Kategori
Covid-19 Hikmah My family Renungan Hidup dan Kematian Survivor Covid-19 Topik Penting

Sakit Covid 19 : Berapa Jumlah Biayanya? Apa Saja yang Gratis?

“Apakah obat-obatan ditanggung? Biaya rumah sakit gimana? Makanan? Laundry?”
Kira-kira begitulah sebuah pesan masuk bertanya kepada saya, tentang prosedur mendapatkan rawat inap Covid. Saya katakan bahwa semuanya gratis dari pemerintah. Bahkan, kami yang sakit ber-7 pun mendapat pasokan makanan 3x sehari. Makanan yang disuplai puskesmas sangat lezat dan memenuhi gizi.


🌀🌀🌀
Prosedur untuk mendapatkan layanan gratis, berdasar pengalaman kami dan kira-kira kalau diuangkan secara kasar :


🟢1. Ada bukti kontak erat positif covid (suami saya positif. Saya minta bukti swab terakhir suami). Alhamdulillah saya, 4 orang anak, ibu saya bisa swab gratis di puskesmas. Katakanlah 1 x swab 1 jutaan, berarti 7 orang = Rp. 7.000.000
🟢2. Puskesmas menanyakan apakah kami butuh support logistic. Kami bilang : ya. Sejak dinyatakan positif, selang beberapa hari kami kemudian mendapatkan kiriman makanan kotak. 3 (sehari) x 6 (orang) X @ Rp. 20.000 = 360.000/ hari. Selama 3 pekan = Rp. 6.480.000.
🟢3. Rawat inap RS. Selama kurang lebih 14 hari kami rawat inap. Katakanlah biaya kamar sehari Rp. 300.000 , obat Rp. 500.000 (injeksi, infus, oral, tindakan dll), makan Rp. 100.000 ; kami bulatkan 1 juta. Berarti 1 orang = @Rp. 14.000. 000. Karena kami rawat inap ber-4 jadi Rp. 56.000.000
🟢4. Rontgen pra masuk RS kurang lebih @100.000 x7 = 700.000 ; selama di RS 3 (rontgen) x 4 (orang) x @100.000 = Rp. 1.200.000
🟢5. Swab di RS 3 (swab) x 4 (orang) x @Rp.1000.000 = Rp. 12.000.000
🟢6. Total Rp. 82. 680.000
🟢7. Pasca itu masih ada pendampingan swab di puskesmas, obat-obatan yang di bawa pulang, dsb. Ada tindakan-tindakan lain seperti injeksi dan oksigen (putri saya sempat sesak napas) , transfuse plasma, dokter kandungan (saya mengalami uterus bleeding), ambulan (saya dibantu LMI utk ke RS). Kurang lebih kalau di total katakanlah Rp. 100.000.000


〰️〰️〰️
Bagi yang dapat layanan RS, belum tentu juga gak keluar uang sama sekali. Saya sendiri tetap harus keluar uang dan ini yang kadang gak terprediksi jumlahnya. Bisa terkuras habis tabungan.

  1. Makanan. Makanan di RS terjamin. Sangat bergizi. Tapi karena perut mual luarbiasa dan indera pencecap gak berfungsi, saya bolak balik minta orang di rumah utk masak. Simple : oseng kacang, sambel, telor ceplok. Kayaknya murah. Tapi setelah dikalkulasi, lumayan membengkak biayanya
  2. Laundry
  3. Layanan online. Sakit covid bukan sakit biasa. Gak ada yg bisa jenguk. Jadi saya harus beli atau minta dikirimin baju dari rumah secara online. Apalagi karena satu rumah positif covid, gak ada yang bisa bantu-bantu kirim barang ke RS
    🟣🟣🟣
    Melihat seperti ini, kesehatan sangatlah mahal. Karenanya, jangan sampai kita kena covid. Kalaupun tersedia uang, belum tentu ada layanan RS. Masih jauh lebih murah kita beli masker dan sabun.
  4. 👉Usahakan sesuai prosedur. Fotokopi KTP- KK selalu tersedia, kemudian catatan kontak erat dengan siapa yang positif covid.
    👉Rajinlah update info dari RT-RW, juga puskesmas terdekat. Tak cukup puskesmas. Catatlah lembaga-lembaga kemanusiaan yang menyediakan ambulan gratis, oksigen gratis dst, logistic dan obat gratis. Saya sempat ngecek di google, 1 butir obat kami ada yang harganya @Rp27.000! Kebayang kalau harus mengkonsumsi 2x sehari selama 2 minggu kan?
    👉Saya sering menyarankan teman & saudara yang terindikasi covid, segeralah lapor puskesmas. Koordinasikan dengan puskesmas. Karena kalau ditanggung sendiri, ya Allah…gak sanggup biayanya.
    •••••

#bantuoksigen #bantusahabat #penyintascovid19 #coronavirus #covid19 bersama Ruang Pelita

(IG @ruang.pelita FB Ruang Pelita)

Pengadaan oxygen concentrate atau tabung oksigen , kode transfer 002
🔹Mandiri 142-00-1673-5556 (Sinta)
🔹BSI 7129-62-4943 (Ahmad)
🔹BRI 317-701-0263-16530 (Nazalia)
🔹BCA 788-0610-281 (Rizky)

Kategori
Covid-19 Hikmah Oase Parenting PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Renungan Hidup dan Kematian Survivor Covid-19 Topik Penting

Mendampingi Anak-anak yang Kehilangan Orangtua karena Covid-19

“Apa yang harus saya lakukan? Teman saya kehilangan orangtuanya yang wafat karena Covid. Kalau ortu sakit lama, tentu bisa menyiapkan diri. Tapi meninggal karena Covid, begitu cepat mendadak. Saya sendiri sering dilanda kecemasan, takut kehilangan orangtua saya.”

23 Juli 2021 mengisi acara kemuslimahan yang diselenggarakan PWK ITS. Mahasiswi penanya tsb, menangis. Ia yang sudah memasuki usia remaja akhir dan masuk ke dewasa awal saja merasa dag dig dug. Takut kehilangan orangtua. Takut kehilangan orang yang dicintainya.

Apalagi anak yang masih SMA. SMP. SD, bahkan TK.

Tak terbayangkan rasanya.

Di hari-hari biasa, kehilangan orangtua akan menghadirkan simpati. Orang-orang mengulurkan tangan, membantu materi, menawarkan menjadi orangtua asuh. Bantuan finansial mengalir, dukungan dari banyak pihak didapatkan : guru-guru, pihak sekolah/kampus, saudara besar, tetangga, handai tolan.

Wafat karena covid?

Bahkan kematian demikian senyap. Pemakaman terasa asing. Anak yang kehilangan orangtua tak melihat orang-orang merawat jenazah orangtua mereka, memandikan, menyolatkan. Tak ada kerabat datang menghibur.

“Duh, ortunya wafat karena covid. Jangan-jangan anaknya juga positif. Gimana mau merangkul mereka? Mau memeluk?”

Bantuan finansial, tentu tak sama seperti hari-hari biasa. Masing-masing orang sedang kepayahan mengurus diri sendiri dan keluarganya. Apalagi jika ada yang sakit, mencari tabung oksigen sudah merupakan perjuangan spektakuler bagi sebuah keluarga.

Kehilangan orangtua karena covid sudah sangat memukul. Sejak divonis sakit, serangkaian protocol kesehatan memang harus diterapkan. Diisolasi, diasingkan, dipisahkan dari orang lain untuk menghindari penularan. Kontak fisik ditiadakan, bahkan kadang komunikasi terputus 100%. Apalagi bisa si pasien harus masuk kamar ICU, tanpa ada kerabat yang menemani. Karena kerabat yang lain juga tengah diisolasi. Ya Allah. Terbayang betapa bingungnya seorang anak yang tetiba menghadapi kenyataan ini.

Dua pekan lalu ia masih memiliki orangtua, lalu tetiba orangtuanya lenyap dibawa ke RS. Tak ada kabar berita, lalu pemberitahuan terakhir orangtua telah tiada. Hanya tersisa makam dengan nisan bertuliskan nama yang tak ingin dipercaya.

Vino bukan satu-satunya.

Saya sendiri mendampingi beberapa anak yang orangtua mereka wafat karena covid. Pikiran saya sebagai psikolog dan konselor terbelah-belah, tenaga pun terbagi-bagi. Namun, segala kendala tak boleh menjadikan kita lalai dari merumuskan langkah-langkah penting. Keputusan besar.

Anak-anak ini adalah asset bangsa. Orangtua mereka syahid dalam wabah (tha’un) dan jelas mereka anak-anak istimewa. Sebagai orangtua, psikolog, penulis dan bagian dari anggota masyarakat, saya terpikir beberapa hal.

  1. Layanan konseling psikologi online untuk anak-anak.

Anak-anak ini pasti kebingungan. Walau orangtua mewariskan harta besar, mereka tetap akan merasa sangat kehilangan. Layanan konseling psikologi yang khusus menangani anak-anak ini perlu segera diluncurkan. Para psikolog dan relawan yang memiliki kepekaan terhadap anak-anak, bisa terlihat di sini.

Hotline , call center, layanan oleh lembaga zakat, layanan komunitas dll dapat menjadi bagian dari solusi ini.

2. Shelter psikologis.

Di barat dikenal foster family dan orphanage; bila tidak ada keluarga besar yang menampung.

Bila kita ingin mengadopsi konsep tersebut, memang perlu menimbang beberapa norma. Dalam Islam misalnya, dikenal konsep aurat sehingga tak bisa menitipkan anak pada foster family jika anak-anak mulai aqil baligh. Namun jika anak-anak belum aqil baligh, masih bisa dititipkan di foster family. Lalu, bagaimana jika kakak adik beda tahapan usia? Tentu ini perlu menjadi pertimbangan. Jangan sampai kakak dan adik dipisahkan, karena mereka telah kehilangan orangtua.

Shelter psikologis bisa berupa Yayasan anak yatim, Yayasan dhuafa atau sejenisnya. Bukan hanya memperhatikan pasokan fisik tetapi juga sangat memperhatikan kebutuhan psikis anak-anak.

Bagi yang ingin tahu seperti apa foster family, saya sarankan menonton film Shazam. Film superhero yang berbeda, karena salah penekanan film ini adalah bagaimana hubungan anak dan orangtua dalam foster family.

3. Dukungan materi

Ada banyak kehilangan dari seorang anak yatim/ piatu. Kebutuhan gizinya, kebutuhan akademiknya bisa terbengkalai. Belum lagi bila si anak ingin sesuatu seperti ingin beli mainan, ingin beli jajan dan kebutuhan sekunder/tersier yang seolah tak penting namun dibutuhkan.

Kebutuhan materi ini juga perlu diperhatikan kita bersama agar anak yatim/piatu tidak kehilangan hak-haknya. Tentu, dengan tetap memperhatikan keseimbangan antara donator dengan kondisi riil di lapangan.

4. Dukungan immateri

Dukungan ini sangat penting dan sering kali melelahkan.

Anak yang menangis dan meratapi orangtuanya terus menerus, bahkan yang histeria dant trauma, tentu membutuhkan pendampingan khusus yang menyita waktu dan energi. Bagi berbagai institusi (Yayasan, lembaga zakat, komunitas) perlu membuat SOP agar dapat mendampingi anak-anak ini secara berkesinambungan. Seringkali, perhatian tertumpah di awal-awal waktu saja karena rasa simpati yang begitu besar. Rasa iba akan kehilangan orangtua dan melihat anak-anak ini seperti anak ayam kehilangan induk.

Seiring berjalannya waktu, perhatian kita pupus oleh agenda lain padahal kebutuhan anak-anak ini terhadap pendampingan justru semakin besar. Apalagi jika anak-anak memasuki masa remaja, atau masuk usia sekolah; masa-masa krisis kepribadian yang dihadapkan pada berbagai pilihan sulit.

5. Pembentukan relawan

Kondisi saat ini tak mungkin hanya ditangai satu pihak. Pemerintah akan kewalahan menghadapi berbagai macam dampak pandemic. Ekonomi dan kesehatan yang membutuhkan fokus utama, sudah pasti harus ditangani pemerintah. Anak-anak terlantar seharusnya ditangani negara. Tapi bagaimana bila pemerintah tak cukup punya akses sampai warga paling pelosok, atau warga yang tidak terdata? Psikiater, psikolog, kementrian sosial boleh jadi kewalahan oleh gelombang kasus dan juga burn out.

Relawan-relawan yang merupakan “darah segar” dapat diberdayakan. Mereka bisa jadi pelajar, mahasiswa, fresh graduate, lansia yang masih sehat dan produktif. Orang-orang difabel yang fisiknya terbatas namun memiliki kemampuan untuk mendampingi dengan kesabaran, atau bahkan para veteran covid 19 yang pernah mengalami trauma parah lalu bangkit dan sekarang ingin berbagi kekuatan.

Saya membentuk komunitas Ruang Pelita sejak tahun 2011.

  Akronim dari Ruang Pendampingan Psikologi & Literasi. Selama ini fokus di berbagai acara untuk anak muda yang bertema kekoreaan dan jejepangan. Selama pandemic, Ruang Pelita turut membantu menggalang dana untuk masker, APD, mengumpulkan ponsel bekas. Kali ini menggalang dana untuk #bantuoksigen

Mungkin, tidak banyak yang bisa kami berikan.

Tapi komunitas-komunitas kecil seperti kami yang banyak tersebar di berbagi penjuru Indonesia insyaallah bisa membantu pemerintah untuk mengatasi gelombang pandemic dengan segala dampaknya. RuangPelita ke depannya juga ingin mendirikan shelter psikologis yang dapat mendampingi anak-anak yang trauma karena covid.

Pandemic covid 19 tidak hanya menyisakan tantangan besar di dunia kesehatan dan ekonomi secara global. Permasalahan psikologis merebak di mana-mana. Banyak sekali tenaga kesehatan yang depresi bahkan trauma menghadapi pasien seiring tingginya angka kematian.

Bagaimana dengan anak-anak?

Mereka kerap diabaikan, namun kelompok paling rentan ini sesungguhnya kelompok yang sangat membutuhkan uluran tangan. Dengan tulisan ini saya berharap banyak pihak akan saling bersinergi untuk membantu anak-anak yatim/piatu Covid 19 agar sembuh dari trauma dan bangkit menyongsong masa depan.

#covid19 #coronavirus #survivorcovid19 #penyintascovid19 #helpchildrenofcovid19 #helpchildren

Kategori
Artikel/Opini BERITA Covid-19 Hikmah PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Renungan Hidup dan Kematian Surabaya Survivor Covid-19 Topik Penting

Kesempatan Hidup 2 % : Belajar Memancing Keajaiban dari Seorang Dokter Penyintas Covid 19

Masih banyak kabar duka. Tapi biarkan aku bercerita tentang kabar bahagia terlebih dahulu. Kisah tentang seorang lelaki, psikiater, yang terpapar covid 19 untuk kedua  kalinya. Kali ke-2 harus menggunakan ventilator dan  menyabung nyawa.

Ia selamat. Hidup! Lolos dari lubang jarum dan angka kemungkinan 2% untuk  selamat.

Well, don’t talk to me about destiny or unexplained miracle.

Tapi kita pelajari bersama, mengapa semua ini terjadi. Allah memberikan mukjizat, setelah terpenuhinya aspek-aspek yang lain. Apakah yang tidak menerima mukjizat adalah orang yang jelek? Tidak. Mereka yang wafat adalah syahid. Mereka yang survive adalah petarung. Mereka yang petarung sejati, lalu syahid, adalah manusia pilihan. Mereka yang petarung dan tetap hidup, mendapat tugas untuk hidup lebih baik lagi.

Mengapa lelaki ini lolos dari maut? Dengan D-dimer 13.000, saturasi jauh di bawah normal, bergantung ventilator – alat yang terdengar sangat mengerikan seperti kita mendengar vonis hukuman mati atau vonis kanker stadium IV; setiap orang akan menebak. Izrail akan mengetuk pintu kamar ICUnya sebentar lagi.

Nyatanya ia, tadi pagi segar bugar. Memberikan materi yang membuat mata peserta berlinangan dan kembali menimbang-nimbang sebuah pertanyaan penting : apakah hidupku sudah berharga?

Berikut ini cuplikan kisah yang kurasa, menjadi penyebab beliau mendapatkan mukjizat Allah Swt saat hidupnya di ujung tanduk mendapatkan tindakan ECMO

  1. Semangat dari istri tercinta. Ketika setiap orang menebak-nebak bahwa umurnya tak akan lama, sebaliknya dengan sang istri. Ia mengatakan,”Mas jangan bingung. Jangan khawatir. Ini tak akan lama, sebentar lagi insyaallah selesai.”
  2. Sang istri “merampas” HP dari tangan suami. Walau ribuan orang memberikan doa dan semangat, HP di tangan orang sakit bisa melelahkan.
  • 3. Berusaha menjaga kesadaran  selama dalam extracorporeal membrane oxygenation (ECMO) therapy. Dengan ventilator dan kesadaran naik turun, sang istri mengingatkan perawat untuk membangunkan setiap sholat 5 waktu. Sang suami, mencoba sholat sebisanya dengan ingatan tersisa, mencoba merasakan makanan yang masuk, mencoba merasakan air hangat yang diusapkan ke kulitnya untuk mandi.

  • 4. Menghindari TOXIC POSITIVITY, dari teman-teman yang sebetulnya berniat baik. Menghindari perasaan tak enak , perasaan tak berharga karena, “Ah, aku tak sebaik yang disangka teman-temanku. Aku tak sekuat itu.” Semakin sedikit interaksi dengan HP, semakin baik
  • 5. Jeda. Jeda dengan manusia. Merapat  dengan Pencipta. Tanpa HP, terisolasi, hanya berteman alat-alat dan kunjungan nakes sesekali; waktu bermunajat melimpah ruah.
  • 6. Apakah tak boleh menerima perhatian? Boleh sekali. Bahkan perhatian dari teman, kerabat sangat membahagiakan. Seperti seorang teman yang mengiriminya koyo hangat untuk ditempelkan di tubuh! Tak harus makanan atau suplemen. (Kita sebaiknya juga jangan sering-sering japri si sakit menanyakan kondisinya. Kirimkan saja doa, jangan mengirimkan pesan yang membutuhkan jawaban. Kecuali bila sangat mendesak)
  • 7. Yakin , bahwa semua ini memiliki arti dan makna.

Segala penderitaan sejak terindikasi Covid hingga menyerahkan jiwa raga pada Sang Pencipta dan pada tenaga ahli . Meski sakit, pedih, nyeri, tak tertahankan – semua dilalui. Airmata bukan kekalahan. Airmata adalah tanda, bahwa kita mencoba sabar menanggung penderitaan.

  • 8. Ada kondisi delirium, halusinasi. Merasa tubuh disiksa dan dianiaya. Dalam kondisi kesakitan sangat, berdiskusi dengan Allah dan tawar menawar dengan kebaikan yang pernah dilakukan
  • 9. Begitu banyak orang di luar sana yang menangis dan mendoakan kesembuhan.

Karena apa? Karena kebaikan-kebaikan yang ditanamkan, nasehat-nasehat yang dilontarkan, kalimat-kalimat baik yang diucapkan. Bahkan, ketika sang dokter sudah lupa pernah berbuat baik pada seseorang yang tetap mengingat kebaikannya.

Terimakasih dokter Catur, atas kesabarannya menanggung beban dan hidup kembali untuk membagikan semangat.

Terimakasih dokter Izzah, istri yang luarbiasa. Dengan baby kecil, selalu yakin pada pertolongan Allah, bahkan ketika peluang itu hanya bernilai 2% saja.

Apa kesimpulan singkat dari keajaiban dokter Catur?

  • Menanamkan kebaikan (perilaku & perkataan) sehingga ketika musibah datang, banyak yang mendoakan
  • Tabungan amal sholih dapat digunakan untuk “bernegosiasi” dengan Tuhan saat mengharapkan sesuatu
  • Bila pasangan sakit, istri/suami adalah orang terdepan yang menyuntikkan semangat
  • Dalam kondisi parah, pertahankan kesadaran dari waktu ke waktu. Salah satunya dengan mengingat waktu sholat dan mencoba sholat sebisanya
  • Hindari HP. Semangat dari teman-teman bisa jadi toxic positivity

Catatan dari acara zoom hari ini. Pagi, 13 Juli 2021.

Kategori
Artikel/Opini BUKU & NOVEL Covid-19 Hikmah Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Survivor Covid-19

Pengobatan Non-Medis bagi Penderita Covid 19


Jangan lupa, selain 6 M, antibiotic – antivirus, oksigen dan langkah medis; ada upaya-upaya yang harus dilakukan bagi kita semua agar menjadi pemenang dalam pertempuran wabah ini. Terinspirasi dari tulisan Prof. Mukhtasor tempo hari yang mengingatkan pentingnya kekuatan spiritual di saat seperti ini, berikut pengalaman kami sekeluarga sebagai penyintas covid.
Kita tidak bicara ajal & takdir, karena bila telah tiba waktunya; sekuat dan seshalih apapun tetap akan wafat. Mengutip kata Najib Mahfudz dalam Harafisy : “Takdir muncul di kaki langit, terus mendekat setiap waktu. Tak ada yang menunda gerak majunya. Dunia bukan pasangan yang setia.”


••●••


🌷1. Asmaul husna dan dzikrullah. Kalau belum hapal 99 namaNya, tiga ayat terakhir QS Al Hasyr bisa dilakukan. Beriring shalawat, asmaul husna, dzikrullah; akan meringankan saat-saat menyakitkan seperti ketika infus antibiotic atau vitamin masuk ke pembuluh darah.



🍃2. Shalawat. Ada yang pernah mendengar shalawat Nariyah? Shalawat apapun insyaallah bagus. Saya mendapat hadiah buku “Shalawat Nariyah” karya Dr. Alvian Iqbal Zahasfan. Saya pernah bertemu dengannya tahun 2016. Buku ini bagus sekali, mengupas seluk beluk shalawat Nariyah. Mulai sejarah shalawat Nariyah yang digubah oleh Syaikh Ibrahim At Tazi, hingga fadhilah shalawat Nariyah. Termasuk foto-foto indah At Tazi dan berbagai tempat di Maroko. Jadi ingin ke Maroko lagi, aamiin yaa Robb


Sekilas Maroko


🍁3. Sedekah. Sedekah dapat menolak bala, insyaallah. Jangan ragu untuk meminta doa. Bila kita bersedekah lewat lembaga tertentu spt kitabisa.com, atau bit.ly/LMI_donasipalestina , ada slot kosong berisi keterangan. Saya memilih mengisi keterangan itu dengan bait-bait doa, sampai karakter hurufnya full. Tak peduli hanya infaq 10K, isilah dengan doa. Terutama doa meminta perlindungan dari wabah dan doa kesembuhan dari wabah


🌱4. Rendah hati. Kita cenderung menghormati orang dengan posisi terpandang. Di saat seperti ini, jangan ragu untuk rendah hati. Di RS, kami mencoba menghafalkan nama perawat-perawat dan CS. Orang akan bahagia bila namanya diingat, itu adalah bentuk penghargaan bagi mereka. Dokter spesialis sudah sering mendapatkan penghormatan, tetapi tukang sampah? Tukang bersih-bersih? Ucapkan terima kasih kepada mereka yang menyapu lantai dan mengumpulkan barang menjijikkan dari kamar mandi.


🌹5. Baca surat-surat favorit. Al Kahfi, Al Waqiah, Al Mulk, Yaasin, tiga surat terakhir Quran atau apapun surat favorit anda.


💫6. Memperpanjang telomer. Stres memperpendek telomer. Relaksasi dan bahagia memperpanjang telomer. Sesaat sebelum berangkat ke RS, saya memutuskan membawa buku-buku yang akan saya baca. Salah satunya puisi karya Sir Muh. Iqbal. Tak lupa laptop, untuk melepaskan gundah dan rasa tertekan dengan menulis. Menonton film atau anime, bisa mengobati stress saat sakit.


🌜7. Impian jangka panjang. Tak peduli sependek apapun umur kita, impian jangka panjang akan memperpanjang umur. Dalam pengertian denotatif atau konotatif. Meski kami ber-6 positif covid dan kami tak tahu apakah akan selamat; saya tekankan ke anak-anak untuk terus bermimpi.
“Habis ini kita umroh bareng, lanjut ke Uzbekistan ya? Atau Maroko.”
Peduli amat gak punya uang, impian adalah doa.
“Habis ini yuk kita daftar residensi artis. Sebagai penulis, atau artis visual art. Kalian mau Korea, Jepang, Finland, Norway, atau Islandia sekalian?”
Peduli amat nanti akan tertolak saat seleksi dan gak bisa berangkat karena gak dapat dapat grants/ stipends.
“Ummi sama Abah mau daftar S3 insyaallah. Kalian juga, ya. Siapa tau kita bisa apply ke negara yang sama.”
Peduli amat gak lulus LPDP, Mext, KGSP. Impian adalah doa dan seolah kita akan hidup 1000 tahun lagi.


🌟8. Tawakal. Sesaat sebelum tidur, lepaskan semuanya. Jangan pikirkan : suamiku gimana? Anakku siapa yang ngurus? Kalau aku mati, gimana dengan masalah yang belum terselesaikan? Ingatlah. Allah mengatur dan memelihara tata surya, yang ukurannya setitik kecil di tengah galaksi Bimasakti. Allah mengatur Bima Sakti yang ukurannya setitik di antara bermilyar galaksi. Jadi, mengurus diri kita dan keluarga kita, bukan hal extraordinary bagi Allah Yang Maha Besar.
•••••
Share juga ya pengalaman berharga anda semua sebagi penyintas Covid, utamanya pengalaman non medis.

#penyintascovid19 #survivalcovid19 #pahlawancovid19 #ceritacovid19

Kategori
Artikel/Opini BERITA Covid-19 Hikmah PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Survivor Covid-19

COVID 19 & PSIKOLOGI KOGNITIF : GAK TAU, MENYANGKAL, ATAU UDAH PAHAM?

Mengejutkan sekali bahwa saya sudah lupa (atau mengabaikan) beberapa protocol kesehatan!

Padahal baru sekitar 3-4 bulan lalu melawan ganasnya covid dan terpapar bak di ujung maut akibat virus ini. Belum lagi, saya suka mengumpulkan koran-koran yang memiliki informasi penting seperti covid, ilmu pengetahun atau hal menarik lainnya. Koran sejak awal covid menyerang di awal 2020  masih saya simpan. Tapi kenapa saya bisa lupa, abai, atau bahkan meremehkan informasi terkait covid?

🟠1. Kemampuan memory manusia terbatas. Manusia hanya bisa mengingat sekali waktu dengan cepat informasi yang dibagi atas 7-chunks (7 potong). Seperti kita mengingat nomer HP orang. Kalau setiap hari yang dikonsumsi berita macam-macam : covid, selebriti, gossip,  masakan, politik, ekonomi, parenting, travelling dan masih banyak lagi; yah, akhirnya covid terlupakan

🟡2. Memory bisa menurun. Sebuah studi menyebutkan, bahwa ketika mengingat sesuatu, setiap 18 detik ingatan kita akan perkara itu menurun 10%. Gak heran kalau hari ini saya takut setengah mati sama covid, besoknya udah enjoy aja

🔵3. Flashbulb memory. Kita akan ingat banget kenangan yang seperti lampu blitz, walaupun itu gak harus diingat! Kapan Sully dan Go Hara meninggal bunuh diri, kapan Lady Di meninggal, kapan Chester Bennington mengakhiri hidup — masih teringat. Harusnya emang, saya lebih banyak jalan-jalan ke RS. Ke ruang ICU, ke ruang isolasi covid. Sehingga ingatan ttg covid ini jadi “flashbulb”. Masalahnya, saya gak pernah bisa menengok teman2 atau saudara yg sakit covid. Seperti dulu, bisa nengok teman yang hemodialisa, atau kena kanker. Sehingga “flashbulb” tentang minuman bersoda demikian teringat kalau gak mau ginjal rusak dan harus hemodialisa

🟢4. Short term & long term memory. Ingatan jangka panjang akan mengendap lebih lama dibanding ingatan jangka pendek. Kenapa ingatan jangka pendek? Mungkin hanya sekilas, mungkin terasa gak penting, mungkin jarang diulang. Akan jadi long-term memory kalau terasa penting dan terus diulang. Seperti ingatan kaum muslimin pada Al Fatihah dan 3 surat terakhir al Quran. Hampir setiap kita yang muslim ingat, kan? Karena Al Fatihah wajib dibaca dan diulang terus. Karena 3 surat terakhir sering jadi pilihan kalau sholat kilat khusus, sekaligus surat yang diyakini ampuh menangkal setan dan sihir.

••🔴••

Sikap kita terhadap covid juga macam-macam

☑️GAK TAU : masih banyak lho, orang di pelosok yang gak tau tentang covid. Jadi boro-boro tahu tentang vaksin dan masker. Ini karena memory tentang covid gak pernah masuk long term memory, bahkan short term memory. Mungkin juga telinga dan mata mereka jarang mendapat info ini. Bayangkan saudara kita yang disabilitas, yang berada jauh di bawah garis kemiskinan (gak punya HP, gak pernah baca koran, gak ada TV), yang gak punya waktu untuk menyimak berita.

✔️MENYANGKAL : kalau bukan ingatan long term memory, atau “flashbulb” emang susah, ya. Saya patuh banget sama protocol pas awal pandemic, pas kena covid beneran, sama pas gelombang kedua menyerang. Gak heran banyak yang masih menyangkal. Apa saya masuk golongan ini?

UDAH PAHAM : ini biasanya teman-teman saya yang di garda depan. Teman2 dokter, perawat, nakes (radiolog, bagian lab, petugas ambulan, dsb) yang sangat paham. Lalu golongan masyarakat yang percaya , mendapatkan info dari sumber terpercaya.

••🔴••

TERUS GIMANA?

Saya kayaknya masih termasuk golongan yang “menyangkal “ : kadang khawatir. Kadang abai. Seperti kemarin, dapat share di grup tentang gimana cara pakai masker double. Selama ini pahamnya : ya udah di double aja. Ternyata di luar harus MASKER KAIN! Jadi ternyata, saya udah jarang nge-klik berita apapun terkait covid.

Lho kok bisa saya abai?

Karena udah ngerasa kalau covid ini “biasa banget”. Gak flashbulb lagi. Padahal…ntar dulu!

Buat teman-teman dan pemerintah :

❤️Tetap semangat dan sabar untuk memberikan edukasi covid. Long term memory itu lama lho

❤️Bagi informasi dalam 7-chunks. Jangan banyak-banyak. Ntar mabok. Kalau udah ada yang ngasih info covid, kita gak usah share lagi. Tahan sampai agak nantian

❤️Flashbulb : sekali-sekali perlu kali ya. Edukasi ke ruang ICU. Ngajak masyarakat yg gak percaya utk dipersilakan main ke ruang ICU covid (dengan prokes ketat tentunya). Atau kalau gak, sering liat youtube tentang tsunami Covid di India dan liputan ruang ICU utk bangsal Covid

❤️Buat lomba-lomba edukatif tentang covid agar masyarakat makin tertarik untuk belajar. Akhirnya jadi memory yang terpelihara, deh.

—————–

Sinta Yudisia LC – Lulusan Covid

Informasi waktu perjalanan aman sepanjang Covid 2021

Kategori
Covid-19 Hikmah PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Survivor Covid-19

Ledakan Covid ke-2 : Kesamaan Psikologis India & Indonesia

Sewaktu India mengalami gelombang ke-2 wabah Covid 19 sekitar April; saya sebetulnya harap-harap cemas mendengarnya. Berharap kejadian itu tak akan terjadi di Indonesia, namun cemas karena secara kultural, banyak sekali kemiripan psikologis India dan Indonesia.

Ledakan Covid di India sekitar April 2021

💥💥 💥💥

  • Kebersamaan.

Dunia timur lekat dengan kebersamaan. Jepang, Korea, India, Indonesia dan sejenisnya menjadikan tradisi keluarga sebagai bagian kehidupan sejak lahir hingga mati. Ada momen-momen ketika keluarga harus berkumpul. Kalau tidak, nggak lengkap rasanya. Contohnya momen Ramadan dan Idul Fitri .

Karenanya, sepanjang Ramadan dan Syawal, luarbiasa gelombang mudik dan kumpul-kumpul akibat keinginan untuk bersama dengan sanak saudara. Wajar di momen kebersamaan ini pemerintah memprediksi ledakan Covid dan memang terbukti demikian. Berikutnya muncul momen ‘kebersamaan’ yg lain seperti kluster hajatan, kluster resepsi, dsb

  • Ewuh pakewuh

Ewuh pakewuh ini  perasaan seperti merasa serba salah, dan takut kalau dianggap tak menghargai. Apakah anda termasuk yang mendapat undangan pernikahan, hajatan, reunion, atau acara undangan kantor? Di dunia timur, kalau diundang dan tidak hadir, apalagi kerabat dekat rasanya tabu sekali. Begitu pula, kalau misal dulu dia membantu kita saat hajatan, terlalu sekali kalau kita nggak membalasnya kali ini.

  • Tak enak hati

Dalam film Whiskey Tango Foxtrot yang bersetting di Afghanistan, ada percakapan menarik antara Kim Baker (jurnalis perempuan AS) dan Fahim (penerjemah muslim). Fahim menegur Kim dengan nasehat, kata-kata kiasan, sampai analogi kisah. Kim yang tidak mengerti maksud teguran Fahim berkata, “Kalau di Amerika, percakapan macam ini sudah sampai tempat 5 menit yang lalu.”

Waktu beberapa pekan lalu saya mudik ke Tegal, kami menemui banyak orang-orang nggak pakai masker di sepanjang perjalanan. Di rest area, di masjid, di pom bensin, di warung makan. Apakah kami menegur mereka? Yah…anda bisa tebak jawabannya. Kami tak enak hati, lebih memilih menyingkir dan terus memakai masker sebagai bentuk teladan dan tanggung jawab.

  • Menunggu

Masyarakat timur terbiasa menahan diri. Tidak terlalu blak-blakan, tidak cukup agresif. Akibatnya memang terbiasa menunggu. Tidak enak kalau mendahului, tidak enak kalau melaju lebih cepat, tidak enak kalau menegur lebih dahulu. Tidak enak kalau berinisiatif, nanti apa kata orang.

Kebiasaan ‘menunggu’ ini bisa menjadi titik gawat. Saya pernah naik sepeda motor di tengah jalan ramai, lalu macet mendadak. Semua orang memperhatikan. Dengan perjuangan berpeluh, saya menuntun motor itu ke tepi jalan (untung gak dimaki-maki ya, hehe). Orang-orang melihat saya kasihan tapi serba salah.

Berbeda dengan ketika saya di Hong Kong, bertemu orang bule. Waktu itu saya pakai jubah berbahan kaos panjang, tanpa sadar ujungnya masuk escalator. Saya yang panik hanya terpana, nggak tahu mau ngapain. Si bule itu langsung ke arah saya dan merobek bagian bawah jubah! Untung saya pakai celana panjang!

Kita terbiasa menunggu orang lain melakukan apa terlebih dahulu, baru berani bertindak. Akibatnya seringkali sesuatu berjalan lebih parah :  menunggu korban jatuh, menunggu jumlah pasien membludak, menunggu ada tetangga yang ikut vaksin, menunggu ada barengan yang mau lapor kalau kena covid, dsb.

  • Sangat mendengar orang lain

Kalau anda pernah nonton sinetron India, pasti akan paham bagaimana pendapat seseorang bisa diintimidasi oleh banyak orang. Masyarakat timur sangat memperhatikan ‘apa kata orang’.  Kalau ada orang bilang ,”gak usah percaya Covid. Itu rekayasa.” Biasanya, walau sudah punya pendapat sendiri, akan bisa terpengaruh. Apalagi bila kata-kata itu berasal dari teman dekat atau kerabat dekat. “Jangan lapor ke RT RW. Isoman aja. Nanti sembuh sendiri. Malu kalau dilihat tetangga dijemput pakai ambulan.”

Berita Jawa Pos hari ini Senin, 21 Juni 2021

Orang-orang yang sibuk memberikan pendapat masing-masing itu, bisa mempengaruhi keyakinan kita terkait Covid.

Apa yang harus dilakukan?

Sultan Hamengkubuwono X di Yogya, mewacanakan lockdown total untuk wilayahnya kalau tidak bisa disilpin. Saya suka quote beliau, “Pemerintah juga sulit kalau masyarakat tidak mengapresiasi diri sendiri untuk disiplin.”

Covid di Indonesia dengan segala konsekuensinya sudah mulai dijalankan sejak Februari 2020. Belum ada tanda-tanda kehidupan kita ‘back to normal like it used to be’. Sama seperti konsep psikologi bahwa ada kondisi yang tak bisa sembuh total tapi sangat bisa dikendalikan bila seseorang patuh protokol dan memahami kebutuhan dirinya sendiri. Salah seorang klien saya yang didiagnosa schizoaffective bisa sangat produktif dalam hidupnya sekalipun ia seringkali dalam kondisi mengkhawatirkan. Kenapa? Ia sadar ia punya disorder, ia rajin minum obat, ia mendengarkan saran ahli dan ia memutuskan memiliki gaya hidup sehat.

🧡🤍💞

Hayuk!

  1. Love ourselves. Cintai diri kita. Kita ini berharga. Otak, fisik, organ dalam kita sangat sangat berharga. Jadikan kelak ketika sudah lansia, tubuh ini masih fit untuk beribadah dan beraktivitas.
  2. Kendali. Di film Whiskey Tango Foxtrot, ada ucapan menarik Coughlin, seorang prajurit yang kehilangan sepasang kaki dalam perang. Ia ditanya bgm bisa tabah? “Dalam hidup ini, manusia hanya memegang kendali sedikit saja.” Pahamilah, bahwa Covid ini memang amat sangat luar biasa sehingga jangan menggampangkan bahwa kita mudah mengendalikannya
  3. Pengalaman. Percayalah, ada puluhan bahkan ribuan pengalaman yang didapat dalam kawah Candradimuka bernama pandemic corona ini. Kontemplasi, menahan diri, bekerja sama adalah beberapa pelajaran berharga di era ini.
  4. Challenge Yourself. Carilah bakat minat terpendam dan kuasailah hingga mahir. Kita selama ini terlalu lama sibuk dengan dunia luar sampai lupa suara-suara batin sendiri.

Sinta LC alias Lulusan Covid

Berita Kompas hari ini Senin, 21 Juni 2021
Kategori
Covid-19 Hikmah Hobby My family PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Suami Istri WRITING. SHARING.

Suami-suami yang Kreatif di Era WFH

Bagi para istri, apakah sudah mengamati hobi apa saja yang semakin ditekuni suami di era covid ini? Begitupun para suami, apakah sudah mengamati apa saja potensi istri yang dapat dikembangkan di era covid?

—–

Suamiku memang punya darah seni. Waktu kecil, pandai menari dan membuat berbagai kerajinan seperti patung. Menggambar dan melukis adalah salah satu keahliannya. Di SMA, bakat suamiku tersalurkan ketika sering diminta jadi pengurus MADING atau majalah dinding. Tapi keahlian itu lama terkubur, belasan bahkan puluhan tahun tak pernah terasah lagi.

Saat covid, keahlian itu muncul lagi.

Saat Ramadan, aku kembali bersilaturrahim dengan teman-teman lama. Terutama teman semasa SD, SMP dan SMA. Ternyata, ada teman SMA yang punya hobi seperti suamiku! Wah, kaget juga. Sebab semasa SMA sepertinya darah seninya gak terlalu menonjol. Apalagi, temanku ini sampai buat akun di IG dan memposting semua kegiatan melukisnya di sana.

Bisa di follow di @poeps7374 , untuk temanku, Pupon Artiono. Sementara suamiku belum punya IG dan twitter, lebih banyak aktif di facebook Agus Sofyan. Baik suamiku dan Pupon, temanku, menekuni kembali bakat seninya di era covid. Saat WFH. Dan terutama kalau suamiku, saat jauh dari keluarga.

Ternyata, ada hikmah di balik pandemic. Salah satunya memunculkan kembali potensi-potensi terpendam manusia yang selama ini terkubur karena kesibukan dan rutinitas yang padat dan berulang. Tak ada kesempatan untuk merenungi sisi lain diri sendiri. Nyatanya, manusia seringkali punya lebih dari satu bakat! Alhamdulillah, sepanjang pandemic, suamiku sudah menghasilkan sekitar 12 lukisan. Pupon  sudah menghasilkan lebih dari 20 lukisan.

Melihat suamiku dan Pupon, ada kesamaan dalam mengolah karya seni :

  1. Menggunakan cat akrilik  dan minyak (suamiku), atau hanya cat akrilik ( Pupon)
  2. Otodidak
  3. Belajar dari youtube. Kalau suamiku sering buka channel youtube Michael James Smith
  4. Beli bahan online atau offline
  5. Dikerjakan di sela waktu. Satu lukisan sesungguhnya bisa selesai 2-3  jam. Tapi karena berselang-seling kerja, bisa berhari-hari
  6. Suka pemandangan alam
  7. Kesamaan yang lain : sama-sama gak PD untuk menjualnya!

Mungkin, karya seni ini terlihat biasa bagi orang kebanyakan. Tapi bagiku, istimewa. Bukan hanya karena Agus Sofyan suamiku dan Pupon Artiono kawanku di SMA, lho. Tapi ada hal-hal yang menakjubkan dari orang-orang yang menjadi kreatif di sela-sela pandemic :

  1. Seni lukis merupakan salah satu produk kesenian yang berfungsi untuk melembutkan hati manusia, baik bagi pelukisnya maupun penikmatnya
  2. Dengan melukis, bisa menumpahkan  banyak gejolak emosional.
  3. Portofolio, kalau suatu saat ingin  mengajukan Artis in Residence

Kesempatan untuk mengikuti residensi artis terbuka di banyak negara. Sekitar 82 negara menyelenggarakan residensi bagi para artis (seniman); ada yang berbayar. Ada juga yang free, bahkan kita mendapatkan beasiswa. Dan rata-rat yang banyak tersedia adalah beasiswa untuk visual art. Kukatakan pada suami, kumpulkan aja portofolio lukisan-lukisan. Siapa tahu suatu saat setelah pandemic, kami sama-sama bisa mengajukan beasiswa residensi artis di negara yang sama. Aku mengajukan beasiswa kepenulisan dan suamiku sebagai seniman visual art. Amiiin.

Kalau ada yang berminat untuk membeli lukisan Pupon, bisa kontak ke IG nya ya. Ia juga punya channel youtube https://www.youtube.com/channel/UCYcmR1rXBYJ3HIIBiHICgfw

Kategori
Hikmah Mancanegara Perjalanan Menulis Travelling WRITING. SHARING.

MUNGKINKAH IMPIAN TERCAPAI KETIKA DUIT GAK ADA?

Ada yang mention ketika aku ngeshare impianku kemarin : “Mbak, aku juga pingin ke sana. Tapi mungkinkah?”
Umroh, al Aqsho, Uzbekistan, Maroko. Ada yangg juga menambahkan impiannya ingin ke Spanyol dan Afrika. Mungkinkah? Bisakah?
Aku nggak tahu.
Sebab keajaiban itu hak prerogatif Allah Swt. Secara manusiawi kita harus nabung. Aku sudah menghitung kalau umroh plus, maka kalau mau berangkat formasi lengkap ber-6 butuh 150 juta umroh plus Uzbekistan. 216 juta plus Turki. 408 juta plus Maroko. Itu seharga mobil dan/atau rumah, kan?😱😨


Kalau nabung, sampai kapan ya?
Pernah nabung, eh, akhirnya kepakai juga.
Aku tentu gak bisa jawab tentang kapan aku bisa berangkat.


Tapi aku pernah ke Maroko 2016 : keajaiban yang gak pernah kubayangkan.
Kupikir-pikir, keajaiban yang Allah berikan bukanlah kebetulan sama sekali.
Aku suka kliping koran, salah satunya masjid-masjid di berbagai belahan dunia. Salah satu masjid yang kukagumi adalah Masjid Kutubiyah. Nggak tau kenapa, kagum aja dengan bentuknya yang tanpa kubah dan warnanya kemerahan. Di sisi lain, aku mengagumi sosok Ibnu Tasfin, penakluk Andalusia. Aku sebelumnya nggak tahu kalau ia dimakamkan di Marrakech, Maroko. Di situlah benang merahnya .


•••••••••••••••••••
🕌Aku berkunjung ke masjid Kutubiyah, masjid yang kusimpan kliping korannya karena mengagumi keindahan dan bentuknya.


✨Aku berkunjung ke makam Ibnu Tasfin karena mengagumi perjuangannya menaklukkan Andalusia.
•••••••••••••••••••

Sejak saat itu aku memiliki keyakinan.
Butuh rizqi untuk mewujudkan impian. Tapi rizqi itu tidak selalu berupa uang. Ada banyak jalan lain : residensi penulis, beasiswa, permintaan menulis biografi tokoh, dan pastinya rizqi-rizqi lain yang aku tak tahu karena keajaibannya tersembunyi di Lauhil Mahfudz.
Tugasku sekarang : buat benang merahnya.

✨✨✨
Salah satu yang aku yakini bisa mengabulkan mimpi fantastis adalah sedekah. Ada peristiwa- peristiwa spektakuler dalam hidupku yang ternyata berkaitan dengan sedekah dalam jumlah tidak biasa.
Sebuah nasehat pernah mampir ke arahku. Menohok!


“Lha, kalau pingin dapat rizqi sekitar 10 juta, infaq 100-200 ribu wajar. Kalau pingin dapat rizqi 500 juta, masak infaqnya cuma segitu?”

Iya ya…kalau pingin dapat rizki ke Maroko, aku harusnya bisa infaq 20 juta, 50 juta. Tapi duit dari mana ya?

Itulah, mengapa aku menjadi relawan ZISWAF saat ini. Aku senang menjalaninya. Membuat flyer, membagikan di medsos. Ngetag orang-orang yang kukenal maupun nggak kukenal, hahaha. Aku mencoba mengajak pelajar mahasiswa untuk infaq – wakaf 10K. Bisa, kok! Ngetag orang, japri orang, tidak selalu membuahkan hasil. Tapi rizqi itu Allah yang me-resume-kan, aku yang mengupayakan.


Aku memang gak bisa infaq 50 juta sendiri. Duitku belum ada segitu.
Tapi dari pada donatur yang menitipkan uang 10K, 20K, 50K; aku yakin nilainya ada yang melebihi 50 juta. Atau bahkan milyaran atau triliyunan! Ketika sedekah itu ternyata bertepatan dengan waktu istijabah. Ketika sedekah itu, disisihkan dari kebutuhan primer tapi mereka mendahulukan kepentingan orang lain. Orangtua yang memotong uang laukpauk anaknya. Pelajar yang memotong kebutuhan kuotanya. Para gadis yang menahan diri dari kebutuhan kosmetiknya. Orang-orang itu berniat dan bertujuan mulia, dan aku ikut menumpang kendaraan barakah itu.
Ketika sedekah itu, insyaallah terselenggara lewat promosi ZISWAFku, maka aku menitipkan pahala dan doa di sana.


Aku menitipkan pahala dan doa pada teman-teman dan orang-orang yang tidak kukenal, yang menitipkan dana mereka ke LMI. Dana yang pasti berasal dari keringat dan jerih payah.
Siapa tahu benang merah itu terjalin di sini. Bersama sedekah bernilai trilyunan itu, doa-doa sepektakulerku yang nggak bisa diukur dengan nalar dan duit orang biasa, dapat terwujudkan atas izin Allah Swt.


➖➖➖➖➖
🌱🌿Infaq atau wakaf 10K?
Silakan klik bit.ly/LMI_sinta

Kategori
Hikmah Hobby Mancanegara My family Travelling WRITING. SHARING.

5 Tempat yang Ingin Kukunjungi Selama-Setelah Pandemic

Pasti kita merindukan banyak hal selama pandemic kan?

Aku sendiri merindukan perjalanan ke luar negeri, rindu pada interaksi dengan orang dari berbagai bangsa, rindu belajar bahasa baru dan mencicipi kuliner serta kultur budaya setempat.

Ini 5 tempat/ wilayah yang ingin kukunjungi

  1. Kabah – Mekkah
  2. Masjid Nabawi – Medinah
  3. Al Aqsho – Palestina
  4. Kalyan Mosque Bukhara , Bibi Khanym Samarkand (Uzbekistan)
  5. Qarawiyyin Mosque, Fez – Maroko

Kalau memungkinkan, ingin sekali umroh dan haji selama pandemic.

Kenapa? Karena lebih nyaman dan sepi, bisa konsen ibadah di Raudhah misalnya. Nggak berdesak-desakan. Tapi pemerintah Arab Saudi hingga sekarang belum mengizinkan jamaah datang dari luar negeri.

Uzbekistan

Banyak aspek kenapa aku ingin kemari. Kalau ngelihat biaya-biaya umroh plus, tujuan yang paling murah adalah Uzbekistan. Pingin sih umroh plus Spanyol tapi tentu butuh biaya lebih.

Bukan hanya masalah murah ya. Tapi Uzbekistan dikenal dunia dengan jalur Silk Road. Imam Bukhari juga berasal dari Bukhara, salah satu wilayah di Uzbekistan.

Maroko

Negara tetangga Spanyol dipenuhi situs sejarah yang memukau.

Sekali kemari, engkau pasti ingin lagi!

Bukan hanya Fez yang ingin kukunjungi. Tapi wilayah lain seperti Casablanca, Rabat, Tangier, Marrakesh.

Semoga Allah Swt mengijabahi, ya…

Apa yang bisa kulakukan saat ini adalah :

  1. Banyak berdoa, sampai aku punya daftar doa di buku khusus
  2. Menabung, walau uangnya sering kepakai juga kwkwkw
  3. Mencoba berinfaq, semoga dengan ini Allah Swt berikan jalan-jalan keajaiban.
  4. Mohon doa dari banyak orang
  5. Memanfaatkan momentum di bulan Ramadan

Sedekah mudah, sedekah berkah, semoga harta berlimpah.

Infaq dan wakaf bisa dimulai dari 10K saja, lho!

👉 E-wallet atau transfer bank, klik ini aja bit.ly/LMI_sinta

Kategori
Bunda Cantik. Beautiful Mother Hikmah Jepang mother's corner Parenting Pernikahan PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Suami Istri WRITING. SHARING.

Lulusan Jepang, Dapat Beasiswa, Pintar, Tapi kok…

Sejak gadis berprestasi, punya cita-cita tinggi.

Berkali-kali pula mendapatkan beasiswa ke luar negeri.

Lulusan Fukuoka dari universitas bergengsi.

Apakah ia sekarang kehilangan motivasi?

—–

Kak H , sebut aja demikian. Cantik dan lemah lembut, pintar dan penuh sopan santun. Perjalanan menjadi relawan LMI kali ini mempertemukanku dengan seorang perempuan yang unik. Mahir berbahasa Jepang karena bertahun tinggal di sana (ya iyalah! 2010-2017). Ikut AFS tahun 2003-2004 di Tokyo dan diterima di Universitas Kyushu yang bergengsi di Fukuoka. We-o-we!

Mengambil S2 jurusan Bisnis dan Teknologi dengan penelitian tentang Karakteristik Halal Market di Jepang. Sempat menjadi dosen di sebuah universitas di Bandung tapi kemudian memutuskan : tinggalkan semua dan jadilah ibu rumah tangga.

Whaaat?

Trus, mengandalkan pemasukan 100% dari suami?

Membuang sia-sia bertahun ilmu di Jepang dan berkubang dengan permasalahan rumah?

Apakah kak H ini sebetulnya sedang kelelahan dengan tuntutan beasiswa, kuliah, penelitian, akademis, pekerjaan, plus urusan RT sehingga ujung-ujungnya ingin istirahat dari semua tuntutan itu dan beristirahat dengan dogma “menjadi ibu rumah tangga itu mulia?”

Baiklah.

Jepang dan Ibu

Apa yang anda kenal tentang Jepang? Bunga Sakura, mata uang yen, anime, manga, cosplay? Sebutan otaku atau wibu yang tenar di Indonesia; bagi anak muda. Rata-rata, yang ingin ke Jepang memang membayangkan keserbateraturan kota megapolitan, dan membayangkan mencicipi makanan khas yang restorannya  bertebaran di Indonesia.

Menghormati budaya leluhur adalah ciri khas bangsa ini.

Membayangkan perempuan Jepang akan terbayang AKB 48 , penyanyai YUI atau Utada Hikaru. Tetapi, bukan itu sosok yang ditemui kak H dalam kehidupan sehari-harinya di Jepang. Ia melihat, bahwa di Jepang perempuan sangat bangga menyebutkan dirinya sebagai seorang ibu rumah tangga. Salah satu yang dikenal banyak orang adalah, bagaimana IRT di Jepang menyiapkan bento yang cantik bagi anak-anaknya. Rata-rata tidak ada yang memiliki ART sehingga pekerjaan rumah dikerjakan sendiri. Gak ngebayangin deh; belanja masak nyuci sendiri. Belum ngurus anak-anak dan lain-lain. Walau orang bilang, “ah, di Jepang mah enak! Segalanya serba teratur, serba mudah.”

Emang bener juga sih. Tapi tetap aja, jadi IRT itu di belahan dunia manapun selalu melelahkan. Bagi Kak H, ia terkesan sekali selama tinggal di Jepang. Menjadi istri dan ibu itu dengan label di KTP – Ibu Rumah Tangga bukanlah sesuatu yang pantas membuat hati kecil tak bangga.

Transisi Wanita Karier ke Stay at Home Mom

Satu yang kutanyakan ke kak H saat ia memutuskan tinggal di rumah : bagaimana dengan cashflow keluarga? Apakah finansial cukup? Di satu sisi kita percaya rizki urusan Allah Swt, tapi di sisi lain tentu ada kecemasan terutama bagi seorang istri dan ibu : apakah gaji suamiku cukup? Setelah diposkan ke berbagai tempat ternyata secara nominal emang gak bakal cukup!

Apakah masih bisa pasrah : ah, itu urusan Allah?

Bukankah kita harus berupaya maksimal dengan bekal taqwa dan bertawakal di akhir usaha?

Ternyata, ilmu yang didapat kak H sepanjang ia berkelana ke negeri Jepun tak sia-sia. Apalagi bisnis dan teknologi menjadi keahliannya. Ia tahu, meninggalkan dunia kerja pasti punya resiko keuangan. Ia tahu, walau berupaya pasrah, pasti ada resah. Apalagi, ada anak-anak yang butuh dukungan materi immateri.

Jurus kak H ini bisa banget dipelajari adik-adik Muslimah yang kelak ingin berprestasi di dalam dan di luar rumah. Apakah akan menjalani karir di luar atau di dalam rumah, semua kembali pada pribadi masing-masing. Tapi jika seorang perempuan memutuskan full time Mom, kak H ini bisa dicontoh

  1. Sejak kuliah sudah merintis bisnis. Kak H ini emang kayaknya suka bahasa. Ia merintis lembaga bahasa asing bernama Hikari Language Center. Tampaknya ini menjadi tonggak yang bagus bagi siapapun (khususnya perempuan) bahwa merintis usaha apapun sejak dini, terutama masa sekolah/kuliah akan membuat masa depan lebih cerah. Kelak mau punya pilihan ngantor, part time job, full time mom gak masalah. Karena sejak single udah punya tabungan skill, syukur-syukur tabungan finansial.
  2. Ketika sudah menikah, punya anak, lulus S2; kak H ini melanjutkan secara online kursusnya dengan nama baru Hikari Bridge. Bahasa yang ditawarkan adalah Inggris dan Jepang. Siswanya 400 orang dari berbagai belahan Indonesia (mau ikutan daftar juga ah!)
  3. Ketika ada hambatan finansial, berusaha sedekah meski kondisi sempit. Alhamdulillah…ada aja bantuan dari Allah Swt (setuju, kak H!)
  4. Memantapkan hati bahwa kembali ke rumah bukanlah sebuah bentuk dendam, sekedar ingin istirahat, melemparkan tanggung jawab bahwa : “ah, yg wajib nyari duit kan suami!” Bukan seperti itu. Pendidikan al Quran, golden age yang berharga, ingin menjaga tumbuh kembang anak-anak dengan baik adalah cita-cita kak H untuk kembali ke rumah
  5. Ada salah satu quote menarik dari kak H : skill dan ilmu yang bertahun-tahun dipelajari selama ini hanya untuk mempersiapkan diri bekerja dan menjadi karyawan. (Hm, bener juga. Padahal setelah menikah kita bukan karyawan siapapun tapi justru majikan bagi diri sendiri. Gimana punya mindset jadi pemimpin perusahaan yang memajukan semua stakeholder dan mengatur semua sumber daya baik human resources dan financial resources. Kita kan gak selamanya bisa jadi buruh atau karyawan buat pihak lain, kan? )

Makasih banget atas ilmunya ya, Kak H yang Cantik!

Jadi belajar banyak nih, apalagi kita punya kesukaan yang sama : bahasa 😊

————–

#kisahunik #kisahajaib #relawanLMI #silaturrahim #3

Sedekah mudah, sedekah berkah, semoga harta berlimpah.

Infaq dan wakaf bisa dimulai dari 10K saja, lho!

👉 E-wallet atau transfer bank, klik ini aja https://pay.imoneyq.com/laz/lmi/XW1VX

Kategori
Cinta & Love Hikmah Hobby Kaca - Kiat Cantik Pernikahan Rahasia Perempuan Suami Istri WRITING. SHARING.

Ini Cara Hemat Suami Membuat Istri Cantik!

Siapa gak ingin punya istri kinclong?

Kulit kencang, glowing, awet muda?

Ternyata ada resep dari halaman rumah sendiri yang bisa dipakai, lho. Ssst, ini ada kisah seorang suami muda yang sayang banget sama istri dan putrinya lalu berbagi pengalamannya kepadaku. Mau tau nggak?

—–

Perjalanan ajaibku menjai relawan LMI di Ramadan 14412 H terus berlanjut dengan kata kunci : silaturrahim. Aku menelusuri kontak di HP dan sampaikan kepada seorang adik kelasku bernama W. Orangnya lucu, nyentrik, baik hati. Ia tak segan ikut menyumbang jika aku buat acara galang dana atau hadir di acara seminarku. Kalau lihat latar belakang pekerjaannya, orang sama sekali gak bakal nyangka W akan sangat telaten terhadap keluarganya.

Aku mengirimkan template ZISWAF lalu terjadilah obrolan panjang. Biasanya obrolan seputar perangko, tempat wisata dan sejenisnya. Kali ini ia memperlihatkan potongan-potongan lidah buaya yang membuatku melongo penasaran. Inti percakapan seperti ini.

“Nyobain ini, Mbak. Dikupas, diambil isinya. Nanti dicampur sama susu, kulitnya jadi kayak Cleopatra. Aku biasa buatkan ini untuk para princess ku.”

Whaaat?

Suami masak, ada. Suami rajin nyuci, ada. Suami belanja, ada. Suami rajin membuat kosmetik alamiah untuk istri? Wah, keren nih. Terus terang, hatiku sering galau melihat para suami saat ini. Ada yang susah komunikasi sama istri, ada yang sering berantem sama anak sendiri, ada yang kalau konflik lebih sering melarikan diri dari rumah.  Apalagi melihat berita di koran yang naudzubillah…sering hati ini menangis. Mendengar cerita W, tentu sangat menghibur. Di dunia ini insyaallah masih banyak suami dan ayah yang sayang keluarga!

Karena bagiku ilmu ini baru –aloe vera + susu –, maka aku lanjut nanya-nanya. Biasanya aku cuma pakai resep tradisional susu + jeruk lemon yang bisa membuat wajah cerah dan kencang. Kata W, aloe vera + susu bisa dipakai untuk kulit seluruh tubuh, leher, wajah bahkan rambut. Bila ada jerawat, tambahkan sedikit perasan jeruk nipis. Kepo juga aku! Kok bisa lelaki tahu sampai sebegitunya?

“Kakakku dulu cewek, jadi suka bikin-bikin kayak gitu. Jadi aku tau perawatan kulit,” jelas W.

Punya sisters banyak manfaatnya ya?

Para cowok jangan merasa sebel kalau punya saudara perempuan : ojek gratis, bodyguard gratis, kurir gratis. Punya saudara perempuan jadi nambah bekal ilmu dan pengalaman kelak  kalau punya istri.

Nah, nggak selesai sampai disitu. W ini bahkan memelihara bekicot dan lendirnya bisa dipakai untuk perawatan kulit wajah. Katanya, salon termahal pun nggak bisa menandingin efektifitasnya. Hahaha, iya deh! Percaya! Aku memang pernah beli produk masker pas di Seoul dulu dan isi masker tersebut tertulis terbuat dari sejenis bekicot/ siput. Hari gini beli apa-apa lewat online bisa, masih ada juga ya seorang suami yang rela merawat istri dan putrinya dengan perawatan tradisional hasil karya sendiri? Sampai-sampai rela memelihara bekicot di kandang dan rajin ngasih makan tiap hari. Tapi dipikir-pikir emang istri W cantik banget, dah.

Tuh kan, Para Suami!

Kalau dengar istri pingin cantik, jangan keburu diomelin karena harga meni pedi dan face treatment mehong! Coba deh para suami seperti mas W yang telaten. Udah istrinya tambah kinclong, hemat pulak, tambah disayang. Betul gak, Mas W? Buat para istri yang sudah disayang suami, jangan lupa juga balik menyayangi suami, ehm.

———

#kisahunik #kisahajaib #relawanLMI #silaturrahim #2

Sedekah mudah, sedekah berkah, semoga harta berlimpah.

Zakat fitrah 36K, fidyah 40K, Kel.dhuafa 200K, bingkisan lebaran 150K, iftar 20K, wakaf Quran 75K, wakaf Zakato Tower (bebas), infaq umum (bebas), & berbagai macam jenis wakaf yg bisa dipilih sesuai harapan muzakki

👉 E-wallet atau transfer bank, klik ini aja https://pay.imoneyq.com/laz/lmi/XW1VX

Kategori
Hikmah Pernikahan Rahasia Perempuan Suami Istri WRITING. SHARING.

Dia, Yang Mendapatkan Jodoh di Usia Sangat Matang

Perempuan pintar?

Terlalu mandiri?

Sangat metropolis?

Apakah benar perempuan tipe seperti itu akan lambat berjodoh?

Aku sering diminta menjadi konselor atua menulis di berbagai lembaga zakat, salah satunya LMI. Menjadi kebiasanku di saat Ramadan ikut berpartisipasi menggalang dana dari teman-teman yang kukenal. Bagian paling menarik dari tugas ini adalah ketika aku menyambung tali silaturrahim kembali dengan teman-teman yang lama tak kukontak karena masing-masing punya kesibukan luarbiasa.

Kemarin, kususuri nomer-nomer kontak. Berhubung HP pernah rusak dan harus diganti dengan ponsel sejuta ummat, aku harus kembali menginput nomer-nomer yang tidak terdeteksi menjadi nomer whatsapp. Lalu, aku menginput sebuah nomer dengan initial J (ah, nanti pembaca akan tahu nama aslinya karena aku akan berbagi link blog nya). Lalu muncullah pprofil picturenya dalam pakaian anggun putih nan cantik : ia telah menikah. Di blognya, kita pun tak akan tahu tahun lahirnya. Tapi pasti bisa mengira-ngira.

Aku dan J dulu sering bertemu di acara-acara literasi. Ia beberapa kali datang ke acara bedah buku. Ia, perempuan yang sosoknya langsung dapat ditebak sejak pertama kali bertemu : gaya bicaranya lugas, easy going, pintar karena banyak baca, sangat mandiri dan suka to the point. Perempuan pintar seperti J, wajar bekerja di tempat-tempat yang membutuhkan ketrampilan otak dan kemampuan negosiasi yang andal.

Beberapa tahun kami nggak bertemu, terlebih sejak Covid melanda awal 2020. Sesekali saja bertukar sapa dan terjadilah percakapan kemarin. Aku sempat merasa sungkan tapi sangat ingin tahu perjalanannya mendapatkan jodoh di usia yang sangat matang seperti ini. Ia bukan orang yang gampang tersinggung, kurasa, tapi tetaplah hal ini sensitif. Kutanyakan, apakah ia mau berbagi cerita? Karena pasti sangat bermanfaat.

Kusarankan bagi pembaca yang penasaran untuk langsung bermain ke blognya. Hal yang menarik adalah tulisannya yang terus terang mengungkap perjalanannya menemukan jodoh seorang lelaki sholih. Apa yang ditulisnya adalah refleksi pengalamannya dan aku salut sekali pada J. Ia tahu bahwa dirinya superior, pintar, sangat mandiri terutama finansial dan gaya hidupnya sangat metropolis sebagai seorang Muslimah. Ia memahami bahwa bagian-bagian spektakuler dari dirinya yang di satu sisi positif, di sisi lain dapat memunculkan kendala terutama terhadap lawan jenis. Tetapi ia tak pernah kecewa pada Allah, pada apa keputusanNya.

Suatu saat teman lamanya berkunjung dan terjadilah dialog-dialog yang lucu itu. Untuk usia J dan lelaki tsb, saling mengungkapkan keinginan utk menikah seharusnya tidak menjadi momen canggung. Tapi begitulah momen lamaran, bukan? Berapapun usiamu, kamu pasti akan canggung dan memerah pipi ketika meminta seseorang menikahmu. Aku terharu sekali membaca bagian ini dan…marah pada J bagaimana ia merespon lamaran si lelaki.

Ia tetap merasa superior! Pintar , sangat modern! Di hadapan lelaki sederhana yang jelas-jelas memintanya menjadi istri. Bahkan menurutku J sangat keterlaluan memperlakukan si pelamar dengan kata-katanya yang lugas (tajam dan nyelekit, kata orang Jawa).

Sekali lagi, aku tahu J bukan orang jahat. Ia memiliki personality sangat jujur, bahkan di perusahaannya ia adalah orang kepercayaan. Kecerdasan dan kejujuran yang berpadu satu, mungkin akan membuat orang menajdi sangat lurus. Kaku. Tak punya basa basi. Apakah bagi perempuan itu fatal? Hm, siapapun pasti punya pendapat terkait ini.

But, this is the best part.

Itulah bila jodoh di jalan Allah. Lelaki itu bukan mundur, merasa minder, atau merasa tak selevel. Ia yang matang justru mengungkapkan kenapa alasannya memilih J. Dan masyaallah…akhir kisah ini adalah kebahagiaan menyempurnakan setengah diin. Pernah, hatiku berkata.

“Ah, kamu sih terlalu pintar.”

“Kenapa kamu gak feminine sih? Sangat maskulin dan mandiri!”

Lelaki itulah yang kemudian beranggapan bahwa J tidaklah seperti kulit luarnya. Ia perempuan yang apa adanya, shalihah, tak suka mengeluh. Dari banyak orang yang menyangka J seperti apa penampakannya, lelaki shalih itu justru berpikir sebaliknya. Bukankah demikian jodoh? Saling melengkapi, saling mengerti dan memahami. Seseorang tidak perlu berpikir bahwa ia harus mengubah dirinya demi untuk mendapatkan orang lain. Tentu, bukan berarti karakter buruk tak perlu diubah ya. J tak bisa berpura-pura bodoh, bersikap feminine, berlagak mengalah demi agar lelaki mau mendekatinya. Banyak lelaki yang sudah mencoba mendekati J dari dulu tapi mereka selalu mundur karena hanya dari berbincang-bincang saja mereka tahu J sangat pintar.

Mungkin, ada banyak pihak yang tak setuju dengan J. Fitrah perempuan seharusnya lemah lembut, tunduk dan mudah ditaklukan. Tapi seharusnya fitrah itu ditujukan hanya bagi suami, bukan dunia luar yang seringkali penuh topeng.

Terimakasih, J. Atas pengalaman hidupmu yang berharga.

Aku punya sahabat-sahabat yang belum menikah hingga kini. Aku mencintai mereka dan kadang bertanya-tanya : apa salah sahabatku sehingga belum menemukan pendamping? Usai membaca kisahmu J, aku menjadi paham. Demikianlah seorang perempuan harus menghargai dirinya sendiri, mensyukuri apa yang telah Tuhan titipkan pada dirinya : karakter yang dibentuk orangtua dan lingkungan, pengalaman-pengalaman sulit di belakang, harapan-harapan yang ada di pundak perempuan.

Lelaki shalih itu tidak perlu mengenakan topeng apapun ketika bertemu denganmu. Ia langsung nyaman dan tenang, walau kamu J, butuh waktu untuk yakin. Kisah lengkapnya bisa disimak dalam beberapa tulisan. Untuk kamu yang menunggu, Allah Swt punya rencana istimewa untukmu

https://www.jazimnairachand.com/2020/12/menuju-halal-2.html atau klik ini tentang kisah pernikahan menuju halal

—–

#kisahunik #relawanLMI #silaturrahim #1

Sedekah mudah, sedekah berkah, semoga harta berlimpah

👉 E-wallet atau transfer bank, klik ini aja https://pay.imoneyq.com/laz/lmi/XW1VX

Kategori
Covid-19 My family Survivor Covid-19 WRITING. SHARING.

#2 : Cepatlah memutuskan! Decide immediately!

Di rumah atau asrama haji? Hotel  atau rumah sakit? Obat tradisional atau farmakologi modern?

Aku sempat kebingungan pada awalnya apakah harus rawat inap ataukah cukup di rumah saja. Mengingat saturasi bagus, tak ada pilek, dan juga tak ada sesak nafas. Tapi kenapa tetiba harus segera dirawat?

FIT dan SEHAT BUKAN JAMINAN

Ketika suamiku dan putraku alhamdulillah berhasil menurunkan berat badan dengan pola hidup sehat, seluruh anggota keluarga ikut melakukannya. Menghitung kalori, memperbanyak sayur buah, workout. Kalau lagi malas, setidaknya pemanasan dan plank menjadi agenda rutin.

Suami terdeteksi positif di Banjarmasin 7 Maret 2021. Ia rajin bersepeda dan cardio tetapi memutuskan segera ke RS walau ada ruang isolasi di bapelkes atau hotel. Begitu dirawat, suami terus mendesak : “beneran nih gak ada yang butuh dirawat di Surabaya?” 10 Maret 2021 bertambah yang positif di rumah karena suami sempat pulang ke Surabaya.

Aku menolak. Kami sehat-sehat semua kok. Di rumah hepi-hepi, masak-masak, beberes rumah, menonton bahkan aku masih bisa mengisi beberapa acara. Bahkan, kami sempat periksa ke RS utk tes darah, rontgen sendirian dan alhamdulillah hasilnya baik-baik saja. Tak ada pneumonia, tak ada yang perlu dikhawatirkan.

Lalu, buat apa dirawat di RS?

Pihak Puskesmas kooperatif mempersilakan kalau kami mau diisolasi ke hotel asrama haji. Semua gratis : penjemputan, swab, logistic, pengobatan.

“Ah, enakan di rumah.”

“Kalau bosen; bisa ngapa-ngapain kalau di rumah. Kalau gak di rumah, bingung mau ngapain.”

Begitu pendapat beberapa orang terkait pilihan isolasi mandiri (isoman). Alhasil, aku dan anak-anak yang akhirnya semua positif; bertahan di rumah. Perhatian dari teman-teman mengalir. Makanan, buah, obat, suplemen, hadiah-hadiah. Waaah!

MEDIS versus NON-MEDIS

Begitu banyak pihak yang perhatian dan memberikan saran. Deretan obat-obatan dikirimkan ke rumah mulai berbagai jenis madu, propolis, sari kurma, probiotik, qusthul hindi dan rangkaian pengobatan herba yang kurasa harganya mahal-mahal. Masyaallah…aku terharu sekali dengan perjuangan teman-temanku memperhatikan kami sekeluarga.

Begitupun, pihak puskesmas dan dokter memberikan rangkaian resep seperti azytromicin dan oseltavimir; juga berbagai jenis vitamin. Obat-obatan juga dikirimkan ke rumah. Namun, aku tidak punya latar belakang ilmu medis yang memadai. Paling dapat ilmu dari media sosial, situs kesehatan online, atau dari teman-teman dokter yang menerima keluhan via WA. Berbagai saran pun beragam jenisnya.

“Minum segera XXX. Caranya begini- begini.”

“Jangan minum XXX!”

“Minum probiotik jenis ini ya, tiap 2 jam sekali.”

“Wah, jangan minum probiotik. Kan lagi minum obat!”

Aku bingung , siapakah yang harus kuturuti?

Lalu tubuh kami mulai bereaksi terhadap covid. Hari ke-1,2,3 semua baik-baik saja. Tetiba di hari ke-4 dan seterusnya ; mulai ada yang tak beres.

  1. Suhu tubuh naik turun. Berbekal thermometer di rumah, suhu tubuh bisa turun naik tak menentu. Kadang 36,3. Lalu 36,7 . merembat ke 37,6 lalu turun lagi ke 36, naik lagi ke 38. Kalau minum paracetamol dan kompres, suhu turun
  2. Tidur gelisah. Tidur tak lagi nyenyak. Pindah-pindah tempat, bolak balik bangun
  3. Kehilangan selera makan. Kalau masih di rumah, banyak alternatif pengganti makanan. Selama gak doyan makan, setidaknya telur rebus dan minum susu menjadi alternatif asupan. Tapi makin lama, apapun jadi tak selera
  4. Lemas. Bagi yang pernah merasalan typhus dan demam berdarah (DB) pasti akan merasakan lemas yang spesifik.

Untuk emak-emak yang terbiasa otot kawat, tulang besi; sakit sering tak dirasa. Aku sering kena flu tapi cukup tidur full sehari dan makan apapun yang diinginkan; besoknya sudah membaik. Lemas sih, tapi gak banget. Sekarang? Lemasnya kelewatan. Sekedar angkat kertas aja nggak bisa!

Lho, kan wajar sakit covid begitu?

Semua orang juga kok, merasakan hal yang sama. Lemes, agak-agak demam, hilang nafsu makan, susah tidur. Yang penting saturasi bagus dan gak ada batuk yang buat sesak nafas, bukannya oke-oke aja tuh isoman di rumah?

PERHATIKAN CERMAT dari WAKTU ke WAKTU  

Cuma kita yang betul-betul tahu riwayat hidup, riwayat kesehatan, riwayat keanehan-keanehan yang dialami diri sendiri dan anggota keluarga. Sepertinya terlihat sama, tapi belum tentu demikian.

  1. Buatlah pilihan logis rasional, saat masih BISA memilih. Kalau udah sesak nafas, hilang kesadaran, demam kelewat tinggi; pilihan-pilihan bisa jadi sangat terbatas. Pilihan apa? Pilihan RS, misalnya. Mungkin kita mau milih RS yg lebih dekat rumah, yg ada kenalan, yg sudah ada jejak rekam medisnya krn sering periksa di sana. Kalau masih bisa milih, tentu akan enak. Tapi kalau udah kritis, tentu sulit milih-milih
  2. Ah, nanti juga demamnya turun. Ah, nanti juga nafsu makannya pulih. Nanti itu kapan? Dan apa benar bisa pulih dengan sendirinya atau sudah waktunya ditangani dengan serius oleh para ahli? Nanti-nanti bisa jadi kebablasan
  3. Kalau tinggal sendirian, atau tidak ada anggota keluarga terdekat yang dokter/perawat; mending segera ke RS. Suami saya sendiri di Banjarmasin. Saya sendiri, meski punya sahabat2 dokter tentu gak bisa terus menerus konsultasi di WA. Punya oximeter atau thermometer di rumah, gak cukup. Hanya perawat dan dokter di RS (atau petugas kesehatan lainnya) yang punya ilmu dan pengalaman terhadap situasi mendesak
  4. Saya dan dua putri saya masuk period time. Saya pribadi mengalami uterus bleeding krn haidh berkepanjangan dan jumlah di luar kewajaran. Karena perempuan haidh seringkali gak enak badan, who knows dg virus Covid ini makin menjadi-jadi situasi buruknya?
  5. Rumah sakit bikin tambah sakit. Well, ini bukan hotel dan sekarang bukan waktunya pesiar. Kalau di RS gak seenak di rumah, masuk akal sih. Tapi di RS sudah tersedia SDM dan segala macam perangkat yang disiapkan utk kondisi darurat. Di RS berkumpul para ahli di bidangnya yang keilmuan mereka didapatkan lewat jalur ilmiah. Kalau ilmu medis yang kupunya hanya sekedar baca-baca, kan?

Pernah nonton lagu-lagu kocaknya nya dokter Henrik Widegren yang juga musisi? Never Google Your Symptoms adalah salah satu lagu favoritku yang mengajarkan jangan sembarangan cari ilmu via dunia maya. Boleh sebagai langkah awal, tapi segera serahkan pada ahlinya.

——-

QS An Nahl (16) : 43 :

وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ اِلَّا رِجَالًا نُّوْحِيْٓ اِلَيْهِمْ فَاسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَۙ

Dan Kami tidak mengutus sebelum engkau (Muhammad), melainkan orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui

—–

Bagi yang tidak memilih RS dan obat-obat kimiawi; tentu juga tak salah, bila lebih memilih pengobatan tradisional atau herba. Di China dan Korea, pengobatan tradisional menjadi pilihan terpercaya masyarakat karena didukung oleh pemerintah serta keilmuan yang dikembangkan secara terus menerus. Sekarang, Tibbun Nabawi pun menjadi pilihan terpercaya masyarakat.

Untuk kondisiku, bisa jadi karena cukup kompleks maka pilihan RS menjadi pilihan yang harus disegerakan.

6. Berapa jumlah penderita covid di rumah? Kalau cuma 1-2 orang, sarana di rumah memadai, tentu masih bisa isoman. Orang-orang yg sehat bisa melayani yg sakit. Tapi utk kondisi kami sekeluarga, semuanya kena covid! Hanya ibuku yg berusia 80 th yg alhamdulillah negatif. Kalau aku memaksakan di rumah, bisa-bisa yang masih sehat overload pekerjaan dan over exhausted karena melayani yg udah pada lemah. Kalau ambruk semua? Wah!

Jangan takut untuk memutuskan segera dirawat di RS rujukan Covid 19, bila memang kita mencermati diri sendiri sudah mulai semakin menurun performanya.

——–

Hari ke-13 di RS

Hari ke-18 positif Covid 19

Alhamdulillah, kondisi kami semakin stabil dan sehat . Terimakasih atas semua doa-doa

➖➖➖➖➖

MY ENGLISH’S STORY :

Hurry Up!

You have to decide immediately : is it okay to stay at home, isolation at hotel or right away to hospital?

  1. Make a logical choice. We don’t have several choices in critical condition. So, if there’s still time to make a choice, do it
  2. Sometimes we say to ourselves : the fever will be over. Just take a rest, drink much water. But is it true? Don’t we need more help from doctors and nurses?
  3. If you’re live by yourself – there’s no body else and you don’t have any relative such as doctor or nurse that you can depend on ; please contact hospital and tell your latest condition
  4. I hate hospital. Hospital make me sick much more! Well, of course, hospital is not hotel and we’re not on vacation! But in hospital is available medical resources that could help patient in critical condition
  5. If in you’re family there’s just 1 or 2 people with covid, it’s okay to stay at home. The rest which is still healthy can assist you. But, if the whole family is suffering for Covid 19, hospitalization is the right choice
Kategori
Covid-19 My family Survivor Covid-19 WRITING. SHARING.

#1 Covid 19 – Virus Cerdas yang Memanipulasi Otak Manusia

Aku penyuka sayur. Pecinta buah. Gemar cemilan. Tak menolak madu dan sari kurma. Suka wangi-wangian. Yang terpenting, aku suka minum air putih.

Sampai kemudian Covid 19 menyeruak ke tengah keluarga kami, menginfeksi 6 orang, 4 di antara kami harus dirawat di RS. Terus terang, babak belur fisik dan psikisku menghadapi penyakit yang satu ini. Virus ini pintar memanipulasi otakku!

APAKAH OTAKKU BERKATA BENAR?

Aku dan 2 putriku dirawat di satu ruangan. Meski kondisi 2 putriku juga lumayan payah, mereka masih bisa tertatih membantuku. Kejadian demi kejadian aneh membuatku heran.

  1. Aku benci sekali putri bungsuku membantuku. Ia lucu, jenaka, cepat tanggap, ringan tangan. Tiap kali mendekati, rasanya aku ingin berteriak marah-marah. Kenapa aku ini? Lambat laun kusadari, ia memakali baju yang berbau wangi. Wangi khas pelembut dan pewangi pakaian. Aku benci semua pakaian yang kubawa dari rumah, jilbab, semua yang berbau wangi!
  2. Aku sangat suka sayur. Apalagi sayur yang disajikan warna warni merah, kuning, hijau. Hanya sebentar, karena berikutnya aku membenci semua jenis sayuran. Terutama aroma segarnya yang selama ini membuatku berselera menghabiskan nasi
  3. Kelengkeng is one of my favorite. Segar, manis. Dulu kuhabiskan 1 kg sendirian. Sekarang? Tebak saja.

Oke, baiklah. Kata orang-orang itu hanya masalah selera. Namanya orang sakit, mungkin gak suka masakan tertentu. Kupikir demikian. Lalu hal-hal lain yang aneh pun  terjadi.

4.Dari semua obat, ada 1 jenis obat (lebih tepatnya suplemen makanan) berbentuk permen yang sejak awal kusukai karena rasanya manis segar seperti permen mint. Selalu, suplemen bernama Rillus ini kuletakkan paling akhir di antara obat-obat yg lain. Dengan kasus wewangian dan sayur, aku mulai curiga : jangan-jangan Rillus ini nanti juga akan menerima kebencianku. Tepat! Baru tiga kali minum, aku benar-benar membenci benda bernama Rillus

Okelah.

It’s enough for food and medicine. Mungkin aku muak dengan semua obat, injeksi, infus, suplemen, antibiotic, antivirus dan sejenisnya. Mungkin aku butuh makanan selingan. Lalu suatu hari, aku benar-benar menyadari : ada yang salah dengan otak dan diriku.

5. Air putih. Aku memandang gelas berisi airputih. Minuman yang paling kusukai, lebih dari teh dan susu. Cairan ini sama sekali tak punya rasa, warna, bau. Netral! Lalu aku tetiba membenci gelas, botol, apapun tentang air putih! Aku gak mau minum air putih lagi. Heh, apa yang salah dengan diriku, otakku?

BAGAIMANA AKU MENGENDALIKAN OTAKKU?

Aku bersyukur, dokter dan perawat di RSHU ini sangat informatif dan kooperatif. Apapun keluhan kami, mereka memberikan penjelasan dan diskusi panjang lebar. Awalnya aku enggan menceritakan masalahku pada dokter spesialis paru yang mendampingi kami.

“Manja amat!”pikirku. “Aneh dan apa kata orang nanti?”

Tapi akhirnya kuutarakan dan sungguh mengejutkan apa yang beliau sampaikan.

“Memang ini fase terberat dari pasien-pasien saya,” jelas dokter. “Bagaimana virus ini mempengaruhi reseptor, terutama indera. Apapun yang dikatakan oleh virus ini ini : LAWAN!”

Di psikologi, kami  mempelajari bahwa indera, persepsi dan otak sangat berkaitan erat. Lisan kita mengucapkan sesuatu berulang, itu bisa menjadi skema otak, dan otak akan berjalan sesuai skema. Mata dan telinga pun demikian. Aku mulai mencermati, setiap kali aku bilang dan berpikir tentang sesuatu yang kuinginkan, maka sehari berikutnya otakku langsung berkata : itu hal yang kubenci!

Aku bawa buku-buku ke RS, sehari membaca, esoknya aku membenci semua bukuku.

Aku suka Maher Zain, sehari kudengarkan, esok sudah kubenci suaranya.

Aku sayur semacam acar, hanya sehari, berikutnya aku membenci rasa dan baunya.

Awal dirawat kami membawa beberapa bungkus pop mi, siapa tau butuh panas-panas. Malam hari, kumarahi putriku karena membuatnya, “jangan dekat-dekat Ummi! Benci baunya!”

Aku memesan makanan, esok hari bahkan hingga hari ini, makanan jenis itu sangat kubenci!

VIRUS YANG BERBEDA

Kupikir, aku akan tinggal di RS 3-4 hari seperti dulu ketika aku dan anak-anakku pernah dirawat karena tipus dan/atau demam berdarah. Masih kuingat, infus yang hanya sebentar lalu 3 hari setelahnya membaik lalu menyantap makanan apapun dengan lahap. Seperti raja ratu di RS karena apapun dilayani tinggal makan tidur.

Ini hari ke -11 kami dirawat di RS.

Tubuh kami membaik. Namun setelah beberapa hari belakangan aku menyadari kami harus bertempur habis-habisan dengan cara virus mengendalikan otakku. Tapi bagaimana aku bisa makan, minum, kalau otakku menolak memasukkan apapun ke tubuhku?

  • Kucemati diriku, otakku (mungkin dikendalikan virus) memproses informasi 24 jam. Ini hanya dugaanku ya. Maka, ketika aku memesan makanan pada orang rumah, “tolong Ummi dibuatkan oseng kacang,” maka masakan itu harus sudah selesai kumakan segera. Lebih dari itu, aku akan kadung membenci makanan tersebut dan sulit memakannya
  • Nasi. Aku benci betul jenis makanan ini. Maka nasi harus kupindah-pindah cara memakannya. Kadang di mangkuk plastik, di tutup, bahkan makan dg menutup mata!
  • Obat. Kupotong-potong jadi beberapa bagian agar tidak tampak bentuk aslinya
  • Air putih. Kupindah-pindah tempat minumku. Botol kecil , botol besar, gelas disposable, gelas bekas pudding.
  • Karena kucermati proses informasi mulai menengar, membahas, memakan, dll sekitar 24 jam; aku dan anakku membahas sekilas. “Besok mau makan apa?” Kami mengucapkan 1-2 kalimat masakan yang kami inginkan. Lalu diam. TIDAK MEMBAHASNYA LAGI. Misal ingin oseng terong, bahas sekali. Sampaikan ke orang di rumah. Lalu segera memakannya ketika masakan itu tiba di RS. Atau jika kami pesan gofood, tidak membahas masakan itu terlalu banyak. Sehingga otak ini tidak memproses informasi terlalu sering yang kemungkinan, virus itu membaca apa maksud kami.

Baik, virus Covid 19. You’re great!

Kamu makhluk Allah Swt. Kamu  membuat kami membenci apa yang baik, tapi disitulah letak perjuangan kami menaklukanmu.

——————–

Atas : hari Rabu, 17 Maret 2021, saat pertama aku dilarikan ke RS Husada Utama , Surabaya

Bawah : saat menerima transfusi plasma utk mempercepat kesembuhan

————————-

Sejak awal positif aku ingin menuliskan pengalaman penting ini, tapi mungkin, baru di hari ke-17 aku mulai mampu menggerakkan jari jemariku.

Hari ke-11 dirawat di RS

Hari ke -17 positif Covid 19

(Catatan Covid 19 ke-1)

Kategori
ACARA SINTA YUDISIA Bunda Cantik. Beautiful Mother Hikmah Hobby My family Oase PSIKOLOGI. PSYCHOLOGY Referensi Fiksi WRITING. SHARING.

Kamu Lagi Jualan?

Sebagian orang, nyangka saya lagi jualan produk tertentu ketika mau buat seminar Healthy & Confident Minggu nanti 21-02-2021 bareng komunitas Ruang Pelita. Padahal enggak sama sekali!

Pertama, saya ingin share gimana Ayyasy bisa menurunkan BB hingga 20 kg lebih. Dia tadinya nduut banget, mudah sakit, mudah demam. Macem-macemlah. Dia ngerasa makin lama tambah melar dan tiap lebaran gak ada baju cukup. Insecure juga.

Diet? Aduuuh, kami hanya kuat sebentar. Karena terus terang kalau saya harus melek malam, capek ke sana ke mari, perut lapar bikin lemes.

Nutrisi tertentu? Bolehlah. Tapi lama-lama juga gak kuat di kantong.

Akhirnya, kita semua paham bahwa jalan orang masing-masing untuk mencapai keinginan. Ada yang sukses dengan diet karbo, diet keto, jadi vegan. Ada yang sukses dengan mengganti makanan melalui herba nutrisi tertentu.

Kami ingin share bila ternyata, kita harus mengubah mindset dan lifestyle. Gak drastic emang, gak instan. Sebab baik Ayyasy ataupun suami , baru 2 tahun kelihatan lebih ideal. Tetapi hasilnya perlahan, pasti, tubuh fit dan ketika mau cheating day, hasilnya gak nambah banyak.

Lanjut ke Ayyasy.

  1. Orang malas banget olah raga. Ayyasy mengawalinya dengan ngedance. Prinsipnya, dia pingin hepi saat workout. Dia ngikuti dance para idol Korea  dari berbagi youtube. Ketika tubuhnya udah luwes, dia masuk ke babak berikut
  2. Orang gemuk emang lamban, jadi malas2an. Makanya sesudah luwes bergerak, Ayyasy WO sungguhan.
  3. Mulai menghitung kalori. Kalau dulu apapun disikat, sekarang mulai mencermati. Oh, krupuk berapa kalori? Coklat berapa kalori? Es krim? Ayam goreng? Gak diet ketat banget, tapi biar ngitung kebutuhan kalori. Kalau sudah makan brownies 2 potong, ya jangan minum es teh lagi

Kedua, suami saya.

Lingkar perut suami sampai 100 lebih dan BB nya juga lebih dari 100. Rutin ke tukang pijit hampir tiap bulan karena adaaaa aja yg masalah. Punggungnya, lehernya, kakinya. Udah kayak kakek-kakek dah. Alhamdulillah setelah bisa memodifikasi hidupnya, suami turun 17 kg.

Saya?

Hahaha.

Saya ini kalau di rumah benar-benar kerja keras. Kalau gak makan karbo, rasanya gak kuat nyuci piring, nyuci baju, nyeterika. Ibaratnya, orang Jawa kalau nggak makan nasi, kayak kurang kenyang! Mau makan roti seberapapaun banyaknya, tetap kayak gak makan!

Tersindir dengan BB suami dan Ayyasy, sayapun bertekad memperbaiki diri.

Oke, semua berawal dari pikiran.

Mau langsing? Ya jangan liat mukbang melulu. Lihat para boyband bikin chocotang alamaaak…endezzzz! Liat idol makan corn dog, yummy. Pingin bikin juga. Maka kalau habis liat acara makan2, saya ganti nyari channel Suzanna Yabar atau Yulia Baltschun. Atau channel apapun yg menceritakan WO di rumah, cardio ringan dll. Lumayan, akhirnya tertancap di benak : ohya, cardio cuma 15 menit lho! Padahal saya bisa ngetik 3 jam di latptop! Masa 15 menit gak bisa?

Mindset kedua, ketiga, nanti aja ya.

Ayyasy itu dulu, sampai mahasiswa selalu ngeri kalau udah flu. Padahal cuma batuk pilek, kami harus sedia panadol ibuprofen dan segala jenis obat penghilang rasa nyeri lantaran dia gampang banget demam tinggi. Padahal cuma masuk angin. Setelah langsing, masyaallah, tubuhnya tahan banting. Sampai2 pernah ada acara naik gunung sama komunitasnya, tentornya udah bilang : Ini gak bakal ada yg kuat sit up 20. Ternyata dia kuat leg raises, push up , sit up lebih dari yang ditentukan

Selain bicara fisik, tentu, gimana tetap percaya diri walau body goals belum tercapai. Dan bagaimana mengasah potensi dari dalam diri, agar kita menjadi seseorang yang bersinar.

Silakan ya!

FYI, Ruang Pelita mengadakan rangkaian beberapa acara yang oke punya. Stay tune!

—————————————————-

🔸️🟠 Healthy & Confident :
Sehat & Membangun Self Image 🟠🔸️

➿➿➿
Ngerasa gak cakep? Kurang good-looking ? Insecure karena penampilan gak oke? Ngerasa selalu kurang dari orang lain?
➿➿➿

Waaah, kita berjodoh, donk. Acara ini cocok buat kamu, insyaallah!
Gimana merancang healthy lifestyle agar tubuhmu lebih fit.
Kecantikan & ketampanan adalah bonus dari sehat!
Sekaligus memupuk rasa percaya diri agar pesonamu lebih terpancar.
Bersama 3 pembicara keren yang akan membuatmu termotivasi!

1️⃣ Dokter Sania ~
🌺Dokter, Motivator
🌼 Healthy Lifestyle for Your Goodlooking
🔸Gimana hidup sehat agar fisikmu oke, sehingga penampilanmu juga keren

2️⃣ Bunda Sinta ~
🌸Penulis, Psikolog, Traveller
🍁 Confident in Every Season
🔸Membangun Rasa Percaya Dirimu agar Siap Menaklukan Dunia

3️⃣ Kak Ayyasy ~
🦅 Illustrator, Healthy Enthusiast🥇Cara Oke Menurunkan Berat Badan dan Membangun Self Image
🔹Berpengalaman dalam menurunkan BB 25 kg dengan cara sehat


⏳Ahad, 21 Februari 2021
⏰08.00-11.00
💡Link Zoom menyusul
👉HTM : 10K saja

Fasilitas :
🐥Ilmu aplikatif
👣Relasi pengembangan diri
🍪Doorprize : buku, pulsa, cookies sehat

✍️Pendaftaran :
bit.ly/healthyandconfident
▶️transfer ke BSI (bank syariah indonesia) 7129-62-4943 a.n Ahmad Syahid Robbani
CP 0878-5521-6487


Selamat bergabung!
Enjoy your amazing life ❤️🧡👍👍

Didukung oleh :
Ruang Pelita, Polaris Store, Goodcookies