Kontroversial Video Logan Paul tentang Aokigahara dan Upaya Mengatasi Commit-Suicide

 

Kita selalu merinding mendengar kata bunuh diri atau commit suicide.

Kematian adalah salah satu hal yang pasti akan dialami makhluk hidup. Namun bagaimana akhir hidup manusia, sungguh merupakan perenungan bagi kita semua. Sebagian manusia meninggal karena wabah kelaparan, peperangan, bencana alam, endemi penyakit atau human error seperti kebakaran dan kecelakaan. Walau bila bicara takdir, maka semua telah tertulis di lauhil mahfuz.

Tetapi, menjadi kewajiban manusia beriman dan berakal untuk mencermati segala fenomena yang terjadi dan berupaya sebaik mungkin menanggulanginya. Wabah penyakit misalnya, manusia berupaya sebaik mungkin untuk mengenali demam berdarah; mulai mencegah, mengenali tanda, memberikan pertolongan pertama hingga memberi perawatan sampai mencapai taraf kesembuhan. Belum lama ini di wilayah Jawa Timur utamanya Surabaya, dikejutkan dengan wabah difteri. Maka pemerintah dan masyarakat ramai-ramai menggalakkan vaksin.

Bencana yang disebabkan human error misalnya, pun dicoba diatasi sebaik mungkin.

Kebakaran? Banjir?

Kalau disebabkan karena buang puntung rokok sembarangan, sampah menumpuk; maka semua harus diantisipasi. Kecuali apabila kemarau panjang yang menimbulkan kebakaran dahsyat seperti di Australia tempo hari. Bagaimana dengan commit suicide? Apakah ia human error ataukah takdir yang tidak dapat diubah?

Kembali, kita tidak akan membahas takdir namun kita akan berupaya sebaik mungkin untuk mengatasi, atau mencegahnya.

Chester Bennington, Jonghyun dan Marilyn Monroe

Sederet artis papan atas dikabarkan bunuh diri.

Yang terus dikenang sepanjang zaman adalah Marilyn Monroe. Artis cantik nan sensual ini, seharusnya mendapatkan apa saja yang dapat diraih dunia; bila kebahagiaan itu senilai materi. Tetapi, Monroe tidak mendapatkannya. Ia mengalami abuse sejak kecil, suami pertamanya memperlakukan tidak baik dan pada akhirnya ia menjadi bintang bom seks. Monroe mendambakan kehidupan sebagai istri dan ibu, maka ia pernah berkata : “kalau perempuan disuruh memilih antara karier atau keluarga, pilihlah keluarga. Aku sangat ingin punya anak dari rahimku sendiri.”

Ya.

Monroe yagn sensual dikabarkan berkali-kali mengalami keguguran.

Menjelang akhir hayat ia menjalin kasih dengan JF Kennedy, dan sungguh ia berharap itu merupakan kisah cinta sejati. Meski kerabat dekat sudah mengingatkan, mustahil Monroe menjadi first lady karena meski ia sangat menawan sebagai bom seks, publik Amerika tetap akan memilih Jacquline Onassis sebagai ibu negara!

Chester Bennington pun memiliki masa lalu yang sangat tak stabil. Vokalis idola anak muda yang sangat legendaris dengan Meteora nya ini, mengakhiri hidup sehingga publik merasa sangat terkejut sebab sangat sedikit grup musik semacam Linkin Park. Nyaris tak percaya di puncak keberhasilan, dipuja jutaan penggemar, memotivasi anak-anakmuda, menghentak dengan genre rock berbeda; tetap saja tak membuat Bennington nyaman dengan semuanya.

Jong Hyun?

Books about Korea

Kita akan memahami mengapa ia memilih mengakhiri hidup bila telah membaca Korean Cool –Euny Hong.

“Setiap negara maju, pasti memiliki ironi,” tulisnya. Bila belum memiliki ironi, maka ia bukan negara maju. Dengan kata lain, menurut Hong, kemajuan negara pasti akan menimbulkan paradoks. Negara yang makmur, maju, tenang, damai, sukses; belum tentu terlihat seperti apa di permukaan. Kerja keras pejabat dan rakyat, kadang harus dibayar mahal. Untuk menciptakan kemakmuran setiap orang harus bekerja lebih dari waktu rata-rata. Setiap orang harus berpikir untuk maju, sukses, berhasil; dan mereka yang menghambat kemajuan akan terpinggirkan.

Euny Hong menyebutnya ‘masa perbudakan’. Setiap warga Korea paham, bila belum mencapai target, mereka akan rela dalam masa perbudakan. Itulah sebabnya, boyband dan girlband rela berada dalam masa karantina dari 5 hingga 13 tahun. Mereka berlatih vokal, berlatih menari, berlatih tampil, berlatih manggung dan seterusnya hingga ketika debut muncul : sempurna. Sehari latihan bisa memakan waktu belasan jam, kalori makanan terkontrol dan aktivitas harian pun terjadwal.

Inilah ironi.

Dunia berdecak dengan hallyu yang menganeksasi dunia. Berbeda dengan Amerika yang daya serangnya hard melalui milter dan ekonomi, Korea Selatan sangat soft : melewati budaya. Dan betul kata Hong , “Korea memiliki apa yang tak dimiliki Amerika. Kami pernah menjadi negara dunia ketiga. Jadi kami pernah tahu bagaimana rasanya menjadi terbelakang.”

Kita mengelu-elukan boy band dan girl band. Tapi pernahkah kita tahu apa penderitaan mereka, ratapan hati, tangis dan kelelahan di balik panggung? Sekali mereka melakukan kesalahan, hujatan mengalir.  Lebih gemuk, berjerawat, bermuka masam dan sejenisnya; publik menghujat. Padahal para idol adalah manusia juga yang ingin sesekali menjadi diri mereka apa adanya. Ingin bersantai, bermalas, membangkang; yah, mirip anak muda pada umumnya.

 

Aokigahara dan Bunuh Diri

Hutan Aokihagara dan film the Forest

Pernah lihat film the Forest yang mengambil tempat di Aokigahara? Aokigahara terletak kurang dari 100 mil arah barat Tokyo, terkenal karena keindahan hutan dan gua-guanya yagn eksotik. Serta, pepohonan rimbun yang menjadi tempat persembunyian sempurna bagi orang-orang yang ingin mengakhiri hidup.

Budaya bunuh diri Jepang sangat dikenal masyarakat dunia, sebagian berdecak kagum, sebagian sangat menentang. Seppuku, kamikaze, harakiri dan sejenisnya merupakan  tindakan lelaki Jepang dalam mempertahankan kehormatan. Mereka lakukan bila kalah perang atau justru melakukan serangan bunuh diri untuk menyentak lawan. Tradisi yang awalnya dipakai sebagai upacara kehormatan ini bergeser menjadi sebuah perilaku yang bukan hanya dilakukan kaum militer tapi masyarakat biasa. Bila dulu orang mengenal tradisi bunuh diri dilakukan oleh para samurai yang kalah tanding dan para serdadu Jepang ketika kalah perang dunia ke-2; maka orang-orang zaman kini lebih mudah melakukan tanpa melewati perang tanding atau perang medan laga. Yang penting merasa ‘kalah’ maka bunuh diri dilakukan. Kalah dalan cinta, kalah dalam akademis, kalah dalam bisnis, kalah dalam pekerjaan, kalah tidak mencapai apa-apa. Kalah, bahkan sebelum kita mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri.

 

Hutan Aokigahara dan Logan Paul dengan video kontroversialnya

 

Cara memandang bunuh diri bagi masyarakat Jepang dan masyarakat dunia lain, pasti berbeda. Vlogger yang mungkin memandang konsep bunuh diri secara berbeda, adalah Logan Paul yang videonya tengah viral.

Paul Logan bisa mengolok-olok Aokigahara dan tradisi bunuh diri masyarakat Jepang sementara videonya menempati ranking 10 teratas dunia. Kontan, publik mengecam youtube karenea video itu bebas ditonton. Saya tidak akan membahas dunia maya sebab tidak memiliki kehalian di sana, tetapi lebih memilih menyikapi bagaimana kita memandang bunuh diri sebagai sebuah tradisi, dan sebagai sebuah perilaku yang tampaknya mulai lazim dilakukan.

 

Mengapa Bunuh Diri?

Sungguh, keprihatinan ini menyeruak mencermati kondisi sekeliling. Apalagi, tradisi bunuh diri lekat dengan masyarakat Jepang dan sekarang Korea Selatan, yang gelombangnya tengah diminati anak-anak muda Indoensia. J-pop dan K-pop sangat memikat; maka tak ada salahnya kita mencoba memelajari kultur kedua bangsa tersebut dan mengambil apa yang baik bagi Indoensia dan menyaring apa yang kurang tepat bagi bangsa ini.

Di novel Polaris Fukuoka, dikisahkan Yamagata Isao bunuh diri. Adiknya, Nozomi sempat berniat melakukan hal yang sama tetapi persahabatannya dengan Sofia mencegahnya melakukan hal ini. Mengapa Isao bunuh diri? Tekanan akademik dan tuntutan orangtua, yang berseberangan dengan bakat minatnya, membuat dirinya melakukan hal itu.

Mengapa saya mengangkat tema ini?

Saya pernah melakukan tes bakat minat untuk anak SMP. Dan ketika hasil tes keluar, saya konsultasikan dengan guru-guru sekolah; tampaklah bahwa orangtua tidak dapat menerima begitu saja bakat minat anak mereka. Ada seorang anak yang memiliki dua orangtua sukes sebagai ahli medis. Orangtuanya berharap anaknya pun seperti itu. Padahal ketika tes bakat minatnya keluar, yang muncul adalah kecenderungan literasi, aesthethic dan social service! Sungguh tidak nampak kecenderungan ke sains dan medikal. Sangat disayangkan bila orangtua masih memaksa anak-anaknya menjadi sesuatu, karena pertimbangan status dan ekonomi.

 

Kutipan percakapan Sofia dan Nozomi membahas bab bunuh diri

Demikian pula Isao.

Ia yang sesungguhnya ingin jadi pemusik, dengan kecerdasan otaknya dipaksa harus menjadi mahasiwa di universitas terkemuka. Begitu pula Nozomi. Tentu saja, diharuskan demikian karena bisnis keluarga mengharuskan para pewaris harus menekuni ilmu tertentu dan menguasai keahlian tertentu; walau bakat minat tidak mendukung.

Demikianlah, sebuah ironi.

Kemajuan dan kemapanan, bila tanpa pemahaman emosional yang baik dan pendekatan nurani akan menimbulkan kekacauan hati dan kegalauan pikiran. Dan, begitu mudahnya orang memutuskan bunuh diri ketika kalah.

“Di titik apa seseorang memutuskan bunuh diri?” tanya Sofia pada Nozomi.

“Di titik ketika mereka merasa diabaikan,” jawab Nozomi.

 

Perbedaan Budaya dan Tradisi

Eropa dan Amerika berbeda.

Di wilayah ini, kultur individualis telah terasah sejak dini. Kemandirian, memutuskan sesuatu secara individual dan bukan kolektif; biasa dilakukan. Anak tidur terpisah sejak kecil, anak usia 18 tahun bebas hidup serumah dengan pacarnya, anak remaja naik mobil dan mengkonsumsi alkhol ; sudah diputuskan sejak usia 18 tahun. Diabakan, hidup sendiri, sudah menjadi kebiasaan; walau akhir-akhir ini fatherless family pun memunculkan masalah baru. Terbiasa mandiri dan individualis itu bukannya tanpa masalah.

Bagaimana dengan dunia timur : Indonesia, Jepang, India, Korea?

Kita masyarakat kolektif.

Menikah butuh pertimbangan paman bibi, kakak adek, kakek nenek, tetangga sepupu dll.

Kuliah pun demikian. Cari jodoh pun demikian. Bekerja pun demikian. Maka pertimbangan banyak orang seringkali jadi perhatian yang memusingkan. Walau diri sendiri sudah tak mampu menanggulangi, tetap harus memikirkan oranglain. Inilah ironisnya.

Perasaan tertekan dan tidak mampu mengungkapkan apa yang ada di dalam benak dan hati; bagi masyarakat timur lambat laun menjadi batu yang menghimpit. Maka bila tidak dikomunikasikan, disalurkan dengan baik; di titik tertenu menajdi perasaan kalah yang membabi buta : mati lebih enak (seperti sebuah novel karya Alistair Maclean). Walau ternyata, di novel tersebut dikisahkan, perjuangan seseorang untuk mati sama sulitnya seperti perjuangan seseorang yang mencoba hidup!

 

Mengatasi Bunuh Diri

Peduli, itu kuncinya.

Mindfulness of others, cobalah mempertimbangkan pikiran dan perasaan orang lain. Cobalah peduli dan berbicara pada orang yang tengah membutuhkan sandaran dan telinga; sebagaimana yang dilakukan Sofia dan Tatsuo pada Nozomi. Memang, orang yang tengah punya masalah bisa jadi sangat membebani. Mereka mengungkapkan keluhan dan permasalahan sementara orang yang tengah mendengarkanpun jugamemiliki segudang masalah yang tak kurang beratnya; tetapi itu dilakukan karena hati dan batin mereka, mental mereka sedang rapuh dan sakit. Kalau kita sedang banyak pikiran, inginnya mengomel, kan? Lagi marah, pinginnya mengumpat. Lagi sedih, inginnya meratap dan menangis.

Demikian pula dengan orang yang punya banyak beban menghimpit, sampai tak tahu harus bagaimana lagi. Mereka ingin mengosongkan pikiran dan hati yang pepat, ingin mencurahkan keluar, ingin mencari tempat pelarian. Masih untung bila mereka menemukan teman, sahabat, saudara yang jadi tempat berbagi. Kadang, ingin curhat di medsos bukannya dapat simpati dan empati; malah dimaki-maki.

Maka, di pusat-pusat rehabilitiasi mental kita akan menemui orang yang afeksinya tumpul. Sedih banget, mendapat penderitaan bertubi, menerima kemalangan beruntun; malah tertawa (ini sebetulnya salah satu tanda ketumpulan afeksi yang harus diwaspadai) Orang skizofren tidak lagi tahu beda bahwa sedih itu menangis dan senang itu tertawa. Mereka marah, senang, sedih, biasa, akan  selalu tertawa. Depresi dan skizofrenia yang akut; bisa menimbulkan pemikiran shortcut . Entah itu melukai oranglain, atau bila tak memiliki kekuatan melukai oranglain, akan berbalik melakukan self-harm. Awalnya hanya menjambak diri sendiri atau membenturkan kepala, tetapi lambat laun bila tak tertahankan, akan melakukan hal pintas yang dianggap mengakhiri penderitaan.

Bunuh diri adalah perilaku yang harus diwaspadai.

Berbeda dengan pelaku free sex, drug abuse, pornografi dsb yang masih dapat diperbaiki, bunuh diri sungguh fatal sebab pelakunya langsung meninggal dan tak ada lagi yang dapat diperbaiki. Maka pemerintah dan masyarakat harus waspada terhadap kasus ini. Paul Logan mungkin harus mendapatkan peringatan tetapi videonya membuat orang terhenyak : apakah sekarang perilaku bunuh diri sudah tidak membuat orang menjerit, menangis, dan ngeri; tetapi malah membuat orang excited dan tertawa? Apakah sesungguhnya Logan Paul itu kita : semakin lucu (meski prank dan menyusahkan orang), semakin menakutkan, semakin sadis, semakin membuat bulu kuduk merinding maka itu akan membuat klik meninggi dan viewers membanjir?

Semoga video Logan Paul tidak mencerminkan kita. Ia telah membuat klarifikasi videonya tentang Aokigahara yang terkenal sebagai  suicide forest. Di video tersebut, Logan Paul mengambil video dengan latar belakang tubuh orang yang mati bunuh diri sembari tertawa-tawa dan mengunggah ungkapan yang kurang pantas.

Ke depannya, kita harus mewaspadai dengan perilaku dan kecederungan teman-teman kita, keluarga kita untuk beunuh diri.

Atau bahkan, kita harus mewaspadai diri sendiri, apakah telah tampak keinginan untuk bunuh diri?

 

 

Iklan

Maukah Kamu Jadi Penulis?

 

 

Tidak ada universitas yang khusus memiliki fakultas atau jurusan yang mencetak seseorang menjadi penulis.  Bahkan fakultas FIB sekalipun, tidak secara otomatis membuat mahasiswanya mengambil profesi penulis sebagai pekerjaan hidupnya. Penulis adalah pekerjaan lepas yang benar-benar ‘lepas’ : hanya orang-orang yang benar-benar niat jadi penulis, akan menjalani profesi sebagai penulis dengan segala lika likunya.

Bertahun-tahun lalu, di era tahun 2000an, saat novel dan kumpulan cerpen di tanah air meledak penjualannya; orang ramai-ramai ingin jadi penulis. Pelatihan-pelatihan digelar dan pesertanya mengalir deras. Sekarang, acara-acara kepenulisan sepi peminat. Bedah buku jarang dihadiri khalayak. Orang enggan mengirimkan cerpen ke koran-koran atau majalah. Alasannya : menulis susah-susah, lalu tertolak, kalaupun dimuat bayarannya tak imbang antara jumlah dan tenaga menagih. Royalti penulis tak seberapa besar. Perlahan-lahan, pekerjaan sebagai penulis semakin sepi peminat. Orang tak lagi tertarik untuk menjadikan dunia kepenulisan sebagai salah satu pekerjaan bergengsi yang menghasilkan uang.

 

Tujuan Bekerja

Ada banyak motivasi seseorang untuk bekerja.

Mencari nafkah, menunjukkan eksistensi diri, menuruti permintaan orangtua, atau agar terlihat layak sebagai calon menantu ketika meminang perempuan suatu hari. Bagi seorang lelaki, bekerja adalah salah satu medan jihadnya sehingga ia harus bersungguh-sungguh mencari nafkah halal. Menafkahi istri dan membesarkan anak-anak adalah perkara serius; yang membutuhkan segenap sumber daya dari orangtua. Profesi penulis, memang seringkali dianggap tidak dapat menjadi jaminan bagi laki-laki untuk dapat megnhidupi secara layak keluarganya.

Namun, ada banyak teman-teman saya yang berjenis kelamin laki-laki dan tetap bertahan sebagai penulis. Kehidupan mereka memang tidak mewah. Satu dua orang berhasil meraih impiannya lewat jalur menulis dan hidup cukup dari hasil menulis buku. Sebagian besar, harus bekerja keras sebagai penulis untuk dapat hidup layaknya orang ‘normal’. Tetapi, mereka terlihat sangat bahagia dan bangga dengan pekerjaannya. Mereka merasa menemukan jatidiri sejati sebagai seorang penulis. Mereka merasa, bahwa dengan menulis inilah banyak hal dalam diri mereka berkembang. Salah satu aspek psychological well being adalah personal growth. Menjadi penulis, mengharuskan seseorang belajar dan terus belajar. Rupanya, ini membuat teman-teman penulis saya yang laki-laki gemar melahap buku dan tulisan apapun. Kebiasaan membaca ini membuat mereka lebih bijak, fleksibel, dan mampu mencermati banyak hal dalam hidup dengan filosofi yang indah bermakna. Teman-teman penulis saya terus ‘tumbuh’.

Sinta & Batkhuyag.JPG

Prof. Batkhuyaag Purekvuu & Sinta Yudisia, di Yeonhui, Seoul

“Penulis seharusnya tidak hanya mempertimbangkan materi. Dalam hidup ada yang tidak dapat diukur dengan kekayaan.” Prof. Batkhuyaag Purekvu

Bagi perempuan, profesi menulis tidak masalah.

Biasanya, perempuan telah memiliki sokongan nafkah dari ayah, suami atau saudara lelakinya. Maka bagi perempuan, profesi penulis lebih tidak membingungkan dibanding laki-laki. Tentu saja, ada beberapa teman-teman saya yang perempuan; menjadikan dunia kepenulisan sebagai tumpuan hidupnya. Mereka bekerja sama kerasnya seperti laki-laki yang penulis; sehingga rabat penjualan buku atau royalti adalah salah satu sumber penghasilan.

Sama seperti laki-laki penulis, teman-teman perempuan penulis memiliki personal growth yang bagus. Mereka menjadi manusia-manusia yang bijak dalam segala aspek. Sebagai salah satu contoh, seorang teman penulis perempuan sahabat saya –ia salah satu guru spiritual saya dalam hal kesabaran-  hingga kini hidup dalam kesederhanaan. Masih naik motor butut. Laptop baru punya sebentar, selama ini nebeng komputer masjid ketika mengetik. Baru-baru ini saja ia juga memiliki ponsel pintar setelah bertahun-tahun (lamaaa sekali) ia hanya punya telepon jadul yang hanya dapat mengirim SMS. Keluarga intinya sering menyindir, mengejek, menyudutkan atau entah apalah yang memojokkannya. Selalu memandang miring pada profesi penulis yang dipilihnya.

Tetapi saya melihat personal growth yang luarbiasa dari diri sahabat ini.

Kesabaran.

Dan ketergantungannya pada Allah, luarbiasa.

Setiap kejadian buruk yang menimpanya, nyaris tak ada yang membuatnya berduka apalagi putus asa. Prinsipnya sederhana, selama penghasilan menulis masih dapat menopangnya untuk hidup, akan ia lakukan. Meski, hidup yang dipilihnya sangat sederhana dan seluruh penghasilannya bukan hanya bagi dirinya tapi juga bagi keluarganya.

Bekerja, adalah salah satu kewajiban manusia.

Bahkan, salah satu predictor of happiness adalah bekerja. Orang yang tidak memiliki pekerjaan termasuk orang yang tidak bahagia. Pengangguran adalah orang yang tidak bahagia. Peminta-minta adalah orang yang tidak bahagia. Bergantung pada orang lain adalah orang yang tidak bahagia. Namun, banyak juga orang stress, tertekan, depresi dan merasa benci pada pekerjaannya. Ia selalu merasa setiap pagi adalah mimpi buruk ketika  harus melihat rekan, atasan, setumpuk pekerjaan dan pengahsilan yang rasanya tak sesuai dengan apa yang dikorbankan. Apa yang menjadi tuntutan hidup. Mungkin ia kurang bersyukur. Atau mungkin, ia sama sekali tidak tahu filosofi bekerja.

Seorang penulis tahu betul untuk apa ia bekerja.

Ia bekerja untuk dirinya sendiri. Untuk memenuhi kebutuhan manusia paling dasar berupa sandang, pangan, papan. Tetapi, tuntutan pekerjaan sebagai penulis, membuat penulis harus terus bekerja sama dan mengamati orang lain. Ia harus bekerja sama dengan editor, rekan pembaca, resensor, ilustrator dan banyak lagi. Apa hal ini tidak didapatkan di tempat lain? Ada. Tentu saja, nyaris semua pekerjaan membutuhkan daya dukung dari elemen lain. Tetapi dalam dunia kepenulisan, rasanya kerjasama dengan banyak pihak menjadi sebuah kelaziman. Meski, saat menulis, seseorang menjadi individu yang sangat personal.

Penulis, harus terbiasa mengamati orang. Melihat. Mengobservasi. Sebab itu salah satu inti keahliannya dalam menilai orang dan memindahkannya ke dalam buku –jika ia penulis novel atau cerpen. Kebiasaan mengamati orang ini membuat penulis mudah memahami orang lain (walau belum tentu dapat mudah berempati ya!), dan membuat penulis dapat mengambil ilham dari sisi manapun.

Belum lagi, seorang penulis harus mengetahui watak sebagian besar pembaca. Ia terbiasa membaca orang, ia terbiasa mengamati orang-orang. Ia biasa bekejar sama dengan orang, orang dan orang. Saya suka sekali berteman dengan para penulis, sebab mereka sosok-sosok paling humanis yang pernah saya kenal. Yah, adalah penulis yang egois satu atau dua; tapi tak banyak. Rata-rata teman penulis saya enak diajak ngomong, mudah mengerti kesulitan orang lain, ringan tangan membantu (tapi jangan dimanfaatkan ya!). Salah satu sisi humanis penulis adalah, seringnya ia tidak tega memasang harga mahal bagi bukunya sendiri hehehe. Ia rela memberi potonga harga, diskon, rabat, terhadap pembaca yang merengek meminta penurunan harga. Saya pribadi, kalau teman penulis menjual buku, seringkali bilang begini : kubeli dengan harga wajar. Gak usah diskon! Aku tahu sulitnya nulis buku! Maka yang seharusnya membeli buku dari seorang teman penulis, adalah temannya sendiri yang juga seorang penulis.

 

Hal Buruk yang Terjadi pada Penulis

Diluar kebanggaan, sisi humanis dan kesabaran yang biasanya melekat pada diri penulis; ada beberapa hal buruk yang mungkin menghampiri seseorang ketika ia memutuskan menajdi penulis. Hal ini harus disadari sejak awal agar orang tak hanya memikirkan hal muluk-muluk ketika menjadi penulis.

 

  1. Perjalanan panjang, mungkin seumur hidup

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk jadi penulis mahir?

3 bulan, 6 bulan, 2 tahun? Ketika bukunya telah terbit 5 atau 10? Atau setelah ia mengikuti workshop selama puluhan jam?

Saya ingin sedikit bercerita.

Salah satu impian saya adalah jadi penulis buku anak-anak. Entah karena masa kecil saya terlalu bahagia atau malah kelewat sengsara hahaha. Yang pasti, senang sekali menonton film yang berkisah tentang anak-anak seperti Heidi, Little House on The Prairie, Secret Garden. Bahkan nonton Barbie pun saya suka. Apalagi Narnia, The Bridge to Terrabithia, Charlie and Chocolate Factory dll. Buku-buku yang mengisahkan anak kecil saya suka banget! Kim, Rudyard Kipling. Serial Trio Detektif, Nancy Drew, Sapta Siaga. Yang terbaru adalah buku-buku karya Jostein Gaarner.

Kapan saya bisa seperti mereka?

Maka saya mencoba menulis cerita anak.

Alamaaak, susyeh!

Kalau lihat buku cerita anak : yah, cuma 16 halaman doang, gampang!

Hantu Kubah HIjau - resolusi kecil

Hantu Kubah Hijau : novel anak yang baru terbit setelah 10 tahun!

Nyatanya sulit. Saya ingin buat buku yang bisa dibaca oleh anak-anakku sendiri. Nyatanya, buku itu ternyata tak terbit-terbit hingga 10 tahun! Hantu Kubah Hijau adalah sebuah buku cerita anak, novel petualangan yang butuh waktu bertahun-tahun untuk terbit. Bahkan, ketika masuk meja redaksi saya masih dibimbing oleh tim editornya untuk terus mengembangkan cerita…

Hanya orang-orang bermental baja, punya lengan dan jari jemari otot kawat-besi yang bisa kuat belaja rmenulis, mengetik, ditolak, diedit, ketik ulang, edit lagi, direvisi dan seterusnya.

Kalau khalayak melihat akhir tahun 2017 ini beberapa buku saya terbit, itu bukan hasil kerja mulai Januari 2017. Tapi ada yang dikerjakan sejak 2016 (Reem), ada yang ditulis sejak 2015 (Polaris Fukuoka), ada yang dikerjakan sejak 2007, hiks hiks…

Pelatihan, workshop, camp atau apapun namanya hanya dapat memantik keinginan untuk menulis. Selebihnya, penulis harus punya jiwa baja untuk terus berjuang mengembangkan diri –personal growth hingga ia mencapai titik kesabaran yang dibutuhkan dan titik kekuatan yang paling besar untuk mampu mengubah dunia : lewat mengubah dirinya terlebih dahulu.

 

Reem ditulis 2016, Polaris Fukuoka dirancang sejak 2015

 

  1. Gagalnya buku di pasaran

Jangan menilai Dan Brown, Andrea Hirata, Habiburrahman el Shirazy dari karyanya yang sekarang sudah laris manis bahkan mendunia.

Mereka pernah merasakan bagaimana pahitnya buku gagal. Mereka adalah orang-orang yang bukunya pernah gagal, dikritik bahkan tidak pernah diprediksi akan menjadi penulis tenar.

Dan Brown bahkan pernah mengubah namanya menjadi Daniella Brown, dengan prediksi bukunya lebih laris. Nyatanya tidak juga. Saya sendiri pernah berpikir jangan-jangan nama Sinta Yudisia kurang laku. Enaknya diganti apa ya? SY Danti, terinspirasi SH Mintarja. Atau S. Yudi W; mengingat nama maskulin lebih meyakinkan daripada nama feminin. Alhasil saya kembali pada nama asli : Sinta Yudisia. Walau itu kependekan dari Sinta Yudisia Wisudanti.

Buku yang gagal di pasaran?

Hehehe…japri aja ya, kalau mau tahu 🙂

Saya ingat nasehat seorang teman pengusaha sukses : kalau mau jadi pengusaha sukses, harus bisa sabar melihat barangnya numpuk tak terjual. Itu ujian kesabaran yang akan mengasah diri. Maka saya mencoba sabar dan berbesar hati melihat beberapa jenis buku masih menumpuk belum terjual. Seiirng waktu, orang akan menanyakan buku-buku kita yang lain ketika satu buku laris di pasaran.

 

  1. Cepatnya write off

Ini terkait dengan nomer 2. Kalau gagal di pasaran, biasanya cepat write off atau dikembalikan hak terbitnya ke penulis. Ini salah satu momen paling menyedihkan bagi penulis. Ketika sepucuk surat dilayangkan dari penerbit : mohon maaf, buku anda ditarik dari peredaran. Bukan lantaran subversif, kontorversial, memicu hate speech, hoax dan sejenisnya. Tapi karena tak laku! Rasanya pingin nangis garuk-garuk dinding.

Inilah bagian dari personal growth.

Kita jadi belajar untuk berkembang, adaptasi, menyesuaikan diri ketika buku gagal.

Apakah akan terus menulis?

Apakah akan meningkatkan kapasitas menulis?

Apakah akan beradaptasi?

Apakah akan ngotot dengan kualitas karya yang itu-itu aja?

Tentu, tidak mesti harus leat kegagalan. Kalau bisa; jadikan kegagalan saya sebagai pembelajaran bagi semua. Jadi mari sama-sama belajar.

 

  1. Kritik pedas terhadap karya.

Penulis, sebuah profesi yang berhubungan dengan banyak orang , apalagi ketika karyanya terbit. Bahkan, sebelum terbit dalam bentuk buku dan ia melontarkan gagasan-gagasannya dalam bentuk quote, meme, potongan cerita; orang-orang sudah bisa memberikan komentar. Komentar manis-manis tentulah ada. Komentar yang menusuk, wah, sudah pasti.

Kok ceritanya itu-itu aja?

Endingnya pasti sudah bisa ketebak.

Kenapa diterbitkan indie? Gak laku di mayor ya?

Wah, lagi-lagi cerita tentang dunia kampus. Anak pesantren. Cinta-cintaan.

Covernya terlalu dark. Kurang menarik.

Dan lain-lain.

Profesi penulis adalah profesi yang siap dengan kritikan, sindiran, bahkan mungkin dituduh memplagiat sesuatu padahal penulisnya merasa terinspirasi dengan sebuah buku hingga karakter tokoh, alur cerita sampai endingpun tanpa terasa terbawa dalam imajinasinya.

Saya punya teman penulis yagn punya kometnar keren ketika dia dituduh menulis karya-karya yang mainstream, alias kisah yang itu-itu aja. Kisah cinderella, upik abu, atau kisah picisan princess prince.

“Memangnya kenapa kalau kita menulis hal yang mainstream? Kalau kita justru mahir disitu dan mampu memolesnya dengan indah? Masih banyak orang yang butuh bacaan dengan isi yang mainstream. Mereka tetap butuh pencerahan dengan cerita yang ringan.”

Iya ya.

Bagi saya, kisah orang hijrah pakai jilbab, mainstream. Taaruf, nikah muda, mainstream. Jatuh cinta dengan ikhwan berjenggot, mainstream. Cerita rohis di kampus, mainstream. Terpesona dengan kecantikan muslimah berjilbab, mainstream.

Tapi, bagi anak-anak remaja SMP SMA yang belum banyak pengalaman; kisah mainstream itu bisa jadi sangat baru bagi mereka. Cinta monyet yang pernah saya alamai dan rasakan; belum banyak dirasakan anak-anak muda zaman sekarang sehingga mereka tetap butuh panduan versi kekinian. Maka buku-buku mainstream itu tetap dibutuhkan. Penulis-penulis baru harus belajar menulis kisah mainstream dengan cara meningkatkan kualitas karya.

 

 

  1. Stigma & kurangnya pengakuan terhadap profesi

“Apa pekerjaan anda?”

“Penulis.”

“Mmm…maksudnya?”

“Saya penulis freelance, nulis buku motivasi, novel.”

“Oooh.”

Pertanyaan itu sering terlontar ketika di bank, kantor polisi, sekolah, dan lain-lain. Orang masih belum tahu dan karena ketidak tahuan, belum menghargai profesi penulis. Belum lagi, penghargaan profesi menulis ini belum seideal seperti yang diharapkan. Pejabat, tokoh besar, orang penting; seringkali mengontak penulis untuk berbagai kepentingan. Jangankan memberikan fee yang layak, bahkan terkadang, penulis tidak diberi imbalan apapun untuk menuliskan sebuah kisah.

Ini terjadi pada beberapa teman saya yang diminta untuk menuliskan kisah-kisah tertentu; lalu tidak diberi imbalan sama sekali meski pada awalnya dijanjikan imbalan. Tentu saja, teman-teman penulis juga harus mawas diri tentang pentingnya perjanjian di awal. Dan tidak perlu sungkan untuk menuliskan hitam di atas putih; apa saja hak kewajiban dan berapa besaran fee yang diharapkan. Termasuk, bila dibutuhkan dana untuk menggali informasi, wawancara, transpor kesana kemari; tentunya harus ditanggung oleh pengguna jasa penulis.

Memang, penghargaan terhadap profesi ini masih belum selayaknya.

Tetapi lambat laun, seiiring komitmen kita pada dunia kepenulisan, insyaallah orang semakin paham profesi penulis dan semakin menghargainya.

 

Novel ke-19, buku ke-61 : Polaris Fukuoka 福岡の北極星

Novel ini dalam proses terbit di salah satu lini Mizan insyaallah. Editing alhamdulillah telah selesai; tinggal menunggu lay outer dan ilustrator. Saya ingin cerita sedikit perihal novel ini yan boleh dibaca untuk anak-anak dan remaja bahkan dewasa. Simak ya 🙂

sofia pink polkadot
Ada 3 hal penting tentang Fukuoka no Hokkyokusei atau Polaris Fukuoka :
1. Novel semua kalangan
2. Mengapa Polaris atau 北極星 hokkyokusei?
3. Tokoh gadis bernama Sofia

 

Novel Semua Kalangan
Meski settingnya Indonesia dan Jepang, anak-anak tidak akan kesulitan. Novel ini menggunakan bahasa yang mudah dicerna, sekalipun setting berupa kereta api, kastil, apartemen, jisei (puisi kematian) serta beberapa filosofi Jepang seperti bitoku mungkin belum dikenal.
Konflik keluarga dan budaya lebih dimunculkan, antara tokoh Sofia dan pamannya. Antara Sofia dengan asisten dosennya, nona Kobayashi. Romansa konyol antara Sofia dan Tatsuo muncul sedikit, layaknya insan remaja yang sedang mencari jatidiri. Tapi bumbu cinta berupa pacaran tak muncul dengan sering. Persahabatan antara Sofia, Umeko, Rei serta Nozomi yang misterius lebih mendominasi. Di sela-sela itulah kehadiran lawan jenis memberikan ‘cling-cling’ tertentu. Cinta tidak harus menjadi dominasi cerita, sebab dunia remaja lebih diwarnai dengan petualangan heroik, senang-senang bersama sahabat dan hang out alias jalan-jalan mengunjungi wilayah baru.

Setting unik disini adalah mengambil kota Fukuoka dan Kitakyushu yang masih ada dalam wilayah perfektur Fukuoka, pulau Kyushu

 
Polaris atau 北極星 hokkyokusei

Amati langit, lindungi bumi.
Motto itu saya dapatkan ketika belajar tentang situs-situs astronomi , utamanya bintang Utara Polaris. Manusia sering mengamati langit yang begitu indah, cantik, misterius dan terasa transendental. Seringkali, dalam kegalauan manusia memandang bulan purnama, atau mencari bintang terang di langit.

big dipper polaris.jpg

Mengamati Polaris dalam big dipper

 

Terkadang, kita merasa kehidupan langit mengawasi langkah-langkah ini. Menatap kesepian dan kepedihan kita sembari berbisik bahwa harapan itu masih tersemat.
Polaris adalah bintang terang di kutub utara, menjadi penunjuk arah para pengelana. Apa hubungannya dengan kisah ini? Simak aja nanti di novelnya ya hehehe

Sofia
Nama ini manis banget yaaa?
Baik diucapkan, ditulis, atau didengar. Sofia sendiri merupakan istri Rasulullah Saw yang cantik jelita. Hanya bunda Aisyah ra yang dapat menandingin kecantikannya.
Kalau tokoh Sofia dalam Fukuoka no Hokkyokusei ini adalah tokoh sentral, gadis cerewet, pemberontak, sembrono tapi sebetulnya ia suka belajar. Kebiasaan ala Indonesia yang malas, tak suka menyiapkan plan A plan B, bekerja asal-asalan; menjadi karakter Sofia yang berbenturan dengan pamannya di Fukuoka.
Paman, seorang laki-laki mandiri yang menceplok telurpun harus sangat rapi dengan wajan tertentu; berhadapan dengan Sofia yang suka menggoreng telur dalam wajan asal-asalan dan campur baur dengan masakan lain!

 

 Sofia

Meski Paman dan Sofia sering berantem sampai Sofia pun sempat nggak tahan hidup seatap dengan paman; akhirnya mereka saling memahami. Sesama perantau harus menjalin persaudaraan dan saling menghargai yang merupakan perkara penting. Plus kemandirian dan kerja keras yang selama ini diremehkan Sofia.

Adakah hal unik lain dalam novel ini?
Ada. Tentang jisei. Butuh waktu lama bagi saya untuk belajar pusisi kematian sebab susunan puisi ini tak lazim dikenal di Indonesia. Jisei menghubungkan Sofia dan Isao, membuat malam-malam Sofia menjadi sangat horor dengan nuansa roh jahat. Ups 😦

 

Yang penasaran bisa simak sebagian kisahnya di wattpad. Okeee?

link tulisan ‘Sofia’

http://thesecondlifefashionwhore.blogspot.co.id/
http://freedesignresources.net/sofia-free-font/

https://www.etsy.com/listing/85193918/wall-letters-name-art-prints-sofia-fresh , http://www.allthingspolkadot.com/wooden-polka-dot-wall-letters/