

FABEL AESOP
Keluarga Yoon Sengui bukan orang berada, bahkan dapat dikategorikan miskin. Ayah dan ibunya harus bekerja keras mencukupi kebutuhan sehari-hari. Namun mama Yoon Sengui adalah orang yang luarbiasa. Mama berusaha membelikan buku meski mereka susah makan. Menjelang tidur, mama biasanya membacakan kisah-kisah Aesop.
Aesop adalah seorang budak berpenampilan sangat buruk hingga orang Yunani menjulukinya “Dewa tengah setengah tertidur ketika menciptakannya”. Namun kecerdasan dan kebijaksaan Aesop menjadikannya penasehat kaisar di kelak kemudian hari. Aesop lahir 630 SM di Amorium, Turki. Tulisan-tulisannya yang terkenal luas di seantero dunia adalah Aesop’s Fabulous Fable.

Kisah-kisah kebijaksanaan banyak tertuang dari fabel dengan tokoh unta, gajah, monyet, kura-kura dan beragam hewan lainnya. Kisah-kisah Aesop banyak dipilih orangtua saat mengajarkan pendidikan moral kepada anak-anaknya termasuk mama Yoon Sengui.
Saat SMA, Yoon Sengui telah membaca 3000 buku!
Pengalaman demi pengalaman yang menempa Yoon Sengui menjadikannya lebih bijak saat menjadi guru di SMP Young Hun Seoul dan SMA Demian Seoul.

KOMPETISI TURKMENISTAN
Begench Soyunov yang santun dan tenang menceritakan pola pendidikan di Turkmenistan yang mungkin akan membuat sebagian besar orang iri.
Tidak terdapat jenjang SD, SMP, SMA disana.
Jenjang pendidikan dasar mulai kelas 1 hingga kelas 11.
Kelas 1-3 hanya terdapat 1 orang guru (wali kelas) yang mengajarkan semua mata pelajaran. Sang guru harus dapat menguasai bahasa, matematika, ilmu alam. Barulah di kelas 4 hingga selesai nanti, anak-anak belajar dengan guru yang berbeda. Terdapat guru khusus bagi matematika, bahasa, biologi dan seterusnya.

Bila anak-anak keluar dari kelas 3…mereka mendapatkan hadiah laptop dari pemerintah!

Wah, senangnya! Alangkah bersemangatnya anak-anak belajar!
Di Turkmenistan, pendidikan mirip dengan pendidikan di Indonesia. Bedanya, sangat banyak diselenggarakan kompetisi-kompetisi semacam olimpiade kimia, fisika dsb. Anak-anak di Turkmenistan, diajarkan untuk selalu giat berkompetisi dan Turkmenistan termasuk yang unggul menjadi juara 1 dalam beberapa olimpiada ilmu pengetahuan tingkat dunia.
Kompetisi, memang menampilkan performa terbaik seseorang.
Rupanya, ini yang dibentuk oleh pendidikan di Turkmenistan!

Kategori
Oase

Jilbab si Gila

Sebut namanya Muslimah.
Usia 30an, manis sekali, berpostur sedang. Sekilas, bila kita bertemu dengannya di keramaian, mungkin akan menyangkanya perempuan kebanyakan.
Saya pun sempat terkecoh pertama kali bertemu. Menyangkanya perempuan biasa, namun ketika kami berbicara lebih jauh, barulah tampak siapa Muslimah sebenarnya. Mata kosong, wajah dingin tanpa sentuhan emosi, raut wajah tanpa ekspresi. Sesekali bisa berdiskusi resiprokal, namun di titik tertentu memori-nya tak utuh, dan perbincangan tak akurat.

Tempat kami magang, adalah rumah sakit bagi orang dg diagnosis severe mental illness, pasien2 Psikotik Fungsional dg 5 kategori : Psikotik Akut, Skizofrenia, Skizoafektif, Gangguan Bipolar, Gangguan Waham Menetap.

Jangan bayangkan pasien psikotik sbg orang compang camping, lusuh bau spt yg ditemui di jalan2. Sebagian mereka pandai, speak in english, orator, pintar menyanyi. Wajah tampan cantik, atau wajah kacau balau , beragam jenis disini. Remaja, hingga lansia diterima sbg pasien rawat inap atau rawat jalan.
lossy-page1-220px-Scheherazade.tif

Terkadang, kami susah membandingkan pasien dengan perawat, DM, mahasiswa magang, perawat magang. Baju relatif berwarna mirip antara pasien dan paramedis : abu-abu, biru , hijau, coklat. Jika tidak jeli melihat, siapa terapist atau yg diterapi, nyaris sama.

Yang membedakan secara fisik, semua pasien, mengenakan baju sebatas siku dan celana sebatas lutut. Warna pakaian tergantung ruang inap. Misal ruang A warna merah, ruang B kuning dst.

Lalu apa istimewanya Muslimah?
Perempuan psikotik fungsional, kemungkinan skizofren katatonik, berada di ruang sebuah rumah sakit jiwa? Apa istimewanya Muslimah, yg sehari2 masih harus dalam kontrol ketat terapi, mengenakan pakaian khas, berada di bawah pengawasan kamera CCTV 24 jam sehari?
Muslimah, istimewa bagiku.
Dengan baju sepanjang siku, celana sebatas lutut -SOP klien rumah sakit jiwa yg sering kabur, melakukan tindakan impulsif -agar lebih mudah dikenali dan diamankan-; Muslimah mengenakan kain kerudung di atas kepala.

Rapi.
Tertutup.
Kain segiempat, dilipat dua menjadi segitiga, dipasang di atas kepala, menutupi rambut sempurna, tersemat peniti tepat di bawah leher agar kerudung tak meleset kemana-mana.

Ya, ia Muslimah si Gila.
Yang mungkin harus menkonsumsi obat2 typical atau atypical seumur hidupnya. Mungkin selamanya tak akan mencapai RTA-reality testing ability yg baik, selamanya tak mampu memiliki self -image positif, selamanya harus dibantu melakukan self-help.

Muslimah si Gila, di tengah perjuangannya menaklukan halusinasi, membedakan antara realitas & delusi, mengenakan jilbab.

Ketika kami berpisah hari itu, ia menatap kami dari balik pagar besi tinggi. Pemandangan aneh, seseorang mengenakan pakaian dengan panjang lengan sebatas siku dan celana selutut tetapi menggunakan jilbab.

Muslimah istimewa dimataku.
Ia, pengidap skizofrenia -atau yg sering diistilahkan gila- entah sadar atau tidak, berusaha mentaati perintah Allah SWT sebagai seorang perempuan. Mengenakan kerudung ketika bertemu non mahram.Bukan hal mudah menjalani hari2 bagi skizofren, menghadapi diri sendiri dan stigma orang lain. Mencoba taat padaNya dalam segala keterbatasan, sungguh mengharukan.

Apakah anda, juga saya, yg merasa normal tidak mau mentaati perintah Allah SWT utk mengenakan jilbab secara sempurna?

Sinta Yudisia, Agustus 2014

Kategori
Catatan Perjalanan mother's corner Oase

Ungkapan hati seorang Nenek 73 tahun mengenai sosok Capres Prabowo Subianto

Kekagumanku pada beliau bukan hanya sekarang, bahkan semenjak aku masih menjadi mahasiswi di sebuah Perguruan Tinggi Negeri Yogyakarta.
Kusaksikan semenjak mengemban tugas sebagai prajurit sampai melesat menjadi Danjen Kopassus (yang sebelumnya bernama RPKAD, Pasukan Baret Merah yang saya banggakan itu) karena prestasi-prestasinya, sampai akhirnya menjadi Pangkostrad.
Sering prestasi yang beliau capai dikait-kaitkan dengan opini, “itukan karena beliau adalah menantu Presiden!!!”
Pada pandangan saya beliau adalah seorang gentlemen. Seorang yang selalu “ menggenggam” nilai-nilai kebenaran dan keadilan dalam situasi apapun.
Saya sangat bangga sebagai orang Indonesia yang saat itu memiliki pasukan TNI AD / Kopassus yang sangat ditakuti lawan-lawan negara.
Kekaguman saya semakin bertambah pada saat terjadi peristiwa kerusuhan di tahun 1998 , dimana beliau saat itu ada dalam arus pusaran peristiwa tersebut.
Sebagai menantu presiden ( yang sedang ada dalam akhir kekuasaan) dan sebagai prajurit, yang tugasnya sebagai pembela negara dan pemersatu bangsa (NKRI) dilemma itu tentu saja beliau alami sangat sulit.
Tapi lagi-lagi saya menyaksikan betapa dengan kokohnya beliau masih memegang nilai-nilai kebenaran itu , meski terfitnahkan dimana-mana.
Alhamdulillah saya tidak termakan oleh fitnah itu. Dan saya saat itu tetap yakin bahwa tujuan beliau adalah benar.
Tapi saya sangat sedih ketika beliau diberhentikan (dengan hormat) dari TNI AD. Hakekatnya bersalahkah beliau??? Kalau tindakan-tindakannya saat itu untuk menyelamatkan NKRI? Batinku bertanya.

Tentu saja dengan pengorbanan perasaan yang sangat besar. Beliau hadapai pemberhentian tugas itu dengan tegak, tegar dan percaya diri bahwa beliau sekedar memperjuangkan kebenaran demi NKRI.
Lama aku tidak mendengar kabar beliau. Kabarnya , beliau ada di negeri orang karena penguasa negeri itu adalah sahabatnya (beliau banyak sahabat-sahabatnya).
Beberapa tahun kemudian, kusaksikan dilayar televisi, beliau diangkat menjadi ketua HKTI…aku bertanya : mantan Jenderal, mengurusi tani dan nelayan??? Alangkah mulianya dan merakyatnya beliau!!
Kemudian kusaksikan ada Partai Baru “GERINDRA” di bawah pemimpin beliau. Aku ingin ikut bergabung, tapi aku tahu diri, aku sudah bukan anak muda lagi.
Tapi aku sedih ketika pilpres tahun 2009; beliau “hanya” mencalonkan diri sebagai wakil; padahal saya yakin, beliau lebih hebat dari capresnya. Tapi sungguh ini sebuah hikmah bahwa saat itu yang terpilih adalah bapak SBY.
Dan sekarang beliau menyadari bahwa rakyat Indonesia membutuhkan beliau dan dengan sigapnya layaknya sikap seorang prajurit mencalonkan diri sebagai Presiden.

Bravo, Pak.
Tentu saja aku memilih capres no 1.
Semoga Allah meridhoi. Amin. Amin. Amin.

Siti , Nenek dari 10 cucu
Lulusan sarjana Farmasi 1973, Yogyakarta

Surat utk prabowo 1

Surat utk Prabowo

Kategori
Cinta & Love mother's corner Tulisan Sinta Yudisia

Mari Berpolitik!

Pernahkah anda mengajarkan si kecil berpolitik?
Bagaimana mungkin mengajarkan anak di bawah umur untuk memilih partai, anggota legislatif dan memahami cara politik bekerja! Tentu, bila makna politik dipersempit sebagai cara seseorang mendapatkan posisi dalam pemerintahan, kita tak mungkin mengajarkan anak SD berpolitik.
time-young-voters

Perilaku seseorang tidak dibentuk hanya dengan sekali kejadian. Mengapa seorang anak takut kecoak dan berseru girang melihat kucing, apalagi gajah dan jerapah? Secara logika, jika takut melihat kecoak, maka akan semakin takut melihat binatang yang jauh lebih besar. Proses berpikir, adaptasi, modelling dan seterusnya membentuk perilaku hingga setelah dewasa pun, kita berseru jijik dan gemas melihat kecoak. Padahal cukup sekali injak, gepenglah ia.

Stereotip tentang polisi pun demikian.
Sejak kecil, ketika si anak susah makan, ibu akan berkata ,”awas, nanti Mama panggilkan polisi!”
Tak cukup hanya itu, si kecil menyerap demikian banyak informasi dari sekitar, ketika percakapan orang dewasa terjadi ,” pakai helm, biar gak ditilang polisi!” atau ,” ah, terobos lampu, gak ada polisi di perempatan jalan kok.”
Sosok polisi yang jahat, nakal, ditakuti menjadi terpatri dalam benak dan demikian sulit bagi kita mengubah citra polisi padahal masih banyak polisi yang baik dan jujur di tengah masyarakat.

Belajar Dialog
Suatu ketika si kecil menangis sesenggukan.
“Aku nggak mau ngomong lagi! Tiap kali berantem, mesti aku yang dimarahin! Aku mau diem aja!”
Rupanya, si kakak yang sudah pintar argumen berhasil menyudutkan si kecil hingga ia yang tak tahu harus bicara apa lagi, hanya bisa menangis. Ada kalimat berbahaya yang diungkapkannya, sebagai makhluk tertindas , “aku nggak mau ngomong lagi!”
Seolah-olah, dalam kondisi kalah dan tak berdaya, pilihan tidak bicara adalah jalan satu-satunya.
“Eh, Nis harus bicara.”
“Nggak mau!”
“Nanti tambah mangkel lho, tuh lihat, karena nggak mau ngomong air matanya jadi bercucuran begitu. Berarti hati Nis marah kan!”
“Nggak mau!”
“Mas tadi ngomong jelek ke Nis ya?”
“Nggak mau! Pokoknya nggak mau!”
“Sini peluk Ummi dulu,” aku menghapus airmatanya dan menenangkan di bahu.
“Aku dibilangin: telingamu buat apa sih? Dikasih tau nggak mau dengar…”

Dan mengalirkan cerita dari mulut si kecil yang bagi kita sangat amat sepele.
Tahukah anda, bahwa tahapan ini kita tengah mengajarkan si kecil berpolitik, sebagaimana kata Charles Blattberg yang mengatakan bahwa politik adalah merespon konflik dengan dialog?
Kita membiasakan di tengah keluarga bahwa yang kecil tak harus mengalah dan bersedia di tindas. Begitupun yang besar, tak boleh sewenang-wenang, boleh berlaku seenaknya sendiri meski ia berada di pihak yang benar.

Belajar Mendapatkan Sesuatu
Si kakak ingin burung hantu.
“Aku mau melihara burung hantu. Pokoknya aku kepingin banget! Aku dah bosan melihara ikan, Ummi.”
Tentu, ayahnya marah. Sebab kami pernah memelihara kelinci, kucing, hamster yang hasilnya…mati semua. Hanya ikan-ikan yang masih bertahan : koki, kuhli, ikan pedang, ikan gelas dsb yang perlahan juga wafat satu demi satu. Tapi alasan si kakak ,” dulu kan aku masih kecil, makanya hewan-hewan pada mati. Sekarang aku sudah besar. Aku mau melihara burung hantu. Seperti Soren, dalam Guardian of Gaa’hole!”

Kukatakan pada si ayah bahwa kita tak boleh mengebiri begitu saja keinginan seseorang. Justru kita harus bantu, sejauh mana ia mampu mewujudkannya, dengan cara yang realistis.
“Oke. Kamu boleh searching di internet, cari berapa harganya, apa makanannya, bagaimana cara memeliharanya.”
Si kakak rajin mencari di internet, kaskus dan bermacam-macam situs. Ia mendapatkan informasi berapa harga burung hantu sepasang, berapa harga jangkrik, berapa harga glove atau sarung tangan hantu. Si celepuk atau burung hantu ini hanya melek di malam hari, bisa disuapi di waktu malam. Jadi si kakak bisa merawatnya sepulang sekolah.
Semua informasi siap. Tempat membeli sudah diketahui.
“Jadi, kapan kita beli?” kata si kakak.

Itulah. Permasalahan terakhir adalah permasalahan budget. Harga 500 ribu lumayan mahal untuk memelihara hewan. Berbeda dengan koki mutiara yang hanya 25 ribu dapat beberapa buntal.
“500 ribu, Mas? Bagaimana kalau kita mencicil? Kamu menyisihkan dari uang sakumu?”
Kalau ia mau tidak jajan, jalan kaki, tidak boros uang, mungkin sebulan bisa menabung 50 ribu dan dalam setahun ke depan bisa membeli si Celepuk. Atau,
“perbanyak sholat. Banyak menghafal Quran. Ummi sering dapat rezeki mendadak lho dengan banyak berdoa.”

Anak-anak sering kuceritakan keajaiban doa safar, keajaiban sedekah, dan bagaimana ketika memohon bersungguh-sungguh; impian dapat terkabul. Impian yang kecil sekalipun.
Apa yang dipelajari kakak dalam proses membeli burung hantu itu adalah proses yang digambarkan Harold Laswell tentang politik : siapa mendapatkan apa, kapan dan bagaimana. Kita mengajarkan anak-anak yang lebih besar untuk menghormati yang lebih kecil, mengajarkan mereka untuk bertahap memperoleh sesuatu. Tak ada yang instan, semua harus di program dengan baik, butuh step by step meraih apa yang diinginkan.

Belajar Memimpin, Belajar Dipimpin
Dua kakak telah duduk di bangku SMA.
Belajar organisasi, belajar interaksi. Pembentukan karakter di masa ini sungguh-sungguh punya relasi dengan dunia politik. Suatu ketika kami dipanggil sekolah karena ananda tidak mengumpulkan beberapa tugas. Masa sih? rasanya, putri kami termasuk orang yang perfect dalam urusan akademik.
Ternyata, si kakak putri punya tugas kelompok dan ia menjadi ketua. Akibat karakter perfectnya, ia tidak bisa mendelegasikan tugas.
“Soalnya si ini gak punya laptop, si ini gak ada bukunya, si itu bla bla bla…”
“Kak,” tegurku. “Sekalipun papermu nilanya 100 atau A, tapi kamu kerjakan sendiri, percuma. Biar saja teman-temanmu sulit baca referensi in English, hanya bisa copy paste, gak bisa bikin struktur kalimat yang bagus dan seterusnya; lalu nilai paper kalian hanya dapat 70 itu jauh lebih baik. Karena saat ini kamu sedang belajar berkelompok, bekerja sama. Kecuali kalau tugas individual, kerjakan ngotot dapat 100 ya nggak masalah.”
Di lain pihak, si kakak yang satunya, mau aja diminta mengerjakan beragam hal.
Urunan ini, urunan itu. Beli ini, beli itu. Kerjakan ini, kerjakan itu.
“Lha, kok kamu capek banget sih kayaknya di organisasi X.”
“Aku kan nggak bisa enak-enakan, meski aku cuma dapat seksi gak penting, Mi.”
“Tapi kamu harus bisa memilah, mana yang harus ditaati. Nggak semua permintaan kakak kelas dituruti kalau itu di luar budget, di luar kemampuan.”
Kukatakan, dalam rapat-rapat, si kakak jangan hanya jadi pendengar saja.
“Kamu sekali-sekali mengajukan pendapat, usul. Suatu saat, kakak yang harus bisa me- manage teman-teman. Jangan hanya bersedia jadi pelaksana. Makanya, ayo belajar berpikir.”

Belajar politik ala Confucius, bahwa politik berarti kecukupan makanan, kekuatan militer, mendapat kepercayaan rakyat. Terlibat dalam organisasi sejak masih SMP atau SMA dalam OSIS atau kegiatan ekstrakurikuler lainnya, bertanggung jawab pada salah satu seksi, menjadi ketua panitia atau ketua organisasi berarti belajar politik ala Confusius – meraih kepercayaan orang lain , menjaganya.

Mendorong Anak-anak Berpolitik
Politik tidak hanya sekedar pencoblosan saat pemilu. Politik tidak hanya sekedar hingar bingar kampanye. Politik bukan cukup pasang baliho dan spanduk. Belajar politik, terutama bagi anggota keluarga dapat dilakukan dimana saja, dengan media apapun yang dimiliki.
Ketika menonton film Korea bersama anak-anak, itu adalah ajang politik keluarga. Kami terharu bersama, menangis menikmati penggal I am a King atau Masquerade; kisah tentang orang biasa yang memiliki wajah mirip dengan raja, lalu bertukar tempat karena satu insiden. Bagaimana raja dan putra mahkota yang pengecut, belajar banyak dari rakyat yang pura-pura menjadi raja. Seorang rakyat terkadang memiliki keberanian dan kebijaksanaan yang tak terbayangkan. Saat berhadapan dengan menteri yang korup dan ditakuti, sang raja berkata,
“ …karena orang-orang seperti engkaulah, Joseon ditindas oleh kerajaan Ming!”

Menonton Tae Guk Ki , Berlin’s File , The Man From Nowhere atau serial the Great Queen Seondeok ; menikmati tayangan music Korea, melihat jajaran restoran Dim Sum di pinggir-pinggir jalan kami bertanya-tanya : bagaimana mungkin dalam jangka waktu tak kurang dari 20 tahun Korea Selatan merangsek seperti ini? Merajai dengan makanan, film, musik, budaya, barang elektronika dsb?
Budaya adalah produk masyarakat. Bersama budaya ada seni sastra, seni musik, seni teater dan drama, film, kuliner dll.
Saya berpesan kepada anak-anak,
“suatu saat kalian harus buat film serial sebagus the Great Queen Seondeok. Ada banyak peristiwa sejarah yang bisa difilmkan kolosal dan spektakuler , perang Badar dan perang Uhud, misalnya. Atau kisah Walisongo, perang kemerdekaan, perang Diponegoro dan sebagainya.
Kalian harus bikin grup musik yang mengangkat tema batik. Lihat, budaya Korea dengan oplas nya begitu diminati anak muda.”

Setiap pulang dari perjalanan, saya bercerita tentang daerah tersebut kepada anak-anak. Betapa di Gaza, Palestina yang terblokade, angkutan umum terdiri dari mobil bagus dan nyaman. Betapa Gaza berusaha mandiri dengan apa yang dimiliki, tidak melulu bergantung pada bangsa asing.
“Suatu saat nanti, Anak-anak, kalau kalian memimpin, semoga kalian membawa Indonesia lebih baik. Membawa Indonesia seperti yang diimpikan Sayyid Quthb : akan ada sebuah negeri yang menjadi mercusuar dunia. Negeri muslim yang kaya.”

Jadi, berpolitiklah dari sekarang.
Jangan bekukan politik hanya di era 5 tahunan, dalam kotak-kotak kepentingan. Jangan termakan propaganda dan tendensi media tertentu. Kita bangun politik mercusuar, dari rahim rumah-rumah kita. Anak-anak bangsa yang bijak bestari, berani bersuara, tangguh dalam pentas dunia, cerdik mengelola masalah, pandai menemukan solusi.

Menjelang 2014, bentuk persepsi anak-anak dengan informasi yang membangun character building. Jangan biasakan caci maki, jangan biasakan stigma. Katakan bila kita memilih seseorang, kita harus tahu kredibilitasnya, harus tahu apa program kerjanya. Mungkin anak-anak belum tahu betul tentang politik, sebagaimana filosofi politik ala Plato dan Aristoteles. Tapi kita bisa bangun pemahaman mereka tentang politik, sebagaimana Sultan Murad saat mendidik al Fatih, the Conqueror – tentang Konstantinopel.

Mari ajarkan anak-anak berpolitik.
“Nak, Indonesia ini kaya. Negeri ini milik kalian. Suatu saat nanti, ketika kalian besar, kalian yang akan mengelolanya. Maka, belajarlah dari Umar, saat memimpin ia masuk ke pasar dan blusukan hingga daerah-daerah. Belajarlah dari Abubakar. Belajarlah dari Shalahuddin al Ayyubi.”

Anak-anak kita belum faham betul tentang partai.
Tapi anak-anak mulai belajar untuk bersuara, menyatakan pendapat, berdialog dengan baik, tidak pragmatis. Dan, karakter kepemimpinan termasuk pemimpin politik, kita bangun di sini, dalam ruang-ruang rumah kita. Di Quran yang dihafalkan. Di meja makan. Di kamar. Di depan televisi. Di halaman-halaman buku yang dibaca dan didiskusikan bersama.

Kategori
Bunda Cantik. Beautiful Mother Catatan Perjalanan Cinta & Love mother's corner Rahasia Perempuan

Poligami : Rijal yang Qowwam, Ketangguhan istri Pertama, Ketulusan istri Kedua

Masih ingat tentang keajaiban doa safar?
Setelah beberapa kali bertemu teman perjalanan yang kurang mengenakkan, akibat saya juga meremehkan doa safar, saya lalu bersungguh-sungguh berdoa setiap kali melakukan perjalanan keluar kota : semoga diberikanNya teman sholih dan sholihah. Alhamdulillah, Allah SWT mengabulkan doa-doa. Di beberapa perjalanan, teman duduk saya orang-orang yang luarbiasa.
Beberapa sudah saya tuliskan secara singkat :
1. Pemuda sholih, kakak beradik hafidz
2. IRT pengusaha sukses
3. Tukang becak, cucunya hafidz
4. Seorang teman lama, istri ke-2
Kali ini, saya ingin melukiskan pengalaman istimewa yang subhanallah…betul-betul sebuah skenarioNya.

Jakarta , terdampar menunggu Shubuh
Moga bukan dislexia. Atau rabun. Atau apalah.
Akhir-akhir ini saya suka salah baca tulisan. Ikut lomba menulis, bolak balik lihat persyaratan, 1-5 halaman. Setelah dikirim, ternyata 5-10 halaman! Bolak balik salah lihat jadwal kuliah. Yang terparah, bolak balik lihat jadwal Jogja Muslim Festival, tertera pagi hari. Akhirnya mengiyakan panitia Medan untuk mengisi acara pagi hari berikutnya. Ternyata…, acara Jogja sore hari. Terpaksalah jadwal pesawat dicancel, diubah, dan terpaksa terdampar di bandara Soetta dari jam sebelas malam hingga Shubuh esok harinya.

Shubuh, setelah check in dan duduk di waiting room, wajah ini bertatapan dengan seorang perempuan berjilbab kuning. Dia dan saya sama-sama terdiam beberapa detik.

poli

Kami telah berpisah 15 tahun yang lalu! Setelah perasaan saya demikian lelah, harus berlomba dengan waktu, memikul ransel, dan yang paling menyebalkan menggerutu mengkritik diri sendiri yang berulang kali salah melihat simbol angka ; rupanya ada rahasia di balik semua kesalahan-baca-ini. Di balik tiket yang terpaksa berganti jam. Di balik jadwal yang amburadul berantakan. Di balik nafas ngos-ngosan memburu waktu di bandara Adi Sucipto, Soetta, Kualanamu.
Lalu kami berdua sama-sama terpekik, bersalaman, cipika cipiki dengan perasaan rindu membuncah.
Mari, kita simak kisah kasih 3 insan yang terpatri dalam cinta unik. Nama saya samarkan dengan Raffi, Yuni, dan Shara.

Bila cinta dalam ikatan dakwah
Shara seorang perempuan cerdas sholihah berputra satu. Suaminya meninggal di saat usianya masih demikian muda, kecelakaan yang mendadak. Aku masih ingat bagaimana Shara demikian tegar, sementara kami yang takziyah menangis tak henti-henti. Suami Shara seorang lelaki sholih, baik akhlaqnya, dai yang tiada duanya.
Bertahun-tahun kemudian aku mendapat undangan pernikahan Shara. Ia dilamar seorang lelaki berkedudukan, sebagai istri kedua. Konon, lelaki itu –Raffi- meminta istri pertamanya Yuni untuk mencarikan istri kedua. Yuni pun menemukan Shara dan mereka sepakat bertiga untuk mengikat diri dalam ikatan cinta yang sah, dalam naungan lazuardi dakwah.

15 tahun kemudian aku bertemu Shara.
Tentu, insting perempuanku berusaha ingin tahu. Aku menyebutnya Kakak.
“Kakak tinggal di…?”
“J.”
“Suami kak Shara dimana?”
“Ya di J juga dong dek,” Shara tertawa.
Kamis atu pesawat. Duduk berdampingan. Dan mengalirlah kisah indah yang demikian ingin kutuliskan secara khusus untuk sebanyak mungkin orang. Meski sebagai perempuan sampai kapanpun tak akan bisa menerima alasan poligami, kisah Raffi, Yuni dan Shara pantas untuk direnungkan.

Kunci poligami
Shara telah menyelesaikan studi S3nya. Kami bertukar nama, di depan namanya tertera gelar doktor. Ia seorang perempuan yang aktif, dengan segudang kesibukan. Aku yakin, pernikahan mereka tentu tidak seindah si cantik cerdik Shahrzad mengisahkan 1001 malam ke telinga raja Persia.
Pasti ada yang indah.
Pasti ada yang seru.
Pasti ada yang heboh.
Dan kita, sebagai perempuan, senang mendengar ksiah dramatis, melankolis, terutama sisi konflik yang meruncing kan?
Penasaran dengan kisah cinta segitiga, aku langsung bertanya. Beruntung, Shara sangat bijaksana melayani rasa ingin tahuku. Teori, selalu lebih simple daripada praktek. Teori, selalu jadi kambing hitam bila prakteknya bermasalah. Bagaimanapun, teori adalah penyederhanaan fakta di lapangan. Kisah Shara boleh jadi terdengar teoritis bagi sebagaian kalangan, tapi demikianlah yang dialami Shara.
Raffi mampu menjaga keharmonisan hubungan dengan Yuni dan Shara. Tentu ada friksi disana sini, masing-masing punya cara khas mengatasi masalah.

Raffi
Usianya terpaut 20 tahun dari Shara. Raffi adalah seorang lelaki yang matang. Dalam pandangan Shara, Raffi mampu menjadi qowwam bagi keluarga istri pertama dan kedua. Raffi mampu mendidik Yuni, sekalipun tidak mengabaikan sisi-sisi manusiawi Yuni yang mudah meradang saat berada di posisi istri pertama.
Raffi tahu, bahwa menikah untuk yang kedua kalinya , secara syariat tidak membutuhkan izin dari istri pertama. Lagipula, mana ada istri yang mengizinkan? Tapi Raffi memilih untuk tidak sembunyi-sembunyi, dengan alasan agama atau dakwah sekalipun. Raffi mendiskusikan secara terbuka dengan Yuni keinginannya untuk menikah lagi, di saat putra putri mereka telah berjumlah 5 dan kondisi keuangan keluarga sangat mapan. Raffi meminta Yuni yang memilihkan.

Bukan mudah mencari pasangan bagi Raffi dan Yuni.
Yuni mencari-cari dan akhirnya menemukan Shara, janda beranak satu yang tangguh. Raffi mendiskusikan terbuka dengan seluruh anggota keluarga, di saat anak-anak beranjak remaja. Alhamdulillah, semua terbuka untuk menerima Shara.

Yuni
Yuni adalah perempuan cerdas berpendidikan tinggi. Berdasar cerita Shara, ia perempuan yang sangat dominan. Dalam tahun-tahun pertama pernikahan Raffi dan Shara, Yuni benar-benar memegang kendali keluarga. Keuangan, pembagian hari, semua berada di tangan Yuni. Raffi lebih banyak berada di rumah Yuni, ketimbang di rumah Shara. Kadang, Yuni juga tidak bisa menghindari gesekan dengan Shara. Apalagi rumah mereka juga bertetangga.
Shara
Ketulusan dan upaya memahami, rupanya salah satu kunci Shara mampu menjaga stabilitas keluarga Raffi dan Yuni.
“Kakak tau, Sin,” ujarnya, “ kakak juga banyak belajar dari para istri yang dipoligami, bahwa tahun-tahun pertama adalah masa yang sangat sulit. Maka kakak ambil posisi mengalah, kakak lebih banyak mundur jika ada keputusan harus diambil suami istri.”
Shara mengalah dalam masalah hari. Shara mengalah dalam masalah keuangan. Untungnya, Shara punya penghasilan sendiri. Apalagi Shara menyadari, anak-anak Yuni berjumlah 5 orang dan semuanya membutuhkan perhatian moril dan materil.

Ketulusan, sikap mengalah Shara membuat Yuni juga melunak.
Di kemudian hari, Raffi bisa membagi hari antara Yuni dan Shara masing-masing setiap 2 hari. Ketika anak-anak Yuni mulai lulus kuliah, Shara meminta kepada Raffi dukungan materi kepada anak-anaknya (dari Raffi, Shara mendapatkan seorang putra). Yuni dan putra putrinya tak keberatan dengan permintaan ini.

Shara punya beberapa tips untuk mengatasi friksi saat menghadapi Raffi dan Yuni :
• Ketika landasan awal adalah niat ibadah kepada Allah SWT, niat karena dakwah, insyaAllah guncangan yang terjadi akan kembali mereda setelah masing-masing merenungkan niat awal kembali. Berbeda yang main kucing-kucingan. Sekalipun dalam agama dibenarkan, menurut Shara, musyawarah akan menimbulkan kebaikan. Terutama dampak bagi anak-anak.
• Jika Yuni menyakiti hati Shara, Shara tidak serta merta membalasnya. Di saat Shara berkunjung ke suatu daerah untuk urusan tugas atau dakwah, Shara selalu membelikan oleh-oleh untuk Yuni. Bila sakit hati Shara belum sembuh, Shara akan menitipkan buah tangan kepada Raffi dan mengatakan, “titip untuk kak Yuni ya.”
• Shara membiasakan menulis surat untuk Yuni, dalam kesempatan-kesempatan istimewa ataupun saat mereka punya masalah. Shara menuliskan “terimakasih telah berbagi kebahagiaan” atau “terimakasih telah berbagi cinta.” Shara sangat menghindari perkataan “terimakasih sudah mengizinkan bang Raffi…” . Sebab bagi Shara , kata MENGIZINKAN akan melukai perasaan Yuni. Yah, siapa yang mengizinkan? Atau bila mengizinkan, tentu dengan perasaan gundah, sakit yang luarbiasa dan kata-kata itu hanya akan menuding : nah, kamu kan udah ngijinin suami kamu nikah lagi.
• Shara senantiasa berkata pada anak-anak Yuni : Ummi memang bukan ibu yang melahirkan kalian, tapi kalian adalah anak-anak Ummi. Kelak, ketika Ummi meninggal maka anak Ummi A dan B hanya akan memiliki kalian sebagai saudara. Begitupun sebaliknya. Alhamdulillah, anak-anak Yuni dan Shara bersaudara layaknya saudara kandung.

Saya yakin, tak mudah menjalani kehidupan sebagai Raffi, Yuni dan Shara.
Membayangkan suami kita berbagi dengan perempuan lain, tak sanggup rasanya. Tapi saya sungguh terkesan dengan ucapan Shara yang memuji suaminya.
“Kunci poligami memang ada di suami, Sin. Jika ia mampu menjadi sebenar-benar qowwam, sebenar-benar pemimpin yang bijak dan mampu membimbing keluarga; insyaallah akan baik. Meski semua ada kendala, insyaallah tetap teratasi.”

Saya, mungkin seperti anda , perempuan kebanyakan. Tak akan berpikir poligami. Namun semenjak bertemu Shara kembali, ada denyut lain dalam doa. Semoga Allah SWT senantiasa menjaga orang-orang seperti Raffi, Yuni dan Shara; menjaga setiap keluarga yang senantiasa berupaya berada dalam jalan kebaikan.

Kategori
Jurnal Harian

Jurus Sukses Penulis Pengejar Deadline!

Saya bukan pengejar deadline.
Meski, kalau dipaksa bisa, dengan hasil yang kurang memuaskan. Bulan Nararya adalah novel yang sudah saya tulis lebih dari 6 bulan yang lalu. Saya tulis, jadi novel, saya revisi. Saya tambahi sepanjang dalam perjalanan di kereta api. Begitulah. Dibongkar, diambil bagian yang tegang, cut. Taruh di depan. Yang ini diletakkan disini, yang ini dpindah kesini.

13031171-the-word-deadline-circled-on-a-calendar-to-remind-you-of-an-important-due-date-or-countdown-for-your
Tapi cukup banyak pemenang lomba Tulis Nusantara yang mengerjakan karyanya mepet waktu dan….menang! Setidaknya masuk 50 besar hingga 10 besar. Saya betul-betul penasaran, bagaimana perjalanan cerita mereka? Bagaimana menaklukkan waktu? Bagaimana mendapatkan inspirasi, menyelesaikan cerita?

1. A menulis puisi, sembari menggendong, menyusui bayi, mengetik, menjelang deadline jam 00.00. Masuk 50 besar
2. B baru tau menjelang 5 hari penutupan, dikabari temannya. Masuk fiksi 3 besar
3.C awalnya gak berniat ikut, karena teman-temannya tidak ikut, ternyata masuk puisi 3 besar, dikerjakan menjelang deadline
4.D mengerjakan novel, melengkapinya di detik-detik terakhir, dibantu suami dan anaknya menyiapkan perlengkapan administratif, masuk 3 besar.

Bagaimana bisa?

Saya temukan jawabannya saat membedah buku Opera Langit, karya teman2 FLP Hadramaut, Yaman. Arul Chairullah menuliskan di buku hadiah, kata-kata mutiara.

“Bi qadri kaddi tuktasabu amaliy.”

Seberapa besar semangat nya di awal.
Begitulah kemuliaan yang didapat.

Saya tidak mengerti. Semangat?
Bukannya upaya?
Tapi sekali lagi baik Arul Chairullah maupun suhu saya, Gus Awy, menyampaikan bahwa maksud kata mutiara itu adalah semangat. Hm, benarkah?

Kalau diteliti memang benar adanya.

Ini dia cerita lengkapnya.
1. D, si penulis novel, melengkapi novelnya di detik-detik akhir menjelang jam 00.00. Rumah tinggalnya dekat kampus, jadi ada warnet dan rental di dekatnnya. Ia sudah menyelesaikan novel, melengkapi surat perjanjian. Bersiap mengirm, dan…lupa, bahwa harusnada scanning tanda tangan ! Menjelang beberapa menit kearah jam 00.00 , maka suaminya berlari ke rental, scanning tanda tangan, melengkapi syarat administratif dan alhamdulillah menang 🙂

2. C. membuat puisi yang indah. Menjelang deadline ia baru mnyempurnakan puisinya. Ia kehilangan beberapa imajinasi tentang diksi dan….ia meng SMS teman2nya satu demi satu :
* eh, benarkah kata ini pasangan katanya itu?
* apa nama daerah bagi aktivitas x?
Bayangkan! Saya mah gak kepikiran rajin meng SMS teman-teman untuk mencari makna diksi. Lihat kamus, gak dapat ya udah. Teman kita satu ini demikian sabar dan penuh semangat, bahkan meski mendekati jam-jam terakhir.

3. F, yang ini belum saya ceritakan sinopsisnya di awal. Kalau ia , menulis adalah panggilan jiwa. Setiap hari menulis, posting di blog. Jadi menjelang deadline, ia masih saja memiliki ide dan mampu menulis cepat akibat setiap hari memang terlatih utk menuliskan gagasan ke dalam tulisan. Iapun masuk 3 besar.

4. G. Ia adalah ibu yang luarbiasa. Perjuangannya, sungguh subhanallah. Ia memang selalu belajar, menelaah segala sesuatu, dan ikut lomba ini karena ingin mengungkapkan satu kebiasaan baik yg biasa dilakukan suku di wilayahnya. Ia juga biasa meng update status di facebook, menulis dengan baik. Ia berprinsip, jika kehilangan sesuatu, pasti Allah ganti dengan yang lebih baik, minimal setara. Ia baru saja kehilangan satu peluang, dan Allah menggantinya dengan kemenangan.

Kata mutiara Arul saya pikir benar.
Para penulis tetap memelihara semangat hingga detik-detik terakhir.
Membayangkan ada seseorang yang berlari-lari mengejar scanner tanda tangan menjelang tengah malam. Membayangkan seorang ibu sembari menggendong bayi, menyusui, menulis.

Semangat sejak di permulaan. Semangat hingga di detik terakhir.
Itu rupanya kunci yang saya pelajari dari teman-teman Tulis Nusantara kali ini. Jadi, kalau anda karena kesibukan dan tidak sempat-sempat mencicil tulisan untuk lomba, baru tersedia waktu 3 hari menjelang hari H untuk menulis, jangan berputus asa. Tetaplah penuh semangat, sejak pengumuman lomba itu pertama kali ditayangkan.
Aku harus ikut!
Meski, kalau kita bicara rezeqi, tentu saja sudah ditakdirkan olehNya. Tapi boleh kan kita belajar dari orang lain dan menyerap kebaikan darinya?
Semangat!

Kategori
PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY

Ekstrim Kiri, Ekstrim Kanan : Kemana anak IQ 130/lebih harus bersekolah?

Pernahkah anda mengetes berapa IQ putra putri anda?
Baiklah. Sebut saja angkanya. gifted-300x162

90-109 : Rata-rata
110 – 119 : Di atas rata-rata, atau pandai
120-129 : Sangat pandai
130 ke atas : Genius

Orang tua umumnya deg-degan ketika mendengar kata tes IQ. Tes IQ bukan suatu vonis yang harus ditakuti, mirip hukuman mati atau kemoterapi kanker stadium lanjut. Berapapun data angka yang tertulis dalam tes IQ, entah dites dengan Tes Stanford Binet, Tes WISC, atau bila sudah memasuki remaja dapat dengan tes WAIS atau IST; angka itu adalah fakta yang harus dikelola dengan bijak.
Apakah bila IQ dibawah 90 adalah masa depan suram? Tidak.
Seorang anak lelaki ditest, menghasilkan angka 85 yang artinya di bawah rata-rata. Ia sering diejek oleh teman-temannya , “ih, kamu bodo ya!” Anak lelaki ini bertekad untuk menaklukan “85” dan ternyata ia berhasil lulus S2 dengan baik, sekarang menjadi salah satu dosen pakar pendidikan.

Suatu sekolah, pernah menganalisis data siswa siswinya yang masuk ke fakultas kedokteran. Mereka ternyata rata-rata memiliki IQ “hanya” 100 -110, kategori pandai yang sangat biasa, bukan pandai yang ekstrim. Ternyata, guru tersebut mengakui, siswa dengan IQ tersebut rata-rata penuh semangat, rajin belajar dan tekun yang membawa mereka pada hasil optimal.
Pertanyaannya : bila menemukan diri anda atau IQ ananda berada dalam kisaran 130, apakah yang harus dilakukan?

“Horeeee! Anakku genius!”
Dan sejak angka 130 itu ada ditangan, maka orangtua bersemangat melabeli sang anak dengan sebutan si genius yang bisa menguasai apapun mata pelajaran –terutama yang berkaitan dengan numeric- ; mengabaikan fakta lain.
Ketika anda tahu golongan darah anda O, maka itu bukan berarti satu-satunya fakta yang dimiliki. Apakah ada genetic diabetes dan obesitas? Apakah ada riwayat kanker? Bagaimana asam urat, kolesterol dll? Dibutuhkan anamnesa lain bagi seorang dokter untuk memutuskan jenis penyakit sekaligus bentuk kuratif.
Angka 130 masih harus terus didalami, bagaimana bakat dan minatnya. Bagaimana daya dukung orangtua dan fasilitas yang tersedia. Bagaimana kesiapan lingkungan dan sekolah untuk membentuk anak dengan IQ 130 lebih. Dan, apakah pemerintah melindungi tunas-tunas bangsa unggul macam ini?

Gifted Children, Superior Category. Apa maknanya?
Dengan IQ 130 lebih, seorang anak biasanya dikategorikan superior, genius, gifted. Tetapi, perlu digaris bawahi dari pengertian ini.
National Association for Gifted Children, merekomendasikann keputusan Marland Report to Congress 1972 tentang definisi gifted :
Students, children, or youth who gove evidence of high echievement capability in areas such as intellectual, creative, artistic, or leadership capacity, or in specific academic fields, and who need services and activities not ordinarily provided by the school in order to fully develop those capabilities.

IQ 130, yang hanya mencerminkan kondisi pas-pasan dari seseorang, akan menjadi ancaman bagi individu tersebut. Bedasarkan penelitian, anak dengan IQ130 ke atas seringkali menjadi anak yang mudah patah semangat, malas, enggan bergaul, enggan menjalin relasi baik dengan guru. Akibatnya, prestasi mereka sama saja dengan anak dengan IQ 100. Individu macam ini, tidak akan terdeteksi sebagai gifted , sebab IQ tingginya tidak memberikan cerminan yang spesifik dan istimewa.
Maka kita sebagai orangtua, justru harus bekerja ekstra keras, ekstra hati-hati, ekstra luarbiasa merawat anak ber IQ 130 sebab dalam banyak kasus, anak-anak ini menjadi anak-anak yang rawan masalah.

Freak 130!
Inilah anak yang sering tidur di kelas, enggan mendengarkan guru, meremehkan pelajaran, meremehkan teman-teman, merasa lingkungan menyudutkan dan tidak dapat mengikuti kecepatan alur berpikir mereka. Inilah anak trouble maker sebab sangat suka membantah dan punya cirri khas : lack of social competence! Anak 130 biasanya –malangnya- minim kompetensi sosial sehingga mereka acuh tak acuh, egois, mau menang sendiri.

Semakin remaja, kompetensi sosial yang kurang ini bisa menjadi ajang kekerasan, atau ajang self destructive. Putus asa, cepat menyerah, adalah cirri yang biasa menempel si 130 ini.
Maka, anda akan melihat orang-orang dengan IQ superios, genius atau gifted sangat mahir sebagai penjahat, mahir memanipulasi atau justru terpuruk dalam jurang kehancuran.

Lihatlah kisah menakjubkan dan mengiris hati ini.
William James Sidis, seorang lelaki yang konon, memiliki IQ tertinggi di dunia, 254. Sumber lain menyebutkan IQ nya mungkin mencapai rentang hampir 300! Ia seorang Yahudi Ukraina. Ayahnya, Boris Sidis, Ph.D,M.D, seorang genius pula, menguasai 27 bahasa sementara William James Sidis menguasai 40 bahasa! Ibunya, Sarah Mandelbaum Sidis, M.D, lulusan Boston University. William James Sidis lulus bachelor of arts di usia 16 tahun, cum laude. Ia masuk Harvard di usia 11 tahun. Pada usia 8 tahun, Sidis mengarang buku Book of Vendergood yang mencakup bahasa Latin, Yunani, Jerman, Perancis.
WJ Sidis hidup selibat dan beranggapan tak ada seorang perempuan yang pantas untuknya.

Kehidupan William James Sidis menjadi polemic abadi hingga kini di kalangan pendidik, psikolog, media. Para pendidik menganggap ambisi Boris dan Sarah untuk menyekolahkan WJ Sidis di usia muda di jenjang sangat tinggi sebagai salah satu pencetus gangguan mentalnya. Sekalipun WJ Sidis mampu mengajar 3 kelas matematika sekaligus : trigonometri, geometri Euclidean, geometri non Euclidean. WJ Sidis juga dijuluki, peridromophile, orang yang tergila-gila mempelajari system transportasi; kehidupan sosial Sidis tak berkembang baik.

Media, turut menyumbang keterpurukan Sidis dengan selalu mengagungkannya, memujanya sehingga ia makin terisolir sebagai individu normal. Para psikolog terus meneliti kecerdasan Sidis, mengatakan bahwa inteligensi memang diturunkan , disisi lain menjadi pisau yang mencabik kehidupan seseorang bila tak diimbangi kompetensi sosial.
WJ Sidis meninggal di usia muda 46 tahun karena pendarahan otak. Hubungan dengan orangtuanya tak harmonis. Sebuah kisah menyebutkan, Boris meminta maaf atas semua kesalahannya. WJ Sidis hingga akhir hidupnya beranggapan, ayahnya telah merampas setiap kebahagiaan kehidupan. Meski Boris Sidis menyesali apa yang tidak diharapkan dalam pencapaian sang putra, WJ Sidis tampaknya tak mudah memaafkan orangtuanya.

Jumlah Anak Gifted
Di Amerika, populasi anak gifted sekitar 3 juta anak, atau 5-7% dari populasi (catatan 1972). Kemungkinan hal itu akan lebih berkembang lagi. Di Indonesia belum ada data yang pasti.

Apa yang Harus Dilakukan?
NAGC menyebutkan, no one perfect programe for teaching gifted student. Tetapi, pelayanan yang kontinum (continuum services) harus dilakukan pihak-pihak terkait untuk anak-anak ini.
Pelayanan kontinum atau berkesinambungan ini harus melibatkan administrator, guru, orangtua dan murid dalam menu edukasi yang penuh penghargaan. Macam layanan dapat berupa:
• Akomodasi di kelas regular
• Tugas paruh waktu di kelas regular atau special
• Grup full time dengan anak-anak dengan kecakapan yang sama
• Akselerasi
• Pendaftaran ganda minat, dll
• Layanan yang disesuaikan lokal siswa , disini saya pikir, content religi dan sosial dapat dimasukkan seperti program menghafal Quran dll

Perlu kembali diingatkan bahwa guru, orangtua harus menjadi tim yang proaktif dan solid dalam menangani anak-anak gifted. Guru harus terus mengikuti pelatihan yang akan meningkatkan kecakapan dalam mengelola anak-anak gifted, begitupun orangtua harus lebih kooperatif memandang masalah dan solusi. System pembelajaran harus menjadi magnet bagi anak-anak ini.

Ekstrim Kanan, atau Ekstrim Kiri?
Pemerintah saat ini menghimbau sekolah inklusi untuk memasukkan dua orang anak ABK yang sesuai dengan kemampuan sekolah dalam kelas pembelajaran. Banyak sekali yayasan bagi anak-anak dengan kondisi ekstrim kiri (suatu letak yang berada di sisi kiri kurva normal), dan orang rata-rata merasa iba dan berbelas kasih kepada anak-anak “ekstrim kiri”.
Anak-anak ekstrik kanan, di Indonesia belum mendapatkan tempat yang sesuai.

Boleh jadi, mereka bahkan tak menuai belas kasih tetapi menuai cacai maki akibat perilaku mereka yang meresahkan. Ya, terkadang sebagai orangtua atau guru, rasanya kesal dan marah sekali menghadapi anak sok tahu, pemalas, enggan memperhatikan dan punya hubungan buruk dengan teman-teman. Padahal, si menyebalkan itu ternyata anak gifted yang haus akan arahan.
Usai mengikuti ICP Hesos- international conference on psychology in health, education, social, organization setting, rasanya mimpi saya bertambah banyak 

Awalnya, saya ingin membuat Islamic Crisis Center yang akan menampung lansia, skizofren, orang-orang “ekstrim kiri”. Sekarang, mimpi saya bertambah lagi, ingin membuat sekolah untuk anak-anak gifted. Sekolah yang ramah, yang memahami bahwa dibalik keunggulan inteligensi mereka yang luarbiasa, dibalik ketidak pekaan terhadap sesama, dibalik kompetensi sosial yang payah, ada sikap luarbiasa yang ada pada anak-anak 130 ini : mereka cepat belajar, cepat menangkap. Sentuhan hati untuk mereka, semoga membuat anak-anak special ini tidak menjadi trouble maker lagi, tetapi anak-anak dengan kompetensi sosial yang lebih baik, siap menjadi pemimpin dan pencari solusi.

Rangkuman ke #2 #ICPHesos , 21-23 November 2013