Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Anak Menulis BUKU & NOVEL Fiksi Sinta Yudisia Kepenulisan Menerbitkan buku Novel Perjalanan Menulis PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY TEKNIK MENULIS WRITING. SHARING.

Pelatihan Online Menulis Novel Tahap-1

Tema : Menulis Novel Bersetting Kuat

Suka Korea, Jepang, Eropa atau Timur Tengah? Ingin punya novel sesuai imajinasi berlatar negara yang kita impikan?
Hayuuuk, gabung di kelas online penulisan novel bersama Sinta Yudisia (penulis, psikolog, DP FLP) . Novel-novelnya yang berlatar belakang berbagai negara telah meraih penghargaan tingkat nasional.

🏅🏅🏅
~The Road to The Empire (Mongolia) IBF Award terbaik 2009
~ Reem ( Maroko) IBF Award terbaik 2018
~ Polaris Fukuoka ( Jepang) nominee IBF Award 2018
~ Lafaz Cinta (Belanda) , best seller
⏳Waktu : Sabtu, 2 Mei 2020
⏰Jam : 09. 00 – 11. 00 WIB
✍Fasilitas :
-Materi dalam bentuk pdf

  • Webinar (Zoom meeting/ hangout/ dsb), yang akan diberitahukan oleh admin
    👨🏻‍💻👩🏻‍💻Peserta : remaja usia SMP, SMA dan Mahasiswa
    💴Biaya :
    Dipersilakan infaq dengan kelipatan Rp. 20. 000, beri kode unik 19 di belakang (Misal Rp. 80.019). Seluruhnya insyaallah akan disalurkan untuk donasi Covid-19 berama Ruang Pelita ( Ruang Pendampingan Psikologi & Literasi) Sinta Yudisia yang telah menyalurkan dana puluhan juta rupiah untuk dhuafa dan APD ke berbagai RS Surabaya.

👉🏻Mandiri : 142-00-1673-5556
👉🏻BSM : 7070-968597
An. Sinta Yudisia Wisudanti

▶ mengisi link bit.ly/pelatihannovel
~~
Sinta Yudisia adalah penulis & psikolog. Telah menulis dan diterbitkan 22 novel, 21 antologi, 10 buku non-fiksi, 6 buku cerita anak, 5 kumcer, 2 buku duet. Mengikuti SFAC ( Seoul Foundation for Arts & Culture) dalam program writer’s residence tahun 2016 & 2018

~
Didukung oleh :
👷‍♂‍👷‍♀‍Ruang Pelita Surabaya
Kiky 0856- 0612- 5200
Putri 0822- 2183-8498

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Bedah Buku Sinta Yudisia Buku Sinta Yudisia KOREA PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY WRITING. SHARING.

31 Januari – 2 Februari 2020, Jakarta & Tangerang

Sinta Yudisia <psikologsinta@gmail.com>12:18 PM (5 minutes ago)
to me

💫 SELF HEALING WITH WRITING 💫•– Womens Mental Health Workshop; Mom’s Journey to Happiness –••💗

 Stress dengan penghakiman netizen di media sosial saat kita “curhat” ??••🌷 Dinamika kehidupan seringkali membuat para ibu berjuang keras hadapi ragam kesulitan.•Tak jarang, meninggalkan ‘luka’ tak terjamah yang tidak dipahami orang lain. Hingga lupa dengan cara sederhana dalam berbahagia.••–Dalam kasus paling ekstrim, dapat mengancam keselamatan diri dan orang lain.–••Tahukah Moms, bahwa menulis bisa jadi sarana penyembuhan, bahkan memperkuat rasa bahagia ??••Komunitas Ibu Bahagia Indonesia @komunitasibubahagia bekerjasama dengan  @actforhumanity dan @ihsanmediapenerbit mempersembahkan workshop terbatas :

💫 SELF HEALING WITH WRITING 💫

— Womens Mental Health Workshop; Mom’s Journey to Happiness –••Narasumber :•🧕🏻 Sinta Yudisia W S.Psi, M.Psi, Psikolog — Psikolog – Penulis @sintayudisia•🧕🏻 Irena Puspawardani S.Si (Teh Rena Puspa) — Pembina KIB Indonesia – Penulis @rena.puspa.khadeeja••Bersama, kita belajar tentang seni terapi menulis tangan sebagai salah satu metode penyembuhan diri ☘️🌷🍀🌺💚••📆 Sabtu, 01 Februari 2020⏰ 09:00 – 13:00 WIB🏢 Menara 165 – ACT Lt. 9 Jalan TB. Simatupang, Jakarta Selatan••💎 Ticket Prices :•🌷 EARLY BIRD (10 – 14 Januari) : 200K🌻 NORMAL (15 – 27 Januari) : 235K🌹 HOT SEATS (28 Januari – 1 Februari) : 250K🐨 Kids Corner (4 – 7 tahun) : 30K/Anak•💳 Transfer :BNI a.n Fina Febiyanti(009) 0349618487https://bit.ly/PendaftaranWorkshopKIBhttps://bit.ly/PendaftaranWorkshopKIBhttps://bit.ly/PendaftaranWorkshopKIB••📲https://bit.ly/AdminKIB📲https://bit.ly/AdminKIB📲https://bit.ly/AdminKIB•••💚❄ Bahagia Hatinya, Sehat Jiwanya ❄💚••#HappyMomHappyFamily#DiaryIbuBahagia#komunitasibubahagia#workshop #menulistangan#handwriting #freewriting#womensmentalhealth#kesehatanmental #ibubahagia #act #aksicepattanggap #ihsanmedia

Acara di atas untuk Ayah dan Bunda.

Untuk remaja, ada acara di bawah ini :

Membahas seluk beluk Korea, hallyu termasuk K-Pop beserta boyband girlband nya.

Yang di Jakarta dan Tangerang, silakan hadir yaaa

Kategori
15 Rahasia Melejitkan Bakat Anak ACARA SINTA YUDISIA Catatan Perjalanan Quran kami Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

Pesantren Fahim Quran : Hafal 30 Juz sekaligus ahli IT (Programming & DKV) !

Ini salah satu institusi, pesantren, lembaga atau apalah namanya yang menjadi impian saya sejak lama. Gimana caranya anak-anak bisa menghafal Quran sekaligus mempelajari bidang yang memang merupakan bakat minat mereka.

Menghafalkan Quran butuh stamina lahir batin. Konsentrasi tingkat tinggi, motivasi kuat, juga disiplin yang terus menerus. Pantauan dari para guru juga penting, mengingat anak-anak pra remaja dan remaja ini tentu jatuh bangun semangatnya. Biasanya, pesantren mengajarkan ilmu-ilmu agama terkait Quran, hadits, fiqih, bahasa Arab dan Inggris. Di Fahim Quran, bukan hanya cukup hafal 30 juz. Bahkan, salah satu nasehat ustadz Purwanto dalam acara setor hafalan Quran di senja itu, benar-benar menampar kita.

“Bagaimana kalian harus hafal, hidup, beraktivitas, hingga mati dengan seluruh nilai-nilai Quran.”

Beliau mendorong bahwa setiap santri yang menjadi penghafal Quran, harusnya punya semangat dan ambisi lebih. Jangan setelah hafal 30 juz, justru tidak mau berprestasi apa-apa. Tidak mau melakukan aktivitas apa-apa. Padahal alim ulama dan ilmuwan Islam di masa lampau, mereka penghafal Quran dan terus bekerja di bidangnya masing-masing. Kadang, seorang penghafal Quran merasa cukup sudah hafal 30 juz. Merasa sudah sampai di puncak ibadah dan dapat memberikan hadiah mahkota permata kepada orangtua kelak di hari akhir. Harusnya, penghafal Quran menjadi panglima ilmu pengetahuan dan motor dari penggerak peradaban!

Kenapa IT?

IT- information technology  atau teknologi informasi ( TI) adalah teknologi dalam membuat, mengubah, menyimpan, mengirimkan, mencetak atau mengolah apapun terkait informasi. Saat ini, Indonesia sangat membutuhkan ahli-ahli IT sehingga tidak tertinggal dari bangsa lain. Ahli ini selain memiliki kemampuan tinggi, tentu harus memiliki ketahanan mental yang tangguh. Istilah Habibie, berotak Jerman berhati Makkah.

IT di Fahim Quran meliputi dua hal : Programming dan DKV (desain komunikasi visual).

Apa sih DKV itu?

Program studi Desain Komunikasi Visual (DKV) mempelajari ilmu tentang penyampaian pesan (komunikasi) dengan menggunakan elemen-elemen visual atau rupa. Disini siswa akan belajar untuk mengolah pesan secara informatif, komunikatif, dan efektif, serta se-kreatif mungkin agar pesan dapat mencapai sasaran dengan memperhatikan unsur bentuk, warna, tekstur, ruang, huruf, dan segala hal yang berkaitan dengan visual (penglihatan). Misalnya membuat poster, logo, ilustrasi, desain web, foto, video, animasi, dan sebagainya.

Terus terang, anak-anak muda sekarang banyak banget memiliki kecenderungan di aesthetic. Ini hasil tes minta yang pernah saya lakukan pada  mereka, lho! Dulu, seni seringkali hanya dikaitkan dengan seni musik, seni tari, seni patung, seni lukis. Sekarang, aesthetic memiliki makna luas termasuk DKV. Sebuah pesan dari A (sender) akan diterima B (receiver) bila pesannya diterima dengan baik. Baik itu mencakup berbagai macam : baik caranya, bernas kontennya, menarik tampilannya, bisa dipahami maknanya. Pesan-pesan sekarang sangat butuh orang-orang DKV. Lihat aja iklan keselamatan di jalan raya yang digagas kepolisian. Tidak lagi sekedar “Hati-hati di Jalan” tetapi…. “Jatuh cinta itu enak. Kalau jatuh di jalan? Benjol!”

Pesan ini akan jauh lebih sampai ke anak muda (tahu sendiri kan, yang naik motor seenak udel kebanyakan anak muda!).

Fahim Quran juga mempersiapkan anak-anak untuk menjadi programmer. Kalau yang masih bingung, programming itu belajar apaan sih? Programming adalah menganalisis, menyusun, mengedit, menguji kumpulan bahasa pemrograman untuk kemudian menghasilkan sebuah program yang bisa menjalankan suatu tugas tertentu secara otomatis. Untuk lebih mudahnya programmer adalah orang yang membuat program itu sendiri dengan menggunakan kombinasi berbagai programming language. Umumnya, programmer sendiri terbagi menjadi 4 jenis yaitu funcional, operational, graphical dan web-based.

Kalau mau kuliah yang ada bahasa-bahasa programming nya, salah satunya kuliah di teknik informatika ITS. Hehehe, ini bukan promosi ya. Gegara penulis tinggal di Surabaya, tetanggaan sama ITS.

Nah, kalau yang masih bingung (khususnya orangtua) tentang apa itu programmer atau programming, mungkin bisa nonton beberapa film berikut. Film-film ini ada yang tentang kehidupan programmer, ada yang tetnang programming itu sendiri. Kalau nggak ada programmer, rasanya film-film gak akan sebagus ini.

Di Fahim Quran, para santri diajarkan untuk membuat bahasa programming. Sekarang, mereka sudah punya beberapa produk yang bisa diunduh di playstore, lho! Menurut ustadz Purwanto dan ustadzah Yaumi, keduanya pendiri & pengasuh Yayasan Fahim Quran, memadukan tahfidzul Quran dan ilmu IT merupakan tantangan tersendiri. Di satu sisi, menghafal Quran butuh ketekunan dan konsentrasi tinggi, tak bisa diganggu oleh aktivitas lain. Sementara, IT dengan jurusan programming dan DKV butuh konsentrasi yang berbeda. Tetapi, akan sangat disayangkan bila bibit penghafal Quran yang memiliki raw materials sangat bagus tidak dikembangkan sisi intelektual dan talentanya. Sebab, banyak anak muda sekarang yang mahir berkecimpung di dunia IT. Pegnhafal Quran rata-rata memiliki kemampuan memory yang kuat, cocok sekali dengan bahasa pemrograman yang butuh logika tingkat tinggi.

“Apalagi, sebagian besar programmer biasanya gamer juga,” jelas ustadz Purwanto.

Gaming disorder sangat dicemaskan para guru dan orangtua saat ini.

Insyaallah, di Fahim Quran para santri diselaraskan agar tetap dapat megnhafal Quran sekaligus memiliki tanggung jawab megnembangkan bakat minat serta talenta terpendamnya di bidang IT.

2 Jenis Santri di Fahim Quran

Yayasan Fahim Quran memiliki kelas putri, dinamakan santri Fahim Quran. Kelas putra dinamakan QBS, Quadran Boarding School. Keduanya terletak di Bogor, Jawa Barat.

Fahim Quran sebetulnya merupakan singkatan dari Fast-Active-Happy-Integrating in Memorizing Quran. Tahun ini adalah tahun ke-4 Fahim Quran berdiri. Meski baru 4 tahun berdiri, jumlah santri putri mencapai 98 siswi sementara santri putra mencapai 117 siswa. Karena banyaknya permintaan, Fahim Quran terpaksa harus menolak pendaftar, hiks…hiks.

Untuk menghafal Quran, Fahim Quran tak main-main. Mereka punya program sendiri yang pantas dicontoh. Ustadz Purwanto, sang pendiri, menyusun 9 cara metode menghafal Quran. Artinya, metode menghafal Quran ada banyak cara dan pendekatan sehingga orang-orang dengan tipe kepribadian/tipe pembelajar tertentu dapat menghafal Quran sesuai kondisi dirinya. Kebayang kan, ada anak-anak yang putus asa menghafal Quran gegara gak bisa-bisa nambah ayat L. Ternyata, dengan metode pendekatan yang berbeda-beda ini, anak-anak akan dapat menghafal Quran lebih mudah.

Jadi ingat ayat ini,

“Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah ( QS 21 : 2)”

Kalau sudah hafal 30 juz, siswa akan diberangkatkan ke Mesir untuk tasmi kepada syaikh al Azhar. Di sana kurang lebih 3 bulan dan mendapatkan sertifikasi langsung dari pakarnya. Masyaallah…

Berikut ini beberapa hasil karya siswa siswi Fahim Quran (ingat ya, yayasan Fahim Quran menaungi santri putri yang namanya persis seperti nama yayasannya Fahim Quran – FQ. Dan santri putra Quadran Boarding School – QBS).

Yang suka programming, menghasilkan buah karya aplikasi-aplikasi bermanfaat untuk menunjang berbagai kegiatan baik yang bisa diterapkan oleh seiswa, orangtua, juga guru. Yang DKV suka sekali menyalurkan ide-ide mereka ke bentuk tulisan, gambar, desain grafis atau apapun yang berbentuk komunikasi visual. Termasuk membuat tulisan-tulisan. Biasanya memang, seorang komikus senang membuat storyboard sendiri. Begitupun sebaliknya, seorang penulis suka merancang ilustrasinya sendiri meski ia tak mahir melukis. Jadi ingat seorang komikus webtoon – Lookism– yang nama dan hasil karyanya saya tuliskan dalam buku 15 Rahasia Melejitkan Bakat Anak.

Ohya, ada kejadian mengesankan yang ditemui penulis di acara Mukhoyyam Quran, 20 Januari 2020 ini. Ternyata ada seorang ustadzah di sana yang telah lama saya kenal via medsos. Kami berkontak dan berteman via twitter, instagram dan wordpress. Masyaallah, terharu dan bahagiaaa banget akhirnya bisa dipertemukan Allah Swt. Namanya Alfi Najma Zahra. Ia suka sekali membaca serial Takudar. Jadi merasa sangat  berhutang pada para pembaca untuk menuntaskan serial pemimpin muslim dari Mongolia ini.

Bagi para orangtua dan calon siswa yang tertarik untuk menempuh pendidikan di Yayasan Fahim Quran, bisa klik www.sekolahimpian.com .

Semoga kamu temukan dunia impianmu, ya!

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Bedah Buku Sinta Yudisia Karyaku Kyushu Mancanegara Remaja. Teenager

Mental Health Issues (1) dalam Polaris Fukuoka

Depresi. Suicidal thoughts atau pemikiran bunuh diri.

Aku berharap, novel Polaris Fukuoka dapat menjadi jembatan budaya remaja Indonesia- Jepang sekaligus membuat pembaca memahami seluk beluk depresi.

Dulu, sangat jarang menemui orang depresi atau orang yang ingin bunuh diri.  Sekarang, banyak sekali orang tua, bahkan remaja dan anak-anak yang merasa tertekan hidupnya karena tuntutan akademis atau tuntutan tak realistis dari lingkungan sekitar. Anehnya lagi, depresi yang berujung pada pemikiran bunuh diri tidak lagi didominasi oleh orang-orang dengan pendidikan rendah atau ekonomi kelas bawah. Mereka yang pintar, dari kalangan berada juga terancam gangguan mental yang mengerikan ini!

Selain paparan media sosial dan kehidupan kompetitif yang tak sehat, memang ada kultur-kultur tertentu yang turut memicu tekanan dalam diri seseorang.  Di novel Polaris Fukuoka yang bersetting budaya Jepang, beberapa point itu kuangkat.

  1. Budaya timur, termasuk Indonesia dan Jepang, sangat menghormati orangtua terutama ayah ibu. Hal ini tentu baik, mengingat dalam agama Islam pun, kewajiban berbakti pada orangtua menempati urutan teratas sesudah taat kepada Tuhan. Namun, bila komunikasi nggak berjalan lancar, anak bisa tertekan. Sebagaimana Yamagata Isao dan adiknya Yamagata Nozomi. Isao berakhir bunuh diri setelah berkali-kali membuat puisi jisei, puisi bertema kematian. Orangtua yang sukses tidak selalu mewariskan ketenangan hidup bagi anak-anaknya. Kadang, orangtua justru ingin anak-anaknya melanjutkan kesuksesan finansial yang telah dibangun puluhan tahun. Pilihan bakat minat, pilihan sekolah, pilihan akademis pada akhirnya ditentukan orangtua demi keberlangsungan kemapanan finansial. Keluarga Yamagata memaksa Isao dan Nozomi menekuni bidang ilmu tertentu – sesuatu yang sangat jauh dari minat bakat Isao dan Nozomi. Jadi, meskipun kewajiban patuh pada orangtua harus tetap berlaku, orangtua harus mencoba memahami keinginan anak-anaknya. Begitupun, anak-anak harus mencoba untuk menyampaikan apa harapan mereka, meskipun pada akhirnya entah orangtua atau anak harus mengalah salah satu.

2. Diam itu anggun dan kuat. Budaya timur meyakini ini, bahwa masalah harus dipendam rapat-rapat. Jangan sampai orang tahu! Padahal , ada orang-orang yang memang memiliki tipe kepribadian pencemas, disagreeableness, introver yang lebih senang memendam masalah sendiri. Memendam masalah lo ya – bukan memendam solusi. Sehingga, suatu saat ketika nggak kuat akan meledak. Entah itu bentuknya melukai orang lain atau melukai diri sendiri. Mencoba berteman dan bercerita pada orang lain merupakan salah satu solusi seperti persahabatan Sofia dan Nozomi, juga Sofia dan Tatsuo.

3. Komunikasi itu nggak gampang. Kadang harus ada ledakan dan api. Tapi nggak papa, sebab nanti ledakan itu perlahan akan mereda menjadi abu dan debu. Jangan takut ledakan, sebab sedang membangun jembatan pemahaman. Sofia yang tinggal bersama om Hanif, pamannya; seringsekali berantem demi mencoba mencocokkan apa yang ada di isi kepala mereka berdua.

Kebetulan, akhir tahun 2019, tepatnya 31 Desember 2019, aku diminta UI- IBF untuk membedah novel Polaris Fukuoka dalam kaitannya dengan mental health issue. Beberapa novelku memang mengangkat tema kesehatan mental dan bagaimana cara menghadapinya.

Nah, di bawah ini adalah beberapa link review Polaris Fukuoka yang bisa disimak, ya.

http://ellcheese.blogspot.com/2019/03/review-novel-polaris-fukuoka-by-sinta.html

http://nurin-light.blogspot.com/2018/10/polaris-fukuoka.html

https://rayescapingmadness.wordpress.com/2018/04/13/kind-of-book-review-polaris-fukuoka/

Mencoba berteman dan bercerita pada orang lain merupakan salah satu solusi seperti persahabatan Sofia dan Nozomi, juga Sofia dan Tatsuo (Polaris Fukuoka)

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Kepenulisan Oase Perjalanan Menulis

Workshop Menulis di Surabaya

Assalamualaikumwrwb.
Halo semua, salam kreatif!

  • Ingin menulis kisah hidup anda sendiri atau cerita imajinasi yang sudah lama terpendam di benak?
  • Sudah bisa menulis, tetapi bingung harus bagaimana?
  • Bisa menulis tetapi berhenti di tengah jalan?

Ikutilah Workshop Kepenulisan untuk kelas dasar dan lanjutan agar anda memahami teknik dasar menulis dan apakah tulisan tersebut layak dipublikasikan.

Materi mencakup :
1. Mengerti PUEBI
2. Membuat outline
3. Menyusun setting dan karakter (untuk fiksi)
4. Mencari penerbit yang layak
5. Menerbitkan indie
@Acara akan diadakan hari Minggu, 15 September 2019
@Waktu 08.00 -15.00
@Tempat : Masjid Baitul Haq, Ketintang.
Jalan Ketintang Permai Blok BF no.11, Karah, Jambangan, Surabaya.
@Peserta : Khusus Guru dan Mahasiswa *(terbatas 30 peserta saja)*
@Biaya: 100K (daftar 2 orang 175K)

Pemateri :
+Sinta Yudisia (Penulis, Psikolog, DP FLP Pusat)
+Rafif Amir (Penulis, Editor, Publisher)

Fasilitas workshop :
~Snack
~Makan siang
~Materi kepenulisan dalam bentuk e-book
~E-certificate

Narahubung :
Frisma 0857-3265-0554
Eni 0859-2157-9467

Salam kreatif!

Peserta dipersilakan membawa naskah yang telah dimiliki (bila punya) dalam bentuk print out/hardcopy agar mudah didiskusikan.

Pendaftaran masuk ke link https://bit.ly/2k0Nvsc

Penyelenggara :
Ruang Pelita
Paguyuban Bunda Shalihah
PT. Aksi Consulting
Toko Buku Sahabatku

Workshop Menulis Sinta Yudisia & Rafif.jpg

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Catatan Perjalanan mother's corner Oase Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY WRITING. SHARING.

Bagaimana Jika Minat-Bakat Anak, Bertentangan dengan Keinginan Orangtua?

“Papa mamaku dokter. Mereka ingin aku jadi dokter juga. Tapi aku nggak mau!”

“Aku suka jadi EO, tapi orangtuaku pingin aku sekolah D3 teknik. Gimana?”

“Awalnya aku kulian di institute agama. Lama-lama orangtuaku tahu, aku berbakat di music.”

“Sepanjang hidup aku nurut orangtuaku, tapi aku sudah nggak tahan lagi. Aku sebetulnya suka gambar dan ingin masuk desain grafis!”

 

Tidak semua orangtua paham, bahwa Allah Swt menitipkan bakat yang luarbiasa ke dalam diri anak-anak. Kalau Leah dulu tidak bersabar mendampingi anaknya menonton televise, mungkin kita tak pernah tahu ada sutradara seperti Steven Spielberg –terlepas pro kontra tentang dirinya. Kalau Paul Jobs tidak rajin mengajari anaknya jadi tukang kecil, dunia mungkin tak menikmati perangkat teknologi seperti yang diciptakan Steve Jobs. Sebetulnya, bagaimana cara orangtua melihat minat bakat anak-anaknya?

Sinta &amp; Siswi SMPIT Al Uswah Tuban
Siswi SMPIT Al USwah Tuban, kelas IX

3 Minat Bakat Utama

Bila seorang anak usia SMP atau SMA menjalani tes bakat minat, mungkin akan muncul 3 minat bakatnya yang tertinggi. Bisa jadi medical – science – social service ; bisa jadi aesthetic-literacy-music. Bisa jadi computational-clerical-practical dan sebagainya. Bahkan kadang-kadang tercipta kombinasi unik : medical – literacypersonal contact.

Kombinasi ini benar-benar anugerah Allah Swt. Dan sebagian bisa jadi karena stimulus lingkungan. Baca deh buku Outlier karya Malcolm Gladwell.

Bagaimana kalau bakat minat sudah ditemukan?

Nah, banyak orangtua nggak siap!

Ada yang kedua orangtuanya dokter (sudah pasti keduanya pintar dan ber IQ tinggi) , anaknya harus kuliah kedokteran. Padahal tak muncul sama sekali bakat minat sains, apalagi medisnya. Yang muncul justru social service – personal contact –literacy. Dapat dibayangkan kalau anak pintar ini jadi pengacara atau politikus ; ia akan sangat cemerlang di bidangnya. Kita juga ingin orang-orang jenius di bidang hukum dan sosial, bukan?

Di era medieval age; para alim ulama menguasa banyak ilmu pengetahuan. Umar Khayyam misalnya, bukan hanya ahli Quran dan Hadits, tetapi jusa ilmuwan, matematikawan, astronom, sastrawan. Seringkali alim ulama menguasai banyak bidang karena Allah Swt memang sudah menitipkan setidaknya 2 atau 3 bakat minat dalam diri setiap manusia. Kalau para orangtua juga masih mencari-cari apa potensinya, silakan dicari agar hidupnya bahagia.

Begitupun, jangan abaikan, jangan menolak apa yang menjadi bakat minat anak-anak. Peluang keberhasilan di atas muka bumi bukan hanya dimiliki orang-orang sains; tetapi orang sosial pun dapat hidup makmur dan sukses – kalau harapan orangtua adalah agar anaknya bisa hidup mapan.

Para orangtua yang luarbiasa mendampingi ananda di acara AMT SMPIT Al USwah Tuban

Orangtua Bijak

Ada seorang anak yang bercerita.

“Aku dulu kuliah di IAIN (UIN sekarang). Lalu ibuku tahu aku nggak terlalu suka bidang agama. Aku pindah kuliah ke universitas yang ada musiknya. Alhamdulillah, aku udah bisa cari uang sendiri sejak kuliah.”

Si anak sering diminta nge-lesin anak SD, bahkan membantu terapi anak ABK yang butuh stimulus music.

Ada lagi anak yang bercerita.

“Aku dulu kuliah di salah satu UN terus nggak nyaman. Untung orangtuaku paham. Aku terus ambil tata rias sekaligus tata busana.”

Ketika aku bertemu ayahnya, luarbiasa tanggapannya, “Alhamdulillah Bu, anak saya tetap berjilbab ketika mendandani artis sebelum tampil di layar kaca. Dan dia sekarang merancang hijab syari buat para artis.”

Nah, luarbiasa bukan? Si anak berdakwah kepada artis dengan caranya sendiri! Coba dia dipaksa kuliah di bidang yang bukan kesukaan dan keahliannya.

Tetapi bagaimana jika orangtua memang memiliki harapan tertentu?

“Aku berharap anakku segera kerja,” keluh sepasang ayah dan ibu. “Kami hanya pedagang. Kami memang paksa dia sekolah sejak SD dan kuliah seperti sekarang.”

Ada orangtua yang memang butuh agar anak-anaknya segera mandiri lantaran ekonomi keluarga butuh support segera dari si anak. Tentu saja, ‘memaksa’ anak seperti ini bukan perkara yang salah 100%. Kuncinya :

  1. Komunikasi terus menerus
  2. Bersabar ketika anak ngambek
  3. Dampingi ketika anak menghadapi masa-masa sulit (aku benci sains! Tapi aku harus kuliah di sini. Mana kakak kelasnya jahat, dosennya gak ada yang pengertian!)
  4. Ketika anak mengeluh terus menerus, dengarkan. Jangan emosi, menyalahkan.
  5. Doakan
  6. Ucapkan kata-kata positif dan terimakasih atas pengorbanannya :”makasih ya, Kakak mau kuliah kedinasan. Bosan ya? Semoga kalau Kakak udah punya uang sendiri, Kakak bisa beli apapun dan pergi kemanapun sesuai keinginan.”

 

Rap Monster BTS ( Kim Nam Joon) bersama ibunda tercinta. Klik sumber (Kiri & kanan.)

 

Anak Bijak

Eh, selain orangtua bijak adapula anak-anak bijak yang mampu mengalah demi keinginan orangtua. Mereka ini juga akhirnya sukses di bidangnya.

Penyuka KPop pastilah kenal dengan BTS yang diasuh Big Hit Entertaintment. Sudah diketahui secara luas, Korea termasuk salah satu negara dunia timur yang sangat menjunjung nilai filosofi Konfusianisme selama 2000 tahun, khususnya ajaran berbakti pada orangtua dan hormat pada yang lebih senior. RM atau Rap Monster (Kim Nam Joon) memiliki IQ yang hanya dimiliki 10% manusia di atas muka bumi. Pantaslah ayah ibunya yang seorang professor dan doktor berharap, si anak mengambil gelar akademis.

Rap Mon tidak membangkang pada ayah ibunya. Kepada sang mama, ia melakukan pendekatan manis.

“Ma, kalau aku ranking 5000 dengan ranking 1, Mama lebih suka mana?”

Orangtua pasti akan bilang : Mama suka kamu ranking 1.

“Kalau aku di bidang akademis, meski aku pinter, aku paling ada di ranking 5000. Tapi kalau aku menggeluti dunia yang aku sukai, aku bisa ranking 1.”

Sang mama pun luluh.

Akhirnya RM terbukti bisa membawa BTS mendunia, bahkan jadi spokeperson PBB. Wah, keren ya cara menaklukan hati sang ibu?

Ada lagi kisah seorang muslimah.

“Aku dulu kuliah S1 dan S2 di  bidang medis. Ibuku berharap aku segera kerja dan kembali ke kampung, maklum aku berasal dari desa. Padahal ternyata bakatku di literasi.”

Sekarang, muslimah itu terus mengembangkan bakat literasinya. Bahkan ada juga muslimah yang punya kisah serupa, ia S1 S2 medis karena ingin menuruti hati ibunda, lalu kuliah lagi bahasa Inggris sesuai bakat minatnya. Sekarang, ia mengelola blog kesehatan, in English pula! Wah, keren banget ya.

Bagi anak-anak muda, berbakti pada orangtua tidak pernah ada ruginya. Akan kita temukan kebahagiaan di sana. Berbakti apda orangtua juga bukan berarti mengubur cita-cita. Bagi yang memiliki kepribadian kuat dan kemampuan otak kuat, turuti dulu keinginan orangtua sembari kita mengejar cita-cita. Nggak perlu stress, segera tekuni hobby untuk mencari keseimbangan.

Tetapi, kalau di tengah jalan mulai tak kuat, mungkin karena kemampuan otak yang pas-pasan dan tipe kepribadian kita yang peragu, pencemas, mudah goyah; segera komunikasikan dengan orangtua. Hayooo, lihat lagi film 3 Idiots, bagaimana Farhan berkata lemah lembut pada ayahnya. Jangan sampai, kita sekolah dan kuliah di tengah-tengah, sudah hampir skripsi, orangtua sudah habis banyak biaya lalu tiba-tiba….”aku nggak kuat!”. Kasihan sekali orangtua kalau begini.

 

Datangi Konselor

Di setiap sekolah dan kampus sekarang biasanya dibuka unit layanan psikologi. Manfaatkan biro ini sebaik-baiknya, kalau memang orangtua dan anak masih bingung mau kemana merancang karir. Mau ke mana sekolah. Mau kemana arah tujuan akademis. Insyaallah bertanya pada ahlinya akan memberikan satu sudut pandang baru.

Yuk!

Bagi para orangtua yagn sudah senior, kalau belum menemukan bakat minatnya, boleh kok digali lagi dan dioptimalkan. Tak usah ragu! Saat saya residensi penulis di Seoul, banyak bertemu orangtua Korea yang berusia 50, 60 tahun bahkan sudah nenek-nenek menemukan bakat mereka yang terpendam karena kewajiban : menulis novel.

Bagi anak-anakku yang masih mencari dunia baru, teruslah berkembang. Kalau kalian memang harus berbakti pada orang tua dan menuruti keinginan orangtua, bersabarlah. Jangan khawatir, masih tersisa kesempatan untuk mencapai apa keinginan kalian. Tetapi, kalau kalian bisa menjalin komunikasi baik dengan orangtua, pahamkan mereka bahwa insyaallah kalian punya cita-cita hebat dan cara hebat tersendiri untuk menjadi sukses.

Kiri : siswa SMPIT Al Uswah Tuba. Kanan : para ustadz ustadzah, guru yang luarbiasa

(Catatan usai mengisi acara Achievement Motivation Training di SMPIT Tuban, 24 Maret 2019)

 

 

 

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Bedah Buku Sinta Yudisia Buku Sinta Yudisia Fiksi Sinta Yudisia KOREA Perjalanan Menulis Sirius Seoul

Bedah buku Sirius Seoul di Surabaya

Assalamualaikum…
Anyeonghaseyo

Kamu suka hallyu? Kamu kpopers? Atau pecinta drama?

Nah kebetulan ikut kuy ke acara terkece tahun ini!

Kalian bisa dapet doorprize menarik asli korea!

BB Sirius Seoul.png

Kapan lagi bisa dapet doorprize dari negri para oppa, bias, dan idola kalian

*Lokasinya di *Majelis Mie* Jalan Citarum No. 2 Darmo Surabaya

@ 08.00 pagi – 11.30 siang

# Minggu, 23 Desember 2018

~Agenda :
– Bedah buku Sirius Seoul
– Bincang akrab dengan bunda Sinta yang sudah 2x ikut SFAC – _Seoul Foundation for Arts and Culture_

HTM 30k ( food+beverage)
70k ( food+beverage+book)

Cp :
Arina 081545137523
Icha 082336541985

Hwaiting!
Yuuuk, ikutan dan ajak teman2 daebak-kiyowo kamu !

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Hikmah KOREA Mancanegara Oase

Persiapan buat ke Korea

“Aduh, mahalnya!”

“Aduh gak punya uang…”

Itu kalimat yang haram dikatakan kalau kita punya cita-cita. Nenekku, bulik-bulikku, dan mamaku selalu bilang kalau kita punya keinginan, nggak usah bilang hal-hal negatif. Duh mahal. Duh nggak cukup duitku. Saat punya keinginan  langsung aja bilang, “ya Allah , mudahkan rezekiku untuk terwujudnya keinginanku.”

 

Aku aja nggak nyangka bisa ke Seoul ini. Nanti aku bahas keajaiban menjelang berangkat ke Seoul ya…

 

Kita bicara persiapan dulu. Kalau kamu mau ke Korea (baca luar negeri). Bisa jadi peraturan di Korea dan negara lain itu beda-beda.

  1. Paspor. Buat paspor jauh-jauh hari. Perkara kita mau berangkat ke LN atau nggak, urusan nanti. Sama seperti kamu punya KTP. Emang karena mau nikah baru ngurus KTP? Enggak kan? Paspor juga gitu. Kalau buat jauh-jauh hari, kita nggak gelisah karena harus nembak. Buat paspor murah, 355 ribu, asal syaratnya lengkap. Tapi kalau nembak bisa 1,2 juta, 1,5 juta, 1,9 juta sampai 4 juta!

 

  1. Visa itu kayak apa sih?  Tiap kali mau masuk negara asing selain Indonesia kita butuh visa. Pas  mau ke Korea, aku gak bisa ngurus visa sendiri. Maka  kukirim pasporku ke Jakarta. Salah satu sahabat yang mengurus visa-visaku adalah Aquila Travel, Jalan Cendrawasih 2 no 11, Cilandak, Jakarta Selaran 12420. Bisa di cek di www.aquilatravel.co.id. Pengalamanku nih…mereka cukup amanah. Buat visa ke Korea itu antara 1-2 juta,tergantung mau sekali masuk atau multiple entry. Nah, 2018 ini aku lolos ke Seoul, pihak Aquila ngecek visaku. Ternyata masih berlaku sampai 2021. Mereka hanya minta biaya admin 200 (padahal untuk orang gaptek seperti aku, mereka bisa aja kasih tarif tinggi kan?)

 

  1. Travel insurance. Untuk Seoul, mereka minta travel insurance. Buat jaga-jaga kalau kita sakit, hilang koper dll. Harganya $75. Jadi kalau nanti mendadak ada apa-apa (moga-moga aja nggak, naudzubillah) kita gak usah keluar uang. Semua udah diurus sama pihak asuransi.
  2. Tiket PP. Sekarang udah banyak banget penerbangan Surabaya-Seoul. 2016 aku ke Korea, nggak ada yang dari Surabaya. Rata-rata dari Jakarta. Semakin banyak aja yang pingin ketemu Oppa Eonni cakep yaaa. Mahal gak tiket PP? Kalau yang mau mahal juga ada, PP 50 juta kwkwkw. Mending buat haji umroh laaah. Tapi kamu bisa terus belajar cari tiket murah. Kamu bisa cari di traveloka,tiket.com, nusatrip dll. Dengan rajin cari info  kita bisa dapat tiket murah.

 

  1. Living cost. Sepanjang di Korea butuh biaya. Tukar uang rupiah kita ke won atau dollar. Berapa sih biaya yang dibutuhkan sepanjang di Korea? Ntar ada tulisan lanjutan ya.

Selamat menikmati perjalanan yang penuh hikmah ya 🙂

 

ㄷ도봐요

Ddo bwayo.

See you later.

 

 

 

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA KOREA Mancanegara Oase Perjalanan Menulis

Bagaimana keluar dari bandara Incheon, Seoul?

How to get your place from Incheon International Airport.

Alhamdulillah…akhirnya tiba lagi di negerinya K-Pop dan drakor yang kondang  itu.

Perjalanan dari Surabaya ke Jakarta memakan waktu 1 jam aja. Tiba di Soetta transit sekitar 2-3 jam. Cukup buat menyusuri bandara yang hadeeeh buat kaki bengkak. Bandara Soetta sekarang udah gedelho (eh, emang dulu kecil?). Gak tahu kenapa kok kayaknya bandara ini tambah gede.  Padahal baru beberapa bulan yang lalu tiba di Soetta.

Perjalanan Jakarta- Seoul berjalan dari jam 23.30dan tiba di Seoul jam 06.30 WIBT (waktu Indonesia barat tercinta) atau jam 08.30 waktu Korea. Berarti sekitar 7 jam perjalanan udara.

Alhamdulillah nggak mengalami kendala di imigrasi. Semua lancar,dan teman yang mau menjemputku sudah stand by sejak jam 09.00 . Meski mendarat jam 08.30 kita masih antri di imigrasi dan pengambilan bagasi kan?

Dari bandara Incheon kami naik kereta api ke Seoul Station. Berhenti di  stasiun Hongik University lalu naik taxi sekitar 5000 won ke Yeonhui.

Nah, meski ini kali kedua aku ke Korea, agak celingukan juga mencari jalan keluar untuk ketemu temanku. Dan juga keluar menuju transportasi subway. Jadi alurnya begini :

Kiri : subway dari arah pesawat untuk masuk ke gedung bandara. Kanan : imigrasi

  1. Keluar pesawar ikuti aja panah yang ada arrival atau baggage claim
  2. Ada banyak toilet. Kita bisa pipis dulu. Soalnya di atas pesawat kadang kruang nyaman
  3. Kalau mau ke bagian bagasi dan imigrasi, kita naik kereta api 1 kali. Sudah tersedia dari arah turun pesawat, untuk naik kereta ini.ikut arus aja
  4. Keluar kereta nanti naik tangga eskalator sekali
  5. Sampailah di imigrasi. Antri di sini
  6. Lalu keluar imigrasi, cek bagasi kita ada di pesawat apa, di jalur bagasi berapa
  7. Ada panduan exit. Biasanya pintu C
  8. Kalau sudah di lobby luar bandara,biasanya naik lift sekali ke lantai 2 untuk bisa naik kereta api
  9. Beli T-money dulu atau kalau udah punya, isi di vendor machine
  10. Silakan naik kereta api. Yang ini perhentian terakhir di Seoul Station.

Kiri : papan informasi bagasi kita dari penerbangan apa, misal GA 878 ada di belt 9. Kanan : pintu C tempat keluar

 

 

Kiri : gate untuk gesek kartu. Pastikan kartu T-money ada isinya. Kanan : antrian naik subway.

Trataaaa.

Akhirnya aku bisa sampai di residensi penulis yang keren ini. Tempatnya dingin, nyaman, teduh, rindang. Kesunyian yang ada di sekeliling menyebabkan penulis mudah menghasilkan karya, mencari inspirasi dan berkontemplasi terhadap banyak hal.

#seoul

#novel

#fiksi

#penulisindonesia

Hari ke #1 di #seoul

Hari ke #2 di #seoul

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Karyaku Kepenulisan KOREA Mancanegara Oase Perjalanan Menulis Travelling

Bagaimana sih rasa makanan Korea?

Negeri ginseng ini makin kondang dengan K-Pop dan kulinernya. Kalau  di film-film sepertinya masakan yng disajikan enaaakkkk bangeeettt, apalagi dihidangkan dengan mangkuk-mangkuk kecil yang artistik; kalau kamu berkesempatan ke Korea Selatan dan mencoba mencicipi masakannya, jangan kaget ya.

 

Kalau kamu muskim, tenty harus berhati-hati memilih restoran. Sebab, warga Korea terbiasa menggunakan babi untuk semua masakan, plus wine. Tata cara penyembelihan pun tidak sesuai syariat Islam. Kalau kepepet banget, kamu bisa memilih cafe atau resto yang menyajikan menu vegetarian atau ikan.

Sinta &amp; asma Azizah
Sinta dan Asma Azizah, mahasiswa di Kyunghee University

Mau tahu rasa masakan ini?

  1. Kimchi. pedas manis. Kalau bahannya timun sih masih enak di lidahku. Ketika tiba menggigit sawi atau bawang bombay (mentah!), sekalipun dicampur sambal tetap aja …isssh. Gak kolu aku. (Jawa). Rasanya seperti menggigit adonan jahe dan sambal. entah kenapa, kalau timun kok cucok.
  2. Ikan. Ikan di sini dibakar tanpa bumbu. Rasanya sih gurih karena ikan segar. Tapi makannya pakai sumpit lhoooo. Aku biasanya kalau makan ikan obok-obok, sirip sampai kepala bersih kwkwkwkwk. Di sini gak boleh gitu.
  3. Sup tahu. Nah yan ini pasti kalian doyan. Sebab rasanya gurih, pedas, asem. Cocok banget buat lidah kita apalagi yang baru dari perjalanan jauh. Segeerrr.
  4. Sambel? Itu tauco! Asyeeem.
  5. Kalau mau bergaya kayak di drakor, bolehlah makan ikan atau tahu digulung pake selada. Sip!
  6. Tehnya segar dan dingin. Bening. Tapiii…gak manis.

 

 

Kiri : Ikan bakar, sup tahu, kimchi, teh. Kanan : apapun bisa digulung  dengan selada.

 

Untuk di Sinchon, makan berdua habis 15.000 won. Ups…jangan dikit-dikit di kurskan rupiah ya. Ntar mabok. Sebagai penulis dan traveller aku juga gak sering njajan di luar. Bisa bolong saku hahahah. Ini karena baru tiba dan masih capek bangettt. 15.000 won di Korea termasuk lumayan murah, apalagi makan berdua. Sebab menu lain bisa 1 orang 30.000 won!

Selamat menikmati negeri Ginseng ya!

#seoul

#kulinerkorea

#won

#halalfood

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Karyaku Oase Perjalanan Menulis Sastra Islam WRITING. SHARING.

Reem & IBF Award 2018

Di balik Reem, Polaris Fukuoka dan The Road to The Empire

Reem's Award.JPG
Alhamdulillah #reem mendapat penghargaan untuk kategori fiksi dewasa terbaik 2018

 

 

Perjalanan the Road to The Empire, tidaklah mudah. Didahului dengan buku Sebuah Janji, The Lost Prince, lalu muncullah the Road to The Empire. Kisah Takudar berawal dari sebuah buku warisan ayah yang telah meninggal sejak SMA, the Preaching of Islam karya Thomas W. Arnold. Saat menyusun ksiah Takudar, internet belum seperti sekarang. Perlu waktu berhari, berminggu, bertahun untuk mengkumpulkan kliping koran tentang Mongolia dan negara-negara sekitarnya; serta tentang sejarah yang berkaitan dengannya.

Muluskah jalan TRTE?

Tidak. Pertama, ditolak penerbit dengan alasan pasar tidak suka tema berat, apalagi sejarah. Memang, dunia perbukuan ibarat ranah dagang yang tidak bisa diperhitungkan keuntungannya 100%. Ada buku yang bagus ternyata malah jeblok di pasaran, ada buku biasa-biasa saja dan penulisnya tidak butuh energi besar untuk menulis, malah laris manis. Itu masalah rezeqi dari Allah Swt. Kedua, TRTE lama sekali tidak menemukan penerbit yagn sesuai hingga bertemu dengan Lingkar Pena Publishing House dan mendapatkan editor andal, pak Maman S. Mahayana.

Tetapi masyaallah subhanallah, hingga sekarang kisah tentang Takudar lah yang paling banyak dicari orang. Orang masih menunggu buku ke-5 yang aku sendiri belum sempat selesaikan. The Road to The Empire meraih penghargaan sebagai fiksi dewasa terbaik di ajang IBF Award 2009.

IBF Award 09 dan 18.JPG
Polaris Fukuoka yang masuk nominasi sebagai fiksi terbaik 2018, Reem fiksi terbaik 2018 , The Road to The Empire fiksi terbaik 2009

 

Bagaimana dengan Polaris Fukuoka dan Reem?

Jujur, aku tidak menyangka dua novel ini masuk nominasi fiksi terbaik. Mengingat penilainya adalah Dr. Adian Husaini, Ibu Nina Armando, bapak Ahmadun Yosi Herfanda dan masih ada dua juri keren yang aku lupa nama beliau.

Polaris Fukuoka bersetting Jepang. Butuh energi besar untuk mempelajari budaya, filosofi, nilai-nilai dan rasanya ketika buku tersebut terbit; masih ada rasa tak puas karena aku belum cukup dalam memahami segala hal terkait Jepang.

Reem?

Mempelajari Palestina dan Maroko bukanlah pekerjaan mudah. Novel ini sebetulnya berdasar skenario bapak Beni Setiawan dan dari skenario itulah kususun novel Reem. Banyak rintangan, hambatan, halangan dalam menyusun buku Reem.  Polaris Fukuoka sudah disusun outlinenya sejak 2015 dan baru terbit 2017. Reem disusun sejak 2016 dan baru terbit 2017.

 

Di awal 2017, di buku harianku, tertulis catatan sekian banyak cerita pendek, naskah lomba, novel yang masih menemukan jalan buntu hingga aku sempat merasakan kesedihan yang dalam. Akankah aku berhenti di sini sebagai penulis? Apakah lebih baik aku bisnis online saja, yang banyak menjanjikan keuntungan?

 

Tetapi, ketika berada dalam ajang IBF seperti Rabu kemarin 18 April 2018 kemarin, di tengah insan perbukuan yang sama-sama merasakan rumit, keras, getir dan jatuh bangunnya industri perbukuan; kata-kata dari pak Hikmat Kurnia ketua panita, pak M. Anis Baswedan ketua IBF, sambutan dari pak Fadli Zon dan sambutan dari TGB sangat menyejukkan. Menyalakan api. Membuat hati-hati kita membara lagi calam celupan rasa cinta pada ilmu pengetahun, pengorbanan, dan keutamaan dari membaca, menulis, mempelajari, memahami hingga akhirnya menjadi bijak dalam menjalani hidup.

All winners.JPG
Kata TGB “people with beautiful minds”

Sebuah quote dari TGB dan istri beliau yang cantik dan cerdas membuatku terkesima.

“Para penulis yang berdiri di depan, menerima penghargaan adalah people with beautiful minds.

 

2009 bersama suamiku Agus Sofyan, 2018 bersama putraku Ibrahim Ayyyasy Kholilullah

Masyaallah.

Subhanallah.

Pada titik di mana kita merasa rendah, lelah, buntu dan putus asa; ada Allah Swt dan para tentara langitnya  siap memanggul harapan dan cita-cita ajaib kita menuju kemungkinan yang layak untuk diwujudkan.

 

Terimakasih kepada semua pihak yang telah menjadikan Polaris Fukuoka dan Reem sebagai novel terbaik 2018.

 

#novel

#novelislami

#reem

#polarisfukuoka

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Catatan Perjalanan Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY WRITING. SHARING.

Baju Sial, Laba yang Bawa Rezeqi & Larangan Makan di Cobek

Percaya ada baju yang bawa sial? Saya punya 1. Moga gak nambah, sebab punya 1 aja udah buat senewen. Setiap pakai baju itu ada aja hal menjengkelkan terjadi. Bahkan, teman, sedang memikirkan untuk menulis cerita ini aja…eh mendadak saya lagi di kamar mandi lampu mati sampai teriak-teriak, “helloooo! Adakah yang gangguin Ummi dengan matikan lampu kamar mandi?”

Hehehe, sebab saya suka iseng gangguin anak-anak. Kalau mereka di kamar mandi, saya matikan lampu.

Baju ini sering banget buat saya kesal. Padahal baju ini salah satu baju resmi yang pantas dikenakan buat acara formal. Dulu berupa kain hadiah seseorang, dan saya jahitkan menjadi sebuah baju. Sampai-sampai saya berpikir : jangan-jangan ketika baju ini dibuat, ada ritual tertentu hingga selalu aja ada hal jelek mendatangi.

Mau tau apa aja hal menjengkelkan yang terjadi?

Mulai disemprot orang, kesasar, kejadian-kejadian yang tak diharapkan terjadi (tebak sendiri!), hingga delay pesawat berjam-jam. Malu gak sih, pas saya mau ngisi acara pakai baju ini tetiba izin ke panitia,” maaf dek, ada kamar mandi? Saya mau ke belakang.”

Tetiba perut mules tiada tara! Padahal biasanya kalau saya mau ngisi acara, saya akan atur jadwal makan : gak boleh pedes, gak boleh MSG, gak boleh instan dll. Perut saya tergolong sensitif (pake bangettt).

Saya anggap baju ini bawa sial. Atau pertanda sial. Atau penyebab sial.

Yah, akhirnya, baju ini saya simpan aja di lemari. Mau dikasih orang juga gak mungkin. Selain baju itu kenang-kenangan, andaikata benar bawa sial, masa saya delivery ke orang kesialannya?

Sampai suatu ketika, saya merenung.

Habis baca buku Marie Kondo, bahwa barang-barang yang tidak menimbulkan kebahagiaan lebih baik disingkirkan; saya mulai berpikir tentang baju itu. Dibuang, enggak. Dikasih ke orang, enggak. Dirombeng, enggak. Kalau disimpan, ditumpuk-tumpuk di lemari, gak digunakan sama sekali; hanya akan mengundang ketidak berkahan. Maka tak ada cara lain kecuali mencoba memakai baju ini lagi, dan melawan kesialannya.

Hari itu, hati deg-degan.

Wah, kesialan apa yang akan aku alami hari ini?        Dag dig dug. Menduga-duga. Berpikir-pikir. Menerka-nerka.

Sejak belum pakai baju itu, hati ini berdoa, berbisik pada Allah Swt ,” Ya Allah, andai baju ini bawa sial, lindungi aku dari kesialannya. Andai baju ini buruk, lindungi aku dari keburukannya.”

                       Baju ‘sial’ yang jadi untung

Sejak belum pakai pakai baju itu aku banyak baca istighfar, shalawat nabi dan segala macam dzikir yang dapat terucap. Luarbiasa, hari aku memutuskan pakai baju ‘sial’ itu, ternyata ada banyak keberuntungan terjadi. Aku mengisi 2 acara , mendapat banyak bingkisan dan mendapat banyak teman baru serta pengalaman baru. Nyaris hari itu tidak ada kejadian mengesalkan, kecuali 1x saja yang kuanggap, yah, kebetulan belaka. Kira-kira, apa yang mengubah baju ‘sial’ itu jadi baju ‘untung’?

  1. Berdoa kepada Allah Swt sebelum memakainya.
  2. Sepanjang memakai baju itu banyak istighfar, baca shalawat dan dzikrullah
  3. Selalu positif thinking
  4. Banyak senyum agar happy
  5. Mempersiapkan agenda hari itu dengan matang agar tidak tertimpa eksialan yang sesungguhnya merupakan kecerobohan kita

 

                        Laba-laba pembawa rezeqi

“Kalau ada onggo-onggo, jangan diusir!”

Itu kata ibuku, berpesan kepadaku agar behati-hati bila melihat onggo-onggo.

 

laba laba gonggo
Laba Gonggo (Onggo-onggo)

Tahu onggo-onggo? Sejenis laba-laba yang biasanya nangkring di sudut pojok dinding rumah, dan binatang ini tidak selalu terlihat. Sesungguhnya, ada beberapa hewan yang dianggap pembawa keberuntungan atau malah kesialan. Tokek, yang disunnahkan untuk dibunuh, ternyata oleh orang Jawa dianggap pembawa berita baik. Kejatuhan cicak, dianggap sebagai pertanda sial.

Bagiku, tokek hewan yang menakutkan. Dan gigitannya kata orang cukup berbahaya. Maka aku merasa lebih baik hewan ini diusir dari rumah, bila kita tak mampu membunuhnya. Perihal laba-laba, aku ingat bahwa ini salah satu hewan yang melindungi persembunyian Rasulullah Saw di gua bersama sahabat beliau Abubakar ra. Maka, terlepas dari ia membawa berita baik atau tidak, aku memang enggan mengusirnya. Kecuali bila sarang laba-laba di sudut rumah sudah  menumpuk-numpuk.

Bagaimana dengan kupu-kupu?

Kata orang-orang Jawa kuno, adanya kupu-kupu pertanda akan mendapat tamu tak diundang. Umumnya tamu yang membawa kabar bahagia. Entah benar atau tidak, tapi semasa kecil rumahku pernah kemasukan kupu-kupu. Lalu trataaaa….nenekku datang tiba-tiba. Wah senang sekali! Mungkin saja itu kebetulan belaka.

Berbagai kepercayaan yang berkembang di masyarakat, sesungguhnya merupakan pengetahuan empiris yang tidak dapat diambil kesimpulan mutlak berdasarkan teori yang sudah baku.

Kepercayaan bahwa anak perempuan yang menyapu tak bersih akan punya suami brewokan, menjadi salah satu nasehat yang sering diungkapkan orangtua pada anak-anak perempuan. Yah, kalau orang barat dan orang Turki yang dari sononya sudah bawaan brewokan, apa berarti semua istri mereka gak pintar menyapu rumah? Kadang, ancaman-ancaman untuk menakuti anak atau cucu, bermanfaat supaya mereka segera menghindari perilaku yang kurang baik.

Sambal di cobek.JPG
Jangan makan nasi di cobek!

“Jangan makan nasi dari cobek, nanti jauh jodohnya!”

Sambal di cobek yang tinggal sedikti, enak banget kalau dicolek dengan nasi. Tapi emang sih, melihat orang makan dari cobek, rasanya gimanaaa gitu. Maka orangtua biasanya bilang : nanti jauh jodoh.

“Jangan duduk di depan pintu. Nanti jauh jodoh!”

Yah, kalau orang duduk di pintu, biasanya bikin sebel kan? Menghalangi yang mau lewat dan terpaksa bilang : permisi, nyusun sewu, ngapunten blablabla. Serba nggak enak kan? Maka dibilanglah : jauh jodoh.

Ada nasehat-nasehat trasidional yang masih dapat digunakan dan bahkan menjadi pedoman, namun sebagian yang lain, perlu diperhatikan karena kebaikan isi nya dan tidak perlu diyakini sebagai hal yang sungguh akan terjadi. Misal, terpaksa duduk di pintu karena saat pengajian, ruang tamu shahibul bait dipenuhi jamaah pengajian dan kita terpaksa duduk di pintu, maka bukan berarti jodohnya jauh.

 

 

 

 

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Catatan Perjalanan Fiksi Sinta Yudisia Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY WRITING. SHARING.

Writing for Healing : Menulis itu Menyembuhkan, atau Malah Membuka Trauma?

Kasus 1

Seorang perempuan, sebut namanya Ina, senantiasa berlinang dan berdebar setiap kali mengetikkan sebuah nama. Ya, nama lelaki itu Yuda (samaran). Dialah lelaki yang paling mengerti dirinya. Tetapi jalan  hidup tak dapat ditebak, Yuda dan Ina tidaklah berjodoh. Meski Yuda dan Ina berpisah kota, masing-masing telah memiliki kesibukan, kenangan akan Yuda tidaklah menguap begitu saja. Ina memiliki karir bagus dan keluarga yang bahagia, begitupun Yuda. Walau demikian, tiap kali mengingat, menyebut, menulis nama Yuda; rasa sakit itu masih terasa. Tetapi Ina tentu saja tak bisa menghapus Yuda dari dunia ini. Mereka masih bertemu dalam rapat, kerja, aktivitas sehari-hari.

 

Kasus 2

Sebut namanya Angie.

Gadis cantik dan pintar yang membuat banyak orang iri. Angie Memiliki banyak penggemar, terutama pemuda, yang mengungkapkan cinta dengan cara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi. Banyak orang iri pada Angie, utamanya kaum hawa. Betapa tidak? Angie yang supel, murah senyum, humoris, pintar, pintar cari uang sejak kuliah, aktivis pula, berteman banyak; pendek kata tak ada nilai negatif dalam dirinya! Bahkan Angie bukan tipologi cewek sombong yang merasa sok cantik. Itulah sebabnya teman cewek dan cowoknya bejibun.

Tetapi tak banyak yang tahu masa lalu Angie. Keluarganya yang berantakan, hingga tiap kali ia menceritakan kisah masa lalunya pada segelintir orang yang bisa dipercaya, tangannya tremor. Asam lambung naik. Mata berkunang-kunang. Orang-orang bisa bercerita tentang ayah ibunya dengan santai.

“Liburan kemana?’

“Lebaran mudik nggak?”

“Kamu ditelpon siapa? Wisuda nanti siapa aja yang datang?”

Pertanyaan lumrah seperti itu biasa bagi sebagian orang. Tapi Angie pasti berkeringat dingin ketika terpaksa harus menjawab. Keluarga yang berantakan, ayah dan ibu yang terpisah, keluarga besar yang turut campur tangan dan ketidak utuhan persaudaraan merupakan masa lalu yang sangat membekas bagi Angie. Ia bahkan sempat tak ingin menikah, sebab mengingat perpisahan ayah bundanya yang sangat menyakitkan, sampai-sampai keluarga besar turut campur hingga ketika ia dewasa.

Angie mencoba mengatasinya dengan menulis. Di beberapa bagian tiap kali tiba di edisi perpisahan orangtua, atau edisi ketika ia harus mandiri sebagai individu sejak SMP, SMA dan kuliah; dadanya tiba-tiba terhimpit . Bahkan, pernah suatu ketika, Angie tengah berada di jalan raya dan ingatan akan perpisahan orangtuanya merangsek pikiran tiba-tiba. Ia gemetar dan kehilangan keseimbangan. Angie mengaku, saat itu tengah menuliskan pengalaman pribadi dan trauma perpisahan orangtuanya terlalu sulit untuk diungkapkan.

Peserta Writing for Healing mencoba mengungkapkan kisah

Menulis : Mencoba Merunut Sebuah Kisah

Banyak orang tidak dapat mengenal ujung pangkal kehidupannya sendiri.

“Aku nggak tahu harus cerita dari mana.”

“Aku marah! Sedih! Tapi aku nggak tahu sama siapa!”

“Mmmm…aku cerita begini ya,” lalu ia bercerita panjang dan terbata. “Eh, bukan, ceritanya sebetulnya begini.”

Ruwet. Bingung. Kusut. Tak terlihat celah penyelesaian. Bahkan, tidak tahu darimana semua bermula. Demikianlah manusia ketika sedang menghadapi masalah. Ia merasa bahwa semua orang menjadi pokok masalah. Atau juga ada yang merasa, dirinyalah yang tidak mampu dan tak sanggup menghadapi masalah sehingga setiap kejadian selalu berujung lebih buruk dari titik awal.

Menulis kisah, awalnya akan berantakan.

Susunan kalimat yang seharusnya Subyek- Predikat- Obyek plus keterangan; bisa tertukar-tukar tak karuan. Selain SPK yang tidak karuan, urutan kisah kejadian bisa jadi tumpang tindih. Kisah yang seharusnya merupakan cerita masa lalu- masa sekarang- harapan masa depan; berubah menjadi harapan masa lalu (yang tentu tak bisa diubah) , kesalahan menafsirkan masa sekarang dan memastikan bahwa masa depan sudah terjadi saat ini.

“Pasti hidupku berantakan. Dulu aku gagal, coba kalau orang-orang di sekelilingku gak begini. Besok bakal begini lagi. Gak ada yang ngerti aku dan suatu saat pasti keluargaku juga gagal lagi seperti orangtuaku gulu.”

Kalimat-kalimat yang muncul bukanlah rentetan suatu kisah.

Lebih banyak ungkapan emosional yang belum tentu obyektif.

Menulis dapat membantu seseorang merunut kisah hidupnya agar tertata dan dapat dibaca lebih baik. Biasanya, seseorang ketika bolak balik membaca tulisannya akan termenung.

“Kok, aku banyak menyalahkan ibuku ya? Memangnya saat itu ibuku ngapain, sampai-sampai ia bisa berbuat salah?’

WFH 2
Berbaim kata dalam Writing for Healing

Merunut kisah adalah merupakan alur penting dalam pemahaman kita terhadap apa yang telah terjadi dan bagaimana segala sesuatu akan dirancang. Saat seseorang dapat merunut kisahnya dengan baik, ia mungkin akan terluka tetapi dapat mengenali sesuatu lebih utuh.

Kisah siswa yang  menuliskan kekecewaan kepada orangtuanya ini mungkin dapat menjadi gambaran bahwa menuliskan kisah, dapat membuat seseorang melihat masalah lebih utuh. Tulisan siswa tersebut kurang lebih demikian.

“Aku benci boarding school. Aku benci sekolah asrama. Lagipula kenapa Cuma aku yang sekolah asrama? Karena aku bandel? Biar aku bisa dibuang gitu? Gak ngerepoti orangtua? Aku benci sekolah asrama, soalnya anaknya bandel-bandel. Guru-gurunya gak asik. Apa-apa nggak boleh. Awal sekolah asrama aku nangis. Aku benci! Aku ingat sekolahku yang dulu. Ingat teman-teman lamaku. Aku pingin pulang. Pingin balik ke rumah. Apalagi kalau aku ngadu tentang temanku yang memang nakal, malah aku yang dinasehati. Suruh sabarlah. Suruh ngerti. Lah, dianya yang salah?”

Setelah melewati proses menulis beberapa kali, siswa tersebut rupanya mendapatkan sedikit demi sedikit insight tentang kondisi yang sedang dihadapinya. Dan proses ini memang tidak sebentar ya.

“Ya, aku memang keluarga besar. Adikku banyak. Mungkin, aku memang perlu sekolah asrama supaya ada yang bisa ngawasi aku. Kalau di rumah, mamaku sibuk antar jemput adik. Aku mungkin gak keurus. Walau mama nggak bisa ngontak aku tiap hari, lama-lama asik juga sekolah di asrama. Mama masih sayang aku kok. Buktinya, papa dan mama memilih sekolah asrama yang mahal harganya, padahal adik-adikku cuma sekolah yang murah. Kata mama biar aku bisa jadi orang berguna.”

Menulis, dapat membantu seseorang merunut ksiah yang sesungguhnya. Bahwa kejadian yang tengah berlangsung bukanlah sebuah malapetaka, tapi sebuah pilihan terbaik dari sekian banyak pilihan yang ada; yang tak bisa dihindarkan selaku manusia. Seorang anak masih bergantung pada orangtua dan memiliki kewajiban menurut meski juga tetap harus bersuara; seorang anak menjadi bagian dari sebuah keluarga. Bila keluarga tersebut memiliki masalah maka anak tersebut juga harus menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari penambah masalah. Alhamdulillah, menulis membantu orang untuk dapat merunut kisah dengan lebih baik. Meski belum tentu mereka menyetujuinya.

Anak yang menuliskan kisah tersebut pada akhirnya memiliki trauma tertentu pada boarding school namun ia tidak menolak ketika masuk ke sekolah yang sejenis dengan catatan, boarding schoolnya tidak terlalu jauh dari domisili orangtua sehingga ketika terjadi kondisi bullying; ia bisa segera mencari pertolongan.

 

Menulis membuka Trauma Lama

Ya.

Menulis memang membuka luka.

Luka yang sudah tertutup, dikorek lagi, berdarah, dan menimbulkan luka baru yang tak kalah perih. Memang demikianlah bila kita berniat membongkar luka lama. Lalu mengapa harus dibongkar padahal sudah selesai? Case closed?  Kalau  masalah sudah selesai, tidak perlu diutak-atik lagi.

Memang selayaknya, permasalahan lama yang sudah tertutup tak perlu dibongkar lagi.

Namun, seringkali, permasalahan yang sudah ditutup, dipendam, disimpan; ternyata tidak selesai begitu saja. Kebencian pada orangtua yang dulu tak mampu mendidik dengan baik, kebencian pada saudara yang berbuat aniaya, kebencian pada teman yang pernah mengaganggu; seiring waktu akan berlalu. Kita hidup terpisah dari orangtua ketika kuliah dan bekerja, begitupun saudara dan teman pun akan berjauhan seiring waktu yang memisahkan. Masalahnya, suatu saat, seorang anak yang membenci orangtuanya; bisa jadi kelak ia menjadi orangtua. Seorang manusia yang memiliki hubungan kurang baik dengan saudara atau teman, ternyata harus bertemu lagi dengan saudara dan temannya dalam suatu perkara.

Atau, kalaupun tidak lagi bertemu dengan orangtua atau pihak-pihak yang pernah memiliki masalah; kita akan berada dalam posisi yang mirip dengan kejadian dahulu.

Dulu menjadi anak.

Sekarang menjadi orangtua.

Kebencian yang mengendap kepada orangtua dalam berganti menjadi amarah pada situasi, atau pada anak, atau pada pasangan; atau pada apa saja yang mirip dengan situasi di masa lampau. Maka hal inilah yang seharunya diselesaikan.

Menuliskan nama atau kejadian atau tempat, mungkin awalnya akan mengorek luka.

Nama mantan.

Nama orangtua, entah nama ayah atau ibu.

Nama guru, atau nama dosen.

Nama teman, atau sahabat.

Nama kota.

Nama kejadian.

Tahukah anda, bahwa ada seseorang yang enggan dipanggil “sesuatu” karena trauma?

Saya selalu memanggil teman dan sahabat perempuan dengan sebutan : manis atau cantik. Hai, mbak Cantik! Hai adik Manis!

 

“Jangan panggil aku dengan sebutan cantik, Mbak! Aku benci. Awas kalau Mbak sampai panggil aku cantik lagi. Aku benci panggilan itu. Awas ya, Mbak, jangan lagi-lagi bilang aku cantik atau sejenisnya!!”

Tentu saja, aku terperangah, Dan terseinggung pada awalnya. Sebab, temanku telah berlaku demikian over, menurutku. Apa salahnya memanggil cantik? Apa salahnya memanggil manis? Dan ketika kemudian dia menuliskah kisahnya secara rahasia, aku tahu, bahwa panggilan cantik baginya adalah sebuah luka menganga. Panggilan cantik, adalah ketika di masa kecil, saat ia  harus tinggal dengan seorang kerabat yang jauh lebih tua; telah menyebabkannya mengalami sexual abuse. Lelaki tua itu merayunya dengan sebutan : anak cantik.

Ya Tuhan. Na’udzubillahi mindzalik.

Sungguh.

Ada di antara kita yang memiliki luka-luka menganga dan luka itu disebebakn oleh suatu kejadian, seseorang atau mungkin sebuah situasi keterpaksaan. Memang tidak mudah melaluinya, tetapi memungkirinya juga hanya akan menjauhkan dari kesembuhan.

Menulis, memang akan membongkar luka lama. Tetapi luka ini ingin kita sembuhkan bersama. Setidaknya, ingin disembuhkan oleh korban yang mengalaminya dan merasa tersiksa. Tuliskan perlahan-lahan nama orang yang pernah melukai dengan teramat dalam.

Awalnya gemetar. Tak mampu. Bahkan timbul kebencian pada semua yang terkait dengan nama itu. Tak mengapa, bila kita sudah merasa siap bertarung dengan diri sendiri. Kebencian, kesedihan, rasa malu, putus asa dan beribu rasa negatif lainnya akan menyeruak bersama-sama. Akan muncul airmata. Amarah. Bila tidak kuat melakukannya sendiri, mintalah seorang sahabat untuk mendampingi sepanajng menuliskan nama atau peristiwa tertentu yang menyakitkan. Bila melakukannya sendiri dianggap baik-baik saja, silahkan.

Beberapa tips untuk menuliskan suatu yang bermakna kebencian atau penderitaan :

  1. Tulislah di atas sebuah buku putih. Boleh bergambar. Nuansa putih akan menciptakan rasa bersih dan tenang.
  2. Usahakan kertas cukup tebal. Kertas tipis akan mudah sobek bila mengalami tekanan.
  3. Gunakan bolpoin. Pensil akan lekas patah bila diiringi kemarahan
  4. Bila tak bisa menyebut sebuah nama, katakan dia
  5. Bila tak mampu menuliskan peristiwa atau sesuatu yang menyakitkan, buatlah simbol. Entah E, X atau Æ
  6. Pelihara kesadaran diri sebaik-baiknya. Cermati bila tangan berkeringat, dahi berkeringat, dada berdegup kencang, jemari gemetar.
  7. Biasanya, menuliskan nama atau peristiwa, terasa sangat berat. Lebih baik bercerita seputar kisah yang menimbulkan trauma.

WFH All

Ayo, menulis untuk bahagia 🙂

 

 

 

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Oase Psikologi Islam PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Suami Istri Tulisan Sinta Yudisia WRITING. SHARING.

3 Pertanyaan Unik tentang Jodoh & Nikah

 

 

 

Belum pernah nih, saya dapat pertanyaan unik macam begini!

Acara macam ini biasanya diminati oleh para muda-mudi usia 20 tahun ke atas yang sudah mulai memasuki usia nikah. Persiapan pra nikah menjadi pembahasan yang sangat dinamis serta menimbulkan banyak pertanyaan misterius. Biasanya, seminar pra nikah memunculkan pertanyaan-pertanyaan seperti apa dan bagaimana memilih jodoh, bagaimana meyakinkan orangtua, bagaimana belajar mencintai, apakah karier atau rumah tangga dulu dst.

Kali ini, di Rumah Keluarga Indonesia, Bangkalan, saya dapat pertanyaan menarik yang membuat makjleb dari peserta.

 

Masyaallah, Subhanallah…peserta yang masih berusia muda ini ternyata memiliki pemikiran matang dan sangat bijaksana. Saya sampai terkaget-kaget mendapat pertanyaan demikian.

3 pertanyaan unik yang diajukan mereka adalah :

  1. Perempuan kan posisinya menunggu. Bagaimana cara kita bersabar menerima takdir ketika mungkin, hingga meninggal kita tidak menikah?
  2. Biasanya seorang muslimah memilih lelaki sholih. Kalau saya tidak. Saya justru ingin mendapatkan lelaki yang biasa-biasa saja, dan ingin membimbingnya. Salahkah keinginan itu?
  3. Apakah pernikahan yang sudah berjalan 23 tahun, dapat dikatakan pernikahan yang barakah?

 

Beberapa buku saya yang berisi tentang jodoh, cinta dan perempuan

Gadis Menunggu atau Mengajukan Diri?

Paradigma bahwa perempuan atau gadis menunggu dan menanti untuk dipilih, dipahami oleh masyarakat kita sebagai tindakan pasif. Padahal, dalam sejarah Islam, perempuan tidak selalu wajib menunggu. Contoh paling dikenal adalam masyarakat Islam adalah ketika bunda Khadijah mencari suami dan memilih nabi Muhammad Saw. Bunda Khadijah mengutus pembantunya untuk mencari tahu tentang pemuda Muhammad.

Apakah tindakah bunda Khadijah tercela? Tidak.

Bahkan tindakan beliau sangat mulia. Beliau mencari lelaki sholih, tidak peduli usia dan status sosial. Pemuda Muhammad saat itu belum menjadi Nabi dan beliau masih berstatus pedagang. Meski dikabarkan sebagai pedagang sukses, tentu secara kekayaan pemuda Muhammad belumlah sama seperti bunda Khadijah. Dalam hal ini, perempuan tidaklah diharamkan mengajukan diri kepada lelaki tetapi tetap melalui kaidah-kaidah syari. Ada beberapa kisah nyata dalam dunia sehari-hari.

 

Kisah 1

Sebut saja namanya Ayu. Ayu, berasal dari sebuah desa kecil di Jawa. Ia mengajukan diri untuk dinikahi oleh Umar, teman satu kampusnya. Tentu saja Umar terkejut dan dapat dipastikan, pemuda itu menolak. Muslimah berjilbab, aktivis rohis, kok mengajukan diri minta dinikahi? Kayak kebablasan, gitu! Tetapi Ayu rupanya bukan akhwat iseng yang main tembak ikhwan. Meski ditolak, Ayu mengajukan diri lagi untuk dinikahi Umar. Beberapa kali terjadi tolak menolak, Umar akhirnya penasaran mengapa Ayu berani mengajukan diri. Jawaban Ayu membuat Umar takluk.

“Umar, saya berasal dari sebuah desa kecil. Besar harapan saya saya kembali ke desa, dan membangun desa saya. Di kampung, hanya saya satu-satunya yang sekolah sampai tinggi. Kalau saya menikah dengan pemuda lain daerah, saya akan dibawa pergi. Sebagai istri yang taat tentu saya akan mengikutinya kemanapun. Tetapi saya sangat berharap bisa kembali ke kampung halaman, maka saya mencari tahu siapa pemuda kampung terdekat yang juga sekolah tinggi. Ternyata saya menemukan nama kamu, Umar. Maka saya mengajukan diri untuk dinikahi. Kalau kamu kembali ke kampungku, berarti saya juga bisa membangun desa saya yang masih tertinggal.”

Masyaallah.

Sungguh, cita-cita Ayu bukanlah cita-cita rendahan.

Ia menembak Umar bukan lantaran ia aktivis, cakep, terkenal di kampus, dambaan para gadis dan seterusnya. Kejujuran Ayu membuat Umar mantap untuk memilihnya. Alhamdulillah mereka kemudian menikah.

 

Kisah 2

Sebut namanya Ina.

Iapun mengajukan diri untuk dinikahi. Tetapi berbeda dengan Ayu, ia tidak punya calon untuk dituju. Kemiripan dengan Ayu adalah mereka sama-sama orang kampung yang kental dengan segala ragam tradisi, termasuk dijodohkan. Ina, selepas kuliah, tahu-tahu harus pulang kampung karena orangtuanya menjodohkannya dengan seorang pria. Tentu saja, Ina yang tengah belajar menjadi muslimah sejati, kalang kabut. Bagaimana ia dapat menerima pilihan orangtuanya? Jangankan memahami Islam secara kaffah, kebiasaan merokok dan melalaikan sholat masih dilakukan pemuda itu. Akhirnya Ina mengontak teman lelaki di kampusnya.

“Adakah ikhwan yang bersedia menikahi saya? Secepatnya melamar pada orangtua saya. Sebab saya dalam kondisi terdesak.”

Masyaallah…kesungguhan Ina untuk menjaga dirinya ternyata didengar Allah. Dia menggerakkan hati seorang pemuda sholih untuk segera melamarnya, hanya selang sehari ketika permintaan Ina terdengar di telinga para ikhwan. Alhamdulillah…Ina dan pemuda sholih itupun menunju pelamainan dan langgeng hingga kini.

 

Pembaca,

Tentu tidak semua gadis seberuntung Ayu dan Ina yang ketika meminta mengajukan diri, pemuda yang dituju berkenan meluluskan. Stigma masyarakat bahwa ketika perempuan minta dinikahi pasti ada “apa-apanya”. Naksir berat, tidak laku, atau bahkan sudah MBA. Wajar bila masyarakat melihat demikian, sebab di belahan dunia Timur, lelaki masih memegang tampuk kepemimpinan dengan gaya maskulin. Ngapain ngejar-ngejar nikah kalau bukan kepepet, kalau bukan karena punya maksud tersembunyi?

Namun kita bukan sedang membahasa bab feminisme di sini. Kita membahas kemaslahatan. Kadang, seorang pemuda memiliki banyak pertimbangan dan tidak melihat dari sisi yang lain. Sementara seorang gadis melihat dari sisi yang lain pula. Tidak megnapa seorang gadis membantu seorang pemuda untuk melihat dari sudut pandang lain bahwa kebutuhan menikah harus disegerakan karena berbagai hal : menjaga agama, tuntutan keluarga, kebutuhan diri sendiri dan seterusnya. Selama hati mencoba tulus dan jujur serta bersungguh-sungguh, Allah akan bukakan jalan. Dan, berhati-hatilah ketika seorang gadis mengajukan diri. Kaidah syari tetap dijaga, jangan melampaui batas dan menggunakan jalur tertutup atau rahasia. Tidak menembak di depan umum apalagi di media sosial!

Lalu bagaimana ketika lelaki yang diinginkan belum kunjung tiba?

Selalulah bersandar pada Allah.

Saya teringat seorang ustadz penghafal Quran yang memebrikan nasehat di kelas, ketika saya mengikuti kelas pembukaan menghafal Quran :

“Allah akan menepati janji sampai seorang hamba benar-benar mencari ilmu dan mengamalkannya.”

Saya baru akan jadi penghafal Quran kalau bersungguh-sungguh mencari ilmu tentang menghafal Quran sekaligus mengamalkannya. Insyaallah Dia akan bukakan jalan dalam penemuan jodoh impian ketika seorang manusia bersungguh-sungguh mencari ilmu dalam menyempurnakan ½ diin sekaligus mengamalkannya : mengamalkan cara berkomunikasi, mengamalkan cara besabar dan mengalah, mengamalkan cara mandiri finansial dst. Sebab ketika ilmu itu tidak dipelajari dengan sungguh-sungguh dan diamalkan, lalu terjadi pernikahan; akan terjadi pernikahan dan pembangkangan. Terjadi pernikahan dan ketidak pedulian. Terjadi pernikahan dan keegoisan. Terjadi pernikahan dengan segala unsur kerusakan. Dalam proses penantian itu, hari demi hari adalah tabungan pahala, tabungan keindahan balasan, tabungan berita gembira bagi seoarng hamba yang taat menjauhi maksiat demi meraih ridhoaNya dalam menjadi pangeran dan putri impian.

Muzammil dan Sonia.jpg

 

 

Memilih Lelaki Biasa-biasa saja

Di awal acara, ditayangkan liputan patah hati netizen ketika Muzammil Hasballah menikah dengan Sonia. Duuuuh, sedihhhh. Cowok seperti itu jarang banget stoknya di atas muka bumi. Maka ketika sold out, hiks-hiks, hati patah deh…

Namun, ada seorang muslimah yang berani berpendapat : kalau saya ingin menikah dengan lelaki yang biasa-biasa karena ingin membantunya memahami agama, apakah salah?

Hm, Pembaca, segala sesuatu pasti ada konsekuensinya.

Punya suami atau istri penghafal Quran sangat membanggakan. Tetapi bukan berarti tidak ada tantangan. Seorang penghafal Quran, sebut saja namanya ustadz Sholih, sangat berhati-hati memilih makanan. Istrinya nggak bisa memasak sembarangan, membeli makanan pabrik di toko, sebab istri harus menjaga ustadz Sholih dari makanan tidak halal, bahkan makanan syubhat. Ustadz Sholih ini hanya mau makan masakan istrinya yang sudah terjamin kehalalannya. Repot kan? Nah, ternyata punya suami hafidz tetap aja ada ujiannya. Jangan dipikir enak, melejit followers, dipuja sana sini ketika punya suami hafidz!

Punya istri hafidzah juga begitu.

Ada seorang suami yang punya istri hafidzah. Ia menyadari betul keutamaan istrinya, maka ia rela mengerjakan seluruh pekerjaan rumah sembari menjadi pengusaha. Pekerjaan utama istrinya adalah menghafal Quran. Sebab, memang butuh waktu spesial untuk memelihara 30 juz. Dan , sang istri yang hafidzah itu lebih sering menerima undangan untuk mengisi pengajian. Eit, bukan berarti sang istri yang hafidzah ini menindas suami. Bukan, ya!. Ia juga rajin membantu usaha suami, rajin berbenah juga. Tetapi ketika pagi hari, saat dhuha para istri atau ibu biasanya sibuk memasak dan mencuci; sang hafidzahjustru sibuk murojaan Quran. Ia mengerjakan pekerjaan rumah di waktu yang lain. Tentu, memiliki istri hafidzah membanggakan, tetapi seorang suami juga harus siap dengan konsekuensinya.

 

Bagaimana dengan punya suami biasa-biasa saja?

Ini juga  bukan pilihan jelek, apalagi diniatkan untuk membimbing lelaki yang belum tahu agama menjadi tahu agama. Bayangkan pahala yang didapat seorang istri, semisal mampu mengajak suaminya yang bertatto untuk rajin ke masjid. Atau bagaimana punya suami perokok untuk jadi penyuka shaum sunnah. Atau yang tadinya suka nge mall, dugem, lalu suka main ke masjid dan mendengar kajian kitab. Besar banget pahal istri seperti ini kan? Tetapi seorang gadis harus siap. Bahwa memiliki suami yang biasa-biasa saja, ia harus berkorban banyak hal, terutama kondisi emosional. Lelaki yang biasa mungkin belum tahu hijab, sehingga kedekatannya dengan beberapa perempuan membuat istri cemburu. Lelaki biasa belum tahu syubhat dan halal, sehingga main terobos sana sini ketika cari uang.  Lelaki biasa-biasa saja mungkin masih harus dibangunkan untuk sholat, di saat istri ingin sekali diimami sholatnya dan mendengarkan bacaan Quran yang tartil.

Memiliki suami hafidz  atau suami biasa-biasa saja, tetap ada konsekuensinya!

Yang pasti, luruskan niat dan patuhi syariat.

 

 

sofyan sinta RKI.JPG

Apakah Pernikahan yang Tahan Lama itu Berarti Barakah?

Ini benar-benar pertanyaan menohok!

Disaat acara seminar pra nikah, saya dan suami diminta testimoni tentang perjalanan taaruf hingga menikah dan bertahan hingga sekarang (doakan ya Pembaca, kami langgeng hingga berkumpul di jannahNya ya…aamiin yaa Robbal ‘alamin).

Maka suami bercerita tentang proses taaruf yang singkat, disusul khitbah dan menikah. Saya pun bercerita tentang kondisi suami yang sesungguhnya masih sangat minim penghasilan ketika menikah dan hingga sekarang kami mencoba untuk tetap sabar dalam kejujuran sebagai pegawai negeri.  Alhamdulillah, kami bisa bertahan hingga 23 tahun pernikahan dengan segala badai, gelombang, suka duka, tangis dan tawa.

Lalu bertanyalah seorang pemuda : “apakah 23 tahun itu bermakna barakah?”

Sungguh, saya dan suami bertatapan mata ketika ditanya seperti itu. Salut dengan pertanyaan kritis dan menohok hingga ke ulu hati.

Kalau dibilang pernikahan sukses, kami tak berani mengakuinya. Sebab kesuksesan hanya dapat dilihat di akhir, di ujung, di titik semua berhenti : kematian dan yaumil akhir. Kami baru akan disebut pasangan suksses bila telah bersama-sama menapaki JannahNya sembari membawa anak cucu kami masuk ke istana syurga. Dan itu sungguh masih rahasia ribuan tahun ke depan yang hanya diketahui Allah Swt. Namun bila bicara keberkahan, saya menysukuri betapa Allah Swt rasanya melimpahkan keberkahan.

Barakah atau berkah, adalah kondisi ketika sesuatu baik yang berifat materi (uang, barang) atau immateri (waktu) memiliki nilai tambah atau nilai lebih dibanding nilai yang sesungguhnya. Misalnya, ketika anak kami masih kecil-kecil, saya berhitung secara jujur berapa seharusnya jumlah penghasilan suami dan saya bila ingin hidup “normal“ : nyicil rumah, nyicil sepeda motor, menyekolahkan anak-anak di sekolah Islam, makan makanan bergizi, dan seterusnya. Maka dicapai angka fantastis : puluhan juta! Dengan 4 anak dan tinggal di kota Surabaya, kami harus punya pengahsilan puluhan juta untuk hidup layak. Apalagi ketika suami ditempatkan di luar kota, seharusnya penghasilan berlipat-lipat lagi. Nyatanya penghasilan suami tidak sampai sekian.

Namun, alhamdulillah, kami senantiasa cukup.

Ada saja rezeqi yang Dia berikan.

Salah satunya adalah rezeqi anak-anak yamng insyaAllah, sholih-shalihah. Anak-anak yang bisa diajak prihatin. Anak yang tahu kalau ayahnya adalah pegawai negeri yang mencoba jujur.

Dulu, waktu anak saya yang pertama usia SMP, ia  hanya bawa sangu 5000. Itu sudah teramsuk transport, makan siang, dan jajan. Tetapi di akhir bulan ketika kami sedang 0 uang, si kakak masih ada  tabungan yang bisa digunakan untuk menyambung hidup. Sampai sekarang, kakak dan adik-adiknya terbiasa menabung dari uang jajan mereka yang jumlahnya jauh di bawah jumlah teman-temannya. Mereka kalau butuh beli alat gambar, sketch book, komik, buku, sepatu atau kebutuhan lain; tahu-tahu punya uang. Bahkan alhamdulillah, si kecil bisa punya HP dari hasilnya menang lomba menulis. Anak-anak bertekad untuk punya laptop, HP dan barang-barang bukan dari hasil mereka memitna orangtua.

“Lho, kok kamu bisa beli sepatu, Mas?” saya nanya ke abang nomer tiga.

“Aku dua minggu ini gak jajan sama sekali, “ katanya.

Bahkan, dua anak lelaki kami ketika SMA masih naik sepeda onthel sementara teman-temannya telah naik sepeda motor mengkilat bahkan sepeda motor ninja yang mahal harganya. Mereka tidak kehilangan harga diri, tidak kehilangan teman, tidak kehilagnan kebahagiaan meski harus bersabar. 4 anak kami terbiasa saling menasehati satu sama lain, saling memberi motivasi. Ketika yang satu punya masalah, maka yang lain akan mendengarkan dan memberi masukan. Bagi kami, situasi ini adalah keberkahan yang merupakan karunia Allah Swt.

Keberkahan yang lain adalah ketika kami bisa membeli rumah ditahun 2011, dengan sepenuh perjuangan. Rumah yang cukup luasnya, dengan cicilan yang terjangkau gaji suami. Saya memang berdoa kepada Allah : “ya Allah berikan kami rumah yang kami mampu mencicilnya, dekat masjid, dikelilingi tetangga yang sholih shalihah, fasilitas memadai seperti air-sampah dll.” Saya berdoa sedetil itu dan alhamdulillah, kami dapat rumah yang sekarang kami tempati. Setiap kali bertemu teman atau supir taksi online, mereka bertanya tentang rumah saya dan terbelalak : “Ibu beruntung sekali! Rumah gede segitu harganya murah banget.”

Itulah keberkahan Allah Swt.

Masih banyak lagi keberkahan-keberkahan yang lain.

Ketika anak-anak di bangku  SMA, teman-teman mereka sudah ikut les ini itu sejak awal kelas 3. Kami belum mampu meleskan mereka. Alasannya dapat ditebak. Rata-rata anak kami baru les menjelang ujian kelulusan. Alhamdulillah, si sulung dapat masuk UGM dan nomer dua di ITS. Itulah keberkahan. Bahwa ketika tidak tersedia uang untuk les ini itu, Allah Swt berikah rizqi berlipat dari sisi lain : anak-anak yang mau belajar meski harus pontang panting cari pinjaman soal.

Dalam hubungan suami istri, saya pun merasakan keberkahan.

Jangan dikira saya dan suami tidak pernah berselisih paham. Namanya suami istri, tentu ada hal-hal yang membuat kami berselisih dan marah satu sama lain. Namun alhamdulillah, kami biasanya marah sehari dua hari. Jarang sekali sampai tiga hari. Rasanya tidak betah, tidak nyaman kalau tidak bertegur sapa. Maka nanti salah satu akan memulai berbaikan sembari saling menyindir hehehehe.

Yah, inilah keberkahan.

Saya bukan perempuan paling cantik dan paling hebat.

Suami tentu juga bukan lelaki super seperti Thor, Captain America, Hulk atau Iron Man. Tetapi kami saling mencintai, insyaallah. Kalau hanya fisik, yah, saya sudah terdepak jauh-jauh hari. Jujur sajalah, lelaki ketika di kantor bertemu banyak perempuan yang jauh lebih mempesona. Bukannya saya tidak merawat diri, ya. Kata suami saya perempuan cantik (gomballlll…biar deh! Saya juga selalu memaksa suami supaya bilang saya yang paling cantik, kwkwkwkwk!) tetapi godaan di luar sana besar. Termasuk saya juga yang sering menjalani aktivitas di luar rumah.

Tetapi itulah keberkahan yang Allah Swt titipkan di keluarga kami hingga masih bertahan hingga sekarang dan semoga bertahan hingga maut menjelang : sedahsyat apapun orang yang kita temui di luar sana, semempesona apapun, bagaimanapun ia membuat hati kita jadi deg-degan dan berbunga-bunga; tetap saja, pasangan cinta yang telah menjalani hidup sekian lama adalah belahan hati terbaik yang pernah ada bagi diri kita.

Mungkin dia tidak lagi membuat deg-degan.

Tidak membuat berdesir-desir.

Tidak membuat mabuk kepayang seperti saat awal nikah dulu.

Tapi rasa bahagia, hangat, tenang, itu tetap ada dan itulah keberkahan. Betapa banyak  pernikahan yang terasa dingin, hambar, tak ada cahaya sama sekali dan tak ada lagi yang pantas dipertahankan dalam hubungan itu kecuali memang tinggal kunci perceraian yang menyelesaikan.

Rasanya, inilah keberkahan yang Allah titipkan.

Semoga, banyak pasangan di luar sana yang usai pernikahannya mencapai 20, 30, 50 tahun dan lebih; bukanlah pernikahan dalam keterpaksaan namun pernikahan dalam keberkahan. Aamiin yaa Robbal ‘alamiin…

 

Panitia Seminar Pra NIkah.JPG

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Artikel/Opini Buku Sinta Yudisia Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Remaja. Teenager

Membumikan Ilmu Psikologi

 

 

Literasi sains, saya tertarik dengan bahasan Kompas hari ini, Kamis, 16 November 2017. Bahwa masyarakat umum perlu sekali mengetahui apa saja perjalanan dan pencapaian dunia ilmiah. Betapa banyaknya berita hoaks yang terebar. Berdasarkan tulisan hari ini, tulisan hoaks tertinggi di bidang kesehatan, politik dan dunia entertainment.

Di bidang kesehatan, kita mengambil kata-kata WHO bahwa sehat berarti memiliki ketiadaan cacat baik fisik maupun mental. A state of complete physical, mental and social well-being and not merely the absence of disease or infirmity; kata-kata ini saya cantumkan dalam penelitian saya saat skripsi dulu yang membahas tentang PWB atau psychological well being.

Hoak di bidang kesehatan memang menempati urutan pertama. Termasuk kesehatan mental.  Hoaxs sendiri bermakna “ a plan to deceive someone, such as telling the police there is a bomb somewhere when there is not one, or a trick: The bomb threat turned out to be a hoax.

He’d made a hoax call claiming to be the president.

Hoak adalah rencanan untuk menipu seseorang. Dengan kata lain, hoak bukanlah sebuah berita yang 100% bisa dipercaya kebenarannya. Bahkan, boleh jadi muatan kebenarannya hanya 25% atau malah 0%. Dalam ranah psikologi, saya sendiri merasakan itu betapa klien telah dipenuhi pikiran dan pemahamannya oleh berita hoak.

Asylum-slide-PUIB-superJumbo - Copy.jpg
Asylum

“Anda perlu segera datang ke rumah sakit X.”

“Bu Sinta mau bilang kalau saya gila?!”

Di kali lain,

“Anda sepertinya harus dibantu obat.”

“Apa saya kelihatan nggak waras??!”

Skizofrenia, insane, depresi, mood, stress dan seterusnya telah dipahami secara salah ke tengah masyarakat.

Koran hari ini, Jawa Pos, 16 November 2017 juga memberitakan hal yang sangat mengerikan terkait perlakuan orang-orang normal terhadap seorang penderita gangguan jiwa di tengah jalan. Stigma terhadap penyakit jiwa begitu buruknya hingga akhirnya masyarakat enggan berobat, enggan menyadari dan mengakui bahwa di sekelilingnya (atau bahkan dirinya sendiri) memiliki gangguan emosi atau gangguan kepribadian. Seringkali, orang datang kepada psikiater atau psikolog ketika gangguan sudah dirasa tak tertahankan, ibaratnya stadium 4 dari penyakit kanker. Bila tidak segera ditangani maka akan menjadi penyakit yang menggerogoti diri dan lingkungan, bahkan akan menimbulkan dampak tak diinginkan.

 

Tugas Psikolog dan Ilmuwan Psikologi

Menjadi tugas orang-orang yang pahamd unia kesehatan untuk membumikan ilmunya. Sebagai psikolog, saya rutin memposting hal-hal terkait psikologi. Beberapa hari lalu saya memposting tentang lelaki dengan pribadian alpha-male. Tulisan ini mendapat respon lumayan ramai dari pembaca medsos. Harapan saya agar lelaki lebih waspada bila dirinya memiliki kharisma itu dan perempuan pun tidak lantas terperdaya.

Sebagai penulis novel, saya juga menghadirkan ke tangah masyarakat tentang kehidupan psikolog atau setidaknya novel yang merangkum ilmu psikologi. Rinai dan Bulan Nararya sendiri mengetengahkan kehidupan Rinai dan Nararya yang merupakan orang-orang psikologi dengan segala suka dukanya.

Saya juga membuat buku-buku yang ringan terkait dunia psikologi seperti Sketsa Cinta Bunda, Mendidik Anak dengan Cinta. Bahkan, di buku Sarah : Seri Perempuan Istimewa yang merupakan buku sejarah; secara tak langsung saya selipkan ilmu psikologi. Misalnya, saya kemukakan bahwa Sarah adalah seorang perempuan yang berani bicara. Itulah sebabnya, kenapa perempuan harus berani bicara di saat penting dalam hidupnya. Sarah berani bicara kepada ayahnya. Sejarah Sarah memang masih diteliti hingga kini. Namun disinyalir, ia seorang putri bangsawan terkemuka dari dinasti Isin atau Larsa di daerah Mesopotamia. Betapa Sarah berani mengemukakan pendapat untuk bicara tegas, ketika ia memilih Ibrahim sebagai suami.

 

Begitupun, Sarah adalah perempuan yang berani bicara dan bertindak, ketika ia yakin berada di atas garis kebenaran. Ketika 3 malaikat yang mulia : Jibril, Mikail, Isrofil hadir ke rumahnya; Nabi Ibrahim as merasa sedih akan berita buruk yang akan menimpa kaum Saduum. Namun tidak dengan Sarah, mendengar berita dari malaikat iapun ikut murka terhadap kedzaliman kaum Saduum yang berani menentenag Allah Swt dan Rasulnya, Luth as.

 

Mengapa buku bisa menjadi ajang komunikasi dari seorang ilmuwan kepada khalayak? Sebab buku menjadi bahasa yang tidak mungkin diucapkan semua oleh penyampainya. Buku juga bsia menyelipkan nilai-nilai secara halus tanpa terasa.

Carl Sagan menulis tentang Contact; sebagai astronom ia ingin menyampaikan kepada khalayak tetnang dunia astronomi ketika membahasa makhluk luar angkasa. Frank Tallis seorang psikolog klinis  yang menbuat serangkaian novel seperti Death in Vienna dan Vienna Blood  untuk menjelaskan pada khalayak bahwa psikoanalis tidak hanya bicara masalah basic instinct terkait sexual saja. Tetapi bagaimana tokoh utamanya , Max Lieberman berusaha mengungkap kejahatan dengan pendekatan psikoanalis kepada tersangka.

 

Selain novel dewasa dan buku sejarah dan motivasi yang saya selipi ilmu psikologi; saya juga membuat novel-novel remaja dengan rangkaian ilmu psikologi di dalamnya.

Reem dan Polaris Fukuoka, dua tokoh di dalamnya yaitu Reem dan Sofia memiliki satu kebiasaan psikologis yang sangat baik : menulis. Reem suka menulis puisi, Sofia suka menulis buku harian. Itu sebabnya, ketika saya memposting di fesbuk tentang apakah menulis dan kebiasan mencurahkan perasaan di buku diary membuat seseorang dapat melampiaskan marah dan benci? Hampir semua yang memberikan komen menjawab : ya.

 

Menggaungkan Ke Orang Sekeliling

Saya selalu menorong orang-orang di sekeliling untuk menjadi konselor kecil-kecilan. Baik kepada suami ataupun anak-anak saya.

1

“Ummi, temanku ada yang korban KDRT. Dia sama ibunya.”

“Sudah lapor ke polisi, Nak?”

“Kayaknya enggak deh…”

“Kalau begitu, kamu harus jadi teman curhatnya ya…”

 

2

“Ummi, temanku ada yang kelakuannya menyebalkan banget. Udah gitu dia gak ngerasa lagi kalau nyebelin.”

“Yah, itu namanya orang yang dalam berkomunikasi memiliki non-verbal disorder. Dia gak bisa memahami bahwa tingkah laku, sikapnya itu menyebalkan orang lain.’

“Trus gimana?”

“Kasih dia hadiah. Nanti kan bisa kamu dekati.”

 

3.

“Ummi, temanku ternyata ada yang orangtuanya single parent.”

“Trus, anaknya gimana?”

“Kebetulan sih anaknya baik. Ibunya perhatian. Bekas ayahnya juga perhatian.”

“Oh bagus itu. Kamu dekat sama dia kan?”

“Iya.”

“Kamu harus jadi teman baiknya. Ajak dia ngobrol ya.”

 

4

“Kenapa sekarang perempuan suka menggugat cerai?” tanya suamiku yang kebetulan ruang lingkup kerjanya di wilayah HRD.

“Oh, selingkuh ya?” sahutku.

“Ya.”

“Itu karena perempuan dominasi perasaan. Jadi pas sudah nikah lalu ketemu lelaki yang mempesona, terhanyut. Padahal belum tentu lelaki itu sebaik suaminya yang sekarang.”

“Trus gimana?”

“Ya memang hubungan suami istri harus didekatkan. Jadi kalau suami pindah kerja, usahakan istri mengikuti. Kantor dan pemerintah harus melihat aspek itu. Jangan sembarangan mutasi karyawan.”

 

Edukasi kepada Orang Sekeliling

Saya sampaikan kepada klien-klien bahwa skizofren dan depresi bukanlah hantu menakutkan yang membuat orang punya cacat seumur hidup dan menebarkan bau busuk hingga harus diasingkan. Sebagai psikolog, kitapun harus memperkenalkan diri kepada orang-orang sekitar : saya psikolog. Kalau orang bertanya apa bisa minta obat , maka kita jawab : itu ranah psikiater. Orang-orang akan semakin paham apa perbedaan psikolog dan psikiater bila kita terus menggaungkan. Dan juga, orang akan memahami level sakit ketika harus mengunjungi kedua ahli tersebut.

Seorang ibu pernah melaporkan kerabatnya yang sering mengamuk tak karuan hingga mengancam lingkungan. Orang-orang menyebutnya gila. Apalagi agresifitas dan gangguannya sudah kelewat parah. Apalagi keluarganya orang tak mampu.

“Saya harus gimana bu Sinta?”

“Ibu punya BPJS?”

“Ada sih.”

“Masukkan ia ke rumah sakit X.”

“Memangnya bisa? Terus berapa hari?”

Saya jelaskan bahwa obat-oabt antidepresan dan antipsikotik sebagian masuk dalam daftar BPJS. Dan pasien rumah sakit jiwa yang tidak mampu , gratis. Mereka akan rawat inap antara 30-60 hari tergantung daya tampung rumah sakit. Ketika sudah waktunya keluar, mereka akan kelur dan ketika kambuhpun bisa masuk lagi. Pendek kata, orang dengan gangguan seperti ini memiliki banyak cara untuk sembuh. Jadi jangan hanya didiamkan. Bahkan, kalau kita sendiri sudah mengalami tekanan hidup berkali kali dan beragam  jenisnya, jangan malu untuk mendatangi psikolog.

Uuntuk edukasi kepada masyarakat, alhamdulillah saya sendiri mencoba berbagai cara. Antara lain lewat tulisan, siaran radio, seminar dan wrokshop. Untuk kali ini, saya ingin memperkenalkan suatu program yang sudah lama sekali saya impikan. Saya bercita-cita memiliki Pusat Penelitian dan Pusat Penyembuhan dengan konsep art therapy. Mungkin karena saya sendiri berjiwa seniman ya. Salahs atunya adalah metode writing therapy. Semoga metode ini dapat diterima khalayak di berbagai level usia dan menjadi salah satu sarana menuju kesehatan mental yang paripurna.

reem workshop